Serial Raja Petir eps 05 : Dedemit Selaksa Nyawa

SATU
Untuk sesaat lamanya, jagat semesta terbalut hawa kesejukan. Matahari yang biasanya bersinar garang, nampak malu-malu mengintip di balik awan. 

Trang! 

"Akh...!"

Suara benturan dua logam keras seketika terdengar, ditingkahi suara memekik kesakitan. Tampak sosok tubuh gempal terlontar jauh ke belakang diiringi seringai tertahan.

"Keparat..!"

Seorang lelaki bertubuh tinggi tegap berteriak memaki seraya maju menyerang menggantikan temannya yang baru saja begitu mudah dipecundangi. Goloknya yang berkilauan tertimpa sinar matahari, tak setengah-setengah lagi diayunkan ke arah sosok berpakaian merah yang baru saja menjatuhkan seorang lawannya.

"Hiaaa...!" Bet! Bet!

Dengan mengandalkan kecepatan geraknya, sosok berpakaian merah merendahkan tubuhnya. Dan bersamaan dengan itu, kepalan tangannya menohok ulu hati lawan yang bersenjata golok. Begitu cepat gerakannya sehingga Desss! "Ugkh!"

Lelaki bertubuh tinggi tegap itu seketika terhuyung ke belakang. Sodokan tangan yang begitu kuat mendarat telak di perut, sehingga membuatnya tak mampu berbuat apa-apa selain memegangi perutnya yang terasa begitu mual.

"Ha ha ha.... Sudah kubilang, kedua kaki tangan mu bukan tandinganku, Senati. Begitupun kau dan seluruh rakyat Desa Galur Asih," ujar lelaki berpakaian merah dan bergaris pinggir hitam, bernada angkuh. Matanya yang berwarna kemerahan, begitu pas dengan julukannya, Iblis Mata Merah.

"Apa maumu, Jempal Berek?" tanya lelaki bertubuh sedang yang dipanggil Senati. Dia dikenal sebagai Kepala Desa Galur Asih. Dan sebagai seorang kepala desa, memang sikap seperti itulah yang harus diambilnya.

"Aku tak pernah meminta apa-apa dari desa yang telah lima belas tahun ku tinggalkan. Desa yang tak pernah mau menerima kehadiranku di tengahtengahnya, hanya dikarenakan aku anak seorang pelacur yang tidak jelas siapa bapaknya. Aku anak haram yang membawa kesialan bagi Desa Galur Asih," ujar Iblis Mata Merah. Suaranya terdengar begitu sarat dengan kemarahan dan dendam.

"Aku tak pernah berbuat seperti itu, Jempal Berek," kilah Senati. Kulitnya yang hitam tampak sedikit berubah pucat. Sedangkan kumis dan jenggot tipis yang menghiasi wajah lonjongnya, tampak bergerakgerak penuh arti.

"Kau memang tak berbuat begitu, Senati!" bentak Iblis Mata Merah.

Senati terhenyak mendengar bentakan itu. Dicobanya untuk menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat

"Senati! Lima belas tahun yang lalu, kau memang tidak mengucilkan diriku secara langsung. Tapi secara tersembunyi, kau mendukung tindakan Wakasia. Padahal, waktu itu jabatanmu adalah wakilnya. Dan itu setidak-tidaknya bisa meredam keinginan kepala desa yang tidak manusiawi itu," lanjut Iblis Mata Merah.

Kepala Desa Galur Asih itu tidak membantah ucapan Iblis Mata Merah. Memang diakui, kalau waktu itu dirinya sudah menjabat sebagai wakil kepala desa. Namun jabatannya tak digunakan, mengingat watak kepala desa yang telengas. Lagi pula, apa yang menjadi keputusan Kepala Desa Galur Asih waktu itu tak mungkin bisa dibantah.

Diakui pula, sejak terbongkarnya rahasia aib ibu kandung Iblis Mata Merah yang gemar berganti-ganti lelaki, kehidupan penduduk Desa Galur Asih berubah jauh. Bencana demi bencana mulai menimpa desa itu. Wabah penyakit dan kekeringan mulai menjadi langganan penduduk desa.

Puncaknya adalah ketika diketahui kalau anak kandung Ruwati yang bernama Jempal Berek, adalah anak haram yang tidak jelas siapa bapaknya. Dan itu dijadikan alasan terjadinya bencana demi bencana di Desa Galur Asih. Kini anak yang bernama Jempal Berek, dan telah berjuluk Iblis Mata Merah muncul di desa itu.

"Jadi kedatanganmu ke sini semata-mata  hanya untuk balas dendam, Jempal Berek?" tanya Senati setelah beberapa saat mengingat kejadian masa lalu.

"Tidak!" tegas Iblis Mata Merah. "Aku hanya ingin desa ini memberi sesuatu padaku dua kali dalam satu purnama."

"Katakanlah apa yang kau minta itu, Jempal Berek Barangkali saja, aku bisa memenuhinya. Dan sebagai kepala desa yang menggantikan almarhum Wakasia, aku akan menerima kehadiranmu sebagai penduduk desa ini," ucap Senati lemah lembut.

Kepala desa itu berharap Iblis Mata Merah tidak meneruskan kemarahannya. Namun demikian, Senati tidak merasa gentar menghadapi lelaki bermata merah di hadapannya.

Iblis Mata Merah yang mendengar ucapan Kepala Desa Galur Asih seketika menyeringai. Nampak gigi-giginya yang berantakan menebarkan aroma busuk, sehingga membuat isi perut hendak keluar.

"Aku hanya minta disiapkan dua bayi dalam satu purnama. Masing-masing pada hari ketiga, dan pada hari ketujuh belas."

"Permintaan gila!" sentak Kepala Desa Galur Asih, saking terkejutnya. Namun, sebentar kemudian Senati menyadari ucapannya yang terdengar begitu kasar. "Untuk apa bayi-bayi itu, Jempal Berek?"

"Itu urusanku, Senati! Kau tak perlu tahu," hardik Iblis Mata Merah garang. "Tugasmu adalah menyiapkan bayi pada setiap pergantian purnama pada hari ketiga dan ketujuh belas. Itu saja! Dan perlu kau ketahui, Senati. Aku bisa saja merampas secara paksa bayi-bayi yang ada di desa ini. Tapi itu tak akan kulakukan, karena aku ingin kau yang melakukannya. Terserah dengan cara apa."

"Kau tukar saja dengan permintaan lain, Jempal Berek. Aku tak mungkin mengabulkan permintaan gila itu," tolak Senati. "Apa pun yang akan kau lakukan terhadapku dan penduduk desa ini, aku tak akan sudi mengabulkan permintaan gilamu!"

"Bila tak dipenuhi, aku tak memaksa, Senati. Tapi apakah kau sanggup menghadapi akibatnya?" tekan Jempal Berek yang berjuluk Iblis Mata Merah.

Kepala Desa Galur Asih menaikkan alis matanya.

"Aku  akan  mengirim  nyawamu  sekarang juga ke alam baka. Begitu juga dengan penduduk desa ini! Bahkan seluruh desa ini akan kujadikan lautan api. Sekarang, apakah kau siap kalau penduduk dan anak istrimu mati terpanggang?"

"Kau tak akan mampu melakukannya, Jempal Berek. Meskipun julukanmu angker, aku yakin penduduk ku yang memiliki ilmu silat akan menghalangi niat bejatmu. Begitu juga aku!" tegas Kepala Desa Galur Asih, tak kalah gertak.

"Ha ha ha...!"

Iblis Mata Merah kontan terbahak mendengar ucapan Senati. Matanya yang merah nampak meneteskan air, karena terlalu lama tertawa.

"Apa yang kau andalkan, Senati? Menghadapi serangan tikus parit pun rasanya kau tak mampu!" ejek Iblis Mata Merah.

"Aku harus menjaga kewibawaan ku sebagai Kepala Desa Galur Asih, Jempal Berek!" kilah Senati.

"Kau tidak menyesal, Senati? Kau tidak menyesal kehilangan jabatan, dan anak istrimu?"

"Sudah menjadi tugasku sebagai kepala desa, Iblis Gila!" maki Senati lantang.

Hinaan pedas itu diterima Iblis Mata Merah dengan menggerang murka.

"Kurang ajar!"

Tubuh Iblis Mata Merah seketika bergerak cepat Tangannya yang terkepal rapat, tanpa diketahui sudah mengancam wajah Senati. Karuan saja kepala desa itu kelabakan untuk mengambil gerakan menghindar. Hingga dengan gerakan seadanya, dia berupaya berkelit. Namun terlambat! Kepalan keras milik Iblis Mata Merah telah lebih dulu mendarat di mulutnya.

Dukh...!

"Akh!"

Kepala Desa Galur Asih itu memekik tertahan, sambil berusaha mengimbangi tubuhnya yang terhuyung. Sementara dari sela bibirnya yang pecah nampak cairan berwarna merah membasahi janggut dan pakaian.

"Ha ha ha.... Itu hanya serangan tikus parit yang mengandalkan tenaga kasar, Senati! Belum lagi serangan seperti ini! Hiyaaa...!"

Iblis Mata Merah kembali berkelebat sambil mengayunkan gadanya. Begitu cepat kelebatannya, diiringi ayunan senjata yang menimbulkan deru angin menggetarkan.

Melihat tindakan Iblis Mata Merah, Kepala Desa Galur Asih terkesiap. Namun keinginannya yang kuat untuk dapat terbebas dari maut, membuatnya sekuat tenaga menghindari serangan dahsyat yang dilancarkan Jempal Berek

"Tahaaaan..!"

Bukan main murkanya Iblis Mata Merah mendengar bentakan yang bukan saja mengejutkannya, tetapi juga membuat dirinya oleng. Maka, seketika maksudnya untuk menghabisi nyawa Kepala Desa Galur Asih diurungkan.

Belum juga bentakan itu hilang dari pendengaran, tiba-tiba saja berkelebat sosok bayangan kuning keemasan. Dan tahu-tahu saja di depan Iblis Mata Merah berdiri seorang pemuda tampan. Rambutnya ikal. Bola matanya menatap tajam ke arah Iblis Mata Merah.

"Pahlawan kesiangan!" hardik Iblis Mata Merah, setelah mampu menguasai diri. "Sembarangan betul kau mencampuri urusan orang, heh?! Kau hanya cari mampus saja!"

"Tidak begitu, Iblis Mata Merah!" balas sosok pemuda berbaju kuning keemasan itu, membentak. Sosok itu tak lain dari Jaka Sembada, yang dalam dunia persilatan berjuluk Raja Petir.

Iblis Mata Merah mendengus mendengar julukannya disebut lelaki muda usia di hadapannya. Dari sini bisa diduga kalau pemuda di hadapannya bukanlah orang sembarangan.

"Dari mana kau tahu julukanku, heh?!" selidik Iblis Mata Merah.

"Mudah saja," jawab Jaka, tenang.

"Hm...!" Iblis Mata Merah mengangkat alis matanya.

"Aku  tadi  telah  mendengar  pertengkaranmu dengan Ki Senati, Kepala Desa Galur Asih ini." 

"Sebutkan  namamu,  Bocah  Lancang!"  bentak Iblis Mata Merah.

"Untuk apa?" kilah Jaka dengan raut muka dibuat sebodoh mungkin.

"Tolol! Biar kau tak menyesal karena cita-cita mu untuk menjadi pahlawan tak berhasil, meski harus mengorbankan nyawamu," dengus Iblis Mata Merah penuh penghinaan.

Jaka tersenyum ceria mendapatkan ucapan Iblis Mata Merah.

"Setelah kusebutkan, apakah kau akan membunuhku?"

""Bocah edan! Cepat sebutkan namamu!" bentak Iblis Mata Merah berang.

"Baik Namaku Jaka Sembada, dan berjuluk Raja Petir. Itu saja."

Iblis Mata Merah terkejut mendengar pengakuan anak muda di hadapannya. Tapi orang seangkuh dia, mana mau menonjolkan keterkejutannya.

Lain halnya Senati. Sejak kemunculannya, Kepala Desa Galur Asih itu telah mengira kalau sosok berpakaian kuning keemasan itu belakangan ini telah membuat gempar dunia persilatan. Khususnya, kaum rimba persilatan golongan hitam. Dan kenyataannya, Ki Senati bersyukur sekali mendengar pengakuan anak muda yang bernama Jaka Sembada itu.

"Bagus! Sekarang bersiaplah melayat ke akhirat!" dengus Iblis Mata Merah.

Iblis Mata Merah langsung mengambil serangan lewat sisi kiri tubuh Jaka. Dan seketika itu juga, Raja Petir menghindar cepat. Dan tentu saja hal ini membuat Iblis Mata Merah menggereng keras. Apalagi, sambaran tangannya dapat dihindari musuhnya begitu mudah.

"Tahan, Jempal Berek!" sentak Jaka, keras. "Kita bertaruh saja, bagaimana?!"

Iblis Mata Merah cepat menghentikan serangannya. Matanya yang berwarna merah, sejurus lamanya memandang Jaka tak mengerti.

"Apa maksudmu, Jaka?!" tanya Iblis Mata Merah, tak mau mengakui julukan musuhnya sebagai Raja Petir.

"Sebelum kita teruskan pertarungan ini, bagaimana kalau kita buat perjanjian dulu," tawar Jaka.

Sesungguhnya, Raja Petir tak menginginkan pertarungan ini berlanjut, seandainya saja lelaki bermata merah di hadapannya bisa diajak berunding.

"Kaulah yang berjanji lebih dahulu!" kata Iblis Mata Merah.

"Baik. Seandainya kalah, aku akan melakukan apa saja yang kau perintahkan. Termasuk, membunuh Kepala Desa Galur Asih dan membakar desa ini," mantap suara Jaka yang keluar. "Sekarang kau, Jempal Berek!" Iblis Mata Merah melayangkan matanya ke sekujur tubuh Jaka Sembada. Kilatan matanya yang meremehkan, tergambar begitu jelas.

"Penggal kepalaku, kalau tak mampu mengalahkanmu dalam dua puluh jurus!" mantap janji yang terucap dari mulut lelaki berpakaian merah bergaris hitam itu.

"Terlalu berat janjimu itu, Jempal Berek," tukas Jaka, memancing "Apakah kau tak ingin meralatnya?"

"Bocah sombong! Kau pikir kepandaianmu mampu mengalahkanku?" geram Jempal Berek, merasa diremehkan.

"Kalau begitu maumu, janjimu kupegang dan janji ku kau pegang. Aku, Raja Petir, pantang ingkar janji," tekan Jaka keras.

Sedikit lega hati Kepala Desa Galur Asih mendengar ketegasan ucapan anak muda berpakaian kuning keemasan yang berjuluk Raja Petir itu.

"Tenanglah, Ki Senati," ujar Jaka seraya menatap wajah Kepala Desa Galur Asih yang dipenuhi rasa kekhawatiran yang teramat sangat. "Aku akan segera meringkus bekas warga mu yang tak tahu din itu!" 

"Bocah sombong!"

Iblis Mata Merah langsung menerjang Raja Petir dengan jurus yang cukup aneh. Tangannya yang membentuk cakar harimau dan dihadapkan ke sisi kiri kanan lehernya, seketika berkelebat cepat menyambar leher Jaka.

"Uts!"

Jaka Sembada cepat membawa turun kepalanya sambil menggerakkan tangan, begitu cepat ke bagian dada Iblis Mata Merah. Seketika itu juga, tokoh bermata merah itu terkejut

Iblis Mata Merah cepat melentingkan tubuhnya, menghindari serangan cepat Raja Petir yang mengarah pada dadanya. Begitu cepat tubuhnya bergerak, lalu berputaran dua kali di udara. Dan dengan lincah, kakinya mendarat manis di tanah.

"Heh...?!"

Iblis Mata Merah membuang nafasnya. Sungguh tak disangka kalau jurus pertamanya yang bernama 'Iblis Cengkrong Mengincar Nadi' berhasil dihindari lawan. Bahkan Raja Petir mampu memberi serangan mendadak yang sanggup membuatnya kerepotan.

"Kenapa berhenti, Jempal Berek? Bukankah kau menjanjikan dua puluh jurus?" ledek Jaka.

Kembali Iblis Mata Merah menggereng. "Setan alas!"

Bagai terbang saja, Iblis Mata Merah menerjang Jaka. Tubuhnya yang berkelebat, sekejap mata sudah berada di hadapan mata Jaka dengan jurus lain. Raja Petir yang memang sudah siap menghadapi serangan lawan, tampak berdiri tenang. Semula, Raja Petir hendak memapak serangan Iblis Mata Merah. Tapi maksudnya diurungkan dan di gantinya dengan lentingan ke udara.

"Kurang ajar!" maki Iblis Mata Merah gusar. Kembali Iblis Mata Merah menyerang Jaka dengan jurus-jurus berbahaya. Serangannya cepat dan beraneka ragam, namun bisa dihindari Jaka dengan elakan yang gesit. Dan sekali-kali, pemuda berpakaian kuning keemasan itu melancarkan serangan, sekadar mengurangi laju serangan Iblis Mata Merah.

"Uts!"

Kembali Raja Petir memiringkan kepala ketika sambaran jari tangan Iblis Mata Merah yang berbentuk kepala tikus mengincar pelipis. Suara angin berdesing mampir di telinga Jaka ketika totokan maut itu melesat beberapa rambut di atas telinganya.

Iblis Mata Merah tak putus asa mendapatkan setiap serangannya selalu dielakkan. Lelaki bermata merah itu menggereng keras disertai serangannya yang kembali berkelebat cepat ke arah dada Jaka.

Dua puluh jurus telah digelar Iblis Mata Merah, tapi serangannya terus berlanjut. Bukankah dia sudah berjanji untuk menjatuhkan Raja Petir hanya dalam dua puluh jurus? Sedangkan serangannya yang telah dilancarkan sekarang sudah memasuki jurus yang kedua puluh satu!

"Seharusnya kau memegang janjimu, Jempal Berek," tegur Jaka.

Jempal Berek tak mempedulikan teguran Jaka. Bahkan lelaki yang berjuluk Iblis Mata Merah itu malah mempersiapkan serangan susulan.

"Jangan sering-sering menjilat ludah yang telah dibuang ke tanah, Jempal Berek," tegur Jaka lagi.

"Hih!"

Iblis Mata Merah mencoba menyambar dada Jaka yang seketika itu juga mengambil tindakan memapak. Plak! "Ukh!"

Pekik tertahan keluar, seiring terlemparnya tubuh Iblis Mata Merah ke belakang. Kemudian, tubuhnya jatuh berdebuk keras di tanah.

Iblis Mata Merah seketika merasakan wajahnya seperti dijalari hawa panas. Tangannya pun terasa seperti lumpuh. Sedangkan keadaan Jaka tidak sedemikian parah, hanya merasakan sedikit getaran pada tangannya saja. Dan itu menandakan kalau Iblis Mata Merah memiliki tenaga dalam jauh di bawahnya.

"Bagaimana, Jempal Berek? Apakah kau mau memenuhi janjimu?" tukas Jaka mengingatkan.

Lelaki berpakaian merah bergaris hitam itu mendengus keras. Matanya yang berwarna kemerahan menatap tajam dan bengis ke arah Jaka Sembada.

"Penggal lah sendiri kalau kau mampu!"

Menggelegar ucapan Iblis Mata Merah seraya memutar-mutar senjatanya yang berupa gada bergerigi runcing dari logam keras.

Jaka Sembada mencibir mendengar ucapan Iblis Mata Merah.

"Kenapa kau berubah sepengecut itu, Jempal Berek. Peganglah janjimu kalau betul-betul lelaki tulen!"

Iblis Mata Merah tak mempedulikan cemoohan Jaka. Tangannya terus diputar-putar di atas kepala. Suara angin menderu terdengar lewat gada bergerigi tajam yang diputar dengan kekuatan tenaga dalam penuh. Bahkan kerikil-kerikil yang berada di sekitar pertarungan sampai beterbangan tak tentu arah.

Ki Senati dan kedua pengikut setianya nampak sibuk menghindari terjangan kerikil yang beterbangan, tersapu angin keras yang keluar dari gada milik Iblis Mata Merah.

"Iblis Mata Merah! Jangan salahkan aku kalau kepalamu betul-betul kupenggal!" bentak Jaka.

Tak ada jawaban dari Iblis Mata Merah yang tengah menyiapkan jurus andalannya. Bahkan matanya semakin Bar menatap Raja Petir.

"Hiaaa...! Mampus kau, Bocah!" Wesss...!

Angin berkesiur deras begitu senjata milik Iblis Mata Merah terayun ke arah kepala Jaka. Secepat kilat, Raja Petir membuang tubuhnya ke kanan sekaligus bergulingan di tanah berumput jarang. Kemudian, cepat sekali tubuhnya melenting ke udara.

"Hup!" Dan begitu mendarat manis di permukaan tanah yang tidak rata, tahu-tahu di tangan Jaka sudah tergenggam sebongkah baru sebesar kepalan tangan lelaki dewasa. Entah kapan benda itu di jumputnya. Dan itu akan di gunakannya untuk menjajal keampuhan senjata Iblis Mata Merah.

Jempal Berek yang merasa dipermainkan Jaka, kembali menyerang dengan keganasan berlipat-lipat Matanya yang merah semakin membara karena kejengkelannya. Gada bergerigi runcing kembali diayunayunkan ke udara dengan kecepatan penuh. Namun belum sempat dilayangkan ke sasaran, sebuah benda berwarna hitam telah melesat cepat menghantam gada berduri dalam cekalannya.

