Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 32

 Jilid 32

Oh Put Kui berkerut kening, pelbagai ingatan  segera berkecamuk didalam benaknya..........

Haruskah dia turun tangan? Atau jangan? Pemuda itu tak dapat mengambil keputusan secara pasti.

Sebab bagaimanapun  juga pertarungan itu menyangkut nama baik serta pamor dari suatu perguruan.

Sementara dia masih termenung mencari akal, tiba-tiba terdengar keempat orang dayang dari Kiau Hui-hui sudah berteriak keras:

"Oh kongcu, siancu dan nona Nyoo sudah tak mungkin bisa memisahkan diri lagi, bila tidak segera dilerai, akibatnya kedua orang itu akan terluka parah atau bahkan tewas. Oh

kongcu, kau harus mencari akal dengan cepat untuk memisahkan mereka berdua!"

Tiba-tiba saja Oh Put Kui merasakan  hatinya bergetar keras, teriakan dari keempat orang dayang itu telah menyadarkan dirinya.

Paling tidak, dia tak boleh membiarkan dua  orang  gadis yang cantik rupawan itu tewas dalam keadaan mengenaskan.

Dalam waktu singkat dia  mengambil keputusan didalam hatinya.

Mendadak pemuda itu mendongakkan kepalanya dan berpekik nyaring, begitu pekikannya selesai diutarakan, tubuhnya menerjang kedalam arena dengan kecepatan luar biasa.

Tampak sepasang tangannya direntangkan  kekiri  dan kanan secara bersama-sama......

Pada saat yang  bersamaan dia telah  mencengkeram ruyung Mu-ni-pian  dan  menyentil lepas pedang  penakluk iblis......

Ditengah gelak tertawanya yang sangat nyaring inilah, kedua orang gadis itu sama-sama mundur sejauh delapan langkah sebelum berhasil berdiri tegak.

Tapi mereka berdua segera menghembuskan napas panjang dan memandang kearah Oh Put Kui dengan  termangu.

Tampaknya kelihayan ilmu silat yang dimiliki anak muda itu membuat mereka tercengang dan hampir saja tidak percaya.

Setelah berhasil memisahkan kedua orang  gadis  itu,  Oh Put Kui baru menegur dengan suara dalam!

"Siapa suruh kalian berdua saling beradu tenaga dalam? benar-benar suatu tindakan yang tidak seharusnya dilakukan!"

Teguran itu diutarakan sangat berat dan pedas, bahkan sama sekali tidak sungkan-sungkan.

Akan tetapi dua orang gadis itu tidak menjadi marah atau tersinggung, justru perasaan menyesal dan  malu muncul didalam hati masing masing, tanpa disadari mereka berpikir dihati:

"Aaah, betul  juga. mengapa kami harus saling beradu  jiwa?"

Akan tetapi kedua orang itupun paham, ibarat anak panah diatas gendewa, bagaimanapun juga harus dilepaskan juga.

Maka setelah Oh Put-kui menyelesaikan perkataannya, kedua orang gadis itu hanya menundukkan kepalanya renda- rendah tak berani membantah. Dengan sorot mata yang tajam Oh Put-kui mengawasi kembali wajah kedua orang gadis itu, lalu sesudah tertawa terbahak-bahak dia berkata:

"Sudahlah, pertarungan kali inipun harus diakhiri dengan serie alias sama kuat, menurut pendapatku, biarpun ilmu  ruyung penakluk iblis dan ilmu pedang penakluk iblis diadu seratus kali lagipun percuma saja, selamanya tak akan bisa diketahui siapa yang lebih unggul."

Kedua orang gadis itu mendongakkan kepalanya sambil memandang pemuda itu sekejap, kemudian  masing-masing tersenyum.

Dan pada saat itulah, dari atas bukit di belakang bangunan loteng berwarna putih itu kedengaran dua kali suara gelak tertawa yang sangat keras.

Menyusul gelak tertawa itu, terdengar seseorang berseru lantang:

"Perkataan itu memang benar nak, dia  berkata  sangat tepat. "

Mendengar ucapan tersebut, dengan perasaan terperanjat Oh Put-kui segera mendongakkan kepalanya.

Tapi Nyoo Siau-sian segera berteriak dengan gembira: "Suhu, rupanya kau sudah datang lebih duluan. "

Saat itulah  kedengaran pula suara yang lain  berseru dengan nada berat dan rendah

"Wi in suci, tampaknya perselisihan kita betul betul suatu perselisihan yang tak ada artinya. !"

Mendengar suara ini, Kiau Hui-hui yang segera menjerit keras:

"Suhu, rupanya kau orang tua juga datang" Paras muka Oh Put Kui yang semula diliputi perasaan  kaget dan terkesiap itu, kini berubah menjadi  penuh senyuman.

Dia tak menyangka suhu dari kedua orang gadis itu sudah datang semua.

Kini dia baru menyesal mengapa harus turun tangan.

Tapi dia pun merasa gembira atas keterlibatannya didalam pertarungan tadi.

Kalau tidak, entah  sampai kapan pertarungan antara ruyung dan pedang tersebut baru bisa diakhiri?

Atau bahkan bisa jadi akan berubah menjadi perselisihan yang turun temurun.

Tapi bila didengar dari nada pembicaraan Giok-hong sinni It-ing Taysu barusan, agaknya dia sudah tidak berniat lagi untuk meneruskan pertarungan tersebut.

Tapi bagaimana dengan Wi-in sinni? Ia percaya, nikou tua itupun tak akan menampik.

Disaat Oh Put Kui mendongakkan kepalanya sambil tersenyum, dua sosok bayangan manusia telah  meluncur turun dari puncak tebing itu dengan gerakan  yang  amat ringan.

Dalam waktu singkat ditengah arena telah  bertambah dengan dua orang nikou tua.

Seorang diantaranya sudah pernah dijumpai  Oh  Put  Kui, dia adalah Wi-in sinni.

Ini berarti nikou yang satunya lagi adalah It-ing taysu.

Tapi hampir saja Oh Put Kui tidak percaya kalau kedua orang nikou tersebut adalah tokoh silat yang  sudah lama termashur dalam dunia persilatan. Sebab Giok-hong sinni It-ing taysu yang merupakan satu diantara tiga dewa ini nampaknya baru berusia tiga puluh tahunan.

Wajahnya yang lembut dan saleh serta bajunya yang putih bersih dengan senyum manis membuat nikou itu kelihatan lebih anggun dan simpatik.

