Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 08

 
Jilid 08

Sekarang mereka baru sadar bahwa kongcu yang mereka hadapi sekarang, ternyata adalah  Long-cu  koay-hiap (pendekar aneh pengembara) yang namanya menggetarkan dunia persilatan belakangan ini.

Tak heran kalau mulut mereka segera terkunci rapat-rapat dan tak berani berkutik lagi.

orang persilatan telah melukiskan si "pengembara" yang bernyali besar dan berilmu tinggi sukar diukur ini mendekati seperti seorang malaikat. Mimpipun mereka tak mengira kalau si pendekar aneh tersebut masih berusia begitu muda, malah justru telah muncul dihadapan mereka berempat. Untuk beberapa saat, mereka jadi termangu mangu dan memandang wajah oh Put Kui dengan perasaan yang amat terkesiap.

sebaliknya oh Put Kui tetap  tenang, dia  tahu orang persilatan telah mengibaratkan dia bagaikan malaikat, itulah sebabnya dia bersikap acuh tak acuh terhadap pandangan orang.

Pengemis pikun yang berada  disisi arena masih saja tertawa dingin tiada hentinya,  terdengar  ia  kembali membentak: "Budak ingusan, kalian sudah berpikir jelas ?" Tentu saja mereka sudah berpikir jelas, mereka bukan orang bodoh tentu saja mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan dapat dibedakan dengan jelas.

Liu Im memutar biji matanya yang jeli, kemudian katanya pelan: "Bolehkah aku yang rendah sekalian   menanyakan nama besar Kongcu?"

"Aku oh Put Kui"

"Oh Kongcu..." kata Liu Im sambil tertawa, "maaf kalau aku yang rendah sekalian tak bisa memberi hormat kepadamu karena jalan darah kami masih tertotok. "

"Tidak usah" oh Put Kui sambil tersenyum, "asal nona berempat bersedia untuk menerangkan dimana letak rumah kediaman majikan kalian, aku sudah merasa sangat berterima kasih sekali. "

"Oh Kongcu" kata Liu  Im pelan,  "bukannya kami tidak bersedia memberitahukan alamat majikan kami kepada Kongcu, adalah Kongcu sendiri yang tak mau menerangkan maksud kedatanganmu, bila aku yang rendah melanggar peraturan dengan memberikan alamat suhu kami, niscaya nyawa kami berempat akan terancam. "

Beberapa patah kata itu diutarakan dengan suara sesengukkan, malah sampai akhirnya hampir saja menangis.

"Sungguhkah demikian ?" tanya oh Put Kui dengan kening berkerut.

"Masa aku yang rendah berani membohongi Kongcu ?"

oh Put Kui segera menggelengkan  kepalanya, memejamkan mata dan tidak berbicara lagi. sebaliknya pengemis pikun berseru dengan gusar:

"Waaduhh.... betul betul repot, tampaknya akal bulus kalian benar benar amat banyak"

"Locianpwe, kau harus maklum, kami mempunyai kesulitan kami sendiri, harap kalian suka memaafkan." "Heehhhh.... heeeehhh... heeehhhh. memaafkan- Lohu sudah cukup memaafkan kalian-"

Kembali Liu Im tertawa sedih.

"Locianpwe, bagaimanapun juga kalian tak akan membiarkan kami dihukum mati oleh majikan kami  sendiri tanpa berusaha untuk menolong bukan ?" "Hmm..." kembali pengemis pikun itu tertawa dingin. "Kenapa  aku  mesti menolong kalian? Berbicara dari perbuatan terkutuk  yang kalian lakukan selama ini dalam dunia persilatan,  sekalipun mati seratus kali lagi juga belum cukup untuk menebus dosa tersebut. Lohu mah tak akan memiliki hati yang begitu welas "

Mendengar perkataan itu, Liu Im merasa terkesiap sekali. "Pengemis itu tampaknya tak bisa didekati dengan cara yang halus tapi tak dapat pula dihadapi dengan kekerasan.  itu berarti kemungkin  mereka berempat bisa  lolos  dari  situ dengan keadaan selamat menjadi tipis sekali.......

Tanpa terasa ia lantas berpaling kearah oh Put Kui sambil berkata: "Kongcu, kalau begitu lebih baik bunuhlah kami berempat. "

setelah menangis tersedu-sedu, kembali lanjutnya:

"Lebih baik kami mati ditangan kongcu saja daripada mati secara mengenaskan ditangan majikan kami "

Begitu ia selesai berkata, Khi Cui, Wi Hiang dan siau Hong segera berseru pula bersama sama...

"Kongcu, bunulah kami semuaa..... Kamu tak akan tahan menerima siksaan keji dari majikan kami. "

sikap yang diambil keempat perempuan itu sangat menyusahkan oh Put Kui, karena dia memang tidak  berniat  utk membunuh keempat orang itu, tujuan kedatangannya tak lebih hanya ingin membantu gurunya untuk melepaskan  diri dari kesulitan- Apalagi setelah ia tahu kalau Thian Hiang Hui Cu Ki Yan Hong adalah bekas kekasih gurunya, dia lebih lebih tak ingin menyalahi anak murid dari Thian Hiang Hui Cu.

setelah termenung beberapa saat, akhirnya pemuda itu menghela napas panjang, katanya :

"Nona, terus terang kuberitahukan kepada kalian, sebenarnya aku tidak mempunyai dendam sakit hati apa apa dengan majikan kalian, aku ingin bertemu dengannya karena ingin berbicara sebentar saja dengannya"

Mendengar perkataan itu, perasaan keempat orang perempuan itu menjadi lega.

-oOdwOooOdwOoo-           Sambil tertawa, Liu Im segera berkata:

"Kongcu, benarkah kau hanya ingin berbicara sebentar saja dengan majikan kami?"

"Sejak dilahirkan sampai sekarang, aku belum pernah berbicara bohong...." kata oh Put Kui dengan wajah serius. Tiba-tiba nona siau Hong tertawa.

"Dengan nama besar Kengcu, kami semua merasa mempercayainya seratus persen-"

"Hmmm, sekalipun tidak percaya juga harus percaya." sela pengemis pikun sambil tertawa mengejek.

Buru-buru oh Put Kui mengerling sekejab kearah pengemis pikun, melarangnya banyak berbicara lagi. Dia kuatir kalau sampai menggusarkan keempat orang perempuan  itu  maka hal mana justru malah akan membengkalaikan urusan-sedang pengemis pikun memang sangat menuruti perkataan dari oh Put Kui, begitu diberi tanda, terpaksa manggut-manggut.

