Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 31

Jilid 31

Mungkin perempuan yang dimaksud adalah ibu kandung Nyoo Siau-sian. ?

Tiba-tiba saja dia merasakan hatinya bergetar keras.

Jikalau Nyoo Siau-sian adalah putri Wi thian-yang, buat apa dia menemani gadis itu pergi ke lembah Yu-kok dibukit Tiong- lam-san? Bila hal ini dilakukan, bukankah hal tersebut akan membuat dia menjadi manusia berdosa dalam  dunia persilatan?

Untuk sesaat lamanya Oh Put Kui jadi termenung dan membungkam dalam seribu bahasa.

"Siau-sicu, apa yang sedang kau pikirkan?" tiba-tiba Bong- ho siansu menegur.

Oh Put Kui menghela napas panjang: "Taysu, apakah nona Nyoo Siau-sian mengetahui  bahwa Wi Thian-yang adalah ayahnya  yang menggunakan  nama Nyoo thian-wi?"

Bong-ho siansu menggeleng:

"Bocah itu tidak tahu, siau-sicu, bila kulihat dari sikap siau- sicu yang termenung begitu lama, apakah kau sedang merasa risau dan bingung karena persoalan gadis tersebut?"

"Wi thian-yang adalah manusia yang berambisi besar dan berpikiran licik serta berbahaya, cepat atau  lambat  akhirnya dia akan menjadi musuh seluruh umat persilatan, sedangkan nona Nyoo adalah putrinya, maka boanpwee pikir bila aku berhubungan dengannya, hal ini justru membuat gerak gerikku menjadi kurang leluasa. "

Tiba-tiba Bong-ho siansu menggelengkan kepalanya dan berkata:

"Siau-sicu, sekalipun Wi-thian-yang seorang manusia yang berdosa, tapi nona  Nyoo  bukan  seorang  yang  turut  berdosa. "

Kemudian setelah menghela napas panjang, hwesio tua itu berkata lebih jauh:

"Siau-sicu, andaikata nona Nyoo turut terlibat dalam kesalahan tersebut, tidak mungkin Wi-in sinni akan menerimanya sebagai murid serta mewariskan ilmu silat kepadanya"

Sebagai seorang pemuda yang cerdas, sudah barang tentu Oh Put Kui memahami teori tersebut.

Akan tetapi dia toh merasa resah juga, ujarnya kemudian: "Taysu, boanpwee masih ingin memohon petunjuk tentang

satu persoalan."

"Silahkan  siau-sicu  utarakan." "Apakah ibu nona Nyoo masih hidup?" "Masih!"

"Apakah dia adalah gundik kesayangan Wi-thian-yang yang taysu maksudkan tadi?" kata Oh Put Kui lagi sambil tertawa dingin.

Bong-ho siansu segera menggelengkan kepalanya sambil tertawa:

"Bukan, ibu kandung nona Nyoo  sudah  digunduli rambutnya oleh Wi-in sinni. "

"Apakah Nyoo Thian-wi membiarkan istrinya mencukur rambut menjadi pendeta?" Oh Put Kui berkerut kening.

"Hal  ini justru yang sangat diharapkan olehnya. "

"Mengapa?"

"Karena seorang perempuan yang lain "

Setelah menghela napas rendah, Bong-ho siansu berkata lebih jauh:

"Perempuan itu tak lain adalah gundik kesayangan yang banyak akal dan tipu muslihat itu, orang persilatan menyebutnya sebagai Thian-ho-wan-hoa-li "Perempuan bunga dari Thian-ho-wan" Lian Peng."

"Apakah nona Nyoo mengetahui akan hal ini?" tanpa terasa Oh Put Kui menghela napas panjang.

"Sejak berusia satu tahun, anak Sian sudah pergi ke  Kun- lun sebelah barat, darimana dia bisa tahu akan persoalan ini?"

Untuk keempat kalinya Oh Put Kui dibuat tertegun. Kembali Bong-ho siansu berkata:

"Wi-in siansu yang berhati saleh sudah sejak lama membawa pergi anak Sian, dia berharap bocah perempuan itu bisa menebuskan dosa yang pernah dibuat Wi Thian-yang tapi menurut pendapat lolap, sulit rasanya keinginan ini  dapat terwujud. " Berkilat sepasang mata Oh Put Kui setelah mendengar ucapan ini, katanya kemudian.

"Jadi menurut taysu, sinni sengaja  mewariskan  ilmu silatnya kepada nona Nyoo dengan harapan ia bisa menebuskan dosa yang telah diperbuat Wi Thian-yang dan paling tidak membawa ayahnya kembali ke jalan yang benar?"

"Begitulah maksudnya."

Lalu setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata:

"Siau-sicu, anak Sian adalah sebuah batu pualam yang belum digosok, lolap sangat berharap agar siau-sicu mau melindungi secara baik baik, kalau tidak, jikalau dia sampai terpengaruh oleh sikap Wi Thian-yang sebagai ayahnya, lolap kuatir hal ini akan menyebabkan posisi Wi Thian-yang ibarat harimau yang tumbuh sayap, tak sedikit bantuan yang akan diperoleh Wi Thian-yang di dalam  mewujudkan  cita  citanya itu."

Dengan cepat Oh Put Kui memutar otaknya keras keras, akhirnya dia menghela napas panjang:

"Sekarang boanpwee sudah tidak mempunyai pendirian lagi, tapi apa yang taysu katakan pasti akan kulaksanakan dengan sebaik baiknya."

Bong-ho siansu tertawa:

"Bukan cuma harus dijalankan saja, menurut  pendapat lolap, hal ini pun masih tergantung bagaimana cara siau-sicu menangani hal ini, aku cuma berharap agar siau-sicu berhati- hati dan selalu waspada, jangan membiarkan anak Sian terjerumus ke dalam perangkap ayahnya."

"Perangkap? Apakah terhadap anaknya sendiripun wi Thian-yang menggunakan perangkap untuk menjebaknya?"

Bong-ho tertawa lirih:

"Perjalanan ke lembah Yu-kok di bukit Tiong-lam-san merupakan salah satu perangkap " "Ooh "

"siau-sicu, sebelum lolap mengetahui siapakah  siau-sicu, aku merasa kuatir sekali dengan  perjalanan yang  akan dilakukan anak sian, oleh sebab itu lolap mengutus  si  kutu buku pena emas Ku Bun-siu untuk  melakukan persiapan disana."

