Pendekar Pengejar Nyawa Jilid 16

 
Jilid 16 

Hari kedua, air tetap tak mereka dapatkan.

Mereka tak mau membiarkan sisa air didalam badan mereka terjemur kering oleh terik matahari, maka setelah sang surya terbenam, baru mereka bergerak lagi.

Giok Tho, laki-laki misterius dan harus dikasihani ini, kini sudah memperoleh kembali tenaga dan keberaniannya yang tak terhingga sebaliknya Oh Thi-hoa bertiga sudah semakin loyo dan lemas. Betapapun tinggi kepandaian seseorang didalam dunia ini, masa kuasa memerangi kekuatan kebesaran alam semesta.

Sang surya sudah terbenam, sering Ciok Tho Mendekam di atas pasir, menggunakan hidungnya mengendus dan membaui pasir, seperti srigala yang mengejar jejak mangsanya merangkak di atas pasir, Oh thi-hoa menjilat bibirnya yang sudah kering dan pecah, tanyanya tak sabar : "apa yang sedang dia lakukan?"

"Dia sedang mencari sumber air di bawah tanah." "Apa dia bisa mengendus dengan hidungnya?"

"Kalau ada air, tentu ada suhunya, suhu panas tertentu itu dapat terendus oleh hidung yang berpengalaman."

Oh Thi-hoa masih ingin bicara, tapi orang sudah tak perdulikan dia lagi. Karena ditempat seperti ini dalam keadaan seperti ini pula bicara mengeluarkan tenaga dan membuang-buang energi, mengeringkan ludah lagi, disaat-saat seperti ini, kedua macam keperluan ini hampir senilai dan semahal jiwa mereka.

Setelah malam mendatang, tiba-tiba seperti kumat gilanya Ciok Tho menggali pasir dengan kedua tangannya. "ada Air!" seketika Oh Thi-hoa berjingkrak kegirangan. Serempak mereka lompat turun dari punggung unta, menggunakan segala alat apa saja yang mereka ketemukan, beramai-ramai mereka menggali pasir sekuat tanag, tapi dengan susah payah mereka bekerja satu jam lamanya, akhirnya tetap kecewa, tiada air.

Oh Thi-hoa menyengir sedih : "Hidungnya itu mungkin sudah tak berguna lagi."

Ki Ping-yan membenamkan mukanya tak menanggapinya. Cuma Ciok Tho masih belum putus asa, dia tetap mengeruk dan menggali. Mendadak ia mencelat bangun mencomot segenggam pasir diangsurkan kepada Ki Ping-yang.

Ki Ping-yan jejalkan pasir itu ke dalam mulut, seketika mukanya berseri girang.

Pasir ini terasa hangat. Beramai-ramai mereka masukkan pasir ke dalam mulutnya, sekuatnya menghisap air yang terkandung didalam pasir. Air, memang terlalu minim, tapi bagi seseorang yang sudah dekat ajal karena dahaga sudah cukup untuk merenggut pulang jiwanya dari cengkeraman elmaut. mereka mengeduk lebih giat, lebih keras dan mati-matian, menghisap sekeras kerasnya.

Malam itu mereka lelap dalam impian didalam galian pasir yang bersuhu hangat ini, saking bernapsu menghisap air tadi, lidah Oh Thi-hoa terasa linu kemeng, tak tertahan ia mengumpat caci

: "Boleh dikata seluruh tenaga untuk menghisap sudah kukerahkan, namun belum bisa kulihat setetes air yang berhasil keperas dari pasir setan yang keparat ini, menghisap dengan cara begini terus apakah tidak bikin lidah putus dan leher kejang ?"

"Didalam gurun pasir, bila setiap hari kau dapatkan pasir hangat seperti ini, sudah terhitung kau beruntung, meski amat minim air dalam pasir ini, tanpa dia kau takkan bisa hidup"

Memang tidak salah ucapannya, hari ketiga jangan kata air, pasir hangat seperti itupun tak berhasil mereka temukan, tenaga untuk berjalan pun sudah tiada, untunglah hari ke empat, Ciok Tho berhasil menemukan lagi. Pasir di sini lebih banyak mengandung air.

Berkata Ki Ping-yan menerangkan : "Ciok Tho menyelusuri jalur-lajur urat air bawah tanah baru berhasil menemukan yang ini, dilihat keadaan tempat ini, tak jauh dari sini tentu kita bisa menemukan sumber iar yang lebih besar."

Dengan badan lebih segar, mereka kerahkan tenaga dan menghimpun semangat bergerak maju lebih lanjut. Sekonyong-koyong dikejauhan sana mereka melihat pemandangan serba hijau, seperti permadani terbentang luas kehijauan itulah oase, tanah subur yang banyak air dan tetumbuhan yang hidup subur di gurun pasir.

Dengan sekuat tenaganya Oh Thi-hoa kucek-kucek matanya, katanya : "Apakah mata ku sudah lamur ?"

"Semoga ini bukan pandangan didalam khayalan kita." Coh Liu-hiang tertawa getir.

Setelah dekat, terdengar diantara pepohonan yang menghijau subur ditengah-tengah oase sana, kumandang gelak tawa orang-orang yang riang gembira. Tapi bagi seseorang yang baru saja lolos dari cengkeraman mara bahaya ditengah gurun pasir yang tak kenal kasihan ini, gelak tawa riang gembira itu kedengaran amat menusuk dan seram menakutkan.

Oh Thi-hoa dilliputi ketegangan pula katanya: "apa disinikah sarang rahasia Ciok-koan im? Kecuali siluman jatah itu, siapa pula yang masih bisa begitu riang gembira ditengah gurun pasir yang tengah sengsara ini ?" Ditunggu-tunggu tak terdapat reaksi teman-temannya, lalu ia menyambung perkataan sendiri: "apalagi dua hari ini, dia tidak mencari kesulitan kita, bukan mustahil dia sudah memperhitungkan kita akan bisa menemukan tempat ini?"

Sekian lama Coh Liu-hiang tidak berkutik, tiba-tiba ia bangkit berdiri katanya : "Kalian tunggu aku di sini biar kuperiksa keadaan di sana."

Oh Thi-hoa ikut berdiri serunya : "Aku ikut."

"Aai, ginkangmu lebih tinggi dari maling kampiun ?" olok Ki Ping-yang. Oh Thi-hoa meloso duduk pula, mulutnya terkancing.

Bukan saja oase ini amat indah, ternyata cukup luas pula, ditengah gurun pasir yang serba buruk ini, mendadak muncul tempat seindah ini boleh dikata seperti dalam dongeng saja.

Ditangah rimbunnya dedaunan, sering terdengar tawa cekikikan medru bagai kelintingan.

Apa benar ini alam khayal didalam dongengan itu? atau alam iblis? dan yang tersembunyi didalam rumpun dedaunan itu, apakah bukan siluman perempuan yang suka memincut dan akhirnya memakan orang-orang pelancongan yang kesasar jalan?

Setelah menarik napas dengan hati-hati Coh Liu-hiang meluncur kesana walau ginkangnya sekarang jauh berkurang dari keadaan biasa, tapi tak perlu disangsikan masih termasuk tingkat tinggi jarang ditemukan tandingannya.

Dengan ringan seperti burung ia hinggap di puncak pohon. Dari sela-sela dedaunan yang rimbun ini, seketika ia melihat suatu pemandangan yang bisa bikin hati kebat-kebit, membuat orang linglung dan sukar dipercaya.

Disana terdapat dua empang besar kecil yang berair bening menghijau. Di sini empang yang rada besar ditempat yang rada jauh sana terdapat tiga bangunan kemah yang indah dan mewah, di depan kemah berdiri tegak beberapa Busu yang bersenjata tombak mengkilap berpakaian serba berkilauan pula. Sementara empang kecil itu dipagari beberapa lembaran kain sari sehingga keadaan di sini tertutup dan teraling tak kelihatan seorang gadis jelita berambut panjang sedang mandi di dalam empang.

Berat dan hampir berhenti napas Coh Liu-hiang. Dalam keadaan seperti ini, malah tiada seleranya menikmati kecantikan seorang gadis, tapi gadis telanjang dengan lekak-lekuk badannya yang berisi montok basah dengan hiasan butiran-butiran air dipaparkan di depan mata, mau tidak mau matanya jadi melotot dan tergerak hatinya.

