Pendekar Pengejar Nyawa Jilid 20

 
Jilid 20

"Justru aku tahu kau takkan mungkin membeber kejadian macam itu kepada khalayak ramai, maka aku berpendapat bahwa kata-kata itu mungkin saja kau yang mengucapkan, kalau tidak darimana orang ini bisa tahu?"

"Benar." kata Coh Liu-hiang dengan hati mendelu. "Dalam kolong langit ini, cuma beberapa orang saja yang tahu akan kejadian itu, juga tiada orang tahu tanpa berkelahi, kau dan aku takkan berkenalan dan bersahabat dan kini sudah jadi kawan baik."

"Sampai akupun tidak tahu," timbrung Ki Ping-yan dingin.

"Apalagi pekerjaanku memang membunuh orang, jikalau dia ingin supaya aku membunuh orang, sebetulnya bisa saja membayarku dengan uang mas atau perak, kecuali dia sudah tahu bila aku sudah ganti obyek, tapi. " Tapi dalam kolong langit ini cuma beberapa orang saja yang tahu bahwa kau kini sudah ganti obyek.

"Begitulah!"

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya: "Jikalau aku menjadi kau, mungkin akupun akan percaya omongan itu."

Tiba-tiba Ki Ping-yan menyentak: "Sebetulnya ada berapa orang yang tahu akan hubungan kalian?"

"Hitung-hitung hanya Lamkiong Ling, Bu Hoa, Yong-ji dan Mutiara Hitam."

"Tapi Lamkiong Ling dan Bu Hoa sudah mati, Yong-ji tak mungkin melakukan hal ini, maka. " kata-katanya terhenti, dengan nanar ia awasi Coh Liu-hiang.

Coh Liu-hiang menghirup napas panjang, katanya: "Kemudian hanya Mutiara hitam, ia kah yang menjadi biang keladi di belakang layar yang kendalikan pemberontakan dinegeri Kui-je?"

Berkata Ki Ping-yan kalem: "Kitakan sudah tahu didalam pemberontakan negeri Kui-je itu ada orang bangsa Han yang ikut bekerja, tapi betapa gampang seorang Han untuk dapat melakukan pekerjaan besar ini di negeri orang, kecuali jika orang Han ini memang sudah memiliki kekuasaan besar di sana, kalau tidak seumpama dia berhasil baik dengan aksi pemberontakannya itu, sekali- kali dia takkan bisa bercokol di negeri ini." Sampai di sini kembali ia berhenti, karena siapakah orang ini, tanpa dia katakan orang lainpun bisa menduganya.

Hanya putra raja padang pasir saja yang mampu mengerahkan suatu pemberontakan besar- besaran seperti ini, hal ini jelas dan dapat dimengerti, sampaipun Setitik Merahpun sudah bisa menduganya.

Sesaat Coh Liu-hiang merenung, katanya kemudian: "Dimana orang itu sekarang?"  "Setelah orang itu menemani aku sampai di luar perbatasan lalu berpisah dengan aku," tutur

Setitik merah lebih lanjut," Katanya hendak berputar mencari kau, tapi sepanjang jalan aku lantas disambut dan diantar oleh utusan Kui-je sampai di sini."

"Disini siapa pula yang pernah kau temui?" tanya Coh Liu-hiang.

"Aku bertemu dua orang pembesar tinggi dari Kui-je, agaknya kedudukan mereka amat tinggi dan berkuasa, sejak Kui-je-ong terusir dari negerinya, kedua orang inilah yang pegang tampuk pimpinan tertinggi negeri ini."

"Tapi masih ada seorang bangsa Han, bukan?"

"Benar, tapi yang terang orang itu pasti bukan Mutiara hitam." "Siapa dia? bagaimana bentuk dan tampang mukanya?"

"Orang itu bernama Gi-kiok-han, konon adalah seorang tokoh kenamaan yang pandai ilmu silat dan satria, malah otaknya cerdik dan banyak akalnya, di depan pandanganku tidak lebih hanya musang berbulu ayam, sikap dan polahnya tengik dan menyebalkan."

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya: "Justru lantaran dia tak suka orang lain mendekati dirinya, maka sengaja dia bertingkah seperti itu, supaya orang tidak membongkar kedoknya, maka polah dan tingkahnya yang menyebalkan itu malah sebagai kedoknya yang utama." "Benar," timbrung Ki Ping-yan pula, "Jikalau orang lain marah dan tak sudi melihat tampangnya, sudah tentu orang sukar melihat apakah dirinya samaran atau tulen."

"Perkemahan mereka semalam sudah pindah ke lain tempat bukan?" Kini Setitik merah dan Ki Ping-yan menjawab bersama: "Benar!" "Mereka pindah kemana?" tanya Coh Liu-hiang.

"Konon tidak jauh dari sini, ada sebuah penginapan ditengah padang pasir, disanalah hotel gelap yang didirikan oleh begal besar di gurun pasir, Pan-thian-hong, agaknya mereka ada sekongkol dengan Pan-thian-hong ini, kini mereka menuju kesana."

Coh Liu-hiang merenung sebentar, katanya: "Dalam dua tiga hari ini, kukira mereka takkan meninggalkan tempat itu, ya bukan?"

"Benar, sekarang kita bisa luruk kesana dan gorok leher mereka," kata Setitik merah. "Bunuh mereka sih gampang," sela Ki Ping-yan, "Tapi jikalau ketiga orang itu bukan

pentolannya, bunuh mereka bukankah malah membabat rumput mengejutkan ular."

"Apalagi mereka jelas sudah tahu, begitu kau bertemu dengan aku maka urusan bakal dibuat terang, tapi mereka masih melegakan hati meluruk kemari. Itulah karena mereka mempunyai pegangan dan latar belakang yang cukup membuat kita gentar."

"Maksudmu mereka punya pegangan sesuatu untuk mengancam atau menggertak kita!" "Benar, karena aku masih ada tiga teman yang kini terjatuh ke tangan mereka," kata Coh Liu-

hiang tertawa getir, lalu menyambung: "Kedatanganku kali ini adalah untuk mencari ketiga

temanku itu, tak nyana secara serampangan di sini aku mendapat berita tentang jejak mereka, tapi lebih baik kalau aku tak tahu akan hal ini, setelah tahu gerak-gerikku mau tak mau harus hati-hati."

Ki Ping-yan berkata dingin: "Bukan mustahil orang itu mengundang saudara ini kemari tujuannya untuk memberi tahu kepadamu secara tidak langsung mengenai persoalan ini, sekaligus memberi peringatan kepada kau, dengan sendirinya mau tak mau harus bertindak ragu-ragu dan kuatir itu, berarti mereka lebih leluasa dan berani bertindak."

Kata Coh Liu-hiang: "Kalau mereka hendak memperingati aku, kenapa tidak suruh Yong-ji menulis surat kepadaku, kenapa harus memeras keringat dan menguras tenaga yang tiada gunanya ini?"

Lama Ki Ping-yan termenung, sahutnya: "Omonganmu memang tidak salah, sungguh akupun tidak mengerti, kenapa mereka harus berbuat demikian, mereka toh sudah tahu bila kalian berdua beradu muka, bualannya tentu terbongkar, bukankah sia-sia belaka usaha mereka."

Mungkin karena mereka tidak menduga aku bakal melindungi Kui-je-ong, dua tiga hari yang lalu kita sendiripun takkan pernah berpikir hendak melindungi Kui-je-ong bukan?" Coh Liu-hiang utarakan pikirannya.

Ki Ping-yan berpikir-pikir, mulutnya tak bersuara lagi.

Berkata Coh Liu-hiang lebih lanjut: "Pepatah ada bilang, naga sakti takkan ungkulan melawan ular setempat. Jikalau musuh mendapatkan keuntungan mengenai cuaca, keadaan bumi dan berbagai syarat yang lebih baik, tapi kitapun memiliki keunggulan yang tak mereka dapatkan, yaitu. "

Tak tahan Ki ping-yan menukas: "Yaitu mereka tidak kenal siapa kita, sebaliknya kita tahu betul seluk beluk mereka."

