Pendekar Pengejar Nyawa Jilid 29

 
Jilid 29

Tokoh-tokoh silat maha lihai dan tinggi pada jaman ini menurut apa yang diketahui Coh Liu- hiang kira-kira ada empat, lima orang. Ada orang bilang Ciangbun-jin Siao lim pay sekte selatan: Thian-hong Taysu, adalah maha guru silat nomor satu di seluruh Bulim, namun ada pula yang bilang bahwa Lui-ting Sianjiu dari Kun-lun Congcu membekal kepandaian silat yang tiada taranya di seluruh dunia, ada juga orang yang mengatakan bahwa pendekar kelana Hiat-in jin yang serba misterius itu memiliki kepandaian ilmu pedang yang jauh lebih kuat dari tokoh pedang yang manapun, sudah tentu ada pula yang mengatakan bahwa Hiat ih-jin dapat malang melintang di dunia persilatan lantaran dia sendiri belum pernah bentrok atau kepergok oleh Coh Liu-hiang.

Tapi Coh Liu-hiang percaya dan yakin para tokoh-tokoh silat yang diagulkan mempunyai kepandaian serba nomor satu di dunia ini. Jikalau bergebrak melawan Ciok koan-im tanggung tiada satupun yang kuasa bertahan sebanyak tiga ratus jurus.

Coh Liu-hiang juga tahu lima puluh jurus lagi, dirinya pasti bakal ajal.

Tatkala itu permainan Ciok-koan-im sudah mulai lambat, gerak geriknya seperti orang sedang menari dengan lembut dan mempesonakan. Kalau orang lain yang bergerak selambat dia ini, Coh Liu-hiang pasti dapat mengetahui sasaran mana pada badannya yang diincar oleh Ciok-koan-im, maka dengan gampang dan sepele dia bisa berkelit menghindarkan diri. Akan tetapi walau serangan Ciok-koan-im dilancarkan dengan amat lambat, namun tak bisa diselami dan dijajagi kemana arah serangannya yang sebenarnya, ternyata semakin lambat gerak serangannya namun sasaran dan tipunya semakin ganas dan telengas, semakin lambat semakin menakutkan.

Karena pada setiap jurus serangannya, selalu dilandasi sembilan dari sepuluh bagian kekuatannya, malah ditengah jalan sembarang waktu dapat diubah dan diganti dengan variasi apa saja, sebaliknya sisa satu bagian kekuatannya itupun cukup berlebihan untuk menamatkan jiwa seseorang yang diincarnya.

Begitu Ciok-koan-im melancarkan satu serangan, boleh dikata Coh Liu-hiang sudah tidak akan mampu berkelit lagi, karena begitu dia melawan atau berkelit, tenaga yang dia kerahkanpun sudah ludes, begitu Ciok-Koan-im merubah tipu serangannya jelas dia takkan bisa mengegos diri lagi.

Cara pertempuran yang berat sebelah seperti ini, sudah tentu amat fatal bagi Coh Liu-hiang, seumpama orang bisu yang makan obat pahit, meski kepahitan mulut tidak bisa mengeluh, mimpipun Coh Liu-hiang tidak pernah membayangkan hari ini dirinya bakal begitu runyam.

"Coh Liu-hiang," Ciok koan-im tertawa dingin, "Apa kau masih mampu melawan?" "Tidak bisa lagi." sahut Coh Liu-hiang sejujurnya.

"Coba kau pikir, siapa pula orangnya yang mampu menolongmu sekarang?" tanya Ciok koan-

im.

"Tiada seorangpun," sahut Coh Liu-hiang. Sekarang kapan saja Ciok koan-im bisa merenggut jiwa Coh Liu-hiang dengan mudahnya, umpama kata tujuh tokoh Ciang bunjin dari tujuh aliran pedang terbesar pada jaman ini diundang kemari, merekapun takkan mampu menolong dirinya.

Andai kata dalam waktu sesingkat mungkin ada orang mampu mengumpulkan tokoh-tokoh silat dari seluruh jagat ini didalam lembah ini dan memecah hancurkan badan Ciok koan-im, tapi Ciok koan-im tetap bisa membunuh Coh Liu-hiang lebih dulu, jiwa Coh Liu-hiang tidak akan tertolong.

Sudah tentu tokoh semacam Coh Liu-hiang mempunyai banyak musuh didalam segala tingkat dan berbagai aliran, meski banyak diantara sekian banyak musuh musuhnya amat membenci Coh Liu-hiang sampai ke tulang sumsumnya, namun mereka tak berani berbuat apa-apa, paling hanya mencaci maki di belakang orang: "Kelak Coh Liu-hiang pasti mampus di tangan perempuan, jenasahnya kelak bakal ditemukan melintang di atas pinggang perempuan yang telanjang bulat".

Jikalau orang yang mencaci dan mengutuknya itu berada di sini, tentu mereka tertawa terpingkal-pingkal sampai mulutnya itu menganga tak terkatup lagi.

Tampak badan Ciok koan-im yang begitu montok dan padat berisi bertelanjang, didalam kejap ini bertambah cantik, molek dan menggiurkan, bayangan yang berada didalam kaca memancarkan cahaya. Kembali wajahnya menampilkan senyuman mekar yang mempesonakan, katanya: "Apa kau sudah tahu? Setiap membunuh musuh yang tangguh dan lihai, aku lantas merasa jiwaku jauh lebih muda, cuma membunuh kau, hatiku rada merasa sayang". habis ucapan ini diapun melontarkan pukulan telapak tangannya yang terakhir.

Dia sudah melihat keadaan, Coh Liu-hiang yang payah dan takkan mungkin melawan lagi. Tak nyana badan Coh Liu-hiang tiba-tiba mengkeret, berbareng tangannya berbalik balas menyerang. Tapi pikulannya bukan menyerang kepada Ciok koan-im, namun yang diarahnya adalah cermin besar itu. Jikalau pukulannya ini dia tujukan kepada Ciok koan-im, terang takkan mungkin mengenai sasarannya, tapi cermin ini sebaliknya diam tegak di tempatnya. Maka terdengarlah "Krempyang!" cermin itu semuanya telah hancur berantakan terkena pukulannya. Dengan sendirinya bayangan Ciok koan-im didalam cermin pun ikut hancur lebur.

Jikalau terhadap orang lain, tindakan Coh Liu-hiang memukul hancur cermin ini tentu tiada manfaatnya apa-apa tapi lain bagi Ciok koan-im yang terlalu cantik rupawan ini, dia pun terlalu kuat dan tangguh, sejak beberapa tahun belakangan ini, dia sudah menunjang jiwa raga dan semangat hidupnya pada cermin satu-satunya ini, karena dia sudah jatuh cinta kepada jiwa raga sendiri. Tapi tidak dia pikirkan sama sekali bahwa bayangan dirinya yang kosong di dalam cermin yang dia cintai ini, bahwasanya mempunyai darah daging pula. Seolah-olah orang di dalam cermin dan jiwa raganya sudah merupakan dwi-tunggal yang tak boleh terpisah, kental antara tulen dan khayal, sampai dia sendiripun tak bisa membedakan lagi.

Begitu cermin itu pecah dengan suaranya yang keras, maka orang didalam kaca itu seketika terpukul pula, demikian pula Ciok koan-im yang berada di luar cermin juga seperti kena dipukul sekeras-kerasnya, seketika badannya tergetar keras dan berdiri menjublek.

Pertempuran tokoh-tokoh kelas wahid mana boleh sekilas saja lena, apalagi melongo seperti Ciok koan-im, didalam waktu yang teramat singkat ini, beruntun Coh Liu-hiang sudah menutuk lima Hiat to besar di badannya. Ciok koan-im yang tiada bandingannya, pelan-pelan akhirnya roboh.

Sampai dia sudah rebah tak berkutik masih belum berani percaya akan kenyataan ini, sungguh tak habis terpikir dalam benaknya cara bagaimana Coh Liu-hiang bisa dan dapat memikirkan cara selicik ini untuk merobohkan dirinya. Dengan mata terbelalak kaget dia pandang Coh Liu-hiang dengan pandangan curiga dan penuh tanda tanya.

