Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 03

 
Jilid 03

SEBENARNYA dia hendak mengatakan kalau "Paling tidak lohu bukan manusia yang tak tahu diri!"

Tapi teringat akan nama baik Hoa san pay yang mungkin akan tersinggung  oleh perkataan  itu, ucapan yang sudah sampai di bibir itu segera ditelan kembali. Oh put kui segera tersenyum mendadak dia melangkah menuju keluar, kemudian katanya :

"Maksud baik cengcu, biar kuterima didalam hati saja!"

Sebenarnya tangan yang sebelah kiri masih dipegang kencang-kencang oleh pengemis tua Lok Jin  ki,  tapi setelah dia berjalan  dengan cepat, serta merta pengemis itu turut terseret keluar juga.

Paras muka Hoa Tay siu segera berubah hebat, diam-diam ia tertawa dingin, pikirannya.  "Bedebah kau benar-benar memandang hina kami semua."

Tapi sebagai tuan rumah, dia tak ingin kehilangan rasa hormatnya maka sambil menahan rasa gusarnya, ia  berkata lagi :

"Lote sekalipun kau ingin pergi, seharusnya delapan ribu tahil emas murni ini harus kau bawa serta."

Dalam pada itu Hian pek Cinjin sedang berjalan mendekat sambil membawa empat lembar uang kertas berlapis perak.

Tanpa berpaling, Oh put kui berkata dengan ketus:

"Semua uang emas itu sudah menjadi milik pengemis Lok, harap cengcu suka berikan kepada pengemis Lok!"

Mendengar ucapan tersebut, tak tahan lagi Hoa Tay siu tertawa seram, mendadak pengemis pikun Lok jin ki melepaskan cengkeramannya dan membalikkan badan, kemudian setelah merebut kelima lembar uang kertas tadi, tanpa dilihat lagi dia segera mengejar ke arah Oh Put kui.

"Hei, bocah keparat, uang itu sudah aku terima !" serunya. "Kalau sudah diterima lebih baik lagi' gunakanlah secara

baik-baik bagimu pribadi" sementara mulutnya berbicara, kakinya sama sekali tidak berhenti, dalam waktu singkat dia sudah berjalan keluar dari pintu gerbang perkampungan itu.

Pengemis pikun mengikuti di belakangnya dengan ketat, sambil tertawa aneh, serunya berulang kali : "Bocah keparat, kau telah  menyiksa aku si pengemis tua.....kau anggap uang sebanyak ini bisa kupakai  sampai habis? Sampai ke dalam liang kubur pun uang itu belum tentu habis dipakai. "

Mendadak Oh put  kui menghentikan perjalanannya. Si pengemis tua Lok Jin ki juga segera turut berhenti, bahkan berdiri dengan mata mendelong.

Ternyata di depan pintu gerbang perkampungan Tang mo san ceng telah muncul manusia-manusia tak dikenal ketiga orang itu berdiri tetap di depan pintu.

Yang berada di sebelah tengah adalah seorang manusia berwajah kuning seperti orang penyakitan, alis  matanya gundul, rambutnya pendek, matanya memancarkan  sinar dingin yang menyeramkan, sebilah pedang tersoren di punggungnya, dia adalah seorang kakek yang ceking.

Di sebelah kiri berdiri seorang lelaki setengah umur yang tubuh kekar, penuh bercabang, bermata besar, bermulut lebar dari mengenakan pakaian ringkas berwarna hijau,

Di bawah ketiak lelaki itu tergantung sebilah pedang aneh yang amat lebar, sedangkan di sebelah kanannya  adalah seorang gadis berusia dua puluh tahunan, wajahnya  amat cantik Cuma sayang membawa hawa pembunuhan  yang menyeramkan.

Dia memakai baju merah, ketika terhembus angin, ujung bajunya berkibar-kibar,

Oh put kui tidak kenal dengan ketiga orang  ini, lain dengan si pengemis tua, paras mukanya  segera berubah  hebat setelah menjumpai kemunculan orang-orang itu.

"Haaahhh.....rupanya ke tiga orang gembong iblis ini. "

Suara seruan dari pengemis tua, pada hakekatnya  jauh lebih tak sedap dari pada suara menangis.

Mendengar seruan itu, sebelum ketiga orang gembong iblis itu buka suara, Oh Put kui telah menegur dengan suara dingin: "Mengapa kalian menghalangi jalan pergiku?"

Sepasang matanya memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati, agaknya kakek ceking berbaju merah itu merupakan pemimpin dari mereka bertiga bentaknya dengan kening berkerut :

"Apa kedudukanmu dalam perkampungan ini?"

Oh Put kui tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya  malah tertawa terbahak-bahak.

"Aku bukan anggota perkampungan ini, adalah kalian telah menghadang jalan pergiku, tolong tanyakan maksud kalian yang sebenarnya?"

Kakek berbaju merah itu segera berkerut kening, tapi sebelum dia berkata nona berbaju merah itu sudah tertawa cekikikan, sambil menuding ke arah Oh put kui katanya :  "Kalau bukan anggota perkampungan ini, ada urusan apa pula datang kemari?"

Oh Put kui memandang sinis ke arahnya lalu  tertawa  dingin.

"itu urusan pribadiku sendiri, tak usah banyak bertanya." Paras muka gadis  berbaju  merah itu segera  berubah hebat,

kontan dampratnya:  "Benar-benar  manusia yang tak tahu diri!"

Sementara itu, si kakek berbaju merah itu telah membentak dengan mata melotot besar "Jika kau bukan anggota perkampungan ini, lebih baik cepat enyah dari sini!"

Setelah itu sambil menyelinap  ke depan, serunya  lagi sambil menuding ke arah si pengemis pikun:

"Pengemis Lok, beritahu kepada Hoa Tay siu, lohu perintahkan kepadanya untuk menghapuskan nama Tang mo san ceng, kalau tidak lohu segera akan mencuci tempat ini dengan darah."

Sewaktu menyelinap ke depan tadi, dalam anggapan kakek berbaju merah itu,  tak nanti anak muda tersebut dapat menghalangi niatnya untuk memasuki pintu gerbang perkampungan.

Siapa tahu ketika badannya mencapai tengah jalan, dan ucapannya sampai separuh jalan, tiba-tiba saja dia merasakan munculnya segulung tenaga tak berwujud yang menghalang jalan majunya.

Kontan saja dia menjadi terperanjat, sambil mundur tiga langkah dengan sempoyongan serunya:

"Kau .....kau ......bocah keparat, kau sudah bosan hidup di dunia ini heh?!"

Kelihayan dari anak muda itu telah mencekam perasaan si kakek berbaju merah itu.

Sementara itu, lelaki kekar berusia pertengahan itu telah melirik sekejap ke arah si nona berbaju merah itu segera menunjukkan mimik wajah yang sangat aneh.  Sebaliknya sikap Oh Put kui tenang sekali sekulum senyuman malah menghiasi ujung bibirnya.

"Dari mana kau bisa tahu kalau aku sudah bosan hidup?" katanya tiba-tiba, kemudian sambil memandang wajah kakek ceking itu, lanjutnya dengan nada hambar: "Kau telah hidup tujuh delapan puluh tahun  lamanya  sedangkan aku baru berusia dua puluh tahun, seandainya ada yang sudah bosan hidup, sudah pasti orang itu bukan aku"

Berkilat sepasang mata kakek ceking itu, tapi dia masih mencoba untuk menahan kobaran  hawa  amarahnya,  kembali ia membentak :

"Bocah keparat, siapa namamu? Benarkah kau bukan anggota perkampungan ini...?

