Pendekar Pengejar Nyawa Jilid 14

 
Jilid 14

"Kenapa tidak kau undang mereka kemari ikut makan dan minum?" "Mereka sudah pulang"

"Biar apa kau keburu buru suruh mereka pulang, aku dan Coh Liu hiang cukup tahu dan suka humor, kami pasti akan beri kesempatan kepadamu untuk bercengkerama dengan mereka"

"kini tiada waktu lagi, sejak kini kita mulai perjalanan menuju ke padang pasir nan luas, selanjutnya kereta ini takkan berhenti selewat dua kali minuman teh, dan lagi setiap kali hanya boleh berhenti tiga kali aku percaya mengandal tenaga dan kekuatan kita, sedapat mungkin sudah harus dapat kendalikan diri untuk tidak berak dan kencing."

Oh Thi-hoa angkat pundak, tanyanya: "Masakah turun kereta untuk jalan kakipun tak boleh?" "Sekali-kali tidak boleh!" "Kenapa?"

"Memang kita belum tahu apakah pihak musuh sudah menyebar mata-matanya diberbagai tempat untuk menyelidiki dan mencari tahu jejak dan gerak-gerik kita, oleh karena itu kita harus berjaga-jaga untuk hal ini."

"Kukira itu tidak perlu," sela Oh Thi-hoa.

"Jikalau kita ingin berhasil segala kemungkinan, harus kita perhitungkan secara matang, jikalau musuh berani, mengganggu Coh Liu-hiang, pastilah dia bukan sembarang orang."

"Memangnya kita ini orang sembarangan?"

"Sudah kukatakan orang-orang yang tumbuh dan hidup di padang pasir, mereka sudah digembleng sedemikian rupa sampai lebih kuat bertahan dari unta, lebih cerdik dari rase, lebih buas dari serigala, sebaliknya di dalam padang pasir itu kita selemah seekor kelinci yang tidak tahu seluk-beluk di sana."

"Kau terlalu mengunggulkan kebolehan musuh, memangnya kami begitu tidak becus." "Karena aku tidak mau mampus di padang pasir, elang memakan daging busukan, serigala

gegares tulang belulang, sekarang aku masih hidup dan ingin hidup foya-foya."

"Tapi aku berpendapat..."

"Aku tidak ingin tahu pendapatmu, cuma ingin tahu kalau toh kalian ingin aku kemari apakah segala sesuatunya dalam perjalanan ini kalian suka mendengar petunjukku?"

Selama ini Coh Liu-hiang tinggal diam mendengarkan percakapan mereka, baru sekarang ia menyahut tersenyum: "Kau bisa keluar dari padang pasir dengan tetap hidup membawa kekayaan itu, apa yang kau katakan tentunya masuk akal dan boleh dipercaya, selalu aku mau menerima dan tunduk kepada omongan yang masuk akal."

"Bagaimana dirimu?" tanya Ki Ping-yan melotot kepada Oh Thi-hoa.

Oh Thi-hoa geleng-geleng sambil menghela napas, ujarnya: "Aku hanya bisa bilang tidak seharusnya aku paksa kau kemari, kalau kau sudah di sini apa pula yang dapat kulakukan."

"Bagus!" ujar Ki Ping-yan, tiba-tiba ia turunkan semua arak dan sayuran dari atas meja sekali tekan, lembaran meja itu tiba-tiba bergerak terbalik ternyata muka sebelahnya bergambar sebuah peta yang jelas sekali dengan tulisan-tulisan petunjuk.

Dengan sumpit dibasahi arak Ki Ping-yan menggambar sebuah garis lempang, katanya: "Seharusnya kita tidak boleh menempuh jalan ini untuk keluar perbatasan, soalnya kau tidak kenal jalan, tapi kebacut sudah berada di sini maka terpaksa kita harus menyelusuri jalan ini."

"Apakah disini letak Hongho?" tanya Coh Liu-hiang.

"Ya, disini letak hulu Hongho, kita boleh menyelusuri sungai terus sampai di Ginjwan, aku tahu pengaruh Ca-Bok-hap dulu, belum meluas sampai selatan Linsan, maka di sepanjang jalan ini kita tak perlu mengharap memperoleh sumber dari mereka, namun harus berjaga-jaga terhadap mata kuping mereka."

Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa mendengarkan dengan penuh perhatian. "Oleh karena itu," Ki Ping-yan melanjutkan. "Besok setelah kita tiba di Lo-liong-wan "teluk naga tua" kalian harus menitipkan kuda di sana, di sana aku punya langganan, kau tak usah kuatir."

"Kudaku itu aku harus membawanya", kata Coh Liu-hiang. "Tidak boleh!" kata Ki Ping-yan tegas dan tandas. "Mengapa?"

"Bukan saja kuda itu terlalu menyolok mata, juga bisa mendatangkan banyak kesulitan, apalagi milik mereka, kalau kita bawa kuda itu, itu berarti membawa pertanda yang gampang dikenali, sekali-kali kita tidak bole menempuh bahaya sebodoh ini!"

Setelah dipikir-pikir, akhirnya Coh Liu-hiang bungkam.

"Kau harus tahu, sekarang bukan saja pihak lawan secara diam-diam sedang menunggu dengan segala persiapannya, malah mereka sudah mendapat keuntungan secara situasi alam dan bumi adat istiadat, bahwasanya kita tidak punya persyaratan dalam hal ini, jikalau ingin menang kita hanya main sergap secara di luar dugaan, oleh karena itu sebelum kita menemukan jejaknya, jejak kita sekali-kali jangan sampai konangan oleh mereka. Jikalau mereka pinjam keuntungan persyaratan tadi, kita akan mati konyol tanpa liang kubur."

Lama Coh Liu-hiang menepekur, katanya menghela napas: "Memang tidak sebanyak itu yang pernah kupikirkan, aku..."

"Kau harus ingat," kata Ki Ping-yan sepatah demi sepatah, "Musuh tahu karena ditempat mana saja tak berhasil membunuh kau, maka kau dipancingnya ke padang pasir, kalau dia memancingmu kemari, tentulah karena dia yakin dan punya pegangan membunuhmu di padang pasir, inilah suatu perjuangan hidup yang paling besar rumit dan sulit selama hidupmu, mana boleh kau tidak lebih banyak berpikir?"

Coh Liu-hiang menyengir kecut, ujarnya: "Tapi ada kalanya sesuatu tidak boleh dipikir terlalu banyak dan luas."

Ki Ping-yan menenggak seteguk arak, katanya: "Baik! Sekarang persoalan apapun tak perlu kita pikirkan, tidurlah lebih dulu, meski tak bisa tidur harus dipaksa untuk tidur, karena sejak sekarang kita jangan membuang tenaga."

Balai-balai itu cukup besar, ketiganya sudah rebah dan tidur.

Tangan Oh Thi-hoa masih pegangi sebuah cangkir, tiba-tiba berkata dengan tertawa: "Bagaimanapun, sekarang terhitung kami bisa tidur bersama pula, seperti puluhan tahun yang lalu...! Kehidupan manis dan indah masa lalu."

"Hari-hari itu belum tentu indah, waktu itu kita minum arak kecut, rebah di atas rerumputan yang dingin, sekarang kita justru tidak di atas ranjang yang empuk dan hangat."

Oh Thi-hoa menghela napas, ujarnya menggeleng: "Kehidupan masa silam selamanya merupakan kenangan manis, sayang soal demikian selamanya kau takkan mengerti, karena kau kurang romantis, terlalu jujur dan suka menghadapi kenyataan terlalu kasar, kau hanya tahu..." tiba-tiba ia gerakan mulutnya, karena ia dapati Ki Ping-yan sudah mendengkur.

Hari kedua menjelang magrib, mereka tiba di Lo-liong-wan. Di dalam sebuah perkampungan petani milik Ki Ping-yan, Coh Liu-hiang bertiga turun dari kereta, mendadak hatinya merasa berat berpisah dengan kuda hitam ini, tanpa sadar ia menggumam dengan tertawa getir: "Mungkin aku memang sudah tua hatiku semakin lembek, kuda itupun meringkik sedih."

