Serial Raja Petir eps 08 : Ratu Sihir Puri Ular

SATU
Angin pagi yang bertiup sepoi-sepoi terasa begitu sejuk. Matahari yang belum begitu tinggi mulai bersinar menghangatkan pagi. Sehingga suasana pagi begitu indah untuk dinikmati. Seorang lelaki tampan berusia sekitar enam belas tahun nampak mengayun langkahnya perlahan menikmati suasana pagi. Sementara, tak jauh dari lelaki muda bernama Abimanyu itu empat orang lelaki yang usianya berkisar antara dua puluh delapan sampai tiga puluh tahun berjalan mengiringi di belakang.

"Ah, alangkah indahnya pagi ini, Paman Ludita," ujar Abimanyu sambil menebar pandangan ke sekeliling daerah yang tengah dilewatinya.

"Ya, Raden. Aku pun merasakan keindahan pagi ini," sahut lelaki berambut rapi dan berpakaian kuning gading. Mata lelaki berusia tiga puluh tahun yang bernama Ludita juga mengitari daerah itu.

Dari kejauhan nampak sebuah bangunan berdiri kokoh. Dilihat dari bentuknya, bangunan yang cukup indah itu mirip sebuah puri. Namun, keindahan bangunan itu tak sepenuhnya dapat dinikmati lima lelaki yang tengah berjalan perlahan, karena jarak mereka dengan bangunan itu cukup jauh.

Namun, ketika Abimanyu dan keempat pengawalnya tengah terlena dalam suasana keindahan pagi itu, tiba-tiba dari balik semak-semak muncul tiga ekor ular belang menghadang perjalanan mereka, tentu saja kelima lelaki itu terkejut. Ular-ular itu mendesis, bahkan mulai berdiri seperti hendak menantang musuhnya untuk berkelahi.

Zzzssst... zzzssst... zzzssst.... Abimanyu nampak kesal menyaksikan tingkah tiga ekor ular yang menghadang perjalanannya. Seketika tangan lelaki berpakaian hijau itu bergerak cepat ke punggung. "Hih!" Srat!

Sebatang pedang yang telah lolos dari warangka-nya kini tergenggam di tangan Abimanyu. Pedang itu nampak berkilau-kilau tertimpa cahaya matahari.

"Untuk apa kau keluarkan pedangmu, Raden?" tanya Ludita dengan tatapan mata lurus ke wajah putra bungsu Ki Suteja.

Abimanyu membalas tatapan mata Ludita. “Tentu saja untuk mengusir ular-ular itu, Paman," sahut Abimanyu.

"Jangan,  jangan  bunuh  ular-ular  itu,  Raden!

Kalau hanya mengusir, aku setuju," nasihat Ludita. "Hmmm.... Aneh Paman Ludita ini," balas Abimanyu. "Ular-ular itu berbisa, Paman. Aku harus membinasakannya," lanjutnya, seolah tidak setuju dengan nasihat Ludita.

"Jangan, Raden! Lebih baik usir saja ular-ular itu! Lihatlah, mereka nampak hanya menakut-nakuti kita," sekali lagi Ludita melarang tindakan Abimanyu.

"Tidak, Paman! Harus kubunuh mereka," tolak Abimanyu.

Tubuh Abimanyu seketika melompat begitu cepat. Pedangnya yang terhunus juga berkelebat cepat menebas ular-ular yang mulai mendekatinya. 

"Hiaaa...!"

Teriakan keras mengiringi sabetan pedang Abimanyu.

Srat! Srat! Srat!

Kepala ketiga ular seketika putus terpenggal pedang Abimanyu. Kepala ular-ular itu berpentalan ke tiga arah. Seketika itu pula darah mengucur membasahi tanah dan pedang Abimanyu.

Setelah membersihkan dari darah ular, Abimanyu segera memasukkan kembali pedangnya ke warangka yang tersampir di punggung.

"Hei! Kenapa Paman sekalian terbengong seperti itu? Apa Paman kecewa atas kematian ular-ular berbisa itu?" tanya Abimanyu ketika melihat keempat pengawalnya diam terpaku.

"Ah... tidak, Raden," jawab Ludita, meskipun tiba-tiba hatinya dijalari suatu perasaan aneh. Jantungnya dirasakan berdetak lebih cepat. Seperti ada suatu firasat buruk bakal terjadi, dirasakan dalam hatinya.

"Kalau begitu, mari kita teruskan perjalanan ini!" putus Abimanyu.

Abimanyu segera melangkah, diikuti Ludita dan tiga lelaki lain yang berpakaian putih. Namun, baru dua langkah mereka berjalan, tiba-tiba dari balik semak-semak yang berjejer di tepi jalan yang mereka lewati, muncul seekor ular hijau lurik yang cukup besar.

Tentu saja Abimanyu sangat terkejut menyaksikan ular besar yang menghadang perjalanannya. Begitu juga dengan Ludita dan ketiga lelaki lainnya. Perasaan tak enak semakin menjalari hati mereka.

"Rupanya kau juga ingin mampus!" teriak Abimanyu seraya meloloskan pedang dari warangkanya.

Srat!

'Tahan, Raden! Jangan bunuh ular itu!" larang Ludita sambil mencekal pergelangan tangan Abimanyu yang siap menebas leher ular hijau lurik di hadapannya.

Abimanyu terkejut mendengar larangan Ludita. Namun lebih terkejut lagi, ketika menyaksikan kemunculan puluhan ular besar-besar yang diikuti ratusan ular kecil. Kini ratusan ular. memenuhi jalan selebar dua batang tombak yang dilewatinya.

"Ah! Firasat buruk di hatiku benar-benar terbukti, Raden," ujar Ludita seperti menyadari kembali firasatnya yang tadi mengganggu hatinya.

Abimanyu tak menghiraukan ucapan Ludita. Matanya terbelalak menyaksikan ratusan ular yang menghadang di depannya.

"Semenjak kemunculan tiga ular yang Raden bunuh tadi, hatiku sudah merasa tak enak," tegas Ludita lagi. "Aku sudah melarangmu membunuh ketiga ular tadi, Raden. Tapi kau menolaknya."

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Paman?" tanya Abimanyu dengan suara bergetar. Abimanyu seperti tengah dicekam rasa takut.

"Kalau ular-ular itu menyerang, terpaksa kita gunakan senjata untuk mengusir mereka," jawab Ludita.

"Aaah....".Abimanyu menarik napas dalamdalam setelah mendengar jawaban Ludita.

"Bersiaplah untuk menghadapi segala kemungkinan itu, Raden," saran Ludita sambil mengangkat golok besarnya.

Apa yang dilakukan Ludita juga dilakukan tiga pengawal yang lain. Mereka telah bersiap-siap dengan senjata golok terhunus. Tidak lama kemudian, tiba-tiba beberapa ekor ular yang berada di hadapannya bergerak menyerang.

"Hati-hati, Raden!" Ludita memperingatkan Abimanyu.

Tubuh Ludita yang terbalut pakaian kuning gading itu seketika bergerak cepat menebas-nebaskan golok besarnya ke arah kepala ular yang hendak memagutnya. Begitu cepat gerakan yang dilakukan Ludita, hingga dalam sekejap saja lima ular telah tergeletak tanpa kepala di atas tanah yang masih agak basah karena embun.

Abimanyu dan tiga pengawalnya yang berpakaian putih juga melakukan hal yang sama. Gerakangerakan senjata mereka yang begitu cepat, tepat pada sasarannya. Sehingga dalam sebentar saja, tanah di sekitar tempat kejadian berubah merah. Tubuh-tubuh ular tanpa kepala terlihat bergelimpangan.

"Hiyaaa...!"

Teriakan-teriakan masih terdengar mengiringi, sabetan pedang dan golok mereka. Cras! Cras!

Ular-ular besar dan kecil kembali jatuh bergelimpangan, terhajar senjata lima lelaki yang terus bergerak cepat. Namun sekali lagi, kelima lelaki itu terkejut bukan kepalang. Mereka menyaksikan sendiri, ular-ular itu seperti tak berkurang jumlahnya. Pada hal, bangkai-bangkai ular semakin bertumpuk.

"Ahhh"

Ludita menarik napas panjang. Meski tubuhnya terus bergerak, pikiran lelaki itu tetap bekerja keras mencari jalan keluar agar terhindar dari marabahaya aneh yang tengah dihadapinya.

Tiba-tiba seekor ular bergerak hendak menyerang. Dan Tuk!

Mulut ular itu berhasil memagut mangsanya.

"Aaa...!"

Lengking kematian seketika memecah suasana pagi itu, ketika salah seorang pengawal Abimanyu terpagut seekor ular yang cukup besar. Tubuh lelaki itu menggelinjang sesaat, tak lama kemudian mengejang kaku. Seluruh permukaan kulit lelaki berpakaian putih itu membiru. Namun segera disusul lagi keanehan yang tak masuk akal.

Blaaars!

Tubuh pengawal yang mati terpagut ular meletus, menimbulkan bunyi yang cukup keras. Dari perut pengawal yang pecah itu seketika bermunculan ular-ular sebesar lengan bocah berumur dua tahun. Ludita, Abimanyu, dan dua pengawal yang menyaksikan kejadian itu, tertegun keheranan. Hati mereka semakin panik dan takut.

"Aaa...!"

Abimanyu terpekik menyaksikan kejadian itu. Apalagi, ketika melihat tubuh pengawal yang mati itu tiba-tiba berubah menjadi ular putih yang cukup besar. Ular jelmaan itu kini berdiri seperti menantang.

"Cepat tinggalkan tempat ini, Raden! Ayo Kardala, Wiluji!" perintah Ludita pada Abimanyu dan dua pengawalnya.

Tanpa membuang waktu, Ludita, Abimanyu, Kardala dan Wiluji membalikkan tubuh cepat, segera kaki-kaki mereka menghentak tanah kuat-kuat.

Mereka melesat cepat meninggalkan ratusan ular yang semakin ganas hendak menyerang. Namun, ternyata ratusan ular ganas itu seolah-olah tidak membiarkan musuhnya lolos. Mereka terus bergerak memburu keempat lelaki itu.

"Heh?!"

Abimanyu, Ludita, Kardala, dan Wiluji tersentak bukan main. Serentak mereka terhenti. Pikiran masing-masing masih diliputi keganjilan kejadian ini.

"Ini betul-betul aneh, Raden," ucap Ludita seperti berbisik. "Pasti ada orang sakti yang mengendalikan ular-ular itu."

"Maksud, Paman?" tanya Abimanyu.

"Orang sakti yang berniat membinasakan kita dengan ular-ular itu," terka Ludita.

"Ahhh...!"

Abimanyu mendesah perlahan, wajahnya seketika berubah pucat. Baru kali ini lelaki berusia enam belas tahun itu dicekam ketakutan yang teramat sangat.

"Rasanya kita tak mungkin dapat meloloskan diri, Paman," ucapan bergetar keluar dari mulut putra bungsu Ki Suteja, Kepala Desa Gatareja.

"Entahlah," jawab Ludita pasrah.

Sesaat kemudian, tiba-tiba sekelompok. ular besar yang telah menghadang, bergerak perlahan menghampiri Abimanyu, Ludita, Kardala, dan Wiluji.

Abimanyu mencoba menoleh ke belakang, namun hatinya kembali tersentak menyaksikan segerombolan ular kecil dan tanggung juga tengah bergerak mendekatinya. Lutut Abimanyu seketika bergetar hebat. Peluhnya dirasakan telah membasahi seluruh pakaiannya.

Zzzssst.. Zzzssst...

"Bersiaplah, Raden!" perintah Ludita sambil tangannya mengacungkan golok.

Ludita mulai bergerak cepat menebas-nebaskan golok besarnya. Berkali-kali goloknya menghantam tepat ular-ular yang berada di hadapannya. Namun, usahanya itu hanya sia-sia. Tubuh ular-ular itu ternyata kebal terhadap sabetan senjata.

Apa yang dialami Ludita, dialami juga Abimanyu, Kardala, dan Wiluji. Mereka begitu tercengang menyaksikan kekebalan kulit ular-ular itu. Dalam ketercengangan mereka, tiba-tiba seekor ular bergerak begitu cepat. Bagaikan terbang ular itu memagut leher Kardala yang tak sempat mengelak. Tuk! "Aaa...!"

Tubuh Kardala terpelanting ketika pagutan ular itu mendarat tepat di lehernya. Seketika tubuhnya tak berkutik lagi. Kejadian serupa kembali disaksikan Abimanyu. Tubuh Kardala meletus, dan dari perutnya bermunculan ular-ular sebesar tangkai golok. Lalu tubuh Kardala berubah menjadi ular yang cukup besar.

Zzzssst...;

Ular jelmaan tubuh Kardala mendesis keras, bergerak mendekati Ludita. Meskipun hanya gerakan perlahan, ular itu menghampiri lelaki berpakaian ku ning gading, namun cukup membuat keder hati Ludita.

Merasa jiwanya terancam marabahaya, dengan segenap keberaniannya Ludita mencelat cepat sambil mengayunkan senjatanya di udara.

"Hiyaaa...!"

***
DUA
Tubuh Ludita yang seperti terbang, dengan cepat menebaskan senjatanya.

Trak! '

Golok besar Ludita mendarat di leher ular yang paling besar. Tapi....

"Aaakh!"

Ludita terpekik keras. Tubuhnya seketika terlempar ketika golok besarnya mendarat telak di leher ular besar jelmaan tubuh Kardala. Dengan kemampuannya, Ludita mampu mempertahankan tubuhnya dan kembali melejit dengan senjata yang siap ditebaskan ke bagian mata ular besar itu.

"Hiaaa...!"

Teriakan menggelegar mengiringi sabetan golok Ludita. Crak!

Golok Ludita yang ditebaskan ke mata ular besar itu tepat pada sasarannya. Tetapi di luar dugaan, golok yang menancap pada mata ular tak dapat ditarik lagi. Ludita telah mengerahkan tenaga dalam untuk mencabut senjatanya, tetapi tak berhasil juga.

Tubuh ular besar itu malah bergerak naik dan membelit tubuh Ludita. Ludita mengerti gerakan ular yang semacam itu, tapi karena kakinya juga tersangkut ular lain. Seketika itu juga tubuh Ludita terpelanting ke tanah. Dan ular yang jelmaan tubuh Kardala itu dengan leluasa membelit tubuh Ludita. Begitu kerasnya belitan ular besar itu, Ludita merasakan tubuh tergencet kuat.

Krrrk... krk...!

Tulang-tulang Ludita seketika bergemeretak ketika ular besar itu semakin merapatkan belitannya. Lengking kematian dari mulut Ludita pun membumbung tinggi, membuat Abimanyu dan Wiluji semakin tercekam ketakutan.

"Ular Setan!" Abimanyu mengumpat sebisanya. Ratusan ular itu kini bergerak perlahan mendekati Abimanyu. Lelaki berumur enam belas tahun itu kini terpuruk ke tanah dengan dua kaki yang terlipat.

Sementara Wiluji berdiri dengan benak bertanya-tanya. Sungguh dirinya tak dapat mengerti mengapa ular-ular yang jumlahnya ratusan itu tak satu pun yang menghampirinya, apalagi memagutnya. Wiluji tersentak melihat ular-ular besar dan kecil telah mengelilingi tubuh Abimanyu. Apalagi ketika badan keempat ekor ular yang besar bergerak mengangkat tubuh Abimanyu.

Abimanyu begitu ketakutan mendapatkan perlakuan aneh ular-ular itu. Dirinya juga merasa bingung dan tak mengerti, ketika tiba-tiba ada suatu pengaruh aneh merasuk ke tubuhnya. Sehingga tak ada sedikit pun upaya dari dirinya melompat dari tubuh ular-ular besar itu, untuk membebaskan diri.

Sementara, Wiluji yang menyaksikan kejadian itu tak dapat berbuat apa-apa, selain hanya menatap tubuh Abimanyu yang diusung empat ekor ular besar dan ratusan ular-ular tanggung dan kecil yang seperti menggiring dari belakang. Bagaikan sebuah arak-arakan yang membawa suatu persembahan.

Akhirnya, tubuh Abimanyu lenyap di sebuah tikungan jalan bersama arak-arakan ular yang mengerikan itu.

"Aaah...!"

Wiluji pun menghela napas, seperti merasa lega. Tatapan mata Wiluji kini beralih pada tubuh Ludita yang terkulai lemas tak bernyawa. Tubuh lelaki kepercayaan Ki Suteja seperti tak bertulang. Belitan ular besar telah menyebabkan seluruh tulang tubuh Ludita remuk.

Wiluji bergerak perlahan menghampiri tubuh Ludita. Diangkatnya tubuh yang sudah remuk tulang belulangnya itu.

"Ah, kasihan kau, Ludita," batin Wiluji.

Lelaki berpakaian putih itu pun segera meninggalkan tempat kejadian yang penuh dengan bangkai ular, serta darah yang berceceran di tanah. Wiluji akan melaporkan kejadian aneh yang sangat mengerikan tadi kepada Ki Suteja, Kepala Desa Gatareja yang juga ayah Abimanyu.

***

Sementara itu, arak-arakan ular yang membawa Abimanyu terus bergerak. Abimanyu tak berdaya untuk berbuat banyak, ketika ular-ular mengerikan itu terus mengusung tubuhnya menuju sebuah bangunan tua yang masih terlihat kokoh. Warna putih bangunan tua itu telah berubah kusam dan abu-abu. Semakin dekat nampak jelas, bangunan itu mirip sebuah puri pemujaan.

Keempat ular besar pengusung tubuh Abimanyu tiba-tiba merendahkan tubuh ketika mereka tiba di pintu gerbang utama bangunan itu. Perbuatan yang dilakukan empat ekor ular besar itu ternyata diikuti semua ular yang turut mengiringi arak-arakan itu. Seperti ada yang memerintah binatang melata itu, semua merunduk seolah-olah sedang memberikan suatu penghormatan.

Zzzssst...

Suara desisan yang panjang dari ratusan bahkan ribuan ular begitu berisik merasuk ke telinga.

"He he he"

"Hik... hik... hik...!" tiba-tiba suara tawa aneh ter-dengar dari kejauhan.

"Bawa Bocah Bagus itu masuk!" seperti menggema dari jarak jauh suara itu terdengar Abimanyu,

Abimanyu masih merasakan bingung dan aneh di benaknya. Sejurus lamanya Abimanyu mencoba mencari dari mana suara itu datang? Namun hanya sia-sia, Abimanyu tak menemukan tempat suara itu muncul.

Ular-ular besar yang mengusung tubuh Abimanyu, serempak menjalankan perintah itu. Binatangbinatang itu seolah benar-benar memahami ucapan yang terdengar tanpa sosok yang memerintahnya.

Zzzssst...

Suara-suara desisan panjang yang menggiriskan kembali terdengar. Zzzssst...

Tubuh Abimanyu kembali terangkat. Perlahan ular-ular besar itu bergerak menaiki anak tangga bangunan puri yang cukup tinggi. Di belakang mereka barisan panjang ular-ular kecil masih mengiringi.

"Hik... hik... hik! Selamat datang, Bocah Bagus. Selamat menikmati keadaan puri yang indah ini," sapa seseorang seiring dengan terbukanya pintu utama puri.

Mata Abimanyu terbeliak menyaksikan dua orang perempuan berpakaian cukup aneh, yang terbuat dari kulit ular. Di tangan kedua perempuan itu melilit dua ekor ular yang lidahnya menjulur dan menimbulkan desis mengerikan.

Seorang perempuan tua berusia sekitar tujuh puluh lima tahun menghampiri Abimanyu dengan tangan yang terulur. Karuan saja Abimanyu merasa takut bukan kepalang.

Ketika tangan perempuan tua menjulur hendak menyambut Abimanyu, seekor ular besar yang melilit pinggangnya, berpindah tempat. Kini ular besar itu melilit di pinggang Abimanyu.

"Hik... hik... hik.... Kau tak perlu takut, Bocah Bagus. Dia tidak galak pada orang yang disukainya," ucap perempuan tua itu mantap. "Ular itu malah akan menjadi gurumu," lanjut perempuan yang seluruh kulit mukanya sudah keriput. Abimanyu dapat menanggapi ucapan perempuan tua di hadapannya. Matanya sibuk melihat ular hijau kemerahan yang melilit di pinggangnya.

"Hik.., hik... hik.... Ternyata kau masih takut juga, Bocah Bagus. Baiklah, nyai akan memindahkan ular itu dari pinggangmu."

Perempuan tua itu bergerak meraih ular yang membelit pinggang Abimanyu.