Nyoo Siau sian segera lari menghampiri nikou tua itu, sedangkan Kiau Hui-hui menghampiri nikou setengah  umur  itu.

"Suhu " hampir bersamaan waktunya mereka berseru.

Tapi kedua orang nikou itu segera menukas: "Cepat kau jumpai dulu paman gurumu!"

Maka kedua orang gadis itupun  bertukar patner  untuk saling memberi hormat.

Dengan senyum dikulum It-ing taysu berkata kepada Nyoo Siau-sian:

"Anak Sian, tampaknya seluruh ilmu ruyung dari gurumu telah kau pelajari dengan sempurna."

"Susiok, enci Kiau lebih ganas daripada aku," kata Nyoo siau-sian sambil tertawa, "bukan saja dia sudah menguasai penuh seluruh ilmu pedang penakluk iblis dari susiok, bahkan permainannya sudah mendekati kesempurnaan."

Sementara itu Kiau Hui-hui yang baru saja memberi hormat kepada Wi-in sinni segera membantah:

"Adik Sian, kau tak usah memuji diriku, bagaimanakah keadaan yang sesungguhnya tentu kau pahami, andaikata Oh kongcu tidak segera turun tangan, aku si enci akan mengenaskan sekali."

"Enci Kiau, kau jangan menyindir orang" Nyoo Siau-sian kembali berteriak. "sudah jelas aku yang tak mampu menahan diri. " "Sudah, sudahlah, kalian tak usah saling memuji. "

tukas It-ing taysu kemudian sambil tertawa ramah.

Kemudian sambil mengalihkan sorot matanya kearah  Oh Put Kui, sembari ujarnya sambil tertawa:

"Oh sicu, kalau dilihat dari jurus serangan yang  kau  gunakan tadi, tampaknya  mirip sekali dengan Thian-liong siankang, apakah siau-sicu adalah ahli waris dari Thian-liong sangjin?"

"Suhu boanpwee adalah Tay-gi!" jawab Oh Put Kui dengan sikap amat menghormat.

It-ing taysu yang mendengar itu segera berseru dengan gembira:

"OOdwOoooh....... rupanya  kau adalah muridnya Tay-gi sangjin, kalau begitu tak aneh lagi. "

Mendadak ia menghela napas panjang, lalu kepada Wi-in sinni katanya pula:

"Suci. Kita benar-benar mencari penyakit buat diri sendiri. aku lihat pertarungan yang diselenggarakan satu kali setiap dua tahun ini tak usah dibicarakan lagi mulai sekarang "

"Adikku, sejak lama kita sudah seharusnya menghentikan pertarungan itu " Wi-in sinni tersenyum.

Kemudian setelah berhenti sejenak,  kembali  katanya: "Kalau dilihat dari kemampuan yang dimiliki kedua orang

bocah itu, semestinya merekapun bisa terhitung jago  kelas satu didalam dunia persilatan, aku rasa kita berdua pun  tak usah merisaukan keadaan mereka lagi. "

Oh Put Kui yang turut mendengarkan pembicaraan itu dari samping, diam-diam merasa amat terkesiap.

Dia sama sekali tidak mengira kalau nikou yang saleh ini bisa bertarung hampir empat puluh tahun lamanya gara-gara ingin mengetahui ilmu silat siapakah yang  lebih  unggul diantara mereka. Tiba-tiba saja dia merasa, ada kalanya orang persilatan memang bisa berbuat bodoh sekali tanpa mereka sadari.

Setelah tertawa hambar It-ing suthay berkata pula:

"Yaa betul, pertandingan yang tak berarti telah menyia- nyiakan waktu kita selama empat puluh tahun, aaaaaiiii "

Pada saat itulah,  tiba-tiba terdengar Nyoo SIau-sian berseru sambil tertawa cekikikan:

"Susiok, selanjutnya  aku tidak perlu bertarung  melawan enci Kiau lagi bukan?"

It-ing suthay  segera  manggut-manggut. Sedang Wi-in sinni berkata pula sambil tertawa:

"Anak Sian, ilmu pedang penakluk iblis dari susiok mu tiada taranya didunia ini, berbicara soal ilmu pedang,  mungkin  selain ilmu pedang thian-lui-kiam-hoat dari si iblis diantara pedang yang disebut orang sebagai pedang iblis pencabut nyawa Oh Ceng-thian, didunia ini tiada ilmu pedang  kedua yang mampu menandinginya."

Oh Put-kui yang mendengar ucapan tersebut tiba tiba saja merasakan hatinya bergetar.

Ia tahu ilmu Thian-lui-kiam merupakan ilmu pedang andalannya, sebab dia adalah putera Oh Ceng-thian.

Sekalipun demikian,  pujian dari Wi-in sinni ini mendatangkan rasa gembira juga bagi Oh Put-kui yang mendengarkan.

Tanpa terasa sebelum senyman menghias ujung bibirnya. "Suhu," terdengar Nyoo Siau-sian berkata sambil tertawa.

"benarkah ilmu pedang "Thian-lui-kiam itu lihay sekali?"

Wi-in sinni manggut manggut seraya tertawa:

"Ya, tentu saja. kalau tidak mengapa Oh tayhiap disebut orang sebagai iblis diantara pedang?" Sambil tertawa It-ing suthay berkata pula:

"Nak sian, suatu ketika bila kau dapat menyaksikan kehebatan dari ilmu pedang thian-lui-kiam, maka kau akan tahu bahwa suhumu tidak membohongi kau, lagi pula akupun tahu "

Setelah menunduk agak sedih, ia meneruskan:

"Sepanjang hidup, mungkin tiada ilmu pedang lain  yang bisa menandingi kehebatan Oh tayhiap!"

"Suhu, apakah kau suruh aku mencari si iblis diantara pedang untuk mencoba kepandaiannya?" tanya Kiau Hui-hui tiba-tiba sambil mengerdipkan matanya.

Dengan cepat It-ing suthay menggeleng:

"Anak bodoh, bahkan suhumu sendiripun sadar bukan tandingannya. apalagi kau? Berani amat kau berbicara latah? Betul-betul anak harimau yang tak tahu diri. "

"Tecu tidak percaya kalau ilmu pedang Thian-lui-kiam bisa lebih hebat daripada ilmu pedang ciang-mo-kiam!" seru Kiau Hui-hui lagi sambil tertawa.