Sebaliknya Coh Liu-hiang menarik napas panjang sepuas-puasnya dengan memejamkan mata. Lama juga dia berhasil menekan perasaan dan menenteramkan jantungnya yang berdebar- debar keras seperti damparan ombak samudra, ingin dia menyeka keringat di atas mukanya, tapi seluruh pakaian dan kedua tangannya sendiripun basah kuyup seperti kehujanan.

Ciok koan-im mendelik, katanya serak: "Kau... kau merobohkan aku?"

Akhirnya Coh Liu-hiang tertawa lebar, katanya: "Tidak salah, aku mengalahkan kau, memang sering aku bisa memukul jatuh lawan yang sebenarnya lebih tangguh dan lebih lihai dari kepandaian sendiri, ada kalanya aku sendiripun heran serta tak percaya akan kenyataan ini."

Sorot mata Ciok koan-im menampilkan siksa derita yang luar biasa, seperti masih ingin mengatakan apa-apa, bibirnya sudah bergerak beberapa kali, namun sepatah katapun tak kuasa dia ucapkan.

Coh Liu-hiang menghembuskan napas panjang dari mulut, katanya: "Kau sudah membunuh teman-temanku yang paling baik, sungguh ingin aku membunuhmu untuk menuntut balas kematian mereka, tapi aku pantang berbuat demikian, sekarang terpaksa aku hanya..." suaranya tiba-tiba terputus, bulu roma dan bulu kuduknya seketika merinding berdiri.

Ternyata hanya di dalam sekejap ini, badan montok Ciok koan-im yang padat berisi dan menggiurkan ini secara aneh seperti disulap layaknya sudah berubah mengering layu dan menyusut berkeriput seperti kayu keropos yang kekeringan, darah daging badannya seolah-olah secara tiba-tiba sudah tersedot hilang, tinggal kulit pembungkus tulang belaka. Badan elok dari perempuan tercantik di seluruh jagat ini, di dalam waktu sesingkat ini mendadak berubah jadi sesosok mayat kering kerontang yang begitu mengerikan, siapapun yang melihatnya pasti akan bergidik seram.

Tiada seorangpun yang mampu membunuh Ciok koan-im, dia sendiri yang membunuh dirinya sendiri.

Cuaca nan gelap sudah mulai remang-remang, sang fajar sebentar lagi akan menyingsing, namun hawa pagi terasa semakin dingin menyusup ke tulang sumsum.

Betapa pilu sedih sanubari Coh Liu-hiang, mendelu lagi, tak henti-hentinya dia bertanya kepada dirinya sendiri: "Apa aku sudah menang? Apa benar aku menang?"

Garis pemisah antara perempuan cantik dengan mayat kering kulit pembungkus tulang cukup dekat dan hanya terpaut satu garis itu saja, memangnya berapa pula bedanya antara menang dan kalah? Walau dia sudah berhasil merobohkan Ciok koan-im yang tiada tandingannya, meski mendapat kabar Soa Yong-yong yang selamat dan sehat walafiat, tapi di sini dia harus kehilangan Oh Thi-hoa dan Ki Ping yan, apakah penyesalan dan kepiluan hatinya dapat ditambal dan diobati? Terang tidak mungkin.

Boleh dikata Coh Liu-hiang hampir tak ingat lagi kapan dirinya pernah mengucurkan air mata. Kini air matanya sudah berderai membasahi pipi dan menambah basah pakaiannya yang kuyup kena keringatnya tadi, tapi dia harus menyeka kering air matanya, karena dia harus tetap bertahan hidup.

Bertahan hidup bukan saja merupakan hak seseorang, juga merupakan kewajiban dari orang itu sendiri, tiada orang yang punya hak untuk membunuh orang lain, juga tiada hak yang memberi kewajiban kepada orang untuk membunuh dirinya sendiri. Dengan membusungkan dada dengan langkah berat, Coh Liu-hiang beranjak keluar, di depan sana ada sebuah lekukan gunung, di sana Bu Hoa rebah tertutuk Hiat-tonya, dia sembunyikan di suatu tempat didalam lekuk gunung itu, apapun yang akan terjadi Bu Hoa harus dia bawa pulang ke Tionggoan, biar dia menerima hukuman undang-undang yang setimpal, inipun merupakan kewajibannya orang yang membunuh orang dia harus dihukum mati juga, siapapun takkan dapat meluputkan dirinya dari undang-undang atau hukuman negara ini. 

Akan tetapi siapapun takkan bisa membawa pergi Bu Hoa, sebatang panah panjang, ternyata sudah menembus tenggorokan dan mematikan riwayatnya, darah membasahi dadanya dimana terdapat secarik kertas putih kehijau-hijauan yang bertuliskan beberapa huruf berbunyi: "Coh Liu- hiang si Maling romantis pantang membunuh orang, terpaksa Burung Kenari mewakilinya."

Kembali Coh Liu-hiang tertegun dibuatnya, bahwasanya orang semacam apakah sebenarnya si Burung Kenari itu? Apakah perbuatannya ini baik atau punya tujuan jahat? Apa pula sebetulnya yang menjadi tujuan segala tindak tanduknya yang serba tersembunyi ini.

Pada saat itu pula terdengar deru angin kencang melesat ke arahnya, sebatang anak panah memecah angin terbang datang. Lekas Coh Liu-hiang menggeser kaki dan memiringkan badan dengan kedua jari tangan kanannya dia jepit anak panah itu, tampak ujung panah yang runcing sudah putus, jadi si pembidik panah ini terang tidak bermaksud bermusuhan atau hendak mengarah jiwa Coh Liu-hiang. Tapi di pangkal panah dimana ada bulu burungnya terikat seutas benang lembut yang panjang, entah berapa panjangnya sampai tak kelihatan pangkalnya, apakah si Burung Kenari yang serba misterius itu sedang menunggu Coh Liu-hiang di balik ujung benang panjang di sebelah sana?

Perduli permainan apa yang sedang dilakukan tokoh misterius yang serba menakutkan ini Coh Liu-hiang sudah berkeputusan akan memburu kesana melihat keadaan, tanpa banyak berpikir dan tidak ayal lagi, badannya segera melesat berlari-lari menyusuri benang panjang ini. Pada ujung benang yang lain ternyata memang ada orang sedang menunggu malah bukan hanya seorang saja, tapi sekaligus empat orang, begitu melihat Coh Liu-hiang muncul seketika empat orang ini berjingkrak dan bersorak girang menyambutnya.

Sebaliknya begitu melihat ke empat orang ini Coh Liu-hiang terkesiap kaget dan melongo keheranan, mulut tak kuasa bicara.

Karena ke empat orang ini bukan lain adalah Kui-je ong ayah beranak dan Oh Thi hoa serta Ki Ping yan. Apakah ini dalam impian. Tapi Oh Thi hoa sudah meremas pundaknya, sampai tulang pundaknya terasa sakit sekali.

Coh Liu-hiang tertawa pahit, ujarnya: "Ini bukan mimpi, orang yang sedang mimpi tidak akan merasa sakit, tapi jikalau pengalaman ini bukan mimpi, masakah orang yang sudah mampus bisa hidup kembali?"

Oh Thi hoa bergelak tawa, katanya: "Belakangan ini akherat dan neraka sudah penuh sesak, Giam Lo-ong "raja akherat" sendiripun sampai kewalahan menampung kami, terpaksa sukma kami yang gentayangan ini digebah balik ke dunia fana ini."

"O, tak heran belakangan ini banyak orang yang sudah mampus tiba-tiba hidup kembali." Coh Liu-hiang ikut tertawa lebar.

Sebaliknya sikap Ki Ping yan seperti rada tegang, katanya: "Darimana kau tahu peristiwa kami keracunan? Masakah kau sudah bertemu dengan Ciok-koan-im?"

"Ehm! Ya!" Coh Liu-hiang mengiakan sambil manggut-manggut. Oh Thi hoa, Ki Ping yan, Kui-je-ong dan Pipop kongcu sama-sama melongo, sekian lama mereka menjublek, akhirnya sama-sama menarik napas lega pula. Oh Thi-hoa pula yang membuka suara lebih dulu dengan mengedip-ngedipkan mata: "Tapi tentunya bukan kau yang membunuhnya bukan?"

