Pendekar Pengejar Nyawa Jilid 30

 
Jilid 30

Kedok yang terpakai dari kedua orang ini berlainan coraknya. Yang bertubuh pendek mengenakan kedok muka orang yang sedang tertawa lebar dengan mulut terpentang, sementara kedok muka orang yang tinggi sedang mewek-mewek seperti hendak menangis, jadi kedua kedok berlawanan ini, satu tertawa yang lain menangis jelas sekali perbedaan dan warnanya, hijau dan putih. Kalau dilihat siang hari tentu amat lucu dan menertawakan, tapi pada malam sunyi di tengah bulan purnama ini kelihatan justru rada seram dan mengiriskan.

Hembusan angin malam yang kencang menggetar bunyinya jubah panjang yang dipakai kedua orang ini, hembusan angin dingin itupun menghembus masuk ke dalam kamar, seketika Yau

Tiang-hoa dan lain-lain sama bergidik dan merinding, suaranya tergagap: "Ke... kedua sahabat itu apakah juga teman baik Coh Liu-hiang?"

"Bukan" sahut Oh Thi-hoa tegas sambil geleng kepala.

"Lalu siapakah kedua orang itu?" Tanya Yau Tiang-hoa pula dengan mengkirik. Terpentang lebar mulut Oh Thi-hoa tertawa lebar, sahutnya: "Kenapa kau tanya aku malah,

kau ini murid Siau lim pay yang diagungkan itu, sebagai tuan rumah di sini lagi, jikalau di dalam kota kedatangan orang2 yang tak dikenal asal usulnya, masakah kau tidak tahu?"

Karena diumpak, Yau Tiang-hoa segera membusungkan dada, segera ia tampil ke depan dengan unjuk sikap gagah sebagai murid Siau lim pay, tak nyana begitu dia angkat kepala, empat biji mata di luar jendela itu sedingin es setajam pisau sedang menatap kepada dirinya.

Orang berkedok muka tertawa itu segera tertawa cekikikan, katanya kalem: "Tak nyana di sini ada murid Siau lim pay, maaf, kurang hormat, kurang hormat." Sembari bicara segera ia membungkuk badan menjemput dua buah batu bata yang masing-masing dijepit diantara kedua jarinya, waktu ucapannya sampai pada kata "kurang hormat" kedua batu bata itu tiba2 sama rontok berhamburan memenuhi tanah, ternyata hanya sedikit mengerahkan tenaga jarinya saja kedua batu bata itu sudah dijepit hancur berkeping-keping.

Begitu demonstrasi kekuatan jari-jari si orang berkedok tertawa diperlihatkan, jangan kata Yau Tiang-hoa sudah pucat pias saking kaget dan ketakutan. Sampaipun Coh Liu-hiang dan Oh Thi- hoa ikut terkejut dan kagum.

Orang berkedok tangis itu segera menjengek dingin: "Sudah lama kudengar pukulan dari Siau- liem-pay tiada bandingan di seluruh kolong langit, sudikah sahabat ini keluar memberi beberapa jurus?" suara itu seperti meringkik tangis mirip benar dengan suara seorang banci.

Napas Yan Tiau-hoa tersengal tanpa sebab, sahutnya tergagap: "Aku... Cayhe... tak sempat bicara lagi tiba-tiba badannya roboh menindih Tio Toa-hay. Ternyata kedua lututnya lemas dan tak kuat berdiri lagi, sekilas Mao kian-kong melirik kepada Oh Thi-hoa, mendadak dia membesarkan nyali berkata dengan keras: "Kawan di luar itu aliran dari mana? Memangnya kau tidak tahu siapa yang tinggal di sini?"

"Siapa dia?" tanya orang berkedok tangis dingin. Sebaliknya, orang berkedok tawa itu berkakakan: "Paling hanya kaum keroco yang suka main gertak dan suka mulut besar belaka."

Merah muka Mao kian-kong, katanya: "Mulut sahabat ini sukalah bicara sedikit bersih, tahukah kau Oh Thi-hoa, Coh Liu-hiang Maling romantis yang menggetar dunia persilatan sama berada disini."

Orang berkedok tangis itu berkata: "Memangnya hari ini kami hendak mencari Oh Tay-hiap dan Coh Liu-hiang, siapapun dia asal teman baik kedua orang ini, terhitung menjadi tujuan kita pula, bagi mereka yang tidak bersangkut paut dengan kedua orang ini, lekas menyingkir ke samping." sembari bicara telapak tangannya mengelus batang pohon, begitu habis kata-katanya, daun-daun plamboyan di pucuk pohon tiba-tiba sederas hujan sama runtuh berjatuhan.

Maka orang-orang yang berkerumun didalam rumah itu seperti digiring dengan cambuk beramai-ramai lari ke samping menjauhi Oh Thi-hoa dan Coh Liu-hiang. Tinggal mereka berdua yang tetap berdiri ditengah ruangan.

Mao Kian-kong segera unjuk tawa dipaksakan katanya: "Kami memangnya tiada hubungan apa-apa dengan Coh Liu-hiang, malah kenalpun belum pernah, benar tidak?"

Orang-orang lain segera unjuk tawa dipaksakan juga dan menanggapi: "Hakekatnya memang tidak kenal... siapakah sih Coh Liu-hiang itu?"

Orang berkedok tangis menjengek lebih dingin: "Betul-betul kawanan kunyuk kurcaci." Orang berkedok tawa berkata: "Kalau demikian kalian dua orang silahkan keluar."

Oh Thi-hoa tiba-tiba maju ke depan Mao Kian-kong, katanya cengar-cengir: "Mao-toa piausu, persahabatan kami selama beberapa tahun ini kenapa kau tak ikut membantu kesulitanku?"

Memutih bibir Mao Kian-kong matanyapun mendelik ketakutan, katanya gemetar: "Kau... siapa kau hakekatnya aku tidak kenal kau, mana boleh kau memfitnah orang."

Oh Thi-hoa terpingkal-pingkal katanya: "Kalau kau tidak kenal aku, baiklah silahkan kau minum secawan arak ini, pelan-pelan dia angkat secawan arak tinggi-tinggi terus dituang pelan-pelan diatas kepala Mao Kian-kong, saking kaget dan ketakutan setengah mati Mao Kian-kong sudah berdiri kaku mematung, menyingkirpun tidak berani.

Oh Thi-hoa gelak-gelak sambil membuang cawannya, katanya: "Agaknya perlu kau mengganti nama dengan sebutan kunyuk bedebah." ditengah gelak tawanya tiba-tiba badannya sudah melesat keluar jendela.

Dua bayangan orang di luar itupun serempak berkelebat terbang jauh ke belakang, tahu-tahu hinggap di atas pagar tembok terus berkelebat sekali gali lenyap ditelan kegelapan di luar sana, betapa tinggi dan hebat kepandaian ginkangnya sungguh amat mengejutkan.

Akan tetapi ilmu ginkang Oh Thi-hoa apalagi Coh Liu-hiang dibandingkan siapapun takkan lebih asor, namun melihat lawan begitu tinggi dan amat lihai, sedikitpun mereka tidak berani takabur. Mereka terbang melesat jajar berendeng adu pundak, dari kejauhan menguntit kedua bayangan itu, dalam waktu dekat sengaja mereka tidak berani mengejar terlalu dekat, sekilas Oh Thi-hoa melirik pada Coh Liu-hiang, katanya tertawa getir: "Agaknya musuhmu yang lihay lihay tak sedikit jumlahnya." "Memangnya kedua orang di depan itu bukan musuhmu ?"

Oh Thi-hoa melengak katanya: "Hakekatnya melihatpun aku belum pernah orang macam apa sebenarnya kedua orang ini"

"Aku juga belum pernah melihat mereka."

"Coba kau pikir-pikir kedua orang ini pasti mencari kau, musuh musuhku tiada satupun yang membekal kepandaian setinggi mereka, hanya satu saja Kui-ong "Raja Setan" Han Bui tapi tiga tahun yang lalu iapun sudah menjadi setan asli."