"Bagaimana, kau sudah tidak takut lagi, bukan?" tanya perempuan tua itu.

Abimanyu diam tak menjawab pertanyaan perempuan di hadapannya. Mata lelaki berusia enam belas tahun itu hanya menatapi keadaan perempuan tua penghuni puri. Perempuan itu sudah cukup tua. Rambutnya yang panjang memutih tergelung tak teratur.

Dan tangannya memakai gelang-gelang dari akar pohon membuat keadaannya bertambah angker.

"Untuk apa kalian membawaku ke tempat ini?" Tiba-tiba  mulut  Abimanyu yang  sejak tadi ba-

gaikan terkunci, melontarkan sebuah pertanyaan. "Hik...  hik...  hik....  Itu  yang  ku  maui, Bocah

Bagus. Sejak tadi nyai menunggu. suaramu keluar, dan ternyata suaramu begitu gagah kedengarannya," ujar perempuan tua. 

Wajah perempuan yang nampak sangat angker itu, berubah agak cerah ketika mendengar suara Abimanyu.

Abimanyu mengangkat alisnya sedikit mendengar pujian perempuan tua di hadapannya.

"Sebelum nyai menjawab pertanyaanmu, ada baiknya nyai memperkenalkan diri. Hik... hik... hik....

Kau boleh memanggilku dengan sebutan Ratu Ular atau boleh juga Nyi Kumalarani. Sebab julukan Ratu Ular sebentar lagi akan berpindah pada cucu kesayangan ku," ujar perempuan yang bernama Nyi Kumalarani.

"Kemarilah kau, Ambar," Nyi Kumalarani memanggil seorang gadis berusia tak lebih dari enam belas tahun.

Tanpa membantah, gadis cantik itu menghampiri Nyi Kumalarani. Ketika itulah Abimanyu melihat kalau gadis itu pun memiliki keanehan yang serupa. Kepala gadis cantik yang seharusnya ditumbuhi rambut, kini malah ditumbuhi ular-ular kecil hitam pekat. Ular-ular kecil itu terus bergerak-gerak seperti rambut yang terhembus angin.

"Cucuku ini bernama Dewi Ambar Sari, Bocah Bagus. Kelak dialah yang akan menyandang gelar Ratu Ular. Akan tetapi Dewi Ambar Sari harus bersuami lebih dulu sebelum menyandang gelar itu," jelas Nyi Kumalarani.

Abimanyu mendengarkan penjelasan Nyi Kumalarani dengan perasaan tak menentu. Pikirannya sudah dapat mengambil kesimpulan maksud Nyi Kumalarani membawanya ke tempat itu. Dirinya akan dijadikan suami Dewi Ambar Sari.

"Kau bersedia menjadi pendamping hidup Ambar, Bocah Bagus?" tanya Nyi Kumalarani.

Merah padam wajah Abimanyu mendengar pertanyaan itu, dirinya tak tahu harus menjawab apa.

"Nyai tak memaksa kalau kau tak mau menjawabnya, Bocah Bagus. Karena biar bagaimanapun kau tetap akan kujadikan pendamping hidup cucuku," ujar Nyi Kumalarani. "O ya, nyai hampir lupa menanyakan namamu, Bocah Bagus. Siapa, Heh?"

Abimanyu menatap wajah tua Nyi Kumalarani. "Abimanyu, Nyi," jawab lelaki putra bungsu Ki Suteja.

"Abimanyu...?" ulang Nyi Kumalarani perlahan. "Hik,.. hik... hik.... Namamu bagus sekali, sesuai dengan wajahmu yang tampan dan tubuhmu yang padat berisi."

Abimanyu tak menghiraukan pujian Nyi Kumalarani Mata putra bungsu Kepala Desa Gatareja itu menatap wajah cantik Dewi Ambar Sari. Sungguh cantik wajah cucu Nyi Kumalarani, namun sayang, di balik kecantikannya tersembunyi keangkeran.

"Abimanyu, tinggallah kau di puri ular ini dengan tenang! Semua kebutuhan hidupmu sudah tersedia di sini! Dan paman-pamanmu itu akan mengajarimu cara hidup di puri ular ini. Kelak, kalau kau sudah mampu menyesuaikan diri dan mampu bersatu dengan kami di sini, barulah perayaan perkawinanmu dengan Dewi Ambar Sari dilaksanakan," ucap Nyi Kumalarani, sambil tangannya menunjuk ular yang ada di puri itu.

Abimanyu hanya tercenung mendengar ucapan itu. Hatinya merasa kaget mendengar sebutan paman terhadap empat ekor ular besar yang berada tak jauh darinya. Ular-ular itulah yang tadi mengusungnya ke puri ular ini.

"Ambar! Nyai ingin istirahat Kau layani Abimanyu baik-baik!" perintah Nyi Kumalarani.

Dewi Ambar Sari menganggukkan kepalanya perlahan, seketika ular-ular kecil di kepalanya pun seperti ikut mengangguk.

Perempuan tua yang juga berjuluk Ratu Ular itu berlalu dari hadapan Abimanyu dan Dewi Ambar Sari. Sejenak mata Abimanyu memandangi kepergian Nyi Kumalarani.

"Ayo ikut aku, Abimanyu!" ajak Dewi Ambar Sari setelah tubuh Nyi Kumalarani hilang di balik pintu kamarnya.

Hati Abimanyu semula merasa enggan menuruti ajakan gadis berambut ular di hadapannya, tapi beberapa kali gadis itu terus mendesak. Akhirnya dengan berat Abimanyu mengikuti langkah Dewi Ambar Sari.

***

Abimanyu terus melangkah di belakang gadis berambut ular memasuki ruangan-ruangan besar dalam puri itu. Hatinya masih terasa bergetar melihat ruangan-ruangan yang tampak angker.

"Ini kamarmu, Abimanyu. Masuklah dan selamat beristirahat!" ucap Dewi Ambar Sari sambil membuka pintu kamar.

Abimanyu melempar pandang ke dalam kamar yang remang-remang. Kamar itu hanya diterangi sebatang obor kecil yang menempel di dinding.

"Masuklah, Abi! Segala kebutuhan mu ada di dalam," ucap Dewi Ambar Sari sambil menyodorkan tangannya ke kamar itu.

Abimanyu belum juga bergerak menuruti perintah gadis itu. Matanya masih tetap memperhatikan keremangan kamar.

"Jadi lelaki jangan pengecut seperti itu, Abimanyu!" sentak Dewi Ambar Sari.

Sesaat Dewi Ambar Sari memandang wajah Abimanyu dalam-dalam. Kemudian gadis berpakaian kulit ular hijau lurik itu beranjak meninggalkan Abimanyu.

Abimanyu mendengar bentakan seperti itu tentu saja tak senang. Untuk membuktikan kalau dirinya bukanlah pengecut, seketika itu juga Abimanyu masuk ke kamar yang remang-remang dan agak pengap itu. Ketika kaki Abimanyu menginjak lantai kamar, yang pertama dilihatnya sebuah tempat tidur terbuat dari kayu jati ukir. Alas tempat tidur itu terbuat dari kulit ular. Hatinya kembali tergetar. Bulu kuduknya berdiri, dan tubuhnya merinding.

Namun, karena rasa lelah terasa di tubuhnya, Abimanyu bermaksud merebahkan diri di tempat tidur itu. Akan tetapi, baru saja Abimanyu meletakkan tubuh, tiba-tiba dirasakan sesuatu yang bergerak-gerak di punggungnya, seperti geliatan binatang yang tertindih. Abimanyu terkejut dan bangkit. Sambil berdiri diperhatikannya cermat-cermat alas tempat tidur itu. 

"Ha... ah!"

Abimanyu tersentak melihat ular-ular yang berjejer rapi. Baru disadarinya ular-ular itulah yang menjadi alas tempat tidurnya. Lalu, tiba-tiba terdengar suara....

"Tidurlah, Abimanyu! Jangan takut kepadanya! Ular-ular itu telah menjadi abdi mu sekarang. Kau bisa memerintahkan mereka keluar, kalau kau tak suka ular-ular itu berada di kamarmu," ucap sebuah suara cukup tegas.

Abimanyu mengenali suara itu. Sebuah suara yang tentu saja milik perempuan tua bernama Nyi Kumalarani. Akan tetapi Abimanyu tak tahu harus berbuat apa. Dirinya memang tak suka ular-ular itu berada dalam kamarnya, tapi untuk mengusir mereka, Abimanyu tak tahu harus berbuat apa.

"Keluarlah abdi-abdi Abimanyu!" perintah Nyi Kumalarani dari jauh.

Ular-ular yang semula berjejer di tempat tidur seketika bergerak satu demi satu. Dengan teratur cara ular-ular itu turun dari tempat tidur. Dan ketika semua sudah berada di bawah, ular-ular itu kembali membuat Abimanyu tercengang.

Zzzssst...

Suara-suara desisan terdengar. Zzzssst...

Ular-ular yang berjumlah lebih dari lima belas ekor itu seketika merundukkan kepalanya seolah memberi hormat dan salam pamit untuk meninggalkan ruangan junjungannya.

Zzzssst... Zzzssst...

Kembali ular-ular itu mendesis bersamaan dan ketika Abimanyu menganggukkan kepala, serempak ular-ular itu pergi meninggalkan kamar Abimanyu.

***
TIGA
Matahari senja yang tertutup mendung telah turun di sebelah barat. Angin yang berhembus terasa begitu lembab. Barangkali sebentar lagi akan hujan. Sesekali guntur terdengar di kejauhan. Di bawah langit yang mendung nampak seorang lelaki tengah berlari tidak begitu cepat. Di bahunya nampak terpanggul sosok tubuh tak bergerak.

"Kakang Wiluji!" tegur seseorang ketika lelaki berpakaian putih itu masuk ke pekarangan rumah yang pantas disebut sebuah padepokan.

Wiluji tak mempedulikan teguran orang itu. Wiluji terus bergerak masuk ke ruang utama Ki Suteja, Kepala Desa Gatareja.

Ki Suteja yang menyaksikan kedatangan Wiluji tanpa putra bungsunya, terkejut bukan main. Terlebih ketika menyaksikan mayat Ludita yang mengenaskan. "Perbuatan siapa ini, Wiluji?" tanya Ki Suteja

keras. "Di mana Abimanyu?!"

Wajah Ki Suteja seketika berubah merah padam. Matanya terbelalak, dan suaranya bergetar seperti menahan amarah. Langkahnya terburu-buru menyambut Wiluji.

Wiluji gelagapan mendengar pertanyaan Kepala Desa Gatareja, tak mampu menjawabnya. Nafasnya tersengal-sengal. Keringat membasahi seluruh tubuhnya.

"Ah, maaf Wiluji. Sesungguhnya apa yang terjadi?" tanya Ki Suteja kembali setelah menenangkan hatinya.

Setelah hatinya mulai tenang dan nafasnya teratur, Wiluji segera menceritakan kejadian yang dialami. Diceritakan semua, mulai dari awal Abimanyu membunuh tiga ekor ular yang menghadang perjalanannya hingga tubuhnya diusung empat ekor ular besar.

Beberapa lama Ki Suteja merenung setelah mendengar cerita Wiluji. Kepala Desa Gatareja itu seolah tengah berusaha mengingat sesuatu yang pernah dialami puluhan tahun silam.

Mungkinkah Ratu Ular yang menculik putra ku? Seperti yang pernah dilakukan terhadap anak perempuan Ki Rampal Lawu! Dan.... Apakah dia juga akan melakukan hal yang sama dengan Desa Kemuningwaru? Meratakan seluruh isi Desa Gatareja dengan tanah, batin Ki Suteja.

Hati lelaki berusia setengah baya itu kembali dicekam rasa khawatir dan kecemasan yang hebat.

Ki Suteja kembali menatap Wiluji yang nampak masih ketakutan. Tangan Kepala Desa Gatareja itu seketika terulur lalu menepuk bahu Wiluji.

"Sekarang kau boleh pergi Wiluji, dan tolong panggil anak-anakku yang lain ke mari," perintah Ki Suteja.

Wiluji segera menggeser duduknya sedikit, kemudian bangkit dan menjura hormat pada Ki Suteja.

"Baik, Ki. Saya akan panggilkan mereka," ucap Wiluji. Namun, baru saja Wiluji membalikkan badannya, nampak orang yang hendak dipanggilnya sudah datang tergopoh-gopoh diikuti beberapa orang lelaki Padepokan Gatareja.

"Di mana Adi Abimanyu, Wiluji?" tanya Wiranata.

"Kemarilah kalian bertiga, biarkan Wiluji pergi!" sahut Ki Suteja memutus pertanyaan Wiranata.

Wiranata, Randu, dan Nalanda tak segera menuruti perintah ayahnya. Ketiga putra Ki Suteja itu malah menatap wajah Wiluji yang nampak begitu pucat.

"Kau telah menceritakan kejadian yang sesungguhnya pada ayah, Wiluji?" tanya Randu.

Wiluji menganggukkan kepalanya perlahan. "Kau nampak begitu letih, beristirahatlah! Nanti kalau kuperlukan keterangan yang lebih rinci, kau akan kupanggil," lanjut Randu.

"Baik kang Randu," jawab Wiluji.

Randu, Wiranata, dan Nalanda tak lagi menghiraukan kepergian Wiluji. Mereka segera duduk menghadap ayahnya.

"Bagaimana ceritanya, Ayah?" tanya Wiranata tak sabar.

Ki Suteja menatap wajah putra nomor dua itu, wajah Kepala Desa Gatareja menampakkan segurat senyum yang samar-samar. "Kau belum juga meninggalkan kebiasaan buruk mu, Wira," ucap Ki Suteja pelan. 

"Kau selalu tergesa gesa jika ingin mengetahui sesuatu. Biasakanlah menghadapi segala persoalan dengan hati tenang. Tak ada persoalan yang tak dapat diselesaikan dengan hati tenang. Seperti kejadian yang menimpa adikmu dan Ludita, memerlukan ketenangan untuk menghadapinya," lanjut Ki Suteja.

"Sebenarnya apa yang terjadi atas Adi Abimanyu, Ayah?" tanya Randu hati-hati.

Ki Suteja menarik napas dalam-dalam, kemudian mulai menceritakan laporan yang didapat dari Wiluji. Sejenak mata lelaki berusia setengah baya itu menerawang jauh ke luar jendela. Benaknya kembali berputar mengingat kejadian belasan tahun silam, di mana seorang perempuan yang mengaku berjuluk Ratu Ular mengacau Desa Kemuningwaru dengan menculik putri tunggal Ki Rampal Lawu.

Setelah beberapa lama pikirannya melayang ke masa silam, lalu Ki Suteja menceritakan kejadian yang dialami Abimanyu pada Randu, Wiranata, dan Nalanda.

"Sangat aneh kejadian ini, Ayah," ujar Nalanda dengan dahi berkerut.

"Apa mungkin ada orang yang mampu memerintahkan binatang-binatang berbisa itu?" timpal Wiranata.

"Mungkin saja Adi Wira. Di dunia persilatan ini banyak tokoh sakti mampu melakukan hal-hal yang di luar jangkauan pikiran manusia," jawab Randu.

"Jadi, Kakang pun beranggapan, kejadian ini ada yang mendalanginya?" tanya Nalanda.

"Kira-kira begitu," jawab Randu.

Ki Suteja mendengarkan saja apa yang tengah dibicarakan ketiga anaknya. Namun begitu, pikirannya tetap berusaha mencari jalan keluar untuk mengatasi persoalan yang cukup rumit itu.

Dalam pikiran Kepala Desa Gatareja muncul sebuah keinginan untuk menemui Ki Caringin, sahabatnya yang tinggal di Bukit Beringin.

"Apakah Ayah bisa mengetahui siapa yang telah menculik Adi Abimanyu?" tanya Wiranata memutus rencana yang terlintas di benak Ki Suteja.

Ki Suteja menatap wajah Wiranata sejenak, sebentar kemudian mulutnya menyebutkan sebuah nama yang membuat terkejut hati ketiga putranya.

"Ratu Ular...?" tanya ketiga putra Ki Suteja hampir bersamaan.

Ketiganya memang tak pernah mendengar, apalagi menyaksikan sepak-terjang Ratu Ular. Namun, dari kejadian aneh yang dialami Abimanyu dan pengawalnya, mereka sudah dapat memastikan kesaktian Ratu Ular.

"Kejadian seperti ini juga pernah dialami sahabat ayah, Ki Rampal Lawu. Waktu itu Ki Rampal Lawu menjabat sebagai Kepala Desa Kemuningwaru. Anak tunggalnya perempuan. Kalau sekarang hidup, umurnya kira-kira sebaya Abimanyu. Wajah anak itu begitu cantik. Alasan itu yang mungkin membuat Ratu Ular menculiknya, atau mungkin perempuan tua tokoh golongan hitam itu mempunyai niat lain terhadap putri tunggal Ki Rampal Lawu," cerita Ki Suteja.

"Lalu apa yang dilakukan Ki Rampal Lawu terhadap Ratu Ular yang telah menculik putrinya, Ayah?" tanya Nalanda menyela cerita Ki Suteja.

"Rampal Lawu marah bukan main, namun upayanya untuk membebaskan putrinya hanya sia-sia. Kesaktian Ratu Ular yang jauh lebih tinggi membuat Kepala Desa Kemuningwaru tak berkutik. Dan ketika Ratu Ular membuat kekacauan yang lebih besar, Ki Rampal Lawu tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, akhirnya dirinya tewas bersama penduduk dan desanya yang rata dengan tanah," kisah Ki Suteja.

"Kejam!" ujar Wiranata dengan tangan terkepal. "Kita harus mendahului sebelum iblis jahanam itu menjarah desa kita, Ayah! Kita kerahkan seluruh murid Padepokan Gatareja untuk mengerahkan perempuan laknat itu!" lanjut Wiranata begitu marah.

"Benar Ayah, kita harus mencegah kejadian yang telah dialami Desa Kemuningsewu pada desa kita. Kita harus bergerak mendahului, sebelum iblis itu mengacau di sini," timpal Nalanda.

"Menurutmu bagaimana, Randu?" tanya Ki Suteja setelah mendengar ucapan Wiranata dan Nalanda yang ingin mengerahkan murid-murid Padepokan Gatareja untuk memusnahkan Ratu Ular.

"Aku rasa, Ayahlah yang lebih tahu bagaimana cara menghadapi Ratu Ular," jawab Randu mantap.

Ki Suteja kembali menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak setuju dengan keinginan Wiranata

dan Nalanda," ucap Kepala Desa Gatareja. "Karena, sudah dapat dipastikan kalau tindakan itu akan siasia. Ayah sudah dapat mengukur kemampuan muridmurid Padepokan Gatareja. Mereka tidak ada artinya jika dibanding dengan kesaktian si Ratu Ular. Meskipun jumlahnya ditambah sepuluh kali lipat," lanjut Ki Suteja.

"Sebegitu hebatkah kesaktian Ratu Ular itu, Ayah?" tanya Wiranata penasaran.

"Enam betas tahun silam Ratu Ular pernah membuat geger dunia persilatan dengan membinasakan tokoh-tokoh sakti golongan putih. Sekarang bisa kalian bayangkan, kesaktian si Ratu Ular itu sudah pasti mengalami kemajuan pesat."

Ketiga putra Kepala Desa Gatareja tercenung mendengar ucapan ayahnya. Nampak ketiga putra Ki Suteja saling berpandangan. Tanpa sepatah kata pun terlontar dari mulut mereka.

"Ayah akan membicarakan kejadian ini pada Ki Caringin. Mudah-mudahan dia bisa membantu mencari jalan keluarnya," ucap Ki Suteja.

"Aku setuju," potong Nalanda. "Dengan bantuan Ki Caringin barangkali kita bisa sama-sama melenyapkan si Ratu Ular itu," lanjut Nalanda.

"Tiga lelaki tua macam Ki Caringin kita kumpulkan, kesaktian Ratu Ular belum tentu tertandingi, Nalanda," papar Ki Suteja.

"Jadi, percuma saja Ayah datang menemuinya," selak Wiranata.

Ki Suteja tersenyum mendengar ucapan anaknya yang tanpa pikir panjang.

"Apanya yang percuma, Wira?" balas Ki Suteja. "Orang tua Ki Caringin amat kita butuhkan pendapatnya. Barangkali Ki Caringin punya gagasan atau cara menghadapi si Ratu Ular itu."

Nalanda dan Wiranata terdiam mendengar ucapan ayahnya. Hanya Randu yang kini nampak memandang wajah ayahnya.

