Serial Raja Petir eps 22 : Cinta Tokoh Sesat

SATU
Langit sore di Desa Kertanira dipenuhi barisan awan yang berarak. Hembusan angin bertiup agak kencang menerbangkan daun-daun hingga berguguran di tanah. Tampak sepasang muda-mudi berpakaian kuning keemasan dan jingga bergerak meninggalkan perbatasan Desa Kertanira. 

Di hadapan sepasang muda-mudi yang tak lain Jaka Sembada dan Mayang Sutera membentang sebuah jalan yang hanya bisa dilalui dua ekor kuda berjalan sejajar. Di samping kanan jalan terdapat pemandangan hutan dengan kelebatan pohon-pohon besar yang berdaun rimbun. Hutan waru-waru itulah yang menjadi perbatasan Desa Kertanira dengan desa tetangganya.

"Sore ini hujan mungkin akan turun dengan deras, Kakang. Kita harus secepatnya menemukan rumah penginapan," ucap gadis cantik berambut panjang dikepang dengan langkah panjang-panjang menelusuri jalan kecil.

Pemuda tampan berambut ikal terurai tidak menimpali ucapan kekasihnya. Sepasang matanya yang cemerlang dan terkesan begitu jantan menatap wajah cantik gadis berpakaian jingga yang begitu dicintainya.

"Kau takut dengan air hujan, Mayang?" tanya Jaka kemudian dengan tatapan mesra yang tertuju dalam ke wajah kekasihnya.

Mayang Sutera membalas tatapan Jaka. Tangannya kemudian bergerak menyentuh dagu lelaki muda digdaya yang berjuluk Raja Petir. Gerakan itu dilakukannya dengan segenap kemesraan dan cinta kasih.

"Kakang ingin kita mandi air hujan sore ini?" Mayang Sutera balik bertanya.

Jaka tersenyum. Dengan langkah tetap, segera dirangkul bahu kekasihnya. "Tentu saja tidak, Mayang. Kakang khawatir kau masuk angin," jawab Jaka, suaranya terdengar begitu merdu di telinga Mayang Sutera.

"Ah, Kakang," timpal Mayang Sutera. Dirangkulnya pinggang Jaka.

Sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan cukup lama itu, meneruskan perjalanan dengan bergandengan. Sementara langit di perbatasan Desa Kertanira masih terlihat cemberut bak dompet tanggung bulan. Tangisnya belum lagi tumpah mengguyur persada yang tengah dibelai tiupan angin.

"Kakang," panggil Mayang Sutera dengan sedikit manja.

"Ya. Ada apa, Mayang Sutera?"

"Saat ini aku tengah merasakan perasaan yang betul-betul lain dengan perasaanku pada hari-hari kemarin," tukas Mayang Sutera dengan tatapan mata tertuju lurus ke depan.

"Perasaan lain bagaimana maksudmu, Mayang?" tanya Jaka ingin tahu.

Mayang Sutera kembali melempar pandangannya ke wajah tampan Jaka. Sepasang Matanya terlihat sayu.

"Katakanlah, Mayang. Perasaanmu yang bagaimana," desak Jaka menyaksikan kelakuan kekasihnya.

"Aku takut kehilangan kau, Kakang," jawab Mayang Sutera. Suaranya terdengar sedikit parau.

"Ha ha ha...," tiba-tiba Jaka tertawa menimpali ucapan Mayang Sutera.

"Hentikan tawamu, Kakang!" bentak Mayang Sutera dengan suara ditekan sedalam mungkin, "Aku sungguh-sungguh. Sejak pagi perasaan takut akan kehilangan dirimu kurasakan begitu kuat," lanjut Mayang Sutera. Tangannya mencekal erat pergelangan kekasihnya.

"Jangan terlalu jauh bermain-main dengan perasaanmu, Mayang," tutur Jaka menimpali kesungguhan kekasihnya. "Kalau menuruti perasaan, aku pun takut kehilanganmu. Aku takut kehilangan orang yang kucintai dan kusayangi," lanjutnya dengan merapatkan tubuh kekasihnya.

"Kakang "

"Tolooong !"

Mayang Sutera tidak jadi meneruskan kalimatnya. Teriakan itu terdengar cukup jelas. Teriakan seorang perempuan.

Pelukan Jaka pada tubuh Mayang Sutera seketika mengendur. Tatapan mata lelaki muda nan gagah itu beralih ke arah datangnya suara.

"Kita ke sana, Mayang Sutera. Orang itu pasti memerlukan pertolongan kita," ajak Jaka. Kakinya sudah maju selangkah.

"Ayo, Kakang," sahut gadis cantik berambut kepang itu. Langkah kakinya terayun menuju suara jeritan.

Jaka dan Mayang Sutera bergerak cepat. Beberapa saat kemudian sepasang tokoh muda itu tiba di hadapan seorang perempuan yang tengah diperlakukan tidak senonoh oleh lima orang lelaki bertubuh kekar. Semuanya mengenakan pakaian berwarna hitam.

Bret! "Ihhh!" 

"Hentikan!"

Lima lelaki kekar yang memegangi dan membetot pakaian perempuan cantik berkulit putih itu serentak menoleh. Sementara si Perempuan segera membetulkan pakaiannya yang robek memperlihatkan bagian tubuhnya yang menimbulkan rangsangan nafsu birahi.

Salah seorang dari kelima lelaki itu bergerak tiga langkah menghampiri Mayang Sutera dan Jaka. Dia lelaki tinggi besar bercambang bauk lebat. Rahangnya menonjol kuat. Sementara matanya yang setajam burung elang tertuju lurus ke wajah Jaka.

"Kenapa kau berani mencampuri urusan orang lain?" tanya lelaki bercambang bauk dengan suara berat ditekan. Jelas lelaki itu marah dengan bentakan Jaka.

"Maaf," sambut Jaka. Sikapnya tampak begitu tenang. "Aku hanya mencegah perbuatan kalian yang sangat tidak pantas dilihat mata. Sedikit pun aku tidak ingin melancangi diri kalian," lanjut Jaka.

"Mencegah perbuatan kami sama artinya melancangi diri kami! Kalian berdua tahu akibat orang-orang yang berbuat lancang? Bagi kami kematianlah yang pantas untuk orang-orang seperti kalian."

"Ah. Jangan berkata seperti itu, Kisanak. Jangan bicara soal kematian. Menurutku, hal itu belum pantas kita bicarakan sekarang. Aku takut Tuhan murka. Kematian hanyalah Dia yang pantas menentukan kapan datangnya," bantah Jaka merendah.

"Tolong aku, Tuan. Tolong aku," rintih perempuan cantik. Tangannya dipegangi empat lelaki berpakaian hitam. "Lepaskan aku dari lelakilelaki bejat ini!" pakaian perempuan yang berwarna cok-lat itu sobek di bagian tubuh yang rawan hingga menampakkan lekuk tubuh moleknya yang menggiurkan.

"Kuminta lepaskan perempuan itu, Kisanak. Jangan terlalu memaksakan kehendak yang orang lain tidak menginginkan. Itu perbuatan kurang baik," ucap Jaka menasihati lelaki bercambang bauk lebat

"Sudah, Kakang Jalantana! Bunuh saja bocah ingusan itu. Tapi temannya yang perempuan jangan, biarkan kita "

"Aku mengerti maksudmu, Kalaga! Teman bocah ingusan ini lebih cantik daripada perempuan yang kau pegangi itu. Ambillah dia untukmu, Kalaga. Biar aku yang ini saja," potong lelaki bercambang bauk yang ternyata bernama Jalantana. Jari telunjuknya menuding wajah cantik bernama Mayang Sutera. 

"Kubur mimpi indahmu itu, Jalantana!" bentak Mayang Sutera tidak mempedulikan keadaan lelaki bercambang bauk yang usianya jauh lebih tua dari dirinya. "Jangan anggap semua perempuan lemah. Kau bisa celaka nanti!" telunjuk Mayang Sutera menuding wajah brewokan Jalantana.

"Biar aku yang bekuk perempuan banyak bacot itu, Kakang Jalantana!" Kalaga tiba-tiba melayang menghampiri Mayang Sutera.

"Ha ha ha "

Mayang Sutera terbahak saat Kalaga mendarat di hadapannya. Tawa geli kekasih Raja Petir yang disertai gerakan tangan menutup mulut membuat Kalaga dan Jalantana terheran-heran. Jaka pun keheranan melihat sikap kekasihnya.

"Dia ingin membekuk diriku, Kakang. Tapi.... Apakah Kakang tidak melihat cara dia melakukan gerakan? Ha ha ha.... Seperti bocah cilik yang baru belajar berlari," ucap Mayang dengan tawa berderai.

"Gadis gila! Kucincang tubuhmu!" Kalaga naik pitam melihat dirinya ditertawakan gadis cantik di hadapannya itu.

"Keinginanmu itu yang gila, Kalaga. Gurumu saja kuyakin tidak berani bersikap sombong di hadapanku," lanjut Mayang Sutera yang menjatuhkan perasaan Kalaga. "Dalam dua jurus saja kau dapat menjatuhkanku, aku bersedia menjadi istrimu," Mayang Sutera rupanya sudah bisa mengukur kemampuan Kalaga dari cara lelaki berkumis tipis itu melesat. Gerakannya masih kaku dan kasar.

"Perempuan sombong! Jangan menyesal kalau aku betul-betul mampu membuktikan ucapanmu," tandas Kalaga. Kakinya bergerak, membentuk kuda-kuda. Sedangkan tangannya mengepal kuat memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang besar.

"Ayo, mulailah serang aku," tantang Mayang Sutera.

"Gadis gila!" maki Kalaga. Wajahnya kemerahan terbakar amarah.

"Hiyaaa...!" Buet!

Sebuah pukulan serong yang mengandung kekuatan tenaga dalam dikerahkan Kalaga ke arah iga Mayang Sutera. Namun sayang serangan itu hanya membentur tempat kosong. Sejengkal lagi kepalan keras itu mematahkan tulang-tulang gadis cantik berpakaian jingga, ia sudah berkelebat cepat meninggalkan tempatnya.

"Setan!" Kalaga memaki melihat serangannya membentur angin hingga tubuhnya terbetot oleh tenaganya sendiri.

"Ha ha ha...," Mayang Sutera tertawa menyaksikan sikap Kalaga. "Jangan cepat menyerah seperti anak kecil, Kalaga. Kau mesti malu dengan tubuhmu yang sebesar kerbau sawah!"

"Setan! Hiyaaa...!"

Kalaga kembali melesat cepat. Pukulan yang dilakukannya kini tidak lagi serong dari arah kanan. Kepalannya tertuju lurus ke dada kekasih Raja Petir. "Lelaki cabul! Aku ingin tahu seberapa besar tenagamu!" sentak Mayang Sutera menyiapkan tangannya di depan dada untuk menyambut serangan Kalaga.

Plak!

"Akh!" Kalaga terpekik ketika pukulannya dihalau telapak tangan Mayang Sutera yang terbuka. Tubuhnya terhuyung empat langkah ke belakang.

"Ha ha ha...," Mayang Sutera kembali terkekeh. Sengaja hal itu dilakukannya untuk memancing kemarahan lawan.

"Kau Jalantana! Kenapa tidak membantu temanmu?" ucap Mayang Sutera dengan jari menunjuk lelaki bercambang bauk. "Tidak baik berpangku tangan seperti itu. Bantulah temanmu yang tengah memerlukan bantuan, Jalantana."

Merah wajah Jalantana mendengar ucapan Mayang Sutera.

"Atau.... Kalau kau takut, ajak serta ketiga temanmu itu untuk mengeroyokku," tukas Mayang Sutera lagi.

"Kau memang benar-benar gadis liar! Songsong seranganku! Hiyaaa...!" tubuh Jalantana berkelebat dengan pukulan lurus ke batok kepala Mayang Sutera. Bunyi angin berdecit mengiringi datangnya serangan yang tidak main-main dan dibarengi tenaga dalam cukup tinggi itu.

Bet! "Uts!"

Nasib yang sama dialami Jalantana. Pukulannya menghantam tempat kosong saat tubuh langsing Mayang Sutera berkelebat cepat mempergunakan jurus 'Menepak Laut Menggenggam Air'. Gerakan yang dilakukan Mayang Sutera memang tidak mampu dibaca Jalantana. Lelaki brewok itu tidak tahu kalau gerakan menghindar lawan adalah serangkaian gerakan yang bertujuan melakukan serangan balasan.

"Jaga dadamu, Jalantana! Hih!"

Terkesiap Jalantana menyadari kepalan tangan gadis cantik berpakaian jingga sudah berada di depan dadanya. Dengan sekenanya Jalantana memiringkan tubuhnya ke kanan.

Apa yang dilakukan Jalantana untuk menghindari sambaran tangan Mayang Sutera memang sudah betul. Namun bagi Mayang Sutera gerakan itu terlalu ceroboh. Dengan hanya memasukkan sepakan kaki kirinya, tubuh lawan akan terlempar.

"Jaga tendanganku, Jalantana!" beritahu Mayang Sutera sebelum kembali melancarkan serangan susulan.

Teriakan Mayang Sutera tentu saja menguntungkan Jalantana. Lelaki bercambang bauk lebat itu melempar tubuhnya sebelum telapak kaki Mayang Sutera menghantam dadanya. Jalantana bergulingan di tanah.

"Tolooong...!"

Saat Jalantana kembali bangkit, sebuah teriakan kembali terdengar. Kali ini dari arah utara pertarungan. Jaka menoleh ke arah datangnya teriakan.

"Tolonglah kawanku, Kisanak. Tolonglah dia. Di sebelah utara sana pasti kelima lelaki tengah memperlakukan kawanku tidak senonoh. Tolonglah kawanku, Kisanak," ucap perempuan cantik yang dipegangi tiga lelaki berpakaian hitam.

"Kau atasi mereka, Mayang. Biar aku menolong kawan wanita ini," ucap Jaka, kemudian bergerak cepat ke arah utara. Begitu cepatnya gerakan Jaka hingga sekejap saja tubuhnya sudah menghilang dari hadapan Mayang Sutera yang kini menghadapi lima lelaki berpakaian hitam.

"Kalian para lelaki cabul memang harus diberi pelajaran. Akan kubuat wajah-wajah kalian menjadi jelek. Ayo, majulah kalian semua!" tantang Mayang Sutera.

"Ha ha ha...!"

Mayang Sutera tertegun menyaksikan kelima lelaki berpakaian hitam tertawa bersamaan. Padahal, sejak awal perjumpaan sedikit pun tidak terlihat senyum pada wajah-wajah lelaki bertubuh kekar itu. Yang lebih mengejutkan lagi, gadis yang hendak ditolong Mayang Sutera ikut tertawa keras. Tawanya mengikik membuat gadis cantik kekasih Raja Petir semakin dipenuhi tanda tanya.

"Gadis cantik! Jangan kau sangka aku berhasil kau tundukan," ucap Jalantana seraya menunjuk-nunjuk wajah Mayang Sutera. "Jurusjurus yang kugunakan untuk menyerangmu hanyalah kembangnya saja. Sekarang "

"Kalian memang pandai menutupi rasa malu," potong Mayang Sutera sengit

"Tidak! Akan kami buktikan kalau hanya dalam beberapa gebrakan kau berhasil kami tundukan. Dan akan kami bawa ke hadapan Gagak Sugih Pengasung. Jujunganku itu begitu tergilagila padamu. Dia bertekad akan mempersuntingmu, Gadis Cantik. Beruntunglah kau, karena Gagak Sugih Pengasung menaruh cinta yang tulus padamu. Meskipun dia hanya melihat kecantikan wajahmu pada bola kristal sakti yang dimilikinya," tutur Jalantana panjang lebar.

Mayang Sutera terpaku mendengar penuturan lelaki tinggi kekar bercambang bauk lebar. Mata indahnya terbelalak sedikit. Namun kemudian kekasih Raja Petir itu sadar.

"Aku tidak kenal tuan kalian. Mana sudi aku dibawa ke hadapannya!" bentak Mayang Sutera keras.

"Kami akan membawamu secara paksa, Nisanak," kilah perempuan cantik berpakaian coklat yang semula hendak diselamatkan Mayang Sutera.

"Hm.... Jadi kalian sengaja melakukan sandiwara ini untuk mengecohkanku? Hhh! Jangan harap kalian bisa melakukannya dengan segampang yang kalian kira," bantah Mayang Sutera. Sebelah kakinya diseret untuk mengatur kedudukan.

"Jangan main-main dengan kami, Nisanak. Kau rupanya tak ingin mendapat peruntungan bersanding dengan majikanku Gagak Sugih Pengasung. Bersiaplah!" ucap Jalantana tegas. Kata terakhirnya dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam cukup tinggi.

Mayang Sutera sempat terkejut mendengar ucapan terakhir Jalantana. Sungguh Mayang Sutera mengira Jalantana adalah lelaki yang baru kemarin sore mengenal ilmu silat. Namun kenyataannya....

