Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 07

 
Jilid 07

RAK BUKU itu sangat besar, lebarnya dua kaki dengan ketinggian beberapa kaki, semuanya terbagi menjadi tujuh rak, setiap rak penuh dengan buku-buku.

pengemis pikun memperhatikan sekejap sekeliling  tempat itu, mendadak ia merasa agak bingung. Dia tak mengira kalau gua tersebut begitu kering dengan udara yang segar, buktinya begitu banyak buku yang tersimpan dalam gua itu sama sekali tidak lembab dan rusak.

Dia lantas mendongakkan kepala bermaksud untuk menanyakan hal ini kepada Oh Put Kui.

Tapi mimik wajah Oh Put Kui justru membuatnya semakin tertegun.

Ternyata Oh Put Kui sedang duduk dikasur duduk sambil menangis tersedu-sedu.

Pelan-pelan pengemis pikun segera maju menghampirinya ia menemukan secarik kertas tergeletak didepan anak muda itu, ketika diambiI maka terlihatlah beberapa patah kata tercantum disitu:

"Kekasih lama menuntut balas kepada guru, Gi-hweesio mengembara keujung langit, nak, aku pergi dulu, baik-baiklah jaga diri, baik-baiklah jaga diri."

Tulisan itu nampak sangat indah dan penuh bertenaga, membuat pengemis pikun yang melihatnya segera  memuji tiada hentinya.

"Dari sini dapat diketahui kalau pengemis pikun inipun mempunyai pengetahuan tentang ilmu sastra.

Dia lantas membentangkan kertas surat tersebut didepan mata pemuda itu, kemudian katanya sambil tertawa:

"Hei, bocah muda, gurumu sudah minggat!" Oh Put Kui mendongakkan kepalanya, dengan wajah penuh air mata dia berkata : "Lok tua, mari kita pergi!"

Dia menerima kembali surat peninggalan dari gurunya itu dan melompat keluar dari ruangan, tanpa berpaling lagi ia tinggalkan gua tersebut.

Pengemis pikun tak berani berdiam kelewat lama disitu, ia segera mengikutinya pula dari belakang. Setelah menutup kembali pintu gua, Oh Put Kui kembali menyembah tiga kali, Kemudian ia baru berkata :

"Lok tua, kali ini aku benar-benar telah menjadi seorang gelandangan yang tak punya rumah lagi."

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ia membalik sepasang matanya yang kecil dan berseru:

"Bocah muda, benarkah gurumu adalah seorang hwesio?" Oh Put-kui manggut-manggut.

Mencorong sinar terang dari balik mata pengemis pikun itu, serunya kembali:

"Tay-gi sangjin?"

"Dari mana kau bisa tahu?" sahut Oh Put Kui dengan  sekujur badan gemetar keras.

Begitu ucapnya tersebut diutarakan,  ia baru menyadari kalau sudah salah berbicara.

Dengan ucapan tersebut, bukankah sama artinya dengan memberitahukan kepada pengemis tua, siapa gerangan suhunya?

Pengemis pikun segera tertawa  terbahak  bahak. "Haaahhh... .haaahhh haaaahhh dalam dunia yang begini

luas, hwesio bodoh cuma seorang, dialah sipendeta sinting Tay-gi sangjin yang disebut orang persilatan sebagai tokoh sakti!"

"Aaaai Lok tua, kau sangat cerdik!" puji Oh Put-kui sambil menghela napas.

"Haaahhh..,.haaaahhh haaaahhh masa kau baru tahu anak muda ?" pengemis tua nampak amat bangga.

"Aaah, tidak! Hal ini sudah kuketahui sejak berada di tepi telaga kiu liong thian ." Kali ini pengemis tua yang dibikin tertegun, lama kemudian dia baru berseru:

"Bocah muda, kau memang amat hebat..."

"Aaaah, Lok tua, kau toh sudah tahu aku ini murid siapa." "Yaa, betul, kau memang muridnya tokoh paling sakti

dikolong langit." Pengemis pikun tertawa gelak.

Sesudah berhenti sebentar, dia berkata lebih jauh:

"Bocah muda, setiap orang mengatakan  kalau  gurumu telah berpulang ke alam baka sesudah berhasil mengalahkan gembong iblis nomor wahid dari kolong langit, Pat-huang it- koay-jian-sim jui-siu manusia paling aneh di Pat-huang, kakek setan berhati cacad, Siu Lun. Tampaknya ucapan itu tidak benar, rupanya dia orang tua bersembunyi ditengah gunung untuk mendidik kau si bocah pintar!"

"Yaa, memang guruku berbuat demikian..."

Pengemis tua segera mengawasi bocah muda itu lekat- Iekat, kemudian katanya lagi. "Bocah muda.siapakah kekasih lama gurumu? Tahukah kau akan hal ini ?"

Oh Put-kui segera menggeleng. "Aku belum pernah mendengar suhuku menyinggung tentang  soal ini, lagipula suhu adalah seorang pendekar yang sudah berusia ratusan tahun, aku tidak percaya kalau dia orang tua  masih mempunyai kekasih lama..."

Kembali   pengemis pikun   tertawa tergelak. "Haaahhh haaahh haaahhh kali ini kau benar-benar ketanggor batunya!"

Mendadak tergerak hati Oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat.

"Lok tua, nampaknya dibalik ucapanmu itu masih ada ucapan lain!"

"Tentu saja." pengemis pikun  tertawa bangga, "aku si pengemis mah tak bakal disulitkan oleh persoalan semacam itu!" Oh Put Kui segera tertawa, pelan-pelan ia duduk di atas batu besar didepan dinding batu itu, kemudian bisiknya:

"Lok tua, aku bersedia untuk mendengarkan penuturanmu itu!"

"Penuturanku? Penuturan apa?" pengemis pikun segera menjatuhkan diri keatas tanah dan menggelengkan kepalanya sambil tertawa aneh. "aku si pengemis mah tak  pandai bercerita yang unik-unik."

"Lok tua, kau tidak bersedia untuk bercerita?" tanya Oh Put Kui sambil tertawa hambar.

"Bercerita apa? Aku si pengemis toh cuma gentong nasi "

Diam-diam Oh Put Kui tertawa geli, dia tak  menyangka kalau pengemis itupun  pandai jual mahal. Maka  sambil menarik muka dia berseru keras:

"Lok tua, kalau begitu silahkan!" Uaapan mana diutarakan dengan nada dingin dan ketus.

Pengemis pikun itu jadi tertegun setelah menyaksikan sikap rekannya itu, cepat dia berseru:

"Hei, kenapa kau Bocah keparat kau  hendak  mengusir aku si pengemis pikun. Hayo jawab?"

"Yaa, betuI, kita memang harus berpisah."

Dengan cepat pengemis pikun menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya.