Setelah berhenti sejenak, terusnya lebih jauh: "Tapi sekarang lolap dapat berlega hati."

"Budi dan kasih sayang taysu terhadap Siau-sian sungguh membuat boanpwee merasa tak tenang."

"Siau sicu, saat ini posisi lolap serta Ku Bun-wi terhadap istana Sian hong-hu belum mencapai saat bermusuhan, oleh sebab itu paling baik jika kami tidak ikut menampakkan diri."

"Boanpwee pasti akan berupaya dengan sepenuh tenaga untuk membantu usaha ini " Oh Put Kui memberikan janjinya

sambil tertawa hambar.

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia  seperti hendak menanyakan suatu persoalan lagi.

Mendadak.......

Dari kejauhan terdengar suara Hian-leng-giok-li Nyoo Siau sian sedang berteriak keras:

"Empek hwesio...... empek hwesio. !"

Bong-ho siansu cepat-cepat berbisik:

"Siau-sicu boleh pulang secepatnya, paling baik kalau kau tidak menyinggung soal pertemuan dengan lolap ini."

Oh Put Kui mengiakan dan cepat-cepat melompat keluar dari tembok pekarangan.

Pada saat itulah ia sempat mendengar suara gelak tertawa dari Bong-ho siansu. Agaknya si hwesio tua ini sedang mentertawakan Nyoo Siau-sian yang bersikap terlalu tegang.

Tapi Oh Put Kui tak sempat untuk  mendengarkan  lebih jauh, dia harus secepat-cepatnya kembali ke kamarnya sebelum jejaknya diketahui oleh gadis tersebut.

Sebab dia masih teringat dengan pesan Bong-ho siansu yang minta kepadanya untuk merahasiakan pertemuan tersebut.

Seperminum teh setelah Oh Put Kui kembali ke kamarnya, Nyoo Siau sian telah kembali pula ke rumah penginapan itu.

Dari kejauhan dia sudah melihat cahaya lentera yang menyinari ruangan Oh Put Kui.

Karena itu dia segera memburu ke dalam kamarnya sambil menegur : "Toako, kau telah pergi ke mana?"

Oh Put Kui mempersilahkan Nyoo Siau-sian masuk lebih dahulu, melihat sikap si nona yang begitu menaruh perhatian dan gelisah, tapi juga gembira dan manja, hatinya merasa sangat bergetar keras.

Sambil tersenyum diapun menyahut:

"Aku  pergi mencarimu!"

Merah dadu selembar wajah Nyoo Siau-sian mendengar ucapan ini, segera ujarnya:

"Toako...... tengah malam begini  ada  urusan apa  kau mencariku. ?"

Agaknya si nona telah menyelewengkan pikirannya ke hal- hal yang lain.

Atas pertanyaan  tersebut, seketika itu juga Oh Put Kui merasakan pipinya turut menjadi merah.

"Berhubung aku merasa tak tenang pikirannya, maka akupun berjalan kekamar tidur  sumoay, tapi panggilanku berulang kali tidak peroleh jawaban, maka persoalanku pun menjadi sangat tak tenang. "

"Aku telah  keluar rumah!" kata  Nyoo Siau-sian sambil tertawa.

"Benar, sumoay memang tidak berada di dalam kamar, tapi aku menjadi gelisah sekali akibatnya."

"Toako, menurut dugaanmu aku telah pergi berbuat apa?" tanya Nyoo Siau-sian sambil tersenyum.

"Jarak dari sini dengan lembah Yu-kok di bukit Tiong-lam- san sudah dekat sekali, aku kuatir  Kiau Hui-hui telah  melakukan tindakan yang tidak menguntungkan bagimu, maka setelah mengetahui bahwa sumoay tidak berada di kamar, segera itu  juga  aku  melakukan  pencarian  disekitar  tempat itu "

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali ia berkata: "Sumoay, kemana sih kau pergi? Mengapa hingga

sekarang baru pulang?"

Nyoo Siau-sian tersenyum:

"Aku pergi menengok seorang cianpwee, berhubungan  toako sudah tidur maka aku tidak  membangunkan  kau, lagipula kau toh tidak kenal dengan orang itu "

Oh Put Kui tahu, Nyoo Siau-sian sengaja berkata demikian karena kuatir dia marah, ia merasa berterima kasih sekali dengan kebaikan hati nona tersebut, sebab hal  ini menunjukkan bahwa peranan dirinya dalam hati kecil nona itu penting sekali.

Padahal perasaannya waktu itu jauh lebih berat daripada semula.

Paling tidak sampai sekarang ia belum mempunyai keyakinan, bagaimana dia harus bersikap terhadap nona yang masih polos dan lincah ini dimasa mendatang, terutama sekali hubungan perasaan diantara mereka berdua. "Sumoay," katanya kemudian, "pergilah beristirahat, besok kita harus mendaki bukit!"

"Toako, kau tidak marah kepadaku bukan?"

"Kenapa mesti marah? Ayohlah ce[at beristirahat, kalau ingin berbicara kita lanjutkan besok pagi saja."

Sambil tertawa Nyoo Siau-sian segera beranjak pergi dari ruangan tersebut.

Tapi Oh Put Kui tidak mampu tertawa lagi.

Sekarang dia sudah tahu, bahwa Nyoo Thian-wi pada hakekatnya tak pernah mati.

Itu berarti peristiwa terakhir dari empat peristiwa pembunuhan terbesar dalam dunia  persilatan  hanya merupakan perbuatan pura-pura saja, ditinjau dari sini  dia mulai menduga-duga, mungkinkah pembunuh dari ketiga kali pembunuhan yang terdahulu adalah orang  yang  pura-pura mati pada peristiwa yang terakhir ini?

Seandainya ditinjau dari bukti-bukti yang diperoleh, kemungkinan semacam ini bukannya tak ada.

Tanpa terasa Oh Put Kui menghubungkan pula peristiwa ini dengan kehadiran ketiga pendeta See-ih ke  wilayah Tionggoan.

Lalu peranan  Kakek penggetar langit  Sian Hian yang menyaru sebagai ketua Pay-kau untuk merebut Mu ni pian.

Ditambah pula keikut sertaan toya emas tangan sakti Sik Keng-seng dalam perebutan ruyung serta persekongkolan Wi- thian-yang dengan Pek Biau-peng di telaga Phoa-yang-oh......

Dari semua peristiwa itu diperoleh petunjuk bahwa semua kekacauan ini menyangkut pula nama Wi Thian-yang.

