Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 18

 Jilid 18

Rasanya kecuali sulaman si rajawali emas yang  mementang sayap itu boleh dibilang kakek ceking seperti kena serangan penyakit t.b.c, ini tiada pancaran kegagahan sebagai seorang iblis diatas iblis........

Sementara itu mereka sudah sampai dihadapan si iblis diantara iblis pedang sakti bertenaga raksasa Kit Put-sia, tuan rumahpun menjura sambil mempersilahkan tamunya masuk, sedang matanya mengawasi wajah Oh Put Kui  beberapa kejap.

Walaupun wajahnya memperlihatkan rasa kaget dan tercengang, namun ia sama sekali tak mengajukan sepatah katapun.

Dalam pada itu Put-lo-huang-siu telah memasuki ke dalam kota, maka sambil membusungkan dada Oh Put Kui dan pengemis pikun ikut  mengangkat dada sambil menyusul dibelakangnya.

"Bagus sekali ! Tempat ini benar-benar merupakan sebuah kota yang amat ramai."

Setelah masuk ke dalam kota,  pengemis  pikun menyaksikan kedua belah sisi jalan terdapat  anyak  orang yang berjual beli, sehingga tak kuasa lagi ia berteriak keras.

Oh Put Kui sendiripun merasa terkejut dengan kejadian tersebut. Ia tak menyangka kalau kota  kematian ternyata hanya nama belaka, sedangkan kenyataannya berupa sebuah kota sungguhan,

Walaupun para pedagang yang berjualan serta para langganan yang belanja disitu hampir semuanya temasuk gembong-gembong iblis dari dunia persilatan, namun dilihat suadana pasar yang terbentang disitu, sudah cukup membuat orang melupakan segala peristiwa yang berhubungan dengan pembunuhan dan darah.

Yang lebih membuat orang tercengang adalah penghuni dari kota  tersebut. Ternyata  seratus persen penghuninya adalah para gembong iblis yang  dapat membunuh  orang tanpa berkedip.

Dari sini dapatlah disimpulkan kalau Kit Put-sia memang seorang manusia yang luar biasa.

Dengan cepat mereka sudah melalui tiga  buah jalanan besar sebelum tiba di tempat kediaman Kit Put-sia.

Tempat tinggal gembong iblis ini sekali lagi  membuat  Oh Put Kui merasa terkejut sekali.

Semula dia mengira siraja iblis diantara iblis ini  pasti berdiam di dalam sebuah bangunan rumah yang megah dan mewah melebihi sebuah istana raja.

Sekalipun tidak lebih mewah daripada  sebuah keraton, paling tidak rumahnya akan lebih megah daripada  rumah seorang hartawan atau rakyat disekitarnya.

Tapi setelah Kit-Put-sia mempersilahkan mereka memasuki sebuah bangunan rumah, Oh Put Kui baru melongo.

Ternyata rumah yang didiami oleh Raja diraja dari kaum  iblis ini tak lebih hanya sebuah rumah biasa, rumah sederhana seperti kebanyakan pedagang.

Sedangkan si iblis itu sendiri pun seorang pedagang beras yang memakai merek:

Warung beras Put-sia. Peristiwa ini benar-benar diluar dugaan siapapun juga.

Pengemis pikun yang menyaksikan kejadian tersebut segera menggelengkan kepalanya berulang kali, cuma dia sungkan untuk mengutarakan keluar maka selama ini tiada komentar yang kedengaran.

Dagang beras milik Kit-put-sia memang cukup besar dan ramai, pembantunya saja sudah mencapai belasan orang, bahkan langganan yang membeli beras seperti sedang antri karcis saja penuh sesak dan amat ramai..

Beginikah bentuk kota kematian yang digembar gemborkan orang sebagai kota yang mengerikan ?

Benarkah Kit Put sia adalah raja diraja diantara iblis yang menjadi pemilik kota kematian ini ?

Di tengah keheningan yang mencekam, mereka telah diundang masuk ke ruangan tamu. Dengan penuh keramahan Kit Put-sia mempersilahkan mereka duduk, tak lama kemudian hidangan lezatpun dihidangkan.

Setelah suasana hening sejenak. Kit Put sia segera bangun berdiri dan menjura keempat penjuru, lalu ucapnya sambil tertawa.

"Ban tua, mari kita bersantap dulu  sampai  kenyang sebelum membicarkaan lagi taruhan kita dua  puluh tahun berselang !"

Put-lo-huang-siu memang sudah dua puluh tahunan hidup menyendiri dan dihari-hari biasa hanya makan buah-biahan serta air tawar untuk melanjutkan hidupnya.

Begitu mengendus bau harumnya hidangan, tanpa banyak bicara lagi ia langsung menyikat hidangan tersebut dengan rakusnya.

"Bagus, bagus sekali, biar kita bersantap dulu sebelum berbicara lebih jauh..." Semenatara itu Oh Put Kui sudah memperhatikan keadaan disekeliling sana, terutama dua orang kakek lain yang turut hadir pula di dalam meja perjamuan.

Yang seorang berperut gemuk, berwajah soleh  dan bermuka bulat, dandangan seorang pedagang besar.

Sedangkan yang  lain berjenggot panjang dan berwajah cerah, wajah seorang guru sekolah.

Ia belum pernah mendengar tentang kedua orang tersebut, maka dia ingin menanyakan hal ini kepada si pengemis pikun.

Sayang ia tak sempat untuk banyak bertanya, sebab si pengemis pikun sudah keburu terlelap dalam hidangan yang berlimpah ruah.

ENTAH berapa puluh cawan arah sudah berpindah  ke perut Put-lo-huagn-siu, mendadak  ia seperti teringat akan sesuatu, sambil meletakkan kembali cawannya, ia menuding kearah Oh Put Kui seraya berkata :

"Kit Put-sia bocah keparat, bila aku datang mengajak dua teman, harap kau jangan gusar !"

Kit Pus-sia  segera tersenyum.

"Sahabat Ban tua berarti sahabatku  pula, aku merasa bangga bisa memperoleh kunjungan ini, masa aku marah ?"

