Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 10

 
Jilid 10

Kalau dilihat dari sikap mereka, seakan-akan ada seseorang yang sedang dinantikan kedatangannya .

Dalam kenyataan mereka memang sedang  menunggu orang disitu.

Seperminum teh kemudian, dari bawah loteng  muncul seorang petani tua yang berusia lima puluh tahunan.

Setelah celingukan sebentar, akhirnya sambil tertawa dia berjalan menghampiri oh Put Kui.

"Oh Kongcu, kau sudah datang lebih duluan?" sapanya. oh Put Kui tertawa.

"Merepotkan saudara Kou saja, silahkan duduk!"

Petani tua itu tertawa, dia segera menjura pada pengemis pikun seraya berkata: "Tecu memberi hormat buat tianglo"

"Tak usah banyak adat, silahkan duduk."

setelah petani tua itu duduk. oh Put Kui baru berbicara lagi sambil tertawa: "Bagaimana? Tentunya perjalanan Kou  loko kali ini tidak sia-sia belaka bukan?"

"Untung lohu tak sampai menyalahi perintah "

Belum habis dia berkata, Pengemis pikun  telah menimbrung lebih dulu sambil tertawa "Kou cun-jiu, keparat Cilik Kau berani menyebut saudara terhadap  saudaranya tianglomu?"

Rupanya petani tua yang nampaknya sederhana itu tak lain adalah Tongcu propinsi shia-kam dari perguruan  Kay-pang yang disebut orang sebagai si petani tua dari Hoo-say, Kou Cun-jiu.

sekilas pandangan Kou Cun-jiu nampaknya sudah berusia lima puluh tahunan, padahal kalau dibandingkan dengan si pengemis pikun, dia masih muda dua puluh tahun lebih, dalam kedudukan diperkumpulanpun  kedudukannya jauh dibawah kedudukan si pengemis pikun. Maka begitu ditegur si pengemis pikun, dia benar benar merasa terkejut sekali. "Tecu tidak berani " buru-buru serunya.

Kemudian dengan wajah memerah katanya lebih jauh: "Kongcu, maafkan keteledoran aku si tua tadi, harap jangan

menjadi gusar."

oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang  kali, serunya sambil tertawa:

"Kou loko, kau tak usah mendengarkan perkataannya, kita toh berhubungan secara terpisah, terserah saja pada kehendakmu sendiri"

"siau-loji tidak berani," kata petani tua dari Hoo-say itu sambil tertawa, "Kongcu. "

"Hei bocah muda, tak usah berputar kayuh lagi, berbicara saja hal-hal yang penting," timbrung pengemis pikun lagi.

"Baik, tecu turut perintah."

"Nah saudara Kou, apakah  Lam kiong Ceng berada dirumah?" Petani tua dari Hoo say mengangguk.

"Ada, perkampungan siu ning-cengnya ramai sekali beberapa hari belakangan ini."

"Ooh, apakah ada suatu peristiwa besar?" "Yaaa benar, dia sedang menarik menantu"

"siapa? Lam kiong Ceng mencarikan bini buat putranya?" "Bukan, Lam kiong Ceng mencari bini buat dirinya sendiri"

"Oooh..... rupanya Lam kiong Ceng belum kawin....." seru pengemis pikun sambil tertawa. satu ingatan segera melintas dalam benak oh Put Kui, katanya sambil tertawa: "saudara Kou, siapakah pihak perempuannya?"

"Pihak perempuannya mempunyai nama besar yang jauh lebih termashur daripada Lam kiong Ceng sendiri"

"Ooooh tampaknya Lam kiong Ceng berhasil mendapatkan mertua yang hebat?" kata pengemis pikun tertegun.

"Perkataan tianglo memang benar,  sebab yang dikawini  Lam kiong Ceng adalah putri sulung dari Jiang-li-hu-siu  , kakek seribu li menyendiri Leng siau-thian, pocu dari benteng nomor wahid dalam dunia persilatan"

"ooh, kau maksudkan Hian-peng-kui-li (perempuan setan dari tanah dingin). "

"Benar, memang dia."

"Bagus sekali, bila Lam kiong Ceng bisa mempersunting perempuan semacam ini, maka keadaanya  ibarat harimau yang tumbuh sayap"

"Lok tua," kata oh Put Kui sambil tertawa, "tampaknya keramaian ini tak boleh kita lewatkan dengan begitu  saja, siapa tahu dalam pesta perkawinan Lam kiong Ceng kita bisa menemukan sesuatu yang menguntungkan?"

"Betul, betul, aku si pengemis memang berpendapat demikian."

setelah meneguk araknya, oh Put Kui segera bertanya lagi: "saudara Kou, kapan sih perkawinan itu diselenggarakan?" "Bulan dua belas, tanggal sepuluh."

"Hari ini tanggal delapan, berarti tinggal dua hari lagi," seru oh Put Kui tertawa.

"saudara, kesulitannya telah datang " seru pengemis pikun dengan kening berkerut.

"Kesulitan apa Lok tua?" "Kadonya Kalau tinggal dua hari, kita mesti kemana untuk menyiapkan kadonya?"

"soal itu mah gampang, Lok tua, kita beli saja dikota nanti"

Tapi dengan cepat pengemis pikun menggelengkan kepalanya berulang kali.

"saudara, kau anggap si Lam kiong Ceng itu manusia apa ? Kalau kita membeli kado secara sembarangan, niscaya dia akan menuduh kita sebagai orang pelit....." setelah berhenti sejenak. dia segera tertawa tergelak. katanya lebih jauh:

"saudaraku,jangan kau lihat aku si pengemis berasal dari perkumpulan kaum pengemis, kalau soal kado  atau  tanda mata, aku tak pernah memberi yang jelek sehingga ditertawakan orang "

"Benar, perkataan Lok tua memang benar. "

Kou Cun-jiu ikut menimbrung:

"Kongcu, untuk  memberi kado, tampaknya  sudah tak sempat lagi. "

"Maksudmu?" pengemis pikun melototkan sepasang matanya bulat-bulat. Kou Cun-jiu segera tertawa.