"Aku harus hati-hati  menghadapi  mereka ," ucap Mayang Sutera dalam hati.

Srrrrt! Srrrrt !

Jalantana, Kalaga, dan gadis cantik berpakaian coklat meloloskan senjata dari balik lipatan pakaiannya. Senjata yang nyaris dikatakan sebagai selendang, namun berlubang-lubang seperti jaring laba-laba. Senjata yang terbuat dari sutera mengkilat itu sekilas nampak tidak memiliki keampuhan apa-apa. 

Tetapi ketika ketiga lawan Mayang Sutera mengerahkan tenaga dalam, seketika itu juga terlihat kalau senjata-senjata itu begitu berbahaya. Jaring yang terkembang itu menjadi begitu besar, melebihi wujud aslinya. Bagian ujung jaring itu sangat runcing dan berwarna kehijauan. Seperti mengandung racun.

Mayang Sutera segera dapat membaca kalau ketiga lawan di hadapannya itu bukanlah orang-orang yang berilmu rendah, gadis itu segera mengambil payung kecil berwarna keemasan dan disilangkannya di depan dada.

"Hhh.... Bagus! Kau memang gadis yang sukar untuk diajak berlembut-lembut. Maaf, kalau aku harus berbuat kasar! Hiyaaa !"

Jalantana melesat cepat. Gerakannya tak sekaku ketika menyerang Mayang Sutera pertama kali tadi. Gerakan Jalantana sangat ringan namun nampak keganasannya dari deru angin yang ditimbulkan.

"Hiyaaa...!"

"Haaat..!"

Kalaga dan gadis berpakaian coklat pun segera mengiringi serangan Jalantana. Tubuh keduanya bergerak tak kalah cepat. Deru angin keras mengiringi datangnya serangan yang mengandung tenaga dahsyat itu. Kini gadis cantik berjuluk Dewi Payung Emas terkepung dari tiga arah.

Rrrt..!

Tanpa sungkan-sungkan lagi, gadis cantik kekasih Raja Petir itu mengembangkan senjatanya. Ujung-ujung payungnya tampak begitu runcing

***
DUA
Sore belum beranjak menjadi malam. Rona jingga masih menggantung di langit Jaka yang tengah mencari suara yang minta pertolongan berdiri tegak penuh kewaspadaan. Sepasang matanya yang tajam bergerak-gerak.

"Hm.... Apa perempuan yang berteriak barusan sudah dihabisi nyawanya? Dan mereka yang melakukan kejahatan itu kini bersembunyi...?" Jaka bertanya-tanya sendiri dengan tatapan terus men-cari-cari.

Belum setegukan teh lamanya Jaka terpaku, tampak dari balik sebatang pohon besar melesat tiga kelebatan sosok bayangan berturutturut

"Hei! Berhenti, kalian!" terdengar bentakan Jaka cukup keras. Sementara kedudukannya tetap seperti semula, tidak bergerak untuk melakukan pengejaran.

Namun melihat bentakannya tidak digubris ketiga sosok yang tengah berlari cepat itu, tokoh muda digdaya yang berjuluk Raja Petir itu cepat menghentakkan kaki. Tubuhnya seperti anak panah terlepas dari busur, melesat cepat mengejar sosok-sosok tubuh yang menimbulkan kecurigaannya. Apalagi salah satu di antara sosok itu nampak memanggul tubuh seseorang. Jaka semakin mempercepat pengejarannya.

Tiba-tiba, setelah Jaka melakukan pengejaran sejauh lebih kurang delapan tombak, ketiga sosok yang dikejarnya seketika menghentikan lari. Sungguh Jaka tidak menyangka dengan apa yang dilakukan orang-orang itu. Mungkin mereka sudah memutuskan untuk menghadapinya? Karena dirinya sendirian?

"Kenapa kau mengejar kami?" tanya lelaki bertubuh tinggi tegap. Wajahnya tidak menunjukkan ketakutan. Begitu pula dengan sikapnya yang seperti tidak sedang melakukan kesalahan.

Jaka tidak segera menyahuti pertanyaan lelaki yang baru disadari ketampanan wajahnya itu. Lelaki itu tidak memiliki keangkeran seperti tokoh-tokoh jahat yang sering melakukan penculikan terhadap anak gadis.

"Tuan-tuan," ucap Jaka dengan tekanan suara yang mengesankan kewibawaannya. "Di bahu salah seorang dari kalian terpanggul perempuan tanpa daya, itu dapat dijadikan jawaban atas pertanyaan yang kau lemparkan," Jaka menunjuk sosok perempuan yang terpanggul di pundak lelaki bertubuh pendek kekar.

"Hm.... Jadi kau mencurigai kami?" tanya lelaki tinggi besar berwajah tampan. Tatapannya menusuk dan berkesan menyelidik lelaki berpakaian jingga di hadapannya.

"Jelas," sahut Jaka tanpa mempedulikan tatapan lelaki berwajah tampan yang mengenakan pakaian berwarna kuning. Pada pinggiran lengannya terdapat perpaduan biru laut dan merah menyala.

"Apa alasanmu mencurigai kami?" tanya lelaki berwajah tampan.

"Jeritan minta tolong itu yang membuatku mencurigai kalian. Jeritan seorang perempuan yang kupastikan perempuan itu," sambut Jaka menunjuk perempuan yang diam di panggulan lelaki bertubuh pendek kekar.

"Hm.... Jadi itu," gumam lelaki berpakaian kuning. "Dima! Turunkan perempuan itu," perintah lelaki berwajah tampan pada rekannya yang bertubuh pendek kekar.

Lelaki yang memanggul perempuan itu tidak membantah perintah lelaki berwajah tampan. Dia menurunkan tubuh perempuan yang terlihat tanpa daya.

Namun kemudian keterkejutan dialami Jaka. Perempuan yang baru menjejakkan kaki di bumi itu berdiri tegak dengan kedua tangan bertolak pinggang. Sikap menantang jelas-jelas diperlihatkannya.

"Terima kasih, Dima. Kau telah berlelahlelah memanggulku," ucap gadis berpakaian hijau muda dengan kerling mata genit tertuju pada lelaki pendek kekar.

"Sewindu lamanya pun aku bersedia memanggul tubuhmu, Ayuning," jawab Dima membalas kerlingan mata gadis berkulit putih itu.

"Lupakan itu, Dima. Kita harus menghadapi anak muda ini," kilah perempuan cantik bernama Ayuning. "Bukan begitu, Kakang Biraja," lanjut Ayuning. Tatapan matanya terarah pada lelaki berwajah tampan.

"Kau benar, Ayuning. Kita harus segera menyingkirkan Raja Petir biar Gagak Sugih Pengasung bisa sepenuhnya memiliki gadis cantik yang berjuluk Dewi Payung Emas," jawab Biraja mantap.

Jawaban itu tentu saja membuat Jaka terkejut. Dia segera sadar bahwa apa yang telah dilakukan Biraja dan kawan-kawannya adalah upaya untuk mengelabuinya. Kesimpulan Jaka mengatakan kalau orang-orang yang berhadapan dengan Mayang Sutera adalah juga orang-orang yang bekerja untuk Gagak Sugih Pengasung. Oh, siapakah dia? Kenapa menginginkan Mayang Sutera?

"Raja Petir!" sentak Ayuning membuat Jaka terjaga dari pikirannya. 

"Sekarang kujelaskan padamu agar kau tidak penasaran. Sesungguhnya aku punya junjungan yang sudah lama jatuh hati pada gadis cantik yang berjuluk Dewi Payung Emas, yang kemudian setelah kuselidiki ternyata kekasih seorang tokoh muda berkepandaian tinggi yang berjuluk Raja Petir. Perlu kau ketahui, sebenarnya aku berat melakukan perintah Gagak Sugih Pengasung."

"Kau mau tahu mengapa? Oh, sesungguhnya aku sangat mencintai Gagak Sugih Pengasung. Dia bukan saja tampan, tetapi juga begitu perkasa dalam segala hal, termasuk permainan di atas ranjang. Namun untuk menolak permintaannya adalah suatu hal yang mustahil. Gagak Sugih Pengasung berwatak keras."

"Kekejamannya akan berlipat-lipat jika keinginannya yang sudah mencapai ubun-ubun dibantah  orang. Aku tidak ingin tubuhku dikulitinya. Lebih baik kuturuti saja perintahnya untuk menyingkirkan kau dan menundukkan Dewi Payung Emas, kemudian menyerahkannya pada junjungan kami," jelas Ayuning. 

"Karena itu kami segera menyusun sandiwara ini."

"Betul, Raja Petir," sambut lelaki berpakaian hitam yang bertubuh tinggi kurus seperti galah. "Aku merasa seperempat keberhasilan itu telah kami raih."

"Hm Kau pikir semudah itu?" tanya Jaka dengan sikap yang tidak terpengaruh ucapan keempat orang di hadapannya.

"Ya. Memang tidak semudah itu. Raja Petir. Kuakui Dewi Payung Emas bukanlah gadis sembarangan. Kemampuannya di rimba persilatan cukup diperhitungkan. Namun keyakinanku mengatakan Jalantana dan kawan-kawannya akan berhasil mengatasi kehebatan kekasihmu. Gagak Sugih Pengasung telah memberikan Jalantana serbuk ganas yang diberi nama Serbuk Perampas Ingatan Gagak Paruh Emas. Aku yakin Dewi Payung Emas tak akan kuasa menghadapi ramuan Gagak Sugih Pengasung itu," ucap Biraja menambahi.

Ada kekhawatiran di dalam hati Jaka. Namun pendekar muda yang matang pengalaman itu mencoba menyembunyikannya. Seketika Jaka ingin meninggalkan ketiga lelaki dan seorang perempuan itu. Namun ketika dipikirkan kemudian, hal itu mustahil dilakukannya. Di samping empat orang itu akan mengejarnya, dia juga merasa malu untuk pergi begitu saja seperti seorang pengecut. Lagi pula Jaka tidak yakin kalau Mayang Sutera akan mudah ditundukkan.

"Raja Petir! Kau sudah terjebak. Aku yakin kekasihmu kini tengah menuju istana Gagak Sugih Pengasung. Sekarang giliranmu berangkat menuju Istana Neraka," ucap lelaki tinggi kurus. Tulang-tulangnya yang kasar terlihat jelas bersembulan keluar. Matanya seperti tidak berhenti membelalak.

Jaka hanya menanggapi ucapan lelaki yang mirip tengkorak hidup itu dengan senyum meleceh. Tampak lelaki kurus berpakaian hitam semakin lebar membelalakkan matanya.

"Maaf, Tuan," ucap Jaka dengan tatapan mata teduh terarah ke wajah lelaki tinggi kurus. "Kalau boleh aku tahu, masih jauhkah letak Istana Neraka yang kau katakan tadi? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tempat itu?" tanya Raja Petir dengan tenangnya.

Lelaki tinggi kurus tampaknya mengerti dengan pertanyaan Jaka, begitu juga ketiga rekannya. Keempat orang itu saling bertatapan.

"Hm.... Dia merasa dirinya paling jago di rimba persilatan ini, Kakang Biraja. Pertanyaannya membuktikan kalau dia memandang kita dengan sebelah mata. Huh! Kau harus mampus di tanganku, Raja Edan!" sentak lelaki tinggi kurus bernama Sarga. Tubuhnya kemudian dengan cepat berpindah tempat. Tahu-tahu dia sudah berdiri dua batang tombak di samping kanan Jaka.

Melihat Sarga telah melompat mendekati Raja Petir, Biraja, Dima, dan Ayuning pun menghentikan kakinya melakukan hal yang sama.

"Hop!"

"Yeah!"

"Kita habisi dia sekarang, Sarga!" ucap Biraja mantap dengan kedua tangan yang tiba-tiba sudah menggenggam sepasang pedang berukuran tanggung.

Srt! Srt! Srt..!

Ayuning, Dima, dan Sarga segera meloloskan pedang mereka. Senjata-senjata telanjang itu terhunus dengan tangan yang tak lama kemudian terlihat bergetar.

"Hiyaaa...!" diiringi teriakan yang cukup keras, tubuh Biraja melesat menerjang sosok Jaka.

"Hm "

Dengan ketenangan yang luar biasa Jaka bergumam tak jelas. Tubuhnya dengan ringan bergerak cepat menghindari sambaran senjata Biraja yang terarah ke leher dan lambungnya.

"Jangan bangga dulu. Raja Petir!

Wuuung...!"

Baru sesaat Jaka terbebas dari ancaman mata pedang Biraja, ujung pedang milik gadis cantik bernama Ayuning mengancam tenggorokannya. Gerakan menebas yang dilakukan gadis berpakaian hijau itu demikian cepat dan dahsyat Deru angin dan bunyi mendengung membuktikan kalau serangan itu dilakukan dengan mengerahkan tenaga dalam tinggi.

"Uts!"

Jaka memiringkan tubuhnya dengan menarik lehernya sedikit ke belakang. Gerakan yang dilakukan Jaka karena kepekaannya merasakan ada serangan bokongan. Maka ketika ujung senjata Ayuning lolos beberapa rambut dari lehernya, Jaka segera menghentakkan kakinya kuat-kuat. Pemuda itu melakukan gerakan berputar ke belakang.

"Hup!" Buet!

Pada saat yang bersamaan, ketika tubuh Jaka telah melenting ke udara, serangan bokongan Dima tiba. Serangan lelaki pendek kekar itu membentur tempat kosong. Bahkan tubuh kekarnya harus merasakan sodokan kaki Raja Petir yang terayun cepat ke bagian punggung.

Blugkh! "Hekh!" Dima terhuyung-huyung ke depan beberapa langkah. Dia berusaha sebisanya menahan daya dorong itu agar tidak tersungkur ke tanah. Namun gagal, tendangan Jaka yang cukup keras membuat wajah lelaki bertubuh pendek kekar itu harus mencium tanah.

Jaka tak sempat lagi melihat bagaimana wajah Dima ketika mencium tanah. Dia harus kembali menghadapi serangan ketiga lawannya yang berusaha secepatnya melenyapkan nyawanya.

"Hiyaaa...!" Bet! Bet!

Dengan menggunakan ilmu 'Lejitan Lidah Petir' Jaka bergerak lincah menghindari serangan-serangan ganas Biraja, Ayuning, dan Sarga. Bahkan dari jurus 'Petir Menyambar Elang' Jaka berhasil memperdaya lelaki berwajah tampan yang menjadi otak penyerangan.

Setelah tubuhnya berkelit dari ancaman ujung pedang Ayuning, gerakan Jaka nampak seperti terarah pada Sarga dengan berpura-pura menghentakkan kaki kirinya. Padahal sesungguhnya kaki kanan Jaka lebih cepat menghentak ke bumi dan melayang cepat ke arah Biraja yang belum sempat melanjutkan serangannya.

"Hih!" Plak! Plak! "Akh!"

Tubuh Biraja limbung setelah dahinya terkena tamparan tangan kiri Raja Petir. Dadanya pun harus menerima sodokan keras kepalan tangan kanan Jaka. Kontan saja wajah Biraja memerah bagai kepiting rebus. Rasa sesak dirasakannya begitu kuat menghimpit dada.

"Rupanya jalan menuju Istana Neraka masih terlalu jauh, Tuan-tuan dan Nona. Buktinya kalian tidak sanggup menunjukkan arahnya," sindir Jaka dengan tatapan menusuk wajah Biraja.

"Kau memang sombong, Raja Petir. Namun kesombonganmu akan segera kubungkam dengan ini," Ayuning melepaskan selendang ungu yang membelit pinggang rampingnya. Bagian ujung selendang ungu itu mengembang, sedangkan pada bagian tengahnya terdapat bulatan-bulatan berjajar lima baris. Tangan gadis berpakaian hijau itu mengangkat selendangnya sampai melewati kepala.

"Ya. Kau akan segera berangkat ke Istana Neraka dengan petunjuk selendangku ini!" sambut Dima dan Sarga. Tangan mereka bergerak cepat menelusup ke balik pakaian dan mengeluarkan selendang yang sama seperti milik Ayuning. Cuma warna selendang Dima dan Sarga hitam dan biru.

"Bersiaplah untuk berangkat ke Istana Neraka, Raja Petir! Ikhlaskan kekasihmu menjadi pendamping abadi Gagak Sugih Pengasung. Kau sendiri akan mendapatkan pengganti yang setimpal yaitu setan-setan neraka," tambah Biraja yang sudah berhasil mengatasi rasa sesak di dadanya. 

Tangan lelaki tampan berpakaian kuning itu menggenggam selendang berwarna kuning. Jaka memandang Biraja dengan tersenyum, sebagai bukti kalau dirinya sedikit pun tidak merasa gentar dengan ucapan keempat lawannya.

"Dima, Sarga, dan kau Ayuning! Jangan kita buang-buang waktu lagi, cepat kerahkan ilmu 'Racun Gagak Lembah Pengasung Membungkus Jagad'!" perintah Biraja dengan suara lantang.