"Aku sendiripun tak habis pikir kapan pernah musuh setangguh mereka ini."

Masakan dari gerak gerik dan langkah ilmu silat mereka kau tidak bisa membedakan siapa mereka? Tidak banyak tokoh-tokoh selihay mereka ini dalam kalangan Kang ouw!"

"Pukulan tangan kedua orang ini sama dilandasi kekuatan lunak, seperti Kim si hiang ciang "Pukulan Kapas Benang Emas" dari aliran Kam-cong. Akan tetapi yang benar-benar dapat meyakinkan Kim-si-hian-siang sampai tingkat setaraf itu, selama tiga puluhan tahun mendatang ini tidak lain hanya Put sian khek seorang saja."

"Tapi Put sian-khek hanya punya sebuah tangan, mana mungkin menjadi dua orang?"

"Aku tahu mereka jelas tak mungkin Put-sian-khek adanya oleh karena itu aku tak habis pikir siapakah gerangan kedua orang ini?"

"Perduli siapa kedua orang ini, gelagatnya malam ini kita harus bertanding adu jiwa, semula kukira sepulang ke kampung halaman boleh kita mengecap hidup tenteram dan damai siapa nyana baru ditengah jalan sudah kebentur kesulitan begini, tahu begini, aku lebih suka ikut Pipop- kongcu kembali ke negeri Kui-je hidup disanjung dan berkelebihan di sana."

Mulut mereka bicara, namun gerak gerik mereka tidak menjadi kendor karenanya, gerakan kedua orang di depanpun tidak menjadi lambat, betapa kuat pernapasan mereka, kiranya tidak lebih asor dari mereka.

Jalan yang mereka tempuh semakin belukar naik turun tidak menentu, masuk hutan melompati jurang, akhirnya mereka tiba pada suatu tempat dimana banyak terdapat kunang-kunang sedang beterbangan dimalam hari, kiranya tanpa disadari mereka telah tiba di tanah pekuburan.

Oh Thi-hoa mengerut kening, katanya:

"Kembali tiba di tanah pekuburan, kenapa setiap kali ada orang yang menantang berkelahi sama aku, selalu mencari tanah pekuburan sebagai gelanggang pertumpahan?"

Coh Liu-hiang tertawa, katanya: "Jikalau ingin ajak kau minum arak, sudah tentu akan bawa kau ke rumah makan, tapi sekarang dia merenggut jiwamu, sudah tentu membawamu ke tanah pekuburan supaya lebih gampang membereskan mayatnya."

Kebetulan hembusan angin malam yang rada santer menghembus datang dari depan kunang- kunang sama serabutan menyampok muka mereka. Di sini bulan purnama seraya memancarkan cahayanya yang redup. Cahaya yang redup remang-remang menyinari tanah pekuburan yang serba seram, sunyi dan semak belukar seperti ini, dari kejauhan sering terdengar lolong serigala lagi, suaranya yang melengking tinggi dan tajam laksana pekik setan yang penasaran, namun rasanya lebih jelek dan lebih seram kedengarannya dari setan nangis, lama kelamaan Oh Thi-hoa merasa kulit mukanya kaku kejang tak bisa tertawa lagi. Kedua orang seragam hitam itu sementara mana sudah berhenti ditengah tengah tanah pekuburan ini, dengan dingin mereka mengawasi kedatangan Coh Liu-hiang berdua.

Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa memperlambat langkahnya, langkah demi langkah dengan kewaspadaan mereka maju mendekat. Tampak di depan kuburan-kuburan yang berjajar dan bersusun susun itu sudah ditata empat peti mati kecil, di atas peti mati kecil ini dilambari tikar dari rumput, orang berkedok muka tangis ulur tangannya menuding peti-peti mati di depannya dan berkata: "Silahkan !"

Oh Thi-hoa mengelus-elus hidung katanya tertawa:

"Jikalau peti mati ini dipersiapkan untuk aku, rasanya terlalu kecil."

Orang berkedok muka tertawa terkekeh kekeh, katanya: "Jikalau badanmu dipotong menjadi dua, bukankah tepat dan pas ?"

Meniru suara tawa orang, Oh Thi-hoapun terkekeh kekeh, ujarnya: "Potongan badanmu kira kira sebanding dengan aku untuk memasukkan badanmu peti inipun pas dan tepat."

Orang berkedok muka tangis itu ternyata menuding pula ke arah peti mati yang lain: "Silahkan

!"

Oh Thi-hoa tertawa riang, serunya: "Tak heran usaha toko peti mati belakangan ini cukup laris, kiranya ada orang menggunakan peti mati sebagai tempat duduk!"

Melihat Coh Liu-hiang sudah duduk, terpaksa diapun duduk ke tempat yang ditunjuk.

Empat orang masing-masing menduduki empat peti mati, satu sama lain berhadapan, duduk ditengah tanah pekuburan.

Coh Liu-hiang tersenyum ewa, katanya: "Entah siapakah nama besar kalian berdua ? Sebetulnya apakah tujuan kalian memancing kami kemari ? Apakah sebelum kami pernah bermusuhan ?" beruntun dia ajukan tiga pertanyaan, namun satupun tidak dijawab.

Orang berkedok muka tangis mendadak malah mengulap tangan memberi tanda dan memberi perintah, "Siapkan hidangan !"

Oh Thi-hoa melengak, katanya tertawa geli: "Jadi kalian undang kami hendak menjamu makam minum di sini ?"

Orang berkedok muka tangis itu berkata: "Cuma harus disayangkan ditempat seperti ini tiada hidangan lezat apa-apa yang patut kusuguhkan kepada kalian." baru habis kata katanya, dari balik kuburan bersusun di belakang sana muncul dua orang, kedua orang inipun mengenakan jubah panjang warna hitam, mukanyapun mengenakan kedok yang serba aneh dan lucu. Kedua orang ini mendatangi sambil menggotong sebuah peti mati.

Namun peti mati yang ini jauh lebih besar, kedua orang baju hitam itu terus maju dan menggotong peti mati besar ini ditengah tengah antara mereka berempat, setelah meletakkan di tanah, berputar kedua orang ini membungkuk memberi hormat terus mengundurkan diri ke tempat datangnya semula. Seolah-olah mereka memang keluar masuk dari dalam kuburan. Orang berkedok muka tertawa kembali ulurkan tangannya sambil berkata: "Mari silahkan." "Silahkan ? silahkan apa?" tanya Oh Thi-hoa heran. "Silahkan makan !" orang kedok muka tangis pula yang menjawab.

Sekilas Oh Thi-hoa tertegun, tiba-tiba ia tertawa keras: "Apa kalian hendak undang aku kemari menggasak makanan orang mati ?"

Dingin suara orang berkedok tangis itu: "Setiba ditempat ini makan apa kalau tidak makan mayat orang ?"

Oh Thi-hoa melenggong serunya terloloh-loloh: "Ha, ha, aneh, lucu dan menyenangkan, sungguh amat menyenangkan !"

Suara tawanya tiba-tiba terputus, dilihatnya orang berkedok muka tangis sudah ulurkan tangannya ke dalam peti mati, "peletak jari jarinya seperti memutus semacam entah barang apa.

Diwaktu tangan orang ditarik keluar tahu-tahu jari-jarinya sudah memegangi sebuah pangkal lengan tangan yang berlepotan darah, sedikit menyingkap kedok mukanya ke atas "kres" dengan lahap dia gerogoti lengan berdarah daging mentah itu, serunya tertawa senang: "Silahkan, silahkan, silahkan orang ini mampus belum lama, dagingnya masih segar dan lezat." sembari tertawa dan bicara, mulutnya kecap-kecap dengan nikmatnya, darah segar mengalir keluar dari ujung mulutnya dan membasahi dagunya.

sungguh kaget dan mual Oh Thi-hoa dibuatnya, teriaknya gusar: "Sebetulnya kalian..." tak nyana baru beberapa patah serunya, dilihatnya Coh Liu-hiang juga ulurkan tangan masuk ke dalam peti mati. "pletak" tahu-tahu diapun menjemput sembarang lengan tangan yang berlepotan darah pula. Disusul "kres" dengan lahapnya diapun gigit daging lengan tangan itu, seperti menggerogoti paha ayam. Darah segarpun mengalir dari ujung mulut berketes-ketes jatuh ke tanah.

