Serial Raja Petir eps 11 : Penguasa Danau Keramat

SATU
Angin yang berhembus agak kencang membawa hawa sejuk. Dan matahari yang mulai turun di sebelah barat, sinarnya seolah-olah melengkapi kesempurnaan sebuah lukisan hari yang hampir senja. Pemandangan indah di sekeliling Desa Waruwangi pun nampak. Hamparan sawah luas memperlihatkan paduan warna yang begitu pas untuk dipandang. 
Begitu nikmat dan menyejukkan hati yang memandangnya. Apalagi jika melepas pandangan ke sebelah timur, maka nampak sebuah hamparan biru yang sangat luas mirip gelaran permadani kebiruan. Sesekali hamparan biru itu nampak beriak jika angin kencang berhembus di atasnya. Hamparan kebiruan itu tak lain sebuah danau indah yang bernama Danau Keramat.

Di tengah hamparan pemandangan indah itu nampak tiga sosok lelaki bertubuh tinggi besar, padat, dan berotot. Ketiganya hanya mengenakan selembar cawat dari kulit ular sebagai penutup sebagian tubuh kekar mereka. Ketiga lelaki bertubuh besar itu nampak melangkah memasuki wilayah

Desa Waruwangi.

Dilihat dari gerakan kaki mereka yang ringan dan gesit, menandakan kalau mereka bukan orang sembarangan. Apalagi ketika salah seorang di antara mereka, tiba-tiba mengumbar tawa begitu keras. Sehingga Desa Waruwangi seperti tengah diguncang gempa. Suara tawa itu juga membuktikan bahwa mereka orang-orang yang memiliki ilmu kesaktian sangat tinggi.

Tidak berapa lama, setelah tawa menggelegar dari mulut lelaki berpakaian cawat lenyap, tiba-tiba muncul lima sosok lelaki gagah. Kelima sosok lelaki gagah sudah berdiri tegak menghadang tiga lelaki berpakaian cawat dari kulit ular.

"Maaf! Sebenarnya, siapa Kisanak sekalian?" tanya salah seorang lelaki berbadan kekar dan berwajah tampan. Dari pertanyaannya yang begitu sopan, nampaknya lelaki berwajah tampan itu tak ingin menyinggung perasaan, sehingga menimbulkan keributan dengan ketiga orang yang belum dikenal.

"Ha ha ha...! Rupanya kalian orang-orang gagah yang dimiliki desa ini!" sahut salah seorang lelaki bercawat yang bagian kepalanya botak plontos, tak sedikit pun ditumbuhi rambut.

Lelaki berkepala botak tak langsung menimpali pertanyaan lelaki berwajah tampan berpakaian merah muda.

"Bagus! Bagus sekali! Aku suka dengan orangorang gagah seperti kalian yang bertanggung jawab menjaga keamanan desa. Namun sayang, kegagahan kalian tak berarti apa-apa bagi Tiga Raksasa Lembah Beracun!" sambung lelaki berkepala botak, sambil tersenyum dan menoleh ke wajah kedua temannya.

Lelaki berwajah tampan berpakaian merah muda nampak tak terpengaruh dengan ucapan lelaki yang besar badannya melebihi ukuran manusia biasa. Wajah lelaki berpakaian merah muda masih nampak begitu tenang, bahkan sedikit mengembangkan senyum di bibirnya.

"Maaf, Kisanak! Barusan kudengar kalau kalian berjuluk Tiga Raksasa Lembah Beracun. Terima kasih atas perkenalan kalian. Untuk itu barangkali kalian juga perlu mengenal siapa diriku. Namaku Lodaya Waru, putra Kepala Desa Waruwangi. Dan kalau kalian tak keberatan, boleh aku tahu nama-nama kalian yang sesungguhnya?" pinta lelaki berwajah tampan yang mengaku bernama Lodaya Waru, putra Kepala Desa Waruwangi.

"Ha ha ha...! tutur katamu begitu sopan, Lodaya Waru. Itu yang membuatku suka memperkenalkan namaku dan juga nama kedua kawanku. Padahal, aku tak pernah melakukan itu pada orang lain," sahut lelaki berkepala botak yang rupanya orang utama dari Tiga Raksasa Lembah Beracun.

"Terima kasih kalau Kisanak bersedia melakukan itu kepada kami," balas Lodaya dengan ramah.

Lelaki tinggi besar berkepala botak yang hanya memakai sehelai cawat dari kulit ular menatap tajam wajah Lodaya. Wajah lelaki berbola mata cekung ke dalam itu menyiratkan kebengisan. Wajahnya berahang besar dan sepasang daun telinganya lebar. Pada daun telinganya nampak tergantung sepasang anting-anting berbentuk gada. Dan sepasang bibirnya yang tebal memperlihatkan gigi-giginya yang tak rata.

"Namaku Sobula," ucap lelaki berkepala botak memperkenalkan diri sambil menggerakkan jempol kanannya ke dada dengan kepala terangguk-angguk.

Lelaki bernama Sobula itu kemudian memperkenalkan temannya yang bentuk tubuh dan pakaian mereka hampir mirip. Yang membedakan hanya rambut di kepala.

"Kawanku ini bernama Sedaka," tunjuk Sobula pada lelaki berambut jarang. "Sedangkan kawanku yang paling muda ini bernama Garajas," sambung Sobula dengan jari tangan yang menuding pada seraut wajah kasar berambut tergerai lepas tak terurus. Di tangan lelaki itu tergenggam sepasang gada bergerigi yang satu sama lain ditautkan dengan rantai baja.

Lodaya Waru kembali tersenyum, dan segera membungkukkan sedikit badannya, setelah Sobula memperkenalkan diri.

"Aku senang dapat berkenalan dengan Kakangkakang yang gagah," sambut Lodaya Waru lembut. "Dan aku akan lebih senang lagi, jika Kakang sekalian ada di Desa Waruwangi dengan segala sikap kebaikan dan persahabatan," lanjut Lodaya Waru masih dengan tutur kata sopan dan teratur.

"Ha ha ha...!"

Sedaka tiba-tiba tertawa keras setelah mendengar ucapan putra Kepala Desa Waruwangi. Dan ketika tawanya berhenti, gantian jari telunjuknya menuding ke wajah Lodaya Waru.

"Kau benar, Lodaya," ucap Sedaka mantap. "Aku memang suka tinggal di desa ini dan suka sekali bersahabat dengan kalian, asalkan kalian penduduk desa ini, juga kepala desa, bersedia memenuhi permintaan kami Tiga Raksasa Lembah Beracun," lanjut Sedaka tegas.

Mendengar ucapan lelaki bertubuh besar yang bernama Sedaka, Lodaya Waru tercenung sejenak. Namun kemudian...

"Dengan senang hati kami akan memenuhi permintaanmu, Kakang Sedaka," jawab Lodaya Waru. "Asalkan permintaan itu wajar dan kami mampu memenuhinya."

"Tentu saja wajar, Lodaya. Dan kalian semua penghuni Desa Waruwangi pasti dapat memenuhi permintaanku yang sederhana," sambut Sedaka.

"Dan kalau boleh ku tahu, apakah permintaanmu itu, Kakang Sedaka?" tanya Lodaya.

"Tak perlu kau tahu permintaanku!"

"Aku harus tahu!" sentak Lodaya mulai agak kesal.

"Aku butuh jawaban langsung dari kepala desa ini. Cepat antar kami menemuinya!" balas Sobula.

Lodaya tentu saja merasa direndahkan dengan ucapan Sobula, hingga dirinya tak mampu membendung kemarahannya. Wajah tampan lelaki putra kepala desa itu nampak berubah merah padam. Otot-otot wajah dan tangan pun mulai menegang.

"Kalian memang manusia bejat yang tak patut diperlakukan baik-baik! Dengan sangat terpaksa, harus kuusir kalian dari desa ini!"

"Ha ha ha...!"

Sobula tertawa keras mendengar ucapan Lodaya Waru.

"Apa yang kalian andalkan untuk mengusir kami dari sini, Lodaya?" ejek Sobula dengan jumawa. "Kurasa untuk menepuk sepasang nyamuk saja tanganmu tak mampu."

Merah padam wajah Lodaya Waru mendengar ejekan Sobula yang begitu meremehkan dirinya.

"Jangan sombong kau, Sobula!" bentak Lodaya tanpa memakai sebutan 'kakang' yang sejak awal dipakainya untuk memanggil Sobula. "Apa kau lupa kalau di atas dataran ada gunung, dan di atas gunung ada mega?" lanjut Lodaya.

"Hmmm , kesimpulannya kau merasa mampu

mengusir Tiga Raksasa Lembah Beracun, ya?" tanya Sobula masih terdengar meremehkan.

"Bukan itu yang ku maksud, Sobula. Namun, aku dan penduduk Desa Waruwangi tak akan membiarkan begitu saja orang-orang yang berniat mengganggu ketenteraman. Apa pun akibatnya!" kilah Lodaya mantap.

"Baik! Jika begitu, aku ingin melihat bagaimana cara kalian menjaga desa ini dari orang-orang yang akan mengganggu ketenteraman!" jawab Sobula dengan angkuh sambil mendongak.

Lelaki bertubuh tinggi besar yang mengenakan cawat dari kulit ular melangkah beberapa tindak ke depan dengan begitu angkuh. Wajahnya yang berahang besar nampak bengis. Dan matanya yang menjorok ke dalam mencorong tajam menatap wajah Lodaya. Sementara, kedua telapak tangannya telah mengepal keras, memperlihatkan otot-otot yang bersembulan bagai lempengan tali baja.

"Biar aku yang menghadapi bocah bau kencur itu, Kakang Sobula!" sergah Garajas sambil melilitkan senjatanya berupa sepasang gada bergerigi yang terikat rantai baja.

Sobula menolehkan wajah pada Garajas, lelaki bertubuh besar yang berambut kumal tak terurus. Wajah Sobula sedikit pun tak menyiratkan kemarahan atas permintaan kawannya.

"Apa kau yang akan mencobanya, Adi Garajas?" tanya Sobula.

"Aku tak sudi tangan Kakang kotor oleh darah bocah ingusan begini," sahut Garajas kasar sambil mendekati Sobula.

Kemudian, Sobula segera mengendurkan ototototnya yang semula menegang kaku. Kemudian lelaki bertubuh tinggi besar seperti raksasa itu mundur beberapa tindak, memberi kesempatan Garajas untuk menguji kemampuan putra Kepala Desa Waruwangi

"Bersiaplah, Lodaya!" ucap Garajas ketika tubuhnya telah berdiri di depan Lodaya.

Lodaya tentu saja tak membiarkan tantangan Garajas. Karena nampaknya, Lodaya telah dapat mengukur kekuatan yang dimiliki orang ketiga dari Tiga Raksasa Lembah Beracun. Dari suara dan tatapan mata yang tajam mencorong membuktikan ketinggian tenaga dalam yang dimiliki, maka Lodaya tak ingin mencoba menghadapinya dengan tangan kosong. Seketika itu tangan Lodaya meraba tangkai pedang yang tersampir di pundaknya.

Srat! Bersamaan dengan tercabutnya pedang Lodaya, kelima orang pengawal setianya pun segera menghunus senjata masing-masing di depan dada.

"Akan kubuktikan kemampuanku untuk mengusir orang bejat seperti kau, Garajas!" sentak Lodaya.

Bersamaan dengan ucapan itu, tubuh putra Kepala Desa Waruwangi melejit cepat. Pedangnya yang berputar-putar di atas kepala membentuk lingkaran keperakan. Bunyi menderu menyertai lesatan pedang Lodaya.

Wuuuk! Wuuukkk..! "Hiaaat..!"

Dengan segenap kekuatan tenaga dalamnya, Lodaya mengibaskan senjata andalannya ke bagian lambung Garajas yang masih nampak berdiri tenang. Lelaki bercawat itu dengan gerakan cepat dan ringan mendoyongkan tubuhnya ke belakang, ketika melihat serangan pedang Lodaya.

Wuuut!

Dengan gerakan sepele Garajas mampu menghindari serangan dahsyat yang dilakukan Lodaya Waru. Mata pedang milik putra Kepala Desa Waruwangi yang mampu merobek kulit setebal apa pun hanya menyambar angin,

Lodaya Waru geram bukan kepalang melihat cara Garajas mengelakkan serangannya. Seketika itu juga, lelaki berpakaian merah muda yang berwajah tampan itu segera melancarkan serangan susulan yang lebih cepat. Kali ini sasaran mata pedangnya mengarah ke leher Garajas.

"Hih!"

Lodaya menghentakkan kaki dan membabatkan pedangnya dengan cepat.

Wuuuk...!

"Uts!"

Melihat serangan susulan yang begitu cepat, Garajas dengan cepat pula merundukan kepala. Sehingga pedang Lodaya kembali melesat tak mengenai sasaran. Namun, rupanya Lodaya telah menduga gerakan yang dilakukan lawan. Bersamaan dengan babatan pedangnya yang gagal, kakinya telah memutar dengan cepat melancarkan tendangan menggeledek ke pelipis kiri Garajas.

Garajas sempat tersentak menyaksikan gerakan begitu cepat yang dilakukan pemuda berpakaian merah muda. Akan tetapi, karena pengalamannya bertarung yang sudah tak terhitung, Garajas mampu menanggapi tendangan dahsyat Lodaya dengan sikap tenang. Hanya dengan mengangkat tangan kirinya, Garajas melindungi pelipisnya dari terjangan kaki Lodaya.

Plak! "Akh...!"

Lodaya Waru terpekik kaget ketika tendangan memutar yang dilakukan seolah membentur sebongkah logam keras. Seketika tubuhnya terhuyung sejauh tiga langkah dan sisi kanan telapak kakinya terasa berdenyut-denyut nyeri akibat benturan tadi.

"Gila!" maki Lodaya setelah kembali tegak ber-diri.

Kali ini putra Kepala Desa Waruwangi itu lebih berhati-hati dalam melancarkan setiap serangan. Lodaya Waru merasa, tenaga dalamnya berada setingkat di bawah tenaga dalam yang dimiliki Garajas. Sejenak kemudian pemuda tampan berpakaian merah muda nampak diam termangu.

"Ha ha ha...! Kenapa diam seperti tikus air, Lodaya. Ayo, kembalilah menyerang biar kau tahu bagaimana cara bertahan yang baik!" tukas Garajas mencemooh.

"Setan Belang!" maki Lodaya. "Apa kau pikir sudah menang setelah berhasil mengelakkan seranganku barusan? Terimalah ini! Hiaaat...!"

Lodaya Waru segera mengacungkan pedang ke depan dada, tatapan matanya, tertuju lurus ke wajah Garajas yang tubuhnya jauh lebih besar dari Lodaya. Sementara, pergelangan tangannya melakukan gerakan memutar pedang dengan cepat. Gerakan memutar itu kemudian berubah menyilang ke atas dan ke bawah. 

Begitu cepat gerakan yang dilakukan Lodaya, hingga senjata di tangannya tak nampak wujud aslinya. Yang nampak hanya garis-garis keperakan seiring gerakan tangan menyilang. Itulah jurus andalan Lodaya Waru yang bernama 'Pedang Penggusur Naga'.

Wuuung....! Wuuung...! "Hiaaat...!"

Seketika tubuh Lodaya melejit cepat ke tubuh Garajas yang masih terpaku menyaksikan kelihaiannya memainkan pedang. Sambaran pedang yang masih terus bersilangan cepat tak jelas mengarah ke bagian tubuh yang mana dari lawannya. Namun, jelas putaran pedang dalam jurus 'Pedang Penggusur Naga' nampak tengah bergerak membelah.

Garajas mengakui kelihaian permainan pedang Lodaya. Maka segera menimpali serangan itu dengan jurus 'Seribu Langkah Raksasa'. Seketika itu juga tubuh raksasa Garajas melejit dengan kecepatan tinggi. Gerakan cepat yang tak terlihat mata biasa membuat tubuh besar bercawat kulit ular itu sebentar menghilang, sebentar terlihat. Sehingga seolah-olah Garajas mempunyai ilmu menghilang.

Wung! Wuuung!

Bunyi mengaung dari sambaran pedang Lodaya yang selalu membentur tempat kosong kerap kali terdengar. Gerakan ini membuat Lodaya Waru harus mengumbar tenaganya secara percuma. Karena itu Lodaya Waru ingin menghentikan serangan yang belum menunjukkan hasil dalam menggempur Garajas.

Namun, baru saja Lodaya Waru hendak menghentikan serangan terakhir. Garajas telah melakukan gerakan yang menurut Lodaya akan mencelakakan dirinya sendiri. Tubuh Garajas mencelat cepat menghadang hantaman pedang Lodaya. Kedua tangannya melakukan gerakan seolah hendak menangkap sambaran pedang Lodaya Waru.

"Hih!"

Dengan cepat Lodaya menghentakkan pedang menyambut lesatan tubuh raksasa itu. Tetapi..!

Traaak...!

"Heh?!"

Lodaya terkejut ketika dua telapak tangan Garajas mampu menangkap pedangnya. Mata pedangnya yang begitu tajam menempel pada telapak tangan kanan, sementara punggung pedang yang tumpul terjepit telapak tangan kirinya.

Lodaya tentu saja mengambil perhitungan, seandainya dikerahkan seluruh tenaga dalamnya, telapak tangan kanan Garajas akan terbelah mata pedangnya yang begitu tajam.

Namun, ketika Lodaya melaksanakan maksudnya, kenyataan yang didapat begitu bertolak belakang. Pedang kesayangan yang terjepit dua telapak tangan Garajas sedikit pun tak bergeming. Padahal, putra Kepala Desa Waruwangi telah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.

"Ha ha ha....! Tarik terus senjatamu, Lodaya! Kalau kau mampu, dengan senang hati Tiga Raksasa Lembah Beracun meninggalkan desa yang tenteram ini tanpa harus mengusiknya sedikit pun," ujar Garajas dengan begitu angkuh Lodaya termakan juga ucapan itu, maka dengan sisa-sisa tenaga yang ada, dicobanya untuk menarik kembali pedang yang terjepit dua telapak tangan Garajas.

"Hiaaah...!"

Lodaya mengerahkan seluruh tenaga dalam untuk menarik kembali pedangnya, namun gerakan itu hanya sia-sia. Peluh telah membanjir di sekujur tubuh lelaki berpakaian merah.

"Ha ha ha...! Ayo tarik terus, Lodaya! Katanya kau mau menjaga ketenteraman desa ini. Ayo, tarik terus! Biar aku cepat-cepat angkat kaki dari sini," ledek Garajas dengan kepala yang terguncang-guncang karena tawa.

Lodaya merasa panas diejek seperti itu. Sekali lagi tangannya dengan kuat menarik pedang dari jepitan tangan Garajas. Namun, kembali usahanya gagal. Pedangnya seperti terjepit batu karang yang sangat berat

"Baik Kalau kau tak mampu, gantian aku yang akan menyerangmu," tukas Garajas.

Lelaki berambut gondrong tak terurus itu kini memejamkan matanya. Bibirnya yang tebal berkomatkomit cepat seperti tengah merapalkan sebuah mantera, untuk mengerahkan ajian 'Racun Lembah Merah'.

