Serial Raja Petir eps 03 : Pencuri Kitab-Kitab Pusaka

SATU
"Heaaa...!" Trak! Trak!

Sosok berpakaian serba merah yang seluruh wajahnya hampir tertutup kain berwarna merah juga, melompat mundur dua langkah. Pada kain yang menutupi wajahnya itu terdapat dua lubang yang menampakkan dua bola matanya. Tampak bola mata itu bergerak-gerak garang. 

Sementara, lima orang berpakaian sama mengelilingi seorang lelaki berpakaian hitam dan bersenjatakan tongkat berkepala serigala, terbuat dari logam keras berwarna keperakan. "Kisanak, sekali lagi, ku minta baik-baik padamu. Jangan lewat perbatasan Hutan Lindakhulu. Dan kau bisa mencari jalan lain!" tegas sosok berpakaian serba merah itu.

"Cuh...!" lelaki berpakaian hitam yang berjuluk Tongkat Perak membuang ludah begitu kasar. "Apa urusan kalian melarangku melewati perbatasan Hutan Lindakhulu ini?!"

"Kau tak perlu tahu apa urusannya, Ki sanak! Yang jelas, aku tak ingin melihatmu melewati perbatasan hutan ini. Sekali lagi kuperingatkan, carilah jalan lain, kalau kau tak ingin nyawamu terbuang percuma. Dan Jatamura tak segan-segan melakukannya!"

"Setan! Kau pikir nyawaku kau yang punya?! Lakukanlah kalau kalian mampu!" ujar si Tongkat Perak seraya melirik ke arah lima orang yang mengelilinginya.

"Baik!"

Jatamura yang bersenjatakan sebatang tombak hitam merangsek maju. Tombak yang tercekal kuat ditusukkan ke arah bagian tubuh mematikan lelaki berpakaian hitam itu. Berkali-kali si Tongkat Perak dihujani tusukan-tusukan penuh tenaga. Namun setiap laki-laki berpakaian merah itu mengarahkan serangan, acapkali pula si Tongkat Perak dapat menghindar. 

Bahkan ketika Jatamura mengarahkan tombaknya ke kepala, si Tongkat Perak tak segansegan memapak dengan tongkatnya. Bisa ditebak, lakilaki berpakaian hitam itu hendak mengadu tenaga dalam. Maka....

Trak! Tuk! "Kkh!"

Benturan keras antara dua senjata terjadi. Sebuah benturan yang sama-sama dialiri tenaga dalam itu membuat sosok berpakaian merah terjajar dua langkah, Matanya nampak sedikit terkejut. Jatamura tak percaya kalau si Tongkat Perak ternyata mempunyai tenaga dalam di atasnya.

"Seraaang!"

Jatamura seketika berteriak lantang. Maka, lima sosok tubuh berpakaian serba merah juga seketika merangsek maju dengan senjata sebatang tombak berkelebat cepat terarah pada bagian-bagian yang mematikan.

Namun si Tongkat Perak bukanlah tokoh kemarin sore. Pengalamannya dalam rimba persilatan mampu membuatnya memberikan perlawanan sengit. Tongkatnya yang berwarna perak berkelebat cepat, mencecar tubuh dan kepala salah seorang pengeroyoknya.

"Hiaaa!"

Bet! Bet! Trak! "Aaakh...!"

Sosok berpakaian merah yang bertubuh gemuk terpental jatuh. Dia kelihatan memegangi kepalanya karena tongkat berkepala serigala itu mendarat cukup keras.

Melihat seorang kawannya roboh, lima sosok berpakaian merah yang lain semakin meningkatkan serangan. Lima batang tombak berkelebatan cepat, mengincar tubuh lawan yang paling mematikan.

Mendapat serangan yang begitu ganas, si Tongkat Perak tampak kewalahan juga. Sepertinya, lawan-lawannya tidak memberi kesempatan sedikit pun. Malah kini dia sudah melesat cepat, menyerang dari arah yang berlawanan.

"Hiaaa...!" serangan itu didahului oleh teriakan nyaring.

Sebagai tokoh persilatan yang berpengalaman, si Tongkat Perak tidak gugup mendapat serangan itu. Dengan gerakan berputar setengah lingkaran, dipapaknya serangan-serangan itu.

Trak! Trak!

Namun belum lagi dia dapat menyempumakan keseimbangannya, seorang lawan melepaskan tendangan keras kaki kiri, tepat ke ulu hati.

Bugkh! "Ukh...!"

Si Tongkat Perak mengeluh tertahan ketika ulu hatinya mendapat sodokan cukup keras. Tubuhnya jadi limbung, sehingga keseimbangannya jadi hilang. Maka keadaan itu secepatnya dimanfaatkan salah seorang berpakaian merah yang berbadan tinggi besar.

"Rasakan ini! Hiaaa...!"

Lelaki tinggi besar itu seketika melepas tombaknya sekuat tenaga.

Sing...!

Bunyi berdesing mengiringi tibanya luncuran tombak yang begitu cepat.

Si Tongkat Perak terkesiap menyaksikan serangan yang begitu tiba-tiba. Semula, lelaki berpakaian hitam itu hendak menangkis kedatangan tombak dengan tongkat kepala serigalanya. Tapi hal itu rasanya tak munjgkin, karena keseimbangannya belum sempurna. Akibatnya, bisa-bisa dia sendiri yang terjajar. Akhirnya diambilnya keputusan untuk mengelak dengan memiringkan tubuh. Tetapi, terlambat. Maka....

"Akh!"

Mata tombak yang meluncur begitu cepat tak terbendung lagi menyerempet dadanya. Darah kontan merembes dari pakaiannya yang koyak. Mulut si Tongkat Perak tampak meringis kesakitan.

"Kurang ajar!" maki lelaki berpakaian hitam itu geram. "Jangan panggil aku si Tongkat Perak kalau tak mampu membuat kalian mampus semua!"

Si Tongkat Perak kembali merangsek maju. Tak dipedulikan lagi luka di dadanya yang terasa begitu perih.

"Ki sanak! Mata tombak itu setiap saat diolesi racun. Kau akan mati jika tak menuruti kata-kataku!" bentak Jatamura, tiba-tiba.

"Akh...!"

Tubuh si Tongkat Perak sesaat limbung. Tubuhnya seketika terasa terserang demam. Namun lelaki berpakaian hitam itu tetap berteguh hati. Dalam keadaan limbung seperti itu, dia masih berusaha menyerang orang-orang berpakaian merah di hadapannya.

"Hiaaa...!" Bet! Bet! "Ukh!"

Lelaki berpakaian hitam itu kini merasakan kepalanya jadi berat. Matanya pun berkunang-kunang dan seperti berputar-putar. Racun pada mata tombak dari salah seorang pengeroyoknya telah menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Ukh Hoeeek!"

Darah segar kehitaman keluar dari mulut si Tong¬kat Perak. Dia semakin tidak mampu menguasai keadaan. Hingga....

"Hiaaa!"

Jatamura seketika menerjang ganas. Des! Des!

"Aaakh!"

Si Tongkat Perak terpental sejauh lima batang tombak begitu mendapat dua pukulan beruntun dari Jatamura yang disertai pengerahan tenaga dalam penuh. Akibatnya, si Tongkat Perak tak mampu bangkit lagi. Lelaki berpakaian hitam itu sesaat menggeliatkan badan, kemudian diam tak berkutik lagi.

"Huh! Ternyata sampai di situ saja kepandaianmu, Tongkat Perak. Tapi, aku mengagumi keberanianmu!"

Jatamura segera melesat masuk ke dalam hutan Lindakhulu setelah diyakininya si Tongkat Perak betul-betul mati. Lelaki berpakaian merah yang bertubuh tinggi besar itu bermaksud melaporkan keberhasilannya pada pimpinannya. Sementara, temannya yang lain tetap berjaga-jaga di mulut Hutan Lindakhulu.

"Orang yang berjuluk si Tongkat Perak sudah dimusnahkan, Tuan," lapor sosok berpakaian merah bertubuh tinggi besar, setelah masuk ke dalam hutan. Dia menjura hormat pada seorang lelaki muda yang duduk di sebelah gadis cantik.

Usia mereka sepertinya memang tak berbeda jauh. Lelaki muda itu berusia sekitar dua puluh tahun. Dia tampak tersenyum bangga, atas keberhasilan anak buahnya. Sementara, gadis yang duduk di sebelahnya juga tersenyum.

"Bagus!" puji lelaki muda berpakaian warna biru terang itu. Di punggungnya tampak tersandang sebatang pedang. "Kembali ke penjagaan. Jangan biarkan seorang pun melintasi Hutan Lindakhulu ini."

"Baik, Tuan."

Lelaki berpakaian merah yang kepalanya terselubung kain warna merah itu segera membalikkan tubuhnya. Kemudian, meninggalkan lelaki muda yang duduk bersebelahan dengan teman perempuannya. Di situ, ada pula tiga orang yang masing-masing berpakaian merah, putih, dan hijau. Mereka juga mengenakan selubung kain yang warnanya sama dengan pakaiannya masing-masing.

"Baiklah. Perundingan dilanjutkan lagi," ujar lelaki muda berpakaian biru terang, setelah sosok berpakaian merah kembali ke perbatasan Hutan Lindakhulu.

***
DUA
Angin berhembus keras menebarkan hawa panas yang menyengat kulit. Sementara, matahari bersinar tepat di atas kepala. Di kejauhan nampak sosok lelaki berpakaian kuning keemasan berjalan menuju ke arah Utara. Arah yang ditempuh adalah perbatasan Hutan Lindakhulu.

Lelaki berpakaian kuning keemasan dan berambut ikal itu terus berjalan. Sikapnya tampak tenang dan penuh kegembiraan. Sementara, kulit wajahnya yang putih kelihatan menjadi kemerahan karena tersengat sinar matahari yang menyorot tajam.

Langkah lelaki berpakaian kuning keemasan yang tak lain dari Jaka Sembada dan berjuluk Raja Petir itu seketika berhenti. Dari jarak sekitar sepuluh batang tombak, tampaklah lima sosok tubuh berpakaian dan berselubung kepala merah tengah berdiri berbaris. Ditilik dari cara berdirinya, kelima sosok berpakaian merah itu seperti mempunyai maksud yang tidak baik.

Setelah berhenti sesaat, Jaka kembali melangkah. Hatinya sedikit penasaran, ia ingin tahu maksud lima sosok berpakaian merah menghadangnya di tengah jalan.

Belum lagi Raja Petir meneruskan langkahnya, sosok berpakaian merah yang bertubuh tinggi besar telah mengangkat sebelah tangannya.

"Maaf, Anak Muda," tegur sosok berpakaian merah dan bertubuh tinggi besar. "Apakah kau bermaksud melintasi Hutan Lindakhulu ini?"

Jaka tak segera menjawab pertanyaan itu. Dicobanya menatap wajah yang terselubung kain merah di depannya. Jaka memang tak mengenali orang itu. Tetapi dari bola mata yang garang, nyatalah kalau sosok itu bermaksud tidak baik dengannya.

"Aku memang ingin melintasi Hutan Lindakhulu, Ki sanak," jawab Jaka.

"Kalau boleh kusarankan, carilah jalan lain saja, Anak Muda," sosok lain berpakaian merah yang bertubuh gemuk ikut bicara.

"Kenapa Ki sanak melarangku melintasi Hutan Lindakhulu? Apakah di dalam hutan itu banyak binatang buas? tanya Jaka berlagak polos.

"Tidak," jawab Jatamura.

"Lalu, kenapa Ki sanak semua melarangku melintasi hutan itu? Menurut hematku, kalau aku melintasi Hutan Lindakhulu, maka perjalananku akan lebih singkat dan lebih cepat," ujar Jaka lagi, dengan air muka dibuat seperti orang bodoh.

"Ini permintaanku, Anak Muda!" suara Jatamura mulai terdengar keras. "Kau tak perlu tahu, kenapa aku melarangmu melintasi Hutan Lindakhulu ini! Yang kuinginkan, kau memenuhi permintaanku! Itu bila kau ingin memperlambat kematian!"

"Kalau aku tak mau?" tantang Jaka. Jatamura membelalakkan matanya.

"Aku tak segan-segan mengirim nyawamu ke akhirat!" sentak Jatamura garang.

"Aku memilih yang terakhir!" suara Jaka tak kalah keras.

"Bocah edan!" 

"Heaaa...!"

Jatamura lebih dahulu merangsek maju. Senjatanya yang berupa sebatang tombak dengan bagian matanya beracun, ditusukkan ke arah lambung Jaka.

"Eit!"

Jaka memiringkan sedikit tubuhnya. Dan dengan kecepatan luar biasa, ditepaknya tombak yang terarah ke lambung.

Plak! "Akh!"

Lelaki tinggi besar berpakaian merah itu memekik seketika, begitu seluruh tangannya terasa linu. Pada-hal, barusan Jaka hanya sedikit menyertakan tenaga dalamnya sebagai penjajakan atas tenaga dalam lawan. Dan ternyata, memang masih jauh di bawahnya.

"Keparat!" maki lelaki tinggi besar berpakaian merah itu sambil kembali menyerang.

“Heaaa...!" Bet! Bet! "Heaaa!”

Serangan yang dilakukan Jatamura semakin gencar. Tapi Jaka seperti tidak meladeninya. Dia hanya menggunakan kecepatan gerak untuk menghindari sambaran senjata lawan.

Jatamura seketika geram bukan main. Dirinya tnerasa dipermainkan pemuda berpakaian kuning keemasan yang dianggapnya masih bau kencur. Serangan-serangannya yang dirasa cukup berbahaya, hanya dihindari, tanpa harus mengirim serangan balasan.

"Anak muda! Jangan menyesal kalau sampai mati tak memberi perlawanan!" keras suara Jatamura yang keluar.

Setelah berkata seperti itu, Jatamura kembali merangsek maju. Tombaknya yang bermata racun ditebas-tebaskan disertai pengerahan seluruh tenaga dalam.

"Heaaa...!"

Jatamura melesat seraya membabat dengan tombaknya ke lambung Raja Petir.

"Eit!"

Jaka menghindar dengan menarik kaki kanannya ke samping dalam kuda-kuda rendah. "Heaaa...!"

Melihat serangannya luput, Jatamura cepat mem-balikkan arah tombaknya. Yang diancamnya kini adalah kepala lawan.

Tanpa diduga sama sekali, si Raja Petir tak bergeming sedikit pun. Dan begitu tombak hampir mencapai sasaran, Jaka menangkapnya.

Jatamura berusaha mencoba menarik pulang senjatanya. Namun, Jaka telah lebih dulu membetot tombak milik lawan. Maka, tubuh tinggi besar itu seketika terhuyung ke depan. Bersamaan dengan itu, tangan Jaka yang terkepal dihantamkan ke perut lawan. Bug!

"Hikh...!"

Jatamura kontan terjerembab ke belakang. Dan belum lagi ia sempat bangkit, Jaka telah melempar tombak bermata racun milik lawannya.

Singgg...!

Laki-laki tinggi besar berpakaian merah itu seketika terhenyak. Namun hatinya sedikit lega ketika melihat laju tombak miliknya yang tidak terarah ke tubuhnya.

Crab!

Tombak beracun itu tertanam di tanah sebelah kanan tubuh Jatamura. Jaka memang tidak bermaksud menghabisi nyawa orang itu, karena tak merasa pernah punya urusan dengannya.

"Sekarang, izinkan aku melintasi Hutan Lindakhulu," kata Jaka sambil membersihkan telapak tangannya.

Lelaki tinggi besar berpakaian merah itu tak menjawab pertanyaan Jaka. Namun tiba-tiba....

"Serang!"

Empat sosok berpakaian merah lain yang sejak tadi hanya menjadi penonton, seketika itu juga merangsek maju. Senjata mereka yang juga sebatang tombak, ditusukkan ke arah yang mematikan di tubuh Jaka.Seperti menghadapi Jatamura, Jaka kini tidak

memberi perlawanan. Dia hanya mengandalkan kecepatan gerak untuk menghindari sambaran senjata lawan.

"Eit!"

"Ups!"

Raja Petir melakukan lompatan ke udara dan melakukan putaran beberapa kali.

"Hup!"

Begitu mendarat dengan manis, Jaka langsung merentangkan tangannya.

'Tahan, Ki sanak...!" keras ucapan Jaka. "Aku merasa tidak pernah punya urusan dengan kalian. Namun, kelihatannya kalian begitu bernafsu membunuhku. Sebelum kesabaranku habis, kuharap Kisanak semua meraberiku jalan untuk melintasi Hutan Lindakhulu!"

'Tidakbisa!"Jatamurakembalimerangsek maju. Tongkatnya kernbali terdengar berdesing-desing. Raja Petir yang semula memberikan kelong-

garan gerak pada lawan-lawannya, kini jadi geram. Dia kelihatan mulai memapaki setiap sambaran yang berkelebat cepat disertai pengerahan tenaga dalam sedikit. Akibatnya....

Plak! Plak! "Akh!" 

"Aaa!"

Dua lelaki berpakaian merah yang mencoba menusukkan tombak ke wajah Jaka, seketika berpentalan sejauh tiga batang tombak. Mereka merasakan tangannya linu teramat sangat.

"Sekali lagi kalian berani menghalangi perjalananku, aku tak segan-segan memberi pelajaran!" bentak Jaka sambil melangkah tenang.

"Mampus kau, Bocah Sombong! Heaaa...!"

Jatamura kembali menerjang, diikuti keempat temannya. Maka Jaka kembali harus berlompatan ke sana kemari untuk menghindari serangan-serangan yang cukup tajam dan cepat.

Plak! Plak...!

"Aaa...!"

"Aaakh...!"

Kejadian serupa kembali terulang. Sosok-sosok berpakaian merah itu kembali berpentalan.

"Kalian semua, tahan pemuda setan itu," perintah Jatamura. Dan ketika sosok tinggi besar itu punya kesempatan melarikan diri, segera dimanfaatkannya.

"Hei!" sentak Jaka agak keheranan.

Namun belum sempat Jaka menahan sosok tinggi besar yang melarikan diri, beberapa serangan lain datang dengan gencar. Dan sambil melawan, pikiran Jaka terus bekerja. Dugaannya, lelaki tinggi besar yang melarikan diri tadi hendak melapor pada pimpinannya., Afau paling tidak memanggil temantemannya yang lain untuk meminta bantuan.

Dengan memperlambat tempo penyerangannya, Jaka terus menanti kedatangan Jatamura bersama pimpinannya.

Akan tetapi kenyataannya? Setelah sekian lama menanti, lelaki bertubuh tinggi besar itu tak kunjung kembali. Sementara, empat sosok berpakaian merah seketika mengendorkan serangannya. Dan sesaat kemudian,..

Keempat sosok berpakaian merah dengan selubung muka berwarna merah melarikan diri. Semula, Jaka ingin mengejar. Tetapi setelah dipertimbangkan,

maksudnya diurungkan. Toh dia tak pernah punya urusan dengan orang-orang aneh itu.

Memasuki Hutan Lindakhulu, Jaka tak menemui keanehan di dalamnya. Apalagi hambatan seperti yang telah dihadapinya barusan.

***
TIGA
Malam merayap begitu perlahan. Bulan yang menampakkan wajah sebagian, membagi-bagikan sinarnya tak merata ke pelosok Desa Kilangduga. Desa yang kini kelihatan sepi itu, nampak menjadi lebih sunyi. Di luar, tampak dua orang peronda malam tengah menjalankan tugasnya.

Sementara di salah satu kamar sebuah perguruan silat, seorang lelaki berumur sekitar lima puluh lima tahun tengah duduk di pinggiran ranjang. Dari raut wajahnya yang nampak keruh, menandakan kalau lelaki yang menjabat sebagai Ketua Perguruan Tameng Kencana tengah gelisah.

'Tidurlah, Ki. Hari sudah jauh malam," ujar perempuan setengah baya yang tergolek di pembaringan. Perempuan itu tak lain istri Ketua Perguruan Tameng Kencana.

"Aku tidak bisa tidur, Nyi," jawab lelaki yang bernama Rantasanu seraya bangkit dari sisi ranjang. "Sepertinya, akan terjadi sesuatu di tempat ini."

Istri Ki Rantasanu bangkit dari berbaringnya. "Omonganmu terlalu melantur, Ki. Sebaiknya

pergi tidur saja," dengus perempuan itu.

"Nyi Nurimah! Aku tak akan mengikuti perasaanku, jika perasaanku itu tidak betul,'' bantah Ki Rantasanu. "Perasaanku benar-benar tidak enak. Dan ini tidak biasanya. Pasti akan terjadi sesuatu di sini. Entah apa bentuknya, aku tak berani mengira-ngira. Sebaiknya kau tidurlah, Nyi. Biar aku berjaga-jaga sepanjang malam ini."

Nyi Nurimah mengikuti perintah suaminya. Maka tubuhnya kembali direbahkan. Sebentar matanya masih menatap suaminya yang mondar mandir tak karuan, tapi sebentar kemudian sudah tak sanggup menahan kantuknya. Dia langsung tertidur pulas. Deru napasnya terdengar begitu teratur.

Malam terus beranjak perlahan. Ki Rantasanu masih terus mondar-mandir di dalam kamarnya. Pikirannya belum bisa tenang kalau malam belum berganti pagi.

Ketika Ki Rantasanu merasa kantuk begitu kuat menyerangnya, suara kokok ayam terdengar. Itu menandakan kalau fajar sebentar lagi akan datang. Namun, hati Ki Rantasanu belum juga hilang rasa cemasnya. Dan ia berharap tak akan terjadi sesuatu se¬telah matahari terbit nanti.