Tlaaarkh...!

Benda berwarna hitam yang menerjang gada berduri miliki Iblis Mata Merah itu seketika hancur berkeping-keping!

Terkesiap juga Jaka menyaksikan keampuhan gada milik Jempal Berek. Meski batu itu dilemparkannya hanya disertai sedikit pengerahan tenaga dalam. Namun, tak akan disangkal jika kepala manusia terhantam gada bergerigi runcing itu pasti akan hancur berantakan.

Apa yang telah dilakukan Jaka ternyata tak membuat laju serangan Iblis Mata Merah tertahan. Jempal Berek terus merangsek maju sambil menyabetnyabetkan gada bergerigi runcing ke arah bagianbagian tubuh Jaka yang mematikan.

Dalam menghadapi senjata Jempal Berek yang memiliki perbawa mengiriskan, Jaka memang tak mau meremehkannya. Itulah sebabnya, dengan jurus-jurus yang didapat dari Eyang Putri Selasih, Jaka memberi perlawanan sengit untuk mengimbangi senjata lawan.

"Hih!"

Jaka cepat melepaskan tendangan lurus ke arah dada lawan. Namun, tendangan itu cepat ditangkis Iblis Mata Merah dengan gadanya yang bergerigi runcing. Akan tetapi dengan kecepatan yang sukar diikuti mata biasa, Jaka memutar arah serangannya ke arah kepala. Karuan saja hal itu membuat Iblis Mata Merah terperangah dan merasa gugup untuk menghindari tendangan menekuk yang terarah ke pelipisnya.

Plak! "Akh!"

Iblis Mata Merah terhuyung beberapa langkah ke belakang Kepalanya yang terhajar punggung kaki Jaka terasa seperti berputar hebat dan matanya berkunang-kunang.

Melihat kesempatan baik itu, Jaka tak menyianyiakannya. Dengan sekali genjot, tubuhnya sudah melayang dengan kaki kanan lurus ke depan.

Bukkk! "Hegkh...!"

Iblis Mata Merah langsung meringis manakala tendangan keras Jaka mendarat telak di perutnya. Senjatanya yang begitu dibanggakan kontan terlepas dari cekalannya, seiring tubuhnya yang terhuyung sejauh dua batang tombak.

"Hoeeekh...!"

Iblis Mata Merah langsung memuntahkan segumpal darah kental.

"Aku bisa saja memenggal kepalamu, Jempal Berek! Dengan senjatamu ini, nyawamu bisa melayang ke neraka!" tukas Jaka seraya menempelkan gada bergerigi runcing ke leher Jempal Berek.

Iblis Mata Merah menatap tajam Raja Petir. Sebuah tatapan yang mengandung pancaran dendam. "Kau ingin senjata andalanmu kugunakan un-

tuk memenggal kepalamu?" sodor Jaka sambil menekan sedikit gada bergerigi runcing.

Jempal Berek yang berjuluk Iblis Mata Merah tak menjawab pertanyaan Jaka. Kepalanya masih terasa seperti berputar dan perutnya masih terasa mual.

"Baiklah," putus Jaka Sembada. "Tolong jawab pertanyaanku yang lain. Untuk apa kau meminta bayi pada setiap pergantian bulan purnama?"

Iblis Mata Merah kembali tak menjawab pertanyaan Jaka.

"Kau berkeberatan menjawabnya, Jempal Berek? Baik. Ku tukar dengan pertanyaan lain," sabar sekali ucapan Jaka yang keluar. "Apa hubunganmu dengan Dedemit Selaksa Nyawa?"

Terbeliak mata Iblis Mata Merah mendengar pertanyaan Jaka. Namun, bibirnya tak juga terbuka untuk menjawab.

"Jawab!" hardik Jaka sambil menambah tekanan gada bergerigi runcing yang ditempelkan di leher Iblis Mata Merah. "Kau ingin lehermu putus oleh senjatamu sendiri?"

Iblis Mata Merah tak lekas menjawab. Keringat sebesar biji-biji jagung yang bertengger di permukaan wajahnya semakin menganak sungai.

"Cepat!" Jaka kembali memberikan tekanan tenaga pada gada bergerigi runcing.

"Dia guruku," jawab Iblis Mata Merah parau.

Seketika itu juga, Jaka menarik gada bergerigi runcing. Pikirannya yang cemerlang segera dapat menarik kesimpulan kalau bayi yang dicari Iblis Mata Merah di Desa Galur Asih memang semata-mata untuk Dedemit Selaksa Nyawa. Tokoh sesat itu memang membutuhkan hari bayi sebanyak mungkin, demi meningkatkan kesaktian yang sesuai julukannya.

Raja Petir sendiri telah mendengar kabar kalau Dedemit Selaksa Nyawa telah menyatroni beberapa desa dan berhasil mendapatkan beberapa bayi yang diambil hatinya. Kabar lain juga didapat tentang kebengisan Dedemit Selaksa Nyawa yang menghabisi nyawa penduduk desa. Karena penduduk desa itu mungkin tak mengizinkan bayinya dibunuh sedemikian rupa. Bahkan dua desa sempat dijadikan lautan api, karena kepala desa dan seluruh penduduknya menentang keinginan Dedemit Selaksa Nyawa!

Sejurus lamanya Jaka menatap lelaki bermata merah yang berjuluk Iblis Mata Merah. Tapi, sejurus kemudian tangannya bergerak cepat.

Tuk! Tuk! "Akh...!"

Iblis Mata Merah mengeluh pendek menerima totokan kilat Jaka pada persendian tangan dan kakinya yang seketika itu juga terasa lumpuh.

"Ki Senati. Kau kurung manusia bejat ini Tapi, awas! Jangan sekali-kali kau atau anak buahmu membunuhnya. Karena bagaimanapun juga, suatu saat aku membutuhkannya," ujar Jaka sambil membawa bangun tubuh Iblis Mata Merah.

"Tapi dia berbahaya," tolak Ki Senati.

"Sekarang tidak lagi, Ki. Kekuatannya telah ku lumpuhkan untuk beberapa saat," jelas Jaka. "Maaf, Ki. Aku harus pergi mencari Dedemit Selaksa Nyawa. Jaga lelaki bejat itu baik-baik!"

Belum sempat Kepala Desa Galur Asih menjawab, tubuh Jaka telah melesat cepat meninggalkan tempat itu.

***
DUA
Hujan rintik-rintik yang belum sempat membuat jagat tergenang, seolah memberi kesempatan untuk sang Mentari membuka mata dan leluasa menyiram permukaan bumi. Di dalam sebuah bangunan yang cukup indah dan kokoh, pada ruangan yang dipenuhi perabot indah berukir, nampak empat orang tengah berkumpul membicarakan sesuatu. 

Mereka itu adalah Kepala Desa Wargidami yang bernama Talunjak beserta istri, dan dua orang lelaki tinggi kekar sebagai pengikut setianya. Kedua laki-laki kekar itu masing-masing bernama Pituk Lubar dan Katilan.

"Sebagai Kepala Desa Wargidami, sebenarnya aku bisa saja mengambil tindakan keras atas tentangan Kawur Apuk akan kebijakan-kebijakan yang telah disepakati. Pungutan-pungutan yang dikenakan pada masyarakat bukan untuk kita sendiri, tetapi untuk mereka juga," kata Talunjak mantap. "Kita harus menaikkan pungutan-pungutan itu kalau desa kita ingin maju."

Kepala desa itu membawa bangun tubuhnya, kemudian berjalan menuju sebuah jendela besar.

"Kalau Kawur Apuk merasa keberatan, aku bisa memberinya keringanan asalkan tidak menghalangi rencana kita," tegas Talunjak.

"Kurasa, Kawur Apuk akan tetap menghalangi kenaikan pungutan itu, Kakak Talunjak Dia pernah mengatakan kalau dirinya akan menghalangi setiap pungutan yang memberatkan dan mencekik leher penduduk Desa Wargidami," tukas Pituk Lubar.

"Lalu, apa tindakan kita, Kakak Talunjak?" istri Talunjak yang bernama Jamimi datang menghampiri dan mengelus-elus punggung suaminya, penuh kelembutan.

"Kita harus menyingkirkan Kawur Apuk!" lantang suara Talunjak.

Jamimi memandang wajah suaminya penuh kegembiraan. Hatinya yakin, jika Kawur Apuk berhasil disingkirkan maka dapat dipastikan tak ada orang yang akan berani menentang segala keputusan yang dikeluarkan suaminya. Dan itu merupakan kesempatan bagus untuk memperkaya diri.

"Menurutmu bagaimana, Jamimi?" tangan kanan Talunjak seketika merangkul bahu istrinya dan membawanya ke hadapan pengikut setianya yang sedang bersila.

"Aku setuju sekali, Kakak Talunjak. Tapi, apakah Pituk Lubar dan Katilan mampu menghadapi Kawur Apuk yang memiliki ilmu silat tinggi?"

Jamimi balik bertanya sambil memandang wajah Pituk Lubar dan Katilan berganti-ganti. Talunjak juga ikut memandang kedua pengikut setianya, seolah ingin meminta kepastian.

"Maafkan kami, Kakak Talunjak. Kami berdua sudah dapat mengukur kemampuan masing-masing. Aku merasa, tak akan mampu menundukkan Kawur Apuk," ucap Pituk Lubar terang-terangan.

"Lalu, apa saran kalian?" sodor Jamimi. "Bagaimana kalau kita mencari orang sewaan untuk menyingkirkan Kawur Apuk?" Katilan mengajukan saran.

Mendengar usul Katilan, seketika senyum tersungging menghiasi wajah Kepala Desa Wargidami.

"Usul yang bagus," puji Talunjak.

Katilan yang mendapatkan pujian seperti itu kontan berseri-seri wajahnya. "Siapa kira-kira orang yang pantas, Katilan?"

Katilan tidak segera menjawab. Matanya yang lebar menatap wajah Pituk Lubar sebagai tanda meminta pertimbangan.

"Bagaimana jika Bisal dan kedua temannya?" sodor Katilan.

"Siapa mereka, dan menetap di mana?"

"Bisal adalah salah seorang pimpinan kelompok Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati," jelas Pituk Lubar.

"Hutan Sulajati? Apakah mereka menetap di hutan itu?"

Pituk Lubar dan Katilan menganggukkan kepala berbarengan.

Talunjak segera menatap wajah istrinya. "Kau setuju, Jamimi?"

"Aku tak pernah keberatan, siapa orang sewaan itu. Yang penting, Kawur Apuk bisa disingkirkan!" tegas Jamimi.

"Kemampuan Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati tidak usah diragukan lagi, Nyi Jamimi. Tapi...," Katilan menghentikan ucapannya. Dan itu sempat memancing keheranan Talunjak.

"Tapi apa, Katilan?" selidik Talunjak tak sabar. "Bisal tak pernah bersedia bila disewa melalui

perantara. Ketua Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati itu ingin agar orang yang berkepentingan lah yang datang. Dalam hal ini, Kakak Talunjak sendiri," beber Katilan.

"Hm.... Sedemikian angkuhnya orang-orang sewaan itu," ucap Talunjak, seolah berbicara pada dirisendiri.

Talunjak berpikir keras, mempertimbangkan saran Katilan. Kepalanya manggut-manggut, dan keningnya berkerut dalam.

"Aku akan datang ke sana," putus Kepala Desa Wargidami, setelah sejurus lamanya berdiam diri.

***

Pagi-pagi sekali, manakala matahari belum bersinar penuh, Talunjak dan kedua abdi setianya terlihat tengah menggebah kuda tunggangannya. Suara derap langkah kuda yang bergemuruh seketika mengisi kesunyian pagi.

Tanpa mempedulikan kepulan debu yang membubung tinggi, ketiga orang itu terus memacu kudanya dengan kecepatan tinggi. Untuk mencapai Hutan Sulajati dengan berjalan kaki, mereka memang membutuhkan tiga perempat hari perjalanan. Namun dengan menunggang kuda yang dipacu cepat tanpa istirahat, maka akan dapat dicapai hanya dalam waktu setengah hari saja.

Matahari sudah berada tepat di atas ubunubun, ketika Hutan Sulajati sudah nampak dari jarak sepuluh tombak lebih. Ketiga penunggang kuda itu nampak berseri wajahnya.

"Itu Hutan Sulajati, Kakak Talunjak," kata Pituk Lubar.

"Hm"

"Kita harus waspada," jelas Katilan. "Kenapa begitu?" Talunjak menaikkan alis matanya.

"Ketua Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati selalu menaruh curiga terhadap orang-orang yang memasuki wilayahnya. Bahkan selalu ingin menjajal kemampuan orang-orang yang masuk wilayahnya. Basil dan teman-temannya kerap melancarkan serangan gelap dan rahasia."

"Terhadap kalian berdua, tentu saja tidak begitu kan? Karena, kalian mengenal Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati itu," terka Talunjak.

Katilan tersenyum lebar mendengar ucapan atasannya.

"Tidak begitu, Kakak Talunjak. Aku memang mengenal Basil. Namun, sebaliknya Basil tidak sepenuhnya tahu siapa aku. Baginya, setiap orang patut mendapatkan kecurigaan."

"Betul apa yang diucapkan Katilan, Kakak Talunjuk," dukung Pituk Lubar. Ketiga penunggang kuda itu seketika menarik tali kekang kudanya secara bersamaan. Empat batang tombak lagi, mulut Hutan Sulajati dapat dicapai. Kepala Desa Wargidami itu tampak menatap hutan lebat di depannya dengan sorot mata penuh kengerian.

"Kalau begitu, kalian berdua saja yang ke sana. Biar aku tunggu di sini. Nanti jika keadaan sudah aman, baru kalian panggil aku," perintah Talunjak.

Kedua abdi setianya tanpa membantah langsung menggebah kudanya. "Heya...!" 

"Heaaa!"

Sekejap mata saja, kuda yang ditunggangi Pituk Lubar dan Katilan sudah berada satu tombak di depan mulut Hutan Sulajati. Pituk Lubar dan Katilan turun dari punggung kuda masing-masing dengan penuh kewaspadaan. Tubuh mereka tampak menegang, bersiap-siap jika sewaktu-waktu terjadi serangan gelap. Tangan masing-masing tampak meraba gagang senjata.

"Hati-hati, Pituk Lubar," ujar Katilan.

Pituk Lubar mengangguk perlahan. Namun seiring anggukannya, tiba-tiba dua buah senjata berwarna keperakan meluruk cepat ke arah dua abdi Kepala Desa Wargidami itu.

Sing...! Sing...!

Bunyi berdesing mengiringi serangan senjata yang meluruk deras. Pituk Lubar dan Katilan cepat mencabut golok yang terselip di pinggang, dan secepat itu pula tangannya mengibas-ngibas. Langsung disampoknya dua senjata yang meluruk ke arah masingmasing.Irak! Irak! "Akh!"

"Ugkh!"

Dua bilah golok yang berada di tangan Pituk Lubar dan Katilan mampu menghadang dua senjata yang di lempar secara gelap. Akan tetapi, kedua tubuh abdi setia Talunjak itu jadi terhuyung dua langkah ke belakang. Jerit tertahan keluar dari mulut mereka.

Katilan mengusap tangan kanannya yang bergetar hebat. Sejurus lamanya hal itu dilakukan, namun sejurus kemudian tatapan matanya beredar ke sekitarnya.

"Kakang Basil!" teriak Katilan lantang. "Aku, Katilan ada perlu denganmu!" 

"Ha ha ha...!"

Sebuah tawa yang terdengar keras tiba-tiba bergema, memantul dari sisi-sisi hutan. Talunjak yang berada pada jarak empat tombak dari mulut Hutan Sulajati terkejut mendengar tawa yang cukup keras itu. Anggapannya, Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati memiliki kesaktian tinggi.

Tawa yang menggelegar dan bergema pada sisi hutan seketika lenyap. Tak lama kemudian, tiga sosok bayangan berkelebat cepat ke arah Pituk Lubar dan Katilan. "Hip!" Ketiga sosok yang berkelebat cepat kini telah mendarat manis di hadapan Pituk Lubar dan Katilan. Mereka adalah Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati.

"Hm"

Salah seorang dari Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati menatap tajam, merayapi sekujur tubuh kedua abdi setia Talunjak.

"Apa keperluan kalian berdua dengan kami, heh?!" keras sekali pertanyaan yang dilontarkan lakilaki berkumis melintang dan berpakaian putih hitam itu.

"Kami memerlukan kalian untuk menyingkirkan salah seorang penduduk yang berkepandaian tinggi. Dia kerap menentang keputusan kepala desa," jelas Katilan perlahan.

"Hm.... Apakah kepala desamu ikut bersama kalian?" lelaki bertubuh tinggi dan berambut jarang mengambil alih pertanyaan.

"Ya," jawab Pituk Lubar, singkat. "Namanya Talunjak."

"Suruh dia bicara langsung!" pinta lelaki bertubuh bulat berpakaian serba hitam. "Baik."

Tanpa diperintah dua kali, Katilan membalikkan badan dan berlari cepat ke arah Kepala Desa Wargidami.

***

"Kau Kepala Desa Wargidami?" tanya lelaki berkumis melintang, setelah Talunjak tiba di hadapannya. "Betul," jawab Talunjak

"Siapa yang selalu menentang keputusan-keputusanmu, Ki?"

"Dia penduduk desa kami juga, namun kepandaiannya cukup tinggi. Bahkan kami bertiga tak mampu menandingi kepandaiannya. Untuk itu, aku sebagai Kepala Desa Wargidami berminat meminta bantuan kalian. Kawur Apuk terlalu tangguh bagi kami," jelas Talunjak.

"Hm.... Kawur Apuk?" gumam lelaki berkumis melintang bernama Basil.

Di benak Basil, seketika teringat kejadian dua bulan lalu di Desa Margiluyu. Waktu itu, Kawur Apuk datang menghalangi niatnya untuk membawa secara paksa anak gadis pemilik kedai.

"Bantit! Bukankah kita pernah bentrok dengan orang yang bernama Kawur Apuk?" tanya Basil.

"Ya! Kita pernah bentrok dengannya dua bulan lalu. Sayang, kita tak bisa memenggal kepalanya karena kemunculan Pertapa Gunung Waru yang membawa lari Kawur Apuk. Dan kita akan tetap membuat perhitungan pada pertapa usil itu! Juga terhadap Kawur Apuk!" jawab Bantit.

"Kau dengar ucapan Bantit barusan, Ki?" tanya Basil seraya menatap lekat wajah Kepala Desa Wargidami. "Itu berarti, Kawur Apuk bukan apa-apa bagi Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati."

Kepala Desa Wargidami itu menyunggingkan senyum.

"Kalau begitu, aku tak salah pilih," ucap Talunjak dengan raut wajah berseri-seri.

"Betul, Ki Talunjak," timpal Basil. "Tapi, apa imbalan untuk kami jika Kawur Apuk sudah disingkirkan ke akhirat?"

"Kalian tidak usah khawatir. Sebagai kepala desa, aku akan memberi imbalan yang memuaskan. Bahkan kalau perlu dan kalau kalian tak berkeberatan, aku ingin kalian menetap di Desa Wargidami dengan jabatan sebagai kepala keamanan," kata Talunjak mantap.

"Ha ha ha...!"

Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati tertawa bersamaan setelah mendengar janji Kepala Desa Wargidami. Namun di balik tawa itu, tersimpan maksud busuk yang bakal mengancam kedudukan Kepala Desa Wargidami.

"Kami pegang janjimu, Ki Talunjak," kata Basil setelah menghentikan tawanya.

"Tentu saja, Basil," balas Talunjak. "Harapanku, kalian bertiga dapat menyingkirkan Kawur Apuk tanpa sepengetahuan pihak lain."

"Kenapa begitu?" tanya Bantit.

"Demi wibawa ku di mata penduduk Desa Wargidami," jelas Talunjak.

"Tenang saja, Ki. Aku akan mengatur semuanya. Dan Bukit Ular akan ku pilih sebagai tempat memenggal kepala Kawur Apuk. Kau tahu letak Bukit Ular, Ki?"

Talunjak menganggukkan kepala.

"Kalau begitu, pancinglah Kawur Apuk agar bersedia da tang ke tempat itu," putus Basil. "Besok sebelum matahari terbit, aku sudah berada di sana."

***
TIGA
Matahari masih lelap dalam peraduannya. Hari memang masih terlalu pagi. Sehingga, Bukit Ular kini nampak begitu menyeramkan. Tanahnya dipenuhi kerikil dan bebatuan. Begitu tandus tanpa pepohonan sama sekali. Di tempat itulah nampak Kawur Apuk berdiri angker dengan tangan masih menggenggam secarik surat tantangan.

Beberapa saat lamanya, Kawur Apuk berdiri. Bola matanya bergerak-gerak, mengamati sekeliling Bukit Ular. Cukup lama juga dia berdiri di situ. Namun belum juga dia menggereng kesal, tak lama muncul dua sosok tubuh yang dikenalnya. Mereka adalah abdi setia Talunjak, yang bernama Pituk Lubar dan Katilan. "Heh! Aku tak habis pikir pada kalian berdua.