Lodaya Waru, dengan jantung berdegup keras memperhatikan apa yang akan dilakukan Garajas. Kali ini Lodaya mengerahkan tingkat kewaspadaannya. Tiba-tiba hatinya terkejut melihat telapak tangan Garajas berubah seperti bara. Apalagi, ketika sinar merah yang membara di telapak tangan Garajas menjalar cepat ke batang pedang. Pikirannya segera menangkap kalau sinar membara itu akan menjalar ke tubuhnya.

Lodaya bermaksud menghindari jalaran sinar merah itu dengan melepas cekalan pedangnya. Namun, betapa terkejut, usahanya yang terakhir ini pun gagal, karena tangannya melekat pada gagang pedang.

Sinar merah yang menjalar kini hampir mendekati gagang pedang Lodaya. Sementara putra Kepala Desa Waruwangi itu telah mulai merasakan hawa panas yang menyengat menelusup masuk melalui ujungujung jemari tangan.

"Aaakh!"

Lodaya terpekik ketika sinar merah yang menjalar itu menyentuh telapak tangan. Telapak tangannya pun kontan merah membara. Bersamaan dengan itu Garajas melepas jepitannya. Maka seketika itu juga...,

Bruuuk!

***
DUA
Tubuh Lodaya Waru terjengkang hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Putra Kepala Desa Waruwangi tidak mempedulikan pantatnya yang terasa sakit. Dengan kedudukan tubuh tergeletak miring di tanah, Lodaya memegangi tangannya yang terasa panas sekali.

Dua lelaki pengawal putra Kepala Desa Waruwangi segera memberikan pertolongan kepada Lodaya. Sedang dua lelaki lain maju menghadang Garajas dengan senjata terhunus.

"Ha ha ha...! Apa yang akan kalian lakukan padaku, Cecurut-cecurut Kudisan?!" bentak Garajas pada dua lelaki pengawal Lodaya.

"Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu, Iblis!" hardik lelaki berkumis tebal dengan alis mata yang hampir tak ada. Lelaki itu bernama Janata. "Bertanggung jawab?" tanya Garajas meledek.

"Kau yang seharusnya mempertanggungjawabkan kekurangajaranmu padaku, Kisanak!"

"Setan!" bentak Janata seraya hendak melompat menerjang.

"Tunggu!"

Sebuah bentakan keras keluar dari mulut Sobula. Lelaki bertubuh raksasa dengan kepala plontos itu mengangkat sebelah tangannya.

"Lebih baik kau tidak menyerangnya, Kisanak. Karena apa yang kau lakukan tidak akan menolong majikanmu yang telah terkena racun lembah raksasa. Dalam waktu tidak lebih dari satu kali peredaran matahari, majikanmu akan menemui ajalnya," ujar Sobula.

Kedua pengawal setia putra Kepala Desa Waruwangi mengurungkan niatnya menyerang Garajas. Teriakan yang keluar dari mulut Sobula cukup mempengaruhi pikiran Janata. Seketika itu juga Janata menolehkan kepala ke tubuh Lodaya yang tengah mengerang kesakitan.

"Sekarang, cepat kalian angkat bocah sombong itu. Dan antar kami mencari kepala desa ini!" ucap Sobula. "Cepat! Bocah itu akan mampus kalau terlambat sedikit saja!" lanjut Sobula.

***

Janata dan tiga pengawal Lodaya yang lain segera mengusung tubuh putra Kepala Desa Waruwangi, sementara Tiga Raksasa Lembah Beracun mengikuti langkah kaki Janata dan kawan-kawannya menuju rumah kediaman Kepala Desa Waruwangi.

Tak lama kemudian mereka semua telah berada tak jauh dari rumah Kepala Desa Waruwangi. Nampak beberapa orang penjaga rumah majikannya segera menyerbu Janata dan tiga kawannya yang tengah mengusung tubuh Lodaya.

"Tuan Lodaya!" teriak seorang penjaga rumah kepala desa keras. "Apa yang terjadi dengannya?!"

"Diamlah kau," cegah Janata seraya terus berjalan melewati tubuh penjaga rumah Ki Reksopati.

Begitu juga yang dilakukan Tiga Raksasa Lembah Beracun, dengan sikap tenang Sobula, Sedaka, dan Garajas melangkah perlahan. Tak dipedulikannya tatapan permusuhan yang terpancar dari mata para penjaga kediaman Ki Reksopati.

Kepala Desa Waruwangi yang melihat keadaan putranya seperti itu terkejut bukan kepalang, marahnya seketika menggelegak tak terbendung.

"Siapa yang telah melakukan ini?!" tanya Ki Reksopati keras.

"Aku yang melakukannya, Ki," jawab Garajas yang seketika itu juga masuk ke ruangan Ki Reksopati.

Sobula dan Sedaka mengikuti langkah kaki orang ketiga dari Tiga Raksasa Lembah Beracun, memasuki ruangan Ki Reksopati Kepala Desa Waruwangi.

"Hmmm"

Ki Reksopati menggumam perlahan ketika menyaksikan kehadiran tiga lelaki bertubuh tinggi kekar yang hanya mengenakan sehelai cawat dari kulit ular.

Mata lelaki berusia sekitar lima puluh lima tahun yang menjabat sebagai Kepala Desa Waruwangi seketika merayapi ketiga orang aneh di hadapannya.

"Siapa kalian, dan mengapa melakukan perbuatan ini pada anakku?" tanya Ki Reksopati dengan suara ditekan kuat

Mata Sobula membalas tatapan mata Ki Reksopati yang menusuk tajam.

"Kami tiga lelaki gagah yang berjuluk Tiga Raksasa Lembah Beracun. Apa yang kami lakukan terhadap diri anakmu itu semata karena kebaikanku untuk memberi pelajaran atas kelancangan Lodaya," sahut Sobula tenang.

"Kelancangan apa yang telah dilakukannya?" tanya Ki Reksopati menyelidik.

"Lodaya telah lancang mencegah apa yang telah menjadi keinginan kami," jawab Sobula.

"Keinginan?" ulang Ki Reksopati. "Apakah itu?" tanyanya kemudian.

Sobula kembali menatap dengan tajam wajah tua Ki Reksopati. "Keinginan kami sesungguhnya sederhana saja, Ki. Tiga Raksasa Lembah Beracun hanya berkeinginan menjadi pemimpin di Desa Waruwangi ini," jawab Sobula tegas.

Keinginan gila! Hardik Kepala Desa Waruwangi dalam hati. Matanya yang menampakkan sinar keterkejutan mencoba membalas tatapan mata lelaki berkepala botak

"Ah!"

Ki Reksopati tersentak ketika mendapatkan kekuatan tenaga dalam yang terpancar dari sinar mata Sobula. Mata menjorok ke dalam itu seolah memancarkan suatu kekuatan yang aneh sekali.

"Bagaimana, Ki? Apa kau juga akan menentang keinginan kami?" tanya Sobula.

Kepala Desa Waruwangi tak segera menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut lelaki berkepala botak. Pikirannya segera bekerja keras untuk dapat mengatasi keadaan ini sebaik mungkin.

Ki Reksopati sesungguhnya menyadari kalau ilmu silat yang dimilikinya tak berbeda jauh dengan ilmu silat yang dimiliki Lodaya. Maka sebisanya Ki Reksopati berusaha menghindari adu kekuatan dengan orang-orang ini. Karena sudah jelas mereka memiliki kepandaian di atas Lodaya Waru, yang juga berarti juga berada di atas kepandaiannya.

"Kalau kau menentang keinginanku, maka bukan saja Lodaya yang akan mati terkena keganasan racun lembah raksasa. Namun, kau dan penduduk desa ini akan mampus semua!" ancam Sobula.

Ki Reksopati tak menimpali ancaman Sobula, Kepala Desa Waruwangi itu hanya mengalihkan tatapan matanya ke tubuh Lodaya yang tengah mengerang kesakitan.

"Aku akan memberikan penawar racun lembah raksasa kalau kau menyetujui keinginanku, Ki," lanjut Sobula kali ini dengan suara sedikit merendah.

Empat pengawal Lodaya Waru terkejut mendengar ucapan lelaki berkepala botak. Jelas ucapannya itu mengingkari janjinya.

"Licik! Maki Janata dalam hati. Ki Reksopati kembali berpikir keras setelah mendengar tawaran lelaki berkepala gundul. Tawaran itu ada baiknya demi keselamatan Lodaya dan juga dirinya beserta penduduk Desa Waruwangi. Namun, apa jadinya jika desa yang aman dan tenteram ini tiba-tiba harus dipimpin tiga manusia aneh bertubuh mirip raksasa, dan berwajah beringas seperti ini.

"Baiklah, aku penuhi permintaan kalian," jawab Ki Reksopati mantap.

Empat pengawal setia Lodaya terkejut, mendengar keputusan Ki Reksopati yang menyetujui keinginan Tiga Raksasa Lembah Beracun, terlebih dengan Lodaya Waru. Lelaki berpakaian merah muda itu sampai membelalakkan matanya.

"Ayah!" suara Lodaya tertahan.

Ki Reksopati mencoba menenangkan anaknya. Memang, hanya kepala desa itu yang tahu semua rencana di benaknya. Ki Reksopati berharap kedatangan Kakang Gumai Gumarang dalam waktu dekat ini, syukur-syukur kedatangan itu disertai dengan ikut sertanya Kakang Terala dan Seruni. Apalagi jika si Raja Petir pun ikut datang ke sini. Sehingga harapan untuk dapat mengenyahkan keberadaan Tiga Raksasa Lembah Beracun di Desa Waruwangi akan terwujud.

"Ha ha ha.... Bagus! Bagus. Kau memang seorang kepala desa yang bijaksana, Ki Reksopati. Kau masih memikirkan keselamatan anakmu dan penduduk desamu. Nah, sekarang terimalah obat penawar racun lembah raksasa ini," Sobula melempar sebuah benda bulat merah ke hadapan Ki Reksopati.

Ki Reksopati yang mengenakan pakaian khas kepala desa warna putih segera menangkap obat yang dilempar Sobula, dan segera diberikan pada putranya yang terkulai di sampingnya.

Tanpa ragu Lodaya segera menelan obat pemunah racun lembah raksasa. Beberapa saat lamanya, setelah menelan obat, Lodaya merasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya berangsur-angsur lenyap. Seiring lenyapnya rasa sakit, sinar merah yang membungkus telapak tangan pun segera sirna.

"Kau lihat sendiri, Ki. Obat pemunah racun lembah raksasa itu begitu ampuh. Ini berarti sebuah jasa besar telah kuberikan untuk menyelamatkan nyawa anakmu. Dan sekarang kau harus membalas jasa itu dengan mematuhi segala peraturan dan perintah dariku," ucap Sobula tegas.

"Ya. Jangan coba-coba membangkang atau membantah keinginan kami!" tambah Sedaka yang sejak tadi berdiam diri.

"Betul. Kalau kalian coba-coba membantah, taruhannya kepala kalian," lanjut Garajas.

"Nah, sekarang tugasmu, umumkan pada seluruh penduduk desa ini, bahwa kekuasaan Kepala Desa Waruwangi sekarang di tangan Tiga Raksasa Lembah Beracun. Umumkan juga pada mereka agar jangan coba-coba membangkang perintah kami," perintah Sobula tegas.

Ki Reksopati termenung mendengar perintah itu.

"Cepat laksanakan perintahku, Ki! Dan setelah itu, carikan tiga perempuan cantik untuk menemaniku dan juga kedua temanku itu!" lanjut Sobula.

Ki Reksopati melangkahkan kakinya perlahan meninggalkan Tiga Raksasa Lembah Beracun. Sementara Lodaya dan keempat pengawalnya mengekor dari belakang dengan langkah lemas dan tak bergairah.

***

Sementara orang-orang kepercayaan Kepala Desa Waruwangi tengah mengumpulkan para penduduk di alun-alun, Ki Reksopati dan Lodaya duduk termenung di bawah sebatang pohon yang berdaun rindang. Suasana pagi yang indah tak lagi sempat dinikmati. Suara burung dan hembusan angin dirasakan sebagai pengiring sebuah duka cita bagi Ki Reksopati dan putranya.

Kurang lebih lima puluh tombak dari tempat penduduk Desa Waruwangi yang baru setengah berkumpul, nampak Danau Keramat yang kebiruan. Suasana hari itu berubah tidak seperti biasanya. Angin yang semula berhembus semilir tiba-tiba berhenti. Dan air danau yang biasanya beriak-riak tertiup angin kencang, tiba-tiba saja berubah. Permukaan air Danau Keramat mendadak bergolak-golak bagaikan air mendidih di atas tungku pemanas.

Air yang semula kebiruan, kini terus bergolak menimbulkan letupan-letupan kecil. Beberapa saat lamanya air di bagian tengah Danau Keramat bergolakgolak, sebentar kemudian air itu kembali tenang seperti sediakala, terus-menerus kejadian aneh itu berlangsung. Orang-orang Desa Waruwangi pun sama terkejut menyaksikan kejadian di danau.

"Pertanda apakah itu, Darmaji?" tanya salah seorang lelaki penduduk Desa Waruwangi yang kebetulan melintas di sekitar Danau Keramat

Lelaki bertubuh gempal yang dipanggil Darmaji tidak menjawab pertanyaan temannya yang bertubuh tinggi kurus. Mata Darmaji masih mengawasi tengah Danau Keramat yang barusan bergolak.

"Aku tak tahu pertanda apa ini, Bar," jawab Darmaji kepada kawannya yang bernama Jembar.

Jembar tak melanjutkan ucapannya. Setelah menatap air danau yang barusan bergolak, Jembar kemudian memegang bahu Darmaji.

"Perasaanku tak enak, Ji," ucap Jembar datar. "Lebih baik cepat kita tinggalkan tempat ini!" lanjut Jembar cemas.

"Ayolah, Bar! Perasaanku juga begitu," timpal Darmaji sambil melangkah terburu-buru.

Namun baru empat langkah mereka berjalan. Tiba-tiba bagian tengah Danau Keramat kembali bergolak. Kali ini letupan terdengar lebih keras dari yang semula.

Jembar dan Darmaji seketika menghentikan langkahnya. Jantung kedua lelaki penduduk Desa Waruwangi seperti hendak lepas ketika dari dalam air yang bergolak dahsyat itu tiba-tiba muncul se-berkas bayangan kebiruan. Bayangan itu melesat tinggi ke angkasa dan berputar-putar beberapa kali sebelum berhenti dengan ringan sekali di atas permukaan air. Bayangan kebiruan itu tidak kembali masuk ke air danau.

Jembar dan Darmaji bagai tersihir setelah menyaksikan kejadian aneh di depan mata mereka. Dengan mata kepala sendiri mereka menyaksikan sosok  itu melesat ke udara dan kemudian mendarat di atas permukaan air tanpa harus terbenam ke dalamnya. 

Darmaji dan Jembar berpikiran kalau sosok itu adalah hantu Danau Keramat karenanya.... Kedua lelaki penduduk Desa Waruwangi hendak segera berlari meninggalkan danau, namun kaki mereka terasa begitu berat seperti terbelenggu. Telapak kaki Jembar dan Darmaji seperti menempel di pasir pinggir Danau Keramat

"Hi hi hi...! Kalian jangan pergi dulu, Kisanak!" suara sosok berpakaian biru bergema dan memantul-mantul dari tengah-tengah danau yang berjarak puluhan pal.

Suara bergema itu memiliki daya kekuatan yang aneh, hingga Jembar dan Darmaji tak mampu bergeming sedikit pun dari tempatnya. Wajah mereka melongo menatap sosok tubuh berpakaian serba biru yang berjalan di atas air Danau Keramat

"Hi hi hi...! Jangan melongo seperti itu, Kisanak! Apa kalian kagum dengan gerakanku ini?" tanya sosok berpakaian serba biru yang ternyata seorang lelaki berusia sekitar dua puluh lima tahun.

Raut wajah lelaki itu begitu tampan. Alis hitam tebal dan bulu mata lentik sangat mendukung bola matanya yang hitam bening. Wajah lelaki berpakaian biru itu sesungguhnya layak seperti wajah seorang pangeran. Tubuhnya ramping, tinggi semampai. Rambutnya yang panjang tergerai, bergoyang-goyang dihembuskan angin.

Namun sayang, wajah tampan yang mirip seorang pangeran, tampak begitu aneh. Karena selain kesan dingin tersirat di wajahnya, juga rambutnya yang panjang tergerai memiliki dua warna yang sangat menyolok yakni hitam dan putih keperakan.

"Hi hi hi...! Kalian harus kenal denganku, Kisanak. Akulah penguasa tunggal daerah ini Penguasa Danau Keramat yang akan menggemparkan dunia persilatan. Akulah lelaki yang berjuluk Penguasa Danau Keramat," ujar sosok berpakaian serba biru terdengar berkumandang di telinga Jembar dan Darmaji yang masih terlongong bengong.

Jembar dan Darmaji hanya diam terpaku mendengar ucapan lelaki yang diduga menguasai ilmu kesaktian yang cukup tinggi. Buktinya lelaki yang mengaku berjuluk Penguasa Danau Keramat mampu berdiam diri di dasar Danau Keramat, entah sudah berapa lama. Dan begitu jelas terlihat mata Jembar dan Darmaji, sosok berambut panjang itu mampu berjalan dengan ringan sekali di atas permukaan air Danau Keramat yang tenang tak beriak

"Hi hi hi...! 

"Sebenarnya belum waktunya aku muncul untuk turut meramaikan dunia persilatan, Kisanak. Namun, karena desa terdekat dengan danau tempatku berkuasa tengah kedatangan tamu yang hendak berkuasa, aku menyempatkan diri untuk mengenyahkan mereka semua. Atau kalau mereka mau menyerah secara jujur, aku ingin mereka menjadi abdi setiaku," ujar Penguasa Danau Keramat tegas. 

Suaranya yang lantang bergema sampai jauh. Getaran yang ditimbulkan terasa di hati penduduk Desa Waruwangi. Kedua orang lelaki itu hanya berdiam diri terpaku mendengar ucapan sosok yang berdiri di atas air dengan tenang.

"Karena kalian orang pertama yang kujumpai, aku tak ingin melenyapkan nyawa kalian. Kabarkan pada kepala desa dan seluruh penduduk Waruwangi bahwa aku, Penguasa Danau Keramat, sebentar lagi akan datang sebagai Penguasa Danau Keramat!" lanjut Penguasa Danau Keramat sambil mengangkat tangan kanan ke atas kepala.

Jembar dan Darmaji sempat berprasangka buruk dengan apa yang akan dilakukan lelaki berambut putih hitam di hadapannya. Namun, sebuah pertunjukan aneh kembali nampak di mata mereka berdua.

Tangan lelaki berpakaian serba biru yang terangkat ke atas kepala tiba-tiba menjenggut rambutnya sendiri yang panjang tergerai sampai pinggulnya.

"Haaah...!"

Tangan lelaki yang berjuluk Penguasa Danau Keramat terangkat ke atas, dan tiba-tiba menjenggut rambutnya sendiri yang panjang tergerai.

"Haaah...!"

Jembar dan Darmaji terpekik keras ketika melihat kepala lelaki itu terlepas dari tempatnya dan dicekal begitu saja oleh pemiliknya!Jembar dan Darmaji terpekik kuat ketika melihat kepala lelaki yang berjuluk Penguasa Danau Keramat terlepas dari tempatnya. Tangan kanan lelaki berpakaian serba biru mencekal rambut di kepala yang terpisah dari badannya. Darah berceceran dari leher yang tergantung di tangan kanan.