Coh Liu-hiang mengelus punggungnya yang datar dan bidang, katanya tertawa: "Apa kau pun berat berpisah dengan aku? Kuatir setelah berpisah hari ini, selamanya takkan berjumpa lagi?"

Oh Thi-hoa sebaliknya seperti amat bersemangat, bersama Ki Ping-yan mereka sedang periksa kereta dan unta, setiap benda harus diperiksa dengan teliti, tanya ini tanya itu.

Sekarang dia sudah tahu laki-laki kekar tinggi bisu tuli itu bernama Ciok Tho "unta batu", tapi sungguh ia tidak habis berpikir, kulit daging manusia bagaimana bisa berubah begitu rupa.

Kini dia pun sudah tahu anak muda yang pegang kendali itu bernama Siau-Phoa, Siau-phoa sebetulnya bukan anak muda lagi, sedikitnya sudah berusia tiga puluhan tahun cuma pembawaan mukanya mungil seperti raut muka orok kecil sebelum bicara mukanya sudah tertawa, setelah bicara masih tertawa juga, sehingga setiap orang yang menghadapinya tak bisa marah meski hatinya mendongkol.

Semakin dipandang Oh Thi-hoa merasa orang ini amat menarik, tak tahan ia menghampiri dan tanya: "Siau-phoa, tahun ini apa usiamu sudah tiga lima?"

"Bicara terus terang, satu bulan lagi, usiaku sudah genap empat puluh tiga."

"Hah, empat puluh tiga, sungguh luar biasa... laki-laki usia empat puluhan tahun, kau msih suka dipanggil Siau-phoa (phoa sikecil), emangnya kau begitu senang?"

"Umpama aku sudah berusia delapan puluh, orang tetap memanggilku Siau-phoa, tapi ini bukan soal yang harus ditonjolkan, malah boleh dikata suatu yang memalukan!"

"Ki Ping-yan mau membawamu, kau tentu mempunyai sesuatu kepintaran yang luar biasa, coba kau punya kebolehan apa? Pertunjukkan kepadaku mau tidak?"

Siao-phoa unjuk tawa berseri, sahutnya: "Kebolehanku justru aku tidak bisa apa-apa, apapun aku tidak mengerti. Seseorang setelah mencapai usia empat puluhan, namun apapun tidak bisa dan diketahui, kukira suatu hal yang sulit dilakukan orang lain, coba pikir, benar tidak?"

Oh Thi-hoa terkial-kial serunya: "Kau bisa bicara demikian, ini menunjukkan bahwa kepintaranmu tentu luar biasa."

Lama kelamaan, lebih jelas ia mengetahui bukan saja Siau-Phoa ini setiap kali bertemu dengan orang bisa bicara dan berkelakar bertemu setan menggunakan bahasa setan, malah dia memiliki suatu kepandaian istimewa.

Bahasa daerah dari dua pinggiran sungai besar, dari Hokkian sampai ke Kwiciu dari Tibet sampai ke Sinkiang bahasa dari suku bangsa dan daerah dapat diucapkan dengan lancar dan logat yang mirip sekali, seolah-olah dia memang penduduk asli dari daerah-daerah itu, hubungan apapun dan persoalan apapun terhadap orang lain itu, boleh pasrahkan kepadanya dengan lega hati, seumpama dia bekerja dengan pejamkan mata, tanggung takkan bisa dirugikan.

Sebaliknya Ciok Tho meski bisu dan tuli tak bisa bicara dengan manusia, tapi dia bisa bercakap-cakap dengan binatang peliharaannya, seolah-olah dia menguasai sesuatu bahasa rahasia yang luar biasa untuk hubungan antara pikiran dan raganya dengan binatang-binatang itu. Apapun yang sedang dipikirkan dalam benak keledai, kuda atau unta, dia bisa tahu dengan baik, apa yang hatinya ingin supaya binatang itu lakukan, ternyata binatang itu menurut berbuat seperti petunjuknya.

Kadang kala Oh Thi-hoa berpikir-pikir dan tak habis mengerti entah dengan cara apa Ki Ping- yan berhasil menemukan kedua orang ini, sungguh tidak bisa tidak ia harus memuji dalam hati.

Kereta berjalan terus siang malam tak hentinya. Siau-phoa dan Ciok Tho seolah-olah tidak pernah tidur, tapi beberapa hari kemudian semangat Siau-phoa masih segar bergairah, mukanya selalu berseri tawa riang dan gembira, sementara Ciok Tho pun tak pernah menundukkan kepala.

Berkata Oh Thi-hoa: "Apakah kedua orang itu boleh tak usah tidur?"

"Ada sementara orang, apapun yang sedang dia lakukan, dia boleh bekerja sambil tidur." "Waktu pegang kendali menjalankan kereta juga bisa tidur?"

"Kuda sudah tahu jalan, kenapa kusirnya tidak boleh tidur?"

Oh Thi-hoa berpikir-pikir, ujarnya: "Benar. Waktu kendalikan kereta ia tetap duduk tapi Ciok Tho bukan saja tidak pernah duduk, malah berdiri tegakpun dia tidak pernah, memangnya sambil berjalan diapun bisa tidur?"

"Ya, memang begitulah kejadiannya." sahut Ki Ping-yan tawar.

Oh Thi-hoa terloroh-loroh, serunya: "Kau anggap aku ini bocah umur tiga tahun?" Ki Ping-yan menarik muka dan tunduk kepala, mulutnya terkancing rapat.

Coh Liu-hiang malah menyela tertawa: "Memang ia tak menipu kau, memang ada orang yang bisa tidur sambil berjalan, karena kedua kakinya bergerak, tapi semangatnya sudah lepas dan pikiranpun kosong, mirip benar dengan orang tidur."

"Suatu kebolehan lain yang tidak kecil artinya." ujar Oh Thi-hoa tertawa.

"Kebolehannya itu bukan pembawaan sejak dilahirkan, tapi merupakan hasil tumpuan dan gemblengan yang luar biasa, seorang bila dia digusur dengan cambuk, tanpa berhenti berjalan satu tahun lamanya, asal pejamkan mata cambuk pasti melecut badannya, lama kelamaan seumpama dia berjalan diatas salju dengan kaki telanjang, diapun bisa tidur dengan nyenyak."

"Apakah Ciok Tho dulu pernah mengalami penderitaan begitu rupa?" "Em! berat suara Ki Ping-yan.

"Tapi kenapa orang lain menyuruhnya terus berjalan, sampai setahun lamanya?"

Sesaat kemudian baru Ki Ping-yan berkata: "Pernahkah kau melihat keledai yang menarik gilingan?"

"Pernah" "Nah, dia pernah dipandang sebagai keledai untuk menarik gilingan, cuma sudah tentu keadaannya jauh lebih sengsara dari keledai, keledai punya waktu-waktu tertentu untuk istirahat, kakinya justru tak pernah berhenti, dia menarik gilingan setahun penuh.

Bergidik Oh Thi-hoa dibuatnya, katanya naik pitam: "Siapa orang itu? Kenapa begitu kejam?

Kenapa pula menyiksanya sedemikian rupa?"

Ki Ping-yan geleng-geleng kepala, tak bersuara lagi.

Terpaksa Oh Thi-hoa tenggak arak sebanyak banyaknya, sungguh hatinya kurang percaya. "Mana mungkin seseorang bisa tidur diwaktu berjalan?" akhirnya dia berkeputusan hendak membuktikan diri.

Seumpama kereta ini merupakan kereta paling nyaman, segar dan mewah di seluruh kolong langit, tapi setiap hari harus dikurung didalamnya, tidak bisa bergerak tidak boleh keluar lama kelamaan Oh Thi-hoa merasa sebal dan gerah, hampir saja ia menjadi gila karenanya.

Memangnya dia ingin mengerjakan sesuatu pekerjaan. Maka dia mendekam d pinggir jendela kereta, dengan mata terpentang lebih dia awasi Ciok Tho, ingin dia melihat bagaimana dia tertidur dikala kakinya melangkah.