"Lam kiong Ceng adalah congpiau pocu dari orang orang Liok lim utara sungai besar, kalau cuma soal kado biasa, tak mungkin dia akan memandang sebelah matapun "

"Hei, kalau mau berbicara, katakan saja terus terang jangan berputar kayu tiada hentinya...." tegur pengemis pikun sambil berkerut kening. Kou Cun-jiu agak terkejut lalu mengiakan berulang kali:

"Menurut pendapat tecu, asal oh Kongcu menulis sendiri beberapa patah kata ucapan selamat dan mencantumkan nama besarmu, aku rasa dengan nama besar dari oh Kongcu dalam dunia persilatan dewasa ini, Lam kiong Ceng pasti akan dibikin gelagapan sendiri saking senangnya" Mendengar usul tersebut, pengemis pikun segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh....haaaahhhh....haaahhhh, tepat sekali Tepat sekali Bagus betul usulmu itu..."

"Lok tua, aku pikir usulnya itu kurang tepat," ujar oh Put Kui tiba-tiba sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kenapa?" tanya sang pengemis dengan  mata  melotot. "Aku kuatir  kalau tindakan ini akan merupakan sesuatu

tindakan memukul rumput mengejutkan ular" Mendengar itu, kembali pengemis pikun tertawa:

"saudaraku, bukannya aku sipengemis pikun hendak menjelekkan dirimu, tapi kalau kita tidak mengusik ular tersebut kini, sampai kapankah kau baru bisa  menyelidiki  wajah musuh besarmu itu?"

oh Put Kui termenung sebentar, kemudian katanya. "Jadi menurut pendapatmu,  ular ini  lebih baik diusik saja agar terkejut jadinya?"

"Benar, kalau tidak begitu, musuh besarmu tak akan munculkan diri dan  kau tak akan mengetahui selamanya siapakah pihak lawan dan berada dimanakah dia." Dia seperti mempunyai suatu keyakinan yang besar, kembali katanya:

"Apalagi bila musuh besarmu itu mengetahui dirimu, dia  pasti tak merasa tenteram lagi, siapa tahu  dia  bakal mendahului dirimu dengan datang mencari gara-gara lebih dahulu?"

Cara yang dipikirkan pengemis pikun memang  bagus sekali, hanya saja dia belum berpikir bagaimana seandainya pihak lawan mengambil keputusan untuk  acuh tak acuh? Agaknya oh Put Kui telah berpikir sampai disitu, katanya kemudian: "Lok tua, andaikata pihak lawan acuh tak acuh dan sama sekali tidak menggubris, bukankah cara kita ini akan sia-sia belaka?"

"saudaraku, bila pihak lawan memang tidak  menggubris,  kita toh belum terlambat untuk  mencari akal  lain?"  kata pengemis pikun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa.

Kembali oh Put Kui termenung sesaat, akhirnya dia manggut-manggut, katanya sambil tertawa:

"Baiklah, kalau begitu kita bertindak demikian saja"

oOdwOooOdwOo                  Bulan dua belas tanggal sepuluh.

Suasana disebuah perkampungan yang  luasnya seratus bau diluar kota  sebelah barat Cui-swan-sia tampak ramai sekali.

Sejak fajar menyingsing, lalu lintas yang  melewati  jalan raya didepan perkampungan itu sudah dipadati oleh kereta serta beraneka ragam manusia dengan aneka ragam hadiah. Hampir semua jago dan  orang gagah dari enam propinsi diutara sungai besar telah berkumpul disitu.

Bagi umat Liok-lim, perkampungan siu-ning-ceng memang merupakan sebuah tempat suci.

Kepala kampungnya Pek kim kong, Thi wan kek (raksasa penyakitan,jago pergelangan tangan baja) Lam kiong Ceng selain berilmu tinggi, juga merupakan pentolan dari kaum Liok- lim di enam propinsi sebelah utara sungai besar.

Dihari hari biasa saja banyak orang yang menyambangi tempat itu, apalagi pada hari pernikahannya, tak heran kalau lautan manusia hampir berkumpul semua disitu.

Hampir disetiap sudut ruangan dalam perkampungan siu- ning ceng dipenuhi para tamu yang tersenyum simpul. Cong koan dari perkampungan, Nao heng-si-ci (utusan panca unsur) Tong Tiong-peng  dengan pakaian berwarna keemas-emasannya berdiri didepan pintu  dan menyambut tamunya dengan penuh senyuman-^

-oOdwOooOdwOoo-

Upacara perkawinan telah ditetapkan  akan  diselenggarakan selewatnya tengah hari.

Kini tengah hari sudah makin dekat, tapi Ngo-heng-si-ci Tong Tiong-peng belum menyambut kedatangan seorang jago yang benar- benar mempunyai nama besar dan kedudukan tinggi dalam dunia persilatan.

Peristiwa ini terntu saja membuat hatinya gelisah bercampur cemas.

Dia merasa bila dalam perkawinan congpiau pocunya tak seorangpun jago kenamaan  atau pendekar besar dunia persilatan yang hadir, hal ini akan dianggap sebagai suatu peristiwa yang amat kehilangan muka. saat tengah hari sudah hampir lewat......

Pada saat itulah dari depan perkampungan sana muncul serombongan manusia, rombongan itu terdiri dari lima puluhan orang.

sebagai orang pertama adalah seorang hwesio bermuka penuh welas kasih.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ngo-heng-si-ci Tong Tiong-peng setelah menyaksikan hal itu, dengan langkah cepat dia segera memburu kedepan untuk menyambut kedatangannya .

"Tong Tiong-peng, cong koan dari perkampungan siau- ning-ceng menyambut kedatangan dari ciangbujin sekalian. "

Rupanya hwesio itu tak lain adalah Hui seng taysu, ciangbunjin dari siau-lim-pay. Dibelakangnya mengikuti  tiga orang ciangbunjin dari tiga partai besar lainnya. Mereka adalah Hian-leng tootiang dari Butongpay, Bwee Kun-peng dari partai Hoa-san serta Cui-sian sangjin dari Go-bi pay.

Dibelakang keempat orang ciangbunjin itu mengikuti pula Han-sian-hui-kiam atau pedang dingin Wi ci Ming, tianglo dari Kaypang.

Dari kelima partai besar yang ada dalam dunia persilatan dewasa ini, hanya ketua Kay-pang, Lok seng-tui-hun-siu atau kakek bintang pengejar sukma Kong-sun Liang yang tak hadir.

Hal ini disebabkan belakangan ini Kongsun Liang sedang menutup diri disuatu tempat untuk melatih semacam  ilmu sakti, maka segala persoalan mengenai  kepartaian telah diserahkan kepada Wici Ming untuk mengatasinya.