Sekali lagi mata Jembar dan Darmaji menyaksikan kejadian aneh. Kedua lelaki penduduk Desa Waruwangi terperanjat ketika tiba-tiba tubuh lelaki berpakaian serba biru yang tadi berdiri di atas danau mendadak lenyap dari pandangan. Sementara kepalanya masih terlihat mengambang di udara, tanpa tangan yang memegangnya.

Lutut Jembar dan Darmaji semakin bergetar kuat, mereka nampak sudah tak sanggup lagi menahan berat tubuh masing-masing. Seketika itu juga tubuh Jembar dan Darmaji tersungkur di atas tanah berpasir lembut.

"Hi hi hi...!"

Kepala tanpa badan itu tertawa menyeramkan. Suaranya yang menggema seperti dari jarak puluhan pal itu semakin membuat Jembar dan Darmaji ketakutan.

"Sudah kukatakan, aku tak akan membunuh kalian, jadi kalian jangan takut!" terdengar suara dari mulut kepala yang melayang-layang di atas danau.

"Sekarang, cepat kalian pergi dari hadapanku! Kabarkan apa yang menjadi keinginanku pada Kepala Desa Waruwangi," lanjut Penguasa Danau Keramat.

Jembar dan Darmaji merasa sedikit lega mendengar ucapan kepala tanpa badan di hadapannya. Lalu keduanya berusaha bangkit, tapi kenyataannya mereka sedikit pun tak mampu mengangkat tubuh masing-masing.

Wajah Penguasa Danau Keramat tersenyum menyaksikan tingkah dua lelaki di hadapannya.

"Baiklah, aku yang akan pergi dari hadapan kalian. Namun, jangan kalian lupakan pesanku itu!" pesan Penguasa Danau Keramat, sebelum pergi meninggalkan kedua lelaki yang masih gemetaran.

Seketika kepala tanpa badan itu melesat begitu cepat ke tengah Danau Keramat yang barusan bergolak. Dan ketika kepala berambut gondrong itu menyentuh permukaan air danau, seketika wujud yang cukup mengerikan itu lenyap.

Jembar dan Darmaji saling berpandang sesaat. Kemudian, tiba-tiba kedua lelaki penduduk Desa Waruwangi seperti dijalari kekuatan baru. Tubuh mereka seketika mampu bangkit dan berlari ngawur seperti orang dikejar-kejar hantu.

***
TIGA
Dua lelaki bernama Jembar dan Darmaji terus berlari cepat. Napasnya terdengar memburu kencang dan peluh telah membasahi pakaian mereka. Dari jarak sekitar delapan tombak, Ki Reksopati dan Lodaya menyaksikan dua lelaki yang tengah berlari kencang mendekati mereka. Kepala Desa Waruwangi dan putranya yang tengah duduk di bawah pohon besar, segera bangkit. Mata Ki Reksopati dan Lodaya Waru menatap tajam kedua orang yang berlari terburu-buru.

"Aduh..., Ki. Aduh, ora... orang itu, aduh...!" Jembar yang tiba lebih dulu di hadapan Ki Reksopati segera bersimpuh. Napasnya tersengal-sengal. Dan dengan terbata-bata menyampaikan laporan kepada Kepala Desa Waruwangi.

Ki Reksopati dengan keheranan memandangi Jembar yang masih terengah-engah. Kemudian tatapan kepala desa segera beralih pada Darmaji yang tak berbeda dengan Jembar.

"Gawat, Ki. Waduh.... Gawat! Makhluk itu, makhluk itu begitu menyeramkan," tukas Darmaji terbata-bata.

"Kepalanya Ki, kepalanya...!" sambung Darmaji sambil mengusap peluh yang bercucuran di kening dan lehernya.

Ki Reksopati mengurut dada menyaksikan tingkah kedua warganya. Diduganya persoalan baru akan muncul, sementara persoalan sulit yang tengah dihadapi belum menemukan jalan keluar.

"Ada apa...? Tenang, tenangkan hati kalian!" sahut Ki Reksopati, "Katakan apa yang telah terjadi atas kalian berdua," pinta Ki Reksopati tegas sambil melangkah ke depan dua orang yang bersimpuh di hadapannya.

"Ya. Katakanlah dengan tenang, Kakang Jembar, Kakang Darmaji. Jangan gugup seperti itu! Aku akan membantu kalian jika kalian memang menemui kesulitan," timpal Lodaya Waru.

Jembar dan Darmaji tak segera memenuhi permintaan dua orang terhormat di Desa Waruwangi. Kedua lelaki yang mengalami ketakutan hebat itu kini tengah mencoba mengatur napas yang memburu. Sejurus kemudian, kedua lelaki warga Desa Waruwangi nampak menghela napas dalam-dalam untuk mengatur degup jantung mereka.

"Lelaki itu muncul dari tengah Danau Keramat yang tiba-tiba saja bergolak seperti air mendidih, Ki," ujar Jembar memberitahukan kejadian yang baru saja dialami.

"Lelaki? Muncul dari tengah Danau Keramat?

Ah, siapa dia, Jembar?!" tanya Lodaya tak sabar.

Jembar yang ditanya seperti itu segera melempar tatapannya ke wajah Lodaya. Sementara Ki Reksopati hanya termenung mendengar kabar yang dibawa kedua warganya. Pikiran Kepala Desa Waruwangi seketika menerawang jauh ke suatu peristiwa yang terjadi puluhan tahun silam. Waktu itu usianya masih belia.

"Dia mengaku berjuluk Penguasa Danau Keramat, Adi Lodaya," jelas Darmaji mendahului ucapan yang hendak keluar dari mulut Jembar.

Lodaya Waru terkejut mendengar penjelasan yang diberikan Darmaji. Raut wajah putra kepala desa itu nampak tegang. Ternyata begitu pula dengan Ki Reksopati. Wajah penguasa Desa Waruwangi nampak tegang. Hatinya begitu terkejut ketika julukan Penguasa Danau Keramat disebut Darmaji. Sementara raut muka lelaki setengah baya itu nampak dicekam rasa cemas dan ketakutan. Namun, di hadapan Lodaya dan kedua warganya, Ki Reksopati mencoba menyembunyikan perasaannya. Dari mulutnya terdengar suara mendesis pelan....

"Penguasa Danau Keramat ?!" tanya Ki Reksopati mirip sebuah bisikan.

"Ayah kenal dengan julukan itu?" tanya Lodaya Waru ketika sempat mendengar ucapan Ki Reksopati.

Ki Reksopati menatap wajah Lodaya Waru lamat-lamat, kemudian tatapan mata itu beralih pada wajah Darmaji.

"Bagaimana ciri-ciri lelaki berjuluk Penguasa Danau Keramat itu, Darmaji?" tanya Ki Reksopati tanpa mempedulikan pertanyaan Lodaya.

Darmaji menatap wajah Jembar sebelum menjawab pertanyaan Ki Reksopati. Lelaki berwajah agak keras itu seolah-olah tengah minta persetujuan temannya.

"Wajahnya tampan, Ki. Dan rambutnya panjang terurai, tapi aneh," jawab Darmaji.

"Aneh, apa maksudmu?!" tanya Lodaya semakin penasaran.

"Rambutnya ada dua warna, Adi Lodaya," beritahu Darmaji. "Pada bagian kepala sebelah kanan rambutnya keperakan, sedang sebelah kiri hitam," lanjut Darmaji mencoba menjelaskan yang telah dilihatnya. Sementara itu, Jembar mengangguk-anggukkan kepala pertanda membenarkan cerita Darmaji.

Sedang Ki Reksopati semakin termenung jauh mendengar ciri-ciri Penguasa Danau Keramat yang diuraikan Darmaji.

Apa memang dia? Batin Ki Reksopati.

"Kau bisa memperkirakan, berapa usianya?" selidik Ki Reksopati penasaran.

Darmaji dan Jembar kembali saling memandang ketika mendengar pertanyaan Kepala Desa Waruwangi.

"Kira-kira lebih tua sedikit dari Adi Lodaya, Ki," Jembar yang menyahuti pertanyaan itu.

"Sekitar dua puluh lima tahun," tebak Ki Reksopati. Berarti, bukan Penguasa Danau Keramat yang sesungguhnya. Mungkin ada tokoh sakti lain yang mampu menyerupai tokoh yang beberapa puluh tahun silam sangat mengiriskan. Kepala Desa Waruwangi mulai menduga-duga dalam hati.

"Sebutkan ciri-cirinya yang lain!" pinta Ki Reksopati semakin penasaran.

"Rasanya tidak ada, Ki," jawab Darmaji.

"Eh, kau lupa menyebutkan pakaiannya, Ji" sangkal Jembar yang sejak tadi hanya diam mendengar penuturan kawannya.

"Eh, iya, Ki. Lelaki yang mengaku berjuluk Penguasa Danau Keramat itu mengenakan pakaian serba biru," sambung Darmaji.

"Tidak ada lagi?" tanya Lodaya.

"Hmmm...," Jembar dan Darmaji bergumam hampir bersamaan.

"Ada, ada. Lelaki itu bisa melepas kepalanya sendiri dari badan dan seluruh badannya dapat menghilang. Tinggal kepalanya yang berlumuran darah dapat bergerak-gerak sendiri. Hiii...!" Jembar mengerutkan tubuhnya setelah membayangkan sosok lelaki begitu menyeramkan.

Ki Reksopati kembali termenung mendengar penuturan Jembar. Hati Kepala Desa Waruwangi mulai dihinggapi rasa keraguan benar dan tidaknya sosok yang mengaku berjuluk Penguasa Danau Keramat. Namun, dari ciri-ciri yang disebutkan Jembar belakangan, Ki Reksopati menarik kesimpulan. Sosok lelaki berusia dua puluh lima tahun itu murid Penguasa Danau Keramat, yang kalau masih hidup, sekarang mungkin sudah berusia sekitar tujuh puluh tahun.

"Apa yang dikatakan ketika kalian menemuinya?" tanya Lodaya kepada Jembar dan Darmaji.

"Dia tidak senang ada orang lain yang ingin menguasai Desa Waruwangi ini," jelas Jembar mulai agak lancar karena telah hilang rasa gugupnya.

"Betul, Ki," sambung Darmaji. "Penguasa Danau Keramat berkata kalau dirinya akan mengenyahkan ketiga tamu yang ingin memaksakan kekuasaan mereka di Desa Waruwangi. Lalu dirinya juga ingin menjadi penguasa tunggal di desa ini."

Kepala Desa Waruwangi dan putranya Lodaya sama-sama termenung setelah mendengar penuturan dari kedua warganya. Cukup lama juga anak-beranak itu saling berdiam diri.

"Lalu bagaimana dengan para penduduk yang telah kita kumpulkan di alun-alun itu, Ayah?" tanya Lodaya mengusik keterpakuan. "Apakah kita tetap akan mengumumkan pada mereka, bahwa Tiga Raksasa Lembah Beracun sebagai penguasa Desa Waruwangi ini?"

"Entahlah, Lodaya. Rasanya aku belum dapat memutuskan segalanya dalam waktu sesempit ini," jawab Ki Reksopati dengan tatapan mata yang diliputi perasaan kecewa dan sedih.

"Tapi...," ucapan Lodaya Waru terputus.

Ki Reksopati mengangkat tangan sebagai syarat agar Lodaya tidak meneruskan ucapannya. Sementara tatapan mata Kepala Desa Waruwangi tertuju pada dua lelaki warga Desa Waruwangi yang tengah berlari ke arahnya.

"Semua penduduk sudah berkumpul di alunalun, Ki," ucap salah seorang yang berpakaian hijau daun.

Ki Reksopati tidak menanggapi laporan lelaki yang memang telah ditugasi untuk mengumpulkan penduduk. Pikirannya kini tengah berputar mencari keputusan yang tepat.

Dahi Ki Reksopati berkerut ketika pikirannya seperti terkuras untuk mencari jalan keluar dari persoalan besar ini. Sebagai kepala desa, Ki Reksopati merupakan tokoh yang paling disegani di Desa Waruwangi. Kini dirinya tengah kebingungan menghadapi dua persoalan besar yang datang secara bersamaan. Kepalanya tertunduk beberapa lama. Namun kemudian segera diangkatnya kepala dan mengeluarkan suara yang sangat mengejutkan.

"Seluruh warga yang telah berada di alun-alun, suruh kembali ke rumah masing-masing. Bubarkan mereka dengan tertib dan katakan agar tak satu pun  di antara mereka yang berada di luar rumah," putus Ki Reksopati tegas.

Dua lelaki yang ditugasi mengumpulkan penduduk tak membantah keputusan Ki Reksopati. Mereka segera membalikkan badan dan berlari menuju alun-alun, meski seribu pertanyaan melintas di benak masing-masing.

"Tidakkah keputusan Ayah terlalu berbahaya bagi kita dan warga desa ini?" tanya Lodaya Waru agak ragu-ragu.

"Kita lihat saja nanti, Lodaya. Dan kita samasama berdoa pada sang Pemelihara Jagat, agar kehancuran tak melanda desa kita yang damai," ucap Ki Reksopati datar.

Lodaya Waru, lelaki muda usia yang memiliki kepandaian ilmu silat cukup tinggi hanya menundukkan kepala mendengar ucapan orang tuanya. Dirinya menyadari, pada saat-saat yang gawat seperti ini, pada saat di mana manusia tak lagi mampu mengatasi persoalan yang ada, hanya kepada sang Pencipta Alamlah kita mengadu dan memohon pertolongan.

Dengan langkah lunglai Ki Reksopati meninggalkan Lodaya Waru yang masih diam terpaku di tempatnya. Pemuda berpakaian merah muda itu belum begitu tenteram atas keputusan yang dikeluarkan ayahnya. Namun untuk membantahnya dirinya tak mampu, karena merasa tak dapat menentukan keputusan lain yang lebih baik. Akhirnya dengan langkah tak bergairah Lodaya Waru mengikuti langkah kaku Ki Reksopati. Kakinya melangkah dengan berat menuju tempat kediamannya.

***

Belum lagi Ki Reksopati dan putranya memasuki pekarangan rumah, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang keras.

"Kau telah melakukan kesalahan besar, Reksopati!"

Ki Reksopati dan Lodaya menoleh ke tempat asal suara, namun sedikit pun mereka tak menemui sosok orang yang telah berbicara cukup kasar. Namun, nampaknya Ki Reksopati tahu siapa pemilik suara keras itu.

"Keluarlah, Adi Sobula!" perintah Ki Reksopati sopan. "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan pada kalian. Dan ini menyangkut apa yang menjadi keinginanmu," lanjut Kepala Desa Waruwangi dengan suara yang tenang.

Tanpa diminta dua kali, tiga lelaki bertubuh tinggi besar keluar dari persembunyian mereka.

"Sebenarnya aku tak ingin tahu apa pun alasan yang kau kemukakan, Tua Bangka!" hardik Sobula setelah berdiri tegak di hadapan Ki Reksopati. "Tapi karena aku masih membutuhkan tenagamu, maka ku putuskan aku ingin tahu, apa yang menyebabkanmu membubarkan para penduduk yang telah kau kumpulkan di alun-alun tadi!" lanjut Sobula.

"Ada tokoh sakti melarangku melakukan apa yang menjadi keinginanmu, Sobula," jelas Ki Reksopati. "Dia menyatakan tak rela ada orang yang bermaksud menguasai Desa Waruwangi ini," lanjut-nya.

"Kurang ajar!" ucap Sobula menggelegar. "Katakan siapa dia!"

"Dia mengaku berjuluk Penguasa Danau Keramat," sahut Ki Reksopati terus terang.

"Penguasa Danau Keramat?!" ulang tiga lelaki yang berjuluk Tiga Raksasa Lembah Beracun bersamaan. "Siapa itu Penguasa Danau Keramat?"

"Ya. Penguasa Danau Keramat. Dia bermaksud mengenyahkan keberadaan kalian di desa ini," lanjut Ki Reksopati memanasi.

Ki Reksopati, Kepala Desa Waruwangi sengaja menjelaskan hal itu, karena dirinya ingin agar Tiga Raksasa Lembah Beracun bentrok dengan lelaki yang mengaku berjuluk Penguasa Danau Keramat. Dengan harapan dapat kesempatan baginya untuk menyusun kekuatan guna mengusir mereka. Apalagi jika Kakang Gumai Gumarang datang bersama Seruni dan Raja Petir, maka bisa dipastikan kekuatan yang didapat semakin kokoh.

Sobula, orang pertama dari tiga lelaki berjuluk Tiga Raksasa Lembah Beracun terpengaruh ucapan yang dilontarkan Ki Reksopati. Wajah Sobula nampak merah padam, jelas kalau lelaki bertubuh besar itu marah atas tantangan Penguasa Danau Keramat.

"Aku akan menghancurkannya, Reksopati,"  ujar Sobula geram. "Katakan di mana kediamannya?"

"Tiga pal jauhnya dari sini, Adi Sobula. Di sebelah timur," jelas Ki Reksopati.

"Hmmm... "

Sobula, orang pertama dari Tiga Raksasa Lembah Beracun menggumam perlahan. Kemudian tatapan matanya beralih pada Sedaka dan Garajas.

"Kita satroni dia sekarang, Adi Sedaka?" tanya Sobula seolah minta pertimbangan.

"Tentu saja, Kakang. Kita harus enyahkan si Penguasa Danau Keramat itu sekarang juga!" sahut Sedaka mantap.

"Betul, Kakang. Kita tak perlu mengulur-ulur waktu hanya untuk menyingkirkan orang yang tak tahu diri itu!" sambut Garajas tak mau kalah.

"Hi hi hi...!"

Seiring dengan selesainya ucapan Garajas, terdengar sebuah suara yang cukup keras dan bergema. Suara tawa itu seolah datang dari jarak ratusan pal jauhnya.

Sobula, Sedaka, dan Garajas tersentak kaget begitu mendengar tawa yang mengandung kekuatan aneh. Begitu juga dengan Ki Reksopati. Namun, benak lelaki Kepala Desa Waruwangi itu langsung menduga kalau tawa itu ada hubungannya dengan sosok yang pernah diceritakan Jembar dan Darmaji.

Hanya beberapa saat suara tawa itu bergema sampai pelosok Desa Waruwangi. Namun, suara dahsyat itu cukup menyebabkan rasa ketakutan para penduduk desa yang berada di dalam rumah.

Dan setelah tawa itu lenyap, sebuah bayangan kebiruan melesat dengan kecepatan yang sukar diikuti mata biasa. Bayangan kebiruan melesat cepat dan mendarat tanpa menimbulkan bunyi, sekitar lima tombak di depan Tiga Raksasa Lembah Beracun dan Ki Reksopati.

"Hi hi hi...! Tak usah kalian susah-susah menyantroni kediamanku! Cukup aku yang datang ke sini, kalau hanya untuk menyingkirkan kalian Tiga Raksasa Lembah Beracun," ucap sosok lelaki berpakaian serba biru.

Lelaki yang berjuluk Penguasa Danau Keramat itu nampak berdiri pongah dengan sikap menantang.

***
EMPAT
Sobula, Sedaka, dan Garajas yang mendengar ucapan sosok berpakaian serba biru, seketika merasakan darahnya naik ke ubun-ubun. Mata Tiga Raksasa Lembah Beracun menyorot tajam menatapi wajah lelaki berambut hitam dan putih keperakan di depannya.