"Hal ini mana boleh jadi ? Hei bocah muda, semua uang emas itu belum habis dipakai."

Oh Put Kui segera tertawa tergelak, "Aku mah menganggap uang seperti kotoran kerbau, sedang msnganggap teman seperti mestika, kalau toh Lok tua tak bisa mempunyai pikiran dan perasaan yang bisa mencocoki diriku, tentu saja lebih baik kita berpisah saja."

"Kau membuatku penasaran." "Benarkah itu?" Oh Put Kui tertawa sinis, "kau sudah jelas mengetahui kalau aku ingin cepat-cepat mengetahui siapakah kekasih lama suhuku, dan kaupun jelas mengetahuinya, tapi justru sengaja jual mahal, bukankah hal ini menunjukkan kalau kau tidak setia kawan ? Terhadap manusia semacam ini, aku selalu memandangnya rendah, oleh karena itu lebih baik kita jangan bertemu lagi mulai sekarang!"

Pengemis pikun segera tertawa geli. "Ooh. jadi karena soal itu?"

"Apakah belum cukup? Kau sombong dan tidak  setia kawan."

Belum habis Oh Put Kwi berkata, pengemis pikun sudah tertawa tergelak, sahutnya: "Baiklah anak muda, biar aku si pengemis bercerita dengan sejelas-jelasnya..."

Mendengar perkataan itu, diam-diam Oh Put Kui  tertawa geli,

"Katakan saja," ujarnya kemudian, "walau pun aku bersedia untuk mendengarkan tapi aku tak ingin merengek kepadamu."

"Bocah keparat, merengek atau tidak itu urusanmu sendiri," si pengemis pikun berkerut kening.

Setelah berhenti sebentar, mendadak wajahnya berubah menjadi serius, katanya lebih jauh:

"Bocah muda, tujuh puluh tahun berselang ketika gurumu belum masuk menjadi pendeta,  dia sesungguhnya adalah seorang kongcu muda yang tampan dan romantis sekali."

"Ooh.,.?" Oh Put Kni tak pernah menyangka kesitu.

"Lok tua, siapakah nama preman guruku itu..." sambungnya kemudian setelah berhenti sebentar.

"Entahlah" pengemis pikun menggelengkan kepalanya berulang kali, "sejak gurumu terjun kedalam dunia persi!atan, dia telah  menamakan dirinya sebagai Thian-yang-yu-cu (si pemuda pesiar dari ujung langit), siapapun tidak tahu siapa nama aslinya. Tapi lantaraa ilmu silatnya sangat lihay, gerak- geriknya pun seperti naga sakti yang kelihatan kepala tak kelihatan ekornya, maka orang persilatan memberi julukan Sin-Iiong-koay-hiap (pendekar aneh naga sakti) pula kepadanya."

"0ooh...rupanya si pendekar aneh naga sakti adalah guruku sendiri " Tiba-tiba Ob Put Kui tertawa.

Pengemis pikun nampak agak tertegun.

"Kenapa Hei bocah muda, siapa yang pernah menceritakan tentang soal Sin-liong koay hiap ini?"

"Tentu saja guruku sendiri."

"Sangjin sendiri? Ternyata situa ini belum dapat melupakan kegagahannya dimasa lalu."

Oh Put Kui termenung dan berpikir sebentar  lalu  katanya lagi sambil tertawa:

"Lok tua, sekarang aku sudah tahu siapakah kekasih lama dari guruku itu "

Pengemis pikun segera manggut-manggut.

"Kalau tokh sangjin pernah menyinggung soal Sin-Iiong- koay-hiap kepadamu, tentu saja dia pernah menyinggung pula dengan Thian-hiang-hui-cu "permaisuri cantik Ki Yan-hong!"

"Benar, guruku memang pernah menyinggung soal Thian- hiang Hui-cu Ki Yan-hong!"

"Anak muda, tahukah kau, gara-gara Thian-hiang-hui cu hendak mendapatkan cinta dari Sin-liong-koay-hiap,  hampir saja dia telah mengacaukan seluruh dunia persilatan?"

"Benarkah itu ?"

Kembali si pengemis pikun tertawa, "Coba  kalau perempuan itu tidak mengejarnya kelewat buas,  mana  mungkin gurumu bisa berubah menjadi Tay-gi Sangjin ?" Oh Put-kui menjadi tertegun. "Kalau begitu suhu dipaksa untuk mencukur rambutnya menjadi pendeta ?" ia berseru.

"Siapa bilang tidak ?" setelah menggelengkan kepalanya dan tertawa tergelak, pengemis pikun berkata lebih jauh, "Sungguh tak kusangka tujuh puluh tahun kemudian, untuk kesekian kalinya Sangjin harus melarikan diri."

Oh Put-kui tak tahan untuk menghela napas pula.

"Tak heran kalau snhu segera berkerut kening bila menyinggung soal perempuan.

"Haaah... haah... ketika Thian-hiang  Huicu  mengejar sangjin, aku si pengemis tua baru berumur belasan tahun, kini rambutku sudah beruban semua, tak nyana masih sempat menyaksikan lagi peristiwa aneh ini, aaai... rasa cinta Thian- hiang Hui-cu kepada gurumu benar-benar hebat sekali."

Tiba-tiba Oh Put kni memejamkan matanya dan termenung.

Melihat pemuda itu termenung saja sehingga terhadap apa yang diucapkan seolah-olah tidak mendengar, pengemis pikun itu kembali berseru:

"Hei, anak muda, apa yang sedang kau pikirkan ?"

"Aaah, aku sedang berpikir bagaimana caranya untuk berjumpa dengan Thian hiang Hui-cu !"

"Mau apa?" seru pengemis pikun dengan wajah tertegun, "apakah kau ingin mencari kesulitan buat diri sendiri?"

"Akn hanya ingin membujuknya agar jangan mendatangkan kesulitan lagi buat guruku."

"Apa gunanya? Dia toh tak akan bisa menemukan gurumu." Kata si pengemis sambil menggeleng.

Oh Put-kui turut menggelengkan pula kepalanya.

"Tapi aku merasa tak tega menyaksikan guruku berkelana didalam dunia   persilatan,   oleh karena itu aku hendak menganjurkan kepada  Thian-hiang Hui-cu agar mematikan saja ingatan tersebut!"

Mendengar perkataan itu, pengemis pikun tertawa terbahak-bahak.

"Gurumu saja tak mampu, masa kau bisa melakukannya?" Oh Put-kui ikut tertawa tergelak.

"Lok tua, mungkin guruku tak mampu untuk melakukannya, tapi aku pasti akan berhasil."

"Benarkah itu? Bocah muda. mari kita pergi ke kota Kim- leng.

