Pendekar Pengejar Nyawa Jilid 08

Jilid 08

Tiba-tiba terbuka lebar kedua biji mata Thian Hong Cap Si Long, katanya bengis: "Kalian pasti hendak jalan lewat sini? Apakah hendak menemui Chiu Ling Siok?"

Melonjak jantung Coh Liu Hiang, orang asing ini kiranyapun tahu akan nama Chiu Ling Siok.

Dilihatnya Lamkiong Ling mengerutkan alis, katanya: "Chiu Ling Siok..? Apakah maksud Cianpwee adalah Jin Hujin?"

"Hm!" Thian Hong Cap Si Long menjawab dengan geraman. "Cianpwee kenal sama dia?" tanya Lamkiong Ling pula.

Tiba-tiba Thian Hong Cap Si Long menengadah sambil terbahak-bahak keras, tawa yang mengiriskan bergema dan menggetarkan bumi sampai daun-daun pohon sama rontok berjatuhan.

Coh Liu Hiang dan Lamkiong Ling saling berpandangan, mereka tidak tahu apa yang menjadi buah tertawaan orang.

Terdengar Thian Hong Cap Si Long berkata sambil tetap tertawa: "Kau tanya aku kenal tidak padanya? Karena dia aku terima dihina dan dipermainkan oleh Jin Jip, dengan dendam dan penuh penyesalan aku kembali ke Tangni, aku bersumpah satu hari Jin Jip masih hidup, aku takkan menginjak kakiku di Tionggoan. demi kebahagiannya, aku terima sekali pukulan Jin Jip,

tanpa membalasnya! Karena dia sampai sekarang aku masih membujang! Dan sekarang, kau malah tanya aku apakah mengenalnya!"

Coh Liu Hiang melongo, sungguh tak pernah terpikir olehnya, pendekar dari Ih Ho di Jepang ini, ternyata ada sangkut pautnya dengan permainan asmara antara Jin Jip suami istri, lebih tak terkira pula bahwa laki-laki aneh yang berdarah dingin ini, kiranya juga mengenal asmara! Betapa mendalamnya cintanya terhadap Chiu Ling Siok, agaknya tidak kalah tebalnya dari Ca Bok Hap dan lain-lainnya.

Kecuali Ca Bok Hap Sebun Jian, Cou Yu Cin dan Ling Ciu Cu, orang ini adalah yang kelima. Kelima orang sama-sama tergila-gila terhadap satu perempuan, rela hidup menderita selamanya dengan membujang. Cuma kalau Ca Bok Hap berempat sudah menemui ajalnya semua, ketinggalan orang ini saja yang masih hidup.

Akhirnya gelak tawanya yang menggila berhenti, kata Thian Hong Cap Si Long bengis: "Kini Jin Jip sudah mampus, maka Chiu Ling Siok akhirnya akan menjadi milikku, kecuali aku jangan harap siapapun dalam dunia ini bisa berhadapan dengan dia!"

"Tapi Jin Hujin. "

"Dia tidak sudi menemui orang lain lagi, pergilah kalian!"

"Cayhe sebagai murid Kaypang sudah sepantasnya menghargai pendapat Jin Hujin, cuma saudara Coh ini,. " sampai disini ia berhenti serta berpaling kepada Coh Liu Hiang. "Apa benar dia tidak sudi menemui orang luar, aku perlu saksikan kata-kata dari mulutnya baru mau percaya!" kata Coh Liu Hiang tegas.

Lamkiong Ling berbisik: "Kalau dia tetap berjaga dibalok batu ini, cara bagaimana kita bisa menyebrang kesana?"

Balok batu ini melintang dipermukaan jurang yang puluhan tombak lebarnya dibawah aliran deras lagi, siapapun sukar terbang menyebrang kesana, jikalau hendak melesak lewat atas kepala Thian Hong Cap Si Long, hasilnya adalah seperseribu.

Berjelalatan biji mata Coh Liu Hiang, katanya kemudian sambil tersenyum: "Bagaimanapun juga, aku harus mencobanya!"

Belum habis kata-katanya, "Sreng" tiba-tiba selarik sinar kemilau melesat keluar dari lengan baju Thian Hong Cap Si Long yang lebar dan menyangkut diatas sebatang pohon sebesar lengan diseberang sana. Belum lagi Coh Liu Hiang sempat melihat barang apa yang melesat terbang itu, "Peletak" terlempar pula dahan pohon itu yang sudah kutung dan terjatuh kedalam jurang, gelang perak berkilauan itu tahu-tahu sudah meluncur balik pula menghilang kedalam lengan bajunya pula.

Memang ada ratusan macam senjata rahasia yang dipakai oleh tokoh-tokoh Bulim di Tionggoan ini, diantara mereka tak terhitung banyaknya merupakan tokoh-tokoh yang termasuk ahli dalam permainan senjata rahasia tunggal sendiri, namun gerak gerik Thian Long Si Cap Long ini jauh berlainan dengan kepandaian orang lain, gelang terbang yang kemilau perak itu, kelihatannya jauh lebih hebat, aneh dan luar biasa, kelihatannya seperti hidup dan terkendali diwaktu terbang berputar :

"Kepandaian dari Ih Ho, memang jauh berlainan dari yang lain!" seru Coh Liu Hiang.

Thian Hong Cap Si Long menyeringai dingin, katanya bangga: "Inilah Si Kian Sut, salah satu rahasia dari kepandaian sembilan Jinsut. Kalau aku tidak kenal belas kasihan, bagaimana kalau batang pohon itu adalah lehermu? Tidak lekas kau enyah dari sini?"

"Si Kian Sut? Menakutkan benar namanya, cuma pohon itu barang mati, manusia tetap hidup, memangnya aku terima mengulurkan leher untuk kau jirat sampai mati?"

"Kau ingin mencoba?" damprat Thian Hong Cap Si Long. Ditengah bentakkannya, selarik sinar kemilau tahu-tahu sudah melesat kearah Coh Liu Hiang.

Terasa sinar kemilau ini menyilaukan mata, sebuah sinar membundar seperti paruh elang laksana kilat menerjang tiba, daya luncurannya jauh lebih cepat dari apa yang dia bayangkan semula. Tapi sebat sekali ia menggeser kedudukan tujuh kaki kesamping, tak nyana sinar perak itu ternyata seperti hidup, seperti bayangan mengikuti wujudnya, tahu-tahu mengejar tiba pula. Beruntun Coh Liu Hiang bergerak bagai kilat tujuh kali berkelit, namun pandangannya serasa ditutupi bayangan perak yang berkelebat rapat dan kencang, sehingga ia kehabisan akal entah cara bagaimana untuk menyelamatkan diri.

Sekonyonh-konyong tiga bintik sinar hitam melesat terbang dari tapak tangan Coh Liu Hiang, dua bintik sinar bintang yang kehitam-hitaman terbang datar kesamping, namun setitik diantaranya telak sekali membentur sinar perak itu, hingga mengeluarkan suara nyaring, disusul suara "Creng" yang lebih keras, cahaya perak yang memenuhi angkasa seketika sirna, paruh elang itu mematuk menjadi sebuah bundaran gelang dan jatuh ketanah, tapi mendadak mencelat naik dan terbang kembali. Berubah gusar air muka Thian Hong Cap Si Long, bentaknya: "Bagero, berani kau pecahkan Si Kian Sut ku. baik, coba kau lihat pula Tam Sim Sut Ki!" sekoyong-konyong sebuah tabir

kabut tebal warna abu-abu laksana gelombang pasang menerpa datang, ditengah kabut tebal ini lapat-lapat seperti diselingi selarik sinar bintang yang gemerlapan. Lekas Coh Liu Hiang melompat mundur lalu menjejak tanah melambung tinggi ketengah udara.

"Blum" terdengar ledakan dahsyat, bagai pasir menyambar, kabut tebal itu seketika pecah berkembang keempat penjuru, sebuah pohon besar yang semula berada dibelakang Coh Liu Hiang, ternyata sudah keterjang hancur dan terbelah ditengah-tengahnya, kedua sisinya lantas tumbang kekanan kiri, poros pohon ternyata sudah hangus seperti disambar geledek, kebetulan hembusan angin berlalu, daun-daun pohon sama rontok menguning. Sepucuk pohon yang semula tumbuh subur menghijau, dalam sekejap saja sudah kuyu menguning dan layu hangus.