"Jadi Ayah akan berangkat ke tempat Ki Cari ngin sekarang?" tanya Randu.

"Ya. Dan kau sebagai anakku yang paling tua kuharap dapat mengawasi semuanya, selama kepergian ayah ke tempat Ki Caringin. Kau juga awasi gelagat kurang baik tiap tamu yang cuma numpang lewat atau berniat bermalam di desa kita ini!" pesan Ki Suteja seraya menepuk bahu Randu, putra sulungnya.

"Baik, Ayah. Akan kulaksanakan pesan Ayah," jawab Randu.

Ki Suteja pun berangkat ke kediaman Ki Cari ngin setelah terlebih dulu berpesan pada Wiranata dan Nalanda. Kepala Desa Gatareja itu terus bergerak, sementara hari sudah senja. Dan sebentar lagi malam akan tiba.

Sepeninggal ayahnya, Randu, Wiranata, dan Nalanda belum juga beranjak dari ruangan Ki Suteja. Mereka nampak sedang berpikir, mencari jalan keluar untuk menyelamatkan Abimanyu.

"Aku jadi semakin penasaran, Kakang Randu," ucap Wiranata. "Seperti apa hebatnya Ratu Ular itu hingga ayah melarang kita menyatroni sarangnya, meski kita membawa seluruh murid Padepokan Gatareja yang jumlahnya tidak sedikit. Hampir delapan puluh orang, kurasa itu jumlah yang tidak sedikit."

"Betul. Aku setuju dengan pendapat Kakang Wiranata. Delapan puluh orang jumlah yang cukup banyak, apalagi mereka semua bukan orang-orang yang tak kenal ilmu silat. Perkembangan ilmu mereka cukup cepat. Bukankah Kakang Randu lebih tahu hal itu?" timpal Nalanda.

"Ayah lebih tahu bagaimana kita sebaiknya bersikap," tolak Randu halus.

"Huh! Aku lebih suka kita langsung menyerang sarang si Ratu Ular itu," bantah Wiranata.

"Sebaiknya, kita jangan bertindak sebelum ada perintah dari ayah," larang Randu.

Lelaki putra tertua Ki Suteja itu berlalu meninggalkan kedua adiknya. Langit di atas Desa Gatareja sudah mulai gelap sebagai pertanda hari sebentar lagi malam. Nalanda bergegas menyusul langkah Randu, sementara Wiranata bergerak sambil mengepalkan tinju seperti tidak puas dengan keputusan Randu.

***

Lelaki tua berusia tak lebih dari enam puluh tahun nampak mengerutkan dahinya. Lelaki berpakaian putih yang tak lain adalah Ki Caringin menatap wajah Ki Suteja lekat-lekat.

"Kau tidak bergurau, Adi Teja?" tandas Ki Caringin memastikan.

"Kakang pikir, aku mengunjungi tempat ini hanya untuk bergurau?" jawab Ki Suteja pelan.

"Lalu, dari mana bisa kau pastikan kalau yang menculik anak bungsu mu itu si Ratu Ular?" selidik Ki Caringin.

"Dari Wiluji, abdi setia ku dan dari mayat Ludita yang tulang-belulangnya remuk karena lilitan ular besar," jawab Ki Suteja.

"Hmmm Apa cerita Wiluji bisa dipercaya?"

"Kurasa begitu, Kakang. Sejauh pengamatanku, Wiluji seorang yang setia dan jujur. Apa Kakang tidak yakin kalau Ratu Ular akan muncul lagi mengacau dunia persilatan seperti enam belas tahun silam?"

"Setelah belasan tahun tak terdengar namanya, bukan hal yang tidak mungkin kalau Ratu Ular kini muncul lagi untuk menyemarakkan dunia persilatan," ucap Ki Caringin. "Sudah enam belas tahun Ratu Ular menyepi di tempatnya, setelah membawa lari anak perempuan Ki Rampal Lawu yang masih bayi. Sekarang perempuan itu muncul lagi dan menculik Abimanyu. Ah! Apakah usia Abimanyu sekarang ini enam belas tahun, Adi Teja?"

"Betul, Kakang."

"Kau bisa menyimpulkan kejadian enam belas tahun silam dengan kejadian sekarang?" tanya Ki Caringin seperti dapat gambaran jelas.

"Maksud Kakang Ki Caringin?"

"Dugaanku, anak Rampal Lawu yang diculik enam belas tahun lalu kini masih berada di tangan si Ratu Ular. Sudah tentu sifat anak Rampal Lawu sama persis dengan sifat kebinatangan si Ratu Ular. Karena si Ratu Ular mungkin telah menganggap anak Rampal Lawu sebagai cucunya, bahkan sebagai anak. Dan sekarang Abimanyu diculiknya untuk mendampingi hidup anak Rampal Lawu. 

Sebelumnya, Abimanyu akan dididik agar memiliki sifat kebinatangan seperti Ratu Ular dan anak Rampal Lawu. Baru setelah itu, keduanya dijodohkan. Dengan demikian cita-citanya untuk mengembangkan keturunan Ratu Ular akan tercapai. Maka setiap tahun atau mungkin setiap bulan akan lahir Ratu Ular yang baru," Ki Caringin menguraikan gagasan yang muncul dalam benaknya.

Dugaan Ki Caringin diterima Ki Suteja. Lelaki setengah baya pimpinan Desa Gatareja itu nampak termenung setelah mendengar penjelasan sahabatnya.

"Kita harus bertindak, Kakang. Aku tidak ingin Abimanyu dijodohkan dengan anak Rampal Lawu itu," ucap Ki Suteja cemas.

"Itu baru dugaanku, Adi Teja. Kau jangan terlalu cemas," cegah Ki Caringin.

"Dugaanmu masuk jalan pikiranku, Kakang Caringin," tukas Ki Suteja.

"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Ki Caringin.

"Aku tak tahu harus berbuat apa, karena itulah aku datang ke sini."

"Kesaktian Ratu Ular bukanlah tandingan orang-orang macam kita yang hanya kenal ilmu olah kanuragan secara kasar. Kalaupun kita mengadakan perlawanan untuk merebut Abimanyu, kurasa itu hanya hal yang sia-sia belaka. Ilmu yang dimiliki Ratu Ular sungguh luar biasa. Tokoh-tokoh sakti sekalipun sulit untuk menandinginya. 

Sekarang tindakan yang patut hanya-lah menunggu perkembangan. Kalau niat Ratu Ular menculik Abimanyu hanya untuk dijodohkan dengan anak Rampal Lawu, kemungkinan besar Desa Gatareja terhindar dari malapetaka seperti yang dialami Desa Kemuningwaru. Dan untuk kau, Adi Teja. Lebih baik relakan Abimanyu demi keselamatan penduduk dan Desa Gatareja," saran Ki Caringin.

Ki Suteja tak berusaha membantah saran Ki Caringin. Kepala Desa Gatareja itu hanya memandangi wajah sahabatnya yang dulu sama-sama menyaksikan keganasan Ratu Ular membinasakan penduduk Desa Kemuningwaru dan meratakannya dengan tanah.

"Hari telah larut, Adi Teja. Ada baiknya kau menginap semalaman di tempatku. Besok pagi kau baru pulang," usul Ki Caringin.

Ki Suteja tak dapat membantah permintaan itu. Meski pikirannya tengah dilanda kekalutan, kepalanya mengangguk juga memenuhi permintaan Ki Caringin.

***
EMPAT
Hari masih gelap, hawa dingin menusuk kulit masih terasa begitu kuat. Suara serangga yang bersahutan menandakan alam belum terbangun dari tidurnya. Dalam suasana seperti itu, nampak beberapa sosok bayangan berlompatan secara bersamaan. Gerakan sosok bayangan yang berjumlah dua belas orang itu terlihat begitu ringan dan hati-hati.

"Di sini tempat Abimanyu menghilang, dan diusung ular-ular besar itu, Adi Wiranata," suara salah satu sosok bayangan yang ternyata Wiluji.

"Hmmm...." Wiranata hanya menarik napas mendengar ucapan Wiluji.

"Apa mungkin ular-ular itu membawa Abimanyu menuju bangunan tua yang mirip puri itu, Kakang Wiluji?" tanya Wiranata dengan tatapan mata mengarah pada bangunan tua yang terletak cukup jauh.

"Dugaanku juga begitu, Adi Wira," sahut Wiluji. "Kalau begitu, sekarang juga kita bergerak ke sana. Moga-moga saja dugaan kita betul dan puri itu tak dijaga ketat," putus Wiranata seraya mendahului Wiluji dan sepuluh orang murid Padepokan Gatareja.

Menyaksikan Wiranata dan kesepuluh murid Padepokan Garateja sudah bergerak, meski berat, Wiluji pun mengikuti gerakan mereka yang penuh hatihati dan waspada.

Sebenarnya berat hati Wiluji menuruti kemauan Wiranata untuk membebaskan Abimanyu. Wiluji sudah dapat memperkirakan bahaya yang akan menghadang mereka. Puluhan ular besar dan ratusan ular-ular kecil pasti akan menghadang dan mencabik tubuh mereka, Bukan itu saja, yang membuat hati Wiluji kecut, ular-ular itu seperti tak pernah habis. Mati satu, datang sepuluh. Mati sepuluh datang tiga puluh.

Namun, untuk menolak keinginan Wiranata, merupakan hal yang berat bagi Wiluji. Di samping tidak ingin dicaci Wiranata sebagai lelaki pengecut, dirinya juga ingin menunjukkan rasa tanggung jawab atas lenyapnya Abimanyu.

Angin berhembus cukup kuat, ketika dua belas sosok lelaki sudah berada di depan bangunan puri. Dua belas lelaki itu sama-sama merasakan hembusan angin yang menebar hawa aneh.

"Hembusan angin barusan membuat bulu kuduk ku berdiri, Kakang Wiluji," ujar Wiranata pelan.

"Aku juga merasakannya, Adi Wira. Seperti ada hawa kematian," timpal Wiluji dengan tatapan mata yang membidik tepat bola mata Wiranata. Tatapan Wiluji seolah tatapan penyesalan atas keinginan keras Wiranata.

"Apa kau merasakannya ketika kau mengawal Abimanyu bersama Kakang Ludita?" tanya Wiranata menyelidik ucapan Wiluji.

Wiluji menggelengkan kepala. Namun, seiring dengan gelengan kepala lelaki berpakaian warna putih itu terdengar suara desisan yang cukup kuat.

Zzzssst...!

Zzzssst...!

Wiluji tersentak kemudian mundur satu langkah. Seraya meloloskan senjata dari tempatnya, Wiluji berteriak memperingatkan Wiranata dan kesepuluh murid Padepokan Gatareja yang berada di belakangnya.

"Hati-hati, Adi Wira! Siapkan senjata kalian!" perintah ucapan Wiluji.

Wiranata dan kesepuluh kawannya segera mematuhi perintah Wiluji. Dengan gerak cepat mereka mencabut senjata masing-masing.

Srat! Srat!

Wiranata dan kesepuluh murid Padepokan Gatareja terperanjat. Di keremangan cahaya bulan, nampak empat ekor ular sebesar paha menghadang langkah Wiranata dan kesepuluh kawannya. Di belakang, empat ular besar itu juga nampak puluhan ular kecil bergerombol.

Hati Wiranata dan kawan-kawannya semakin terkejut menyaksikan ular-ular itu mendesis dan menjulurkan lidahnya.

"Hati-hati, Adi Wiranata. Binatang-binatang itu tak dapat habis meski kita mampu membunuh satu per-satu!" tukas Wiluji. "Kalau kita mampu membunuh satu, maka sepuluh ekor lagi akan muncul menyerang mu."

Wiranata sempat menghiraukan peringatan Wiluji ketika seekor ular sebesar lengan menyerangnya dengan gerakan cepat. dan ganas. Kepala ular itu bergerak ke paha Wiranata, namun rupanya langsung Wiranata mengetahui gerakan itu. Maka dengan gerak cepat, Wiranata membabatkan pedangnya ke leher ular itu.

Cras!

Tebasan itu tepat mengenai sasarannya. Kepala ular seketika terputus. Darah pun muncrat dari tubuh ular yang tanpa kepala itu. Belum sempat Wiranata menarik napas, lima ekor ular yang lain kembali menyerangnya dengan cepat.

"Uts!"

Serangan ular yang pertama berhasil dielakkan Wiranata dengan sedikit mendoyongkan tubuhnya. Dan gerakan berputar Wiranata berhasil menebas kepala ular yang menyerangnya, membuat kepala ular itu pun terpental ke tanah.

"Awas, Wiranata!" teriak Wiluji.

Wiranata membalikkan badannya cepat ketika mendengar teriakan Wiluji. Putra kedua Ki Suteja itu kembali menunjukkan kehebatannya dalam permainan pedang. Sekali hentak saja, ular yang menyerangnya dari belakang seketika menggelepar dengan kepala terputus.

Zzzssst...!

Suara desisan kembali terdengar. Zzzssst..!

Empat ular sebesar paha yang sejak tadi hanya diam, mendesis bersahutan. Begitu kuat desisan yang dikeluarkan empat ekor ular besar itu seperti suatu perintah pada ular-ular yang lain agar melakukan penyerangan secara serentak.

Seiring dengan berhentinya desisan, sekawanan ular sebesar tangan bocah serentak bergerak menyerang. Begitu cepat gerakan yang dilakukan ular-ular itu hingga membuat Wiranata, Wiluji, dan sepuluh lelaki murid Padepokan Gatareja tak sempat menghindar.

"Hih!" Cras! Cras!

Suara tebasan senjata Wiranata, Wiluji, dan kawan-kawannya menebasi ular-ular itu. Gerakan pedang mereka begitu cepat. Meskipun gerakan itu nampak serampangan, puluhan ekor ular terpenggal dan bergeletakan menjadi bangkai. Darah pun mulai membasahi tanah sekitar daerah pertempuran.

Akan tetapi, semakin lama pertempuran itu, semakin tak nampak sedikit pun tanda bakal selesai. Sementara tenaga yang dimiliki Wiranata, Wiluji, dan sepuluh lelaki murid Padepokan Gatareja sudah semakin terkuras.

"Jumlah binatang-binatang itu bukan berkurang, Kakang Wiluji," ujar Wiranata ketika kedua punggung mereka saling bertemu.

"Sudah ku jelaskan padamu, Adi Wira," sahut Wiluji. ranata.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya WiNampak ada nada kegentaran dari pertanyaan Wiranata.

"Sebisa mungkin kita menghindari binatangbinatang berbisa itu," tukas Wiluji.

"Aku setuju," ucap Wiranata.

Putra kedua Ki Suteja bermaksud mundur dari arena pertarungan, namun niat itu nampak seperti sudah tercium oleh ular-ular itu. Binatang-binatang melata itu malah memperhebat serangannya.

Tuk! Tuk! "Akh!" 

"Aaa...!"

Dua lelaki murid Padepokan Gatareja seketika rebah terpagut ular berbisa itu. Hanya beberapa saat kedua lelaki itu menggelinjangkan tubuhnya, kemudian tubuh mereka berubah kaku dengan bagian kulit membiru.

"Ganas sekali racun ular itu, Kakang Wiluji," ujar Wiranata setelah menyaksikan kematian yang cukup mengerikan dua murid Padepokan Gatareja.

"Awas, Adi Wira!" teriak Wiluji sambil membabatkan pedangnya, ketika melihat seekor ular menyerang Wiranata.

"Hih!" Cras!

Sabetan itu berhasil menggagalkan serangan ular ganas itu. Pertempuran antara manusia dengan binatang melata terus berlanjut. Wiranata, Wiluji, dan murid Padepokan Gatareja yang masih hidup harus berjuang keras untuk dapat mempertahankan hidup. Mereka tak menghiraukan kelelahan yang semakin terasa. Senjata-senjata mereka terus berkelebat mencari sasaran.

Akan tetapi, sampai seberapa kekuatan mereka untuk dapat bertahan, jika jumlah ular-ular berbisa itu semakin lama bukan semakin berkurang. Dari mana datangnya binatang-binatang itu tak satu pun di antara mereka yang tahu. Hati mereka mulai terasa keder dan takut.

"Rasanya kita tak akan mampu bertahan, Kakang Wiluji," ucap Wiranata dengan napas tersengal, sementara keringat telah membasahi sekujur tubuhnya.

"Berusahalah terus untuk bertahan, Adi Wira," perintah Wiluji sambil mengayunkan pedang menebas leher ular yang hendak memagutnya.

"Hih!" Cras!

Kembali seekor ular menggelepar terbabat tebasan senjata Wiluji. Namun, Wiluji tak melihat kalau dari samping kirinya, seekor ular yang lain telah mengancamnya. Ular itu bergerak cepat memagut pinggang Wiluji yang tengah sibuk menghindari pagutan ular dari depan. Akibatnya....

Tuk! "Aaa!"

Wiluji terpekik keras ketika pinggangnya terpagut ular sebesar paha. Dirasakan pinggangnya seolah patah. Kepalanya seperti berputar hebat dan seluruh kulit tubuhnya terasa begitu gatal.

Tubuh Wiluji pun ambruk ke tanah. Di situlah kejadian aneh terlihat oleh Wiranata. Dia benar-benar terkejut dan tak percaya, menyaksikan tubuh Wiluji tiba-tiba berubah menjadi seekor ular besar dan bergerak bergabung dengan empat ular besar yang lain.

Sungguh aneh kejadian ini, batin Wiranata. Tiba-tiba terdengar teriakan dua orang kawannya.

"Aaa...!"

"Aaa...!"

Wiranata kembali terhenyak menyaksikan kematian dua murid Padepokan Gatareja. Putra kedua Ki Suteja itu merasa dirinya pun akan mendapat giliran. Maut pun sebentar lagi akan menjemputnya. Namun, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Wiranata bertekad untuk tetap memberikan perlawanan.

Ketika beberapa ekor ular kembali menyerangnya, dengan kegeraman yang luar biasa Wiranata menebaskan pedangnya diiringi dengan pekikan menggelegar membumbung ke angkasa.

Cras! Cras!

Beberapa ekor ular yang berusaha memagut Wiranata seketika terpental dengan kepala terputus. Begitu juga dua ular lain yang menyusul belakangan, ter-geletak di tanah menjadi bangkai.

Wiranata sempat menarik napas lega merasa usahanya tak sia-sia. Namun, puluhan ular masih dengan ganas mengancamnya. Mau tak mau Wiranata masih harus lebih waspada dan berjuang jika tak ingin nyawanya melayang.

Beberapa saat lamanya Wiranata masih sempat menebarkan pandangan ke sekeliling. Tak terasa fajar sudah menyingsing. Sinar kemerahan di langit sebelah timur telah mulai menerangi bumi.

"Hhh " Wiranata menarik napas dalam-dalam,

secercah harapan seketika terbersit di hatinya. Wiranata berharap ada orang yang melewati tempat pertarungan itu.

Zzzssst...! Zzzssst..!

Empat ekor ular besar kembali mendesis bersahutan. Ular-ular kecil yang lain kembali mengepung Wiranata.

Putra kedua Ki Suteja nampak menegangkan seluruh otot-ototnya, jari-jari tangannya menggenggam pedang kuat-kuat. Dirinya sudah siap menghadapi keadaan yang seburuk apa pun.

Namun di luar dugaan Wiranata, tak satu pun di antara puluhan ular berbisa itu yang bergerak menyerangnya. Wiranata bingung dan merasa aneh melihat kelakuan binatang-binatang buas itu, apalagi ketika menyaksikan ular-ular berbisa itu bergerak perlahan mendekati tubuhnya. Desisan-desisan yang keluar seiring dengan lidah-lidah yang terjulur begitu teratur, hingga mengesankan lantunan irama yang mengandung arti-arti tertentu.

Zzzssst...

Desisan itu terdengar semakin teratur.

Zzzssst...

Wiranata tak bergerak sedikit pun menyaksikan tingkah ular-ular itu. Namun, di tengah keterpakuannya, pikiran Wiranata berputar mencari kemungkinan tindakan terbaik.

Apakah aku harus menunggu ular-ular berbisa itu mendekat, atau bergerak cepat sekarang? Bisik hati Wiranata. Sementara cekalan tangannya pada gagang pedang semakin dipererat.

Ah! Hati Wiranata berontak. Aku harus mendahului menerjang ular-ular ganas itu, sebelum tubuhku tercabik-cabik. Setelah Wiranata betul-betul mantap dengan pikirannya, segera mengangkat pedangnya tinggitinggi. Diiringi dengan lengking menggelegar, tubuh Wiranata melesat secepat kilat.