-oOdwOoOdwOOdwOoo-

Tepi sungai Chin-hway merupakan suatu tempat pasiar yang sudah termashur namanya di seantero dunia.

Apa bila malam tiba, beraneka warna  lampu  akan menerangi sekeliling tempat tersebut, Rumah pelacuran Yan hiang-lo yang tersohor di wilayah  Kanglam  karena  empat orang pelacur topnya, setiap senja sudah tiba seIalu penuh dikunjungi oleh tetamu.

Hari itu, didepan rumah pelacuran Yan-hiang-lo  telah kedatangan dua orang tamu yang berdandan sangat aneh.

Seorang tua dan seorang muda ini mengenakan pakaian yang sangat perlente sedemikian menterengnya dandanan mereka hingga putra residen pun kalah.

Pada hakekatnya dandanan mereka seperti raja muda, seperti pangeran dari kerajaan.

Yang muda tampaknya adalah majikan, ia mempunyai wajah yang ganteng dengan perawakan badan yang gagah.

Pakaian yang dipakai adalah sebuah pakaian bersulamkan dengan emas, harganya per stel mungkin mencapai  seribu  tahil emas. Yang tua pun berdandan orang kaya, cuma kalau dilihat gerak-geriknya yang kedesa-desaan, bila diduga kalau dia datang dari dusun, mungkin orang kaya dusun.

Tua dan muda berdua ini  datang  dengan sikap yang menterang pengiringnya amat banyak tak terhitung.

Kontan saja suasana dalam rumah pelacuran Yaa-hiang-Io menjadi amat sibuk, terutama sekali ibu germonya.

Setelah mempersilahkan tamunya  duduk,  melihat dandanan kedua tamu agungnya itu, diam-diam si germo berkerut kening.

"Tolong tanya siapakah nama loya berdua." Oh!" jawab kongcu muda itu tertawa hambar. "OOdwOoo, kiranya Oh kongcu!"

Sedang siorang kaya desa yang memelihara kumis itu segera menyambung pula dengan suara aneh:

"Lohu adalah Lok toa-loya. Pembesar To-tay dari Holam!" "Aaaah... rupanya Lok-toa-loya, hamba menyampaikan

salam kepada kau orang tua!" Buru buru Germo itu memberi hormat dengan sikap munduk-munduk begitu   mengetahui kalau kakek itu adalah pembesar.

Lok-toa-loya segera tertawa, kemudian serunya dengan suara keras:

"Mengapa kau tidak menyampaikan salam pula kepada Oh kongcu?"

"Baik ..baik. ."

Mendadak Lok toa-Ioya tertawa dingin, "Heeehhh... heeehh

..heeehhh kau tahu, siapakah Oh toa kongcu ini?"

"Hamba hamba... dosa hamba besar sekali, hamba tidak tahu Oh Toa Kongcu."

"Oh Toa Kongcu adalah... adalah. " Mendadak pembesar To tay dari Holam yang mengaku bernama Lok Toa-loya ini membungkukkan tubuhnya dalam- dalam sambil bertanya dengan suara lirih:

"Kongcu, bolehkah hamba untuk mengatakannya ?" Oh Kongcu segera melotot besar.

"Ketika meninggalkan ibu kota, apa pesan ku kepadamu?

Lok tayjin, berhati-hatilah kalau berbicara!"

Sambil menyeka peluh yang membasahi jidatnya,  buru- buru Lok tayjin menjura lagi dalam-dalam.

"Baik... baik... Tayjin "

Mendengar tanya jawab tersebut,  si  Germo  tersebut menjadi semakin ketakutan.

"Waaah... siapa gerangan Oh Kongcu ini?" demikian dia mulai berpikir, "kalau seorang pembesar To-tay  kelas empatpun begitu munduk-munduk dihadapannya aaah, jangan-jangan Oh Kongcu ini adalah seorang Raja muda atau pangeran."

Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benak germo itu, Lok tayjin sudah membentak keras:

"Apakah keempat orang nona ada disini?" "Ada, ada tayjin!"

"Suruh mereka keluar semua!" "Baik."

Sambil sipat ekor, germo itu buru-buru menyembah lalu mengundurkan diri dari situ,

Tak selang   berapa saat kemudian, terdengar suara kegaduhan di luar ruangan sana,

Tiba-tiba Oh Kongcu itu berkerut kening, kemudian katanya:

"Lok tua, hebat betul permainan sandiwaramu!" "Benarkah itu?" pembesar Lok tertawa  keras,  "baru pertama kali ini selama hidup aku sipengemis..."

Rupanya mereka berdua tak lain adalah Oh Put-kui dan si pengemis pikun berdua.

"Ssttt.... Lok tua, jangan keras-keras," bisik Oh Put-kui dengan mata berkilat, "tempat ini bukan sembarangan rumah pelacuran"

Pengemis pikun segera menjulurkan lidah nya dan tertawa.

"Betul, hampir saja aku si pengemis melupakannya."

Sementara kedua orang itu masih berbincang-bincang, si germo telah mundul kembali dengan senyuman palsunya.

"Kongcu-ya," dia berkata, "harap tunggu sebentar lagi, ke empat nona segera akan tiba!"

Oh Put-kui mendengus dingin.

"Hmmm, Lok tayjin," dia berseru, "tampak nya lagak dari rumah-rumah hiburan di kota Kim-leng ini kelewat besar!"

-oOdwOoOdwOOdwOoo-

"BENAR.... harap Kongcu maklum." buru-buru pengemis pikun menjura dengan hormat.

Kemudian sambil melotot kearah germo itu, bentaknya: "Mengapa tidak segera pergi? Kalau sampai menggusarkan

Kongcu, hmmm, jangan salahkan kalau dari pengadilan akan muncul opas yang akan  menggiringmu masuk bui.  Hmm, kalau sudah sampai begitu, tahu rasa nanti."

Mendengar perkataan itu, si germo segera menjulurkan lidahnya karena ketakutan.

Setelah mengiakan  berulang kali, sambil lipat ekor dia segera melarikan diri terbirit birit.

Setibanya diluar ruangan, iapun berteriak keras: "Nona sekalian, cepat sedikit, Kongcu sudah marah." Hampir meledak suara tertawa pengemis pikun saking gelinya.

Tapi ruangan itu sangat ramai dan  banyak orang yang berlalu lalang, walaupun pengemis pikun ingin  berbicara  dia tak berani bersikap gegabah.

Oh Put Kui sendiri, untuk memperlihatkan sikapnya sebagai seorang pangeran atau raja muda, mau tak mau  harus menarik kembali sikap acuh tak acuhnya.

Setelah menghidangkan air teh. si germo itupun lari masuk kedalam ruangan sambil berseru:

"Kongcu-ya Lok-toa-loya..,nona berempat tiba!"