"Kau tidak tidur, Ki?" tanya Nyi Nurimah setelah beberapa saat memicingkan matanya. "Kalau mau tidur sekarang, tidurlah."

"Sekarang aku tak mengantuk lagi, Nyi," kata Ki Rantasanu yang kemudian pergi ke belakang membangunkan putri tunggalnya, Suciati.

***

Pagi yang indah tak dirasakan Ki Rantasanu sebagaimana biasanya. Kegelisahan yang sesaat tadi lenyap, mendadak hadir kembali. Ki Rantasanu benar-benar merasakan hatinya tidak tenteram.

"Ada apa sesungguhnya dengan perasaanku ini?" kata batin Ki Rantasanu heran.

Seperti ada yang menggerakkan, kaki Ki Rantasanu melangkah ke ruangan khusus penyimpanan benda pusaka. Dan terlebih dahulu, dia pergi ke kamarnya untuk mengambil kunci di lemari.

Ki Rantasanu keluar dari kamarnya, lalu berjalan menuju ruang tengah tempat penyimpanan benda pusaka. Letaknya memang tidak jauh, hanya di sebelah kamarnya.

Memasuki ruangan khusus penyimpanan benda pusaka, kegelisahan Ki Rantasanu semakin menjadi-jadi. Bahkan tangannya agak sedikit gemetar kerika membuka lemari besi berukir.

Krieeet...!

Bunyi lemari terbuka semakin membuat kegelisahan hati Ki Rantasanu bertambah-tambah. Hatinya agak lega kerika di dalam lemari masih ada sebuah kotak besi yang masih tertutup rapat. Namun, itu belum menghilangkan kelegaannya kalau belum membuka kotak kecil itu. Dan saat anak kunci yang lain telah membuka kotak kecil yang berisi kitab pusaka itu, seketika....

Ki Rantasanu merasakan darahnya seperti berhenti mengalir, dan kepaianya seketika berdenyutdenyut keras. Bahkan jantungnya juga berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Nurimaaah!"

Ki Rantasanu tiba-tiba berteriak nyaring, sehingga seisi ruangan seolah-olah terlanda geledek yang amat keras. Dan tak lama, seorang perempuan setengah baya berpakaian hijau berlari tergopoh-gopoh menghampiri arah teriakan tadi.

"Ada apa, Ki?" Nyi Nurimah bertanya cemas, begitu telah tiba di depan Ki Rantasanu.

Ki Rantasanu tidak menjawab. Tangannya hanya bergerak menunjuk kotak besi berukir tempat penyimpanan kitab pusaka. Sementara Nyi Nurimah begitu terkejut menyaksikan isi kotak itu temyata tak ada di tempatnya. Namun perempuan itu lebih mampu menahan amarahnya ketimbang Ki Rantasanu.

"Kita kumpulkan semua orang yang ada, tak terkecuali Suciati. Kita teliti wajah mereka satu persatu! Kalau ada yang mencurigakan, kita tekan orang itu agar mau mengakui perbuatannya," ujar Ki Rantasanu.

Ki Rantasanu dan Nyi Nurimah segera bertindak cepat. Mereka langsung memerintahkan seluruh muridnya untuk bangun. Dari murid utama sampai murid paling bawah dikumpulkan pada ruangan khusus. Suciati, putri tunggal Ki Rantasanu juga ada di situ.

"Kalian tahu kenapa aku mengumpulkan kalian sepagi ini, di tempat ini?" suara Ki Rantasanu, Ketua Perguruan Tameng Kencana, terdengar keras namun penuh wibawa, ketika mereka semua telah berkumpul di ruangan khusus.

Semua murid Perguruan Tameng Kencana diam. Satu pun tak ada yang berani buka mulut, kecuali Suciati.

"Saya tidak tahu, Ayah," jawab Suciati. "Seorang pencuri telah memasuki perguruan

ini!" menggelegar ucapan Ki Rantasanu.

Murid-murid Perguruan Tameng Kencana terkejut bukan main mendengar ucapan sang Ketua. Mereka saling menatap penuh keheranan.

"Pencuri...?" begitu semua ucapan yang bergaung di hati mereka. "Apa yang dicuri...?"

"Kalian tahu, apa yang dicuri dari perguruan ini?!" tanya Ki Rantasanu masih bernada keras.

Kembali murid-murid Perguruan Tameng Kencana terdiam. Di hadapan sang Ketua mereka seperti cacing terinjak.

“Kitab Pusaka Tameng Kencana Ungu!" Suara Ki Rantasanu semakin keras terdengar. Tatapan matanya yang tajam diarahkan ke seluruh wajah murid-muridnya secara bergantian. Begitu juga yang dilakukan Nyi Nurimah.

Melihat sang Ketua murka sedemikian rupa, seluruh murid Perguruan Tameng Kencana tak ada yang berani mendongakkan kepala. Apalagi menyahuti. SedangkanSuciatinampakmenundukkan wajahnya dalam-dalam. Ngeri juga hatinya menyaksikan kemurkaan ayahnya.

"Aku tak ingin menuduh kalian. Namun..., jika ada di aniara kalian yang memang telah berlaku khilaf memindahkan Kitab Pusaka Tameng Kencana Ungu, berlakulah secara jantan. Tonjolkan jiwa kependekaran kalian! Aku akan bertindak bijaksana jika di antara kalian ada yang mengakui kekhilafannya," ujar Ki Rantasanu.

Kembali Ketua Perguruan Tameng Kencana itu mengedarkan pandangannya yang tajam pada wajah murid-muridnya. Tak terkecuali, putri tunggalnya.

Sesaat Ki Rantasanu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Suasana di dalam ruangan itu menjadi hening. Murid-murid Perguruan Tameng Kencana tertunduk hormat. Namun, rasa takut tak urung menguasai hati mereka.

"Kalian tahu, apa manfaat Kitab Pusaka Tameng Kencana Ungu bagi perguruan ini? Dan tahukah kalian akibatnya bagi perguruan ini?" tanya Ki Rantasanu, memecahkan keheningan.

Lelaki berusia lima puluh lima tahun itu nampak tengah mencoba meredakan kemarahannya. Napasnya yang memburu diatur agar tidak tersengal.

"Betapa besar arti kitab pusaka itu bagi perguruan kita murid-muridku. Dan akibat yang akan timbul atas hilangnya kitab pusaka itu, juga besar sekali. Apalagi, jika jatuh ke tangan orang-orang rimba persilatan golongan hitam! Gusti! Akan celakalah dunia persilatan ini, khususnya perguruan kita. 

Jika orang-orang rimba persilatan golongan hitam telah berhasil mempelajarinya, kita semua hanya tinggal menunggu waktu saja menyaksikan keporakporandaan dunia. Dunia akan dipimpin orang-orang bermoral bejat, orang-orang persilatan berpikiran cetek, dan orang-orang yang kerjanya selalu berurusan dengan nyawa dan kematian," jelas Ki Rantasanu.

Hening kembali menyergap. Ki Rantasanu merasakan ruangan ini menjadi tiga kali lebih panas, sepanas hatinya yang seperti terbakar api.

"Kumohon, tonjolkan jiwa kependekaran kalian jika memang ada yang melakukannya," perlahan dan mantap suara Ki Rantasanu.

Beberapa saat, suasana tetap hening. Ki Rantasanu nampak berbisik di telinga Nyi Nurimah.

"Baiklah! Jika memang kalian tak merasa melakukan hal yang memalukan itu, kupersilakan meninggalkan tempat ini," tukas Ki Rantasanu kemudian.

"Gerda Pituha, Yaya Mayada, dan kau Wana RedikaKtetaplah tinggal di tempat!"

***

"Apa yang dapat kita lakukan terhadap hilangnya Kitab Pusaka Tameng Kencana Ungu itu, Ayah?" tanya Suciati setelah seluruh murid-murid Perguruan Tameng Kencana meninggalkan ruangan pertemuan. Mereka tinggal berenam saja di ruangan itu.

"Untuk itulah kita berada di sini, Suciati. Kita akan mencari jalan keluar yang terbaik," kata Ki Rantasanu lembut.

Suciati mengangguk-anggukkan kepala, tanda mengerti. Sementara itu, Ki Rantasanu menatap seorang muridnya yang bernama Yaya Mayada. Kakinya kemudian melangkah beberapa tindak.

"Kau, Yaya Mayada. Menurutmu, apa yang kita lakukan sekarang ini?" tanya Ki Rantasanu pada murid utamanya yang berusia sekitar tiga puluh tahun.

"Maaf, Guru. Menurutku, kita harus melarang setiap orang termasuk aku, Kakang Gerda Pituha, dan Adi Wana Redika, bahkan kalau mungkin Suciati, untuk pergi dari perguruan ini. Lalu kita melipatgandakan penjagaan malam hari. Kita berikan wewenang pada setiap penjaga malam untuk menangkap siapa saja yang dianggap mencurigakan," usul Yaya Mayada.

Ketua Perguruan Tameng Kencana mengangguk-anggukkan kepala mendengar saran bagus dari Yaya Mayada.

"Lalu kau, Gerda Pituha?" lempar Ki Rantasanu pada murid utamanya yang lain.

"Ampun, Guru. Pendapatku sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan Adi Yaya Mayada. Hanya saja, kuusulkan agar dalam beberapa hari ini semua penghuni Perguruan Tameng Kencana dilarang keras keluar dari ruang lingkup perguruan. Dan barang siapa yang melanggar, siapa pun dia, harus tetap dikenakan hukuman. Hanya itu saja usulku, Guru."

"Kau, Wana Redika?" tunjuk Ki Rantasanu. "Maaf, Guru. Menurutku, bagaimana kalau kita

sebar beberapa telik sandi untuk mencari tahu, siapa pencuri itu. Kiranya begitu saja usulku, Guru."

"Kau, Suciati?"

"Aku sependapat dengan Kakang Gerda, Kakang Yaya, dan Kakang Wana Redika, Ayah," kata Suciati, agak sedikit tersendat.

"Lalu, menurutmu bagaimanya, Nyi?" Ki Rantasanu menatap lekat-lekat mata istrinya.

"Kusarankan, mulai sekarang diadakan penjagaan ketat. Kalau yang mencuri orang-orang perguruan juga, ada kemungkinan kitab pusaka itu belum jatuh ke tangan orang lain dan masih berada di sekitar perguruan. Namun karena kita semua tidak tahu pasti kapan lenyapnya kitab pusaka itu, maka kita harus menangkap orang-orang yang mencurigakan. Siapa saja, tanpa terkecuali! Jika orang yang mencurigakan itu terbukti bersalah, maka kita akan menghukum dengan cara Perguruan Tameng Kencana," tandas Nyi Nurimah.

"Baik! Kurasa aku tidak lagi memberikan masukan apa-apa. Apa yang telah kalian sarankan, memang sejalan pemikiranku. Sekarang, tinggal bagaimana kita menjalankannya," sahut Ki Rantasanu lebih tenang.

Ki Rantasanu menghentikan bicaranya sebentar. Dirayapinya wajah orang-orang yang ada di situ.

"Kau Gerda Pituha, Yaya Mayada, Wana Redika, dan Suciati. Kalian pimpinlah murid-murid Perguruan Tameng Kencana dengan baik. Atur tugas jaga mereka agar tidak sampai lengah," lanjut Ki Rantasanu.

"Atur secara bergiliran," tambah Nyi Nurimah. "Aku dan Ki Rantasanu akan mengusahakan beberapa o>rang telik sandi, yang hanya kami berdua yang tahu. Sudah, lakukan rencana kita dari sekarang."

Gerda Pituha, Yaya Mayada, Wana Redika, dan Suciati segera meninggalkan ruang pertemuan. Se¬mentara, Ketua Perguruan Tameng Kencana dan Istrinya terus bercakap-cakap.

"Kegelisahanmu semalam menjadi kenyataan, Ki," ujar Nyi Nurimah pelan.

"Ya, Nyi. Tapi aku tak habis pikir, kenapa kegelisahan itu baru datang semalam. Padahal, dugaanku, kitab pusaka itu dicuri tempatnya sekitar tiga hari lalu. Atau malah tujuh hari lalu ketika aku mengunjungi Dirgan Saluyu, Ketua Perguruan Kamboja Merah," Ki Rantasanu menatap mata Nyi Nurimah. "Apa mungkin orang-orang perguruan kita yang mencurinya, Nyi?"

Nyi Nurimah tak segera menjawab pertanyaan Ki Rantasanu.

"Entahlah. Yang jelas, kita harus berusaha mendapatkan kembali kitab pusaka itu."

***

Hari-hari yang berlalu kemudian, adalah harihari yang penuh ketegangan dan kecurigaan. Masingmasing murid Perguruan Tameng Kencana saling menyelidiki satu sama lain. Apalagi terhadap orang lain yang secara kebetulan melintas daerah tempat perguruan itu berada. Semuanya tak luput dari perhatian kecurigaan. Seperti yang terjadi pada malam ketiga, setelah diberlakukan penjagaan ketat. Seorang lelaki berpakaian warna biru tampak tengah dikepung muridmurid Perguruan Tameng Kencana.

"Apa maksud Kisanak malam-malam begini melewati daerah perguruan kami?" tanya Suciati dengan sorot mata tajam, penuh selidik. "Pasti Ki sanak membawa tujuan yang tidak baik!"

"Aku tengah mengejar seseorang yang lari ke daerah ini," sangkal lelaki berpakaian biru itu.

"Bohong! Kau pasti salah seorang pencuri kitab pusaka perguruan kami!" tuduh Suciati, berapi-api.

"Jaga mulutmu, Ni sanak! Aku, Sarpanaya pantang dituduh seperti itu. Perlu kau tahu, aku tak pernah mau usil dengan urusan orang lain. Terlebih, terhadap kitab pusaka milik perguruanmu yang mungkin tidak berarti buatku!" lantang suara lelaki yang mengaku bernama Sarpanaya itu.

"Huh!" dengus Suciati, kesal. "Maling di manapun sama saja, tak ada yang pernah mau mengaku!"

"Mulutmu berbau busuk, Ni sanak! Aku tak suka itu!"

Sarpanaya seketika merangsek maju. Langsung dilepaskannya satu pukulan disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Angin menderu mengisyaratkan kedatangan serangan yang begitu cepat.

“Eit!”

Suciati cepat-cepat memiringkan sedikit tubuhnya ke kiri sambil mengirim serangan balasan berupa kibasan tanjgan kanan. Namun, kibasan itu dapat dihindari Sarpanaya dengan mundur dua langkah.

"Heaaa!"

"Eit!"

Sarpanaya berlompatan ketika serangan Suciati yang beruntun mencecar bagian-bagian tubuhnya yang mematikan. Sarpanaya melenting ke udara dan berputaran dua kali, ketika Suciati melepaskan satu tendangan geledek ke tubuhnya. Dan ketika mendarat, langsung dilancarkannya serangan yang tak diduga sama sekali oleh Suciati. Sebuah pukulan jarak jauh dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Hiaaa...!" Bug! "Akh!"

Suciati terpekik ketika pukulan jarak jauh Sarpanaya mendarat cukup telak di perutnya. Gadis cantik putri tunggal Ki Rantasanu itu terhuyung dua langkah ke belakang. Rasa mual seketika terasa di perutnya.

“Kurang ajar!" maki Suciati sambil mencabut senjatanya berupa sebatang pedang dari pinggang. Lalu....

Begitu pedang sudah tercabut, Suciati mengangatnya tegak lurus di depan wajah. Sementara, tangan kirinya yang membentuk kepalan, disilangkan dengan tangan kanan yang memegang pedang.

"Heaaa...!" Bet! Bet!

Pedang Suciati dikibas-kibaskan di depan wajah, sambil meluruk menyerang Sarpanaya. Sarpanaya terus menghindar dari seranganserangan Suciati yang memang tak main-main, karena disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Sesekali, Sarpanaya mencoba balik menyerang. Namun kelebatan pedang Suciati seolah tak memberikan kesempatan untuk mendaratkan serangannya.

"Gadis edan!" rutuk Sarpanaya dalam hati.

Meskipun di tempat asalnya dia termasuk orang yang disegani, tapi menghadapi gadis cantik di hadapannya, Sarpanaya tidak berani memandang sebelah mata. Permainan pedang gadis berpakaian putih longgar itu memang cukup berbahaya.

Sementara Sarpanaya sibuk dengan pikirannya, Suciati terus menebas-nebaskan pedangnya ke tubuh lelaki berpakaian biru yang juga berusaha mempertahankan selembar nyawanya. Sarpanaya terus berlompatan dan berjumpalitan.

"Kalau terus begini keadaannya, bisa-bisa leherku putus oleh pedang gadis ini?" gumam Sarpanaya dalam hati.

Sambil berjumpalitan, Sarpanaya meraih senjatanya yang berupa sepasang belati. Suciati tampak terkejut bukan main melihat lawan menyiapkan senjatanya. Dugaannya, lelaki itu kini tidak hanya menghindari serangannya. Malah, juga bermaksud membunuhnya.

Dua tebasan pedang dilepaskan Suciati, namun berhasil dipapak Sarpanaya dengan belati yang ada di genggamannya. Melihat serangannya gagal, seketika Suciati berteriak lantang. "Seraaang...!"

Murid-murid Perguruan Tameng Kencana yang sejak tadi hanya jadi penonton, kini merangsek maju kerika mendengar aba-aba dari anak pemimpin mereka. Pedang di tangan masing-masing berkelebat ganti-berganti, terarah ke bagian-bagian tubuh yang peka dari Sarpanaya.

Menghadapi lawannya yang berjumlah tidak sedikit, Sarpanaya tak berani kalau hanya menghindar. Apalagi, rata-rata lawannya memiliki kemampuan yang lumayan.Manakala mempunyai kesempatan, maka Sarpanaya tak tanggung-tanggung melepaskan tendangan keras disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Yang dituju adalah bagian ulu hati salah seorang murid Perguruan Tameng Kencana.

"Hiyaaa...!" Desss! “Ugkh!"

Satu tendangan keras tepat mendarat pada sasarannya. Lelaki berpakaian purih murid Ki Rantasanu itu terjengkang ke belakang cukup keras oleh tendangan Sarpanaya. Sesaat bagian perutnya dipegangi. Kemudian....

"Hoeeek!"

Orang itu kontan muntah darah. Dan sesaat dia ambruk. Nyawanya telah terlepas dari badannya. Menyaksikan salah seorang murid Perguruan Tameng KeAcana roboh sebegitu mudah, Suciati merangsek maju. Bahkan kali ini dibantu Gerda Pituha, murid utama Perguruan Tameng Kencana yang baru hadir setelah mendengar keributan.

Sarpanaya terkejut menyaksikan kemampuan lelaki yang baru datang membantu, yang kepandaiannya sedikit di atas lawannya. Dan begitu dia mencoba menyerang, lelaki berkumis tipis itu mampu menghindari tusukan-tusukan sepasang belati Sarpanaya.

Begitu juga yang dirasakan Gerda Pituha. Ternyata lawannya kali ini begitu gesit, sehingga mampu menghindari setiap tebasan pedangnya.

Berpuluh-puluh jurus telah dikerahkan Gerda Pituha dan Suciati. Begitu juga Sarpanaya. Namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda-tanda yang terdesak.

"Terus terang, Ni sanak! Aku tak pernah merasa punya urusan dengan kalian semua. Tapi untuk lari dari pertarungan ini, bagiku adalah sebuah pantangan!" bentak Sarpanaya yang merasa dirinya tidak bersalah, di sela-sela permainan jurusnya. "Sebaiknya, panggil saja ketua perguruan kalian. Biar beliau yang memeriksa, apakah Sarpanaya punya tampang pencuri! Atau kalau keberatan memanggil guru kalian, biar aku yang datang menghadap!"

"Jangan sembarangan berbicara, Sarpanaya. Niat jahatmu sudah bisa kucium seiring dengus napasmu!" bentak Suciati lantang.

Gadis itu kembali menggelar serangan, seakan tak ingin memberi kesempatan pada Sarpanaya untuk membantah tuduhannya.

"Gadis binal!" maki Sarpanaya sambil menangkis tebasan pedang djengan belatinya.

"Hiaaa!"

Belum selesai Sarpanaya menahan serangan gencar Suciati, Gerda Pituha telah mengancam punggungnya dengan tebasan pedang dari arah belakang.

"Hup!"

Sarpanaya langsung menggenjot tubuhnya kuat-kuat. Tubuhnya cepat melenting ke udara, lalu mendarat agak jauh dari Suciati dan Gerda Pituha. Gerakannya begitu indah dan manis dilihat.

"Berhenti...!"

Putri tunggal Ki Rantasanu dan murid utama Perguruan Tameng Kencana yang bermaksud merangsek kembali, langsung menghentikan niatnya. Karena tiba-tiba saja terdengar bentakan cukup lantang dan menggelegar. Suara keras yang memang cukup dikenali.

Belum juga gema bentakan itu hilang, tiba-tiba melesat cepat sosok lelaki dari dalam bangunan Perguruan Tameng Kencana. Dia tak lain adalah Ki Rantasanu. Seketika itu juga Ki Rantasanu menatap tajam ke arah lelaki berpakaian biru dengan senjata sepasang belati tergenggam di tangan.

"Ada urusan apa kau malam-malam begini datang ke sini, Kisanak?" tanya Ki Rantasanu bijak.

Mendengar perkataan sopan dari mulut lakikaki berpakaian putih dengan rambut digelung ke atas, Sarpanaya seketika membungkukkan sedikit badannya.