Put-lo-huang-siu kembali tertawa terbahak-bahak. "Haaaaaahhhh...........haaaaahhh..........haaaaahhh be

tul, watak macam inilah yang amat mencocoki seleraku !"

Setelah berhenti sejenak dan  mencomot sebuah paha ayam, dia berkata lagi :

"Bocah keparat, justru karena watakmu itu pula, aku  sampai terperangkap oleh tipu muslihatmu !"

Kit Put-shia tetap tertawa hambar. "Mana mungkin kau Ban tua bisa tertipu olehku? Kemenangan yang berhasil Kit Put-shia  peroleh  tempo hari, tak lebih hanya suatu kemenangan untung-untungan saja."

Sebuah umpakan yang gampang mengena sasaran. "Hei, bocah keparat, apakah kau jujur?"

Put-lo-huang-siu segera menegur sambil tertawa senang.

Rupanya    dia    menganggap  Kit-put-sia   telah berbicara dengan sejujurnya.

Untung Oh Put Kui cepat-cepat menyumbat mulutnya dengan sepotong daging ang-sio bak, coba kalau tidak, nasi semalam tentu akan turut menyembur keluar saking gelinya.

Ia tidak menduga kalau dikolong langit terdapat manusia yang begitu gobloknya.

Sementara itu Kit-put-sia telah berkata lagi : "Ban-tua, bagaimana dengan nasibmu hari ini ?"

"Bagus sekali, ini kali kau si bocah keparat tentu akan  menderita kekalahan total!"

Berbicara sampai disitu, sambil tertawa Put-lo-huagn-siu berpaling kearah, Oh Put Kui, lalu katanya lagi :

"Hei, anak muda! Bagaimana nasibku menurut pendapatmua?"

"Tentu saja baik sekali," sahut Oh Put Kui tertawa.

Walaupun Oh Put Kui tersenyum,  namun hati kecilnya merasa amat terperanjat, sekarang  ia  telah  mengetahui betapa lihaynya Kit Put-sia untuk mempergunakna titik kelemahan lawannya untuk memancing musuh masuk perangkap, hal mana membuatnya  menggelengkan   kepala dan menghela napas panjang....

Kelicikan dan kelihayan Kit Put  sia  benar-benar menakutkan sekali..... Sementara itu Put-lo-huang-siu telah berhenti tertawa tergelak, kemudian ujarnya secara tiba-tiba :

"Kit Put-sia, tahukah kau siapakah kedua orang sahabatku ini. ?"

"Boanpwe tahu," Kit Put-sia tertawa hambar. Jawaban ini membuat Put-lo-huang-siu tertegun. "Kau tahu? Kalian pernah bersua? Pernah kenal?"

Sambil tertawa Kit Put-sia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Boanpwe belum pernah berjumpa dengan kedua sahabat ini, namun nama besar mereka sudah cukup terdengar dimana-mana, apalagi dapat menempuh perjalanan bersama kau orang tua, sudah pasti mereka memiliki nama tenar  di dunia ini."

Umpakan tersebut sekali lagi menyenangkan hati Put-lo- huang-siu, serunya cepat.

"Bocah keparat, kau memang hebat, kau memang betul- betul sangat hebat !"

Sekali lagi Kut Put-sia tertawa.

"Ban tua, sahabat muda ini  adalah  orang yang paling tersohor di kolong langit dewasa ini. Long-cu-koay-hiap (Pendekar aneh gelandangan) Oh Put Kui, bukanlah begitu?"

Put-lo-huang-siu segera tertawa terbahak-bahak. "Haaaaaahhhh........haaaaahhh..........haaaaahhh betu

l, betul sekali. " serunya.

Tapi kemudian dengan wajah tertegun dia  berpaling  ke arah Oh Put Kui sambil bertanya pula :

"Bocah muda, kau bernama Pendekat aneh gelandangan?"

Oh Put Kui sendiripun merasa terperanjat sekali setelah ia mendengar Kit Put-sia bisa menyebutkan namanya lengkap julukannya secara jitu. Ia baru merasa sekarang, Kit Put sia benar-benar seorang manusia yang luar biasa hebatnya...

Itulah sebabnya Oh Put Kui segera berkerut kening dan termangu-mangu.

Menati Put-lo-huang-siu menegurnya sekali lagi, ia baru terkejut dan menyahut sambil tertawa :

"Soal ini boanpwe sendiripun kurang tahu, mungkin sobat- sobat dunia persilatan yang memberikan julukan itu kepadaku

!"

"Hei bocah muda, tak nyana kalau kau mempunyai nama besar," seru Put-lo-huang-siu sambil tertawa,"  kalau  begitu aku telah memandang rendah akan ditimu!"

Oh Put Kui segera tersenyum.

"Kau   orang   tua   jangan    menyindir    aku    terus menerus. "serunya cepat.

Dalam pada itu Kut Put sia telah menjura kepada  si pengemis pikun sambil berseru:

Aku pikir kau adalah Lok sin-kay (pengemis sakti Lok)  bukan ?"

Sebuah panggilan yang amat sedap didengar, bukan saja setengah mengumpat, kata "pikun" pun turut dilenyapkan.

Pengemis pikun berkerut kening lalu meneguk secawan  arak, sambil manggut-manggur ia menyahut :

"Yaa, memang aku si pengemis, Kit sia-cu ternyata masih ingat dengan diriku, sungguh merupakan suatu kebanggaan bagiku."

Terhadap sikap si pengemis pikun yang angkuh itu. Kit Put- sia sama sekali tidak menunjukkan perubahan sikap, malahan sambil tertawa nyaring ia berkata lagi :

"Perkataan dari sin-kay sungguh membuat aku tak berani menanggungnya." Pengemis pikun tertawa hambar tanpa  menjawab, dia memusatkan kembali perhatiannya untuk meneguk arak.

Kit Put-shia sama sekali tidak kehilangan sikapnya sebagai seorang tuan rumah, sorot matanya kembali dialihkan  ke wajah Oh Put Kui, kemudian katanya lagi sambil tertawa :

"Oh sauhiap, nama besarmu sudah tersebar sampai dimana-mana belakangan ini, terutama sekali atas keberanianmu untuk mengunjungi pulau neraka, benar-benar merupakan tindakan yang luar biasa sekali "

Oh Put Kui tersenyum.

