Serial Raja Petir eps 07 : Dara-Dara Pengusung Mayat

SATU
Dua bayangan hijau dan hitam berkelebat cepat saling kejar. Begitu cepatnya gerakan yang dilakukan, sehingga yang nampak berupa seleret sinar hijau dan hitam. Kedua sosok itu terus berkejaran, menunjukkan kemampuan masing-masing yang begitu tinggi. Jelas keduanya orang-orang dari rimba persilatan.

"Hehhh...!"

Sosok bayangan hijau tiba-tiba berhenti. Ditariknya napas panjang, setelah berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh. Sosok itu tak lain seorang perempuan tua berusia sekitar tujuh puluh tahun. Pakaiannya yang berwarna hijau gelap berkibar tertiup angin yang berhembus agak kencang.

Wajah perempuan tua berambut putih panjang itu terlihat cerah. Matanya menatap sosok lelaki berpakaian hitam, yang berdiri sekitar dua batang tombak di hadapannya. Lelaki tua berusia tujuh puluh tahunan itu, membalas tatapan perempuan tua di sampingnya dengan tak kalah genit

"Ki Kuriwang Situ, kau sudah peyot. Tapi, lagakmu masih seperti bocah belasan tahun!" ejek perempuan berpakaian hijau gelap.

Lelaki berpakaian hitam yang dipanggil Ki Kuriwang Situ tersenyum mendengar ejekan perempuan tua di hadapannya.

"Tetapi kau senang juga kan, Nyai Puncang Sibela?" balas Ki Kuriwang Situ.

Perempuan tua yang bernama Nyai Puncang Sibela melebarkan sedikit kelopak matanya.

"Senang? Heh! Peyot, kau pikir aku senang dengan caramu mengejar-ngejar seperti itu?"

"Jangan membohongi diri sendiri, Nyai!" gurau Ki Kuriwang Situ. "Apa kau telah melupakan masa muda kita, heh?"

"Itu hanya masa lalu, Peyot!"

"Tapi setidaknya kau ingin merasakan lagi, kan...?"

"Gila! Kau betul-betul sudah gila, Ki Kuriwang Situ!" hardik Nyai Puncang Sibela. Namun, seulas senyuman samar-samar terlihat di wajahnya.

"Sejak dulu kau menyukai kegilaan ku itu, Nyai."

"Edan! Kuhajar kau!"

Nyai Puncang Sibela bergerak ringan ke arah Ki Kuriwang Situ. Tangannya yang terkepal melakukan gerakan memukul ke arah tubuh Ki Kuriwang Situ.

"Hop!"

"Ah!"

Ki Kuriwang Situ bergerak mundur menghindari pukulan Nyai Puncang Sibela. Gerakannya gesit dan cepat, hingga pukulan Nyai Puncang Sibela membentur tempat kosong.

"Kamu masih seperti dulu, Nyai. Galak dan pema"

 "Hih!"

Ki Kuriwang Situ tak jadi meneruskan ucapannya. Kepalan tangan Nyai Puncang Sibela telah tertuju ke mulut

"Ups! Jangan begitu, Nyai! Bibirku bisa pecah kena pukulanmu, dan membuatku tak menarik lagi," ucap Ki Kuriwang Situ sambil mengelakkan pukulan keras yang dilancarkan Nyai Puncang Sibela.

"Sejak dahulu kau tidak menarik, Ki Kuriwang!"

"Ah! Tapi kau suka, kan?"

Nyai Puncang Sibela baru hendak melakukan penyerangan ke arah Ki Kuriwang Situ, ketika dilihatnya tiga dara cantik berjalan ke arahnya, sambil tersenyum-senyum. Nyai Puncang Sibela merasa, ketiga dara cantik itu menertawai tingkahnya bersama Ki Kuriwang Situ.

"Kalian menertawai ku?" tegur Nyai Puncang Sibela pada tiga dara cantik yang memakai pakaian merah, jingga, dan ungu.

"Oh, maaf Nini, kami bertiga tidak bermaksud menertawai Nini dan Aki. Kami bertiga hanya tak tahan melihat tingkah yang barusan itu. Sepertinya Nini dan Aki masih sangat muda," jawab salah seorang dara berpakaian merah.

"Ah! Dugaanmu salah, Anak Manis. Sejak muda Ki Kuriwang Situ memang berkelakuan demikian. Hmmm..., panggil aku Nyai Puncang Sibela, dan lelaki peyot itu Ki Kuriwang Situ," ujar Nyai Puncang Sibela menebar senyumnya.

"Kalau boleh kuduga, apakah kalian putri-putri Ki Megantara?" selak Ki Kuriwang Situ.

"Hm... Ki... Ki Kuriwang Situ mengenal ayah kami?" tanya dara cantik yang berpakaian merah.

"Tentu saja aku mengenal ayahmu, Anak Manis. Semua orang persilatan pasti mengenal Pendekar Lembayung," jawab Ki Kuriwang Situ.

"Betul, Anak Manis," timpal Nyai Puncang Sibela. "Ki Megantara, memang begitu tersohor di kalangan tokoh-tokoh persilatan. Hmmm... boleh Nyai tahu nama-nama kalian bertiga?"

"Tentu saja boleh, Nyai. Bukankah Nyai dan Aki telah memperkenalkan diri, sedangkan kami "

"Terima kasih," selak Nyai Puncang Sibela. "Kalian memang dara-dara cantik yang baik, aku senang pada kalian."

Tiga dara berpakaian merah, jingga dan ungu menatap Nyai Puncang Sibela bersamaan. Wajah ketiga dara yang dipunggungnya masing-masing tersandar sebatang pedang, nampak begitu lugu.

"Namaku Mutiara Merah, Nyai. Dan kedua adikku bernama Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu. Kalau Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ merasa sukar mengingat nama kami, cukup dilihat saja warna pakaian yang dipakai."

"Tentu, tentu! Nyai akan mengingat nama-nama kalian dengan mudah dari warna pakaian kalian. Yang merah bernama Mutiara Merah. Yang jingga Mutiara Jingga, begitu juga yang ungu bernama Mutiara Ungu. Heh... heh... heh Nama kalian bagus-bagus."

"Terima kasih, Nyai," jawab Mutiara Merah sambil menundukkan kepalanya. "Kami permisi dulu."

"Heh! Hei, kalian mau ke mana?" tahan Nyai Puncang Sibela melihat ketiga dara cantik itu akan berlalu dari hadapannya.

"Kami hendak menuju arah selatan. Mau berkunjung ke tempat paman," jawab Mutiara Merah, anak tertua dari tiga putri Ki Megantara.

"Ada urusan apa kalian ke sana?" selidik Nyai Puncang Sibela.

Mutiara Merah merasa tak enak hati dengan pertanyaan Nyai Puncang Sibela barusan. "Hanya urusan keluarga, Nyai," jawab Mutiara Merah setelah matanya menatap tajam Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu.

"Urusan keluarga?" selak Ki Kuriwang Situ. "Bo-bolehkah aku tahu?"

"Ah, maaf Ki Kuriwang Situ, kami tidak bisa memberitahukannya," Mutiara Merah menatap wajah Ki Kuriwang Situ. Dia merasa menemui keanehan di balik wajah tua lelaki berpakaian hitam.

"Kenapa begitu, Anak Manis?"

"Maaf, Ki! Kami harus segera berangkat." Mutiara Merah segera angkat kaki dari hadapan Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ. Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu mengikutinya.

"Hop!"

"Hop!"

Terkejut bukan main hati Mutiara Merah dan kedua adiknya. Mereka melihat gelagat yang tidak baik kedua orang tua itu. Kedua orang tua yang berpakaian hijau gelap dan hitam, kini telah menghadang di hadapannya.

"Kenapa Nyai dan Aki menghalangi perjalanan kami?" selidik Mutiara Merah dengan ketus.

"He... he... he, tidak. Kami tidak bermaksud menghalangi, kalian," jawab Nyai Puncang Sibela. "Kami hanya ingin kalian bertiga ikut bersama kami."

"Ikut?" terbelalak mata Mutiara Merah mendengar ucapan Nyai Puncang Sibela. "Untuk apa?"

"Ikut saja! Nanti kalian akan menjumpai hal-hal yang menarik bersamaku."

"Kami tidak bisa menuruti keinginanmu itu, Nyai. Maaf, kami punya kepentingan lain," tolak Mutiara Jingga.

"Pokoknya, kalian harus ikut!" menggelegar suara yang keluar melalui bibir Ki Kuriwang Situ.

Ketiga kakak beradik itu terkejut mendengar ucapan Ki Kuriwang Situ yang begitu keras. Ketiganya segera melompat dua langkah ke belakang.

"Hati-hati kalian berdua!" kata Mutiara Merah memperingatkan kedua adiknya. "Kakek dan nenek ini bermaksud tidak baik terhadap kita!"

"He he he.Kalian harus ikut denganku, Anak-anak Manis," tukas Nyai Puncang Sibela.

"Sudankubilang,kami   punyakepentingan lain!" bentak Mutiara Merah.

"Aku dan Aki Peyot itu tetap akan memaksa kalian untuk ikut," bantah Nyai Puncang Sibela.

"Sembarangan!"

Melihat sikap kedua orang tua itu, Mutiara Merah naik pitam.

Cring! Cring! Cring!

Mutiara Merah segera meloloskan pedang dari warangkanya. Tindakan itu diikuti oleh Mutiara Jingga juga Mutiara Ungu.

"He he he. Rupanya senang juga kalian kalau aku main paksa, Anak Manis!"

"Kalian yang tidak tahu, kalau kami tak suka dipaksa!"

"Hih!"

Mutiara Jingga, yang memang pemarah, langsung mengawali penyerangan dengan menusukkan pedang ke arah lambung Nyai Puncang Sibela. Begitu keras tusukan itu, hingga menimbulkan bunyi angin yang berkesiut.

Nyai Puncang Sibela memandang sebelah mata serangan yang dilancarkan Mutiara Jingga. Seketika ia menggerakkan badan dengan cepat, menghindari tusukan pedang Mutiara Jingga. Pedang yang putih mengkilat itu lewat beberapa jari di depan perut Nyai Puncang Sibela.

Mutiara Jingga sudah menduga kalau Nyai Puncang Sibela mampu menghindari serangannya itu. Dengan gerakan cepat, tangannya memutar pedang ke leher perempuan tua itu.

Wuuung...!

Suara pedang yang bergerak cepat ke leher Nyai Puncang Sibela.

"Uts! He... he... he...!"

Sambil terkekeh Nyai Puncang Sibela merendahkan tubuhnya. Dalam keadaan setengah membungkuk seperti itu, mata Nyai Puncang Sibela segera melihat kelemahan sepasang kaki ramping Mutiara Jingga yang tidak berdiri pada kuda-kuda sempurna.

"Hih!"

Nyai Puncang Sibela melakukan gerakan menebas dengan kakinya terarah ke kaki Mutiara Jingga. Namun, perempuan berusia sekitar tujuh puluh tahun itu terkejut bukan main, gerakan pedang Mutiara Jingga berkelebat begitu cepat.

Dengan cepat Nyai Puncang Sibela membatalkan serangannya. Kaki kanan yang semula ditujukan untuk menebas kaki Mutiara Jingga, ditariknya begitu cepat

Wrrrttt..!

Pedang Mutiara Jingga yang berkelebat hendak memapak serangan Nyai Puncang Sibela, membabat tempat kosong.

"Manis juga permainan pedangmu, Anak Manis," puji Nyai Puncang Sibela.

"Terima kasih atas pujian mu, Nyai," tukas Mutiara Jingga. "Maka, biarkan kami pergi mengurusi kepentingan kami sendiri."

"Jangan begitu, Anak Manis! Aku juga punya kepentingan dengan kalian," ucap Ki Kuriwang Situ. "Sudah lama aku mencari dara-dara manis seperti kalian untuk kuajak bekerja sama,"

"Maaf, aku tidak bisa membantu kepentinganmu, Ki Kuriwang Situ," sahut Mutiara Merah.

"Kenapa?"

"Telah kami jelaskan sejak tadi, kami punya kepentingan lain!" selak Mutiara Ungu yang sejak tadi tidak bersuara.

"Apa salahnya, kalian membantu kepentinganku dulu," Nyai Puncang Sibela kembali menimpali.

"Kepentingan kami belum terurus, Nyai. Maaf! Hup!"

Mutiara Merah segera menjejakkan kakinya di tanah. Tubuhnya seketika melesat cepat, disusul oleh Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu.

Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ membiarkan ketiga dara meninggalkan tempat itu. Dalam hati kedua orang tua itu merasa kagum. Mata mereka memandangi arah lesatan tubuh-tubuh ramping berbalut pakaian dengan warna menyolok.

"Mereka amat cocok kita jadikan Dara-Dara Pengusung Mayat, Ki," ujar Nyai Puncang Sibela.

"Ya," timpal Ki Kuriwang Situ. "Putri-putri Ki Megantara cukup pantas kita jadikan Dara-Dara Pengusung Mayat. Ilmu silat mereka cukup bagus. Kita tinggal memoles sedikit, untuk mencapai tingkat kesempurnaan ilmu mereka."

"Kalau begitu, kita harus segera mengejar mereka, Ki Kuriwang Situ."

"Tentu saja, Nyai. Ayo! Hip!" 

"Hop!"

Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ segera melesat. Keduanya bergerak begitu ringan dan cepat, menggunakan ilmu peringan tubuh yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Tak heran kalau bayangan hijau dan hitam yang baru saja bergerak, sudah mampu menemukan sasarannya. Ketiga dara cantik itu kini berada di depan matanya. Jarak mereka hanya sekitar sepuluh batang tombak lagi.

"Itu mereka," tunjuk Nyai Puncang Sibela seraya mempercepat larinya. Ketika jarak mereka tinggal beberapa batang tombak, Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ menjejakkan kaki ke tanah dengan keras. Keduanya segera melakukan lentingan manis, lalu memutar tubuhnya beberapa kali di udara. Seolaholah, kedua orang tua itu ingin memamerkan kemampuan mereka di depan mata ketiga dara cantik yang sedang dikejarnya.

"Hup!"

"Hup!"

Tubuh Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ mendarat dengan manis di hadapan tiga dara putri Ki Megantara.

"He he he.... Maaf, Anak Manis. Kali ini kami harus memaksa kalian," ujar Nyai Puncang Sibela. "Betul, Anak Manis. Kami sangat memerlukan bantuan kalian," timpal Ki Kuriwang Situ.

Cring! Cring! Cring!

Tanpa menimpali ucapan Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ, Mutiara Merah, dan kedua adiknya kembali meloloskan pedang dari warangkanya. 

"Simpan saja senjata kalian!" perintah Ki Kuriwang Situ. "Aku tak ingin melihat wajah cantik kalian terluka oleh senjata tajam kalian sendiri."

"Aki Peyot! Kaulah yang harus merasakan ketajaman pedangku ini!" hardik Mutiara Jingga.

"He he he     Kau bukan tandingan Ki Kuriwang

Situ, Mutiara Jingga," papar Nyai Puncang Sibela. "Belum  tentu!"  bantah  Mutiara  Jingga sambil melompat ke arah Ki Kuriwang Situ. Gerakan Mutiara Jingga segera diikuti oleh Mutiara Ungu. Sedangkan Mutiara Merah, dengan pedang terhunus  menghadang Nyai Puncang Sibela.

"Hiaaa...!"

Diawali teriakan nyaring, Mutiara Merah membabatkan pedang ke arah tubuh Nyai Puncang Sibela. Gerakannya segera diikuti dengan serangan susulmenyusul yang dilancarkan Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu ke tubuh Ki Kuriwang Situ yang mematikan.

Pertarungan yang terpecah menjadi dua bagian berlangsung dengan seru. Pedang-pedang Mutiara Merah dan kedua adiknya berkelebat cepat dan terarah. Puluhan jurus telah saling mereka keluarkan. Namun, kedua belah pihak belum ada yang terdesak.

Hal itu lumrah, karena Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ belum meladeni dengan sungguh-sungguh, serangan-serangan yang dilancarkan Mutiara Merah dan kedua adiknya.

"Kenapa kita harus membuang-buang waktu, Nyai?" ucap Ki Kuriwang Situ dengan hanya menggerakkan sedikit bibirnya.

Ucapan kakek berpakaian hitam itu tak didengar oleh Mutiara Merah, Mutiara Jingga, dan juga Mutiara Ungu. Tentu saja, karena Ki Kuriwang Situ menggunakan ilmu telepatinya. Ucapan itu hanya ditujukannya kepada Nyai Puncang Sibela.

"Ya. Tapi kita tak boleh melukai mereka, Ki Kuriwang Situ," balas Nyai Puncang Sibela dengan mengerahkan suara batin. Suara itu juga hanya dapat didengar oleh Ki Kuriwang Situ.

Seiring selesainya ucapan Nyai Puncang Sibela, kedua tokoh tua itu langsung bergerak dua langkah ke belakang. Namun, Mutiara Merah yang menerjang Nyai Puncang Sibela, serta Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu yang menyerang Ki Kuriwang Situ, dengan cepat menebaskan pedang ke bagian tubuh mematikan dari kedua lawannya.

"Hiaaa...!" 

"Hiaaa! Hiaaa!"

Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ membiarkan saja senjata-senjata lawan berkelebat cepat ke tubuh mereka. Sikap melecehkan kedua orang tua itu cukup mengejutkan Mutiara Merah dan kedua adiknya.

Apakah kedua jahanam ini ingin bunuh diri? Begitu pikir Mutiara Merah dan kedua adiknya. Ketiganya bermaksud menarik kembali senjata mereka, tetapi hal itu dirasa tidak mungkin. Mereka merasa kepalang tanggung. Mutiara Merah dan kedua adiknya terus menghajar kedua musuhnya dengan serangan-serangan dahsyat.

Trak! Trak! "Aaa...!"

Mutiara Merah terpekik ketika senjatanya menghajar telak bagian tubuh Nyai Puncang Sibela. Pedangnya terpental balik seperti membentur benda kenyal. Tangannya pun dirasakan bergetar hebat. Lalu, tubuhnya seperti terdorong oleh tenaga kuat dari tubuh Nyai Puncang Sibela.

Mutiara Merah mencoba mempertahankan diri dari dorongan dengan sekuat tenaga. Upaya itu berhasil dilakukan. Kini Mutiara Merah sudah kembali menjejak di tanah meski tubuhnya dalam keadaan oleng.

Sedangkan kedua adiknya, ternyata tidak mampu mempertahankan dorongan hebat dari tubuh Ki Kuriwang Situ. Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu terbanting ke tanah. Kedua dara itu meringis kesakitan. Tangan mereka yang barusan menghantamkan senjata ke tubuh Ki Kuriwang Situ sesaat dirasakan seperti lumpuh.

"Sudah kubilang, kalian bukan lawanku," tukas Nyai Puncang Sibela perlahan. Namun, ucapan itu terkesan begitu sarat dengan ketegasan.

"Kami memang bukan tandingan mu, Nenek Keriput! Tapi, pantang bagiku menyerah begitu saja!" sergah Mutiara Merah cukup berani.

"Kau tidak sayang dengan kedua adikmu yang sudah terkulai itu, Mutiara Merah?" tekan Nyai Puncang Sibela.

"Bedebah! Kalian memang jahanam!"

Mutiara Merah kembali melesat seraya menebaskan pedangnya. Kali ini gerakannya tak kepalang tanggung. Seluruh tenaga dalam yang dimiliki dialirkan ke pedang yang sudah berada di udara.

"Hiaaa...!" Tap!

Dengan teriakan keras Mutiara Merah mengayunkan pedang ke tubuh perempuan tua itu.

Terkesiap Mutiara Merah, ketika ujung pedangnya ditangkap Nyai Puncang Sibela. Dara jelita berpakaian merah terang itu mencoba menarik senjata yang ditahan perempuan tua itu.

"Tariklah kalau kau mampu, Anak Manis," ledek Nyai Puncang Sibela dengan senyum tuanya yang mengembang lucu.

"Hmmmrhhh"

Berkali-kali Mutiara Merah mengerahkan sisasisa tenaga yang ada untuk menarik senjatanya. Namun, apa yang dilakukannya sia-sia belaka. Merah padam wajah Mutiara Merah, bahkan butiran-butiran keringat telah membasahi tubuh dan pakaiannya. Cekalan tangan perempuan tua itu terlalu kuat. Mutiara Merah Tak mampu menarik kembali pedangnya.

"He he he. Kau harus pula merasakan sedikit kebolehan ku, Mutiara Merah," tukas Nyai Puncang Sibela sambil mengendurkan sedikit cekalan pada tubuh pedang Mutiara Merah.

Pedang Mutiara Merah yang semula putih, tibatiba menyemburat hijau. Warna hijau itu semakin kentara dan menjalar perlahan ke arah gagang yang dicekal Mutiara Merah. Warna kehijauan yang dialirkan Nyai Puncang Sibela terus menjalar dan....

"Aaa!"

Mutiara Merah terpekik keras, ketika jalaran warna hijau yang diciptakan Nyai Puncang Sibela menyentuh tangannya. Cekalan kuat Mutiara Merah seketika terlepas. Tubuh Mutiara Merah terdorong. Kali ini dia tak mampu mempertahankan diri. Sehingga, tubuhnya terbanting ke tanah.

Bruk!

Sebentar Mutiara Merah mampu menggeliat. Namun, racun yang dikirim Nyai Puncang Sibela bekerja begitu cepat, hingga dara cantik berpakaian merah terang itu tak mampu bertahan, lalu pingsan.

Nyai Puncang Sibela menatap wajah Ki Kuriwang Situ. Lelaki tua itu ternyata sudah menyelesaikan tugas dengan baik. Nampak di hadapan lelaki tua berusia sekitar tujuh puluh lima tahun itu tergeletak tubuh pingsan Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu.