Biji mata Ciok-Tho yang berwarna kelabu itu, selalu terbelalak lebar, dengan kosong memandang jauh ke depan, seolah-olah dapat melihat suatu pemandangan indah, yang tak mungkin terlihat oleh orang lain.

Dengan seksama Oh Thi-hoa selalu memperhatikan dirinya, sendiri kemudian, mendadak ia tertawa gelak-gelak katanta :

"Keparat benar jago mampus kau ini, ternyata menipuku lagi."

Heran Ki Ping-yan dibuatnya tanyanya mengerut alis : "menipu apa kau ?" "Matanya selalu terbuka dan tidak pernah terpejam, mana bisa dia tertidur?" "Dia tidur tanpa pejamkan mata." sahut Ki Ping-yan.

"Memangnya kenapa pula?"

Karena dia memangnya seorang buta. Buta? Oh thi-hoa berjingkrak bangun. Maksudmu bukan saja dia bisu dan tuli, matanya pun buta?"

Ki Ping-yan bungkam, selamanya tak pernah dia memberi keterangan kedua kalinya. "Tak heran kedua biji matanya itu kelihatan begitu aneh, tapi... seorang buta kenapa bisa

berjalan seperti dia? Sungguh aku lebih tidak mengerti."

"Binatang disampingnya tiada binatang?" "Dia akan berusaha mencarinya seekor." "bicaramu semakin membingungkan, seperti dongeng belaka, memangnya dia itu seekor

binatang?"

"Ada kalanya memang dia boleh dianggap seekor binatang, karena dia sendiripun menganggap bahwa dia itu seekor binatang buas malah dia beranggapan berkumpul sama binatang buas, jauh lebih gampang dan aman daripada dengan manusia"

"kalau begitu, kenapa dia mau bekerja bagi kau?" Mulut Ki Ping-yan terkancing lagi, Oh Thi-hoa melihat bukan saja orang tidak sudi menjawab pertanyaan ini, orangpun tidak mau memperbincangkan persoalan ini. Siapa tahu sesaat kemudian, dengan kalem sepatah demi sepatah Ki Ping-yan malah bilang : "Itulah karena aku pernah menolong jiwanya."

Kini Oh Thi-hoa yang berdiam diri, katanya menghela napas kemudian : "Jadi kenapa kau suka membawa seorang yang buta tuli dan bisu itu untuk menempuh bahaya di padang pasir?"

Karena bila di padang pasir, dia jauh lebih berguna dari sepuluh orang yang tidak buta, tidak tuli dan tidak bisu.

Padang pasir. akhirnya mereka tiba di padang pasir.

Itulah sebuah kota kecil di pinggiran padang pasir, berdiri didekat pintu sebuah penginapan satu-satunya yang terdapat di kota kecil itu menyawang jauh ke depan sana, ke padang pasir nan luas tak berujung pangkal.

Dalam kota kecil itu hanya terdapat beberapa keluarga saja, mereka hidup dengan penuh penderitaan ditengah badai pasir yang tak kenal kasihan itu. Barang mustika satu-satunya kolektif mereka hanyalah sebuah perigi yang birisi air yang tidak boleh dikatakan jernih.

Dengan harga yang sepuluh lipat lebih mahal dari harga arak. Ki Ping-yan membeli puluhan kantong air itu, lalu dengan harga yang jauh lebih murah dari daging babi dia jual beberapa ekor kuda yang sudah kelihatan itu kepada penghuni kota kecil itu, lalu menyulut api membakar petak kereta itu, itulah barang-barang kesayangannya dia tak bisa membawanya, terpaksa dibakar saja.

Dia paling pantang segala miliknya yang paling dia sukai terjatuh ke tangan orang lain.

Tak tahan bertanya Coh Lui-hiang : "aku tahu kenapa kau bakar kereta besar ini. Tapi tak mengerti kenapa kuda-kuda itu kau jual? Seumpama kau ini seorang kikir, memangnya kau ingin menambah beberapa keping uang perak sebagai ongkos jalan?"

"Jikalau kita bawa kuda-kuda ini ke padang pasir, dalam jangka tiga hari, mereka sudah akan mampus keletihan."

"Kenapa tidak kau lepas mereka saja? Kuda tahu jalan dan bisa pulang, mungkin dia bisa tiba dirumah."

"Mereka pasti takkan bisa pulang." "Kenapa?"

"Sepanjang jalan ini, bukan hanya saja banyak begal, kuda yang malang melintang sepanjang tahun tidak sedikit jumlah manusia yang kelaparan, jikalau aku melepas mereka pulang, seumpama mereka tidak tertangkap oleh kawanan begal kuda, mereka bahkan menjadi santapan perut orang-orang kelaparan itu.

"Kau anggap penghuni kota kecil ini bakal memeliharanya baik-baik?"

"Ya, mereka penduduk genah, suka menghemat dan berhati baik, terhadap kuda peliharaan pasti menyayanginya, aku yakin kuda-kuda itu akan dipelihara dengan baik," baru sekarang ujung mulutnya menyungging senyuman katanya pula: "Dengan demikian, kalau mereka menjual kuda-kuda itu, tentu harga yang lebih tinggi, maka orang itu sekali-kali takkan membunuh kuda itu untuk dimakan."

"Kalau demikian kenapa tidak kau berikan saja kuda itu kepada mereka?"

"manusia biasanya terlalu sayang dan eman terhadap sesuatu barang yang dibelinya jikalau barang sumbangan atau pemberian orang sedikit banyak tentu dipandangnya sepele dan kurang berharga."

Lama Oh Thi-hoa menepekur, katanya kemudian dengan menarik napas: "Kat nyana kau bisa berpikir begitu cermat bagi kuda-kuda itu, agaknya belakangan ini kau sudah sedikit berubah."

"Kau kira itu maksudku sendiri?"

"Bukan maksudmu, memangnya maksud siapa?"

Pertanyaan ini tidak perlu dijawab oleh Ki Ping-yan, karena saat itu dia sudah melihat raut muka Ciok Tho yang dingin kaku, buruk seperti diukir dari batu batu keramik.

Raut muka yang seperti diukir dari batu batu keramik ini, tatkala itu sedang menampilkan perasaan sedih, seolah-olah sedang sedih karena harus meninggalkan teman baiknya, sementara ringkik kuda-kuda itupun terdengar sumbang dan lemah seperti helaan napasnya.

Kini Coh Liu-hiang, Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yang sudah berdandan, samaran mereka mirip benar dengan pedagang pelancongan yang hendak menempuh perjalanan jauh ditengah lautan pasir nan luas ini.

Ciok Tho sebaliknya berdandan seperti orang Mongol, selembar kain putih yang lebar dan panjang dia ikat di atas kepalanya, tujuannya bukan untuk menutupi batok kepalanya dari terik matahari, tujuannya adalah untuk menutupi selembar mukanya.

Mengenai Siau-phoa? Dia boleh sembarangan suka mengenakan pakaian apa saja, meski kau campurkan dia dengan segala macam bangsa, kehadirannya tidak akan menyolok mata.

Disaat hari hampir mendekati magrib mereka berangkat memasuki lautan pasir.

Tatkala itu, walau sang surya sudah terbenam, hawa panas sedang mengepul naik dipermukaan padang pasir, maka panasnya luar biasa, ingin rasanya mencopoti pakaian yang melekat dibadan.

Tapi tak menjelang lama suhu panas itu dengan capat sudah menghilang, disusul hawa dingin yang menusuk tulang menerpa muka terasa pedas dan perih seperti diiris dengan pisau.

Ingin rasanya Oh Thi-hoa menyembunyikan badannya di bawah perut unta, duduk di punggung unta, rasanya seperti naik perahu yang diombang-ambingkan ditengah samudera raya. Coh Liu-hiang, Ki Ping-yan dan Siau-phoa pun duduk d ipunggung unta, melihat gaya duduk Oh Thi-hoa diatas unta, hampir saja mereka terpingkal-pingkal. Memang siapapun yang duduk di atas punggung unta takkan enak dan sedap dipandang mata.