Sobula melangkah satu tindak ke belakang. Matanya terus merayapi sekujur tubuh lelaki muda berpakaian serba biru.

"Jadi bocah ingusan seperti kau yang berjuluk Penguasa Danau Keramat?" tanya Sobula dengan nada meremehkan. 

"Ha ha ha...! Seharusnya kau berpikir seribu kali untuk menantang Tiga Raksasa Lembah Beracun yang sudah kesohor kesaktian-nya," lanjut Sobula sambil berkacak pinggang dengan angkuh.

"Tua Bangka tak tahu diri!" balas sosok yang berjuluk Penguasa Danau Keramat. 

"Nama asliku Benggala Sewu. Dan aku berjuluk Penguasa Danau Keramat. Aku memang anak kemarin sore, jika dibandingkan kalian bertiga. Namun, sebagai tokohtokoh sakti, seharusnya kalian sudah dapat mengukur siapa diriku, dan sejauh mana tingkat kesaktianku. Kurasa ucapan kalian tadi hanya bertujuan membesarkan hati kalian yang sesungguhnya ciut!"

"Kurang ajar!" maki Sedaka mendengar ucapan lelaki yang mengaku bernama Benggala Sewu.

"Coba buktikan ucapanmu itu, Benggala! Ayo, kita adu kesaktian!" selak Garajas dengan garang.

"Majulah kalian bersama-sama, agar aku tak banyak membuang waktu," tutur Benggala Sewu semakin membuat Tiga Raksasa Lembah Beracun dikuasai nafsu angkara murka yang tak tertahan.

Sobula yang merasa dirinya sebagai pemimpin dari tiga lelaki berjuluk Tiga Raksasa Lembah Beracun, merasa terhina dengan ucapan Benggala Sewu. Dengan lantang lelaki bertubuh bagai raksasa itu membalasnya.

"Jangan sombong kau, Benggala! Menghadapiku saja kau belum tentu mampu, apalagi jika kami merangsek secara bersamaan. Ayo, majulah! Cukup hadapi aku saja!" dengan suara lantang Sobula menantang musuhnya.

"Jangan menyesal kalau kau harus mampus di tanganku!" balas Benggala Sewu geram.

***

Sobula yang kejengkelannya memuncak segera memberikan penyerangan tajam ke tubuh Benggala. Senjatanya berupa sepasang gada berduri yang saling terikat rantai baja, berputar-putar kencang di atas kepala.

Wuuuk...! Wuuuk...!

Bunyi berkesiutan seketika terdengar dari sepasang gada berduri yang kini lenyap bentuk aslinya. Yang nampak hanya sinar keperakan yang melingkarlingkar di atas kepala Sobula.

Wruuuk! Wruuuk! Wruuuk!

Benggala Sewu, lelaki berusia tak lebih dari dua puluh lima tahun yang berjuluk Penguasa Danau Keramat hanya meladeni Sobula dengan seulas senyum yang terkembang. Lelaki berambut dua hitam dan putih keperakan itu nampak berdiri dengan tenang.

"Hiaaa...!" teriakan keras dari mulut Sobula.

Tubuh Sobula seketika melejit begitu cepat, dan senjatanya yang berputar-putar cepat, seketika diayunkan menuju kepala Benggala Sewu.

Wuuuk!

Bunyi angin yang mengiringi sambaran sepasang gada terdengar.

"Heit!"

Pemuda berpakaian serba biru yang berjuluk Penguasa Danau Keramat, dengan cepat mendoyongkan tubuh ke belakang, ketika senjata Sobula sejengkal lagi menghancurkan kepalanya. Begitu ringan dan lentur gerakan yang dilakukan Benggala Sewu. Dan serangan ganas yang dilancarkan lelaki besar bercawat kulit ular hanya membentur menghantam tempat kosong.

Namun, gerakan yang dilakukan Benggala Sewu nampaknya sudah terbaca Sobula, pemimpin Tiga Raksasa Lembah Beracun itu. Lelaki berkepala botak yang besar tubuhnya satu setengah kali ukuran manusia biasa, kembali melancarkan serangan maut ke tubuh Benggala Sewu. 

Sementara itu tubuh pemuda berambut panjang itu tengah melengkung, dengan bertumpu pada dua tangan terbalik menyentuh tanah, dan kepala terdongak yang juga hampir menyentuh tanah.

Dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, Sobula melancarkan tendangan kaki kanan lurus ke kemaluan Benggala Sewu. Sebuah teriakan nyaring mengiringi serangan lelaki botak yang berjuluk Raksasa Lembah Beracun.

"Hiaaat..!"

Wuuut...!

Benggala Sewu yang paham akan kelicikan lawannya, dengan cepat mengeluarkan ilmu yang dinamakan 'Jagat Tembus Pandang'. Sebuah, ilmu langka yang jarang dimiliki tokoh-tokoh sakti rimba persilatan.

Sobula, lelaki bertubuh raksasa dan berkepala botak plontos tersentak kaget melihat ilmu langka yang dimainkan lawannya. Tendangan dahsyat yang diperkirakan akan mendarat telak di bagian tubuh mematikan Benggala Sewu, ternyata membentur tempat kosong.

Yang membuat Sobula tak habis pikir ketika tubuh Benggala Sewu yang sedikit pun tak bergeser dari tempatnya. Dan tendangan keras yang dilakukannya memang tepat sekali mengenai sasaran.

"Ilmu Setan!" umpat Sobula dengan jengkel. Umpatan Sobula ternyata dibalas seulas senyum yang terkembang di wajah tampan lelaki berambut hitam dan putih keperakan, yang berjuluk Penguasa Danau Keramat.

Senyuman Benggala Sewu bagi Sobula berarti sebuah ejekan, membuat lelaki berkepala botak itu semakin naik amarahnya. Maka, tanpa mempedulikan kepandaian lawan yang berada di atasnya, Sobula kembali melancarkan serangan berbahaya.

"Hiaaat...!"

Sambaran tangan yang membentuk sebuah cakaran kokoh, berkelebat cepat ke leher Benggala Sewu. Bunyi bercericit mengawali kedatangan serangan lelaki bercawat kulit ular.

Benggala Sewu yang sudah dapat mengetahui kemampuan Sobula, nampak hanya tenang-tenang saja. Dibiarkannya sambaran tangan lelaki berkepala plontos itu maju lebih dekat lagi. Lalu...

Traaakkk!

Jari-jari tangan Benggala Sewu yang juga membentuk cakar kokoh seketika berkelebat memapak sambaran tangan Sobula. Karuan saja ruas-ruas jari tangan Benggala Sewu dan Sobula saling bertemu. Dan Benggala Sewu segera memutar pergelangan tangannya dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.

Krrrkkk...!

Sebuah bunyi seperti tulang-tulang berpatahan pun seketika terdengar, ditingkahi oleh suara pekik kesakitan yang keluar dari mulut Sobula.

"Aaakhhh...!"

Ketika itu juga sebuah hantaman telak tiba-tiba mendarat di dada bidang lelaki bertubuh besar yang hanya berpakaian cawat dari kulit ular. Pekik keras membumbung ke langit seketika kembali terdengar. Dan tubuh besar Sobula terpental beberapa langkah.

Ki Reksopati terbelalak kagum, melihat kehebatan ilmu yang dimiliki Penguasa Danau Keramat. Namun tidak demikian halnya dengan Sedaka dan Garajas. Dua lelaki adik seperguruan Sobula terbelalak kaget menyaksikan Sobula dikalahkan hanya dalam beberapa jurus dan dalam waktu begitu singkat

Melihat kenyataan itu, Sedaka dan Garajas segera menghambur ke Benggala Sewu untuk mengadakan perhitungan.

"Hi hi hi...! Sabar, sabar. Kalian jangan terburu nafsu menyerangku. Tidakkah kalian pikirkan keselamatan kawanmu itu?" tahan Benggala Sewu seraya menunjuk tubuh Sobula yang tengah berkelojotan.

Suara yang keluar dari mulut Penguasa Danau Keramat memang berpengaruh kuat pada kemantapan hati Sedaka dan Garajas. Dua lelaki berpakaian cawat dari kulit ular itu mengalihkan tatapan pada tubuh Sobula yang berkelojotan.

"Kakang Sobula!" teriak Garajas seraya menghambur ke tubuh Sobula yang menggelepar di tanah.

Hoeeek!"

Sobula memuntahkan darah merah kehitaman ketika Garajas memegang bahunya.

"Kau terluka dalam, Kakang," ucap Garajas khawatir.

Sobula kembali terbatuk, namun darah tak keluar lagi dari mulut lelaki berkepala botak,

"Hati-hati. Setan itu memiliki ilmu tinggi dan licik," ujar Sobula tersendat-sendat "Kau dan Sedaka harus bersama-sama menghadapi setan itu," lanjut Sobula dengan dua telapak tangannya yang mendekap dada yang bagai melesak ke dalam.

Setelah meyakini keadaan Sobula yang tidak begitu parah, Garajas kembali mencelat cepat dan berdiri di samping Sedaka. Kini kedua tubuh tinggi besar yang hanya berpakaian cawat dari kulit ular, berdiri tegak menghadap ke Benggala Sewu.

"Kita hancurkan sama-sama bocah setan ini, Kakang!" ajak Garajas mantap.

"Bersiaplah!" sambut Sedaka sambil melompat tiga langkah ke samping kanan menjauhi tubuh Garajas.

"Badai Lembah Beracun!" pekik Sedaka keras.

Sepasang gada bergerigi yang ditautkan rantai baja serta-merta berputar dengan cepat di atas kepala lelaki bertubuh raksasa dengan rambut jarang. Begitu cepat perputaran senjata berduri itu, hingga wujud aslinya tak terlihat. Hanya sinar kehijauan yang kini berputar-putar di atas kepala Sedaka.

Wuuuk..! Wuuuk..!

Angin menderu dari gerakan senjata itu menebarkan aroma wangi yang menyengat hidung. Debu langsung mengepul membumbung tinggi dan batubatu kerikil pun beterbangan tak tentu arah karena dahsyatnya angin akibat senjata Sedaka. Terlebih ketika Garajas melakukan hal yang sama seperti dilakukan Sedaka. Batu-batu sebesar kepalan tangan bayi pun ikut terangkat dari tempatnya berpentalan ke segala arah.

Dua lelaki yang berjuluk Raksasa Lembah Beracun tengah mengerahkan serangkaian ilmu yang bernama 'Raksasa Penakluk Seribu Naga'.

Begitu dahsyat jurus Badai Lembah Beracun yang tengah dimainkan Sedaka dan Garajas. Kejadian itu rupanya cukup membuat hati Ki Reksopati kecut untuk tetap terus menyaksikan jalannya pertarungan. Kepala Desa Waruwangi segera melesat menjauhi arena pertempuran yang telah melibatkan racun-racun ganas.

Benggala Sewu yang mendapatkan terpaan angin kencang beraroma wangi menyengat segera melakukan gerakan-gerakan perlahan dengan kedua tangan bersilangan di depan wajah dan dada. Seketika lingkaran sinar kebiruan muncul membayang di depan dada dan wajah lelaki muda yang berjuluk Penguasa Danau Keramat.

"Hiaaat..!"

"Hiaaat...!"

Sedaka dan Garajas memekik keras diiringi dengan loncatan bersamaan yang berlainan sasaran. Gada bergerigi yang berputar deras di atas kepala Sedaka tertuju melingkar ke bagian kepala Benggala Sewu. Sedangkan senjata Garajas menyambar cepat ke pinggul Benggala Sewu.

Seperti semula, Benggala Sewu nampak tak memperlihatkan ketegangan. Apalagi dirinya merasa, ilmu 'Selimut Danau Biru' akan mampu meredam jurus ‘Badai Lembah Beracun’. Maka dengan sikap tenang Benggala Sewu menunggu serangan itu datang mendekat.

Prets! Prets!

Sambaran sepasang senjata gada menghantam kepala lawan dengan cepat dan keras sekali.

"Heh?!"

Sedaka yang menghantamkan sepasang gada bergeriginya tepat di kepala Benggala Sewu sempat tercengang. Hantaman senjatanya yang jelas mengenai bagian penting tubuh Benggala Sewu ternyata hanya membentur sinar kebiruan. Sedangkan Benggala Sewu menghilang dari tempatnya. Cuma bunga api berpijar yang dapat disaksikan Sedaka.

"Ilmunya hebat, Kakang. Kita harus berhatihati," tukas Garajas yang juga mengalami hal yang sama dengan Sedaka.

"Ilmunya memang hebat, Adi Garajas. Akan tetapi kita belum seluruhnya mengerahkan kemampuan kita. "Ilmu Raksasa Merangkul Topan' dan 'Ilmu Raksasa Sakti'," kilah Sedaka agak kesal dengan ucapan adik seperguruannya.

"Betul Kakang. Namun kita harus waspada menghadapi ilmu-ilmu anehnya!" bantah Garajas.

"Hi hi hi...! Perkecil lagi suara kalian, agar aku tak lagi mampu mendengar ucapan-ucapanmu. Hi hi hi...! Kalian masih menyimpan dua jurus andalan, rasanya tetap akan sia-sia saja. Lebih baik kalian menyerah dan jadilah pengikutku yang setia. Aku, Penguasa Danau Keramat, dengan senang hati akan mengampuni kesalahan kalian," ucap Benggala Sewu sambil terkekeh lucu.

"Kurang ajar! Jangan kau besar kepala dulu, Benggala! Ilmu-ilmu kami belum semuanya kau hadapi," bentak Sedaka berang.

"Hi hi hi...! Sudah kukatakan, ilmu-ilmu kalian akan percuma menandingi kekuatanku. 'Ilmu Raksasa Merangkul Topan' dan ‘Ilmu Raksasa Sakti’ yang kalian miliki hanyalah pantas diperlihatkan bagi anak-anak kemarin sore yang baru belajar ilmu kesaktian," papar Benggala Sewu pongah.

Sedaka dan Garajas merasa terhina mendengar ucapan itu. Wajah mereka yang sudah merah malah menjadi bertambah merah, dan mata keduanya pun terlihat menyorot tajam penuh nafsu. Jelas kedua lelaki bertubuh besar itu merasa sakit hati dengan ucapan yang dilontarkan lelaki yang berjuluk Penguasa Danau Keramat.

"Akan kubuktikan kalau kau pasti binasa oleh serangkaian jurus 'Raksasa Penakluk Seribu Naga', Benggala! Bersiaplah!" ucap Sedaka dengan begitu sengit.

"Ayo, Adi Garajas!"

Dua lelaki berambut jarang dan gondrong seketika mempertemukan kedua belah telapak tangan. Kedua lelaki bertubuh raksasa mengeluarkan tenaga dalam guna mengerahkan 'Ilmu Raksasa Merangkul Topan'.

Tubuh Sedaka dan Garajas nampak bergetar hebat. Sehelai cawat yang mereka kenakan ikut bergerak-gerak, seperti hendak melorot ke bawah.

Tiba-tiba saja... "Hiaaattt...!"

Kedua lelaki bertubuh raksasa itu berteriak menggelegar. Tubuh Sedaka tiba-tiba saja melenting ringan secara menyilang, melewati kepala Benggala Sewu. Dan kemudian tubuh Raksasa Sedaka mendarat tanpa suara tepat di belakang tubuh Benggala Sewu.

Lelaki berpakaian serba biru yang berjuluk Penguasa Danau Keramat dapat membaca maksud lawan yang salah satunya berdiri di belakangnya.

Hmmm..., gumam Benggala Sewu dalam hati. Belum sempat Benggala Sewu melakukan tindakan apa pun, tiba-tiba tubuh Sedaka yang berada di belakang berubah wujud. Begitu juga dengan Garajas yang masih berdiri dua tombak di hadapannya.

Wujud-wujud raksasa jelmaan itu mengurung Benggala Sewu. Wujud Sedaka dan Garajas kini berputaran, semakin lama perputaran yang dilakukan semakin cepat dan cepat. Hingga akhirnya yang ada hanya selingkaran bayangan berputar-putar mengurung tubuh lelaki muda berpakaian serba biru. Laksana sebuah angin topan yang bergerak dengan kecepatan tinggi.

Benggala Sewu segera menghadapi lawannya hanya dengan melakukan gerakan tangan perlahan ke kepala dan mencengkeram rambutnya yang tergerai. Lalu...,

Krrrk!

Benggala Sewu memuntir kepalanya sendiri hingga tercabut dari badan. Darah merah pun segera berceceran dari kepala yang terlepas itu. Dan sebuah senyum dingin terlihat dari wajah Benggala Sewu.

Beberapa saat saja pemandangan seperti itu terlihat, namun sesaat berikutnya tubuh Benggala Sewu yang berjuluk Penguasa Danau Keramat lenyap. Yang tinggal hanya sebuah kepala berceceran darah melayang-layang di udara. Itulah wujud sang Penguasa Danau Keramat yang sesungguhnya.

***
LIMA
Pertarungan antara Sedaka, Garajas menghadapi Penguasa Danau Keramat terus berlangsung seru. Kedua Raksasa Lembah Beracun mengerahkan seluruh kemampuan untuk menaklukkan lawannya yang memiliki tingkat ilmu kesaktian lebih tinggi. 

Buktinya setiap serangan yang dilancarkan Sedaka dan Garajas selalu dapat dimentahkan Benggala Sewu, sebaliknya serangan-serangan lelaki muda yang berjuluk Penguasa Danau Keramat sesekali menghantam telak tubuh Sedaka dan Garajas.

Pertarungan maut itu berlangsung begitu cepat. Tak terasa mereka telah bergeser jauh dari tempat tinggal Ki Reksopati, Kepala Desa Waruwangi.

Sementara, dari kejauhan nampak melesat begitu cepat dua bayangan menuju rumah Ki Reksopati. Dua bayangan yang seperti saling berkejaran itu kemudian sama-sama mendarat di pekarangan rumah Kepala Desa Waruwangi.

"Suasana di sini seperti bekas terjadi pertarungan hebat, Paman," ucap sosok berpakaian kuning keemasan. Di bagian leher lelaki itu nampak bergelantung gagang sebuah pedang yang begitu indah.

"Nampaknya begitu, Jaka," jawab sosok lelaki yang dipanggil paman.

Dua lelaki yang tak lain Jaka si Raja Petir dan Gumai Gumarang nampak sating menatap sejenak.

"Suasana di sini juga nampak begitu sepi, apa Ki Reksopati...?"

"Silakan masuk, Kakang Gumai." Tiba-tiba Ki Reksopati muncul di ambang pintu. Sementara dugaan Gumai Gumarang langsung pupus.

"Kau tidak datang bersama Nini Seruni, Kakang?" tanya Ki Reksopati ketika Gumai Gumarang bergerak mendekati Ki Reksopati.

"Aku sempat mengkhawatirkanmu, Adi Reksopati. Kupikir kau     Ah sudahlah!" selak Gumai Guma-

rang tanpa mempedulikan pertanyaan Ki Reksopati. "Kedatanganmu   sangat   tepat   sekali, Kakang

Gumai. Warga desa ini, terutama aku sangat membutuhkan tenaga, pikiran serta kemampuan yang Kakang miliki," papar Ki Reksopati langsung menuju ke sasaran pembicaraan.  Hatinya nampak masih  menyimpan kegelisahan yang hebat.

