Pendekar Pengejar Nyawa Jilid 10

Jilid 10

"Bagaimanapun, tidak bisa dikatakan dia mengorbankan diri sendiri." ujar Coh Liu-hiang. "meski dia tidak mempersunting perempuan tercantik di dunia, namun dia memperoleh kehalusannya, keagungannya, serta isteri yang setia."

"Terima kasih, terima kasih, akan kata-katamu ini" kata Chiu Ling-siok lembut. "Selamanya kau tidak akan mengerti setelah mendengar kata-katamu ini betapa riang gembira hatiku ini."

"Cayhe malah harus berterima kasih kepada Hujin, yang telah memberi tahu kejadian masa lalu, selama hidup Cayhe, selamanya takkan bisa mendengar cinta asmara yang sedemikian suci murni dan mengasyikan."

"Tahukah kau, kecuali Jin Jip, bukan saja kau orang kedua yang pernah melihat mukaku ini, kau pula laki-laki satu-satunya yang amat kukasihi, aku amat berterima kasih!" tatapannya semakin lembut dan semakin hangat.

Dengan penuh kasih sayang ia mengelus gentong kecil, perlahan-lahan lalu melanjutkan kata- katanya: "Hanyalah karena Jin Jip meskipun dia memberikan kehidupan bahagia dan tentram selama duapuluh tahun, namun hanya Kau saja yang bisa memberikan ketenangan hati dan keteguhan iman untuk menghadapi kematianku".

"Mati?" Coh Liu-hiang tersentak kaget.

"Setelah Jin Jip meninggal, tujuan hidupku hanyalah untuk membongkar rahasia pribadi dari kejahatan Lamkiong Ling, sekarang cita-citaku sudah tercapai, kau kira aku masih bisa tetap hidup?" Perjalanan cukup jauh dan lama, waktu telah tiba, di Kilam hati Coh Liu-hiang masih dirundung kesedihan. Dengan mendelong ia mengawasi badan Jin-hujin melayang-layang jatuh ditelan mega kedalam jurang yang tak terukur dalamnya, sedikitpun ia tidak mampu menolong atau berbuat

apa-apa. Walaupun dia melihat dengan jelas, sorot mata Jin-hujin menjelang ajal adalah sedemikian tenang, sedikitpun tidak memperlihatkan tekanan derita, meski diapun tahu, kematian bagi jiwa Jin-hujin yang sudah rapuk, tidak lebih hanyalah istirahat yang abadi, tapi dia masih merasa amat pilu dan sedih, sungguh bukan kepalang rasa marah dan gusarnya. Dia bersumpah, dia harus menemukan Lamkiong Ling. Hampir dia segera hendak meluruk kepada Lamkiong Ling.

Malam sudah larut, tapi didalam Hiang-tong pihak Kaypang di Kilam, cahaya lilin masih terpasang terang-benderang seperti tengah hari bolong.

Setiba di Kilam sebetulnya tidak terpikir oleh Coh Liu-hiang untuk segera menemui Lamkiong Ling, maka dia hanya menemukan seorang murid Kaypang serta menanyakan dimana Lamkiong Ling sekarang berada.

Di bawah penerangan sinar lilin yang terang benderang, diatas kursi cendana yang besar itu bagai patung duduk seseorang dengan gagahnya dia bukan lain adalah Lamkiong Ling.

Tangannya sedang menopang dagu, duduk disana, seperti sedang memikirkan sesuatu yang amat berat mengganjal hatinya, seolah-olah pula Sedang menunggu kedatangan seseorang. Siapakah yang dia tunggu?

Dari wuwungan rumah yang di luar sana Coh Liu-hiang sudah melihat dirinya, Pek giok mo, pasti sudah pulang lebih dulu, tentunya diapun sudah tahu Seorang diri Coh Liu-hiang sudah berhadapan langsung dengan Chiu Ling siok dan bicara.

Lalu, kenapa dia tidak segera menyingkir? Kenapa masih tetap duduk disana? Apakah ini merupakan sebuah jebakan? Di dalam pekarangan yang luas itu, sudah terpendam tenaga pembunuh yang tak terhitung banyaknya, tanpa segan-segan. Lamkiong Ling menjadikan dirinya umpan untuk memancing kedatangan Coh Liu-hiang?

Tapi pekarangan sedemikian sunyi senyap tak kelihatan bayangan manusia, tak terlihat adanya jebakan dan hawa angker, lantai batu hijau mengkilap ditingkah sinar bintang laksana kaca.

Lamkiong Ling mendadak menengadah, serunya sambil tersenyum: "Apa Coh-heng sudah tiba? Sudah lama siaute menunggu disini?"

Rada kaget Coh Liu-hiang dibuatnya, terdengar Lamkiong Ling berkata pula: "Coh-heng tak usah kutlir, hanya Siaute seorang yang berada disini, tiada jebakan atau perangkap segala".

Coh Liu-hiang tertawa besar, serunya: "Sudah tentu disini tiada perangkap apa-apa, sudah tentu aku cukup lega hati, urusan seperti ini tentunya kau tidak suka bikin kejut lain orang sudah tentu tahu lebih baik persoalan ini diselesaikan diantara kami berdua saja, ditengah kumandang kata-katanya, badannya sudah melayang masuk keluar pendepo dengan pandangan berkilat ia tatap Lamkiong-Ling.

Lamkiong Ling-pun balas menatapnya sorot matanya setajam pisau sebuah mata serigala setajam mata burung elang pula. Lama Sekali baru Lamkioug Ling menarik napas, katanya: "Kau sudah tahu, bukan?".

Coh Liu-hiang mangut-mangut ujarnya ; "Kaupun sudah tahu bahwa aku sudah tahu, benar tidak?". Lamkiong-Ling mangut-mangut pula katanya : "Tapi Siaute masih belum menyingkir, masih menunggu disini, tentunya Coh-heng merasa heran bukan?"

"Kau tidak menyingkir, karena kau tahu, kau takkan bisa menyingkir, kemanapun!"

"Aku tidak menyingkir lantaran aku memang tidak mau menyingkir kalau tidak betapa besar dunia ini, kemana saja aku tidak bisa pergi"

Coh Liu-hiang menarik kursi lalu duduk, katanya: "kalau kau pergi, kau harus meninggalkan segala milikmu, terumbang-ambing dalam hidup pembuangan diri. Tapi jikalau dipaksa untuk meninggalkan ketenaran nama dan kekuasaan yang kau pegang sekarang, tentulah jauh lebih menderita daripada kau menghadapi kematian".

Lamkiong Ling terbahak-bahak, serunya: "Coh-heng betul-betul seorang sahabatku yang paling karib, kau tahu segala isi hati dan cita citaku," mendadak ia tarik senyum-tawanya, bentaknya bengis: "Kalau toh begitu mendalam pengertianmu akan pribadiku", tentunya kau tahu sampai matipun aku tidak akan sudi membuang segala itu, sesuatu yang kudapat atas jerih payahku dengan memeras keringat dan darah, tiada seorangpun yang kuasa memaksaku untuk meninggalkanya demikian saja".

"Tidak bisa tidak kau harus membuangnya!"

Lamkiong Ling berjingkrak bangun, hardiknya beringas: "Kenapa tidak bisa tidak aku harus membuangnya? Meskipun aku sudah membunuh Jin Jip, tidak lebih karena aku harus menuntut balas bagi kematian ayahku! Dendam orang tua sedalam lautan, siapa manusia dalam Kangouw yang berani mencercah perbuatanku?"

"Jadi kau sudah tahu rahasia tentang pribadimu sendiri?"

"Jin Jip sangka dia bisa merahasiakan ter?hadapku, apa kaupun menyangka bisa mengelabui diriku?"

Panjang Coh Liu hiang menghela napas, katanya kalem: "Seandainya perbuatanmu itu hanya untuk menuntut balas kematian ayahmu seumpama tiada orang-orang Kangouw yang mengganggu usik dirimu, tapi murid-murid Kaypang, jikalau mereka tahu kau membunuh Jin Jip, apakah mereka masih berdiam diri dan membiarkan kau tetap menjadi Pangcu mereka?"