Hanya Ciok Tho yang mengikuti langkah unta-unta itu selangkah demi selangkah berjalan tak kenal lelah, perduli di padang pasir, di tanah datar, di padang rumput atau ditengah rawa-rawa, dingin atau panas segala perubahan seolah tiada pengaruh apa-apa bagi manusia cacat

yang satu ini. Jikalau dulu, pasti Oh Thi-hoa sudah mengajukan pertanyaan : "Kenapa kaupun tidak duduk diatas unta?"

Kini dia tak perlu mengajukan pertanyaannya, dia tahu Ciok Tho takkan sudi duduk di punggung kuda, unta atau keledai, karena dia pandang mereka sebagai teman baiknya.

Malam semakin larut, hawa dingin semakin merangsang dan menjadi-jadi. Saking kedinginannya Siao-phoa sudah gemetar di punggung unta, untung tak lama kemudian Ki Ping- yan berhasil menemukan sebuah tempat untuk berlindung dari hembusan angin badai. Mereka mendirikan kemah di belakang gundukan bukit pasir, membuat api unggun dari kotoran binatang.

Ciok Tho jejer unta-unta itu menjadi semacam bundaran, punuk unta untuk menutupi cahaya

api.

Diatas api unggun dimasak sewajan sayur, mereka duduk mengelilingi api, minum arak, mencium hawa yang berbau campuran merica, lombok dan berambang dimasak campur daging sapi dan kambing.

Baru sekarang Oh Thi-hoa merasa lebih nyaman dan segar.

Sebaliknya Ciok Tho, tetap duduk dikejauhan sana, di bawah penerangan bintang-bintang yang kelap kelip di padang pasir ini, bukan saja raut mukanya lebih dingin kaku, lebih buruk, malah terunjuk pula mimik dan sikap yang aneh.

Pada tempat yang semakin kosong dan luas, diwaktu yang sunyi dan lebih tenang, sikap dan mimiknya ini jauh lebih jelas dan menyolok, kini dia duduk menyendiri ditengah padang pasir yang tak berujung pangkal, ditengah kegelapan malam yang dingin pula, kelihatannya dia seperti seorang raja yang terusir dari negeri dan rakyatnya, dia sedang mengecap kesunyian, penderitaan dan penghinaan yang kelewat batas dengan diam-diam.

Sampaipun Coh Liu-hiang, tak terasa diapun mulai tertarik akan petualangan masa lalu dari manusia misterius yang sudah mengalami akibatnya dulu, namun sukar dia berhasil menyelami isi hatinya dan jalan pikiran orang yang misterius ini.

Tapi tak pernah Coh Liu-hiang menanyakan kepada Ki Ping-yan. Dia tahu Ki Ping-yan takkan mau menjelaskan atau memang dia sendiripun mungkin tidak tahu.

Setelah larut malam, mereka masing-masing menyelinap masuk ke dalam kemah untuk tidur.

Ciok Tho cukup membungkus badannya dengan selimut tebal, tidur disamping unta, celentang menghadap langit dimana bintang-bintang bercokol di cakrawala.

Coh Liu-hiang pun tidak tahu apakah orang sudah tidur belum, namun ia maklum orang lebih suka tidur di pinggir unta, matipun dia tidak mau tidur disamping orang lain. Sudah tentu Oh Thi- hoa pun ada perhatian akan hal ini, tidak seperti Coh Liu-hiang, dia tidak bisa menyimpan didalam hatinya. Setelah ditahan-tahan setengah harian akhirnya ia tak kuat menahan sabar, tanyanya: "Kenapa dia tidak masuk kemari tidur bersama kita?"

"Karena dia tidak pandang sama derajat dengan kita."

Oh Thi-hoa berjingkarak bangun serunya marah :" Dia pandang rendah kita?" "Siapapun dia pandang rendah."

"Terhadap kaupun dia memandang rendah?" tanya Oh Thi-hoa melengak. Ki Ping-yan tertawa tawar, ujarnya :" Ya, sampai akupun tidak terpandang sebelah matanya." "Dia pandang rendah dirimu, kenapa mau bekerja demi kau?"

"Bila kau melakukan sesuatu hal untuk orang lain, tidak mesti harus memandangnya , benar tidak?" tanya Ki Ping-yan, "Sekarang dia bekerja demi aku, karena dia merasa hutang budi terhadapku, bila dia merasa hutangnya lunas, meski aku turut berlutut minta bantuannya dia takkan sudi tinggal bersama kami."

Kembali Oh Thi-hoa menjublek di tempatnya, lekas ia tuang sebuah cawan besar penuh arak terus ditengaknya, dia ingin lekas bisa tidur, tapi bolak-balik selalu matanya terbayang akan raut muka buruk yang bermimik aneh itu. Siapakah sebenarnya orang ini? Siapa pula yang membuatnya begitu rupa? Sudah tentu dia tak mendapat jawaban, tanpa sadar mulutnya menggumam. "Tempat setan seperti ini, sulit juga hidup dalam hari-hari seperti ini."

Ki Ping-yan yang seperti sudah pulas, saat itu tiba-tiba menyeletuk dingin :" Sekarang kau sudah merasa sedih dan sengsara ya? Hari-hari yang betul-betul penuh derita belum lagi mulai lho!"

Dumulai sejak Oh Thi-hoa berani terjun ke dalam sungai di belakang rumahnya untuk berenang, ia sudah menyukai matahari, sejak itupula setiap hari cerah, matahari menyinarkan cahayanya yang gemilang, tak tahan lagi dia pasti mencopot pakaian, menjemur diri dipasir. Yang- ci-kiang di puncak Ai-ho-lau, di puncak Ceng-shia diatas budur, ditempat teduh di puncak Hoa-san, ditempat yang paling tinggi di Thaysan, dia pernah melihat bermacam-macam matahari. Ada yang terik dan panas seperti bara, laksana laki-laki kebakaran jenggot, ada pula yang halus lembut laksana pemuda perlente yang romantis, ada yang remang-remang gelap seperti pandangan si kakek yang sudah lamur, dan ada pula yang cemerlang menakjubkan seperti seraut muka gadis jelita.

Berani mati, selama hidup belum pernah dia lihat dan menghadapi terik matahari seperti ini.

Meskipun matahari yang satu ini pula, tapi matahari ditengah padang pasir ini, mendadak berubah menjadi sedemikian kejam, ganas luar biasa, seolah-olah seluruh padang pasir ini hendak dibakarnya sampai menyala oleh teriknya itu.

Sedemikian panas terik matahari ini sampai Oh Thia-hoa tiada selera minum arak, hatinya pepat dan mengharap sang surya lekas terbenam keperaduannya, seorang pemabokan bila sampai tiada selera minum arak lagi, tentu dia sudah amat menderita serasa ingin mati saja.

Tiada angin, sedikitpun tak terasa adanya angin berlalu, tiada suara yang paling lirihpun ditengah terik mentari ini, seluruh jiwa kehidupan ditengah padang pasir ini, semuanya sudah terbenam dalam keadaan teler-teler hampir mati.

Sungguh tak tahan lagi, ingin rasanya Oh Thi-hoa melompat ke punggung unta dan mencak- mencak seperti orang kesetanan... pada saat itulah, entah dari mana datangnya, sayup-sayup ia mendengar suara rintihan. Rintihan yang amat lemah, tapi ditengah padan pasir yang tenang sunyi seperti tiada kehidupan ini, kedengarannya begitu jelas seperti seseorang berbisik di pinggir telinganya.

Tanpa berjanji, Coh Liu-hiang, Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa serempak menegakkan punggung duduk pasang kuping.

"Kalian mendengar suara itu?" tanya Oh Thi-hoa melebarkan matanya. "Em!" Coh Liu-hiang mengiakan dengan suara dalam tenggorokan. "Menurut pendengaranmu, suara apa itu?" tanya Oh Thi-hoa yang suka cerewet. "Disekirar sini ada orang." sahut Coh Liu-hiang.

"Tidak salah! Ada orang, tapi orang yang sudah dekat ajalnya." "Dari mana kau tahu?" jengek Ki Ping-yan dingin.

