Serial Raja Petir eps 16 : Pergolakan Goa Teratai

SATU
"Ha ha ha.... Apa daerah itu yang bernama Desa Walang Teter, Kakang?" ucap lelaki muda berusia dua puluh lima tahun yang mengenakan jubah merah darah. Di tangan pemuda tampan itu tergenggam sebatang tongkat berkeluk sembilan, yang pada hulunya terdapat bulatan berbentuk kepala ular.

Dua lelaki berusia empat puluh lima tahun yang memakai jubah hitam dan biru juga memegang tongkat serupa dengan warna pakaiannya. Kedua lelaki itu menatap wajah lelaki muda yang barusan melemparkan pertanyaan.

"Kau betul, Sancasona," ucap dua lelaki berjubah hitam dan biru bersamaan. "Sebentar lagi kita akan menemukan mulut Desa Walang Teter. Di sana terdapat sebuah batu besar yang terletak di sebelah kanan yang bertuliskan nama desa itu dan nama Perguruan Kepodang Emas di sebelah kirinya," jelas lelaki bercambang bauk putih yang mengenakan jubah hitam.

"Ah. Kalau begitu, cita-cita kita akan tercapai, Kakang Sandala," sambut lelaki muda berjubah merah yang ternyata bernama Sancasona.

"Cita-citamu, Sancasona," kilah lelaki berjubah biru yang wajahnya ditumbuhi cambang bauk lebat berwarna hitam.

"Ha ha ha Kenapa kau katakan hanya cita-citaku, Kakang Parada?" tanya Sancasona pada lelaki berjubah biru. Lelaki tua itu berjuluk Iblis Tongkat Biru jika hanya seorang diri, tanpa keberadaan Sancasona dan Sandala. Begitu pula sebaliknya, Sancasona akan bergelar Iblis Tongkat Merah jika dia sedang seorang diri, dan Sandala berjuluk Iblis Tongkat Hitam. Sedangkan jika bergabung mereka berjuluk Tiga Iblis Sakti.

"Karena kau yang menginginkan Lempengan Teratai Emas itu, Sancasona," jawab Parada setelah beberapa saat mendiamkan pertanyaan Sancasona.

"Apa Kakang tidak menginginkan harta karun itu?" tanya Sancasona datar.

"Tentu saja, Sanca."

"Itu berarti kita semua menginginkan Lempengan Teratai Emas itu, Parada," ucap Sandala menengahi.

Hening tercipta. Ketiga lelaki yang memegang sebatang tongkat berkeluk sembilan itu. terus melanjutkan perjalanan menuju Desa Walang Teter.

"Kau lihat itu, Sancasona. Nama Perguruan Kepodang Emas dan nama Desa Walang Teter terpampang sangat jelas," ucap Sandala dengan jari telunjuk menuding mulut Desa Walang Teter.

"Uhhh! Rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera mendapatkan benda berharga itu, Kakang," ucap Sancasona pada Parada dan Sandala. 

"Hilangkan perasaanmu itu, Sanca," ucap Parada mengingatkan. "Rasa tak sabarmu akan melenyapkan beberapa bagian dari kewaspadaanmu. Itu akan merugikan keselamatanmu." 

"Betul ucapan Parada, Sanca. Biar bagaimanapun kita harus waspada pada penduduk Desa Walang Teter. Bukan mustahil mereka memiliki kepandaian yang setara dengan kita. Begitu juga orang-orang Perguruan Kepodang Emas, yang nama besar perguruan itu cukup santer terdengar di dunia persilatan," timpal Sandala.

Lelaki muda berjubah merah menyunggingkan senyum mendengar perkataan Parada dan Sandala.

"Ucapan Kakang berdua tidak salah. Tapi apakah Kakang lupa siapa diri kita? Julukan kita tak kalah santernya dari nama Perguruan Kepodang Emas. Itu merupakan jaminan kalau ilmuilmu kita berada di atas orang-orang Perguruan Kepodang Emas. Kita akan mampu menghancurkan nama perguruan itu dan merebut Lempengan Teratai Emas!" sangkal Sancasona dengan cukup tegas. "Kakang yakin akan hal itu?"

"Aku yakin, Sanca," ucap Parada dan Sandala bersamaan.

"Bagus! Sekarang mari kita masuki Desa Walang Teter. Kita turunkan tangan besi kalau mereka mempersulit kita," ucap Sancasona.

Tiga lelaki berpakaian merah, biru, dan hitam melangkah gagah memasuki wilayah Desa Walang Teter yang nampak begitu enak dipandang. Di bagian muka mulut desa itu berjajar pokok-pokok bambu yang ditanam begitu teratur, hampir mirip batas pintu masuk. 

Dan memasuki mulut Desa Walang Teter lebih jauh, maka akan terlihat sebuah kedai yang cukup besar di sebelah kanan, dan sebuah bangunan kokoh yang dihuni lima lelaki bersenjata dengan tubuh tinggi kekar. Kelima lelaki itu ditugasi menjaga keamanan mulut Desa Walang Teter. Juga bertugas menanyai maksud kedatangan seorang tamu ke desa tersebut

Lazimnya setiap tamu yang bermaksud mengunjungi sanak-saudara atau hanya sekadar ingin singgah, maka kewajiban mereka adalah mendatangi bangunan yang dijaga lima lelaki itu untuk melaporkan. Namun tiga lelaki itu, yang memang tidak mengetahui peraturan di Desa Walang Teter, langsung bergerak ke arah kedai yang pada salah satu ruangannya menebarkan aroma sedap yang membangkitkan selera makan.

"Kita ke kedai itu dulu, Kakang. Mencium bau yang begitu sedap perutku jadi minta diisi," ucap Sancasona sambil memegang perutnya.

"Begitu juga baik, Sanca. Desa Walang Teter memang hebat. Begitu tamu masuk langsung dihadapi sebuah kedai. Ha ha ha.... Ayo cepat Sandala," timpal Parada melangkah mendahului Sancasona.

Sancasona, Parada, dan Sandala yang berjuluk Tiga Iblis Sakti terus melanjutkan langkahnya menuju kedai yang cukup besar itu. Ketiganya seperti sudah tidak sabar untuk menyantap hidangan yang ada di kedai itu.

"Tunggu sebentar, Kisanak sekalian," tegur sebuah suara cukup sopan.

Tiga Iblis Sakti langsung menghentikan langkahnya mendengar ucapan di belakang mereka. Langkahnya yang dua tindak lagi mencapai pintu kedai terpaksa diurungkan. Sanca yang memiliki perangai cepat naik pitam mendengus geram.

"Berani betul kau melarang kami masuk ke kedai ini!" bentak Sancasona. "Kau tidak tahu perut kami sudah terlalu lapar. Apa daging mentahmu yang harus kumakan, heh? Dan darahmu yang harus kuminum?!"

"Maaf, Kisanak," ucap lelaki bertubuh tegap yang di pinggangnya terselip sebilah golok. Wajah lelaki itu sedikit pun tidak menyiratkan rasa takut pada ucapan kasar Sancasona. "Saya tidak pernah melarang tamu yang mengunjungi Desa Walang Teter makan di kedai yang memang telah kami sediakan. Namun sebelumnya harap Kisanak sekalian maklum, Kisanak harus melapor terlebih dulu," lanjut lelaki bertubuh tinggi tegap dan berahang kuat menonjol.

"Melaporkan diri?" ucap Parada seraya memegang dagunya yang berjenggot jarang. "Untuk apa?!" tanya Parada kemudian dengan suara cukup tinggi.

Lelaki penjaga mulut Desa Walang Teter memang terkejut, namun dia berusaha untuk sabar dan membujuk ketiga tamu yang menurutnya kurang diajar tata krama.

"Hanya sekadar melaporkan diri, Kisanak. Biar kehadiran Kisanak kami ketahui maksud dan tujuannya," jelas penjaga itu.

"Desa usilan!" bentak Sandala tak mau ketinggalan. "Untuk apa ingin tahu urusan orang lain, heh?!"

"Rakyat di sini bukannya usilan, Kisanak," ucap penjaga mulai naik pitam. Tubuh lelaki tinggi tegap itu berdiri tegar. Tatapan matanya mencoba membalas pandangan angker sepasang mata Sandala. "Peraturan itu diterapkan hanya untuk menjaga ketenangan dan kedamaian desa yang kami cintai ini," lanjut penjaga menjelaskan.

"Hmh...!"

Sancasona mendengus geram mendengar ucapan lelaki berahang kuat di depannya. "Apakah ini yang kalian namakan ketenangan?"

Wukkk! Prakkk! "Aaa...!"

Pekik kematian melengking tinggi membubung ke langit. Kepala penjaga itu pecah terhantam tongkat berhulu kepala ular yang berkeluk sembilan milik Sancasona. Gerakan lelaki muda berpakaian merah darah itu demikian cepat. Hingga tahu-tahu sudah mendarat di kepala penjaga yang tak sempat mengelak.

Cairan merah bercampur putih meleleh dari kepala lelaki yang kini tergeletak tanpa nyawa. Pekik kematian yang melengking tinggi mengundang empat penjaga lainnya. Para pengunjung kedai bermunculan di ambang pintu untuk melihat kejadian itu.

"Kalian pasti tamu-tamu tak tahu diri!" bentak seorang penjaga ketika menyaksikan tubuh temannya tergeletak dengan kepala pecah. Senjata lelaki yang berupa golok besar itu digunakan untuk menuding wajah Sancasona, Parada, dan Sandala.

"Kalian harus dihukum sesuai dengan perbuatan kalian!" hardik penjaga lain yang bertubuh pendek gempal.

"Hukuman apa yang hendak kalian jatuhkan pada kami, heh?!" tanya Parada menantang.

"Kalian harus ikut kami menghadap kepala keamanan desa," jelas lelaki bertubuh pendek gempal.

"Suruh kepala keamanan itu menemui kami!" bentak Sancasona.

"Kurang ajar! Kalian memang tamu-tamu tak tahu adat. Kalian harus diberi pelajaran! Tangkap mereka!" perintah lelaki bertubuh tegap yang bercambang tipis.

Empat penjaga Desa Walang Teter segera mengurung Tiga Iblis Sakti. Senjata mereka bergerak-gerak di depan wajah. Bagi Tiga Iblis Sakti, keempat lelaki yang kini tengah mengurungnya bukanlah hal yang berarti. Seratus kali lipat pun Tiga Iblis Sakti mampu melenyapkan hanya dalam beberapa jurus saja.

Maka ketika empat keamanan Desa Walang Teter bergerak, hanya dengan sentakan tangan yang menggenggam tongkat, tubuh keempat keamanan desa itu kembali terpukul mundur.

Trak, trak, trakkk..! "Ih! Uh! Ih! Uh!"

Keempat lelaki itu memekik tertahan ketika senjata-senjata mereka membentur tongkat kayu yang keras bagai baja. Tubuh mereka terhuyung empat langkah ke belakang, dengan tangan terasa sangat linu.

"Tamu-tamu setan!" maki lelaki bertubuh pendek gempal menyadari senjatanya terlempar jauh.

"Ha ha ha.... Kalianlah tikus-tikus buduk yang berlagak sok jago!" ejek Parada seraya melangkah mendekati penjaga-penjaga Desa Walang Teter. "Karena keusilan kalian, maka kematianlah yang harus kalian terima!"

Parada mengangkat tongkat berkeluk sembilannya yang berwarna biru. Maka saat itu juga....

"Hih!"

Prak, prak, prakkk...! "Aaa...!"

Empat lengkingan kematian terdengar berturut-turut. Tongkat biru Iblis Tongkat Biru dengan kecepatan luar biasa mendarat di batok kepala empat keamanan Desa Walang Teter.

Darah bermuncratan dari kepala-kepala yang pecah. Nyawa mereka melayang saat itu juga. Dan Tiga Iblis Sakti tanpa perasaan meninggalkan mayat keempat lelaki itu. Lalu memasuki kedai.

***

Seorang penduduk Desa Walang Teter berlari tergopong-gopoh. Lelaki itu tidak mempedulikan napasnya yang mulai tersengal-sengal. Dia terus berlari menuju sebuah bangunan yang lima batang tombak lagi dicapainya.

"Ada apa, Lihun. Kau melihat hantu?" tanya seorang lelaki tinggi kurus yang muncul dari rumah yang dituju lelaki bernama Lihun.

"Kacau, Min. Kacau!" ucap Lihun tersendat-sendat.

"Kacau? Apanya yang kacau?" tanya lelaki tinggi kurus tak mengerti.

"Kakang Garda ada?" tanya Lihun tanpa menjawab pertanyaan lelaki tinggi kurus itu.

"Ada! Ada...," jawab lelaki tinggi kurus itu. Lihun tanpa mempedulikan keheranan lelaki tinggi kurus segera memasuki rumah itu. 

"Kakang Garda!"

Lihun langsung berlutut ketika mendapatkan Garda tengah berbincang-bincang di ruang depan.

"Ada apa, Lihun? Sepertinya kau tengah dikejar setan," ucap lelaki tinggi besar berkumis melintang.

"Kacau, Kang. Kacau," ucap Lihun masih terbata-bata.

"Katakan apa yang kacau, Lihun. Katakan?" pinta Garda dengan mengguncang-guncang bahu Lihun.

"Sebaiknya diberi minum dulu, Kang. Biar dia tenang," ucap sebuah suara merdu.

Garda menoleh ke arah gadis manis berpakaian hijau. Dia adalah adiknya, Ayuni.

"Kau benar, Ayu. Bawa kemari air di meja itu," ucap Garda.

Gadis manis bernama Ayuni itu dengan cepat memenuhi perintah kakaknya. Disodorkannya segelas air pada Garda. Dan Lihun meminumnya sampai habis.

"Sekarang ceritakan apa yang kau lihat, Lihun," pinta Garda setelah dilihatnya wajah Lihun kembali tenang.

"Anu Kang Garda. Di kedai, maksud saya, di depan kedai dekat mulut desa. Kakang Sarta berkelahi dengan tiga lelaki bersenjata tongkat. Kakang Sarta.... Kakang Sarta dan keempat penjaga yang lain mati di tangan tiga lelaki bersenjata tongkat itu," ucap Lihun. Wajahnya kembali pias mengingat kematian mengerikan yang dialami Sarta dan kawan-kawannya.

Garda yang mendengar cerita Lihun merasakan kemarahan merambati dirinya. Wajahnya yang sedikit kasar nampak tegang, dan otot-otot tangannya bersembulan keluar.

"Kau tidak mengenali mereka, Lihun?" tanya Garda.

"Tidak, Kang. Saya tidak berani mendekat ketika Kang Sarta dan kawan-kawannya terlibat pertarungan."

"Kalau begitu, cepat kumpulkan kawankawan. Kita harus mengusir tamu tak tahu adat itu!" perintah Garda.

Lihun segera menjalankan perintah lelaki berkumis melintang yang di Desa Walang Teter berkedudukan sebagai kepala keamanan desa. Bukan itu saja, Garda juga tercatat sebagai murid Perguruan Kepodang Emas yang diketuai Ki Bajang Genta, Kepala Desa Walang Teter. Ki Bajang Genta dalam rimba persilatan terkenal dengan julukan Pendekar Tombak Emas.

Hanya dalam waktu singkat Lihun telah berhasil mengumpulkan tiga puluh lelaki. Ketiga puluh lelaki itu adalah anak buah Garda, yang selalu setia dan bahu-membahu menghadapi rongrongan pihak luar yang ingin mengacau ketenteraman Desa Walang Teter.

"Kita telah kedatangan tamu-tamu keparat. Mereka membunuh Sarta dan kawan-kawannya di mulut desa. Kita harus mengusir tamu tak tahu sopan itu dari desa ini. Kalau perlu kita kirim nyawa mereka ke akherat!" ucap Garda bersemangat.

"Ya! Setiap orang yang bermaksud mengacau desa ini harus kita usir!" sambut lelaki berambut gondrong yang menggenggam sebilah tombak.

"Ayo, kita usir mereka sekarang!" ajak Garda.

"Ayo!" 

"Ayooo...!"

Sambut puluhan lelaki dengan senjata teracung ke udara. Garda dan ketiga puluh lelaki penduduk Desa Walang Teter segera bergerak ke arah mulut desa.

"Keparat itu pasti ada di dalam, Kang," ucap Lihun yang berdiri di samping kiri Garda ketika mereka sampai di depan kedai. Garda tidak segera bertindak. Lelaki berkumis melintang itu menyuruh anak buahnya waspada.

"Kalian angkat mayat Sarta dan yang lainnya," perintah Garda pada lima lelaki yang terdekat dengannya.

Tanpa membantah kelima lelaki itu menjalankanperintahGarda,merekamembobong mayat Sarta dan kawan-kawannya dengan kepala yang tak utuh lagi. Sementara yang lain ikut Garda dengan langkah tegang mendekati pintu kedai. 

"Hai, laki-laki pembuat onar! Keluarlah! Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian!" ucap Garda lantang.

Hening sesaat ketika Garda tak lagi berucap keras. Namun tidak ada tanda-tanda lelaki yang dimaksud Garda keluar dari dalam kedai. Suasana di dalam kedai nampak sepi. Namun sesungguhnya di dalam sana tengah duduk tenang tiga lelaki yang menamakan dirinya Tiga Iblis Sakti dan seorang lelaki tua pemilik kedai dengan wajah pucat pasi.