Mau tak mau tersirap darah Coh Liu Hing melihat kehebatan kepandaian orang, batinnya : "Jingsut yang dia latih kiranya amat sesat dan ganas sekali." Sementara dengan ringan badannya meluncur turun tiga tombak jauhnya diatas jembatan batu, Thian Hong Cap Si Long yang sudah diliputi hawa membunuh dengan mata membara hanya beberapa kaki dihadapannya.

Lamkiong Ling berseru kaget dan kuatir: "Pendekar Ih Ho hebat dan lihay, Coh heng kau harus hati-hati!"

"Jinsut aku sudah menjajalnya," sahut Coh Liu Hiang tertawa, "Biar sekarang aku jajal pedang peranti pembunuhmu ini!"

Sepatah demi sepatah berkata Thian Hong Cap Si Long: "Kau ingin mencoba Ni Hun It To Jan?"

"Sekarang umpama kau beri aku kesempatan keseberang sana, akupun tidak sudi lagi, sekarang kau jauh lebih menarik dari pada Jin Hujin, setelah aku menjajal Ni Hun It To Janmu, masih ingin aku sedikit ngobrol dengan kau."

Thian Hong Cap Si Long menyeringai dingin, katanya: "Ni Hun It To Jan merupakan intisari dari segala ilmu pedang, setiap kali pedang di lolos harus menghirup darah dan menebus nyawa, tiada seorangpun yang kuasa melawannya, setelah kau mencobanya, maka jangan harap kau masih bisa bicara dengan orang lain, tanpa berkedip ia tatap Coh Liu Hiang, sorot matanya memancarkan cahaya aneh yang menyesatkan, demikian pula setiap nada suaranya seolah olah mengandung daya sedot yang bisa menyesatkan pikiran orang.

Roman muka Coh Liu Hiang tetap mengulum senyum manis, sekujur badannya dari kepala sampai kaki sudah diliputi kewaspadaan dan kesiapan, matanya justru menatap kebatang pedang atau golok itu.

Panjang golok ini kira-kira lima kaki, sempit panjang seperti pedang. Golok panjang yang aneh, tentu dimainkan pula dengan jurus dan tipu-tipu yang aneh pula. Sekonyong-konyong Thian Hong Cap Si long meraih goloknya seraya mencelat dan terloloslah goloknya! Sinar goloknya laksana kemilau permukaan air yang ditimpa cahaya rembulan, putih menghijau berhawa dingin, menusuk daging menyusup tulang.

Dengan tangan kiri memegang terbalik sarang golok, tangan kanan mengacungkan golok panjang kedepan setinggi alis, tajam golok mengarah keluar, sembarang waktu goloknya itu bisa bergerak menyapu dan membabat dengan dahsyat. Bagai patung batu, badannya berdiri tegak sekokoh gunung, sorot matanya yang aneh menatap kemuka Coh Liu Hiang. Sinar golok dan sinar matanya seolah-olah sudah membungkus dan mengurung sekujur badan Coh Liu Hiang.

Walau golok lawan belum bergerak, tapi Coh Liu Hiang sudah merasakan hawa membunuh yang merembes keluar dari ujung golok tajam ini, semakin lama semakin tebal, berdiri ditempatnya, ternyata sedikitpun tidak berani terlena dan sembarang bergerak! Ia tahu sedikit bergerak meski hanya ujung jarinya saja, maka besar kemungkinan titik kelemahannya akan merupakan sasaran empuk bagi lawannya, maka golok musuh yang hebat itu mungkin laksana kilat akan bergerak mengarah ketempat itu.

Teori ketenangan mengatasi gerakan merupakan intisari yang terutama dari ilmu pedang aliran Tang Ni. "Musuh tidak bergerak aku tak bergeming, musuh bergerak aku bertindak lebih dahulu, tidak bergerak tidak mengapa, sekali serang harus kena sasaran." Bahwasannya pertempuran tokoh silat kelas tinggi, memang cukup sejurus saja sudah bisa menentukan menang dan kalah.

Coh Liu Hiang merasa butiran keringat sudah mulai merembes membasahi ujung hidungnya, namun seraut muka Thian Hong Cap Si Long yang kuning seperti malam itu seolah-olah seperti mayat hidup yang kaku, tidak menunjukkan suatu perubahan.

Mendadak kedua bakiak kayu itu mencelat jatuh kedalam jurang, lama dan lama sekali baru terdengar suaranya yang membalik dari kedua bakiak yang kecemplung keair. Bakiak itu mencelat jatuh keair karena tertendang oleh kaki Thian Hong Cap Si Long yang menggeser maju sebelah kakinya. Selangkah demi selangkah Thian Hong Cap Si Long mendesak maju.

Mau tidak mau Coh Liu Hiang harus ikut bergerak, namun ia tidak tahu cara bagaimana dirinya harus bergerak. Telapak kaki Thian Hong Cap Si Long yang telanjang menggesek balok batu yang kasar selangkah demi selangkah menggeser maju, kulit tapak kakinya sampai tergesek pecah, dipermukaan balok batu ketinggalan noda darah yang merembes keluar. Tapi sedikitpun ia tidak merasakan sakit. Seluruh pikiran, semangat dan perhatiannya, ia tumplek diatas batang goloknya, sedikitpun ia tidak perduli atau tidak merasakan adanya sesuatu yang bergerak dikehidupan mayapada ini, kalau kakinya menggeser dan badannya bergerak maju, namun batang goloknya tetap teracung kedepan tanpa bergeming sedikitpun.

Pada saat itulah segulung angin kencang, tiba-tiba menerjang kepinggang Coh Liu Hiang. Seluruh perhatian Coh Liu Hiang tertuju pada batang golok lawan, mimpipun ia tidak menduga orang akan menyerang lebih dulu menggunakan sarung pedangnya, saking kejutnya mau tidak mau secara reflek sebat sekali ia berkelit mundur. Tapi bertepatan dengan itu pula, Thian Hong Cap Si Long melolong keras dan lantang, golok ditangannya melebihi kilat cepatnya tahu-tahu sudah membabat dan membacok.

Agaknya dia sudah perhitungkan jalan mundur Coh Liu Hiang, sudah memperhitungkan bahwa Coh Liu Hiang terang takkan bisa mundur lagi, memang serasi benar sambaran senjatanya ini, kalau dinamakan pedang berantai pembunuh. Babatan goloknya kelihatan gerakan biasa dan sepele saja, tapi inti sari ilmu pedang, kecerdikan otak disaat menghadapi musuh tangguh, batas tertinggi dari manusia akan ilmu silat yang dipelajarinya, boleh dikata sudah termasuk dan terkandung didalam sejurus babatan golok panjang ini.

Sorot mata Thian Hong Cap Si long membara merah. Pakaian yang dikenakanpun tiba-tiba melembung dan melambai-lambai dipenuhi tenaga murni yang merembes keluar dari seluruh pori- pori kulit badannya. Babatan golok ini harus membunuh, betapapun ia tidak bisa memberikan kelonggaran. Apa benar Ni Hun It To Jan tiada tandingannya diseluruh kolong langit? Dimana sinar golok menyambar badan Coh Liu Hiang pun terjungkal roboh Untuk mundur tidak

mungkin, berkelitpun tak bisa, terpaksa ia terjunkan diri kedalam jurang dari atas balok batu itu. Jiwanya memang tidak mampus oleh babatan golok, namun apakah dia masih bisa bertahan hidup terjatuh kedalam jurang yang dalam serta aliran air yang demikian derasnya.

