Pendekar Pengejar Nyawa Jilid 25

 
Jilid 25

"Sampai detik ini, boleh dikata aku sendiri belum bisa meraba tujuannya tapi aku percaya peduli tujuannya baik atau tidak, tak mungkin dia pergi begitu saja dengan korban-korbannya ini."

"Kau kira... tak lama lagi dia bakal muncul?"

"Bukan mustahil setiap detik setiap saat dia sedang menunggu kedatanganku, cuma kita tidak melihatnya saja."

"Merinding bulu kuduk Ki Ping-yan, tak tahan dia menghela napas untuk menghilangkan rasa seram hatinya, ujarnya "Manusia seperti itu aku malah mengharap semoga jangan sampai melihatnya," mendadak dia tertawa geli sendiri. "Tapi bagaimana juga sekarang seluruh murid- murid Ciok koan-im sudah ajal, kita boleh keluar dengan berlenggang." selamanya diapun tidak pernah membayangkan, bahaya besar dari tebasan golok yang mematikan sedang menunggu di luar.

Penunjuk jalannya adalah Ki Bu-yong. Bukan lantaran dia kuatir Coh Liu-hiang bertiga bakal tersesat didalam lembah membingungkan ini, dia cuma ingin selekasnya meninggalkan tempat yang diliputi baunya darah. Dengan pandangan mendelong hampa dia beranjak pelan-pelan sekujur badannya seolah-olah sudah membeku, maklumlah seluruh kawan-kawannya sudah ajal seluruhnya cuma dia seorang saja yang masih ketinggalan hidup.

Mungkin karena bukan kematian teman-temannya itu dia bersedih, sebaliknya merasa menyesal dan terketuk sanubarinya karena jiwanya sendiri masih hidup, seolah-olah dia dibayangi perasaan, seharusnya dirinya pun sudah mampus ditempat ini. Yan mengintil di belakangnya adalah Setitik merah, Ki Ping-yan, Coh Liu-hiang berjalan paling belakang, bahwa mereka bisa keluar sampai di sini, sungguh patut dibuat girang. Tapi entah kenapa, perhatian hati mereka tetap tertekan, amat prihatin.

Pad saat itulah, tiba-tiba tampak sinar golok berkelebat langsung membacok ke batok kepala Ki Bu-yong. Sedikitpun Ki Bu-yong seperti tidak menyadari ancaman maut ini, bukan saja tidak berkelit, langkahnya tetap beranjak ke depan. Saking kagetnya tanpa berpikir panjang Setitik merah segera menubruk maju sekali raih ia menariknya sekuat tenaganya.

Betapa cepat dan gerakan refleks dari reaksi Setitik merah, jelas sudah dapat menjagoi di seluruh Tionggoan, tapi betapa cepatnya pula bacokan golok itu sungguh tak bisa digambarkan dengan kata-kata apapun. Akhirnya Setitik merah terlambat bertindak. Terpaksa ia tarik Ki Bu- yong jatuh ke tanah, dirinya, terus menubruk ke atas badannya, dengan badan sendiri melindungi badan Ki Bu-yong secara refleks pula sebelah tangannya memapak ke arah datangnya bacokan golok.

Maka terdengar "Cras!", darah seperti anak panah muncrat kemana-mana. Kontan lengan kiri terbacok putus.

Saking kejutnya Ki Ping-yan dan Coh Liu-hiang serempak menerjang maju. Tampak tajam golok laksana kilat berkilauan menyambar, kembali menyerang kearah mereka. Hebat sekali gerakan Coh Liu-hiang, sedikit melegot dan berkelebat, tahu-tahu dia sudah menyusup ke dalam lingkaran sinar golok lawan, sekali sanggah dan puntir lengan orang dia berusaha merebut golok musuh. Betapa cepat dan hebat jurus rangsakannya, sungguh amat lincah, tepat, sungguh sudah mencapai puncak kesempurnaan latihan ilmu silatnya.

Ki Ping-yan menegakkan telapak tangan bagai golok, tahu-tahu sudah mengancam tenggorokan orang terus dibabat. Dengan kerja sama Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan, rapatnya tiada setitik lobang sejurus serempak dari dua tokoh silat hebat ini, mungkin tiada seorang tokoh betapa lihaynya dalam kolong langit ini yang mampu menghindari diri.

Sekali bacokannya berhasil melukai orang, baru saja dia lontarkan serangan susulannya, mendadak terasa sampukan angin menerjang dari sebelah muka, tahu-tahu seseorang menyelinap ke dalam pelukan dadanya, betapa hebat dan berbahayanya serangan orang ini, betul-betul jarang dia temukan selama hidup. Di kolong langit ini, siapa pula yang mampu menundukkan Oh Thi-hoa dalam satu gebrakan saja?

Berkelebat pikiran Oh Thi-hoa, teriaknya tertahan "Ulat busuk!"

Teriakan "Ulat busuknya ini, sudah tentu bikin Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan amat kaget, "kelontang" golok ditangan Coh Liu-hiang jatuh di atas tanah. Tebasan tapak tangan Ki Ping-yan juga segera ditariknya balik mentah-mentah, bergetar suaranya "Sian oh, kaukah?"

"Siapa lagi kecuali aku si pembawa sebal ini." sahut Oh Thi-hoa.

Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan banting-banting kaki, berbareng mereka lepas tangan Oh Thi- hoa segera berdiri dengan menghela napas lega "Jago mampus, Ulat busuk, hebat benar kalian, tapi jika aku tidak kehabisan tenaga sampai hampir mati, kalianpun jangan harap bisa berhasil begini cepat."

Coh Liu-hiang sama Ki Ping-yan merasa tertekan perasaannya, mereka tetap bungkam. "Kalian tak sampai membunuh aku, seharusnya berterima kasih kepada Thian-te atau langit

dan bumi, kenapa malah. " mendadak diapun merasakan suasana yang prihatin, baru sekarang

pula ia teringat akan tebasan goloknya tadi, maka seri tawanya menjadi kaku dan meringis, batuk- batuk dua kali dengan tergagap dia bertanya "Barusan.... barusan..... barusan. mulutnya

menerocos "barusan" seperti tambur yang dipukul bertalu-talu.

"Barusan kau benar-benar sudah membuat celaka." sahut Coh Liu-hiang. Oh Thi-hoa memencet hidungnya, tanyanya lirih "Siapa yang terluka?"

Belum Oh Thi-hoa menjawab, percikan api berkelebat, Liu Yan-hwi sudah menyalakan obor, tanpa dijelaskan oleh Coh Liu-hiang Oh Thi-hoapun sudah melihat siapakah yang terluka.

Tampak dibawah genangan darah yang beketes-ketes seorang gadis serba putih duduk ditangah dengan pandangan mendelong seperti patung tak bergerak, badannya belepotan darah tapi yang terluka bukan dia.

Seorang laki-laki berpakaian serba hitam yang bertubuh jangkung, berkulit legam, sekeras baja dan sedingin es, pelan-pelan sedang merangkak bangun dari genangan darah, luka-luka pada lengan kirinya masih mengucurkan darah, tapi kulit mukanya yang pucat dingin tidak menunjukkan perasaan hatinya, badannya tetap tegak selempang tombak, agaknya umpama kedua kakinya yang terbacok putus, diapun takkan roboh. Mengawasi orang ini, tak tahu Oh Thi-hoa apa yang harus dia katakan? Setitik merahpun balas mengawasi dia, mendadak tersenyum dan memuji "Hmm golok bagus!" jikalau dia mengomel dan mencaci kaki, betapapun kotor dan kasar caci makinya, Oh Thi-hoa akan merasa lega hatinya, tapi pujian ini seketika membuat selebar muka Oh Thi-hoa merah padam.