"Sebenarnya apa yang tengah terjadi di desa ini?" tanya Gumai Gumarang menyahut ucapan Ki Reksopati.

"Kau tak melihat pertempuran mereka?" batik Ki Reksopati.

"Siapa mereka?" tanya Gumai Gumarang tak menjawab pertanyaan Ki Reksopati.

Ki Reksopati tersenyum mendengar pertanyaan Gumai Gumarang.

"Sebaiknya kita bicara di dalam, Kakang. Oya, lelaki gagah dan tampan ini apakah muridmu?" tanya Ki Reksopati.

Jaka yang mendapatkan pertanyaan Ki Reksopati sempat tersenyum, namun segera disembunyikan senyumannya itu.

"Jangan sembarang bicara kau, Adi Reksopati!" tukas Gumai Gumarang sambil sedikit menoleh ke wajah Jaka di sampingnya.

Ki Reksopati sempat terkejut juga mendengar suara lelaki yang dipanggilnya Kakang.

"Lalu...?"

"Di dalam akan kujelaskan pertanyaanmu itu," sergah Gumai Gumarang seraya melangkahkan kaki lebih dulu.

***

"Namanya Jaka. Dialah yang berjuluk Raja Petir," ucap Gumai Gumarang setelah duduk di kursi berukir dalam ruangan Ki Reksopati.

Wajah Ki Reksopati seketika berubah mendengar pemberitahuan Gumai Gumarang. Dengan perasaan tak enak, Kepala Desa Waruwangi menatapi wajah Jaka. Di sebelah Ki Reksopati juga tengah duduk Lodaya Waru dengan mata yang tak lepas menatapi sekujur tubuh Jaka.

"Seseorang salah dalam menduga, kurasa hal yang lumrah, Ki," tutur Jaka sopan. "Namun kalau orang yang terlalu meninggikan kelebihan seseorang, itulah nampak kurang wajar, karena dapat merugikan kedua belah pihak."

Ki Reksopati dan Lodaya Waru terkesan dengan kata pembukaan yang keluar dari mulut Jaka.

"Namaku memang Jaka. Aku lebih suka kalau orang-orang memanggilku dengan nama itu. Bukan dengan julukanku sebagai Raja Petir," lanjut Jaka lembut.

"Aku senang dengan kehadiranmu di sini, Ra....Eh, Jaka," tukas Ki Reksopati. 

"Selamat datang!" lanjut Kepala Desa Waruwangi seraya mengulurkan tangannya. "Maaf kalau aku tak mengenalimu... karena baru kali ini aku berjumpa dengan sosok asli Raja Petir. Selama ini aku hanya mendengar sepak-terjangmu yang menghentikan segala bentuk kekejian orang-orang golongan hitam. Banyak kudengar dari tokoh-tokoh persilatan dan juga dari Kakang Gumai sendiri, tentang kadigdayaan yang kau miliki."

Jaka membalas uluran tangan Kepala Desa Waruwangi, kemudian melakukan hal yang sama pada Lodaya Waru.

"Selamat datang, Kakang Jaka," ucap Lodaya pelan.

"Cukup panggil aku Jaka saja. Kupikir usia kita tak terpaut jauh," kilah Jaka dengan raut wajah manis.

"Kalau itu keinginanmu, dengan senang hati aku akan menuruti, Jaka," balas Lodaya Waru. "Oh ya, namaku Lodaya Waru," sambung Lodaya hampir lupa memperkenalkan namanya. "Sebenarnya apa yang terjadi di desa ini?" tanya Gumai Gumarang mengulang pertanyaannya.

Ki Reksopati menatap wajah Gumai Gumarang. "Kemarin. Tiga Raksasa Lembah Beracun datang ke desa ini, tujuannya hanya satu, ingin wilayah ini menjadi daerah kekuasaan mereka. Ketiga raksasa itu ingin penduduk desa ini, termasuk diriku tunduk dengan aturan-aturan dan perintahnya," papar Ki Reksopati.

"Kau memenuhinya?" tanya Gumai Gumarang. Kepala Desa Waruwangi menganggukkan kepala sebagai jawaban.

"Kesaktian tiga lelaki bertubuh raksasa itu begitu tinggi. Anakku, Lodaya Waru dan empat pengawalnya yang memiliki ilmu yang cukup, tak berdaya mengusir mereka bertiga dari desa ini. Bahkan Lodaya sempat terkena racun ganas milik salah seorang tiga lelaki bercawat itu. Itulah kenapa aku menuruti keinginan mereka. Kupikir tak ada salahnya kalau aku mengulur-ulur bencana yang akan menggoyang keberadaan desa ini, sambil menunggu kedatanganmu yang kuharap bersama dengan Raja Petir. Oh, keinginanku dikabulkan sang Pemelihara Jagat Semesta ini."

"Jadi mereka yang tengah bertempur itu, Tiga Raksasa Lembah Beracun?" tanya Jaka turut angkat bicara.

"Betul, Jaka. Dan lawan mereka lelaki muda berambut aneh yang berjuluk Penguasa Danau Keramat. Dia pun menginginkan daerah ini menjadi kekuasaannya!" jelas Ki Reksopati gamblang.

"Siapa pun yang keluar sebagai pemenang dalam pertarungan itu, tak sedikit pun mengurangi beban yang akan ditanggung desa ini. Yang dapat kulakukan hanya mengulur waktu untuk membangun sedikit kekuatan yang kumiliki. Dan atas kehadiran Kakang Gumai dan kau, Jaka. Mudah-mudahan bencana yang akan terjadi di Desa Waruwangi ini akan dapat teratasi," sambung Ki Reksopati penuh harap kepada kedua tamunya.

"Lalu, langkah apa yang sebaiknya kita ambil?" tanya Jaka dengan bola mata yang tertuju pada Ki Reksopati dan Gumai Gumarang bergantian.

"Ada baiknya kita tunggu hasil pertarungan itu Jaka," Gumai Gumarang menjawab pertanyaan Jaka. "Setelah itu kita lihat apa yang akan mereka lakukan terhadap penduduk Desa Waruwangi ini," lanjut Gumai lagi.

"Apa tidak sebaiknya penduduk desa diungsikan saja," Lodaya Waru angkat bicara dengan memberikan saran.

Ki Reksopati dan Gumai Gumarang saling bertatapan mendengar usulan Lodaya Waru.

"Menurutmu bagaimana, Jaka?" lempar Ki Reksopati pada Jaka.

Jaka tak segera menjawab pertanyaan Ki Reksopati. Mata lelaki yang berjuluk Raja Petir hanya memandang ke luar rumah.

"Kalau mereka yang tengah bertarung hanya untuk memperebutkan kedudukan sebagai penguasa daerah ini. Kurasa pengungsian penduduk belum perlu dilakukan," jawab Jaka dengan tatapan yang tak menoleh sedikit pun pada Ki Reksopati.

"Jadi kita tunggu saja hasil pertarungan antara Tiga Raksasa Lembah Beracun dengan Penguasa Danau Keramat?" ulang Lodaya Waru mendengar jawaban Jaka.

Jaka membalikkan tubuh. Lelaki berjuluk Raja Petir itu memandangi Lodaya, kemudian menganggukkan kepalanya perlahan.

"Menurutku itu salah satu jalan yang terbaik, Lodaya. Dan siapa pun di antara mereka yang keluar sebagai pemenang. Maka kita harus bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi," tukas Jaka pasti. "Aku yang merasa tugas ini sebagian dari kewajibanku, akan berusaha semampuku, sebatas kepandaian yang kumiliki," sambung Jaka.

"Kalau begitu, biar Lodaya, Janata serta kawankawannya memberitahukan penduduk agar siap siaga dalam menghadapi segala kemungkinan. Dan kita bertiga bersiap-siap menyongsong kedatangan mereka yang keluar sebagai pemenang dalam pertarungan," putus Ki Reksopati.

"Begitu pun baik, Adi Reksopati," ujar Gumai Gumarang menyetujui.

Kepala Desa Waruwangi menatap wajah Lodaya Waru.

"Lakukan apa yang telah ku putuskan, Lodaya!

Minta bantuan Janata dan kawan-kawannya," perintah Ki Reksopati.

"Baik, Ayah."

***

Sementara Kepala Desa Waruwangi yang dibantu Gumai Gumarang dan Jaka sibuk mengatur siasat untuk menghadapi segala kemungkinan, pertarungan antara Benggala Sewu alias Penguasa Danau Keramat melawan Tiga Raksasa Lembah Beracun masih berlangsung seru dan keras. Mereka yang bertarung sama-sama telah mengerahkan ilmu-ilmu kesaktian tingkat tinggi andalan mereka.

Pekik-pekik kegeraman dan benturan-benturan tangan yang dialiri kekuatan tenaga dalam penuh pun terdengar dari kejauhan. Berbagai ilmu-ilmu kesaktian yang sangat langka, dan beragam jenis racun mematikan pun telah turut dikerahkan dalam pertarungan maut mereka.

Tak terasa, hampir seratus jurus telah mereka peragakan. Dari pihak Tiga Raksasa Lembah Beracun, sejak Sobula telah kembali bergabung dalam pertarungan, maka dapat dilihat kalau Penguasa Danau Keramat menemui kesukaran untuk cepat-cepat mempecundangi mereka. Namun sejauh ini, setiap serangan yang dilancarkan Benggala Sewu merupakan serangan yang mampu menyudutkan salah satu raksasa itu. Namun, karena Tiga Raksasa Lembah Beracun sangat padu dalam bertahan dan menyerang, maka perlawanan mereka sulit untuk dihentikan.

Nampaknya, Benggala Sewu masih menyimpan sebuah ilmu pamungkas guna meruntuhkan perlawanan Tiga Raksasa Lembah Beracun. Sebuah ilmu yang dinamakan ‘Penanggalan Sakti’.

Jasad Benggala Sewu yang pada jurus-jurus awal hanya menampakkan kepala, kini dengan ilmu 'Penanggalan Sakti' tak satu pun anggota tubuh Benggala yang nampak lenyap seluruhnya.

Pada awalnya Tiga Raksasa Lembah Beracun begitu terkejut menyaksikan ilmu Benggala Sewu, tapi berkat pengalaman mereka, ketiga lelaki bercawat itu tak gentar menghadapi lawannya. Kepekaan Sobula dan dua rekannya Sangat berperan dalam menghindari setiap serangan gelap yang dilancarkan Benggala Sewu.

Beberapa kali serangan, Sobula, Sedaka, dan Garajas masih mampu menghindar. Namun, pada serangan-serangan berikutnya, ketika Benggala Sewu mampu mengecoh kepekaan lawan, malapetaka pun tak dapat dihindari lagi. Sebuah pekik kematian yang membumbung tinggi ke langit, seketika terdengar menyayat hati. Pekik memilukan itu keluar dari mulut orang pertama dari Tiga Raksasa Lembah Beracun. Sobula yang berkepala plontos dan berahang begitu kuat

Jiwa Sedaka dan Garajas tentu saja merasa terpukul atas kematian Sobula yang begitu mengerikan. Betapa tidak? Pada leher lelaki berkepala gundul itu disaksikannya lima lubang memancurkan darah segar. Jelas Sobula telah terkena serangan gelap berupa sambaran jari-jari tangan Benggala Sewu yang bagai logam keras.

"Hi hi hi..," kekeh yang sepertinya keluar dari jarak puluhan pal jauhnya membuat tersentak hati Sedaka dan Garajas, yang tengah menyaksikan kematian Sobula. Tubuh kedua lelaki berpakaian sehelai cawat itu berbalik serempak ke asal suara.

Mata Sedaka dan Garajas terbelalak menyaksikan sosok Benggala Sewu kembali tampil utuh. Gerigi keduanya gemeretakan menahan kegeraman. Namun, kengerian sedikit membias di wajah kedua raksasa.

"Hi hi hi...! Terpaksa aku membinasakan kawanmu itu," ucap Benggala Sewu dingin dengan telunjuk yang menuding ke mayat Sobula. "Karena dialah yang menghalangi maksud kalian untuk bergabung dan menjadi pengikutku. Sekarang pimpinanmu itu telah tewas! Apa kalian bersedia menjadi pengikutku?"

Sedaka dan Garajas tak menimpali ucapan Benggala Sewu. Kedua lelaki bertubuh raksasa itu sebetulnya menaruh dendam pada lelaki muda berpakaian biru di hadapannya. Namun, untuk membalaskan kematian Sobula, nampaknya mereka harus berpikir dulu. Nyali keduanya merasakan kegentaran yang begitu hebat.

"Hi hi hi...! Aku akan mengampuni kesalahan kalian, jika kalian bersedia menjadi pengikutku," tukas Benggala Sewu lagi. "Bagaimana? Atau kalian justru memilih menyusul kematian si botak itu!"

Sedaka dan Garajas tak menimpali ucapan Benggala Sewu. Kedua lelaki yang merasa dirinya berada di bawah lawannya hanya menatap wajah Benggala Sewu sebentar. Kemudian dua lelaki bertubuh raksasa sudah bersimpuh di tanah dengan kedudukan kepala yang menyentuh tanah.

"Kami bersedia menjadi pengikutmu, Benggala!" ucap Sedaka tegas.

"Hi hi hi...!"

Lelaki muda usia berpakaian biru yang berambut putih keperakan dan hitam, kembali terkekeh. Hatinya begitu bangga dan senang menyaksikan dua lelaki bertubuh raksasa duduk bersimpuh di hadapannya.

"Bangkitlah!" perintah Benggala tiba-tiba. Seperti kerbau dicocok hidung, Sedaka dan Garajas memenuhi perintah Benggala Sewu. Kedua lelaki raksasa bercawat ular segera bangkit di hadapan lelaki muda tampan berpakaian serba biru.

"Kalian telah mengambil keputusan yang tepat untuk menjadi pengikutku. Hi hi hi...! Aku senang, untuk itu kalian kuangkat sebagai wakilku di desa ini," ucap Benggala Sewu. "Dan sekarang, mari kita temui kepala desa ini! Hari ini juga dia harus mengumumkan bahwa Penguasa Danau Keramat atau si Benggala Sewu-lah pemegang tampuk kekuasaan desa ini," lanjut Benggala Sewu mantap sambil mengangkat tangan kanannya.

Sedaka dan Garajas hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan Benggala Sewu. Dan ketika lelaki tampan berpakaian biru itu beranjak meninggalkan tempat pertarungan, Sedaka dan Garajas pun segera mengikutinya dari belakang. Mereka kini sama-sama menuju kediaman Ki Reksopati.

***
ENAM
"Ki! Keluarlah kau, jangan bersembunyi seperti cecurut yang takut terpinjak! Keluar cepat! Umumkan pada penduduk desa, bahwa aku, Benggala Sewu yang berkuasa di desa ini!" menggelegar suara Benggala Sewu sambil melangkah memasuki pekarangan rumah Ki Reksopati, Kepala Desa Waruwangi.

Ki Reksopati yang mendengar suara menggelegar Penguasa Danau Keramat segera menolehkan muka pada Gumai Gumarang dan Jaka.

"Bagaimana, Kakang. Apakah aku saja yang keluar atau kita bertiga sama-sama menemuinya?" tanya Ki Reksopati.

"Aku bagaimana Jaka saja," jawab Gumai Gumarang.

"Ada baiknya kita temui bersama-sama. Aku juga kepingin melihat buru-buru bagaimana sosok penguasa itu," tukas Jaka tanpa diminta oleh Ki Reksopati.

Kepala Desa Waruwangi yang mendengar keputusan Jaka seperti itu, langsung mendahului melangkahkan kaki menuju pintu. Sedangkan Gumai Gumarang dan Jaka dengan langkah pasti membuntuti Ki Reksopati.

***

Benggala Sewu yang menyaksikan kehadiran Kepala Desa Waruwangi bersama Gumai Gumarang dan Jaka terlihat sedikit terkejut. Mata lelaki yang memiliki rambut dua warna itu kini merayapi sekujur tubuh Gumai Gumarang, seperti tengah mencari sesuatu pada diri lelaki berpakaian serba biru itu.

Selesai Benggala Sewu menyelidiki keberadaan Gumai Gumarang, tatapan matanya kini mengawasi tubuh Jaka. Cukup lama juga Benggala Sewu melakukan hal itu terhadap diri Jaka. Sedangkan Jaka hanya membiarkan lelaki berambut dua warna itu mengawasi dirinya. Namun ketika mata elang milik Benggala Sewu menghujam lurus ke wajahnya, Jaka tak tinggal diam.

Lelaki muda usia yang berjuluk Raja Petir membalas tatapan mata Penguasa Danau Keramat tak kalah tajam. Beberapa saat lamanya mata keduanya saling tatap dengan tajam. Pancaran aneh yang menggetarkan hati dirasakan Jaka dari tatapan mata Benggala Sewu. Namun dengan kekuatan batinnya Jaka mampu meredam kekuatan aneh yang menyorot dari bola mata Benggala Sewu alias Penguasa Danau Keramat

Benggala Sewu kini merasa kewalahan menghadapi tatapan tajam Jaka. Tatapan mata Raja Petir seolah dialiri kekuatan yang mampu menembus pengaruh ilmunya. Benggala Sewu segera mengalihkan tatapannya pada Ki Reksopati.

"Siapa dua lelaki itu, Ki?!" tajam suara yang keluar dari mulut Benggala Sewu.

"Ah, maaf!" jawab Ki Reksopati. "Aku belum sempat memperkenalkan mereka padamu, Benggala. Namun biarlah mereka yang menyebutkan nama masing-masing."

"Hmmm...!"

Benggala Sewu menggumam perlahan dan tatapan matanya kembali dialihkan ke wajah Gumai Gumarang.

"Aku sahabat lama Ki Reksopati, Kisanak," sahut Gumai Gumarang seperti mengerti keinginan Benggala Sewu. "Panggil aku Gumai Gumarang kalau kau bersedia!" lanjut Gumai Gumarang. "Hmmm...!"

Benggala Sewu alias Penguasa Danau Keramat kembali menggumam mendengar ucapan Gumai Gumarang.

"Sedangkan aku bernama Jaka, lengkapnya Jaka Sembada," sahut Jaka meningkahi gumaman Benggala Sewu. "Dan dia terhitung paman denganku," sambung Jaka sambil menunjuk Gumai Gumarang.

"Lalu apa maumu berada di desa ini?" dingin pertanyaan yang keluar di mulut Benggala Sewu.

"Kedudukanku di desa ini sebagai tamu yang tidak mempunyai keinginan apa-apa, kecuali mengunjungi sahabat pamanku. Namun, karena tuan rumah menginginkanku untuk dapat membantu menangani persoalan yang tengah dihadapinya, kedudukanku di sini menjadi lain keberadaannya. Keberadaanku di desa ini sama saja sebagai tuan rumah yang hendak mengusir pendatang yang mengacaukan keadaan desanya," mantap suara yang keluar dari mulut Raja Petir, sambil menatap Benggala Sewu.

Untuk sesaat lamanya tak ada bantahan dari mulut Benggala Sewu. Mata lelaki yang memiliki sinar aneh itu terlihat memandangi senjata yang menggelantung di leher Jaka. Sebuah pedang pusaka yang memiliki perbawa kuat dengan gagang yang indah.

