Serial Raja Petir eps 19 : Persembahan Raja Setyagara

SATU
Suasana duka masih melingkupi Kerajaan Sutera Bayu, setelah mangkatnya sang Prabu Mulya Dewantara. Wajah-wajah mendung bukan saja masih tergambar pada masing-masing penghuni Istana Sutera Bayu. Tapi, juga pada penduduk yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Sutera Baya. Dan kini, tampuk kekuasaan tertinggi kerajaan itu dipegang oleh Setyagara.

Dan ini sudah dua purnama Prabu Setyagara menduduki tahta, setelah kematian sang Prabu Mulya Dewantara yang terserang penyakit cukup aneh. Tak ada yang tahu, apa jenis penyakitnya. Jika penyakit itu datang, sang Prabu menjadi lupa pada orang-orang di sekitar istana. Baik pada permaisuri, maupun putra tunggalnya yang bernama Bintang Megantara. Yang lebih parah lagi, sang Prabu Mulya Dewantara lupa pada dirinya sendiri!

Baik tabib istana maupun tabib yang tinggal di wilayah Kerajaan Sutera Bayu telah pula berusaha mengobati penyakit aneh Yang Mulia Prabu Mulya Dewantara. Namun kedatangan mereka hanya sia-sia belaka. Penyakit aneh yang diderita Yang Mulia tetap saja tidak dapat disembuhkan. Begitu juga ketika tabib-tabib sakti yang tinggal di luar Kerajaan Sutera Bayu didatangkan. 

Hasil yang didapat juga sama nihil. Akhirnya entah desas-desus dari mana timbul suatu kecurigaan, kalau patihnya sendirilah yang telah melenyapkan nyawa Yang Mulia Prabu Mulya Dewantara. Benarkah patih itu yang melenyapkan nyawa sang Prabu?

***

"Patih Laksa!" panggil Prabu Mulya Dewantara pada seorang patih kepercayaannya. Dia bernama lengkap Patih Abadi Selaksa.

Patih Abadi Selaksa terkejut mendengar namanya disebut junjungannya. Padahal sudah hampir satu minggu, namanya selalu dipanggil dengan sebutan kata-kata kotor. Tapi sekarang....

"Hamba, Yang Mulia," sahut Patih Abadi Selaksa dengan kepala sedikit tertunduk.

Sungguh, patih setia itu senang mendapatkan kenyataan bahwa junjungannya telah kembali pada ingatannya semula.

"Apa gerangan yang dapat hamba bantu, Yang Mulia?" lanjut Patih Abadi Selaksa, dengan tutur kata lembut

Prabu Mulya Dewantara tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Patih Abadi Selaksa.

"Bisakah kau mengantarku ke Desa Batuapung?" pinta Prabu Mulya Dewantara.

"Hamba bersedia, Yang Mulia," jawab Patih Abadi Selaksa cepat

Namun tatapan mata patih yang berusia hampir enam puluh tahun itu terlihat menyimpan ketidak-percayaan akan keinginan junjungannya untuk datang ke Desa Batuapung. Padahal, desa tandus itu hanya dihuni segelintir orang. Apalagi, desa itu juga dikelilingi jurang-jurang curam, bahkan bukanlah termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan Sutera Bayu

"Maafkan hamba, Yang Mulia," ucap Patih Abadi Selaksa setelah beberapa saat menatap wajah Prabu Mulya Dewantara. "Kalau boleh hamba tahu, gerangan apakah yang membuat Yang Mulia hendak berkunjung ke Desa Batuapung?"

"Ha ha ha...!"

Di luar dugaan Patih Abadi Selaksa, Prabu Mulya Dewantara terbahak keras.

"Kau abdiku, Laksa!" tukas Prabu Mulya Dewantara keras dengan jari telunjuk menuding wajah Patih Abadi Selaksa.

Patih Abadi Selaksa terkejut mendengar suara keras junjungannya. Lelaki berwajah tirus dengan sorot mata masih nampak menyisakan kegagahan masa lalunya, kini hanya menundukkan kepala menekuri lantai yang tertutup permadani begitu indah.

"Kau tak perlu tahu, apa urusanku di sana, Laksa! Yang kutanyakan, apakah kau bersedia menemaniku ke sana! Jika tidak, kepalamulah yang kubawa, tanpa badanmu!" lanjut Prabu Mulya Dewantara, setelah tawanya yang menggema ke dinding-dinding istana lenyap.

"Hamba bersedia, Yang Mulia," tukas Patih Abadi Selaksa cepat. Kepalanya yang tertunduk, semakin dalam menekuri permadani bercorak bunga-bunga indah yang berwarna dasar kecoklatan.

"Ha ha ha.... Bagus! Kau memang betul-betul abdiku, Laksa! Sekarang juga, kita berangkat," putus Prabu Mulya Dewantara diiringi tawanya.

"Baik, Yang Mulia," jawab sang Patih.

Penguasa Kerajaan Sutera Bayu itu lalu segera bangkit dari singgasananya, diikuti Patih Abadi Selaksa.

"Aku boleh ikut. Ayah?" tanya seorang pemuda tampan berusia hampir tujuh belas tahun yang sejak tadi memang telah ada di situ.

Pemuda berpakaian warna kuning gading itu tak lain adalah Bintang Megantara, putra tunggal Prabu Mulya Dewantara. Sementara, penguasa Kerajaan Sutera Bayu itu menghentikan langkahnya, begitu mendengar pertanyaan putra kesayangannya. Dan wajahnya pun seketika menoleh ke arah Bintang Megantara.

"Tak seorang pun kuperkenankan ikut, terkecuali Patih Laksa," jawab Prabu Mulya Dewantara.

Bintang Megantara sedikit terkejut mendengar jawaban tegas ayahandanya. Keinginan hatinya untuk turut serta kini benar-benar surut. Apalagi, setelah ibunda tercinta mengharuskannya menuruti kata-kata ayahnya. Meski permaisuri sang Prabu sendiri heran mendengar ucapan suaminya, namun berusaha memakluminya. Mengingat, Prabu Mulya Dewantara tengah menderita suatu jenis penyakit aneh.

***

Langit kotaraja yang baru disirami sinar matahari pagi, seolah memberi semangat Prabu Mulya Dewantara untuk berangkat mengunjungi Desa Batuapung yang tandus dan dikelilingi jurang-jurang terjal.

Beberapa pejabat tinggi kerajaan yang kini turut berdiri di pelataran Istana Sutera Bayu, terlihat memandangi junjungannya yang telah duduk di atas kuda putih yang gagah. Di atas punggung kuda coklat, Patih Abadi Selaksa dengan setia menunggu perintah junjungannya yang berkuda di sampingnya. 

Namun begitu, di benak patih yang sudah puluhan tahun menemani kehidupan sang Prabu ini terpendam pertanyaanpertanyaan akan keinginan aneh Prabu Mulya Dewantara. Pertanyaan-pertanyaan yang sulit ditemukan jawabannya sampai tiba di Desa Batuapung.

"Ayo, Laksa!" sentak Prabu Mulya Dewantara mengejutkan Patih Abadi Selaksa. Sang Prabu seketika itu juga menggebah kuda tunggangannya. "Hiyaaa...!"

"Hiyaaa...!"

Patih Abadi Selaksa pun tak mau ketinggalan. Dengan teriakan keras, patih berpakaian putih bersih itu menggebah kuda coklat yang ditungganginya.

Kuda putih dan coklat yang ditunggangi Prabu Mulya Dewantara dan Patih Abadi Selaksa sudah melesat cepat meninggalkan pelataran Istana Sutera Bayu. Berpasang-pasang mata para pejabat-pejabat tinggi kerajaan mengiringi kepergian junjungannya dengan benak dipenuhi pertanyaan akan keanehan-keanehan yang ada. Demikian pula sang Permaisuri dan sang Putra Mahkota.

Dua sosok yang paling dekat dengan Prabu Mulya Dewantara itu mengiringi kepergian orang yang dicintai disertai kekhawatiran dan kecemasan mendalam.

"Ahhh!"

Terdengar helaan napas berat dari Permaisuri Citra Laras saat Prabu Mulya Dewantara telah lenyap di kelokan jalan.

***

Desa Batuapung yang terletak di luar wilayah kekuasaan Kerajaan Sutera Bayu kini mulai dimasuki oleh Prabu Mulya Dewantara dan Patih Abadi Selaksa. Hampir satu setengah hari untuk mencapai desa tandus yang berhawa panas ini. Nampak kelelahan menghiasi wajah sang Prabu yang tak terbiasa bepergian jauh dengan menunggang kuda yang dikendalikannya sendiri.

Sebenarnya Patih Abadi Selaksa tak tega melihat junjungannya menderita keletihan seperti itu. Terlebih, ketika sang Prabu memerintahkan melepas kuda-kuda yang ditunggangi seharian penuh dan mengajak menelusuri daerah yang dikelilingi jurang terjal dengan karang-karangnya yang runcing.

"Lebih baik kuda-kuda itu ditambatkan di tempat ini saja, Yang Mulia," saran Patih Abadi Selaksa, setelah mereka turun dari kuda masingmasing. "Yang Mulia akan dapat menggunakannya kembali jika diperlukan nanti."

"Kau mulai pandai membantah, Babi! Kalau kukatakan lepas, lepaskanlah kuda-kuda itu! Biar mereka pergi!" bentak sang Prabu garang, mengganti panggilan Patih Abadi Selaksa dengan kata-kata kotor.

Lelaki berusia hampir enam puluh tahun yang dipanggil 'babi' itu terkejut bukan kepalang. Rasanya penyakit Prabu Mulya Dewantara muncul kembali.

"Baik... Baik, Yang Mulia," ucap Patih Abadi Selaksa seraya melepas kedua tali kekang kuda yang kini telah dipegang.

Sesaat kemudian patih itu memukul bokong kedua kuda tunggangan mereka yang segera berlarian cepat, meninggalkan kepulan yang membumbung tinggi di udara.

"Ha ha ha...!

Prabu Mulya Dewantara tertawa sesaat kepergian kuda-kuda itu.

"Ternyata kau bisa juga memenuhi perintahku, Babi!" kata Prabu Mulya Dewantara menyakitkan hati Patih Abadi Selaksa.

"Tentu saja hamba akan selalu memenuhi perintah Yang Mulia," tutur Patih Abadi Selaksa, dengan kegeraman ditahan.

"Kalau begitu, mari kita susuri bibir jurang itu," ajak Prabu Mulya Dewantara seraya melangkah.

Ada perasaan khawatir yang tiba-tiba saja menyelinap di hati Patih Abadi Selaksa mendengar ajakan junjungannya. Namun patih ini tak tahu betul, apa makna kekhawatiran hatinya. Bahkan sampai-sampai ajakan sang Prabu tak mampu ditolaknya.

Langkah kaki sang Prabu yang menapaki bibir jurang Desa Batuapung diikuti Patih Abadi Selaksa. Beberapa penduduk desa yang tengah mencari batu-batu dan kebetulan berpapasan, berbaik hati memperingati dua orang dari Kerajaan Sutera Bayu.

"Hati-hati, Tuan. Tanah di bibir jurang itu amat gembur," jelas seorang penduduk Desa Batuapung yang berpapasan dengan sang Prabu dan Patih Abadi Selaksa ini.

"Terima kasih, Kisanak," jawab Patih Abadi Selaksa, menanggapi pemberitahuan itu.

Sementara Prabu Mulya Dewantara hanya memandangi lelaki bertubuh tinggi kurus yang membawa linggis dengan tatapan memancarkan ketidaksenangan.

"Sebaiknya Yang Mulia berjalan agak ke tengah," saran Patih Abadi Selaksa ketika penduduk Desa Batuapung itu sudah agak jauh dari mereka.

"Kurang ajar sekali kau, Anjing!" maki sang Prabu marah.

Patih Abadi Selaksa tak kuasa membiarkan perkataan junjungannya.

"Hamba mencemaskan Yang Mulia. Hamba takut, Yang Mulia tergelincir," ujar Patih Abadi Selaksa mencoba meredam kemarahan sang Prabu.

"Monyet Hutan!" bentak sang Prabu geram. Srat!

Terbelalak mata Patih Abadi Selaksa melihat penguasa Kerajaan Sutera Bayu ini sudah meloloskan pedang dari warangka di pinggang sebelah kiri.

"Yang Mulia...?" bergetar suara yang keluar dari mulut Patih Abadi Selaksa.

"Ha ha ha...!" Prabu Mulya Dewantara terbahak menyaksikan kegentaran Patih Abadi Selaksa. "Sengaja aku mengajakmu ke tempat ini, Monyet! Aku ingin bertarung melawan Monyet Hutan macam kau! Aku ingin tahu, siapa yang jago bermain pedang di antara kita. Dan aku juga ingin tahu, siapa di antara kita yang akan mati lebih dahulu."

Terhadap keinginan sang Prabu, Patih Abadi Selaksa tak bisa memenuhinya. Pikirannya betul-betul kacau. Dia yakin ucapan sang Prabu bukanlah keluar dari keinginan hatinya. Tapi, karena penyakit yang tengah diderita. Penyakit yang membuat sang Prabu lupa pada dirinya sendiri, dan juga pada orang terdekatnya.

"Yang Mulia...?"

Patih Abadi Selaksa masih berusaha menyadarkan pikiran Prabu Mulya Dewantara. Namun, apa yang didapat hanya keterkejutan yang semakin menjadi-jadi.

"Cabut senjatamu, Monyet!" sentak sang Prabu menggelegar.

Patih Abadi Selaksa tentu saja tak sudi menuruti perintah junjungannya yang di luar batas kewajaran sebagai abdi setia. Namun rupanya tindakan lelaki berpakaian putih dengan rambut panjang digelung ke atas itu, membuat kemarahan Yang Mulia Prabu Mulya Dewantara semakin naik ke ubun-ubun.

Dengan serta merta dan tanpa diduga sama sekali, Prabu Mulya Dewantara membabatkan senjatanya ke arah dada Patih Abadi Selaksa.

"Haaa...!" Bettt!

Melihat sambaran pedang ini, Patih Abadi Selaksa berusaha menghindar dengan bergeser sedikit ke kiri, namun....

"Heh?!"

Srats!

Patih Abadi Selaksa terpekik kecil ketika sambaran pedang milik Prabu Mulya Dewantara berhasil menggores pangkal tangan sebelah kanannya. Darah kontan mengucur dari luka di tangannya. Luka yang tidak seberapa besar, namun cukup membuat kekalutan pada pikirannya. 

"Kalau kau tak ingin mampus, cabut segera senjatamu, Babi!" sentak sang Prabu, kasar.

Sesungguhnya sang Prabu tak pernah berkata kasar seperti itu, sebelum penyakit aneh menguasai dirinya. Dia sebenarnya adalah seorang raja yang arif dan bijaksana. Bahkan selalu bertutur kata lemah lembut. Namun sekarang?

Terhadap permintaan sang Prabu, tentu saja sang Patih tak pernah memenuhinya. Apalagi, dia terlalu menghormati dan mencintai rajanya.

"Memang kau cari mampus, Monyet!" 

"Hiyaaa...!"

Kembali Prabu Mulya Dewantara mengebutkan pedangnya dengan gerakan cepat ke arah dada.

"Uts!"

Kali ini, Patih Abadi Selaksa bergerak lincah ke arah kanan, untuk menghindari sambaran pedang yang terlihat tidak main-main. Gerakannya memang cukup tangkas. Terbukti, sambaran senjata Prabu Mulya Dewantara hanya menerpa angin kosong

"Bangsat kau!" maki sang Prabu semakin kalap.

Pedang di tangan Prabu Mulya Dewantara tiba-tiba diputar-putar cepat, hingga wujud aslinya tak nampak. Kenyataan itu membuat Patih Abadi Selaksa terkejut. Sungguh dirinya tak tahu, dari mana Prabu Mulya Dewantara  mendapatkan ilmu permainan pedang seperti itu. 

Padahal, sebelumnya dia tak pernah mempunyai kepandaian seperti itu. Namun dari gaya permainan pedang itu, Patih Abadi Selaksa sepertinya pernah mengenalinya. Jelas gaya itu milik seorang tokoh persilatan golongan hitam, patih ini memang pernah melihatnya, namun tidak tahu jelas, siapa tokoh itu.

"Hiyaaat...!"

Di tengah-tengah pikiran Patih Abadi Selaksa yang tengah berkecamuk, Prabu Mulya Dewantara kembali bergerak cepat dengan senjata masih berputar-putar di tangan kanan. Kini gerakannya lebih cepat daripada gerakan awal saat menyerang Patih Abadi Selaksa.

Tentu saja, apa yang dilakukan sang Prabu membuat Patih Abadi Selaksa tak kuasa berpikir jernih. Maka ketika serangan itu semakin mendekat, serta merta Patih Abadi Selaksa mencabut senjatanya untuk melindungi diri.

Srat! Trang! 

"Aaa...!"

Pekik tertahan seketika terdengar, manakala bunyi benturan senjata terdengar jelas, diiringi percik bunga api dan tergempur mundurnya tubuh Prabu Mulya Dewantara.

"Setan!" hardik sang Prabu setelah mampu menguasai dirinya yang terhuyung. "Berani sekali kau melawanku, Monyet!"

