Pendekar Pengejar Nyawa Jilid 12

 
Jilid 12

Setiap gerak-gerik tangannya sedemikian hati-hati, waspada dan tepat, memang dia sedang pinjam gerakan yang lambat dan mantap ini untuk menekan dan mencuci bersih pikiran batinnya yang sedang kalut dan risau.

Lalu dengan kedua tapak tangannya, ia bimbing secangkir air teh yang masih panas mengepul itu diangsurkan ke hadapan Thian-hong Taysu dengan laku hormat, katanya dengan suara berat, "Terima kasih Taysu!"

Dengan kedua tangannya pula Thian-hong Taysu menerima cangkir teh itu, katanya kalem, "Peristiwa dulu serta urusan yang ingin kau ketahui, kini sudah tahu belum?"

Coh Liu-hiang mengiakan sambil manggut-manggut. Thian-hong Taysu tertawa tawar, ujarnya, "Bagus sekali, apa yang dapat Lo-ceng uraikan ya hanya sebegitu saja!"

Ternyata dia tidak tanya kepada Coh Liu-hiang untuk apa dia ingin tahu peristiwa masa lalu yang terpendam ini, mulailah dia menghirup air teh itu dengan laku yang penuh perhatian dan nikmat sekali. Sekilas ini, raut mukanya yang semula kelihatan serius dan angker, seketika mengendur dan luluh. Nampak sorot matanya yang mengandung kepedihan itu tampak semakin tebal, maka mulailah dia pejamkan kelopak matanya pelan-pelan, gumamnya, "Secangkir air teh ini, memang jauh lebih nikmat dan baik kwalitetnya dari air teh yang terdahulu tadi."

Lama Coh Liu-hiang mengawasi raut mukanya serta gerak-geriknya dengan segala perhatiannya, sungguh tak teraba olehnya bahwasanya padri tua yang punya kedudukan luar biasa ini, berapa banyak mengetahui seluk beluk persoalan yang dia hadapi, tak tertahan ia bertanya, "Apa tiada sesuatu yang Taysu hendak tanyakan kepada Cayhe?"

Sesaat Thian-hong taysu diam saja, katanya tawar, "Apakah Jin-lopangcu sudah wafat?" matanya tidak terbuka seolah-olah pertanyaan ini ia ajukan sambil lalu saja.

Sebaliknya Coh Liu-hiang menghela nafas panjang, cepat ia mengiakan. Kembali ia suguhkan secangkir air teh yang sama, katanya, "Apa yang ingin Taysu ketahui, sekarang tentunya sudah jelas seluruhnya."

Thian-hong Taysu hanya manggut manggut tanpa bersuara lagi.

Perlahan-lahan Coh Liu-hiang bangkit berdiri, katanya "Entah bisakah Taysu memberi ijin supaya Wanpwe berbicara beberapa patah kata dengan Bu Hoa Suheng?"

Sahut Thian-hong Taysu pelan-pelan, "Persoalan yang perlu dibicarakan, memang perlu dikatakan. Pergilah kalian!"

Baru sekarang Bu Hoa bangkit berdiri, sikap dan tindak tanduknya kelihatan masih sedemikian adem ayem dan seperti tidak terjadi apa-apa, dengan hormat ia menjura kepada Thian hong Taysu, tanpa bersuara diam-diam ia mengundurkan diri. Sepatah katapun ia tak bersuara.

Waktu badannya sudah hampir mundur keluar dari kerai bambu, Thian-hong Taysu mendadak pentang mata memandangnya sekilas arti yang terkandung dalam sorot matanya kelihatannya amat ruwet dan terbedakan. Tapi sepatah kata diapun tak bicara lagi.

Malam sudah larut.

Jalan di belakang gunung sini amat sempit dan memanjang berliku-liku, di bawah penerangan sinar bintang-bintang kecil, membayang-bayangi dedaunan pohon di kedua pinggir jalan, seluruh alam semesta seolah-olah sudah tenggelam di dalam suasana kepedihan nan dingin dan kabut yang tebal.

Coh Liu-hiang sedang beranjak adu pundak dengan Bu Hoa di jalanan sempit dan berliku-liku itu, sampai detik ini merekapun tiada yang bersuara lebih dulu. Begitu sunyi senyap laksana dalam neraka pegunungan yang gelap gulita ini.

Akhirnya Bu Hoa unjuk senyuman, katanya, "Meskipun kau tidak langsung membongkar kedokku, tapi aku tidak menaruh hormat padamu, itulah karena dia kuatir Thian-hong Taysu bersedih hati saja, benar tidak?"

Coh Liu-hiang tertawa getir, katanya, "Menurut pendapatmu kecuali itu, tiada sebab lainnya?

Umpama persahabatan kami berdua!" "Persahabatan kami, sampai sekarang yang masih ketinggalan tidak lebih besar dari kerikil yang menyusup masuk ke dalam mata belaka."

"Benar," ujar Coh Liu-hiang. "Kalau mata kelilipan kerikil, air mata pasti bercucuran." "Tiada halangannya sekarang kau beritahu kepadaku," pinta Bu Hoa. "Sebetulnya berapa

banyak persoalan yang sudah kau ketahui?"

Pelan-pelan Coh Liu-hiang menjawab, "Sudah banyak persoalan yang kuketahui, namun masih banyak pula yang belum kuketahui."

"Apa saja yang sudah kau ketahui?" tanya Bu Hoa tersenyum. "Apa-apa pula yang masih belum kau ketahui dan pahami?"

"Aku sudah tahu kau adalah putra sulung Thian hong-cap-si-long itu, saudara sepupu atau engkoh Lamkiong Ling, tapi darimana pula kau bisa tahu bahwa Lamkiong Ling adalah adik sepupumu? Terang Thian-hong Taysu tak kan pernah memberitahukan kepadamu."

"Sebab ini sebetulnya kau bisa merabanya," sahut Bu Hoa. "Waktu ayahku almarhum meninggal, aku sudah berumur tujuh tahun, memang ada kalanya aku tidak tahu urusan, tapi sedikit banyak mungkin sudah bisa dia membedakan sesuatu urusan yang cukup banyak pula, dan yang penting, selamanya dia takkan melupakan kejadian-kejadian yang dia ketahui itu."

"Apa yang kau ketahui mungkin terlalu banyak," kata Coh Liu-hiang. "Tentunya kaupun sudah tahu, Thian-it-sin-cui, akulah yang mencurinya."

"Tidak salah," sahut Coh Liu-hiang menyengir kecut. "Walau Sin-cui-kiong melarang semua laki-laki keluar masuk, tapi seorang beribadah yang alim dan beriman tinggi tentulah di luar batas larangan itu, di dalam pandangan manusia umumnya, biasanya mereka pandang orang-orang beribadah atau Hwesio bukan sebagai laki-laki sejati. Bahwasanya diantara seluk beluk persoalan ini, bukan mustahil bakal terjadi suatu kelemahan dalam penyakit pandangan atau penilaian, sayang sekali dan kasihan nona romantis yang masih hijau itu, akhirnya dia harus gugur dan berkorban demi kau..."

Bu Hoa tetap tersenyum, katanya, "Seorang perempuan yang belum pernah sentuh badan dengan laki-laki, selalu takkan kuat dipelet atau dibujuk rayu, kalau toh dia sendiri merasa rela dan tentram dalam menghadapi kematiannya, kenapa pula kau harus merasa sayang bagi dirinya."

Coh Liu-hiang menatapnya nanar, sekian lama katanya, "Kau ini memang orang yang aneh, betapapun perbuatan kotor rendah, serta kata hina dan jahat, bila keluar dari perkataan mulutmu, kau bisa menyetirnya sedemikian halus dan lembut, menggunakan nada yang paling merdu dan mengasyikkan."

Tak berobah sikap dan mimik Bu Hoa, katanya tertawa pula, "Kau sendiri kan juga tahu aku menghabiskan jerih payah dari cucuran darah dan keringatku mencuri Thian-it-sin-cui, apa maksud tujuanmu?"