"Tepat" ujar Coh Liu-hiang: "Justru mereka tidak tahu siapa kita, maka mereka salah sangka.

Kini kita bisa menggunakan titik kelemahan mereka ini, jikalau harus menunggu kedatangan Mutiara hitam tentu sudah terlambat!"

"Jadi maksudmu sebelum Mutiara hitam tiba, kita pergi ke penginapan ditengah padang pasir itu untuk menyelidiki dan mencari berita?"

"Ya, begitulah maksudku."

Berkilauan biji mata Setitik merah, katanya: "Sekarang juga berangkat?"

"Tempo berjalan amat cepat, kalau mau berangkat tentunya lebih cepat lebih baik, cuma. "

Coh Liu-hiang geleng-geleng sambil menghela napas, katanya lebih lanjut: "Kini bukan saja kita harus menghadapi mereka, kitapun harus melawan Ciok-kwan-im, berarti kita menghadapi musuh dari dua muka, jikalau sedikit lalai, kita bisa tergencet dari dua sasaran, jikalau sampai terjebak dan kalah tentu konyol."

Sebagai sahabat lamanya, jalan pikiran Ki Ping-yan juga sama, mendengar kata-katanya ini ia manggut-manggut, Setitik merah sebaliknya mengajukan pertanyaan: "Maksudmu "

Walau mereka tidak kenal siapa kami, tapi mendadak dua orang asing tiba-tiba berkunjung ke tempat pangkalan mereka, mau tak mau harus lebih hati-hati, bukan mustahil kita bakal dihadapi sebagai kambing gemuk, tapi jikalau kedua orang itu adalah. "

Tak sabar Setitik merah menukas pula: "Jikalau kedua orang itu adalah temanku, masakah mereka berani turun tangan?"

"Tapi sepak terjang Setitik merah dari Tionggoan selama ini tetap sendiri, hal ini diketahui siapapun, memangnya ditengah gurun pasir yang tak pernah dihuni orang mendadak bersua dengan kedua sahabat baiknya?"

Lama Setitik merah berpikir, katanya: "Seumpama dimanapun tempat keramaian yang penuh sesak, akupun takkan bisa kebetulan bersua dengan setengah temanku, "tawar dan dingin ucapannya, seolah-olah ia hendak melimpahkan kesunyian sanubarinya.

Sekilas Ki Ping-yan melirik padanya, katanya tiba-tiba: "Semakin sedikit punya teman semakin baik, seumpama tiada punya teman juga tak perlu dibuat sedih!"

Setitik merah balas melirik kepadanya, sorot matanya menampilkan senyuman hatinya.

Berkata Coh Liu-hiang sambil bertepuk tangan: "Tapi kalian sama-sama punya watak yang aneh, cepat atau lambat harus mengikat persahabatan, laripun takkan berpisah lagi, "ia pegang pundak kedua orang serta menambahkan dengan suara prihatin: "Kini kami tidak bisa kesana secara terang-terangan, juga tak mungkin menyamar sebagai teman karib, cara yang paling sempurna hanya. " suaranya semakin lirih dan akhirnya tak terdengar.

Lohor! Seluas mayapada tersorot di bawah pancaran sinar matahari yang terik. Di bawah terik matahari yang membakar kulit ini, tampak serombongan unta sedang berjalan pelan-pelan. Unta yang biasanya dijuluki kapal pasir ini, kinipun sudah keletihan dan hampir tak kuasa berjalan lagi, orang-orang yang bercokol di punggung unta lebih-lebih mengenaskan lagi, mereka sudah kempas kempis menunggu saatnya untuk mangkat menghadap raja akhirat.

Tampak bibir orang-orang ini sudah sama pecah, biji matanya diliputi genangan darah, badannya seperti sudah kejang dan pikiranpun sudah setengah sadar, dalam benak mereka hanya terpikir satu huruf saja "Air......air............air. "

Tiba-tiba tampak dikejauhan perpaduan langit dan pasir di depan sana, asap api mengepul ke angkasa, roman muka orang-orang ini seketika mengunjuk rasa kegirangan yang luar biasa.

Tempat dimana ada asap api, tentu terdapat air pula? Dengan bersorak kegirangan, orang-orang itu sudah siap berlomba-lomba mati-matian memburu kesana.

Tak nyana seorang kakek tua sepertinya pemimpin rombongan mereka tiba-tiba berteriak- teriak: "Jangan! jangan kesana, tempat itu tak boleh didatangi manusia." Meski suaranya rendah serak tapi syukur masih punya kewibawaan yang cukup menundukkan orang-orang itu. Serempak setiap orang menghentikan langkahnya, dengan pandangan meminta belas kasihan dan cemas- cemas harap mereka berpaling muka kepada si kakek tua.

Kulit muka si kakek yang sudah kerut kemerut diliputi bayangan ketakutan, katanya sember: "Tahukah kalian tempat apakah itu?"

Semua sama geleng-geleng kepala. Kata salah seorang: "Persetan tempat apa itu, asal disana ada air. "

"Agaknya air mempunyai pengaruh yang amat besar bagi mereka, seketika terbangkit semangat mereka, tenggorokan mereka seperti mengeluarkan suara kerak kerok, tiba-tiba terdengar jerit dan lengking seram seperti binatang buas yang meregang jiwa: "Air......air.......air. "

Dengan ujung lidahnya si kakek menjilat bibirnya, tapi lama sekali lidahnya menjilat-jilat bibirnya tetap kering dan pecah serasa perih. Lantaran lidahnya sendiripun sudah kering sekali dan hampir pecah pula. Katanya menghela napas: "Air. air, memang ada air ditempat itu, tapi

ada pula golok baja senjata pembunuh manusia, sekarang kalian masih punya kesempatan untuk hidup, bila tiba di sana jiwa kalian bakal segera melayang dengan mengenaskan."

Semua orang saling pandang, tanya mereka: "Ke. kenapa?"

"Karena tempat itu adalah sarang Pan-thian-hong." Mendengar " Pan-thian-hong" disebut oleh si kakek tua kontan ada dua orang terperosok jatuh dari atas unta, begitu terjungkal di atas pasir mereka tak kuasa bergerak pula.

Sekonyong-konyong seorang menjerit serak dengan nekad: "Aku tidak perduli, aku tetap akan kesana, lebih baik aku dibunuh daripada menderita dan mampus pelan-pelan dengan siksaan semacam ini." Sekuat sisa tenaganya ia gebrak unta tunggangannya mencongklang lari ke arah sana, muka semua orang seketika mengunjuk rasa ketakutan dan membayangkan adegan seram yang bakal menimpa semua yang takkan kembali lagi.

Ditengah deburan angin berpasir, tiba-tiba muncul bayangan tiga sosok orang, seorang bertubuh kurus tinggi, berbaju hitam, bermuka kaku seperti patung kayu, tangannya menyeret dua utas tali panjang seperti menarik anjing dia seret dua orang lainnya, kedua orang yang terbelenggu tali adalah seorang laki-laki kurus lancip, namun mukanya yang jelek ini membuat setiap orang yang melihatnya merasa mual. Seorang tawanan yang lainpun tidak lebih bagus, karena dia seorang bungkuk, tangan kedua orang ini sama terbelenggu kencang, langkahnya sempoyongan jatuh bangun terseret di belakangnya.

Sikap laki-laki baju hitam ini amat angkuh dan membusungkan dada, langkahnya enteng, padang pasir yang terserang hujan badai berpasir ini dipandang sebagai tanah datar berumput layaknya.

Pelancong atau para pedagang yang sudah putus asa kehabisan air itu seketika sama-sama melongo melihat ketiga orang ini, entah siapa diantara mereka, tiba-tiba berteriak keras: "Pan- thian-hong...........Pan-thian-hong. "

Siapa pula orang yang berkuasa ditengah padang pasir yang menyeret manusia bagai binatang kalau bukan Pan-thian-hong dan anak buahnya, saking ketakutan sekejap mata saja orang-orang ini sudah lari terbirit-birit tak diketahui pula bayangannya.