Bergetar badan Lamkiong Ling, tiba-tiba badannya meloso tertunduk pula diatas kursinya, kata-kata Coh Liu-hiang laksana sebilah pisau menusuk telak keulu hatinya.

Seperti mendadak jauh lebih tua, kepalanya tertunduk, katanya rawan; "Coh Liu-hiang! Coh Liu-hiang! Kenapa kau menyudutkan diriku demikian rupa? Sebetulnya sedikitpun aku tidak ingin melukai kau, kau , kenapa kau suka turut campur urusan orang lain?"

Sesaat Coh Liu-hiang berdiam diri, katanya tertawa kecut: "Mungkin karena sejak dilahirkan aku sudah dibekali pembawaan suka mencampuri urusan orang lain".

Sejak pertama kali aku melihatmu, lantas aku berpendapat kau boleh kuangkat sebagai temanku seumur hidup, kau masihkah kau ingat pertama kali kami bertemu ditempat mana?".

"Dikaki Thaysan, waktu itu bukan saja

Kiloh-su-hiong berhasil merampok barang kawalan Siang-gi-piaukiok dari Kim-leng, malah putri dari Cong piauthau Sa Thiangi pun diculiknya. Setelah mendengar kabar buruk ini tak terkendali timbul sifatku suka mencampuri urusan orang lain, tepat aku menyusul ke Thay san, tak kira kau tiba lebih dulu ditempai itu.

Sorot matanya yang tajam berkilat lambat laun menjadi tenang dan kalem, katanya pelan: "Waktu aku tiba disana, seorang diri dengan mengandal sepasang tapak tangan besimu, kau sudah bikin Ki-loh-su hiong terluka parah. Melihat kepandaian silatmu yang luar biasa, masih berusia muda dan gagah pula, aku jadi ketarik kepadamu. Waktu itu bila ada orang bertanya kepadaku, siapakah Enghiong muda nomor satu diselurub jagat ini, tanpa sangsi aku pasti akan mengatakan kepada mereka. Lamkiong Ling itulah orangnya."

"Sejak pertemuan itu,kau dan aku lantas jadi sahabat karib", ujar Lamkiong Ling tertawa riang:" Setiap aku punya waktu senggang pasti aku bertamu ke atas kapalmu untuk foya-foya dua hari, masih ingat tidak waktu aku gambarkan Soh yong-yong. ".

"Waktu itu adalah hari-hari terlama sejak kami berkumpul dalam lima hari, kami berdua menenggak habis seluruh arak simpanan di dalam kapalku. Pernah satu kali, karena mabuk aku terjun kedalam laut hendak menangkap rembulan, ternyata kaupun ikut terjun ke air hendak bantu aku, rembulan akhirnya tak berhasil kami tangkap diluar dugaan kami sama-sama menangkap seekor kura-kura laut yang amat besar".

Kura-kura itu merupakan hidangan paling lezat yang pernah kunikmati selama hidup, kau dan aku berlomba siapa yang makan lebih banyak kura-kura sebesar itu ternyata dapat kami habiskan dalam sehari, tapi karena itu perut kita berontak dan sakit dua hari.

Kedua orang tertawa gembira berpandangan seperti sudah melupakan ganjalan hati diantara mereka Tapi entah kenapa, lama kelamaan gelak tawa semakin lirih dan akhirnya sirap.

Coh Liu-hiang menggumam; "Kehidupan beberapa hari ini sungguh nikmat dan menyenangkan, ada kalanya aku merasa heran, kenapa kehidupan gembira selalu terasa begitu pendek".

"Asal kau tidak rusak hubungan baik ini, kami tetap masih bisa menikmati kehidupan yang jauh tebih menyenangkan, asal kau tidak buka mulut, dan orang lainpun tidak akan yang tahu".

Lama Coh Liu-hiang menepekur, lama sekali ia berpikir, akhirnya berkata sambil menghela napas: "Jikalau mau berkata ada sesuatu yang dapat menggerakkan hati Coh Liu-hiang, itulah persahabatan yang kental!"

"Kau kau mau tutup mulut?"

"Aku tidak akan mengatakan. "

"Sahabat memang aku tahu Coh Liu-hiang memang sahabat kental Lamkiong Ling".

"Aku tidak akan katakan, tapi kau harus terima dua syaratku!". Lamkiong Ling melengak, ..tanyanya: "Dua syarat apa?"

"Walau kau harus menuntut balas terhadap kematian ayahmu, tindakanmu tidak semestinya begitu kejam, tidak pantas pula kau mencelakai jiwa beberapa orang yang tak berdosa aku harap sementara kau meletakkan jabatan Pancumu, pergilah cari suatu tempat menyekap diri dan renungkan segala kesalahanmu selama ini. Kau. masih muda, kelak masih bisa bekerja mulai

dari permulaan, mengandal bakat dan kecerdikanmu, kelak tentu banyak yang bisa kau hasilkan". Membesi muka Lamkiong Ling, katanya dengan tertawa menengadah: "Coh Liu-hiang, sahabat baikku! Terhitung tidak kau katakan hendak membunuhku, dan sebaliknya kau suruh aku bekerja dari permulaan, kelak kapan? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun ..." mendadak ia berjingkrak bangun, sekujur badannya gemetar keras, katanya serak: "selama hidup seseorang, punya berapa kali dua puluh tahun? Kenapa kau harus paksa aku mengorbankan! saat-saat terindah selama hidup jiwaku ini? kenapa tidak cekak aos saja kau katakan hendak membunuhku?"

"Aku hanya ingin kau bertobat dan menebus dosa akan semua perbuatanmu, hanya ingin kau merubah tata hidup dan menyesal diri, aku tidak ingin kau mati. Ketahuilah, mati, bukan cara terbaik untuk menebus dosa seseorang".

"Lalu apa pula syaratmu yang kedua? Ingin pula aku mendengarkan".

"Aku hanya ingin tahu dan sukalah kau memberi tahu kepadaku, siapakah sebetulnya si "dia" itu?".

"Dia?" Lamkiong Ling menegas dengan mengerut alis.

"Ya. dia yang membunuh Thian-eng-cu dan Song Kang, dia adalah orang yang menyaru jadi Thian-hong-cap-si-long, orang yang hendak mencabut nyawaku, dia pula orangnya yang mencuri Thian-it sin-cai dari Sin-cui kiong itu".

Seperti kena setrum kuat badan Lamkiong Ling bergetar hebat, seketika ia terkesima dan melongo,

"Jelas kau sudah tahu, perbuatannya itu. tentu bukan hanya ingin membunuh Jin Jip saja, dia pasti banyak mempunyai rencana jahat lainnya, sekali-kali aku tidak bisa berpeluk tangan menyaksikan rencana jahat kalian terlaksana, aku harus merintanginya".

Lamkiong Ling kertak gigi, katanya sepatah demi sepatah: "Selamanya kau takkan bisa merintangi dia, tiada seorangpun dalam dunia ini yang mampu menghalangi maksudnya!"

"Sampai detik ini, kenapa kau masih merahasiakan dirinya? Tahukah kau, kematian Jin Jip tidak lebih hanyalah salah satu petilan dari rencana jahatnya, kau tidak lebih hanya diperalat untuk membunuh Jin Jip saja bila tiba waktunya dimana dia pandang perlu, jiwamu sendiripun bakal dia bunuh juga.

Mendadak Lamkiong Ling terkial-kial menggila lagi, serunya: "Dia memperalat aku? Diapun bisa membunuh aku?. tahukah kau siapa dia?"

"Justru aku tidak tahu siapa dia, maka kutanya kau". "Sangkamu aku sudi mengatakan kepada kau?"

"Lamkiong Ling! Lamkiong Ling! Sebetulnya akupun tidak ingin melukai kau, kenapa kaupun ingin mendesakku?"