"Aku sebenarnya tak bermaksud datang ke tempat ini, Ki," jawab Sarpanaya terus terang. "Tapi karena orang yang kukejar lari ke daerah ini, mau tak mau aku harus memasuki wilayah ini. Tapi tiba-tiba saja, aku dihadang orang-orangmu dengan tuduhan mencuri kitab pusaka perguruan ini. Jelas aku tak menerima tuduhan itu, Ki."

Ki Rantasanu terus menatap lelaki berpakaian biru itu. Dalam hati, dia yakin kalau ucapan yang barusan diucapkan laki-laki itu keluar secara jujur.

"Kenapa kau mengejar orang yang lari ke daerah ini?" selidik Ki Rantasanu.

"Dia telah membuat keonaran di wilayahku dan telah menghilangkan dua nyawa muridku."

Tiba-tiba Ki Rantasanu mengerutkan keningnya. Matanya langsung terpaku pada senjata laki-laki berpakaian biru itu.

"Anak muda! Sepertinya aku kenal dengan senjata yang kau pegang. Apakah kau salah seorang anggota keluarga Padepokan Sepasang Belati Maut?" tanya Ki Rantasanu sambil menajamkan panglihatannya.

"Betul!" jawab Sarpanaya tegas. "Aku putra kedua Suryapati."

"Putra Suryapati?" Ki Rantasanu  terkejut bukan main. Dengan langkah cepat dihampirinya Sarpanaya.

"Ah! Maafkan kesalahpahaman putri tunggal dan murid-muridku," ucap Ki Rantasanu.

"Namaku Sarpanaya, Ki."

"Sarpanaya! Mereka semua tidak tahu kalau kau putra seorang sahabat baikku. Mereka hanya menjalani tugas untuk menghadang setiap orang yang nampak mencurigakan. Perguruan ini tengah tertimpa musibah, Sarpanaya. Jadi, kuharap kau sudi memaklumi tindakan yang diambil putri tunggal dan murid-muridku,” tambah Ki Rantasanu. "Kalian semua kembali ke tempat tugas masing-masing. Suci, Gerda. Kuminta tinggalkan tempat ini."

Setelah memberi perintah kepada muridmuridnya, Ki Rantasanu kembali berpaling ke arah Sarpanaya.

"Kau bisa memakluminya, bukan?" Sarpanaya menganggukkan kepala.

"Sebuah kitab pusaka milikku telah lenyap dari tempatnya. Tapi, wajar kalau mereka mencurigai setiap pendatang. Ah! Aku berterima kasih sekali kalau kau sudi memaklumi kesalahpahaman ini, Sarpanaya. Bagaimana kalau kau singgah ke dalam sebentar?" ujar Ki Rantasanu.

'Terima kasih, Ki. Aku tidak bisa lama-lama berada di tempat ini. Aku khawatir, orang yang kukejar kembali ke tempatku, dan membuat keonaran, "tolak Sarpanaya, sopan. "Aku juga mohon maaf, Ki. Lain kali, pasti aku akan datang ke tempat ini."

"Baiklah," ujar Ki Rantasanu tak bisa menahan. "Titip salam untuk ayahmu."

"Akan kusampaikan salammu, Ki. Permisi.

***
EMPAT
Kedai Ki Julak nampak dipenuhi pendatang siang ini. Selain itu, penduduk daerah itu pun nampak tengah menikmati tuak yang selalu dituangkan anak perempuan Ki Julak, yang cantik dan bahenol.

"Setengah gelas lagi, Ni. Rasanya, kok jantung Akang deg-degan setelah minum tuak ini," ujar lelaki berwajah lucu. Bola matanya tak lepas memandang anak perempuan Ki Julak yang memang cantik.

Anak perempuan Ki Julak yang bernama Surti itu menuangkan setengah gelas tuak manis untuk lelaki berwajah lucu. Lelaki berkumis tipis itu kelihatannya memang punya minat untuk meminangnya.

"Kamu cantik, Ni," goda lelaki berwajah lucu itu sambil meraih gelas yang sudah diisi tuak manis.

Surti tersenyum mendengar pujian itu. Rupa-rupa cerita terus mengalir dari dalam kedai milik Ki Julak. Namun yang menarik minat Jaka yang kebetulan ada di kedai itu adalah pembicaraan empat orang berpakaian seragam salah sebuah perguruan silat.

"Pencurinya pasti seorang tokoh yang hebat  dan ilmunya pasti tinggi," kata lelaki berpakaian hitam dan bertubuh pendek.

"Itu sudah pasti, Karji," timpal lelaki tinggi di sebelahnya.

"Buktinya, kitab pusaka itu berhasil dicuri tanpa diketahui pemiliknya. Setahuku, Ketua Perguruan Tameng Kencana adalah seorang lelaki yang memiliki ilmu kesaktian tinggi," balas yang lain.

"Jelas itu, Buang. Tanpa memiliki kesaktian tinggi, Ki Rantasanu tak mungkin berani mendirikan sebuah perguruan silat," selak lelaki kerempeng berambut lebat

"Kau kenal ketua perguruan itu?" tanya orang yang dipanggil Buang dengan mata berkilat penuh kekaguman.

"Kenal sih tidak. Hanya pernah dengar namanya saja," jawab lelaki kerempeng itu.

"Uuu.... Kalau begitu, aku juga kenal Ketua Perguruan Kamboja Merah. Meskipun, hanya kenal namanya saja.," tambah lelaki bertubuh pendek yang bernama lagi.

Sementara itu, Jaka yang mengambil tempat duduk di bagian sudut, tersentak mendengar ucapan Karji. Hatinya jadi ingin lebih tahu lagi perkembangan pembicaraan mereka.

"Seperti halnya Ki Rantasanu, Eyang Dirgan Saluyu pun pasti punya kedigdayaan. Tapi kenapa ya, kok kitab-kitab pusaka milik mereka bisa lenyap tanpa bisa dicegah! Heran jadinya," lanjut Karji.

"Tidak salah lagi, pasti pencuri itu memiliki ilmu yang cukup tinggi. Bahkan melebihi ilmu kedua ketua perguruan yang kitab pusakanya dicuri. Mungkin juga pencuri itu punya aji 'Sirep'," tegas lelaki bertubuh kerempeng.

Mendengar pembicaraan empat lelaki yang nampak tidak main-main, Raja Petir seketika bangkit dari duduknya. Pemuda itu berjalan perlahan menghampiri mereka.

"Maaf, Ki sanak. Bolehkah aku turut berbincang-bincang dengan kalian?" pinta Jaka sopan.

Keempat lelaki yang tengah berbicara itu seketika berhenti berbicara, dan menumpahkan pandangannya ke wajah Jaka. "Aku ingin bertanya sesuatu pada Ki sanak sekalian. Bolehkah?"

"Boleh. Tentu saja boleh," jawab Karji.

'Terima kasih," Jaka mengambil kursi dan diletakkan di antara keempat lelaki itu.

Sementara, keempat orang itu terus saja merayapi wajah Jaka, yang mungkin saja pernah mereka kenal.

"Kalian semua tahu dari mana kalau Perguruan Tameng Kencana dan Perguruan Kamboja Merah kehilangan kitab-kitab pusaka mereka?" tanya Jaka, lembut

"Semua orang yang merasa bertetangga dengan Desa Kilangduga dan desa tempat Perguruan Kamboja Merah berada, sepertinya sudah pasti tahu mengenai hilangnya kitab-kitab pusaka itu," kali ini yang menyahuti adalah Buang.

"Betul! Mereka tahu dari penduduk Desa Kilangduga," timpal lelaki bertubuh tinggi. "Seperti juga kami."

Jaka Sembada mengangguk-anggukkan kepala. “Terima kasih atas keterangan kalian, Ki sanak," ucap Jaka seraya kembali ke tempat semula.

***

Mendengar keterangan empat lelaki yang menurutnya tidak berbohong, Jaka sempat berpikir keras akan kejadian yang terjadi. Bagaimana mungkin kalau kitab pusaka yang seharusnya tersimpan secara rahasia bisa hilang dari tempatnya? Apalagi kejadian itu tanpa sedikit pun diketahui pemiliknya. Padahal Jaka tahu betul, siapa itu Eyang Dirgan Saluyu. Dia adalah orang tua digdaya yang pada zaman ini sukar dicari tandingannya. Atau....

Adakah orang lain yang memiliki kedigdayaan yang melebihi Eyang Dirgan Saluyu, sehingga orang itu mampu mengecoh Ketua Perguruan Kamboja Merah yang terkenal kearifannya? Atau mungkin, ada juga orang dalam perguruan yang berkhianat dan bekerjasama dengan orang luar?

Raja Petir terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang berkaitan dengan lenyapnya Kitab Pusaka Mustika Bunga Kamboja milik Perguruan Kamboja Merah.

"Aku harus bertemu langsung pada Eyang Dirgan Saluyu," putus Jaka, tiba-tiba.

Setelah meninggalkan beberapa keping uang, Raja Petir berkelebat cepat Gerakannya begitu cepat, sehingga membuatnya teriihat seperti seleretan sinar kuning.

Salah seorang dari empat lelaki yang ditanyai Jaka terkesima menyaksikan bayangan yang berkelebat cepat. Dan ketika lelaki berambut kemerahan menolehkan kepala ke meja tempat Jaka berada....

"Anak muda yang barusan bertanya itu manusia atau memedi, ya?"

"Dia manusia seperti kita juga. Tapi, dia memiliki ilmu yang amat tinggi," kata Karji.

"Sok tahu kamu, Ji!"

***

Langit sudah menampakkan warna jingga di ufuk Barat ketika Jaka dalam perjalanan menuju Perguruan Kamboja Merah. Dengan mengerahkan ilmu larinya yang sudah mencapai tingkat tinggi, maka sudah dapat dipastikan kalau sebentar lagi akan tiba di perguruan yang dipimpin Eyang Dirgan Saluyu.

Tiba di pintu gerbang Perguruan Kamboja Merah, langit sudah berwarna pekat. Bintang-bintang yang bersinar redup, tak mampu menerangi Desa Kilangduga yang dipenuhi pepohonan. Kegelapan sang malam menyelimuti sekitamya.

Ketika Jaka menghampiri penjaga yang berdiri di mulut pintu pagar besi, tiba-tiba....

"Berhenti!" tiba-tiba terdengar bentakan keras dari seseorang. "Anak muda, apa urusanmu malammalam berkunjung ke sini?!"

"Aku ada urusan dengan Eyang Dirgan Saluyu," cukup lantang suara Jaka.

"Urusan apa?!" tanya penjaga yang bersenjatakan golok besar dengan bagian ujungnya sedikit melengkung dan tajam.

"Maaf. Aku tak bisa menyebutkannya," jawab Jaka tenang.

"Kalau kau tak mau menyebutkan, aku tak akan memberimu ijin untuk bertemu guru kami," penjaga yang bertubuh tinggi tegap itu tetap bersikeras.

"Baiklah!" Jaka mengalah. "Sebelum aku memberitahukan keperluanku datang kemari, sudikah Ki sanak memberitahukan pada Eyang Dirgan Saluyu kalau Raja Petir ingin bertemu."

"Raja Petir?" lelaki bertubuh tinggi tegap itu bergumam dalam hati.

Antara percaya dan tidak, kepala penjaga itu terus memandangi Jaka dari ujung kaki sampai kepala. Sesungguhnya, kepala regu penjaga itu berat menerima pengakuan anak muda berpakaian kuning keemasan di hadapannya. Dia sudah tahu, bagaimana hebatnya Raja Petir. 

Bahkan Eyang Dirgan Saluyu pernah memberi tahu kalau Raja Petir adalah seorang tokoh golongan putih yang sukar dicari tandingannya. Dan menurut dugaan kepala regu penjaga itu, Raja Petir adalah seorang lelaki yang sudah cukup punya umur. Tetapi, anak muda yang berada di depannya kini? Paling-paling usianya baru dua puluh tahun!

"Apakah ucapanmu dapat dipercaya, Anak Muda?" tanya penjaga yang kelihatannya adalah pemimpin regu itu.

Jaka tersenyum.

"Pantang bagiku berbohong, Ki sanak."

Mata kepala regu penjaga itu kembali merayapi tubuh Jaka. Sesaat kemudian tatapannya beralih kepada temannya sambil menganggukkan kepalanya.

Melihat kepala regu penjaga itu mengangguk, seorang rekannya seketika masuk ke dalam. Dia nampak tergopoh-gopoh menuju ruangan guru besarnya yang menjadi satu dengan bangunan perguruan.

"Seseorang ingin bertemu Eyang di luar," lelaki bertubuh sedang itu menjura hormat, ketika telah sampai di hadapan gurunya.

"Siapa dia?" berat suara Ketua Perguruan Kamboja Merah.

"Anak muda itu mengaku sebagai Raja Petir."

Tersentak hati Eyang Dirgan Saluyu mendengar pemberitahuan muridnya.

"Kau masih ingat ciri-cirinya?"

"Dia memakai pakaian serba kuning keemasan, dengan sabuk juga warna kuning," jawab murid Perguruan Kamboja Merah itu.

"Kau melihat ada sesuatu di pergelangan tangan kirinya?" Penjaga malam yang melapor itu menganggukkan kepala.

"Aku melihat, Eyang. Seperti dua buah batang bambu kuning berukuran kecil."

Eyang Djrgan Saluyu tidak menanggapi pem¬beritahuan muridnya.

"Dia pasti diutus Terala untuk membantuku," kata batin Eyang Dirgan Saluyu.

Belum lagi penjaga itu mendapatkan kepastian, Eyang Dirgan Saluyu telah berlalu meninggalkan ruangannya. Gerakannya begitu cepat, hingga penjaga itu tak mampu mengikuti.

Begitu tiba di halaman Perguruan Kamboja Merah, Eyang Dirgan Saluyu kembali terkejut melihat Raja Petir masih berada di luar pagar pintu gerbang.

"Kenapa tidak kalian buka pintu itu?!" bentak Eyang Dirgan Saluyu keras.

Seorang lelaki yang bertubuh tinggi tegap dengan tergopoh-gopoh membuka pintu, dan Raja Petir segera masuk setelah sebelumnya menundukkan kepala memberi hormat.

"Eyang senang sekali kau bertandang ke sini, Raja Petir," ucap Eyang Dirgan Saluyu sambil melangkah menuju ruang dalam.

'"Panggil aku Jaka, Eyang," pinta Jaka malu-malu.

"Kenapa?" tanya Eyang Dirgan Saluyu.

"Aku lebih senang namaku disebut, ketimbang julukan itu," tegas Jaka. "Kesannya lebih akrab, Eyang."

Eyang Dirgan Saluyu tersenyum mendengar kerendahan anak muda yang memiliki ilmu kesaktian begitu tinggi.

"Silakan duduk, Jaka," Eyang Dirgan Saluyu menyodorkan kursi berukir berwarna coklat mengkilat. 'Terima kasih."

"Apakah kedatanganmu atas perintah Adi Terala, Jaka?" tanya Eyang Dirgan Saluyu sambil meletakkan segelas air putih.

Jaka menggeleng.

"Atau hanya kebetulan saja?" tanya Eyang Dirgan Saluyu lagi.

“Tidak" 

"Lalu?"

"Aku ingin mendapatkan kepastian akan kebenaran ucapan-ucapan mereka."

“Tentang apa?" selak Eyang Dirgan Saluyu. “Tentanghilangnya Kitab Pusaka Mustika Bunga Kamboja."

"Mereka semua memang berkata benar, Jaka. Kitab pusaka itu hilang dari tempatnya tanpa kuketahui kapan dan siapa pencurinya," jelas Eyang Dirgan Saluyu. Suaranya begitu sarat dengan penyesalan.

"Apakah ada orang-orang yang dicurigai?" Eyang Dirgan Saluyu menggelengkan kepala. "Pencuri itu terlalu cakap menjalankan tugasnya, Jaka. Mungkin menggunakan ilmu kesaktian yang begitu tinggi."

Jaka menatap bola mata Eyang Dirgan Saluyu yang menyimpan bara kemarahan.

"Apa tidak mungkin justru orang-orang dalam perguruan sendiri yang telah memindahkan kitab pusaka itu, Eyang?" pelan ucapan Jaka.

Eyang Dirgan Saluyu tak membantah dugaan pendekar muda yang digdaya itu. Sesungguhnya, dia Juga memiliki dugaan seperti itu. Tapi, pada siapa dugaan itu harus ditujukan?

***

Dua hari Jaka tinggal di kediaman Eyang Dirgan Saluyu. Nalurinya yang peka sudah dapat menangkap sesuatu yang aneh pada lingkungan Perguruan Kamboja Merah.

Selama keberadaannya di sini, Jaka memang tak luput memperhatikan setiap gerak-gerik seluruh murid Eyang Dirgan Saluyu, termasuk murid-murid utamanya. Terutama sekali, pada lelaki berkumis tebal dan berperawakan kurus yang bernama Sutriwa.

Lelaki murid Eyang Dirgan Saluyu itu terlalu memberi perhatian lebih kepadanya. Di mana Jaka berada, di situ pula murid utama Perguruan Kamboja Merah yang bernama Sutriwa berusaha melayani dengan keramahan yang seperti dibuat-buat.

Seperti juga malam ini. Sutriwa menemani Jaka yang sebetulnya tak memerlukan kehadirannya.

"Kau tak ada tugas lain malam ini, Sutriwa?" tanya Jaka pada lelaki kurus berkumis tebal itu.

"Tidak," jawab Sutriwa.

"Kau tidak mengantuk?" pertanyaan Jaka tak diterima Sutriwa sebagai usiran halus.

"Ah! Aku lebih senang menemani kau, Raja Petir. Daripada tidur di dalam tanpa seorang teman," jawa Sutriwa sopan.

Jaka menatap Sutriwa yang berpura-pura tak merasa diselidiki.

"Sebenarnya, aku ingin berada seorang diri malam ini."

"Bukankah lebih baik ada teman? Kau bisa mendapatkan lawan bicara. Kita bisa bercerita apa saja, dalih Sutriwa. "Ingin sekali aku mendengar pengalamanmu menghadapi tokoh-tokoh sakti golongan hitam. Kudengar, kau telah berhasil menyingkirkan mereka."

"Rasanya aku tak berminat menceritakan pengalamanku malam ini, Sutriwa. Entahlah kalau di lain waktu. Malam ini, aku ingin mencari jalan untuk mendapatkan kembali Kitab Pusaka Mustika Bunga Kamboja yang dicuri manusia tak tahu diri," kilah Jaka sambil memperhatikan air muka lelaki di hadapannya,

Sutriwa merasakan air mukanya berubah mendengar ucapan Jaka. Tetapi dia berusaha menyembunyikannya serapi mungkin. Sutriwa merasa perubahan air mukanya tak diketahui Jaka, karena sina bulan yang hanya sepotong itu tak mampu menerangi wajahnya.

Namun kenyataannya lain bagi Raja Petir. Sesungguhnya, perubahan air muka Sutriwa dapat jelas terlihat.

"Seandainya aku berhasil menangkap pencuri edan itu, akan kucincang tubuhnya!" cukup keras ucapan Jaka.

"Bagaimana denganmu, Sutriwa?"

"Aku akan melakukannya lebih kejam daripada mu," jawab Sutriwa. "Aku akan menyiksanya lebih dahulu untuk mendapatkan keterangan dengan siapa orang itu bekerjasama, baru setelah itu nyawanya kukirim ke neraka."

Jaka tersenyum mendengar ucapan basa-basi lelaki kurus berkumis tebal itu.

"Aku setuju dengan ucapanmu, Sutriwa," puji Jaka. "Makanya, aku akan terus menyelidiki manusia yang tak tahu diri itu."

"Aku pun begitu."

"Aku akan menyelidiki Hutan Lindakhulu." Kembali air muka Sutriwa berubah. Kali ini, malah lebih jelas tertangkap bola mata Jaka.

"Ada apa memangnya di Hutan Lindakhulu?" tanya Sutriwa agak keheranan juga mendengar ucapan pendekar yang cukup digdaya di hadapannya.

Darimana dia tahu kalau Hutan Lindakhulu menyimpan suatu rahasia di dalamnya?

"Sekelompok orang berpakaian serba merah dengan tutup kepala merah pernah melarangku untuk melintasi Hutan Lindakhulu. Aku tak tahu, apa sebabnya. Kemudian, aku bertarung, lalu mereka melarikan diri. Namun sewaktu aku memasuki Hutan Lindakhulu, tak kutemukan suatu keanehan pun di situ," papar Jaka dengan mata yang tak lepas memandang wajah Sutriwa. "Kupikir, itu hanya keisengan mereka. Ata dalih mereka yang sesungguhnya ingin merampok!"

"Mungkin juga dugaanmu yang terakhir itu benar," timpal Sutriwa.

"Ya! Mungkin dugaan itulah yang benar."

***

Malam kelima menjelang fajar, Jaka masih terlelap dalam mimpi indahnya. Namun di luar kamarnya, tiga orang mengenakan tutup kepala warna hitam tampa mengendap-endap seperti mengintai.

Ketiga orang itu tampak seperti mengatur tugas masing-masing dengan bahasa isyarat. Kemudian salah seorang tampak mendekati pintu kamar. Sebentar dia membuat kuda-kuda. Lalu, tiba-tiba tangannya dihentakkan ke depan. Dan....

Brak!.

Jaka kontan tersentak bangun dan langsung berdiri. Matanya langsung terbentur pada tiga orang yang mengepung dirinya. Salah seorang sepertinya sudah dikenali ciri-cirinya oleh Jaka. Siapa lagi kalau bukan Sutriwa?