Tubuh lelaki tua itu bergetar menahan ketakutan yang sangat. Sementara kedai yang biasanya selalu penuh pengunjung kini tak nampak seorang pun di situ. Mereka memilih pergi semenjak kedatangan Tiga Iblis Sakti.

"Kami masih mau bersikap sopan pada kalian. Keluarlah! Jangan tunggu kesabaran kami hilang!" lanjut Garda lebih keras.

Tak berapa lama gaung ucapan Garda lenyap, tiga sosok tubuh bertongkat merah, hitam, dan biru keluar dengan langkah perlahan namun mantap.

"Hmmm.... Tak kusangka penduduk Desa Walang Teter semuanya usilan!" sindir lelaki berjubah biru yang tak lain Parada. Lelaki bertubuh kurus itu bergerak lebih maju dari kedua temannya Sancasona dan Sandala. "Apa yang kalian inginkan dari kami, heh?!" tanya Parada dengan dagu mendongak ke atas.

"Kalian telah membinasakan lima keamanan Desa Walang Teter. Kalian harus bertanggung jawab!" sentak Garda.

"Tanggung jawab bagaimana yang kalian inginkan?" tanya Sandala si Iblis Tongkat Hitam penuh tantangan.

"Kalian harus menerima hukuman sesuai dengan perbuatan kalian!" jawab Garda.

"Silakan kalian lakukan. Kalau memang bisa menghukum Tiga Iblis Sakti," ujar Sancasona datar namun mengundang kemarahan Garda dan anak buahnya.

"Sombong!" maki Garda dengan wajah merah padam. "Ringkus mereka!" perintah Garda kemudian.

Tiga puluh lelaki bersenjata golok, tombak, dan pedang meluruk ke arah Tiga Iblis Sakti. Senjata mereka terayun-ayun disertai pekik kemarahan yang membahana.

"Hiaaa...!"

"Hiyaaa...!"

Puluhan lelaki penduduk Desa Walang Teter melakukan serangan ganas ke berbagai bagian tubuh Tiga Iblis Sakti. Namun ketiga orang itu menghadapi keroyokan puluhan lelaki bersenjata tajam dengan ketenangan mengagumkan.

Puluhan senjata yang mengancam tubuh Sancasona, Parada, dan Sandala tidak mampu melukai tubuh Tiga Iblis Sakti. Untuk menyentuh saja tampak menemui kesukaran. Agaknya kemampuan ketiga lelaki itu jauh di atas para pengeroyoknya. Itu terbukti ketika Sancasona mengadakan serangan balasan.

"Hih!"

Plak, plakkk! "Akh!" 

"Aaa...!"

Dua tubuh pengeroyoknya terjengkang terkena sampokan tangan lelaki muda berjubah merah itu, yang mendarat telak di pelipis. Sampokan keras yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi itu mengakibatkan nyawa kedua lawannya tidak dapat diselamatkan lagi.

Begitu pula kehebatan yang dipertontonkan kedua rekannya. Lelaki berpakaian biru yang bernama Parada nampak ingin menunjukkan siapa dirinya. Hanya dengan sebatang tongkat yang dipindah-pindahkan dari tangan kiri ke kanan berganti-ganti, para pengeroyoknya dapat diredam. Bahkan dengan sadisnya Parada menusuk kepala pengeroyoknya yang telah jatuh lebih dulu.

"Mampus kau!" Crottt!

Kepala lelaki berpakaian hitam yang berusaha menjatuhkan Parada jebol tertembus ujung tongkat lelaki itu. Darah bercampur cairan otak mengalir dari kepala yang berlubang.

"Biadab!" maki penduduk Desa Walang Teter yang lain. Tubuh lelaki berpakaian putih itu melesat dengan pedang di tangan hendak menebas batang leher Parada. Sekilas gerakan lelaki berpakaian putih itu sebuah bahaya besar bagi Parada. Namun nyatanya....

Tappp!

Mata pedang lelaki berpakaian putih ditangkap Parada dengan tangan telanjang, dan tanpa menimbulkan luka sedikit pun. Kenyataan itu membuat penyerang Parada terkejut. Dan sesaat kemudian Parada menghentakkan senjata yang dicekalnya.

"Hih!" Wuttt! Blagkh! "Aaa!"

Seiring dengan sentakan, tangan kiri Parada bergerak cepat menghantam kerongkongan lawan. Seketika itu juga pengeroyoknya terhempas di tanah tanpa nyawa.

Brukkk!

Bunyi berdebuk terdengar, membuat penduduk Desa Walang Teter merasa ngeri. Mayatmayat rekan mereka bergeletakan dengan kepala pecah.

Kengerian itu juga terlihat jelas di wajah Garda. Namun kepala keamanan Desa Walang Teter tidak ingin namanya jatuh. Dengan keberanian yang dipaksakan kembali melesat. Senjatanya digerakkan membelah kepala Sancasona.

"Hiaaa...!" Wuttt!

"Uts!"

Lelaki berjubah merah itu dengan ringan menggerakkan badannya menghindari serangan Garda yang kalap. Tetapi di balik gerakan itu tersembunyi serangan balasan yang cukup berbahaya. Ujung tongkat merahnya tiba-tiba melakukan gerakan menotok iga Garda.

"Hih!" Tlakkk! "Akh...!"

Garda terpekik ketika ujung tongkat Sancasona yang hendak menotok iganya ditangkis dengan golok. Sungguh Garda tak percaya totokan Sancasona mengandung kekuatan tenaga yang luar biasa tinggi. Sekujur tangan Garda terasa ngilu yang sangat, sedang ujung senjatanya gompal.

"Sebaiknya kau mampus saja!" hardik Sancasona melihat Garda menahan sakit.

Sing...!

Usai berkata Sancasona melepaskan tongkat merahnya ke arah Garda. Maka....

Crabbb! "Aaa!"

Tubuh Garda langsung ambruk ke tanah. Tongkat merah Sancasona meluruk dengan kecepatan yang sukar diikuti mata dan menghujam persis di ubun-ubunnya.

Lima lelaki yang tersisa menggigil ketakutan menyaksikan kematian pimpinannya, mereka tidak berani melanjutkan pertarungan. Namun juga tidak berani meninggalkan tempatnya. Lelaki tua pemilik kedai yang menyaksikan kebengisan Tiga Iblis Sakti tak mampu bergerak dari tempatnya. Dengan wajah pucat pasi, lelaki tua itu berdiri sambil berpegangan pada tiang penyangga kedai.

"Kalian juga harus mampus seperti dia!" hardik Sandala sambil menunjuk tubuh Garda yang kepalanya tertembus tongkat Sancasona.

Webs!

Sancasona mencabut tongkat merahnya yang terbenam di kepala Garda. Lalu dengan tongkat itu ditudingkannya kelima lelaki yang masih hidup.

"Hanya satu di antara kalian yang berhak menghirup matahari esok pagi. Yang lainnya harus mati!" sentak Sancasona keras.

Seiring dengan hilangnya gema ucapan Sancasona, tubuh Parada dan Sandala melesat cepat Dan....

Prak, prak, prakkk !

"Aaa!"

Empat lengkingan kematian berturut-turut membubung ke langit Desa Walang Teter. Diiringi ambruknya empat sosok tubuh dengan kepala pecah terhantam tongkat hitam dan biru Iblis Tongkat Hitam dan Iblis Tongkat Biru. Darah bercampur cairan putih memancur dari kepala empat lelaki itu.

"Kau!" tunjuk Sancasona pada seorang lelaki kurus yang tersisa. "Cepat laporkan pada Ki Bajang Genta! Katakan Tiga Iblis Sakti datang ingin meruntuhkan Perguruan Kepodang Emas. Dan mengambil alih kekuasaan sebagai Kepala Desa Walang Teter!" lanjut Sancasona dengan suara menggelegar.

Lelaki yang tak lain adalah Lihun menggigil ketakutan. Tubuhnya seperti orang terserang demam.

"Cepat! Atau kau juga ingin mampus!" hardik Sandala seraya mengacungkan tongkat hitamnya.

Lihun dengan sekuat tenaga berusaha bergerak meninggalkan ketiga pengacau itu. Dan Tiga Iblis Sakti kembali masuk ke dalam kedai dengan mengumandangkan tawa kemenangan. Sedikit pun ketiganya tidak menoleh pada mayatmayat yang bergelimpangan.

"Ha ha ha...!"

"Ha ha ha...!"

"Ha ha ha...!"

***
DUA
Setengah tak percaya Ki Bajang Genta menerima laporan murid utama Perguruan Kepodang Emas yang didapatnya dari Lihun.

"Penjaga-penjaga keamanan mulut desa, bahkan Garda beserta anak buahnya telah menjadi mayat," lanjut lelaki bertubuh sedang namun menampakkan otot-otot yang kuat. "Mayat-mayat mereka bergelimpangan di depan kedai, Guru. Ini sudah keterlaluan," lanjut lelaki berpakaian biru itu. Wajahnya menyiratkan kemarahan yang ditahan.

Ki Bajang Genta, seorang lelaki berusia lima puluh lima tahun, tidak menimpali laporan muridnya. Wajah tuanya yang masih menyimpan raut kekerasan sedikit dibalut ketegangan. Sementara matanya yang setajam tatapan elang tak bergerak dari daun jendela yang terbuka lebar, tertuju lurus seperti mencari sesuatu di sana.

"Kau tahu siapa Tiga Iblis Sakti, Anugda?" tanpa memandang wajah muridnya, Ki Bajang Genta melemparkan pertanyaan dengan suara yang terkesan begitu kaku.

Murid utama Perguruan Kepodang Emas itu tidak segera menjawab. Pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban 'ya' atau 'tidak' itu sebenarnya tidak terlalu berat. Namun makna di balik pertanyaan itu yang membuat Anugda mempertimbangkan jawabannya.

"Kau pernah mendengar sepak terjang Tiga Iblis Sakti, Anugda?" tanya Ki Bajang Genta lagi.

Anugda semakin menenggelamkan wajahnya. Menekuri lantai perguruan yang terasa dingin. Ki Bajang Genta membalikkan tubuh. Tatapan matanya yang tajam tertuju lurus ke wajah Anugda. Sementara tangan lelaki setengah baya itu meraba-raba jenggotnya yang memutih.

"Inilah tentangan terbesar selama puluhan tahun aku memimpin Perguruan Kepodang Emas ini, Anugda," papar Ki Bajang Genta.

Anugda mengangkat wajahnya perlahan memberanikan diri menatap wajah gurunya. Namun sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya.

"Kau tahu kenapa kedatangan Tiga Iblis Sakti kukatakan sebagai tantangan besar, Anugda?" tanya Ketua Perguruan Kepodang Emas yang selalu mengenakan pakaian kuning berbintik-bintik hitam.

Anugda tak menjawab pertanyaan gurunya.

"Karena kedatangan iblis-iblis itu kuyakini ingin meminta sesuatu dariku," jelas Ki Bajang Genta menjawab pertanyaannya sendiri. "Sesuatu itu bukanlah nyawaku, Anugda. Bukan juga perguruan ini," Lanjut Ki Bajang Genta.

Anugda kembali menatap wajah gurunya dengan sejuta tanda tanya melingkar-lingkar di benaknya.

"Sesuatu itu belum saatnya kujelaskan kepadamu, Anugda. Namun yang perlu kau ketahui, sesuatu itu tidak pantas jatuh ke tangan orangorang bermoral bejat seperti Tiga Iblis Sakti. Aku akan mempertahankannya dengan segenap jiwa dan ragaku," tukas Ki Bajang Genta lagi.

"Kalau begitu, izinkan aku dan muridmurid utama perguruan ini mengusir Tiga Iblis Sakti dari desa ini. Guru," ucap Anugda memberanikan diri.

Ki Bajang Genta menarik kulit wajahnya hingga membentuk sebuah senyum dingin. Namun tidak mengandung arti meremehkan keinginan muridnya.

"Kukatakan kepadamu, Anugda. Kepandaian yang kumiliki jika dibanding dengan orang termuda dari Tiga Iblis Sakti bisa diumpamakan seperti kucing dan macan tutul. Aku dan orang termuda dari Tiga Iblis Sakti memang sama-sama punya taring. Tapi apalah arti taring seekor kucing dapur jika harus menghadapi taring si Raja Rimba? Kau mengerti maksudku, Anugda?"

"Kita minta bantuan Kakang Yudistira, Guru. Dengan demikian kekuatan kita semakin kokoh," saran Anugda polos.

Kembali segurat senyum menghiasi wajah Ki Bajang Genta.

"Tiga Iblis Sakti adalah tokoh sesat nomor satu di jagad raya ini, Anugda. Mungkin hanya satu orang yang dapat mengimbangi kepandaian Tiga Iblis Sakti."

"Siapa, Guru?" tanya Anugda ingin tahu. "Raja Petir."

"Raja Petir?" ulang Anugda.

"Ya. Raja Petir. Tapi untuk meminta bantuannya bukan hal yang mudah. Dia seorang pengembara. Kolong langit adalah tempat tinggalnya. Sangat sulit jika kita ingin mencarinya dengan sengaja, namun bukan sesuatu yang mustahil tiba-tiba tokoh muda yang digdaya itu muncul di Desa Walang Teter," jelas pimpinan Perguruan Kepodang Emas.

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Guru?" tanya Anugda seperti putus asa.

"Akan kuhadapi mereka. Apa pun akibatnya!" jawab Ki Bajang Genta mantap.

"Maaf, Ki. Bukankah lebih aman jika kita ikut sertakan Kakang Yudistira. Bukankah dia juga memiliki orang-orang berkepandaian tinggi yang pasti bisa meringankan langkah kita?" ucap Anugda masih dengan usulnya.

"Aku tidak mengatakan percuma atas bantuan mereka. Aku hanya tidak ingin melihat kehancuran mereka karena ingin meringankan beban kita. Sebagai perguruan yang punya nama besar di kalangan rimba persilatan, kita harus berjiwa besar menghadapi tantangan yang paling berat sekali pun. Dengan darah dan nyawa kita hadapi apa yang diingini Tiga Iblis Sakti," tandas Ki Bajang Genta.

"Kalau begitu, aku persiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi tikus-tikus itu. Guru," pinta Anugda seraya beringsut dari hadapan Ki Bajang Genta.

"Tak ada yang perlu kau persiapkan, Anugda. Cukup aku saja yang menghadapi Tiga Iblis Sakti," kilah Ki Bajang Genta mengejutkan murid utama Perguruan Kepodang Emas itu.

"Apa Guru ingin mendatangi mereka seorang diri?" tanya Anugda sangat khawatir.

"Aku tidak akan menghadang mereka di mulut desa, Anugda. Akan kutunggu mereka di sini," jawab Ki Bajang Genta.

Anugda semakin tak mengerti dengan ucapan dan keinginan gurunya. Tapi untuk membantah rasanya tidak mungkin.

"Sedapatnya aku akan mengatur siasat agar tidak terjadi banjir darah di perguruan ini," tukas Ki Bajang Genta. 

"Namun jika hal itu terjadi juga, kusarankan agar kalian mencari selamat entah dengan cara bagaimana. Yang pasti aku tidak mengajari kalian menjadi seorang pengecut. Yang kuinginkan adalah kepentingan kalian untuk tetap bertahan hidup. Kemudian memperdalam ilmu dan menjelma menjadi sosok yang selalu membela kebenaran dan mengusir keangkaramurkaan. Kehancuran yang menimpa Perguruan Kepodang Emas kuharap tidak terjadi lagi setelah kau dan yang lainnya menjelma menjadi pendekar berbudi luhur. Contohlah Raja Petir," urai Ki Bajang Genta panjang lebar.

Anugda tidak bersuara mendengar penuturan lelaki tua yang sangat dihormatinya itu. Rasa hormatnya semakin bertambah mendengar katakata bijaknya. Betapa jiwa Ki Bajang Genta begitu besar dan luhur.

"Lalu bagaimana dengan Nini Harum Seroja, Guru?"

"Kurasa dia lebih tahu bagaimana cara menjaga dirinya, Anugda. Meski perempuan, Harum akan menunjukkan kekuatannya untuk menjaga kehormatannya. Ah! Yang terakhir itu kuharap tak terjadi," jawab Ki Bajang Genta.

Hening tercipta sesaat. Ki Bajang Genta kembali melempar pandangan ke halaman rumah di samping kanan.

"Kudengar ada kericuhan terjadi di mulut desa. Ayah. Apa sudah dapat ditanggulangi?" tanya seorang gadis cantik berpakaian longgar merah dadu. Wajah gadis yang putih bersih itu menyiratkan kekhawatiran yang dalam.

"Sebentar lagi pasti teratasi, Harum," jawab Ki Bajang Genta menanggapi pertanyaan putri tunggalnya yang tiba-tiba muncul dari pintu belakang.

"Siapa pembuat kericuhan itu, Kakang?" tanya perempuan setengah baya yang muncul bersama gadis cantik itu.

"Tiga Iblis Sakti," jawab Ki Bajang Genta pelan.

Ucapan Ki Bajang Genta mengejutkan perempuan setengah baya yang tak lain istrinya. Perempuan yang wajahnya masih menampakkan sisa-sisa kecantikan itu tampak terkejut.

"Tiga Iblis Sakti?" ulang istri Ki Bajang Genta.

"Apakah mereka mau merebut..."

"Itu pasti tujuan utama mereka, Nyi Randa," potong Ki Bajang Genta sebelum rahasia itu disebut istrinya.