"Pujian dari Kit siacu membuat aku merasa malu. "

"Hei, bocah cilik, apa sih pulau neraka itu?" mendadak Put- lo-huang-siu bertanya.

Oh Put Kui merasa enggan untuk  memberi keterangan mengenai pulau neraka tersebut, maka sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya berulang kali katanya :

"Aaaaah, itu mah nama dari sebutan pulau neraka kecil ditengah lautan timur. "

Put-lo-huang-siu segera tertawa terbahak-bahak. "Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........apa sih

arti dari sebuah pulau kecil? Di lautan timur memang banyak terdapat pulau-pulau kecil, bocah kecil, kau tak berlagak sok rahasia."

"Justru jalan pemikiran boanpwe persis dengan  jalan pemikiran kau orang tua!" Oh Put Kui tertawa.

Baru selesai dia berkata, Kit Put-shia telah berseru lagi sambil tertawa :

"Ban tua, pulau ini bukan pulau sembarangan, pulau tersebut aneh sekali! Seandainya oh sauhiap  hendak berkunjung kesitu, mungkin hingga hari ini belum ada orang yang berani berkunjung kesana. " Perkataan ini dengan cepat menarik perhatian Put-lo- huangsiu, cepat-cepat katanya :

"Aaaaah, masa ada kejadian seperti ini ? mengapa kau belum pernah mendengarnya?"

Oh Put Kui tertawa geli, pikirnya :

"Sialan benar orang ini, dua  puluh tahun  tak pernah meninggalkan bangunan loteng tersebut, bagaimana mungkin kau bisa mengetahui  persoalan-persoalan yang  terjadi  di dalam dunia persilatan ?"

Berbeda sekali dengan niat Kit Put-shia, dia memang ingin menggunakan kisah cerita tersebut untuk membikin Ban Sik- tong si kakek latah ini menjadi kelagapan.

"Ban tua, aku mengetahui akan hal ini  dengan jelas," serunya kemudian.

Menyusul diapun menceritakan keadaan dari pulau neraka tersebut disamping menambah bumbu dan kecap disana sini. Sehingga orang-orang penghuni pulau tersebut dilukiskan jauh lebih hebat daripada siluman.

Setelah itu diapun menyanjung Oh Put Kui setinggi langit.

Oh Put Kui segera berkerut kening setelah mendengar perkataan itu, namun ia tetap membungkam tidak mengucapkan sepatah katapun juga.

Sebaliknya pengemis pikun tertawa terkekeh-kekeh sampai sakit perutnya.

Hanya Put-lo-huang siu seorang yang nampak tertarik dan kesamaan dengan kisah cerita tersebut, tanyanya tiba-tiba :

"Bocah muda, makhluk macam apa sih yang berdiam di pulau itu ?"

Pertanyaan ini ditujukan kepada Oh Put Kui, dan  bila didengar dari kata "makhluk" yang digunakan, bisa diketahui bahwa Put-lo-huang-siu sudah mempercayai delapan puluh persen kalau manusia yang berdiam di pulau tersebut bukan manusia baik-baik.

Oh Put Kui tertawa hambar. "Hanya tujuh orang kakek !"

"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh. hanya

tujuh orang kakek?" Kakek latah awet muda tertawa tergelak.

Oh Put Kui manggut-manggut.

Sebaliknya raja diraja dari kaum iblis Kit  Put-sia  merasa agak terperanjat, demikian pula dengan dua orang kakek yang duduk di sisinya. Wajah mereka nampak agak berubah !

"Hei, bocah muda, apakah tujuh siluman tua?" terdengar Put-lo-huang-siu bertanya lagi dengan mata melotot.

Paras muka Oh Put Kui agak berubah, serunya cepat : "Bukan siluman, melainkan tujuh pendekar besar dari dunia

persilatan !"

"Tujuh pendekar besar?" Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak," haaahhh........belum pernah kudengar ada jago-jago sebangsa pendekar besar tinggal ditengah lautan timur, hei bocah muda, pandai amat kau berbohong?"

"Aku berbicara dengan jujur, kalau tak percaya tanya saja kepada Lo-sin-kay, dia yang menemani aku berkunjung ke situ!" Oh Put Kui berkata sambil tertawa.

Sambil tertawa terbahak-bahak  Put-lo-huang-siu lantas berpaling, kemudian tanyanya :

"Hei pengemis cilik,  benar ah itu?"

Pengemis pikun mendengus sambil manggut-manggut. "Benar, cuma tujuh orang kakek !"

"Tujuh orang? Tujuh orang yang mana?" teriak kakek latah dengan mata semakin melotot," pengemis cilik, kau tak usah menjual lagak dihadapanku, kau pasti mengetahui penyakitku bukan? Nah, lebih baik jangan belajar yang jelek!"

Buru-buru pengemis pikun menghabiskan sepotong paha ayam, lalu katanya :

"Mereka adalah Bu-lim-jit-koay (tujuh  manusia aneh dari dunia persilatan) yang termashur sekali dimasa lalu."

"Siapa?"

"Bu-lim-jit-koay!"

Kembali Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak : "Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh. rupanya

rombongan anak muda itu......haaahhh....sungguh menarik, sungguh menarik, sejak dulu aku sudah bilang ke tujuh orang bocah muda itu memang berbakat bagus, nyatanya sekarang mereka dapat menakut-nakuti orang lain."

Perkataan semacam ini  segera membuat Oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang kali.

Sedangkan  Kit-put-sia berubah wajahnya,  ia  berseru keras

:

"Aaaah,  sungguh  tak  nyana  kalau  orang  yang  berdiam di

pulau tersebut adalah Kuloko sekalian tujuh bersaudara. "

"Hei bocah muda, bila urusan disini telah  selesai, bagaimana kalau kita bermain-main kesitu?" ajak Put-lo- huang-siu," sudah lama aku tak pernah bersua dengan ketujuh orang sobat kecil yang berhubungan akrab dengan diriku itu!"

"Boanpwe turut perintah!"