Dengan demikian  wici Ming boleh dibilang mempunyai kedudukan yang hampir sederajat dengan seorang ketua partai.

Dalam pesta perkawinan Lam kiong Ceng, ternyata ketua dari partai besar itu turut hadir, peristiwa ini jauh diluar dugaan Ngo-heng-si-ci.

Baru saja kelima orang ciangbunjin dari lima partai besar datang, Tong Tiong-peng dihadapkan lagi dengan suatu peristiwa yang menggetarkan hatinya. Ternyata gembong iblis nomor satu dari dunia persilatanpun hadir disana....

Pat-huang-it-koay, lian-sim-kui-siu (kakek  setan berhati cacad, manusia aneh dari Pat huang) siau Lun   ternyata datang tanpa diundang.

Ketika Tong-tiong-peng membaca kartu  namanya  itu, hampir saja ia tak percaya dengan apa yang dilihat.

Tapi, mau tak mau dia harus percaya juga. Karena itu dia segera menyambut kedatangannya.

seorang kakek berambut putih  yang berwajah dingin, berambut panjang sebahu dan berwajah menyeramkan berdiri didepan pintu siapa lagi orang itu kalau bukan siau Lun? Buru- buru dia maju kedepan, kemudian sambil menjatuhkan diri berlutut serunya: "Tong-tiong-peng menyampaikan salam hormat untuk siau locianpwe" siau Lun  segera tertawa hambar, katanya sambil mengulapkan tangan:

"Tak usah banyak adat, lohu sudah bukan siau Lun yang dulu, kalian tak usah banyak adat. "

sambil berkata dia lantas masuk kedalam perkampungan dengan langkah lebar.

Kehadiran kakek ini dalam ruangan upacara dengan Cepat menggetarkan hati lima orang ciangbunjin dari lima partai besar.

Hui-sin taysu dari siau lim-pay segera bangkit berdiri sambil menjura, katanya:

"siau lo-sicu, sudah lama kau mengundurkan diri dari keramaian dunia. Hari ini bisa berjumpa lagi, hal ini sungguh merupakan suatu kebanggaan buat boanpwe sekalian "

siau Lun tertawa terbahak-bahak. diamatinya wajah kelima orang itu sekejap kemudian sambil tertawa katanya:

"Ooh rupanya ciangbunjin sekalian sudah datang? Besar betul pamor dari Lam kiong Ceng. "

Terkesiap juga Hui-sin taysu mendengar perkataan  ini, buru-buru dia berseru:

"Lam kiong sicu adalah seorang gagah, sudah sepantasnya kalau boanpwe sekalian ikut memberi selamat kepadanya"

sekilas senyuman menghiasi wajah siau Lun, dia segera manggut-manggut berulang kepada Ngo-heng-si-ci Tong Tiong-peng yang menghantar dirinya dia lantas mengulapkan tangannya sembari berkata:

"silahkan saja kau melayani  orang lain, lohu hendak berbincang-bincang dengan kelima orang lote ini. "

Tong Tiong-peng segera menjura dan mengundurkan diri Baru tiba dipintu depan, seorang anggota perkampungan telah berlari mendekati dengan wajah gugup,

Dengan kening berkerut Tong-tiong-peng segera menegur: "Persoalan apa yang membuat kau gugup?"

"Lapor congkoan, didepan pintu muncul seorang tamu aneh...." ujar orang itu dengan wajah gugup bercampur gembira.

"Tamu aneh macam apa?"

"Tecu tidak kenal, dia mengatakan ingin berjumpa dengan majikan "

"Hmmm, manusia takebur darimanakah yang telah datang

?" seru Tong-tiong-peng sambil tertawa dingin.

Dengan langkah cepat dia memburu kedepan pintu.

Tapi apa yang  kemudian  terlihat kontan membuat dia berdiri tertegun, karena tamu aneh itu sangat dikenal olehnya.

Dia tak lain adalah say-siang-li si  perempuan  pintar  dari bilik barat, Leng seng-luan, seorang perempuan bertangan keji yang banyak membuat orang persilatan pusing kepala.

-oOdwOooOdwOooOdwOo-

Buru-buru Tong-tiong-peng meredakan hawa amarahnya,  lalu dengan senyuman yang dibuat-buat menyongsong kedatangan tamunya.

"Nona Leng, baik-baikkah kau?  Tong-tiong-peng menghunjuk hormat untukmu. " serunya.

Ternyata yang datang adalah seorang gadis muda berbaju putih yang  berambut panjang dan  berwajah cantik, tapi sikapnya dingin, kaku dan menyeramkan, dia sedang memandang kearah pintu perkampungan sambil tertawa tiada hentinya.

Tapi setelah mendengar ucapan dari Tong-tiong-peng itu, hawa marahnya sedikit agak mengendor, ujarnya kemudian: "Tong cong koan, tampaknya pamor dari saudara  Lam kiong makin lama semakin bertambah besar".

Terkesiap juga Tong Tiong-peng setelah mendengar perkataan itu, buru-buru dia berkata, "Hari ini adalah perkawinan Lam kiong toako, sedang dia sedang berganti pakaian, maka tak bisa  menyambut  kedatanganmu  harap nona Leng sudi memaafkan "

"Oh.... kalau begitu akulah yang telah salah menegurnya..." Leng-seng-luan tertawa dingin.

seraya dia berkata dia lantas melangkah masuk kedalam pintu perkampungan.....

Baru saja Tong-tiong-peng hendak memimpin jalan, Leng- seng-luan telah menggoyangkan tangannya sambil berkata:

"Tong congkoan, lebih baik kau berdiri disini saja, biar anak buahmu yang membawa jalan bagiku "

"Kalau begitu  terpaksa aku harus  menurunkan  derajat nona " ujar Tong cong koan sambil tertawa.

Dengan cepat dipanggilnya seorang anak buahnya, kemudian memerintahkan: "Cepat ajak Leng lihiap menuju keruangan tamu "

orang itu mengiakan dan mengajak Leng seng-luan memasuki perkampungan,

Memandang bayangan  punggung Leng seng-luan yang berlalu, diam-diam Tong-tiong-peng menghela napas panjang.

Pada saat itulah dari luar perkampungan  telah muncul empat orang tamu aneh.