Maka sambil tertawa oh Put Kui berkata lagi kepada keempat orang perempuan itu:

"Nona berempat, aku harap kalian bisa cepat - cepat memberitahukan kepadaku tempat tinggal Ki locianpwe, sebab kalau tidak. bila jalan darah kalian berempat tertotok kelewat lama, maka akhirnya yang bakal menderita adalah kalian sendiri"

Mendengar perkataan itu, dengan suara rendah Liu  Im lantas berbisik:

"Setelah kami mempercayai kongcu, tentu saja kamipun akan menghantar kongcu kesana..."

"Apakah kalian berempat akan pergi bersama?" Liu Im kembali menggelengkan kepalanya.

"Adik siau Hong yang akan membawa kongcu kesana. sedangkan kami bersaudara masih harus tugas disini. "

Walaupun dia  hanya seorang penghibur, akan  tetapi setelah berjumpa dengan manusia seperti oh Put Kui, ternyata sikap mereka turut berubah juga menjadi serius.

Maka mereka tak berani  mengatakan "harus menerima tamu", melainkan kata itu dirubahnya menjadi "harus bertugas disini".

Diam-diam pengemis pikun  menggelengkan kepalanya sambil berpikir: "Bocah muda itu benar-benar luar biasa sekali, sampai sampai lontepun tahu malu. "

sementara itu oh Put Kui telah berkata sambil tertawa hambar: "Kalau memang begitu, aku harus merepotkan nona siau Hong. "

Begitu selesai berkata, dia lantas menggerakkan tangannya melancarkan tiga buah totokan untuk  membebaskan jalan darah Khi cui, Wi Hiang serta siau

Hong yang tertotok.

Pengemis pikunpun segera menepuk bebas jalan darah Liu Im, cuma sikapnya tidak selembut oh Put Kui, sambil membebaskan pengaruh totokan tersebut, dia  membentak keras: "Lebih baik kalian bertindaklah dengan sedikit sopan, kalau tidak. kalian sendirilah yang bakal menderita"

Begitu totokannya dibebaskan, keempat orang perempuan itu segera menghela napas panjang.

sambil menggerakkan otot-otot badannya yang kaku, Liu Im berkata: "Kau orang tua tak usah kuatir. Kami empat budak Thian- hian bukan manusia yang termasuk golongan licik, apa yang telah kami ucapkan, selamanya tak pernah disesali kembali."

Setelah berhenti sebentar, katanya kepada  oh Put Kui sambil tertawa: "Kongcu, ikutlah nona siau Hong kesana"

Sementara itu nona siau Hong telah bangkit berdiri, setelah memberi hormat kepada  oh Put Kui katanya: "Silahkan Kongcu"

Oh Put Kui segera memberi tanda kepada pengemis pikun, kemudian dia membuka pintu dan berjalan keluar dari situ dengan langkah lebar. Dengan cepat pengemis pikun menyelinap dibelakang tubuh nona siau Hong dan mengawasinya secara ketat.

Dia tidak percaya dengan budak budak  tersebut,  maka untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan, dia harus bersiap sedia selalu.......

Ternyata Liu Im, Khi Cui dan wi Hiang tidak melakukan tindakan apa-apa, dengan sikap yang amat menghormati mereka menghantarkan keberangkatan pemuda tersebut.

Kejadian mana kontan saja membuat oh Put Kui dan pengemis pikun menjadi tertegun, sebab hal ini sama sekali diluar duagaannya.

Tapi berada dalam keadaan seperti ini, mereka tak sempat untuk berpikir lebih jauh lagi, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, mereka mengikuti dibelakang tubuh siau Hong dengan kencang.....

-oOdwOooOdwOoo- Nona siau Hong mengajak oh Put Kui dan pengemis pikun berdua menuju kedepan  sebuah patung sik-ang-tiong yang besar sekali didepan kuburan siau-leng. Tiba-tiba saja nona itu tidak berjalan lagi. "Sudah sampai"

"Sudah sampai ? Ki Yan Hong tinggal disini?"

saking   herannya pengemis pikun sampai melototkan matanya besar-besar dan berteriak aneh.

Nona siau-hong tertawa, sahutnya:

"Benar, majikan kami memang tinggal didalam kuburan sian-leng ini"

"Nona, dimanakah kuburan tersebut? Apakah  berada dibawah tanah?" tanya oh Put Kui sambil tertawa.

Nona siau-hong turut tertawa.

"Apa yang  Kengcu ucapkan memang benar,  letaknya memang berada dibawah kuburan siau-leng"

Pengemis pikun menjadi tertegun

Sungguh besar nyali Thian-hiang Hui-cu, ternyata  dia berani tinggal didalam kuburannya kaisar Tay-cu-huang-leng. Apakah pihak kerajaan tak ada yang mengurusi ulahnya ini?

Sebaliknya oh Put Kui hanya menggelengkan kepalanya sambil berkata: "Mengapa majikan kalian berani   menghina dan mengusik ketenangan Kaisar yang telah tiada? Kompleks pekuburan sian-leng merupakan kompleks  pekuburan  raja raja, apakah majikan kalian tidak kuatir ditangkap oleh pihak Kerajaan ?" Tiba-tiba siau Hong tertawa, sahutnya:

"Kongcu, bila kau telah bersua dengan majikan kami nanti, persoalannya akan menjadi jelas dengan sendirinya, budak sekalian tak berani memberikan kritik  seenaknya  sendiri, harap kongcu dapat memakluminya."

Oh Put Kui manggut manggut dan tidak berbicara lagi. sebaliknya si pengemis pikun berseru sambil tertawa aneh: "Budak, banyak amat permainan busukmu, hayo cepat katakan, bagaimana cara kita untuk masuk kedalam?"

Nona siau Hong tertawa, dia segera maju kedepan mendekati patung sik-ang-tiong dan  mengetuk  bagian perutnya dua kali, kemudian dia berbelok kesebelah kiri dan membisikkan sesuatu diantara celah celah pakaian-... Belum habis dia berbisik, patung sik-ang-tiong tersebut telah  bergeser sejauh tiga kaki kesamping, menyusul kemudian muncullah sebuah pintu rahasia.

Sambil tertawa terbahak-bahak. pengemis pikun berseru: "Benar-benar    sebuah   cara   yang    sangat    bagus,   baru

pertama   kali    ini  aku   sipengemis   tua   menyaksikan  cara

membuka pintu rahasia dengan cara semacam ini."