Berkata Setitik merah pelan-pelan "Kau tak perlu sedih, kejadian ini tak bisa salahkan kau, kalau aku adalah kau, sama juga akan membacok kutung lenganmu." Karena dia tak salahkan Oh Thi-hoa, Oh Thi-hoa semakin merasa sedih dan mendelu, sudah tentu kesalahan bukan terletak pada Oh Thi-hoa, tapi sekarang Oh Thi-hoa justru merasa bahwa dirinya teramat berdosa.

Tiba-tiba Ki Ping-yan mendekati serta menepuk pundaknya, katanya "Tahukan kau siapa dia?" "Aku hanya tau dia seorang laki-laki sejati, orang gagah, seorang ksatria yang jarang

ditemukan dalam jagat ini." sahut Oh Thi-hoa menghela napas.

"Dia inilah Setitik merah, Ki Ping-yan memperkenalkan.

"Setitik merah dari Tionggoan?" OH Thi-hoa menegas dengan kesima. "Ya!"

Seketika Oh Thi-hoa membanting kaki, serunya "Aku patut mati! patut mati!" mengapa kutungan tangan yang menggeletak di atas pasir, serasa ingin menangis tergerung-gerung karena tangan yang kutung ini bukan tangan sembarangan, pedang tercepat nomor satu di seluruh Tionggoan, dan tangan inilah yang menegakkan ketenaran itu." Berapa banyak pula tangan- tangan seperti ada di dunia ini? Namun tangan ini sekarang sudah tertebas kutung olehnya, apa pula yang dapat menggantinya? Dengan apa pula ia dapat menebus kesalahannya ini? Mendadak Oh Thi-hoa jemput golok di atas pasir itu, sekali ayun dia terus membacok ke lengannya sendiri.

Untung Ki Ping-yan cukup sebat menarik lengannya, katanya "Tak perlu kau berbuat demikian."

"Lepas tanganmu, kau tak perlu ikut campur." bentak Oh Thi-hoa sember.

"Tahukah kau bukankah kau berhutang sebuah lengan kepadanya, akupun berhutang sebelah kaki juga, tapi tidak perlu tergesa-gesa menebus hutang kita itu sekarang juga, kelak bila dia memerlukan baru kita bayar hutang ini, bukan kita lebih baik?"

Coh Liu-hiang manggut-manggut, ujarnya "Piutang ini, semoga kalian bisa menebusnya dengan segera."

Setitik merah tiba-tiba menyeletuk "Ini bukan hutang, kalianpun tak perlu bayar." lalu dijemputnya tangan kutungnya itu, sesaat lamanya dia awasi, mendadak tertawa, katanya "Yang terang tangan ini sudah berlalu banyak membunuh jiwa manusia, biarlah dia istirahat juga baik habis katanya, badannya pun tiba-tiba tersungkur jatuh.

Pipop kongcu kembali berkumpul dengan Coh Liu-hiang, sementara Ki Ping-yan bersua pula dengan Ciok tho, sudah tentu pertemuan yang cukup menggembirakan, sudah tentu mereka saling menceritakan pengalaman selama ini sejak berpisah.

Waktu itu mereka sudah meninggalkan lembah sesat yang membingungkan itu, Ki Bu-yong duduk disamping setitik merah yang masih pingsan kehabisan tenaga dan terlalu banyak mengeluarkan darah, dengan mendelong dia awasi terus muka orang, seperti baru pertama kali ini dia pernah melihatnya. Sudah lama Oh Thi-hoa tidak membuka mulut, baru sekarang tak tertahankan dia menyeletuk lebih dulu "Burung kenari, siapakah dia sebetulnya? Sungguh kejam dan culas."

Berkata Pipop kongcu "Dia suka membunuh orang, kenapa tidak sekalian dia bunuh Ciok koan-im pula?"

"Mungkin kebetulan dia tidak bertemu dengan Ciok koan-im." timbrung Ki Ping-yan. "Atau mungkin sengaja dia tinggalkan Ciok koan-im supaya dibunuh oleh Coh Liu-hiang."

"Bagaimana pula Ciok koan-im bisa kebetulan tak ada di sarangnya?" tanya Pipop kongcu.

Ki Ping-yan melirik kepada Ki Bu-yong katanya "Menurut apa yang dikatakan nona Ki ini, bahwasanya Ciok koan-im memang jarang berada di sini, terutama belakangan ini, kehadirannya di sini lebih jarang dari tidak kehadirannya."

Berkerut alis Pipop kongcu, tanyanya "Lalu biasanya ia sering berada dimana?" Sudah tentu tiada orang yang bisa menjawab pertanyaan ini.

"Kenapa kau tidak bicara?" tanya Pipop Kongcu pula. Kali ini kata-katanya ditujukan kepada Coh Liu-hiang, baru sekarang semua orang melihat, Coh Liu-hiang sedang duduk bersimpuh dengan memejamkan mata, seperti paderi tua yang sedang semedi, entah apa pula yang sedang dia pikirkan? Maka terdengar mulutnya komat-kamit, seperti paderi yang sedang membaca mantra "Hoa san chit kiam.... Ui san si keh... Hongbu Ko. Ciok koan-im." Semua orang heran dan tak

mengerti apa yang sedang dikatakan? tapi tampak rona wajahnya lambat laun memancarkan cahaya terang.

Tak tahan Pipop kongcu mendorongnya pelan-pelan, katanya "Kau tau dimana Ciok koan-im?"

Akhirnya Coh Liu-hiang membuka mata, sinar terang mencorong dari biji matanya, katanya tertawa. "Ciok koan-im? siapa itu Ciok koan-im?"

Pipop kongcu tertegun, katanya tertawa geli "Apa sih yang kau pikirkan, sampai kau jadi linglung begini, sampai nama Ciok koan-im pun kau lupakan?"

"Ada Ciok koan-im berarti tiada Ciok koan-im, tiada Ciok koan-im berarti ada Ciok koan-im pula. , selamanya belum pernah kuingat cara bagaimana aku harus melupakannya?"

Kaget dan geli Pipop kongcu, tanyanya pula "Apa-apaan ucapanmu ini? Aku tidak paham." "Memangnya kau tidak akan tahu, inilah rahasia alam!."

Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala ujarnya "Rahasia Thian tak boleh dibocorkan, tidak bisa kukatakan, tak bisa kukatakan!"

"Apa kau ini sedang mengigau? Mendadak aku ingin jadi Hwesio." "Memangnya mendadak aku teringat pada seorang Hwesio." "Siapa?" tanya Pipop Kongcu.

Coh Liu-hiang mandah tersenyum tanpa menjawab. Pipop Kongcu lantas melirik kepada Oh Thi-hoa, katanya tertawa "Omonganmu memang tidak salah, ada kalanya orang ini memang amat menyebalkan."

"Dimana sekarang Ki loh ci sing berada?" mendadak Coh Liu-hiang menyeletuk. "Sebenarnya sudah kuberikan kepadanya, tapi dia kembalikan kepadaku lagi!" kata Oh Thi-

hoa.

"Jikalau kau benar-benar sudah tahu rahasia Ki Loh ci sing ini, apa pula yang hendak kau lakukan?" tanya Coh Liu-hiang.

"Kalau aku sudah berjanji kepada permaisuri sudah tentu aku akan memberikan kepadanya." "Baik sekali, mari sekarang juga kita mencarinya," ujar Coh Liu-hiang.

"Tapi... tapi bagaimana dengan Ciok koan-im?" ujar Coh Liu-hiang tersenyum.

Saking marah serasa hampir meledak perut Pipop kongcu, namun tak tahan dia tertawa geli katanya menggigit bibir "Kau ini sebenarnya sedang bertingkah apa?"

"Kau ikut saja, nanti kau akan paham!"