Keempat orang itu ialah Kaucu dari perkumpulan pay-Kay yang disebut orang  Jui-sim-huan-im-kek,  (jago  tanpa bayangan penghancur hati) Ciu It-cing konon orang ini murid Hua-im cinjin Li Kim-siu yang menjadi cikal bakal partainya. Lalu orang kedua adalah Mo-kiam-huang-say (singa latah pedang iblis) Kit Hu-seng yang merupakan toa kongcu dari benteng kematian di lembah sin-mo-kok.

orang ketiga adalah Lan-san-gin-kiam atau si pedang perak berbaju biru seebun Jiu, salah seorang dari empat  jago  pedang utama dibawah pimpinan Ceng-thian-kui-ong atau raja setan penggetar langit wi Thian-yang dari istana Tong-thian- kui-hu di lembah Kiu yu kok.

Dan terakhir adalah putra dari sian- hong-pat- ciang, Wan- sim-seng-sin atau kakek suci berhati mulia, delapan pukulan angin puyuh Nyo Thian-wi, pemilik istana siau- hong- hu bernama Yu-liong-kuay-kiam atau pedang kilat naga perkasa Nyo Ban-bu.

sekalipun keempat manusia ini bukan ketua partai, namun nama besar mereka serta kelihaian ilmu silat mereka jauh diatas kemampuan dari para ciangbunjin berbagai  partai besar.

Dikunjungi manusia- manusia seperti ini sudah tentu Tong Tiong-peng tak berani berayal lagi, dengan sikap  hormat dia lalu menghantar tamunya memasuki ruangan upacara.

sementara itu tengah hari sudah lewat, irama musik mulai diperdengarkan pertanda upacara pernikahan segera akan diselenggarakan.

Tamu yang mencapai  seribu orang lebih hampir boleh dibilang memadati seluruh ruangan siu  ning-ceng  dan lapangan berlatih silat yang luasnya dua puluh bau lebih. Akhirnya pengantinpun masuk kedalam ruangan upacara.

Lam kiong ceng nampak bertubuh tegap dan kekar seperti seorang malaikat, sebaliknya sinona lemah gemulai seperti perempuan setan yang sama sekali tidak berhawa kehidupan. Jian-li-hu-siu Leng siau-thian duduk ditengah ruangan upacara dengan senyum dikulum.  sedang dari pihak wali pengantin pria adalah   seorang kakek pendek yang berkepala botak. orang itu duduk diatas tempat duduk Leng siau-thian dengan wajah yang dingin.

Wajah orang itu sedemikian tak sedapnya  dipandang, seakan akan kehadirannya disana bukan untuk menyelenggarakan pesta perkawinan, melainkan menghadiri suatu upacara kematian.

siapakah kakek pendek berkepala botak itu?  Anehnya ternyata tak seorang manusiapun yang hadir dalam ruangan yang mengenali dirinya.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak masing-masing, bahkanada pula yang berpikir:

"Mungkinkah gembong iblis tua ini adalah suhunya  Lam kiong Ceng?"

siau Lun, si gembong iblis nomor wahid dari kolong langit turut berkerut kening.

Tiab-tiba Leng seng-luan yang berada disisi yang menegur: "siau kongkong, kenalkah kau dengan orang tua itu?"

siau Lun segera tertawa seraya manggut-manggut. "Bukan cuma kenal saja, kami kan sahabat karib" sahutnya.

"oh. siapakah dia?" seru Leng seng-luan terkejut.

"Nona, pernahkah kau mendengar ucapanperkataan begini: Lebih baik bertcmu raja akhirat, daripada berjumpa sepasang hati?"

"Yaa, aku pernah mendengar perkataan itu, bukankah kau orang tua yang dimaksudkan sebagai sepasang hati?"  siau  Lun lantas tertawa.

"Lohu hanya dianggap sebagai satu hati, sedangkan hati yang lain adalah dia." katanya.

Leng seng-luan menjadi kesima setelah mendengar ucapan itu, lalu serunya cepat: "Lantas, siapa. siapakah dia?" Cui-sian sangjin, ketua Go-bi-pay yang waktu itu kebetulan berada disisi LEng seng-luan nampak berubah  wajahnya sesudah mendengar perkataan itu, dengan cepat dia berbisik kepada kakek setan berhati cacad siau Lun:

"Locianpwe, apakah kakek botak itu adalah Tuan-cong-si- sim-sin atau kakek usus putus kehilangan hati Hui Lok yang disebut orang sebagai siang-sim atau sepasang hati dan mengangkat nama bersama-sama dirimu itu?"

"Benar, memang dia "

Sekarang Leng Seng-luan baru mengerti, nama si kakek usus putus kehilangan  hati memang cukup menggetarkan hatinya.

sekarang dia baru tahu kalau Lam  kiong Ceng adalah muridnya gembong iblis itu.

Tak heran kalau semua jago Liok-lim bersama sama tunduk dan takluk kepadanya, sekalipun umurnya belum mencapai usia pertengah, rupanya dia mempunyai seorang suhu yang cukup menggetarkan hati setiap orang.

Dalam kesedihan yang mencekam perasaan Leng seng- luan, tiba-tiba dia tertawa sendiri, karena sekarang dia merasa hatinya agak lega.

Dulu, dia telah menyerahkan seluruh kasih sayang  dan  cinta kasihnya untuk Lam kiong Ceng, tapi kenyataannya Lam kiong Ceng memandang sinis kepadanya, bahkan meninggalkannya dan mempersunting Leng Lin-lin.

Gara-gara peristiwa itu,  dia  pernah bersedih hati dan melelehkan air mata banyak.

Tapi sekarang dia  baru mengerti, ternyata  dia adalah muridnya Hui Lok. murid dari musuh besar gurunya. Apa lagi yang mesti dirisaukan?

Tak ada lagi, Maka diapun hanya bisa tersenyum dengan perasaan sedih, dan bahagia....... sepasang pengantin telah melakukan upacara dan perjamuan telah dilangoungkan. suasana bertambah semarak dan ramai, hidangan lewat muncul tiada hentinya.

Mendadak seorang anggota perkampungan muncul membawa sebuah gulungan kain dan masuk kedalam.

siapa lagi yang mempersembahkan hadiah untuk sepasang pengantin itu?

Tak lama kemudian  gulungan kain itu sudah  dibuka danpara hadirinpada berdiri untuk membaca tulisan tersebut.