Disamping itu Oh Put Kui teringat juga dengan ketua dari lima partai besar yang mengikuti Nyoo Ban bu pergi ke istana Sian-hong-hu dan selanjutnya tiada kabar  beritanya lagi, kejadian mana semakin memperlihatkan ambisi rakus dari Wi- thian yang untuk menguasai seluruh dunia persilatan.

Tapi ada satu hal yang tidak dipahami olehnya, yakni para korban dari ketiga peristiwa berdarah itu sesungguhnya tak pernah terjalin perselisihan atau permusuhan apa pun dengan si raja setan penggetar langit Wi-thian-yang.

Seharusnya tanpa dasar perselisihan atau permusuhan, mustahil dia mempunyai  alasan untuk  melakukan pembunuhan.

Itulah sebabnya Oh Put Kui tak sanggup memecahkan teka-teki tersebut......

Akhirnya sambil mengehela napas panjang dia berpikir: "Untuk menyelidiki latar belakang dari peristiwa ini,

terpaksa harus menunggu sampai saatnya tiba "

Senja telah menjelang tiba.

Dua buah lentera yang memancarkan sinar terang tampak tergantung pada mulut  masuk  menuju  kelembah  Yu-kok dibukit Tiong-lam-san.

Empat orang gadis berdandan  model keraton, berdiri dibawah lentera itu dengan lemah gemulai.

Sementara kedelapan buah mata mereka yang melotot besar, ditujukan keluar lembah tanpa berkedip.

Angin barat berhembus kencang dan mengibarkan ujung baju yang mereka kenakan.

Udara yang dingin dan  membekukan badan  membuat paras muka mereka berubah menjadi merah padam.

Akan tetapi mereka sama sekali tidak nampak kesal atau murung oleh keadaan yang dialaminya itu.

Sementara itu kegelapan malam sudah mulai menyelimuti seluruh lembah tersebut. Mendadak salah seorang diantara keempat gadis itu berbisik dengan lirih:

"Itu dia, sudah datang!" Siapa yang telah datang?

Delapan buah mata yang jeli bersama sama dialihkan ke arah luar lembah yang remang-remang itu.

Mendadak salah seorang  diantaranya  mengerutkan dahinya sambil berseru keheranan:

"Mengapa dua orang yang datang?"

Gadis yang berbicara tadi segera berkata lagi:

"Memang dua  orang yang datang, mengapa sih mesti merasa keheranan atau kaget?"

Sementara pembicaraan masih berlangsung sang tamu agung sudah berada di hadapan.

Rupanya kedua orang itu adalah Nyoo Siau-sian  dan  Oh Put Kui yang berjalan bersama-sama.

Keempat orang gadis berdandan keraton  itu  segera  maju ke muka menyongsong kedatangan mereka.

Terdengar salah seorang diantara mereka berseru dengan suara yang merdu:

"Empat orang dayang dari Kiau siancu lembah Giok-lan-kok dibukit Tiong-lam-san mendapat perintah dari majikan untuk menyambut kedatangan  nona Nyoo serta sauhiap  untuk bersua didalam lembah."

"Silahkan membawa jalan!"  kata Nyoo  Siau-sian sambil tertawa hambar.

Oh Put  Kui  yang mendengar itu segera berkerut kening.

Pihak tuan rumah telah menunjukkan sikap yang begitu sungkan, mengapa nona ini justru tidak sungkan-sungkan? Namun si anak muda itupun tidak berbicara apa-apa, dengan mulut membungkam mereka berjalan mengikuti dibelakang keempat orang dayang tersebut dan  dibawah bimbingan dua sinar lentera,  mereka berjalan menuju ke lembah Giok-lan-kok.

Setelah berjalan kurang lebih lima li, sampailah mereka didepan sebuah bangunan loteng kecil yang berwarna putih, loteng itu dibangun dengan menempel pada bukit.

Sinar lentera menyinari seluruh ruangan loteng itu sehingga terang benderang.

Sepanjang jalan, sekalipun Oh Put Kui bersikap amat hati hati serta diam-diam menghimpun tenaga dalamnya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan, namun dia sama sekali tidak menemukan pertanda yang mencurigakan ataupun jago-jago yang disembunyikan di sekitar sana.

Melihat keadaan mana, diam-diam pemuda itu  mulai merasa rada lega.

Dalam pikirannya, paling tidak Kiau Hui hui  bukanlah termasuk manusia licik yang berbahaya.

Setelah berada didepan bangunan loteng berwarna putih  itu, Oh Put Kui baru melihat bahwa loteng itu mencapai luas tiga kaki dan terdiri dari empat lantai.

Pintu gerbang pada lantai terbawah bangunan itu tampak terbuka lebar lebar.

Dibawah penerangan sinar lentera yang memancar keluar dari balik pintu, nampak seorang nona berbaju hijau yang berambut panjang berdiri di muka pintu.

Begitu bersua dengan nona itu, tiba-tiba saja Nyoo Siau- sian bersorak gembira:

"Enci Kiau, aku telah datang!" Dengan cepat tubuhnya melompat ke depan dan menubruk gadis tersebut.

Gerakan dan tindakan yang diambil Nyoo Siau-sian ini dengan cepat menimbulkan perasaan kaget dan tercengang bagi Oh Put Kui.

Bukankah mereka berjanji akan bertemu disini untuk melangsungkan pertarungan?

Mengapa Nyoo Siau-sian justru menunjukkan sikap yang begitu mesra dengan gadis itu, bahkan hubungan mereka seperti lebih hangat daripada hubungan kakak beradik?

Dalam pada itu, Nyoo Siau-sian telah saling bergenggaman tangan dengan nona berbaju hijau berambut panjang itu dan tertawa cekikikan tiada hentinya, entah apa saja yang mereka bicarakan saat itu.

Otomatis Oh Put Kui jadi tertinggal seorang diri ditempat itu sambil berdiri melongo.

Akhirnya dia cuma bisa menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang.

Perempuan memang makhluk yang sangat aneh dan susah diraba maksud dan tujuan mereka.

Entah berapa saat sudah lewat, rupanya mereka sudah cukup puas berbicara sambil tertawa.

Terdengar gadis berbaju hijau itu berkata lirih: "Adik Sian, coba kau lihat temanmu itu. "

Baru sekarang Nyoo Siau-sian teringat kalau Oh toakonya masih berdiri tertegun disitu.