Harum Seroja dan Anugda yang mendengar pembicaraan itu tidak berusaha menegaskan.

"Apa tindakanmu, Kakang Bajang?" tanya Nyi Randa cemas.

"Aku akan menantangnya mengadu nyawa," jawab Ki Bajang Genta mantap.

"Kakang...," tak percaya Nyi Randa mendengar penuturan suaminya.

"Setidaknya itu salah satu cara untuk mengurangi pertumpahan darah di Desa Walang Teter. Khususnya di Perguruan Kepodang Emas," kilah Ki Bajang Genta.

"Tapi"

"Aku akan mengatur siasat untuk mengulur waktu. Dengan mengharapkan kemunculan seorang pendekar sakti seperti Raja Petir. Meski itu mustahil, aku tetap berharap," potong Ki Bajang Genta.

"Apa siasat mengulur waktu yang kau maksud itu?" tanya Nyi Randa lebih jauh.

"Aku akan menantangnya mengadu nyawa untuk mempertahankan sesuatu yang telah lama kujaga dengan hati-hati. Waktunya tepat pada purnama mendatang," jelas Ki Bajang Genta.

"Sembilan hari lagi...," desah Nyi Randa mirip desisan.

"Ya. Sembilan hari lagi," tegas Ki Bajang Genta.

"Bagaimana seandainya Tiga Iblis Sakti mampu membaca siasatmu?" kejar Nyi Randa.

Ki Bajang Genta tidak segera menjawab. Matanya yang tajam menatap wajah redup perempuan setengah baya di hadapannya. Kemudian setelah puas, Ki Bajang Genta menarik napas panjang. Dada Ki Bajang Genta mengembang sesaat, lalu tertarik ke dalam perlahan-lahan menghembuskan napas dari lubang hidungnya.

"Hhh"

"Tampaknya pertarungan tidak akan terelakkan lagi, Nyi," ucap Ki Bajang Genta.

Nyi Randa tidak mengomentari. Tatapan matanya menghujam wajah Ki Bajang Genta.

"Terpaksa benda itu berpindah dari tempatnya. Dan kau, Anugda! Kuharap kau mampu menjaga diri dan anakku dalam menyelamatkan benda itu. Pergilah kalian bertiga ke tempat yang aman. Biar aku yang menghadapi Tiga Iblis Laknat itu bersama murid-murid perguruan," pinta  Ki Bajang Genta pada Anugda.

"Kalau aku boleh tahu, benda apakah yang Ayah maksud itu?" tanya Harum Seroja hati-hati.

Ki Bajang Genta menatap wajah anaknya. Namun Nyi Randa justru menatap wajah Ki Bajang Genta.

"Pada akhirnya kau memang harus tahu, Harum. Benda itu adalah Lempengan Teratai Emas," ujar Ki Bajang Genta memberi tahu.

"Lempengan Teratai Emas...?" ulang Harum Seroja pelan. "Apakah demikian berharganya, hingga Ayah harus mempertahankan dengan nyawa dan keutuhan perguruan ini?"

"Bukan hanya itu nilai Lempengan Teratai Emas, Harum. Tetapi keselamatan rimba persilatan, khususnya golongan putih. Mereka akan terjaga jika kalian mampu mempertahankan benda itu dari tangan-tangan hitam yang ingin menguasai sejak puluhan tahun silam," tandas Ki Bajang Genta.

"Oh! Betapa besar nilai benda itu. Apakah.... Apakah kita harus menyelamatkannya sekarang. Ayah. Sebelum iblis-iblis itu datang," usul Harum Seroja hati-hati.

"Tidak sekarang, Harum. Akan kujalani dulu siasat yang kususun. Akan kutantang Tiga Iblis Sakti!" tolak Ki Bajang Genta. "Kalian boleh memindahkan benda itu kalau tanda-tanda pertempuran sudah terlihat jelas."

Sepi sesaat melingkupi mereka yang sedang berbincang-bincang di ruang tengah tempat tinggal Ki Bajang Genta. Namun kemudian....

"Ha ha ha !"

Sepi itu terpecahkan oleh suara tawa berkepanjangan. Suara tawa yang keluar melalui pengerahan tenaga dalam tinggi. Hingga rumah Ki Bajang Genta bergetar. Ki Bajang Genta, Harum Seroja, Nyi Randa, dan Anugda melawan suara tawa itu dengan mengerahkan kekuatan tenaga dalam. Ki Bajang Genta segera menghambur keluar ingin melihat sosok yang telah mengeluarkan tawa.

"Hm.... Rupanya Tiga Iblis Sakti," ucap Ki Bajang Genta setelah memperhatikan tiga lelaki berpakaian merah, biru, dan hitam.

"Kau ternyata berjiwa besar, Bajang! Sayang kau kurang beruntung karena siasatmu telah kami ketahui," ucap sosok bertongkat hitam. Dialah Sandala yang berjuluk Iblis Tongkat Hitam.

"Sebelum kami meminta dengan paksa Lempengan Teratai Emas, sebaiknya kau mencari selamat dengan menyerahkannya secara sukarela. Sebetulnya tidak begitu prinsip Tiga Iblis Sakti, yang selalu menagih nyawa pada setiap orang yang berurusan dengannya. Tapi untukmu kuberikan kelonggaran, Bajang!" timpal lelaki muda merah darah.

Ki Bajang Genta tidak mengomentari perkataan lelaki berjubah merah yang tak lain Sancasona si Iblis Tongkat Merah. Pada saat itu Nyi Randa, Harum Seroja, dan Anugda keluar menemui Ki Bajang Genta. Mereka berdiri di samping Ketua Perguruan Kepodang Emas.

Tak lama kemudian dari belakang, samping kiri dan kanan Tiga Iblis Sakti bermunculan tiga murid utama Ki Bajang Genta. Kemunculan ketiganya dibarengi dengan puluhan murid Perguruan Kepodang Emas yang lengkap dengan senjata terhunus.

Tiga Iblis Sakti yang menyaksikan kemunculan murid-murid Perguruan Kepodang Emas tersenyum meremehkan.

"Tak adakah yang lain selain kelinci-kelinci lucu yang kau hadirkan ke hadapan kami, Bajang?" tanya Parada si Iblis Tongkat Biru. Tatapan Iblis Tongkat Biru beredar merayapi wajah-wajah murid Perguruan Kepodang Emas yang bersemu merah mendengar julukan itu.

"Yang kuinginkan kau menyambutku dengan puluhan ekor serigala liar, atau puluhan beruang gurun yang buas. Keluarkanlah kalau kau memilikinya, Bajang. Jangan kelinci-kelinci lucu ini!" Lanjut Parada dengan suara agak tinggi.

"Jangan sombong, Tongkat Biru!" balas Ki Bajang Genta marah. "Kalau sudah sampai umurmu sekarang ini, kelinci-kelinci di belakangmu akan mengirimmu ke liang kubur!"

"Ha ha ha...!"

Iblis Tongkat Biru tertawa keras mendengar perkataan Ketua Perguruan Kepodang Emas.

"Pandai sekali kau menghibur hati, Bajang! Sungguh aku kagum. Di tengah-tengah ambruknya Perguruan Kepodang Emas dan nyawamu yang sebentar lagi melayat ke neraka, kau masih bisa menghibur diri," ejek Parada dengan air muka dibuat selucu mungkin.

"Phuih!"

Ki Bajang Genta meludah ke tanah. Kemudian kepalanya menoleh pada tiga sosok yang berada di samping kirinya.

"Nyi Randa, Harum, dan kau Anugda cepat..."

"Hei! Kalian bertiga jangan pergi!" potong Sancasona yang rupanya dapat membaca arah ucapan Ki Bajang Genta. Serta merta tangan Iblis Tongkat Merah menghentak cepat

Slerets...!

Seberkas sinar kemerahan meluruk cepat ke arah tubuh gadis cantik putri Ki Bajang Genta. Tubuh Harum Seroja terbungkus sinar kemerahan yang melesat dari telapak tangan Sancasona. Tubuh gadis itu berubah kaku dan tak mampu bergeming sedikit pun dari tempatnya.

Kenyataan itu mengejutkan Ki Bajang Genta, Nyi Randa, dan Anugda. Dan keterkejutan Ki Bajang Genta semakin bertambah ketika Iblis Tongkat Hitam dan Iblis Tongkat Biru ikut menghentakkan tangannya.

Dua berkas siar biru dan putih meluruk dengan kecepatan yang sukar diikuti mata. Tanpa bisa dihindari lagi, tubuh Nyi Randa dan Anugda terhantam dua sinar Parada dan Sandala. Nasib yang dialami Harum Seroja menimpa Nyi Randa dan Anugda. Keduanya kaku di tempat mereka dengan sinar biru dan putih yang membungkus tubuh.

Di tengah keterkejutannya Ki Bajang Genta berseru keras. "Ganyang tiga iblis laknat itu!"

Tiga murid utama Perguruan Kepodang Emas dengan diikuti puluhan murid yang bersenjata terhunus segera merangsek tubuhSancasona, Parada, dan Sandala. Teriakanteriakan mereka berbaur dengan kegeraman yang tak terbendung.

"Heyaaa...!"

"Hiaaat!"

"Hiaaa!"

***
TIGA
Puluhan murid Perguruan Kepodang Emas yang meluruk maju terpecah menjadi tiga bagian. Sebagian menggasak Parada, sebagian lagi mengeroyok Sandala, dan sisanya membantu Ki Bajang Genta menghadapi orang termuda Tiga Iblis Sakti, Iblis Tongkat Merah.

Namun perlawanan yang dilakukan Ki Bajang Genta dan seluruh muridnya bagi Tiga Iblis Sakti merupakan sebuah permainan. Yang membuat mereka tertawa setiap kali sosok manusia terkapar tak bernyawa dengan kepala bolong tertembus ujung tongkat mereka.

"Hiyaaa...!" Bet, bet! "Uts!"

Iblis Tongkat Biru hanya menggerakkan pinggangnya untuk menghindari tebasan senjata murid Perguruan Kepodang Emas. Lalu Parada ganti mengayunkan tongkat keluk sembilannya ke pinggang lawan.

"Hih!" Plak! Crokkk! "Aaa...!"

Sosok tubuh penyerang Parada terjungkal setelah sambaran tongkat yang dimainkan dalam jurus 'Tongkat Iblis Mengejar Nyawa' cukup telak mendera pinggangnya. Dan ketika tubuhnya terbungkuk, ujung tongkat Parada dengan telak menembus ubun-ubunnya. Darah yang mengucur deras disertai cairan putih dari kepala yang bolong itu.

Seiring dengan ambruknya murid Perguruan Kepodang Emas, nyawanya terpisah dari badan. Sedangkan Iblis Tongkat Biru tanpa mempedulikan mayat yang bergeletakkan di dekatnya kembali melanjutkan pembantaian. Anehnya, lelaki itu melakukannya dengan tersenyumsenyum. Kadang Parada terbahak menyaksikan kematian lawannya. Baginya, mungkin kematian lawan merupakan hiburan segar yang harus ditanggapi dengan tawa.

Apa yang dilakukan Parada juga diperbuat Sandala dan Sancasona. Kedua lelaki yang berjuluk Iblis Tongkat Hitam dan Iblis Tongkat Merah berpestapora. Membantai murid-murid Perguruan Kepodang Emas yang memang bukan tandingan mereka. Bahkan Ki Bajang Genta belum setara ilmunya dengan Tiga Iblis Sakti.

"Mampus kau, Iblis!" maki seorang murid utama Ki Bajang Genta. Pedangnya dilayangkan membabat leher Iblis Tongkat Hitam. Angin berdesing keras terjadi seiring dengan melayangnya senjata yang ditebaskan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.

Sing...!

Sandala yang menyaksikan serangan cukup ganas itu, seolah tidak menyaksikan luncuran benda tajam. Dia tetap berdiri tenang tanpa ada usaha menghindari. Namun urat-urat lehernya sedikit mengejang. Tampaknya lelaki itu ingin mencoba kekuatan tenaga dalam lawan.

Tlakkk!

Bunyi seperti beradunya dua benda keras terdengar ketika senjata murid utama Ki Bajang Genta menghantam leher Iblis Tongkat Hitam.

"Aaakh...!"

Pekik tertahan pun terdengar. Dengan tubuh terhuyung dan batang pedang patah jadi  dua. Sendala, lelaki berusia empat puluh lima tahun, terus mengejar tubuh murid utama Ki Bajang Genta yang terhuyung dengan rasa nyeri mendera tangannya. Iblis Tongkat Hitam memburu dengan mengerahkan jurus 'Tongkat Iblis Mengejar Nyawa'.

"Haiiit...!" Wukkk! Crokkk!

Kembali kepala salah seorang murid Ki Bajang Genta terpanggang tongkat berkeluk sembilan milik Sandala. Untuk kesekian kalinya sesosok tubuh tergeletak dengan kepala bolong.

Kenyataan itu membuat Ki Bajang Genta menjadi panik bukan main. Disadarinya tak lama lagi semua muridnya menjadi korban keganasan Tiga Iblis Sakti. Sedangkan Nyi Randa, Harum Seroja, dan Anugda tidak bisa bergerak karena terbungkus sinar merah, biru, dan hitam.

"Hiyaaa...!"

Merasa tak ada jalan lain, Ki Bajang Genta kembali berkelebat menyerang orang termuda dari Tiga Iblis Sakti. Suara berdesing tajam mengiringi serangan Ki Bajang Genta. Pedangnya berkelebat ke arah lambung Sancasona. Ketua Perguruan Kepodang Emas itu tengah mengerahkan jurus 'Pedang Pembelah Awan'.

Namun bagi Sancasona yang sudah mampu mengukur kekuatan tenaga dalam Ketua Perguruan Kepodang Emas, serangan yang dihadapinya tidaklah menakutkan. Disongsongnya senjata Ki Bajang Genta dengan telapak tangan telanjang.

"Tappp!"

Dengan kekuatan tenaga dalam yang berada di atas Ki Bajang Genta, Sancasona seenaknya menangkap pedang itu.

"Buang saja senjatamu, Bajang!" ejek Sancasona. Batang pedang itu digenggamnya eraterat.

"Hmh!"

Ki Bajang Genta mendengus marah. Sekuat tenaga ditariknya senjata itu dari cekalan Sancasona.

"Tariklah sebisamu, Bajang!" kembali Iblis Tongkat Merah mengejek.

Ki Bajang Genta yang memang sudah terpancing kemarahannya segera mengerahkan seluruh tenaganya. Namun sampai napasnya tersengal-sengal senjata itu tidak terlepas juga. Bahkan....

Trakkk!

Iblis Tongkat Merah yang menggoyangkan pergelangan tangan Ki Bajang Genta. Hingga pedang lelaki setengah baya itu patah menjadi dua bagian. Kejadian itu tentu saja merugikan Ketua Perguruan Kepodang Emas. Saat itu dia tengah mengerahkan tenaganya, maka akibatnya tubuh Ki Bajang Genta terdorong ke belakang oleh tenaganya sendiri.

Ki Bajang Genta yang matang pengalaman segera mementahkan daya dorongnya dengan melemparkan tubuhnya ke samping kanan dan bergulingan di tanah. Tapi Iblis Tongkat Merah telah memperhitungkan segalanya. Ketika tubuh Ketua Perguruan Kepodang Emas bergulingan, Sancasona melempar patahan pedang Ki Bajang Genta yang masih berada di genggamannya.

"Hih!"

Sing...!

Cepat laksana kilat lemparan itu dilakukan Iblis Tongkat Merah. Maka....

Crabbb! "Aaa…!"

Peristiwa senjata makan tuan pun terjadi. Kepala Ki Bajang Genta tertembus patahan pedang miliknya sendiri. Tubuh Ki Bajang Genta yang tengah bergulingan terus berguling. Darah merembes dari batok kepalanya.

"Ha ha ha...!"

Melihat pemandangan di depannya, Iblis Tongkat Merah terbahak-bahak. Begitu kejamnya pemuda itu dan tidak punya perasaan.

"Habisi semuanya!" perintah Sancasona. Parada dan Sandala, meski tanpa diperin-

tah pun memang bermaksud menghabisi muridmurid Perguruan Kepodang Emas. Maka pemandangan yang terlihat sebuah permainan maut yang sangat mengerikan. Murid-murid Perguruan Kepodang Emas satu persatu melayat ke akherat menyusul kematian gurunya.

"Hiaaa...!"

Plak, plak...! Crokkk, crokkk...!

Dua lengking kematian kembali menggetarkan alam Desa Walang Teter. Dua sosok terakhir murid Perguruan Kepodang Emas terhantam tongkat Parada dan Sandala. Sasarannya ubunubun.

"Hhh...!"

Iblis Tongkat Biru dan Iblis Tongkat Hitam menarik napas panjang-panjang setelah menyelesaikan lawan-lawan terakhirnya. Keduanya menghampiri mayat seorang murid Ki Bajang Genta. Lalu membersihkan tongkat-tongkat mereka yang berlumuran darah dengan pakaian murid Perguruan Kepodang Emas. Selesai membersihkan senjatanya, Iblis Tongkat Biru dan Iblis Tongkat Hitam menghampiri Iblis Tongkat Merah.

"Tinggal selangkah lagi kita mendapatkan benda itu, Sancasona," ucap Parada riang.

