Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 16

 Jilid 16

Kalau dilihat dari usia pengemis pikun sekarang, sesungguhnya dia sudah terhitung cukup tua.

Tapi kalau didengar dari penuturan si kakek tadi, ketika pengemis pikun masih suka makan gula-gula, kakek tersebut sudah mempunyai jenggot berwarna putih.

Lantas berapakah usia si kakek itu ?

Kalau dihitung-hitung, bukanlah usianya paling tidak diatas seratus dua puluh tahun?

Oh Put Kui lantas berbisik disisi telinga Pengemis pikun: "Lok Loko, siapa sih locianpwe ini?"

"Lote, kakek ini bernama Pok-huat-wan-tong, put-lo-huang- siu (Bocah binal berambut putih, kakek latah awet muda)!"

Mendengar nama itu, Oh Put Kui menjadi amat terperanjat, tanpa terasa dia berseru:

"Jadi dia adalah Ban Sik-thong, Bau lo cianupwe?" "Haaahhhh.....haaahhhh....... haaahhhh.......kalau bukan

dia, siapa lagi?" sahut pengemis pikun tertawa tergelak. Sementara itu si Bocah binal berambut putih. Kakek latah awet muda Ban Sik-thong masih tertawa tergelak terus tiada hentinya.

Oh Put Kui membelalakkan matanya lebarlebar, setelah menyaksikan sikap lucu, aneh dan mulut si kakek aneh yang ternganga lebar itu, dia segera menjadi sadar kembali.

Sekarang dia baru tahu mengapa sewaktu  berjumpa dengan si kakek tadi,  terasa olehnya kalau raut wajahnya seperti amat dikenal.

Rupanya sikap maupun tingkah laku kakek itu mirip sekali dengan si Pengemis pikun. Sedangkan mimik wajahnya justru mirip sekali dengan Khi-lok-sian-tong (bocah dewa kegembiraan).

Tak heran kalau dia seperti amat mengenal dengan raut wajah orang ini.

Selain daripada itu, Oh Put-kui juga teringat  akan  pesan dari Oh Ceng-thian, kakek yang menghuni di Pulau Neraka yang kini telah diketahui sebagai ayah kandung sendiri itu.

Dia pernah berpesan, bilamana perlu dan ingin mengetahui lebih jelas tentang hal-hal yang penting,  maka  dia dipersilahkan mencari Bau-si-thong (Segala persoalan dipahami) Ban Sik-tong.

Tentu saja kakek ini sesungguhnya tidak usah dicari lagi, sebab putra Oh Ceng-thian yang sebenarnya tak lain  adalah dia sendiri. Tapi, sungguh tak disangka meskipun dia tak mempunyai rencana untuk mencarinya, mereka  telah berjumpa tanpa sengaja...

Mungkin  inilah yang dinamakan jodoh  atau.....

Teringat akan julukan  si kakek sebagai Ban-si-thong (segala persoalan dipahami) dia lantas berpikir  lebih jauh, andaikata kakek ini bersedia membantunya, siapa  tahu dendam sakit hatinya bisa segera terbalaskan.... Sementara Oh Put-kui masih termenung, pengemis pikun menegur secara tiba-tiba dengan perasaan tercengang :

"Lote,  mengapa kau?"

"Aaah siaute baru teringat akan suatu persoalan, maka aku jadi melamun dibuatnya."

"Apakah kau ingin memohon petunjuk dari Ban-si-thong locianpwe ini akan suatu persoalan?"

"Yaa, siaute memang mempunyai maksud untuk berbuat begitu....

Pengemis pikun segera tertawa terbahak-bahak. "Haaahh.....haaahh......    haaahh..........saudaraku,   bila   kau

benar-benar  mempunyai   niat   tersebut,   maka   akan sia-sia

tertegun setelah mendengar ucapan mana, serunya : "Mengapa  ? Locianpwe ini. "

Tidak menanti si anak muda itu menyelesaikan perkataannya, pengemis pikun telah menukas sampil tertawa :

"Kau anggap si bocah binal tua ini benar-benar memahami setiap persoalan yang ada di dunia ini?"

"orang persilatan rata-rata berkata demikian "

"Aaah, itu mah cuma kentut busuk  belaka!" potong pengemis pikun sambil tertawa.

