Serial Raja Petir eps 13 : Rahasia Tombak Sangga Buana

SATU
Alam terlihat kurang bersahabat sore ini. Langit berwajah muram. Gumpalan-gumpalan awan hitam pekat yang berarak, membuat Hutan Sagar yang membatasi Desa Kuntup dan Desa Ledar gelap. Angin bertiup cukup keras, membawa butiran es yang jatuh bertebaran ke segala arah. Cuaca seketika berubah dingin. Samar-samar terdengar bunyi gemuruh di kejauhan. Bersamaan dengan itu, hujan turun dengan deras menyiram bumi.

Glederg.... Glederg...! Glar! Glar!

Suara guntur kembali terdengar, mengiringi hujan yang semakin lebat. Kilatan-kilatan lidah petir, sekejap menerangi alam.

Di tengah hujan lebat itulah tampak di kejauhan empat orang lelaki gagah tengah menunggang kuda. Di antara keempat lelaki gagah itu, sebuah kereta kuda yang cukup mewah merangkak perlahan. Dua orang kusir kereta kuda terlihat sedang mengendalikan kuda-kuda hitam yang nampak kelelahan.

"Heya...!"

Kedua kusir itu kembali menggebah binatang pengangkut beban majikannya. Mereka sebenarnya tahu kalau binatang-binatang itu telah lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Perjalanan yang kerap kali dilakukan Ki Sunara untuk menjajakan barang-barang antik perabot rumah tangga dan kain-kain hias yang terbuat dari benang sutera, bahkan ada yang terajut dari benang emas.

Hujan masih terus mengguyur bumi, mengguyur kereta kuda seorang pedagang kayu. Dinding-dinding kereta dihiasi dengan ukiran timbul yang tepiannya diberi warna kuning seperti emas.

Empat lelaki gagah yang mengawal kereta kelihatan tidak terpengaruh oleh air hujan yang seperti tercurah dari langit. Dengan tenang, mereka terus bergerak mengiringi laju kereta yang membawa sepasang suami istri pedagang kaya. Sementara sepasang mata mereka berkeliaran ke berbagai arah, mengawasi daerah yang tengah dilaluinya.

Keempat lelaki bertubuh tinggi besar itu mengenakan pakaian yang cukup ketat, hingga menampakkan otot-ototnya yang melingkar-lingkar di badan tubuh tertentu. Wajah mereka yang keras bertambah angker dengan sebaris kumis tebal.

Sementara itu, di dalam kereta kuda duduk berhimpitan sepasang suami istri. Sang istri yang meski sudah berusia lima puluh satu tahun masih kelihatan cantik. Matanya bersinar dengan kulit wajah putih. Rambutnya yang belum ditumbuhi uban menandakan dirinya begitu pandai memelihara tubuh. Sementara sang Suami yang dua tahun lebih tua nampak masih gagah. Rambutnya pun masih hitam.

Angin dingin yang menerobos masuk melalui lubang-lubang kecil pada dinding kereta, membuat perempuan setengah baya itu merapatkan tubuhnya pada suaminya.

"Seharusnya kita tak menempuh jalan ini, Kakang," ucap sang Istri sambil merangkul pundak suaminya.

"Memangnya kenapa, Sumirah?" tanya lelaki berwajah kelimis sambil memandang istrinya.

"Entahlah, Kakang. Tiba-tiba perasaanku tak enak," jawab Sumirah dengan kecemasan yang tak mampu disembunyikan.

"Kau hanya terlalu letih."

"Mungkin kau betul, Kakang Sunara," timpal Sumirah.

"Kalau begitu, sebaiknya kau tidur saja. Aku yakin tak ada gangguan dalam perjalanan pulang ini, meski kita mengambil jalan pintas yang jarang dilalui kereta pedagang," hibur Ki Sunara sambil merebahkan tubuh Sumirah di pangkuannya. Ki Sunara melepas tatapan matanya lurus ke depan. Tidak dipungkiri kalau dirinya juga merasa gelisah seperti yang dirasakan Sumirah. Apakah rasa gelisah ini timbul karena terlalu letih? Tanya hati Ki Sunara. Atau jangan-jangan....

"Berhenti!"

Belum lagi pertanyaan itu terjawab, sebuah bentakan yang cukup keras terdengar dari arah depan, seperti menghadang laju kereta. Bentakan keras itu membangunkan Sumirah dari tidurnya.

"Ada apa, Kakang?" tanya Sumirah cemas. Firasatnya mengatakan kalau akan terjadi sesuatu terhadap mereka.

"Entahlah. Sumirah. Aku akan keluar untuk melihatnya," Jawab Ki Sunara sambil hendak membuka pintu kereta.

"Sebaiknya kau jangan keluar dulu, Kakang. Jika terjadi sesuatu, Santana dan kawan-kawannya pasti akan mengatasi," tahan Sumirah.

Ki Sunara tak membantah keinginan istrinya. Sementara di luar kereta tampak Santana dan ketiga rekannya telah berlompatan dari kuda, menentang lima lelaki berwajah angker yang menghadang perjalanan mereka.

"Mengapa kisanak sekalian menghentikan perjalanan kami? Apakah Kisanak semua mempunyai keperluan dengan kami?" tanya Santana dengan suara berat.

"Kucing gudik! Kami berlima bukan saja punya keperluan dengan kalian, tapi juga tuntutan!" bentak lelaki tinggi besar berwajah hitam legam sambil memilin-milin kumisnya yang melintang. Di telinga kirinya tersemat anting-anting berbentuk gembok.

"Tuntutan? Ah. Aku tak mengerti maksud Kisanak," kilah Santana betul-betul tak mengerti.

"Kucing gudik! Kalian memang bodoh. Tak tahukah kalau kau telah memasuki wilayah kekuasaan orang lain?!" bentak lelaki berwajah pucat. "Kakang Jilunta, kita musnahkan saja orang-orang bodoh itu!"

"Sabar Adi Gibara," tahan lelaki berwajah hitam yang ternyata bernama Jilunta.

Gibara tak berani menyangkal ucapan Jilunta. Lelaki berwajah pucat itu kembali membenamkan senjatanya yang sudah keluar sebagian.

"Aku masih memberi kesempatan pada kalian untuk menghirup udara esok pagi, Kucing Gudik. Dengan satu syarat yang harus kalian penuhi. Tinggalkan kereta kuda itu. Setelah itu, kalian bisa pergi dengan selamat," ucap Jilunta.

"Apa tidak ada tawaran lain, Jilunta?" tanya Santana tenang.

"Kalian tinggal pilih harta atau nyawa," balik Jilunta, sambil meraba hulu golok

"Bagaimana kalau aku pilih nyawa. Jilunta?" 

"Kurang ajar!" maki Gibara keras. Senjatanya kini telah lolos dari tempatnya. "Biar kurobek mulut kucing gudik itu, Kakang Jilunta!"

"Lakukanlah!" sahut Jilunta, menyetujui.

Gibara langsung melompat mendengar keputusan pemimpinnya. Wajahnya menampakkan kebencian. Otot-otot tubuhnya seketika menegang. Lelaki berpakaian rompi hitam itu mengibaskan senjatanya ke arah dada Santana.

"Hih!" Bet! Mendapat serangan seperti itu, Santana tidak tinggal diam. Lelaki pengawal Ki Sunara dan Sumirah itu bergerak cepat menghindari tebasan senjata Gibara. Begitu cepat gerakan Santana hingga serangan Gibara luput dari sasaran. Bukan hanya itu. Lelaki berpakaian merah itu memberi serangan balasan melalui tendangan menyilang ke pelipis Gibara.

Wukkk! "Uts!"

Hampir saja pelipis Gibara tersambar tendangan keras. Untung kepalanya cepat dirundukkan. Angin keras dari tendangan yang dilontarkan Santana membuat rambut Gibara berkibar.

"Setan!"

Tiga rekan Gibara yang menonton pertarungan itu berteriak bersamaan. Ketiga lelaki itu terkejut menyaksikan kebolehan lawan Gibara. Maka ketika mendapat izin Jilunta, mereka membantu Gibara menghadapi Santana.

"Kucincang tubuhmu, Keparat!" bentak lelaki kurus yang baru turun ke arena pertempuran. Lelaki kurus bernama Dalatu itu langsung mengibaskan senjatanya ke leher Santana. Angin berciutan mengiringi tibanya sambaran senjata Dalatu.

"Awas, Kakang Santana!" teriak Wadika memperingatkan. Tubuh pengawal kereta kuda itu seketika mencelat untuk memapaki sambaran senjata Dalatu.

"Haaat..!" Trang!

Tubuh Wadika terdorong dua langkah ke belakang ketika senjatanya berhasil memapaki senjata Dalatu. Wajah Wadika menyeringai menahan linu yang mendera tangannya. Apa yang dirasakan Wadika, juga dialami Datatu. Tubuh lelaki kurus itu tergempur dua langkah ke belakang. Wajahnya menyeringai karena rasa nyeri di tangan. Kekuatan tenaga dalam Dalatu dan Wadika rupanya seimbang.

Pada pertarungan lain, dua lelaki pengawal kereta kuda berhadapan dengan dua anak buah Jilunta. Pada awalnya kedua pengawal itu berhasil mengimbangi kepandaian lawan-lawannya. Namun, memasuki jurus ketiga belas, mereka mulai terdesak. Tebasan dan tusukan senjata lawan tak berhasil melukai tubuh kedua pengawal itu. Hanya sodokan-sodokan tangan kosong berkali-kali menghajar tubuh mereka.

Tapi, tak urung kekuatan mereka mengendur. Keadaan itu dimanfaatkan anak buah Jilunta. Ketika kesempatan itu terbuka, salah seorang anak buah Jilunta menusukkan senjatanya ke perut seorang pengawal.

Crab! "Aaa...!"

Lengking kematian seketika terdengar menyayat hati. Diiringi ambruknya seorang pengawal kereta kuda.

"Aaa...!"

Kembali lengking kematian membubung ke angkasa. Kali ini berasal dari mulut pengawal kereta kuda yang lain.

Di dalam kereta kuda, Ki Sunara tercekat mendengar teriakan itu. Tanpa meminta ijin Sumirah, lelaki berpakaian biru itu membuka pintu kereta dan menyaksikan pertarungan yang telah memakan korban dua anak buahnya.

"Kurang ajar!" geram Ki Sunara.

Saudagar kaya dari Desa Lebak Mera itu bermaksud meramaikan pertarungan Santana dan Wadika, yang tengah menghadapi empat anak buah Jilunta. Ki Sunara ingin menunjukkan kalau dirinya memiliki kepandaian ilmu silat, yang didapatnya dari Ki Karmadana si Iblis Tombak Merah yang setelah insyaf lalu mengasingkan diri. Namun, gerakan Jilunta menghadangnya.

"Kau harus berhadapan denganku, Kisanak!" tantang Jilunta sambil menepuk dada.

"Apa yang kau inginkan, hingga berani menghadang perjalananku?" tanya Ki Sunara keras.

"Mulanya, harta. Tapi, anak buahmu menginginkan nyawanya diserahkan padaku. Mungkin kau juga, Kisanak!" ucap Jilunta tak kalah keras.

"Kau harus menebus kematian anak buahku, Kadal Ireng!" sentak Ki Sunara tak kalah gertak.

"Heh?! Punya nyali juga kau!" 

"Hiyaaa...!"

Jilunta berkelebat cepat melancarkan serangan ke dada Ki Sunara. Angin menderu mengiringi datangnya tendangan lurus yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Menyaksikan serangan itu, Ki Sunara segera bertindak tidak kalah cepatnya. Dengan lincah, lelaki berpakaian biru itu mengelakkan serangan Jilunta.

"Hip!"

"Uts!" 

"Hih...!"

Ki Sunara memiringkan tubuh, hingga tendangan lurus Jilunta membentur tempat kosong. Bersamaan dengan itu, sodokan sikut Ki Sunara mengarah ke leher Jilunta.

Plak! "Aaa...!"

Ki Sunara memekik tertahan. Sodokan sikutnya berhasil dipapaki tangan Jilunta dengan cepat dan kuat. Tubuh lelaki berpakaian biru itu terdorong mundur dua langkah. Jilunta pun merasakan hal yang sama. Tapak kaki lelaki berwajah hitam dengan kumis melintang itu terlihat mundur tiga langkah. "Hih!"

Srat!

Jilunta segera meloloskan senjatanya. Lelaki bertubuh kekar itu tak ingin bermain-main dengan Ki Sunara yang telah diketahui kemampuannya. Jilunta ingin segera menyudahi pertarungan itu. Sunara pun telah menghunus senjata.

Srat!

Kedua lelaki itu saling bertatapan dengan tajam dan penuh selidik. Seolah mereka sedang mengukur kekuatan masing-masing. Tak berapa lama kemudian, diiringi teriakan nyaring, Jilunta membuka serangan. Tombak pendek bermata dua miliknya teracung ke udara.

"Hiyaaa...!"

"Hiaaat..!"

Pada saat yang bersamaan, Ki Sunara bergerak maju dengan pedang siap menghunjam tubuh lawan. Teriakan nyaring keluar dari mulut Ki Sunara. Angin berciutan mengiringi tibanya kedua serangan itu.

"Hih!"

"Uts!" Trang!

Terdengar benturan dua benda keras. Percikan bunga api keluar dari beradunya dua logam keras yang dikerahkan dengan tenaga dalam penuh. Tubuh Ki Sunara dan Jilunta terdorong mundur tiga langkah. Wajah keduanya menyeringai kesakitan. Namun tanpa mempedulikan rasa sakit, mereka kembali melancarkan serangan.

"Hiyaaa...!" Bet!

"Uts!"

Ki Sunara lebih unggul karena senjatanya memiliki jangkauan yang lebih jauh. Pedangnya yang lebih panjang dari tombak pendek bermata dua milik Jilunta berkelebat cepat mendahului. Jilunta tentu tak ingin kulitnya robek terbabat ujung senjata Ki Sunara. Tapi untuk memapaki senjata lawan, Jilunta tak berani. Lelaki berkumis tebal itu tahu kekuatan tenaga dalam Ki Sunara cukup tinggi.

Jilunta melompat untuk menghindari sambaran pedang Ki Sunara. Tubuh Jilunta bergerak ringan berputaran dengan indahnya di udara. Ki Sunara melihat peluang untuk menyarangkan senjatanya di tubuh Jilunta. Tak ingin kehilangan kesempatan, saudagar kaya itu berkelebat cepat mengejar tubuh Jilunta yang berada di udara.

"Hiyaaa...!" Trang!

Ki Sunara tersentak melihat serangannya dikandaskan seseorang. Tubuh lelaki itu terhuyung dua langkah ke belakang. Sedangkan orang yang memapaki serangannya terdorong mundur empat langkah.

Keterkejutan Ki Sunara semakin bertambah ketika mengetahui lelaki yang memotong laju serangannya. Lelaki itu, bukankah lawan Santana dan Wadika? Tanpa mempedulikannya, Sunara segera melempar pandangan ke arah lain. Tatapan lelaki berpakaian biru itu berkeliling mencari sosok Santana dan Wadika.

"Ahhh...!"

Ki Sunara mendesah keras melihat tubuh Santana dan Wadika tergeletak tak bergerak. Dari tubuh kedua pengawal kepercayaannya nampak darah mengucur.

"Jahanam!" maki Ki Sunara geram.

Saudagar kaya itu ingin kembali menerjang lawan. Namun, apa yang dilihatnya membuat hatinya sedikit gentar. Lima orang lelaki berdiri di hadapannya dengan senjata terhunus. Saat itulah, tiba-tiba Sumirah keluar dari dalam kereta dan menghambur ke arah suaminya. Semakin bertambah kekacauan hati Ki Sunara. Lelaki itu mengkhawatirkan keselamatan Sumirah yang tidak mengerti ilmu silat.

"Ha ha ha...! Walau kau dapat menyelamatkan diri, tapi bukan jaminan dapat menyelamatkan tubuh istrimu. Ha ha ha. Dia akan menjadi santapan kami,

Sunara!" ucap Jilunta keras.

Ki Sunara menatap tajam wajah Jilunta. Disadari kalau dirinya tak akan mampu menghadapi Jilunta yang kini dibantu empat anak buahnya. Apalagi, dengan keberadaan Sumirah di sampingnya yang hanya akan membuat pikirannya terpecah. Bukan mustahil dalam beberapa gebrakan saja dirinya akan dapat ditundukkan. Namun, tak ada pilihan lain baginya. Ki Sunara terpaksa melanjutkan pertarungan. Dia tak ingin mati percuma tanpa memberikan perlawanan.

"Kadal ireng! Kalian pikir akan mudah menyantap istriku?! Aku tak gentar menghadapi kalian! Cuh !

Tak akan pernah Sunara lari dari kenyataan yang pahit bagaimanapun! Majulah kalian semua! Biar cepat kukirim ke neraka!"

"Kakang...!" Sumirah tersentak mendengar ucapan suaminya.

"Ha ha ha.... Hebat juga keberanianmu, Sunara! Di ujung kematian pun kau masih sempat sesumbar," ejek Jilunta.

"Kakang Jilunta, kita habisi saja kucing gudik itu segera!" ajak Gibara tak sabar.

"Ayo, Gibara. Aku juga tak sabar," sambut Jilunta.

Lelaki berwajah hitam dengan kumis tebal melintang itu memberi aba-aba pada anak buahnya untuk mencincang  tubuh  Ki  Sunara  dan  Sumirah.  Empat anak buah Jilunta segera bergerak cepat. Mereka langsung mengepung sepasang suami istri itu.

"Kakang...!"