"Kita pergi sekarang, Nyai!" ajak Ki Kuriwang Situ.

"Ayo!"

"Hup!" 

"Hup!"

Tubuh Nyai Puncang Sibela yang memondong tubuh Mutiara Merah melesat lebih dulu. Lalu Ki Kuriwang Situ yang memondong dua tubuh Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu melesat tak kalah cepat. Lelaki tua berpakaian hitam itu seolah tidak merasakan beban yang tengah dipikulnya.

***
DUA
Terik matahari siang bolong seperti dua kali lipat dirasakan oleh seorang dara cantik yang mengenakan pakaian putih bersih. Hal itu karena, tiba-tiba langkahnya terhalang oleh seorang nenek berusia sekitar tujuh puluh tahun yang mengenakan pakaian hijau gelap. Nenek itu tak lain Nyai Puncang Sibela.

"Biarkan aku lewat, Nek! Kenapa Nenek menghalangiku? Bukankah aku tak punya urusan denganmu?" pertanyaan itu keluar dari bibir tipis dara berparas cantik.

"Aku yang punya urusan denganmu, Nisanak," jawab Nyai Puncang Sibela.

"Ah! Urusan apa, Nek? Bukankah baru kali ini kita berjumpa?" tukas gadis cantik berpakaian putih merasa terkejut

"Betul Nisanak, namun akan ingin urusanku menjadi urusanmu juga. Aku ingin mengajakmu melihat tiga dara cantik yang ada di kediamanku," jawab Nyai Puncang Sibela.

"Tiga dara cantik?" tanya dara berpakaian putih perlahan. "Ah, maaf Nek, aku tak mengenal mereka. Lagi pula aku punya urusan lain. Aku permisi, Nek."

"Eit! Tunggu dulu, Nisanak. Kenapa kau begitu malas membantu orang tua macam aku?" tahan Nyai Puncang Sibela, melihat dara cantik itu hendak pergi begitu saja dari hadapannya.

"Oh ya, namaku Puncang Sibela. Kalau kau sudi memanggilku Nyai Puncang Sibela, aku akan lebih senang. Kalau boleh ku tahu, siapa namamu, Dara Manis?"

Dara berparas cantik dengan pakaian putih itu menatap Nyai Puncang Sibela. Dara itu terkesan dengan ucapan lembut Nyai Puncang Sibela barusan.

"Setelah ku perkenalkan namaku, apakah Nyai mengizinkan ku pergi?" selidik dara cantik itu.

"Oh, tentu. Tentu," sahut Nyai Puncang Sibela. Dara berpakaian putih itu kembali menatap

Nyai Puncang Sibela lekat. Sebentar kemudian bibirnya yang tipis sudah menyebutkan namanya.

"Dewi Nuwang?" ulang Nyai Puncang Sibela. "Hmmm..., nama yang cukup bagus," tambahnya memuji.

"Terima kasih, Nyai. Sekarang aku permi "

"Hei.... Hop, hop, hop! Tunggu, tunggu dulu Dewi Nuwang," tahan Nyai Puncang Sibela. "Kau tidak boleh pergi begitu saja."

"Ada apa lagi, Nyai? Bukan Nyai tadi memperbolehkan ku pergi setelah menyebutkan namaku?" tanya dara yang bernama Dewi Nuwang.

"Kau belum membayar pujian ku barusan, Dewi Nuwang," jawab Nyai Puncang Sibela.

Gila! Rutuk Dewi Nuwang dalam hati.

"Ucapan terima kasih mu barusan, belum cukup untuk membayar pujian ku yang mahal itu, Dewi Nuwang.”

"Lalu aku harus membayar mu dengan apa, heh?!" bentak Dewi Nuwang.

Dewi Nuwang semakin kesal menghadapi sikap perempuan tua itu.

"Dengan sedikit pertolonganmu, Dewi Nuwang," pinta Nyai Puncang Sibela.

"Katakan, apa itu?" ujar Dewi Nuwang.

"Di tempat tinggalku, ada tiga dara cantikcantik seperti kau. Ketiganya membutuhkan seorang teman yang tak kalah cantik dari mereka. Kukira, kaulah orang yang paling cocok menjadi teman mereka, Dewi Nuwang!" jelas Nyai Puncang Sibela.

Dewi Nuwang menatap wajah Nyai Puncang Sibela penuh keheranan. Di benaknya timbul berbagai macam pertanyaan yang simpang-siur. Namun, semua pertanyaan itu segera ditepiskannya. Belum lagi hilang rasa penasaran Dewi Nuwang, perempuan tua itu sudah melanjutkan ucapannya.

"Kalau kau tak keberatan, aku ingin menjadikan kau dan ketiga dara cantik yang berada di rumahku sebagai Dara-Dara Pengusung Mayat. Kita semua akan bekerja sama membantai orang-orang yang tidak kita sukai. Bagaimana, Dewi Nuwang?"

"Dara-Dara Pengusung Mayat?" ulang Dewi Nuwang agak sedikit bergetar. Di dalam benaknya timbul kembali rasa penasaran tadi.

"Aku tak akan marah, kalau kau keberatan, Dewi," tukas Nyai Puncang Sibela menyaksikan dara cantik di hadapannya terpaku diam.

Sementara, Dewi Nuwang belum mengerti apa yang dimaksud Nyai Puncang Sibela. Hatinya masih penasaran dengan sebutan Dara-Dara Pengusung Mayat

"Kalau begitu biarkan aku pergi, Nyai," putus Dewi Nuwang kemudian. "Aku tidak bersedia menerima tawaran tadi. Maaf aku tidak dapat menolongmu."

"He he he.... Tidak begitu, Dewi Nuwang. Aku memang tak marah padamu. Tetapi, aku tetap akan memaksamu untuk menjadi Dara-Dara Pengusung Mayat"

"Gila! Kau betul-betul sudah gila, Nyai!"

"Terserah apa katamu, Dewi Nuwang. Yang jelas aku butuh gadis semacam kau!" mantap ucapan Nyai Puncang Sibela.

"Aku tetap menolak permintaanmu, Nyai!" Kemarahan Dewi Nuwang telah memuncak. Hatinya mulai tidak sabar menghadapi paksaan Nyai Puncang Sibela.

Cring!

Dewi Nuwang mencabut pedang dari warangkanya, lalu diletakkan menyilang di depan dada.

"Rupanya aku harus menolak permintaanmu dengan menggunakan senjata ini, Nyai," ucap Dewi Nuwang datar.

"Kau tak akan sanggup membangkang dari keinginanku, Anak Manis. Meskipun seribu senjata tergenggam di tanganmu," kilah Nyai Puncang Sibela sambil melepas senyum mengejek.

"Sudah tua, masih pula kau bersombong diri, Nyai," balas Dewi Nuwang tak kalah sengit.

"Ayo ikut aku, Gadis Bandel!"

Nyai Puncang Sibela melangkah dua tindak tak mempedulikan peringatan Dewi Nuwang. Senjata Dewi Nuwang sudah dimajukan dari depan dadanya.

"Sekali lagi kau melangkah, kutebas batang lehermu, Nyai!" ancam Dewi Nuwang tegas.

"He he he..."

Hanya suara tawa dari mulut nenek tua itu sebagai jawaban atas ancaman Dewi Nuwang. Sementara kaki tua Nyai Puncang Sibela terus melangkah mulai memancing kemarahan Dewi Nuwang yang sudah men-capai ubun-ubun.

"Hiaaa...!"

Pertarungan pun tak terelakkan. Dewi Nuwang mulai melancarkan serangan dengan pedangnya. "Ups!"

Wuuuttt!

Tubuh Dewi Nuwang terjajar beberapa langkah. Tebasan pedangnya berhasil dielakkan Nyai Puncang Sibela. Sementara sodokan tangan perempuan tua yang datang begitu cepat, mendarat telak di perutnya. Untung Nyai Puncang Sibela tidak menggunakan tenaga dalam. Kalau tidak, mungkin tubuh Dewi Nuwang sudah jatuh tersungkur ke tanah.

"Itu baru peringatanku yang pertama, Dewi. Aku tak akan melakukan lagi, jika kau mau berbaik hati dan ikut denganku," kata Nyai Puncang Sibela.

"Itu keinginan gila, Nyai. Sudah kukatakan, tak mungkin kuikuti permintaanmu!" bantah Dewi Nuwang.

"Kalau begitu, aku akan membawamu dengan kekerasan."

Tersedak hati Dewi Nuwang mendengar ancaman Nyai Puncang Sibela. Dia merasa dipaksa harus tunduk dengan keinginannya. Tapi, menjadi Dara-Dara Pengusung Mayat...? Pertanyaan itu kembali melintas di benaknya.

"Ahhh...." Dewi Nuwang menarik napas dalamdalam. Aku tak mau menjadi Dara-Dara Pengusung Mayat, batin Dewi Nuwang cemas seraya kembali menyilangkan pedang di depan dada.

Kali ini tekadnya membulat, untuk menghadapi perempuan tua bangka di hadapannya.

"Langkahi dulu mayatku, Nyai! Baru kau ajak diriku ke mana kau suka," ucap Dewi Nuwang mulai menantang.

"Kau keras kepala juga rupanya," omel Nyai Puncang Sibela. "Aku memang tak berniat melukaimu. Tapi, aku harus membawamu, Dewi Nuwang! Jagalah serangan tangan kosongku!"

Nyai Puncang Sibela bergerak cepat ke tubuh Dewi Nuwang. Dara cantik itu sejak tadi sudah bersiap-siap dengan senjata menyilang di depan dada. Ketika gerangan perempuan tua itu betul-betul datang, Dewi Nuwang bergegas menebaskan pedangnya ke tangan Nyai Puncang Sibela yang jari-jarinya membentuk kerucut.

Trak!

Tepat sekali. Serangan tangan perempuan tua itu terpapas pedang, Dewi Nuwang.

"Aaa...!"

Tubuh Dewi Nuwang terjajar ke samping kanan, ketika pedangnya menghantam tangan Nyai Puncang Sibela yang keras bagai lempengan baja.

Tubuh Dewi Nuwang terlihat terhuyung beberapa langkah. Belum lagi dara cantik itu sempat membetulkan letak berdirinya, serangan Nyai Puncang Sibela telah menyusul dengan cepat.

"Haaa!"

Jari tangan Nyai Puncang Sibela yang membentuk kerucut melayang ke arah bagian tubuh Dewi Nuwang.

Tuk! Tuk! "Aaa...!"

Dewi Nuwang memekik tertahan ketika totokan tangan Nyai Puncang Sibela mendera tubuhnya. Seketika itu juga tubuh Dewi Nuwang jatuh terkulai ke tanah.

"He... he... he.... Maaf, Dewi Nuwang! Tindakan ini harus kulakukan, karena kau sendiri yang meminta. Kau memang keras kepala, Dewi Nuwang!"

Nyai Puncang Sibela melangkah perlahan menghampiri tubuh Dewi Nuwang yang terkulai tak berdaya. Wajah perempuan tua itu nampak begitu cerah. Sesungging senyum menghias wajah, ketika tangannya bergerak hendak membopong tubuh Dewi Nuwang.

"Kalau dia tak mau, kenapa harus memaksanya, Nyai?"

Tiba-tiba sebuah teguran dari belakang, seolah menghentikan gerakan tangan Nyai Puncang Sibela. Perempuan tua itu begitu terkejut, dengan cepat membalikkan badannya.

Dengan tatapan membara, Nyai Puncang Sibela memandangi sosok lelaki muda berpakaian kuning keemasan. Lelaki muda itu tak lain si Raja Petir.

"Hmmm"

Sambil menggereng Nyai Puncang Sibela terus mempertajam tatapannya. Jaka Sembada segera membalas dengan tak kalah tajam tatapan Nyai Puncang Sibela.

Nyai Puncang Sibela mendesah dalam hati, setelah beberapa saat lamanya tatapan tajam Jaka menghujam deras ke bola matanya. Nenek tua itu merasakan hawa yang aneh, hingga hatinya gelisah bukan kepalang. Segera dialihkan tatapannya dari mata Jaka Sembada.

"Kalau aku tak salah, kau pasti si Raja Petir. Belakangan ini namamu begitu santer disebut orangorang persilatan?"

"Namaku Jaka Sembada, Nyai," jawab pemuda itu.

"Hmmm..Telah lama kudengar, kehebatanmu. Namun, aku belum pernah menyaksikan sendiri," lanjut Nyai Puncang Sibela.

"Ah, maaf Nyai. Aku tak bermaksud memamerkan apa yang kumiliki. Aku merasa hanya kasihan pada gadis itu. Mungkin dia juga punya kepentingan khusus, Nyai," bantah Raja Petir.

"Kau juga punya kepentingan dengan gadis itu, heh?" sergah Nyai Puncang Sibela.

"Aku hanya berkepentingan untuk menolongnya, Nyai," sangkal Jaka.

"Pahlawan kesiangan!" bentak Nyai Puncang Sibela sengit.

"Kurasa tidak, Nyai," kilah Jaka. "Aku merasa belum kesiangan untuk menolong gadis itu."

"Raja Petir! Jangan menjadi pongah dengan pujian-pujian yang kau dapat selama ini! Aku, Nyai Puncang Sibela akan menghapus pujian-pujian itu! Aku akan membuktikan pada semua tokoh persilatan, bahwa Raja Petir bukanlah orang yang pantas mendapatkan pujian sehebat itu!"

"Pujian itu bukan aku yang mengingini. Kalau kau ingin menghapusnya, aku tak keberatan," bantah Raja Petir tenang.

"Bersiaplah, Raja Petir!" ujar Nyai Puncang Sibela sambil menggeser langkah ke kanan.

"Tunggu, Nyai! Bukankah lebih baik kita buat perjanjian lebih dahulu?"

"Apa maksudmu?"

"Kita tentukan dulu, dengan berapa jurus kita akan bertarung. Tentukan juga sangsi bagi yang tak mampu bertahan dalam jurus yang telah kita tentukan itu," jelas Raja Petir.

Sebenarnya hati Jaka tak ingin bertarung dengan perempuan tua itu. Dia merasa tak punya urusan apa-apa terhadap perempuan tua itu. Namun, hatinya tak suka ada orang berbuat seenaknya, memaksa orang lain seperti itu.Nyai Puncang Sibela menarik kulit mukanya hingga terbentuk sesungging senyum mengejek.

"Terserah kau saja, Raja Petir," jawab Nyai Puncang Sibela terdengar meremehkan. "Dalam lima jurus pun, kurasa kau tak akan mampu menandingi ku!"

"Lima jurus terlalu sedikit, Nyai. Kau jangan menyesal, kalau harus meninggalkan tempat ini tanpa membawa gadis itu," jawab Jaka sambil menunjuk dara cantik yang terkulai di belakang Nyai Puncang Sibela.

 Hih!"

"He he he.... Jaga saja seranganku ini, Bocah!

Nyai Puncang Sibela mengibaskan tangan kanan dengan cepat. Tiba-tiba beberapa senjata rahasia berbentuk bulat telur berkelebat cepat dan menimbulkan deru angin yang keras.

Dari jarak yang hanya beberapa batang tombak, mata Jaka dapat menangkap luncuran bendabenda hijau yang meluruk ke tubuhnya.

Jaka memang selalu bersikap tenang dalam menghadapi setiap senjata rahasia yang sudah pasti mengandung racun ganas. Namun, sikap tenangnya tidak berarti meremehkan serangan itu. Dalam ketenangan, justru ia menemukan sikap kewaspadaan yang tinggi untuk mengatasi serangan-serangan senjata rahasia seperti itu.

"Hup! Hup!"

Raja Petir segera menghentakkan kaki kuatkuat, ketika luncuran senjata itu beberapa jengkal lagi menghantam dadanya. Seketika tubuhnya pun melenting ke udara menghindari senjata rahasia Nyai Puncang Sibela.

"Hip!"

Kembali tubuh Jaka mendarat dengan manis, setelah melakukan tiga kali putaran di udara.

Glaaar! Brak!

Raja Petir menoleh ke belakang. Suara ledakan diiringi robohnya sebatang pohon besar, terdengar memekakkan telinga. Sungguh dahsyat akibat yang ditimbulkan oleh senjata rahasia Nyai Puncang Sibela. Jaka menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak kagum.

"Hmmm.... Bukankah kau yang menghendaki kita bermain-main dengan jurus, Nyai?" tanya Jaka dengan raut muka tak senang.

"He he he.... Kau takut dengan permainan ku yang belum seberapa itu, Raja Petir?" ledek Nyai Puncang Sibela.

Raja Petir hanya menanggapi ucapan Nyai Puncang Sibela dengan seulas senyum.

"Itu tadi baru uji coba, Anak Muda," lanjut Nyai Puncang Sibela seraya menggerakkan kaki dua langkah ke depan. Jemari tangannya seketika mengepal keras memberitahu lawan kalau dirinya akan melanjutkan serangan berikutnya.

"Jaga seranganku, Raja Petir!"

Seiring ucapan itu, tubuh Nyai Puncang Sibela melesat dengan cepat. Tangannya yang terkepal, diluncurkan dengan ganas ke bagian tubuh Jaka yang peka. Bunyi angin menderu, mengiringi serangan yang mengerahkan tenaga dalam tinggi.

"Hih!"

Serangan Nyai Puncang Sibela nyaris mengenai sasaran.

"Eit!"

Dengan mengegoskan sedikit kakinya, Jaka berhasil menghalau serangan yang dilancarkan Nyai Puncang Sibela. Bahkan, dari egosan kaki itu Jaka menemukan kedudukan yang cukup baik untuk memberikan serangan balasan ke tubuh Nyai Puncang Sibela di depannya.

"Hih!"

Raja Petir melancarkan serangan lurus ke dada perempuan tua itu.

"Uts!"

Raja Petir tak menyangka, kalau sodokan yang diperkirakan akan mendarat di ulu hati ternyata gagal. Nyai Puncang Sibela, mampu menghindarkan diri, hanya dengan sedikit memiringkan badan. Bahkan, serangan balasannya hampir mendarat di pelipis kalau Jaka tak segera menurunkan tubuh.

Wuuut..!

Tebasan tangan kosong Nyai Puncang Sibela sekali lagi berkelebat di atas kepala Raja Petir. Perempuan tua itu terus memberikan serangan-serangan susulan. Namun, setiap serangan dapat dielakkan Jaka, yang sekali-kali juga memberikan serangan balasan.

"Sudah lebih dari lima jurus, Nyai," tegur Raja Petir sambil menghindari serangan. Nyai Puncang Sibela sendiri kini sudah mulai menyerang dengan menggunakan jurus ke sebelas.

"Salah satu harus ada yang mampus, Raja Petir!" bentak Nyai Puncang Sibela geram. Wajahnya nampak memerah setelah mengetahui ketangguhan anak muda yang berpakaian kuning keemasan.

"Kau harus menebus kelancanganmu, mencampuri urusanku."

Terlengas hati Raja Petir mendengar bentakan Nyai Puncang Sibela. Jaka tidak menganggap remeh ucapan tadi. Kemarahan perempuan tua itu telah memuncak. Mata Raja Petir menangkap gerakan tangan perempuan tua itu meraba pinggiran bajunya. Dengan mata yang sedikit dipicingkan Jaka mencoba mengawasi terus benda rahasia yang akan diluncurkan Nyai Puncang Sibela.

Pikiran Raja Petir segera bekerja dengan tepat. Pikirannya memastikan, nenek di hadapannya akan segera menebar senjata yang mengandung racun ganas. Senjata itu bukan saja akan membuat dirinya binasa, tetapi juga diri dara cantik yang sejak tadi terkulai tak berdaya.

Setelah berpikir demikian, Raja Petir segera melompat ke arah Dewi Nuwang.

"Hup!"

Sekali hentakan, tubuh Jaka Sembada sudah berdiri tegap di sisi kanan Dewi Nuwang. Nyai Puncang Sibela hanya tersenyum melihat Jaka berusaha melindungi dara cantik itu.

"Kalian berdua akan mampus, tahu!" ancam Nyai Puncang Sibela.

Tangannya yang sejak tadi menempel di pinggiran pakaiannya seketika bergerak mengibas.

"Hih!"

Sebuah benda meluncur dari tangannya. Bluuusss...!

Asap kehijauan seketika mengepul keluar dari benda yang dibanting Nyai Puncang Sibela ke tanah. Raja Petir terkejut mencium hawa maut yang menebar dari kepulan asap kehijauan. Setelah menolehkan wajah ke Dewi Nuwang, Jaka segera mengerahkan jurus 'Pukulan Pengacau Arah'.

Seketika angin bergulung keluar dari telapak tangan Raja Petir yang terbuka. Angin yang berpusar itu bergerak begitu cepat, menghadang kepulan asap kehijauan yang menyergap Raja Petir dan Dewi Nuwang.

Sementara, Jaka segera bergerak cepat memondong tubuh Dewi Nuwang. Kemudian melompat ke belakang sejauh lima batang tombak.

Asap kehijauan beracun ganas itu sudah terusir oleh angin bergulung yang dikeluarkan Raja Petir. Tetapi bukan kepalang terkejutnya, Nyai Puncang Sibela ternyata sudah menghilang dari tempat itu. Segera Raja Petir menebar pandangan ke sekeliling. Dengan sikap waspada penuh, Raja Petir mengamati setiap gerak yang tertangkap mata dan pendengarannya.

"Huh!" maki Jaka setelah sekian lama mata dan pendengarannya mengawasi sekeliling. Telah dikerahkan mata dan pendengarannya dengan kewaspadaan tinggi. Namun, tidak juga ia menangkap gerak atau suara yang mencurigakan.