Ternyata tulisan itu berisikan sebuah bait syair  Yang-cun- lok yang termashur. Diatas syair tersebut tertera  beberapa huruf yang berbunyi: "Peringatan hari perkawinan Lam kiong tayhiap dengan Hian-peng-li-si " sedangkan dibawahnya bertuliskan : "Dipersembahkan oleh : Cing-peng-long-cu  oh Put Kui "

oh Put Kui..... sebuah nama yang menggetarkan sukma setiap orang, tanpa sadar Lam kiong Ceng segera berseru:

"Aah, mungkinkah oh Put Kui yang berjulukan Long cu- koay-hiap atau pendekar aneh gelandangan ?"

Paras muka Hian-peng-kui-li atau setan  perempuan berhawa dingin Leng Bin-pin berubah hebat pula, katanya cepat:

"Kau kenal dengannya? Bukankah dia telah berkunjung kepulau neraka ?"

"Aku tidak kenal dengannya," seru Lam kiong Ceng sambil menggelengkan kepala.

Hui Lok si kakek berkepala botak yang  selama ini membungkam, mendadak berseru dingin:

"Kalau ada tamu terhormat yang datang, silahkan saja untuk masuk " Tampaknya orang itu tak pernah tertawa, maka wajahnya selalu diliputi oleh hawa pembunuhan yang dingin dan mengerikan.

"suhu, maksudmu mengundangnya masuk....." bisik Lam kiong Ceng.

Dengan cepat dia berpaling kearah anak buahnya sambil menambahkan :

"suruh Tong cong koan mengundangnya masuk. dan suruh orang pasang tulisan itu keatas dinding "

orang itu mengiakan dan segera berlalu.

sementara dua orang lelaki maju untuk menyambut tulisan tersebut dan segera menggantungkannya diatas dinding.

Dengan demikian, semua anggota persilatan yang hadir dalam ruangan itu dapat membaca tulisan mana dengan jelas.

Selesai membaca tulisan itu, Hui-sin siansu ketua dari siau- lim-pay segera berkata sambil tertawa:

"Hian leng toheng, agaknya bakal ada pertunjukan menarik dalam perjamuan kali ini "

"Apakah taysu kenal dengan orang itu ?" tanya Hian-leng tootiang sambil tertawa pula. Dengan cepat Hui-sin taysu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak. belum pernah ketemu, tapi lolap pernah menerima surat dari Hui-leng sute, dalam surat itu dikatakan  kalau pemuda tersebut pernah berkunjung ke perkampungan Tang- mo-san-ceng untuk menghantar  batok  kepala dari empat orang iblis, bahkan memukul mundur pula Tiang- bi-siau-siu (kakek tertawa beralis panjang). "

"Yaa, soal itu memang pernah kudengan dari laporan Hian- pek sute " kata Hian-leng tootiang kemudian mengangguk.

Ketua Hoa-san-pay si kakek pedang pengejar angin Bwee Kun-peng ikut menimbrung : "Lohupun pernah  mendengar Wan sute menyinggung tentang bocah ini, konon dia adalah murid dari Thian-liong taysu, kepandaian silatnya telah memperoleh warisan dari taysu. "

sementara beberapa orang ketua itu sedang berbisik-bisik, oh Put Kui telah berjalan masuk kedalam ruangan.

Menyusul dibelakangnya sipengemis pikun Lok Jin-ki. sedangkan sipetani tua dari Hoo-san Kou Cun-jin jauh

sebelumnya sudah datang duluan, karena  sebagai  Tongcu dari kantor cabang Kay-pang untuk wilayah shia-kam, bagaimanapun juga dia harus menghadiri kejadian besar tersebut.

Dengan wajah penuh senyuman oh Put Kui berjalan masuk kedalam ruangan upacara. Buru-buru Lam kiong Ceng bangkit berdiri sambil berseru:

"saudara oh kah disitu ? siaute Lam kiong Ceng. "

oh Put Kui tertawa, sambil menjura tukasnya :

"Aku  datang  tanpa  diundang,  harap  kau   sudi memaafkan "

Kemudian setelah menatap sekejap wajah orang itu, lanjutnya :

"saudara Lam kiong, Leng lihiap. kuucapkan selamat berbahagia untuk kalian berdua semoga bisa hidup rukun sampai kakek nenek. "

Lam kiong Ceng segera tertawa terbahak bahak. "Haaaahhh..... haaahhhhh...... haaaahhhh..... terima kasih

saudara oh. "

"Gagah betul lelaki ini " pikir oh Put Kui.

sedangkan Leng Pin-pin dengan  wajah memerah turut menjura: "Terima kasih oh tayhiap "

Setelah itu Lam kiong Ceng baru berpaling  kearah pengemis pikun yang berada dibelakang oh Put Kui sambil berkata: "Lok tianglo, selamat berjumpa " Pengemis pikun tertawa tergelak.

"Haaaahhhh..... haaaaahhhh..... haaahhhhh.....pada hari perkawinan lote,  ternyata aku si pengemis pikun datang terlambat, bagiamana  kalau menghukum aku dengan  tiga puluh cawan arak? sudah hampir setahun lebih aku  si pengemis pikun tak pernah  beradu minum  arak  dengan lote....." sambil berkata dia  lantas menyambar cawan arak didepan Lam kiong Ceng dan meneguk isinya  sampai habis.......

Dia minum dengan cepat ternyata dimuntahkan lebih cepat, coba kalau bukan oh Put Kui berkelit dengan cepat, niscaya seluruh tubuhnya sudah kena sembur.

"Hei kenapa kau? Araknya terlalu keras?" tak tahan oh Put Kui menegur sambil tertawa tergelak.

Dengan suara keras pengemis pikun segera berteriak: "saudara sekalian, kalian tertipu, yang diminum Lam kiong

lote bukan arak melainkan air teh. "

Paras muka Lam kiong Ceng seketika berubah menjadi merah padam karena jengah.

"Loko, bayangkan saja. Hari ini siaute mana boleh minum arak sampai mabuk " serunya cepat.

Tentu saja pengemis pikun tak ambil perduli soal semacam itu, kembali dia berteriak. "Tidak bisa, kita  tak  bisa membiarkan pengantin lakinya minum air teh, saudara sekalian, bukankah kalianpun berharap pengantinnya minum arak sungguhan. "

seruan mana segera disambut gegap gempita oleh tamu yang lain, sehingga suasana menjadi ramai sekali.