Oh Thi-hoa menyeringai, ujarnya: "Walau aku tidak suka membunuh orang, tapi suara rintihan orang meregang jiwa melayang ajal, sudah sering kudengar, menurut hematku, kalau orang itu bukan hampir mati kekeringan oleh terik matahari tentu melayang ajal karena dahaga."

Pada saat itu pula, terdengar suara erangan lain kumandang, Oh Thi-hoa sudah tau suara rintihan ini datang dari belakang gundukan pasir tinggi di sebelah kiri sana. Kontan Oh Thi-hoa lompat turun dari punggung ontanya, serunya: "Di sana orangnya, lekas kita tengok kesana."

"Seseorang yang melayang ajal, apanya sih yang enak kau tonton?" tukas Ki Ping-yan dingin. "Apanya yang bisa ditonton?" teriak Oh Thi-hoa. "Kau tahu ada orang hampir mati,

memangnya kau cuma melihat saja tanpa sudi menolongnya?"

"Sejak mula sudah kuberi tahu, kepada kau, di atas padang pasir ini, setiap hari kau bisa bertemu dengan sepuluh manusia yang meronta-ronta menjelang ajal, jikalau kau ingin menolong orang, jangan kau lakukan pekerjaan lain."

Oh Thi-hoa berjingkrak, serunya: "Kau... memangnya kau tidak mau menolong orang yang hampir mati?"

"Memangnya kedatangan kita kemari hanya untuk menolong orang hampir mati?" "Begitu kejam hatimu!"

"Ditempat setan seperti ini, hanya orang yang berhati baja saja yang bisa tetap bertahan hidup, bilamanapun kau hampir mampus, jelas takkan ada orang yang mau menolong kau, karena bila ada orang sudi membagi air kepadamu dia sendiri bakal mati karena dahaga."

Coh Liu-hiang tersenyum, timbrungnya: "Tapi bukankah air kita sekarang cukup berlebihan?" "Terdapat sejenis manusia lain di dalam padang pasir ini jikalau kau menolong dia disaat

tenaganya pulih badan menjadi segar kembali, malah mungkin dia membunuhmu, lalu merampas ramsum dan binatang tungganganmu tinggal lari!"

"Mengandalkan kekuatan kami bertiga, manusia mana dalam dunia ini yang mampu membunuh kami?"

"Benar!" sela Oh Thi-hoa memberi dukungan.

"Siapa bisa membunuh kita?" lalu ia melotot kepada Ki Ping-yan, sambungnya: "Agaknya bukan saja hatimu semakin kejam dan telengas, malah nyalimu justru semakin kecil, seorang bila mempunyai uang terlalu banyak, mungkin bisa berubah seperti keadaanmu sekarang."

Membeku roman muka Ki Ping-yan, ia tak banyak bicara lagi.

"Peduli kau sudi tak pergi menolong orang, aku pasti akan kesana melihatnya." Coh Liu-hiang tersenyum, "Kalau mau pergi mari kita bersama-sama."

Sudah tentu kata-katanya itu ia tujukan kepada Ki Ping-yan, sesaat lamanya Ki Ping-yan diam saja, akhirnya dia menghela napas, maka barisan segera membelok ke arah kiri.

Gundukan bukit pasir di sebelah kiri sana tidak luas dan tinggi, begitu mereka tiba di pengkolan bukit pasir sebelah sana, dari kejauhan mereka melihat dua orang, begitu melihat kedua orang ini, hati Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa serasa hampir membeku dingin.

Kedua orang ini sudah tidak mirip seperti manusia umumnya, tapi mirip dua bongkah kerat daging kambing yang dipanggang di atas api unggun, dengan telanjang bulat kedua orang disalip di atas pasir pergelangan kedua kakinya yang telanjang bulat, jidat dan lehernya masing-masing terikat kencang oleh kulit sapi, kulit kerbau umumnya basah, tapi setelah dijemur matahari dan menjadi kering, maka libatan ikatannya menjadi semakin kencang dan erat, melesak masuk ke dalam kulit daging.

Seluruh kulit badan mereka hampir sudah gosong karena terik matahari, bibirpun sudah retak, kelopak matanya setengah terpejam, biji matanya sudah kering, seperti dua buah lubang yang tak terukur dalamnya.

Baru sekarang Oh Thi-hoa benar-benar maklum dan mengerti cara bagaimana kedua biji mata Ciok Tho itupun menjadi buta. Mata Ciok Tho mirip pula dengan kedua biji mata kedua orang ini, picak karena dijemur terik matahari secara hidup-hidup.

Meski Ciok Tho tidak bisa melihat, tak dapat mendengar, tapi begitu ia berada ditempat itu sekujur badannya mendadak gemetar keras, seolah-olah dia punya indera istimewa yang aneh, bisa merasakan gejala yang tidak wajar di sekelilingnya serta bencana yang bakal menimpa mereka.

Tali kulit kerbau diputus, dengan selimut tebal Coh Liu-hiang membungkus badan kedua orang ini, lalu dengan handuk yang dibasahi air dimasukan ke dalam mulut supaya mereka pelan-pelan menghisapnya.

Lama kelamaan, baru kedua orang ini bisa bergerak dengan gemetar, suara rintihannyapun semakin keras.

"Air... Air..." mereka bisa mengeluarkan suara, tak henti-hentinya menjerit mengeluh dan minta tolong.

Coh Liu-hiang tahu bila sekarang mereka lantas diberi air secukupnya, mereka bisa segera mati.

Oh Thi-hoa menghela napas, katanya: "Sahabat jangan kau kuatir, disini air cukup banyak, berapa kau ingin minum boleh sesuka hatimu."

Orang yang hampir mati itu dengan melongo hampa membuka mata, mulutnya tetap merintih: "Air... Air..."

Oh Thi-hoa tertawa katanya: "Kau tidak lega hati?" lalu ia berdiri menepuk kantong kambing di punggung onta katanya pula: "Coba lihat, disinilah airnya."

Ki Ping-yan mendadak menghardik dengan bengis: "Siapa yang menyalib kalian disini?" "Dosa apa yang pernah kalian lakukan" Orang yang hampir mati ini menggeleng-geleng kepala sekeras-kerasnya, sahutnya tergagap: "Tidak, tidak... perampok."

"Perampok?" seru Oh Thi-hoa. "Dimana?"

Orang hampir mati ini meronta-ronta angkat sebelah tangannya menunjuk ke satu arah yang jauh sana, lalu sekuatnya pula menjambak rambut sendiri, raut mukanya kembali bergetar dan berkerut-kerut kejang, badanpun gemetar semakin keras.

Berkata Ki Ping-yan dengan bengis: "Menurut apa yang kutahu, disekitar sini tiada jejak kawanan perampok, apa kalian membual ya?"

Kedua orang kembali geleng kepala, agaknya kedua biji mata hampir berlinang air mata.

Berkata Oh Thi-hoa keras: "Mereka sudah dalam keadaan begini mengenaskan, buat apa kau hendak kempes mereka? Memangnya kenapa umpama mereka membual, badan mereka tidak mengenakan selembar benangpun, masakah bisa mencelakai kami?"

Kembali Ki Ping-yan bungkam tidak melayaninya. Soalnya ucapan Oh Thi-hoa memang kenyataan kedua orang ini bukan saja telanjang bulat dengan badan kering dan kusut masai, bertangan kosong lagi tanpa bawa senjata, seumpama mereka tidak terluka, tiada sesuatu tanda- tanda yang menunjukkan gejala yang mencurigakan, mau tak mau Ki Ping-yan merasa lega hati juga.

Kata Oh Thi-hoa berpaling ke arah Coh Liu-hiang: "Kini boleh memberi air lebih banyak sedikit bukan?"

Coh Liu-hiang masih termenung sebentar akhirnya manggut-manggut sahutnya: "Tetapi sedikit saja." sembari bicara ia melangkah ke arah kantong air, tapi belum lenyap suaranya, kedua manusia yang kempas-kempis hampir mampus itu, mendadak selincah kelinci mencelat bangun.