Aneh! Pikir Raja Petir, Bukankah baru saja perempuan tadi menyumpah akan membunuhku? Tapi... kenapa dia menghilang? Apakah.... Ah, dasar perempuan kurang waras!

Ketika keadaan sudah tak berbahaya, Jaka segera menurunkan tubuh Dewi Nuwang. Jaka menatap wajah cantik Dewi Nuwang. Dewi Nuwang yang masih terkulai tanpa daya membalas tatapan mata Jaka. Hatinya sungguh tak menyangka kalau lelaki yang menolongnya masih begitu muda dan berwajah tampan.

Dewi Nuwang segera menundukkan wajahnya. Tiba-tiba dirasakan ada sesuatu yang berdesir halus di dalam rongga dadanya. Dia tak tahu, kenapa perasaan itu tiba-tiba mengalir di dalam hatinya. Dewi Nuwang kembali menundukkan kepala. Raja Petir segera menyadari, kalau apa yang telah dilakukannya membuat wajah dara jelita di hadapannya berubah semu merah.

"Ah, maaf, Nisanak," ujar Raja Petir. "Aku akan membebaskan darahmu yang tersumbat!"

Tangannya seketika bergerak cepat menotok bagian tubuh Dewi Nuwang yang terkunci.

Tuk! Tuk! "Aaa...!"

Dewi Nuwang terpekik ketika totokan tangan Jaka mendarat di bagian tubuhnya yang terkunci. Hanya sebentar saja lenguhan kecil terdengar dari mulut dara jelita itu. Sebentar kemudian, Dewi Nuwang telah mampu menggerakkan tubuhnya. Sekali lagi mata Dewi Nuwang menatap wajah pemuda tampan itu dengan rasa kagum.

"Terima kasih, Raja Petir," ucap Dewi Nuwang mirip desahan.

"Namaku Jaka Sembada, Nisanak," Jaka merasa tidak enak dipanggil dengan julukannya.

"Aku Dewi Nuwang, Kakang," timpal dara berpakaian putih bersih seraya bangkit dari keterkulaiannya.

"Bagaimana ceritanya, hingga kau bentrok dengan perempuan aneh itu, Dewi Nuwang?" tanya Raja Petir ketika Dewi Nuwang telah melangkah di sampingnya.

"Nenek itu menghadang perjalananku, lalu memaksa meminta bantuanku," jelas Dewi Nuwang.

"Bantuan apa?"

"Nyai Puncang Sibela menginginkan ku agar menemani tiga dara cantik yang kini tinggal di rumahnya."

"Menemani...? Bukankah mereka sudah bertiga?!" tekan Jaka.

"Perempuan tua itu bermaksud menjadikan  aku dan ketiga gadis itu sebagai Dara-Dara Pengusung Mayat," lanjut Dewi Nuwang. Ia kembali menjajari langkahnya yang tertinggal, padahal Raja Petir tak melakukan langkah tergesa.

"Hah...! Dara-Dara Pengusung Mayat, apa maksudnya?"

Dewi Nuwang tak menjawab pertanyaan Raja Petir. Pikirannya tiba-tiba disibukkan dengan keberadaan lelaki tampan berjalan di sampingnya.

Sungguh aneh keinginan perempuan tua itu, seaneh tingkahnya, pikir Jaka.

***

Langit begitu cerah. Matahari memancarkan sinar yang cukup kuat. Sementara di bumi, angin berhembus begitu kencang, mengibarkan pakaian pemuda tampan dan dara jelita. Mereka melangkah berdampingan di atas jalan tanah yang kering dan berdebu. Sesekali angin menghembuskan debu di jalanan.

"Sekarang ke mana tujuanmu, Dewi Nuwang?" tanya Jaka Sembada setelah beberapa saat lamanya tak ada suara dari mulut mereka.

Namun, belum sempat menjawab pertanyaan Dewi Nuwang, dari tikungan jalan bermunculan empat orang penunggang kuda. Keempat lelaki nampak begitu tergesa-gesa. Mereka menggebah kudanya dengan kecepatan tinggi.

"Orang-orang itu nampak begitu tergesa, Kakang," ucap Dewi Nuwang tanpa menoleh ke arah pemuda di sampingnya. Jaka Sembada juga menatap tajam ke arah para penunggang kuda di kejauhan.

Debu mengepul beterbangan oleh kaki-kaki kuda mereka.

"Hiaaa...! Hiaaa...!"

Terdengar suara para penunggang kuda itu menggebah kuda mereka. Jaka Sembada tak menghiraukan ucapan dara jelita tetapi menghentikan langkahnya. Tatapan Jaka Sembada tertuju ke empat penunggang kuda yang terus mempercepat lari kuda mereka.

"Ah, seperti murid-murid Ki Megantara, Kakang," Ujar Dewi Nuwang setelah jarak keempat penunggang kuda tidak begitu jauh lagi. Keempat penunggang kuda menarik tali kekang di tangan untuk menghentikan kuda mereka.

"Kau kenal mereka, Dewi Nuwang?"" tanya Jaka sambil menoleh ke arah gadis itu.

"Kita lihat nanti," jawab Dewi Nuwang.

Keempat lelaki bertubuh kekar menghentikan kuda mereka tepat di depan Jaka Sembada dan Dewi Nuwang.

"Ah, ternyata kau, Kakang Galuh. Hendak ke manakah kalian?" tanya Dewi Nuwang pada lelaki bertubuh kekar, yang wajahnya terhias kumis tebal.

Lelaki bernama Galuh Daka melompat dari punggung kudanya. Sikapnya kentara sekali menaruh hormat pada Dewi Nuwang.

"Kami ingin ke rumahmu, Dewi Nuwang," jawab Galuh Daka setelah mengangkat kepalanya yang merunduk sesaat.

Sebentar kemudian, Galuh Daka telah mulai menyampaikan maksudnya kepada Dewi Nuwang.

***
TIGA
Dewi Nuwang tersentak mendengar cerita murid kesayangan Ki Megantara. Seketika, wajahnya menoleh ke arah Jaka yang berdiri di sisinya.

"Benarkah Mutiara Merah dan kedua adiknya berkunjung ke rumahku?" tanya Dewi Nuwang resah.

"Ah " Dewi Nuwang menarik napas dalam, perasaannya tiba-tiba tidak karuan.

"Ada apa, Dewi Nuwang?" tanya Galuh Daka keheranan. "Kenapa kau nampak begitu terkejut?"

"Sudah satu purnama lamanya, ketiga saudaraku itu tak pernah ke rumahku, Kakang," jawab Dewi Nuwang perlahan kepada Galuh Daka.

"Hah?!"

Galuh Daka dan ketiga temannya tersentak mendengar jawaban Dewi Nuwang.

"Kalau begitu, ke mana mereka? Jangan-jangan "

Galuh Daka mulai gelisah. Pikirannya menduga-duga pada hal-hal yang tak diinginkan.

"Apa kau hendak ke rumah Ki Megantara, Dewi Nuwang?" tanya Galuh Daka kemudian.

Dewi Nuwang hanya menjawab dengan menganggukkan kepala perlahan.

"Kalau begitu berangkatlah segera, jelaskan bahwa putri-putri Ki Megantara tidak ada di rumahmu. Biar kami akan mencari mereka sekarang," usul Galuh Daka.

Dewi Nuwang menyetujui keputusan Galuh Daka, setelah terlebih dahulu menatap wajah Jaka.

"Oh, ya. Boleh aku tahu siapa temanmu itu?" pinta Galuh Daka sambil mengalihkan tatapan ke wajah Jaka. "Sekaligus aku ingin bertanya padanya, apakah dia melihat ketiga putri Ki Megantara."

"Namaku Jaka. Aku tak pernah melihat ketiga gadis yang kau maksud itu," jawab Raja Petir mendahului gerak bibir Dewi Nuwang yang akan menjawab pertanyaan Galuh Daka.

Galuh Daka mengangguk-anggukkan kepala. Tatapan matanya beralih pada Dewi Nuwang. Sebentar kemudian, kakinya melangkah mendekati kuda.

"Baik, kalau begitu kami berangkat, Dewi," pamit Galuh Daka. Sementara tubuhnya sudah berada di punggung kuda.

Ketika Dewi Nuwang kembali menganggukkan kepala, Galuh Daka menebarkan senyum ke arah Raja Petir.

"Heah...!"

Lelaki gagah berpakaian biru langit itu menggebah kudanya, disusul kemudian oleh ketiga kawannya. Debu kembali mengepul seiring dengan derapan kaki-kaki kuda Galuh Daka dan kawannya.

"Kalau kau tidak berkeberatan, aku ingin minta bantuanmu lagi, Kakang Jaka," pinta Dewi Nuwang polos.

"Jangan terlalu menaruh kepercayaan begitu besar pada seseorang yang baru kau kenal, Dewi," ujar Jaka meledek.

"Kalau tak bersedia, aku tak memaksa, Kakang," kilah Dewi Nuwang.

"Apa imbalannya, kalau aku bersedia?" gurau Raja Petir, sambil tersenyum. Matanya melirik ke wajah Dewi Nuwang.

Dewi Nuwang juga membalas senyum yang manis terhadap Jaka.

"Apa kau tergolong lelaki upahan, Kakang?" balas Dewi Nuwang.

"Kau pintar memaksa orang secara halus, Dewi."

"Kau merasa ku paksa, Kakang?" tanya Dewi Nuwang, sambil tertawa kecil.

Raja Petir tak menjawab pertanyaan Dewi Nuwang. Kakinya seketika dijejakkan kuat dan melesat. Dewi Nuwang nampak begitu terkejut, Jaka telah meninggalkan dirinya. Sebentar kemudian dara jelita itu pun segera melesat, menyusul jejaka tampan yang juga berjuluk Raja Petir.

***

Dalam sebuah rumah yang cukup besar, suasana yang sejuk dan teduh, terdengar suara percakapan Raja Petir, Dewi Nuwang, dan Ki Megantara.

"Aku mengucapkan terima kasih, atas pertolonganmu terhadap diri Dewi Nuwang. Dewi Nuwang adalah putri adik seperguruanku, Raja Petir," kata lelaki berusia di atas enam puluh tahun. Lelaki tua itu mengenakan pakaian jingga bersalur-salur merah dan hijau terang.

Jaka menatap wajah lelaki di hadapannya. Lelaki tua itu tak lain adalah Ki Megantara, seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Ia juga dikenal dengan julukan Pendekar Lembayung.

"Seharusnya ucapan itu tak perlu tercetus, Ki," kilah Raja Petir sopan. "Sudah selayaknya bagi kita jika mampu memberikan pertolongan itu. Bukankah pertolongan yang datang hanya karena sang Pencipta Jagat telah menggerakkan hati kita?" lanjut Jaka lembut dan sopan.

Mata Ki Megantara tak berkedip menatap wajah Raja Petir. Lelaki tampan yang bergelar Raja Petir. Dalam hati, Ki Megantara merasa kagum dengan segala kerendahan budi lelaki muda di hadapannya. Ki Megantara nampak memaklumi keberadaan ilmu silat Raja Petir, yang bagi kalangan dunia persilatan sulit dicarikan tandingannya.

"Kalau begitu kehendakmu, akan ku tarik kembali ucapanmu tadi. Namun, aku tetap tak akan melupakan budi baikmu," sambut Ki Megantara sambil melempari pandang ke wajah Dewi Nuwang yang duduk di sampingnya.

Raja Petir tersenyum mendengar ucapan tulus lelaki tua bergelar Pendekar Lembayung itu. Sementara Dewi Nuwang menundukkan kepala mendapatkan tatapan Ki Megantara yang menyimpan keheranan.

"Sesungguhnya hatiku merasa tak tentram. Kalian datang tanpa ketiga anakku," kata Ki Megantara dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Dewi Nuwang. "Bukankah sudah dua hari ini, Mutiara Merah dan kedua adiknya berada di rumahmu, Dewi?" tanya Ki Megantara dengan rasa penasaran di dalam hati.

"Karena itulah aku datang ke sini, Paman. Sudah satu purnama sebenarnya Mutiara Merah dan adik-adik tak berkunjung ke rumahku. Aku justru khawatir telah terjadi sesuatu atas mereka bertiga. Atau mungkin atas diri Paman sendiri hingga Mutiara Merah dan adik-adik tak sempat bertandang ke rumahku." Dewi Nuwang menjelaskan kekhawatiran dalam hati.

"Hmmm... "

Wajah Ki Megantara seketika berubah padam. Setahunya, tak ada tempat lain yang menjadi persinggahan ketiga putrinya, selain kediaman Adi Wikuna.
 
"Di perjalanan tadi, aku bertemu dengan Kakang Galuh Daka," lanjut Dewi Nuwang.

"Mereka memang ku tugasi menengok Mutiara Merah dan kedua adiknya di rumahmu," selak Ki Megantara.

Timbul rasa kekhawatiran di wajah Ki Megantara. Tubuhnya lalu bangkit dari duduk. Kemudian melangkah sambil memandang ke kejauhan.

"Aku telah memberitahu Kakang Galuh Daka, kalau Mutiara Merah dan adik-adik tidak ada di rumahku. Lalu Kakang Galuh Daka dan ketiga kawannya memutuskan untuk mencari Mutiara Merah dan adikadik."

Ki Megantara tercenung mendengar ucapan anak adik seperguruannya. Dirinya sungguh merasa heran dengan kepergian ketiga putrinya. Padahal hatinya yakin kalau Mutiara Merah dan kedua adiknya bukan anak perempuan yang senang keluyuran tak tentu tujuan. Pendekar Lembayung paham benar bagaimana jiwa ketiga putrinya.

"Ceritakanlah padaku, kejadian yang kau alami atas perbuatan perempuan tua itu!" pinta Ki Megantara, kemudian sambil melangkahkan kakinya menuju ke kursi tempat duduk.

Dewi Nuwang segera menceritakan pertemuannya dengan perempuan tua bernama Nyai Puncang Sibela secara runtun. Dewi Nuwang juga menceritakan bagaimana Nyai Puncang Sibela memaksanya. Bahwa dirinya dan ketiga putri Ki Megantara akan dijadikan Dara-Dara Pengusung Mayat

"Dara-Dara Pengusung Mayat...?" tersedak kerongkongan Ki Megantara ketika mengulangi kalimat itu. "Apa maksudnya?" pertanyaan Ki Megantara terlepas tidak tentu ditujukan pada siapa. Hati Ki Megantara tiba-tiba dihinggapi rasa kekalutan. Kekhawatiran akan keselamatan ketiga putrinya seketika menyeruak ke permukaan.

"Jangan-jangan perempuan tua itu telah menawan ketiga anakku untuk dijadikan "

"Mudah-mudahan tidak begitu, Paman," selak Dewi Nuwang, mencoba memupus kekhawatiran Ki Megantara. "Kurasa Mutiara Merah, Dik Mutiara Jingga dan Dik Mutiara Ungu bukan gadis-gadis yang terlalu mudah ditaklukkan, Paman. Apalagi cuma dengan seorang nenek yang tak memiliki senjata."

"Kau jangan salah kira, Dewi Nuwang," sergah Jaka menimpali pembicaraan Dewi Nuwang dan Ki Megantara.

"Kau tak ingat, kepulan asap hijau yang hampir saja membuat kita celaka?"

Dewi Nuwang tak menjawab pertanyaan Raja Petir yang duduk di sebelahnya.

"Kau betul, Jaka. Dalam segala hal kita memang harus punya perhitungan matang. Perempuan tua itu boleh jadi tidak bersenjata yang terlihat seperti layaknya senjata tokoh-tokoh persilatan yang lain. Namun, bukan tak mungkin kalau perempuan tua itu memiliki senjata-senjata yang tersembunyi secara rahasia. Celakanya lagi, senjata itu mengandung kekuatan racun yang mematikan. Ah.... Hatiku jadi sangat khawatir dengan keselamatan anak-anakku," Ki Megantara melempar pandang, matanya menatap keluar rumah.

"Mudah-mudahan saja, Kakang Galuh Daka dan ketiga kawannya berhasil menemukan Mutiara Merah dan adik-adik, Paman," Dewi Nuwang mencoba menghibur hati Ki Megantara.

Ki Megantara, lelaki yang berjuluk Pendekar Lembayung menatap wajah Dewi Nuwang lekat-lekat.

"Mudah-mudahan begitu, Dewi," ucapnya tak bersemangat.

"Aku berjanji akan membantu mencari ketiga puterimu, Ki," ujar Raja Petir turut membesarkan hati Pendekar Lembayung.

Ki Megantara tentu saja merasa senang mendengar ucapan Raja Petir. Seorang pendekar yang kesaktiannya sulit tertandingi.

Pendekar Lembayung menatap lekat wajah Jaka. Tatapannya begitu syarat dengan rasa terima kasih. Namun, tak berani dicetuskannya secara langsung di hadapan Raja Petir.

"Kalau begitu, ada baiknya kita tunggu kabar dari Galuh Daka," putus Ki Megantara, setelah sekian lama memandang wajah Jaka tanpa risih.

"Tapi aku pamit sekarang juga, Paman. Ayah harus tahu hal ini," ujar Dewi Nuwang seraya bangkit. Dara cantik itu segera menjura, memberi hormat kepada Ki Megantara.

Ki Megantara memandang wajah Dewi Nuwang. "Begitu juga baik, Dewi," sambut Ki Megantara. "Sampaikan kabar tak menyenangkan ini pada ayahmu," lanjut Ki Megantara.

Bola mata Ki Megantara yang hitam menatap wajah Jaka. Sementara, Dewi Nuwang kembali menundukkan kepalanya. Sesaat kemudian, segera membalikkan badan hendak melangkah keluar.

"Maaf, Dewi Nuwang," tahan Raja Petir ketika baru selangkah Dewi Nuwang mengangkat kaki. "Aku mengkhawatirkan keadaanmu, jika harus kembali seorang diri," ucap Raja Petir. Ia mendekati Dewi Nuwang.

Dewi Nuwang menatap wajah Raja Petir. "Asal kau tak mengharapkan upah, Kakang," ujarnya meledek.

Jaka tentu saja tidak tersinggung dengan ucapan yang hanya main-main. Dengan gerakan halus dia menguntit langkah kaki Dewi Nuwang, setelah berpamitan kepada Ki Megantara.

***

Lelaki berpakaian warna biru gelap begitu tersentak, mendengar kabar yang dibawa putri tunggalnya. Apalagi ketika mendengar nama Nyai Puncang Sibela disebut Dewi Nuwang. Wajah lelaki yang tak lain adalah ayah Dewi Nuwang, seketika berubah.

"Kalau betul Nyai Puncang Sibela yang menculik anak-anak Kakang Megantara, ini berarti sebuah persoalan besar buat kita, Dewi," ujar lelaki berusia di atas lima puluh tahun yang bernama Ki Wikuna.

"Hahhh...! Kau, kau mengenal perempuan tua itu, Ki?" Jaka merasa terkejut, mendengar kekhawatiran Ki Wikuna, terhadap persoalan itu.

Ki Wikuna menyelidiki wajah tampan Jaka dengan sorot mata lembut. Bagi orang-orang persilatan yang senang mengembara, keberadaan Nyai Puncang Sibela bukanlah hal yang asing. Sosok itu memang cukup dikenal. Sepak terjangnya sangat menggiriskan. Tetapi..., bukankah Nyai Puncang Sibela sudah setahun lebih tak muncul meramaikan dunia persilatan? Pikir Ki Wikuna.

"Sudah cukup lama aku mengenalnya, Jaka. Aku juga sudah cukup lama mendengar tentang sepak-terjangnya yang kejam," jawab Ki Wikuna.

"Tetapi, kenapa Paman Megantara tak mengenalinya, Ayah?" selak Dewi Nuwang.

"Yah, tentu saja. Sejak kematian Nyai Seriti, Kakang Megantara seolah tak ingin disibukkan oleh perkembangan dunia persilatan. Kakang Megantara lebih memilih mengurus ketiga putri dan beberapa murid kesayangannya," jawab Ki Wikuna. "Jadi, wajar kalau Kakang Megantara tak mengenal nama Nyai Puncang Sibela yang bergelar Nenek Sakti Racun Hijau," lanjut Ki Wikuna.

Nenek Sakti Racun Hijau...? Gumam Raja Petir dalam hati. Dirinya merasa pernah mendengar nama julukan itu. Bahkan pernah Jaka menemukan seorang lelaki bertubuh kekar, yang tubuhnya berubah warna. Tubuh lelaki kekar yang sudah terbalut racun hijau itu berada dalam keadaan sekarat. Ketika racun hijau itu berubah jadi kepulan asap hijau, terangkatlah nyawa lelaki kekar itu dari raganya. Keadaan tubuhnya mengerikan. Dan itu tentu akibat perbuatan keji yang dilakukan Nenek Sakti Racun Hijau.

Tapi, kenapa Nyai Puncang Sibela tak mau menghadapiku, ketika aku menolong Dewi Nuwang? Tanya Raja Petir dalam hati.

"Dengan kepandaiannya dalam mengolah racun hijau, Nyai Puncang Sibela mampu berbuat apa saja yang dikehendaki. Racun hijau mampu membuat pikiran orang berbalik mengikuti kehendaknya. Ah! Aku jadi semakin khawatir dengan keadaan anak-anak Kakang Megantara. Jangan-jangan mereka telah termakan pengaruh dahsyat racun hijau. Sehingga menuruti keinginan perempuan laknat itu, menjadi Dara-Dara Pengusung Mayat." Raut wajah Ki Wikuna semakin menampakkan kecemasan. "Aneh-aneh saja ulah nenek sakti itu," lanjut Ki Wikuna.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Ayah?" tanya Dewi Nuwang. "Kasihan, Mutiara Merah dan adik-adiknya."