Begitu indah tubuh semampai yang halus putih itu, di bawah pancaran sinar sang surya yang mulai terbenam di ufuk barat, mirip benar sebentuk patung dewi yang sempurna tiada cacatnya, butiran air yang berkilauan kekuningan, berderet di atas jidatnya yang bidang terus mengalir turun ke tengah dua bukit menonjol yang putih menyusul suara tawanya semerdu kicauan burung senyaring kelintingan, tak ubahnya laksana ratusan kuntum kembang mekar bersama.

Masih ada tiga empat gadis lainnya pula yang bersanggul berdiri berjajar di pinggir empang, ada yang membawa handuk, ada yang membawa kain sari panjang, ada pula yang membawa alat-alat mandi, mereka sama cekikikan riang gembira, mereka bersenda gurau saling mendulang air dicipratkan ke muka teman temannya. Coh Liu-hiang yang baru saja keluar dari siksaan derita kekeringan di tengah padang pasir, perut kelaparan, mulut kekeringan badan terlalu letih, lolos dari mara bahaya lagi, mendadak terhadap adegan atau tontonan yang begini mengasyikkan, sungguh sukar dia percaya atas pandangannya sendiri bahwa dirinya sudah berada di kahyangan di sorga. Dalam keadaan seperti ini Coh Liu-hiang lupa akan tugasnya, lupa apa yang harus dia lakukan, lupa bahwa teman- temannya masih menunggu kabar di gurun pasir sana.

Semula raut muka gadis mandi itu tertuju ke arah sana, kini kerlingan matanya tiba tertuju ke arah tempat persembunyian Coh Liu-hiang, insaf bahwa jejaknya sudah diketahui oleh orang.

Gadis lain bila ketahuan ada orang apalagi laki-laki dewasa sedang mengintip dirinya sedang mandi, tentu menjerit dan lekas-lekas berusaha mengenakan pakaian, tapi gadis ini mengerling, lambat-lambat dia malah berdiri dan tegak laksana sekuntum kembang teratai yang baru saja mekar dan menongol dari permukaan air.

Muka Coh Liu-hiang serasa panas malah, sekilas ia melihat kesempurnaan seluruh badan si gadis yang semampai dan montok itu, lekas sekali orang sudah sembunyi dalam libatan kain sarinya yang panjang. Lalu memutar badan ke arah Coh Liu-hiang, katanya kalem: "Orang yang mengintip itu memangnya kau belum puas?" suaranya memang merdu dan halus mengalun, seperti kicauan burung kenari, cuma logat bicaranya kedengaran rada kaku dan sember, seperti gadis gunung yang baru saja belajar bahasa kota.

Diam-diam Coh Liu-hiang menghela napas dengan tertawa getir, dia lompat turun dari pucuk pohon, selama hidupnya, boleh dikata belum pernah dia mengalami keadaan serunyam seperti hari ini. Sungguh ia tidak suka kalau dirinya disangka dan dimaki sebagai pemuda pemogoran yang mata keranjang, lebih baik tak ia harapkan di dalam keadaan seperti ini dia harus menemui dan berhadapan dengan gadis jelita bagai bidadari ini. Tapi dia tak mungkin lari terpaksa ia keluar dengan mengeraskan kepala.

Dari atas ke bawah gadis ini mengamat-amati dirinya, sorot matanya yang semula ditandai kobaran api dalam hatinya, lambat laun seperti berubah menjadi tenang, katanya melompat kepada Coh Liu-hiang "Tidak kecil ya, nyalimu, tidak kau melarikan diri."

Coh Liu-hiang unjuk tawa getir, sahutnya :" meskipun cayhe tidak sengaja, tapi aku harus menyatakan penyesalan yang luar biasa, jikalau mau lari, masakah tidak memalukan ?"

Berkilat kerlingan mata si gadis, katanya: "Jadi kau mengakui salah dan kemari mau terima hukuman?"

"Ya begitulah " Coh Liu-hiang mengiakan. Terunjuk senyuman geli pada sorot mata si gadis, katanya pelan-pelan :" Kau berani mengakui kesalahan, memang tidak malu kau jadi laki-laki sejati, tapi tahukan kau dosa apa yang telah kau perbuat ?"

Coh Liu-hiang menghela nafas, katanya "seharusnya nonapun harus menutup sebelah sini dengan kain panjang itu."

Melotot lagi mata si gadis, semprotnya "kau mengintip aku mandi, memang masih menyalahkan diriku?"

"Cayhe kemari tanpa sengaja, mana aku tahu bahwa di tempat ini ada gadis jelita sedang mandi?"

"Kalau kau tahu?" "Kalau aku tahu di sini ada seorang gadis secantik nona sedang mandi di sini, tahu pula bila sebelah sini tidak tertutup dengan kain panjang"

"Memangnya kau tidak akan datang kemari?" tukas si gadis.

Coh Liu-hiang tertawa sahutnya: "seumpama kedua kaki ini putus, meski merambat akupun akan kemari dengan merangkak."

Jawaban ini seketika membuat si gadis menjublek. Laki-laki keparat, mana ada laki-laki yang punya muka begini tebal, tidak tahan malu dan punya nyali besar? Sungguh mimpipun tak pernah terpikir olehnya ada laki-laki yang berani bicara begitu dihadapannya. 

Hatinya memang dongkol, tapi ia tak kuasa mengumbar amarahnya, ingin tertawa, tapi ia tahan-tahan. Sebaliknya gadis-gadis disampingnya tertawa cekikikan geli sambil mendekap mulut. Setelah tertawa baru mereka sadar tidak pantas mereka tertawa. Serempak mereka menarik muka, dan melotot marah, dampratnya: "Laki-laki yang bernyali besar, berani kau bicara begituan terhadap Tuan Putri?"

"Tuan putri" panggilan ini sungguh membuat Coh Liu-hiang menjura, katanya: "Sebetulnya Cayhe tak perlu berkata demikian, tapi sebagai laki-laki sejati apalagi selama hidup aku tidak pernah berbohong!"

"Tak nyana diantara bangsa Han kalian ada juga laki-laki yang berani bicara sejujurnya, aku pernah dengar, ditempat kalian itu orang yang punya nyali bicara terus terang malah sering dipandang rendah dan hina oleh orang lain."

Diam-diam Coh Liu-hiang menarik napas, sudah tentu diapun tahu bahwa banyak manusia dalam dunia ini yang sering bermuka-muka dan bermulut manis, yang suka bohong dan mengelabui orang dengan lidahnya yang lihai, memang jarang ada orang yang suka menghargai orang yang mau bicara jujur dan terus terang, mereka memang sering dipandang sebagai Siau-jin 'orang kecil'. Tapi Coh Liu-hiang hanya tertawa tawar, katanya: "Jadi ditempat tuan putri ini, paling suka menghargai orang yang suka bicara jujur dan terus terang?"

"Ya, begitulah!" sahut tuan putri.

"Kalau demikian seharusnya tuan putri memaafkan kesalahanku yang tak disengaja ini."

Lama tuan putri ini menatap Coh Liu-hiang, tiba-tiba terkulum senyum mekar di wajahnya yang cantik rupawan ini, katanya : "Mungkin bukan saja aku menjatuhi hukuman kepadamu, malah kupandang kau sebagai tamu agung, tapi ini harus kulihat dulu, kecuali keberanianmu tadi, apakah kau memiliki suatu kepandaian yang lainnya?" lalu dengan jari tangannya yang halus dan bening ia membetulkan letak rambutnya, katanya sambil berputar badan :" Tadi karena kau tidak melarikan diri, sekarang bolehlah kau mengikut padaku?"

Didalam perkemahan yang indah dan megah ini, tak henti-hentinya terdengar irama musik dan gelak tawa yang riang gembira. Para busu yang berjaga di luar kemah justru melotot seperti mata elang mengawasi Coh Liu-hiang.

Saat mana tuan putri yang cantik molek ini sudah langsung beranjak ke dalam kemah dan sedang melambaikan tangan padanya.