"Kaulah yang memaksaku bukan aku memaksamu walau aku tidak ingin melukai kau kalau sudah terpaksa, apa boleh buat aku harus turun tangan terhadapmu".

"Kau pasti takkan bisa turun tangan karena ilmu silatmu terang bukan tandinganku". "Apa benar?" jengek Lamkiong Ling, kelihatannya badannya tidak bergerak, namun tahu-tahu tubuhnya melesat terbang lempang dari atas kursinya, demikian pula Coh Liu-hiaug tidak pernah bergeming, tapi badannya pun ikut mencelat terbang.

Tapi setiba di tengah udara Coh Liu-hiang masih bergaya orang duduk, kursi kayu cendana yang besar berat itu, seolah olah lengket dengan kulit badannya. Keduanya beradu ditengah udara, terdengar dua tapak tangan saling beradu keras, beruntun sempat tujuh kali, dalam tempo sedemikian pendek dan secepat kilat keduanya sudah adu pukulan tujuh kali. Tujuh pukulan kemudian, bayangan keduanya terpental balik pula kearah datangnya masing masing.

Membawa kursinya dengan enteng tanpa mengeluarkan suara sedikitpun Coh Liu-hiang meluncur balik ketempatnya, persis ditempatnya semula tanpa tergeser sedikitpun, sedemikian berat dan keras kursi cendana itu, namun tidak menimbulkan suara apapun beradu dengan lantai batu hijau.

Sebaliknya Lamkiong-Ling jumpalitan balik dan meluncur pula keatas kursinya, namum dia buat kursi cendana yang berat itu terkeresek mengeluarkan suara, roman mukanya pun berubah pucat dan bengis.

Walau keduanya tidak menderita luka-luka namun tak dapat disangkal sudah menunjukkan perbedaan tingkat kepandaian silat mereka. Meski pendek gebrak pertarungan adu ke pandaian ini, jelas akibatnya bakal merupakan ketentuan situasi Bulan mas mendatang. Kelihatannya gebrak sekali ini sedemikian enteng dan singkat saja, namun betapa penting arti pertarungan ini tidaklah lebih genting dan gawat dari suatu pertempuran mati hidup yang pernah terjadi pada mana lalu.

"Lamkiong Ling! Masakah kau masih ingin paksa aku turun tangan terhadapmu?"

Dari merah berubah hijau dan memuncat pula rona wajah Lamkiong Ling, sikapnya kelihatan sedih dan harus dikasihani, katanya menghela napas dengan menengadah: "Lamkiong Ling!

Lamkiong Ling! Kau berlatih menggembleng diri selama duapuluh tahun, ternyata tak mampu menghadapi gebrakan serangan musuh?" mendadak ia melompat bangun, bentaknya keras: "Coh Liu-hiang, jangan kau takabur, kalau Lamkiong Liong hari ini berani menunggumu disini, masakah aku tidak punya cara lain untuk menundukkan kau?" ditengah hardikannya sambil mcngulupkan tangan, tahu-tenu seorang laki-laki tinggi besar delapan kaki, dengan telanjang dada dan kepala pelontos gundul seperti kingkong beranjak keluar sambil menjinjing sebuah kursi tinggi diatas pundaknya.

Dibawah penerangan sinar lilin yang terang benderang, tampak jelas diatas kursi itu duduk pula seseorang, raut mukanya pucat pias, sepasang biji matanya yang indah tertuju kosong lempang kedepan.

Berubah pucat muka Coh Liu-hiang teriaknya tersirap: "Yong ji, kau. bagaimana kau bisa

berada disini?" Soh Yong-yong seperti tidak mendengar pertanyaannya. Ia duduk lemas tanpa bergerak.

Lamkiong Ling tertawa dingin, ejeknya: "sudah tentu akulah yang mengundang kemari, kecuali aku siapa yang mampu mengundangnya kemari?"

"Peristiwa di Hong-ih-ting, dipinggir Toa-bing-ouw, keempat laki-laki jubah hijau itu jadi orang- orang utusanmu?"

"Ya, tidak salah !" Lamkiong Ling mengakui. "Darimana kau bisa tahu dia berada disana?"

"Bulan purnamu di Toa bing-ouw, janji pertemuan menjelang magrib! Kalau Bu Hoa sudah memberi ingat kepada aku, sudah tentu aku harus menengok sendiri, kulau aku dulu pernah menggambar lukisannya, karena aku tidak bisa mengenalnya?"

"Kau kuatir dia berhasil mencari tahu seluk rahasia pihak Sin-cui-kiong, maka kau suruh anak- anak buahmu turun tangan jahat, tapi kalau toh kalian sudah turun tangan serapi itu dari mana pula dia bisa tahu bila dia belum ajal?"

Limkiong Ling tersenyum, ujarnya: "Aku tahu pemuda baju hitam itu ada menyaksikan dari kejauhan, sengaja kubiarkan dia untuk membawa kabar kepadamu, tapi waktu kau kemari sedikitpun tidak menunjukan kesedihan hati, dari sini dapatlah kusimpulkan bahwa Soh Yong-yong hakekatnya, belum mati! Oleh karena itu kau pura-pura masuk WC, terus melarikan diri, aku tidak mengejar kau, malah mengejar dia! Memang sukar mengejar kau lebih gampang meringkus dia!"

"Sebaliknya dia sedikitpun tidak menaruh curiga terhadap kau, kalau tidak mana mungkin bisa terjatuh ketanganmu?"

"Memangnya dia pernah mencurigai sahabat karib Coh Liu-hiang".

Tiba-tiba Coh Liu-hiang seperti teringat sesuatu, bentaknya keras: "Tidak benar! Waktu keempat laki jubah hijau turun tangan kepadanya, kau sedang menemani aku menemui Jin-hujin, terang kejadian itu ada orang lain yang merencanakan, siapa dia? Darimana pula dia bisa kenal dengan Yong ji?"

Berubah pula air muka Lamkiong Ling bentaknya bengis: "Kalau aku sudah keluarkan perintahku, memangnya aku sendiri harus hadir disana?" tanpa menunggu Coh Liu-hiang bica?ra kembali ia membentak: "turunkan dia?"

Laki-laki besar seperti kingkong melempangkan kedua tangannya didepan dada, pelan-pelan ia turunkan kursi yang dipanggulnya tadi.

"Kenapa tidak kau pertotonkan kekuatan kedua tanganmu itu?" kata Lamkiong Ling kepada manusia Kingkong itu.

Laki-laki besar itu membuka lebar mulutnya yang bertaring besar menyeringai lucu, kedua tapak tangan segede kilas itu peran-pelan terulur kedepan meraih sebuah kursi, pelan-pelan pula kedua tangannya terangkap mundur dan sedikit gencet, "pletak" kursi kayu cendana yang berat dan besar itu kena digencetnya hancur berkeping-keping.

Lamkiong Ling tertawa besar, serunya: "Bagus sekali! Sekarang letakkan kedua tapak tanganmu diatas kepala nona cilik itu, Cuma kau harus hati-hati sedikit, jangan kau gencet kepalanya sampai pendang" betul juga pelan-pelan tangan sebesar itu cukup memegang kepala Soh Yong-yong lalu sedikit ditarik ke atas.

Menuding Coh Liu-hiang, berkata Lamkiong Ling kepada manusia kingkong itu; "Sekarang pentang lebar matamu, pandang seluruh badannya, asal jarinya saja bergerak, lekas kau gencet remuk batok kepala nona itu".

Laki-laki Kingkong itu ternyata terolok-olok senang, seperti mendapat suatu mainan yang menarik hatinya, sebaliknya Coh Lau-hiang merasa kaki tangan berkeringat dingin katanya sambil menengadah: Lamkiong Ling! Lamkiong Ling! Tak nyana kau tega melakukan pebuatan serendah hina dina seperti ini

Kau. tindakanmu ini sungguh membuat hatiku kecewa". Lamkiong Ling melengos, katanya serak: "Sebetulnya aku tidak ingin berbuat begini tapi kenapa harus mendesakku begini rupa?"

"Sekarang, kau. apa keinginanmu yang sebenarnya?"