"Kita harus menghadapi perempuan tua itu. Dirinya mungkin bergerak tidak sendirian," jawab Ki Wikuna.

"Apa ada orang lain di belakang Nyai Puncang Sibela, Ki Wikuna?" tanya Jaka setelah mendengar jawaban Ki Wikuna.

"Setahuku, Nenek Sakti Racun Hijau selalu berhubungan dekat dengan Ki Kuriwang Situ, lelaki lanjut usia yang berjuluk Dewa Racun Hitam."

Kembali hati Raja Petir terdesak mendengar julukan Dewa Racun Hitam disebut Ki Wikuna.

"Lucunya, kedua tokoh tua itu tunduk dan mengabdi pada seorang lelaki muda, bernama Gutamala. Entah apa kelebihan Gutamala, hingga Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ sangat patuh menjalankan segala perintah dan keinginannya."

Raja Petir hanya diam mendengar ucapan Ki Wikuna. Dirinya tak pernah mendengar nama Gutamala disebut-sebut orang. Namun jelas, anak muda yang menjadi junjungan Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ bukan orang sembarangan. Gutamala pasti memiliki kedigdayaan di atas ilmu kedua tokoh tua itu. "Kira-kira, mampukah kita melumpuhkan sepasang orang tua sakti dan Gutamala, Ayah?" 

"Entahlah,"   jawab  Ki  Wikuna.   

"Kalau hanya ayah dan Kakang Megantara, kemungkinan kita tak kan mampu menghadapi mereka, Dewi. Namun, dengan kehadiran Raja Petir yang dengan rela bermaksud membantu, secercah sinar cerah akan menyinari perjuangan kita," lanjut Ki Wikuna polos. "Mudahmudahan kedigdayaan Raja Petir akan mampu mengatasi tokoh-tokoh hitam itu."

Raja Petir merasa kikuk dengan ucapan Ki Wikuna itu.

"Ah, apalah arti kepandaianku, jika tanpa dukungan Ki Wikuna, Ki Megantara, dan juga Dewi Nuwang," kilah Jaka merendah.

Ki Wikuna semakin terpesona dengan sikap rendah hati Raja Petir. Hatinya merasa, di balik ucapan dan sikap yang ditunjukkan pemuda itu terkandung kekuatan dahsyat. Namun, anak muda yang berbudi itu begitu pandai menyembunyikannya.

Sama halnya dengan Ki Wikuna, Dewi Nuwang pun begitu mengagumi ucapan merendah yang keluar dari sepasang bibir bagus Raja Petir. Lelaki yang cukup kesohor di kalangan rimba persilatan. Tak sadar kalau pada akhirnya perasaan kagum itu menjelma menjadi perasaan aneh yang syahdu di dalam hatinya.

"Maaf Ki Wikuna dan juga kau, Dewi Nuwang. Aku rasa, tak ada hal lain yang perlu dibicarakan. Aku pamit sekarang," kata Jaka menyentak lamunan Dewi Nuwang yang menatapi wajahnya.

"Ah... kenapa tergesa-gesa, Kakang?" tahan Dewi Nuwang merasa tak enak hati.

"Maaf Dewi, kurasa kita harus mengatur siasat dalam menangani masalah ini. Izinkan aku bergerak dengan caraku sendiri," usul Jaka pelan.

Dewi Nuwang tak mampu membantah. Apalagi ketika Ki Wikuna menyetujui usul yang baru saja diucapkan Jaka.

"Begitu juga baik, Raja Petir," timpal Ki Wikuna. "Namun hendaknya, kau segera memberi kabar, jika mendapatkan perkembangan yang baik," pinta Ki Wikuna.

"Tentu saja, Ki," jawab Jaka sambil menganggukkan kepala. "Aku permisi, Ki, Dewi," ucap Jaka seraya membalikkan badan.

"Semoga kita berhasil, Jaka!"

"Semoga, Ki!" jawab Raja Petir kemudian, "Hip!" Ki Wikuna terkagum-kagum menyaksikan ge-

rakan ringan dan cepat yang dilakukan Raja Petir. Hanya sekali hentakan, tubuh anak muda terbalut pakaian warna kuning keemasan itu sudah lenyap dari pandangannya.

Dewi Nuwang pun mempunyai  kekaguman yang sama dengan ayahnya. Namun dalam rongga dadanya ada rasa kehilangan atas kepergian anak muda yang telah mampu memikat hatinya.

***
EMPAT
Sinar matahari yang memanggang, menyebabkan tiga lelaki bertubuh tegap melangkah tergesa. Begitu cepat langkah mereka, hingga salah seorang di antaranya melanggar seorang dara cantik yang tiba-tiba muncul dari kelokan jalan

"Ah, maaf Nisanak. Aku tak sengaja," ujar lelaki berpakaian kuning muda.

Dara cantik itu ternyata Mutiara Merah. Matanya menatap bengis wajah lelaki berpakaian kuning muda yang menabraknya. Sebentar saja dara cantik berpakaian merah menatap lelaki yang melanggarnya. Kemudian tanpa berkata sepatah pun Mutiara Merah menerjang lelaki itu.

"Hiaaa!"

Mutiara Merah mengayunkan pedangnya. Trang!

Lelaki berpakaian kuning muda terkejut mendapatkan serangan yang tidak disangka-sangka. Sebisanya tangannya menangkis seraya mundur beberapa langkah dari hadapan Mutiara Merah. Mutiara Merah kembali menatap geram lelaki berpakaian kuning muda yang berhasil menggagalkan serangannya.

Lelaki gagah itu mencoba membalas tatapan aneh Mutiara Merah. Namun, sebentar saja hal itu dapat dilakukan. Mata lelaki itu seketika terlempar ke arah lain. Kilatan mata Mutiara Merah yang aneh seolah mengguncang-guncang perasaannya.

"Dia bukan perempuan biasa, Adi Lubiran," ucap lelaki gagah itu kepada kedua kawannya yang berpakaian hitam dan biru muda.

"Betul, Kakang Gradaka," sahut lelaki yang dipanggil Lubiran. "Sorot matanya begitu aneh dan tajam menusuk."

"Hati-hatilah, Adi Lubiran," nasihat Gradaka pada Lubirah.

"Ya, kau juga Adi Janaba," sahut Lubiran memperingatkan lelaki gagah yang berpakaian biru muda.

"Tentu, Kakang Lubiran," jawab Janaba sambil menyilangkan golok di depan dada.

Tiba-tiba tiga dara yang bernama Mutiara Merah, Mutiara Jingga, dan Mutiara Ungu merangsek maju. Ketiga dara itu memutar-mutar pedang mereka dengan cepat. Sedemikian cepatnya pedang itu diputar, hingga wujud pedang tidak tampak.

"Awas, hati-hati kalian!" teriak Gradaka memperingatkan Lubiran dan Janaba. Tubuhnya yang kekar, seketika bergerak cepat menghindari tebasan pedang yang dilancarkan Mutiara Merah.

Pertarungan sengit pun tak terelakkan lagi. Tiga putri Ki Megantara, yang sudah terkena pengaruh racun ganas Nyai Puncang Sibela, menyerang dengan ganas. Kehebatan mereka dalam memainkan pedang menjadi tiga kali lipat dahsyatnya. Gradaka, Lubiran, dan Janaba tampak kewalahan melayani permainan pedang ketiga dara cantik. 

Serangan-serangan pedang mereka bergerak cepat, terarah ke bagian-bagian tubuh yang mematikan. Hingga, ketika memasuki jurus yang ketiga puluh, Janaba tak mampu menghindari tebasan pedang Mutiara Ungu. Pedang putri bungsu Ki Megantara membabat deras tubuh Janaba.

"Aaa...!"

Lengking kematian seketika terdengar memenuhi suasana siang yang begitu mencekam. Beberapa orang penduduk yang menyaksikan pertarungan, hanya ter-longong bengong, melihat kebengisan tiga dara cantik jelita. Mereka tak berani mendekat ke arena pertarungan.

Gradaka menyaksikan tubuh Janaba yang limbung dengan luka menganga lebar pada bagian perut. Pikirannya kacau menghadapi Mutiara Merah yang terus menggempurnya dengan gencar.

"Adi Janaba!" teriak Gradaka ketika melihat tubuh Janaba terguling ke tanah. Darah berceceran membasahi baju Janaba dan tanah sekitar tempat pertarungan.

Sama dengan halnya Gradaka, Lubiran pun nampak kalut menyaksikan robohnya Janaba. Kekalutan Lubiran telah dimanfaatkan dengan baik oleh Mutiara Jingga. Seketika itu juga Mutiara Jingga melejit cepat dengan pedang yang telah terayun di udara.

"Awas, Lubiran!" teriak Gradaka.

Lubiran mendengar dengan jelas peringatan Gradaka. Namun, gerakannya yang terlambat, sehingga Mutiara Jingga segera mengarahkan pedangnya ketubuh Lubiran. Dara itu menusukkan ujung pedangnya ke bagian lambung Lubiran.

Jrabbb.

Serangan itu tepat pada sasarannya. "Aaa...!"

Lubiran terpekik keras. Ujung pedang Mutiara Jingga menancap perutnya. Pekikan itu kembali terulang ketika Mutiara Jingga mencabut senjatanya dengan keras.

Darah langsung muncrat dari lubang luka tubuh Lubiran. Nampak Lubiran mencoba menekap luka di perutnya. Tubuhnya kontan limbung dan dirasakan kepalanya pening. Alam seolah berputar mengelilingi tubuhnya. Darah berceceran di tanah dan pakaiannya. Suasana bertambah mencekam.

"Hiaaa...!"

Mutiara Jingga melayangkan tendangan ke arah dada Lubiran.

Dugkh! Brak!

Tubuh Lubiran terbanting deras, ketika tendangan menggeledek mendarat di dadanya. Lubiran berkelojotan sebentar di tanah. Sebentar kemudian tubuh lelaki yang terbalut pakaian hitam dan putih itu sudah kaku tak bernyawa lagi. Mutiara Jingga menyaksikan lawannya roboh tak bernyawa, seketika menyeringai puas. Senyumnya tak lagi nampak manis, tetapi begitu dingin dan aneh.

Gradaka yang menyaksikan kematian kedua adik seperguruannya, menjadi kalap bukan main. Darah yang sudah mencapai ubun-ubun seolah hendak mendesak keluar. Diiringi pekikan keras, Gradaka melejit sambil membabat-babatkan golok ke arah dara cantik jelita yang terdekat

Namun, serangan membabi buta itu dengan mudah dipatahkan Mutiara Ungu. Dengan sekali egos saja serangan Gradaka telah lewat dari sasarannya. Bahkan dara cantik itu tidak memberi kesempatan Gradaka. Segera serangan balasan beruntun yang berbahaya dilancarkan bertubi-tubi oleh Mutiara Jingga.

"Hih!"

Sebuah tendangan kembali melayang ke arah tubuh Gradaka.

Dug!

Sepakan keras mendarat di punggung Gradaka. Karuan saja lelaki berpakaian kuning muda itu terjungkal di tanah. Wajahnya membentur tanah lebih dulu, membuat keadaan lebih parah. Darah nampak keluar dari beberapa giginya yang copot

Gradaka masih berusaha bangkit untuk memberikan perlawanan. Namun, keadaan tubuhnya tak memungkinkan. Gradaka kembali jatuh duduk di atas tanah.

"Jahanam!" maki Gradaka sebisanya. Matanya mendelik geram tertuju ke tiga dara yang menyeringai aneh. "Apa salahku, hingga kalian berbuat sekeji ini?" lanjut Gradaka.

Mutiara Merah, dan kedua adiknya tak menjawab pertanyaan Gradaka. Lelaki berpakaian kuning muda itu hanya ditatap dengan beliakan mata yang penuh nafsu.

Belum lagi terjawab pertanyaan Gradaka, Mutiara Merah segera menjejakkan kakinya kuat. Tubuh berisi yang berbalut pakaian merah itu melejit cepat sambil mengayunkan pedang dengan mengerahkan tenaga dalam.

Gradaka yang begitu merasakan sakitnya hanya memejamkan mata menyongsong ajal yang nyaris merenggutnya.

"Hiaaa...!"

Mutiara Merah mengayunkan pedang dengan cepat.

 Crakkk!

Pedang itu tepat mengenai kepala Gradaka. Seketika kepala Gradaka terbelah menjadi dua bagian, terbabat pedang yang digerakkan dengan tenaga dalam tinggi.

Sebentar kemudian tubuhnya yang bersimbah darah terkulai, tak bernyawa lagi.

"Ha ha ha...!"

Tiga putri Ki Megantara yang sudah terkena pengaruh racun keji Nyai Puncang Sibela tertawa bersamaan. Mereka memandang mayat Gradaka sebentar. Tak lama kemudian Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu merentangkan dua batang bambu panjang, yang bagian tengahnya terikat saling menyilang tali hitam, membentuk sebuah alat pengusung.

Mutiara Merah segera merenggut mayat Gradaka. Lalu dengan kasar melemparkan mayat itu ke atas tali kenyal yang menjadi alas pengusung mayat itu.

Dengan senyum aneh, ketiga dara melangkahkan kaki seperti tanpa persoalan. Sementara, di atas usungan yang digotong Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu, sosok mayat terbalut pakaian kuning muda tergeletak kaku.

Penduduk yang menyaksikan kejadian mengerikan itu tak dapat berbuat apa-apa. Tak satu pun di antara mereka yang berani mencegah kepergian tiga dara biadab itu. Para penduduk hanya mampu mengurut dada. Mereka bergidik menatapi mayat Lubiran dan Janaba yang berlumuran darah. Kedua mayat itu tergeletak di atas tanah.

Di tengah ketertegunan penduduk, sosok bayangan kuning keemasan tiba-tiba melesat. Dengan manis bayangan itu mendarat tepat di samping lelaki berkumis melintang yang wajahnya nampak pucat.

Lelaki muda itu tak lain si Raja Petir. Segera matanya merayapi dua mayat yang tergeletak kaku berlumuran darah itu.

"Siapa yang telah melakukan semua ini?" tanya Jaka Sembada pada penduduk yang hanya terpaku saja.

"Kalian mendengar pertanyaanku?!" agak keras ucapan Raja Petir. Bentakan itu telah menyadarkan lelaki berkumis melintang yang berada dekat dengannya. "Eh, oh.... Perempuan-perempuan itu," tunjuk

lelaki berkumis melintang ke arah perginya Dara-Dara Pengusung Mayat

"Perempuan? Perempuan yang mana?" selidik Jaka.

Lelaki berkumis tak menjawab. Dia hanya menunjuk tempat yang sama. Jaka sempat tersadar dari semua pertanyaannya. Dia kini maklum dengan jawaban lelaki berkumis melintang yang sedang dalam keadaan kalut.

"Maaf, Kisanak," ucap Jaka sambil tangannya menepuk pundak lelaki itu. Jaka segera membawanya ke sebuah rumah terdekat.

Setelah lelaki berkumis itu meneguk air putih yang diberikan seorang penduduk, Jaka Sembada kembali menepuk pundaknya.

"Kita urus dahulu mayat-mayat itu, Kisanak. Kemudian, aku minta kau jelaskan kejadian yang sebenarnya," pinta Jaka.

Lelaki berkumis melintang itu menurut saja apa yang diucapkan Jaka. Kemudian kakinya melangkah gontai ke arah mayat Lubiran dan Janaba yang tergeletak kaku. Darah di tubuh kedua mayat itu sudah mulai mengering. Namun, bau anyir semakin terasa merasuk ke dalam hidung.

***

Tercenung Jaka saat mendengar penjelasan dari lelaki berkumis melintang. Sementara kedua mayat telah dibereskan. Tiga dara bersenjata pedang? Batin Jaka. Apakah mereka itu putri-putri Ki Megantara? Duga Jaka dalam hati.

"Aku permisi, Kisanak," pamit lelaki berkumis melintang melihat anak muda di hadapannya melamun sendirian.

"Eh.... Terima kasih atas bantuan dan keteranganmu, Kisanak," ucap Jaka agak kikuk.

Lelaki berkumis melintang itu menganggukkan kepala dan segera beranjak meninggalkan Raja Petir. Sementara Raja Petir masih menduga-duga siapa ketiga perempuan biadab itu.

Kalau betul mereka anak-anak Ki Megantara, berarti sebuah kesulitan kembali menghadangku, batin Jaka. Aku harus bertarung dengan ketiga putri Ki Megantara itu. Tapi, aku juga tak boleh melukai mereka.

Jaka segera bergegas pergi. Tujuannya kini ke rumah Ki Megantara, ayah dari Mutiara Merah, Mutiara Jingga, dan Mutiara Ungu. Raja Petir merasa perlu menyampaikan hal itu kepada Pendekar Lembayung. Nampaknya ia mulai yakin. Ketiga dara yang telah melakukan pembantaian barusan adalah putri Ki Megantara alias Pendekar Lembayung.

***

"Ha ha ha. Bagus! Bagus! Kalian telah bekerja dengan baik," puji Nyai Puncang Sibela, ketika Mutiara Merah dan kedua adiknya menyodorkan mayat Gradaka.

"Lihat, Ki Kuriwang!" perintah Nyai Puncang Sibela kemudian. "Baru tahapan uji coba, sudah sedemikian hebat hasilnya!"

"Ha ha ha...! Bangkai ini adalah murid utama Ki Gelung Kikar! Ki Kuriwang Situ. Kau lihatlah kemari!"

Ki Kuriwang Situ melangkah perlahan ke mayat di usungan itu yang dipegang Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu.

Ki Kuriwang Situ serta-merta menggelengkan kepala. "Itu, baru pengaruh racun hijau mu, Nyai!" tandas Ki Kuriwang Situ. "Belum lagi dipadukan dengan racun hitam ku. Ah! Sebentar lagi dunia persilatan akan segera gempar...!" begitu mantap ucapan Ki Kuriwang Situ, sambil memperhatikan mayat Gradaka.

"Tetapi, Ki Kuriwang Situ," sahut Nyai Puncang Sibela sambil menatap wajah lelaki tua berpakaian hitam. "Apakah tubuh mereka sanggup menahan pengaruh-pengaruh dahsyat racun ramuan kita?"

Ki Kuriwang Situ tidak segera menjawab pertanyaan Nyai Puncang Sibela. Matanya kembali memandangi wajah Mutiara Merah dan kedua adiknya. Lelaki tua itu seolah-olah merasa ragu terhadap kekuatan tubuh dara-dara cantik itu. Karena, menurut keyakinannya, campuran racun hitam miliknya dan racun hijau Nyai Puncang Sibela, akan menimbulkan pengaruh yang dahsyat

Sesaat lamanya Ki Kuriwang Situ kembali menatap wajah-wajah putri Ki Megantara. Kemudian tatapannya beralih pada wajah Nyai Puncang Sibela.

"Kita coba dulu pada takaran yang sedikit Nyai," tukas Ki Kuriwang Situ.

Perempuan tua itu menyetujui ucapan Ki Kuriwang Situ. Nyai Puncang Sibela justru tersenyumsenyum sendiri tanda menyetujui gagasan Ki Kuriwang Situ.

"Ayo, kita menghadap Yang Mulia," ajak Nyai Puncang Sibela.

"Ayo, Nyai," sambut Ki Kuriwang Situ mantap. "Kabar baik ini harus segera sampai ke telinga Yang Mulia Gutamala."

Nyai Puncang Sibela segera menowel pundak Mutiara Merah agar masuk ke ruangan pribadi Gutamala. Sedangkan perempuan tua itu mengiringi tiga dara yang mengusung mayat Gradaka dari belakang.

Tak lama kemudian mereka telah berada di dalam sebuah ruangan pribadi Gutamala.

"Ha ha ha.... Mayat siapa yang kalian bawa itu?" suara memantul dari dinding-dinding ruangan. Ruangan itu hanya diterangi oleh beberapa obor yang terpancang pada setiap sudut.

Segera terdengar suara Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ. Kedua orang tua itu menjura hormat, ketika tiba di pembaringan Gutamala junjungannya.

"Hanya mayat lelaki tak berguna, Yang Mulia," jawab Nyai Puncang Sibela.

"Ha ha ha.... Kenapa begitu, Nyai? Apa kau tak mampu, mencari mayat-mayat yang lebih baik?"

"Ini baru tahapan uji coba, Yang Mulia," sahut Ki Kuriwang Situ.

Suara tawa menggema, menggetarkan sukma, datang dari mulut seorang lelaki muda yang terbaring di atas ranjang berwarna keemasan. Wajah yang sesungguhnya tampan itu berguncang-guncang hebat. Namun, wajah itu tak lagi sedap di pandang mata. Warnanya hitam legam seperti warna kulit terbakar.

"Pancang kepala mayat di dinding itu! Lalu letakkan tubuhnya di atas tumpukan kayu bakar!" perintah lelaki muda yang terbaring tak bergerak. Tubuhnya tak mampu bergerak, karena mengalami kelumpuhan total.

Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ segera mengangkat wajah. Kemudian, menatap lekat ke wajah Mutiara Merah dan kedua adiknya.

"Penggal, kepala itu!" perintah Nyai Puncang Sibela tegas kepada Mutiara Merah.

Mutiara Merah yang telah berada di bawah pengaruh racun ganas Nyai Puncang Sibela segera menuruti perintah. Tangan halusnya segera merayap ke gagang pedang yang tersampir di punggung.

Cring!

Suara bergemerincing memantul, ketika pedang Mutiara Merah tercabut dari warangkanya. Pedang putih itu berkilat-kilat tertimpa sinar obor yang terpancang di sudut ruangan pribadi Gutamala.