"Loko, sewaktu berada di Pulau neraka tempo hari, ayahku pun pernah berpesan agar aku datang mencarinya. "

"Ayahmu suruh kau mencarinya karena dia "berharap" agar kau bisa meminjam nama besarnya  untuk  menyuruh  orang lain mewakilinya mencarikan berita kemana-mana. "

Sekalipun Pengemis pikun orangnya, agak ketolol-tololan, akan tetapi terhadap ayah Oh Pat Kui, tentu  saja  dia  tak berani sembarangan berbicara, dia kuatir ucapan yang salah bisa berakibat saudara ciliknya itu menjadi marah. Seperti memahami akan  sesuatu, Oh Pat Kui segera tertawa, katanya kemudian:

"Engkoh tua, siaute sudah mengerti, rupanya yang dimaksudkan sebagai memahami dalam kata  Ban-si-thong tersebut, sesungguhnya harus ditambah dengan sebuah kata "tidak," bukan begitu?"

"Seharusnya hal ini bisa kau pahami sejak tadi. "

Sambil tertawa kembali Oh Put Kui berkata :

"Orang persilatan menggunakan  cara seperti ini untuk menyindir cianpwe ini, apakah tidak kuatir kalau dia sampai marah?"

Pengemis pikun segera tertawa terbahak-bahak. "Haaaahhhh........haaaaahhhh......... haaaaahhhh jika

dia bisa marah, tak nanti  orang lain akan  menyebutnya sebagai si Bocah binal berambut putih,  kakek latah  awet muda. Saudara cilik, sepanjang hidupnya dia tak pernah marah. "

Belum selesai dia berkata, si kakek latah awet muda telah berteriak secara aneh.

"Pengemis cilik, kalau banyak berbicara begitu apakah kau tidak merasa lidahmu menjadi kaku? Hati-hati kalau sampai menggusarkan lohu, kali ini bukan cuma gula-gula saja yang kuberikan kepadamu. "

Mendengar ancaman tersebut, dengan  wajah ketahukan pengemis pikun segera menjawab:

"Yaaa, kaku, kaku, lidahku sudah kaku.  Harap  kau  orang tua jangan mencopot gigiku lagi. "

Tampaknya kakek itu merasa bangga sekali, kembali dia berteriak lantang :

"Jangan takut pengemis cilik, lohu sudah bilang tak akan menghadiahkan gula-gula untukmu, kali ini aku hendak memberi hadiah lain kepadamu. " "Hadiah apa? Hiiiiiihhhh.......hiiiiiihhhh.........

hiiiiiihhhh.........tentunya lebih enak  ketimbang  gula-gula bukan?" seru pengemis pikun sambil tertawa cekikikan.

"Tentu saja, tentu saja! Aku rasa kau si pengemis tua cilik pasti belum pernah mencicipinya!"

Mendadak kakek itu tertawa terpingkal-pingkal sampai membungkukkan pinggangnya, setengah harian lamanya  dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Pada saat itulah pengemis pikun baru berteriak lagi dengan suara yang parau :

"Empek jenggot putih, kau memang pelit, aku pengemis tak akan menggubrismu lagi "

Sambil berkata dia lantas membalikkan badan dan  turun dari ruangan loteng itu.

Jangan dilihat si kakek itu sedang tertawa terpingkal- pingkal, kenyataannya setiap gerak-gerik pengemis pikun itu dapat terlihat olehnya dengan jelas sekali.

Baru saja dia membalikkan badang, kakek itu sudah berteriak dengan lantang :

"Eeeh......jangan molor dulu, pengemis cilik, kemari kau, segera akan kuhadiahkan kepadamu!"

Sambil bersorak gembira, pengemis pikun segera membalikkan badan dan lari mendekat.

Oh Put-kui yang  menyaksikan kejadian itu, diam-diam tertawa geli, pikirnya :

"Kedua orang  tua  bangka  ini  memang  dasarnya sepasang "

Sementara itu si kakek latah awet muda Ban Sik-thong sudah mengambil sebuah bungkusan kecil dari bawah kasur duduknya dan diangsurkan kepada Pengemis pikun Lok jin- khi. Setelah menerima benda tadi, Pengemis pikun merasa bungkusan itu adalah sebuah benda yang lunak sekali.

Dia lantas mengira isinya adalah gula-gula.

"Aneh, ini mah gula-gula, aku tak suka!" segera teriaknya. "Bukan, bukan!" jawab Kakek latah  awet muda sambil

tertawa, "benda itu adalah kueh kim-ciau-ni yang khusus lohu bikin untuk dimakan pada tahun baru nanti. Sekarang  kau boleh mencicipinya lebih dulu"

"Sungguh!" seru pengemis pikun sambil membuka bungkusan itu.