"Aku hanya ingin kau tahu Soh Yong-yong sudah terjatuh ditanganku, kalau kau masih ingin dia tetap hidup, maka jangan sekali-kali ikut campur mengurusi persoalan pribadiku!"

Lama Coh Liu-hiang berpikir, katanya kemudian: "Jikalau aku tidak hiraukan jiwanya, tetapi mencampuri urusanmu, bagaimana?"

Lamkiong Ling bepaling, sahutnya tertawa: "Aku yakin benar, Coh Liu-hiang bukan laki-laki yang suka berbuat senekad itu".

"Kalau demikian, kau. maksudmu kau hendak menahan Soh Yong-yong selamanya

ditempatmu ini?"

"Peduli dimana saja, pasti akan kuusahakan supaya kau tahu bahwa dia masih tetap hidup, kukira keputusan ini jauh lebih baik dari kematiannya, benar tidak?"

"Tapi akupun masih tetap hidup, sehari aku masih bernyawa, jangan harap kalian bisa berlega hati. Seandainya sekarang aku menyetujui saranmu ini, kalian toh tetap akan berusaha menamatkan jiwaku, benar tidak?"

Lambat-lambat Lamkiong Ling menarik muka, katanya sepatah demi sepatah: "Itulah persoalan lain, mati hidupmu tiada hubungannya dengan mati hidupnya, jikalau kau masih ingin dia tetap hidup, sekarang juga harus tunduk akan perkataanku".

"Setelah aku mati, kaupun membunuhnya juga".

"Kalau kau sudah mampus, mati atau hidup masih ada hubungan apa dia dengan kau, tetapi jikalau kau masih hidup tentu takkan tega melihat kematiannya lantaran kau ya?"

"Kukira imbalan syaratmu ini terlalu tidak adil!"

"Sampai detik ini, kau masih bermimpi memperoleh imbalan syarat yang adil?" seru Lamkiong Ling terbahak-bahak. Palagi, sebelum kau mampus, kau kan masih punya kesempatan bisa menolongnya keluar dengan selamat".

Dengan nanar Coh Liu-hiang mengawasi ke arah muka Soh Yong-yong, tanpa sadar ujung jarinya mulai gemetar. Jikalau ada orang bilang ternyata Coh Liu-hiang bisa juga gemetar mungkin tiada orang dalam kolong langit ini yang mau percaya.

"Coh Liu-hiang!" seru Lamkiong Ling tertawa besar. Sebenarnya aku cukup memahamimu sampai ketulang-tulangmu, aku tahu kau harus tunduk kepadaku, sekarang tiada pilihan lain lagi bagi kau!"

Ujung mata Coh Liu-hiang seperti mengerling sekilas kepadanya, lalu berkata dengan menghela napas lebih dulu: "Lamkiong Ling, kalau kau sudah bikin aku kecewa mungkin suatu ketika akupun bisa bikin kau teramat kecewa terhadapku".

Ketika itu mendadak terdengar suara samberan: "serrr", selarik bayangan hitam membawa deru angin kencang, bagai ular jahat tahu-tahu membelit kencang keleher laki-laki kingkong itu. Dengan menjerit marah laki-laki Kingkong itu angkat kedua tangannya, baru saja tangannya terangkat, seenteng asap secepat kilat tahu-tahu Coh Liu-hiang sudah berkelebat kesana dan menyambar Soh Yong-yong seperti elang menyambar anak ayam kedepan sana.

Saking kagetnya, Lamkiong Ling hendak ikut menubruk maju, tetapi selarik sinar pedang yang tajam berhawa dingin tahu-tahu laksana bianglala meluncur tiba menghadang didepannya.

Coh Liu-hiang membawa Soh Yong-yong kepojok pendopo sana baru sempat menghela napas lega, gumannya tertawa: "Hek tin-cu, It giam-ang, aku kenalan dengan kalian sungguh nasibku menjadi baik".

Cambuk ditangan Hek tin-cu sudah ditariknya sekencang gendewa, dengan kedua tangannya ia menarik setakar tenaganya, seperti kawanan nelayan di sungai Tiang Kang yang menarik perahunya menanjak air diselat-selat yang berbahaya, badannya hampir rebah sejajar dengan lantai, jari-jari tangan dan lengannya yang halus sudah menghijau hitam dan merongkol obat- obatnya. Walau dia sudah kerahkan setakar kekuatannya menarik, laki-laki Kingkong itu ternyata tidak bisa ditarik roboh, ujung cambuknya boleh dikata sudah menjerat kencang masuk kedalam kulit dagingnya, sampai kedua biji matanya yang besar itu mencorot keluar seperti mata ikan mas. Tapi sedikitpun ia tidak bergeming ditempatnya, bukan saja tidak ulur tangan mengendor jeratan ujung cambuk dilehernya diapun memburu kearah Hek Tin-cu, sementara lehernya bersuara keruyukan, katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh: "Anak muda kau takkan bisa menarikku roboh!"

Bukan saja Hek tin-cu belum pernah melihat orang yang bertenaga sedemikian besarnya, diapun belum pernah melihat manusia dengan otak setumpul ini, sungguh hatinya kejut dan heran, mendadak ia berseru lantang: "Apa sebaliknya kau mampu menarikku roboh?"

Laki-laki Kingkong membuka mulutnya tertawa lebar, betul-betul ia gunakan kekuatan lehernya untuk menarik cambuk panjang, kedua pihak sama-sama menggunakan seluruh kekuatannya. "Tas" cambuk panjang itu tiba-tiba putus ditengah-tengah.

Badan Hek tin-cu menumbuk tembok, saking kagetnya ia jejak kaki melambung naik ke atas belandar, tampak badan laki-laki Kingkong sebesar menara itu pelan-pelan roboh terjerembab, kulit mukanya yang hitam dan merah ungu, lidahnya sudah terjulur panjang keluar demikian pula kedua biji matanya mencorot keluar, seolah-olah masih melotot kepada Hek tin-cu. Tak tahan Hek tin-cu dibuatnya, katanya tertawa kecut dengan bergidik: "Orang yang punya kekuatan luar biasa pada kaki tangannya kenapa otaknya selalu tumpul!"

Memandang dari atas belandar dilihatnya It-tiam-ang dan Lamkiong Ling sedang berhadapan seperti dua onggok kayu sampai sedemikian jauh belum ada yang bergerak lebih dulu. Mata Lamkiong Ling tertuju pada ujung pedang ditangan It-tiam-ang melirikpun tak berani ke arah lain, tapi kejadian disekitarnya meski dia tidak melihatpun bisa mendengar atau membayangkan.

Keringat dingin sudah berketes-ketes diatas jidatnya mendadak berkata dengan keras: "It tiam-ang kontan kau hanya membunuh orang karena uang, apa benar?"

Biji mata It-tiam-ang yang abu-abu dingin membeku seperli biji mata ikan yang sudah mati kaku menatap kepadanya tanpa bersuara.

"Jikalau kau mau bantu aku membunuh Coh Liu-hiang kuberi kau selaksa tail".

Bergerak ujung mulut It tiam-ang, katanya sambil tertawa lebar: "Selaksa tail? Apakah Coh Liu- hiang berharga setinggi itu?"

"Kau bunuh aku, jelas tiada orang yang sudi membayar kau setinggi itu, benar tidak!" "Benar, karma manusia seperti kau ini sepeserpun tak berharga," jengek It-tiam-ang. "Kalau demikian, lebih tidak setimpal kau membunuh, aku."

Terunjuk senyum sinis menghina diujung mulut It-tiam-ang, katanya kalem: "Tabukah kau, seumpama lonte (pelacur), bila dia kebentur tamu yang dia penujui, bolehlah diam, layani sekali secara gratis, kali ini aku membunuhmu pula secara gratis!" habis kata-katanya pedangnyapun bergerak.

Merah jengah muka Hek-tin-cu, tapi tidak tertahan dia lertawa geli, katanya: "Perumpamaan ini walau kotor dan kasar, tapi amat tepat sekali".