"Benar, selain leluasa juga amat hati-hati" sambung oh Put Kui sambil tertawa juga.

Sambil tertawa nona siau Hong segera melangkah  masuk ke dalam lorong rahasia bersebut, katanya:

"Silahkan kalian berdua mengikuti budak masuk kedalam" "Silahkan " sambung pengemis pikun

Mungkin saking girangnya, maka dia mengucapkan kata sungkan.

Nona siau Hong berpaling dan memandangnya sambil tertawa, kemudian dia berjalan lebih dulu memasuki lorong rahasia tersebut.

Oh Put Kui dan pengemis pikun segera mengikuti  pula dibelakang tubuhnya. Lorong rahasia itu menjorok ke bawah, mereka harus berjalan sedalam sepuluh kaki lebih sebelum mencapai permukaan tanah yang datar. oh Put Kui segera mengerahkan tenaga dalamnya  untuk mengawasi daerah disekeliling tempat itu, dijumpainya luas lorong rahasia  itu  tidak sampai dua kaki, tapi tingginya mencapai tiga kaki lebih dan luas sekali. Pada kedua belah dinding lorong rahasia tadi terdapat beberapa butir mutiara, itulah  sebabnya suasana disekitar tempat itu tidak kelewat gelap. Akan tetapi setelah mencapai tanah yang  datar,  suasanannya menjadi terang benderang.

Disana nampak sebuah pintu besar, pintu itu terbuat dari batu kemala yang penuh dengan ukiran, sehingga nampak sangat anggun dan  indah sekali. Diatas pintu  terpancang sebuah papan nama yang bertuliskan : "Tee- hu-thian- kiong "

Oh Put Kui yang menyaksikan keadaan disana diam  diam  ia merasa hatinya bergetar  keras. Tampaknya  tempat itu bekas dihuni oleh orang-orang yang bertugas  menjaga kuburan raja-raja itu dimasa lampau.

Tiga ratus berselang, kerajaan  Ming sudah runtuh, dan gedung istana inipun entah sejak kapan berhasil ditemukan oleh Thian hiang Hui-cu dan dipakai sebagai  tempat  tinggalnya.

Setelah melewati pintu gerbang, didalamnya  merupakan sebuah ruangan tamu yang luas. setelah ruang tamu terlihat sebuah ruangan tengah yang luas sekali. Ruangan  itu tingginya mencapai beberapa kali dengan luas hampir puluhan kaki lebih, betul betul sebuah ruangan yang amat besar.

Untuk membangun ruangan sebesar itu,  entah berapa banyak tenaga, pikiran dan uang yang telah dikeluarkan?

Oh Put Kui menjadi gegetun sendiri, karena membangun ruangan dalam kompleks kuburan dengan segitu megahnya jelas merupakan suatu pemborosan yang tidak pada tempatnya.

Waktu itu ruangan tengah yang amat luas itu sunyi senyap tak nampak seorang manusiapUn.

Tapi didalam ruangan tersebut penuh dengan rak senjata disekelilingnya, pelbagai macam senjata nampak tersedia disana.

Setelah memperhatikan sekejap sekitar ruangan tersebut, sambil tertawa pengemis pikun berkata: "Tampaknya ruangan ini mirip sekali dengan sebuah ruangan untuk berlatih silat."

Mendengar itu, Siau  Hong  segera  tertawa  sahutnya: "Benar, ruangan  ini memang ruangan  yang disediakan

untuk berlatih ilmu silat."

Pengemis pikun tidak menyangka kalau dugaanya bisa benar, sambil tertawa serunya:

"Benarkah itu?"

Nona Siau Hong kembali tertawa, katanya:

"Kongcu dan locianpwe ini silahkan duduk sebentar, budak akan segera melaporkan kunjungan kalian kepada majikan kami,. "

"Silahkan"

sambil tertawa siau Hong segera berlalu dari ruangan  itu dan masuk melewati sebuah pintu berbentuk rembulan disisi ruangan.

Diam-diam pengemis pikun merasa keheranan setelah menyaksikan keadaan disana, dia tidak habis pikir kenapa ruangan Tee-hu-thian-kiong yang begitu luas bisa sunyi senyap tak nampak seorang manusiapun,  apakah  Thian- hiang Hui-cu tinggal disana seorang diri?

Ia tidak percaya kalau perempuan tua itu tidak mempunyai pembantu juga. sebaliknya oh Put Kui juga sedang berpikir mengapa Ki Yan-hong menggunakan kompleks pekuburan raja-raja ini sebagai tempat tinggalnya? Mungkinkah dibalik kesemuanya itu terdapat hal-hal  yang luar  biasa? Demikianlah, mereka berdua tercekam dalam lamunan masing-masing, tapi toh tiada jawaban yang berhasil didapatkan-

Entah berapa lama sudah lewat, mendadak  terdengar suara tertawa merdu berkumandang  memecahkan keheningan, lalu terdengar seseorang berkata dengan merdu: "Oh kongcu, Lok locianpwe, majikan kami mempersilahkan kalian untuk masuk kedalam."

Oh Put Kui tidak merasakan apa-apa sesudah mendengar perkataan itu, sebaliknya pengemis pikun merasakan hatinya bergerak.

Ia sudah lama mendengar kabar kalau Ki Yan-hong adalah seorang gembong iblis yang sangat kejam, mengapa dia mempergunakan kata  "mengundang" untuk mempersiapkan mereka masuk? Mungkinkah apa yang tersiar  didunia persilatan tidak sesuai dengan kenyataan?

Tapi berada dalam keadaan seperti ini mereka tak sempat untuk banyak bertanya lagi.

oh Put Kui memandang sekejap kearah wajah siau Hong yang berdiri ditepi pintu berbentuk rembulan, lalu katanya sambil tertawa: "Terima kasih banyak nona ?" selesai berkata, dia lantas berjalan menuju kearah  pintu  berbentuk  rembulan itu.

Pengemis pikun mengikuti pula dengan kencang dibelakangnya. setelah masuk kedalam pintu tersebut, oh Put Kui segera merasakan pandangannya menjadi silau.....

sungguh indah sekali apa yang terlihat didepan mata.

Bangunan loteng, bangunan gardu, gunung-gunungan dan batu-batuan disusun begitu indah didepan mata, menengok dari balik pintu, tempat tersebut mana mirip seperti sebuah kompleks tanah  pekuburan? pada hakekatnya  menyerupai istana dilangit.