Lamkiong Ling terbelalak dan berseru kaget. Siapa sangka belum lagi suaranya hilang dan mulut sempat terkatup, bayangan Coh Liu Hiang tiba-tiba sudah melesat mumbul keatas pula. Kiranya meski badannya terjungkal kebawah, namun ujung kakinya masih menyangkut dibibir batu, begitu sambaran golok lewat ia lekas kerahkan tenaga pada ujung kakinya dan dengan seenteng burung camar badannya mencelat naik empat tombak, kini badannya menukik menubruk langsung kepada Thian Hong Cap Si Long. Kalau dia sengaja berdiri diatas balok batu, kelihatannya sengaja menempuh bahaya, padahal siang-siang dia sudah memperhitungkan jalan mundurnya, jauh sebelum bergebrak, dia sudah memperhitungkan setiap macam kemungkinan yang bakal terjadi, maka begitu badannya terjungkal balik, ia serta merta mencelat naik keatas, bukan saja sudah mengerahkan segala tenaga, kecerdikan dan kehebatan gingkangnya, termasuk pula kepintaran dan pengalaman luasnya dalam menghadapi bahaya dan musuh-musuh tangguh, meski hanya satu jurus mereka bergerak, namun pertandingan ini sudah merupakan pertandingan ilmu silat dan kecerdikan otak yang tiada taranya.

Begitu golok membabat Thian Hong Cap Si Long sudah tiada sisa tenaga lagi, pula betapa cepat reaksi Coh Liu Hiang menghadapi serangannya, serta tinggi gingkangnya, sungguh jauh berada diluar dugaannya. Diatas balok batu itu memang teramat bahaya, semula Thian Hong Cap Si Long hendak menggunakan keuntungan berbahaya ini, siapa tahu ada untung pasti ada ruginya juga, kini situasi berubah seratus delapan puluh derajat, mau untung malah dia sendiri yang buntung sekarang.

Dengan menukik dari atas kebawah, serangan Coh Liu Hiang yang hebat ini, terang dia takkan mampu berkelit atau mundur lagi. Maka terdengar "Creng" goloknya membacok diatas balok batu, kembang api muncrat, namun Coh Liu Hiang sudah berhasil meraih rambut kepalanya, serunya sambil tertawa panjang: "Tuan masih ingin kemana. " belum habis kata-katanya, seketika sirap

pula gelak tawanya.

Ternyata rambut yang berada ditangannya, hanyalah rambut palsu dan pada ujungnya kelihatan pula mengelupas selembar kedok muka yang terbuat dari lilin. Dilihatnya badan Thian Hong Cap Si Long jumpalitan jungkir balik kebawah jurang dan mendadak "Cring" seutas rantai lembut melesat keluar dari lengan bajunya memaku kedinding jurang. Badannya lantas bergelantungan pulang pergi beberapa kali mengikuti daya berat badannya lalu dengan enteng meluncur hinggap diatas tanah, sedikitpun tidak terluka apa-apa, malah kelihatan diantara riak gelombang air sungai yang mengalir deras itu bayangannya berlari bagai terbang.

Serunya: "Coh Liu Hiang, sudah kau saksikan Khong Siam Sut dari Ih Ho, bukankah amat hebat dan tiada bandingannya diseluruh jagat?" belum hilang gema suaranya, bayangannya sudah pergi jauh dan menghilang.

Terpaksa Coh Liu Hiang hanya mengawasi bayangan Thian Hong Cap Si Long pergi dengan pandangan melongo, dikejarpun tak akan tersusul, dirintangipun tak bisa, lama juga dia mengawasi rambut dan kedok palsu ditangannya. Dilihatnya butiran air setetes demi setetes mengalir jatuh dari balik kedok palsu itu.

Mendadak Coh Liu Hiang tertawa lebar: "Apapun yang terjadi, aku sudah bikin keringatnya gemerobos. kukira raut mukanya sudah kaku sampaipun tak bisa mengeluarkan keringat,

ternyata kedok ini yang buat gara-gara."

Baru sekarang Lamkiong Ling memburu datang, katanya tertawa: "Kepandaian silat dari Ih Ho Kak benar-benar ganas dan berbahaya, luar biasa pula, kalau bukan ginkang Coh heng yang tiada bandingannya diseluruh jagad ini, hari ini kukira siapa takkan bisa lolos dari babatan golok selihai itu."

Coh Liu Hiang menatapnya bulat-bulat, tiba-tiba ia tertawa pula: "Kepandaian silatnya memang ajaran dari Ih Ho, tapi dia orang Tionggoan bukan dari Ih Ho." Lamkiong Ling melengak, tanyanya: "Darimana Coh heng bisa tahu?"

"Kalau dia betul-betul seorang asing dari Ih Ho, lalu darimana dia bisa tahu kalau aku bernama Coh Liu Hiang?"

Lamkiong Ling berpikir sejenak, serunya: "Benar, Siaute kan tadi tidak pernah menyinggung nama Coh heng."

"Apalagi kalau dia benar-benar datang dari Ih Ho, kita berdua takkan kenal padanya, lalu buat apa dia harus mengenakan kedok muka memalsukan diri?"

"Kalau dia bukan pendekar dari Ih Ho, memangnya siapa dia?"

"Sampai detik ini aku belum bisa meraba siapa dia, tapi aku berani pastikan bahwa dia cukup kenal siapa diriku, demikian pula aku pasti kenal baik dirinya. " sorot matanya tiba-tiba

bercahaya, sambungnya dengan tertawa: "Lingkup persoalan ini tidak begitu luas lagi, karena tokoh-tokoh silat seluruh jagat ini yang betul-betul kenal akan muka asli diriku tidak banyak, apalagi yang mempunyai kepandaian silat setinggi itu, dapatlah dihitung dengan jari."

"Tapi menurut apa yang Siaute ketahui, tokoh-tokoh silat dari tionggoan yang pandai menggunakan ilmu Jinsut dari negeri seberang boleh dikata tiada seorangpun."

"Jinsut jelas bukan kepandaian perguruannya. Disaat-saat yang begitu berbahaya, toh dia tidak mau menggunakan ajaran silat perguruannya yang asli, sudah tentu karena dia tahu, sekali dia memperlihatkan kepandaian asli perguruannya, maka pasti dapat kuketahui siapa dia adanya."

Bersinar pula biji mata Lamkiong Ling, katanya: "Kalau begitu, siapa orang ini, bukankah sudah berada dalam terkaanmu?"

"Rahasia alam tidak boleh bocor, hal ini biar kutunda sementara untuk menyelidikinya lebih lanjut."

"E,eh, agaknya Coh heng pandai jual mahal juga kepadaku ya!" kelakar Lamkiong Ling.

Coh Liu Hiang menggeliatkan badannya, ujarnya: "Bagaimanapun, hari ini akhirnya aku bisa bertemu dengan Jin Hujin, bukan?"

"Kalau Coh heng tidak bisa menemuinya, mungkin Siautepun bisa mati saking gugupnya"

Keduanya tertawa besar sambil berpandangan, lekas mereka menyeberang melalui balok batu dan terus memanjat keatas, sampai disini mereka tak perlu memanjat keatas lagi, terlihat dipinggir sebidang hutan kecil berdiri tegak tiga gubuk bambu berderet. Lamkiong Ling jalan didepan dan langsung menghampiri sebuah gubuk paling kiri serta berseru lantang: "Teecu Lamkiong Ling sengaja kemari menyampaikan sembah hormat kepada Hujin."

Sesaat kemudian terdengar sahutan seseorang dengan pelan-pelan: "Kalau toh kau sudah datang, doronglah pintu dan masuklah sendiri."

Suara ini begitu halus, lembut dan merdu. Mendengar lagu suara yang demikian dapatlah dibayangkan orang macam apa pula yang bicara.

Tak terasa bergetar perasaan Coh liu Hiang, terbangkit semangatnya, katanya sambil berbisik: "Hanya mendengar suaranya tanpa melihat orangnya, aku sudah merasa sekujur badan segar dan bergairah." Lamkiong Ling tidak hiraukan kata-katanya, pelan-pelan ia dorong pintu, lalu melangkah  masuk dengan tindakan hati-hati. Berada ditempat ini, Kaypang Pangcu yang berkuasa ini ternyata bertindak begini hati-hati seperti anak sekolah yang terlambat masuk kelas, takut konangan oleh gurunya dan dihukum, bernapas keras-keraspun tak berani.