Merinding dan berdiri bulu roma Oh Thi-hoa melihat adegan seram dan serba kejam ini, seperti manusia purba yang masih hidup secara primitif saja gegares daging manusia yang mentah, keruan dia berjingkrak gusar, bentaknya: "Coh Liu-hiang sejak kapan kaupun belajar makan daging manusia yang mentah begitu?"

Coh Liu-hiang tertawa, katanya: "Daging manusia ini memang segar dan lezat rasanya luar biasa nikmatnya, mari kau boleh mencicipi sekerat saja."

Kaget dan gusar bukan kepalang Oh Thi-hoa dibuatnya, disaat dia kehabisan akal tak tahu apa yang dia harus lakukan, kedua orang berkedok itu mendadak terbahak-bahak, orang berkedok muka tertawa cekikikan geli, ujarnya: "Memang sejak mula aku sudah tahu kami takkan bisa mengelabui mata Coh Liu-hiang si Maling romantis!"

Ditengah gelak tawa mereka, tiba-tiba di empat penjuru muncul puluhan lampu lampion yang terang benderang, sehingga tanah pekuburan ini diterangi seperti siang hari, baru sekarang Oh Thi-hoa yang berdiri melongo melihat jelas, bahwa lengan tangan yang berlepotan darah itu adalah sekerat tebu yang dibuat sedemikian rupa lalu dilumuri kuah kental yang terbuat dari gula merah, didalam kegelapan tanah pekuburan yang serba seram ini, dibawah pancaran sinar bulan yang redup remang-remang, walau berhasil mengelabui pandangan Oh Thi-hoa, toh tak berhasil menipu Coh Liu-hiang.

Mulut Oh Thi-hoa melongo dan melelet lidah, sekuatnya dia menggosok-gosok hidung, katanya: "Ini... sebetulnya apa sih yang sedang kalian lakukan?" Orang berkedok muka tertawa segera menanggalkan kedok mukanya sambil tertawa: "Siaute memang punya pikiran yang muluk-muluk dan rada brutal, semoga Oh-heng suka memaafkannya!" orang ini masih muda belia, beralis tebal bermata tajam bening, ternyata bukan lain adalah kenalan barunya Li Giok-ham. Sudah tentu orang yang mengenakan kedok muka tangis itu bukan lain adalah Liu Bu-bi.

Kembali Oh Thi-hoa berjingkrak, serunya tertawa besar: "Ha..ha.. sungguh menyenangkan, selama hidupku belum pernah kutemui kejadian yang menyenangkan seperti ini, kalian berdua memang pandai mengada-ada!"

Liu Bu-bi tersenyum lebar, katanya: "Aku tahu kalian pasti akan dibikin repot oleh kawanan tamu yang tak diundang itu sampai tak bisa meloloskan diri, maka terpaksa kami mencari akal seperti ini sekaligus untuk menyenangkan hari dan menghibur lara!"

"Bagus, bicara kalian ini memang tiada bandingannya di kolong langit. Kecuali kau, mungkin sukar dicari orang kedua yang bisa menemukan cara sebagus ini." Oh Thi-hoa memujinya.

Li Giok-ham tertawa ujarnya: "Tapi betapapun cermat dan teliti cara kerjanya toh tetap tak berhasil mengelabui ketajaman mata Coh-heng."

"Memangnya matanya tumbuh berlipat ganda tajamnya, tapi aku tidak jelus dan pingin punya mata seperti dia, karena keadaan itu bakal mempersempit diri dan tak bisa seriang seperti aku ini."

Di dalam peti mati itu bukan saja terdapat tebu istimewa, ada pula jeruk, manggis semangka dan mangga. Sudah tentu hidangan buah-buahan yang segar-segar ini merupakan hidangan baru yang amat mencocoki selera mereka setelah perut biasanya dijejal daging dan arak melulu.

Apalagi meski buah buahan ini bukan makanan yang mahal, tetapi di tanah pekuburan seperti ini pada musim rontok pula sudah tentu rasanya jauh lebih menyenangkan daripada hidangan tapak biruang atau lidah burung, dari sini dapatlah dinilai, bukan saja tuan rumah amat prihatin dan pintar meladeni tamunya, jelas sekali orangnyapun tak segan-segan mengeduk kantong untuk menyediakan makanan yang tidak mungkin bisa didapatkan tidak pada musimnya.

Angkat cawan araknya, Oh Thi-hoa tertawa, katanya: "Selama hidupku meski tidak sedikit perbuatan brutalku, tapi duduk di atas peti mati di tanah pekuburan, minum arak benar-benar merupakan kejadian pertama kali segede ini usiaku."

Segera Li Giok-ham bertanya: "Apakah Oh-heng merasa kurang senang?"

"Kurang senang? Malahan aku merasa amat riang dibanding dengan tempat ini, kamar-kamar di hotel itu boleh dikata lebih sumpek dan gerah daripada berada di dalam peti mati sekecil ini.

Dibanding kalian suami istri, kawanan Piauwsu yang menyebalkan itu, seperti rombongan mayat hidup melulu."

Liu Bu-bi tertawa geli katanya: "Walau waktu itu aku mengenakan kedok orang menangis, namun mendengarkan merubah nama julukan si kepala gundul itu, hampir saja aku tertawa geli."

Oh Thi-hoa mengucek-ucek hidung, katanya: "Kalau tahu banyolanku bakal terdengar kalian, tentu aku tak berani mengeluarkan kata-kataku ini."

Coh Liu-hiang tiba-tiba bersuara: "Kaum Kang-ouw sama tahu, di dalam Bulim pada jaman ini terdapat tiga keluarga besar persilatan, ketenaran dan kebesaran ketiga keluarga besar ini tidak lebih asor dari tiga Pang besar dan Chat pay atau tujuh partai, dan lagi setiap keluarga dari ketiga keluarga besar persilatan, masing-masing mewariskan ilmu silat ajaran leluhurnya turun temurun merupakan tradisi keluarga, tingkat kepandaian silatnya cukup setimpal dijajarkan dengan Lo han sin kun dari Siao lim pay dan setanding dengan Liang gi-kiam-hoat dari Bu-tong-pay. Cuma para anak didik dan keturunan dari ketiga keluarga besar persilatan ini masing-masing amat memasuki dan terkekang oleh undang-undang keluarga, maka jarang sekali mereka mondar-mandir di kalangan Kangouw." Di luar dugaan mendadak Coh Liu-hiang mengobral tentang situasi dunia persilatan pada jaman itu, orang lain tadi kemek-kemek tak tahu bagaimana harus ikut bicara, terpaksa mereka tinggal diam mendengarkan uraiannya lebih lanjut.

"Puluhan tahun belakangan ini," Coh Liu-hiang meneruskan uraiannya, "tunas-tunas muda yang berbakat dari masing-masing anak didik ketiga keluarga besar persilatan ini saling bermunculan walau mereka jarang di Kang-ouw, namun bak umpama seekor naga setiap kali menampakkan diri, pasti ada-ada saja yang dilakukan, dan pasti menggemparkan seluruh dunia umpamanya."

Tak tahan Oh Thi-hoa segera menyeletuk: "Umpamanya, Lamkiong Ping dari Lam-kiong si-keh dulu pernah di dalam satu malam saja menyapu bersih delapan belas pangkalan berandal dari puncak Thay-hang san yang malang melintang selama empat puluhan tahun di dunia persilatan disapunya habis keakar-akarnya dan lenyap dari permukaan bumi."