"Aku adalah Oh Put kui dari bukit Inta san tebing cing peng gay !"

Baru saja dia habis berkata, si nona berbaju merah itu sudah menyindir sambil tertawa merdu: "Huuuh.....gayanya, soknya "

Oh put kui segera berpaling dan melotot sekejap ke arah gadis itu.

Paras muka gadis itu segera berubah menjadi merah padam, dengan tersipu dia menundukkan kepalanya dan tak berbicara lagi,

"Hmmm....rupanya kau hanya manusia tak bernama !"  terdengar kakek ceking itu mengengek tapi dia tahu meski tak ternama, anak muda itu memiliki ilmu silat yang sangat lihay, buktinya dia sanggup menahan gerak maju tubuhnya,

Maka dengan nada yang berbeda, bentaknya keras-keras : "Bocah keparat, siapa gurumu?"

"Aku tak punya guru" sahut anak muda itu sambil menggelengkan kepalanya

Pengemis tua yang hanya bersembunyi di belakang Oh Put kui tiba-tiba menongol kan kepalanya sambil berseru:

"Suma Hian, gurunya bocah ini adalah nenek moyang angkatan ke sepuluh "

Begitu selesai berkata, dia  lantas bersembunyi lagi ke belakang Oh Put kui.

Kalau dibilang pikun,  kenyataannya pengemis itu tidak pikun.

Coba kalau dia tidak menyembunyikan diri dengan cepat, bisa jadi batok kepalanya sudah kena dihajar keras-keras oleh serangan lawan.

Kakek ceking yang disebut Suma Hian tadi menjadi gusar sekali setelah mendengar ejekan tersebut, dengan mata memancarkan sinar berapi-api, dia melancarkan sebuah pukulan ke depan. Tenaga pukulan yang disertakan dalam serangan itu benar- benar merupakan suatu kepandaian  sakti  yang  jarang dijumpai dalam dunia persilatan.

Seketika itu juga, terasa ada segulung hawa pukulan yang amat panas bagaikan kobaran api dahsyat meluncur tiba.

Oh Put kui mendengus dingin, dengan cepat dia sambit datangnya ancaman maut itu dengan kekerasan pula.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar Hoa Tay  siu membentak keras.

"Lote, cepat mundur, itulah pukulan Tok gan mi sim ciang (pukulan api beracun pembingung sukma) dari ci ih mo kiam (pedang iblis berbaju  merah) Suma Hian, jangan sampai tersentuh badan...hei, lote mengapa kau begitu gegabah. "

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, tampak sesosok bayangan manusia menerjang tiba dengan kecepatan luar biasa.

Cuma saja ketika bayangan manusia itu tiba tak jauh dari belakang tubuh Oh put kui, gerakan mana segera terbendung dan tubuhnya terjatuh kembali ke tanah.

Seakan-akan di sana muncul selapis dinding baja yang tak berwujud saja, ternyata terjangan orang itu tak berhasil menembusinya.

Dengan perasaan terperanjat, bayangan manusia yang tak lain adalah Hoa tay siu itu segera berseru: "Lote kehebatanmu benar-benar membuat lohu merasa terkejut sekali "

Oh Put kui masih tetap berdiri di situ dengan tenang, bukan saja dia tidak terpengaruh oleh serangan pukulan api beracun dari Suma hian malahan sekulum senyuman menghiasi bibirnya.

"Terima kasih banyak cengcu atas perhatianmu!" katanya kemudian dengan suara hambar. Setelah hening sejenak, mendadak dia berpaling lagi ke arah pedang iblis berbaju merah, kemudian tegurnya! "Apakah kau adalah pemimpin  dari  empat  pengawal pedang dari gedung Tong tian kui hu dimasa lalu?"

Kakek ceking itu tertawa seram.

"Benar, lohu adalah pedang iblis berbaju merah  Suma Hian, pemimpin dari empat pengawal pedang tanpa tandingan dari Kui ong yang termasyhur dimasa lalu, bocah keparat kau ketakutan?"

"Haaaaahhhh..... Haaaaahhhh..... Haaaaahhhh. Aku

memang sedikit merasa takut,"  sahut Oh put kui sambil tertawa seram, "tapi yang membuatku ketakutan bukanlah kau sebagai pengawal pedang tanpa tandingan, melainkan karena takut akan mendapat malu. "

"Hei bocah keparat, dia sudah mendapat malu..." seru si pengemis pikun tiba-tiba sambil tertawa.

Agaknya pengemis pikun ini merasa takut sekali terhadap pedang iblis berbaju merah Suma Hian, begitu selesai berkata dengan cepat dia menyembunyikan diri lagi.

Pada waktu itu kemarahan dari pedang iblis berbaju merah Suma Hian telah mencapai berbaju merah suma hian telah mencapai pada puncaknya, sambil tertawa  dingin  tiada hentinya dia berkata :

"Lok Jin ki, hati-hati kalau kau sampai terjatuh habis- habisan "

"Ciss, jangan sombong dulu”,  ejek si pengemis  pikun sambil menongolkan kepalanya dan tertawa, "tak mungkin kau si iblis tua bakal mendapatkan kesempatan seperti ini."

"Bangsat, kau ingin mampus!" dengan mata melotot besar Suma Hian segera mata melotot besar Suma Hian segera menerjang ke depan cepat pengemis pikun menyembunyikan dirinya kembali di belakang tubuh Oh put kui.

Pada dasarnya dia memang mempunyai perawakan tubuh yang cebol lagi ceking, maka begitu bersembunyi di belakang Oh put kui, otomatis terjangan dari Suma Hian ini menjadikan tubuh Oh put kui sebagai sasarannya.

Dengan kening berkerut Oh put kui segera tertawa dingin, jengeknya sinis:

"Lebih baik kau tak usah repot-repot!"

Tangan kanannya segera diayunkan ke depan melancarkan sebuah pukulan yang berhawa lunak dan dingin.

Ketika tubuh  si pedang iblis berbaju merah Suma Hian mencapai ditengah udara,  seketika itu juga ia merasakan badannya menjadi kencang, seakan-akan ada segulung angin berbau harum menerpa hidungnya, seketika itu juga tenaga serangannya menjadi buyar,

Dalam keadaan terkejut, buru-buru dia menghimpun sisa tenaganya untuk mengerem gerakan tubuhnya itu.

Begitu tubuhnya mencapai kembali  permukaan  tanah, paras muka Suma Hian telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat.

"Bocah ..... bocah ..... keparat  ......kau......telah berhasil melatih ilmu Cian tham thian liong siang kang?"

Ucapan dari si Pedang iblis berbaju merah Suma Hian ini segera menggemparkan pula semua jago  persilatan  yang  telah berkumpul di depan perkampungan Tang mo san ceng itu.

Benarkah pemuda she oh ini telah berhasil menguasai ilmu tenaga dalam nomor satu dari kalangan Buddha?

Kenyataan ini benar-benar membuat orang sukar untuk mempercayainya dengan begitu saja.

Dengan membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar, nona berbaju merah itu bergumam tiada hentinya.