"Karena Jin lo-pangcu dan Thian-hong Taysu tidak akan gampang bisa dibunuh oleh sembarang orang, apalagi kau menghendaki kematian mereka tidak menunjukkan sesuatu bekas yang mungkin bisa menimbulkan rasa curiga orang-orang lain, atas perbuatan dirimu."

"Uraianmu amat tepat sekali," puji Bu Hoa. "Orang yang menyamar menjadi Thian-hong cap-si-long di jembatan balok kayu itu, tentunya kau adanya, demikian pula yang membunuh Thian jiang sing Song Kang dan Thian eng-cu dari Lam hay pay, orang yang menghilang ke Toa-bing-ouw menggunakan ilmu Jinsutnya itu, tentulah kau pula adanya," demikian Coh Liu-hiang membuka tabir rahasia yang mencurigakan hatinya selama ini.

"Benar," Bu Hoa pun mengakui terus terang.

Coh Liu-hiang menghela nafas, katanya, "Hari itu juga aku melihatmu di Toa-bing-ouw, seharusnya aku sudah bercuriga atas dirimu, cuma sayang seumpama waktu itu aku menaruh curiga terhadap setiap manusia yang berada dalam dunia ini, sekali-kali takkan menaruh curiga terhadap Bu Hoa yang tidak sudi mendengar petikan harpa yang mengandung nada membunuh!"

"Kau tidak usah rawan hati," sela Bu Hoa, "Sekali tempo setiap orang pasti pernah melakukan kelalaian."

"Di dalam U-i-am murid Siok-sim Taysu yang pikun itu," ujar Coh Liu-hiang tertawa getir, "Sebelum ajal sebetulnya dia sudah membongkar rahasia dirimu, sayang dia hanya sempat mengatakan 'Bu' saja lantas putus nafas. Lebih disayangkan pula asosiasi atau kesimpulanku tidak tertuju kepada namamu, sungguh tidak pernah terpikir olehku, 'Bu' yang dimaksudkan adalah petikan dari pelengkap Bu Hoa."

"Aku sendiripun tidak menyangka sebelum ajal ternyata kesadarannya pulih kembali, kalau tidak waktu aku membunuh Siok-sim Taysu tentu membereskan dia sekalian?"

"Tapi kenapa kau bunuh Siok-sim Taysu pula?"

"Setiap orang yang ada sedikit sangkut pautnya dengan peristiwa ini, tidak bisa aku membiarkannya hidup lebih lama lagi," sahut Bu Hoa tandas. "Kau tahu, tetapi tindakan dan perbuatanku selamanya amat teliti dan cermat, selamanya aku tidak mau main spekulasi atau menyerempet bahaya."

"Oleh karena itu, kaupun ingin membunuhku?" tanya Coh Liu-hiang.

Bu Hoa menghela nafas, ujarnya, "Sesungguhnya aku mengharap kau tidak terlibat dalam peristiwa ini, siang-siang sudah kukatakan kepada Lamkiong Ling, bila dalam dunia ini ada orang yang bisa membongkar rahasia kita, orang itu tentulah Coh Liu-hiang."

"Di Toa-bing-ouw, dalam U-i-am, di atas balok batu jembatan itu," kata Coh Liu-hiang menghela nafas, "Beberapa kali kau sudah turun tangan, kau hendak membunuhku hal ini tidak perlu kubuat heran. Tapi kenapa pula kau hendak membunuh Yong-ji?"

"Sebelumnya aku sudah menduga kau tentu akan mengutus dia pergi ke Sin-cui-kiong menyelidiki peristiwa tercurinya Thian-sin-cui dan sebab musabab kematian gadis pingitan itu, maka cepat sekali aku sudah berkesimpulan bahwa orang yang kau janjikan untuk bertemu di Toa- bing-ouw sore hari itu tentulah dirinya. Tentunya kau pun mengerti, aku ini kan bukan orang bodoh."

"Seseorang kalau terlalu pintar, seharusnya bukan sesuatu yang patut dibuat girang atau menguntungkan bagi diri sendiri."

"Memangnya kau ini seorang bodoh?" tanya Bu Hoa tersenyum.

Coh Liu-hiang tersenyum, katanya, "Baru sekarang aku tahu, bahwasanya aku tidak sepintar yang pernah kubayangkan sendiri, kalau tidak lama seharusnya aku sudah berhasil dengan usahaku, bila keadaan mendadak dan memang diperlukan, kau pasti akan membunuh Lamkiong Ling sekalian untuk menutup mulutnya."

Bu Hoa pun menghela nafas, ujarnya, "Betapa aku ini sepintar apa yang pernah kubayangkan sendiri, kusangka bila Lamkiong Ling mati, segala sumber penyelidikanmu akan terputus seluruhnya. Persoalan tidak akan merembet ke atas diriku, kalau tidak masakah aku tega membunuh adik kandungku sendiri?"

"Titik tolak dari kunci persoalan ini yang terpenting adalah lantaran dia mengatakan sebelum ajalnya bahwa kalian adalah saudara sepupu, jikalau tidak karena bahan rahasia ini, akupun takkan bisa mencarimu kemari."

Lama Bu Hoa membungkam, kabut di samping gunung semakin tebal. Hembusan angin pegunungan sudah membawa pertanda bakal menjelangnya musim dingin. Hawa mulai dingin sehingga sekujur badan terasa hampir membeku.

"Sampai sekarang yang belum bisa aku pahami betul adalah segala perbuatanmu ini, sebetulnya hendak menuntut balas? Ataukah untuk merebut kekuasaan? Sebetulnya semua ini maksud dari nuranimu sendiri? Ataukah pesan peninggalan ayahmu sebelum beliau wafat?" Secara blak-blakan Coh Liu-hiang ajukan ganjalan hatinya.

Terangkat alis Bu Hoa, sahutnya, "Darimana kau bisa berpikir bahwa ayahku almarhum ada meninggalkan pesan warisannya?"

"Bahwa kau ikut dibawa ke Tionggoan, sudah tentu Jinsut dan ilmu pedang yang kau pelajari hasil didikan dari pihak ayahmu. Tapi waktu beliau wafat, usiamu masih kecil sekali-kali tidak mungkin membekal kepandaian tingkat tinggi yang sedemikian hebat, untuk ini dengan mudah dapat dimengerti bahwa pasti dia meninggalkan buku pelajaran ilmu silat tunggalnya kepada kau, secara rahasia kau menyembunyikannya pula, sampaipun Thian-hong Taysu tidak tahu dan kena kau kelabui."

"Ya, tepat terkaanmu," sahut Bu Hoa mengakui terus terang.

"Oleh karena itu segera aku teringat tanpa pamrih tidak mungkin dia mengorbankan jiwa raganya secara sia-sia, tujuannya supaya kalian masuk ke dalam perguruan Siau-lim dan Kaypang, bukan mustahil setelah kalian sama tumbuh dewasa, beruntun bisa mewarisi jabatan aliran ilmu silat dari golongan terbesar dan pimpinan sindikat terbesar pula, selangkah lebih lanjut yaitu menjagoi atau merajai seluruh dunia persilatan. Mungkin ini hanya cita-cita impiannya yang ingin dia capai, tapi sayang dia sudah mati sebelum cita-citanya terlaksana, maka kalianlah yang mewarisi tugas untuk mencapai cita-citanya ini, kalau tidak masakah dengan rela dia terima binasa demikian saja."

Kembali Bu Hoa membungkam lama, akhirnya tersenyum simpul. Katanya, "Tahukah kau kenapa selama ini aku menyukai kau? Karena kau punya otak, sering aku berkata, setiap orang yang kenal kau dari dekat, perduli dia kawan atau lawan, sama saja merupakan suatu keberuntungan dan patut dibuat girang."

"Kalau demikian, jadi analisaku tepat semuanya?"

"Mungkin analisamu benar, mungkin pula salah, kelak perlahan-lahan kau akan tahu sendiri..." Mendadak Bu Hoa menghentikan langkah, pelan-pelan dia putar badan menghadapi Coh Liu- hiang, katanya, "Apapun yang telah terjadi, kau sudah membongkar kedok rahasiaku, membongkar segala perbuatanku, apa pula yang kau kehendaki?" Dengan nanar Coh Liu-hiang menatapnya dan lama kemudian baru dia menghela nafas, katanya, "Kau tahu aku selamanya tidak suka membunuh orang, apalagi membunuh kau!"

