Serial Raja Petir eps 09 : Kematian Eyang Legar

SATU
Puncak Gunung Kalaban bergetar hebat, seperti sedang terjadi gempa. Namun sejauh mata memandang, tak ada tanda-tanda gunung itu akan meletus setelah tertidur puluhan tahun lamanya. Jika diperhatikan dengan teliti, yang terlihat di tempat itu hanya empat lelaki berwajah bengis sedang berdiri tegak sambil berteriak mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Rupanya gema suara mereka yang menggetarkan puncak Gunung Kalaban ini.

"Eyang Legaaar...! Keluar kau! Jangan bersembunyi seperti tikus comberan! Keluar! Atau gunung ini kami ratakan dengan tanah!"

Gunung Kalaban kembali bergetar hebat. Sementara di dalam sebuah gua yang berada enam tombak dari puncak gunung, nampak seorang lelaki tua berpakaian biru menyala ragu-ragu ingin berjalan keluar dari tempatnya.

Lelaki berusia sekitar delapan puluh tahun itu bukan tidak terganggu dengan teriakan-teriakan yang menghinanya sebagai tikus comberan, tetapi....

Ah, haruskah aku kembali berurusan dengan darah dan kematian? Kata hati lelaki tua yang tak lain Eyang Legar atau yang berjuluk Hantu Pemburu Nyawa (untuk jelasnya, silakan baca serial Raja Petir episode pertama: Pembalasan Berdarah).

Lelaki berpakaian biru menyala itu melayangkan pandangan ke luar gua. Teriakan-teriakan hinaan dan makian kembali terdengar memanaskan telinga. Namun Eyang Legar alias si Hantu Pemburu Nyawa berusaha tidak peduli.

Mata lelaki tua itu nampak menyala, tertuju pada satu titik. Eyang Legar kelihatan sedang memusatkan pikirannya pada teriakan-teriakan yang mengakibatkan dinding-dinding gunung bergetar hebat. Siapakah mereka? Bisiknya dalam hati.

Lelaki tua itu mengakui pada puluhan tahun silam, dirinya telah banyak menanam bibit permusuhan. Hingga sekarang tidak dapat membedakan suarasuara yang terdengar cukup membuat telinganya terasa panas, yang mungkin dilakukan oleh bekas musuh-musuhnya.

Lelaki berpakaian biru menyala yang berusia lebih dari delapan puluh tahun itu melangkahkan kaki perlahan, menuju sebuah dinding batu yang digunakan sebagai lemari. Tangan tua Eyang Legar pun menggeser dinding batu. Bunyi berderit terdengar cukup keras, menandakan dinding itu sukar dibuka dengan menggunakan tenaga kasar.

Dari balik dinding batu, Eyang Legar meraih sebuah kapak berukuran cukup besar. Kapak hitam dengan bagian pinggirnya berkilat-kilat sinar putih, diraba Eyang Legar dengan perasaan tak menentu.

Sesungguhnya Eyang Legar merasa segan untuk menggunakan senjatanya kembali, senjata yang puluhan tahun silam selalu digunakannya sebagai pencabut nyawa. Entah sudah berapa kepala terpenggal oleh kapak itu.

"Ah...!"

Eyang Legar menarik napas berat. Hatinya berjanji, jika senjata itu digunakan bukan untuk mengulangi kekejamannya di masa lalu, tapi hanya untuk berjaga-jaga dari kemungkinan buruk atau sekadar mempertahankan diri.

Setelah berpikir demikian, Eyang Legar si Hantu Pemburu Nyawa segera beranjak keluar gua. Gerakan kakek berusia lanjut itu masih seringan dan segesit dulu. Tak heran jika dalam waktu singkat dirinya sudah berada di hadapan empat lelaki yang tadi berteriak-teriak menghinanya.

"Hmmm.... Kukira siapa yang telah mengganggu semadi ku? Ternyata Dewa Kaki Langit, Cakar Sakti, Iblis Kali Asin dan Mayat Merah? Ada perlu apa kalian bersusah-payah datang ke kediamanku?" tanya Eyang Legar tenang, meski sesungguhnya hatinya sedikit bergetar melihat kedatangan empat lelaki, yang pada puluhan tahun silam pernah bentrok dengannya.

"Apa semudah itu kau melupakan kejadian puluhan tahun silam, Eyang Legar!" hardik lelaki berjubah biru muda yang tak lain Dewa Kaki Langit.

"Tentu saja tidak, Resumuka," jawab Eyang Legar tetap tenang.

"Hhh...! Lalu mengapa nada bicaramu seperti itu?" desak Dewa Kaki Langit yang nama sebenarnya Resumuka.

"Karena kupikir kalian telah menjadi orangorang yang bertobat seperti aku," jawab Eyang Legar seraya membalas tatapan tajam Resumuka si Dewa Kaki Langit

"Huh! Kau pikir setelah bertobat lantas tak punya urusan lagi dengan kami?" tandas lelaki berpakaian kuning jeruk yang memegang senjata terbuat dari lempengan baja berbentuk telapak tangan manusia. Lelaki itu berjuluk Cakar Sakti.

"Tentu saja tidak, Kuruga. Kecuali jika kalian memang sudah melupakan kejadian masa lalu," bantah Hantu Pemburu Nyawa.

"Kesombonganmu di masa lalu tak akan hilang dari ingatanku, Eyang Legar. Kau harus menebusnya sekarang!" bentak Sugraniri.

Lelaki berpakaian hitam dengan senjata sebilah golok besar menuding wajah Eyang Legar. Iblis Kali Asin nampak sangat geram. Namun untuk mulai menyerang, Sugraniri harus meminta persetujuan temantemannya.

"Bagaimana, Kakang Indagu? Kita habisi saja lelaki tua ini sekarang!" tandas Iblis Kali Asin melepas kemarahannya.

"Sabar, Adi Sugra. Aku masih menyimpan pertanyaan untuknya," cegah lelaki berpakaian merah yang wajahnya putih pucat bagai mayat, namun karena pakaiannya merah menyala, maka wajahnya terbias oleh warna pakaiannya. Sehingga lelaki itu mendapat julukan Mayat Merah.

"Huh!"

Sugraniri si Iblis Kali Asin mendengus tak sabar, ingin segera menghabisi nyawa Hantu Pemburu Nyawa.

"Eyang Legar. Bagaimana perasaanmu setelah bertobat selama puluhan tahun?" tanya Mayat Merah perlahan namun terdengar tegas dan pasti.

Pertanyaan yang keluar dari mulut Watu Indagu, sungguh di luar dugaan Dewa Kaki Langit, Iblis Kali Asin, dan Cakar Sakti. Ketiga lelaki itu nampak mengerutkan dahi.

Eyang Legar pun merasakan hal yang sama. Lelaki berusia delapan puluh tahun lebih itu sempat mengerutkan dahi sebelum menjawab pertanyaan Mayat Merah.

"Ketenangan batin, itu yang kudapati Watu Indagu," jawab Eyang Legar.

"Hingga sampai kau tak menduga kami masih mencarimu untuk membuat perhitungan?"

"Ya," jawab Eyang Legar terus terang. "Karena aku berharap kalian akan berbuat sepertiku, kembali ke jalan yang benar sebelum ajal datang menjemput"

"Huh! Kata-katamu tak ubahnya seorang suci, Eyang Legar!" bentak Resumuka geram.

"Bukan begitu, Dewa Kaki Langit!" mulai meninggi ucapan yang keluar dari mulut Hantu Pemburu Nyawa. "Kalau saja kau mau merenungkan berapa usiamu sekarang, maka kau akan menghitung kapan kematianmu datang menjemput. Dan karena umur berada di tangan sang Pencipta Jagat, maka manusia harus pandai memanfaatkan umur atau sisa umurnya," jelas Eyang Legar panjang lebar.

"Huh! Muak aku bila mendengar khotbahmu, Eyang Legar!" bantah Iblis Kali Asin. "Kita mulai saja sekarang!"

"Tunggu!" tahan Eyang Legar seraya membentangkan lima jari tangan kanannya. "Apa tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh?!"

"Tidak! Kau harus mampus, Eyang Legar!" sentak Kuruga.

"Ya. Semua kesalahanmu harus kau tebus hari ini!" timpal Dewa Kaki Langit

"Baiklah, jika itu yang kalian inginkan. Semula aku tak ingin menggunakan Kapak Pemburu Nyawa ini lagi, tapi karena kalian memaksa dan aku ingin melindungi diri, maka jangan salahkan aku jika leher kalian terpenggal putus oleh Kapak Pemburu Nyawaku," gertak Eyang Legar, merasa sudah tak mampu menahan keinginan empat lelaki yang pada puluhan tahun silam pernah bentrok dengannya.

Hantu Pemburu Nyawa teringat masa puluhan tahun silam. Saat dirinya dengan angkuh meminta empat lelaki yang kini berada di hadapannya, mengurungkan niat meringkus seorang gadis yang telah memikat hatinya, seorang gadis cantik yang kemudian diketahuinya bernama Selasih. Tentu saja empat lelaki itu menolak, hingga bentrokan pun tak dapat dihindari.

"Sombong kau, Eyang Legar! Lehermu yang akan ku pisahkan dari badan!" bentak Iblis Kali Asin yang memiliki watak pemarah.

Lelaki berpakaian hitam yang menghunus senjata sebilah golok besar, bergerak cepat diiringi teriakan menggelegar.

"Haaat..!" Bet! Bet! "Uts!"

Dua kali golok besar Sugraniri terarah tepat ke leher Eyang Legar. Namun dengan gerak cepat Hantu Pemburu Nyawa menggeser kedudukannya seraya memiringkan kepala sedikit. Maka serangan Iblis Kali Asin jadi mentah karenanya.

Kendati Eyang Legar berhasil mematahkan serangan pertama Sugraniri, bukan berarti dirinya bisa bernapas dengan leluasa. Karena belum setegukan teh, kemudian serangan lelaki berjuluk Iblis Kali Asin datang kembali. Kali ini dikerahkan dengan kekuatan tenaga dalam yang lebih tinggi dari serangan pertama, gerakannya pun lebih cepat dan terarah.

Bunyi menderu mengiringi datangnya serangan yang dilakukan lelaki yang berjuluk Iblis Kali Asin.

"Haaat...!"

Eyang Legar terkesiap melihat gerakan Sugraniri. Lelaki tua itu tak percaya dengan peningkatan ilmu silat Iblis Kali Asin, maka Eyang Legar pun tak mau meladeni serangan itu dengan mengandalkan tangan kosong.

Hentakan kuat dilakukan Eyang Legar dengan menyilangkan senjatanya di depan leher, maka saat itu juga terjadilah benturan keras yang menimbulkan bunyi memekakkan telinga.

Trang!

Percikan bunga api mengiringi terpentalnya sosok berpakaian hitam dengan golok masih tercekal erat. Tubuh Sugraniri terpental balik sejauh satu setengah tombak. Namun berkat kemampuannya, Iblis Kali Asin mampu mementahkan daya dorong tenaga lawan.

"Heaaa...!"

"Hih!"

"Hop!"

Sugraniri menjejakkan kakinya dengan manis. Matanya seketika menatap wajah Hantu Pemburu Nyawa yang pada benturan keras tadi hanya terdorong dua langkah. Kenyataan itu cukup memberitahu Iblis Kali Asin, bahwa tenaga dalam Hantu Pemburu Nyawa berada di atasnya.

Dewa Kaki Langit, Cakar Sakti, dan Mayat Merah tersentak menyaksikan kemampuan Hantu Pemburu Nyawa. Ketiganya berpendapat, bahwa Eyang Legar tidak mau menunjukkan kehebatannya dengan alasan tidak ingin lagi berurusan dengan kekerasan, namun kenyataannya?

"Eyang Legar! Tobat mu ternyata hanya tobat sambal!" bentak Kuruga keras.

"Apa maksudmu, Kuruga?"

"Kau tidak membuang kepandaianmu yang sudah jelas digolongkan sebagai ilmu aliran sesat!" jelas Cakar Sakti.

"Kau jangan bodoh, Cakar Sakti! Mana mungkin aku melupakan atau membuang ilmu yang telah susah-payah kudapatkan. Tobat yang kujalani semata tobat dari kebiasaan buruk, perbuatan keji, dan mempergunakan ilmu untuk memuaskan nafsu setan. Apa yang kau lihat barusan adalah naluri ku untuk menyelamatkan diri!" kilah Eyang Legar tegas.

"Itu hanya alasanmu untuk menutupi kelakuan burukmu, Eyang Legar! Padahal kau tak ubahnya dengan tokoh-tokoh aliran hitam yang lain!" bantah Sugraniri.

"Terserah apa pendapatmu, Iblis Kali Asin!" tukas Eyang Legar.

"Nah, begitu lebih baik, Eyang Legar. Sekarang jemputlah kematianmu. Ayo Kakang Kuruga, Kakang Resumuka, dan Kakang Indagu. Kita habisi Hantu Pemburu Nyawa keparat itu!" ajak Sugraniri.

Empat tokoh sakti golongan hitam itu segera berlompatan mengurung Hantu Pemburu Nyawa. Keempat tokoh yang rata-rata memiliki kemampuan berimbang, agaknya tidak ingin memberi kesempatan pada Eyang Legar. Terbukti keempat tokoh kelas atas golongan sesat itu mengeluarkan senjata andalannya masing-masing.

Eyang Legar si Hantu Pemburu Nyawa, tentu saja tak menganggap remeh keempat lawan yang sudah dijajaki kemampuannya. Secara perseorangan, Eyang Legar mampu menumbangkan setiap lawannya, namun jika keempat lelaki itu bergabung seperti sekarang ini?

"Hhh...!"

Eyang Legar menarik napas berat. Dirinya tak menyangka kalau pada usia yang setua ini, harus kembali berurusan dengan darah dan kematian.

Sambil menebarkan pandangan pada empat lelaki yang mengepungnya. Eyang Legar meningkatkan daya kepekaannya. Otot-otot tua pada tubuhnya seketika menegang, dan desahan kuat terdengar seiring tarikan napas dalam pengerahan tenaga dalam. Eyang Legar sedang bersiap menghadapi lawan-lawannya dengan seluruh kemampuan.

"Hiaaa...!"

Serangan pertama dilakukan oleh Iblis Kali Asin. Lelaki bernama Sugraniri itu melejit cepat dengan senjata terarah tepat ke lambung Hantu Pemburu Nyawa.

Selang dua tegukan teh, kemudian Kuruga melakukan hal yang sama. Lelaki berpakaian jingga itu meluruk cepat dengan senjata dari baja berbentuk telapak tangan manusia, yang bergerak-gerak di udara. Bunyi berdecitan terdengar seiring datangnya serangan Iblis Kali Asin dan Cakar Sakti.

"Hiaaa...!" Wruuut! Bet! Hop!

Eyang Legar bergerak cepat menghindari tebasan golok besar yang datang lebih dulu. Sengaja Eyang Legar melakukan loncatan tidak penuh, karena lelaki tua itu mampu membaca serangan kedua yang dilakukan Cakar Sakti.

Senjata Cakar Sakti segera berkelebat cepat ke arah dada Eyang Legar setelah serangan Iblis Kali Asin lolos dari sasaran. Namun Cakar Sakti sempat dibuat tercengang menyaksikan kecerdikan Hantu Pemburu Nyawa.

Ketika senjatanya yang berbentuk telapak tangan manusia bergerak cepat hendak menghantam dada Hantu Pemburu Nyawa, ternyata gerakan Eyang Legar melebihi kecepatan geraknya. Dengan meminjam tangan Iblis Kali Asin sebagai landasan, tubuh Hantu Pemburu Nyawa melenting tinggi ke udara, setelah ujung kakinya menotol punggung tangan Sugraniri.

"Hiaaa...!"

"Hiaaa...!" 

"Hop!"

Ringan dan manis gerakan yang dilakukan Hantu Pemburu Nyawa. Tubuh yang terbalut pakaian biru itu melakukan putaran dua kali dan mendarat dengan mantap di tanah. "Kau kira semudah menangkap kelinci untuk menghilangkan nyawa Eyang Legar!" hardik Hantu Pemburu Nyawa lantang.

"Cuh! Jangan bangga dulu, Eyang Legar! Aku dan Mayat Merah belum melakukan penyerangan!" bantah Resumuka si Dewa Kaki Langit seraya memandang Mayat Merah.

"Ayo, Kakang Resumuka, Sugraniri, dan kau Kuruga. Kita lumat tubuh Eyang Legar!" ajak Mayat Merah.

Lelaki berwajah mirip mayat yang terpantul rona merah warna pakaiannya, segera berkelebat menyerang Eyang Legar tanpa menggunakan senjata. Tangan kiri Watu Indagu yang terkepal kuat nampak mengepulkan asap merah berbau tidak sedap. 'Pukulan Mayat Hidup'! Ucap Hantu Pemburu

Nyawa dalam hati ketika menyaksikan Mayat Merah melakukan serangan. Secepatnya Hantu Pemburu Nyawa merubah kedudukan kakinya. Lelaki itu sudah mengetahui kedahsyatan 'Pukulan Mayat Hidup' Watu Indagu, ketika dirinya berusaha membebaskan Nyi Selasih (baca serial Raja Petir episode: Pembalasan Berdarah) dari kebejatan moral Mayat Merah dan kawan-kawannya.

Waktu itu hampir saja dirinya terhantam pukulan Watu Indagu yang dapat mengakibatkan kelumpuhan. Namun beruntung gerakannya lebih cepat, hingga 'Pukulan Mayat Hidup' Watu Indagu menghantam telak dada pembokongnya.

"Hiaaa...!" Wrrr...!

Hampir tak percaya rasanya Eyang Legar menyaksikan gerakan Watu Indagu. Lelaki berpakaian merah itu begitu pesat kemajuan ilmunya, sebab sekarang telah mampu melepaskan 'Pukulan Mayat Hidup' dalam jarak jauh.

Beruntung Eyang Legar mempunyai kesempatan menghindari serangkum angin kemerahan yang meluruk cepat ke arahnya, serangkum angin ganas yang menimbulkan bau memualkan.

"Hiaaa...!" 

"Heh?!"

Hantu Pemburu Nyawa memang mampu untuk menghindari terjangan 'Pukulan Mayat Hidup' Watu Indagu, namun lelaki tua itu sempat terkejut merasakan hembusan pukulan itu menghantam kulitnya. Seketika itu juga Eyang Legar panas bukan kepalang dan rasa gatal yang menjalar cepat sampai ke wajah.

"Gila!" maki Eyang Legar terkejut.