Patih Abadi Selaksa tak menimpali caci maki junjungannya. Kedudukannya kini pada keadaan yang serba salah. Kalau dirinya membiarkan pedang sang Prabu berkelebat ke arahnya, maka dialah yang akan binasa. Namun jika mencoba-coba melindungi diri, dia dikatakan telah lancang melawan rajanya."Hmmm.... Penyakit macam apa ini?" gumam Patih Abadi Selaksa akhirnya.

Di hatinya, patih itu menduga-duga kalau sang Prabu mendapatkan penyakit akibat perbuatan seorang tokoh sakti yang dapat merubah jalan pikiran seseorang. Sehingga, orang yang dituju dapat dipermainkan sekehendak hatinya.

"Tapi siapa tokoh sesat itu...?" lanjut hati Patih Abadi Selaksa berkata-kata sendiri.

Patih Abadi Selaksa terpaku sejenak. Kemudian, dia berniat menggunakan cara lain untuk membujuk sang Prabu. Kepalanya sengaja ditundukkan serendah mungkin, sebagai pertanda kalau dirinya betul-betul menghormati. 

"Maafkan hamba, Yang Mulia," ucap sang Patih itu.

Namun sambutan sang Prabu itu di luar keinginan sang Patih.

"Ngrgmgrh...!"

Sang Prabu tiba-tiba saja menggereng keras. Matanya terbelalak lebar, memancarkan sorot yang mengandung nafsu membunuh tak terkendali.

"Hiyaaa...!"

Tubuh Prabu Mulya Dewantara tiba-tiba melesat cepat dengan pedang teracung di atas kepala. Patih Abadi Selaksa belum mengambil keputusan, apakah menangkis serangan itu atau malah menghindarinya. Hatinya sungguh-sungguh dilanda kekalutan. 

Namun ketika sejengkal lagi ujung pedang milik Prabu Mulya Dewantara menggorok lehernya, nalurinya untuk menyelamatkan diri tiba-tiba memberontak kuat. Serta merta, tubuh sang Patih ini bergerak cepat ke arah kanan. Langsung dihindarinya tebasan senjata miliki Prabu Mulya Dewantara.

Bets! "Uts!" 

"Aaa...!"

Prabu Mulya Dewantara seketika memekik keras! Begitu sambaran pedangnya berhasil dielakkan Patih Abadi Selaksa, namun tubuhnya tergelincir ke dalam jurang karena terdorong tenaga tebasannya sendiri!

Patih Abadi Selaksa sendiri tersentak melihat kenyataan yang sama sekali tidak diduga. Lengking kematian junjungannya bergema terus di telinganya.

***
DUA
Keadaan duka yang terlihat di dalam istana dan di luar Istana Sutera Bayu, terlihat pula di dalam tahanan bawah tanah istana ini. Sebuah ruangan pengap yang terbuat dari batu-batu cadas kokoh, yang didalamnya terlihat sosok renta lelaki berusia enam puluh tahun tengah duduk berselonjor. Wajah tua dengan rambut hitam yang tersanggul ke atas itu nampak semakin cekung. Kelopak matanya menjorok ke dalam, sementara pakaiannya yang putih nampak begitu kumal.

Di luar tahanan yang dijaga ketat enam lelaki gagah berpakaian prajurit jaga Kerajaan Sutera Bayu, nampak seorang lelaki muda berusia tak lebih dari tujuh belas tahun tengah memegangi terali tahanan yang terbuat dari logam keras bulat. Lelaki muda berpakaian warna kuning gading itu tak lain dari putra mahkota almarhum Prabu Mulya Dewantara, Bintang Megantra. Sedangkan di sebelahnya nampak Citra Laras tengah memandangi tubuh ringkih Patih Abadi Selaksa.

"Ki"

Citra Laras memanggil lembut Patih Abadi Selaksa yang kepalanya tengah tertunduk menekuri lantai tahanan yang dingin.

"Paman...!" panggil Bintang Megantara mengikuti suara ibunya.

Perlahan Patih Abadi Selaksa mengangkat kepalanya, setelah mendengar namanya disebut dua kali. Dan matanya kontan terbelalak ketika menyaksikan siapa yang berada di hadapannya.

"Tuan Putri Citra Laras.... Raden Bintang Megantara ? Oh!"

Patih Abadi Selaksa tak kuasa melanjutkan ucapannya. Perasaan haru melihat kehadiran orang-orang yang dicintainya, membuat napasnya seperti terhenti sesaat.

"Ya, kami datang menjengukmu, Ki?" ucap Citra Laras, dengan tatapan teduh ke wajah Patih Abadi Selaksa.

Peristiwa menyakitkan itu merangkak perlahan mencapai usia dua purnama. Dan selama itu pula, Patih Abadi Selaksa mendekam di ruang tahanan bawah tanah seumur hidup. Akibat dituduh telah membunuh Prabu Mulya Dewantara. Sedangkan kedudukanya sebagai patih diambil alih oleh Ki Sodrasena. Sementara tampuk kekuasaan dipegang oleh Yang Mulia Prabu Setyagara. Dalam silsilah kerajaan, dia adalah adik kandung mendiang Prabu Mulya Dewantara.

Sesungguhnya hati Citra Laras begitu iba melihat keadaan lelaki itu. Seorang laki-laki yang menjabat sebagai patih Kerajaan Sutera Bayu selama puluhan tahun, namun harus lepas jabatannya setelah dituduh sebagai pembunuh Prabu Mulya Dewantara.

Patih Abadi Selaksa memang tak mampu mengelak tudingan dan tuduhan itu. Apalagi yang melancarkannya Ki Setyagara, adik kandung sang Prabu. Sulit untuk mengelaknya, karena memang dirinya sendirilah yang mengantar kepergian sang Prabu Mulya Dewantara ke Desa Batuapung. Dan di desa itu pulalah Raja Sutera Bayu itu menemui ajalnya. 

Jadi wajar kalau Patih Abadi Selaksa yang menjadi tumpuan kesalahan, dan harus mendekam dalam ruang tahanan seumur hidup. "Tuan Putri... dan kau Raden. Terima kasih atas kedatangan kalian menjengukku. Oh. Aku bahagia sekali bisa melihatmu, Raden," ucap Patih Abadi Selaksa parau.

Citra Laras dan Bintang Megantara terharu dengan ucapan Patih Abadi Selaksa.

"Kami juga, Paman," balas Bintang Megantara.

"Bagaimana perkembangan di luar? Apakah Yang Mulia Setyagara memimpin kerajaan ini dengan adil dan bijak?" tanya Patih Abadi Selaksa menyelidik.

Sesungguhnya, laki-laki tua itu sudah tahu watak Yang Mulia Setyagara, namun tetap juga melemparkan pertanyaan itu. Dan ia memang ingin tahu langsung dari mulut Permaisuri Citra Laras dan Bintang Megantara tentang keadaan sekarang. Citra Laras dan Bintang Megantara tak segera menjawab pertanyaan Patih Abadi Selaksa. Tatapan matanya tertuju pada penjaga-penjaga yang memegang tombak.

"Mendekatlah kau, Ki," pinta Citra Laras.

Patih Abadi Selaksa menggeser duduknya perlahan. Keadaan tubuhnya yang nampak lemah, membuat bekas patih tersohor Kerajaan Sutera Bayu tak bisa bergerak bebas.

"Apa yang terjadi di luar, Tuan Putri?" tanya Patih Abadi Selaksa pelan.

"Setelah kematian suamiku, keadaan semakin panas saja. Dan sebetulnya aku tak percaya kalau kau membunuh Gusti Prabu Mulya Dewantara, mengingat penyakitnya yang kurasa juga aneh. Jelas, penyakit itu sengaja dibuat orang dengan maksud memang ingin menyingkirkan Gusti Prabu. Nyatanya, suamiku memang tersingkir, setelah pergi denganmu. Tapi setelah Adi Setyagara memerintah, aku semakin yakin, kau bukanlah seorang pembunuh. Aku berkesimpulan demikian karena atas dasar kecurigaanku melihat tindak-tanduk Adi Setyagara yang semakin brutal saja. Untung saja belum terjadi pergolakan di dalam istana dan kerajaan ini, Ki," jelas Citra Laras dengan nada suara ditekan serendah mungkin. 

"Namun naluriku mengatakan, bila Adi Setyagara dengan sikapnya yang demikian terus. Berkuasa, akan hancurlah Kerajaan Sutera Bayu."

Patih Abadi Selaksa membelalakkan mata mendengar penuturan bekas junjungannya.

"Maksud, Tuan Putri...?"

Patih Abadi Selaksa menghentikan katakatanya ketika Permaisuri Citra Laksa menempelkan telunjuk di bibir.

"Kabar yang kudengar dari seorang telik sandi kepercayaan, Adi Setyagara akan mengadakan persembahan pada setiap bulan purnama dalam waktu dekat ini," jelas Permaisuri Citra Laras, seperti berbisik.

"Persembahan? Apa maksudnya?" tukas Patih Abadi Selaksa terheran-heran. "Dan untuk apa...?" 

"Entahlah, Paman. Yang pasti, keinginan gila itu tercetus setelah masuknya orang luar ke dalam Istana Sutera Bayu," jelas Bintang Megantara, membuat Patih Abadi Selaksa tersentak kaget

"Orang luar? Siapa, Raden?" tanya Patih Abadi Selaksa dengan keterkejutan yang semakin bertambah.

"Menurut telik sandiku, orang itu bernama Gandrawara," tambah Permaisuri Citra Laras.

"Gandrawara?" ulang Patih Abadi Selaksa.

Mata bekas patih ini menerawang pada langit-langit penjara sepertinya, dia tengah mengingat-ingat nama yang barusan diulanginya.

"Apakah telik sandimu memberitahukan nama lain dari Gandrawara?" tanya Patih Abadi Selaksa lagi.

"Ya, Paman. Nama lain dari Gandrawara adalah Kelabang Hitam," tukas Bintang Megantara memberi tahu.

"Kelabang Hitam?" wajah Patih Abadi Selaksa semakin pucat pasi, mendengar nama Kelabang Hitam disebut Bintang Megantara. 

"Bencana.... Bencana besar akan melanda Kerajaan Sutera Bayu."

Tak terdengar sepatah kata pun dari mulut Citra Laksa dan Bintang Megantara. Keduanya terdiam, karena merasa tercekam ketakutan mendengar perkataan lelaki berusia enam puluh tahun lebih ini. Kecemasan juga terasakan di hati Citra Laras dan Bintang Megantara, sesaat membayangkan bencana yang dimaksudkan Patih Abadi Selaksa.

"Apakah Patih Sodrasena sejalan dengan Ki Setyagara?" tanya Patih Abadi Selaksa memecahkan keheningan.

"Ya, Paman, "jawab Bintang Megantara. "Bahkan Paman Setyagara sepemikiran dengannya."

"Celaka tiga belas," gumam Patih Abadi Selaksa pelan. "Hati-hatilah kalian berdua," ujar Patih Abadi Selaksa memperingatkan Citra Laras dan Bintang Megantara.

"Paman kenal, siapa Ki Gandrawara itu?" tanya Bintang Megantara polos.

Patih Abadi Selaksa menganggukkan kepala.

"Dia salah satu tokoh golongan hitam yang cukup sakti dan memiliki ilmu sihir yang ditakuti, apalagi lawan," jelas Patih Abadi Selaksa.

"Oh...!" keluhan tertahan terdengar dari mulut Citra Laras.

"Mulai saat ini, berhati-hatilah kalian berkata, bercakap, dan berbuat. Dan bersatulah kalian dengan orang-orang-sekitar istana yang kesetiaannya dapat dipercaya," kata Patih Abadi Selaksa memberi nasihat dengan kecemasan luar biasa.

"Baik, Ki," sambut Citra Laras.

"Doakan saja, Paman," Bintang Megantara menyentuh tangan Patih Abadi Selaksa dengan perasaan haru yang menyeruak. Karena ikut merasakan kecemasan, lelaki tua yang berambut hitam tersanggul di atas malah meremas jemari tangan Raden Megantara.

"Seharusnya kau yang menggantikan kedudukan ayahandamu, Raden," tukas Patih Abadi Selaksa parau.

Air bening tiba-tiba saja merembas dari kelopak mata Patih Abadi Selaksa yang terpejam. Baru kali ini selama puluhan tahun dia mampu menangis.

"Sudahlah, Ki. Bila saatnya nanti, Jika sang Pencipta makhluk hidup menginginkan anakku menjadi raja, maka cita-cita yang sama-sama kita inginkan akan terwujud," desah Citra Laras, mencoba menggugah keharuan yang tercipta.

"Semoga begitu, Tuan Putri. Dan semoga ada tokoh sakti yang dikirim sang Pencipta untuk Kerajaan Sutera Bayu, agar bisa menandingi kesaktian Kelabang Hitam yang salah jalan. Juga, menghapuskan rencana persembahan gila itu," balas Patih Abadi Selaksa dengan mata tak lepas menatap wajah tampan Bintang Megantara.

"Semoga begitu, Paman," sambut Bintang Megantara.

Patih Abadi Selaksa tak menanggapi sambutan Bintang Megantra. Di matanya yang merebak terlintas gambaran kekacauan yang akan terjadi di Kerajaan Sutera Bayu, akibat masuknya orang luar yang memiliki kesaktian tinggi. Seorang tokoh golongan hitam yang berjuluk Kelabang Hitam!

"Hati-hatilah kalian. Terutama kau, Raden," nasihat Patih Abadi Selaksa lagi.

"Baik, Paman," jawab Bintang Megantara. "Aku akan selalu mengingat segala peringatan yang kau berikan."

Patih Abadi Selaksa menganggukkan kepala mendengar ucapan putra tunggal Prabu Mulya Dewantara.

"Tuan Putri, dan kau Raden. Kembalilah kalian ke istana. Jagalah hati Ki Setyagara. Jangan sampai dia tak senang kalian berlama-lama di tempat ini," pinta Patih Abadi Selaksa dengan tatapan mata berganti-ganti memandang wajah Citra Laras dan Bintang Megantara.

"Baik, Ki. Kami kembali sekarang," ujar Citra Laras memenuhi permintaan bekas Patih Kerajaan Sutera Bayu.

"Aku pamit, Paman," ujar Bintang Megantara. Kemudian dengan langkah perlahan, kakinya bergerak menjajari langkah Citra Laras.

***

Matahari pagi yang baru saja muncul di langit kotaraja membiaskan kehangatan bagi seluruh makhluk yang berada di atas bumi. Kehangatan itu juga menyeruak masuk ke dalam Istana Sutera Bayu, sampai ke dalam kamar pribadi Citra Laras yang tengah berbincang-bincang bersama putranya, Bintang Megantara. 

"Nanti malam purnama akan muncul, Bu. Apakah Paman Setyagara akan melaksanakan acara persembahan itu?" tanya Bintang Megantara.

"Kelihatannya begitu, Bintang," jawab Citra Laras. "Sekarang ini, dia telah mengumpulkan orang kepercayaannya di ruang pertemuan sana. Pasti Adi Setyagara tengah memberikan tugas pada orang-orangnya, untuk mencari sesaji persembahan nanti malam. Entah, apa bentuk sesaji yang dimaksudkan? Ki Parawenang belum memberi kabar padaku," jelas Citra Laras, menyebut nama pejabat tinggi Kerajaan Sutera Bayu. Ki Parawenang setelah mengangkatnya Prabu Mulya Dewantara, memang diangkat sebagai penasihat kerajaan.

"Ki Parawenang?" ulang Bintang Megantara.

Jelas anak muda itu terkejut, karena lelaki berusia lima puluh tahun itu selama ini selalu dilihatnya berada di samping Ki Sodrasena, patih yang menggantikan kedudukan Patih Abadi Selaksa.

"Ya. Ki Parawenang. Memangnya kenapa, Bintang?" tanya Citra Laras, begitu melihat raut wajah putranya seperti tak senang mendengar nama Ki Parawenang disebut-sebut

"Oh! Maafkan aku, Bu. Selama ini aku mencurigainya sebagai pengikut Paman Setyagara yang setia mendukung acara persembahan itu," kilah Bintang Megantara.

"Tidak, Anakku. Ki Parawenang sangat setia pada mendiang ayahmu. Dan tentunya, juga pada kita dan Patih Abadi Selaksa. Sengaja dia kusuruh bersikap baik pada Paman Setyagara dan Patih Sodrasena, dan berpura-pura mendukung rencana sesat itu. Padahal, sesungguhnya Ki Parawenang hanya kutugasi menyelidiki setiap rencana mereka yang didukung si Kelabang Hitam. Ibumu mempercayai Ki Parawenang sepenuhnya. Dan kuharap, kau pun begitu, Bintang," tutur Citra Laras.

"Tentu saja, Bu," jawab Bintang Megantara tegas. "Mana mungkin aku tidak mempercayai orang yang telah diberi kepercayaan oleh ibunya."

"Syukurlah," desah Citra Laras, seraya memeluk tubuh putra satu-satunya. "Semoga saja Ki Parawenang bisa mengetahui, bila suatu saat Paman Setyagara berhajat menyingkirkan kita. Dan mudah-mudahan kita akan segera menyelamatkan diri dari kelaliman raja pengganti ayahmu, Bintang."

"Kuharap hal itu tidak terjadi, Bu. Ah! Andai saja dulu aku menuruti kata-kata ayah untuk bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu bela diri, mungkin akan dapat melindungi Ibu," keluh Bintang Megantara menyalahi dirinya. "Sekarang, kebisaan yang kumiliki hanya sedikit Aku ragu, apakah akan mampu menyelamatkan Ibu."