Coh Liu-hiang tersenyum, katanya: "Itu kejadian lima puluhan tahun yang lalu, sudah Lamkiong koncu yang mud belia dan gagah itu, sepuluh tahun yang lalu sudah berpulang ketanah asalnya, khabarnya menjadi dewa dua tiga puluh tahun..."

"Dua tiga puluh tahun mendatang," Oh Thi-hoa kembali menyela, "Peristiwa besar yang menggetarkan Bulim adalah peristiwa Hong-cui san-ceng yang dipimpin oleh Li Boan-hu Locianpwe, beliau mengundang tiga puluh satu ahli pedang yang ternama di seluruh dunia berkumpul di puncak datar di Kiam-ti "telaga pedang" dimana mereka minum teh mendemonstrasikan ilmu pedang, dan Li-locianpwe dengan sebatang pedang Koh bu-yang-kiam yang mempunyai sembilan kali sembilan delapan puluh satu jurus, mengalahkan ketiga satu ahli- ahli pedang itu, sehingga mereka tunduk lahir batin, beliau diangkat sebagai tokoh pedang nomor satu di seluruh jagat."

"Benar." ujar Coh Liu-hiang menepuk tangan, "Akan tetapi ilmu silat dari keluarga besar persilatan ini masing-masing mempunyai kebolehan dan kebagusannya sendiri-sendiri, tapi tiga puluh tahun belakangan ini, Yong-cui-san-ceng yang berada di Hay-yang-san yang terletak di Koh so hin sebagai puncak dari kebesarannya."

Sampai disini dia tersenyum pula, mendadak dia berpaling kepada Li Giok-ham, katanya tetap tersenyum lebar: "Li-heng masih muda dan gagah, betapa tinggi kepandaian silatmu jarang terlihat ada tandingannya di kalangan Kangouw kalau dugaan Cayhe tidak meleset tentulah kau salah satu anak didik dari Yong cui san cheng itu."

"Sungguh harus disesalkan", sahut Li Giok-ham, "Siaute tidak belajar dengan tekun dalam bidang ilmu silat, sehingga merendahkan derajat ketenaran keluarga yang sudah dijunjung tinggi sejak puluhan tahun yang lalu."

"Li-heng terlalu merendah, entah pernah apa Li heng dengan Li Koan hu, Li locianpwe?" "Beliau adalah ayahku." sahut Li Giok ham dengan hormat dan hikmat.

Sejak tadi Oh Thi-hoa sudah mendengarkan dengan mata terbelalak dan alis tegak, tak tahan segera dia bersorak sambil tepuk tangan. "Tak heran kalian suami istri begini hebat, begini jempolan, anak didik keluarga besar kaum persilatan memang lain dari pada yang lain."

Li Giok-ham tertawa, ujarnya: "Patah tumbuh hilang berganti, selama puluhan tahun ini generasi muda saling bermunculan di seluruh pelosok dunia, jadi bukan melulu Yong-cui-san- cheng saja yang tetap di puncak ketenarannya, dan lagi kebesaran kita sudah mulai pudar dan tersapu oleh ketidak becusan dari generasi muda seperti tingkatanku ini, sampai pun ayah kini tidak berani mengagulkan diri lagi sebagai jago pedang nomor satu di seluruh jagat."

Tanpa menunggu Oh Thi-hoa dan Coh Liu-hiang buka suara, segera dia menambahkan: "Para tokoh-tokoh ahli pedang yang dulu ikut menjajal kepandaian pedang di gardu teh di pesisir Kiam-ti itu, kini sudah banyak yang sudah meninggal dunia. Akan tetapi ahli-ahli pedang dari generasi muda yang muncul di Kang-ouw belakangan ini banyak yang jauh lebih unggul daripada para cianpwe yang terdahulu. Menurut penilaian ayahku, tokoh-tokoh ternama pada jaman ini, kami hanya menilai dalam bidang ilmu pedangnya saja, terhitung Sia-ih-jin tayhiap sebagai jago nomor satu di seluruh muka bumi ini."

Coh Liu-hiang segera menanggapi: "Itu hanya pujian Li-locianpwe kepada generasi muda yang berbakat saja, Cayhe memang pernah dengar katanya ilmu pedang Sia-ih jiu hebat luar biasa dan seperti mainan sulapan belaka dan tak kentara gerak bentuknya tapi bicara soal pengalaman dan kematangan latihannya, dibanding Li-locianpwe, tak perlu disangsikan lagi masih jauh sekali jaraknya, kenapa Li-heng terlalu merendah?"

Oh Thi-hoa tertawa, selanya: "Tidak salah rendah hati memang watak seorang yang berbudi luhur, tapi kalau terlalu berkelebihan malah kebalikannya pura-pura belaka."

Li Giok-ham menarik napas panjang, katanya: "Ada hal-hal yang tidak kalian ketahui beberapa tahun yang lalu secara tak terduga ayah mendadak terserang semacam penyakit aneh yang tak dapat disembuhkan lagi sampai sekarang masih tetap rebah di atas pembaringan. juga sudah sepuluh tahun tak pernah pegang pedang lagi."

Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa sama-sama tertegun, mereka tak tahu cara bagaimana harus menghibur dan menghela napas gegetun belaka.

Sesaat kemudian Li Giok-ham malah berseri tawa pula, katanya: "Melulu dinilai dari ilmu sebagai jagoannya, tapi kalau bicara soal kecerdikan, ilmu silat, pengalaman menghadapi musuh dan mengalahkannya, dikolong langit ini, siapa pula yang bisa menandingi Coh Liu-hiang?"

Oh Thi-hoa terloroh-loroh, meski dia cukup baik, tapi jangan kau mengagulkan dia terlalu tinggi yang jelas dia tidak sungkan dan rendah hati seperti kau."

"Bicara apa peristiwa besar belakangan ini yang menggemparkan Bulim, tentunya harus diakui hanya Coh Liu-hiang pula yang harus dinobatkan ke tempat teratas dalam usahanya menumpas intrik antara Lamkiang Ling dan Biau ceng Bu Hoa, sekaligus menolong dan menegakkan kembali nama baik Siau lim pay dan Kay-pang."

Coh Liu-hiang tertawa-tawa, katanya: "Itu hanya kejadian kecil saja, kenapa harus dibuat pujian."

"Kaupun tidak usah sungkan-sungkan" sela Oh Thi-hoa, "Kalau peristiwa itu kejadian kecil, lain peristiwa yang bagaimana baru boleh terhitung kejadian besar?"

Liu Bu-bi mendadak tertawa, timbrungnya: "Kalau dinilai kecerdikan, ilmu silat dan pengalaman menghadapi musuh serta mengalahkannya, sudah jelas tiada orang yang mampu menandingi Coh Liu-hiang, tapi kalau bicara keluhuran jiwa, ke lapangan dada serta wataknya suka bebas merdeka, memangnya siapa pula yang bisa dibandingkan Hoa-ouw hiap atau kupu-kupu kembang Oh Thi-hoa, Oh Tayhiap?"

"Tepat sekali ucapan ini." seru Oh Thi-hoa tertawa lebar, "Kalau dibanding minum arak memang tiada orang yang betul-betul bisa dibandingkan dengan aku." "Benar" ujar Coh Liu-hiang pula, "Dikolong langit ini, memang tiada orang yang dapat mabuk lebih cepat daripada kau."

Oh Thi-hoa berjingkrak berdiri sambil berkaok-kaok: "Bocah keparat, berani kau ugal-ugalan di hadapan seorang ahli? Akan datang suatu ketika, akan kuadu kekuatan dengan kau, coba saja buktikan siapa yang roboh lebih dulu."

"Ugal-ugalan di depan seorang ahli," ujar Liu Bu-bi tersenyum manis, "kata-kata yang tepat sekali, jauh lebih mengasyikkan daripada permainan badut didalam panggung sandiwara."