"Hiyaaa...!"

Pedang Wiranata seketika berputar hebat. Begitu cepat putaran pedang yang dilakukan Wiranata dengan sekuat tenaga, hingga wujud pedang tak nampak, hanya sinar keperakan yang berpendar, membuyarkan kepungan ular-ular berbisa itu.

"Hiyaaa...!" Wuuut!

Cras! Cras!

Beberapa ekor ular sebesar lengan seketika bertumbangan tertebas pedang. Wiranata mengamuk bagai banteng terluka.

Namun, seberapa pun kekuatan tenaga Wiranata, nampaknya tak akan mampu menandingi serangan ular-ular yang jumlahnya bukan semakin berkurang. Dan ketika Wiranata lengah karena terlampau lelah, seketika itu juga serangan berbahaya seekor ular coklat kehitaman mengancam jiwanya.

Tuk! "lh?!"

Wiranata terkejut mendapatkan serangan yang begitu cepat, tapi untung pagutan ular itu meleset dan hanya mengenai pakaian Wiranata.

Wiranata segera mengubah letak berdirinya, ketika lima ekor ular hendak menyerangnya. Namun puluhan ekor ular yang lain terlihat siap melancarkan serangan. Begitu pula dengan beberapa ular yang berada di samping kirinya. Keadaan ini benar-benar membuat kalut pikiran Wiranata.

"Ah!"

Wiranata bingung, tak tahu mana yang harus dibabat lebih dulu. Sedangkan untuk menebas semua secara bersamaan dengan mengandalkan kecepatan gerak, hal yang mustahil. Kekuatan tenaganya kini sangat terbatas. Lagi pula, jumlah ular-ular itu terlalu banyak.

Di tengah kebingungan, Wiranata akhirnya memutuskan menyerang binatang yang lebih dekat dan yang lebih dulu menyerangnya.

Zzzssst..!

Suara desisan masih terdengar bersahutan. "Hiyaaa...!"

Wiranata berteriak menggelegar sambil mengayunkan pedang.

Namun, tiba-tiba....

Slaps....

Wiranata terkejut ketika melihat kelebat bayangan kuning keemasan melesat. Begitu cepat gerakan sosok kuning keemasan itu mendekati tubuhnya. Sehingga, Wiranata tak menyadari kalau tiba-tiba saja tubuhnya sudah berada dalam bopongan lelaki berpakaian kuning keemasan itu. Lelaki yang membopong tubuhnya melompat beberapa batang tombak dari binatang-binatang berbisa yang mengepungnya.

Lelaki berpakaian kuning keemasan yang ternyata adalah Jaka segera menurunkan tubuh Wiranata. Wiranata sempat mengagumi kehebatan pemuda itu. Namun Wiranata menoleh ketika disaksikannya ular-ular berbisa itu bergerak mengejarnya.

"Binatang-binatang itu bukanlah jenis binatang sembarangan, mereka seperti ada yang mengendalikan," ucap Jaka. "Aku juga menduga begitu, Kisanak," timpal Wiranata. "Hati-hatilah menghadapi mereka!"

"Aku tak berniat menghadapi ular-ular itu, Kisanak," bantah Jaka. "Aku hanya ingin memberi pelajaran sedikit pada binatang-binatang itu," lanjutnya.

"Apa yang akan kau lakukan, Kisanak?" tanya Wiranata penasaran.

"Kau lihatlah nanti," jawab Jaka seraya menyiapkan jurus 'Pukulan Pengacau Arah' yang didapatnya dari Eyang Putra Selasih.

Jaka, lelaki muda usia berjuluk Raja Petir segera memundurkan langkah hingga membentuk kudakuda rendah. Tangannya yang diletakkan di pinggang membentuk kepalan dengan otot-otot yang menegang kaku. Dan ketika puluhan ular berbisa itu meluruk ke arahnya, Jaka segera melepaskan pukulan dengan telapak tangan terbuka lebar. Wusss...!

Hembusan angin keras seketika terlepas dari telapak tangan Raja Petir. Pusaran angin itu meluruk cepat, menghadang serbuan binatang-binatang berbisa.

Bresss!

Puluhan ular yang menuju Jaka seketika berpentalan ketika hembusan angin bergulung menerjang. Wiranata tak berkedip menyaksikan kehebatan pukulan jarak jauh yang dilakukan Jaka. Sekilas tatapannya tertuju pada binatang-binatang berbisa yang tak berkutik lagi. Kemudian segera menatap kembali wajah tampan lelaki yang menolongnya.

"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini, Kisanak," ajak Jaka mencoba melepas tatapan Wiranata yang terkagum-kagum. 'Tak akan ada habisnya menghadapi binatang-binatang suruhan itu."

Wiranata tak mempedulikan ajakan Jaka. Namun, ketika Jaka betul-betul berlalu dari hadapannya, seketika itu Wiranata menghentakkan kakinya ke tanah.

"Hup?"

***
LIMA
"Aku kagum dengan kedahsyatan pukulan jarak jauh milikmu, Kisanak," ujar Wiranata setelah berada di samping Jaka.

Lelaki muda berpakaian kuning keemasan yang berjuluk Raja Petir tak mempedulikan pujian Wiranata. Tetapi matanya melirik sekilas ke wajah Wiranata.

"Ada urusan apa dengan binatang-binatang melata itu, Kisanak?" tanya Raja Petir datar seraya memperlambat larinya.

Wiranata tak segera menjawab pertanyaan Jaka. Putra Ki Suteja itu nampak sibuk mengatur nafasnya yang terengah-engah.

"Namaku Wiranata. Aku sampai lupa berterima kasih atas pertolonganmu. Kalau kau tidak keberatan aku ingin tahu namamu," ujar Wiranata.

"Namaku Jaka," jawab Raja Petir.

Wiranata nampak tak tergugah sedikit pun ketika Raja Petir menyebutkan namanya. Mulutnya diam, tetapi matanya terus menatap tajam wajah Jaka.

"Kalau tidak ada Kakang Jaka, mungkin aku sudah jadi bangkai, atau mungkin ditawan seperti Abimanyu," ucap Wiranata dengan tatapan mata yang tak lepas dari wajah Raja Petir.

"Jangan panggil aku 'Kakang', Wira. Kurasa usia kita sebaya," sahut Raja Petir. "Dan pertolongan tadi hanyalah semata berkat kasih sayang sang Pencipta Alam ini. Aku sendiri tak akan mampu berbuat apa-apa tanpa seizin-Nya."

Kini ganti Raja Petir yang menatap wajah Wiranata.

"Sebenarnya apa yang tengah terjadi atas dirimu? Siapa itu Abimanyu yang tadi kau katakan ditawan?" selidik Jaka.

"Ini semua memang kesalahanku sendiri, Jaka. Aku telah melanggar larangan yang telah ditetapkan ayahku," tukas Wiranata.

Putra Ki Suteja pun menceritakan kejadian sesungguhnya.

"Jadi menurut kalian, sekarang ini Abimanyu berada dalam Puri Ular?" tanya Jaka.

"Ayahku memperkirakannya begitu, Jaka. Sesuai dengan laporan yang didapatnya dari Wiluji," jelas Wiranata.

"Begitulah, Jaka. Hingga sebelum fajar tadi aku nekat hendak menyelamatkan Adikku Abimanyu, namun kenyataannya? Satu orang kepercayaan ayahku tewas bersama dengan sepuluh orang murid Padepokan Gatareja," lanjut Wiranata sambil melempar pandang ke sekeliling.

Jaka menganggukkan kepalanya perlahan mendengar cerita Wiranata. Sebuah kejadian yang aneh dan cukup menarik untuk kuikuti, batin Jaka. Raja Petir bergerak tiga langkah dari hadapan Wiranata, tapi sebentar kemudian sudah mendekati kembali Wiranata.

"Apa kau masih punya niat untuk membebaskan Abimanyu?" tanya Jaka. Wiranata menggelengkan kepala perlahan. "Entahlah," jawab Wiranata pelan. "Sekarang aku ingin menuruti apa saja kata ayahku. Kalau memang ayahku ingin menyatroni Puri Ular itu, aku akan mengikutinya. Kuharap kau juga bersedia membantu kami, Jaka. Ku saksikan kemampuanmu begitu hebat."

Jaka alias Raja Petir cuma tersenyum mendengar ucapan Wiranata.

"Kemampuanku sebetulnya tak berbeda terlalu jauh dengan kemampuanmu, Wira. Aku juga masih menyangsikan apakah aku dapat membantu kalian," ucap Jaka merendah. "Tapi, karena aku tertarik dengan kejadian ini, aku bersedia berdiri di belakang ayahmu," lanjutnya.

Wiranata tersenyum mendengar kesanggupan Jaka. Tangannya seketika terulur menjabat tangan Raja Petir.

"Terima kasih atas kebaikanmu, Jaka. Dengan bantuanmu, semoga Ratu Ular dapat tersingkir dari muka bumi ini," ujar Wiranata sambil menggenggam telapak tangan Raja Petir.

"Ratu Ular...?" tanya Jaka terkejut.

“Ya, Ratu Ular. Kau pernah bertemu dengan tokoh itu?" selidik Wiranata.

"Tidak. Aku hanya pernah mendengar dari paman ku tentang kehebatan dan sepak terjangnya di dunia persilatan," jawab Raja Petir.

Namun, hatinya masih ragu, apakah betul dalang dari kejadian ini adalah si Ratu Ular? Seorang perempuan tua berusia lanjut yang memiliki kesaktian begitu tinggi dan ilmu sihir yang tak bisa dipandang remeh.

"Sebaiknya kita cepat menemui ayahku, Jaka. Aku khawatir ayah cemas mencariku," ajak Wiranata.

"Ayolah!"

"Hup!"

"Hip!"

Kedua lelaki itu segera meninggalkan tempat itu.

***

Ki Suteja, Kepala Desa Gatareja begitu tercengang melihat kedatangan Wiranata bersama dengan sosok lelaki muda yang namanya tengah santer dibicarakan tokoh-tokoh sakti rimba persilatan. Ki Suteja sungguh tak menduga, tokoh muda yang digdaya itu akan hadir di tengah-tengah kemelut yang dihadapinya.

"Ah, selamat datang Raja Petir. Aku senang menerima kehadiranmu di tengah-tengah kemelut ini," sambut Ki Suteja sambil merundukkan badannya.

Wiranata tentu saja terkejut mendengar ucapan ayahnya, terlebih dengan sikap ayahnya yang begitu menaruh hormat pada Jaka.

Raja Petir? Ulang Wiranata dalam hati. Apakah lelaki semuda ini yang berjuluk Raja Petir?

Tiba-tiba saja ada rasa malu menyeruak masuk ke hati Wiranata. Wajahnya berubah merah padam mengingat kelakukannya terhadap Jaka tadi.

"Maafkan aku, Kakang Jaka. Aku sungguh tak tahu kalau kau ternyata Raja Petir yang kesohor itu," ucap Wiranata seraya menjura memberi hormat.

Jaka tentu saja jadi tak enak hati mendapatkan perlakuan seperti itu. Segera tangannya menyentuh punggung Wiranata yang tengah menjura memberi hormat.

"Jangan berbuat seperti itu untukku, Wira," cegah Jaka pelan. "Apalah beda diriku dengan kau dan juga dirimu, Ki."

"Panggil aku Ki Suteja, Raja Petir," pinta Ki Suteja.

"Dan panggil juga aku Jaka, Ki Suteja. Jangan panggil aku dengan julukan itu!" balas Jaka.

"Kau terlalu merendah, Jaka," selak Ki Suteja. "Namun, justru kerendahan hatimu itu yang mengangkat namamu di rimba persilatan ini. Selain kesaktian mu, sikap itu pula yang telah membuat namamu harum," lanjut Ki Suteja terus terang.

"Kau terlalu berlebihan memujiku, Ki," sahut Jaka.

Kepala Desa Gatareja tersenyum mendengar ucapan lelaki muda berpakaian kuning keemasan itu. Sekilas, mata Ki Suteja beralih menatap tajam wajah Wiranata.

"Apa yang telah kau lakukan di pagi buta itu, Wira?!" sentak Ki Suteja berang. "Kau tahu kalau tindakan itu tak lebih dari sekadar bunuh diri? Kemampuanmu dalam ilmu silat belum seberapa, Wira! Kenapa kau berani menyatroni Puri Ular itu? Seharusnya kau sadari hal itu. Meski membawa sepuluh orang murid Padepokan Gatareja dan juga Wiluji, tindakanmu itu tak ada artinya bagi Ratu Ular!"

Ki Suteja terus memarahi Wiranata yang dianggapnya telah lancang dengan tindakannya. Wiranata tertunduk mendengar perkataan ayah nya. Sungguh dirinya mengakui kebenaran kata-kata ayahnya. Kini baru hatinya menyesal telah menerjang larangan ayahnya yang mengakibatkan kematian sepuluh orang murid Padepokan Gatareja dan Wiluji.

"Aku sadar, Ayah," jawab Wiranata pelan. 

"Hmmm...." Ki Suteja menarik napas dalam dalam."Ah, maaf Jaka. Terpaksa sekali aku memarahi Wiranata di hadapanmu. Anakku itu memang keras kepala dan selalu gegabah dalam bertindak. Namun, dengan kemarahanku barusan kuharap dia bisa berubah," ucap Ki Suteja merasa tak enak hati pada Raja Petir.

'Tak apa, Ki Suteja," balas Jaka.

"Tinggalkan kami, Wira. Ayah ingin berbincangbincang dengan Jaka," pinta Ki Suteja kemudian.

Wiranata tentu saja tak menunggu perintah itu terucap dua kali dari bibir ayahnya. Namun, sebelum beranjak meninggalkan tempatnya, Wiranata terlebih dulu menundukkan kepalanya pada Jaka.

"Saya tinggal, Kakang Jaka," ucap Wiranata seraya memberi hormat.

Jaka pun melakukan hal yang sama. "Silakan, Adi Wira," balas Jaka.

***

"Bagaimana mulanya hingga kau bisa berjalan seiring dengan Wiranata, Jaka?" tanya Ki Suteja setelah mengajak Jaka masuk ke ruang pribadinya.

"Aku hanya kebetulan lewat di tempat itu, Ki. Awalnya aku hanya mendengar suara teriakan nyaring, seperti suara pertempuran. Kenyataannya memang begitu. Namun, aku sempat terkejut menyaksikan Wiranata bertarung melawan puluhan ular berbisa. Ah, untung Yang Kuasa masih memberkati usahaku, Ki. Kalau tidak, mungkin aku dan Wiranata sama-sama sudah menjadi bangkai, disantap binatang-binatang berbisa itu," papar Jaka.

Kepala Desa Gatareja mengangguk-anggukkan kepala mendengar cerita Jaka. Tiba-tiba di hatinya muncul perasaan tenang, meskipun sebenarnya beban berat masih bergayut di hatinya. Kedatangan Raja Petir dirasakan begitu tepat, ketika sedang terjadi kemelut yang melanda desanya.

"Ku nyatakan terus terang Jaka, bahwa aku sangat membutuhkan bantuan dari orang semacam kau. Tak terpikirkan oleh ku, bagaimana nanti keadaan Desa Gatareja tanpa kehadiran tokoh sakti yang mampu mengatasi kesaktian Ratu Ular. Aku tak ingin menyaksikan Desa Gatareja mengalami nasib sama dengan Desa Kemuningwaru, hancur dan rata dengan tanah," ucap Ki Suteja dengan nada getir.

"Apa Ki Suteja yakin kalau Ratu Ular akan melakukan hal yang sama dengan Desa Kemuningwaru?"

"Itu dugaanku saja, Jaka. Karena kejadian ini sama persis dengan kejadian enam belas tahun lalu terhadap Desa Kemuningwaru," jawab Ki Suteja.

"Maksud Ki Suteja?" tanya Raja Petir belum memahami ucapan Ki Suteja.

"Beberapa had setelah Ratu Ular menculik anak perempuan Ki Rampal Lawu, malapetaka bagi Kemuningwaru pun menyusul. Penduduk dan wilayah kekuasaan Ki Rampal Lawu menyatu dengan tanah. Tak terkecuali Ki Rampal Lawu sendiri," jelas Ki Suteja.

"Maaf, Ki. Kalau aku boleh tahu, apa hubungan Ki Suteja dengan Ki Rampal Lawu?"

"Ki Rampal Lawu sahabat sepermainan ku, Jaka. Namun di samping itu, kami sama-sama menuntut ilmu silat di dalam perguruan yang sama," jelas Ki Suteja.

"Lalu untuk apa Ratu Ular menculik anak perempuan Ki Rampal Lawu dan juga Abimanyu? Apa yang dilakukan Ratu Ular itu masih tetap berkaitan?" tanya Jaka lebih jauh.

Sejenak Kepala Desa Gatareja menatap wajah Jaka. Lelaki Kepala Desa Gatareja itu nampak kagum dengan kejelian anak muda berpakaian kuning keemasan dalam mengajukan pertanyaan.

"Setelah aku menemui Ki Caringin, kami sependapat kalau peristiwa ini sating berkaitan," papar Ki Suteja.

"Ki Caringin," ulang Raja Petir perlahan. "Dia sahabatku, juga sahabat Rampal Lawu," jelas Ki Suteja.

Kepala Desa Gatareja membuang sebentar tatapannya ke lain tempat, dari mulutnya seketika mengalir cerita tentang perjumpaannya dengan Ki Caringin. Mereka berdua berkesimpulan, bahwa Abimanyu akan dijodohkan dengan anak perempuan Ki Rampal Lawu yang sampai saat ini masih dikuasai Ratu Ular.

"Kesimpulan kalian masuk akal, Ki Suteja. Dan berarti, kita harus berhadapan dengan dua perempuan yang memiliki kesaktian tak jauh berbeda. Sebab, bukan mustahil Ratu Ular telah menurunkan seluruh ilmunya pada anak Ki Rampal Lawu yang sudah dianggap sebagai cucu atau bahkan anaknya," ucap Jaka menyimpulkan cerita Ki Suteja.

"Apa mungkin ilmu sihir Ratu Ular juga diturunkan keseluruhan pada anak Ki Rampal Lawu?" ujar Ki Suteja seperti pada dirinya sendiri.

Jaka bukan tidak mendengar perkataan Ki Suteja yang diucapkan begitu pelan. Pendengarannya yang sudah cukup terlatih memungkinkan untuk menangkap suara sekecil apa pun.

"Kurasa ilmu sihir itu juga akan diturunkan secara keseluruhan," tanpa tekanan kuat ucapan mulut Jaka, karena tak ingin kalau Ki Suteja menganggap dirinya lebih tahu akan hal itu.

"Bukankah Ki Suteja dan Ki Caringin berkesimpulan kalau si Ratu Ular berhajat mengembangkan keturunan yang mampu mewarisi ilmunya dan melanjutkan cita-citanya?" lanjut Jaka se-raya menatap wajah Kepala Desa Gatareja.

"Aku tak setuju kalau Abimanyu dijodohkan dengan anak Ki Rampal Lawu yang tidak mustahil berwatak seperti si Ratu Ular," ucap Ki Suteja.

"Itu berarti Ki Suteja sudah siap mengalami nasib seperti Ki Rampal Lawu dan desanya," selak Jaka mencoba mengorek keyakinan hati Kepala Desa Gatareja.

"Aku memang harus siap, Jaka. Apalagi sudah ku saksikan sendiri kekejaman Ratu Ular terhadap Rampal Lawu. Dan kesiapan ku juga berkat kehadiranmu di sini," jawab Ki Suteja mantap.

Lelaki muda yang berjuluk Raja Petir baru hendak menimpali ucapan Kepala Desa Gatareja ketika tiba-tiba seseorang datang dengan tergopoh-gopoh menemui Ki Suteja.

"Ada apa Janing? Kenapa kau begitu tergesagesa seperti itu?" tanya Ki Suteja pada seorang lelaki yang juga murid Padepokan Gatareja.

'Tiga orang lelaki mengamuk di depan padepokan, Ki," jawab lelaki yang bernama Janing.

"Mengamuk? Siapa mereka?"

"Bukan orang Desa Gatareja, Ki. Mereka mengaku dari Perguruan Jari Malaikat," jawab Janing.

"Perguruan Jari Malaikat?" tanya Ki Suteja dan Jaka hampir berbarengan.

"Aku tak pernah punya urusan dengan mereka, kenapa mereka mengamuk di sini? Ah! Maaf, Jaka. Kau kutinggal dulu, aku harus mengetahui duduk perkara ini secepatnya," ucap Ki Suteja pada Jaka.