Perintah itu segera disambut ketiga rekannya. Serempak tangan-tangan kiri mereka meraih sesuatu dari balik pakaian.

Glk! Glk! Glk!

"Hm.... Rupanya kalian menelan pil penawar racun. Kenapa kalian tidak beri aku sebutir saja?" tanya Jaka mengejek.

"Yang berada di dalam selendang ini yang akan kuberi untukmu. Raja Sombong!" sentak Ayuning.

"Hiyaaa...!"

Belum hilang suara Ayuning terbawa angin, Biraja sudah bergerak lantang dengan tangan kanan bergerak mengebutkan selendang kuningnya.

Bluts! Slers...!

Lima butir bulatan sebesar telur burung puyuh meluruk ke arah Jaka. Anehnya, luncuran bulatan kuning itu bergerak memantul-mantul. Ketika bulatan-bulatan yang sudah bisa dipastikan mengandung racun itu menyentuh tanah, maka....

Blars! Blars ! Lima ledakan yang tidak seberapa dahsyat terjadi. Daerah di mana benda-benda itu meledak tertutup asap kekuningan. Bau menyesakkan dada pun tercium.

Jaka merasakan racun yang menjalar dari asap-asap yang membungkus tubuhnya amatlah berbahaya. Maka seketika itu juga Jaka menghentakkan kaki dengan menggunakan jurus 'Lejitan Lidah Petir'. Pemuda itu berusaha menghindari kurungan asap yang mengandung racun ganas.

"Uhugkh! Hops!"

Tubuh Jaka melenting ke udara setelah batuk-batuk sesaat. Dia merasakan napasnya begitu sesak, namun tidak dihiraukannya. Saat Jaka tengah berputaran di udara, Ayuning, Dima, dan Sarga mengebutkan selendangnya dengan cepat

Bluts! Bluts! Bluts!

Belasan butiran berwarna-warni sebesar telur puyuh berkelebatan ke arah Jaka. Kemudian meledak tepat di depan dan belakang tokoh muda digdaya yang berjuluk Raja Petir itu.

Blars! Blars! Blarrrs...!

***
TIGA
Sore bergerak semakin larut. Langit di ufuk timur sudah menggantungkan warna jingga yang indah. Sementara di bawah langit yang indah itu, di dua tempat yang berbeda, terlihat pertarungan cukup sengit Raja Petir bertarung menghadapi empat lawan tangguhnya. Ia harus berjuang sekuat tenaga menghindari gempuran dahsyat lawan yang menggunakan racun ganas.

Sementara di tempat yang berbeda, gadis cantik yang berjuluk Dewi Payung Emas harus melakukan perjuangan yang sama. Lima lawannya ternyata bukanlah orang-orang sembarangan. Jurus 'Benteng Emas' dan 'Menepak Laut Menggenggam Air' milik Mayang Sutera tidak banyak membantu. Sedikit pun belum terlihat kekasih Raja Petir itu mampu mendesak lawan-lawannya.

"Tenagamu pasti akan terkuras habis, Nona Mayang. Sebaiknya kau menyerah saja. Bukankah maksud kami baik? Kami tidak akan menyakitimu. Malah kami akan mengantarkan Nona pada kesenangan-kesenangan yang akan didapat dari Gagah Sugih Pengasung," ujar Jalantana merayu Mayang Sutera yang mulai terdesak mundur.

"Aku lebih senang kalian membawaku menghadap tuanmu dalam keadaan sudah menjadi mayat. Tapi itu tidak akan pernah kalian dapatkan," elak Mayang Sutera meski tak yakin dengan ucapannya. Disadarinya kalau lima lawannya begitu tangguh.

"Huh! Ternyata kau gadis keras kepala!" maki Jalantana menimpali ucapan Mayang Sutera. "Diberi hati kau malah memilih kotoran kerbau. Baiklah! Bersiaplah untuk kami bawa dengan kekerasan, Kalaga! Dan kalian semua, siapkan ilmu 'Jaring Maut Menjala Mangsa'!" perintah Jalantana mantap. 

Tangannya seketika terangkat ke atas. Selendang yang berlubang-lubang mirip jaring laba-laba berkibar-kibar ditiup angin.

"Seraaang...!"

Jalantana, Kalaga, dan ketiga rekannya bergerak cepat ke arah Mayang Sutera yang sudah bersiap dengan payung kecilnya. Senjata lawan yang berupa selendang dikebut-kebutkan hingga menimbulkan bunyi aneh dan telinga. Seperti bunyian yang keluar dari lubang dubur.

Brut! Brut! Brut! Wrrr...!

Mayang Sutera dengan payung kecil yang terkembang bergerak berpindah tempat. Senjatanya berputar cepat hingga wujud aslinya tidak terlihat. Terdengar deru angin senjata Dewi Payung Emas

Berkali-kali senjata kekasih Raja Petir itu berusaha menghalau sambaran selendang lawan. Sejauh ini tidak satu senjata lawan pun yang dapat menyentuh tubuhnya. Namun dengan bergerak mundur terus-menerus Mayang Sutera membuat dirinya menemui titik buntu.

"Sampai kapan kau mampu bertahan seperti itu, Nona Mayang. Seranglah kami," ejek Jalantana menyaksikan lawannya mengambil sikap bertahan.

Mayang Sutera mendengar nada bicara Jalantana begitu merendahkan. Wajahnya yang memang telah tegang tambah mengeras. Nafsu amarah sudah mencapai ubun-ubunnya. "Haiiit...!"

Dengan didahului lengkingan kemarahan yang begitu keras, gadis cantik berpakaian jingga menghentakkan kakinya ke bumi. Tubuhnya seketika berkelebat cepat dengan payung tetap berputar dan siap dibabatkan pada sasaran terdekat.

Menyaksikan Mayang Sutera meluruk ke arah Jalantana, Kalaga dan gadis cantik berpakaian coklat menyongsong dari arah depan dengan senjata mengembang bak jaring laba-laba.

Bet! Wrrr...!

Traps...!

Merah padam wajah Mayang Sutera ketika sambaran senjatanya yang tertuju ke lambung Jalantana berhasil diredam oleh Kalaga dan gadis cantik berpakaian coklat. Keterkejutan Mayang Sutera bertambah saat dirasakan senjata lawan mampu membelit ujung kiri dan kanan payung kecilnya.

"Hhh...!" Mayang Sutera berusaha menarik senjatanya dari belitan selendang bagai jaringjaring maut itu. Namun setelah Mayang Sutera mengeluarkan seluruh kekuatannya, payungnya tak juga terlepas dari belitan senjata lawan.

"Ha ha ha...!"

Jalantana terkekeh keras melihat senjata gadis cantik yang terkenal keampuhannya itu tidak dapat terlepas dari selendang Kalaga.

"Lebih baik kau menyerah, Nona Mayang. Tawaran baik ini janganlah kau sia-siakan," ucap Jalantana.

"Cuih!" Mayang Sutera malah menjawab keinginan Jalantana dengan membuang ludah ke tanah.

"Kau gadis keras kepala!" hardik Jalantana kesal. Kakinya terayun mendekati Mayang Sutera yang tetap mempertahankan senjatanya.

* * *

Di sebuah kamar Gagak Sugih Pengasung yang bernama asli Wirya Setraging sedang memperhatikan bola kristalnya yang memendarkan sinar benderang. Di dalam bola kristal itu nampak Mayang Sutera tengah berdiri tak berdaya di hadapan Jalantana.

"Bagus, Jalantana. Lakukan segera apa yang telah kutugaskan padamu," gumam lelaki berpakaian indah mirip pakaian seorang anak raja itu. Rambutnya yang panjang diikat di pangkal kepalanya.

Mata Gagak Sugih Pengasung tidak berkedip menyaksikan bola kristalnya. Tampak Jalantana tengah melangkah menghampiri Mayang Sutera, gadis yang digila-gilainya.

"Ayo, Jalantana. Cepat! Jangan buangbuang waktu," gumam Wirya Setraging. Kedua telapak tangannya bergerak-gerak di atas bola kristal. Sosok cantik kekasih Raja Petir kelihatan tidak berdaya di hadapan anak buahnya.

Jalantana seperti mendengar perintah tuannya yang berbicara dari ruang khusus tempat sebuah bola kristal dan senjata pamungkas Seruling Penggugah Sukma Pedang Pencabut Nyawa tersimpan. Sebuah senjata berbentuk aneh yang bagian depannya berupa sebilah pedang pusaka, sedangkan bagian belakangnya berbentuk seruling kepala burung gagak. Senjata pusaka itu mampu berfungsi ganda.

Lelaki bercambang bauk lebat bernama Jalantana semakin dekat ke arah Mayang Sutera yang masih mempertahankan payungnya dari belitan senjata lawan. Dia akan melepaskan payungnya jika lelaki bercambang bauk lebat itu mengebutkan senjatanya yang dipegang dengan tangan kiri.

Tetapi itu tidak dilihat oleh Mayang Sutera Padahal tiga langkah lagi Jalantana berhasil menggapainya. Namun lelaki itu tidak bergerak menyerang, malahan tangan kanannya menyelinap ke balik pakaian. Seperti hendak meraih sesuatu.

Plups...! "Uhukh...!"

Mayang Sutera terbatuk ketika tangan Jalantana yang menyelinap ke balik pakaian tibatiba ditarik keluar dengan cepat. Sebuah tabung bambu kuning ditiupkan dengan keras ke wajah Mayang Sutera. Semburan serbuk kuning mengotori wajah cantik Mayang Sutera. Namun itu tidak berlangsung lama. Setegukan teh kemudian warna kuning yang mengotori wajah Dewi Payung Emas hilang. 

Serbuk itu seperti masuk ke dalam pori-pori kulit Perubahan seketika terjadi pada diri Mayang Sutera. Tatapan matanya yang semula garang kini tidak nampak lagi. Bola mata kekasih Raja Petir terlihat begitu redup. Rupanya ia sudah terpengaruh kekuatan ampuh yang terkandung dalam serbuk kuning Serbuk Perampas Ingatan Gagak Paruh Emas.

"Bagaimana, Nona Mayang? Sekarang kau bersedia ikut kami menemui Tuan Gagak Sugi Pengasung?" tanya Jalantana dengan tatapan menusuk bola mata Mayang Sutera yang seperti mengantuk.

Mata redup Dewi Payung Emas membalas tatapan Jalantana. Kepalanya kemudian terangguk pelan, dan dari bibir tipisnya mengalir kalimat persetujuan yang keluar begitu perlahan. "Ya. Bawalah aku ke hadapan Gagak Sugih Pengasung." .

"Ha ha ha...!"

Di ruang kamar khusus Gagak Sugih Pengasung terbahak keras. Tatapannya sedikit pun tidak dialihkan dari pemandangan yang terekam bola kristalnya. Dalam bola kristal itu nampak Mayang Sutera tengah berjalan diiringi Jalantana dan kawan-kawannya.

"Hi hi hi.... Bagus! Bagus, Jalantana. Tapi akan lebih bagus kalau kau perintahkan Nona Mayang berlari menggunakan ilmu lari cepatnya, agar dia lebih cepat sampai ke pangkuanku," gumam Gagak Sugih Pengasung. 

"Lakukan itu, Jalantana!" teriak lelaki itu keras. Suaranya memantul-mantul di dinding-dinding kamar. Teriakan Wirya Setraging yang mengandung tenaga dalam tinggi membuat jiwa Jalantana seketika terpengaruh. Lelaki bercambang bauk lebat itu berkata pada Dewi Payung Emas.

"Sebaiknya kita gunakan ilmu lari cepat, Nona Mayang. Aku yakin, seperti halnya Gagak Sugih Pengasung, kau pun ingin segera berjumpa dengannya, bukan? Ayolah, gunakan ilmu lari cepatmu," ujar Jalantana.

"Baik, Tuan," sambut Mayang Sutera tanpa memandang wajah Jalantana.

"Hip!"

Kaki ramping gadis cantik berpakaian jingga itu terhentak kuat. Tubuhnya melesat cepat meninggalkan Jalantana dan kawan-kawannya yang tersenyum-senyum menyaksikan keberhasilan mereka. Keempat orang itu gembira karena akan mendapat sanjungan Gagak Sugih Pengasung.

"Hops!"

"Hops!"

Jalantana dan kawan-kawannya mengempos larinya dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yang dipadukan dengan ilmu lari cepat

Enam sosok bayangan terlihat saling berkejaran menuju sebuah lembah yang bernama Lembah Pengasung. Malam pun mulai menyelimuti mayapada.

* * *

Sementara itu cukup jauh di sebelah selatan, Jaka sempat kewalahan menghadapi Biraja yang menggunakan ilmu 'Racun Gagak Lembah Pengasung Membungkus Jagad'. Bukan saja karena keganasan racun yang ditimbulkan dari butiran-butiran benda sebesar telur puyuh, tapi juga kehebatan permainan sepasang pedang tangguh Biraja dan senjata-senjata Dima, Sarga, dan Ayuning.

Tapi karena kekebalan tubuh Jaka terhadap berbagai jenis racun, Biraja dan kawankawannya mendapat kesulitan untuk melenyapkan Raja Petir. Mereka malah terdesak ketika Jaka berhasil mengacaukan ilmu 'Racun Gagak Lembah Pengasung Membungkus Jagad'. 

Namun sayangnya Jaka harus kehilangan jejak ketika Biraja dan kawan-kawannya melemparkan butirbutiran peledak berwarna hitam pekat. Rupanya itulah senjata terakhir mereka untuk mengacaukan pemandangan Jaka. Mereka kabur karena tidak dapat menandingi kedigdayaan Raja Petir.

Brak!" Krak! Brugkh!

Sebatang pohon besar tumbang terhantam tangan Jaka sebagai pelampiasan kekecewaannya karena tak ditemuinya sosok Mayang Sutera di tempat Jaka meninggalkannya.

Meski tidak yakin Jaka memang harus percaya Mayang Sutera telah berhasil ditundukkan lawan-lawannya. Dia kini tengah menghadap Gagak Sugih Pengasung, yang katanya begitu mencintai Dewi Payung Emas.

***
EMPAT
Wirya Setraging atau Gagak Sugih Pengasung menatap tak berkedip kecantikan wajah Mayang Sutera yang kini ada di hadapannya. Hati lelaki tampan berusia tak lebih dari dua puluh delapan tahun itu berdesir-desir. Perasaan cintanya pada gadis jelita kekasih Raja Petir itu mengalir deras di seluruh pembuluh darahnya.

"Apa yang Gagak Sugih Pengasung inginkan dariku?" tanya Mayang Sutera membuka percakapan. Suaranya yang bening mengalir bagai air membuat Wirya Setraging tergetar. Suara Mayang Sutera terdengar begitu merdu dan amat sejuk di hati, hingga Wirya Setraging tidak segera menjawab pertanyaan gadis di hadapannya itu.

Wirya Setraging sesungguhnya heran dengan perasaan hatinya. Telah banyak dirinya mendapatkan gadis-gadis cantik yang menggoda kelelakiannya. Ia senang tenggelam pada surga dunia yang melenakan. Namun terhadap gadis jelita yang satu ini...? 

Wirya Setraging tidak kuasa berbuat pada gadis-gadis lain. Di matanya, Mayang Sutera bagai patung salju begitu indah dan tak boleh tersentuh jiwa yang panas, jiwa yang bergejolak oleh nafsu iblis. Mayang Sutera seperti pualam yang tak pantas disentuh tangan-tangan kotor.

"Jangan panggil aku dengan sebutan 'tuan', Mayang. Panggil saja Wirya atau Kakang Wirya," jawab Gagak Sugih Pengasung setelah beberapa saat membiarkan pertanyaan Dewi Payung Emas dan hanya menatap wajah cantiknya.

"Ya, Kakang Wirya. Sekarang apa yang harus kulakukan untukmu?" ucap Mayang Sutera menyanggupi keinginan Gagak Sugih Pengasung.

"Masuklah ke kamar yang telah disediakan, Mayang. Rebahkan dirimu dan istirahatlah dengan tenang," ujar Wirya Setraging dengan suara yang begitu lembut.

Seperti kerbau dicucuk hidung, Dewi Payung Emas bergerak ke pintu kamar yang ditunjuk Gagak Sugih Pengasung, itu berarti pengaruh Serbuk Perampas Ingatan Gagak Panah Emas bekerja dengan baik. Dara jelita kekasih Raja Petir itu menyibak tirai sutera yang menjuntai di depan pintu.

"Aku istirahat dulu, Kakang Wirya," ucap Mayang Sutera sebelum masuk ke dalam kamar yang tertata indah. Jauh-jauh hari kamar itu sudah dipersiapkan Gagak Sugih Pengasung.

"Ya. Istirahatlah," jawab Wirya Setraging dengan tatapan penuh cinta yang tertuju lurus ke wajah Dewi Payung Emas.