Pintu gubuk yang terbuat dari anyaman daun nyiur ini semula memang setengah terbuka, dari sela-sela pintu yang terbuka ini mengepul keluar asap dupa, diatas pohon beringin yang besar itu bertengger seekor burung yang tak ketahuan namanya, agaknya sedang tertidur.

Setiba ditempat rindang dibawah lindungan pohon besar itu, agaknya Coh Liu Hiang takut membuat gaduh ketenangan yang lelap ini, maka langkah kakinya dia atur dan berderap dengan enteng seperti kucing.

Maka terdengar pula suara merdu nyaring itu berkata: "Pintu kan sudah terbuka, kenapa kau tidak langsung masuk?"

Burung itu terkejut, bangun dan mengeluarkan suara aneh, maka terpentang lebar daun pintu didepan gubuk paling kiri.

Pandangan pertama yang terlihat oleh Coh Liu Hiang adalah perempuan berambut panjang yang terurai diatas pundaknya, berpakaian serba hitam berlutut kaku didepan sebuah meja pemujaan, begitu tenang dan tak bergerak sedikitpun, seakan-akan sejak dulu kala dia memang sudah berlutut ditempat itu.

Kebetulan dia membelakangi pintu, maka tidak terlihat raut mukanya. Namun demikian hanya mendengar suara merdu dan bening itu tanpa disadari Coh Liu Hiang sudah berdiri terlongong ditempatnya. Belum pernah terpikir olehnya seorang perempuan yang berlutut membelakangi dirinya, mempunyai daya tarik yang sedemikian besarnya. Tanpa berpaling Jin Hujin berkata pelan-pelan: "Lamkiong Ling siapa yang kau bawa kemari?"

Cepat-cepat Coh Liu Hiang menjura dan berkata: "Cayhe Coh Liu Hiang, sengaja kemari mohon bertemu dengan hujin!"

"Coh Liu Hiang. " suara Jin Hujin kedengaran datar, sedikitpun tidak merasa heran, kagum

atau tertarik. Baru pertama kali ini nama Coh Liu Hiang, ketiga huruf ini dipandang sedemikian tawar dan sepele, apalagi oleh seorang perempuan, mungkin selama malang melintang dengan ketenarannya yang romantis, baru pertama kali ini mengalami sambutan yang dingin.

Lekas Lamkiong Ling menjura pula, katanya: "Sebetulnya Teecu tidak berani membawa orang luar mengganggu ketenangan Hujin, soalnya Coh kongcu ini, mempunyai sangkut paut yang mendalam dengan Pang kita, apalagi kedatangannya kali ini menyangkut pula urusan Pang    kita. "

"Persoalan dalam Pang kita tiada sangkut pautnya dengan aku, kenapa harus cari diriku?" "Tapi urusan ini justru amat erat hubungannya dengan Hujin." tukas Coh Liu Hiang tandas. "Mengenai persoalan apa sih?"

Sekilas Coh Liu Hiang melirik kepada Lamkiong Ling, katanya dengan prihatin: "Sebun Jian, Cou Yu Cin, Ling Ciu Cu dan Ca Bok Hap empat Cianpwee, tentunya Hujin kenal baik dengan mereka, kedatanganku ini kebetulan ada hubungan pula dengan mereka berempat."  Sambil berbicara dengan seksama ia awasi reaksi Jin Hujin, meski tak melihat raut mukanya, namun dapat dilihatnya kedua pundaknya yang datar dan tenang itu, seakan-akan mendadak bergerak. Akhirnya pelan-pelan ia bangkit berdiri dan berpaling.

Memang Coh Liu Hiang sedang menunggu orang memutar badan, ingin dia melihat raut wajah orang yang membuat banyak laki-laki tergila-gila padanya, maka disaat kepala orang bergerak, jantungnya berdetak tambah cepat. Tapi setelah orang berhadapan muka dengan dirinya, seketika Coh Liu Hiang amat kecewa dibuatnya.

Karena muka orang mengenakan cadar yang terbuat dari kain sutera hitam, sampaipun sepasang matanyapun tertutup, agaknya orang sedemikian kikir dan hati-hati memperlihatkan raut wajahnya, supaya orang tidak melihatnya.

Serasa kerlingan tajam mata orang menembus kain sutera hitam itu sedang menatap pada dirinya, menembus raga dan melihat hatinya. Tapi ia tidak tertunduk kerenanya, memang tiada seorangpun dikolong langit ini yang mampu bikin dirinya tertunduk.

Lama dan lama sekali baru Jin Hujin buka suara pula, katanya pelan-pelan dengan tenang: " Benar, memang aku kenal keempat orang itu, tapi hal ini terjadi dua puluh tahun yang lalu kenapa kau datang kemari mengganggu aku membawa urusan yang sudah lama kulupakan ini!"

"Tapi belakangan ini Hujin ada pernah menulis surat kepada mereka, bukan?" tanya Coh Liu Hiang.

"Nulis surat!" Jin Hujin menegas dengan hambar.

Dengan nanar, Coh Liu Hiang menatapnya, katanya: "Benar, surat! Dalam surat itu berkata Hujin menghadapi kesulitan, minta mereka lekas datang membantu, kedatangan Cayhe ini justru mohon keterangan, kesulitan apa yang sedang melibatkan Jin Hujin?"

Sesaat Jin Hujin terdiam, katanya tawar: "Aku tidak ingat kapan aku pernah menulis surat macam itu, mungkin kau salah lihat?"

Seolah-olah mulut Coh Liu Hiang disumbat oleh sesuatu yang pahit getir, sungguh ia tak habis pikir, kenapa Jin Hujin tau mau membeberkan rahasia surat-surat itu. Tapi dia belum putus asa, katanya pula lebih keras: " Jelas sekali Hujin pernah menulis surat itu, hal ini Cayhe takkan salah lihat."

"Darimana kau tahu tak salah lihat?" jengek Jin Hujin dingin. "Memangnya kau kenal gaya tulisanku?"

Kembali Coh Liu Hiang melongo dan terkunci mulutnya, sesaat ia terlongong dan tak bersuara pula.

Pelan-pelan Jin Hujin putar badan berlutut pula, katanya: "Lamkiong Ling, waktu keluar tutup sendiri pintunya, maaf aku tidak mengantar kalian!"

Pelan-pelan Lamkiong Ling menarik Coh Liu Hiang yang masih menjublek ditempatnya.

Katanya: "Kalau Hujin tidak menulis surat itu, tentulah tulisan orang lain yang memalsu namanya, marilah kembali!"

Nama palsu. tidak salah! Gumam Coh Liu Hiang. Tiba-tiba sorot matanya tertuju keatas

meja pemujaan, tanyanya: "Apakah jenazah Im Lopangcu diperabukan? Belum Jin Hujin menjawab, Lamkiong Ling sudah mendahului: "Semua murid Kaypang setelah meninggal harus diperabukan, itulah aturan turun temurun sejak dahulu."

Ternyata Jin Hujin mendadak nimbrung: "Kaupun tak perlu menyesal, suamiku almarhum sekian tahun disiksa penyakitnya, rebah diatas ranjang, mendadak meninggal, tidak banyak orang yang bisa berjumpa dengan beliau. Lekaslah kau pergi saja!"

Mendadak bersinar biji mata Coh Liu Hiang, sahutnya: "Terima kasih Hujin."

"Tiada sesuatu bantuan yang kuberikan kepadamu, tak perlu kau berterima kasih kepadaku."

Coh Liu Hiang mengiakan sambil mengundurkan diri, sementara dalam hatinya ia sedang menerawang dua patah kata-kata Jin Hujin yang terakhir. Kedengarannya kata-kata itu biasa dan umum, bahwasannya mengandung arti yang mendalam sekali.

Tanpa banyak bicara mereka kembali melalui jalan semula, agaknya Lamkiong Ling tahu perasaan Coh Liu Hiang, maka ia tidak mengganggunya, ia iringi orang berjalan pulang. Setiba di Kilam, sudah tengah malam hari ketiga.