Sumirah gemetaran menahan rasa takut yang amat sangat. Sungguh tak disangkanya kalau akan menemui kematian yang mengerikan seperti ini. Timbul rasa sesal di hatinya akan keengganannya berlatih silat, seperti yang dilakukan putrinya, Nila Juwita. Jika seandainya dia turut mempelajari ilmu bela diri, maka sedikit banyak dirinya akan mampu memberikan perlawanan pada kelima perampok itu.

"Ha ha ha.... Inilah akibatnya berani main-main dengan kaki tangan Dua Buaya Sungai Tenggarong. Kau akan binasa sekarang juga, Sunara! Begitu juga istrimu!" bentak Jilunta menakut-nakuti.

Ki Sunara merasa ngeri mendengar ucapan Jilunta. Namun hatinya berusaha dikuatkan dengan mengangkat senjatanya tinggi-tinggi.

"Seraaang...!"

Perintah Jilunta menggema ke seluruh penjuru angin. Empat anak buahnya segera berkelebat dengan senjata terhunus di udara.

"Hiyaaa!"

"Heaaat!" 

"Tahaaan...!"

***
DUA
Keempat lelaki yang ingin mencincang tubuh Ki Sunara dan Sumirah langsung menghentikan gerakannya. Tubuh mereka terlonjak mundur satu langkah. Jilunta terkejut mendengar bentakan yang cukup keras itu. Telinganya berdengung hebat oleh getaran suara yang dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.

Sosok pemuda berpakaian kuning keemasan nampak berdiri di samping Ki Sunara. Sosok pemuda berwajah tampan seperti putra mahkota itu berdiri dengan tenang. Menampakkan kegagahannya yang sempurna, namun tak berkesan sombong.

"Lancang sekali kau mencampuri urusan orang lain, Kunyuk Kecil!" maki Jilunta geram. Sorot matanya mencorong tajam, terarah ke wajah pemuda berpakaian kuning keemasan itu.

"Ah. Aku mohon maaf jika Kisanak sekalian tidak berkenan dengan apa yang kulakukan," ucap pemuda berwajah tampan yang tak lain Jaka Sembada alias Raja Petir.

"Ucapan maafmu merupakan penghinaan bagi kaki tangan Dua Buaya Sungai Tenggarong! Kau harus membayar penghinaan itu dengan nyawa!" hardik Jilunta.

"Kisanak merasa terhina? Duh, aku jadi tak enak. Sekali lagi aku mohon maaf." kilah Jaka dengan wajah tak berdosa.

Ki Sunara dan Sumirah yang menyaksikan tingkah lelaki muda di sebelahnya menjadi sedikit bingung. Pemuda itu sepertinya seorang pemberani. Namun, ucapan maafnya yang berkali-kali lebih menunjukkan kalau dirinya gentar menghadapi lima lelaki yang mengaku kaki tangan Dua Buaya Sungai Tenggarong.

"Kurang ajar! Kau telah mempermainkan kami! Kupenggal kepalamu, Kunyuk!" bentak Jilunta geram.

"Biar aku yang menghadapinya, Kakang," pinta Gibara.

Jilunta menatap wajah Gibara sekilas. 

"Lakukan, Gibara. Dan kau, Dalatu. Bantu Gibara!"

"Baik, Kakang Jilunta," ucap Dalatu.

Gibara dan Dalatu mengayunkan langkah tegap ke arah Jaka Sembada. Pemuda berpakaian kuning keemasan yang berjuluk Raja Petir itu memamerkan ketenangannya di hadapan Gibara dan Dalatu yang sudah menghunus senjata.

"Sebenarnya aku tak menginginkan pertarungan ini, Kisanak," ucap Jaka mencoba menahan langkah Gibara dan Dalatu. Ucapan Jaka berhasil menghentikan langkah mereka. Namun, ucapan itu membuat mata keduanya membelalak geram.

"Keparat! Kau menganggap kami terlalu remeh,

Anak Muda!" sentak Gibara sewot

"Aku tidak menganggap remeh kalian. Aku hanya merasa tak punya urusan dengan kalian dan tak ingin memperpanjang persoalan ini," kilah Jaka.

"Setan!"

Habis sudah kesabaran Gibara mendengar perkataan Jaka. Lelaki berpakaian rompi hitam itu mengayunkan senjatanya ke arah Raja Petir. Angin menderu mengiringi kedatangan senjatanya.

"Hyaaa...!" Bet! Bet!

Jaka berkelit ringan tanpa menggeser kedudukan kakinya. Serangan Gibara lolos beberapa jengkal dari dada pemuda itu. Untuk menakut-nakuti Gibara agar tak terlalu dekat dengannya, dengan kasar Jaka menyodokkan tangannya ke ulu hati Gibara.

Sut! "Ikh?!"

"Uts!"

Gibara terpaksa menghentakkan kakinya untuk menghindari sodokan tangan Jaka. Tubuh lelaki terbalut pakaian rompi hitam itu melejit lalu berputaran dua kali dan mendarat dengan ringan satu batang tombak di hadapan Jaka.

"Ayo kita cincang bersama-sama tubuh anak muda itu!" ajak Gibara lantang.

"Ayo!"

"Ayo kita lumat tubuh lelaki sombong itu!" sahut yang lain.

Tiga rekan Gibara yang memang sudah menghunus senjata, segera menyambut ajakan itu. Mereka seketika merangsek maju. Senjata-senjata yang sudah teracung di udara, siap dihunjamkan ke tubuh Jaka.

Raja Petir yang sudah dapat mengukur kekuatan tenaga dalam lawan, tetap tegak tak bergerak. Ia hendak menentang tebasan senjata mereka hanya dengan mengerahkan sedikit kekuatan tenaga dalamnya. Apa yang dilakukan Raja Petir membuat Ki Sunara dan Sumirah terkejut bukan kepalang. Suami istri itu merasa pemuda yang menolongnya terlalu sembrono jika bersikap seperti itu.

"Awas, Anak Muda," ucap Ki Sunara memperingatkan.

Jaka menjawab peringatan Ki Sunara dengan senyumnya.

"Hiyaaa...!"

Trak! Trak...!

Tubuh empat lelaki yang mendaratkan senjatanya ke bagian tubuh Raja Petir langsung berpentalan. Jerit kesakitan mengawali ambruknya tubuhtubuh anak buah Jilunta itu.

Jilunta terkejut menyaksikan kenyataan itu. Sungguh tak dapat dipercaya kekuatan yang dimiliki anak muda berpakaian kuning keemasan itu. Jilunta tahu kalau Gibara, Dalatu, dan dua anak buahnya yang lain telah mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya untuk melumat tubuh Jaka. Namun kenyataannya? Empat anak buahnya tak berdaya menghadapi pemuda itu. Ki Sunara dan Sumirah pun terkejut. Keduanya tak menyangka kalau pemuda berpakaian kuning keemasan itu memiliki kekebalan tubuh yang luar biasa.

"Sudah kubilang, aku tak suka bertarung dengan kalian," ucap Jaka mantap. "Sudahi saja persoalan ini sampai di sini. Aku akan membiarkan kalian pergi tanpa ku usik."

"Jangan sombong, Kunyuk! Kau belum menghadapiku!" bentak Jilunta kasar.

"Kalau aku dapat mempecundangimu?" goda Jaka.

"Kunyuk sombong!" maki Jilunta.

"Katakan, apa yang akan kau lakukan kalau aku dapat menaklukkanmu?" tekan Jaka mantap.

"Aku akan mundur dan melaporkan semua ini pada junjunganku. Dua Buaya Sungai Tenggarong."

"Begitu?"

"Ya."

Jilunta segera mengambil ancang-ancang mulai menyerang. Kaki kanannya bergerak satu langkah ke depan dengan pedang terhunus di depan pinggang. Sementara matanya membara menatap wajah pemuda di hadapannya.

"Kau harus mampus di tanganku, Kunyuk!

Heaaa...!"

Raja Petir yang ingin segera menyudahi pertarungan segera menyajikan ilmu andalannya. Sebuah ilmu yang bukan dikeluarkan untuk menyerang Jilunta. Aji 'Bayang-Bayang' digunakan Jaka untuk menghindar sekaligus menguras tenaga dalam Jilunta.

Pada saat tubuh Jilunta masih berada di udara, tubuh Raja Petir sudah bertambah jumlahnya. Lima sosok lelaki berpakaian kuning keemasan tertangkap penglihatan Jilunta.

Lelaki berwajah hitam dengan kumis melintang itu sejenak ragu untuk menyerang. Jilunta tidak tahu harus menyerang tubuh Jaka yang mana. Lima sosok tubuh berpakaian kuning keemasan itu tampak bergerak-gerak ke sana kemari.

"Hiyaaa...!" Bet! Bet!

Tanpa pikir panjang, Jilunta langsung menebaskan senjatanya pada salah satu sosok Raja Petir. Namun betapa murka hatinya melihat sambaran tombak pendek bermata dua, yang selama ini menjadi senjata andalannya hanya membentur bayangan kosong saja.

"Haaat..!" Wut! Wut! "Hiaaa...!"

Rasa penasaran membuat Jilunta terus menusuk, membabat, dan menetakkan senjatanya bagai seekor banteng luka. Namun serangan Jilunta yang disertai pengerahan tenaga dalam hanya membentur sosok kosong tubuh Jaka.

"Hhh... hhh... hhh...!

Jilunta akhirnya menghentikan serangan. Tubuhnya terasa sangat lelah. Keringat membasahi sekujur tubuhnya.

"Kau..., hhh.... Kau memang hebat, Anak Muda...," ucap Jilunta terbata. "Tapi kau akan mampus di tangan Dua Buaya Sungai Tenggarong. Aku akan melaporkan kejadian ini."

"Hm...," Jaka hanya bergumam mendengar ucapan Jilunta.

"Sebutkan namamu, Anak Muda. Biar aku gampang mencarimu?" pinta Jilunta dengan geram. "Aku ingin tahu, apakah kau berani menghadapi junjunganku!"

"Namaku Jaka. Ku ingatkan, agar kalian jangan salah mencari nanti. Banyak lelaki bernama Jaka di atas jagat ini."

"Jaka...?" ulang Jilunta perlahan.

Demikian pula dengan Ki Sunara. Malah lelaki berpakaian biru itu menghubungkan nama Jaka dengan Sembada. Apakah pemuda ini bernama Jaka Sembada? Tanya hati Ki Sunara. Dia yang berjuluk Raja Petir? Pantas....

"Katakan pada junjunganmu. Aku tak pernah mencari urusan dengannya, apalagi menantangnya. Akan tetapi, kalau Dua Buaya Sungai Tenggarong ingin mencariku, aku tidak akan menghindar," ujar Jaka kalem.

"Tunggu saja saatnya, Jaka! Tubuhmu akan menyatu dengan tanah."

"Kau betul!" timpal Jaka. "Kalau ajal sudah datang, tubuhku memang akan menyatu dengan tanah. Namun jika belum, jangan harap hal itu akan terjadi"

"Phuihsaya!"

Jilunta meludah ke tanah dengan kasar. Sebentar tatapan matanya tertuju ke arah Jaka dan Ki Sunara bergantian. Kemudian beralih pada anak buahnya yang sudah bangkit.

"Ayo!" ajak Jilunta sambil menghentakkan kakinya kuat-kuat ke tanah.

Tubuh Jilunta melesat cepat. Gerakan lelaki berpakaian rompi hitam itu cukup ringan. Menandakan ilmu meringankan tubuhnya tidak rendah. Empat anak buah Jilunta pun segera menghentakkan kakinya kuat-kuat. Tanpa menoleh lebih dulu ke arah Raja Petir dan Ki Sunara yang membiarkan mereka pergi.

"Hhhsaya" Ki Sunara menarik napas lega setelah kelima lelaki itu lenyap dari hadapannya. Begitu pula Sumirah. Istri Ki Sunara itu merayapi wajah Jaka dengan rasa terima kasih yang begitu banyak. Sumirah tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika Jaka tidak segera datang.

"Terima kasih, Nak Jaka. Terima kasih sekali. Tanpa kehadiranmu "

"Aku hanya kebetulan lewat, Nyai," potong Jaka sopan. Saat itu Jaka memang hendak kembali ke penginapan untuk menemui Mayang Sutera.

Sumirah tersenyum mendengar ucapan pemuda tampan itu.

"Lalu, sekarang kau hendak ke mana?" tanya Ki Sunara.

"Aku pengembara, Ki. Kolong langit inilah rumahku," polos ucapan Jaka.

"Hhh...!" Ki Sunara menarik napas mendengar jawaban Jaka. Hingga Raja Petir heran.

"Ada apa, Ki?" selidik Jaka.

"Kalau kau tak berkeberatan, aku ingin kau mengunjungi kediamanku," pinta Ki Sunara.

"Ya. Nyai akan senang kalau Nak Jaka sudi mengunjungi kediaman kami," tambah Sumirah dengan senyum terkembang cerah.

Jaka tidak segera menyetujui ajakan Ki Sunara dan Sumirah. Tatapan pemuda yang berjuluk Raja Petir itu sekilas memandangi mayat-mayat yang bergelimpangan.

"Sebaiknya kita urus mayat-mayat itu, Ki," tukas Jaka.

"Ah!" Ki Sunara tersedak mendengar ucapan Jaka. "Aku hampir lupa mengurus mereka, Jaka. Kalau begitu, kita kuburkan di daerah sini saja."

Jaka segera mengurus pemakaman mayat-mayat pengawal Ki Sunara. Tak berapa lama kemudian, mayat-mayat itu sudah terkubur semua.

"Ayo kita berangkat sekarang, Jaka," ajak Ki Sunara.

Jaka mengikuti langkah Ki Sunara dan Sumirah yang berjalan menuju kereta kuda. Angin malam berhembus kencang mengiringi derak suara kereta kuda yang ditumpangi Jaka, Ki Sunara dan istrinya.

***
TIGA
"Ah, Ayah! Bukankah sudah berjanji akan pulang pagi tadi? Mengapa sampai malam begini?" sambut gadis cantik berpakaian merah muda.

Gerak-gerik gadis yang berusia dua puluh tahun itu terlihat sangat manja. Ki Sunara tersenyum sambil menatap tubuh semampai putrinya yang berkulit putih. Wajahnya yang lonjong sangat serasi dengan hidungnya yang mancung. Apalagi, dengan bola mata membulat yang ditumbuhi bulu mata lentik. Menambah lengkap kecantikan anak tunggal Ki Sunara itu.

"Aku sangat mengkhawatirkan Ayah dan Ibu," lanjut gadis itu lagi sambil menggelayuti lengan Ki Sunara.

Menyaksikan semua itu, Jaka hanya tersenyum. "Kekhawatiranmu hampir terjadi, Nila," sambut Sumirah.

"Maksud Ibu?" tanya gadis bernama Nila itu sambil membelalakkan mata.

Sumirah mengalihkan tatapannya pada Ki Sunara. Seolah meminta pertimbangan suaminya, apakah akan menceritakan kejadian yang telah mereka alami. "Ah, Nak Jaka! Perkenalkan, ini Nila Juwita.

Anakku satu-satunya," ucap Ki Sunara mengalihkan tatapan mata Sumirah.

"Iya. Hampir lupa kita mengenalkan Nak Jaka dengan anak kita," tukas Sumirah malu-malu.

Jaka segera mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Nila Juwita. Selesai muda-mudi itu berkenalan, mata Sumirah kembali menatap wajah Ki Sunara. Terlebih ketika Nila menanyakan ucapan 'kekhawatiran yang nyaris terjadi' yang barusan diucapkan. Ketika kepala Ki Sunara terangguk, maka mengalirlah cerita kejadian yang baru saja mereka alami.

"Begitulah, Nila. Tanpa kehadiran Nak Jaka, mungkin Ibu dan Ayah sudah menjadi bangkai di tangan lima lelaki yang mengaku kaki tangan Dua Buaya Sungai Tenggarong. Seperti nasib Santana, Wadika dan yang lainnya," tukas Sumirah mengakhiri ceritanya.

"Jadi, Kakang Wadika dan "

"Mereka sudah dimakamkan di tempat kejadian itu setelah Nak Jaka berhasil mengusir kelima perampok itu," potong Sumirah.

Mata Nila Juwita kembali menatap wajah tampan Jaka Sembada.

"Kau hebat, Kakang Jaka," ucap Nila Juwita perlahan.

Jaka mendengar pujian gadis putri Ki Sunara begitu tulus. Namun, tak urung membuatnya jadi serba salah.

"Aku tak akan sehebat itu jika yang kulakukan tidak mendapat restu Sang Pencipta Jagat Raya ini," kilah Jaka menenteramkan hatinya.

"Sebaiknya kau kembali ke kamarmu, Nila. Juga kau, Nyai. Biar aku yang menemani Jaka malam ini," ucap Ki Sunara.

Sumirah dan Nila saling berpandangan sesaat. Kemudian keduanya bangkit meninggalkan Ki Sunara dan Jaka. Ketika tubuh Sumirah dan Nila menghilang di balik pintu, mata Ki Sunara langsung tertuju ke wajah tampan pemuda berpakaian kuning keemasan itu.

"Apakah nama panjangmu Jaka Sembada?" tanya Ki Sunara pelan, hampir mirip bisikan.

Jaka membalas tatapan Ki Sunara. Lelaki berusia lima puluh tahun itu memang sejak tadi memendam pertanyaan itu. Tepatnya sejak Jaka memperkenalkan namanya pada kaki tangan Dua Buaya Sungai Tenggarong.

"Betul, Ki," jawab Jaka.

"Ah!" Ki Sunara tersentak "Maafkan kalau sambutan kami hanya seperti ini."

"Memangnya kenapa, Ki?"