Mendadak Oh Put Kui berkata sambil tersenyum:

"Kiau siancu, ilmu pedang Thian-lui  kiam-hoat tersebut memang betul-betul memang sangat hebat."

"Darimana kau bisa tahu?" tanya Nyoo siau-sian sambil tertawa.

"Tentu saja aku tahu "

"Dimana sih kau pernah menyaksikan ilmu pedang Thian- lui-kiam itu?" tanya Kiau Hui-hui pula, "Oh kongcu, bila kau mengetahui, bersediakah kau memberitahukan kepadaku, dimanakah si iblis diantara pedang itu berada?"

"Apakah kau ingin menjumpai dia orang tua?" tanya Oh Put Kui sambil tertawa hambar. Kiau Hui-hui sama sekali tidak  memperhatikan nada pembicaraan dari Oh Put Kui saat itu.

Setelah membereskan rambutnya, dia menjawab:

"Benar, aku ingin menggunakan ilmu pedang  ciang-mo- kiam untuk mengungguli ilmu pedang Thian-lui-kiam."

"Kau tak akan bisa mengunggulinya......." Oh Put ui menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak percaya, dari namanya  saja  iblis  diantara pedang, sudah kedengaran membawa tiga  bagian  hawa sesat, sejak dulu sampai sekarang kaum lurus pasti dapat mengungguli kaum sesat, maka ilmu pedang penakluk iblis justru akan merupakan ilmu tandingannya."

"Kiau siancu, dari mana kau menyimpulkan kalau  Oh tayhiap mengandung tiga bagian hawa sesat?" tanya Oh Put Kui sambil mengerutkan dahinya rapat-rapat.

"Kalau bukan mengandung hawa sesat, mengapa ia  disebut sebagai iblis. "

Mendengar itu Oh Put Kui segera  mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak.

"Haaaaahhhh..... haaaaahhhhh..... haaaaahhhh. Kiau

siancu, kau keliru besar. !"

Kiau Hui-hui yang ditertawakan segera menjadi tertegun dibuatnya, bahkan dua  orang sinni itupun turut tertarik dibuatnya.

"Dimanakah kesalahanku?" dengan nada suara agak berubah Kiau Hui-hui mendesak.

"Siapa yang bertarung dengan mengandalkan ilmu silat dia adalah kaum  iblis, bila ingin menjadi nabi, mengapa  pula harus menggunakan kekerasan? Oleh sebab itu julukan iblis diantara pedang hanya bisa diartikan sebagai melukiskan keadaan ilmu pedangnya yang kelewat tangguh dan hebat, bila Kiau siancu mengartikan kata iblis tersebut sebagai hawa sesat, maka jelas kau sudah mengartikan yang salah."

Nyoo Siau-sian yang menyakskan keseriusan dan kesungguhan Oh Put Kui dalam pembicaraan tersebut, diam- diam merasa amat terkejut, pikirnya kemudian:

"Heran, mengapa Oh toako seperti menaruh perhatian yang amat serius terhadap persoalan itu?"

Dalam pada itu Kiau Hui-hui telah  berkata lagi sambil tertawa lebar:

"Sekalipun apa yang diucapkan Oh Kongcu benar,  aku  ingin sekali menyaksikan kehebatan dari ilmu pedang Thian- lui-kiam tersebut "

"Tekad siancu sungguh mengagumkan......." puji  Oh  Put Kui.

Kiau Hui-hui kembali tertawa, tanyanya kemudian:

"Oh kongcu, tahukah kau Oh tayhiap berada  dimana sekarang?"

"Aku tidak tahu. " pemuda itu menggeleng.

Lalu dengan kening berkerut, katanya lagi sambil tertawa: "Jadi Kiau siancu benar-benar ingin menyaksikan ilmu

pedang Thian-lui-kiam itu?" "Tentu saja "

Mendadak Nyoo siau-sian ikut menimbrung:

"Oh toako, mengapa sih kau harus membelai ilmu pedang Thian-lui-kiam? Atau jangan jangan...... kau  dapat menggunakan ilmu pedang tersebut?"

Begitu pertanyaan itu diajukan, kedua orang nikou sakti itupun ikut tertegun dibuatnya.

Benar juga perkataan itu,  mengapa Oh Put-kui begitu bersikeras membelai ilmu pedang Thian-lui-kiam? Mungkin pemuda itu ada hubungannya dengan Oh Ceng- thian?

Sementara itu Oh-put-kui telah menjawab sambil tertawa: "Adik Sian, kau memang seorang yang pandai "

Jawaban tersebut sekali lagi membuat semua yang hadir merasa amat terkejut.

Setelah mengalihkan sorot matanya memandang seluruh hadirin, sambil tertawa Oh Put-kui berkata lebih jauh:

"Kiau siancu, kau tidak usah mengharapkan yang jauh dengan menampik yang berada didepan mata, aku pernah belajar ilmu pedang Thian-lui-kiam-hoat selama lima hari, apabila siancu tidak keberatan, aku bersedia  menemani  siancu untuk mencoba kehebatan ilmu pedang tersebut "

Tiba-tiba saja paras muka Kiau siancu berubah  berulang kali, berbicara yang sebetulnya,  dia merasa enggan untuk bertarung melawan si anak muda itu.

Seandainya ditanya apakah dalam hatinya terdapat bayangan seorang lelaki, maka bayangan lelaki yang  menempel di hatinya tak lain adalah Oh Put-kui yang berada dihadapannya.

Hanya saja Oh Put-kui sendiri justru tak pernah berpikir sampai kesitu.

Maka diapun mendesak lebih jauh:

"Kiau siancu, apakah kau sudah merubah keinginanmu?"

Kiau Hui-hui mengerdipkan matanya berulang kali, tapi akhirnya dia tertawa:

"Oh kongcu, aku tak pernah berubah pikiran. "

Setelah menundukkan kepalanya  sejenak, kembali dia melanjutkan:

"Cuma saja, Oh kongcu baru belajar ilmu pedang Thian-lui- kiam selama lima hari. " Sudah jelas dia maksudkan perkataan dari Oh Put-kui tadi kelewat tekebur.

Sambil tertawa Nyoo Siau-sian berkata pula:

"Toako, kau jangan  begitu  memandang  rendah  orang  lain "

"Aku tak akan berbuat sebodoh ini," sahut Oh Put  Kui sambil tertawa hambar.