Baru sekarang Lamkiong Ling berkata sambil menghela napas: "Pulang pergi sejauh ini tentu bikin Coh heng letih, Siaute pun amat kecewa sekali!"

"Memang aku sendiri yang suka urusan, malah kau ikut menemani aku pulang pergi, sepantasnya aku traktir kau minum dua tiga cawan arak."

Sekali menemani Coh heng minum arak, paling tidak harus mabuk sampai tiga hari, lebih baik Coh heng ampuni aku kali ini saja.

Memang Coh Liu Hiang mengharap orang lekas pergi saja, katanya tertawa besar: "Baik kali ini kuampuni kau, lekaslah kau pergi, kalau tidak kuseret kau pergi minum arak lho." belum habis ia bicara Lamkiong Ling sudah bersoja dan tinggal pergi sambil tertawa tergelak-gelak.

Begitu Lamkiong Ling menyingkir, lekas Coh Liu Hiang menyusul ke Toa-bing-ouw. Kali ini tanpa banyak mengeluarkan tenaga, ia berhasil menemukan mutiara hitam, begitu dirinya muncul, biji mata mutiara hitam seketika berkilauan, bergegas ia melompat bangun diatas sampannya, tanyanya: "Kau sudah bertemu dengan Chiu Ling-siok?"

"Walau ada orang berusaha merintangi perjalananku, akhirnya aku berhasil menemuinya juga."

"Apa benar dia sedemikian cantiknya?"

"Kenapa kau bersikap seperti perempuan, tidak tanya apa yang telah kubicarakan dengan dia, malah tanya kecantikannya lebih dulu. Sayang dia mengenakan cadar, aku sendiripun tak melihat raut mukanya."

Agaknya mutiara hitam jauh lebih kecewa dari Coh Liu Hiang, katanya menghela napas: "Apa saja yang ia katakan?"

"Katanya dia tidak ingat kapan dia pernah menulis surat itu." "Apakah bukan dia yang menulis surat itu?" "Kalau dia yang menulis surat itu, pasti dia sudah tahu kalau Sebun jian dan yang lainnya sudah ajal lantaran dia, masakah dia menipuku? Memangnya dia tidak suka bila aku bantu dia membongkar rahasia ini?"

Mutiara hitam terlongong sekian lamanya, gumamnya: "Tidak salah, memang tiada alasan dia membohongi kau, tapi. " mendadak ia pegang tangan Coh Liu Hiang, teriaknya:

"Katamu dia menggunakan cadar hitam, bukan?" Coh Liu Hiang mengiakan dengan mengut-manggut.

"Bukan mustahil yang kau temui bukan Chiu Ling-siok? Tapi samaran orang lain?" "Tidak mungkin orang lain menyamar dirinya!"

"Kau sendiri tidak melihat raut mukanya, darimana kau bisa tahu kalau dia bukan tiruan?"

"Mukanya memang tidak kulihat, namun lagu suaranya, gerak-geriknya serta tutur katanya, dalam dunia ini siapa yang mampu meniru dia? Apalagi, bila dia tiruan, tentulah takkan ada orang yang berusaha merintangi aku, supaya aku gagal menemuinya."

"Kalau demikian, bukankah rahasia ini takkan bisa dibongkar oleh siapapun?"

"Dalam pandangan Coh Liu Hiang, selamanya tidak pernah ada pengertian 'takkan bisa' segala."

"Dalam matamu ada nama apa? Mungkin hanya ada suka 'mengagulkan diri' belaka" jengek mutiara hitam.

Tanpa hiraukan kata-kata dan sikap orang, Coh Liu Hiang celingukan kian kemari, tanyanya: "Orang yang kupesan kepadamu untuk memperhatikan kedatangannya itu, masakah belum tiba?"

"Sudah pernah datang!"

"Kau sudah melihatnya, dimana dia?"

"Sudah mati!" jawabnya dengan ringan, namun bagi pendengaran Coh Liu Hiang laksaan halilintar menyambar kepalanya. Kontan ia berjingkrak sambil mencengkeram pundak mutiara hitam, teriaknya: "Apa katamu?"

"Kataku dia sudah terbunuh oleh orang." "Kau. kau melihatnya sendiri."

"Kau diam saja melihat dia dibunuh orang? kau. Memangnya kau tidak punya perasaan?"

teriak Coh Liu Hiang dengan suara serak.

Pundak mutiara hitam hampir saja teremas hancur, namun ia kertakkan gigi menahan sakit, bergeming atau mengeluhpun tidak, sinar matanya berkaca-kaca seperti berlinang air mata, sebaliknya mulutnya masih berkata dengan dingin: "Kalau tidak kulihat memangnya kenapa?

Kau. kau tidak minta aku melindunginya, apalagi hakekatnya aku tidak kenal dia, mati atau

hidupnya apa sangkut pautnya dengan aku?"

Coh Liu Hiang melotot sekian lamanya, jari-jarinya akhirnya mengendor, badannya bergoyang gontai dan akhirnya mendeprok duduk ditanah. Soh Yong-yong ternyata sudah ajal. Anak perempuan yang begitu pintar, cerdik, lembut dan halus ternyata sudah meninggal. Sungguh dia tak mau percaya, tidak mau percaya bahwa didalam dunia ini ada orang yang tega membunuh dirinya.

Mata mutiara hitam yang bundar besar itu sedang menatap Coh Liu Hiang, katanya sambil menggigit bibir: "Apakah benar perempuan itu begitu penting bagi dirimu?"

Serak suara Coh Liu Hiang: "Selamanya kau tidak akan mengerti betapa penting artinya dia bagiku, aku rela diriku yang dibacok hancur oleh musuh, sekali-kali tidak akan kuizinkan orang bermain gila terhadap jiwanya.

Mutiara hitam tertunduk sekian lamanya, mendadak ia angkat kepala dengan hati bergejolak haru, katanya membanting kaki: "Boleh kau bersedih akan kematiannya, tapi aku takkan ikut pilu karenanya, kau tiada hak membuatku ikut bersedih terhadap kematian seorang perempuan yang tidak kukenal, benar tidak?"

Coh Liu Hiang melompat bangun, kembali ia meremas pundak orang, serunya: "Benar, tak perlu bersedih karena kematiannya, tapi kau harus jelaskan padaku siapakah yang membunuhnya?"

Naik turun dada mutiara hitam, tak lama kemudian baru ia bersuara dengan nada berat: "Kemarin menjelang petang dia sudah tiba, dia berada diatas kapal sana itu, celingak-celinguk, sekali lihat lantas kau tahu dia orang yang kau tunggu, baru saja aku ingin menghampiri. "

"Tapi kau tidak mendekatinya, benar tidak? Kalau tidak dia takkan mati!" damprat Coh Liu Hiang bengis.

"Belum algi aku melangkah kesana, tahu-tahu datang empat orang menuju kapal itu, keempat orang itu seperti sudah kenal baik dengan dia, mereka menyapa lebih dulu dan ber

bicara beberapa patah, kelihatannya diapun melayaninya dengan tersenyum." "Bagaimana bentuk atau raut muka keempat orang itu?" segera Coh Liu Hiang mengesak. "Jarakku dengan mereka cukup jauh, tidak keulihat jelas raut muka mereka, yang terang mereka mengenakan jubah panjang warna hijau mulus, dari kejauhan warnanya itu amat menyolok pandangan."

"Dikala hendak mencelakai jiwa orang, masih mereka mengenakan pakaian yang menyolok, dalam hal ini pasti ada latar belakangnya yang sudah dimengerti." Jengek Coh Liu-hiang dingin.

"memang mereka sengaja supaya orang lain hanya memperhatikan pakaian mereka. dengan sendirinya tidak perhatikan rayt muka mereka, sebaliknya pakaian boleh sembarang waktu ditinggalkan dan ganti yang lain."

:Kalau toh kau thau akan hal ini, kenapa tidak sengaja kau perhatikan."

"Balakangan baru kuingat hal ini, toh waktu itu aku bukan dewa, mana tahu kalau mereka hendak membunuh orang? apalagi lihat perempuan itu agaknya kenal dengan mereka, sudah tentu aku tidak terlalu ambil perhatian."