Tampak dalam sekejap itu It-tiam-ang sudah menusuk tujuh kali, ilmu pedangnya teramat brutal dan aneh, serba istimewa, lengan bagian atas sikut sedikirpun tak bergeming tapi bintik- bintik sinar pedangnya laksana hujan gencarnya merangsak pada lawan! Beruntung Lam kiong Ling tersurut mundur tujuh langkah, serunya dengan gelak tawa serak: "It-tiam ang, kau kira aku takut pada kau?"

"Aku tak suruh kau takut kepadaku aku cuma ingin kau mampus"

"Mungkin kau lah yg mampus" damprat Lam kiong Ling. Sekali raih ia tarik sebuah kursi terus di lempar, bebareng tangan kanan meraba pinggang melolos sepasang Bian-to. "Sret-sret-sret" sinar golok seperti sekuntum salju yang berterbangan di angkasa, tiga kali goloknya membacok dengan dahsyat. Gerak serangan goloknya tanpa kembangan variasi, tapi cepat, gesit, ganas dan kenyataan.

Selama hidup dan malang melintang It-tiam ang tidak terhitung menghadapi lawan lawan tangguh sudah tentu ia cukup tau banyak ilmu silat seperti ini yang cukup menakutkan. Jikalau kau beranggapan ilmu silat ini tidak enak dipandang mata, tahu tahu sejurus sambaran kilatnya sudah menamatkan jiwamu.

Ilmu golok semacam ini sebenarnya tidak ada sesuatu yg indah yg patut dibanggakan, tiada guna atau manfaat lainnya selain untuk membunuh orang.dan manfaat dalam hal ini justru amat berguna sekali.

Semakin menyala biji mata It-tiam ang serunya tertawa besar " Tak nyana hari ini aku bisa berhadapan dengan lawan tangguh seperti kau ini, tak sia sia perjalanan ku kali ini."

Sinar golok dan hawa pedang, mendesak mundur dan membuat sesak napas Hek-tin cu, sekujur badan terasa dingin, sudah lama dia menyaksikan pertempuran tokoh tokoh kosen, tapi belum pernah menyaksikan pertempuran seperti ke dua orang ini. Seolah olah pertempuran ini bukan manusia yg sedang berkelahi, lebih pantas kalau dikatakan dua serigala kepalaparan sedang berebut mangsa, setiap jurus, setiap tipu serangannya tujuannya mencabut jiwa musuhnya, terang tiada maksud lain kecuali membunuh musuhnya.

Sinar golok dan pedang saling sambar dan saling gubat menggubat serang menyerang, walau tidak mendengar benturan ke dua senjata, namun hawa membunuh yg bersuhu dingin menguap naik sehingga Hek-tin Cu yang berada diatas beranda terdesak, napas sesak dan tak kuat bertahan lagi.

Lekas ia melompat tiga tombak jauhnya kemudian melayang turun kelantai dilihatnya Coh Liu- Hiang sedang sibuk mengurut dan melancarkan jalan darah Soh Yong-Yong, wajah Soh Yong- Yong yang pucat tadi lambat laun mulai merah berwarna darah. Tak tahan Hek-tin cu memburu maju dan menepak pundah Coh Liu-Hiang," Tahukah kau orang lain sedang adu jiwa demi kau?" "Tahu" sahut Coh Liu-Hiang "Memangnya kau tidak perduli dan turut campur?"

Coh Liu-Hiang tertawa tawa ujarnya "Kalau Tionggoan It-Tiam Ong sudah turun tangan memangnya perlu orang lain turut campur?" "Agaknya kau lega sekali" olok Hek-tin Cu.

"Masakah ilmu pedang It-Tiam Ong tidak bisa melegakan hatiku?" Terdengar "Cret" It-Tiam Ong melompat miring tujuh langkah baju atasnya tampak tergores robek terkena sambaran golok, darah segar sudah merembes membasahi badannya.

Lam kiong-Ling tertawa besar serunya "It-Tiam Ong kau masih belum puas?" "Cis" It-Tiam Ong berludah keatas pundaknya yang terluka, tahu tahu pedangnya sudah menusuk pula. Seketika berubah pula air muka Hek-tin cu, sentaknya bengis:" Sekarang kau masih berlega hati?"

Coh Liu-Hiang tertawa getir katanya "Kalau It-Tiam Ong sudah turun tangan, jikalau siapa ikut membantunya, siapa adalah lawannya apalagi kepandaian silat ke dua orang ini sama setingkat sebanding. Siapa pun jangan harap bisa melukai siapa." "Oleh karena itu kau berpeluk tangan saja begitu?" "Dalam sepuluh jurus Lamkiong-Ling pasti kena dibikin cedera juga oleh pedang It-Tiam Ong, tidak lebih dari tiga puluh jurus dia pasti minta menghentikan pertempuran. Kalau belum waktunya tidak berguna aku ikut mencampuri."

"Mungkin hatimu sudah tumplek pada nona cantikmu ini, masa masih perduli dengan mati hidup orang lain. Sungguh tak nyana oleh ku Coh Liu Hiang yang cemerlang namanya ternyata lebih mementingkan paras cantik daripada persahabatan kental."

Belum habis kata katanya terdengar "Cret" sekali lagi, Lamkiong Ling terhuyung mundur, pakaiannya berlubang, darah pun membasahi pakaiannya. Coh Liu Hiang menyengir sambil berpaling pada Hek-tin Cu, katanya "Belum penuh sepuluh jurus malah, benar tidak?"

Sekian lama Hek-tin Cu tertunduk entah apa yg ia renungkan, akhirnya ia tujukan sorot matanya ke muka Soh Yong-yong. Sorot matanya yang kelihatan dalam itu. Seakan akan timbul suatu perubahan yang sedemikian rumit. Katanya pelan pelan "Dia memang teramat cantik."

"Bukan hanya cantik saja." "Tapi menurut pendapatku, perempuan yang lebih cantik dari dia masih banyak jumlahnya."

"Mungkin dia tidak bisa terhitung yg tercantik, tapi paling lembut, paling setia, paling pandai melayani dan perempuan yg paling bisa menyelami hati orang lain. Menurut apa yang tahu mungkin belum pernah ada perempuan yang bisa dibandingkan dia di dalam dunia ini."

Pucat muka Hek-tin Cu agaknya hendak mengucapkan apa apa, namun ia tahan sambil mengigit bibir, tiba tiba ia membalik badan tak sudi melihat mereka lagi. Terdengar Lamkiong Ling sedang membentak:" Coh Liu-Hiang! marilah kau saja yang perang tanding ini sama aku untuk menyelesaikan urusan ini. Kau sendiri tadi yang mengatakan hal ini, apa sekarang kau masih ingat?" "Sudah tentu masih ingat."

"Jikalau kau ingin tahu siapa tokoh misterius itu, lekas kau suruh keparat berdarah dingin ini menghentikan pertempuran." Coh Liu-Hiang angkat pundak katanya" Sayang bukan saja aku tidak bisa turun tangan, akupun tidak bisa menyuruhnya berhenti. Jikalau It tiam-Ang ingin membunuh

seseorang, tiada seorang pun yg kuasa mencegahnya." Siapa tahu mendadak It tiam-Ang melompat setombak jauhnya, katanya dingin "Aku sudah berhenti, karena dia tidak mampu bunuh aku, akupun tidak mampu membunuhnya. Kalau perkelahian ini diteruskan tidak ada artinya, biarlah kuserahkan pada kau." "Terima kasih."

Lama juga It tiam-Ang menatapnya lekat lekat, katanya kalem "Tidak perlu terima kasih, asal kau ingat sejak semula sampai akhir It tiam-Ang tetap sahabatmu." Belum habis berkata badanya sudah melambung tinggi jumpalitan kebelakang terus melesat ke luar jendela dan memghilang entah kemana.