Kemudian setelah   memandang   sekejap It-ing taysu, kembali dia berkata:

"Sebagai murid kesayangan It-ing cianpwee aku percaya kemampuannya pasti sangat hebat!"

Sudah jelas dibalik perkataan itu sesungguhnya  masih mengandung maksud lain.

Paras muka It-ing suthay sama sekali tidak  berubah, katanya kemudian sambil tertawa:

"Oh sicu amat gagah dan bertenaga dalam amat sempurna, meskipun hanya lima hari mempelajari ilmu pedang Thian-lui- kiam-hoat, tapi pinni percaya siau-sicu pasti sudah memperoleh seluruh warisan dari Oh tayhiap."

Wi in sinni berkata pula sambil tertawa

"Aku rasa pelajaran yang diperoleh secra tergesa-gesa, belum tentu bisa menggunakan seluruh  intisari  dari  kepandaian tersebut."

"Tidak mungkin," It-ing suthay menggeleng, "bila  ditinjau dari kemampuan Oh sicu dalam ilmu Thian-liong  siaukang, pinni percaya untuk mempelajari ilmu silat apapun, asalkan berhasil mempelajari inti sarinya, maka semua rahasia ilmu tersebut dapat dipahami."

Kemudian setelah berhenti sejenak, tiba-tiba dia  berkata lagi kepada Oh Put Kui: "Siau-sicu, pinni ingin sekali menanyakan satu persoalan kepadamu, bersediakah kau untuk menjawabnya?"

Oh Put Kui segera menjura seraya menyahut dengan hormat:

"Silahkan cianpwee utarakan!"

"Siau-sicu berasal dari marga Oh, apakah kau berasal satu marga dengan Oh Ceng-thian?"

Oh Put Kui tersenyum.

"Boanpwee adalah  putra tunggal dari si iblis diantara pedang Oh Ceng-thian!"

Jawaban yang amat santai ini, degnan cepat mengejutkan semua orang yang berada disitu.

"Jadi kau adalah putra Oh Ceng-thian?" tanya Wi-in sinni kemudian.

"Benar!"

Dengan cepat It-ing suthay menggelengkan kepalanya sambil tertawa, serunya:

"Kejadian ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang sama sekali tak terduga. "

"Nak, apakah Tay-gi adalah empekmu?" kembali Wi in sinni bertanya.

"Baru belakangan ini  boanpwee mengetahui  persoalan tersebut."

Wi-in sinni teratawa hambar:

"Kalau memang begitu, mengapa kau hanya belajar ilmu pedang thian-lui-kiam selama lima hari saja? Seharusnya Oh Ceng-thian mewariskan seluruh kemampuannya kepadamu!"

Oh Put Kui menghela napas panjang:

"Berhubung ayahku terkurung di pulau neraka dan tak bisa kembali ke daratan Tionggoan, maka boanpwee dengan menyerempet bahaya telah mengunjungi pulau tersebut dan atas kemurahan hati ketujuh orang jago lihay itu, masing- masing telah mewariskan kepandaian silatnya kepadaku.

"Waktu itu boanpwee sama sekali tidak tahu  kalau  orang tua yang mewariskan ilmu pedang kepada boanpwee adalah ayahku... oleh sebab itulah  boanpwee hanya belajar ilmu pedang selama lima hari saja. "

Mendengar sampai disini, It-ing  suthay  ikut  menghela napas panjang......

"Nak, kalau begitu aku telah salah mendugamu......." kata Wi-in sinni sambil tertawa.

Dengan sedih Oh Put Kui menjawab:

"Terima kasih banyak atas perhatian kau  orang tua "

Pada saat itulah tiba-tiba It-ing suthay berkata  dengan suara lirih:

"Siau-sicu, kalau begitu berilah petunjuk kepada anak Hui!" Sekalipun Kiau Hui-hui merasa terkejut oleh asal usul dari

Oh Put Kui, tapi tekadnya untuk mencoba ilmu pedang Thian- lui-kiam tidak menjadi luntur sama sekali.

Begitu It-ing suthay menyelesaikan perkataannya, dia segera berkata sambil tertawa hambar.

"Oh kongcu, sekalipun aku tak becus, ingin sekali kucoba kelihayan dari ilmu pedang Thian-lui-kiam!"

"Akupun ingin sekali menyaksikan keampuhan yang sebetulnya dari ilmu pedang Ciang-mo-kiam "

Sementara pembicaraan berlangsung, pedang Ciang-peng- siu-kiam telah diloloskan dari sarungnya.

Begitu pedang karat yang  sama sekali tak bersinar itu dicabut keluar, kedua orang nikou itu sama-sama dibuat tertegun.

-oo0dw0oo- "Nah, pedang  apakah itu?" tanya Wi-in sinni kemudian dengan wajah lembut.

Pada saat yang hampir bersamaan, It-ing suthay berkata pula:

"Oh sicu, aku lihat pedangmu itu mempunyai asal usul yang luar biasa!"

Oh Put Kui tersenyum.

"Pedang karat milik boanpwee ini tak lain adalah pedang karat Cing-peng-siu-kiam dari tujuh  manusia aneh dunia persilatan."

"Sejak kapan Tay-gi mendapatkan pedang ini?" seru Wi-in suthay dengan terkejut, "nak, pernahkah kau gunakan pedang itu?"

Oh Put Kui menggeleng.

"Semenjak boanpwee mengikuti suhu, pedang ini  sudah berada didalam goa Cing-peng-gay, sejak kapan suhu mendapatkan pedang tersebut, boanpwee sendiripun  tidak tahu "

Kemudian setelah berhenti sejenak, sambil tertawa katanya lagi:

"Semenjak pedang ini berada ditangan boanpwee, belum pernah boanpwee mempergunakannya"

"Nak, kau benar-benar sangat hebat,"  puji Wi-in  sinni sambil tertawa.

"Boanpwee hanya merasa belum saatnya mempergunakan pedang tersebut."

Berkilat sepasang mata It ing suthay setelah mendengar perkataan itu, segera serunya

"Apakah Oh sicu bersedia memberi muka kepada pinni. " "Suthay adalah cianpwee kami, sudah sepantasnya bila boanpwee menghormatimu." kata Oh Put Kui dengan hormat.

Belum selesai dia berkata, Nyoo Siau-sian telah berkata sambil tertawa:

"Toako, mengapa kau tidak segera turun tangan? Sebentar lagi fajar pun akan segera menyingsing!"