Maka dengan wajah merah jengah serunya:

"Toako, cepat  kemari, mari kuperkenalkan kepadamu. "

Oh Put Kui mendehem pelan dan segera maju menghampiri kedua orang gadis itu. Sambil tertawa merdu Nyoo Siau sian berkata lagi:

"Dialah Yu-kok-cian-li (gadis suci dari lembah Yu kok) Kiau Hui-hui yang amat termashur namanya  dalam  dunia persilatan, toako,  coba  kau  lihat  betapa  cantiknya  enci  Kiau. "

Sebagai gadis yang  polos, apa  saja yang terpikirkan olehnya segera diutarakan pula secara blak-blakan, dia tak ambil perduli apakah orang yang dipuji dan diperkenalkan itu bakal rikuh atau tersipu-sipu dibuatnya.

Dengan wajah bersemu merah karena jengah, gadis  suci dari lembah Yu-kok segera menundukkan kepalanya rendah- rendah.

Sebaliknya Oh Put Kui dengan  peraaan tidak tenang segera menjura dan berkata sambil tertawa:

"Aku adalah Oh Put Kui, sudah lama kukagumi nama besar siancu, sungguh gembira hatiku dapat bersua dengan siancu hari ini "

"Toako, tak nyana kau malahan memperkenalkan diri lebih dulu " goda Nyoo Siau-sian sambil tertawa.

Merah padam selembar wajah Oh Put Kui oleh ucapan tersebut.

Sebaliknya gadis suci dari lembah Yu-kok,  Kian Hui-hui yang mendengar nama Oh Put Kui tersebut menjadi amat terperanjat, diam-diam dia mendongakkan kepalanya lagi sambil memperhatikan jago paling lihay dari angakatan muda dunia persilatan dewasa ini.

Begitu dipandang wajahnya, gejolak perasaan hatinya menjadi semakin menjadi-jadi.

"Ooh...... betapa tampannya dia. " dalam hati kecilnya dia

berpekik lirih.

Kepalanya ditundukkan semakin rendah setelah memberi hormat katanya pula lirih. "Nama besar Oh kongcupun sudah lama kudengar. "

Ketika Nyoo Siau-sian menyaksikan sikap kedua orang itu sama-sama amat sungkan, tanpa terasa katanya sambil tertawa:

"Aaah, sungguh menjemukan, semenjak kapan sih  enci Kiau mempelajari tingkah laku  yang  membosankan  seperti  itu "

Dengan wajah memerah gadis suci dari lembah Yu-kok ini mengomel:

"Adik Sian, mengapa sih kau selalu memaki enci mu dihadapan tamu. ?"

"Apakah dia dianggap tamu asing?" goda nona itu sambil tertawa.

Kemudian setelah membalikkan badan dia berkata lagi: "Enci Kiau, apakah  kau tidak mengundang kami untuk

masuk kedalam ruangan?"

Mendengar perkataan ini, paras muka Kiau Hui hui kembali berubah menjadi merah padam, serunya kemudian  sambil tertawa:

"Aaah betul, gara gara kau suka menggoda,  hampir  saja aku melupakan sopan santun. "

Setelah membetulkan letak rambutnya, diapun berkata kepada Oh Put Kui sambil tertawa:

"Silahkan masuk Oh kongcu. "

Sementara itu pelan-pelang Oh Put Kui sudah berhasil menenangkan kembali perasaan yang bergolak, sambil tersenyum dia menyahut:

"Terima kasih "

Dengan cepat tubuhnya melangkah masuk kedalam ruangan itu. Dibalik pintu adalah sebuah ruangan tamu yang kecil.

Tidak sampai Oh Put Kui memalingkan kepalanya, si gadis suci dari lembah Yu-kok Kiau Hui-hui telah berkata lagi sambil tertawa:

"Silahkan naik ke atas loteng!"

Tanpa mengucapkan sepatah katapun Oh Put Kui langsung menuju kelantai kedua.

Rupanya pada lantai kedua terdapat sebuah ruang tamu yang jauh lebih lebar.

Bukan saja semua perabotnya teratur sangat rapi, lagipula lantainya bersih dan bebas dari debu.

Dengan cepat Kiau Hui-hui mendahului  tamunya masuk kedalam ruangan dan berseru:

"Kongcu, silahkan duduk!"

Oh Put Kui mengucapkan terima kasih dan duduk disebuah kursi disebelah kanan.

Sedangkan Nyoo Siau-sian dan Kiau Hui-hui duduk tepat dihadapan mukanya.

Dua orang dayang berbaju hijau segera muncul menghidangkan air teh.......

"Adik Sian," ujar Kiau Hui-hui kemudian  sambil tertawa, "silahkan kau dan Oh kongcu minum secawan air  teh  lebih dulu "

"Tidak, aku justru merasa lapar........" sela Nyoo Siau-sian sambil tertawa.

Waktu itu Oh Put Kui sedang mengangkat cawan sembari menghirup air teh.

Ketika perkataan dari Nyoo Siau-sian itu diutarakan keluar, hampir saja air teh yang memenuhi mulutnya itu tersembur keluar. Kiau Hui-hui segera tertawa tergelak:

"Adik Sian, aku sudah tahu kalau kau merasa lapar, sekarang mereka sedang mempersiapkan hidangan didapur, siapa suruh kau malas sehingga datang terlambat? Ayoh kita segera pergi bersantap dulu. "

"Enci Kiau, mengapa kau tidak suruh mereka cepatan sedikit.............?" kembali Nyoo Siau-sian tertawa, "aaai, tahu kalau bakal kelaparan disini, aku pasti  membawa  rangsum  dari rumah."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, para dayang telah muncul sambil menghidangkan sayur dan arak.

Nyoo Siau sian segera melompat kedepan lebih dulu dan menyambar sumpit yang telah tersedia.

Oh PUt Kui yang menyaksikan kejadian ini  hanya bisa tertawa geli saja.

Dengan wajah bersemu merah, Kiau Hui-hui segera menghormati mereka dengan secawan arak.

Selama berada dihadapan anak perempuan, Oh Put Kui sendiripun tak ingin minum arak terlalu banyak,  setelah menghirupnya sedikit, dia bertanya kepada Nyoo Siau-sian sambil tertawa:

"Sumoay, bukankah kau berjanji dengan Kiau siancu untuk datang bertarung?"

Nyoo Siau-sian memandang sekejap kearah Kiau Hui-hui, lalu sahutnya sambil tertawa:

"Sebetulnya memang itu maksud kedatanganku."