"Ya. Kita gunakan ketiga manusia itu sebagai penunjuk," timpal Sandala seraya menunjuk sosok Nyi Randa, Harum Seroja, dan Anugda yang berdiri kaku.

"Kakang berdua betul! Ayo, kita bebaskan mereka dari pengaruh ilmu 'Pembungkus Gerak'," ucap Iblis Tongkat Merah.

"Ayolah!" sambut Iblis Tongkat Hitam dan Iblis Tongkat Biru berbarengan.

Ketiganya melangkah mendekati Nyi Randa, Harum Seroja, dan Anugda. Tapi baru dua langkah kaki Tiga Iblis Sakti terayun, sebuah tawa menggelegar seketika terdengar.

"Ha ha ha...!"

Tiga Iblis Sakti langsung menghentikan langkahnya, dan berpaling ke arah suara tawa.

Jlig, jlig...!

Bersamaan dengan berbaliknya tubuh Tiga Iblis Sakti, dua sosok bayangan hitam berkelebat dan mendarat ringan tiga tombak di hadapan Sancasona, Parada, dan Sandala.

"Dua Datuk Jubah Hitam!" ucap Sancasona keras. Tampak berdiri tegak dengan sikap menantang dua lelaki berusia lanjut yang mengenakan jubah longgar.

***

Dua lelaki tua yang dipanggil Dua Datuk Jubah Hitam tidak menanggapi ucapan orang termuda Tiga Iblis Sakti. Lelaki pertama dari Dua Datuk Jubah Hitam memandang wajah Sancasona tajam. Wajah tuanya yang berkerut dan ditumbuhi tahi lalat cukup banyak nampak menegang. 

Sepasang matanya menyorotkan kebengisan yang luar biasa. Alisnya berwarna putih, sama dengan jenggotnya yang tidak terurus. Sementara pandangan orang kedua dari Dua Datuk Jubah Hitam merayapi mayat-mayat yang bergeletakan dengan kepala bolong.

"Rupanya pesta kalian telah selesai. Ah, sayang. Kami datang terlambat hingga tak dapat merasakan kelezatan daging-daging kelinci itu," ucap orang pertama dari Dua Datuk Jubah Hitam.

"Gordama! Jangan banyak bicara! Katakan, apa maksudmu mencampuri urusan Tiga Iblis Sakti!" bentak Sancasona marah.

Lelaki yang dipanggil Gordama tersenyum mendengar bentakan Sancasona.

"Sama seperti yang kau inginkan, Sancasona! Aku pun ingin keabadian itu!" timpal Gordama membentak nyaring.

"Hmh...!" Sancasona mendengus kasar. "Kalau kau menginginkan isi yang berada di Goa Teratai, Tiga Iblis Sakti-lah yang harus kalian hadapi!" bentak Iblis Tongkat Merah geram.

"Iblis Tongkat Merah pun akan kuhadapi untuk mencapai keabadian hidup yang telah lama kuidamkan. Bukan begitu, Landura?" ucap Gordama seraya menoleh pada orang kedua dari Dua Datuk Jubah Hitam.

"Betul!" sambut Landura. "Tak kupandang keberadaan kalian, Tiga Iblis Sakti!" Lanjut Landura mengejek pedas.

"Bangsat!" maki Sandala berang.

Dua Datuk Jubah Hitam tersenyum menyaksikan kemarahan Iblis Tongkat Hitam. Tidak terdengar sanggahan dari mulut dua lelaki tua berjubah longgar hitam. Hening sesaat merayapi kelima tokoh golongan hitam yang memiliki kepandaian tinggi itu. Mereka saling bertatapan seolah mengukur kekuatan lawan.

Keabadian yang dimaksud adalah sebuah ramuan yang tersimpan di Goa Teratai. Ramuan itu menurut sebagian tokoh tingkat tinggi yang hidup puluhan tahun silam adalah ramuan yang jika diminum mampu membuat orang awet muda dan berangsur-angsur menjadi muda bagi yang sudah berusia lanjut.

Ramuan itu juga dapat menebalkan kulit, otot, dan organ-organ tubuh lainnya. Hingga menjadi kebal terhadap tebasan senjata, meski sebuah pusaka! Penyakit tidak akan menyentuh tubuh mereka. Kematian tak akan mereka temui, hingga mereka mendapatkan keabadian hidup.

Namun akibat yang ditimbulkan adalah watak menjadi berubah menjadi dari watak semula. Kalau yang meminum berwatak baik, maka dia akan berubah menjadi bengis dan kejam. Jika dia berwatak bengis dan kejam, maka kekejaman dan kebengisannya menjadi berlipat-lipat.

Itu sebabnya almarhum Pendekar Lembah Teratai tidak mau meminum ramuan laknat itu. Ketika beliau mati karena sakit, kunci pembuka Goa Teratai diserahkan pada Ki Bajang Genta. Sesungguhnya Goa Teratai bukan hanya menyimpan ramuan keabadian. Tapi juga harta karun dan sebilah pedang maut yang bernama Pedang Beruang Salju. 

Yang aneh dari Goa Teratai adalah bila seseorang ingin memiliki harta karun, dia harus pula mengambil Pedang Beruang Salju dan ramuan keabadian, yang harus langsung diminum di dalam goa. Kalau keharusan itu dilanggar, jangan harap apa yang diinginkan akan tercapai.

Tokoh-tokoh golongan hitam adalah yang paling berniat memiliki isi Goa Teratai, seperti Tiga Iblis Sakti dan Dua Datuk Jubah Hitam. Tetapi mereka tidak tahu letak Goa Teratai. Untuk mengetahuinya, mereka harus mendapatkan dulu sebuah benda yang bernama Lempengan Teratai Emas. Pada lempengan itulah akan didapat petunjuk tentang letak Goa Teratai. Dan lempengan itu digunakan kunci pembuka pintu goa. Tiga Iblis Sakti dan Dua Datuk Jubah Hitam tahu di mana mereka harus mendapatkan Lempengan Teratai Emas.

"Jangan menyesal kalau kalian yang masih muda harus mati di tangan Dua Datuk Jubah Hitam," ucap Gordama memecah keheningan.

"Kalianlah yang harus mati di tangan Tiga Iblis Sakti!" balas Sancasona. "Ayo! Kita gasak mereka!" lanjutnya mengajak Parada dan Sandala.

"Hiyaaa...!"

Tubuh Sancasona melesat ke arah Gordama. Sedangkan Sandala dan Parada menyerang Landura.

***
EMPAT
Pertarungan antara Tiga Iblis Sakti melawan Dua Datuk Jubah Hitam tidak dapat dielakkan. Sancasona si Iblis Tongkat Merah yang berhadapan dengan Gordama mengeluarkan jurusjurus andalannya. Begitu pun sebaliknya.

"Jaga seranganku, Gordama! Hiaaa...!"

Kembali Sancasona Melesat cepat. Tangan kanannya yang menggenggam tongkat merah berkeluk sembilan teracung tinggi-tinggi di atas kepala. Sebuah 'Pukulan Lelang Nyawa' tengah dikerahkan Iblis Tongkat Merah. Angin menderu mengiringi serangan Sancasona, yang dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.

Wukkk...!

"Uts!"

Sambaran tongkat Sancasona yang terarah ke batok kepala Gordama mengandung kekuatan hawa panas menyengat. Tapi dengan ilmu meringankan tubuh yang dibarengi hentakan kaki cukup kuat, Gordama melesat ke belakang menghindari sambaran senjata lawan.

Serangan Sancasona yang dilancarkan melalui jurus 'Pukulan Lelang Nyawa' memang berhasil dihindari Gordama, namun Iblis Tongkat Merah bukanlah orang yang mudah dipecundangi lawan. Sancasona dengan kecepatan gerak yang mengagumkan kembali melancarkan serangan susulan, tetap menggunakan jurus 'Pukulan Lelang Nyawa'.

"Hiyaaa...!" 

"Heh?!"

Melihat Iblis Tongkat Merah melesat bagai kilat, Gordama terkejut juga. Namun tokoh itu tak gugup, meski kesempatannya menghindari serangan itu sangat sedikit. Maka ketika sambaran tongkat berkeluk sembilan Sancasona datang, segera disambutnya dengan kibasan senjatanya yang berupa Pecut Ekor Kuda.

"Hih!" Plark!

Bunyi cukup kuat seperti dua logam keras beradu seketika terdengar. Cukup mengagumkan senjata yang dimiliki orang tertua dari Dua Datuk Jubah Hitam. Senjata itu terdiri dari bulu-bulu halus dibentuk persis buntut kuda yang dapat menegang bagai lempengan logam. Itu berkat tenaga dalam Gordama yang hampir mencapai tingkat sempurna. Akibat yang ditimbulkan dari benturan keras itu adalah terhuyungnya tubuh Sancasona dan Gordama beberapa langkah.

"Hebat juga kau, Kakek Tua Renta!" pujian yang mirip hardikan itu keluar dari mulut Iblis Tongkat Merah. "Namun kusangsikan apakah kau mampu membendung seranganku berikutnya. '"Tongkat Pemecah Gelombang'!" lanjut Sancasona seraya menggeser kakinya dua langkah ke samping kanan dan satu langkah mundur. Tubuhnya dalam kedudukan kuda-kuda rendah. Sementara tongkat merah miliknya rebah di tanah dengan bagian ujung terarah ke belakang.

Melihat Iblis Tongkat Merah merubah jurusnya, orang tertua dari Dua Datuk Jubah Hitam pun segera melakukan gerakan yang mengawali pembukaan jurus 'Cemeti Maut'.

"Akan kutimpali jurus murahanmu dengan jurus 'Cemeti Maut' milikku, Iblis Kurap!" ledek Gordama lantang.

Merah wajah Sancasona dan terasa begitu panas telinganya. Maka seketika itu juga dia melesat setelah kedua kakinya diangkat bersamaan dan dibanting menghentak kuat-kuat.

"Heaaa...!" Wrrr...!

Angin yang menjelma dari sambaran tongkat Iblis Tongkat Merah angin topan yang mampu menumbangkan sebatang pohon. Pakaian Sancasona berkibar. Demikian pula jubah hitam Gordama.

Ctar!

Gordama segera mengebutkan senjatanya dalam jurus 'Cemeti Maut' untuk menandingi pusaran angin yang keluar akibat hentakan tangan Sancasona.

"Haaat!" 

Wukkk! Wukkk! 

"Uts!"

Ctar!

Sancasona dan Gordama melancarkan serangan saling susul-menyusul. Tongkat merah berkeluk sembilan yang selalu berkelebat mencecar batok kepala lawan berhasil dielakkan Gordama. Begitu juga senjata Dua Datuk Jubah Hitam yang mencecar ulu hati dan tenggorokan lawan, selalu saja membentur tempat kosong.

Dalam adu ketangkasan bermain senjata dan kecepatan gerak, nampaknya dua tokoh golongan hitam itu seimbang. Salah satu di antara mereka akan binasa jika sedikit saja lengah.

"Hiaaa...!" Wukkk!

Blagkh! "Ugkh!"

Tubuh Gordama terhuyung empat langkah ketika gerak tipu yang dilancarkan Sancasona berhasil. Sesaat Gordama mengira Sancasona akan membabatkan tongkatnya ke kepala. Namun di tengah serangannya, Iblis Tongkat Merah merubah dengan menarik pulang senjatanya dan melancarkan tendangan lurus ke dada Dua Datuk Jubah Hitam.

"Uhugkh!"

Gordama kembali terbatuk. Rasa sesak mendera dadanya. Darah setetes demi setetes mengalir dari sela bibirnya.

"Sudah kukatakan kau akan mampus di tanganku, Gordama! Terimalah ini!"

"Haaat...!"

Tubuh Sancasona kembali melayang mengejar sosok Dua Datuk Jubah Hitam yang terhuyung. Kemudian dengan mengerahkan tenaga dalam, tongkat merahnya dikebutkan ke bahu Gordama.

Bluk! "Aaa...!"

Pekik tertahan terdengar seiring olengnya tubuh Datuk Jubah Hitam ke kanan. Karena bahu kirinya tersambar tongkat berkeluk sembilan Sancasona. Dan pada saat itulah, Iblis Tongkat Merah menghentakkan ujung tongkatnya kuatkuat ke arah ubun-ubun Gordama.

"Hih!" Crokkk! "Aaa...!"

***

Tubuh orang tertua dari Dua Datuk Jubah Hitam ambruk ke tanah. Beberapa saat Gordama meregang nyawa dengan menggelepar-gelepar bagai kerbau disembelih. Dan saat berikutnya, nyawa Gordama tidak bersarang lagi di tubuhnya. Tubuh Dua Datuk Jubah Hitam berubah kaku dan berangsur-angsur dingin.

"Jangan terlalu banyak bermain-main, Kakang. Habisi secepatnya!" tukas Sancasona ketika melihat Iblis Tongkat Hitam dan Iblis Tongkat Biru belum juga merobohkan Landura, orang kedua dari Dua Datuk Jubah Hitam.

"Ilmunya hebat!" jawab Parada. "Tapi jangan khawatir, Kakang berdua akan menghabisi hidupnya sekarang juga!" 

"Hiaaa...!"

"Heyaaa...!"

Tubuh Iblis Tongkat Biru dan Iblis Tongkat Merah bergerak cepat. Kali ini serangan bergelombang yang dilakukan mereka menggunakan jurus 'Pukulan Lelang Nyawa'. Iblis Tongkat Biru berkelebat dengan mengayunkan senjatanya ke bagian atas tubuh Landura. Sedangkan Iblis Tongkat Hitam menyerang bagian bawah, yakni selangkangan lawan.

Menghadapi serangan dari dua arah kematian. Landura merasa sedikit gentar. Kedudukannya seperti telur di ujung tanduk, apalagi dengan kematian Gordama. Maka untuk menghadapi serangan kilat itu....

Wukkk! "Uts!"

Landura merundukkan kepala dengan cepat untuk menghindari serangan Iblis Tongkat Biru. Tapi tidak demikian ketika serangan susulan Iblis Tongkat Hitam datang.

"Haaat!"

Wukkk! Prats!

Ujung cemeti Landura berhasil melibat tongkat hitam berkeluk sembilan. Namun siapa sangka itulah yang diinginkan dua orang lawannya. Maka ketika saling tarik-menarik terjadi, Parada melesat dengan tendangan lurus ke depan Landura.

"Hiaaa!"

Blugkh!" 

"Akh!"

Tubuh tua Landura terpental deras terkena terjangan kuat pada bagian dadanya. Darah bermuncratan dari mulut orang termuda Dua Datuk Jubah Hitam. Tidak hanya itu penderitaan yang dialami Landura. Saat dirinya ambruk dan terkulai di tanah, Iblis Tongkat Hitam berkelebat ke arahnya dengan tongkat terayun ke kepala.

"Mampus kau!" teriak Sandala geram. Crokkk!

Darah muncrat dari kepala Landura yang tertembus ujung tongkat Iblis Tongkat Hitam. Orang termuda dari Dua Datuk Jubah Hitam itu langsung jadi mayat.

"Hhh...?!"

Sandala menarik napas berat menyaksikan kematian Landura. Kemudian dihampirinya Sancasona yang telah lebih dulu menewaskan Gordama.

"Kenapa kalian begitu lambat menjatuhkan Landura?" sesal Iblis Tongkat Merah.

"Tadinya aku menganggap remeh Landura, Sancasona. Tapi kemudian aku jadi tahu dia tidak bisa diajak bermain-main. Landura ternyata cukup tangguh," kilah Iblis Tongkat Biru.

"Ayo! Sekarang kita manfaatkan tiga cecunguk itu untuk menunjukkan tempat penyimpanan Lempengan Teratai Emas," ajak Sancaasona seraya melangkah menuju Nyi Randa, Harum Seroja, dan Anugda. Kemudian Tiga Iblis Sakti membebaskan ketiganya dari pengaruh ilmu 'Pembungkus Gerak'.

"Ah...!"

"Ah...!"

"Uh...!"

Seperti orang terjaga dari mimpi Nyi Randa, Harum Seroja, dan Anugda menyadari keadaan dirinya. Tatapan mata ketiganya langsung membentur mayat-mayat yang bergeletakan di sanasini.

"Ayaaah...!" pekik Harum Seroja ketika menyaksikan tubuh Ki Bajang Genta tergeletak dengan kepala bolong.

***
LIMA
Angin yang berhembus semilir mengantarkan hawa segar membelai kulit. Pagi ini, matahari belum begitu kuat memancarkan sinarnya. Desa Barakrapi yang begitu tenang memperlihatkan keindahan melalui hamparan sawah dan pohonpohon nyiur yang melambai-lambai tertiup angin.

Seorang lelaki muda berusia dua puluh empat tahun nampak termenung di pendopo rumahnya yang bagus dan terawat rapi. Mata lelaki tampan berpakaian putih itu begitu hampa menatap pemandangan indah di depannya. Dia adalah Yudistira. 

Pimpinan Perguruan Pedang Kumala itu baru saja mengetahui perihal runtuhnya Perguruan Kepodang Emas oleh Tiga Iblis Sakti yang kini menawan Harum Seroja kekasihnya, Nyi Randa, dan Anugda. Berita itu diterima Yudistira dari anak buahnya, yang memang ditugasi mengawasi Desa Walang Teter untuk mendapat keterangan akan desa yang semula begitu aman itu.

"Ahhh...!"

