Serial Raja Petir eps 04 : Asmara Sang Pengemis

SATU
Untuk sesaat lamanya, jagat semesta terbalut hawa kesejukan. Matahari yang biasanya bersinar garang, nampak malu-malu mengintip di balik awan. Dari arah Timur, awan gelap nampak berarak perlahan. Suasana alam yang sedemikian itu rupanya membuat hangat pembicaraan orangorang di dalam sebuah kedai, di Desa Soreang. Bukan saja dari kalangan penduduk Desa Soreang yang ada. Rupanya orang luar yang kebetulan lewat di desa itu juga ikut hadir.

Dari sekian banyak orang yang sibuk membicarakan kelebihan seseorang, hanya dua orang pemuda berusia sekitar dua puluh dan dua puluh tiga tahun yang tidak tertarik pada pembicaraan yang semakin lama semakin hangat. Namun tak urung telinga kedua pemuda berpakaian kuning keemasan dan biru putih mendengar juga. Ditilik dari potongan pakaiannya, mereka seperti dari golongan rimba persilatan.

"Kalau aku memang tidak memimpikan jadi pendampingnya. Namun aku juga punya harapan untuk itu. Yah..., jodohkan di tangan Sang Pencipta. Barangkali saja akulah laki-laki yang telah diciptakan untuk mendampingi Dewi Intan Baiduri," kala seorang lelaki yang memiliki jenggot tak rata. Sekilas, matanya dikerjap-kerjapkan.

"Ha ha ha... Kalaupun ditakdirkan berjodoh dengan Dewi Intan Baiduri, setidaknya kau harus punya rasa malu hati, Subiran," timpal lelaki berpakaian dan berkulit putih. Matanya sipit, mirip orang dari daratan Cina. "Antara kau dan Dewi Intan Baiduri bagaikan langit dan bumi. Jauuuh..., sekali jaraknya."

Lelaki bernama Subiran hanya tersenyum-senyum melihat kelakuan temannya yang bergaya seperti anggota topeng itu. Karena sambil berkata, dia merentang-rentangkan tangannya.

"Kalau aku," selak seseorang yang berpakaian warna merah menyolok. "Aku tetap berkeinginan melamar langsung Dewi Intan Baiduri. Hatiku rasanya sudah tak sanggup menahan siksa asmara ini. Biar hartaku sedikit, aku tetap nekat untuk melamarnya. Biar begini aku memiliki ilmu silat yang sedikit banyak dapat melindungi Dewi Intan Baiduri dari godaan-godaan lelaki hidung belang macam kamu."

Lelaki berpakaian merah menyolok menunjuk orang yang duduknya tak jauh darinya. Sedang lelaki berpakaian hitam berbelang putih yang ditunjuk, malah mendelik.

"Kau beraninya hanya denganku saja, Kirik!" bentak lelaki berpakaian putih bergaris hitam. "Cobalah kalau kau bertemu tokoh sakti kejam, yang juga jatuh cinta pada Dewi Intan Baiduri. Mana berani kau menyainginya. Bahkan kau pasti akan lari terkencing-kencing. Ha ha ha...!"

"Brengsek!" maki lelaki bernama Kirik.

Pembicaraan mengenai Dewi Intan Baiduri yang memiliki kecantikan bagai bidadari turun dari kahyangan terus berlanjut hangat. Sementara di luar kedai, tiga lelaki kasar berpakaian kelabu tampak tengah berjalan menuju kedai yang hanya menyisakan dua tempat duduk.

Dengan sikap jumawa, tiga lelaki berotot menonjol itu memasuki kedai sederhana. Ki Somaka yang merupakan pemilik kedai bergegas menghampiri mereka.

"Silakan duduk, Tuan," ucap Ki Somaka penuh hormat. "Ah! Sebentar ku ambilkan satu kursi lagi."

"Tak usah!" sentak salah seorang dari ketiga lelaki kasar itu, mantap. "Aku hanya ingin bertanya sebentar."

"Ah, apa yang ingin Tuan-tuan tanyakan?" tukas Ki Somaka hati-hati.

Lelaki yang bertubuh kekar dan berambut keriting tak terurus sekilas melayangkan pandangan pada orang-orang di dalam kedai Ki Somaka.

"Siapa di antara kalian yang tahu tempat tinggal Dewi Intan Baiduri?" tanya lelaki berambut keriting tak terurus, kepada orang-orang di dalam kedai.

"Saya tidak tahu, Tuan," jawab Ki Somaka.

"Jangan menjawab kalau tidak tahu!" bentak lelaki yang lain

Tubuh Ki Somaka seketika mengkeret ketakutan Sementara itu, pemuda berpakaian kuning keemasan itu melayangkan pandangan ke arah tiga lelaki yang baru datang. Namun, tidak begitu pada lelaki yang duduk di dekatnya. Dia justru malah menatap wajah pemuda berpakaian kuning keemasan lekat-lekat. Matanya terus bergerak, menyelusuri tubuh pemuda itu.

Memang kalau diperhatikan, pemuda berpakaian kuning keemasan itu cukup menarik perhatian. Pada pergelangan tangannya tampak sebuah senjata aneh. Hanya sebatang bambu kecil, mirip sumpit. Dan rasanya hanya seorang pendekar yang memiliki senjata seperti itu. Ya, dialah si Raja Petir! Seorang pemuda tampan yang mempunyai nama asli Jaka Sembada.

"Saya tahu, Tuan," tiba-tiba Kirik yang cukup berani menanggapi pertanyaan tiga orang lelaki yang baru masuk kedai. "Tapi jaraknya dari tempat ini terlalu jauh. Butuh setengah hari perjalanan."

"Ha ha ha.... Bagus! Tak sia-sia aku bertanya di kedai ini," ujar lelaki berambut keriting tidak terurus. "Tadinya aku akan membakar kedai ini kalau di antara kalian tidak ada yang tahu rumah Dewi Intan Baiduri."

Kemudian jari telunjuk lelaki itu digerak-gerakkan, sebagai tanda menyuruh Kirik menghampirinya. Orang-orang yang berada dalam kedai milik Ki Somaka terkejut mendengar ucapan lelaki bertubuh kekar yang rambutnya keriting tak terurus itu. Terlebih, Ki Somaka. Jantungnya malah terasa ingin lepas mendengar ucapan yang tidak main-main itu. Sedangkan di tempat duduknya, Jaka Sembada sedikit mengangkat alis matanya, mendengar ucapan bernada angkuh itu.

Sementara itu, Kirik dengan langkah takut-takut mendatangi tiga lelaki kekar yang baru masuk.

"Kau betul-betul tahu kediaman Dewi Intan Baiduri?" tanya lelaki berambut keriting tak terurus.

"Ta..., ta..., tahu, Tuan," jawab Kirik, tersendat.

"Bagus! Sekarang juga ikut aku. Jika aku dibawa pada tempat yang salah, kepalamu akan kupenggal!"

Keras suara lelaki berambut keriting tak terurus itu. Tangannya yang bergerak cepat, tahu-tahu sudah meloloskan golok besar yang terselip di pinggangnya.

"Tapi, Tuan..."

"Tidak ada tapi-tapian. Kau harus mengantarku!" bentak lelaki berambut keriting. Bahkan golok besarnya hampir ditempelkan ke leher Kirik.

Kirik tidak bisa berkata apa-apa lagi. Apalagi ketika tubuhnya ditarik paksa oleh lelaki berambut panjang sebahu bersama lelaki berambut ikal.

"Jangan memaksa kalau dia tak mau, Kisanak," kata Jaka, pelan.

Namun ucapan yang pelan seperti itu justru sempal membuat tiga orang lelaki kasar berpakaian warna kelabu terkejut. Salah seorang di antara mereka cepat membalikkan badan.

"Monyet kecil! Berani benar kau menahan langkahku!" bentak lelaki yang berambut keriting. Tangan kirinya nampak bertolak pinggang dan tangan kanannya menuding wajah Jaka.

"Aku tidak menahan langkahmu, Kisanak. Aku hanya memberi tahu kalau dia tidak bersedia mengantarmu. Mungkin tempat tinggal Dewi Intan Baiduri terlalu jauh, sementara lelaki itu punya urusan lain. Kusarankan, carilah sendiri," ujar Jaka tenang dan tak bergerak dari tempat duduknya.

"Kalau begitu, kau harus mengantarkan kami!" dengus lelaki berambut keriting, seraya menyambar tubuh Kirik dengan kakinya.

Plok!

Pantat Kirik yang ditendang keras oleh lelaki berambut keriting karuan saja membuat tubuhnya terdorong keras ke depan. Hampir saja Kirik membentur tubuh Jaka. Untung saja, pemuda digdaya itu segera menahan laju tubuh Kirik.

"Kau duduk saja di sini. Biar aku yang mengantar tiga lelaki tak tahu sopan santun itu!" ujar Jaka keras. Tubuhnya yang sudah berdiri, seketika menjejakkan kakinya.

Tubuh Jaka langsung melesat cepat, keluar dari dalam kedai milik Ki Somaka. Semua mata orang yang berada di dalam kedai terbelalak kagum menyaksikan gerakan pemuda berpakaian kuning keemasan itu.

Tiga lelaki kekar berpakaian kelabu dan masing-masing menyandang golok besar itu seketika geram melihat tingkah Jaka. Tak lama, tubuh mereka juga berkelebat keluar dari kedai milik Ki Somaka.

***

"Mau kuantar?" tanya Jaka, setelah ketiga lelaki bertubuh kekar itu menjejakkan kaki di dekatnya.

"Tak kusangka, ternyata kau punya kebolehan juga, Monyet Kecil!" hardik lelaki berambut sebahu.

"Kau mau kuantar?" tanya Jaka mengulangi pertanyaannya tanpa mempedulikan hardikan lelaki di hadapannya.

"Monyet kecil! Kau jangan main-main dengan kami!" bentak lelaki yang berambut ikal dan bertubuh agak padat berisi. "Aku tak segan-segan memisahkan kepala dari badanmu!"

"Kalian ini betul-betul manusia aneh," kata Jaka, berlagak orang bodoh. "Aku ingin menolong, tapi justru kalian ingin memenggal kepalaku. Ah, itu kan mustahil."

"Aku tidak butuh pertolonganmu!" sentak lelaki berambut keriting tak terurus.

Suara orang itu terdengar menggelegar, bagai petir di siang hari bolong. Bahkan tubuhnya langsung bergerak cepat. Seketika tangannya yang terkepal tahutahu sudah di depan wajah Raja Petir.

"Uts!"

Jaka memiringkan kepala ketika pukulan keras yang dilancarkan lawan hampir mendarat di wajahnya.

"Kau ini aneh, Kisanak," ledek Raja Petir sambil melompat menghindari sambaran yang mengarah ke kaki.

"Uts!"

"Kurang ajar!"

Lelaki berambut keriting itu terus memaki-maki, manakala tak satu pun serangannya mengenai sasaran. Lalu....

Srat!

Dengan kegeraman yang amat sangat, lelaki berambut keriting itu mencabut goloknya. "Kau harus mampus, Monyet! Hiyaaa. !"

Bet! Bet! "Uts!"

Jaka terus melentingkan tubuhnya untuk menghindari sambaran-sambaran golok besar yang dilancarkan lawan. Dan pada satu kesempatan, Raja Petir berhasil mendarat manis di tanah, agak jauh dari lawannya. Sedangkan lelaki berambut keriting itu terus menerjang sambil menyabetnyabetkan goloknya secara menyilang dan mendatar. Namun dengan kecepatan luar biasa, Jaka segera memapak pergelangan tangan lawan.

Plak! "Ugkh. !"

Lelaki berambut keriting itu mengeluh tertahan. Tangan kanannya yang memegang golok besar kontan bergetar hebat, seperti tersengat ribuan lebah.

Melihat temannya tak berdaya, dua lelaki lain maju bersamaan. Golok masingmasing dikibas-kibaskan ke arah kepala dan perut Jaka.

Bet! Bet! "Uts!"

Jaka cepat menghindar dengan meliuk-liukkan badannya, bagai penari yang diiringi tetabuhan.

"Awas!"

Dan ketika Raja Petir punya kesempatan untuk mengirim serangan balasan, kedua lawannya pontang-panting menghindari. Padahal serangan Jaka tidak sungguh-sungguh. Namun ketiga lelaki berpakaian kelabu itu memang keras kepala. Bahkan kini mereka bertiga kembali merangsek maju dengan senjata teracung di udara.

"Hiaaa!"

"Hiya! Hiya...!"

Menyaksikan serangan ketiga lelaki itu betul-betul mengandung hawa membunuh, Jaka tak segan-segan lagi memberi pelajaran. Tubuhnya yang tengah berdiri tegak, seketika bergerak cepat. Kaki kanannya langsung menyambar diimbangi kepalan tangan yang bergerak maju. Begitu cepat gerakannya, hingga ketiga lelaki kekar berpakaian kelabu itu tak bisa menghindar.

Duk! Plak! Plak!

Tiga sosok tubuh sekaligus kontan roboh di tanah, begitu terkena tendangan dan hantaman Raja Petir. Padahal, serangan Jaka tidak disertai tenaga dalam, namun cukup membuat lawan-lawannya mengeluh kesakitan. Mereka meringis sambil memegangi dada yang terasa sesak, akibat pukulan dan hantaman Raja Petir.

"Ughk...!"

"Kalian tetap minta diantar lelaki di dalam kedai itu?" tanya Jaka dengan jari telunjuk teracung ke arah kedai.

Ketiga lelaki yang tengah merintih kesakitan itu tak menjawab pertanyaan pemuda berpakaian warna kuning keemasan yang berjuluk Raja Petir.

"Huh!"

Agak sedikit mendongkol, akhirnya Jaka meninggalkan ketiga lelaki yang tergeletak di tanah. Langkahnya cepat, ke arah kedai milik Ki Somaka.

"Di mana rumah Dewi Intan Baiduri itu, Kisanak?" tanya Jaka pada Kirik.

"Arah Selatan sana," jawab Kirik pelan.

Jaka kembali menatap ke arah tiga lelaki yang kini sudah mampu bangkit.

"Kalian cepatlah pergi ke arah Selatan sana!" bentak Jaka lantang. "Cepat! Aku tak sudi lagi melihat kalian tetap di sini. Cepat pergi sebelum kesabaranku hilang!"

Sesungguhnya, hati kecil Raja Petir tertawa menyaksikan tiga lelaki bertubuh kekar itu berjalan terbirit-birit.

"Terima kasih, Tuan! Kalau  tidak ada Tuan, mungkin kedai saya ini sudah rata dengan tanah," ucap Ki Somaka seraya menghampiri Jaka dengan menundukkan badan. 

"Ah! Jangan bersikap kaku seperti itu, Ki," bantah Jaka. "Saling tolong menolong itu hal yang biasa."

"Terima kasih, Tuan."

"Ah, ya. Berapa yang harus kubayar atas suguhanmu itu, Ki?" tanya Jaka sambil merogoh saku pakaiannya.

"Eh, tidak. Tidak usahlah, Tuan. Pertolongan Tuan barusan sudah lebih dari sekadar makanan itu," tolak Ki Somaka.

Jaka segera meraih tangan Ki Somaka.

"Jangan begitu, Ki. Tujuan Ki Somaka membuka kedai ini kan mencari uang."

Jaka meletakkan uang di telapak tangan Ki Somaka yang mau tak mau harus menerimanya

"Terima kasih, Tuan," ujar Ki Somaka

Setelah menganggukkan kepala, Raja Petir meninggalkan kedai Ki Somaka. Sepasang mata lelaki berpakaian biru putih tampak mengikuti langkah-langkah kecil Jaka.

***
DUA
"Kak! Kak! Tunggu...!"

Raja Petir menghentikan langkahnya ketika mendengar suara orang yang memanggil. Dan dugaannya, suara itu ditujukan untuknya. Maka, segera saja Jaka menoleh. Tampak, seorang lelaki berpakaian biru putih berlari-lari kecil ke arahnya.

"Tunggu sebentar, Kak," pinta orang itu.

"Ada apa?" tanya Jaka ketika lelaki

berpakaian warna biru putih itu sudah mendekat. Diperhatikannya lelaki itu. "Kau seperti yang berada di dalam kedai Ki Somaka?"

"Benar. Namaku Somawiguna, Kak," kata lelaki itu, memperkenalkan diri.

"Ada apa lagi ke kedai Ki Somaka?" 

"Eh! Tidak ada apa-apa, Kak," jawab lelaki berpakaian warna biru putih yang mengaku bernama Somawiguna.

"Panggil saja Jaka, jangan kak. Dan kurasa, usiamu lebih tua sedikit dariku," pinta Jaka.

"Baik, Kak.... Eh! Anu, Jaka."

Jaka tersenyum melihat kelakuan Somawiguna.

"Lalu, ada urusan apa kau mengejarngejarku, Soma?" tanya Jaka lagi.

"Anu..., aku hanya ingin minta bantuanmu, Jaka." 

"Bantuan? Bantuan apa?" tanya Jaka sambil melangkah perlahan.

Somawiguna kemudian mengikuti langkah kaki Jaka.

"Aku kagum akan kehebatanmu barusan. Aku ingin kau menerimaku sebagai sahabat," pinta Somawiguna.

Jaka tersenyum lebar mendengar permintaan Somawiguna. Tanpa ragu-ragu, dirangkulnya bahu lelaki berpakaian biru putih itu.

"Hanya itu permintaanmu, Soma?" 

Somawiguna menganggukkan kepala. Kemudian, mereka berjalan beriringan.

***

Di atas sebatang pohon yang tumbang melintang, Jaka dan Somawiguna duduk santai sambil berbincang-bincang. Kicau burung yang berlompatan dari tangkai pohon ke tangkai lainnya, membuat Jaka dan Somawiguna betah duduk berlama-lama. Apalagi udara di sekitar tempat itu cukup sejuk, sehingga mereka enggan meninggalkan tempat itu.

"Menurut orang-orang, Dewi Intan Baiduri itu memiliki kecantikan yang tak ada bandingannya. Malah ada yang bilang, kecantikannya mampu mengalahkan kecantikan bidadari dari kahyangan," kata Somawiguna sambil mengorek-ngorek kulit pohon yang didudukinya.

"Seperti yang lain, kau berminat juga melamar Dewi Intan Baiduri, Soma?" selak Jaka.

"Aku seorang lelaki, Jaka. Wajar saja kalau mempunyai perasaan seperti itu," jawab Somawiguna tanpa memandang wajah Jaka. "Tapi, yah.... Aku harus berpikir sepuluh kali untuk dapat melamarnya."

"Kenapa harus berpikir  sepuluh kali? Kalau mau melamar, yang lamar saja," cetus Jaka.

"YangmenyukaiDewiIntanBaiduri bukanhanyaakuseorang,Jaka.Banyak! Yang lebih ganteng, yang lebih gagah, dan yang lebih kaya serta memiliki kepandaian ilmu silat. Sedangkan aku...?" keluh Somawiguna sambil menunjuk dadanya sendiri.

Jaka tentu saja tak bisa menyimpan tawa mendengar ucapan sahabat barunya.

"Jangan berkecil hati, Kawan."

"Aku tidak berkecil hati. Apa yang kukatakan barusan, hanya sekadar mawas diri saja. Aku tak memiliki apa-apa selain modal tampang."

"Ha ha ha...," terlepas tawa Jaka mendengar ucapan Somawiguna. "Kau ingin aku membantumu untuk mendapatkan Dewi Intan Baiduri?"

Somawiguna tentu saja terbelalak kaget mendengar pertanyaan Jaka. "Kau tidak bergurau, Jaka?" tandas Somawiguna, sambil menatap wajah Jaka lekat-lekat. Seolah-olah dia meminta kepastian secepatnya.

"Kau bersungguh-sungguh menginginkannya?" Jaka balik bertanya.

"Kalau kau bersungguh-sungguh ingin membantuku, aku yakin dapat mendampingi Dewi Intan Baiduri selamanya," yakin Somawiguna. Dan keyakinannya itu mengejutkan Jaka.

"Kenapa kau tiba-tiba begitu yakin?" tanya Jaka, ingin tahu.

"Karena kau membantuku."

"Hm...," gumam Jaka, menatap wajah Somawiguna.

"Jaka! Dari ciri-cirimu, dan yang pernah kudengar dari mulut ke mulut, sepertinya kau adalah seorang pendekar muda. Dan julukanmu belakangan ini menggemparkan dunia persilatan," Somawiguna menghentikan ucapannya sesaat.