Setelah tahu kalau Put-lo-huang-siu kenal  baik dengan ketujuh kakek tersebut, tentu saja sikapnya menjadi lebih sungkan, bagai mana tidak? Sebab diantara tujuh orang itu terdapat pula ayahnya.

Sambil tersenyum Ki put-sia berkata pula "Oh sauhiap, sudah setengah harian kita berbincang- bincang namun belum berkesempatan untuk memperkenalkan kedua orang sahabat karibku ini."

Sambil menuding kakek gemuk yang berdiri disisinya, dia berkata :

"Ini adalah peronda dari Tiang-seng sis kami ini, orang menyebutnya sebagai Liong-sia-siang-in (Saudagar sakti dari kota naga) Ku Yu-gi, Ku tayhiap, pernahkah lote mendengar akan nama ini ?"

Agak geli juga Oh Put Kui setelah mendengar nama itu, pikirnya kemudian :

"Kalau dilihat dari tampangnya, dia  memang lebih mirip seorang saudagar!"

Buru-buru sahutnya merendah:

"Selamat bersuo!"

Lalu Kit Put-sia mengalihkan kembali sorot matanya kearah rekannya yang lain, lalu berkata lagi :

"Dan dia adalah salah seorang pelindung kota ini, Tang- gay-jut-su (Pertama dari tebing timur) Leng Bwee-siang!"

Nama besar Leng Bwee-siang sudah pernah didengar oleh Oh Put Kui, dia adalah salah seorang tionglo kaum  preman  dari perguruan Siau-lim-pay.

Sambil tertawa dan menjura dia lantas berkata pula : "Selamat bersua!"

"Nama besar Oh lote pun sudah lama aku dengar!" kata Leng Bwee siang pula sambil tertawa hambar.

Pengemis pikun memang sudah pernah bersua dengan kedua orang ini, dengna cepat mereka terlibat dalam Pembicaraan yang asyik.

Berbeda sekali dengan si Kakek latah awet muda, dia sudah kehabisan kesabaran. "Bocah muda she Kit, mari kita bertarus lagi!"

"Kau sudah kenyang belum?" tanya Kit Put-sia tertawa. "Terhadap  hidangan  yang  diberikan  secara gratis,  aku tak

pernah mencicipi saja tak  usah membuang banyak waktu  lagi,

sekarang aku sudah tak sabar lagi untuk mulai bertaruh "

Dari sakunya dia mengambil keluar sepuluh biji mata uang tembaganya sambil bersiap-siap bertaruh.

Melihat ke sepuluh biji mata uang tersebut, Kit Put-sia segera tertawa tergelak.

"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........Ban tua, nampaknya kau sudah menyimpan ke sepuluh biji mata uang tersebut hampir selama dua puluh tahun lamanya?"

"Coba kau lihat tulisan diatasnya, sudah pada luntur, tanpa usia dua puluh tahun, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?" jawab Kakek latah pula sambil tertawa.

"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh. betul,

cepat sekali. "

Tapi setelah berhenti sejenak, mendadak dia menggelengkan kepalanya berulang kali seraya berkata lagi :

"Ban tua, kali ini  kita harus menggunakan  mata uang tembaga yang baru."

"Mengapa?" tanya Kakek latah tertegun.

"Tulisan diatas uang logam tersebut sudah tidak jelas dan buram, apalagi bobotnya berkurang, oleh karena itu boanpwe rasa untuk adilnya kita  mesti mengganti dengan  uang tembaga baru."

Tanpa berpikir panjang si Kakek latah  segera tertawa tergelak.

"Betul, betul sekali ! Asal adil, aku pasti setuju !"

Kit Put-sia segera berpaling kepada si petapa dari tebing timur Lang Bwee siang, kemudian katanya sambil tertawa : "Saudara Leng, tolong ambillah sepuluh biji mata logam untuk kupinjamg sebentar!"

Sambil tertawa Leng Bwee-siang mengiakan dan  berlalu dari ruangan tersebut.

Kit Put-shia segera menitahkan kepada anak buahnya untuk membereskan semua mangkok piring dengan menggantinya secawan air teh wangi....

Tak selang beberapa saat kemudian si pertapa dari tebing timur Leng Bwee-siang telah muncul kembali  dengan membawa sepuluh biji mata uang logam.

Dengan sorot mata yang tajam Oh Put Kui segera memperhatikan sekejap kesepuluh biji mata uang logam itu.

Ia tidak menemukan sesuatu gejala yang mencurigakan, kesepuluh biji mata uang itu memang mata uang logam asli.

Ia tahu, Kit Put-shia adalah seorang manusia yang licik dengan tipu muslihat yang sangat banyak, mustahil dia akan bermain gila terhadap mata uang tersebut, ini menunjukkan kalau permainan setannya sudah pasti berada ditangannya.

Dalam pada itu si kakek latah awet muda telah menyambar mata uang itu serta dicobanya  beberapa kali, kemudian sahutnya sambil manggut-manggut :

"Bagus sekali ! nah, bocah muda, siapa yang  akan melemparkan mata uang ini lebih dulu ?"

"Setiap orang memperoleh kesempatan untuk  melempar tiga kali, siapa dahulu siapa belakangan sama-sama saja," sahut Kit Put shia tertawa.

"Tapi kita harus ada yang mulai dulu, bukan?" "Kalau begitu, kau saja yang mulai lebih dulu !" Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak. "Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh. jangan

lupa anak muda, kita sedang bertaruh, jadi kau tak udah sungkan lagi "

Kit put-sia tertawa.

"Boanpwe bukannya bersungkan kepadamu, oleh sebab tempo hari aku sudah meraih kemenangan,  maka kali  ini sudah sopan tasnya kalau engkau yang melemparkan lebih dulu, apalagi seandainya boanpwe yang kalah, paling banter cuma rugi, sepuluh biji mata uang logam tersebut, berbeda sekali bila kau yang kalah. "

"Bocah keparat, kau anggap pasti kalah?" Put -lo huang-siu semakin gusar.

Tampaknya ia benar-benar dibuat gusar sekali oleh perkataan tersebut.

Kejadian ini dengan cepat menimbulkan pula rasa was-was Oh Put Kui terhadap segala tipu muslihat Kit-put-sia.