"Tidak, Raja Petir. Aku hanya merasa tak enak, menyambut lelaki yang punya nama besar sepertimu dengan cara seperti ini," kilah Ki Sunara. Jaka tersenyum mendengar ucapan Ki Sunara. "Apa  bedanya aku dengan tamu-tamumu yang lain, Ki?"

Ki Sunara tak menjawab pertanyaan Jaka. Lelaki berpakaian biru itu begitu mengagumi keluhuran budi Raja Petir. Tak salah kalau orang-orang kalangan persilatan, bahkan penduduk biasa membicarakan kehebatan dan keluhuran pekertinya.

"Sebaiknya kau beristirahat, Jaka. besok pagi kita lanjutkan pembicaraan ini. Kurasa Nila akan senang mendapat teman sepertimu," tukas Ki Sunara mengalihkan pembicaraan.

"Bagaimana baiknya saja, Ki," ucap Jaka memberi tanggapan.

Ki Sunara sekilas mengembangkan senyum, seraya bangkit dari duduknya.

"Mari kuantar ke kamarmu, Jaka," ajak Ki Sunara.

Tanpa diperintah dua kali, Jaka segera mengekor di belakang Ki Sunara.

***

Pagi nampak begitu indah. Hembusan angin semilir membelai kulit muka. Burung-burung kecil bernyanyi dan melompat dari ranting satu ke ranting yang lain. Jaka nampak menikmati suasana pagi yang begitu indah ini. Di sampingnya duduk seorang gadis yang tak lain Nila Juwita.

"Nila pernah mendengar beberapa kali nama dan julukan Kakang disebut-sebut orang," ucap Nila Juwita memecah keheningan pagi. "Pantas Kakang dapat dengan mudah menguar kaki tangan Dua Buaya Sungai Tenggarong."

Dalam hati Nila, terpintas rasa suka dengan penampilan dan kepribadian pemuda berpakaian kuning keemasan itu. Namun untuk menanamkan bibit cinta pada diri pemuda yang telah menyelamatkan nyawa kedua orangtuanya, Nila harus berpikir seribu kali. Dia tak ingin membuat hati kekasihnya yang bernama Sirgaloka terluka.

"Orang-orang itu terlalu berlebihan menilai diriku, Nila," sangkal Jaka lunak.

"Kurasa tidak, Kakang Jaka," bantah Nila. "Kau telah menunjukkannya pada kami."

"Kakang rasa, apa yang telah Kakang tunjukkan adalah hal yang wajar dan biasa-biasa saja," sangkal Jaka, seraya menatap wajah Nila lekat-lekat

Nila baru hendak membalas bantahan Jaka ketika tiba-tiba matanya menangkap kelebatan sosok berpakaian hijau. Gadis itu sangat terkejut melihat sosok lelaki berpakaian hijau yang kini berdiri tegak di hadapannya. Mata Nila terbelalak, merayapi sekujur tubuh lelaki itu.

"Dinan Jayu...!" ucap Nila perlahan.

Namun ucapan Nila yang pelan sempat tertangkap pendengaran Jaka dan lelaki berpakaian hijau yang berdiri angkuh.

"Nila...!"

Lelaki berpakaian hijau yang bernama Dinan Jayu menatap wajah Nila tak berkedip.

"Apa kabar, Nila?" tanya Dinan Jayu seraya melangkah perlahan mendekati Nila.

"Baik," jawab Nila.

Dinan Jayu mengalihkan pandangan matanya ke arah Jaka. Sebuah pandangan menyelidik yang begitu sarat dengan kecurigaan. Hati Dinan Jayu berdebar keras ketika tatapannya tepat menusuk bola mata Jaka yang bersinar cerah.

"Ah. Perkenalkan, dia Kakang Jaka," ucap Nila memecahkan kekakuan.

Jaka segera mengulurkan tangan ketika namanya disebut Nila. Namun Dinan Jayu tak segera membalas uluran tangan Jaka. Mata Dinan Jayu tetap menatap wajah Jaka.

"Namaku Jaka," ucap Jaka. "Keberadaanku di sini semata ada urusan dengan Ki Sunara."

"Aku Dinan Jayu," balas Dinan Jayu agak ketus. "Nila kekasihku "

Lelaki berpakaian hijau itu lalu berdiri dengan angkuh. Wajahnya berahang kuat dan berkulit bersih, begitu sesuai dengan keangkuhannya. Apalagi tatapan matanya setajam mata elang. Sementara rambut hitamnya terurus rapi, amat bertolak belakang dengan keangkuhannya. Mendengar ucapan Dinan Jayu, Nila menjadi risih. Raut wajahnya langsung bersemu merah. Begitu juga saat Dinan Jayu hendak merengkuhnya. Nila ingin menghindar, namun pemuda itu segera menahannya.

"Sudah lama kalian berhubungan?" tanya Jaka. Nila langsung memelototi wajah Jaka ketika pertanyaan itu meluncur polos?

"Tiga tahun lebih," jawab Dinan Jaya "Ooo "

Jaka hanya membulatkan bibirnya mendengar jawaban Dinan Jayu. Tapi, dia menemukan keganjilan dalam sikap Nila. Teka-teki apa yang menyemaraki kehidupan mereka? pikir Jaka. Kemudian, pemuda berpakaian kuning keemasan itu segera beranjak ketika Dinan Jayu mendekati Nila.

"Hendak ke mana, Kakang Jaka?" tahan Nila. "Ah! Kalian berdua kan perlu bicara empat mata. Aku harus tahu di   "

"Tidak, Kakang. Kakang Jaka di sini saja menemani Nila," pinta Nila.

Gadis berpakaian merah muda itu hendak menghampiri Jaka. Tapi, tangan Dinan Jayu telah lebih dulu mencegahnya.

"Biarkan dia pergi, Nila," ucap Dinan Jayu tak senang.

"Biarkan juga aku bersamanya, Kakang Dinan!" ucap Nila keras.

Dinan Jayu menautkan sepasang alisnya, mendengar ucapan Nila Juwita.

"Kau tidak rindu padaku, Nila?" tanya Dinan Jayu sedikit ditekan.

"Rindu?" ulang Nila dengan membelalakkan mata. "Semenjak kau menelantarkan hubungan kita, rindu itu telah pupus, Kakang Dinan!"

"Kau bicara apa, Nila?!" bentak Dinan Jayu kasar.

"Bicara kenyataan!" balas Nila ketus.

"Kau pasti telah menjalin hubungan dengan lelaki lain!" tuduh Dinan Jayu.

"Ada lelaki lain atau tidak, itu urusanku!" kilah Nila dengan wajah memerah.

"Katakan! Siapa lelaki itu, Nila? Apakah Jaka?!" tanya Dinan Jayu dengan nada tinggi.

Jaka tak terkejut mendengar namanya disebutsebut Dinan Jayu. Pemuda itu memang sengaja beranjak tidak begitu jauh dari tempat Nila dan Dinan Jayu bertengkar. Ucapan Dinan Jayu telah diperhitungkannya. Sejak melihat tatapan curiga lelaki berpakaian hijau itu.

"Mau Kakang Jaka atau bukan, itu urusanku!" bantah Nila.

"Baik!" putus Dinan Jayu agak merendahkan tekanan suaranya. "Tapi aku harus mengetahui alasanmu membelakangi diriku."

"Tanpa kuberi tahu pun seharusnya kau sudah tahu. Bahkan lebih tahu," jawab Nila.

"Kau sekarang berubah, Nila!" 

"Itu karena ulahmu, Kakang."

"Ulahku? Aku telah membuat ulah macam apa, Nila?"

"Sudah kukatakan, kau yang lebih tahu jawabannya!"

"Aku mengerti sekarang, Nila. Kau marah padaku karena aku pergi tanpa seizinmu dan tanpa sekali pun memberi kabar padamu, begitu kan?" papar Dinan Jayu.

Nila tak menanggapi ucapan lelaki berpakaian hijau yang di belakang punggungnya tersembul gagang senjata berkepala buaya. "Itu kulakukan semata untuk memberimu kejutan, Nila. Kepergianku untuk menuntut ilmu bela diri. Sekarang aku telah mendapatkannya. Aku ingin kita hidup berdampingan dengan ilmu bela diri yang kumiliki. Bukan hanya kau yang memiliki kepandaian itu. Aku ingin melindungimu, Nila. Bukan sebaliknya."

"Jadi selama ini Kakang berhubungan denganku, Kakang merasa kulindungi?" tanya Nila.

"Setidaknya aku merasa begitu. Nila. Aku tak pandai ilmu bela diri," bantah Dinan Jayu. "Tapi sekarang, tokoh sakti mana pun akan kuhadapi."

"Aku tak memerlukan kehebatanmu dalam ilmu bela diri, Kakang. Yang kuperlukan adalah perhatianmu. Namun kenyataannya? Kau telah menelantarkannya. Kau terlampau berani menyepelekan. Hingga kau pergi tanpa sepengetahuanku, tanpa kabar berita. Itu cukup membuatku tersiksa."

"Maafkan aku, Nila," ucap Dinan Jayu pelan. "Tanpa kau minta pun aku telah memaafkanmu,

Kakang. Tapi untuk melanjutkan hubungan kita yang sudah hampir lima belas purnama terputus, kurasa itu hal yang mustahil," jelas Nila tanpa sedikit pun menatap wajah Dinan Jayu.

"Itu cuma alasanmu saja, Nila! Kau pasti telah memiliki laki-laki lain selama pengembaraanku!" ujar Dinan Jayu keras.

"Sudah kukatakan itu bukan urusanmu!" kilah Nila.

"Tapi aku harus tahu lelaki itu!" bentak Dinan Jayu.

Jaka terkesiap mendengar bentakan Dinan Jayu. "Apa kau ingin membuat perhitungan dengannya?" tanya Nila dengan tatapan geram.

"Setidaknya begitu, Nila. Lelaki itu telah melukai hatiku, menghancurkan impianku, menghancurkan saya" 

"Ucapanmu itu tak pantas, Kakang Dinan. Siapa pun lelaki yang menjadi kekasihku, dia tak pantas disalahkan. Dia mencintaiku karena aku mencintainya. Kalau Kakang ingin membuat perhitungan, akulah orang yang tepat untuk itu!" tantang Nila. 

"Heh?!"

Mata Dinan Jayu terbelalak mendengar perkataan gadis cantik berpakaian merah muda itu.

"Apa kau pikir kepandaianmu dalam ilmu silat akan selamanya berada di atasku, Nona Manis? Janganlah kau sombong seperti itu! Dinan Jayu yang berada di hadapanmu sekarang, bukanlah Dinan Jayu yang dulu mengkeret jika kau meraba hulu pedang. Dinan Jayu sekarang adalah Dinan Jayu yang mampu membinasakan seribu laki-laki macam dia." ujar Dinan Jayu dengan jari telunjuk menuding ke arah Jaka.

Nila sangat terkejut melihat Dinan Jayu mengarahkan telunjuknya ke wajah Jaka yang berdiri di kejauhan. Mata gadis cantik itu menampakkan kegeraman yang luar biasa. Nila ingin marah, namun urung ketika dari kejauhan dilihatnya senyum Jaka.

"Kalau kau memang mampu melakukannya, Kakang. Sekarang tunjukkan padaku," tantang Nila.

Mendengar ucapan Nila, Jaka sempat tersentak. Pemuda itu khawatir kalau Dinan Jayu akan menerima tantangan itu.

"Cintaku memang akan kupertaruhkan d ujung pedang ini, Nila! Tetapi bukan terhadap perempuan sepertimu! Ujung pedangku hanya kuperuntukkan bagi lelaki yang berani mencintaimu! Katakan, siapa lakilaki itu. Akan ku tantang dia secara jantan!" tegas dan lantang ucapan yang keluar dari mulut Dinan Jayu.

"Maaf, Dinan Jayu! Akulah lelaki yang telah berani mencintai Nila Juwita!" terdengar sebuah suara cukup tegas.

Dinan Jayu tersentak. Dan cepat menoleh ke arah Jaka. Dinan Jayu menduga yang barusan berbicara adalah pemuda berpakaian kuning keemasan itu. Namun kenyataannya....

Tak jauh dari tempat Jaka berdiri, nampak seorang lelaki berpakaian putih bertubuh tegap. Wajahnya yang berahang kuat, dihiasi sebaris kumis tipis. Dinan Jayu terbelalak menatap lelaki tampan yang telah dikenalnya.

"Sirgaloka?" ucap Dinan Jayu bergetar,

"Ya. Aku Sirgaloka, murid utama Perguruan Teratai Perak. Bertahun-tahun aku menimba Ilmu dari Ki Ajeng Guya, bukan untuk menjadi seorang pengecut dengan membiarkan gadis yang dicintainya diperlakukan semena-mena," sanggah lelaki berpakaian putih yang mengaku dari Perguruan Teratai Perak

"Hmhrrr. !"

***
EMPAT
Dinan Jayu menatap wajah Sirgaloka dengan geram. Walaupun lelaki berpakaian putih itu murid Ki Ajeng Guya yang mengetuai Perguruan Teratai Perak, namun Dinan Jayu tidak gentar sedikit pun. Apalagi, lelaki itu telah berani mencintai Nila Juwita.

"Sirgaloka...! Sungguh tak kusangka kau juga menginginkan Nila. Rupanya, kau sengaja menarik Nila menjadi murid Perguruan Teratai Perak. Kau dan Ki Ajeng Guya berdalih memberikan ilmu-ilmu. Namun, semua itu hanya kedok belaka. Ki Ajeng Guya hanya ingin menjodohkanmu dengan Nila. Atau bahkan mungkin kau yang merengek minta dijodohkan..." tuduh Dinan Jayu dengan sorot mata berapi-api. 

"Tuduhanmu tidak betul, Dinan Jayu. Kami, aku dan Nila sama-sama mencintai dengan setulus hati. Itulah yang benar," sangkal Sirgaloka tak kalah tajam.

"Berarti kita sekarang menjadi musuh, Sirgaloka!"

"Aku tidak mengharapkan demikian," bantah Sirgaloka,

"Kita bersaing untuk mendapatkan Nila. Itu berarti kita harus saling menjatuhkan. Aku mempertaruhkan cintaku di ujung pedang ini!"

Srat!

Dinan Jayu meloloskan senjata yang hulunya terukir kepala buaya. Pedang yang terhunus itu memendarkan cahaya kehijauan. Nila tercekat menyaksikan tindakan Dinan Jayu. Pikirannya mengatakan kalau akan terjadi pertumpahan darah di pagi ini.

Srat!

"Kupertaruhkan juga cintaku di ujung pedang!" timpal Sirgaloka seraya mencabut pedang dari warangkanya.

Kali ini bukan hanya Nila yang terkejut, akan tetapi juga Jaka. Pemuda yang berjuluk Raja Petir itu sejenak menatap tajam dua lelaki yang telah sama-sama menghunus pedang.

"Jika begitu, di ujung pedanglah kita tentukan siapa yang berhak mendapatkan Nila Juwita," putus Dinan Jayu.

"Kalau itu memang maumu, aku setuju," timpal Sirgaloka.

"Bagaimana kalau di Bukit Naga kita pertaruhkan cinta kita?" tawar Dinan Jayu.

"Bukit Naga..,?" gumam Jaka.

"Aku setuju!" balas Sirgaloka seraya mengacungkan pedangnya tinggi-tinggi.

"Hm.... Kutunggu kau esok saat fajar datang," tantang Dinan Jayu.

"Aku akan datang tepat pada waktunya, Dinan Jayu!"

"Hhh! Kau akan jadi bangkai esok pagi, Sirgaloka!" ucapan keras Dinan Jayu diiringi dengan bunyi masuknya ujung pedang bergagang kepala buaya ke dalam warangkanya.

Cring!

"Lihat saja nanti, Dinan Jayu! Siapa di antara kita yang unggul."

"Baik!"

"Hup!"

Begitu cepat dan ringan gerakan yang dipertontonkan Dinan Jayu. Hanya sekali hentak saja tubuh yang terbalut pakaian hijau itu telah melesat beberapa tombak jauhnya.

Nila Juwita tertegun menyaksikan kemampuan Dinan Jayu. Sungguh tak disangka kalau lelaki yang pernah dicintainya itu memiliki ilmu silat yang cukup tinggi. Nila merasa ilmu meringankan tubuh yang dipamerkan Dinan Jayu barusan jauh lebih baik dari ilmu meringankan tubuhnya. Itu berarti tantangan Dinan Jayu harus diperhitungkan Sirgaloka.

"Kutunggu kedatanganmu di Bukit Naga, Sirgaloka!" bergema ucapan jarak jauh yang dikirim Dinan Jayu.

Ucapan jarak jauh itu semakin membuat hati Nila yakin akan ketinggian ilmu Dinan Jayu.

***

"Ah!"

Sirgaloka terkejut ketika Nila memperkenalkannya dengan Jaka.

"Maafkan aku, Kakang Jaka. Tadi aku telah bersikap kurang sopan di hadapanmu," ucap Sirgaloka agak tersendat.

"Kau tak melakukan kesalahan apa-apa, Kakang Sirgaloka. Kenapa harus minta maaf?" tegas Jaka.

Sirgaloka tersipu mendengar ucapan pemuda tampan berpakaian kuning keemasan itu.

"Dan tolong panggil aku Jaka saja, Kakang Sirgaloka," lanjut Jaka.

"Panggil juga aku Sirgaloka, tanpa tambahan kakang," timpal Sirgaloka.

Jaka menyetujui permintaan Sirgaloka. Meski dia merasa kalau pemuda itu berusia lebih tua beberapa tahun darinya.

"Aku mengkhawatirkan tantangan Kakang Dinan Jayu, Kakang Jaka," ucap Nila dengan raut wajah membiaskan kecemasan.

"Kau menyangsikan kemampuanku, Nila?" tanya Sirgaloka seraya mengembangkan senyum. Pemuda itu ingin agar kekasihnya menganggap pertanyaannya sebagai lelucon belaka.