"Aku juga ingin melihat orang-orang Perguruan Jari Malaikat itu, Ki," pinta Jaka.

"Aku tak ingin tanganmu kotor karena urusan sepele ini, Jaka," larang Ki Suteja halus.

"Tidak begitu, Ki. Aku nanya ingin mendampingi mu saja. Barangkali nanti kehadiranku dibutuhkan," tukas Jaka.

"Terserah kaulah, Jaka."

Ki Suteja segera melesat cepat, sesaat setelah memandang wajah Jaka. Gerakan kaki yang ringan itu menandakan kalau Ki Suteja bukan orang sembarangan. Sementara lelaki yang berjuluk Raja Petir hanya mengekor perlahan di belakang.

***

Tidak lama kemudian Ki Suteja telah sampai di depan Padepokan Gatareja.

"Ha ha ha. Rupanya kau lelaki tua yang men-

jadi kepala desa dan sekaligus memimpin, Padepokan Gatareja ini? Ha ha ha.... Tua Bangka! Apakah tak diajari murid-muridmu cara membunuh orang lain dengan baik, hingga jejak pembunuhan itu tak tercium kerabat-kerabat terbunuh?" ucap salah seorang dari tiga lelaki yang mengaku dari Perguruan Jari Malaikat,

Lelaki bertubuh tinggi besar dengan cambang yang kasar kecoklatan itu menatap wajah Ki Suteja cukup tajam.

"Seharusnya kau berhati-hati dengan ucapan dan tindakanmu itu, Kisanak," tegur Ki Suteja tenang.

"Julukanku Malaikat Lengan Tunggal, tak ada seorang pun berhak mengatur segala ucapan dan tindakan ku!" hardik lelaki bercambang bauk kemerahan sambil menepuk dadanya yang besar.

"Hmmm Di balik julukanmu yang angker itu, kau pasti punya nama yang tak kalah seram bukan?" pancing Ki Suteja.

"Namaku Jatayu!"

"Bagus! Lalu apa urusanmu mendatangi desa ini dengan membuat kegaduhan semacam ini. Kau tahu, kalau aku tengah menyambut kedatangan tamu penting?!"

"Apa aku tak kalah penting? Kedatanganku ke tempat itu patut kau perhitungkan, Tua Bangka! Karena aku ingin membuat perhitungan denganmu, dengan Padepokan Gatareja dan juga dengan desa ini."

"Hhh Aneh sekali ucapanmu itu, Jatayu," tukas Ki Suteja dengan sengaja tak memanggil julukannya. "Perhitungan apa yang kau maksudkan itu?"

"Nyawa!" jawab Malaikat Lengan Tunggal. "Nyawa?'.' ulang Ki Suteja tak mengerti. "Muridmu telah merenggut nyawa seorang murid kesayanganku, dan itu harus kau tebus dengan harga yang mahal!"

"Seberapa mahalnya tebusan itu, Jatayu?"

"Tak terhingga, Tua Bangka! Nyawamu, nyawa murid-muridmu dan desa ini!"

"Huh! Tidakkah tebusan itu terlalu berlebihan. Lagi pula bukti tuduhanmu itu belum cukup kuat," sangkal Ki Suteja.

"Sebelum mati, murid kesayanganku itu sempat mengatakan, bahwa orang-orangmu yang melakukannya."

"Apakah perkataan muridmu bisa dipercaya?" 

"Kurang   ajar!   Kau   memang   pengecut,  Tua Bangka!  Sebaiknya  kau  cepat-cepat  menyingkir dari muka bumi ini!"

Lelaki bercambang kasar kecoklatan bergerak cepat diiringi dengan teriakan yang cukup keras. Namun, belum lagi gerakannya mencapai tubuh Kepala Desa Gatareja, sebuah bentakan keras yang dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam seketika terdengar.

"Tahaaan...!"

Malaikat Lengan Tunggal seketika menghentikan gerakannya. Lelaki tinggi besar itu merasakan tubuhnya bergetar sedikit, akibat pengaruh dari bentakan yang dialiri kekuatan tenaga dalam.

"Hup!"

Jaka melentingkan tubuhnya dengan ringan dan mendarat dengan manis di sisi kiri Ki Suteja.

"Maaf, Ki Jatayu. Akulah yang menahan gerakanmu," ucap Jaka sesaat setelah menyaksikan mata Malaikat Lengan Tunggal berputar-putar mencari sumber suara bentakan yang barusan dilakukannya.

"Hhh! Lancang sekali kau melakukan itu pada Malaikat Lengan Tunggal, kau tahu apa akibatnya?!" hardik Jatayu keras.

Lelaki muda berpakaian kuning keemasan yang berjuluk Raja Petir menatap wajah Malaikat Lengan Tunggal dengan tenang. Lelaki yang bertangan satu ini tak senang mendapatkan tatapan Raja Petir. Dengan cepat matanya membalas menatap tajam Raja Petir, namun mata Malaikat Lengan Tunggal tak mampu beradu tatap terlalu lama. Segera dengan cepat dilemparkan tatapannya pada Ki Suteja.

"Bukankah pemuda itu yang berjuluk Raja Petir, Kakang Saladu?" tanya salah seorang rekan Jatayu pada kawannya yang di mata sebelah kirinya tertanam sebilah pisau pipih hitam.

"Benar, Wikuta. Ciri-cirinya menunjukkan dia lah anak muda yang berjuluk Raja Petir itu," jawab lelaki yang bernama Saladu pelan.

Saladu, lelaki yang mata kirinya tertancap sebilah pisau pipih hitam itu segera menghampiri Malaikat Lengan Tunggal, dan membisikkan sesuatu pada lelaki bercambang bauk itu.

"Kusangka juga begitu, Saladu," jawab Malaikat Lengan Tunggal. "Tapi aku harus mengatakan sesuatu pada mereka."

"Cepatlah!" sahut Saladu yang sesungguhnya berjuluk Malaikat Mata Tunggal.

Jatayu menggeser kakinya sedikit, lalu berkata dengan lantang kepada Ki Suteja.

"Tua Bangka! Beruntung sekali kali ini kau didampingi seorang tokoh yang tengah santer dibicarakan orang-orang kalangan persilatan, namun jangan harap bisa terbebas dari tuntutan ku. Kami Malaikat Lengan Tunggal, Malaikat Mata Tunggal dan Malaikat Rambut Merah akan tetap menggugat nyawamu!"

Malaikat Lengan Tunggal menoleh ke wajah kedua kawannya, "Dan untukmu, Raja Petir. Jangan kau anggap tiga tokoh Perguruan Jari Malaikat takut berhadapan denganmu, cuh! Sumpah, demi langit dan bumi kami tak pernah gentar menghadapi Bocah Ingusan macam kau!" keras ucapan yang keluar melalui mulut Jatayu. 

"Kalau sekarang kami membatalkan rencana semula, itu karena kami masih memberi kesempatan agar kalian siap menghadapi tiga malaikat dari Perguruan Jari Malaikat!" lanjut Jatayu si Malaikat Lengan Tunggal.

Selesai mengucapkan ancaman lelaki bercambang bauk kasar kemerahan itu kembali menoleh ke Malaikat Mata Tunggal dan Malaikat Rambut Merah. Ketiganya saling tatap sesaat.

"Ayo   Saladu,Wikuta!"ajak Jatayu sambil menghentakkan kakinya kuat-kuat.

"Hip!"

Tubuh Malaikat Lengan Tunggal seketika melesat cepat. Gerakannya begitu ringan dan manis, menunjukkan kalau ilmu peringan tubuhnya sudah sangat tinggi.

Begitu juga dengan kedua kawannya, Malaikat Mata Tunggal dan Malaikat Rambut Merah. Kemampuan yang patut mendapat perhitungan bagi orangorang yang ingin berhadapan dengan mereka.

Sampai tubuh tiga lelaki yang mengaku dari Perguruan Jari Malaikat itu lenyap, Jaka baru menolehkan tatapannya ke wajah Ki Suteja. Pada saat yang bersamaan, Ki Suteja pun menoleh ke arah Raja Petir.

"Aneh sekali sikap mereka," ujar Ki Suteja pelan.

"Di muka bumi ini banyak orang berkelakuan aneh, Ki," timpal Jaka.

Raja Petir melangkah perlahan menghampiri murid-murid Padepokan Gatareja yang tengah sibuk menolong teman-temannya yang terluka akibat perbuatan orang-orang Perguruan Jari Malaikat.

"Murid-muridmu tak ada yang mengalami luka dalam terlampau parah, Ki. Kurasa mereka semua mampu mengatasinya," ujar Raja Petir sambil mendekati Kepala Desa Gatareja itu.

"Syukurlah," jawab Ki Suteja sambil mengajak Jaka kembali ke tempatnya.

"Menurutku, keanehan yang mereka perlihatkan pada kita itu hanyalah siasat saja, Ki," ucap Jaka sesampainya di ruang khusus Ki Suteja.

"Aku pikir juga begitu, Jaka. Mungkin karena kehadiranmu di tengah-tengah kami," balas Ki Suteja menimpali ucapan Raja Petir.

"Kurasa tidak begitu, Ki," bantah Jaka. "Kau sendiri mendengar alasan yang mereka ucapkan tadi."

"Alasan itu hanya dibuat-buat, Jaka. Namun sesungguhnya hati mereka gentar menghadapimu," kilah Ki Suteja sambil menatap wajah Raja Petir dalamdalam.

"Tidak begitu, Ki. Aku yakin dalam waktu dekat ini mereka akan menyatroni kembali Padepokan Gatareja. Kepergian mereka hanya siasat untuk menunggu kelengahan kita, barangkali akan memanggil gerombolan mereka yang mungkin berjumlah tidak sedikit," papar Jaka tidak main-main.

Ki Suteja yang mendengarkan kesungguhan ucapan Jaka sempat tersentak. Disadarinya kalau ucapan lelaki muda yang berjuluk Raja Petir itu benar adanya.

"Kalau memang begitu, kita semua harus bersiap-siap mulai saat ini," putus Ki Suteja.

"Memang harus begitu," balas Raja Petir.

***
ENAM
Suasana senja di Desa Gatareja nampak begitu indah. Angin berhembus semilir menambah daya tank untuk menikmati suasana yang di anugerahkan sang Pencipta Jagat atas desa ini. Namun, di balik keindahan suasana senja itu nampak wajah-wajah tegang murid-murid Padepokan Gatareja yang bertugas untuk selalu bersiaga menghadapi kedatangan tiga tokoh Perguruan Jari Malaikat.

"Huh! Ada-ada saja urusan seperti ini," umpat kesal seorang murid Padepokan Gatareja. "Seharusnya kita bisa santai menikmati cuaca yang bagus, e..., malah harus tegang begini."

"Iya. Ada-ada saja. Mana mungkin sih, muridmurid padepokan kita membunuh orang yang tak dikenal," timpal seorang murid Padepokan Gatareja yang bertubuh padat pendek.

"Pasti ini, fitnah!" 

"lya. Ini fitnah!"

Di tengah percakapan murid-murid Padepokan Gatareja yang bertugas jaga itu, tiba-tiba.'... "Aaa...!"

Suara jeritan yang melengking seketika terdengar. Murid-murid Padepokan Gatareja sesaat terperanjat menyaksikan tubuh seorang rekannya menggelepar dengan sebilah pisau hitam yang menembus ulu hati.

Sesaat kemudian, terdengar suara tawa menggelegar yang nampak dikeluarkan dengan tenaga dalam tinggi. Suara tawa itu begitu memekakkan telinga.

"Ha ha ha...! Ha ha ha...!" Murid-murid Padepokan Gatareja yang rata-rata memiliki kemampuan tenaga dalam belum sempurna, nampak bergelimpangan akibat kekuatan tawa yang dahsyat itu.

Beberapa saat lamanya kejadian itu dialami murid-murid Padepokan Gatareja. Dan ketika tawa itu lenyap. muncul sesosok tubuh tinggi besar terbalut pakaian coklat. Kedua tangan yang kekar terlipat di atas perutnya yang gendut.

Kehadiran sosok lelaki bercambang bauk kasar kemerahan itu diikuti kedua kawannya yang tak lain Malaikat Mata Tunggal dan Malaikat Rambut Merah. Di belakang ketiga tokoh itu disertai pula puluhan lelaki berpakaian hitam dengan senjata golok terhunus. Mereka semua berdiri dengan angkuh di depan Padepokan Gatareja.

Murid-murid Padepokan Gatareja tak menduga, lawan datang dengan membawa segerombolan lelaki bersenjata golok. Keadaan ini membuat keder hati murid-murid Padepokan Gatareja.

"Ha ha ha...! Kali ini Padepokan Gatareja akan Ku ratakan dengan tanah!" ancam Malaikat Lengan Tunggal dengan suara lantang. Senjatanya yang berupa sebatang golok besar nampak diacung-acungkan ke udara.

"Mana si Tua Bangka itu, heh?!" Biar dirinya menyaksikan keruntuhan perguruan dan desanya!" ucap Malaikat Mata Tunggal lebih keras.

"Jangan sombong seperti itu, Mata Picak!" tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan.

Suara hinaan yang cukup menyakitkan itu seketika terdengar menggaung keras. Sejenak orangorang dari Perguruan Jari Malaikat terkejut dengan suara yang menggaung begitu kuat. Terlebih dengan Saladu. Hati lelaki berpakaian hitam yang berjuluk Malaikat Mata Tunggal mengkelap, seketika darahnya naik ke ubun-ubun. Mata kanannya terbelalak karena dorongan hawa marah yang tak tertahan.

"Bedebah!" maki Malaikat Mata Tunggal dengan suara ditekan.

"Jangan kau ingkari kenyataan itu, Mata Picak!" sahut suara yang sama.

Nampak dua bayangan biru dan kuning keemasan melesat cepat. Begitu cepat dan ringannya gerakan kedua sosok bayangan itu. Dalam sekejap saja sudah berdiri di antara murid-murid Padepokan Gatareja yang tengah berdiri menghadapi gerombolan dari Perguruan Jari Malaikat.

Kedua sosok itu tak lain Ki Suteja dan Raja Petir. Kini keduanya berdiri dengan tenang dan tatapan matanya lurus ke wajah tiga malaikat dari Perguruan Jari Malaikat.

"Hhh! Kalian memang Malaikat-malaikat licik! Kalian katakan ingin memberi kesempatan pada Ki Suteja. Namun, nyatanya kalian kembali dengan segerombolan orang-orang gila," ledek Jaka kalem.

"Hmmm.... Rupanya kau juga pengecut, Raja Petir.'" balas Malaikat Rambut Merah.

"Nyali ku memang kecil, Rambut Merah, namun aku sanggup memenggal leher kalian semua!"

"Bocah Ingusan!" hardik Malaikat Lengan Tunggal. "Kali ini kau bisa berkata begitu, namun jangan harap besok kau bisa melihat matahari pagi."

"Itu tak berlaku padaku, Malaikat Mata Tunggal! Kecuali pada matamu yang terbenam pisau dapur itu," balas Raja Petir.

"Bedebah! Mampus Kau!"

Malaikat Mata Tunggal bergerak cepat menerjang Jaka. Tangan lelaki bermata satu itu terkepal kuat, suara berkerotokan terdengar dari otot yang menegang kaku.

Raja Petir tentu saja tak ingin menganggap remeh serangan yang datang dari Malaikat Mata Tunggal. Lelaki berpakaian kuning keemasan yang berjuluk Raja Petir terlihat bersiap-siap menanti kedatangan lawannya.

"Maaf, Ki Suteja! Biar kuhadapi dulu si Mata Picak itu," ucap Jaka pada Kepala Desa Gatareja yang berdiri tidak jauh darinya.

Ki Suteja menyingkir, sekali hentakan saja tubuh kepala desa itu sudah menjauhi Jaka.

"Hiaaa...!"

Teriakan keras mengawali serangan Malaikat Mata Tunggal.

"Uts!"

Jaka dengan cepat menggeser tubuhnya, menghindari pukulan Malaikat Mata Tunggal yang mengarah dadanya. Tentu saja serangan lelaki bermata satu itu kandas dan kenyataan ini menambah kemarahannya.

"Terimalah ini, Bocah Ingusan!" Malaikat Mata Tunggal kembali melancarkan serangannya. Dan....

"Hih!" Plak! "Aaa!"

Malaikat Mata Tunggal terpekik keras. Tubuh Malaikat Mata Tunggal terhuyung dua langkah ketika pukulan tangan yang mengarah ke batok kepala Jaka terpapak dengan keras. Malaikat Mata Tunggal merasa lengannya linu dan tak mampu digerakkan. Namun, karena tekad yang begitu kuat untuk dapat menjatuhkan Raja Petir, Malaikat Mata Tunggal kembali bergerak menyerang. Kali ini menggunakan senjata berupa pedang panjang yang terlihat seperti karet kenyal.

"Kali ini kau akan mampus, Raja Petir!" bentak Saladu seraya menebas-nebaskan senjatanya ke tubuh Raja Petir.

Jaka sejenak tertegun menyaksikan senjata Saladu yang bergerak begitu lentur. Arah sambaran senjata itu sukar ditebak, hingga Jaka harus menunggu sambaran senjata itu lebih dekat.

"Ih!"

Tiba-tiba senjata lentur itu menyambar. "Uts!"

Jaka terkejut ketika ujung senjata milik Saladu hampir mengenai dadanya, tapi gerakan yang dilakukan lebih cepat dari serangan lawan, sehingga senjata itu meleset dari sasaran.

Akan tetapi kelicikan Malaikat Mata Tunggal memang patut diperhitungkan. Sementara Raja Petir sibuk menghindari sambaran pedang. Tiba-tiba dengan cepat Malaikat Mata Tunggal, melakukan serangan susulan dengan tendangan lurus ke perut Raja Petir.

"Hiaaa!"

Diiringi teriakan keras, tendangannya mendarat. Dan....Bugkh!

Tubuh Raja Petir terhuyung dua langkah ketika tendangan keras mendarat di perutnya. Namun berkat kehebatannya, Jaka mampu mengalihkan daya dorongan tendangan itu menjadi sebuah lentingan yang manis. Tubuh Raja Petir berputar dua kali di udara dan mendarat dengan ringannya.

"Kau hebat, Mata Picak!" puji Raja Petir setelah mampu menguasai keadaan dirinya.

"Jangan banyak omong kau, Bocah Ingusan! Sambutlah kematianmu!"

Saladu si Malaikat Mata Tunggal kembali bergerak cepat, kali ini betul-betul bertekad untuk menghabisi nyawa Raja Petir. Pedang lentur seperti karet kenyal itu nampak bergetar keras sekali di genggamannya hingga wujudnya samar-samar.

"Mampus kau, Raja Petir!" bentak Malaikat Mata Tunggal.

Wrrrt!

Pukulan pedang itu begitu cepat dan keras. "Ih!"

Jaka cepat melompat ke kanan menghindari tebasan senjata Malaikat Mata Tunggal. Begitu ringan gerakan cepat yang dilakukan Raja Petir, namun tidak terduga kalau di balik gerakan itu terencana sebuah serangan balasan yang membahayakan.

"Jangan lengan, Mata Picak!" ledek Raja Petir sembari melepaskan tendangan berputar ke tubuh Saladu.

Saladu terkesiap mendapatkan serangan balasan yang begitu cepat. Lelaki berjuluk Malaikat Mata Tunggal itu berusaha berkelit, tapi serangan Raja Petir terlalu cepat datangnya, hingga....

Blugkh!

Tendangan Raja Petir mendarat di dada lawan. "Uuukh!"

Malaikat Mata Tunggal terpekik seiring dengan tubuhnya yang terhuyung beberapa langkah ke belakang. Begitu keras tendangan dari kanan Raja Petir, hingga cairan merah muncrat dari mulut Saladu.

"Hoeeek!"

Nampak mulut Malaikat Mata Tunggal kembali mengeluarkan cairan.

"Kurang ajar!" umpatnya.

Malaikat Lengan Tunggal dan Malaikat Rambut Merah terkejut menyaksikan kekalahan Malaikat Mata Tunggal. Keduanya serempak mengejar tubuh Malaikat Mata Tunggal.

"Kau tak apa-apa, Saladu?" tanya Jatayu cemas.

"Tidak, Kakang Jatayu. Cuma dadaku terasa sesak," jawab Saladu sambil mendekap dadanya yang terasa nyeri. Jatayu dan Wikuta segera membalikkan badan setelah mendengar jawaban Saladu. Mata kedua lelaki itu menatap tajam wajah Jaka.