Kening Jaka kontan berkernyit. Ditatapnya Somawiguna dalam-dalam, seperti ingin mengetahui kelanjutannya.

"Itulah sebabnya, aku mengejarngejar dan memintamu mengakui ku sebagai seorang sahabat. Ah! Aku beruntung sekali hari ini mendapat seorang sahabat yang begitu digdaya."

"Kau bicara apa, Soma?" kejar Jaka, semakin bingung. Somawiguna bangkit dari duduknya. Sesaat, tubuhnya dibawa turun di hadapan Jaka. Sesaat kemudian, kepalanya ditundukkan.

"Terimalah salam hormatku, Raja Petir."

Tersedak kerongkongan Jaka mendengar ucapan terakhir Somawiguna.

"Jangan seperti itu, Soma. Apa bedanya kau dan aku?"

"Terima kasih. Kau memang seorang sahabat yang rendah hati."

Dan begitu Somawiguna selesai berkata seperti itu, tiba-tiba muncul orangorang bersenjata pedang dari arah yang berlawanan.

"Itu orangnya! Tangkap!" teriak salah seorang lelaki berpakaian coklat muda.

Seketika orang-orang yang menghunus pedang itu langsung merangsek maju. Pedangnya yang berkilat tertimpa cahaya matahari teracung-acung di udara.

"Tunggu!" bentak Jaka menggelegar. Matanya berkeliling menatap sepuluh lelaki yang berdiri di hadapannya dengan pedang terhunus.

"Anak muda! Sebaiknya jangan ikut campur!" hardik seorang lelaki berumur sekitar empat puluh lima tahun. Matanya tampak menatap Jaka dengan garang.

"Aku tak akan ikut campur bila kau menjelaskan duduk perkaranya," kata Jaka, tenang.

"Dialah salah seorang yang telah membegal rumah majikan kami," tunjuk lelaki berpakaian coklat berambut putih dan tersisir rapi. Dari tampangnya, terlihat kalau dia bukan golongan orang jahat.

Somawiguna yang dirinya dituduh sebagai perampok, tentu saja marah bukan kepalang. Namun, dicobanya untuk menurunkan kemarahannya. Apa-lagi, di sisinya ada Jaka yang pasti bisa menangani kesalahpahaman ini.

"Yang kau maksudkan, sahabatku ini, Kisanak?" tanya Jaka sambil menyentuh bahu Somawiguna.

"Ya! Dia dan ketiga orang temannya, telah mengeruk harta majikan kami," jelas lelaki yang kelihatannya sebagai pimpinan.

"Kapan dia mengeruk harta majikanmu?" selidik Jaka lagi.

"Baru saja," jawab lelaki itu sambil menudingkan pedangnya ke arah Somawiguna yang sudah waspada.

"Baru?" suara Jaka mirip desisan. "Ya! Baru. Ketika kami pergoki,

keempat pembegal itu kabur. Dan salah satunya lari ke sini."

Jaka tersenyum mendengar penjelasan lelaki berpakaian coklat yang rambutnya tersisir rapi.

"Kalau begitu kejadiannya, Kisanak telah salah menuduh orang," sanggah Jaka, menengahi. "Sejak pagi tadi, sahabatku ini selalu bersamaku. Bahkan tak pernah sekejap pun beranjak meninggalkan ku."

"Kau jangan membelanya, Anak Muda. Aku tak akan segan-segan menghukum mu, karena telah membela orang bersalah!" bentak lelaki yang rambutnya tersisir rapi.

"Kisanak! Sudah jelas-jelas kau salah menuduh orang, tetapi tetap tak mau mengakui. Sekarang juga kupertaruhkan nyawaku untuk membela kebenaran sahabatku. Aku yang berjuluk Raja Petir, pantang berbohong dan pantang membela orang yang jelas-jelas salah!" gertak Jaka.

Sengaja pemuda itu menyebutkan julukannya, semata untuk memberikan gambaran kalau yang di hadapan mereka bukanlah orang sembarangan.

"Raja Petir...?" desah lelaki berpakaian coklat, pelan. Matanya yang jalang, ditatapkan kembali ke seluruh tubuh Jaka.

"Kau mengaku-ngaku berjuluk Raja Petir? Heh! Lucu sekali! Mana mungkin bocah bau kencur sepertimu sudah memiliki julukan sehebat itu? Memang, ciri-cirimu mirip orang-orang persilatan. Tetapi."

"Terserah kau, Kisanak. Yang jelas, aku tak pernah memaksa agar kau bersedia mengakui diriku sebagai Raja Petir. Dan yang jelas lagi, aku tak bermaksud memamerkan julukan itu untuk membela kejahatan. Pantang bagiku melakukan itu," selak Jaka.

"Baiklah. Aku perlu bukti,  kalau kau memang betul-betul Raja Petir. Dan kalau terbukti, tuduhan itu kucabut," putus lelaki berpakaian coklat itu dengan pedang terhunus.

"Lalu, apakah kau ingin menjajal kebolehan ku, Kisanak?" tanya Jaka.

"Terpaksa."

Lelaki berusia sekitar empat puluh tahun lebih itu kemudian maju selangkah. Tangannya juga bergerak, memberi isyarat pada temannya untuk bergerak maju.

"Seraaang...!"

Seketika empat orang yang menghunus senjata pedang merangsek maju. Pedang mereka ditebas-tebaskan, hingga mengeluarkan bunyi mengaung keras. Arahnya tentu saja bagian-bagian tubuh Jaka yang mematikan.

Namun, Raja Petir mana mungkin sudi membiarkan serangan-serangan itu melukai tubuhnya. Maka dengan gerakan cepat dan ringan, tubuhnya bergerak menghindari tebasan yang bergelombang.

"Uts!"

Jaka kembali menundukkan kepala, menghindari tebasan pedang yang datang dari belakang. Lalu, kaki kirinya bergerak cepat, membuat penyerang itu hanya sekali saja melakukan serangan.

"Hih!"

Dengan tendangan setengah melingkar, Jaka mampu menyingkirkan pembokongnya. Akibatnya, tubuh pembokong itu terpental beberapa tombak.

"Akh!"

Kembali sodokan yang tidak disertai pengerahan tenaga dalam mendarat telak di dada lawan yang maju dengan pedang terarah ke leher Jaka.

"Sudah cukupkah, Kisanak?" kata Jaka pada lelaki berpakaian coklat yang rambutnya tersisir rapi.

"Keluarkan kemampuanmu yang lain, biar aku yakin kalau kau betul-betul Raja Petir," balas lelaki yang tidak ikut bertarung.

"Baik."

Jaka segera menghentakkan kedua kakinya ke tanah. Seketika saja, tubuhnya sudah melenting jauh ke belakang.

"Hup!"

Ketika Raja Petir mendaratkan kakinya dengan ringan, tangan kanannya segera meloloskan sabuk kuning yang melingkar di pinggang. Sinar menyilaukan mata seketika berpendar dari sabuk kuning yang sudah terlepas dari pinggang Raja Petir.

"Raja Petir...?" desah lelaki berpakaian coklat, dari jarak beberapa tombak.

"Lihatlah, Kisanak! Aku akan memperlihatkan ciri khusus ku!"

Selesai berkata seperti itu, Jaka segera mengebutkan sabuk kuning yang tergenggam di tangan kanan. Seketika seberkas sinar keperakan seperti petir keluar dari sabuk yang terlecut cepat. Sinar itu terus melesat, hingga terhadang sebatang pohon yang besarnya dua pelukan tangan lelaki dewasa.

Glarrr...!

Ledakan dahsyat terdengar memekakkan telinga, seiring tumbangnya pohon besar itu. Bunyi bergemuruh terdengar mengiringi jatuhnya pohon itu ke bumi.

Bummm...!

"Cukupkah, Kisanak?!" tanya Jaka dengan suara keras.

"Cukup! Kini aku percaya, kau memang berjuluk Raja Petir. Maafkan aku, Raja Petir. Perkataanku yang barusan hanya untuk membuktikan dan menyaksikan kehebatanmu secara langsung," ujar lelaki berpakaian coklat yang rambutnya tersisir rapi.

"Hm.... Jadi kau bersedia membebaskan temanku dari tuduhan tadi?" tukas Raja Petir.

"Kalau dia betul-betul temanmu, itu berarti aku telah salah menuduh orang. Untuk itu, aku mohon maaf. Selamat tinggal, Raja Petir...," ucap lelaki itu lagi. Tangannya seketika bergerak, memberikan isyarat agar orang-orangnya bergerak mundur. Dan perintahnya itu memang diikuti.

Lelaki berpakaian coklat beserta orang-orangnya kemudian meninggalkan Jaka dan Somawiguna dengan sikap penuh hormat. "Maaf, Soma. Sebenarnya aku tidak ingin membanggakan julukanku. Apalagi memamerkan kebolehan ku di mata mereka. Namun, sepertinya mereka tak mau mengerti, tanpa aku melakukannya. Kau dengar sendiri ucapan lelaki berpakaian coklat itu, kan?" ucap Jaka, setelah orang-orang yang menuduh Somawiguna sebagai pencuri lenyap di ujung jalan.

"Menurutku, tindakan yang kau ambil itu benar, Jaka. Dengan nama besar, sesuatu kejadian kadang akan lebih muda teratasi," sahut Somawiguna.

Mata pemuda berpakaian biru putih yang sedikit lebar, kembali menatap wajah Jaka penuh kagum. Somawiguna kagum akan kerendahan hati pendekar muda yang digdaya itu.

"Kita ke mana sekarang, Soma?"  tanya Jaka seraya membalas tatapan Somawiguna yang berbinar.

"Sebaiknya aku menyelidiki orangorang yang akan melamar Dewi Intan Baiduri. Kurasa, orang-orang rimba persilatan golongan hitam pun akan tertarik pada kecantikannya. Malah kalau boleh kutebak, akan terjadi keributan besar di antara tokoh-tokoh yang menginginkan Dewi Intan Baiduri. Ah! Kasihan gadis cantik itu, Jaka. Syukur-syukur orang bijaksana dan tampan yang tampil sebagai pemenang. Tapi bila sebaliknya...?" kata Somawiguna, bernada mengeluh.

"Dugaanmu bisa saja terjadi, Soma," timpal Jaka.

"Makanya, aku minta kesediaanmu membantuku. Tapi untuk sekarang ini, rasanya belum waktunya. Biar aku dulu yang menyelidikinya."

"Begitu pun boleh, Soma," sahut Jaka, setuju.

"Kalau begitu, aku pergi sekarang," pamit Somawiguna.

Jaka tidak melarang. Maka, seketika itu juga Somawiguna melesat meninggalkan Jaka sendirian. Rupanya, dia memiliki sedikit kepandaian juga. Buktinya, tubuhnya cukup cepat menghilang.

Rumah kediaman Dewi Intan Baiduri nampak sepi-sepi saja. Rumah tua itu tampak terawat baik, begitu sedap dipandang mata. Pekarangannya luas, ditumbuhi bermacam-macam tanaman bunga berwarna-warni. Dewi Intan Baiduri memang seorang dara jelita yang menyukai bunga-bungaan. Apalagi, yang berbau harum.

Di luar pintu pagar halaman, nampak duduk seorang lelaki berpakaian tak terurus dan berwajah rusak menjijikkan. Dari pakaiannya yang penuh tambalan warnawarni, bisa ditebak kalau dia adalah pengemis yang sedang berteduh di bawah pohon rindang.

Tak jauh dari pengemis yang sedang berteduh, nampak dua orang lelaki bertampang bengis tengah berjalan menuju pintu pagar halaman rumah Dewi Intan Baiduri. Tubuh mereka tinggi kekar, menampakkan otot-otot kuat, yang terbalut pakaian ketat warna merah senja.

Pengemis yang tengah berteduh di bawah pohon berdaun rindang, dengan mata yang dipicing-picingkan, terus mengikuti langkah-langkah kaki tegap milik dua orang lelaki bertubuh tinggi kekar itu. Tampak kehadiran mereka disambut dua orang lelaki penjaga rumah kediaman Dewi Intan Baiduri.

"Tuan-tuan ingin bertemu siapa?" tanya seorang lelaki bertubuh tinggi kurus

"Majikanmu," jawab lelaki berpakaian merah senja, yang wajahnya penuh bintik-bintik hitam.

Lelaki tinggi kurus itu menganggukanggukkan kepala.

"Majikan yang mana, Tuan?" tanya lelaki tinggi kurus kemudian.

"Memang majikanmu ada berapa?!" bentak lelaki bertubuh kekar yang wajahnya putih pucat, dengan mata terbelalak lebar.

Lelaki tinggi kurus yang berumur sekitar empat puluh tahun itu menjadi mengkeret nyalinya. Apalagi, saat melihat wajah putih pucat dengan mata terbelalak garang.

Namun, tidak demikian halnya lelaki tinggi kurus yang berusia lima tahun lebih muda. Dia tampaknya cukup tenang menjawab pertanyaan lelaki bertubuh kekar dengan wajah putih pucat.

"Majikan kami Ki Wiryamanggala, dan anak gadisnya bernama Dewi Intan Baiduri," jelas lelaki tinggi kurus yang lebih muda.

"Hm...!"

Lelaki berpakaian merah senja dengan wajah pulih pucat menggumam perlahan.

"Aku ingin bertemu dua-duanya." 

"Kalau boleh kami tahu, Tuan berdua siapa?"tanya lelaki tinggi kurus yang lebih muda, mulai berani.

"Heh! kau tak perlu tahu, Kacung!" bentak lelaki berwajah bintik-bintik hitam.

Lelaki tinggi kurus yang lebih muda itu agak tersinggung disebut kacung. Meskipun dirinya memang bekerja sebagai pembantu di sini, tapi Ki Wiryamanggala dan putrinya tak pernah menyebutnya kacung. Ingin sekali dihajarnya mulut usil lelaki berwajah bintik-bintik hitam itu. Namun untuk melakukannya, dia harus berpikir dua kali. Apalagi melihat senjata pedang besar yang tersandang di punggung kedua lelaki bertubuh kekar itu.

"Maaf, Tuan," agak kecut juga akhirnya hati lelaki tinggi kurus yang lebih muda usianya itu. "Kami harus tahu, dikarenakan harus melaporkan kedatangan Tuan-tuan pada majikan kami. Dan kalau kami ditanya, tentu tidak akan bisa menjawab."

Lelaki bertubuh kekar yang wajahnya putih pucat itu menatap lekat-lekat dua penjaga rumah kediaman Dewi Intan Baiduri bergantian.

"Katakan, kami utusan Raksasa Tangan Hitam ingin bertemu," sahut lelaki berwajah mirip mayat, pongah.

Sementara itu, lelaki pengemis yang sedang berteduh di bawah pohon, terkejut mendengar pengakuan dua lelaki berpakaian warna merah senja. Walaupun jaraknya cukup jauh, namun karena pendengarannya yang tajam, bukan mustahil kalau dia bisa menangkap pembicaraan itu.

"Raksasa Tangan Hitam...?" ulang pengemis itu, dalam hati. "Sebuah julukan yang cukup angker." Mata pengemis itu mengerjapngerjap, kemudian menatap lelaki penjaga rumah yang lebih tua. Dia tampak tengah beranjak tergopoh-gopoh, masuk ke rumah majikannya. Dan belum lagi dia menemui majikannya, seorang dara jelita tiba-tiba muncul dari balik pintu rumah yang berukir.

Wajah dara jelita itu demikian cantik. Kulitnya yang putih bersih, bersinar bagai bulan purnama. Hidungnya mancung, begitu pas dengan bola matanya yang hitam jeli. Apalagi juga dihiasi serisan bulu mata lentik.

"Ah! Ada tamu rupanya," suara merdu seketika terdengar dari bibir tipis yang bergerak indah. "Kenapa kalian tak mempersilakan masuk?"

Lelaki berwajah pucat dan lelaki berwajah berbintik-bintik hitam itu kontan tercengang kagum menyaksikan kecantikan dara di depan mata mereka.

Dan di lain tempat, si pengemis juga tampak tercengang. Bahkan dia sudah bangkit dari duduknya. Dengan mata tak berkedip, ditatapnya wajah Dewi Intan Baiduri dari kejauhan.

"Dewi...," batin pengemis yang pakaiannya dipenuhi tambalan warna-warni.

***

"Benar kalian utusan Raksasa Tangan Hitam?" tanya Dewi Intan Baiduri, lembut. Dua lelaki yang mengaku utusan Raksasa Tangan Hitam tak lekas menjawab pertanyaan dara jelita yang berdiri di depannya. Mereka tampaknya sibuk memandangi kejelitaan paras Dewi Intan Baiduri.

"Benar kalian utusan Raksasa Tangan Hitam?" ulang Dewi Intan Baiduri sambil mengembangkan seulas senyum manisnya.

"Eh.... Be..., benar!" tergagap jawaban yang keluar dari mulut lelaki berwajah bintik-bintik hitam. "Kami memang utusan Raksasa Tangan Hitam, Dewi. "

"Silakan masuk kalau begitu," sahut Dewi Intan Baiduri sambil merentangkan sebelah tangannya. Gerakannya begitu lembut dan gemulai.

Dua lelaki bertubuh kekar utusan Raksasa Tangan Hitam itu berjalan mendahului Dewi Intan Baiduri. Sementara di luar pagar rumah nampak lelaki pengemis itu mengikuti langkah Dewi Intan Baiduri dengan tatapan merembang seperti ingin menangis.

"Dewi...?" desah pengemis itu aneh.

***

"Apa keperluan kalian berdua, hingga datang menemuiku?" tanya Dewi Intan Baiduri lembut. Di sebelahnya duduk tenang Ki Wiryamanggala, ayah kandungnya. "Maaf, Dewi. Terlebih dahulu izinkan kami memperkenalkan diri," sergah lelaki berwajah bintik-bintik hitam.

"Silakan," ucap Dewi intan Baiduri. "Namaku Bokara," kata lelaki berwajah bintik-bintik hitam. Tangannya yang kekar dan kasar terulur ke arah Dewi Intan Baiduri

Sebentar Dewi Intan Baiduri menatap lekat wajah Bokara yang mengulurkan tangannya, sebentar kemudian sudah memaklumi. Segera dibalasnya uluran tangan lelaki bernama Bokara. Dan seketika itu juga, laki-laki itu menggenggam tangan halus milik Dewi Intan Baiduri penuh perasaan.

Selesai Bokara memperkenalkan diri, lelaki yang berdiri di sebelahnya juga ikut memperkenalkan diri. Bedanya, lelaki berwajah pucat itu tidak mengulurkan tangannya. Dia hanya menundukkan kepala sambil menyebut namanya. "Namaku Garajas, Dewi."

"Sekarang katakan, kalau kalian membawa pesan dari Raksasa Tangan Hitam," pinta Dewi Intan Baiduri pelan.

"Benar, Dewi. Kami memang membawa pesan dari junjungan kami, Raksasa Tangan Hitam," jawab Bokara.

"Katakanlah. Barangkali, pesan junjunganmu bisa kumengerti."

"Pesan junjungan kami tak lain adalah meminta kesediaan Dewi Intan Baiduri untuk tidak keluar rumah dalam beberapa hari ini," jelas Garajas.

"Kenapa begitu, Garajas?" selak Dewi Intan Baiduri ingin tahu.

"Dalam beberapa hari ini, junjungan kami akan berkunjung ke rumahmu," jelas Bokara kemudian.

"Untuk apa?" tanya Dewi Intan Baiduri, masih tetap dengan kelembutannya.

"Junjungan kami ingin datang meminangmu, Dewi," ungkap Garajas terus terang.

Sekilas, raut wajah Dewi Intan Baiduri mengalami perubahan. Wajahnya kini nampak bersemu merah, karena terkejut mendengar penjelasan utusan Raksasa Tangan Hitam itu. Namun, sebentar kemudian keterkejutannya sudah mampu ditutupi.

Ki Wiryamanggala, orangtua kandung Dewi Intan Baiduri yang merupakan tokoh persilatan golongan putih, tersenyumsenyum mendengar keinginan Raksasa Tangan Hitam yang tak masuk akal. Karena di matanya, tokoh sesat yang berjuluk Raksasa Tangan Hitam lebih pantas menjadi orang tua Dewi Intan Baiduri daripada menjadi suaminya.