Yudistira menarik napas panjang. Pemuda itu bangkit dari duduknya dan berjalan menyusuri halaman rumahnya yang cukup luas. Yudistira tidak menyangka Desa Walang Teter akan kedatangan tamu bejat yang memiliki kepandaian tinggi. Tiga Iblis Sakti memang sangat disegani di kalangan rimba persilatan, baik oleh kaum segolongan maupun golongan putih.

Berdasarkan cerita yang didapatnya, kedatangan Tiga Iblis Sakti itu untuk meminta Lempengan Teratai Emas dari tangan Ki Bajang Genta. Namun kejadiannya membuat nyawa Ketua Perguruan Kepodang Emas dan keutuhan perguruan itu tidak dapat dipertahankan.

Bagi Yudistira sendiri, mendatangi Tiga Iblis Sakti untuk membebaskan kekasihnya, Nyi Randa, dan Anugda adalah perbuatan nekat yang hanya akan menyerahkan nyawa sia-sia saja. Yudistira merasa dirinya dan seluruh muridnya tak akan mampu menandingi kehebatan Tiga Iblis Sakti.

Hanya ada satu orang tokoh muda golongan putih yang mampu mengimbangi Tiga Iblis Sakti. Menurut Yudistira orang tersebut adalah Raja Petir. Tapi untuk meminta bantuan pada Raja Petir bukanlah hal yang mudah. Raja Petir seorang pengembara yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Kolong jagad adalah tempatnya. Jadi cukup menyulitkan jika seseorang ingin bertemu dengannya, kecuali tanpa sengaja.

"Apakah aku harus menyelusup ke sana dengan menyamar?" batin Yudistira mencari jalan keluar yang terbaik. "Dengan begitu aku akan bisa mendekati Harum Seroja, Nyi Randa, dan Anugda. Lalu kusarankan agar mereka memberi tahu letak penyimpanan Lempengan Teratai Emas demi keselamatan? Ahhh....'" kembali Yudistira menarik napas dalam-dalam. Kepalanya terasa sangat penat.

***

Pagi itu bertepatan dengan sinar matahari yang menjarah bumi, sesosok tubuh berpakaian putih berlari cepat. Cukup cepat juga lari sosok berpakaian putih berwajah buruk itu. Wajahnya dipenuhi bekas luka terbakar. Dari cara sosok itu berlari tampaknya dia seorang anggota persilatan. Sosok berpakaian putih yang buruk rupa itu terus berlari seolah ada yang mengejarnya. Tak terasa dia sudah begitu jauh meninggalkan desa asalnya, Desa Barakrapi.

Kini di depan mata lelaki buruk rupa itu membentang sebuah mulut perkampungan yang bernama Desa Galarasati. Desa itu berada di antara Desa Barakrapi dan desa tempat Perguruan Kepodang Emas berada. Lelaki berpakaian putih itu memasuki mulut Desa Galarasati. Namun larinya telah ditukar dengan langkah yang panjangpanjang.

"Hiaaa...!" Trang! "Aaa...!"

Lelaki buruk rupa itu sesaat menghentikan jalannya ketika telinganya sayup-sayup mendengar suara dentang senjata dan jerit kematian.

"Heh?!"

Lelaki berpakaian putih itu terkejut ketika kembali mendengar pekik kesakitan. Sesungguhnya tak ada niat di hatinya untuk mengetahui siapa yang tengah berkelahi, tapi dia memang harus melewati jalan tempat jeritan itu berasal.

"Hhh...!"

Sambil menarik napas berat, lelaki buruk rupa itu melanjutkan perjalanannya. Langkahnya tampak dipercepat.

"Hiaaa...!" 

Brettt, brettt...! 

"Aaa...!"

"Akh...!"

Tercengang lelaki buruk rupa itu menyaksikan pembantaian yang dilakukan sekelompok lelaki berpakaian hitam terhadap orang-orang yang diduganya penduduk Desa Galarasati. Di antara lelaki berpakaian hitam tergeletak dua lelaki dengan luka parah pada perutnya. Lelaki buruk rupa yang semula tidak berniat mencampuri urusan itu tergetar juga hatinya. Perbuatan terkutuk itu mau tak mau harus dicegahnya.

"Biadab!" maki lelaki berpakaian putih itu.

"Hiaaat...!"

"Hentikaaan...!"

Seorang lelaki berpakaian hitam yang hendak membabatkan senjatanya ke tubuh penduduk Desa Galarasati terpaksa mengurungkan niatnya ketika mendengar bentakan cukup keras. Lelaki berpakaian hitam itu segera menoleh ke arah bentakan dengan wajah garang tak terkirakan. Sementara matanya melotot hampir keluar.

"Gembel busuk!" maki lelaki itu ketika tatapan matanya membentur wajah buruk lelaki berpakaian putih. "Lancang sekali kau mencampuri urusan kami, Gembel!" lanjut lelaki berpakaian hitam yang rupanya senang merawat kumis. Kumisnya begitu lebat hingga lubang hidungnya hampir tak terlihat

"Maaf. Aku bukan gembel seperti yang kalian perkirakan. Kalianlah yang berkelakuan busuk!" balas lelaki berpakaian putih merasa tersinggung. 

Lelaki berpakaian hitam yang tengah membantai penduduk segera mengepung lelaki berpakaian putih.

"Rupanya kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan sekarang ini, hah?!" tukas lelaki berkumis tebal dengan suara ditekan. Tatapan mata lelaki berpakaian hitam terkesan begitu meremehkan.

"Aku tahu dengan siapa sekarang ini berhadapan!" kilah lelaki buruk rupa itu lantang dan mencerminkan ketenangan. "Bukankah kalian yang berjuluk Pengecut-pengecut Tak Tahu Malu?"

"Kurang ajar! Kau benar-benar ingin cari mampus!" maki lelaki berkumis lebat itu berang. "Akan kulumat tubuhmu, Bangsat!"

"Jangan takabur, Kisanak!" timpal lelaki buruk rupa. "Pada penduduk yang lemah kau bisa berkata seperti itu, tapi padaku? Harap kau cabut ucapanmu tadi, atau keadaan ini malah berbalik?"

"Setan! Cincang gembel sombong itu!" perintah lelaki berkumis lebat "Kasih tahu padanya kalau Gerombolan Musang Hitam pantang diremehkan!"

Tiga lelaki berpakaian hitam meluruk ke arah lelaki buruk rupa. Senjata mereka yang berupa parang teracung di udara.

"Hiaaat...!"

"Heaaa...!"

"Hyaaa..!"

Lelaki berpakaian putih tenang saja menghadapi gempuran tiga lelaki berpakaian hitam. Dan ketika sambaran parang lawan mendekat, dengan gerak cukup cepat dan lincah dia berhasil mementahkan serangan pertama hanya dengan berkelit ke kanan, lalu melompat mundur.

"Kurang ajar!" maki salah seorang penyerangnya.

"Mampus kau sekarang! Hiyaaa...!" Bettt! Bettt...!

"Uts!"

Kembali lelaki buruk rupa memiringkan tubuhnya menghindari sambaran senjata yang mengincar dada. Begitu sederhana gerakan lelaki itu. Bahkan sesaat setelah kelebatan parang itu lewat di depan dadanya, lelaki buruk rupa melakukan gerakan yang sama sekali tidak diduga lawan.

"Rasakan ini. Hih!" Plakkk!

"Aaa...!"

Sebuah sodokan siku berhasil disarangkan ke wajah penyerangnya. Lelaki berpakaian hitam itu langsung terhuyung empat langkah ke belakang. Tangannya memegangi wajah yang terkena sodokan.

Lelaki berkumis lebat yang menjadi Pimpinan Gerombolan Musang Hitam kelihatan terkejut menyaksikan ketiga anak buahnya tidak mampu meringkus lelaki buruk rupa. Maka dengan geram dia menyuruh anak buahnya yang lain membantu penyerangan.

"Kalian semua! Lumat tubuh jelek itu!" teriak lelaki berkumis lebat.

Satu, dua, tiga..., sepuluh lelaki berpakaian hitam yang sejak tadi hanya menonton berlompatan dengan senjata terhunus. Lelaki berwajah buruk bukannya tidak menduga hal seperti itu akan terjadi. Maka tanpa berpikir lama dicabutnya senjata yang tergantung di punggung.

Srattt!

Sinar berkilauan terpancar dari batang pedang lelaki buruk ketika tertimpa sinar matahari.

"Ayo!  Majulah kalian semua.Pedangku akan mengirim nyawa kalian lebih cepat!" tantang lelaki buruk rupa geram.

Belasan anak buah Gerombolan Musang Hitam bukannya ngeri melihat lawan menghunus pedang yang begitu tajam, malah sebaliknya. Mereka ingin membuktikan bahwa mereka bisa meringkus seorang gembel. Seketika itu pula beberapa pengepung merangsek maju dengan teriakan-teriakan yang memekakkan telinga.

"Hiyaaa...!"

"Heaaa...!"

Lelaki buruk rupa pun demikian. Dia tidak ingin ditundukkan anak buah Gerombolan Musang Hitam. Maka lelaki itu bergerak maju menyongsong serangan lawan.

"Haaat...!" Bettt!

Trang, trang! Brebettt...! Bret!

Dua lelaki berpakaian hitam langsung terjungkal ke tanah. Ujung pedang lelaki berpakaian putih berkelebat cepat dan merobek perut dan dada lawan. Kematian dua lelaki itu bukan membuat serangan mengendur. Lelaki yang masih bertahan dan mampu mengelakkan sambaran pedang lelaki buruk rupa berusaha terus menggempur dan mendesak.

"Hiaaat...!" 

"Uts!"

Sebuah serangan ganas yang melesat ke arah leher lelaki buruk rupa berhasil dielakkan dengan merundukkan kepala. Namun lelaki berpakaian putih itu terkejut ketika serangan cepat lewat tendangan lurus ke arah jidat dilakukan lelaki berpakaian hitam yang lain.

"Heh?! Eits!" Tap!

Dengan kecepatan sambaran tangan yang luar biasa, lelaki berpakaian putih berambut panjang itu mencekal pergelangan kaki lawan.

"Krk!"

"Akh!"

Pekik kesakitan terlontar ketika pergelangan kaki anak buah Gerombolan Musang Hitam dipelintir lelaki buruk rupa. Dan dengan cepat mengirimkan totokan keras menggunakan lututnya ke dada lawan yang naas itu.

"Hih!" Duegkh!" 

"Aaa...!"

Kembali pekik kesakitan terdengar kali ini diiringi dengan mentalnya sosok berpakaian hitam yang terhajar sodokan lawan. Lelaki itu merasa dadanya sesak dan tulangnya seperti melesak ke dalam. Darah merembes dari sudut bibirnya. Seluruh anak buah Gerombolan Musang Hitam terpaku di tempatnya menyaksikan seorang temannya kembali terkulai di tanah. Mereka gentar dengan kepandaian ilmu silat lelaki buruk rupa.

Pemandangan itu disaksikan penduduk Desa Galarasati dengan sedikit lega. Para penduduk yang selama ini dirongrong Gerombolan Musang Hitam berharap lelaki buruk rupa dapat menaklukkan lawan-lawannya. Dengan begitu tak ada perampasan harta lagi seperti yang dialami selama ini.

Namun perasaan Pimpinan Gerombolan Musang Hitam jauh berbeda dengan keinginan penduduk. Lelaki berkumis tebal itu geram akan sikap anak buahnya yang tiba-tiba menjadi pengecut

"Kenapa kalian bengong! Seraaang...!"

Teriakan yang cukup lantang itu membuat anak buahnya tersentak. Saat itu juga mereka meluruk ke arah lelaki buruk rupa.

"Hiaaa...!"

Pertarungan kembali berlanjut. Lima lelaki berpakaian hitam berlompatan. Senjata mereka ditebaskan, ditusuk, dan bahkan dilempar ke arah tubuh lelaki berpakaian putih.

Trang! Trang! Trang! "Aaa...!"

Pijar bunga api tercipta saat bertemunya dua logam keras dengan kekuatan tenaga cukup tinggi. Ditingkahi teriakan kesakitan orang-orang yang kalah dalam adu tenaga.

"Minggir semua!" Wrrr...!

Lelaki berkumis tebal, Pimpinan Gerombolan Musang Hitam, tiba-tiba berteriak seraya menghentakkan tangan setelah menyelinap ke balik pakaiannya. Delapan orang berpakaian hitam yang mendengar perintah itu tampaknya mengerti. Secepatnya mereka berlompatan ke samping kiri dan kanan. Membiarkan senjata rahasia pimpinannya meluruk deras ke arah lelaki buruk rupa.

"Heh?!"

Lelaki buruk rupa terkejut menyaksikan benda-benda pipih meluruk ke arahnya. Padahal kedudukannya saat itu sangat sulit untuk menghindar. Maka sebisanya dia memutar senjata.

"Hih!"

Wukkk! Wukkk! Trang, trang, trang...! Crabs!

"Aaa...!"

Lelaki buruk rupa terpekik keras. Salah satu senjata rahasia lelaki berkumis tebal menghujam dada sebelah kiri. Tubuhnya terhuyung ke belakang tiga langkah. Sementara tangannya menggenggam bagian yang tiba-tiba terasa sangat panas.

"Ah!"

Bruk!

Lelaki berpakaian putih yang wajahnya dipenuhi bekas luka bakar itu ambruk ke tanah. Dari mulutnya keluar erangan kesakitan. Kenyataan itu mengejutkan penduduk yang menyaksikan jalannya pertarungan. Pupus sudah harapan mereka yang menginginkan kebebasan dan ketenteraman hidup. Sedangkan Pimpinan Gerombolan Musang Hitam terlihat begitu bangga menyaksikan lawan roboh.

"Ha ha ha.... Sudah kukatakan jangan berani bermain-main dengan Gerombolan Musang Hitam. Akibatnya? Ha ha ha.... Detik ini juga nyawamu akan kukirim ke neraka, Gembel Busuk!" ucap lelaki berkumis tebal.

"Biar aku yang menebas batang lehernya, kakang Waraka," pinta seorang lelaki berpakaian hitam yang bertubuh tinggi tegap.

Lelaki berkumis tebal yang ternyata bernama Waraka tersenyum mendengar permintaan anak buahnya.

"Biar aku saja yang melakukannya, Darya," larang Waraka. "Aku ingin mengetahui apakah leher gembel busuk itu cukup kuat melawan ketajaman parangku," Lanjut Waraka.

Srat!

Waraka mengeluarkan senjata yang terselip di pinggangnya.

"Bersiaplah kau melayat ke alam kubur, Gembel Busuk!" bentak Waraka. Kakinya melangkah perlahan.

"Hiyaaa...!" Waraka memekik keras seraya mengacungkan senjatanya ke udara.

Plak! "Akh!"

Kejadian yang begitu cepat dan mengejutkan dialami Waraka. Sesaat lagi senjatanya akan menghantam batang leher lelaki buruk rupa, sesosok bayangan kurung keemasan melesat cepat menghantam pergelangan tangannya. Pimpinan Gerombolan Musang Hitam itu terhuyung empat langkah ke belakang. Sedang parang yang tergenggam di tangannya terpental.

Penduduk Desa Galarasati yang menyaksikan kejadian itu tampak terkejut. Namun di balik keterkejutan mereka terangkat kembali harapannya untuk terbebas dari rongrongan Gerombolan Musang Hitam.

"Bangsat!" maki Waraka setelah mampu berdiri. Sebelah tangannya masih memegangi tangan kanannya yang linu bukan main.

Sosok muda berpakaian kuning keemasan yang telah menyelamatkan lelaki buruk rupa hanya tersenyum membalas makian Ketua Gerombolan Musang Hitam.

"Maaf. Perbuatanku tadi semata karena tidak tega menyaksikan kepala Kisanak ini terpenggal," ucap lelaki berpakaian kuning keemasan yang tidak lain Jaka Sembada.

"Kakang...," seorang gadis cantik berpakaian jingga yang menyertai Jaka bergerak mendekati kekasihnya.

"Kakang, orang itu tampaknya terkena racun. Biar aku yang menghadapi mereka. Sebaiknya Kakang menolongnya," pinta gadis cantik yang bernama Mayang Sutera.

Jaka menoleh menatap wajah Mayang Sutera yang kelihatan cemas.

"Hati-hati," sambut Jaka.

Langkah Jaka kemudian tertuju pada lelaki buruk rupa yang tengah mengerang-ngerang menahan sakit. Lempengan logam pipih berwarna hitam tampak membenam di dadanya.

"Tahan sebentar, Kisanak. Akan kucabut logam beracun ini," ucap Jaka seraya membungkukkan tubuh. Cab! "Aaa...!"

Pekik kesakitan yang cukup keras terdengar ketika tangan Jaka menghentak mengeluarkan logam pipih yang membenam di dada lelaki buruk rupa.

"Daya tahan tubuhmu hebat sekali, Kisanak. Kalau tidak, nyawamu mungkin sudah melayang karena racun ganas ini," ucap Jaka memandangi lempengan logam pipih di tangannya.

'Terima kasih atas pertolonganmu," ucap lelaki buruk rupa dengan tersendat. Rasa sakit di dadanya sedikit pun belum hilang.

"Sebaiknya kau minum pil ini. Mudah-mudahan racun ganas itu segera keluar dari tubuhmu,"

Jaka menyodorkan pil berwarna merah dari balik pakaiannya. Lelaki buruk rupa tentu saja tidak menyianyiakan pertolongan itu. Segera diraihnya pil pemberian Raja Petir, dan langsung ditelannya.