Oh Put Kui segera berkerut kening, lalu katanya sambil tertawa:

"Sumoay,  sekarang  aku  sudah  merasa  tidak   percaya lagi "

Nyoo Siau-sian tertawa cekikikan: "Toako, mengapa sih kau  tak  percaya?  Apakah dikarenakan aku dan enci Kiau tidak saling memaki sehingga memerah mukanya?"

"Aku rasa hubungan diantara kalian berdua  justru merupakan kebalikannya........." kata pemuda  itu  sambil tertawa hambar:

"Aaah, belum tentu demikian. "

Kiau Hui-hui ikut berkata pula sambil tertawa:

"Oh kongcu, persoalan dari kaum perempuan  memang mudah sekali berubah, bahkan berubahnya juga amat cepat."

Oh Put Kui tertawa tergelak.

"Kiau siancu, kebetulan sekali aku hanya mengetahui  sedikit sekali tentang urusan kaum wanita "

"Kalau memang begitu  tak usah ditanyakan lagi, yang penting makan dulu sampai kenyang,  kemudian  baru menonton keramaian."

Oh Put Kui memang tidak mengetahui permainan setan apakah yang sebetulnya sedang dilakukan oleh Nyoo SIau- sian, karenanya diapun tertawa hambar, lalu sambil meneruskan santapannya dia berkata:

"Tampaknya aku hanya memperoleh bagian makan banyak saja "

"Hidangan gunung yang kasar mungkin tidak cocok dengan selera kongcu," sambung Kiau Hui-hui tertawa.

Cepat-cepat Oh Put Kui merendah:

"Siancu terlalu merendah, aku hanya seorang manusia tak berarti, lebih baik siancu jangan terlalu sungkan."

"Bila kongcu berkata begitu, aku menjadi malu sendiri."

Kebetulan sekali sorot matanya saling bertemu dengan sorot   mata   dari    Oh    Put  Kui,   dengan tersipu-sipu dia menundukkan muka dan sampai lama sekali dia tak mampu berkata-kata.

Nyoo Siau-sian yang menyaksikan hal ini segera bertepuk tangan sambil menggoda:

"Aneh betul enci Kiau hari ini, mengapa sih pipimu menjadi merah melulu. "

Godaan ini benar-benar membuat gadis suci dari Yu-kok ini menjadi malu sekali, seandainya dilantai ada lubang, dia pasti akan menyembunyikan diri disana.

Sementara Oh Put Kui justru bersikap acuh tak acuh, sekalipun dia merasa tertarik oleh kelincahan, kelembutan serta kecantikan Kiau Hui-hui, itupun hanya  terbatas mengagumi saja.

Oh Put Kui menunjukkan sikap jengah hanya disaat permulaan berjumpa saja, tapi bagaimana pun juga dia memang seorang perantauan yang  berhati  tawar,  sekalipun dia pernah  dibuat tergetar  hatinya oleh kecantikan serta kelembutan Kiau Hui hui, namun bukan  berarti  hatinya menjadi tertarik dan tergoda.

Ia sadar, Nyoo siau-sian seorangpun sudah lebih  dari  cukup mendatangkan kesulitan baginya.

Nyoo siau sian masih tertawa saja tiada hentinya,  sebetulnya dia ingin menggoda Kiau Hui-hui lagi, akan tetapi ketika sinar matanya membentur dengan wajah hambar  dari Oh Put Kui, hatinya menjadi tertegun, tanpa terasa pikirnya.

"Kenapa sih dengan Oh toako ini? Mengapa sikapnya berubah menjadi begitu dingin dan hambar?"

Secara tiba-tiba saja dia berhenti tertawa kejadian yang berlangsung sangat mendadak ini kontan  saja  mengejutkan hati Kiau Hui-hui.

Dengan cepat gadis itu mendongakkan  kepalanya  lalu bertanya: "Adik Sian, mengapa sih kau ini?"

Dengan mata melotot Nyoo Siau-sian segera berseru: "Enci Kiau, aku hendak beradu jiwa denganmu!"

Begitu ucapan "adu jiwa" diutarakan oleh Nyoo Siau-sian, Oh Put Kui turut menjadi terkejut sehingga tanpa terasa mendongakkan kepalanya secara tiba-tiba  dan  mengawasi gadis itu dengan pandangan termangu-mangu.

Kiau Hui-hui sendiri pun nampak tertegun dibuatnya.

"Adik Sian, kau ingin bertarung denganku?" serunya tanpa sadar.

"Tentu saja."

"Apakah tidak menunggu sampai makan kenyang nanti?" "Aku sudah kenyang sedari tadi!" sahut Nyoo Siau-sian

sambil tertawa cekikikan.

Sambil berkata dia lantas  bangkit berdiri dari tempat duduknya.

Oh Put Kui mengerutkan dahinya rapat-rapat, dengan perasaan tidak mengerti diawasinya dua  orang gadis yang sama sama cantik dan menarik ini dengan termangu, untuk beberapa saat lamanya dia tak tah apa yang mesti dikatakan.

Terdengar gadis suci dari lembah Yu-kok. Kiau Hui-hui  tertawa cekikikan, sambil meletakkan kembali sumpitnya dia berkata:

"Adik Sian, bagaimana kalau kita bertarung ditempat ini saja?"

Pertanyaan ini sekali lagi membuat perasaan Oh Put Kui sangat terkesiap.

Tampaknya kedua orang  ini benar-benar hendak  bertarung.

Hanya saja ada satu hal yang tidak dipahami oleh Oh Put Kui,  sekalipun  pemuda  ini  termasuk  seorang  pemuda  yang pintar, dia tidak mengerti kenapa dua orang gadis yang saling membahasai sebagai kakak beradik dan selalu berhubungan secara mesra dan hangat  disertai gelak tertawa riang ini, dalam sekejap mata dapat berubah menjadi saling  bermusuhan bahkan akan  menyelesaikan pertarungan itu secara mati-matian........

Dan didalam kenyataannya, Kiau Hui-hui betul-betul sudah meloloskan sebilah pedang Giok-pek-kiam dari atas dinding,

Sedangkan Nyoo Siau-sian telah meloloskan pula ruyung Mu-ni-piannya sambil berkata:

"Enci Kiau, bagaimana kalau kita bertarung diluar saja?"