Kedua tangan mereka yang semula meremas-remas rambut di atas kepalanya itu mendadak pula diayunkan secepat kilat, dari jari-jari tangan, mereka berbareng melesat puluhan bintik-bintik hitam luncurannya tak kalah dari sambaran kilat. Jelas sekali itulah senjata rahasia yang mirip disemprot keluar dari sebuah bumbung yang diberi alat rahasia semacam pegas. Jadi senjata rahasia itu bisa mereka sembunyikan di dalam rambutnya yang awut-awutan itu.

Begitu kedua tangan mereka terayun, Coh Liu-hiang, Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yan serempak melejit tinggi seenteng asap segesit burung walet, meski mereka menghadapi sergapan mendadak di luar dugaan, namun reaksi dan gerakan mereka sungguh teramat cepat, jarang ada senjata rahasia yang mampu melukai mereka.

Siapa nyana senjata rahasia itu justru tidak mengarah mereka, yang diincar justru kantong- kantong air itu, maka terdengar "Bles, bles, bles." beruntun puluhan kali, puluhan lobang yang memancurkan air serempak menyembur keluar dari kantong air kulit kambing itu.

Belum lagi semua orang insaf apa yang telah terjadi, kedua orang yang hampir mampus tadi, tiba-tiba melejit bagaikan terbang melarikan diri.

Meledak amarah Oh Thi-hoa, bentaknya murka: "Kunyuk sialan! Lari kemana kau?" dengan gerakan yang hampir lebih cepat dari Coh Liu-hiang, ia mendahului menubruk kearah dua orang itu.

Belum lagi mereka lari sejauh sepuluh tombak, tahu-tahu terasa segulung angin kencang merangsang lehernya, mereka hendak putar badan melawan, tapi belum sempat berpaling, badannya tiba-tiba sudah tersungkur ke depan. Bahwasanya siapa yang turun tangan dan cara bagaimana mereka dirobohkan tidak melihat jelas. Tahu-tahu Oh Thi-hoa sudah duduk seperti mencongklang kuda di atas punggung salah seorang itu, kedua tangan bergerak pergi datang menampar muka orang, dampratnya: "Ku tolong kau, kau malah hendak mencelakai aku?

Kenapa? Kenapa?"

Orang ini tidak menjawab, karena selamanya tak mampu membuka mulut lagi, waktu Oh Thi- hoa merenggutnya dari atas tanah, lehernya teklok lemas seperti batang padi yang putus menjadi dua.

Seorang lagi juga rebah di atas tanah, Coh Liu-hiang tidak bergerak menghajarnya, cuma berdiri di depannya dengan tenang dia awasi orang, sepatah pertanyaanpun tidak ia ajukan. Diwaktu mendengar tulang leher temannya putus, badan orang itu tiba-tiba melingkar seperti trenggiling, mulutnya malah menggembor seperti orang gila.

"Bunuhlah aku! Tidak menjadi soal yang terang kalianpun takkan bisa hidup lebih lama lagi, biar kutunggu kalian diambang pintu neraka, saat itu akan kubuat perhitungan dengan kalian."

Berkedip pun tidak mata Coh Liu-hiang, katanya kalem: "Aku takkan bunuh kau, asal kau bicara terus terang, siapa yang suruh kau kemari?"

Mendadak orang ini terloroh-loroh menggila seperti orang kesetanan, serunya, "Kau ingin tahu siapa yang suruh aku kemari? Memangnya kau masih ingin mencari dia?"

"Memangnya aku hendak mencari dia, masa kau merasa amat menggelikan?"

Meleleh air mata orang ini karena terpingkel-pingkel, katanya dengan napas ngos-ngosan: "Sudah tentu amat menggelikan, siapapun dia bila bukan seorang gila, takkan mau mencari dia, kecuali orang itu sudah bosan hidup."

Oh Thi-hoa sudah memburu kemari, serunya hampir menggembor: "Apakah putra Ca Bok-hap yang suruh kau kemari?"

"Ca Bok hap?" orang itu tertawa besar, Ca Bok-hap itu barang apa, menggosok sepatu beliaupun tidak setimpal."

Berkerut alis Coh Liu-hiang, tanyanya: "Bukan Ca Bok-hap, memangnya siapa?"

"Kau tak usah kuatir, disaat jiwamu menjelang ajal, dengan sendirinya akan bertemu dengan beliau... aku boleh bertaruh dengan kau jiwamu takkan hidup lebih lima hari lagi."

Damprat Oh Thi-hoa gusar: "Biar aku bertaruh dengan kau, jikalau kau tidak mau bicara terus terang, lima jam pun kau tidak akan bisa hidup lagi.

Ternyata orang itu tertawa pula, katanya: "Bahwasanya aku memang tidak ingin hidup lima jam lagi."

Sudah tentu Oh Thi-hoa melengak dibuatnya, tanyanya: "Kau tidak takut mati?"

"Kenapa aku harus takut mati?" jawab orang itu terloroh-loroh. "Bisa mati demi beliau, boleh dikata hatiku teramat girang, lebih senang dari mendapat rejeki nomplok." suara tawanya mendadak menjadi lemah, sebaliknya sorot matanya memancarkan cahaya yang aneh. "Celaka!" seru Coh Liu-hiang kaget. Dalam mulut orang ini mengemut obat beracun untuk bunuh diri."

Benar juga waktu Oh Thi-hoa merenggut badan orang, segera ia dapatkan napas orang sudah berhenti.

Lama sekali bari Oh Thi-hoa melempar badan orang, katanya berputar kepada Coh Liu-hiang: "Pernah kau melihat manusia yang tidak takut mati seperti ini?"

"Belum pernah!" sahut Coh Liu-hiang pendek.

"Aku tahu banyak orang gila ketangkap oleh musuh, mereka bisa bunuh diri dengan menelan obat beracun tapi mereka mencari jalan pendek lantaran terpaksa, sebaliknya orang ini mati dengan riang dan gembira lihat mulutnya mengulum senyum lagi."

Coh Liu-hiang hanya menghela napas tanpa bicara lagi, sekilas otaknya terbayang akan Bu Hoa yang menelan obat beracun pula dihadapannya, teringat akan Bu Hoa, tak tahu lagi ia menghela napas rawan.

Oh Thi-hoa menghela napas juga, ujarnya: "Kurasa otak orang ini rada kurang normal kalau tidak..." mendadak ia memandang Ki Ping-yan, tangan mengelus hidung dan tak melanjutkan kata- katanya lagi.

Selama ini Ki Ping-yang tertunduk mengawasi mayat dihadapannya bahwasanya melirikpun tidak kepadanya. Lama juga Oh-Thi hoa menahan sabar dan menunggu-nunggu, akhirnya mengguman sendiri: "Senjata rahasia mereka tersembunyi di dalam rambutnya, hal ini baru sekarang dapat kupikirkan, tapi kenyataan mereka sudah dijemur sampai kering kerontang sampai badan gosong terbakar bagaimana mungkin bisa punya kekuatan untuk bergerak?"

Roman muka Ki Ping-yan tidak menunjukkan perobahan mimik apa-apa, perlahan-lahan ia berjongkok begitu merah rambut salah satu mayat terus disentak ke atas, tangannya tahu-tahu mencekal sebuah rambut palsu yang dilapisi selembar kulit tipis dan halus, aneh benar seketika terlihatlah seraut muka dengan kulit halus dan putih bersih.

Lama juga mata Oh-Thi hoa melotot, lalu katanya sambil tertawa getir: "Ternyata mereka menggunakan ilmu rias dan rambut palsu segala malah keahliannya tidak lebih asor dari Maling kampiun, dalam padang pasir terdapat seorang berbakat begini, sungguh mimpipun tak terduga." kata-katanya ini dia tujukan kepada Ki Ping-yan, tapi belum habis ia bicara Ki Ping-yan sudah tinggal pergi.

Terpaksa Oh Thi-hoa ikut pergi, tampak puluhan kantong-kantong kambing berisi air ini sama berlobang dan memancurkan air di dalamnya, namun air di dalam kantong itu belum mengalir habis.

Sementara itu Ki Ping-yang dan Siau-phoa bekerja sama menanggalkan semua kantong- kantong air itu, diletakkan di atas pasir, bagian yang berlobang menghadap ke atas, masing- masing masih berisi setengah kantong air.