Liu Yang hwi batuk-batuk kering, lalu berkata "Kami bersaudara sudah puluhan tahun tak penah kembali ke Hoa san, sekarang kalau Coh heng hendak menyelesaikan urusan lain, kami berdua ingin. ingin minta diri saja."

Sikap Coh Liu-hiang mendadak berubah serius katanya "Sekarang kalian masih belum boleh pergi."

"Apakah Coh heng ada petunjuk apa?" tanya Liu Yan-hwi.

Lama juga Coh Liu-hiang menepekur tiba-tiba tertawa lalu berkata "Kalian ikut saja nanti kalianpun akan paham."

Liu Yan-hwi ragu-ragu sebentar, katanya "Cayhepun hanya mohon sesuatu hal kepada Coh heng."

"Liu heng ada permintaan apa?"

"Cayhe sendiri sih tidak menjadi soal, tapi ada beberapa urusan yang mana Hong bu Toako sekali-kali tidak mau mengatakan, sampai disinggungpun tidak boleh "

"Tapi bila aku menyakan hal-hal itu kalian tidak bisa untuk membeberkannya bukan?" "Ya, begitulah oleh karena itu Cayhe hanya minta Coh heng."

"Kau minta supaya jangan menanyakan hal-hal itu bukan?"

Liu Yan-hwi tertunduk diam sebentar, sahutnya "Jikalau Coh heng suka menerima permintaan ini Cayhe berdua sungguh amat berterima kasih."

"Adakah aku pernah menanyakan apa-apa?" "Apapun belum sempat ditanyakan." "Kalau sekarang tidak kutanyakan, kelak masakah aku bakal bertanya?"

"Liu Yan-hwi termenung sahutnya kemudian "Benar kalau sekarang Coh heng tidak bertanya, kelak tentunya juga takkan bertanya."

"Baiklah kalau kau sudah paham!"

"Tapi persoalan ini," tiba-tiba Liu Yan-hwi berkata pula "Coh heng seharusnya bertanya kenapa pula kau tidak mau bertanya?"

"Karena apa yang perlu kutanyakan sudah kuketahui."

Pipop tak tahan lagi, segera ia menyeletuk "Apa yang harus kau tanyakan? Apa pula yang sudah kau ketahui? Minta ampun sukalah kau tidak berteka-teki?"

Belum Coh Liu-hiang menjawab, tiba-tiba terdengar suara kelentingan unta dari kejauhan.

Suara kelentingan yang terputus-putus di bawa angin ke pekarangannya begitu dingin menawankan hati, begitu lengang. Tapi dalam pendengaran Coh Liu-hiang dan lain, justeru terasa begitu merdu mengasyikkan sekali dari pada suara musik apapun yang pernah mereka dengar dalam dunia ini.

Seketika berkobar semangat Oh Thi-hoa, Liu Yan-hwi dan lain-lain, sampaipun Pipop kongcu jadi lupa mengajukan pertanyaannya lagi yang belum terjawab. Dengan memejamkan mata dia tengah tumplek perhatian untuk mendengarkan suara kelentingan itu, ujung mulutnya mengulum senyum maniak, matanya bergairah "Tahukah kau suara apa itu?"

Oh Thi-hoa tetawa ujarnya "Dalam padang pasir ini, seumpama aku ini seorang desa yang belum pernah melihat kota, tapi suara seperti itu sekali dengar aku lantas tahu. itulah

kelentingan, benar tidak?"

Pipop kongcu malah geleng kepalanya, ujarnya "Itu bukan suara kelentingan unta." "Bukan kelentingan unta? Lalu suara apa?" tanya Oh Thi-hoa tertegun.

"Dalam pendengaran kupingku suara itu hampir mirip dengan tetesan air yang dituang ke dalam cangkir suara daging yang dipanggang di atas api unggun. "

Apa yang diuraikan Pipop kongcu memang tak salah, di padang pasir, suara yang sumbang ini, ada kalanya justru melambangkan air jernih, makanan lezat dan kehangatan, karena penggembala padang pasir, kebanyakan bersifat royal, suka menerima tamu dan terbuka tangan, meskipun kemah mereka buciok atau sederhana, tapi di sana diliputi kehangatan yang simpatik terhadap sesama teman nan jauh di rantau. Mereka selamanya tidak pernah menolak kedatangan seorang pelancong yang kelaparan, tidak segan-segan menolong kafilah yang kesasar atau menemui kesulitan.

Agaknya kali ini dugaan Pipop kongcu salah dan meleset, waktu mereka memburu ke arah datangnya suara, kafilah yang terdiri dari rombongan besar unta itu sudah berhenti, semua ada puluhan unta yang melingkar jadi sebuah bundaran besar, beberapa orang diantara mereka sudah mulai kerja mendirikan kemah.

Begitu banyak orang dan unta namun suasana bening lelap, tiada satupun pekerja-pekerja itu yang ribut bersuara, tak terdengar pula gelak tawa riang gembira beberapa laki-laki yang bertugas jaga dibagian luar kalangan malah sudah melihat kedatangan rombongan lain, merekapun tidak menunjukkan sikap gembira atau hendak menyambut kedatangan mereka, tidak bersikap tegang bermusuhan siap pasang panah, melolos golok atau sikap yang bermusuhan.

Masih jauh Ki Ping-yan lantas menghentikan langkahnya, katanya dengan suara berat "Menurut hematku, lebih baik kita tak usah kesana."

"Kenapa?" tanya Pipop kongcu.

"Melihat gelagatnya rombongan ini terang bukan rombongan kafilah biasa."

"Benar Oh Thi-hoa ikut memberikan suara. Mereka lebih mirip sepasukan tentara yang berdisiplin keras, apakah mereka ini pasukan ronda dari anak buah pembesar pemberontak dari negeri Kui je!"

"Mereka bukan orang Kui je!" kata Pipop kongcu tegas. "Kau berani memastikan?" tanya Oh Thi-hoa.

Pipop kongcu tertawa sahutnya "Di padang pasir yang berbeda-beda sedikitnya ada puluhan kelompok, dalam pandangan kalian mungkin orang-orang ini lumayan, tapi sekilas pandang saja aku lantas dapat melihat adanya perbedaan dari mereka."

"Menurut pendapatmu?" Coh Liu-hiang menimbrung. "Mereka orang-orang apa?" "Umpamakan saja mereka adalah kawan rampok, kitapun tak perlu gentar terhadap diri

mereka bukan?" ujar Pipop kongcu."

"Benar" ujar Oh Thi-hoa, paling kita hanya ingin beli beberapa kantong air dan beberapa unta saja kepada mereka, jikalau mereka tidak aturan dan tidak mau jual, boleh kita merebutnya saja."

Ki Ping-yan menjengek dingin "Enak saja kau bicara." "Memangnya gampang dilaksanakan, apa sukarnya?"

"Kau tidak melihat gaya mereka memegang golok? Langkah kakinya? Kau tidak melihat dalam sekejap mata saja, mereka sudah berhasil mendirikan kemah-kemah itu? Dimana-mana membagi diri untuk berjaga dengan teratur segala serba beres dan berdisiplin, unta atau kuda tiada yang brengsek."

"Aku kan tidak buta, kenapa tidak melihatnya." sahut Oh Thi-hoa tertawa.

"Kalau kau sudah melihatnya seharusnya kau tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah berpengalaman di medan laga serdadu pilihan yang sudah tergembleng matang, memangnya kau samakan mereka rombongan perampok yang kasar-kasar dan rendahan itu? Pihak kita hanya ada delapan orang, malah tiga orang diantaranya sudah cacat, paling dua orang diantara kami harus membagi diri untuk melindungi mereka. " Dengan mata melotot dia awasi Oh

Thi-hoa lalu menyambung "Maka yang benar-benar bisa turun tangan dipihak kita hitung-hitung hanya tiga orang saja dengan tiga kekuatan orang hendak merebut unta didalam rombongan serdadu yang sudah gemblengan dalam pengalaman tempur di medan laga, coba katakan, apa kau yakin benar pasti berhasil?"