Tanpa terasa oh Put Kui menghela napas panjang dengan perasaan amat kagum.

Sedangkan peng emis pikunpun memuji tiada hentinya. sambil tertawa siau Hong kembali berkata:

"Disini terdapat lima puluh delapan buah bangunan loteng serta gardu indah,  bila kongcu  mempunyai kegembiraan, dikemudian hari boleh datang kemari untuk menikmatinya. Bukan budak sengaja mengibul, istana kaisar diibukotapun paling cuma begitu saja bila dibandingkan dengan keindahan tempat ini "

"Apa yang nona katakan memang benar," ucap oh Put Kui sambil tertawa, "semua yang indah  diibu  kota  telah kusaksikan, dan keindahan keraton kaisar memang tak lebih indah dari tempat ini."

"Budak. tentunya bukan majikanmu yang membangun keraton ini bukan ?" kata sang pengemis sambil tertawa.

"Tentu saja bukan-..... majikan kami hanya "

Mendadak ia berhenti berbicara dan tertawa, sambungnya: "Kongcu, locianpwe, silahkan mengikuti budak  masuk kedalam"

Ia lantas membalikkan badannya dan berjalan menelusuri gunung-gunungan ditengah sana.

Walaupun oh Put Kui merasa seperti teringat akan sesuatu setelah mendengar ucapan yang tak selesai itu, tapi karena siau Hong enggan meneruskan pembicaraannya, tentu saja diapun merasa kurang leluasa untuk bertanya lebih jauh.

Dengan mulut membungkam, mereka bertiga segera berjalan menuju kedepan, menurut perhitungan oh Put Kui secara diam-diam, mereka telah berjalan lima li sebelum tiba ditempat mereka berada sekarang.

Didepan mata sekarang, tampaklah berdiri  sebuah bangunan loteng yang sederhana.

Dibawah loteng, berdiri dua orang gadis yang menyoren pedang. siau Hong segera maju dan mengucapkan sesuatu kepada kedua orang gadis tersebut, dua orang gadis itupun membuka pintu loteng dan mempersilahkan tamunya masuk.

Sambil tertawa oh Put Kui manggut manggut kearah dua orang gadis itu, katanya: "Merepotkan nona berdua saja" Kemudian dengan langkah lebar dia lantas berjalan masuk kedalam ruangan loteng.

Setelah memasuki bangunan loteng, dihadapan mereka terlihat sebuah ruang altar Buddha yang amat indah.

Didepan altar terdapat  sebuah kasur untuk duduk. dan disitu duduklah seorang perempuan cantik setengah  umur yang berdandan model keraton-oh Put Kui segera merasa terkesiap setelah menyaksikan kesemuannya itu, ternyata apa yang tersiar dalam dunia persilatan tentang Thian- hiang Hui- cu, sama sekali berbeda dengan kenyataannya.

Kalau dibilang perempuan berwajah suci dan anggun itu adalah seorang iblis keji yang berwatak cabul, maka perempuan didunia ini bukankah akan  menjadi  siluman semua.

Bahkan sipengemis pikun yang tak pernah seriuspun, kini mulai terpengaruh oleh suasana yang terbentang dihadapan mukanya, ia tak mampu tertawa lagi. Dengan  wajah yang serius, dia berjalan  masuk kedalam ruangan  itu dengan langkah pelan, seolah-olah kuatir kalau langkah kakinya akan mengusik ketenangan disitu.

Pada saat itulah, siau Hong telah memburu kedepan lebih dulu, sambil berlutut katanya:

"Majikan, oh Kongcu telah datang"

Perempuan cantik setengah umur yang berbaju putih dan berwajah anggun itu segera membuka matanya, mencorong sinar setajam sembilu dari balik  matanya.  Diam-diam pengemis pikun berpikir:

"Tajam amat sepasang mata orang ini, nampaknya ilmu silat yang dimiliki Permaisuri (Hui-cu) ini benar benar menggidikkan hati." Belum habis dia berpikir, Thian-  hiang Hui-cu telah menatap wajah oh Put Kui dan berkata sambil tertawa: "Kongcu, silahkan duduk Dalam loteng  yang kuhuni  ini selalu hanya tersedia kasur duduk saja, terpaksa aku harus merendahkan derajat oh Kongcu  dan  tianglo  dari  Kaypang ini. "

Sementara itu, oh Put Kui sudah terpengaruh oleh keanggunan orang maka mendengar perkataan itu, buru-buru dia membungkukkan badannya memberi hormat sahutnya :

"Boanpwe oh Put Kui menjumpai Ki locianpwe "

Sembari berkata, dia lantas melakukan   penghormatan besar kepada perempuan itu.

Menyusul kemudian, pengemis pikun pun turut menjura dalam-dalam. "Tak usah banyak adat, aku tak berani menerimanya " seru perempuan itu cepat.

Ujung bajunya dikebaskan kedepan, nyaris tubuh  oh  Put Kui terangkat meninggalkan permukaan  tanah. sedangkan pengemis pikun, segera merasakan badannya terangkat satu depa dari permukaan tanah.

Dari sini dapat diketahui betapa sempurnanya  tenaga  dalam yang dimiliki perempuan itu.

Diam-diam oh Put Kui berdua merasa terkejut sekali sehingga peluh dingin jatuh  bercucuran membasahi tubuh mereka.

Tapi diluarnya, oh Put Kui masih tetap bersikap dengan hormat, sahutnya sambil menjura: "Terima kasih Ki cianpwe."

Sedangkan pengemis pikun berkata:

"Lok Jin-ki dari Kay-pang menjumpai Ki lo "

"silahkan duduk" tukas Thian-hiang Hui-cu sambil tertawa hambar.

"Boanpwe turut perintah......." kedua  orang itu masing- masing duduk diatas kasur yang telah tersedia. Setelah semua orang duduk Thian-hiang Hui-cu baru mengawasi wajah oh Put Kui dengan seksama, kemudian tegurnya:

"Oh Kongcu, ada urusan apa kau datang mencari diriku?"

Suatu pertanyaan yang langsung ditujukan pada maksud dan tujuan, hal ini membuat pemuda kita agak tertegun.