"Benar junjunganmu ingin datang meminangku?" ulang Dewi Intan Baiduri, dengan senyum terkembang penuh. Namun di dalam hati, dia menghardik keinginan gila Raksasa Tangan Hitam yang tak tahu diri. "Benar, Dewi," jawab Bokara tegas.

Dewi Intan Baiduri segera melempar tatapannya ke arah Ki Wiryamanggala yang duduk di sebelahnya.

"Kalau aku, bagaimana ayahku saja,

Bokara," desah Dewi Intan Baiduri

"Apa kedatangan junjunganmu tidak bisa dipastikan, Bokara?" berat suara yang keluar melalui bibir Ki Wiryamanggala. Begitu sarat dengan kewibawaan.

"Tidak, Ki," sahut Bokara sambil menggelengkan kepala.

"Hm."

Ki Wiryamanggala mengggumam perlahan. Matanya menerawang jauh, membayangkan wajah Raksasa Tangan Hitam yang kasar dengan cambang bauk tak terurus. Apalagi wajah hitam yang di tengah-tengahnya mencuat hidung besar berlubang lebar, dan berbulu panjang hampir keluar.

Sesungguhnya, hal itu membuat Ki Wiryamanggala berpikir seribu kali untuk menerima lamaran Raksasa Tangan Hitam. Akan tetapi untuk menolak, sama halnya mengundang malapetaka yang mengerikan. Meskipun secara naluriah, Ki Wiryamanggala tak gentar menghadapi ilmu silat yang dimiliki Raksasa Tangan Hitam.

"Sekarang begini saja, Bokara," putus Ki Wiryamanggala. "Kalian berdua pulanglah. Katakan kepada junjungan kalian, kami di sini akan menunggu kedatangannya. Kapan saja Raksasa Tangan Hitam sempat, silakan datang."

Dewi Intan Baiduri sedikit terkejut mendengar keputusan ayahnya. Namun mengingat kemampuan ayahnya yang tinggi dalam membaca setiap persoalan, membuatnya tak mau membantah apa yang sudah diucapkan ayahnya.

"Ya! Itulah keputusan kami, Bokara, Garajas. Sekarang, kalian kembalilah dan katakan kepada junjungan kalian," usir Dewi Intan Baiduri, halus.

Dua lelaki bertubuh kekar utusan Raksasa Tangan Hitam segera bangkit dari duduknya.

"Kami pergi, Dewi, Ki," ucap Bokara seraya berbalik.

Dewi Intan Baiduri dan Ki Wiryamanggala menganggukkan kepala seraya bangkit mengantarkan kepergian dua utusan Raksasa Tangan Hitam sampai di ambang pintu.

Dua lelaki utusan Raksasa Tangan Hitam itu terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Ketika tubuh mereka menghilang di ujung jalan, Dewi Intan Baiduri dan Ki Wiryamanggala masuk ke dalam.

"Hhh !" Dewi Intan Baiduri membuang napas berat. "Ada-ada saja keinginan lelaki tak tahu diri itu!"

***
TIGA
Pagi sebentar lagi beralih menjadi siang. Matahari tampak bersinar tidak seberapa keras. Di depan sebuah rumah berhalaman cukup luas, di bawah pohon berdaun rindang, terlihat seorang pengemis tengah berteduh. Pengemis berwajah menjijikkan itu nampak tertidur. Terdengar dengkur napasnya yang halus, menyiratkan kelelahannya. Sampai-sampai dia tak tahu ada empat pasang mata memandanginya.

"Hanya seorang jembel!" kata lelaki berambut panjang terkuncir sampai ke pinggang.

Sementara itu, berjalan paling depan adalah lelaki berpakaian warna kuning muda. Senjatanya berupa pedang bertangkai warna merah, tersandang di punggung. Wajahnya tampan, dengan pipi sebelah kanan ditumbuhi bulu-bulu hitam selebar tangan bayi. Mirip sekali dengan bulu kambing. 

Dia terus melangkah tenang menuju kediaman Dewi Intan Baiduri, diikuti tiga lelaki yang bisa dipastikan sebagai pengawalnya. Para pengawal itu berjalan di kiri dan kanan pimpinannya. Rata-rata mereka berpakaian hitam, dengan senjata sebatang golok terselip di pinggang masing-masing. Kedatangan empat lelaki itu disambut dua lelaki penjaga rumah kediaman Dewi Intan Baiduri.

"Aku ingin bertemu Ki Wiryamanggala," kata lelaki tampan yang pipi sebelah kanannya ditumbuhi bulu hitam pekat.

Karena lelaki itu berbicara cukup sopan, dua penjaga itu tak berbicara banyak. Salah seorang di antaranya segera bergerak masuk untuk memberi tahu. Dan sebentar kemudian, lelaki bertubuh sedang itu sudah kembali menghampiri empat tamu majikannya.

"Tuan-tuan semua dipersilakan masuk," kata lelaki bertubuh sedang, sambil merentangkan tangan kanannya.

Empat lelaki bersenjata pedang dan golok itu bergegas melangkah masuk. Sementara seorang pengemis yang berada di bawah pohon, menatap keempat lelaki yang bergerak mendekati pintu utama kediaman Dewi Intan Baiduri

"Ada urusan apa lagi mereka itu?" kata batin si pengemis seraya duduk kembali.

***

"Oh! Kiranya kau yang datang, Raja Pedang Merah," sambut Ki Wiryamanggala disertai senyum ramah ketika tubuh lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahun muncul di ambang pintu. "Senang sekali kau berkenan mengunjungi tempat tinggalku."

Lelaki berpakaian kuning muda yang ternyata berjuluk Raja Pedang Merah, tak menimpali sambutan Ki Wiryamanggala. Matanya yang jalang bergerak mengitari seluruh ruangan rumah ini. Sepertinya, dia tengah mencari sesuatu.

"Silakan duduk, Raja Pedang Merah," Ki Wiryamanggala mempersilakan tamunya.

Tanpa menjawab ucapan Ki Wiryamanggala, Raja Pedang Merah membawa turun tubuhnya. Namun, matanya masih tetap bergerak-gerak mencari sesuatu.

"Apakah Dewi Intan Baiduri ada di tempat?" tanya Raja Pedang Merah dingin.

"Oh, oh! Rupanya kedatanganmu ke tempatku mencari putriku satu-satunya, Raja Pedang Merah?" Ki Wiryamanggala malah balik bertanya. Tatapannya tak lepas pada bola mata Raja Pedang Merah yang terus bergerak-gerak.

"Syukurlah kalau kau cepat tanggap, Ki Wiryamanggala," balas Raja Pedang Merah.

"Ada perlu apa kau mencari putriku, Raja Pedang Merah?" tanya Ki Wiryamanggala kemudian.

"Aku tertarik kecantikan anakmu  yang tak ada duanya itu, Ki Wiryamanggala," jawab Raja Pedang Merah terangterangan.

"Oh! Terima kasih sekali kalau memang begitu keadaannya," sahut Ki Wiryamanggala merendah sekali. Padahal, sampai sekarang dirinya masih diperhitungkan di kalangan orang-orang persilatan.

"Kedatanganku ke sini untuk meminta putrimu menjadi pendampingku, Ki Wiryamanggala," tandas Raja Pedang Merah.

"Aku tak keberatan dengan keinginanmu itu, Raja Pedang Merah," sambut Ki Wiryamanggala. "Namun, keputusan yang pasti ada di tangan Dewi Intan Baiduri."

"Di mana anakmu sekarang?" 

"Ada di dalam."

"Suruh dia ke sini, Ki Wiryamanggala," pinta Raja Pedang Merah, bernada memerintah.

Ki Wiryamanggala sebenarnya merasa tersinggung melihat kelakuan tamunya yang tak tahu adat. Tapi, dia berusaha menyabarkan diri. Lelaki tua itu memang sudah tak ingin lagi mengotori tangannya dengan darah.

"Tetapi."

"Tetapi apa, Gagak Putih?!" sentak Raja Pedang Merah keras, dengan memanggil julukan Ki Wiryamanggala yang sekarang ini sudah tak lagi meramaikan dunia persilatan.

"Anakku sudah dilamar seseorang," jawab Ki Wiryamanggala.

Seketika merah padam wajah Raja Pedang Merah. Tangannya pun sudah terkepal keras.

"Kurang ajar! Siapa lelaki yang telah berani mendahuluiku, Ki Wiryamanggala?"

"Raksasa Tangan Hitam," jelas Ki Wiryamanggala. "Kemarin, dua utusannya datang ke sini."

"Raksasa Tangan Hitam...," desah Raja Pedang Merah, mengulangi perkataan Ki Wiryamanggala. Wajahnya tampak dipenuhi kegeraman. "Lelaki tua bangka tak tahu diri! Kau sudah menerima lamarannya, Ki Wiryamanggala?"

Ki Wiryamanggala, lelaki berumur sekitar enam puluh tahun itu menggelengkan kepala.

"Bagus!" puji Raja Pedang Merah. "Tetapi, Raksasa Tangan Hitam akan datang lagi ke sini untuk meminta kepastianku," ujar Ki Wiryamanggada.

"Persetan dengan Raksasa Tangan Hitam!" geram Raja Pedang Merah. "Biar aku urus dia. Akan segera kukirim Raksasa Tangan Hitam itu ke neraka!"

"Kalau itu memang keputusanmu, aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya satu saranku, hati-hatilah. Raksasa Tangan Hitam cukup berbahaya dan licik!" jelas Ki Wiryamanggala, menatap wajah Raja Pedang Merah yang tampak semakin geram.

"Aku lebih bahaya daripada  dia, Ki," jawab Raja Pedang Merah, jumawa. "Akan kubuktikan kehebatan pedangku dan akan kupenggal batang lehernya."

Selesai Raja Pedang Merah berkata, dari dalam kamar Dewi Intan Baiduri muncul. Senyum dara jelita itu langsung terkembang, melihat Raja Pedang Merah terbelalak matanya dengan buah jakun turun naik.

"Rupanya ada tamu dari jauh, Ayah," kata Dewi Intan Baiduri, lembut. Dara jelita itu kini duduk di sisi ayahnya.

Raja Pedang Merah yang tengah menikmati kecantikan wajah Dewi Intan Baiduri nampak termangu-mangu. Bahkan ucapan gadis di hadapannya tidak ditimpalinya.

"Luar biasa...!" gumam Raja Pedang Merah mirip desahan.

"Apanya yang luar biasa, Raja Pedang Merah?" tanya Dewi Intan Baiduri.

"Kecantikan dan kelembutanmu tentu saja, Dewi," jawab Raja Pedang Merah. Matanya kini beralih menatap wajah Ki Wiryamanggala. "Kecantikan anakmu benarbenar dapat menandingi kecantikan bidadari dari kahyangan Ki. Beruntung sekali kau punya anak seperti dia."

"Ah! Kau terlalu berlebihan, Raja Pedang Merah," elak Dewi Intan Baiduri, merendah. "Apa yang kumiliki, rasanya tak berbeda dengan dara-dara lain."

"Tidak, Dewi. Mata lelaki waras dapat membedakan, mana dara jelita yang lembut, dan mana yang memuakkan. Kau sungguh lain dari dara-dara jelita yang pernah kukenal, Dewi," puji Raja Pedang Merah.

Namun, raut wajah Dewi Intan Baiduri tak berubah sedikit pun mendengar pujian Raja Pedang Merah. Dia tetap tenang, tanpa ada kebanggaan sedikit pun.

"Aku rela menyabung nyawa demi mendapatkan dirimu, Dewi," tegas Raja Pedang Merah.

Srat!

Terkejut Dewi Intan Baiduri dan Ki Wiryamanggala begitu melihat Raja Pedang Merah menghunus pedangnya yang mengeluarkan sinar kemerahan. Bahkan gadis itu diam-diam mempersiapkan senjatanya yang berupa payung kecil, dari logam keras dan berwarna merah muda. Tapi, tidak demikian halnya Ki Wiryamanggala. Lelaki tua itu kembali tenang dalam sesaat.

"Aku akan memenggal leher Raksasa Tangan Hitam dengan pedang ini, Dewi. Yakinlah kalau dia akan mampus di tanganku, sebelum cita-citanya untuk mempersunting dirimu terwujud," mantap ucapan Raja Pedang Merah.

Ki Wiryamanggala yang mendengar penegasan lelaki berpakaian kuning muda itu tidak membantah apa-apa. Ki Wiryamanggala tahu, siapa sesungguhnya Raja Pedang Merah. Dia adalah seorang lelaki yang keras hati. Tingkat kemampuan ilmu silatnya cukup tinggi. Bahkan senjata yang di tangannya kini, merupakan perbawa menggiriskan dan membahayakan setiap lawan.

Kalau benar-benar Raja Pedang Merah melaksanakan niatnya untuk dapat memenggal kepala Raksasa Tangan Hitam, rasanya tidak akan begitu mudah. Paling tidak seluruh kemampuannya harus dikeluarkan untuk menandingi ketinggian ilmu silat Raksasa Tangan Hitam.

"Dewi! Apakah kau akan menerima lamaranku jika aku mampu memenggal kepala Raksasa Tangan Hitam?" tanya Raja Pedang Merah. Matanya menatap jalang seluruh tubuh Dewi Intan Baiduri yang terbalut pakaian ketat, sehingga membentuk tubuhnya yang indah menggairahkan.

Dewi Intan Baiduri membetulkan pakaiannya yang bersulam manik-manik warna merah menyala.

"Sesungguhnya, itu bukan syarat mutlak dariku, Raja Pedang Merah," papar Dewi Intan Baiduri seadanya.

"Apa kau mempunyai persyaratan yang lain?" tanya Raja Pedang Merah, penasaran.

"Tidak ada, Raja Pedang Merah," jawab Dewi Intan Baiduri.

"Kalau begitu, keinginanku untuk memenggal batang leher Raksasa Tangan Hitam hanya sebagai jalan untuk menyingkirkan sainganku saja, Dewi?!"

"Terserah kau saja, Raja Pedang Merah. Dalam hal ini, aku tak bisa disangkutpautkan. Itu urusanmu," ketegasan Dewi Intan Baiduri seketika muncul ke permukaan.

"Tentu saja, Dewi," balas Raja Pedang Merah sambil menganggukkan kepala. "Raksasa Tangan Hitam adalah urusanku. Begitu juga lelaki-lelaki lain yang datang ke sini untuk melamarmu. Mereka semua jadi urusanku. Aku, si Raja Pedang Merah, akan memupuskan harapan-harapan mereka."

Dewi Intan Baiduri dan Ki Wiryamanggala hanya tersenyum tertahan mendengar keyakinan Raja Pedang Merah yang kelewat berlebihan. Tidak disadari kalau sesungguhnya di atas langit, masih ada langit. Dan ketinggian ilmu silat dan kesaktiannya, pasti ada yang melebihinya. Lelaki yang bergelar Raja Pedang Merah itu memang terlalu sombong.

"Baiklah, Dewi, Ki Wiryamanggala, aku mohon diri sekarang. Percayalah, aku akan membuat kalian berdua senang dengan menyingkirkan si buruk rupa Raksasa Tangan Hitam dan laki-laki lain yang tak tahu diri."

Dewi Intan Baiduri dan Ki Wiryamanggala menganggukkan kepala, menyahuti izin tamunya untuk meninggalkan kediaman mereka.

"Terima kasih atas sambutan kalian yang begitu ramah," ucap Raja Pedang Merah lagi.

"Terima kasih pula atas kunjunganmu ke rumahku," balas Ki Wiryamanggala berbasa-basi.

Raja Pedang Merah segera berlalu dari ruangan utama rumah kediaman Dewi Intan Baiduri dan Ki Wiryamanggala, tanpa diantar si tuan rumah.

***

Ketika Raja Pedang Merah dan ketiga pengawalnya melewati pintu pagar halaman, kediaman Dewi Intan Baiduri, di bawah pohon berdaun rindang masih nampak lelaki pengemis yang tertidur pulas.

"Pengemis edan! Mirip sekali dia dengan kerbau!" maki Raja Pedang Merah dalam hati. Dia memang tak suka melihat lelaki yang buruk rupa seperti itu.

Siiing....

Sebuah kerikil yang sengaja ditendang Raja Pedang Merah, melayang cepat ke arah pengemis yang sedang tertidur. Namun, kepala pengemis yang terlenggut, membuatnya terhindar dari terjangan kerikil yang mengancam kepalanya.

Trak!

Kerikil yang ditendang Raja Pedang Merah membentur batang pohon. Dan seketika pohon itu menggugurkan daun-daunnya. Namun, benturan keras pada batang pohon besar itu, rupanya tak juga membangunkan pengemis dari tidurnya yang nyenyak.

"Edan!" maki Raja Pedang Merah geram.

Dia bermaksud menghampiri pengemis berpakaian tambalan warna-warni itu. Namun, niatnya segera diurungkan ketika dari kejauhan Raja Pedang Merah melihat sebuah tandu berwarna kuning keemasan yang digotong empat orang lelaki bertubuh besar dan berotot. Di depan tandu itu berjalan dua lelaki berpakaian hijau yang rambutnya tergerai lurus.

"Kedas, Karup, dan Mejan. Kalian lihat orang-orang itu! Mau apa mereka menuju ke sini?!" dengus Raja Pedang Merah pada tiga lelaki pengikutnya.

"Mungkin mereka ingin juga meminang Dewi Intan Baiduri, Kakang Raja Pedang Merah," jawab orang yang bernama Kedas menduga-duga.

"Hm."

"Dan yang di dalam tandu itu, mungkin saja majikan mereka," timpal Karup.

"Kita hadang saja, Kakang Raja Pedang Merah," usul Mejan, dengan lagak pongah.

"Kau benar, Mejan. Mereka memang harus diberi pelajaran, agar tidak sembarangan menanam harapan. Kalian bertiga, hadanglah!" perintah Raja Pedang Merah.

Tiga lelaki berpakaian hitam itu langsung mematuhi perintah. Dengan golok terhunus, mereka berlompatan menghadang dua orang lelaki berpakaian hijau dan empat lelaki yang mengusung tandu.

"Berhenti!" bentak Kedas lantang. Dua lelaki berpakaian hijau langsung menatap tiga wajah yang menghadang perjalanan.

"Kenapa Kisanak menghadang perjalanan kami? Bukankah di antara kita tak pernah punya urusan?" tanya lelaki berambut panjang yang bagian tengahnya dikuncir rapi.

"Mau punya urusan atau tidak, yang jelas aku melarang kalian melewati daerah ini!" dengus Karup sambil menuding-nuding dua lelaki berpakaian hijau. "Kalian pasti punya maksud-maksud tertentu terhadap Dewi Intan Baiduri."

"Hm.... Jadi kalian bertiga orangorangnya Dewi Intan Baiduri?"

"Bukan! Aku adalah abdi setia Raja Pedang Merah yang telah datang lebih dahulu melamar Dewi Intan Baiduri!"

"Hm.... Kita bersaing, jika begitu," putus lelaki yang berambut panjang terkuncir di bagian tengahnya.

"Kurang ajar!"

Mejan yang memang memiliki watak pemarah, segera saja melompat maju. Tangannya yang terkepal keras seketika saja dilayangkan ke bagian muka salah seorang dari dua lelaki berpakaian hijau itu.

"Hih!" Bet! "Uts...!"

Lelaki berambut terkuncir itu segera bergerak ringan, menghindari sodokan tangan yang mengarah ke wajahnya. Melihat serangannya mudah dapat dielakkan, bukan main geram hati Mejan. Maka kembali diterjangnya lawan dengan gerakan-gerakan yang kecepatannya dua kali lipat.

"Hiyaaa...!" Bet! Bet!

Lelaki berpakaian hijau yang rambutnya terkuncir itu tentu saja tidak berani bermain-main. Sekali dua kali, serangan yang dilancarkan Mejan bisa dibalas. Bahkan beberapa kali sodokan tangannya hampir mendarat di bagian tubuh Mejan yang tak terlindung.

"Uts!"

Mejan kembali membawa mundur tubuhnya, manakala sodokan tangan lelaki berpakaian hijau datang. Sodokan pertama yang dilakukan lawan memang berhasil diatasi Mejan. Akan tetapi pada sodokan tangan yang berikutnya, dia tak mampu berbuat banyak.

Dan untuk menghindari wajahnya dari sodokan tangan lawan, Mejan merelakan bahunya.Blugkh! 

"Aaa...!"