Oh Thi-hoa girang, katanya: "Kedua orang itu sia-sia saja mengantar jiwa, tujuannya hendak mencelakai kami tidak berhasil, air toh masih banyak untuk bekal perjalanan!"

Ki Ping-yan tidak banyak komentar, satu persatu kantong-kantong yang berlobang itu dia tuang airnya sampai habis.

Tersirap darah On Thi-hoa, jeritnya: "E, apa yang kau lakukan?" Ki Ping-yan tetap tidak bicara.

Lekas Coh Liu-hiang menghampiri, katanya dengan nada berat: "Senjata rahasia itu beracun, racun sudah bercampur dalam air, sudah tentu air ini tak boleh diminu."

Oh Thi-hoa terhuyung-huyung tiga langkah hampir saja ia terjengkang jatuh.

"Aku sudah menemukan bumbung rahasia mereka untuk menyambitkan jarum-jarum berbisa itu," Coh Liu-hiang menerangkan, "Betapa hebat dan sempurna buatannya, ternyata lebih unggul dari Kiu-thian-cap-te. Thian-mo-sin ciam yang menggetarkan Bulim puluhan tahun yang lalu.

Sungguh tak pernah terpikir olehku, tokoh macam apakah yang mampu membuat senjata rahasia seperti ini dalam kalangan Kang-ouw?" dimana jari-jarinya terbuka masing-masing terdapat sebuah bumbung besi warna hitam mengkilap.

Hanya sekilas Ki Ping-yan melihat bumbung besi itu, katanya tawar: "Tunggulah setelah malam tiba baru kita bicara, sekarang perlu kita mengejar waktu melanjutkan perjalanan." tetap ia tidak pernah melirik kepada Oh Thi-hoa.

Akhirnya tak tahan Oh Thi-hoa dibuatnya, serunya sambil berjingkrak: "Memang gara-garaku yang suka usil, suka ikut campur urusan orang lain, mataku buta, kau... kau, kenapa tidak kau maki aku, tidak kau hajar aku? Tidak sudi bicara lagi? Maki dan hajarlah diriku, hatiku tentu jauh lebih enak dan tentram.

Benar juga Ki Ping-yan berpaling kepala pelan-pelan, dengan tenang ia pandang muka orang, katanya kalem: "Kau ingin supaya aku mencacimu?"

"Tidak kau caci aku, kau keparat! Telur busuk!"

Sikap Ki Ping-yan tetap tak berubah, pelan-pelan ia mencemplak naik ke punggung unta, katanya tawar: "Kenapa aku harus caci kau? Menolong orang toh perbuatan bajik, apalagi yang picak matanya toh bukan kau saja, yang tertipu juga bukan kau pula."

Baru sekarang Oh Thi-hoa menjublek dan melongo, lama ia tak buka mulut.

Coh Liu-hiang menghampiri dari belakang, katanya tersenyum sambil menepuk pundaknya "Jagi mampus kiranya tidak sebrutal yang pernah kau bayangkan dulu, ya tidak?"

Malam itu, seperti pula Ciok Tho, Oh Thi-hoa duduk seorang diri di bawah sinar bintang yang kelap-kelip ditengah cakrawala, duduk di atas pasir yang masih panas dan mengeluarkan hawa membara, lambat laun ia duduk di tengah kabut yang dingin dan tak berujung pangkal luasnya.

Hembusan angin tidak lagi membawa bau lombok, merica, berambang dan daging kambing. Karena yang mereka miliki sekarang tidak lebih hanya sebuah kantong air kecil yang selalu tidak pernah berkisar dari badan Ki Ping-yan itu. Tiada air, tentu tiada masakan hangat, tiada hidangan, tak sempat makan minum bersuka-ria, tiada jiwa kehidupan.

Tidak jauh di sana Ciok-Tho duduk seorang diri pula, sejak mengalami peristiwa ini meskipun dia tak melihat, tak mendengar sendiri, namun tindak tanduk dan sikapnya jelas mulai berubah. Badannya yang tegap laksana tonggak itu, seolah-olah berubah mulai loyo dan patah semangat, raut mukanya yang seperti terukir dari batu-batu kramik itu, kinipun mulai menampilkan rasa ketakutan dan mulai tidak tentram. Tapi Oh Thi-hoa belum sempat memperhatikan perubahannya ini. Oh Thi-hoa sedang repot menyalahkan diri sendiri, marah kepada diri sendiri.

Di dalam kemah terpasang sebuah pelita, sinar pelita guram seperti cahaya bintang di langit, di bawah penerangan sinar pelita, yang memang remang-remang lembut ini, persoalan yang sedang dirundingkan dan dibicarakan oleh Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan justru membawa suasana yang kurang tentram dan tak membawa kelembutan.

Bumbung jarum yang hitam mengkilap itu di bawah pancaran sinar pelita yang guram ini kelihatan lebih seram jahat dan dingin.

Kata Coh Liu-hiang sambil mengawasi bumbung jarum ini: "Sungguh salah satu senjata rahasia yang paling menakutkan diantara sekian banyak senjata rahasia yang pernah kuhadapi selama hidup ini. Kupikir dalam dunia ini hanya tiga orang yang mampu membuat alat senjata rahasia seperti ini."

"Siapa saja ketiga orang itu?" tanya Ki Ping-yan.

"Orang pertama adalah Ciang-bun-jin keluarga Tong di Siok-tiong. Kedua adalah Cu losiansing dari Kou-ki-theng di Kanglam, tapi jelas kedua orang ini sudah pasti takkan datang kepadang pasir ini."

"Benar... masih satu lagi?"

Coh Liu-hiang tersenyum dulu, katanya: "Seorang lagi adalah aku sendiri, sudah tentu alat senjata rahasia ini juga bukan ciptaanku."

Tak terunjuk rasa geli dalam sorot mata Ki Ping-yan, katanya tandas: "Walau kau hanya tahu tiga orang saja, tapi aku berpendapat tentu masih ada orang ke empat, cuma siapa orang ini, kau dan aku masih belum tahu."

Sesaat Coh Liu-hiang menepekur, katanya kemudian menarik napas, "Dapat membuat alat rahasia semacam ini sih tidak perlu ditakuti, yang ditakuti justru dia dapat membuat semua anak buahnya begitu setia dan rela mati demi kepentingannya."

"Kau kira si 'dia' pasti bukan lawanmu Hek-tin-cu itu?"

"Terang bukan Hek-tin-cu tidak sedemikian kuat, diapun tak sedemikian kejam dan buas." "Menurut hematmu, orang macam apakah si dia itu?"

"Kukira dia seorang sahabat dari kalangan hitam di Tionggoan yang teramat lihay dan sudah menanam akar di sini, atau mungkin pula seorang gembong perampok di padang pasir, tujuannya bukan melulu terhadap Maling kampiun saja, juga belum mengincar Ki Ping-yan tidak lebih dia hanya pandang kami sebagai pelindung kambing gemuk yang sedang dia incar, dari kita mereka pingin memperoleh harta dan uang."

"Ya!" Ki Ping-yan setuju akan pendapat ini.

"Dia sudah perhitungkan kita pasti akan lewat dari sini, maka sebelumnya sudah mengatur perangkap hendak menjebak kita, atau mungkin mereka memang hendak mengincar jiwa kami, tapi waktu kedua orang itu melihat bahwa kita bukan seperti kaum pedagang umumnya, kuatir sekali kerja tak berhasil terpaksa mereka melihat gelagat merubah haluan bukan kita yang diincar senjata rahasia mereka berobah sasaran mengarah kantong-kantong air kita." setelah tertawa getir, ia melanjutkan: "Dia hendak tunggu setelah kita kehabisan air dan dahaga setengah mati, baru akan turun tangan, waktu itu tenaga untuk melawan saja tiada, bukankah tinggal pasrah nasib membiarkan mereka menggorok leher kita?"

Ki Ping-yan menyambung dengan prihatin: "Mungkin dia tidak ingin segera menghabisi jiwa kami, bahwasanya dia ingin supaya kami menderita pelan-pelan kehabisan tenaga meregang jiwa."