"Cara bagaimana mereka turun tangan?' "Kelihatannya mereka amat asyk dalam percakapan, maka tidak enak aku mengganggu mereka, kulihat keempat laki-laki itu agaknya hendak mengajaknya pergi, namun di geleng kepala menolak, keempat laki-laki itu menggerakkan kaki tangan, bicara setengah harian, dia masih tetap geleng kepala sambil tersenyum, keempat orang itu menjadi kewalahan serempak besoja aaknya hendak mengundurkan diri." "Bagaimana kelanjutannya?" desak Coh Liu-hiang tidak sabar.

"Tidak ada selanjutnya... disaat mereka bersoja itulah, dari lengan baju keempat orang itu berbareng melesat keluar senjata rahasia, begitu banyak senjata rahasia itu, cepat lagi arah begitu dekat, walau perempuan itu meloncat, namun sudah terlambat, terdengar pekik jeritannya, tahu- tahu badannya menerjang langkah dan kecebur dalam air."

Gemetar suara Coh Liu-hiang: "Senjata rahasia itu. apa benar mengenai dirinya?"

"Tidak mengenai dia memangnya mengenai diriku?"

"Kau saksikan dia dibokong orang, masakah...masakah. "

"Kau sangka aku ini apa? Memangnya aku ini patung kayu? Melihat dia terbokong sudah tentu amat terkejut, tapi waktu aku memburu datang, keempat laki-laki jubah hijau itu sudah menghilang entah ke mana, air darah masih bergolak dalam danau, namun jenazahnya tidak kelihatan mengambang naik"

Tak menunggu orang bicara habis, Coh Liu-hiang sudah berkelebat terbang ke atas.

Mengawasi gerak-gerik badannya yang seenteng burung walet, mendadak mutiara hitam berkata menghela napas: "Tak nyana orang yang biasanya teguh, gagah dan tenang, adakalanya dia merasa pilu dan haru, orang yang dapat membuatnya sedih dan gugup walau dia mati terhitung punya rejeki dan berbahagialah di alam baka!"

Pagar kayu di pinggir kapal yang patah sudah diperbarui dengan yang baru, air danau di bawahnya teramat tenang, hembusan angin malam membawa bau harum, sinar bintang kelap- kelip seperti kerlingan sang jelita, segala sesuatu tiada sedikitpun tanda-tanda kekerasan dan pembunuhan di sini.

Hampir Coh Liu-hiang tidak bisa membayangkan, di tempat seindah ini ada orang tega membunuh seorang gadis jelita yang begitu rupawan, ingin dia mencari bekas-bekas senjata rahasia yang menancap di pagar pagar kayu, karena dari senjata rahasia yang mereka gunakan ini kemungkinan dia bisa mencari tahu asal usul pembunuh itu.

Tapi segala sesuatu yang cacat di sini sudah diperbarui semua dengan sedemikian telitinya, menghadapi musuh-musuh seperti ini bukan saja perlu bekal kecerdikan harus pula punya keberanian, namun harus punya nasib yang baik pula. Dengan menggelendot di atas pagar, Coh Liu-hiang mengamati sinar bintang di keremangan angkasa yang berkabut.

Mendadak sebuah sampan terkayuh mendatangi dari tengah danau sana, di atas sampan duduk seorang kakek tua berbaju kasar dengan caping bambu yang rendah, dia sedang duduk mengisi cangkir minum arak, waktu tiba di pinggir Hong-ih-tin beberapa kali ia melirik mengawasi Coh Liu-hiang, mendadak ia tertawa, serunya: "Anak muda, kalau ingin minum arak melampiaskan kepedihan hati, marilah silahkan naik ke sampanku ini menemani Li-siu minum beberapa cangkir!"

Nelayan tua ini ternyata begitu supel dan senang bergaul, Coh Liu-hiang mengelus hidung, sekali lompat ia hinggap di atas sampan, selamanya tidak tahu sungkan atau pura-pura, diraihnya cangkir dan poci, sekali tenggak ia habiskan secangkir arak. Katanya sambil angsurkan poci arak ke depan si nelayan tua: "Apa lotiang punya simpanan arak cukup banyak untuk membakar kepedihan dalam relung hatiku?"

Agaknya nelayan tua sudah biasa menghadapi para remaja yang banyak tingkah, ia angkat sebuah guci di sampingnya, sambil tersenyum sahutnya: "Hawa sejuk pemandangan seindah ini, kenapa saudara kecil berlinang air mata?" Coh Liu-hiang terloroh-loroh sambil menengadah, serunya: "Berlinang air mata? Selama hidup orang she Coh tidak tahu betapa rasa air mata itu?" suara tawanya semakin lemah dan akhirnya berhenti. "Tak" dengan keras ia turunkan cangkir arak tak jadi diminumnya.

Dengan mendorong nelayan tua itu mengawasinya sekian lama, mendadak ia menarik napas panjang dan berkata rawan: "Adakah yang begitu sedih bagi diriku, seumpama aku betul-betul mati, apa pula halangannya?"

Coh Liu-hiang berjingkrak bangun seraya menarik pundak si nelayan tua, teriaknya: "Yong- yong kau. benarkah kau?" tak perduli sampan itu bakal terbalik, sekali jinjing ia peluk orang

sekencangnya, serunya bergelak tawa: "Memang aku tahu kau takkan bisa mati, aku tahu takkan ada orang tega membunuhmu"

Soh Yong-yong memeluk lehernya, katanya pelan sambil rebah di pinggir kupingnya: "Turunkan aku, kau tidak malu dilihat orang?"

"Aku kan hanya memeluk kakek tua kerempeng, meski dilihat orang apa pula halangannya?" dengan sebelah tangannya ia pegang hidungnya, serta katanya: "Ada seorang Song Thiam-ji, seorang Li Ang-siu aku sudah cukup dibuat pusing kepala, tak kira kau malah jauh lebih nakal dari mereka, sengaja kau bikin aku sedemikian gugup dan sedih"

"Bukan aku hendak membuatmu gelisah, maksudku supaya orang-orang itu betul anggap diriku sudah mampus, maka mereka takkan berjaga-jaga lagi, coba kau pikir masakah aku tega membuatmu begitu gugup dan gelisah?"

Pelan-pelan Coh Liu-hiang menurunkannya, tanyanya dengan menatap mukanya: "Adakah mereka melukaikau?"

"Cara kerja keempat orang itu sungguh kejam dan telengas, untung sebelumnya aku sudah melihat gejala-gejala yang tidak benar, kalau tidak. kalau tidak mungkin aku tak bisa bertemu

dengan kau lagi."

"Terhadap orang seperti kau, mereka bisa menurunkan tangan jahat, pantas kalau mereka kupenggal kepalanya, lekas kau beritahu siapa mereka?"

"Mana aku kenal mereka?"

"Tapi kau ada bicara dengan mereka bukan?"

"Kemarin aku sedang tunggu kau di kapal itu, mendadak datang empat orang, salah satunya tanya apakah aku nona Soh, katanya mereka adalah murid-murid Cu-soa-pang, dikatakan pula bahwa kau yang suruh dia menjemput aku"

Dia tertawa manis, lalu melanjutkan: "Tapi aku tahu, kau tahu bahwa aku menunggu di sini, sekali-kali tidak mungkin suruh orang lain, kau tahu aku paling benci berhadapan dengan laki-laki asing yang tak kukenal, oleh karena itu timbul rasa curigaku, sudah tentu kutolak permintaan mereka, kulihat pula mereka saling melirik memberi tanda, maka siang-siang aku sudah siap dan waspada"

"Untunglah kau tahu akan diriku, laki-laki yang tidak akan membuatmu muak dan benci. tapi

kenapa tidak kau bongkar saja kedok mereka waktu itu? desak mereka untuk menjelaskan!" "Sepak terjang orang-orang itu sedemikian kejam, rencananya sempurna dan teliti, di belakang mereka pasti ada orang, aku sendiri tidak tahu apa aku kuasa menghadapi mereka, maka. "

"Maka kau pura-pura terkena serangan senjata rahasia mereka, supaya urusan tidak berbuntut panjang"

"Kau tahu aku paling tidak suka berkelahi dengan orang" "Tapi warna darah di dalam air, apa pula yang telah terjadi?"