Malam merangkak perlahan ketika Dewi Payung Emas masuk ke kamar yang harum semerbak. Gadis cantik itu merebahkan diri di ranjang kayu jati yang berukiran bunga-bunga indah. Kepenatan yang dirasakan setelah bertarung dengan Jalantana dan kawan-kawannya membuat Mayang Sutera segera terlelap. Dengkurnya yang halus terdengar di dalam kamar yang begitu rapi dan cukup besar itu.

Sementara di luar kamar nampak Gagak Sugih Pengasung tengah termenung di depan bola kristalnya. Matanya tak lepas menatap bola kristal yang selama ini telah banyak membantu memenuhi keinginan-keinginannya. Tangan kanan lelaki tampan itu mengelus-elus sebilah senjata pusaka berbentuk dua rupa, sebelah berupa pedang dan yang lainnya seruling.

Memikirkan Dewi Payung Emas yang kini ada dalam kekuasaannya, Gagak Sugih Pengasung tiba-tiba teringat pada kekasih gadis jelita yang begitu dicintainya itu. Dialah Raja Petir yang mampu menghalau niat Biraja dan kawankawannya untuk melenyapkan dirinya.

Tak terasa malam terus bergulir. Sang Waktu telah membangunkan binatang-binatang dari peraduannya. Sinar matahari perlahan membias menerangi Lembah Pengasung yang menjadi wilayah kekuasaan Wirya Setraging.

Pagi ini lelaki tampan berpakaian indah bak anak pembesar istana itu, duduk di kursi berukir di pendopo rumah. Seorang lelaki tinggi tegap dan bercambang bauk lebat tersenyum melangkah menuju pendopo, menghampiri Tuan Gagah Sugih Pengasung yang tengah termenung.

"Tuan, sudah kau apakan gadis jelita itu. Apakah kau puas dengan pelayanannya?" tanya lelaki tinggi tegap yang ternyata Jalantana. Dia bercakap seperti itu karena tahu kebiasaan tuannya jika habis bermalam dengan gadis cantik yang baru didapatkannya. Gagak Sugih Pengasung tidak pernah marah dengan kelakuan Jalantana itu.

"Kau bisa menebak apa yang telah kulakukan terhadap Mayang, Jalantana?" Wirya Setraging balik bertanya.

Jalantana tersenyum-senyum mendengar pertanyaan Wirya Setraging.

"Tentu saja seperti biasanya, Tuan. Seperti "

"Tidak," potong Wirya Setraging memutus ucapan Jalantana.

"Tidak?" ulang Jalantana tidak percaya. "Ya. Aku tidak mampu berbuat apa-apa terhadap gadis itu," perlahan pengakuan itu keluar dari mulut Gagak Sugih Pengasung.

"Tuan...," sedikit bergetar panggilan Jalantana. Matanya tajam menatap wajah Wirya Setraging. "Apakah.... Apakah Tuan sa... sakit?" tanya Jalantana takut-takut

Wirya Setraging menggelengkan kepala. Pandangannya dilempar jauh ke ujung timur Lembah Pengasung.

"Lalu...?" usik Jalantana keheranan.

"Aku tak sanggup melakukan itu padanya, Jalantana. Entah mengapa. Hati kecilku melarang untuk melakukan perbuatan serendah itu terhadap Mayang. Atau cintaku yang terlalu besar hingga aku tidak kuat berbuat sekehendak hati," jelas Wirya Setraging dengan suara pelan.

Tak ada pertanyaan lagi yang keluar dari mulut Jalantana. Mata lelaki bercambang bauk itu ikut menerawang ke arah Wirya Setraging memandang. Hati Jalantana berkata-kata sendiri. "Cinta memang aneh. Cinta bisa membuat yang baik menjadi buas, dan merubah yang buas menjadi jinak," kemudian Wirya Setraging menghela napas panjang-panjang.

"Aku begitu menyayanginya hingga aku jadi begitu takut menjamahnya dengan kasar," ucap Wirya Setraging lagi. Kali ini tatapan matanya menetap lekat wajah Jalantana.

"Maaf. Tuan. Nona Mayang memang telah punya seorang kekasih. Dan karena kegagalan Biraja dan teman-temannya. Raja Petir masih hidup. Tentunya tokoh tingkat tinggi itu akan mencari kekasihnya. Tuan pasti mengerti, lambat laun Raja Petir akan membuat perhitungan dengan Tuan," papar Jalantana mengingatkan.

"Jika aku campur tangan langsung untuk mengirim Raja Petir ke neraka, kupastikan aku akan mampu melakukannya tanpa menemui banyak kesulitan sedikit pun, tapi itu tak mungkin kulakukan. Aku menginginkan kematian Raja Petir melalui tangan orang lain. Secepatnya akan kuutus mereka untuk melenyapkan Raja Petir," tegas Gagak Sugih Pengasung. "Terkecuali jika utusanku tidak sanggup, terpaksa aku yang turun tangan sendiri."

"Tuan, siapakah utusan yang kau maksudkan?" tanya Jalantana ingin tahu. Seandainya dirinya yang diutus, sudah pasti dia akan mengalami kegagalan seperti Biraja, Dima, Sarga, dan Ayuning. Jalantana sadar kalau kemampuannya tidak melebihi kepandaian orang-orang itu. Gagak Sugih Pengasung menatap wajah Jalantana. Sementara tangan kanannya menyelinap masuk ke balik pakaiannya. 

"Kau antarkan surat-surat ini pada Kakang Gurilang Laut, Adi Sanca Lodaka, Dan Nyi Layu Kumbara," ujar Wirya Setraging seraya memberikan tiga pucuk surat yang ditulisnya di atas kulit kayu.

Tanpa banyak cakap lagi, Jalantana menerima surat-surat yang disodorkan Gagak Sugih Pengasung. Namun dia sempat tercengang mendengar nama-nama yang disebutkan Wirya Setraging. Gurilang Laut yang dikenal dengan julukan Ular Laut Merah adalah seorang tokoh sakti golongan hitam yang terkenal sulit memberi bantuan pada orang lain tanpa imbalan harta benda yang paling disayangi si empunya. 

Bukan mustahil kalau Mayang Sutera yang nantinya diminta Ular Laut Merah. Sedangkan Sanca Lodaka seorang tokoh golongan hitam yang berjuluk Sanca Moncong Emas. Nyi Layu Kumbara atau Ratu Selendang Kabut tidaklah terlalu dipikirkan Jalantana.

"Kau memikirkan apa, Jalantana? Ayo, cepat laksanakan tugasmu sekarang juga," perintahnya.

Jalantana menatap wajah Gagak Sugih Pengasung.

"Sepertinya kau keberatan kalau aku menggunakan jasa Ular Laut Merah, Jalantana," tebak Wirya Setraging.

"Benar, Tuan. Kakang Gurilang Laut bukan saja ular, tapi juga lintah darat. Aku khawatir dia meminta Nona Mayang sebagai imbalan atas jasanya," tutur Jalantana membenarkan dugaan Gagak Sugih Pengasung.

"Ha ha ha "

Jalantana keheranan mendengar tawa Gagak Sugih Pengasung. Sepertinya Wirya Setraging tidak takut akan permintaan Ular Laut Merah nanti.

"Kakang Gurilang Laut tidak akan berbuat culas padaku, Jalantana. Dia akan membantuku dengan suka rela tanpa sedikit pun meminta balas jasa, tidak seperti pada orang lain yang membutuhkan bantuannya. Ular Laut Merah memang lintah darat untuk orang lain, tapi tidak untukku," jelas Gagak Sugih Pengasung tegas. 

"Kalau berani juga melakukan hal itu, maka akan kuberi dia pelajaran dengan senjataku ini yang mampu memainkan ilmu 'Irama Ular Setan' dan itu akan berakibat Kakang Gurilang Laut mengalami kelumpuhan seumur hidup, kecuali jika aku berbaik hati memberikan ramuan pemunah pengaruh ilmu 'Irama Ular Setan' untuknya," lanjut Wirya Setraging memperjelas dan itu membuat Jalantana membuang seluruh kekhawatirannya.

Tanpa diperintah dua kali Jalantana segera memutar tubuhnya. Dia tahu harus pergi ke mana untuk menemui Ular Laut Merah, Sanca Moncong Emas, dan Ratu Selendang Kabut. Wirya Setraging tersenyum-senyum menyaksikan kepergian anak buahnya.

"Sebentar lagi kau pasti akan mampus. Raja Petir!" teriak Wirya Setraging dalam hati. Tiga hari kemudian, sesuai waktu yang diinginkan Gagak Sugih Pengasung. Gurilang Laut si Ular Laut Merah, Sanca Lodaka atau yang lebih dikenal dengan julukan Sanca Moncong Emas serta si Ratu Selendang Kabut yang bernama asli Nyi Layu Kumbara bersamaan datang ke kediaman Wirya Setraging. Ketiga tokoh golongan hitam itu duduk di hadapan Wirya Setraging di ruang khusus yang telah disediakan.

"Aku heran kenapa kau harus minta bantun kami jika hanya untuk melenyapkan bocah ingusan itu, Wirya Setraging," Gurilang Laut buka suara dengan tatapan mata tidak berkedip.

"Betul, Kakang Wirya," sambut Sanca Lodaka. "Kesaktian Raja Petir bukan apa-apa jika dibanding kesaktianmu," lanjutnya. "Jadi, apa perlunya Kakang mengundang kami?"

"Ah, jangan merendahkan Raja Petir, Adi Sanca. Dia tidak mungkin memiliki julukan yang harum di rimba persilatan ini jika tidak memiliki kesaktian yang patut kuperhitungkan. Aku sendiri menyesal telah merendahkannya dengan mengirimi anak buahku untuk mengenyahkannya dari jagad ini. Nyatanya mereka tak mampu melakukannya. Itu sebuah bukti kalau Raja Petir patut kita perhitungkan kesaktiannya."

"Alasanmu cukup tepat, Adi Wirya. Aku setuju sekali," tukas Nyi Layu Kumbara. "Ah, ngomong-ngomong, seperti apa kecantikan  gadis yang kau gila-gilai itu, Adi Wirya. Sepertinya aku tak sabar untuk melihatnya."

"Kecantikannya sama dengan kecantikan Nyi Kumbara semasa muda dulu," kilah Gagak Sugih Pengasung.

"Ah. Kau bisa saja, Gagak Sugih. Cepatlah perlihatkan si Jelita kekasihmu itu. Aku yakin Adi Gurilang dan Adi Lodaya ingin segera pula menyaksikan raut wajah kekasih hatimu itu. Bukan begitu?" tanya Nyi Layu Kumbara pada Gurilang Laut dan Sanca Lodaka.

"Betul, Nyi," sahut Ular Laut Merah. "Tapi aku ingin tahu alasan Adi Wirya akan ketidakinginannya menghadapi Raja Petir," lanjut Gurilang Laut tegas.

"Oh. Itu Kakang Gurilang. Jelas sekali aku akan memberitahukannya padamu."

"Ya. Katakanlah, Kakang Wirya," pinta Sanca Lodaka tak sabar.

Gagak Sugih Pengasung menatap wajah Ular Laut Merah, Sanca Moncong Emas, dan Ratu Selendang Kabut bergantian. "Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darah lelaki yang mencintai gadis yang sangat kucintai. Apalagi gadis itu mencintainya," tukas Wirya Setraging mantap.

"Hm Alasanmu masuk di akal. Sekarang, cepat kau bawa gadis itu ke hadapan kami," pinta Nyi Layu Kumbara.

Gagak Sugih Pengasung segera bangkit dan melangkah ke kamar Mayang Sutera. Beberapa saat kemudian lelaki tampan pemilik bola kristal sakti itu kembali dengan seorang gadis cantik yang mengenakan kerudung berhiaskan serat emas. Di kepala gadis cantik itu bertengger sebuah mahkota berbentuk manis, dihiasi batubatu permata yang berkilauan tertimpa sinar yang menerobos masuk lewat kisi-kisi jendela.

"Tak kusalahkan jika kau tergila-gila padanya, Adi Wirya Setraging," tukas Nyai Layu Kumbara setelah menyaksikan kecantikan Mayang Sutera dengan dandanan yang begitu sesuai.

"Hati-hati kau jatuh cinta padanya, Adi Sanca," bisik Ratu Selendang Kabut di telinga Sanca Moncong Emas.

"Aku laki-laki normal, Nyi."

"Bagaimana? Dia seperti bidadari, bukan?" tanya Gagak Sugih Pengasung menunjuk ke arah Mayang Sutera.

"Ya ya ya Matamu memang masih muda,

Wirya," sambut Ular Laut Merah. "Untuk itu kami tidak bisa berlama-lama berada di sini. Kau pasti ingin bersenang-senang dengannya. Sekarang juga kami pamit untuk melaksanakan tugas," lanjut Gurilang Laut, kemudian bangkit dari duduknya.

"Ah. Terima kasih, Kakang Gurilang. Memang lebih cepat tugas itu selesai lebih baik," ujar Gagak Sugih Pengasung. Tatapan matanya beralih pada wajah Nyi Layu Kumbara dan Sanca Lodaka. "Aku berterima kasih atas kesediaan kalian untuk membantuku."

"Sama-sama, Adi Wirya. O, ya. Kapan kau resmikan hubungan kalian?" tanya Ratu Selendang Kabut

"Secepatnya. Setelah apa yang kuinginkan terlaksana. Setelah pertolongan kalian kuterima hasilnya," jawab Wirya Setraging dengan tersenyum.

"Tentu saja kami akan melakukan sebaik dan secepat mungkin. Kau tidak akan kami kecewakan, Wirya," timpal Ular Laut Merah

"Terima kasih, Kakang Gurilang."

"Kami berangkat sekarang," pamit Sanca Lodaka.

Ular Laut Merah, Sanca Moncong Emas, dan Ratu Selendang Kabut pergi meninggalkan Wirya Setraging dan Dewi Payung Emas yang tengah berpegangan tangan.

"Semoga kalian berhasil," gumam Gagak Sugih Pengasung. Tatapannya kemudian beralih ke wajah cantik Mayang Sutera.

***
LIMA
Matahari di atas Desa Baritang bersinar cukup terik, hingga menghadirkan suasana yang tidak menyenangkan. Orang-orang yang berada di dalam rumah merasa kegerahan. Sementara mereka yang di luar rumah bergegas mencapai kediamannya.

Tiga orang lelaki dan seorang perempuan jelita berusia tidak lebih dari dua puluh tahun tampak tengah melangkah lebar-lebar. Tujuan mereka sebuah kedai yang berada tak jauh di hadapannya, sekitar enam batang tombak. 

"Sebaiknya kita mampir dulu ke warung itu, Ayah," ucap gadis cantik berpakaian putih seraya menatap wajah lelaki berusia lima puluh lima tahun. Lelaki itu tak lain Terala, orang yang masih terhitung paman Jaka. Sedangkan si Gadis jelita anak tunggalnya yang bernama Seruni.

"Kau setuju, Kakang Gumai, Gagah Bayu?" tanya Terala pada lelaki berpakaian biru laut yang tak lain Gumai Gumarang si Pendekar Pedang Biru.

"Itu memang yang kuingini, Adik Terala. Bukankah begitu, Gagah Bayu?" jawab Gumai Gumarang melempar pertanyaan pada lelaki gagah dan tampan di sebelahnya.

"Betul, Paman," sambut lelaki berusia dua puluh empat tahun. Pandangannya kemudian beralih ke wajah Seruni, gadis cantik putri tunggal Terala yang begitu dikasihi dan dicintainya.

"Kalau begitu, ayo kita ke sana," putus Terala. (Untuk lebih jelas mengenai Terala, Gumai Gumarang, dan Seruni silakan simak episode lalu yang berjudul "Pembalasan Berdarah" dan "Empat Setan Goa Mayat").

Tiga lelaki dan seorang perempuan itu segera masuk ke kedai dan memesan minuman serta makanan kesukaan masing-masing.

"Hm.... Kasihan Tuan Lanjalaka. Sebenarnya salah apa dia hingga Ular Laut Merah, Sanca Moncong Emas, dan Ratu Selendang Kabut membunuhnya, bahkan juga istri dan anaknya?" ucap Seruni dengan mulut masih terisi kunyahan ayam bakar. 

"Ketiga tokoh hitam yang kau sebutkan itu adalah orang-orang bermoral bejat. Mereka berwatak bengis dan tidak punya perikemanusiaan. Menurutku, Tuan Lanjalaka tidak salah. Wajar saja kalau dia menolak pinangan Sanca Lodaka terhadap Putih Lempuyang. Apalagi jelas-jelas anaknya itu tidak mencintai Sanca Lodaka."

"Hei! Kenapa aku baru tahu?" ujar Seruni. "Jadi hanya persoalan cinta yang membuat nyawa Tuan Lanjalaka dan keluarganya melayang? Huh! Betapa bejatnya pembunuh-pembunuh itu," maki Seruni. 