"Kau betul-betul can mampus, Bocah Ingusan. Aku Malaikat Lengan Tunggal dan Malaikat Rambut Merah akan mencincang tubuhmu!"

"Lakukanlah, Malaikat Gadungan!" sentak Ki Suteja mendahului ucapan Jaka. "Jangan harap aku jadi penonton saja. Aku dan Ki Caringin akan mengusir mu!" lanjut Ki Suteja.

Malaikat Lengan Tunggal dan Malaikat Rambut Merah menoleh ke lelaki tua berpakaian putih yang berdiri di samping Ki Suteja. Begitu juga Jaka, dirinya tak menyadari kalau di samping Ki Suteja telah berdiri lelaki berusia lanjut dengan jenggot putih panjang dan rambut putih tergelung rapi. Memang kehadiran Ki Caringin tepat ketika Raja Petir tengah bertarung dengan Malaikat Mata Tunggal.

Lelaki tua yang berdiri di samping Ki Suteja nampak menganggukkan kepala sebagai tanda penghormatan pada pemuda berbaju kuning keemasan itu. Raja Petir pun segera membalas anggukan itu.

"Sekarang kita bisa membagi pertempuran ini, Jatayu!" tantang Jaka. "Itu kalau kau berani. Kalau tidak, aku tak akan melarangmu untuk mundur," lanjutnya.

"Lancang sekali bacotmu! Sejengkal pun orang-orang Perguruan Jari Malaikat tak akan mundur dari hadapanmu!" balas Jatayu geram.

Lelaki yang berjuluk Malaikat Lengan Tunggal kini menunjukkan senjatanya berupa sebilah golok besar. Mata lelaki bercambang bauk kasar kemerahan nampak berubah memerah, giginya bergemeretakan kuat. Dan otot-otot tubuhnya mulai menegang.

"Habisi mereka semua!" perintah Malaikat Lengan Tunggal.

Mendengar perintah itu, Malaikat Rambut Merah dan puluhan lelaki berpakaian hitam yang menghunus senjata golok segera berhamburan menerjang lawan-lawan mereka, tak terkecuali Saladu yang sudah pulih keadaannya.

Pertempuran pun tak dapat dihindari lagi. Suara pekik kegeraman dan kesakitan, serta jerit kematian bersahutan. Dentang suara senjata saling beradu pun menambah ramainya suasana. Percik bunga api dari dua senjata yang beradu dengan kekuatan tenaga dalam tinggi menyemarakkan suasana pertempuran.

Pada salah satu sudut pertempuran nampak Jatayu alias Malaikat Lengan Tunggal berhadapan dengan Jaka. Lelaki berpakaian kuning keemasan nampak melayani serangan-serangan Jatayu dengan gerakangerakan ringan. Tapi sebaliknya, Jatayu terlihat bernafsu sekali untuk cepat merobohkan Raja Petir.

Serangan Malaikat Lengan Tunggal begitu menggebu dan selalu disertai pengerahan tenaga dalam tinggi terarah pada bagian tubuh yang mematikan.

"Hiaaa...!"

Jatayu alias Malaikat Lengan Tunggal terus menerjang Jaka dengan golok besarnya, seolah ingin membelah kepala Jaka.

Raja Petir tahu apa yang akan dilakukan lawannya. Dan ketika senjata besar itu sejengkal lagi hendak membelah kepalanya, dengan gerakan cepat namun ringan, tubuhnya melompat ke samping.

"Hup!"

Setelah serangannya tak berhasil mengenai lawan, Jatayu berusaha terus memburu dengan serangan-serangan yang makin ganas.

"Mampus kau, Bocah Ingusan!" bentak Jatayu sambil menebas perut Jaka.

'Tak mungkin, Tangan Buntung!" ejek Jaka sambil meliukkan pinggang dengan cepat.

"Brengsek!" maki Jatayu.

"Tidak, Jatayu. Kau memang harus menerima ini. Hih!"

Jaka melayangkan tamparan tangannya ke pelipis Jatayu. Lelaki yang berjuluk Malaikat Lengan Tunggal berusaha menghindari sambaran tangan Raja Petir dengan merendahkan tubuhnya, tetapi tak sadar kalau Jaka hanya melakukan gerak tipu dengan tangannya. Maka ketika sepakan keras Jaka datang, Jatayu tak mampu sedikit pun mengelak. Akibatnya....

Dugkh! "Akh!"

Malaikat Lengan Tunggal terpekik. Tubuhnya terdorong keras beberapa langkah ke belakang. Lelaki berpakaian coklat itu terlihat memegangi perutnya yang terasa mual dan kesakitan. Matanya pun seketika dirasakan berkunang-kunang.

"Bagaimana, Jatayu? Apa kau tak punya niat mengundurkan diri saja?" ledek Raja Petir seraya berkacak pinggang.

Wajahnya yang bertabur senyum membuat hati Jatayu marah bukan main. Namun Raja Petir dengan tenang masih berdiri menunggu lawannya.

"Raja Petir, aku belum merasa kalah darimu. Jangan besar kepala dulu dan rasakan ajian ku! Bersiaplah!"

Malaikat Lengan Tunggal segera mundur satu langkah. Tubuhnya berdiri tegak. Telapak tangannya diletakkan di depan dada sambil seolah membaca suatu mantera.

Tiba-tiba dari telapak tangannya yang berada di depan dada mengepul asap kemerahan. Malaikat Lengan Tunggal tengah mengerahkan sebuah ajian yang bernama aji 'Renggut Jasat'.

Jaka yang berdiri tak lebih dua setengah batang tombak menyaksikan apa yang tengah dilakukan Malaikat Lengan Tunggal. Tatapan mata dan seluruh indera pendengarannya dikerahkan tajam-tajam. Dirinya mulai waspada terhadap serangan yang bakal dilancarkan lawannya.

"Gerkkkhhh...!"

Suara gerengan keras terdengar seiring dengan perubahan seluruh lengan Jatayu. Tangan yang cuma sebelah itu kini berubah merah dan mengepulkan asap yang berbau tak sedap.

Jaka yang memang sudah siap menghadapi segala kemungkinan tetap tenang, di wajahnya sedikit pun tak nampak gurat ketegangan.

"Gerkkkhhh...!" 

"Hih!"

Gerakan tangan yang begitu cepat dilontarkan oleh Malaikat Lengan Tunggal. Beberapa larik sinar merah melesat seiring hentakan tangan. Sinar merah itu kemudian berpencar, mengarah ke bagian-bagian terlemah dari tubuh Raja Petir.

Slat! Slat!

Begitu cepat lesatan beberapa sinar merah ke tubuh Raja Petir. Secepat kilat Raja Petir bergerak menghindari terjangan itu. Jaka melompat tiga kali untuk dapat lolos dari sinar merah yang menebar aroma aneh itu.

"Hup!"

"Yeah!"

Raja Petir menghentakkan kaki ke tanah lalu melenting ke udara dan bersalto dua kali. Namun, belum sempat kakinya menapak di bumi, Malaikat Lengan Tunggal sudah kembali menghentak tangan kanannya.

"Hih!"

Wusss...!

Beberapa leret sinar kemerahan kembali melesat. Setan! Maki Jaka dalam hati. Si buntung itu tak memberi ku peluang untuk menyerang.

"Hup!"

"Yeaaah!"

Teriakan keras Raja Petir mengiringi suara segulungan angin kencang. Wrrr...!

Setelah kembali berhasil menghindari serangan Malaikat Lengan Tunggal, baru saja kakinya menjejak di tanah Jaka berusaha keras memberikan serangan balasan dengan ajian 'Pukulan Pengacau Arah'. Angin bergulung itu seketika meluruk cepat ke tubuh Malaikat Lengan Tunggal.

"Heh?!"

Jatayu si Malaikat Lengan Tunggal terkejut melihat Raja Petir mampu memberikan serangan balasan dalam keadaan yang terdesak hebat.

Apalagi menyaksikan serangan balasan yang berupa pusaran angin, membuat Malaikat Lengan Tunggal berpikir dua kali untuk kembali melakukan penyerangan. Lelaki bernama Jatayu lebih memilih menghindari serangan Jaka.

"Hiyaaa!"

"Hup!"

Tubuh Jatayu seketika melejit ringan menghindari terjangan pukulan jarak jauh yang dilancarkan Raja Petir dan bergulingan di tanah. "Hup!"

Dengan bertumpu pada satu tangannya, Malaikat Lengan Tunggal kembali melenting dan berputaran beberapa kali di udara, sebelum mendarat dengan manis di tanah.

"Hebat juga pukulan jarak jauh mu itu, Raja Petir. Tak percuma kau menyandang gelar yang menggetarkan orang-orang rimba persilatan. Namun sayang sebentar lagi, nama harum mu akan lenyap di tangan ku. aji 'Rengut Jasat' yang akan ku kerahkan tiga kali lipat dahsyatnya akan segera mengubur nama harum mu itu," cemooh Malaikat Lengan Tunggal.

"Jangan cuma omong besar! Buktikan ucapanmu itu, Jatayu!" tantang Jaka.

"Baik!" 

"Hhh...!"

"Gerrrkhhh...!"

Malaikat Lengan Tunggal kembali mengerahkan kekuatan mengeluarkan aji 'Renggut Jasat' andalannya.

***
TUJUH
Di tempat lain, terlihat Ki Suteja bertempur melawan Saladu alias Malaikat Mata Tunggal. Kepala Desa Gatareja yang terbalut warna biru pakaian kebesaran Perguruan Gatareja bergerak-gerak lincah. Gerakan Ki Suteja menghindari tenangan senjata Malaikat Mata Tunggal dan cara membalas serangan lawan, menunjukkan bahwa lelaki tua itu pantas memegang tampuk pimpinan Padepokan Gatareja.

"Tak kusangka kau hebat juga, Tua Bangka!" ejek Malaikat Mata Tunggal.

"Tentu saja, Mata Picak! Akan segera kukirim nyawamu ke neraka!" balas Ki Suteja dengan sengit.

"Mari kita teruskan siapa di antara kita yang pantas lebih dulu mampus!"

"Majulah!" tantang Ki Suteja. Lelaki berpakaian hitam yang menggenggam sebatang pedang lentur segera merangsek maju. Pedang di tangannya nampak bergetar hebat karena tekanan tenaga dalam yang cukup tinggi, hingga wujud pedang itu tidak jelas.

Ki Suteja pun tak mau ketinggalan. Pedangnya digerakkan memutar di depan dada. Begitu keras dan cepat perputaran pedang yang dilakukan Ki Suteja, hingga menimbulkan bunyi yang kuat. Wuuuk...! Wuuuk...!

"Hiaaa...!"

Teriakan musuh Ki Suteja dan Malaikat Mata Tunggal bersamaan. DanTrang!

Percik bunga api mencelat ketika kedua pedang yang sama-sama digerakkan dengan tenaga dalam saling beradu dengan keras.

Kedua tubuh lelaki tua itu terdorong beberapa langkah ke belakang. Tak terdengar lenguhan yang keluar dari mulut keduanya. Nampaknya kekuatan mereka berimbang.

“Tahan seranganku lagi, Tua Bangka!" ucap Malaikat Mata Tunggal. "Hiaaat...!" teriakan menggelegar dari mulutnya.

"Ups!"

Ki Suteja tak melayani sambaran pedang lentur Saladu dengan papakan senjatanya. Kepala Desa Gatareja itu hanya menghindar dengan melompat beberapa kali ke belakang.

Meskipun sudah tua, kegesitan Ki Suteja melompat menghindari setiap serangan lawannya nampak begitu cepat dan ringan. Bagaikan seorang pendekar yang masih muda.

"Jangan menghindar seperti itu, Tua Bangka! Kau bisa mampus di ujung pedangku!" ledek Malaikat Mata Tunggal.

"Kau yang akan mampus, Mata Picak!" 

"Kurang Ajar!"

"Hiaaa!" Trang!

Pertarungan antara Ki Suteja menghadapi Malaikat Mata Tunggal kembali berlanjut semakin seru. Sementara itu, pada pertarungan bin nampak Ki Caringin mampu mendesak lawannya, yakni Wikuta si Malaikat Rambut Merah.

"Sebaiknya kau menyerah saja, Rambut Merah! Aku tak mau menurunkan tangan besi padamu," ucap. Ki Caringin setelah ujung kerisnya mampu menoreh bahu si Malaikat Rambut Merah.

"Cuih! Jangan kau anggap dirimu sudah unggul, Aki Peyot. Aku belum memainkan jurus andalan ku.'" balas Malaikat Rambut Merah geram.

"Kau rupanya lelaki keras kepala, Rambut Merah! Jangan menyesal kalau kau harus man" di ujung keris ku!" bentak Ki Caringin lantang.

"Tua Bangka, sombong! Terimalah aji 'Renggut Jasad'-ku ini!"

Selesai berkata seperti itu Malaikat Rambut Merah bergerak mundur satu langkah. Tubuhnya berdiri tegak, kemudian kedua tangan terlihat menyilang di depan dada. Dari mulutnya terdengar ucapan aneh yang mirip mantera-mantera. Telapak tangan Wikuta yang menyilang di depan dada, seketika mengeluarkan kepulan asap kemerahan.

Ki Caringin memang tak terkejut menyaksikan tindakan lelaki berambut merah. Namun, lelaki berusia enam puluh tahun itu segera melipatgandakan kemampuannya untuk menghadapi aji 'Renggut Jasat' Malaikat Rambut Merah.

Keris di tangan kanannya seketika ditempelkan pada telapak tangan kirinya. Tubuh Ki Caringin sedikit menegang dan tatapan matanya tertuju lurus pada Malaikat Rambut Merah.

Seluruh ajian 'Renggut Jasat' sudah mulai di kerahkan Malaikat Rambut Merah. Kedua tangannya kini berubah menjadi merah membara.

Tatapan mata Wikuta tertuju lurus pada Ki Caringin.

Plak!

"Gerrrkkkhhh...!"

Gerengan  yang  menggetarkan  terdengar. Plak! Seiring dengan tepukan  tangan Malaikat  Rambut Merah meluncurlah sepuluh larik sinar kemerahan. Sinar itu keluar dari kesepuluh jari tangan Malaikat Rambut Merah.

Seketika itu juga Ki Caringin segera mengerahkan kerisnya yang ditempelkan di telapak tangan kiri membuat gerakan melingkar di depannya. Gerakan Ki Caringin yang dialiri kekuatan tenaga dalam penuh menimbulkan lingkaran bercahaya putih yang melingkari seluruh tubuhnya.

Sejurus kemudian cahaya putih melingkar bergerak cepat menghadang sepuluh larik sinar merah ciptaan Malaikat Rambut Merah. Sehingga....

Glaaarrr. !

Bunyi ledakan keras terdengar memekakkan telinga ketika sinar putih dan merah saling menerjang. Kedua tubuh pun harus merasakan tenaga balik dari sinar hasil ciptaan mereka.

Tubuh Ki Caringin nampak terdorong beberapa langkah. Begitu pula dengan tubuh si Malaikat Rambut Merah, bahkan dari sudut bibir Malaikat Rambut Merah nampak mengeluarkan darah.

"Eugkh!"

Malaikat Rambut Merah terbatuk, dirasakan dadanya sesak dan terasa nyeri.

"Bagaimana, Rambut Merah? Kau masih hendak meneruskan pertarungan ini?" tanya Ki Caringin.

"Huh! Aku masih mampu mengerahkan aji 'Renggut Jasat’ yang akan mengubur tubuhmu, Aki Peyot!" jawab Malaikat Rambut Merah sambil memperbaiki letak berdirinya.

'Tapi ajian mu itu sudah berhasil ku lumpuhkan barusan, Rambut Merah!"

"Jangan sombong kau, Tua Bangka!"

Dan tiba-tiba Malaikat Rambut Merah mengibaskan kembali tangannya.

"Hih!"

Slats! Slats! Slats!

Sinar-sinar merah kembali keluar dari jari-jari tangannya yang dihentakkan dengan kuat. Sinar kemerahan itu meluruk deras ke tubuh Ki Caringin yang juga telah melakukan gerakan sama seperti yang pertama.

Sinar putih nampak dari ujung keris yang diputar Ki Caringin meluruk maju, menghadang lesatan sinar merah ciptaan Malaikat Rambut Merah.

Wrrr...! Glaaar!

Ledakan keras kembali terdengar. Bersamaan dengan ledakan itu tubuh Malaikat Rambut Merah terdorong kuat. Tubuh yang terbungkus pakaian merah itu melayang lalu membentur sebatang pohon yang langsung tumbang.

"Aaakh...!" Grak!

Tubuh si Malaikat Rambut Merah jatuh berdebum di tanah. Namun, dengan tenaga yang masih ada lelaki berambut merah itu tetap berusaha bangkit.

Ki Caringin yang hanya terdorong beberapa langkah, ketika melihat Malaikat Rambut Merah kembali bangkit, segera dengan cepat mengibaskan kerisnya. Dan dari ujung keris itu seketika melesat sinar putih sebesar bulatan biji tasbih. Bulatan sinar putih itu meluruk deras ke tubuh Malaikat Rambut Merah.

Wusss...! Jlesss! "Aaa...!"

Lengking kematian membumbung ke langit seketika terdengar menyayat hati. Tubuh Malaikat Rambut Merah seketika limbung. Dadanya bolong tertembus sinar putih yang melesat dari ujung keris milik Ki Caringin.

Dari lubang di dada itu nampak mengepul asap putih yang menghembuskan bau tak sedap dan menyesakkan dada.

"Hhhh"

Ki Caringin menarik napas lega setelah menyelesaikan pertarungan yang cukup menguras tenaga. Sebentar Ki Caringin menatap Malaikat Rambut Merah yang sudah tak bernyawa. Sebentar kemudian tubuhnya sudah bergerak ke pertempuran Ki Suteja melawan Malaikat Mata Tunggal.

Namun, baru saja Ki Caringin mendekati tubuh Kepala Desa Gatareja, mendadak terdengar suara jeritan yang membumbung tinggi ke angkasa. Pekik kematian melengking berasal dari tempat pertarungan antara Raja Petir melawan Malaikat Lengan Tunggal.

Kematian Malaikat Lengan Tunggal yang menggiriskan, dengan bagian tubuh hangus seperti terbakar membuat Malaikat Mata Tunggal menghentikan serangannya pada Ki Suteja.

Lelaki berpakaian hitam yang menggenggam sebatang pedang lentur terkejut bukan kepalang. Dengan kematian Jatayu, berarti tinggal dirinya menghadapi ketiga lawannya. Tiba-tiba Malaikat Mata Tunggal merasakan kegentaran merasuki hatinya.

Saladu ingin membalas kematian kedua rekannya, namun mana mungkin dirinya mampu melakukannya. Menghadapi Kepala Desa Gatareja saja cukup kewalahan, apalagi menghadapi Ki Caringin dan Raja Petir.

"Hentikan pertarungan!" teriak Malaikat Mata Tunggal lantang.

Murid-murid Perguruan Jari Malaikat yang tengah bertarung menghadapi murid-murid Padepokan Gatareja seketika menghentikan perlawanannya.

Seluruh mata murid Perguruan Jari Malaikat tertuju pada wajah Malaikat Mata Tunggal.

"Sekarang aku boleh kalah, Tua Bangka. Tapi nanti, aku akan datang kembali untuk membuat perhitungan dengan kalian. Terutama kau, Raja Petir!" bentak Saladu si Malaikat Mata Tunggal dengan tatapan tajam tertuju pada wajah Jaka.

Jaka hanya membalas tatapan mata itu dengan sesungging senyum datar.

"Kau yang menginginkan itu, Mata Tunggal! Aku hanya menuruti saja apa maumu," jawab Raja Petir tenang.

"Hhh! Sekarang kau boleh menepuk dada, Bocah Ingusan! Namun, lain kali tubuhmu akan ku kubur hidup-hidup!" ancam Malaikat Mata Tunggal masih tetap keras.

"Kita buktikan saja nanti, Mata Tunggal," ucap Jaka.

Malaikat Mata Tunggal kemudian menoleh ke arah murid-murid Perguruan Jari Malaikat yang masih tersisa.

"Urus mayat Kakang Jatayu dan Adi Wikuta! Cepat tinggalkan tempat sial ini!" perintah Saladu keras.

Tanpa diperintah dua kali murid-murid Perguruan Jari Malaikat segera membopong mayat Malaikat Lengan Tunggal, Malaikat Rambut Merah dan muridmurid Perguruan Jari Malaikat yang tewas.

"Ingat baik-baik, Raja Petir! Aku akan mencarimu sampai ke ujung langit sekalipun!" ancam Malaikat Mata Tunggal sebelum meninggalkan tempat pertarungan.