Mejan memekik tertahan begitu bahunya terkena tendangan keras lawan. Tubuhnya limbung beberapa langkah ke kiri, dengan mulut meringis menahan sakit.

"Kurang ajar!" bentak Kedas dan Karup berbarengan. Mereka dengan senjata terhunus segera maju menerjang.

"Hiaaa...!"

Para lelaki pengusung tandu yang melihat dua lelaki murid kesayangan gurunya diserang, segera meletakkan tandu yang diusung. Dan dengan gerakan cepat, mereka membantu dua kawan mereka.

Keempat lelaki pengusung tandu itu langsung mengepung dua lawannya yang menghunus golok. Maka, pertempuran sengit pun tak dapat dielakkan lagi. Mereka masing-masing berusaha ingin menjatuhkan lawan secepatnya.

Sebenarnya dalam hal kepandaian, empat lelaki berotot yang mengusung tandu itu bukanlah lawan berarti bagi pengikut Raja Pedang Merah. Ini bisa terlihat dari gerakan-gerakan mereka yang kasar dan kaku. Tentu saja melihat keadaan ini, bisa cepat dimanfaatkan tiga pengikut Raja Pedang Merah. 

Terutama, bagi orang yang bernama Kedas.Kedas melihat, salah seorang lawannya melayangkan sebuah tendangan yang seadanya. Dan hanya dengan menunduk sedikit, tendangan itu berhasil dihindari. Lalu dengan kecepatan dahsyat, Kedas membabatkan goloknya ke dada lawan yang belum mempersiapkan diri lagi.

Bret! "Aaa...!"

Sambaran golok Kedas menemui sasarannya. Salah seorang pengusung tandu nampak terhuyung-huyung, lalu ambruk di tanah. Bagian dadanya tampak sobek mengeluarkan darah segar, karena terbabat golok Kedas. Lelaki berotot menonjol itu sebentar meregang nyawa, dan sebentar kemudian diam tak berkutik lagi.

Menyaksikan kematian seorang temannya, tiga pengusung tandu yang lain kembali menyerang ganas. Mereka juga bersenjata golok dan langsung membabatbabatkannya ke bagian-bagian tubuh yang mematikan.

Dentang senjata beradu terdengar keras mengisi suasana yang hampir menjelang siang.

Trang! Trang!

Bunga api memercik ke sana kemari, akibat benturan dua senjata yang mengandung kekuatan tenaga penuh. Pemilik senjata yang tenaga dalamnya rendah kontan terhuyung-huyung ke belakang. Dan itu menandakan kalau tingkatan tenaga dalam para pengusung tandu berbeda jauh.

Ctar!

"Mundur kalian semua!"

Sebuah bentakan keras seketika terdengar. Dan tahu-tahu, seorang laki-laki sudah berdiri di luar tandu. Pakaiannya hitam, berbintik-bintik putih. Di tangannya tampak tercekal pecut yang hampir mirip buntut kuda.

"Kenapa hanya kalian bertiga yang menghadang perjalananku? Mana Raja Pedang Merah?! Suruh dia menghadapku. Biar nyawanya kukirim ke neraka secepatnya!" dengus lelaki berpakaian hitam bintik-bintik putih. Usianya tak lebih dari empat puluh lima tahun. Dan kelihatannya, dia tak main-main dengan permintaannya.

"Terlalu bodoh kalau kau  meminta aku yang langsung menghadangmu, Kuda Liar!" ejek suara yang wujud pemiliknya tak kelihatan.

Lelaki berpakaian hitam berbintikbintik putih yang dipanggil si Kuda Liar sekilas menatap ke sekeliling. Begitu juga anak buahnya yang kini tinggal lima orang.

"Raja Pedang Merah, keluarlah! Jangan bisanya hanya bersembunyi seperti maling jemuran!" balas si Kuda Liar.

"Baik, Kuda Liar! Jangan menyesal kalau nyawamu lebih dulu pergi!" Sebuah sosok tubuh berpakaian kuning muda seketika berkelebat cepat dan mendarat manis di sisi kiri tiga lelaki berpakaian hitam.

"Rupanya kau punya selera tinggi juga, Raja Pedang Merah," sindir si Kuda Liar datar.

"Tentu saja, Kuda Liar. Aku masih muda. Sedangkan kau? Sebentar lagi nyawamu dijemput malaikat maut. Kusarankan, cepat-cepatlah pergi dari sini. Urungkan niatmu untuk mempersunting Dewi Intan Baiduri," balas Raja Pedang Merah keras.

"Kalau begitu, kita memang harus bertarung. Dapat kita tentukan, siapa di antara kita yang pantas menjadi pendamping resmi Dewi Intan Baiduri!" tantang si Kuda Liar sambil tersenyum.

"Asal kau tidak menyesal, Kuda Liar!" balas Raja Pedang Merah.

"Kurasa, kau yang akan menyesal, Raja Pedang Merah!" si Kuda Liar tak mau kalah.

Mendengar ucapan si Kuda Liar, segera saja Raja Pedang Merah merangsek maju. Tubuhnya berkelebat cepat, melepaskan pukulan mengandung hawa maut. Namun, si Kuda Liar tentu saja tidak tinggal diam. Dengan gerakan indah, tubuhnya meliuk. Dan secara tak terduga, kakinya menendang ke arah belakang.

Raja Pedang Merah terkejut menyaksikan serangan tak terduga dari si Kuda Liar. Serangan yang memang mirip tendangan kaki kuda itu datang begitu cepat!

"Uts!"

Raja Pedang Merah cepat-cepat melenting ke belakang, dan berputaran satu kali.

"Ha ha ha.... Baru menghadapi jurus 'Kuda Menendang Beban' saja sudah kewalahan, Raja Pedang Merah! Belum lagi menghadapi jurus-jurus yang lain," ledek si Kuda Liar.

"Jangan bangga dulu, Kuda Liar! Aku belum menunjukkan kebolehan ku. Sekarang terimalah...!"

Srat!

Sinar berwarna merah seketika berpendar, begitu Raja Pedang Merah mencabut pedangnya yang berwarna merah dari warangkanya. Dia tampak terkekeh menyaksikan si Kuda Liar yang terkejut melihat kedahsyatan pedangnya.

"Ha ha ha.... Kau takut dengan senjataku ini, Kuda Liar?!"

"Hanya senjata mainan anak-anak. Jangan dipamerkan di hadapanku...!" balas si Kuda Liar seraya mengacungkan pecut ekor kudanya. "Kau lihat senjataku, Raja Pedang Merah. Senjataku ini segera akan merejam tubuhmu!"

Ctar!

Si Kuda Liar melecutkan pecut ekor kudanya ke udara. Bunyi menggeletar seketika terdengar memekakkan telinga.

"Kita buktikan sekarang,  Kuda Liar!" ucap Raja Pedang Merah.

Diiringi teriakan keras, Raja Pedang Merah merangsek maju dengan senjata teracung di atas kepala.

"Hiyaaa...!" Bret!

Tebasan senjata Raja Pedang Merah terarah ke bagian lambung si Kuda Liar dengan ganas. Sinar merah yang menimbulkan hawa panas bergulung seiring berputarnya pedangnya.

Ctar!

"Kau lihat senjataku, Raja Pedang Merah. Pecutku ini akan merejam tubuhmu!" teriak si Kuda Liar sambil melecutkan pecutnya ke udara.

"Kita buktikan, Kuda Liar!" balas Raja Pedang Merah tidak kalah gertak.Si Kuda Liar tentu saja tak membiarkan senjata lawan melukai tubuhnya. Segera tubuhnya bergerak menjauhi tebasan Raja Pedang Merah. Namun, sebelumnya pecut ekor kudanya sempat dilecutkan.

Ctar!

Pertarungan sengit antara Raja Pedang Merah melawan si Kuda Liar berlanjut seru dan mendebarkan. Sambaran-sambaran pedang dan lecutan-lecutan pecut silih berganti dilancarkan. Semua itu mengundang kekaguman pengemis yang masih ada di bawah pohon.

"Luar biasa kedahsyatan senjatasenjata itu," ujar pengemis yang kini bersembunyi di balik pohon besar dalam hati.

Pengemis itu terus mengikuti jalannya pertarungan sengit yang sudah mencapai jurus ketiga puluh lima.

"Rasakan ini, Kuda Liar!"

Raja Pedang Merah kembali mengibaskan pedangnya ke bagian leher lawan. Karuan saja si Kuda Liar terkejut mendapat serangan yang begitu cepat dan dahsyat. Sekuat tenaga dia berusaha menjatuhkan tubuhnya. Kemudian, dia melompat dan melenting menjauhi serangan Raja Pedang Merah.

"Uts! Hip!"

Raja Pedang Merah kesal juga melihat serangannya membentur tempat kosong. Maka dengan gerakan cepat, dikejarnya si Kuda Liar yang lari menjauh. Namun gerakannya terpaksa berhenti di tengah jalan, karena tahu-tahu saja pecut ekor kuda milik si Kuda Liar melilit pedangnya.

Raja Pedang Merah akan menarik pulang pedangnya. Namun tenaga si Kuda Liar yang begitu kuat, menahan tarikannya. Kini, terjadilah adu tarik-menarik yang menggunakan tenaga dalam penuh.

Sementara si Kuda Liar menahan tarikan, pikiran Raja Pedang Merah seketika bekerja. Pedang di tangannya diputar ke arah yang berlawanan dari pecut yang melilit. Harapannya, lilitan itu akan terlepas. Namun, si Kuda Liar rupanya dapat membacaapayangakandilakukanlawan. Maka dengan kecepatan luar biasa, pecut ekorkudanyadigerakkan,hinggapedang milik Raja Pedang Merah kembali terlilit. "Kurang ajar!" maki Raja Pedang Me-

rah dalam hati.

Mata Raja Pedang Merah yang liar, seketika melihat batu sebesar kepalan bayi. Dengan gerakan cepat, ditendangnya batu itu sekuat tenaga

Siinng...!

Bunyi berdesing mengiringi terpentalnya batu yang disepak Raja Pedang Merah. Dan si Kuda Liar sama sekali tak menyangka kalau Raja Pedang Merah akan melakukan hal itu. Untuk menghindari, maka pecutnya yang melilit pedang milik Raja Pedang Merah segera diputar.

Lilitan pecut itu seketika terlepas. Sedangkan si Kuda Liar segera membuang tubuhnya ke kanan. Maka terjangan batu yang ditendang Raja Pedang Merah berhasil dihindari.

Sementara itu, Raja Pedang Merah terhuyung ke belakang terdorong tarikan tenaganya sendiri. Namun sesaat kemudian, dorongan kuat itu telah mampu dijinakkannya.

"Hup!"

RajaPedangMerahmelenting,dan kemudian mendarat manis.

"Heh!"

Begitu pun dengan si Kuda Liar. Dia tampak sudah bangkit berdiri.

Sementara itu di pertarungan lain, nampak tiga orang anak buah Raja Pedang Merah sudah berhasil menewaskan dua orang pengusung tandu. Golok di tangan Kedas, Karup, dan Mejan memang menjadi lebih bahaya. Apalagi tingkat kemampuan memainkan senjata yang dimiliki mereka cukup sempurna.

"Hiaaa...!"

Kembali golok Kedas yang mengacung di udara dibabatkan ke punggung lelaki pengusung tandu.

Bret! "Aaa...!"

Lelaki pengusung tandu kontan terpekik kuat. Dan ternyata lengkingan kematiannya cukup mengejutkan lelaki yang berjuluk si Kuda Liar. Maka, dia langsung menggereng geram melihat pengusung tandunya tinggal seorang. Dan pikirannya yang kalut, segera memutuskan untuk menyerang tiga anak buah Raja Pedang Merah.

"Hiyaaa...!"

Raja Pedang Merah tentu saja terkejut bukan main melihat kelakuan lawannya. Maka dengan gerakan cepat, dihadangnya lesatan tubuh si Kuda Liar.

Trak!

Benturan tangan yang teraliri kekuatan tenaga dalam seketika terjadi. Si Kuda Liar memekik tertahan, dan tubuhnya terlempar satu tombak ke belakang. Begitu juga yang dirasakan Raja Pedang Merah. Hanya saja, dia tak mengeluarkan pekikan seperti si Kuda Liar yang tak tahan menahan sengatan tenaga dalam lawan.

"Hih!"

Karena kegeraman yang sudah mencapai puncaknya, si Kuda Liar segera melempar senjata rahasianya yang berbentuk tapal kuda. Maka senjata yang mengandung racun ganas itu meluncur cepat.

Raja Pedang Merah memang sudah cukup berpengalaman dalam bertarung cepat. Tak heran kalau kelicikan si Kuda Liar dapat terbaca.

Maka segera pedangnya diputar sekuat tenaga, menampakkan sinar merah yang bergulung-gulung di depan dada.

Trak! Trak! Trak!

Senjata rahasia si Kuda Liar ternyata mampu dibendung pedang merah milik Raja Pedang Merah. Senjata-senjata rahasia itu berpentalan ke lain arah. Bahkan satu di antaranya meluruk balik ke pemiliknya yang jadi terkejut bukan main.

Pada saat si Kuda Liar membuang dirinya ke kanan, maka saat itulah sebuah bayangan berpakaian kuning muda melesat cepat. Sosok bayangan yang lain dari Raja Pedang Merah! Pedangnya yang teracung di udara, diayunkan cepat ke bagian tubuh si Kuda Liar yang berguling di tanah.

"Hiyaaa...!" Crab! "Aaa...!"

Si Kuda Liar terpekik keras ketika merasakan punggungnya terbabat senjata lawan. Darah kontan mengucur deras dari luka di punggungnya yang menganga lebar. Namun meskipun dengan keadaan limbung, si Kuda Liar berusaha bangkit. Maka, Raja Pedang Merah kembali menyusulinya dengan sebuah tendangan keras.

"Hiaaa...!"

***
EMPAT
Desss! "Aaa...!"

Tubuh si Kuda Liar terpental deras, dan melayang bagai daun terhembus angin. Darah segar yang keluar dari mulut, ikut menyertai luncuran tubuhnya. Kemudian, dia jatuh berdebum melanggar pohon besar. Si Kuda Liar langsung meregang kaku, mati!

Raja Pedang Merah tersenyum puas melihat tubuh lawannya yang sudah tidak berkutik lagi. Sedangkan dua lelaki berpakaian hijau yang merupakan anak buah si Kuda Liar nampak terkejut bukan main. Dan melihat junjungannya sudah tak bernyawa lagi, nyali mereka seketika ciut. Mereka ingin menyudahi pertarungan dan nampaknya ingin mengaku kalah. Akan tetapi, ketiga anak buah Raja Pedang Merah nampaknya tak memberi kesempatan.

Kedas, Karup, dan Mejan terus melancarkan serangan ganas. Golok mereka berkelebat cepat mengarah pada pertahanan lawan yang sudah semakin melemah, karena semangat bertarungnya sudah merosot. Hingga suatu kesempatan, golok yang berada di tangan Karup berkelebat cepat ke arah perut lelaki berpakaian hijau yang berambut panjang terkuncir.

Bret! "Aaa...!"

Lengking kematian yang menggiriskan terdengar disertai ambruknya sosok tubuh berpakaian hijau. Golok Karup telah membabat habis perutnya, sehingga lelaki berkuncir itu tak berkutik lagi. Darah nampak mengucur deras dari perutnya yang terluka.

Melihat Karup berhasil menghabisi satu nyawa, ternyata Mejan pun tak mau ketinggalan. Seorang lawannya yang juga berpakaian hijau tak tanggung-tanggung dibabat pula mukanya. Darah kontan mengalir deras dari wajah lawan yang hampir terbelah!

Sementara itu, Kedas yang masih menyaksikan seorang pengusung tandu masih hidup, langsung saja maju hendak menghabisinya. Namun langkahnya diurungkan setelah Raja Pedang Merah melarang.

"Jangan teruskan, Kedas.  Biarkan dia hidup agar bisa jadi saksi kehebatanku," ujar Raja Pedang Merah. Lalu, ditatapnya sisa anak buah si Kuda Liar. "Kau! Pergilah cepat sebelum kesabaranku habis!" Lelaki bertubuh kekar dan berotot menonjol itu segera mematuhi perintah Raja Pedang Merah. Tanpa menunggu lama lagi, tubuhnya langsung melesat pergi diikuti tatapan mata meleceh milik Raja Pedang Merah dan ketiga anak buahnya.

"Kita harus mencari penginapan yang lebih dekat dari rumah kediaman Dewi Intan Baiduri, Kedas," ujar Raja Pedang Merah, setelah sosok lelaki anak buah si Kuda Liar menghilang di balik pepohonan.

"Kurasa memang demikian, Kakang," sambut Kedas menyetujui. "Biar secepatnya kita dapat menghadang orang-orang yang bermaksud melamar Dewi Intan Baiduri."

Raja Pedang Merah tersenyum mendengar ucapan Kedas.

"Kurasa hanya Kakang saja yang pantas mempersuntingnya," ujar Karup, tak mau ketinggalan. Sehingga membuat Raja Pedang Merah semakin empot-empotan.

"Menurutmu, Mejan?" tanya Raja Pedang Merah pada pendamping setianya yang belum angkat bicara.

"Aku? Menurutku..., sama saja. Hanya, Kakang seoranglah yang paling pas bersanding di pelaminan bersama Dewi Intan Baiduri," jawab Mejan, jumawa.

Raja Pedang Merah seketika terbahak mendengar jawaban Mejan.

"Kalau begitu, sekarang juga kita cari penginapan yang terdekat. Dan kalian bertiga, nantinya bakal bergiliran mengintai rumah dara jelita kekasih pujaanku," putus Raja Pedang Merah sambil meninggalkan tempat pertarungannya tadi.

Sore mulai beranjak penuh. Langit  di sebelah Timur sudah menampakkan warna kemerahan, sebagai suatu pertanda kalau sang surya sebentar lagi akan kembali ke peraduannya.

Dewi Intan Baiduri dan Ki Wiryamanggala saat ini sedang berbincangbincang di ruangan dalam. Perbincangan itu tak lain mengenai tokoh-tokoh persilatan yang datang melamar

"Ah! Kita tak dapat mencegahnya, Dewi. Pertarungan memperebutkan dirimu masih akan terus berlanjut seperti tadi siang. Sesungguhnya, hal semacam itu sama sekali tak pernah kuinginkan. Tapi..., yah.... Siapa yang bisa melarang keinginan mereka untuk bersaing? Aku? Aku tak memiliki kekuasaan untuk melarang mereka. Begitu juga kau, Dewi. Apakah kau masih memikirkan lelaki yang pernah dijodohkan mendiang ibumu?" hati-hati sekali pertanyaan yang diucapkan Ki Wiryamanggala.

"Terus terang pelupuk mataku selalu membayang," jawab Dewi Intan Baiduri.

"Ternyata, kau benar-benar mencintainya, Dewi."

"Entahlah, Ayah."

"Kalau memang begitu, kau berhak menolak lamaran laki-laki lain. Kita akan hadapi mereka bersama-sama kalau memang lelaki yang melamarmu tak bisa diajak mengerti. Termasuk, Raja Pedang Merah dan Raksasa Tangan Hitam."

"Rasanya kita memang akan menghadapi hal seperti itu, Ayah. Sesungguhnya, hal ini sama-sama kita benci. Namun, bukan berarti kita takut menghadapi sebuah pertarungan," timpal Dewi Intan Baiduri.

"Kita lihat saja perkembangannya, Dewi. Kalau memang mereka saling bentrok, itu berarti tugas kita menjadi lebih ringan," putus Ki Wiryamanggala.

"Apa tidak akan timbul tuduhan dari pihak lain, Ayah?" tanya Dewi Intan Baiduri sedikit cemas.

"Apa maksudmu, Dewi?" Ki Wiryamanggala mengerutkan dahinya.

"Pasti ada pihak-pihak lain yang melempar tuduhan kalau kita sengaja mengadu domba mereka," Jelas Dewi Intan Baiduri.

Jawaban itu dirasakan Ki Wiryamanggala cukup masuk akal.

"Dugaanmu ada betulnya, Dewi. Tapi kan kita bisa menyangkal. Namun yang jelas, kita tak pernah punya pikiran buruk seperti itu. Kita tak pernah memanasi mereka untuk saling menyingkirkan saingannya. Mereka sendirilah yang merasa citacitanya telah dibayangi orang lain. 