Dengan kening  berkerut Kiau Hui-hui menyahut  sambil tertawa:

"Terserah kepadamu, bagaimana  pun  juga sang enci memang harus mematuhi keinginan sang adik "

Maka dia pun segera melompat turun dari atas loteng.

Sambil tertawa Nyoo  SIau-sian segera menggapai pula kearah Oh Put Kui seraya serunya:

"Toako, mari bantu aku nanti. "

"Aku memang ingin sekali menyaksikan kemampuan ilmu silat yang kalian miliki........" sahut Oh Put Kui sambil tersenyum.

Dengan langkah lebar mereka berdua  segera menyusul pula kebawah loteng.

Disisi sebelah kiri  bangunan loteng berwarna putih itu merupakan sebuah kebun bunga dan  sayur yang luasnya mencapai tiga hektar........

Diantara pepohongan bunga dan sayur terdapat sebuah tanah lapang beralas batu putih yang  luasnya  mencapai sepuluh kaki persegi, disekeliling lapangan telah dipasang dua puluhan buah lentera. Pada waktu itu, gadis suci dari lembah Yu-kok Kiau Hui-hui dengan pedang terhunus berdiri ditengah lapangan itu.

Pelan-pelang Nyoo Siau-sian berjalan menuju kedalam tanah lapang tersebut.

Sedangkan Oh Put Kui dengan langkah cepat segera berdiri berapa kaki disamping kedua orang gadis itu.

Kiau Hui-hui memandang sekejap ke arah Nyoo Siau-sian yang baru muncul, lalu katanya sambil tertawa:

"Adik Sian, bagaimana kita harus bertarung? Apakah tak akan berhenti sebelum ada yang mampus?"

"Terserah......." sahut Nyoo Siau-sian sambil tertawa cekikikan.

Oh Put Kui yang mendengar perkataan tersebut, paras mukanya segera berubah hebat.

Bagaimanapun juga dia merasa dua orang gadis ini telah bergurau keterlaluan.......

"Sumoay, benarkah kau hendak bertarung mati-matian melawan Kiau siancu?" tanyanya kemudian tanpa terasa.

Pertanyaan itu diajukan dengan perasaan setengah tegang dan setengah bimbang.

"Tentu saja!" sahut Nyoo Siau-sian sambil tertawa, "bukankah golok dan pedang tak bermata?"

Sambil tersenyum Kiau Hui-hui berkata pula:

"Oh kongcu, urusan diantara aku dengan adik Sian ini lebih baik jangan ikut campur!"

Oh Put Kui menggelengkan kepalanya  sambil tertawa hambar:

"Boleh saja aku  tidak mencampuri, cuma. aku mendapat

titipan orang. " Bagaimanapun juga dia mencoba memagang rahasia, akhirnya bocor juga tanpa sengaja, menanti pemua itu akan menutup mulut, keadaan sudah terlambat.

Terdengar Kiau Hui-hui berseru sambil tertawa cekikikan: "Adik Sian, kau sungguh amat lihay. "

Sekalipun kata selanjutnya tidak dilanjutkan, namun siapa saja dapat mendengar arti dari perkataan itu. Sudah jelas dia menuduh Nyoo Siau sian telah mempersiapkan bala bantuan yang tangguh sebelum dilangsungkannya pertarungan itu.

Paras muka Nyoo Siau-sian segera berubah hebat, kemudian tegurnya cepat:

"Toako, siapa yang memberi titipan kepadamu? Kau. "

Mimpipun dia tak menyangka kalau Oh toakonya datang karena mendapat titipan dari seseorang.

Sebab menurut apa  yang diketahui, justru dialah yang mengajak pemuda itu datang ke sana.

Tak heran kalau gadis itu amat terperanjat setelah mengetahui bahwa Oh Put Kui datang kesitu karena disuruh orang.

Sambil tertawa hambar Oh Put Kui berkata:

"Sumoay, tak usah kau ketahui siapa yang menitipkan kau kepadaku, yang penting aku ingin bertanya  kepadamu,  apakah persoalanmu dengan Kiau siancu pada  hari  ini  tak bisa diakhiri sebelum salah seorang diantaranya mampus?"

"Kau tak usah mencampuri!" seru Nyoo Siau-sian tiba-tiba dengan wajah penuh amarah.

Oh Put Kui menjadi tertegun, lalu pikirnya

"Aku benar-benar mencari banyak urusan "

Sekalipun demikian, diluaran dia berkata lagi: "Sumoay, sebetulnya dikarenakan persoalan apa sih kalian sampai bertarung disini? Kalau dilihat dari sikap kalian, tampaknya kalian berdua begitu akrab dan hangat, mengapa pula harus melakukan pertarungan mati-matian?"

"Apakah kau tak bisa tidak bertanya?" seru Nyoo Siau-sian. Sambil tertawa Kiau Hui-hui berkata pula:

"Oh kongcu, persoalan ini  adalah urusanku dengan adik Siau-sian, paling baik apabila kau jangan mencampurinya, silahkan saja menonton pertarungan kami dari tepi arena, tapi bilamana Oh koncu kuatir akan kemampuan Nyoo Siau-sian, akupun bersedia bertarung satu melawan dua, silahkan saja Oh  Kongcu  mempersiapkan  senjatanya  untuk   ikut bertarung. "

Baru saja Oh Put Kui tertawa terbahak-bahak, Nyoo Siau- sian telah berteriak keras:

"Enci Kiau, kau terlalu mempermainkan orang. aku mah

tak mau dibantu olehnya!"

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali  serunya kepada Oh Put Kui:

"Oh toako, tahukah kau bahwa persoalan ini menyangkut nama baik perguruanku, apabila kau mencampuri urusan ini, maka sulit bagiku untuk meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup "

Ooh, rupanya persoalan ini sudah menyangkut soal nama baik perguruan......." pikir Oh Put Kui dengan  perasaan terkesiap.

Maka diapun tak bisa berkata apa-apa lagi.

Disamping itu diapun tak percaya-percaya kalau kedua orang ini benar-benar akan saling beradu jiwa, oleh sebab itu setelah Nyoo Siau-sian mengungkapkan bahwa persoalan ini menyangkut masalah perguruan, diapun berkata sambil tertawa: "Sumoay, tampaknya aku hanya bisa berpeluk tangan saja sambil menonton kalian bertarung!"

"Yaa, itu memang lebih baik lagi." Nyoo Siau-sian tertawa manis.