Hantu Pemburu Nyawa segera mengerahkan kekuatan hawa murninya untuk melawan keganasan angin pukulan Watu Indagu yang telah menelusup masuk melalui pori-pori kulitnya.

Namun belum lagi lelaki tua itu mampu mengusir seluruh pengaruh 'Pukulan Mayat Hidup' Watu Indagu, serangan lain telah datang mengancam nyawanya. Serangan gelap ini dilakukan Iblis Kali Asin.

"Hiaaattt..!"

Diiringi lengkingan nyaring, tubuh Sugraniri berkelebat cepat. Tangan kanannya yang mencekal golok besar terayun ke batok kepala Eyang Legar. Lelaki berpakaian hitam itu rupanya ingin membelah kepala Hantu Pemburu Nyawa.

Eyang Legar yang sedang berusaha mengusir pengaruh 'Pukulan Mayat Hidup' tersentak ketika merasakan desiran angin kuat dari arah belakang.

Dengan menggunakan segenap naluri dan kepekaannya, Eyang Legar memiringkan tubuhnya. Bersamaan dengan itu, sambaran golok besar yang dilakukan Sugraniri dengan kekuatan tenaga dalam penuh telah datang, mau tak mau serangan Iblis Kali Asin meleset lima jengkal dari tubuh Eyang Legar. Dan Eyang Legar yang memang mengharapkan keadaan seperti itu, segera memanfaatkannya. Saat itu juga siku Eyang Legar bergerak dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Hih!" Blak! "Uuukh!"

Tubuh Iblis Kali Asin oleng ke kiri ketika rusuk kanannya terhantam siku Hantu Pemburu Nyawa. Karena hantaman Eyang Legar tidak setengah-setengah, maka tak heran jika Iblis Kali Asin tak kuasa menahan tenaga dorong yang dilakukan Eyang Legar. Seketika itu juga tubuh Sugraniri ambruk.

Brukh! "Akh!"

Menyaksikan Sugraniri terkulai tak berdaya, Dewa Kaki Langit dan kawan-kawan semakin bertambah geram.

Tanpa ada yang memberi aba-aba, ketiga lelaki bertampang sadis itu merangsek maju bersamaan. Dan senjata mereka berkelebat ke bagian-bagian mematikan tubuh Hantu Pemburu Nyawa.

Eyang Legar yang harus mempertahankan selembar nyawanya, segera mengebut-ngebutkan kapak besar yang pada bagian tepinya berkilat-kilat sinar keperakan.

Wruuut..!

Wruuut..!

Putaran senjata Eyang Legar yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi, membuat arena pertarungan dipenuhi debu kaki gunung yang bergulunggulung, dan batu-batu kecil berpentalan.

Namun ketiga lawan Hantu Pemburu Nyawa tidak mempedulikan keganasan senjata lelaki tua itu yang berputar dahsyat. Ketiga lelaki itu tetap merangsek maju dengan diiringi, teriakan membumbung ke langit

"Hiyaaa...!"

"Haaattt..!"

"Haaa...!"

***
DUA
Tiga sosok tubuh yang tengah dilanda kemarahan itu, terus berkelebat menyongsong tubuh lelaki yang sedang memutar senjatanya dengan kekuatan tenaga dalam penuh. Maka ketika sambaran senjata ketiga lelaki itu datang, tak pelak lagi, ketiga senjata lawan Eyang Legar menghantam kapak yang tengah diputarnya.

Trang! Trang! Tring! "Aaa...!"

Percikan bunga api seketika tercipta, empat senjata yang terbuat dari logam keras berbenturan dengan kekuatan tenaga dalam penuh. Tubuh tiga lelaki penyerang Hantu Pemburu Nyawa terdorong sejauh empat langkah, dan tubuh Eyang Legar terpental lebih jauh lagi.

Gabungan tenaga dalam tiga lelaki itu tidak kuasa ditandingi Eyang Legar. Lelaki berpakaian biru menyala berusia delapan puluh tahun lebih itu terhempas sejauh dua batang tombak. Kedua tangan Hantu Pemburu Nyawa, nampak bergetar hebat, akibat benturan tadi. Eyang Legar merasa tangannya seolah mati, hingga senjata andalannya terpental dan jatuh tidak jauh darinya.

"Ah!"

Lelaki tua itu menarik napas berat ketika merasakan dadanya sesak bukan main. Dicobanya untuk menarik napas, tetapi....

"Hoeeek!"

Eyang Legar merasa matanya berkunangkunang seiring dengan muncratnya cairan berwarna merah dari mulutnya. Kendati demikian, Eyang Legar masih berusaha menancapkan pandangan matanya pada ketiga lelaki lawannya.

Dan ketika salah seorang lawannya kembali merangsek maju, dengan sisa-sisa tenaga Eyang Legar mencoba memapaki serangan itu.

"Hiaaa!"

Plak! Plak! "Aaa!"

Kembali tubuh lelaki tua itu terhuyung tiga langkah. Rasa nyeri berdenyut-denyut di kedua tangannya. Kesempatan itu segera dimanfaatkan Mayat Merah untuk mengirimkan pukulan jarak jauhnya 'Pukulan Mayat Hidup'.

Angin kemerahan seketika meluncur keluar dari kepalan tangan Watu Indagu yang mengerahkan 'Pukulan Mayat Hidup'. Suara menderu mengiringi kedatangan pukulan yang cukup dahsyat itu.

Wrrr. !

Eyang Legar si Hantu Pemburu Nyawa terhenyak melihat serangkum angin merah meluruk deras ke arahnya. Lelaki tua itu berusaha bangkit menghindari pukulan jarak jauh Watu Indagu si Mayat Merah, namun ternyata gerakan Eyang Legar kalah cepat dengan lurukan angin kemerahan. Akibatnya.... Bresss...!

"Akh!"

Pekikan tertahan segera terdengar dari mulut Eyang Legar. Lelaki penghuni puncak Gunung Kalaban itu terpental sejauh satu tombak. Eyang Legar merasakan hawa panas yang sangat menyengat, dan rasa gatal yang menjalari sekujur tubuhnya. Pada permukaan kulitnya pun mulai terlihat rona biru.

"Ha ha ha.... Sudah kukatakan, Eyang Legar! Nyawamu berada di tangan kami. Apa yang akan kau lakukan sekarang? Tubuhmu lumpuh setelah terhajar 'Pukulan Mayat Hidup'. Dan secara perlahan-lahan kau akan mati oleh 'Racun Mayat Hidup' yang sudah merasuk dalam aliran darahmu!" ucap Watu Indagu sambil tertawa-tawa dan membusungkan dada.

Lelaki berpakaian merah menyala yang berjuluk Mayat Merah segera memandang Dewa Kaki Langit, Cakar Sakti, dan Iblis Kali Asin yang sudah bangkit kembali.

"Apa yang harus kita lakukan pada si tua bangka yang telah banyak mengecewakan kita ini?" tanya Mayat Merah pada ketiga rekannya.

"Kita pasung lelaki tua ini pada pohon besar itu! Dan biarkan dirinya mati perlahan-lahan!" jawab Iblis Kali Asin mantap.

"Bagaimana? Kalian berdua setuju dengan usul Sugraniri?" tanya Watu Indagu pada Resumuka dan Kuruga.

"Usul yang bagus!" jawab Resumuka tenang. "Aku setuju!" timpal Kuruga.

Setelah mendengar jawaban Resumuka dan Kuruga, Mayat Merah segera menghampiri Eyang Legar. Langkah kaki Watu Indagu diikuti oleh ketiga rekannya.

"Hop!" Dibantu Resumuka dan Kuruga, Watu Indagu membawa tubuh Eyang Legar ke sebatang pohon besar.

Eyang Legar tak dapat berbuat apa-apa dengan tindakan lawan-lawannya. Lelaki tua itu merasa sekujur tubuhnya tak bertenaga. Seluruh otot-otot pusatnya tidak mampu digerakkan. Sementara rasa gatal yang terasa semakin kuat, merupakan siksaan yang sangat menyakitkan bagi lelaki tua itu.

Pada sebatang pohon berukuran tiga kali pelukan lelaki dewasa, tubuh Eyang Legar disandarkan. Resumuka dan Kuruga merentangkan tangan Hantu Pemburu Nyawa pada pohon itu. Dengan tatapan membara Iblis Kali Asin menunjukkan sebilah belati ke wajah Hantu Pemburu Nyawa.

"Sekarang rasakan pembalasanku, Eyang Legar!" bentak Sugraniri kasar, matanya terbelalak seperti mau keluar. "Dengan belati ini tubuhmu ku pasung, hingga nyawamu pergi meninggalkan ja-sadmu dengan perlahan," lanjut Iblis Kali Asih.

Tangan Sugraniri terangkat ke udara, dan belati yang berada dicekalannya berkelebat cepat ke arah telapak tangan Eyang Legar yang terentang.

"Rasakan ini, Eyang Legar!" 

"Hiaaa...!"

Grab! "Akh!"

Eyang Legar memekik tertahan ketika belati Sugraniri tertancap di telapak tangannya. Mau tak mau telapak tangan lelaki tua itu menyatu dengan pohon besar itu. Dan darah mengalir dari telapak tangannya yang tertembus belati Iblis Kali Asin.

"Sekarang giliranku, Eyang Legar," ucap Cakar Sakti seraya melepas cekalannya pada tangan kiri lelaki tua itu, yang sudah menyatu dengan pohon besar di belakangnya.

Eyang Legar dengan napas memburu menyaksikan Cakar Sakti mengeluarkan sebilah belati, yang sama dengan yang digunakan Iblis Kali Asin. Rupanya mereka sudah mempersiapkan belati-belati itu untuk memasung Hantu Pemburu Nyawa.

"Belati yang sama ini akan menembus telapak tangan kananmu, Eyang Legar. Dengan demikian, kau tak dapat pergi dari tempat ini. Maut akan menjemput mu dengan perlahan!" ucap Kuruga keras-keras di telinga Eyang Legar.

Lelaki berpakaian warna biru menyala itu nampak pasrah menerima kelakuan lawan-lawannya. Dirinya memang sudah tak punya daya lagi. Juga ketika Cakar Sakti mengangkat belati ke wajahnya, lelaki berusia lanjut penghuni puncak Gunung Kalaban itu tidak berusaha mencegah.

Sret! "Akh!"

Hantu Pemburu Nyawa terpekik kaget ketika ujung belati Kuruga ditorehkan ke wajahnya. Darah mengalir turun dari pipinya yang luka tertoreh belati.

"Kau sekarang menjadi orang yang tidak berdaya, Eyang Legar! Aku bebas melakukan apa pun pada dirimu," ejek Cakar Sakti.

Eyang Legar dengan segenap kekuatan hati berusaha menatap wajah Kuruga.

"Lakukanlah Cakar Sakti," ucap lelaki tua itu lirih.

Ucapan itu keluar bukan karena kegentaran jiwa Hantu Pemburu Nyawa, tapi dari beragam rasa sakit yang mendera tubuhnya.

"Aku memang akan melakukannya sekarang!

Rasakanlah!" Kuruga segera mengangkat tangannya. Dengan kegeraman yang memuncak, Cakar Sakti menancapkan belati itu ke telapak tangan kanan Hantu Pemburu Nyawa.

"Hih!" Bles!

Di luar dugaan Kuruga, Eyang Legar tidak memekik ketika belati menembus telapak tangannya. Lelaki tua itu hanya memejamkan mata dengan bibir terkatup rapat.

"Huh! Jangan berlagak kuat, Eyang Legar!" maid Kuruga geram.

Tangan kiri lelaki berjuluk Cakar Sakti itu segera bergerak cepat ke wajah Hantu Pemburu Nyawa.

Plak!

Wajah Eyang Legar terdorong ke kanan terkena tamparan keras Kuruga. Tamparan keras itu tidak juga membuat lelaki tua itu memekik sedikit pun. Kenyataan itu membuat kemarahan Cakar Sakti semakin memuncak. Dan baru saja tangan kanan Kuruga hendak kembali dilayangkan ke wajah Hantu Pemburu Nyawa, sebuah gerakan cepat menahannya.

Tap!

Dewa Kaki Langit menangkap tangan Cakar Sakti yang tengah melayang di udara.

"Sudah, Kuruga. Sekarang giliranku," ucap Resumuka mengingatkan.

Cakar Sakti tidak merasa tersinggung dengan perlakuan Resumuka. Karena lelaki itu tahu Resumuka harus mengambil bagian untuk membalas sakit hati mereka pada Hantu Pemburu Nyawa.

"Apa yang akan kau lakukan padanya, Kakang Resumuka?" tanya Kuruga ingin tahu.

"Kedua tangan lelaki tua itu sudah kalian pasung," ucap Resumuka seraya menatap wajah Sugraniri. "Aku ingin memasung tubuh Eyang Legar yang lain," lanjut Dewa Kaki Langit

"Bagian tubuh yang mana, Kakang?" tanya Sugraniri penasaran.

"Kalian lihat saja nanti," jawab Resumuka tenang.

Dewa Kaki Langit kemudian beranjak mendekati Hantu Pemburu Nyawa. Tangannya segera menyelinap ke balik pakaian dan keluar dengan telapak tangan menggenggam sebilah pisau berukuran lebih panjang dari belati Cakar Sakti dan Iblis Kali Asin.

"Sekarang sakit hatiku terbalas, Eyang Legar!" keras ucapan Dewa Kaki Langit "Terimalah kematianmu yang perlahan-lahan ini!"

"Hih!" Trugb! "Aaa...!"

Meski dengan susah-payah, lelaki tua itu berusaha menahan rasa nyeri pada pangkal paha kanannya yang ditusuk senjata tajam, tapi pekik tertahan terdengar juga.

Mata Eyang Legar terbelalak menahan sakit yang sangat kuat. Hingga ketika tubuhnya tak sanggup lagi menahan sakit, lelaki tua itu terkulai pingsan.

"Kita tinggalkan saja lelaki tua ini di sini," pinta Watu Indagu sambil menatap ke arah Cakar Sakti,

Dewa Kaki Langit, dan Iblis Kali Asin bergantian.

"Aku setuju! Kita  biarkan saja  Hantu tak   berguna ini mati perlahan-lahan," ucap Dewa Kaki Langit. "Kalau begitu kita tinggalkan  tempat  ini  sekarang juga, sebelum ada orang lain melihat perbuatan kita," ajak Iblis Kali Asin.

"Ayo," balas Cakar Sakti.

Setelah keempat lelaki itu menemui kata sepakat, maka tubuh mereka pun berkelebat cepat meninggalkan Eyang Legar yang terpasung.

Begitu cepat gerakan Watu Indagu dan kawankawannya, maka dalam sekejap mata mereka sudah berada di atas punggung kuda masing-masing.

"Hop! Hop!"

"Hea! Hea!"

Keempat lelaki itu segera menggebah kudanya. Debu seketika mengepul dan membumbung tinggi ke udara, seiring dengan derap kaki kuda yang berlari cepat

***
TIGA
Alam nampak kurang bersahabat hari ini, matahari yang berada tepat di atas ubun-ubun seperti hendak memamerkan keperkasaannya. Sinarnya yang menebar mengisi jagat semesta terasa begitu menggigit Seorang pemuda berpakaian kuning keemasan tampak merasakan panas yang menyengat, berkali-kali lelaki muda yang berjalan dengan langkah pendek itu, menyeka peluh dengan punggung tangannya.

Wajah lelaki muda yang ternyata sangat tampan, tampak dihiasi rona kebingungan. Tatapan matanya kosong memandang lurus ke depan. Sementara pikirannya terbawa pada tidur semalam, yang terganggu oleh dua mimpi yang membuatnya gelisah.

Bagaimana mungkin dirinya mau mempercayai mimpi yang dianggapnya kembang tidur? Namun untuk melupakan mimpi itu begitu saja, lelaki muda itu tidak mampu. Mimpi kematian Eyang Legar dan mimpi kedatangan Eyang Putri Selasih, membuat lelaki muda bernama Jaka menduga mimpi itu benar dan saling berkaitan satu sama lain.

"Semenjak kau turut meramaikan rimba persilatan, Jaka. Sejak itu pula kesibukan mu membuat Eyang Legar dilupakan. Sekarang saatnya kau mengunjungi lelaki tua yang telah begitu berjasa padamu. Setelah itu, eyang ingin kau mengunjungi ku," begitu kata-kata yang diucapkan Nyi Selasih dalam mimpi Jaka.

Hhh Aku memang sudah kangen pada Eyang Legar. Aku harus segera menemuinya, kata hati lelaki muda berpakaian kuning keemasan yang ternyata Jaka alias Raja Petir.

Jaka baru hendak membelok ke kanan ketika tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda yang berlari dengan kecepatan tinggi. Dan suara teriakan menggebah penunggangnya terdengar di telinga Jaka. Dari suara derap lari kuda yang bergemuruh dan teriakan penunggangnya, agaknya penunggang kuda lebih dari satu.

"Hiaaa!"

"Hiaaa!"

Suara gebahan dan derap kaki kuda semakin jelas terdengar. Sementara Jaka tak jadi berbelok ke kanan. Pemuda itu ingin membiarkan para penunggang kuda berlalu lebih dahulu.

"Hiaaa!"

Empat penunggang kuda berlalu dari hadapan Jaka. Keempat lelaki itu tak tahu Jaka memperhatikan mereka dari tikungan jalan.

Hmmm... Seperti sedang dikejar hantu saja keempat penunggang kuda itu, kata hati Jaka seraya mengusir debu-debu yang beterbangan ke wajahnya.

Tanpa mempedulikan keempat penunggang kuda tadi, pemuda itu kembali melangkah. Setelah beberapa tombak jauhnya, langkahnya dirubah dengan lari yang menggunakan ilmu meringankan tubuh.

"Hop!"

Karena ilmu lari cepat dan meringankan tubuhnya telah sempurna, maka tak heran jika dalam waktu singkat lelaki berpakaian kuning keemasan itu sampai di wilayah Gunung Kalaban.

Jaka segera mengganti lari cepatnya dengan langkah panjang. Rasa rindu pada Eyang Legar membuat hati pemuda itu ingin cepat bertemu lelaki yang telah begitu berjasa padanya.

Tetapi makin jauh Jaka memasuki kawasan kaki Gunung Kalaban, hati pemuda itu semakin berdebar-debar tak menentu. Kegelisahan menyelimuti hatinya dan mimpi kematian Eyang Legar kembali mengusik.

Ah Pertanda apakah ini? Ucap hati Jaka.

Lelaki muda yang berjuluk Raja Petir itu terus melangkah. Sementara ketenangan hatinya semakin tak terkendali.

"Ugkh!"