Tampak tirai disingkap orang, empat orang gadis yang berdandan model keraton berjalan masuk dengan  langkah yang lemah gemuIai.

Ternyata mereka berempat memang tak malu disebut pelacur kenamaan dari kota Kim-leng.

Selain mereka berwajah cantik jelita, lagi pula mempunyai perawakan tubuh yang ramping tapi padat berisi.

Oh Put Kui nampak agak tertegun. Pengemis pikun pun agak termangu sampai sampai ternganga lebar mulutnya.

Melihat itu, si germo pun tertawa, Karena dilihat dari mimik wajah kedua orang ini, dia seakan-akan melihat ada uang segenggam yang dimasukkan kedalam sakunya.

Buru-buru dia maju kedepan  sambil  memperkenalkan. "Nona sekalian Kongcu ini adalah Oh Kongcu dari ibu kota,

dan ini adalah Lok-toa-loya, kalian harus baik-baik memberi pelayanan, percaya Kongcu ya pasti tak akan menyia-nyiakan kalian."

Empat orang gadis itu bersam-sama memberi hormat, bahkan hampir bersamaan waktunya berkata lembut:

"Oh Kongcu, Lok loya, terimalah salam kami." "Nona tak usah banyak adat, siapkan perjamuan!" kata Oh Put Kui sambil mengulapkan tangannya.

Dengan cepat perjamuan dipersiapkan. Sambil tertawa Oh Put Kui berkata lagi kepada pengemis pikun:

"Lok to-tay, tampaknya nama besar empat pelacur utama dari Kanglam memang bukan nama kosong belaka."

Pengemis pikun tersenyum. "Dimasa lalu hamba selalu menganggap orang cantik yang kujumpai sudah banyak, tapi sekarang baru hamba ketahui, belum pernah kujumpai empat wanita secantik ini."

Setelah berhenti sebentar, dia  lantas mengangkat cawannya kearah empat orang perempuan  itu  sambil bertanya:

"Nona berempat, siapa nama kalian?"

Benar-benar tak disangka,  si pengemis pikunpun dapat menunjukkan sikapnya yang lembut dan terpelajar.

Dalam pada itu, seorang nona berbaju putih yang berusia paling tua diantara keempat orang gadis itu tersenyum manis, lalu menjawab:

"Aku yang rendah bernama Liu Im!"

Sesudah mengerling sekejap kewajah Oh Put Kui, dia menuding tiga orang gadis lainnya sambil menambahkan:

"Dan mereka adalah Khi cui, Wi Hiang dan Siau Hong."

Sekarang Oh Put Kui baru tahu, rupanya si nona yang berbaju hijau bernama Khi Cui, yang berbaju kuning bernama Wi Hiang sedang si nona yang berbaju biru bernama Siau Hong..."

Sambil tersenyum dia lantas berkata: "Sudah lama kudengar nama besar kalian."

Padahal dalam hati kecilnya dia merasa jauh lebih terkejut daripada si pengemis tua. Nama besar "Liu Im,  Khi Cui, wi Hiang dan  Han Yan" sebagai empat orang dayang kepercayaan Thian-hiang Hui-cu sudah termashur dalam dunia persilatan.

Walaupun Han Yan, salah seorang diantara ke  empat dayang itu sudah dibunuh oleh Oh Put-kui, tapi sekarang kedudukan "Han Yan" telah digantikan oleh Siau Hong masih di-tas kecantikan Han Yan.

Diam-diam pengemis pikun mengomel di dalam hati, dia merasa nyali dari ke empat orang gembong iblis ini  benar- benar sangat besar, sampai namapun sama sekali tidak berubah.

Sementara mereka berdua masih termenung, Liu Im sudah mengisi cawan dengan arak lalu berkata:

"Kongcu, silahkan minum arak!"

"Aah merepotkan nona saja!" sambil tertawa Oh Put Kui menerima cawan berisi arak ini.

"Aaah Kongcu tampaknya baru pertama kali ini berkunjung ke kota Kim-leng?"

"Di hari biasa banyak urusan dinas yang  harus  kuselesaikan sehingga jarang dapat datang ke Kim-leng!"

"Kocngcu-ya, kau pasti seorang yang amat  repot..." timbrung Khi Cui sambil tertawa.

"Urusan tentang negara, lebih baik tak usa nona campuri!" tukas Oh Put Kui tiba-tiba dengan dingin.

Perubahan sikapnya yang secara tiba-tiba segera membuat keempat orang pelacur itu menjadi tertegun.

Pengemis pikun yang menyaksikan dari samping,  diam- diam tertawa geli, ia tak menyangka kalau bocah muda itu sedemikian lihay sehingga dengan perubahan sikap-sikapnya saja sudah dapat menghilangkan kecurigaan ke empat orang pelacur itu.

Khi Cui tertawa rawan, lalu menyahut dengan sedih: Teguran kongcu akan hamba ingat terus, harap  kongcu sudi memaafkan."

"Aku tak akan menyalahkan kalian" jawab Oh Put-kui dengan gaya pembesarnya, "lebih baik jika kalian menerima tamu seorang pembesar, janganlah bertanya tentang soal negara, daripada mendatangkan kesulitan bagi diri sendiri"

"Nasehat kongcu akan hamba ingat selalu didalam hati," "Kalau bisa di ingat memang lebih baik" jawab Oh Put-kui

tertawa hambar.

Setelah berhenti  sebentar, tiba-tiba katanya kepada si pengemis pikun:

"Lok tayjin!"

"Kongcu ada perintah apa?" Pengemis tua menjura dengan sikap menghormat.

"Sewaktu ada di ibu kota, kau selalu memuji ke  empat  orang gadis ini sebagai orang yang pandai ilmu silat, tapi setelah berjumpa hari ini, sungguh membuat hatiku kecewa!"

Pengemis pikun jadi tertegun, bagaimana harus menjawab. Dalam cemasnya dia lantas berseru tergagap:

"Soal ini soal ini hamba...hamba..."

Oh Put-kui memandang sekejap wajah ke-empat orang gadis itu, kemudian katanya lagi sambil tertawa:

"Lok tayjin, kau tak usah gugup, aku tidak bermaksud untuk menegur dirimu."

"Ooh rupanya begitu " si pengemis pura-pura menghembuskan napas lega, "kongcu, kau..."

Oh Put Kui kembali tertawa, tapi kali ini dia tertawa sambil memandang kearah Liu Im yang genit. Sikap Liu Im nampak sangat aneh, agaknya mereka sudah terpikat oleh kegantengan Oh Kongcu ini,  lagi  pula terpengaruh oleh apa yang dikatakannya tadi.

Maka mereka hanya sempat berpikir, siapa gerangan Oh Kongcu ini ? Apa maksud kedatangannya ?