Tanpa diperintah dua kali, Mutiara Merah segera mengayunkan pedangnya. Tak ada rasa takut, nampak di wajah anak Ki Megantara. Yang ada justru seringai bengis yang nampak bernafsu untuk memenggal kepala mayat lelaki di hadapannya.

Craaakkk!

Pedang itu tepat mengenai sasaran. Bunyi berdecak terdengar, ketika pedang Mutiara Merah memenggal batang leher Gradaka. Kepala lelaki murid utama Ki Gelung Kikar seketika menggelinding di lantai ruangan pribadi Yang Mulia Gutamala. Kepala yang dilumuri darah itu segera diraih Ki Kuriwang Situ. Kemudian, lelaki tua berpakaian hitam itu meraih sebatang bambu runcing di samping kanannya.

Creb!

Bagian bawah kepala Gradaka seketika itu tertusuk bambu berujung runcing. Ki Kuriwang Situ yang tanpa rasa iba, langsung memancang kepala itu di dinding.

Suara tawa Gutamala kembali terdengar. Ki Kuriwang Situ telah menyelesaikan tugasnya. Dan ketika tawa itu terhenti, segera disusul dengan perintah yang harus segera dipatuhi.

"Lemparkan tubuh mayat itu ke atas tumpukan kayu bakar!" perintah Gutamala.

Kali ini Nyai Puncang Sibela mengerjakan perintah junjungannya. Dengan sekali renggut, tubuh Gradaka yang tanpa kepala sudah dibopong dan diletakkan di atas tumpukan kayu.

Ketika Nyai Puncang Sibela kembali ke tempatnya. Gutamala segera menunjukkan kemampuannya yang menakjubkan. Tiba-tiba semburan api melesat dari telapak tangan yang terbuka lebar. Api biru meluruk cepat, membakar onggokan kayu bakar. Tubuh Gradaka pun mulai terbakar.

Suara gemeretak bakaran kayu pun mulai terdengar. Bau sangit yang menebar tak membuat orangorang yang berada di dalam ruangan itu merasa terganggu. Bahkan nampaknya Gutamala begitu menikmati asap yang mengepul menyelimuti tubuhnya. Asap mulai dirasakan mengelus permukaan wajahnya. Begitu bergairah Gutamala menggerak-gerakkan kepalanya, meskipun terasa berat.

Asap seperti itulah yang dibutuhkan Gutamala untuk menyembuhkan keadaan wajahnya yang hitam legam seperti terpanggang bara. Gutamala terus menikmati asap yang mengepul membungkus tubuhnya. Asap itu tidak hanya dapat menyembuhkan wajahnya, tetapi juga akan membebaskan tubuh Gutamala dari kelumpuhan.

"Keluarlah kalian semua!" perintah Gutamala ketika asap bangkai Gradaka semakin menipis. "Cari bangkai-bangkai orang sakti lain!"

Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ segera mematuhi perintah junjungannya. Setelah memberi isyarat pada Mutiara Merah, dan kedua adiknya, keduanya berjalan mengiringi dari belakang. Mereka meninggalkan ruangan pribadi Gutamala.

Sesungguhnya, sangat berat hati kedua orang tua itu untuk terus mematuhi perintah Gutamala. Namun, untuk membantah keinginan lelaki yang berusia jauh di bawahnya adalah suatu yang muskil. Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ masih ingin melihat dunia lebih lama lagi. Mereka tak ingin binasa di tangan Gutamala.

Ada penyesalan yang dalam di hati Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ. Dahulu mereka pernah menentang Pertapa Sakti Bukit Iblis, yang jelas diketahui memiliki kesaktian di atasnya.

Waktu itu Pertapa Sakti Bukit Iblis mempertaruhkan daerah kekuasaannya, jika dirinya kalah. Sedangkan, pertapa itu meminta Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ menjadi abdi setia Gutamala, jika mereka kalah. Gutamala adalah murid Pertapa Sakti Bukit Iblis. Gutamala menderita kelumpuhan dan luka bakar pada seluruh permukaan kulit tubuhnya.

Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ ternyata tak mampu mengalahkan Pertapa Sakti Bukit Iblis. Akhirnya, mereka bersedia menjadi abdi Gutamala dengan harapan, suatu saat dapat melumpuhkan Pertapa Sakti Bukit Iblis. 

Namun, rupanya Pertapa Sakti Bukit Iblis bukanlah sosok yang mudah dikibuli. Sebelum menyerahkan Gutamala, pertapa itu lebih dahulu menjejali serbuk hitam ke mulut Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ. Serbuk hitam itu dapat mempengaruhi jalan pikiran keduanya untuk tetap patuh pada Gutamala.

"Siapa lagi tokoh sakti yang rela menyerahkan nyawanya, Ki?" tanya Nyai Puncang Sibela setelah berada di luar ruangan Gutamala.

"Kita tidak bisa menentukan sekarang, Nyai," jawab Ki Kuriwang Situ.

"Hmmm...," gereng Nyai Puncang Sibela sambil menatap tajam wajah lelaki berusia lanjut itu.

"Kita harus mencoba dulu, penggabungan ramuan racun hitam ku dan racun hijau milikmu, Nyai," ucap Ki Kuriwang Situ memecah tatapan tajam Nyai Puncang Sibela.

"Aaah...! Aku hampir lupa itu, Ki Kuriwang," sahut Nyai Puncang Sibela.

"Sebaiknya, besok pagi saja kita lakukan itu Nyai," putus Ki Kuriwang Situ. "Biarkan malam ini mereka istirahat. Barangkali ada gunanya, untuk menambah ketahanan tubuh mereka."

"Baik, aku setuju dengan keputusanmu, Ki," timpal Nyai Puncang Sibela. "Dan malam ini, kita akan mencampur ramuan racun-racun itu."

"Ya, Nyai. Sesuatu yang dahsyat pasti bakal terjadi," sambut Ki Kuriwang Situ.

"Ku harap juga begitu, Ki."

***
LIMA
"Nggghhh...!"

Lenguhan panjang terdengar berturut-turut, ketika ramuan racun hitam dan racun hijau milik Ki Kuriwang Situ dan Nyai Puncang Sibela diteguk oleh mereka. Lenguhan panjang yang menggetarkan sukma disusul dengan saling bergelimpangan tubuh-tubuh dara-dara cantik itu.

Mutiara Merah dan kedua adiknya sesaat nampak berkelojotan di tanah. Dari mulut mereka keluar busa hijau pekat. Hanya sesaat tubuh dara-dara cantik pengusung mayat itu berkelojotan. Selanjutnya tubuh mereka terkulai lemas tak bergerak. Pingsan!

"Baru sedikit ramuan yang kita gabung, Ki," ucap Nyai Puncang Sibela setelah meraba urat nadi Mutiara Merah dan kedua adiknya. "Tapi akibatnya begitu dahsyat. Aku berharap, mereka akan segera siuman," lanjut Nyai Puncang Sibela.

"Kita tunggu saja sampai matahari tepat di atas kepala, Nyai," sahut Ki Kuriwang Situ.

"Ya, semoga saja tak terlalu lama kita menunggu," ujar Nyai Puncang Sibela.

"Aku pun berharap begitu, Nyai,"

***

Matahari belum lagi tepat di atas kepala ketika tubuh Mutiara Merah dan kedua adiknya mulai nampak menggeliat-geliat. Wajah Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ kontan berseri-seri, menyaksikan ketiga dara cantik sudah kembali siuman. 

Namun, betapa keduanya terkejut menyaksikan perubahan mata ketiga dara yang telah menjadi kelinci percobaan mereka. Mata Mutiara Merah dan kedua adiknya memancarkan hawa maut yang begitu mengerikan. Mata mereka seperti mata Iblis Neraka.

Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ mencoba membalas tatapan tajam ketiga dara cantik itu. Namun tatapan kedua orang tua itu tak dapat bertahan lama. Mereka segera membuang tatapan dari mata ketiga dara cantik itu. Sebentar kemudian, Nyai Puncang Sibela telah mengumandangkan perintahnya.

"Bangkitlah kalian, dan berjalanlah ke sini!" begitu tegas perintah Nyai Puncang Sibela. "Berlutut di hadapanku!" lanjutnya dengan suara keras pula.

Perempuan tua yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik ketiga gadis itu, nampak tersenyum puas. Dalam keadaan dikuasai oleh racun ganas, tentu saja Mutiara Merah dan kedua adiknya menuruti segala perintah Nyai Puncang Sibela. Mereka bertiga tak ubahnya bagai kerbau dicocok hidung.

Ketiga dara berpakaian merah, jingga dan ungu melangkah perlahan namun mantap. Mata ketiganya kini tertunduk. Ketika mereka tiba di hadapan Nyai, Puncang Sibela, segera berlutut dengan posisi badan membungkuk rendah.

"Ha ha ha. Bagus! Bagus!" 

Nyai Puncang Sibela terkekeh menyaksikan sikap dara-dara di hadapannya. Begitu juga Ki Kuriwang Situ. Wajah lelaki lanjut usia itu berguncang-guncang menahan tawa kegembiraannya. Hatinya seolah merasa puas menyaksikan keberhasilan percobaannya.

"Mendekatlah padaku, Dara-Dara Pengusung Mayat," perintah Ki Kuriwang Situ kemudian.

Tiga dara cantik yang dipanggil dengan Dara-Dara Pengusung Mayat segera memenuhi panggilan majikannya. Ketiga dara bergerak bersamaan, mendekati tubuh Ki Kuriwang Situ.

Ki Kuriwang Situ kembali terkekeh pelan, ketika ketiga dara cantik merendahkan tubuh sampai kepala mereka menyentuh tanah.

"Bagus!" puji Ki Kuriwang Situ. "Hari ini, tugas kalian hanya membawa mayat Wikuna si Kujang Biru. Jalankan perintahku sekarang juga, dan kalian harus berhasil!" perintah Ki Kuriwang Situ mantap.

Mutiara Merah, Mutiara Jingga, dan Mutiara Ungu mengangkat wajah berbarengan, kemudian mengangguk secara bersamaan pula.

"Bagus! Berangkat sekarang juga!" perintah Ki Kuriwang Situ kembali, sambil mengangkat kedua tangannya.

Tubuh Dara-Dara Pengusung Mayat bangkit dari simpuhnya. Tanpa berkata, mereka membalikkan tubuh secara serempak. Dengan sekali jejak saja, mereka sudah melesat begitu cepat, bagai anak panah lepas dari busurnya.

Ki Kuriwang Situ dan Nyai Puncang Sibela tertegun menyaksikan kemampuan ketiga dara cantik itu. Kemampuan Mutiara merah dan kedua adiknya, menjadi berlipat-lipat akibat campuran, racun hijau dan racun hitam. Kedua tokoh sakti aliran hitam pun tak mengira, kalau akibat campuran racun mereka sedahsyat itu. Ki Kuriwang Situ dan Nyai Puncang Sibela juga belum tahu apa akibat yang bakal dirasakan DaraDara Pengusung Mayat.

Mutiara Merah, Mutiara Jingga, dan Mutiara Ungu menghentikan larinya. Tak jauh di depannya, tampak sebuah kedai. Di dalam kedai ada tiga lelaki bertampang kasar dan bengis. Menyaksikan ketiga lelaki bertampang kasar tengah menikmati makanan, seketika mengalir liur Dara-Dara Pengusung Mayat Perut mereka yang lapar, berontak minta diisi.

Setelah memberi isyarat kepada kedua adiknya, Mutiara Merah segera melangkah ke kedai milik seorang lelaki tua. Pemilik kedai segera datang menyambut dengan wajah cerah.

"Oh, Tuan-tuan Putri, mau pesan apa?" tanya lelaki tua berjenggot putih. Tubuhnya membungkuk untuk menghormati tamu, ketiga dara cantik itu.

Mutiara Merah yang merasa perutnya sudah melilit minta segera diisi tak menghiraukan teguran lelaki tua pemilik kedai makan. Tiba-tiba, tangan kiri Mutiara Merah bergerak cepat, menyempal tubuh lelaki tua itu.

Begitu kuat tarikan tangan kiri Mutiara Merah, tubuh lelaki tua berjenggot putih seketika terlempari sejauh dua tombak.

Bruk!

Lelaki tua pemilik kedai terkejut, melihat sikap kasar yang diperlihatkan Mutiara Merah. Ia menggeram kesal, tetapi tak mampu berbuat apa-apa, kecuali merasakan sakit yang hebat di pinggang.

Tanpa mempedulikan lelaki tua pemilik kedai, Mutiara Merah dan kedua adiknya menyerbu masuk ka dapur kedai. Mereka mengangkut seluruh makanan yang ada ke meja, dekat tiga lelaki berwajah kasar. Ketiga lelaki itu pun seolah tidak mempedulikan apa yang tengah terjadi.

Begitu pula sikap Dara-Dara Pengusung Mayat, tidak mempedulikan keberadaan tiga lelaki bertampang kasar. Mereka terus melahap makanan yang ada. Baru ketika salah seorang dari tiga lelaki berwajah kasar berceloteh kurang ajar, Mutiara Jingga menoleh dan membeliakkan matanya.

"Duhai! Dari manakah bidadari-bidadari cantik jelita, hingga kalian merasa kelaparan seperti itu?" ucap lelaki berwajah kasar yang matanya cekung.

"Bagaimana kalau setelah perut kalian kenyang, temani kami para bujangan ini untuk bersenang-senang," timpal lelaki berwajah kasar yang rambutnya ditumbuhi uban.

"Aku setuju, Kuntat," sahut lelaki yang lain. "Ya. Itu memang lebih nikmat, Badang," timpal lelaki bermata cekung ke dalam.

"Kita harus membujuk mereka, Gandar," putus lelaki bernama Bandang. 

Sementara ketiga dara cantik para pengusung mayat itu masih melahap makanannya. Gandar bangkit dari duduknya, kakinya melangkah perlahan menghampiri dara-dara cantik yang baru selesai menyantap makanan.

"Kalian bersedia menemani kami untuk bersenang-senang?" tanya Gandar dengan sikap yakin.

Mutiara Merah hanya membisu, tak menanggapi sikap genit lelaki bernama Gandar. Tangannya seketika menegang kaku. Dengan gerakan yang begitu cepat, tangannya mengibas ke wajah lelaki kasar yang berdiri tak jauh darinya.

Wuuut!

Gandar terkejut mendapat serangan mendadak yang datang begitu cepat. Tetapi, lelaki itu mampu menarik cepat kepala ke belakang. Hingga sambaran tangan Mutiara Merah hanya lewat di depan muka Gandar.

"Bedebah!" maki Gandar sambil melompat mundur dua langkah,

Badang dan Kuntat tak kalah terkejutnya menyaksikan perbuatan dara cantik berpakaian merah. Sungguh, mereka tak menyangka kalau dara secantik itu memiliki sikap yang berangasan.

Gandar, Badang, dan Kuntat bersikap waspada ketika tiga dara cantik saling menatap wajah mereka, dengan sorot mata aneh. Sorot mata mereka menyiratkan nafsu untuk membunuh. Kilatan-kilatan bola mata ketiga dara cantik itu begitu tajam dan menusuk. "Mereka bukan perempuan sembarangan, hati hatilah kalian," Gandar memperingatkan kedua kawannya.

"Kita hadapi satu lawan satu saja," usul Kuntat Gandar dan Badang tak menimpali usul Kunta. Keduanya sibuk memperhatikan langkah kaki tiga dara cantik. Gandar dan Badang pun semakin merasakan hawa aneh sinar mata dara-dara cantik. Seperti hawa maut yang mengerikan.

Srat! Srat! Srat!

Tiga lelaki berwajah beringas terkejut, menyaksikan ketiga dara cantik itu mencabut pedang mereka dari warangkanya. Namun keterkejutan itu hanya sesaat. Gandar, Badang, dan Kuntat telah menyilangkan senjata di depan dada.

Melihat ketiga lelaki mempersiapkan senjata, Mutiara Merah segera memberi isyarat pada Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu, agar memilih lawanlawannya.

"Hiaaa...!"

Mutiara Merah menyerang Gandar dengan ganas. Pedangnya berkelebat cepat di dalam ruangan kedai yang tidak seberapa luas. Menyaksikan kehebatan permainan pedang Mutiara Merah, Gandar sedikit gugup. Permainan pedang dara berpakaian merah begitu cepat, meskipun di dalam ruangan sempit

Gandar berupaya sekuat tenaga menghindari tebasan dan tusukan pedang lawannya. Gerakannya yang cukup gesit memang membuat Mutiara Merah belum mampu menyarangkan serangan. Namun, ketika memasuki jurus kesembilan, Mutiara Merah melihat kelengahan lawannya.

"Hiaaa...!"

Dengan gerakan yang sukar diukur oleh mata biasa, Mutiara Merah mengayunkan pedang ke arah leher Gandar. Angin berkesiut membuat Gandar terlengas sebentar. Namun mata Gandar yang jeli segera menangkap kilatan pedang mengarah ke lehernya.

"Eits!"

Gandar berhasil menghindarkan serangan. Brak!

Tiang penyangga kedai tertebas pedang Mutiara Merah. Wuwungan kedai itu menjadi tak seimbang. Apalagi ketika Mutiara Jingga pun melakukan hal yang sama. Satu tiang penyangga kedai terhantam pedang Mutiara Jingga hingga terbelah dua, ketika Badang mengelakkan serangan yang terarah ke lehernya.

Melihat keadaan kedai yang sudah  mulai goyah, orang-orang yang bertarung di kedai pun segera berlompatan keluar. Belum sekejap mereka mencelat dari dalam, kedai telah ambruk ke tanah.

Bruakkk!

Tanpa menoleh ke kedai yang runtuh, Gandar dan kedua temannya kembali bersikap waspada terhadap tiga dara yang bersorot mata aneh. Senjata-senjata mereka yang berupa sebatang tombak bermata dua telah dipersiapkan pada kedudukan siap menyerang.

Namun ketiga dara, dengan sikap ganas sudah kembali melancarkan serangan dengan pedang yang terayun cepat.

Kelebatan pedang Dara-Dara Pengusung Mayat begitu cepat. Sehingga, yang nampak hanyalah pendar sinar keperakan, berkelebat dengan dukungan kekuatan tenaga dalam tinggi.

"Hiaaa!"

Mutiara Merah menerjang dengan pedangnya. Trang!

"Aaa...!"

Pekikan Gandar melengking keras. Tubuhnya terlempar deras, akibat benturan senjatanya dengan pedang Mutiara Merah yang terayun dengan kekuatan tenaga dalam tinggi.

Tombak bermata dua yang dipegang Gandar terlepas. Gandar merasakan tangannya lumpuh. Sementara dari celah bibirnya nampak darah merembes ke luar.

Mutiara Merah yang melihat lawannya terkulai tak berdaya, segera mencelat cepat. Kebengisannya menjadi dua kali lipat. Pedang di tangannya kembali terayun ke atas dengan kekuatan tenaga dalam yang tinggi.

"Hiaaa...!"

Mutiara Merah kembali melompat ke arah tubuh Gandar yang belum sempat bangkit.

Trabbb! "Aaa...!"

Lengking kematian seketika mengisi suasana siang yang panas. Badang dan Kuntat terkesiap mendengar jerit memilukan mulut Gandar. Keduanya segera menolehkan kepala ke tubuh Gandar yang tergeletak dengan leher yang hampir putus. Darah muncrat dari leher membasahi tubuh Gandar.

Badang dan Kuntat serta-merta menggemerutukkan giginya. Wajahnya berubah merah padam. Kemarahan kembali memuncak di kepala mereka. Tanpa berpikir dua kali, Badang dan Kuntat merangsek maju. Dengan tombak bermata dua mereka menyerang begitu ganas ke bagian perut lawan.

Kemampuan Mutiara Merah setelah dicekoki campuran racun hitam dan racun hijau, memang menjadi berlipat ganda. Dengan meliuk-liukkan tubuh bak penari, Mutiara Merah mampu menghindari tusukan tombak lawan. Bahkan kibasan tangannya yang sesekali mengancam pelipis, membuat Badang kerepotan. Dan saat pedang Mutiara Merah berkelebat cepat, Badang tak mampu berbuat banyak, untuk menghindar atau menangkis.

"Hiaaa...!"

Mutiara Merah menyambar dengan pedangnya. Trang!

"Aaa...!"

Tubuh Kuntat terpental beberapa batang tombak ketika dirinya melindungi Badang dari tebasan senjata Mutiara Merah. Tombak bermata dua yang dipergunakan untuk memapak senjata lawan, terpental jauh.

Mutiara Merah geram bukan kepalang, melihat serangannya dikandaskan lawan. Dengan tatapan mata mendelik, Mutiara Merah memandang Kuntat yang terkulai. Kuntat merasakan tangannya seperti lumpuh. Mutiara Merah tak mempedulikan lagi keadaan Badang yang sudah terbebas dari maut. 

Dirinya segera mengejar tubuh Kuntat dengan pedang teracung di udara. Kuntat sadar dengan gelagat Mutiara Merah. Namun, tubuhnya tak lagi punya kekuatan untuk menghindar dari serangan yang sebentar lagi datang. Sedangkan untuk menangkis? Hal itu hanyalah sebuah keinginan konyol.

"Hiaaa...!"

Dengan penuh nafsu Mutiara Merah membabatkan pedang.

Craaakkk! "Aaakh...!"

Kuntat melenguh kuat ketika pedang Mutiara Merah membelah batok kepalanya. Darah bercampur cairan putih muncrat dari kepala yang terbelah.

Badang yang menyaksikan kebengisan dara berpakaian merah hanya dapat merutuk dalam hati. Untuk maju menyerang sudah dapat dipastikan sia-sia belaka. Namun, jika hanya pasrah menyambut kedatangan maut, itu juga perbuatan konyol. Inilah yang tengah berkecamuk di dalam benak Badang.