Tentu saja aku tak ingin membuang waktu lagi, nah Kiau siancu, bersiap-siaplah........" kata Oh  Put  Kui  kemudian sambil tertawa

dengan memeluk pedangnya ia memberi hormat kepada kedua orang nikou itu, kemudian membalikkan badan  dan berdiri saling berhadapan dengan Kiau Hui-hui.

Gadis suci dari lembah Yu-kok, Kiau Hui-hui segera menggetarkan pedang Pek giok kiam yang berada ditangan kanannya, setelah tersenyum dia memandang sekejap kearah It-ing suthay, lalu serunya:

"Silahkan Oh kongcu!"

"Silahkan siancu melancarkan serangan lebih  dulu!" "Baiklah, kalau toh koncu tak ingin melancarkan serangan

lebih dulu, terpaksa aku akan mendahului. "

Ditengah tertawanya yang merdu, pedang ditangan kanannya segera berkelebat kedepan melancarkan sebuah tusukan kilat.

Serangan yang  dilancarkan ini nampaknya sederhana sekali.

Tapi Oh Put-kui tahu, justru gerakan serangan yang makin sederhana itulah akan menimbulkan perubahan yang lebih banyak sehingga sukar diduga lawan sehingga didahului.

Oh Put-kui dengan pedang terhunus tetap berdiri tenang pada posisinya semula. Dengan pandangan mata yang tajam dia awasi bayangan pedang lawan, sampai ujung pedang Kiau Hui-hui hampir mencapai dadanya itulah dia baru menggetarkan pedangnya.

"Traaaangggg. !"

Suatu benturan yang  amat nayringpun bergema memecahkan keheningan, akibatnya kedua belah pihak saling berpisah.

Sambil tertawa hambar Oh Put-kui berkata:

"Sungguh amat sempurna tenaga dalam yang  dimiliki siancu. "

Rupanya pedang Kiau Hui-hui tidak berhasil  dipentalkan oleh bentrokan itu.

Ketika mendengar ucapan mana, paras muka Kiau Hui-hui berubah menjadi merah.

Tapi dia sadar, sianak muda itu belum menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya.

Maka dengan cepat dia melancarkan serangan pedangnya untuk kedua kalinya.

Stelah itu gadis itu baru berseru:

"Kongcu, aku toh berniat minta petunjukmu, mengapa kau tidak mempergunakan segenap kekuatan yang  kau  miliki?" kata Kiau Hui-hui kemudian sambil tertawa.

Belum habis perkataan itu, serangan pedangnya telah tiba. Oh Put Kui segera tertawa hambar:

"Siancu terlalu sungkan, masa aku akan menyembunyikan kemampuan sendiri.."

Kembali suatu bentrokan kekerasan terjadi.

Tiba-tiba Kiau Hui-hui melancarkan serangannya yang ketiga dengan jurus "Jari Buddha menghilangkan duka". "Waaah, rupanya benar-benar sebuah ilmu pedang yang hebat dan tiada taranya......" seru Oh Put Kui sambil tertawa tergelak, mencorong sinar tajam dari balik matanya.

Pedang karat cing-peng-kiamnya segera diputar mengeluarkan jurus "api guntur melelehkan emas" dari ilmu pedang guntur langit yang secara langsung  menembusi lapisan bayangan pedang dari gadis tersebut.......

Dalam waktu singkat, bayangan tubuh kedua orang itu sudah saling bergumul satu sama lainnya.

Nyoo Siau sian yang menonton jalannya pertarungan itu segera bertanya kepada It-ing taysu dengan perasaan heran dan kaget:

"Susiok, mengapa gerak serangan pedang dari enci Kiau barusan tidak setajam semula?"

It-ing thaysu segera tertawa tawa:

"Siau-sian, keistimewaan dari ilmu pedang penakluk iblis ini adalah bila bertemu musuh tangguh akan  menjadi  tangguh, bila bertemu musuh lemah akan lemah,  lagipula  ilmu ruyungmu justru memiliki bagian-bagian yang merupakan tandingan dari ilmu pedang tersebut, sehingga didalam pandanganmu kekuatan dan pengaruh dari ilmu pedang tesebut kurang hebat."

"Susiok, benarkah ilmu pedang tersebut memiliki kehebatan yang luar biasa?"

"Anak Sian, nampaknya kaupun tidak percaya?" seru It-ing taysu sambil tertawa.

"Kalau begitu  enci Kiau sengaja menyembunyikan  ilmu simpanannya?" seru Nyoo Siau sian lagi.

Kembali It-ing taysu tertawa:

"Mana ia berani berbuat begitu? Kalau kurang percaya, tanyakan saja kepada suhumu!" Nyoo siau sian segera berpaling kearah Wi-in sinni yang berada disisinya lalu berseru:

"Suhu, benarkah apa yang diucapkan susiok?" Sambil tertawa Wi-in sinni mengangguk:

"Yaa betul, apa yang dikatakan susiokmu memang betul!" Nyoo Siau-sian menjadi sangat terkejut, kembali ujarnya

"Susiok, kalau begitu bisa jadi ilmu pedang guntur langit tak mampu menandingi ilmu pedang penakluk iblis."

It-ing taysu segera tertawa:

"Hey budak, setelah berbicara setengah harian lamanya, baru perkataan ini muncul dari sanubarimu!"

"Tidak. ," merah jengah selembar wajah Nyoo Siau-sian.

Sambil tertawa kembali It ing taysu berkata:

"Terlepas kau percaya atau tidak, yang pasti ilmu pedang guntur langit dari Oh Put Kui tak bakal kalah dari ilmu pedang penakluk iblis, nah tentunya kau dapat berlega hati bukan."

"Aku tetap tak percaya." sekali lagi Nyoo Siau-sian menggelengkan kepalanya.

Tiba-tiba Wi-in sinni berkata sambil tertawa:

"Anak Sian, apa  yang dikatakan It-ing susiok memang benar sekali.

Nyoo Siau-sian berpaling dan memandang sekejap kearah dua orang yang sedang bertarung  ditengah arena, lalu  katanya kembali.

"Anak Sian lebih tak percaya lagi, coba  suhu  lihat, bukankah seluruh badan Oh toako telah terkurung ditengah bayangan pedang dari enci Kiau?"

"Nak, kau dapat berkata begitu berhubung pengalamanmu masih amat cetek." kata It-ing taysu sambil tertawa.