Tampaknya Kit-put-sia memang selalu berhasil mengendalikan perasaan dari si kakek latah  awet  muda, dalam keadaan gusar bagaimana  mungkin si kakek latah mengungguli Kit-put-sia yang selalu dapat  menguasai perasaan hatinya ?

Diam-diam Oh Put Kui semakin meningkatkan kejelian matanya dan kewaspadaannya atas keadaan disekeliling tempat itu.

Dalam  pada itu Kit Put-sia telah berkata lagi  sambil tertawa

:

"Aaaah,  masa  boanpwe  berani  mengatakan  kau  orang tua

pasti akan kalah? Cuma kau pikir terlalu tidak adil bila  kita mesti bertaruh kau akan berdiam dua  puluh tahun  lagi  di dalam bangunan loteng tersebut "

"Kit Put-sia, aku toh bersedia melakukan hal ini dengan kemauan sendiri !" Kit Put sia segera tersenyum licik, sebab apa yang menjadi tujuannya telah tercapai.

"Kegagahan locianpwe sungguh jarang ditemukan dalam kolong langit dewasa ini," serunya kemudian. "Ban tua, silahkan kau melempar lebih dulu!"

Oleh ucapan demi ucapan yang diutarakan oleh Kit Put-sia tersebut, disamping Put lo huang-siu merasa amat gusar, diapun dibikin girang oleh umpakan lawan.

Begitu lawan mempersilahkan dia  untuk mulai, dengan tergesa-gesa dia mengambil mata uang logam itu kemudian membaliknya dengan huruf "Nian" menghadap semua keatas.

Oh Put Kui yang bermata jeli segera dapat melihat sesuatu yang kurang  menguntungkan, sebab ketika ke sepuluh biji mata uang tersebut berada  di tangannya, berarti seluruh telapan sampai ujung jari tengah dan  telunjuknya  dipenuhi oleh mata uang dengan bobor yang berbeda.

Ini berarti pula setelah mata uang dilemparkan, tenaganya menjadi tidak seimbang.

Agaknya si kakek latah tidak berpikir sampai ke sana.

Dengan perasaan gelisah Oh Put Kui mencoba untuk memberi petunjuk kepada  kakek tersebut, maka ujarnya sambil tertawa :

"Ban tua, apakah mata uang tersebut tak bisa kau lemparkan ke atas meja ?"

"Siapa yang bilang ?"

"Kalau memang begitu, mengapa kau tak mencoba untuk melemparkannya ke luar ?"

Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak. "Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh. bocah

muda, kalau aku melemparkan kelewat keras, niscaya mata uang tersebut akan membalik sampai dua kali." Oh Put Kui kembali tertawa, ia tahu jalan pikiran si kakek latah kelewat  sempit, ia hanya kuatir  kalau mata uangnya sampai terbalik sehingga menunjukkan permukaan yang merupakan kebalikannya.

Padahal seandainya kakek itu dapat berpikir untuk melemparkan secara lurus keatas udara,  bukankah  semua mata uang akan melayang turun juga secara lurus ?

Sambil tertawa hambar kembali ucapnya :

"Mengapa kau tidak mencoba melemparkannya ke atas ?" "Tidak usah dicoba lagi, aku sudah dua  puluh tahun

berpengalaman dalam soal lempar melempar ini."

Selesai berkata iapun melemparkan mata uang tersebut ke atas meja.

Alhasil dari sepuluh mata uang tersebut, hanya tujuh biji yang menghadap secara benar, sedangkan  tiga lainnya menunjukkan permukaan yang berhuruf "nian".

Dengan kening berkerut kakek latah awet muda segera berguman agak mendongkol :

"Sialan, mengapa hanya tujuh biji ? Pada hal tempo  hari bisa  mencapai  delapan  biji,  benar-benar  kelewat   sial  aku ini. "

Dalam pada itu Kit Put-shia telah mengambil mata-mata uang tersebut dan meletakkannya keatas tangan.

Oh Put Kui segera mengerahkan tenaga dalamnya pula bersiap-siap mengacau...

"Kit Put-shia segera menyebarkan mata  uang  itu kemeja......

"Delapan!" teriak Put-lo-huang-siu tertawa tergelak," hei bocah keparat, kali ini kau melempar jauh lebih jelek dari pada dulu, sepuluh dikurangi dua menjadi delapan biji saja." Paras muka Kit Put-shia nampak aneh sekali, ia tertawa  dan menyahut :

"Yaa, lain dulu lain sekarang, tampaknya bakal menang kali ini. "

"Nasibku memang lagi mujur kali ini, tanggung akan kuraih hasil secara penuh. "

Kakek latah segera mengambil kembali mata uang itu dan melemparkannya keatas meja.

"Kali ini memperoleh angka sepuluh !" tiba-tiba Oh Put Kui berseru sambil berseru sambil tertawa hambar.

"Benarkah itu?" Kakek latah tertawa tergelak.

Ketika dia mengalihkan sorot matanya ke meja, betul juga, kesepuluh biji mata uang tersebut semuanya menunjukkan angka "sepuluh".

Tak terlukiskan rasa gembira kakek latah  awet muda setelah menyaksikan kejadian ini, kontan ia berteriak :

"Bagaimana sekarang, Kit Put shia ?"

"Tampaknya kau memang  akan  memenangkan  taruhan  ini. " sahut Kit-put-shia dengan kening berkerut.

"Ayo cepat lempar, aku sudah tidak sabar untuk mengungguli dirimu," teriak Put-lo-huang-siu lagi.

Kit-put-sia tertawa hambar, dipungutnya  mata uang itu, diletakkan ditangan kemudian dilemparkan ke atas meja.

Sambil memandang kearah  meja, tiba-tiba  Oh Put Kui berseru sambil tertawa :

"Sembilan!"

Ternyata mata uang itu memang hanya sembilan biji yang menunjukkan "sepuluh"

Agak tertegun Kit-put-sia berdiri ditempat, keningnya berkerut, tapi kemudian katanya sambil tertawa : "Ban tua, ini berarti seri buat dua babak pertama, nah  babak yang terakhir ini akan menentukan menang kalah kita berdua."