Seperti Raja Pedang Merah yang berniat menyingkirkan setiap orang yang datang melamarmu. Itu kan bukan keinginan atau permintaan kita, Dewi. Ah! Jangan dengarkan kalau memang tuduhan itu ada. Mereka yang menuduh, pasti orang yang berpikiran picik," sahut Ki Wiryamanggala.

Apa yang diucapkan Ki Wiryamanggala adalah merupakan jalan keluar yang terbaik. Namun, Dewi Intan Baiduri tetap berharap hari-hari selanjutnya adalah hari yang mampu mengikis ketegangan ini.

***

Harapan Dewi Intan Baiduri ternyata hanya sebuah keinginan semu. Sebelum matahari tepat di atas kepala, kini di hadapan Ki Wiryamanggala dan Dewi Intan Baiduri tampak berdiri dua orang lelaki berwajah tampan. Namun sayang, ketampanan mereka terganggu oleh gigi yang mencuat ke luar. Rambut kepala mereka juga tampak aneh. Setengah gundul, namun terdapat kunciran kelabang di bagian belakang kepala mereka.

Kedua lelaki bertubuh sedang itu mengenakan pakaian serupa, berwarna coklat kehitaman. Di bagian dada sebelah kiri, tampak tersemat sebuah lambang berupa dua ekor kelabang. Mereka kemudian menjelaskan kedatangannya, begitu dipersilakan masuk, dan duduk di ruang tamu. Sama seperti tamutamu sebelumnya, mereka juga bermaksud melamar Dewi Intan Baiduri.

Dewi Intan Baiduri menatap kedua tamunya yang berpenampilan sama itu.

"Aku sudah dapat mengerti keinginan kalian yang telah disebutkan tadi, Sepasang Pangeran Kelabang," kata Dewi Intan Baiduri, mendayu-dayu.

Dan itu sempat membuat dua lelaki yang berjuluk Sepasang Pangeran Kelabang terkesima beberapa saat. Apalagi saat bibir tipis berwarna merah merekah itu bergerak-gerak. Rasanya, mereka enggan beranjak dari situ.

"Akan tetapi, aku tidak habis mengerti kalau kalian berdua memiliki maksud dan hasrat sama," lanjut Dewi Intan Baiduri.

"Ah, eh...! Tidak begitu maksud kedatangan kami, Dewi Intan Baiduri," elak salah seorang dari Sepasang Pangeran Kelabang, tergagap. "Tak mungkin kalau kami berdua sekaligus menginginkan Dewi sebagai seorang permaisuri. Biarlah, aku yang masih muda, mengalah. Kakang Kanggara rasanya patut lebih dulu untuk mendapatkan seorang pendamping hidup."

"Terima kasih, Adi Rasupaka," ujar salah seorang dari Sepasang Pangeran Kelabang yang ternyata bernama Kanggara, membenarkan ucapan adiknya.

"Putriku memang belum mempunyai seorang teman pendamping hidup, Sepasang Pangeran Kelabang," kata Ki Wiryamanggala, hati-hati.

Wajah Kanggara seketika berbinarbinar mendengar ucapan orang tua yang berdiri di sebelah Dewi Intan Baiduri.

"Akan tetapi," lanjut Ki Wiryamanggala. "Perlu diketahui, bahwa bukan hanya kalian berdua yang datang meminta anakku untuk dijadikan pendamping hidup. Beberapa lelaki lain sudah datang terlebih dahulu meminang putri tunggalku."

Seketika itu juga merah padam wajah Sepasang Pangeran Kelabang. Bahkan mereka langsung mengangkat tombak bermata dua yang batangnya berkeluk tujuh. Sebuah senjata aneh yang menggiriskan!

"Siapa lelaki yang telah berani mendahului maksudku?!" kasar ucapan Kanggara yang keluar. Tapi, sepertinya ucapan itu tidak ditujukan pada Ki Wiryamanggala yang berjuluk si Gagak Putih. Apalagi terhadap Dewi Intan Baiduri.

"Kami, Sepasang Pangeran Kelabang yang datang dari jauh, akan mengadu nyawa pada lelaki lain yang lancang membayangi niatku untuk mempersunting Dewi Intan Baiduri!" tegas Kanggara, lantang. Suaranya yang dikeluarkan melalui pengerahan tenaga dalam, menggema sampai keluar pagar halaman kediaman Dewi Intan Baiduri.

Sementara itu, seorang lelaki yang sedang mengintai, seketika melesat cepat meninggalkan kediaman Dewi Intan Baiduri. Lelaki berpakaian hitam bersenjata sebilah golok itu terus berlari, menuju sebuah penginapan terdekat. Sementara, seorang pengemis yang duduk di bawah pohon, mengikuti ke mana larinya lelaki yang sudah dapat dipastikan anak buah Raja Pedang Merah dengan tatapan matanya.

Lelaki berpakaian hitam itu terus berlari, dan masuk cepat ke dalam penginapan yang tidak begitu besar. Langsung ditemuinya Raja Pedang Merah yang ada di kamarnya.

"Ada apa, Mejan? Kenapa kau terengah-engah seperti itu?" tanya Raja Pedang Merah begitu abdi setianya itu sudah masuk ke dalam kamar penginapan.

Lelaki berpakaian hitam yang ternyata Mejan sebentar menjernihkan napasnya yang tersengal-sengal.

"Dua orang lelaki berjuluk Sepasang Pangeran Kelabang tengah berada di dalam rumah Dewi Intan Baiduri, Kakang," jelas Mejan setelah deru napasnya kembali tenang.

Wajah Raja Pedang Merah seketika berubah tegang. Tangannya yang terkepal, menandakan kegeramannya yang kuat.

"Kurang ajar!" bentak Raja Pedang Merah menggelegar. Kilat di matanya tampak berkeredep, karena terbakar api kecemburuan yang melanda hati.

***

Sementara itu di rumah kediaman Dewi Intan Baiduri, Sepasang Pangeran Kelabang tengah pamit diri. Sedangkan Dewi Intan Baiduri dan Ki Wiryamanggala melepas tamunya yang berpakaian aneh itu di depan pintu.

"Kami akan kembali lagi ke sini, kalau semua lelaki yang sudah menyampaikan lamaran kepada Dewi Intan Baiduri telah kami kirim ke neraka," tegas Kanggara mantap.

Dewi Intan Baiduri dan Ki Wiryamanggala hanya menimpali ucapan salah seorang dari Sepasang Pangeran Kelabang itu dengan sedikit senyum terkembang.

"Kami permisi, Dewi. Dan kau juga, Ki," pamit Sepasang Pangeran Kelabang serempak.

Dewi Intan Baiduri hanya melepas kepergian Sepasang Pangeran Kelabang dengan tatapan mata jeli, mengandung daya pesona tinggi.

"Dia bukan jenis lelaki yang kudambakan," kata Dewi Intan Baiduri sambil melangkah masuk, begitu Sepasang Pangeran Kelabang sudah tidak kelihatan lagi. "Kalaupun mereka berhasil mengalahkan Raja Pedang Merah atau Raksasa Tangan Hitam, aku akan tetap menolak pinangan itu. Dan kalau mereka berkeras, akan kuajak mereka bertarung sampai ada yang menemui ajal."

"Tenanglah, Anakku," kilah Ki Wiryamanggala, menghibur. "Kita akan bersama-sama menghadapi orang-orang yang tidak bisa diajak mengerti."

Dewi Intan Baiduri tersenyum mendengar penegasan ayahnya yang menyejukkan kalbu. Dirangkulnya lelaki tua di hadapannya.

"Ah! Andai saja ibu masih ada," kata batin Dewi Intan Baiduri dengan air mata tiba-tiba saja menitik.

Di tengah-tengah perasaan yang teringat ibunya, di luar pekarangan rumah Dewi Intan Baiduri tengah berlangsung adu urat syaraf antara Sepasang Pangeran Kelabang dengan Raja Pedang Merah.

"Wajah buruk seperti ini mau menjadi pendamping Dewi Intan Baiduri?" ejek Raja Pedang Merah.

"Jaga mulut busukmu, Raja Pedang Merah!" hardik Rasupaka, lelaki termuda dari Sepasang Pangeran Kelabang. Dia memang gampang tersinggung dan cepat naik darah.

Raja Pedang Merah dan ketiga anak buahnya terbahak-bahak mendengar hardikan lelaki setengah botak yang rambutnya dikuncir kelabang itu.

"Kau tak bisa menghindar dari kenyataan, Sepasang Pangeran Kelabang. Gigi depan kalian yang tonggos itu, mana mungkin dapat menarik perhatian Dewi Intan Baiduri?" kembali ejekan Raja Pedang Merah menghantam perasaan Sepasang Pangeran Kelabang.

"Kau pikir wajahmu sempurna, Raja Pedang Merah?" balas Kanggara, lelaki tertua dari Sepasang Pangeran Kelabang. "Kau sebenarnya lebih pantas dikatakan keturunan kambing domba. Lihatlah pipi kananmu! Bukankah itu suatu bukti kalau kau betul-betul keturunan kambing domba?!"

Kanggara dan Rasupaka yang berjuluk Sepasang Pangeran Kelabang tertawa terbahak-bahak.

"Diam!" bentak Raja Pedang Merah berang.

Srat!

Raja Pedang Merah langsung meloloskan pedang merah dari warangkanya. Sinar kemerahan seketika berpendar-pendar dari tubuh pedang yang memiliki perbawa menggiriskan

Kanggara dan Rasupaka seketika melompat ke belakang melihat senjata lawan yang telah lolos dari warangkanya. Bukan karena takut, tapi hanya untuk menjaga kewaspadaan.

"Ha ha ha.... Pengecut juga kalian berdua," leceh Raja Pedang Merah sambil mengelus senjatanya. "Pedang merah ini sebentar lagi akan memanggang tubuh kalian!"

"Sombong kau, Raja Pedang Merah!" balas Rasupaka geram. "Kau belum pernah merasakan kehebatan tombak mata dua berkeluk tujuh milik Sepasang Pangeran Kelabang!"

"Ha ha ha.... Silakan kalau kalian memang bisa membinasakan Raja Pedang Merah dengan mainan anak-anak itu, Sepasang Pangeran Kelabang!"

"Keparat laknat!" bentak Rasupaka sambil menghentakkan kakinya ke tanah.

Tubuh Rasupaka seketika melesat cepat bagai kilat. Senjatanya yang berupa tombak mata dua berkeluk tujuh teracung ke udara.

"Hiaaat...!"

Pekik melengking mengiringi tibanya serangan ganas yang dilancarkan Rasupaka. Gerakan tangannya yang menggenggam tombak, berkelebat cepat dan mengarah ke bagian tubuh Raja Pedang Merah yang mematikan.

Raja Pedang Merah tak menyangka kalau lawannya mampu melakukan serangan secepat itu. Untung saja, gerakannya lebih cepat. Sehingga, tubuhnya yang melenting di udara mampu mendahului sambaran senjata lawan yang mencecar lambung. "Hup!"

Raja Pedang Merah mendaratkan kakinya dengan manis, setelah berjumpalitan dua kali di udara, Namun belum sempat menarik napas, serangan Rasupaka sudah kembali menyusul. Sebuah serangan membahayakan yang tak mungkin bisa dihindari oleh Raja Pedang Merah.

Tiga abdi setia Raja Pedang Merah yang menyaksikan kelebatan cepat lawan, sedikit membelalakkan mata. Dan mereka serempak berlompatan menghadang Rasupaka dengan senjata terhunus.

Rasupaka yang tengah berada di udara, geram bukan main melihat tiga lelaki menghadang gerakannya. Tombak yang semula ditujukan ke tubuh Raja Pedang Merah, seketika dialihkan untuk lawan yang terdekat.

"Hih!" Trang! "Ugkh...!"

Tubuh lelaki berpakaian hitam yang ternyata Karup seketika terpental ke belakang, begitu goloknya ditebaskan untuk menyampok tusukan tombak Rasupaka. Belum juga Karup menguasai diri, Rasupaka cepat menusukkan tombaknya ke dada lawan. Dan Karup tak mampu menghindar lagi, begitu tombak Rasupaka menembus dadanya.

"Aaakh...!"

Diiringi pekik kematian, Karup langsung ambruk ke tanah. Sebentar saja dia menggelepar, lalu diam tak bergerak lagi. Darah segar tampak membanjir, membasahi bumi.

Sementara dua orang temannya yang menyaksikan kejadian cepat itu segera memperganas serangan. Mereka menebaskan golok ke bagian tubuh Rasupaka yang mematikan.

"Hiaaa...!" Bet! Bet! "Hia!"

"Uts!"

Rasupaka cepat bergerak lincah, menghindari tebasan-tebasan golok lawan. Sementara pada tempat lain, terlihat Kanggara sedang bertempur melawan Raja Pedang Merah.

"Kau tak akan mampu menundukkanku, Raja Pedang Merah!" kata Kanggara.

Raja Pedang Merah mendengus sambil mengelakkan tusukan tombak yang mengarah ke leher.

"Buktikan saja, Pangeran Kelabang!" tantang Raja Pedang Merah, setelah terhindar dari pang-angan tombak mata dua berkeluk tujuh milik Kanggara.

Darah muda Kanggara kontan naik mendengar tantangan itu. Seketika itu juga, serangan-serangannya dipertajam. Tombaknya ditusukkan ke sana kemari, ke arah bagian tubuh Raja Pedang Merah.

Raja Pedang Merah tentu saja merasakan peningkatan serangan-serangan lawan. Tanpa sungkan-sungkan lagi, jurusjurus andalannya segera dimainkan.

"Hiaaa...!"

Tebasan dan tusukan Raja Pedang Merah menjadi berkali lipat keganasannya. Pertarungan yang menarik itu keadaannya kini jadi terbalik.

Kanggara yang mendapatkan serangan bertubi-tubi dari Raja Pedang Merah, nampak terdesak hebat. Lawannya memang sedikit lebih unggul dalam hal tenaga dalam. Terbukti setiap tangan mereka berbenturan, Kanggara selalu saja terdorong lebih jauh.

Trak! "Akh...!"

Kembali tubuh Kanggara terdorong satu tombak ke belakang, ketika sebuah sodokan tangan yang terlalu keras mendera bagian dadanya. Karuan saja Kanggara merasakan dadanya sesak bukan kepalang.

"Hoeeekh...!"

Sambil bergerak mundur, Kanggara memuntahkan darah berwarna kehitaman. Rupanya dia telah mengalami luka dalam yang cukup hebat. Rasupaka yang menyaksikan keadaan kakaknya sedemikian parah, menjadi begitu geram bukan kepalang. Dia ingin terjun langsung menghadapi lawan kakaknya, namun sisa anak buah Raja Pedang Merah menghalang-halangi niatnya.

"Kurang ajar!" maki Rasupaka berang. "Mampus kalian!"

Rasupaka dengan kecepatan sukar diikuti mata biasa, segera menggerakkan tombak mata dua berkeluk tujuh. Gerakannya begitu cepat, membuat Kedas dan Mejan tak mampu menghindar. Akibatnya....

Bles! Bles!

Dua tusukan tombak berturut-turut tertanam di perut Kedas dan Mejan. Kedua lelaki itu kontan ambruk dan menggelepar di tanah dengan darah berhamburan deras membasahi bumi. Luka yang terlalu dalam, membuat mereka tak berkutik lagi. Mati!

Namun, kematian dua anak buah Raja Pedang Merah ternyata diikuti pula oleh kematian kakak kandung Rasupaka. Kanggara yang saat itu tengah terhuyung-huyung akibat gedoran tangan lawan pada dadanya, tak bisa berbuat banyak lagi. Begitu pula saat Raja Pedang Merah mengkelebatkan pedangnya. Kanggara hanya bisa mendelik menanti ajal. Dan....

Cras! "Aaakh. !"

Rasupaka membelalakkan matanya lebar-lebar menyaksikan leher Kanggara hampir saja putus tertebas pedang Raja Pedang Merah. Kanggara telah ambruk, menggelepar di tanah. Melihat hal ini bara dendam dalam hati Rasupaka seketika bergolak tak terbendung. Diiringi lengkingan membahana, langsung diterjangnya Raja Pedang Merah.

"Hiaaa...!"

Serangan Rasupaka yang tak kepalang tanggung, dilayani sampokan pedang Raja Pedang Merah yang juga geram melihat ketiga abdi setianya sudah tergeletak tak bernyawa.

"Kau juga harus mampus!" hardik Raja Pedang Merah, geram.

Kedua lelaki yang tengah dirasuki hawa nafsu setan itu terus bertarung dengan kecepatan yang sukar diikuti pandangan mata biasa. Hingga yang terlihat hanyalah dua bayangan kuning dan hitam kecoklatan saja. Deru dan desing senjata yang membentur tempat kosong, terdengar menyemaraki pertarungan.

Tak terasa, pertarungan antara Raja Pedang Merah dengan Rasupaka sudah berjalan empat puluh jurus. Namun, di antara mereka belum nampak ada yang terdesak. Dan tiba-tiba....

"Ha ha ha. !"

Memasuki jurus kelima puluh, mendadak terdengar suara tawa serak. Dan seketika, pertarungan yang sedemikian hebatnya langsung berhenti.

Beberapa saat lamanya suara tawa serak itu terdengar. Namun tak lama kemudian, suara tawa itu terhenti. Tiba-tiba berkelebatlah sesosok tubuh berpakaian putih yang demikian cepat. Hingga sekejap mata saja, sosok tubuh berpakaian putih itu sudah mendarat manis di hadapan Raja Pedang Merah dan Rasupaka.

"Hantu Putih Lembah Pucung...!" kata Raja Pedang Merah dan Rasupaka berbarengan.

"Kenapa? Kalian terkejut melihat kehadiranku?" tanya Hantu Putih Lembah Pucung, mengejek.

Raja Pedang Merah dan Rasupaka menggereng mendengar pertanyaan penuh penghinaan itu.

"Apa yang kalian perebutkan hingga bertarung mati-matian seperti itu? Lihat! Mayat-mayat itu bergelimpangan karena di antara kalian tidak ada yang mengalah," lanjut Hantu Putih Lembah Pucung yang nama aslinya Ragendra.

"Hai, Kakek Renta! Kau juga, apa urusanmu mencampuri masalah anak muda?" selak Raja Pedang Merah kesal.

"Ya. Apakah kedatanganmu ke sini juga berniat melamar Dewi Intan Baiduri?!" tambah Rasupaka marah.

"Ha ha ha.... Sudah dapat kutebak, kalian bertarung karena memperebutkan dara jelita putri tunggal si Gagak Putih," tukas Ragendra sambil tertawa terbahak-bahak. "Seharusnya, kalian penggal kepala Wiryamanggala terlebih dahulu. Baru kalian perebutkan putrinya. Karena kalau dia masih hidup, lamaranmu akan sia-sia belaka. Karena, Wiryamanggala tak pernah sudi bermantukan wajah-wajah recehan seperti kalian!"

Panas hati Raja Pedang Merah mendengar ucapan Hantu Putih Lembah Pucung yang terakhir, karena mengandung penghinaan.

"Jaga bicaramu, Tua Bangka Keparat! Aku tak segan-segan merobek bacot busukmu!" bentak Raja Pedang Merah geram.

"Ha ha ha.... Bicara itu mudah saja, Raja Pedang Merah. Tapi untuk membuktikannya, kau perlu memiliki nyawa rangkap," balas Ragendra ketus.

"Kurang ajar!" maki Raja Pedang Merah seraya menghentakkan kaki, bermaksud menerjang Hantu Putih Lembah Pucung.

"Tahan, Raja Pedang Merah!" bentak Hantu Putih Lembah Pucung dengan pengerahan tenaga dalam cukup tinggi. Bentakan itu kontan menghentikan gerakan Raja Pedang Merah. "Apakah kedatanganmu hanya untuk memperebutkan putri si Gagak Putih?"

"Kau sudah tahu, Tua Bangka! Kenapa bertanya lagi?" sentak Raja Pedang Merah. Napasnya terdengar menderu, karena tak kuasa menahan nafsu amarahnya yang bergejolak.

"Ha ha ha.... Kalau begitu, kita bisa bekerja sama untuk mewujudkan impianmu itu, Raja Pedang Merah," ujar Ragendra, mengejutkan Raja Pedang Merah.

"Apa maksudmu, Ragendra?" selidik Raja Pedang Merah.