Wi-in sinni berkata pula sambil tertawa: "Anak Sian, bila kau tak percaya, lihat saja sebentar lagi, dalam sepuluh gebrakan kemudian  menang  kalah  akan segera ketahuan."

"Tentu saja anak Sian tidak "

Mendadak ucapan sinona itu terhenti  sampai ditengah jalan.

Rupanya dua orang yang sedang bertarung ditengah arena itu sudah mencapai titik klimaknya, perubahan drastis telah terjadi...

Kalau semula Oh Put-kui terkurung  rapat dibalik kabut cahaya pedang lawan, maka saat ini dia sudah lolos sama sekali dari kurungan.

Sebaliknya Kiau Hui-hui yang semula berada dalam posisi menyerang, ini sudah berubah menjadi  posisi mempertahankan diri.

Bukan cuma begitu, malahan cahaya berkilauan yang memancar keluar dari pedang Pek-giok-kiam pun jauh lebih lemah dan redup.

Sekulum senyuman manis segera tersungging diujung bibir Nyoo Siau-sian, ia nampak berseri.

Lain halnya dengan It-ing taysu, perasaan kaget  dan terkesiap menghiasi seluruh wajahnya.

Sambil menghela napas pelan, Wi in sinni berkata pula: "Sungguh tak disangka ilmu pedang guntur langit memiliki

daya kemampuan  yang  begitu  dahsyat  dan   mengerikan hati "

Mendadak.......

Terdengar suara pekikan nyaring berkumandang dari mulut Oh Put-kui, kemudian bersamaan dengan berhentinya suara pekikan tersebut, semua orang merasakan munculnya cahaya merah yang memancar keluar kemana....... Oh Put-kui bersama pedangnya telah  berubah menjadi sekilas cahaya bianglala merah yang  membumbung tinggi keangkasa.

Dari ujung pedang karat cing-ping-kiam tersebut, tampak pancaran sinar pedang yang memancar sampai sejauh tiga depa dari senjata tersebut.

wi-in sinni yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi sangat terkejut, segera bentaknya:

"Nak, jangan kau lancarkan serangan yang mematikan.......

Paras muka It-ing taysu berubah lebih hebat lagi, dia berteriak pula keras keras:

"Anak Hui, cepat mundur. "

Tapi bagi Kiau Hui-hui sulit rasanya bagi nona ini untuk mundur dengan begitu saja.

Ternyata hawa pedang yang kuat dan dahsyat itu bagaikan besi sembrani yang menghisap kuat-kuat sebatang jarum, betapapun ia berusaha untuk melepaskan diri,  namun usahanya selalu sia-sia belaka.

Atau dengan perkataan lain, Kiau Hui-hui sudah tak mampu menggeserkan badannya barang setengah langkahpun.

Oh Put-kui yang  masih berada ditengah  udara segera berputar satu lingkaran, dari gerakan yang begitu leluasa bisa diketahui pula bahwa pemuda tersebut telah berhasil melatih tenaga murninya hingga  mencapai tingkatan mengeluarkan dan menarik tenaga menurut kemauan sendiri, kejadian ini sama sekali diluar dugaan kedua nikou tersebut.......

Wi in sinni yang melihat kejadian  mana serta merta menghimpun seluruh tenaga dalam yang dimilikinya untuk bersiap sedia.

Ia telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, andaikata Kiau Hui-hui terancam bahaya maut, maka dia akan   berusaha untuk menyelamatkan jiwanya. Begitu pula dengan It-ing taysu, dia telah membuat persiapan yang matang.

Tapi kenyataan Oh Put Kui sama sekali tidak  berbuat  begitu, setelah mengitari udara tiga kali, dia melayang turun kembali ke atas tanah.

Lalu sambil memeluk pedangnya, ia berkata sambil tertawa hambar:

"Siancu, maaf, maaf. "

Pucat kehijau-hijauan paras muka Kiau Hui-hui  waktu  itu, hal ini  membuktikan kalau ia telah  mengeluarkan seluruh tenaga yang dimilikinya untuk melawan daya tekanan hawa pedang lawan.

Namun ada satu hal yang tidak dipahami, bukankah dia belum sampai menderita kalah, kenapa lawannya justru mengucapkan "maaf" kepadanya?

Pada saat itulah,  tiba-tiba terdengat It-ingtaysu berkata sambil menghela napas panjang:

"Oh sicu, ilmu pedang guntur langit ayahmu sungguh hebat dan luar biasa...... anak Hui,  coba kau periksa sisa bunga disamping sanggulmu, bukankah sudah terlepas dari tempatnya?"

Kiau Hui-hui merasa amat terkejut  setelah mendengar perkataan itu, tanpa  terasa ia melepaskan ketiga kuntum bunga Soh-sim-lau yang diselipkan pada sanggulnya.

Tapi dengan cepat dia dibuat tertegun, ternyata pada setiap kuntum bunga itu telah  bertambah dengan sebelas lubang kecil.

Nyoo Siau-sian turut tertegun dibuatnya setelah menyaksikan kejadian ini.

Seandainya serangan hawa pedang itu bukan ditujukan pada bunga yang berada di sanggulnya mulainya pada bagian tubuh yang lain, bukankah saat ini  Kiau Hui-hui sudah tergeletak diatas tanah dengan bermandikan darah?

Tiba tiba terdengar Wi-in sinni berkata sambil tertawa:

"Nak, kepandaian silat yang kau miliki itu  sungguh membuat pinni merasa kagum sama sekali tak kuduga kalau ayahmu memiliki kepandaian ilmu pedang yang  telah mencapai tingkatan sedemikian sempurnyanya, sungguh membuat aku merasa malu sendiri. "

Sementara itu Oh Put Kui telah menyarungkan  kembali pedang karat cing-peng-kiamnya, dia segera tertawa seelah mendengar perkataan itu, ujarnya kemudian:

"Locianpwee terlalu memuji, padahal ilmu pedang yang boanpwee miliki sekarang masih ketinggalan jauh sekali ketimbang kemampuan ayahku.

Ketiak boanpwee berkunjung ke Pulau Neraka tempo hari, dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan hawa pedang yang terpancar keluar dari ujung senjata ayahku dapat mencapai sejauh dua kaki lebih dari hadapannya."

"Siau sicu, kalau begitu ayahmu telah berhasil melatih ilmu pedang!" seru It-ing taysu dengan perasaan terkejut.

"Yaa, ayahku memang berkemampuan demikian." Oh Put Kui tertawa hambar.

