Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 19

 Jilid 19

Dengan demikian, terpaksa si pengemis pikun harus mengikuti dibelakang mereka berdua dengan napas terengah

- engah. Setelah berjalan keluar dari tanah perbukitan Ci-lian san, mendadak Oh Put Kui teringat dengan janjinya dengan Jian Ji- hu su (Kakek menyendiri seribu Ji) Leng Siau Thian.

Maka pikirannya kemudian :

"Dari sini menuju ke bukit Ho lan-San tidak terlampau jauh, lagipula memang searah, mengapa aku tidak sekalian berkunjung ke situ ?"

Berpikir demikian, dia pun lantas berkata :

"Ban Tua, boanpwa ingin berkunjung sebentar ke bukit Ho- lan-san !"

"Mau apa kau ke bukit Ho-lan-san ?" Tanya kakek latah awet muda agak tertegun.

"Menyambangi seorang tokoh dari dunia  persilatan  !" "Tokoh dunia Persilatan?" Kakek latah berkerut kening

sambil tertawa. "Benar !"

Setelah termenung sejenak, kakek itu bertanya lagi :

"Sadari kapan sih bukit Ho-lan-san dihuni seorang tokoh persilatan ? Siapa orangnya ?"

"Leng Siau-thian !"

Kontan saja kakek latah tertawa terbahak - bahak. "Uuuuhhh, si Leng Siau-thian juga terhitung tokoh

persilatan ? Bocah muda, kau memandang orang itu kelewat tinggi."

"Benteng kuno yang didiami  Leng  Siau-thian, belakangan ini sudah dianggap oleh kawan kawan persilatan sebagai Benteng nomor saru dari dunia persilatan, jadi ia sendiri pun sudah termasuk dalam deretan orang-orang terhormat !" "Waaduh, waaduh ... baru dua puluh tahun tak muncul, nampaknya dunia persilatan telah berubah sama sekali, si anjing. Si kucing pun berani menganggap diri sok jagoan."

"Sepuluh Tahun bida merubah arus sungai dari timur kebarat, apalagi manusia ?"

Kakek latah awat muda agak tertegun, tiba-tiba saj dia meghela napas panjang :

"Aaaai, inilah yang  dinamakan ombak belakang  sungai Tiang Kang mendorong ombak didepannya, orang baru menggantikan orang lama. Anak muda, kalau toh kau merasa perlu berkunjung kesana, baiklah, akan kutemani."

"Terima kasih..."

"Berhubung mereka harus berbicara sambil meneruskan perjalanan, maka gerak itu tubuh  mereka menjadi lambat, dengan cepatnya si pengemis pikun berhasil menyusul mereka."

"Lote apa yang kau terima kasihmu ? memang kau berhasil memperoleh kebaikan ?" teriaknya langsung.

Oh Put Kui segera tertawa tergelak setelah m,endengar ucapan itu :

"Waah .... Nampakanya sifat rakus dab tamak Lok jian hari kian bertambah besar saja."

Tentu saja, aku si pengemis kan rutin dan hidup sengsara... hei empek jenggot putih, bila kau memberi kebaikan buat si bocah muda itu, jangn lupa bagian untuk aku si pengemiscilik!"

"Aaah, kau si pengemis cilik betul-betul tak becus," kakek latah kontan melotot, "sekalipun aku ingin memberi sesuatu kebaikan untukmu, paling tidak mesti kupertimbangkan  dulu tiga samapi lima tahun lamany."

"Waaah, mana mungkin ?" pengemis pikun  menjulurkan lidahnya, "kalau mesti menunggu samapai tiga  lima tahun, jenggotku bisa pada memutih semua." "KALAU mau menunggu, silahkan saja menunggu, kalau enggan menunggu, aku toh tidak memaksamu !" Kakek latah tertawa."

Pengemis pikun kembali menghela napas. "Aaaai, baiklah akan ku tunggu..."

Kemudian sambil berpaling kearah Oh Put  Kut,  bisiknya  lirih :

" Lote, sebenarnya  kebaikan apa  sih yang kau peroleh darinya ?"

Oh Put Kui tertawa tergelak dan menggeleng kepalanya berulang kali :

"Kebaikan apa sih? Siaute Cuma berterima kasih lantaran Ban tua bersedia menemani aku mengunjungi benteng nomor wahid dari dunia persilatan di bukit Ho-lan-san !"

Mendengar ucapan tersebut, pengemis pikun kontan berhenti dan tak mau berjalan lagi 1"

"Lagi-lagi naik gunung? Waah, lote ! Payah, payah ... aku sudah tak kuat berjalan lagi !"

Terpaksa Oh Put Kui menghentikan  pula langkahnya, kemudian ujarnya sambil tertawa :

"Lok loko, masa kau lupa ? Bukankah  Leng tua  meminta  kita berkunjung bersama kesana ?"

"Ogah, aku sudah tak mampu berjalan lagi ..." pengemis pikun gelengkan kepalanya berulang kali.

"Loko, nampaknya kau memang sengaja hendak merusak pusaranku didepan orang ?"

"Siapa sih yang akan merusak pasaranmu ? Toh di kelurga leng tak ada nona cakep yang menungguku, buat apa aku mesti kesana ? Lote, aku belum menegurmu atas "

Belum habis di aberkata, kakek latah awet muda  yang sudah berjalan satu didepan dan sewaktu tidak melihat kedua orang rekannya menyusul belakangnya,  tahu-tahu sudah muncul pula dihadapan mereka.

"Hei penegemis cilik, mau apa kau ?" tegurnya dengan suara menggeledek.

"Aku sudah mampu berjalan lagi, tapi bocah muda ini memaksaku hendak naik kebukit Ho-lan-san,  maka aku menolak ajakannya, aku ingin beristirahat saja dulu ..."

"Hmmmm, kau sipengemis cilik pingin molor rupanya ?" teriak si kakek latah dengan mata melotot.

"Tidak ... aku benar - benar sudah tak kuat berjalan lagi ..." "Benar-benar sudah tidak kuat coba kau lihat, kakiku sudah

pada melepuh aduuuh ... aduuuh Sakit amat !"

"Ooh sakit ? Mari, biar kuperiksa "

Sambil berkata di membungkukkan badan dan siap mengangkat kaki kanan pengemis pikun.