"Kita bisa sama-sama mendatangi kediaman Dewi Intan Baiduri, dengan terlebih dahulu menghabisi nyawa Wiryamanggala," cetus Hantu Putih Lembah Pucung.

"Hm...," gumam Raja Pedang Merah, meyakini ucapan Hantu Putih Lembah Pucung.

Lelaki tua berusia sekitar enam puluh lima tahun dan berpakaian serba putih serta berikat kepala juga warna putih itu mencoba menterjemahkan gumaman Raja Pedang Merah.

"Kau rupanya tidak percaya kepadaku, Raja Pedang Merah?" tukas Ragendra kemudian. "Baiklah, aku akan berkata jujur kepadamu."

"Coba utarakan kejujuranmu itu. Mudah-mudahan aku akan mempertimbangkannya," ujar Raja Pedang Merah.

Lelaki berambut putih yang tergelung ke atas itu sejenak mempermainkan jenggotnya yang panjang berwarna putih. Kemudian dipindahkannya ke kumis yang juga berwarna putih.

"Kalau kau bermaksud mendapatkan Dewi Intan Baiduri, lain lagi dengan maksudku. Aku hanya menginginkan senjata Trisula Emas. Dan kita akan bekerjasama untuk itu," tukas Ragendra tegas.

"Trisula Emas?" tanya batin Raja Pedang Merah.

Dia memang sudah pernah mendengar kedahsyatan senjata itu. Dan diam-diam dia berminat juga terhadap benda pusaka itu.

"Hm.... Apakah kau akan memegang ucapan itu, Ragendra?" tanya Raja Pedang Merah, masih tak yakin juga.

***

Sementara itu dari tempat yang terlindung, seorang pengemis mendengarkan pembicaraan Hantu Putih Lembah Pucung dengan Raja Pedang Merah. Pengemis itu sedikit terkejut mendengar penuturan Hantu Putih Lembah Pucung.

"Trisula Emas...? Tak kusangka, senjata dahsyat itu berada di tangan Ki Wiryamanggala," kata pengemis berpakaian tambalan warna-warni itu dalam hari. Tatapan matanya tampak tetap tertuju pada Hantu Putih Lembah Pucung dan Raja Pedang Merah.

"Kalau setuju, kau harus mengerjakan tugas pertamamu terlebih dahulu," ujar Hantu Putih Lembah Pucung.

"Apa tugas itu?" Raja Pedang Merah melempar pertanyaannya tak sabar.

"Singkirkan dulu sisa Sepasang Pangeran Kelabang itu!" tunjuk Ragendra pada Rasupaka yang sejak tadi diam saja.

Rasupaka tentu saja terkejut mendengar ucapan Hantu Putih Lembah Pucung.

"Laknat kau, Kakek Peot!" maki Rasupaka tertuju pada Hantu Putih Lembah Pucung.

Sementara, pengemis yang berada pada tempat terlindung itu juga terkejut mendengar ucapan Ragendra yang begitu licik.

Rasupaka berteriak nyaring sambil menerjang Hantu Putih Lembah Pucung. Namun, langkahnya terhenti karena di hadapannya sudah menghadang Raja Pedang Merah dengan senjata terhunus di depan dada. Sinar kemerahan berpendar-pendar, keluar dari pedang milik Raja Pedang Merah.

"Minggir kau, Raja Pedang Merah!" bentak Rasupaka berang.

"Langkahidulumayatku,Rasupaka!" balas Raja Pedang Merah, tak kalah geram. "Kurang ajar!" maki Rasupaka sambil meneruskanlangkahnya,hendakmenerjang RajaPedangMerahyangberdirimengha-

dang.

Senjata yang berada di tangan Rasupaka berkelebat cepat dan terarah. Namun, Raja Pedang Merah tak kalah gesit menghindari tusukan tombak mata dua berkeluk tujuh milik Rasupaka.

Bukan itu saja yang dilakukan Raja Pedang Merah. Sambil menghindari tusukan, dikirimkannya tendangan menggeledek ke dada Rasupaka.

"Hiaaa...!" Desss! "Akh!"

Tubuh Rasupaka langsung terpental ketika kaki kanan Raja Pedang Merah telak mendera dadanya. Tubuh lelaki berambut kuncir kelabang itu jatuh berdebum ke tanah. Wajahnya menyeringai pertanda merasakan sakit yang teramat sangat.

Rasupaka berusaha bangkit kembali untuk memberikan perlawanan. Namun ketika badannya digerakkan, sakit yang mendera dadanya tak dapat lagi dipertahankan. Rasupaka menekap dadanya yang seperti melesak ke dalam

"Hoeeekh...!"

Rasupaka langsung memuntahkan darah kehitaman. Wajahnya seketika berubah pucat bagai mayat. Melihat hal ini, Raja Pedang Merah tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang terbentang di hadapannya. Dengan gerakan cepat bagai kilat, diterjangnya Rasupaka dengan menggunakan pedang merahnya.

"Hiaaa...!" Cras!

"Aaa...!"

Lengking berkepanjangan yang memilukan mengiringi melayangnya nyawa Rasupaka dari raga. Tanpa ada kelojotan sedikit pun, Rasupaka pergi ke alam baka untuk selamanya dengan luka menganga lebar di bagian perut.

"Ha ha ha. "

Tawa serak itu terdengar ketika Raja Pedang Merah memasukkan pedang ke dalam warangkanya.

"Kau memang hebat, Raja Pedang Merah," puji Hantu Putih Lembah Pucung. "Pantas bila kau bergelar seperti itu."

Raja Pedang Merah tersenyum jumawa mendengar ucapan lelaki tua berpakaian putih yang bergelar Hantu Putih Lembah Pucung. Kemudian, dia bergerak meninggalkan jasad Rasupaka yang terkapar, menghampiri Ragendra. Namun baru lima langkah Raja Pedang Merah berjalan, Hantu Putih Lembah Pucung sudah melesat cepat bagai anak panah terlepas dari busurnya.

Angin menderu mengiringi datangnya serangan Ragendra yang dilakukan secara mendadak ke arah Raja Pedang Merah!

Raja Pedang Merah terkejut melihat kenyataan itu. Sebisanya, dia berusaha mengelak serangan yang datang begitu mendadak. Namun, yang dilakukannya sia-sia belaka. Serangan yang dilancarkan Hantu Putih Lembah Pucung telah lebih dahulu menghantam keras di dadanya. "Aaa...!"

Tubuh Raja Pedang Merah yang terbalut pakaian warna kuning, seketika terlempar jauh. Kemudian, tubuhnya jatuh menimbulkan bunyi berdebuk keras.

"Kau terlalu bodoh, Raja Pedang Merah. Seharusnya kau mengerti hasrat setiap lelaki. Tak ada lelaki yang tak ingin berdampingan dengan dara jelita bernama Dewi Intan Baiduri! Sekarang, terbanglah ke neraka bersama impianmu! Hiaaa...!" ejek Ragendra.

Hantu Putih Lembah Pucung rupanya tak ingin melihat lawannya hidup lebih lama lagi. Dengan gerakan cepat, lelaki berpakaian putih itu berkelebat. Senjatanya bahkan sudah terangkat di atas kepala.

Crak! "Aaa...!"

Jeritan yang keluar dari mulut Raja Pedang Merah hanya sebentar saja. Karena begitu trisula milik Ragendra tercabut dari batok kepalanya, jeritan Raja Pedang Merah langsung menghilang.

Hantu Putih Lembah Pucung terkekeh, lalu beranjak dari tempat pertarungan. Terlebih dahulu, dibersihkannya trisula yang bernoda darah dengan pakaian Raja Pedang Merah.

Sementara itu, pengemis berpakaian tambalan warna-warni itu menarik napas melihat kekejaman Hantu Putih Lembah Pucung. Dan ketika Hantu Putih Lembah Pucung masuk ke dalam kediaman Dewi Intan Baiduri, ditinggalkannya tempat itu. Meskipun, dengan perasaan cemas.

***
LIMA
Di kedai yang sederhana itu, seorang pemuda berpakaian warna kuning keemasan tengah menyantap hidangan dengan nikmatnya. Ketika sampai pada suapan terakhir, pemuda yang ternyata Raja Petir itu menghentikan makannya.

"Aku mengkhawatirkan keselamatan Dewi Intan Baiduri, Jaka," kata sosok bertubuh sedang, yang tahu-tahu sudah duduk di hadapan Jaka.

"Sudah selesai rupanya penyelidikanmu, Soma?" tanya Jaka.

Lelaki bertubuh sedang berpakaian warna biru putih itu menatap lekat-lekat wajah Jaka.

"Hampir selesai, Jaka," kilah Somawiguna kemudian.

"Aku sudah mendengar perihal kematian Kuda Liar, Sepasang Pangeran Kelabang, dan Raja Pedang Merah," kata Jaka.

"Secepat itu kabarnya sudah sampai di telingamu?" tanya Somawiguna, heran. Dahinya nampak berkerut. "Seberapa luas Desa Gindrang Loka ini, Soma?" tanya Jaka sambil menatap wajah Somawiguna yang menyimpan kecemasan luar biasa.

Somawiguna memaklumi pertanyaan Jaka. Disadari kalau keadaan Desa Gindrang Loka yang tidak seberapa luas, membuat berita sekecil apa pun bisa cepat tersebar.

"Kau tahu, siapa yang  melakukan itu, Soma?" selidik Jaka kemudian.

"Raja Pedang Merah dan Hantu Putih Lembah Pucung. Dan, Raja Pedang Merah sendiri tewas di tangan Hantu Putih Lembah Pucung."

"Hantu Putih Lembah Pucung?" ulang Jaka. "Apakah lelaki tua itu juga hendak meminang Dewi Intan Baiduri?" tanya Jaka heran.

Raja Petir memang pernah mendengar sepak terjang lelaki tua berpakaian serba putih yang bersenjatakan trisula. Namun, dia belum pernah melihat sosok orangnya.

"Bukan hanya menginginkan Dewi Intan Baiduri, Jaka. Tetapi, lelaki tua yang kejam itu juga menginginkan Trisula Emas yang berada di tangan Ki Wiryamanggala, ayah Dewi Intan Baiduri!" jelas Somawiguna.

"Trisula Emas...?" tanya Jaka dalam hati. "Apa lagi yang kau dapat dari penyelidikanmu, Soma?"

"Hanya itu."

Jaka tak melanjutkan pertanyaannya. Pikirannya langsung melayang, pada sebuah benda pusaka bernama Trisula Emas. Apakah benar Trisula Emas berada di tangan Ki Wiryamanggala? Patutkah dipercaya keasliannya?

Menurut guru Jaka yang bernama  Eyang Putri Selasih, benda pusaka dahsyat itu adalah milik Eyang Reksajagat Lingit, sahabat karib almarhum Raja Petir yang pertama. Dan setelah beliau wafat, benda pusaka itu jatuh ke tangan anaknya yang tertua, Kiswarajati. Lalu, apa hubungan Kiswarajati dengan Ki Wiryamanggala? Apakah mereka masih bersaudara?

"Kalau begitu, kita ke sana sekarang, Soma," ajak Jaka setelah beberapa saat lamanya bermain-main dengan pikirannya.

"Kurasa,sekarang ini tidak tepat waktunya, Jaka," sangkal Somawiguna.

"Kenapa?"

"Menurut perhitunganku, bentrokan masih akan terjadi antara Hantu Lembah Pucung melawan Raksasa Tangan Hitam. Tugas kita nantinya, adalah menghadang salah satu pemenang itu. Dan kurasa, pertarungan itu besok akan terjadi. Kuharap, besok kau ke tempat itu, dan mungkin aku sudah berada di sana lebih dahulu. Aku memang terlalu mengkhawatirkan Dewi Intan Baiduri. Dan aku tak rela kalau dia menjadi pendamping Hantu Lembah Pucung atau Raksasa Tangan Hitam," sahut Somawiguna, mantap.

"Hm.... Lalu kau akan kembali menyelidiki sekarang?" tanya Jaka.

"Aku akan mengawasi gerak-gerik Hantu Putih Lembah Pucung yang culas itu," jawab Somawiguna. "Datanglah besok. Aku sudah menunggu di sana."

Somawiguna pergi diiringi tatapan mata Jaka. Raja Petir merasa aneh melihat sikap Somawiguna yang berubah-ubah.

"Ah! Apa sebenarnya pikiran  yang ada di batok kepalanya?" tanya Jaka dalam hati.

***

Seorang dara jelita melangkah tergesa-gesa sepagi ini. Langkahnya yang panjang-panjang, bergerak menuju sebuah rumah yang halaman luasnya ditumbuhi beragam bunga warna-warni.

"Aku ingin bertemu Dewi," kata dara jelita berpakaian biru cerah. Di punggungnya tampak tersandang sebatang pedang yang gagangnya berbentuk kepala ular.

Dua penjaga rumah kediaman Dewi Intan Baiduri menatap wajah dara jelita itu sekilas.

"Apa keperluan Nini ingin bertemu Dewi Intan Baiduri?"

"Urusan pribadi! Kau tak perlu tahu!"

"Bukan begitu, Nini."

"Jangan banyak bacot!"

Tanganperempuanberpakaianbiru cerah itu begitu cepat menotok dua lelaki penjaga kediaman Dewi Intan Baiduri. Seketika, dua penjaga itu tergeletak tak berkutik.

"Kalian diam saja di sini, Cecunguk!" dengus dara berpakaian biru cerah itu.

Selesai berkata demikian, gadis itu melangkah. Namun baru dua tindak kakinya bergerak, di hadapannya sudah berdiri Dewi Intan Baiduri.

"Kukira, siapa lagi yang datang sepagi ini! Ternyata kau, Putri Cubung Biru," sambut Dewi Intan Baiduri lembut. "Kenapa kau datang ke sini sendiri?"

"Huh! Pantas saja semua lelaki melirik ke rumah ini. Rupanya si pemilik rumah adalah dara jelita bersuara manja. Seorang murahan yang biasa menggaet setiap lelaki," ketus ucapan yang terlontar dari mulut perempuan yang ternyata berjuluk Putri Cubung Biru.

"Apa maksud perkataanmu, Putri Cubung Biru?" tanya Dewi Intan Baiduri, sedikit terkelap.

"Kau jangan berlagak bodoh, Dewi.

Sesungguhnya kau tidak lebih cantik dariku. Tetapi karena kau lebih lihai membuai, maka tak heran bila banyak lelaki yang datang kemari untuk melamarmu. Termasuk, Sepasang Pangeran Kelabang yang masih terhitung saudaraku. Dan bukan itu saja, Dewi. Kau juga memiliki akal licik dengan mengadu domba setiap lelaki yang datang ke sini. 

Akibatnya, mereka berani bertarung hanya untuk mendapatkan dara bejat sepertimu. Seperti halnya yang telah dilakukan saudaraku, Sepasang Pangeran Kelabang. Mereka akhirnya tewas hanya karena ingin mendapatkanmu! Maka kedatanganku kemari, sekalian ingin membalas kematian Sepasang Pangeran Kelabang!"

"Kalau begitu, kau belum mengetahui duduk persoalan yang sesungguhnya, Putri Cubung Biru," bantah Dewi Intan Baiduri. "Aku bukan perempuan murahan seperti yang kau katakan barusan! Kedatangan mereka ke rumahku, sama sekali tak pernah kuharapkan. Mereka datang ke rumahku atas keinginan mereka sendiri. Demikian pula pertempuran di antara mereka. Justru mereka sendirilah yang menginginkan dan menciptakannya sendiri. Dan aku tak pernah menghasut mereka!"

Putri Cubung Biru tersenyum sinis mendengar jawaban Dewi Intan Baiduri.

"Kau pikir, aku mempercayai mulut manismu itu, Dewi? Mana ada sih, pencuri mengakui perbuatannya? Dan mana ada asap tanpa ada api?"

"Terserah kaulah, Putri Cubung Biru," putus Dewi Intan Baiduri akhirnya. "Yang jelas, aku bukan orang seperti yang kau tuduhkan itu. Dan aku akan menuruti kemauanmu sekarang."

"Nyawa Sepasang Pangeran Kelabang harus dibayar dengan nyawamu dan nyawa Wiryamanggala!"

"Silakan, kalau kau memang mampu mengambilnya, Putri Cubung Biru," tantang Dewi Intan Baiduri berang.

"Baik, Dara Payung Merah! Jagalah seranganku!"

Dara jelita berpakaian biru cerah yang berjuluk Putri Cubung Biru itu berteriak nyaring seraya menjejakkan kakinya ke tanah. Tubuhnya yang terbungkus pakaian ketat warna biru cerah, melesat cukup cepat terarah ke tubuh Dewi Intan Baiduri.

Dewi Intan Baiduri yang ternyata bergelar Dara Payung Merah rupanya tak mau kalah cepat. Sebelum kepalan tangan Putri Cubung Biru mendarat di tubuhnya, badannya telah lebih dulu dimiringkan.

"Ternyata kau punya kebisaan juga, Dewi," ejek Putri Cubung Biru.

"Kau pikir, hanya dirimu yang bisa berbuat seperti itu?"

Selesai berkata seperti itu,Dewi Intan Baiduri melesat cepat. Begitu cepat gerakannya, sehingga Putri Cubung Biru kewalahan menghindarinya.

Plak! "Aaa...!"

Putri Cubung Biru memekik tertahan ketika sodokan tangan lawan yang disertai pengerahan tenaga dalam dipapaknya. Tubuhnya langsung terjajar beberapa langkah. Dan wajahnya tampak bersemu merah menahan marah.

Srat!

Pada saat Putri Cubung Biru meloloskan senjata dari tempatnya, Ki Wiryamanggala datang. Terkejut juga hatinya menyaksikan anaknya bertarung dengan tangan kosong, sementara lawannya menggunakan pedang yang berkilat-kilat tertimpa sinar matahari. Namun, kiranya Ki Wiryamanggala tahu betul kemampuan anaknya. Itulah sebabnya, pertarungan itu tak mau dicampurinya.

"Bersiap-siaplah, Dewi. Itu kalau kau tak ingin kepalamu terpisah dari badan!" hardik Putri Cubung Biru.

Tubuh wanita itu kembali melesat. Maka berkelebatlah sosok berpakaian warna biru cerah dengan pedang teracung ke atas.

"Hiaaa...!" Bet! Bet! "Uts!"

Dewi Intan Baiduri berjumpalitan indah menghindari tebasan-tebasan pedang Putri Cubung Biru yang cukup dahsyat dan berbahaya. Beberapa kali gadis yang berjuluk Dara Payung Merah itu berputaran di udara, dan kemudian ringan sekali mendarat di tanah.

"Hup!"

"Kehebatanmu sudah menurun, Putri Cubung Biru," ejek Dara Payung Merah, setelah tubuhnya mendarat tak bersuara. "Tidak seperti tiga tahun lalu."

"Jangan sombong kau, Perempuan Murahan!" sentak Putri Cubung Biru.

Terkesiap hati Dewi Intan Baiduri mendengar hinaan Putri Cubung Biru.

"Mulut kotormu harus segera dikuras, Putri Cubung Biru!"

"Kau yang harus mampus, Dara Hina!

Hiaaa...!"

Kembali Putri Cubung Biru mendahului menyerang, diiringi teriakan lantang. Semula, Ki Wiryamanggala bermaksud memapak serangan berbahaya yang dilancarkan Putri Cubung Biru, karena dilihatnya Dewi Intan Baiduri tak menggunakan senjata. Namun kenyataannya Ki Wiryamanggala segera mengurungkan maksudnya, begitu melihat payung kecil dari logam keras itu sudah terkembang di depan perut putrinya. Dan payung berwarna merah muda itu segera dikibaskan untuk menangkis tebasan ganas pedang Putri Cubung Biru.

Trang!

Suara benturan keras seketika terdengar memekakkan telinga. Bunga api memercik ke sana kemari dari senjata yang beradu lewat kekuatan tenaga dalam penuh. Putri Cubung Biru tampak kembali terhuyung beberapa langkah. Dari sini bisa diukur kalau tenaga dalamnya masih di bawah tenaga dalam Dewi Intan Baiduri. Dan dengan wajah beringas, dia bermaksud kembali menerjang lawan yang sudah bersiap-siap.Namun,langkah Putri Cubung Biru terhenti ketika....