"Masakah kau belum pernah dengar, ada kalanya seseorang menyembunyikan obat beracun di sela-sela giginya, dikala perlu kapsul obatnya dia gigit sampai pecah dan kadar racun segera tertelan ke dalam perut dan..."

"Maksudmu bahwa dia bunuh diri?" tukas Oh Thi-hoa. "Kenapa dia harus bunuh diri? Karena kau kalahkan?"

"Karena kecuali mati, tiada jalan lain yang baik untuk dia tempuh."

Oh Thi-hoa menatapnya dengan pandangan mendelik, biji matanya seperti hampir mencopot keluar, seolah-olah baru hari ini dia pernah melihat orang seperti Coh Liu-hiang ini.

Lekas Pipop-kongku mengulangi pertanyaan Oh Thi hoa tadi: "Apa kau sudah mengalahkan dia?"

Coh Liu-hiang tersenyum ewa, katanya "Tentu kalian amat heran, benar tidak?"

Hakikatnya bukan saja mereka serba keheranan boleh dikata merekapun tidak mau percaya. Akhirnya Oh Thi hoa menarik napas panjang, katanya geleng-geleng kepala: "Konyol! Konyol!

Orang she Ki, coba katakan, apa kalian ada muka untuk berdiri di hadapan orang banyak, dan bagaimana kita harus hidup selanjutnya? Kami berdua bergabung masih bukan tandingan Ciok- koan-im, bocah ini seorang diri malah dengan gampang dapat merobohkan si centil itu."

"Gampang katamu?" ujar Coh Liu-hiang menyengir. "Kau kira aku amat gampang mengalahkan dia? Biar kujelaskan sejujurnya, aku bergebrak dua ratus jurus lebih, bahwasanya tiada satu seranganku yang membuatnya terdesak atau merupakan ancaman bagi dirinya."

"Jadi kau hanya terima dicecar saja olehnya, bagaimana pula kau bisa mengalahkannya?"

Belum Coh Liu-hiang menjawab, Pipop-kongcu tertawa cekikikan, katanya: "Sudah tentu dia mempunyai akal yang baik, sejak mula aku sudah tahu bahwa dia tentu punya cara untuk mengalahkannya. Bagi pertempuran tokoh-tokoh silat kelas wahid bukan saja mengutamakan tenaga atau kekuatan serta tinggi rendahnya bekal kepandaian orang-orang itu, dia haru menggunakan otaknya pula, jadi sekaligus mengadu kecerdikan, walau ilmu silatnya bukan tandingan Ciok-koan-im, tapi jikalau mengadu kecerdikan dan akal muslihat siapa pula dalam dunia ini yang bisa mengungkuli dia?" sembari bicara dia maju menghampiri, akhirnya tak tertahan dia menarik tangan Coh Liu-hiang, seolah-olah selanjutnya berat untuk berpisah.

Kui-je-ong segera batuk-batuk dengan suara berat, katanya unjuk tawa berseri: "Keberhasilan Kui-ong kali ini sungguh berkat bantuan berharga para Congcu sekalian, entah sudikah kalian bertiga bertamu dan tamasya dulu ke negri Kui-je kami...?"

Dengan tawa riang Pipop-kongcu segera menimbrung: "Sudah tentu kalian harus kesana siapapun diantara kalian yang tidak mau pergi, aku tidak akan tinggal diam!"

Ki Ping yan dan Oh Thi hoa tidak buka suara, mereka berpaling kearah Coh Liu-hiang. Tak tahan Coh Liu-hiang pun batuk sebentar, katanya tertawa: "Cayhe bertiga sudah tentu ingin benar bertamasya di negeri tuan, cuma. "

Berubah rona muka Pipop-kongcu, katanya dengan tertawa dipaksakan: "Cuma apa?"

Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala dengan menunduk, katanya: "Cuma tugas lain yang cukup penting sedang menunggu kami pula untuk segera diselesaikan, terpaksa kali ini kami mengabaikan maksud baik Ong ya!"

Pipop-kongcu segera lepaskan pegangan tangannya, mukanya pucat pias dan jari-jari tangannya pun gemetar, selangkah demi selangkah dia menyurut mundur, matanya sebaliknya menatap Coh Liu-hiang lekat-lekat, suaranya pun gemetar: "Kau tidak mau? Kau benar-benar tidak mau bertandang ke negeriku?"

Coh Liu-hiang menjawab dengan senyuman meringis. Lekas Kui-je-ong maju menarik tangan putrinya, katanya menghela napas: "Congsu bertiga ternyata tak sudi memberi muka kepada kami, sungguh Pun-ong amat kecewa sekali, tapi aku maklum bahwa kalian tentu punya urusan penting lainnya, kami pun tidak berani memaksa."

Pipop-kongcu tertunduk, mulutnya seperti mengigau: "Benar, kami tidak boleh memaksa mereka, sebetulnya aku sudah harus tahu sejak mula bahwa mereka tidak akan sudi ke negeriku."

Mendadak ia angkat kepala pula, kini mimik mukanya berubah berseri tawa pula, katanya: "Aku tidak akan salahkan kalian, karena aku sendiri toh tidak akan ikut kalian, bahwasanya kita ini terdiri dari manusia dua lapisan dunia yang berlainan, dapat kumpul bersama secara kebetulan, aku. aku sudah amat senang."

Fajar sudah menyingsing, angin menghembus sepoi-sepoi namun dinginnya laksana tajam golok mengiris kulit. Coh Liu-hiang, Ki Ping yan dan Oh Thi hoa bertiga berdiri kaku ditengah- tengah hembusan angin dingin ini, entah berapa lama sudah mereka mematung ditempat itu.

Akhirnya Oh Thi hoa pula yang tidak tahan sabar menarik napas dalam, mulutpun menggumam: "Dia sudah pergi, ternyata tidak menangis, sungguh suatu di luar dugaan. Tabah pula hatinya, belum pernah aku memuji atau mengagumi perempuan yang manapun, sekarang aku betul-betul tunduk dan harus memujinya!"

"Apa yang dia ucapkan memang tidak salah." ujar Coh Liu-hiang. "Antara aku sama dia hakikatnya terdiri dari manusia dua lapisan dunia yang berlainan, meski dipaksa gaul bersama, akhirnya malah akan menambah penderitaan masing-masing pihak, lebih baik sekarang berpisah begini saja, ya, terhitung sebagai kenangan manis pada masa yang akan datang!"

Oh Thi hoa tertawa getir pula, katanya: "Bagaimana juga, bukan saja dia itu cantik, lincah dan mungil, otaknyapun cerdik pandai, gadis seperti ini kenapa belum pernah kebentur sama aku?"

Ki Ping-yan tiba-tiba menjengek: "Umpama kau pernah menemuinya, tentu dia sudah lari terbirit-birit oleh bau arak dari mulutmu yang apek itu."

Oh Thi-hoa terloroh-loroh geli, sedapat mungkin Coh Liu-hiang pun tertawa tawa dibuat-buat, segera ia alihkan pokok pembicaraan: "Ciok-koan-im bilang kalian sama minum araknya beracun, tentunya omongannya bukan bualan belaka."

Ki Ping-yan segera menutur dengan suara tawar: "Sian Oh merebut cangkir arak itu, terus ditenggaknya separo, sisanya yang separo diberikan kepada aku, akupun segera meminumnya habis. Karena setelah berada dalam posisi kita waktu itu, kecuali mampus sungguh tiada jalan lain yang lebih baik untuk kami tempuh." Oh Thi-hoa tertawa geli, ujarnya mengolok: "Semula aku kira dia amat tinggi menilai jiwanya sendiri, siapa tahu dia..." tenggorokannya seperti tersumbat, kata-kata selanjutnya tak kuasa ia lanjutkan, matanyapun basah dan berkaca-kaca, dengan kuat telapak tangannya menepuk pundak Ki Ping-yan, mulutnya menggumam: "Pendek kata, aku tak sia-sia mengikat persahabatan sama kau, waktu itu meski Oh Thi-hoa sudah bertekat hendak membunuh aku, belum tentu hendak membunuhmu."