"Sebelum fajar datang, kuharap kau sudah meninggalkan tempat ini, Raja Petir. Aku tak gentar dengan nama besarmu. Kau akan kukirim ke neraka kalau mengacuhkan perintahku!" bentak salah seorang yang bertubuh lebih pendek.

"Seharusnya aku yang berkata begitu, Ki sanak Kalian sudah masuk ke kamar orang tanpa tata

krama. Kalian lancang!" bentak Raja Petir, memancing kemarahan orang-orang berpakaian hitam dengan tutup kepala berwarna hitam.

"Kau memang patut disingkirkan, Raja Petir!"

Seiring ucapan itu, sosok bertubuh pendek mengkelebatkan senjata berbentuk aneh ke arah tenggorokan Jaka. Senjata itu seperti clurit, namun matanya bergerigi.

Jaka merendahkan badannya, maka tebasan clurit bergerigi yang juga mengandung hawa beracun lewat beberapa rambut di atas kepalanya. Dan seketika itu juga, Raja Petir memberi serangan balasan ke arah iga sosok berperawakan pendek.

"Uts!"

Sosok bertubuh pendek bergerak manis menghindari sodokan tangan Jaka. Namun sayang, gerakan manis yang bermaksud mengecoh sudah didahului kecepatan gerak kaki Jaka!

"Hiyaaa!" Digkh! "Aaakh,..!"

Sosok bertubuh pendek itu terpelanting ke belakangterkenatendangankerasJakayang menghantam telak dadanya.

"Kurang ajar! Habisi langsung!"

Dua sosok berpakaian hitam lainnya bersamaan merangsek maju. Senjata-senjata mereka berkelebatan, mengeluarkan hawa dan bau amis terarah kebagian tubuh Jaka yang mematikan. Sementara, oran yang tadi mendapat tendangan, sudah ikut mengeroyok Raja Petir.

Menyaksikan serangan lawan yang tidak mainmain, Raja Petir jadi ingin memberi pelajaran. Segera dikerahkannya aji 'Bayang-bayang' ke hadapan tiga pengeroyoknya.Kamaryangmemangberukuran cukup luas, seketika itu juga diisi lima bayangan Jaka.

Dan ternyata pengerahan ajian itu membuat tiga sosok berpakaian hitam itu terkejut. Dengan mengandalkan senjata yang berbentuk clurit bergerigi, mereka membabat-babatkan ke arah Jaka dengan gencar dan beruntun.

Namun setiap kali menebas, setiap kali itu pula salah seorang pengeroyok harus merasakan dorongan keras akibat tarikan tenaganya sendiri yang menghantam tempat kosong.

Dan begitu mendapat kesempatan, Raja Petir cepat melenting ke udara. Setelah berputaran dua kali, tubuhnya meluruk dengan sambaran-sambaran tangan disertai suara menderu tajam. Arahnya langsung pad tiga orang pengeroyoknya sekaligus.

"Heaaa...!" Tuk! Tuk! Tuk!

Ketiga sosok berpakaian hitam seketika bergelimpangan manakala totokan Jaka cepat menghantam jalan darah di tubuh mereka. Ketiga sosok itu ingin berusaha bangkit, tapi tak mampu melepaskan totokan yang dilakukan Raja Petir. Seiring robohnya ketiga sosok berpakaian hitam, Eyang Dirgan Saluyu muncul agak tergesagesa. Dan dia langsung terhenyak menyaksikan tiga sosok berpakaian hitam tengah tergeletak di kamar orang yang dihormatinya.

"Siapa mereka, Jaka?" tanya Eyang Dirgan Saluyu geram.

Dalam hati, ia menduga kalau ketiga lelaki yang tergeletak itu adalah pencuri Kitab Pusaka Mustika Bunga Kamboja.

"Aku belum mengorek keterangan dari mereka, Eyang," jawab Jaka.

"Huh!"

Eyang Dirgan Saluyu bergerak hendak melucuti kain hitam yang menutupi wajah tiga sosok yang tergeletak.

"Tahan, Eyang!" pinta Jaka.

Eyang Dirgan Saluyu menghentikan tangannya yang hampir meraih kain hitam penutup wajah itu.

"Kenapa, Jaka?" tanya Eyang Dirgan Saluyu,

heran.

"Sosok yang satu, sepertinya Sutriwa, murid

Perguruan Kamboja Merah," tunjuk Jaka pada sosok bertubuh kurus. Eyang Dirgan Saluyu membelalakkan matanya mendengar ucapan Jaka. Secepat kilat, dibetotnya  kain penutup wajah sosok bertubuh kurus.

"Ah!" terkejut juga Jaka menyaksikan sosok yang wajahnya kini terpampang jelas.

Sosok kurus itu temyata bukan Sutriwa yang di duga Jaka, melainkan seorang perempuan yang memiliki wajah cukup cantik.

Belum lepas keheranan Eyang Dirgan Saluyu dan Jaka, sosok Sutriwa tiba-tiba muncul menyeruak kerumunan murid-murid perguruan yang datang bersa Eyang Dirgan Saluyu tadi.

"Biar kuhabisi ketiga nyawa manusia tak tahu diri itu, Eyang!" dengus Sutriwa sambil mengayunkan senjatanya. Namun sayang, gerakannya kalah cepat dengan gerakan Jaka yang seketika menangkap pergelangannya.

"Kau pernah mengatakan, kita harus mengorek keterangan dan setiap orang yang dicurigai?" kata  Jaka agak sinis.

Dugaan Jaka akan keterlibatan murid utama Eyang Dirgan Saluyu ini semakin kuat saja. Ini bisa dilihat dari cara Sutriwa yang ingin cepat-cepat menghabisi tiga orang yang kini tak berdaya itu. Paling tidak agar mereka tidak buka mulut.

"Tinggalkan aku dan Eyang di sini. Kau dan teman-temanmu, uruslah ketiga orang tak tahu adab ini Tapi, awas! Jangan sekali-kali membunuh ketiga orang ini sebelum mendapatkan keterangan yang berarti untuk penyelidikan ini," tandas Jaka,

Eyang Dirgan Saluyu menyetujui tindakan yang diambil Jaka.

"Lakukan apa yang diperintahkan Raja Petir Sutriwa!" tegas ucapan yang keluar dari bibir Ketua Perguruan Kamboja Merah yang mengenakan jubah merah itu.

Sutriwa dibantu murid-murid Perguruan Kamboja Merah segera menyeret tubuh tiga sosok berpakaian hitam dengan paksa.

"Aku akan terus mengawasi murid Eyang yang bernama Sutriwa," ujar Jaka setelah murid-murid Eyang Dirgan Saluyu menghilang di balik kelokan ruangan.

"Lakukanlah, apa yang sepatutnya kau lakukan, Jaka. Aku memang ingin secepatnya mengetahui pencuri biadab itu," pelan ucapan Eyang Dirgan Saluyu.

"Kelakuan Sutriwa cukup aneh," gumam Jaka. "Aku melihatnya barusan," timpal Eyang Dirgan Saluyu.

***
LIMA
Kejadian yang telah menimpa Perguruan Tameng Kencana dan Perguruan Kamboja Merah ternyata di alami juga oleh Perguruan Gading Kembar. Tampak di beranda perguruan itu berdiri beberapa lelaki yang tengah terlibat pertengkaran seru.

"Cecunguk-cecunguk Karsabijaksa...!"

Terdengar bentakan keras dari lelaki berhidung bangir. Telunjuk tangan kanannya menuding-nuding ke arah orang-orang yang bersenjatakan logam keras berbentuk seperti tanduk.

"Kecurigaan kalian padaku sudah lama kuketahui. Sekarang kukatakan terus terang, akulah pencuri Kitab Pusaka Gading Kembar yang sudah tak layak lagi menjadi milik si tua bangka Karjabijaksa! Katakan pada lelaki peot tak tahu diri itu. Dia harus menyingkir dari jabatannya sebagai guru besar perguruan ini! Kalau dia tak mau, biar kusingkirkan sendiri ke alam kubur!”

Mendengar ucapan Rekong Rapah atau si murid murtad Perguruan Gading Kembar yang sangat menyakitkan itu, seorang murid yang lain marah bukan main. Namun sesungguhnya disadari kalau kepandaiannya masih di bawah Rekong Rapah, murid kesayangan Ki Karsabijaksa sendiri. .

"Murid laknat! Jangan sembarangan umbar bacot busukmu itu! Siapa yang telah meracunimu hingga berani berkhianat seperti itu? Kau tahu! Tanpa Ki Karsabijaksa, mana mungkin kau memiliki kemampuan ilmu silat begitu tinggi? Susu kau balas dengan air tuba!" bentak lelaki tempan yang kulit wajahnya berwarna kemerahan.

"Lindang! Kau tahu apa akan semua ini, heh?! Kau lelaki tak memiliki cita-cita! Selamanya mau saja menjadi kacung si Karsabijaksa yang sok wibawa. Sebaiknya ikutilah jejakku untuk menggeser kedudukan Karsabijaksa. Di belakangku, telah berdiri beberapa tokoh yang memiliki kesaktian lebih tinggi dari tua renta yang sok kuasa itu," kilah Rekong Rapah meladeni.

"Murid keparat!"

Lelaki yang bernama Lindang memekik geram seraya menerjang tubuh Rekong Rapah.

"Heaaa...!"

Namun dengan menggeser kaki kanannya, Rekong Rapah berhasil menghindarinya. Bahkan langsung dilepaskannya satu tendangan keras setengah lingkaran dengan kaki kiri. Maka....

Digkh! "Akh!" Blug!

Lindang terpental ke belakang begitu  tendangan Rekong Rapah mendarat di tubuhnya.

"Ha ha ha. Jangankan hanya kau, Lindang! Si

tua bangka Karsabijaksa pun belum tentu menandingiku sekarang ini," Rekong Rapah kembali tertawa lepas. "Murid sinting!"

Lindang kembali meneriang Rekong Rapah. Serangannya kali ini menggunakan senjata dan logam keras berbentuk tanduk.

"Mampus kau, Murid Sesat! Heaaa...!"

Rekong Rapah menarik mundur kakinya seraya memiringkan badan. Tebasan senjata yang dilakukan Lindang hanya tiga rambut lewat di depan dada bidang Rekong Rapah. Bahkan murid murtad itu begitu cepat memberi serangan balasan.

"Kau yang mampus, Kacung Dungu!" 

"Hih!"

Plak!

Tanpa dapat dihindari lagi, satu tendangan keras mendarat telak di wajah Lindang, sehingga membuatnya tersuruk. Dia memekik sesaat sambil berusah bangkit. Tapi niatnya diurungkan begitu menyadari kalau dari sela bibirnya mengalir darah kental.

"Kalian habisi nyawa murid murtad itu!" perintah Lindang pada teman-temannya. "Aku akan memanggil Ki Karsabijaksa."

Murid-murid Perguruan Gading Kembar yang berjumlah enam orang segera mengurung Rekong Rapah yang entah mengapa berkhianat pada perguruannya

"Heaaa...!" Crak! "Akh!"

Salah seorang murid Perguruan Gading Kembar seketika ambruk terbabat pedang. Entah bagaimana, tahu-tahu pedang itu sudah di tangan Rekong Rapah dan langsung dibabatkan. Sebentar dia menggeliat, dan sebentar kemudian diam tak bergerak lagi. Darah tampak mengucur deras dari leher yang terbabat itu. "Kenapa kalian bengong seperri sapi ompong!

Ayo serang aku, biar kalian lebih cepat mampir ke kuburan!" sentak Rekong Rapah. "Atau kalian ingin berkomplot denganku untuk menyingkirkan si tua bangka, heh?!"

"Setan!"

Dua pengikut setia Ki Karsabijaksa kembali merangsek maju. Kemarahannya yang meluap mendengar ucapan Rekong Rapah tadi, membuat mereka tidak setengah-setengah melancarkan serangan. Tebasan-tebasan senjata berbentuk tanduk itu begitu cepat mengarah ke bagian tubuh Rekong Rapah yang mematikan.

Namun, Rekong Rapah bukanlah murid Ki Karsabijaksa yang dulu lagi. Ilmunya kini lebih tinggi dan seperti beraneka ragam.

"Sudah kuperingatkan, kalian semua tak akan mampu menandingiku," ejek Rekong Rapah keras.

Seiring ucapannya, senjata Rekong Rapah berkelebat cepat meminta korban dua murid Perguruan Gading kembar yang tak mampu menghindar lagi.

Srat! Srat! "Akh!"

Tiga orang murid yang tersisa terbengongbengong menyaksikan kecepatan sambaran pedang Rekong Rapah. Bahkan kini, dua rekan mereka telah ambruk di tanah bersimbah darah. Jelas, dua orang itu telah tewas seketika.

Melihat hal itu, tiga lelaki murid Perguruan Gadin Kembar bermaksud menyerbu Rekong Rapah yan tampak begitu pongah. Tetapi gerakan mereka seketika tertahan oleh suara yang begitu berwibawa.

“Tahan!"

Tiba-tiba seorang lelaki tua berumur sekitar tujuh puluh lima tahun telah melesat cepat mendahului gerakan ketiga orang itu.

"Dia bukan tandingan kalian. Mundurlah!" ujar lelaki berpakaian longgar berwarna kuning gading. Rambutnya yang masih berwarna hitam, tergelung rapi ke atas. Dialah Ketua Perguruan Gading Kembar.

Rekong Rapah bertolak pinggang menyaksikan kedatangan Ki Karsabijaksa.

"Lebih cepat kau datang, lebih cepat urusanku selesai!" kata Rekong Rapah tanpa sopan santun, tak lagi memandang sebelah mata pun pada lelaki yang telah berjasa besar terhadap dirinya itu.

"Urusan apa, Rekong?" berat suara Ki Karsabijaksa yang keluar.

"Menyuruhmu mundur dari jabatan ketua perguruan, atau melenyapkanmu jika kau keberatan!"

Lelaki tua berpakaian longgar warna kuning gading itu tersenyum lebar.

"Kemampuan apa yang kau andalkan hingga berani menantang gurumu sendiri, Rekong?"

Rekong Rapah tak menjawab pertanyaan Ki Karsabijaksa. Bola matanya yang tajam diarahkan lekat-lekat ke wajah laki-laki tua itu. Sesaat saja RekongRapahmenentangtatapanmataKi Karsabijaksa.  Sesaatkemudian, tangannya sudah bergerak ke balik pakaiannya. Segera dikeluarkannya sesuatu yang membuat mata Ki Karsabijaksa terbeliak. "ApahubunganmudenganSepasangNuri

Biru?" tanya Ki Karsabijaksa.

Rekong Rapah tersenyum. "Kau terkejut?"

"Kau pasti telah terpengaruh Pulokaliwa."

"Ha ha ha.... Tua bangka berpikiran dungu!

Aku sebenamya murid kesayangan Sepasang Nuri Biru. Hampir lima tahun aku mengabdi di perguruanmu, Karsabijaksa. Tapi, itu hanyalah kedok belaka untuk menutupi siapa diriku yang sebenarnya. Sudah lama Sepasang Nuri Biru menginginkan Kitab Pusaka Gading Kembang. Dan sekarang, cita-cita itu sudah menjadi kenyataan. Yang belum, hanyalah mengubur dirimu yang renta, Karsabijaksa! Bersiaplah!"

Ketua Perguruan Gading Kembar membawa mundur tubuhnya satu langkah, ketika menyaksikan Rekong Rapah menggerak-gerakkan saputangan besar warna biru cerah. Saputangan beracun dahsyat itu mengeluarkan selarik sinar dari setiap ujungnya.

Tras! Tras! Tras!

Tiga larik sinar berwarna biru keluar dari saputangan besar yang dikebutkan Rekong Rapah, dan melunak cepat ke arah Ki Karsabijaksa yang belum siap menangkis.

Namun, sesungguhnya Ki Karsabijaksa memang tak mempunyai maksud menangkis. Ki Karsabijaksa hanya melenting ke udara dan berputaran dengan manis. Akan tetapi, tak urung pakaiannya hangus karena sempat tersambar hawa panas dari selarik sinar biru yang lebih dekat.

"Ups!"

Ki Karsabijaksa menjejakkan kakinya ringan. "Ha ha ha.... Baru segitu saja kau sudah

pontang-panting, Tua Bangka! Seperti kera terbakar bulu!" ejek Rekong Rapah sambil tertawa terbahakbahak.

'"Kera Terbakar Bulu'?" gumam Ki Karsabijaksa dalam hati.

Pantas saja serangan itu begitu dahsyatnya. 'Kera Terbakar Bulu' adalah sebuah ilmu andalan yang hanya dimilili Sepasang Nuri Biru.

"Ayo seranglah aku, Karsabijaksa! Jangan bisanya hanya menghindar. Sebagai seorang guru, seharusnya kau mampu memberi perlawanan berarti. Janga sia-siakan sisa umurmu, Tua Bangka!"

Merah padam wajah Ki Karsabijaksa mendengar ucapan Rekong Rapah yang begitu pedas. Maka tanpa sungkan-sungkan lagi senjatanya yang berupa sepasang gading kembar dikeluarkan.

"Mainkan senjatamu. Aku ingin tahu, sejauh mana keampuhannya!" tantang Rekong Rapah.

Ki Karsabijaksa merapatkan kedua tangannya perlahan. Telapak tangannya yang menggenggam dua buah gading besar seketika disatukan. Dan....

Crat! Crat. !

Slap! Slap! Slap!

Tiga larik sinar putih meluruk dari ujung senjata berbentuk gading yang digesek-gesekkan Ki Karsabijaksa. Begitu cepatnya luncuran sinar putih itu, hingga Rekong Rapah yang tengah berdiri pongah tak menyadarinya. Kiblatan sinar itu tahu-tahu sudah berada di depan dadanya.

"Hah?!"

Rekong Rapah terbeliak mendapatkan hawa aneh yang tiba-tiba mendekat.

"Hip! Hip!"

Seketika murid murtad itu melompat ke belakang, kemudian cepat membuang tubuh ke kanan seraya bergulingan di tanah.

"Keparat!" maki Rekong Rapah setelah bangkit berdiri dengan satu lentingan manis.

"Kau tak pernah mengajarkan permainan ini padaku, Tua Bangka!" Ki Karsabijaksa tersenyum lebar mendengar ucapan Rekong Rapah.

"Seorang guru harus mempunyai tameng untuk menghadapi muridnya yang suatu saat bisa berubah menjadi pengkhianat macam kau!" keras suara Ki Karsabijaksa.

"Phuih!" Rekong Rapah membuang ludah, lalu....

Plak! Plak! Plak

Begitu Rekong Rapah selesai menepuk tangannya, tiba-tiba melenting dua sosok tubuh. Dengan gerakan indah, mereka mendarat ringan di sebelah kanan Rekong Rapah.

"Kau belum kalah, Rekong. Kenapa sudah memanggilku?" sentak perempuan berpakaian biru cerah dan bersenjatakan sebatang pedang bercabang dua.

"Sepasang Nuri Biru?" gumam Ki Karsabijaksa. "Kau terkejut melihat kedatanganku,

Karsabijaksa?" ucap perempuan muda berpakaian biru cerah itu.

“Tidak, Ratnawijati! Aku malah senang menerima kedatanganmu," sangkal Ki Karsabijaksa.

"Jangan berbasa-basi, Karsabijaksa. Aku bisa membaca denyut jantungmu yang tak menentu lagi itu!"

"Kau masih seperti puluhan tahun silam, Ratnawijati. Masih tinggi kepongahanmu."

"Betul! Tapi aku juga masih tetap awet muda seperti dulu. Tidak seperti kau yang berkulit keriput begitu. Uh! Seandainya saja kau waktu itu menerima cintaku, mungkin sampai sekarang akan tetap muda. Hik hik hik...!"

"Siapa yang sudi berhubungan dengan perempuan siluman macam kau, Ratnawijati!"

"Sebetulnya semua sudi jadi kekasihku, Karsabijaksa. Hanya kau saja yang tak punya nyali. Buktinya sahabat dekatmu, si Pulokaliwa ini sampai sekarang tetap menjadi pendamping setiaku," bantah Ratnawijati sambil melirik laki-laki di sebelahnya.

"Itu setelah nyawa kalian terkubur hidup-hidup oleh Raja Petir," kilah Ki Karsabijaksa.

Wajah perempuan yang bernama Ratnawijati itu seketika berubah. Air mukanya menjadi sedikit tegang mendengar nama Raja Petir disebut-sebut. Sementara pasangan di sebelahnya hanya diam membisu, persis seperti mayat hidup.

Puluhan tahun silam, memang tak ada seorang lelaki pun yang mampu menolak keinginan Ratnawijati untuk dijadikan kekasih. Selain cantik, perempuan itu juga memiliki sebuah ilmu warisan yang dahsyat pengaruhnya. Sebuah ilmu yang bisa membuat seseorang tetap muda sepanjang hidupnya.

Pada masa sepak terjangnya, mungkin hanya Raja Petir yang tak berhasil dipengaruhi Ratnawijati. Bahkan setiap orang yang menjadi kekasih Ratnawijati, yang waktu itu berjuluk si Nuri Biru, mampu dibebaskan dari pengaruh ilmu sesatnya.

Hanya ada satu lelaki yang tak bisa dibebaskan oleh Raja Petir. Karena pada dasarnya, orang itu memang sangat ingin menjadi kekasih Ratnawijati. Orang itu adalah sahabat dekat Ki Karsabijaksa. Pulokaliwa namanya. Dia sampai saat ini menjadi pasangan setia Ratnawijati yang sesungguhnya sudah mati di tangan Raja Petir puluhan tahun silam.