"Hentikan niat jelekmu itu, Putri Cubung Biru!" Sebuah suara berat terdengar cukup mengejutkan. Maka seketika pertarungan itu terhenti. Dan tahu-tahu, sosok tubuh berpakaian putih bersih, seketika berkelebat dan mendarat tepat di tengah-tengah arena pertempuran.

Sosok berpakaian putih bersih yang ternyata Hantu Putih Lembah Pucung, sekilas menatap wajah Putri Cubung Biru. Namun sebentar kemudian tatapannya berpindah ke arah Ki Wiryamanggala.

"Kenapa kau biarkan saja pertarungan ini terjadi, Wiryamanggala?" tanya Ragendra, sinis. "Apa kau tak sayang kalau barang anakmu lecet?"

"Aku harus berbuat apa, Ragendra? Apakah aku harus mengeroyok dara belia seperti Putri Cubung Biru?" kilah Ki Wiryamanggala sewot

"Itu harus kau lakukan, Wiryamanggala. Daripada dara jelita anakmu menjadi rusak tergores senjata tajam Putri Cubung Biru," bantah Hantu Putih Lembah Pucung, dengan tatapan garang.

"Perbuatan seperti itu tak pantas kulakukan, Ragendra!" balas Ki Wiryamanggala.

"Dari dulu kau memang pengecut, Wiryamanggala. Sudahlah! Biar aku yang usir dara liar ini!" sentak Hantu Putih Lembah Pucung, seraya cepat mengibaskan tangannya.

Siiing! Siiing...!

Ki Wiryamanggala terkejut bukan  main melihat perbuatan Hantu Putih Lembah Pucung. Tindakannya yang melempar senjata rahasia berbentuk butir-butir tasbih itu tak sepatutnya dilakukan. Apalagi terhadap seorang wanita yang kepandaiannya jauh berada di bawah.

"Memalukan!" rutuk Ki Wiryamanggala dalam hati.

Namun, rutukan Ki Wiryamanggala tak berarti bagi Putri Cubung Biru. Gadis itu kini tengah berjuang menghindari terjangan senjata rahasia yang dilancarkan Hantu Putih Lembah Pucung.

"Aaakh...!"

PutriCubungBiruterpekikkeras ketika salah satu senjata rahasia milik Hantu Putih Lembah Pucung menghantam dada sebelah kanan. Tubuhnya seketika terhuyung ke belakang dengan bagian dada berlubang dan mengepulkan asap berbau anyir.

"Pengecutkau,TuaBangka!"maki Putri Cubung Biru.

Mendapatkan makian seperti itu, hati Ragendra terkelap.

"Kurang ajar kau, Bocah Liar! Hiaaa...!"

Dengan kecepatan luar biasa, tubuh Hantu Putih Lembah Pucung melesat. Kedudukan kaki kanannya yang berada di depan, seketika menerpa keras dada sebelah kiri Putri Cubung Biru yang karuan saja langsung terpekik keras. Tubuh dara jelita berpakaian biru cerah itu kontan terpelanting, sejauh satu setengah batang tombak.

Sebentar Putri Cubung Biru menggeliat. Namun sebentar kemudian, tubuhnya yang terbalut pakaian biru cerah itu telah menegang kaku.

"Mampus kau, Gadis Liar!" maki Hantu Putih Lembah Pucung, geram.

***
ENAM
"Ha ha ha.... Tentu saja gadis kecil itu bisa kau buat mampus sedemikian mudah, Tua Bangka! Jelas saja, dia bukan tandinganmu!"

Tersentak Ragendra mendengar hinaan yang tiba-tiba menggelegar. Begitu juga, Ki Wiryamanggala dan Dewi Intan Baiduri. Mereka langsung menoleh cepat ke arah datangnya suara.

Sosok tinggi besar tahu-tahu saja berkelebat cepat dan mendarat ringan beberapa tombak di hadapan Hantu Putih Lembah Pucung.

"Raksasa Tangan Hitam?!" ucap Hantu Putih Lembah Pucung dengan mata mendelik geram.

Ki Wiryamanggala dan Dewi Intan Baiduri hanya bisa menatap Raksasa Tangan Hitam yang tinggi besar, mirip raksasa. Kepalanya hanya bagian kanan yang ditumbuhi rambut. Jenggot panjangnya tak terurus, semakin menambah keangkerannya. Apalagi kalau melihat kalung yang menggantung sebatas perutnya yang buncit.

"Kenapa harus menurunkan tangan besimu, kalau hanya menghadapi anak ingusan itu, Ragendra?"

"Itu urusanku, Raksasa Tangan Hitam! Kau tak perlu turut campur!" hardik Ragendra berang.

"Terserah kaulah, Hantu Putih Lembah Pucung. Yang jelas, pergilah sekarang! Biarlah aku bersama pujaanku, Dewi Intan Baiduri." ujar Raksasa Tangan Hitam.

"Hm.... Rupanya jiwa kejantananmu juga tergelitik untuk memiliki dara jelita itu? Pantas, dari jauh kau bersedia datang ke sini," ejek Ragendra.

"Bukan itu saja, Ragendra!" bentak Raksasa Tangan Hitam. "Aku juga menginginkan Trisula Emas yang berada di tangan si Gagak Putih."

Bagai tersengat seribu kala Ragendra terkejut mendengar ucapan terakhir Raksasa Tangan Hitam. Dan begitu juga yang dialami Ki Wiryamanggala. Sesungguhnya, ayah kandung Dewi Intan Baiduri itu tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Namun ucapan itu didengar oleh telinganya sendiri. Ki Wiryamanggala heran, dari mana orang-orang sesat ini tahu kalau benda pusaka itu dia yang menyimpan.

Sementara itu, sosok lain yang bersembunyi di balik sebatang pohon besar pun ikut tersentak kaget. Sosok pengemis berpakaian tambalan warna-warni, yang sejak pertama menguntit kehadiran tokohtokoh hitam itu bahkan sampai termanggutmanggut.

Bukan itu saja. Di lain tempat, juga nampak sosok pemuda berpakaian kuning keemasan mendengarkan perdebatan yang cukup seru itu. Hanya bedanya, pemuda yang tak lain dari Raja Petir itu nampak begitu tenang. Tapi, hatinya tak yakin betul kalau trisula milik Eyang Reksajagat Lingit berada di tangan Ki Wiryamanggala yang berjuluk si Gagak Putih.

"Ragendra! Sebaiknya menyingkirlah dari tempat ini. Lebih cepat, lebih baik. Dan, jangan tunggu kesabaranku habis!" lanjut Raksasa Tangan Hitam masih dengan nada membentak keras.

"Kau pikir, hanya kau saja yang menginginkan Dewi Intan Baiduri dan Trisula Emas itu, Raksasa Tangan Hitam?!" dengus Hantu Putih Lembah Pucung.

"Kita tentukan dengan adu nyawa jika begitu," tantang Raksasa Tangan Hitam. Tangannya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat itu nampak terkepal di atas kepala.

"Kusambut tantanganmu, Raksasa Tangan Hitam!" balas Hantu Putih Lembah Pucung seraya mengibaskan tangannya dengan cepat.

Zeb! Zeb! Zeb!

Tiga bilah pisau terbang seketika melayang dari tangan kiri Ragendra yang terkibas keras. Suara mendesing mengiringi luncuran pisau-pisau terbang ke arah tubuh tinggi besar Raksasa Tangan Hitam.

Namun, Raksasa Tangan Hitam tidaklah bisa dianggap remeh. Kepandaiannya tidak bisa disamakan begitu saja dengan Putri Cubung Biru yang tergeletak tak bernyawa tersambar senjata rahasia milik Ragendra.

Dengan gerakan luar biasa cepat, tahu-tahu golok besar bergerigi sudah dikibas-kibaskan Raksasa Tangan Hitam dengan kecepatan sukar diikuti mata biasa

Trang! Trang! Trang!

Tiga bilah pisau terbang yang meluncur kontan luruh ke tanah, terhantam putaran golok besar bergerigi milik Raksasa Tangan Hitam.

"Keluarkan seluruh senjata rahasia yang kau miliki, Setan Laknat!" maki Raksasa Tangan Hitam geram.

Hantu Putih Lembah Pucung mendengus mendengar ucapan Raksasa Tangan Hitam.

"Gantian kau yang menyerangku, Raksasa Jorok! Keluarkan seluruh keampuhan senjata-senjatamu, aku ingin mencoba!"

"Rasakan ini!" balas Raksasa Tangan Hitam.

Tras! Tras!

Benda berbentuk kuku raksasa seketika beterbangan ke arah Hantu Putih Lembah Pucung. Senjata yang dinamakan Kuku Terbang Beracun itu mengeluarkan sinar kehijauan yang menimbulkan hawa dingin menyengat.

Ragendra cukup terkejut menyaksikan senjata rahasia yang dimiliki lawannya. Hawa dingin yang dikeluarkan senjata rahasia itu membuatnya sukar melakukan gerakan. Namun, tentu saja Hantu Putih Lembah Pucung tak ingin mati konyol begitu saja. Cepat-cepat dikerahkannya hawa murni untuk melawan dingin yang sampai menusuk tulang.

"Hiyaaa...!"

Trang! Trang! Trang!

Senjata rahasia Kuku Terbang Beracun ternyata mampu dilumpuhkan Hantu Putih Lembah Pucung. Namun belum lagi lelaki tua berpakaian putih bersih itu bergerak dari pijakan kakinya, tubuh besar Raksasa Tangan Hitam telah mencelat hendak memberi hajaran ke pelipis.

Bret! "Uts!"

Ragendra cepat memiringkan kepalanya ke kanan, berusaha menghindari serangan mendadak yang dilancarkan Raksasa Tangan Hitam. Namun sambaran tangan lawan begitu cepat, sehingga sempat menyerempet pelipisnya yang terlindung ikat kepala.

Hantu Putih Lembah Pucung terkejut menyaksikan ikat kepalanya terjatuh ke tanah, dengan keadaan sudah tidak utuh lagi.

Di tempat lain, dua orang lelaki yang sama-sama berada pada tempat terlindung, menyaksikan kejadian yang begitu cepat dengan mata terbelalak. Raja Petir yang tak mau turut campur, hanya menggelengkan kepala melihat keganasan serangan-serangan orang yang tengah bertarung. Namun, pikirannya jelas tertuju pada Somawiguna yang berjanji akan datang lebih dahulu.

"Ke mana Somawiguna? Kenapa belum juga menampakkan batang hidungnya?" kata batin Jaka sambil tak lepas menyaksikan pertarungan hidup dan mati antara Hantu Putih Lembah Pucung melawan Raksasa Tangan Hitam.

Pertarungan sudah mencapai jurus yang kelima puluh. Namun, salah satu di antara dua tokoh aliran hitam itu belum nampak ada yang terdesak. Seranganserangan silih berganti masih tetap gencar dilakukan. Desing senjata dan dentang benda keras beradu yang ditingkahi memerciknya bunga api, meramaikan suasana pertarungan. Lengking kegeraman dan hawa nafsu membunuh, menguasai jalannya pertarungan. Bahkan keadaan sekitarnya telah porak-poranda, terhantam pukulan nyasar.

Sementara, Dewi Intan Baiduri tanpa sepengtahuan Hantu Putih Lembah Pucung dan Raksasa Tangan Hitam, telah hijrah dari tempat pertarungan ditemani Ki Wiryamanggala.

Sedangkan pengemis yang menyaksikan pertarungan hidup mati itu, hatinya sedkit lega begitu melihat Dewi Intan Baiduri menjauhi arena pertarungan. Karena bisa jadi, serangan-serangan nyasar akan mengancam keselamatan gadis itu.

"Hiaaa...!" 

"Uts!"

Trang! Trang!

Tubuh Ragendra dan Raksasa Tangan Hitam sama-sama terdorong dua langkah, begitu dua senjata masing-masing saling berbenturan. Mereka saling mendengus dan saling menatap, seperti sedang mengukur sisa-sisa kemampuan masing-masing.

"Kau yang harus lebih dulu melayat ke neraka, Raksasa Tangan Hitam!" balas Hantu Putih Lembah Pucung.

"Jangan asal bicara, Hantu Bengek! Buktikan kalau kau mampu!"

"Baik! Jagalah aji 'Jagal Mayat' ini, Raksasa Jorok!"

Hantu Putih Lembah Pucung melangkah mundur dua tindak. Tangannya yang membentuk sikap hormat seketika dibawa turun, seiring tubuhnya yang bergerak turun. Kini Hantu Putih Lembah Pucung terduduk di tanah dengan kaki bersila.

"Aku akan mengimbangi aji murahan milikmu dengan aji 'Bedah Belantara', Hantu Bengek!" balas Raksasa Tangan Hitam.

Tokoh sesat tinggi besar itu melakukan gerakan yang sama dengan gerakan Hantu Putih Lembah Pucung. Akibat yang ditimbulkan dari dua gerakan yang sama-sama mengeluarkan ajian berbeda itu nampak demikian dahsyat. Dari dalam tubuh Ragendra seketika mengepul asap tipis berbau anyir yang membuat napas terasa sesak. Hawa panas yang ditimbulkan dari uap tipis itu menebar perlahan, menuju Raksasa Tangan Hitam yang tengah memusatkan pikiran pada ajiannya.

Keringat sebesar butir-butir jagung keluar dari tubuh Raksasa Tangan Hitam, ketika ajiannya sudah menemui titik tertinggi. Tubuhnya tampak bergetar hebat. Namun, tangannya cepat bergerak mencabut golok besar bergerigi. 

Angin keras seketika keluar dari dalam tubuh Raksasa Tangan Hitam yang seketika tegak berdiri. Angin yang seketika bergulung-gulung keras itu membawa tubuhnya berputar bagai gangsing. Senjatanya yang berupa golok besar bergerigi, ikut pula berputar hingga menimbulkan bunyi bercericit.

Tubuh Raksasa Tangan Hitam terus berputar hebat, menuju tubuh Hantu Putih Lembah Pucung yang tengah duduk bersila memusatkan pikirannya. Namun ketika tubuh Raksasa Tangan Hitam yang tengah berputar hebat hendak menyentuh tubuh lawan, seketika itu juga....

"Hiaaa. !"

Tubuh Hantu Putih Lembah Pucung seketikamelentingtinggi,danmelakukan putaran beberapa kali di udara.

"Hup!"

"Hih!"

Ragendra mendaratkan kakinya dengan manis, seraya memberi pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga dalam dahsyat. Maka seketika angin menderu meluncur mengiringi tibanya pukulan yang dilancarkannya ke arah tubuh Raksasa Tangan Hitam yang masih berputar.

Glarrr...!

Ledakan dahsyat terjadi, ketika pukulan yang dilancarkan Hantu Putih Lembah Pucung menemui sasaran. Tubuh Raksasa Tangan Hitam langsung terhuyung dua langkah. Dari sela bibirnya nampak mengalir cairan darah berwarna kehitaman. Jelas, Raksasa Tangan Hitam kalah dalam mengadu ajian yang mengandung kekuatan dahsyat.

"Hoekh...!"

Raksasa Tangan Hitam memuntahkan darah berwarna kehitaman. Dan pada saat itulah bayangan putih berkelebat cepat, memberi serangan dahsyat.

Desss! "Aaa...!"

Tubuh tinggi besar milik Raksasa Tangan Hitam kontan terlempar sejauh dua batang tombak, setelah tendangan keras mendera bagian dadanya yang bidang.

Raksasa Tangan Hitam memang memiliki hati yang kuat. Walaupun tubuhnya telah mengalami luka dalam yang sangat parah, namun dia masih berusaha bangkit untuk meraih senjata yang tergeletak tak jauh dari tempatnya terkulai.

Namun kenyataannya, Hantu Putih Lembah Pucung juga merupakan seorang tokoh golongan hitam yang memiliki hati begitu kejam. Lelaki yang sudah cukup berumur itu tak pernah iba hatinya melihat keadaan orang lain yang sudah tak berdaya.

"Hiaaa...!"

Diiringi lengkingan menggetarkan hati, Hantu Putih Lembah Pucung kembali menerjang Raksasa Tangan Hitam yang langkahnya tertatih-tatih untuk meraih senjatanya yang terlepas.

Diegkh...! "Aaakh...!"

Kembali tubuh tinggi besar itu telempar sejauh dua batang tombak. Lengkingan yang menyayat, mengiringi ambruknya tokoh sesat yang menggiriskan itu. Sesaat lamanya Raksasa Tangan Hitam menggeliat menahan sakit yang teramat sangat. Namun sebentar kemudian, nyawanya telah terbang meninggalkan jasadnya.

***

Ragendra berdiri angkuh sambil menatapi mayat Raksasa Tangan Hitam yang terbujur kaku. Kemudian, tatapan matanya yang liar langsung tertuju pada bangunan tua rumah kediaman Ki Wiryamanggala.

"Wiryamanggala! Kenapa kau bersembunyi seperti pengecut?!" hardik Hantu Putih Lembah Pucung, menggelegar. "Keluarlah! Jangan sembunyikan Dewi Intan Baiduri dan Trisula Emas itu!"

Belum sekejap suara itu berlalu dari bibir Hantu Putih Lembah Pucung, Ki Wiryamanggala sudah muncul tanpa Dewi Intan Baiduri.

"Akubukanjenislelakipengecut seperti yang kau katakan, Ragendra yang perkasa," sindir Ki Wiryamanggala, ketus. "Hm....Lalu,kenapabarumuncul sekarang? Dan di mana kau sembunyikan Dewi Intan Baiduri dan Trisula Emas itu?" 

"Aku tak pernah menyembunyikan apa-apa yang menjadi hakku, Ragendra," ujar Ki Wiryamanggala. 

"Aku hanya ingin mempertahankan apa yang kumiliki dari incaran orang tamak macam kau!"

"Berbisa juga bacotmu, Wiryamanggala! Apa kau mulai tumbuh gigi lagi?!" ejek Hantu Putih Lembah Pucung.

"Gigiku bukan baru mulai tumbuh lagi, Hantu Putih Lembah Pucung! Tapi, telah lelah mengunyah makanan yang busuk macam kau. Dan karena kebusukanmu, liurku telah terbit untuk segera menyantapmu!" 

"Ha ha ha.... Ada macan ompong berkata sombong! Aneh! Benar-benar aneh!" 

"Ragendra! Kehadiranku di hadapanmu kini adalah semata ingin menyampaikan tolakan atas pinanganmu terhadap Dewi Intan Baiduri, dan bantahanku atas keinginanmu yang ingin menguasai Trisula Emas! Benda itu bukan hakmu!"

"Kurang ajar!" maki Hantu Putih Lembah Pucung, geram.

Tangan Ragendra seketika bergerak cepat, hendak melepas senjata rahasianya. Namun....

"Tahan. !"

Sebuah bentakan menggeledek seketika menahan maksud keji Hantu Putih Lembah Pucung. Sesosok tubuh tiba-tiba melesat cepat dan mendarat tak jauh dari hadapan Hantu Putih Lembah Pucung.

"Maaf! Aku terpaksa mencampuri urusan kalian," ucap seseorang yang ternyata pengemis berpakaian tambalan warna-warni.

"Jembel busuk!" maki Hantu Putih Lembah Pucung geram. "Rupanya kau sudah bosan hidup, heh!"

Lelaki berpakaian tambalan yang bertubuh sedang itu ternyata tak marah disebut jembel busuk.

"Maaf, Hantu Putih Lembah  Pucung dan Ki Wiryamanggala. Kedatanganku ke tempat ini semata hanya ingin ikut bersaing untuk mengambil hati Dewi Intan Baiduri. Namun, tidak untuk menguasai Trisula Emas."

Seperti ada seribu lebah yang menyengat kepala, Ragendra seketika terkejut begitu mendengar ucapan lelaki berpakaian tak karuan bentuk dan warnanya itu. 

"Jembel busuk!Apa kau tak salah omong, heh?! Apa tak dapat berkaca dengan keadaanmu?!"

Sementara dari tempat persembunyiannya, pemuda berpakaian kuning keemasan yang memang Raja Petir, tampak terkagum-kagum akan keberanian lelaki yang pantas disebut pengemis itu. Namun, pikirannya tetap tertuju pada Somawiguna, yang sampai sekarang belum muncul juga. Dan tiba-tiba....

"Hiaaa. !"

Betapa terkejutnya hari Jaka begitu mendengar teriakan melengking yang keluar dari mulut Hantu Putih Lembah Pucung. Sosok berpakaian putih bersih itu nampak berkelebat cepat bagai anak panah terlepas dari busur, ke arah si pengemis.