"Sayang, saat ini aku tak berselera menghadapimu, Jaka," ucap Benggala Sewu. "Namun, aku tak akan menutup kemungkinan untuk itu. Kau tunggu saja tantangan dariku lain waktu!" lanjut lelaki tampan berpakaian serba biru yang berjuluk Penguasa Danau Keramat

Setelah berucap seperti itu Benggala Sewu menatap tajam wajah Ki Reksopati.

"Karena secara tak langsung kau telah mengundang anak muda ini," tutur Benggala seraya menunjuk diri Jaka. "Aku akan datang lagi ke desa ini bukan untuk menjadi penguasa, tetapi akan kuratakan desa ini dengan tanah!" lanjutnya menggelegar.

Ki Reksopati sempat tersentak mendengar ancaman Benggala Sewu. Wajah Kepala Desa Waruwangi nampak berubah, tegang dan memerah. Jaka yang mengetahui perubahan air muka Ki Reksopati segera saja memegang tangan Kepala Desa Waruwangi.

"Jangan kau termakan gertakannya, Ki!" pelan ucapan yang keluar dari mulut Jaka, namun bagi Ki Reksopati ucapan itu seperti setetes embun yang mampu mendinginkan perasaannya.

"Ingat itu, Jaka! Suatu saat aku akan menantangmu. Hop!"

Tubuh Penguasa Danau Keramat yang terbalut pakaian serba biru, seketika melesat dengan cepat. Begitu cepat dan ringan gerakan yang dilakukan Benggala Sewu. Hingga sekejap mata saja tubuhnya sudah menghilang dari hadapan Ki Reksopati, Jaka, dan Gumai Gumarang.

Sesaat Ki Reksopati terpaku menyaksikan kecepatan gerak Benggala Sewu. Namun pada saat berikutnya, matanya segera tertuju pada dua sosok raksasa yang sejak tadi hanya berdiri mematung di hadapannya.

"Bagaimana dengan dua raksasa lembah beracun ini, Jaka?" tanya Ki Reksopati menyerahkan persoalannya pada Raja Petir.

Jaka tak menjawab pertanyaan Ki Reksopati. Ditatapnya wajah dua lelaki yang hanya mengenakan selembar cawat dari kulit ular.

"Melihat sikap kalian yang sejak tadi hanya berdiam diri, aku dapat mengambil kesimpulan, kalian telah ditaklukkan Benggala Sewu. Dan sikap kalian barusan sebagai orang tundukkan yang telah menjadi pengikutnya. Nah, sekarang orang yang akan kau ikuti telah menghilang. Apa kalian masih akan tetap tinggal di desa ini? Meneruskan minat kalian untuk menguasai Desa Waruwangi?" tanya Jaka pada Sedaka dan Garajas.

Dua lelaki bertubuh besar yang berpakaian cawat hanya membisu mendengar pertanyaan Jaka yang jelas mereka rasakan sebagai penghinaan. Namun, untuk bertindak dan membalas hinaan itu Sedaka dan Garajas terpaksa berpikir dua kali.

Baru saja mereka menyaksikan Benggala Sewu yang telah mengalahkan mereka memilih untuk menghindar dari hadapan lelaki muda berpakaian kuning keemasan. Jelas Sedaka dan Garajas tahu, bahwa lelaki bernama Jaka itu memiliki kesaktian yang lebih tinggi daripada Penguasa Danau Keramat, yang memilih alasan tak berselera menghadapi Jaka.

"Bagaimana?" tegur Jaka mengusik kebisuan Sedaka dan Garajas. "Kalau kalian masih berhasrat menguasai Desa Waruwangi ini. Maaf, bukan aku bersombong diri. Kalian harus berhadapan denganku!" lanjut Jaka sedikit menggertak.

Sedaka dan Garajas mengangkat kepalanya sedikit. Kilatan mata kedua raksasa itu nampak menyiratkan kemarahan. Namun, kemarahan itu seperti sengaja disembunyikan.

"Aku tak mengerti kenapa Benggala Sewu meninggalkan kami yang telah berikrar menjadi pengikutnya. Entah Benggala yang takut menghadapi aku atau memang dia sedang tak berselera bertarung denganmu. Kami berdua memang mengaku kalah pada Benggala, tapi tidak pada kau, Jaka! Kami bersedia bertarung denganmu untuk memperebutkan kedudukan sebagai pimpinan di desa ini. Namun sayang tidak untuk saat ini. Lain kali aku datang untuk menantangmu!" ucap Sedaka tegas sambil matanya menatap tajam wajah Raja Petir.

"Ayo?"

Sedaka melakukan gerakan ringan berlalu dari hadapan Raja Petir. Sederhana saja gerakan yang dilakukan lelaki berambut jarang itu, namun cukup mengagumkan. Di balik keringanan gerak Sedaka, terlihat pula ilmu meringankan tubuh dari lari cepat yang telah mencapai tingkat tinggi. Gerakan serupa juga dilakukan Garajas dengan begitu gesit.

Dua lelaki bertubuh raksasa yang hanya mengenakan sehelai cawat dari kulit ular terus bergerak cepat. Kemudian menghilang dari hadapan Jaka, Ki Reksopati, dan Gumai Gumarang.

"Sungguh aneh sikap manusia-manusia itu!" ucap Ki Reksopati dengan tatapan mata kosong ke depan.

"Itu hal biasa di dunia ini, Ki. Namun kita harus tetap waspada, suatu saat mereka pasti akan datang lagi ke desa ini. Aku yakin betul akan hal itu," timpal Jaka atas ucapan Kepala Desa Waruwangi.

"Dugaanmu itulah yang telah mengganggu pikiranku sejak tadi. Untuk itu aku minta, kau dan Kakang Gumai Gumarang untuk menetap di desa ini sementara waktu."

"Aku tidak keberatan menetap di tempatmu untuk sementara waktu. Tapi Jaka? Ah! Seorang gadis cantik yang kini tinggal bersama Adi Terala akan merasa kesepian tanpa dirinya. Jadi...," sahut Gumai Gumarang sambil tersenyum.

"Ah, Paman Gumai ini ada-ada saja," potong Raja Petir menimpali ucapan Gumai Gumarang yang mengingatkan hubungannya dengan Mayang Sutera.

"Betulkah apa yang dikatakan Kakang Gumai, Jaka?" seloroh Ki Reksopati menimpali gurauan Gumai Gumarang. "Kalau memang betul, ingin sekali aku melihat gadismu yang pasti bukan hanya kecantikannya yang luar biasa, tapi juga ketangguhannya dalam ilmu silat," lanjut Kepala Desa Waruwangi.

"Mayang tak akan merasa kesepian, Ki. Di sana dirinya ditemani Seruni, putri Paman Terala," bantah Jaka terang-terangan.

"Berarti kau bersedia menetap di sini, Jaka," desak Ki Reksopati merasa mendapat kesempatan emas.

"Tentu saja, Ki. Aku lebih memilih turut menjaga keamanan desa ini," jawab Jaka menenangkan hati Ki Reksopati.

"Kalau begitu, aku sebagai kepala desa dan  atas nama seluruh penduduk Desa Waruwangi mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas bantuanmu, Jaka," ujar Ki Reksopati sambil menatap wajah Jaka dan menepuk-nepuk pundaknya.

Raja Petir tersenyum-senyum menyaksikan gaya Ki Reksopati yang sedikit lucu.

"Jangan kau bikin kepalaku semakin besar, Ki! Nanti aku tak kuat memanggulnya," balas Jaka berseloroh pula.

Ki Reksopati dan Gumai Gumarang tertawa lepas mendengar seloroh Jaka. Untuk sesaat ketegangan yang sejak kemarin mencekam terlupakan. Kepala Desa Waruwangi diikuti Jaka dan Gumai Gumarang berlalu meninggalkan pelataran rumah. Mereka segera masuk ke rumah Ki Reksopati untuk mengatur siasat menghadapi kemunculan tokoh mengiriskan yang berjuluk Penguasa Danau Keramat

***
TUJUH
Suasana pagi masih menyelimuti Desa Waruwangi. Matahari bersinar hangat dari timur. Angin bertiup semilir membuat dedaunan bergoyang ditingkahi nyanyian burung burung kecil berlompatan di atas pepohonan, menjadikan Desa Waruwangi sebelah utara nampak begitu indah untuk dinikmati.

Sejauh mata memandang, akan nampak di mata sebuah aliran sungai yang menimbulkan bunyi gemercik. Bebatuan besar dan kecil nampak di tengah sungai yang mengalir bening.

Beberapa orang gadis desa terlihat sedang sibuk mencuci pakaian. Bahkan ada yang sekadar mandi dan bercanda dengan senda gurau dan mencipratcipratkan air di kali yang bening dan sejuk. Suara tawa cekikikan dan makian-makian lucu pun turut menghiasi suasana alam yang begitu bersahabat.

Prat!

"Brengsek kau, Sumi! Jangan menciprat terus, mataku pedih kemasukan air," gerutu seorang gadis cantik berkain lurik.

Gadis cantik lain yang bernama Suni tertawa mendengar gerutuan temannya.

"Kau juga boleh mencipratiku dengan air, Rani," balas Sumi sambil kembali mencipratkan air ke kepala Rani.

"Brengsek kamu!" Pret!

Rani kini membalas Sumi dengan cipratan. Kedua gadis yang bermain-main dengan air pun kembali terlibat tawa dan senda gurau.

Namun, tawa kedua gadis itu tiba-tiba terhenti ketika dalam sekelebatan mata Sumi dan Rani melihat bayangan biru melesat cepat dan mendarat dengan ringan pada sebuah bongkahan baru besar tak jauh dari gadis-gadis cantik. Kedua gadis pun terkesima menyaksikan sosok bayangan biru di depan mereka.

"Teruskan canda kalian, Gadis-gadis Manis!" ucap sosok lelaki berpakaian biru yang telah berjongkok di atas batu besar.

Sumi dan Rani tersentak mendengar ucapan lelaki berambut hitam dan putih keperakan. Ucapan itu seperti keluar dan bergema dari jarak puluhan pal jauhnya. Dua gadis desa yang merasa tak kenal dengan lelaki berambut aneh itu segera membetulkan kain yang menutupi dada mereka.

"Siapa kau, jangan coba-coba ganggu kami!" hardik Sumi setelah menaikkan kain yang menutupi tubuhnya. "Pergi dari sini! Jangan tunggu air dan batu-batu kecil ini membasahi pakaianmu!" sambung Sumi sambil memegang batu-batu kali.

"Jangan mengusirku seperti itu, Gadis Manis! Biarlah aku di sini menemani kalian mandi!" ucap lelaki berpakaian biru yang tak lain Benggala Sewu si Penguasa Danau Keramat.

"Cis!" umpat Rani. "Apa pantas lelaki menemani perempuan mandi? Pergilah! Kusiram pakaianmu kalau tak mau pergi," lanjut Rani dengan menggerakkan telapak tangannya hingga menyentuh permukaan air.

"Lakukanlah kalau kau ingin menyiram pakaianku," tukas Benggala Sewu dengan sebelah matanya yang mengerling genit.

Apa yang dikatakan dan dilakukan Benggala Sewu tentu saja membuat Rani marah. Dengan cepat tangannya segera menekan permukaan air dengan kuat. Puncratan air itu meluncur cepat ke tubuh Benggala Sewu. Tetapi...,

"Heh?!"

Rani terbelalak kaget melihat air puncratan itu tak membasahi pakaian Benggala Sewu. Puncratan air itu seperti menembus tubuh lelaki berpakaian biru dan terus jatuh di belakangnya.

Rani kembali menciprati Benggala Sewu, namun kejadian serupa terulang lagi. Juga ketika dengan penasaran tangannya melempari Benggala Sewu dengan batu kali sebesar kepalan tangan. Rani terkejut bukan kepalang menyaksikan batu yang dilemparnya seperti menembus sebuah bayangan.

"Lelaki itu pasti bukan manusia!" bisik Sumi seraya merapatkan tubuhnya ke tubuh Rani.

Perasaan takut seketika menyelimuti hati dua gadis itu, begitu juga gadis-gadis lain yang turut menyaksikan kejadian itu. Mereka terlongong bengong keheranan.

"Lelaki itu pasti hantu penunggu kali ini," bisik salah seorang gadis yang sekonyong-konyong telah menghentikan mencuci pakaiannya.

"Hi hi hi..,! Kenapa kalian takut padaku?" tanya Benggala Sewu.

Tiga gadis pencuci pakaian itu segera bergerak cepat, ketiganya bermaksud meninggalkan lelaki aneh di hadapannya.

"Eee...! Kalian jangan pergi ke mana-mana! Kalian harus terus mencuci dan aku menemani," tahan Benggala dengan lirikan mata nakal.

Tiga gadis yang hendak pergi itu sebentar menolehkan kepala ke Benggala Sewu dengan raut wajah cemberut sebal. Dan kemudian ketiganya kembali bergerak cepat meninggalkan tempat itu.

"Eee... Sudah kukatakan kalian tidak boleh pergi!" ucap Benggala Sewu sambil mencabut kepalanya menghadang ketiga gadis. "Aaa...!"

Jerit ketakutan seketika terdengar dari mulut gadis-gadis cantik. Namun, jeritan itu tak berlangsung lama, ketika dengan kejamnya tangan Benggala Sewu bergerak cepat mencecar leher gadis-gadis yang tengah ketakutan.

Cakar Benggala Sewu yang seperti baja itu terkibas menembus leher gadis-gadis desa. Sehingga, ketiga gadis pun bertumbangan dengan bagian leher bolong dan mengucurkan darah segar. Untuk sesaat lamanya ketiga gadis bernasib naas itu menggelepar-gelepar, namun segera tak berkutik

Tinggal Sumi dan Rani berdiri gemetar menyaksikan kejadian mengerikan. Kedua gadis saling berangkulan ketakutan. Kedua gadis itu menduga kalau mereka akan mengalami nasib serupa dengan ketiga temannya yang kini telah menjadi mayat

"Hi hi hi....! Kalian sudah melihat, bagaimana aku dengan mudah membinasakan ketiga teman kalian. Kalian seharusnya mengalami nasib yang sama, tapi kesombongan kalian kuampuni sekarang. Aku hanya akan merusak kecantikan wajah kalian!" ancam Benggala Sewu mantap sambil menuding ke wajah gadis-gadis itu.

Sumi dan Rani semakin ketakutan mendengar ucapan lelaki berpakaian biru. Rangkulan keduanya sama-sama dipererat.

"Terimalah hukuman dariku!" teriak Benggala Sewu.

Tubuh Benggala Sewu tiba-tiba saja menghilang. Namun, cakarannya beruntun tiba-tiba pula sudah mengoyak kulit wajah Sumi dan Rani. Pekik kesakitan pun seketika terdengar membumbung ke langit Benggala Sewu yang menyaksikan dua gadis desa meraung kesakitan, hanya tersenyum-senyum. Lelaki yang berjuluk Penguasa Danau Keramat nampak senang dengan apa yang telah dilakukannya.

Pekik kesakitan beruntun yang keluar dari mulut Sumi dan Rani ternyata di dengar lima lelaki penduduk Desa Waruwangi yang kebetulan lewat di sekitar tempat kejadian.

"Pekikan perempuan!" ucap salah seorang di antara lima lelaki yang tengah berjalan di sekitar kali berbatu. "Pasti ada sesuatu yang terjadi di sana!"

"Betul. Kita harus ke sana cepat'" sambut lelaki berkumis tebal.

"Sabar Danang, kita tak boleh gegabah!" tahan lelaki berambut keriting. "Sunar, kau panggil penduduk terdekat dan suruh mereka ke sini! Biar aku, Danang, Gedang, dan Barik yang pergi ke sana," perintah lelaki berambut keriting pada rekannya yang bernama Sunar.

Sunar tentu saja segera meluluskan perintah lelaki berambut keriting.

"Baik, Gages," jawab Sunar dan dengan cepat membalikkan tubuhnya lalu terus berlari ke rumah penduduk terdekat

Sementara lelaki berambut keriting yang bernama Gages memimpin tiga temannya berlari ke kali, tempat suara jeritan berasal.

"Hei! Apa yang kau lakukan di situ?!" tanya Gages keras ketika matanya melihat sosok lelaki berpakaian serba biru yang tengah berdiri di atas sebuah batu besar di tengah kali.

"Hi hi hi...!"

Lelaki berpakaian serba biru yang tak lain Benggala Sewu tertawa ketika mendengar suara Gages dari kejauhan.

"Aku hanya memandangi dua tubuh perempuan itu," jawab Benggala dengan jari telunjuk yang terarah ke tubuh Sumi dan Rani yang tergeletak pingsan

Mata Gages dan ketiga temannya seketika mengikuti arah yang ditunjuk lelaki berambut hitam dan putih.

"Kurang ajar!" bentak Gages ketika menyaksikan keadaan dua orang gadis yang tergeletak di antara bebatuan dengan bagian muka yang terluka bekas cakaran. "Kau pasti yang melakukan itu!" tuduh Gages dengan jari tangan menuding wajah Benggala Sewu.

Sementara tiga gadis yang lainnya nampak tergeletak sekitar empat batang tombak dari dua gadis yang lain. Lelaki yang berjuluk Penguasa Danau Keramat hanya tersenyum mendengar tuduhan Gages yang memang betul. Lalu kepalanya nampak teranggukangguk. Rambutnya yang panjang pun bergerak-gerak.

"Aku memang yang melakukan itu, Kisanak," jawab Benggala Sewu tenang.

"Gila! Kau harus bertanggung jawab dan ikut kami menghadap kepala desa!" bentak Sunang.

"Kenapa harus menghadap kepala desa?" tanya Benggala Sewu berlagak bodoh. "Aku kan tidak salah. Dua gadis itu telah menghina diriku, wajar kalau mereka kuberi hukuman yang setimpal."

"Gages, kurasa lelaki itu kurang waras. Sebaiknya kita ringkus dia dan kita bawa ke hadapan Kakang Lodaya Waru dan Ki Reksopati," usul Gedang sambil menepuk bahu Gages.

"Aku setuju," sambut Batik "Lelaki itu harus kita bawa meski secara paksa."

"Aku tidak mau! Aku akan melawan!" tiba-tiba Benggala Sewu berucap dengan berlagak bodoh. 

Empat lelaki penduduk Desa Waruwangi dengan langkah mantap menghampiri Benggala Sewu yang memandang mereka hanya dengan sebelah mata. Dan ketika tiga langkah lagi lelaki itu dapat menjamah tubuhnya, Benggala Sewu seketika berkelebat cepat. Gerakannya yang tak tertangkap mata sempat membuat empat penduduk Desa Waruwangi terkejut ketika menyaksikan lelaki yang hendak mereka ringkus menghilang.

Dan tahu-tahu..., Plak! Plak! Bug! Bug!

Empat lelaki penduduk Desa Waruwangi seketika terhuyung terkena serangan gelap yang dilakukan Benggala Sewu. Gages dan Sunang terhuyung sambil memegangi perut yang terkena tendangan keras Benggala Sewu. Sedangkan Gedang dan Batik terhuyung dengan kedua tangan yang memegangi kepala yang seperti berputar setelah mendapatkan tempelengan keras.

"Hi hi hi...! Bawalah aku menghadapi Reksopati kalau kalian mampu!" ejek Benggala Sewu dengan tawa terkekeh yang sudah menjadi kebiasaannya.