"kenapa dia selalu bilang datang ya datang mau pergi tinggal pergi." Baru sekarang Lamkiong Ling berhasil mengatur nafas, katanya serak "Coh Liu-Hiang kalau kau ingin menyelesaikan persoalan ini marilah ikut aku!." Coh Liu-Hiang menengok ke arah Soh Yong yong katanya;" Ikut aku?"

Hek tin-Cu menyela keras katanya "Coh Liu-Hiang saat ini amat berat untuk tinggal pergi, demi perempuan ini urusan apapun boleh tidak usah diurus."

Berputar biji mata Lamkiong Ling katanya "Jikalau kau tidak mau pergi jangan salahkan aku." Sengaja ia putar badan jalan lambat lambat, agak nya ia tidak ingin melarikan diri sebab di tahu "lari" bukan suatu cara terbaik, kalau tidak sejak lama dia sudah menghilang tak karuan peran.

Betapa Coh Liu-hiang tidak bisa membiarkan orang pergi demikian saja, katanya: "Hek heng, agaknya sementara aku harus serahkan dia dalam pengawasanmu".

Hek tin cu mendongak memandang langit, sahutnya dingin: "Masa kau tidak kuatir?" "Dia tertotok Hiat-tonya dengan Jong jiu hoat tapi setelah kuurut tadi, sebentar lagi bakal

siuman. Cukup asal Hek heng beritahu kepadanya, suruh dia selekasnya pulang, urusan lain tidak perlu dia kuatirkan".

Sesaat Hek tian cu ragu-ragu, sahutnya kemudian: "Baiklah! Pergilah kau, aku akan suruh dia pulang, tapi aku tetap akan menunggu kau, masih ada pertanyaan yang hendak kuajukan kepadamu.

Setelah Coh Liu-hiang keluar mengikuti jejaknya, baru Lamkiong Ling percepat langkahnya.

Beberapa kejap mereka berlari-lari kencang, entah berapa jauh perjalanan sudah mereka tempuh, tiba-tiba Lamkiong Ling berkata: "Agaknya kau lega menyerahkan dia kepada orang lain?"

"Kenapa aku harus kuatir?"

"Masalah kau tahu bila anak muda itu tidak akam mecelakai jiwanya?"

"Kau kira karakter dan martabat orang lain sekejam dan telengus sepeti kau?"

"Aku hanya anggap kau ini orang yang cerdik pandai dan cermat, siapa tahu ada kalanya kaupun bertindak kurang hati-hati".

"Memangnya aku ini serba teliti, jikalau pernah terpikir dalam benakku bila Hek tin cu punya alasan untuk mencelakai jiwa Yong ji, meski sekarang aku terpaksa, sekali-kali tidak akan kusserahkan Yong ji kepadanya, jika kau pikir dengan persoalan ini kau hendak bikin hatiku tidak tenang, sehingga gugup dan kacau, kunasehati kau batalkan saja niatmu ini".

Lamkiong Ling terloroh-loroh dingin, selanjutnya memang dia tidak banyak kata lagi. Tampak tak jauh di depan sana bayangan air kemilau dibungkus kabut tebal, tahu-tahu mereka sudah tiba di Toa bing-ouw. Di bawah ayoman dahan pohon Liu yang menjuntai turun, sebuah sampan terikat disana didalamnya ternyata terpasang sebuah pelita yang bersinar terang, dari luar jendela kelihatan disana sudah tersedia sebuah meja hidangan yang serba komplit.

Setelah Coh Liu-hiang masuk ke dalam ruangan kapal, Lamkiong Ling menarik galah dan menutul tanggul, sehingga sampan meluncur ke tengah danau. Kabut tebal dimana-mana banyak asap seperti hujan, mengikuti riak gelombang yang mengalun halus, sampan melaju ke depan terbawa angin, di tengah alam semesta yang tak berujung pangkal ini, terkadang si maling romantis yang misterius, orang akan terpesona tanpa sadar, tak tertahan orang akan berdiri bulu kuduknya.

Coh Liu-hiang memilih kursi dan duduk dengan nyaman, namun hatinya sedikitpun tidak merasa nyaman, terasa olehnya persoalan yang dihadapinya ini makin lama semakin janggal. Kenapa Lamkiong Ling membawa dirinya ke tempat ini? Pembunuh misterius itu, apakah dia berada di atas sampan besar ini?

Tapi kecuali Coh Liu-hiang dan Lamkiong Ling, jelas di atas sampan tiada orang ketiga! Hal ini Coh Liu-hiang berani pastikan sesaat setelah dia beranjak ke atas sampan ini.

Hembusan angin malam nan sepoi-sepoi, menyibak bau harum arak dan masakan, bau daun pohon liu nan wangi, tapi yang tersedop dalam pernapasan Coh Liu-hiang sebaliknya adalah hawa membunuh yang amat tebal.

Kini Lamkiong Ling sudah duduk berhadapan dengan Coh Liu-hiang, katanya sambil mengawasinya: "Tahukan kau kenapa aku membawamu kemari?"

"Tentunya kau tidak ingin membunuhku disini, jikalau kau hendak membunuh aku, tentunya lebih jauh meninggalkan air lebih baik".

"Benar, tiada orang yang mau membunuh Coh Liu-hiang di dalam air". "Apakah si dia yang suruh kau membawaku kemari?"

"Benar! Dia beritahu kepadaku, bilamana aku sendiri tidak bisa menyelesaikan persoalan ini, bawa saja kau kemari, biar dia sendiri yang akan menyelesaikan".

"Kau kira dia akan datang?" "Tentu akan datang!"

"Pikiranmu setelah dia datang, lantas bisa menyelesaikan persoalan ini?"

"Jikalau ada seseorang yang bisa menghadapi Coh Liu-hiang, orang itu adalah si dia itulah!" "Siapa si dia itu, sungguh aku tak mengerti dia punya cara penyelesaian apa?"

"Cara yang dia gunakan tiada orang lain yang dapat menyimpulkan sebelumnya". "Agaknya kau terlalu yakin akan kemampuannya?"

"Dalam dunia ini jikalau ada orang yang dapat kupercayai, orang itu hanya dia saja". Coh Liu-hiang pejamkan mata, katanya pelan-pelan: "Siapakah orang yang demikian itu?

Kalau toh dia sudah tahu membunuh Coh Liu-hiang diatas air jauh lebih sukar daripada didaratan kenapa membawaku keatas sampan ini? Sebetulnya rencana apa yang sedang dia atur?

Sebenarnya dia punya cara apa untuk menghadapi aku? Sungguh aku tak sabar lagi menunggu, ingin secepatnya aku berhadapan dengan dia".

Teringat akan kelicikan orang, telengas dan kejahatannya, mau tidak mau Coh Liu-hiang bergidik bulu romanya, musuh-musuh yang pernah dia hadapi selama hidupnya, sungguh tiada seorangpun yang begini menakutkan,

Lamkiong Ling menuang dua cangkir arak, katanya: "Jikalau aku jadi kau, sekarang lebih baik minum-minum dulu, tidak berguna kau banyak peras otak, apalagi saat-saatmu menikmati arak toh takkan lama lagi".

Arak bening berwarna hijau pupus kelihatan memancarkan cahaya didalam cangkir emas.

Lamkiong Ling angkat cangkirnya terus ditenggak habis, katanya menengadah: "Tapi aku berdoa semoga menemukan rahasia ini bukan kau. Siapapun dia, jikalau hendak membunuh sahabat yang dulu pernah menangkap kura-lura besar bersama tentunya bukan sesuatu yang patut dibuat girang!"

Jari tangan Coh Liu-hiang menyentuhpun tidak cangkir arak itu, katanya: "Akupun mengharap kau adalah Lamkiong Ling yang pernah bantu aku menangkap kura-kura itu".

Lamkiong Ling tertawa-tawa, tiba-tiba ia mengerut alis, katanya: "Arakmu ".

Masih banyak waktu untuk aku minum arak sekarang tidak perlu tergesa-gesa!

Coh Liu-hiang ternyata tidak tergesa-gesa minum arak, sungguh suatu kejadian luar biasa dan aneh.

"Kau jangan lupa, aku adalah seorang yang amat teliti".