Jaka mencoba mengusir dugaan-dugaan buruk yang melintas di benaknya. Karena tidak juga hilang, dengan kesal pemuda itu menghentakkan kakinya kuat-kuat.

"Hia!"

"Hup!"

"Hah?!"

Lunglai tubuh lelaki muda yang berjuluk Raja Petir. Betapa tidak? Di hadapannya terpampang pemandangan yang cukup mengerikan, mengundang kemarahannya hingga memuncak ke ubun-ubun. Tubuh Eyang Legar dilihatnya terpasung di sebatang pohon besar.

"Setan!" maki Jaka keras. Secara tak sengaja pemuda itu mengerahkan tenaga dalam saat berteriak, akibatnya bumi tempatnya berpijak bergetar, dan dedaunan kering berguguran.

Hhh! Siapa yang melakukan perbuatan keji ini? Tanya Jaka pada diri sendiri. Di tengah kemarahan yang memuncak, suara erangan tertahan didengar pemuda itu.

"Eyang.... Ah, kau masih hidup. Katakan siapa yang melakukan perbuatan ini, Eyang. Katakanlah, biar kuhancurkan mereka," kata-kata yang keluar dari mulut Jaka begitu syarat dengan kemarahan.

Perlahan-lahan mata lelaki yang berjuluk Hantu Pemburu Nyawa terbuka. Tatapannya yang kabur menangkap sosok anak muda berdiri di depannya.

"Sss... si... siapa kau? Apakah...," ucapan Eyang Legar bergetar dan tersendat-sendat.

Hati Jaka bergetar, mendengar suara lelaki yang selama sepuluh tahun lebih mendidiknya dan menganggapnya sebagai cucu. Suara itu syarat dengan keteguhan dan ketabahan hati seorang pendekar sejati.

"Aku Jaka, Eyang. Jaka, cucumu," jawab pemuda itu. Suaranya bergetar karena tak kuasa menahan kesedihan dan kemarahan yang menggelegak hebat

"Oh. KauBetulkah kau Jaka, Cucuku?" suara Eyang Legar kembali terdengar bergetar di telinga Jaka.

"Betul, Eyang. Aku Jaka, cucumu," jawab pemuda itu penuh haru. "Siapa yang telah melakukan semua ini, Eyang. Katakanlah."

"Kedatanganmu tepat sekali, Jaka. Aku, aku, oh"

Dengan perasaan hati yang perih, Jaka menyentuh tubuh lelaki tua berpakaian biru menyala yang telah ternoda percikan darah.

"Katankanlah, Eyang. Katakan apa yang hendak Eyang sampaikan," pelan sekali ucapan yang keluar dari bibir Jaka yang ikut bergetar.

"Kau ingin membalas dendam pada mereka, Jaka?" tanya Eyang Legar.

Jaka tak menjawab pertanyaan lelaki yang telah berjasa sebagai seorang bapak dan guru. Tangan pemuda itu terkepal kuat menahan geram, dan giginya saling beradu satu sama lain.

"Kalau kau ingin menumpas mereka semata untuk menjaga korban-korban selanjutnya, Eyang setuju. Tapi kalau kau melakukannya karena melihat keadaan Eyang yang seperti ini, Eyang tak akan pernah mengizinkannya," pelan ucapan Eyang Legar.

"Katakan, Eyang. Aku akan menumpas mereka bukan karena perasaan dendam, tapi karena kewajibanku menumpas segala jenis keangkaramurkaan yang menjarah muka bumi," desak Jaka. Pemuda itu khawatir Eyang Legar akan menghembuskan napas sebelum sempat memberitahu siapa yang telah menyiksanya.

Bibir lelaki tua itu kembali bergerak-gerak. Dari bibir keriput itu keluar suara perlahan, menyebutkan nama-nama lelaki yang telah membuatnya menderita seperti itu.

Jaka merasa getar hatinya semakin hebat, ketika mendengar nama mereka. Jiwa lelaki muda yang berjuluk Raja Petir bergolak hebat. Wajahnya berubah merah padam penuh kemarahan.

"Kurang ajar!" maki Jaka dengan suara ditekan. Makin membuat semu merah di wajah lelaki berpakaian kuning keemasan bertambah jelas.

"Jaka, Cucuku. Ada tugas berat yang harus kau pikul saat ini, tapi aku tak mungkin menjelaskannya sekarang, aku merasa... oh... Ja "

"Katakan tugas apa itu, Eyang. Katakan "

Jaka mengguncang tubuh Eyang Legar perlahan. Lelaki berusia delapan puluh tahun lebih itu hanya mampu membuka sedikit kelopak matanya yang terpejam.

"Kau bisa menanyakannya pada Nyi Selasih," ucap Eyang Legar parau.

"Oh!"

Pemuda itu terkejut mendengar jawaban Eyang Legar. Rasa khawatir akan mimpi semalam membuat Jaka mengaitkan hubungan kedua mimpinya. Mimpi itu benar, bisik hati Jaka. Pemuda itu kembali memandang Eyang Legar yang kedua telapak tangannya terpasung oleh dua belati, yang terbenam hingga ke gagang.

Sengaja Jaka tidak segera melepas belati yang menancap di telapak tangan dan paha kanan Eyang Legar. Semata karena tak ingin lelaki tua itu menghembuskan napas terakhir, sebelum memberitahu pelaku keji semua ini. Tapi sekarang....

Dengan cepat Jaka mencabut dua belati yang terbenam di telapak tangan Eyang Legar.

"Ah"

Desah tertahan terdengar seiring dengan tercabutnya belati. Darah pun muncrat keluar dari telapak tangan yang berlubang. Ngilu hati Jaka menyaksikan darah dan ringisan yang tergurat di wajah Eyang Legar. Namun lelaki muda usia yang berjuluk Raja Petir, tetap meneguhkan hati mencabut pisau yang tertanam di paha kanan lelaki tua itu.

"Aaa!"

Pekikan tertahan kembali terdengar. Seiring dengan terlepasnya senjata yang memasung tubuh Eyang Legar, melorotlah tubuh tua yang terbalut pakaian biru menyala. Jaka segera menyambut tubuh Eyang Legar, kemudian meletakkan kepala tua itu dalam pangkuannya.

"Aku ingin kau menyemayamkan jasadku di puncak Gunung Kalaban, Cucuku," pinta Eyang Legar dengan suara parau.

Sekilas pemuda itu menatap wajah lelaki tua yang semakin pucat. Jaka merasa saat-saat kematian Eyang Legar sudah semakin dekat

"Baik, Eyang. Jaka akan membawamu ke puncak Gunung Kalaban," ucap Jaka di telinga lelaki yang sudah lunglai itu.

Napas Hantu Pemburu Nyawa mulai terdengar satu-satu. Jaka segera bangkit membopong tubuh tua lelaki yang begitu dihormatinya.

Dengan sekali hentakan kuat tubuh  pemuda itu melenting ke udara, dan ketika ujung kakinya menyentuh bebatuan Gunung Kalaban, tubuh yang terbalut pakaian kuning keemasan kembali melenting. Persis bajing yang melompat dari tangkai satu ke tangkai yang lain.

Hanya dengan beberapa kali lentingan saja, tubuh Jaka yang membopong Hantu Pemburu Nyawa telah mencapai puncak Gunung Kalaban.

Napas Jaka terdengar memburu. Bukan karena telah mengerahkan segenap kemampuan ilmu meringankan tubuhnya, tapi karena tak sanggup menahan gejolak kesedihan saat melihat wajah Eyang Legar yang mirip mayat. Dan ketika kepala Eyang Legar lunglai di pelukannya, Jaka segera menjatuhkan kepalanya ke wajah lelaki berpakaian biru menyala.

"Eyaaang...," desah Jaka penuh kepiluan. Lelaki yang berjuluk Raja Petir semakin mempererat pelukannya pada tubuh Eyang Legar. Sementara tangan kanannya teracung ke udara dengan jari-jari mengepal kuat

"Kalian harus dihukum, Bangsat-Bangsat Laknat!" pekik Jaka kuat dengan mengerahkan tenaga dalam.

Puncak Gunung Kalaban sesaat bergetar hebat, namun getaran itu terhenti ketika pemuda itu menghentikan teriakan kemarahannya. Lalu membawa tubuh Eyang Legar ke sebuah gua, tempat lelaki tua itu selama ini mengasingkan diri untuk bersemadi.

Di dalam gua yang berukuran sedang itu, Jaka pernah menetap selama sepuluh tahun. Saat dirinya berguru pada Eyang Legar. Kini lelaki berpakaian kuning keemasan itu membuat sebuah lubang untuk mengubur seorang lelaki tua bernama Eyang Legar, lelaki yang sangat dihormatinya. Lelaki yang turut menahan andil cukup besar, sehingga Jaka tampil sebagai sosok yang berjuluk Raja Petir. Sosok yang mampu menggegerkan rimba persilatan.

Sosok yang berpihak pada kebenaran, dan selalu mengusir kebatilan serta kekejian yang menjarah persada jagat raya. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, Jaka menggali liang lahat tanpa henti. Tak heran jika dalam waktu yang singkat liang lahat telah siap untuk menyemayamkan jenazah Eyang Legar alias Hantu Pemburu Nyawa.

Dengan penuh hikmat dan rasa hormat tinggi, Jaka membawa jenazah Eyang Legar memasuki lubang kubur. Setelah meletakkan jenazah itu pada kedudukan sebagaimana mestinya, lelaki berpakaian kuning keemasan itu melompat ke atas dengan menghentakkan kakinya pada dasar liang lahat

"Hop!"

Tubuh pemuda itu mendarat dengan manis di bibir lubang kubur Eyang Legar. Matanya menatap lekat tubuh Hantu Pemburu Nyawa yang terbujur tanpa daya. Disadarinya manusia tidak akan mampu menahan kodrat yang telah digariskan sang Pen-cipta Maya Pada, sang Pencipta Roh seluruh makhluk yang mengisi muka bumi ini.

Dengan dada dipenuhi rasa sedih yang mendalam. Jaka terus memandang tubuh Eyang Legar. Kali ini tatapan matanya diiringi untaian doa untuk lelaki yang sangat dikasihi dan dihormati.

"Wahai Pencipta Langit dan Bumi. Wahai Penguasa Kehidupan dan Kematian, seorang hamba datang menghadap keharibaan-Mu, menghadap dengan segala kekurangannya. Wahai Pencipta Roh dan Jasad, terimalah kedatangan Eyang Legar di sisi-Mu. Terimalah tobatnya yang semata Eng-kau jualah yang menggariskan. Ampunilah segala kesalahan dan dosa-dosa yang telah dilakukannya. Amin."

Selesai dengan doanya yang memantul di dinding hati dan dinding liang lahat, Jaka segera menimbuni jasad Eyang Legar dengan tanah galian yang bercampur batu-batu gunung. Hanya sepeminum teh saja Jaka menuntaskan pekerjaannya.

Segundukan tanah yang masih baru nampak membumbung melebihi dasarnya. Pemuda itu kembali bersimpuh dan mencium gundukan tanah itu.

"Maafkan aku, Eyang. Izinkan aku menumpas orang-orang yang telah berbuat keji padamu, yang mungkin akan dilakukannya juga pada orang lain. Izinkan aku mengubur kebatilan yang mereka lakukan untuk memuaskan nafsu setan. Izinkan aku, Eyang. Aku mohon pamit."

Dengan dada masih dipenuhi kesedihan, Jaka bangkit dari bersimpuhnya. Lelaki muda yang mempunyai kesaktian tinggi itu berjalan gontai meninggalkan gua tempat kediaman Eyang Legar untuk selamanya.

Namun baru beberapa tombak kakinya melangkah, kepala pemuda itu kembali menoleh ke segundukan tanah kuburan Eyang Legar. Wajah lelaki tampan itu nampak sangat keruh.

"Oh.... Selamat tinggal, Eyang," ucap Jaka pelan, mirip desahan.

Sesaat lamanya pemuda itu menatap tanah kuburan. Kemudian langkah panjangnya tercipta meninggalkan gua Eyang Legar. Wajah keruh Jaka berubah merah sesampainya di luar gua. Matanya menatap tajam jauh ke atas langit.

"Ngrhhhk...!"

Tiba-tiba Jaka menggeram kuat. Tinjunya seketika terangkat ke atas, hingga menimbulkan bunyi yang cukup kuat dari gemeretuknya otot-otot tokoh muda, yang namanya semakin diperhitungkan dan disegani lawan.

"Kalian harus angkat kaki dari muka jagat ini!

Harus!" pekik Jaka.

Suaranya menyebar cepat mengisi setiap ruas jagat, setiap sudut kosong, hingga menimbulkan gema berkepanjangan dan sating susul-menyusul. Wajah Jaka nampak semakin menegang, namun dadanya terasa longgar. Laki-laki muda usia itu kini melanjutkan ayunan langkahnya.

Pada mulanya langkah kaki itu terayun begitu pelan, namun setelah melampaui jarak tiga tombak, Jaka membuat hentakan kuat pada ujung kakinya.

"Hiaaa...!" Hop!

Bagai gerakan kilat tubuh Jaka melesat cepat. Hanya sekali hentakan saja tubuh terbalut pakaian kuning keemasan itu meninggalkan puncak Gunung Kalaban. Dan sekali lagi kakinya menghentak, maka wilayah Gunung Kalaban ditinggalkannya sejauh dua pal.

Malam menjelmakan kekuasaannya seiring dengan tubuh Jaka yang semakin jauh meninggalkan puncak Gunung Kalaban. Lelaki muda itu terus berlari dan berlari, berpacu dengan udara dingin dalam gelora hati yang menyandang tugas suci memberantas keangkaramurkaan.

***
EMPAT
Suasana di kedai yang berada lima tombak dari tempat Jaka berdiri nampak begitu ramai. Siang yang cukup panas memungkinkan orang-orang yang lalulalang di perbatasan Desa Lejaran, melongokkan wajah ke kedai yang nampak sangat ter-jaga kebersihannya. 

Kebanyakan dari mereka yang masuk ke kedai yang memiliki dua pelayan perempuan itu, hanyalah sekadar mencari minum atau jika memang perut terasa lapar mereka memesan penganan. Dan di antara pengunjung kedai, ada yang hanya ingin menggoda dua pelayan yang memiliki paras cantik lumayan.

Semula Jaka hendak ikut meramaikan kedai itu, namun hasratnya diurungkan ketika melihat iringiringan pada jarak lebih kurang sepuluh tombak di sebelah timur. Bendera kematian, ucap hati Jaka. Mata lelaki muda yang berjuluk Raja Petir, terus mengikuti iringiringan lelaki yang mengusung tiga keranda yang bagian atasnya ditaburi bunga warna-warni.

Sengaja Jaka tidak menuntaskan, rasa ingin tahunya pada laki-laki yang mengiring keranda pertama, dengan menanyakan siapa orang yang tengah diusung menuju pemakaman. Pemuda itu malah ingin ikut mengiringi tiga keranda dari belakang. Sambil turut mengiringi jenazahjenazah yang ditandu, Jaka melemparkan pertanyaan pada lelaki yang kebanyakan mengenakan pakaian perguruan.

"Apa nama perguruan yang tengah dilanda duka cita ini, Kisanak?" tanya Jaka pada lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun.

Lelaki tinggi kekar dengan kumis tebal kemerahan, menoleh ke arah Jaka dengan tatapan menyelidik. Tanpa menjawab pertanyaan Jaka, lelaki itu kembali melempar tatapannya ke tempat semula.

"Namaku Jaka, Kisanak. Aku hanya ingin tahu kejadian yang menimpa perguruanmu. Tak ada maksud lain, apa lagi memperkeruh suasana duka ini," ucap Jaka kemudian berusaha meyakinkan.

Kembali lelaki tinggi kekar berpakaian putih dan berikat kepala, menatap wajah Jaka. Tatapannya kali ini dibarengi dengan seulas senyum tipis, nyaris tak terlihat.

"Nama Perguruanku Bintang Timur, Anak Muda," tanpa keraguan ucapan itu keluar dengan lancar dari mulut lelaki tinggi kekar berkumis agak kemerahan.

"Panggil saja Jaka. Oh, ya. Kisanak siapa?" tanya Jaka lagi.

"Talingga," jawab lelaki bertubuh kekar dengan tatapan mata lurus ke muka.

"Yang memakai pakaian biru sutera itu pimpinan Perguruan Bintang Timur?"

Kali ini lelaki bernama Talingga hanya menganggukkan kepala, pertanda dirinya tak mau lagi dihujani pertanyaan. Jaka paham akan kelakuan lelaki bernama Talingga. Dalam keadaan berduka seperti ini, memang orang lebih banyak memilih diam daripada bicara. Dan tokoh muda digdaya berpakaian kuning keemasan mengunci mulutnya rapat-rapat. Namun kakinya terus bergerak mengiringi langkah murid-murid Perguruan Bintang Timur menuju sebuah pemakaman.

***

Ketika upacara pemakaman tiga jenazah selesai. Satu persatu murid Perguruan Bintang Timur meninggalkan tiga gundukan tanah yang masih basah. Langkah-langkah kaki mereka nampak begitu berat, seperti masih ada segurat penyesalan yang bergelayut di hati mereka.

Mata Jaka yang berkeliling menatap wajah murid-murid Perguruan Bintang Timur, tertumbuk pada sosok lelaki bertubuh tegap mengenakan pakaian sutera biru cerah. Lelaki yang diketahui Jaka dari anggukan kepala Talingga sebagai pimpinan Perguruan Bintang Timur, nampak berdiri dengan tatapan mata tak lepas dari tiga gundukan tanah yang masih baru.

Dari jarak lebih kurang empat tombak, Jaka melihat lelaki berpakaian biru itu menarik napas berat. Dari tarikan nafasnya kemudian menjelma sebentuk raut wajah yang menggambarkan rasa dendam. Perlahan pemuda itu mengayunkan langkah menghampiri pimpinan Perguruan Bintang Timur.

"Maaf, kalau aku mengganggu ketenanganmu memandangi kuburan itu, Ki," sapa Jaka dengan lembut

Lelaki berpakaian bahan sutera biru cerah itu, sedikit terkejut mendengar ucapan Jaka. Terlihat dari cara lelaki itu menoleh dan menatap wajah Jaka dengan dahi berkerut

"Namaku Jaka Sembada, Ki," ucap pemuda itu memperkenalkan diri.

Sengaja lelaki muda yang berjuluk Raja Petir memperkenalkan nama lengkapnya, dengan harapan pimpinan Perguruan Bintang Timur mengenali siapa dirinya sebenarnya. Dan terselip harapan agar tak menemui kesulitan dalam mendapatkan keterangan, mengenai kejadian sesungguhnya yang dialami Perguruan Bintang Timur.