"Kecuali setan arak seperti dia ini, siapapun takkan sudi mengeluarkan kata-kata seperti itu, itulah yang dikatakan tiga patah kata tidak lepas dari kepintarannya." demikian Coh Liu-hiang mengolok-ngolok.

"Kalian benar-benar sahabat baik yang berjiwa besar dan luhur budi." kata Li Giok-ham. "Siaute dapat berkenalan dengan kalian sungguh merupakan rejeki yang tiada taranya bagi kami, ingin rasanya kami bila berkumpul lebih lama lagi."

Liu Bu-bi menambahkan: "Oleh karena itu sungguh besar harapan kami untuk mengundang kalian untuk bertamu sepuluh hari di Yongcun san-ceng, sumber air disana merupakan salah satu dari tiga sumber air abadi yang terkenal di seluruh dunia, bukan saja nikmat untuk menyeduh teh, buat bikin arakpun tak kalah enaknya."

Seketika bersinar biji mata Oh Thi-hoa, katanya menepuk paha: "Sudah lama kudengar Yongcui san-ceng dibangun membelakangi gunung menghadap keair, sejak lama ingin rasanya aku bertamasya ke tempat nan indah permai itu, sekaligus untuk berkenalan dengan jago pedang nomor satu di seluruh jagat ini." diliriknya Coh Liu-hiang sebentar, lalu menambahkan dengan menghela napas: "Namun sayang aku harus temani dia pergi mencari beberapa orang lagi."

Coh Liu-hiang segera menambahkan: "Betapa Cayhe tidak ingin memberi sembah hormat kepada Li-locianpwe, cuma tugas berat melibat diri, kali ini belum bisa kesana, untunglah hari masih panjang, kelak aku pasti mencari kesempatan."

Bergerak kerlingan mata Liu Bu-bi katanya: "Sungguh harus disesalkan, dalam rumah kami ada beberapa orang yang ingin benar berhadapan dengan Coh Liu-hiang."

"O?" Coh Liu-hiang bersuara heran bertanya-tanya.

"Kau tak perlu tanya," timbrung Oh Thi-hoa, "Yang mau bertemu dengan kau tentu gadis berusia tujuh belasan, persoalan apapun tidak tahu, entah darimana mereka pernah dengar segala julukan muluk seperti Maling romantis meninggalkan bebauan wangi! Pemuda tampan diantara gerombolan bajingan segala! Maka mereka yakin kau pasti seorang laki-laki yang luar biasa. Li- heng, coba katakan benar tidak?"

Liu Bu-bi cekikikan geli, katanya: "Mereka memang gadis-gadis perawan yang baru saja mekar, tapi jikalau kau katakan mereka tak tahu urusan, salah besar ucapanmu."

"O?" ganti Oh Thi-hoa bersuara heran.

"Beberapa nona itu bukan saja pandai ilmu silat, pintar menulis dan ahli seni lukis dan sastra, pintar dan cantik-cantik, malah satu diantaranya seorang jenius yang pernah mengikuti ujian pemerintah dan mendapat anugerah tinggi dari ilmu sastra." "O! Siapakah namanya?"

Liu Bu-bi tertawa tawar, sahutnya: "Namanya Soh Yong yong."

Cuaca cerah, hawa segar. Tiga buah kereta yang dipajang indah dan megah tengah berlari di jalan raya yang dipagari pepohonan rindang.

Kereta terdepan kelihatannya kosong tanpa muatan seorangpun, namun kereta ini tanpa kuda, sebaliknya ditarik enam laki-laki yang berbadan tegap tinggi dan kekar, sinar mata mereka berkilat- kilat, sekilas pandang orang akan tahu bahwa ke enam orang ini adalah ahli silat yang berkepandaian tinggi, namun mereka terima diperbudak, maka dapatlah dibayangkan bagaimana majikan mereka, tentulah seorang tokoh Bulim yang amat kosen.

Kereta terbelakang, sering terdengar suara cekikikan genit seorang perempuan semerdu kicauan burung kenari, sayang jendela kereta tertutup rapat, siapapun takkan bisa melihat atau tahu muka si penunggang kereta.

Kereta yang ditengah sebaliknya lebih besar dan lebar, keadaanyapun paling mewah, jendela kereta terpentang lebar, namun kerai menjuntai turun, dari balik kerai itu sering terdengar gelak tawa riang gembira. Gelak tawa gembira yang keluar dari mulut Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa, mendengar Soh Yong-yong berada di Yong-cui-san-cheng, masakah mereka tidak sudi ikut Li Giok-ham pulang kesana?

Memang kereta ini tidak dibuat sebagus kereta Ki Ping-yan itu, tapi kereta ini lebih luas dan lebar, lebih nyaman dan segar, membuat orang tak merasa letih meski menempuh perjalanan jauh. Bukan hanya sekali saja Coh Liu-hiang bertanya-tanya: "Cara bagaimana Yong ji bertiga bisa tahu-tahu berada di Yong cui san ceng?

Liu Bu-bi selalu menjawab dengan tertawa: "Sekarang terpaksa aku harus jual mahal, yang terang setelah kau bertemu dengan nona Soh kau akan jelas duduknya perkara."

Berhari-hari lamanya mereka kembali ke Tiong-goan lalu lintas jalan raya semakin banyak, orangpun lebih banyak hilir mudik, melihat ketiga buah kereta ini, sudah tentu tiada satupun yang tidak memperhatikan.

Hari itu mereka sampai di Kayhong, hari sudah magrib, terpaksa rombongan mereka masuk kota dan mencari penginapan.

Setelah makan malam dan menenggak arak habis beberapa cawan arak, semua orang kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. Hanya Oh Thi-hoa menuruti kebiasaannya, dia tetap duduk di kamar Coh Liu-hiang tidak mau kembali ke kamarnya sendiri.

Masih segar dalam ingatan Coh Liu-hiang akan kejadian masa lalu yang penuh bahaya dan serba misterius yang menimpa dirinya dikota ini, sehingga pikirannya berkecamuk dan tidak bisa tidur. Maka kebetulan juga kehadiran Oh Thi-hoa di kamarnya.

"Pandanganmu memang jitu." kata Oh Thi-hoa, "Li Giok ham suami istri memang pandai menggunakan Kim si bian ciang. Pui san khek biasanya tidak punya murid, namun beliau sahabat kental Li Koan bu laksana saudara sepupu, bukan mustahil bila dia menurunkan keahliannya kepada anak sahabatnya."

Coh Liu-hiang menghela napas panjang: "Yang berada di luar dugaan, jago kosen nomor satu pada masa lalu, kini sudah jadi orang tanpa daksa, para Bulim Cianpwe satu persatu sudah menemui ajalnya, sungguh harus dibuat sayang dan mengenaskan." "Untungnya dia masih punya seorang putra sebaik itu, sembilan kali sembilan delapan puluh satu jurus Ling-hong-kiam ditambah Kim-si-biau-ciang, memangnya Yong cui-san-ceng kuatir tidak bisa diperkembang luaskan?"

Menurut pandanganku, kepandaian silat Liu Bu-bi bukan saja lebih tinggi dari suaminya, terutama ilmu Ginkangnya terang lebih tinggi."

"Khabarnya kepandaian silat dari ketiga keluarga besar persilatan khusus diturunkan kepada menantu tanpa diteruskan kepada anak gadisnya, jikalau dia sudah menjadi menantu Li Koan hu, sudah tentu ilmu silatnya tidak lemah."

"Umpama kata benar dia menikah dan masuk ke dalam keluarga Li, yang terang tak akan lebih lama dari sepuluh tahu, sementara anak didik dari ketiga keluarga besar persilatan, sejak umur tiga atau lima sudah mulai diajarkan ilmu silat, kukira Li Giok-ham tidak menyimpang dari kebiasaan ini."