Tapi dengan cepat oh Put Kui menjawab dengan hormat: "Boanpwe datang kemari karena ingin menanyakan tentang

satu hal kepada kau orang tua"

"Persoalan apa? silahkan Kongcu utarakan"

"Boanpwe datang kemari karena urusan guruku," ucap pemuda tersebut serius, "boanpwe  hanya  berharap selanjutnya lociapwe jangan mencari guru boanpwe lagi, agar guru boanpwe bisa beristirahat dengan perasaan hati  yang lebih tenang. "

Thian-hiang Hui-cu nampak agak tertegun setelah mendengar pertanyaan itu, serunya dengan cepat: "siapakah guru Kongcu? Aku. "

Ia berhenti sebentar  dan  mengelengkan  kepalanya berulang kali, sambungnya: "Kongcu, apakah kau tidak salah orang?"

"Boanpwe merasa tak mungkin salah orang, mohon locianpwe sudilah kiranya "

"sebenarnya siapakah gurumu?" tukas Thian- hiang Hui-cu sambil tertawa.

"Guru boanpwe  disebut orang Pendeta  sinting Tay-gi sangjin".

Begitu ucapan tersebut diutarakan, sekali lagi mencorong sinar tajam dari balik mata Thian- hian Hui-cu.

Ditatapnya wajah oh Put Kui lekat-lekat, kemudian katanya sambil tertawa: "Apakah kau ahli waris dari Tay-gi?" "Benar"

"Ehmmm......... dengan menggunakan tujuh bagian tenaga Si-mi-sin-kang, nyatanya aku  gagal  membuatmu meninggalkan permukaan tanah, hal  ini  menunjukkan  kau telah memperoleh warisan langsung  dari Tay-gi  sangjin-" setelah tertawa, lanjutnya:

"Tay-gi bisa mempunyai murid seperti kau, rasanya diapun boleh merasa lega hati"

-oOdwOooOdwOoo-

Mendengar perkataan itu, oh Put Kui merasa amat terkejut. oh Put Kui merasa terharu sekuli, pikirnya:

"Heran, mengapa orang tua ini bisa dianggap sebagai iblis cabul oleh kebanyakan orang?  Padahal apa yang  berada dihadapan ku sekarang ini adalah seorang perempuan anggun yang menyerupai malaikat "

Dalam hati dia berpikir begitu, diluar ujarnya:

"Locianpwe begitu memandang tinggi diri boanpwe, hal ini sungguh membuat boanpwe merasa malu sekali "

Thian-hiang Hui-cu tersenyum, tiba-tiba  ujarnya kepada pengemis pikun: "Hei si pikun kecil, baik- baikkah dengan Kongsun Liang ?" Buru-buru pengemis pikun  melompat bangun, lalu menjawab dengan sikap yang amat menghormat:

"Pangcu kami berada  dalam keadaan sehat wal-afiat, terima kasih banyak atas perhatianmu. "

Thian-hiang Hui-cu tertawa.

"Duduklah, selamanya aku tidak terlalu memperhatikan soal adat istiadat atau tata kehormatan"

Buru- buru pengemis pikun mengucapkan terima kasih dan duduk kembali ditempat semula. Setelah menghela  napas panjang, Thian-hiang Hui-cu kembali berkata: "Pikun kecil, diantara kalian suheng-te bertujuh, Kongsun Liang memang terhitung paling becus dan mampu, dulu aku pernah berkata  kepada gurumu  Ciang- liong- koay-siu (kakek aneh penakluk naga) Huyong Beng, bilamana perkumpulan Kay-pang bisa dipimpin oleh orang ini, maka Kay-pang pasti akan semakin besar dan jaya "

Setelah berhenti sebentar dan tertawa hambar,  katanya  lebih jauh:

"Sekarang terbukti sudah, Kongsun Liang memang tidak menyia-nyiakan harapan gurunya"

"Petunjuk berharga dari locianpwe, membuat boanpwe sekalian merasakan manfaatnya, hal ini sungguh membuat boanpwe sekalian merasa amat berterima kasih sekali."

Kembali Thian-hiang Hui-cu tertawa.

"Pikun cilik, ketika aku berjumpa dengan kalian ditempat gurumu dulu, waktu itu kau masih berusia belasan tahun bukan? Kini enam puluh tahun sudah lewat, aaai...., benar- benar sudah tua. "

Oh Put Kui yang mendengar perkataan itu menjadi terkejut sekali, kalau didengar dari pembicaraan tersebut, bukankah berarti usia Thian-hiang Hui-cu telah mencapai seratus tahun lebih ?

Tapi, kalau  dilihat dari paras mukanya mengapa dia nampak seperti baru berusia tiga puluh tahunan?

Sementara itu pengemis pikun buru buru bangkit berdiri sambil menyahut: "Boanpwe masih ingat kau orang tua.......

enam puluh tahun belakangan ini, ternyata wajah cianpwa masih saka seperti sedia kala."

"Pikun cilik, kaupun sudah menjadi pintar. sungguh patut diucapkan selamat, benar-benar pantas  menerima selamat....." kata Thian-hiang Hui-cu tertawa. Merah padam selembar wajah pengemis  pikun  setelah  mendengar perkataan itu.

Sedang oh Put Kui pun merasa geli, cuma dia tak berani mengeluarkan suaranya.

Pelan-pelan Thian-hiang Hui-cu mengalihkan kembali sorot matanya keatas wajah oh Put Kui, kemudian katanya :

"Nak, tadi kau bilang apa ? Kau mengatakan aku telah mengganggu ketenangan gurumu ? sudah lama sekali aku tak pernah pergi meninggalkan tempat ini, walau hanya selangkah pun."

Mendengar perkataan    tersebut oh   Put Kui menjadi tertegun-"Kau orang tua. "

Dengan kening berkerut dia segera menjura kepada Thian- hiang Hui-cu, kemudian lanjutnya :

"Boancwe telah menemukan   surat yang ditinggalkan guruku ditebung Cing-peng-gay, dalam  surat itu dikatakan "

Ia berhenti sejenak. kemudian akhirnya membeberkan apa yang ditulis gurunya pada surat tersebut.

Ketika mendengar isi tulisan tersebut, mendadak Thian- hiang Hui-cu tertawa tiada hentinya.

Meskipun perempuan ini sudah berusia hampir seratus tahun lebih, namun gerak geriknya masih tak terlepas dari tingkah laku seorang gadis remaja, sehingga waktu tertawa ia nampak amat menawan hati. Dengan wajah termangu karena keheranan oh Put Kui segera bertanya :

"cianpwe, mengapa kau tertawa ?" "Nak, kau keliru besar "

"Maksud cianpwe, orang yang dimaksudkan suhuku dalam suratnya itu bukanlah dirimu ?" tanya oh Put Kui agak sangsi.