Begitu melihat kelima jari tangansi Kakek latah   yang hendak memegang kakinya menggunakan ilmu Ki-na-jiu hoat yang lihay. Serta merta wajah pengemis pikun berubah hebat.

Dengan cepat di melompat setinggi delapan kaki, kemudian teriaknya keras-keras .

"Sudah cukup, cukup, aku aku dapat berjalan lagi !"

"Haaahh ....haaahh .... Haaahh aku sudah tahu, kau pasti akan sembuh dan pasti bisa melanjutkan perjalanan kembali

.....!

Benteng nomor wahid dari dunia persilatan terletak di punggung bukit Ho-Lan san.

Tempat itu merupakan sebuah bukit yang curam, suatu tempat dengan medan yang amat berbahaya.

Kalau dibilang tempat tersebut  merupakan benteng terbesar dalam dunia persilatan, mungkin orang akan tertawa geli sampai copot giginya. Sebab seluruh bangunan tidka lebih hanya terdiri dari belasan rumah. Tapi kalau dibilang  benteng ini merupakan benteng terkokoh pertahannya dan paling sukar ditembusi, hal ini memang cocok benar dengan keadaanya.

Sebab dinding di sekeliling bangunan benteng itu berupa tebing karang yang kokoh dan curam. Bila seseorang ingin memasuki benteng tersebut, maka di harus  menyebrangi dahulu jembatan gantung yang berada  di antara sela-sela dinding karang.

Waktu itu, si kakek latah awet muda, Oh Put Kui serta pengemis pikun bertiga telah tiba di bawah tobing curam yang tingginy mencapai sepuluhribu kaki itu. Memandang ke atas ternyata mereka tak berhasil menemukan jalan  menuju benteng.

Melihat keadaan tersebut, kakek latah awet muda menggelangkan kepalanya berulang kali sambil berkata :

"Banyak benar penyakit yang di diindap Leng Siauw thian ini, masa mau membangun  rumahpun di bangun  di atas puncak karang yang dikelilingi tebing terjal, apa tak repot  untuk naik turun ?"

Sambil tertawa Oh Put Kui menyahut :

"Biarpun untuk naik turun tidak leluasa, namun tempat ini berbahaya dan strategis. Bila ada orang ingin berniat jelek terhadap majikan dalam benteng,  tidak gampang baginya untuk menyerang masuk."

"Ehmm, mungkin benar ucapanmu itu ..... aaai, tapi bagaimana cara kita untuk menyuruh mereka membuka pintu

?"

Baru saja Oh Put Kui tertawa, pengemis pikun sudah berteriak keras-keras :

"Lebih baik kita naik keatas tebing karang ini lebih dul, toh kita tak usah takuti karang tersebut ?" "Betul, memang betuk,  kau si pengemis cilik memang sangat menyenangkan di bidang ini." Puji kakek latah sambil tertawa tergelak.

Tapi Oh Put Kui segera menggelengkan kepalanya  berulang berulang kali, katanya :

"Ban tua, boanpwe rasa lebih baik kita berteriak dulu beberapa kali, atau "

Setelah berhenti sejenak, lanjutanya samabil tertawa : "Menurut aturan, dibawah sisni mestinya terdapat bagian

pintu atau tempat untuk memberi tanda akan datangnya tamu, kalau tidak, semisalnya ada yang berkunjung kemari, bagaimana mungkin orang didalam benteng bisa mengetahuinya ?"

Kakek latah mengangguk berulang kali.

"Ehmmm, memang masuk diakal juga perkataan bocah muda ini, bagaimana kalau kita segera mencarinya ?"

Kemudian seperti orang bermain petak saja. Dia mulai meraba-raba diseputar tabing karang tersebut.

Pengemis pikun tidak turut membantu, dia malah duduk di tanah sambil memejamkan matanya ?"

Sambil tersenyum Oh Put Kui mengalihkan sorot matanya sambil memeriksa sekitar dinding karang disitu.

Kemudian secara tiba-tiba saja dia berjalan  menuju kedepan dinding batu yang ditumbuhi rumput dan  semak belukar yang lebat.

Rupanya diatas  dinding batu karang  tersebut terdapat ksebuah gelang tembaga yang bersinar terang.

Tapi, oleh sebab tetutup dibalik semak belukar yang lebat maka seandainya tidak diperhatikan dengan seksama, memang sukar untuk menemukannya. Oh Put Kui segera memegang gelang tembaga  tersebut dan mencoba untuk  membetotnya, lalu sambil tertawa ia berkata :

"ban tua, boanpwe sudah berhasil menemukannya !"

Dalam pada itu Put-Lo huang-siu  telah  mengerahkan tenaga saktinya dengan menempelkan seluruh badannya diatas diding batu yang licin dan berkilat itu, kemudian sambil meluncur kesana dan  kemari, ia tertawa cekikikan tiada hentinya.

Begitu Oh Put Kui tertawa tergelak, serentak sepasang telapak tangannya di tarik kembali  sehingga  tubuhnya meluncur jatuh kebawah dengan cepat.

Biarpun terperosok jatuh kebawah, namun bukan berarti tubuhnya terbanting mencium tanah.  Menggunakan kesempatan tersebut dia malah bersalto  bebrapa kali  sehingga dapat hinggap di tanah dengan manis dan indah.

"Hei anak muda, kau berhasil menemukannya ? Coba lihat bagaimana dengan ilmu kecapung berjumpalitanku tadi ? bila kau pingin belajar. Akan kuajarkan kepadamu secara gratis."

"Waaah, kalau boanpwe sih tidak berani mempelajari ilmu semacam itu." Tampik Oh Put Kui sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, "sebab kalau benar-benar  ingin belajar, sudah seharusnya belajar ilmu capung terbang ke angkasa Apalagi boanpwe pun tak berdaya melalap begitu

banyak hidangan yang enak dan lezat-lezat."

"Hei anak muda apa hubungannya  antara  kecapung dengan hidangan lezat ?"

"Kalau aku mesti belajar kecapung berjumpalitan, itu berarti kepalaku mesti ada di bawah dan kakiku di atas, apa hidangan lezat yang kumakan tak bakal tumpah keluar semua ?"

Put-Lo huang-siu menjadi tertegun.