"Tidak mungkin, tidak mungkin " Tapi kenyataan telah membuktikan segala sesuatunya, sekalipun tidak percaya, mau tak mau juga harus dipercayai.

Sementara itu Hoa tay siu sudah maju ke depan dengan langkah lebar, sebab dia percaya kalau anak muda itu benar- benar berhasil menyakini kepandaian tersebut.

Kalau bukan demikian, mana mungkin Oh put kui yang masih ingusan sanggup membantai beberapa orang gembong iblis sekaligus?

Dengan cepat Hoa tay siu memburu ke depan Oh put kui serunya kemudian:

"Lote, siapkah gurumu? Bersediakah kau untuk memberitahukan kepada kami, agar lohu tak sampai kurang hormat kepadamu!"

Ucapan ini  amat diplomatis  dan membuat orang sukar untuk menampik permintaannya.

Akan tetapi, jawaban dari Oh put kui justru lebih jitu lagi : "Guruku mengaku sebagai seorang pendeta liar yang

terlepas dari dunia persilatan, dengan sobat-sobat  persilatanmu jarang yang kenal. Hoa cengcu tak usah kuatir kalau sampai kurang hormat, apalagi usia yang berada di atas diriku semuanya memang ku anggap sebagai cianpweku!"

"Kalau memang begitu, bagaimana kalau lohu memanggil lote kepadamu?" ucap Hoa Tay siu dengan wajah berseri.

Oh put kui segera tertawa

"Aku tak berani menerima sebutanmu  yang  menghormati itu "

Senyum di wajah Hoa Tay siu semakin menebal, baru saja dia bersiap-siap mengucapkan sesuatu lagi, si lelaki bercambang yang datang bersama si pedang iblis berbaju merah Suma Hian telah membentak dengan suara keras :

"Hoa tay siu masih kenal dengan aku ?" Hoa tay isu berkerut kening, kemudian sahutnya sambil tertawa : "Sudara Kiong, nama besarmu Giok kiam  sin  mo (iblis sakti pedang kemala) Kiong hua sik sudah lama kukenal, masa aku orang she Hoa berani melupakannya?  Aku toh  hanya ingin mengajak lote ini berbincang-bincang beberapa patah kata. Mengapa Kiong heng merasa dengki  dan tak senang hati kepadaku?"

Ketika mendengar kata-kata tersebut, tanpa terasa Oh put kui mengamati pula lelaki bercambang itu sekejap.

Tampaknya diapun seorang gembong iblis yang luar biasa.

Tanpa terasa sorot matanya beralih kembali ke wajah nona berbaju merah itu, setelah memandangnya sekejap dia lantas berpikir:

"Usia nona ini belum begitu besar, apakah diapun seorang gembong iblis perempuan "

Tampaknya Giok kiam sin mo Kiong hua  sik  adalah seorang manusia yang berhati lurus, pertanyaan balik  dari Hoa tay siu itu kontan membuat dia menjadi gelagapan.

"Saudara Hoa" serunya kemudian. "Siaute merasa tidak seharusnya kau pandang rendah kami sekalian. "

Ternyata dia memang seorang lelaki yang polos, buktinya kata-kata semacam itupun dapat dia utarakan.

Hoa tay si segera tertawa terbahak-bahak

"Haaaahhhh....... Haaaahhhh.......Kiong heng, siapa bilang kalau lohu memandang rendah kalian bertiga a"

Sorot matanya segera dialihkan ke  wajah nona berbaju merah itu, kemudian sambil menjura tegurnya:

"Nona Siau un,  belakangan ini  apakah siacu (pemilik benteng) berada dalam keadaan baik-baik ?"

Ketika Oh put kui menemukan sikap Hoa tay siu yang agak munduk-munduk kembali itu, tanpa terasa keningnya segera berkerut, pikirnya : "Mungkinkah gadis ini mempunyai asal usul yang jauh lebih besar dari pada kedua orang gembong iblis itu?

Sementara dia masih berpikir,  nona berbaju  merah itu sudah berkata sambil tertawa.

"Ayahku selalu berada dalam keadaan sehat, cuma belakangan ini dia seringkali pusing kepala "

"Aaaah, masa sia cu pun bisa diidapi penyakit sakit kepala? Apakah sudah makan obat?" kata Hoa tay siu sambil tersenyum.

Dengan cepat nona berbaju  merah itu menggelengkan kepalanya berulang kali

"Untuk menyembuhkan sakit kepala dari ayahku  ini, berbagai macam obat telah dicoba, namun sama sekali tiada sama sekali kemanjurannya, kecuali kalau aku pulang dengan hasil sukses kali ini, penyakit ayahku rasanya sulit untuk disembuhkan.

"Benarkah itu?": satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Hoa Tay siu, "tolong tanya,  mengapa  penyembuhan  dari penyakit yang diderita siacu tergantung pada sukses atau tidaknya perjalanan nona? Dan lagi ....nona siau un, kesuksesan apakah yang bisa  kau  raih  dari  perjalanannmu kali ini?"

Nona berbaju merah itu tersenyum. "Dalam  kota  kematian di lembah Sin mo kok milik ayahku telah kekurangan beberapa orang jago lihay sebagai pelindung hukum, bila aku berhasil mendapatkan jago-jago lihay tersebut  dan mengajaknya pulang, sudah pasti sakit kepala dari ayahku akan sembuh dengan sendirinya!"

"Aku rasa nona pasti telah berhasil mengundang orang- orang itu bukan ?"

Dengan cepat nona berbaju  merah itu menggelengkan kepalanya berulang kali. "Belum, aku belum berhasil mengundang kedatangan usahamu itu!"

Tiba-tiba nona berbaju merah itu tertawa merdu serunya : "Jadi paman cengcu telah meluluskan permintaanku?" "Aku?"

Hoa Tay su benar -benar dibuat tertegun oleh perkataan orang sehingga untuk beberapa saat lamanya dia menjadi termangu-mangu dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Oh put kui pun ikut tergerak hatinya setelah mendengar perkataan tersebut.

Karena dari nama Lembah Sin mo kok dan kota kematian, lamat-lamat dia sudah dapat menduga asal usul dari nona berbaju merah ini.

Dia tahu lembah sin mo kok kota kematian dihuni oleh seorang gembong iblis yang keterangannya tidak berada di bawah kepopuleran pemilik gedung Tong thian kui hu ceng thian kui ong (raja setan penggentar langit) Wi thian  yang orang menyebut pemilik kota kematian ini sebagai Ban mo ci mo Tay lek kiam sin 'Raja diraja dari selaksa iblis pedang sakti bertenaga raksasa' Kit Put sia.

Itu berarti nona berbaju merah yang berada di hadapan matanya sekarang adalah si iblis perempuan yang disebut orang sebagai ’Thian mo giok li' gadis suci iblis langit Kit Siau un.

Andaikata apa yang diduganya ini benar, dus berarti asal- usul dari nona itu memang besar sekali.

Berpikir sampai di situ, tanpa terasa dia mengamati iblis perempuan itu beberapa kejap lagi.

Mendadak .....pipinya terasa panas dan jantungnya berdebar keras, ternyata kit siau un  pun  sedang mengawasinya ketika itu. Sejak dilahirkan dari rahim ibunya, pemuda ini   boleh dibilang tak pernah berhubungan dengan perempuan. Dalam kehidupannya selama dua puluhan tahun, diapun belum pernah berbicara dengan perempuan, meski semasa kecilnya dulu dia punya teman, namun orang itupun tak bisa dianggap perempuan .