Apa kepandaian yang kalian miliki hingga berani menantangku di pagi buta seperti ini. Atau, kalian merasa tak senang kalau selama ini aku selalu menentang keinginan-keinginan Talunjak yang semakin gila itu?!" dengus lelaki bertubuh sedang berpakaian kuning bergaris biru pada bagian tepinya itu.

"Kawur Apuk!" bentak Pituk Lubar. "Sudah jelas kami tidak senang melihat tingkahmu yang selalu sok pahlawan. Kenapa masih bertanya pula? Dan kalau kami berani menantangmu, itu artinya sudah mempunyai kepandaian yang patut ditonjolkan di hadapanmu."

"Hm.... Apa kalian tak sayang pada kedudukan kalian sebagai orang kepercayaan kepala desa bejat itu? Atau.... Ah! Kalian pasti sudah gila, sehingga tak sayang lagi pada nyawa kalian sendiri. Dengar baikbaik Pituk Lubar dan Katilan! Kawur Apuk tak pernah segan-segan menurunkan tangan maut untuk orangorang bejat seperti kalian!" hardik Kawur Apuk keras.

"Setan alas! Jangan takabur kau, Kawur Apuk!"

Dengan kemarahan meluap, Pituk Lubar cepat maju menerjang Kawur Apuk. Goloknya berkelebat cepat ke bagian-bagian tubuh Kawur Apuk yang mematikan. Namun, Kawur Apuk bukanlah orang sembarangan. Ilmu silatnya cukup tinggi. 

Terbukti setiap tebasan kuat yang dilakukan Pituk Lubar, tenang sekali dapat dihindari hanya dengan menggerakkan sedikit bagian tubuhnya. Bukan itu saja! Dalam keadaan diri yang terserang, Kawur Apuk sekali-kali mampu memberi balasan yang mematikan. Sodokan-sodokan tangannya yang disertai pengerahan tenaga dalam, terarah lurus ke bagian peka tubuh Pituk Lubar.

"Hih!"

Kembali Kawur Apuk memberi tohokan keras ke ulu hati Pituk Lubar, setelah terlebih dulu membawa turun tubuhnya menghindari tebasan golok yang mengarah ke leher.

"Uts!"

Cepat-cepat Pituk Lubar membawa mundur tubuhnya. Namun, tak urung tendangan memutar Kawur Apuk membentur keras punggungnya.

Buk! "Akh!"

Pituk Lubar memekik tertahan. Tubuhnya yang terhantam tendangan memutar Kawur Apuk jadi terhuyung ke sebelah kiri. Melihat kesempatan baik di hadapannya, Kawur Apuk cepat mengambil tindakan menyerang. Sebatang pedang yang sudah berada dalam genggamannya, cepat terayun disertai kekuatan tenaga penuh.

Sementara, Katilan yang menangkap gelagat tidak baik pada diri Pituk Lubar segera melesat. Langsung dipapaknya tebasan pedang yang diarahkan Kawur Apuk ke bagian kepala Pituk Lubar.

"Hiaaa...!" Trang!

Pagi buta yang gelap gulita, sekejap mata diterangi pijaran bunga api yang timbul akibat benturan dua senjata yang terbuat dari logam keras. Itu pun masih diiringi terpentalnya dua sosok tubuh yang sama-sama mengerahkan seluruh tenaga dalam ke arah yang berlawanan.

Katilan yang memapak sambaran pedang Kawur Apuk terpental sejauh dua batang tombak Tubuhnya jatuh berderak ke tanah berkerikil, hingga menimbulkan kegaduhan. Dari wajahnya yang agak putih terlihat seringai kesakitan akibat benturan barusan.

Apa yang dialami Katilan ternyata tidak bagi Kawur Apuk. Tubuhnya memang terlempar ke belakang. Namun berkat kepandaiannya, dorongan itu berhasil ditahan. Dan dia segera melakukan putaran dua kali di udara, setelah melenting. Dari benturan keras barusan, Kawur Apuk hanya merasakan getaran sedikit pada tangannya. Dan itu menunjukkan kalau tenaga dalamnya berada di atas Katilan.

"Huh! Kau memang harus mampus, Katilan!" Kawur Apuk meluruk maju dengan pedang berputaran di atas kepala. Sedangkan Katilan bengong menyaksikan gerakan lawannya yang begitu cepat. Dia ingin melawan, tapi tangannya masih terasa lumpuh akibat benturan tadi. Namun rupanya Katilan tak ingin pasrah menanti maut. Dengan sisa tenaga yang ada, dia bertekad menghindari terjangan senjata lawan.

Kawur Apuk yang sudah sampai pada batas puncak kegeramannya, tak lagi memberi kesempatan pada Katilan. Pedangnya yang tengah berada di udara terus dibabatkan ke kepala. Dan Katilan seketika itu juga memejamkan matanya karena ngeri menanti maut.

Trang!

Setengah jengkal lagi pedang Kawur Apuk membelah batok kepala Katilan, tiba-tiba sebuah benda berwarna keperakan telah menggagalkan maksudnya.

Tubuh Kawur Apuk yang masih berada di udara kontan terdorong keras ke sisi kiri. Namun berkat kegesitannya, daya dorong itu mampu dimanfaatkan dengan menjatuhkan badan seraya bergulingan di tanah berkerikil.

"Ha ha ha...! Ternyata hanya sampai di situ kemampuan orang yang bernama Kawur Apuk!"

Belum juga bisa ditebak benda yang memapak serangannya, sudah disusul suara tawa keras yang ke luar dari sesosok tubuh tegap. Sosok itu terus melenting ringan ke arah Katilan. Tak lama setelah sosok itu mendarat, dua sosok lain melenting indah dan mendarat tepat di sisi kanan Katilan.

"Kau boleh pergi sekarang, Katilan. Biar aku yang bereskan bocah edan itu," tukas Basil pelan. "Atau, kau ingin menyaksikan kehebatan kami dalam menyingkirkan Kawur Apuk?"

Katilan tidak menjawab. Tubuhnya segera digeser ke belakang, mendekati Pituk Lubar yang sudah bangkit berdiri.

Kawur Apuk agak terkejut melihat kehadiran tiga sosok yang telah dikenalnya. Namun, keterkejutannya berusaha ditutupi.

"Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati...?" sebut Kawur Apuk perlahan.

"Kau terkejut, Kawur Apuk?!" sentak Basil, jumawa.

 "Cuh!"

"Ha ha ha.... Besar juga nyalimu, Kawur Apuk.Tapi sayang, nyalimu yang besar itu tak akan sampai melihat matahari terbit nanti. Nyawamu sebentar lagi akan kami kirim ke neraka! Bersiaplah!"

Basil yang menjadi pimpinan Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati langsung menggenjot tubuhnya. Gerakannya begitu cepat dan terarah. Pukulan tangan kosongnya berkesiur mantap, penuh kekuatan tenaga dalam.

Namun, Kawur Apuk bukanlah orang sembarangan dan tak bisa dianggap remeh. Sekali saja matanya sudah mampu menangkap kelebatan pukulan tangan kosong dari salah seorang Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati. Maka, gerakannya yang tak kalah cepat itu mampu menghindari serangan mematikan. Bukan itu saja. Sambil mengelakkan serangan, masih juga disempatkan melepaskan sambaran tangannya ke arah ubun-ubun Basil.

"Uts!"

Basil kontan terkejut ketika sodokan tangan Kawur Apuk sudah berada tepat di atas. Cepat-cepat tangannya digerakkan ke atas untuk melindungi bagian lunak di kepalanya.

Plak!

Benturan keras terjadi ketika dua tangan kokoh saling bertemu di udara. Tubuh Kawur Apuk yang tengah melayang, seketika terlempar ke belakang dan bersalto dua kali.

Sementara, Basil tak mampu mempertahankan diri lagi. Tubuhnya seketika terjerembab karena kehilangan keseimbangannya. Memang, pijakan kudakudanya tadi salah besar, sehingga tubuhnya sampai tersuruk.

"Setan alas!" maki Basil geram sambil cepat menggerakkan tangannya ke arah pinggang.

Srat!

Sebuah senjata yang berbentuk aneh seketika keluar dari balik pakaian Basil. Senjata yang hampir. menyerupai kapak, namun bentuknya lebih panjang Itu telah siap dilepaskan ke arah lawan.

"Kita harus cepat-cepat menyelesaikan pertandingan ini, Kawan!" tukas Basil sambil mengayunkan kapaknya ke arah kepala Kawur Apuk. 

Rupa-rupanya, ucapan Basil sama juga dengan perintah bagi kedua temannya yang sejak tadi hanya menjadi penonton. Terbukti, sekarang Bantit dan Baduk ikut merangsek dengan senjata sama yang di kebut-kebutkan di udara. Kawur Apuk sedikit terkejut ketika lawannya meluruk dari tiga jurusan. Hatinya memang tidak gentar menghadapi para pengeroyoknya. Tapi setidaknya, seluruh kepekaannya harus dikerahkan. Dan itu tentu saja butuh pengamatan cermat.

Dengan mengandalkan sebatang pedang yang terhunus di depan dada, Kawur Apuk segera mengerahkan jurus 'Gangsing Merenggut Nyawa'. Tubuhnya seketika berputar cepat. Maka, sebatang pedang yang berada di depannya ikut berputar. Begitu cepatnya, hingga tubuh dan pedangnya tak nampak jelas. Hanya kelebat bayangannya saja yang berputar, mengeluarkan deru angin keras.

Trak! Trak! Trak!

Tiga batang senjata yang berada di tangan Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati yang ditebaskan ke tubuh, membentur pedang Kawur Apuk yang berputar hebat. Benturan senjata dari logam keras itu sanggup melempar tubuh para pemiliknya masing-masing. Pekik tertahan pun menyemaraki terpentalnya keempat sosok tubuh yang bertarung sengit.

Kawur Apuk yang mendapat tekanan dari ketiga lawan yang rata-rata berkepandaian tinggi, tentu saja tak dapat menahan gempuran tenaga dalam lawan yang dikerahkan secara bersamaan. Tubuhnya terlempar lebih jauh daripada lawan-lawannya. Bukan itu saja. Kawur Apuk seketika merasakan dadanya sesak bukan kepalang. Dia tahu, dirinya telah terluka dalam. Dan itu dibuktikan dengan tetesan cairan merah dari sela-sela bibirnya.

"Kurang ajar!" geram Kawur Apuk tertahan.

Dia ingin bangkit menerjang, namun tenaganya sudah tak mampu lagi menyokong tubuhnya. Kawur Apuk kembali terjerembab tak berdaya.

Pada jarak beberapa tombak nampak Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati sudah bangkit berdiri. Mereka menghunus senjata berbentuk aneh yang sudah siap disarangkan ke tubuh lawan.

"Heh! Sekarang kau akan mampus, Kawur Apuk!" bentak Basil keras.

"Ya! Kita habisi saja sekarang!" timpal Bantit, tak kalah geram. Tubuhnya seketika melayang mendahului Ketua Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati.

Kawur Apuk yang masih terkulai di tanah berkerikil, terkesiap melihat kedatangan serangan Bantit. Namun, nalurinya menyarankan agar segera menghindari serangan sebisanya. Dan memang, dengan sisa tenaga dicobanya untuk mengelak terjangan senjata aneh lawannya.

"Hiaaat...!" Bettt! Bettt! "Uts!"

Seorang dari Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati yang bernama Bantit kaget menyaksikan Kawur Apuk mampu mengelakkan serangannya. Padahal di yakini kalau serangannya akan mengenai sasaran.

Basil dan Baduk yang menyaksikan serangan Bantit berhasil digagalkan lawan, segera saja merangsek bersamaan.

"Hiaaa...!"

"Hia...!"

Dengan kecepatan penuh, Basil dan Baduk menerjang tubuh Kawur Apuk yang tak berdaya. Senjata mereka terayun dengan kekuatan tenaga penuh.

Crak! "Aaakh...!"

Kawur Apuk memekik ketika senjata yang diayun Baduk menerpa pahanya. Darah segar kontan mengalir deras dari pahanya yang kini menganga lebar. Kawur Apuk kini hanya mampu membelalakkan mata dan menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit yang teramat sangat. Rasa sakitnya berusaha dikurangi dengan menggigit bibirnya kuat-kuat. 

Namun begitu, kenyataannya Kawur Apuk kini tak lagi merasakan sakit yang teramat sangat, ketika senjata Basil yang ditebaskan ke arah leher telah mampu memisahkan nyawa dari raganya. Kepala Kawur Apuk langsung terpental tanpa menimbulkan suara erangan sedikit pun.

"Ha ha ha...!" Basil tertawa terbahak-bahak menyaksikan tubuh lawannya yang kini tanpa kepala.

Seiring lenyapnya tawa Ketua Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati, dua sosok tubuh berkelebat dari balik pohon besar. Mereka tak lain adalah abdi setia Talunjak Pituk Lubar dan Katilan.

"Kalian telah menyelesaikan tugas dengan baik," puji Pituk Lubar tanpa sungkan-sungkan.

"Ya! Kalian begitu tangguh dan pantas menyandang julukan Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati," timpal Katilan.

Karuan saja pujian itu membuat wajah tiga lelaki yang berjuluk Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati bersemu bangga.

"Hm.... Rupanya kalian baru tahu dengan kehebatan Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati!" ucap Basil pongah.

"Sudah lama sekali aku tahu. Tapi, baru sekarang menyaksikan secara langsung," tukas Pituk Lubar membanggakan.

"Ah ya, Pituk Lubar. Sebentar lagi, matahari terbit. Kita harus segera meninggalkan tempat ini dan melaporkan keberhasilan Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati dalam menyingkirkan Kawur Apuk pada Kakak Talunjak," ingat Katilan.

"Betul! Sebaiknya kita lekas-lekas angkat kaki dari bukit ini," timpal Bantit.

Sejenak lima pasang mata saling berpandangan satu sama lain. Sejurus kemudian, manakala sepasang kaki masing-masing menjejak kuat di tanah berkerikil, semuanya berkelebat cepat meninggalkan sosok tubuh berpakaian kuning bergaris hitam yang tergeletak tanpa nyawa dan tanpa kepala. Sementara, sinar matahari mulai muncul menyirami maya pada. Dan kicau burung mulai terdengar bersahut-sahutan. Kelima sosok tubuh yang berkomplot membunuh Kawur Apuk kini sudah pergi menuju rumah kepala desa.

***

"Ha ha ha...!" Talunjak tertawa keras mendengar laporan Pituk Lubar. Tubuhnya yang padat berisi, berguncang-guncang hebat. "Kalian bertiga memang pantas menyandang julukan itu! Ha ha ha.... Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati ternyata bukan sebuah julukan kosong."

"Tentu saja, Ki Talunjak," putus Basil dengan dada dibusungkan. "Anak muda semacam Kawur Apuk sebetulnya bukan tandingan kami. Ilmu silatnya ternyata masih dangkal. Itulah karenanya, sebelum matahari terbit, kami berhasil mengirim mayatnya ke neraka. Ha ha ha.... Jangankan hanya seorang Kawur Apuk. Tokoh-tokoh sakti golongan putih yang lain pun, sudah banyak yang mampus dengan leher putus terbabat senjata kesayanganku ini."

Basil segera memamerkan senjatanya yang berbentuk aneh. Darah mengering masih nampak di ujung senjata yang begitu pipih.

"Kalian memang hebat! Jadi, pantaslah menerima imbalan yang memuaskan. Kalian bersedia menjadi kepala keamanan di desa ini? Kalian juga bisa menagih pungutan pada penduduk, dan mempunyai wewenang untuk menghajar penduduk yang tak mau membayar pungutan itu. Dan, jika penduduk desa ini membandel, kalian berhak menyita harta mereka. Dan harta-harta itu akan kita kumpulkan semuanya di sini! Ha ha ha...!"

Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati ikut terbahak-bahak. Begitu juga Pituk Lubar dan Katilan. Hanya Jamimi, istri Talunjak, yang tersenyum-senyum saja.

"Kapan kami bertiga harus melaksanakan pungutan itu, Ki Talunjak?" tanya Basil setelah tawa masing-masing reda.

"Kalian sudah tak sabar rupanya?" ledek Kepala Desa Wargidami.

Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati tersenyum mendengar gurauan Talunjak.

"Mulai besok, kalian dapat menarik pungutanpungutan yang selama ini menunggak!" putus Talunjak dengan senyum simpul tergambar di wajahnya.

Talunjak rupanya cukup puas terhadap orangorang sewaannya. Dia puas, karena sebentar lagi penduduk Desa Wargidami betul-betul menjadi patuh pada perintah dan keinginannya. Tidak seperti ketika Kawur Apuk masih hidup dan membela mereka.

"Kami, Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati, akan melaksanakan tugas itu besok pagi, Ki Talunjak. Pagi-pagi sekali."

***
EMPAT
Malam yang tanpa ditemani rembulan, berjalan begitu mengerikan. Suasana Desa Kapuratu nampak begitu lengang. Padahal, matahari belum begitu lama terbenam ke peraduannya. Akan tetapi, kenapa pintu rumah penduduk semuanya sudah terkunci rapat? Adakah sesuatu yang telah terjadi di desa ini?

Malam yang lengang, kini diisi derap kaki kuda yang semakin lama terdengar semakin jelas. Dan jika ditilik dari suaranya yang bergemuruh, itu berarti bukan hanya seekor kuda saja yang memasuki Desa Kapuratu.

Selang beberapa lama, nampak segerombolan orang berkuda terlihat berhenti di depan sebuah bangunan yang cukup megah. Seekor kuda hitam pekat yang berada paling depan seketika merendahkan tubuhnya. Kuda itu seolah sudah mengerti kalau majikannya yang bertubuh kerdil ingin turun.

Lelaki yang tingginya tidak lebih dari setengah batang tombak itu seketika menjejakkan kakinya tanah. Tatapannya yang jalang menyebar ke seluruh sudut Desa Kapuratu. Di belakangnya, nampak puluhan lelaki bertampang angker yang masih duduk punggung kuda. Mereka rata-rata bersenjatakan sebatang tombak berwarna merah.

"Kalian semuanya menyebar! Jangan bergerak maju sebelum ada perintah dariku!" ujar lelaki pendek berpakaian hijau terang dengan sending warna hitam terselip di pinggang.

Puluhan lelaki yang masih duduk di punggung kuda masing-masing seketika berpencar keempat arah. Suara derap kaki kuda yang menderu kembali mengisi kelengangan malam.

"Nyalakan obor-obor kalian!"

Suara menggelegar yang keluar dari mulut lelaki kerdil itu bergema keras. Dan tentu saja suara itu di kerahkan melalui pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Lempar obor-obor itu, cepat!"

Seketika obor-obor itu dilemparkan ke arah atap-atap rumah penduduk yang hanya terbuat dari rumbia. Maka dalam sekejap saja, api telah membakar dan menyebar ke tiap-tiap sudut rumah. Sebentar Saja, penduduk yang baru saja hendak berangkat tidur, menjadi kalang-kabut. Mereka berteriak-teriak ketakutan, melihat rumahnya terbakar.

"Ha ha ha...!"

Lelaki bertubuh kerdil itu tertawa lepas menyaksikan penduduk Desa Kapuratu berlarian lintangpukang. Rasa takut dan cemas akan keselamatan, membuat penduduk Desa Kapuratu berlarian tak tentu arah. Namun rupanya, laki-laki kerdil yang bernama Jenggol itu mengambil tindakan yang keji. Kapak kecil bergagang panjang yang tergantung di pinggang lakilaki berjuluk Setan Kerdil Seruling Maut itu seketika tercabut. Dengan gerakan begitu cepat, kapak yang berada di tangannya diayun-ayunkan ke arah penduduk yang lari ketakutan.

"Aaakh...!"

"Aaa...!"

Jerit kematian yang memilukan seketika mengisi kebisingan malam, akibat jeritan penduduk yang rumahnya terlalap api. Itu pun masih ditambah jerit kematian penduduk yang terbabat kapak si Setan Kerdil Sending Maut.

Bukan itu saja. Puluhan lelaki anak buah Setan Kerdil Sending Maut juga bertindak sama. Akibatnya, puluhan penduduk makin banyak yang berjatuhan. Tubuh-tubuh mereka terkulai di tanah dengan darah mengucur deras dari bagian tubuh yang terkoyak akibat terhantam senjata anak buah lelaki bertubuh kerdil.

Akan tetapi kejadian itu tidak berlangsung lama. Pada saat berikutnya, terdengar bentakan menggelegar yang membuat perbuatan keji Jenggol dan anak buahnya terhenti.

Jenggol yang mendapatkan keusilan itu tentu saja marah besar. Hatinya langsung terbakar api kemarahan.

"Kurang ajar!" hardik Setan Kerdil Sending Maut. "Siapa yang berani menghalangi pekerjaanku, akan kuhancurkan batok kepalanya. Keluarlah...!"

Tiba-tiba sesosok bayangan putih berkelebat di hadapan lelaki bertubuh kerdil yang mengaku berjuluk Setan Kerdil Sending Maut itu. Sebegitu cepatnya, tahu-tahu saja telah mendarat manis satu setengah batang tombak di hadapan Setan Kerdil Sending Maut.

"Aku yang akan menghalangi perbuatan kejimu, Tikus Comberan! Aku paling tak suka melihat perbuatan pengecut!"

"Hm...," gumam Setan Kerdil Sending Maut, meskipun hatinya panas mendengar dirinya dihina sebagai tikus comberan. "Lancang sekali mulutmu, Tua Bangka!"