Oh Thi-hoa mengelus hidung, sahutnya "Memang tak begitu besar paling tidak lima enam puluh persen aku yakin!" "Dengan hanya keyakinan lima enam puluh persen kau lantas ingin menyerempet bahaya?" sentak Ki Ping-yan mendelik.

"Hanya dengan keyakinan sepuluh prosenpun aku sudah pernah mencoba melakukan sesuatu, kenyataan orang tiada yang berhasil memenggal kepalaku ini" ujar Oh Thi-hoa tertawa- tawa.

"Itu karena nasibmu baik," Jengek Ki Ping-yan, "Tapi sekarang bukan saatnya kita mencoba- coba mempertaruhkan nasib itu."

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya "Tidak salah, kekuatan pihak kita sudah teramat lemah, apa yang harus kita kerjakan masih banyak lagi, sekali-kali jangan sampai terjadi diantara kita yang jatuh menjadi korban pula. Oleh karena itu kalau hal ini ada sedikit bahayanya, kita tak usah melakukannya."

Ki Ping-yan masih muring-muring "Kalau dalam keadaan biasa, umpama kau hendak mengadu kepalamu dengan batu pasti tanda orang perduli tapi sekarang jiwamu amat besar gunanya, kalau hanya karena beberapa ekor unta dan beberapa kantong arak kau lantas hendak adu jiwa, umpama kau sendiri mereka tak menjadi soal, aku malah merasa eman-eman."

"Apa lagi umpama kita berhasil dengan tujuan mereka pasti akan selalu mengejar dan menguntit jejak kita." Coh Liu-hiang menambahkan "Musuh kita sudah cukup banyak, kalau ketambahan rombongan orang-orang ini mempersulit kita, wah, sukar dibayangkan lagi."

"Jadi menurut pikiran kalian, bagaimana juga rombongan orang-orang ini sekali-kali tidak boleh diganggu, begitu?" tanya Oh Thi-hoa dengan kecut.

"Ya, begitulah," sahut Ki Ping-yan.

Berputar biji mata Oh Thi-hoa "Tapi jikalau mereka yang mencari gara-gara kepada kita, bagaimana?"

Memang pada ujung mata Coh Liu-hiang sudah melihat lima enam orang diantara rombongan itu sudah berlari-lari menuju ke arah mereka, dalam hati diam-diam ia menarik napas, namun lahirnya dia masih tersenyum-senyum, katanya tandas "Umpama benar mereka hendak cari perkara kepada kita, kita pun harus mengalah saja."

Yang mendatang ada lima orang, masing-masing mengenakan mantel lebar dan tebal untuk menahan angin, kepala mereka digubat kain panjang warna biru, kulit mereka kelihatan hitam legam bersinar karena biasa ditengah teriknya matahari, sehingga kelihatannya begitu kasar sekasar pasir di bawah kaki mereka, namun mata mereka, justru berkilat tajam laksana mata elang, tulang-tulang pipi mereka menonjol keluar jari-jari menggenggam erat gagang golok masing-masing, begitu teguh dan tenang tak tergoyahkan sekokoh batu.

Pakaian yang mereka pakai serba besar longgar gedubrahan, tapi gerak-gerik mereka amat cekatan, dengan mendelong Coh Liu-hiang dan lain-lain mengawasi mereka, kejap lain mereka sudah tiba di hadapan mereka.

Orang yang terdepan adalah laki-laki cambang bauk yang lebat warna kehijauan, biji matanya yang berkilat terang, memancarkan warna kehijauan seperti mata dracula satu persatu dia menyapu pandang ke muka mereka akhirnya berhenti pada tatapan muka Coh Liu-hiang.

Umpama ada ratusan orang yang mengenakan pakaian seragam yang sama, dia tidak perlu memandang dua kali dengan tepat dia akan tahu siapa yang jadi pimpinan diantara mereka. Coh Liu-hiang menyambut kedatangan mereka dengan tersenyum, mulutnya merocos panjang lebar, apa yang dia ucapkan adalah basa-basi yang sering digunakan kaum kafilah yang sering bertemu ditengah jalan, ucapan-ucapan menyapa dan saling tanya keselamatan satu sama lain sudah ia pelajari dengan giat dai cukup yakin bahasa latihannya sudah cukup baik dan kini tibalah saatnya untuk dia praktekkan.

Tak nyana orang dihadapannya ini seperti tidak paham apa yang dia ucapkan, sekian saat orang melotot pula kepadanya, tiba-tiba berkata "Kalian darimana? Hendak kemana?" Sontoloyo, orang justru fasih menggunakan bahasa orang-orang Han.

Coh Liu-hiang hanya meringis kecut, katanya "Cayhe beramai datang dari Thio keh gou, semula kami bermaksud dagang ke sini, tak nyana tak tahu jalan tak faham bahasa dan adat istiadat di sini, bukan saja unta dan tunggangan hilang, malah diantara kami ada yang terluka, oleh karena itu. " sampai di sini dia menyadari bahwa yang dikatakan amat meragukan, jelas sukar

dipercaya oleh orang lain.

Mereka berdelapan, ada laki ada perempuan, ada yang buruk ada yang ganteng, tapi bagi siapapun yang melihatnya, tiada satupun yang akan mau percaya bahwa mereka adalah kafilah yang berdagang ditengah gurun pasir.

Coh Liu hiang menghela napas katanya pula "Bicara terus terang, Cayhe beramai adalah kaum persilatan dari Tionggoan, kedatangan kami kemari adalah untuk mencari tiga orang teman kami yang hilang, siapa tahu terjadi banyak peristiwa yang di luar dugaan barusan kami kebentur pula kejadian yang menyulitkan." kali ini dia bicara sejujurnya, tak nyana laki-laki itu masih mengawasinya dengan sikap dingin, sepatah kata omongannya masih tidak mau percaya.

Sorot matanya yang tajam kembali menyapu satu persatu muka mereka, lalu berkata dengan kereng. "Persoalan sulit apa yang barusan kalian hadapi?"

Cukup panjang untuk menjelaskan, dan lagi terang tiada sangkut pautnya dengan kalian. "

sahut Coh Liu-hiang.

"Dari mana kau tahu bila tiada sangkut pautnya dengan aku? Ribuan li malang melintang ditengah apdang pasir ini, apapun yang terjadi, kapan saja dan siapa saja, bukan mustahil ada hubungannya dengan kami!"

"Oh.... entah kalian ini siapa? Dari. "

Laki-laki jambang bauk segera membentak "Sekarang aku sedang tanya kepadamu, bukan bertanya kepadaku."

Coh Liu-hiang tahu bahwa laki-laki sulit dilayani, tak tahan jari-jarinya mengelus-elus hidung inilah penyakitnya. Oh Thi-hoa sampai ketularan olehnya.

Si jambang bauk hijau tiba-tiba menuding Setitik merah dan Ki Bu-yong sentaknya bengis "Belum lama kedua orang ini terluka, siapa yang melukai mereka?"

Oh Thi-hoa tak tahan lagi, katanya keras "Tangannya tertebas kutung oleh aku yang kurang hati-hati."

Jambang bauk hijau menyeringai "Matamu masih genap dan normal, cara bagaimana bisa tidak hati-hati memotong lengannya? Anak-anak umur 3 tahunpun takkan mau percaya kepada ucapanmu." Oh Thi-hoa naik pitam, semprotnya! "Perduli kau percaya tidak? Asal apa yang kukatakan adalah sejujurnya, terserah kau tidak mau percaya."