Sejak berusia lim tahun, ia telah diajak gurunya berdiam di tebing Cing peng gay, dan sejak itu pula dia hampir tak pernah mempunyai hubungan dengan dunia luar.

Gurunya sebagai orang pendeta  yang disebut manusia paling aneh dalam dunia ini lebih-lebih tak suka mengadakan hubungan dengan kaum  perempuan, maka tanpa terasa terwujudlah suatu perasaan takut dan ngeri  dalam  hati pemuda itu untuk mengadakan hubungan dengan lawan jenisnya.

Tapi suatu keanehan telah dialaminya hari ini, ternyata reaksi yang timbul dalam hatinya sekarang jauh berbeda dengan keadaan di waktu-waktu sebelumnya.

Tiba-tiba saja dia merasa kalau perempuan itu sesungguhnya tidak lebih mengerikan dari pada apa  yang dibayangkan semula, malah sebaliknya justru mendatangkan suatu rangsangan aneh yang menimbulkan suatu perasaan yang tek terlukiskan dengan kata-kata .........Akhirnya merah padam selembar wajahnya lantaran jengah.

Sementara itu kit siau un telah berkata lagi sambil tertawa cekikikan dengan suara yang merdu.

"Paman cengcu, kau perlu tahu, sumber sakit kepala yang menyerang ayahku justru letaknya pada dirimu."

Tiba-tiba saja Hoa Tay siu menjadi paham  dengan  apa yang dimaksudkan noa itu, tanpa terasa dia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak- bahak.

"Haaahhh.... Haaahhh.... Haaahhh....nona Siau un tampaknya ayahmu benar-benar memandang tinggi akan diriku!" Thian mo giak li segera memalingkan kepalanya sambil tertawa manis, katanya kemudian " Paman cengcu, dapatkah kau menyuruh teman-temanmu pun mengabulkan permintaan kami ini?"

"Ooh, nona Apakah kau mengira Lohu bersedia mengabulkan permintaan itu?"

"Tentu saja kau mengabulkan kalau tidak mengapa kau katakan kalau keponakan pasti akan berhasil?"

"Lohu tak pernah mengabulkan permintaanmu, "seru Hoa Tay siau dengan kening berkerut, "nona harap, kau sampaikan kepada ayahmu, perkampungan Tang mo san ceng kami ini tak pernah memandang ayahmu sebagai musuh. "

Tiba-tiba Kit siau un menghela napas panjang. "Aaaaa..............paman cengcu, ayahkupun berkata

demikian!"

"Ternyata ayahmu cukup memahami diriku. "

Dengan cepat Kit Siau un menggelengkan kepalanya berulang kali, sehingga mutiara yang menghiasi sanggulnya bergoyang keras.

"Paman cengcu, walaupun ayahku  tidak  memandang dirimu sebagai musuh tandingannya, tapi. "

Mendadak sekali lagi dia menghela napas panjang, terusannya:

"Tapi....anak buah dari ayahku justru tak mau berpendapat demikian. "

Paras muka Hoa Tay siu segera berubah menjadi berat dan sangat serius, agaknya masalah ini  segera menjadi beban pikirannya.

Setelah berhenti sebentar, sambil menuding ke arah Suma hian dan Kiong Hua sik, Kit Siau un berkata lebih jauh. "Misalkan saja paman Suma dan Kiong toako, mereka tak akan menyetujui hal ini!"

Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata Hoa Tay siu, serunya kemudian : "Apakah kalian berduapun  telah  lari ke kota kematian?"

Sinar matanya yang  menyapu lewat di atas wajah si pedang iblis berbaju merah Suma Hian dan  si iblis sakti pedang kemala Kiong Hua sik pada hakekatnya jauh lebih tajam daripada sebilah pisau belati, seolah-olah sorot mata itu hendak menembusi ulu hati mereka.

Pedang iblis berbaju merah Suma Hian segera mendengus dingin.

"Kit siacu adalah raja diraja  dari selaksa iblis, manusia- manusia macam lohu yang terhitung pula sebagai iblis, tentu saja harus bergabung dengannya agar  iblis  hidup  bersama iblis pula."

Pengemis pikun yang turut mendengarkan pembicaraan itu, tiba-tiba  bersiul berulang kali,  kemudian  teriaknya keras-keras

:  "Huuuh.........bau  ,  bau!  Siapa lagi yang kentut. siapa

lagi yang kentut?"

Sebaliknya Hoa tay siu  merasakan  hatinya  amat terperanjat, dengan wajah serius dia lantas berkata :

"Saudara Suma, ucapanmu itu agak sedikit tidak benar. "Kalau ucapanku salah, bukankah ucapan Tang mo

'pembasmi iblis' yang cengcu pergunakan lebih keliru lagi? Tolong tanya, pernahkah perkampungan Tang mo  san ceng mu ini mengalami penyerbuan dari kawanan gembong- gembong iblis. "

Hoa Tay siu segera tersenyum

"Yaa, tampaknya kawan-kawan dari kalangan  hitam memang masih memberi muka kepada lohu," Tidak menunggu Hoa Tay siu menghabiskan perkataannya, sambil tertawa dingin Suma Hian telah berseru:

"Sayang sekali kau Hoa cengcu justru tidak memandang sebelah matapun terhadap  sahabat-sahabat dari golongan hitam, bukan saja mendirikan perkampungan Tang mo san ceng, bahkan mendirikan pula papan pengumuman pembasmi iblis, bukankah tindakan dari  Hoa  cengcu  ini sangat keterlaluan sekali!?"

Apa yang dikatakan olehnya itu memang kedengarannya sangat beralasan dan bisa diterima dengan akal sehat.

Tapi dari pembicaraan tersebut, dapat ditarik kesimpulan pula bahwa para penjahat dari  golongan  hitampun berpendapat bahwa mereka sebagai warga persilatan sudah sewajarnya kalau mempunyai seperti yang mereka senangi.

Hoa Tay siu segera tertawa, sambil menuding ke  arah kawanan jago yang berdiri di belakang tubuhnya, dia berkata:

"Saudara Suma, percayakah kau bahwa  teman-  temanku ini pun sependapat dengan aku orang she Hoa?"

"Haaahhh..... Haaahhh..... Haaahhh.....aku rasa kalian tak lebih setali tiga uang!" sahut Suma  Hian  sambil mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Perkataan ini kontan saja membangkitkan kemarahan dari Wan ciu beng.

Dengan wajah dingin seperi salju, dia maju dengan langkah lebar dan menghampiri gembong iblis itu.

"Suma Hian! Tempat ini bukan tempat bagimu untuk mengumbar kekasaran dan kebuasanmu," hardiknya  keras- keras.

Pedang iblis berbaju merah Wan ciu beng, lalu tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah.... Haaaahhh....  Haaaahh....  Wan lote,  sewaktu berada di depan Teng sim tong di bukit Thian cu hong bukit Hia san, lohu pun pernah berbuat kasar dan kurang ajar,  apakah saudara menganggap kemampuanmu jauh lebih hebat dari pada gurumu Bwe Tiang hong?"

Sepasang alis mata Wan ciu beng berkenyit kencang, tampaknya dia merasa gusar sekali,

Mendadak ia membentak keras, sambil mengayunkan tangannya sudah serangan jari tangan telah dilancarkan.