Glekkk...!

Sesaat setelah pil itu masuk ke mulut dan melewati tenggorokannya, lelaki buruk rupa merasakan khasiat obat Jaka. Hawa sejuk terasa melingkar-lingkar di dalam perutnya. Kemudian merambat perlahan ke dalam, dan berubah menjadi hawa dingin seperti es. Sesaat kemudian, lelaki buruk rupa merasakan hawa panas menyengat dadanya. Kemudian.....

"Hoekkkh!"

Kepala lelaki berpakaian putih itu tertunduk ke tanah. Darah kehitaman tumpah dari mulutnya.

"Hoekh...!"

Kembali darah muncrat dari mulut lelaki buruk rupa. Muntahan darah itu tidak sepekat muntahan pertama. Tubuh lelaki itu tiba-tiba menggigil seperti orang terserang demam hebat Jaka segera mengangkat tubuhnya dan membawa ke rumah penduduk yang terdekat

"Tolong berikan tempat istirahat untuk orang ini," pinta Raja Petir pada seorang penduduk yang berusia lanjut

"Silakan-silakan!" sambut lelaki tua itu. "Di dalam saja," lanjutnya melangkah mendahului Jaka.

Sebuah rumah yang terawat rapi dimasuki Jaka. Pada sebuah kamar yang terdapat balaibalai bertikar pandan, tubuh lelaki buruk rupa dibaringkan.

"Maaf. Aku tidak bisa menungguinya. Kuharap Kisanak sudi menjaganya dan memberikan segelas air hangat. Aku akan membantu kawanku menyingkirkan keparat-keparat itu," ucap Jaka ramah.

"Silakan, Tuan. Biar saya yang mengurus Kisanak ini," jawab lelaki berusia empat puluh tahun itu.

Mendengar jawaban lelaki tua itu, Jaka segera melesat keluar. Sementara pertarungan Gerombolan Musang Hitam dan Mayang Sutera berlangsung seru. Mayang Sutera belum mengeluarkan jurus-jurus andalannya untuk menghalau serangan beruntun Gerombolan Musang Hitam. "Mampus kau, Gadis Liar!" maki seorang

lelaki berpakaian hitam seraya membabatkan parangnya ke arah buah dada gadis cantik berpakaian jingga itu.

Namun Mayang Sutera bukanlah tandingan mereka. Hanya dengan menarik badannya sambaran senjata lawan mampu digagalkan. Bahkan tangan kirinya menyampok cepat. Mayang Sutera mengirimkan serangan balasan.

"Awas, Kisanak!" Plakkk!

"Akh!"

Lawan Mayang Sutera langsung terjungkal. Sambaran tangan gadis cantik itu menghantam keningnya. Lelaki itu roboh dengan raungan yang tak henti-henti. Mayang Sutera tidak sempat memperhatikannya. Saat itu seorang lawannya tengah berkelebat dengan senjata teracung ke arah kepala.

Plakkk! Dugkh! "Aaa...!"

Penyerang gadis itu ambruk ketika lelaki berpakaian kuning keemasan melesat menyongsongnya. Dengan kecepatan tinggi dipapakinya pergelangan tangan lelaki berpakaian hitam. Lalu memberikan pukulan menyilang dengan punggung tangan ke dada lawan.

Brukkk!

Lelaki berpakaian hitam yang sial itu jatuh berdebuk di tanah. Seiring dengan jatuhnya lelaki itu, lelaki-lelaki berpakaian hitam yang menamakan dirinya Gerombolan Musang Hitam menghentikan serangan mereka. Wajah anggota Gerombolan Musang Hitam menunjukkan rasa ngeri.

"Kenapa kalian diam seperti sapi ompong! Ayo, serang lagi aku!" ucap Mayang Sutera garang. Mata gadis cantik yang berjuluk Dewi Payung Emas menatap wajah Waraka Pimpinan Gerombolan Musang Hitam.

Waraka tidak membalas ucapan Mayang Sutera. Tapi matanya berusaha menentang tatapan gadis cantik itu.

"Kali ini aku kalah, Perempuan Liar! Tapi tidak untuk nanti. Aku akan datang kepadamu dengan pasukanku yang lebih banyak dan kuat! Ingat itu!" ucap Waraka. Suaranya terdengar penuh bara dendam.

"Aku tunggu gerombolanmu yang hanya pantas menghadapi macan ompong!" balas Mayang Sutera.

"Huh!"

Waraka mendengus geram. "Ayo! Tinggalkan tempat ini!" perintah lelaki berkumis tebal itu pada anak buahnya.

"Hoppp!"

Tubuh Waraka melesat cepat ke arah udara. Diikuti anak buahnya di belakang. Jaka dan Mayang Sutera hanya menatap kepergian Gerombolan Musang Hitam seraya menggelenggelengkan kepala.

***
ENAM
Di salah satu kamar rumah penduduk Desa Galarasati, tepatnya di kamar Ki Anumerga, Jaka dan Mayang Sutera tengah berbincangbincang dengan lelaki buruk rupa yang sudah terbebas dari racun ganas Ketua Gerombolan Musang Hitam. Ki Anumerga nampak tengah memperhatikan wajah sepasang pendekar muda itu dengan hati penuh kagum dan terima kasih.

Menurut Ki Anumerga, baru Jaka dan Mayang Sutera yang berhasil menghentikan sepak terjang Gerombolan Musang Hitam setelah bertahun-tahun mencengkeramkan kukunya dalam kehidupan penduduk Desa Galarasati.

"Maaf, Ki Anumerga," ucap Jaka seraya menatap lembut wajah lelaki berkumis tipis di hadapannya. "Kalau Ki Anumerga tidak keberatan, di kamar ini kami minta izin untuk berbicara bertiga saja," lanjut Jaka hati-hati agar tidak ingin menyinggung perasaan Ki Anumerga.

"Silakan, Nak Jaka. Silakan!" sambut Ki Anumerga.

"Ah. Terima kasih, Ki. Kuharap Ki Anumerga tidak tersinggung." Jaka merasa tidak enak.

Permintaan Jaka terdengar ganjil di telinga Mayang Sutera dan lelaki berpakaian putih. Namun Mayang Sutera tidak ingin bertanya. Nanti pun dia akan tahu keanehan itu.

"Aku tidak apa-apa, Nak Jaka. Aku keluar. sekarang saja," ucap Ki Anumerga. Sepeninggal Ki Anumerga, Jaka segera menatap wajah lelaki berpakaian putih di hadapannya.

"Aku melihat keanehan pada dirimu, Kisanak. Tapi sebelum kau memperkenalkan namamu, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu. Kau bersedia menjawab?" tanya Jaka.

"Tentu saja Raja Petir," ucap lelaki buruk rupa. 

Lelaki berpakaian putih itu tahu lelaki muda yang telah menyelamatkan nyawanya adalah tokoh yang memang diharapkan dapat membebaskan Harum Seroja dan ibunya. Juga mencegah terjadinya penguasaan Goa Teratai oleh Tiga Iblis Sakti yang akan berakibat terjadinya pergolakan di rimba persilatan. Lelaki buruk rupa mengenali Jaka sebagai Raja Petir. Ini terlihat dari ciri-ciri yang sering diucapkan tokoh-tokoh persilatan kenalannya, dan dari penduduk yang pernah menyaksikan sepak terjang Jaka.

Jaka menatap wajah lelaki buruk rupa dengan tajam. Lalu dari mulutnya mengalir pertanyaan yang sedikit pun tidak terpikirkan Mayang Sutera.

"Siapa kau sebenarnya, Kisanak? Kenapa mengenakan topeng buruk itu?" tanya Jaka tenang.

Rasa kaget sesaat terlihat pada wajah lelaki berpakaian putih. Tapi kemudian dia mampu menguasai perasaannya. Dengan lancar dijawabnya pertanyaan Jaka.

"Namaku Yudistira, Ketua Perguruan Pedang Kumala," jawab lelaki buruk rupa yang ternyata Yudistira. Tangannya lalu melepas topeng karet tipis dari wajahnya. Sebuah penyamaran yang nyaris sempurna.

Setelah melepas topengnya, cerita Yudistira pun mengalir. Pemuda itu menceritakan tujuan penyamarannya, juga musibah yang menimpa Perguruan Kepodang Emas dari kekejaman Tiga Iblis Sakti yang hendak merebut Lempengan Teratai Emas, sebuah benda berbentuk bunga teratai yang berfungsi sebagai alat pembuka pintu Goa Teratai. 

Diceritakan pula bahwa di Goa Teratai tersimpan ramuan keabadian berkhasiat menjadikan orang muda kembali dan tak akan pernah mati. Sebuah pedang pusaka yang bernama Pedang Bemang Salju dan harta karun yang tak ternilai harganya.

Mendengar cerita Yudistira, Jaka sempat tertawa dalam hati. "Ramuan keabadian?" batin Jaka. "Apa ada ciptaan manusia yang mampu mencegah kodrat yang telah digariskan Yang Kuasa? Mustahil! Tak ada orang tak akan mati. Kematian adalah sesuatu yang sudah digariskan sang Pencinta Jagad Raya untuk manusia yang telah diberi kehidupan," lanjut suara hati Jaka.

"Kau percaya dengan ramuan keabadian itu, Yudis?" tanya Jaka ingin tahu tanggapan lelaki berpakaian putih berwajah tampan itu.

"Entah, Raja Petir. Yang kuyakini kematian adalah suatu keharusan bagi manusia," jawab Yudistira.

"Kau benar, Yudis. Tak ada manusia yang dapat mengelak dari kematian yang memang ditakdirkan sang Pencipta dunia," ulas Jaka.

Mayang Sutera mengangguk membenarkan ucapan kekasihnya.

"Raja Petir," panggil Yudistira.

"Jangan panggil aku dengan julukan itu, Yudis," pinta Jaka.

"Ah, maaf. Kuharap kau suka kalau aku panggil Jaka saja," timpal Yudistira.

"Tentu saja tidak. Aku malah menginginkan panggilan itu," putus Jaka. "Katakanlah apa yang ingin kau ucapkan."

Yudistira memandang wajah Jaka dan Mayang Sutera. "Sebenarnya suatu keberuntungan besar aku bertemu dengan sepasang pendekar yang begitu digdaya. Aku bermaksud mengajak kalian membebaskan kekasihku Harum Seroja, dan ibunya yang ditawan Tiga Iblis Sakti. Dan mencegah kepergian Tiga Iblis Sakti ke Goa Teratai untuk mengambil isi goa itu," pinta Yudistira. "Kalau benda-benda yang berada di dalam Goa Teratai sampai dikuasai, malapetaka bagi kehidupan orang-orang rimba persilatan, juga para penduduk."

Jaka tidak segera menjawab. Tapi itu tidak berarti penolakan. Jaka merasa ini adalah sebagian dari tugasnya memberantas setiap bentuk keangkaramurkaan di jagad ini.

"Sepenuhnya aku akan membantumu, Yudis. Namun jangan terlalu berharap banyak dari kami berdua. Kami adalah manusia yang memiliki keterbatasan dan kekurangan. Jadi kita samasama berusaha dan berdoa," ucap Jaka bijaksana.

Yudistira terharu dengan ucapan pendekar muda yang digdaya itu, hingga tak terucap lagi kata-kata yang hendak disampaikannya.

"Ke mana kita harus berangkat sekarang, Kakang Yudis?" tanya Mayang kemudian.

Yudistira menatap wajah Mayang Sutera. "Kita ke Perguruan Kepodang Emas, Nini Mayang. Semoga belum terjadi apa-apa di sana," jawab Yudistira.

"Kalau begitu, kita berangkat sekarang saja Yudis. Jauhkah letak Perguruan Kepodang Emas?", tanya Jaka.

"Tidak, Jaka. Hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari setengah hari perjalanan biasa," jawab Yudistira.

"Ayolah kita berangkat," putus Mayang Sutera.

"Ayolah!" sambut Yudistira.

Jaka, Mayang Sutera dan Yudistira mohon diri pada Ki Anumerga. Ketiganya lalu bergerak cepat menuju Desa Walang Teter.

***

Karena Jaka, Mayang Sutera, dan Yudistira menggunakan ilmu lari cepat menuju Desa Walang Teter, tidak heran perjalanan setengah hari bisa dipersingkat menjadi setengahnya. Di depan ketiganya kini terbentang mulut Desa Walang Teter.

Dengan langkah tenang Jaka dan Mayang Sutera memasuki Desa Walang Teter. Namun ketenangan tidak terlihat pada langkah Yudistira. Ketua Perguruan Pedang Kumala itu kelihatan tegang.

"Kakang Yudistira!" teriak seseorang dari arah depan. Sosok itu adalah murid Perguruan Kepodang Emas yang masih tersisa. Lelaki itu berlari tergesa-gesa memburu Yudistira.

"Aku sudah tahu semuanya," ucap Yudistira mencoba menenangkan lelaki berpakaian biru di hadapannya.

"Tapi, Kakang "

Yudistira tidak berusaha memotong kembali ucapan lelaki berpakaian biru ketika memperhatikan kecemasan di wajahnya semakin kentara.

"Ceritakan apa yang telah diperbuat iblis-iblis itu terhadap Harum Seroja dan Nyi Randa," pinta Yudistira.

"Nyi Randa sudah tiada," jelas murid Perguruan Kepodang Emas.

"Ah!" tersentak Yudistira mendengar pemberitahuan itu. "Bagaimana dengan Harum?" tanyanya mengkhawatirkan gadis yang dicintainya.

"Dia..., dia...," lelaki berpakaian biru agak gugup saat ingin memberitahukan keadaan putri Ki Bajang Genta.

"Katakan cepat! Apa yang terjadi padanya?!" pinta Yudistira.

"Sabar, Yudis," relai Jaka melihat Yudistira begitu mendesak lelaki berpakaian biru.

"Hhh !" murid Perguruan Kepodang Emas itu menarik napas panjang. "Seroja dibawa lari iblis-iblis laknat itu, Kakang," jelas lelaki berpakaian biru setelah mampu menenangkan hatinya.

"Keparat!" maki Yudistira.

"Mereka berlari ke arah utara, Kakang. Kuduga mereka sudah mendapatkan yang dicarinya dan menyandera Harum Seroja sebagai penunjuk jalan," sambung lelaki berpakaian biru.

"Sebenarnya tanpa menyandera Harum Seroja iblis-iblis laknat itu sudah dapat menemukan letak Goa Teratai. Pada Lempengan Teratai emas sudah ada petunjuk letak goa tersebut. Hhh...! Dasar Iblis Bejat!" rutuk Yudistira.

"Sudah lama iblis itu membawa lari Harum, Kisanak?" tanya Mayang Sutera tiba-tiba.

"Belum begitu lama, Nini," jawab murid Perguruan Kepodang Emas.

"Kalau begitu, kita kejar mereka. Ke arah utarakan?" timpal Jaka memberi saran.

"Ayolah! Moga-moga kita dapat mengejarnya, dan Harum belum diperlakukan secara tidak wajar," sambut Yudistira cemas.

"Ayo cepat, Kakang. Jangan kita membuang-buang waktu," ujar Mayang Sutera, lalu melesat meninggalkan Desa Walang Teter.

Yudistira segera menghentakkan kaki. Diikuti gerakan Jaka yang begitu ringan dan sempurna dalam menggunakan ilmu lari cepatnya.

"Hup!"

"Hop!"

Tiga sosok tubuh melesat cepat meninggalkan lelaki berpakaian biru dengan menggunakan ilmu lari cepat yang sudah mencapai taraf sempurna, terutama Jaka alias Raja Petir.

***

Jarak puluhan pal sudah ditempuh Jaka, Mayang Sutera, dan Yudistira. Tapi mereka belum menemukan tanda-tanda keberadaan Tiga Iblis Sakti yang telah melarikan putri tunggal Ki Bajang Genta.

"Hhh...!"

Terdengar tarikan napas kekecewaan di sela-sela lari Yudistira.

"Tenang, Yudis," ujar Jaka mencoba menenangkan Yudistira. "Kita pasti bisa mengejar iblisiblis itu. Yakinlah!"

"Betul, Kakang Yudis," timpal Mayang Sutera. "Apalagi kalau kita tingkatkan kecepatan lari kita. Ayo, Kakang!"

Mayang Sutera si Dewi Payung Emas menambah kecepatan larinya. Tubuhnya kini berada paling, depan. Yang dilakukan Mayang Sutera membuat Yudistira kagum. Tanpa banyak cakap, Yudistira menambah kecepatan larinya, diikuti Jaka.

"Itu mereka!" ucap Jaka setelah jarak puluhan pal dilaluinya.

"Tenang, Yudis dan kau Mayang," ujar Jaka mengingatkan. "Kita harus mengatur jarak agar tidak tahu keberadaan kita," lanjut Jaka.

"Langsung kita cegah saja keinginan mereka, Jaka," usul Yudistira tak sabar. "Tidak, Yudis. Kita harus mengikutinya sampai mereka menemui Goa Teratai. Aku juga ingin tahu Goa Teratai itu," larang Jaka.

"Terserah kaulah. Yang penting kita jangan sampai kehilangan jejak," ucap Yudistira dengan tatapan mata tak lepas dari tiga lelaki bertongkat yang tengah berlari sambil mencekal pergelangan tangan gadis berpakaian merah dadu. "Tentu saja tidak, Yudis," hibur Jaka.