"Buat apa lohu membohongi dirimu?" jawab kakek latah awet muda dengan wajah serius.

Sementara itu pengemis pikun telah membuka bungkusan itu, benar juga isinya adalah sebuah bungkusan itu, benar juga isinya adalah sebuah gumpalan benda yang berwarna hitam kekuning-kuningan. Sambil bersorak gembira dia lantas menjejalkan benda tersebut ke dalam mulutnya.

Tapi sesaat kemudian dia berkerut kening sambil mengunyah Kim-cau-ni gumamnya berulang kali :

"Tidak, manis, tidak manis, bahkan rasanya agak bau amis dan busuk. "

Sementara pengemis pikun melahap Kim cau-ni tadi, kakek latah awet mudah tertawa semakin terpingkal-pingkal, sedemikian kerasnya dia tertawa sampai rambut  dan jenggotnya turut terguncang keras.

Apalagi setelah mendengar pengemis pikun mengatakan "tidak manis......", gelak tertawanya semakin menjadi-jadi sampai hampir tak sanggup bernapas.

Oh Put Kui menjadi tertegun dibuatnya.

Mengapa Kakek latah awet muda bisa tertawa terpingkal- pingkal karena kegelian? Mungkin dibalik benda yang disebut kueh Kim-cau ni itu masih ada hal-hal yang tidak beres?

Mendadak Kakek latah awet muda berhenti tertara, lalu menegur :

"Pengemis cilik, bukanlah kueh Kim-cau ni itu merupakan sebuah makanan yang pasing aneh rasanya di dunia ini?"

"Bukan cuma aneh saja baunya, luar biasa sekali rasanya!" jawab pengemis pkun sambil mengunyah terus.

"Bagaimana luar biasanya?"

"Tidak manis, tidak pedas,  tidak kecut tapi terasa agak getir, agak amis serta bau pesing yang sukar ditahan, kueh ini dibuat dari bahan apa sih? Mengapa rasanya  jadi  campur aduk tak karuan?"

"Pengemis cilik, kau benar-benar  seorang  manusia  yang tak tahu mutu barang!"

Pengemis pikun menggelengkan kepadanya berulang kali, sahutnya cepat :

"Mungkin kau sendiri yang tahu bahan, suah pasti  kau  ditipu orang selagi membeli bahan makanan itu, masa kue ini kau buat dengan bahan yang  bermutu  begini  rendah. Hmmmm, syaang dengan uangmu."

Tiba-tiba Kakek latah awet muda bisa tertawa tergelak. Haaaahhhh............haaaahhhh............ haaaahhhh............

bukan! Bukan begitu! Bahan-bahan tersebut bukan kubeli dari orang lain, melainkan milik lohu sendiri "

Kali ini pengemis pikun dibikin tertegun.

"Dari mana kau bisa mempunyai bahan untuk membuat kueh?" serunya keheranan.

"Dari tubuhku sendiri!"

"Haaaah, mana mungkin bahan dari tubuh mu bisa dibikin kueh Kim-cau-ni ?" Pengemis pikun makin terperanjat. "Tentu saja mungkin!" "Aku tidak percaya!"

Sambil menahan rasa gelinya, tiba-tiba Kakek latah awet muda bertanya lirih :

"Pengemis cilik, apakah tiap hari kau kencing ?" "Kau tidak kencing, bisa kembung perutku!"

"Nah, itulah dia....." seru Kakek latah awet muda sambil tertawa cekikikan.

Pengemis pikun turut tertawa tergelak.

"Apa sih hubungannya antara kencing dengan kueh Kim- cau-ni. "

Mendadak paras mukanya  berubah  hebat, lalu sambil membungkukkan badan ia muntah-muntah.

Bocah binal berambut putih, Kakek latah awet muda segera menepukkan sepasang tangannya ke  bawah, lalu  tidak nampak bagaimana dia bergerak, tahu-tahu tubuhnya sudah melambung setinggi tiga depa lebih.

Kemudian sambil tertawa terbahak-bahak serunya :

"Aduuh jeleknya, aduh jeleknya......pengemis makan tahi malah dipuji gurih."

Sekarang Oh Put Kui baru tahu apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi, dia turut tertawa terbahak-bahak.

Mimpipun dia tak menyangka kalau Kakek itu akan menghadiahkan segumpal tahi untuk pengemis pikub.