"Aku akan menunggu, tapi bukan di ujung langit, Saladu," jawab Raja Petir mengejek.

"Hhh Ayo!"

"Hup!"

"Hip!"

Malaikat Mata Tunggal segera melesat meninggalkan tempat itu. Kemudian diikuti oleh murid-murid Perguruan Jari Malaikat.

"Apa kejadian ini ada hubungannya dengan apa yang dilakukan Ratu Ular?" tanya Ki Caringin pada Ki Suteja setelah orang-orang dari Perguruan Jari Malaikat menghilang dari tempat pertarungan.

"Kurasa tidak, Kakang Caringin," jawab Kepala Desa Gatareja. "Kemungkinan mereka hanya mencari alasan saja. Mereka pikir kita mudah ditaklukkan."

“Tapi entah jika tanpa Raja Petir," seloroh Ki Caringin.

Lelaki tua berusia lebih dari enam puluh tahun itu menatap wajah tampan Jaka.

"Aku telah lama mendengar kehebatanmu dalam memberantas kelaliman, Raja Petir," ucap Ki Caringin dengan tatapan mata yang merayapi sekujur tubuh Jaka.

"Namaku Jaka Sembada, Ki. Ki Caringin cukup memanggilku Jaka saja," sahut Jaka.

"Selain hebat, kau ternyata juga rendah hati," puji Ki Caringin lagi.

"Kabar yang Ki Caringin dengar itu terlalu berlebihan," kilah Raja Petir merendah.

“Tidak! Kabar itu benar adanya. Kau telah membuktikannya dalam mengusir malaikat-malaikat gadungan tadi," sangkal Ki Caringin.

Jaka tentu saja tak dapat menyangkal lagi ucapan Ki Caringin. Lelaki berpakaian kuning keemasan yang berjuluk Raja Petir hanya menundukkan kepalanya.

"Apa sebaiknya kita menunggu saja kedatangan Ratu Ular seperti yang pernah kau katakan waktu itu, Kakang Caringin?" tanya Kepala Desa Gatareja itu mengalihkan pembicaraan. Ki Suteja tahu kalau Jaka tengah serba salah menghadapi pujian Ki Caringin yang terang-terangan.

"Bagaimana pendapatmu, Jaka?" tanya Ki Caringin kepada Raja Petir.

"Bagaimana kalau kita tunggu perkembangan selanjutnya, Ki?" jawab Jaka yang juga mengandung pertanyaan.

Ki Caringin menatap wajah Kepala Desa Gatareja, kemudian berkata,

"Bagaimana, Adi Teja?" tanya Ki Caringin.

"Usul Jaka kurasa bagus, Kakang. Sambil menunggu perkembangan selanjutnya kita bisa mempersiapkan segala sesuatunya," jawab Ki Suteja. "Namun untuk hari ini alangkah baiknya Kakang bermalam di tempatku!”

"Ah, kau balas dendam rupanya," kilah Ki Caringin.

"Tidak begitu, Kakang. Aku akan merasa tenang kalau ada Kakang di antara kami," balas Ki Suteja sambil menatap lelaki itu.

Kepala Desa Gatareja dan Ki Caringin pun sama-sama mengurai tawa sambil melangkah perlahan mendekati Jaka.

"Ayo, Jaka. Kita ke ruangan ku lagi” ajak Ki Suteja.

Jaka pun mengikuti langkah Ki Suteja dan Ki Caringin yang menuju ke ruang khusus milik Kepala Desa Gatareja itu.

***
DELAPAN
Cahaya merah di langit sebelah timur mulai menampakkan diri. Fajar pun menyingsing menggantikan malam. Di dalam sebuah ruangan Padepokan Gatareja nampak beberapa murid perguruan yang bersiap menggantikan tugas jaga. 

Namun belum lagi serah terima tugas jaga itu dilakukan, tiba-tiba puluhan ular berbisa menyerbu murid-murid yang ada di ruang depan Padepokan Gatareja. Murid-murid Padepokan Gatareja tidak tahu dari mana dan kapan datangnya binatang-binatang berbisa itu.

Mendapatkan serangan yang tidak disangka-sang ka, murid-murid Padepokan Gatareja kalang kabut. Mereka sebisanya menghindari pagutan ular-ular berbisa yang datangnya begitu cepat.

"Awas, ular!" 

"Aaa...!"

Dalam sekejap saja ular-ular itu telah berhasil memagut beberapa orang. Pekik kesakitan diiringi dengan bergugurannya murid Padepokan Gatareja. Mereka tak mampu menghindari pagutan ular-ular berbisa itu. Beberapa orang murid yang berada di ruang da-

lam segera berhamburan keluar setelah mendengar hiruk-pikuk dan jeritan. Sambil meloloskan senjata masing masing, murid-murid Padepokan Gatareja segera berlari menuju ke tempat kejadian. Namun, puluhan ular berbisa itu telah menghadang, beberapa di antaranya bahkan langsung menyerang.

"Hiyaaa...!"

Teriakan-teriakan keras mengiringi babatan pedang ke leher ular-ular itu. "

Hih!"

Cras! Cras!

Beberapa ekor ular yang berusaha menyerang bergelimpangan tertebas golok. Beberapa kepala binatang berbisa itu berpentalan. Darah pun seketika membasahi ruangan Padepokan Gatareja.

Bau amis yang seketika tercium, membuat ular-ular yang lain turut menerjang. Bahkan, dari semak-semak di sekitar Padepokan Gatareja bermunculan ular-ular kecil dan besar. Semua menyerbu masuk ke Padepokan Gatareja.

Murid-murid Padepokan Gatareja merasa kaget menyaksikan ular-ular berbisa itu kian banyak jumlahnya.

Dalam keadaan mencekam seperti itu, mendadak muncul sosok berpakaian kuning keemasan. Sosok itu tak lain Raja Petir.

Kemunculan Raja Petir disusul pula kemunculan Ki Suteja dan Ki Caringin.

"Ular-ular suruhan Ratu Ular," ucap Ki Caringin.

Ki Suteja nampak terkejut mendengar ucapan Ki Caringin. Sejenak matanya menatapi ular-ular berbisa yang bergerak-gerak seperti menantang.

"Kita harus segera mengusir ular-ular itu, Kakang Caringin," ujar Ki Suteja geram.

"Tentu saja, Adi Teja. Kalau tidak, muridmuridmu akan habis di mangsanya," jawab Ki Caringin.

"Ayo, Jaka. Kita usir binatang-binatang berbisa itu," ajak Ki Suteja sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

Perbuatan Ki Suteja diikuti Ki Caringin dengan mencabut keris dari balik pakaiannya. Srat!

Tubuh Kepala Desa Gatareja mencelat cepat, melakukan tebasan kuat pada ular-ular yang bergerak hendak memagut.

"Hia!" Cras! Cras!

Ular-ular yang mencoba mendekati Ki Suteja seketika berpentalan dengan kepala terputus.

Ki Suteja terus membabat ular-ular itu dengan kecepatan luar biasa. Sehingga sekali tebas empat ekor ular langsung bergelimpangan tak bernyawa.

Begitu juga yang dilakukan Ki Caringin. Meskipun senjatanya hanya sebilah keris pendek, kedahsyatan-nya tak kalah dengan yang dilakukan Ki Suteja.

Keris Ki Caringin berkali-kali berkelebat cepat, menjemput setiap kepala ular yang mencoba memagut tubuhnya. Tak heran kalau puluhan ular telah tewas di Ujung kerisnya.

Namun ternyata Ki Suteja dan Ki Caringin belum sadar kalau pekerjaan yang dilakukan hanya siasia belaka. Karena jumlah binatang berbisa itu bukan berkurang, tapi sebaliknya. Ular-ular itu semakin bertambah jumlahnya, bahkan kini datang pula empat ekor ular sebesar paha orang dewasa.

"Hhh! Benar-benar ular siluman!" maki Kepala Desa Gatareja geram.

Raja Petir yang menyaksikan keanehan itu bukan tidak terkejut. Matanya tengah menatap ular-ular suruhan itu dengan kekuatan batinnya, sekaligus untuk mencari kelemahan binatang-binatang berbisa itu.

"Maaf, Ki. Jangan kalian serang binatangbinatang itu terus-menerus," larang Jaka pada Ki Suteja dan Ki Caringin.

"Bagaimana kalau aku mencoba mengusir mereka dengan aji 'Lingkar Sinar Sutera' milikku, Jaka?" tanya Ki Caringin hati-hati.

Jaka tak bisa menjawab permintaan Ki Caringin. Bukan karena belum menyaksikan kehebatan aji 'Lingkar Sinar Sutera' milik Ki Caringin, tapi karena merasa sungkan untuk melarang keinginan baik lelaki tua itu.

"Bagaimana, Jaka?" tanya Ki Caringin lagi. "Silakan, Ki," jawab Jaka mantap. Dirinya tak ingin melihat kekecewaan pada diri Ki Caringin. "Semoga aji 'Lingkar Sinar Sutera' mu berhasil mengusir ular-ular itu!" lanjut Jaka.

Ki Caringin segera melangkahkan kakinya. Kemudian lelaki berusia enam puluh tahun yang mengenakan pakaian putih bersih itu segera memutar kerisnya.

Tenaga yang terkandung dari putaran keris nampak begitu kuat, itu terbukti dari otot-otot tangan Ki Caringin yang menegang dan bersembulan keluar. Di-tambah lagi desisan suaranya yang tengah mengerahkan tenaga dalam tinggi.

Di lain pihak, ular-ular berbisa suruhan si Ratu Ular nampaknya mengetahui gelagat. Mata ular-ular itu menyorot tajam Ki Caringin. Lidah-lidah binatang yang terjulur itu mengeluarkan bunyi desis yang menyeramkan.

Zzzssst..! Zzzssst...!

Sementara itu, Ki Caringin telah berhasil menciptakan sinar putih yang melingkar-lingkar di dadanya.

"Hih!"

Ki Caringin menghentakkan tangannya yang memegang keris. Wrusss...!

Sinar putih yang melingkar-lingkar di depan dada Ki Caringin seketika meluruk deras ke sekawanan ular di hadapannya.

Bresh!

Ular-ular berbisa yang terlanggar sinar putih itu seketika berpentalan ke segala arah. Ki Caringin pun menarik napas lega melihat keberhasilannya mengusir binatang-binatang melata itu. Namun Ki Caringin kembali terperanjat ketika ular-ular itu kembali bangkit dan meluruk cepat memburu dirinya.

Zzzssst...!

Zzzssst...!

Desisan ular-ular itu semakin keras dan tak beraturan. Ki Caringin menggemeretakkan giginya menahan geram. Tangannya yang menggenggam sebilah keris pun berputar lagi dengan hebat. Tebasan-tebasan dengan kekuatan tenaga dalam tinggi pun dilakukannya.

Dengan sekali tebas saja, puluhan binatang-binatang berbisa itu sudah bergelimpangan dengan kepala yang terpenggal.

"Jangan kau lakukan itu lagi, Ki. Tenagamu akan terkuras percuma," larang Jaka.

Raja Petir pun segera melompat ke samping kiri Ki Caringin sambil melontarkan aji 'Pukulan Pengacau Arah' dengan kekuatan tenaga dalam penuh.

"Haaat...!" Wusss...! Brush!

Pusaran angin bergulung yang keluar dari telapak tangan Jaka membuyarkan ular-ular yang mencoba memangsa tubuh Ki Caringin. Ular-ular itu berpentalan ke berbagai arah.

Raja Petir mulai sadar, bahwa binatang-binatang itu akan kembali hidup selama masih berada dalam pengaruh sihir si Ratu Ular, dan akan terus melakukan penyerangan. Tak ada jalan lain, pikir Jaka. Aku harus mengerahkan aji 'Kukuh Karang' untuk memusnahkan pengaruh sihir itu.

Setelah berpikir sejenak, Jaka segera mundur satu langkah. Kedua tangannya seketika terangkat lurus ke atas kepala, seiring dengan tarikan nafasnya yang terdengar halus. Jaka kemudian merentangkan tangannya dan sebentar kemudian jari-jari yang terentang itu terkepal kuat. Tak berapa lama kemudian, kedua tangannya diletakkan menyilang di depan dada.

Sinar kuning seketika nampak membungkus bagian kepala hingga dada, dan bagian lutut hingga ujung kaki. Sinar kuning keemasan itu berpijar menyilaukan mata. Seiring dengan terbungkusnya bagian tubuh Raja Petir dengan sinar kuning keemasan, ular-ular berbisa itu kembali melakukan penyerangan secara serempak.

Jaka tak membiarkan kesempatan baik yang terbuka lebar. Seketika itu juga Raja Petir membuka tangannya yang bersilangan di depan dada.

"Hih!"

Kedua tangan Raja Petir dengan cepat menghentak keras. Tras! Sinar kuning keemasan yang menyilaukan melesat deras dari telapak tangannya, menghadang ularular itu. Dan....

Jrabbbs!

Sinar kuning keemasan yang melanda ular-ular berbisa seketika membungkus binatang-binatang itu. Akibatnya, binatang-binatang melata itu menggelepargelepar seperti terpanggang bara. Beberapa saat lamanya binatang-binatang berbisa itu menggelepar dalam bungkusan sinar kuning dari aji 'Kukuh Karang'. Kemudian terkulai lemas di tanah, seperti tanpa tenaga.

Namun, ketika sinar kuning yang membungkus itu lenyap, binatang-binatang suruhan itu kembali bergerak-gerak. Ki Suteja dan Ki Caringin menyangka kalau ular-ular itu akan kembali menyerang Raja Petir, tetapi dugaan itu ternyata tidak terbukti. Mata Ki Suteja dan Ki Caringin menyaksikan ular-ular itu mengeloyor pergi meninggalkan tubuh Jaka yang masih tetap tegap berdiri dengan tenang. Sementara itu sinar kuning keemasan yang membungkus bagian dari tubuhnya telah lenyap.

"Sungguh aneh ular-ular itu, Jaka," ucap Ki Suteja sambil berjalan mendekati Raja Petir.

Jaka hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar ucapan Ki Suteja.

"Tapi aku bersyukur Ki, mampu memusnahkan pengaruh sihir Ratu Ular, tanpa harus membunuh ular-ular yang tak bersalah itu," ujar Raja Petir sambil memalingkan sebentar wajahnya ke wajah Ki Suteja di sampingnya.

"Iya, ya," sahut Ki Suteja lagi sambil mengangguk-anggukkan kepala. Lelaki setengah baya itu menatap Raja Petir penuh rasa terima kasih.

Namun belum lagi pulih ketenangan di hati Ki Suteja, tiba-tiba suara tawa melengking terdengar begitu dahsyat memekakkan telinga. Suara itu berkumandang panjang seperti hendak meruntuhkan seluruh desa.

"Hik... hik... hik...! Jangan kalian merasa lega dulu. Hadapi kedahsyatan ilmuku!"

Kemudian nampak dua sosok perempuan berkelebat dengan cepat. Kedua sosok tubuh perempuan tua yang terbalut pakaian hijau dan kehitaman mendarat beberapa tombak jauhnya dari Raja Petir dan Ki Suteja.

"Ratu Ular?!" teriak Kepala Desa Gatareja dan Ki Caringin hampir bersamaan.

Keduanya melihat dengan jelas sosok perempuan tua berpakaian kulit ular coklat kehitaman. Di sampingnya berdiri sosok gadis cantik berambut ularular kecil di kepalanya. Apakah gadis yang bersama Ratu Ular itu putri Ki Rampal Lawu? Rata hati Ki Suteja.

Namun begitu juga kiranya kata hati lelaki berpakaian putih bersih, Ki Caringin nampak memandangi gadis muda usia yang berdiri angkuh di sisi Ratu Ular.

"Hik... hik... hik.... Raja Petir! Aku memang mendengar kehebatanmu dalam menaklukkan tokohtokoh sakti golongan hitam. Aku kagum akan kehebatanmu itu, namun sayang kehebatanmu itu harus berakhir di tangan orang tua renta semacam aku," ucap Ratu Ular dengan nada suara berat.

Raja Petir tak mengomentari ucapan perempuan berusia tak lebih dari tujuh puluh lima tahun, mata Jaka hanya menatap wajah si Ratu Ular dan perempuan muda usia yang berdiri di sampingnya.

"Ratu Ular, setahuku kita tak pernah saling bertemu, apalagi saling bermusuhan. Lalu kenapa kau menculik putra bungsu ku?" tanya Kepala Desa Gatareja tenang.

"Suteja! Kuketahui kalau kau sahabat baik Rampal Lawu, dan juga Caringin yang berdiri di sebelah mu itu. Sebetulnya, aku tak ingin melakukan tindakan seperti yang pernah kulakukan terhadap Rampal Lawu dan Desa Kemuningwaru. Tetapi karena kau telah berani mengundang orang lain dalam persoalan ini, maka terpaksa akan kulakukan. 

Dirimu dan Desa Gatareja akan mengalami nasib yang sama dengan Rampal Lawu dan desanya," jawab Ratu Ular penuh nada ancaman. "Namun, sebelum kehancuranmu dan Desa Gatareja datang, akan ku jelaskan maksudku menculik putra bungsu mu! Biar kau tidak penasaran," lanjut Ratu Ular yang sesungguhnya bernama Nyi Kumala-rani.

Ki Suteja hanya mendengus kesal mendengar ucapan Nyi Kumalarani. Kepala Desa Gatareja semakin mempertajam tatapan matanya.

"Usiaku sudah lanjut, sedangkan cita-citaku untuk mengembangkan ilmu hitam yang telah ku tekuni selama puluhan tahun telah dikuasai gadis ini," ucap Ratu Ular menoleh ke dara cantik berpakaian kulit ular hijau lurik. "Sekarang aku ingin mewujudkan cita-citaku yang lainnya, yakni mencarikan jodoh Dewi Ambar Sari yang ku gelari Ratu Sihir Puri Ular. Jodoh untuk Dewi Ambar Sari telah kudapatkan, yakni putra bungsu mu, Suteja. Kelak keduanya akan melahirkan anak-anak yang akan mengembang luaskan ilmuilmuku. Dengan begitu seluruh cita-citaku akan tercapai."

"Hmmmh...!"

Ki Suteja menggereng kuat mendengar kelanjutan ucapan Ratu Ular. Mata Kepala Desa Gatareja semakin terbelalak lebar. .

"Ratu Ular!" bentak Ki Suteja lantang. "Dengar baik-baik! Sedikit pun aku tak sudi bermantukan Ratu Sihir Puri Ular. Aku tak akan merestui pertunangan Abimanyu dengan Dewi Ambar Sari putri Ki Rampal Lawu yang telah kau pengaruhi semenjak bayi!"

"Kau tidak sudi atau tidak merestui, itu adalah hakmu, Suteja! Namun, keinginanku untuk menjodohkan Ratu Sihir Puri Ular dan Abimanyu tetap akan kulaksanakan. Dan kau akan menyaksikan dari dalam kuburmu!" ujar Ratu Ular dengan sedikit kegeraman. "Sombong kau, Ratu Ular!" bentak Ki Suteja. Ki Suteja hendak melangkahkan kaki untuk menerjang perempuan tua yang berjuluk Ratu Ular, namun ucapan Jaka membuat Ki Suteja mengurungkan niatnya.

“Tahan, Ki. Tak ada gunanya kau menuruti amarah," larang Raja Petir.

Apa yang dilakukan Jaka ternyata membuat Ratu Ular naik pitam.

"Raja Petir! Kenapa kau melarang Suteja menyerang ku? Apa kau yang lebih dulu mau menyerang! Kalau memang begitu, ayolah maju!" hardik Ratu Ular penuh tantangan.

"Kaulah yang maju lebih dahulu, Ratu Ular. Karena kau yang datang ke desa ini," kilah Raja Petir.

"Kurang ajar kau! Rupanya kau benar-benar ingin mampus lebih dulu!"

“Terimalah ini! Hiaaa...!"

***
SEMBILAN
"Tahan, Nek!" teriak dara manis yang berdiri sombong di samping Nyi Kumalarani.

Ratu Ular menghentikan gerakannya. Wajah tua Nyi Kumalarani berkerut menatap cucunya yang berjuluk Ratu Sihir Puri Ular.

"Aku tak suka tanganmu kotor hanya untuk mengurusi anak muda yang bukan tandingan mu itu," jelas Ratu Sihir Puri Ular datar.

Mata dara berusia tak lebih dari enam belas tahun itu kini menatap wajah Jaka tajam.