"Ohh... betul juga perkataanmu itu, heran mengapa belum pernah kupikirkan hal tersebut ?" Belum selesai dia  berkata, mendadak dari atas tebing karang sana, telah berkumandang suara bentakan nyaring.

"Siapa di situ ?!"

Sambil mendongakkan kepalanya Oh Put Kui segera menyahut :

"Oh Put Kui dari bukit  Gan tang-san sengaja dating menyambangi poocu !"

Orang yang berada  diatas  tebing itu berseru tertahan kemudian cepat-cepat menarik kembali kepalanya.

Tak selang berapa saat kemudian, sebuah  tangga diturunkan dari atas tebing karang tersebut.

"Poocu mempersilakan kalian untuk naik !" teriakan nyaring bergema lagi dari atas tebing.

Oh Put Kui berkerut kening, tapi tanpa banyak berbicara dia segera merambut naik ke atas bukit dengan mendaki pada anak tangga tersebut.

Put-Lo-huang-siu tertawa terbahak-bahak, ia tidak mendaki malalui tangga yang tersedia sebaliknya malahan mendaki lewat tebing karang yang tegak lurus lagi licin itu.

Setiap kali kakinya menginjak, guguran bubuk batu berhamburan ke mana-mana.

Pengemis pikun yang melihat kejadian ini kontan  saja bersorak memuji, tapi sayang dia tak berkemapuan  untuk berbuat demikian, maka terpaksa ia mengikuti jejak Oh Put kui dengan selangkah demi selangkah merambat naik melalui anak tangga yang tersedia.

Tak lama kemudian, mereka bertiga telah sampai di puncak tebing karang tersebut.

Ternyata tangga yang diturunkan kebawah tadi tergantung langsung dari depan pintu gerbang benteng itu. Jadi ketika Oh Put Kui dan pegemis pikun sampai di ujung tengga tersebut, mereka telah mencapai pintu benteng.

Sebaliknya Put-lo huang-siu tidak melewati pintu gerbang, melainkan langsung memangati dinding benteng tersebut.

"Hoi anak muda" serunya, "aku akan langsung melewati dinding tembok dan masuk ke dalam sana akan kutunggu kedatangan di depan situ !"

Begitu selesai berkata, bayangkan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Oh Put Kui berdiri termenung didalam pintu sambil berputar otak tiada hentinya, dia heran apa sebabnya  tidak menyaksikan, Leng-siau-thian menampilkan diri.

Sudah barang tentu dia pun tidak menjumpai Leng Cui cui yang penuh daya tarik tersebut.

Di balik pintu gerbang hanya berdiri tegak empat  lelaki kekar dengan pedang terhunus.

Dandanan ke empat orang ini tidak jauh berbeda dengan dandanan dari para busu pelindung rumah-rumah orang kaya.

"Apakah Leng Poocu ada di rumah ?" tegur Oh Put Kui kemudian sambil berkerut kening.

Berhubung di melihat ketidak beresan wajah ke  empat orang ini, maka caranya berbicara pun tidak sungkan- sungkan.

"Ada!" sahut salah seorang dari keempat lekaki tersebut. "Apakah kalian bisa memberitahukan ke dalam, katakan

kalau Oh Put Kui datang berkunjung  ......." Kata Oh  Put Kui  lagi sambil ketawa.

Salah seorang dari ke empat lelaki itu kembali menggeleng. "Tidak lebih baik kana sendiri saja yang masuk ke dalam !" "Sialan, beginikah sara kalian menerima tamu ?" tegur pemuda itu mulai naik pitam. Tiba-tiba lelaki kekar itu tertawa dingin.

"Heeehhh  ......  heeeeehhhh ...... heeeeehhhh aku toh

bukan anak buah dari keluarga Leng. Lebih baik  cara berbicara kalian sedikitlah lebih hati-hati !"

"Apa?" penegmis pikun tertegun, kalian bukan anak buah keluarga Leng? Lantas maua apa berdiri di situ ?"

Kembali lelaki kekar itu tertawa seram.

"Heeehhh ...... heeeeehhhh ...... heeeeehhhh ......

Buat apa kau banyak bertanya ? Masuk saja dan periksa sendiri !"

Oh Put Kui mulai terperanjat setelah menyaksikan kejadian ini, dia lantas menegur pula.

"Kalian berempat berasal dari mana ?  Apakah  ada  sakit hati dengan Leng poocu?"

"Majikan kami berada di dalam, masuk saja ke sana. Kau akan segera tahu dengan lebih jelas lagi."

Oh Put Kui semakin terperanjat lagi, di kuatir benteng ini sudah tertimpa suatu bencana.

Tapi yang membuatnya agak lega adalah ke empat  orang ini tidak sampai encegah dirinya masuk ke  dalam. Ini menunjukan kalau mereka yang datang belum tentu adalahkaum sesat atau kaum iblis, kalau  tidak mustahil mereka akan membiarkan dirinya masuk ke dalam.

Pengemis pikun segera mendengus dingin

"Hmmm, kau anggap akau si pengemis benar-benar tak berani masuk kedalam ? Hm"

Begitu selesai berkata, dia segeramelangkah maju ke depan, melalui tengah-tengah ke empat lelaki kekar itu dan menuju ke ruangan dalam. Oh Put Kui segera menjura pula kepada ke  empat  orang itu, kemudian meyusul pula ke dalam.

Ketika mereka mereka berdua  memasuki ruang tengah yang luasnya Cuma dua kaki itu, dengan cepat disaksikan dalam ruangan berdiri berderet lima orang lelaki kekar dengan dandanan yang tak jauh berbeda dengan dandanan ke empat orang tadi.

Sewaktu mereka berdua masuk ke dalam, ternyata ke lima orang lelaki itu tidak menggubris bahkan seakan-akan tidak melihat kehadiran mereka disitu.

Sambil tersenyum Oh Put Kui menembusi pintu ruangan dan masuk ke dalam.

Pengemis pikun segera menyusul dibelakangnya.

Dibelakang ruangan tengah adalah sederet bangunan rumah yang terdiri dari tiga bilik.

Disitu berdiri pula laki-laki kekar berpakaian ringkas, jumlahnya mencapai sembilan orang lebih.

Sedang dalam ruangan penuh dihadiri manusia-manusia berwajah seram.