"Kelancangan ini semata-mata bukan kemauanku, Kakek Kerdil. Tetapi, karena ulahmulah yang mengundangku untuk berbuat lancang seperti ini!" sangkal lelaki berusia sekitar setengah abad lebih. Jenggotnya putih dengan rambut digelung ke atas. Telunjuknya tampak menuding lelaki kerdil di hadapannya.

"Mahisa Ireng! Rasa-rasanya kita tak pernah punya urusan. Maka, kuharap kau segera angkat kaki dari tempat ini. Dan jangan coba-coba berurusan denganku!" ancam lelaki bertubuh kerdil itu.

"Kau kenal denganku, berarti harus tahu pula tabiat ku, Jenggol!" balas lelaki berpakaian putih yang ternyata bernama Mahisa Ireng.

"Aku paling tidak suka bila pekerjaanku diganggu orang lain, Mahisa Ireng! Dan aku tak segansegan bertindak kejam pada orang-orang yang usilan macam kau!"

Mahisa Ireng tersenyum mendengar ucapan Jenggol yang berjuluk Setan Kerdil Sending Maut. Namun, senyumnya seketika lenyap seiring berhamburannya anak buah lelaki kerdil itu. Matanya langsung melirik ke arah orang-orang berwajah kasar yang mengurungnya itu.

"Sejak dulu, di sinilah letak perbedaan antara orang-orang persilatan golongan hitam dengan golongan putih. Orang-orang golongan hitam rata-rata menonjolkan kepengecutannya. Tidak jantan dan suka main keroyok" ledek Mahisa Ireng ketus. "Tapi orangorang golongan putih, tak pernah gentar menghadapi keroyokan yang bagaimanapun banyaknya!"

"Kurang ajar! Bacot bau mu mesti dibungkam, Mahisa Ireng!" maki Jenggol berang. "Serang...!"

Empat lelaki berwajah kasar yang sejak tadi menghunus sebatang tombak berwarna merah sekejap mata merangsek maju. Tombak mereka berkelebat cepat, berdesing, menukik ke arah bagian-bagian tubuh Mahisa Ireng yang mematikan.

Namun, perbuatan empat lelaki pengecut itu bukanlah apa-apa bagi Mahisa Ireng yang tetap berdiri tenang Sekali lihat saja bisa diketahui, mana senjata yang datang lebih dahulu mengancam dirinya.

Plak! Plak!

Dua orang penyerang terdahulu yang mengarahkan senjatanya ke bagian leher dan perut Mahisa Ireng kontan terjengkang pada arah yang berlawanan. Dari mulut mereka, keluar pekikan tertahan. Ini merupakan pertanda kalau tenaga dalam orang yang diserang jauh lebih tinggi!

Belum sempat Mahisa Ireng menarik pulang tangannya yang digunakan untuk menangkis, tiba-tiba terasa angin berkesiur dari arah belakang.

"Pembokong pengecut!" maki Mahisa Ireng. Sekilas matanya melirik ke belakang, dibarengi tendangan menyamping ke belakang.

"Akh!"

Seorang penyerang yang membokong seketika terpekik. Tubuhnya terpelanting keras ke kanan, terhajar tendangan Mahisa Ireng.

Sing...! Sing...!

Dua batang tombak yang dilempar disertai pengerahan tenaga dalam tinggi, dilakukan dua anak  buah Setan Kerdil Sending Maut. Tombak-tombak itu meluncur deras ke arah tubuh Mahisa Ireng yang peka. Sedangkan Mahisa Ireng nampaknya agak sedikit terkejut. Padahal, dirinya tengah diserang dari samping kiri dan kanan.

Dengan cepat, Mahisa Ireng memutar otaknya. Maka segera dijambaknya tubuh penyerang yang berada di sebelah kanan.

Tubuh lelaki berwajah kasar anak buah Setan Kerdil Sending Maut itu dicekal Mahisa Ireng begitu kuat. Dan manakala dua batang tombak yang meluncur deras sedikit lagi mengenai sasaran, Mahisa Ireng segera mengangkat tubuh lelaki berwajah kasar itu.

Crab! Crab! "Akh!"

Dua batang tombak yang meluncur deras, kontan memanggang tubuh anak buah Setan Kerdil Sending Maut yang dijadikan tameng oleh Mahisa Ireng. Bukan itu saja. Dengan kecepatan gerak yang cukup mengagumkan, Mahisa Ireng mencabut dua batang tombak yang memanggang tubuh lelaki yang sudah  tak bernyawa. Dan dengan kecepatan luar biasa, kedua tombak itu dilemparkan ke arah dua orang musuhnya yang merangsek maju. Akibatnya....

"Akh!"

"Aaa!"

Dua tubuh anak buah Setan Kerdil Sending Maut kembali terpanggang tombak miliknya sendiri. Pekik kematian seketika terdengar menyayat.

"Kurang ajar!" geram si Setan Kerdil Sending Maut Matanya terbelalak lebar menyaksikan tiga anak buahnya yang hanya segebrakan saja sudah jadi mayat. "Kalian semua, minggir!"

***

Sambil menggeram hebat, Jenggol menyuruh anak buah kelas duanya menyingkir. Tangannya yang berbentuk tidak sempurna pun dikibaskan ke kanan dan kiri. Maka anak buahnya yang mengerti isyarat itu segera menepi dari arena pertarungan. Sebentar Jenggol mendengus-dengus, namun sebentar kemudian mulutnya sudah berteriak lantang.

"Teragi! Lungkais! Wancur! Serang kakek tak tahu diri itu!"

Tanpa membantah lagi, murid utama Setan Kerdil Sending Maut langsung merangsek maju. Senjata mereka yang berupa dua batang tombak berukuran pendek, ditusukkan ke bagian tubuh lawan yang me matikan.

Semula, Mahisa Ireng masih mampu menandingi serangan bergelombang yang dilancarkan muridmurid utama Setan Kerdil Sending Maut, tanpa hams mengeluarkan jurus-jurus pamungkasnya. Namun ketika menyadari betapa berbahayanya serangan lawanlawannya, maka jurus-jurus ampuh segera dikeluarkannya.

"Hiaaa...!"

Pukulan lurus Mahisa Ireng yang dilancarkan ke bagian dada salah seorang anak buah Jenggol, berkelebat begitu cepat Namun bukan main, terkejutnya Mahisa Ireng ketika serangannya berhasil dikandaskan begitu saja. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, orang yang ditujunya tahu-tahu sudah lenyap dari hadapannya.

"Ilmu setan," gumam Mahisa Ireng.

Urat-urat syaraf Mahisa Ireng seketika menegang. Jelas, dia tengah meningkatkan kewaspadaan tinggi.

Srat!

Mahisa Ireng segera meloloskan pedang dari warangkanya. Sinar kebiru-biruan seketika memendar dari pedang yang tertimpa cahaya api yang masih membakar rumah penduduk yang belum sempat dipadamkan.

Begitu pedang bersinar kebiruan keluar, dua anak buah Setan Kerdil Sending Maut menyergap tubuh Mahisa Ireng dengan sepasang tombak pendek

Trang! Trang!

Percikan bunga api berpentalan ketika pedang Mahisa Ireng berhasil menggagalkan tusukan dua batang tombak yang terarah ke lambung dan tulang iganya.

"Akh!"

Ketiga orang yang masing-masing membenturkan senjata terdengar memekik tertahan. Tubuh mereka juga kelihatan terhuyung beberapa langkah.

Dan pada kesempatan itulah Jenggol mencabut seruling maut dari pinggangnya, lalu seketika diselipkan di antara kedua bibirnya yang berbentuk lebar. Ketiga anak buah Jenggol yang berada di dekat Mahisa Ireng seketika bergerak cepat ke arah pimpinannya. Begitu cepat gerakan mereka, hingga sekejap mata sudah berdiri di belakang Jenggol.

Mahisa Ireng merasa aneh menyaksikan tingkah laku anak buah Setan Kerdil Seruling Maut. Setahunya, laki-laki kerdil itu tak menyuruh anak buahnya bergerak mundur.

Belum lepas Mahisa Ireng dari perasaan anehnya, Jenggol telah menggerakkan bibirnya yang lebar dan tebal.

"Ngiiingngng...!"

Mahisa Ireng yang belum menutup pendengarannya merasakan bunyi itu begitu menyiksa. Namun ketika mencoba mengimbangi dengan mengerahkan tenaga dalamnya, bunyi bising itu seketika mengendur. Setan Kerdil Seruling Maut yang melihat Mahisa Ireng tengah memusatkan pikiran untuk menangkal bunyi bising ciptaannya, kembali menggerakkan bibirnya yang tebal  dan  lebar.  Maka seketika  itu   juga....

Werrr. !

Puluhan jarum berwarna hijau tampak meluncur keras dari ujung seruling yang ditiup Jenggol dengan kekuatan tenaga dalam penuh. Puluhan jarum beracun mematikan itu terus meluruk cepat, mencecar tubuh Mahisa Ireng.

Merasakan adanya hawa dingin dan arah depan, Mahisa Ireng sudah dapat menduga kalau lawannya tengah melancarkan serangan gelap yang mengandung racun ganas. Maka begitu merasakan hawa dingin, secepat itu pula pedangnya yang bersinar kebiruan diputar-putar. Putarannya begitu cepat hingga yang nampak hanya sinar keperakan yang berpadu sinar biru bergulung-gulung mengurung permukaan tubuh Mahisa Ireng.

Trak! Trak!

Puluhan jarum beracun yang dilancarkan Jenggol ke tubuh Mahisa Ireng seketika berpentalan tersapu putaran pedang yang begitu cepat. Namun, kiranya Setan Kerdil Seruling Maut tak kehabisan akal untuk cepat menjatuhkan lawan. Sekali lagi bibir tebalnya bergerak, puluhan jarum beracun kembali meluruk cepat.

Pada saat Mahisa Ireng sibuk memutar-mutar pedangnya, Jenggol dengan kekuatan tenaga dalam penuh menjejakkan kakinya ke tanah. Tubuhnya yang kerdil seketika meluncur ke arah Mahisa Ireng yang tengah di sibuki oleh puluhan jarum beracun. Begitu manis gerakannya. Sambil berputaran dua kali di udara, Jenggol melewati kepala Mahisa Ireng.

Ketika Setan Kerdil Seruling Maut menjejak tanah! seketika itu pula kapak kecil bergagang panjang yang entah kapan tercabut, tahu-tahu sudah di kibaskannya ke bagian tubuh Mahisa Ireng.

Crak! "Akh...!"

Mahisa Ireng kontan memekik tertahan ketika punggungnya terhantam benda tajam dari belakang. Darah seketika mengucur dari bagian tubuhnya yang terluka. Rasa nyeri yang teramat sangat seketika rasa. Mahisa Ireng hampir saja terjerembab kalau tak lekas memusatkan pikiran dan melakukan lentingan cepat ke depan, setelah berhasil meruntuhkan puluhan jarum beracun Setan Kerdil Seruling Maut.

"Licik kau, Jenggol!" geram Mahisa Ireng setelah berhasil menguasai dirinya, meski sempat oleng ketika menjejakkan kaki ke tanah.

"Ha ha ha. Mahisa Ireng, Mahisa Ireng. Sudah

sejak awal kusarankan agar tak mencari urusan denganku. Tapi, tetap saja bandel. Kau harus belajar lagi untuk dapat mengalahkan Setan Kerdil Seruling Maut, Mahisa Ireng! Belajarlah di kuburan sana! Hiaaa. !!

***
LIMA
Jenggol yang dikenal berjuluk Setan Kerdil Seruling Maut kembali menjejakkan kaki kuat-kuat. Tubuhnya yang tingginya tak lebih dari setengah batang tombak kembali melayang di udara. Sementara, tangannya yang berbentuk tidak sempurna terayun dengan kapak tergenggam erat.

Wrrr...!

Seperti ada dorongan angin puyuh dari arah depan, tubuh Jenggol yang tengah berada di udara tiba-tiba terpental balik ke belakang. Angin bergulung ketika mengejar tubuh Setan Kerdil Seruling Maut yang nampak terjajar ke belakang. Namun belum sempat angin yang bergulung dahsyat itu menggulung, si Setan Kerdil Seruling Maut telah lebih dahulu melempar tubuhnya ke kanan. Tubuh kerdil itu seketika bergulingan cepat di tanah. Lalu sekejap mata tubuhnya sudah melenting dan berputaran indah dua kali.

"Hip!"

Setan Kerdil Seruling Maut mendarat manis. Matanya nampak terbelalak lebar ke arah seorang pemuda yang tahu-tahu sudah berdiri di dekat Mahisa Ireng. Usianya begitu belia, dengan pakaian serba kuning keemasan.

"Nghmmm...!"

Jenggol menggeram keras. Matanya berkilatkilat menandakan kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun.

"Hm.... Rupanya kau, Raja Petir?! Sungguh tak kusangka kalau orang yang terkenal dalam dunia persilatan mau melakukan hal seperti barusan itu. Sebagai pendekar yang mengaku dari golongan putih, seharusnya tidak menyerangku yang dalam keadaan seperti tadi! Serangan gelap mu sudah cukup membuktikan kecurangan dan kelicikanmu, Raja Edan!" maki Jenggol seenaknya. "Dan ternyata, kau juga seorang pendekar usilan!"

Pemuda berpakaian kuning keemasan yang ternyata Jaka Sembada mengembangkan senyumnya mendengar ucapan lelaki bertubuh tak lebih dari setengah batang tombak itu.

"Rupanya kau mengenalku, Kisanak," kilah Jaka sopan.

"Jangan sombong kau!" dengus Setan Kerdil Seruling Maut kesal. "Biar bagaimanapun santernya julukan dan kehebatanmu, tapi aku si Setan Kerdil Seruling Maut tak gentar!"

"Maaf, Kisanak. Sebetulnya aku tak berminat tarung denganmu. Tindakanku barusan hanya ingin membebaskan bapak ini dari renggutan kematian, kilah Jaka sambil menunjuk ke arah Mahisa Ireng.

"Bocah sombong! Tindakanmu barusan, bukankah sama saja mengajakku bertarung?"

"Tidak juga, Kisanak. Kalau saja kau mau menurunkan kesabaran, kemungkinan pertarungan itu terjadi adalah hal yang mustahil," bantah Jaka tetap tenang.

"Setan belang! Serang anak muda sombong itu!" 

Tiga murid utama Jenggol yang bernama Teragi, Lungkais, dan Wancur meluruk maju ke arah Raja Petir yang tetap berdiri pada tempatnya. Mereka langsung menusukkan tombak ke arah Jaka.

"Hih!"

Sepasang tombak pendek yang dihunjamkan ke ulu hati Jaka seketika terpental balik. Dengan kecepatan dan kekuatan penuh, tangan kanan Raja Petir menyampok tombak lain yang terarah dengan keras. Seorang anak buah Jenggol yang mencoba menikam, seketika terpental, begitu tombaknya disampok Raja Petir.

Trak! Trak!

Kembali serangan sepasang tombak anak buah Jenggol berhasil dimentahkan Jaka. Sama halnya yang di alami penyerang sebelumnya, lelaki berwajah kasar itu pun terpental setelah terlebih dahulu memekik keras.

"Kurang ajar!"

Melihat hal ini, Setan Kerdil Sending Maut segera melesat untuk turut membantu serangan anak buahnya. Kapak kecil bergagang panjang yang tergenggam kuat diayun-ayunkan, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Suara menderu mengiringi tibanya tebasan-tebasan yang demikian sengit.

"Mampus kau, Bocah!" 

"Ups!"

Jaka memiringkan sedikit tubuhnya, ketika kapak kecil bergagang panjang milik Jenggol terayun mengarah ke lambungnya. Sekilas, gerakan yang dilakukan Raja Petir sembarangan dan seperti tanpa perhitungan. Tapi, siapa yang dapat menyangka kalau tarikan badan Jaka yang dibarengi sodokan mantap, tiba-tiba melayang ke arah dada Jenggol yang terbuka lebar.

"Hah?!"

Setan Kerdil Seruling Maut terkejut menyaksikan serangan yang begitu mendadak. Dia ingin mengelak, tetapi hal yang demikian itu dirasakannya akan sia-sia belaka. Maka dengan mengalirkan seluruh kekuatan pada pergelangan tangannya, Jenggol mencoba memapak.

Plak! "Akh!"

Jenggol memekik tertahan. Tubuhnya langsung terhuyung beberapa langkah ke samping.

Sementara Jaka yang juga merasakan tenaga dalam lawan cukup kuat pada kepalan tangannya, jadi terjajar satu langkah. Dan itu menandakan kalau tenaga dalamnya lebih unggul daripada si Setan Kerdil Seruling Maut

"Tak percuma namamu disebut-sebut orang, Raja Petir. Kukira, kehebatanmu yang dibicarakan hanya sebuah bualan belaka. Tapi nyatanya, kau memang sedikit punya kebolehan," kata Setan Kerdil Seruling Maut, seperti memanasi.

Jaka yang memang murah senyum, kembali tersenyum.

"Terserah apa katamu, Kisanak," timpal Jaka. "Tapi, aku tak yakin kalau kau mampu menga-

lahkan seruling maut ku ini, Raja Petir. Kusarankan berhati-hatilah!" gertak Setan Kerdil Seruling Maut

Seketika itu, Jenggol menarik mundur kakinya. Serulingnya yang berada di tangan, segera ditempelkan pada sepasang bibirnya yang lebar dan tebal.

"Hati-hati, Raja Petir," saran Mahisa Ireng khawatir. "Orang kerdil itu sangat licik"

"Akan kuperhatikan saran mu, Kisanak," jawab Jaka tanpa menoleh.

Mata Raja Petir menatap tajam, memperhatikan, gerakan lucu yang dilakukan lelaki kerdil berjulukan Setan Kerdil Seruling Maut. Dari gerakannya yang hendak meniup seruling warna hijau, dapat dipastikan kalau lelaki kerdil itu akan menciptakan kebisingan melalui serulingnya. Karenanya, sebelum bunyi itu tercipta, Jaka telah terlebih dahulu menyumbat jalan pendengarannya.

Dua kali bibir Setan Kerdil Seruling Maut bergerak Namun tak terlihat kalau lawannya yang jauh lebih muda terpengaruh oleh senjata yang selama ini menjadi andalannya. Setan Kerdil Seruling Maut nampak heran menyaksikan Jaka yang seperti tidak bertindak apa-apa.

Raja Petir memang sengaja mengatur pengerahan tenaga dalamnya. Tak heran bila lawannya tak melihat kalau sesungguhnya dia telah bertindak untuk melawan pengaruh bising dari seruling yang ditiup melalui pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Pantas saja julukannya Raja Petir. Tenaga dalamnya begitu tinggi," gumam Setan Kerdil Seruling Maut.

Tubuh Jenggol yang tingginya tak lebih dari setengah batang tombak, seketika melejit cepat. Tangan kirinya yang menggenggam kapak kecil bergagang panjang, menyabet-nyabet mengancam pertahanan lawan.

"Hiaaa...!" Bet!

Jaka cepat merundukkan kepalanya, menghindari kelebatan kapak kecil yang demikian cepat disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

Namun tanpa disangka-sangka, gerakan lelaki kerdil berpakaian hijau terang itu ternyata hanya sebuah tipuan belaka. Buktinya sebuah sambaran kaki yang mendadak dilepaskan hampir saja menghantam dada Jaka.

"Uts!"

Dengan kecepatan penuh, Raja Petir melempar tubuhnya ke samping kanan dan bergulingan di tanah beberapa kali.

Dan mendapat kesempatan baik itu, Setan Kerdil Seruling Maut kembali menghentakkan nafasnya ke mulut seruling. Maka....

Wrrr. !

Puluhan jarum beracun seketika meluruk deras ke arah tubuh Jaka yang tengah bergulingan. Hawa dingin yang menyertai datangnya senjata beracun itu membuat Raja Petir cepat-cepat melenting. Kemudian, kakinya mendarat seraya melepaskan jurus 'Pukulan Pengacau Arah'. Wusss...!

Angin keras bergulung seketika keluar dari telapak tangan Jaka yang terbuka. Angin bagai topan itu terus meluruk cepat, menghadang kedatangan puluhan jarum beracun yang dikirim Setan Kerdil Seruling Maut.

Kras!

Puluhan jarum beracun yang dilepaskan Jenggol seketika berhamburan ke berbagai arah terhantam angin ciptaan Raja Petir. Nampak Mahisa Ireng dan beberapa anak buah Jenggol sibuk menghindari terjangan jarum-jarum beracun yang nyasar ke arah mereka.

Rupanya, Setan Kerdil Seruling Maut pun mengalami hal yang sama. Beberapa jarum beracun miliknya yang terpental balik, mengancam tubuhnya sendiri. Akibatnya kapak kecil yang bergagang panjang harus diputar-putar. Angin menderu keluar dari kapak yang diputar dengan cepat.

Trak! Trak!

Sisa jarum beracun milik Setan Kerdil Seruling Maut yang terpental balik, seketika juga dapat dilumpuhkan. Namun, tak urung hari tokoh sesat itu sendiri sedikit ciut.

"Kau memang hebat, Raja Petir!" puji Setan Kerdil Seruling Maut sambil mengatur nafasnya yang memburu. "Kali ini, aku belum bisa menandingi mu. Tapi suatu saat nanti, Setan Kerdil Seruling Maut akan datang lagi untuk menuntut balas atas keusilan mu mencampuri urusan orang lain!"