Bu Hoa tertawa, katanya kalem, "Tapi kau pun harus tahu, sekarang kau tidak bunuh aku, sebaliknya akulah yang akan membunuhmu."

"Benar, asal kau dapat membunuh aku, maka kau bisa bebas dan bersimaharaja di dunia ini secara lalim, karena orang yang tahu seluk-beluk rahasiamu dalam dunia ini hanya aku satu- satunya!"

Bu Hoa berkata pelan-pelan, "Jadi sekarang kau sedang menunggu aku turun tangan?" "Meskipun aku tidak menghendaki, agaknya tiada jalan pilihan lainnya lagi."

Keduanya tidak banyak bicara lagi.

Mereka sama tahu perkataan yang perlu mereka bicarakan sudah habis.

Angin di atas gunung semakin keras dan menderu-deru, hujan bayu segera akan meliputi alam semesta ini, pakaian dan rambut mereka sama terhembus melambai-lambai tapi sikap keduanya masih tegak di tempatnya dengan tenang dan wajar, namun sorot mata keduanya sudah mencorong terang mengandung hawa membunuh.

Sekonyong-konyong terdengar ledakan keras disertai kilat menyambar, dibarengi dengan geledek mengguntur, air hujanpun seperti dituang dari tengah angkasa. Berbareng dengan guntur menggelegar dan kilat menyambar ini kedua kepalan Bu Hoa langsung menjojoh dengan dahsyat.

Itulah pukulan sakti yang kenamaan dan menggetarkan dunia persilatan dari Siau Lim pay, pertama kali dalam penyerangan dia gunakan ilmu pukulan dari pelajaran perguruannya. Pukulan yang dahsyat keras dan kokoh kuat ini, diiringi dengan sambaran kilat dan geledek mengguntur, sungguh hebat pukulannya ini laksana menggetarkan bumi mengejutkan langit layaknya! Jikalau tidak menghadapinya secara langsung, mungkin siapapun takkan percaya bahwa Bu Hoa yang biasanya alim dan lemah lembut itu, ternyata bisa melontarkan jurus pukulan yang begitu dahsyat.

Sebat sekali badan Coh Liu-hiang berputar, tampak tangannya tegak miring menabas ke urat nadi Bu Hoa, serangan balasannya ini kelihatan biasa dan enteng sekali dibanding dengan kepalan Bu Hoa itu boleh dikata jauh ketinggalan dan bukan apa-apa.

Tapi serangan tapak tangan yang biasa dan tiada sesuatu yang menakjubkan ini, justru telak sekali mematahkan gaya pukulan Bu Hoa yang lihay itu.

Cepat sekali Bu Hoa kembangkan kelincahan badannya, belum lagi suara guntur yang bergema di tengah angkasa sirap, beruntun dia sudah lontarkan empat jurus pukulan Kiang hiong hu hou 'menundukkan naga mengalahkan harimau' setiap serangan dahsyat ini merupakan inti sari pukulan sakti dari Siau-lim-pay yang teramat ampuh.

Namun dengan gampang Coh Liu-hiang dapat mematahkan semua rangsekan hebat ini, malah disamping mematahkan dia masih sempat balas menyerang jauh berkelebihan tenaga serangan balasannya.

Setelah delapan belas jurus pukulannya dilontarkan, sedikitpun Bu Hoa tidak berhasil menempatkan posisinya di tempat yang menguntungkan, kepalan kanan mendadak ia tarik mundur, waktu ia sodokan keluar pula, tiba-tiba terdengar "Ser," dari pukulan tahu-tahu ia rubah menjadi tutukan jari.

Selentikan jarinya ini, merupakan pemusatan tenaga dalamnya yang dilandasi kekuatan Tam- ci sin-theng (selentikan jari sakti), segulung angin kencang yang menderu pesat sekali meluncur ke arah Ki-bun dan Ciang tai dua hiat to yang terletak di bawah bahu kanan.

Tak usah kena tertutuk telak kena jari lawan, cukup tersapu oleh samberan anginnya saja, setengah badan Coh Liu-hiang seketika akan linu kemeng tak mampu bergerak, maka dalam kilasan lain, jiwanya pasti akan melayang di bawah tepukan tapak tangan Bu Hoa yang menyusul datang pula.

Tapi badan Coh Liu-hiang tiba-tiba doyong ke samping, gerakan miring yang lincah dan seenaknya saja, desiran angin tutukan jari yang kuat itu, hanya menyapu lewat dari pinggir pakaiannya saja. Sebaliknya tapak tangan kirinya tahu-tahu sudah menyelonong tiba di bawah ketiak Bu Hoa.

Maka rangsekan Bu Hoa yang dahsyat ini terpaksa terhalang oleh gerakannya sendiri untuk bertahan membela diri, dari menyerang berubah membela diri, tangan kanan tersurut balik, sementara tangan kiri yang dia tepukan ke depan sudah berubah menjadi serangan tapak tangan pula, pinggir tapak tangannya mengiris miring mengarah Ki-ti-hiat di badan Coh Liu-hiang.

Lekas Coh Liu-hiang melintangkan kaki ke kiri, badan ikut berputar, sementara sikut kirinya ikut bergerak menyodok dengan keras.

Terpaksa Bu Hoa harus batalkan serangannya dan merubah permainan pula. Seketika terlihat bayangan tapak tangan bergulung-gulung menari turun naik, laksana menari-nari di tengah angin badai. Itulah Hong-ping-ciang kepandaian terdahsyat dari aliran Gwakeh Siau-lim-pay.

Sesuai dengan namanya, ilmu pukulan ini tidak melulu mengutamakan kekuatan Lwekang namun mengutamakan kelincahan dan kecepatan menempuh kemenangan, gaya permainannya seperti capung terbang melawan angin, seperti kupu menari berebutan madu. Gerak-geriknya lincah disertai variasi perubahan yang menakjubkan sperti main sulapan saja. Serangan gertakan yang kosong jauh lebih banyak dari pukulan telak yang sesungguhnya.

Tapi setiap kali ia lontarkan pukulan telak yang sesungguhnya, seketika pula terbendung tak berkutik oleh tipu permainan Coh Liu-hiang.

Di dalam waktu yang begitu singkat, beruntun Bu Hoat sudah ganti berbagai mainan dari Siau- lim-sin-kun 'pukulan sakti Siau-lim-pay', Tam-ci-sin-thong, Hong-ping-ciang, tiga macam ilmu dahsyat yang dibanggakan dari Siau lim si. Ketiga macam ilmu silat ini masing-masing mencakup perubahan dari dasar kekerasan yang dahsyat, kelincahan nan meruncing tajam, serta variasi perubahan yang rumit dan susah diselami. Jalan permainannya satu sama lain jauh berbeda, namun masing-masing merupakan ilmu silat sejati yang teramat ampuh kenamaan dan menggetarkan dunia persilatan.

Sebaliknya jurus permainan yang digunakan Coh Liu-hiang sebaliknya merupakan ilmu silat paling umum biasa dan paling dikenal di kalangan Kangouw, entah berapa banyak mungkin laksaan kaum persilatan di Kangouw yang mampu memainkan jurus-jurus tipu silat seperti itu.

Tapi sama-sama jurus tipu yang rendahan dan umum ini, dalam permainan Coh Liu hiang justru jauh sekali perbedaannya. Setiap gerak yang dia permainkan, telak dan persis tanpa tergeser seper-sepuluh mili umpamanya. Setiap gerakan yang dia lancarkan boleh dikata tiga kali lipat lebih cepat dari tokoh-tokoh silat terlihay manapun. Kalau dinilai secara tunggal gerak permainannya itu mungkin terlalu tawar dan tiada sesuatu yang menakjubkan, tapi kalau dimainkan di saat kedua orang bergebrak, setiap jurus tipu permainannya justru dia kembangkan secara luar biasa dengan perbawa yang teramat ampuh pula.