"Jawaban kalian sendiri satu sama lain tidak cocok dan simpang siur, masakah kita harus percaya begitu saja?" mendadak si jambang bauk menggelap tangan, bentaknya "Hayo geledah badan mereka! setelah bentakan serempak empat orang laki-laki di belakangnya segera menubruk maju bersama.

Muka Oh Thi-hoa sudah menghijau saking gusar, serunya terloroh-loroh menggeledah "Kau hendak menggeledah badanku? Hehe selama hidup belum pernah ada orang berani menggeledah badanku mesti dia orang tuaku sendiri!"

Tiba-tiba Coh Liu-hiang menggenggam jarinya dengan keras, katanya tersenyum "Kejadian apapun pasti akan terjadi untuk pertama kali."

"Kau mandah dilakukan semena-mena?" seru Oh Thi-hoa dengan suara serak.

Coh Liu-hiang hanya tertawa-tawa siapapun tak bicara lagi. Mengikuti pandangan matanya baru sekarang Oh Thi-hoa melihat disaat mereka bicara itulah, puluhan laki-laki sudah mengepung mereka.

Mendadak Oh Thi-hoapun unjuk tawa lebar katanya "Jikalau Coh Liu-hiang bisa tahan sabar pula?"

Ki Ping-yan ikut tertawa, katanya "Si bocah akhirnya tumbuh dewasa juga, sungguh suatu hal yang harus dibuat girang."

Berbareng mereka bertiga menepuk-nepuk pakaian, lalu membentang kedua tangan, katanya bersamaan dengan tertawa "Silahkan kalian menggeledah!" lalu Coh Liu-hiang menambahkan "Cayhe bukan saja tidak membawa apa-apa, malah dikata kantong kosong, setelah kalian menggeledah aku, tentu bikin kecewa saja."

Tak nyana ke empat laki-laki yang maju mendekat tadi berdiri diam di tempatnya, tangan si jambang baukpun masih terangkat tinggi, selama ini belum diturunkan. Baru saja Coh Liu-hiang merasa heran, si jambang bauk mendadak berkata "Apa benar kantong tuan kosong? Masakah sebutir mutiarapun tiada?"

Mendengar pertanyaan ini, seketika bersinar biji mata Coh Liu-hiang. Demikian pula Oh Thi- hoa segera turunkan kedua tangannya serta mendengar orang menyinggung mutiara hitam segala, seketika teringat olehnya bahwa Ki loh ci sing masih berada dalam kantong bajunya, katanya keras "Sebetulnya kalian mau menggeledah tidak? Memangnya apa maksud kalian?"

Si jambang bauk tiba-tiba tergelak tawa, serunya "Umpama nyali Siaujin tinggi langin, juga tidak berani bertingkah di hadapan Maling Romantis!"

Oh Thi-hoa tertegun, katanya "Kau kenal dia? Apa benar ketenarannya begitu besar?" Si jambang bauk tidak menjawab, langsung dia menjura rendah kepada Coh Liu-hiang,

katanya "Tidak tahu tidak berdosa, semoga Maling Romantis suka memaafkan keteledoran Siaujin!"

Lekas Coh Liu-hiang memapaknya bangun, tanyanya "Jadi kau ini apanya Mutiara hitam?" "Jikalau Siau-ongya bisa melihat Maling Romantis sehat wal-afiat sampai di sini, entah betapa

girang hatinya." demikian kata si jambang bauk. Tahu bahwa mereka bukan lain adalah anak buah Mutiara hitam yang dicarinya ubek-ubek tak ketemu, tak nyana bersua disini tanpa banyak membuang tenaga, keruan girangnya bukan main.

Terdengar jambang bauk menghela napas, katanya lebih lanjut "Sayang meski maling romantis sudah sampai disini. Siau-ongya justru sudah ke pedalaman pula..."

"Ke pedalaman? Maksudmu dia ke Tionggoan? Kapan ia berangkat? tanya Coh Liu-hiang kaget.

"Kuatir maling romantis menghadapi bahaya, maka beberapa hari yang lalu Siau ongya lantas menuju ke Tionggoan untuk menyiari kabar kalian."

Tak urung terunjuk rasa heran, curiga pada rona muka Coh Liu-hiang, katanya "Dia kuatir aku menghadapi bahaya? Dia pergi mencari tahu kabar diriku?"

"Siau-ongya menemukan kuda mutiaranya itu pulang sendiri dengan kosong tanpa penunggangnya, maka ia menduga Maling Romantis pasti menghadapi bahaya, tanpa membuang waktu lagi, segera ia menyusul kesana dengan tergesa-gesa." Mendadak si jambang bauk tertawa lucu penuh arti, katanya pula "Rasa prihatin Siau-ongya kepada Maling romantis memangnya tuan masih belum memahaminya?"

Coh Liu-hiang menjublek di tempatnya, maka dia tidak begitu perhatikan ucapan ini, setelah menepekur sekian lamanya, akhirnya dia menarik napas katanya tertawa getir "Kuda itu memang pintar sekali, orang biasa mana mampu mengendalikan dia aku sudah kira dia pasti menerjang keluar dari kandang lari ke tempat asal majikannya.

Tak tahan Oh Thi-hoa menyeletuk "Kami banyak orang mencari ubek-ubekan tanpa menemkan jejaknya, masakah seekor kuda malah berhasil menemukan dia lebih dulu?"

"Dipadang pasir ini, siapa yang tidak tahu bila si mutiara hitam yang jempolan itu adalah milik Siau-ongya kita, siapapun yang melihatnya, tentu akan dibawa pulang dikembalikan kepada Siau- ongya." lalu dia tertawa bangga, katanya pula "Penjahat di padang pasir sejauh ribuan li itu, siapa pula yang berani mengincar kuda tunggangan pribadi Siau ong kita? Sampaipun Ciok koan-im yang serba misterius seperti tokoh didalam dongeng itupun tidak berani sembarangan mencari gara-gara kepada kita."

Menyinggung Ciok koan-im, seketika berubah roman muka semua orang.

"Mungkin kalian tidak tahu," ujar si jambang bauk, "kecuali kita anak buah Lo ongya yang lama ini, orang-orang yang rela dan bersedia berkorban demi Siau-ongya entah berapa banyaknya meskipun Ciok koan-im setinggi langit, bila dia berani mengganggu dan berbuat salah terhadap Siau-ongya, selanjutnya apapun yang dia lakukan disini, mungkin dia akan selalu menghadapi kesukaran."

Coh Liu-hiang menghela napas ujarnya "Agaknya nama besar "Raja Gurun Pasir" memang bukan kosong dan gertakan belaka."

Oh Thi-hoa tiba-tiba menyeletuk "Kalau demikian bila kita menunggu si mutiara itu kemari bukankah sudah sejak lama bertemu dengan Siauw ongya kalian?"

"Jikalau kalian benar-benar datang menunggu si mutiara itu Siau-ongya tentu takkan segugup itu, ia tahu maling romantis amat sayang pada kuda tunggangannya itu, maka ia berkesimpulan bila Maling Romantis tak menghadapi bahaya, sekali-kali tidak akan membiarkan dia pulang sendirian." Oh Thi-hoa pelototi Ki Ping-yan katanya "Itulah yang dinamakan keblinger oleh kepintaran sendiri, ingin untung malah buntung, dari sini dapatlah disimpulkan ada kalanya orang gede tidak akan unggul dari anak kecil dalam melakukan kerjaan yang sama."

Ki Ping-yan, tidak menunjukkan perubahan mimik mukanya cuma dengan dingin dia menatap si jambang bauk, katanya "Dari nada perkataanmu ini, agaknya Siau-ongya kalian amat prihatin dan menguatirkan sekali keselamatan Maling Romantis?"

Kembali si jambang bauk mengunjuk senyuman lucu yang aneh tadi, katanya "Ya, memang luar biasa keprihatinannya."