Namun, keterkejutan Jaka semakin bertambah menyaksikan gerakan manis dan mengagumkan yang dilakukan pengemis itu. Begitu ringan gerakan menghindar yang dilakukannya. Wajahnya yang begitu buruk, nampak tak dialiri ketegangan sedikitpun.

"Kurang ajar!"bentak Hantu Putih

Lembah Pucung melihat serangannya hanya membentur tempat kosong. Namun Ragendra yang sudah matang pengalaman, segera menyadari kalau serangannya semata-mata karena telah memandang remeh lawan. Hingga pukulannya yang deras barusan tidak begitu terarah.

"Kau jangan menyesal, Jembel Busuk! Hari ini wajahmu yang rusak akan terkubur bersama impianmu yang tak masuk akal!"

Selesai berkata seperti itu, Hantu Putih Lembah Pucung langsung melancarkan serangan tangan kosong bertubi-tubi. Serangannya dialiri tenaga dalam penuh, dan digerakkan dengan kecepatan luar biasa.

Suara bercicit dan menderu mengawali serangan-serangan ganas Ragendra. Namun, kenyataannya sudah sepuluh jurus berlalu, tak nampak tanda-tanda kalau pengemis itu terdesak. Meskipun sejauh ini dia belum mengadakan penyerangan.

"Mampus kau, Jembel!" dengus Hantu Putih Lembah Pucung ketika masuk pada jurus yang kelima belas. Pukulan geledeknya hampir saja memecahkan batok kepala si pengemis. Untung saja, kepalanya keburu ditundukkan.

Namun kejelian mata Ragendra rupanya dapat membaca arah gerakan lawan. Dengan menggunakan punggung kaki, dilancarkannya sebuah tendangan keras secara mendadak, ke arah dada si pengemis yang tanpa perlindungan.

Dugkh!

Tubuh pengemis berpakaian tambalan itu terhuyung tiga langkah ke belakang. Dadanya yang sempat terlindungi oleh kedua tangannya, masih tetap terasa sesak. Tendangan yang diterima dari Hantu Putih Lembah Pucung memang demikian keras.

Dalam keadaan yang terhuyung seperti itu, pengemis berpakaian tambalan ini membelalakkan matanya ketika melihat tubuh Hantu Putih Lembah Pucung kembali melesat ke arahnya. Dan wajahnya yang buruk, nampak semakin seram ketika matanya terbelalak.

Dan begitu pukulan Hantu Putih Lembah Pucung hampir mendarat di tubuh si pengemis, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan kuning keemasan.

"Hiaaa...!" Plak!

Bukan main terkejutnya Hantu Putih Lembah Pucung mendapatkan serangannya telah digagalkan seseorang. Bukan itu saja. Dia juga terkejut mendapatkan dirinya terlempar, ketika terjadi benturan keras. Dan itu membuat otak Ragendra berpikir kalau lawan yang dihadapi kali ini tidak bisa dianggap sembarangan. Jelas, tenaga dalam yang dimiliki bayangan kuning tadi lebih tinggi sedikit daripada tenaganya.

Ketika tubuh pemuda yang memapak serangan Hantu Putih Lembah Pucung mendarat marts, semua mata yang ada di sekitar tempat pertarungan terbelalak lebar. Bahkan bibir masing-masing menyebutkan satu nama.

"Raja Petir...?!"

Beberapa wajah orang yang setelah menyebutkan nama besar itu seketika berubah cerah. Namun, kenyataannya tidak bagi Ragendra. Nampaknya, dia marah bukan main dengan keusilan tokoh berpakaian kuning keemasan yang belakangan ini julukannya begitu tersohor.

"Pemuda usilan!" maki Ragendra panas. "Apa kehadiranmu ke sini juga untuk mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan Dewi Intan Baiduri, heh?!"

"Tidak untuk Dewi Intan Baiduri ataupun Trisula Emas!" tukas Jaka, kalem. Namun ucapan itu cukup membuat Hantu Putih Lembah Pucung dan Ki Wiryamanggala terkejut.

"Lalu untuk apa, heh?!" hardik Hantu Putih Lembah Pucung keras.

"Untuk seorang temanku yang mencintai setulus hati," kata Jaka, tenang. "Namun sayangnya, temanku itu sampai saat ini belum nampak kehadirannya."

"Ha ha ha.... Dasar Bocah Dungu!  Mau saja dibodohi teman sendiri. Tak sadarkah kau, kalau kedatanganmu ke tempat ini hanya untuk menyerahkan nyawa. Dan setelah kau mampus nanti, temanmu itu akan berjingkrak-jingkrak di atas kuburanmu!" kata Ragendra mengejek.

Sebenarnya Hantu Putih Lembah Pucung sendiri tahu, siapa sebetulnya pemuda yang berdiri di hadapannya. Dia adalah pemuda yang begitu digdaya. Dan namanya belakangan ini sering disebut-sebut tokoh tingkat tinggi kalangan persilatan.

"Kurasa, pikiran temanku tak sekotor pikiranmu itu, Ragendra. Menurutku, temanku itu telah memberi kepercayaan penuh kepadaku untuk menyingkirkan tua bangka yang masih doyan daun muda sepertimu!" timpal Jaka dengan senyum terkembang.

Merah padam wajah Hantu Putih Lembah Pucung mendengar ucapan Jaka yang cukup menusuk perasaan. Tangannya kontan menegang, membentuk sebuah kepalan yang dialiri tenaga dalam tinggi.

"Akan kubungkam mulutmu yang lancang itu, Raja Petir! Hiaaa...!"

Kembali tubuh lelaki berpakaian putih bersih itu mencelat cepat ke arah Jaka yang tetap berdiri tenang. Sementara mata Raja Petir yang jeli memperhatikan gerakan tangan yang dilakukan lawan. Dan begitu hampir dekat, tiba-tiba....

Plak! Plak!

Ringan saja gerakan yang dilakukan Jaka. Namun akibatnya, sungguh dahsyat! Tubuh Ragendra terhuyung ke belakang ketika sodokan tangannya yang mengarah ke ubun-ubun dan mata berhasil dipapak Raja Petir begitu saja.

Hantu Putih Lembah Pucung langsung merasakan tangannya jadi bergetar hebat. Dia tahu, tenaga lawannya betul-betul berada di atas tenaga dalamnya. Untuk itulah senjata andalannya yang berupa sebuah trisula berwarna keemasan segera dicabut.

Plak! Plak!

Ringan saja gerakan tangan yang dilakukan Raja Petir! Namun akibatnya, sungguh dahsyat! Tubuh Hantu Putih Lembah Pucung terhuyung ke belakang, ketika sodokan tangannya yang mengarah ke ubun-ubun berhasil dipapak Raja Petir.

Ketika tangan Hantu Putih Lembah Pucung meloloskan senjatanya, Jaka tak terkejut sedikit pun. Sambil berdiri tenang, diperhatikannya apa yang akan dilakukan lelaki tua berpakaian warna putih bersih itu.

"Hiaaa...!" Trat! Trat! "Eit! Hup!"

Tubuh Raja Petir melenting ke udara ketika trisula lawan hendak membabat bagian bawah tubuhnya. Kemudian, dia melakukan putaran dua kali dan mendarat manis di tanah.

"Mampus kau!"

Teriakan nyaring kembali terlontar dari mulut Ragendra begitu Jaka mendaratkan kakinya. Melihat serangan yang begitu cepat, karuan saja Jaka kembali melempar tubuhnya ke kanan, seraya bergulingan di tanah.

Dan pikiran licik Hantu Putih Lembah Pucung segera bergerak cepat. Sesaat tubuh Jaka masih bergulingan di tanah, segera dilepaskannya beberapa senjata rahasia. Maka, bunyi berdesingan terdengar mengiringi datangnya serangan gelap yang dilakukan Ragendra.

Siiing! Siiing...!

Jaka yang telinganya memang terlatih baik, segera merasakan datangnya serangan gelap yang mengandung hawa maut. Segera setelah dirasakan jaraknya cukup pas untuk menghalau sekaligus memukul balik serangan gelap itu, Raja Petir melakukan gerakan yang sukar dipercaya. Pada keadaan yang sulit itu, tubuhnya melenting pendek. Lalu dengan cepat, dia mendarat manis seraya mengerahkan pukulan jarak jauh yang didapat dari Eyang Putri Selasih.

"Hiyaaa...!" Wusss...!

Angin deras bergulung-gulung seketika keluar dari telapak tangan Raja Petir yang terbuka lebar. Angin keras yang bergulung itu laksana pusaran badai yang siap menggeser benda-benda di hadapannya, termasuk senjata rahasia yang dilepaskan Hantu Putih Lembah Pucung. Senjata yang berbentuk butiran-butiran tasbih itu bertebaran ke sana kemari terhajar angin keras yang bergulung. Bahkan, beberapa di antaranya terpental balik ke pemiliknya.

Siiing! Siiing...!

Ragendra terkejut bukan main melihat tindakan yang dilakukan pemuda yang berjuluk Raja Petir itu. Tak ada waktu lagi untuk menyambut senjata miliknya yang terpukul balik. Maka tubuhnya segera dilempar ke kanan. Dilakukannya gerakan yang sama dengan yang dilakukan Jaka tadi. Hanya bedanya, Jaka tak mau melakukan serangan pada lawan yang tengah lengah seperti itu.

Pertarungan terus berlanjut seru ketika Ragendra sudah kembali bangkit. Sementara pada tempat lain, nampak Dewi Intan Baiduri dan Ki Wiryamanggala mendengarkan ucapan pengemis yang hampir mati di tangan Hantu Putih Lembah Pucung.

"Maafkan aku yang tak tahu  diri ini, Ki Wirya Manggala. Dan juga kau, Dewi Intan Baiduri," kata pengemis itu seraya menundukkan kepala sebagai penghormatan. 

"Sesungguhnya aku tak berani menampakkan wajahku di hadapan kalian. Tapi..., perasaanku tak dapat dikekang dan dipenjarakan begitu saja. Setiap saat, sepasang mataku harus menyaksikan sosok dara jelita yang menjadi dambaan setiap lelaki. Maaf, Dewi. Setulus hati, kukatakan kalau aku mencintai dan menyayangimu."

Dewi Intan Baiduri tersentak kaget mendengar ucapan laki-laki berwajah buruk di hadapannya. Sungguh! Dirasakannya sendiri kalau ucapan lelaki buruk rupa itu keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Dari getaran suara dan mimik lelaki buruk rupa itu, Dewi Intan Baiduri mampu membacanya. Dan....

"Ah! Kenapa hatiku jadi gelisah seperti ini...?" kata batin Dewi Intan Baiduri.

Gadis itu tak mengerti, kenapa hatinya begitu terpukau dengan ucapan lelaki buruk rupa di hadapannya. Dan dia tak tahu, kenapa perasaan aneh seketika menggeletar, menyelusup masuk ke rongga dadanya.

"Siapa kau ini sesungguhnya?" tanya Dewi Intan Baiduri lembut. Matanya mencoba merayapi bola mata lelaki di hadapannya, seolah-olah ingin tahu keberadaannya.

"Sebentar lagi kita sama-sama akan tahu, Dewi," kata pengemis berpakaian tambalan seraya memalingkan muka ke arah pertempuran antara Raja Petir melawan Hantu Putih Lembah Pucung.

"Hiaaa...!" Dugkh! "Aaakh...!"

Tubuh Ragendra seketika terlempar sejauh satu batang tombak, ketika tendangan kasar Jaka menerjang tepat di perutnya. Lengking tertahan seketika terdengar dari mulutnya.

"Kau memang hebat, Raja Petir. Tapi kau belum merasakan kehebatan ajianajianku!" geram Hantu Putih Lembah Pucung.

"Aku tidak bermaksud mencoba ajian yang kau miliki, Ragendra. Aku tak menyukai. Tapi kalau kau memaksaku, jangan menyesal kalau kau sampai tak memiliki ajian lagi," kata Jaka, tanpa bermaksud mengejek.

"Bocah sombong!" maki Hantu Putih Lembah Pucung.

Ragendra seketika menarik kaki kanannya ke belakang, hingga membentuk kuda-kuda rendah. Rupanya ajian lain yang dimilikinya ingin dipamerkannya.

"Jaga aji 'Racun Lembah  Pucung' ini, Raja Petir!" sentak Hantu Putih Lembah Pucung, keras.

Sebentar mata laki-laki berpakaian putih bersih itu dipicingkan. Namun sekejap kemudian, kembali mata itu terbuka lebar. Seiring gerakan tangan yang dilakukan, seiring itu pula tangannya berubah menjadi hijau, dari siku sampai ke ujung jari.

"Hih!"

Slat! Slat! Slat!

Tiga larik sinar melesat begitu cepat dari tangan Hantu Putih Lembah Pucung yang kini berwarna hijau. Tiga larik sinar yang mengeluarkan bau busuk itu begitu menyengat, membuat perut terasa mual dan kepala seperti berputar hebat.

Jaka pun merasakan perubahan pada perut dan kepalanya. Namun, segera dikerahkannya hawa murni untuk mengusir bau busuk yang mengandung racun yang sempat terhirup.

"Hiaaa...!" 

"Hip!"

Disertai teriakan nyaring, tubuh Raja Petir melesat tinggi, menghindari terjangan tiga larik sinar hijau yang mengandung racun ganas. Beberapa kali tubuhnya berputaran di udara, kemudian hinggap ringan di tanah.

Slat! Slat! Slat!

Begitu Jaka menjejakkan kaki di tanah, tiga larik sinar berwarna hijau yang berbau busuk kembali menyerangnya. Karuan saja tubuhnya kembali melenting dan mendarat agak jauh, seraya mencabut sebatang bambu kuning yang bagian tengahnya berlubang. Dengan cepat, bambu pusaka itu ditempelkan ke bibirnya. Dan ketika desahan napasnya terhembus, maka....

Slats! Slats! Slats!

Tiga larik sinar warna keperakan seketika melesat cepat dari lubang kecil bambu kuning, begitu terhembus napas Jaka. Sinar keperakan itu terus meluruk cepat menghadang tiga larik sinar hijau yang meluruk dari arah berlawanan.

Glarrr! Glarrr! Glarrr!

Tiga ledakan dahsyat seketika terdengar memekakkan telinga. Ragendra nampak terkesiap menyaksikan serangannya ternyata berhasil dikandaskan lawan.

"Kurang ajar!" bentak Hantu Putih Lembah Pucung, sambil mencoba kembali ajiannya.

Namun, kenyataannya Jaka tak memberi kesempatan sedikit pun pada lawan untuk melancarkan ajian. Tiga larik sinar keperakan yang keluar dari lubang bambu kuning, seketika kembali melesat ke arah tubuh Hantu Putih Lembah Pucung begitu Raja Petir menghembuskannya. Sinar keperakan yang seperti petir itu terus meluruk cepat, hingga Hantu Putih Lembah Pucung kerepotan.

Glarrr! Glarrr! Brakkk!

Dua larik sinar berwarna keperakan, seketika membentur dua pohon besar. Dan seketika itu juga, pohon itu tumbang. Salah satu di antaranya menabrak pagar rumah kediaman Dewi Intan Baiduri.

Meskipun Hantu Putih Lembah Pucung tak terlanggar sinar keperakan yang ditiup Jaka, namun tetap saja terpental oleh ledakan dahsyat tadi.

"Bangsat licik!" maki Ragendra sambil menghunus trisulanya yang berwarna keemasan.

"Hiaaa...!"

Hantu Putih Lembah Pucung kembali menerjang ganas. Trisulanya yang berwarna keemasan juga sudah diacungkan ke atas.

"Mampus kau...!"

Ragendra menyabetkan trisulanya ke kepala Raja Petir. Namun dengan sikap tenang, Jaka menggerakkan tangan. Dan....

Tap. !

Hantu Putih Lembah Pucung terkejut bukan kepalang ketika senjatanya ditangkap Raja Petir. Trisulanya berusaha ditarik sekuat tenaga, namun kedua telapak tangan Jaka yang menjepitnya terlampau kuat.

Tarik-menarik dengan kekuatan tenaga dalam penuh pun tak terelakkan lagi. Keringat sebesar butir-butir jagung membasahi dari dahi dan leher Hantu Putih Lembah Pucung yang telah menguras seluruh tenaganya. Hingga ketika Jaka melepas jepitan tangannya, karuan saja tubuh lelaki berpakaian putih bersih itu terpental deras, terdorong oleh tenaganya sendiri. Begitu kerasnya, hingga Hantu Putih Lembah Pucung tak mampu menguasai diri. Dan....

Brak! Crap!

Tubuh Hantu Putih Lembah  Pucung yang melanda pagar rumah Dewi Intan Baiduri, kontan tertancap runtuhan pagar yang berujung runcing, hingga tembus kedepan dada.

Hantu Putih Lembah Pucung menggeliat sesaat. Namun pada saat berikutnya, tubuh lelaki tua berpakaian warna putih diam untuk selama-lamanya. Darah tampak membasahi tubuhnya, hingga meleleh ke tanah.

***

Ketika berdiri dekat Dewi Intan Baiduri, barulah Jaka yakin kalau putri satu-satunya Ki Wiryamanggala itu sungguh cantik. Namun, pemuda itu tak mampu memandang kecantikan Dewi Intan Baiduri terlalu lama. Wajah dara jelita itu sangat mengandung pesona yang luar biasa.

"Sayang, sahabatku yang sesungguhnya menaruh hati padamu, tak hadir sekarang," kata Jaka, pada Dewi Intan Baiduri. "Entah ke mana menghilangnya dia. "

"Biarlah aku yang menggantikan, Raja Petir," selak pengemis yang berdiri di sisi Jaka.

"Kau...?" ucapan Jaka terputus sesaat.

"Kau tak percaya padaku, Jaka?" kata pengemis itu seraya mengangkat tangannya ke wajah. Gerakan yang dilakukannya seperti hendak menguliti kulit wajahnya. Dan memang, jembel itu melakukannya.

"Somawiguna...?" Jaka, Ki Wirya manggala, dan Dewi Intan Baiduri terhenyak menyaksikan lelaki itu telah mengelupas topeng tipis yang melekat di wajahnya. Dan begitu sudah terkelupas, yang terlihat ternyata wajah Somawiguna. Maka, sejenak mereka saling tatap tak percaya. Terlebih, Ki Wiryamanggala dan Dewi Intan Baiduri.

"Dialah temanku yang kumaksudkan itu," kata Jaka, ketika terjadi keheningan sesaat

Ki Wiryamanggala dan Dewi Intan Baiduri tersadar, dan sekilas memamerkan senyum. Jaka merasa heran dengan perbuatan itu. Tapi ketika Ki Wiryamanggala menghampiri dan membawanya pergi menjauhi Dewi Intan Baiduri dan Somawiguna, barulah Jaka dapat memaklumi. Namun demikian, benaknya masih dihinggapi keanehan yang belum terjawab.

"Aku tak menyangka kalau Somawiguna tiba-tiba muncul," kata Ki Wiryamanggala. "MaksudKiWiryamanggala?"selidik

Jaka, semakin tak mengerti.

"Somawiguna adalah lelaki yang dulu pernah dijodohkan almarhumah ibunya Dewi Intan Baiduri. Bertahun-tahun dia menghilang tanpa ada kabar sedikit pun. Namun begitu, Dewi yang sudah kadung mencintai, tak dapat melupakannya begitu saja," jelas Ki Wiryamanggala.

Jaka mengerti sekarang. Pantas saja Somawiguna berkeras hati mendapatkan Dewi Intan Baiduri. Dan ternyata....

Jaka menoleh ke belakang. Segera wajahnya dipalingkan ketika menyaksikan adegan mesra Dewi Intan Baiduri bersama Somawiguna yang menyamar sebagai pengemis.

"Lalu, apa hubungan Ki Wiryamanggala dengan Kiswarajati?"

"Aku terhitung kemenakan, Raja Petir," jawab Ki Wiryamanggala.

Jawaban itu cukup memuaskan Raja Petir. Kepalanya terangguk-angguk karena teka-teki yang selama ini membelenggu hatinya telah terjawab.

"Kalau begitu, aku pamit sekarang, Ki. Hup!"

Tanpa menunggu jawaban lagi, Jaka melesat cepat. Tubuhnya segera menghilang di balik tikungan jalan, dengan meninggalkan tanda tanya di benak Ki Wiryamanggala.
SELESAI