Ada kalanya hampir tak terpikir dalam benak Bu Hoa bahwa jurus tipu permainan ilmu silatnya yang begitu lihay dan aneh ini, bagaimana mungkin bisa dipunahkan sedemikian gampang oleh Coh Liu-hiang menggunakan jurus tipu yang paling sepele dan umum? Bukan saja dipunahkan, malah dirinya balas diserang lagi.

Kembali kilat menyambar, halilintar memekakkan telinga, hujan semakin deras.

Hujan bayu membuat alam semesta seakan hampir kiamat, di atas gunung belukar ini gelap gulita laksana di tanah pekuburan.

Bahwasanya mereka sudah tidak melihat bayangan bentuk badan lawan, mengandalkan ketajaman telinga mendengarkan deru angin pukulan lawan, menghadapi serta mengatasinya. Tapi hujan bayu sedemikian derasnya, lama-kelamaan deru angin pukulan merekapun kelelap tak terdengar pula.

"Dar!" guntur menggelegar disertai kilat menyambar pula. Secepat kilat itu pula Coh Liu-hiang letakkan kakinya berkelit, sementara Bu Hoa melejit melambung ke tengah udara. Puluhan bintik sinar kelap-kelip seperti sinar bintang yang dingin sederas hujan bayu ini melesat tiba ke arahnya.

Di dalam malam yang begitu gelap, untuk menghindarkan diri dari serangan senjata rahasia sekencang ini, boleh dikata tak mungkin lagi. Waktu badan Bu Hoa meluncur turun, ujung mulutnya sudah mengulum senyum sinis.

Tepat di tengah suara guntur yang menggelegar itulah, terdengar Coh Liu-hiang mengeluarkan jerit kaget yang gelelap. Disusul sinar kilat kembali berkelebat. Tapi bayangan Coh Liu-hiang pun tak kelihatan lagi.

Di tengah kegelapan, nafas Bu Hoa memburu turun naik, serunya menggembor, "Coh Liu - hiang, Coh Liu-hiang! Dimana kau?"

Terdengar seseorang menjawab dengan suara kalem di belakangnya, "Aku di sini!"

Keruan terkejut Bu Hoa laksana disengat kala, hampir saja jantungnya melonjak keluar dari rongga dadanya.

Tapi dia tiada perlu membalik badan, dia hanya berdiri kaku dengan tenang. Sesaat kemudian pelan-pelan kepalanya ditundukkan, katanya penuh kekecewaan, "Bagus sekali, baru hari ini aku betul mendapatkan buktinya bahwa aku memang benar-benar bukan tandinganmu."

Lagu suaranya sedemikian datar, wajar dan tenang, seperti baru saja memperoleh buktinya cuma suatu permainan judi yang tidak begitu besar, siapapun takkan dapat merisaukan bahwa dia sudah pertaruhkan jiwanya di dalam permainan judi yang sekaligus bakal menentukan mati hidupnya pula.

Coh Liu-hiang menghela nafas, ujarnya, "Meski kau sudah kalah, tapi bagaimanapun kekalahan tak perlu dibuat malu, karena kau sudah membawakan sikap seorang jantan!" Bu Hoa mengeluarkan tawa yang pendek, katanya, "Jikalau aku yang menang, jauh lebih jantan lagi, cuma sayang hal itu selamanya tidak akan ada kesempatan lagi untuk membuktikannya, benar tidak?"

"Benar, memang kau tiada punya kesempatan lagi untuk menang."

"Sebagai pihak yang menang, sikap kejantananmu ternyata patut dipuji juga, mungkin lantaran kau sudah terbiasa menjadi pihak yang menang, seolah-olah selamanya kau takkan pernah punya waktu untuk kalah!"

Coh Liu-hiang berkata suara berat, "Seorang bila berdiri di pihak yang sejajar dengan musuhnya, selamanya dia takkan bisa dikalahkan."

Sekonyong-konyong Bu Hoa mendongak sambil terkial-kial panjang gelak tawanya melolong kumandang di tengah hujan, banyu yang deras ini seperti gelak tawa orang yang kesurupan setan, katanya kemudian, "Apakah aku salah... Jikalau aku berhasil dengan sukses, siapa pula yang berani mengatakan aku salah..." bunyi guntur yang memekakkan telinga memutus loroh tawanya yang menggila.

Sesaat Coh Liu-hiang berdiam diri, katanya kalem, "Kenapa kau tidak lari?"

Gelak tawa Bu Hoa menjadi helaan nafas rawan, sahutnya, "Lari? Apakah aku ini manusia yang patut melarikan diri? Seseorang bila dia hendak menikmati ajaran ilmu silat yang dia latih, maka dia harus belajar lebih dulu cara bagaimana untuk menerima kekalahan..."

Tiba-tiba kembali ia terloroh, katanya menyeringai, "Betapapun besar kemenangan itu, takkan bisa membuatku kesenangan sampai lupa diri! Betapapun besarnya kekalahan itu, juga takkan bisa membuat aku lari mencawat ekor seperti anjing liar yang digunduli!"

"Kau memang tidak pernah membuatku kecewa," ujar Coh Liu-hiang rawan. "Sekarang apa yang kau ingini atas diriku?"

"Aku hanya bisa membongkar rahasiamu, tapi tak bisa aku menjatuhi hukuman kepada kau, karena aku bukan penegak hukum, bukan malaikat atau dewata, aku tiada hak kekuasaan untuk menjatuhkan hukuman kepadamu!"

Bunuh diri itu menebus dosa

"Apapun yang telah terjadi, kesimpulanmu ini sungguh harus dipuji dan dibanggakan. Sejak dulu kala, mungkin tiada seorang tokoh kosen dalam Kangouw yang mempunyai jalan pikiran seperti itu," Bu Hoa balas memuji.

"Kelak setelah beberapa tahun berselang, orang yang mempunyai pikiran seperti ini, dari hari ke hari akan bertambah banyak. Kelak masyarakat akan tahu sendiri, kekuatan kasar takkan bisa menyelesaikan segalanya, tiada seorang dalam dunia ini yang punya kuasa untuk hak mencabut jiwa orang lain!"

"Ya, itu urusan kelak, sekarang..."

"Sekarang aku akan serahkan dirimu kepada orang yang patut menjatuhkan hukuman kepada dirimu."

"Kau hendak menyerahkan diriku kepada orang lain?" "Tidak salah."

"Kalau toh kau sendiri tak kuasa menjatuhkan hukuman kepadaku, siapa pula manusia dalam dunia ini yang setimpal menjatuhkan hukuman kepadaku?"

"Orang-orang itu meski belum mempunyai jiwa yang luhur dan bajik, tapi hukuman dan undang-undang yang mengerti diri mereka, siapapun harus mematuhinya."

"Apakah kau sendiri selamanya mematuhi undang-undang itu?" jengek Bu Hoa.

"Yang kami pandang hina, hanyalah undang-undang yang ditegaskan oleh sementara orang yang lalim belaka, hukum peraturan seperti itu, sudah tentu tidak patut kami hormati atau patuhi. Tapi budi wening dan keadilan serta kebenaran, siapapun tak pantas memandangnya rendah!"

"Coh Liu-hiang! Kau memang seorang yang aneh betul-betul. Tapi apapun yang terjadi, jangan harap kau bisa menyerahkan aku kepada orang-orang macam itu."

"Kenapa?" Coh Liu-hiang menegas. "Kau sebenarnya seorang agung, tangan-tangan kotor orang-orang itu memang tidak seharusnya menyentuh pakaianmu, tapi siapa suruh kau melakukan kejahatan keluar batas yang berdosa begitu besar. Seumpama maharaja pun kalau dia melanggar hukum, diapun patut dijatuhi hukuman seperti rakyat jelata. Memangnya kau tidak paham akan arti kata-kata ini?"

Bahwasanya Bu Hoa seperti tidak pernah mendengar kata-katanya ini, dengan tersenyum ia menggumam, "Coh Liu-hiang, bagaimanapun jangan kau harap jari-jari orang-orang itu bisa menyentuh seujung jariku saja," berkata-kata, tahu-tahu badannya perlahan-lahan meloso roboh.