Selesai berkata demikian, lelaki kerdil berjuluk Setan Kerdil Seruling Maut itu melesat pergi diikuti sisa anak buahnya.

Sejurus lamanya Raja Petir menatap kepergian lelaki kerdil itu. Namun sejurus kemudian, kakinya telah bergerak menghampiri lelaki setengah baya berpakaian putih yang bernama Mahisa Ireng.

"Lukamu perlu mendapatkan pertolongan secepatnya, Kisanak," ujar Jaka sopan.

"Terima kasih atas bantuanmu, Raja Petir," balas lelaki berpakaian putih. "Panggil aku Mahisa Ireng." 

"Namaku Jaka Sembada, Ki Mahisa Ireng. Tapi lebih sering dipanggil Jaka saja," sahut Jaka memenuhi permintaan Mahisa Ireng.

Lelaki berusia setengah baya itu tersenyum menyaksikan tata krama Raja Petir yang tersohor itu. Dalam hari, dia bersyukur dapat dipertemukan dengan sosok yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan kalangan rimba persilatan.

"Sebentar aku membantu memadamkan api dulu, Ki Mahisa," pamit Jaka.

Seketika itu juga, Raja Petir berbaur dengan penduduk Desa Kapuratu untuk memadamkan sisasisa api yang masih menjilati sebagian rumah di desa itu.

***

"Belum terlepas kami dari cengkeraman maut yang begitu mengerikan, lelaki kerdil itu kembali mempertontonkan kebiasaannya setiap pertengahan tahun," tutur seorang lelaki berusia sekitar empat puluh lima tahun. Dia duduk bersama Jaka dan Mahisa Ireng di pendopo rumah yang tak sempat terjamah lidah api.

"Jadi Ki Baruwaseta kenal dengan lelaki kerdil berpakaian hijau terang itu?" selidik Jaka.

"Setahun sekali, lelaki kerdil berjuluk Setan Kerdil Seruling Maut itu merampok kampung ini. Tapi, baru kali ini mereka bertindak di luar perkiraan. Kami tak mengira sama sekali dengan tindakannya yang membumihanguskan desa ini. Apakah mungkin ini tindakannya yang terakhir! 

Karena mereka telah melihat kalau tak ada lagi harta benda berharga yang patut dirampas dari desa ini, lalu melakukan pembantaian keji? Tapi, untungnya ada...," Ki Baruwaseta menatap lekat wajah Mahisa Ireng, penuh permintaan maaf dan rasa terima kasih.

Mahisa Ireng sebetulnya sungkan mendengar ucapan Ki Baruwaseta dia merasa apa yang dilakukannya adalah sebuah kewajiban. Padahal, kewajibannya mencari obat untuk putrinya yang tengah sakit, tak kalah penting! Demi putrinya itulah Mahisa Ireng pergi meninggalkan Perguruan Banteng Sakti pada saat malam hari begini.

"Aku hanya kebetulan lewat saja, Ki Baruwaseta," elak Mahisa Ireng merendah.

Kerendahan diri Mahisa Ireng bukan karena di sampingnya ada Raja Petir. Akan tetapi, memang sudah kebiasaannya. Menurutnya, setiap makhluk di permukaan bumi ini harus saling membantu, agar tercipta sebuah kebersamaan dan rasa saling menghormati satu sama lain.

"Ki Baruwaseta barusan mengatakan, kalau di sini belum lagi terlepas dari cengkeraman maut itu berarti ada orang lain sebelum si Setan Kerdil Seruling Maut yang membuat penduduk desa ini tak tenteram," tebak Jaka kemudian.

"Sosok itu begitu mengiriskan, Raja Petir," jawab Ki Baruwaseta

"Siapa dia, Ki?" tanya Mahisa Ireng ingin tahu! "Dia mengaku berjuluk Dedemit Selaksa Nyawa."

"Dedemit Selaksa Nyawa!?" selak Jaka dan Ma-

hisa Ireng berbarengan. Tatapan mereka tertuju ke wajah Kepala Desa Kapuratu.

"Apakah Dedemit Selaksa Nyawa sudah mendapatkan bayi-bayi di sini?" suara Jaka terdengar begitu penasaran.

"Itulah yang membuat kami semua tercekam, Raja Petir. Setiap pergantian purnama, pada hari ketiga dan hari ketujuh belas, Dedemit Selaksa Nyawa selalu minta seorang bayi untuk diambil hatinya," jelas Ki Baruwaseta, nelangsa.

"Kalian mematuhi permintaan gila itu?" sedak Mahisa Ireng.

"Itu terpaksa kami lakukan, demi menjaga keselamatan yang lain."

Jaka langsung melepaskan tinjunya ke udara. Wajahnya seketika nampak kemerahan, saking menahan kegeraman. Demikian juga Mahisa Ireng. Giginya bergemeretuk sebagai tanda kalau marah besar, atas perbuatan Dedemit Selaksa Nyawa yang betul-betul biadab! "Kesaktian Dedemit Selaksa Nyawa begitu tinggi, dan sifatnya begitu bengis," tambah Ki Baruwaseta.! "Kami semua tak berani menanggung akibat kebengisannya."

Kebisuan sejenak tercipta. Semua orang yang duduk di pendopo rumah besar itu menelan kegeramannya pada jalan pikiran masing-masing.

"Aku harus menghentikan perbuatan keji Dedemit Selaksa Nyawa," tegas Jaka dalam hati.

Meski menurut kabar kesaktian tokoh golongan hitam itu sangat tinggi dan sukar dicari tandingannya, namun bagaimanapun juga manusia itu hanya terdiri dari unsur kekuatan dan kelemahan. Dan walau dalam takaran berbeda, tapi Jaka yakin Dedemit Selaksa Nyawa memiliki kelemahan yang bisa dimanfaatkan.

"Ki Baruwaseta kira-kira tahu ke mana Dedemit Selaksa Nyawa pergi?" tanya Jaka memecah kebisuan di antara mereka.

Ki Baruwaseta menggelengkan kepala sebagai tanda tak tahu ke mana perginya tokoh golongan hitam yang mengiriskan itu.

"Apakah di sekitar sini ada desa lain yang lebih dekat?"

"Ada, Jaka. Namanya Desa Wargidami. Tapi, jaraknya cukup jauh. Kalau ingin ke sana, kau harus melewati hutan dan sungai, serta berhektar-hektar pematang sawah yang tak lagi diurus pemiliknya," jelas Ki Baruwaseta. "Paling tidak, perlu waktu satu hari perjalanan lebih jika ingin ke Desa Wargidami."

"Aku akan berangkat sekarang juga ke Desa Wargidami, Ki," ucap Jaka.

Tubuh Raja Petir begitu cepat bangun dari duduknya. Kemudian seketika melesat cepat, hingga tubuhnya sekejap saja hilang ditelan kegelapan malam.

***
ENAM
"Aaa...!"

Talunjak terpekik ketika senjata aneh di tangan Basil menggores tangannya. Darah seketika mengucur deras dari tangan Kepala Desa Wargidami, yang seketika keheranan mendapatkan tindakan Ketua Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati.

"Basil! Kau tidak sedang bergurau, bukan?!" sentak Talunjak, terdengar bergetar hebat. Jelas ada kemarahan dan rasa ngeri yang membaur jadi satu.

Pituk Lubar dan Katilan yang menyaksikan junjungannya terluka, seketika membelalakkan mata. Mereka tak mengerti, apa maksud Basil dan temannya berbuat seperti itu.

"Ha ha ha...!"

Basil, Pimpinan Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati, terbahak menyaksikan Talunjak dan kedua abdi setianya seperti kerbau dungu.

"Aku tidak sedang bergurau, Talunjak!" sentak Basil, menggelegar. "Kukatakan padamu, bahwa sekaranglah saatnya aku memimpin desa ini. Dan kalian bertiga, akan kami singkirkan sekarang juga! Paham?!" Talunjak mendengus hebat mendengar ucapan

Ketua Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati. Bola matanya berkilat-kilat, tanda kemarahannya telah menggelegak dalam dada.

Sebentar Talunjak menoleh pada Pituk Lubar dan Katilan yang masing-masing telah menghunus senjata. Sebentar kemudian, dia telah nekat menyerang anggota Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati. Dalam hal ini, yang dipilih sebagai lawannya adalah Baduk.

"Hiaaa...!"

Diiringi lengkingan keras, Talunjak mengayunkan senjatanya ke arah lambung Baduk. Tapi, salah seorang anggota Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati itu begitu lihainya dalam mengelak serangan Talunjak Dengan gerakan ringan, kaki kanan Baduk melangkah ke belakang seraya memiringkan tubuhnya.

"Uts!"

Tebasan senjata yang dilancarkan Talunjak membentur tempat kosong. Malahan, tubuhnya ikut terhuyung termakan tenaga yang tak menjumpai sasaran.

Melihat tubuh Talunjak terhuyung-huyung, maka kesempatan itu digunakan Baduk sebaikbaiknya. Langsung tubuhnya melesat dengan kaki lurus ke depan.

"Hiaaa...!" Dugkh!

Bruk!

Tubuh Talunjak tersungkur mencium tanah, ketika sodokan kaki Baduk telak menghajar punggungnya. Kepala Desa Wargidami itu menggeliat sebentar, tanpa berusaha kembali menyerang. Talunjak merasa akan sia-sia saja melampiaskan kemarahannya pada orang yang memiliki ilmu silat lebih tinggi. Untuk itu, Talunjak berpikir untuk melarikan diri dan meminta pertolongan.

Sementara pada pertarungan lain, nampak dua abdi setia Talunjak menjadi bulan-bulanan dua anggota Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati. Mereka sebenarnya memiliki pikiran sama dengan junjungannya. Akan tetapi....

"Habisi saja nyawa monyet-monyet busuk ini!"| perintah Baduk menggelegar.

"Sebaiknya begitu," sambut Basil. "Tak perlu buang-buang waktu dan tenaga percuma."

Mendengar ucapan Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati, bukan kepalang terkejutnya hari Talunjak dan kedua pengikutnya. Namun, karena kekerasan hari, membuat kepala desa itu sekuat tenaga menghentakkan kakinya. Dan dia berusaha lari secepat mungkin, diikuti Pituk Lubar dan Katilan.

Menyaksikan apa yang dilakukan Kepala Desa Wargidami dan kedua pengikutnya, seketika Baduk tertawa menggelegar. Dan setelah tawanya lenyap, Basil dan Bantit segera diperintah untuk mengejar Pituk Lubar dan Katilan.

Mudah saja bagi Basil dan Bantit untuk mengejar dua abdi Talunjak. Apalagi kemampuan ilmu silat mereka jauh berada di atas Pituk Lubar dan Katilan. Maka, dengan mudah dua anggota Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati menghadang mereka. Bahkan langsung menyarangkan senjata ke tubuh Pituk Lubar dan Katilan.

"Hiaaa...!" Bret! Bret! "Aaa...!"

Jerit kematian melengking tinggi seketika terdengar, mengiringi ambruknya tubuh Pituk Lubar dan Katilan dengan punggung masing-masing terbabat senjata yang begitu kuat. Darah kontan mengucur deras dari punggung keduanya.

Tercekat hati Talunjak mendengar lengking kematian dua abdi setianya. Malah larinya kontan terhenti. Kakinya terasa sulit sekali digerakkan. Entah kenapa, badannya terasa begitu lemas. Tubuhnya seketika menggigil, menahan kengerian yang teramat sangat Keringat sebesar butir-butir jagung pun sudah meleleh dari dahi dan dadanya. 

Talunjak memang belum ingin mati. Tapi harapan untuk hidup, rasanya mustahil sekarang ini. Buktinya, Basil sudah melesat ke arahnya dengan senjata teracung ke atas. Dan kini, Basil telah berada di depan Talunjak. Dia melangkah perlahan-lahan menghampiri kepala desa itu dengan senjata siap dilepaskan.

"Kau juga harus mampus seperti kedua abdi setia mu itu, Talunjak!" gertak Basil dengan suara dibuat seseram mungkin.

Tubuh Talunjak semakin terasa gemetar hebat. Bahkan dua kakinya sudah tak lagi mampu menyangga bobot tubuhnya.

Bruk!

Talunjak langsung tersuruk ke tanah. Dua lututnya yang beradu keras dengan tanah, membuatnya meringis menahan sakit

"Jangan bunuh aku, Basil. Kasihanilah aku. Aku masih punya anak dan istri," rintih Talunjak, dengan badan dibungkukkan hampir mencium tanah.

"Ha ha ha...!"

Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati terbahak-bahak mendengar ratapan Kepala Desa Wargidami yang layak anak kecil minta dibelikan mainan. Memang setelah menghabisi nyawa dua abdi setia Talunjak Bantit dan Baduk segera melesat ke tempat Basil berada. Mereka seakan-akan tak rela bila Basil bekerja sendirian.

"Heh! Rupa-rupanya kau masih sayang juga dengan anak dan istrimu, Tua Bangka Culas!" bentak Basil. Kaki kanannya langsung digunakan mencungkil kepala Talunjak agar mendongak

"Ugkh!"

"Istrimu yang cantik itu akan kumiliki, tahu?!" sentak Basil sambil melepas cukilan kakinya pada kepala Talunjak.

Dengan perbuatan Basil barusan itu, karuan saja kepala Talunjak mencium tanah.

Bruk!

Kembali Kepala Desa Wargidami meringis menahan sakit.

"Habisi saja, Basil," usul Bantit tak sabar.

"Ya! Kita memang harus menghabisi nyawa lelaki tua bangka ini," sahut Basil sambil mengayunkan senjata anehnya.

"Jangan, Basil. Jangan bunuh aku. Aku akan melepaskan kedudukanku sebagai kepala desa, kalau itu memang kemauanmu," rengek Talunjak.

"Ha ha ha...!"

Tawa Basil kembali berderai, mendengar ucapan Kepala Desa Wargidami itu.

"Ucapanmu sudah terlambat, Tua Bangka. Mestinya, itu diucapkan saat kami berhasil menyingkirkan Kawur Apuk. Aku jamin umurmu akan tetap panjang," tukas Basil, kini ayunan senjatanya sudah diturunkan.

Ucapan Basil barusan seperti menyengat hati Kepala Desa Wargidami itu. Sungguh tak dikira sama sekali kalau tindakannya menyewa Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati justru berakibat dirinya tersingkir dari jabatan. Bahkan nyawanya terancam melayang.

"Ahhh...!" Talunjak mendesah berat, membayangkan kebodohannya menyewa orang-orang sesat macam Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati itu.

"Berdoalah, Talunjak Sebentar lagi, nyawamu kukirim ke neraka!" kata Basil dengan suara keras.

Kembali Talunjak merasakan tubuhnya bergetar hebat Saat-saat kematiannya di rasakan begitu dekat. Apalagi ketika dengan ekor matanya tangan Basil terlihat bergerak mengangkat senjata.

"Tamatlah riwayatku," ucap Talunjak dalam hati. Dia memang sudah pasrah untuk menjemput maut

"Rasakan ini, Talunjak! Hiaaa...!"

Talunjak memejamkan matanya, tak kuasa melihat senjata Basil yang mulai diayun mengarah ke batang lehernya. Tap! Bugk! "Aaa...!"

Bukan main terkejutnya Talunjak, menyaksikan tubuh Basil terpental deras sejauh dua batang tombak, dan jatuh berderak bagai pohon tumbang. Tapi, keterkejutan Kepala Desa Wargidami itu tak kalah hebatnya saat mendapatkan sosok tinggi besar berpakaian merah menyala telah berdiri di sisi kirinya.

"Bangunlah, Kisanak Lawanmu semuanya akan kukirim ke neraka," dingin ucapan yang keluar dari mulut lelaki bertubuh tinggi besar dan berwajah bengis itu. Suaranya barusan sepertinya keluar dari jarak yang begitu jauh, seperti menggema dari sebuah lembah!"Terima kasih! Kau telah berjasa menyelamatkan nyawaku," ucap Talunjak sambil membungkukkan tubuhnya. "Aku berhutang nyawa padamu, Kisanak"

Lelaki bertubuh tinggi besar terbalut pakaian merah menyala itu tersenyum dingin mendengar ucapan Kepala Desa Wargidami. Kepalanya yang di tolehkan perlahan ke arah Talunjak membuat anting-anting besar yang tersemat di telinga kirinya bergoyang-goyang.

"Urusan hutang nyawa jangan dibicarakan sekarang, Kisanak," ujar lelaki berwajah bengis itu pelan. Setiap kata-kata yang keluar dari mulut lelaki yang sekeliling pinggangnya terdapat pisau-pisau kecil dan pipih itu diucapkan tanpa menggerakkan bibir.

Bantit dan Baduk yang menyaksikan kejadian sebegitu cepat terperangah kaget Sungguh di luar dugaan kalau senjata milik Basil yang sejengkal lagi menebas putus leher Kepala Desa Wargidami, berhasil ditangkap lelaki berwajah bengis berpakaian merah menyala yang tiba-tiba datang itu.

Mereka kini merasa orang yang akan dihadapi merupakan lawan hebat Itu bisa dipastikan dari kecepatan geraknya yang sukar diukur.

Basil yang sudah bangkit dari lemparan tadi jadi mendengus geram. Matanya jalang, menatap lelaki tinggi besar yang telah menyelamatkan Talunjak

"Manusia keparat!" geram Basil sambil melangkah dua tindak.

Lelaki bertubuh tinggi besar itu tersenyum dingin, mendengar ucapan yang keluar dari mulut kasar Basil.

"Kau tak tahu, dengan siapa berhadapan sekarang!" bentak Basil kemudian.

"Tiga Tikus Kudisan Hutan Sulajati," ejek lelaki berwajah bengis itu.

"Kurang ajar! Serang dia!"

Bantit dan Baduk yang mendengar ucapan Basil segera merangsek maju. Senjata mereka yang berupa kapak dan bergagang panjang itu diayunkan sekuat tenaga ke bagian yang mematikan dari tubuh lelaki berpakaian merah.

"Hiaaat..! "Heaaa...!"

Seketika mata Basil dan teman-temannya terbelalak menyaksikan lelaki tinggi besar itu tidak menghiraukan serangan yang dikerahkan disertai tenaga dalam tinggi.

Bret! Bret! Bret!

Basil dan kedua temannya terhenyak menyaksikan tubuh lawan sama sekali tidak bergerak, ketika senjata-senjata itu mendarat telak di bagian tubuhnya yang kini mengucurkan darah segar!

Dan kembali Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati terhenyak, dan langsung serempak melompat mundur. Betapa tidak! Ternyata darah segar yang keluar dari tubuh lelaki berpakaian merah itu begitu menyentuh tanah langsung berubah menjadi manusia! Bahkan rupanya sama dengan rupa lelaki berpakaian merah dengan anting-anting besar bergelantungan di telinga kiri.

"Hahhh...?!"

Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati dan juga Kepala Desa Wargidami kontan terhenyak tak percaya, menyaksikan pemandangan di depannya. Bagaimana mungkin darah segar yang menyentuh tanah dapat terwujud begitu cepat, menjadi seperti wujud pemiliknya? Sebegitu saktikah lelaki tinggi besar berpakaian merah menyala ini? Atau.... Dugaan-dugaan simpang siur mengisi benak mereka.

"Lelaki itu pasti bukan manusia," gumam hati mereka.

"Ha ha ha...!"

Belum terpecahkan tanda tanya di benak mereka, tawa terbahak dari laki-laki tinggi besar itu terlepas kembali. Untungnya, tawa mengiriskan itu tidak dilanjutkan.

"Kalian Tiga Tikus Kudisan Hutan Sulajati tak mengenal siapa aku?! Bodoh sekali! Diletakkan di mana mata dan telinga kalian?"

Suara yang keluar dari mulut yang tak terlihat bergerak itu terdengar menggelegar. Bahkan seperti dipantulkan dari lembah yang berjarak begitu jauh.

Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati merasa kalau lelaki berpakaian merah menyala itu merupakan lawan berat. Itulah sebabnya, mereka bertiga bermaksud langsung menyiapkan jurus-jurus andalan yang dimiliki.

"Supaya kalian tak mati penasaran, akan kuberi tahu julukanku. Akulah yang berjuluk Dedemit Selaksa Nyawa!" suara bergema kembali tergelar dari mulut laki-laki tinggi besar itu.

"Dedemit Selaksa Nyawa...?!"

Merah padam wajah Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati. Tetapi mana sudi mereka menampakkan keterkejutan di hadapan lawan.

"Apa istimewanya julukan murahan mu itu, Kerbau Ompong!" bentak Basil menutup keterkejutannya.

"Ha ha ha.... Sebentar lagi, kau akan merasakan kehebatan julukanku, Tikus Kudisan!" timpal lelaki berpakaian merah menyala yang ternyata berjuluk Dedemit Selaksa Nyawa. "Serang ketiga tikus kudisan itu!"

Begitu mendapat perintah dari Dedemit Selaksa Nyawa, tujuh laki-laki yang tercipta dari tetes-tetes darah itu merangsek maju ke arah Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati yang telah menghunus senjata masing-masing ke depan dada.

Tujuh sosok jelmaan Dedemit Selaksa Nyawa terus bergerak maju sambil menyarangkan pukulanpukulan menderu mengeluarkan hawa dingin yang menusuk tulang.

Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati segera mengerahkan hawa murni untuk mengimbangi pukulan-pukulan tujuh sosok berpakaian merah menyala yang mengiriskan. Memang, hawa dingin yang keluar hampir saja membuat aliran darah Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati tak bekerja!

"Hiat..!"

"Heaaa...!"

"Hiaaat...!"

Kini, Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati segera menyambut serangan tujuh sosok mengiriskan dengan senjata ditebas-tebaskan ke arah tubuh yang mematikan. Akan tetapi, bukan main terkejutnya mereka. Lawan mereka memang begitu mudahnya tertebas senjata, dan langsung terkapar. Namun, ternyata bisa bangkit kembali!

Sadar akan kemampuan yang berada jauh di bawah kemampuan Dedemit Selaksa Nyawa, Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati bermaksud melarikan diri dari pertempuran yang dirasanya berat sebelah. Namun bukan kepalang terkejutnya, ketika tubuh mereka terasa sukar digerakkan. Bahkan hawa panas terasa melingkar-lingkar di bagian dada mereka. Itulah ilmu 'Jerat Jiwa' ciptaan Dedemit Selaksa Nyawa!

Di antara keterpakuan Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati yang sudah tak mampu bergerak, tujuh sosok lelaki jelmaan darah Dedemit Selaksa Nyawa seketika bergerak mundur. Dan begitu telah mencapai sejauh tiga langkah, seketika itu juga ketujuh makhluk aneh itu lenyap.

"Itu baru jelmaan darahku saja yang kalian hadapi, Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati! Dan kalian semua tak mampu!" kata Dedemit Selaksa Nyawa keras dan menggelegar. Sehingga, sampai tak terbantah oleh Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati.

"Sekarang, rasakanlah seranganku ini! Hih...!" Slat! Slat! Slat!

Tiga bilah pisau kecil berbentuk pipih seketika beterbangan cepat ke arah Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati yang sudah kehabisan tenaga. Begitu cepatnya hentakan tangan Dedemit Selaksa Nyawa, hingga Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati tak sempat lagi mengelak

Crab! Crab! Crab! "Aaakh...!"

"Aaa...!"

"Ugkh!"

Tiga senjata pisau terbang Dedemit Selaksa Nyawa tepat mendarat di jantung Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati yang seketika itu juga matanya terbelalak. Bahkan keadaan tubuh mereka jadi membiru. Racun ganas yang terdapat pada pisau pipih itu begitu cepat bekerja. Hingga sekejapan mata saja, Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati telah ambruk di tanah dengan nyawa melayang.

"Hih!"

Dedemit Selaksa Nyawa menghentakkan tangannya ke depan. Hebatnya, tiga senjatanya seketika itu juga melesat keluar dari tubuh Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati.

Tap! Tap! Tap!

Secepat pisau pipih itu melesat, secepat itu Dedemit Selaksa Nyawa menangkapnya dan memasukkan kembali ke tempat semula.

Sementara itu, Kepala Desa Wargidami tersenyum takjub menyaksikan kehebatan lelaki berpakaian merah menyala yang berdiri di sampingnya. Seketika itu juga, Talunjak menjura memberi hormat.

"Tinggi sekali ilmu yang kau miliki, Dedemit Selaksa Nyawa," puji Talunjak tanpa mengangkat wajahnya yang tertunduk.

"Angkat kepalamu, Kisanak!" perintah Dedemit Selaksa Nyawa dingin.

Seperti kerbau dicucuk hidung, Talunjak mengikuti perintah Dedemit Selaksa Nyawa.

"Kau merasa berhutang nyawa padaku?" tanya Dedemit Selaksa Nyawa.

Talunjak tak menjawab. Kepalanya hanya mengangguk perlahan.

"Bukan begitu caramu menjawab pertanyaanku!" hardik Dedemit Selaksa Nyawa, keras.

Talunjak mendongakkan kepala dengan wajah kecut.

"Aku berhutang nyawa padamu, Dedemit Selaksa Nyawa," kata Talunjak kemudian.

Dedemit Selaksa Nyawa tersenyum dingin. "Akan kau bayar dengan apa hutangmu itu, heh?!"

"Aku..., aku tak tahu harus membayar dengan apa," tergagap jawaban Talunjak.

"Ha ha ha...!" Dedemit Selaksa Nyawa terbahakbahak mendengar jawaban Kepala Desa Wargidami itu. "Bodoh sekali kau, Kisanak! Hutang nyawa tentu saja harus dibayar nyawa!"

Kontan bergetar hebat tubuh Talunjak mendengar ucapan yang keluar dari mulut Dedemit Selaksa Nyawa yang tidak main-main.

"Nyawaku hanya satu, Dedemit Selaksa Nyawa. Aku mohon, jangan kau bunuh. Aku..., aku berjanji akan memenuhi permintaanmu yang lain," rengek Kepala Desa Wargidami sambil menjura-jura.

Dedemit Selaksa Nyawa kembali terbahakbahak mendengar ucapan lelaki berusia sekitar empat puluh tahun di hadapannya.

"Janjimu bisa kau pegang, Heh?!" tekan Dedemit Selaksa Nyawa tegas.

"Aku akan memegang janji ku itu, Dedemit Selaksa Nyawa," tukas Talunjak kecut.

Kembali Dedemit Selaksa Nyawa tersenyum dingin.

"Aku minta, mulai saat ini sediakan seorang bayi setiap pergantian purnama pada hari ketiga dan ketujuh belas."

Betapa terkejut hati Kepala Desa Wargidami mendengar permintaan Dedemit Selaksa Nyawa.

"Untuk apa bayi-bayi itu, Dedemit Selaksa Nyawa?" tanya Talunjak, memberanikan diri.

Dedemit Selaksa Nyawa menatap lekat wajah Talunjak Dan itu membuat nyali kepala desa itu semakin ciut.

"Aku butuh hati bayi itu!"

Tersedak Talunjak mendengar ucapan Dedemit Selaksa Nyawa.

"Permintaan gila," dengus Kepala Desa Wargidami, lirih.

"Bicara apa kau barusan, heh?!"

Seketika pucat pasti wajah Talunjak. Sungguh tak disangka kalau ucapannya yang begitu perlahan, masih bisa terdengar.

"Permintaan itu memang gila menurutmu. Tapi, Dedemit Selaksa Nyawa harus mendapat hati bayi-bayi itu!"

Talunjak tak membantah apa-apa. Perkataan Dedemit Selaksa Nyawa sepertinya merupakan sebuah kepastian.

"Kau bisa memenuhi permintaanku?!" desak lelaki berpakaian merah menyala itu.

Talunjak menganggukkan kepala.

"Bodoh sekali! Bukan begitu caramu menjawab pertanyaanku!"

Plak!

Talunjak langsung terhuyung-huyung terkena tamparan tangan Dedemit Selaksa Nyawa yang tidak disertai pengerahan tenaga dalam sedikit pun.

"Maju kemari!" bentak tokoh mengiriskan itu kemudian.

Talunjak maju menghampiri Dedemit Selaksa Nyawa sambil menyeka darah yang merembes dari sela bibirnya.

"Kau bisa memenuhi permintaanku?!" desak Dedemit Selaksa Nyawa.

"Akan ku usahakan," jawab Talunjak.

"Jawab yang pasti!" bentak lelaki berpakaian merah menyala itu, menggelegar.

"Yyy..., ya.... Ya!" putus Talunjak dengan suara tersendat.

"Kau perhatikan baik-baik perkataan ku. Bila tidak menyediakan bayi saat kedatanganku nanti, maka seluruh penduduk desa ini akan kumusnahkan. Desa ini juga akan kujadikan lautan api yang akan memanggang tubuh-tubuh penduduknya! Termasuk kau! Paham?!"

"Paham," jawab Talunjak sedikit bergetar. "Ha ha ha...!"

Dedemit Selaksa Nyawa kembali mengumbar tawanya yang mengiriskan. Sejurus lamanya, tawa yang mendirikan bulu kuduk itu terdengar. Dan sejurus kemudian, sebuah bayangan kemerahan berkelebat cepat meninggalkan Bukit Ular yang kini hanya tinggal Talunjak dan mayat Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati.

"Ingat...! Aku akan datang menagih bayi itu pada hari ketiga bulan purnama nanti...!"

Pesan bergema Dedemit Selaksa Nyawa diterima Kepala Desa Wargidami dengan perasaan tak menentu.

"Bagaimana mungkin aku mampu memenuhi permintaannya...? Tapi kalau tidak? Ah! Seluruh penduduk desa ini harus menjadi korban tokoh sesat yang mengiriskan itu," kata batin Talunjak, sambil melangkah gontai.

Kepala desa itu merasa telah terperosok ke mulut harimau setelah terlepas dari moncong serigala. Sementara, angin sore yang dingin seketika berhembus kuat. Bau anyir darah terasa menusuk hidung Talunjak yang berjalan lunglai.

***
TUJUH
Desa Wargidami kini dicekam kegelisahan yang teramat sangat Terlebih, kepala desanya yang bernama Talunjak Dia tak tahu harus berbuat apa. Setelah kematian Pituk Lubar, Katilan, dan Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati, dirinya seolah kehilangan kekuatan di mata penduduknya. Tak ada lagi penduduk yang sudi mematuhi perintahnya. Apalagi, terhadap pesan Dedemit Selaksa Nyawa yang menginginkan bayi setiap hari ketiga dan ketujuh belas tiap-tiap pergantian purnama.

"Apakah..., apakah cucuku sendiri yang harus ku korbankan?"

Pertanyaan itu tiba-tiba saja menyelinap masuk ke benak Talunjak, yang seketika bangkit berdiri.

"Akan tetapi Ah!"

Talunjak melangkah gontai menuju kamar Warsini. Hatinya merasa ragu untuk masuk ke kamar putri satu-satunya yang baru tiga hari melahirkan putra kedua. Namun, akhirnya dia masuk juga ke kamar Warsini.

"Ayah belum mendapatkan bayi itu?" tanya Warsini sambil menyusui bayinya  yang  montok.  "Hhh !"

Talunjak menarik napas dalam-dalam mendengar pertanyaan Warsini. Ditatapnya wajah putrinya yang ayu itu. Namun kemudian, tatapannya beralih pada bayi montok yang tengah lahap menikmati air susu ibunya.

"Aku tak mungkin mengambil bayi-bayi secara paksa dari penduduk. Apalagi di sampingku tak ada lagi Pituk Lubar dan Katilan. Sedangkan untuk mencari orang-orang sewaan, hatiku merasa sangsi. Aku khawatir mereka seperti Tiga Pemenggal Kepala Hutan Sulajati juga. Orang-orang macam itu bukan saja menginginkan uang bayaran, tetapi juga mengincar kedudukanku. Dan itu tidak mustahil akan terulang kembali."

Warsini menatap wajah ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Sedangkan Talunjak yang mendapatkan tatapan seperti itu tak kuasa berkata apa-apa.

"Kalaupun sekarang mampu merampas bayi dari tangan penduduk itu hanya akan membuat hati Ayah semakin ketakutan. Dugaanku, manusia iblis itu akan terus menekan Ayah untuk mencari bayi-bayi."

Talunjak mengangkat kepalanya yang tertunduk. Matanya menatap wajah Warsini lekat-lekat.

"Dugaanmu benar, Warsini," sahut Talunjak parau. "Tapi..., ah! Aku tak tahu harus berbuat apa."

"Kita tolak saja permintaan gila itu, Ayah. Tak ada seorang pun yang sudi mengorbankan darah dagingnya sendiri," tukas Warsini.

"K..., k., kau "

"Ya! Aku memilih mati bersama, daripada memenuhi permintaan gila itu."

"Ahhh!"

Talunjak menarik napas dalam-dalam. Tanpa terasa, air mata menitik dari kelopak mata lelaki berusia empat puluh tahun itu. Air mata penyesalan yang sudah terlambat!

***

"Oaaa...!"

Tangisan bayi yang terdengar melengking, seketika memecah keheningan malam. Hal ini membuat Talunjak dan Warsini gelisah bukan kepalang. Sebentar-sebentar mereka melongok wajah bayi yang tak berdosa. Namun, itu hanya membuat kesedihan mereka semakin bertambah. Warsini dan Talunjak samasama mendesah berat

"Kau sudah menyediakan permintaanku...?" Terkejut Talunjak mendengar suara yang sepertinya diucapkan dari jarak yang cukup jauh. Suara itu bergema dan memantul pada dinding-dinding rumahnya.

"Keluarlah! Dan bawa bayi itu ke hadapanku," kembali suara itu terdengar jelas. "

Oaaa...! Oaaa...!"

Warsini memeluk erat-erat bayinya. Sementara, Talunjak segera melangkah gontai menemui Dedemit Selaksa Nyawa.

"Mana bayi itu, Kisanak?" tagih Dedemit Selaksa Nyawa menyaksikan Talunjak keluar tanpa membawa seorang bayi.

"Aku tak mampu mencarikan bayi-bayi untukmu, Dedemit Selaksa Nyawa," tukas Talunjak memberanikan diri. Namun, sesungguhnya kakinya terasa sudah tak mampu berdiri.

"Kurang ajar! Di dalam rumahmu terdengar tangis bayi. Bayi siapa itu, heh?!"

"Dia cucuku. Aku tak mungkin menyerahkannya padamu," jawab Talunjak, tergagap.

Dedemit Selaksa Nyawa tentu saja murka mendengar ucapan Talunjak. Tubuhnya seketika berkelebat cepat, menyempal tubuh Talunjak yang seketika itu juga tersungkur. Kepala desa itu seperti tak mampu berbuat apa-apa ketika Dedemit Selaksa Nyawa melakukan tindakan selanjutnya. Brak!

Disertai segenap kemarahannya, Dedemit Selaksa Nyawa menghantam pintu rumah Talunjak hingga berantakan. Sejenak tokoh mengiriskan itu menatap wajah Warsini. Sedangkan wanita itu tampak ketakutan sambil mendekap erat-erat bayinya. Beberapa saat kemudian, Dedemit Selaksa Nyawa bergerak cepat. Ditotoknya bagian tubuh Warsini hingga terkulai.

"Oaaa...!"

Bayi Warsini menangis keras ketika berada di tangan Dedemit Selaksa Nyawa. Tokoh mengiriskan itu kemudian berjalan keluar dan menemui Talunjak yang baru saja bangkit dari tersungkurnya.

"Kau saksikan anak ini, Kisanak," ujar Dedemit Selaksa Nyawa sambil mengangkat tangannya ke atas kepala. Seketika itu juga...

Crab!

Terkejut bukan kepalang hati Talunjak ketika menyaksikan apa yang dilakukan Dedemit Selaksa Nyawa. Dengan tangannya yang berkuku tajam, di koyaknya perut bayi itu! Bahkan kini tangannya terbenam dalam di perut bayi tak berdosa itu.

"Uhhh...!"

Talunjak mengeluh manakala menyaksikan tangan Dedemit Selaksa Nyawa ditarik keluar dari perut cucunya. Darah seketika muncrat dari perut bayi yang terkoyak. Dan kini, di tangan Dedemit Selaksa Nyawa tergenggam hati bayi Warsini.

"Hih!" Brak!

"Kukembalikan bayi itu! Ha ha ha...!" kata Dedemit Selaksa Nyawa seraya berkelebat meninggalkan tempat itu.

Sementara Talunjak hanya bisa terpaku menatapi mayat cucunya yang sudah jadi mayat. Darah tampak melumuri tubuh bayi itu.

"Aku akan datang lagi menagih bayi-bayi itu. Ha ha ha. !"

Ucapan bergema didengar Talunjak kembali. Pada saat yang sama, kepala desa itu membawa mayat cucunya. Belum lama tangan Talunjak membopong bayi Warsini, tiba-tiba berkelebat cepat sosok bayangan kuning keemasan. Dan tahu-tahu saja, bayangan itu berdiri di hadapan Kepala Desa Wargidami.

"Apakah tawa itu milik Dedemit Selaksa Nyawa, Kisanak?" tanya sosok berpakaian kuning keemasan yang ternyata Jaka Sembada.

"Kau..., kau...," tersendat suara Talunjak menyaksikan kedatangan pemuda berpakaian kuning keemasan itu. "Sepertinya..., sepertinya aku pernah mendengar ciri-ciri mu disebut-sebut orang. Apakah kau ?"

"Aku Jaka Sembada, Kisanak," kata Jaka mantap.

"Kau..., kaukah yang berjuluk Raja Petir?"

Jaka Sembada menganggukkan kepala seraya menyunggingkan seulas senyum. Lelaki berusia sekitar empat puluh tahun itu seketika menjatuhkan tubuhnya. Lututnya ditempelkan ke tanah dengan badan yang dibungkukkan, hampir menyentuh bayi yang berada dalam pondongannya.

"Kuharap kau sudi membantu mengatasi kemelut di desa ini, Raja Petir," ratap Talunjak, terisak. Di sebelahnya nampak tubuh Warsini tergeletak pingsan. "Memang  itulah tujuanku  datang  ke  desa ini,

Kisanak," jawab Jaka sambil merendahkan tubuhnya. Dibawanya bangkit tubuh lelaki yang menggen-

dong bayi tanpa nyawa. Bagian perut bayi yang terkoyak lebar membuat Jaka menggemeretakkan gigi, pertanda kemarahan yang amat sangat menggejolak dalam dadanya.

"Perempuan ini, ibu dari bayi itu?" tunjuk Jaka pada tubuh Warsini yang tergolek di tanah.

Kepala Desa Wargidami itu menganggukkan kepala.

"Dia anakku," sahut Talunjak, perlahan.

Tanpa diminta, tangan Jaka bergerak cepat menyentuh bagian tubuh Warsini. Sebentar perempuan itu bergerak, dan sebentar kemudian sudah membuka matanya.

"Ohhh...!"

Melihat Warsini sudah terjaga dari pingsannya, Jaka segera memapahnya masuk ke rumah. Sementara, beberapa orang penduduk yang menyaksikan kejadian itu secara sembunyi, hanya bisa menggelenggelengkan kepala.

"Kasihan juga Ki Talunjak" gumam seorang lelaki berkumis tipis.

"Itulah akibat dosa-dosanya yang sudah bertumpuk" gerutu lelaki berperawakan kecil dengan alis mata begitu tebal.

Malam terus beranjak perlahan. Kesunyian semakin nampak mencekam. Di dalam rumah yang cukup megah, Warsini terus menangisi bayinya yang sudah tak bernyawa lagi.

***

Fajar baru saja datang, ketika sosok bayangan kuning melesat cepat bagai anak panah terlepas busur. Sosok tubuh itu bergerak terus ke arah barat dan berhenti pada sebuah penginapan. Dia memang telah seharian penuh berlari tanpa istirahat.

"Ada baiknya aku istirahat dulu," kata sosok be pakaian kuning keemasan yang tak lain si Raja Petir. Pemuda yang namanya semakin dikenal di kalangan rimba persilatan itu terus melangkah perlahan menuju penginapan yang berhalaman cukup luas, Perutnya yang sudah berteriak minta diisi, membuat kecepatan langkahnya mesti ditambah. Akan tetapi....

Brak! Wesss. !

Bugkh!

Seorang lelaki berpakaian biru muda tiba-tiba terpental dari dalam penginapan, dan jatuh tepat di hadapan Jaka. Lelaki itu menggeliat sebentar. Matanya yang setengah terpicing karena menahan kesakitan diarahkan ke wajah Jaka.

Tercekat hati Jaka mendapatkan tatapan seperti itu. Sebuah tatapan yang mengandung arti larangan untuk pergi. Dan belum lagi Jaka mengetahui kejadian yang sesungguhnya, nyawa lelaki berpakaian biru itu sudah melayang pergi!

Rasa penasaran di hati, membuat Jaka meneruskan langkahnya yang terhambat oleh kematian lelaki berpakaian biru terang tadi. Namun baru berjalan dua langkah, mendadak suara tawa yang menggelegar terdengar memekakkan telinga.

Untuk mengimbangi tawa yang dikeluarkan melalui pengerahan tenaga dalam tinggi, Raja Petir segera mengaliri tenaganya. Ini dilakukan untuk menyumbat jalan pendengarannya.

"Ha ha ha...!" 

Wesss!

Brak...!

Tiga tubuh lelaki berpakaian putih dan hitam kembali berpentalan dari dalam penginapan. Dan semuanya jatuh tepat di depan mata Jaka yang seketika juga amarahnya timbul.

Kembali Jaka menggemeretakkan gigi, sebagai tanda kegeramannya. Dia pun segera menatap salah seorang dari tiga sosok tubuh yang terlempar deras.

"Jangan ke sana, Anak Muda. Percuma saja! Kau hanya akan mengantar nyawa," ujar lelaki tua berpakaian putih, agak parau.

Jaka menatap wajah lelaki tua yang di sela-sela bibirnya mengucur darah segar. Ditilik dari pakaiannya, lelaki itu sepertinya pemilik penginapan ini. Dan pemuda berpakaian kuning keemasan itu juga mengurungkan niatnya untuk menghadang sosok keji di dalam penginapan. Hatinya lebih tergerak untuk menyelamatkan tiga lelaki yang masih bernyawa, terlempar dari dalam kedai.

"Siapa orang yang melakukan perbuatan ini, Ki?" tanya Jaka, seraya membawa bangun tubuh lelaki tua berpakaian putih itu. Dengan gerakan cepat, disalurkannya hawa murni ke dalam tubuh lelaki tua yang terluka dalam itu.