Bagaimanapun juga ia menaruh perasaan tak senang terhadap It-ing taysu.

Sebab dia selalu beranggapan Thian-tok-siang-hoat dan Hong-gwa-sam-sian lah sebagai penyebab ayahnya sampai hidup mengasingkan diri di Pulau Neraka tempo hari.

Namun It-ing taysu tidak  merasa sampai disitu, karena dalam peristiwa tersebut dahulu, dia hanya mendapat undangan dari Thian-tok-siang-coat, dan lagi hawa pembunuhan yang diciptakan ayahnya beserta keenam orang rekan lainnya dimasa itu memang kelewat menakutkan. Sementara itu, baru selesai Oh Put Kui berkata, Wi-in sinni telah berkata lagi sambil tertawa:

"Nak, kalau toh kau sudah bersua  dengan  ayahmu, tentunya kau juga tahu tentang sumpah dari penahanan mereka itu."

"Boanpwee sudah tahu." sahut Oh Put Kui tertawa.

"Kalau memang sudah tahu, mengapa kau tidak pergi ke Pulau Neraka untuk menjemput ketujuh orang tua itu?"

Oh Put Kui segera menggeleng.

"Boanpwee telah  menyanggupi permintaan dari seorang locianpwee bahwa sebelum lewat hari pehcun, boanpwee tak akan berkunjung ke pulau neraka untuk menyambut ayahku!"

"Siau sicu, sebenarnya kau telah menyanggupi permintaan siapa untuk mengundurkan rencanamu menjemput  mereka dari pulau neraka?" tiba-tiba It-ing taysu menyela.

"Thian-hiang Hui-cu!"

"Ooh, rupanya Huicu, kalau begitu dia memang mempunyai maksud tertentu." kata Wi-in sinni sambil manggut-manggut.

It ing taysu berkata pula sambil tertawa:

"Tatkala pinni mendapat undangan dari Thian-tok-siang- coat untuk menghadapi  tujuh manusia aneh dimasa  lalu, waktu itu aku masih belum memahami apa gerangan yang terjadi, sepuluh tahun kemudian  setelah berjumpa dengan Thian-hian Huicu, baru aku memahami maksud tujuan Huicu yang sejati. Apalagi setelah menjumpai keberhasilan Oh sicu didalam ilmu pedangnya hari ini, pinni merasa semakin kagum dengan ketajaman pandangan Huicu ketika itu. "

"Sudah lama pinni memahami akan tujuannya." kata Wi-in sinni sambil tersenyum.

Kemudian setelah berhenti sejenak, tiba tiba ia berpaling ke arah Oh Put Kui sambil berseru: "Nak, kau hendak pergi kemana sekarang?"

"Mencari Wi Thian-yang!" sahut Oh Put Kui sambil tertawa. "Mencari Raja setan penggetar langit?" Wi-in sinni

mengulangi dengan wajah tertegun.

"Ya, memang dia yang sedang kucari."

"Apakah siau sicu mempunyai perselisihan paham dengannya?" timbrung It-ing taysu pula dengan nada tak mengerti.

Sekali lagi Oh Put Kui mengangguk:

"Soal ada perselisihan atau tidak, hal ini tergantung setelah bertemu muka nanti, sekarang belum dapat kupastikan."

"Siau sicu!" It-ing taysu segera berseru sambil tertawa, "orang ini amat licik dan berbahaya, kau mesti berhati-hati menghadapinya."

"Sudah lama boanpwee mengetahu rencana keji serta tampang muka aslinya!"

"Tampang muka asli apa lagi yang dimiliki Wi Thian-yang?" seru Wi-in sinni tertegun, "aku tahu dia baru lolos dari bahaya dan luka yang parah, rencana busuk apa pula yang direncanakan? Nak, apa maksud perkataanmu itu?"

Oh Put Kui tertawa terbahak bahak:

"Haaahh... haahh... haaahh... kalau dibicarakan mungkin cianpwee tak mau percaya, sesungguhnya  si Raja setan penggetar langit Wi Thian-yang tidak pernah dilukai orang, sayang sekali umat persilatan mau dikelabui olehnya mentah- mentah."

Berapa patah perkataan dari Oh Put Kui ini benar-benar mengejutkan hati setiap orang.

Wi-in sinni serta It-ing taysu segera dibuat tertegun dan berdiri melongo untuk beberapa saat lamanya. "Nak, dari mana kau peroleh berita ini?" hampir bersamaan waktunya mereka bertanya.

"Pokoknya kabar berita yang boanpwee peroleh ini dapat dipercaya." kata Oh Put Kui tertawa.

"Kalau memang Wi Thian  yang tak pernah dikalahkan orang sehingga terluka parah, lantas bagaimanakah pertanggungan jawab dari perkataan Wan-sin-seng-siu Nyoo Thian wi serta panji sakti pencabut nyawa Ku Bun-wi?"

"Pada hakekatnya perkataan dari Ku Bun wi itu cuma obrolan kosong belaka!"

"Bagaimana pula dengan Nyoo Seng-siu?"  tanya  Wi-in sinni sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

Oh Put Kui segera tertawa terbahak-bahak:

"Haaaaahhh..... hhaaaaahhh..... hhaaaaahhh.....

sesungguhnya tiada manusia yang bernama Nyoo Thian-wi didunia ini!"

"Siau-sicu tidak boleh meminta nama baik  seorang angkatan tua dari dunia persilatan!" tegur It-ing taysu dengan suara dalam, meski berkilat sepasang matanya.

"Semua perkataan boanpwee adalah kata yang sejujurnya!" jawab Oh Put Kui dingin.

"Setiap orang tahu kalau Seng-siu telah mendapat musibah, mengapa kau katakan kalau tiada manusia bernama itu didalam dunia persilatan? Lagipula sejak Seng-siu membacok roboh Wi Thian yang hingga  mendapat  musibah tak lama berselang, hampir empat puluh tahun lamanya dia tenang dan  menjagoi dunia persilatan, manusia manakah didunia ini yang sanggup menandinginya? Siau-sicu, apakah kau tak pernah mendengar kesemuanya ini?"

"Boanpwee telah mendengar semua berita itu dengan jelas sekali " "Nak," tukas Wi-in sinni pula dengan cepat, "kalau toh kau mengetahu masa silam dari kakek suci  tersebut,  mengapa pula kau katakan bahwa didalam dunia persilatan sesungguhnya tidak terdapat kakek suci berhati bajik Nyoo Thian-wi?"