"Benar, kulihat sedikitnya dia sudah sepuluh tahun belajar dengan tekun."

"Kalau demikian maka tidak pantas bila kepandaian Liu Bu-bi justru lebih tinggi dari suaminya. Kecuali asal-usul keluarganyapun dari kau persilatan, tapi seluruh dunia ini, berapa banyak tokoh- tokoh silat yang bisa mendidik muridnya jauh lebih jempolan dari murid didik Li Koau-hu?"

Oh Thi-hoa mengerut kening, tanyanya: "Memangnya kau mulai curiga akan asal-usulnya?" "Beberapa kali aku ingin menanyakan asal-usul perguruannya, selalu dia menyimpang kelain

persoalan, dari sini aku mendapat kesimpulan, jelas dia pasti bukan anak murid dari empat Pang besar, tujuh partai tak habis kupikir di dalam Bulim kapan pernah ada tokoh silat kosen dari tingkatan tua yang punya nama she Liu?"

"Bagaimana juga, pendek kata kau tidak akan mencurigai bahwa menantu Li Koan hu ini adalah si Burung Kenari itu." Dan lagi umpama kata benar dia, adalah Burung Kenari memangnya mau apa? Burung Kenari pernah menanam budi kepada kita, tiada punya ganjelan hati tidak bermusuhan, malah jiwaku ini pun pernah ditolong! Jika bertemu Burung Kenari, aku hanya akan berterima kasih kepadanya."

Coh Liu-hiang hanya menyeringai tawa saja tak bersuara lagi.

Pada saat itulah, suara teriakan-teriakan berkumandang dari kamar sebelah.

Oh Thi-hoa mengerut alis, katanya tertawa: "Suami istri yang begitu akrab dan kasih sayang apakah juga sering perang mulut?"

Terdengar suara jeritan semakin keras melengking, dan lagi kedengarannya teramat menderita dan kesakitan, terang itulah suara Li Bu-bi. Maka tanpa ayal mulut bicara, secepat kilat Oh Thi-hoa sudah menerjang ke luar.

Terpaksa Coh Liu-hiang ikut memburu keluar, tampak pekarangan sunyi senyap, para pelayan dan kacung-kacung yang mengikuti perjalanan suami istri, tiada seorangpun yang nampak keluar untuk menjenguk keadaan majikan mereka.

Jikalau mereka tidak tuli, pasti mereka sudah mendengar suara keluh kesakitan yang melengking dimalam gelap nan sunyi ini, tapi kenapa tiada satupun diantara mereka yang keluar? Apa mereka sudah biasa mendengar jerit kesakitan seperti ini? Sinar pelita masih kelihatan menyala dari kamar Liu Bu-bi. Terdengar suara Liu Bu-bi sedang merintih-rintih kesakitan: "Kau bunuh aku saja! Bunuh aku saja!"

Berubah air muka Oh Thi-hoa, baru saja ia hendak menerjang masuk, didengarnya pula suara Li Giok-ham sedang membujuk: "Tahanlah sebentar, tahan sebentar, jangan kau ribut membangunkan orang lain!"

Suara Liu Bu-bi serak merintih: "Aku tidak tahan lagi, dari pada tersiksa seperti ini, lebih baik mampus saja."

Baru saj Oh Thi-hoa tahu bahwa kedua suami istri ini bukan sedang perang mulut tak tahan dia berkata: "Mungkin mendadak dia terserang penyakit?"

Coh Liu-hiang lebih prihatin, sahutnya: "Rasa sakit ini kukira bukan kumat mendadak, pastilah penyakit lama yang sudah mengeram dibadannya, dan lagi memang sering kumat dalam jangka waktu tertentu, oleh karena itu sampai kaum hambapun sudah biasa mendengar keributan ini, kalau tidak mana mungkin mereka tetap sembunyi di dalam kamar masing-masing saja."

"Begitu penyakit itu kumat rasa sakitnya tentu amat menyiksa, kalau tidak orang seperti Liu Bu- bi pasti tak nanti menjerit-jerit dan merintih-rintih, entah penyakit apa yang menghinggapi dirinya."

Kelihatan keadaannya segar bugar seperti orang lain, tak nyana begitu kumat ternyata begitu menyiksa dan menakutkan, kulihat mungkin bukan terjangkit suatu penyakit apa apa, tapi terkena semacam racun apa yang amat lihai."

"Racun-racun" berubah rona muka Oh Thi-hoa. "Jikalau dia terkena racun, masakan Li Koan- hu tidak mencari daya untuk menyembuhkan, sudah lama kudengar ilmu ketabiban Li Koan-hu amat tinggi, orang yang keluar masuk di Yong-cui-san-ceng kebanyakan adalah para Cianpwe. Pui san-khek justru seorang ahli dalam memunahkan racun, memangnya orang sebanyak itu tidak mampu menawarkan racun dalam badannya? Begitu tega melihat dia tersiksa demikian rupa?"

Coh Liu-hiang menghela napas, dia tidak banyak bicara lagi.

Dari dalam rumah masih terus kedengaran suara rintihan Liu Bu-bi dengan lemah lembut dan penuh kesabaran Li Giok-ham membujuk dan menghibur, terdengar pula suara kerenyut-kerenyut dari papan ranjang yang bergerak-gerak. Dari suara ini dapatlah dirasakan bahwa kesakitan Liu Bu-bi tak menjadi reda sebaliknya semakin jadi dan saking tak tahan dia meronta-ronta, sedang Li Giok ham sekuat tenaga menahan dan mengekang dirinya.

"Kenapa tidak kau masuk menengoknya, bukan mustahil kau dapat tolong menawarkan racunnya itu?"

"Liu Bu-bi adalah perempuan yang berwatak keras dan punya pambek, jelas dia takkan senang orang lain melihat keadaannya yang runyam, ada omongan apa, biarlah tunggu sampai besok pagi dibicarakan pula."

Sekonyong-konyong "Beeerrr!" seekor burung yang bermalam dipucuk pohon di pekarangan terkejut dan terbang, dari ujung mata Coh Liu-hiang dapat melihat diantara sela-sela dedaunan pohon di atas sana ada bintik sinar perak berkelebat. Tepat pada saat itu juga serumpun hujan perak tahu-tahu memberondong ke bawah dari celah-celah rumpun dedaunan di pucuk pohon, sasarannya langsung Coh Liu-hiang, betapa cepat daya luncurannya, sungguh sukar dilukiskan dengan kata-kata. Jikalau burung di pucuk pohon tidak terkejut terbang, kali ini Coh Liu-hiang pasti mampus di bawah berondongan hujan bintik-bintik perak ini, karena begitu dia mendengar samberan angin, untuk berkelitpun sudah terlambat.

Pada saat-saat yang gawat itulah, sekali jotos dia bikin Oh Thi hoa roboh terjengkang, berbareng dia menubruk tengkurap ke atas badan Oh Thi-hoa. Maka terdengar suara tang ting yang ramai, seperti hujan lebat mengetuk genteng, puluhan bintik perak itu seluruhnya sudah memaku amblas ke dalam tanah tempat dimana tadi dirinya berdiri.

Disusul bayangan orang tiba-tiba melambung tinggi ke tengah udara dari gerombolan bayang- bayang pohon yang gelap, bersalto sekaligus terus membelok turun, melesat keluar pagar tembok yang gelap gulita.

Belum lagi Oh Thi-hoa menyadari apa yang telah terjadi, bayangan Coh Liu-hiang sudah melesat keluar pagar tembok pula, melihat bintik-bintik perak yang tersebar disekitar kakinya, mendadak Oh Thi hoa seperti teringat sesuatu, seketika berubah air mukanya, teriaknya: "Ulat busuk, hati-hati kau, ini seperti Ban-hi-li-ba-ting atau Hujan paku galak, ditengah gema suaranya, badannya pun sudah ikut mengudak kesana.