"Benar nak. yang dimaksudkan gurumu adalah seseorang yang lainnya. " Ketika mengucapkan perkataan itu, wajahnya  menjadi murung dan sorot matanya memancarkan  sinar  duka, lanjutnya : "Kau keliru besar, orang itu bukan aku "

sekali lagi oh Put Kui berdiri termangu mangu sambil mengawasi wajah Thian-hiang Hui-cu tanpa berkedip. "Kau orang tua. "

Ia tak tahu apa yang musti diucapkan, karena sianak muda itu benar-benar dibikin tertegun oleh keadaan yang sedang dihadapinya.

sekali lagi Thian-hiang Hui-cu menghela napas panjang, katanya lebih lanjut

"Nak, yang dimaksudkan gurumu sebagai kekasih lamanya bukan aku, cuma dia memang sangat mirip sekali wajahnya dengan diriku, maka orang persilatan  banyak  yang  mengira dia sebagai aku "

Hampir saja oh Put Kui tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan, betulkah dalam dunia terdapat kejadian semacam ini ? sambil menggelengkan kepalanya berulang kali dia berseru :

"cianpwe, boanpwe benar-benar merasa kebingungan setengah mati. "

"Nak, tentu saja kau akan merasa kebingungan-" sahut Thian-hiang Hui-cu sambil tertawa, "selama banyak tahun ini, kecuali gurumu, aku dan perempuan itu, siapapun tak akan mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya "

Oh Put Kui memandang sekejap kearah pengemis pikun, kemudian manggut- manggut.

"Locianpwe, bolehkah boanpwe menanyakan sumber dari persoalan ini?"

"Tentu saja boleh," Thian-hiang Hui-cu menghela  napas panjang, " sejak berjumpa dengan kau, aku sudah merasa senang denganmu nak. aku sudah merasa sedari dulu bahwa persoalan ini sudah seharusnya dibikin jelas." "Terima kasih banyak atas kesediaan locianpwe....." buru- buru Oh Put Kui membungkukkan badannya memberi hormat.

Dari balik sorot mata Thian-hiang Hui-cu tiba-tiba terpancar keluar sinar jengah seperti seorang gadis remaja, kemudian setengah menghela napas panjang dan tertawa  ringan, katanya :

"Nak. tahukah kau siapa nama preman dari gurumu itu ?"

Dengan cepat Oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Boanpwe tak pernah menanyakan soal ini," sahutnya.

Thian-hiang Hui-cu segera berpaling kearah  pengemis pikun dan bertanya pula "Pikun cilik, pernahkah  kau mendengar seseorang yang bernama Thian-yang-yu-cu si pengembara dari ujung langit oh sian?"

Pengemis pikun tercengang dan berdiri terbelalak, nama Thian-yang-yu-cu oh sian sudah lama termashur dalam dunia persilatan.

Delapan puluh tahun berselang, bila nama tersebut disebut orang, maka setiap manusia pasti tahu, setiap manusia pasti pernah mendengar namanya......

Dengan mengandalkan sebilah pedang, ia pernah membabat mampus delapan orang gembong iblis sekaligus.

Sedang kedelapan orang gembong iblis  itu  rata-rata memiliki ilmu silat yang sepuluh kali lipat lebih lihay daripada kepandaian silat ketua dari pelbagai perguruan.

Waktu itu, nasib seluruh umat persilatan hampir sebagian besar dikuasahi oleh kedelapan gembong iblis itu dan dikuasai sepenuhnya. Didalam suasana yang serba kritis dan kacau inilah, mendadak Thian-yang-yu-cu oh sian munculkan diri dalam dunia persilatan. Dengan kekuatan  seorang  diri ditambah sebilah pedang, dia  segera  mencari  kedelapan orang gembong iblis itu dan menantang mereka untuk berduel sambil menentukan kehidupan masing-masing. Maka terjadilah suatu pertempuran sengit diatas  bukit Thay-san tebing Thian-bun-sian, disitulah delapan orang gembong iblis tersebut berhasil dibereskan nyawanya.

Menurut penuturan salah seorang murid dari delapan iblis yang menyaksikan jalannya pertarungan tersebut dengan mata kepala sendiri, selama pertarungan berlangsung, Thian- yang-yu-cu oh sian hanya mengeluarkan delapan jurus serangan untuk membereskan kedelapan orang iblis tersebut. Tapi semenjak peristiwa itu pula, jejaknya tahu-tahu sudah lenyap tak berbekas.

Sekalipun demikian, hampir semua jago dari angkatan tua rata-rata mengetahui akan peranan jago lihay tersebut.

Pengemis pikunpun pernah mendengar soal ini dari  gurunya, maka dia pun tahu.

"Apakah kau maksudkan pendekar besar yang secara beruntun membinasakan kedelapan orang gembong  iblis dibukit Thay-san itu ?" tanyannya kemudian dengan ragu.

"Yaa, betul. Dialah yang kumaksudkan", sahut Thian-hiang Hui-cu sambil tertawa.

"Boanpwe pernah mendengar guruku menceritakan tentang soal ini, cuma kemunculan pendekar besar itu konon hanya singkat sekali, tak sampai setahun ia muncul dalam dunia persilatan, tahu-tahu jejaknya sudah lenyap tak berbekas "

"Haaahhhh..... haaaahhhh.....ha^ahhhh.... siapa bilang dia lenyap tak berbekas ?" seru Thian-hiang Hui-cu sambil tertawa tergelak " dia tak lebih hanya mencukur rambutnya menjadi pendeta "

"Jadi maksudmu..... Tay-gi sangjin  sesungguhnya  adalah oh tayhiap " kata pengemis pikun terperanjat.

"Yaa, memang dia "

Pengemis pikun segera berpaling kearah oh Put Kui, kemudian serunya dengan cepat: "Bocah muda, gurumu benar-benar adalah seorang manusia yang sangat aneh tapi sakti. "

Oh Put Kui hanya berdiri terbengong, dia tak tahu bagaimanakah perasaan hatinya waktu itu. selang berapa saat kemudian, ia baru berkata sambil tertawa : "Lok tua, terima kasih banyak atas pujianmu. "

Sementara itu Thian-hiang Hui-cu telah berkata lagi sambil tertawa ramah : "Nak. gurumu tak lain adalah  Thian-yang-yu- cu oh sian yang amat termashur itu. Bahkan dia bukan cuma gurumu  saja,  diapung merupakan  empek   kandungmu sendiri "

"sungguh ?" seru oh Put Kui dengan perasaan bergetar keras, " kalau begitu locianpwej uga mengetahui akan asal usul boanpwe ?" Mendengar pertanyaan itu, berganti Thian- hiang Hui-cu yang menjadi tertegun, serunya keheranan :

"Aya?Jadi gurumu tak pernah memberitahukan  tentang asal usulmu itu kepadamu ?"