"Kita akan sama-sama berusaha menyelamatkan diri, Bintang. Jika hal itu benar-benar terjadi," kilah Citra Laras, mencoba menenangkan hati anaknya.

***

Sementara itu di tempat lain, tepatnya di ruang pertemuan istana, nampak Prabu Setyagara yang didampingi Patih Sodrasena tengah membicarakan sesuatu yang teramat penting.

"Sampai menjelang sore nanti, kuharapkan kalian sudah dapat membawa sepasang anak lelaki dan perempuan yang berusia sepuluh tahun untuk dipersembahkan pada dewa keselamatan dan kesejahteraan di Bukit Kelabang. Kalian mengerti?" ujar Prabu Setyagara keras.

"Mengerti, Yang Mulia," jawab seorang lelaki bertubuh tinggi besar.

Lelaki gagah berkedudukan sebagai punggawa tak lain Guridala. Laki-laki tinggi besar itu membawahi sepuluh orang prajurit terlatih, untuk mendapatkan sepasang bocah yang dimaksudkan Prabu Setyagara.

"Pergilah kalian ke desa yang terdekat dari kotaraja ini. Temui kepala desa setempat, dan sampaikan apa yang kutitahkan," ujar Prabu Setyagara lagi.

"Hamba akan memenuhi segala titah Yang Mulia," sahut Punggawa Guridala dengan kepala tertunduk memberi hormat

"Berangkatlah kalian," kata Prabu Setyagara, memerintah. "Ingat! Jika gagal, maka kepala kalianlah yang menjadi penggantinya!" 

"Hamba berangkat, Yang Mulia," Punggawa Guridaila menjura sebelum meninggalkan ruangan pertemuan.

***

Siang di Desa Gandaras terasa begitu panas. Matahari yang berdiri tegak di atas ubunubun, memancarkan sinarnya yang panas menyengat. Di beberapa tempat di Desa Gandaras memang banyak pohon berdaun lebat. Namun tetap tak kuasa mengurangi panasnya sinar matahari yang tercurah.

Bias sinar matahari yang cukup menyengat itu dirasakan juga oleh sebelah orang penunggang kuda yang bergerak menuju ke arah selatan Desa Gandaras. Mereka tak lain utusan Prabu Setyagara yang dipimpin Punggawa Guridala. Keseluruh penunggang kuda itu rata-rata menghunus sebilah pedang yang menggantung di pinggang. Jelas, rombongan itu adalah pasukan berpedang yang dimiliki Kerajaan Sutera Bayu.

"Itu pasti kediaman Kepala Desa Gandaras," tunjuk Punggawa Guridala pada bangunan kokoh yang berhalaman cukup luas.

"Rasanya memang benar, Kakang Guridala," sambut seorang prajurit yang lain.

"Hiyaaa...!"

Punggawa Guridala segera saja menggebah kuda tunggangannya, agar segera sampai di kediaman Kepala Desa Gandaras.

"Hiyaaa...!"

"Hiyaaa...!"

Kesepuluh penunggang kuda pengikut Punggawa Guridala pun sama-sama menggebah tali kekang tunggangannya. Sementara itu, beberapa orang yang bertugas menjaga kediaman Kepala Desa Gandaras seperti bingung menyaksikan sebelas ekor kuda yang berlari cepat ke arah kediaman majikannya. 

Apalagi setelah kuda-kuda itu mendekat. Kini mereka tahu kalau pengendara kuda itu adalah orang-orang dari Kerajaan Sutera Bayu. Maka seketika itu juga penjaga kediaman Kepala Desa Gandaras menjura hormat

"Selamat datang, Tuan-tuan. Ada yang dapat kami bantu?" sambut lelaki penjaga kediaman Kepala Desa Gandaras yang bertubuh tegap dan berkumis tebal melintang.

Tanpa menjawab pertanyaan itu, Punggawa Guridala segera melompat dari atas kudanya. Indah sekali gerakannya, pertanda ilmunya bisa diandalkan.

"Hop!" Jligkh!

Ringan sekali kaki Punggawa Guridala mendarat di tanah.

"Inikah kediaman kepala desa Gandaras?" tanya Punggawa Guridala agak ketus.

"Benar, Tuan," jawab penjaga yang bertubuh sedang, di dekat lelaki utusan Gusti Prabu Setyagara ini "Apakah tuan-tuan ingin berjumpa Ki Amertagi?"

"Ya. Antar aku untuk menemuinya," jawab Punggawa Guridala pongah. "Baik, Tuan. Mari."

Lelaki penjaga bertubuh sedang itu mempersilakan Punggawa Guridala dan rombongan untuk masuk ke kediaman Ki Amertagi.

"Silakan duduk di sini, Tuan-tuan. Biar Ki Amertagi kupanggil untuk menghadap Tuantuan," lelaki bertubuh sedang itu mempersilakan pada tamunya duduk di ruang tamu. Sementara, dirinya cepat berlalu ke kamar pribadi Kepala Desa Gandaras.

Hanya sesaat lamanya Punggawa Guridala dan rombongan menunggu, kini Ki Amertagi telah berdiri di hadapan mereka dengan sikap gugup dan kaku.

"Oh, Tuan Punggawa. Ada perlu apakah kiranya, hingga Tuan berkenan mengunjungi kediaman kami yang buruk ini?" tanya Ki Amertagi dengan wajah takut-takut

"Aku ingin meminta bantuanmu, Ki!" sahut Punggawa Guridala langsung.

"Bantuan apa, Tuan? Jika mampu pasti akan kupenuhi," sahut Kepala Desa Gadaras ini sambil sesekali menundukkan kepala.

"Carikan aku sepasang bocah berusia sepuluh tahun," cetus Punggawa Guridala tanpa basa-basi

"Sepasang bocah umur sepuluh tahun? Oh! Aku tak mengerti maksud Tuan Punggawa," desah Ki Amertagi, betul-betul tak mengerti ucapan Punggawa Guridala.

Utusan Prabu Setyagara pun segera menjelaskan ketidakmengertian Kepala Desa Gandaras ini. Terutama tentang maksud persembahan yang akan dilaksanakan setiap bulan purnama, sepanjang seribu bulan purnama. Yakni, setelah mendapatkan seribu pasang bocah usia sepuluh tahun.

"Setelah desa ini menyediakan sepasang bocah berusia sepuluh tahun, desa-desa lain pun juga harus menyediakan bocah-bocah itu selama sepuluh purnama berturut-turut," jelas Punggawa Guridala.

"Oh...!" Ki Amertagi berseru tertahan setelah mendengar penjelasan Punggawa Guridala.

"Kau bersedia mencarikan sepasang bocah itu, Ki?!" tanya Punggawa Guridala, terdengar membentak.

Ki Amertagi tidak segera menjawab pertanyaan Punggawa Guridala. Wajahnya nampak pias. Sungguh dia tak tahu, harus menjawab apa. "Kau cari mampus kalau begitu, Ki!" sentak Punggawa Guridala menambah kebingungan Kepala Desa Gandaras ini.

"Oh, Tuhan.... Dosa apa yang telah kulakukan hingga kau menurunkan cobaan seberat ini?" keluh Ki Amertagi dalam hati.

Tubuh laki-laki setengah baya ini tiba-tiba seperti terserang demam. Menggigil, bahkan lututnya seperti tak mampu menahan berat tubuhnya. Srat! "Oh...!"

Kepala Desa Gandaras memekik perlahan menyaksikan punggawa meloloskan pedang dari warangka. Getaran di sekujur tubuhnya semakin membuat goyah lelaki Kepala Desa Gandaras dalam berdirinya.

"Cepat katakan! Bersedia atau tidak? Atau kupenggal sekarang juga kepalamu?" sentak Punggawa Guridala, membuat hati Ki Amertagi semakin kecut

"Baik. Baik, Tuan Punggawa," jawab Ki Amertagi terpaksa.

"Ha ha ha...! Punggawa Guridala tertawa. Tawa Punggawa Guridala yang cukup keras, membuat istri Ki Amertagi muncul dari ruangan dalam. Dan wanita itu langsung terkejut menyaksikan punggawa dari Kerajaan Sutera Bayu itu tengah menepuk-nepuk dada suaminya dengan sedang dimiringkan.

"Kakang Amertagi.... Ada apa ini?" tanya Nyi Riwangni dengan langkah tergesa-gesa menghampiri suaminya.

"Oh, Nyi. Eh.... Tidak apa-apa," jawab Ki Amertagi mendapati kemunculan istrinya.

"Kau tenanglah, Nyi! Raja Sutera Bayu membutuhkan jasa suamimu. Beruntunglah kau menjadi suaminya," tukas Punggawa Kerajaan Sutera Bayu. "Ayo kita berangkat, Ki! Tunjukkan rumah pendudukmu yang memiliki anak usia sepuluh tahun. Kalau tidak ada, kepalamu dan kepala istrimu akan kubawa ke hadapan sang Prabu Setyagara."

"Kakang Amertagi "

Nyi Riwangni memburu tubuh suaminya yang didorong ke depan dengan senjata telanjang milik Punggawa Guridala.

"Kau tunggu saja di sini, Perempuan Tua! Suamimu akan kukembalikan setelah menunaikan tugasnya!" sentak prajurit yang berada di depan Nyi Riwangni.

Perempuan berpakaian biru muda yang berusia lebih kurang empat puluh tahun segera melangkah mundur ketika mendapatkan tudingan dari salah seorang prajurit kerajaan.

"Kakang Amerta...," hanya ucapan itu yang mengiringi kepergian suaminya bersama punggawa kerajaan dan sepuluh prajurit

***

Bergetar hati Ki Amertagi ketika mendatangi rumah yang berdinding bilik serta beratap rumbia. Rumah itu memang tempat tinggal suami-istri Jagil dan Romanah. Mereka memiliki anak lelaki dan perempuan berusia sepuluh tahun.

"Apakah Ki Jagil dan istrinya bersedia menyerahkan anak kembarnya pada raja?" gumam hati Ki Amertagi dalam hati. Sementara, langkahnya terus terayun mendekati rumah Ki Jagil.

"Tuan Punggawa," panggil Ki Amertagi pada Punggawa Guridala.

"Hm.... Ada apa, Ki?" tanya Punggawa Guridala.

"Kalau boleh, aku minta sedikit waktu untuk membujuk orangtua dari anak kembar yang akan kau serahkan pada Prabu Setyagara," pinta Ki Amertagi hati-hati.

"Tentu saja, Ki. Lakukanlah dan kau harus berhasil," jawab Punggawa Guridala, menyetujui.

Mendengar jawaban Punggawa Kerajaan Sutera Bayu, Ki Amertagi segera melanjutkan langkahnya memasuki pekarangan rumah Ki Jagil. Sementara Ki Jagil dan istrinya yang kebetulan hendak keluar rumah terkejut menyaksikan kedatangan kepala desanya yang didampingi belasan lelaki berpakaian seragam Kerajaan Sutera Bayu. Di benak suami-istri itu seketika timbul pertanyaan-pertanyaan buruk yang akan menimpa keluarganya.

"Selamat datang di gubuk kami, Ki Amertagi dan Tuan-tuan sekalian," sambut Ki Jagil sebisa-bisanya. Padahal, hatinya dilanda kebingungan yang teramat sangat, atas kedatangan Kepala Desa Gandaras dan orang-orang kerajaan itu.

"Ki Jagil. Aku ada keperluan denganmu. Juga dengan kau, Nyi," ucap Ki Amertagi seraya membawa tubuh Ki Jagi menjauhi Punggawa Guridala.

Nyi Romanah juga melangkahkan kakinya mengikuti ajakan Kepala Desa Gandaras itu. "Sebelumnya aku minta maaf pada kalian berdua," Ki Amertagi membuka pembicaraan ketika jaraknya sudah agak jauh dengan orang-orang kerajaan yang diutus Prabu Setyagara.

"Ah! Kenapa meski meminta maaf segala, Ki," kilah Ki Jagil dengan benak semakin banyak dihantui pertanyaan yang bukan-bukan.

"Permintaan maaf itu memang harus kusampaikan pada kalian. Karena..., ah! Kuharap kau bisa memakluminya, Ki Jagil dan juga kau, Nyi Romanah," ucap Ki Amertagi semakin membuat bingung sepasang suami-istri yang dikunjunginya. Terlebih, ketika Ki Jagil dan istrinya menyaksikan wajah kepala desanya yang seperti ketakutan dan begitu pucat

"Katakanlah, Ki. Apa yang kau butuhkan dari kami?" tanya Nyi Romanah mendahului suara Ki Jagil yang hendak keluar.

Ki Amertagi tak segera menjawab. Hanya ditatapnya wajah perempuan berusia tiga puluh tahun itu dengan sorot mata iba.

"Katakan saja, Ki. Mudah-mudahan kami dapat membantu kebutuhanmu," tutur Ki Jagil Kemudian Ki Amertagi kemudian menceritakan apa yang diinginkan Prabu Setyagara yang diketahuinya melalui mulut Punggawa Guridala. Diceritakannya juga maksud dan tujuan persembahan yang akan dilaksanakan Prabu Setyagara pada setiap bulan purnama.

"Begitulah, Ki dan kau, Nyi. Maafkan, karena aku tak kuasa menentang keinginan gila itu. Hampir saja punggawa kerajaan itu memenggal kepalaku kalau keinginan Prabu Setyagara tak kuturuti," ucap Ki Amertagi mengakhiri penjelasannya.

Ki Jagil dan Nyi Romanah tentu saja terkejut mendengar cerita kepala desanya.

"Permintaan gila!" rutuk Ki Jagil dengan tatapan mata yang membara memandang wajah Ki Amertagi.

Kepala Desa Gandaras tak kuasa membalas tatapan kemarahan miliki Ki Jagil. Namun dimakluminya kemarahan itu.

"Kau juga gila, Ki Amertagi!" maki Ki Jagil keras. "Kalau kau menyayangi kepalamu, kami juga menyayangi anak kembar kami!" Ki Jagil keras.

Hardikan Ki Jagi membuat Punggawa Guridala dan prajurit pendampingnya menoleh. Namun, mereka masih memberi kepercayaan pada Ki Amertagi untuk menangani kemarahan Ki Jagi. 

"Pergi kau dari sini, Ki! Kami tak bisa memenuhi permintaan gila itu!" bentak Ki Jagil seraya mendorong tubuh Kepala Desa Gandaras. Padahal, Ki Amertagi selalu bijaksana dan welas asih pada penduduk desa yang dipimpinnya. Karena sifatnya itulah, ketika tubuhnya didorong kasar oleh Ki Jagil dia tak melawan.

"Tolonglah aku, Ki Jagil," tukas Ki Amertagi meratap.

"Gila! Kau juga gila, Ki Amertagi! Pergi kau dari sini!" bentak Ki Jagil bertambah keras. Dan tiba-tiba saja tangannya melayang ke arah Ki Amertagi.

Bluk! "Akh!"

Ki Amertagi memekik tertahan ketika mendapat pukulan keras pada bagian wajahnya. Tubuhnya terhuyung ke belakang sejauh tiga langkah. Darah nampak mengucur dari bibirnya yang pecah. Punggawa Guridala yang menyaksikan kejadian itu seketika meloncat cepat menghampiri Ki Jagil yang telah memukul wajah Kepala Desa Gandaras. Langsung tangannya berkelebat cepat, ke arah wajah Ki Jagil.

Plak! Plak!

Tangan kanan Punggawa Guridala langsung menghajar wajah Ki Jagil. Akibatnya lelaki berpakaian coklat itu terhuyung dan jatuh keras di tanah halaman rumahnya sendiri.

"Kurang ajar sekali kau, Bangsat!" maki Punggawa Guridala geram. "Tak tahukah dengan siapa berhadapan sekarang!"

"Kakang"

Romanah memburu tubuh Ki Jagil. Wajahnya terlihat membiru dan bibirnya pecah meneteskan darah, akibat dihajar tangan punggawa itu.

"Cepat, katakan! Di mana anak kembarmu itu, heh! Aku harus segera kembali ke istana!" bentak Punggawa Guridala geram.

Ki Jagil dan Nyi Romanah tak menjawab pertanyaan utusan Prabu Setyagara ini. Malah dengan berani, sepasang mata suami-istri menatap tajam penuh dendam pada Punggawa Guridala.

"Kalau kau tak bersedia menunjukkan, biar kugeledah rumahmu!" dengus Punggawa Guridala seraya melangkah.

Namun baru tiga langkah kaki itu terayun, Nyi Romanah telah mendahului dan menghalangi Punggawa Guridala di ambang pintu.

"Jangan kau ambil anakku!" cegah Nyi Romanah keras.

"Hm...," Punggawa Guridala mendengus kesal melihat sikap perempuan berusia tiga puluh tahun yang menghalangi niatnya. Dan seketika itu juga....

Srat!

Punggawa Guridala langsung mencabut pedangnya. Lalu seketika itu juga dibabatkan ke arah Nyi Romanah. Sehingga....

Bret! "Aaa!"

Nyi Romanah terpekik keras ketika ujung pedang milik Punggawa Guridala menebas perutnya. Tubuh perempuan itu seketika ambruk ke tanah dengan luka menganga lebar pada bagian perut. Isi perut dan darah langsung berserakan di tanah.

"Nyi...!" teriak Ki Jagil yang menyaksikan, istrinya tengah menggelepar meregang nyawa. Tak lama, tubuh perempuan itu mengejang kaku dan tewas!