"Bukan begitu, Kakang. Aku hanya melihat ilmu yang dimiliki Kakang Dinan Jayu tidak rendah. Itu telah dibuktikannya ketika pergi meninggalkan kita. Gerakannya demikian cepat dan ringan. Aku sendiri merasa ilmu meringankan tubuhnya berada di atas ilmu yang kumiliki," jelas Nila.

"Itu tidak berarti ilmu lain yang dimilikinya sama baik, Nila." sangkal Sirgaloka.

"Ucapanmu betul, Sirgaloka. Namun perkataan Nila juga tidak salah. Menurutku, ucapan Nila hanya sebuah peringatkan untukmu. Nila menginginkan kau tidak meremehkan Dinan Jayu dan harus selalu bersikap waspada, Aku sendiri menaruh curiga padanya," Jaka berusaha menengahi.

"Curiga! Apa maksudmu, Kakang Jaka?" tanya Nila tak mengerti

"Kecurigaan ku ada kaitannya dengan kejadian yang menimpa ayahmu kemarin sore, Nila," jelas Jaka.

"Maksud Kakang dengan lima lelaki yang mengaku kaki tangan Dua Iblis Sungai Tenggarong?" tanya Nila.

Jaka menganggukkan kepala. Pemuda itu kagum dengan kecerdikan putri Ki Sunara ini.

"Dua Iblis Sungai Tenggarong...?" ulang Sirgaloka pelan. Tatapannya menusuk mata Nila.

"Kakang Sirgaloka mengenal mereka?" tanya Nila.

Sirgaloka menjawab pertanyaan gadis itu dengan gelengan kepala.

"Aku hanya pernah mendengar nama itu disebutsebut orang-orang persilatan," jawab Sirgaloka kemudian. itu?"

"Kakang Jaka pernah bertemu dengan dua buaya

"Tidak, Nila."

"Lalu, di mana letak hubungan Kakang Dinan Jayu dengan Dua Buaya Sungai Tenggarong, Jaka?" selidik Sirgaloka.

Jaka menatap wajah Sirgaloka dan Nila bergantian.

"Kalau dugaanku tidak meleset, kukaitkan hubungan mereka dari pedang yang dimiliki Dinan Jayu. Kalian perhatikan kepala senjata Dinan Jayu?"

Nila dan Sirgaloka sating bertatapan. Keduanya mengakui telah melihat gagang pedang Dinan Jayu yang berukir kepala buaya. Sirgaloka dan Nila menganggukkan kepala bersamaan.

"Kalian perhatikan juga pakaian di bagian dada sebelah kiri Dinan Jayu?" tanya Jaka lagi.

Kali ini Sirgaloka dan Nila menggelengkan kepala. "Gambar dua buaya sedang bergelut menghiasi pakaian Dinan Jayu. Tepat di bagian dada sebelah kiri," jelas Jaka.

"Jadi...?" ujar Nila sedikit ragu.

"Dinan Jayu adalah salah satu dari Dua Buaya Sungai Tenggarong, yang belakangan ini mencemaskan penduduk. Begitu?" selak Sirgaloka.

"Besar kemungkinan begitu," tegas Jaka.

"Kakang Dinan Jayu telah berguru pada orang yang salah," gumam Nila. "Dia telah berguru pada seorang tokoh aliran hitam Ah!"

Nila menarik napas dalam-dalam. Tatapan matanya tertuju lurus ke wajah Sirgaloka.

"Aku mencemaskanmu, Kakang. Aku yakin guru Kakang Dinan Jayu akan mencampuri urusan muridnya," papar Nila.

Sirgaloka tak membantah ucapan kekasihnya. Mata lelaki berpakaian sutera putih itu membalas tatapan Nila yang menyiratkan kecemasan dalam.

"Kalau kau tidak berkeberatan, aku ingin menghadiri pertarunganmu dengan Dinan Jayu. Hanya untuk menjaga kemungkinan yang ditakuti Nila. Yaaah....

Barangkali kehadiranku akan dapat membantumu, Sirgaloka. Namun aku tak ingin kehadiranku diketahui Dinan Jayu." pinta Jaka dengan nada merendah.

"Terima kasih, Jaka. Semua kuserahkan padamu, bagaimana baiknya saja," kata Sirgaloka.

"Apakah aku boleh menyertaimu. Kakang Sirgaloka?" tanya Nila Juwita penuh harap. Gadis cantik putri Ki Sunara itu berharap kehadirannya dapat memperingan beban Sirgaloka.

"Tidak, Nila. Ini urusan laki-laki. Aku tak ingin dikatakan pengecut dengan mengajakmu serta," larang Sirgaloka.

"Memang lebih baik begitu, Nila," timpal Jaka. "Hhh...!" Nila menarik napas dalam-dalam. Ditatapnya wajah Sirgaloka dan Jaka bergantian.

"Yaaah Aku hanya dapat berdoa untuk Kakang berdua," ucap Nila akhirnya.

Ucapan dara manis berpakaian merah muda itu terdengar lembut di telinga Sirgaloka. Lelaki muda itu menghampiri kekasihnya dan digenggamnya tangan Nila yang berkulit lembut.

"Terima kasih atas doamu, Nila. Akan kupertaruhkan cintaku demi kebersamaan cinta kita."

***
LIMA
Semburat kemerahan baru saja terlihat di langit sebelah timur. Fajar datang dengan disambut hembusan angin basah. Suasana di sekitar Bukit Naga terasa begitu dingin. Pepohonan yang tumbuh di sekitar tempat itu seperti sengaja dikipaskan angin. Tanah di Bukit Naga tidak rata dan lembab. Seolah ingin ikut menguapkan hawa dinginnya dari perut bumi.

Namun, rupanya bukan hanya angin basah yang menyambut kedatangan fajar. Dua sosok tubuh tegap tampak berdiri saling berhadapan. Dua sosok lelaki yang tak lain Sirgaloka dan Dinan Jayu. Mereka sating bertukar pandang. seolah sedang mengukur kekuatan lawan."Hm.... Tak kusangka kau bernyali besar, Sirgaloka!" ejek Dinan Jayu.

"Guruku Ki Ajeng Guya, tidak mengajari ku menjadi seorang pengecut," timpal Sirgaloka. "Malah kupikir ucapanmu kemarin hanya gertak sambal saja."

"Aku bukan lelaki bertampang pengecut sepertimu, Sirgaloka. Kau berani mendekati Nila di saat aku tidak berada di sisinya. Lelaki macam apa kau, heh?!" 

"Kau memang lelaki bertampang tukang tuduh, Dinan! Kau juga lelaki yang mudah mengobral kesetiaan. Tapi tak mampu memberi kesetiaan yang telah kau ucapkan. Kau siksa perasaan Nila selama berbulan-bulan. Apakah itu yang disebut lelaki setia?" balas Sirgaloka sengit

Dinan Jayu tak membalas perkataan itu. Lelaki berpakaian hijau itu hanya menatap tajam wajah Sirgaloka. Seolah hendak menelan bulat-bulat tubuh murid Perguruan Teratai Perak itu,

"Mulutmu memang busuk, Sirgaloka! Seperti juga hatimu! Kebusukanmu akan kukubur sekarang juga. Aku, Buaya Sungai Tenggarong, tak akan sungkansungkan merampas nyawamu. Bersiaplah!" tukas Dinan Jayu. Tatapannya terlihat semakin membara.

"Hei?! Jadi kaulah yang berjuluk Buaya Sungai Tenggarong?" tanya Sirgaloka pura-pura terkejut.

"Kau gentar dengan julukan itu?" ejek Dinan Jayu pongah.

"Ha ha ha.... Awalnya aku gentar mendengar julukan yang cukup gagah itu, Dinan Jayu. Tapi setelah berhadapan dengan orang yang menyandangnya, kegentaranku lenyap tanpa bekas. Menurutku, kau hanya buaya dalam perkara perempuan," pedas ejekan yang keluar dari mulut Sirgaloka.

Wajah Dinan Jayu merah padam. Telinganya terasa panas mendengar ejekan yang pedas itu.

"Kurang ajar! Heaaat...!"

Didahului bentakan kuat, tubuh Dinan Jayu meluruk cepat ke arah Sirgaloka. Telapak tangan Dinan Jayu membentuk cakar kokoh, terarah ke bagian mata lawan.

Bet! Bet! "Uts!" Mendapat serangan mendadak dan ganas, Sirgaloka segera bergerak cepat dan lincah. Dengan membawa kakinya mundur selangkah, lelaki tegap itu menarik kepalanya sedikit. Sambaran cakar Dinan Jayu lewat satu jengkal dari wajahnya.

Melihat serangannya berhasil dielakkan, Dinan Jayu kembali menyerang lebih dahsyat. Seranganserangannya semakin dipercepat. Angin berciutan mengawali serangan Dinan Jayu. Cakarnya yang sangat kokoh, mirip cakar seekor buaya. Itulah jurus 'Cakar Buaya Tenggarong'.

"Mampus kau, Sirgaloka!" Bret!

"Uts!"

"Tidak semudah yang kau duga, Dinan!" Sirgaloka kembali berhasil mengelakkan serangan Dinan Jayu. Malah lelaki berpakaian sutera putih itu mampu memberi serangan balasan yang cukup berbahaya ke arah pelipis lawan.

"Hih!"

"Heh?!"

Dinan Jayu terkejut mendapat serangan yang tak terduga. Secepat kilat lelaki berpakaian hijau itu membuang dirinya ke samping kanan. Tubuh Dinan Jayu menjauh dengan hentakan kuat, melenting ke udara lalu berputaran dua kali, dan mendarat dengan manis. Namun belum begitu lama kaki Dinan Jayu menginjak di tanah, tubuh Sirgaloka sudah melesat cepat dengan kedua belah tangan terentang yang dialiri tenaga dalam tinggi. Seolah ingin menebas leher lawannya. Sirgaloka tengah memainkan jurus 'Teratai Terbang'.

"Hiaaa...!" Bet! Bet! Trak!

Tubuh Sirgaloka terpental balik ke belakang. Sambaran tangannya yang mengarah leher Dinan Jayu mampu ditangkis lelaki berpakaian hijau itu. Suara pekik tertahan mengiringi luncuran tubuh Sirgaloka, yang terdorong kekuatan tenaga Dirtan Jayu. Tetapi Sirgaloka bukan lelaki yang baru kemarin mempelajari ilmu silat. Dengan gerakan manis, lelaki tegap itu mampu mematahkan daya dorong luncurannya.

"Setan alas!" maki Dinan Jayu sambil memegangi pergelangan tangannya yang terasa linu. Lelaki bersenjatakan sebatang pedang dengan hulu berukir kepala buaya itu mengalami hal yang sama dengan Sirgaloka. Pijakan kaki Dinan Jayu terlihat sudah berpindah empat langkah dari kedudukan awal.

Srat!

Setelah rasa linu di tangannya berkurang, Dinan Jayu meloloskan pedangnya yang seketika memendarkan cahaya kehijauan. Sekilas tatapan Dinan Jayu tertuju tajam ke mata Sirgaloka. Sebentar kemudian, mulutnya bergerak-gerak mengucapkan sesuatu.

"Kali ini kau akan kubuat mampus, Sirgaloka! Pedang Cadas Tenggarong ini akan mengakhiri riwayat hidupmu!" lantang ucapan yang keluar dari mulut Dinan Jayu.

Sirgaloka tak membalas ucapan Dinan Jayu dengan kata-kata. Tatapan matanya tertuju tajam ke wajah Dinan Jayu. Sebagai tanda bahwa dirinya tak gentar menghadapi Pedang Cadas Tenggarong. Dan, itu diperkuat Sirgaloka dengan meloloskan pedang dari warangkanya.

Srat!

"Kau memang berani mati, Sirgaloka!" ejek Dinan Jayu.

"Umurku bukan di tanganmu, Buaya Darat!" balas Sirgaloka.

"Hiyaaa...!" Tubuh Dinan Jayu melesat lebih dahulu. Pedang yang memendarkan sinar kehijauan teracung di atas kepala. Dan, ketika pedang itu ditebaskan ke arah Sirgaloka....

Bet! Bet! "Uts!"

Sirgaloka terhenyak mendapat serangan pedang Dinan Jayu yang menyebarkan hawa dingin menyengat. Hawa dingin itu begitu cepat menusuk seakan sanggup menghentikan peredaran darahnya.

Sirgaloka segera mengerahkan tenaga murninya untuk mengusir pengaruh dingin jurus 'Pedang Dasar Kedung'.

"Hiyaaasaya!"

Bet! Bet!

Puncak dari pengerahan tenaga murni Sirgaloka, adalah berkelebatnya kebutan pedang putihnya dengan kekuatan tenaga dalam tinggi. Hawa dingin yang mencoba membungkus tubuh Sirgaloka seketika sirna. Namun belum lama hawa dingin itu sirna, serangan berikutnya sudah datang. Dinan Jayu kembali menusuk dengan pedangnya yang merentang mengancam tubuh Sirgaloka.

"Hiyaaasaya!"

Trang!

Percikan bunga api keluar dari benturan dua senjata yang dialiri kekuatan tenaga dalam tinggi. Kedua tubuh pemilik senjata itu terlempar beberapa langkah. Wajah keduanya nampak mengguratkan rasa sakit

Dinan Jayu yang sejak awal menganggap remeh Sirgaloka semakin terbakar hatinya. Tanpa mempedulikan rasa sakit, Dinan Jayu kembali bangkit. Sambil menggereng keras dan dengan kemarahan yang tak terkendali, tubuh Dinan Jayu berkelebat seraya membabatkan senjatanya ke tubuh Sirgaloka.

Sirgaloka yang sudah bersiap-siap menghadapi kemungkinan itu berusaha untuk tetap tenang. Karena ketenangannya itu, Sirgaloka dapat melihat celah kelemahan pada diri Dinan Jayu. Dan ketika serangan Dinan Jayu datang, Sirgaloka segera berkelit seraya memberikan serangan balasan lewat tendangan lurus, yang terarah ke bagian tubuh Dinan Jayu yang terbuka.

"Hiaaa...!" Diekh! "Aaa...!"

Tubuh Dinan Jayu terhempas ketika tendangan lurus Sirgaloka dengan keras mendarat di rusuk kirinya. Sebuah tendangan yang dimainkan dalam jurus ‘Menentang Angin’. Tubuh yang terbalut pakaian hijau itu terpental sejauh satu setengah tombak, dan mendarat di tanah dengan menimbulkan bunyi berdebuk. Dinan Jayu menyeringai merasakan tulang rusuknya seperti berpatahan, begitu juga tulang belakangnya.

Sirgaloka tidak mau memberi kesempatan pada Dinan Jayu untuk berlama-lama merasakan sakit. Tubuh lelaki tegap itu kembali berkelebat dengan pedang terayun di udara. Dengan geram dan didahului teriakan melengking nyaring, Sirgaloka menerjang maju.

"Hiaaa...!" Trakk

Bugk! Bugk! "Aaa...!"

Tubuh Sirgaloka tiba-tiba terpental deras sebelum senjatanya menghajar tubuh Dinan Jayu yang sudah tak berdaya. Sosok bayangan berpakaian coklat kehitaman telah menghadang laju pedang Sirgaloka. Sekaligus menggedor dada Sirgaloka dengan kekuatan tenaga dalam tinggi.

Brukkk! "Uhugkh!" 

"Hoeeek...!"

Tubuh Sirgaloka terhempas deras dan jatuh berdebuk dengan memuntahkan cairan merah. Sirgaloka mengalami luka dalam yang cukup parah. Sambil memegangi dadanya yang terasa sesak bukan main, Sirgaloka mengangkat kepala.

"Ah...!"

Dengan dada berdenyut-denyut nyeri, Sirgaloka mencoba menatap wajah lelaki yang telah menggagalkan serangannya. Lelaki itu berusia sekitar empat puluh lima tahun lebih. Tubuhnya yang agak gemuk berdiri dengan angkuh. Di tangan lelaki itu tergenggam sebatang trisula hitam. Lelaki penolong Dinan Jayu yang berjenggot tebal dengan ikat kepala hitam, menatap Sirgaloka dengan sinar mata merendahkan.

"Kemampuan ilmu silat yang kau miliki cukup baik, Anak Muda," ucap lelaki berpakaian coklat dan berambut gondrong tak terurus itu. "Tetapi untuk menghadapi Ki Tunggul Sulada si Buaya Sungai Tenggarong, kau harus belajar lebih banyak lagi!"

Sirgaloka membalas ucapan Ki Tunggul Sulada dengan tatapan mata yang menyorot tajam. Tatapan mata Sirgaloka penuh bara dendam.

"Uhugkh.... Tua bangka licik!" maki Sirgaloka dengan terbatuk.

"Berkatalah sepuasmu, Anak Muda. Sebentar lagi nyawamu akan melayang ke neraka!" balas Ki Tunggul Sulada.

Hati Sirgaloka, sedikit bergetar mendengar ucapan Ki Tunggul Sulada. Dirinya tak akan mampu memberi perlawanan jika Ki Tunggul Sulada menyerangnya. Sirgaloka berharap Raja Petir akan muncul, seperti janjinya kemarin yang akan menyertainya dari tempat bersembunyi. Tetapi sampai sekarang....

"Haaat..!"

Sirgaloka menggeser kakinya sedikit ketika melihat Ki Tunggul Sulada bergerak hendak merenggut nyawanya. Tekad lelaki berpakaian sutera putih itu hanya satu. Akan tetap menghindar meski kesempatan untuk itu sedikit sekali. Sirgaloka tak ingin menjemput kematiannya dengan berpasrah diri. Ketika serangan Ki Tunggul Sulada semakin dekat, Sirgaloka mencoba berkelit dengan sekuat tenaga. Akan tetapi....