Soh Yong-yong cekikikan, ujarnya: "Kebetulan waktu aku lewat Kielam, kubeli satu dos yancu untuk Thiam-ji"

Coh Liu-hiang tertawa besar sambil tepuk tangan, tiba-tiba ia hentikan tawanya serta berkata dengan nada berat: "Tapi tiada orang yang tahu bila kau sedang menunggu aku di sini, memangnya siapa orang-orang ini? Darimana tahu kau menungguku di sini? Adakah Hek-tin-cu? Dia pasti bukan orang demikian"

"Persoalan ini boleh kelak kau pikir lebih lanjut." ujar Soh Yong-yong lembut. "Benar! Sekarang tiba saat nya kutanya hasil dalam tugas perjalanan bagaimana? sudahkah kau ketahui biasanya laki-laki siapa saja yang keluar masuk Sin-cui-kiong?" "Waktu hal ini kutanyakan kepada bibiku,coba kau terka bagaimana jawabannya?' "Apa yang dia katakan?" "Katanya : Jangan kati laki-laki,sampaipun ayam jagoan jangan harap bisa mondar-mandir keluar masuk Sin-cui-kiong."

Tak tahan Coh-Liu-hiang menahan tawanya, katanya mengerut kening: "Jikalau tiada laki-laki keluar masuk SIn-cui-kiong, bagaimana pula si gadis cilik itu bisa bunting? Biasanya bagaimana keadaan hidupnya? Adakah sesuatu barang peninggalannya?"

"Gadis itu bernama Sutouw King, gadis pendiam yang sehari-hari hidup dalam ketenangan, jarang bicara, kecuali bisa iseng memetik harpa, tiada sesuatu hobbynya pula, siapapun takkan percaya dan membayangkan bisa terjadi peristiwa itu."

"Gadis pendiam yang tak suka bicara, perasaannya biasanya paling suburm jikalau dampai dia jatuh cinta terhadap seseorang, sampai mati cintanya itu takkan goyah dan luntur, oleh karena itu dia rela dirinya menjadi korban, betapapun tak mau membocorkan rahasia lelaki itu."

"Terhadap berbagai type wanita, apakah kau tahu sedemikian jelasnya?"

Coh-Liu-hiang mengelus hidungnya, lekas ioa menukas: "Apa benar dia tidak meninggalkan sesuatu?'

Tidak! Boleh dikata perjalananku sia-sia, apapun tiada yang brhasil kutanyakan.

"Tapi orang-orang itu kuatir bila kau mendapatkan sesuatu rahasia maka kau harus dibunuh untuk menutup mulut. Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa orang-orang itu punya sesuatu ciri yang merupakan sumber penyelidikan kami didalam Sin-ciu-kiong, cuma sampai detik ini belum ada orang yang memperhatikan. tapi kenapa sumber-sumber ini tidak sampai menjadi perhatian

orang banyak?"

"Dan, kau? Beberapa hari ini. apa pula hasilmu?" balas tanya Soh Yong-yong.

Coh Liu-hiang ceritakan dengan jelas sampai se detail-detailnya, apa yang dia alami selama beberapa hari ini. Mendengar betapa kejam dan ganas serta wataknya yang menyendiri tentang Tionggoan In- tiam-ang Soh Yong-yong geleng-geleng kepala, mendengar tentang gambar luksan dan tilusan surat itu matanya terbelalak. Mendengar bahwa Chiu Ling-siok ternyata adalah istri ekc pangcu Kaypang yang terdahulu, dan Coh Liu-hiang sendiripun pernah menemuinya ter tertahan Soh Yong-yong berteriak tertahan.

Supaya Soh Yong-yong tidak kuatir dan terlalu tegang, sengaja Coh Liu-hiang hanya ceritakan sepintas saja tentang pertempurannya dibatu jembatan diatas jurang yang dalam itu. Tapi SOh Yong-yong pun sudah terlalu tegang sampai mengepal kencang jari-jarinya.

katanya gemetar : "Bukan saja ilmu silat orang itu tinggi, malah keji dan telengas pula, banyak akal muslihatnya, kau menghadapi musuh macam itu betul-betul harus waspada dan lebih hati- hati."

Satu persatu Coh-Liu-hiang membuka jari-jarinya, yang terkepal itu, katanya lembut dengan tersenyum: "Tahukah kau orang lain sering berkata Coh-Liu-hiang adalah manusia yang paling dikatuki diseluruh jagat ini seumpama orang itu amat menakutkan, masakah dia bisa menandingi Coh-Liu-hiang."

"Coh-Liu-hiang memang teramat tangguh sayang sanubarinya terlalu bajik dan lemah, orang lain tega membunuhnya, sebaliknya dia tidak tega melukai orang, coba katakan cara bagaimana aku takkan kuatir?"

Coh-Liu-hiang menepuk-nepuk tangnnya, katanya tertawa: "Jangan kuatir untuk membunuh Coh-Liu-hiang, bukan soal gampang."

Soh Yong-yong unjuk tawa manis, namun alis berkerut pula, katanya: "Coba kau pikir, mungkin tidak ada orang yang menyamar jadi Thian-hong-cap-si-long adalah orang misterius yang membunuh Thian-jiang-sing Song Kang dan orang yang terjun kedanau itu"

"Memangnya dia jikalau terkaanku tidak salah yang membunuh Ca-Bok-hap, Cou-Yu cinLing ciu-cu dan Sebun Jianpan dia, orang yang mencari Thian-it-sin-cui dari. Sin-cui-kiong, tentulah dia pula!"

"Begitu besar hasratnya hendak membunuh kau, berusaha merintangimu menemui Jin-hujin Caiu-Ling siok, sungguh tak nyana Caiu-Ling siok tidak mau bicara apa-apa bukankah segala usahanya itu sia-sia belaka?'

Mendadak Coh-Liu-hiang unjuk senyum lebar katanya: "Caiu-Ling siok masih mengucapkan beberapa patah kata yang amat penting artinya. "apa katanya?" "Dengarlah dengan seksama, dia berkata: 'Kaupun tak perlu menyesal, suamiku almarhum sudah rebah berpenyakitan beberapa tahun, mendadak meninggal orang-orang dapat menemui beliau tidak banyak jumlahnya... "

SOh Yong-yong berpikir sejenak, katanya: "Aku tak bisa meraba beberapa patah kata itu mengandung arti yang amat penting apa?' "Coba kau pikirkan secara seksama, pasti kau dapat simpulkan"

Kembali Soh Yong-yong ulangi beberapa patah kata-kata itu akhrinya sorot matanya bersinar katanya: "Aku tahu sekarang, kalau Jin lo pangcu itu sudah lama berpenyakitan diatas ranjang, mana mungkin bisa mati secara mendadak, murid-murid Kaypang mereka, kalau toh tahu bahwa Pangccu mereka sakit menjelang ajal, sudah sepantasnya selalu menjaganya dan merawatnya dengan beliau hanya terbatas beberapa orang saja."

"Begitulah!" seru Coh Liu-hiang tepuk tangan. "Kedengarannya beberapa patah kata itu biasa saja, namun satu sama lain saling bertentangan, Jin-hujin itu memang berotak cerdik coba kau pikir kenapa dia mengeluarkan kata-kata yang saling bertentangan ini ?"  "Apa bukan sedang memberi bisikan kepada kau?' "Memang begitulah!" "Tapi ada persoalan apa yang tidak langsung dia utarakan kepada kau? Memangnya persoalan itu dia rahasiakan terhadap Lamkiong Ling? Masakah Lamkiong Lingpun..." "Meskipun rumit seluk beluk dan banyak lobang kelemahan serta hubungan satu sama lainnya, tapi sekali-kali kami jangan secepat itu menarik kesimpulan, karena persoalan ini amat penting dan besar artinya, tidaklah sederhana seperti rabaan kita semula!"

"Kalau begitu, jadi kau harus pergi menemui Jin hujin itu pula?" "Ya, harus menemui sekali lagi!"