"Kau?! Punggawa keparat!" maki Ki Jagil tak kuasa membendung kemarahannya.

Tubuh lelaki berpakaian coklat itu seketika melesat dengan tangan terkepal hendak menghajar Punggawa Guridala yang telah membunuh istrinya.

"Hiyaaa...!"

Punggawa Guridala yang melihat Ki Jagil hendak menyerang, tanpa ada belas kasihan segera menghunus pedangnya ke depan. Lalu, pedangnya dibabatkan ke perut Ki Jagi yang meluruk ke arahnya.

"Hih!" Brets! "Aaakh...!"

***
TIGA
Halaman rumah penduduk Desa Gandaras ini seketika dikotori lumuran darah pemiliknya yang tertebas pedang Punggawa Guridala pada perutnya. Sementara, Kepala Desa Gandaras ini tak mampu berbuat banyak. Dia hanya bisa menyaksikan kematian Ki Jagil dan Nyi Romanah dengan hati sulit digambarkan.

"Biar kugeledah rumah ini!" dengus Punggawa Guridala, setelah membersihkan pedangnya dari bercak darah, menggunakan pakaian yang melekat di tubuh Nyi Romanah.

"Aaa...!"

"Ibu...!"

Dua jerit ketakutan seketika terdengar, manakala pintu rumah Ki Jagil dibuka dengan kasar oleh Punggawa Guridala. Seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun ini tak lain anak kembar Ki Jagil. Mereka terlihat berdiri ketakutan di sudut ruangan.

"Prajurit! Cepat angkat kedua anak itu!" perintah Punggawa Guridala pada prajuritprajurit kerajaan yang semenjak tadi hanya diam saja.

Tiga orang prajurit terdepan seketika itu juga bergerak cepat memasuki rumah kediaman Ki Jagil. Kemudian dengan sikap kasar tubuh anak kembar Ki Jagil ditenteng keluar rumah.

"Tidak mau!"

"Tidak mau! Ibu.... Ayah...!"

Anak kembar Ki Jagil meronta-ronta dalam dekapan prajurit-prajurit Kerajaan Sutera Bayu. Jeritan mereka begitu menyayat, membuat Ki Amertagi tak kuasa menyaksikannya. Kepala desa berusia lima puluh tahun itu hanya menundukkan kepala saja.

"Kau urus-mayat-mayat itu, Ki!" perintah Punggawa Guridala kasar, seraya melompat ke punggung kudanya. "Beruntung kau tak kujadikan mayat juga. Namun purnama depan, jika tak bisa menyediakan persembahan, maka nyawamu pun akan melayang seperti nyawa lelaki dan perempuan itu!"

Kepala Desa Gandaras tak meladeni ucapan itu. Hanya ditatapinya kepergian punggawa dan prajurit kerajaan yang membawa anak kembar Ki Jagil untuk dijadikan persembahan.

"Hiyaaa...!"

"Hiyaaa...!"

Debu mengepul di udara, begitu kuda tunggangan Punggawa Guridala dan prajurit Kerajaan Sutera Bayu berlalu dari tempat itu.

***

Sementara dari tikungan jalan, muncul sepasang anak muda berpakaian warna kuning keemasan dan warna jingga. Mereka masih sempat pula melihat rombongan prajurit yang membawa dua bocah meninggalkan tempat ini.

"Hm.... Seperti punggawa dan prajurit-prajurit kerajaan, Kakang Jaka," kata seorang dara cantik jelita yang berambut panjang dikepang belakang.

Memang, pemuda tampan itu tak lain Jaka. Di kalangan dunia persilatan, dia terkenal berjuluk Raja Petir. Sedangkan gadis teman intimnya tak lain si Dewi Payung Emas.

"Sepertinya begitu, Mayang," jawab Raja Petir. "Tapi kenapa mereka membawa serta dua orang anak kecil, Kakang?" tanya Mayang tak sadar.

"Kau ini aneh, Mayang," kilah Jaka menyadarkan kekasihnya. "Mana mungkin aku tahu? Lha, memangnya kita saja yang baru tiba di tempat ini."

"Oh, iya. Maaf, aku memang pelupa," kata Mayang.

Jaka dan Mayang kemudian sama-sama kembali berbalik. Sementara punggawa dan prajurit kerajaan itu bergerak semakin jauh dan menghilang di tikungan jalan.

"Kakang? Kau lihat di depan sana. Di rumah bambu itu," tunjuk Mayang pada salah satu rumah penduduk Desa Gandaras yang sudah dikerumuni orang. "Ada kejadian apa di sana?"

"Pertanyaanmu kembali bisa kujawab, Mayang. Namun.... Ayo kita ke sana," ajak Jaka seraya menambah kecepatan langkahnya.

Gadis cantik berpakaian jingga itu pun mengikuti langkah tokoh muda digdaya yang berjuluk Raja Petir. Begitu mendekati rumah bambu yang dikerumuni orang banyak, Jaka dan Mayang seketika saja dapat menduga kalau baru saja terjadi pembunuhan.

Di halaman rumah itu nampak tergeletak dua mayat lelaki dan perempuan. Bagian dada dan perut mereka tampak luka cukup dalam dan besar yang masih mengeluarkan darah. Jaka segera saja mendekati seorang lelaki berusia setengah baya.

"Siapa yang melakukan pembunuhan itu, Ki," tanya Jaka, dengan suara dibuat selembut dan sesopan mungkin.

Lelaki yang berkumis putih itu menoleh ke arah Jaka.

"Eh! Anu..., anu. Den," agak tergeragap lelaki berpakaian hitam itu. 

Jaka segera saja mengembangkan senyumnya ketika melihat kegugupan lelaki tua yang ditanyai.

"Kisanak tak perlu takut Aku hanya sekadar bertanya saja," kata Jaka perlahan.

Lelaki tua berkumis putih itu menatap Jaka dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dan nampaknya, dia terkesima melihat penampilan Jaka yang begitu rapi dan berpakaian layaknya anak seorang saudagar kaya.

"Anu, Den.... Mereka utusan raja," jawab lelaki itu takut-takut

"Utusan raja?" ulang Jaka dalam hati. "Apakah anak-anak kecil itu...?"

Jaka tak meneruskan dugaannya. Kini matanya sibuk menyaksikan seorang lelaki berpakaian sutera putih bersih. Dia tengah memerintah orang-orang untuk membantu mengurus mayat suami-istri yang bernama Ki Jagil dan Nyi Romanah itu.

Karena Jaka dan Mayang merasa sebagai pendatang di Desa Gandaras, maka hanya menyaksikan saja penduduk desa yang bergotongroyong menguburkan dua mayat itu dari kejauhan. Namun tak lama kedua pendekar muda itu segera menghampiri lelaki yang tak lain Ki Amertagi, Kepala Desa Gandaras yang tengah melangkah meninggalkan upacara penguburan.

"Maaf, Kisanak. Kami mengganggu sebentar," ucap Jaka sopan seraya menjajari langkah lunglai Kepala Desa Gandaras.

Ki Amertagi seketika menghentikan langkahnya. Dan tatapan kecurigaan pun langsung dilemparkan ke wajah Jaka.

"Namaku Jaka Sembada. Dan kawanku Mayang Sutera," kata Jaka memperkenalkan diri dengan sikap ramah.

"Aku Ki Amertagi kepala desa ini," ujar Kepala Desa Gandaras memperkenalkan diri pula. Wajahnya menyiratkan ketidaksenangan. "Ada perlu apa Kisanak berdua, hingga mencegat perjalananku?"

"Kami hanya ingin tahu, siapa pembunuh dua orang yang baru saja dimakamkan itu. Dan juga tentang punggawa serta prajurit kerajaan yang membawa dua orang bocah kecil?" tanya Jaka memancing jawaban Ki Amertagi.

"Untuk apa kau bertanya seperti itu?" tanya Ki Amertagi tanpa menjawab pertanyaan Jaka.

"Hanya sekadar ingin tahu, Ki Amertagi," jawab Jaka sabar.

"Percuma."

Ki Amertagi segera melangkah cepat meninggalkan Jaka dan Mayang. Mayang dan Jaka saling berpandangan setelah melihat sikap Ki Amertagi. Kemudian mereka sama-sama saling menganggukkan  kepala, dan cepat mengejar Ki Amertagi.

"Ki," panggil Jaka setelah langkahnya kembali sejajar dengan langkah Kepala Desa Gandaras ini. "Dengan adanya pembunuhan terhadap dua orang yang baru saja dimakamkan, itu berarti desa ini tengah terganggu ketenteramannya. Dan kalau boleh kusimpulkan, Ki Amertagi sebagai kepala desa justru ingin berbuat sesuatu yang terbaik untuk menangani masalah ini."

"Hhh...." Ki Amertagi menarik napas berat dengan langkah kaki terus terayun.

"Sebenarnya apa yang tengah terjadi di sini, Ki?" desak Jaka penasaran.

Sementara, Mayang dengan sabar menanti jawaban lelaki berpakaian putih ini.

"Percuma saja bila ingin tahu persoalan yang terjadi di desa ini, Jaka," jawab Ki Amertagi pelan. "Kau tak akan mampu berbuat sesuatu untuk menangani persoalannya."

"Sedemikian beratnyakah?" selidik Jaka lebih jauh.

"Hm...," Ki Amertagi menggumam tak jelas. "Aku sendiri sebagai Kepala Desa Gandaras hanya bisa pasrah menghadapi persoalan yang teramat berat ini. Entah, dosa apa yang telah kulakukan hingga sang Pencipta Alam ini mengazabku dengan persoalan ini."

"Kalau kami ingin meringankan bebanmu, apakah kau memperkenankannya, Ki?" kali ini Mayang yang melemparkan pertanyaan pada Kepala Desa Gandaras.

Ki Amertagi menatap lurus ke wajah Mayang. Sepertinya, dia tak percaya mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan gadis cantik berambut panjang dikepang ke belakang ini.

"Apakah yang bisa kalian lakukan untuk menghalangi keinginan Prabu Setyagara?" tukas Ki Amertagi, balik bertanya.

"Jadi persoalan yang tengah kau hadapi, berhubungan langsung dengan kerajaan, Ki?"

Mayang memang tak menjawab pertanyaan Kepala Desa Gandaras ini. Pertanyaan yang barusan dilontarkan hanya karena merasa senang dapat mengorek keterangan dari mulut Ki Amertagi.

"Ya Begitulah," desah Ki Amertagi.

"Kalau boleh tahu, apa yang telah diperbuat lelaki-lelaki berkuda yang mengenakan pakaian punggawa dan prajurit kerajaan itu, Ki?" selidik Mayang agak berani.

"Sudahlah, Nisanak. Lupakan saja keingintahuanmu. Kalau kalian kuberitahu, kau tak akan dapat berbuat banyak untuk dapat menyelamatkan desa ini, dan desa-desa di wilayah kekuasaan Kerajaan Sutera Bayu. Lebih baik, pergilah dari desa ini. Dan, jangan cari penyakit dengan mencampuri urusan yang mengandung bahaya besar."

Kata-kata yang diucapkan Ki Amertagi, sesungguhnya membuat hati Mayang tersinggung. Wajah gadis cantik kekasih Raja Petir ini nampak bersemu merah, mendengar dirinya dan kekasihnya direndahkan seperti itu.

"Ki," panggil Mayang. "Maaf, bukannya kami bermaksud sombong. Ketahuilah, Ki. Sahabatku yang bernama Jaka ini di kalangan rimba persilatan dikenal dengan julukan Raja Petir."

Kata-kata itu sengaja dilontarkan Mayang, untuk menutupi kekesalannya. Maka seketika itu juga Ki Amertagi melempar pandangan ke arah wajah Jaka. Kemudian tatapannya merambat ke sekujur tubuh lelaki gagah dan tampan ini.

Sebenarnya bukan baru kali ini Ki Amertagi mendengar julukan Raja Petir yang  tersohor itu. Begitu juga kabar sepak terjang Raja Petir yang selalu membela orang-orang lemah dan mengusir segala bentuk kebatilan. Tapi untuknya bertatap muka secara langsung? Sungguh Ki Amertagi tak pernah membayangkannya.

"Kau.... Kau Ra...?" kata Ki Amertagi tergagap, seraya membungkuk hormat

"Ah, Ki. Jangan memanggilku dengan julukan itu," selak Jaka melihat kegugupan Kepala Desa Gandaras ini. "Bukan maksud sahabatku menyombongkan diriku. Dia hanya ingin Ki Amertagi mempercayai kami untuk membantu kemelut yang terjadi di desa ini."

Jaka segera mengulurkan tangan, mengangkat bahu Ki Amertagi yang membungkuk.

"Maafkan aku. Raja Petir," ujar Ki Amertagi setelah tegak kembali dengan wajah memerah. "Sungguh aku tak bermaksud meremehkan kalian barusan." 

"Lupakan saja persoalan itu, Ki. Yang pasti, kami senang kalau kau memberi izin untuk ikut meringankan kemelut yang terjadi di desa ini," selak Mayang lemah lembut.

"Tentu saja, Mayang. Tentu," jawab Ki Amertagi cepat.

"Terima kasih, Ki," ucap Mayang.

"Sebaiknya, kalian ikut saja ke rumahku. Di sana, nanti kuceritakan kejadian yang sebenarnya. Mari," ajak Ki Amertagi.

Langkah laki-laki setengah baya itu terayun sedikit gagah. Dia menemukan kegembiraan karena ada orang lain yang bersedia membantu meringankan bebannya. Sementara Raja Petir dan Dewi Payung Emas tersenyum-senyum sambil melangkah mengiringi langkah kaki Ki Amertagi.

***

"Kakang...!"

Kedatangan Ki Amertagi disambut perempuan berusia empat puluh tahun dengan teriakan begitu penuh kegembiraan. Perempuan berpakaian warna biru muda itu menghambur, kemudian merangkul tubuh kepala desa ini.

"Syukur kau selamat, Kakang...," ucap wanita yang tak lain Nyi Riwangni perlahan. Air mata terlihat bergulir turun dari kelopak matanya.

"Sudahlah, Nyi. Kau lihat, kita kedatangan tamu besar," ujar Ki Amertagi dengan tangan berusaha melepaskan rangkulan istrinya.

Nyi Riwangni melepaskan rangkulannya di tubuh Ki Amertagi. Kemudian tatapannya berpindah ke wajah tampan Jaka dan wajah cantik Mayang.

"Selamat datang Kisanak dan Nisanak," sambut Nyi Rawangni dengan kepala sedikit ditundukkan.

"Panggil saja Jaka, Nyi. Dan sahabatku ini bernama Mayang," tukas Sembada memperkenalkan diri.

"Baik Jaka dan Mayang. Mari silakan masuk," ujar Nyi Riwangni menyambut perkenalan Jaka.

Langkah perempuan berusia empat puluhan tahun itu bergerak mendahului langkah Ki Amertagi.

"Mari, Jaka, Mayang," ajak Ki Amertagi kemudian.

Jaka dan Mayang segera melangkah mengikuti Ki Amertagi memasuki rumah yang megah dan terawat rapi.

"Silakan duduk," ujar Ki Amertagi sesampainya Jaka dan Mayang di ruang tamu.

Sepasang pendekar muda itu segera duduk berdampingan. Sementara di seberang meja, duduk Ki Amertagi.

"Kami ingin secepatnya mengetahui persoalan yang terjadi di desa ini. Paling tidak, agar bisa lebih cepat mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu," Jaka membuka pembicaraan. "Baik, Jaka," jawab Ki Amertagi menyetujui permintaan Raja Petir

Tatapan lelaki Kepala Desa Gandaras seketika terlempar ke pekarangan rumahnya yang banyak ditumbuhi pohon jambe berduri. Kemudian dari mulutnya mengalir cerita tentang Prabu Setyagara yang menginginkan seribu pasang bocah berusia sepuluh tahun untuk dijadikan persembahan selama seribu purnama.

"Sepasang bocah yang dilarikan punggawa dan prajurit-prajurit kerajaan yang kau lihat itu, adalah anak kembar Ki Jagil yang tadi dikuburkan pendudukku. Dialah korban pertama dari persembahan gila yang direncanakan Raja Sutera Bayu," tutur Ki Amertagi, melanjutkan ceritanya.

"Sudah berapa lama Prabu Setyagara menjabat sebagai raja?" tanya Mayang ingin tahu.

"Baru dua bulan ini," jawab Ki Amertagi tegas.

"Baru dua bulan? Hm...," Mayang mengulangi jawaban Ki Amertagi diiringi gumam tak jelas. "Apakah Prabu Setyagara menduduki tampuk kekuasaan dengan merebut secara kasar, atau   "

"Yang Mulia Prabu Mulya Dewantara mangkat karena suatu penyakit aneh. Kabar penyakit aneh yang diidapnya memang tersebar ke seluruh pelosok desa yang berada di wilayah kekuasaan Kerajaan Sutera Bayu," selak Ki Amertagi.

"Apakah Prabu Mulya Dewantara tak memiliki seorang putra mahkota?" selidik Mayang lagi.

"Punya. Usianya hampir.... Ah! Aku tak tahu pasti. Mungkin sudah tujuh belas tahunan," jawab Ki Amertagi.

"Kenapa tidak dia yang menggantikan kedudukan ayahandanya?" tanya Jaka, memancing cerita Ki Amertagi.

"Entahlah," jawab Ki Amertagi. "Aneh," timpal Mayang.