Si bongkok itu malah menghela napas, katanya tertawa getir: "Tak nyana orang-orang itu begitu ketakutan terhadap Pan-thian-hong, lebih baik mati kering dan kehausan daripada pergi ke tempat itu!"

Si burik menanggapi: "kalau begitu, tempat itu tentu amat berbahaya," suara orang ini ternyata mirip benar dengan suara Ki Ping-yan.

Ternyata untuk menyelidiki keadaan pihak musuh, supaya tidak dicurigai, terpaksa Coh Liu- hiang dan Ki Ping-yan menyamar menjadi tawanan Setitik merah, cuma seutas tambang masakah bisa membelenggu mereka, seumpama samaran mereka ketahuan musuh, mereka tetap bisa membebaskan diri dengan leluasa, bukankah cara ini jauh lebih baik daripada menyaru sebagai teman Setitik merah.

Sesaat kemudian berkata pula Coh Liu-hiang: "Aku masih membawa setengah kantong air, lekaslah kau berikan kepada mereka."

Memang hebat orang ini, menyaru jadi naga seperti naga, menyamar jadi harimau persis harimau, bersolek jadi seorang bungkuk sungguh tindak tanduknya mirip benar, kalau tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, mimpipun Setitik merah tak mau percaya, sungguh sukar dibayangkan si Maling kampium yang bermuka ganteng dan romantis ini dalam jangka setengah jam bisa berubah sedemikian rupa.

Ki Ping-yan malah tersenyum, katanya: "Ada kakek tua itu sebagai penunjuk jalan, orang- orang itu pasti takkan mati kehausan."

"Kau kenal kakek tua itu?" tanya Coh Liu-hiang.

"Orang ini boleh terhitung serigala padang pasir, kepandaian lain sih tak punya, tapi entah sudah berapa lama dan berapa kali dia bolak balik di gurun pasir, hidup seolah-olah bisa mencium dimana ada bahaya dan dimana bisa selamat, bila kaum pelancong atau pedagang bisa mengundang dia sebagai penunjuk jalan, seumpama mendapat cahaya dibadan sendiri." Tertawa geli, ia melanjutkan: "Sepuluh tahun yang lalu aku pernah bertemu dengan orang ini, waktu itu tabungannya cukup untuk hidup anak cucunya sampai beberapa turunan dengan senang, kukira sejak lama dia sudah cuci tangan hidup dirumah mengenyam hari tua, siapa tahu sampai sekarang dia masih melakukan pekerjaan itu, agaknya dia masih anggap pekerjaan ini masih tetap segar dan menarik hatinya." Coh Liu-hiang tertawa, katanya: "Seumpama kuda jempolan yang bisa lari ribuan li, mana mau dia tunduk ditengah jalan, orang macam demikian bila kau ingin dia hidup senang di rumahnya, malah terasa badan letih dan perasaan seperti disiksa."

Dua li sebelah depan, tiba-tiba kelihatan sebuah bukit batu yang menjulang tinggi ke angkasa, memang tidak setinggi gunung umumnya, tapi ditengah padang pasir yang serba kering tak berujung pangkal ini kelihatannya amat menyolok mata.

Bentuk batu-batu aneh di atas gunung laksana gigi serigala atau taring harimau, tandus menguning tak kelihatan rumput tumbuh di sini.

Selintas pandang, jelas keadaan di sana terlalu bahaya, penginapan padang pasir yang didirikan Pan-thian-hong memang dibangun membelakangi bukit batu ini.

Meski bukit batu ini bisa melindungi dari pusaran angin pasir, tapi bangunan penginapan juga tetap dibangun dengan kokoh kuat, dinding di sekelilingnya disanggah pilar besar dari dahan pohon besar yang cukup dipeluk dua orang, sepertiga dari batang pohon itu terpendam didalam tanah, dindingnya terbuat dari batu gunung, maka dapatlah dibayangkan kekuatannya takkan kalah dari dinding baja, jikalau ada orang terkurung didalamnya untuk lolos keluar laksana mendaki langit sukarnya.

Memang tidak kecil bangunan rumah ini, tapi pintu dan jendelanya kecil dan sempit, kain gordyn yang dipasang diambang pintu kelihatan mengkilat laksana berminyak, seperti lebih berat dari lempengan besi bobotnya.

Tak ada nama atau papan pengenal, cuma di atas dinding yang menghadap keluar ditulis huruf dengan tinta hitam berbunyi: "air jernih di padang pasir, ranjang kering, api unggun hangat."

Bagi para pelancong ditengah padang pasir, ke delapan huruf-huruf ini sungguh sepuluh kali lipat lebih menarik dari kata-kata manis lainnya yang sering dicantumkan di hotel-hotel atau restoran manapun untuk menarik para pengunjung.

Dibalik kain gordyn tebal ini adalah sebuah ruangan yang sedang, empat lima meja tersebar diberbagai pojokan dan ditengah dengan dua puluhan kursi.

Terlihat dimeja pojokan sana, tujuh delapan laki-laki besar sedang merubung meja dan main kartu, dimeja kasir sebelah kiri duduk seorang tua kecil bermuka tepos, berjenggot kambing, bentuk mukanya segi tiga, dua biji matanya seperti mata tikus merem melek seperti sedang ngantuk, mulutnya mengulum pipa cangklong, apinya sudah lama padam, suara gaduh dari orang- orang yang sedang berjudi serasa hampir merontokkan atap rumah, namun dia tetap duduk tenang seperti tak mendengar sama sekali.

Tiba-tiba terdengar derap kaki unta berlari mendatangi, tak lama kemudian seseorang menerjang masuk dengan teriakan serak: "Air......air. " Ciangkui atau kasir pemilik rumah

makan ini masih tetap duduk ngantuk diam saja, laki-laki yang berjudi itupun tiada yang berpaling, dengan langkah sempoyongan orang ini memburu ke meja kasir dan serunya dengan sember: "Ciang. Ciangkui apa kau menjual air, aku punya uang perak."

Mata si Ciangkui masih terpejam, tapi mulutnya sudah tertawa lebar, katanya: "Kalau punya perak memangnya kuatir kami tidak mau menjual air? Bagi pedagang seperti kita setiap pengunjung berarti keuntungan, masakah kami bisa menolak?"

Orang itu kegirangan, serunya: "Ya......baik. " mulutnya sudah kekeringan, saking girang

mulutpun bicara tak terang, sebelah tangannya repot merogoh kantong mengeluarkan uang perak, "Klotak" ia lempar uang peraknya di atas meja di depan kasir yang bernilai dua puluh tail. Baru sekarang Ciangkui menggerakkan kelopak matanya, tapi matanya membuka sedikit saja lalu terpejam lagi.

Orang itu kaget, serunya: "Tidak. tidak cukup?"

Ciangkui menghela napas, pelan ia geleng kepala.

Sambil kertak gigi orang itu kembali keluarkan dua puluh tail perak. Ciangkui menghela napas pula, tetap geleng-geleng.

Sudah melotot biji mata orang itu serasa hendak menyemburkan api, tapi sekilas matanya melirik ke arah gerombolan laki-laki yang sedang berjudi itu, sikapnya kembali lemas, terpaksa ia tekan perasaannya dan merogoh kantong pula. Sambil merogoh kantong tangan sebelah menyeka keringat, Ciangkui masih tetap menghela napas panjang pendek, keruan kejut bukan kepalang orang ini, serunya: "Se.......seratus enam puluh tail perak. masih tidak cukup?"

Ciangkui menyengir tawa, ujarnya: "Kalau tuan hendak membeli air seratus enam puluh tail, sudah tentu boleh juga."

Girang orang itu, "baik, secukupnya ini saja."

Ciangkui batuk-batuk sekali, lalu berseru: "Lo-ban berikan kepada tuan ini air seharga seratus enam puluh tail perak."

Lo-ban yang dipanggil ini sedang jadi bandar, perak di depannya sudah bertumpuk, "Plak" ia banting kartunya di atas meja, ternyata jeblok (sepuluh).