Dengan tersenyum Coh Liu-hiang menepuk pundak kedua busu yang garang ini, dengan langkah lenggang kangkung ia beranjak masuk. Sejak tadi dalam hati diam-diam ia sudah persiapkan diri, betapapun bahaya yang menunggu dirinya didalam kemah ini dia tidak akan kaget dibuatnya, didalam gurun pasir yang kejam dan serba seram ini terhadap apapun yang bakal dihadapinya, dia sudah mempersiapkan diri untuk menerima segala akibat yang paling buruk. Tapi didalam kemah ini, sedikitpun ia tidak mendapatkan tanda-tanda sesuatu yang melambangkan keganasan dan mara bahaya, bahwasanya didalam kemah ini boleh dikata sebagai tempat yang paling aman dan tak mengenal mara bahaya di seluruh dunia.

Di luar kemah terbentang tanah rerumputan yang menghijau elok dan empuk, didalam kemah sebaliknya justru dilapisi permadani yang puluhan kali lebih empuk dan puluhan kali lebih elok dari sesuatu yang empuk dan elok. Di atas permadani berjajar beberapa meja pendek, di atas meja ini bertumpuk berbagai macam buah-buah, arak dan sayur mayur yang serba lezat dan nikmat, beberapa orang yang mengenakan pakaian serba mewah perlente sedang riang gembira mengelilingi meja-meja pendek itu, makan dan minum sepuas-puasnya.

Yang kelihatan paling riang adalah seorang laki-laki jubah merah yang mengenakan topi kebesaran berkilauan, bermuka lebar cambang bauk lagi, dia duduk di atas kursi pendek yang tepat berada ditengah-tengah, tangan kiri memegang cangkir emas, sementara tangan kanan sedang memeluk pinggang seorang gadis cantik, serunya dengan tertawa riang :" Silahkan kalian lihat, Pipop kongcu 'tuan putri pipop' setelah mandi, bukankah lebih cantik molek?" sorot matanya berputar dan beralih kearah Coh Liu-hiang, katanya pula dengan tertawa :" Tapi putriku yang baik, siapa pula tamu yang kau bawa kemari ini? Kuingat disekitar sini sejauh ratusan li, tiada seorang laki-laki yang lebih tampan seperti dia?"

Pipop kongcu unjuk tawa manis, selincah burung walet ia menghampiri ayahnya dan duduk disampingnya dengan membungkukkan badan, dia berbisik-bisik dipinggir telinga ayahnya.

Mendengar entah apa yang dikatakan putrinya, laki-laki jubah merah itu manggut-manggut, sorot matanya tetap berputar-putar mengawasi Coh Liu-hiang, memang roman mukanya mengulum senyum mekar, tapi sorot matanya mengandung wibawa besar yang menundukkan hati orang lain.

Dengan tersenyum Coh Liu-hiang balas menatap orang, hatinya ikut riang, terasa olehnya arak di sini cukup wangi, sayur mayurnya lezat, gadis-gadis disinipun sama elok dan mungil, orang jubah merah ini kelihatannya pasti bukan orang jahat.

Sekonyong-konyong empat batang tombak gantolan tanpa suara menusuk datang dari belakang punggungnya. empat batang tombak gantol, dua di atas dan dua di bawah, masing- masing panjangnya dua tombak, bagi busu yang bersenjata tombak gantolan umumnya berkepandaian rendah, tapi bertenaga raksasa, tusukan tombak gantolan ini laksana ular beracun menerjang keluar dari sarangnya.

Seorang yang tiga hari tak pernah berkenalan dengan sebutir nasi dan minum setetes air, ingin berkelit dari bokongan keji dan telengas seperti ini boleh dikata tak mungkin terjadi, tragedi mengenaskan dengan banjir darah agaknya bakal terjadi, tapi orang-orang yang duduk berjajar makan minum itu, satupun tak ada yang melirik ke arah sini. Seolah-olah perduli kejadian apapun, takkan bikin hati mereka tertarik.

Hanya biji mata tuan putri Pipop saja terbelalak lebar, dengan jelas ia melihat keempat ujung tombak gantolan itu hampir sudah mengenai punggung Coh Liu-hiang, sedikitpun Coh Liu-hiang tidak memberikan reaksi apa-apa, serta merta sorot matanya mengunjuk rasa ngeri, gugup dan menyesal, tubuh yang semampai itupun bergegas hendak bangkit dan terhuyung.

"Creng," terdengar benturan senjata keras yang nyaring berkumandang menusuk telinga. Coh Liu-hiang tetap berdiri di tempatnya tanpa bergeming, juga tidak berpaling, tapi entah apa yang terjadi, ke empat ujung tombak gantolan itu, tahu-tahu sudah terkempit di bawah ketiaknya. Ke empat busu itu sampai terperosok ke depan dan saling bertumbuk, saking kuat getarannya, tangan mereka tak bisa terangkat lagi. Lima orang yang duduk makan minum di pinggir meja itu baru sekarang bersama angkat kepala mengawasi Coh Liu-hiang, sorot mata mereka menunjukkan rasa keheranan. Sementara laki-laki jubah merah itu sudah bertepuk tangan dan memuji : "Kepandaian bagus. Memang hebat kepandaianmu! Putriku memang tidak salah pandang."

Berkata Coh Liu-hiang dengan tawar : "Tapi Cayhe justru salah lihat orang, sungguh Cayhe tidak menduga bahwa tuan seorang yang pandai membokong orang lain."

Laki-laki jubah merah itu terbahak-bahak, serunya : "Jangan kau salahkan aku, kejadian itu tiada sangkut pautnya dengan aku," lalu ditariknya tangan tuan putri Pipop, sambungnya dengan tertawa : "Putriku inilah yang ingin mencoba kau, katanya asal kau bisa terhindar dari sergapan ini, kau adalah tamu agungnya."

Pipop kongcu tersenyum manis, selanya : "Bagaimanapun juga, kau sudah berhasil meluputkan diri, itu terhitung kau sebagai tamu agungku, seorang tamu tidak pantas marah kepada tuan rumah bukan?"

Coh Liu-hiang menghela napas, katanya tertawa : "Memang Cayhe tidak patut marah."

Seorang laki-laki yang duduk di sebelah kiri berwajah pucat, berbaju hijau dan berhidung melengkung seperti paruh burung, tiba-tiba berkata dengan menjengek dingin : "Saudara hebat benar kepandaianmu. entah tokoh sakti darimana kau?"

Coh Liu-hiang mengelus hidung, sahutnya tertawa : "Cayhe Lau Hiang, tidak lebih hanya seorang keroco tak bernama."

"O. " Laki-laki baju hijau bersuara lesu, badannya kembali rebah, melirikpun tidak kepada

Coh Liu-hiang. Memang nama 'Lau Hiang' biasa dan tabu, dia merasa tak perlu dirinya ikat hubungan atau berkenalan dengan orang yang tak bernama.

Tapi sejak tadi Pipop kongcu selalu mengawasi Coh Liu-hiang, kembali ia unjuk tawa manis dan berkata : "Kalau kau sudah diterima sebagai tamu agung disini, kenapa tidak mau duduk?"

"Kalau Cayhe berdiri, nyaliku rada besar," ujar Coh Liu-hiang tertawa.

Pipop kongcu cekikikan, katanya : "Jikalau tadi kau merasa kaget, bagaimana kalau sekarang kuberi sekedar hiburan?" lalu dia bersimpuh, seorang gadis sudah mengangsurkan sebuah rebab kepadanya, terus diletakkan di atas kedua pahanya, dimana jari-jarinya bergerak halus gemulai. Seketika mengalun irama harpa nan merdu mengasyikkan, seperti dewi kahyangan sedang menari, laksana mutiara berdering di atas piring pualam. Seluas alam semesta di sekeliling oase ini tak terdengar suara apapun kecuali petikan lagu-lagu yang kumandang dari senar-senar rebab.

Sejak dinasti Tong, tak sedikit jumlah tokoh ahli seni musik yang suka menggunakan rebab lurus berdiri, kalau dipetik senarnya harus dipeluk didepan dada, lain justru cara Pipop kongcu ini memainkan rebabnya, orang justru merebahkan rebabnya di atas kedua lututnya, semula Coh Liu- hiang tidak mengharap bisa mendengarkan petikan lagu-lagu dari rebab yang mengasyikkan ini.