"Tapi cara bagaimana kalian akhirnya tidak sampai mampus?" tanya Coh Liu-hiang.

"Disaat jiwaku hampir melayang itulah, sekonyong-konyong terasa ada seseorang menjejalkan sebutir obat ke dalam mulutku, lalu berbisik pula di pinggir telingaku: "Ingat! Bukan saja Burung Kenari bisa membunuh orang, diapun bisa menolong orang!"

"Jadi dia yang menolong kalian?" ujar Coh Liu-hiang terbelalak. "Apa kalian ada melihat orang macam apakah dia itu?"

"Waktu itu kami sudah dalam keadaan tele-tele, jiwa hampir melayang, apapun tidak melihatnya." sahut Oh Thi-hoa.

Coh Liu-hiang berpaling kepada Ki Ping-yan. Ki Ping-yan segera geleng-geleng kepala, sesaat menepekur, akhirnya Coh Liu-hiang berkata: "Tokoh macam apakah sebenarnya si Burung Kenari itu? Kenapa dia berbuat demikian? Apakah dia sengaja hendak menanam budi kepadaku?

Ataukah..."

Oh Thi-hoa tertawa, katanya: "Mungkin dia cuma punya seorang anak gadis yang ingin dijodohkan kepadamu, atau mungkin pula dia sendiri adalah "gadis ayu", entah sejak kapan sudah jatuh hati dan terpincut oleh ketampananmu..." tanpa menunggu Coh Liu-hiang bicara, segera dia menambahkan, "Tapi bagaimanapun yang terang kita harus mencarinya sampai ketemu bukan?"

Coh Liu-hiang menengadah mengawasi segumpal awan terbang, katanya: "Kita tidak perlu susah-susah pergi mencarinya karena aku yakin satu ketika pasti dia akan mencari kita."

Kini hari sudah magrib.

Dalam sebuah kota yang ramai, jalan-jalan raya penuh sesak berjubel-jubel manusia dari segala macam lapisan, laki-laki, perempuan, tua muda, ada yang memapah orang tua, ada yang membopong anak-anak.

Semua orang kebanyakan riang gembira, karena setelah bekerja seharian dengan tekun dan berat, kinilah kesempatan mereka menghibur diri dengan mengenakan pakaian baru, sepatu yang baru. Dalam kantong mereka sedikit atau banyak pasti terisi uang dari hasil jerih payah mereka yang mereka tabung dan dari sisa ongkos-ongkos kehidupan yang mereka tabung inilah sekarang mereka menikmati kehidupan sore hari nan cerah dan riang.

Namun ada pula sementara lapisan masyarakat yang tidak mengenal derita hidup dan bebas kehidupan berat, sudah tentu mereka-mereka inipun tidak tahu mencari kesenangan serta meluangkan waktu untuk menghibur diri melepaskan otak dan ketegangan kerja selama bekerja sehari penuh, oleh karena itu selamanya mereka selalu bersikap masa bodoh dan kurang semangat serta tak punya gairah kehidupan.

Seorang petani tanpa bercocok tanam di sawah ladang, namun menginginkan panen sebanyak-banyaknya selamanya dia tidak akan memperoleh kegembiraan hidup. Sepanjang jalan raya ini, berderet-deret berbagai macam toko dan warung, ada yang menjual kelontong, ada toko besi, ada yang jual daun teh, ada yang jual kain, konveksi, ada pula yang jual pupur, semua toko-toko itu sama menjajakan barang-barang pilihan mereka yang paling baik kwalitetnya di depan tokonya untuk memancing para pembeli.

Pemilik toko sama mengawasi orang-orang yang sedang berlalu lalang di depan tokonya, sorot pandangannya seolah-olah seperti orang-orang yang lewat itu mengawasi barang-barang yang dijajakan itu, kalau orang-orang jalan itu sama ketarik oleh barang-barang itu, sebaliknya pemilik- pemilik toko itu sama ketarik pada uang di dalam kantung mereka. Orang-orang itu jadi sama pandang, sama tersenyum kebanyakan orang sama kenal satu sama lain. Tapi diantara sekian banyak orang yang berjublek-jublek itu hanya ada dua orang yang segalanya serba asing di sini.

Mereka bukan lain adalah Oh Thi-hoa dan Coh Liu-hiang. Mereka tidak tahu apakah nama kota yang mereka kunjungi ini, mereka tidak mencari tahu, juga tak ambil perhatian, karena perhatian mereka bukan pada kota ini.

Perhatian mereka tertuju kepada orang-orang yang berjublek-jublek itu. Dari padang pasir nan terbentang luas tak berujung pangkal serta serba kekeringan itu, mereka kembali dan tiba di kota ini melihat suasana hangat, ramai serta damai dan serta rukun, diantara manusia-manusia baik dan bajik ini, sungguh jauh dan mengetuk sanubari mereka dan membuat hati riang dan lapang pula dadanya.

Keramaian dalam kota yang ramai ini, tempat yang teramai ditempat kesibukan orang-orang di sepanjang jalan raya, ini adalah rumah makan yang paling besar, megah dan mewah ini. Maka mereka memilih tempat ini untuk berpijak sementara, sekedar tangsel perut sambil melepaskan otot-otot. Mereka memilih tempat duduk yang dekat jendela, dari loteng jendela ini mereka bisa mengawasi orang-orang yang hilir mudik di bawah, mengawasi senyuman mekar, riang dan gembira orang-orang itu, mengendus deru napas mereka pula. Begitulah mereka duduk termenung dengan pandangan mendelong, entah berapa lama mereka tak segan-segan mengawasi terus, makanan sudah memenuhi meja, namun tiada satupun yang diusik, botol-botol tak terhitung banyaknya, tapi seluruhnya kosong melompong.

Siapakah burung kenari? Laki-laki atau perempuan? Apa pula tujuannya dibalik perbuatannya yang misterius itu? Kenapa pula setiap korbannya selalu dicukuri alisnya?

Kenapa pula Soh Yong-yong bertiga selama ini? Bagaimana pula keadaan Hek-tin-cu atau Mutiara hitam? Ternyata bahwa mutiara hitam adalah seorang perempuan, bagaimana pula sikap si Maling romantis selanjutnya?

Pengalaman Maling romantis di padang pasir sudah berakhir dengan terbunuhnya Ciok-koan- im. Dapatkah Coh Liu-hiang si Maling romantis membongkar rahasia Sin-cui-kiong? Keraton yang khusus hanya dihuni kaum perempuan. Cara bagaimana Bu Hoa memelet salah satu murid-murid didik Sin cui-kiong sampai bunting dan akhirnya bunuh diri?

Kemana Setitik merah yang minggat tanpa pamit dengan Ki Bu-yong? Apakah mereka akhirnya menikah dan jadi suami istri?

Apakah Coh Liu-hiang bisa mengalahkan Cuibo atau induk air ketua Sin-cui kiang seperti mengalahkan Ciok-koan-im?

Bacalah serial kelanjutan Rahasia Ciok-koan-im ini dengan temannya yang lebih baru, realistis dan serba tegang dan menggelikan! Tokoh-tokoh pedang bakal bermunculan, gembong silat bakal unjuk diri dari tempat pengasingannya, apa tujuannya? Apakah Coh Liu-hiang harus melawan dan mengalahkan mereka juga?

Kulit muka Oh Thi-hoa sekarang sudah berubah legam karena teriknya matahari padang pasir beberapa waktu yang lalu, setelah beberapa botol arak masuk ke dalam perut, kulit mukanya menjadi merah menyala kegelap-gelapan, katanya menghela napas: "Baru sekarang aku sadar, orang-orang awam seperti mereka inilah baru betul-betul amat menarik, kalau setiap hari kau selalu bergaul dengan mereka mungkin kau tidak akan merasa ketarik, akan tetapi bila kau sudah berkayun langkah bertamasya di padang pasir yang terik itu, maka kau akan benar-benar sadar tiada sesuatu apapun di dalam dunia ini yang menarik hatimu kecuali manusia!"

Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya: "Dan di situ pulalah letak perangaimu yang menarik, seseorang yang punya rasa simpatik terhadap sesama manusia pastilah dia itu bukan seorang durjana, seorang busuk tentu tidak akan punya jalan pikiran seperti kau ini."

"Terima kasih akan pujianmu, aku hanya mengharap jago mampus itupun bisa mendengar pujianmu ini." Menyinggung Ki Ping yan alias jago mampus, gelak tawa Oh Thi-hoa menjadi sumbang dan mimik mukanya jadi kecut, beruntun dia tenggak tiga cangkir arak, lalu menggebrak meja, katanya gegetun: "Sungguh aku tak habis mengerti, kenapa jago mampus tidak mau seperjalanan dengan kita, kenapa dia harus pulang?"

"Jikalau kau tahu di rumah ada orang yang sedang menunggu kau, pasti kaupun tergesa-gesa akan pulang!"

Lama Oh Thi-hoa tidak bicara, beruntun dia habiskan lagi tiga cangkir baru dia menghela napas pula, ujarnya: "Benar, bagaimanapun seorang laki-laki bila tahu di rumah ada orang yang sedang menunggu dirinya pulang, sedang merindukan dirinya, sungguh suatu hal yang amat menyenangkan!"

Tapi yang penting adalah dalam hatimu benar-benar merindukan seseorang yang patut kau perhatikan, kalau tidak umpama rumahnya itu merupakan suatu tempat terindah di seluruh jagat ini, andaikata kau menggusurnya pulang dengan cambuk, diapun tidak akan sudi pulang.

Oh Thi-hoa mengedip-ngedipkan matanya, katanya tertawa: "Aku tahu, kau sedang merindukan Yong-ji dan lain-lain bukan?" tanpa menunggu Coh Liu-hiang segera ia menambahkan pula: "Bahwasanya umpama kata mereka sudah pulang, hakekatnya kau tidak perlu menguatirkan mereka, cukup mengandal tenaga mereka bertiga, tujuh propinsi selatan dan enam puluh tiga propinsi di utara memangnya siapa berani mengusik seujung rambut mereka?"

Coh Liu-hiang mandah tertawa getir, Oh Thi-hoa pun tidak banyak bicara lagi, karena pada saat mana mereka lihat ada seorang muda berpakaian serba hijau sedang melangkah menghampiri mereka.

Pemuda ini sebetulnya duduk di meja sebelah, tak jauh dari tempat duduk mereka, bukan saja berparas cakap tampan, kelihatannya tindak tanduknya lemah lembut dan gagah, pakaiannya meski tidak terlalu mewah, namun potongannya cukup cocok dengan perawakan badannya, bahkan kainnyapun terbuat dari sutra yang mahal, kelihatannya anak dari keluarga hartawan yang punya pendidikan keras dan tahu adat.

Orang seperti dia kemanapun dia berada, pastilah menarik perhatian orang banyak, apalagi di sebelahnya diiringi istrinya yang cantik molek.

Sebetulnya sejak tadi Oh Thi-hoa dan Coh Liu-hiang sudah memperhatikan sepasang suami istri ini, diwaktu mereka minum arak, kedua suami istri ini juga sedang minum, selain cara minum mereka benar-benar mengejutkan orang banyak, ternyata kekuatan minum suami istripun cukup banyak. Dikala sang suami minum arak, sang istri ternyata dapat mengiringinya dengan baik. Sejak tadi Coh Liu-hiang sudah merasa ketarik dan kagum.

Sekarang pemuda ini meninggalkan sang istri datang menghampiri, sungguh Oh Thi-hoa tidak mengerti apa maksud orang, pemuda jubah hitam itu sudah tiba dihadapannya, merangkap kedua tangan dan menyapa dengan tersenyum: "Sebetulnya Siaute tidak berani mengganggu selera minum arak tuan-tuan berdua, tapi melihat kalian sedemikian besar takaran minumnya sungguh tak tahan lagi untuk mohon berkenalan, semoga kalian tidak salahkan keteledoran ini".

Bagi tukang judi, umpama celana satu-satunya yang dia pakaipun akhirnya kalah dalam pertaruhan, dia masih senang dipuji orang bahwa dia pintar berjudi, pandai bertaruh. Demikian juga orang yang suka minum arak, tiada yang tiada disanjung puji sebagai orang yang punya takaran besar. Apalagi takaran minum pemuda ini sendiripun tidak sedikit, pujian seperti ini keluar dari mulutnya, sudah tentu membuat hati orang yang dipujinya kegirangan setengah mati.

Oh Thi-hoa sudah berdiri menyambut, katanya tertawa: "Empat penjuru lautan semua adalah saudara, kau sudi kemari, itu berarti kau pandang kami, kalau kami masih salahkan kau, kukira kami ini sudah gila!"

Pemuda itu tersenyum, katanya pula: "Jikalau Siaute tidak melihat bahwa kalian adalah kaum pendekar yang berjiwa besar, lapang dan luhur, juga sekali kali tidak berani mengganggu di sini."

Oh Thi-hoa mendadak menarik muka, katanya sungguh-sungguh: "Sebetulnya kau memang tidak pantas kemari."

Baru saja pemuda itu tertegun, Oh Thi-hoa sudah menyambung: "Jikalau kau kemari ingin ajak kami minum arak, biarlah minta kami saja yang kesana, kenapa kau tinggalkan binimu seorang diri menunggu di meja sana, paling tidak kau harus dihukum tiga cangkir lebih dulu."

Pemuda itu terpingkal-pingkal dengan tepuk tangan, serunya: "Kalau kalian sudi pindah ke meja sana, umpama Siaute dihukum minum tiga puluh cangkir juga tidak menjadi soal."

Setelah tiga cangkir arak masuk ke perut, Oh Thi-hoa sudah begitu akrab dan saling membahasakan saudara tua dan muda.

Untuk Coh Liu-hiang tidak begitu mudah dia lantas bisa bersahabat dengan orang begitu akrab dalam waktu sesingkat ini, namun bukan berarti bahwa dia berwatak aneh dan berjiwa sempit serta suka menyendiri, apalagi kedua pemuda suami istri ini begitu ramah-tamah dan simpatik, siapapun takkan sungkan-sungkan lagi untuk berkenalan lebih dekat dengan mereka.

Bukan saja pemuda ini baik tutur kata dan sopan santun, takaran araknya pun luar biasa, pintar basa-basi lagi, demikian pula istrinya, berparas cantik dan lemah lembut, cuma diantara tengah alisnya, lapat-lapat seperti mengandung kegetiran hati yang merisaukan sanubarinya, rona mukanyapun pucat dan putih sekali, seperti orang yang baru sembuh dari penyakit yang cukup berat.

Akan tetapi sikap dan keadaan sakit yang molek ini, cukup menggiurkan dan menawan hati juga. Sepuluh diantara sebelas orang ada di dalam ruang makan di atas loteng ini, rata-rata sering melirik mata ke arahnya dengan melotot.

Setiap matanya mengerling, pandangan mata laki-laki yang duduk tersebar di sekelilingnya sama terkesima, jikalau ada orang yang tidak melirik atau memandang kepadanya, tentulah orang itu sudah mabuk dan tidak sadar diri. Ternyata pemuda jubah hijau ini tidak hiraukan bagaimana pandangan orang lain terhadap istrinya, bukan saja dia tidak marah, malah seperti merasa senang dan bangga. Yang aneh, suami istri muda ini kelihatannya lemah lembut dan sopan santun, malah boleh dikata lembut tak kuat menahan hembusan angin, namun sepasang matanya justru berkilat terang sebening air danau.

Coh Liu-hiang maklum hanya seseorang yang membekal Lwekang tinggi saja yang mungkin mempunyai sorot mata setajam itu, jelas bahwa suami istri muda ini adalah kaum persilatan yang punya kepandaian tidak rendah pula.