"Biar mereka dikutuk sang Pencipta Kehidupan ini."

"Ah. Sudahlah, Seruni. Mungkin itu suratan yang dituliskan sang Pencipta Jagad untuk Tuan Lanjalaka dan keluarganya," ucap lelaki berpakaian merah muda seraya menyentuh punggung tangan kekasihnya. "Sekarang mari kita nikmati hidangan lezat ini. Jangan sampai kita kehilangan selera," tambahnya.

"Kau betul, Gagah Bayu. Ayo kita santap habis hidangan ini," tukas Gumai Gumarang.

Dimasukkannya potongan ayam panggang ke mulutnya. Seruni segera mengikuti. Untuk sementara persoalan kematian Tuan Lanjalaka beserta keluarganya terlupakan. Pada saat Terala, Gumai Gumarang, Gagah Bayu, dan Seruni tengah nikmat-nikmatnya menyantap hidangan, seorang lelaki muda dan tampan masuk ke dalam kedai. 

Kehadiran lelaki berpakaian kuning keemasan itu menarik perhatian penghuni kedai yang duduk di dekat pintu. Lelaki yang tak lain Jaka segera mengambil tempat duduk di sudut kedai. Namun baru saja dia hendak meletakkan pantatnya, sebuah panggilan menghentikan gerakannya.

"Jaka...!"

Terkejut dan gembira Jaka melihat Terala. Apalagi di situ juga ada Paman Gumai Gumarang dan Seruni.

"Paman...," panggil Jaka. Langkahnya bergerak menghampiri Terala.

"Kakang.... Ah, kau baik-baik saja?" sambut Seruni menyongsong kedatangan Jaka. Sikap Seruni sempat membakar kecemburuan di hati Gagah Bayu. Lelaki muda itu tak berkedip menyaksikan kemanjaan Seruni kepada Jaka.

"Aku baik-baik saja, Runi. Mudahmudahan kalian juga begitu," jawab Jaka kalem.

"Kau duduklah di sini, Kakang. Biar, aku ambil kursi yang lain," ujar Seruni. Tubuhnya bergerak bangkit ke arah kursi kosong.

"Kapan Kakang berhenti mengembara? O, ya. Mana Nini Mayang?"

"Aku tengah mencarinya, Runi?"

"Mencarinya? Kalian bertengkar?" tanya Terala.

"Tidak."

Keheningan tercipta sejenak. Tak ada pertanyaan dari Seruni dan Terala. Begitu juga dengan Gagah Bayu. Hatinya yang barusan terbakar api cemburu serta merta tak lagi dirasakan.

"Kukira Mayang berada dalam tawanan Gagak Sugih Pengasung," ujar Jaka dingin. "Ditawan Gagah Sugih Pengasung?" terkejut Gumai Gumarang.

"Paman Gumai mengenal Gagak Sugih Pengasung?" tanya Seruni.

"Dia tokoh golongan hitam yang berilmu tinggi dan seorang ahli sihir, Runi," jawab Gumai Gumarang. "Dia gemar dengan gadis-gadis jelita dan daun-daun muda."

"Oh...!" Seruni terpekik mendengar penjelasan Pendekar Pedang Biru.

"Dia juga tergabung dalam komplotan orang-orang yang telah melenyapkan nyawa Lanjetlaka dan keluarganya," jelas Gumai Gumarang.

"Biadab! Akan kubunuh mereka kalau kujumpai!" geram Seruni.

"Apa kemampuanmu sudah bisa menandingi mereka, Runi?" tanya Terala menggoda. "Menghadapi putri Lanjalaka saja kurasa kau memerlukan ratusan jurus."

"Eh.... Oh. A.... Aku hanya kesal saja pada mereka. Ayah. Mereka betul-betul seperti iblis."

"Ya. Kita semua memang harus bekerja sama untuk menghancurkan watak iblis mereka. O ya, Jaka. Paman ingin mendengar cerita mengenai kekasihmu," pinta Terala.

Permintaan Terala segera dipenuhi Jaka. Semua diceritakannya tanpa ada yang tertinggal sedikit pun.

"Semua gadis cantik memang dicintai Gagak Sugih Pengasung. Dia seorang pecandu perempuan jelita. Oh, kami berempat akan membantu menemukan Nini Mayang," tutur Gumai Gumarang.

"Terima kasih, Paman," ucap Jaka. "Kalau boleh kutahu, sebenarnya dari mana Paman dan juga "

"Namaku Bayu. Gagah Bayu lengkapnya," sambut kekasih Seruni seraya mengulurkan tangannya.

"Namaku Jaka Sembada," sambut Jaka. "Kalau boleh kuduga, kau adalah kekasih Seruni. Jika betul pandai-pandailah kau menjaganya. Jangan seperti aku yang lengah hingga gadis yang kucintai hilang disambar orang," senyum Jaka sedikit terkembang.

"Itulah manusia, Jaka. Kelengahan adalah penyakit yang pasti dimiliki," kilah Terala. "Kami berempat baru saja pulang melayat dari Desa Magatan. Seorang sahabat kami beserta keluarganya tewas dibantai Ular Laut Merah dan kawankawannya."

"Ha ha ha...! Ha ha ha !"

Tiba-tiba tawa menggelegar terdengar memekakkan telinga. Tawa itu berkepanjangan hingga para pengunjung kedai dan pemiliknya tidak dapat bertahan. Mereka ambruk ke tanah dengan telinga seperti mau pecah.

Terala, Gumai Gumarang, Seruni, Gagah Bayu, dan Jaka mengalami hal yang sama. Namun mereka berhasil mementahkan suara tawa yang dikerahkan melalui tenaga dalam tingkat tinggi itu.

"Hentikaaan...!" bentak Gumai Gumarang. Tubuhnya seketika melesat keluar kedai, menghampiri orang yang tertawa. Terala dan yang lainnya segera mengikuti. Mereka melesat cepat ke luar kedai.

"Ular Laut Merah?!" Terala mengenali lelaki tinggi kurus yang mengenakan pakaian merah darah. Di tangan lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu tergenggam sebilah pedang berkeluk sembilan yang juga berwarna merah darah. Hulu pedang itu berbentuk kepala ular kobra.

"Ha ha ha.... Bagus kalau kau mengenaliku, Tua Peot," sentak Gurilang Laut. Dia berdiri pongah di samping Sanca Lodaka dan Ratu Selendang Kabut yang juga berdiri angkuh.

"Hm. Kenapa kau tertawa seperti itu, Gurilang? Tidak tahukah kau kalau tawa itu begitu menyakitkan. Kau lihat di dalam kedai sana, mereka semua ambruk ke lantai karena tak kuat mendengar tawamu," ucap Terala dengan sikap yang cukup tenang.

"Aku tertawa karena mendengar orang di dalam kedai menyebut-nyebut namaku dan mengaku sebagai sahabat si Banci Lanjalaka. Aku akan membuat perhitungan dengan orang itu. Akan kukirim dia sekarang juga ke dasar neraka!" sahut Ular Laut Merah. Tangan kirinya mengangkat pedang merah berkeluk sembilan. "Kaukah yang barusan menyebut-nyebut namaku?" tanya Ular Laut Merah.

"Ya. Aku," jawab Terala mantap.

"Hm. Berarti kalian sahabat-sahabat Lanjalaka yang telah menolak lamaran adikku Sanca Lodaka. Kalian semua harus mampus!" 

"Sabar, Kakang Gurilang," tahan Sanca Lodaka. Disentuhnya tangan Gurilang Laut. "Kuharap kau sudi menyisakan dara jelita itu. Biarlah aku tidak bisa mendapatkan Putih Lempuyang. Dara jelita itu pun tak kalah menariknya untuk menggantikan kedudukan Putih Lempuyang," seraya jari telunjuk menuding sosok Seruni.

"Hi hi hi.... Matamu awas juga, Sanca. Gadis itu memang cantik dan pantas untuk kau persunting," timpal Ratu Selendang Kabut seraya menatap wajah anak tunggal Terala. "Siapa namamu, Anak Manis?" tanya Nyi Layu Kumbara pada Seruni.

"Siapa sudi memperkenalkan diri pada siluman-siluman seperti kalian?!" sentak Seruni di luar dugaan Sanca Lodaka.

"Jaga dirimu, Anak Manis. Kau bisa menyusul Putih Lempuyang ke neraka kalau katakata kasar sekali lagi kau ucapkan!" ancam Gurilang Laut

"Adi Gurilang, kita hampir melupakan kehadiran seseorang yang tengah kita cari," ujar Selendang Kabut

"Raja Petir maksudmu, Nyi?" tanya Gurila Laut dengan melempar tatapan ke arah Jaka.

"Ya."

"Lupakan saja bocah bau kencur itu. Kita urus dulu keinginan Sanca Lodaka mempersunting gadis jelita itu," tunjuk Gurilang Laut pada Seruni.

"Lelaki gila!" maki Seruni kasar.

"Hm.... Kau sudah melanggar peringatanku, Gadis Angkuh! Berarti kau harus mampus menyusul Putih Lempuyang!" bentak Gurilang Laut

"Nyawa tidak berada digenggamanmu, Ular Laut Merah," cetus Jaka dengan kaki terayun dua langkah membelakangi Terala, Gumai Gumarang, Gagah Bayu, dan Seruni. Tangannya bersidekap di atas perut. "Sebelum kesombonganmu terbukti, aku ingin tahu lebih dului ada urusan apa kalian mencariku? Apakah ada hubungannya dengan Gagak Sugih Pengasung?" lanjut Jaka menduga-duga.

Sengaja pertanyaan itu dilemparkan karena dari Terala, Jaka tahu kalau ketiga orang di hadapannya itu adalah sahabat Gagah Sugih Pengasung.

"Rupanya kau sudah tak sabar ingin segera pergi bertamasya ke liang lahat. Raja Petir," ujar Ratu Selendang Kabut yang juga melangkah dua tindak. "Kujelaskan padamu. Kami adalah utusan Gagak Sugih Pengasung yang berhajat melenyapkanmu. Kamilah wakil darinya!"

Jaka tersenyum mendengar ucapan perempuan cantik berpakaian kelabu dan berselendang hitam itu.

"Tuan-tuan dan Nona yang cantik," ucap Jaka mengejek. "Jika kalian adalah utusan Gagak Sugih Pengasung yang memerintahkan untuk membunuhku, itu berarti kalian tahu di mana Mayang Sutera berada. Atau tepatnya, di mana gadis itu disembunyikan. Tolong beritahukan aku," lanjut Jaka dengan kata-kata yang terdengar begitu tenang.

"Ha ha ha.... Di liang kubur nanti malaikat akan mcmberitahumu. Raja Petir!" jawab Sanca Lodaka ketus.

"Baiklah. Jika kalian berkeberatan memberitahukannya, jangan salahkan aku jika kurobek mulut kalian," gertak Jaka mengimbangi ucapan Sanca Lodaka.

"Nama besarmu di jagad persilatan rupanya telah membuat sombong, Raja Petir. Aku ingin tahu mampukah kau mempertahankan kesombongan itu," tantang Gurilang Laut Senjatanya terangkat ke udara. Bersiaplah!"

Jaka merenggangkan kakinya sebagai jawaban atas ucapan Ular Laut Merah. Pemuda nan tampan dan gagah itu berdiri dengan kuda-kuda kokoh.

"Hiaaat..!"

***
ENAM
Gurilang Laut atau Ular Laut Merah berteriak lantang. Tubuhnya mencelat tinggi ke angkasa dan meluruk turun dengan cepat menggunakan jurus 'Pagutan Ular Merah Memangsa Gurita'. Tangan kanan lelaki berpakaian merah darah itu membentuk moncong ular.

Wuttt...!

"Ips!"

Begitu cepatnya sambaran tangan Gurilang Laut yang mengarah ke batok kepala Jaka. Namun lebih cepat lagi gerakan menghindar yang dilakukan Jaka dengan mengerahkan jurus 'Lejitan Lidah Petir'.

"Jangan putus asa, Ular Merah. Ulangi lagi seranganmu," ejek Jaka yang berdiri terpaut satu batang tombak dengan lawan.

"Sombong kau. Raja Gila! Kuhancurkan batok kepalamu sekarang juga!" geram Ular Laut Merah murka. Tubuhnya kembali bergerak cepat memainkan jurus yang sama.

Wut! Wut...!

Cecaran telapak tangan yang membentuk paruh ular bergerak-gerak dua kali lebih cepat. Sasarannya tidak hanya ubun-ubun, tapi juga ke bagian kening dan ulu hati. Berkali-kali sambaran tangan Ular Laut Merah luput dari sasaran. Itu membuat Gurilang Laut merasa dipermalukan. Karenanya, dia segera membuka jurus-jurus yang lain.

'"Ular Membelah Laut'! Hiyaaat...!" Wrrr...!

Serangkum sinar kemerahan meluruk deras dari tangan Ular Laut Merah yang berbentuk moncong ular. Sinar kemerahan itu menebarkan bau amis yang cukup menyengat

"Hop!"

Jaka menghentakkan kakinya kuat-kuat menghindari terjangan sinar merah Gurilang Laut Tubuhnya melenting di udara dan berputaran beberapa kali. Kemudian dengan tanpa suara, tubuh terbalut pakaian kuning emas itu mendarat di tanah.

Belum lagi setegukan teh kaki Jaka menjejak tanah, sosok lain sudah bergerak cepat menghantamkan pukulannya ke batang leher. Angin menderu mengiringi datangnya serangan yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

Bet! "Heh?!"

Jaka menarik tubuhnya ke belakang. Sementara lehernya dimiringkan ke samping kanan. Gerakannya yang cepat membuat serangan Sanca Lodaka luput beberapa jari. Namun Sanca Lodaka dengan cerdik mengambil kesempatan yang dilihatnya. Dengan cepat dia mengirimkan tendangan memutar yang terarah ke dada Jaka.

"Hih!" Plak!

Tak ada lenguh kesakitan ketika tangan dan kaki itu berbenturan keras. Kedudukan Raja Petir tergeser dua tindak. Demikian pula dengan Sanca Lodaka. Di saat pertarungan terhenti sejenak, Terala melesat ke arah Jaka.

"Sebaiknya kita bertarung satu lawan satu," tantang Terala dengan bibir mencibir ke arah Sanca Lodaka.

"Apa pedulimu, Tua Bangka! Kalau kau mau ikut bertarung, majulah! Biar kukirim secepatnya nyawa tuamu ke neraka!" balas Sanca Lodaka.

"Baik!" ucap Terala menahan marah. "Tapi yang tua tidak pantas menyerang lebih dulu, kaulah yang mengawali."

Belum lagi gema ucapan Terala menghilang, lelaki berpakaian rompi dengan corak sisik ular melesat cepat mengerahkan pukulan lurus ke dada Terala.

"Hiyaaa...!" Bet! Wet! "Bts!"

Terala membawa mundur tubuhnya dua langkah. Namun saat kaki lelaki tua itu bergerak, dia memberikan serangan tak terduga lewat tendangan menekuk ke arah kemaluan Sanca Lodaka. Mau tak mau tokoh sesat itu melempar tubuhnya ke kanan.

Pada saat yang bersamaan Ratu Selendang Kabut bergerak menyerang Terala. "Lebih baik kubantu kau, Sanca. Biar lebih cepat," ujar Nyi Layu Kumbara. Sebuah tendangan bertenaga tinggi meluncur ke bagian dada Terala.

Buet! "Heh?! Uts!"

Tubuh tua yang terbungkus pakaian putih itu melenting ke udara. Ringan dan indah gerakan yang dilakukan Terala, tapi manfaatnya sangat hebat. Serangan Ratu Selendang Kabut mentah begitu saja.

Nyi Layu Kumbara kesal melihat serangannya dikandaskan Terala. Dengan cepat dia kembali melancarkan serangan susulan. Bersamaan dengan itu Sanca Lodaka ikut melakukan serangan.

"Hyaaa...!"

Terkesiap Gumai Gumarang menyaksikan kecurangan lawan-lawan Terala. Maka, seketika itu juga Pendekar Pedang Biru melesat menyongsong serangan Nyi Layu Kumbara.

"Jangan curang, Nyi!" bentak Gumai Gumarang. Ia memberikan sodokan tangan ke arah iga perempuan berpakaian kelabu dan berselendang hitam.

Melihat serangan Gumai Gumarang, Ratu Selendang Kabut serta merta menarik serangannya. Tangannya bergerak cepat memapak sodokan tangan Gumai Gumarang.

Plak! "Ikh!"

Pekik tertahan terdengar dari mulut Gumai Gumarang dan Nyi Layu Kumbara. Dua tokoh berbeda aliran itu terhuyung dua langkah ke belakang.

"Hm.... Tak kusangka kau yang sudah tua masih memiliki tenaga cukup kuat," ucap Nyi Layu Kumbara mengejek lawannya.

"Kau pikir cuma dirimu yang punya tenaga, heh?!" balas Gumai Gumarang.