"Yaa, belum pernah " oh Put Kui menggeleng.

"Waaah, kalau begitu lucu sekali. "

setelah berhenti sejenak. dengan cepat dia menambahkan kembali "Tapi mungkin juga gurumu mempunyai tujuan lain-

....." selama ini oh Put Kui boleh dibilang gelap sama sekali terhadap asal-usulnya, maka setelah menemukan setitik cahaya terang tanpa disengaja, tentu saja dia enggan melepaskannya dengan begitu saja, buru-buru katanya lagi :

"Locianpwe, tentunya kau tahu bukan siapakah ayah ibu boanpwe?"

"Yaa, tentu saja aku tahu "jawab Thian-hiang Hui-cu sambil tertawa.

"Dapatkah kau orang tua memberitahukan kepada boanpwe?"

"Maaf nak. aku tak dapat memberitahukan kepadamu " "Mengapa ?" tanya oh Put Kui, "Apakah kau. "

"Nak, kalau toh gurumu tidak bersedia memberitahukan kepadamu, itu berarti dibalik kesemuanya itu pasti ada sebabnya, mungkin juga karena  saatnya belum tiba, jika kuutarakan kepadamu sekarang,  apakah gurumu tak akan marah kepadaku?"

Tiba-tiba sepasang oh Put Kui menjadi merah, pintanya : "Oh locianpwe, sejak dilahirkan didunia ini boanpwe sudah

tak punya keluarga lagi, aku hanya hidup bersama dengan guruku selama ini. Baru kali ini kuketahui kalau suhu sebenarnya empek boanpwe sendiri, tapi sekarang locianpwe enggan mengatakan siapakah ayah ibuku, hal ini membuat boanpwe bersedih hati. "

Ketika berbicara sampai disitu, titik air mata segera jatuh berlinang membasahi pipinya .

Thian-hiang Hui-cu segera menghela napas panjang.

"Nak. kau tak usah bersedih hati, cepat atau lambat gurumu pasti akan memberitahukan hal ini kepadamu "

Kemudian setelah tertawa dan berhenti  sejenak.  kembali dia berkata : "Nak. apakah kau ingin mendengar kisah cerita tentang diriku dan gurumu ?"

Oh Put Kui tahu, sekalipun dia bertanya lagi sekarang,  Thian-hiang Hui-cu juga tak akan menceritakan asal usulnya, terpaksa dia mengiakan : "Boanpwe bersedia mendengarkan "

Thian-hiang Hui-cu menarik napas panjang, lalu setelah tertawa katanya : "Sebelum mencukur rambutnya menjadi pendeta dulu, gurumu adalah kakak seperguruanku. "

"Oooh........" Oh Put Kui baru mengerti sekarang. Thian- hiang Hui-cu manggut - manggut, kembali lanjutnya:

"Gurumu dan aku adalah  saudara  seperguruan, sebenarnya hubungan kami selama ini baik sekali " Sikap jengah seorang gadis, sekali lagi menghiasi wajah Thian-hiang Hui-cu, sesudah berhenti sejenak. lanjutnya:

"Cuma, kebetulan sekali akupun menpunyai seorang adik perempuan yang benar benar tak becus. "

"ooh, ternyata kembali ada perempuan yang masuk dalam lingkaran hidup mereka. " pikir oh Put Kui.

Tiba-tiba Thian-hiang Hui-cu menghela napas panjang, katanya lagi : "Adik kandungku ini berasal dari Mo-kau, sejak bertemu dengan gurumu, dia menjadi tergila-gila dan mengejarnya terus menerus akhirnya karena desakan yang kelewat batas, gurumu memutuskan untuk mencukur rambut menjadi pendeta dan tidak mencampuri urusan keduniawian lagi "

sesudah menghela napas panjang,  ia  menambahkan  : "Dan akupun terpaksa harus hidup seorang diri pula hingga

setua ini "

Ketika mengucapkan kata-kata yang terakhir itu, mendadak matanya berkaca-kaca.

"Apakah locianpwe tidak membenci adikmu itu ?" tanya oh Put Kui dengan kening berkerut.

Thian-hiang Hui-cu menggelengkan  kepalanya  berulang kali. "Bagaimana aku bisa membencinya? Dia adalah adik kandungku sendiri, yaaa. apa boleh buat ? Terpaksa aku

harus menerima kenyataan tersebut sebagai nasib "

"Aaaai.... apakah kejadian ini bukan suatu peristiwa tragis yang paling mengenaskan didunia ini ?" sela pengemis pikun sambil menghela napas pula,

"besar benar jiwamu, coba kalau berganti  orang lain, mungkin-..... aaai, kamu memang malaikat suci yang berjiwa besar. "

sikap si pengemis tua itu selain telah berubah menjadi lebih manusiawi, bahkan diapun bersikap begitu menaruh hormat terhadap Thian-hiang Hui-cu..... Thian-hiang Hui-cu tertawa rawan-

"Kejadian lampau sebagai impian, sekalipun disinggung kembali juga sama sekali tak ada gunanya. nak. apakah

kau datang kemari mencariku adalah bermaksud agar aku jangan merecoki gurumu lagi?"

Merah padam selembar wajah oh Put Kui karena  jengah, dia menyesal karena sudah menaruh prasangka yang salah terhadap perempuan ini.

Walaupun masih ada hal hal yang masih membingungkan hatinya, seperti kenapa keempat orang dayang Thian-hiang Hui-cu Ki Yan-hong menjadi pelacur-pelacur kenamaan-

Mengapa namanya dalam dunia persilatan begitu jelek sehingga dianggap sebagai iblis perempuan yang berhati keji

?

Tetapi dalam keadaan yang  seperti ini, ia merasa tak sanggup untuk mengutarakannya kembali.

"Boanpwe memang datang kemari dengan maksud demikian- " dia mengakui, "cuma sekarang, boanpwe sudah

berubah pendapat. Boanpwe tak ingin memohon apa apa lagi kepada kau orang tua."