"Dia tokoh sakti golongan hitam, Anak Muda. Julukannya Dedemit Selaksa Nyawa," jelas lelaki tua yang ternyata memang pemilik tepat penginapan itu.

"Dedemit Selaksa Nyawa?" gumam Jaka. Darah mudanya langsung bergejolak. Dia jadi ingin tahu, sampai di mana kesaktian Dedemit Selaksa Nyawa. "Aku memang sedang mencari Dedemit Selaksa Nyawa, Ki."

"Untuk apa? Dia terlalu berbahaya untukmu,

Anak Muda," cegah lelaki tua berpakaian putih itu, begitu cemas.

"Mudah-mudahan saja aku dapat mengatasinya, Ki," putus Jaka, seraya berkelebat cepat meninggalkan pemilik penginapan yang sudah mampu bangkit Lelaki tua berpakaian. putih itu terkesima juga menyaksikan kecepatan gerak Raja Petir yang sekejap mata saja sudah berada di ambang pintu penginapan. 

Dengan penuh kewaspadaan, dimasukinya ruang penginapan. Seluruh urat syarafnya tampak menegang, pertanda telah bersiap-siap untuk menangkal serangan mendadak. Namun, semakin dalam Raja Petir memasuki ruangan penginapan itu, tak nampak tanda-tanda sesuatu yang mencurigakan.

"Ke mana perginya iblis itu," gumam Jaka dalam hati. "Begitu hebatkah tokoh sesat itu, sehingga kepergiannya saja tidak dapat kuketahui?"

Dengan sikap tetap waspada, Jaka terus mencari Dedemit Selaksa Nyawa. Seorang tokoh yang telah banyak memakan korban penduduk dan bayi-bayi tak berdosa, untuk dijadikan tumbal dalam menyempurnakan kesaktiannya.

Setelah sekian lamanya Raja Petir mencari dan tidak juga menemukan orang yang dimaksud, maka diputuskannya untuk kembali menemui pemilik penginapan.

"Kau tak melihatnya keluar, Ki?" tanya Jaka begitu tubuhnya melewati ambang pintu, menemui si pemilik penginapan.

Lelaki berpakaian putih itu menggelengkan kepala sebagai tanda kalau tak melihat kepergian Dedemit Selaksa Nyawa yang telah melempar tubuhnya keluar.

Mendapatkan kehebatan tokoh yang berjuluk Dedemit Selaksa Nyawa, Raja Petir berpikir kalau tokoh mengiriskan itu tak dapat dicegah. Jadi memang tak mustahil kalau tokoh sesat mengiriskan itu mampu menguasai dunia persilatan dengan kebengisan dan kekejamannya.

"Kalau begitu aku permisi, Ki," pamit Jaka.

Kaki Raja Petir segera bergerak cepat. Begitu dihentakkan kuat ke tanah, seketika tubuhnya melenting dan berkelebat cepat. Langsung dikerahkannya ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf kesempurnaan.

Lelaki tua berpakaian putih itu kembali terperangah melihat kehebatan ilmu lari cepat dan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Raja Petir. Belum sempat matanya berkedip, tubuh Jaka telah menghilang dari hadapannya.

"Ahhh...!"

Lelaki tua pemilik penginapan itu mendesah panjang. Kemudian kakinya melangkah perlahan, menuju penginapan miliknya yang pintu utamanya jebol.

***

Sosok bayangan kuning keemasan yang berkelebat itu berhenti pada sebuah bangunan yang cukup kokoh dan kuat.

"Hup!"

Sekali saja, sosok kuning keemasan menghentakkan kakinya ke tanah. Pagar bangunan setinggi satu setengah tombak itu berhasil dilewatinya dengan melenting indah dan berputaran dua kali di udara.

Dan baru saja sosok kuning keemasan yang ernyata Raja Petir itu menjejak pekarangan rumah yang cukup luas, tiga orang bersenjata golok seketika datang menghadang.

"Berhenti!" bentak salah seorang yang menghadang.

Jaka tersenyum mendengar bentakan yang dikeluarkan disertai pengerahan tenaga dalam itu.

"Eh...! Oh...! Ma..., maafkan kami, Raja Petir. Maafkan kami," ucap lelaki bersenjata golok yang bertubuh kecil. "Kami kira siapa."

Raja Petir tersenyum mendengar ucapan lelaki bertubuh kecil yang ternyata mengenalinya. Sementara dua orang lelaki bertubuh tinggi yang barusan membentak, seketika itu juga menundukkan kepala.

"Ki Senati ada di dalam, Raja Petir. Silakan masuk saja," ucap lelaki bertubuh kecil itu sambil menjura memberi hormat

Jaka segera melangkah ke dalam rumah Ki Senati, Kepala Desa Galur Asih. Langkah kakinya yang panjang-panjang, diikuti tatapan mata dua lelaki tinggi besar yang menjaga rumah Ki Senati.

Sambutan hangat diterima Jaka, begitu masuk ke ruang utama Rumah Kepala Desa Galur Asih itu.

"Kau memerlukan tawanan itu, Raja Petir?" tanya Ki Senati setelah menyilakan Jaka duduk.

"Aku membutuhkan keterangannya, Ki. Semoga saja bisa membantu kita," jawab Jaka kalem seraya duduk.

"Rasanya, keinginanmu suatu hal yang mustahil, Raja Petir. Orang sesat seperti Iblis Mata Merah, mana mungkin bisa berlaku sebaik itu. Biarpun kita memintanya dengan jalan kekerasan," sanggah Ki Senati tanpa ragu-ragu.

"Jangan terlalu buruk sangka seperti itu, Ki," tandas Jaka. "Maaf, ucapanku semata hanya melihat pada sisi baik yang pada dasarnya dimiliki setiap makhluk hidup. Kemungkinan setiap orang untuk berubah pendiriannya, bisa saja terjadi, Ki. Yang baik hati, bisa saja suatu saat berubah jahat Begitu juga sebaliknya. Dan itu bisa terjadi jika keadaan seorang berada pada titik tertentu. Seperti halnya, Iblis Mata Merah. 

Setelah sekian hari dirinya terkurung di sebuah ruangan dalam keadaan tubuh tak mampu berbuat apa-apa, bukanlah hal yang mustahil kalau dalam keadaan seperti itu tengah merenung. Dia memikirkan apa-apa yang telah dilakukannya selama ini. Mudah-mudahan dari renungannya selama itu, hatinya tergerak untuk merubah jalan hidupnya selama ini Sang Pencipta Jagat Semesta akan dengan mudah menggerakkan hati makhluk ciptaannya, jika berkehendak."

Kepala Desa Galur Asih terperanjat kagum mendengar ucapan anak muda di hadapannya. Ucapan yang berisi kebenaran di dalamnya.

"Yaaah..., semoga saja kemungkinan itu terjadi bagi Iblis Mata Merah," sahut Ki Senati sambil bangkit dari duduknya. "Sebaiknya, kita menemui iblis itu sekarang, Raja Petir."

Jaka yang dikenal berjuluk Raja Petir segera bangkit dari duduknya. Dia berjalan perlahan mengikuti langkah kaki Ki Senati.

Kepala Desa Galur Asih itu berhenti tepat di depan pintu yang tergembok rapat. Bunyi engsel pintu terdengar nyaring ketika daun pintu terkuak lebar, sebagai pertanda kalau pintu itu jarang sekali dibuka.

Pemandangan di dalam ruangan yang cukup pengap itu membuat hati Jaka trenyuh. Perasaannnya yang halus tak tega menyaksikan Iblis Mata Merah meringkuk di lantai tanpa dilapisi sehelai tikar pun. Lelaki yang sebenarnya bernama Jempal Berek seketika membuka matanya. Tatapannya yang tidak sejalang hari-hari lalu, tertuju pada diri Jaka. Iblis Mata Merah sedikit terkejut menyaksikan kedatangan pemuda yang telah berhasil melumpuhkannya.

"Aku butuh pertolonganmu, Jempal Berek" tukas Jaka sopan. "Kuharap, kau sudi melakukannya untuk menebus dosa-dosamu yang lalu."

Jempal Berek tak menyahuti permintaan Jaka. Matanya yang agak lebar tampak bergerak-gerak perlahan.

"Ada masanya manusia berpijak pada jalan yang salah, Jempal Berek" kata Jaka lembut "Namun manusia itu juga memiliki kesempatan berbuat baik dengan menjauhi jalan yang salah."

Tersentuh juga hati Jempal Berek mendengar ucapan Jaka. Namun sejauh ini, ucapan pemuda yang berjuluk Raja Petir itu tidak di timpalinya.

"Aku bisa saja mendesak mu dengan jalan kekerasan. Tapi, rasanya itu mustahil kulakukan," kata Jaka.

Raja Petir menatap mata Jempal Berek lekatlekat. Tangannya yang berada di depan dada seketika bergerak cepat. Begitu cepat kelebatan tangan kanannya, hingga Ki Senati dan Jempal Berek tak kuasa mengikutinya. Tiba-tiba saja Raja Petir bergerak menotok kaki dan tangan Jempal Berek.

Tuk! Tuk..!

***
DELAPAN
Jempal Berek yang berjuluk Iblis Mata Merah mengeluh sesaat Tapi sesaat kemudian, dirinya merasakan perubahan yang begitu cepat Tubuhnya tak lagi terasa lemah, ketika tenaga sedikit demi sedikit merasuk ke dalam tubuhnya.

"Kenapa kau membebaskannya, Raja Petir?!" tanya Ki Senati, keras. Dia heran melihat kelakuan pemuda yang memiliki ilmu silat begitu tinggi itu.

Jaka tersenyum mendengar pertanyaan Kepala Desa Galur Asih yang begitu syarat kekhawatiran.

"Aku tak suka berbicara dengan orang yang terbelenggu seperti itu, Ki Senati," jawab Jaka, setelah tatapan matanya merayapi wajah Jempal Berek yang tergambar suatu ungkapan terima kasih. "Lebih baik kita berbincang-bincang di pendopo, Ki Senati."

Kepala Desa Galur Asih itu membelalakkan mata saking terkejutnya.

"Raja Petir...?!"

"Mari, Jempal Berek Kurasa tubuhmu perlu mendapat angin segar," selak Jaka, memotong perkataan Ki Senati.

Jaka melangkah lebih dulu. Sementara, Jempal Berek tanpa banyak bantahan menuruti ajakan pemuda berpakaian kuning keemasan itu. Setelah Jaka dan Jempal Berek berjalan lima tindak dari ruangan penyekapan, barulah Ki Senati mengekor dengan sikap penuh siaga. Biar bagai manapun juga, keberadaan Iblis Mata Merah masih di sangsikannya. Dan begitu sampai di ruangan pendopo, Jempal Berek duduk berhadap-hadapan dengan Raja Petir. Kepalanya tertunduk, tak kuasa menentang tatapan Jaka.

"Bagaimana keadaanmu, Jempal Berek Sudah lebih baik kau?" tanya Jaka seperti berbicara pada bocah kecil. Sengaja bicaranya seperti itu, karena untuk mengambil hati Iblis Mata Merah.

"Aku baru menyadari segala tindak-tanduk ku selama ini di ruang penyekapan itu, Raja Petir. Betapa bejatnya masa lalu yang telah kujalani," tutur Jempal Berek mengejutkan Jaka. Terlebih, Ki Senati yang sama sekali tak mengira kalau Iblis Mata Merah mau berbicara begitu jujur.

"Syukurlah, Jempal Berek Sang Pencipta Jagat Semesta ini telah menggerakkan hatimu untuk kembali ke jalan benar," kembali mata Jaka menatap lekat wajah Jempal Berek

"Namun sakit hatiku pada Tampayak harus tetap terbalaskan!" suara Jempal Berek begitu penuh kegeraman.

Jaka dan Ki Senati sama-sama menaikkan alis mendengar perkataan Iblis Mata Merah.

"Siapa Tampayak itu, Jempal Berek?" selidik Jaka, mewakili keingintahuan Ki Senati.

"Dedemit Selaksa Nyawa."

"Dedemit Selaksa Nyawa?!" berbarengan nama julukan itu keluar dari mulut Jaka dan Ki Senati.

"Kenapa kau mendendam dengannya? Bukankah kau pernah mengatakan kalau Dedemit Selaksa Nyawa adalah gurumu?" kejar Jaka, ingin tahu.

"Lelaki bejat bernama Tampayak itu telah memperkosa calon istriku, Raja Petir. Di hadapan mata kepalaku! Coba kau bayangkan...," kata Jempal Berek, geram. Tangannya nampak terkepal dan dipukulpukulkan ke telapak tangan yang satunya.

"Aku tak mengerti, kenapa bisa terjadi seorang guru memperkosa calon istri muridnya sendiri?" Ki Senati mulai ikut bertanya.

"Perbuatan itu dilakukan Dedemit Selaksa Nyawa, sebelum aku menjadi muridnya. Sebenarnya, waktu itu aku harus mati di tangannya. Namun, dia tidak melakukan hal itu. Malah di luar dugaanku sama sekali, Dedemit Selaksa Nyawa menginginkan ku menjadi muridnya," jelas Jempal Berek.

"Hm..., apakah Dedemit Selaksa Nyawa tidak sadar kalau suatu saat kau bisa melampiaskan dendam?" tanya Jaka.

"Entahlah. Mungkin juga, Dedemit Selaksa Nyawa beranggapan kalau aku tak akan mampu mengalahkannya. Lagi pula, ilmunya terlalu sedikit diturunkan padaku."

Jaka dan Ki Senati tak melancarkan pertanyaan lagi. Mereka tahu, Jempal Berek pernah mengalami keguncangan jiwa dan sekarang guncangan itu kembali datang.

"Aku harus membunuhnya!" tegas Jempal Berek, lantang.

Jaka dan Ki Senati sempat terkesiap. Namun sebentar kemudian keduanya segera memaklumi.

"Kenapa dendam itu tidak dilampiaskan sejak dulu, Jempal Berek?"

"Aku belum berani, Raja Petir. Karena, aku merasa bukan tandingannya," jelas Jempal Berek.

"Lalu sekarang...?"

"Sekarang ada kau, Raja Petir. Kita bisa bekerja sama untuk menyingkirkan dedemit laknat itu," selak Jempal Berek cepat "Aku tahu persis kelemahannya."

"Hm.... Dari mana kau tahu kelemahannya hingga begitu yakin?" selak Ki Senati penasaran.

"Aku mengetahuinya ketika Dedemit Selaksa Nyawa tengah bertarung melawan Ketua Perguruan Karang Sedayu. Waktu itu, dia nyaris kalah. Namun berkat kecerdikannya, Ketua Perguruan Karang Sedayu berhasil ditundukkan. Di situlah kesombongan hati Dedemit Selaksa Nyawa tak terbendung. Tanpa sadar, dikatakannya kalau dirinya hanya bisa binasa dengan darah keturunannya sendiri," jelas Jempal Berek seraya menatap wajah Raja Petir dan Ki Senati bergantian.

Raja Petir dan Ki Senati saling berpandangan. Ada tersirat kegembiraan di hati mereka. Paling tidak, Raja Petir sudah mempunyai modal untuk menghentikan sepak terjang tokoh sesat berjuluk Dedemit Selaksa Nyawa itu.

"Maaf, Raja Petir. Sesungguhnya aku tak bermaksud mengecilkan ketinggian ilmu yang kau miliki," ucap Jempal Berek dengan mata menatap wajah Jaka lekat-lekat. "Aku tak mengerti, ilmu apa yang dimiliki Dedemit Selaksa Nyawa. Dia menjadi demikian sakti. Setiap darah yang keluar dari tubuhnya, maka darah itu akan menjelma menjadi sosok yang persis dengan dirinya. Bahkan jumlahnya bisa sebanyak yang dikehendaki. Anehnya, jelmaan darah yang menyentuh tanah itu sama hebatnya dengan Tampayak!"

Tak percaya rasanya Jaka dan Ki Senati mendengar ucapan Jempal Berek. Tapi, memang mereka harus mempercayainya, karena Jempal Berek mengucapkannya dengan penuh kejujuran.

"Dedemit Selaksa Nyawa juga memiliki banyak senjata yang semuanya mengandung racun ganas dan mematikan. Senjata yang berbentuk pisau pipih itu berjejer mengelilingi pinggangnya," lanjut Jempal Berek Sementara, tatapan matanya menerawang ke luar pendopo.

 "Lalu, di mana letak kelemahan manusiamanusia Jelmaan itu, Jempal Berek?" tanya Ki Senati, tak sabar.

"Menghadapi jelmaan darah Tampayak, kita tidak boleh mengadakan perlawanan. Bila kita diam saja seperti patung, maka jelmaan itu akan menghilang dengan sendirinya, setelah mundur sejauh tiga langkah. Jelmaan darah itu akan muncul kembali jika Dedemit Selaksa Nyawa menginginkannya," lanjut Jempal Berek

Jaka dan Ki Senati terdiam mendengar penuturan Iblis Mata Merah.

"Tampayak tak sadar kalau telah menanamkan benih di dalam rahim Anjani. Dan benih itu sekarang, mungkin sudah menjadi manusia," tambah Jempal Berek "Aku harus menemui Anjani untuk meminta setetes darah dari tubuh anaknya. Iblis laknat itu harus mati secepatnya!"

"Aku akan menemanimu untuk menemui Anjani, pinta Jaka.

"Yah! Kita memang harus menemuinya secepatnya."

"Sebaiknya, besok pagi saja kalian berangkat," saran Ki Senati.

"Sebaiknya memang begitu," Jaka setuju. Jempal Berek tak bisa membantah saran Ki Senati, yang disetujui Jaka.

Malam semakin beranjak tua. Langit nampak pekat, ditemani kerlip bintang yang sedikit dan jauh. Sementara, secercah harapan bergayut di hati orangorang yang kini sudah terlelap.

***

Bocah kecil berusia sekitar satu tahun setengah itu berlari lucu menghampiri ibunya. Suaranya yang lucu, terdengar lantang. Sementara Jempal Berek yang menyaksikan keberadaan bocah lelaki yang menggemaskan itu, semakin merasa terpukul. Dendamnya pada Dedemit Selaksa Nyawa seolah meletup-letup hendak keluar.

"Maaf, Kakang Jempal. Dengan terpaksa aku menanyakan maksud kedatanganmu kemari," ucap perempuan berusia sekitar dua puluh lima tahun.

Perempuan itu tak lain Anjani. Dia calon istri Jempal Berek yang kehormatannya direnggut secara paksa oleh Tampayak yang kini berjuluk Dedemit Selaksa Nyawa.

"Aku ingin meminta pertolonganmu untuk menyingkirkan Tampayak" jawab Jempal Berek "Dulu aku memang sempat menjadi muridnya. Tapi, kini aku sadar. Kesadaranku telah bangkit, dan harus menuntut balas pada Tampayak!"

Mata bening Anjani terbelalak mendengar ucapan Jempal Berek.

"Tampayak semakin merajalela kelalimannya, Anjani. Tak terhitung lagi orang-orang yang menjadi korbannya. Bahkan bayi-bayi telah dikoyak perutnya, hanya untuk diambil hatinya," jelas Jempal Berek.

"Bayi?"

Untuk kedua kalinya, mata Anjani terbelalak lebar.

"Ya! Untuk mengukuhkan kesaktiannya, Tampayak membutuhkan hati bayi yang masih segar." 

"Dedemit laknat!" maki Anjani, tak sadar.

Jaka yang duduk di sebelah Jempal Berek tak berniat mencampuri pembicaraan itu.

"Mumpung ada Raja Petir yang bersedia membantuku, menyingkirkan Tampayak si Dedemit Selaksa Nyawa. Dan kuharap, kau juga sudi menolongku," pinta Jempal Berek kemudian.

"Apa yang dapat kulakukan, Kakang Jempal?" tanya Anjani.

Wanita itu segera menatap wajah Jempal Berek, seorang lelaki yang pernah menjadi bagian masa lalunya. Seorang lelaki yang mungkin masih mencintainya. Tapi, dirinya sendiri....

Sejak perbuatan laknat Tampayak menimpa diri nya, Anjani tidak lagi mencintai Jempal Berek Tapi justru dirinyalah yang takut mencintai lelaki itu. Anjani merasa dirinya sudah ternoda.

"Aku perlu setetes darah keturunan Tampayak" jelas Jempal Berek hati-hati.

"Darah Baraka?" seperti desahan saja suara Anjani yang keluar.

"Ya! Darah Baraka, anak kandungmu hasil perbuatan dedemit laknat itu," jawab Jempal Berek, tak sadar.

Wajah Anjani memerah begitu mendengar ucapan Jempal Berek.

"Jangan lagi berkata sekasar itu, Kakang Jempal," pinta Anjani. Wajahnya masih tampak bersemu merah,

"Ah..., eh Maafkan aku, Anjani. Aku tak sadar bicara," ucap Jempal Berek, gugup.

Anjani diam saja mendengar permintaan maaf tulus dari lelaki belahan masa lalunya. Matanya yang bening menatap wajah lelaki tampan yang berpakaian kuning keemasan.

Jaka yang mendapat tatapan sedemikian itu hanya dapat membalasnya dengan seulas senyum.

"Tak kusangka, Raja Petir yang tersohor itu masih begitu muda," ujar Anjani sambil tak lepas menatap wajah tampan Jaka. "Aku senang sekali mendengar kau bersedia membantu Kakang Jempal, Raja Petir."