Saking asyiknya hampir saja dia kehilangan semangat, lupa lapar, lupa dahaga dan penat, lupa segalanya. Setelah irama rebab berhenti, dia masih terlongong tanpa bergerak.

"Bagaimana?" tanya Pipop kongcu tertawa lebar.

Coh Liu-hiang tersentak sadar oleh pertanyaan ini, katanya menghela napas : "Tak nyana di tanah gersang nan jauh ini, aku masih sempat mendengar suguhan yang luar biasa."

"Kenapa harus dibuat heran?" ujar laki-laki jubah merah, "Seni rebab memang berasal dari sini, terus diajarkan ke tanah bangsa Han kalian." "O. ?" Coh Liu-hiang bersuara dalam mulut.

Tanya laki-laki jubah merah : "Pernahkah dengar nama Soh-ci-po!"

Coh Liu-hiang mendadak maju selangkah dan berdiri tegak, katanya dengan hati bergetar : "Apakah tuan ini Kui-je-ci-ong?"

Bersinar tajam mata laki-laki jubah merah, serunya sambil mengelus cambang bauknya :" Akhirnya kau tahu juga siapa aku, sungguh aku nyana hari ini seni rebab yang asli kebentur kepada seorang ahli, mari, mari, mari biar ku suguh tiga cangkir kepadamu."

Sekonyong-konyong terdengar seseorang berkaok-kaok di luar: "Ulat busuk! Dimana kau?" disusul suara bentakan dan caci maki yang riuh rendah, disusul suara jeritan kesakitan dan suara sesuatu yang tercebur ke dalam air. Coh Liu-hiang tahu pasti ada orang yang dibuang masuk ke dalam air oleh Oh Thi-hoa.

Laki-laki baju hijau bermuka pucat penyakitan itu mendadak bangkit, katanya mengerut alis : "Siapa bernyali besar berani bertingkah di sini, biar kulihat."

"Sungguh maaf, itulah temanku," lekas Coh Liu-hiang berkata.

Dari atas ke bawah dan sebaliknya laki-laki baju hijau ini mengamati dirinya sekian lamanya, akhirnya pelan-pelan orang itu duduk kembali di tempatnya.

Kui-ji-ong tertawa pula katanya : "Keledai bagus takkan tercampur dengan kuda jelek, temanmu itu tentunya seorang seniman pula, silahkan mereka masuk saja!"

Sebaliknya Pipop kongcu tertawa sambil mendekap mulut, katanya : "Kelak kau harus beritahu padaku, kenapa orang lain panggil kau ulat busuk?"

Walau Oh Thi-hoa sudah melempar dua busu yang berpakaian lengkap itu ke dalam air, serta menghajar tiga orang lain sampai mata biru hidung keluar kecap, tapi hatinya masih merasa penasaran. Dia merasa kali ini Coh Liu-hiang terlalu tidak setia kawan. Seorang diri dia makan minum di sini, orang lain sebaliknya harus berjuang mengadu nasib, kuatir bagi keselamatannya lagi. Setelah beberapa cangkir arak masuk ke dalam perutnya, terhitung terlampias rasa dongkolnya, terutama dihadapi gadis cantik rupawan yang meladeni dirinya minum arak ini, begitu elok dan mungil sehingga dia merasa terlalu kasar bila mengumbar marah di sini.

Sekarang Coh Liu-hiang sudah tahu, orang-orang macam apa saja yang duduk berkerumun makan minum di sini, kelima orang ini adalah tokoh-tokoh yang cukup tenar dan dijunjung tinggi tingkatnya di kalangan kang ouw.

Tiga orang yang duduk disebelah kiri, kiranya adalah dua bersaudara dari keluarga Go Yu Hong-kiam yang kenamaan, seorang lagi adalah begal tunggal yang menggoyahkan daerah dua sungai gede Suicu Lin-che adanya.

Laki-laki baju hijau yang pucat pasi itu, namanya lebih tenar dan tingkatannya lebih tinggi, dia bukan lain adalah Sat-jiu-bu-ceng tangan gagah tak kenal kasihan Toh Hoan yang terkenal kejam dan suka membuat pusing kepala kawan-kawan dari aliran putih dan hitam. Rekor orang ini dalam membunuh, konon jarang ada bandingannya, orang lain pandang dirinya laksana ular dan kalajengking, dia sendiri merasa bangga dan pongah. Tapi setelah mengenal orang ini, mau tidak mau berkerut alis Coh Liu-hiang. Cuma seorang lagi yang duduk disamping Toh Hoan bernama Ong Tiong, mukanya seperti berpenyakitan, tak punya semangat selalu lesu dan ngantuk, juga kelihatannya raut mukanya takkan mengejutkan orang, namanya pun tak begitu terkenal. Tapi Coh Liu-hiang justru merasa pandangannya rada lain terhadap orang ini.

Setelah satu persatu perkenalkan beberapa orang ini, Kui-je-ong angkat cangkir dan katanya pula: "Siau-ong tiada hobi apa-apa, selama hidupku cuma suka menjamu tamu, kelima orang ini adalah tamu agungku yang ku undang dari tempat jauh. Tentunya kalian bertiga pernah mendengar ketenaran nama mereka."

Oh Thi-hoa tertawa besar, katanya :" Ketenaran nama-nama saudara-saudara ini, memang sudah lama kudengar, silahkan ku suguh secangkir kepada kalian." Bahwasanya sedikitpun ia tidak kagum dan belum pernah mendengar nama mereka, tak lain dia hanya cari kesempatan untuk minum lebih banyak.

Kui-je-ong mengawasi Ki Ping-yan, katanya : "Sekarang hanya nama besar saudara saja yang belum kuketahui."

"Ki!" jawaban Ki Ping-yan cekak aos, kepalapun tak terangkat. "Namamu?" tanya Kui-je-ong pula.

Kali ini Ki Ping-yan sepatah katapun tak menjawab, cuma dengan jari tangannya ia menulis dua huruf ditengah udara, seperti orang main sulapan saja, siapapun tak ada yang melihat jelas apa yang dia tulis.

Sela Oh Thi-hoa : "Kepandaiannya yang utama memang tutup mulut tak bicara." Berkilat mata Kui-je-ong, tanyanya :

"Lalu tuan?" segera dengan tertawa ia menambahkan : "Selama hidup Siau-ong paling senang berkenalan dengan orang-orang yang berkepandaian tinggi dalam ilmu silat, tadi temanmu ini sudah mendemontrasikan kepandaiannya, jikalau tuan punya minat supaya mata Siau-ong terbuka, sungguh Siau-ong teramat girang."

"Cayhe sudah kenyang minum arak Ongya, adalah pantas kalau kutunjukkan permainan untuk menghibur Ongya. Cuma sayang kecuali minum arak, Cayhe hanya punya tenaga kasaran belaka."

Semakin girang Kui-je-ong, serunya bertepuk : "Bagus, bagus kiranya tuan seorang yang punya tenaga raksasa," lalu tapak tangannya bertepuk beberapa kali, dari belakang kemah segera muncul keluar seorang laki-laki besar berkepala gundul, telanjang badan bagian atasnya dan bercelana pendek ketat yang dihiasi sulaman benang emas.

Selama hidup tak sedikit Oh Thi-hoa pernah melihat laki-laki yang bertubuh tinggi kekar, dia sendiripun berperawakan besar, tapi dibanding dengan laki-laki itu, dirinya seperti anak kecil.

Kecuali patung tembaga didalam kuil, atau raksasa dalam dongeng bergambar yang membendung banjir, sungguh tak pernah terpikir olehnya, dalam dunia ini ada laki-laki raksasa seperti ini gedenya.

Kui-je-ong tertawa, ia memperkenalkan: "Inilah laki-laki kasar dari negeri kami Gunial, bawaannya hanya tenaga kerbau yang kasaran, kuharap kau suka menaruh belas kasihan, memberi kelonggaran kepadanya." Mengawasi sekujur badan laki-laki raksasa yang bernama Gunial dengan daging ototnya yang meringkel keras seperti dibuat dari besi baja ini, diam-diam dingin bulu kuduk Oh Thi-hoa, katanya keras: "Apa Ongya ingin supaya aku adu tenaga dengan dia?"