Ki Ping-yan menjadi bengis, katanya "Lalu dia menculik sanak Maling Romantis kemari apa pula maksud tujuannya?"

Si jambang bauk melengak, tanyanya "Menculik sanak Maling Romantis? Mana ada kejadian itu? Kukira tuan salah paham." sikapnya serius, sedikitpun tidak menunjukkan kemunafikannya.

"Apakah Yong ji dan lain-lain tidak pernah kemari," tanya Coh Liu-hiang. "Yong ji.... maksud Maling Romantis apakah nona Soh, nona li dan nona "

"Benar, apa kau melihat mereka? Dimana mereka sekarang?" tukas Coh Liu-hiang. "Nona Soh bertiga sudah tentu ikut Siau-ongya menuju ke Tionggoan."

"Mereka. apakah mereka baik-baik saja."

"Ketiga nona-nona itu sungguh amat pintar, lincah dan cantik-cantik lagi, malah raut muka mereka selalu dihiasi senyuman mekar yang manis, seolah-olah mereka tidak pernah tahu bahwa dalam dunia ini ada peristiwa-peristiwa yang menyedihkan, sehingga orang-orang yang melihatnya pun melupakan penderitaan". Mendadak matanya menatap Ki Ping-yan tanyanya "Tapi kenapa tuan mengatakan Siau-ongya kami yang menculik mereka kemari?"

Ki Ping-yan juga dibuat bengong, tanpa sadar diapun mengelus hidungnya tanyanya "Memangnya bukan?"

"Sudah tentu bukan, mereka bertiga adalah tamu-tamu Siau-ongya yang terhormat dan teragung, malah boleh dikata hubungan mereka begitu akrab dan intim sekali, mereka berempat sampai tidurpun berat berpisah, entah berapa banyak persoalan yang selalu mereka bicarakan."

Semua orang kembali melongo mendengar kata-katanya terakhir ini Coh Liu-hiang, Ki Ping- yan dan Oh Thi-hoa bertiga jadi saling pandang, sepatah katapun tak bersuara. Sesaat kemudian baru Oh Thi-hoa bersuara "Katamu mereka sering tidur bersama?"

"Ya, boleh dikata keluar satu kereta, tidur satu pembaringan."

Oh Thi-hoa angkat pundak sambil menghela napas, katanya kepada Coh Liu-hiang "Agaknya Siau-ongya ini cukup pintar dan tinggi ilmunya."

Terasa getir tenggorokan Coh Liu-hiang, tak tahu apa yang harus dikatakan.

Tiba-tiba Pipop kongcu menyeletuk bertanya "Siau-ongya kalian sebetulnya laki atau perempuan?" Agaknya si jambang bauk melengak, sahutnya tertawa geli "Sudah tentu perempuan, cuma Lo ongya tidak punya putra, maka sejak kecil dia didandani seperti anak laki-laki, kitapun diperintahkan untuk memanggil Siau-ongya masakah Maling Romantis belum tahu malah?"

Coh Liu-hiang hanya menggosok hidungnya semakin keras, Oh Thi-hoa tak tahan terloroh- loroh, cuma rona muka Pipop kongcu yang murung dan jelek kelihatannya, katanya sambil melotot kepada Coh Liu-hiang "Agaknya tidak sedikit orang yang memperhatikan dirimu".

Angin badai meniup kencang di luar perkemahan laksana mengiris kulit, didalam kemah sebaliknya terasa hangat nyaman seperti dalam musim semi, ditambah bebauan harumnya daging panggang dan arak susu kambing, boleh dikata Oh Thi-hoa sudah menghilangkan kerisauan hatinya.

Tapi Coh Liu-hiang sebaliknya tidak seriang itu, terasa olehnya persoalan justru semakin rumit semakin banyak dan berbelit belit, cukup lama sudah Ki Ping-yan mengawasinya, tak tahan ia lantas berkata "Sebetulnya apakah yang telah terjadi? Apa sekarang sudah kau bikin jelas?"

"Aku masih belum begitu paham," sahut Coh Liu-hiang tertawa getir.

Oh Thi-hoa tertawa, katanya "Lebih baik kau mulai lagi dari depan lalu satu persatu menganalisa sampai kejadian hari ini, nah mulailah kau bercerita supaya kita beramai ikut menyelesaikan persoalan ini."

"Kejadian ini dimulai waktu aku minta Mutiara hitam memberitahu kepada Yong ji supaya lekas dia pulang, karena pada waktu itu aku sendiri sembarang waktu kemungkinan mengalami bahaya, sesungguhnya tak punya tenaga untuk melindunginya lagi," demikian Coh Liu-hiang mulai membuka cerita.

"Agaknya bukan saja Mutiara hitam itu menyampaikan pesanmu, malah dia sendiri yang mengantar Yong ji pulang," olok Oh Thi-hoa tertawa "Sepanjang jalan, kedua orang bicara punya bicara, belakangan lantas menjadi teman baik."

"Gelagatnya memang begitulah!" ujar Coh Liu-hiang.

"Tapi cara bagaimana Mutiara hitam itu bisa membujuk Yong ji bertiga, sehingga mereka mau ikut dia keluar perbatasan sini? Apa pula tujuannya dia berbuat demikian? Memangnya hanya ingin supaya kau gugup dan kebingungan?"

"Disinilah titik persoalan yang tidak bisa kupahami, biasanya Yong ji bertiga amat menuruti kata. "

Pipop kongcu tiba-tiba tertawa dingin, jengeknya "Kalau kau selalu ngelayap diluaran, sebaliknya mereka selalu berada dirumah menunggu kau oleh karena itu kau lantas beranggapan adalah pantas kalau mereka selalu mengganggumu dirumah, benar tidak?"

"Sebetulnya mereka memang tiada sesuatu tujuan untuk kemana-mana."

"Dari mana kau bisa tahu bila mereka tidak punya sesuatu tujuan berpergian? Seumpama mereka adalah anjing penjara rumahmu, adakalanya juga mereka akan mondar-mandir diluaran mencari angin. " mencibir bibir Pipop kongcu melanjutkan dengan tertawa dingin pula. Kalau kau

jadi Yong ji, tahu kau begitu percaya kepadaku, maka akan kupikir suatu akal supaya kau gugup dan kebingungan. Sekali tempo, aku sudah menunggumu puluhan kali, malah mungkin sudah ratusan kali, adalah pantas kalau kau harus menungguku sekali." "Plak! Oh Thi-hoa menepuk tangan katanya keras "Betul sekali, isi hati perempuan memang hanya dipahami sesama perempuan jikalau kau membiarkan seorang perempuan tahu bahwa kau amat percaya kepadanya, maka dia justru akan mencari akal berdaya upaya untuk mempermainkan atau menyiksa kau, kalau toh dia sudah betul-betul tunduk lahir batin dan kepincut kepadamu, namun toh dia tidak akan membiarkan kau tahu akan rahasia hatinya ini."

Pipop kongcu mencemooh "Lantaran perempuan kebanyakan sudah tahu bahwa laki-laki memang punya tulang kere, seorang perempuan yang tergila-gila dan amat mencintai dirinya, maka dia akan merasa perempuan itu tidak menarik hatinya lagi, segera dia akan mencari perempuan lain."

Oh Thi-hoa tertawa bergelak "Meski ucapanmu ini keterlaluan, tapi bukan tiada artinya."

Coh Liu-hiang meringis, ujarnya "Kalau begitu, bahwa mereka mau ikut Mutiara hitam keluar perbatasan, jadi maksudnya supaya aku gelisah dan kebingungan?"

"Seumpama mereka sebenarnya tiada maksud ini, tapi karena hasutan Mutiara hitam, mau tidak mau mereka akhirnya terbujuk dan mau menurut".