"Lalu, apa hubungan keluarga Prabu Setyagara dengan mendiang Prabu Mulya Dewantara?" tanya Jaka lagi.

"Adik kandung," jawab Ki Amertagi tegas. "Sepertinya ada teka-teki di balik keinginan Prabu Setyagara, Kakang," ucap Mayang pada kekasihnya.

"Apa teka-teki itu menurutmu, Mayang?" tanya Jaka ingin bukti dari ucapan kekasihnya yang juga dirasakannya.

"Pertama, mengenai keanehan penyakit Prabu Mulya Dewantara. Kedua, mengenai persembahan gila yang tak pernah terjadi semasa kepemimpinan Prabu Mulya Dewantara," jelas Mayang gamblang.

"Kesimpulanmu?" cecar Jaka.

"Kematian sang Prabu Mulya Dewantara kuduga memang sudah direncanakan. Lewat perantara seorang tokoh sakti, Prabu Mulya Dewantara disiksa melalui penyakit aneh itu. Dan rencana itu didalangi Prabu Setyagara, adik kandungnya sendiri, yang juga menginginkan kedudukan sebagai seorang raja. Dan persembahan gila itu kusimpulkan bukanlah untuk memuja dewa keselamatan dan dewa kesejahteraan. Itu bohong! Jelas, itu hanya dalih untuk mengelabui penduduk. Padahal, sesungguhnya persembahan itu ditujukan untuk si tokoh yang membantu Prabu Setyagara dalam rangka menyempurnakan ilmu-ilmu sesatnya," jelas Mayang panjang lebar.

Jaka tentu saja merasa kagum mendengar kesimpulan cemerlang yang dipaparkan kekasihnya. Kesimpulan itu sungguh sesuai dengan apa yang ada di benaknya. Sementara itu Ki Amertagi hanya melongo mendengar kesimpulan Mayang yang sama sekali tak terduga.

"Kakang...," panggil Mayang mengejutkan Jaka dan Ki Amertagi. "Bukankah nanti malam purnama akan muncul? Berarti...?"

"Acara persembahan itu akan dilaksanakan nanti malam, Ki?" tanya Jaka pada Ki Amertagi.

Kepala Desa Gandaras mengangguk lemah. "Oh," Mayang mendesah tertahan. "Sebaiknya kita ke kotaraja sekarang, Kakang. Kita harus mengikuti ke mana Prabu Setyagara mengirim korban persembahannya."

"Kau betul, Mayang. Namun, kita harus memperhitungkan apa bisa tiba di kotaraja malam ini?" ujar Jaka.

Mayang tak berkata-kata mendengar ucapan Jaka. Namun dibenarkan juga ucapan kekasihnya.

 "Seberapa jauh jarak kotaraja dari desa ini, Ki?" tanya Jaka pada Ki Amertagi.

"Tidak begitu jauh, Jaka. Tidak sampai setengah hari dalam perjalanan berkuda," jawab Ki Amertagi.

"Kalau begitu, izinkan kami berangkat ke kotaraja sekarang juga, Ki," putus Jaka setelah yakin mampu tiba di sana malam ini.

"Kalian"

"Kami ingin tahu, apa yang akan dilakukan raja sesat itu, Ki. Doakan saja agar kami dapat mengatasi persembahan-persembahan sesat selanjutnya," ujar Mayang, meyakinkan keputusan kekasihnya.

"Hati-hati kalian," ujar Ki Amertagi memberi nasihat penuh keharuan.

"Kami pergi sekarang, Ki. Titip salam untuk "

"Hei! Kalian belum meminum air ini!" selak Nyi Riwangni yang baru muncul dari ruang dalam sambil membawa minuman dan penganan.

"Terima kasih, Nyi. Lain kali kami pasti tak menolak jamuanmu. Sekarang kami harus pergi untuk mengejar waktu," kata Mayang tegas. "Permisi, Nyi!"

Jaka dan Mayang segera saja berlalu cepat dari ruang tamu kediaman Ki Amertagi. Sepasang pendekar muda itu. kemudian menghentakkan kakinya kuat-kuat, setelah mencapai ambang pintu.

"Hop!"

"Hip!"

Ki Amertagi dan Nyi Riwangni hanya memandangi kepergian Jaka dan Mayang yang begitu cepat

"Hhh.... Raja Petir! Kau memang pendekar digdaya," gumam Ki Amertagi.

"Kau menyebutnya sebagai Raja Petir, Kakang?" tanya Nyi Riwangni mendengar gumaman suaminya.

"Pemuda tampan itulah yang berjuluk Raja Petir, Nyi," jelas Ki Amertagi.

"Heh?!" Nyi Riwangni terkejut

***
EMPAT
Langit di sebelah timur Desa Gandaras telah menjelmakan warna jingga yang begitu menawan. Matahari terlihat perlahan tenggelam kembali ke peraduannya. Alam di pedesaan ini memang menyajikan suasana yang begitu indah.

Dan pada saat menghilangnya sinar jingga yang membias, tiba-tiba berkelebat dua sosok bayangan dengan kecepatan luar biasa. Kedua bayangan itu menerobos masuk Hutan Gindang yang menjadi perbatasan antara Desa Gandaras dengan kotaraja.

Dua sosok bayangan yang melesat cepat itu tak lain sepasang pendekar muda yang sudah cukup tersohor di kalangan rimba persilatan. Siapa lagi kalau bukan Raja Petir dan Dewi Payung Emas.

"Kita akan tiba lebih cepat dari waktu yang telah direncanakan, Kakang," kata Mayang dengan napas yang sedikit memburu.

"Bagus kalau begitu, Mayang. Berarti bisa sedikit beristirahat sebelum melakukan penyelidikan," balas Jaka dengan napas lebih teratur.

Dua anak berpakaian warna kuning keemasan dan jingga itu terus melanjutkan perjalanan, menerobos perut Hutan Gindang. Namun tiba-tiba saja....

"Awaaas, Mayang!" teriak Jaka, ketika matanya melihat sebatang pohon besar tumbang ke arah kekasihnya.

Mayang yang mendengar teriakan peringatan kekasihnya segera melompat cepat.

"Hop!"

Jaka pun melakukan hal yang sama. 

"Hop!"

Grosakkk!

Pohon yang besar itu tumbang, ambruk ke tanah begitu Jaka dan Mayang berhasil melompat menghindar. Akan tetapi sebentuk bahaya yang lain harus dihadapi pasangan pendekar muda itu. Di depan mata mereka kini tengah berjejer sosok berpakaian seperti kera. 

Di tangan masing-masing sosok yang berjumlah belasan orang itu tergenggam sebatang obor yang menyala cukup besar. Dugaan Jaka dan Mayang, mereka adalah para perampok yang memanfaatkan Hutan Gindang sebagai markas.

"He he he "

Salah satu sosok yang bertubuh tinggi besar tertawa keras dengan kaki terangkat dua langkah ke belakang.

"Serahkan harta kalian kalau ingin selamat melintasi hutan ini!" bentak lelaki tinggi besar itu, keras. Nampaknya, dialah yang menjadi pimpinan begal ini.

Jaka tak membalas ucapan lelaki tinggi besar yang di tangannya menggenggam sebilah tombak berukuran besar.

"Tak perlu kita meladeni mereka, Mayang. Hanya membuang waktu saja," ujar Jaka, hampir mirip bisikan.

"Tentu saja, Kakang. Kita harus segera sampai di kotaraja," balas Mayang, menyetujui kata-kata kekasihnya.

"Kalau begitu bersiaplah. Biar kuberi pelajaran mereka," pinta Jaka. Dan tiba-tiba saja....

"Hiaaa!"

"Wusss!"

Angin bergulung bagai pusaran angin seketika melesat dari sepasang telapak tangan Raja Petir yang terhentak kuat. Angin yang tercipta berkat pengerahan ilmu 'Pukulan Pengacau Arah' meluruk deras ke arah sosok-sosok yang menggenggam obor.

"Awaaas...!" pimpinan begal yang bertubuh tinggi besar itu berteriak memperingati teman-temannya begitu melihat bahaya mengancam.

Maka belasan lelaki yang merintangi perjalanan Raja Petir dan Mayang, seketika saja berlompatan cepat ke arah kanan dan kiri untuk menghindari terjangan angin bergulung yang menebarkan hawa panas menyengat. Dan Pada saat itulah kedua pendekar muda ini menghentakkan kakinya kuat-kuat

"Hop!"

"Hip!"

Tubuh Jaka dan Mayang berkelebat menggunakan ilmu lari cepat tingkat tinggi, yang dibarengi pengerahan ilmu meringankan tubuh yang mencapai taraf kesempurnaan. Maka, barisan penghalang yang kini sudah longgar mudah sekali dilalui. Namun....

"Bangsat! Kejar mereka!" teriak pimpinan begal itu menyadari calon mangsanya lolos begitu saja.

Belasan lelaki berpakaian seperti kera yang memang anak buah lelaki tinggi besar itu segera saja bergerak mengejar Raja Petir dan Mayang. Namun sekuat-kuatnya mengejar, usaha yang dilakukannya hanya sia-sia saja.

Ilmu lari para begal tanggung itu memang belum seberapa jika dibanding ilmu lari sepasang pendekar muda yang kesaktiannya diperhitungkan tokoh-tokoh sakti golongan hitam maupun putih. Terbukti, jarak buruan mereka semakin jauh saja untuk dikejar.

"Bangsat!" rutuk lelaki tinggi besar itu ketika menyadari pengejarannya hanya menemui kekandasan saja. Sementara, Mayang dan Jaka terus berlari mendekati wilayah kotaraja.

"Hm.... Mereka tak tahu dengan siapa berhadapan, Kakang. Mereka pikir, kita gentar menghadapi. Padahal "

"Kita belum tentu mampu mengalahkannya, Mayang," selak Jaka dengan tatapan mengerling lucu ke wajah gadisnya.

"Kau selalu merendah," omel Mayang berpura-pura cemberut

"Merendah adalah sikap bijaksana, Mayang," sahut Jaka.

"Kalau Kakang terlalu sering merendah, bukan kebijaksanaan yang akhirnya didapat. Tapi sikap meremehkan yang selalu mengundang sakit hati," sangkal Mayang yang kali ini dengan wajah dipasang sesungguh mungkin.

"Tidak begitu, Mayang. Kita harus melihat di mana sikap merendah itu harus ditonjolkan," tolak Jaka atas ucapan si Dewi Payung Emas yang terasa memang tidaklah salah.

"Sudahlah! Kakang memang selalu  begi tu " Mayang memasang wajah masam.

Meskipun dalam keadaan tengah berlari, Jaka masih sempat menyaksikan wajah kekasihnya.

"Kau jelek kalau cemberut begitu," ledek Jaka cukup jelas.

"Biar jelek, Kakang kan suka," gumam Mayang kesal.

"Hei! Lebih baik kita berhenti bertengkar. Lihatlah, kita sudah memasuki wilayah kotaraja," tukas Jaka seraya menghentikan larinya. Kini Raja Petir melangkah pendek, diikuti Mayang.

***

Malam yang mulai diterangi cahaya bulan, mengiringi langkah kaki Raja Petir dan Dewi Payung Emas memasuki kotaraja yang juga diterangi cahaya lampu dari rumah-rumah yang cukup besar dan mewah.

"Masih ada kedai makan yang buka, Kakang," kata Mayang seraya menunjuk sebuah kedai. "Kita mampir dulu ke sana, Kakang."

"Pasti perutmu sudah merangsek minta diisi," tebak Jaka.

Dara cantik berambut panjang dikepang kelabang yang berjuluk si Dewi Payung Emas mengangguk dengan tatapan tertuju ke arah bangunan rumah yang ramai dikunjungi orang.

"Ayolah kita ke sana, Mayang. Barangkali saja dapat diperoleh keterangan yang tak sengaja dari mulut orang-orang di dalam kedai yang bukan mustahil memang penduduk kotaraja ini sendiri," ajak Jaka.

Kemudian mereka sama-sama melangkah mendekati kedai makan yang semakin ramai dikunjungi orang. Memang, mereka tak lain adalah penduduk kotaraja. Memasuki kedai makan ini, Mayang merasakan kerisihan menyergap hatinya. Betapa tidak? Tatapan mata pengunjung kedai yang umumnya laki-laki langsung menusuk tajam ke arah wajahnya. Memang diakuinya, wajah gadis itu banyak mengundang minat lelaki untuk mengenai lebih dekat dengannya.

Namun, justru sikap Jaka nampak biasa-biasa saja. Sedikit pun tak merasa terganggu oleh cara pengunjung kedai makan yang menatap wajah kekasihnya disertai rasa birahi. Malah, di hatinya timbul sebentuk perasaan bangga, karena memiliki kekasih yang dikagumi banyak orang.

"Kita duduk di sini saja, Mayang," ajak Jaka.

Raja Petir mengajak Mayang duduk di sudut kedai makan yang memang kosong dan pas untuk dua orang. Akan tetapi, di sebelah meja itu tengah bersantap empat lelaki berwajah garang. Bahkan cara duduk mereka pun terlihat kurang sopan.

"Di sana saja, Kakang," tunjuk Mayang, menolak ajakan kekasihnya.

"Ah! Lebih baik di sini saja, Mayang. Tempatnya pas untuk kita berdua saja. Sedangkan tempat yang kau tunjuk terdapat empat buah tempat duduk. Itu berarti kita harus bersantap bersama orang yang sama sekali tidak kita kenal, yang akan duduk di situ juga," tolak Jaka, memberi alasan.

Mayang tentu saja tidak bisa mengelak lagi memang ingin bersantap nikmat tanpa harus terganggu oleh kehadiran orang lain yang mungkin saja akan mengurangi selera makan. Dan baru saja sepasang pendekar muda yang berjuluk Raja Petir dan Dewi Payung Emas meletakkan pantat masing-masing, seorang pelayan setengah tua menghampiri. Dia menanyakan, makanan apa yang akan dipesan kedua anak muda ini.

"Sediakan kami ayam panggang saja, Paman, " kata Jaka sopan. "Dan nasi hangat"

Tatapan mata pemuda itu kemudian dilemparkan ke wajah kekasihnya. Maksudnya, tentu saja agar Mayang memilih sendiri pesanannya.

"Buatkan saja hidangan yang sama, Paman," ujar Mayang lembut.

Kelembutan ucapan Mayang tentu saja membuat empat lelaki bertampang angker menoleh serempak.

"Busyet! Suaranya secantik wajahnya, Gorba," kata salah seorang yang memiliki kumis tebal melintang.

"Kau tidak melihat kalau dia sudah punya pasangan, Narda?" tukas lelaki berwajah putih, namun berbintik-bintik hitam. Dia tadi dipanggil dengan nama Gorba.

Mayang bukannya tak dengar namanya tengah diperbincangkan. Tapi karena selera makannya tak ingin terganggu, makanya tak dipedulikannya empat lelaki angker itu.

"Alaaa...! Berapa susahnya sih, menyingkirkan anak ingusan itu!" dengus Narda, sesumbar. "Sekarang juga, aku bisa mendapatkan gadis itu."

Narda melemparkan tatapannya ke arah gadis cantik itu. Mayang yang mendengar ucapan tak sopan dari lelaki berkumis tebal itu segera saja mengangkat kepalanya. Tatapan matanya langsung menusuk tajam ke wajah lelaki bernama Narda.

"Jangan diladeni, Mayang," ujar Jaka, seraya menyentuh lembut punggung tangan kekasihnya.

Narda yang mendapatkan pelototan tajam dari Mayang, segera mengangkat kakinya hendak menghampiri. Namun cekalan tangan Gorba sempat membuat lelaki berkumis tebal itu duduk kembali di kursinya.

"Jangan mengundang perkelahian, Narda. Bukankah tujuan kita datang ke kotaraja ini untuk menyaksikan persembahan yang akan dilaksanakan malam nanti. Bagaimana jadinya kalau karena kita membuat keributan, prajurit-prajurit kerajaan menahan kita?" cegah Gorba, mencoba meredam kemarahan temannya.

Kata-kata yang diucapkan Gorba ternyata mengena juga. Terbukti kemarahan yang tergambar di wajah Narda sedikit demi sedikit berkurang. Rupanya dia sadar, kalau tujuannya ke kotaraja hanya semata untuk menyaksikan persembahan maut yang baru pertama kali dilakukan Raja Sutera Bayu. Buktinya, dua orang temannya juga tak menyetujui tindakan Narda.

Sepasang pendekar muda yang mendengar kata-kata lelaki berwajah bopeng itu nampak berpura-pura acuh saja. Padahal, mereka sangat mengharapkan pembicaraan itu kembali berlanjut. Namun sampai hidangan di atas meja ludas, empat lelaki itu tak kunjung membicarakan tentang persembahan yang akan dilaksanakan Prabu Setyagara.

"Tak ada yang dapat kita peroleh keterangan dari tempat ini, Kakang," kata Mayang setelah menyeka mulut dari sisa-sisa makanan yang menempel di bibirnya yang merah merekah.

"Trotet! Trotet! Trotet..!"

Baru saja Jaka hendak menanggapi ucapan kekasihnya, sebuah suara sangkala terdengar cukup jelas. Dan bunyi yang terakhir tampaknya disertai pengaturan napas yang cukup panjang. Para pengunjung kedai makan yang berada di dekat pintu masuk, segera terlihat beranjak keluar.