Kui je-ong manggut sambil tersenyum, lalu bicara beberapa patah dengan bahasa negri mereka kepada Gunial, laki-laki raksasa ini lantas unjuk seringai lebar kepada Oh Thia-hoa dengan langkah berat, lekas dia datang menghampiri.

Oh Thi-hoa menghela napas, katanya kepada Coh Liu-hiang: "Tahu begini, lebih baik aku tidak minum arak saja." belum habis ia bicara tapak tangan laki-laki raksasa segede kipas itu, sudah terjulur kepadanya. Tak tahan geli Toh Hoan terpingkal-pingkal di pinggiran sana. Setiap kali melihat orang lain dihajar dan tersiksa, dia mata senang dan terbuka hatinya, lain-lain hadirinpun jadi ketarik. Cuma Ki Ping-yan sejak tadi sibuk gegares hidangan dihadapannya. Cara makannya cukup sopan, kalem dan lahap, tapi sejak duduk tadi sampai sekarang mulutnya belum berhenti bekerja.

Tampak seperti burung elang menggondol anak ayam saja, laki-laki raksasa ini menarik Oh Thi-hoa dari tempat duduknya, tangan kiri Oh Thi-hoa masih sibuk menuang arak ke dalam mulutnya, mulut menggumam: "Kalau kalian ingin aku konyol, biarlah aku menarik kembali modalku sekalian!"

Tatkala itu Ganial sudah menurunkan badannya, kedua tapak tangan orang segede kipas itu pegangi kedua pundaknya terus menekan ke bawah. Orang lain mengira seumpama tulang-tulang Oh Thi-hoa tidak tertekan sampai remuk, paling tidak badannya bakal digencet menjadi pendek, maka terdengarlah "Blang" disusul suara gaduh gedobrakan dan "Bluk", itulah suara seseorang yang terbanting roboh diatas tanah. Suara gaduh adalah pecah belah dan meja yang tertindih hancur berantakan. Tapi yang roboh bukan Oh Thi-hoa tapi sebaliknya laki-laki raksasa itu sendiri.

Ternyata waktu orang kerahkan tenaga menindih ke bawah, tahu-tahu ia menekan tempat kosong, badan Oh Thi-hoa selicin belut selincah kera, tahu-tahu membelesat ke belakang badan orang, sekali dorong seperti tangannya hanya menempel punggung orang saja, laki-laki raksasa seberat tiga ratusan kati ini kontan terjungkal roboh terjerembab, sampai cangkir di atas meja di depan Kui-je-ong mencelat jatuh.

Sudah tentu bukan Oh Thi-hoa yang berhasil mendorong roboh lawannya, adalah tenaga laki- laki raksasa ini sendiri yang merobohkan diri sendiri, tidak lebih Oh Thi-hoa hanya sedikit mendorong saja. Penggunaan tenaga secara tepat dan kebetulan, dinamakan Su-liang-poa-jian-ki, 'empat tahil punahkan tenaga ribuan kati', kalau dikatakan memang amat gampang, tapi dalam pelaksanaannya justru tidak boleh berlaku lambat-lambat atau ayal, penggunaan tenagapun harus pas-pasan dan telak lagi demikian juga waktunya harus tepat dan persis.

Maklum bila Oh Thi-hoa menyingkir terlalu cepat, kekuatan si raksasa tidak akan menindih ke bawah, Oh Thi-hoa pun takkan berhasil mendorongnya roboh dari belakang. Sebaliknya kalau Oh Thi-hoa sedikit terlambat menyingkir, selamanya jangan harap dia akan bisa kelayapan dengan jalan kaki, apakah dia masih bisa merangkak? Itu tergantung nasibnya sendiri.

Mendelong Kui je-ong, menarik putrinya dia bertanya berbisik: "Apakah itupun kepandaian asli?"

Pipop kongcu tertawa berseri sahutnya: "Tipu yang bisa bikin Ganial roboh, mana bisa bukan kepandaian asli?"

Kui-je-ong segera tepuk tangan sambil tertawa ngakak serunya: "Pahlawan. Sungguh perkasa.

Biar Siau-ong suguh secawan kepadamu." "Secawan?" seru Oh Thi-hoa menyeringai. "Masa tidak patut mendapat tiga cawan?" dengan langkah gontai ia datang menghampiri, sedikitpun tidak disadarinya bahwa laki-laki raksasa tadi sudah merangkak berdiri, orang sudah memburu tiba di belakangnya, baru saja Oh Thi-hoa menerima secawan arak dari tangan Kui je- ong sekali cengkaram Ganial sudah pegang ikat pinggangnya seluruh badannya ia jinjing gemandul ditengah udara.

Mata Kui-je-ong mendelik lempang, teriaknya, "Arak itu amat bagus anugrah Ongya, kau banting hancur badanku tidak menjadi soal jangan sekali-kali kau bikin arak ini tumpah lho!"

Dengan pongah kesenangan, laki-laki raksasa menjinjing badannya tinggi-tinggi sambil berjalan putar dua lingkaran, bukan saja dia tidak tergesa-gesa, Coh-Liu hiang, Ki Ping-yang kelihatan adem-ayem.

Bersinar biji mata San-jiu bu-ceng Tong Hoan katanya sambil menghela napas: "Banting!

Banting yang keras, sampai hancur lebur tak menjadi soal!"

Bukan saja hobi membunuh manusia sudah menjadi watak orang ini, melihat orang membunuh jiwa orang lainpun, dianggapnya sebagai tontonan yang menarik.

Setiba dihadapan Kui-je-ong, laki-laki raksasa tiba-tiba menggembor laksana singa mengaum badan Oh Thi-hoa diangkat lebih tinggi sedikit terus dibanting sekenanya kearah tanah didepannya, lekas Kui je-ong menutup kedua kuping seta pejamkan mata, jeritnya: "Ringan sedikit! Jangan sampai menakutkan hatiku."

Dia kira seumpama Oh Thi-hoa kali ini tidak dibanting sampai hancur lebur, tulang-tulang badannya pastilah protol, seluruhnya mungkin pula batok kepalanyapun remuk. Maka terdengar pula sekali jeritan keras disusul suara gedebukan yang menggetarkan bumi.

Batok kepala Oh Thi-hoa bukan saja masih tumbuh segar bugar di atas lehernya, tulang-tulang tubuhpun tidak protol, orang berdiri tegak di tempatnya tetap utuh dan tersenyum senang, arak dalam cawan dipegangi sejak tadi setetespun tiada yang tercecer keluar.

Sebaliknya laki-laki raksasa itu kembali roboh dan rebah tengkurap, bergerakpun tak bisa lagi.

Seperti tak pernah terjadi apa-apa. Oh Thi-hoa melirikpun tidak kepada orang, katanya berseri tawa: "Secawan arak ini, sekarang barulah bisa kuhirup dengan nikmatnya" cawan diangkat arakpun ditenggak sekali jadi lalu katanya menghela napas: "Memang arak bagus, sayang terlalu sedikit."

Dengan mata mendelik Kui-je-ong berkata berbisik: "Apakah yang terjadi? Apakah kesatria ini bisa main sulapan?"

"Ini bukan sulapan, inipun kepandaian sejati." sahut Pipop-kongcu. "Kepandaian apakah itu?"

"Tadi waktu Ganial kerahkan tenaga hendak membanting, kesatria ini lantas mengoprol di pergelangan tangannya, kekuatannya seketika sirna tak berbekas, dengan ringan kesatria ini lantas melompat turun, melejit ke belakangnya cuma sedikit sorong cara turun tangan kesatria ini memang teramat cepat dan mengejutkan oleh karena itu orang lain hakikatnya tidak menlihat jelas cara bagaimana Ganial kena dirobohkan oleh dia." tutur katanya lincah enteng, cepat dan menarik, bukan saja Coh Liu-hiang, Ki Ping-yan sedang sama memperhatikan dia, Oh Thi-hoa pun datang menghampiri katanya sambil menghormat: "Terima kasih akan pujian tuan putri, tajam benar pandangan mata tuan putri!" Kui-je-ong menarik tangan Pipop-Kongcu, serunya tertawa besar: "Kalau kau sudah melihat kehebatannya, kenapa tidak kau hatur secangkir arak kepadanya."