"Ah. Sebaiknya kita tentukan siapa di antara kita yang paling hebat," kata Nyi Layu Kumbara. "Bersiaplah menghadapi Selendang Kabutku. Aku tidak ingin bermain-main dengan lelaki tua sepertimu yang sudah tidak sedap dipandang."

"Mari!" sambut Gumai Gumarang. Tangannya meraba hulu pedangnya yang berwarna biru.

Nyi Layu Kumbara atau Ratu Selendang Kabut segera meloloskan selendang hitam yang membelit dada dan pinggangnya. Pamor senjata itu begitu jelas terlihat. Ketika selendang hitam terlepas dari tubuh pemiliknya, hawa di sekitar tempat pertarungan berubah dingin.

"Hm.... Aku tidak boleh bermain-main menghadapi hantu perempuan ini," gumam Gumai Gumarang. Kemudian tangannya bergerak mencabut pedang dari warangkanya.

Sring!

Sinar kebiruan memendar sewaktu senjata Gumai Gumarang lolos dari tempatnya.

"Hm. Terima ini, Lelaki Peot! Hih!"

Splasrts !

Pergelangan tangan Nyi Layu Kumbara bergerak lincah. Selendang Kabut hitamnya melecut cepat menimbulkan ledakan yang menjelmakan uap seperti kabut. Hitam dan semakin lama semakin tebal.

Wung! Wung !

Gumai Gumarang walau pandangannya terhalang kabut tebal yang keluar dari senjata lawan segera memutar pedangnya untuk mengacaukan. Namun apa yang dilakukan Gumai Gumarang ternyata sia-sia belaka. Kabut tebal jelmaan jurus 'Kabut Buta Nyawa Binasa' olahan Ratu Selendang Kabut tidak berhasil dikacaukan. Malahan sebuah teriakan nyaring didengar Gumai Gumarang.

"Hyaaat !"

"Kurang ajar! Aku tidak bisa melihat dari mana perempuan iblis itu menyerang...," Gumai Gumarang sedikit kebingungan. Namun kecerdikan pikirannya mengajarkan kalau dia harus bergerak berpindah-pindah tempat, meski tak tahu arah serangan lawan.

Bugkh! "Akh!"

Pendekar Pedang Biru terjajar mundur empat langkah. Bahunya terhantam dengan keras telapak kaki Ratu Selendang kabut. Dia merasakan tulang bahu kirinya bergetar hebat dan berdenyut sakit

"Hik hik hik.... Kiranya hanya sampai di situ saja kemampuanmu, Tua Peot. Sebaiknya jangan berlama-lama kau hidup. Hijrahlah kau ke liang lahat, Peot!" Nyi Layu Kumbara dengan menghina memperhatikan wajah Gumai Gumarang yang meringis kesakitan. "Sekarang sambutlah detik-detik kematianmu! Hih!"

Splarts...!

Kembali Selendang Maut Nyi Layu Kumbara bergerak dan meledak. Ledakannya kali ini terdengar lebih dahsyat. Kabut yang lebih tebal langsung menjelma mengurung tubuh Gumai Gumarang.

"Hik hik hik.... Sekarang juga jurus 'Selendang Maut Membedah Otak' akan menamatkan riwayatmu," ujar Ratu Selendang Kabut

Tangan kanan perempuan itu menggenggam selendang hitam hingga melewati dagu. Selendang itu berubah menjadi kaku bagai lempengan logam. Nyi Layu Kumbara sudah memindahkan kekuatan tenaga dalamnya yang tinggi pada selendang yang digunakannya sebagai senjata. Sementara itu pada pertarungan lain, antara Jaka melawan Ular Laut Merah, berjalan cukup alot. 

Nafsu Iblis Gurilang Laut yang hendak secepatnya membinasakan Raja Petir membuatnya mengerahkan seluruh kemampuannya dengan kecepatan yang luar biasa. Namun sayang, di balik serangan-serangan yang dahsyat itu, Ular Laut Merah lengah dalam pertahanan. Sebenarnya kelemahan Gurilang Laut Merah tidak akan terlihat jika lawannya bukan Raja Petir yang selalu meneliti setiap gerakan lawan. 

Tentu saja kelengahan Gurilang Laut secepat mungkin dimanfaatkan anak angkat Nyi Selasih (Baca episode "Pembalasan Berdarah"). Dia pun sempat melihat bahaya yang mengancam Gumai Gumarang yang bertarung melawan Ratu Selendang Kabut. Maka tak ayal lagi Jaka mengerahkan sepasang tangannya yang terangkum dalam jurus 'Menggiring Awan'.

"Hiaaa...!" Plak! Bug! "Hiegkh!"

Tubuh Gurilang Laut langsung terjajar lima langkah ke belakang. Hantaman tangan kiri dan kanan Jaka mengenai dagu dan dadanya dengan telak. Namun patut dipuji daya tahan Ular Laut Merah. Tubuhnya tidak ambruk ke tanah meski terkena pukulan yang cukup keras.

Sebenarnya Jaka bisa saja jika hendak memberikan serangan susulan, namun itu tidak mungkin dilakukannya. Dirinya sebetulnya tidak punya urusan dengan Gurilang Laut. Apalagi pada saat yang sama Gumai Gumarang sangat membutuhkan pertolongan.

"Hiyaaa...!"

Terkejut Raja Petir mendengar teriakan melengking Nyi Layu Kumbara. Perempuan hampir setengah abad itu melesat ke arah Gumai Gumarang yang masih merasakan sakit pada sebelah bahunya.

Tanpa membuang-buang waktu, untuk menyelamatkan Gumai Gumarang, Jaka segera berbalik dan membentuk kuda-kuda gantung. Kemudian tangannya menghentak ke depan dengan keras.

"Hih!"

Wrrr...!

Serangkum angin bergulung bagai pusaran meluruk deras menuju Nyi Layu Kumbara.

"Heh?!"

Ratu Selendang Kabut tentu saja terkejut. Angin panas bergulung-gulung meluncur ke arahnya. Pikirannya yang hendak membinasakan Gumai Gumarang jadi terpecah. Ia lebih mementingkan keselamatan dirinya dengan menarik pulang serangannya, dan menghindari serangan maut Jaka lewat jurus 'Pukulan Pengacau Arah'.

"Setan! Hops...!"

***
TUJUH
Ratu Selendang Kabut menghentakkan kainnya kuat-kuat. Tubuhnya pun mencelat ke udara dan berputaran dengan indah. Ketika maut telah menghindar dari Gumai Gumarang, Jaka segera memperingati Seruni dan Gagah Bayu yang semenjak tadi hanya berdiri menonton. 

Sepasang muda-mudi itu memang terpengaruh oleh pertarungan hebat yang jarang mereka saksikan. Hingga mereka tidak berani ikut terjun ke kancah pertarungan. Seruni dan Gagah Bayu merasa ilmu mereka demikian dangkal.

"Runiii...! Selamatkan Paman Gumai!" teriak Jaka lantang.

Seruni seperti orang yang baru terjaga dari tidurnya. Dia tergagap mendengar perintah Jaka. Namun kemudian dengan diikuti Gagah Bayu, menghampiri Gumai Gumarang. Dipapahnya tubuh lelaki yang terbalut pakaian biru itu keluar arena pertarungan.

Nyi Layu Kumbara yang berhasil menghindari serangan Jaka sudah mendarat di tanah. Matanya membara seperti seekor naga terluka menatap sosok Raja Petir.

"Kau lancang, Raja Petir! Kau harus mampus di tanganku!" ucap Ratu Selendang Kabut murka. Jari telunjuknya menuding wajah Jaka yang berdiri dengan tenang.

Ternyata, bukan hanya Nyi Layu Kumbara yang bersiap-siap akan melumat tubuh Jaka. Dari arah berlawanan Ular Laut Merah sudah berhasil meredam sakit pada dagu dan dadanya. Ia pun tengah bersiap menyerang Raja Petir. Pedang berkeluk sembilan sudah terangkat di atas kepala. "Akan kulumat tubuhmu. Raja Petir!

Hiyaaat..!"

Tubuh Gurilang Laut meluruk deras ke arah Jaka. Senjatanya yang berwarna merah diputar-putar cepat di atas kepala. Deru angin terdengar, mementalkan batu-batu kecil yang ada di sekitarnya. Jelas, serangan Ular Laut Merah dikeluarkan melalui pengerahan tenaga dalam penuh.

"Haiiit..!"

Dari arah kanan Ratu Selendang Kabut pun melesat pada sasaran yang sama. Gerakan perempuan setengah baya itu tidak kalah hebatnya. Selendang Kabut-nya yang berubah kaku bagai lempengan logam digerak-gerakkan dengan kekuatan tenaga dalam tinggi, hingga menimbulkan bunyi berdecit yang cukup tajam menusuk telinga.

Raja Petir sadar kalau serangan lawanlawannya itu cukup berbahaya. Maka dia tidak berani sembarangan menghadapinya hanya dengan mengandalkan jurus 'Lejitan Lidah Petir'. Jaka niat menggabungkan jurus itu dengan ajian 'Aji Bayang-Bayang'.

Tanpa menunggu lama Jaka melaksanakan niatnya. Seketika itu juga sosoknya menjelma menjadi lima kali lipat banyaknya. Jurus 'Lejitan Lidah Petir' membuat sosok-sosok Raja Petir bergerak cepat membingungkan Ular Maut Merah dan Ratu Selendang Kabut.

"Setan!"

"Monyet!"

Suara-suara makian terdengar dari mulut Nyi Layu Kumbara dan Gurilang Laut. Kendati begitu dengan penasaran kedua lawan Raja Petir itu tetap meneruskan serangannya.

Wung! Wung...!

Cwing...!

"Monyet!" 

"Setaaan...!"

Lagi-lagi Nyi Layu Kumbara dan Gurilang Laut memaki ketika serangan mereka hanya mengenai sosok bayangan Jaka. Kedua lawan Raja Petir itu berpikir keras untuk dapat menjatuhkan lawan.

"Hm.... Aku harus mengerahkan ilmu 'Selendang Mengurung Naga' agar gerakannya tidak bisa sebebas itu," gumam Nyi Layu Kumbara mendapatkan jalan keluar.

Kiranya bukan cuma Nyi Layu Kumbara yang sudah menemukan cara. Gurilang Laut pun sudah mendapatkannya. "Akan kubungkam ilmunya dengan ilmu 'Menguras Laut Membunuh Hiu'!" putus Gurilang Laut. Kedudukannya kini berubah dengan kuda-kuda rendah. Pedang merah berkeluk sembilan diletakkan di depan dada.

Di tengah-tengah kesibukan Gurilang Laut dan Nyi Layu Kumbara mempersiapkan ilmu-ilmu andalan mereka. Seruni dan Gagah Bayu yang membawa Gumai Gumarang ke dalam kedai menyaksikan pemandangan itu dengan Tegang.

"Mudah-mudahan Kakang Jaka bisa meredam ilmu-ilmu iblis mereka," gumam Seruni pelan. "Aku juga mengkhawatirkannya, Runi," tutur Gagah Bayu sambil mendekatkan tubuhnya pada Seruni.

"Ah, Jaka...," desis Gumai Gumarang yang menyaksikan Raja Petir dikurung dari dua arah. Lelaki berpakaian biru itu merasakan sakit di bahunya telah hilang. Namun dia tidak berani masuk ke dalam pertarungan Jaka yang tengah menghadapi lawan-lawannya.

"Hrgggh...!"

"Hoaaattt...!"

Ular Laut Merah dan Ratu Selendang Kabut berteriak lantang ketika ilmu-ilmu andalan mereka bekerja. Angin bergulung berwarna kemerahan keluar dari ujung senjata berkeluk sembilan milik Gurilang Laut. Gulungan angin merah itu bergerak cepat ke arah Raja Petir. Ukurannya semakin lama semakin membesar lalu mengurung sosok Jaka.

Sementara akibat dari ilmu yang dikeluarkan Nyi Layu Kumbara, selendangnya melar bagai karet. Namun selendang hitam yang mengurung Jaka itu masih keras seperti lempengan logam.

Jaka dengan kecerdikannya dapat menyimpulkan kalau ilmu lawan-lawannya bertujuan untuk mempersempit ruang geraknya. Dan di balik itu akan datang serangan susulan yang akan dilancarkan lewat pengerahan ilmu yang lain. Sebuah serangan yang mungkin dua kali lipat kedahsyatannya.

Jaka segera saja mengerahkan 'Aji Kukuh Karang' untuk membentengi tubuhnya dari serangan lawan. Sinar kuning keemasan membungkus bagian-bagian tertentu di tubuh Raja Petir, dari kepala hingga dada dan dari lutut sampai ujung kaki.

"Hoaaattt...!"

Lengkingan keras kembali terdengar. Bersamaan dengan teriakan nyaring itu tangan kiri Ratu Selendang Kabut menghentak keras.

Slats! Slats! Slats!

Rangkuman sinar keperakan bagai lidah petir meluruk deras ke bagian-bagian peka tubuh Jaka. Demikian pula yang dilakukan Gurilang Laut Setelah terlebih dulu memekik nyaring, Ular Laut Merah mengibas-ngibaskan pedang berkeluk sembilannya. Dari ujung pedang itu meluncur berlarik-larik sinar merah.

Tret! Tret! Tret!

Menghadapi luncuran sinar keperakan bagai petir dan berlarik-larik sinar kemerahan, Jaka yang memang sudah membentengi tubuhnya dengan Aji 'Kukuh Karang' hanya memejamkan mata saja. Kenyataan itu tentu saja membuat Ratu Selendang Kabut dan Ular Laut Merah keheranan.

"Nekat! Apa dia pikir ilmunya mampu menandingi ilmu 'Pukulan Ratu Selendang Hitam'? Benar-benar cari mampus!" gumam Nyi Layu Kumbara dengan tatapan tertuju lurus ke sosok Jaka yang tengah memejamkan mata.

"Bocah sombong!" maki Ular Laut Merah. "Jangan main-main dengan ilmu 'Sinar Beracun si Raja Ular Merah'. Kau pasti binasa, Raja Petir. Binasa "

Sementara hati Nyi Layu Kumbara dan Gurilang Laut terheran-heran, sinar keperakan dan merah semakin meluncur deras mendekati sasaran. Gumai Gumarang, Seruni, dan Gagah Bayu yang menyaksikan pertarungan mengalami ketegangan yang luar biasa.

"Hhh...," Seruni hanya bisa menarik napas panjang untuk meredam ketegangannya. Sementara Gumai Gumarang dan Gagah Bayu menatap terus pemandangan di hadapannya dengan bola mata tak berkedip.

Prefs! Prefs! Prefs !

Detik-detik ketegangan menjelma menjadi kelegaan di hati orang-orang yang berdiri di belakang Jaka. Kekhawatiran akan keselamatan Raja Petir tidak terbukti. Sinar-sinar jahat ciptaan Nyi Layu Kumbara dan Gurilang Laut tidak menggoyahkan kedudukan Jaka. Sinar perak dan kemerahan yang menghantam sosok Raja Petir seperti tertelan tubuh yang terbalut pakaian kuning keemasan itu.

Kenyataan itu membuat gusar hati Ular Laut Merah dan Ratu Selendang Kabut.

"Hm.... Ilmu apa yang digunakannya? Belum pernah aku melihat ilmu yang sehebat itu," tutur kata hati Nyi Layu Kumbara dan Gurilang Laut.

"Hizsss...!"

Di tengah kegusaran hati Nyi Layu Kumbara dan Gurilang Laut, Jaka berseru keras. Dua telapak tangannya menghentak keras ke depan.

Slats! Slats! Slats! Plash! Plash!

Sinar perak Ratu Selendang Kabut melesat balik melalui tangan kanan Jaka. Begitu juga dengan larik-larik sinar merah Ular laut Merah. Luncuran sinar-sinar jahat itu menjadi dua kali lipat cepatnya.

"Heh...?!"

"Hah...?!"

Kegusaran hati Nyi Layu Kumbara dan Gurilang Laut berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa. Namun keduanya segera tersadar dan bersamaan menghentakkan kakinya kuat-kuat. Mereka melempar tubuhnya untuk menghindari luncuran sinar perak dan merah yang terpental balik.

"Hups! Hip!" Trask! Prats! "Akh! Ikh!"

***
DELAPAN
Ratu Selendang Kabut dan Ular Laut Merah memekik tertahan saat tubuh mereka melesat ke udara. Luncuran sinar perak dan merah rupanya mampu dikendalikan Jaka dengan kecepatan yang mengagumkan. Bahu Ratu Selendang Kabut dihantam sinar keperakan miliknya sendiri. Sementara Ular Laut Merah pun menerima bagian yang sama. 

Tangan kanannya terkena sinar beracun miliknya sendiri. Tapi itu merupakan keuntungan bagi Nyi Layu Kumbara dan Gurilang Laut Mereka dapat meredam kedahsyatan pengaruh sinar-sinar itu. Namun begitu, alangkah murkanya hati Nyi Layung Kumbara dan Gurilang Laut Mereka merasa dipermalukan oleh lawan yang jauh begitu muda umurnya.