Nama besar memang terkadang membuat seseorang lebih mudah mendapat kepercayaan. Itu terbukti dari tatapan mata pimpinan Perguruan Bintang Timur yang tidak lagi penuh selidik.

"Apakah...?" ragu-ragu lelaki berpakaian biru cerah melontarkan pertanyaan.

"Kenapa, Ki? Ah, jangan ragu-ragu bertanya padaku," ucap Jaka sopan.

"Apakah kau Jaka yang berjuluk Raja Petir?"

Jaka menyuguhkan sesungging senyum pada lelaki pimpinan Perguruan Bintang Timur.

"Betul sekali dugaan, Kisanak," jawab pemuda itu dengan senyum berkembang. "Kisanak sendiri siapa?"

Lelaki berpakaian biru pimpinan Perguruan Bintang Timur, tidak segera menjawab pertanyaan Jaka. Lelaki itu hanya memandang Jaka dengan wajah berubah cerah.

"Aku Winduta, Raja Petir," jawab pimpinan Perguruan Bintang Timur diiringi tarikan napas lega. "Senang sekali dapat bertemu dengan orang yang punya nama besar sepertimu, Raja Petir," lanjut lelaki bernama Winduta.

"Jangan menyebutku dengan julukan itu, Ki Winduta. Cukup memanggilku Jaka saja," kilah Jaka polos.

Ki Winduta tersenyum sekilas, namun senyumannya segera berubah menjelmakan raut muka keruh, ketika matanya kembali bersirobok dengan tiga gundukan tanah yang masih basah.

"Kalau boleh aku tahu, siapakah tiga jenazah yang baru disemayamkan itu, Ki Windu?" tanya Jaka seraya ikut memandang ketiga kuburan itu.

Ki Winduta menatap wajah Raja Petir dalam-dalam.

"Putra tunggalku, adik kandungku dan adik iparku," jawab Ki Winduta agak bergetar. "Ah!"

Terkejut Jaka mendengar jawaban Ki Winduta. "Iblis-iblis itu memang bukan tandingan Jalasoka, putra tunggalku, begitu juga Sargana dan Madaka. Mereka bertiga memiliki kemampuan yang jauh di bawah iblis-iblis laknat itu!" papar Ki Winduta dengan penuh kegeraman.

"Siapa mereka itu, Ki?" selidik Jaka ingin tahu.

Ki Winduta tak menjawab pertanyaan pemuda itu. Lelaki pimpinan Perguruan Bintang Timur hanya menyelinapkan tangan ke balik pakaiannya yang longgar. Lelaki yang pada punggungnya tersampir sebatang pedang, yang di gagangnya tersemat lempengan bintang dari logam keras, kemudian menyerahkan secarik surat pada Raja Petir.

"Apa ini, Ki Winduta?" tanya Jaka tak mengerti. "Bacalah, Jaka. Di situ kau akan tahu siapa Iblis-iblis yang telah menewaskan putra tunggalku, adik kandungku dan adik iparku," jawab Ki Winduta.

Tanpa ragu-ragu pemuda itu membuka lipatan serat kayu yang diberikan Ki Winduta. Mendadak wajah sosok muda yang digdaya itu berubah, wajah tampan nan putih segera menjadi kemerahan. Otot-otot wajahnya menegang dan gigi-giginya disatukan dengan tekanan kuat.

"Kenapa kau, Jaka?" tanya Ki Winduta dengan benak dipenuhi keheranan.

"Biadab!" maki Jaka.

Ki Winduta jadi semakin heran menyaksikan tingkah tokoh muda, yang namanya menggaung di seantero rimba persilatan.

"Kau Juga mempunyai urusan dengan mereka, Jaka?" tanya Ki Winduta menduga-duga.

"Ancaman ini tidak main-main, Ki Winduta. Kalau saja kau izinkan aku membantumu mengusir iblisiblis itu," ujar Jaka mengalihkan pertanyaan Ki Winduta.

Sengaja Jaka melakukan hal itu, agar Ki Winduta tak mengetahui dirinya mempunyai persoalan dengan orang-orang yang telah melenyapkan nyawa Eyang Legar.

"Aku gembira sekali jika kau mau melakukannya untukku, Jaka," jawab Ki Winduta. Wajah lelaki itu kembali cerah. "Terus terang, Jaka. Untuk menghadapi mereka sekaligus, atau hanya berdua rasanya kepandaian yang kumiliki belum cukup," lanjut Ki Winduta.

"Ah. Jangan terlalu merendah, Ki. Kepandaian yang kumiliki juga belum tentu dapat menaklukkan mereka. Karena aku belum tahu ketinggian ilmu iblisiblis itu," kilah Jaka merasa ucapan merendah Ki Winduta untuk mengangkat dirinya.

"Aku yakin betul dengan nama besarmu, Raja Petir," tandas Ki Winduta. "Kau pasti dapat membantuku mengusir iblis-iblis laknat itu!"

"Kita sama-sama berdoa, Ki," timpal Jaka merasa keyakinan Ki Winduta akan kemampuannya tak dapat dipengaruhi lagi.

"Terima kasih, Jaka. Sekarang, mari ke gubukku," ajak Ki Winduta seraya meraih bahu Jaka.

Matahari tegak di atas kepala, ketika Jaka dan Ki Winduta meninggalkan area pemakaman. Angin bertiup semilir menebarkan hawa panas dan debu tanah kering.

***

"Sebenarnya Ki Windu mempunyai persoalan apa dengan Mayat Merah dan kawan-kawannya, hingga mereka dengan keji membantai keluarga Ki Windu?" tanya Jaka sesaat setelah duduk di ruang khusus Ki Winduta.

"Sebenarnya kami tak punya urusan dengan mereka, Jaka," jawab istri Ki Winduta yang tiba-tiba muncul dengan membawa dua gelas air dan sepiring makanan kecil.

Pemuda itu segera menoleh pada perempuan berusia sekitar empat puluh tahun. Perempuan berpakaian merah darah itu nampak segar dan cantik.

"Maksud, Nyai?" tanya Jaka menyelidik. "Mereka   kecewa   karena   lamarannya  ditolak

mentah-mentah oleh Ki Ranurota," jawab Ki Winduta. "Aku jadi semakin tak mengerti, Ki," ucap Jaka. "Ki Ranurota sahabat  karib ku. Ia  mempunyai

dua anak perempuan, yang sulung sudah berkeluarga dan kini ikut suaminya. Sedang yang bungsu kekasih Jalasoka, putra tunggalku," jelas Ki Winduta.

"Ki Ranurota menolak lamaran Mayat Merah karena anak kami sudah saling mencintai. Di samping itu Ki Ranurota tidak ingin berbesan dengan lelaki dari tokoh golongan hitam," tambah istri Ki Winduta.

"Pelampiasan kemarahan mereka tertuju pada Jalasoka, yang dianggap penghalang utama dan penyebab lamaran ditolak Ki Ranurota. Bahkan dalam surat mereka berjanji, akan melenyapkan seluruh penghuni Perguruan Bintang Timur dan membumihanguskan perguruannya," lanjut Ki Winduta.

"Mereka memang iblis!" maki istri Ki Winduta. "Mereka harus dilenyapkan dari muka bumi ini! Dan aku bersyukur kau berkenan membantu kami, Jaka," lanjut istri Ki Winduta.

"Ini semata bagian dari kewajibanku, Nyai. Aku akan melaksanakannya sebatas kemampuanku," ujar Jaka menimpali ucapan istri Ki Winduta.

Istri Ki Winduta tersenyum haru mendengar ucapan tulus Jaka. Itu sebabnya tatapan mata perempuan berpakaian merah darah tak lepas dari wajah tampan sosok muda yang memiliki kesaktian tinggi. Sosok Raja Petir yang di mata Istri Ki Winduta sebagai malaikat penolong berbudi luhur. Dan Jaka sebenarnya risih dengan tatapan istri Ki Winduta yang memandangnya seperti itu.

"Apakah Ki Winduta dapat menduga, kapan kira-kira ancaman itu dilaksanakan Mayat Merah dan teman-temannya?" tanya Jaka coba mengalihkan perhatian istri Ki Winduta.

Lelaki berpakaian bahan sutera biru cerah menggelengkan kepala.

"Apa kau punya urusan lain, Jaka?" tanya istri Ki Winduta dengan nada penuh kekhawatiran.

Nyai Rasmanah takut jika Raja Petir pergi meninggalkan Perguruan Bintang Timur. Dan pada saat kepergiannya, ancaman Mayat Merah dan rekanrekannya dilaksanakan.

"Selama mengembara, aku selalu disibukkan dengan urusan-urusan yang kuanggap sebagai kewajibanku, Nyai. Begitu juga dengan persoalan Ki Winduta. Aku tidak akan meninggalkan perguruan ini, sebelum urusan di Perguruan Bintang Timur selesai. Berdoalah untuk itu, Nyai," jelas Jaka menangkap gurat kekhawatiran Nyi Rasmanah.

Suasana seketika berubah hening setelah Jaka selesai bicara. Mata Nyai Rasmanah saling bersitatap dengan Ki Winduta. Sementara langit di luar Perguruan Bintang Timur sedikit redup dan teduh karena hari beranjak sore, angin bertiup menebarkan hawa dingin yang mulai terasa menggigit. Di dalam ruang khusus, Jaka dan Ki Winduta tengah mengatur siasat menghadapi Mayat Merah dan kawan-kawan.

***
LIMA
Pagi datang dengan seluruh keindahannya. Langit cerah sedikit pun tak dikotori awan hitam, yang sudah tujuh hari ini bersemayam di atas bumi Lejaran. Burung-burung kecil berlompatan dari tangkai pohon satu ke tangkai pohon yang lain, ditingkahi nyanyian merdunya yang menjadikan pagi begitu indah untuk dinikmati.

Dalam sebuah ruangan di rumah Ki Winduta, Jaka nampak sedang duduk bersama Ki Winduta menghadapi makan pagi yang disuguhi Nyi Rasmanah. Makan pagi yang kelihatan nikmat itu membuat Jaka dan Ki Winduta ingin segera mencicipi. Namun ketika kedua lelaki itu hendak melaksanakan keinginannya, suara gaduh membuat Jaka dan Ki Winduta mengurungkan niatnya.

Dua lelaki yang berpakaian kuning keemasan dan biru cerah seketika bangkit dari duduk. Ki Winduta lebih dulu meninggalkan tempat duduknya, disusul Jaka.

Lelaki pimpinan Perguruan Bintang Timur bergegas keluar.

"Hah?!"

Terkejut Ki Winduta menyaksikan enam orang murid kelas dua, tengah bertarung menghadapi dua lelaki berpakaian hijau dan hitam.

Rasa terkejut Ki Winduta semakin bertambah, ketika seorang murid kelas tiga menunjukkan tiga peti mati yang tergeletak di bawah pohon besar.

Tanpa ragu-ragu Ki Winduta membuka peti mati itu.

"Ah!"

Tercekat hati lelaki itu menyaksikan jenazah Jalasoka pada ubun-ubunnya tertancap sebuah pateram. Yakni sebilah keris kecil dengan hulu terbuat dari logam perak.

"Biadab!" maid Ki Winduta cukup keras. "Siapa yang telah lancang menggali kubur anakku!"

"Dua lelaki itu yang membawa tiga peti mati ini ke sini, Guru," lapor murid kelas tiga Perguruan Bintang Timur. "Mereka mengaku berjuluk Dua Bajingan Hutan Welirang."

"Keparat! Apa mereka yang telah menggali kubur Jalasoka?"

Ki Winduta kembali membuka dua peti mati di depannya. Kenyataan yang sama kembali didapati lelaki berpakaian sutera biru cerah. Jenazah Sargara dan Madaka pun pada ubun-ubunnya terbenam sebilah pateram.

Setelah menutup kembali peti mati Sargara dan Madaka, Ki Winduta melempar pandangannya ke arena pertempuran. Tampak murid-murid Perguruan Bintang Timur sedang menghadapi dua lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahun, yang mengaku berjuluk Dua Bajingan Hutan Welirang.

"Minggir kalian semua!" bentak Ki Winduta pada murid-muridnya yang sedang bertarung.

Enam lelaki berpakaian putih yang tercatat sebagai murid kelas tiga Perguruan Bintang Timur, segera berloncatan ke belakang menghindari pertarungan dengan dua lelaki berpakaian hijau dan hitam.

Ki Winduta menatap tajam dua lelaki berpakaian hitam dan hijau bergantian, setelah seluruh muridnya menjauhi dua lelaki bertubuh tinggi tegap itu.

"Hmmm.... Apakah kalian yang telah menggali makam putra tunggalku dan saudara-saudaranya, lalu meletakkan dengan sengaja di halaman rumahku?" tanya Ki Winduta tajam.

"Tidak semua yang kau tanyakan benar!" jawab lelaki berpakaian hijau dengan tatapan mata mencorong tajam.

"Jangan main-main denganku, Kisanak! Kepalamu bisa kupenggal sekarang juga! Jawab pertanyaanku dengan benar!" hardik Ki Winduta dengan darah naik ke ubun-ubun.

"Sombong sekali kau, Tua Bangka," balas lelaki berpakaian hitam. "Tapi baiklah, aku akan menjawab sejelas-jelasnya pertanyaanmu, anggap saja sebagai bingkisan dariku untuk menghadiri ke-matianmu! Tua Bangka, yang meletakkan tiga peti mati di depan rumahmu memang kami Dua Bajingan Hutan Welirang, namun yang menggali kubur bukan kami!"

"Katakan, siapa yang menyuruhmu!" bentak Ki Winduta dengan tangan bergerak hendak meraih hulu pedang.

"Untuk apa kau tahu! Kami dibayar mahal hanya untuk pekerjaan sepele ini," elak lelaki berpakaian hitam dengan gaya menantang.

"Kurang ajar! Kalian berdua harus mampus!" Lelaki berpakaian biru cerah itu segera melom-

pat ke arah Dua Bajingan Hutan Welirang. Gerakan pimpinan Perguruan Bintang Timur begitu cepat, hingga tubuh Ki Winduta tahu-tahu sudah berada di depan lelaki berpakaian hijau dengan kepalan tangan mengarah ke wajah salah satu Dua Bajingan Hutan Welirang

"Hih!" Wus! "Uts!"

Lelaki berpakaian hijau yang mendapat serangan cepat dari Ki Winduta nampak sedikit kewalahan terlihat dari gerakan menghindar yang dilakukan sebisanya.

Namun lelaki anggota Dua Bajingan Hutan Welirang mampu mengelakkan serangan Ki Winduta, bahkan memberikan sodokan balasan yang tak kalah cepat, terarah ke iga pimpinan Perguruan Bintang Timur.

"Mampus kau!"

"Uts!"

Ki Winduta melompat ringan ke belakang, menghindari sodokan tangan lelaki berpakaian hijau. Tapi rupanya anggota Dua Bajingan Hutan Welirang yang lain, tak senang berpangku tangan.

Pada saat Ki Winduta melompat mundur, lelaki berpakaian hitam juga melompat kuat dengan kedudukan kaki kanan menciptakan tendangan lurus ke dada pimpinan Perguruan Bintang Timur. "Hiaaa...!"

"Heh?!"

Tendangan lurus keras yang dilancarkan lelaki berpakaian hitam begitu cepat datangnya. Ki Winduta sempat terkejut mendapatkan serangan yang tak diduga. Namun berkat pengalamannya selama ini, Ki Winduta segera menggerakkan tangan kirinya dengan pengerahan tenaga dalam tinggi. Akibatnya....

Plak! "Aaa!"

Tubuh Ki Winduta terhuyung ke kanan, saat tangkisan tangan kirinya berhasil melindungi dada dari sasaran tendangan lawan. Tak urung pekik kesakitan keluar dari mulut lelaki berpakaian sutera biru cerah. Ki Winduta merasa getaran kuat menjalari tangannya.

Apa yang dialami Ki Winduta ternyata tidak demikian dengan lelaki berpakaian hitam. Setelah benturan keras tadi, lelaki itu mengalihkan daya bentur yang mendorong kuat kakinya dengan sebuah gerakan indah dan manis. Tubuh lelaki yang terbalut pakaian longgar hitam, berputaran dua kali di udara dan mendarat dengan ringan di tanah.

Jleg!

"Habisi saja, Kakang Wiroga!" teriak lelaki berpakaian hijau.

Lelaki berpakaian hitam yang ternyata bernama Wiroga, tersenyum seraya menatap lelaki berpakaian hijau.

"Tentu saja, Adi Galaba. Tua bangka ini sudah meremehkan kita, maka lelaki ini harus mati di tangan kita," jawab Wiroga mantap.

"Kalau begitu kita habisi bersama-sama, Kakang," ajak lelaki berpakaian hijau yang bernama Galaba.

"Ayo, Adi Galaba!"

Dua lelaki berpakaian hitam dan hijau yang berjuluk Dua Bajingan Hutan Welirang, segera bergerak cepat ke arah tubuh Ki Winduta. Angin menderu menyertai terjangan Dua Bajingan Hutan Welirang, ditingkahi jeritan yang menggelegar keras.

"Hiaaa...!"

"Hiaaa...!"

Ki Winduta tersentak menyaksikan dua lelaki itu menyerangnya bersama-sama. Pikiran lelaki pimpinan Perguruan Bintang Timur segera bekerja cepat. Kalau dirinya meladeni serangan dahsyat itu, hanya dengan mengandalkan kekuatan tenaga dalamnya yang dirasa lebih rendah dari lawan, jelas akan menemui kesulitan. Berdasarkan pertimbangan itu, Ki Winduta segera meloloskan senjata dari warangkanya.

Srat!

Baru saja tangan lelaki pimpinan Perguruan Bintang Umur meloloskan senjata, serangan Dua Bajingan Hutan Welirang sudah tiba di depan mukanya. Maka tanpa membuang-buang kesempatan, lelaki berpakaian sutera biru cerah segera mengibaskan pedangnya.

"Hih!" Trak! Des! "Akh!"

Tubuh Ki Winduta langsung terpental, ketika hantaman senjatanya yang membentur tubuh lelaki berpakaian hitam tak mampu berbuat banyak. Malahan pedang kebanggaan Perguruan Bintang Timur patah menjadi dua, sedang tubuh pemiliknya terpental deras ketika tendangan lurus Gala mendarat telak di perut. 