"Namaku Jaka, Nini Anjani," suara Jaka terdengar begitu merendah. "Aku juga senang kalau kau bersedia memenuhi permintaan Jempal."

"Tentu saja, Jaka. Permintaan Kakang Jempal tidak seberapa. Setetes darah Baraka, tidaklah lebih berharga daripada darah-darah orang yang terbantai oleh dedemit laknat macam Tampayak" kilah Anjani, yang kemudian bangkit dari duduknya.

"Terima kasih, Nini Anjani," ucap Jaka.

"Kau balurkan darah Baraka pada ujung pisau ini, Anjani," tahan Jempal Berek ketika Anjani hendak masuk ke dalam.

Anjani seketika menghentikan langkahnya. Dilihatnya sebilah pisau kecil berbentuk pipih berwarna keperakan.

"Aku bahagia kalau darah Baraka dapat menghentikan kekejaman Dedemit Selaksa Nyawa," ujar Anjani sambil meraih pisau yang disodorkan Jempal Berek.

Sejurus lamanya, mata bening Anjani menatap wajah Jempal Berek. Dan sejurus kemudian, dirinya telah berlalu.

***

"Aaa...!"

Tangisan bocah kecil terdengar mengejutkan Jaka dan Jempal Berek yang sedang membisu seribu bahasa. Sesungguhnya mereka tak tahu, tindakan apa yang telah diambil Anjani terhadap Baraka, anak kandungnya. Namun yang jelas, tangisan itu sebentar kemudian reda. Dan kini, Jaka dan Jempal Berek melihat Anjani keluar dari ruangan dalam.

Tanpa diminta Jempal Berek Anjani segera menyerahkan senjata tajam yang pada ujungnya telah dilumuri darah segar Baraka. Dengan dada sesak dipenuhi keharuan, Jempal Berek menerima senjata tajam dari tangan Anjani. Gerakan Jempal Berek tampak kaku dan sedikit getar.

"Terima kasih atas bantuanmu, Anjani," ucap Jempal Berek setelah meletakkan pisau yang telah berlumur darah di atas meja. Itu dilakukan Jempal Berek semata untuk menunggu darah itu mengering.

Anjani menganggukkan kepala mendengar ucapan Jempal Berek.

"Aku juga berterima kasih atas kesediaanmu untuk menyingkirkan Tampayak. Karena biar bagaimanapun juga, di hatiku masih tersimpan dendam yang harus dilampiaskan. Dengan darah Baraka yang akan menghentikan sepak-terjang Dedemit Selaksa Nyawa, kurasa dendam yang bersemayam dalam dadaku akan hilang," kata Anjani, seraya melempar tatap matanya pada wajah Jaka. "Aku juga berterima kasih atas kedatangan kalian ke sini."

"Sama-sama, Nini Anjani," balas Jaka. "Namun, ada satu permintaanku pada Kakang Jempal "

"Apakah itu, Anjani?" selak Jempal Berek tak sabar.

Anjani terdiam sesaat Dia nampak ragu-ragu mengutarakannya.

"Katakanlah, Anjani. Jangan ragu-ragu. Aku akan berusaha memenuhinya, apa pun bentuk permintaan mu," pinta Jempal Berek Anjani menatap lekat-lekat wajah lelaki berpakaian merah bergaris hitam itu.

"Tapi, sebelumnya aku mohon maaf. Karena..., karena aku tak ingin kau datang lagi ke rumah ini."

Terkejut juga hati Jaka mendengar permintaan Anjani. Namun dia berusaha memaklumi, karena keadaannya belum begitu jelas. Sementara, Jempal Berek tak dapat berkata-kata atas keinginan Anjani.

"Aku telah bersuami, Kakang Jempal," lanjut Anjani pelan. "Aku harap, kau sudi memakluminya."

Jempal Berek menarik napas dalam-dalam. Sejurus lamanya hal itu dilakukan, sekadar untuk menenangkan pikirannya. Sejurus kemudian, tatapan matanya berpendar ke wajah Anjani.

"Aku dapat memakluminya, Anjani. Dan aku akan memenuhi keinginanmu itu," putus Jempal Berek. Ada nada kegetiran menyertai ucapannya. "Sebaiknya, aku pergi sekarang, Anjani. Sekali lagi, terima kasih atas bantuanmu."

Jempal Berek menyelipkan pisau yang pada bagian ujungnya telah dilumuri darah Baraka yang telah kering. Kemudian, dia bergerak bangkit, diikuti Jaka.

"Terima kasih, Nini Anjani," ucap Jaka. "Kami permisi, karena harus secepatnya mencegah perbuatan keji Dedemit Selaksa Nyawa."

Anjani menganggukkan kepala perlahan. Seiring anggukannya, tubuh Jaka dan Jempal Berek melesat cepat bagai kilat.

***
SEMBILAN
"Ha ha ha...!"

Suara tawa yang dikerahkan lewat tenaga dalam tinggi seketika terdengar mendirikan bulu tengkuk Suara tawa itu menggema, dan memantul dindingdinding bangunan rumah Kepala Desa Wargidami.

Di halaman kediaman Talunjak yang cukup luas, nampak sosok tinggi besar berpakaian warna merah darah tengah berdiri pongah. Sosok yang tak lain Dedemit Selaksa Nyawa!

"Cepat serahkan bayi itu..!"

Kembali suara lelaki dengan anting-anting pada telinga sebelah kiri itu menggema dan memantul dinding-dinding bangunan kediaman Talunjak. Dan pada saat yang sama, melesat bayangan kuning keemasan begitu cepat dari dalam rumah Kepala Desa Wargidami.

"Hip!"

Sosok bayangan kuning keemasan yang ternyata pemuda berjuluk Raja Petir itu mendarat manis beberapa tombak di hadapan Dedemit Selaksa Nyawa. Jaka segera menatap wajah lelaki berpakaian warna merah darah yang berdiri pongah di hadapannya. Dia sepertinya memandang sebelah mata akan kehadiran pemuda yang begitu digdaya.

Raja Petir membalas tatapan Dedemit Selaksa Nyawa yang meremehkan, dengan seulas senyum mengejek.

"Ha ha ha. Besar juga nyalimu, Bocah," tukas

Dedemit Selaksa Nyawa merendahkan. "Aku senang pada keberanianmu. Namun sayang, keberanianmu itu bukan pada tempatnya!"

Jaka mencibir mendengar ucapan Dedemit Selaksa Nyawa.

"Tampayak! Ku ingatkan agar jangan sekali lagi berkata sombong seperti itu! Kusarankan, tinggalkanlah tempat ini sebelum kesabaranku habis!" hardik Jaka, membangkitkan kemarahan Dedemit Selaksa Nyawa.

"Bocah  edan!  Dari  mana  kau  tahu  namaku, heh?!"

"Tak perlu kau tanyakan itu, Dedemit Laknat!

Yang perlu kau lakukan hanyalah merubah kelakuan bejatmu!" kata Jaka menggelegar, karena dikeluarkan melalui pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Hm"

Terkejut Dedemit Selaksa Nyawa menyaksikan kehebatan tenaga dalam pemuda berpakaian kuning keemasan yang berdiri tenang di hadapannya. Seketika, ingatannya terbawa akan kehebatan sosok muda yang namanya menggemparkan dunia persilatan belakangan ini. Sosok yang telah banyak menyingkirkan tokoh golongan hitam.

"Bocah inikah yang berjuluk Raja Petir?" gumam Dedemit Selaksa Nyawa, setelah memperhatikan Jaka dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Bocah! Sebaiknya menyingkirlah dari hadapanku. Jangan coba-coba menghalangi keinginanku. Itu pun kalau kau masih ingin tetap hidup!"

"Bukankah sebaiknya kau yang segera bertobat, Tempayak?!" timpal Jaka.

"Kurang ajar!"

Dedemit Selaksa Nyawa mundur selangkah. Gerakan kakinya demikian ringan, namun ternyata diiringi kibasan tangan yang begitu cepat dan terarah. Maka, selarik sinar berwarna merah seketika melesat cepat dari kibasan tangan lelaki berpakaian merah darah itu.

"Hih!"

"Hap!"

Jaka menghentakkan kakinya ke tanah. Tubuhnya bergerak ringan, melompat melambung tinggi dan berputaran dua kali di udara.

"Hup!"

Tubuh Jaka yang sekejap berputaran di udara, kini mendarat manis di tanah.

"Hanya sampai di situkah seranganmu, Tampayak?!" ejek Jaka.

Sesungguhnya, Jaka mengakui kedahsyatan serangan lawan yang mengandung hawa begitu panas menyengat Namun, semua itu ditutupi dengan ejekanejekan yang membuat telinga panas.

Mendengar ejekan Jaka, Dedemit Selaksa Nyawa kembali melancarkan serangan. Tak tanggungtanggung, tiga larik sinar merah langsung melesat cepat. Namun gerakan Raja Petir yang meloloskan bambu kecil yang berlubang di bagian tengahnya, juga tak kalah cepat. Bambu kecil itu tahu-tahu sudah terselip di antara celah bibir pemiliknya. Dan seketika itu juga....

Slats! Slats! Slats!

Tiga larik sinar keperakan melesat cepat seperti sambaran petir dari lubang bambu kuning yang tertembus nafas Jaka.

Kini tampaklah tiga larik sinar merah dan tiga larik sinar keperakan meluruk cepat ke arah yang berlawanan. Sinar-sinar itu seketika bertemu di udara, dan....

Glarrr...!

Tiga ledakan dahsyat terjadi, seperti hendak mengguncangkan Desa Wargidami. Dedemit Selaksa Nyawa cukup takjub melihat kemampuan yang dimiliki lawannya. Secara tak sadar, diakuinya kehebatan Raja Petir yang belakangan ini namanya cukup tersohor.

Belum selesai Dedemit Selaksa Nyawa dengan keterpanaannya, tiba-tiba tubuh Jaka melesat cepat. Tangannya yang menegang kaku dilayangkan ke tubuh lawan, membawa hawa kematian.

Plak!

Sambaran tangan Jaka yang mendarat telak di ulu hati tak dirasakan Dedemit Selaksa Nyawa, meski harus terdorong satu langkah ke belakang. Sementara, tubuh Jaka yang juga terdorong oleh pengerahan tenaga dalam lawan, sudah mendarat mulus di tanah setelah melakukan salto di udara. 

Raja petir juga takjub melihat kekuatan tenaga dalam lawan. Tapi dia ingin menjajalnya sekali lagi. Maka dengan gerakan cepat diraihnya ranting kering yang berada tak jauh darinya. Ranting kering itu seketika dilemparkan disertai pengerahan tenaga dalam penuh. Bunyi berdesing terdengar mengiringi tibanya ranting kering itu.

Siiing...! Crat!

Ranting kering yang dilempar Jaka berhasil menembus kulit tubuh Dedemit Selaksa Nyawa yang seketika itu juga mengucurkan darah segar.

Akan tetapi, bukan main terkejutnya Jaka menyaksikan darah yang menyentuh tanah seketika menjelma menjadi sosok Tampayak yang lain! Meskipun, sebelumnya Jaka sudah mengira kalau hal itu akan terjadi.

Jaka mundur selangkah ketika tujuh sosok tubuh jelmaan Dedemit Selaksa Nyawa merangsek maju. Seketika itu juga, pikirannya teringat akan keterangan Jempal Berek yang mengatakan kalau tak perlu melawan jelmaan darah Dedemit Selaksa Nyawa.

Ketika jelmaan Tampayak semakin mendekati tubuhnya, Jaka segera bertindak seperti yang diucapkan Jempal Berek. Dia tetap berdiri tegak pada tempatnya. Sikap yang dilakukan mirip sebuah patung. Namun, sesungguhnya Jaka tetap menjaga kewaspadaan.

"Betul apa yang dikatakan Jempal Berek" gumam Jaka setelah menyaksikan jelmaan darah Dedemit Selaksa Nyawa bergerak mundur. Kemudian ketujuh sosok itu menghilang setelah tiga langkah bergerak ke belakang.

Melihat apa yang telah dilakukan Raja Petir, De demit Selaksa Nyawa tersentak bagai disengat seribu kala berbisa. Wajahnya seketika merah padam. Sungguh di luar perkiraan kalau lawannya mampu mengetahui kelemahannya. Padahal..., sejauh ini tak ada seorang tokoh sakti pun yang mengetahui kelemahannya, selain Jempal Berek yang berjuluk si Iblis Mata Merah.

"Apakah Jempal Berek yang telah membongkar kelemahan ku pada anak muda yang kini tengah ku hadapi?" duga Tampayak dalam hari.

Dedemit Selaksa Nyawa menatap dalam-dalam wajah Raja Petir. Dia menduga-duga, apa yang menyebabkan kelemahannya dapat terbaca oleh lawannya.

"Ah!" bantah Dedemit Selaksa Nyawa kemudian. "Jempal Berek tak mungkin melakukan hal itu, kecuali kalau kepalanya ingin kupenggal! Dan apa yang telah dilakukan Raja Petir, hanya sebuah kebetulan saja."

Dengan penasaran, Dedemit Selaksa Nyawa kembali menjelmakan darahnya menjadi sosok yang dua kali lipat banyaknya. Dan dengan segera makhluk-makhluk jelmaan itu diperintah untuk merangsek maju.

Menghadapi jelmaan-jelmaan darah Dedemit Selaksa Nyawa, Raja Petir segera melakukan hal yang sama seperti tadi. Tubuhnya tak bergerak seperti patung dengan tingkat kewaspadaan tinggi.

Kejadian seperti yang pertama, kembali disaksikan Jaka. Sosok-sosok jelmaan darah Dedemit Selaksa Nyawa yang berjumlah belasan itu bergerak tiga langkah ke belakang. Dan tak lama kemudian, sosoksosok itu lenyap semua.

"Nghmmm...!"

Dedemit Selaksa Nyawa menggeram keras melihat lawannya melakukan hal yang serupa. Matanya terbelalak lebar, dan memerah seperti bara.

"Raja Petir!" dengus Tampayak menggelegar. "Aku tak tahu, bagaimana caranya kau dapat mengetahui kelemahan aji 'Selaksa Sukma' yang kumiliki. Tapi, Dedemit Selaksa Nyawa tak akan membiarkan nyawamu berada terlalu lama dalam raga mu. Bersiaplah menjemput kematian, Bocah!"

Baru saja Dedemit Selaksa Nyawa hendak mengibaskan tangannya, seketika berkelebat sesosok bayangan kemerahan disertai bentakan keras.

"Tunggu...!"

Sosok bayangan kemerahan yang melesat dari dalam rumah Kepala Desa Wargidami itu seketika mendarat tepat di samping kiri Jaka.

"Jempal Berek?!"

Terkejut bukan main Dedemit Selaksa Nyawa melihat kehadiran muridnya. Pikirannya yang cermat seketika dapat menduga kalau Jempal Berek melakukan persekutuan dengan Raja Petir untuk menyingkirkannya. "Kau terkejut, Tampayak?" ejek Jempal Berek. Tangannya yang memegang sebilah pisau pipih yang telah terlumur darah, segera disodorkan ke hadapan Jaka.

Dedemit Selaksa Nyawa semakin terkejut menyaksikan kelakuan Jempal Berek. Darahnya yang mendidih, seketika naik ke ubun-ubun.

"Keparat kau, Jempal Berek!" maki Tampayak, geram.

Jempal Berek sedikit pun tak gentar mendengar bentakan Dedemit Selaksa Nyawa yang tidak mainmain. Di wajahnya malah tampak seulas senyum.

"Kematian akan segera menjemput mu, Tampayak!" ledek Jempal Berek.

"Nghmmm...!"

Dedemit Selaksa Nyawa menggeram keras. Tangan kanannya secepat kilat dikibaskan ke arah Jaka dan Jempal Berek

Wusss...!

Tiga larik sinar merah seketika melesat cepat. Jaka dan Jempal Berek segera melenting ke udara dengan manis. Namun seiring lentingan itu, tangan Dedemit Selaksa Nyawa bergerak cepat luar biasa. Beberapa senjata pipih yang mengelilingi pinggang, tahutahu sudah melayang cepat ke arah tubuh Jaka dan Jempal Berek yang tengah berputar di udara.

Suara berdesing mengiringi tibanya serangan yang dilancarkan secara mendadak. Jaka yang kepekaannya sudah mencapai taraf kesempurnaan, segera dapat membaca hawa maut yang da tang ke arahnya. Dalam keadaan masih di udara, tubuhnya segera di lempar ke kanan dan jatuh di tanah, lalu bergulingan beberapa kali.

Akan tetapi tidak demikian halnya Jempal Berek. Lelaki berpakaian merah dengan garis hitam itu tak mampu menghindari terjangan senjata pipih yang mengandung racun ganas dan mematikan. Dua dari sekian banyak senjata pipih yang melayang cepat, menemui sasaran tepat di bagian tubuh Jempal Berek.

Crab! Crab! "Aaa...!

Bruk!

Tubuh Jempal Berek jatuh berdebuk di tanah. Sebentar tubuhnya menggeliat menahan rasa sakit yang teramat sangat. Dan sebentar kemudian, tubuhnya menegang kaku dengan seluruh permukaan kulit berwarna biru.

Tersedak Jaka menyaksikan keganasan senjata yang dimiliki Dedemit Selaksa Nyawa. Segera saja kewaspadaannya ditingkatkan.

Lain halnya dengan Dedemit Selaksa Nyawa. Wajahnya yang menegang geram, menandakan kalau tidak puas akan kematian Iblis Mata Merah.

"Hih!"

Dengan mengandalkan kecepatan geraknya, Dedemit Selaksa Nyawa mengibaskan senjatanya yang beracun ganas. Akan tetapi, Jaka telah dapat membaca gerakan yang dilakukan lawan.

Dengan melangkahkan kaki kanan ke belakang hingga membentuk kuda-kuda rendah, Raja Petir melancarkan jurus 'Pukulan Pengacau Arah'. Angin keras bergulung seketika keluar dari telapak tangannya yang terbuka. Angin keras itu lebih mirip pusaran angin yang siap menyapu benda-benda yang berada di sekitarnya.

Angin bergulung ciptaan Jaka terus meluruk, menghadang senjata beracun milik Dedemit Selaksa Nyawa yang melesat dari arah berlawanan.

Trak! Trak!

Senjata andalan Dedemit Selaksa Nyawa seketika luruh ke bumi, tersapu angin bergulung yang meluruk cepat. Bukan itu saja. Angin yang keluar melalui jurus 'Pukulan Pengacau Arah' terus maju, menerjang Dedemit Selaksa Nyawa.

"Huh!"

Dedemit Selaksa Nyawa tidak berani main-main menghadapi angin yang bergulung seperti pusaran angin itu. Segera dilakukannya gerakan dengan melenting tinggi-tinggi.

Namun siapa yang mengira kalau Jaka dengan kecepatan luar biasa, cepat menghentakkan pisau kecil yang telah dilumuri darah Baraka. Darah keturunan Dedemit Selaksa Nyawa!

Siiing...!

Suara berdesing mengiringi kedatangan senjata yang dilemparkan Raja Petir dengan pengerahan siaga dalam penuh. Pisau kecil yang bagian ujungnya telah dilumuri darah Baraka itu  terus  meluncur  cepat,  dan Crab!

Senjata itu tepat menghunjam jantung Dedemit Selaksa Nyawa, hingga melesak masuk. Awalnya, Dedemit Selaksa Nyawa tidak merasakan apa-apa ketika senjata itu menghunjam jantungnya. Akan tetapi ketika kakinya menjejak tanah, kenyerian yang teramat sangat segera dirasakannya. Tubuhnya seketika limbung. Dan kesempatan baik itu segera dimanfaatkan Raja Petir.

Dengan sabuk yang telah lolos dari pinggangnya, Jaka merangsek maju. Dan sekali hentak saja, sabuk warna kuning itu sudah berkelebat mengeluarkan sinar warna putih keperakan seperti petir. Begitu cepat sambaran sinar itu meluruk mendekati tubuh Dedemit Selaksa Nyawa yang tengah oleng.

Glarrr...!

Ledakan keras tercipta begitu sinar putih keperakan melanda tubuh Dedemit Selaksa Nyawa. Tubuh tokoh sesat mengiriskan itu kontan hangus. Tanpa menimbulkan erangan lagi. Nyawa Tampayak melayang meninggalkan raga, begitu ambruk di tanah.

Raja Petir seketika menarik napas dalamdalam. Pertarungan yang baru saja diselesaikan telah banyak menguras tenaganya.

Sementara dari dalam bangunan luas, sosok tubuh Talunjak terlihat berlari menghampiri Jaka. Saat itu, Raja Petir tengah memandangi mayat Dedemit Selaksa Nyawa yang hangus bagai terbakar.

Namun belum sempat Kepala Desa Wargidami itu mendekati, pemuda berjuluk Raja Petir itu telah melesat cepat, meninggalkan tempat pertarungan.

"Tolong urus mayat-mayat itu, Ki," perintah Jaka dengan pengerahan tenaga dalam tinggi. Sehingga ketika tubuhnya tak terlihat lagi, suara itu masih terdengar.

Kepala Desa Wargidami tertegun sesaat lamanya Namun sebentar kemudian sudah menyadari. Matanya segera dilayangkan ke arah kepergian Raja Petir.

"Terima kasih, Raja Petir," gumam Talunjak
SELESAI