Ketiga tokoh muda rimba persilatan golongan putih itu kembali bergerak dengan menjaga jarak yang cukup jauh. Kecuali jika akan berkelok, maka mereka mempercepat larinya agar tidak kehilangan jejak.

Tapi baru tiga penanakan nasi Jaka, Mayang Sutera, dan Yudistira menguntit Tiga Iblis Sakti, mendadak ketiganya menghentikan lari mereka ketika mendengar suara tawa menggelegar sambung-menyambung.

"Ha ha ha...!"

"Ha ha ha...!"

Jaka, Mayang Sutera juga Yudistira merapatkan diri ke sebatang pohon besar. Sepasang mata mereka memperhatikan keadaan yang akan terjadi.

Ketika suara tawa itu hilang, nampak berkelebat bayangan kecoklatan menghadang lari Tiga Iblis Sakti.

"Ha ha ha...!"

"Ha ha ha...!"

"Dua Setan Muka Ular?!" teriak orang termuda Tiga Iblis Sakti. "Mau apa kalian menghadang perjalananku?" tanya Iblis Tongkat Merah geram.

"Hmh...!"

Dua lelaki berpakaian coklat yang dipanggil Dua Setan Muka Ular menggeram bersamaan.

"Apa kau pikir cuma Tiga Iblis Sakti yang menginginkan Lempengan Teratai Emas?" tanya orang tertua Dua Setan Muka Ular. Lelaki berwajah tirus mirip ular itu mencorongkan matanya ke wajah Sancasona. "Kami juga menginginkannya. Sudah lama sekali hal itu kami impikan. Sekaranglah kesempatan yang paling baik. Kudengar kau sudah memperoleh lempengan itu dengan membinasakan seluruh isi Perguruan Kepodang Emas," lanjut orang tertua Dua Setan Muka Ular.

"Kalau kau menginginkan lempengan itu, berarti kematianlah yang kalian cari!" sentak Sancasona keras.

"Jangan meremehkan Dua Setan Muka Ular, Iblis Gila!" balas orang kedua dari Dua Setan Muka Ular berang.

Merah seluruh permukaan wajah Sancasona ketika julukannya diganti dengan Iblis Gila.

"Kakang Parada! Sumbat mulut busuk itu!" ucap Sancasona keras. "Biar Kakang Sandala yang menjaga gadis itu."

Parada si Iblis Tongkat Biru segera melesat menghadapi orang kedua dari Dua Setan Muka Ular.

"Akan kubelah kepalamu dengan tongkatmu, Setan Dekil!" maid Parada.

"Hiaaa...!"

Serbuan Parada ke arah orang kedua dari Dua Setan Muka Ular ternyata diikuti Sancasona. Lelaki muda berpakaian merah darah itu melesat cepat menuju orang pertama Dua Setan Muka Ular.

"Hiyaaa...!"

***
TUJUH
Pertarungan antara Dua Setan Muka Ular menghadapi Sancasona dan Parada berlangsung dalam tempo tinggi. Tampaknya mereka ingin pertarungan cepat selesai. Tak heran jika pertarungan cepat itu tidak dapat disaksikan dengan mata biasa. Bayang biru, merah, dan hitam berlesatan cepat. Teriakan dan bunyi senjata yang luput dari sasaran berbaur jadi satu.

Bagi Dua Setan Muka Ular mungkin inilah pertarungan yang paling dahsyat. Hanya dalam waktu singkat mereka berdua harus mengeluarkan jurus-jurus andalan. Itu dilakukan Dua Setan Muka Ular agar tak menemui kekalahan dalam waktu singkat.

Begitu juga Sancasona dan Parada. Mereka tidak menyangka Dua Setan Muka Ular mampu mengimbangi jurus-jurus mereka yang terkenal dahsyat.

"Mampus kau, Setan!" teriak Sancasona seraya melayangkan tongkat ke arah kepala lawan.

Wukkk...!

Bunyi bergemuruh mengiringi datangnya sambaran tongkat yang terangkum dalam jurus 'Pukulan Lelang Nyawa'. Begitu dahsyat serangan Iblis Tongkat Merah. Namun yang lebih mengagumkan gaya mengelak yang dilakukan lawan.

"Uts!"

Dengan meliuk seperti seekor ular, tubuh orang pertama Dua Setan Muka Ular bergerak lincah menghindari tebasan tongkat merah Sancasona. Liukan gemulai itu dibarengi dengan gerakan tangan menotol tanah. Kemudian melompat ke atas dan berputaran dua kali.

Jlig!

Tubuh orang pertama yang beralis kemerahan itu mendarat ringan di tanah. Sementara matanya menatap Sancasona dengan tatapan meleceh.

"Tak semudah yang kau inginkan untuk menjatuhkan Dua Setan Muka Ular, Iblis Dungu!" ejek lelaki beralis kemerahan memanaskan hati Iblis Tongkat Merah.

"Kurejam mulut busukmu, Setan Buduk!" balas Sancasona memaki.

"Brut!"

Bukan main jengkelnya Sancasona menyaksikan kelakuan orang tertua Dua Setan Muka Ular. Lelaki beralis kemerahan itu tiba-tiba membalikkan tubuh dan menyorongkan pantatnya hingga menimbulkan bunyi yang keluar dari lubang dubur. Dia kentut.

"Setan gila!" maki Sancasona geram. "Hiyaaa...!" Tanpa membuang waktu Iblis Tongkat Merah kembali melesat. Tongkat merahnya teracung ke udara.

Wukkk! "Heh?!"

Terkejut lelaki beralis merah mendapatkan serangan Sancasona. Serangan itu lain dari serangan sebelumnya. Serangan Sancasona terangkum dalam jurus 'Tongkat Pemecah Gelombang'. Menyebarkan hawa dingin menyengat yang dirasakan orang tertua dari Dua Setan Muka Ular seperti membungkus kulitnya.

"Iblis!" maki lelaki beralis kemerahan. Srat!

Wukkk! Wukkk! Wukkk...!

Orang pertama dari Dua Setan Muka Ular membabatkan pedang ularnya untuk mengusir hawa dingin. Pekerjaan yang dilakukannya ternyata tidak sia-sia. Hawa dingin itu dapat diusir dari tubuhnya. Namun pada saat itu Sancasona kembali melancarkan serangan.

"Hiyaaa...!" Wukkk!

Trang! "Aaakh!"

Percikan bunga api tercipta ketika benturan sebilah pedang dan sebatang tongkat terjadi. Pekik kesakitan pun menyemaraki suara dentang senjata. Dua sosok tubuh yang mengadu kekuatan tenaga dalam itu tergempur mundur.

Setan Muka Ular yang menggunakan pedang ular tergempur, sedangkan Sancasona si Iblis Tongkat Merah hanya beringsut dua langkah. Dari kejadian itu bisa disimpulkan kalau kekuatan tenaga dalam Iblis Tongkat Merah lebih tinggi. Jaka Sembada yang menyaksikan pertarungan dari tempat terlindung, dapat memastikan pertempuran Sancasona melawan orang tertua dari Dua Setan Muka Ular akan berkesudahan dengan unggulnya Iblis Tongkat Merah. 

Pemuda itu melihat keunggulan Sancasona dalam beragam gerakan yang dimiliki, di samping kelebihan daya tahan tubuh, dalam hal ini pernapasannya terlihat begitu sempurna. Dengan tergempurnya Dua Setan Muka Ular, Sancasona semakin menambah keganasan serangannya.

"Kau harus mampus di tanganku, Setan Usil!"' bentak Iblis Tongkat Merah. Kakinya kemudian menghentak ke tanah, dan tongkatnya yang sudah hilang bentuk berputar-putar di udara.

Wukkk! Wukkk! Wukkk..! Bret!

"Uts!"

Sebisanya orang tertua Dua Setan Muka Ular membanting tubuhnya menghindari sambaran tongkat merah Sancasona yang terarah ke batok kepalanya. Tubuh lelaki berpakaian coklat itu bergulingan di tanah.

Melihat lawannya bergulingan, Sancasona tidak mau membuang kesempatan baik. Pemuda itu segera menggeser kakinya. Lalu bersiap-siap memberikan serangan susulan yang bernama 'Tongkat Iblis Memanggang Kepala'. Maka....

Sing!

Di luar dugaan Jaka, Sancasona melempar tongkat merah berkeluk sembilannya dengan kekuatan penuh.

Cab!

Tongkat merah itu membenam di tanah sejengkal dari kepala Dua Setan Muka Ular. Namun tidak terlihat kekecewaan di wajah Sancasona melihat serangannya gagal. Juga ketika tiba-tiba orang tertua dari Dua Setan Muka Ular mencekal gagang tongkat merahnya, Sancasona hanya tersenyum.

"Akh!"

Suara pekikan terdengar ketika telapak tangan Dua Setan Muka Ular menggenggam senjata Iblis Tongkat Merah. Tenaganya seperti tersedot kekuatan yang ada pada tongkat. Semakin dia berusaha melepaskan pegangan, semakin kuat daya sedot yang dirasakan. Apalagi ketika berniat mencabut tongkat yang terbenam di tanah itu.

"Akh!" lagi-lagi teriakan keluar dari mulut Dua Setan Muka Ular.

"Mampus kau sekarang, Setan! Hiyaaa. !"

Sancasona melejit cepat bagai kilat. Kekuatannya yang bertumpu pada kaki kanan menendang lurus. Akibatnya....

Buegkh "Aaa!"

Tubuh Dua Setan Muka Ular terpental deras. Tendangan kaki kanan Sancasona mendarat telak di dada. Lelaki tertua dari Dua Setan Muka Ular merasakan tulang-tulang dadanya melesak ke dalam hingga menembus jantung.

Bruk! "Hoekh!"

Dua Setan Muka Ular ambruk ke tanah dengan muntahan darah yang tak terbendung. Sesaat lelaki berpakaian coklat itu tersengal. Dan selanjutnya sudah mengejang di tanah. Nyawa orang tertua Dua Setan Muka Ular pergi meninggalkan raga.

Benar dugaan Jaka kemenangan akhirnya berpihak pada Iblis Tongkat Merah. Sebenarnya Jaka tidak tega melihatnya. Tapi untuk melakukan pertolongan rasanya tidak mungkin. Tokohtokoh golongan hitam itu bisa berbalik menyerangnya. Kemudian melanjutkan pertarungan memperebutkan Lempengan Teratai Emas.

"Aaa...!"

Pekik kematian kembali mengudara. Kali ini akibat tertembusnya kepala orang kedua dari Dua Setan Muka Ular yang bertarung menghadapi Iblis Tongkat Biru. Tombak biru berkeluk sembilan tampak membenam tepat di ubun-ubun Dua Setan Muka Ular. Tubuh lelaki itu terbujur kaku tanpa nyawa.

"Hhh...," Parada menarik napas. Langkahnya terayun mendekati Sancasona dan Sandala yang tengah menawan Harum Seroja.

"Sebaiknya kita segera ke Goa Teratai, Kakang. Sebelum kita jumpai lagi tokoh-tokoh yang berniat merebut Lempengan Teratai Emas," ucap Sancasona pada Parada dan Sandala. "Begitulah lebih baik," sambut Iblis Tongkat Hitam yang tidak ikut bertarung.

"Betul! Kita harus lebih dulu mendapatkan isi goa itu. Setelah itu kita siap menghadapi tantangan dari tokoh mana pun, untuk mempertahankan dan memamerkan apa yang telah kita peroleh. Ayo kita berangkat sekarang," timpal Iblis Tongkat Biru.

Tiga Iblis Sakti kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Goa Teratai. Ketiganya menggunakan ilmu lari cepat. Sementara gadis cantik berpakaian merah dadu yang menjadi tawanan mereka berada di atas pundak Iblis Tongkat Hitam. Gadis cantik kekasih Yudistira itu menjadi lemah karena beberapa bagian tubuhnya telah ditotok.

Raja Petir, Mayang Sutera, dan Yudistira yang telah memperhatikan gerak-gerik Tiga Iblis Sakti segera bergerak cepat menguntit perjalanan tiga lelaki tokoh sesat itu menuju Goa Teratai.

***
DELAPAN
Hari menjelang sore ketika langkahlangkah Jaka, Mayang Sutera, dan Yudistira terus bergerak cepat dan ringan. Langkah tanpa suara itu untuk mencegah terciumnya jejak mereka mengikuti perjalanan Tiga Iblis Sakti. Peluh berceceran di kening Yudistira. Pakaian Pimpinan Perguruan Pedang Kumala itu basah oleh keringat. 

Ketika matahari telah bergeser ke barat, tiga lelaki yang berjuluk Tiga Iblis Sakti menjejakkan kaki di Bukit Teratai. Sebuah tempat yang lebih tinggi dari dataran di sekelilingnya. Ditumbuhi pohon-pohon besar dan semak belukar yang merambat dan menumpang hidup pada pohonpohon yang lain. Bukit Teratai hampir tidak pernah didatangi manusia, paling tidak dalam waktu puluhan purnama.

"Menurut tulisan yang tertera pada Lempengan Teratai Emas di sinilah letak Goa Teratai, Kakang," ucap Iblis Tongkat Merah. Bola matanya beredar mengelilingi sudut-sudut Bukit Teratai.

Iblis Tongkat Hitam memperhatikan Lempengan Teratai Emas yang disodorkan Sancasona. "Betul. Tapi kita harus berhati-hati. Bukan tidak mungkin daerah sekitar Goa Teratai banyak terdapat jebakan maut," tukas Iblis Tongkat Hitam memperingatkan.

"Kau betul, Kakang Sandala," ujar Iblis Tongkat Biru membenarkan.

"Kalau begitu bebaskan gadis cantik itu dari totokanmu, Kakang Sandala," perintah Sancasona.

Iblis Tongkat Hitam segera menurunkan tubuh Harum Seroja yang berada dalam pondongannya.

"Kau ingin membebaskan dia sebagai umpan?" selidik Iblis Tongkat Biru.

Yudistira yang menyaksikan pemandangan itu dari tempat tersembunyi menjadi cemas akan keselamatan kekasihnya. Yudistira tidak tega menyaksikan tubuh Harum Seroja digeletakkan begitu saja di tanah.

"Hhh"

Yudistira menarik napas khawatir. "Tenanglah, Yudis," bisik Jaka menenangkan Yudistira. "Kita akan bergerak kalau mereka hendak berbuat macam-macam pada Harum."

"Akh!"

Terdengar lenguhan tertahan ketika Iblis Tongkat Hitam melepaskan totokan di tubuh Harum Seroja. Gadis cantik berpakaian merah dadu itu tampak bergerak-gerak. Matanya memandang marah pada tiga lelaki di hadapannya.

"Bunuh saja aku. Mengapa kalian bawa aku ke tempat ini?!" bentak Harum Seroja ketika telah mampu bangkit.

"Siapa yang sudi membunuh gadis cantik sepertimu, heh?!" tanya Sancasona dengan mengerling genit. "Kau akan kujadikan pendamping hidupku!"

"Setan!" maki Yudistira dalam hati mendengar ucapan Iblis Tongkat Merah. Kupecahkan kepalamu nanti.

Sementara Jaka dengan mata tak berkedip memandang kejadian itu. Raja Petir telah bersiaga untuk segera memberi pertolongan, jika Tiga Iblis Sakti melakukan perbuatan tak senonoh pada gadis itu.

"Katakan! Apa kau pernah menjelajahi tempat ini?" tanya Parada.

"Huh! Untuk apa kau bertanya seperti itu?" dengus Harum Seroja kesal. "Goblok! Jangan rewel. Katakan saja!" bentak Parada naik darah.

Harum Seroja tidak berkata-kata lagi mendengar bentakan Parada yang cukup keras.

"Baiklah. Kuyakini di tempat ini banyak terdapat jebakan maut. Nah! Kalau kau tidak mau menjawab, sekarang juga tubuhmu akan kulempar ke depan sana untuk menguji apakah ada jebakan atau tidak?!" gertak Parada.

"Aku belum pernah menginjak daerah ini," jawab Harum Seroja.

"Hm.... Bagus," puji Sancasona. Lelaki berjubah merah itu lalu membungkuk meraih ranting kayu yang cukup besar. Dilemparkannya ranting itu ke sebuah jalan yang diapit dua pohon jati yang cukup besar.

Gusrak!

Terdengar bunyi berderak ketika ranting yang dilempar Sancasona jatuh di semak-semak. Tiba-tiba....

Zzzsss! Zzzsss !

Dua ekor ular sebesar paha keluar dari balik semak-semak. Ular-ular itu mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi ketika penciuman dan mata mereka menangkap sosok asing menginjak Bukit Teratai.

"Cuma dua ekor ular besar, Kakang," ucap Sancasona.

"Biar aku yang menangani ular-ular berbisa itu," ucap Sandala.

Lelaki berjubah hitam itu melangkah maju dengan tongkat menuding ke arah kedua ular besar itu.

"Seranglah aku!" perintah Sandala keras. Ular-ular itu seolah mengerti ucapan Sandala. Begitu suara Iblis Tongkat Hitam lenyap, ular-ular itu seperti terbang menyerang Iblis Tongkat Hitam.

Wukkk! Bletak! Crot!

Hanya sekali Iblis Tongkat Hitam mengibaskan senjatanya, tapi akibatnya cukup mengagumkan. Serangan dua ular besar itu mampu dihalau. Kedua binatang melata itu menggeletak di tanah dengan kepala pecah dan bolong.