Ternyata tak seorangpun diantara mereka yang memperhatikan sorot matanya yang tajam, atau tegasnya mereka tidak menyangka kalau Oh Put Kui sesungguhnya adalah seorang jago muda yang berilmu sangat tinggi.

Sudah barang tentu  mereka lebih-lebih tak menyangka kalau pemuda tampan ini adalah Oh Put Kui yang pernah berkunjung ke Pulau neraka dan dapat pulang  dengan selamat.

Sekalipun demikian, Liu im adalah seorang yang sangat berpengalaman dalam bidang pelacuran, maka sewaktu  Oh Put Kui tertawa kepadanya, diapun segera mengeluarkan ilmu merayunya.

Sambil tertawa genit, katanya dengan lembut:

"Kongcu tak pernah meninggalkan ibu  kota,  dan  cuma mendengar pembicaraan orang saja, sudah barang tentu jauh sekali dengan kenyataan. Walaupun kami berparas lumayan, dan mengerti sedikit tentang ilmu sastra, tapi dalam hal ini silat sesungguhnya kami tidak tahu sama sekali !?"

Oh Put Kui segera tersenyum, dibalik senyuman tersebut tersimpanlah suatu arti yang sangat mendalam.

"Nona, kalian pandai sekali merendahkan diri !"

Mendadak dia berpaling dan memandang sekejap ke arah Pengemis pikun, lalu katanya lagi:

"Lok tayjin, kalau kudengar dari pembicaraan nona ini, bukankah berarti apa yang kau dengar itu tidak benar?"

Kali ini  pengemis tua agak tertegun, kemudian  baru menggelengkan kepalanya berulang kali. "Hamba rasa apa yang hamba dengar sudah pasti dan bisa dipercaya seratus persen."

"Haaaahhh... haaaaahhh... haaaahhh... benar, kalau tersiar kabar begini sudah pasti tak akan tersiar tanpa sebab."

Dengan sorot matanya yang jeli dia  lantas mengerling kembali ke atas wajah ke empat orang gadis itu.

Sebodoh-bodohnya Liu Im berempat tentu saja mereka  dapat menangkap arti yang sebenarnya dari ucapan tersebut, maka tanpa terasa mereka saling berpandangan sekejap.

Siau Hong yang termuda diantara mereka berempat, tiba- tiba menutup mulutnya Sambil tertawa, kemudian katanya :

"Kongcu, kau terlalu menyanjung kemampuan kami empat bersaudara."

Suaranya lemah lembut dan amat merdu bagaikan kicauan burung nuri, membuat setiap orang yang mendengar akan terpikat rasanya.

Oh Put Kui tertawa, diamatinya sekejap si nona cantik yang berada dihadapannya, lalu sambil berpaling kearah pengemis pikun, dia berseru:

"Lok tayjin, kalau aku tidak salah dengar, agaknya diantara nama-nama keempat pelacur kenamaan dari rumah pelacuran Yan-hiang-lo tidak tercantum nama nona  Siau-hong,  apakah hal ini keliru?"

"Tidak, tidak keliru, waktu itu diantara nama-nama keempat nona memang tidak ter dapat nama Siau Hong!"

Oh Put Kui segera berlagak seakan-akan termenung sambil berpikir sejenak, lalu katanya lagi:

"Kalau aku tidak salah ingat, seharusnya terdapat   nona Han Yan."

"Ya, yaa betul,  memang nona itu bernama Han Yan!" kembali si pengemis pikun bertepuk tangan. Pelafi-pelan Oh Put Kui segera berpaling kearah  Siau Hong, lalu katanya lebih jauh:

"Nona, kalau begitu kau telah menggantikan kedudukan nona Han Yan! Atau mungkin nona Han Yan sudah  jemu dengan pekerjaan semacam ini maka dia mengundurkan diri dari pekerjaannya dan menikah."

Paras muka Liu  Im sekalian berempat segera berubah berulang kali, tapi belum menjumpai sesuatu yang mencurigakan mereka berempat tak berani sembarangan berkutik.

Siau Hong sebagai orang yang ditanya, tentu saja tak dapat berdiam diri terus, maka sambil tertawa paksa sahutnya:

"Dugaan kongcu, kedua-duanya salah besar !"

"Aaah, aneh kalau begitu, aaah jangan-jangan nona Han Yan telah jemu dengan segala macam kehidupan manusia biasa, maka dia telah masuk kebidang agama dengan mencukur diri menjadi rahib?" Siau Hong segera tersenyum.

"Kongcu, walaupun dugaanmu tidak benar toh tidak selisih jauh, benar enci Han Yan memang telah  suci sekarang,  tapi dia suci di alam baka, karena beberapa waktu berselang dia diserang penyakit aneh dan menghembuskan napasnya yang penghabisan!"

Oh Put Kui segera menghela napas sedih.

"Aaaa! kalau begitu, nona Han Yan benar-benar seorang gadis cantik yang bernasib mengenaskan!"

"Siapa bilang tidak?" dengan wajah murung Siau Hong menghela napas pula, kematian enci Han Yan benar-benar mengenaskan."

Sekalipun Oh Put Kui telah berperan lebih baik, cuma Oh Put Kui mengerti bahwa kematian Han Yan telah menimbulkan pula perasaan ngeri dihati mereka. Oleh karena itu tidaklah heran jika mereka turut bersedih hati.

"Kong-cu-ya," pengemis pikun segera berseru sambil tertawa, "tampaknya berita kematian dari nona Han Yan ini masih belum tersiar sampai di ibu kota ?"

Oh Put Kui tertawa hambar.

"Kematian seorang pelacur kenapa mesti dianggap begitu serius dan penting ? Lok tayjin, bukannya aku sengaja mengurangi suasana gembira disini,  tapi  sebenarnya perbuatan para pembesar dari ibu kota betul-betul kelewat brutal."

Pengemis pikun kesima, kemudian sahutnya berkali-kali: "Benar... benar..."

Padahal dalam kenyataan dia tidak tahu apa, yang dimaksudkan oleh Oh Put-kui, tapi dia tahu asal mengucapkan kata "benar" maka jawaban tersebut sudah pasti tak bakal salah Iagi.

Sementara itu mimik wajah Liu Im berempat semakin tak menentu dan berubah-ubah, tamu yang dijumpainya sekarang boleh dibilang merupakan tamu paling istimewa yang dijumpainya tahun ini.

Berbicara soal dandanan, Oh kongcu ini memiliki gaya dari seorang pangeran.

Tapi kalau ditinjau dari soal pembicaraan dia justru lebih mirip seorang jagoan persilatan dari golongan putih. Mereka sudah berusaha keras untuk menemukan suatu cara yang paling baik untuk menghadapi tamu semacam ini, tapi untuk beberapa saat mereka justru tidak berhasil menemukan sikap semacam apakah yang sepantasnya diperlihatkan hingga tak sampai menimbulkan kesulitan.