Bagi bandar pegang kartu jeblok, dapatlah dibayangkan akibatnya, saking murka ia raih kedua lembar kartu itu terus dijejalkan ke dalam mulut dan dikunyah hancur, sambil kecap-kecap, mulutnya mengumpat caci: "Kau cucu kura-kura ini, kunyuk, kelinci modar, sundel, siapa suruh kau kemari, bikin tuan besarmu kalah main dan kehabisan uang, kalau sebentar tidak kugecek remuk perutmu, sungguh penasaran hatiku."

Entah memaki kartu atau memaki orang dan entah ditujukan kepada siapa, namun bagi orang yang merasa kena makian ini diam-diam saja, sesaat kemudian pelan-pelan toh terpaksa dia membawa sebuah ceret.

Ceret yang cukup besar dan terlalu berat, keruan orang itu kegirangan, serunya: "Terima kasih. terima kasih," sekali raih dia rebut ceret itu dan terus menuang kemulut yang terbuka

lebar, betul juga setetes air dingin menetes ke lidahnya dan airpun tiada lagi. Tidak kecil ceret ini, tapi isinya cuma setetes air. Keruan bergetar badan orang ini, katanya gemetar: "Ce ceret ini tak

berisi air."

Lo-ban mendelikkan matanya, katanya bengis: "Siapa bilang tak ada air, bukankah yang barusan kau tenggak itu air? Kita orang berdagang mencari uang halal, buat apa harus main nakal, memangnya kau sendiri yang sudah bosan hidup."

Sungguh kaget dan gusar pula orang ini, teriaknya serak: "Tapi airnya cuma setetes."

Sahut Lo-ban: "Uangmu cuma seratus enam puluh tail perak, memang cuma bisa membeli setetes air, berapa yang kau inginkan?" Tak tahan lagi orang itu berjingkrak sambil berteriak-teriak: "Setetes air berharga seratus enam puluh tail perak, terhitung orang dagang macam apa kalian ini?"

"Sudah tentu berdagang secara halal, cuma hitung dagang cara kita selama tiga tahun ini jika kau merasa terlalu mahal siapa suruh kau kemari?" mendadak ia rebut ceret itu lalu tertawa menyeringai: "Bukan mustahil dalam ceret ini masih ada air, nanti kuberikan kepada kau," mulut bicara sementara jari-jari tangannya yang gede-gede itu menggencet dan meremas.

Ceret yang terbuat dari tembaga itu seketika teremas dan tergencet menjadi bundar seperti bolang-baling, orang itu hanya mengawasi dengan mulut melongo mana berani bercuit lagi.

Di sebelah sana, Ciangkui malah terkekeh-kekeh, katanya: "Tuan ini kalau merasa airnya terlalu sedikit boleh kau tambah uang beli lagi?"

Tergagap mulut orang itu: "Aku. aku sudah tak punya uang lagi."

"Tak punya uang perak, barang lainpun boleh kau tukar dengan air," ujar si Ciangkui.

Orang itu kertak gigi, putar tubuh terus lari keluar, tak nyana belum lagi kakinya melangkah ke pintu, tahu-tahu badannya tergantung naik dijinjing seseorang, sebelah tangan orang itu merogoh ke dalam kantong bajunya. Tangan yang ditarik keluar ini menggenggam sebuah dompet domba yang berisi penuh dan sesak.

Terdengar suara Lo-ban tertawa nyaring: "Tak nyana keparat ini masih punya simpanan begini banyak."

Orang itu ketakutan, serunya gemetar: "Aku. aku tak mau beli lagi."

Mendelik mata Lo-ban, dampratnya gusar: "Untuk apa kau kemari kalau tidak mau beli air?

Memangnya boleh sembarangan kau keluar masuk ditempat kita ini?"

Sesaat lamanya orang itu terlongong, lalu katanya dengan air mata bercucuran: "Kalau demikian, baiklah lekas kau keluarkan airnya!"

Lo-ban terbahak-bahak, serunya: "Kantongmu sekarang sudah kosong melompong, mana tuan besarmu sudi kasih air padamu. Mengelindinglah keluar dan minum air kencing sana," berbareng kedua tangan terayun ia lempar badan orang ke arah luar pintu, "Brak" badan seberat puluhan kati itu melayang keluar menerjang kain gordyn tebal itu dan terlempar keluar pintu.

Lo-ban bertepuk tangan, sambil tertawa besar, serunya: "Kesurga ada jalan kau tak mau kesana, akhirat tiada pintu kau malah kemari, memangnya matamu picak?"

Belum habis kata-katanya, kembali terdengar " brak" kain gordyn keterjang sesuatu, tahu-tahu orang yang dilempar keluar tadi melayang masuk pula dan "Blang" tepat jatuh di atas meja.

Keruan Lo-ban kaget dibuatnya, seketika ia tersurut mundur tiga langkah, serunya: "Hei! Tak nyana tuan ini seorang ahli yang menyembunyikan diri, pandai main silat agaknya."

Ciangkui menjengek dingin, jengeknya: "Jangan katakan orang lain picak, justru kau sendiri yang buta melek, orang yang pandai masih berada di luar!"

Waktu Lo-ban menegasi dilihatnya orang itu duduk mematung dengan mata mendelong di atas meja, saking ketakutannya mata terkesima dan mulut tak kuasa berteriak, baru sekarang Lo-ban sadar orang ini dilempar balik oleh seseorang di luar pintu. Cuma kalau orang di luar dapat menyanggah serta melemparkannya balik, jatuh duduk tanpa kurang suatu apa di atas meja, kehebatan ini sungguh amat mengejutkan. Sekian lama Lo-ban tertegun, kembali ia menyurut mundur dua langkah kemudian lalu menggembor sekerasnya: "Bocah keparat di luar lekas masuk. "

Belum sampai ia keluarkan kata-kata "antar kematian", tiba-tiba suaranya tersendat didalam tenggorokan, karena dari luar menerobos seseorang, cuma sekali mata orang itu melotot padanya, seketika ia rasakan bulu kuduknya mengkirik dan dingin sekujur badannya, mulutpun tak berani sesumbar lagi.

Kalau di luar masih amat panas dan terik, sebaliknya suasana didalam rumah seketika dingin mencekam perasaan. Di bawah cahaya remang-remang tampak raut wajah orang itu pucat lesi, sedikitpun tidak menunjukkan perasaan hatinya, seolah-olah peristiwa besar apapun takkan bisa meluluhkan hatinya.

Sepasang mata itu justru teramat tajam dan menakutkan, dingin dan kaku menggiriskan pula, sejak orang ini melangkah masuk hawa dalam rumah seakan-akan membeku secara mendadak, orang-orang yang sedang judi dan berkaok-kaok seketika sirap, biji mata Ciangkuipun terpentang lebar, semua hadirin sama merasa badannya dilingkupi hawa dingin, namun mereka sendiri tak habis mengerti, kenapa hati sendiri kebat-kebit, apasih yang ditakuti?

Tampak orang ini melangkah lebar masuk ke dalam rumah, bahwasanya seperti tidak melihat kehadiran orang lain didalam rumah ini, tangannya menggandeng dua utas tali, sekali tarik dari luar tersungkur masuk dua sosok tubuh manusia, seorang bungkuk dan seorang kurus burikan, begitu tersungkur jatuh sesaat tak mampu berdiri, dengan napas ngos-ngosan.

Lo-ban menghirup napas panjang, sapanya lebih dulu membuka kesunyian: "Sa. sahabat

kemari mau apa?" meski membesarkan hati, tapi entah kenapa suaranya serasa gemetar dan sumbang.

Laki-laki baju hitam itu menyahut: "Disini tempat apa?"

Lo-ban melengak, sahutnya: "Kita. kita membuka penginapan."

Laki-laki baju hitam sudah duduk di sebuah kursi, "Brak" ia gebrak meja, katanya: "Kalau penginapan, kenapa tidak lekas siapkan minuman?"