"Tapi kenapa Mutiara hitam mau membujuk mereka sampai mau pergi?"

Disamping Pipop kongcu mencibir pula, ejeknya "Masakah kau belum paham akan hal ini?" "Ya, aku tidak mengerti," sahut Coh Liu-hiang terus terang.

Sengaja Pipop kongcu melengos ke arah lain ejeknya pula "Orang yang mulutnya suka bilang tidak mengerti, dalam hati tentu sudah paham benar."

"Tapi aku benar-benar tidak mengerti."

"Walau dia tak tahu kalau Mutiara hitam seorang perempuan, tapi Mutiara hitam tahu kalau dia seorang laki-laki, benar tidak?"

"Hal ini kukira tak perlu disangsikan kecuali induk kera, tiada seorang perempuan yang badannya tumbuh bulu begitu banyak seperti dia itu." kata Oh Thi-hoa melucu.

Tak tahan Pipop kongcu tertawa geli, tapi segera ia menarik muka pula, katanya tertawa dingin "Orang seperti dia gagah dan tampan laki-laki yang romantis lagi, berapa sih jumlahnya dalam dunia ini? Bukan mustahil sejak pertama kali bertemu Mutiara hitam sudah kecantol kepadanya, seperti menggelotok kulit telur diberikan kepadanya, celaka adalah jago kita yang jadi lakon tampan dan romantis ini justru bermain begitu buruk dan goblok sekali, sedikitpun dia tidak tahu."

Oh Thi-hoa ikut tertawa katanya "Bagi seorang gadis perawan! bukan saja hal ini dianggapnya sebagai memandang rendah, juga suatu penghinaan, oleh karena itu bahwa gusarnya nona Mutiara hitam, lantas mencari akal untuk menghajar adat jago kita yang suka sok romantis itu bukan?"

"Ditambah nona Mutiara itu kuatir begitu berpisah, selanjutnya ia tidak akan bisa bertemu lagi dengan pemuda pujaan hatinya itu tapi dengan apa yang ia lakukan tak usah kuatir orang takkan bergegas menyusul dan mencarinya."

"Lucu, lucu menarik benar cerita ini," seru Oh Thi-hoa bertepuk tangan pula, "Coh kongcu masakah kau sendiri tidak merasa lucu dan menarik?" Coh Liu-hiang menarik muka, sahutnya "Jikalau lidahmu hendak putus, itu baru leibh lucu dan menarik tentunya!"

Ki Ping-yan menghela napas katanya "Bocah ya tetap bocah, selamanya takkan tumbuh dewasa, orang-orang gede punya pikiran hati apa, selamanya ia tidak akan tahu!"

Pipop kongcu tertawa dingin "Kalian tuan-tuan gede ini punya isi hati apa, silahkan beberkan supaya kami bisa tahu!"

"Semula kukira pemberontakan yang terjadi di negeri Kui je, adalah kerja Mutiara hitam yang memimpinnya secara diam-diam, oleh karena itu baru tahu akan hubunganku dengan Setitik merah, baru dia bisa mencari Setitik merah dan mengundangnya kemari." Demikian Coh Liu-hiang utarakan pendapatnya.

Ki Ping-yan berkata "Kini kita sudah tahu bahwa Mutiara hitam hakekatnya tiada sangkut paut dengan peristiwa ini, jadi pemimpin yang berada di belakang layar itu pasti Ciok koan-im adanya, tapi Ciok koan-im cara bagaimana bisa."

Segera Pipop kongcu menukas pula "Hanya itu sajakah isi hati tuan-tuan gede? Menurut pendapatku, bahwasannya persoalan ini sangat sederhana, anak umur tiga tahunpun bisa menebaknya dengan jitu."

Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan diam-diam saja, Pipop kongcu lantas meneruskan "Tiga orang. tiga orang sanak Coh Liu-hiang diboyong kemari oleh Mutiara hitam tentunya seluruh

anak buahnya sudah tahu, orang banyak mulutpun suka iseng, tidak sedikit pula anak buah Ciok koan-im yang tersebar dimana-mana sebagai mata-mata, sudah tentu hal ini cepat sekali sudah dapat didengar olehnya, maka dia lantas melakukan suatu sulapan kecilan saja, supaya Coh Liu- hiang menyangka ketiga nona itu berasa di genggamannya, oleh karena itu pemuda kita yang romantis ini mana berani banyak tingkah?"

Ki Ping-yan melirik kepada Coh Liu-hiang, katanya tertawa getir "Tak nyana banyak urusan yang sukar dan berbelit-belit, cukup dibeber oleh anak kecil saja, urusan jadi mudah, gampang dan sederhana sekali persoalannya."

Pipop kongcu tidak perdulikan olok-oloknya, katanya lebih lanjut "Tapi dia masih kuatir Coh

Liu-hiang tidak percaya, maka dia lantas undang Setitik Merah kemari. Kalian tuan-tuan gede yang banyak akal dan melihatnya ini pikir pulang pergi, akhirnya yakin bahwa Mutiara hitam saja satu- satunya orang yang tahu hubungan antara Coh Liu-hiang dengan Setitik merah, oleh karena itu tuan-tuan gede lantas beranggapan bahwa Mutiara hitamlah orang yang berada di belakang layar mengatur dan menjadikan peristiwa ini melibatkan kalian, sudah tentu kalianpun beranggapan bahwa nona Soh bertigapun terjatuh ke tangan Ciok koan-im, oleh karena itu, kalian lantas terjeblos semakin dalam ke dalam muslihat dan perangkap yang sudah mereka atur."

Melihat Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan sama melongo, tak tahan Pipop kongcu tertawa geli dengan riang dan kesenangan, katanya "Coba kalian pikir, bukankah amat sederhana persoalan ini? Soalnya otak kalian saja yang terlalu pintar dan menilai persoalan terlalu tinggi dan berbelit- belit, suka unjuk kepintaran sehingga urusan berlarut-larut, maka urusan yang sebetulnya sederhana dan dapat dipecahkan, malah semakin ruwet dan tak terpecahkan oleh kalian."

Coh Liu-hiang menyengir ujarnya "Jadi menurut apa yang kau uraikan ini, pasti ada orang lain pula yang mengetahui akan hubunganku dengan Setitik merah, oleh karena itu baru dia bisa memperalat Setitik merah untuk memancing aku, begitu maksudmu bukan?"

"Baru sekarang kau mulai sadar," ujar Pipop kongcu. Coh Liu-hiang mengerut kening pula, katanya "Tapi yang tahu hubunganku dengan Setitik merah, kecuali Mutiara hitam yang lain-lain sudah mati!"

Pipop kongcu menjengek dingin "Berhadapan dengan Maling Romantis, orang matipun bisa hidup kembali." kata-kata ini sebetulnya cuma mau memancing kemarahan Coh Liu-hiang saja, tapi mendengar kata-katanya Coh Liu-hiang, justru tersentak sadar laksana ulu hatinya terhujam anak panah, seketika dia berjingkrak bangun.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda yang riuh dan kencang, tanah pasir di gurun pasir cukup empuk, maka waktu mereka mendengar derap kaki kuda yang ramai mendatangi ini, jaraknya kira-kira tinggal puluhan langkah saja dan sekejap saja sudah tiba dan berhenti.

Disusul suara sorak sorai sambutan gembira dari orang banyak, agaknya pendatang mempunyai kedudukan tinggi yang dihormati maka padang pasir yang semula tenang dan sunyi ini, sekejap ini berubah jadi suasana riang gembira dan ribut dari pahlawan-pahlawan gurun pasir itu.

Mencorong terang biji mata Oh Thi-hoa, katanya girang "mungkinkah Mutiara hitam yang telah datang?" belum habis kata-katanya, Coh Liu-hiang sudah berlari keluar kemah.