Oleh karena itu sambil tersenyum, Liu Im segera berkata kepada Oh Put kui: "Oh kongcu, dalam  keadaan  seperti  ini, aku sangat berharap bisa berbincang-bincang dengan kongcu sambil menikmati keheningan suasana, kebetulan kami berempat mengerti juga tentang seni suara, bagaimana kalau kami bawakan sebuah lagu untukmu."

Oh Put-kui tahu kalau ke empat orang  perempuan penghibur itu sudah menaruh  curiga  kepadtnya,  sambil tertawa segera sahutnya:

"Setelah berada dalam barisan perempuan tampaknya aku harus menurut saja..."

Khi Cui dan Wi Hiang segera tertawa, mereka lantas mengambil kim dan harpa dari atas dinding, kemudian jari jemari mereka memetik senar-senar harpa itu membawakan irama merdu, sedang Liu Im Siu liong menarik suara.

-oOdwOoOOdwOodwOo-

Mendengarkan suara nyanyian yang  begitu merdunya.

Pengemis pikun sampai melongo dengan mata terbelalak.

Ia benar-benar amat girang,  sebab selama hidup baru pertama kali ini dia merasakan suasana semacam ini.

Arak wangi, hidangan Iezat, perempuan cantik, nyanyian merdu dan tarian indah.... kesemuanya itu hampir saja membuatnya menjadi mabuk kepayang.

Oh Put Kui masih saja duduk dengan senyuman dikulum, padahal perasaannya makin lama semakin berat.

Dia mempunyai rencana untuk menaklukkan ke  empat orang perempuan itu dalam sekali serangan.

Demi gurunya, mau tak mau dia  harus turun tangan terhadap perempuan perempuan penghibur itu.

Dia ingin mencari tahu tempat tinggal Thian hiang Hui-cu Ki Yan-hong dari mulut ke  empat orang dayang tersebut, kemudian berusaha untuk membebaskan gurunya dari kesulitan.

Perjamuan telah berlangsung, nyanyianpun telah berakhir. Sambil tertawa tergelak, pengemis pikun berkata:

"Merdu merayu, lembut mengalun, selain cantik nona berempat memang mempunyai  kepandaian  yang  amat menarik hati.!"

Oh Put Kui tak kuasa menahan gelinya, dia segera berseru: "Lok . . . Lok tayjin, tampaknya kau adalah orang yang amat

mengenal seni suara!"

Mencorong sinar terang dari balik mata pengemis pikun, sambil tertawa sahutnya:

"Kongcu, aku yang rendah  belum  pernah merasa segembira hari ini..."

Liu Im segera memenuhi cawannya dengan arak, kemudian ujarnya dengan manja:

"Biarlah aku yang rendah  sekalian menghormati arak secawan sebagai rasa terima kasih kami atas pujian kongcu dan tayjin."

Sambil berkata dia lantas meraba tengkuk si pengemis  pikun dengan lemah lembut.

Serta merta pengemis pikun menyingkir kesamping dengan perasaan terkejut.

Menyaksikan rabaannya dihindari Liu Im kelihatan tertegun, lalu katanya lagi dengan lembut:

"Tayjin, apakah kau merasa aku yang rendah kotor?" Satu ingatan cerdik segera melintas dalam benak pengemis itu, sambil tertawa dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Bukan begitu nona, selama berada dihadapan Oh Kongcu, terpaksa aku harus tahu menahan diri."

Mendengar itu, Liu Im segera tertawa cekikikan.

Sedang Siau Hoag yang berada disisi Oh Put Kui  juga sudah mulai melancarkan ilmu rayuan mautnya. Seluruh tubuhnya hampir boleh dibilang bersandar diatas dada pemuda itu, sambil  mendongakkan  kepalanya  dia berkata dengan manja:

"Koogcu, suara parau aku yang  rendah mungkin  hanya akan mengganggu pendengaran  Kongcu saja, bagaimana kalau kuhormati kau dengan  secawan  arak  sebagai permintaan maafku ? Kongcu, kau harus memberi muka kepada aku yang rendah."

Walaupun dihati kecilnya diam-diam Oh Put Kui  tertawa  geli, tapi dia merasa tak tahan  juga menghadapi  rayuan lembut dari perempuan cantik itu.

Yaa, lelaki mana yang bisa melewati barisan perempuan dengan selamat? Apalagi Oh Put Kui cuma manusia biasa.

Tangannya segera merangkul pinggang Siau Hong yang ramping dan menekannya keras-keras, sementara sekulum senyuman aneh tiba-tiba menghiasi ujung bibirnya.

Dengan sorot mata yang tajam, pengemis  pikun mengawasi wajah pemuda tersebut  tanpa  berkedip, inilah keputusan yang terakhir.

Jika senyuman dari Oh Put K.ui telah berubah, maka pada saat yang bersamaan mereka akan  turun tangan secara serentak.

Tapi senyuman yang menghiasi ujung bibir Oh Put  Kui masih saja tetap dan tak berubah.

"Lama kelamaan habis sudah kesabaran pengemis pikun, dia lantas berkata dengan lantang:

"Kongcu, Van-hiang-su-hoa memang merupakan  empat bunga yang indah dan menahan di kota Kim-leng, cukup didengar dari suara nyanyiannya yang begitu merdu, boleh dibilang jarang sekali dijumpai gadis semacam mereka ini..."

Suara tertawanya amat keras  dan  nyaring, karena saat inilah yang mereka nanti-nantikan selama ini. Sepasang mata Oh Put Kui yang bersinar jeli, tiba-tiba saja berubah menjadi aneh sekali menyusul  gelak  tertawa pengemis pikun yang keras, ketika pengemis pikun menyaksikan sorot mata tersebut ia segera bersorak didalam hati.

Tangan kiri Oh Put Kui yang menempel diatas pinggang Siau Hong itu mendadak menekan keras, sementara tangan kanannya pada saat yang bersamaan disentilkan ke muka melepaskan dua buah serangan berantai ka arah  tubuh Khi- cui dan Wi hiang.

Ditengah jeritan kaget yang berkumandang saling beruntun, empat orang dari Thian hiang itu sudah kena dipecundangi semua.

Jalan darah Wi Kiong-hiat ditubuh Liu Im pun kena di totok oleh pengemis pikun.

Untuk menghadapi seorang korban saja-sudah barang  tentu bagi pengemis tersebut lebih dari cukup.

Sebaliknya Oh Put Kui sendiripun dapat bekerja dengan enteng dan amat santai.

Buktinya hanya didalam sekali gerakan saja, Khi-cui, Wi- hiang dan Siu-hong sudah berhasil dikuasai sama sekali.