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Lam kiong Ceng tertawa,

"Baik, baiklah," katanya kemudian, "siaute akan menggantinya dengan arak sungguhan. " Kemudian sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya kepada pengemis pikun

"Lo ko, kau harus membantunku, janganlah memaksa aku minum arak terus, atau  paling  tidak  kau  mesti  mewakili  aku. "

Pengemis pikun menjadi girang sekali setelah mendengar perkataan itu, serunya cepat: "Baik, kau memang berhasil menemukan orang yang benar. "

semabri begitu dia lantas duduk dikursi dekat pengantin lelaki tersebut....

Tindakan mana kontan saja menggusarkan seseorang, akan tetapi karena hari ini adalah hari baik muridnya, maka amarah tersebut hanya bisa disimpan dalam hati saja.

Tentu saja si pengemis pikun tidak akan mengetahui hal itu. Bukan cuma dia bahkan oh Put Kui pun tidak  menyangka kalau dalam ruangan tersebut hadir pula gembong iblis lain yang bernama besar sejajar dengan nama kakek setan berhati cacad siau Lun-

sementara itu, Lam kiong Ceng telah mengundang oh Put Kui untuk menempati meja tuan ruma, tapi dengan cepat oh Put Kui menggelengkan kepalanya.

"Jangan" demikian ia berkata, " aku masih mempunyai beberapa kenalan lama."

Padahal dia tidak mempunyai kenalan kecuali siau Lun, ia menampik tawaran tersebut karena  dia telah menyaksikan kehadiran siau Lun disitu.

Begitulah, selesai berbicara ia lantas berjalan  menuju kemeja perjamuan sebelah kiri

Dalam meja perjamuan itu, selain hadir siau Lun, dan terdapat pula Yu-liong-kuay-kiam (pedang kilat naga perkasa) Nyoo Ban-bu, Mo-kiam-huang-say atau singa latah  pedang iblis Kit Hu-seng, see-siang-li-si atau pendekar wanita dari bilik barat Leng seng-luan dan  Jui-sim-huan-im-kek atau tamu penghancur hati tanpa bayangan ciu It-kim.

selain kakek setan berhati cacad siau Lun empat orang lainnya boleh dibilang jago-jago top dari kaum muda.

Baru saja pemuda itu berjalan mendekat, siau Lun telah berseru sambil tertawa: "Hei bocah muda, aku tahu kalau kau bakal datang "

"Kakek siau, akupun tahu kalau kau pun bakal datang. "

sahut oh Put Kui dengan cepat.

Kemudian mereka berdua saling  berpandangan dan tertawa terbahak bahak,

Kontan saja adegan tersebut membuat para jago lainnya menjadi tertegun dan berdiri melongo, siapapun tidak menyangka kalau oh Put Kui bukan cuma kenal saja dengan siau Lun, bahkan tampaknya hubungan mereka cukup akrab dan hangat.

setelah duduk dan memperkenalkan keempat  orang pemuda lainnya, siau Lun baru berkata lagi sambil tertawa:

"Anak muda, mengapa kau datang terlambat?"

" Kakek Siau, masa kau tidak mengerti......" sahut oh  Put Kui sambil melototkan matanya dan tertawa.

"Bagus, bagus, tampaknya kau hendak  jual  mahal kepadaku ?"

"Boanpwe tidak berani."

"Kalau memang tidak berani,  mengapa tidak cepat kau katakan ?"

"Kakek siau," bisik pemuda itu kemudian, "inilah yang dinamakan memanfaatkan kesempatan untuk menarik perhatian "

"Bagus anak muda, tampaknya makin lama akal busukmu semakin bertambah banyak saja " "Yaaa, apa boleh buat ? untuk menghadapi orang-orang semacam  ini mau tak mau mesti gunakan akal busuk "

"Bagus sekali......" kembali siau Lun  tertawa  terbahak- bahak.

oOdwOooOdwOoo

Dalam pada itu, singa latah pedang iblis Kit Hu-seng yang duduk disampingnya telah mengangkat cawannya dan berkata kepada oh Put Kui sambil tertawa :

"saudara oh, belakangan ini aku sering kali mendengar nama Long-cu-koay-hiap disebut orang, hari  ini  dapat berjumpa muka, hal ini  benar- benar merupakan suatu peristiwa yang menggembirakan "

Dia mendongakkan kepalanya dan mengangguk kering isi cawannya, kemudian ujarnya lebih jauh:

"Aku orang she Kit menghormati secawan arak untuk saudara, harap saudara oh sudi memberi muka."

oh Put Kui tertawa hambar dan lalu mengangkat cawannya untuk meneguk sampai habis. "Kehebatan saudara Kit sudah lama siaute kagumi" katanya cepat.

"Haahh....haaahhh...... saudara oh Put Kui sangat mengagumkan hati, aku orang she Kit bersedia untuk  berteman denganmu "

Dia berjulukan singa latah  pedang iblis, seperti juga namanya, gerak gerik orang ini ternyata mencerminkan kehebatan dirinya. Diam-diam oh Put Kui tertawa  geli, pikirnya:

" orang ini adalah pemilik muda lembah Bin-mo-kok. namun nyatanya tidak terpengaruh sama sekali oleh hawa iblis, kegagahan dan kebesaran jiwa orang ini sungguh mengagumkan. "

sementara dia masih berpikir, sipedang kilat naga perkasa Nyoo Ban-hu telah mengangkat pula cawan araknya seraya berkata: "saudara oh,  siautepun ingin menghormati kau dengan secawan arak "

Walaupun oh Put Kui tidak banyak berkenalan  dengan orang tapi dia memiliki suatu firasat tajam yang aneh.

Terhadap sipedang kilat naga perkasa yang tampan dan gagah ini, dia justru merasa mempunyai suatu perasaan muak dan tak senang.

Jika terhadap Kit Hu-seng tadi ia meneguk araknya dengan tulus hati diiringi gelak tertawa, maja terhadap Nyoo Ban-hu justru hanya berpura-pura minum dengan wajah senyum tak senyum.

"Takaran minum siaute kurang baik, biarlah maksud baik saudara Nyoo kuterima dalam hati saja. "

Dia segera menempelkan bibirnya pada cawan, kemudian sambil tertawa meletakkannya kembali kemeja.