Ditengah malam nan kelam, kabut tipis memenuhi jagat, bayangan Coh Liu-hiang samar- samar masih kelihatan di depan sana, sementara bayangan hitam di sebelah depan lagi sudah tidak kelihatan.

Kabut semula masih tipis dan tawar, namun sekejap mata sudah berubah begitu tebal seperti asap putih bergulung-gulung, lambat laun bayangan Coh Liu-hiang sudah tidak kelihatan lagi.

Dikejauhan sana sebetulnya terlihat sinar api yang kelap-kelip, namun sinar lampu itu pun sudah lenyap tertelan kabut yang tebal ini, terasa hampir gila Oh Thi hoa dibuatnya saking gelisah dan bingung, namun dia tak berani bersuara dan berisik.

Karena di dalam keadaan seperti ini, dia bersuara kemungkinan dirinya menjadi sasaran empuk untuk sambitan senjata rahasia, Oh Thi-hoa insaf pada saat seperti ini ada senjata rahasia menyerang dirinya, jelas dia takkan bisa meluputkan diri. Tak urung diapun gelisah dan gugup bagi keselamatan Coh Liu-hiang, karena keadaan Coh Liu-hiang terang lebih berbahaya dari dirinya.

Beberapa langkah lagi, tiba-tiba dilihatnya di atas tanah disamping sana ada sinar putih berkelebat, waktu dia dekati dan menjemputnya, ternyata itulah sebuah kotak gepeng yang terbuat dari perak. Kotak gepeng dari perak ini, panjang tujuh dim, tebal tiga dim, buatannya amat halus dan baik sekali, pada samping kotak ini berderet tiga baris lobang kecil sebesar jarum, setiap barisnya ada sembilan lobang. Bagian atas dari kotak ini ada diukir dengan lukisan kembang yang lembut, setelah diamat-amati dengan seksama baru terlihat ditengah lukisan kembang ini terdapat dua baris tulisan huruf-huruf yang liku-liku.

Sekian lamanya Oh Thi-hoa mengamat-amatinya, namun dia tidak tahu tulisan apakah itu, tak tahan dia menarik napas panjang, mulutpun menggumam: "Agaknya kelak aku harus lebih banyak latihan Gingkang, tapi juga harus belajar membaca mengenal tulisan."

Baru saja dia hendak berangkat lebih lanjut, sekonyong-konyong terasa deru angin kencang menerpa datang dari samping, sebuah telapak tangan menebas ke bawah ketiaknya, sementara tangan yang lain berusaha merebut kotak perak di tangannya.

Diam-diam Oh Thi-hoa mencaci: "Keparat, aku memang sedang kebingungan mencari kau, kau malah mengantar jiwa sendiri." ditengah berkelebatannya pikiran ini, tangannya tiba-tiba sudah balas menjotos dan kakipun melayang menendang kaki orang. Sukar dilukiskan betapa lihai dan hebatnya jotosan dan tendangan kakinya ini, memang gampang dikatakan, namun prakteknya justru amat sukar, karena orang itu menubruk datang dari samping kiri, berarti dia harus memutar badan menggeser langkah baru bisa mengegos diri dari rangsangan lawan, sekaligus baru bisa balas menyerang, dari sini dapatlah dibuktikan meski Oh Thi-hoa terlalu banyak menenggak air kata-kata, tapi gerak gerik badan dan Pinggangnya masih cukup lincah dan cekatan, setangkas ular sakti.

Siapa nyana gerak-gerik si penyerang justru lebih lincah, lebih gesit, sekali berkelebat dengan enteng tahu-tahu orang sudah berada di belakangnya, baru sekarang Oh Thi-hoa betul-betul kaget, baru saja dia putar badan, penyerang itu sudah bersuara dengan nada berat tertahan: "Siau Oh, kau?"

Mendadak Oh Thi-hoa menghela napas lega, katanya tertawa kecut: "Kenapa sekarang kau pun meniru aku, tanpa memberi peringatan kau lantas menyerang saja?"

"Kulihat sinar perak yang kau pegang ini, sudah kusangka kau adalah si pembokong dengan alat senjata rahasianya, siapa menduga bahwa benda ini bakal terjatuh ke tanganmu."

Oh Thi-hoa mengedip-ngedip mata, katanya: "Masakah kau sendiripun tidak menduga?

Dengan dua kali pukul dan tiga kali tendang kubikin keparat itu ngacir mencawat ekor, sudah tentu benda ini dengan gampang kudapatkan."

Coh Liu-hiang melengak, "Apa benar?" tanyanya sangsi. "Tidak benar!"

Coh Liu-hiang tertawa geli, "Sebetulnya akupun menduga bagaimana juga pasti takan berhasil mengudaknya."

"Aku tak berhasil membekuknya masih boleh diterima dengan nalar, si Maling romantis yang Ginkangnya nomor satu di seluruh dunia, kenapa setengah harian tidak berhasil menyandak si pembokong itu malah kehilangan orangnya?"

"Jikalau kabut tak setebal ini, mungkin aku bisa membekuknya, tapi ginkang orang itu memang tidak lemah, waktu aku mengudak keluar pagar tembok orang itu sudah empat lima tombak jauhnya."

"Di dalam waktu sekejap itu, dia sudah dapat terbang ke empat lima tombak, kalau demikian bukankah Ginkangnya lebih tinggi dari Li Giok-ham suami istri?"

"Mungkin setingkat lebih tinggi." "Dibanding aku?"

Tak tertahan Coh Liu-hiang tertawa pula, katanya menahan geli: "Kalau kau rada mengurangi minum arak, mungkin Ginkangnya tidak unggul dari kau, tapi sekarang..."

"Sekarang kenapa?" Oh Thi-hoa menarik muka. "Memangnya sekarang aku tidak lebih unggul dari Giok ham suami istri?" tanpa menunggu jawaban Coh Liu-hiang, dia sudah tertawa pula, "Tak perlu kau jawab pertanyaanku ini, supaya hatiku tidak sedih."

"Sebetulnya Ginkangmu kira-kira sebanding dengan Li Giok-ham suami istri, Setitik merah dan Lamkiong Lim, boleh terbilang ilmu tingkat tinggi. Tapi Ginkang orang ini kira-kira setarap dengan Bu Hoa, saat ini kalau bukan dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat tenggorokan Bu Hoa terhujam panah, mungkin aku bakal mengira pembokong tadi adalah Bu Hoa yang hidup kembali." "Kalau demikian, tokoh-tokoh Kang-ouw sekarang yang memiliki Ginkang setingkat itu tidak banyak lagi, benar tidak?"

"Ya, memang tidak banyak!"

"Kenapa kau selalu kebentur dengan musuh-musuh yang begini tangguh?"

Coh Liu-hiang menepekur sekian lamanya, akhirnya dia balas bertanya: "Benda di tanganmu itu kau dapatkan dari mana?"

"Ku temukan ditengah jalan, diatasnya ada ukiran huruf, coba kau lihat bisa tidak kau baca?" Coh Liu-hiang terima kotak perak itu, setelah meneliti sebentar, kontan berubah rona mukanya,

"Inilah tulisan kuno!"

Oh Thi-hoa jadi uring-uringan: "Benda ini terang jahat dan peranti membunuh orang kenapa harus diukir dengan huruf-huruf yang tak bisa dibaca, boleh dikata mirip benar bahwa ia itu terang adalah lonte "pelacur", justru dia mengenakan tujuh delapan celana!"

"Ini bukan disengaja hendak mempermainkan orang, soalnya alat senjata rahasia ini merupakan benda keramat peninggalan orang dahulu, malah dibuat oleh seorang tanpa daksa yang sedikitpun tidak pandai main silat."

"Benar, akupun pernah dengar asal-usul mengenai Bau-li-hoa-ting ini, tapi huruf apa terukir diatasnya itu?"