Berkerut alis Coh Liu-hiang, tanyanya: "Kenapa berpikir demikian kau...?"

Tiba-tiba ia hentikan mulutnya, karena tiba-tiba ia mendapati sorot mata Ki Ping-yan yang dingin membeku keras itu, kini seperti mengandung perasaan takut dan tidak tentram. Ini benar- benar belum pernah dialami oleh Ki Ping-yan selama ini, sesuatu yang membuat orang seperti Ki Ping-yan takut dan kurang tentram, tentulah urusan amat gawat dan menggetarkan sukma.

Segera Coh Liu-hiang juga merasa kurang tentram, tanyanya coba-coba memancing: "Apa kau sudah dapat menerka siapa si 'dia' itu sebenarnya?"

Agaknya Ki Ping-yan ingin mengatakan apa-apa, sekilas matanya melirik keluar kemah dimana Ciok Tho sedang duduk diam, kata-kata yang sudah tiba di ujung mulut ketika ia telan kembali, mendadak ia unjuk tawa dan berkata: "Perduli siapa orang itu, jikalau ia hendak membuat kami mati karena dahaga, tindakannya itu terang keliru."

Coh Liu-hiang tidak bertanya lebih lanjut, katanya tertawa: "Ada kau disini, selamanya aku tidak perlu takut bakal mati dahaga disampingmu."

Ki Ping-yan tertawa, ujarnya: "Aku tahu kira-kira seratus li jauhnya, ada sebuah sumber air yang amat tersembunyi, besok sebelum matahari terbenam, kita pasti sudah bisa tiba ditempat itu, tadi tidak kukatakan, karena aku ingin supaya Oh Thi-hoa kebingungan dan gugup setengah mati, lalu dengan tersenyum senang ia rebahkan diri, sebentar saja seperti sudah lelap dalam tidurnya.

Sebaliknya dengan diam-diam Coh Liu-hiang menyelinap keluar dari kemah, duduk di pinggir Oh Thi-hoa bukan ingin bicara dengan Oh Thi hoa, cuma ingin duduk rada dekat sekaligus untuk mengawasi dan menyelidiki tindak tanduk Ciok Tho, orang serba misterius ini. Lapat-lapat ia sudah merasakan di dalam dada Ciok Tho yang sekeras batu cadas itu tersembunyi suatu rahasia, rahasia yang menakutkan sepuluh kali lipat lebih seram dari jarum beracun yang seketika menamatkan jiwa manusia.

Hari kedua, Ki Ping-yan membagi rata sisa air yang ada menjadi lima bagian, katanya tawar: "Inilah sisa air yang terakhir, kita boleh sekarang meminumnya sampai habis, juga boleh disimpan untuk diminum perlahan-lahan. Yang terang sisa air ini paling lama hanya bisa bertahan selama dua tiga hari."

Mengawasi kantong yang kosong itu, berkata Oh Thi hoa: "Itulah air tinggalanmu sendiri, aku tak mau minum. Putar badan lekas ia hendak tinggal pergi.

Coh Liu-hiang menariknya, katanya tertawa: "Jangan kau main purian dengan Ping-yan, kau bisa tertipu bila marah-marah kepadanya."

Tiba-tiba Oh Thi hoa pun tertawa lebar, ujarnya: "Hal apa yang kubuat marah sama dia, kemarin malam, aku sudah dengar nanti sore dia sudah akan bisa mendapatkan air, cuma aku sendiripun masih punya sepoci arak, kenapa aku harus minum airnya yang hitam berlumpur itu?"

Tak terasa Ki Ping-yan ikut tertawa, mengawasi ketiga sahabat karib yang sama terpingkal- pingkal sambil bergandengan lengan ini, seketika bangkit semangat Siau-phoa, lenyap rasa takutnya. Ikut bersama tiga orang-orang gagah seperti mereka ini, apa pula yang perlu ditakuti? Cuma raut muka Ciok Tho yang semakin lama semakin guram, kaku, orang satu yang punya mata ini, seolah-olah sudah melihat malapetaka yang tak terlihat oleh orang lain bakal menimpa mereka.

Ki Ping-yan hanya mengulap sebelah tangannya, Ciok Tho segera menghentikan barisan ini, unta-unta sama mendekam rebah, lekas Oh Thi hoa lompat turun dari punggung unta, langsung lari mencari Ki Ping yan, tanyanya: "Kau yang menyuruh Ciok Tho menghentikan barisan, benar tidak?"

"Memangnya kenapa?" balas tanya Ki Ping yan.

Oh Thi hoa heran, tanyanya: "Asal kau mengulap tangan, dia lantas tahu akan maksudmu?" "Ya, begitulah!" Ki ping-yan mengiakan.

Semakin keras suara Oh Thi-hoa: "Tapi kau katakan dia seorang bisu, tuli dan buta, darimana dia bisa melihat tanda ulapan tanganmu?"

Ki Ping-yan tertawa tawar, katanya, "sudah tentu aku punya caraku sendiri sehingga dia bisa menangkap maksudku."

"Kau punya setan apa? Kenapa tidak mau kau jelaskan?" "Apa benar kau sendiri tidak mengetahui?"

"Hanya sundel bolong saja yang bisa melihatnya."

Ki Ping-yan berputar kearah Coh Liu-hiang, tanyanya: "Bagaimana kau?" berkata Coh Liu- hiang pelan-pelan: "Kau gunakan sebuah krikil untuk menyampaikan perintahmu, jikalau kau ingin barisan berhenti, maka kau timpuk pundak kiri Ciok Tho, jikalau ingin barisan berangkat, kau timpuk pundak kanannya." lalu sambil tersenyum ia berpaling kearah Oh Thi hoa, katanya: "Cara ini kukira bukan hanya sundel bolong saja yang bisa melihatnya, benar tidak?"

Oh Thi hoa angkat kedua tangannya datar ke depan, katanya tertawa kecut: "Kau bukan sundel bolong, baru sekarang aku menyadari bahwa diriku ternyata tidak lebih pandai dari sundel bolong itu."

Tempat itu merupakan salah satu bagian dari padang rumput yang ditaburi pasir-pasir kuning juga, tiada bedanya dengan tempat-tempat lain ditengah gurun pasir ini, cuma ada sesuatu yang menyolok mata, adalah ditempat itu terdapat sepucuk pohon. Pohon yang tumbuh di pinggir sebuah batu cadas yang sudah mengering juga, pohon itupun sudah layu dan kering.

Setengah harian Oh Thi hoa celingukan kian kemari, tanyanya tak tahan: "Di sini ada air?" "Em!" sahut Ki Ping-yan manggut-manggut.

Kata Oh Thi hoa sambil mengelus batok kepalanya: "Dimana airnya, kenapa tidak kulihat? Apakah otakku ini sudah tak mampu untuk bekerja, matakupun sudah lamur?" lalu ia pegang lengan Coh Liu-hiang, tanyanya: "Bicaralah terus terang kau sudah melihatnya belum?"

Coh Liu-hiang ragu-ragu, katanya: "Konon didalam gurun pasir terdapat sumber air yang tersembunyi, di dasar pasir yang cukup dalam."

"Tidak salah kau..." Ki Ping-yan urung bicara. Matanya memandang Oh Thi-hoa ingin bicara, apa yang dia hendak ucapkan tentunya bukan omongan yang enak didengar kuping, tapi belum lagi kata-katanya selesai, Oh Thi-hoa sudah angkat kedua tangannya pula, tukasnya: "Tak usah kau katakan bicaraku akui aku tidak tahu apa-apa?" lalu ia mengelus batok kepalanya pula, sambungnya: "Bukan semula aku cukup pintar? kenapa begitu bergaul sama kalian, aku lantas jadi pikun, memangnya aku ketularan penyakit linglung orang lain?"

Tak tertahan Siau-phoa tertawa geli, timbrungnya: "Jikalau benar-benar Oh-ya ketularan penyakit linglung, tentulah aku yang menulari kau."

Ki Ping-yan menarik muka, jengeknya: "Mana mungkin kau menulari dia, dia malah jauh lebih goblok dari kau." belum habis ucapannya tak tertahan diapun tertawa keras.