Akan tetapi pada setiap gerak-gerik dan percakapan mereka, sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai orang yang pandai bermain silat dan sudah berpengalaman di kalangan Kangouw, dari sudut manapun tetap bukan kaum persilatan. Mau tidak mau Coh Liu-hiang jadi ketarik juga kepada kedua orang ini.

Terhadap istri orang lain sudah tentu tidak enak dan sungkan dia mengawasinya dengan seksama, tapi disaat suaminya sedang menghaturkan arak dan ajak Thi-hoa adu minum, istrinya itu sedang menunduk dan batuk-batuk kecil. Kebetulan sinar api menyorot dari sebelah samping dan menyinari selembar mukanya. Sorot mata Coh Liu-hiang berlawanan arah sama-sama tertuju ke wajah orang.

Sungguh seraut wajah yang serba sempurna tanpa cacat sedikitpun, bentuk liku pada setiap kulit mukanya kentara amat jelas dan lengkap, seolah-olah lebih sempurna dari ukiran sebuah patung dewi pualam yang indah itu. Tapi berkat ketelitian Coh Liu-hiang serta ketajaman matanya, lapat-lapat dia merasakan raut muka yang sempurna ini tetap masih kekurangan sesuatu yang kurang wajar pada diri seorang perempuan cantik.

Dari sudut tempat duduk Coh Liu-hiang sekarang, kebetulan tepat sekali dapat memandang kedua alis dari samping yang tersorot sinar api, ternyata perempuan secantik ini tanpa mempunyai alis, jadi alis lentik di atas matanya itu adalah hasil karya seorang ahli dengan goresan potlot hitam yang sedemikian miripnya dan sukar dibedakan kalau tidak diperhatikan.

Serasa hampir berhenti napas Coh Liu-hiang. "Burung Kenari?" Apakah nyonya muda dihadapannya ini adalah si Burung Kenari?

Seketika terbayang oleh Coh Liu-hiang mayat-mayat gadis di dalam lembah sesat ditengah padang pasir itu, kematian setiap gadis itu sedemikian mengerikan, kedua alis setiap korbannya tiada satupun yang ketinggalan, semua dicukur kelimis... "Apakah lantaran dia sendiri tidak mempunyai alis, maka setiap kali dia membunuh seorang perempuan, alis korbannya lantas dicukuri lebih dulu?"

Hanya sekilas Coh Liu-hiang mengawasi lantas melengos, kebetulan pemuda jubah hijau dengan tertawa angkat cangkir kepadanya. Coh Liu-hiang angkat juga cangkirnya ajak orang minum bersama, katanya tertawa: "Sudah sekian banyak arak tertelan ke dalam perut, namun siapakah she dan nama besar saudara belum lagi sempat kami tanyakan?"

Oh Thi-hoa gelak-gelak, serunya: "Ya, ya, aku hanya repot minum dan minum saja sampai melupakan hal ini, sungguh harus dihukum tiga cangkir."

Setelah Oh Thi-hoa tenggak habis tiga cangkir, baru pemuda baju hijau memperkenalkan dirinya dengan tertawa: "Siaute Li-Giok-nam.

Belum habis kata-katanya, istrinya yang cantik itupun angkat cawan dan menyela: "Kenapa kalian tidak tanya siapa aku? Apakah setiap perempuan setelah dia menikah lantas tak pantas ditanyakan namanya?" Oh Thi-hoa melirik kepada Coh Liu-hiang katanya tertawa: "Agaknya kami harus dihukum minum tiga cangkir lagi."

Li Giok-han segera memperkenalkan dengan tertawa: "Istriku bernama Liu Bu-bi. Bu-bi artinya "tanpa alis", jangan kalian sangka dia ini lemah tak tahan dihembus angin, sebetulnya bukan saja wataknya menyerupai laki-laki, kalau berkelahi, diapun tidak akan bisa dikalahkan oleh laki-laki."

"O!" Oh Thi-hoa bersuara heran dengan tertawa: "Tak nyana istrimu ini kiranya srikandi yang perwira dari kaum hawa!"

Liu Bu-bi tersenyum manis katanya: "Sebetulnya sampai namakupun mirip dengan laki-laki, cuma diwaktu kecil aku kena penyakit keras, meski tidak mati, namun alisku rontok seluruhnya... alisku sekarang adalah lukisan palsu belaka, masakah kalian tidak bisa membedakan?"

Semula Coh Liu-hiang mengira orang pasti menyembunyikan kekurangan dirinya ini, tak nyana bahwa sekarang dia mengaku terus terang malah, sudah tentu Coh Liu-hiang merasa sangat diluar dugaan.

Terdengar Li Giok-han menimbrung: "Sekarang giliran Siaute mohon tahu siapakah nama besar kalian berdua?"

"Aku she Oh bernama Thi-hoa, dia..."

Baru saja Coh Liu-hiang belum berkeputusan apakah dia haru membiarkan orang memperkenalkan dirinya, tepat pada saat itulah sekonyong-konyong ada orang menerobos maju dekat mereka, sambil berseru keras menuding Coh Liu-hiang: "Apakah semua hadirin sudah melihat jelas, tuan ini adalah Coh Liu-hiang yang terkenal dikolong langit, hari ini sungguh kalian beruntung, dapat melihat muka asli Maling romantis yang sesungguhnya, adalah pantas kalau kalian berdiri menghaturkan secangkir arak kepadanya!"

Tenggorokan ini agaknya amat lebar, dan suaranya sekeras tukang jual obat di pinggir jalan yang sering menjajakan dagangannya, sudah tentu dengan suara teriakannya ini seluruh tamu- tamu yang hadir di dalam loteng ini sama terkejut, meski diantara mereka hakekatnya tidak tahu siapa dan orang macam apa sebenarnya Coh Liu-hiang si Maling romantis, tapi bagi orang yang pernah kelana dan menempuh perjalanan jarak jauh, pasti pernah mendengar ketenaran Coh Liu- hiang, seketika berobah roman muka mereka.

Tampak orang ini berbaju biru bercelana abu-abu. Kedua kakinya diikat dengan kain panjang warna hitam, sedang baju di depan dadanya tersingkap lebar, pelipis sebelah kiri ditempel obat koyo, terang sekali dia ini seorang bajingan atau buaya darat setempat, setelah berkaok-kaok tanpa banyak tingkah lagi segera dia putar badan dan hendak pergi. Coh Liu-hiang masih bisa berlaku tenang, sebaliknya Oh Thi-hoa tidak sabar lagi, sekali raih dia cengkeram pundak orang, katanya dengan tertawa berseri: "Siapa sahabat ini? Cara bagaimana kau bisa kenal Coh Liu- hiang?"

Orang itu berusaha meronta melepaskan diri namun sedikit Oh Thi-hoa kerahkan tenaga, keringat dingin seketika berketes-ketes membasahi jidatnya, katanya sambil meringis: "Aku yang kecil ini hanya penjual obat saja, masakah kenal Coh Liu-hiang tokoh kosen yang tenar di Kangouw, soalnya ada orang memberi sepuluh tail perak kepadaku, suruh aku berkaok-kaok di sini, begitulah kejadiannya dan titik."

Oh Thi-hoa tahu apa yang dikatakan ini memang benar, karena dengan kepandaian orang serendah ini, untuk kenal siapakah Coh Liu-hiang yang sebenarnya tidak akan mungkin terjadi. Sebaliknya Coh Liu-hiang mengerut kening katanya, "Siapakah yang memberi kau sepuluh tail perak? dan menyuruhmu kemari?"

Laki-laki itu unjuk tawa getir, katanya meringis kesakitan: "Orang itu bilang adalah teman baik Coh Liu-hiang, Sianjin sendiripun tak melihat roman mukanya."

"Memangnya kau ini picak?" damprat Oh Thi-hoa dengan melotot.

"Orang itu menyeret Sianjin ke tempat yang gelap, membelakangi sinar lagi, Sianjin hanya melihat orang itu membawa sebuah kurungan, di dalam kurungan kalau tak salah ada seekor burung kenari."