Oh Put Kui yang menghadapi  kejadian  ini  cuma bisa menggelengkan kepalanya berulang kali, diapun tidak menyangka kalau sebelum pertarungan mati-matian dimulai, sikap Nyoo Siau-sian masih begitu santai dan seenaknya sendiri.

Dalam pada itu Kiau Hui-hui  telah  menggetarkan pedangnya dan berkata sambil tertawa:

"Adik Sian, ruyung penakluk iblis akan berhadapan dengan pedang penakluk iblis, pertarungan hari ini merupakan pertarungan yang kedua puluh satu kalinya,  kita tak boleh seperti guru kita, selalu bertarung seimbang dan sama kuat."

"Tidak mungkin,"  sahut Nyoo Siau-sian sambil tertawa, "siapa tahu aku bisa mengunggulimu. "

Kiau Hui-hui segera tertawa cekikkan sambil membungkukkan badannya, rambut yang panjang pun hampir saja menyentuh permukaan tanah.

"Adik Sian, apakah Wi-in supek telah mewariskan berapa jurus tangguh lagi kepadamu?" dia bertanya kemudian.

"Kemungkinan sekali demikian, tapi setelah kau coba nanti kan bakal diketahui dengan sendirinya"

Kiau Hui-hui menarik napas panjang, kemudian katanya pula sambil tertawa:

"Tentu saja harus kucoba kemampuanmu, nah, adik Sian, kau mesti berhati-hati!"

Sambil menegakkan badannya, dia segera memutar pedang sambil melancarkan sebuah tusukan ke depan. Serangan tersebut dilancarkan begitu cepat, membuat Oh Put Kui yang menyaksikan pertarungan itupun menjadi terkesiap.

Nyoo Siau-sian tertawa cekikikan, ruyung  Mu-ni-pian itu diputar kencang sehingga menimbulkan sinar berwarna kehitam-hitaman, lalu secepat sambaran kilat  menyambar pedang Pek giok-kiam milik Kiau Hui-hui tersebut.

Oh Put Kui yang mengikuti jalannya pertarungan itu diam- diam mangangguk, berbocara soal tenaga dalam yang dimiliki kedua gadis itu, Nyoo Siau-sian tidak lebih cetek daripada si Gadis suci dari lembah Yu-kok.

Akan tetapi perasaannya sekarang menjadi goncang dan tidak tenang.

Sebab dari pembicaraan kedua orang gadis itu, dia dapat mendengar bahwa pertarungan yang dijanjikan hari ini, pada hakekatnya bukan kejadian seperti apa yang pernah diterangkan Nyoo Siau-sian kepada dirinya.

Pertarungan ini dilangsungkan karena  perselisihan dari kedua perguruan mereka.

Wi-in sinni dengan ilmu ruyung  penakluk  iblisnya diwariskan kepada  Nyoo Siau-sian  sebaliknya  Giok-bong  sinni, satu diantara tiga dewa Hong-gwa-sam-sian telah mewariskan ilmu pedang penakluk iblisnya kepada Kiau Hui- hui.

Ketika Oh Put Kui mendapat tahu kalau Kiau Hui-hui anak murid dari Giok-hong sinni It-ing taysu, dia segera mengethui bahwa pertarungan yang berlangsung saat ini  tak akan berkembang menjadi pertarungan berdarah.

Sudah lama orang persilatan tahu mengenai perselisihan antara Wi-in sinni dengan It ing taysu.

Dan dari pembicaraan Kiau Hui-hui tadi, Oh Put Kui pun mendapat tahu bahwa kedua orang nikou tersebut sudah dua puluh satu kali bertarung untuk menentukan mana yang lebih unggul antara senjata ruyung penakluk iblis dengan pedang penakluk iblis,

Dan didalam pertarungan kali ini, mereka telah menitahkan ahli waris masing-masing untuk melanjutkan pertarungan ini.

Sekalipun pertarungan telah  berlangsung  berulang kali, namun kejadian itu bukan berarti merusak hubungan baik kedua orang sinni itu, sudah barang tentu murid-murid merekapun tak nanti akan saling beradu jiwa karena urusan tersebut.

Menyadari akan hal ini, Oh Put Kui baru bisa tertawa,  pikiran dan perasaannya pun tidak lagi merasa tegang seperti apa yang dialaminya semula.

Sambil berpeluk tangan diapun menonton jalannya pertarungan dari kedua orang gadis itu........

Dalam pada itu pertarungan ditengah  arena  sudah berkobar dengan serunya, tampak bayangan kuning dan hijau saling menyambar dengan serunya.

Keempat orang dayang  dari Kiau Hui-hui cuma berdiri dikejauhan sana sambil menonton jalannya pertarungan itu, namun wajah mereka sama-sama mencerminkan kegelisahan serta perasaan tak tenang.

Mungkin mereka mengira Kiau Hui-hui sudah terdesak sehingga berada diposisi bawah angin.

Waktu itu, dari ketiga puluh enam jurus ilmu ruyung penakluk iblis dari Nyoo Siau-sian, ia telah menggunakan sampai ke jurus yang  kesembilan belas yang  bernama "pekikan naga auman singa".

Bayangan ruyung yang berlapis-lapis segera muncul dari empat arah delapan penjuru dan mengurung sekeliling tempat itu rapat-rapat.

Kiau Hui-hui berkerut kening namun tidak menjadi gentar oleh keadaan tersebut, dengan cepat tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan, sementara pedang ditangan kanannya memainkan pula jurus Hui-sim-li-mo (dengan hati suci menangkap iblis) satu diantara jurus jurus ilmu pedang penakluk iblis.

Tampak cahaya hijau berkelebat lewat dan menjebolkan pertahanan bayangan ruyung yang berlapis-lapis itu dan langsung menyerang iga kiri Nyoo Siau-sian.

Menghadapi ancaman ini, bukan saja Nyoo Siau-sian tidak menunjukkan sikap gugup atau panik, malahan dia tertawa cekikikan sambil berseru:

"Enci Kiau, kau sudah tertipu!"

Tiba-tiba saja ruyungnya diayunkan ke atas dan berputar kekanan dengan kecepatan bagaikan kilat, dengan suatu gerakan cepat dia  menghindarikan  diri dari ujung pedang lawan.

Kiau Hui-hui sangat terkejut, tapi ia sampat juga berseru sambil tertawa:

"Adik Sian, kau benar-benar sangat hebat"

Sementara itu ruyung panjang itu sudah menyerang lagi dengan gaya bukit Thay-san menindih kepala, dengan tenang dan kalem dia segera membuang pedang sambil miringkan badan, lalu dengan rambutnya yang panjang dia sambar Nyoo Siau-sian.