Mengerling biji mata Lo-ban, tampak tujuh delapan laki-laki teman judinya sama mengawasi dirinya, dalam hati ia berpikir: "Aku takut apa? Kau bocah ini seorang diri, apa sih yang perlu ditakuti?" karena pikirannya ini, nyalinya tambah besar, jengeknya dingin: "Peraturan di sini selamanya mengutamakan bayar dimuka, mau minum kau harus keluarkan dulu uangmu."

Tak nyana laki-laki baju hitam menyeringai dingin: "Tidak punya uang."

Lo-ban melengak pula, ingin sebetulnya dia keluarkan kata-kata kasar, tiba-tiba dilihatnya sepasang mata laki-laki itu sedang melotot kepadanya, seketika seperti membeku darahnya, sepatah katapun tak kuasa dikatakan lagi.

Di sana Ciangkui tiba-tiba batuk pelan-pelan, katanya tertawa: "Kalau tuan tamu ini mau minum, kenapa tidak lekas kau suguhkan air teh."

Lo-ban yang galak itu ternyata menurut saja dengan tertunduk ia menuang air teh dan disuguhkan. Laki-laki yang dilempar ke atas meja kembali melongo heran dan tak mengerti, secara diam- diam hatinyapun sedang bersorak kegirangan: "Kiranya kawanan perampok ini masih tahu takut kepada orang yang lebih galak."

Cepat sekali air teh disuguhkan, tanpa sungkan laki-laki baju hitam segera angkat cangkir terus ditenggak habis, tapi air teh yang masuk kedalam mulutnya tiba-tiba ia semprotkan ke muka Lo-ban, dampratnya gusar: "Air teh seperti ini mana bisa diminum, ganti secangkir air lagi."

Badan Lo-ban setinggi tujuh kaki dan kekar itu ternyata terjengkang jatuh karena semprotan air teh dimukanya, terasa selebar mukanya sakit pedas, tak tahan ia berjingkrak bangun dengan murka, dengan menghardik seperti geledek, segera ia menubruk maju.

Teman-temannya yang lain melihat dia berani turun tangan, beramai-ramai merekapun meluruk maju, sambil menggerakkan kaki tangan seraya bersorak sorai, ada yang mengambil kursi, ada yang menyingsing lengan.

Kedua tangan laki-laki hitam itu menekan meja, tiba-tiba ia menyedot napas, entah bagaimana terjadi tahu-tahu meja dan kursi yang didudukinya ikut terseret ke samping beberapa kaki.

Sebetulnya Lo-ban sudah mengincar dengan tepat, siapa duga tubrukannya mengenai tempat kosong, celaka malah nubruk seorang temannya yang kebetulan berdiri di sebelah sana, kebetulan pula laki-laki ini sedang angkat kursi mengepruk "Brak" untung badan Lo-ban sedang tersungkur sehingga badannya melenceng dan cepat menggelengkan kepalanya, kalau tidak tentu batok kepalanya terkepruk pecah. Namun demikian toh dirasakan punggung dan pundaknya sakit luar biasa, dengan murka ia berjingkrak bangun seraya mencaci: "Siau-ui, kau anak anjing ini, memang sudah gila?"

Dimaki secara kasar, merah padam muka Siau-ui, serunya: "Siapa suruh kau main tubruk, memangnya kau picak, kau sendiri anak anjing."

Memang dalam permainan judi tadi, orang she Ui ini selalu menang, maka Lo-ban merasa iri kepadanya, kini setengah badannya terasa kaku ngilu, lebih berkobar lagi amarahnya, dampratnya sambil mencak-mencak: "Biar tuan besarmu tahu siapa keturunan anjing yang tulen."

Ditengah suara caci maki kedua orang itu sudah bergumul dan berhantam keras lawan keras, kepalan dibalas pukulan, tendangan dibalas sepakan, suasana menjadi ramai dengan suara gedebukan, keduanya memukul dengan sekuatnya dan tak berusaha berkelit, maka dalam sekejap saja keduanya sudah babak belur dan keluar kecap dari hidungnya, laki-laki baju hitam itu malah menonton mereka berkelahi, matanya tak pernah berkedip.

Ciangkui itu kini menarik muka dan merengut tak bersuara. Tujuh laki-laki yang menonton disamping ada yang merupakan kenalan baik Lo-ban dan ada pula yang suka menjilat kepada laki- laki she Ui, mereka sama tepuk tangan dan berjingkrak memberi semangat dan dorongan kepada kedua orang yang sedang pukul memukul ini.

Tiba-tiba laki-laki baju hitam kembali menggebrak meja, dampratnya: "Siapa suruh kalian anjing gigit anjing?"

Baru sekarang Lo-ban dan Siau-ui sama sadar, keduanya tertegun dan menghentikan serangan, berdiri saling pandang sebentar, amarah Lo-ban agaknya belum terlampias, dampratnya dengan murka: "Biar tuanmu adu jiwa dengan kau."

Seperti orang kesetanan ia menubruk membabi buta, tahu-tahu badan laki-laki baju hitam mengkeret, kembali bersama meja dan kursi melesat ke samping beberapa kaki, Lo-ban kembali menubruk tempat kosong. Kali ini orang lain sudah kapok, tiada seorangpun yang berani membantu, tampak Lo-ban tubruk sana hantam sini, main tendang dan terkam, namun ujung baju orangpun tak mampu disentuhnya. Mengelap meja dan memindahkan kursi agaknya sudah menjadi keahlian laki-laki baju hitam ini, kemana badannya bergerak, meja dan kursi segera meluncur ke arah yang dikehendakinya. Ruangan ini sebetulnya tidak begitu besar, apalagi terdapat meja kursi lainnya pula, tapi justru dia bisa bergerak secara pas-pasan, bergerak leluasa diantara celah meja dan kursi-kursi, tanpa menyentuhnya sedikitpun.

Biji mata Lo-ban sudah membara, mukanyapun sudah membengkak, keringat sudah membasahi selebar mukanya, makinya sambil berjingkrak murka: "Kau keparat, kalau berani berdirilah dan lawan tuan besar berkelahi, kalau kepandaianmu hanya menyingkir saja, kau bukan manusia, kau binatang!"

Laki-laki baju hitam terkekeh dingin, jengeknya: "Memangnya tampangmu setimpal bergebrak dengan aku."

Lo-ban semakin murka, dampratnya: "Kalau pandaimu mengolok-olok saja, kau memang binatang."

Tiba-tiba melotot biji mata laki-laki baju hitam, sorot dingin terpancar dari biji matanya, ancamnya sepatah demi sepatah: "Kau ingin aku turun tangan?"

"Aku........aku. " tersendat mulut Lo-ban dengan muka pucat. Tadi dia begitu beringas, tapi

karena dipelototi mata lelaki baju hitam, terasa kedua kaki menjadi lemas lunglai, lekas ia putar tubuh memburu kehadapan rombongan laki-laki lainnya, dampratnya mencak-mencak: "Kalian anak kura-kura, melihat keramaian apa? memangnya tangan kalian sudah kutung semua?"

Karena dampratan ini mereka jadi rikuh dan tak enak hati berpeluk tangan.

Tampak laki-laki baju hitam pelan-pelan menanggalkan sebilah pedang yang panjang dan tipis, sarungnya berkulit hitam legam, pedang panjang laksana ular beracun ini diletakkannya di atas meja. Pelan-pelan ia mengelusnya seraya menjengek dingin: "Pedang ini tak sembarangan keluar dari sarangnya, sekali keluar harus melihat darah, kalau keluar jiwa pasti melayang," mulutnya seperti menggumam, namun bagi pendengarnya serasa mendirikan bulu roma dan menciutkan nyali mereka, saling pandang tiada yang berani mendahului turun tangan.

Ciangkui itu tiba-tiba menghela napas, katanya: "Kalau tidak berani turun tangan, tidak lekas ngacir saja, buat apa berdiri di situ membuat malu saja." Semua laki-laki itu sama menundukkan kepala, keringat dingin berketes-ketes membasahi badan. Tertawa besar Ciangkui mengawasi laki-laki baju hitam, serunya memuji: "Sahabat, hebat kepandaianmu, memang sengaja kau hendak bikin gara-gara disini?"