Pemilik benteng nomor wahid dari dunia persilatan si kakek menyendiri seriba li Leng shiu-thian duduk disisi kir ruangan, dibelakangnya berdiri seorang lelaki dan seorang perempuan.

Yang perempuan memakai baju berwarna hijau pupus, rambutnya panjang terurai sebahu, waktu itu dengan wajah gusar dan  tangan meraba gagang  pedang yang tersoren dipinggangnya sedang melototi sembilan orang yang duduk disebelah kanan dengan, wajah penuh kegusaran "

Oh Put Kui cukup kenal perempuan ini, sebab dia adalah Leng Cui-cui berdiri pula seorang sastrawan yang berusia tiga puluh tahunan.

Ia berdiri sambil bergendong tangan, wajahnya menunjukan sikap yang sangat hambar. Sedang disisi kanan ruangan itu hadir ke lima orang kakek.

Dari kelima orang kakek tersebut, Oh Put Kui hanya kenal seorang saja yaitu Cu-ihmo-kiam (pedang iblis berbaju merah) Suma Hian, sedang ke empat lainnya tak pernah di jumpai

....,...

Tapi si pengemis pikun  itu agaknya seperti mengenali mereka.

Sebab setelah berseru kaget, tiba-tiba ia berseru sambil tertawa tergelak.

"Heeehhh ...... heeeeehhhh ...... heeeeehhhh bagus

sekali, tampaknya kalian semua si anak iblis telah berkumpul disini "

Belum habis pengemis pikun berbicara Leng  Siau-thian  telah bangkit berdiri.

Hawa amarah dan perasaan tak senang menyelimuti wajahnya kini sudah tersapu lenyap hingga tak berbekas.

"Oh lote !" serunya cepat. "kan benar-benar seorang yang bisa dipercaya, aku malah mengira kau takkan kemari !"

Buru-buru Oh Put Kui menjura dan  menyambut sambil tertawa.

"Sepanjang perjalanan tanpa  berhenti boanpwe datang kemari, siapa sangka gara-gara ada peristiwa lain, aku sampai tertunda perjalananku selama empat lima hari !"

Dengan langkah lebar dia masuk keruang dalam.

Dia pun dengan berani sekali menyambut sambutan hangat dari sepasang mata yang indah dan jeli tersebut.

Senyuman Leng Cui-cui betul-betul sangat indah,  manis dan hangat......

Sedang kelima orang kakek disisi kanan kelihatan  agak tertegun, agaknya kemunculan Oh Put Kui dan pengemis pikun secara tiba-tiba disana sama sekali diluar  dugaan  mereka.

Terutama sekali bagi si pedang iblis berbaju merah suma hitam.

Sesudah tertegun beberapa saat, dia lantas  membisikan sesuatu disisi telinga dua orang kakek berbaju hitam  yang duduk di sampingnya.

"Terhadap gerak gerik mereka itu, Oh Put Kui berlagak seolah-olah tidak melihatnya.

Tanpa sungkan ia segera mengambil tempat duduk di samping Jian-hu-siu.

Pengemis tua lebih hebat lagi, tanpa banyak bicara dia pun duduk disamping ke-lima orang kakek itu.

Setelah memandang sekeja sekeliling arena dengan sorot mata yang tajam, tiba-tiba Oh Put Kui berkata dengan kening berkerut :

"Leng tua, sewaktu masuk benteng tadi boanpwe seperti tidak bertemu dengan seorang anak buahpun, apakah di  dalam benteng telah timbul suatu kejadian ?"

Jiau lihu-siu Leng Siau-thian tertawa terbahak-bahak. "Haaahh ........haaahhh...... haaahh...... dugaan lote memang tepat sekali, dalam benteng kami memang telah timbul suatu kejadian besar."

Oh Put Kui mengerti, sudah pasti peristiwa ini timbul karena ulah dari pedang iblis berbaju merah Suma Hian, walaupun demikian ia toh tetap bertanyalagi :

"Leng tu, sebetulnya apa yang telah terjadi dengan benteng kalian ini ?"

Leng Sia-thian mengalihkan sorot matanya dan memandang sekejab ke lima orang kakek itu, lalu sahutnya sambil tertawa : "Gedung Sian hong-hu yang menggetarkan seluruh dunia persilatan telah datang mencari gara-gara dengan diriku !

"Gedung Sian hong-hu ?" kali ini Oh Put Kui benar-benar dibikin tertegun, dia tidak habis mengerti apa sebabnya pihak Sian-hong-datang mencari cari gara-gara dengan pihak Bu- lim-tit-it-poo.

Maka setelah termangu beberapa saat, dia bertanya lagi ; "Perselisihan apa sih yang telah terjalin antara Leng tua

dengan si kakek malaikat?"

"Aku sama sekali tidak mempunyai perselisihan apa-apa dengan Sengsiu." Leng Siau thian mengeleng. "kejadian ini timbul dikarenakan padang Hiam-peng-kiam tersebut aku

tak pernah mengira kalau benda mestika milik keluarga kami  ini bisa mendatangkan banyak kesulitan bagi kami semua."

Oh Put Kui tersenyum.

"AOoh, aku pun tidak menyangka kalau pihak Sian hong hu ikut serta di dalam persoalan ini!"

Pada saat itulah, si kakek yang duduk di tengah diantara lima orang laiannya tertawa dingin secara tiba-tiba, kemudian berkata :

"Pedang Hian-peng-kiam adalah milik Seng-siu, aku harap pembicaraanmu jangan bernada menyindir."

Baru sekarang Oh Put Kui memperhatikan sekejap wajah si kakek tersebut.

Ia saksikan kakek ini berwajah antik, alis matanya putih, kepalanya botak dan  wajahnya bersih, sama sekali tidak mencerminkan hawa sesat barang sedikitnya jua.

Sambil tertawa hambar dia lantas menegur "Siapa sih ka orang tua ?"

Kakek beralis putih itu mendengus dingin "Hmmmm, kalua aku saja tidak kau kenal, ini menandakan kalu pengalaman serta pengetahuan betul-betul sangat cupat

!"

Kalau didengar dari nada pe,bicaraannya kakek ini mungkin bernama besar.