Wan ciu beng bergelar Kim ci butek atau jari emas yang tiada tandingannya, bisa dibayangkan kepandaiannya didalam ilmu jari benar -benar telah mencapai puncak kesempurnaan.

Serentetan hawa desingan  yang tajam dengan cepat membelah angkasa dan  langsung menyergap  jalan darah penting di atas tenggorokan Suma Hian.....

Berubah hebat paras muka pedang iblis berbaju merah Suma Hian ketika menyaksikan serangan maut Kim  ci  sin kang dari Wan ciu beng telah menyambar tiba dengan kecepatan luas biasa.

Tahu akan dahsyatnya ancaman, cepat-cepat ia menarik kembali kesombongan dan ketinggian hatinya.

Oh Put Kui yang menonton jalannya peristiwa dari sisi  arena, diam-diam lantas mengangguk pikirnya:

"Tampaknya gembong iblis ini, benar-benar  mempunyai kemampuan yang melebihi orang lain, pandai sekali melihat gelagat,"

Sementara itu, ancaman jari tangan dari Wan ciu beng sudah hampir menempel di atas tubuh lawan.

Suma Hian segera tertawa seram, telapak tangannya dengan cepat diayunkan ke atas membabat tubuh lawan.

Serentetan cahaya berwarna merah dengan cepat menyelimuti angkasa, sementara kekuatan serangan dari ajari tangan tersebut segera punah tak berbekas. Inilah ilmu pukulan Tok gan ciang 'pukulan api  beracun' yang maha dahsyat dan disegani oleh setiap orang persilatan.

Paras muka Wan ciu beng berubah hebat sambil mendengus dingin secara beruntun dia  lepaskan tiga buah serangan jari.

Ketiga buah serangan jari itu dilancarkan makin lama semakin tajam dan dahsyat bagaimanapun dahsyatnya ancaman tersebut, Suma Hian sedikitpun tak gentar, diam sih tetap mempergunakan ilmu pukulan untuk memunahkan serangan Kim ci sin kang yang tiada tandingannya dari Wan  Ciu beng tersebut.

Dalam waktu singkat Wan cin beng sudah didesak  berada di bawah angin, ia betul-betul merasa keteter hebat.

Wajahnya yang dingin dan berwarna kehijau-hijauan itu, sekarang telah berubah menjadi merah membara.

Oh Put kui merasa amat tak tega menyaksikan Wan ciu beng mendapat malu di hadapan orang  banyak,  sebab menurut anggapannya meski keangkuhan orang ini menggemaskan, sesungguhnya dia merupakan seorang manusia yang berhati lurus.

Dengan sinar mata memancarkan cahaya tajam. Segera bentaknya suara rendah: "Benar-benar  ilmu pukulan yang  hebat, tapi masih dalam perkampungan Tang mo san ceng ini.

Selama ini, sesungguhnya yang menjadi bahan rasa kuatir dari pedang iblis berbaju merah Suma Hian adalah campur tangannya pemuda ini, sebab didalam serangannya tadi ia telah mengetahui  sampai dimanakah  taraf kesempurnaan yang dimiliki musuhnya tersebut. 

Maka begitu  Oh put kui tampilkan dirinya, Suma Hian segera dibikin tertegun "Bukankah kau menyebut  dirimu sebagai orang yang terlepas dari perkampungan Tang mosan ceng?" Tampaknya pedang iblis berbaju merah Suma  Hian  tak ingin berselisih dengan sang pemuda yang lihay, maka dia berusaha kalau bisa menghindarkan  diri  dari  suatu pertarungan yang tak berguna.

Justru pada waktu itu Oh Put kui mempunyai  pendapat yang bertolak belakang dengannya, sambil tertawa hambar ia menjawab : "Sekalipun aku bukan anggota perkampungan ini, tapi aku adalah sahabat Hoa cengcu, oleh karena itu. "

Mendadak ia berhenti sebentar, kemudian sambil menarik muka lanjutnya dengan serius : "Aku melarang siapapun berbuat semena-mena ditempat ini!"

Pendang iblis berbaju merah Suma Hian segera berkerut kening, kemudian mendengus kening.

Sebagai seorang manusia yang berakal panjang dan licik, dia tak ingin melangsungkan pertarungan yang kira-kiran tidak memberikan keuntungan baginya.

Maka walaupun dia mendengus dingin berulang kali, tiada tanggapan apapun yang diutarakan.

Pengemis pikun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sangat bagus itu untuk mengejek  lawannya,  dia  segera menongolkan dirinya dan  bertepuk tangan sambil tertawa tergelak ejeknya : "Hei Suma si cucu iblis, kali ini kau benar- benar sudah berjumpa dengan cousu yaya mu! Hayo cepat menyembah dua kali dengan hormat kemudian mengundurkan diri asal kau bersedia untuk melakukannya, siapa tahu aku si pengemis tua dapat mintakan ampun bagimu dari cousu yaya kecil, kita ini"

Sekalipun Pedang iblis berbaju merah  Suma  Hian  terdiri dari manusia lumpurpun tentu  akan  berang  setelah mendengar perkataan itu,  apalagi dia merupakan  manusia yang terdiri dari darah daging.

Sepasang matanya segera melotot besar cahaya tajam yang menggidikkan hati memencarkan ke empat penjuru. Pengemis pikun menjadi ngeri sendiri, sambil menjulurkan lidahnya cepat-cepat dia menyembunyikan dirinya kembali.

Kalau Suma Hian masih bisa menahan diri untuk  tidak bertindak semua hatinya sendiri, berbeda dengan Kiong Hua sik.

Mendengar ejekan-ejekan tersebut,  hatinya  menjadi berang, cambangnya pada berdiri semua bagaikan  kawat, sorot matanya memancarkan sinar berapi api yang menggidikkan hati, sambil meloloskan pedang raksasanya. diiringi suara bentakan yang menggelegar.

Dengan cepat Oh put kui menghalangi jalan perginya, lalu menegur sambil tertawa: "Saudara, hendak pergi kemana kau

?"

Giok Kiam sin kiam (pedang kemala iblis sakti) Kiong sin adalah seorang manusia yang berhati  lurus, ia menjadi tertegun setelah mendengar pertanyaan tersebut.

"Mau apa? Tentu saja untuk pergi mengajar pengemis tua itu," sahutnya kemudian Oh put kui segera tersenyum dia memang paling suka berhubungan dengan manusia berhati lurus seperti itu.

Maka sambil menarik kembali serangannya,  ia berkata dengan suara hambar:

"persoalan ini sama sekali tak ada hubungannya dengan dirimu, bagaimana kalau saudara menunggu sebentar lagi?" kembali ke kota kematian, sampaikan juga kepada ayahmu agar selanjutnya jangan mencoba-coba untuk menyusahkan orang-orang yang berada dalam perkampungan tang mo san ceng ini, kalau tidak ..............Hm, aku pasti akan ..."

Belum habis dia berkata, Thian mo giok li kit siau un telah mendepak-depakkan kakinya ketas tanah seraya menukas:

"Besar amat lagakmu, apa  yang kau andalkan untuk mencampuri urusan ini?"

Oh put kui segera tertawa terbahak-bahak. Haaahh.... Haaah.... Haaahh melenyapkan kaum iblis dari muka bumi merupakan kewajiban dari setiap orang, nona lebih baik turuti saja perkataanku tadi.."