Trak! "Akh!"

Sebuah benda bulat sebesar telur puyuh tiba-tiba melesat dan menghantam trisula Ki Tunggul Sulada, yang sejengkal lagi melumat tubuh Sirgaloka. Tubuh  Ki Tunggul Sulada terdorong dua langkah ke belakang. Pekik tertahan terdengar seiring dengan seringai wajah lelaki berpakaian coklat itu.

"Jaka," desis Sirgaloka lega.

"Jaka...?!" geram Dinan Jayu. Lelaki berpakaian hijau itu bermaksud menyerang Jaka Sembada. Namun tindakannya lebih dahulu dicegah Ki Tunggul Sulada.

"Jangan gegabah, Jayu," larang Ki Tunggul Sulada sambil mencekal tangan Dinan Jayu.

"Ki..,."

Dinan Jayu ingin membantah ucapan Ki Tunggul Sulada. Tapi, belalakkan mata lelaki berpakaian coklat itu membuat hati Dinan Jayu kecut

"Dia bukan tandinganmu, Jayu," jelas Ki Tunggul Sulada sedikit geram.

"Siapa dia sesungguhnya, Ki?" tanya Dinan Jayu penasaran. "Raja Petir."

"Raja Petir...?!" ulang Dinan Jayu terkejut

Lelaki berpakaian hijau itu tidak percaya kalau Jaka, yang pernah berbincang-bincang dengan Nila Juwita, adalah sosok lelaki yang nama besarnya banyak dibicarakan tokoh-tokoh persilatan.

"Lebih baik kita menghindari bertempur dengannya, Jayu," ajak Ki Tunggul Sulada.

"Kau gentar menghadapinya, Ki?" tanya Dinan Jayu kelepasan.

"Goblok!" maki Ki Tunggul Sulada panas. "Aku bukan gentar menghadapi dia. Tapi ingin mencari cara lain untuk melenyapkannya, sekaligus menamatkan riwayat sainganmu itu!"

Lelaki berpakaian coklat dengan rambut panjang tak terawat itu segera menghentakkan kakinya ke tanah. Tubuhnya melesat ringan meninggalkan Dinan Jayu yang masih menatap sosok Jaka.

"Ayo pergi, Goblok!" ajak Ki Tunggul Sulada marah.

Mendapat bentakan seperti itu, Dinan Jayu tak lagi membuang waktu. Kakinya segera dihentakkan kuat-kuat. Tubuhnya melesat, mencoba mengejar tubuh Ki Tunggul Sulada yang sudah bergerak lebih dahulu.

Jaka tak sedikit pun mencegah kepergian dua lawan Sirgaloka. Pemuda berjuluk Raja Petir itu memilih melihat keadaan Sirgaloka. Dia tak ingin menanam bibit permusuhan pada Dinan Jayu dan Ki Tunggul Sulada.

"Uhugkh!"

Sirgaloka kembali terbatuk ketika Jaka mendekatinya. Tangan lelaki berpakaian sutera putih itu memegangi dadanya kuat-kuat yang terasa sesak bukan main. "Kerahkan hawa murnimu, Sirgaloka. Aku akan membantu dengan hawa murniku," perintah Jaka sambil menempelkan telapak tangannya di punggung Sirgaloka.

Sirgaloka segera menjalankan perintah Jaka. Lelaki tegap itu berusaha menguatkan diri dengan memejamkan mata.

"Uhugkh!"

Sirgaloka kembali terbatuk. Kali ini disertai dengan keluarnya darah kental Sirgaloka membuka kelopak matanya. Dadanya kini terasa lega.

"Kau harus beristirahat, Sirgaloka. Ayo kita tinggalkan tempat ini," putus Jaka.

Sirgaloka tak segera menuruti ucapan Jaka. Rasa nyeri masih terasa pada bagian dadanya.

"Ah. Maaf, Sirgaloka. Aku harus menggendongmu. Hop!"

Dengan gerakan yang tidak tertangkap mata, Jaka mengangkat tubuh lelaki berpakaian sutera putih itu. Dan, membawanya pergi dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi.

***
ENAM
Sementara Jaka berlari cepat menggendong tubuh Sirgaloka menuju kediaman Ki Sunara, Ki Tunggul Sulada memarahi Dinan Jayu sambil berlari pergi.

"Huh! Mendapatkan seorang perempuan saja sukar sekali untukmu, Dinan!" omel Ki Tunggul Sulada. Larinya diubah menjadi langkah biasa.

Dinan Jayu tak menimpali omelan lelaki yang telah banyak mengajari ilmu-ilmu silat tingkat tinggi. Dari Ki Tunggul Sulada, Dinan Jayu mendapatkan ilmu-ilmu hebat dan berbahaya. Bahkan, sekarang kepandaiannya boleh dibilang hampir sejajar dengan Ki Tunggul Subda. Lelaki yang berjuluk Buaya Sungai Tenggarong itu telah mewarisi seluruh kepandaian yang dimilikinya.

"Lebih baik kau cari perempuan lain, Dinan," ujar Ki Tunggul Sulada pelan.

Namun ucapan itu terdengar seperti guntur menggelegar di telinga Dinan Jayu. Lelaki itu nampak terkejut. Rona wajahnya langsung merah, dan bola matanya seperti hendak keluar.

"Itu tidak mungkin kulakukan, Ki," ucap Dinan Jayu takut-takut

Ki Tunggul Sulada menatap tak berkedip wajah Dinan Jayu.

"Aku mencintainya, Ki," ucap Dinan Jayu lagi tanpa mampu membalas tatapan Ki Tunggul Sulada.

"Hm.... Cinta," gumam Ki Tunggul Sulada. "Sebenarnya siapa gadis yang kau cintai itu?"

"Anak Ki Sunara," jawab Dinan Jayu tegas. "Sunara...?" ulang Ki Tunggul Sulada dengan

raut wajah menggambarkan rasa terkejut

"Ya. Sunara," ucap Dinan Jayu menegasi. "Sepertinya aku pernah mendengar nama itu," tegas Ki Tunggul Sulada.

"Di jagat ini banyak lelaki bernama Sunara, Ki," kilah Dinan Jayu.

"Goblok! Aku bicara menurut firasat dan kepekaan ku!" bentak Ki Tunggul Sulada.

Dinan Jayu menundukkan kepala.

"Sunara...," Ki Tunggul Sulada kembali mengulang nama yang baru didengarnya dengan tatapan mata menerawang jauh ke depan.

"Apa kau pernah melihat Sunara menyimpan atau memegang sebatang tombak berwarna merah darah? Pada bagian hulunya berbentuk bulatan yang dikelilingi batu-batu mutiara warna-warni dan tombak itu mengeluarkan sinar kemerahan?" tanya Ki Tunggul Sulada dengan tatapan mata tertuju lurus ke depan.

Dinan Jayu dengan mata membelalak lebar mengawasi sosok Ki Tunggul Sulada. Hatinya terkejut mendengar pertanyaan itu.

"Tombak, Ki?" tanya Dinan Jayu menegaskan pertanyaan Ki Tunggul Sulada.

"Ya. Tombak! Kalau memang dia Sunara yang ku maksud, maka dia memiliki senjata andalan Iblis Tombak Merah yang selama ini ku buru," jawab Ki Tunggul Sulada.

Sesaat lamanya Dinan Jayu membiarkan ucapan Ki Tunggul Sulada tanpa jawaban. Lelaki berpakaian hijau yang pada bagian dadanya terdapat gambar dua ekor buaya yang tengah bergulat, mencoba mengingatingat sesuatu yang pernah dilihatnya di rumah Ki Sunara.

"Ah. Ya, Ki. Aku ingat! Aku ingat!" ucap Dinan Jayu tiba-tiba.

Ki Tunggul Sulada tersentak mendengar ucapan Dinan Jayu yang cukup keras.

"Ingat apa, Dinan?" tanya Ki Tunggul Sulada. 

"Tombak yang kau maksudkan itu, Ki. Ya. Tombak itu!" jawab Dinan Jayu penuh semangat.

"Ketika masih berhubungan dengan Nila Juwita, aku bebas masuk ke tempat tinggal Ki Sunara. Cuma satu ruangan yang tak pernah ku masuki, yakni kamar pribadi Ki Sunara. Suatu kali, ketika aku bersama Nila melintas di depan kamar Ki Sunara, aku melihat pintu kamar tak terkunci. Sekilas aku melihat Ki Sunara tengah memegang sebatang tombak berwarna merah seperti darah. Hulunya bundar dan dikelilingi  batu-batu mutiara warna-warni.

Ki Tunggul Sulada tak berusaha memotong cerita Dinan Jayu. Lelaki tua yang berpakaian coklat itu dengan seksama mendengarkan cerita Dinan Jayu.

"Ketika aku bertanya perihal nama senjata itu, Ki Sunara memberitahukannya padaku," lanjut Dinan Jayu.

"Apa nama tombak itu, Dinan?" tanya Ki Tunggul Sulada penasaran.

"Kalau tidak salah, nama senjata itu Tombak Sangga Buana," ucap Dinan Jayu pelan.

Ucapan Dinan Jayu yang pelan cukup menyentakkan Ki Tunggul Sulada. Wajah lelaki berusia setengah baya itu nampak dijalari kegembiraan.

"Tombak Sangga Buana!" ulang Ki Tunggul Sulada mantap. "Ha ha ha...!"

Ki Tunggul Sulada tertawa keras. Lalu berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang diberi gulagula. Menyaksikan tingkah gurunya seperti itu, Dinan Jayu tak dapat berbuat apa-apa. Meski hatinya heran dan ingin melemparkan pertanyaan.

"Kita harus dapat merebut Tombak Sangga Buana, Dinan! Sudah lama aku memimpikan senjata maut itu ada dalam genggamanku. Sekarang impian itu  akan segera terwujud," tukas Ki Tunggul Sulada mantap sesaat setelah tawa kerasnya reda. "Sewaktu Iblis Tombak Merah hidup, sukar bagiku untuk mendapatkan senjata dahsyat itu. Tapi sekarang "

"Bukankah sekarang ada Raja Petir, Ki?" tukas Dinan Jayu bermaksud mengingatkan.

"Goblok! Kau meragukan kemampuanku, heh?!" bentak Ki Tunggul Sulada keras.

"Aku tidak bermaksud merendahkanmu, Ki," bantah Dinan Jayu. "Aku hanya mengulang ucapanmu yang mengatakan kalau dia bukan tokoh sembarangan."

"Hm...," Ki Tunggul Sulada bergumam mendengar bantahan Dinan Jayu. "Kalau begitu, sekarang juga kita temui Ki Wungu Suta dan Ki Dalu Dungga"

"Sebaiknya memang begitu, Ki," sambut Dinan Jayu.

"Mereka harus tahu bahwa Tombak Sangga Buana berada di tangan murid tunggal Iblis Tombak Merah," ucap Ki Tunggul Sulada penuh semangat "Kakang Wungu dan Kakang Dalu pasti senang dengan kabar yang kubawa. Mereka akan dengan senang hati membantu kita. Kau dapat memiliki putri Ki Sunara dan aku memiliki Tombak Sangga Buana yang selama itu kuidam-idamkan. Sedangkan Raja  Petir?  Ha  ha ha Dia pasti akan menemui ajalnya."

"Semoga begitu, Ki," sambut Dinan Jayu dengan wajah berseri.

"Ayo! Sekarang kita pergi ke kediaman Ki Wungu Suta dan Ki Dalu Dungga," ajak Ki Tunggul Sulada.

Lelaki berpakaian coklat yang berjuluk Buaya Sungai Tenggarong itu melesat lebih dulu dengan menggunakan ilmu lari cepat tingkat menengah. Sementara Dinan Jayu segera menyusul dengan tingkat kecepatan lari yang seimbang.

Untuk sesaat lamanya kedua lelaki itu saling berkejaran ke arah utara. Tapi pada saat selanjutnya, mereka sudah berlari sejajar menuju kediaman Ki Wungu Suta, yang di kalangan rimba persilatan terkenal berjuluk Raka Macan Loreng. Dan, Ki Dalu Dungga yang lebih dikenal dengan julukan Tapak Iblis Utara.

"Ayo kita lari lebih cepat, Dinan!" ajak Ki Tunggul Sulada. "Rasanya, aku sudah tak sabar untuk mengabarkan berita baik ini."

"Ayolah, Ki," sambut Dinan Jayu seraya menambah kecepatan larinya.

Ki Tunggul Sulada tersenyum melihat kesetiaan Dinan Jayu. Keduanya segera mengempos larinya. Dan sebentar kemudian, tubuh mereka menghilang di kelebatan hutan jati.

***

"Ah...!"

Nila Juwita terkejut melihat kedatangan Raja Petir yang menggendong Sirgaloka. Wajah cantik putri tunggal Ki Sunara itu menampakkan kecemasan yang luar biasa. Tubuhnya agak gemetar saat menyongsong tubuh Sirgaloka.

"Kakang Sirgaloka...," ucap Nila sedikit bergetar. "Dia tidak apa-apa, Nila. Sirgaloka hanya perlu

bersemadi untuk memulihkan keadaan tubuhnya." Ucapan Jaka memang berpengaruh besar. Nila Juwita tak bertanya-tanya lagi. Wajahnya yang semula dipenuhi kecemasan, kini dengan tenang menatap Sirgaloka yang tengah duduk bersila. Mengatur hawa murni untuk mengusir rasa sakit di bagian dadanya.

Untuk sesaat lamanya suasana di ruang tengah tempat tinggal Ki Sunara senyap. Jaka dan Nila tak sepatah kata pun berbicara. Keduanya tengah memperhatikan semadi Sirgaloka.

"Budimu pada keluargaku sudah tak terhitung lagi Jaka. Entah bagaimana aku harus membalasnya," ucap Ki Sunara yang tiba-tiba muncul dari balik lorong di samping kiri ruang tengah.

"Setelah kau selamatkan nyawaku dan Sumirah, sekarang kau lakukan pula pada Sirgaloka," lanjut Ki Sunara sambil duduk di antara Jaka dan Nila yang tengah mengawasi Sirgaloka. Sementara Sumirah tengah berada di ruang belakang. Jaka menyunggingkan seulas senyum mendengar perkataan lelaki setengah baya itu.

"Jangan berkata seperti itu, Ki," kilah Jaka merasa tak enak "Apa yang kulakukan dan yang diterima Ki Sunara serta yang lainnya, sudah ketentuan yang telah digariskan Sang Pengatur Alam Semesta. Kalau pada saat ini aku menolong, mungkin dan itu bisa pasti suatu saat aku membutuhkan pertolongan orang lain. Baik langsung maupun tidak."

Ki Sunara termangu mendengar penuturan lelaki muda nan digdaya itu.

"Jaka! Dengan kejadian yang menimpa diriku, pikiranku jadi terbuka. Di dalam kehidupan ini, suatu hal yang tak terduga atau tidak kita ingini justru seringkali terjadi. Seperti halnya pertemuan kita kali ini. Sebelumnya, aku minta maaf keterusterangan ku nanti hanya akan menambah kerepotanmu. Namun seandainya kau tak bersedia membantu, aku tak akan merasa sakit hati," ujar Ki Sunara datar.

"Keterusterangan tentang apa, Ki?" selidik Jaka ingin tahu.

"Sebatang tombak pusaka yang sudah bertahuntahun berada d tanganku," jelas Ki Sunara tanpa raguragu.

"Tombak pusaka?" gumam Jaka. "Ya. Tombak Sangga Buana."

"Rahasia apa yang terkandung dalam tombak yang kau maksudkan itu, Ki?"

"Tiga tahun silam, secara tak sengaja aku bertemu dengan seorang lelaki yang berusia lima tahun lebih tua dariku. Lelaki itu mengaku bernama Karmadana dan berjuluk Iblis Tongkat Merah. Entah mengapa, sedikit pun aku tak menaruh curiga padanya, meski dia memakai julukan iblis. Mungkin aku terpana dengan tutur katanya yang sopan dan berkesan jujur. Sejak pertemuan itu, aku bergaul dekat dengan Iblis Tongkat Merah."

Ki Sunara menghentikan ceritanya sebentar. Ditatapnya wajah Jaka dan Nila Juwita lekat-lekat. Seakan-akan ingin mengetahui tanggapan kedua anak muda itu mengenai cerita yang akan dipaparkannya.

"Pada awalnya, persahabatan ku dengan Karmadana biasa-biasa saja. Namun beberapa purnama kemudian, Karmadana bermaksud menurunkan ilmu ciptaannya padaku. Dan, dengan senang hati aku menerima maksud baiknya. Meskipun dia berjuluk Iblis Tongkat Merah yang sudah pasti memiliki ilmu-ilmu keji tokoh golongan hitam. 

Menurutku, sebuah ilmu bisa menjadi hitam atau putih tergantung pada tabiat si pemilik ilmu itu. Kalau pemiliknya bertabiat buruk, maka bisa dipastikan ilmu-ilmu yang dimiliki selalu berkaitan dengan nyawa dan kematian. Namun jika sebaliknya, maka ilmu itu sangat bermanfaat untuk membela kebenaran."

Kembali Ki Sunara menghentikan ceritanya. Ditariknya napas dalam-dalam untuk melonggarkan dadanya yang terasa sesak. Dahinya tampak berkerut, menandakan kalau ingatannya sedang dikuras untuk mengingat kejadian yang telah lama dialaminya.

"Dengan alasan itulah, aku mau menerima segala pelajaran ilmu silat yang diberikan Iblis Tombak Merah. Dua tahun lebih aku digembleng Karmadana secara rahasia. Sumirah, istriku pun tak pernah tahu hal itu."