Oh put Kui  tertawa  seram. "Heeeehhh...heeehh...heeeehh..., sebenarnya aku memang

seorang yang pengetahuan cetek namun bila nama besarmu betul-betul seperti nada pembicaraanmu tadi, semestinya aku pun pernah mendengarkannnya."

"Kurang ajar !" teriak kakekk beralis putih itu dengan mencorong sinar biru dari balik matanya.  "Bocah keparat, besar amat nyalimu "

"Bila nyaliku kecil, tak nanti tak berani didatangani orang  lain !"

Ucapan tersebut segera membuat si kakek beralis putih itu tertegun, lalu seruya sambil tertawa dingn :

"Apakah kau adalah sang pemuda yang telah berkunjung kepulau neraka tersebut ? sungguh beruntung aku bisa bertemu dengan kaku pada hari ini ! Meski begitu "

Setelah berhenti sejenak, sambil  tertawa  terbahak-bahak dia melanjutkan :

"hei boacah keparat,kau bisa berkunjng ka pulau beraka dengan selamat hal ini hanya satu kebetulan saja, siapa saya sudi melukai seorang pemuda berbakatbagus seperti kau ?"

Atau dengan perkataan lain,a di hendak menegaskan kepada Oh Put Kui bahwa keberhasilan lolos dari pulau tersebut tak lain karena  dia mengandalkan bakatnya  yang baik.

Kontan saja Oh Put Kui mendengus.

Hmmmm, kalu begitu kau tentu sudah pernah berknjung kepulau itu ?" "Heeeehhh...heeehh...heeeehh..., aku sih belum sudi untuk berkunjung kesana !" Kakek beralis putih itu tertawa dingin.

"Haaaahhh...haaaaahh...haaaaahh. , saudara benar-benar

terlalu menilai tinggi kemampuan sendiri !"

"Oh lote," tiba-tiba Leng Siau-thian berkata sambil tertawa terbahak-bahak. "Kakek ini adalah pelatih kepala dari gedung Sian-hong-hu, orang menyebutnya Toh-min-sin.-huan (panji sakti penrenggut nyawa) Ku Bun-wi !"

Tampaknya Leng Siau-thian tak ingin kedua   orang  itu saling menyindir tiada hentinya, maka dia sengaja memperkenalkan orang itu.

Oh Put Kui sama sekali tidak menunjukan perubahan apapun, hanya ujarnya sambil tertawa hambar :

"Oooh..... rupanya Ki-sik-sancu ! kalau begitu aku telah bersikap kurang hormat ?"

Mendengar itu, iar muka panji sakti perenggut nyawa Ku Bun-wi segera terlintas sedikit perasaan gembira.

Sudah cukup lama sebutan "Ki-sik-sancu" tersebut tak pernah disinggung orang lain.

Tapi kenyataan sekarang. Oh Put Kui dapat menyebut nama tersebut, ini  menunjukan kalu angakatan tua dari pemuda ini tertu sudah pernah membicarakan hal-hal yang menyangkut kehebatannya di masa silam.

Berpikir begitu, dengan wajah yang jauh lebih cerah kakek itu berkata sambil tertawa :

"Kalau dilhat dari kemampuan untuk menyebutkan julukanku di masa lampau, hal  ini  menandakan kalau kau meang mempunyai sedikit asal usul yang mengagumkan"

Oh Put Kui tertawa tergelak

"Haaahh ....haaahh .... Haaahh.......... Sudah  lama  ku dengar asala usul saudara, yaa, sipaa yang tidak kenal denganpengalima perang nomor satu dari Cengthian-kui-ong, (raja setan penggetar langit) Wi Thian yang?"

Rupanya   tertawa Ku Bun-wi segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Dunia meang selalu berputar, kau tak usah  menyindir diriku lagi"

Tiba-tiba nada suaranya berubah menajdi lembut  dan halus. Hal ini kembali membuat Oh Put Kui tercengang.

"Saudara telah bergabung dengan pihak Sian-hong-hu, semestinya kau harus memahami watak dari Wan-sing-seng- siu, apakah cara kalian mengincar barang mestika milik orang lain tidak menyimpang dari pesan terakhir Seng-siu?"

Tiba-tiba Oh Put Kui telah membawa pokok pembicaraan kembali ke amsalah semula

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia menambahkab :

"Sebelum kedatangan saudara kemari, sudahkah kau mendapatkan persetujuan dari anak keturunan Seng-siu ?"

Si Panji sakti pereggut nyawa Ku Bun-wi tertawa hambar. "Tanpa persetujuan dari majikan muda kami, masa akua

berani datang kemari ?"

Oh Put Kui segera berkerut kening.

"Sepengetahuanku, pedang Hian-peng-kiam  adalah  milik keluarga Leng. Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan sebagai milik Wan-sing-seng-siu ? Aku benar-benar merasa tidak habis mengerti "

Ku Bun-wi tertawa lagi.

"Aku rasa, Leng Siau-thian pasti akan  lebih mengerti ketimbang kau sendiri."

Dengan kening berkerut, Oh Put Kui segera berpaling ke arah Leng Siau-thia, kemudian tanyanya : "Leng tua, sebenarnya apa sih yang telah terjadi?"

Leng Siau-thian menghela  napas dan menggelangkan kepalanya berulang kali :

"Aaaai   ..... apabila   kejadian ini dibicarakan kembali, sungguh akan membangkitkan rasa diriku saja."

"Kalau memang begitu, kau tak usah menyinggung lagi masalah terebut !"

"Lote, kau tak usah membantu lagi untuk menutup-nutupi kejadian terebut."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia meneruskan : "Semata aku masih muda dulu, aku telah kehilangan

pedang ini di bukit Thay-san."

"Kepandaian silat yang kau miliki waktu itu, sudah pasti tak bisa dibandingkan dengan kemampuan sekarang bukan ?" salah Oh Put Kui sambil tertawa.

"Yan, memang begitulah, dikerubuti oleh tiga  orang gombong iblis yang sangat lihay akhirnya aku menderita luka parah dan kehilangan pedang  Hian-peng-kiam  milik keluargaku itu, kemudian ke tiga orang gembong iblis  tewas pula ditangan Wan-sin-sang-siu Nyoo tayhiap. Sedang  saat itulah pedang Hian-peng-kiam menjadi milik Wan-sin-sang-siu

!"