"Kebangkitanku sekarang justru untuk mengulangi cita-citaku yang kandas. Dan sekarang, tiga perguruan tersohor sudah berada dalam genggaman tanganku. Kau kenal Perguruan Tameng Kencana dan Perguruan Kamboja Merah?" tanya Ratnawijati dengan senyum mengejek.

"Kau juga telah mencuri Kitab Pusaka Musti Bunga Kamboja?" tersentak hati Ki Karsabijaksa.

Firasat laki-laki tua itu mengatakan kalau perempuan siluman ini ingin mengacau dunia persilatan. Bahkan telah mencuri kitab-kitab pusaka beberapa perguruan. Jadi bukan mustahil dunia persilatan aka dikuasainya, karena sudah mengetahui inti dan kelemahan dari ilmu perguruan yang kitabnya tercuri.

"Firasatmu tepat sekali, Karsabijaksa," kata Ratnawijati melihat keterpakuan Ketua Perguruan Gading Kembar itu.

"Cita-citaku sejak dulu memang ingin menguasai dunia persilatan dan menjadikan tokoh-tokoh golongan hitam menjadi pemimpin di atas bumi ini.

Ha ha ha.... Nantinya, dunia akan banyak disajikan pertunjukan menarik."

Rekong Rapah diam membisu mendengar percakapan aneh antara si Nuri Biru dengan Ki Karsabijaksa. Hatinya bergetar mendengar setiap ucapan Ki Karsabijaksa akan keberadaan si Nuri Biru yang sesungguhnya sudah mati dan terkubur puluhan tahun silam. Itu berarti, selama ini dia telah berhubungan dengan perempuan siluman?

"Masa bodoh," kata batin Rekong Rapah akhirnya. Keinginannya sekarang adalah menguasai Perguruan Gading Kembar.

"Aku tahu kehebatan ilmu-ilmu yang kau miliki, Ratnawijati. Apalagi setelah kau berhasil mencuri beberapa kitab pusaka, termasuk kitab pusaka milikku. Namun kuharap cita-citamu menemui jalan buntu," ujar Ki Karsabijaksa setelah beberapa saat terdiam.

"Hik hik hik..., Karsabijaksa! Harapanmu hanyalah isapan jempo! belaka. Apa yang kau andalkan hingga berani berkata seperti itu? Andaikan para tokoh sakti golongan putih bergabung pun, harapan-harapanmu belum tentu tercapai."'

"Kau pernah dengar seorang tokoh muda yang belum lama ini menggemparkan dunia persilatan?"

"Hmm...?" gumam Ratnawijati.

"Dia telah berhasil mengalahkan tokoh sesat yang berjuluk Empat Setan Goa Mayat dan si Ludah Setan!"

"Semasa di alam kubur, aku sudah tahu kalau sosok muda telah lahir untuk menumpas keangkaramurkaan di bumi ini. Titisan si Raja Petir itu memang hebat Untuk itulah aku kembali ke dunia ini. Aku ingin menjajal kemampuannya. Tapi aku yakin, sosok muda titisan Raja Petir itu tak akan sehebat Raja Petir yang sudah mampus!"

Ki Karsabijaksa kembali tertegun mendengar ucapan perempuan siluman di depannya.

"Aku harus balas dendam. Sosok muda yang berjuluk Raja Petir itu akan kubenamkan tubuhnya ke dalam perut bumi. Dan..., kau yang lebih dulu, Karsabijaksa!"

Selarik sinar hitam seketika keluar dari kepalan Ratnawijati. Sinar hitam yang pada awalnya berbentuk lingkaran kecil, kini semakin lama semakin membesar.

Bahkan melebihi ukuran tubuh pemiliknya.

Ki Karsabijaksa tersentak menyaksikan keanehan ilmu siluman milik si Nuri Biru. Maka sebisa-bisanya dia berusaha memapak sinar hitam itu dengan 'Si Suci Gading Kembar', karena untuk berkelit sudah tidak mungkin. Langsung gading kembarnya digesek gesekkan. Maka....

Crat..!

Slap! Slap! Slap!

Tiga larik sinar putih seketika meluruk deras ke arah lingkaran hitam besar yang juga bergerak cepat dari arah berlawanan. Dugaannya, akan terjadi ledakan keras jika kedua ilmu itu bertemu. Maka, Ki Karsabijaksa segera menyumbat jalan pendengarannya.

"Hah?!"

Ki Karsabijaksa terkejut bukan kepalang melihat sinar putih yang keluar dari gesekan gading kembarnya terpental balik ketika menyentuh sinar hitam yang bergulung-gulung besar. Bahkan dua sinar hitam dan putih kini malah meluruk ke arah Ketua Perguruan Gading Kembar itu.

"Hik hik hik.... Rasakan senjata milikmu sendiri, Karsabijaksa! Hik hik hik...!"

"Hup!"

Ki Karsabijaksa melenting ke udara, setelah sinar putih miliknya kembali masuk ke sepasang gading di tangannya.

Namun, alangkah kagetnya Ki Karsabijaksa menyaksikan segulungan sinar hitam itu ikut melambung ke udara. Bahkan meluruk cepat ke arahnya yang tengah melakukan perputaran. Maka tak ada jalan lain, kecuali menghantamkan sepasang gading kembarnya ke segulungan sinar hitam itu.

"Hiaaa...!" Bret!

Trak! Trak! "Akh!"

Tubuh Ki Karsabijaksa terpental jauh dan jatuh berdebum di tanah pelataran perguruannya. Ki Karsabijaksa kembali terkejut melihat sepasang gadingnya patah menjadi dua. Hatinya geram bukan main menyaksikan hal ini. Maka dia cepat berusaha.

Akan tetapi....

Ki Karsabijaksa merasakan tubuhnya seperti lumpuh. Sedikit pun persendiannya tak mampu diangkat Hingga ketika segulungan sinar hitam ciptaan perempuan siluman yang berjuluk si Nuri Biru itu kembali melabrak tubuhnya, dia hanya pasrah menanti ajal datang.

"Aaakh!"

Lengkingan nyaring terdengar ketika segulungan asap hitam membungkus tubuh Ki Karsabijaksa. Dan ketika segulungan asap hitam itu lenyap, yang ada tinggal jasad kering yang menghitam hangus. Jasad Ketua Perguruan Gading Kembar.

"Akh!"

Beberapa murid Perguruan Gading Kembar yang menyaksikan pemandangan mengerikan itu berteriak tertahan. Hati mereka kontan diliputi kengerian yang teramat sangat.

"Hik hik hik !"

Tawa perempuan siluman bernama Ratnawijati kembali terdengar membangunkan bulu kuduk.

"Rekong! Sekarang, kaulah Ketua Perguruan Gading Kembar ini!" tukas Ratnawijati yang berjuluk si Nuri Biru. Tatapan matanya tertuju pada lelaki berpakaian biru gelap.

"Kalau di antara murid-murid perguruan ini ada yang berani membangkang, enyahkan! Kirim mereka ke neraka!"Murid-murid Perguruan Gading Kembar yang ada tak berani berkata sepatah kata pun. Apalagi ketika Rekong Rapah menghunus pedang, dan meminta semua murid Perguruan Gading Kembar

sujud di hadapannya dan Sepasang Nuri Biru. Mereka semua menuruti apa yang diperintahkan Rekong Rapah, demi mencari selamat

***
ENAM
Eyang Dirgan Saluyu, Ki Rantasanu dan istrinya, serta Raja Petir dan beberapa orang murid Perguruan Tameng Kencana berkumpul di sebuah ruangan khusus. Mereka tampaknya sedang merundingkan sesuatu yang berkenaan hilangnya beberapa kitab pusaka dari beberapa perguruan yang memang mempunyai hubungan erat.

"Adi Rantasanu," sebut Eyang Dirgan Saluyu memecah kesunyian. "Seorang telik sandiku telah membawa kabar mengenai beralihnya kepemimpinan Perguruan Gading Kembar. Kau kenal Kakang Karsabijaksa, bukan?"

'Tentu," jawab Ki Rantasanu singkat. Alis matanya tampak terangkat.

"Kedudukan Kakang Karsabijaksa sebagai guru pada perguruannya telah digeser wakilnya yang bernama Rekong Rapah," jelas Eyang Dirgan Saluyu.

"Kedengarannya itu hal yang mustahil, Kakang Dirgan Saluyu," bantah Ki Rantasanu. "Kakang Karsabijaksa bukan orang lemah yang dapat ditundukkan sebegitu mudah. Bahkan kita semua yang berkumpul di sini belum tentu dapat menundukkannya. Pasti ada orang lain yang membantu murid murtad itu!"

"Memang ada."

"Siapa?"

"Sepasang Nuri Biru!"

"Sepasang Nuri Biru?" tersedak kerongkongan Ki Rantasanu. "Bukankah Ratnawijati dan pasangannya yang bernama Pulokaliwa sudah terkubur hidup-hidup oleh almarhum Raja Petir?"

Raja Petir yang mendengar penuturan Ki Rantasanu juga terkejut. Orangtua Nyi Selasih (Baca serial Raja Petir, dalam episode "Pembalasan Berdarah") yang memang berjuluk Raja Petir berhasil mengubur hidup-hidup Sepasang Nuri Biru? Tapi kenyataannya...? Temyata Sepasang Nuri Biru kembali hadir di tengah-tengah rimba persilatan dan di tengahtengah alam manusia. Itu berarti Sepasang Nuri Biru bukan lagi manusia!

"Kau benar, Adi Rantasanu. Kita memang sama-sama mendengar kalau Sepasang Nuri Biru telah di kubur hidup-hidup oleh Raja Petir. Dan kita sama-sama tahu kalau Sepasang Nuri Biru tak pernah kembali meramaikan rimba persilatan setelah Raja Petir wafat puluhan tahun lamanya. Tapi sekarang...? Sepasang tokoh golongan hitam itu hadir kembali dan menewaskan Ketua Perguruan Gading Kembar," jelas Eyang Dirgan Saluyu. "Apakah kalian semua dapat mengambil kesimpulan atas kejadian yang beruntun ini?"

Hening sesaat mengisi ruangan Perguruan Tameng Kencana.

"Maaf, Eyang, Ki Rantasanu, dan yang lainnya. Kalau boleh kusimpulkan, Sepasang Nuri Biru kini bukanlah manusia biasa. Mungkin dia adalah jelmaan dari rasa dendam yang sempat terkubur puluhan tahun lamanya. Orang-orang yang memiliki kesaktian tinggi bukan hai mustahil dapat melakukan itu. Dan sesungguhnya dia tidak mati ketika almarhum Raja Petir mengubumya hidup-hidup. 

Tapi, justru membangun sebuah ruangan untuk melatih ilmu-ilmu yang mungkin menurutnya masih belum mantap dikuasainya. Sekarang inilah saatnya Sepasang Nuri Biru ingin menuntaskan dendamnya demi mewujudkan sebuah cita-cita yang pernah terbengkalai, karena campur tangan almarhum Raja Petir," papar Jaka.

Seketika, Eyang Dirgan Saluyu, Ki Rantasanu dan yang lainnya tercengang mendengar kesimpulan yang tugas itu.

"Kesaktian Sepasang Nuri Biru bertambah tinggi setelah berhasil mencuri tiga kitab pusaka. Kita harus berhati-hati menghadapinya. Terlebih, kepada orang-orang perguruan sendiri yang telah terhasut omongan manis Sepasang Nuri Biru. Mereka pasti akan berbuat seperti yang dilakukan Rekong Rapah terhadap Ki Karsabijaksa," lanjut Jaka.

"Maaf, Ki Rantasanu. Dalam hal ini, termasuk juga putri tunggalmu."

"Apa?!"

Ki Rantasanu terkejut mendengar ucapan Raja Petir yang terakhir. Mukanya tampak memerah. Namun bukan disebabkan ketersinggungannya atas ucapan Jaka, tapi karena malu yang disebabkan keterlibatan Suciati, putri kesayangannya.

"Maaf, Raja Petir," selak Ki Rantasanu kemudian.

"Panggil namaku saja, Ki. Jangan julukanku,' pinta Jaka merendah.

"Aku perlu bukti atas ucapanmu yang cukup mengejutkanku, Jaka," sambung Ki Rantasanu sesaat kemudian. "Tentu saja, Ki Rantasanu. Pantang bagiku menuduh seseorang tanpa bukti kuat. Meskipun, bukti itu hanya aku yang tahu. Dan memang, hanya aku yang melihat dengan mata kepala sendiri hubungan langsung putri tunggalmu."

Sejurus Ki Rantasanu tak menimpali ucapan Jaka. Hanya napasnya saja yang ditarik dalam-dalam, untuk menunggu ucapan selanjutnya dari mulut pendekar muda digdaya di depannya.

"Dengan siapa putri tunggalku berhubungan, Jaka?" terlepas juga ketidaksabaran Ki Rantasanu.

"Aku tak kenal lelaki itu, Ki, Tapi ciri-ciri lelaki itu bisa kusebutkan. Usianya sebaya denganku. Kulitnya putih dan rambutnya tergerai sebahu. Ada tanda hitam di dekat mata sebelah kanan. Pakaiannya berwarna biru cerah, dan bersenjatakan sebatang pedang bercagak dua."

"Pulokaliwa!"

Ucapan yang terdengar seperti mendesis itu keluar bersamaan dari bibir Ki Rantasanu dan Eyang Dirgan Saluyu.

"Anakku Suciati," gumam Ki Rantasanu tertunduk dan penuh penyesalan. "Mungkin dia telah terkena ramuan Ratnawijati yang tersohor itu, Kakang Dirgan Saluyu? Sebuah ramuan yang dapat menguasai jalan pikiran seseorang, dan sekaligus membuat orang tak pernah tua. Ah! Pasti putri tunggalku juga yang telah memindahkan Kitab Pusaka Tameng Kencana Ungu dari tempatnya. Karena, hanya dia dan istriku yang tahu tempat penyimpanannya."

"Ki Rantasanu. Aku pernah mempelajari cara membebaskan orang dari pengaruh berbagai macam ramuan. Jika Ki Rantasanu tak berkeberatan, aku ingin mencoba sesuatu yang pernah kupelajari itu. Aku memang belum pernah menerapkannya. Namun, semoga saja aku mampu," tandas Jaka perlahan.

Ki Rantasanu mengangkat kepala. Bola matanya yang barusan terlihat redup, kini sedikit bersinar.

"Lakukanlah yang terbaik untuk anakku, Jaka," kata Ki Rantasanu parau. Seketika itu juga, disuruhnya Nyi Nurimah dan juga tiga orang murid kepercayaannya untuk memanggil Suciati.

Ki Rantasanu tak berkata sepatah pun ketika Nyi Nurimah dan murid kepercayaannya meninggalkan ruangan. Begitu juga Eyang Dirgan Saluyu dan Jaka.

Demikian pula ketika Nyi Nurimah hadir kembali di hadapannya bersama Suciati, Ki Rantasanu masih tak berbicara sebaris kalimat pun. Matanya tampak nanar menatap putri satu-satunya.

"Kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan, Anakku?" tanya Ki Rantasanu sesaat kemudian.

"Apa maksud pertanyaanmu, Ayah?" Suciati balik bertanya.

"Aku tak mengerti, kenapa kau bisa terbujuk kata-kata manis lelaki sesat itu, Suciati."

"Aku semakin tak mengerti ucapan Ayah," kilah Suciati.

"Sudah berapa lama kau menjalin hubungan dengan Pulokaliwa?"

Tak ada jawaban. Suciati seperti tak mendengar pertanyaan ayahnya.

"Katakanlah sejujurnya, Anakku. Ini sematamata demi kebaikanmu, juga demi kebaikan ayah dan ibumu serta seisi perguruan ini," tekan Ki Rantasanu.

Suciati terdiam beberapa saat lamanya. "Katakanlah, Nak!" Nyi Nurimah ikut membujuk

"Aku.... Aku, ah! Aku tak tahu harus mengatakan apa, Ibu. Aku tak ingat apa-apa. Apa yang harus ku katakan?"

"Pengaruh ramuan Ratnawijati sudah terlalu menguasai jalan pikirannya," bisik Eyang Dirgan Saluyu di telinga Jaka.

"Kau telah meminum sesuatu yang disodorkan Nuri Biru?" desak Ki Rantasanu penasaran.

Suciati kembali menggeleng, dengan pandangan kosong.

Ki Rantasanu menolenkan kepalanya kepada

Jaka.

"Lakukanlahmenurutkehendakmu,Jaka," pintanya kemudian.

Jaka tersenyum mendengar permintaan Ki Rantasanu.

"Kuharap, kau tidak terkejut kalau putrimu pingsan beberapa saat," ujar Jaka.

Raja Petir segera menghampiri Suciati yang duduk bersebelahan dengan ibunya. Eyang Dirgan Saluyu dan orang-orang yang berada di ruangan itu menanti dengan hati berdebar.

Beberapa saat, Jaka duduk bersila di depan Suciati. Seketika napasnya ditahan. Wajahnya nampak bersemu merah, ketika tangannya yang terbuka menampakkan sinar kehijauan yang semakin lama semakin kentara kepekatannya. Sementara, tangan kanan Jaka tiba-tiba bergerak keras.

Sesaat kemudian....

Tuk! Tuk! "Aaakh !"

Tanpa disadari Eyang Dirgan Saluyu dan Ki Rantasanu, tangan kanan Jaka yang bergetar hebat secepat kilat menotok dada kiri dan kanan Suciati. Seketika putri Kl Rantasanu itu menjerit keras disertai keluarnya cairan warna hijau kehitaman dari mulutnya.

"Hoeeek...!"

Brkali-kali Suciati memuntahkan cairan warna hijau kehitaman. Wajahnya konran menjadi pucat seperti mayat Matanya yang tiba-tiba terpejam, mengawali ambruknya tubuh Suciati ke pangkuan ibunya. Gadis cantik itu langsung jatuh pingsan.

"Mungkin cairan ini yang diminumkan Ratnawijati pada Suciati. Entah apa yang dijanjikan hingga Suciati bisa dipengaruh begitu," gumam Ki Rantasanu tak habis mengerti.

"Kita tanyakan saja setelah putri tunggalmu itu siuman, Ki Rantasanu," saran Jaka.

Seketika suasana di ruangan itu menjadi hening.

***

Segelas air putih diminumkan Nyi Nurimah ke mulut Suciati. Maka sesaat kemudian, tubuh putri tunggal Ki Rantasanu yang lemas itu kini mampu duduk kembali. Meskipun Nyi Nurimah masih memegangi bahu anaknya.

Ki Rantasanu juga tak segera menanyai putrinya yang baru saja siuman. Sesungguhnya, hatinya masih cemas meski cairan ramuan Ratnawijati telah berhasil dikeluarkan Jaka dari dalam tubuh Suciati.

"Kau bisa menanyai putrimu sekarang, Ki Rantasanu," ujar Jaka beberapa saat kemudian.

"Kita tak punya banyak waktu."

Ki Rantasanu memandangi wajah putri tunggalnya lekat-lekat.

"Bagaimana perasaanmu, Suciati?" tanya Ki Rantasanu sejurus kemudian.

"Kepalaku tak lagi berat, Ayah. Dan pikiranku rasanya kembali jernih," jawab Suciati.

Nyi Nurimah nampak tersenyum mendengar jawaban putrinya.

"Syukurlah," Ki Rantasanu memegang bahu Suciati. "Sekarang, ceritakanlah apa yang telah kau alami selama ini," pinta Ki Rantasanu kemudian.

"Aku tak ingat lagi kejadian-kejadian itu, Ayah. Yang kuingat, tiba-tiba saja aku jatuh cinta pada lelaki berwajah tampan yang mengaku bernama Pulokaliwa. Lelaki itu pula yang memberiku minuman yang dikatakannya minuman abadi. Aku langsung tak sadarkan diri beberapa saat setelah meneguk cairan berwarna agak kehijauan itu. Aku juga tak tahu, apa yang telah dilakukan lelaki itu pada diriku. Ah! Maafkan aku, Ayah," Suciati menjatuhkan diri ke pelukan ibunya.

Sesaat suasana terasa haru.

"Kita lupakan untuk sementara kejadian yang menimpa putrimu, Rantasanu," tegur Eyang Dirgan Saluyu. "Yang penting kita harus memikirkan untuk mencari jalan keluar dalam menghadapi iblis seperti Sepasang Nuri Biru."

"Ya," desah Ki Rantasanu.

"Kita harus mampu mengubur dua kali tokoh sesat itu. Setidaknya agar mereka tak lagi mampu mereguk napas dunia."

"Kejadian yang menimpa Kakang Karsabijaksa lambat laun akan terjadi pada kita. Menurutku, ada baiknya jika kita semua, terutama Kakang Dirgan Saluyu dan Jaka, terus mengadakan hubungan untuk menjaga kemungkinan atas kemunculan Sepasang Nuri Biru secara tiba-tiba," tambah Nyi Nurimah.

"Hal semacam itu memang perlu, Nyi," timpal Eyang Dirgan Saluyu. "Kita memang harus saling bahu-membahu dalam menghadapi Sepasang Nuri Biru.

Kita memang belum tahu sampai sejauh mana kekuatannya. Namun yang jelas kekuatannya jauh di atas kita."

"Menurutmu bagaimana, Jaka?" sodor Ki Rantasanu pada Raja Petir.