Kakek latah awet muda nampak gembira sekali, dia tertawa terbahak-bahak.

"Pada dua babak pertama aku sudah mengungguli dirimu, asal babak ketiga ini berakhir dengan seri saja berarti aku sudah dapat mengungguli.....nah lihatlah hasilnya..."

Sambil berkata dia  mengambil mata-mata uang itu dan melemparkan untuk ketiga kalinya.

"Lagi-lagi angka sepuluh!" teriak Oh Put Kui lantang.

Dengan paras muka berubah Kit Put-sia segera mengalihkan perhatiannya ke atas meja.

Benar juga, lagi-lagi mencapai angka sepuluh.

Ditengah gelak tertawa Put-lo huang-siu yang diliputi kegembiraan, Kit Put-sia menggelengkan  kepalanya  sambil menghela napas, katanya :

"Ban tua, kau yang telah memenangkan taruhan kali ini !"

Sambil berkata ia lantas mendorong kesepuluh biji mata uang tersebut ke hadapan lawannya.

Dalam pada itu si kakek latah awet  muda  hanya mengawasi kesepuluh biji mata uang tersebut dengan mata melotot dan sama sekali tak berkedip.

Melihat itu, Pengemis pikun segera berteriak keras-keras di tepi telinganya :

"Hei, si jenggot putih, kau telah menang !"

Teriakan ini keras sekali ibarat guntur yang membelah bumi di siang hari bolong.

Namun Kakek latah awet muda tidak kaget  atau terkejut,  dia malahan menghela napas panjang. "Duapuluh tahun........duapuluh tahun........akhirnya aku berhasil menang !"

"Ban tua, setelah unggul seharusnya kau merasa gembira." Kata Oh Put Kui tertawa.

Dalam dugaannya semula, setelah berhasil menangkan taruhan ini niscaya Kakek latah awet muda akan mencak- mencak kegirangan, bahkan bisa jadi akan tertawa tergelak seperti orang gila. Tapi kenyataannya, apa yang terjadi sama sekali diluar dugaan semula.

Kakek awet muda tidak melompat-lompat, tidak pula berteriak-teriak.

Hingga Oh Put Kui menyadarkan dirinya, ia tetap  tidak terpengaruh oleh emosi.

"Hei, bocah muda, apakah lohu sudah boleh melihat matahari "

"Tentu saja!" Oh Put Kui sambil tertawa. "Kau telah menangkan pertaruhan ini."

Kakek latah awet  muda manggut-manggut  kembali katanya

:

"Bocah  muda, aku  tak  perlu kembali lagi ke  loteng  kecil  di

perkampungan Sii-ning-ceng bukan ?" "Ooh, tentu saja !"

Mendadak kakek latah awet muda memejamkan matanya rapat-rapat, lalu berkata:

"Anak muda, tahukah kau betapa sulitnya  kehidupan selama dua puluh tahunan ini?"

Oh Put Kui tertawa.

"Walaupun boanpwe  tidak ikut merasakannya, namun dapat kubayangkan sampai dimanakah penderitaan tersebut !"

Put-lo-huang-siu tertawa rawan. "Anak muda, bagaimana mungkin kau bayangkan? Aaaai, perasaannya waktu itu........aaai, semisalnya secara tiba-tiba lohu teringat bermain layang-layang di musim semi, menangkap jangkrik di musim paras, dan mencuri buah tomat dimusim gugur dan berperang-perangan salju dimusim dingin, tapi.......kemanakah aku harus mencari? Kemana aku harus melihat. Seorang  diri aku mesti duduk dalam loteng  kecil sambil menahan rasa dongkol,  melotot  pemandangan  di depan mata namun tak berani membayangkannya. "

"Mengapa tak berani membayangkannya?" tanya Oh  Put Kui sambil tertawa geli.

"Sebab bila aku sampai membayangkannya, niscaya  aku tak akan tahan untuk hidup terus di  dalam  bangunan  loteng ini."

Diam-diam Oh Put Kui merasa kagum atas kejujuran kakek ini untuk menepati janji, maka katanya kemudian :

"Kau orang tua benar-benar memegang janji !"

Kakek latah awet muda mengalihkan sorot matanya memandang sekeliling tempat itu, kemudian sambil mengelus jenggot dia berkata lagi dengan suara rendah :

"Bocah muda, meskipun aku tak berani melongok  keluar dari jendela tersebut, namun aku mampunyai  akal   lain, tahukah kau bagaimana caranya "

"Boanpwe ingin tahu !" ucap Oh Put Kui tertawa.

Setelah tertawa misterius Kakek latah awet muda berkata : "Aku  tak  dapat meninggalkan bangunan  loteng itu,  namun

ingin   pula  menyaksikan  pemandangan  di   luar   sana, maka

saban hari  akupun  membuka  atap  loteng  itu  separuh bagian "

Mendengar sampai disitu, Oh Put Kui sudah tak dapat menahan rasa gelinya lagi, ia tertawa terbahak-bahak. "Caramu itu memang sangat jitu, membuka  atap loteng memang suatu akal yang hebat."

Kakek latah awet muda tertawa.

"Bocah muda, aku percaya selain aku Ban Sik thong, tak nanti ada orang lain yang dapat menemukan cara seperti itu. Walaupun tetap duduk tak bergerak di dalam loteng, namun dunia luas telah berada dibawah pandangan mataku."

Dalam pada itu si Raja diraja dari kaum iblis, pedang sakti bertenaga raksana Kit Put-sia telah berkata kepada si Kakek latah dengan senyum aneh menghiasi wajahnya :

"Ban tua, kesepuluh mata uang tersebut akan menjadi milikmu untuk selamanya."

Setelah menyambut uang perak tersebut, Put lo-huang-siu segera menekan mata uang tadi kuat-kuat. Tak ampun uang logam rangkap sepuluh tersebut hancur lebur menjadi bubuk.

"Ilmu Toa-lek-kim-kong-jiu yang sangat hebat !" puji Oh Put Kui sambil tertawa.