Diam-diam Badang bergerak mendekati senjatanya yang berada satu setengah langkah di sisi kanannya. Dengan sekali menggulingkan badan, tangan Badang sudah dapat meraih tombak bermata dua miliknya. Namun, belum lagi senjata andalan itu berfungsi, kelebatan bayangan jingga meluruk cepat dengan pedang yang teracung ke udara.

Badang menggerakkan senjata sebisanya ketika pedang Mutiara Jingga berkelebat ke kepalanya. Tindakan yang dilakukan Badang akibat dorongan nalurinya itu memang mampu menyelamatkan kepalanya dari tebasan pedang mink Mutiara Jingga. Tetapi tak terelakkan, tangan kanannya terbabat putus oleh pedang Mutiara Jingga.

Badang mengerang merasakan sakit yang begitu menyengat. Darah mengucur deras dari pergelangan tangannya yang putus.

Mutiara Jingga menggeram keras menyaksikan lawannya masih bernyawa. Dengan pedangnya yang masih tercekal kuat, dara cantik berpakaian jingga itu kembali meluruk maju. Pedangnya ditebaskan kuat ke bagian perut Badang.

"Hiaaa...!"

Sabetan pedang itu tak dapat dielakkan. Breeet!

"Aaa...!"

Badang menjerit kesakitan. Sambaran pedang Mutiara Jingga telah mengantarnya sampai ke alam baka. Mutiara Merah, Mutiara Jingga, dan Mutiara Ungu menyeringai aneh menyaksikan lawan-lawannya telah rebah tak bernyawa. Sorot mata mereka yang mengandung hawa aneh mulai surut. Ketiga dara itu, segera meninggalkan bangkai yang tergeletak berlumur darah di depan kedai itu.

***

Begitu cepat pertarungan itu berlangsung. Matahari baru bergeser sedikit dari letaknya yang tepat berada di atas kepala. Angin panas berhembus sedikit kencang, mengibarkan pakaian ketiga dara yang berjalan ke selatan. Ketiga dara cantik itu tak lain adalah Dara-Dara Pengusung Mayat utusan Nyai Puncang Sibela dan Ki Kuriwang Situ.

Ketiga dara cantik berpakaian merah, jingga, dan ungu terus menelusuri jalanan panas berdebu. Wajah mereka tak menyiratkan kelelahan. Mata mereka tertuju lurus ke depan, dengan sorot mata dingin, aneh dan mengandung hawa maut.

Tak jauh di hadapan mereka, dari arah yang berlawanan nampak lima lelaki bersenjata golok. Mereka berjajar menghalangi jalanan sempit yang dilalui Mutiara Merah dan kedua adiknya.

Kelima lelaki itu kemungkinan besar para begal, atau paling tidak pengganggu wanita. Mereka nampak tersenyum-senyum melihat tiga dara yang berjalan mendekati mereka.

"Tiga kelinci betina itu segar-segar sekali, Tuan Muda Gilukati," ucap seorang lelaki bertubuh gemuk dengan sesekali meneguk air liurnya.

"Kau kenal saja pada wanita cantik, Bondet," balas lelaki berpakaian merah yang dipanggil Tuan Muda Gilukati.

Lelaki bernama Bondet kontan menyeringai mendengar pujian pimpinannya.

"Bondet, Lepang, Gunang, dan kau Kabak. Cegat dara-dara menggiurkan itu! Katakan, kalau mereka ingin selamat, harus menyerahkan seluruh harta mereka, termasuk diri mereka!" perintah Gilukati.

Empat lelaki berpakaian hitam yang bersenjata golok besar segera melesat. Dengan serempak, keempat lelaki menghadang perjalanan Mutiara Merah, Mutiara Jingga, dan Mutiara Ungu.

Ketiga putri Ki Megantara yang telah menjelma menjadi Dara-Dara Pengusung Mayat, menatap tajam keempat lelaki berpakaian hitam yang mencegat mereka. Sorot mata Dara-Dara Pengusung Mayat itu membuat mata keempat lelaki bersenjata golok tak kuasa memandang.

"Hei! Kalau kalian ingin selamat, serahkan seluruh harta yang kalian miliki dan juga diri kalian!" bentak Bondet demi menghindari tatapan aneh dan menusuk dari mata ketiga dara di hadapannya.

"Cepat! Jangan diam begitu! Seperti kelinci dungu saja, kalian!" omel Lepang seraya mencabut golok dari balik bajunya.

"Ayo Anak-anak Manis, turuti saja kemauan kami! Kami akan membuat kalian senang dan selamat," timpal Gunang.

Mutiara Merah dan kedua adiknya menatap wajah keempat lelaki berpakaian hitam bergantian. Tanpa ada suara jawaban. Tiba-tiba, tangan-tangan DaraDara Pengusung Mayat sudah bergerak cepat, mencabut senjata masing-masing dari warangkanya.

Srat! Srat! Srat!

Keempat lelaki berpakaian hitam terlongo, melihat kenekatan dara-dara cantik di hadapannya.

"Jangan-jangan perempuan itu orang persilatan juga, Bondet," ucap Lepang agak gemetar. Lepang memang orang paling kecil keberaniannya jika menghadapi lawan yang menggunakan senjata.

"Dasar pengecut!" maki Gunang mendengar ucapan Lepang. "Orang persilatan atau bukan, yang jelas kita harus manfaatkan kesempatan baik ini," lanjut Gunang. Golok besarnya juga sudah terhunus di depan dada.

"Ayo kita begal dara-dara menggiurkan itu!" ajak Bondet sambil melompat lebih dulu.

Apa yang dilakukan Bondet, ternyata mendapat sambutan baik dari Mutiara Merah. Dara berpakaian merah itu maju selangkah menghampiri lelaki berpakaian hitam dengan pedang terhunus.

Pertarungan antara Bondet dan Mutiara Merah merambat pada pertarungan Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu menghadapi Lepang, Gunang, dan Kabak.

Pada jurus-jurus awal pertempuran masih berjalan seimbang. Mereka belum saling mengetahui kelemahan lawan masing-masing. Denting senjata beradu dan pekikan-pekikan keras kian terdengar jelas.

Namun, ketika memasuki jurus yang kesepuluh, dua dari empat lelaki bersenjata golok besar sudah terkapar di tanah dengan tubuh yang bersimbah darah.

"Kurang ajar!" maki Bondet menyaksikan tubuh Gunang dan Kabak sudah tergeletak tak bernyawa. Dada masing-masing sobek terbabat pedang yang diayun Mutiara Merah dengan kecepatan yang sulit diukur dengan mata biasa.

Ternyata keterkejutan Bondet juga dirasakan Gilukati yang menyaksikan pertarungan mereka dari jarak jauh. Darah pimpinan itu seketika naik ke ubunubun. Matanya mendelik tak percaya, melihat kematian Gunang dan Kabak yang cepat. Gilukati dengan cepat melompat.

"Hih!"

Dengan sekali hentakan tubuh lelaki terbalut pakaian merah itu sudah melenting. Ia mendarat dengan manis di sebelah Lepang yang sedang menggigil ketakutan. Dari bagian bawah celananya terlihat bercak air merembes keluar.

"Pengecut!" maki Gilukati melihat sikap Lepang yang seperti bocah melihat hantu. "Cepat, hajar gadis liar itu!" lanjut Gilukati sambil menarik maju tubuh Lepang.

Meskipun mengalami ketakutan luar biasa, Lempang tetap maju sambil menghunus golok besarnya. Tebasan-tebasan golok Lepang yang seperti tanpa tenaga, membuat lawannya memandang dengan sebelah mata.

Tanpa mempergunakan senjatanya, Mutiara Jingga maju menghadang gerakan Lepang. "Hiyaaa...!"

Wuuuttt! "Hiyaaa...!"

Sambil berteriak Mutiara Jingga terus mengatasi serangan pedang Lepang.

Dugkh!

Sebuah tendangan mendarat. "Aaa...!"

Lepang terpekik ketika bagian belakang lehernya terhajar punggung kaki Mutiara Jingga. Begitu keras tendangan yang dilancarkan Mutiara Jingga, hingga tubuh Lepang terjerembab sejauh dua setengah tombak.

Bruk!

Tubuh Lepang tersungkur mencium tanah. Kemudian terkulai tak bergerak. Pingsan. Gilukati dan Bondet bertambah geram menyaksikan nasib Lepang. Tangannya seketika mencabut pedangnya yang tersampir di punggungnya.

Srat!

"Bunuh ketiga perempuan liar itu!" bentak Gilukati pada Bondet.

Bondet dengan kalap menerjang dara yang terdekat dengannya. Tebasan-tebasan goloknya berkesiutan mencecar bagian-bagian tubuh yang mematikan.

Mutiara Ungu yang menjadi sasaran golok Bondet, tentu saja tak mendiamkan serangan-serangan lelaki berpakaian hitam yang tidak main-main. Sesekali Mutiara Ungu menghindari serangan lawannya. Sampokan tangannya pun bekerja seiring dengan liukan tubuh yang indah dan begitu lincah.

"Cepat, habisi nyawa kedua lelaki itu!" perintah Mutiara Merah keras, lalu menyerbu lelaki berpakaian merah bernama Gilukati.

Gilukati terperanjat mendapatkan serangan dahsyat dan berbahaya dari Mutiara Merah. Sungguh dirinya tak menyangka, kalau lawan yang tengah dihadapi kini memiliki kepandaian bermain pedang yang jauh lebih hebat dari dirinya.

Namun, Gilukati seorang lelaki yang matang dan berpengalaman. Meskipun merasa berkepandaian di bawah lawan, pikirannya yang cerdik selalu mampu membaca ke mana arah serangan lawan. Beberapa saat lamanya Gilukati mampu bertahan dari gempuran-gempuran dahsyat pedang Mutiara Merah.

Di lain tempat, pertarungan Bondet melawan Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu berjalan tak seimbang. Berkali-kali Bondet menerima hantaman pukulan dan tendangan telak di bagian tubuhnya. Namun, Bondet nampaknya memiliki kekuatan tubuh yang luar biasa. Meski tubuhnya berkali-kali kena gempuran hebat, dengan sigap, tubuhnya kembali bangkit memberikan perlawanan. Namun, perlawanan Bondet bagi Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu seperti tak ada artinya.

Dan pada suatu kesempatan yang baik, Mutiara Ungu dengan cepat melayangkan serangan dengan tangan kosong.

"Argggkhhh...!"

Dengan gerakan yang tak terduga, telapak tangan Mutiara Ungu yang berbentuk cakar macan, berkelebat cepat merobek leher Bondet. Serangan itu mampu menghentikan perlawanan Bondet

Tubuh Bondet seketika limbung. Mulutnya mengerang kesakitan. Darah mengalir dari luka cakaran di bagian lehernya. Beberapa saat saja Bondet mampu berdiri, meski dengan limbung. Namun pada saat selanjutnya, tubuh lelaki berpakaian hitam itu telah tersuruk ke tanah. Serangan cakar tangan Mutiara Ungu begitu dahsyat, hingga mampu melayangkan nyawa Bondet.

Kematian Bondet bagi Gilukati merupakan pukulan berat. Dirinya merasa, tak lama lagi dapat bertahan dari serangan-serangan yang berbahaya Mutiara Merah. Maka ketika ada kesempatan baik, Gilukati dengan cepat menjejakkan kuat-kuat kakinya ke tanah. Tubuhnya melesat untuk meloloskan diri dari arena pertarungan.

Namun sayang, keinginan Gilukati untuk melarikan diri hanya keinginan semu. Dengan gerakan  yang sukar diikuti mata biasa, Mutiara Jingga memungut senjata milik Bondet Dengan mengerahkan tenaga dalamnya, golok itu dilemparkan ke arah tubuh Gilu kati.

"Hih!"

Siiing...!

Golok itu melayang mengejar sasarannya. Craaak!

Tepat di punggung Gilukati golok itu tertancap. "Aaa...!"

Pekikan panjang mengantar kematian Gilukati. Habislah riwayat kelima lelaki yang menghadang Dara-Dara Pengusung Mayat. Suasana panas kembali lengang. Lima tubuh tergeletak berlumur darah. Ketiga dara pengusung mayat itu kembali tersenyum puas memandangi mayat-mayat itu.

***
ENAM
Dua orang tua yang tengah bercakap-cakap di pendopo, seketika bangkit secara bersamaan. Seorang perempuan berpakaian putih longgar yang berusia sekitar setengah abad lebih, nampak mempertegas pandangan, seolah tak percaya pada sesuatu yang dilihatnya.

"Seperti Mutiara Merah dan kedua adiknya, Ki" ucap perempuan berpakaian putih perlahan, seperti berkata kepada dirinya sendiri.

"Ya. itu memang mereka, Nyai," tegas suaminya yang ternyata Ki Wikuna. Mata Ki Wikuna tak berkedip melihat kedatangan tiga putri Ki Megantara. "Tetapi, firasat ku mengatakan bahwa kedatangan mereka karena mengemban tugas."

"Apa maksudmu, Ki?" tanya Nyai Piroki tak mengerti.

"Aku melihat langkah-langkah kaki mereka begitu aneh. Sungguh berbeda dengan biasanya. Firasat ku berkata, ada sesuatu yang bakal terjadi terhadap diri kita, Nyai."

"Ah, mudah-mudahan saja firasat mu salah, Ki," sahut Nyai Piroki.

Tiga dara putri Ki Megantara menguak pintu halaman kediaman Ki Wikuna. Langkah mereka nampak begitu kaku. Ditambah tatapan mata yang dingin tak meneleng ke lain arah. Tatapan mata aneh ketiga dara cantik itu terus tertuju ke satu sasaran. Tubuh Ki Wikuna!

"Hati-hati, Nyai," ucap Ki Wikuna memperingatkan, ketika Nyai Piroki bermaksud menyambut kedatangan Mutiara Merah dan kedua adiknya. Dengan tergopoh-gopoh Nyai Piroki melangkah menyongsong kedatangan ketiga putri Ki Megantara.

"Mutiara Merah," sambut Nyai Piroki. "Ke mana saja kalian selama ini? Semua bingung memikirkan kalian bertiga. Ayo, masuk!"

Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Mutiara Merah. Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu pun membisu. Ketiga dara yang bertugas sebagai pengusung mayat, menatap wajah Nyai Piroki dengan sorot mata tajam dan dingin. Kilatan-kilatan aneh keluar dari bola mata ketiga dara cantik itu.

Nyai Piroki, tentu saja terkejut mendapatkan tatapan mata Mutiara Merah dan kedua adiknya yang tidak seperti biasanya.

"Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Nyai Piroki mencoba mengusir firasat yang tadi dikatakan Ki Wikuna.

"Awas, Nyai!" Ki Wikuna kembali memperingatkan istrinya.

Nyai Piroki segera mundur tiga langkah ketika mendengar peringatan Ki Wikuna. Matanya melihat tangan Mutiara Merah berkelebat cepat mencabut pedang dari warangkanya. Tanpa basa-basi, Mutiara Merah segera membabatkan pedangnya.

Wuttt!

Hati Nyai Piroki terkelap menyaksikan pedang yang diayunkan Mutiara Merah hampir melukai tubuhnya.

"Hei! Kenapa kau?" desah Nyai Piroki masih tidak percaya.

"Minggirlah, Nyai," teriak Ki Wikuna.

Nyai Piroki kali ini betul-betul mendengarkan perintah suaminya. Perempuan tua itu segera menyingkir meninggalkan Mutiara Merah dan kedua adiknya. Kedua orang tua itu tentu saja tidak mengetahui, bahwa ketiga putri Ki Megantara tengah terpengaruh oleh ramuan racun hijau milik Nyai Puncang Sibela dan racun hitam milik Ki Kuriwang Situ.

"Bunuh si Kujang Biru!" menggelegar perintah yang keluar dari mulut Mutiara Merah.

Ki Wikuna terperanjat bukan main, mendengar ucapan keras putri tertua Ki Megantara.

Lelaki berusia enam puluh tahunan itu semakin yakin, kalau anak-anak Ki Megantara sudah terkena pengaruh Nenek Sakti Racun Hijau dan Dewa Racun Hitam. Maka, Ki Wikuna segera mengambil sikap waspada dan hati-hati, menghadapi keadaan yang serba salah.

"Hati-hati, Ki. Jangan kau lukai anak-anak Kakang Megantara!" pesan Nyai Piroki ketika Mutiara Merah sudah bergerak siap menyerang. Cekalan pedang Mutiara Merah telah mengarah ke tubuh Ki Wikuna.

Ki Wikuna, lelaki yang bergelar Kujang Biru tentu saja telah memikirkan hal itu. Maka dia memutuskan tidak mencabut senjata andalannya untuk menghadapi ketiga putri Ki Megantara itu.

"Hiaaa...!"

Mutiara Merah semakin mendesak Ki Wikuna. "Ups!"

Dengan sikap waspada penuh, Ki Wikuna mencoba mengatasi serangan Mutiara Merah.

"Hiaaa!"

"Hup!"

Mutiara Merah bergerak beberapa langkah. Pedang sudah mulai beraksi melancarkan serangan ke tubuh Ki Wikuna.

Ki Wikuna meliuk-liukkan badannya menghindari tebasan-tebasan senjata Mutiara Merah. Berkali kali lelaki berpakaian longgar biru itu menggeser kakinya. Bahkan yang terakhir, barusan dirinya harus melejit ke udara dan melakukan putaran dua kali menghindari bubatan pedang.

"Sebaiknya kau menyingkir saja, Nyai," pinta Ki Wikuna ketika melihat Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu mulai ikut menyerang. Ki Wikuna khawatir kalau salah satu dari dua adik Mutiara Merah akan memilih Nyai Piroki sebagai lawannya.

Nyai Piroki rupanya tak mendengarkan suara suaminya. Hatinya justru merasa khawatir, akan keadaan suami dan juga anak-anak Ki Megantara.

"Hiaaa...!" teriakan Mutiara Ungu yang dirujukan ke arah Nyai Piroki.

Terbeliak mata Nyai Piroki ketika tiba-tiba saja dengan kecepatan yang luar biasa, Mutiara Ungu menerjangnya. Untung saja gerakan gesit Nyai Piroki masih dapat mengimbangi kecepatan serangan Mutiara Ungu. Pedang yang berkelebat, dengan cepat membabat tempat kosong, hanya beberapa jari dari kepala Nyai Piroki.

"Hadapi dia, Nyai! Jangan tanggung-tanggung!" ucap Ki Wikuna yang menyaksikan anak-anak Ki Megantara berubah menjadi begitu liar.

Namun, Ki Wikuna nampaknya telah meragukan kemampuan dirinya, karena lawan-lawan di hadapannya benar-benar tangguh. Permainan pedang Mutiara Merah begitu cepat dan ganas.

Srat!

Dengan cepat tangannya mengeluarkan senjata andalannya. Terpaksa Ki Wikuna mengeluarkan senjata yang memendarkan sinar kebiruan. Namun, Kujang Biru itu tidak dimaksudkan untuk membinasakan lawannya. Ki Wikuna mengeluarkannya hanya untuk mengimbangi keganasan sambaran-sambaran pedang Mutiara Merah dan Mutiara Jingga.

"Hih!"

Baru saja Kujang yang memendarkan sinar kebiruan keluar dari tempatnya, pedang Mutiara Merah begitu cepat mencecar kepala Ki Wikuna. Seketika itu juga Ki Wikuna mengangkat tangannya untuk melindungi kepala.

Trang!

Bunyi berdentang akibat beradunya dua buah logam keras. Percik bunga api mencelat keluar dari kedua benda itu. Sementara tubuh Mutiara Merah dan Ki Wikuna saling terdorong tiga langkah ke belakang.

"Uuuhhh...!"

Ki Wikuna melenguh pendek, ketika tangannya merasakan getaran menyengat yang cukup membuat dirinya terkejut. Bukan karena hebatnya getaran akibat benturan itu, melainkan kekuatan tenaga dalam yang dimiliki oleh Mutiara Merah. Ia hampir tidak percaya, bahwa kekuatan yang di hadapi, milik Mutiara Merah.

"Hmmm.... Apakah tenaga dalamnya yang dahsyat ini juga akibat pengaruh Nenek Sakti Racun Hijau dan Dewa Racun Hitam?" gumam lelaki yang bergelar Kujang Biru.

Sesungguhnya Ki Wikuna tak yakin, tenaga dalam Mutiara Merah mampu mengungguli tenaga dalam Ki Megantara, ayah kandungnya.

Mutiara Merah pun rupanya mengalami hal yang sama. Tangannya yang menggenggam sebatang pedang dirasakannya bergetar hebat. Namun, matanya masih menatap garang pada Ki Wikuna, meski dirinya belum mulai menyerang. Tangan Mutiara Merah tiba-tiba terangkat dan telunjuknya menuding tubuh Ki Wikuna, sebagai isyarat untuk Mutiara Jingga agar mengambil alih penyerangan

Mutiara Jingga memahami keinginan kakaknya. Segera tubuhnya melesat menerjang tubuh Ki Wikuna dengan pedang terhunus. Tebasan-tebasan pedang Mutiara Jingga ternyata tak kalah hebat dari Mutiara Merah. Pada jurus-jurus awal Ki Wikuna tidak mengandalkan senjata Kujangnya. Namun, memasuki jurus kesepuluh, Ki Wikuna tak ubahnya ketika menghadapi Mutiara Merah.

Mutiara Jingga putri kedua Ki Megantara yang tengah di hadapi, kini bukan lagi sosoknya yang murni. Serangan-serangan semakin lama semakin meningkat dengan dahsyat. Nafsu untuk membunuh pun semakin berapi-api.

Srat!

Sebuah sambaran mengarah ke perut Ki Wikuna.