Gages dan Sunang yang masih mampu menguasai diri terkejut mendengar ucapan lelaki berpakaian biru yang mengetahui nama Kepala Desa Waruwangi.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Gages.

"Tak perlu kau tahu siapa aku! Yang harus kau ketahui saat kematianmu yang akan datang sekarang!" jawab Benggala Sewu lantang.

Gages dan Sunang merasakan ucapan yang keluar itu bukan main-main. Rasa ketakutan pun semakin menguasai hati mereka. Terlebih ketika kaki Benggala Sewu melangkah menghampiri mereka.

"Ayo kita lari, Sunang!" perintah Gages dengan angkat kaki lebih dulu. Ajakan Gages itu tentu saja diikuti Sunang dan dua rekannya yang lain. Namun, baru satu tombak empat lelaki penduduk Desa Waruwangi berlari, tubuh Benggala Sewu sudah berdiri menghadang di depan mereka.

"Mau pergi ke mana kalian, heh? Kalian harus mati!" ucap Benggala Sewu.

Gages yang merasa dirinya tak ingin mati konyol segera melancarkan serangan sebisanya. Perbuatan Gages ternyata diikuti Sunang. Dua lelaki itu kini melancarkan serangan ke tubuh Benggala Sewu si Penguasa Danau Keramat.

Apalah arti serangan dua penduduk Desa Waruwangi yang tak kenal ilmu silat dengan baik. Hanya dengan sekali layangan tangan saja, maka sudah dapat dipastikan kalau penduduk desa itu akan terpental jauh.

"Aaa...!"

Pekik kematian pun seketika terdengar ketika tangan Benggala Sewu berkelebat ke bagian leher Gages dan Sunang telah mengoyak leher keduanya hingga bolong dan mengucurkan darah segar.

"Hi hi hi...!"

Benggala Sewu kembali terkekeh menyaksikan tubuh dua orang penduduk Desa Waruwangi menggelepar kemudian tak berkutik lagi.

Setelah kekehannya lenyap terbawa angin, tatapan mata tajam Benggala Sewu kit. Tertuju ke Gedang dan Bank yang berdiri dengan lutut gemetar. 

"Kalian juga harus mendapatkan jatah yang sama," ancam Benggala Sewu semakin membuat lutut kedua penduduk desa itu bergetar hebat

Namun, sebelum lutut Gedang dan Bank tersungkur ke tanah, Benggala Sewu telah lebih dulu menghajar tubuh mereka.

Crok! Crok! "Aaa...!"

Lengkingan keras bersahutan seketika terdengar. Tak lama kemudian dua tubuh penduduk Desa Waruwangi bergelimpangan. Bagian ubun-ubun mereka bolong terhantam jari-jari tangan Benggala Sewu yang telah berubah seperti lempengan baja.

Seiring dengan lengkingan Gedang dan Barik, puluhan penduduk yang bersenjatakan alat-alat pertanian dan juga golok muncul bersama dengan Ganang.

"Iblis!" maki Ganang yang menyaksikan empat temannya telah menjadi mayat. Wajah Ganang semakin bertambah merah ketika menyaksikan tiga mayat perempuan yang hanya mengenakan kain.

"Dia pasti pembunuhnya!" teriak Ganang menuding tubuh Benggala Sewu yang berpakaian serba biru.

"Aku memang yang membunuh mereka," jawab Benggala Sewu dengan menunjuk mayat tiga perempuan dan empat lelaki teman Ganang. "Aku memang ingin membunuh seluruh penduduk desa ini, termasuk si tua bangka Reksopati!" lanjut Benggala Sewu. "Majulah kalian!"Para penduduk Desa Waruwangi yang telah dikuasai kemarahan tak lagi peduli dengan siapa mereka berhadapan. Mereka semua maju secara serentak dengan senjata seadanya di tangan.

Teriakan-teriakan kemarahan terdengar dari mulut-mulut penduduk yang berbondong-bondong menyerbu Benggala Sewu. Para penduduk yang sebagian besar petani, tidak menguasai ilmu silat. Benggala Sewu lelaki yang berjuluk Penguasa Danau Keramat hanya menanggapi serbuan penduduk dengan senyum terkulum. Namun, ketika para penduduk mendekat, Benggala Sewu segera bergerak cepat mengibaskan tangannya ke sana kemari.

Plak! Plak! Crok! "Aaa...!"

Dua orang penduduk yang bersenjata cangkul seketika terjungkal ketika bagian kepalanya terhajar sambaran tangan Benggala Sewu. Pada bagian ubunubun dan pelipis mengeluarkan darah segar. Penduduk Desa Waruwangi yang telanjur maju harus pula mengalami nasib yang sama. Tendangan kaki Benggala Sewu yang dialiri tenaga dalam tinggi mendarat telak di bagian perut, dada, dan kepala.

"Aaakh...!"

"Huuuk...!"

Para penduduk desa yang tak mengerti ilmu silat itu berpentalan jauh bagai ditiup angin puting beliung. Pekik kematian pun terdengar saling bersahutan.

"Hi hi hi...!"

Benggala Sewu terkekeh melihat penduduk yang berjumlah sepuluh orang terbantai hanya dengan beberapa gebrakan. Kini di hadapannya tinggal satu orang penduduk yang masih hidup. Lelaki itu berdiri dengan lutut gemetar ketakutan.

"Jangan bunuh aku, Anak Muda, jangan bunuh aku!" ratap lelaki berusia sekitar empat puluh tahun dengan telapak tangannya rapat diletakkan di depan dada. Kepalanya tertunduk di hadapan Benggala Sewu.

"Aku tidak akan membunuhmu, Tua Bangka!" hardik Benggala Sewu sambil melangkah menghampiri salah satu mayat yang tergeletak.

Bret! Dengan gerakan cepat dan kasar Benggala Sewu menyobek pakaian lelaki yang telah menjadi mayat. Sobekan pakaian itu kemudian digeletakkan di tanah.

Cleb!

Seorang penduduk Desa Waruwangi yang masih hidup terbelalak kaget ketika dengan bengisnya Benggala Sewu membenamkan jari telunjuknya di leher lelaki yang telah menjadi mayat Penduduk itu pun menyaksikan bagaimana Benggala menuliskan beberapa kalimat dengan telunjuknya yang berlumuran darah.

"Beruntung kau masih kuberi hidup!" sentak Benggala Sewu pongah. "Sekarang berikan sobekan kain ini pada Reksopati. Cepat!"

Tanpa membuang-buang waktu. Lelaki itu segera pergi dengan berlari sekencang-kencangnya. Tanpa mempedulikan nafasnya yang memburu keras.

"Hi hi hi '"

Benggala Sewu si Penguasa Danau Keramat kembali terkekeh menyaksikan seorang penduduk yang berlari seperti dikejar hantu.

***
DELAPAN
Ki Reksopati murka bukan kepalang ketika membaca surat pada secarik kain yang dibawa seorang warganya. Terlebih ketika mendengar penuturan lelaki pembawa surat itu. Wajahnya merah padam dan matanya berkaca-kaca.

"Belasan penduduk telah menjadi mayat di Kali Baru sana, Ki," ucap lelaki pembawa surat si Penguasa Danau Keramat.

"Biadab!" maki Ki Reksopati geram.

Surat yang ditulis dengan darah pada sesobek kain segera diberikan pada Raja Petir.

"Bacalah!" ucap Ki Reksopati agak keras. Jaka segera membaca tulisan darah itu.Reksopati! Kutunggu kau bersama dua orang tamumu di Kali Batu.Penguasa Danau Keramat.

"Kita harus segera menemuinya, Ki!" usul Jaka setelah selesai membaca surat bertulis darah merah itu.

Ki Reksopati sependapat dengan Jaka, dan tanpa menunggu persetujuan dari Gumai Gumarang, Kepala Desa Waruwangi itu segera melesat dengan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya.

Surat yang ditulis dengan darah pada sesobek kain segera diberikan pada Raja Petir. Dan, Raja Petir pun segera membaca tulisan berdarah itu.Reksopati! Kutunggu kau bersama dua orang tamumu di Kali Batu.

Penguasa Danau Keramat.Gumai Gumarang memandang Jaka ketika menyaksikan apa yang dilakukan Ki Reksopati. "Adi Reksopati memang seorang kepala desa yang bertanggung jawab," ucap Gumai Gumarang. "Ayo kita susul!" lanjutnya kemudian.

Dengan mempergunakan ilmu lari cepat yang dimiliki, Gumai Gumarang dan Jaka melesat cepat menyusul Ki Reksopati yang telah berlari lebih dulu. Hanya beberapa lejitan, Gumai Gumarang dan Jaka yang telah menguasai ilmu meringankan tubuh di atas Ki Reksopati segera dapat menyusul Kepala Desa Waruwangi.

"Masih jauh Kali Baru itu, Ki?" tanya Jaka. "Tinggal dua pal lagi," sahut Ki Reksopati sedikit tersengal.

Mendengar ucapan Kepala Desa Waruwangi, Raja Petir segera mempercepat larinya. Dan ketika dirinya sudah berada di tempat kejadian, sedikit keterkejutan melanda hatinya. Disaksikannya dua Raksasa Lembah Beracun telah berdiri di samping kanan Penguasa Danau Keramat

"Heh?! Raksasa itu betul-betul telah menjadi pengikut Benggala Sewu!" ucap Ki Reksopati ketika tubuhnya berdiri di samping kiri Raja Petir.

"Kalian sanggup menghadapi dua raksasa itu, Ki, Paman?" tanya Raja Petir, tidak bermaksud meremehkan kepandaian yang dimiliki Ki Reksopati dan Gumai Gumarang.

"Kalau pun nyawaku yang menjadi taruhan, aku akan tetap menghadapinya, Jaka," jawab Ki Reksopati mantap.

Sementara Gumai Gumarang tak berkata sepatah pun mendengar pertanyaan itu. Dirinya memang sudah siap menghadapi salah satu dari dua Raksasa Lembah Beracun.

"Kalau begitu berhati-hatilah, dua raksasa itu bukan orang sembarangan! Biar aku menghadapi Benggala Sewu," sahut Jaka.

Bersamaan dengan selesainya ucapan Jaka, tawa terkekeh terdengar dari mulut si Penguasa Danau Keramat Suara itu bergema sampai jauh.

"Kalian lenyapkan dua lelaki tua itu, cepat!" perintah Benggala Sewu pada Sedaka dan Garajas yang telah menjadi anak buahnya.

Dua lelaki bertubuh besar yang berada dalam pengaruh kekuasaan lelaki muda berpakaian biru segera merangsek maju ke tubuh Ki Reksopati dan Gumai Gumarang. Dua lelaki bercawat itu langsung memainkan senjata andalan mereka, berupa sepasang gada bergerigi yang ditautkan dengan rantai baja.

Wuuuk! Wuuuk!

Ki Reksopati dan Gumai Gumarang yang menyaksikan lawannya telah menggunakan senjata, seketika mencabut senjata masing-masing yang berupa sepasang arit dan sebilah pedang biru.

Pertarungan sengit pun tak dapat dihindari. Teriakan-teriakan geram dan denting senjata yang disertai percik bunga api segera menyemarakkan arena pertarungan maut.

Sementara dua lelaki muda usia yang berjuluk Raja Petir dan Penguasa Danau Keramat nampak saling berhadapan. Sepasang mata lelaki berpakaian kuning keemasan dan biru itu terlihat memandang dengan tajam ke wajah lawan. Nampaknya mereka tengah mengukur kekuatan masing-masing.

"Kuakui kalau dirimu memiliki pengaruh yang kuat terhadap ilmu-ilmu yang kumiliki. Begitu juga dengan sebilah pedang yang menggelantung di lehermu itu. Pedang pusaka itu memiliki perbawa yang begitu mengagumkan. Namun sayang, semuanya itu akan berakhir sekarang dan pedang pusaka itu sebentar lagi akan pindah ke tanganku," ucap Benggala Sewu setelah puas merayapi sekujur tubuh Raja Petir. 

"Untuk itu kuperkenankan kau menyebutkan julukanmu sebelum nyawamu melayang," lanjut Benggala Sewu sombong.

"Kupikir apa yang kau katakan akan terjadi sebaliknya, Benggala," kilah Jaka tenang. "Aku sudah dapat mengukur kemampuanmu melalui sorot matamu yang lemah. Namun, aku akan menuruti permintaanmu untuk mengetahui julukanku agar kau tak kalah secara penasaran," sambung Jaka.

"Hmmm...," Benggala Sewu bergumam. "Bisa sombong juga kau, Jaka!"

"Raja Petir pantang bersombong diri, Benggala!" bantah Jaka.

"Hei?! Jadi kaulah yang berjuluk Raja Petir?" terbelalak bola mata Benggala Sewu mendengar sebutan Raja Petir. "Julukanmu sudah cukup lama mampir di telingaku, tapi sosokmu baru kulihat sekarang," lanjut Benggala Sewu.

"Kau akan lari terbirit-birit setelah mengetahui julukanku?" ledek Jaka.

"Hi hi hi...!" Benggala Sewu terkekeh. "Justru sebaliknya, Raja Petir. Aku senang bukan kepalang karena hari ini, kupastikan dapat mengubur jasad seorang tokoh muda yang kesohor di kalangan rimba persilatan," bantah Penguasa Danau Keramat meneruskan.

"Kurasa keinginanmu itu hanya impian kosong, Benggala," ucap Jaka meladeni bantahan Benggala Sewu.

"Kita buktikan sekarang, Raja Petir!" ucap Benggala Sewu menantang.

"Silakan kau membuka serangan lebih dulu, aku ingin tahu sejauh mana kemampuan yang kau miliki!" balas Jaka meremehkan lawannya.

"Kurang ajar!" maki Benggala Sewu termakan ucapan Jaka.

Lelaki berpakaian biru dengan rambut panjang berwarna hitam dan putih keperakan segera melejit menerjang tubuh Raja Petir. Jari-jari tangannya yang seperti lempengan baja keras membentuk cakar membabat bagian leher.

"Hiaaa...!" Wuuuttt!

Begitu cepatnya sambaran tangan Benggala Sewu, tapi gerakan Jaka yang langsung menggunakan jurus 'Lejitan Lidah Petir' tak kalah cepat. Sebelum serangan si Penguasa Danau Keramat mencapai sasaran, tubuh Raja Petir telah lenyap dari tempatnya.

Benggala Sewu sempat terkejut menyaksikan kecepatan gerak Jaka. Dengan rasa penasaran lelaki berambut hitam dan putih keperakan itu mengejar tubuh Raja Petir dengan lesatan tubuh yang dua kali lipat kecepatannya.

"Heh?!"

Hampir saja lambung Raja Petir koyak tersambar jari-jari tangan Benggala Sewu yang tiba-tiba menyambar cepat. Untung saja dengan cepat Raja Petir segera mendoyongkan tubuh ketika merasakan angin serangan yang datang begitu cepat Ketika itu pula dengan begitu cepat, Raja Petir mencoba memberikan serangan balasan dengan mengerahkan jurus 'Petir Menyambar Elang'. 

Tubuh Jaka dengan kedudukan miring tiba-tiba melenting begitu cepat ke udara. Dan seketika, tubuhnya yang  berada di udara itu meluncur dengan sepasang tangan bergerak cepat terarah ke bagian kepala dan dada Benggala Sewu. Lelaki berpakaian biru yang berjuluk Penguasa Danau Keramat terkejut mendapatkan serangan balasan yang begitu cepat.

Untuk menghindari serangan dahsyat itu, Benggala Sewu segera mengeluarkan ilmu ‘Pemisah Raga’ Seketika itu juga kepala Benggala Sewu terlepas dari tubuhnya, dan melesat cepat menghindari terjangan tangan kanan Raja Petir. Namun, tubuhnya yang tak sempat bergeming dari tempatnya terpaksa harus menerima hantaman tangan kiri Raja Petir.

Slebbbs!

Serangan Raja Petir mendarat di dada Benggala Sewu.

Heh?!

Jaka terkejut bukan kepalang ketika serangannya yang tepat mengenai dada Benggala Sewu seperti membentur segumpalan kapas.

Keterkejutan Raja Petir semakin bertambah ketika dengan tiba-tiba tubuh Benggala Sewu bergerak mengejar kepalanya yang melayang-layang di udara. Secepat tubuh itu kembali menyatu dengan kepalanya, seperti itu pula cepatnya serangan balasan yang kembali diarahkan ke leher Raja Petir.

Wreeet! "Uts!"

Jaka melempar tubuhnya ke samping kanan dan bergulingan di atas batu-batu kecil di tepian Kali Batu. Dengan bertumpu pada punggung tangannya Jaka kembali melakukan lentingan ke udara. Pada saat yang bersamaan serangan Benggala Sewu kembali datang dengan pengerahan tenaga dalam penuh.

"Hiaaat..!"

Jaka dengan kedudukan tubuh yang berada di udara tak dapat berbuat banyak kecuali menangkis serangan Benggala Sewu. Maka ketika serangan yang mengarah ke lehernya mendekat Raja Petir segera menghentakkan tangannya melakukan gerakan menangkis.

Plak! Plak! "Ikh!"

Tubuh dua lelaki berpakaian kuning keemasan dan biru yang tengah mengambang di udara terpental balik ke belakang ketika terjadi benturan keras. Begitu kuat daya dorong akibat benturan yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam tinggi. Baik Jaka maupun Benggala Sewu dapat mementahkan daya dorong dengan melakukan perputaran tubuh beberapa kali di udara. Kemudian mendarat dengan manis di atas baru kali yang cukup besar.

"Tak percuma kau mendapatkan julukan Raja Petir, Jaka!" ucap Benggala ketika tubuhnya telah berpijak mantap di baru besar. "Namun aku tak yakin apakah kau mampu bertahan dengan racun ganas yang kini bersemayam di tubuhmu," lanjut Benggala Sewu.

"Racun ganas macam apa yang kau miliki, Benggala. Sedikit pun aku tak merasa racun milikmu," bantah Jaka.

Memang Raja Petir tiba-tiba merasa kan hawa aneh, ketika melakukan tangkisan atas serangan Benggala Sewu yang terarah ke leher. Hawa aneh itu sempat membuat tubuhnya terasa demam untuk sesaat, tapi pada saat berikutnya, Raja Petir merasa-kan tubuhnya kembali sehat seperti sedia kala.

Ternyata tubuh Raja Petir mampu bertahan dari racun dari Benggala Sewu. Lelaki berpakaian biru yang berjuluk Penguasa Danau Keramat nampak terkejut mengetahui daya tahan tubuh Raja Petir yang  tak terpengaruh racun ganas yang dialirkan lewat jurus 'Racun Biru Danau Keramat'.

"Aaa...!"

Sebuah lengkingan keras yang menyayat tibatiba terdengar. Lengkingan keras yang keluar dari mulut Ki Reksopati sempat membuat Raja Petir berpaling ke belakang dan menyaksikan tubuh kepala desa yang melayang deras.

Jaka sesungguhnya ingin menolong Ki Reksopati yang berada dalam keadaan berbahaya. Namun, keinginan Raja Petir tak terlaksana karena Benggala Sewu yang dapat membaca hasrat hati Raja Petir telah kembali melakukan serangan gencar yang mematikan.