Nila Juwita yang sejak semula tak lepas memandangi tubuh Sirgaloka, akhirnya berpaling menatap wajah ayahnya. Sungguh tak disangka kalau ayahnya pernah berguru pada seorang tokoh sesat golongan hitam.

"Namun, belakangan hubungan ku dengan Iblis Tombak Merah diketahui Buaya Sungai Tenggarong," lanjut Ki Sunara.

"Buaya Sungai Tenggarong?" tanya Jaka, "Jadi pada waktu kau dikeroyok lima lelaki yang mengaku kaki tangan Dua Buaya Sungai Tenggarong, sebenarnya kau telah kenal dengan pemimpin mereka?"

"Ya. Nama asli Buaya Sungai Tenggarong adalah Tunggul Sulada," jelas Ki Sunara.

"Lalu, apa yang dilakukan Buaya Sungai Tenggarong atas hubungan Ayah dengan Iblis Tombak Merah?" tanya Nila.

"Menurut Karmadana, sudah cukup lama Tunggul Sulada dan dua temannya menginginkan Tombak Sangga Buana. Namun, itu tak pernah terwujud. Karmadana begitu pandai menghindari pertemuan dengan Tunggul Sulada, Wungu Suta, dan Dalu Dungga," jelas Ki Sunara.

"Mengapa Iblis Tombak Merah menghindari pertemuan dengan Tunggul Sulada dan dua temannya? Bukankah Tombak Sangga Buana itu miliknya? Dan kenapa tiga lelaki itu ingin memiliki tombak itu?" tanya Nila gencar. Rasa penasaran membuat gadis cantik itu bertanya seperti itu.

"Tombak Sangga Buana sebenarnya bukan milik sah Iblis Tombak Merah. Senjata itu milik seorang tokoh golongan putih yang berjuluk Panglima Tombak Sakti. Karmadana, Tunggul Sulada dan Wungu Suta yang bergelar Raja Macan Loreng serta Dalu Dungga yang berjuluk Tapak Iblis Utara telah merebut Tombak Sangga Buana dari tangan Panglima Tombak Sakti. Tokoh itu sendiri tewas terbunuh."

Ki Sunara menghentikan ceritanya dan menatap wajah putrinya dan wajah Jaka bergantian.

"Belakangan, kesadaran di dada Karmadana tumbuh dan berkembang. Kesadaran yang menuju ke arah kebaikan. Menurut Iblis Tombak Merah, adalah sebuah bahaya besar jika Tombak Sangga Buana yang berpamor mengiriskan berada di tangan mereka. Maka secara diam-diam Karmadana mencuri tombak itu dari tempatnya dan membawa lari. 

Setelah itu, Karmadana mengasingkan diri dari dunia ramai. Untuk mengelabui Buaya Sungai Tenggarong, Raja Macan Loreng, dan Tapak Iblis Utara, Karmadana mengambilku sebagai muridnya lalu menyerahkan Tombak Sangga Buana padaku. Namun, dia berpesan agar selanjutnya aku hidup dalam penyamaran "

"Penyamaran apa yang kau maksudkan itu, Ki?" tanya Jaka, setelah Ki Sunara tidak melanjutkan ceritanya lagi.

Ki Sunara tak menjawab pertanyaan Jaka. Tangan kanannya tiba-tiba meraba kumis tipis yang teratur rapi. Dilepaskannya bulu-bulu hitam yang menempel di bawah hidungnya. Selesai melepaskan kumis palsunya, tangannya segera naik ke ujung pelipis. Dengan gerakan seolah hendak menguliti kulit kepala, Ki Sunara melepaskan topeng yang terbuat dari bahan karet tipis yang berwarna sama dengan kulit aslinya.

Sebentuk wajah tampan namun tercoreng sebaris bekas luka menghitam dipipi sebelah kanan terlihat Jaka. Tokoh muda usia yang bergelar Raja Petir itu sebenarnya tak begitu terkejut melihat wajah asli Ki Sunara. Tapi tatapan matanya yang tak berkedip membuat Ki Sunara menjelaskan perihal bekas luka yang tercetak di pipi kanannya.

"Luka ini akibat sayatan senjata Raja Macan Loreng. Waktu aku dan Karmadana bertarung melawan Tunggul Sulada dan dua temannya, beruntung kami tak dapat dikalahkan. Karmada yang memang memiliki ilmu lari cepat di atas kemampuan Tunggul Sulada, Wungu Suta dan Dalu Dungga, segera merangkulku dan membawa kabur menghindari pertarungan," papar Ki Sunara.

"Jadi, Iblis Tombak Merah sampai saat ini masih hidup dan mengasingkan diri?" tanya Nila.

Ki Sunara mengangguk membenarkan pertanyaan anaknya.

"Kalau Ki Sunara tidak keberatan, bolehkah aku melihat Tombak Sangga Buana yang berpamor mengiriskan itu?" pinta Jaka lembut

"Dengan senang hati aku akan memperlihatkannya padamu, Jaka. Bahkan kalau kau mau, aku lebih suka kalau senjata itu kau miliki," jawab Ki Sunara

"Heh?!" Jaka terkejut mendengar ucapan itu. "Kenapa senjata itu harus kau serahkan padaku. Ki?"

Ki Sunara tersenyum mendengar pertanyaan lelaki muda yang berjuluk Raja Petir itu.

"Senjata itu sudah tak aman lagi jika berada di tanganku, Jaka," jawab Ki Sunara.

"Maksud Ki Sunara?"

"Dinan Jayu pernah melihat Tombak Sangga Buana. Dan, secara tak sadar aku telah memberi tahu nama senjata itu," jawab Ki Sunara. "Dengan tahunya Dinan Jayu akan senjata itu, maka tidak mustahil ia memberitahukannya pada Tunggul Sulada. Begitu pula Buaya Sungai Tenggarong. Aku yakin betul dia akan mengabarkannya pada Raja Macan Loreng dan Tapak Iblis Utara. Dan aku juga yakin, sebentar lagi mereka akan mendatangi kediamanku untuk merebut kembali Tombak Sangga Buana."

Sementara, di saat Ki Sunara menghentikan ceritanya, Sirgaloka telah selesai menyalurkan hawa murni untuk mengembalikan keadaan tubuhnya seperti sediakala.

"Kau bersedia membantuku mengatasi persoalan ini, Jaka?" tanya Ki Sunara. Sesaat setelah menatap wajah Sirgaloka yang sudah sedikit memerah.

Jaka tidak segera menjawab pertanyaan itu. Bukan berarti Jaka tengah mempertimbangkan permintaan Ki Sunara, melainkan dia tengah mencari cara untuk menyingkirkan tiga tokoh golongan hitam yang pasti memiliki ilmu silat tinggi.

"Aku bersedia membantumu, Ki," putus kemudian.

Ki Sunara nampak menyunggingkan senyum setelah mendengar jawaban Raja Petir. Hatinya menjadi sedikit lega, meski belum sepenuhnya. Tapi paling tidak keinginan Tunggul Sulada, Raja Loreng, dan Tapak Iblis Utara harus diperjuangkan dengan mempertaruhkan nyawa. Orang yang dihadapi mereka kali ini Raja Petir. Seorang tokoh muda yang namanya telah melambung tinggi di seluruh jagat

Ki Sunara tiba-tiba bergerak hendak merangkul tubuh Jaka. Apa yang dilakukan lelaki setengah baya itu dibiarkan Jaka. Sesaat lamanya Ki Sunara merangkul tubuh pemuda itu. Beberapa saat kemudian, baru dilepaskannya.

"Terima kasih, Jaka. Hanya Sang Penguasa Alam yang tahu bagaimana harus membalas budi baikmu."

Raja Petir terharu mendengar ucapan Ki Sunara. "Kita sama-sama berdoa, Ki. Biar segala bentuk keangkaramurkaan sirna dari muka bumi ini," tukas Jaka.

"Tentu, Jaka. Tentusaya"

***
TUJUH
Ki Sunara beranjak menuju kamar khususnya. Hanya sebentar lelaki setengah baya itu berada di sana. Saat selanjutnya, Ki Sunara sudah berada di hadapan Jaka dengan sebuah senjata yang bernama Tombak Sangga Buana. Ki Sunara menggenggam hatihati senjata pusaka yang didapatnya dari Iblis Tombak Merah itu. Kemudian disodorkannya pada Jaka.

"Telitilah baik-baik, Jaka. Tombak Sangga Buana memiliki perbawa yang mengiriskan," ucap Ki Sunara, sesaat setelah menyerahkan Tombak Sangga Buana pada Raja Petir.

Jaka segera meneliti senjata yang berupa sebatang tombak merah darah. Hulunya berbentuk sebuah bulatan dengan dikelilingi batu-batu mutiara warnawarni. Tombak Sangga Buana memendarkan sinar kemerahan yang mampu menyebarkan hawa dingin cukup menyengat

"Senjata ini sangat berbahaya jika berada di tangan tokoh sakti golongan hitam, Ki," ucap Jaka perlahan.

"Ya. Sangat berbahaya sekali," timpal Ki Sunara. Sementara Raja Petir dan Ki Sunara tengah me-

mandangi Tombak Sangga Buana, di tempat yang berbeda dalam jarak sekitar ratusan depa jauhnya, Ki Tunggul Sulada yang berjuluk Buaya Sungai Tenggarong, Ki Wungu Suta yang bergelar Raja Macan Loreng dan Ki Dalu Dungga alias Tapak Iblis Utara nampak tengah membicarakan sebuah benda yang sama. Tombak Sangga Buana! Mereka memang sengaja berkumpul tempat tinggal Ki Dalu Dungga yang berada Desa Cagarasa.

"Kau tak salah dengar, Dinan?" tanya Ki Wungu Suta mencari ketegasan.

"Benar, Ki. Buktinya aku mampu menyebutkan nama tombak itu, meski sudah lama aku mendengarnya dari Ki Sunara," jawab Dinan Jayu meyakinkan. "Apa kau melihat di bagian pipi Sunara terdapat sebaris bekas luka akibat goresan senjataku?" tanya Ki Wungu Suta penasaran.

Dinan Jayu menggeleng-gelengkan kepala. Ki Wungu Suta. Ki Dalu Dungga dan Ki Tunggul Sulada terkejut melihat gelengan Dinan Jayu. Tapi, Ki Tunggul Sulada cepat mengambil kesimpulan.

"Ah. Mungkin dia menyamar dengan menutupi bekas luka sayatan aritmu, Kakang Wungu," duga Ki Tunggul Sulada.

"Ha ha ha.... Ucapanmu mungkin benar, Tunggul," selak Tapak Iblis Utara. "Lagi pula, pedulinya dengan dia. Yang terpenting bagiku adalah Tombak Sangga Buana itu berada di tangannya. Kita semua yang berada di sini harus segera merebutnya!"

"Di mana tempat tinggal Sunara, Dinan?" tanya Ki Wungu Suta kemudian.

"Di desa tempatku tinggal, Ki. Desa Lebak Mera." 

"Desa Lebak Mera? Hm... Besok kita datangi desa itu, Kita rebut Tombak Sangga Buana!" cetus Ki Wungu Suta mantap.

"Lalu, bagaimana dengan Raja Petir?" tanya Ki Tunggul Sulada.

"Raja Petir?" ucap Ki Wungu Suta heran. "Apa urusannya kita dengannya, Adi Tunggul?" tanya Ki Dalu Dungga.

Ki Tunggul Sulada segera menceritakan keberadaan Raja Petir di kediaman Ki Sunara. Tentang kejadian yang menimpa Dinan Jayu bersama putrid tunggal Ki Sunara, yang baru menjalin hubungan cinta dengan murid Perguruan Teratai Perak yang bernama Sirgaloka. 

Juga mengenai bentroknya kaki tangan Ki Tunggul Sulada dengan Raja Petir, ketika bermaksud merampok kereta barang seorang saudagar kaya yang ternyata Ki Sunara. "Hm.... Jadi, Raja Petir sekarang berada di kediaman Sunara?" tandas Ki Wungu Suta.

"Betul," jawab Ki Tunggul Sulada.

Ki Wungu Suta dan Ki Dalu Dungga terlihat saling pandang. Dua tokoh golongan hitam itu telah mengetahui kehebatan Raja Petir. Meskipun secara langsung mereka belum pernah mencoba kebolehan masing-masing, namun dari tokoh-tokoh persilatan sudah didengarnya tentang kehebatan Raja Petir yang mampu membungkam keangkaramurkaan tokoh-tokoh tingkat tinggi golongan hitam.

"Kita harus menyingkirkan Raja Petir lebih dahulu, Adi Tunggul," ucap Tapak Iblis Utara memberi usul. "Kupikir juga begitu," sambut Ki Wungu Suta.

"Kita berempat pasti mampu mengalahkan Raja Petir. Aku yakin, kali ini tokoh usilan itu akan terkubur di tangan kita."

"Kalau begitu, besok pagi kita datangi Desa Lebak Mera," putus Ki Dalu Dungga.

"Lebih cepat lebih baik," sambut Ki Tunggul Sulada.

***

Pagi kali ini dihiasi hujan lebat yang turun menyirami bumi. Fajar yang hendak keluar dari peraduan memberi kesempatan pada awan-awan yang berarak dan menjelmakan titik-titik air. Di tengah guyuran air hujan, tampak empat sosok tubuh sedang melangkah dengan sedikit tergesa. Mereka tak mempedulikan pakaian yang basah kuyup terguyur air hujan. 

Tanpa ada percakapan sedikit pun, keempat lelaki yang tak lain Dua Buaya Sungai Tenggarong, Raja Macan Loreng, dan Tapak Iblis Utara terus memacu langkahnya. Tak terasa mereka telah tiba di mulut Desa Lebak Mera. "Inilah mulut Desa Lebak Mera," ucap Dinan Jayu pada Ki Wungu Suta dan Ki Dalu Dungga.

"Rasanya, aku sudah tak sabar untuk segera merebut Tombak Sangga Buana," timpal Raja Macan Loreng seraya menambah kecepatan langkahnya.

Demikian pula, Tapak Iblis Utara dan dua Buaya Sungai Tenggarong. Keempat lelaki itu kini sudah memasuki wilayah Desa Lebak Mera. Sementara, hujan yang sejak pagi buta sudah mengucur deras kini mulai reda. Dan, ketika keempat tokoh sesat golongan hitam itu hampir mencapai tujuan, hujan berhenti sama sekali. Digantikan matahari yang kini menebarkan sinarnya dengan leluasa.

"Bangunan cukup mewah itukah rumah Sunara?" tanya Ki Wungu Suta dan jari telunjuk mengarah ke rumah besar yang terletak delapan tombak darinya.

"Betul, Ki. Bangunan itulah tempat tinggal Ki Sunara," ucap Dinan Jayu membenarkan.

"Hei! Mengapa tiba-tiba wajahmu menjadi pucat?" tanya Ki Dalu Dungga ketika matanya menangkap perubahan raut wajah murid kesayangan Ki Tunggul Sulada.

Dinan Jayu menundukkan kepala mendengar pertanyaan Tapak Iblis Utara itu.

"He he he.... Kau pasti tengah memikirkan Nila Juwita ya, Dinan?" selak Ki Tunggul Sulada. Dinan Jayu mengangguk.

"Siapa Nila Juwita, Adi Tunggul?" tanya Ki Wungu Suta ingin tahu.

"Anak Sunara. Kekasihnya," jelas Ki Tunggul Sulada.

"Ha ha ha....!" 

Raja Macan Loreng tertawa keras. Tubuhnya terguncang-guncang hebat "Kalau hanya itu kau tak perlu secemas itu, Dinan. Selain gadis cantik yang kau cintai itu, semua harus kita bunuh." 

"Kau dengar ucapan Kakang Wungu, Dinan. Hari ini, kau akan memiliki Nila Juwita sepenuhnya," timpal Ki Tunggul Sulada.

"Terima kasih, Ki," ucap Dinan Jayu sedikit mengangkat wajah.

Keempat lelaki yang bermaksud merebut Tombak Sangga Buana itu kembali melanjutkan perjalanan mereka yang sempat terhenti. Beberapa ayunan kaki lagi keempat lelaki itu sampai di halaman depan rumah Ki Sunara.

"Sunara! Keluar kau! Bawa Tombak Sangga Buana curian itu ke hadapan kami!" teriak Ki Wungu Suta menggelegar, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Kalau kau tidak mau keluar, akan ku bakar rumahmu!" tambah Tapak Iblis Utara.

Belum lagi gema ucapan Tapak Iblis Utara lenyap, dari dalam rumah itu muncul dua sosok lelaki yang tak lain Ki Sunara dan Sirgaloka.

"Hm Sirgaloka! Kubunuh kau hari ini," gumam

Dinan Jayu ketika melihat wajah lelaki yang telah merebut Nila Juwita dari sisinya.

"Ha ha ha.... Ternyata kau memang Sunara! Codet di pipi kananmu itu kukenal betul. Sebuah hasil karya manis senjataku," ucap Ki Wungu Suta diiringi tawa.

"Aku memang Sunara, Tua Bangka Gila!" balas Ki Sunara dengan suara tak kalah lantang. "Codet di pipi kananku ini memang hasil kerjamu. Kau harus merasakan balasannya."

"Heh?!" Ki Wungu Suta terkejut melihat keberanian Ki Sunara. "Kurang ajar! Kau memang pantas mampus, Sunara! Sekarang serahkan Tombak Sangga Buana yang dicuri Iblis Tombak Merah, sebelum jasad mu bersatu dengan tanah!"

"Jangan sombong. Raja Macan Loreng," ucap sebuah suara dari dalam rumah Ki Sunara.