"Menurutku, tindakan pertama adalah membenahi keadaan lingkungan perguruan masingmasing. Barangkali saja, di antara murid-murid Perguruan Tameng Kencana atau Perguruan Kamboja Merah masih ada yang bersekutu dengan tokoh sesat itu. Dan tentu mereka itu merupakan duri dalam daging yang harus segera dilenyapkan," ujar Jaka gamblang. "Demikian pula orang-orang yang diasuh Eyang Dirgan Saluyu. Terutama, Prabaya dan Sutriwa."

Eyang Dirgan Saluyu tersentak kerika nama Prabaya disebut Jaka.

"Aku juga pernah mendengar percakapan Sutriwa dan Prabaya di belakang Perguruan Kamboja Merah, dua hari lalu," tandas Jaka, meningkahi keterkejutan Eyang Dirgan Saluyu.

"Apa yang dikatakan Prabaya dan Sutriwa, Jaka?"

"Malam bulan purnama nanti mereka akan melakukan hal yang sama dengan Rekong Rapah," jelas Jaka.,

Seperti ada ribuan lebah yang menyengat seketika. Wajah Eyang Dirgan Saluyu kontan merah padam. Tubuhnya bergetar hebat dan giginya bergemeretak menandakan kemarahannya yang meluap. "Murid kualat!" geram Eyang Dirgan Saluyu. “Apakah kedua muridku itu akan melaksanakan niat-nya bersama Sepasang Nuri Biru?"

"Ya," sahut Jaka, tegas.

Eyang Dirgan Saluyu menarik napas berat Sesungguhnya, dia bukannya takut menghadapi Sepasang Nuri Biru. Bahkan menghadapi maut sekalipun. Akan tetapi, Eyang Dirgan Saluyu ngeri memikirkan nasib dunia persilatan, dan nasib manusia-manusia lain jika sepak terjang Sepasang Nuri Biru tak mampu dibendung.

"Malam bulan purnama tinggal tiga kali matahari terbit," ujar Ki Rantasanu datar. "Kita harus menyingkirkan terlebih dahulu Prabaya dan Sutriwa."

"Bagaimana, Kakang Dirgan Saluyu?" tanya Ki Rantasanu lagi meminta kepastian.

Eyang Dirgan Saluyu tak segera menjawab. Dahinya nampak berkerut, seperti mencari pemecahan yang terbaik.

"Mengenai Prabaya dari Sutriwa biar aku yang urus. Akan kuusahakan agar tak terjadi kekerasan. Apalagi, sampai terjadi pertarungan. Syukur-syukur kedua muridku yang mungkin sedang di bawah pengaruh Sepasang Nuri Biru menyadari kekeliruannya. Termasuk, mengaku kalau telah mencuri Kitab Pusaka Mustika Bunga Kamboja. Itu, kalau memang mereka yang melakukannya."

"Seandainya mereka berdalih atas tuduhan itu, dan mereka terang-terangan melancarkan serangan terlebih dahulu?" Nyi Nurimah memberi dugaan.

"Kalau mereka berkeras, aku akan lebih keras mengambil tindakan," tegas Eyang Dirgan Saluyu.

'Tetapi kau harus hati-hari, Kakang Dirgan Saluyu," ujar Nyi Nurimah khawatir. 'Tentu saja. Hari-hariku sekarang ini penuh kewaspadaan, Nyi," tanggap Eyang Dirgan Saluyu. "Namun, tenaga kalian tetap kubutuhkan jika Sepasang Nuri Biru turun tangan."

"Itu sudah pasti, Kakang Dirgan Saluyu," selak Ki Rantasanu.

"Kita harus bersama-sama menyingkirkan Sepasang Nuri Biru. Dan kita harus berhasil!"

***

Pagi nampak begitu cerah. Kehangatan sinar matahari yang masih malu-malu mengintip, ditingkahi kicau burung-burung kecil yang berlompatan dari ranting ke ranting lain, dan ikut menyemaraki pagi ini, Namun, kecerahan pagi ini tidak dirasakan

Eyang Dirgan Saluyu yang menanti kedatangan Prabaya dan Sutriwa di balai utama perguruan. Lelaki berusia tujuh puluh lima tahun dan berpakaian merah darah itu tampak tengah gelisah menanti dua murid utamanya yang sudah jelas berkhianat. Bahkan akan melakukan pembunuhan terhadap dirinya, dan telah mencuri kitab pusaka milik perguruannya sendiri. Sebentar-sebentar Eyang Dirgan Saluyu meraba sebilah keris yang terselip di pinggangnya.

Ketika Prabaya dan Sutriwa datang  menghadap, Eyang Dirgan Saluyu menyambutnya dengan kewajaran sebagaimana seorang guru terhadap murid.

"Duduklah, Prabaya, Sutriwa," pinta Eyang Dirgan Saluyu dengan raut wajah dibuat seramah.

Prabaya dan Sutriwa duduk, lalu berhadaphadapan dengan Eyang Dirgan Saluyu,

"Adakah tugas yang akan Eyang berikan pada kami?" tanya Raksaprabaya tenang.

"Tidak ada tugas yang harus kalian kerjakan. Aku hanya ingin kalian menjawab beberapa pertanyaan ku," sahut Eyang Dirgan Saluyu.

"Mengenai apa, Eyang," Sutriwa ingin tahu. "Kitab Pusaka Mustika Bunga Kamboja."

Prabaya dan Sutriwa tersentak. Tapi mereka mencoba menutupi keterkejutannya.

"Apakah Eyang sudah mengetahui pencuri kitab itu?" tanya Prabaya, berusaha menutupi keterkejutannya.

"Justru aku yang akan melempar pertanyaan itu," jawab Eyang Dirgan Saluyu. "Apakah penyelidikan kalian sudah membuahkan hasil?"

"Belum, Eyang," jawab Sutriwa.

Eyang Dirgan Saluyu mengangguk-angguk mendengar ucapan Sutriwa yang mencurigakan.

"Prabaya, dan kau Sutriwa. Keberadaan manusia di dunia yang fana ini tak akan ada yang mendapatkan kesempurnaan, baik lahir maupun batin. Manusia yang bernyawa pasti akan mengalami kekurangan-kekurangan yang beraneka macam. Baik jasmani maupun rohani. Manusia juga tak akan luput dari kekhilafan atau ketidaksengajaan. Dan dua hal itu bisa ditimbulkan oleh diri manusia itu sendiri, juga akibat pengaruh manusia lain. Nilai kekhilafan itu akan menjadi ringan jika manusia yang melakukannya sudi menyadari dan mengakuinya secara jujur," tutur Eyang Dirgan Saluyu.

Laki-laki tua itu menghentikan ucapannya beberapa saat. Mata tuanya yang masih nampak cemerlang, mengamati setiap perubahan pada wajah Prabaya dan Sutriwa.

"Dan sekarang, aku ingin memaklumi dan memaafkan segala kekhilafan itu jika kalian juga ingin mengangkat hakikat kejujuran tinggi-tinggi," lanjut Eyang Dirgan Saluyu.

"Aku tak mengerti, ke mana arah pembicaraan Eyang," sedikit keras ucapan Prabaya.

"Sudah kujelaskan, harga sebuah kejujuran itu lebih tinggi dari lempengan emas sekalipun, Prabaya," tekan Eyang Dirgan Saluyu.

Prabaya dan Sutriwa saling berpandangan. "Apakah Eyang mencurigai kami atas hilangnya

Kitab Pusaka Mustika Bunga Kamboja?" tanya Prabaya, gusar. Hatinya malah jadi tegang.

"Tak baik mencurigai seseorang tanpa ada bukti yang kuat, Prabaya," sangkal Eyang Dirgan Saluyu.

'Tapi, apa makna pertanyaan Eyang kalau bukan itu?" Sutriwa mulai menampakkan sikap aslinya.

"Itu terserah, bagaimana tanggapan kalian atas pertanyaanku. Dan aku tidak senang kalau di dalam perguruan ini terjadi sebuah pengkhianatan. Sekarang, kembali kulempar pertanyaan pada kalian. Apakah kalian punya hubungan dengan Sepasang Nuri Biru?"

Prabaya dan Sutriwa tak mampu lagi menyembunyikan keterkejutannya.

"Kalau ya, apakah Eyang akan menghukum kami?" tandas Prabaya sesaat kemudian.

"Dihukum atau tidak, itu bukanlah suatu jalan keluar dalam menangani suatu persoalan. Di sini, yang terpenting adalah bagaimana seseorang menyadari kekeliruannya dan bertekad untuk tidak mengulangi kembali. Aku ingin, kalian berbuat sesuai kedudukan kalian sebagai seorang pendekar."

"Eyang! Setiap orang mempunyai cita-cita yang hanya dapat terwujud jika tidak setengah-setengah dalam menjalani rencana yang telah tersusun rapi. Seperti cita-citaku yang ingin menjadi pemimpin dalam perguruan ini. Aku tak ingin cita-citaku terbengkalai di tengah jalan. Untuk itu, aku memutuskan untuk berhubungan dengan pihak lain yang terang-terangan bersedia membantuku," tegas Prabaya.

'Termasuk berhubungan dengan tokoh sesat seperti Sepasang Nuri Biru?" selak Eyang Dirgan Saluyu.

"Ya! Termasuk Sepasang Nuri Biru yang hanya meminta imbalan Kitab Pusaka Mustika Bunga Kamboja."

"Murid bodoh!" Plak!

Eyang Dirgan Saluyu begitu cepat melayangkan tamparan keras ke pipi Prabaya. Untung saja, tamparan itu tidak disertai pengerahan tenaga dalam. Sehingga, tubuh Prabaya tidak sampai terjengkang.

"Kau tahu, tanpa Kitab Pusaka Mustika Bunga Kamboja, kau tak akan menjadi pemimpin yang baik bagi Perguruan Kamboja Merah. Bahkan perguruan yang kau pimpin tak akan bertahan lama. Sesaat saja kau menjadi pemimpin, maka di lain saat sepasang iblis yang berjuluk Sepasang Nuri Biru itu akan mendepakmu ke neraka!"

"Itu urusanku!" hardik Prabaya seraya bangkit berdiri dan menghunus keris bergagang ukiran bunga kamboja.

"Sutriwa! Kita habisi nyawa tua bangka ini sekarang juga. Lebih cepat, lebih baik. Sepasang Nuri Biru akan senang kalau kita mendahuluinya."

Sutriwa juga tampak telah menghunus senjatanya. "Prabaya, Sutriwa! Sesungguhnya, aku tak menginginkan hal ini terjadi. Yang kuinginkan, kembalilah ke sosok kalian yang asli. Sosok yang tidak terpengaruh pihak lain," ujar Eyang Dirgan Saluyu.

"Persetan dengan semua itu, Dirgan Saluyu!" bentak Prabaya tegas. Bahkan sudah tak memandang kalau laki-laki tua di hadapan mereka adalah guru yang mesti dihormati. "Pantang bagiku menjilat ludah yang sudah jatuh ke tanah! Bagaimanapun juga, aku harus menyingkirkan jabatanmu dari Ketua Perguruan Kamboja Merah!"

Seketika merah padam wajah Eyang Dirgan Saluyu mendengar ucapan muridnya yang sudah salah jalan. Namun, dia masih berusaha berslkap welas asih.

"Bersiaplah, Dirgan Saluyu! Hiyaaa...!" 

"Heaaa...!"

Sosok tubuh Prabaya dan Sutriwa bersamaan menerjang Eyang Dirgan Saluyu dengan senjata. Tusukan dan babatan keris kedua murid sesat itu ditujukan ke bagian tubuh Eyang Dirgan Saluyu yang mematikan.

Eyang Dirgan Saluyu dengan tenang menghadapi serangan-serangan kedua muridnya. Gerakannya ringan dan cepat saat berkelit ke kiri dan kanan. Beberapa kali Eyang Dirgan Saluyu memiringkan tubuhnya, dan beberapa kali pula harus melompat ke udara.

Sebetulnya, Eyang Dirgan Saluyu bisa saja menurunkan tangan besinya. Namun, hatinya masih berharap akan kesadaran mereka.

"Seharusnya kalian sadar dengan apa yang telah kalian lakukan. Ini sebuah kekeliruan yang memprihatinkan!" kata Eyang Dirgan Saluyu keras sambil berusaha menghindari tebasan senjata Sutriwa. Beberapa orang murid Perguruan Kamboja Merah berdatangan ketika mendengar keributan di ruangan gurunya. Mereka terkejut setengah mati menyaksikan perbuatan dua orang kakak seperguruan mereka, Prabaya dan Sutriwa.

"Edan!"-

Salah seorang murid menggeram marah. Beberapa orang malah ingin menyerbu Prabaya dan Sutriwa, namun Eyang Dirgan Saluyu keburu mencegah.

"Kalian semua pergilah! Ini urusanku," ujar Eyang Dirgan Saluyu keras.

Sesungguhnya, lelaki tua berpakaian merah itu tak menginginkan kalau salah seorang muridnya menjadi korban.

"Sekali lagi kuperingatkan kalian berdua! Berpalinglah dari pengaruh Sepasang Nuri Biru!" sentak Eyang Dirgan Saluyu.

Pada saat itu keris Sutriwa membabat cepat ke arah jantung Eyang Dirgan Saluyu. Namun dengan gerakan cepat, laki-laki tua itu memapaknya.

Plak! "Aaakh...!"

Tubuh Sutriwa seketika terpental dua langkah ke belakang. Tangannya yang terhantam papakan Eyang Dirgan Saluyu terasa bergetar hebat. Padahal, papakan itu hanya dibarengi tenaga dalam yang tidak seberapa. Namun akibatnya? Sutriwa tak mampu melanjutkan pertarungan Untuk beberapa saat.

"Aku masih memberimu kesempatan, Prabaya!" ulang Eyang Dirgan Saluyu.

"Puaskan khotbahmu, Tua Bangka! Sebentar lagi kau akan mampus! Hiaaa...!"

Srat! Srat!

"Hiaaa...!"

"Uts! Heh?!"

Eyang Dirgan Saluyu terhenyak menyaksikan kecepatan gerakan aneh Prabaya. Begitu cepat sambaran keris itu, hingga Guru Besar Perguruan Kamboja Merah itu tak dpat menghindari serangan yang datang mendadak. Tapi, untungnya keris Prabaya hanya dapat merobek pakaiannya. Kini, Eyang Dirgan Saluyu tak habis pikir dengan gerakan Prabaya yang tak pernah diajarinya itu.

"Ha ha ha...! Kau kaget, Dirgan Saluyu?!" ejak Prabaya seraya menudingkan keris yang dipegangnya. "Itu baru jubahmu yang koyak terkena jurus 'Paruh Nuri Pemangsa Ulat'. Dan sebentar lagi, pasti kulitmu akan lumat dengan jurus 'Sepasang Nuri Memadu Kasih'. Bersiaplah menyambut kedatangan ajalmu, Dirgan Saluyu!"

"Kau betul-betul sudah menjelma menjadi orang sesat, Prabaya! Majulah aku tak akan sungkansungkan meladeni semua jurus-jurus iblismu!"

"Haiiit...!" 

"Heaaa!"

Prabaya kembali memutar-mutar keris yang bergagang ukiran bunga kamboja. Gerakan-gerakan aneh itu dilakukan Prabaya dengan cepat, hingga senjatanya nampak hanya kelebatan bayangan hitam saja.

Eyang Dirgan Saluyu memang tak mau gegabah menghadapi serangan Prabaya yang setiap saat bisa cepat berubah. Mata tuanya yang cemerlang dan telinganya yang tajam, dipusatkan untuk membaca serangan yang datang dari depan dan belakang.

Sementara, sosok Prabaya nampak menjadi dua ketika memainkan jurus 'Sepasang Nuri Memadu Kasih'.

Namun berkat pengalaman yang matang dalam rimba persilatan, Eyang Dirgan Saluyu mampu membaca setiap serangan yang datang. Dan ketika serangan Prabaya datang dari arah belakang, Sutriwa juga merangsek dari arah depan. Dia memang telah mampu untuk bertarung kembali. Malah gerakannya begitu cepat, tak kalah dengan serangan Prabaya. Tetapi kelenturan tubuh Eyang Dirgan Saluyu memang patut mendapat pujian.

Sebelum serangan kedua lawannya tiba mengoyak kulit, Eyang Dirgan Saluyu sudah merebahkan diri ke lantai rumah. Hingga....

Crat. !

"Akh!"

Sambaran keris yang dilakukan Prabaya ternyata menggores kuat ke tubuh Sutriwa. Maka seketika itu juga Sutriwa mengeluh pendek. Dan bersamaan dengan itu pula, keris Eyang Dirgan Saluyu menyayat pangkal paha Prabaya yang masih terperangah oleh serangannya yang salah sasaran.

"Akh!"

Prabaya memekik tertahan. Tubuhnya seketika limbung beberapa langkah. Namun tangan kanannya menekap luka memanjang pada pangkal pahanya. Darah nampak merembes darI sela-sela jarinya.

"Prabaya! Sebagai orang yang pernah mendidikmu bertahun-tahun, aku kenal betul watak aslimu. Kau tak memiliki sifat beringas seperti itu. Kau telah terpengaruh iblis itu, Prabaya. Namun begitu, kesempatanmu untuk kembali sadar masih kuharapkan Aku akan memaafkan kekhilafanmu," begitu bijaksananya ucapan yang keluar dari mulut Ketua Perguruan Kamboja Merah itu. "Sudah kukatakan, aku pantang menjilat ludah yang sudah jatuh ke tanah, Dirgan Saluyu! Lagi pula, aku masih mampu menghadapimu. Majulah!"

Eyang Dirgan Saluyu tak menimpali ucapan Prabaya.

"Majulah, Tua Bangka!" teriak Prabaya geram.

Seiring teriakannya, dari balik pakaian Prabaya yang tersibak meluncur dua buah senjata rahasia berwarna biru, berbentuk sehelai bulu burung. Angin mendesing yang menimbulkan hawa panas mengiringi tibanya serangan gelap itu.

Eyang Dirgan Saluyu yang memang selalu menajamkan pendengaran dan matanya cepat dapat menangkap kelebatan senjata rahasia Prabaya. Dari suara desingnya bisa ditebak kalau lesatan senjata itu disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

Dengan gerakan yang cukup cepat, Eyang Dirgan Saluyu memutar-mutar kerisnya.

Trang! Trang!

Senjata rahasia berbentuk sehelai bulu burung itu seketika terpental jatuh terhantam keris Eyang Dirgan Saluyu. Namun laki-laki tua itu kaget mendengar tawa Prabaya yang menggelegar.

"Ha ha ha.... Tua Bangka Dungu! Makanlah racun ganas yang menempel di lempengan kerismu yang tak bermanfaat itu. Ha ha ha.... Racun ganas itu sekejap mata akan bekerja mengisi seluruh aliran darahmu. Dan tak lama kemudian, kau akan mati membeku, Dirgan Saluyu!" kata Prabaya lantang.

Eyang Dirgan Saluyu mengembangkan senyumnya mendengar ucapan Prabaya.

“Prabaya! Aku bukan anak kemarin sore yang mudah dikibuli. Kalau senjata beracun itu ditangkis dengan keris yang kau pegang, maka bukan mustahil kau akan mati membeku. Tapi, tidak demikian halnya dengan keris yang berada di tanganku. Gagang kerisku dapat melunturkan berbagai jenis racun yang mematikan sekalipun. Termasuk, racun biru buatan iblis Ratnawijati!" sentak Eyang Dirgan Saluyu.

"Sekarang sambutiah ajalmu, Murid Sesat! Hih...!"

Eyang Dirgan Saluyu melepas senjatanya berupa sebuah keris yang gagangnya berukir sekuntum bunga kamboja. Lemparan yang dilakukan Eyang Dirgan Saluyu tak tanggung-tanggung, karena seluruh tenaga dalamnya dikerahkan.

Singngng...!"

Keris bergagang ukiran sekuntum bunga kamboja itu meluncur dengan kecepatan tinggi. Prabaya nampak gugup. Bahkan matanya sampai terbeliak lebar menanti maut. Dan sesaat kemudian....

Blesss!

Senjata andalan Eyang Dirgan Saluyu amblas ke perut Prabaya sampai gagangnya!

Mata Prabaya melotot merasakan sakitnya senjata Eyang Dirgan Saluyu yang menikam jantung. Sesaat saja, Prabaya menggeliat merasakan sakit yang teramat sangat. Namun pada saat berikutnya, tubuhnya tak lagi bergerak. Seluruh permukaan kulitnya membiru. Uap warna putih tampak mengepul dari tubuh yang sudah tak bemyawa itu.

***
TUJUH
Sosok bayangan putih tampak melesat cepat, saat matahari baru sedikit menampakkan sinarnya. Dari gerakannya yang ringan, bisa dipastikan kalau bayangan itu milik orang yang berkepandaian tinggi. Dia terus berkelebat menuju Hutan Lindakhulu.

Sementara itu tak jauh di belakang bayangan putih tadi, sosok lain juga berkelebat tak kalah cepat. Seolah-olah ia ingin mengejar sosok putih di depannya. Begitu sosok bayangan putih di depannya berhenti dimulut Hutan Lindakhulu, dia juga berhenti. Jarak mereka kini antara lima belas batang tombak.

Sosok bayangan putih itu sejenak mengedarkan pandangannya. Bola matanya yang kelihatan membara, seolah-olah ingin menelanjangi seisi Hutan Lindakhulu. Melihat ciri-cirinya, ternyata bayangan putih itu tak lain dari Suciati, putri tunggal Ketua Perguruan Tameng Kencana. 