Melirikpun tidak laki-laki baju hitam itu kepadanya, mulutnya mendehem saja.

Kembali Ciangkui tertawa besar, katanya: "Bagus, kawan berani kemari, tentunya kami tidak akan bikin saudara kecewa."

Di atas meja kasir ada kelintingan kecil, segera ia mengangkatnya serta digoyang-goyang.

Begitu suara kelintingan kumandang, tujuh delapan jendela persegi satu kaki di sekeliling dinding serempak terbuka, di luar jendela kelihatan bayangan orang, disusul setiap jendela menongol keluar ujung anak panah yang runcing mengkilap tertuju ke arah laki-laki baju hitam, terang anak panah sudah terpasang di atas busur dan terpentang tinggal melepas saja.

Laki-laki pelancong yang dilempar keluar masuk tadi, disaat orang sedang berkelahi, secara diam-diam ia meraih sebuah ceret berisi air teh terus diteguknya sepuas-puasnya, kini sedang menentramkan napasnya yang tersengal-sengal, mau tak mau ia merasa kuatir pula bagi keselamatan laki-laki baju hitam itu.

Sebaliknya laki-laki baju hitam tetap bercokol di atas kursinya dengan sikap tenang tak gentar sedikitpun, panah yang sudah terpasang di atas busurnya tertuju padanya, bahwasanya dianggap tidak melihatnya sama sekali, cuma mulutnya menyungging senyuman dingin. Terdengar dari luar seseorang bergelak tawa, katanya: "Sahabat, besar benar nyalimu, memangnya kau tidak takut mati?" suara tawanya laksana genta bertalu-talu, membuat orang yang mendengarnya serasa pecah kupingnya, sebuah pintu di belakang ruangan tiba-tiba terbuka, dari luar melangkah lebar seseorang.

Tampak orang ini berperawakan tinggi kekar, kira-kira sembilan kaki, selebar mukanya tumbuh cabang bauk, pintu itu tidak besar namun tidak kecil, orang itu harus membungkuk badan baru bisa melangkah masuk.

Baju bagian atas laki-laki ini terbuka lebar, tampak dadanya yang kekar dan tumbuh bulu-bulu lebat hitam, tangannya menjinjing sebilah golok emas bergelang sembilan berpunggung tebal, panjangnya lima kaki, paling tidak ada empat lima puluh kati. Orang seperti ini dengan senjata yang luar biasa pula, sungguh mengejutkan nyali setiap orang yang menghadapinya.

Laki-laki baju hitam cuma meliriknya dengan tawar, jengeknya: "Kau ini Pan-thian-hong?"

Laki-laki cambang bauk tergelak-gelak pula, serunya: "Bocah, bagus ternyata kau tahu disini ada Pan-thian-hong, jadi kau memang sengaja hendak cari gara-gara, baik tuan besarmu biar memberi hajaran kepadamu saja!"

Ditengah berkumandangnya gelak tawa, Kim-pwe-to yang beratnya lima puluh kati itu terayun tinggi terus membacok dengan dahsyat, tajam golok sampai mengeluarkan deru angin keras, sementara gelangnya berbunyi kerontangan, begitu keras dan hebat perbawanya sampai semua hadirin serasa pekak telinganya, terbang arwahnya.

Demikian pula laki-laki baju hitam agaknya tersedot semangatnya oleh perbawa golok yang hebat ini, dengan mata mendelong ia awasi golok besar itu membacok turun mengarah batok kepalanya tanpa bergerak sedikitpun. Serempak semua hadirin sama unjuk rasa senang, mereka kira sekali bacokan golok besar ini, pasti mampu membelah badan laki-laki baju hitam itu menjadi dua potongan. Maka terdengarlah " Prak" golok emas telak sekali mengenai sasarannya.

Meja kayu yang terbuat dari kayu tebal dan berat bobotnya itu ternyata terbelah menjadi dua potong, namun laki-laki baju hitam justru tetap duduk ditempatnya tanpa kurang suatu apapun dan masih segar bugar. Jelas semua orang melihat dia tidak bergeming dari tempat duduknya, tapi entah mengapa bacokan golok itu ternyata tidak mengenai dirinya. Semua hadirin seketika melongo keheranan dan saling pandang. Lo-ban mendadak terkekeh-kekeh serunya: "Masakah kalian tidak melihat? Ji-ko sengaja berbelas kasihan, cuma sengaja main gertak sambal belaka untuk menakuti bocah ini, lalu membabat kutung bagian batok kepalanya."

Semua laki-laki yang hadir sama bersorak senang, seru mereka: "Benar, bacokan Ji-ko selanjutnya tak usah menaruh belas kasihan lagi, ya bukan!"

Laki-laki cambang bauk menyeka keringat di atas jidatnya, sungguh dia sendiripun keheranan sendiri kenapa bacokan goloknya tahu-tahu mengenai tempat kosong, terpaksa ia unjuk tawa kering, katanya: "Adik-adik boleh lihat, bacokan Ji-ko kedua kalinya biar kucabut jiwanya." Laki-laki baju hitam tiba-tiba menjengek dingin: "Ilmu golok seperti permainanmu, paling-paling hanya  bisa  untuk  membelah   kayu   dan   menebang   pohon,   jikalau   ingin   membunuh orang. hehehe! Masih jauh sekali!"

Merah padam muka laki-laki bercambang bauk, serunya dengan gusar: "Ilmu golok yang bagaimana baru bisa membunuh orang?"

Laki-laki baju hitam pelan-pelan mengelus sarung pedangnya, sahutnya kalem: "Ilmu golok yang bisa membunuh orang seperti ini," ditengah ucapannya semua orang seperti melihat pedang panjangnya itu terlolos keluar dari sarungnya, sekali berkelebat belum lagi kata-katanya terucap habis, pedang runcing panjang laksana ular berbisa itu seperti masih tetap berada didalam sarungnya tak bergerak.

Sementara laki-laki bercambang baukpun masih berdiri tegak di tempatnya, cuma kulit mukanya mulai kerut kemerut dan mengejang, sepasang matanya pelan-pelan melotot seperti biji mata ikan mas.

Melirikpun tidak sudi, berkata laki-laki baju hitam: "Sekarang kau sudah paham belum?" Laki-laki cambang bauk menyahut sumbang: "Aku.........aku sudah paham. " belum

selesai kata-katanya, tiba-tiba terdengar suara gemerantang golok berpunggung tebal di

tangannya tiba-tiba jatuh kerontangan disusul tubuh kekar dan tinggi dari laki-laki cambang bauk ini, tumbang seperti pohon yang kehilangan tunjangan akar-akarnya. Tak terlihat sedikitpun luka- luka pada sekujur badannya, cuma tenggorokannya saja kelihatan setitik merah darah. Luka-luka yang mencabut nyawanya ternyata hanya setitik darah saja.

Semua hadirin sama membuka mulut dan tak kuasa bersuara, matapun terkesima mana mampu bicara lagi. Sesaat kemudian satu persatu mata mereka melirik ke arah ujung panah yang masih nongol dari balik jendela. Ujung panah sama masih tertuju ke arah batok kepala dan dada laki-laki baju hitam, tapi melirikpun dia ogah, tangannya masih mengelus pedang di pangkuannya.

Lo-ban menyurut mundur selangkah demi selangkah, tak tahan dia berteriak ketakutan dengan suara gemetar: "Ma. masih tidak lekas lepas panah?"

Entah sejak kapan Ciangkui sekarang sudah keluar dari balik meja kasirnya, tiba-tiba ia renggut tengkuk orang, sekaligus tangannya yang lain bekerja pulang pergi menampar mukanya puluhan  kali.   Serasa   hampir   semaput   Lo-ban   dibuatnya,   serunya   penasaran:   "Lo- toa,. kenapa kau pukul aku?"

Si Ciangkui murka, dampratnya: "Kalau tidak menghajarmu siapa yang harus dipukul? Apa saja yang kau katakan barusan?"

"Aku. aku cuma minta para saudara lepas panah!"

Ciangkui tertawa dingin, jengeknya: "Kau ingin supaya mereka lepas panah, tahukah kau bila panah dilepas siapa yang akan mampus?"