Murid-murid Perguruan Bintang Timur tersentak menyaksikan kejadian yang begitu cepat. Beberapa orang murid kelas dua bergerak cepat menyongsong tubuh gurunya, sedang dua orang murid utama Perguruan Bintang Timur meloncat ke depan, menghadang Dua Bajingan Hutan Welirang yang sudah mengambil ancang-ancang untuk kembali menyerang. Bersamaan dengan itu, Jaka melompat dari pintu utama kediaman Ki Winduta.

"Tunggu!" bentak Jaka pada murid kelas satu Perguruan Bintang Timur yang ingin menyerang Dua Bajingan Hutan Welirang.

Dua lelaki berpakaian putih yang pada bagian dada tersemat sebuah bintang kecil terbuat dari logam keras, segera melompat mundur menyaksikan kedatangan Jaka.

"Mereka bukan tandingan kalian, sebaiknya kalian menyingkir dan bawa masuk Ki Winduta," perintah Jaka tegas.

Dua murid kelas satu Perguruan Bintang Timur langsung mematuhi perintah Jaka. Sedang Dua Bajingan Hutan Welirang yang menyaksikan kedatangan lelaki muda berpakaian kuning keemasan, mengerutkan dahinya.

"Siapa kau, Kisanak? Jangan coba-coba mencampuri urusan Dua Bajingan Hutan Welirang, kalau tak ingin mati konyol!" bentak Wiroga keras.

Jaka tidak segera menjawab pertanyaan lelaki berpakaian hitam bernama Wiroga, mata Jaka hanya menatap wajah Wiroga seperti tanpa beban.

"Aku, tamu Ki Winduta," jawab Jaka kemudian. "Sedang namaku, ah! Kurasa tanpa kuberi-tahu kau sudah mengenalku, seperti tokoh-tokoh persilatan yang lain," lanjut pemuda itu memancing kemarahan Dua Bajingan Hutan Welirang.

"Hm.... Kau ternyata besar mulut, seperti tua bangka pimpinan perguruan ini. Apa kau punya nama besar hingga menganggap kami mengenalmu begitu saja?"

"Ya. Orang-orang rimba persilatan mengakui aku punya nama besar!" goda Jaka.

"Cuh! Itu bisamu saja!" ujar Galaba keras. "Sebutkan apa nama besarmu, heh?!" timpal Wiroga dengan nada mengejek.

"Kuharap kalian tidak kaget setelah mendengar julukanku, Dua Bajingan Hutan Welirang," ujar Jaka membalas ejekan Wiroga.

"Baru memiliki gelar Kodok Burik saja sudah berlagak!" maki Galaba.

"Dengar baik-baik, Dua Bajingan Hutan Welirang. Namaku Jaka, sedang julukanku "

Sengaja pemuda itu tidak meneruskan perkataannya. Jaka ingin melihat perubahan sikap Dua Bajingan Hutan Welirang, setelah dirinya menyebutkan nama lengkapnya.

"Jaka...?" ujar Galaba sambil menatap wajah orang tertua Dua Bajingan Hutan Welirang.

Rupanya nama yang sama juga terucap di hati Wiroga, hanya lelaki berpakaian hitam mampu menutupi rasa terkejutnya.

"Kakang Wiroga.... Bukankah Jaka nama asli Raja Petir?" ucap Galaba pelan di telinga Wiroga.

Wiroga yang mendapatkan pertanyaan adiknya tak lekas menjawab. Mata lelaki berpakaian hitam itu terus memandang wajah tampan Jaka dan pakaian yang dikenakannya bergantian.

"Ciri-ciri yang dimiliki mirip sekali dengan perkataan tokoh persilatan yang pernah kita jumpai, Galaba," jawab Wiroga setelah sekian lama membiarkan pertanyaan Galaba. Jaka yang memperhatikan tingkah laku Dua Bajingan Hutan Welirang, tersenyum sendiri.

"Hm.... Apa kalian sudah mengetahui julukanku?" tanya Jaka tenang.

Dua Bajingan Hutan Welirang tidak menjawab pertanyaan pemuda itu. Mata dua lelaki yang bersenjata sepasang kapak tanggung, hanya saling memandang satu sama lain. Seperti hendak meyakinkan, bahwa yang berada di hadapannya benar-benar sosok Raja Petir.

"Kalau kalian tidak tahu, baiklah. Aku akan memberitahu," kata Jaka pelan.

"Akulah yang berjuluk Raja Petir, Dua Bajingan Hutan Welirang!" mantap suara yang terucap lewat sepasang bibir bagus Jaka.

"Kakang...," panggil Galaba ketika mendengar pengakuan Jaka.

"Kita hanya mendengar cerita tentang kehebatannya, Adi Galaba. Sekarang kita punya kesempatan untuk membuktikannya," papar Wiroga mencoba menenangkan hati Galaba

"Bagaimana, Dua Bajingan Hutan Welirang. Apa kalian akan memberitahu siapa yang menyuruhmu ke sini?" tanya Jaka lagi.

"Kau pikir aku takut dengan julukanmu, Raja Petir? Hingga aku harus menyebutkan orang yang menyuruhku?" ujar Wiroga balik bertanya.

"Terserah kalian! Kalau memang takut dengan julukanku, silakan beritahu orang yang menyuruhmu berbuat jelek seperti ini. Sebaliknya, jika kalian berani berhadapan denganku, kalian bebas tutup mulut!"

"Keparat! Sombong sekali kau," maki Wiroga. Orang tertua Dua Bajingan Hutan Welirang menatap wajah Galaba. "Hih!"

Wiroga mengangkat senjatanya yang berupa sepasang kapak tanggung, dan mengadunya satu sama lain. Suara gemerincing dua logam keras langsung terdengar.

"Ayo Galaba! Kita gempur bocah sombong itu," ajak Wiroga.

Galaba tentu saja menuruti ajakan Wiroga. Lelaki berpakaian hijau itu segera melakukan gerakan seperti yang dilakukan Wiroga.

Suara gemerincing terdengar seiring dengan terangkatnya tangan Galaba, yang kemudian membenturkan dua senjatanya.

Dua Bajingan Hutan Welirang seketika bergerak bersamaan. Tubuh Wiroga melejit ketika kakinya menghentak permukaan tanah. Sedang Galaba dengan gerakan cepat, meluruk ke tubuh Jaka dengan dua kapak tanggung tertuju ke pinggang.

Raja Petir menyaksikan serangan terpadu Dua Bajingan Hutan Welirang hanya berdiri tenang. Lelaki berpakaian kuning keemasan itu ingin langsung menggunakan ilmu andalannya, saat menghadapi dua lawan yang memiliki ilmu tidak ringan itu.

Maka ketika terjangan terpadu Wiroga dan Galaba datang, tubuh Jaka seketika bertambah menjadi lima kali lipat. Ya, Raja Petir sedang menggunakan ilmu andalannya aji 'Bayang-Bayang'.

Dua Bajingan Hutan Welirang menyaksikan wujud Jaka menjadi lima kali lipat jumlahnya, terkejut bukan main. Seketika itu juga, lejitan tubuh keduanya diurungkan. Wiroga dan Galaba memandang bingung wujud-wujud Jaka yang berdiri berjejer.

"Kau serang wujud Raja Petir nomor lima dari kanan, Galaba. Aku akan menyerang wujudnya nomor satu," putus Wiroga.

"Baik, Kakang. Akan ku coba," setuju Galaba.Dua Bajingan Hutan Welirang memandang bingung wujud-wujud Jaka yang berdiri di dekatnya. Mereka tidak mengetahui kalau Raja Petir tengah menggunakan aji 'Bayang-Bayang'.

"Kau serang wujud yang nomor lima, Galaba. Aku coba menyerang yang nomor satu," usul Galaba bingung melihat Raja Petir berubah banyak.

Dua Bajingan Hutan Welirang kembali mengadu sepasang kapak tanggung yang berada di genggaman masing-masing. Kemudian tubuh keduanya melesat ke dua arah.

Tlang! Tlang! "Hiaaa!"

"Hiaaa!"

Sepasang kapak tanggung Wiroga dan Galaba dikebutkan kuat ke bagian tubuh Raja Petir yang mematikan. Babatan-babatannya dilakukan dengan menggunakan tenaga dalam penuh.

Bet! Bet! "Heh?!"

Terkejut Dua Bajingan Hutan Welirang merasakan sambaran senjatanya membentur angin kosong. Mata Wiroga dan Galaba saling bertatapan penuh keheranan dan kegeraman.

"Kita coba menyerang wujudnya yang di tengah, Galaba!" perintah Wiroga keras.

Tubuh lelaki berpakaian hitam yang menghunus senjata sepasang kapak tanggung melejit. Gerakan itu diikuti oleh Galaba yang melesat ke arah yang sama.

"Hiaaa!"

"Hiaaa!" Bet! Bet!

Kembali Dua Bajingan Hutan Welirang merasa kecewa. Serangan yang dilakukan mereka mengalami nasib sama.

Sementara Jaka hanya tersenyum-senyum menyaksikan kebingungan Dua Bajingan Hutan Welirang. Sebenarnya sasaran terakhir Dua Bajingan Hutan Welirang tepat. Namun dua lelaki yang diliputi nafsu membunuh itu, tidak menyadari sosok Raja Petir yang asli sudah berpindah tempat. Tak heran jika serangan yang dilancarkan Wiroga dan Galaba membentur tempat kosong.

"Bagaimana, Dua Bajingan Hutan Welirang? Apa kalian mau mengakui keunggulanku?" tanya Jaka dengan mengerahkan ilmu pemecah suara.

Wiroga dan Galaba mendengar pertanyaan Jaka yang seakan keluar dari empat penjuru angin. Dan Jaka menggunakan kesempatan itu dengan sebaikbaiknya. Di tengah kelengahan lawan, tubuhnya yang terbungkus pakaian kuning keemasan berkelebat cepat bagai kilat, melancarkan dua buah totokan ke tubuh Dua Bajingan Hutan Welirang.

"Hiaaa...!" Tuk! Tuk!

***
ENAM
Tubuh Dua Bajingan Hutan Welirang seketika ambruk ke tanah, setelah lebih dahulu mengeluarkan pekikan tertahan.

Bruk! Bruk!

Tubuh Wiroga dan Galaba tersungkur mencium tanah. Dan terkulai lemah tanpa daya, terkena totokan Raja Petir. Sedang Jaka berdiri tegak di depan Dua Bajingan Hutan Welirang. Mata lelaki muda yang berjuluk Raja Petir menatap lurus bola mata Wiroga dan Galaba.

"Bagaimana, Bajingan Hutan Welirang?" tanya Jaka pelan. "Apa kalian mengakui keunggulanku?"

Dua Bajingan Hutan Welirang yang mendapat pertanyaan seperti itu, diam seribu bahasa. Hanya raut wajah dan tatapan mata Wiroga dan Galaba yang berbicara, bahwa keduanya sangat terpukul dan dendam atas kekalahan mereka.

"Bicaralah Dua Bajingan Hutan Welirang! Katakan, siapa yang menyuruhmu mengantar mayatmayat keluarga Ki Winduta ke rumah ini?" pinta Jaka dengan nada suara yang diperkeras.

Dua Bajingan Hutan Welirang tetap membungkam, namun tatapan mata keduanya kini tertuju ke tanah.

"Cepat katakan! Atau nyawa kalian akan kukirim ke neraka sekarang juga!" bentak Jaka menakutnakuti.

Wiroga dan Galaba tersentak mendengar ucapan Raja Petir yang cukup tegas. Keduanya menganggap ucapan itu tidak main-main. Maka seketika itu juga wajah Wiroga dan Galaba terangkat ke atas, menatap Jaka.

"Katakanlah, siapa yang telah menyuruh kalitan?" pinta Jaka dengan suara lembut

Untuk sesaat Dua Bajingan Hutan Welirang saling memandang. Namun kemudian mulut Wiroga menyebutkan sebuah nama, yang membuat darah Jaka naik ke ubun-ubun.

"Mayat Merah!" ulang pemuda itu keras.

Ucapan Jaka tanpa disengaja keluar diiringi kekuatan tenaga dalam. Hingga membuat Dua Bajingan Hutan Welirang terkejut bukan kepalang. Wiroga dan Galaba menundukkan kepala dan memejamkan mata.

"Keparat!" maki Jaka geram. Plak!

Plak!

Tangan pemuda itu melayang, menghantam kepala Dua Bajingan Hutan Welirang. Kegeramannya mendengar nama Mayat Merah, membuat lelaki muda berpakaian kuning keemasan itu tanpa sadar menampar wajah dua lelaki di hadapannya.

Beruntung Jaka tidak mengerahkan kekuatan tenaga dalam, ketika menghantam batok kepala Wiroga dan Galaba. Jika saja dirinya mengerahkan kekuatan tenaga dalam, dapat dipastikan kepala Dua Bajingan Hutan Welirang hancur dengan otak berceceran keluar.

"Jadi kalian cecunguk-cecunguk Mayat Merah dan kawan-kawannya?!" tanya Jaka dengan suara ditekan setajam mungkin.

"Tidak...," ucap Wiroga pelan.

"Bukan, Raja Petir," timpal Galaba dengan tubuh bergetar hebat.

"Betul, Raja Petir," sambung Wiroga.

"Lalu mengapa kalian mau diperintah mereka?!" bentak Jaka keras.

"Kami berdua bukan sekutu Mayat Merah," jelas Wiroga. "Malah kami pernah bentrok dengan Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit."

"Dewa Kaki Langit?!" ulang Jaka.

"Betul, Raja Petir," jawab Galaba. "Sayang, dalam bentrokan itu kami berhasil dikalahkan, tapi Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit mengampuni kami, dengan satu persyaratan yang menurut kami tidak terlalu berat," lanjut Galaba.

"Betul, Raja Petir," dukung Wiroga akan kebenaran cerita Galaba.

"Kalian harus mematuhi segala perintah mereka! Begitu bunyi persyaratan Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit?" tebak Jaka.

"Betul sekali, Raja Petir," jawab Dua Bajingan Hutan Welirang serempak.

"Goblok!" maki Jaka keras. "Di mana otak kalian hingga mau dibebani persyaratan yang begitu berat? Ketahuilah, setiap kali Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit memerintahkan keinginannya, saat itu pula nyawa kalian jadi taruhan, kalian mengerti!"

"Waktu itu kami takut sekali kepada Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit, karena itu kami menyetujui persyaratan mereka," kilah Wiroga.

"Hmmm " Jaka bergerak mengitari tubuh Dua Bajingan Hutan Welirang. "Kalian mau terbebas dari persyaratan Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit?" tawar pemuda itu kemudian.

Dua Bajingan Hutan Welirang menatap wajah Jaka lekat-lekat. Tatapan mereka seakan ingin mencari kepastian kebenaran ucapan lelaki muda di hadapannya. Dan ketika mereka menemukan kejujuran di mata Jaka, kedua lelaki itu mengangguk setuju.

"Kami mau, Raja Petir," ucap Wiroga dan Galaba bersamaan.

"Kalau demikian, kalian harus mematuhi persyaratanku," putus Jaka.

Kembali Dua Bajingan Hutan Welirang menatap lurus wajah lelaki muda berpakaian kuning keemasan. "Apa persyaratan itu, Raja Petir?" tanya Wiroga.

Sesaat Jaka menatap wajah Wiroga.

"Kalian harus kembali ke jalan yang lurus. Meninggalkan kebiasaan buruk, dan membantu Perguruan Bintang Timur menyingkirkan Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit beserta kawan-kawannya," papar Jaka. "Sanggupkah kalian mematuhi persya-ratanku?"

"Sanggup, Raja Petir," jawab Wiroga.

"Aku akan melakukan perintahmu, Raja Petir," ucap Galaba.

"Bagus, namun aku tak bisa mempercayai ucapanmu saat ini. Untuk itu mau tak mau kalian akan ditawan. Nanti, saat kedatangan Mayat Merah dan kawan-kawannya, akan ku uji kebenaran ucapanmu," putus Jaka.

Dua Bajingan Hutan Welirang segera menatap tajam Jaka. Sebetulnya mereka tak setuju jika harus ditawan. Tapi untuk membantah ucapan Jaka, Wiroga, dan Galaba tidak berani melakukannya.

Dengan tegas Jaka memanggil empat orang murid Perguruan Bintang Timur.

"Kalian bawa dua lelaki ini, dan tempatkan di ruang tahanan. Ingat, jangan berlaku yang tidak patut pada mereka," perintah Jaka.

Empat murid Perguruan Bintang Timur yang mendapat perintah Jaka, tidak segera melaksanakan tugasnya. Mereka nampak ragu-ragu untuk mengangkut tubuh Dua Bajingan Hutan Welirang.

"Laksanakan perintahku. Tubuh Dua Bajingan Hutan Welirang tak punya kekuatan lagi untuk bergerak, apalagi mencelakakan kalian. Tubuhnya telah kutotok," papar Jaka memberi penjelasan.

Setelah mendengar penjelasan pemuda itu, empat murid Perguruan Bintang Timur segera menggotong tubuh Wiroga dan Galaba, dan membawanya ke ruang tahanan Perguruan Bintang Timur.

Dua Bajingan Hutan Welirang sesungguhnya sakit hati diperlakukan seperti itu, namun ditekannya sebisa mungkin. Keduanya sudah telanjur berjanji di hadapan Raja Petir.

Sementara Jaka hanya memandangi tubuh Wiroga dan Galaba yang digotong murid-murid Perguruan Bintang Timur.

***

Sore itu hawa dingin yang berhembus cukup kuat, terasa menusuk kulit. Di luar bangunan Perguruan Bintang Timur, langit tampak dihiasi segumpal awan hitam yang melebar dan berarak-arak, diiringi gumpalan-gumpalan awan hitam lain. Agaknya sore itu sebentar lagi akan diguyur hujan.

Di dalam sebuah kamar Perguruan Bintang Timur yang berdinding putih, nampak pemimpin perguruan sedang berbaring di sebuah ranjang berseprai putih. Di sebelahnya berdiri sosok muda berpakaian kuning keemasan yang tak lain Jaka alias Raja Petir.

"Bagaimana dengan dua bajingan itu, Jaka?" tanya Ki Winduta seraya bangkit dan duduk di pinggir ranjang.

"Untuk sementara mereka ditawan, Ki. Akan kuperintahkan mereka menghadang Mayat Merah dan kawan-kawannya jika muncul di sini," jawab Jaka.

Ki Winduta, lelaki berpakaian biru cerah menatap wajah Jaka.

"Apakah nanti tidak akan terjadi sebaliknya?" tanya pimpinan Perguruan Bintang Timur dengan nada khawatir.