Gadis berpakaian longgar warna putih itu seketika menggeretakkan giginya. Tangannya yang meraba-raba gagang pedang, mengisyaratkan kalau dirinya tengah dilanda amarah yang teramat sangat. Sementara sosok lain yang mengikutinya belum berbuat apa-apa. Dia ingin tahu, apa yang akan diperbuat putri tunggal Ki Rantasanu itu.

"Pulokaliwaaa...!"

Tiba-tiba Suciati berteriak memanggil. Teriakannya dikerahkan dengan pengerahan tenaga dalam penuh, sehingga terdengar  menggelegar. Bahkan membuat daun-daun yang meranggas seketika berguguran, berpisah dengan rantingnya.

"Iblis terkutuk! Keluarlah kau! Kau harus mampus di tanganku sekarang!"

Tak ada sahutan. Padahal, suara gadis cantik berpakaian longgar warna putih itu menggema ke pelosok hutan.

"Pulokaliwa! Aku putri Ketua Perguruan Tameng Kencana ingin mengadu nyawa denganmu! Keluarlah, Iblis Sesat!"

"Ada apa gadis cantik putri Rantasanu?"

Sebuah suara tanpa wujud seketika terdengar jelas di telinga Suciati. Pertanyaan itu pun terdengar sosok lain yang membuntuti.

"Keluarlah, Pulokaliwa! Jangan bisanya hanya bersembunyi di balik ketiak Ratnawijati!" teriak Suciati lebih lantang.

Sekelebatan bayangan biru seketika tampak. Dan tahu-tahu, sejauh tiga batang tombak dari hadapan Suciati sudah berdiri sosok lelaki tampan.

"Ada apa, Gadis Manis! Tak biasanya kau datang dengan berteriak-teriak seperti itu. Sarungkan pedangmu,  dan  bicaralah  baik-baik.  Atau,  kau  ingin "

"Tutup mulut busukmu, Iblis! Aku tak butuh khangatanmu! Aku kemari hendak mengambil Kitab Pusaka Tameng Kencana Ungu milik orangtuaku. Cepat serahkan! Atau, pedangku ini akan memisahkan kepalamu!"

"Aku tak mengerti dengan kelakuanmu, Suciati. Bukankah kitab pusaka itu kau sendiri yang memberikan padaku dan Nini Ratnawijati? Sekarang, kenapa diminta kembali?" tenang ucapan lelaki berpakaian biru terang dengan senjata sebatang pedang tersampir di punggung. Siapa lagi orang itu kalau bukan Pulokaliwa.

"Itu karena kalian telah meracuniku dengan ramuan keparat! Kalian telah memperdayai diriku untuk menjadi pengkhianat. Dan sekarang, aku tak sudi mengkhianati orangtuaku sendiri. Maka, sekarang juga serahkan kitab itu padaku. Jangan sampai kesabaranku habis, Pulokaliwa!"

"Baik! Aku akan mengembalikan kitab pusaka milik orangtuamu, tapi dengan satu syarat," pinta Pulokaliwa.

"Apa?!"

"Lenyapkan dulu nyawa Rantasanu, baru kuserahkan kembali kitab pusaka miliknya padamu."

"Iblis sesat! Heaaa...!"

Suciati seketika menggenjot tubuhnya untuk menerjang lelaki berpakaian biru terang yang masih bersikap tenang. Pedangnya berkelebat cepat, mengarah ke bagian tubuh Pulokaliwa yang mematikan.

Tapi tanpa menggeser pijakan kakinya, Pulokaliwa yang merupakan salah seorang dari Sepasang Nuri Biru, sanggup menghindari tebasantebasan pedang yang dilakukan Suciati. Dia hanya memiringkan atau membawa turun tubuhnya sedikit, maka tebasan itu hanya menyambar angin kosong.

Bahkan ketika Pulokaliwa merasakan serangan yang dilancarkan Suciati bukanlah serangan mainmain, seketika itu juga sodokan tangannya yang keras digunakan untuk menahan laju serangan lawan.

"Heaaa...!" Dugkh! "Akh...!"

Suciati terhuyung tiga langkah ke belakang, ketika kepalan tangan Pulokaliwa mendarat telak di perutnya. Seketika itu juga Suciati merasakan mual. Isi perutnya serasa ingin keluar. "Uhk... uhk...!"

Sesaat Suciati terbatuk. Dan sesaat kemudian, dari dalam mulutnya keluar cairan kental.

"Keparat kau, Pulokaliwa! Kubunuh kau!"

Tanpa memikirkan keadaannya, Suciati kembali menerjang Pulokaliwa yang nampak malah tersenyum -senyum mengejek.

“Tahan, Suciati!" bentak Pulokaliwa. "Kau tidak akan mampu menggores sedikit pun kulit luarku. Apalagi membunuhku. Kau bukan lawanku, Suciati. Kecuali di "

"Jangan teruskan mulut kotormu, Pulokaliwa!" Putri tunggal Ki Rantasanu itu kembali meneruskan serangannya yang tertahan beberapa saat. Namun kini kelebatan pedangnya seperti tak beraturan, dan tak menentu arahnya.

Pulokaliwa tersenyum saja menyaksikan gadis cantik yang menyerangnya secara membabi buta. Padahal, seandainya saja Suciati menyerang dengan luapan amarah yang bisa diatur, maka serangan-serangannya amat berbahaya. Tapi menyaksikan serangan gadis itu sekarang ini, Pulokaliwa hanya memandang sebelah mata.

Dan pada suatu kesempatan, kelebatan pedang Suciati yang ngawur segera dimanfaatkan Pulokaliwa. Tubuhnya merendah hingga sebatas pinggang lawan. Dan dengan gerakan cepat, Pulokaliwa menekuk tangannya, sehingga sikutnya mengarah ke selangkangan. Lalu....

"Kau sembrono, Suciati. Hih!" Digkh!

"Akh!"

Kembali tubuh Suciati terjajar tiga langkah ke belakang. Tulang selangkangannya seperti akan lepas ketika sikut Pulokaliwa mendarat cukup telak di sasaran.

"Sudah kukatakan, Suciati. Kau hanya pantas melayaniku di pembaringan," ejek Pulokaliwa.

"Kakek tak tahu diri!" hardik Suciati sengit. "Gadis edan! Berani betul kau menyebutku

kakek?!" dengus Pulokaliwa geram. Matanya yang membara menatap lekat-lekat wajah Suciati. "Kau harus membayar dengan nyawa atas ucapanmu yang tak enak di telingaku tadi!"

"Kau memang seorang kakek, Pulokaliwa. Kau layaknya mampus puluhan tahun silam! Hanya karena ilmu setanlah kau dapat menikmati kembali napas dunia sebagai seorang pemuda tampan yang tak tahu diri!" ketus suara Suciati.

"Keparat!"

Pulokaliwa dengan wajah berang, tak terbendung lagi menerjang Suciati yang masih merasakan kelinuan pada selangkangannya.

Disertai teriakan keras, tubuh tinggi tegap berpakaian biru terang itu melesat cepat bagai anak panah terlepas dari busur. Sedangkan Suciati hanya terpana sesaat menyaksikan gerakan Pulokaliwa yang begitu cepat.

Tentu saja Suciati ingin menghindari terjangan Pulokaliwa yang tanpa senjata. Tapi rasa nyeri pada selangkangannya tak dapat menunjang kelincahan geraknya.

'Tak ada jalan lain," kata batin Suciati sambil melepas pedang dengan sisa kekuatannya.

Singngng...!

Pedang yang dilempar Suciati mendesing cepat ke arah tubuh Pulokaliwa. Maka seketika itu juga Pulokaliwa terkejut menyaksikan apa yang telah dilakukan gadis cantik itu. Gerakannya yang semula tertuju pada tubuh Suciati, terpaksa diurungkan. Cepatcepat tubuhnya dilempar ke samping kanan, kemudian berjumpalitan.

Sementara itu sosok lain yang tengah menyaksikan pertarungan antara Suciati melawan salah seorang dari tokoh Sepasang Nuri Biru segera memanfaatkan kesempatan yang hanya sedikit. Dia seketika melejit cepat, menyambar tubuh Suciati yang tak menyadari kehadirannya.

"Akh!"

Suciati sendiri tersentak kaget ketika tubuhnya dipondong paksa oleh seseorang. Tetapi ketika mendengar suara orang telah menyelamatkannya dari cengkeraman maut, dia pun pasrah saja.

Sementara itu, bayangan tadi terus melesat cepat sambil membawa tubuh Suciati.

***

"Kau terlalu ceroboh, Suciati. Tindakanmu tak memakai perhitungan matang," kata sosok yang ternyata Jaka, si Raja Petir. Tubuh Suciati diturunkan setelah dirasa keadaan telah aman.

"Aku mendendam sekali pada lelaki itu, Raja Petir," kilah Suciati. "Lelaki itu telah berhasil menjebakku dengan ketampanannya. Aku tidak tahu lagi, apakah aku masih pantas disebut seorang gadis. Ah! Aku..., aku malu sekali pada ayah, pada ibu, dan pada orang-orang di perguruan. Terutama "

Suciati langsung memeluk dan menjatuhkan kepalanya di dada bidang Jaka. Putri tunggal Ki Rantasanu itu menangis sesenggukan. Bahunya sampai berguncang-guncang untuk menahan isaknya. "Aku harus membunuh lelaki jahanam itu, Raja

Petir. Aku harus menebus kesalahanku dengan membunuhnya!" tekad Suciati sambil mengangkat kepalanya. Serta merta, matanya menatap tajam wajah lelaki tampan berpakaian kuning keemasan.

"Jika kau ingin menebus kesalahan dengan cara seperti itu, kurasa ayahmu tak akan pernah membenarkan," saran Jaka, lembut.

"Sekarang, kembalilah ke perguruan. Aku akan kembali menemui Pulokaliwa yang tengah sendirian. Ini kesempatan baik, Suciati. Jika lelaki itu berpasangan dengan Ratnawijati, maka kesempatanku untuk menaklukkan mereka akan lebih sukar. Tapi, tidak jika Pulokaliwa seorang diri."

"Aku ikut!" pinta Suciati.

"Maaf, Suciati. Aku bukannya meremehkan kemampuanmu. Tapi aku merasa akan lebih leluasa menghadapi Pulokaliwa yang kemampuan ilmu silatnya tidak bisa dianggap enteng. Kau bisa mengerti, kan? Dan ini kesempatanmu untuk menebus kesalahan jika kau bersedia menuruti permintaanku," ujar Jaka.

Tak ada jawaban yang keluar dari bibir tipis milik putri tunggal Ki Rantasanu itu. Dia hanya mampu mengerjap-ngerjapkan mata untuk membalas permintaan Jaka.

"Kau akan melakukannya untuk menebus kesalahanmu, bukan?" tandas Jaka sesaat kemudian.

Gadis cantik berpakaian longgar warna putih itu menundUkkan kepalanya.

"Terima kasih, Raja Petir," ucap Suciati perlahan. "Aku akan kembali ke perguruan sesuai permintaan mu."

'Terima kasih juga, Suciati. Persetujuanmu akan membuat pekerjaanku lebih mudah. Oh, ya. Aku janji akan membawakan kembali pedangmu yang kau lempar tadi."

Suciati mengangkat kepalanya. Matanya nampak berbinar memandang wajah lelaki tampan di depannya.

"Aku kembali sekarang, Raja Petir. Hih!"

Suciati seketika menggenjot tubuhnya. Gerakannya yang ringan menandakan kalau gadis cantik berpakaian warna putih itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi.

Sementara itu, Jaka memandangi kepergian Suciati dengan dada lapang. Pemuda tampan yang berjuluk Raja Petir itu seketika berbalik dan melesat pergi, begitu tubuh Suciati telah lenyap dari pandangan. Dengan mengerahkan ilmu lari cepat tingkat tinggi, maka sebentar kemudian dirinya sudah tiba kembali ke tempat pertarungan antara Suciati melawan Pulokaliwa.

Jaka menatap Pulokaliwa dari tempat yang tidak jauh. Nampaknya lelaki itu tengah gusar mendapatkan musuhnya telah lenyap begitu cepat. Kepalannya nampak diacung-acungkan ke udara. Bunyi menderu terdengar dari kepalan yang menghantam tempat kosong, karena disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Setan alas'" maki Pulokaliwa geram. "Kalau kalian kudapati, akan kulumat tubuh kalian!"

"Ha ha ha.... Siapa yang akan kau lumat, Pulokaliwa?!"

Pulokaliwa tersentak. Badannya langsung dibalikkan cepat ke arah suara yang datang. Hatinya sedikit bergetar melihat siapa yang berada di hadapannya.

"Raja Petir...?!"

"Kau terkejut, Tua Bangka?!" ejek Jaka.

Raja Petir tahu kemarahan Pulokaliwa akan memuncak bila disebut sebagai orang tua. Dan kemarahannya yang tak terkendali bisa dimanfaatkan sebagai bumerang untuk dirinya sendiri.

Mendengar ucapan Jaka, merah padam seluruh wajah Pulokaliwa.

"Setan belang!” maki Pulokaliwa geram. "Aka kubungkam mulut lancangmu dengan senjataku Hiaaa...!"

***
DELAPAN
Dua buah benda berwama kebiruan melayang cepat dari balik pakaian Pulokaliwa. Angin mendesing mengrringi tibanya luncuran senjata rahasia itu.

Wrrr...!

Jaka sudah bisa membaca senjata lawan yang mengandung racun ganas. Maka segera disiapkannya jurus 'Pukulan Pengacau Arah' yang didapat dari Nyi Selasih, seorang guru yang sekaligus orangtua angkatnya. Dan akibatnya, serangkum angin keluar dari telapak tangan yang terbuka. Cukup deras dan bergulung-gulung bagai pusaran.

Crak! Crak!

Dua buah senjata rahasia yang dilempar Pulokaliwa seketika berpentalan ke dua arah. Pulokaliwa sendiri tercengang menyaksikan pukulan dahsyat yang dilancarkan lawannya, walaupun tak berlangsung lama. Dan tiba-tiba....

"Hiyaaa!"

"Hip!"

Pulokaliwa mengangkat tubuhnya ke atas kuatkuat Begitu cepat gerakannya hingga yang nampak hanya berupa bayangan kebiruan yang menggulung di udara.

Menyaksikan 'Pukulan Pengacau Arah’ yang hanya berhasil mementahkan luncuran senjata rahasia berupa sehelai bulu burung, Jaka merasa maklum. M¬mang, musuhnya kali ini tidak bisa dianggap enteng. Seorang musuh yang puluhan tahun silam pernah dikubur hidup-hidup oleh almarhum Raja Petir, guru Jaka.

"Pukulanmu hebat, Anak Ingusan! Tak  percuma kau terpilih sebagai titisan Raja Petir. Tapi seingatku, Raja Petir tak memiliki pukulan seperti itu!" puji Pulokaliwa ketika kakinya mendarat manis di tanah.

"Terima kasih!" hanya itu yang keluar dari mulut Jaka.

"Namun jangan berbangga hati dulu. Aku belum kalah! Pukulanmu belum mampu mengalahkan kedahsyatan pukulanku!" lanjut Pulokaliwa keras.

" Penitis-mu, si Raja Petir yang sudah mampus itu, sangat memperhitungkan pukulanku. Kau pun harus hati-hati agar tak cepat mampus! Heaaa...!"

Serangkum sinar berwarna hitam keluar dari kibasan tangan Pulokaliwa yang begitu cepat dan mengeluarkan hawa panas begitu menyengat. Sinar kehitaman itu bergerak begitu cepat, mengancam nyawa Raja Petir.

Melihat sinar hitam yang meluncur cepat ke arahnya, Jaka jadi ingin menjajal kehebatan jurus 'Pukulan Pengacau Arah'nya. Dia ingin tahu akibat apa yang akan ditimbulkan akibat benturan kedua pukulan yang sama-sama memiliki pamor yang menggiriskan itu.

"Hih...!"

Serangkum angin keluar kembali dari telapak tangan Jaka yang terbuka. Angin deras bergulung-gulung, bergerak sangat cepat ke arah sinar hitam yang juga tengah meluruk cepat.

Sesaat kemudian....

Glarrr!

Ledakan dahsyat terdengar mengisi penjuru alam yang seketika bergetar hebat dibarengi dua tubuh yang berpentalan ke belakang. Beberapa pohon yang berada di sekitar pertarungan seketika bertumbangan. Suara berderak keras mengiringi rebahnya pohonpohon sebesar pelukan lelaki dewasa.

Sementara, dua sosok tubuh yang terpental ke belakang masing-masing sudah kembali tegak berdiri. Raja Petir nampak tak mengalami apa-apa pada dirinya. Namun, tidak bagi Pulokaliwa yang di antara sela bibimya menitik cairan merah.

"Kurang ajar!" geram Pulokaliwa. "Kau harus mampus di tanganku, Bocah!"

Mata Pulokaliwa seketika memerah saat mengepalkan tangannya yang dialiri seluruh tenaga dalam.

"Ini untukmu, Bocah! Huhhh. !"

Selarik sinar hitam pekat seketika keluar dari kepalan tangan Pulokaliwa. Bentuknya semula sebuah lingkaran sebesar kepalan tangan. Namun lambat laun membesar dan semakin bertambah besar. Bahkan melebihi ukuran tubuh pemiliknya yang tinggi.

Jaka awalnya menganggap sinar itu hanya sebuah tipu muslihat. Tapi setelah menyaksikan perubahan yang sedemikian cepat, segera dibuang anggapannya yang keliru itu. Lalu, tubuhnya segera melenting cepat, menghindari lingkaran hitam besar yang aneh. Bahkan juga menebarkan hawa cukup aneh.

"Hip!"

Bukan main terkejutnya Jaka menyaksikan sinar hitam itu mampu mengimbangi tubuhnya yang tengah melenting jauh di udara.

"Ilmu aneh," kata baion Jaka, tak habis pikir. "Aku harus mengimbanginya dengan aji 'Bayangbayang'. Semoga saja, ilmu aneh itu bisa terkecoh. Aji 'Bayang-bayang'...!"

Tubuh Jaka yang semula cuma berwujud satu, kini berubah menjadi enam. Dan ternyata apa yang. diharapkannya menjadi kenyataan. Sinar hitam pekat yang membentuk sebuah lingkaran besar mengejar salah satu bayangannya yang berlarian di balik pohonpohon besar.

Sinar hitam yang aneh itu terus merangsek, mengejar bayangan tubuh Jaka di balik sebatang pohon besar. Dan akibatnya....

Sinar hitam yang melingkar besar itu membungkus sebatang pohon besar. Dan ketika segulungan sinar aneh itu lenyap, pohon besar itu hangus mengering. Perlahan, serpihan batang pohon itu luruh terhembus angin.

Jaka mendesah berat menyaksikan kedahsyatan ilmu ciptaan Pulokaliwa. Namun sebaliknya, Pulokaliwa juga sempat menarik napas sewaktu menyaksikan kejelian Raja Petir.

"Kau memang hebat, Bocah! Aku tak akan lama bermain-main denganmu! Terimalah ilmu 'Jubah Hitam Nuri Biru' sebagai penyongsong kematianmu." Pulokaliwa merapatkan kedua telapak tangannya. Matanya nampak setengah terpejam. Sedangkan bibirnya komat-kamit seperti sedang membaca sebuah mantera.

Sesaat lamanya Pulokaliwa melakukan hal itu. Namun pada kesempatan lain, telapak tangannya yang kini sudah berubah menjadi seperti bara seketika terbuka dan bergerak ke arah dada. Lalu, kedua telapak tangan yang membara itu ditempelkan ke dadanya.

"Krrroiiing...!"

Pekikan aneh seketika terdengar mengisi empat penjuru alam. Seiring menghilangnya pekikan itu, tubuh Pulokaliwa berubah menjadi merah seperti bara. Dan kini tubuhnya seketika bergerak cepat ke arah Raja Petir.

Hawa panas yang menyerigat seketika menyergap tubuh Jaka, ketika tangan Pulokaliwa yang seperti bara itu mengibas-ngibas. Dan untuk menghadapi musuh yang sebegitu aneh ini, Jaka memilih bertarung jarak jauh. Biar bagaimanapun juga, dirinya tak sudi membiarkan kulitnya terpanggang hawa panas menyengat yang keluar dari tubuh Pulokaliwa.

Rupa-rupanya, Pulokaliwa mampu membaca jalan pikiran Jaka. Dengan mengandalkan kecepatan geraknya, pasangan Ratnawijati itu segera merangsek. Di mana Jaka melenring, untuk menghindar, di situ pula Pulokaliwa berusaha mendekati dengan gerakan serupa. Hantaman-hantaman kosongnya temyata sanggup membakar benda-benda yang ada di sekitarnya.

"Bukan main dahsyatnya," dengus Jaka dalam hati. Raja Petir memang merasa tak akan selamanya mampu menjauhi Pulokaliwa. Pada saatnya nanti, Pulokaliwa dapat memperpendek jarak dan dapat pula menyarangkan sambaran-sambarannya yang mematikan.

Setelah berpikiran seperti itu, Raja Petir tak sudi membuang-buang waktu lagi. Selain harus menghemat tenaga, Jaka juga ingin cepat menyatroni Ratnawijati yang kemungkinan masih berada di Perguruan Gading Kembar yang telah berhasil dikuasai.

Jaka segera melenring ke udara. Dengan menggerakkan badannya yang melompat seperti seekor kumbang jantan, Jaka membawa turun tubuhnya ke tanah, lalu bergulingan dengan cepat. Dan pada kesempatan selanjutnya, tubuhnya sudah kembali tegak berdiri dengan sebuah ajian yang akan membungkam keganasan ilmu lawan. Sebuah ajian yang bernama 'Kukuh Karang'. ,

Dengan mengangkat kedua tangannya ke atas kepala, Jaka menarik napas dengan teratur. Dan disertai pengerahan tenaga dalam tinggi, pemuda tampan itu membawa turun tangannya. Beberapa saat Jaka merentangkan tangannya dengan jari-jari terbuka. Maka pada saat berikutnya, tangannya yang terkepal sudah dibawa ke depan dada secara menyilang.