"Sudah tentu bocah keparat itu."

Belum habis kata-katanya si Ciangkui kembali layangkan tangannya menggampar beberapa kali pula ke pipinya, bentaknya murka: "Tampangmu juga berani memanggilnya bocah, tahukah kau siapa sahabat ini?"

"Dia. dia siapa?" Lo-ban terkesiap. Ciangkui tidak hiraukan pertanyaannya, dengan langkah cepat dia menghampiri ke depan laki- laki baju hitam, dengan laku hormat dia menjura, seraya unjuk seri tawa, sapanya: "Para saudara tidak tahu bila Setitik merah dari Tionggoan sudah berkunjung ke tempat kami yang jorok ini, maaf kami tak menyambut selayaknya, harap tuan suka mengampuni dosa-dosa mereka."

Orang ini betul-betul serigala bangkotan yang licin dan licik, terlebih dahulu dia hajar Lo-ban habis-habisan, membuktikan bahwa saudara-saudaranya ini memang tidak tahu dan mengenal Setitik merah. Baru dia memohon maaf kepada Setitik merah. Ini pula yang dinamakan tingkah laku seorang kawakan Kangouw. Kaum persilatan yang suka kelana di Kangouw biasanya memang mengutamakan perbuatan tengik seperti itu, dia kira setelah mendengar dan melihat tindakannya, orang tentu menjadi sungkan dan sekedar basa-basi selayaknya.

Siapa nyana Setitik merah justru tidak perduli segala tingkah dan perilakunya yang tengik ini. Meski seorang kawakan Kangouw yang cukup berpengalaman, cara apapun yang digunakan bila berhadapan dengannya boleh dikata sia-sia belaka. Menggerakkan kelopak matapun Setitik merah tidak sudi, suaranya tetap dingin kaku: "Teh ini tidak bisa diminum, ganti yang lain."

Si ciangkui tertegun sebentar, tetap unjuk seri tawa, sahutnya: "Ya,ya,ya air teh ini tak bisa diminum biar saudaraku ganti yang lain."

Setelah seseorang mengganti dengan air teh dalam ceret yang lain, dengan kedua tangan sendiri dia angsurkan ke depan orang, siapa tahu Setitik merah meraih cangkir terus dibanting ke atas lantai: "Teh ini kurang baik, ganti ceret yang lain."

Seketika berubah rona muka semua laki-laki yang hadir, sebaliknya si Ciangkui masih bersikap hormat, roman mukanya tetap berseri tawa, katanya: "Ya,ya,ya ganti dengan ceret yang lain."

Benar juga dia ganti dengan air teh dari ceret yang lain, kembali ia angsurkan dengan kedua tangannya, pikirnya: "Seumpama kau memang ingin membuat keributan kali ini, tentu kau takkan ada alasan main-main lagi."

Tak nyana mengendusnya saja tidak, Setitik merah kembali membanting hancur cangkir teh itu, bentaknya: "Teh ini tetap tak bisa kuminum."

Sungguh sabar luar biasa si Ciangkui ini, tak segan-segannya dia mengganti sendiri secangkir air teh yang lain pula, pikirnya: "Ingin aku melihat apakah kau tetap akan membantingnya?"

Memang keterlaluan, sekaligus secara beruntun Setitik merah sudah membanting hancur delapan cangkir, sikapnya tetap kaku dan dingin. Kini hadirin sudah menyadari bahwa dia memang sengaja hendak cari gara-gara menimbulkan keonaran, keringat dingin sebesar kacang sama menghiasi jidat setiap hadirin.

Meski muka si Ciangkui masih mengulum senyuman, tapi hatinya sudah tak sabar lagi, tanyanya: "Air teh yang bagaimana baru tuan mau meminumnya?"

"Air teh yang tidak bau, tentu boleh kuminum," sahutnya. Ciangkui tertawa kering, katanya: "Masakah air teh ini bau?" "Hm!"

"Setegukpun saudara tidak mencicipinya darimana bisa tahu bila teh ini bau?" "Karena tangan orang di sini semuanya berbau."

Sekilas biji mata Ciangkui mengerling ke arah pedang panjang yang ditopang di atas pangkuan Setitik merah, katanya terloroh-loroh: "Apa betul tangan manusia-manusia ini berbau? Cayhe jadi ingin mengendusnya," pelan-pelan ia menghampiri terus menarik tangan Lo-ban, ujung kakinya tiba-tiba menyungkit golok emas terus diraihnya, sekali ayun ia membacok.

Lo-ban melolong sekeras-kerasnya, kontan jatuh semaput.

Dengan membawa kutungan tangan Lo-ban yang berlepotan darah, si Ciangkui betul-betul mendekatkan ke depan hidungnya untuk dicium satu persatu, roman mukanya berseri tawa, seperti orang menikmati sesuatu yang memikat hatinya: "Kedua tangan ini sebetulnya sih tak begitu bau, cuma mengandung bau anyir darah."

Agaknya dia merasa kata-kata yang dia ucapkan ini adalah banyolan yang menggelikan, belum selesai kata-katanya, badannya sudah bergoyang karena loroh tawanya yang keras. Tapi kecuali dirinya siapa pula yang bisa tertawa. Bahwasanya dia sendiri heran betapa dia sendiripun bisa tertawa.

Dengan mendelik matanya menatap kepada Setitik merah, batinnya: "Membunuh orang cukup menganggukkan kepala, seumpama kau memang ingin cari gara-gara, apa yang kulakukan kiranya sudah cukup keterlaluan?"

Jikalau orang lain, meski hati sedang dirundung kepedihan atau sedang marah besar, setelah melihat adegan seram tadi mestinya amarahnya sedikit banyak tentu sudah terlampiaskan, seorang bila bisa menahan diri sampai sedemikian jauh, apa pula yang dapat dilakukan orang lain. Sampaipun si Burik dan si bungkuk dalam hati merasa kasihan dan menarik napas, mereka heran kenapa orang yang berjanji dengan Setitik merah untuk bertemu ditempat ini belum juga kunjung tiba?

Apa boleh buat, hati Setitik merah seperti dibuat dari besi baja, apapun yang dia katakan, apapun yang dia lakukan, dia bisa anggap tidak melihat dan tidak mendengar, sikapnya tetap kaku tak bergerak.

Lama kelamaan si Ciangkui tak bisa tertawa lagi, setelah dua kali tertawa kering, dia maju menghampiri dan menuang secangkir air teh dengan kedua tangannya, ia haturkan kepada Setitik merah, katanya: "Selama dua puluh tahun Cayhe tidak pernah menyuguh air teh kepada siapapun dengan kedua tanganku ini, maka kedua tanganku ini tentu tidak bau, jikalau saudara suka memberi muka kepada Cayhe, sungguh Cayhe teramat terima kasih."

Setitik merah melirikpun tidak ke arahnya, matanya malah mengawasi cangkir ditangan orang, katanya pelan-pelan: "Jadi kau inilah Pan-thian-hong!"

Ciangkui tertawa dibuat-buat, sahutnya: "Ah, julukan yan tak berarti, bikin kotor pendengaran saja."

"Tak heran kau bisa hidup sampai sekarang, orang seperti tampangmu ini kiranya Pan-thian- hong itu, sungguh tak kentara."

"Di hadapan seorang sahabat, sebetulnya Cayhe tak bisa dianggap Pan-thian-hong, hanya boleh dipandang seekor ulat. haha! Cuma seekor ulat belaka, buat apa saudara harus berurusan

dengan seekor ulat."

"Benar, kau memang seekor ulat, tanganmu itu lebih busuk dari mereka." Kulit muka Pan-thian-hong yang kuning itu seketika berubah pucat, suaranya mulai gemetar: "Saudara, kau. sebetulnya kau ingin."

Tiba-tiba terdengar tawa cekikikan nyaring dari luar pintu, seorang berkata dengan suara merdu: "Kiranya tangan Pan-thian-hong juga berbau busuk, ingin aku menciumnya malah, tahu- tahu seorang gadis muda berusia belasan tahun bermata bening, bergigi putih rata, rambutnya dikepang menjadi dua, pakaiannya serba merah, dengan gemulai melangkah masuk.