"Kedua cangkir arak ini kutuang dari poci yang sama, jikalau kau masih kuatir, secangkir ini biar kuhabisi sekalian!" lalu ia raih cangkir dihadapan Coh Liu-hiang dan ditenggaknya habis.

"Agaknya orang yang terlalu teliti meski mungkin bisa berumur panjang, berapapun dia harus mengorbankan arak-arak bagus yang seharusnya dia nikmati".

"Tidak seharusnya kau curiga arak ini mengandung racun, tokoh mana dalan dunia ini meracun mati Coh Liu-hiang hanya dengan permainan arak beracun. Masakah dia bakal menaruh. " belum lagi kata-kata "racun" keluar dari mulutnya, air mukanya mendadak berubah 

hebat. Lengan, jidat dan lehernya. otot-otot hijau merongsok keluar semua.

"Kenapa kau?" teriak Coh Liu-hiang kaget. "Arak ini. " sahut Lamkiong Ling bergetar.

"Apa benar arak ini mengandung racun?" seru Coh Liu-hiang tersirap darahnya, lekas ia memburu maju dan membuka kelopak mata Lamkiong Ling, namun tak terlihat tanda-tanda keracunan, tapi sekujur badan Lamkiong Ling semakin panas seperti terbakar.

Melonjak jantung Coh Liu-hiang, teriaknya kaget: "Thian it sin cui, arak ini ada dicampur dengan Thian it sin cui!" Coh Liu-hiang membanting kaki, katanya: "Sampai sekarang kau masih belum paham? Bahwa dia mencampuri air sakti itu didalam arak ini, tujuannya bukan hendak mencelakai jiwaku, namun kaulah yang menjadi sasaran utama! Diapun tahu setiap waktu aku selalu bertindak hati-hati, sebaliknya kau tidak mungkin kau bersiaga terhadapnya".

Coh Liu-hiang menengadah dan melanjutkan: "Sejak naik ke atas sampan ini aku sudah merasa disini diliputi mara bahaya, numun tak pernah terpikir olehku dengan cara apa dia hendak mencelakai diriku, baru sekarang aku paham, ternyata yang dia tuju bukan aku sebaliknya jiwamu yang diincarnya".

"Tapi dia. kenapa dia harus membunuhku?" teriak Lamkiong Ling keras.

"Karena asal kau mati segala sumber penyelidikan ku bakal putus semuanya, asal kau sudah ajal, dia tetap boleh keluntang-keluntung kemana dia suka, dan tidak akan ada orang tahu siapa sebenarnya si "dia" itu".

Bergetar badan Lamkiong Ling, agaknya ia amat kaget akan kata-kata ini, matanya mendelong. Kini sekujur badannya mulai membengkak besar, kulit dagingnya mulai pecah, sampaipun urat nadi dan jalan darahnyapun merekah, ujung mata, hidung, sela-sela kuku jarinya, mulai merembeskan darah segar.

Coh Liu-hiang membentak keras: "Tanpa kenal kasihan dia turun tangan jahat membunuhmu, kenapa kau masih mempertahankan menyimpan rahasianya? Lekas kau katakan siapakah dia sebenarnya, sekarang kau masih sempat mengatakan".

Seperti mata ikan mas biji mata Lamkiong Ling melotot keluar, gumannya: "Katamu dia hendak membunuh aku.... aku masih tidak percaya. "

"Sudah tentu dia harus membunuh kau! Kalau tidak jelas dia tahu aku takkakn minum arak kenapa dia menaruh racun dalan arak? Kenapa tidak beritahu kepadamu lebih dahulu bahwa arak itu beracun?"

Agaknya Lamkiong Ling tidak memahami kata-katanya seluruhnya, mulut tetap menggumam sendiri: "Aku tidak percaya.... aku tidak percaya "

Sekali raih Coh Liu-hiang cengkram baju didepan dadanya, teriaknya serak: "Kenapa kau tidak percaya? Masa kau. "

Bibir Lamkiong Ling yang sudah merekah, mendadak menampilkan senyum pilu, katanya: "Tahukah kau siapa dia?"

"Siapa? Siapa dia" desak Coh Liu-hiang.

Sepatah dengan sepatah Lamkiong Ling meronta keluarkan kata-katanya: "Itulah suatu rahasia, tiada seorangpun dikolong langit ini tahu akan rahasia ini, aku. akupun punya seorang

saudara sepupu engkoh sepupuku, si "dia" bukan lain adalah engkoh sepupuku itu".

Coh Liu-hiang terlongong ditempatnya seperti linglung, badan terhuyung mundur setengah langkah, serendeh dipinggir meja serasa sekujur badan lemas lunglai dan hampir meloso jatuh. Rada lama kemudian, baru dia bersuara dengan tertawa getir: "Tak heran kau begitu percaya kepadanya, tak heran kau begitu dengar petunjuknya. Tapi. tapi siapakah engkohmu itu?

Sampai detik ini kau masih segan menyebut namanya?" Mulut Lamkiong Ling mengap-mengap seperti ikan mas yang menghirup napas dipermukaan air, mulutnya penuh digenangi darah segar. Kini lidahnyapun mulai merekah, sepatah katapun tak kuasa bicara lagi.

Entah beberapa lama Coh Liu-hiang menjublek duduk di atas kursi. Kini bahan penyelidikannya sudah putus sama sekali, dia harus mulai dari permulaan pula.

Entah berapa ia sudah mengalami mara bahaya, entah berapa jerih payahnya yang dia korbankan, baru diketahui bahwa Cou Yu cin, Sebun Jian, Ling ciu-cu dan Ca Bok-hap keluar pintu setelah masing-masing menerima sepucuk surat. Entah sudah mengalami beberapa kali kegagalan dan kekecewaan baru berhasil dia selidiki sipenulis surat itu sekaligus membongkar segala rahasia Kay pang.

Betapa besar kesulitan dan derita yang dialaminya untuk semua itu, jikalau tidak dibekali kecerdikan dan keberanian yang luar biasa, boleh dikata takkan ada orang yang kuat bertahan menghadapi tantangan-tantangan yang hebat dan mengerikan itu. Tapi Lamkiong Ling sekarang sudah ajal, segala jerih payah dan usahanya selama ini berarti sia-sia. Karena sampai detik ini, ia belum berhasil mengetahui siapakah biang keladi atau tokoh misterius dalam peristiwa ini.

Fajar sudah menyingsing, kabut dipermukaan danau malah makin tebal.

Coh Liu-hiang menggeliat sambil menghirup napas segar, gumamnya: "Kini, yang kuketahui masih berapa banyak?" memang bahan-bahan yang masih berada dibenaknya tidak banyak lagi. Bahan satu-satunya yang ketinggalan yaitu pembunuh misterius adalah saudara sepupu Lamkiong Ling ditangan si "dia" itu masih memiliki Thian-it-sin-cui yang cukup untuk mencelakai jiwa tiga puluh tiga orang. Tapi siapakah sebenarnya si "dia" itu?

Dengan Thian-it-sin-cui dia sudah membunuh Jin Jip, Ca Bok-hap dan Lamkiong Ling.

Sasaran selanjutnya entah siapa! Tentu tokoh kosen yang berilmu amat tinggi namanya cukup tenar dan terpandang sebagai angkatan tertinggi di Bulim.

Tokoh itu tentu mempunyai hubungan yang amat erat dengan si "dia" itu, paling tidak takkan curiga bahwa si dia bakal mencelakai jiwanya, kalau tidak cara bagaimana si dia dapat mencampurkan Thian-it-sin-cui kedalam cawan minumannya?

Coh Liu-hiang pejamkan mata, mulutnya menggumam: "Thian hong cap-si-long, ternyata bukan seorang diri datang ke Tionggoan, dia masih membawa dua orang putri kandungnya, setelah dia mati, seorang anaknya dia titipkan kepada Jin Jip supaya diasuh sampai besar, lalu seorang anak lainnya? Kepada siapa dia serahkan anaknya yang lain? Siapa pula yang tahu mengenai keajadian ini?" peristiwa sudah berlalu diselang duapuluh tahun lamanya, kini boleh dikata sudah tiada sumber yang dapat dibuat bahan penyelidikan.