Oh Put Kui tertawa hambar, memandang kearah empat dayang Thian-hiang yang sedang melotot ke arahnya dengan perasaan gemas. marah, gelisah, jengkel dan kaget itu, dia berkata dengan suara rendah:

"Maaf, terpaksa aku harus menyiksa kalian berempat!"

Mimpi pun ke empat orang dayang Thian-hiang itu tak pernah menyangka kalau dalam dunia persilatan  masih terdapat orang berani mencari gara-gara dengan mereka berempat.

Apa yang terjadi sekarang sungguh membuat mereka tidak puas, tidak takluk. Sementara itu si pengemis pikun telah melompat ke depan pintu dan menguncinya rapat rapat.

"Lok tua, pertunjukkan bagus sekarang baru akan dimulai!" Oh Put Kui kemudian sambil tertawa hambar.

Pengemis pikun tertawa tergelak.

"Benar, hei bocah muda, aku siap menantikan perintahmu..."

Dengan sinar mata yang tajam  bagaikan  sambaran kilat, Oh Put Kui memandang sekejap ke  arah Liu Im,  lalu bentaknya keras-keras:

"Aku hanya ingin menyelidiki tentang satu hal  kepada  kalian, asal kalian bersedia untuk menjawab  dengan sejujurnya, maka akupun tak akan menyusahkan kalian!"

Setelah berada dalam keadaan seperti ini, apa lagi  yang bisa dilakukan oleh Liu im sekalian berempat? Mereka betul- betul mau menangis tak bisa, tertawa apa lagi.

Jalan darah yang tertotok membuat sekujur badan mereka tak sanggup bergerak, selain matanya yang  masih bisa bergoyang, hampir seluruh tulang belulangnya terasa sakit bagaikan remuk.

Diantara ke empat orang dayang itu Liu Im merupakan pemimpin diantara mereka.

Setelah melirik sekejap kearah ketiga orang rekannya, dengan perasaan gemas dia berseru.

"Siapakah kau? Mengapa kau melakukan perbuatan semacam ini terhadap kami? Tahu kah kau, perbuatanmu itu telah mengundang bencana besar bagi dirimu sendiri ?"

"Nona, kau tak usah bertanya siapakah diriku," kata Oh Put Kui sambil tertawa, "Sedang bencana besar yang kau maksudkan bagi pendengaran kami justru amat menggelikan sebab tujuan dari kedatanganku ke tempat ini adalah untuk menerbitkan bencana besar..." "Sebenarnya apa yang kau inginkan?" jerit Liu Im dengan suara tercengang.

"Hmmm, aku hanya ingin mencari tahu tentang kabar berita seseorang!"

Sekali lagi Liu Im tertegun, "Siapa?" "Ki Yan-hong!"

Hampir saja ke empat orang dayang itu menjerit tertahan saking kagetnya setelah mendengar perkataan itu, lama sekali mereka termangu-mangu dan ternyata tak seorang pun yang menyahut.

Sambil tartawa dingin Oh Put Kui berkata lagi:

"Tidak kenal? Nona aku percaya kalian  pasti sangat mengenal diri orang itu"

"Kong cu, sebenarnya siapakah kau ?" tanya Liu Im dengan sinar mata sayu karena duka.

Oh Put Kui tertawa dingin.

"Soal ini tak usah nona tanyakan, apa yang kalian kerjakan hanya menjawab apa yang ku ajukan kepada kalian !"

Siau-hong, dayang termuda diantara ke empat orang itu tiba-riba berteriak keras:

"Kau.,.kau si iblis jahanam... cepat bebaskan jalan darah kami."

"Nona, kau belnm menjawab pertanyaan yang kuajukan tadi!"

Siau-hong menjadi amat gusar sehingga sepasang matanya melotot brsar kembali teriaknya:

"Iblis...sampai mati pun aku tak akan  memberitahukan hal ini kepadamu.." "Benarkah itu?" Pengemis pikun tertawa aneh. "budak cilik, lebih baik jangan sembarangan berbicara kalau tidak merasa tulangmu sudah cukup keras!"

Oh Put Kui tertawa dingin, dia mengalihkan pula sorot matanya kewajah perempuan-perempuan itu dengan sinar mata setajam sembilu kemudian jengeknya.

"Kalian anggap aku benar-benar tak berani menggunakan kekerasan untuk memaksa kalian?"

Sikap yang begitu angker dan seram tersebut, seketika menggetarkan setiap orang.

Gemetar    keras    sekujur   badan   Liu Im karena ngeri, sahutnya kemudian dengan suara lirih:

"Kongcu, tahukah kau siapa kami berempat ?" Oh Put Kui menjengek sinis.

Sebaliknya pengemis pikun membentak keras:

"Ngaco belo, bicara tak karuan!" tiba-tiba sorot mata Liu Im pun berkilat, kemudian tertawa, pikirnya dengan cepat:

"Ternyata kalian memang benar-benar anggota dunia persilatan kalau toh begitu, berarti ancaman terhadap  jiwa  kami pun menjadi tipis sekali..."

Ia bisa berpikir demikian karena  dia menganggap nama besar dari majikannya sudah  terlampau  termashur  dalam dunia persilatan Ditinjau dari keberanian mereka untuk datang mencari gara-gara dengan majikannya, tentu saja merekapun tak akan mencelakai dirinya  sebagai  seorang  dayang sehingga merusak nama baik sendiri, sebab dia  cukup mengetahui titik kelemahan orang persilatan lebih suka menjaga gengsi dan  nama baik daripada mempersoalkan  yang lain.

Berpikir demikian, dia lantas bertanya:

"Kongcu, ada urusan apakah kau mencari majikan kami?" "Tak usah banyak bicara," bentak pengemis pikun gusar, "persoalan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kalian!"

Liu Im segera mendengus dingin, "Jika kalian berdua  tak mau menerangkan alasannya lebih dulu, terpaksa kamipun tak bisa memenuhi keinginan kalian itu!"

Pengemis pikun menjadi semakin  gusar,  bentaknya: "Budak sialan, kau berani menantang aku? Baik, lohu akan

suruh kau merasakan kelihayanku..."

Begitu selesai berkata, dia lantas mengayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan kearah punggung Liu Im.

Oh Put Kui yang menyaksikan kejadian itu segera berseru cepat:

"Lok, tua ampuni selembar jiwanya!" Waktu itu telapak tangan si pengemis pikun sudah menempel diatas punggung  Liu Im, tenaga dalamnya juga sudah siap dilancarkan keluar, seandainya Oh Put Kui tidak  membentak  tepat  pada waktunya, sudah pasti Liu Im akan merasakan suatu penderitaan yang luar biasa.