Pipop-kongcu tersenyum dengan menggigit bibir, segera ia menuang secangkir arak terus diangsurkan ke depan Oh Thi-hoa, hampir saja mulut Oh Thi-hoa tak bisa terkatup saking kesenangan, serunya: "Tuan putri memberi arak jangan kata cuma secangkir, umpama segentong pun, sekaligus akan kuhabiskan."

Baru saja ia ulur tangan hendak menerima cangkir arak itu, sekonyong-konyong seseorang menjengek dingin: "Arak secangkir itu Cahye pun ingin meminumnya." ditengah suara ucapannya, seseorang melangkah maju pelan-pelan, ternyata Sat ju-bu-ceng Toh Hoan itu. 

Oh Thi-hoa awasi orang, katanya tertawa: "Jikalau kau ingin minum arak, disana masih banyak."

Toh Hoan menyeringai sinis, katanya: "Arak yang ingin Cayhe minum adalah secangkir itu saja."

Oh Thi-hoa tertegun, katanya: "Apakah secangkir arak itu terlalu wangi?" "Benar, arak yang dituang oleh jari-jari tuan putri sudah tentu amat wangi."

Sesaat lamanya Oh Thi-hoa mengamat-amati muka orang katanya geli: "Aku paham sudah, kau bukan ingin minum arak, tujuanmu ingin mencari gara-gara dengan orang lain."

Toh Hoan mengawasinya dengan menyeringai dian, orang tidak mengiakan juga tiak mungkir. "Kalau kami berdua sama-sama ingin minum secangkir arak ini, bagaimana menurut kau?" "Jikalau kau bisa membuatku tersengkelit jatuh, bukan saja aku tidak akan minum arak itu

malah aku berlutut dan memanggilmu Cocong 'kakek moyang' tiga kali. Kalau sebaliknya, kau harus memanggil kakek tiga kali"

Oh Thi-hoa menarik napas, katanya seperti menggumam: "Kenapa orang lain minum arak dengan ongkang-ongkang aku ingin minum harus dirintangi dan mendapat kesukaran malah. Baiklah! Boleh kami coba-coba cuma, orang segede dan setua kau ini kalau sampai memanggilku Cocong, aku jadi rikuh dan risi!"

Suasana dalam perkemahan itu sontak menjadi tegang, sudah tentu jauh lebih tegang dari keadaan pertandingan Oh Thi-hoa melawan Ganial tadi, karena semua hadirin tahu ditengah- tengah kedua alis Toh Hoan sudah diliputi hawa hitam, napsu membunuh sudah mengkhayati hatinya. Semua hadirin tahu, pertandingan kali ini bukan adu kekuatan main-main saja, tapi adu kekuatan dengan pertaruhan jiwa.

Dengan berbisik berkata Ki Ping-yan kepada Coh Liu-hiang: "Sudah lama kudengar Sat jiu-bu- ceng Toh Hoan ini terlalu kejam dan bertangan gapah, wataknyapun terlalu licik dan telengas, lebih baik kau sedikit memberi bantuan kepada Oh Thi-hoa."

"Tak apa-apa", sahut Coh Liu-hiang. "setan arak ini belakangan memang sedang tenggelam dalam gentong arak, tapi kepandaiannya tidak pernah dilalaikan."

Tampak Toh Hoan berdiri sambil menggendong kedua tangan, tegak berdiri di sana dengan acuh tak acuh, tapi seperti menantang, raut mukanya membesi hijau, matanya menyorotkan sinar hijau berkilauan menatap Oh Thi-hoa, jengeknya dingin: "Biar aku berdiri disini tanpa bergerak, masakan tuan tak berani kemari?" Oh Thi-hoa cengar-cengir, ujarnya: "Kau ingin cara bagaimana aku menyengkelit kau? Kau ingin terjengkang ke depan? Atau terlentang ke belakang?"

"Umpama kau mampu bikin badanku terbungkuk sedikit saja, anggap saja kau yang menang." "Masa kau tak membalas?"

"Ingin kulihat mampukah kau menjegalku roboh, bukan maksudku menjegal kau."

"Baik, begitu saja!" dengan kalem selangkah demi selangkah ia maju menghampiri. Yu-liong kiam bersaudara dari keluarga Go, Sutou Liu-che dan lain-lain sama mengunjuk belas kasihan dan sayang, mereka seperti berpendapat begitu Oh Thi-hoa maju menghampiri, jiwanya bakal tamat dikerjai oleh Toh Hoan, hanya Ong Tiong saja tetap bersikap acuh tak acuh dan tak bersemangat. Membuka matapun rasanya malas.

Sembari menghampiri, mulut Oh Thi-hoa menggerutu: "Awak sendiri tak bergerak terserah lawan menjegalnya sampai roboh sesuka orang, begini menguntungkan, sungguh jarang kutemui dalam dunia ini, agaknya arak ini jelas bakal jadi milikku."

Setelah lengan baju dicincang, tangannya segera terulur meraba pundak Toh Hoan, gaya dan kelakuannya ini mirip benar dengan Ganial waktu menekan dirinya tadi, cuma badannya tidak segede Ganial, kedua tangan tidak mampu menindih ke bawah, terpaksa hanya mendorong ke belakang, dengan kedua tangan mendorong ke depan berarti dadanya terbuka lebar.

Tiba-tiba ujung mulut Toh Hoan menyeringai sadis, katanya: "Locu tak bergerak biar kau dorong, mana ada urusan begitu sepele dan menguntungkan dalam dunia ini, bukankah kau sedang ber..." waktu melontarkan kata-kata pertama, tangan kanannya tahu-tahu sudah terulur ke depan segesit ular sanca, langsung menjojoh kepada Oh Thi-hoa yang terbuka lebar, ditengah cahaya pelita yang terang benderang, semua orang melihat jelas jari-jari tangannya berkilauan hitam.

Ternyata kelima jarinya masing-masing mengenakan lima buah cincin hitam yang mengkilap, dilihat dari cahaya hitam mengkilap yang jelek itu, terang cincin-cincin baja itu telah dilumuri racun yang teramat jahat dan membunuh jiwa orang seketika.

Caranya turun tangan ternyata amat cepat dan keji, bukan saja dada Oh Thi-hoa terbuka lebar, malah seluruh badannya seolah-olah berada didalam pelukan orang, mandah dihajar orang tanpa bisa berbuat apa-apa.

Pengalaman tempur Yu liong-kiam, Sutou Liu-che sebagai tokoh-tokoh Bulim cukup luas kini mereka berpendapat Oh Thi-hoa sekali-kali takkan selamat lagi jiwanya.

Coh Liu-hiang sendiripun tak urung menjerit: "Awas tangannya."

Dalam sekejap itulah, tampak kedua tangan Oh Thi-hoa yang memegang kedua pundak Toh Hoan, secepat kilat tiba-tiba menepuk ke tengah, "plak" seperti menepuk lalat terbang tangan Tong Hoan mirip lalat itu, dengan telak pergelangan tangannya tergencet kencang oleh tapak tangan Oh Thi-hoa, sedikitpun tak mampu bergeming.

Mulut Toh Hoan sendiri sedang berkata "bukankah sedang ber" dan belum lagi sempat mengucapkan kata-kata "mimpi", maka terdengarlah suara 'krak' yang keras, pergelangan tangannya tahu-tahu sudah tergencet remuk dan putus. Selincah capung badan Oh Thi-hoa tahu-tahu sudah melayang mundur, katanya tertawa: "Kukira tangannya ini sudah terlalu letih kebanyakan membunuh orang, biarlah dia istirahat selamanya saja."

Toh Hoan kertak gigi, sedikitpun tak mengeluarkan keluhan, tapi mukanya pucat lesi, badannya terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh semaput.