"Haaah...!"

Terperangah Ki Wikuna ketika sambaran pedang yang begitu cepat hampir saja merobek perutnya. Untung gerakan cepat segera dilakukan, hingga ujung pedang Mutiara Jingga hanya berhasil merobek pakaiannya. Namun, belum lagi Ki Wikuna terlepas dari keterperangahannya, Mutiara Merah telah kembali menyerang. Kini serangan itu semakin gencar dan bertubi-tubi.

Cukup kewalahan Ki Wikuna menghadapi dua putri Ki Megantara yang menyerang seperti kesetanan. Hal itu karena Ki Wikuna tak ingin melakukan serangan-serangan terhadap anak-anak Ki Megantara. Ki Wikuna hanya bisa menghindar dan sesekali memberikan serangan balasan yang tidak mengandung bahaya maut

"Aaa...!"

Suara teriakan Nyai Piroki terdengar. Hampir putus jantung Ki Wikuna mendengar lengking kesakitan dari mulut Nyai Piroki. Bagian perut Nyai Piroki terbabat ujung pedang Mutiara Ungu.

Ki Wikuna ingin membantu Nyai Piroki yang berada dalam bahaya, namun serangan kedua lawannya tampak semakin gencar. Putri pertama dan putri kedua Ki Megantara terus mengejarnya dengan tebasan dan tusukan senjata yang mematikan.

Sekilas Ki Wikuna menoleh keadaan Nyai Piroki. Terlihat olehnya Nyai Piroki sudah tergeletak dengan memegangi perutnya yang terluka. Bukan main terkejut hati lelaki yang berjuluk Kujang Biru melihat Mutiara Ungu sudah bersiap menghabisi nyawa istrinya.

"Jangan Mutiara Ungu!" teriak Ki Wikuna berusaha mencegah. Tetapi, usahanya itu hanya sia-sia belaka. Mutiara Ungu tak menghentikan langkahnya sedikit pun.

"Hiaaa...!"

Dengan langkah tegap, mengangkat senjatanya di atas kepala.

Trang! "Aaa...!"

Sejengkal lagi pedang Mutiara Ungu menghujam leher Nyai Piroki. Tiba-tiba sosok bayangan kuning keemasan melesat cepat memapak pedang Mutiara Ungu. Tubuh Mutiara Ungu terhuyung tiga langkah ke belakang dengan pekik tertahan keluar dari mulutnya.

"Raja Petir!" ucap Nyai Piroki, ketika melihat lelaki berpakaian kuning keemasan telah berdiri di samping kanannya. Wajah perempuan berusia setengah abad lebih itu kembali dialiri darah.

"Dia bukan lagi Mutiara Ungu anak Ki Megantara, Nyai," ucap Jaka. "Naluri ku mengatakan bahwa, mereka telah dipengaruhi oleh kekuatan lain," tambah Jaka. Ucapan itu cukup membuat hati Nyai Piroki terkejut

Pikiran Ki Wikuna tak terpusat sepenuhnya karena kehadiran lelaki muda yang bergelar Raja Petir.

"Jangan lengah, Ki Wikuna!" ucap Jaka keras memperingatkan Kujang Biru.

Ki Wikuna yang mendengar peringatan Raja Petir, terlambat untuk mengegos kakinya. Sehingga, senjata yang ditebaskan Mutiara Jingga menyerempet bahu kanannya. Tak ada pekik yang keluar dari mulut Ki Wikuna. Wajahnya hanya menoleh sebentar ke bahunya yang mengucur darah.

"Hiaaa...!"

Mutiara Merah mencelat ke arah Ki Wikuna. Serangan-serangannya bertambah ganas. Namun tebasan Mutiara Merah hanya membentur tempat kosong. Luka di bahunya tak mengurangi kegesitan Ki Wikuna. Dilengoskan kakinya ke kiri dan ke kanan menghindari serangan pedang Mutiara Merah.

"Sebaiknya kau selamatkan istrimu, Ki," teriak Jaka ketika melihat Ki Wikuna terlepas dari tebasan pedang Mutiara Merah. "Cepat Ki! Biar aku yang hadapi Dara-Dara Pengusung Mayat ini."

Mendengar ucapan Raja Petir yang bukan main-main, Ki Wikuna segera melangkah cepat mendekati tubuh Nyai Piroki yang sudah terkulai berlumuran darah. Jaka maju dua langkah, ketika Ki Wikuna sudah mendekati tubuh si istrinya.

"Kita harus membebaskan putri-putri Ki Megantara dari pengaruh Sihir Gutamala," jelas Raja Petir sambil terus menghadapi serangan pedang ketiga dara itu.

Ki Wikuna terkejut mendengar ucapan Jaka Sembada. Dalam hatinya dia merasa bersyukur atas kedatangan Raja Petir. Meski dengan luka di bahu, Ki Wikuna berusaha sekuatnya memondong tubuh Nyai Piroki dan membawanya menyingkir dari arena pertarungan.

Tiga dara pengusung mayat itu menjadi naik pitam, melihat sasarannya telah menyingkir. Mata mereka saat itu mendelik ganas menantang wajah Jaka. Untuk beberapa saat Raja Petir membiarkan wajahnya ditatap oleh mata-mata aneh itu. Sebentar kemudian, mata tajam Raja Petir menantang tatapan aneh ketiga putri Ki Megantara.

"Kalian harus terbebas dari pengaruh racun dan sihir Gutamala," gumam Jaka perlahan. Kemudian kakinya di tarik mundur ke belakang.

Lelaki muda yang bergelar Raja Petir itu bermaksud mengeluarkan ajian dahsyatnya yang bernama 'Aji Kukuh Karang'. Sebuah ajian yang bukan saja dapat menghindarkan diri dari senjata maupun kekuatan sihir lawan, tetapi juga mampu membebaskan orang lain dari pengaruh sihir.

"Hiaaa...!"

Lengking suara Mutiara Merah terdengar. Tubuhnya berkelebat cepat, lalu melenting ke udara sambil mengayunkan pedang. Apa yang dilakukan Mutiara Merah memang sedang dinanti-nanti oleh Jaka. Sementara itu tubuh putri pertama Ki Megantara masih berada di udara, Jaka dengan cepat sekali membuka jari-jari tangannya. Dua larik sinar kuning seketika melesat ke tubuh Mutiara Merah.

Slat! Slat!

Sinar kilat sinar kuning itu berpencar ke bagian kepala dan lutut Mutiara Merah. Begitu cepatnya lesatan sinar kuning itu, hingga Mutiara Merah tak kuasa untuk menghindar.

Jres! Jres!

Dua sinar kuning itu menghajar tepat kepala dan lutut Mutiara Merah. Seketika itu juga dirinya merasakan hawa lain menjalar di tubuhnya. Cepat-cepat Mutiara Merah mengurungkan serangan. Kakinya dengan cepat mendarat di tanah.

Namun, bukan main terkejutnya ketika tubuhnya tak mampu digerakkan. Terlebih lagi, ketika Mutiara Merah merasakan, ada suatu hawa panas yang menjalar di antara kepala sampai dada. Hawa itu pun menjalar hebat di antara lutut hingga ujung kaki. Anehnya, hawa panas yang tengah menjalar itu menyebabkan urat sarafnya terasa mengendur. 

Sehingga, semua daya dan kekuatan tubuhnya seperti lenyap seketika. Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu yang melihat keadaan kakaknya terdiam seperti patung, segera mengambil alih serangan. Secara bersamaan mereka berkelebat cepat bagai anak panah lepas dari busur. Mereka merangsek maju ke tubuh Raja Petir. Sementara senjata-senjata mereka berputar-putar cepat sekali.

"Tahan, anakku!"

Suara bentakan keluar dari mulut Ki Megantara, yang baru saja datang bersama Dewi Nuwang. Namun, tak mampu membendung gerakan Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu. Mereka tak mampu berbuat apaapa, kecuali berharap kepada Raja Petir dapat menghindarkan serangan yang begitu ganas Dara-Dara Pengusung Mayat itu.

Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu tak menghiraukan kedatangan Ki Megantara dan Dewi Nuwang. Kedua tubuh Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu melesat ke udara bermaksud melancarkan serangan kepada Raja Petir.

Melihat kedua tubuh Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu melayang di udara, Raja Petir mengibaskan tangannya mengerahkan aji 'Kukuh Karang' kedua.

Slat! Slat! Slat! Slat!

Dua leret sinar kembali beraksi. Kedua sinar itu menerjang tubuh Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu yang tengah berada di udara. Kecepatan sinar kuning yang melesat itu sungguh luar biasa. Kedua dara putri Ki Megantara tak kuasa menghindarinya.

Jres! Jres!

Ki Megantara terkejut bukan main, melihat apa yang dilakukan Raja Petir. Dua sinar kuning yang menghajar kepala dan lutut kedua putrinya, dianggapnya akan membahayakan nyawa mereka berdua.

Namun, hati Ki Megantara menjadi lega, ketika tubuh Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu berhasil mendarat di tanah dengan baik setelah mengurungkan serangannya. Ketika Mutiara Jingga dan Mutiara Ungu hendak kembali menyerang, sebentuk kekuatan telah mengungkung bagian kepala hingga dada dan bagian lutut hingga ujung kaki. Mereka berdua merasakan hawa panas menjalari tubuhnya. Urat saraf mereka mengendur. Hawa panas menjalar, melenyapkan daya dan kekuatan tubuh mereka.

Ki Megantara terbeliak menyaksikan keadaan kedua anaknya yang seperti itu. Matanya menatap Raja Petir yang baru selesai mengerahkan aji 'Kukuh Karang'.

"Maaf, Ki Megantara," ujar Jaka seolah-olah mengerti arti kekhawatiran lelaki yang berjuluk Pendekar Lembayung. "Terpaksa itu kulakukan untuk menghentikan keganasan mereka. Sekaligus untuk membebaskan mereka dari sihir Gutamala."

"Sihir...?" tanya Ki Megantara. Ki Megantara nampak terperanjat mendengar keterangan Raja Petir.

"Selain terkena pengaruh racun, ketiga puterimu termakan pengaruh sihir Gutamala," jelas Jaka Sembada tegas.

"Gutamala?" ulang Ki Megantara. Ki Megantara kembali terkejut mendengar nama Gutamala.

"Bukankah Gutamala sudah terbakar oleh ilmunya sendiri?" lanjut Ki Megantara.

Mata Ki Megantara menerawang, seperti mengenang suatu peristiwa di masa lalu.

"Tapi, kalian tak usah khawatir!" ujar Raja Petir meyakinkan orang-orang yang nampak ketakutan. "Kekuatan aji 'Kukuh Karang' yang kumiliki, akan sanggup membebaskan kekuatan pengaruh sihir Gutamala."

Tubuh Raja Petir seketika bergerak membalikkan badan. Kakinya secepat kilat dijejakkan ke tanah lalu melesat ke tubuh-tubuh putri Ki Megantara.

"Haaa...!"

Jaka Sembada menotokkan kedua jarinya Tuk! Tuk! Tuk!

"Aaa...!"

Putri-putri Ki Megantara terpekik ketika totokan jari Raja Petir mendarat di punggung mereka.

***
TUJUH
Lengkingan keras yang keluar bersamaan membuat Ki Megantara dan Dewi Nuwang tersentak kaget. Apalagi menyaksikan tubuh Mutiara Merah, Mutiara Jingga, dan Mutiara Ungu saling berjatuhan ke tanah. Bergegas Ki Megantara dan Dewi Nuwang menghampiri Mutiara Merah dan kedua adiknya yang terkulai lemas di tanah.

"Hoeeekh..,!"

"Hoeeekh...!"

Hampir bersamaan Mutiara Merah, Mutiara Jingga, dan Mutiara Ungu memuntahkan seluruh cairan dari dalam perut. Rasa mual yang teramat sangat mendorong keluar isi perut mereka.

Setelah muntah-muntah terhenti, berubahlah paras-paras cantik itu, menjadi pucat seperti mayat. Sementara tubuh mereka menjadi lebih dingin. Mata ketiganya terkatup rapat. Tubuh-tubuh ketiga dara cantik putri Ki Megantara terkulai, pingsan.

Menyaksikan keadaan ini Ki Megantara, Dewi Nuwang dan juga Ki Wikuna kembali dicekam rasa khawatir bukan main. Namun, tidak demikian halnya bagi Jaka.

Pemuda berpakai kuning keemasan yang berjuluk Raja Petir itu nampak menarik napas lega. Sungguh, hatinya bersyukur pada sang Pencipta Jagat. Dirinya telah berhasil membebaskan tiga anak manusia dari pengaruh ilmu-ilmu keji.

"Ki Megantara, Ki Wikuna, dan kau juga Dewi Nuwang," ucap Jaka dengan mantap. "Kalian semua tak perlu terlalu mengkhawatirkan keadaan Mutiara Merah dan kedua adiknya. Mereka telah terbebas dari pengaruh-pengaruh racun dan ilmu sihir. Kini yang tertinggal hanya kelelahan hebat yang melanda tubuh mereka. Mereka telah bertarung dengan mengerahkan tenaga yang tidak sewajarnya. Sehingga tenaga mereka habis terkuras. Itulah yang membuat tubuh mereka terkulai pingsan," papar Jaka Sembada panjang lebar.

Ki Megantara, Ki Wikuna, dan Dewi Wikuna hanya saling tatap, mendengar penjelasan Raja Petir. Mereka kembali merasa lega.

"Daya tahan tubuh ketiga puterimu sangat baik, Ki Megantara," ujar Jaka perlahan. "Kalau tidak, ini mungkin salah satu di antara mereka harus ada yang tewas."

"Apa yang dapat kita lakukan sekarang, Raja Petir?" selak Ki Wikuna hati-hati.

"Untuk mempercepat kesadaran mereka dari pingsan, kita harus membantu membangkitkan tenaga mereka. Kita harus segera menyalurkan hawa-hawa murni yang kita miliki," jawab Jaka menyahuti pertanyaan Ki Wikuna, "Kalau tidak, keadaan ini akan sangat membahayakan jiwa mereka."

Kembali saling tatap antara Ki Megantara dan Ki Wikuna. Kemudian dengan cepat keduanya mendekati salah satu tubuh yang tergeletak pingsan. Dewi Nuwang juga tak mau ketinggalan segera membopong tubuh Mutiara Ungu.

Di dalam sebuah ruangan yang cukup luas, tubuh Mutiara Merah, Mutiara Jingga, dan Mutiara Ungu digeletakkan tertelengkup. Di sisi-sisi mereka sudah bersiap-siap, Jaka, Ki Megantara, dan Ki Wikuna untuk menyalurkan hawa-hawa murni yang mereka miliki. 

Masing-masing telah siap. Jaka sendiri nampak seperti menarik napas dalam-dalam. Kemudian telapak tangannya diletakkan di punggung Mutiara Merah. Keringat dingin bercucuran, mulai membasahi kepala dan wajah Raja Petir. Hal yang hampir bersamaan di lakukan Ki Wikuna dan Ki Megantara.

***

"Aku menduga ada sesuatu kejadian yang membuat mereka belum juga kembali, Ki," kata Nyai Puncang Sibela dengan muka yang dihinggapi kecemasan.

"Aku juga menduga begitu, Nyai," sahut Ki Kuriwang Situ. "Pasti, ada seseorang yang membuat ketiganya menemui kesukaran dalam menjalani tugas kali ini. Atau, bahkan membebaskan mereka dari pengaruh racun ramuan kita," lanjut Ki Kuriwang Situ.

"Apakah tidak mungkin kalau orang itu Raja Petir, Ki?" duga Nyai Puncang Sibela sambil menatap wajah lelaki berpakaian hitam yang bergelar Dewa Racun Hitam.

"Raja Petir?" tanya Ki Kuriwang Situ mirip desahan. "Yaaah..., Raja Petir. Beberapa hari lalu aku bentrok dengan anak muda yang memiliki kepandaian tinggi itu," jawab Nyai Puncang Sibela. "Anak muda itu, luar biasa sekali."

Ki Kuriwang Situ tidak menimpali ucapan Nyai Puncang Sibela. Pikirannya seolah mencoba membayangkan sosok muda yang berjuluk Raja Petir. Nama itu akhir-akhir ini selalu didengung-dengungkan oleh para tokoh di kalangan rimba persilatan.

"Lalu, kira-kira tindakan apa yang paling tepat kita lakukan sekarang, Nyai?" tanya Ki Kuriwang Situ kemudian.

"Kalau memang Raja Petir menghalangi pekerjaan kita, rasanya kita cuma memiliki dua cara, Ki Kuriwang," jawab Nyai Puncang Sibela.

"Hmmm...." Ki Kuriwang Situ menggereng. Matanya menoleh ke wajah perempuan tua di sampingnya.

"Menurutku yang pertama, kita menyatroni rumah si Kujang Biru. Aku menduga Raja Petir ada di sana. Atau kita tunggu, sampai mereka semua menyatroni tempat kita," usul Nyai Puncang Sibela.

"Hm...." Ki Kuriwang Situ mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Nyai Puncang Sibela. Nampaknya lelaki yang berjuluk Dewa Racun Hitam tak setuju dengan cara kedua yang diusulkan Nenek Sakti Racun Hijau.

"Rasanya, aku lebih suka memilih cara yang pertama, Nyai," tukas Ki Kuriwang Situ setelah beberapa lama berpikir.

"Aku juga lebih suka cara itu," sambut Nyai Puncang Sibela.

"Kalau begitu, kita selesaikan saja pekerjaan ini sekarang," putus Ki Kuriwang Situ.

"Aku setuju, ayo Ki! Hip!"

Nenek berpakaian hijau gelap yang berjuluk Nenek Sakti Racun Hijau segera melejitkan tubuhnya cepat Gerakannya yang ringan amat sesuai dengan julukannya, sebagai nenek sakti.

Dewa Racun Hitam pun segera melesat cepat. Gerakannya yang bagai terbang menunjukkan kesaktiannya yang tak kalah dari Nenek Sakti Racun Hijau. Dan itu terbukti. Bayangan hitam yang berkelebat cepat seolah-olah menyatu dengan kelebatan bayangan hijau.

***
DELAPAN
Ki Megantara nampak menarik napas lega ketika melihat tubuh putrinya mulai bergerak-gerak. Baik Mutiara Merah, Mutiara Jingga maupun Mutiara Ungu telah terjaga dalam waktu hampir bersamaan. Jaka dan Ki Wikuna pun merasakan hal yang sama. Hati mereka kini terbebas dari kecemasan, yang sejak tadi mengungkung.

"Biarkan ketiganya tetap terbaring di situ. Mereka masih terlalu lemah," ucap Jaka sambil melangkah ke arah tempat duduk di sudut ruangan.

Akan tetapi, baru saja Raja Petir hendak menurunkan tubuhnya, pendengarannya yang tajam segera menangkap getaran aneh. Wajah tampan lelaki muda itu seketika menegang. Keningnya mengkerut. Kepalanya bergerak pelan sekali, seperti tengah berusaha mencari-cari suatu suara yang mengusik hatinya.

"Ada apa denganmu, Jaka?" tanya Ki Megantara keheranan.

Pertanyaan yang sama juga terlontar melalui tatapan mata Ki Wikuna dan Dewi Nuwang.

"Kita sambut kedatangan mereka, Ki," tegas ucap Jaka.

"Hup!"

Tubuh yang terbungkus pakaian kuning keemasan itu seketika melesat cepat dari tempat duduk. Ki Megantara dan Ki Wikuna sejenak saling berpandangan. 

"Kau tunggui saja putri-putri ku, Dewi," tukas Ki Megantara tegas. 

Tubuhnya seketika itu juga melesat cepat mendahului Ki Wikuna. Baru saja Ki Megantara dan Ki Wikuna mendaratkan kakinya di sisi Raja Petir, tawa-tawa terkekeh seketika terdengar. Tak lama kemudian dua sosok tubuh yang terbalut pakaian warna hijau gelap dan hitam sudah mendarat di hadapan Jaka Sembada.

"He he he... Megantara, Wikuna, pantas kalau kalian sekarang masih mampu bernapas! Rupanya kalian sudah punya pengawal baru? He he he...," perempuan tua yang berjuluk Nenek Sakti Racun Hijau kembali terkekeh. Sorot matanya yang tajam tertuju kepada Raja Petir.

Dengan sikap tenang Jaka membalas tatapan Nyai Puncang Sibela. Karuan saja Nyai Puncang Sibela segera melempar tatapannya ke wajah Ki Wikuna.

"Tapi, sebentar lagi kalian akan mampus! Akan kukirim ke neraka nyawa kalian," hardik Nyai Puncang Sibela kemudian.

Ki Wikuna tentu saja mengkelap hatinya, mendengar ucapan Nenek Sakti Racun Hijau itu.

"Rasanya kita tak pernah punya urusan, Nyai," ucap Ki Wikuna mencoba menyabarkan diri. "Lalu kenapa kalian tiba-tiba saja berlaku biadab seperti itu terhadap kami?"

"Kerk... kerk... kerk, Nyai Puncang Sibela dan aku si Dewa Racun Hitam, memang tak pernah punya urusan dengan cecunguk-cecunguk kecil macam kalian! Tapi ingat! Kalian adalah pewaris-pewaris ilmu si Pendekar Pedang Seribu. Mau tak mau kalian punya sangkutan juga denganku. Kalian tahu, Pendekar Pedang Seribu punya hutang nyawa padaku. Dan hutang itu tak akan pernah terbayar, meski ditebus dengan nyawa seluruh keturunannya!" begitu tegas ucapan Dewa Racun Hitam. Matanya merayap ke wajah Ki Wikuna, Ki Megantara lalu ke Raja Petir.