"Rombongan kerajaan! Rombongan kerajaan!" teriak salah seorang cukup keras.

Semua orang yang berada di dalam kedai makan segera bangkit meninggalkan tempat duduk menuju keluar. Hanya Jaka dan Mayang yang masih tetap berada di tempatnya.

"Troteeettt...!"

Bunyi sangkala panjang kembali terdengar. Dan pada saat itulah Jaka dan Mayang bangkit dari depan meja santapannya.

"Hm.... Benar-benar rombongan kerajaan yang lengkap, Mayang," gumam Jaka ketika menyaksikan sebuah kereta kencana yang ditarik empat ekor kuda berwarna putih mengkilat

Di belakang kereta kencana yang diduga Jaka berisi Prabu Setyagara, melintas juga sebuah kereta yang tak kalah indahnya. Kereta indah itu ditarik dua ekor kuda putih mengkilat Persis di bagian depan kereta yang ditarik dua ekor kuda, terlihat dua bocah umur sepuluh tahun tengah duduk dengan wajah yang terkesan kebingungan. 

Tatapan mata mereka menerawang jauh ke depan. Kosong, seperti telah terpengaruh oleh sebentuk kekuatan yang tak dapat terlihat. Di kiri dan kanan sepasang bocah yang tak lain anak kembar Ki Jagil dari Desa Gandaras, nampak dua lelaki berpakaian prajurit bersenjata lengkap.

"Bocah itu pasti anak Ki Jagil, Kakang," bisik Mayang.

"Ya, calon korban pertama dari persembahan gila itu," timpal Jaka dengan suara ditekan.

"Lalu apa rencana kita sekarang, Kakang," tanya Mayang.

"Kita ikut ke tempat persembahan itu, Mayang," jawab Jaka cukup tegas.

Mayang menyetujui keputusan yang diambil Raja Petir. Namun untuk ikut ke tempat tujuan persembahan, Jaka harus menunggu barisan prajurit kerajaan yang mengiringi dua kereta yang mengangkut sang Prabu Setyagara, dan sepasang bocah kembar yang akan dijadikan korban persembahan.

"Ayo, Kakang," ajak Mayang.

Memang saat itu iring-iringan prajurit Kerajaan Sutera Bayu sudah berlalu dari hadapannya. Yang ada kini hanyalah, penduduk kotaraja yang ingin menyaksikan persembahan itu.

"Ayo," sambut Jaka dengan langkah berbaur dengan orang-orang yang ingin menyaksikan persembahan.

"Hhh...!"

Tiba-tiba saja Mayang mendengus ketika menyadari kalau lelaki berwajah bopeng itu juga berjalan di sisi kanannya.

"Hrghhh...!"

Namun lelaki berwajah bopeng yang bernama Narda juga mengeluarkan gerengan kesal, melihat gadis cantik berpakaian jingga yang memelototinya di kedai makan barusan.

"Jangan cari mampus di sini, Narda," ujar Gorda mantap.

Kaki Gorda kemudian melangkah panjangpanjang, mendahului langkah kaki sepasang pendekar muda yang bergelar Raja Petir dan Dewi Payung Emas.

"Biarkan mereka mendahului kita, Mayang," tutur Jaka seraya mencekal pergelangan tangan kekasihnya.

"Kalau keadaannya tidak seperti ini, biar kubungkam mulut lancang itu dengan kepalanku, Kakang," dengus Mayang, melihat wajah jelek lelaki bernama Narda.

"Troteeettt..!"

Bunyi sangkala yang ditiup seorang prajurit kerajaan kembali berkumandang. Dan pada saat itulah kereta kuda yang berada pada bagian depan bergerak lebih cepat, diikuti kereta kuda yang di belakangnya. 

Penduduk kotaraja dan penduduk desa  lain yang sengaja datang untuk menyaksikan persembahan pun ikut bergerak dan berlari membuntuti kereta-kereta kuda yang bergerak semakin cepat Malam merangkak perlahan. Sinar rembulan yang terlihat semakin merata, menerangi jalan yang ditempuh serombongan orang menuju Bukit Kelabang. Sebuah bukit yang akan dijadikan tempat acara persembahan.

***
LIMA
Bukit Kelabang terlihat begitu angker. Daerahnya berbatu-batu, dan ditumbuhi pohonpohon tinggi berdaun jarang yang berkesan kering, sehingga semakin nampak keangkerannya. Siraman sinar bulan purnama di seluruh wilayah Bukit Kelabang, juga cukup menampakkan sebuah goa, yakni bernama Goa Persembahan.

Sebuah kereta kencana indah berwarna kuning keemasan yang berkilauan tertimpa sinar bulan, terlihat berhenti pada bagian paling depan Goa Persembahan. Prabu Setyagara, tampak keluar dari dalam kereta kebesarannya. Seorang lelaki bertampang angker yang berpakaian hitam menghampiri sang Prabu dari Kerajaan Sutera Bayu ini, diikuti dua orang rekannya yang bertubuh tinggi ringkih dan tinggi kekar.

Lelaki berpakaian hitam yang pada bagian punggungnya tersampir sebuah senjata berupa pecut berbentuk seekor kelabang coklat kehitaman tak lain adalah orang yang menuntut penyelenggaraan persembahan di Goa Persembahan Bukit Kelabang. 

Dialah lelaki sakti dan memiliki ilmu sihir yang berjuluk Kelabang Sakti. Sedangkan laki-laki yang bertubuh tinggi ringkih berjuluk Cengcorang Sakti Lembah Setan. Sementara yang bertubuh tinggi kekar berjuluk Gajah Maut Lereng Tandus. Kedua orang itu memang kaki tangan si Kelabang Sakti.

"Persembahan akan segera dimulai, Yang Mulia," ajak Kelabang Hitam dengan kepala sedikit tertunduk, Cengcorang Sakti Lembah Setan dan Gajah Maut Lereng Tandus juga terlihat menundukkan kepala. 

"Mudah-mudahan tak ada halangan yang membuat persembahan ini gagal dan tidak diterima oleh "

"Akan kuperintahkan seluruh prajurit kerajaan bersiaga untuk menjaga segala kemungkinan, Grandawa," selak Prabu Setyagara.

"Terima kasih, Yang Mulia," ucap lelaki yang sebenarnya bernama Grandawa.

Kini Kelabang Hitam membungkukkan tubuhnya lebih rendah. Dan ketika tegak kembali, langsung diperintahkannya Cengcorang Lembah Setan dan Gajah Maut Lereng Tandus untuk segera menjemput sepasang bocah berusia sepuluh tahun yang akan menjadi persembahan pertama.

"Bawa bocah-bocah itu kemari, Marwa," perintah Kelabang Sakti pada Cengcorang Sakti Lembah Setan yang ternyata bernama asli Marwa. 

Dua lelaki berpakaian hijau terang dan kelabu langsung bergerak ke arah kereta kencana yang ditempati bocah kembar anak Ki Jagil. Sementara dua bocah kembar itu nampak begitu rapi bagai sepasang pengantin yang hendak diiringi ke pelaminan. Pakaiannya yang indah dihiasi bunga-bunga melati yang ditautkan benang sutera.

Sementara orang-orang yang turut menyaksikan acara persembahan terlihat semakin jauh berkurang jumlahnya. Itu dikarenakan tak tahan mengikuti lari kereta kuda yang menempuh jarak ratusan pal. Yang mampu bertahan hingga bisa mencapai Bukit Kelabang hanyalah orangorang persilatan.

Dalam jejeran orang yang hendak menyaksikan acara persembahan, nampak Raja Petir dan Dewi Payung Emas. Kedua pendekar muda itu lebih memilih berdiri pada tempat yang sedikit tersembunyi. Tak jauh dari tempat Jaka dan Mayang, terlihat juga empat lelaki berwajah angker yang hampir bertengkar dengan Mayang di kedai makan kotaraja. Mayang mengarahkan tatapannya ke empat lelaki itu. Begitu juga Jaka. 

"Ternyata empat lelaki itu bukan orang sembarangan, Mayang," kata Jaka. "Terbukti dia bisa bertahan ikut sampai ke tempat persembahan ini."

"Kau betul, Kakang," timpal Mayang. "Apa yang harus kita lakukan di tempat ini, Kakang?"

"Kita saksikan dulu, apa yang akan mereka lakukan," jawab Jaka.

"HhhPerbuatan gila," rutuk Mayang.

"Jangan keras-keras bicaramu, Mayang."

Mayang menatap wajah Jaka. Sungguh tak disadari ucapannya barusan.

***

Suasana Bukit Kelabang yang diterangi cahaya bulan purnama menjadi lebih hening ketika sepasang bocah yang didandani layak pengantin didirikan pada dua buah batu ceper sebesar tampah.

"Hm."

Mayang Sutera sepertinya tak sabar melihat lelaki berpakaian hitam yang menjadi pimpinan penyelenggara upacara persembahan. Sementara itu, tatapan Jaka justru berkeliaran menyaksikan prajurit kerajaan yang berjaga-jaga di sekitar Bukit Kelabang. Seolah Raja Petir tengah mengukur kekuatan orang-orang yang mendukung acara persembahan sesat Prabu Setyagara.

"Mayang," bisik Jaka tiba-tiba.

"Ada apa, Kakang?" tanya Mayang.

"Bersiaplah untuk menghadapi segala kemungkinan. Aku akan melakukan sesuatu untuk menyelamatkan anak kembar Ki Jagil itu," ujar Jaka.

"Apa yang akan kau lakukan, Kakang?"

Disadari, upacara persembahan itu diikuti tokoh-tokoh sakti golongan hitam, dan juga ratusan prajurit Kerajaan Sutera Bayu. Jelas, mereka berjaga-jaga dan dilengkapi persenjataan.

"Tunggu saja apa yang akan dilakukan lelaki berpakaian hitam itu, Mayang," ujar Jaka tanpa memberi tahu pada kekasihnya, tindakan apa yang akan ditempuh.

Mayang tak melontarkan pertanyaan lagi. Terlebih ketika Jaka membungkukkan badan. Tampak tangan kanan Raja Petir meraih batu sebesar kepalan perempuan dewasa. Meski dalam hati Dewi Payung Emas muncul berbagai macam pertanyaan, namun tetap mencoba bersabar untuk menunggu apa yang dilakukan Jaka.

"Saudara-saudara sekalian!"

Tiba-tiba terdengar seruan keras yang dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam. Suara itu seketika mengumandang dan bergema di sudut-sudut Bukit Kelabang. Kata-kata pembuka  itu diucapkan Grandawa alias si Kelabang Hitam dengan tatapan berkeliling. Diperhatikannya orang-orang yang menyaksikan jalannya persembahan.

"Tak lama lagi saudara-saudara akan menyaksikan persembahan yang berguna untuk menjaga keutuhan Kerajaan Sutera Bayu. Persembahan ini sekaligus untuk meminta restu pada Dewa Penyelamat dan Dewa Pemelihara kedamaian, agar kita semua selalu mendapat keselamatan dan kedamaian," kata Kelabang Hitam.

Tak ada suara sedikit pun yang menanggapi ucapan lelaki yang berjuluk Kelabang Hitam ini. Dan suasana pun menjadi begitu sunyi. Jaka dan Mayang pun hanya diam saja. Namun dalam hati Mayang merutuki kata-kata Kelabang Hitam.

"Semoga Yang Kuasa mengutuk ucapanmu!"

"Saudara-saudara sekalian...!" kata Grandawa lagi. "Di hadapan kita kini, berdiri Yang Mulia Prabu Setyagara, untuk sama-sama menyaksikan upacara persembahan. Perlu diketahui, setelah dua kepala korban terpisah dari badannya, maka akan kulemparkan kepala bocah lelaki itu. Lalu, Yang Mulia akan melempar kepala bocah yang perempuan ke dalam Goa Kelabang. Jika pada lemparan kedua terdengar bunyi raungan dahsyat, saudara-saudara sekalian tak perlu takut. Karena itu hanya pertanda kalau persembahan diterima," tutur Grandawa.

Orang-orang yang mendengar ucapan lelaki berpakaian hitam hanya terdiam, tanpa sepatah kata pun yang terucap. Sepertinya semua orang yang ada di Bukit Kelabang terpengaruh oleh ucapan-ucapan si Kelabang Hitam, yang memang memiliki kelebihan dalam hal ilmu sihir.

"Sekarang saksikanlah bagaimana aku memenggal kepala bocah lelaki ini," ujar si Kelabang Hitam seraya menyentuh anak lelaki Ki Jagil yang berada pada tangan Cengcorang Sakti Lembah Setan. "Jika kepala bocah ini terpenggal tanpa mengucurkan darah, berarti persembahan diterima."

Puluhan pasang mata yang menyaksikan sikap Kelabang Hitam nampak tak berkedip. Terlebih ketika Grandawa meminta sebilah golok besar yang ada di tangan Gajah Maut Lereng Tandus.

"Menyingkirlah kalian," perintah si Kelabang Hitam pada Cengcorang Sakti Lembah Setan dan Gajah Maut Lereng Tandus.

Maka kedua lelaki bertubuh tinggi kurus dan tinggi kekar itu bergerak meninggalkan bocah-bocah persembahan yang berdiri di atas sebongkah batu ceper. Sesaat lamanya ketegangan membalut hati orang-orang yang menyaksikan jalannya persembahan. Dengan hati berdegup keras, mereka menunggu apa yang akan dilakukan Kelabang Hitam.

Seperti orang-orang lain, Mayang pun merasakan keterpanaan pula. Hanya Jaka yang tampak lebih tenang, dengan telapak tangan menggenggam sebongkah batu sebesar kepalan tangan perempuan dewasa. Namun di balik itu, siapa yang tahu kalau sesungguhnya tokoh tampan yang berjuluk Raja Petir tengah mempersiapkan sebuah ilmu andalan yang bernama aji 'Kukuh Karang'.

"Haiaaa...!"

Keheningan yang dibungkus ketegangan, seketika terusik teriakan si Kelabang Hitam dengan sebilah golok besar yang terangkat hendak ditebaskan ke leher anak lelaki Ki Jagil.

"Hmrh...!"

Jaka menggereng marah melihat tindakan Grandawa. Maka seketika itu juga....

Sing!

Sebongkah batu yang berada dalam genggaman tangan kanan Raja Petir meluruk deras mengiringi kelebatan golok besar yang hendak memenggal kepala putra Ki Jagil.

Trak! "Akh!"

Terdengar pekik tertahan yang keluar dari mulut lelaki yang berjuluk Kelabang Hitam. Tubuhnya pun terlihat terjajar dua langkah ke belakang, sementara senjatanya yang berada dalam genggaman terpental dan patah dua.

Kejadian itu berlangsung begitu cepatnya. Cengcorang Sakti Lembah Setan dan Gajah Maut Lereng Tandus pun tak sempat menyaksikan kelebatan sebongkah batu yang dilemparkan Raja Petir dengan kekuatan tenaga dalam penuh. Dan pada saat tergempurnya tubuh Kelabang Hitam, sosok Raja Petir tiba-tiba melesat bagai kilat

"Hops!" Sltas! Tap! Tap!

Dua sosok bocah berumur sepuluh tahun yang berdiri pada batu ceper seketika itu juga lenyap dari tempatnya. Raja Petir memang melarikannya disertai pengerahan ilmu 'Lejitan Lidah Petir' yang dipadukan ilmu meringankan tubuh dan ilmu cepat tingkat tinggi. 

Hingga manakala tubuh yang terbungkus pakaian warna kuning itu berkelebat, yang nampak hanya cahaya kuning yang melesat bagai kilat. Orang-orang yang menyaksikan terhuyungnya tubuh Grandawa dan lenyapnya tubuh sepasang bocah persembahan, nampak seperti terkesima. Mereka bengong melompong.

"Kejar! Jangan biarkan dia lolos!" teriak si Kelabang Hitam keras setelah sadar.

Cengcorang Sakti Lembah Setan dan Gajah Maut Lereng Tandus sama-sama menghentakkan kakinya ke tanah kuat-kuat untuk mengejar orang yang telah melarikan anak kembar Ki Jagil.

"Hop!"

"Hop!"

***
ENAM
Suasana di Bukit Kelabang mendadak menjadi kacau balau. Prajurit-prajurit yang menyadari perintah Yang Mulia Prabu Setyagara segera bergerak, ikut mengejar ke arah melesatnya bayangan kuning keemasan yang telah menyelamatkan dua anak Ki Jagil dari persembahan sesat yang telah dilakukan Raja Sutera Bayu. 

Sementara, orang-orang yang hanya bermaksud menyaksikan jalannya persembahan, kini kocar-kacir mencari tempat untuk menghindar dari serudukan prajurit-prajurit yang bermaksud mengejar bayangan kuning tadi!

"Kakang...," desah Mayang, cemas. "Semoga tokoh-tokoh sesat tak kuasa mengejarmu."

Hanya dalam waktu singkat, seluruh prajurit kerajaan yang bertugas menjaga Bukit Kelabang telah meninggalkan tempatnya. Hanya beberapa tokoh hitam saja yang mengiringi Prabu Setyagara meninggalkan Bukit Kelabang.

"Hhh"

Sementara itu Mayang, setelah menarik napas berat segera saja melangkah meninggalkan Bukit Kelabang. Langkahnya terayun ke arah sama dengan lari Jaka. Namun belum juga jauh melangkah....

"Hei! Hei.... Hei! Jangan pergi dulu, urusan kita belum diselesaikan," tiba-tiba sebuah suara yang ditujukan pada Mayang terdengar.