Semua hadirin dalam perkemahan tiada seorangpun yang tak kaget dan melongo heran, baru sekarang mereka tahu bahwa ilmu silat Oh Thi-hoa ternyata teramat tinggi, tiada seorangpun yang melihat jelas barusan cara bagaimana orang bertindak, dua bersaudara dari keluarga Go memang melihat tangannya bergerak, tapi mereka tidak bisa membedakan ilmu apa dan dari aliran mana kepandaian orang, begitu telak dan hebat lagi.

Ong Tiong yang sejak tadi bermalas-malasan tapi kini tiba-tiba menggeliat terus bangun berdiri, serunya dengan mata terbuka lebar: "Jurus Tiap siang-hui yang bagus sekali, apakah tuan ini Hoa ou-tiap 'Kupu kembang' yang sepuluh tahun lalu terkenal bersama si Maling Kampiun Coh Liu-hiang dengan julukan "Siau-siang to-hiap" itu?

Sekilas Oh Thi-hoa melengak, sesaat ia tatap muka orang, katanya tertawa : "Kupu-kupu kembang itu sudah tenggelam dalam gentong arak selama sepuluh tahun, ternyata tuan masih tetap mengenalnya."

Kata-kata ini sekaligus sebagai jawaban pula, keruan Go keh-heng-te dan Sutou Liu-che sama terbelalak dan menciut hatinya. Sebaliknya Ong Tiong menghela napas, katanya tertawa kecut:

"Oh Thi hoa... Hoa-ou-tiap... sejak tadi seharusnya Cahye sudah mengenali kau." "Tapi sampai detik ini aku sebaliknya belum kenal siapakah sebetulnya kau ini?" Ong Tiong mandah tertawa-tawa, kelihatannya tertawa sedih dan pilu, katanya:

"Nama rendahku tak perlu kusebut-sebut, cuma..." kini matanya menatap kepada Coh Liu- hiang, katanya lebih lanjut: "Kalau tuan ini adalah si Maling Kampiun yang menggetarkan dunia itu, Cahye sungguh punya mata tak tahu gunung Thaysan di depan mata."

Hadirin kembali ribut dan bergetar sanubarinya lebih kaget dari tadi.

Coh Liu-hiang cuma tersenyum ewa saja, katanya: "Apakah yang berada disamping Kupu kembang, selalu pasti Coh Liu-hiang si Maling Kampiun itu?"

Bercahaya sorot mata Ong Tiong, katanya: "Meskipun pengetahuan Cayhe amat cetek, tetapi aku tahu belibis dan kupu sebagai sepasang sayap pembantu, bau kembang harum memenuhi dunia. Dulu disamping kiri Coh Liu-hiang ada Hwi-yan "Ki Ping-yan", sebelah kanan ada jay-tiap 'Oh Thi-hoa' malang melintang hina kelana..." mendadak ia tertawa lebar dan mengganti pembicaraannya: "Tapi ucapan tuan memang tidak salah, ketiga orang ini kini sudah berpisah menuju arahnya masing-masing, sudah tentu belum tentu tuan Coh Liu-hiang adanya, demikian pula tuan yang ini belum tentu Kian sian-sing Ki Ping-yan adanya."

"Tak kira tuan amat apal dan tahu benar tentang seluk beluk mereka bertiga, apakah tuan kenal satu diantara ketiga orang itu?" tanya Coh Liu-hiang.

Ong Tiong menghela napas, katanya tertawa getir: "Bajingan Kang-ouw seperti aku mana ada rejeki bisa bertemu dengan naga dan burung hong?" Selama ini biji mata Kui-je-ong berputar dari satu kemuka orang yang lain, kupingnya pun dengan seksama mendengar percakapan mereka, kini mendadak ia bergelak tertawa, serunya: "Perduli siapa sebetulnya tuan-tuan ini, kepandaian kalian sudah Siau-ong saksikan dan memang mengagumkan, hari ini Siau-ong bisa berkumpul sama tuan sekalian disini, mari Siau-ong keringkan dulu tiga cangkir sebagai selamat datang."

Oh Thi-hoa tertawa, ujarnya: "Tapi arak pemberian tuan putri, Cayhe harus menenggaknya dulu baru merasa lega."

Pipop-kongku tertawa lebar, belum lagi ia bicara, tiba-tiba terlihat seorang busu berseragam lengkap buru-buru berlari masuk langsung ke samping Kui-je-ong dan menunduk berbisik beberapa patah kata.

Bukan saja sikap Busu ini tergopoh-gopoh, malah tatakrama menghadapi junjunganpun sudah dilupakan sama sekali, setelah mendengar laporan Busu ini, tampak roman muka Kui-je-ong berubah.

Ki Ping-yan batuk-batuk kering, mendadak ia berdiri sambil berkata: "Cayhe beramai dalam perjalanan yang meletihkan beberapa hari daging dan arak sudah masuk perut, matapun sudah terbuka lagi, entah sudikah Ongya meminjamkan tempat istirahat, supaya kami bertiga sempat tidur melepaskan lelah?"

Kui-je-ong kembali kemimik semula, katanya tertawa: "Sudah tentu boleh, umpama kalian bertiga hendak segera berangkat, Siau ong akan berusaha menahan kalian tinggal beberapa lama di sini." bukan saja tawanya tawa paksaan, suaranyapun gemetar dan maksud kata-katanya mengandung arti yang mendalam.

Dalam perkemahan lainnya yang tak kalah megahnya, Oh Thi-hoa sendang memegangi sebuah cangkir arak, kaki tangannya terjulur rebah di atas kulit binatang yang empuk, katanya setelah menghela napas panjang: "Urusan dunia ini memang amat aneh, kemarin malam seperti anjing meringkel di dalam galian pasir yang dingin dan lembab, malam ini kami sudah menjadi malaikat."

Ki Ping-yan menanggapi dengan dingin: "Kau kira tempat ini amat nyaman?"  "Kau bisa menemukan tempat yang lebih nyaman dari ini, aku kagum kepadamu."

"Dalam pandanganku bukan saja tempat ini tidak nyaman, malah diliputi kesulitan." Oh Thi-hoa bergegas bangun, katanya mendelik: "Ada kesulitan apa?"

"Katakan dulu, kenapa Kui-ji-ong tak berada di negeri sendiri, hidup senang foya-foya didalam istananya, malah membawa sedemikian banyak pengikutnya menyepi ditempat belukar yang hanya seluas beberapa li ini?"

Oh Thi-hoa melongo sahutnya: "Mungkin orang keluar bertamasya."

"Sebagai raja dari suatu negeri, tindak tanduknya malah boleh sembarangan?"

Oh Thi-hoa mengelus hidung, katanya: "Seumpama dalam hal ini ada sesuatu yang tidak beres, apa pula hubungannya dengan kita?"

"Kutanya kau lagi, walau Kui-je-ong sebuah negeri kecil yang terpencil tapi sebagai seorang raja yang berkuasa, kedudukannya tinggi dan agung, sebaliknya Kui-je-ong ini suka bergaul dengan kaum persilatan yang kasar, kenapa?" "Benar memang suatu hal, yang aneh dengan berbagai cara dan usaha dia mengambil kawanan persilatan dari tempat-tempat yang jauh malah tidak perduli asal-usul dan tingkat kedudukan mereka perduli mereka dari golongan hitam atau aliran putih cukup asal berilmu tinggi, sebetulnya apa tujuannya? Apa pula yang dia inginkan dari orang-orang itu?"

"Hal ini gampang dimengerti" sela Coh Liu-hiang, "Kui-je-ong yang satu ini, terang dalam pelarian, kesulitannya bukan mustahil hanya kaum persilatan saja yang mampu mengatasi."

"Dia suka menerima kita tujuannya supaya kita suka bantu dia?" seru Oh Thi-hoa. "Memangnya kenapa pula, kulihat dia orang baik-baik tidak gagah-gagahan main gila sebagai raja agung, dia menghadapi kesulitan kita lantas membantunya, tiada halangan bukan?"

"Agaknya kau memang seorang satria yang suka menolong kesulitan orang lain, sayang kita sendiri sekarang tidak sempat mengurus persoalan sendiri, mana ada tenaga bantu orang lain."

"Tapi memangnya kita gegares makanan orang secara gratis saja?"

"Kau jangan lupa, Ciok-koan im pun pernah menyuguh sewajan daging rebus kepada kita."