Berkilat sepasang mata sipedang kilat naga perkasa Nyoo Ban-hu setelah menyaksikan kejadian  ini, serunya sambil tertawa:

"saudara oh,  apakah kau tidak pandang sebelah mata kepada siaute ?" Dengan cepat oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aaaaah, mengapa saudara Nyoo berkata  demikian? Apakah hal ini bukan sama artinya dengan memandang asing diriku? saudara Nyoo merupakan putra kakek suci, siapapun manusia didunia ini ingin membaiki saudara Nyoo, sebaliknya aku tak lebih hanya seorang gelandangan, masa aku berani memandang rendah saudara Nyoo. "

sepintas lalu perkataan tersebut kedengarannya memang sedap didengar, namun bagi pendengaran Nyoo Ban-hu justru membuatnya tak bisa tertawa,  tak  bisa  pula  mendongkol, untuk sesaat dia hanya bisa berdiri termangu-mangu sambil melototi wajah pemuda itu.  Untung saja Hui-sim-huan-im-kek Ciu It-cing segera mengangkat cawan araknya untuk menghilangkan kejengahan yang meliputi sipedang kilat naga perkasa Nyoo Ban-hu. "saudara oh, aku orang she Ciu pun ingin menghormatimu dengan secawan arak. "

"Terima kasih saudara Ciu....." sahut oh Put Kui sambil mengangkat cawannya dan segera meneguk isinya sampai habis.

Tampaknya Ciu It-kim adalah seorang  yang  jujur,  melihat itu dia lantas berkata sambil tertawa:

"saudara oh, kalau toh takaran arakmu kurang baik, lebih baik kurangi saja arakmu"

oh Put Kui menaruh kesan baik terhadap Ciu It-kim, dia merasa Jui-sim-huan-im-kek yang meneruskan jabatan ketua Pay-kau itu adalah seorang pemuda sederhana serta jujur. "Terima kasih atas perhatian dari saudara Ciu" buru-buru ia menyahut sambil tertawa. Menyusul kemudian Leng seng-luan turut menghormati arak kepadanya.

oh Put Kui menyambut sambil tertawa, ia merasa gadis itu cantik sekali, hanya sayang wajahnya kelihatan murung sekali.

la paling takut dekat sama perempuan, apalagi gadis yang kelihatan murung dan mempunyai  rahasia hati, maka jauh sebelumnya dia sudah berusaha menghindari diri dari tatapan matanya.

Leng seng-luan sendiri sama sekali tidak mempunyai ingatan lain, dia hanya merasa Long-cu-koay-hiap oh Put Kui seperti memiliki suatu daya tarik yang luar biasa, membuat ia tak terasa teringat akan dirinya.

"Terima kasih nona" katanya kemudian hambar.

setelah meletakkan kembali cawan araknya, ia berbisik kepada siau Lun:

" Kakek siau, siapa dua orang kakek yang duduk semeja dengan Lam kiong Ceng itu?" "Bocah muda, sungguh hebat ketajaman matamu," puji siau Lun sambil tertawa, " begitu banyak tamu yang hadir dalam ruangan itu dan begitu banyak ciangbunjin serta jago kenamaan yang hadir, tapi yang kau tanyakan hanya kedua orang iblis tua itu "

"Aah, boanpwe kan belajar banyak dari kau orang tua ?" "Betul,    lohu    memang    pernah    mengajari    banyak  hal

kepadamu.     jangan perhatikan keningnya,  jangan dilihat sorot

matanya, tapi perhatikan tarikan napasnya. Bagaimana? Cocok bukan? Lohukan tidak membohongi dirimu....." setelah berhenti sejenak, kakek itu berkata lebih jauh:

"sikakek berambut putih itu adalah ayah dari pengantin perempuan "

"Leng siau Thian?" sambung oh Put Kui sambil tertawa. "Benar, tidak gampang untuk dihadapi bukan?"

"Lantas siapa yang satunya lagi?"

Mencorong   sinar terang dari balik   mata kakek itu, mendadak bisiknya lirih:

"sedangkan si kakek yang berkepala botak  itu adalah seorang jago yang mengangkat nama bersama lohu."

oh Put Kui agak termenung setelah mendengar perkataan itu, kemudian ujarnya tersenyum:

"Kakek siau, aku rasa hal ini tak mungkin terjadi."

"Mengapa tidak?" kata kakek siau sambil tertawa, " kau pernah mendengar seorang jago yang bernama Toan-ceng-si- sim-siu (kakek pemutus usus pelenyap hati) Hui Lok?"

"Hui Lok? orang yang pernah kau katakan itu?" jerit oh Put Kui kemudian dengan terperanjat.

"Yaa, benar. Memang dia" Kali ini  oh Put Kui benar- benar dibikin tertegun oleh ucapan tersebut, belum pernah dia meras akan terperanjat seperti apa yang dialaminya saat ini.

Mimpipun dia tak pernah menyangka kalau sikakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok masih hidup didunia ini.

"Bagaimana anak muda? Kau tak pernah menyangka bukan?" kata siau Lun sambil tertawa hambar.

oh Put Kui manggut.

"Ya. Mimpipun aku tak pernah menyangka"

Tiba-tiba siau Lun menghela napas, kemudian berkata:  "Anak    muda,   terhadap    siapapun    kau   boleh bertindak

tekebur   atau   jumawa,   tapi   jangan   mencoba-coba berbuat

demikian terhadap si kakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok, kalau tidak kau bisa menderita kerugian  yang   amat besar. "

"Terima kasih banyak atas petunjukmu itu " seru oh Put Kui sambil tertawa. siau Lun tertawa lalu  menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Anak muda, tampaknya kau kurang  percaya dengan perkataan lohu?" katanya tiba-tiba.

"Boanpwe percaya, cuma boanpwe memang ada niat buat bertarung melawan dia."

"Kau sudah gila?"

"Tidak. Boanpwe dapat merasakan hal  ini, cepat atau lambat suatu pertarungan sudah pasti akan berkobar  antara aku dengannya."

"Hei anak muda, mengapa kau bisa  mempunyai  jalan pikiran seperti ini?" kata  siau Lun  sambil menggelengkan kepalanya.