Mendadak Coh Liu-hiang melompat bangun katanya keras: "Aku sudah tahu, kalau Thian hong cap si long menyerahkan anaknya yang kecil kepada Jin Jip, putra besarnya tentu dia serahkan kepada tokoh kosen yang bertanding pertama kali dengan dia. Asal aku bisa menemukan siapa orang ini, tentulah dapat menemukan siapa si "dia" itu".

Kini Coh Liu-hiang memang belum tahu siapakah tokoh silat yang bergebrak dengan Thian hong cap-si-long sebelum Jin Jip, tapi dia sudah tahu :

Pertama: Tingkat kedudukan dan nama tokoh tentu amat tinggi dan tenar. Baru Thian hong cap-si-long sudi mencarinya, lalu menghadapi Jin Jip. Tidak banyak tokoh-tokoh silat di kalangan kangouw yang lebih tinggi tingkatannya dan ketenarannya dari Kaypang Pangcu, maka scopnya bisa lebih diperkecil. Kedua: Ilmu silat orang ini teramat tangguh maka bisa melukai Thian hong cap-si-long.

Ketiga: Watak dan martabat orang ini tentu seperti Jin Jip, berjiwa besar lapang dada dan welas asih, maka harus dia menerima anak yatim Thian hong cap-si-long, malah menurunkan ilmu silatnya yang tiada taranya kepada si bocah.

Keempat: Orang ini tentu tidak suka mengagulkan diri dan membuat sensasi, maka walaupun dia harus unggul dan mengalahkan pendekar pedang (pendekar samurai) tersohor dari Tang ni "Jepang" tiada tokoh Kangouw yang tahu akan kejadian besar itu.

Kelima: Tokoh ini tentu menetap didaerah Binglam atau lingkungan yang tidak jauh dari sana, maka setelah Thian hong cap-si-long terkalahkan dengan luka parah, dia masih sempat memburu ketempat pertandingan yang dia janjikan dengan Jin Jip.

Coh Liu-hiang menhela napas panjang-panjang, ujarnya: "Kini, terhitung tidak sedikit hasil analisaku ini".

Lekas ia memburu keluar, galah dia samber terus mendorong kapalnya ketepi, sekali lompat ia dapat mendarat dengan enteng. Mendadak derap kuda berlari mendatangi, seseorang membedal kudanya lari mendatangi, belum lagi dekat badannya sudah mencelat tinggi lepas dari punggung kudanya meluncur hinggap didepannya, siapa dia kalau bukan Hek tin cui simutiara hitam.

"Ternyata kau bisa menemukan aku" sambut Coh Liu-hiang: "Mana dia?"

Hek tin cu tidak lantas menjawab, sesaat ia pandang orang, sahutnya dingin: "Dia memang penurut dan dengar kata, kini sudah berangkat pulang" mendadak matanya melotot, katanya keras: "Tapi ingin aku tanya kau sebetulnya dimana ayahku berada? Kenapa se-ama ini kau mengulur-ulur waktu tak mau jelaskan tempat tinggalnya?"

Coh Liu-hiang tertunduk, sahutnya: "Ayahmu sudah. sudah meninggal dunia".

Tersentak badan Hek-tin-cu, serunya serak: "Kau apa katamu?"

"Aku sudah mengurus baik-baik jenazah ayahmu di Ang-yiok-gay di Loh-tiong. Didusun nelayan dipesisir laut sana, ada seorang bernama Li Tho-cu, kalau kau pergi kesana, boleh kau minta kepadanya untuk mengantarmu ke atas kapalku. Setelah kau ketemu Soh Yong yong kau akan bertemu dengan jenazah atau pusara ayahmu".

Hek-tin-cu mendesak maju menarik lengannya, serentak beringas: "Jenazah ayahku kenapa bisa berada diatas kapalmu. Apakah kau yang mencelakai jiwanya?"

"Seluk beluk persoalan ini, sulit untuk menjelaskan dalam waktu singkat, tapi Yong-ji akan menjelaskan sedetailnya kepadamu mengenai pembunuh ayahmu, kini berada di dalam

sampan itu, belum habis kata-katanya Hek tin-cu sudah melesat naik kearah sampan.

Jelilitan sorot mata Coh Liu-hiang mendadak seru lantang: "Kupinjam kuda saktimu sekali lagi, kelak pasti akan kukembalikan", belum lenyap suaranya badan sudah melejit naik mencemplak kepunggung kuda terus dibedal kencang kearah selatan.

Setelah Coh Liu-hiang berhasil menemui Ciu Ling-Siok di Ni san, lalu ia ambil kudanya yang dititipkan di rumah seorang pemburu langsung kembali ke Kilam, tujuan utamanya adalah menemui Lamkiong Ling maka untuk memburu waktu ia belum kembalikan kuda hitam itu kepada pemiliknya Hek tin-cu, Cuma ia titipkan ke sebuah hotel yang berdekatan, waktu itu ia tiba di Hiantong Kaypang, kuda yang cerdik ini mencebol kandang menerjang keluar mencari pemiliknya, lantaran kuda inilah maka Hek tin-cu dan It-tiam ang baru tahu bahwa Coh Liu-hiang sudah kembali ke Kilam maka mereka menyusul tiba pada saatnya berhasil menolong Soh Yong-yong pula.

Mengandal kepintaran kuda ini pula sehingga Coh Liu-hiang didalam waktu yang tersingkat, memburu waktu pula menuju ke Bianglam. Tetapi setiba di Bianglam mau tidak mau ia jadi putus asa dan kecewa dibuatnya.

Kejadian dua puluh tahun yang lalu orang-orang sudah lupa sekali, sedang keluarga besar dari marga Tan dan Lim yang merupakan simbol kebesaran kaum Bulim didaerah Binglam ini hakikatnya tidak tahu menahu siapakah sebenarnya Thian hong cap-si-long.

Hari itu Coh Liu-hiang tiba di Sian-yu merupakan kota terbesar dan teramai banyak tempat- tempat tamasya disini, hati Coh Liu-hiang sedang masgul dan kesal maka selera minum dan makan menjadi kendor, yang diinginkan hanya minum dua cangkir teh kental yang pahit.

Binglam merupakan daerah penghasil daun teh yang termashur didalam kota Sianyu banyak terdapat warung-warung teh, alat-alat untuk minum teh disinipun jauh berbeda dengan tempat lain, tampak setiap orang yang duduk diwarung arak menikmati minuman tehnya sama memejamkan mata, menggunakan cioki yang lebih kecil dari cangkir arak untuk menikmati atau menilai rasa air teh itu. Orang yang minum teh dengan cawan besar disini dalam pandangan masyarakat Binglam tak ubahnya dipandang sebagai kerbau dungu.

Tidak ketinggalan Coh Liu-hiang-pun minta disediakan Thi Koan im yang rasanya pahit getir dan wangi, kalau ditenggak teh ini memang pahit dan getir, namun setelah masuk keperut, mulut terasa wangi dan semerbak sampai sekian lama tak hilang-hilang.

Setelah menghabiskan dua poci kecil, rasa masgul dan kesal Coh Liu-hiang sudah semakin sirna dan ketenangan kembali menghayati sanubarinya. Dan baru sekarang dia mengerti aturan- aturan untuk minum teh disini sedemikian banyaknya, tujuannya adalah untuk menekan perasan dan melatih kesabaran, cara atau kepandaian membina dan melatih watak dan kesabaran, ternyata hasil gemblengan dari air teh kental yang pahit getir dari sepoci-poci kecil ini.

Jauh berlainan dengan warung arak ditempat lain yang penuh sesak, tentu timbul keributan, demikian pula diwarung teh ini penuh sesak, namun setiap orang bicara secara bisik-bisik, tindak- tanduk seseorang teramat hati-hati kuatir mengganggu orang lain.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(