"Huruf-huruf yang terukir ini berbunyi: Keluar pasti melihat darah, kembali kosong pertanda celaka. Kecepatan diantara kesibukan, sang raja diantara senjata rahasia!"

"Kaum sastrawan memang pandai omong besar, agaknya ucapan ini memang tidak salah!" ujar Oh Thi-hoa tertawa geli.

"Kukira bukan sengaja hendak omong besar, hanya untuk menakuti orang belaka." kata Coh Liu-hiang menghela napas. "Betapa halus dan pintar buatan alat senjata rahasia ini, daya pegasnya yang meluncur amat kuat dan kencang, memang tidak malu disebut sebagai raja diantara senjata rahasia. Berbagai alat senjata yang ada pada Bulim jaman sekarang, bila dibanding dengan alat senjata rahasia ini, kecepatannya sudah terang terpaut dua bagian, sebaliknya senjata rahasia umumnya digunakan untuk melukai orang dan mencapai kemenangan terakhir, meski hanya terpaut setengah dim saja, bedanya sudah terlalu jauh."

"Apakah alat ini jauh lebih kuat dari bumbung jarum buatan Ciok koan-im itu?"

"Jarum sambitan dari bumbung jarum buatan Ciok Koan-im itu memang sudah cukup keras, tapi kau masih sempat berkelit setelah orang menyambitkan kepadamu. Sebaliknya bila Bau-li- hoa-ting sudah disambitkan, aku berani bertaruh tiada seorang tokoh lihai dalam dunia ini yang mampu menyelamatkan diri."

"Tapi kau tadi toh mampu meluputkan diri?"

"Itulah nasib baikku, karena sebelum paku-paku didalam alat ini disambitkan aku telah terkejut dan waspada walau demikian jikalau jarak sambitan orang itu beberapa kaki lebih hebat lagi aku tetap takkan terhindar dari malapetaka." "Kalau demikian bukankah alat senjata rahasia ini teramat tinggi nilainya!"

"Didalam pandangan kaum persilatan, alat ini memang barang mestika yang tak ternilai harganya."

"Kalau demikian, kenapa orang itu membuang begitu saja di tanah? Jikalau dia memiliki kepandaian setinggi itu, masakan kotak sekecil dan seenteng ini tak mampu memeganginya?"

"Ya, kejadian ini memang rada ganjil"

Sinar pelita dikamar Lin Bu-bi sudah padam, kedua suami istri itu agaknya sudah tidur lelap.

Secara diam diam Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa kembali ke kamarnya, pelita didalam kamar mereka masih menyala, cuma sumbunya sudah hampir terbakar habis.

Lekas Oh Thi-hoa memuntir putaran sehingga sumbunya keluar lebih besar, kamar menjadi lebih terang pula katanya: "Sia-sia kami bekerja setengah malaman, bayangan orang pun tak dilihat jelas, kalau tidak segera menenggak arak, aku sudah hampir gila dibuatnya."

Diatas meja terdapat sebuah poci teh dan sebuah poci arak, Oh Thi-hoa merasa cangkir arak terlalu kecil, sembari mengoceh dia menuang penuh cawan tehnya dengan arak.

Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala, katanya: "Terlambat minum arak toh kan tidak bakal mampus, marilah kita keluar dulu lihat Bau-hi-li-hoa-ting itu apakah masih berada di tempatnya semula." sebelah tangan menjunjung pelita tangan yang lain menarik Oh Thi-hoa mereka melangkah keluar.

Didalam rumah ada seekor tabuhan yang sedang terbang, melingkar mengikuti sinar pelita yang bergerak, akan tetapi dikala tabuhan ini terbang lewat di atas cawan yang berisi penuh arak itu, tiba-tiba jatuh dan kecemplung ke dalam cawan arak itu.

Apakah tabuhan itu mabuk juga oleh bau arak sehingga tak bisa terbang lagi? Tapi bau arak masakan ada yang begitu keras?

Jikalau Coh Liu-hiang belum melangkah keluar, tentu dia akan melihat serangga kecil seperti tabuhan begitu terjatuh ke dalam cawan arak itu, arak dalam cawan itu mengeluarkan suara "Ces", disusul asap hijau yang tipis mengepul keluar. Ternyata tabuhan yang kecemplung ke dalam arak itu sudah lenyap tanpa bekas, di dalam waktu sesingkat itu tabuhan itu sudah lumer dan mencair terbaur didalam arak menjadi buih-buih putih. Kejap lain buih-buih kecil itupun sudah pecah dan hilang, secawan arak tetap secawan arak, malah kelihatannya begitu bening dan enak rasanya, sedikitpun tidak menunjukkan sedikitpun kotoran apa saja.

Jikalau semacam arak ini diminum masuk ke perut Oh Thi-hoa, maka isi perut Oh Thi-hoa tanggung bakal meledak dan membusuk hancur tanpa meninggalkan bekas !

Kota Kayhong jarang turun hujan, maka tanah di pekarangan amat kering dan keras, hampir sekeras batu, umpama dikeduk menggunakan linggis, orangpun akan bekerja memeras keringat, setengah harian orang baru bisa membenamkan sebatang paku, dengan pukulan palu besar.

Tapi dibawah penerangan pelita ditangan Coh Liu-hiang, didapatinya kedua puluh tujuh batang Bau-hi-li-hoa-ting seluruhnya menancap amblas ke dalam tanah, yang nampak hanya lobang- lobang saja yang berjajar.

Berkata Coh Liu-hiang: "Lihatlah tempat dimana senjata rahasia ini disambitkan, berapa jauh menurut pikiranmu?" "Kira kira ada empat lima tombak." Sahut Oh Thi-hoa menerawang sebentar.

"Jadi Li Hoa-ling atau paku dari kembang ini disambitkan dari jarak empat lima tombak, namun masih bisa menancap amblas ke dalam tahan berapa kuat dan deras daya luncuran senjata rahasia ini, dapatlah kau bayangkan sendiri"

"Ingin aku membongkar kotak gepeng ini untuk melihat keadaan dalamnya seolah-olah kotak ini bisa membidikkan kedua puluh tujuh batang jarum itu seperti orang menarik busur panah saja." mulutnya bicara, lekas dia berjongkok, dengan sebuah pisau kecil, satu persatu dia korek kedua puluh tujuh Li-hoa-ling itu, namanya saja paku, bahwasanya tidak ubahnya seperti jarum sulaman, cuma pangkalnya saja yang rada membesar, tapi kalau ditekan diatas telapak tangannya rasa enteng bisa terbang dihembus angin kencang.

Mencelos hati Oh Thi-hoa, katanya: "Paku sekecil dan enteng ini dapat juga menancap amblas ke dalam tanah sekeras ini, jikalau kau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapapun aku tidak mau percaya."

"Karena kecepatannya luar biasa, maka kekuatannya besar luar biasa pula."

"Paku sekecil ini menghantam tanah amblas seluruhnya, jikalau sampai mengenai badan manusia, masakah jiwanya dapat diselamatkan... aku pasti akan memasukkannya kembali ke dalam kotak itu, ingin aku menjajal betapa kecepatannya sambutannya? "lalu kerjanya dipercepat, sebentar saja dia sudah selesai mengorek keluar kedua puluh tujuh batang jarum itu. "Ujung paku ini begitu runcing dan tajam kau harus hati hati"

"Tidak apa-apa aku tahu Bua-hi- li-hoat ting selamanya tidak pernah dilumuri racun, karena tanpa dilumuri racun, kekuatan paku sekecil ini cukup berkelebihan untuk menamatkan jiwa orang."

Mereka kembali ke dalam rumah, Oh Thi-hoa tuang seluruh paku-paku itu di atas meja, lalu diangkatnya cawan arak sambil tertawa, katanya: "Sekarang aku boleh minum bukan ! Apa kaupun ingin minum secawan ?"

Coh Liu-hiang tertawa tawa, sahutnya: "Aku minum teh saja." Pelita diletakkan, lalu menyambar cawan tehnya.