"Menurut perkiraanku tidak ada perangkap yang terpasang. Jadi kita bisa melintasinya sekarang juga," ucap Sancasona.

"Mudah-mudahan begitu," timpal Sandala. "Namun kita harus tetap meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan."

"Itu memang sudah keharusan, Kakang," sambut Sancasona seraya melangkah memasuki jalan yang terapit dua pohon jati.

Sandala dan Parada yang memegang tangan Harum Seroja mengikuti langkah Sancasona dengan kewaspadaan penuh. Empat sosok tubuh itu memasuki Bukit Teratai lebih jauh. Sementara Jaka, Mayang Sutera, dan Yudistira mengikuti pada jarak yang sama.

***

Setelah berjalan lima pal ke dalam Bukit Teratai, di depan Tiga Iblis Sakti membentang dataran rumput yang tidak seberapa luas. Panjang dan lebarnya tidak lebih dari empat dan lima batang tombak.

"Di situlah letak Goa Teratai, Kakang," ucap Sancasona seraya memperhatikan Lempengan Teratai Emas di genggamannya.

"Ya. Mudah-mudahan kau tidak keliru menerjemahkan petunjuk yang tertera pada lempengan itu, Sanca," ucap Iblis Tongkat Hitam.

"Kalau begitu, mungkin saja letak Goa Teratai berada di dalam tanah," ucap Sancasona lagi.

"Kita dekati saja daerah padang rumput itu," saran Iblis Tongkat Biru.

Tanpa melemparkan sanggahan, Sancasona bergerak menuju tanah datar berumput di hadapannya.

"Kakang...!" teriak Sancasona ketika melihat sesuatu di tengah tanah berumput itu.

Parada dan Sandala segera menghampiri Sancasona yang tengah mengorek-ngorek tanah dengan jari tangannya.

"Ini pasti Goa Teratai. Aku lihat di dalam tanah ini ada sebuah lempengan logam tebal. Mungkin pintu goa," tukas Sancasona. "Ayo kita singkap tanah ini lebih lebar."

Parada dan Sandala pun ikut mengorek-ngorek tanah.

"Sancasona, lihat!" ucap Parada. Di atas logam baja itu terdapat gambar teratai yang menonjol ke dalam. Besarnya sama dengan Lempengan Teratai Emas.

Sancasona segera melihat hasil penemuan Parada.

"Kau betul, Kakang. Coba kupasang Lempengan Teratai Emas ini," putus Sancasona. Tangannya kemudian bergerak ke arah gambar lempengan teratai yang terdapat di dinding baja.

Namun belum lagi tangan Sancasona yang memegang Lempengan Teratai Emas menyentuh dinding baja, sesosok bayangan kuning tiba-tiba melesat.

Jlig!

Sosok kuning keemasan itu berdiri tegak di depan Tiga Iblis Sakti.

"Jangan mimpi kalian akan mendapatkan isi Goa Teratai, Kisanak!" ucap sosok berpakaian kuning keemasan yang tidak lain Raja Petir.

Jlig! Jlig...!

Begitu ucapan Jaka selesai, Mayang Sutera dan Yudistira melesat dari tempat persembunyian dan berdiri tegak di samping Jaka.

Sancasona yang memang tidak mengharapkan kedatangan orang lain marah bukan main. Saat itu juga dia mengurungkan niatnya menempelkan Lempengan Teratai Emas pada permukaan dinding baja.

"Setan! Bocah usil! Berani betul kau mengusik pekerjaanku!" bentak Iblis Tongkat Merah.

"Aku tidak akan berbuat usil kalau kalian tidak mengganggu kehidupan orang lain, kehidupan gadis itu!" balas Jaka dengan tenang. "Cari mampus!" bentak Parada menimpali kemarahan Sancasona.

"Mati tidak bisa dicari, Kisanak. Tapi kematian memang sudah ditakdirkan sang Penguasa Alam ini," sanggah Jaka. "Mudah-mudahan hari inilah batas kehidupan kalian!"

"Bedebah laknat! Berani kau meremehkan Tiga Iblis Sakti?" hardik Parada jengkel.

"Sancasona, perhatikan lelaki muda itu," ucap Iblis Tongkat Hitam yang tidak terpancing kemarahan. "Bukankah ciri-cirinya mirip tokoh muda yang akhir-akhir ini menjadi momok orangorang rimba persilatan, khususnya golongan kita?"

"Raja Petir, maksudmu?" '

"Ya. Dia pasti Raja Petir," sahut Sandala. "Hm.... Pantas dia berani bicara sombong seperti itu," ucap Sancasona.

"Hei...! Kenapa kalian berbisik-bisik? Sedang merundingkan tanah untuk tempat menguburkan bangkai kalian?!" ejek Jaka menyaksikan percakapan pelan Sancasona dan Sandala.

"Sudah lama sekali Tiga Iblis Sakti ingin bertemu dengan tokoh muda sepertimu. Raja Petir. Sekarang, pucuk dicinta ulam tiba. Karena kau yang mencari kami, itu berarti kematian sesaat lagi akan menjemputmu," ucap Sancasona meremehkan.

"Aku tidak yakin dengan ucapanmu," bantah Jaka.

"Kita buktikan saja!" ucap Sancasona lantang. "Benar," timpal Jaka. "Tapi jangan menyesal kalau isi Goa Teratai akhirnya menjadi bagianku."

"Cuh!"

Sancasona   membuang  ludah  ketanah. Kemudian kakinya bergerak maju satu langkah. 

"Bersiaplah! Hiyaaa...!"

Lelaki berjubah merah itu melejit cepat bagai kilat. Tongkat merah berkeluk sembilannya berada di udara melewati kepala. Dan terayun deras ke kepala Raja Petir.

Wukkk! "Uts!"

Jaka melompat menghindari sambaran Sancasona yang menimbulkan hawa dingin cukup kuat. Serangan pembuka Iblis Tongkat Merah mampu dielakkan Jaka. Tapi lelaki muda berpakaian merah itu tidak mau membiarkan buruannya lolos. Seketika itu juga serangan keduanya menyusul tak kalah ganas.

"Mampus kau. Raja Sundel!" Wukkk!

"Hop!"

Mendapat serangan ganas yang begitu cepat.

Jaka segera mengeluarkan jurus 'Lejitan Lidah Petir'. Akibatnya, semua serangan yang dilancarkan Iblis Tongkat Merah selalu membentur tempat kosong. Hingga Sancasona semakin murka. Jurus-jurus andalannya segera disajikan untuk membungkam kegesitan Jaka.

"Hiyaaa...!" Iblis Tongkat Merah kembali meluruk maju. Kali ini tongkatnya tidak digunakan untuk menyerang. Tangannya yang terkepal kuat melayang ke arah dada Jaka.

Bet! "Uts!" Dugkh! "Heh!"

Jaka terkejut ketika mendapati gerakan Sancasona hanya tipuan belaka. Ternyata tongkat merah juga menjadi andalan utama lawannya. Satu sodokan tongkat yang mendarat di bahunya memperlihatkan tanda cukup jelas ketika Jaka menyingkap pakaiannya. Dilihatnya tanda kemerahan pada kulit bahu.

"Ha ha ha...!" Tiba-tiba Sancasona tertawa keras. "Kau rasakan ilmu 'Tongkat Merah Beracun'ku. Raja Geblek! Sepeminum teh lagi nyawamu akan melayang ke neraka!" ucap Sancasona jumawa.

Jaka tidak menimpali ucapan Sancasona. Pemuda itu menunggu kebenaran ucapan Iblis Tongkat Merah sampai sepeminum teh yang dijanjikan.

"Bagaimana, Iblis? Apa kau lihat tubuhku tergeletak jadi bangkai setelah sepeminum teh yang kau katakan?" ejek Jaka ketika waktu yang dijanjikan Sancasona telah lewat.

"Hmh...!"

Iblis Tongkat Merah menggeram melihat keadaan Jaka tidak berubah sedikit pun. Sungguh tidak disangka kalau Jaka mampu bertahan dari pukulan 'Tongkat Merah Beracun', yang selama ini diyakini selalu meminta nyawa dalam waktu singkat. Tapi kenyataannya?

"Kau memang hebat. Raja Gendeng! Tapi apa kau mampu menahan ajian 'Iblis Murka'? Keluarkan seluruh kepandaianmu agar tidak menyesal mati di tanganku," tukas Iblis Tongkat Merah menutupi keterkejutannya menyaksikan kehebatan Raja Petir.

"Keluarkan seluruh ilmumu, Iblis Kurap," balas Jaka mengejek. "Aku bersedia melayanimu." Sancasona segera melakukan gerak pem-

buka dari ajian 'Iblis Murka'. Wajah lelaki berusia dua puluh lima tahun itu menjadi merah. Namun sebaliknya, bagian bawah tubuhnya berubah kehijauan.

Jaka yang menyaksikan kejadian itu hanya menggelengkan kepala.

"Ilmu setan," suara hatinya berujar. "Hiyaaa...!"

Slat! Slat..!

Sinar merah dan hijau berturut-turut melesat dari tangan kiri Sancasona yang menghentak. Dua sinar itu meluruk deras ke arah Raja Petir yang sudah siap menghalaunya dengan ilmu 'Pukulan Pengacau Arah'.

"Hih!"

Wrrr...!

Serangkum angin bergulung bagai pusaran angin tercipta saat tangan Jaka menghentak. Maka....

Presss...!

"Heh?!"

Jaka terkejut menyaksikan angin pukulannya tidak mampu mengusir sinar ciptaan Sancasona yang terus meluruk ke arahnya. Mau tak mau Jaka kembali mengerahkan ilmu 'Lejitan Lidah Petir', Jaka melesat menghindari terjangan sinar merah dan hijau.

"Heh?!"

Kembali Jaka terkejut ketika berhasil menghindari sinar-sinar itu. Kedua sinar itu seperti memiliki mata, dan mengejar Jaka ke mana pun dirinya melesat.

"Hebat!" puji Jaka dalam hati. Jlig!

Raja Petir segera mendarat di tanah ketika sinar-sinar itu berhasil dijauhinya. Cepat tokoh muda yang digdaya itu menciptakan aji 'Kukuh Karang' untuk melindungi diri.

Maka ketika sinar merah dan hijau kembali meluruk deras, membentur sinar kuning keemasan yang membungkus tubuh Jaka, keanehan seketika terlihat mengejutkan Sancasona.

Prefs! Presfs...!

Dua sinar ciptaan Sancasona seperti tenggelam di kemilauan sinar kuning tubuh Jaka. Kenyataan itu membuat Iblis Tongkat Merah tidak percaya. Seharusnya jika seseorang terhantam aji 'Iblis Murka,' maka saat itu juga tubuhnya hangus terbakar. Tapi tidak terhadap tubuh Jaka? Karena murkanya, Sancasona bergerak memberikan serangan susulan.

Jaka yang sekilas memperhatikan jalannya pertarungan Mayang Sutera dan Sandala mencemaskan keselamatan gadis yang dikasihinya itu. Maka Jaka segera memutuskan untuk secepatnya menghentikan perlawanan Sancasona.

Ketika lejitan Sancasona semakin dekat, Jaka meloloskan Sabuk Petirnya. Dan saat pergelangan tangannya bergerak, seberkas sinar keperakan melesat cepat ke arah tubuh Sancasona.

Slat! Glar! "Aaa...!"

Sancasona terpental balik tertahan sinar keperakan Raja Petir melalui jurus 'Petir Membelah Malam' yang mengenai dadanya dengan telak. Nyawa Iblis Tongkat Merah melayang meninggalkan raga saat itu juga.

Bruk!

Jasad Sancasona jatuh ke bumi dengan sebagian tubuh menghitam. Kematian Sancasona sangat mengejutkan Parada dan Sandala. Keduanya langsung menghentikan serangan gencar mereka terhadap Mayang Sutera dan Yudistira. Mereka menghampiri mayat lelaki berpakaian merah yang hangus terbakar.

"Sancasona! Kau.... Ah! Tidaaak!" Parada memekik kalap.

"Raja Petir!" bentak Sandala seraya menuding Jaka. "Kau harus bertanggung jawab atas kematian saudaraku yang begitu kucintai. Kau harus menyerahkan nyawamu sekarang juga! Hiyaaa...!"

Tubuh Iblis Tongkat Hitam mencelat dengan tongkat hitam berkeluk sembilan berkelebat cepat mengancam kepala Jaka.

Wukkk! Bet! "Uts!"

Dengan mengerahkan jurus 'Lejitan Lidah Petir', Jaka melejit menghindari serangan Iblis Tongkat Hitam. Namun lelaki berjubah hitam yang sudah dirasuki iblis itu terus memburu tubuh Jaka. Hingga pukulan tongkatnya terpaksa ditangkap Jaka.

Wukkk! Tap!

Adegan tarik menarik pun terjadi ketika senjata Iblis Tongkat Hitam tertangkap tangan Jaka. Berkat penguasaan tenaga dalam Jaka yang lebih tinggi terlihat Iblis Tongkat Hitam tertarik ke depan. Seketika itu juga Raja Petir melepaskan genggamannya pada ujung tombak.

Plash! Wusss!

Iblis Tongkat Hitam terdorong keras ke belakang. Keseimbangannya telah hilang termakan tenaganya sendiri. Di luar dugaan, mendadak Yudistira mencelat menyongsong tubuh Iblis Tongkat Hitam dengan pedang terhunus.

"Terimalah ganjaranmu, Iblis! Hiyaaa...!" Trash!

Tak ada jeritan yang terdengar ketika Pedang Kumala Yudistira memenggal kepala Sandala. Detik itu juga nyawa Iblis Tongkat Hitam melayang ke akherat.

Bruk!

Tubuh tanpa kepala Iblis Tongkat Hitam jatuh berdebum di tanah.

"Keparaaat...!"

Iblis Tongkat Biru memekik histeris menyaksikan kematian Sandala. Seiring dengan pekikannya, Iblis Tongkat Biru meluruk ke arah Yudistira dengan tongkat biru berkeluk sembilan teracung di udara.

"Hiyaaa...!"

"Haaat...!"

Bersamaan dengan itu, Mayang Sutera mencelat mengejar sosok Parada dari samping kanan.

Trak! Bles! "Aaa...!"

Pekik kematian kembali terdengar. Perut Iblis Tongkat Biru tertembus Pedang Kumala milik Yudistira.

Yudistira yang ikut menyongsong serangan Iblis Tongkat Biru segera menghujamkan tusukan pedangnya setelah payung baja milik Mayang Sutera menangkis tongkat Parada. Lelaki berjubah biru itu kini menggelepar-gelepar memegangi perutnya yang mengucurkan darah. Hanya sesaat Iblis Tongkat Biru meregang nyawa. Saat berikutnya tubuh terbalut jubah biru itu sudah mengejang kaku.

"Hhh...!"

Jaka menarik napas panjang. Dan Yudistira segera meraih Lempengan Teratai Emas dari balik jubah Iblis Tongkat Merah.

"Sebaiknya lempengan ini kau yang menyimpannya, Jaka," ucap Yudistira seraya menyerahkan Lempengan Teratai Emas pada Raja Petir.

Jaka menerimanya tanpa banyak bicara. "Kakang...," Harum Seroja memburu tubuh

Yudistira dan merangkulnya dengan erat. "Kuatkan  hatimu,  Harum,"  ujar Yudistira membelai rambut gadis cantik berpakaian merah dadu itu.

"Sebaiknya kumusnahkan saja lempengan ini agar tidak menjadi sengketa kelak di kemudian hari," tukas Jaka mengejutkan Yudistira. Namun Ketua Perguruan Pedang Kumala menyadari kebenaran ucapan itu.

"Kalau menurutmu itu jalan terbaik silakan. Raja Petir," ucap Harum Seroja.

"Baik. Menyingkirlah kalian agak jauh," pinta Jaka. Lalu meloloskan pedang yang menggelantung di lehernya.

Yudistira, Harum Seroja, dan Mayang Sutera segera berpindah dari tempatnya. Jaka pun mengangkat Pedang Petirnya. Seketika itu juga....

Gludug.... Gludug.... Glederg !

Suara gemuruh terdengar di kejauhan. Seiring dengan itu suasana di sekitar Goa Teratai semakin gelap. Lidah-lidah petir menjilati ujung pedang milik Jaka yang memendarkan sinar kemerahan. Dan ketika suasana kembali seperti semula, tangan kiri Jaka segera melempar Lempengan Teratai Emas tinggi-tinggi. Dan tangan kanannya yang menggenggam Pedang Petir secepatnya mengibas. Maka....

Trang! Trang! Trang. !

Lempengan Teratai Emas yang terbuat dari emas murni terbelah menjadi empat bagian. Kemudian dibuangnya pecahan emas itu ke empat penjuru angin.

"Terima kasih atas pertolonganmu, Raja Petir. Juga kau, Mayang," ucap Harum Seroja melangkah menghampiri sosok anggun Mayang Sutera.

"Kewajiban kita untuk saling tolongmenolong, Harum," elak Mayang Sutera.

"Hari hampir malam. Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini sekarang," ucap Jaka.

"Kau betul, Jaka. Ayo," seru Yudistira.

Dua pasang muda-mudi itu pun bergerak meninggalkan Goa Teratai. Angin malam yang berhembus agak keras mengiringi kepergian mereka.

SELESAI