"Burung Kenari?" tak tertahan Oh Thi-hoa berteriak kaget. Segera dia berpaling kearah Coh Liu-hiang tak memberikan reaksi apa-apa, cuma tertawa-tawa katanya: "Benar, memang orang itu adalah temanku, agaknya dia sengaja hendak menggoda aku, kau beleh pergilah!"

Terpaksa Oh Thi-hoa lepaskan tangannya, selicin belut laki-laki itu segera berlari sipat kuping turun ke bawah loteng.

Agaknya Li Giok-han pun terkesima, baru sekarang dia menarik napas panjang, katanya sambil menepuk tangan: "Bi-ji, kau sudah dengar bukan? Coh Liu-hiang si Maling romantis yang paling kau kagumi, sekarang sedang duduk di hadapanmu, tidak lekas kau haturkan secangkir arak kepadanya?"

Liu Bu-bi tertawa, katanya: "Sudah tentu aku ingin menghaturkan secangkir arak, namun sekarang Coh Liu-hiang takkan bisa minum lagi."

"Tidak bisa minum lagi? Kenapa?" Liu Giok-han menegur.

"Jikalau kau ditatap sedemikian rupa oleh sekian banyak pasang mata, apa kau masih bisa tenang minum arak?" bisa-bisa dia tersenyum manis kepada Coh Liu-hiang, katanya pula: "Oleh karena itu Coh-siangsing kau tidak perlu menemani kami minum lagi, jikalau kau ingin pergi, kami sekali kali tidak akan menahan dan menyalahkan kau."

Coh Liu-hiang menarik napas panjang, katanya dengan tertawa getir: "Cayhe sebetulnya tak ingin pergi, tapi sekarang. terpaksa Cayhe mohon diri saja."

Begitu tiba di bawah loteng, dengan keras Oh Thi-hoa lantas menepuk pundak Coh Liu-hiang, katanya: "Ulat busuk, bukankah banyak sekali perempuan-perempuan yang pernah kau lihat, tapi perempuan seperti Liu Bu-bi ini, kukira kau belum pernah melihatnya bukan? Dia cantik rupawan, hal ini tak perlu diragukan lagi, malah malah gagah dan periang, genit dan supel, begitu prihatin

lagi, tahu bahwa kau tidak akan tahan lama duduk di sana segera dia membujukmu untuk segera mengundurkan diri, apalagi terhadap suaminya tentu lebih besar perhatiannya."

"Tidak salah, dalam hal ini memang harus dihargai."

"Dihargai? Memangnya cukup dihargai saja, perempuan seperti dia berani kukatakan pasti tak ada yang keduanya dimuka bumi ini."

"O!"

"Ada kalanya perempuan itu mempunyai banyak manfaat, tapi perempuan tetap perempuan, setiap perempuan sedikit atau banyak pasti mempunyai kekurangannya, ada yang suka cerewet, ada yang bertingkah, ada pula yang bersikap dingin kaku dan kasar lagi, namun ada pula yang cabul dan murah menjual cinta, ada yang melarang suaminya minum arak, sebaliknya dia sendiri suka minum cuka."

"Kalau toh setiap perempuan mempunyai kekurangannya sendiri, memangnya dia itu bukan perempuan?"

"Justru disitulah letak keistimewaannya seluruh manfaat dan kebaikan dari rupa-rupa perempuan, dia memiliki seluruhnya, tapi kekurangan setiap perempuan, tiada satupun yang ada padanya, demikian pula sifat baik dan watak laki-laki yang patut dihargaipun dia miliki, namun justru dia seratus persen adalah perempuan, kalau masih ada perempuan kedua seperti dia, meski harus mampus mempertaruhkan jiwa, aku akan mati-matian berusaha mengawinkannya."

Baru pertama kali ini kau melihatnya, sudah begitu jelas kau mengenal dirinya?"

Oh Thi-hoa membusungkan dada, katanya lebih keras:" Jangan kau kira hanya kau saja yang pandai menilai, dan menyelami jiwa perempuan, aku orang she Oh belum tentu lebih asor dari kau."

"Masakah tak terpikir olehmu, bukan mustahil bila dia itu Burung Kenari itu?"

Hampir saja Oh Thi-hoa menghindar kaget, serunya melotot: "Burung Kenari? Apa kau hari ini tak enak badan? Jikalau benar dia Burung Kenari, lalu siapa pula yang membawa kurungan burung itu?... Jikalau dia benar Burung Kenari, biar kupenggal kepalaku ini." 

Coh Liu-hiang tertawa-tawa saja tak banyak bicara lagi, karena dia sendiri mulai curiga juga akan dugaan dan pemikirannya, sesaat lamanya baru mulutnya menggumam: "Hari ini sudah dijamu makan minum oleh mereka, besok kita harus berdaya undang mereka menjamunya kembali".

Oh Thi-hoa tepuk tangan serunya: "Setengah harian kau ngobrol, baru kata-katamu ini yang patut dipuji."

Memang mereka sudah berencana untuk menginap di kota ini semalam, maka sejak datang tadi mereka sudah mencari penginapan dan minta dua kamar yang paling bersih.

Sinar rembulan menyinari pohon flamboyan di depan jendela, pada pertengahan musim semi ini, entah dari mana datangnya hembusan angin yang membawa bau harum seolah-olah membuat orang kantuk dan tenggelam dalam buaian mimpi.

Tapi Oh Thi-hoa masih duduk di kamar Coh Liu-hiang. Coh Liu-hiangpun tidak mendesaknya untuk kembali ke kamarnya sendiri untuk tidur, karena Coh Liu-hiang cukup tahu orang paling takut akan kesunyian. Apalagi di dalam waktu yang sudah larut malam dengan bulan purnama lagi, memang tidak bisa tidak seseorang duduk melamun seorang diri tanpa ditemani sahabatnya, memandang rembulan bundar di tengah cakrawala. Coh Liu-hiang berkata lirih: "Bau kembang demikian harum, musim rontok mungkin sudah berselang tanpa kita sadari.

Oh Thi-hoa menarik napas katanya: "Entah berapa banyak persoalan pula yang tanpa kita sadari sudah berlalu demikian saja, apalagi musim rontok..."

Pada saat itulah, terdengar suara orang banyak yang ribut-ribut, disusul terdengar seorang berseru lantang: "Apakah Coh Liu-hiang tinggal di sini? Yau Tiang-hoa sengaja berkunjung kemari."

Coh Liu-hiang mengerut kening, katanya: "Celaka, ternyata Burung Kenari suruh orang berkaok-kaok di atas loteng itu, maksudnya hendak mencari kesukaran bagi kita." Baru saja kata-katanya berakhir, di taman kembang di luar kamarnya sudah penuh sesak berjublek banyak orang. Ada yang menenteng lampion, ada pula yang memanggul seguci arak, ada yang sudah setengah sinting karena hampir mabuk, ada yang rasa kantuknya belum hilang, seolah-olah baru saja diseret orang dari tempat tidurnya.

Yang berjalan terdepan adalah seorang laki-laki yang panjang kaki, panjang tangan, badannya kurus hitam, dua tiga langkah saja orangnya sudah tiba di pinggir jendela, biji matanya berjelalatan, segera dia rangkap tangan menjura dan berkata: "Siapakah yang bernama Coh Liu- hiang? Cayhe Yau Tiang-hoa, semula murid Siau lim pay dari golongan preman, sekarang membuka Piau-kiok kecil-kecilan di sini, sudah lama kami dengar ketenaran nama besar Coh Liu- hiang si Maling romantis, kau Coh Liu-hiang sudah sudi mampir ke kota kecil ini, jikalau kami tidak diberi kesempatan untuk menyambut selayaknya sebagai tuan rumah, berarti memandang rendah kami sekalian.

Orang ini bicara cepat dan gugup menyerocos dengan ludah berhamburan, waktu menyebut Siau Lim pay mukanya unjuk takabur dan bangga.

Menghadapi orang-orang awam yang suka mengagulkan diri ini, sungguh Oh Thi-hoa seperti kehabisan akal, baru saja dia ingin menyeret keluar menyingkir ke tempat lain, tak nyana Coh Liu- hiang sudah menepuk pundaknya sambil tertawa, katanya: "Agaknya tidak kecil gengsi dan mukamu, begitu besar penghargaan mereka sampai meluruk begini banyak kemari."