Dia memang tak dapat memohon apa apa lagi.

Seandainya apa yang dikatakan Thian-hiang Hui-cu merupakan kenyataan,  maka penderitaan  yang dialaminya didalam kehidupan ini sudah kelewat berat, bahkan jauh lebih berat daripada penderitaan manapun yang pernah dialami kaum wanita.

Bila oh Put Kui sampai mengajukan sesuatu permohonan lagi kepadanya, hal ini sama artinya dengan kelewat memaksanya untuk menerima suatu kenyataan. Ketika mendengar perkataan tersebut, Thian-hiang Hui-cu segera tertawa, katanya : "Nak. aku merasa sangat berterima kasih sekali kepadamu karena kau dapat memahami perasaanku. "

sesudah berhenti sebentar, dia  mendehem  pelan,  lalu melanjutkan :

"Nak. mungkin dalam hatimu masih ada persoalan persoalan yang mencurigakan hatimu bukan ?"

oh Put Kui tertawa hambar.

"Boanpwe tak ingin banyak bertanya," sahutnya.

"Anak baik, kalian orang orang dari keluarga oh memang semuanya merupakan orang-orang aneh."

sekali lagi oh Put Kui merasa terkejut sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya:

"Kalau didengar dari nada pembicaraannya itu, dia seperti mengenal sekali dengan ayah ibuku. "

Dian ingin bertanya lagi..... tapi diapun tak ingin ketanggor batunya lagi.

Thian-hiang Hui-cu menatap sekejab  kearahnya,  lalu sambil tertawa dia menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya:

"Nak. aku tahu persoalan yang tidak kaupahami adalah mengapa namaku dalam dunia persilatan bisa sebegitu jeleknya, mengapa siau-hong sekalian budak  menjadi pelacur di sarang pelacuran? Tapi apa yang kau dengar ternyata tidak sesuai dengan apa yang kau saksikan sekarang, bukankah demikian ?"

Merah padam selembar wajah oh Put Kui karena jengah, sahutnya agak tergagap:

"Boanpwe hal ini pasti dikarenakan cianpwe mempunyai

sesuatu rahasia yang tak bisa diutarakan "

Mendadak mencorong sinar terang dari balik mata Thian- hiang Hui-cu, bagaikan seorang malaikat suci, ia menatap wajah oh Put Kui sambil tertawa hambar dan  manggut- manggut, sahutnya pelan-

"Nak, tahukah kau akan asal usulku? Aku adalah seorang yang berasal dari marga cu. "

-oOdwOooOdwOooOdwOo-

Begitu Thian-hiang Hui-cu mengatakan kalau dia she  Cu,  oh Put Kui dan pengemis pikun Lok Jin-ki segera saling berpandangan muka dengan wajah berubah hebat. Dengan cepat mereka teringat akan  kompleks  pekuburan raja-raja "Siau-leng" ini. Bukankah Ming-tay-cu adalah seorang dari keluarga Cu?

Mungkinkah Thian-hiang Hui-cu ada hubungannya dengan kaisar dari ahala yang lain?

Tampaknya Thian-hiang Hui-cu dapat menebak jalan pemikiran kedua orang itu, sambil tersenyum dia  lantas berkata:

"Nak, apa yang  sedang kalian pikirkan? Apakah  ada sangkut pautnya dengan kompleks pekuburan siau Leng ini ?"

"Boanpwe memang sedang menduga demikian, harap cianpwe bersedia memberi petunjuk." kata oh Put Kui dengan wajah serius.

Thian-hiang Hui-cu menghela napas panjang,  katanya pelan:

"Nak, sesungguhnya aku tak lain adalah adik kandung dari Kaisar si-tiong-liat "

Tercekat oh Put Kui mendengar ucapan itu, buru-buru dia bertekuk lutut dan segera menyembah keatas tanah.

Pengemis pikun Lok Jin-kipun ikut melompat bangun dan menyembah keatas sambil berseru keras :

"Lok Jin-ki murid Kay-pang menjumpai tuan putri. " Tadi Thian-hiang Hui-cu mencegah mereka  untuk melakukan penyembahan, tapi sekarang dia membiarkan mereka melaksanakan penyembahan tersebut sebanyak tiga kali, setelah itu sambil mengulapkan tangan kanannya, dia berseru sambil tertawa rawan:

"Nak, Lok Jin-ki, bangunlah orang yang sudah kehilangan negeri tak perlu menerima penghormatan besar lagi, bangunlah sekarang "

segulung hembusan angin lembut dengan  cepat mengangkat kedua orang itu untuk bangun berdiri.

Dengan wajah serius dengan sikap yang sangat menghormat, oh Put Kui berbisik: "Terima kasih Tuan putri "

sekali lagi Thian-hiang Hui-cu menghela napas panjang, tukasnya : "Nak. kalian tak usah mempergunakan sebutan semacam itu "

"Sebutan tak boleh ditinggalkan dalam suatu tata kenegaraan, Tuan putri siau-bin (rakyat kecil)  menganggap soal panggilan tak boleh disebut secara sembarangan "

Thian-hiang Hui-cu segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya dengan cepat :

"Nak, aku adalah seorang  anggota  persilatan,  bukan berada dalam suatu istana kenegaraan, mengapa kalian harus menggunakan sebutan seperti itu? Apalagi  kerajaan telah runtuh, dinastiku telah berakhir. Penggunaan sebutan hanya akan menimbulkan kesedihan dalam hatiku saja. Nak. kau tak usah menolak lagi, bila kau tetap berkeras  kepala,  terpaksa aku akan memerintahkan untuk mengusir kalian. "

Terpaksa oh Put Kui mengiakan:

"Kalau begitu terpaksa boanpwe harus menurut perintah daripada membantah terus."

"Bilamana siau-bin telah melakukan kesalahan tadi, harap kau orang tua sudi memaafkan...." kata pengemis pikun pula dengan hormat. Thian-hiang Hui-cu tertawa. "Tampaknya pengemis pikun sesuai juga dengan namanya, tentu saja aku tak akan menyalahkan dirimu "

Dalam pada itu, siau Hong telah munculkan diri menghidangkan tiga cawan air teh.

Sekarang oh Put Kui telah  merubah sikapnya setelah mengetahui siapa gerangan tuan rumah tempat itu, maka metelah menerima teh wangi, dia lantas berkata kepada nona siau Hong dengan suara yang lembut dan ramah :  "Merepotkan nona saja "

@oodwoo@
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(