"Kurasa kekhawatiranmu tidak akan terjadi, Ki. Wiroga dan Galaba mempunyai dendam pada Mayat Merah dan kawan-kawannya. Mereka pasti akan mempergunakan kesempatan yang ada, karena kita akan melakukan hal yang sama yaitu me-lenyapkan Mayat Merah dan kawan-kawannya," kilah Jaka.

"Dua Bajingan Hutan Welirang tokoh golongan hitam yang licik, Jaka. Aku meragukan janjinya padamu," tukas Ki Winduta menyangkal penjelasan Jaka.

"Kuharap kekhawatiranmu tak akan terjadi, Ki Winduta," ujar Jaka.

"Hhh"

Pimpinan Perguruan Bintang Timur menarik napas panjang.

"Aku juga berharap begitu, Jaka," ucap Ki Winduta akhirnya.

"Aaa...!"

Belum berubah bentuk bibir Ki Winduta, tibatiba terdengar jerit kematian yang berasal dari luar bangunan Perguruan Bintang Timur.

Lelaki berpakaian biru cerah yang baru terbebas dari pengaruh hantaman serangan Dua Bajingan Hutan Welirang, segera bergerak meninggalkan kamar. "Kau kerahkan kekuatan murid-muridmu, Ki.

Aku akan menemui Dua Bajingan Hutan Welirang," ucap Jaka.

Ki Winduta tak menjawab perkataan pemuda itu, namun kepalanya terangguk mantap sebagai tanda menyetujui ucapan Jaka. Lelaki itu bergegas menuju halaman perguruan, sedang Jaka melangkah cepat ke kanan, menuju ruang tahanan para perusuh yang mencoba mengganggu ketenangan penghuni Perguruan Bintang Timur.

Bunyi berderit terdengar, seiring dengan terkuaknya pintu ruang tahanan tempat Wiroga dan Galaba berada.

Jaka menatap wajah Dua Bajingan Hutan Welirang, sebelum mengatakan sesuatu pada kedua lelaki itu.

"Sekarang saatnya kalian memenuhi janji, Dua Bajingan Hutan Welirang," ujar Jaka tegas.

"Kami..."

"Ya, Kalian harus menghadapi orang yang berusaha menjatuhkan perguruan ini," potong Jaka cepat. "Apakah mereka Mayat Merah dan kawan-ka-

wannya?" tanya Wiroga.

"Aku belum tahu siapa, namun firasat ku mengatakan begitu," jawab Jaka.

"Ah!"

Wiroga menarik napas berat

"Kalian gentar menghadapi Mayat Merah dan kawan-kawannya?" selidik Jaka. "Atau kalian ingin mengingkari janji?"

Wiroga dan Galaba serentak menggelengkan kepala.

"Aku tak akan mengingkari ucapanku, Raja Petir. Hanya aku sangsi, apakah kami mampu menghadapi Mayat Merah dan kawan-kawannya," tandas Wiroga.

Jaka tersenyum mendengar ucapan Wiroga, menurutnya suatu pengakuan jujur dan tulus.

"Aku akan berdiri di belakang kalian," ucap Jaka membesarkan hati Dua Bajingan Hutan Welirang.

"Kalau begitu kami akan coba berusaha sebisa mungkin melumpuhkan Mayat Merah dan kawankawannya, Raja Petir," putus Wiroga.

"Ya, Raja Petir," timpal Galaba. "Asalkan setelah itu kami diizinkan meninggalkan perguruan ini."

"Jangan khawatir," jawab Jaka. "Aku tak suka menyiksa orang yang ingin kembali ke jalan benar," lanjut Jaka menasihati.

Suasana di ruang tahanan sesaat hening. Dan pada saat berikutnya, terdengar pekik tertahan Dua Bajingan Hutan Welirang.

"Aaa...!"

"Aaa...!"

Tubuh Wiroga dan Galaba seketika dapat bergerak, ketika totokan tangan Jaka membebaskan pengaruh totokan di tubuh Dua Bajingan Hutan Welirang.

"Sekarang jalankan tugas kalian," perintah Jaka.

Dua Bajingan Hutan Welirang segera meninggalkan Jaka. Langkah Wiroga dan Galaba membuat pemuda itu tidak meragukan janji mereka. Benar saja.

Ketika Jaka keluar dari bangunan Perguruan Bintang Timur, Dua Bajingan Hutan Welirang tengah bertarung menghadapi lelaki berpakaian hitam yang menghunus sebilah golok besar, dan lelaki berpakaian biru yang bersenjatakan sebatang pedang bergerigi. Keduanya tak lain Cakar Sakti dan Iblis Kali Asin. Sementara murid-murid Perguruan Bintang Timur terlihat mundur, untuk memberi kesempatan pada Dua Bajingan Hutan Welirang.

"Dua Bajingan Hutan Welirang! Mengapa berpihak pada mereka? Bukankah kalian sudah terikat persyaratan Mayat Merah!" hardik lelaki berpakaian hitam yang berjuluk Iblis Kali Asin.

Wiroga tak menjawab pertanyaan lelaki berpakaian hitam yang menghunus sebilah golok besar. Mata Wiroga dan Galaba hanya menatap wajah Iblis Kali Asin.

"Untuk apa aku mematuhi persyaratan si jahanam Mayat Merah, Iblis Kali Asin?!" ujar Wiroga balik bertanya.

Terkejut Iblis Kali Asin mendengar perkataan orang tertua Dua Bajingan Hutan Welirang. Namun, Jaka lebih terkejut lagi mendengar ucapan Wiroga. Iblis Kali Asin! Ulang Jaka dalam hati. Sengaja pemuda itu menyebutnya dalam hati, untuk sekadar mengurangi rasa geramnya. Kau akan mampus di tanganku, Iblis! Lanjut Jaka.

"Apa kalian sudah mampu menandingi kekuatan kami, Dua Bajingan Tengik?!" goda lelaki berpakaian biru.

"Jangan sombong, Cakar Sakti! Aku tak gentar menghadapi maut sekalipun!" kali ini bantahan itu terdengar dari mulut Galaba.

Kembali hati Jaka tersentak, mendengar nama Cakar Sakti disebut Galaba. Namun pemuda itu harus kembali menahan kegeramannya.

"Kalau begitu, kalian memang pantas mampus sekarang!" bentak Cakar Sakti.

Lelaki berpakaian biru dengan senjata berupa lempengan logam keras berbentuk cakar manusia, langsung bergerak cepat. Angin menderu mengiringi terjangan Cakar Sakti yang terarah pada Wiroga. Sementara Iblis Kali Asin pun melakukan hal yang sama. Diiringi teriakan nyaring, Iblis Kali Asin alias Sugraniri melesat menerjang Galaba.

"Hiaaa...!"

***
TUJUH
Dua Bajingan Hutan Welirang yang mendapat serangan Cakar Sakti dan Iblis Kali Asin, segera merubah kedudukan kaki. Senjata berupa sepasang kapak berukuran tanggung, tampak menyilang di depan dada masing-masing. Dan angin menderu ketika Wiroga dan Galaba memutar senjatanya.

Wruuuk! Wruuuk!

Namun Cakar Sakti dan Iblis Kali Asin yang menganggap enteng kemampuan Dua Bajingan Hutan Welirang tetap meneruskan serangannya. Senjata Cakar Sakti berupa lempengan logam keras berbentuk telapak tangan manusia, terarah ke leher Wiroga. Sedang golok Iblis Kali Asin dibabatkan ke leher Galaba.

"Mampus kau!" 

"Hiaaa! Hiaaa!" 

"Heh?!" Terkejut Cakar Sakti dan Iblis Kali Asin menyaksikan kehebatan Dua Bajingan Hutan Welirang, ketika memainkan sepasang kapaknya. Hampir saja perut terbabat kapak, jika keduanya tidak segera membuang diri dengan cepat.

"Hup!"

"Hup!"

Tubuh Kuruga dan Sugraniri mendarat dengan manis di tanah, setelah dua kali melakukan putaran di udara. Belum berapa lama dua lelaki berpakaian jingga dan hitam menjejakkan kaki, keduanya kembali menghentakkan kakinya kuat-kuat.

"Hih!"

"Hiaaa!"

Cakar Sakti dan Iblis Kali Asin kembali meluruk maju. Serangan senjata keduanya tertuju pada bagian tubuh Wiroga dan Galaba yang mematikan.

Senjata Cakar Sakti dikebutkan ke ubun-ubun Wiroga. Kedatangan serangan Kuruga kali ini sangat cepat. Hingga Wiroga tidak mampu memainkan senjatanya dengan baik. Namun gerakannya yang lincah, dapat menghindarkan kepalanya dari sambaran senjata Cakar Sakti.

Tetapi serangan yang dilakukan Kuruga hanya siasat belaka. Pada saat orang tertua Dua Bajingan Hutan Welirang memiringkan tubuh, lelaki berpakaian jingga yang berjuluk Cakar Sakti, segera mengirimkan tendangan lurus menggeledek.

Kedatangan serangan Cakar Sakti yang begitu tiba-tiba cukup mengejutkan Wiroga. Orang tertua Dua Bajingan Hutan Welirang, mencoba mengelakkan terjangan kaki Kuruga dengan menambah kemiringan tubuhnya. Namun gerakan Wiroga kalah cepat dengan terjangan Cakar Sakti. Akibatnya....

Blakgh!

"Aaakh!"

Tubuh Wiroga terpental deras, seiring dengan tendangan geledek Kuruga yang menghantam telak dadanya. Dengan disertai pekik kesakitan, tubuh Wiroga melayang dan ambruk ke tanah.

Bruk!

Bunyi berdebuk terdengar begitu tubuh Wiroga terhempas di tanah.

"Huh! Rupanya hanya sampai di situ kepandaianmu, Iblis Kurap!" maki Kuruga. "Sekarang kau akan menerima kematianmu!" lanjut Cakar Sakti sambil mengangkat senjatanya.

Wiroga tersentak melihat gerakan Cakar Sakti, menurutnya Kuruga akan menghantamkan senjata itu ke kepalanya. Tapi dugaan Wiroga meleset jauh. Lelaki berpakaian jingga yang telah mengangkat senjatanya ke atas kepala, ternyata hanya mengebutkan senjata itu dengan pengerahan tenaga dalam.

Breut..! Slash!

Seberkas sinar jingga memancar dari lempengan logam keras berbentuk telapak tangan manusia. Serangkum sinar jingga itu, meluruk deras ke tubuh Wiroga. Hawa panas segera menyebar ketika sinar jingga melesat melalui hentakan kuat Kuruga.

Jaka yang menyaksikan kejadian itu tentu saja sangat terkejut. Apalagi saat melihat luncuran serangkum sinar jingga hasil ciptaan Cakar Sakti.

Pemuda itu dapat memastikan Wiroga tak akan mampu menghindari terjangan serangkum sinar jingga. Maka dengan kecepatan yang sukar diikuti mata biasa, tubuh Jaka melesat cepat bagai kilat.

Wusss! Yap! "Hop!" Tubuh Wiroga tahu-tahu sudah berada dalam cekalan tangan Jaka. Sementara serangkum sinar jingga yang meluruk cepat, lolos beberapa jengkal dari tubuh Wiroga, dan terus meluruk hingga menghantam sebatang pohon besar.

Blaaarrr...!

Pohon sebesar pelukan tangan dua lelaki dewasa, langsung tumbang terhantam sinar jingga Cakar Sakti. Dan jatuh berderak menimbulkan bunyi memekakkan telinga.

Wiroga membelalakkan mata sesaat, menyaksikan kedahsyatan serangkum sinar jingga yang menghantam pohon besar. Dirinya tak bisa membayangkan, bagaimana jika tubuhnya yang terhantam sinar ciptaan Cakar Sakti.

Kalau Wiroga terkejut menyaksikan keganasan sinar jingga Cakar Sakti, lain lagi rasa terkejut yang dialami Cakar Sakti. Sungguh dirinya tak menduga, ada orang yang bergerak demikian cepat menyelamatkan nyawa orang tertua Dua Bajingan Hutan Welirang, dari incaran sinar jingga miliknya. Padahal Kuruga yakin betul, tubuh Wiroga akan hangus terhantam serangkum sinar jingga ciptaannya. Tetapi kenyataannya...?

Seorang lelaki berpakaian kuning keemasan, berhasil menyelamatkan nyawa orang tertua Dua Bajingan Hutan Welirang. Kuruga menatap geram wajah tampan sosok muda yang tak lain Raja Petir. Dan tatapan tajam Kuruga berubah menjadi tatapan menyelidik. Cakar Sakti, seperti mengenali sosok muda berpakaian kuning keemasan.

"Raja Petir. "

Nama itu diucapkan Cakar Sakti demikian pelan, hingga sekilas terlihat seperti desahan napas. Terlihat ada sedikit rasa gentar mewarnai raut wajah lelaki itu. Namun Kuruga yang merasa lebih dulu malangmelintang di dunia persilatan, berusaha keras menyembunyikan rasa gentarnya. Tatapan matanya kembali tajam, menusuk wajah Jaka.

"Lancang sekali kau mencampuri urusanku, Anak Muda!" bentak Kuruga pura-pura tidak mengenali sosok Raja Petir.

"Kau yang telah lancang mengganggu ketenangan Perguruan Bintang Timur, Cakar Bengek!" umpat Jaka tak kuasa menyembunyikan kegeramannya.

Merah padam wajah Cakar Sakti mendengar makian Jaka. Mata Kuruga membelalak lebar.

"Kau harus membayar kelancangan dan penghinaan itu dengan nyawamu, Anak Muda! Kau akan mampus dengan senjataku ini!" hardik Cakar Sakti.

Jaka tersenyum mendengar perkataan Kuruga "Kau yang harus membayar nyawa atas perbuatanmu terhadap Hantu Pemburu Nyawa, Cakar Bengek!" balas Jaka.

"Hei?!"

Kuruga tersentak mendengar perkataan pemuda itu.

"Apa hubunganmu dengan Iblis Jahanam itu, heh? Bukankah kau Jaka alias Raja Petir, yang digembar-gemborkan sebagai tokoh golongan putih yang selalu membela kebenaran?" tanya Kuruga tajam.

"Ya. Aku ingin membalas kematian Hantu Pemburu Nyawa, yang berada di pihak yang benar!" tandas Jaka mantap.

"Hei? Bukankah Eyang Legar tokoh sesat yang selalu membuat keonaran, dan melenyapkan nyawa orang-orang tak berdosa? Mengapa kau ingin membelanya, Raja Petir? Tidakkah terbalik pikiran-mu?" desak Kuruga ingin memojokkan Jaka.

"Selama puluhan tahun Eyang Legar telah menjadi orang yang bertobat, Cakar Bengek! Dirinya tak pantas kau perlakukan sekeji itu. Kau telah bersekongkol dengan Mayat Merah, Dewa Kaki Langit, dan kawanmu itu," ujar Jaka sambil menuding ke arah pertarungan Galaba dengan Iblis Kali Asin. 

"Kalian pasung tubuh Hantu Pemburu Nyawa di sebatang pohon, setelah lebih dulu racun ganas Mayat Merah melumpuhkannya. Kalian semua harus menebus kematian Eyang Legar dengan nyawa!" lanjut Jaka lantang.

"Tapi Eyang Legar belum membayar sakit hati kami, Raja Buduk!" balas Cakar Sakti dengan makian yang membuat telinga Jaka memerah seketika. "Puluhan tahun kami berniat membalas dendam, bukankah itu hal yang wajar?"

"Tapi yang kalian lakukan terhadap Eyang Legar, telah melampaui batas kemanusiaan! Kau sadar itu?!"

"Itu pembalasan yang setimpal, Raja Buduk!" jawab Cakar Sakti memancing kemarahan Jaka.

Jaka yang dapat membaca pikiran Cakar Sakti segera menahan diri. Sesungguhnya hati pemuda itu terbakar mendengar ejekan Kuruga, namun ia tak mau melayani dengan menyerang Cakar Sakti lebih dulu.

"Cakar Bengek!" balas Jaka mantap. "Ketahuilah! Walau apa pun alasanmu, aku tetap menyalahkanmu dan kawan-kawanmu. Kalian harus segera mengantar nyawa padaku!"

"Cuh!" Kuruga meludah penuh kegeraman. "Sombong sekali kau, Raja Buduk! Apa kau pikir aku gentar dengan nama besarmu?"

"Sudah dapat kupastikan kau akan mampus di tanganku, Cakar Bengek!" pancing Jaka lebih keras.

Kuruga rupanya terpancing ucapan Jaka. Terlihat dari raut wajahnya yang menegang. Cekalan tangan pada senjatanya nampak begitu erat, seperti sedang mengalirkan tenaga dalam pada senjata yang berupa lempengan logam keras berbentuk telapak tangan manusia.

"Kurang ajar!" maki Cakar Sakti melepas kejengkelannya.

Seiring dengan makian itu, Kuruga menghentakkan senjatanya dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Hih!" Slash!

Serangkum sinar jingga keluar dari senjata Kuruga. Sinar jingga itu meluruk deras ke arah tubuh Jaka.

"Ups!"

Dengan mengerahkan sedikit kemampuan ilmu meringankan tubuhnya, Jaka mencelat menghindari terjangan sinar jingga Cakar Sakti. Dan memang yang dilakukan Raja Petir membuat serangan Kuruga mentah.

Cakar Sakti agaknya benar-benar berniat menghabisi nyawa Jaka. Terbukti dengan gerakan dua kali lipat cepatnya, lelaki itu kembali menghentakkan senjatanya berturut-turut. Dua rangkum sinar jingga susul-menyusul melesat dari lempengan berbentuk telapak tangan manusia, meluruk cepat ke arah tubuh Jaka yang baru saja menjejakkan kaki di tanah.

"Hmmm Betul-betul ganas serangannya," bisik hati Jaka. 

Lelaki muda berpakaian kuning keemasan yang berjuluk Raja Petir, dengan cepat menggerakkan tangan kanannya. Tak terlihat pandangan mata, tahutahu di antara telunjuk dan ibu jari Jaka, ter-selip sebatang bambu kuning kecil yang pada bagian tengahnya berlubang.

Dengan kecepatan luar biasa, Raja Petir menyelipkan bambu kuning itu di antara bibirnya. Dan dengan mengerahkan tenaga dalamnya, pemuda itu menghembuskan napas kuat

Slast..! Slast..!

Seberkas sinar keperakan melesat cepat dari lubang bambu kuning yang terhembus napas Jaka. Sinar keperakan laksana petir itu melesat cepat menyongsong sinar jingga Cakar Sakti.

Sinar jingga dan keperakan terlihat saling menyongsong dengan kecepatan tinggi. Dan ketika kedua sinar bertemu di udara, maka....