Keruan mendelong biji mata Oh Thi-hoa, tapi orang-orang banyak di luar jendela itu sudah beramai-ramai menjura dan bersoja kepadanya, untuk menyangkalpun sudah tak sempat lagi. Didengarnya orang-orang di luar itu berebut menyanjung puji kepadanya.

"Sudah lama kagum akan kebesaran nama Coh Liu-hiang! Hari ini beruntung dapat berhadapan dengan Maling Romantis, sungguh amat menggirangkan!"

Waktu Oh Thi-hoa melirik dilihatnya Coh Liu-hiang sudah menyingkir kesamping jendela, sungguh gemasnya bukan main, namun sekilas biji matanya berputar, tiba-tiba dia bergelak tawa ujarnya: "Benar, Cayhe memang Coh Liu-hiang, tapi Coh Liu-hiang tak lebih hanya maling kecil belaka, masakah aku berani bikin repot para saudara sekalian untuk menjenguk kemari?" sembari bicara sengaja dia melerok kepada Coh Liu-hiang, tak nyana Coh Liu-hiang masih berseri geli sambil menggendong tangan di tempatnya, sedikitpun tak marah oleh banyolannya.

Yau Tiang-hoa sebaliknya tertegun, sesaat kemudian lalu berkata dengan mengerut kening: "Coh Liu-hiang terlalu merendahkan diri, kaum persilatan yang tak tahu Maling romantis mencuri punya si lalim untuk bantu si miskin, berjiwa besar, bajik dan setia kawan, suka menegakkan keadilan lagi, siapa pula yang berani mengatakan Maling kecil atau perampok atas diri Coh Liu- hiang?"

Oh Thi-hoa terbahak-bahak: "Di hadapanku kalian tidak akan berani berkata demikian, di belakangku bukan mustahil bukan saja memakiku sebagai rampok atau maling, mungkin mencaciku sebagai kurcaci dan apa saja yang lebih rendah!"

Kembali Yau Tiang-hoa tertegun, katanya tertawa kering: "Coh Liu-hiang ternyata begini humor dan suka berkelakar, sungguh lucu dan menyenangkan" seperti kuatir Coh Liu-hiang mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar kuping, lekas dia menambahkan "Biarlah Cayhe perkenalkan beberapa kawan yang ikut datang ini... tuan ini adalah Mao Kian kong, orang menyebutnya Sinkun-bu-tek-toa-piau-khek atau Piausu besar bertangan sakti tanpa tandingan, dia ini Tio Toa hay... Beruntun dia memperkenalkan puluhan nama orang, kalau bukan Sin kun atau kepala sakti tentu Sin to atau golok sakti, kalau bukan Bu tek atau tiada tandingan tentu Tin wi atau menggoncangkan kota. Mengawasi tampang orang-orang ini, mendengar lagi nama gelaran mereka satu persatu, sungguh serasa hampir saja gigi Oh Thi-hoa protol saking geli, tak tahan dia berkata tertawa: "Kalian datang berbondong-bondong entah ada petunjuk apa kepadaku."

Tio Toa-hay segera tampil ke depan, katanya: "Cayhe beramai bukan saja amat kagum bahwa Ginkang Maling romantis tiada bandingan dimuka bumi ini, takaran minumannyapun tiada bandingannya di seluruh kolong langit, kali ini kita punya kesempatan sama, kita beramai ingin sekedar menyuguh arak beberapa cawan kepadamu."

"Salah, salah, kalian salah semua, Gingkang ku Coh Liu-hiang ini meski secepat lari kuda, sekencang harimau, tapi takaran minumku paling hanya setanding saja dengan si Ulat busuk, orang yang benar-benar punya takaran minum tiada bandingannya nih berada disini."

Kemana jarinya menuding, pandangan semua orang yang diluar jendela serempak tertuju kearah Coh Liu-hiang, untuk menyingkirpun tak dapat lagi, maka Oh Thi-hoa bergelak tawa, katany: "Nah inilah Oh Thi-hoa, Oh Tayhiap, dia benar-benar tokoh besar didalam bidang minum arak, seorang gagah, seorang enghiong, kalau kalian tidak lekas haturkan beberapa cawan lebih banyak kepadanya kelak pasti kalian akan menyesal dan kecewa karena kehilangan kesempatan baik ini."

Belum habis kata-katanya, entah berapa banyak jumlah orang-orang itu sudah beramai-ramai memburu masuk lewat jendela atau dari pintu, lima diantara sepuluh orang sudah memburu ke arah Coh Liu-hiang dan berdekatan untuk bersalaman dengannya.

Baru sekarang Oh Thi-hoa terhitung membalas dendam, tanpa menunggu orang menghatur arak kepadanya, lebih dulu dia rebut cawan ditenggaknya habis tiga cawan besar. Lalu katanya tertawa besar: "Sebenarnya bukan saja aku Coh Liu-hiang takaran minumku tak sebanding Oh Tayhiap ini, ilmu silatkupun bukan tandingannya, pada suatu hari aku mengajaknya bertanding, dalam lima puluh jurus saja aku sudah kena dibantingnya, kepala keluar kecap... coba kalian lihat, kepalaku di sini pelang, untung dia kenal kasihan kepada teman sendiri, kalau tidak mungkin pelang di kepalaku ini lebih besar tiga kali lipat."

Mata semua orang terbelalak dan berpaling ke arah Coh Liu-hiang, beramai-ramai mereka bertanya: "Apa benar Oh Tayhiap kau?"

Ribut sekali sampai kuping Coh Liu-hiang serasa pekak oleh pertanyaan yang bertubi-tubi, tiada satupun pertanyaan mereka yang jelas terdengar olehnya, terpaksa dia hanya menyengir saja sambil mengelus hidung, dalam hati gemas dan gegetun setengah mati, ingin rasanya sumbat mulut Oh Thi-hoa dengan rumput kering.

Pada saat itulah "Wut" sebuah benda hitam legam dan berat tiba-tiba melesat terbang lewat jendela dari luar pekarangan masuk ke dalam kamar, begitu keras daya luncuran benda ini sampai angin menderu dan jendelapun sampai bergetar bersuara. Keruan orang-orang yang berada didalam kamar sama kaget dan menjerit menyingkir sejauh mungkin. "Blang" serasa bergetar seluruh kamar itu, benda berat itu tepat jatuh di atas meja, piring mangkok dan cangkir serta guci yang berada di atas meja besar itu sama tersapu jatuh seluruhnya, waktu semua orang menegasi ternyata itulah sebagai hiasan ditengah taman kembang sana.

Gentong ikan mas ini sedikitnya berat tiga lima ratusan kati, tapi orang dapat mengangkat dan dilemparkan ke dalam kamar dari jarak yang begini jauh, malah tepat sekali jatuh di atas meja, malah air di dalam gentong tiada setetespun yang tercecer keluar, maka dapatlah diukur berapa besar dan hebat kekuatan tenaga orang yang melemparnya masuk, sungguh mengejutkan, serempak semua hadirin sama berpaling keluar jendela.

Bintang-bintang kelap-kelip menghias cakrawala, sinar rembulan sebening air telaga, pepohonan dari tanaman didalam pekarangan seolah-olah baru saja tersiram dan tercuci bersih dan menjadi segar, dan di bawah pohon flamboyan di sana itu tahu-tahu tampak dua sosok bayangan orang.

Entah kapan dan dari mana datangnya kedua bayangan orang ini, mereka sama mengenakan jubah panjang warna hitam, kepala dan mukanya berkerudung oleh kedok hitam pula.
Ada kabar sedih nih gan, situs ini dinyatakan spam oleh pihak facebook :(:(. Admin mau minta tolong kepada para pembaca yang budiman untuk mengisi form di Link ini : Facebook Debugger dan menulis bahwa situs ini bukan spam. Semoga kebaikan dari pembaca dibalas berlipat ganda oleh Tuhan yang maha kuasa😇. Selaku Admin ~ Iccang🙏