Semula Mayang mencoba mengacuhkan. Namun ketika terdengar langkah kaki yang seperti mengejar, langkahnya segera dihentikan.

"Gadis sombong! Sekarang kau tak punya teman. Bagaimana kalau persoalan kita di kedai makan tadi diteruskan," tukas lelaki berkumis melintang yang tak lain Narda.

"Aku mendukungmu, Narda. Bukan begitu, Dirman, Sakim! Sekaranglah waktu yang tepat bagi kita untuk menyeret gadis cantik itu," timpal lelaki berwajah putih yang dikotori bopeng di wajahnya. Dia tak lain Gorba.

"Lantas, tunggu apa lagi?" kata orang bernama Dirman.

"Benar! Terlalu lama, tak enak rasanya," sambut orang yang bernama Sakim.

"Aku tak punya urusan dengan kalian," ketus ucapan Mayang. Langkah kakinya pun kembali tergerak meninggalkan empat lelaki berwajah angker.

"Hop!"

"Hip!"

Narda dan Gorba yang melihat keketusan itu segera melesat mendahului langkah kaki kekasih Jaka ini. Mayang tentu saja jadi terbelalak geram, menyaksikan tingkah empat lelaki bertampang kasar yang telah menjengkelkannya sejak di kedai makan tadi.

"Hhh! Dasar lelaki hidung belang! Sudah kukatakan, aku tidak punya waktu untuk meladeni kalian. Menyingkirlah, jangan halangi jalanku!" bentak Mayang, keras.

Dua lelaki yang berdiri di hadapan Mayang hanya cengar-cengir menimpali kemarahan Mayang. Namun ketika tiba-tiba saja tangan gadis itu bergerak cepat, Narda dan Gorba kelimpungan untuk menghindarinya.

"Uts!"

"Hups!"

Narda dan Gorba segera melempar tubuhnya ke kiri dan kanan untuk menghindari sambaran tangan Mayang yang mengarah ke bagian wajah.

"Hm.... Galak juga kau, Nisanak," gumam Narda, setelah bisa menguasai keterkejutannya.

"Aku bukan saja bisa berbuat galak. Tapi bisa membunuh kalian semua kalau tak cepat menyingkir dari hadapanku!" bentak Mayang, tak main-main.

"Aku ingin bukti, Nisanak," tantang Gorba dengan tangan memberi isyarat mengajak tiga temannya untuk mengurung gadis cantik yang berjuluk Dewi Payung Emas.

"Majulah! Kalau itu yang kalian inginkan!" sentak Mayang, membalas tantangan empat lelaki yang kini tengah mengurung dirinya.

Seperti baru menemukan wanita cantik, empat lelaki bertampang angker itu meluruk bersamaan menggunakan tangan kosong.

"Hiyaaa...!"

"Hiaa...!"

Mayang yang memang sudah muak melihat tampang-tampang kasar di hadapannya, segera saja menyambut serangan dengan jurus 'Menepak Laut Menggenggam Air'. Tubuh gadis itu bergerak cepat dan terlihat begitu indah, seperti seorang gadis penari yang bergerak-gerak indah. Namun gerakan itu merupakan sebuah ancaman bagi keempat lelaki yang menjadi lawannya. Karena tiba-tiba tangan gadis itu bergerak ke arah dua orang di depannya.

"Haaat...!" Wuttt!

Plak! Plak!

Dua lelaki yang bernama Dirman dan Sakim kontan terjengkang ke tanah terkena sambaran tangan yang cukup keras pada bagian kepala. Mereka mengerang-erang kesakitan dengan telapak tangan memegangi kepalan yang berdenyut sakit luar biasa. Rasanya, mereka tak mampu lagi melanjutkan pertarungan.

"Setan!" 

"Keparat!"

Narda dan Gorba memaki penuh kegeraman ketika melihat kedua teman mereka mendapat hajaran seperti itu. Kedua lelaki itu kini mencabut senjata masing-masing, berupa sebilah golok bergagang panjang.

Srat! Srat! Rrrt..!

Melihat kedua lawannya mencabut senjata, tak tanggung-tanggung Mayang segera mengembangkan payung kecil dari logam berwarna kuning keemasan. Dan kini sebuah jurus 'Benteng Emas' kini tengah dipersiapkannya untuk menandingi serangan Narda dan Gorba.

"Hiyaaa...!"

"Hiaaa...!"

Narda dan Gorba melesat ke arah tubuh Mayang. Senjata mereka yang diputar-putar di samping kepala seketika itu juga diarahkan ke bagian kepala dan dada gadis itu.

Trang! Trang!

Bunyi berdentang keras dari senjatasenjata yang beradu seketika terdengar di malam yang diterangi cahaya bulan purnama. Percik bunga api pun berpijar dari logam-logam yang beradu dengan kekuatan tenaga dalam tinggi.

Tubuh Narda dan Gorba nampak terjajar tiga langkah ke belakang. Sedangkan Mayang hanya satu langkah bergeser dari tempatnya berpijak. Itu berarti, penguasaan tenaga dalam gadis cantik kekasih Raja Petir ini berada di atas kedua lawannya.

Mendapatkan keunggulan pada dirinya, Mayang segera mengambil tindakan cepat Maksudnya, tak lain ingin memberi pelajaran pada kedua lawannya.

"Hiaaat..!"

Melihat kedua lawannya yang terhuyung, tubuh Dewi Payung Emas cepat mencelat. Kaki kanan yang dialiri kekuatan tenaga dalam, kini nampak hendak menendang bagian dada Gorba. Sedangkan sampokan tangannya, jelas terlihat ditujukan ke kepala Narda. "Mampus kalian!" Bugkh!

Plak! "Aaa...!"

Dua lengkingan kesakitan seketika terdengar berturut-turut, begitu tendangan dan sampokan tangan yang dilancarkan Mayang tepat menghantam dada dan kepala Gorba dan Narda.

Bruk! Bruk!

Tubuh Narda dan Gorba seketika ambruk ke tanah. Wajah lelaki itu nampak menyeringai menahan sakit. Sementara, Mayang hanya berdiri tegak memandang lawan-lawannya dengan senyum mengejek sambil bertolak pinggang.

"Kalau aku mau, sekarang juga tubuh kalian kubuat daging cincang dengan senjataku ini!" gertak Mayang sambil memamerkan senjatanya. Sayang aku tak punya urusan dengan kalian."

Empat lelaki berwajah kasar yang kini terkulai di tanah berbatu-batu Bukit Kelabang tak membalas kata-kata yang dilontarkan Mayang. Bahkan ketika tubuh gadis itu melesat, mereka sedikit pun tak berniat mengejar. Sepertinya, mereka jera mendapati keunggulan yang diperlihatkan gadis cantik kekasih Raja Petir itu.

Sementara itu, Mayang terus melesat cepat ke arah yang diambil Jaka dalam menyelamatkan anak kembar Ki Jagil. Dan malam pun merangkak semakin jauh. Angin dingin yang berhembus terus menusuk kulit. Namun Mayang tak berniat menghentikan larinya

"Hm.... Di mana harus kutemui, Kakang Jaka?" gumam Mayang. "Apakah aku harus ke Desa Gandaras? Hhh "

Setelah menarik napas berat, Mayang akhirnya berkeputusan untuk mencari penginapan terdekat. Baru menjelang fajar nanti, dia akan pergi ke rumah Ki Amertagi Kepala Desa Gandaras.

"Hips!"

Tubuh Mayang kembali bergerak dalam tengah malam yang dingin. Sebuah rumah penginapan yang kini dicarinya.

***
TUJUH
Desa Jalarawa nampak begitu indah manakala sinar matahari nampak sedikit-sedikit menyirami pepohonan hijau kemuning. Di belahan timur desa yang terlihat damai, menghampar sawah dengan padi-padinya yang melambai-lambai tertiup angin sepoi-sepoi sejuk. Mayang yang tengah berada dalam sebuah kamar penginapan, terlihat berdiri di muka jendela yang terbuka lebar. Angin pagi dibiarkan menerpa wajahnya. 

Sementara, tatapan matanya yang jernih dan indah menikmati keindahan alam Desa Jalarawa yang sebenarnya masih berada dalam kekuasaan Kerajaan Sutera Bayu. Sesungguhnya Mayang enggan pergi dari penginapan yang terletak pada sebuah desa yang indah. 

Namun tuntutan hatinya yang dipenuhi kecemasan tinggi, membuat dara manis yang berjuluk Dewi Payung Emas segera beranjak meninggalkan kamarnya. Dia kemudian melangkah ke ruang depan. Begitu tiba, segera diselesaikannya urusan sewa kamar selama semalaman.

"Kenapa begitu terburu-buru, Nisanak?" tanya penjaga penginapan yang masih berusia cukup muda.

"Masih ada urusan lain yang harus segera kuselesaikan, Kisanak. Lain kali, pasti aku mampir lagi di penginapanmu yang resik ini," tukas Mayang.

Dan langkahnya segera terayun meninggalkan pemilik penginapan. Pada sinar mata orang itu terpancar kekagumam akan kecantikan wajah yang dimiliki kekasih Raja Petir ini. Dan Mayang sendiri bukannya tidak tahu kekaguman lelaki berusia tak lebih dari dua puluh lima tahun ini. Makanya, agar lelaki itu tak semakin penasaran, segera saja kakinya melangkah cepat-cepat meninggalkan penginapan yang cukup mengena di hatinya.

***

Karena jarak antara Desa Jalarawa dengan Desa Gandaras tidak terlalu jauh, maka sebelum matahari bertengger tegak di atas kepala, Mayang sudah menginjakkan kakinya di bumi Desa Gandaras. Dan dia langsung menuju rumah Kepala Desa Gandaras itu.

Namun, betapa terkejutnya dara cantik berpakaian warna jingga itu, ketika menyaksikan puluhan prajurit Kerajaan Sutera Bayu berada di pelataran rumah Ki Amertagi.

"Hm.... Pasti mereka menduga Kakang Jaka membawa anak Ki Jagil ke tempat ini," kata batin Mayang.

Memang, tak lama kemudian, gadis cantik kekasih Raja Petir ini menyaksikan tubuh lelaki berpakaian putih tampak terhuyung keluar dari dalam rumah. Di sela bibir orang yang tak lain Kepala Desa Gandaras itu nampak darah merembes keluar. Di wajahnya pun terlihat warna biru bekas pukulan tangan.

"Kau pasti sengaja menyewa orang sakti untuk mengacaukan jalannya persembahan!" bentak lelaki berpakaian seorang punggawa keras.

"Ampunkan hamba, Tuan Punggawa. Sungguh hamba tak tahu-menahu akan hal itu," ratap Ki Amertagi.

"Dusta! Kau berani berdusta padaku, he?!" bentak lelaki bertubuh tinggi besar yang sesungguhnya bernama Guridala.

Kaki kanan punggawa Guridala kemudian terangkat, lalu meluncur deras ke bagian dada Kepala Desa Gandaras.

Dagkh!

"Akh!"

Pekik kesakitan keluar dari mulut Ki Amertagi begitu tendangan keras mendera dadanya. Tubuhnya kontan terhuyung ke belakang, kemudian ambruk ke tanah setelah sepasang kakinya tak kuasa menahan berat badannya.

"Ampunkan hamba, Tuan Punggawa," rintih Ki Amertagi sambil memegangi dadanya yang berdenyut dengan sepasang telapak tangan.

Sementara Nyi Riwangni, istri Ki Amertagi tak bisa berbuat apa-apa melihat keadaan suaminya. Perempuan berpakaian biru muda itu tak berdaya apa-apa di bawah todongan tombak prajurit-prajurit Kerajaan Sutera Bayu. Dia hanya bisa menangis tanpa suara. Hatinya merintih iba melihat keadaan suaminya.

"Masih untung kau tak kubinasakan sekarang, Tua Bangka Pendusta. Kau akan kubawa ke hadapan Prabu Setyagara untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Setelah itu, kau akan mendapatkan hukuman gantung!" ancam Punggawa Guridala keras.

Mayang Sutera yang menyaksikan dan mendengar ucapan Punggawa dari Kerajaan Sutera Bayu menjadi gemas. Perasaan kemanusiaannya langsung tergetar untuk memberi pelajaran pada orang yang suka bertindak sewenangwenang. Namun untuk turun tangan langsung menyelamatkan Ki Amertagi, adalah merupakan pekerjaan konyol.

"Bangkit, Tua Bangka! Ikut aku!" sentak Punggawa Guridala.

Ki Amertagi segera melaksanakan perintah Punggawa Guridala, meski rasa sakit masih cukup kuat terasa di bagian dadanya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk bangkit, kemudian berjalan tertatih-tatih mengikut langkah kaki Punggawa Guridala dari Kerajaan Sutera Bayu ini. Di belakang Ki Amertagi, berjalan prajurit-prajurit yang mengiringi.

"Kakang Amertagi...!"

Nyi Riwangni menjerit menyayat menyaksikan suaminya dibawa menuju Kerajaan Sutera Bayu. Harapannya seketika itu juga musnah untuk dapat hidup bersama selamanya. Sementara Mayang yang menyaksikan ratapan Nyi Riwangni tak mampu berbuat apa-apa. Malahan gadis cantik yang berjuluk Dewi Payung Emas itu membatalkan niatnya untuk mampir di kediaman Kepala Desa Gandaras.

"Hips!"

Tubuh Mayang seketika bergerak berbalik arah. Dia tak tahu lagi, di mana harus mencari Raja Petir. Rasa khawatir yang melanda hati membuatnya berlari tanpa tujuan pasti. Jarak berpal-pal jauhnya kini sudah diambil Mayang untuk mencari jejak kekasihnya. Namun sedikit pun tak ditemui tanda-tanda akan ditemukannya Raja Petir.

Di tengah-tengah keputusasaan yang hampir melanda, tiba-tiba telinga Mayang yang sudah cukup terlatih, mendengar suara-suara pertarungan. Maka untuk meyakinkannya, pendengarannya segera dipusatkan.

"Hiyaaa...!" Ctarrr...!

Suara pertarungan itu kini semakin jelas tertangkap pendengarannya, maka tanpa buang waktu lagi, tubuh si Dewi Payung Emas itu langsung mencelat ke arah suara pertarungan yang didengarnya.

"Kakang...?" Suara tertahan yang keluar dari mulut Mayang terdengar begitu sarat kecemasan. Memang, saat itu Raja Petir tampak tengah terkurung tiga lawan yang semuanya menghunus senjata. Sementara, Jaka tak terlihat menggunakan senjata. Dan anehnya, Mayang tak menyaksikan keberadaan anak kembar Ki Jagi.

"Di mana Kakang Jaka menyembunyikan anak kembar Ki Jagil?" kata hati Mayang bertanya-tanya.

"Kalau kau tak mau menyerahkan bocah-bocah itu padaku, maka kepalamu sebagai pengganti untuk kupersembahkan pada Prabu Setyagara!" ancam lelaki berpakaian hitam yang tak lain si Kelabang Hitam.

"Pilihan kedua yang kuingini, Kelabang Hitam," balas Jaka menantang. "Namun, aku tak yakin melihat kemampuanmu."

Kata-kata itu membuat hati Kelabang Hitam dan Cengcorang Sakti Lembah Setan serta Gajah Maut Lereng Tandus terbakar kemarahan.

"Bocah Laknat! Kau pikir nyawamu rangkap heh?!" sentak Cengcorang Sakti Lembah Setan geram. Langkahnya terangkat, menjajari Kelabang Hitam.

"Kalian yang terlalu berani berurusan dengan Raja Petir!" ledek Jaka.

Sengaja julukannya diucapkan keraskeras, agar kemarahan tiga lawannya semakin terbakar. Dengan begitu, Jaka berharap serangan-serangan yang akan dilakukan mereka tak lagi terkendali. Biasanya dalam keadaan seperti itu, setiap orang pasti akan melalaikan pertahanannya.

"Sombong sekali kau. Raja Buduk! Tokoh-tokoh lain boleh gentar mendengar julukanmu. Tapi Gajah Maut? Ha ha ha.... Jangan berharap kau bisa melihat matahari besok pagi jika sudah berurusan denganku!" gertak lelaki berpakaian warna kelabu itu dengan dada sedikit dibusungkan.

"Jangan banyak cakap, Gajah Bengkak! Buktikan ucapanmu!" balas Jaka tak kalah gertak.

Wuttt!

"Eits!" Jaka segera menarik kepalanya ketika sejengkal lagi golok besar milik Gajah Maut Lereng Tandus hampir memenggal lehernya.

"Hiyaaa...!"

Begitu ucapan Jaka lenyap terbawa angin, tubuh Gajah Maut Lereng Tandus sudah melesat dengan senjata terkibas mengarah ke bagian leher. Suara angin berdesing mengiringi kedatangan serangannya. Goloknya yang berputar-putar terdengar bercericitan tajam.

Wuttt! "Eits!"

Jaka segera menarik lehernya ketika sejengkal lagi golok besar milik Gajah Maut Lereng Tandus memenggal. Tindakan yang diambilnya memang cukup tepat. Terbukti serangan itu hanya mampu menebas angin. Bahkan sodokan tangan kiri Jaka membuat penyerangnya terpaksa melenting ke belakang.

Akan tetapi baru sekejapan bahaya lewat, kini Jaka sudah kembali terancam serangan yang dilancarkan Cengcorang Sakti Lembah Setan yang memainkan jurus 'Pedang Lembah Setan'.