Ki Sunara tahu pasti kalau yang bicara adalah Jaka Sembada. Tapi, tidak bagi Ki Wungu Suta dan ketiga rekannya. Di benak mereka tersimpan pertanyaan, siapa lelaki yang berbicara dengan penuh perbawa itu? "Jangan bersembunyi seperti anjing buduk! Keluarlah kalau kau memang ingin berhadapan dengan-

ku," hardik Raja Macan Loreng marah.

Tanpa diulang dua kali, keluarlah seorang pemuda terbungkus pakaian kuning keemasan. Penampilan pemuda itu seperti seorang putra mahkota. Ketenangan dan wajah tampannya membuat empat tokoh golongan itu tertegun sesaat. Apalagi, ketika menyaksikan gagang senjata Jaka yang menggelantung di leher. Gagang senjata yang berukiran seperti gumpalan awan. Itulah Pedang Petir, yang memiliki perbawa  amat dahsyat

Ki Wungu Suta, Ki Dalu Dungga dan Ki Tunggul Sulada langsung tersentak ketika melihat tangan kanan pemuda berpakaian kuning keemasan menggenggam senjata yang sudah bertahun-tahun mereka cari. Tombak Sangga Buana!

"Apakah senjata ini yang kalian cari?" tanya Raja Petir seraya mengacungkan tombak berwarna merah darah yang menimbulkan pendar kemerahan.

Darah di tubuh Ki Wungu Suta dan Ki Dalu Dungga seketika naik ke kepala. Keduanya segera maju tiga langkah.

"Cukup! Jangan teruskan langkah kalian kalau tak ingin mati oleh senjata yang kalian cari ini," tahan Jaka sambil melakukan gerakan menusuk dengan ujung tombak disorongkan ke depan.

Raja Macan Loreng dan Tapak Iblis Utara mematuhi larangan Jaka yang dikeluarkan dengan tegas. Sepasang mata lelaki berpakaian kulit macan dan lelaki berpakaian hitam itu menatap wajah Jaka dengan kegeraman luar biasa.

"Sebenarnya, aku tak ingin mempertahankan senjata bagus ini. Senjata ini bukan milikku," ucap Jaka.

"Kalau begitu, serahkan senjata itu padaku. Selanjutnya, kalian bisa hidup bebas tanpa ku ganggu," ucap Ki Dalu Dungga kasar.

"Senjata ini memiliki kekuatan yang begitu dahsyat. Kalian tak pantas memilikinya," sergah Jaka.

Mata Ki Wungu Suta mendelik mendengar ucapan itu.

"Setan! Kau harus mampus!" maki Ki Wungu Suta geram.

"Jaka Sembada tak takut mati. Raja Macan Loreng!" balas Jaka tegas.

"Tapi sekarang kematianmu akan datang menjemput. Raja Petir!" tukas Ki Tunggul Sulada,

"Hiaaat..!"

"Yeaaat..!"

Tubuh Ki Tunggul Sulada langsung melesat menerjang Jaka. Disusul Raja Macan Loreng, dan Ki Dalu Dungga.

"Berhenti...!"

Namun, belum lagi gerakan mereka mencapai pada sasaran, sebuah bentakan berkekuatan tenaga dalam tinggi telah memaksa ketiga tokoh beraliran sesat yang tengah berada di udara itu turun men-jejak tanah. Tubuh Raja Macan Loreng, Tapak Iblis Utara dan Buaya Sungai Tenggarong mundur satu langkah.

Orang-orang yang berada di sekitar rumah Ki Sunara pun turut merasakan kedahsyatan bentakan itu. Telinga mereka berdengung sangat kuat, hingga menimbulkan rasa sakit

Tidak terkecuali Sumirah dan Nila Juwita yang berada di ambang pintu. Tubuh Sumirah hampir terbanting ke belakang kalau tidak segera disanggah Nila. Sumirah sedikit pun tidak memiliki kepandaian ilmu silat, apalagi ilmu tenaga dalam. Untung bentakan itu tidak berlanjut. Hingga Sumirah dan Nila Juwita dapat menyaksikan kehadiran sosok lelaki berpakaian merah. Namun, Sumirah masih merasa telinganya berdengung.

Tak berapa lama kemudian, sosok yang mengeluarkan bentakan dahsyat sekonyong-konyong melesat dari belakang bangunan rumah Ki Sunara. Lalu mendarat ringan sejauh dua tombak di samping Ki Sunara. 

"Karmadana...!" ucap Ki Wungu Suta, Ki Dalu Dungga, dan Ki Tunggul Sulada bersamaan, ketika menatap sosok berpakaian merah yang berdiri di depan mereka. Mata ketiga lelaki itu terbelalak tidak percaya.

"Ki Karmadana...?" ucapan bernada tak percaya pun terdengar dari mulut Ki Sunara.

***
DELAPAN
"Betul apa yang dikatakan Raja Petir, Wungu, Dalu dan kau Tunggul!" ucap sosok lelaki berusia sekitar lima puluh tahun.

Sosok lelaki berpakaian merah itu masih nampak gagah, meski sebagian rambutnya sudah memutih. Tubuhnya yang terbungkus pakaian cukup ketat menampakkan otot-ototnya yang kuat

"Karmadana! Apakah kemunculanmu untuk mengambil Tombak Sangga Buana?!" tanya Ki Dalu Dungga. 

"Ha ha ha.... Kau salah, Dalu! Untuk apa aku mengambil senjata yang sudah berada di tangan orang yang pantas memilikinya. Raja Petir adalah orang yang paling cocok untuk menguasai senjata ampuh itu. Dia seorang tokoh digdaya yang tidak sembarangan mengumbar kepandaian. Tokoh golongan putih yang bijaksana dan senang membela orang-orang lemah. Kupikir, dialah orang yang pantas memiliki Tombak Sangga Buana. Bukan kalian!" tegas perkataan yang keluar dari mulut Ki Karmadana yang berjuluk Iblis Tombak Merah.

"Lalu untuk apa kau hadir di sini? Bukankah lebih baik kau bersembunyi seperti tikus comberan, seperti yang kau lakukan selama ini?" tukas Ki Tunggul Sulada.

"Untuk membantu mengamankan Tombak Sangga Buana dari incaran manusia-manusia rakus seperti kalian!" jawab Iblis Tombak Merah.

"Setan! Ternyata kau pun ingin cari mampus, Karmadana!" maki Tapak Iblis Utara.

Lelaki bertubuh sedang yang mengenakan pakaian hitam itu seketika bergerak cepat, menyerang Iblis Tombak Merah yang sudah siap bertarung. Diiringi teriakan nyaring, Tapak Iblis Utara melancarkan pukulan ke batok kepala Iblis Tombak Merah. Angin berciutan keras mengiringi serangan ganas Tapak Iblis Utara yang memainkan jurus ‘Pukulan Iblis Murka’.

"Hiaaa...!" Bettt! Bettt!

Dengan ketenangan yang luar biasa, Karmadana membawa mundur tubuhnya seraya menarik kepala hingga melewati batas bahu. Gerakan lelaki berpakaian serba merah itu sekilas nampak sederhana. Namun, siapa sangka kalau gerakan itu mampu menyelamatkan nyawanya. Sementara itu, Ki Dalu Dungga bukan main geramnya menyaksikan serangannya mampu dielakkan lawan dengan begitu mudah. Dalam hati, dikaguminya kemajuan ilmu Iblis Tombak Merah. 

Tapak Iblis Utara menduga kalau Ki Karmadana memperdalam ilmu selama dalam persembunyian-nya. Dengan kemarahan yang sudah mencapai ubun-ubun, Tapak Iblis Utara kembali melanjutkan serangan. Kali ini, tokoh sesat itu meloloskan senjata andalannya yang berupa sebatang tongkat berkepala tengkorak manusia.

"Jaga seranganku, Karmadana! Hiaaa...!"

Tapak Iblis Utara mengebutkan tongkatnya ke arah iga lawan. Begitu kuat dan cepat kebutannya. Tapi, kalah cepat dengan gerakan menghindar yang dilakukan Ki Karmadana.

Lelaki berpakaian serba merah itu telah lebih dulu menghentakkan kakinya kuat-kuat ke tanah. Seketika itu juga tubuhnya mencelat ke udara. Angin yang timbul akibat gerakan kuat yang dilakukan Ki Karmadana mengeluarkan bunyi bergemuruh. Tubuh lelaki itu berputaran indah di udara.

Jleg! "Hiaaa...!" Bet! Bet!

Sesaat setelah tubuh Ki Karmadana mendarat di tanah, sebuah serangan susulan kembali harus dihadapinya. Maka tanpa pikir panjang, Ki Karmadana segera meloloskan tombak pendek yang tersembunyi di belakang tubuhnya. Lalu, memainkan serangkaian jurus Tombak Sakti. Tombak pendek bermata dua dari logam baja itu dimajukan menyilang untuk menangkis sambaran tongkat Ki Dalu Dungga.

Trang...!

Bunyi keras memekakkan telinga pun terdengar. Benturan keras itu menimbulkan percikan bunga api.

"Ikh!"

Pekik tertahan keluar dari mulut Tapak Iblis Utara saat benturan keras itu terjadi. Tubuh lelaki terbalut pakaian hitam itu mundur sejauh empat langkah. Tapak Iblis Utara merasakan tangannya bergetar hebat dan berdenyut nyeri.

Sementara Ki Karmadana hanya terhuyung mundur sejauh dua langkah. Tenaga dalamnya memang setingkat lebih tinggi dari Tapak Iblis Utara.

Rupanya, pertarungan yang terjadi bukan hanya antara mereka berdua saja. Tapi, sudah menjalar antara Dua Buaya Sungai Tenggarong dan Raja Macan Loreng menghadapi Raja Petir, Ki Sunara, dan Sirgaloka.

Sirgaloka dan Dinan Jayu nampak saling gempur. Kedua lelaki yang bertarung demi seorang gadis itu saling menunjukkan kebolehannya. Permainan pedang Dinan Jayu dalam jurus ‘Pedang Dasar Kedung’ begitu cepat, dan selalu terarah pada bagian-bagian mematikan di tubuh lawannya.

 Sementara Sirgaloka mengimbangi dengan gerakan-gerakan menghindar yang manis. Namun, di balik gerakan menghindar itu tersembunyi sebuah serangan yang mengancam keselamatan Dinan Jayu. Sebuah jurus dahsyat yang bernama 'Pedang Inti Teratai'.

"Terimalah balasan seranganku, Dinan! Heaaa...!" Wuuung...!

Pedang di tangan Sirgaloka berkelebat cepat ke leher Dinan Jayu. Serangan tiba-tiba itu dilakukan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi. Namun Dinan Jayu dengan manis mengelak dengan merendahkan tubuhnya sambil memberikan sampokan ke ulu hati lawan.

"Heh?!"

SirgalokasayaterkejutsayamelihatsayakelincahansayaDinan Jayu. Lawannya itu ternyata masih sempat memberikan serangan balasan di saat dirinya terancam. Namun, keterkejutan Sirgaloka tak membuatnya lengah. Dengan gerakan cukup manis, Sirgaloka menangkis serangan balasan Dinan Jayu dengan bagian tengah telapak kakinya.

"Hih!" Plak!

Benturan keras pun terjadi. Sambaran tangan Dinan Jayu berhasil dipapaki telapak kaki Sirgaloka. Tubuh dua lelaki yang tengah dimabuk api asmara itu masing-masing terdorong tiga langkah. Kekuatan tenaga dalam mereka telah mencapai taraf yang sama.

Sementara pada pertarungan lain, Raja Petir tengah dikeroyok Ki Wungu Suta dan Ki Tunggul Sulada. Dua lelaki yang berhasrat merampas Tombak Sangga Buana dari tangan Jaka, nampak begitu bernafsu untuk segera menjatuhkan lawannya. Ki Wungu Suta yang bersenjatakan arit, berusaha mendesak Jaka dengan babatan-babatan yang terarah ke bagian mematikan tubuh Raja Petir.

Begitu pula dengan Ki Tunggul Sulada. Trisula hitam yang berada di tangannya, berkali-kali mengincar jantung dan ubun-ubun Jaka. Namun, incaranincaran senjata Ki Tunggul Sulada sejauh ini belum menemui hasil. Dengan menggunakan jurus 'Lesatan Lidah Petir' Jaka mampu membendung seranganserangan ganas kedua lawannya.

"Heaaat..!"

"Yeaaah...!"

Rasa penasaran membuat Ki Tunggul Sulada dan Ki Wungu Suta gelap mata. Tanpa memikirkan siapa lawan yang tengah dihadapi, keduanya kembali merangsek maju. Senjata-senjata mereka teracung di udara, penuh kekuatan tenaga dalam.

Menyaksikan amarah lawan yang tak terkendali, Jaka mengembangkan senyum. Raja Petir ingin menguji lawannya dengan mengeluarkan pukulan jarak jauh yang didapatnya dari Nyi Selasih, yaitu ‘Pukulan Pengacau Arah’.

Kaki kanan Jaka segera ditarik satu langkah ke belakang. Sedangkan tangan kanannya yang tanpa senjata diletakkan di atas pinggang. Ketika tangan kanan Raja Petir yang dialiri kekuatan tenaga dalam dihentakkan, keluarlah angin yang bergulung-gulung, meluruk deras ke arah Ki Wungu Suta dan Ki Tunggul Sulada yang tengah meluruk ke arahnya.

Wusss...!

"Heh?!"

Raja Macan Loreng dan Buaya Sungai Tenggarong tercekat melihat angin dahsyat bergulung-gulung menyebarkan hawa panas, melesat cepat menyongsong mereka. Angin itu seperti pusaran maut yang siap menelan apa saja yang menghadangnya.

Tanpa pikir panjang, Ki Wungu Suta dan Ki Tunggul Sulada melempar tubuhnya ke lain arah, menghindari terjangan angin maut yang tercipta dari telapak tangan kanan Jaka. Keduanya bergulingan di tanah beberapa kali. Pada saat kedua tokoh sesat itu bergulingan di tanah, sesosok bayangan biru melesat memasuki arena pertempuran.

"Maaf, Raja Petir. Namaku Ki Ajeng Guya, guru Sirgaloka," ucap sosok berpakaian biru yang kini berdiri di sisi kiri Jaka. "Kalau kau tak keberatan, aku akan menghadapi Buaya Sungai Tenggarong."

"Silakan," balas Jaka sopan.

***
SEMBILAN
Ki Tunggul Sulada yang sudah bangkit berdiri terkejut menyaksikan sosok berpakaian biru yang berdiri di sisi kiri Raja Petir. Sosok itu adalah milik Ketua Perguruan Teratai Perak.

"Siapa kau? Apa kau juga ingin merebut Tombak Sangga Buana?" tanya Ki Tunggul Sulada di tengah deru napasnya yang memburu. Telunjuk lelaki yang berjuluk Buaya Sungai Tenggarong ini menuding senjata yang berada di tangan kiri Jaka.

"Namaku Ajeng Guya. Buaya Darat! Sedikit pun aku tak berhasrat memiliki senjata yang bukan hakku," jawab Ki Ajeng Guya. "Kedatanganku ke sini untuk menuntaskan urusanmu dengan Sirgaloka, muridku."

"Hm.... Jadi Sirgaloka muridmu?" tanya Ki Tunggul Sulada bernada meremehkan. "Pantas lagakmu pun seperti banci!"

Ki Ajeng Guya tersenyum mendengar ucapan Ki Tunggul Sulada.

"Menurut cerita yang kudapat dari Sirgaloka. Kau yang sudah tua bangka seperti itu masih mencampuri urusan anak muda, urusan cinta. Apakah bukan sebaliknya kau yang harus disebut banci?!" balik Ki Ajeng Guya. "Cobalah berkaca dengan kelakuanmu, Buaya Buntung!"

Ki Tunggul Sulada geram bukan kepalang mendengar ucapan balik Ketua Perguruan Teratai Perak itu. Seketika itu juga tubuhnya melejit menyerang Ki Ajeng Guya. Sebuah pukulan lurus ke dada dilancarkan Ki Tunggul Sulada, setelah lebih dahulu mengeluarkan pekik kemarahan yang meluap. Pukulan itu adalah "Tinju Raja Buaya'. "Haaat..!" Bettt!

Tubuh Ki Ajeng Guya melejit ke samping kanan menghindari serangan lawan. Tapi, sungguh tak disangka kalau dua jengkal lagi serangan Ki Tunggul Sulada mendarat Buaya Sungai Tenggarong menghentikan gerakannya secara mendadak. 

Kemudian merubahnya menjadi tendangan cepat yang tertuju ke dada. Ki Ajeng Guya yang terkejut menyaksikan kecepatan perubahan serangan lawan, tak sempat berbuat sesuatu. Dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, Ketua Perguruan Teratai Perak itu memapaki tendangan keras Ki Tunggul Sulada.

Plakkk!

Benturan keras tak dapat dielakkan lagi. Dua tubuh yang masing-masing terbalut pakaian biru dan hijau terpental deras dan jatuh berdebuk di tanah.

Bruk! Bruk! "Aaa...!"

Di tengah bunyi berdebuk itu terdengar jerit kematian melengking tinggi. Semua yang terlibat pertempuran menoleh sesaat ke arah jeritan yang menyayat hati itu.

"Hah?!"

Ki Tunggul Sulada terkejut menyaksikan tubuh Ki Dalu Dungga tergeletak bersimbah darah. Kepala laki-laki berjuluk Tapak Iblis Utara itu tertancap sebilah tombak kecil. Rupanya, Ki Karmadana berhasil menyudahi perlawanan lawan.

Kematian Tapak Iblis Utara berpengaruh pada Ki Tunggul Sulada, Ki Wungu Suta dan Dinan Jayu. Semangat bertarung mereka mulai menurun. Dinan Jayu terlihat mulai terdesak hebat. Berkali-kali serangan Sirgaloka memaksanya terus-menerus mundur, tanpa sedikit pun memberikan serangan balasan. Hingga suatu ketika serangan Sirgaloka tak mampu dielakkannya.