Menyinggung Ciok-koan im, selera minum Oh Thi-hoa seketika lenyap, badannya menjadi panas dingin, setelah melongo sekian lamanya tak tahan ia berkata pula: "Menurut pendapatmu bagaimana harus bertindak?"

"Kita istirahat satu jam saja terus berangkat, sebelum pergi sudah tentu harus isi air dan arak sepenuhnya, kukira para Busu dari Tiong toh itupun takkan bisa menghalangi kita.

"Bocah keparat!" maki Oh Thi-hoa, orang pandang kau sebagai tamu agung, kau malah hendak jadi maling kecil.

"Maling kecil yang hidup, kukira lebih baik dari tamu agung yang konyol."

Terpancing pula mulut Oh Thi-hoa, kembali ia melongo sekian lama baru menghela napas, katanya: "Kalau berdebat aku selalu kalah, memang kita kemari bukan ingin menjadi tamu agung mereka."

"Tapi kita tidak boleh pergi begini saja", sela Coh Liu-hiang tiba-tiba.

Seketika Oh Thi-hoa berjingkrak kegirangan sambil bersorak, Ki Ping-yan malah mengerut kening, "Kenapa?" tanyanya.

"Kita hendak cari Ciok Koan-im, terpaksa disinilah pangkalan kita sementara." biasanya Coh Liu-hoang tidak sembarangan bicara, maka kata-katanya ini seketika membuat rona muka Ki Ping- yan berubah. Oh Thi-hoa sebaliknya tertawa semakin riang. Teriaknya tertahan.

"Apakah Ciok Koan-im juga berada di sini?"

"Dia sendiri memang tiada, tapi anak buahnya, jelas tentu sudah menyelundup kemari." "Dari mana kau bisa tahu ?"

"Tahukah kalian kemana sebetulnya Peng Koh Chit-hou hendak mengantar Ki Loh cising itu ?" "apakah hendak diantar kemari ?" "Tidak Salah !"

"Dari mana kau bisa tahu ?" tanya Ki Ping-yan.

Tadi waktu busu berseragam lari masuk memberi laporan memang suaranya lirih tapi aku dapat dengar dia mengatakan beberapa patah kata.

"Apa yang dia katakan ? tanya Ki Ping-yan pula.

"Meski dia bicara dengan bahasa negeri Kui-je, tapi waktu menyebut nama seseorang menggunakan bahasa Han, yang dia katakan ternyata adalah Peng It-hou., Ciok Koan-im.., Ki Loh si-cing, setelah mendengar laporan berubah roman muka Kui je-ong..."

"Oleh karena itu" Coh Liu-hiang melanjutkan penuturannya, "Kupikir Ki Lo si-cing tentu ada sangkut paut yang amat erat dengan Kiu je-ong, musuh Kui je-ong bukan mustahil adalah Ciok Koan-im pula."

Oh Thi-hoa menepuk paha serunya :

"Bagus sekali! Jikalau diapun lawan Ciok Koan-im, kita bantu kesulitannya, berarti bantu kesulitan sendiri, sekali tepak dua lalat, bukankah amat menguntungkan.

"Apalagi dengan tinggal di sini, gerak-gerik kita jauh lebih leluasa, bukan saja bekerja sambil menunggu kesempatan dan menghimpun tenaga, menunggu kedatangan Ciok Koan-im saja dalam jangka waktu itu kita tak perlu susah-susah pikirkan makan dan minum.

Ki Ping-yang menepekur sekian lama, katanya pelan-pelan :

"Bila Ciok KOan-im benar-benar bermusuhan dengan Kui Je-ong sudah terang dia kirim anak buahnya menyelundup ketempat ini, tapi jelas tidak mungkin adalah dua saudara dari keluarga Go dan Sutou Liu Che dan lain-lain.

"Kenapa kau berkesimpulan demikian?" tanya Oh Thi-hoa.

"Karena orang luar selalu mendapat perhatian penuh, tapi m usuh dalam selimut sudah diketahui, apalagi Sutou Siu che dan lain-lain adalah orang-orang undangan Ku Je-ong dari tionggoan !"

"Diantara mereka hanya Ong Tiong yang rada mencurigakan. "Ki Ping-yan utarakan pendapatnya.

"Benar! Kulihat Ong Tiong bukan nama aslinya." timbrung Oh Thi-hoa.

"Bukan saja tindak tanduk orang ini rada tersembunyi ilmu silatnyapun disembunyikan, tiada yang tahu sempai dimana tingkat kepandaiannya begitu rapat dia menyembunyikan asal sendiri, tentu mempunyai tujuan yang tersembunyi pula.

Coh Liu-hiang tertawa pula, katanya :

"Menurut pendapatku, diantara mereka orang inikah yang berkepandaian paling tinggi ?" Masakan rekaanku meleset ? Tanya Ki Ping-yang.

"Kukira bukan dia" "Siapa maksudmu ?" "Pipop-kongcu"

Kembali Oh Thi-hoa tepuk pahanya, serunya : "Benar ! jikalau dia tidak pandai main silat tak mungkin mempunyai pandangan begitu tajam." Malah dia lebih tersembunyi dan tidak menunjukkan tanda-tanda dirinya dari pada Ong Tiang, lahirnya kelihatan sebagai gadis lemah, jikalau lwekangnya tidak mempunyai latihan yang sudah mendalam mana mungkin dia bisa kendalikan hawa murninya sampai tak terasa oleh orang luar?"

Menatap langit-langit perkemahan, tiba-tiba Oh thi-hoa tertawa, gumamnya :

"Tuan dari suatu kerajaan kecil di luar perbatasan, ternyata seorang tokoh silat yang tersembunyi sungguh suatu hal yang menarik, sungguh menarik!" sekali tenggak ia habiskan araknya.

Sekonyong-konyong terdengar seseorang batuk-batuk kering diluar kemah, dengan tertawa seseorang berkata :

"Apa kalian belum tidur ? Cayhe sengaja datang bertandang."

Yang datang ternyata adalah Ceng Thian Kian Khek Bo Ceng-thian tertua dari Go si siang hiap yang terkenal di kalangan Kangouw dengan enam puluh empat jurus Ya Hong-kiam hoat.

Dengan tertawa tertawa lebar berulang kali orang memohon maaf akan kedatangannya yang mengganggu, Coh Liu-hiang bertiga tak habis heran dan tak tahu maksud kedatangan orang, maka berkatalah ahli pedang yang kenamaan ini dengan tertawa :

"Tentang kedatangan Cayhe, tentunya kalian bertiga takkan pernah menduganya." "terus terang, kami memang sedang menebak-nebak." sahut Oh thi-hoa.

"Sebetulnya Cayhepun mendapat pesan orang lain untuk datang kemari!" Kata Go Ceng-thian tertawa.

"Mendapat pesan orang lain? siapa yang suruh kau kemari ? untuk keperluan apa?" tanya Oh Thi-hoa.

Sengaja Go Ceng-thian tertawa penuh arti, katanya :

"Mendapat pesan Kui Je-ong, untuk melamar kepada kalian bertiga."

"Apa melamar ?" teriak Ki Ping-yan melongo, hampir ia tak percaya akan pendengaran kupingnya. Oh thi-hoa malah terpingkal-pingkal sambil memeluk perut, serunya :

"Ongya yang satu ini memang jenaka sekali, memangnya dia ingin supaya kami bertiga menjadi menantunya ?"

"Lamaran ini sudah tentu hanya ditujukan seorang diantara kalian bertiga, malah inipun bukan maksud Ongya sendiri, adalah setelah sekali beradu pandang, tuan puteri lantas jatuh hati, dan taksir kepadanya."

Mendengar kata-kata ini, Ki Ping-yan segera menyingkir duduk ke pinggir, dia tahu tuan putri itu terang takkan penujui dirinya, Oh Thi-hoa sebaliknya mulai tegang urat syarafnya. Lahirnya Coh Liu-hiang tetap bersikap tenang dan adem-ayem, sorot matanya malah bercahaya, tapi hatinyapun berdebar tegang, dari samping Ki Ping-yan saksikan sikap lucu kedua temannya ini, dalam harinya ia tertawa geli.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(