"Leng tua, bukankah Ceng-thian-kui ong  juga pernah menuntut pedang tersebut dari tanganmu?" ucap Oh Put Kui sambil tertawa.

Leng Siau-thian menghela napas panjang.

"Aaaai, sejak Nyoo thayhiap mendapat pedang itu, dia merasa sayang sekali dengan benda ini sebelum akhirnya dihadiahkan kepada putri kesayangannya Nyoo Sian  -sian,  tapi gara-gara pedangan itu nyaris nona Nyoo Sian-sian kehilangan nyawanya !" "Waaah, kalau begitu pedang tersebut memang membawa firasat kurang baik." Ucap Oh Put Kui pula sambil menggelangkan kepalanya.

"Pengalaman yang dialami nona Nyoo hampir serupa dengan diriku, dalam keadaan terluka parah ia kehilangan pedang tersebut tapi kemudaian ke liam orang yangmerebut pedang milik nona Nyoo itu terbunuh ditangan si raja setan "

"Ooh, jadi pedang Hian-peng kiam  tersebut jatuh ketangan si raja setan ?"

"Benar !" Leng Siau-thian manggut-manggut.

"Kalau begitu, kedatangan cong-huhoat dari Siang-hong-hu juga dikarenkan pedang Hian-peng-kiam tersbut ?"

Nada lain dari perkataan itu adalah seakan-akan dia tak percaya kalau kedatang Ku  Bun-wi  hanya  dukarenakan hednak meminta kembali pedang tersebut.

Leng Siau thian menggut-manggut berulang kali.

"Yaa, betul, Ku huhoat memang datang  kemari untuk meminta kembali pedang tersebut."

Sekali lagi Oh Put Kui memandang sekejab sekeliling arena, kemudian ia tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ....haaaahh .... Haaaahh.... Kalau begitu. Ketua dari Su tay-kiam -wi pelaya pedang" dibawah pimpinan Raja setan pengetar langit Wi Thian-yang, si pedang iblis berbaju merah Su-ma Hian ayhiap juga datang karena ingin minta kemabli pedang itu ?"

Begitu pertanyaan tersebut diantarakan, Ku-Bun-wi segera menjadi tertegun, rupanya pertanyaan ini sama sekali diluar dugaannya

"Hei, anak muda! Kau kenal  dengan  Su-maHian?" "Apakah saudara tidak menyangka?" Oh Put Kui tertawa . Dengan kening  berkerut  Toh-Mia-Siu-huan  Segera berkata

:

"Saudara  datang   kemari  sebagai   tamu,  aku   pun datang

kemri sebagai tamu, mengapa tudan rumah belum berkata apapun, kau malah mengoceh tida hentinya?"

Agaknya Ku Bun-wi merasa keheranan apa sebabnya Oh Put Kui seperti sentimen dengannya. Bahkan Ji-li-hu-siu sendiripun seolah-olah bersedia tunduk di bawah perkataannya.

Mendengar pertanyaan itu.  Oh Put Kui segera tertawa terbahak-bahak :

"Haaahhh ....haaaahh .... Haaaahh.... Sekarang kau tak  usah keheranan, kau toh akan mengetahui dengan sendirinya

......"

Lalu sambil berpaling katanya pula kepada Suma Hian : "Suma Hian, baik-baiklah kau selama ini?"

Terhadap Leng Siau-thian sekeluarga  maupun terhadap pengemis pikun yang duduk tak jau dari sisinya, boleh dibilang si pedang iblis berbaju merah Suma Hian tidak merasa takut, tapi terhadap Oh Put Kui yang pernah mengndurkan dirinya  dan mengusir Tiang-siau-san-ang dari perkampungan Tang- mo-sen-ceng ini dia betul betul merasa amat keder.

Oleh sebab itu terpaksa dia harus memnyahut sambil tertawa :

"Oh sauhiap. Baik baikkah kau ?"

"Suma Hian, agaknya aku harus menyampaikan ucapan selamat lebih dulu kepadamu."

"Apa maksud sauhip berkata  demikian ?" Suam Hian tertegun.

"Bukankah majikan kalian telah muncul kembali didalam dunia persilatan ? Apa hal semacam ini tidak pantas untuk diberi selamat, ?" Suma Hian segera tersenyum.

"Ooh, rupanya kejadian ini yang sauhiap maksudkan ! Aku pernah dengar orang bilang kalu majikan kami telah lolos dari kurungan, tapi hingga kini aku belum penah berjumpa dengan majikan kami itu !"

"Ooh, bukan ! Bukan !"  Suam Hiat menggelengkan kepalanya berulangkali, "Aku datang kemari atas  undangan dari saudaraku !"

"Haaahhh ....haaaahh .... Haaaahh. Kalu begitu aku telah

salah menduga !"

Kemudian setelah berhenti sejenak, tiba tiba katanya lagi kepada Ku Bun-wi :

"Ku Tayhiap, aku belum pernah bertemu dengan beberapa orang rekaman itu!"

Suatu perkataan  yang amat sombong, sudah jelas dia mengharapkan perkenalan dengan ketiga orang kakek itu, namun tidaksudi mempergunakan kata memohon.

Ku Bun-wi segera berkerut kening, lalu katanya :

"Ooh, kau ingin aku perkenalkan dengan rekan-rekanku ini

?"

"Aku tak ingin berbicara dengan orangorang tak bernama !" Ucapan ini lebih angkuh lagi, sedemikan angkuhnya

sehingga si pengemis pikun pun sedikit agak tertegun.

Walaupun dia sudah bekumpul selma banyakwaktu dengan pemuda ini, namun ia tahu bahwa pemuda yang tangguh ini bukan seorang manusia yang tinggi lain.

Tapi kenyataannya sekarang, dia seolah olah telah berganti menjadi orang lain.

Sudah barang tentu pengemis pikun tak  dapat  menduga  apa yang sedang dipikirkan oleh Oh Put Kui sekarang. Agaknya Oh Put Kui telah melihat kalu Bu-lim-tit-it-poo sedang terancam oleh bahsa maut yang amat gawat.