"Hiaaa...!" Bugkh! "Ugkh...!"

Tubuh Dinan Jayu terhuyung ketika tendangan keras Sirgaloka mendarat telak di perutnya. Rasa mual yang dirasakan Dinan Jayu mengiringi ambruknya tubuh murid Ki Tunggul Sulada itu.

Bruk!

Melihat kesempatan baik itu, Sirgaloka bermaksud menghabisi nyawa lawan. Tubuhnya berkelebat dengan pedang teracung di udara.

"Hiaaa...!"

"Jangan, Kakang Sirga!" larang sebuah suara.

Sirgaloka yang tengah berada di udara seketika menghentikan gerakannya. Kepalanya ditolehkan ke arah datangnya suara yang sudah cukup dikenalnya. Tampak Nila Juwita berlari menghampiri.

"Jangan bunuh dia, Kakang," ucap Nila sambil merangkul pinggang Sirgaloka.

"Ah! Kau, Nila. Kenapa kau melarangku untuk membunuhnya?" tanya Sirgaloka lembut. Namun napasnya yang memburu terdengar jelas.

"Aku tak ingin kau menjadi seorang pembunuh," jawab Nila.

Sirgaloka mengembangkan senyum. Rasa cemburu yang sempat mengisi hatinya seketika sirna.

"Baiklah" ucap Sirgaloka sambil membawa tubuh Nila menjauhi Dinan Jayu yang tengah terkulai menahan sakit

Pertarungan yang sudah mereda membuat Ki Wungu Suta dan Ki Tunggul Sulada salah tingkah. Maksud hati mereka hendak merebut kembali Tombak Sangga Buana sedikit mengendur. Tapi, untuk mengalah dalam perebutan itu adalah hal yang mustahil. Maka, setelah mengumpulkan segenap semangat yang ada, Ki Wungu Suta dan Ki Tunggul Sulada kembali bangkit meneruskan pertempuran.

Ki Wungu Suta yang menaruh dendam pada Iblis Tombak Merah, memilih lelaki itu sebagai lawannya. Seketika, tubuhnya berkelebat cepat menyerang Ki Karmadana.

"Hiyaaa...!"

Sementara Ki Wungu Suta tengah bertempur melawan Ki Karmadana, dengan liciknya Ki Tunggul Sulada membokong Sirgaloka dan Nila Juwita dengan senjata rahasia yang belum sempat dikeluarkannya. Maka ketika tubuhnya bergerak, dari balik lengan pakaiannya yang sedikit longgar meluncur puluhan senjata rahasia berbentuk kuku-kuku buaya.

Wrrr...!

Sirgaloka yang tengah merangkul pinggang Nila Juwita tak melihat luncuran senjata rahasia yang mengandung racun ganas itu. Luncuran senjata rahasia itu begitu cepat datangnya. Hingga....

"Heh?!"

Jaka terkejut saat menangkap luncuran puluhan senjata rahasia ke arah Sirgaloka dan Nila Juwita itu. Nalurinya yang peka membuatnya cepat menggerakkan tangan untuk memainkan jurus 'Pukulan Pengacau Arah'.

"Sirga, Nila! Awasss !"

Wussssaya!

Serangkum angin keras melesat cepat ke arah senjata-senjata rahasia Ki Tunggul Sulada. Sementara Sirgaloka dan Nila Juwita membuang diri. Hingga....

Prats! Prats! Prats!

Puluhan senjata rahasia itu berpentalan ke berbagai arah, ketika serangkum angin deras yang tercipta dari jurus 'Pukulan Pengacau Arah' Raja Petir datang menyambut. Ki Tunggul Sulada kaget menyaksikan senjatanya dapat dilumpuhkan.

"Aaakh...!"

Keterkejutan Ki Tunggul Sulada semakin bertambah ketika sebuah jeritan melengking tinggi keluar dari mulut Dinan Jayu. Ki Tunggul Sulada segera menghampiri tubuh muridnya.

"Ah...!"

Ki Tunggul Sulada tak mengira kalau senjata rahasianya menghilangkan nyawa muridnya sendiri. Rupanya, puluhan senjata beracun yang berbentuk kuku buaya itu beberapa di antaranya nyasar ke tubuh Dinan Jayu, ketika berpentalan terusir pukulan Jaka. Tubuh lelaki berpakaian hijau itu seketika berubah hijau. Pengaruh racun itu demikian dahsyat. Hingga saat itu juga nyawa Dinan Jayu pergi meninggalkan raga.

"Hmhhh..,!" Ki Tunggul Sulada menggereng kuat melihat kenyataan itu.

Dengan menghunus senjata, tokoh sesat itu melejit menyerang Jaka. "Hiaaa...!"

"Tahan!"

Sebuah bentakan keras terdengar. Ki Tunggul Sulada dengan sangat terpaksa mengurungkan niatnya. Suara bentakan itu memiliki perbawa kuat. Wajah Buaya Sungai Tenggarong terlihat begitu geram.

Tiba-tiba melesat tiga sosok tubuh berpakaian putih. Gerakan yang dilakukan mereka begitu indah dan ringan, mencerminkan ketinggian ilmunya. Begitu juga cara mereka mendarat di tanah, ringan dan tanpa menimbulkan suara.

Ki Tunggul Sulada terperangah beberapa saat. Apalagi ketika mengetahui di antara tiga sosok tubuh itu satu di antaranya seorang perempuan yang berparas cantik. Dua lelaki dan seorang perempuan yang baru datang itu menatap wajah Buaya Sungai Tenggarong lekat-lekat

"Maafkan kami, Kisanak," ucap perempuan berparas cantik.

Tubuh perempuan itu padat berisi, sesuai dengan tingginya. Matanya bulat bercahaya yang menampakkan kilat kebengisan. Rambutnya panjang hitam dikepang kelabang, dan pada ujungnya terdapat dua buah pisau pipih yang masing-masing berwarna hitam dan merah.

"Kami adalah Tiga Hantu Lembah Pucung yang tidak bermaksud menghalangimu melenyapkan bocah sombong itu!" lanjut perempuan cantik itu sambil menuding wajah Jaka.

"Betul, Kisanak," timpal lelaki berpakaian putih yang berambut jarang dan berkumis lebat "Kami tak bermaksud mencegahmu membunuh Raja Petir. Tapi kami ingin ikut melenyapkan tokoh yang selama ini merintangi langkah golongan hitam."

"Kenapa kalian ingin membunuhnya?" tanya Ki Tunggul Sulada.

"Dendam!" jawab perempuan cantik berpakaian putih.

Jaka tak berusaha mengomentari pembicaraan itu. Ingin diketahuinya lebih dulu alasan pasti Tiga Hantu Lembah Pucung turut campur dalam pertarungan ini. Dendam apa yang dimaksud mereka.

"Ya. Dendam!" sambut lelaki berpakaian putih yang bertubuh ringkih. "Kami ingin menuntut balas atas kematian saudara seperguruan kami, Hantu Putih Lembah Pucung!"

Ki Tunggul Sulada tak lagi angkat bicara setelah mendengar jawaban tegas Tiga Hantu Lembah Pucung. Ki Tunggul Sulada kini melempar tatapannya ke arah Jaka. Tiga Hantu Lembah Pucung pun menatap lurus wajah pemuda berpakaian kuning keemasan itu.

"Raja Petir! Kenalilah! Namaku Saraswati dan kedua rekanku Saladra serta Madaga. Kami bertiga saudara seperguruan Hantu Putih Lembah Pucung! Bukankah kau mengenalnya?" ujar perempuan cantik itu. "Ya. Dia sudah lebih dulu pergi ke neraka!" (Untuk lebih jelasnya, silakan baca serial Raja Petir dalam episode "Asmara Sang Pengemis").

"Bangsat!" maki Saladra sambil mencabut pedang. "Kita ringkus sekarang saja bocah usil itu!"

"Ayo!" sambut Saraswati dan Madaga.

Tiga Hantu Lembah Pucung bergerak mengurung Jaka. Dibantu Ki Tunggul Sulada yang tak mau ketinggalan mencincang tubuh Raja Petir.

"Hiaaa...!"

Teriakan pertama keluar dari mulut Saladra. Lelaki itu memang memiliki watak bengis dan tak sabaran. Tubuhnya melesat dengan mengarahkan pedangnya ke batang leher Raja Petir. Demikian pula Saraswati dan Madaga.

Tiga serangan yang datang dari arah yang berbeda harus dihadapi Jaka. Dan ketika tiba-tiba dengan teriakan keras tubuh Ki Tunggul Sulada melesat menerjangnya, lengkap sudah empat penjuru angin dikuasai lawan-lawan Raja Petir.

Sirgaloka dan Nila Juwita yang ingin membantu Raja Petir mengurungkan niatnya. Mereka tak ingin menyinggung perasaan Jaka. Lagi pula, mereka belum melihat pemuda berpakaian kurang keemasan itu kewalahan.

Sementara Jaka tetap tenang menanggapi serbuan lawan-lawannya. Ditunggunya serangan lawan datang lebih dulu.

"Hiaaat..!"

"Uts!"

"Hop!"

Tubuh Raja Petir melejit bagai kilat ketika lawan pertama yang menyerangnya mendaratkan babatan pedangnya ke arah leher. Jaka berputaran di udara setelah tadi mengeluarkan jurus ‘Lejitan Lidah Petir’. Keempat lawannya terkagum-kagum menyaksikan kecepatan gerak Raja Petir. Namun mereka tak putus asa, terus mengejar tubuh Jaka.

"Hiaaa...!" Bet! Bet! "Ops!"

Sambaran-sambaran pedang Tiga Hantu Lembah Pucung terus berkelebatan mencecar tubuh Jaka. Tapi tak satu pun yang mampu menyentuh tubuh pemuda itu. Angin berciutan menimpali serangan yang membentur tempat kosong.

"Brengsek! Bisa habis napasku kalau terus menghindar!" maki Jaka dalam hati.

"Hiaaa...!" 

"Hop!"

Ketika serangan Ki Tunggul Sulada datang, Raja Petir menggenjot tubuhnya melenting ke belakang. Jaka ingin mengambil jarak bertarung. Tubuhnya melenting jauh ke belakang. Dan ketika mendarat, Ki Tunggul Sulada kembali memburunya.

"Haaat..!"

"Hiaaa...!"

Kali ini. Raja Petir tidak menghindari serbuan Buaya Sungai Tenggarong. Tubuhnya mencelat dengan mengeluarkan jurus 'Petir Menyambar Elang'.

"Hiaaa...!" Plak! Plak! Diegkh...!

Setelah menangkis dua serangan Ki Tunggul Sulada, Jaka dengan gerakan luar biasa cepat menyodokkan lututnya ke dada tokoh sesat itu.

"Aaakh...!"

Buaya Sungai Tenggarong menjerit keras. Sodokan lutut Jaka dilakukan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.

Brak!

Tubuh Ki Tunggul Sulada jatuh berderak ke tanah. Darah segar bermuncratan dari mulutnya. Seketika itu juga nyawa Ki Tunggul Sulada melayang.

Tiga Hantu Lembah Pucung tampak tidak terkejut melihat kematian Ki Tunggul Sulada. Malah kelihatan senang, karena mereka akan leluasa melenyapkan Raja Petir.

Dengan pemikiran itu, Tiga Hantu Lembah Pucung kembali meneruskan serangan. Kali ini, serangan yang datang bagai gelombang samudera yang tak pernah putus. Ya! Itulah jurus andalan mereka ‘Gelombang Samudera’.

Senjata-senjata Saraswati, Saladra, dan Madaga berdesingan bagai suara lebah. Bentuk senjata-senjata itu hilang. Hanya gulungan sinar-sinar putih yang terlihat

"Hiaaa...!" Wuuung! Wuuung!

Berkali-kali serangan itu hampir mendarat di leher dan dada Jaka. Namun, Raja Petir yang tetap mengandalkan jurus ‘Lejitan Lidah Petir’ masih mampu membebaskan diri dari maut. Tetapi ketika serangan lawan dirasakan semakin ganas, Jaka segera mengerahkan jurus ‘Menggiring Awan’ untuk menimpali serangan itu.

"Hiaaa...!"

Jaka mengembangkan tangannya dengan kekuatan tenaga dalam penuh. Pukulannya diarahkan pada Saraswati, yang menurutnya sebagai sumber kekuatan Tiga Hantu Lembah Pucung. Maka, seketika itu juga...

"Hiaaa...!" Blep! Blep! "Heh...?!"

Raja Petir terkejut ketika pukulan yang dikerahkan dengan tenaga dalam itu, seperti menyentuh benda kenyal ketika mendarat di perut Saraswati. Sementara, perempuan jelita itu tersenyum melihat keterkejutan Jaka yang tak mampu menembus ilmu ‘Lembah Dalam Lumpur’ miliknya.

"Hi hi hi ...!" Saraswati tertawa terkikik. "Hari ini kau akan mampus. Raja Petir! Apa pun ilmu yang kau keluarkan, tidak akan bermanfaat untuk menjatuhkan kami. Lakukan sekali lagi kalau kau tak percaya."

Usai berkata begitu, Saraswati meraih tangan Saladra. Kemudian Saladra segera meraih tangan Madaga. Dan, tangan-tangan mereka saling bertautan membentuk kekuatan gabungan.

"Ayo lakukan, Raja Petir! Keluarkan ilmumu yang paling hebat!" ucap Saraswati pongah.

"Jangan salahkan aku jika kalian mampus sekarang!" timpal Jaka sambil meloloskan Sabuk Petir dari pinggangnya. Sinar kehijauan memancar dari sabuk petir di tangannya.

"Lakukanlah! Jangan malu-malu!" ucap Saraswati bergema.

"Baik! Hiaaa...!"

Jaka berteriak kuat sambil mengerahkan jurus inti 'Petir Membelah Malam'. Maka....

Slapssaya!

Glegar. !

Bunyi ledakan keras terjadi saat sinar yang mirip lidah petir menyambar tubuh Tiga Hantu Lembah Pucung. Tapi, bukan main terkejutnya Raja Petir menyaksikan lawan masih berdiri tegak di tempatnya. Tanpa tergeser sedikit pun! Apalagi melukai tubuh mereka.

"Hi hi hi.... Masih adakah Ilmu yang lain, Jaka?" tanya Saraswati. "Keluarkan saja senjata yang menggelantung di lehermu. Untuk apa disimpan. Tunjukkan kehebatan pedang itu pada kami!"

Setelah mempertimbangkan permintaan sombong Saraswati, Jaka segera mengeluarkan senjata pusakanya, Pedang Petir.

"Jangan menyesal kalian!" ucap Jaka berat. Suasana di sekitar tempat pertarungan seketika berubah gelap. Suara guntur terdengar saling bersahutan di kejauhan. Angin bertiup keras. Dan, lidah petir menjilatjilat pedang Jaka yang teracung ke udara dan memendarkan sinar kemerahan. Seiring dengan suasana alam yang kembali terang dan tak terdengar lagi suara guntur di kejauhan, Raja Petir bergerak sambil memekik keras.

"Hiaaat..!"

Tiga Hantu Lembah Pucung terkejut menyaksikan kedahsyatan ilmu Jaka. Mereka ingin menghindar, namun serangan Jaka terlalu cepat datangnya. Hingga....

Bret! Bret! Bret! "Aaakh...!"

Tiga lengkingan panjang seketika terdengar membubung ke angkasa. Tak lama setelah itu tubuh Saraswati, Saladra dan Madaga bertumbangan ke tanah dengan perut menganga lebar terbabat senjata pusaka Jaka. Tiga Hantu Lembah Pucung langsung menemui ajal!

Jaka menarik napas lega. Senjatanya kembali dikalungkan ke leher, setelah terlebih dahulu dibersihkan dari darah yang mengotori ujung pedangnya. "Aaakh...!"

Lengking menyayat kembali terdengar. Lengkingan itu ternyata keluar dari mulut Ki Wungu Suta. Kening tokoh sesat itu tertembus ujung tombak Ki Karmadana.

"Hhh...!"

Ki Karmadana menarik napas menyaksikan kematian Ki Wungu Suta. Setelah mencabut senjatanya yang terbenam di kepala Raja Macan Loreng, Ki Karmadana segera menghampiri Raja Petir.

"Terima kasih, Raja Petir. Kau telah menyelamatkan Tombak Sangga Buana. Kalau kau mau, simpanlah senjata itu," ucap Ki Karmadana.

Jaka tersenyum mendengar ucapan Iblis Tombak Merah.

"Menurut Ki Sunara, selama ini kau mengasingkan diri dari keramaian rimba persilatan. Nah. Sekarang asingkanlah pula Tombak Sangga Buana ini. Jangan biarkan senjata dahsyat ini jatuh ke tangan orangorang tak bertanggung jawab," ucap Jaka, menimpali ucapan Ki Karmadana.

"Ah, ya. Ki Karmadana, Ki Sunara, dan Ki Ajeng. Sudah terlalu lama aku meninggalkan Mayang. Aku khawatir terjadi apa-apa terhadapnya. Aku permisi sekarang!" lanjut Jaka mohon diri.

Belum lagi ada jawaban dari orang-orang yang berada di tempat itu, tubuh Jaka sudah melesat cepat.

"Hop!"

Jaka pergi dengan menggunakan ilmu lari cepatnya. Dalam sekejapan saja, tubuh tokoh muda yang berjuluk Raja Petir itu telah lenyap dari tatapan mata Ki Karmadana, Ki Ajeng Guya, Ki Sunara dan yang lainnya.

SELESAI
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(