"Hik... hik... hik.... Jadi kau menginginkan pemuda tampan itu hidup, Cucuku? Kau menyenanginya?" tanya Nyi Kumalarani dengan mata mengerjapngerjap lucu.

Kepala Desa Gatareja dan Ki Caringin merasa muak mendengar ucapan si Ratu Ular, namun tidak demikian halnya dengan Jaka.

Raja Petir nampak mengembangkan senyumnya mendengar ucapan Nyi Kumalarani.

"Kau salah tanggap, Nek," bantah Ratu Sihir Puri Ular. "Aku ingin pemuda tampan itu berhadapan langsung denganku. Aku ingin tahu sampai di mana kehebatan ilmunya."

"Hik... hik... hik.... Silakan, Cucuku! Silakan. Aku yakin Raja Petir tak bakal mampu menandingi kesaktian dan ilmu sihir mu," sambung Nyi Kumalarani. "Biar aku yang sudah tua ini berhadapan dengan yang tua-tua juga," lanjut Ratu Ular seraya menatap Ki Suteja dan Ki Caringin bergantian.

"Baik, Nek," ucap Ratu Sihir Puri Ular menyetujui keputusan Nyi Kumalarani, nenek angkatnya.

Dara manis berpakaian kulit ular hijau lurik mengangkat kakinya satu langkah ke depan. Rambutnya yang terdiri dari puluhan bahkan ratusan ularular kecil bergerak-gerak seperti dipermainkan angin.

Dara manis yang berjuluk Ratu Sihir Puri Ular menatap Jaka tajam. Entah apa maksud tatapan itu, yang jelas ada kekuatan lain dirasakan Jaka.

Raja Petir segera mengerahkan kekuatan batinnya untuk melawan tatapan mata Dewi Ambar Sari yang memantulkan kekuatan aneh di hatinya.

"Ahhh!"

Tarikan napas berat seketika terdengar seiring dengan tatapan mata Jaka yang membalas tatapan mata Ratu Sihir Puri Ular. Mata jalang milik Dewi Ambar Sari seketika beralih menatap bagian tubuh Jaka yang lain.

"Kau memang memiliki kelebihan jika di bandingkan dengan orang-orang yang berada di hadapanku, Anak Muda," ucap Ratu Sihir Puri Ular dengan tatapan mata yang mengarah pada dada bidang Jaka.

Jaka lagi-lagi hanya mengembangkan senyumnya mendengar pujian itu.

"Perkenalkanlah namamu agar aku tak penasaran mengingat namamu setelah kau terkubur nanti!" ujar Dewi Ambar Sari kemudian.

Jaka kembali mengembangkan senyum sebelum menimpali ucapan Ratu Sihir Puri Ular.

"Aku tak akan mati sebelum roh dalam tubuhku pergi meninggalkan jasad ku," kilah Jaka kalem. "Namun terus terang, aku paling tidak senang membuat orang lain penasaran, untuk itu kuberitahukan padamu kalau namaku Jaka Sembada. Kau bisa memanggilku Jaka atau Sembada," tambah Raja Petir.

"Hmmm Jaka?" ulang Dewi Ambar Sari mantap. "Namamu bagus, tapi sayang umurmu tak panjang. Kau akan segera binasa di tanganku."

"Kau selalu membicarakan masalah umur, Dewi. Kau pikir umurku ini berada di tanganmu, heh?" ucap Jaka sedikit mengejek.

"Kau masih tak yakin, Jaka? Akan kubuktikan sekarang agar kau tak akan lagi menikmati matahari esok pagi," balas Ratu Sihir Puri Ular.

"Buktikanlah!" keras ucapan yang keluar dari mulut Jaka.

"Baiklah!"

Dewi Ambar Sari, dara manis yang berjuluk Ratu Sihir Puri Ular seketika menggerakkan tangannya. Kedua tangan bergerak gemulai, kemudian telapak tangan yang satu sama lain saling bertemu. Jaka menyaksikan gerakan Ratu Sihir Puri Ular yang bagai gerakan seorang penari.

"Zzzssst...!"

Mulut Ratu Sihir Puri Ular seketika berdesis seiring dengan rentangan tangannya perlahan. Dari dalam mulut Dewi Ambar Sari mendadak menjulur lidah yang sudah berubah persis seperti lidah ular besar. Lidah bercabang itu menjulur panjang.

"Zzzssst...!"

Suara desisan mulut Ratu Sihir Puri Ular tibatiba berubah menjadi hembusan napas yang keras.

"Hosh!"

Dari lidah Dewi Ambar Sari yang terjulur seketika menyembur api yang meluruk cepat ke tubuh Jaka.

"Heh?!"

Jaka sempat terkesiap melihat kedatangan serangan yang begitu mendadak.

"Awas, Jaka!" teriak Ki Caringin memperingatkan Raja Petir.

Jaka yang memang sudah terlatih kepekaannya, secara naluriah segera bergerak cepat menghindari terjangan segumpalan api yang menyembur dari mulut Ratu Sihir Puri Ular.

Weeesss! "Uts! Hup!"

Jaka melenting ringan dan bersalto beberapa kali di udara. Tubuh Jaka yang berada di udara, masih tetap terarah pada setiap gerakan Ratu Sihir Puri Ular untuk mengawasi gerakan lawan yang mungkin membahayakan. Betul saja dugaan Jaka. Ketika tubuhnya tengah berputaran di udara, Ratu Sihir Puri Ular terlihat menepukkan kedua belah telapak tangannya.

Plak! Plak!

Terdengar suara tepukan itu, lalu disusul oleh lesatan sinar dari tangannya. Weeesss! Weeesss!

Serangkum sinar berwarna kebiruan meluruk deras ke tubuh Jaka yang tengah berada di udara. Raja Petir pun tak ingin tubuhnya dimangsa sinar kebiruan hasil ciptaan Ratu Sihir Puri Ular. Dengan gerakan indah dan begitu cepat, Jaka menjatuhkan dirinya ke tanah dan berguling beberapa kali di tanah. Kemudian dengan bertumpu pada tangannya, Raja Petir kembali melenting cepat dan segera mendarat lagi dengan manis.

"Hup!"

Ratu Sihir Puri Ular marah bukan kepalang menyaksikan serangannya yang dilancarkan berturut-turut tak berhasil. Kemurkaan dara manis yang sesungguhnya putri tunggal Ki Rampal Lawu itu kini diwujudkan melalui serangkaian ilmu-ilmu sihir yang begitu mengerikan.

Tubuh Ratu Sihir Puri Ular tiba-tiba menjelma menjadi seekor ular besar hijau lurik. Tubuh ular besar yang memancarkan sinar kehijauan bergerak-gerak hebat. Dari gerakannya yang dahsyat itu beberapa batang pohon bertumbangan terlanda ekor ular jelmaan Ratu Sihir Puri Ular.

Zzzssst...!

Ular besar hijau lurik itu mendesis keras, matanya menyorot tajam wajah Jaka yang sudah bersiap-siap menghadapinya dengan menggunakan aji 'Bayang-bayang'. Dan ketika tubuh ular itu berkelebat cepat, Jaka telah selesai mengerahkan ajiannya. Tubuh Jaka kini menjadi bertambah jumlahnya.

Zzzssst...

Ular besar jelmaan Dewi Ambar Sari itu menerjang salah saru tubuh Raja Petir yang berdiri berpencar. Namun, ular itu hanya membentur bayangan diri Jaka.

"Jangan sembrono, Dewi. Pusatkan hatimu, pilih wujud Raja Petir yang sesungguhnya!" teriak Nyi Kumalarani.

Setelah beberapa kali ular besar itu menerjang bayangan-bayangan tubuh Raja Petir, tiba-tiba berhenti. Ular jelmaan itu nampak seolah-olah tengah merenungi ucapan Nyi Kumalarani.

"Seharusnya kau tak ikut campur dengan pertarungan mereka, Ratu Ular!" tukas Ki Caringin memperingatkan.

"Kau tak senang, Caringin?!" tanya Nyi Kumalarani kasar. "Kalau kau tak senang, kita bisa bertarung sekarang!" lanjut Ratu Ular penuh tantangan.

Ki Caringin menatap wajah Ki Suteja. "Bagaimana, Adi Teja?" tanya Ki Caringin seperti berbisik,

"Ratu Ular terlalu merendahkan kita, Kakang Caringin. Sebaiknya penuhi saja tantangannya," jawab Ki Suteja perlahan.

"Hhh"

Ki Caringin menarik napas dalam-dalam, kemudian tatapan matanya berpindah pada wajah keriput Nyi Kumalarani.

"Baik, Nyi. Kita memang harus bertarung," jawab Ki Caringin mantap.

"Hik... hik... hik...! Rupanya kalian sudah bosan hidup," ejek Ratu Ular disertai tawa yang memekakkan telinga. "Baik aku turuti kesanggupan kalian. Ayo, majulah!"

"Kau yang harus memulainya lebih dulu, Ular Laknat!" bentak Ki Suteja.

Merah padam wajah Nyi Kumalarani mendengar bentakan yang cukup keras itu. Tatapan mata Ratu Ular seketika mencorong ke wajah Ki Suteja.

"Teja! Kau harus mampus lebih dulu!" keras ucapan Ratu Ular dengan jari telunjuk yang menuding Kepala Desa Gatareja itu.

"Cuh! Umur bukan di tanganmu, Ular Laknat!" 

"Bedebah kau!" maki Nyi Kumalarani.

Perempuan tua berusia tujuh puluh lima tahun itu kini bergerak ke depan. Seperti yang dilakukan Dewi Ambar Sari terhadap Jaka, Nyi Kumalarani pun melakukan hal yang sama. Lidahnya yang kini berbentuk lidah ular mendesis-desis dan terjulur panjang.

Ratu Ular pun seketika mengempos tenaganya. Dan....

"Khosh!"

Api seketika menyembur keluar seiring dengan hentakan napas Nyi Kumalarani. Gumpalan api itu meluruk deras mengancam tubuh Ki Suteja.

"Awas, Adi Teja!" teriak Ki Caringin memperingatkan.

Pada saat teriakan Ki Caringin menggema, segumpalan api ciptaan Ratu Ular sudah hampir menyentuh tubuh Ki Suteja. Akan tetapi Ki Suteja pun sudah bersiap terhadap serangan cepat itu.

"Hup!"

Ki Suteja cepat melakukan lejitan ringan ke kiri. Dengan sekuat tenaga kakinya dihentakkan ke tanah, melenting ke udara dan melakukan salto dua kali. Namun, Nyi Kumalarani kembali melancarkan serangan dahsyat ke tubuhnya yang masih berada di udara. Ki Caringin yang menyaksikan kelicikan si Ratu Ular menjadi geram bukan kepalang, maka seketika itu juga kerisnya dihentakkan kuat-kuat.

"Hih!" Wush!

Selarik sinar putih seketika meluruk dari ujung keris. Sinar putih itu meluruk cepat dari samping kanan segumpalan api yang hendak menerjang Ki Suteja. Begitu cepat lesatan sinar merah dan putih, hingga ketika beradu, terjadilah ledakan keras memekakkan telinga.

Glaaar!

Terkejut juga hati Nyi Kumalarani melihat serangannya berhasil dihalau Ki Caringin. Wajah tua si Ratu Ular menjadi bertambah geram. Seketika itu juga, dengan diiringi pekikan keras tubuh Nyi Kumalarani melesat cepat menerjang Ki Caringin.

"Hiaaat...!"

***

Pada pertarungan lain antara Raja Petir melawan Ratu Sihir Puri Ular, nampak kedudukan Jaka berada di atas angin. Berkali-kali Jaka berhasil mengandaskan serangan yang dilancarkan Ratu Sihir Puri Ular. Bahkan serangan balasan Raja Petir tak jarang menghantam telak tubuh si Ratu Sihir Puri Ular.

Apalagi ketika sabuk kuning keemasan yang melilit di pinggang Raja Petir telah lolos dan tergenggam di tangannya, kedudukan Raja Petir semakin kuat saja.

Zzzssst...!

Diiringi desisan keras ular jelmaan Dewi Ambar Sari kembali melancarkan serangan. Jaka segera menggerakkan pergelangan tangannya. Hiyaaa...!"

Teriakan keras Raja Petir mengiringi sabetan sabuk kuning keemasan. Dan.... Gelegaaarrr...!

Lecutan sabuk warna kuning keemasan begitu dahsyat. Seketika, sabetan itu membuat tubuh ular yang menerjangnya terpental balik. Ular jelmaan Ratu Sihir Puri Ular melayang deras menerjang pepohonan.

Brak! Brak!

Dua batang pohon besar seketika bertumbangan. Bunyi berderak mengiringi runtuhnya kedua pohon besar itu. Sungguh kuat ketahanan tubuh Ratu Sihir Puri Ular. Meski barusan tubuhnya terhajar sabuk kuning keemasan yang dirangkai dalam jurus 'Petir Membelah Malam', tubuh Ratu Sihir Puri Ular kembali bangkit dengan wujudnya yang asli.

Ratu Sihir Puri Ular kembali melesat cepat menerjang tubuh Raja Petir. Angin berdesing mengiringi serangannya yang datang secepat kilat. Raja Petir yang memang sudah ingin mengakhiri pertarungan, segera menyambut serangan Ratu Sihir Puri Ular dengan aji 'Kukuh Karang'. Seketika itu juga bagian kepala hingga dada, dan bagian lutut hingga ujung kakinya terbalut sinar kuning keemasan.

Dan ketika serangan Ratu Sihir Puri Ular dengan keras menghantam bagian tubuhnya yang tak terbungkus sinar kuning keemasan, seketika itu juga....

Breeet!

Tangan Ratu Sihir Puri Ular seketika menempel di tubuh Jaka. Perempuan cantik berambut ular itu ingin menarik tangannya yang menempel di perut Raja Petir, namun semakin kuat mengerahkan tenaganya, semakin kuat pula daya rekat di tubuh Jaka. Sehingga ketika dara manis itu terus berusaha menarik kembali tangannya, tenaganya semakin habis terkuras. Tubuh dara manis berjuluk Ratu Sihir Puri Ular pun melorot ke bawah, lunglai tanpa tenaga dan rebah di tanah tanpa bergerak.

Sesaat Raja Petir menatapi tubuh Dewi Ambar Sari, kemudian tubuh lelaki yang terbalut pakaian kuning keemasan melesat ke pertempuran Ki Suteja dan Ki Caringin yang sedang kewalahan menghadapi gempuran-gempuran dahsyat Nyi Kumalarani.

"Akulah lawanmu, Ratu Ular!" ucap Raja Petir keras.

Nyi Kumalarani alias Ratu Ular terkejut bukan main melihat kehadiran Jaka. Mata tua si Ratu Ular segera mencari Dewi Ambar Sari. Dan ketika mata si Ratu Ular melihat sosok Dewi Ambar Sari yang tergeletak tak bergerak, timbul kemurkaan yang dahsyat.

Dengan perasaan kalut, Nyi Kumalarani bergerak cepat menerjang tubuh Raja Petir yang sudah siap dengan sabuk kuning keemasan di genggamannya.

"Hiyaaa!"

Teriakan dahsyat mulut Nyi Kumalarani sambil melenting ke udara. Ketika tubuh Nyi Kumalarani mengapung di udara, Jaka segera mengayunkan sabuknya, maka....

Sebuah sinar keperakan melesat seperti sambaran petir. Sinar keperakan itu melesat menerjang tubuh Nyi Kumalarani, sehingga...

Glaaarrr!

Tubuh Nyi Kumalarani terpental deras terhantam sinar keperakan. Namun tubuh itu masih tetap utuh, sehingga Raja Petir cukup kaget. Karena setiap tubuh yang terhantam jurus 'Petir Membelah Malam' akan hangus seperti terbakar api. Namun tidak bagi tubuh si Ratu Ular yang nampak kembali bangkit meski dalam keadaan lemah.

"Tak kusangka kau memiliki kehebatan yang begitu tinggi Raja Petir. Aku tak menyesal jika harus mati di tangan orang yang memiliki ilmu kesaktian lebih tinggi dariku. Namun sebelum itu, kau harus lebih dulu menyaksikan kematian anak ini!" ucap Ratu Ular dengan napas sedikit tersengal-sengal.

Perempuan tua itu mengeluarkan sebuah botol bening yang di dalamnya terdapat sosok manusia. Ki Suteja tentu saja terkejut bukan kepalang menyaksikan tubuh Abimanyu berada dalam botol yang dipegang Ratu Ular.

"Abimanyu!" teriak Ki Suteja keras.

Raja Petir dari Ki Caringin sempat tersentak mendengar ucapan Ki Suteja. Jaka ingin berbuat sesuatu untuk menyelamatkan Abimanyu yang berada dalam kekuasaan Ratu Ular, namun keinginan itu dirasakan terlalu sulit. Tangan Ratu Ular telah bergerak lebih dulu menyumbat lubang botol bening dengan telapak tangannya mengeluarkan asap kehitaman.

"Abimanyu!" Ki Suteja terpekik keras.

Matanya melihat Abimanyu yang kelabakan berada di dalam botol itu. Ki Suteja ingin bergerak menerjang tubuh Ratu Ular, namun cekalan tangan Raja Petir menghentikan langkahnya.

"Jangan, Ki! Tubuh Ratu Ular itu tengah dijalari bisa-bisa ular yang mematikan. Sedikit saja kau menyentuh tubuhnya, nyawamu akan melayang," cegah Raja Petir sambil terus memegangi tangan Ki Suteja.

Ki Suteja segera menuruti ucapan Raja Petir, meskipun hatinya merasa tergetar menyaksikan kematian putra bungsunya yang begitu mengerikan.

"Kau juga harus mati", Ular Laknat!" bentak Ki Caringin tiba-tiba.

Keris lelaki tua berpakaian putih itu seketika terhentak. Selarik sinar putih pun melesat cepat dan menghantam kepala Ratu Ular. Slats! Glam...!

Kepala Nyi Kumalarani seketika terpental lepas dari badannya. Sinar putih yang melesat dari ujung keris Ki Caringin menghajar telak. Darah hitam seketika mengalir dari kepala Ratu Ular yang sudah terpisah dengan badannya. 

"Hhh..."

Ki Caringin menarik napas lega berhasil membinasakan si Ratu Ular. Mata tua lelaki berpakaian putih itu beralih menatap wajah Ki Suteja, lalu memeluk tubuh sahabatnya itu.

"Kuatkan hatimu, Adi Teja!" pinta Ki Caringin. "Kematian Abimanyu tak sia-sia. Karena kita semua dan juga desa ini telah terbebas dari sebuah marabahaya."

Jaka menyaksikan dua lelaki tua yang tengah berangkulan dengan perasaan haru.

"Oya, Ki Suteja dan juga Ki Caringin. Anak Ki Rampal Lawu itu sesungguhnya masih hidup. Dirinya hanya pingsan karena terlalu berlebihan mengeluarkan tenaga, sedangkan pengaruh sihir si Ratu Ular sudah terkikis habis. Dalam beberapa hari ini gadis itu akan siuman dan pulih. Kuharap di antara kalian berdua ada yang bersedia merawatnya, syukur-syukur mengangkatnya menjadi anak sendiri," ucap Jaka lembut.

Ki Caringin dan Ki Suteja menganggukkan kepalanya bersamaan.

"Biar gadis itu kami yang urus, Jaka," jawab Ki Suteja.

"Syukurlah kalau begitu. Dan tugasku sudah selesai, aku pamit sekarang juga," kata Raja Petir sambil menatap wajah Ki Suteja dan Ki Caringin bergantian.

"Kenapa terburu-buru, Jaka?" tahan Ki Suteja. "Masih banyak tugas yang harus dikerjakannya, Adi Teja. Banyak orang lain yang butuh bantuannya," sahut Ki Caringin.

"Baiklah, Jaka. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih atas bantuanmu," putus Ki Suteja pelan.

Raja Petir segera menatap wajah Kepala Desa Gatareja dan Ki Caringin bergantian.

"Aku permisi sekarang, Ki," pamit Jaka. "Hip!"

Tubuh Raja Petir melesat ringan diiringi tatapan mata Ki Suteja dan Ki Caringin. Angin kembali berhembus semilir seolah turut berbahagia atas terhindarnya Desa Gatareja dari malapetaka yang besar. Angin itu terus berhembus membelai-belai perasaan Ki Suteja yang masih dilanda duka. Mata Kepala Desa Gatareja merebak membayangkan kematian Abimanyu yang tanpa bangkai, menghilang bersamaan pengaruh sihir Ratu Ular.
SELESAI