Tampak ditengah-tengah lapangan sana memang terdapat tiga ekor kuda, pelananya belum dilucuti, badannya kotor oleh debu pasir. Ketiga ekor ini boleh dibilang terhitung kuda pilihan yang tiada bandingannya di padang pasir ini, tapi saking letihnya ketiganya sama roboh lemas dengan napas sengal, mulut berbuih lagi, boleh dikata hampir saja mati hidup-hidup kehabisan tenaga.

Pahlawan-pahlawan gurun pasir atau kafilah umumnya paling menghargai dan pandang kuda- kuda jempolan lebih berharga dari pada jiwa sendiri, tapi sekarang tiada seorangpun yang sempat mengurus ketiga ekor kuda ini. Malah sebuah kemah yang berada di sebelah timur sana sedang dirubung orang banyak, sikap mereka amat senang dan bergairah, terang ketiga penunggang kuda yang baru datang itu kini sudah mereka songsong masuk ke dalam kemah.

Baru saja Oh Thi-hoa mengikuti Coh Liu-hiang keluar hendak memburu kesana, seseorang tahu-tahu sudah melihat mereka dan lekas memburu menghampiri, katanya membungkukkan badan dengan seri tawa "Teman-teman Kongcu yang empat orang itu kami sudah memberikan tempat yang layak dan pengobatan yang baik, mereka kini sedang istirahat. Soalnya tiba-tiba kita kedatangan tamu dari jauh, maka Ciangkun tak bisa mengiringi Kongcu minum arak, harap Kongcu suka maklum dan maaf!"

Empat orang yang dimaksud adalah Ki Bu-yong, Setitik merah yang luka dan Liu Yan-hwi serta Suhengnya Ciok tho, sedang Ciangkun yang ia maksudkan ialah si jambang bauk itu.

Tak tahan Oh Thi-hoa bertanya "Jadi kalian kedatangan tamu dari jauh, entah siapakah tamu kalian itu?"

Orang itu unjuk tawa pula sahutnya "Mungkin Kongcu tak akan mengenal akan mengenal mereka."

"O..!"

"Sebetulnya! kalau mau dikatakan mereka tak terhitung sebagai tamu, anggaplah sebagai langganan kita beramai."

"Apa.. langganan?" Oh Thi-hoa menegas tak mengerti. "Sejak Lo ongya mangkat, kehidupan kita beramai boleh dikata menjadi persoalan besar, demi hidup kami terpaksa mencari obyekan sekenanya, untuk mempertahankan keadaan yang sudah tidak stabil ini."

Oh Thi-hoa jadi ketarik, katanya tertawa "Entah siapakah langganan kalian itu? Tugas apa pula yang mereka berikan kepada kalian?"

"Tugas kita tidak ubahnya seperti para Piausu yang melindungi barang-barang expedisi di Tionggoan, kali ini kamipun bertugas menyelesaikan sesuatu urusan kecil saja, malah dua hari yang lalu sudah kami bereskan dengan baik."

Oh Thi-hoa masih ingin tanya tapi Coh Liu-hiang sudah melihat roman muka orang ini sudah rada kurang senang, segera ia tarik Oh Thi-hoa katanya tertawa "Kalau begitu silahkan saudara lekas melayani tamu itu kami sih cukup mampu mengurus diri sendiri."

Setiba didalam kemahnya sendiri mulut Oh Thi-hoa masih mengoceh tak karuan "Kita ini adalah teman Siau-ongya mereka, tapi mereka pandang ketiga tamu itu jauh lebih penting dari kita, memangnya siapakah ketiga orang ini."

Coh Liu-hiang tertawa, sahutnya "Orang macam apa mereka itu, apa sih sangkut pautnya dengan kita?" mulutnya berkata demikian, namun dalam hati diapun sedang merasa keheranan. Dimanapun, kuda-kuda jempolan seperti ketiga ekor yang roboh keletihan itu jarang didapat, tapi ketiga orang itu seolah-olah tidak sayang dan tidak memperhatikannya pula, mereka tak merasa sayang bila ketiga ekor kuda itu mati. Merekapun punya urusan penting apa, begitu gugup dan tergesa-gesa menyusul kemari? dan lagi dia menyewa tenaga si Jambang bauk yang merupakan bukan orang sembarangan di padang pasir ini, tentunya memberikan imbalan yang bukan kecil artinya, tarpi yang tinggi dari sesuatu tugas yang tinggi pula, tentunya menyelesaikan suatu tugas penting yang tinggi dan besar sekali artinya, lalu tugas rahasia apakah yang mereka lakukan?

Kenapa harus dirahasiakan sedemikian rupa? Ingin Coh Liu-hiang kemukakan pertanyaan- pertanyaan ini, tapi Ki Ping-yan agaknya sudah meraba apa-apa yang sedang dia pikirkan, mereka berpandangan sebentar, Ki Ping-yan mendadak bicara "Biar aku pergi menjenguk Setitik merah."

"Lebih baik kau hati-hati sedikit," Coh Liu-hiang segera memberi peringatan. Pergi menjenguk Setitik merah, kenapa harus hati-hati?

Berkilat mata Oh Thi-hoa, timbrungnya "Akupun mau pergi menjenguknya."

"Tak perlu kau banyak perhatian, silahkan kau minum arakmu saja di sini!" dengan tegas Ki Ping-yan menolak.

Mendadak Oh Thi-hoa tergelak-gelak katanya "Kalian tak usah kelabuhi aku, dengan kalian aku sudah bersahabat dua tiga puluh tahun melihat tindak tanduk kalian yang sembunyi-sembunyi ini memangnya aku tak bisa meraba kalian sedang merencanakan sesuatu muslihat apa?"

Coh Liu-hiang mengawasi Ki Ping-yan dengan tersenyum getir katanya "Urusan apapun orang-orang gede bisa mengelabuhi anak-anak kecil, tapi kalau ingin pergi main-main jangan harap kau bisa ngapusinya, begitu kau keluar munduk-munduk tentu jejakmu sudah konangan, kontan dia lantas merengek-rengek mau ikut sampai kau kewalahan dan membawanya juga."

Pipop kongcu cekikikan geli, katanya "Siapa nyana belum lagi menjadi bapak ternyata sudah punya pengalaman mengemong anak-anak.

"Pada saat itu pula tiba-tiba terdengar derap kaki kuda pula. Kali ini suaranya gemuruh seperti guntur menggelegar terang yang datang kali ini, sedikitnya ada lima ratus penunggang kuda, jelas karena melihat perkemahan d sini, maka derap kaki kuda rada diperlambat, tapi cepat sekali mereka sudah mendatangi semakin dekat, barisan segera terbagi menjadi dua sayap ke kanan kiri dengan formasi mengurung, agaknya rombongan si jambang bauk hendak dikepung.

Berkata Ki Ping-yan dengan suara berat "Mungkinkah rombongan besar ini mengejar tiga orang tadi?"

"Benar." timbrung Coh Liu-hiang. "Tak segan-segan mereka bikin kuda baik sampai keletihan hampir mati, kiranya mereka sedang melarikan diri dari kejaran besar-besaran ini."

Belum lagi mereka bicara habis Oh Thi-hoa sudah mendahului menerjang keluar.

Dilihatnya anak buah si jambang bauk sudah berdiri jajar siap tempur dengan memasang busur dan anak panah, golok dan tombak sudah siap dan siaga, debu menguning membumbung tinggi mengotori angkasa, derap tapal kuda akhirnya berhenti.

"Eh bakal berkelahi kenapa si jambang bauk tidak undang kami? Memangnya dia pandang ringan kita?" kata Oh Thi-hoa.

"Masakah dia tahu kalau kau ini suka mencampuri urusan orang lain?" jengek Ki Ping-yan dingin.