"Hmmm, aku sengaja tak mau menurut, mau apa kau ?" seru Kit siau un dengan alis mata berkenyit.

Jawaban ini  membuat Oh put kui tertegun, kemudian serunya:

"Nona, apakah kau berhasrat untuk memusuhi diriku?" "Terserah apapun yang kau pikirkan, pokoknya aku bilang

tidak .........tidak "

Dengan perasaan agak serba salah Oh put  kui segera menundukkan kepalanya, ia menjadi termenung dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Kalau menyuruh dia taklukkan gadis ini dengan kekerasan, sesungguhnya ia merasa agak keberatan.

"Tiba-tiba Kit siu un melompat kehadapan Oh put  Kui kemudian dengan lantang dia berseru: "Bebaskan jalan darah panas Suma yang tertotok!"

Teriakan tersebut pada hakekatnya merupakan suatu perintah yang tampaknya tak bisa dibantah lagi.

Oh put kui kembali menjadi tertegun haruskah dia menuruti perkaranya itu?

"Tidak, kau tak boleh menuruti perintah dari seorang iblis perempuan yang masih asing bagiku "

Tiba-tiba terdengar si pengemis pikun itu berseru dengan suara lantang :

"Hei, bocah keparat, jangan kau turuti perkataan dari iblis perempuan  itu,  kalau  tidak  kau  akan   menyesal   sampai tua. "

Namun, di dunia ini memang seringkali terdapat kejadian- kejadian yang justru berada di luar dugaan setiap orang. Tanpa mengucapkan sepatah katapun Oh  put  kui mendekati pedang  iblis berbaju  merah, kemudian  segera menepuk bebas jalan darahnya yang tertotok.

Begitu jalan darahnya bebas, buru-buru Suma Hian masukkan pedangnya ke dalam sarungnya lalu mundur sejauh satu kaki lebih, terhadap pemuda ini boleh dibilang dia sudah menaruh perasaan takut yang luar biasa.

Thian mo giok li kit siau un sendiripun sama sekali tidak menyangka kalau Oh Put kui bakal menuruti permintaannya, dan benar-benar membebaskan jalan darah si pedang iblis berbaju merah yang sudah tertotok itu.

Tak heran kalau untuk berapa saat lamanya dia menjadi berdiri tertegun dan hampir saja dia menjadi  berdiri  tertegun dan hampir saja tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di depan mata.

Beberapa saat kemudian dia baru berkata sambil tertawa manis : "Oh Kongcu, ternyata kau sangat baik!" Oh put kui tertawa hambar, sahutnya dengan suara rendah: "pergilah dari sini nona, jangan membuat aku benar-benar menjadi gusar sekali " Kit siau un tertawa manis sekali.

"Kau suruh aku pergi?"

"Benar, mumpung aku belum ingin membuat kesalahan terhadap kesalahan terhadap nona, aku minta kalian bisa cepat-cepat meninggalkan tempat ini. "

Setelah berhenti sebentar, dengan suara yang amat dingin tiba-tiba dia berkata lagi: selesai berkata, tanpa menunggu jawaban dari Kiong Hua sik lagi, segera ujarnya pula kepada Suma Hian: "Aku telah  berkata tadi, bahwa kau adalah pemimpin dari empat pengawal pedangnya  Beng  Thian  kui ong wi thian yang, sejak wi thian yang tewas  di  tangan  di kakek malaikat konon kalian berempat pun  telah hidup mengasingkan diri, tak kusangka rupanya  kalian  telah membuat keonaran kembali dengan  bercokol dalam kota kematian!" Sesungguhnya si pedang iblis berbaju merah Suma Hian sudah diliputi oleh hawa amarah, apalagi setelah mendengar ucapan tersebut, kemarahannya  semakin berkobar napsu membunuhnya segera menyelimuti di dalam benaknya.....

Mendadak ia meloloskan pedangnya, kemudian ke arah Oh put kui, bentaknya dengan gusar:

"Urusan lohu lebih baik jangan kau campuri, hmmm. kalau

kau bersikeras ingin mencampuri terus, terpaksa lohu harus menjagal kau lebih dulu sebelum membasmi perkampungan Tang mo san ceng yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi ini!"

Oh put Kui segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahh...... Haaah..... Haaahh... memang perkataan inilah yang kutunggu-tunggu!"

Begitu selesai berkata, mendadak ia menerjang ke depan dengan kecepatan bagaikan kilat.

Lengan kanannya segera diayunkan ke depan, sebuah serangan jari dengan cepat dilancarkan.

"Thian liong ci!" mendadak terdengar si pengemis pikun berteriak tertahan.

Sesungguhnya tatkala menyaksikan Oh put kui menyerbu datang tadi, pedang iblis berbaju merah Suma Hian telah mempersiapkan senjatanya, malah dia masih menertawakan musuhnya yang terlalu memandang rendah pedang iblis miliknya itu, dan tidak tahu betapa buas dan berbahayanya senjata maut tersebut.

Akan tetapi mendengar teriakan dari pengemis pikun tersebut, sekujur tubuhnya  baru  bergetar keras  lantaran kaget/.

Mendadak ia menarik kembali pedangnya yang memancarkan cahaya kemerah merahan itu, menyusul kemudian tubuhnya yang ceking juga ikut melompat mundur sejau tiga kaki lebih. "Bocah keparat...kau....kau adalah muridnya Thian  liong sang jin...?"

Suara teriakan dari Suma Hian itu kedengaran  gemetar keras.

"Thian liong sanjin?" sahut Oh put  kui dengan mata mendelik, "Nama itu terasa asing bagi pendengaranku "

Walaupun dimulut dia berbicara,  serangan  maupun gerakan tubuhnya sama sekali tidak menjadi lamban, bahkan kalau dilihat dari mimik wajahnya jelas dia tidak berniat untuk mengurungkan serangannya.

Maka, baru saja Suma Hian berseru, tahu-tahu dia sudah berada dihadapannya sambil berseru: "Suma  Hian,  berdirilah di sini dengan tenang. "

Belum habis Oh put kui berkata, dengan menurut sekali Suma Hian sudah berdiri kaku di sana.

Jelas si pedang iblis berbaju  merah ini tidak berhasil menghindarkan diri dari serangan jari yang dilancarkan Oh put kui tersebut.

Dugaan itu memang tidak salah, rupanya jalan darah Hoa kau hiat di depan dadanya sudah kena ditotok oleh Oh put kui sehingga membuat gembong iblis tersebut meski  merasa gusar sekali, akan tetapi tak mampu banyak berkutik.

Oh put kui segera membalikkan badannya, kepada  Thian mo giok li yang sedang berdiri dengan wajah kaget bercampur tercengang, ujarnya dingin:

"hari ini aku sedang matamu di perkampungan Tang mo  san ceng, aku tak ingin membunuh orang maka lebih  baik  nona ajak pendekar ini untuk membunuh Suma Hian

"Beritahu kepada ayahmu, seperti  apa  yang  telah kukatakan tadi, harap nona jangan melupakannya!"

Sepasang alis mata kit siau un segera berkenyit, serunya dengan suara merdu: "Seandainya aku tidak bersedia?" "Kau tidak bersedia?" Oh put  kui agak termangu untuk beberapa saat lamanya.