Ki Megantara dan Ki Wikuna merasakan sengatan yang hebat atas ucapan itu. Nampak wajah keduanya merah padam. Gigi-gigi mereka saling bergemeretak. Sementara tangan mereka saling terkepal menahan geram.

"Katakanlah! Hutang nyawa macam apa yang telah dilakukan mendiang kakek guruku?" tanya Ki Wikuna dengan suara yang sengaja ditekan kuat

"Hmmm... kejadian itu memang menyakitkan bila, diingat-ingat lagi. Tapi baiklah. Aku akan menceritakan demi nyawa kalian yang sebentar lagi dijemput maut," jawab Dewa Racun Hitam sambil mendongakkan kepalanya.

Ki Wikuna menggemeretakkan giginya mendengar kesombongan Dewa Racun Hitam. Begitu juga dengan Ki Megantara, wajahnya merah padam menahan amarah.

"Puluhan tahun silam, kakek gurumu yang berjuluk Pendekar Pedang Seribu, telah memusnahkan perguruan Dewa Jubah Hitam. Membumihanguskan bangunan perguruan dan membantai seluruh muridmuridnya. Namun sayang, Pendekar Pedang Seribu lengah. Dia tidak tahu, kalau salah seorang murid perguruan Dewa Jubah Hitam masih hidup. Pendekar Pedang Seribu juga tidak memeriksa kitab-kitab ilmu silat, dan kitab ramuan racun perguruan Dewa Jubah Hitam yang masih utuh di tempatnya.

Kau tahu, siapa murid perguruan Dewa Jubah Hitam itu?" tanya Dewa Racun Hitam sambil membelalakkan matanya. Kembali kepalanya mendongak penuh keangkuhan.

Ki Wikuna tak menanggapi pertanyaan Dewa Racun Hitam. Matanya beralih menatap wajah Ki Megantara.

"Akulah murid perguruan Dewa Jubah Hitam yang masih hidup itu! Aku akan menuntut musnahnya

perguruan serta kematian murid-muridnya!" lanjut Dewa Racun Hitam."Kurasa, hal semacam itu tak mungkin dilakukan mendiang kakek guruku, tanpa alasan yang kuat!" bantah Ki Megantara.

"Bicaralah sepuasmu, sebelum ajal datang menjemput! Aku, Dewa Racun Hitam tetap akan menuntut hutang nyawa pada pengikut Pendekar Pedang Seribu."

"Kau pikir akan semudah membalikkan tangan untuk memusnahkan kami, Dewa Racun Hitam?" bantah Ki Wikuna sambil menatap tajam wajah Dewa Racun Hitam.

Dewa Racun Hitam kembali terkekeh mendengar ucapan Ki Wikuna, begitu juga dengan Nyai Puncang Sibela.

"Kujang Biru! Jangan kau jadi sombong begitu, hanya karena di sampingmu berdiri seorang bocah ingusan, yang baru kemarin belajar ilmu silat!" balas Nyai Puncang Sibela. "Kalau aku mau, kemarinkemarin pun aku bisa meremukkan batok kepalanya dan mereguk cairan otak dungu miliknya," bentak perempuan tua sambil menuding ke arah muka Raja Petir.

"Jaga mulutmu, Nenek Peyot!" bentak Ki Megantara, mendengar ucapan Nyai Puncang Sibela yang begitu merendahkan Raja Petir.

Jaka hanya tertawa dalam hati mendengar ucapan Nenek Sakti Racun Hijau.

"He he he... Megantara! Kenapa kau yang naik darah mendengar ucapanku, heh!? Kau lihatlah. Bocah ingusan itu saja, tak berani membangkang ucapanku!" elak Nyai Puncang Sibela.

"Bacotmu bau busuk, Nyai!"

"Keparat! Kau rupanya ingin mampus lebih dulu, Megantara!" hardik Nyai Puncang Sibela sambil mengibaskan tangan kanannya cepat

Ki Megantara yang melihat gerakan tangan perempuan tua itu, segera mencabut pedang dari warangkanya. Dengan sigap menghadap ke perempuan tua berbaju hijau gelap.

Srat!

Ki Megantara melompat. Sinar kehijauan berpadu dengan warna merah, nampak berpendar-pendar dari pedang yang disilangkan di dada. Sementara mata tajam Ki Megantara sudah bersiap-siap menghadapi serangan yang akan datang.

Siiing! Siiing!

Perempuan tua berjuluk Nenek Sakti Racun Hijau mengayunkan tangan.

Wuuuk! Wuuuk! Trang! Trang! Brasssh!

Sekilas sebuah benda berwarna hijau melayang. Benda itu menerjang pedang Ki Megantara. Suasana sejenak bertambah mencekam. Tubuh Ki Megantara terjajar beberapa langkah ketika senjata rahasia berwarna hijau itu menerjang pedang yang diayun-ayunnya. Sesaat tubuhnya geragapan, ketika senjata rahasia itu tiba-tiba pecah, dan mengepulkan asap tebal kehijauan.

"Awaaas! Menjauh kalian semua!" teriak Jaka sambil tubuhnya melompat ke belakang. Gerakan Jaka langsung diikuti juga oleh Ki Megantara dan Ki Wikuna.

Wrrr...!

Ketika mendarat. Raja Petir segera melepaskan 'Pukulan Pengacau Arah'. Angin kencang seketika tercipta dari telapak tangan yang terbuka. Angin itu bergulung dahsyat seperti pusaran yang akan menyapu seluruh benda yang ada di sekitarnya. Tak terkecuali, kepulan asap kehijauan yang mengandung racun ganas.

Asap kehijauan itu buyar dihempas angin bergulung yang keluar dari 'Pukulan Pengacau Arah'. Bahkan Nyai Puncang Sibela terpaksa melempar tubuhnya guna menghindari terjangan angin yang bergulung begitu dahsyat.

"Kurang ajar!" maki Nyai Puncang Sibela seraya bangkit dari bergulingan. Ki Kuriwang Situ hanya menatap Jaka dengan lekat-lekat. Lelaki berpakaian hitam yang berjuluk Dewa Racun Hitam mulai memperhitungkan keberadaan anak muda yang berjuluk Raja Petir.

"Kau memang hebat, Raja Petir," ucap Ki Kuriwang Situ begitu dingin. "Tapi jangan harap, kau berumur panjang kalau sudah berani menghadapi kami." 

"Katakanlah sesukamu, Dewa Racun Hitam," balas Raja Petir. Tatapan matanya yang tajam bagai mata pedang, ditujukan ke bola mata Ki Kuriwang Situ. "Sebelum tubuh tuamu terpendam di bumi," lanjut Jaka tak kalah tegas.

"Bocah Sombong!" maki Ki Kuriwang Situ. Sebentar kemudian lelaki tua itu bergerak cepat dengan pukulan-pukulan ganas yang menjelmakan hawahawa aneh.

Raja Petir tentu saja tidak berani menganggap remeh tokoh tua golongan hitam itu. Terlebih terhadap sodokan-sodokan tangannya yang mengeluarkan hawa panas menyengat, namun sebentar kemudian berubah menjadi dingin, mampu menusuk ke tulang sum-sum.

Pertarungan tangan kosong pun seketika berlangsung sengit. Begitu juga yang terjadi dengan Nyai Puncang Sibela, yang harus menghadapi dua lawan sekaligus. Sebenarnya Ki Megantara dan Ki Wikuna risih menghadapi perempuan tua yang tanpa senjata di tangan. 

Tetapi, ketika mengingat senjata-senjata rahasia milik perempuan itu, Ki Megantara dan Ki Wikuna tak tanggung-tanggung lagi menebas-nebaskan senjata untuk menghalau desingan senjata-senjata rahasia itu. Bahkan tak jarang tusukan Kujang yang bersinar biru serta tebasan pedang Ki Megantara mencecar bagianbagian tubuh Nenek Sakti Racun Hijau.

"Hiyaaa...!" 

"Ups!"

Nyai Puncang Sibela segera menggenjot tubuhnya, ketika pedang Ki Megantara hendak membabat habis kakinya. Begitu ringannya lentingan yang dilakukan Nyai Puncang Sibela. Tubuh tuanya seketika berputaran di udara, menghindari serangan kedua lawannya.

Namun tidak diduga, dalam keadaan melayang di udara seperti itu, Nyai Puncang Sibela mampu melepas senjata rahasianya ke arah lawan.

Siiing! Siiing!

Dengan tangkas dan gesit tangan tua itu melepaskan serangan senjata ampuhnya. Begitu cepat lesatan senjata rahasia yang dilempar Nenek Sakti Racun Hijau. Tetapi gerakan Ki Megantara dan Ki Wikuna pun tak kalah cepat. Kedua lelaki yang berjuluk Pendekar Lembayung dan Kujang Biru, begitu cepat menghindarkan tubuhnya dari terjangan senjata rahasia yang mengandung racun mematikan.

"Kurang ajar!" maki Nyai Puncang Sibela setelah tubuhnya mendarat dengan manis dan tak menyaksikan lawan-lawannya berada di tempat.

Pertarungan terus berlangsung. Suasana semakin seru dan menegangkan. Tak terasa pertarungan yang sudah memasuki belasan jurus itu sudah merambat keluar pekarangan rumah Ki Wikuna. Hal itu dilakukan Ki Megantara dan Ki Wikuna untuk menjaga kemungkinan senjatasenjata rahasia musuh nyasar ke dalam rumah. Jelas membahayakan bagi putri-putri mereka.

Sementara pertarungan antara Ki Kuriwang Situ dan Raja Petir sudah mencapai jurus kedua puluh. Namun, di antara keduanya belum kelihatan ada yang terdesak.

"Heh!"

Dewa Racun Hitam mendenguskan napas kesal. Serangan-serangannya selalu berhasil dielakkan Jaka. Kemudian sambil menggeram kakinya melangkah mundur.

"Jangan harap, kau bisa terlepas dari aji 'Gelung Racun Hitam' ku kali ini, Raja Petir!" bentak Dewa Racun Hitam menggelegar. Tubuhnya mundur beberapa tindak, siap dengan serangan mautnya. Sorot matanya yang tajam ditujukan ke telapak tangannya yang digosok-gosokkan.

Dengan sikap tenang, Raja Petir mengawasi terus apa yang sedang dilakukan Dewa Racun Hitam. Sebetulnya, banyak kesempatan Jaka untuk segera melancarkan serangan pada saat Dewa Racun Hitam memusatkan pikiran pada ajiannya. Namun itu tak dilakukan.

Raja Petir lebih memilih sesekali mengintip pertarungan antara Ki Megantara dan Ki Wikuna menghadapi Nenek Sakti Racun Hijau. Dan dirinya bersyukur, pertarungan mereka berjarak cukup jauh dari pertarungannya dengan Dewa Racun Hitam, yang mulai mengerahkan aji 'Gelung Racun Hitam'. Serangan aji 'Gelung Racun Hitam' akan berkali lipat keganasannya dari serangan-serangan sebelumnya.

"Hrrrgh...!"

Tiba-tiba lelaki tua itu membuka kembali serangan. Raja Petir pun segera mengambil sikap mempersiapkan perlawanan. Dewa Racun Hitam menggereng kuat, ketika seluruh telapak tangannya berubah menjadi hitam pekat. Bau anyir seketika keluar dari telapak tangan yang mengepulkan asap tipis.

Tangan hitam Dewa Racun Hitam menghentak keras. Gumpalan asap hitam meluruk deras ke tubuh Jaka. Untuk menghadapi aji 'Gelung Racun Hitam', Raja Petir mengerahkan kekuatan aji 'Bayang-Bayang'. Seketika itu juga wujudnya berubah menjadi enam kali lipat jumlahnya. Enam sosok bayangan Raja Petir berdiri mengepung Ki Kuriwang Situ.

Dewa Racun Hitam awalnya terkejut menyaksikan ilmu yang digunakan lawannya. Namun berkat kematangan pengalamannya, Dewa Racun Hitam dapat membaca wujud Raja Petir yang asli. Maka dengan kecepatan luar biasa kibasan tangannya meluncurkan serangan. Asap hitam berbau anyir bergulung menyergap ke tubuh Raja Petir.

Bagai kilat luncuran asap hitam yang bergulung ke tubuh Raja Petir yang sesungguhnya. Kecepatan luncuran itu membuat Raja Petir terkejut. Apalagi ketika Dewa Racun Hitam mengibaskan tangannya berkali-kali. Gerakannya semakin ganas tertuju pada Raja Petir.

Segera Raja Petir melemparkan tubuhnya ke kanan. Setelah berguling-guling dengan mengandalkan kekuatan hentakan tangan, tubuhnya melenting ke udara sambil melakukan putaran beberapa kali.

"Hup!"

Baru sekejap mata Raja Petir mendaratkan kakinya, serangan asap hitam beracun kembali menyergapnya. Dirinya kembali sibuk menghadapi serangan yang bertubi-tubi.

Kurang ajar! Maki Jaka Petir dalam hati. Kalau aku menghindar terus, kapan pertarungan ini bisa selesai?

"Hih!"

Wrrr...!

Belum selesai Raja Petir bermain-main dengan kata hatinya, serangan berikutnya sudah kembali meluruk, menerjang ke tubuhnya.

"Heh!" sambil merubah kedudukannya, Jaka kemudian segera menciptakan ajian 'Kukuh Karang' guna mengimbangi aji 'Gelung Racun Hitam'. Seketika itu juga cahaya kuning berpendar membungkus tubuh Raja Petir.

Sraaak!

Dewa Racun Hitam terkejut bukan kepalang. Raja Petir membiarkan dirinya tertembus aji 'Gelung Racun Hitam' yang mampu meluluhkan seluruh urat saraf. Namun kenyataannya? Dewa Racun Hitam terlongo keheranan menyaksikan keadaan Raja Petir yang tidak bergeming sedikit pun. Bahkan kini, Raja Petir berbalik menyerang dengan bambu kuning yang sudah terselip di celah bibirnya.

Bambu kuning yang berlubang di tengah, tibatiba terhembus napas Jaka perlahan. Begitu pelan hembusan itu, tapi akibatnya sungguh tak terduga oleh pikiran Dewa Racun Hitam Slats! Slats! Slats!

Seberkas sinar keperakan melesat deras bagai kilat petir dari lubang bambu kuning. Sinar keperakan mirip kilat petir itu menyambar lurus ke arah tubuh Dewa Racun Hitam yang sudah siap untuk menghindar.

Glaaarrr! Glaaarrr! Glaaarrr!

Ledakan keras terdengar, ketika lesatan sinar keperakan berhasil dihindari Dewa Racun Hitam. Tiga batang pohon besar seketika bertumbangan terterjang petir. Bunyi bergemuruh terdengar begitu memekakkan telinga.

Menyaksikan Dewa Racun Hitam yang pontangpanting menghindari terjangan sinar keperakan, diamdiam Jaka sudah menyiapkan 'Pukulan Jarak Jauh' nya. Dan ketika saat yang tepat datang, Jaka tidak menyia-nyiakannya.

Wrrr...!

Angin deras bergulung-gulung seketika keluar dari telapak tangan Raja Petir yang terbuka. Begitu cepat angin dari pukulan jarak jauh yang dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi. Sehingga, Dewa Racun Hitam yang belum sempat kembali pada kedudukan terbaiknya tak mampu menghindar. Dan....

Plaaarrr! "Aaa!"

Hantaman segulungan angin yang begitu kencang membuat tubuh Dewa Racun Hitam terhembus deras. Bagai sehelai daun yang terhembus angin, tubuhnya melayang.

Kalau saja tubuh Dewa Racun Hitam tak tertahan deretan pohon-pohon besar, mungkin akan terhempas lebih jauh. Namun hantaman pukulan jarak jauh Raja Petir, begitu dahsyat. Sehingga pohon-pohon yang terhantam tubuh Dewa Racun Hitam, tumbang berserakan. Dewa Racun Hitam sendiri merasakan seluruh tulang-belulangnya luluh-lantak. Hanya sesaat itu saja Dewa Racun Hitam mampu bertahan hidup. Tak berapa lama kemudian, lelaki berpakaian hitam itu sudah tak bergerak-gerak lagi. Sampailah ajalnya.

Sementara pada pertarungan lain, justru sebaliknya. Ki Megantara dan Ki Wikuna nampak terdesak serangan-serangan senjata rahasia Nyai Puncang Sibela yang mengandung racun ganas.

"Hiaaa...!"

Pada saat Ki Megantara dan Ki Wikuna disibukkan dengan senjata-senjata rahasia, Nenek Sakti Racun Hijau menjejakkan kakinya keras. Perempuan tua itu melesat cepat ke arah Ki Wikuna, dengan kepalan tangan yang berubah menjadi kehijauan.

Raja Petir yang menyaksikan hal itu dari jarak kejauhan terperangah bukan main. Dirinya merasa tak mungkin dapat mematahkan serangan perempuan tua, untuk melindungi Ki Wikuna. Namun tiba-tiba....

"Hiaaa!"

Terdengar suara teriakan dari kejauhan. Siiing! Siiing! Siiing!

Tiga buah pedang seketika meluruk deras ke arah Nyai Puncang Sibela yang tengah berada di udara. Karuan saja Nenek Sakti Racun Hijau terkejut bukan kepalang. Dengan cepat perempuan tua berpakaian hijau gelap itu melesat ke lain arah. Seiring dengan itu, tangannya segera melesat melepaskan senjata rahasianya ke tubuh pemilik senjata yang telah menggagalkan serangannya.

Plas! Plas! Plas! Crab!

"Aaa"

Salah satu senjata rahasia, tepat mendarat di ubun-ubun lelaki bertubuh kekar. Lelaki itu ternyata murid Ki Megantara yang baru saja muncul. Tubuh murid Ki Megantara seketika terkapar tak bernyawa lagi.

Ki Megantara tentu saja geram, menyaksikan kematian muridnya. Maka, tanpa berpikir apa-apa lagi tubuhnya langsung mencelat hendak menerjang Nenek Sakti Racun Hijau yang sudah kembali berdiri tegak.

"Tahaaan!" Raja Petir berteriak keras, mencegah Ki Megantara

Mendengar bentakan yang dikeluarkan Jaka dengan melalui pengerahan tenaga dalam tinggi, Ki Megantara kontan menghentikan gerakannya.

"Maaf, Ki. Jangan bertindak sembrono seperti itu!" ucap Jaka kemudian setelah berada di dekat Ki Megantara.

Ki Megantara tak membantah ucapan Jaka tersebut. Di hadapannya, Nenek Sakti Racun Hijau telah siap dengan serangan senjata rahasia yang cukup berbahaya.

"Kurang ajar kau, Raja Petir!" maki Nenek Sakti Racun Hijau. "Kau, harus mampus!"

"Nenek Sakti Racun Hijau! Kalau kau tetap nekat menantangku, niscaya nasibmu akan sama dengan Dewa Racun Hitam yang kini telah mati!" balas Jaka Sembada.

"Setan!" hardik Nenek Sakti Racun Hijau ketika melihat tubuh Ki Kuriwang Situ yang tergeletak tak bernyawa. Wajah tuanya seketika berubah merah padam.

"Kubunuh kau, Raja Petir! Hiaaa...!"

Diiringi teriakan menggema, Nenek Sakti Racun Hijau menerjang tubuh Raja Petir. Raja Petir segera meloloskan sabuk dari pinggangnya. Dan ketika tubuh perempuan tua itu tepat berada dalam jangkauan Raja Petir segera memutar pergelangan tangannya. Dan....

Gleeegggaaarrr. !

Tubuh ringkih Nenek Sakti Racun Hijau seketika terpental kena hantam lecutan sabuk kuning, yang dimainkan dalam jurus 'Petir Membelah Malam'

Seketika tubuh yang terbalut pakaian hijau itu terbanting. Perempuan tua itu jatuh berdebum dengan keadaan tubuh yang cukup mengerikan. Sekujur tubuh Nenek Sakti Racun Hijau gosong seperti tersambar petir. Suasana sesaat begitu tegang dan mencekam. Ki Megantara, Ki Wikuna, dan Dewi Nuwang terbengongbengong.

Raja Petir lalu menarik napas dalam-dalam. Kemudian melangkahkan kaki menghampiri Ki Megantara yang tengah memandangi mayat muridnya.

"Sudahlah, Ki. Setiap perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan yang diberikan muridmu ternyata tak sia-sia," ucap Jaka dengan suara lembut.

Suasana kembali mereda. Tidak ada yang berkata semua diam dan trenyuh. Ki Megantara kemudian menatap Jaka. Sungguh dia sangat berterima kasih atas pertolongan anak muda yang punya kesaktian begitu tinggi itu.

"Sudahlah, Ki. Berterima kasihlah pada sang Pencipta jagat," ujar Jaka sambil menghindari tatapan mata Ki Megantara. "O ya, Ki. Kalau begitu, aku pamit sekarang."

"Ah! Kau tidak "

"Terima kasih, Ki. Lain kali aku pasti berkunjung ke tempatmu. Permisi, Ki. Hip!"

Dalam sekejap tubuh Raja Petir telah melesat dan lenyap dari pandangan Ki Megantara, Ki Wikuna, dan Dewi Nuwang.

***

Angin berhembus semilir mengantar keberangkatan pendekar perkasa itu. Sementara Ki Megantara, Ki Wikuna, dan Dewi Nuwang disibukkan dengan pemakaman salah seorang murid Ki Megantara yang tewas.

Tidak terasa, kelopak mata Dewi Nuwang terlihat berkaca-kaca. Gadis itu merasa sangat kehilangan atas kepergian Raja Petir. Entah mengapa, tiba-tiba rasa rindu menyelinap dalam hatinya. Ah, pemuda gagah itu telah mencuri hati dan seluruh pikirannya.
SELESAI
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(