Perlu diketahui, bagi seorang yang bertenaga dalam sempurna, untuk melebur emas meretakkan batu bukan hal-  hal yang menyulitkan. Tapi untuk menghancurkan baja dan logam menjadi bubuk tanpa mengalami kehancuran lebih dulu bukan suatu pekerjaan yang gampang.

Agak emosi Kit Put-sia berseru pula sambil tertawa :

"Aku pikir tiada manusia kedua di dunia saat ini  yang mampu mencapai tigkat kesempurnaan dalam ilmu jari seperti apa yang Ban tua miliki. "

Selesai meremukkan logam-logam tersebut, Kakek latah awet muda baru berseru sambil tertawa terbahak-bahak :

"Kit Put-sia, akhirnya aku berhasil mengungguli dirimu!" "Nasib mujur memang berada dipihak kau orang tua, tentu

saja boanpwe harus mengaku kalah." Umpakan ini kembali menyenangkan hati kakek latah.

"Siapa bilang tidak? Kalau diantara kalian ada yang berani bertaruh lagi kepadaku, pasti akan kulayani  tantangan tersebut."

"Aaaahh, tidak berani ! Tidak berani ! Sekalipun boanpwe ingin mengajak bertarus lagi, ini tentu kulakukan bila nasib kau orang tua sedang jelek, kalau tidak, aku bisa menggadaikan celana karena kalah ditanganmu."

Lagi-lagi umpakan tersebut mengena di hati kakek latah, kontan dia memicinkan mata sambil tertawa tergelak.

"Kit Put-sia, tak nyana kaupun akan menjumpai hari naas seperti hari ini!"

"Ban tua, tiada manusia yang tidak takut kalah di dunia ini?"

Ucapan ini segera mengundang gelak tertawa riuh dari semua hadirin yang berada dalam ruangan.

Mendadak Kakek latah awet muda berhenti tertawa, kemudian sambil menyodorkan tangannya kehadapan Kit Put- sia, katanya :

"Kit Put-sia, aku ingin meminjam sesuatu benda darimu!" "Kau ingin meminjam apa?" Kit-put-sia tertawa," bila kau

orang tua berminat mengunjungi kota Tiang-seng ini, selesai bersantap malam nanti  boanpwe bersedia menemani kau orang tua bersama Oh lote dan pengemis sakit Lok untuk berjalan-jalan."

Dengan cepat kakek latah  awet muda manggelengkan kepalanya berulang kali.

"Bukan, aku cuma ingin menyaksikan sebuah benda mestika mu saja..."

"Aaaah, mestika apa  yang bisa menarik perhatian  kau orang tua. ?" "Kudengar, tusuk konde menghancurkan tulang yang merupakan salah satu dari Bulum jit-tin sudah terjatuh ditanganmu, sudah lama kudengar  nama besarnya tanpa sempat melihatnya, maka aku ingin  sekali  melihatnya sekejap.:

"Perkataan ini sama sekali diluar dugaan Oh  Put Kui,  dia tak menyangka kalau kakek latah akan mendahului dia untuk mengajukan permintaan tersebut.

Dengan perasaan berterima kasih dia memandang sekejap kearah kakeh latah awet muda, bahkan setelah itu mengawasi pula perubahan wajah Raja si raja dari kaum iblis Kit Put-shia.

Gembong iblis itu memang sangat lihay, mendengar  ucapan tersebut ia lantas tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........Ban tua, kalau cuma masalah sekecil ini, mengapa tidak kau ucapkan sedari tadi ?"

Setelah berhenti sejenak ia bangkit berdiri dan berkata kembali :

"Tusuk konde penghancur tulang boanpwe simpan dikamar baca, harap kau orang tua duduk menanti, boanpwe akan segera mengambilkan, harap kau orang tua jangan  mentertawakan setelah melihatnya nanti. "

Belum selesai dia berkata, dengan langkah lebah dia sudah berjalan menuju kesisi kiri.

Tidak sampai seperminum teh kemudian, Kit  Put-shia sudah muncul kembali dengan membawa sebuah kotak kecil berwarna emas.

"Ban tua!" ucapnya kemudian. "Inilah tusuk konde penghancur tulang. "

Sambil berkata dia  membuka penutup kotak itu dan mempersembahkan isinya kehadapan Put-lo-huang-siu. Sekali lagi Oh Put Kui dibuat tertegun, kejadian ini sama sekali diluar dugaannya.

Ia tak mengira kalau Kit Put-shia akan bersikap supel dan berlapang dada, bahkan benar-benar mengeluarkan tusuk konde penghancur tulang miliknya.

Kakek latah awet muda menyambut kotak emas itu dan memandang sekejap tusuk konde penghancur tulang tersebut, tiba-tiba katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Kit Put-shia, darimana kau membeli tusuk konse kemala ini?"

"Aaaai......masa dibeli?" seru Kit Put-shia sambil menggeleng.

"Konon racun dari tusuk konde  ini ganas sekali, bila bertemu darah segera akan menghancurkan tulang, benarkah demikian ? Kit Put-shia, darimana kau peroleh benda berharga itu?"

"Boanpwee berhasil merampasnya dari tangan  seorang gembong iblis," kata Kit Put-shia tertawa.

Sudah merampas, berani mengaku di depan  umum, kejujuran Kit Put-shia benar-benar mengagumkan.

"Bocah keparat, kau tidak kuatir akan dituntut orang karena main rampas?" teriak kakek latah sambil tertawa tergelak.

Kit-put-sia ikut tertawa.

"Ban tua, orang tesebut merupakan seseorang gembong iblis besar ! Boanpwe sadar atas kejahatan serta kekejaman orang ini, bila benda seperti itu terjatuh ketangan gembong  iblis macam begini, niscaya banyak korban yang akan jatuh diantara umat persilatan !"

"Maka kau pun merebutnya dari tangan  orang  itu?" sambung kakek latah sambil tertawa.

"Padahal bukan terhitung dirampas, sebab boanpwe telah membinasakan gembong iblis tersebut !" "Siapa sih orang itu?" tanya kakek latah awet muda dengan kening berkerut.

"Caycu dari delapan markas bukit kunsan ditelaga Tong- ting-ou, Liong-li ci-ciu "naga merah ditengah ombak" Ciu Khong!"