Dengan cepat dia berpikir : "Aku telah membebaskan jalan darah dari pedang iblis berbaju merah Suma Hian, itu berarti  aku telah memberi muka kepadamu, masa kau tidak mau memberi muka pula kepadaku?"

Darimana dia tahu kalau perasaan perempuan memang paling susah diraba oleh manusia? Terdengar  Kit siau un tertawa cekikikan.

"Aku datang karena mendapat perintah dari ayahku, atas dasar apakah kau hendak menghalangi niatku ini? Apalagi bila ayah ku tidak berhasil melenyapkan perkampungan Tang mo san ceng ini maka lembah Sin mo kok akan mengalami."

Mendadak ia tidak melanjutkan perkataan itu,  setelah memandang sekejap ke arah anak muda itu, lanjutnya dengan nada sedih:

'Oh kongcu, katakanlah, sebagai seorang  putri  yang berbakti, harus kah aku memikirkan keselamatan dari ayah ibuku?"

"Tampaknya nona bersikeras ingin memusuhi diriku?" kata Oh put kui sambil tertawa rawan.

Dengan cepat kit siau un menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak aku tidak berniat untuk memusuhi dirimu. "

"Kalau memang nona tak ingin bermusuhan dengan diriku, harap kau suka menuruti perkataanku dan segera mengajak Suma sian seng dan kiong cuangcu untuk kembali ke lembah sin mo kok."

"Tidak mungkin!" seru Kit siau un sambil menggelengkan kembali kepalanya.

Lama kelamaan naik darah juga Oh put kui menghadapi kejadian tersebut, dengan cepat dia berseru: "Nona, bila kau bersikeras hendak melangsungkan suatu pertarungan denganku, terpaksa aku harus bertindak kasar. "

Untuk ketiga kalinya kit siau un menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak aku tak ingin berkelahi denganmu, sebab aku tak ingin berkelahi denganmu, sebab aku datang kemari untuk mencari paman Hoa "

Oh put Kui mengerutkan dahinya kemudian  mendengus dingin, tapi kali ini dia tidak berbicara lagi.

Si bocah dewa kebahagiaan Hoa Tau siu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh......... Haaahh.... Haaahh. keponakanku,

persoalan lain mungkin saja lohu dapat mengabulkannya, tapi hanya permintaan paksaan dari ayahmu ini yang tak mungkin bisa lohu kabulkan dengan begitu saja "

Senyuman yang  semula menghiasi wajah kit siau un dengan cepat lenyap tak berbekas, suara pembicaraannya  juga berubah menjadi dingin seperti es, katanya  :  "Paman Hoa, bagaimanapun juga kau harus meluluskan permintaanku hari ini "

"Lohu tidak percaya!"

"Ayahku meras pusing kepala oleh karena  tulisan "pembasmi iblis" yang paman Hoa pergunakan itu,  bila nama itu belum kau hapuskan, tak mungkin beliau bisa beristirahat dengan tenang dan makan dengan enak oleh karena itu "

Sorot matanya segera dialihkan ke  arah kawanan  jago yang berdiri di belakang Hoa Tay siu, kemudian melanjutkan :

"Kedatangan tit li kali ini sudah disertai dengan  rencana yang matang, bila paman Hoa tahu gelagat, paling  baik  jika tak usah saling bentrok dengan kekerasan. "

Gertakan demi gertakan yang diutarakan Thian mo giok li disertai ancaman ini tanpa  terasa membangkitkan kembali semangat Hoa Tay siu untuk melenyapkan kaum  iblis dari muka bumi.

Dia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram. "Haaahh..... Haaahh... Haaahh..... Hian tit li, tak kusangka

kau begitu pandai berbicara, sayang  sekali  semenjak dilahirkan lohu tak pernah tunduk kepada segala macam  gertak sambal yang tak ada gunanya, sebab aku lebih percaya dengan kenyataan,"

Baru selesai berkata, si pengemis pikun telah melanjutkan : "Benar, aku si pengemis tua nomor satu yang percaya

paling dulu terhadap ucapan dari Hoa Siau ko, Hei budak kit, lebih baik turuti saja perkataan kami dan pulanglah sebelum terlanjur kiamat!"

Kit Siau un melototkan sepasang matanya bulat-bulat, kemudian setelah tertawa dingin serunya:

"Paman Lok, apakah kau ingin mencari  bencana  buat dirimu sendiri?"

"Aaah......tidak, tidak ...." sahut si pengemis sambil menjulurkan lidahnya dengan ketakutan. "Heeehhh.....

Heeehhh..... Heeehhh kalau memang tidak berani, lebih baik jangan berbicara lagi!"

Pengemis pikun segera  menggelengkan  kepalanya berulang kali sambil mengomel: "Mulut toh berada di tubuhku sendiri, mau berbicara atau tidak apa sangkut pautnya dengan dia?  Apalagi,  aku   toh   tidak   menantangmu   untuk berkelahi. masa marah?"

Ki siau un tidak memperdulikan omelan dari si pengemis pikun lagi, dia segera mengalihkan sorot matanya ke arah Hoa tay siu, kemudian setelah tertawa ujarnya:

"Paman Hoa, tit li mohon kepadamu agar berpikir tiga kali lebih dulu sebelum mengambil tindakan!"

"Tak usah dipikirkan lagi!" Kit siau un segera tersenyum.

"Paman Hoa, kau harus tahu kendatipun kekuatan dari lima partai besar digabungkan menjadi satupun  belum  tentu mampu untuk menandingi para jago lihay kalangan hitam yang berkumpul dalam kota kematiannya ayahku, buat apa paman Hoa mesti berkorban demi kepentingan orang lain ..."

Belum habis dia berkata, mendadak Hoa, kau harus tahu kendatipun kekuatan dari lima partai besar digabungkan menjadi satupun belum tentu mampu untuk menandingi para jago lihay kalangan hitam yang berkumpul  dalam kota kematiannya ayahku, buat apa paman Hoa mesti berkorban demi kepentingan orang lain..."

Belum habis dia  berkata, mendadak Oh put  kui yang selama ini berdiri disamping arena,  tertawa dingin tiada hentinya.

Kit siau un segera berpaling seraya menegur: "Oh kongcu, apa yang kau tertawakan?"

"Aku menertawakan dirimu yang kelewat berkhayal, seolah- olah dunia ini milikmu seorang." Kit siau un segera menghela napas panjang katanya :

"Oh kongcu, apa yang kuucapkan adalah kata-kata yang sejujurnya, aku sama sekali tidak berniat untuk membohong atau menggertak kalian."

Kembali Oh put kui tertawa dingin.

"Tapi sayang apa yang kau katakan sebagai ucapan yang sejujurnya itu justru merupakan kata-kata bualan belaka bagi pendengaranku"

Dengan sedih kti siau un memandang sekejap ke arahnya, lalu menggelengkan kepalanya berulang kali, kepada Hoa Tay siu kembali dia berkata :

"Paman Hoa, percayakah kau?" Hoa Tay siu segera tertawa. "Lohu mah percaya dengan apa yang diucapkan nona "

Jawaban ini sungguh berada diluar dugaan Oh put  kui, tanpa terasa dia memandang sekejap ke arah Tay siu.