Soh Yong-yong menggenggam tangannya katanya lembut: "Tapi kau harus ingat, bahaya untuk kedua kalinya ini tentu lebih besar kalau toh mereka tahu kunci rahasia dari semua persoalan ini berada ditangan Jin-hujin, mana mungkin mereka mau memberi kesempatan kepadamu untuk berhadapan sendiri dengan Jin-hujin?"

"Kukira, sementara mereka takkan mengira bahwa aku pergi menemui Jin-hujin lagi, maka perjalananku kali ini lebih cepat lebih baik kalau terlambat bahayanya tentu semakin besar."

"Sekarang mereka paling baru membokong dan menyergap kau, tapi bila kau sudah hampir membongkar kedok rahasia mereka, pasti mereka bakal menggunakan segala cara untuk menghadapimu."

"Kalau hendak memancing ikan besar, sudah tentu berani memberi umpan yang besar pula"

"Mana kau... kau sendiri hendak menjadi umpan itu untuk memancingnya keluar?'

Terasa oleh Coh-Liu-hiang jari-jari tangan Soh Yong-yong yang menggenggam tangannya dan gemetar, maka tangannya yang hangat dan kokoh ia balas menggenggam, katanya tertawa:

"Umpan ini memang terlalu besar, betapapun besar ikan itu takkan bisa menelannva bulat- bulat, kau tidak usah kuatir, dengarkan saja kataku, lekas kau pulang kemudian lemparlah botol- botol arakku kedalam laut biar dingin, suruh pula Thian-ji menyediakan beberapa ekor ayam, dalam lima hari mendatang, pasti aku sudah pulang dan menggasak habis semuanya!"

Soh Yong-yOng menatapnya dengan mata berkaca-kaca, namun biji matanya memancarkan sinar terang dan lembut hangat laksana bintang kejora. Akhirnya ia tertawa lebar dan katanya: "Sudah tentu kau bisa pulang, dalam dunia ini siapa yang mampu merintangimu?"

Diatas dunia ini, tiada sesuatu yang lebih menggairahkan dari pada raut muka seorang jelita dan keyakinannya, waktu Coh Liu hiang tiba diatas daratan, terasa tenaga segar semangat bergairah.

Soh Yong-yong memang seorang gadis penurut. Gadis yang jelita yang pintar, ternyata masib dengar katanya, itulah kebahagiaan yang terbesar bagi seorang laki-iaki.

Dengan puas dan senang hati Coh Liu hiang mengguman seorang diri: "Dunia ini sungguh tiada sesuatu yang menyulitkan diriku. "

Terdengar seseorang menanggapi sambil tertawa: "Tapi apakah kau tidak menyulitkan dunia kehidupan ini?" belum hilang suaranya Bu Hoa tahu-tahu melayang turun, sikapnya yang agung suci senyumannya yang welas asih dibawah penerangan sinar bintang kelihatan demikian memukau seperi dewata dari langit. Coh Liu-hiang tertawa lebar, serunya: Ku kira hanya aku sendiri si kucing malam ini, tak nyana masih ada lagi.

"Masih ada dua." kata Bu Hoa.

Wuktu Coh Liu hiang berpaling, dilihatnva seseorang berdiri mematung didalam Hong-ih-ting, sana pakaian hitamnya kelihatan mengkilat ditimpah sinar bintang, siapa lagi kalau bukan Hek tin cu, Entah lantaran apa pemuda yang aneh dan luar biasa itu tetap berdiri di sana, menjublek seperti orarg linglung.

"Malam pertama di Toa bing ouw, menyediri di Hong-ih-ting Pinceng kira itulah Coh hetng, waktu aku hendak kesana tak kira Coh heng sudah muncul disini.

"Malam sudah selarut ini, tak kira kau masih ada selera pesiar ketempat ini?"

"Janji main catur dan minum arak tempo hari setiap waktu tak pernah terlupakan oleh Pinceng, memang sengaja aku kemari mencari Coh heng untuk menepati janji."

Mana ada selera Coh-Liu-hiang main catur minum arak segala. Tapi biji matanya berputar, tiba tiba ia mendapat akal, katanya tertawa: "Untuk main catur kami berdua sudah cukup hendak minum arak perlu ditambah Lam kiong Ling lagi baru menarik."

"Kalau demikian, tiada halangan kami gedor rumahnya menjadi tamu tak diundang!'

"Baiklah kau tunggu disini sebentar biar kugugah dulu sahabat yang sudah tertidur di sana itu, sebentar kuiringi kau kesana!" tanpa menunggu jawaban Bu Hoa, badannva sudah berkelebat kearah Hong-ih thing, dilihatnya Hek-tin-cu menjublek seperti patung tanpa bergeming, alisnya berkerut dalam seolah-olah ada sesuatu persoalan pelik yang merundung hatinya.

Coh Liu-hiang tertawa, katanya; "Hanya kuda tidur sambil berdiri, Hek heng kenapa meniru kuda?"

Hek-tin-Cu tersentak sadar dan berpaling, sekilas itu terkandung banyak perubahan dari kerlingan matanya, namun suaranya tetap dingin: "Kalau tuan ingin bercanda, lebih baik pergilah, kau mencari nelayan tua itu"

"Tidak jelek pandangan matamu." puji Coh Liu-hiang. Hek tin-cu menengadah kepala tanpa hiraukan orang.

Coh Liu-hiang tertawa besar, ujarnya: "Malam ini aku sudah ada janji tak bisa temani kau minum arak, biar dua tiga hari lagi kami berbincang lebih lanjut.

Mendadak orang keluarkan kata-kata yang tiada juntrungannya ini keruan Hek-cin Cu terheran heran, baru saja ia hendak umbar waktunya tiba-tiba Coh-Liu hiang menekan suara berbisik dengan cepat: "Bawa kudamu dan tunggu aku diluar pintu selatan soal ini menyangkut urusan penting bisa tidak membongkar rahasia keseluruhannya tergantung dari kerja sama kami ini."

Disaat Hek-tin-cu masih terlongong, Coh Liu hiang sudah putar badan sambil bergelak tawa tinggal pergi.

Ada sementara orang, tanpa tidur tiga hari tiga malam tidak apa-apa tentunya Coh Liu Hiang termasuk diantara orang-orang itu, demikian pula Bu-Hoa dan Lamkiong Ling. Bahwasanya Bu Hoa tidak perlu mengetuk pintu, hakekatnya Lamkiong Lingpun tidak tidur, kini dia sedang menghadapi araknya minum seorang diri seolah-olah memang sedang menunggu kedatangan mereka. Papan catur dengan biji-bijinya sudah tersedia diatas meja, demikian pula arak dan hidangan gegaresnya sudah siap diatas meja.

Lamkiong Ling tertawa, ujarnya: "Akhirnya, kali ini kami bertiga harus benar-benar menentukan menang kalah, sebelum rebah tak berkutik siapapun dilarang berlalu, entah bagaimana maksud Coh-heng?"

"Kau kan tahu aku ini pemabukan yang takkan pergi sebelum tenggelam dalam air kata-kata, kenapa tidak kau tanya Bu Hoa, malah tanya aku?" sembari main catur dia tenggak araknya dengan lahap, sedemikian asyiknya seumpama dilecut dan dihajarpun dia takkan mau pergi.

"Lamkiong heng toh tidak tahu betapa asyiknya orang main catur, sungguh suatu hal yang harus disesalkan."

Lamkiong Ling tersenyum, ujarnya: "Pemain catur harus peras otak main secara serabutan akan kalah, mana bisa dibanding kenikmatan seorang penonton yang bebas merdeka?" demikian Bu Hoa bicara pula, tiba-tiba dilihatnya Coh Liu-hiang meletakkan sebiji caturnya digaris pinggir paling sudut.

Berkerut alis Bu Hoa, katanya: "Teori catur sejak dulu kala sampai sekarang, Pinceng pernah membacanya semua, belum pernah kulihat cara permainan seperti ini, daerah bawah yang amat penting ini, apakah Coh-heng tidak perlu menjaganya?"