Sebagaimana diketahui panjang ruyung mu-ni-pian itu mencapai satu kaki tiga depa, jauh lebih menguntungkan bila digunakan untuk pertarungan jarak jauh, sebaliknya sangat merepotkan bila digunakan untuk pertarungan jarak dekat.

Dengan sorot mata berkilat dia segera menjejakkan kakinya ke atas tanah dan tiba tiba saja melompat dua kaki ke udara.

Dengan demikian, sambaran pedang yang dilancarkan Kiau Hui-hui pun kembali mengenai sasaran yang kosong.

Menyaksikan pertarungan  itu, Oh Put Kui tidak dapat menahan diri lagi, dia segera bertepuk tangan sambil memuji: "Ilmu ruyung dan ilmu pedang yang sangat bagus!"

Sementara Nyoo Siau-sian sudah melayang turun ke atas tanah, dengan cepat dia  mengayunkan ruyungnya  sambil melancarkan serangan lagi, katanya sambil tertawa:

"Enci Kiau, kau tak bisa bersantai-santai lagi, ayoh gunakan seluruh tenagamu!"

Sembari berkata dia perketat serangan yang dilancarkan, dalam waktu singkat dia telah  melepaskan  lima  buah serangan berantai yang sangat hebat.

"Kau ingin bertarung sungguhan?" seru Kiau Hui-hui terperanjat, "adik Sian, bila orang lain yang menghadapi jurus serangan itu, mungkin tiada orang yang mampu menghadapinya."

"Tapi justru dengan cara ini saja, kau baru bisa didesak mundur," jawab Nyoo Siau-sian sambil tertawa.

Dalam pembicaraan yang berlangsung Kiau Hui-hui telah berhasil menghindari ancaman itu.

Sekali lagi Oh Put Kui bersorak memuji.

Ternyata gerakan tubuh yang digunakan gadis suci dari lembah Yu-kok  untuk menghindari serangan tersebut  ada tujuh bagian mirip sekali dengan  ilmu tay-siu-huan im-poh yang pernah dipelajari dari Pulau neraka tempo hari.

Hanya saja dalam perubahan, gerakan itu tidak setangguh ilmu langkah Tay-siu-huan-im poh tersebut.

Sambil tertawa cekikikan kembali Nyoo Siau-sian berseru: "Enci Kiau, coba kau lihat serangan ruyungku ini "

Mendadak ruyung  yang berada  ditangan kanannya itu melayang datang dari sisi tubuhnya.

Gerakan ruyung itu lambat sekali, tapi justru mendatangkan suatu ancaman yang sukar diduga. Kiau Hui-hui seketika terlihat agak kaget bercampur keheranan, dengan pandangan tak  berkedip  diawasinya ruyung panjang ditangan Nyoo Siau-sian itu tanpa berkedip, sementara pedang Pek-giok kiam nya disilangkan di depan dada tanpa bergerak.

Tiba-tiba saja Oh Put Kui berkerut kening.

Secara diam-diam dia telah menghimpun tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian  untuk berjaga-jaga atas segala peristiwa yang tidak diinginkan.

Rupanya dia telah menyaksikan bahwa dibalik serangan ruyung yang dilancarkan Nyoo Siau-sian saat ini, terkandung suatu kekuatan yang tak terlukiskan dengan kata.

Sebaliknya sikap Kiau Hui-hui yang berdiri tenang dengan pedang terhunuspun kelihatan sangat serius,  oleh  sebab itu dia sadar bahwa serangan itu bila dilancarkan keluar, niscaya akan menimbulkan suatu bentrokan  kekerasan yang  maha dahsyat.

Yang dikuatirkan olehnya saat ini adalah keteledoran dari mereka berdua, sebab salah-salah bisa mengakibatkan suatu bencana yang amat dahsyat.

Oh Put Kui tak ingin bencana yang berada didepan mata ini timbul dan terjadi........

Maka secara diam-diam ia telah  mengambil  keputusan didalam hati, apabila keadaan memerlukan, maka dia akan turun tangan memberi bantuan.

Pada saat itulah ruyung Mu-ni-pian dari Nyoo  Siau-sian telah menyambar datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Disaat ruyung panjang itu tinggal berapa depa saja dari tubuh Kiau Hui-hui itulah, mendadak ujung ruyung tersebut menggulung dan menyambar keatas dengan kecepatan luar biasa. Berkilat sepasang mata Kiau Hui-hui menghadapi kejadian ini, secepat kilat pedangnya dilontarkan pula kedepan.

Dalam waktu singkat ruyung dan pedang itu sudah saling membentur satu sama lainnya.

"Plaaaakkk. "

Akibat dari bentrokan ini, ruyung Mu-ni-pian segera membelenggu pedang ciang mo kiam.

Dan kedua belah pihakpun saling membetot dengan sepenuh tenaga, namun tak berhasil untuk  melepaskan  diri satu dengan lainnya.

Dalam sekejap mata, kedua orang gadis itu sama-sama mengerahkan tenaga dalamnya hingga mencapai dua belas bagian.

Diantara rambut yang berkibar terhembus angin dan wajah yang memerah seperti kepiting rebus, kedua orang gadis itu saling mempertahankan diri dengan sepenuh tenaga, namun nampak sekali kalau mereka berdua sama-sama  merasa ngotot dan berat.

Namun siapapun enggan mengendorkan diri sehingga memberi peluang baik untuk lawannya.

Pertarungan adu  tenaga dalam semacam ini  memang merupakan pertarungan yang sangat berbahaya, siapa saja yang berani berayal sedikit saja, niscaya bencana besar akan tiba didepan mata.

Untuk sesaat lamanya suasana dalam  arena  dicekam dalam keheningan yang  luar biasa, sedemikian heningnya sampai dengus napas setiap orang dapat kedengaran secara jelas.

Seperminum teh sudah lewat tanpa terasa.

Peluh sudah mulai bercucuran keluar membasahi  jidat  Nyoo Siau-sian........ Begitu juga dengan ujung hidung Kiau Hui-hui, basah dan berkilat oleh peluh yang bercucuran.

Rupanya pertarungan yang sangat berat ini menyebabkan mereka saling ngotot mempertahankan diri dengan sepenuh tenaga dan siapapun tak mau mengundurkan diri lebih dulu...

@oodwoo@