Glaaar! Glaaar!

Suara ledakan keras terdengar seketika, memekakkan telinga. Karena ledakan itu terjadi tak begitu jauh dari kediaman Ki Winduta, maka bangunan rumah pimpinan Perguruan Bintang Timur bergetar hebat seperti dilanda gempa. Yang lebih hebat lagi pengaruh yang diterima murid-murid kelas tiga perguruan itu.

Murid-murid Perguruan Bintang Timur yang rata-rata memiliki kemampuan tenaga dalam rendah, ambruk ke tanah, bahkan di antaranya ada yang terpental jauh.

Raja Petir menyaksikan kenyataan itu agak terkejut. Pemuda itu lalu memutuskan tidak akan mengulangi lagi benturan dua sinar yang begitu dahsyat, yang mengakibatkan murid-murid Ki Winduta jadi korban.

Tapi kenyataan itu tidak membuka hati Cakar Sakti. Lelaki bertabiat buruk itu kembali mengebutkan cakar mautnya.

Slash! Slash! Slash!

Tiga rangkum sinar jingga meluruk cepat ke arah Jaka, yang telah meletakkan bambu kuningnya di tempat semula.

"Jahanam!" maki Jaka melihat perbuatan Kuruga.

Raja Petir segera mencelat ringan, gerakan yang dilakukannya kali ini terlihat tidak beraturan. Pada satu loncatan tubuhnya melayang ke kanan, dan pada loncatan berikutnya tubuh Raja Petir melayang jauh ke udara. Juga ketika serangan Kuruga kembali datang, tubuh Jaka terlihat melayang ke kiri

"Hop!" 

"Hiyaaa...!"

Rupanya Jaka benar-benar jeli penglihatannya. Di saat tubuhnya melompat ke kiri, matanya menangkap titik lemah gerakan Cakar Sakti. Karena itulah Jaka menghentakkan kakinya kuat-kuat. Dan dengan diiringi teriakan menggelegar, tubuh Raja Petir mencelat cepat dengan kaki menyilang ke atas. Tendangan serong yang dilancarkan Jaka terarah ke batang leher samping Cakar Sakti.

Diegkh! "Aaa...!"

Pekik kesakitan terdengar membumbung ke langit, bersamaan dengan itu tubuh Kuruga terpelanting ke tanah. Darah muncrat dari mulutnya yang terbuka lebar.

"Khrgkh...!"

Kuruga menggereng dengan tubuh menggelepar seperti sapi disembelih. Beberapa saat lama nya Kuruga berkelojotan di tanah, lalu sesaat kemudian tubuhnya diam tak bergerak. Nyawa lelaki itu telah pergi meninggalkan jasad dengan leher patah.

Iblis Kali Asin yang sempat melihat keadaan Kuruga, terkejut bukan main. Rasa kagetnya sungguh berakibat buruk bagi dirinya, yang sedang menghadapi serangan gencar Dua Bajingan Hutan Welirang. "Mampus kau, Iblis!" bentak Wiroga dan kapaknya dibabatkan ke lambung Iblis Kali Asin.

Sugraniri terkejut bukan main merasakan sambaran angin terarah ke lambungnya. Lelaki itu segera melangkah mundur. Tetapi....

Pret!

Sambaran kapak berukuran tanggung yang dilancarkan Wiroga berhasil menyerempetnya. Beruntung kapak Wiroga hanya membuat koyak pakaian Sugraniri. Namun tak urung Iblis Kali Asin menggereng hebat. Kemarahannya karena kematian Cakar Sakti bertambah, setelah mendapatkan tubuhnya hampir terkoyak.

Lelaki berpakaian hitam yang di tangannya terhunus sebilah golok besar, bermaksud menyerang balik Wiroga, namun serangannya kalah cepat dengan Galaba. Sambil memekik nyaring, Galaba melejit cepat ke arah Iblis Kali Asin dengan bentuk serangan kapak kembar seperti hendak menggunting.

"Hiaaa!"

Galaba bergerak cepat. Kapak tanggung yang berada di genggaman tangan kanan, meluncur dari arah kanan menebas batang leher Sugraniri. Sedang kapak yang tercekal di tangan kiri, meluncur dari arah yang berlawanan menuju lambung Iblis Kali Asin.

Sugraniri kewalahan mendapat serangan segencar itu, apalagi kedatangannya begitu cepat. Lelaki berpakaian hitam itu segera mengambil keputusan memapaki senjata lawan yang terarah ke lehernya.

"Hih!" Trang! Breeets!

***
DELAPAN
Sungguh luar biasa serangan Galaba, gerakan menggunting orang termuda Dua Bajingan Hutan Welirang sangat cepat, dan terarah ke bagian mematikan tubuh Iblis Kali Asin. Sugraniri segera mengangkat golok besarnya, menangkis senjata lawan yang mengarah batang leher. Namun lelaki itu harus menanggung akibat yang tidak ringan. Kapak Galaba yang tergenggam di cekalan tangan kiri mampu merobek lambung.

Tubuh Iblis Kali Asin langsung terhuyung tiga langkah ke belakang. Golok besar di tangan kanannya terlepas, sedang tangan kiri Sugraniri berusaha menutupi luka yang mengangga lebar di bagian perutnya. Darah nampak keluar dari sela-sela jari Iblis Kali Asin.

Galaba yang dendam pada Iblis Kali Asin, tidak membiarkan kesempatan itu untuk melakukan serangan. Tubuh lelaki termuda Dua Bajingan Hutan Welirang kembali melesat. Kali ini serangan Galaba hanya menggunakan tendangan lurus, yang dialiri pengerahan tenaga dalam tinggi. Tendangan lelaki itu mengarah ke dada Sugraniri.

"Hiaaa...!" Blagkh! "Aaakh!"

Tubuh Iblis Kali Asin langsung terpental deras, terhantam tendangan lurus Galaba. Dada Sugraniri terasa melesak ke dalam. Dan cairan merah segar muncrat dari mulutnya.

Buuum!

Tubuh Iblis Kali Asin ambruk ke tanah, dengan nyawa sudah melayang dari jasadnya.

***

Jaka diikuti pimpinan Perguruan Bintang Timur segera menghampiri Dua Bajingan Hutan Welirang.

"Terima kasih atas perbuatan kalian, tidak mengingkari janji yang kemarin diucapkan," ujar Jaka seraya menatap wajah Wiroga dan Galaba bergantian. "Ternyata hati kalian telah tergerak untuk kembali ke jalan yang benar. Langkah pertama telah kalian rintis dengan membantu kami melenyapkan Cakar Sakti dan Iblis Kali Asin," lanjut Jaka dengan suara ditekan sebagai kenangan Dua Bajingan Hutan Welirang.

Wiroga, lelaki tertua Dua Bajingan Hutan Welirang, merasakan ucapan Raja Petir menerobos masuk ke relung hatinya paling dalam. Hatinya yang selama ini diselimuti kabut hitam, dirasakan seperti mendapat angin segar. Kabut hitam itu kini terkuak pergi. Karena ucapan seorang tokoh sakti yang mengatakan, hatinya telah tergerak untuk kembali ke jalan yang lurus. Wiroga menarik napas dalam-dalam, rasa lega terasa memenuhi perasaannya.

"Ahhh...!"

"Bagaimana Wiroga, Galaba. Apakah kalian akan mempertahankan langkah pertama yang telah kalian rintis?" tekan Jaka, memantapkan pengaruhnya yang dirasa telah menemui tempat di hati orang tertua Dua Bajingan Hutan Welirang.

Wiroga menatap wajah Jaka, demikian pula Galaba.

"Akan ku pertahankan sekuat tenaga langkah pertama yang telah kami rintis ini, Raja Petir," ucap Wiroga sedikit bergetar. Lelaki itu merasa terharu dengan perhatian Jaka yang begitu besar.

"Benar, Raja Petir. Hatiku tersentuh mendapat perhatian dari tokoh sakti sepertimu. Aku bertekad akan terus melanjutkan langkah pertama yang telah kami rintis ini. Kami juga akan berusaha sekuat tenaga, meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini kami lakukan," tambah Galaba.

"Terima kasih atas tekad yang kalian miliki," ucap Ki Winduta membuka suara. "Namun hatihatilah. Banyak orang yang tak suka melihat orang lain berubah menjadi baik. Seandainya kalian menjumpai orang atau tokoh seperti itu, sebaiknya kalian mampu menahan diri untuk tidak berbuat kasar. Sebisa mungkin, ajaklah orang itu baik-baik untuk mengikuti langkah yang telah kalian ambil," nasihat Ki Winduta panjang lebar.

Wiroga dan Galaba menatap wajah pimpinan Perguruan Bintang Timur lekat-lekat Dua Bajingan Hutan Welirang jadi malu, jika mengingat perbuatan yang telah mereka lakukan pada perguruan yang dipimpin lelaki berpakaian biru cerah ini. Mereka merasa tidak enak mendengar nasihat bijak dari orang yang telah mereka sakiti.

"Aku akan mengingat nasihatmu baik-baik, Ki," hanya itu perkataan yang keluar dari mulut Wiroga. Kemudian tatapan lelaki itu beralih ke wajah Galaba.

"Seperti Kakang Wiroga. Aku pun akan berusaha mengingat nasihatmu, Ki," timpal Galaba sambil menjura hormat.

"O ya, Jaka. Apakah Dua Bajingan Hutan Welirang kau izinkan pergi atau "

"Jangan panggil kami dengan julukan itu lagi, Ki," putus Wiroga.

Raut wajah Ki Winduta seketika berubah.

"Ah. Maafkan aku, Wiroga," ucap Ki Winduta merasa tak enak. "Memang sebaiknya julukan itu jangan lagi kalian sandang," lanjut Ki Winduta.

"Sebaiknya demikian, Kakang Wiro, Kakang Galaba," tambah Jaka, sengaja memanggil Dua Bajingan Hutan Welirang dengan sebutan 'Kakang'.

Wiroga dan Galaba terkejut mendengar panggilan Jaka. Keduanya jadi lebih menaruh hormat pada lelaki muda usia yang berjuluk Raja Petir.

"Lebih baik kalian memakai nama kalian sendiri. Jika kalian pandai menempatkan nama pada tempat yang besar, maka tidak mustahil nama Kakang Wiroga dan Kakang Galaba disanjung dan dihormati orang. Apalagi Kakang Galaba dan Kakang Wiroga memiliki ilmu silat yang cukup tinggi. Kakang berdua bisa memanfaatkan kepandaian yang dimiliki untuk membela orang-orang lemah, orang-orang yang berdiri dipihak yang benar," lanjut Jaka.

"Kami akan berusaha melakukan semua yang kau katakan, Raja Petir," kata Wiroga mantap.

"Panggil aku Jaka, Kakang Wiroga," pinta Jaka. "Aku lebih senang kalian memanggilku dengan namaku."

Wiroga dan Galaba langsung menundukkan kepala sebagai tanda hormat pada Jaka. Kedua lelaki berpakaian hitam dan hijau itu menaruh simpati dan rasa hormat yang tinggi pada pemuda di hadapannya.

"Nah, sekarang kuizinkan kalian pergi," ucap Jaka lembut

"Terima kasih, Raj Eh, anu, Jaka. Terima kasih. Aku akan selalu mengingat perkataan mu dan dirimu. Juga perguruan ini dan Ki Winduta," ujar Wiroga yang merasa senang bukan main.

"Kalau Ki Windu mengizinkan, lain waktu kami akan berkunjung ke sini," tambah Galaba sambil menatap wajah pimpinan Perguruan Bintang Timur.

"Dengan senang hati aku akan menerima kedatangan kalian. Tentu bila kedatangan kalian membawa maksud yang "

"Tentu saja, Ki. Kami tak akan berani menginjakkan kaki di daerah kekuasaanmu, jika hati kami belum mampu melaksanakan janji kami pada Kisanak berdua," kilah Wiroga memotong ucapan Ki Winduta.

"Aku senang jika kalian datang ke tempat ini sebagai orang yang telah meninggalkan segala bentuk keangkaramurkaan," tandas Ki Winduta.

"Kami akan berusaha, Ki," ucap Galaba. "Sekarang izinkan kami pergi."

"Silakan Wiroga, Galaba," ujar pimpinan Perguruan Bintang Timur.

"Silakan, Kakang," sambut Jaka sopan.

Wiroga dan Galaba menjura memberi hormat sebelum keduanya meninggalkan Jaka dan Ki Winduta. Dan ketika Raja Petir juga Ki Winduta membalas penghormatan mereka dengan menganggukkan kepala, Wiroga dan Galaba segera menghentakkan kaki ke tanah.

"Hop!"

"Hop!"

Cepat dan ringan gerakan yang dilakukan Wiroga dan Galaba. Hanya dua kali hentakan kaki ke tanah, tubuh lelaki yang terbungkus pakaian hitam dan hijau, melesat sejauh setengah pal dari tempat Jaka dan Ki Winduta berdiri.

"Hhh... Sebenarnya kedua lelaki itu memiliki ilmu silat cukup tinggi, Jaka. Tapi sayang, mereka selama ini telah salah jalan," ucap Ki Winduta, menatap sosok tubuh Wiroga dan Galaba yang semakin mengecil dan menghilang di belokan jalan.

"Sejak mereka mengalami kejadian ini, kuharap segalanya berubah, Ki. Seperti janji dan keinginan mereka," sahut Jaka pelan.

"Kuharap juga demikian, Jaka. Ah, mari kita kembali ke dalam," ajak Ki Winduta menyadari keberadaan mereka yang di luar rumah.

"Ayo, Ki," sambut Jaka.

Seiring dengan langkah Jaka dan Ki Winduta memasuki rumah kediaman pimpinan Perguruan Bintang Timur. Langit yang sejak tadi tertutup gumpalan awan tebal kini mencurahkan air yang cukup deras. Hawa dingin pun menyebar merata ke pe-losok Lejaran.

***

Suasana pagi hari ini membuat penduduk malas melakukan pekerjaan rutinnya. Hujan yang semenjak sore kemarin mengguyur bumi, baru saja berhenti. Daun-daun pepohonan masih basah kuyup. Dan tanah di sekitar jalanan atau pematang berlumpur, di sanasini terdapat air yang tergenang membentuk kubangan. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya hamparan tanah basah terguyur air hujan.

Di sebuah sudut jalan yang jarang dilalui penduduk, nampak empat lelaki saling berhadap-hadapan. Suasana tegang menyelimuti keempat lelaki itu. Mereka kelihatan sedang saling tarik urat. Tubuh mereka menegang dan mata mereka saling terbelalak.

"Berani betul kau berkata seperti itu, Dua Bajingan Tengik!" maki lelaki berpakaian biru yang ternyata Dewa Kaki Langit "Apa kau tak ingat dengan perjanjianmu, akan memenuhi persyaratan Watu Indagu?"

"Resumuka," panggil Wiroga sambil menatap tajam wajah lelaki berjuluk Dewa Kaki Langit "Aku bukannya tidak ingat dengan persyaratan gila yang dibuat Watu Indagu. Tapi aku tak ingin terus-menerus melaksanakan perintah-perintah gila dalam persyaratan itu!" lanjut Wiroga dengan mata menatap garang.

Lelaki berpakaian merah yang tak lain Mayat Merah, membalas tatapan garang Wiroga. Tangan lelaki bernama Watu Indagu itu terkepal kuat

"Wiroga! Sadarkah kau dengan ucapanmu barusan? Apa kau tidak ingin melihat sinar matahari nanti siang, heh? Coba pikirkan sekali lagi, sebelum kakiku bergerak mencabut nyawamu!" hardik Watu Indagu keras.

"Mayat Merah yang terhormat," balas Galaba penuh nada ejekan. "Sekali lagi kukatakan, kami tak bersedia diajak bertanding dengan orang-orang Perguruan Bintang Timur. Karena kami berhutang budi dengan pimpinan perguruan itu. Jadi, kami menolak keinginan kalian. Lagi pula, bukankah tanpa kami kalian mampu menundukkan Ki Winduta dan muridmuridnya?" papar Galaba berani.

"Kurang ajar! Kalian harus mampus!" bentak Watu Indagu lantang.

Wiroga dan Galaba tidak terkejut mendengar bentakan keras Mayat Merah. Kedua lelaki itu segera menghunus sepasang kapak tanggung, dan saling menggesekkan kepala kapak-kapak itu.

Tlang! Tlang!

Wiroga dan Galaba segera berpencar, setelah masing-masing memberi isyarat untuk bertarung habis-habisan. Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit semakin bertambah geram melihat sikap menantang yang ditunjukkan Wiroga dan Galaba.

"Kalian memang mencari mampus!" maki Dewa Kaki Langit berang. "Ayo, Indagu. Kita habisi mereka," ajak Dewa Kaki Langit pada Mayat Merah.

Watu Indagu menjawab ajakan Dewa Kaki Langit dengan lesatan ringan terarah ke tubuh Wiroga, Resumuka pun segera melakukan hal yang sama, melesat manis ke arah Galaba.

"Heh! Tak akan kuampuni kalian sekarang! Kalian harus mampus!" hardik Resumuka.

Pertarungan empat lelaki yang memiliki ilmu silat tinggi, tak dapat dielakkan lagi. Suara teriakan lantang dan deru pukulan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi, terdengar cukup jelas.

Pada jurus-jurus awal, Wiroga dan Galaba mampu menandingi serangan-serangan tajam Resumuka dan Watu Indagu dengan tangan kosong. Namun memasuki jurus kedua puluh tiga, Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit mampu mendesak Wiroga dan Galaba. Dua lelaki berpakaian merah dan biru itu, telah mengeluarkan senjata andalan mereka untuk mendesak Wiroga dan Galaba yang telah lebih dulu menggunakan senjatanya.

Wiroga dan Galaba yang merasa terdesak, segera mencari jalan keluar untuk membalas seranganserangan Resumuka dan Watu Indagu. Tapi usaha keras yang dilakukan Wiroga dan Galaba seperti menemui jalan buntu. Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit telah menutup ruang gerak lelaki berpakaian hitam dan hijau, yang mencoba memberi serangan balasan. Dan ketika mendapat kesempatan baik, Watu Indagu berhasil membenturkan senjatanya ke batok kepala Wiroga, yang dalam keadaan tak terlindungi.

"Hiaaa...!" Wuuuk! Praaak...!

Kepala Wiroga seketika pecah ketika senjata ruyung Mayat Merah membentur dengan keras. Darah bercampur gumpalan otak berceceran mengotori pakaian Wiroga. Pekikan kematian yang terdengar membumbung tinggi ke angkasa, cukup membuat satu pukulan telak bagi Galaba yang tengah terdesak Dewa Kaki Langit.