Hujan pasir ditengah gurun sering terjadi, orang-orang yang memasuki rumah selalu berlepotan lumpur berpasir, tapi badan gadis jelita ini sedikitpun tidak kotor.

Hawa membunuh memuncak didalam rumah ini, darah berceceran, mayat menggeletak tak diurus. Tapi tawa gadis jelita ini begitu manis begitu riang seolah-olah dia baru saja keluar dari taman kembang yang subur semerbak memasuki kamar tidurnya sendiri, laki-laki kasar yang memenuhi ruangan ini seolah-olah adalah kacung atau pesuruh di rumahnya.

Pada saat seperti ini, ditempat seperti ini pula, tiba-tiba muncul seorang gadis jelita seberani ini, pandangan semua orang secara tak sadar sama mendelong mengawasinya, mulut terbuka lebar tak bersuara.

Tampak sambil berseri tawa, gadis jelita itu langsung menghampiri ke depan Pan-thian-hong, katanya sambil melerok: "Apa tanganmu benar-benar busuk?"

Pertanyaan ini sungguh jenaka dan bikin orang jengkel dan geli pula, sesaat lamanya Pan- thian-hong sendiri megap-megap tak mampu menjawab: "Nona..........Cayhe. "

"Kelihatannya kedua tanganmu ini putih bersih, mana bisa berbau busuk? Aku tidak percaya. " pelan-pelan ia raih kedua tangan Pan-thian-hong. Gadis jelita secantik ini, tawa

nan merdu, masakah Pan-thian-hong tega menolak tangannya diperiksa?

Setitik merah tetap tak menunjukkan perubahan mukanya, cuma sekilas biji matanya melirik kepada si Burik dan Si Bungkuk, seperti bertanya: "Kalian lihat orang macam apa sebenarnya gadis ini?"

Si Bungkuk dan si Burik beradu pandang, dalam hati masing-masing sama teringat akan Ciok- kwan-im. Jikalau gadis ini bukan Ciok-kwan-im tentu dia punya hubungan erat dengan Ciok-kwan- im. Orang mendadak muncul ditempat ini, apakah tujuannya?

Sekonyong-konyong tampak selarik sinar perak berkelebat, disusul jeritan keras yang memekakkan telinga. Tampak Pan-thian-hong sempoyongan mundur tiga langkah, kontan badannya tumbang celentang seperti pohon roboh.

Tahu-tahu tangan gadis baju merah itu telah mencekal sebuah pisau yang berkilauan, ujung pisau masih berlepotan darah, cara bagaimana orang menggerakkan pisau peraknya tiada seorangpun yang melihat jelas.

Terdengar gadis baju merah cekikikan pula, katanya: "Tangan ini sebetulnya sih tidak bau, cuma sedikit berbau darah."

Laki-laki yang lain serempak menggembor seperti kesetanan, berbareng menubruk maju.

Jelalatan biji mata gadis baju merah, jari-jarinya mengkili-kili pipi sendiri sambil menggoda jenaka: "Kalian mau apa, begini banyak laki-laki hendak menganiaya anak perempuan, tidak tahu malu?" mulut bicara sementara pisau di tangannya bekerja dengan tangkas, dua laki-laki yang menubruk duluan seketika menjerit dan roboh tak bernyawa lagi, tenggorokannya berlubang dan darahpun bercucuran.

anak gadis semuda ini, bersikap aleman, halus dan jenaka, ditengah senda guraunya beruntun menamatkan jiwa dua laki-laki kasar, yang lain mana berani banyak tingkah pula.

Mengawasi darah yang muncrat kemana-mana itu, si gadis baju merah menghela napas, ujarnya menawan hati: "Tak heran Setitik merah dari Tionggoan menggetarkan dunia, baru sekarang aku tahu membunuh orang tak kelihatan darah, hanya setitik darah di ujung pedang! "Gampang" kata-kata ini diucapkan, tapi untuk melakukannya sungguh tak mudah."

Biji matanya mengerling ke arah Setitik merah, katanya pula: "Coba lihat, hanya sedikit menggunakan tenaga, darah mereka sudah berceceran sedemikian banyak, sungguh memualkan, dibanding caramu jauh sekali bedanya."

Dengan dingin Setitik merah mengawasinya, katanya dingin: "Peduli siapa, membunuh orang tiada seninya dan enak dipandang mata."

Gadis baju merah cekikikan pula, ujarnya: "Cuma kau, orang lain membunuh orang ya membunuh orang, kau membunuh orang sebagai buah karya yang tiada bandingannya."

Siau-ui sedang menyurut mundur, diam-diam ia memberi isyarat ke jendela, maksudnya supaya mereka melepas anak panah, tak nyana kerlingan mata gadis baju merah tiba-tiba tertuju ke arahnya, teriaknya nyaring: "Aduh! Coba kalian lihat jahat tidak orang ini, dia ingin orang lain memanah mati diriku."

Seketika dingin tengkuk dan kaki tangan Siau-ui, kakinya tak bergerak lagi.

Gadis baju merah malah menghela napas, ujarnya lembut: "Sayang panah-panah itu takkan bisa memanah mati orang, tidak percaya coba kau lihat." langkahnya ringan menghampiri jendela, dengan kedua jarinya ia jepit pelan-pelan sebatang anak panah, panah itu dengan gampang terjepit diantara jari-jarinya, sekali potes patah menjadi dua.

Semua laki-laki kasar itu semakin ketakutan, bernapaspun tak berani keras-keras. "Apa kalian heran?" ujar gadis baju merah.

"Sebenarnya tak perlu dibuat heran, orang hidup baru bisa main panah, orang mati mana bisa lepaskan panah?"

Bergetar suara Siau-ui: "Kau. kau bunuh mereka?"

"Coba kau pikir, bila ada orang hidup mengacungkan panah kepadaku, apa aku bisa masuk kemari? Nyaliku kecil, tak punya kepandaian seperti Setitik merah ini."

Serasa lemas kaki Siau-ui, seketika ia melorot jatuh dengan lunglai. Tak tahan Setitik merah bertanya: "Dari mana kau tahu namaku?"

"Kenapa aku tak tahu namamu, kau adalah orang yang paling kukagumi, apalagi kedatanganku sekarang tujuannya adalah menyambut kau."

Berkerut alis Setitik merah, "Menyambut aku?" "Bukankah kau ada janji bertemu dengan orang di sini?" "Ehm!"

"Kini mereka sedang sibuk urusan penting maka tak bisa kemari dan suruh aku membawa kau kepada mereka. Sekarang aku sudah datang, kaupun perlu segera berangkat."

"Berangkat. " Setitik merah ragu-ragu.

"Kau tak mau berangkat? Memangnya hendak bunuh habis orang-orang ini? Sungguh kebetulan malah, selamanya aku mengharap bisa melihat kau membunuh orang."

Tanpa banyak bicara Setitik merah tarik kedua utas tali yang membelit orang, terus ditariknya si Bungkuk dan si Burik, tiba-tiba berkerut alisnya, katanya: "Kau tangkap kedua orang sebagai gandengan anjing mainan, kenapa tidak kau pilih yang bagus dan cantik? Manusia seburuk ini, aku sebal melihatnya, memalukan saja, lebih baik aku kirim mereka pulang ke asalnya saja," dimana tangannya terayun, pisau perak di tangannya menyambar ke tenggorokan si Burik dan si Bungkuk, "Creng" sarung pedang hitam laksana ular sakti tahu-tahu menangkis pisau perak itu.

"Lho! Kau merasa sayang bikin mereka mampus?"

"Orang yang ingin kubunuh, tak perlu orang lain mewakili aku turun tangan." "Kau kira aku suka berebut membunuh orang dengan kau?"

"Urusan membunuh orang, tiada orang yang bisa berebut dengan aku, tiada orang yang berani."

"Legakan hatimu, orang seperti ini kubunuh dia malah mengotori tanganku!" 
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(