Jaka Sembada melihat lawan-lawannya masih berdiri tegak. Tangan mereka memegangi luka tubuhnya. Jaka diam saja di tempatnya, menatap lurus ke arah Ular Laut Merah dan Ratu Selendang Kabut dengan tersenyum.

"Bagaimana, Tuan dan Nona?" tanya Jaka. "Antara kita rasanya tak pernah terjadi kesalahpahaman, apalagi permusuhan. Untuk itu kukira jalan yang terbaik adalah menyudahi pertarungan ini, yang hanya akan meminta korban salah satu di antara kita. Aku yang muda mohon maaf karena tidak menginginkan hal itu terjadi. Aku masih ingin menikmati kehidupan dunia sampai Yang Maha Kuasa memanggilku. Kita berdamai saja, dan kalian tunjukkan di mana Mayang Sutera berada," ucap Jaka merendah.

Tak ada jawaban dari Nyi Layu Kumbara dan Gurilang Laut. Yang terlihat hanyalah tatapan mata kedua tokoh golongan hitam itu membara ke wajah Raja Petir.

"Hrg!"

"Hngh!"

Lenguhan kemarahan pun terdengar.

"Kita tidak mungkin berdamai. Raja Petir! Kau atau kami yang mampus!" sentak Ratu Selendang Kabut geram. Tangan kanannya menuding-nuding wajah tampan Raja Petir.

"Ya. Aku atau kau yang hijrah ke neraka!" timpal Gurilang Laut. Otot-otot tubuhnya kembali menegang. Agaknya lelaki berpakaian merah darah itu hendak kembali memulai serangan.

Sementara itu di tempat lain, pertarungan antara Terala yang berhadapan dengan Sanca Lodaka berlangsung alot dan berimbang. Jurusjurus andalan keduanya semakin banyak dikeluarkan.

Sebenarnya Seruni dan Gagah Bayu bisa saja membantu Terala untuk segera menyudahi pertarungan. Namun itu tidak dilakukan sepasang muda-mudi itu. Mereka tidak ingin dicap sebagai pengecut yang beraninya main keroyok.

Pertarungan menjadi semakin seru ketika Sanca Lodaka mulai terdesak. Tendangan, pukulan, dan babatan senjata tak lagi terarah ke bagian-bagian peka di tubuh Terala. Serangan itu dilakukan Sanca Lodaka hanya untuk membendung gencarnya serangan Terala.

Sebaliknya, Terala mengambil kesempatan yang baik untuk terus mendesak Sanca Moncong Emas. Dan ketika mendapat kesempatan baik, pedang di tangan Terala bergerak cepat menebas perut Sanca Lodaka.

"Hiyaaa...!" Bret!

"Aaa...!"

Lengkingan menyayat seketika membubung ke langit. Lelaki berpakaian rompi sisik ular terhuyung-huyung mundur dengan telapak tangan memegangi perutnya yang koyak. Dari selasela jari Sanca Lodaka merembes darah segar.

"Akh...!"

Brugkh!

Sanca Moncong Emas ambruk ke tanah. Tubuhnya menggeliat sesaat dan saat berikutnya tubuh lelaki muda itu mengejang kaku. Nyawanya sudah tidak lagi menghuni raga.

Ratu Selendang Kabut dan Ular Laut Merah yang mendengar lengkingan kematian Sanca Lodaka bertambah murka. Tanpa membuang waktu kedua tokoh golongan hitam itu melesat melancarkan serangan ke arah Jaka.

"Hiyaaa...!"

"Haiiit..!"

Melihat dirinya kembali diserang, Jaka ingin memperingatkan lawan-lawannya dengan mengirimkan 'Pukulan Pengacau Arah'.

"Hih!"

Wrrr...!

Angin bergulung yang menimbulkan hawa panas meluruk deras menyongsong Nyi Layu Kumbara dan Gurilang Laut yang tengah berada di udara. Jaka berharap lawan-lawannya segera membuang diri untuk menghindari luncuran angin panas bergulung bagai pusaran angin. Namun, ternyata nafsu membunuh terhadap Jaka membuat mereka melalaikan keselamatan diri sendiri.

Brush! Brush...!

"Aaa...!"

"Aaakh...!"

Tubuh Nyi Layu Kumbara dan Gurilang Laut melintir terhantam segulungan angin jurus 'Pukulan Pengacau Arah'. Lengkingan kesakitan yang menyayat mengiringi terpentalnya Ular Laut Merah dan Ratu Selendang Maut. Kedua orang suruhan Gagak Sugih Pengasung itu ambruk ke tanah dengan bagian tubuh yang terkena angin panas gosong seperti terpanggang.

Nasib Gurilang Laut nampaknya yang paling sial. Lelaki berpakaian merah itu terhantam bagian lehernya, hingga dia tidak dapat bertahan hidup lebih lama. Bersamaan dengan tubuhnya menyentuh tanah, nyawanya pun pergi meninggalkan raga. Tinggal Ratu Selendang Kabut yang masih mengerang menahan nyeri di pahanya yang gosong.

"Keparat kau. Raja Petir! Kubunuh kau!" pekik Nyi Layu Kumbara keras. Matanya membelalak, menyiratkan kemarahan yang tidak terkendali. Sebisanya dalam keadaan rebah di tanah, tangan kanan Ratu Selendang Kabut menghentak dua kali.

"Hih!"

Slaps! Slaps!

Dua larik sinar perak bagai petir meluncur ke arah Jaka yang masih berdiri tegak. Rupanya tokoh muda yang berjuluk Raja Petir itu menunggu kedatangan serangan lawan.

"Hop!"

Hanya dengan sekali menghentakkan kaki, Jaka melenting indah menghindari terjangan sinar keperakan. Namun saat tubuh Jaka berputaran di udara, tanpa diduga sama sekali Nyi Layu Kumbara melesat memburu Jaka.

"Haiiit...!"

Terala yang menyaksikan gerakan Nyi Layu Kumbara terkejut bukan main. Bukan mustahil Jaka kali ini akan kena hantaman serangan Ratu Selendang Kabut. Kepalan tangan perempuan itu telah berubah kehitaman. Perempuan berusia setengah baya itu mengerahkan ilmu 'Kepalan Kabut Sakti' dalam upaya terakhirnya merobohkan keperkasaan Raja Petir.

Dengan kekhawatirannya akan keselamatan Raja Petir, Terala melesat menghadang Nyi Lay Kumbara dari arah kanan.

"Hiyaaa...!" Wung...!

Pedang di tangan Terala berkelebat mencecar lambung Nyi Layu Kumbara. Tentu saja serangan itu membuatnya harus memperhitungkan dan mengurungkan serangannya pada Jaka. Kini Nyi Layu Kumbara merubah kedudukannya. Ia harus mengelakkan serangan Terala.

Bret! "Ikh!"

Nyi Layu Kumbara terlambat memiringkan tubuhnya. Ujung senjata Terala telah lebih dulu datang dan menyerempet pakaian di bagian perutnya. "Tua bangka cabul!" maki Nyi Layu Kumbara setelah kakinya menjejak tanah. Tatapan matanya membara melahap wajah Terala. "Kulumat tubuhmu, Cabul! Hiaaa...!"

Ratu Selendang Kabut mengalihkan serangannya pada Terala. Kepalan tangannya yang masih menghitam akibat pengaruh ilmu 'Kepalan Kabut Sakti' terangkat di atas kepala, siap menghantam sasaran di bagian peka tubuh ayah Seruni.

Terala pun sudah siap menyongsong serangan lawan. Lelaki tua itu melesat cepat. Tangan kanannya menggenggam pedang pusaka.

"Hiaaa...!" Buet! "Uts!"

Serangan Ratu Selendang Kabut lolos beberapa rambut dari dada Terala. Kesempatan itu digunakan lelaki berpakaian putih itu untuk bergerak menghindar seraya menebaskan senjatanya ke bahu Nyi Layu Kumbara.

"Hop!"

Dengan melenting indah melewati kepala Ratu Selendang Kabut, Terala membabatkan pedangnya ke bagian punggung lawan.

"Hih!" Bret! "Akh!"

Pekik melengking seketika terdengar. Bagian punggung perempuan berpakaian kelabu itu terkoyak lebar. Darah berhamburan dari luka yang menganga. Namun daya tahan tubuh Nyi Layu Kumbara patut mendapatkan pujian. Dalam keadaan yang luka parah seperti itu, ia masih dapat bergerak cepat meluncurkan pukulannya ke arah Terala.

"Haiiit...!" Buet! "Uts!"

Terala dengan gesit kembali berhasil mengelakkan sambaran tangan Ratu Selendang Kabut. Malah dari caranya menghindar itu dia dapat mengambil keuntungan. Kedudukannya jadi lebih baik untuk melakukan serangan balik.

"Hih!" Bugkh! "Ugkh!"

Nyi Layu Kumbara terdorong mundur tiga langkah. Sodokan tangan kiri Terala telah menghantam dadanya. Darah muncrat dari mulut Ratu Selendang Kabut

"Uhugkh!"

Ketika untuk kedua kalinya Nyi Layu Kumbara terbatuk, tubuhnya langsung melorot ke tanah. Darah kental kehitaman keluar dari dalam mulutnya. Jelas, perempuan pemilik Selendang Kabut itu mengalami luka dalam yang cukup parah.

Pemandangan yang cukup mengenaskan itu hanya terlihat beberapa saat saja. Manakala Nyi Layu Kumbara kembali terbatuk, tubuh perempuan itu betul-betul rebah. Napasnya yang tinggal satu-satu habis sama sekali. Tubuh Nyi Layu Kumbara terbujur kaku tanpa nyawa.

***
SEMBILAN
Melalui bola kristal saktinya Gagak Sugih Pengasung menyaksikan kematian Ular Laut Merah, Ratu Selendang Kabut, dan Sanca Moncong Emas. Giginya gemeretuk menahan kemarahan yang sangat. Dia tidak mengira lelaki muda berjuluk Raja Petir itu memiliki kesaktian yang begitu tinggi. Namun kepongahan hati Wirya Setraging berkata kalau ilmu sihirnya akan mampu menghentikan kehebatan Raja Petir.

"Akan kulenyapkan kesaktianmu dengan ilmu sihirku, Raja Petir. Tunggulah saatnya," bisik Wirya Setraging dalam hati. "Jangan harap kau bisa mendapatkan kembali Mayang Sutera yang sudah jatuh dalam genggamanku," janji lelaki berpakaian indah bagai seorang pangeran itu. Ketampanannya lebih tercermin dalam pakaiannya.

Gagak Sugih Pengasung lalu meraih senjatanya yang tergeletak di dekat bola kristal sakti. Sebuah senjata pusaka yang bagian ujungnya berwujud pedang sedangkan bagian tangkainya berupa seruling. Senjata itu diangkat tinggi-tinggi ke udara. Pamor senjata itu tampak begitu dahsyat. "Akan kunanti kedatanganmu, Raja Petir!" pekik Wirya Setraging. Ucapan itu memantul di dinding-dinding ruangan khususnya.

* * *

Jaka dengan ditemani Terala, Gumai Gumarang, dan sepasang muda-mudi yang tak lain Seruni dan Gagah Bayu sudah berada di mulut Lembah Pengasung saat matahari pagi bersinar setengahnya. Alam lembah nampak begitu aneh. Pohon-pohon yang tumbuh berjajar di atas tanah yang tidak rata berdaun jarang. Udara di sekitar Lembah Pengasung terasa tidak enak. Angin yang bertiup sebentar-sebentar menebarkan aroma amis.

"Waspada perlu kita tingkatkan, Jaka," gumam Terala. Namun terdengar jelas di telinga Gumai Gumarang, Seruni, dan Gagah Bayu.

"Ya. Aku merasa kita akan dihadang sesuatu," sahut Gumai Gumarang. Senjatanya yang berupa pedang bersinar kebiruan sudah tergenggam di tangan. Demikian pula dengan Seruni dan Gagah Bayu. Mereka telah menggenggam senjata masing.

Srat!

Terala ikut meloloskan senjata andalannya. "Hrrr...!"

"Hrg...!"

Belum sekejapan Terala meloloskan senjatanya. Raung-raungan aneh segera terdengar diiringi dengan munculnya makhluk-makhluk aneh bertubuh manusia dan berkepala kera.

Semula Jaka, Terala, dan yang lainnya menyangka makhluk yang datang menyerbu itu manusia yang mengenakan topeng kera. Namun ketika makhluk-makhluk itu semakin mendekat, percayalah mereka kalau itu adalah makhluk langka yang begitu menyeramkan.

"Hrrggg...!"

"Hrrrggg...!"

Sepuluh makhluk bertelanjang dada dengan menggenggam senjata berupa gada berduri bergerak cepat menyerbu Jaka dan kawankawannya.

Wrugkh! Wrugkh!

Angin menderu mengiringi datangnya serangan para penghuni Lembah Pengasung. Sepuluh gada berduri bergerak bersamaan dengan arah cecaran yang sama, yakni kepala lawan.

"Hm. Hops!"

Sesaat setelah memperhatikan cara makhluk-makhluk setengah manusia itu, Jaka segera melenting ke udara menghindari terjangan gadagada berduri. Sengaja Jaka langsung mengerahkan jurus 'Lejitan Lidah Petir', agar lebih mudah mengelak dan sempat memikirkan cara aneh makhluk-makhluk itu menyerang.

"Hm Mereka sesungguhnya hanyalah satu," gumam Jaka mendapat kesimpulan. "Buktinya, jika makhluk yang menyerangnya menghentikan gerakannya, maka yang lainnya melakukan hal yang sama. Aku harus menundukkan makhluk yang satu itu. Aku yakin maka semuanya akan tunduk," dengan kepekaannya Jaka berusaha memilih wujud makhluk yang asli.

"Hrgh !"

"Hih!"

"Yang ini!" pekik Jaka keras. Kemudian....

Bugkh!

Tak ada pekikan yang terdengar saat kepalan tangan kanan Raja Petir yang dialiri tenaga dalam tinggi menghantam dada salah satu lawannya. Makhluk itu terjajar lima langkah ke belakang. Ternyata makhluk-makhluk lain yang menyerang Terala, Gumai Gumarang, Seruni, dan Gagah Bayu mengalami nasib yang sama. Raja Petir telah berhasil mendapatkan wujud makhluk yang asli.

"Daya tahan tubuh makhluk itu sangat kuat. Aku harus mencari titik lemahnya," Jaka menajamkan tatapannya pada sekujur tubuh makhluk yang baru dihantamnya.

"Akan kucoba pada bagian jakunnya," putus Jaka. Sikapnya sudah siap mengambil alih serangan. Namun belum lagi Jaka bergerak, makhluk-makhluk itu sudah menyerang lebih dulu.

"Hrgh...!" Wrugkh!

Berpasang-pasang gada berduri kembali berkelebat mencecar batok kepala Jaka. Namun Jaka tidak mengelakkan sambaran-sambaran berbahaya itu. Raja Petir hanya menunggu kedatangan sambaran gada berduri yang berada di genggaman makhluk asli.

Wrugkh! "Hih!" Drgkh!

Setelah mengelakkan sambaran gada berduri sosok makhluk yang asli, Jaka menyodok leher lawannya dengan tangan kanan yang bergerak pergi gerakan pedang menebas.

Cukup berhasil memang apa yang dilakukan Jaka. Makhluk itu mengerang ketika tangan Jaka mendarat telak di lehernya. Namun dia kembali mampu maju menyerang. Rupanya, daerah yang barusan diserang Jaka bukanlah titik lemah makhluk aneh berkepala kera berbadan manusia.

Jaka terus berusaha mendapatkan kelemahan lawannya. Dan ketajaman matanya ternyata melihat kalau titik lemah lawan terletak pada puting buah dada sosok lelaki berkepala binatang itu.

"Hm.... Mudah-mudahan kesimpulanku benar. Puting-puting yang berbentuk tak wajar itu harus kucabut dari tempatnya," gumam Jaka dalam hati. Kemudian sosok muda yang terbungkus pakaian kuning keemasan itu melesat menggunakan jurus 'Lejitan Lidah Petir' yang akan dipadukan dengan jurus 'Menggiring Awan'.

"Hiaaa...!"

Tubuh Jaka melesat bagai seekor elang terbang. Sepasang tangannya merentang. Dan ketika mendekat pada sasaran, tangan kiri Jaka bergerak cepat mencecar ubun-ubun. Sedangkan tangan kanannya yang membentuk cakar mencecar puting buah dada lawan.

Plak! Crat!

"Hrgkhkghk...!"

Raungan keras seketika membubung ke langit. Tubuh makhluk berwujud manusia dan kera itu terjajar mundur. Dari bagian dadanya yang kena cakar mengucurkan cairan hitam berbau anyir.

Brugkh!