Sementara itu, pengemis pikun  sudah muntah-muntah hebat sampai keluar semua air kuningnya.

Akan tetapi gumpakah  kueh Kim-cau-ni yang  ditelannya tadi belum juga ikut termuntahan keluar.

Terdengarh dia sambil muntah sambil mencaci maki tiada hentinya : "Empek tua, kau si telur  busuk, tua-tua keladi kau berani

mempermainkan aku si pengemis....baik, aku tak  akan bergurau lagi denganmu seumur hidup.....uuuh. uuuh

..........uuuuhhh. "

Meski punya maki tiba-tiba saja pengemis pikun menangis tersedu-sedu.....

Melihat pengemis itu sudah menangis, Kakek latah awet muda segera berhenti tertawa, buru-buru serunya :

"Pengemis cilik, sudahlah, jangan menangis,  kalau menangis bukan seorang enghi-ong! Coba  kau  lihat, pernahkan empek tua menangis? Empek tua adalah seorang enghi ong besar, tahukan kau? Ayolah tirulah aku "

"Meniru kau? Waaah, dunia bisa kacau balau jadinya "

Oh Put Kui yang mendengar perkataan itu hampir saja meledak gelak tertawanya.

Kini pengemis pikun seakan-akan berubah menjadi seorang bocah nakal yang baru berusia tiga tahun.

Sedang Kakek latah awet muda sedang membujuknya agar jangan menangis......

Akhirnya setelah dibujuk hampir setengah harian lamanya, pengemis pikun baru berhenti menangis.

"Pengemis cilik, nah begitulah baru mirip seorang enghiong," seru Kakek latah awet muda sambil tertawa.

Dengan mata melotot pengemis pikun segera melompat bangun dari pelukan kakek itu, segera teriaknya :

"Anjing budugan ! Aku tak mau jadi enghiong, besok aku harus mencekokimu dengan sebaskom air kencing!"

"Haaahh......haaahhh......haaahh.....boleh, boleh saja, asal kau mampu saja !"

"Tunggu saja tanggal mainnya," teriak pengemis pikun lagi penuh kegemasan," aku bertekad hendak mencekokimu. " "Haaaahhh.....haaaahhhh........haaaahh.....baik, akan kutunggu! Akan kutunggu.."

Mendadak dia berhenti tertawa, lain serunya :

"Pengemis kecil, cepat duduk dan mengatur pernapasan!" "Tak usah, aku sengaja tak mau menurut perkataanmu,

mau apa kau?" teriak pengemis pikun dengan gusar.

"Tak mau menurut ya sudah. Cuma kalau smapai Kim cau- ni itu terbuang dengan percuma, jangan salahkan aku nanti!"

Pengemis pikun jadi tertegun.

"Kim-cau-ni apa lagi? Paling banter  juga tahu anjing!" serunya sambil menahan geram.

Kembali Kakek latah awet muda tertawa tergelak. "Haaaahhh........haaa.......haaaahhh.....pengemis cilik kau

jangan mencaci maki lagi! Sudah cukup parah lohu kenakan maki.....cuma paling baik kalau kau  menuruti  saja perkataanku. Duduklah dan mengatur pernapasan lebih dulu, pokoknya besar sekali manfaat yang bakal kau peroleh !"

"Mengapa?" tanya pengemis pikun kemudian setelah termangu-mangu beberapa saat.

Sekali lagi kakek itu tertawa nyaring.

"Sudahlah, tak usah kau tanyakan lagi, kita bicara kan setelah kau selesai mengatur pernapasan nanti!"

Dengan perasaan setengah percaya setengah tidak, Pengemis pikun duduk bersila diatas tanah.

Kemudian setelah menarik napas panjang-panjang, dia memejamkan mata dan mengatur napas.

Sambil tersenyum Kakek latah  awet muda memandang sekejap kearah Pengemis pikun, kemudian dengan perasaan puas manggut-manggut, dia mengelapkan tangannya kepada Oh Put Kui dan serunya : "Bocah muda, kemari kau!"

Dengan sikap yang amat menghormat Oh Put Kui maju mendekat.

Mendadak.......dengan suatu gerakan yang  amat cepat kakek itu mencengkeram tubuhnya.

Sementara Oh-put kui masih tertegun, mendadak  dia merasa lengan kanannya yang kena dicengkeram itu seperti memperoleh suatu tekanan yang amat berat.

Dengan perasaan terkejut dia lantas mengerahkan tenaganya untuk melawan.