Kembali Oh Put-kui tertawa  terbahak-bahak: "Haaaaahhh...... hhaaaaahhh...... hhaaaaaahhh......

locianpwee berdua, sebenarnya nama Nyoo Thian-wi hanya catutan dari nama orang lain. !"

"Catutan nama orang lain?" kata  It-ing  taysu  sambil tertawa, "kawanan jago lihay yang terdapat didalam istana Sian-hong-hu banyak tak terhitung, siapa yang begitu besar untuk membunuh Nyoo Thian-wi serta mencatut  namanya? lagi pula, paling tidak toh puterinya harus mengenali ayah sendiri "

Dalam pada itu Nyoo Siau sian berdiri termangu disamping dengan perasaan hancur lebur.

Sebab didengar dari nada pembicaraan  Oh  Put-kui tersebut, jelas sudah kalau ia mempunyai maksud tujuan yang jahat terhadap ayahnya.

Boleh dibilang hampir saja ia tak percaya dengan pendengaran sendiri.

Sementara itu It-ing taysu telah berpaling kearah Wi-in sinni sambil katanya:

"Aku lihat perkataan dari Oh sicu mempunyai hal-hal yang tak beres. "

"Benar," sahut Wi-in sinni sambil tertawa hambar, "memang ada masalah yang kurang  beres, tapi aku percaya bukan isapan jempol belaka...... nak, coba kau terangkan semenjak kapan Nyoo Thian wi dicela orang dan  bagaimana pula sampai dicatut namanya oleh orang lain?"

Agkanya kedua orang nikou ini masih belum mengerti dengan jelas maksud perkataan dari Oh Put Kui. Mendengar pertanyaan tersebut Oh Put Kui segera tertawa terbahak-bahak.

It-ing taysu menjadi agak mendongkol menyaksikan sikap anak muda tersebut, segera tegurnya:

"Oh sicu, kau tak boleh mencari  gara-gara  dengan berbicara yang bukan-bukan "

"Oh toako, mengapa kau menuduh ayahku dengan tuduhan yang bukan-bukan. ?" seru Nyoo Siau-sian pula secara tiba-

tiba.

Oh Put Kui berpaling dan memandang sekejap keatas wajah Nyoo Siau-sian yang gelisah dan penuh penderitaan itu, hatinya merasa amat sedih dan menderita pula.

Sesungguhnya diapun tidak berharap apa yang diucapkan Bongho siansu merupakan suatu kenyataan.

Namun kenyataan  tersebut pun mau tak mau harus membuat orang untuk mempercayainya.

Dipandangnya Nyoo Siau-sian dengan perasaan iba, lalu katanya:

"Nona Siau, aku rasa didalam persoalan inipun kau tak dapat memahaminya pula."

"Oh toako, mana mungkin aku tidak mengetahui tentang ayahku sendiri? Bagaimana  mungkin aku  tidak mengenalinya?"

Oh Put Kui tertawa rendah:

"Nona Sian, kapan pernah kukatakan kalau kau sudah tidak mengenalinya lagi?"

"Lantas apa maksud toako......" akhirnya Nyoo Siau-sian menangis tersedu-sedu karena sedihnya.

"Aaai, membicarakan kembali masalah tersebut, sesungguhnya cukup membuat orang merasa serba susah......" Oh Put Kui membuka pembicaraannya dengan perasaan tak tenang.

"Katakan saja nak," sela Wi-in sinni sambil berkerut kening. Oh Put Kui menghela napas panjang, kemudian katanya: "Loocianpwee, sebetulnya nona Nyoo bukan berasal dari

marga Nyoo!"

"Apa?!" Nyoo Siau sian membelakakkan matanya lebar- lebar sambil berseru keras.

"Siau sicu kau jangan bicara sambarangan!" It-ing taysu memperingatkan sambil tertawa dingin.

Kiau Hui-hui sambil berpeluk pedang hanya berdiri termenung disamping arena,  ia terbungkam dalam seribu bahasa.

Saat itulah Nyoo Siau-sian berlarian menuju ke sisinya, memeluknya sambil menangis tersedu-sedu.

Kiau Hui-hui segera menepuk bahunya sambil berbisik: "Tenangkan dahulu pikiranmu adik Sian!"

Oh Put Kui memandang sepi adegan tersebut, setelah tertawa ia berkata lagi:

"Aku sama sekali tidak bohong atau berbicara semaunya sendiri, sebetulnya nona Nyoo berasal dari marga Wi!"

"Marga Wi?" Wi-in sinni terkesiap.

"Benar, dia adalah putri kandung Wi Thian-yang!"

Mendengar sampai disini, Wi-in sinni segera tertawa terbahak-bahak:

"Haaaaahhhhh...... hhaaaaahhh...... hhhaaaaahhh.        nak,

kau benar-benar amat pandai  berbicara sembarangan, ibu kandung anak Sian masih berada didalam kuilku sekarang, sekalipun  dia  menjadi   pendeta  karena   didesak  oleh Nyoo tayhiap, namun tidak pernah  melakukan perbuatan yang tercela, kau tak boleh merusak nama baik orang lain."

Sambil menggigit bibir Nyoo Siau-sian berseru pula waktu itu:

"Oh toako, bila kau berani  menodai nama baik ibuku, terpaksa aku akan bermusuhan denganmu. "

Oh Put Kui cepat-cepat menggelengkan kepalanya:

"Aku tidak pernah berniat untuk menodai nama baik ibu kandungmu, sebab...... aaaaai, tahukah cianpwee berdua bahwa orang yang menjadi suaminya sebetulnya tidak lain adalah si Raja setan penggetar langit Wi Thian yang!"

"Siau-sicu, bagaimana penjelasanmu tentang  persoalan ini?" hardik It-ing taysu dengan mata melotot, "sudah  jelas  anak Sian adalah putri kandung si kakek suci Nyoo Thian-wi, darimana kau katakan kalau dia adalah putri Wi Thian yang?"

Oh Put Kui segera tertawa:

"Locianpwee, sesungguhnya kedua   orang ini adalah seorang, dua orang yang berasal dari seorang."

Perkataan ini dengan cepat membuat kedua orang nikou tersebut tertegun dan berdiri termangu.

Mereka saling berpandangan sekejap, kemudian berseru hampir bersamaan waktu:

"Nak, kau mengatakan Nyoo Thian-wi adalah Wi Thian- yang?"

@oodwoo@