Maksud kedatangandari Ku Bun-wi sekalian agakanya bukan untuk minta pedang tersebut, ia percaya majikan muda dari gedung Sian-hong-hu, si naga sakti pedang kilat Nyoo Ban-wi telah melihat bagaima di mengambil pedang Hian-png- kiam tersebut dan menghadiahkan sepada Lamkiong Ceng suami istri.

Tapi kenyataan sekarang, dia justru telah mengutus KU Bun-wi untuk meminta kembali pedang tersebut, bukan hal ini jelas ada udang di balik batu ?

Oleh sebab itu dia megambil keputusan untuk meghadapi KU Bun-wi dengan sepenuh tenaga.

Bahkan ia tak segan-segan untuk bertarung mati-matian didalm benteng ini.

Dan sekarang, tiga orang kakek yang duduk  tak  jauh  dari ku bun-wi telah menunjukkan sikap gusar, enam pasang mata mereka yang memancarkan cahaya api mengawasi Oh  Put Kui tanpa berkedip.

Dengan alis mata berkenyit KU Bun-wi membentak nyaring

:

"Kau si bocah keparat  benar-benar kelewat jamawa. "

Tapi setelah berhenti sejenak. Dia menuding kearah ke tiga

orang kakek itu sambil berkata :

"Kedua orang kakek berbaju hitam ini  adalah saudara angkat dari Suma Hian, orang menyebutnya Ci-sim thi kiam (peang baja berhati merah) Hui wong-ki dan Lui-ing-Huang- kiam (pedang latah irama guntar) The tay-hong ......

Berkilat sepasang mata Oh Put Kui setelah mendengar nama itu, katanya kemudian sambil tertawa :

"Bagus sekali, tampaknya tiga dari empat pelayan pedang telah hadir disini !" Sementara itu KU Bun-wi telah menuding lagi kearah kakek berjubag abu-abu lainnya semabari berkata :

"Sedangkan dia adlah Hek-pek-sin-kiam  "pedang  sakti hitam putih"  Pak Cau-kun yang  amat tersohor namanya didalam dunia persilatan "

"Betul," kali ini Oh Put Kui menjura, "Pak tayhiap memang seorang yang ternama, aku senang berjumpa denganmu !"

Dalam dunia persilatan Pak Cau-kun terhitung seorang manusia yang adil dan bijaksana, sekalipun pada mulanya di turut di buat gusar oleh sikap Oh Put Kui yang jumawa, namun setelah menyaksikan pemuda itu hanya menjura kepadanya seorang, seketika itu juga rasa gusarnya hilang lenyap tak berbekas.

Kakek bercambang yang gagah perkasa in kembali tertaw nyaring, katanya :

"Terima kasih Oh sauhiap !" Oh Put Kui kembali tertawa.

"Aku tahu, Pak tayhiap selama ini termashur karena berhati baja, tidak pandangbulu adil dan menghadapi setiap persoalan dengan adil dan bijaksana, bolehkah aku tahu kedatanganmu pada hari ini dengan membawa maksud apa ? Ataukah Pak tayhiap pun menganggap pedang Hiam-peng-kiam tersebut memang sudah sepantasnya menjadi milik Sian-Houng-hu

........?"

Pak Cau kun tidak menyangka kalua Oh Put Kui akan mengajukan pertanyaan tersebut untuk beberapa saat dia menjadi tergagu dan mukanya berubah  menjadi  marah  padam.

Untuk beberapa saat lamanya kakek yang bijaksana ini tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Oh Put Kui takut Pak Cau-kun kehilangan muka, maka sambil tertawa kembali ketanya kepada KU Bun-wi : "Ku sauhiap, tahukah kalian bahwa kedatangan  kamu semua utuk minta kembali pedang tersebut dari tangan Leng poocu adalah suatu tindkan yang keliru ?"

Ku Bun-wi tertawa dingin.

"Bocah muda, tampaknya kau memang sengaja hendak mencari gara-gara denganku ?"

"Itu mah tidak, sebab semenjak setengah bulan berselang pedang Hian-peng-kiam tersebut berhasil kurebut dari tangan seorang jago jihay dan kini telah kuhadiahkan pula kepada orang lain !"

"Apa kau bilang ?!" Seru Ku Bun-wi tertegun.

"Pedang Hian-peng-kiam tersebut  telah kuhadiahkan kepada siapa?"

"Soal ini tak usah kau tanya, pokoknya kalu kau menginginkan pedang tersebut, tak salah lagi  kalau memintanya dariku ,"

"Huuuh, kau ini terhitung manusia apa?"

Belum habis KU Bun-wi berbicara, tiba-tiba  saja dia melompat bangaun dari kursinya.

Kemudian dengan wajah berubah menjadi amat menyeramkan dia menuding Oh Put Kui sambil mengumpat :

"Manusia yang tak tahu diri, kau  berhasil melukai  akua .....

Umpatan dari KU Bun-wi ini disambut oleh Oh Put Kui dengan wajah tertegun .

"Aku sama sekali tidak menggerakkan Ku bin  wi ini disambut oleh Oh Put kui dengan wajah tertergun.

"Aku sama sekali tidak menggerakkan  tubuhku,  sejak kapan aku telha melukaimu?" serunya.

Dari dalam mulutnya Ku bun wi mengngeluarkan separuh potong giginya yang patah kemudian berteriak: "Coba lihat apakah ini bukan hasil perbuatanmu? Aku "

mendadak dia membungkam.

Sebab dia teringat sewaktu sedang mengumpat Oh Put kui tadi, si anak muda itu memang tetap duduk di tempat tanpa bergerak barang sedikitpun jua.

Ini berarti ada orang lain yang telah menyerangnya secara diam - diam.

Tapi siapakah dia?

Setelah berhasil menenangkan diri, mendadak bentaknya keras - keras;

"Leng Siau-thian, sebenarnya kau telah menyembunyikan manusia keledai didalam bentengmu dan berani menyerang diriku secara diam-diam. "

Mendengar perkataan tersebut, Leng Siau-thian tertegun. "Saudara Ku. Untuk menghadapi kau. Aku leng Siau-thian

tidak usah memakai cara seperti ini. "

Dengan jawaban tersebut, KU Bun-wi menjadi  tergagap  dan tak mampu menjawab lagi.

Tapi tak tahan  kemudian ia memandang sekejab di sekeliling tempat itu, kemudian umpatnya :

"Bangsa tikus  tak bermata manakah yang berani "

Belum lagi perkataan  itu selesai diucapkan,  mendadak seluruh tubuh KU Bun-wi berjungkal dari atas kursinya.