Serangkum sinar kuning seketika terlihat membungkus kepala Jaka hingga dada, dan bagian lutut hingga ujung kaki. Sementara pada bagian lain, sedikit pun tak terdapat sinar kuning yang membungkus.

Pulokaliwa yang tahu kalau lawannya tengah mengerahkan sebuah ajian andalan, tanpa setengahsetengah lagi segera menyerang dengan seluruh kekuatan tenaga dalam. Tangannya yang membara, menerjang secepat kilat ke bagian tubuh Jaka yang tidak terbalut serangkum sinar kuning. Demikian kuatnya terjangan itu, hingga....

Grrraaafsss!

Percikan bunga api berpijar ke segenap penjuru angin. Sementara tangan Pulokaliwa yang mendarat keras di bagian ulu hati Raja Petir, seketika tak dapat ditarik pulang. Kenyataannya, ada sebentuk tenaga yang cukup kuat menyerap tenaga Pulokaliwa.

Pulokaliwa sadar, dirinya terpancing ilmu lawan. Dengan seluruh kekuatan yang ada, tangannya yang sebelah kembali dilayangkan ke bagian dada Jaka yang terbalut sinar kuning keemasan.

Grrraaafsss!

Kejadian semula kembali menimpa Pulokaliwa! Sebelah tangannya yang menghunjam dada Jaka kembali tak dapat ditarik pulang.

"Rrrgh!"

Pulokaliwa menggereng dan mengerahkan tenaga dalam tinggi untuk melepaskan serapan ilmu yang membuat sekujur tubuhnya menjadi lemah. Namun semakin kuat Pulokaliwa berusaha  melepaskan diri, semakin habis tenaganya tersedot aji 'Kukuh Karang'.

Sementara itu, melihat lawannya tengah tak berdaya, Jaka mempergunakan kesempatan ini. Tangan kanannya yang dialiri tenaga dalam penuh segera bergerak cepat Lalu....

"Aaargkh!"

Pulokaliwa kontan menjerit aneh ketika kepalan tangan kanan Jaka menghantam titik lemah pada tenggorokannya.

Krakkk!

Wrrrt...! Bukkk!

Tubuh Pulokaliwa kontan terpental sejauh tiga batang tombak daajatuh keras di tanah. Lehernya yang terhantam pukulan keras Jaka patah seketika. Yang lebih mengejutkan Raja Petir, sosok Pulokaliwa kini berubah menjadi wujudnya semula. Wujud orang tua yang berumur ratusan tahun!

Raja Petir menarik napas dalam-dalam. Tanpa memandang tubuh Pulokaliwa yang tak bernyawa, Jaka berkelebat pergi menuju Perguruan Gading Kembar.

***

Sosok bayangan kuning berkelebat cepat menuju Selatan. Dari caranya berlari, memberi gambaran kalau sosok itu adalah seorang tokoh persilatan yang berkemampuan tinggi. Betapa tidak? Dari larinya yang bagai angin berhembus itu, sukar diukur ketinggian ilmu lari cepatnya.

Sosok bayangan kekuningan yang ternyata Raja Petir, seketika menghentikan larinya lima tombak di depan sebuah bangunan megah dengan sebuah tiang batu terpancang bertuliskan Perguruan Gading Kembar.

Jaka menajamkan pendengarannya ketika mera-sakan ada suara pertarungan di dalam perguruan di hadapannya.

"Ada suara dentang senjata beradu," gumam Jaka dalam hati. "Jangan-jangan..., ah! Hip!"

Jaka melesat masuk ke bangunan perguruan. Gerakannya ringan, dan seketika itu juga menyelinap masuk ke bagian penyekat bangunan.

Pada sebuah ruangan yang cukup besar, hati Jaka tercekat. Di hadapannya kini nampak Ki Rantasanu dan Eyang Dirgan Saluyu sedang mengurung si Nuri Biru. Sedangkan di tempat lain, nampak Suciati dan tiga murid utama Perguruan Tameng Kencana tengah mengeroyok Rekong Rapah.

"Hik hik hik.... Terus gempurlah aku, Tua Bangka Peot! Hik hik hik... Majulah! Aku tak akan segan mengirim kalian berdua ke neraka!" ejek Ratnawijati pongah, sambil menudingkan telunjuknya ke arah Eyang Dirgan Saluyu dan Ki Rantasanu.

"Nenek sombong!" hardik Eyang Dirgan Saluyu.

Wajah Ratnawijati seketika memerah mendengar bentakan Ketua Perguruan Kamboja Merah. Tampaknya dia tak senang dirinya disebut nenek.

"Kubikin mampus kau, Kakek Peot! Hiaat..!" 

"Hiyaaat...!"

"Hiaaa...!"

Eyang Dirgan Saluyu dan Ki Rantasanu bersamaan menerjang si Nuri Biru. Terjangan kedua tokoh persilatan itu demikian cepatnya, dan disertai pengerahan tenaga dalam penuh.

Namun, rupanya kemampuan Ratnawijati memang di atas lawan-lawannya. Sekali lihat saja, kejelian matanya sudah mampu menghindari  terjangan lawan-lawannya.

Bukan itu saja. Tubuh Ratnawijati yang berputar setengah lingkaran, mampu memberi tendangan beruntun ke arah Eyang Dirgan Saluyu dan Ki Rantasanu.

Hah?!

Eyang Dirgan Saluyu dan Ki Rantasanu terkejut menyaksikan kecepatan gerak yang dilakukan lawan. Maka tanpa pikir panjang lagi, keduanya melempar tubuh ke arah yang berlawanan. "Hia!"

"Hiaaa...!"

Eyang Dirgan Saluyu dan Ki Rantasanu bergulingan di lantai Perguruan Gading Kembar.

Sementara itu, Ratnawijati terkekeh menyaksikan kedua musuhnya yang kalang kabut. Tapi dalam ke-terkekehannya, lawan tak diberi kesempatan untuk menyelamatkan diri. Si Nuri Biru itu kembali berke¬lebat bermaksud menghabisi nyawa lawan.

"Haaat...!"

"Tahaaan...!"

Bentakan keras menggelegar seketika memenuhi ruangan Perguruan Gading Kembar. Ratnawijati kontan terkejut mendengar bentakan keras yang memekakkan telinga. Apalagi, ketika menyaksikan sesosok muda berpakaian warna kuning keemasan. Kedua bola matanya seketika berubah membara.

Namun tidak demikian yang dialami Eyang Dirgan Saluyu dan Ki Rantasanu. Kedua orang tua itu menjadi lega harinya manakala melihat sosok Raja Petir. Sosok muda yang kedigdayaannya sukar dicari tandingannya.

'Titisan Raja Petir!? Hik hik hik.... Tepat sekali kedatanganmu ke sini. Aku jadi tak perlu susah-susah mencarimu. Sehingga aku dapat sekaligus mengirim kalian semua ke alam baka. Kalian semua tahu! Aku ingin secepatnya menguasai dunia persilatan! Hik hik hik Bersiaplah kalian semua!"

Mendengar ucapan Ratnawijati yang bersungguh-sungguh, Jaka segera menatap wajah Eyang Dirgan Saluyu dan Ki Rantasanu bergantian.

"Maaf! Biar aku saja yang menghadapi iblis betina ini," pinta Jaka pada Eyang Dirgan Saluyu dan Ki Rantasanu. "Kalian berdua bisa membantu Suciati menghadapi murid utama Ki Karsabijaksa."

"Hati-hati, Jaka. Iblis itu telah menguasai tiga kitab pusaka yang dicurinya," kata Eyang Dirgan Saluyu, memperingatkan.

"Baik, Eyang," balas Jaka. Tubuhnya yang bergerak ringan, seketika sudah berhadapan dengan si Nuri Biru.

Dan kini, Eyang Dirgan Saluyu dan Ki Rantasanu segera membaur pada pertarungan antara Suciati dan murid Perguruan Tameng Kencana melawan Rekong Rapah dan murid-murid Perguruan Gading Kembar yang telah berkhianat.

Pertarungan yang terpecah menjadi dua bagian nampak begitu seru. Beragam jurus terlihat saling sambut. Kelebatan pedang dan dentang senjata yang beradu, bergema dan memantul pada dinding-dinding bangunan Perguruan Gading Kembar. Begitu bising! Itu pun masih ditingkahi teriakan dan erangan kesakitan dari orang yang tertikam senjata lawan.

Sementara pertarungan antara Jaka melawan Ratnawijati sudah berlalu beberapa jurus. Ajian-ajian pun sudah digelar.

"Hik hik hik…. Tak kusangka, kepandaianmu hampir sama dengan kepandaian penitismu yang sudah mampus itu. Tapi, jangan berbangga hati dulu, Anak Muda! Beberapa jurus dan ajianku belum kukeluarkan. Dan semua itu akan kugunakan untuk melebur ragamu, sekalian mengirim nyawamu ke alam lain!" ejek Ratnawijati sambil terkekeh-kekeh.

"Keluarkan seluruh jurus dan ajianmu itu, Nenek Peot!" balas Jaka.

"Kurang ajar! Terimalah ini! Heaaat..!"

***
SEMBILAN
Si Nuri Biru berkelebat cepat. Kedua telapak tangannya yang membentuk paruh burung, menyambar-nyambar murka. Cicit angin mengiringi sambaran yang menggunakan pengerahan tenaga dalam tinggi.

Raja Petir tersentak mendapatkan keganasan serangan lawan. Bukan kandungan tenaga saja yang membuat Jaka tersentak, tapi hawa dari pukulan itu. Hawa yang aneh. Apalagi, kiblatan sinar biru yang keluar dari ujung jari yang membentuk paruh burung itu.

Untuk menghindari serangan-serangan si Nuri Biru yang memang gangs, dengan sangat terpaksa Jaka mengeluarkan ajiannya.

"Kurang ajar! Bocah edan, jangan coba-coba me-ngelabuiku dengan aji 'Bayang-bayang' murahan itu. Huh! Kau pikir, aku bodoh hingga tak tahu memilih mana wujudmu yang asli! Rasakan ini. Haaat..!"

Untuk kedua kalinya Jaka tersentak. Hatinya benar-benar kagurn mendapatkan kepekaan rasa yang dimiliki Ratnawijati yang mampu membaca dan membedakan wujud asli seseorang.

Plak! "Hip!"

"Hup!"

Terpaksa Jaka memapak totokan paruh burung yang dilancarkan Ratnawijati ke arah batok kepalanya. Benturan hebat yang terjadi, membuat tubuh kedua orang yang bertarung itu berpental ke belakang. Dan untuk dapat menguasai keseimbangan, masing-masing melakukan putaran di udara, lalu mendarat manis di tanah.

Dari terpentalnya kedua tubuh itu, menandakan kalau kekuatan tenaga dalam mereka berimbang.

"Kurang ajar!" maki Ratnawijati dalam hati. "Masih muda sudah sedahsyat ini tenaga dalamnya."

"Nenek ini tak kusangka tenaganya begitu besar. Aku harus hati-hati," gerutu Jaka.

"Hai, Nenek Peot! Mana jurus dan ajianmu? Hanya sampai di situkah?"

Si Nuri Biru menggereng keras.

"Bocah setan! Lancang sekali mulutmu! Akan kubungkam mulutmu dengan aji 'Lingkar Hitam Kematian! Hih...!"

Selarik sinar hitam keluar dari tangan Ratnawijati yang terkepal. Sinar itu semula membentuk segulungan kecil. Namun kini tambah membesar, dan menjadi lebih besar lagi saat mendekati tubuh Jaka.

Pemuda tampan berpakaian warna kuning keemasan itu sesaat ragu ketika hendak menggelar kembali aji 'Bayang-bayang'. Sinar hitam yang menggulung besar dan digerakkan melalui kekuatan Ratnawijati, pasti dapat memilih wujud aslinya.

Sejurus lamanya Jaka mencari titik lemah pada sinar hitam yang melingkar ganas. Tatapan matanya di tajamkan untuk mencari pusat lingkaran hitam itu.

"Huh! Di situ rupanya titik kelemahan aji 'Lingkar Hitam Kematian'," dengus Jaka dalam hati.

Maka dengan kecepatan yang sukar di ukur kecepatan mata biasa, Jaka meraih sebuah bambu kuning pada pergelangan tangan kirinya. Sebuah bambu kuning yang tanpa lubang itu segera diselipkan di antara kedua belah bibimya. Lalu, mulut bambu itu dihem-buskan kuat-kuat

Slats! Slats! Slats!

Tiga lank sinar warna kuning keluar lewat lubang bambu kuning yang terhembus napas Jaka. Tiga larik sinar kuning itu meluruk deras, mencecar garis tengah pada lingkaran hitam ciptaan Ratnawijati. Memang, di situlah bagian yang peka dari aji 'Lingkar Hitam Kematian'.

Beberapa saat kemudian....

Blarrr. !

Ledakan dahsyat seketika terdengar ketika tiga larik sinar kuning berturut-turut menembus garis peka aji 'Lingkar Hitam Kematian'.

Benturan dua kekuatan itu demikian dahsyat Bahkan menimbulkan dorongan ke belakang bagi pemiliknya. Seperti juga yang dialami si Nuri Biru. Tubuhnya kontan terpental beberapa tombak ke belakang, bersamaan pekiknya yang tertahan.

"Kurang ajar!" hardik Ratnawijati geram. "Akuilah kekeliruanmu, Nenek Tua. Aku akan

mengampuni nyawamu," ujar Jaka.

Kembali Ratnawijati menggereng kuat.

"Setan! Kau pikir aku sudah tak mampu mengirimmu ke neraka, heh?!"

Ratnawijati segera maju beberapa langkah. Matanya dibuat setengah terpejam. Sementara telapak tangannya saling menempel. Mulutnya kelihatan komat-kamit, seperti tengah membaca mantera.

Melihat apa yang tengah dilakukan lawan, Jaka sadar kalau si Nuri Biru tengah mengerahkan ajian andalannya. Ajian dahsyat yang pernah diterimanya dari Pulokaliwa, yang sudah tewas terlebih dahulu.

Ajian yang tengah dikerahkan Ratnawijati memang jarang ada tandingannya. Maka, Jaka memutuskan untuk menghadapi ajian itu dengan jurus 'Sabuk Petir Pelebur Raga'. Namun, akibat yang ditimbulkannya akan membawa keruntuhan bangunan ini. Itulah sebabnya, Jaka segera menolehkan kepalanya ke arah pertarungan antara Eyang Dirgan Saluyu, Ki Rantasanu, Suciati, dan tiga orang murid Perguruan Tameng Kencana, melawan Rekong Rapah dan murid-murid Perguruan Gading Kembar yang berkhianat.

Bahkan kini, mereka telah mengurung Rekong Rapah yang tinggal seorang diri.

Memang, karena dikeroyok tokoh-tokoh berkepandaian tinggi, Rekong Rapah jadi tak berarti sama sekali. Dia bagaikan ayam kehilangan induk, tak tahu harus berbuat apa. Bahkan ketika satu tendangan keras dari Eyang Dirgan Saluyu mendarat di tubuhnya, Rekong Rapah langsung terhuyung hampir jatuh. , kesempatan itu digunakan Suciati sebaik-baiknya.

Dan.... "Aaakh...!"

Jaka juga melihat saat pedang Suciati menghabisi Rekong Rapah. Leher tokoh pengkhianat itu kontan terpenggal, dengan darah menyembur dari lukanya. Rekong Rapah ambruk dan tewas seketika.

"Cepat kalian tinggalkan bangunan ini! Sebentar lagi bangunan ini akan runtuh!" teriak Jaka mantap, sambil menatap ke arah teman-temannya.

Eyang Dirgan Saluyu, Ki Rantasanu, dan Suciati, serta tiga lelaki murid Ki Rantasanu seketika berkelebat meninggalkan bangunan Perguruan Gading Kembar. Dan seiring lenyapnya tubuh mereka, Ratnawijati telah memantapkan ajiannya. Seluruh tubuhnya berubah merah membara. Hawa panas menyengatseketika,mengisiruanganPerguruan Gading Kembar.

"Krrroiiing...!”

Pekikan aneh seketika terdengar keras. Bangunan perguruan ini seperti terlanda gempa. Terlebih, ketika tubuh Ratnawijati yang sudah berubah menyambar-nyambar ganas. Pijaran api yang melesat, semakin membuat keutuhan bangunan ini tak lagi dapat dipertahankan.

Yang dirasakan Jaka demikian halnya. Ia merasa tak akan mampu bertahan lama menghindari serangan-serangan ganas yaitig dilancarkan Ratnawijati. Ruang gerak yang terbatas, membuatnya mengalami kesukaran untuk mencari jarak bertarung.

"Harus dengan ini rupanya," kata hati Raja Petir sambil meloloskan sabuk kuning keemasan yang melilit pinggangnya.

Sinar kuning menyilaukan mata seketika memendar-mendar dari sabuk yang telah lolos dari pinggang pemiliknya. Pemilik sabuk berpamor menggiriskan itu sekilas memutar pergelangan tangannya.

Bersamaan dengan berputarnya pergelangan tangan Jaka, Ratnawijati sudah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menerjang.

"Haaat...!"

Raja Petir tak mau lagi membuang-buang kesempatan baik yang ada di depannya. Pergelangan tangannya digerakkan. Maka seketika itu juga....

Ctarrr. !

Seberkas sinar keperakan melesat dari ujung sabuk yang dilecutkan Jaka. Seberkas sinar keperakan yang seperti petir itu menyambar. Itulah rangkaian jurus 'Sabuk Petir Pelebur Raga'.

Glarrr...! Glarrr...!

Dua ledakan dahsyat terjadi, ketika sambaran sinar keperakan menerjang tubuh merah membara mihk si Nuri Biru.

"Aaargkh...!"

Ratnawijati memekik keras. Tak lama kemudian, tubuhnya sudah hangus. Bahkan langsung terpental sehingga membentur dinding bangunan yang seketika itu juga jebol.

Akibat ledakan dan pekikan Ratnawijati yang keras, ditambah benturan tubuh perempuan iblis itu pada dinding, membuat bangunan ini bergetar hebat. Untuk kemudian....

"Hup!"

Jaka melesat cepat meninggalkan bangunan yang seketika itu juga akan ambruk.

Krakkk!

Brakkk!

***

"Aku tak bermaksud mendahuluimu dalam menyerang Ratnawijati, Jaka. Tadinya, aku hanya bermaksud memberi pelajaran pada Rekong Rapah  dan membebaskan murid-murid Perguruan Gading Kembar yang masih setia pada perguruan. Namun kenyataannya, Ratnawijati juga ada di situ. Yaaah ,

aku tak bisa mengelak untuk tidak menimpali serangannya," jelas Eyang Dirga Saluyu ketika Jaka keluar dari bangunan yang runtuh.

"Ah! Itu tak jadi persoalan, Eyang. Malah tadinya aku hendak mendahului kalian dalam menghadapi Ratnawijati. Tapi ketika menyatroni Perguruan Gading Kembar, kulihat Eyang dan yang lainnya sudah berada di sana," sanggah Jaka.

Eyang Dirgan Saluyu dan Ki Rantasanu hanya tersenyum-senyum mendengar ucapan Jaka yang terus terang. Seulas senyuman lega atas keberhasilannya menyingkirkan Ratnawijati yang berhasrat menguasai dunia persilatan.

"Kalau begitu, aku pamit dulu, Eyang, Ki," kata Jaka sambil menatap lekat-lekat wajah Eyang Dirgan Saluyu dan Ki Rantasanu.

Kedua lelaki tua itu tak kuasa berbuat apa-apa dengan keinginan Jaka. Mereka hanya dapat membalas tatapan pemuda yang memiliki kesaktian tinggi dengan sinar mata penuh kekaguman dan rasa terima kasih.

"Aku permisi, Eyang, Ki. Hup!"

Begitu ringannya gerakan yang dilakukan Jaka, hingga hanya sekali hentakan saja tubuhnya sudah berada beberapa tombak dari tempat semula. Kemudian, tubuhnya yang terbalut pakaian warna kuning keemasan lenyap di balik pohon besar.

Di tempat lain, Suciati dan Yaya Mayada nampak memisahkan diri.

"Maafkan segala kecerobohanku, Kakang," perlahan ucapan Suciati yang keluar.

Lelaki tampan berpakaian warna putih itu menatap lekat-lekat wajah Suciati. Sesaat lamanya dia menatap wajah cantik di hadapannya, kemudian tersenyum menawan.

“Tak ada yang perlu dimaafkan, Suciati. Lelaki pasangan Ratnawijati memang tampan dan pandai mempengaruhi gadis-gadis," kata Yaya Mayada. "Jadi wajar saja kalau kau "

"Ihhh...," Suciati memukuli punggung kekasihnya. 'Tapi, aku berjanji tak akan mencintai lelaki lain selain Kakang Maya Mayada." 

"Betul?" ledek Yaya Mayada. “Betul! Demi langit dan bumi!"

"Ha ha ha...," Yaya Mayada terbahak mendengar janji kekasihnya.

Sementara, Eyang Dirgan Saluyu dan Ki Rantasanu hanya menggelengkan kepala menyaksikan tingkah sepasang muda-mudi di belakang mereka.
SELESAI
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).