Kakek latah segera menggelengkan  kepalanya berulang kali.

"Ehmm, belum pernah kudengar tentang orang ini, agaknya dia cuma seorang manusia tak bernama...Kit put-sia, pernahkan kau bertanya darimana dia peroleh tusuk konde penghancur tu ang ini ?"

Kembali Kit-put-sia tertawa :

"Boanpwe sih pernah  bertanya dan  Ciu Khong pernah memberitahu kepadaku, dia adalah Thian-be-kim clong "tombak emas kuda langit" Im Tiong-hok yang menghadiahkan benda tersebut kepadanya sebagai hadiah ulang  tahunnya yang ke empat puluh !"

Baru selesai ucapan tersebut diutarakan, Oh Put Kui sudah dibuat tertegun.

Sedangkan si pengemis sakti menggaruk-garuk telinganya yang sebetulnya tidak gatal.

Sedang kakek latah awet muda malah tertawa terbahak- bahak.

"Manusia macam apa sih Im Tiong-hok tersebut?" "Liok-lim Bengcu dari tujuh propinsi di wilayah selatan!"

"Waaah, kalau begitu belum terhitung seorang manusia luar biasa. "

"Di dalam pandangan kau orang tua, tentu saja Im Tiong-  hok bukan terhitung seorang manusia luar biasa."

"Tentunya kaupun tak akan memandang sebelah matapun kepadanya bukan?" Baru selesai dia berkata, tusuk konde kemala  berbentuk  tiga inci panjangnya itu sudah diambil keluar dan diperlihatkan dihadapan Oh Put Kui, lalu katanya lagi sambil tertawa :

"Bocah muda, bagaimana kalau kita mencari kelinci percobaan untuk menjajal keampuhan dari benda ini ?"

"Tidak usah dicoba lagi," Oh Put Kui menggeleng," kalau cuma untuk membuktikan saja kita mesti membunuh orang, waah. rasanya boanpwe tidak tega !"

Put-lo-huang-siu segera tertawa terbahak-bahak. "Tampaknya kau sudah dididik menjadi jelek oleh gurumu

itu, kelewat sok alim!"

"Aaaah, masa kau orang tua tidak percaya  dengan  perkataan dari Sia-cu?" kata  Oh Put Kui sambil tertawa hambar.

Kakek latah awet muda tertawa.

Yaa, aku memang kurang percaya. "

"Tapi boanpwe justru amat mempercayai perkataan dari Siacu ini," seru Oh Put Kui.

Kakek latah awet muda mengerutkan  dahinya sejenak, akhirnya ia tertawa tergelak :

"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........kalau toh kau bocah muda sudah percaya, apa lagi yang mesti lohu katakan ?"

Ia masukkan kembali tusuk konde tersebut ke dalam kotak emas lalu menutup kembali kotak itu dan katanya kepada Kit Put-sia sambil tertawa aneh :

"Ambillah kembali bocah keparat dan  simpan baik-baik, siapa tahu suatu hari aku membutuhkan tusuk konde ini? Sampai waktunya kau jangan pelit lho !" "Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........asal kau orang tua mau pakai, sekarangpun boleh membawanya pergi." Seru Kit Put-sia sambil tertawa tergelak.

Kebesaran jiwa kit Put-sia sungguh membuat orang merasa terperanjat.

"Aaah, tidak usah, aku mah tak pingin mencari kesulitan macam begitu, bila sampai berita tersebut tersiar dalam dunia persilatan, kawan manusia yang tak punya mata niscaya akan mengatur rencana untuk mengerjai diriku, nah kalau sampai begini,  aku akan   kehabisan   daya   untuk   mencegah mereka "

"Kalau memang begitu, biar boanpwe simpankah dahulu untukmu."

Setelah menyimpan kembali kotak emas tersebut, sambil tertawa katanya kepada si Pengemis dari kota naga Ku Yu Gi :

"Saudara Ku, umumkan kepada semua sahabat di dalam kota ini, Sia-cu tidak menerima tamu !"

"Kit-put-sia, masa kau menerima tamu  sampai jauh malam?" sela kakek latah sambil tertawa.

Kit-put sia tertawa.

"Bila rakyat dalam kota menemui kesulitan, kebanyakan mereka akan datang mencariku di saat malam telah tiba. Oleh sebab malam ini kau orang tua dan Oh lote sekalian berada di sini, maka boanpwe sudah sepantasnya melayani kau orang tua. Jadi tak ada waktu lagi bagiku untuk menemui mereka."

Sambil menggelengkan kepalanya berulang   kali dan tertawa tergelak Kakek latah awet muda berkata :

"Tidak usah, tidak usah. Lohu akan pergi sekarang juga!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Kit Put-sia, katanya buru-buru sambil tertawa :

"Sepeninggal kau orang tua nanti, entah  sampai  kapan baru akan berkunjung. Apa salahnya  kalau kau menginap untuk beberapa hari lagi disini? Lagipula Oh Lote dan Lok sin- kay baru pertama kali berkunjung kemari. "

Pengemis pikun yang selama ini cuma membungkam terus segera menimbrung setelah mendengar ucapan itu :

"Kit siacu, kami masih ada urusan lain"

"Tepat sekali perkataan si pengemis cilik." sambung kakek latah awet muda sambil tertawa tergelak," kami masih ada urusan penting, sehingga tak bisa  tinggal  lebih  lama  lagi disini "

Kakek berambur putih ini memang aneh sekali wataknya, begitu berkata  hendak pergi ia segera  berangkat meninggalkan ruangan tersebut dan beranjak keluar.

Tentu saja Oh Put Kui dan pengemis pikun harus mengikuti pula di belakangnya.

Sekilas senyuman sinis dan licik sempat memancar keluar dari balik wajah Kit Put-sua, namun dengan cepat ia menjura sembari berkata :

"Kalau memang begitu, biar boanpwe mengantar kau orang tua sampai keluar dari kota "

Sepeninggal kota kematian, pengemis pikun sudah ribut hendak mengambil kuda tunggangannya.

Tapi Oh Put Kui tidak setuju.

Kakek latah awet muda lebih-lebih tidak setuju.

@oodwoo@