"Hiaaa...!" Bet! Bet! "Uts!"

Kali ini Jaka harus melenting berkali-kali untuk menghindari cecaran pedang panjang bergerigi milik Cengcorang Sakti Lembah Setan yang cukup cepat dan memilih sasaran mematikan. Tusukan dan tebasan yang dilakukannya di samping cepat, juga sulit ditebak arahnya.

"Hm."

Jaka bergumam pelan menyaksikan kecepatan serangan Cengcorang Sakti Lembah Setan.

Wung! "Its!"

Tubuh Raja Petir kembali melenting ke udara seraya memutar tubuhnya. Gerakannya cukup indah dalam memperlihatkan kehebatan ilmu 'Lejitan Lidah Petir'. Dan itu semakin membuat kemarahan lawannya menjadi-jadi.

Saat tubuh Cengcorang Sakti Lembah Setan melesat memberi serangan susulan, tubuh Kelabang Hitam juga bergerak, malahan lesatan yang dilakukan lebih cepat datangnya. Jelas, ilmu yang dimiliki setingkat lebih tinggi dari rekannya.

"Hiyaaa...!"

"Haaat...!"

Mayang yang menyaksikan keadaan kekasihnya terserang dari dua arah, segera saja menghentakkan kakinya. Sementara senjatanya berupa payung kecil dari logam juga sudah terkembang dan siap dimainkan dalam jurus 'Benteng Emas'.

"Hits!"

Mayang langsung memutar-mutar senjatanya memapak serangan Cengcorang Sakti Lembah Setan yang tertuju ke arah Raja Petir. Maka akibatnya....

Blang!

"Ikh!"

Tubuh Cengcorang Sakti Lembah Setan kontan tergempur dua langkah ke belakang sesaat sambaran pedang bergerigi miliknya, membentur payung logam warna kuning keemasan yang dipentangkan Mayang dalam jurus andalan 'Benteng Emas'. Gadis cantik itu juga terjajar dua langkah ke belakang, malah tangannya juga merasakan getaran hebat, hingga hampir saja cekalan tangan pada gagang senjatanya terlepas. 

"Keparat!" maki Cengcorang Sakti Lembah

Setan menyadari serangannya berhasil dihalau campur tangan orang lain. Namun hati laki-laki tinggi kurus itu menjadi terkejut, begitu melihat kalau yang telah menggagalkannya ternyata seorang perempuan. Diyakini perempuan di hadapannya bukan orang perempuan sembarangan. Itu bisa dipastikan dari kekuatan tenaga dalamnya yang tak jauh berbeda.

Sementara itu Raja Petir juga telah berhasil menggagalkan serangan Kelabang Hitam dengan lentingan-lentingan indah, menghindari sambaran pecut berbentuk kelabang yang meledak-ledak.

"Terima kasih, Mayang!" ucap Jaka keras ketika melihat kekasihnya hadir untuk meringankan bebannya.

"Hmrh...!" Gandrawara yang berjuluk Kelabang Hitam menggereng geram. "Ayo Gajah Maut! Kita habisi Raja Buduk itu. Biar Cengcorang Maut yang melumat tubuh gadis itu!"

Gajah Maut Lembah Tandus bergerak cepat berdiri tegak di sisi kiri Kelabang Hitam.

"Keluarkan ajian andalanmu, Gajah Maut. Kita lumat tanpa ampun tubuh bocah gila itu!" dengus Kelabang Sakti lagi.

"Baik!" tegas Gajah Maut Lereng Tandus. "Aji 'Selaksa Bisa Kelabang'!" sentak Grandawa, mengucapkan ajian andalannya.

"Aji 'Belalai Maut'!" teriak Gajah Maut Lereng Tandus tak kalah keras.

Kedua lelaki lawan Raja Petir kini sama-sama memusatkan pikiran. Hanya sesaat saja, dan pada saat selanjutnya hawa dingin dan bau amis terasa menjalar terbawa angin. Dan ini tercipta akibat pengerahan ajian 'Selaksa Bisa Kelabang' miliki si Kelabang Hitam. Sementara Gajah Maut Lereng Tandus menampakkan tangannya yang terulur semakin panjang ke arah Raja Petir.

"Hhh... Ilmu setan!" rutuk Jaka dalam hati. Napas Jaka seketika terasakan sesak akibat pengaruh ilmu Kelabang Hitam.

"Mayang! Menjauhlah dari tempat ini! Kau hadapi saja si Cengcorang Kurus itu!" teriak Jaka keras.

Raja Petir memang khawatir kalau-kalau kekasihnya tak tahan menahan pengaruh yang ditimbulkan akibat ajian ‘Selaksa Bisa Kelabang’.

Gadis cantik berpakaian warna jingga itu rupanya mengerti apa yang diinginkan kekasihnya. Maka seketika itu juga tubuhnya melesat menjauhi arena pertarungan. Langsung digempurnya Cengcorang Sakti Lembah Setan.

***
DELAPAN
Jaka semakin merasakan sesak pada napasnya. Sementara tubuhnya menggigil akibat ajian 'Selaksa Bisa Kelabang' yang diciptakan si Kelabang Sakti. Pada saat yang gawat itu, tangan kanan Gajah Maut Lereng Tandus yang menggenggam golok besar semakin dekat terulur.

"Heh?!"

Jaka tersentak, ketika tiba-tiba saja tubuh Kelabang Sakti lenyap perlahan-lahan seperti asap yang sirna terbawa angin. Namun, kini wujud Grandawa berubah menjadi seekor kelabang raksasa yang cukup besar berwarna coklat kehitaman dengan taring-taring mirip taring serigala buas.

"Sihir...? Hm. Terpaksa harus kugunakan Pedang Petir ini," gumam Jaka dengan tangan perlahan meraih gagang senjata pusaka yang bernama Pedang Petir.

"Grzszs"

Jelmaan kelabang hitam raksasa tiba-tiba mendesis keras. Bersamaan dengan melesat binatang jelmaan itu melesat pula ilmu 'Aji Belalai Maut' milik si Gajah Maut Lereng Tandus yang bergerak cepat dengan golok besar tergenggam di tangan.

"Hyaaarhhh!"

Gajah Maut Lereng Tandus memekik garang. Senjatanya berkelebat dengan pengerahan tenaga dalam penuh.

Bwets! "Uts!"

"Uts!" Dua kali tubuh Jaka melenting ke udara. Karena pada saat yang bersamaan, Gajah Maut Lereng Tandus dan jelmaan kelabang raksasa melakukan serangan.

Jliegkh!

Ketika tubuh Jaka mendarat ringan di tanah, tangannya langsung terangkat lurus dengan telapak menggenggam hulu Pedang Petir. Maka....

Gldrgdrg...! Gldrgdrg !

Suara guntur terdengar saling sahut-menyahut, menggema dari jarak ratusan pal. Namun ketika suara guntur itu terdengar semakin dekat, kilat pun terlihat menyambar-nyambar tubuh Pedang Petir dalam cuaca yang berubah menjadi gelap gulita.

Hanya sesaat saja keadaan gelap dan kilatan petir menyambar-nyambar tubuh pedang milik Raja Petir. Dan pada saat selanjutnya, keadaan berubah menjadi terang benderang. Maka saat itu juga, Jaka memekik keras seraya mengibaskan pedangnya.

"Khaaa!"

Wung!

Prats! 

"Wauuu!"

Tepat pada saat Jaka mengibaskan Pedang Petir, tangan Gajah Maut Lereng Tandus juga terulur hendak membabat tubuh Raja Petir. Akibatnya, tangan lelaki berpakaian warna kelabu itu terputus terbabat Pedang Petir yang terangkum dalam jurus 'Selaksa Halilintar Menyambar'. Tubuh Gajah Maut Lereng Tandus kontan terpental tiga tombak ke belakang dengan tangan lepas sampai ke pangkalnya. 

Dan pengaruh ajian miliknya menyerang dirinya sendiri. Lelaki itu hanya sesaat saja menggelepar-gelepar layak ayam disembelih. Pada saat berikutnya? Nyawanya telah raib meninggalkan jasadnya. Bukan karena tangannya yang buntung, tapi akibat termakan ajiannya sendiri.

Sementara kelabang raksasa jelmaan Grandawa yang mengalami nasib lebih baik. Dia hanya terpental beberapa langkah saja. Memang sungguh tak disangka kalau ajian 'Selaksa Bisa Kelabang' miliknya bisa luntur di hadapan Raja Petir. Kini wujud Kelabang Hitam Raksasa telah berubah menjadi wujud Grandawa yang wajar.

"Hhh...!"

Grandawa menarik napas berat. Sepertinya dia menyesal dengan apa yang didapatnya. Ajian 'Selaksa Bisa Kelabang' memang bisa digunakan berulang-ulang jika lawan-lawannya ditaklukkan. Namun jika dia sendiri yang takluk? Maka ajian itu tak akan bermanfaat jika digunakan untuk yang kedua kalinya. Dengan begitu kekuatan ilmu yang dimilikinya berkurang jauh.

"Bagaimana, Kelabang Hitam? Seorang temanmu sudah menjadi bangkai sekarang! Apakah kau hendak menyusulnya?" tanya Jaka penuh ejekan.

"Hrhrh...!"

Grandawa menggereng mendengar pertanyaan Jaka.

"Keparat kau. Raja Petir!" bentak si Kelabang Hitam murka. "Lebih baik mampus daripada aku harus menyerah di tangan bocah ingusan sepertimu!"

"Ha ha ha...!" Jaka terkekeh mendengar ucapan lawannya. "Jangan takut mati seperti itu, Kelabang Hitam. Aku tak sekejam yang kau bayangkan. Aku bisa mengampunimu, kalau saja kau mau bertobat dari jalan yang sesat"

Dug!

Kelabang Hitam membanting kakinya keras menimpali perkataan Jaka.

"Tak sudi aku mendengar khotbahmu, Raja Sinting!" maki Grandawa berang. "Terimalah seranganku!"

"Hiyaaa...!"

Jaka yang memang sudah mengalungkan lagi Pedang Petir di lehernya, segera saja bersiap menerima kedatangan serangan. Sementara Kelabang Hitam sudah mengangkat tangannya yang menggenggam pecut berbentuk kelabang.

Ctar! Ctar!

Raja Petir langsung melenting ke udara. Dan seketika tangannya bergerak lincah, menangkap lidah pecut itu.

Tap!

Begitu mendarat, langsung ditariknya lidah pecut milik Kelabang Hitam. Bret! "Hops!" Grandawa memang tak menyangka kalau lawannya berani menangkap pecut kelabangnya dengan tangan telanjang. Bahkan juga tak menduga akan mendapat betotan keras yang begitu cepat. Kini Kelabang Hitam berusaha sekuatnya untuk menahan betotan tenaga lawan yang hendak merebut pecutnya.

"Hhh...!"

Keringat sebesar butir-butir jagung meleleh turun dari dahi Grandawa yang tengah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk mempertahankan senjata. Seluruh urat dan otot tubuhnya terlihat menegang.

"Kau terima sekarang aji 'KukuhKarang'ku, Kelabang Hitam," ucap Raja Petir tenang. Maka seketika itu juga sinar kuning menyilaukan mata nampak membungkus Raja Petir dari bagian dada hingga kepala, dan bagian lutut hingga ujung kaki.

Sinar kuning menyilaukan itu seketika juga menjalar, merambat lewat pecut berbentuk kelabang milik Grandawa.

"Akh!"

Si Kelabang Hitam terpekik keras ketika merasakan hawa panas menjalari tubuhnya. Dan seketika itu juga, dirinya sudah terkurung sinar kuning kemilau yang tercipta akibat ajian 'Kukuh Karang'.

"Aaa...!"

Pada saat tubuh si Kelabang Hitam sudah betul-betul tanpa daya, sebuah pekik kematian terdengar membubung tinggi ke langit. Tampak sosok lelaki berpakaian warna hijau mental ke belakang dengan bagian leher koyak mengucurkan darah. Payung emas Mayang rupanya telah menghentikan perlawanan lelaki yang berjuluk Cengcorang Sakti Lembah Setan. Bahkan seketika itu juga sudah menjadi mayat dengan leher berlumuran darah.

"Kakang! Jangan dibunuh!" teriak Mayang setelah menyelesaikan pertarungannya.

"Kenapa, Mayang?" tanya Jaka berpura-pura. Padahal, memang dia tak berniat membunuh si Kelabang Hitam.

"Kelabang Hitam bisa digunakan untuk menyelamatkan Ki Amertagi yang ditawan dan akan digantung pihak kerajaan," jelas Mayang.

"Baiklah, Mayang!" ucap Jaka.

Kemudian tangan Jaka bergerak cepat menotok bagian tubuh Grandawa yang tanpa daya lagi.

Tuk! Tuk! "Aaa...!"

Kelabang Hitam terpekik mendapatkan totokan pada tangannya. Seketika itu juga, uraturat tangannya terasa seperti mati.

"Sekarang kau ikut aku ke Kerajaan Sutera Bayu," tukas Jaka. "Kau harus memulihkan kekacauan yang terjadi di sana."

"O, ya. Di mana anak kembar Ki Jagil, Kakang?" tanya Mayang mengingat dua bocah yang telah diselamatkan kekasihnya. "Dia ada di rumah penduduk Desa Bladar ini," jawab Jaka. "Apa perlu mereka kita bawa serta ke Kerajaan Sutera Bayu?"

"Rasanya tidak perlu, Kakang," jawab Mayang.

"Kalau begitu, sekarang juga kita bawa lelaki ini ke Kerajaan Sutera Bayu," putus Jaka.

"Ayo, Kakang."

***

Puluhan prajurit Kerajaan Sutera Bayu langsung menghunus senjata melihat kedatangan sepasang pendekar muda yang membawa serta si Kelabang Hitam. Awalnya para punggawa melarang mereka untuk menemui Prabu Setyagara. Namun karena Kelabang Hitam yang meminta, maka mereka tak kuasa menolak. Dan mereka pun segera melangkah memasuki Balai Sema Agung. Sebentar saja, mereka telah berhadapan dengan Prabu Setyagara yang duduk di singgasana dalam Balai Sema Agung.

"Yang Mulia," kata Jaka, begitu tiba di hadapan sang Prabu. "Ketahuilah, akulah orang yang telah mengacaukan jalannya persembahan sesat yang kau lakukan. Aku tahu, kau melakukannya atas perintah Kelabang Hitam yang menolongmu menduduki tahta kerajaan. Dan kau tak kuasa untuk menolak, mengingat kesaktiannya. Maka dengan dalih untuk kesejahteraan dan keselamatan rakyat mu, kau bersedia membantu Kelabang Hitam dalam mempelajari ilmu sesat."

Prabu Setyagara tak membantah ucapan Raja Petir. Meski tatapan matanya nampak tak senang melihat sikap tokoh muda yang tak menaruh rasa hormat padanya.

"Sekarang, Kelabang Hitam telah kutundukkan. Apakah kau akan menghilangkan acara persembahan sesat itu?" desak Raja Petir.

Seperti kerbau tercocok hidung, Prabu Setyagara seketika menganggukkan kepala.

"Terimalah hormatku, Yang Mulia Prabu Setyagara," tiba-tiba saja Raja Petir membungkukkan tubuhnya. 

"Hamba minta, berlakulah secara adil dan bijaksana untuk ketenteraman dan kedamaian rakyat mu."

Prabu Setyagara terharu menyaksikan sikap lelaki muda yang berjuluk Raja Petir.

"Aku berjanji akan merubah kekeliruanku. Raja Petir. Aku menyadari kekeliruanku yang merebut tahta secara tidak sah. Aku berjanji, pada saatnya nanti kekuasaan ini akan kuserahkan kepada keponakan yang bernama Bintang Megantara. Memang dialah yang berhak atas tahta ini. Dan setelah itu, aku akan menyerahkan diri, karena memang akulah yang menjadi dalang kekacauan di kerajaan ini.

"Terima kasih, Yang Mulia. Kuserahkan lelaki tanpa daya ini, biar pengadilan kerajaan yang mengurusnya," ujar Jaka.

Tubuh Raja Petir lalu berbalik. "Ayo, Mayang," ajak Jaka pada kekasihnya. 'Tinggallah kalian di istanaku," tahan Pra-bu Setyagara, "Apakah besok pagi kalian tak ingin melihat upacara penyerahan kekuasaan?"

"Rasanya orang-orang di sini sudah cukup untuk menjadi saksi atas upacara yang mulia itu. Dan hamba menghaturkan terima kasih. Permisi." Jaka dan Mayang bergerak meninggalkan

Balai Serna Agung Kerajaan Sutera Bayu. Sementara Prabu Setyagara hanya mampu menatap kepergian sepasang pendekar muda dengan hati tergugah untuk kembali ke jalan yang benar.

"Bebaskan, Patih Abadi Selaksa dan Kepala Desa Gandaragi" perintah Prabu Setyagara pada prajuritnya. "Juga, panggilkan Bintang Megantara dan ibunya."

Angin berhembus lembut di langit Kerajaan Sutera Bayu, seolah ingin membawa kabar akan kedamaian yang membias di Kerajaan Sutera Bayu. Sementara, sepasang pendekar muda yang tak lain Raja Petir dan Dewi Payung Emas terus bergerak menjauhi kerajaan yang telah terselamatkan dari kekacauan.

SELESAI