Menyusul suara tertawa aneh bergema memecahkan keheningan diseluruh ruangan tersebut.

Mendengar suara tertawa mana , Oh Put  kui  segera tertawa.

Sejak ia mendeugar suara tguran dari KU Bun-wi tadi, ia sudah mengetahui siapakah yang telah melakukan perbuatan tersebut. Semenjak masuk kedalam benteng. Dia tidak meliahat Put- lo-huang-siu Ban Sik-thong sedang menampakan diri.  Maka dia segra mengarti kalau kakek terebut sedang bermain gila.

Betul juga dugaanya, dia mencari gara-gara dengan  Ku Bun-wi.

Bantingan yang menyebabkan KU Ban-wi terjengkal ke  atas tanah kali ini benar-benar tidak ringan.

Ku Bun-wi segera merangkak bangun dari atas tanah, kemudian denagn perasaan mendongkol dia mencak-mencak sambil megumpat kalang kabut.

Tiba-tiba bayangan manusia berkelabat lewat, dari atas sebatang pohon siong melayang turun se sosok bayngan manusia, bayangan itu muncul bagaika malaikat langit turun dari khayangan, setelah menampakan diri maka tampaklah bahwa orang tersebut tak lain adalah Put-lo-huang-siu..

Begitu mencapai permukaan tanah, kakek itu lantas menuding keara KU Bun-wi dan  berseru sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ....haaaahh .... Haaaahh.... Siau- kokoay, jumpalitanmu kali ini kurang  menarik .... Bagaimana kalau diulang sekali lagi

Tatkala si kakek sedang melayang turun ke  atas  permukaan tanah tadi, sebenarnya Ku Bun-wi masih mencak- mencak sambil mengumpat kalang kabut dengan gusarnya, bahkan dengan sepenuh tenaga menerkam orang itu seraya melancarkan dua pukulan.

Tapi setelah mendengar sebutan "Siau-kokoay" tersebut, ia benar-benar meraskan sukmanya serasa melayang meninggalkan rasanya.

Tubuh yang semula masih melncur kedepan sambil melancarkan kedepan sambil melancarkan terkaman, kini merosot turun ke bawah dengan cepat. Bukan hanya merosot ke bawah saja. Bahkan  begitu mencapai tanah ia lantas  menjejak  kakinya  ke bumi dan melejit kebelakang sejauh beberapa kaki.

Tentu saja ia berbuat demikian  karena  tak ingin dibikin jumpalitan sekali lagi.

"Put-lo-huang-siu kah disitu. " suara teguran dari Ku bun-

wi kedengaran setengah parau.

Ia berdiri sejauh dua kaki lebih dari posisi semula dan mengawasi Put-lo huang siu dengan pandangan termangu- mangu

"Bagaimana ? sudah tidak kenal lagi dengan diriku?" tegur Put-lo-huang-siu sambil tertawa.

"Terhadap kau orang tua, masa boanpwe  bisa tidak mengenali ?" sahut Ku Bun-wi dengan alis mata berkenyit.

"Heeeehhh...heeehh...heeeehh..., kalau toh   kenal, mengapa masih berani mencaci maki ?"

"Tadinya boanpwe tidak tahu kalau kau orang tua yang datang!" suara Ku Bun-Wi kedengaran jauh lebih lirih.

"Kau benar benar tidak tahu ?"

Agaknya Ku Bun-wi cukup mengenali tabiat dari  si  orang tua ini, kalau tidakbiarpun boanpwe punya nyali setinggi langit pun takkan berani bersikap kurang ajar kepadamu "

Memandang paras muka Ku Bun-wi yang begitu mengenaskan, mendadak Pui-lo-huang siu tertawa terbahak- bahak,katanya kemudian :

"Siau- kukoay, aku hanya menggodamu saja, sana, pulanglah ke tempat dudukmu semula"

Seusai berkata, dengan langkah lebar dia berjalan ke kursi utama dan duduk tanpa sungkan-sungkan, setelah itu ujarnya kepada Oh Put Kui sambil tertawa :

"Hei anak muda, kau benar-benar kelewajumawa!" "ban tua" On Put Kui tertawa, "bagi boat anpwee, semakin jumawa orang yang kujumpai. Aku pun bersikap lebih jumawa lagi"

"Benar! Benar! Cara ini  memang paling  manjur kalau digunakan untuk menghadapi mereka yang  jumawa,  tempo hari justru dengan kubikin Thian-tok-siang ciat setengah mati saking mendongkolnya."

Kemudian setelah berhenti sejenak, tiba-tiba sapanya pula kepada Legn Siau-thian.

"Leng Siau-thian baru maju kedepan untuk  memberi  hormat, sahutnya :

"Berkat doa restu kau orang tua, aku selalu berada dalam keadaan sehat wal'afiat."

Put lo-huang-siu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh ....haaahh .... Haaahh.......... Kau memang jujur. Wahai Leng Siau thian, bila aku tidak datang saat ini, benteng yang kau sebut sebagai Bu-lim-tit-it-poo ini pasti tak akan berada dalam keadaan aman tentram lagi."

Leng Siau-thian tertawa jengah.

"Yaa, kesemuanya ini memang berkat kasih sayang kau orang tua terhadap boanpwe."

Put-lo-huang siu segera menggelengkan kepalanya berulang kali sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh ....haaahh .... Haaahh...... tidak usah, sekarang Lohu sudah mempunyai pengganti !"

Leng Siau thian tertegun, sebelum ia  mengucapkan sesuatu, kakek itu sudah menuding kearah Oh Put Kui sambil berkatalagi :

"Segala sesuatunya akan diselenggarakan oleh anak muda itu, tak usah kuatir." "Ooh, rupanya kau orang tua hendak melepaskan diri dari sampur tangan persoalan ini ?"

"Haaahh ....haaahh .... Haaahh...... tepat, tepat sekali ! Dengan kehadiran Oh Put Kui si bocah ini, aku boleh berpeluk tangan belaka dengan hati lega, coba lihatlah, bukankah  si anak muda tersebut jauh lebih jumawa ketimbang akua ?"

@oodwoo@
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(