Halilintar kembali menggelegar, kilat menyambar berulang kali.

Lekas Coh Liu-hiang memburu maju memayang badannya, di tengah samberan kilat, meski hanya sekilas saja, namun ia lihat raut mukanya yang ganteng halus dan alim itu kini sudah berubah sedemikian kaku dan membesi hijau.

Coh Liu-hiang amat kaget, serunya, "Bu Hoa, kau... kenapa kau begitu bodoh? Mati.. memangnya bukan cara yang paling rendah untuk lari dari pertanggung-jawaban?"

Bu Hoa membuka mata, sekuatnya ia unjuk tawa, sahutnya, "Aku bukan lari dari pertanggungan jawa, bukan aku tidak berani menghadapi mereka, tidak lain karena aku tidak sudi tunduk di hadapan manusia-manusia hina dina itu."

Tiba-tiba sorot matanya memancarkan cahaya cemerlang, katanya pula, "Perduli kesalahan apapun yang pernah kulakukan, betapapun aku masih seorang agung yang terpandang, jauh lebih agung dan terpandang dari kebanyakan orang-orang di dunia ini! Coh Liu-hiang, apakah kau tidak mengakui akan hal ini?" perlahan-lahan kelopak matanya terpejam.

Selamanya dia takkan bisa mendengar jawaban Coh Liu-hiang. Kilat menyambar pula, roman mukanya sudah kembali seperti biasa, tenang tenteram dan sentosa, malah ujung mulutnya mengulum senyum mekar.

* * *

Dalam taman kembang nan luas dalam lingkungan keluarga besar she Lim di Poh tian, kembang-kembang sedang mekar, harum semerbak. Opas kenamaan Sin-eng Go-lopothau bersama seorang Kaypang Tianglo yang berbadan tinggi kurus bermuka tegang sedang menunggu di bawah pohon dengan gelisah.

Terdengar Kaypang Tianglo itu sedang bertanya, "Kau pikir apakah dia akan datang?"

Sin-eng tersenyum, sahutnya, "Peduli Coh Liu-hiang itu manusia baik atau jelek, jujur atau jahat, tapi kalau dia sudah mengatakan hendak datang, dia pasti datang. Siapapun, urusan apapun, jangan harap bisa menghalangi dirinya."

Terdengar seseorang berkata kalem di atas pohon, "Benar, perduli Sin-eng ini orang baik atau jelek, jujur atau jahat, tapi pandangannya terhadap Coh Liu-hiang, ternyata memang tidak meleset."

Di tengah kata-katanya, Coh Liu-hiang melayang dari atas pohon, sedikitpun tak bersuara waktu kakinya menyentuh tanah.

Dengan tersenyum, kembali ia menambahkan, "Tapi bukankah Sin-eng sudah mendengar bila aku berada di atas pohon, maka sengaja kau mengeluarkan kata-kata ini?"

Sin-eng tertawa besar, serunya, "Kata-kata Coh Liu-hiang laksana kuda lari dapat dikejar selalu menepati janji, hal ini memang sejak lama Siau-loji mengetahuinya!"

Tak tahan berkata Kaypang Tianglo, "Pembunuh itu, apakah Coh Liu-hiang sudah membawanya kemari?"

Gumam raut muka Coh Liu-hiang, sahutnya menarik nafas panjang, "Dia sudah meninggal!" "Sudah mati?" teriak Sin-eng kaget.

"Benar!"

"Dia... cara bagaimana kematiannya?" tanya Sin-eng.

"Kalau dia sudah mati, peduli cara bagaimana kematiannya, apakah tidak sama saja?" "Tapi..."

"Kukatakan dia sudah mati!" bentak Coh Liu-hiang aseran. "Masakah kau tidak percaya omonganku?"

Sin-eng lekas unjuk tawa dibuat-buat, ujarnya, "Setiap patah kata Maling Kampiun, masa si tua bangka seperti aku ini tidak mempercayainya, tapi dia... siapakah dia sebenarnya?"

Sesaat Coh Liu-hiang mempertimbangkan, katanya, "Walau dia amat jahat dan keji, tapi tidak rendah dan hina dina. Meski dia seorang pembunuh, tapi tidak malu kalau dia disebut seorang Kuncu sejati. Kini kalau dia sudah mati, buat apa kalian harus tanya siapa dia. Manusia setelah mati, namanya ikut terkubur!"

Kaypang Tianglo tiba-tiba menukas, "Tapi dimana jenazahnya? Seumpama dia sudah mampus, murid-murid Pang kitapun harus..."

"Apa yang hendak kalian lakukan akan jenazahnya? Jadi kau hendak menghadapi seseorang yang sudah mati, bukankah jalan pikiran dan niat kalian ini jauh lebih rendah dan hina dina dari si pembunuh itu." Biasanya menghadapi persoalan apapun selamanya tidak pernah Coh Liu-hiang dipengaruhi emosinya. Kaypang Tianglo ini belum pernah menghadapi amarahnya yang begini besar. Seketika ia bungkam dan amat jeri hatinya.

Berkata Coh Liu-hiang dengan lantang, "Kuberitahu kepada kalian, bahwa dia sudah mati kematiannya berarti mencuci segala dosa semasa hidupnya. Jikalau kalian tidak percaya, jikalau kalian masih belum puas, silahkan kalian berdaya upaya sendiri! Tapi jika kalian berani datang merecoki aku pula, jangan salahkan bila aku bertindak kasar tidak tahu rasa sungkan lagi!" lenyap suaranya, bayangannya pun sudah menghilang di kejauhan. Sin eng dan Kaypang Tianglo berdiri menjublek di tempatnya.

Sampaipun Coh Liu-hiang sendiri tidak tahu dan heran kenapa dirinya hari ini berubah begini uring-uringan dan marah-marah. Mungkin menghadapi kematian Bu Hoa dia teramat sedih, pilu dan rawan. Atau mungkin lantaran dia teramat penat.

Apapun yang telah terjadi, setelah pengalamannya ini yang terpikir dalam angan-angannya selekasnya pulang ke kapalnya, mengerek layar berlayar jauh ke tengah samudera meninggalkan khalayak ramai yang membosankan ini.

Dia hanya memikirkan di dalam pelukan lautan teduh, hembusan angin laut nan hangat di bawah terik sinar matahari yang keemasan, mengendorkan seluruh urat syaraf dan otot-otot badannya, rebah dan istirahat dengan nyaman beberapa hari, minum beberapa arak anggur yang nikmat segar, makan buah-buahan segar dan hidangan lezat masakan Song Thian-ji, rebah disamping So Yong-yong, mendengarkan kisah dongengan Li Ang-siu yang mempesonakan.

Dengan kecepatan maksimum dia menyusul pulang ke atas kapalnya.

Mendadak Coh Liu-hiang menyadari bahwa Thian yang berkuasa seolah-olah tidak mau memberi peluang kepada dirinya untuk istirahat melepaskan penatnya.

Sebelum dia tiba di atas perahunya, suatu peristiwa besar yang begitu mendadak perubahannya belum pernah dia hadapi selama hidupnya sedang menunggu kedatangannya, mimpipun tak pernah terpikir dalam benaknya bahwa peristiwa seperti ini bakal menimpa dirinya.

Coh Liu-hiang si maling kampiun kembali ke atas perahunya seperti sang kelana pulang ke dalam rumahnya. Hembusan angin di permukaan laut masih terasa hangat basah, sehangat hati dan perasaannya.

Jauh di ujung langit di tengah lautan sana, segumpal mega sedang melayang datang pelan- pelan. Kapal, mengalun berlenggang di tengah permainan air laut, sinar matahari bercahaya terang benderang sehingga dek kapal yang bersih mengkilap laksana sebongkah kaca besar.

Lekas Coh Liu-hiang tinggalkan pakaiannya, mencopot sepatu. Dek kapal yang panas seperti membakar telapak kakinya, membuat hatinya terasa seperti dikili-kili dan malas, seolah-olah badannya ingin melayang.