Untung saja kepandaian silat yang dimiliki pengemis pikun sudah mencapai pada taraf yang sempurna, sehingga mendengar suara tersebut, dengan cepat dia menarik kembali tenaga serangannya.

Kendati pun  demikian, peluh dingin toh sempat jatuh bercucuran juga membasahi seluruh badan Liu im.

"Terlalu enakan budak sialan ini...." omel pengemis pikun dengan perasaan tidak puas.

Oh Put-kui tertawa hambar.

"Lok tua, sabarlah dulu, mereka pasti akan mengakui dengan terus terang" katanya. Tapi kemarahan sipengemis tua itu belum juga mereda, sambil tertawa dingin dia berseru:

"Bocah muda, kau jangan sampai terpikat olehnya." Mendengar itu, Oh Put-kui tertawa gelak.

"Haaahh.... haaaaahhh haaahhh.... jangan kuatir, didalam dunia pada saat ini masih belum ada  orang yang  bisa membuat diriku jadi terpikat!"

Kemudian sambil menarik kembali senyumanya, dia berpaling kearah Liu Im dan membentak lagi:

"Nona, terus terang kukatakan bahwa aku tak ingin mencelakai jiwa kalian, oleh sebab itu akupun berharap nona bisa baik-baik membawa diri."

"Hmm, memetik bunga didapati kerbau.. ..." kembali pengemis pikun itu tertawa mengejek.

Agaknya saat ini Lin im sudah tahu kalau kongcu yang berada dihadapannya sekarang bukan seorang manusia yang mudah dihadapi, setelah berputar otak sekian lama, akhirnya berhasil juga dia menemukan suatu akal yang amnt bagus.

"Kongcu, bukannya aku tak  mau  berkata"  katanya kemudian "melainkan. .,. "

Dia sengaja menjual mahal dan tidak melanjutkan perkataannya sedang matanya segera  mengerling  kewajah Oh Put-kui, si anak muda itu tersenyum.

"Nona, lebih baik kau tak usah berlagak lagi, apa yang kau pikirkan sudah cukup jelas bagiku!"

Terkesiap juga Liu Im setelah mendengar perkatan itu, tapi perasaan mana tak berani di-utarakan diatas wajahnya.

Maka sambil berusaha keras untuk mempertahankan ketenangannya, dia berkata  sedih "Kongcu, setelah kau mengetahui asal usul kami bersaudara  tentunya juga tahu bukan akan tabeat dari majikan kami? Bila kalau sampai menyebutkan tempat tinggalnya tanpa mengetahui alasannya, maka mungkin sekali hal ini akan..."

Berbicara sampai disitu, kembali ia berhenti ditengah jalan.

Oh Put-kui berkerut kening, dia seperti mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut kemudian diurungkan.

Berdua dengan pengemis pikun,  habis  sudah kesabarannya menghadapi keadaan seperti itu, dengan gusar dia lalu membentak

"Budak kecil, bila kau masih saja berbicara mencla-mencle, jangan salahkan kalau aku si pengemis tua akan segera membunuhmu!."

Begitu kata "si pengemis tua", disebutkan, maka terbongkarlah kedudukan dan rahasiaj pengemis tersebut.

Siauw Hong yang pertama-tama menjerit keras lebih dulu: "Kalian adalah anggota Kay-pang ?" pengemis pikun agak

tertegun sejenak, kemudian bentaknya cepat:

"Kalian tak usah mencampuri urusan ini!" Mungkin dalam pandangan ke empat orang perempuan itu Kay-pang adalah suatu perkumpulan lemah yang tak perlu dikuatirkan  maka setelah mengetahui ranasia tersebut mimik wajah mereka yang semula menegang pun kini menjadi jauh lebih kendor.

Dengan suara lembut Liu Im berkata : "Kau  orang  tua  sudah pasti adalah salah Satu diantara ke enam orang tianglo dari kay-pang, sedang kongcu ini, mungkinkah ia adalah murid pertama dari Kongsun pangcu ?"

Dilihat dari mimik wajah serta nada pembicaraan ke empat orang perempuan itu, Oh Put-kui sudah dapat menduga apa yang menjadi pikiran mereka berempat.

Dengan kedudukannya sebagai  empat  dayang kepercayaan Thian-hiang Hui-cu Ki Yan-hong, tentu  saja mereka tidak memandang sebelah matapun terhadap perkumpulan Kay-pang. Maka sambil tertawa dingin ujarnya: "Kalian jangan lupa, nyawa kamu berempat sudah berada didalam genggamanku." tampaknya keberanian ke empat orang perempuan itu makin lama makin menjadi, baru saja Oh Pni-kui menyelesaikan kata-katacya, mendadak terdengar Siau Hong berkata dengan suara dingin:

"Hmm, jangan lagi kalian, sekalipun pangcu kalian Kongsun Liang juga tak berani mengganggu seujung rambutku pun, padahal kau tak lebih cuma muridnya  Kongsun  Liang... hmmm, kesombonganmu betul-betul mendekati keadaan tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi..."

Belum habis perempuan itu berkata, pengemis pikun sudah gusar, mendadak dia mengayunkan telapak tangannya dan menampar wajahnya keras-geras.

Sekalipun tamparan itu tidak dilakukan tanpa  disertai tenaga dalam, toh akibatnya cukup mengenaskan, lima buah bekas telapak tangan yang memerah telah membekas jelas diatas pipinya yang pntih.

"Hmm, kalian anggap nama besar Kongsun pangcu boleh sembarangan disebut oleh  perempuan-perempuan  lonte seperti kalian?" teriaknya marah, "hmm, kalian harus tahu, aku si pengemis tua tidak sesabar bocah muda itu, kalau berani mengoceh tak karuan sekali lagi, jangan salahkan kalau aku si pengemis tua tak akan sungkan-sungkan kepada kalian..."

Sekarang, keempat orang dayang itu baru terperanjat sebab sepanjang sejarah baru pertama kali ini mereka jumpai anggota Kay pang yang tidak jeri terhadap nama majikannya.

Sementara itu, paras muka Oh Put-kui juga telah berubah menjadi amat mengerikan, dengan suara dingin ia  membentak: "Aku sama sekali tiada   hubungan  apa-apa dengan pihak Kay-pang, lebih baik kalian jangan salah paham dengan menghubungkan aku dengan perkumpulan lain..."

Setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya: "Bila kalian merasa berkepandaian silat lebih lihay dari ke tujuh orang kakek yang menghuni di Pulau Neraka, silahkan saja, tunjukkan keangkuhan kalian itu."

Begitu mendengar nama "Pulau Neraka," disebutkan, paras muka ke empat orang perempuan itu berubah menjadi pucat pias, peluh dingin jatuh bercucuran sementara matanya terbelalak lebar.

@oodwoo@