"Apakah kau tidak memperhatikan paras muka dari  Hui Lok?" Mendengar perkataan itu, siau Lun lantas berpaling kearah Hui Lok. Begitu melihat apa yang terjadi, kakek itu berseru dengan perasaan terperanjat: "Hei, sebenarnya  apa  yang telah terjadi?"

Ternyata si kakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok sedang melotot kearahnya dengan sinar mata yang mengerikan. sambil tertawa oh Put Kui segera berkata:

"Antara lurus dan sesat tak bisa dipersatukan, siau tua, dia hendak mencari gara-gara denganmu "

"Huuuh, dia mah tidak pantas" seru siau Lun sambil tertawa geli.

"Yaa benar, dia memang tidak pantas"

si singa latah pedang  iblis Kit Hu-seng yang berada disampingnya mendadak menimbrung:

"Jika Hui Lok berani mencari gara-gara dengan siau locianpwe, Kit Hu-seng lah yang pertama-tama tak akan mengampuni dirinya"

"aaah, kalian anak- anak muda lebih baik jangan kelewat emosi," kata siau Lun  sambil tertawa, "sekalipun Hui Lok mempunyai keberanian yang melampaui bataspun, tak nanti ia berani menantang lohu "

Belum habis dia berkata, mendadak tampak Hui Lok yang berada dimeja utama sana telah bangkit berdiri. Bukan cuma bangkit berdiri saja, bahkan berjalan menuju kearah  meja perjamuan mereka. oh Put Kui segera tertawa hambar setelah menyaksikan kejadian itu, katanya kemudian-"Bagaimana, kakek siau?"

"Bocah muda, tunggu saja tanggal mainnya. "

Dalam pada itu si kakek pemut usus pelenyap  hati  telah tiba didepan meja perjamuan, setelah memandang sekejap kearah enam orang yang berada dimeja itu, dia  lantas menyapa siau Lun- "Kehadiran saudara siau sama sekali tak kuketahui, bila mana dalam penyambutan kurang memadai, harap saudara siau sudi memaafkan"

siau Lun memandang sekejap kearah oh Put Kui, lalu menjawab:

"Aaah, mana....... lohu pun sama sekali tak tahu kalau saudara Hui adalah gurunya Lam  kiong lote, kalau  tidak begitu, sudah seharusnya lohu siapkan kado yang lebih baik untukmu. "

"Aaah, mengapa saudara siau berkata begitu? saudara Siau bersedia menghadiri pesta perkawinan  muridku saja sudah merupakan suatu kehormatan bagi kami, masa masih memikirkan soal kado?" siau Lun segera tertawa terbahak- bahak.

"Haaahhh...haaahh....haaahhh.... sanjungan saudara Hui sungguh membuat lohu seolah olah lagi terbang diatas awan- sebagai tuan rumah, janganlah gara-gara lohu membuat masalah lain terbengkalai,  silahkan  saudara  Hui  balik ketempat dudukmu "

Diatas wajah Hui Lok yang sinis  terlintas  sekulum senyuman yang aneh. "Kalau begitu, harap saudara siau suka minum arak lebih banyak....." katanya. Selesai berkata  dia lantas menjura dan balik kembali ketempat duduknya.

sepeninggal gembong iblis itu, oh Put Kui baru bertanya dengan kening berkerut: "Kakek siau, sebenarnya apa yang telah terjadi ?"

"Aaah, bukankah kau  telah menyaksikan  segala sesuatunya dengan mata kepalamu sendiri ?" kata siau Lun tertawa.

Dengan cepat oh Put Kui menggelengkan kepalanya: "sayang aku bodoh sekali sehingga tidak mengetahui apa

yang sebenarnya telah terjadi." Kembali siau Lun tertawa. "Tak mungkin Hui Lok  akan mencari gara-gara dengan lohu."

"Tapi boanpwe lihat dia sedang marah, mengapa setelah mengucapkan beberapa patah kata yang penuh rasa sungkan, kemudian membalikkan badan dan  berlalu dengan  begitu saja?" siau Lun tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh...haaaahhh...haaaahhhh... bocah muda, tahukah kau dia sedang marah kepada siapa?"

"Tentunya bukan lagi marah kepada boanpwe bukan?"

" Tepat sekali, justru tua bangka itu sedang marah kepadamu"

"Aaah.... mana mungkin?   Boanpwe toh tidak kenal dengannya, masa dia bisa marah kepadaku?"

"Waah. tampaknya kau sibocah muda ada kalanya pintar,

ada kalanya menjadi bodoh sekali"

"Mungkin memang begitu, toh sebagai  seorang  manusia kita tak bisa selalu pintar bukan"

"Tepat sekali " siau Lun tertawa, "Bocah muda, tahukah kau siapakah yang mempunyai nama yang  paling  termashur dalam dunia persilatan belakang ini ?"

"Boanpwe selamanya tak pernah  mempersoalkan nama maupun kedudukan. " tukas oh Put Kui menggeleng.

"sekalipun kau tidak mengharapkan, tapi perbuatan  yang kau lakukan telah  mendatangkan nama serta kedudukan sendiri untukmu Nah, bocah muda, kau harus tahu,  nama julukanmu Long-cu-koay-hiap boleh dibilang jauh lebih termashur daripada nama lohu." oh Put Kui segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Locianpwe, bila kau bermaksud untuk  mentertawakan diriku, tidak seharusnya kau ucapkan sindiran tersebut dihadapan teman-teman yang baru saja kukenal. " si kakek setan berhati cacad siau Lun  memandang sekeliling tempat itu, lalu katanya sambil tertawa:

"Bocah muda, lohu tidak bermaksud  mempermainkan dirimu atau mencemoohkan dirimu, bila kau kurang perCaya, beberapa orang lote ini akan menjadi saksi bagi perkataanku tadi."

si singa latah pedang iblis Kit Hu-seng segera menimbrung sambil tertawa lebar:

"saudara oh, apa yang dikatakan siau locianpwe memang benar, belakangan ini nama besar saudara oh boleh dibilang dihormati dan disanjung orang melebihi malaikat."

"oh ya? siaute benar- benar tidak menduga." seru oh Put Kui dengan kening berkerut.

sejaktadi, sipedang kilat naga perkasa Nyoo Ban-hu sudah mendongkolnya setengah mati, begitu melihat  ada kesempatan untuk mengutarakan  kemendongkolannya, dengan cepat dia menimbrung sambil tertawa dingin:

@oodwoo@