Tak tertahan ia berseru dengan lantang, "Soh Yong-yong, Li Ang-siu, Song Thiam-ji, tidak lekas kalian boyong semua makanan yang paling lezat, biar kutelan seluruh kapal ini."

Tiada sahutan, tiada reaksi, seluruh kapal tenggelam dalam suasana tenang dan sunyi senyap, bahwasanya seorangpun tiada, Soh Yong-yong, Li Ang-siu dan Song Thiam-ji telah menghilang entah kemana. Rasa hangat dan malas-malas yang mengetuk hati Coh Liu-hiang seketika buyar, dia sudah geledah dan obrak-abrik seluruh pelosok kapal, sampaipun lemari, gentong beraspun sudah dia buka. Namun seujung rambut mereka pun tak diketemukan oleh Coh Liu-hiang.

Kemanakah mereka?

Ada kalanya Li Ang-siu pernah naik ke darat beli pupur atau gincu, Song Thiam-ji ngelayap di pasar beli sayuran setengah hari, namun tiga orang pergi sekaligus belum pernah terjadi selama ini. Memangnya mereka minggat tanpa pamit?

Itu tidak mungkin, selama beberapa tahun ini mereka adalah tritunggal yang merupakan salah satu bagian dari jiwa raga Coh Liu-hiang. Untuk ini, siapapun takkan bisa memisahkan mereka.

Lalu kemana mereka, kenapa tak ada di atas kapal? Memangnya mengalami bencana dan kena dicelakai orang?

Kembali Coh Liu hiang menerjang masuk ke bilik-bilik di dalam kamar.

Ia percaya dan yakin akan kepandaian silat mereka sudah cukup berlebihan untuk menghadapi segala perubahan yang mendadak, dan lagi di dalam bilik-bilik setiap sudut kapalnya ini, ia ada pasang berbagai alat-alat rahasia yang hebat dan lain dari yang lain. Semua alat-alat rahasia itu, bisa dalam waktu yang amat singkat membuat seorang musuh seketika kehilangan daya untuk melawan. Ada pula yang membuat musuh jatuh pingsan, ada pula yang dapat membelenggu atau mengunci ke empat kaki tangan orang, ada lagi alat yang bisa membuat seseorang terjungkir ke dalam laut.

Tapi kenyataan semua alat-alat rahasia itu tidak pernah tersentuh, tiada sesuatu benda dan perabot yang morat-marit atau terletak tidak dalam posisi sebenarnya. Dalam lemari makan yang bertabir kain tipis, terdapat tiga ayam panggang, sebotol arak anggur yang paling ia gemari, demikian pula cangkir arak yang paling dia sayangipun sudah diseka dan dibersihkan sampai mengkilap. Di atas ranjang Li Ang-siu tergeletak sejilid buku harian, lembaran buku terbuka tepat pada kejadian impian kejutnya. Demikian pula di atas ranjang Soh Yong-yong terdapat sepasang benang sulaman, sepasang kaos kaki yang belum jadi.

Jelas sekali mereka dengan tenang tanpa tergesa-gesa meninggalkan perahu ini, kecuali di dalam waktu yang amat singkat seseorang bisa sekaligus membekuk dan membuat mereka bertiga tidak berdaya. Tapi tokoh seperti ini, sampai detik ini, dalam ingatan Maling Kampiun belum pernah dilahirkan. Sungguh Coh Liu-hiang tidak habis mengerti.

Semakin dipikir dan diselidiki, semakin sulit dia memahami. Semakin gugup dan risau pula hatinya.

Masgul dan gelisah seperti semua terkurung di kuali panas, tak henti-hentinya dia lari keluar masuk dari bilik ini ke bilik lain, putar kayun dan sibuk setengah mati. Setelah jerih payahnya gagal, terakhir baru dia temukan secara mendadak di atas kursi tempat duduk yang dia sukai, terdapat segunduk pasir kuning yang mengkilap.

Di atas gundukan pasir ini terdapat sebutir mutiara hitam yang cemerlang.

Tempat ini sebetulnya paling gampang ditemukan, namun seseorang kalau sudah terangsang oleh gugup dan gelisah, justru sering mengabaikan atau melalaikan perhatiannya pada tempat yang paling menyolok.

Coh Liu-hiang meremas secomot pasir kuning itu, pasir berjatuhan dari sela-sela jari-jarinya sederas hujan air. Maka dilihatnya pula secarik kertas tertindih di bawah gundukan pasir kuning ini, dimana terdapat dua baris huruf-huruf yang ditulis rapi dan bagus sekali. Coh Liu-hiang mencuri kuda di pinggir danau. Hek-cin-cu menculik si cantik di atas lautan.

* * *

Kini Coh Liu-hiang bercongklang di punggung kuda Hek-cin-cu. Hari itu ia tiba di sebuah kota kecil di pinggir Ma lian ho.

Matahari amat terik, deru angin membawa tebaran pasir, sebuah kota kecil serba miskin dan kekurangan. Seorang perempuan tua yang berpakaian tidak lengkap sedang menuntun seorang bocah laki-laki yang pucat hijau seperti warna sayur, sedang sembunyi di belakang daun pintu sambil mengintip ke dalam, menunggu sedekah dari tamu-tamu budiman.

Tapi di atas dataran tinggi bertanah kuning yang miskin dan tandus ini, kota kecil ini sudah merupakan tempat yang makmur dan serba mewah, karena di lingkungan ratusan li sekitarnya, hanya disini saja yang ada air jernih.

Oleh karena itu, walau dalam kota ini terdapat beberapa bilangan rumah-rumah tembok, beberapa toko dan rumah makan. Setelah Coh Liu-hiang menempuh perjalanan jauh yang menyulitkan, seolah-olah dia sedang memasuki sebuah sorga di kota kecil ini.

Boleh dikata hampir siang malam ia menempuh perjalanan di atas punggung kudanya, hampir terlupa olehnya betapa lezat dan nikmatnya hidangan dan bau arak, tidur, serta kejadian tempo hari.

Jikalau ia tidak menunggang kuda ini bahwasanya tak mungkin secepat ini ia sudah tiba di kota kecil ini, di sini, pada cuaca terang yang tiada angin puyuh, dari kejauhan dapat kau terawang kemegahan bangunan tembok besar yang melingkar-lingkar di atas gunung gemunung di udara sana.

Hari ini angin berhembus kencang, pasir kuning berterbangan membumbung ke angkasa, pelayan-pelayan toko dan pemilik warung makan di pinggir jalan tak henti-hentinya menyapu bersih debu pasir yang hinggap di atas kue kongpiang atau barang dagangan lainnya. 

Cukup semenit saja kau menghentikan pekerjaanmu, kue-kue itu akan terbungkus oleh lapisan debu pasir warna kuning laksana minyak sapi. Kue macam itu, di tempat seperti ini, sudah merupakan makanan paling lezat dan berharga untuk mengenyangkan perut.

Sebuah kereta bobrok ditarik seekor kuda sedang mendatangi dari ujung jalan sana, kusir kereta adalah laki-laki kekar yang tidak sabaran, seakan-akan ia hendak mencambuk dan menghabiskan tenaga kuda yang kurus kering itu supaya kereta berlari lebih kencang lagi.

Tepat pada saat itu, seekor kucing berlari keluar dari sebuah warung arak, agaknya hendak menyebrang jalan. Kebetulan kereta berkuda itu sedang mencongklang pesat mendatangi, terang si kucing takkan bisa terhindar lagi, tergilas atau terinjak mampus.

Pada saat itu pula, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang menerjang keluar pula dari warung arak itu, begitu cepat laksana anak panah meluncur tiba, ia tubruk dan tangkap kucing itu, dengan badan raganya ia lindungi kucing itu dari injakan kaki kuda dan tergilas roda kereta yang berat. Maka kaki kuda menginjak punggungnya, demikian pula roda kereta menggilas lehernya.

Sudah tentu kejadian yang luar biasa ini membuat banyak orang-orang di jalanan menjerit kuatir. Coh Liu-hiang sendiripun berubah air mukanya.