Sepuluh makhluk yang menyerang Jaka dan teman-temannya semua ambruk ke tanah. Keanehan kembali mereka saksikan. Makhlukmakhluk itu menghilang begitu saja.

"Hm.... Ilmu sihir yang menakjubkan," desah Gumai Garang.

"Lebih baik kita terus bergerak lebih ke dalam, Paman. Aku yakin Mayang Sutera tidak berada jauh di sekitar tempat ini," ucap Jaka.

Namun belum lagi gema ucapan Jaka hilang, sebuah tawa yang keras memantul-mantul di empat penjuru Lembah Pengasung.

"Ha ha ha... ha ha ha...! Ha ha ha...!"

Jaka, Terala, Gumai Garang, Seruni, dan Gagah Bayu memutar bola mata mereka, mencari-cari dari mana suara itu datang. Namun tak kunjung didapatkannya. Malahan kini tawa itu diiringi alunan seruling yang begitu merdu.

"Tu lat tut tit tilt la lit..." 

"Twiiit.. twiiit.. tit., tiiittt...!

"Ini bukan bunyi seruling biasa, Adi Terala. Jiwaku seolah terbawa hanyut oleh iramanya. Oh.... Aku tidak bisa mengekang hasrat untuk berjoget," ucap Gumai Gumarang.

Tubuh dan pinggul Pendekar Pedang Biru bergerak dan bergoyang-goyang dengan sendirinya. Lelaki berusia hampir enam puluh tahun lebih itu berjoget mengikuti irama seruling. Kenyataan itu juga terjadi pada Terala, Seruni, dan Gagah Bayu. Mereka tidak dapat meredam pengaruh bunyi seruling. 

Padahal seperti halnya Gumai Gumarang, mereka juga sudah berusaha melawan pengaruh irama seruling dengan menutup jalan pendengarannya. Namun pengaruh irama itu masih tetap saja merasuk ke jiwa. Kini Terala, Gumai Gumarang, Gagah Bayu, dan Seruni berjoget mengikuti alunan seruling. Cuma Jaka yang mampu bertahan.

"Hhh.... Aku harus segera menyudahi permainan ini," ucap Jaka. Tangannya bergerak ke arah pinggang. Tak pelak lagi, meloloskan Sabuk Petir yang berwarna hijau.

"Haaa...!" Cletarrr...!

Glegarrr...!

Bunyi menggelegar bagai guntur terdengar saat Sabuk Petir Jaka melecut di udara. Tiba-tiba bunyi merdu seruling lenyap seketika. Namun Terala, Gumai Gumarang, Seruni, dan Gagah Bayu harus merasakan akibatnya. Meski tidak terluka dalam mereka terkulai di tanah dengan napas terengah-engah.

"Kalian tidak apa-apa...?" tanya Jaka cemas.

Terala menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Jaka. Begitu juga yang dilakukan Gumail Gumarang, Seruni, dan Gagah Bayu.

"Kau memang hebat, Raja Petir. Akan kutantang kau apakah mampu mendapatkan Mayang Sutera, gadis yang kucintai sepenuh jiwa!" ucap sebuah suara bergema dan memantul-mantul.

"Akan kubuktikan. Namun nampakkanlah wujudmu!" balas Jaka dengan mengerahkan tenaga dalam.

Seketika itu juga hawa di sekitar lembah terasa dingin. Angin berhembus kencang ke arah Jaka. Namun bersamaan dengan lenyapnya deru angin dingin, di hadapan Jaka berdiri sosok Mayang Sutera yang berdampingan dengan seorang lelaki muda nan gagah dan tampan.

"Aku tak akan pernah tenang kalau ada lelaki yang mencintai gadis yang kucintai. Dia harus segera kulenyapkan dari muka bumi ini!" tandas Wirya Setraging mantap.

"Kaukah Gagak Sugih Pengasung?" tanya Jaka dengan tenang.

Wirya Setraging menganggukkan kepala. "Sebelumnya aku malu memperkarakan masalah ini," ucap Jaka. "Masalah cinta yang semestinya bisa diselesaikan tidak dengan cara mengadu jiwa," lanjutnya menatap tajam wajah Wirya Setraging.

"Apa kau takut padaku?" tanya Wirya Setraging meremehkan. "Atau kau punya cara lain yang lebih kau anggap aman?"

"Ya," jawab Jaka mencoba tidak terpengaruh kata-kata lelaki tampan berambut panjang itu. "Lebih baik kita tanyakan saja pada gadis itu, siapa lelaki yang menjadi pilihannya," usul Jaka. Tatapannya kini tertuju pada wajah cantik Dewi Payung Emas.

"Jawab pertanyaan lelaki itu, Mayang," pinta Wirya Setraging pada Mayang Sutera.

Mayang Sutera tidak segera memenuhi permintaan Gagak Sugih Pengasung. Gadis itu melangkah maju dua tindak. Tatapan matanya terlihat kosong ke wajah tampan Raja Petir.

Seperti halnya Jaka. Terala, Gumai Gumarang, Seruni, dan Gagah Bayu yang sudah bangkit berdiri mengalami ketegangan menunggu jawaban Dewi Payung Emas.

"Raja Petir. Kau sungguh tak punya malu. Kau anggap aku kekasihmu. Padahal sedikit pun aku tidak punya cinta untukmu. Pergi cepat dari hadapanku! Jangan tunggu kurenggut nyawamu!" Perasaan Jaka bergolak seketika. Ucapan

Mayang Sutera terdengar begitu menusuk hati. "Kau dengar itu, Raja Petir...?"

***
SEPULUH
Jaka sesungguhnya tidak percaya dengan ucapan Mayang Sutera. Ia berkesimpulan jalan pikiran kekasihnya telah dipengaruhi Wirya Setraging.

"Lepaskan pengaruh sihirmu terhadapnya, Gagak Sugi Pengasung. Aku meragukan kebenaran kata-katanya," pinta Jaka.

Permintaan Raja Petir tidak dipenuhi Gagak Sugi Pengasung. Malah, lelaki muda dan tampan itu memerintahkan Mayang Sutera untuk membunuh Jaka.

"Binasakan dia, Mayang."

Tanpa diperintah dua kali Mayang Sutera melesat cepat menyerang Jaka. Senjatanya yang berupa payung kecil terbuat dari logam langsung dikembangkan dan dibabatkan ke dada Jaka.

"Haiiit..!" Wuttt..!

"Ups!"

Jaka segera menghentakkan kakinya kuatkuat. Saat itu juga tubuhnya melenting jauh ke belakang membuat serangan Mayang Sutera mentah di tengah jalan.

"Hm.... Aku harus terlebih dulu menghilangkan pengaruh sihir pada diri Mayang Sutera. Kalau tidak dirinya bisa celaka," ucap Jaka dalam hati.

Ketika Dewi Payung Emas kembali menyerbu, Jaka menyiapkan pukulan dengan mengerahkan 'Aji Kukuh Karang'.

"Haiiit..!"

Pada saat Mayang Sutera berada di udara, jari-jari Raja Petir dengan cepat menghentak. Dua larik sinar kuning melesat menyongsong tubuh Dewi Payung Emas.

Slats! Slats!

Dua larik sinar kuning itu berpencar dua arah. Begitu cepatnya lesatan itu hingga Mayang Sutera tidak dapat menghindar. Luncuran sinar menghantam kepala dan lututnya. Seketika itu juga Mayang Sutera merasakan hawa lain menjalar di sekujur tubuhnya. Dan belum lagi Dewi Payung Emas berbuat sesuatu, tubuhnya tidak mampu digerakkan lagi.

Bruk!

Mayang Sutera ambruk ke tanah.

"Kurang ajar kau. Raja Petir! Kau telah menyakitinya. Kubunuh kau!"

Wirya Setraging dengan kalap menyerang Raja Petir. Senjata pusakanya menebas ke arah leher.

Wung! Twiiit..! "Heh?! Uts!"

Tersentak hati Jaka mendapatkan serangan lawan. Serangan itu bukan saja mengancam lehernya, tetapi juga jiwanya terpengaruh oleh bunyi yang mengiringi datangnya ujung pedang, membuat Jaka seolah harus menyerahkan kepalanya untuk dipenggal.

"Setan!" maki Jaka ketika sebuah sinar keperakan membungkus kakinya dari ujung sampai sebatas paha. Pemuda itu kini tidak dapat berpindah tempat. Sementara dengan senjatanya Wirya Setraging kembali melancarkan serangan.

'Terpaksa kugunakan Pedang Petir," putus Jaka ketika dirasakan hanya itu jalan keluar yang terbaik.

Maka ketika keputusan itu betul-betul bulat, Jaka meloloskan senjata dari leher. Dengan cepat kekuatan batinnya tersalur pada gagang senjata yang belum nampak wujud utuhnya. Ketika kekuatan itu telah mengalir sepenuhnya, wujud Pedang Petir pun menjadi sempurna. Jaka segera mengangkat senjata itu tinggi-tinggi di atas kepala.

Tret... tret... tret...! Zglarrr...!

Bunyi guntur terdengar di kejauhan. Alam di sekitar tempat pertarungan mendadak berubah gelap. Pedang Petir yang memendarkan sinar kemerahan disambar kilat yang bergantian datang. Dan seketika kilat-kilat itu lenyap, cuaca kembali terang benderang. Saat itulah Gagak Sugih Pengasung melesat dengan senjata bergerak ke arah leher Jaka.

Traszzz...!

Asap mengepul di udara ketika dua senjata pusaka saling bertemu. Bunyi seperti benda panas tercelup di air seketika terdengar. Senjata Wirya Setraging dan senjata Jaka saling menempel. Asap mengepul dari kedua senjata itu.

Dengan seluruh kekuatan batinnya Jaka berusaha bertahan dari pengaruh ilmu 'Seruling Penggugah Sukma Pedang Pencabut Nyawa'. Keringat membanjiri sekujur tubuh Jaka.

Tindakan itu pun dilakukan Wirya Setraging. Namun sayang, kekuatan batin Wirya Setraging dan penguasaan tenaga dalamnya masih kalah dengan Jaka. Maka bukan hanya keringat yang keluar dari tubuhnya, melainkan juga darah.

"Hoaaattt...!"

Dengan sisa kekuatannya Wirya Setraging mencoba menghantamkan kepalan tangan kanannya ke dada Jaka. Tapi tangan kiri Jaka telah lebih dulu membentengi tubuhnya.

Sebentuk kekuatan kembali bertemu lewat telapak tangan dua tokoh tingkat tinggi itu. Namun lagi-lagi Wirya Setraging harus mengakui keunggulan tenaga dalam Raja Petir. Saat benturan keras terjadi, Gagak Sugih Pengasung merasakan tenaganya yang disalurkan lewat telapak tangan tersedot oleh kekuatan lawan.

"Heh?! Grrrzzzsssttt...!"

Seiring dengan tidak mampunya Wirya Setraging menarik pulang senjata dan tangannya yang menempel di telapak tangan Raja Petir, mulutnya mengeluarkan teriakan aneh, membuat Jaka terkejut sesaat. Keterkejutan Jaka rupanya memancing kecerdikan Wirya Setraging untuk mengambil kesempatan mengerahkan ilmu 'Kabut Sakti Lembah Pengasung'.

"Grrrzzzsssttt...'" 

Tubuh Wirya Setraging tiba-tiba lenyap dari hadapan Jaka. Namun pedangnya masih nampak menempel pada Pedang Petir milik Jaka.

"Ha ha ha. Jangan kau bangga dulu, Raja Bodoh!" tukas Wirya Setraging tanpa terlihat di mana sosoknya berada. Hanya suaranya saja yang menggema memantul-mantul. 

"Senjataku yang menempel di senjatamu hanyalah bayangannya saja. Inilah senjataku yang asli," lanjut Wirya  Setraging.  Di  hadapan  Jaka  kini terlihat sebilah pedang yang mengambang di udara. Jaka tentu saja kagum dengan kesaktian yang dimiliki Gagah Sugih Pengasung. Jarang ada tokoh yang bisa keluar dari pengaruh perbawa Pedang Petirnya. Tapi Wirya Setraging...?

"Raja Petir! Bersiaplah untuk mampus. Ilmu 'Panca Naga Merah Murka' akan segera mengirimmu ke lubang kubur!" keras ucapan Wirya Setraging. Seiring dengan itu pedang yang mengapung di udara berputar cepat hingga wujud senjata itu tak nampak. Hanya deru angin yang terdengar cukup kuat. Kemudian dari angin itu terciptalah lima berkas sinar merah yang meledak-ledak.

"Zlart! Zlart! Zlart..!"

Saat itu sinar-sinar merah itu menyentuh tanah, di hadapan Jaka tampaklah seekor ular naga berkepala lima.

"Hm.... Benar-benar ilmu iblis!" rutuk Jaka dalam hati.

Belum setegukan teh Jaka bergumam, sosok naga berkepala lima itu bergerak menyerang dengan ekornya yang mengibas keras.

Clegarrr! "Hop!"

Jaka melesat dengan menggunakan jurus 'Lejitan Lidah Petir', menghindari hantaman ekor naga merah yang cukup dahsyat. Berkali-kali hal itu dilakukan Jaka.

"Khooosssttt..!"

Kini bukan hanya ekornya yang menyerang Raja Petir dengan bertubi-tubi. Mulut naga jelmaan Wirya Setraging itu menyerang dengan semburan api.

"Uts!"

Dengan masih menggunakan jurus 'Lejitan Lidah Petir', Jaka terus bergerak menghindari serangan-serangan yang mematikan itu.

"Hiaaa...!"

Tiba-tiba Jaka berteriak keras. Tubuhnya melesat seperti seekor elang menyambar anak ayam. Sementara senjata pusaka Pedang Petir bergerak memutar melakukan tebasan maut ke arah leher naga.

Wung...!

Brrr...!

Bunyi angin berkesiut dahsyat jelas terdengar saat naga jelmaan Wirya Setraging berhasil mengelakkan serangan Raja Petir. Namun Jaka bukannya keheranan ketika serangannya kandas. Sosok muda yang kehebatannya telah dikenal di seluruh rimba persilatan itu kembali bergerak cepat dengan senjatanya.

"Hiaaa...!" Brrr...!

Bratztz...! "Groaaangkhhh...!"

Naga jelmaan Wirya Setraging memekik dahsyat. Naga itu memang sempat menghindar ketika Raja Petir kembali menyerang. Namun gerakan naga jelmaan Wirya Setraging kalah cepat. Meski incaran ujung Pedang Petir yang mengarah ke bagian leher luput, bagian perut naga itu terkena sayatan ujung senjata Jaka. Akan tetapi...?

"Heh...?!"

Jaka terkejut menyaksikan luka yang menganga di perut naga kembali rapat seperti sediakala. Tidak terlihat darah mengalir.

"Hm.... Seharusnya tubuh naga itu hangus saat ujung senjataku menembus kulitnya. Tapi....Hhh! Harus kugunakan ilmu 'Selaksa Halilintar Menyambar' untuk menundukkannya," gumam Raja Petir.

Maka ketika naga jelmaan itu kembali melancarkan serangan dengan semburan apinya, Jaka mengangkat Pedang Petir tinggi di atas kepala. Guntur kembali terdengar di kejauhan. Langit di sekitar tempat pertarungan gelap gulita, dan kilat menyambar-nyambar batang Pedang Petir yang memendarkan sinar kemerahan.

Ketika langit kembali terang dan kilat sudah berhenti menyambar, kekuatan Jaka semakin sempurna untuk memainkan ilmu 'Selaksa Halilintar Menyambar'. Seketika itu juga...

"Hiaaa !"

Jaka melesat bagai kilat menyongsong semburan api naga berkepala lima. Pedang Petirnya berkelebat mencecar salah satu kepala naga jelmaan Wirya Setraging.

Bratttzzzzttt !

"Groaaakhghgkhhh !"

Naga jelmaan Wirya Setraging meraung dahsyat saat salah satu kepalanya terbabat putus. Tak ada darah yang keluar dari kepala yang tergeletak di tanah. Bersamaan dengan naga jelmaan Wirya Setraging kehilangan nyawa. Perlahan-lahan naga berkepala lima itu menjelma menjadi sosok lelaki berwajah tampan. Namun tubuh dan kepala Wirya Setraging sudah berpisah. Wirya Setraging tewas dengan mengenaskan. Menyaksikan lawannya  tergeletak  tanpa nyawa, Jaka  segera bergerak menghampiri Mayang Sutera.

"Dia tidak apa-apa, Paman. Biar kubebaskan dulu dari pengaruh 'Aji Kukuh Karang'," ucap Jaka.

Tuk! Tuk!

Dua kali tangan Jaka bergerak menotok leher dan kaki Mayang Sutera. Lenguh kesakitan samar terdengar. Mata Dewi Payung Emas pun terbuka.

"Kakang...?" ucap Mayang Sutera seraya bangkit. Gadis itu segera merangkul Jaka.

SELESAI
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).