Hoa Tay siu segera memahami keheranan anak muda itu, sambil tertawa ia lantas  berpaling ke arah Oh put  kui, kemudian ujarnya: "Lote kau harus tahu, dalam kota kematian memang penuh dengan jago-jago yang  berilmu  tinggi,  aku tahu apa yang  diucapkan nona kit bukan gertak sambal belaka, kendatipun lima partai besar bergabung menjadi satu, belum  tentu kekuatan  kami bisa menandingi mereka "

"Hoa cengcu merasa putus asa?" seru Oh Put kui dengan kening berkerut kencang.

Hoa Tay siu segera tertawa lebar.

"Buat seorang ksatria, darah lebih baik mengalir daripada kehormatan dicemooh orang!"

Mendengar jawaban tersebut, dengan perasaan OH put kui segera manggut-manggut,

Ucapan dari Hoa tay siu itu sudah cukup jelas artinya, dia lebih baik mat di di medan laga, dari pada menghianati cita- cita sendiri.

Para muka kit siau un segera berubah hebat.

"Paman Hoa, kau sungguh-sungguh tidak bersedia untuk mengabulkan permintaanku?" Serunya.

"Sudah berulang kali lohu menerangkan  pendirianku, apakah Hian tit li mesti beritanya beberapa kali lagi?"

Mendengar jawaban tersebut, mendadak kit siau un berpaling dan memandang sekejap kearah Oh put kui, lalu tanyakan:

"Oh Kongcu, kau berdiri dipihak yang mana?"

"tentu saja di pihak perkampungan Tang mo san ceng !" Jawaban yang amat tegas ini seketika itu juga membuat Kit siau un merasa muak bila melihat ada  orang lelaki yang menyanjung dan memuji-mujinya, diapun muak oleh sikap sok gagah-gagahan dari kaum lelaki.

Oleh karena itu, setelah menyaksikan kesederhanaan dan kepolosan pemuda itu, hatinya segera berdebar keras  dan diam-diam ia telah menaburkan benih cinta kepadanya..

Sayang benih cinta yang mulai tumbuh dalam hatinya itu harus berumur amat pendek. Dalam waktu singkat, suatu pertumpahan darah yang mengerikan akan  segera berlangsung di sana.

Untuk berapa saat lamanya dia menjadi termangu-mangu seperti orang yang  kehilangan, tapi akhirnya gadis itupun menghela napas panjang. Pelan-pelan dia merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah bom  udara, kemudian sekali lagi dia mendongakkan  kepalanya dan memandang kerah Oh put kui dengan sinar mata keputus-asaan, ujarnya kemudian :

"Oh kongcu, kau bekal menyesal "

Sejak Thian mo giok li kit siau un termenung sambil melamun tadi, Oh put kui hanya bergendong tangan belaka sambil memandang awan diangkasa setelah mendengar ucapan tersebut tertawa hambar dan berkata:

"Aku tak akan  menyesal, jika nona mempunyai suatu tindakan yang telah dipersiapkan, silahkan saja  kau pergunakan kepadaku!"

Para muka kit siau un segera berubah menjadi dingin seperti es, sambil menggertak dingin seperti es, sambil menggertak gigi, bom udara itu dengan cepat dilepaskan ke tengah udara.....

Sekilas cahaya merah yang  menyilaukan  mata dengan cepat membumbung tinggi ke angkasa, lalu meledak dengan kerasnya beribu-ribu titik cahaya bintang yang berwarna warni dengan cepat menyebar ke empat penjuru. Menyusul suara ledakan bom udara tersebut, dari sekeliling perkampungan Tang mo san ceng tersebut segera bermunculan beratus-ratus sosok bayangan manusia yang segera mengurung sekitar tempat itu dengan ketat.

Pada saat itulah Kit Siau un baru tertawa dingin, serunya: "Paman Hoa, apakah kau benar-benar hendak memaksa tit

li untuk turun tangan mempergunakan kekerasan?"

Setelah menyaksikan ledakan bom udara yang dilepaskan  kit siau un tadi, Hoa tay siu segera mengundurkan diri tiga langkah ke belakang.

Diam-diam ia merasa terkejut  sekali karena  kehadiran begitu banyak ibis dari Mo kau disekitar telaga Kiu liong tham tanpa diketahui oleh mata-matanya, hal ini menunjukkan kalau kepandaian silat yang dimiliki musuh-musuhnya luar biasa sekali.

Tapi sekarang kenyataan sudah berada di depan mata, sekalipun merasa kaget atau takut, apalah gunanya?

Begitu ki siau un menyelesaikan perkataannya, Hoa Tay siu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaah.... Haaah... Haaah.... tak kusangka kalau Hian tit li begitu lihay, cara untuk menggertak aku, bahkan  sekarang telah bersiap-siap untuk menggigit diriku pula .....

Dia lantas berpaling ke arah Juragan perahu  dari Sam  siang Hee ji beng, kemudian perintahnya: "Hee Lote, harap beritahu kepada para pemanah kita untuk bersiap-siap menghadapi serbuan !"

Juragan perahu dari Sam sian Hee Jibeng  segera mengiakan dan buru-buru meninggalkan tempat itu.

Tak lama kemudian terdengar bunyi lonceng yang bertalu- talu bergema memecahkan keheningan. Thiam mo giok li kit Siau un memutar biji matanya memandang sekejap ke sekeliling tempat itu, kemudian sambil tertawa terkekeh kekeh katanya dengan lantang :

"Paman Hoa, tampaknya jumlah jagoan yang berada dalam perkampunganmu tak sedikit jumlahnya. "

Walaupun ucapan tersebut diutarakan dengan santai, padahal dalam hati kecilnya merasa terkejut sekali, keyakinannya untuk berhasil  memenangkan  pertarungan inipun menjadi tipis sekali.

Dalam waktu singkat dari atas dinding pekarangan  di sekeliling perkampungan Tang mo san ceng  telah bermunculan lelaki kekar berbusur otomatis yang membawa obor.

Pemanah-pemanah tersebut telah  mempersiapkan busur masing-masing uang berpegas tinggi, bahkan  anak  panah yang telah dipersiapkan itu lambat-lambat memancarkan cahaya biru yang menggidikkan hati.

Itulah ciri khas dari panah-panah berapi!

Anak panah biasa saja sudah merupakan ancaman yang mengerikan, apalagi panah-panah berapi, siapakah yang sanggup menahan serangan panah berapi itu dengan anggota tubuhnya?

Tanpa terasa gadis itu segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Pedang iblis berbaju merah serta iblis sakti pedang kemala. Dua orang gembong iblis ini  pun  saling berpandangan sekejap dengan perasaan terkesiap, kemudian sambil tertawa getir mereka menggelengkan  kepalanya berulang kali.

Dalam pada itu, ratusan orang jago lihay dari lembah  Sin mo kok telah mengurung sekeliling perkampungan tersebut.

Asal Thian mogiok li melepaskan bom udara untuk kedua kalinya maka serentak merasa akan maju untuk melancarkan serangan. Tapi sampai lama sekali Thian mo giok li belum juga melepaskan tanda tersebut.

Dalam pada itu, suara genta emas yang dibunyikan bertalu- talu telah mengejutkan Hoa hujin yang berada di perkampungan bagian belakang.

Pendekar perempuan yang menamakan dirinya  Yau ti  sian li (Dewi cantik dari warna) lan tin go ini bukan saja orangnya cantik, ilmu silatnya juga sangat lihay, dan kelihayannya, tak berada di bawah suaminya.

@oodwoo@