Dengan pertaruhkan jiwa sendiri ini melindungi seekor kucing, apakah dia berotak miring? Demikian pula kusir kereta melihat keretanya menggilas seseorang, kejutnya bukan kepalang.

Lekas ia tarik kendali menghentikan kereta, lompat turun lalu berlari ke belakang, ingin ia

memeriksa dan menolong.

Dilihatnya orang itu masih rebah di tanah, sebelah tangannya memeluk kucing itu sembari tawa berseri, katanya lucu, "Pus mungil, lain kali kalau menyebrang jalan harus hati-hati, jaman seperti ini banyak manusia yang buta matanya, kalau kau tergilas mampus oleh keparat seperti itu, memangnya tidak sia-sia dan penasaran?"

Kaki kuda dan roda kereta menginjak dan menggilas badan orang ini, dari atas kepala sampai ke ujung kaki, ternyata tak terlihat sedikit lukapun di atas badan laki-laki ini, hanya baju rombeng yang dipakainya itu tambah berlobang dua tempat.

Sudah tentu kejut dan gusar pula kusir kereta, bentaknya memaki, "Siapa keparat yang kau maksud, jika kau mampus, bapakmu ini harus kena perkara," saking gusar kontan ia layangkan kakinya menendang.

Tangan kanan orang itu masih memeluk kucing, mata melirikpun tidak, cukup tangan kiri sedikit bergerak, entah apa yang terjadi, badan kusir kereta yang tinggi kekar itu tahu-tahu melayang naik ke atas seperti disurung ke atap rumah orang.

Kaget dan geli pula orang-orang yang menonton kejadian lucu di tengah jalan ini, baru sekarang kusir kereta itu tahu takut dan kaget, jikalau orang sedang kerepotan dan mencak- mencak di atap rumah. Orang itu sebaliknya pelan-pelan bangkit terus masuk ke warung arak sambil memeluk kucing manis itu, seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa atas dirinya.

Sinar matahari menyoroti selebar mukanya yang kehijauan ditaburi cambang bauk lebat dan kasar, nampak seri tawanya yang kemalas-malasan, sepasang matanya yang besar hitam dan bercahaya.

Tadi badannya bergerak secepat anak panah, gerak-geriknya gesit laksana naga mencari harimau ngamuk, kini langkah kakinya malah bergoyang gontai seperti ogah berjalan, ingin rasanya cepat-cepat ada orang yang menggotong dirinya masuk ke dalam warung arak. 

Mendadak Coh Liu-hiang melompat turun dari punggung kudanya, teriaknya keras-keras, "Oh Thi-hoa, Oh hongcu (Oh si gila), kenapa kau bisa berada di sini?"

Orang itu berpaling dan melihat Coh Liu-hiang pula, seketika ia berjingkrak kegirangan, serunya tertawa besar, "Coh Liu-hiang, kau ulat tua yang busuk ini, dengan cara bagaimana pula kau bisa berada di sini?" Tanpa hiraukan kucing dalam pelukannya lagi ia memburu ke depan, sekali pukul ia hantam pundak Coh Liu-hiang. Coh Liu-hiang tidak mau rugi, sekali sodok iapun pukul perut orang.

Saking kesakitan keduanya menjerit mengaduh, namun tawa riang mereka membuat mata berkaca-kaca hampir menangis saking kegirangan akan pertemuan yang tak terduga ini.

"Tak heran selama beberapa tahun belakangan ini aku tidak melihatmu, kukira kau sudah mampus karena malas, kiranya kau sembunyi di tempat ini." Demikian kata Coh Liu-hiang. "Kau Lo co jong ulat tua busuk inipun bagaimana bisa tiba di sini, apa diusir oleh gendak- gendakmu itu sampai ngacir ke tempat ini?"

Kembali mereka saling pukul dan tertawa berhadapan, dengan langkah semula mereka masuk ke kedai arak, mereka duduk di pinggir meja yang sudah reot, kucing kembang itu segera loncat naik ke atas meja.

Sekali jewer Oh Thi-hoa segera menariknya turun ke bawah, katanya tertawa, "Pus mungil, jangan kau cemburu, ulat tua busuk ini adalah teman baikku, dia sudah datang, terpaksa kau mendekam di samping saja..." dalam ocehannya Coh Liu-hiang ternyata dinamakan ulat busuk, kalau dipikir dia sendiri hampir pecah perut saking geli.

Kata Coh Liu-hiang tertawa besar, "Sekian tahun tak bertemu, tak nyana kau kucing malas ini sudah punya teman baru.. mari! Pus mungil, kau minum dua cangkir bersamaku!"

"Apa, minum dua cangkir?" tanya Oh Thi-hoa membelalak. "Hari ini kalau tidak kucekok kau dua ratus cangkir, anggap aku bukan teman baikmu." Lalu ia gebrak meja dan berkaok-kaok, "Arak! Arak! Lekas antarkan arak, memangnya kau hendak membuat temanku mati kekeringan."

Seorang nyonya kurus, kecil hitam dan kering, menenteng sebuah poci arak keluar. "Blang," ia banting poci arak yang terbuat dari tanah liat itu ke atas meja, putar badan lalu tinggal pergi.

Tanpa bersuara melirikpun tidak kepada Oh Thi-hoa. Sebaliknya kedua mata Oh Thi-hoa terbelalak seperti hendak mencolot keluar, menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip, seolah-olah dia mengawasi seorang perempuan yang tercantik di seluruh jagad ini.

Coh Liu-hiang tertawa geli, batinnya, "Mungkin kucing malas ini sudah terlalu lama tidak melihat cewek, macam apa sebenarnya bentuk seorang perempuan jelita, mungkin sudah dia lupakan."

Sebetulnya nyonya ini tidak begitu jelek, usianya pun belum tua. Matanyapun bening bundar dan tidak sipit, cuma badannya kurus kering bobot dagingnya tidak cukup empat kati, seperti ayam babon yang kelaparan dan kering dihembus angin.

Setelah bayangan orang menghilang ke balik pintu sana, baru Oh Thi-hoa berpaling, dia tuang dua cangkir arak, katanya tertawa, "Coh Liu-hiang, kau harus rada hati-hati. Oh Thi-hoa yang sekarang kau hadapi takaran minumnya tidak sama dengan Oh Thi-hoa masa lalu. Masih segar dalam ingatanku kau cekoki aku sampai mabuk sebanyak delapan puluh delapan kati, sekarang aku harus mulai menuntut balas."

"Delapan puluh sembilan... masakah kau sudah lupakan kejadian dalam genteng besar itu?" "Mana bisa aku melupakan, kali itu aku hanya mencampur sesendok obat urus-urus dalam

arakmu, kau malah ceburkan badanku ke dalam gentong arak keluarga Thio itu, sehingga aku mabuk tiga hari tiga malam."

"Apakah kau masih ingat kapan peristiwa itu terjadi?"

"Delapan belas... mungkin hampir genap sembilan belas, waktu itu, aku bocah yang baru berusia delapan sembilan tahun. Jikalau tidak berkawan dengan kau teman jelek ini, masakah aku bisa belajar minum arak."

Coh Liu-hiang berkakakan, ujarnya, "Jangan kau lupa, pertama kali kami minum, arak itu toh hasil curianmu."

"Apa benar?" ujar Oh Thi-hoa dengan tertawa getir. "Aku sudah lupa." Akhirnya ia berkakakan pula, serunya, "Bicara terus terang, arak curian rasanya memang lebih nikmat, selama hidup ini aku takkan bisa merasakan arak seenak itu," dia hanya menengadah kepala, arak semangkok besar itu, sekejap saja sudah habis.

Coh Liu-hiang melihat perbuatan orang, diapun habisi araknya, lalu tanyanya mengerut alis, "Apakah ini arak?"

"Apa kalau bukan arak?" "Tadi kukira cokak!"

Oh Thi-hoa terbahak-bahak, kembali dia tuang arak dan berkata, "Di tempat seperti ini ada arak seperti ini pula, sudah terhitung besar rejekimu."

Coh Liu-hiang terima arak yang diangsurkan, gumamnya, "Agaknya kucing malas ini bukan saja sudah lupa akan paras jelita yang sesungguhnya, sampaipun rasa arak yang tulenpun sudah dia lupakan."