"Kau akan mengalami nasib yang sama, Galaba!" tukas Resumuka seraya menggerakkan pedangnya ke dada lelaki berpakaian hijau.

"Hiaaa...!" Braaat! "Aaa...!"

Untuk kedua kalinya, pekik kematian yang membubung tinggi ke angkasa, mengisi kesunyian suasana pagi. Tubuh Galaba dengan dada bolong tertusuk pedang Dewa Kaki Langit langsung jatuh berderak. Pada saat itu pula nyawanya pergi meninggalkan raga.

Dewa Kaki Langit menyaksikan kematian Galaba hanya mendengus bengis. Kemudian lelaki berpakaian biru itu melangkah menghampiri mayat Galaba. Dengan sikap tidak berdosa, Resumuka membersihkan pedangnya yang bernoda darah pada pakaian Galaba.

"Ayo cepat tinggalkan mereka, Kakang Resumuka. Kita datangi Perguruan Bintang Timur dan bumi hanguskan perguruan itu. Kurasa Sugraniri dan Kuruga akan datang ke sana pagi ini," ajak Mayat Merah.

"Aku tak bertemu dengan mereka sejak kemarin, Adi Indagu," kilah Dewa Kaki Langit

"Aku juga, tapi mudah-mudahan pagi ini mereka akan datang ke Perguruan Bintang Timur. Dengan begitu kita tak perlu membuang tenaga terlalu banyak untuk membinasakan penghuni perguruan itu, dan membumihanguskan bangunannya," sambut Watu Indagu. dagu."

"Kalau begitu kita ke sana sekarang, Adi"

"Ayo."

***
SEMBILAN
Pagi hampir beranjak siang ketika Dewa Kaki Langit dan Mayat Merah tiba di pelataran Perguruan Bintang Timur. Kedatangan dua lelaki berpakaian biru dan merah, segera disambut murid-murid Ki Winduta yang bertugas menjaga pintu masuk utama Perguruan Bintang Timur.

"Jangan berlagak menghalangiku seperti itu, Kucing Kudis!" bentak Resumuka ketika dua murid Perguruan Bintang Timur menghadangnya. "Suruh pimpinan kalian keluar. Lelaki itu yang berhak kupenggal kepalanya lebih dulu!" lanjut Dewa Kaki Langit lantang.

Empat orang lelaki yang bertugas menjaga pintu masuk utama Perguruan Bintang Timur, terperangah mendengar ucapan kasar lelaki berpakaian biru di hadapannya. Salah seorang dari mereka beranjak dua langkah ke muka. Dengan memasang wajah marah lelaki itu membalas ucapan kasar Dewa Kaki Langit

"Tua Bangka tak tahu adab! Kenapa kau mencerca guru kami?" tanya penjaga pintu utama yang bertubuh tinggi dan berkumis tipis.

Dewa Kaki Langit yang dikatakan Tua Bangka tak tahu adab langsung naik pitam. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, tangannya tergerak menempeleng kepala penjaga yang berkumis tipis.

"Hih!" Bletak! "Aaa...!"

Tubuh penjaga berkumis tipis yang menangkis serangan Dewa Kaki Langit dengan pedangnya, terhuyung empat langkah ke belakang. Dua penjaga yang berada di belakang lelaki berkumis tipis itu segera memburu tubuh temannya.

"Dua lelaki itu pasti mempunyai niat buruk datang ke sini, Rudala," ucap lelaki berkumis tipis pada temannya yang memegangi tubuhnya. "Lebih baik kau temui guru secepatnya, Rudala," lanjut lelaki berkumis tipis itu seraya menahan getaran yang menderu tangan kanannya.

"Lebih baik begitu, Kucing Kudis!" bentak Mayat Merah. "Jangan tunggu sampai kuhabisi nyawa kalian!" lanjutnya menggertak.

Lelaki bernama Rudala segera berlari menuju tempat kediaman Ki Winduta. Namun belum lagi sampai, Ki Winduta dengan ditemani lelaki muda berpakaian kuning keemasan muncul di ambang pintu.

"Guru," ucap Rudala agak bergetar. "Dua lelaki kasar itu hendak bertemu dengan guru."

"Perintahkan teman-temanmu menyingkir. Biar aku dan Jaka yang menghadapi," ujar Ki Winduta tegas.

Rudala bergegas menghampiri tiga teman jaganya, yang tengah menghadang Dewa Kaki Langit dan Mayat Merah. Sementara dengan langkah tenang, Ki Winduta ditemani Jaka berjalan menuju pintu utama Perguruan Bintang Timur.

"Aku tak mengira kalian berani datang secepat ini, Dewa Kaki Langit, Mayat Merah. Kupikir secarik surat yang kalian kirim kepadaku hanya gertak sambal belaka," goda Ki Winduta ketika dirinya sudah berada dua tombak dari hadapan Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit.

Resumuka dan Watu Indagu terkejut mendengar ucapan Ki Winduta yang bernada menantang. Semula kedua lelaki itu beranggapan Ki Winduta akan berlutut di hadapannya, agar tidak melakukan kekacauan dan membinasakan seluruh isi perguruan serta membumihanguskan bangunan yang ada. Tapi kenyataannya?

"Winduta! Mendapat tambahan nyali dari mana, hingga kau berani berkata seperti itu?!" bentak Resumuka berang

"Kau pikir aku takut denganmu, Resumuka!" balas Ki Winduta tak kalah berang.

Jaka yang berdiri tenang di sebelah Ki Winduta, nampaknya tak mau turut campur dengan silat lidah Ki Winduta dan Resumuka. Padahal darahnya mendidih mengingat dua lelaki yang membunuh Eyang Legar, berdiri di depan matanya.

Resumuka dan Watu Indagu sangat geram mendengar ucapan Ki Winduta. Keduanya mengepalkan tangannya kuat-kuat, dan langkah kaki mereka terangkat sedikit. Resumuka dan Watu Indagu sudah bertekad ingin segera membinasakan Ki Winduta.

"Kau memang harus segera mampus, Winduta! Hiaaa!"

Baru saja Mayat Merah hendak menyerang Ki Winduta. Sesosok tubuh berpakaian putih berkelebat cepat dengan melontarkan suara larangan yang cukup keras.

"Tunggu Indagu!"

Sosok tubuh berpakaian putih yang melarang Mayat Merah melakukan serangan, mendarat ringan di sebelah kiri Ki Winduta.

"Ranurota...?" ujar pimpinan Perguruan Bintang Timur melihat kedatangan lelaki berpakaian longgar putih.

"Maaf, Adi Windu. Aku baru sempat menemuimu sekarang," balas Ranurota.

Setelah berkata demikian, mata Ranurota segera menatap tajam wajah Resumuka dan Watu Indagu.

"Mengapa kalian benar-benar melaksanakan niat kalian? Bukankah sudah kukatakan aku akan berusaha membujuk anakku agar bersedia bersanding dengan muridmu, Mayat Merah? Kalau kalian terus melaksanakan niat itu, maka aku akan berhenti membujuk anakku dan kita akan berhadapan sebagai seorang musuh," ujar Ranurota.

"Kau tak perlu lagi membujuk anakmu, Ranurota! Karena kau pun sebentar lagi akan ku lenyapkan dari muka bumi ini!" hardik Watu Indagu dingin. "Anakmu akan kuambil secara paksa!"

"Hei?!"

Ranurota tersentak kaget mendengar ucapan Mayat Merah.

"Sudahlah, Kakang Ranu. Jangan pedulikan ucapan orang gila seperti Mayat Merah. Karena dirinyalah yang akan lebih dulu mencium tanah kuburan," tukas Ki Winduta menambah terkejut Ranurota.

"Semakin kurang ajar saja ucapanmu, Winduta. Belum kau rasakan senjataku membelah mulutmu!" hardik Dewa Kaki Langit geram.

"Jangan cuma bicara saja, Dewa Kaki Comberan! Majulah!" goda Ki Winduta memanasi.

Resumuka yang dipanggil dengan julukan Dewa Kaki Comberan bukan main murkanya. Tanpa ada sepatah kata yang terucap, Dewa Kaki Langit langsung mengejar tubuh Ki Winduta.

"Hiaaa...!"

"Menyingkirlah, Ki. Biar aku yang menghadapi orang gila ini," ujar Jaka sambil melompat ke depan Ki Winduta.

Bet! Plak!

"Aaa...!" 

Pekikan tertahan terdengar dari mulut Dewa Kaki Langit. Resumuka tidak menyangka kalau lelaki muda yang berdiri di depan Ki Winduta mampu mementahkan serangannya. Malah tubuhnya harus bersalto beberapa kali akibat bentrokan dengan pemuda yang belum dikenal itu. 

Dewa Kaki Langit yang telanjur melancarkan pukulan, terkejut melihat sosok muda berpakaian kuning keemasan berdiri di depan Ki Winduta. Karena kekesalannya sudah mencapai ubun-ubun, Resumuka pun tetap meneruskan serangannya dengan jurus 'Badai Menyapu Karang'.

Bet! Plak! "Aaa...!"

Pekik tertahan langsung terdengar, seiring dengan terpental balik sosok tubuh berpakaian biru. Namun Resumuka mampu mementahkan daya dorong benturan kuat yang masing-masing dialiri pengerahan tenaga dalam tinggi. Tubuh Dewa Kaki Langit mendarat dengan manis setelah lebih dulu berputaran dua kali di udara.

Apa yang dialami Dewa Kaki Langit, ternyata tidak menimpa Jaka. Lelaki muda yang berjuluk Raja Petir itu, hanya terdorong dua langkah ketika benturan keras terjadi. Jelas kekuatan tenaga dalam Dewa Kaki Langit masih berada di bawah Jaka alias Raja Petir.

"Aku tidak punya urusan denganmu, Raja Petir. Jangan campuri urusanku!" bentak Mayat Merah melihat Dewa Kaki Langit tergempur mundur.

"Mengenai urusanmu dengan Perguruan Bintang Timur memang bukan urusanku, namun aku harus ikut terlibat, Mayat Merah! Itu sudah bagian dari hidupku untuk melenyapkan orang-orang berwatak bengis macam kau! Kebengisanmu juga telah kau lakukan pada orang yang kuhormati dan ku-cintai seumur hidupku. Kau kenal Eyang Legar, Mayat Merah?!" tukas Jaka dengan suara berat.

"Eyang Legar?!" terkejut Mayat Merah mendengar ucapan Jaka. "Apa hubunganmu dengannya, Raja Petir? Bukankah Eyang Legar tokoh keji golongan hitam?" ucap Mayat Merah hendak memojokkan Jaka. "Tak perlu kau usik siapa Eyang Legar, Mayat

Merah. Yang perlu kau ketahui, Eyang Legar telah bertobat dari kesalahannya dan kau patut meniru jejaknya, bukan sebaliknya!" kilah Jaka. "Seperti pada Iblis Kali Asin dan Cakar Sakti. Aku pun akan memberi kesempatan pada kalian untuk kembali ke jalan yang benar. Meninggalkan segala keangkaramurkaan. Dan jika tidak berkenan, maka nyawa kalian akan segera menyusul nyawa Iblis Kali Asin dan Cakar Sakti yang telah lebih dulu melayat ke akhirat" lanjut Raja Petir.

"Apa?!"

Dewa Kaki Langit dan Mayat Merah terkejut mendengar ucapan Jaka. Keduanya tak yakin dengan ucapan lelaki berpakaian kuning keemasan yang berdiri di hadapannya.

"Jangan kaget Resumuka, Watu Indagu. Dua teman kalian memang sudah mampus lebih dulu. Dan sekarang giliran kalian!" kata Ki Winduta lantang.

"Kurang ajar! Pasti kau yang telah membinasakannya, Raja Petir. Kau harus menebus kematian mereka dengan nyawamu!" maki Watu Indagu.

"Kalian juga harus menebus nyawa Eyang Legar dengan nyawa kalian! Majulah kalian bersama!" tantang Raja Petir dalam puncak kemarahannya.

Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit merasakan hawa panas menjalar ke seluruh permukaan wajah. Gigi kedua tokoh sakti aliran hitam itu beradu satu sama lain.

"Maaf Ki Winduta, Ki Ranu. Kuminta kalian menjauhi pertarungan ini," pinta Jaka sopan.

Ki Winduta yang memang yakin dengan kemampuan lelaki muda berjuluk Raja Petir itu, segera mematuhi permintaannya. Sementara Ki Ranurota dengan langkah berat terpaksa mengikuti perbuatan Ki Winduta. Seiring dengan menjauhnya tubuh Ki Winduta dan Ranurota, serangan Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit bersamaan datang. 

Jaka yang telah meloloskan sabuk kuning keemasan yang bernama Sabuk Petir, tidak ingin bertindak setengah-setengah. Raja Petir merencanakan akan menyerang kedua lawannya dengan jurus pamungkas 'Petir Membelah Malam'. Maka ketika serangan Dewa Kaki Langit dan Mayat Merah meluncur datang, Jaka segera memutar pergelangan tangannya. Dan seketika itu juga, Sabuk Petir yang berada di tangannya berkelebat cepat

Ctar! Blaaar...!

Terkejut hati Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit menyaksikan kedahsyatan sabuk yang dilecutkan lawan. Langsung saja dua tokoh sakti golongan hitam itu membuang tubuh ke arah yang berlawanan.

Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit memang lawan Jaka yang tak patut dianggap enteng. Dalam keadaan menghindar seperti itu, keduanya mampu melancarkan serangan balasan dengan mempergunakan senjata rahasia mereka.

"Hih!"

Wuuut! Wuuut! Wuuut! Wusss!

Tiga bilah pisau pipih dan serangkum angin kemerahan yang keluar dari 'Pukulan Mayat Hidup' Watu Indagu, meluruk keras ke arah Jaka. Pisau-pisau pipih yang dibaluri racun ganas, dirasakan pemuda itu menebar hawa dingin yang membuat tubuhnya menggigil. Sedang serangkum sinar kemerahan menyebarkan bau amis yang memaksanya ingin mengeluarkan isi perut Raja Petir yang sudah terlatih menghadapi segala jenis senjata beracun, tidak merasa gentar sedikit pun. 

Hanya dengan mengerahkan kekuatan batinnya dan diiringi pengerahan tenaga dalam penuh, bagianbagian tubuh Jaka seketika terbungkus sinar kuning, yang tercipta dari ajian yang bernama aji 'Kukuh Karang'. Dan ketika pisau serta serangkum angin kemerahan menerjang tubuh pemuda itu, maka....

Pletak! Prefsss!

Pisau-pisau pipih itu terpental balik dengan keadaan patah dua. Sedang serangkum sinar kemerahan hilang tertelan sinar kuning yang membungkus bagian tubuh Jaka.

Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit terkejut menyaksikan pemandangan di hadapannya. Tetapi tidak berlangsung lama, karena Jaka telah melancarkan serangan balasan yang cukup cepat dan dahsyat

"Hiaaa!"

Wusss....

Ketika menghadapi serangan balasan Raja Petir, Mayat Merah membentengi diri dengan ilmu 'Benteng Kubur' dan Dewa Kaki Langit melindungi tubuhnya dengan ilmu 'Menjala Badai'. Namun, tak urung pukulan dahsyat yang dilancarkan Jaka mendobrak pertahanan mereka.

Glaaar. !

Tubuh Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit langsung terpental, terhajar angin bergulung yang keluar dari telapak tangan Raja Petir, yang memainkan jurus 'Hembusan Maut'.

Pekik kesakitan terdengar mengiringi ambruknya tubuh Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit Daya tahan tubuh Resumuka dan Watu Indagu memang pantas diacungkan jempol. Meski tubuhnya terhajar pukulan jarak jauh yang sanggup memecahkan batu karang, namun keduanya tetap berusaha bangkit, meskipun terhuyung-huyung.

Jaka sengaja tidak kembali menyerang. Karena pemuda itu tahu, setiap orang yang terkena pukulan 'Hembusan Maut', maka dalam waktu yang tidak lama akan binasa.

Tetapi tidak demikian dengan Ki Winduta dan Ranurota. Ketika melihat Mayat Merah dan Dewa Kaki Langit bangkit kembali, maka kedua lelaki itu segera melesat cepat, seraya melepaskan senjata masingmasing dengan kekuatan tenaga dalam penuh.

Siiing! Siiing! Crab! Crab!

Sebilah pedang dan sebatang tombak yang dilempar Ki Winduta dan Ranurota menancap tepat di perut dan kepala Dewa Kaki Langit serta Mayat Merah. Kedua lelaki tokoh golongan hitam itu tersungkur ke tanah. Dan pekik kematian yang bersamaan mengiringi habisnya umur Resumuka dan Watu Indagu.

"Hhh"

Ki Winduta menarik napas berat menyaksikan dua tokoh sesat itu sudah tidak bernyawa lagi. Dan Jaka tidak bisa menyalahkan apa yang dilakukan Ki Winduta dan Ki Ranurota.

"Sebaiknya kalian urus mayat-mayat itu, Ki Windu. Maaf, aku masih mempunyai urusan lain yang harus segera kuselesaikan. Jadi aku tak bisa membantu Aki berdua mengurus mayat-mayat itu," ucap Jaka.

"Tidak mengapa, Jaka. Aku berterima kasih sekali atas bantuanmu. Entah kapan aku dapat membalas kebaikanmu," ucap Ki Winduta.

"Tidak usah dipikirkan mengenai balas budi itu, Ki. Suatu saat aku pasti mendapatkannya dari orang lain," kilah Jaka. 

"Baiklah Ki Windu, Ki Ranu. Aku mohon diri!"

"Hop!"

Tubuh Raja Petir segera melesat meninggalkan Ki Winduta dan Ranurota. Dua lelaki itu hanya bisa menatap punggung Jaka sekilas. Tubuh tokoh muda yang memiliki kesaktian tinggi itu lenyap di balik pepohonan yang berjajar.

Jaka semakin mempercepat lari. Pemuda itu ingin secepatnya menemui Nyi Selasih yang beberapa hari lalu hadir dalam mimpinya. Nyi Selasih berpesan, agar Jaka segera mengunjunginya untuk suatu keperluan yang menyangkut warisan mendiang Raja Petir.

Warisan apakah yang masih dimiliki mendiang Raja Petir? Benarkah Jaka akan memperoleh suatu warisan yang lebih dahsyat lagi daripada yang sudah dimilikinya selama ini?

Bagi para pembaca yang ingin mengetahui, silakan ikuti serial Raja Petir selanjutnya, dalam episode 'Sengketa Pewaris Tunggal'.
SELESAI