Dengan sangat menyesal Raja Petir membiarkan tubuh Kepala Desa Waruwangi terus melayang dan jatuh berdebum.

Brukh! Hugkh!

Ki Reksopati merasakan tulang belakangnya seperti patah. Tendangan dahsyat Garajas ternyata tak mampu ditahannya. Kepala desa itu menggeliat sambil mengerang merasakan sakit yang luar biasa.

Pada saat itulah, Garajas yang menjadi lawan Ki Reksopati kembali mencelat melakukan serangan susulan. Tubuh raksasa berambut gondrong yang hanya mengenakan selembar cawat melayang dengan senjatanya berupa sepasang gada bergerigi berputarputar cepat di atas kepala. Garajas memang sudah bertekad menghancurkan tubuh Kepala Desa Waruwangi

Akan tetapi, pada saat-saat yang mengancam keselamatan jiwa Ki Reksopati, tiba-tiba dua buah benda kuning seketika meluncur dengan cepat menghadang Garajas yang hendak menghancurkan tubuh Ki Reksopati.

Sing! Sing!

Suara luncuran benda yang cukup cepat itu menimbulkan desingan keras, membuat Garajas tersentak kaget. Lelaki bertubuh raksasa yang hanya mengenakan cawat kulit ular mengetahui adanya bahaya mengancam jiwanya. Dengan gerakan cepat Garajas menggagalkan serangannya. Dengan cepat pula melempar tubuhnya ke kanan menghindari terjangan dua benda kuning yang meluruk ke batok kepala dan ulu hatinya.

Garajas segera bangkit setelah tubuhnya bergulingan di atas batu-batu kerikil pinggiran kali. Mata lelaki bertubuh raksasa kini tertuju ke dua gadis cantik yang telah berdiri di samping kiri kanan Kepala Desa Waruwangi.

"Gadis-gadis Setan!" maki Garajas dengan geram. "Kalian harus menerima hukuman! Begitu lancang mencampuri urusanku!"

"Hukuman apa yang akan kau berikan padaku, Lelaki Bejat?!" tanya gadis cantik berpakaian warna jingga agak ketus.

"Hukuman mati!" jawab Garajas mangkel. Gadis cantik berpakaian jingga yang tak lain adalah Mayang Sutera nampak tersenyum mendengar ucapan Garajas.

"Seharusnya kau yang dihukum mampus atas perbuatanmu yang kejam itu, Raksasa Jelek!" ledek Mayang Sutera.

"Kurang ajar!" maki Garajas mendengar dirinya dicaci sebagai raksasa jelek. "Kau memang harus betul-betul dibikin mampus!"

Dengan kemarahan yang meletup-letup, Garajas mencelat menerjang Mayang Sutera. Pekik kemarahan menyertai serangan Garajas yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Hiaaat..!"

***
SEMBILAN
Mayang Sutera, gadis cantik bergelar Dewi Payung Emas tak membiarkan serangan yang dilakukan Garajas. Sedikit pun Mayang Sutera tak ingin tubuh raksasa bercawat itu menjamahnya. Dengan gerakan cepat yang disertai pengerahan tenaga dalam, Mayang Sutera kembali melepas gelang-gelang emas di tangannya.

Siiing! Siiing!

Dua benda bundar kembali meluruk deras ke tubuh Garajas yang tengah melayang di udara. Lelaki bertubuh Raksasa itu sebisanya menggerakkan sepasang gadanya untuk menangkis serangan gelanggelang emas Mayang Sutera. Tetapi....

"Heh?!"

Garajas terbelalak kaget ketika menyaksikan sepasang benda yang meluncur itu seperti memiliki mata. Dua benda bundar itu mampu menghindar ketika gada bergerigi bergerak menangkis.

"Uts!"

Dengan sangat terpaksa Garajas kembali melempar tubuhnya ke kanan dan bergulingan di tanah berbatu-batu kerikil.

Sebenarnya pada saat Garajas bergulingan, Mayang Sutera bisa saja berkelebat cepat untuk memberikan serangan susulan. Namun tak dilakukan karena gadis berpakaian jingga itu menginginkan pertarungan berlangsung jujur, tanpa ada gerakan membokong dari belakang.

Lain halnya dengan Garajas yang ingin memenangkan pertarungan ini dengan berbagai cara. Ketika tubuh raksasanya kembali bangkit, Garajas langsung mengerahkan jurus-jurus beracunnya yang bernama 'Badai Lembah Beracun'.

Tapi sayang, gerakan yang hendak dilakukan Garajas terhambat kembali oleh luncuran gelanggelang emas Mayang Sutera. Dan, Mayang Sutera yang melesat tak ingin memberikan ruang gerak pada Garajas, dengan cepat melesat dengan senjatanya berupa payung kuning yang terkembang.

Dua buah serangan beruntun dilancarkan gadis cantik yang berjuluk Dewi Payung Emas. Serangan itu membuktikan kepada Garajas, bahwa kecepatan gerak Mayang Sutera ternyata lebih cepat dibanding dengan gerakannya. Dengan serangan beruntun itu Garajas semakin kehilangan kesempatan untuk melakukan serangan balasan.

Dewi Payung Emas dengan senjata berupa payung yang terkembang terus melakukan serangan gencar ke bagian tubuh Garajas yang mematikan. Garajas sendiri, dengan gerakan-gerakan tanpa rencana berusaha menghindari ujung-ujung payung Mayang Sutera yang runcing seperti mata tombak.

Wruuut! Wruuut! "Ops!"

Garajas merendahkan tubuhnya ketika payung Mayang Sutera melesat ke pelipisnya. Akan tetapi, Mayang Sutera yang memiliki kecerdikan luar biasa sengaja menciptakan gerak tipu yang membahayakan pertahanan lawan.

Ketika tubuh Garajas merendah, sebuah tendangan lurus terarah cepat ke dahi raksasa berambut gondrong dilancarkan Mayang Sutera.

"Hiaaat..!"

Dengan teriakan nyaring gadis berpakaian jingga melepas tendangan.

Plark! "Akh!"

Tubuh Raksasa Garajas terhuyung beberapa langkah ke belakang. Dan pekikan keras dari mulut Garajas ketika terkena tendangan Mayang Sutera membuat Sedaka terkejut seperti tersengat kalajengking. Sedaka tak menyangka kalau Garajas tak mampu menahan desakan gadis cantik yang hanya menggunakan sebuah payung sebagai senjatanya.

Keterkejutan serupa juga dialami Benggala Sewu. Lelaki yang berjuluk Penguasa Danau Keramat itu memang sejak awal telah tahu kehadiran gadis cantik yang ikut terjun ke kancah pertempuran. Namun, sesungguhnya hati Benggala Sewu tak yakin kalau ternyata gadis cantik itu mampu mendesak kedudukan Garajas. Bahkan gadis itu mampu mengancam nyawa lelaki bertubuh raksasa yang memiliki kemampuan handal.

Berbeda dengan Sedaka dan Benggala Sewu. Segurat kecerahan terlihat di wajah Jaka yang menyaksikan Mayang Sutera berhasil menyelamatkan Kepala Desa Waruwangi. Bahkan kekasihnya kini mampu mendesak kedudukan lelaki bercawat kulit ular itu. 

Di sisi lain, pertarungan antara Gumai Gumarang yang dibantu Seruni pun nyaris menemui hal yang sama. Sedikit keunggulan nampak dimiliki Gumai Gumarang dan Seruni, terbukti dengan gerakan menghindar yang terus dilakukan Sedaka tanpa memberikan serangan balasan sedikit pun.

"Kau jangan bangga dulu, Raja Petir!" sentak Benggala Sewu ketika menyadari keadaan kedua anak buahnya yang mengkhawatirkan.

"Setelah kulenyapkan dirimu, gadis-gadis itu pun akan kubinasakan!" lanjut Benggala Sewu geram.

"Sejak pertama kita bertarung kau selalu berkata begitu, Benggala. Tapi mana kenyataannya?" ledek Jaka dengan pertanyaan yang membuat telinga Benggala Sewu panas.

Lelaki berambut hitam dan putih keperakan itu nampak geram dengan ucapan Raja Petir. Dari mulutnya seketika terdengar gerengan kemurkaan.

"Grrrkh...! Aku tak akan memberimu kesempatan lagi untuk hidup, Raja Petir!" ucap Benggala Sewu. Lelaki muda usia berpakaian biru melangkah mundur satu tindak. Tangan kanannya seketika bergerak perlahan ke atas kepala. Lalu dengan sekali sentak saja kepala Benggala Sewu telah tercabut dari badan-nya.

Krek!

Tangan Benggala Sewu kini menenteng kepalanya sendiri, lalu dengan kuat menghentakkan kepala itu hingga terlempar deras menuju Jaka.

Kepala dengan bola mata yang menyorot kemerahan itu meluncur deras. Dari jarak sekitar satu batang tombak mata kepala itu melepaskan selarik sinar kemerahan menuju ke kepala Raja Petir.

Mendapatkan serangan berbahaya itu Raja Petir melenting ke udara. Dan ketika mendarat, Jaka kembali menghentakkan kaki dan melesat cepat. Tubuhnya pun kini mencelat semakin menjauhi kepala Benggala Sewu.

Raja Petir sengaja melakukan hal itu untuk mengambil jarak yang cukup, agar pertarungan menghadapi Benggala Sewu tak menimbulkan akibat buruk bagi diri Mayang Sutera, Seruni, Paman Gumai Gumarang, dan Ki Reksopati. Karena Raja Petir mengetahui bahwa Ki Reksopati menderita luka dalam.

Sementara itu Lodaya Waru telah muncul bersama beberapa penduduk yang memegang beraneka jenis senjata tajam. Rupanya pancingan Raja Petir untuk menjauhkan tempat pertarungan tak disadari Benggala Sewu. Lelaki yang berjuluk Penguasa Danau Keramat terus mengejar tubuh pemuda berpakaian kuning keemasan. 

"Sekarang kita bebas mengeluarkan jurus-jurus sakti yang kita miliki, Benggala!" tukas Jaka penuh tantangan.

"Keluarkan apa yang kau punya, Raja Petir! Aku akan menandingi!" sambut Benggala Sewu yang berwujud kepala tanpa badan mengambang di udara.

Raja Petir nampaknya sudah dapat mengukur kesaktian Benggala Sewu yang cukup tinggi, sehingga tak ingin membuang-buang waktu percuma. Seketika itu juga Raja Petir meloloskan sabuk hijau yang melingkar di pinggang. Seberkas sinar menyilaukan seketika berpendar-pendar dari sabuk yang telah berada di genggaman tangannya.

"Terimalah seranganku, Benggala!" teriak Jaka lantang.

Pergelangan tangannya pun seketika bergerak cepat, menghentak sabuk hijau yang dicekalnya.

"Hih!" Ctar! Selarik sinar keperakan mencelat dari ujung sabuk yang berkelebat menimbulkan bunyi seperti guntur. Sinar keperakan seperti sambaran petir itu meluruk dengan cepat ke batok kepala Benggala Sewu.

Crasss! "Heh?!"

Mata Jaka terbelalak menyaksikan sinar seperti petir itu tak mampu menembus batok kepala Benggala Sewu. Bahkan sinar itu raib ketika menyentuh kepala berambut hitam dan putih keperakan.

Wajah Benggala Sewu nampak tersenyum ketika serangan Jaka mampu diredamnya.

"Lakukan lagi, Raja Petir! Sampai kau puas," ujar Benggala Sewu memancing kemarahan Jaka.

Jaka memang meluluskan permintaan Benggala Sewu. Lelaki berpakaian kuning keemasan itu nampak penasaran kalau tak dapat menghancurkan kepala lawan dengan sabuk yang ada di tangannya.

Seketika itu juga Jaka menyerang Benggala Sewu dengan menggunakan jurus sakti bernama 'Sabuk Petir Pelebur Raga'.

Pergelangan tangan Jaka dengan jari-jarinya yang mencekal sabuk hijau kembali bergerak cepat

"Hih!"

Sekali lagi sabuk hijau Raja Petir menyambar dengan kecepatan kilat

Ctaaar! Glaaarrr...!

Jaka kembali terkejut menyaksikan kenyataan yang dihadapinya. Disaksikannya sendiri betapa dahsyat ledakan akibat benturan seleret sinar keperakan yang menyambar kepala Benggala Sewu. Namun kepala yang melayang-layang di udara itu masih tetap utuh seperti sediakala. Bahkan, di wajah Benggala Sewu kembali terukir seulas senyum mengejek

Ilmu Iblis! Maki Jaka dalam hati.

"Kenapa berhenti, Raja Petir?" tanya Benggala Sewu angkuh. "Apa kau ingin aku yang gantian menyerang? Nah, bersiaplah!"

Wujud Benggala Sewu yang hanya berupa kepala berlumuran darah berkelebat cepat. Sementara Jaka kembali bersiap melindungi dirinya dengan sebuah ajian yang bernama aji 'Kukuh Karang'. Seketika bagian kepala hingga dada dan lutut hingga ujung kaki Raja Petir terselimuti sinar kuning keemasan.

Menyaksikan sinar kuning keemasan menyelimuti tubuh Jaka, tanpa ragu kepala Benggala Sewu terus melanjutkan serangannya. Bola matanya menyorot merah menciptakan dua larik sinar merah. Sinar merah itu meluncur cepat ke kepala Jaka. Sedangkan mulutnya yang menganga lebar mengeluarkan api berkobar dan melesat ke dada Raja Petir.

Begitu cepat dua serangan beruntun dilakukan Benggala Sewu. Dan seketika sinar merah yang disusul semburan api menerjang bagian tubuh Jaka.

Jrebbbs! Bresh!

Dua serangan beruntun yang dilancarkan oleh Benggala Sewu dapat dipatahkan. Aji 'Kukuh Karang' yang digunakan Raja Petir ternyata mampu menangkis serangan dahsyat Benggala Sewu. Bahkan serangan balasan Raja Petir dengan meloloskan pedang pusaka dari lehernya membuat mata Benggala Sewu terbelalak ngeri.

Pamor Pedang Petir yang tergenggam di tangan Jaka nampak dialiri sebentuk kekuatan batin. Sebuah kekuatan yang membuat penampilan pedang pusaka itu begitu menakjubkan. Wujud pedang pusaka terlihat seperti lidah petir yang hidup dan bergerak-gerak.

Ketika Raja Petir mengangkat tinggi-tinggi pedang pusaka, langit yang semula terang-berderang sekonyong-konyong berubah gelap. Suara gemuruh saling bersahutan terdengar dari kejauhan.

Bersamaan lenyapnya suara gemuruh di kejauhan, lenyap pula kegelapan yang menyelimuti langit. Seketika itu juga dengan cepat Jaka melakukan gerakan membacok ke arah kepala Benggala Sewu yang masih terkesima menyaksikan perbawa Pedang Petir.

Ternyata, Benggala Sewu masih tetap berusaha menghindari serangan Jaka yang begitu cepat dan tiba-tiba. Tapi sayang, gerakan menghindar yang dilakukan tak mampu mengimbangi kecepatan gerakan membacok yang dilakukan Jaka. Seketika itu juga...

Crakkk! "Aaakhh...!"

Lengking kematian terdengar keras ketika pedang Petir Jaka membabat kepala Benggala Sewu. Sehingga, kepala yang tadi melayang-layang terbelah dua.

Bruk!

Kepala yang terbelah itu terbanting ke bumi dan seketika itu juga keanehan kembali muncul di hadapan Jaka. Kepala yang terbelah itu tiba-tiba menyatu kembali dengan sosok tubuh Benggala Sewu yang berpakaian serba biru. Benggala Sewu sudah tak bernyawa lagi. 

Namun tiba-tiba sosok tubuh lelaki berjuluk Penguasa Danau Keramat itu berubah. Sosok yang semula muda usia dan begitu tampan bagai pangeran, kini nampak begitu tua seperti seorang kakek yang berusia delapan puluh tahunan. Raja Petir begitu terkejut menyaksikan kejadian aneh di depannya. Tetapi belum hilang rasa herannya, tiba-tiba terdengar suara teguran.

"Kau tak apa-apa, Kakang?"

Ternyata suara Mayang Sutera yang tiba-tiba membuat Raja Petir berpaling. Mata Raja Petir berbinar-binar menyongsong kehadiran gadis cantik berpakaian jingga.

"Ah, tidak. Aku tak apa-apa, Mayang," jawab Jaka. "Bagaimana Paman Gumai dan Seruni?"

"Mereka juga tidak apa-apa, Kakang. Dua lelaki bercawat melarikan diri mendengar lengking kematian lawanmu," sahut Mayang sambil merangkul tubuh Jaka. "Semula aku ingin mengejar mereka, tapi Paman Gumai melarang," lanjut Mayang manja.

***

Siang yang cukup panas tak membuat orangorang yang berada di dalam rumah Ki Reksopati merasa kegerahan. Mereka kembali merasa lega, ketika menyaksikan Kepala Desa Waruwangi sudah mampu bangkit setelah mendapat pertolongan dari Gumai Gumarang.

"Siapa sebenarnya tokoh Benggala Sewu itu, Ki?" tanya Raja Petir kepada Ki Reksopati setelah kepala desa itu duduk di kursinya.

"Hmmm..., puluhan tahun silam, ketika aku masih belia seorang lelaki berjuluk Penguasa Danau Keramat pernah menguasai desa ini. Namun, kemudian lelaki itu tiba-tiba lenyap dan meninggalkan desa kekuasaannya begitu saja. Entah apa maksud kepergiannya setelah berhasil menguasai Desa Waruwangi ini. Dan sekarang tiba-tiba saja lelaki itu muncul lagi dengan wujud seorang pemuda."

Ki Reksopati mencoba menjelaskan kejadian yang pernah terjadi atas tokoh Penguasa Danau Keramat beberapa puluh tahun silam.

"Kurasa dia punya ilmu yang membuat dirinya kembali muda, Ki," timpal Jaka sambil teranggukangguk setelah mendengar penjelasan Ki Reksopati. "Dan tujuannya ke sini untuk merebut kembali desa yang dulu jadi kekuasaannya," timpal Jaka.

"Mungkin begitu," sahut Ki Reksopati dengan mata tak lepas menatap wajah Jaka.

"Kau hebat, Jaka! Aku berhutang budi padamu," ucap Ki Reksopati penuh rasa terima kasih kepada pemuda berpakaian kuning keemasan yang duduk di depannya.

Raja Petir hanya membalas ucapan Ki Reksopati dengan senyuman.

"Tak ada budi yang ku tanam di desa ini, Ki. Yang ada hanya kewajibanku untuk menolong orangorang yang memang membutuhkan pertolongan," tukas Jaka sambil terus memandang wajah Kepala Desa Waruwangi itu.

Ki Reksopati tersenyum bangga mendengar perkataan Jaka yang begitu bijak. Dan tangan kepala desa itu pun terulur meraih bahu Raja Petir.

"Terima kasih, Raja Petir," ucap Ki Reksopati penuh keharuan.

SELESAI
Ada kabar sedih nih gan, situs ini dinyatakan spam oleh pihak facebook :(:(. Admin mau minta tolong kepada para pembaca yang budiman untuk mengisi form di Link ini : Facebook Debugger dan menulis bahwa situs ini bukan spam. Semoga kebaikan dari pembaca dibalas berlipat ganda oleh Tuhan yang maha kuasa😇. Selaku Admin ~ Iccang🙏