Puluhan poci arak, dalam sekejap sudah tertenggak habis ke dalam perut, sudah tentu nyonya kurus kecil itupun berulang kali keluar masuk puluhan kali. Setiap kali ia banting poci arak di atas meja terus putar badan tinggal pergi.

Belakangan setiap orang menongol keluar pintu, hati Coh Liu-hiang menjadi tegang, hampir tak tertahan dia hendak menutupi kedua telinganya, apa boleh buat, kedua tangannya dengan tersipu-sipu harus pegangi meja, kalau tidak meja reot itu pasti bisa remuk dan rontok seluruhnya.

Sebaliknya setiap kali nyonya kurus kecil itu muncul, biji mata Oh Thi-hoa lantas bersinar cemerlang, suara tawanya pun lebih lantang, sikapnya yang semula malas dan ogah-ogahan seketika bersemangat.

Tak tertahan akhirnya Coh Liu-hiang menghela nafas, ujarnya, "Anak muda yang harus dikasihani, bahwasanya berapa lama kau sudah menetap di tempat seperti setan ini."

Oh Thi-hoa mengedip-ngedip matanya, sahutnya, "Masihkah kau ingat, berapa tahun sudah berselang sejak terakhir kali aku bertemu dengan kau?"

"Tujuh tahun, tak nyana sekejap saja sudah tujuh tahun."

Mata Oh Thi-hoa memandang keluar nan jauh di sana, katanya rawan, "Waktu itu musim panas, di Mo-jin-ouw danau jangan murung. Tahun itu kembang teratai berkembang biak amat indahnya di Mo-jin-ouw, kami gunakan daun kembang teratai sebagai cawan arak, setiap kali tenggak habis melempar selembar daun, belakangan daun-daun teratai itu hampir saja menenggelamkan perahu yang kita tumpangi, daun teratai di pinggirmu sudah bertumpuk setinggi hidungmu."

Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya, "Musim panas tahun itu, sungguh cepat berlalu!"

Mendadak Oh Thi-hoa berkakak, serunya, "Masihkah kau ingat siapa pula yang tahun itu berada bersama kami?"

"Seumpama kita sudah melupakan kehadiran manusia dalam dunia ini, tentu takkan terlupakan kepada Ko Ah-nam, waktu itu dia baru saja berhasil mempelajari Wi hong li-kiam dari Hong-san, setiap kali mabuk, tentu dia mainkan ilmu pedang itu di hadapan kami sehingga Kim- leng yang suka iseng setiap hari merubung di pinggir danau tak mau pergi ingin menonton pertunjukan gratis, sudah tentu di antara mereka ada yang ingin mencuri belajar ilmu pedangnya itu."

"Bicara terus terang, ilmu pedangnya itu tidak begitu bermutu, belakangan setiap kali ia berlatih ilmu pedangnya, aku lantas terkencing-kencing. Sungguh aku heran, nama julukan Leng- hong-ji kiam-khek gelarnya itu entah cara bagaimana dia dapatkan."

Coh Liu-hiang tertawa, katanya, "Katamu ilmu pedangnya tidak baik, tapi Ki Bing-yam malah bilang bahwa ilmu pedangnya itu tiga puluh persen lebih bagus dari Hoa-san-pay Ciangbun Ji Siok-tin."

"Benar!" seru Oh Thi-hoa mengelus tapak tangan. "Jago mampus itu bisa tiga hari tidak bicara, namun begitu buka suara selalu mengagulkan ilmu pedangnya sendiri. Kukira delapan puluh persen dia sudah jatuh hati kepadanya."

"Tapi dia sebaliknya malah jatuh hati kepada kau, kalau tidak masakah dia sudi bergaul dan keluntungan dengan laki-laki setan arak seperti kami ini, apa kau masih ingat waktu hari kau mabuk, pernah kau berjanji hendak menikah dengan dia."

Oh Thi-hoa menyengir, ujarnya, "Masa aku tidak ingat, hari kedua setelah aku sadar sudah kulupakan peristiwa itu, siapa tahu dia justru tidak lupa, malah dia menuntut dan desak aku ingkar janji, dia takkan punya hidup lagi, dia hendak bunuh diri, terpaksa malam itu juga aku terjun ke dalam air, dan selulup sejauh mungkin melarikan diri."

Belum habis cerita orang, Coh Liu-hiang sudah mendekap meja karena perut sakit tertawa terpingkal-pingkal, katanya dengan nafas ngos-ngosan, "Tak heran, hari kedua setelah terang tanah, tiba-tiba kudapati kalian berdua sudah tidak kelihatan pula bayangannya, itu waktu aku kira kalian sudah kawin lari. Oleh karena itu Ki Ping-yam yang menjadi masgul dan murung, malam itu hampir saja dia mampus karena mabuk, hari ketiga ternyata diapun menghilang, sampai sekarang belum pernah aku melihatnya."

Oh Thi-hoa tertawa getir, katanya, "Kalau bukan lantaran Ko Ah-nam mengejarku mati-matian, memangnya aku bisa lari ke tempat nan jauh ini?"

"Sejak tujuh tahun kau lari ke sini, kau tetap tinggal di sini?" "Tiga tahun setelah dia mengejarku, baru aku lari ke tempat ini." "Jadi kau sudah empat tahun menetap di sini?"

Oh Thi-hoa teguk araknya, katanya pula, "Tiga tahun sepuluh bulan."

"Soal apa yang menyebabkan kau kerasan tinggal di tempat setan seperti ini selama itu, sungguh aku tidak habis mengerti."

Kembali Oh Thi-hoa tenggak araknya, mendadak ia pelototi Coh Liu-hiang, serunya, "Kau ingin aku bicara kepadamu?"

"Lekas katakan!"

Oh Thi-hoa dekatkan mulutnya ke telinga Coh Liu-hiang, katanya, "Sudahkah kau melihat tegas perempuan yang mengantar arak tadi?"

Coh Liu-hiang berjingkrak berdiri, serunya, "Kau... jadi lantaran dia kau menetap sedemikian lama di tempat ini?" "Tidak salah!"

Lekas Coh Liu-hiang berpegangan meja, agaknya dia kuatir kalau dirinya jatuh semaput. Dari atas ke bawah bolak-balik ia amati Oh Thi-hoa dengan seksama, seperti setua ini baru pertama kali ia pernah melihat laki-laki brewok di hadapannya ini. Ia lalu pelan-pelan duduk kembali di tempatnya, setelah tenggak secangkir arak, berkata pelan-pelan, "Aku ingin mohon sesuatu kepadamu."

"Soal apa?"

"Perempuan itu dari kaki sampai kepala, dalam hal apa dia lebih elok dari Ko Ah nam, bisakah kau jelaskan?"

Kembali Oh Thi-hoa habiskan tiga cawan arak, sahutnya, "Biar kuberitahu kepadamu, Ko Ah- nam hendak mengejar aku, sebaliknya aku mengejar dia malah empat tahun lamanya aku tak berhasil menyanderanya, disitulah letak kebalikannya, kau tahu tidak?"

Mata Coh Liu-hiang menatap mukanya, melotot sepeminuman teh lamanya, baru dia unjuk rasa senang dan tertawa besar pula, sambil mendekap meja, katanya, "Karena baru sekarang aku mau percaya, bahwa karma memang bisa terjadi di dunia ini."

Oh Thi-hoa manggut-manggut, dengusnya, "Apa yang kau tertawakan, aku memang tahu perasaan hati manusia yang paling suci dan bersih ini, orang kasar dan awam seperti kau, selama hidup pasti takkan mengerti."

Coh Liu-hiang menekan perut, katanya, "Oh Tuhan! Cinta suci nan setia! Sukakah kau ampuni aku? Aduh, perutku hampir pecah!"

Dengan bersungut-sungut Oh Thi-hoa diam saja, sekaligus dia habiskan tiga cawan lagi. Mendadak iapun terbahak-bahak, keduanya mendekap meja, dan tertawa besar berhadapan saling pandang dan tuding, air mata sampai bercucuran.