"Kau orang tua. "

Sambil tertawa Kakek latah  awet muda menggelengkap kepalanya berulang kali, ujarnya sambil tertawa :

"Bocah muda, ilmu Kin-paiu-tay-isian sim-kang mu baru berhasil mencapai lima bagian kesempurnaan !"

"Boanpwe memang bodoh, hingga sukar untuk mencapai kemajuan yang pesar. "

"Soal usia memang mempengaruhi dalam hal kesempurnaan, keadaan seperti ini tak bisa  kelewat dipaksakan, anak muda, asal kau mau berlatih tekun setiap hari, tak sampai sepuluh tahun niscaya kau sudah berhasil melampaui gurumu!"

Oh Put Kui merasakan hatinya  begetar keras  setelah mendengar ucapan itu, sahutnya cepat :

"Terima kasih banyak atas pujian kau orang tua, boanpwe tidak berani berpikiran demikian."

"Haaaahhhhhh...........haaaaahhh.........haaaahhhh. siapa

bilang, kalau pikiran ini dinamakan khayalan? Bocah muda, ucapan lohu tak bakal salah. "

Setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh : "Anak muda, kalian bertiga main sembunyi-bunyi mendatangi lotengku ini, sebenarnya apa yang hendak kalian curi?"

Mendengar pertanyaan itu, Oh Put Kui segera berpikir di dalam hati :

"Aaaah, rupanya dia telah membawa pembicaraan kembali ke pokok persoalan,"

Berpikir demikian sahutnya :

"Boanpwe datang untuk mencari sebuah benda !"

"Di loteng ini ada benda apa? Kau sedang memaki lohu?" seru si kakek sambil melotot.

Oh Put Kuitidak menduga bila jalan pikiran Bocah binal berambut putih, Kakek latah awet muda bisa begini cepatnya, bahkan caranya menghubungkan satu masalah dengan masalah lain bisa begini cepatnya. Dia tahu bila dirinya telah salah bicara tadi, buru-buru sahutnya cepat :

"Boanpwe tak berani  memaki lohu, Boanpwe  memang benar-benar datang buat mencari  barang  peninggalan seorang leluhur kami !"

"Kau bilang Oh Sian adalah empekmu, kalau begitu kau pastilah putra Oh Cengthian!" kata Kakek latah awet muda kemudian sambil tertawa keras.

"Benar, dugaan locianpwe memang tepat sekali!"

"Siapakah ibumu ? Pek-ih aug-hud (baju putih kebasan merah) Lan Hong ataukah Kuay-ko hoat-cu (pemilik lembah kebahagiaan) Kiau Ko-jin?"

Mendengar pertanyaan itu, Oh Put-kui menjadi tertegun. Kuay-hoat-kokcu Kiau Ko-jin ?

Bukankah perempuan cantik dari dunia persilatan ini termasyur sebagai seorang iblis wanita ? Apakah dia dengan ayah..... Si anak muda itu tak berani berpikir lebih jauh, dengan wajah serius dia lantas menjawab :

"Mendiang ibukum adalah Pek-ih-ang-hud!" "Haaaahhhhhh...........haaaaahhh.........haaaahhhh. akhir

nya bocah perempuan Lan yang berhasil memenangkan persaingan ini. " seru si kakek sambil tertawa tergelak.

Mendadak dengan mata melotot dia berteriak :

"Bocah muda, apa kau bilang ? Mendiang ibumu ? Apakah ibumu telah meninggal dunia ?"

"Yaa, sudah meninggal!" sahut Oh Put kui sedih.

"Apa yang menyebabkan kematiannya " Kena penyakit ?" "Tidak, dia dibunuh oleh musuhnya."

"Telur busuk, bagaimana dengan ayahmu?" seru si kakek mendadak dengan penuh kegusaran.

"Ayahku tak bisa bergrak dengan bebas lagi."

"Bocah muda, mengapa kau sendiri tidak berusaha untuk membalas dendam?"

Diam-diam Oh Put Kui berpikir :

"Siapa bilang aku tidak berusaha untuk membalas dendam? Tapi. siapakah musuh besarku?"

Berpikir demikian, dia lantas  menjawab  : "Beanpwe tidak tahu siapakah musuh besarku itu!"

"Apakah Oh Sian tidak menerangkannya kepadamu?" seru Kakek latah awet mudah dengan mata melotot.

"Suhu pun tidak berhasil mengetahui akan hal ini."

"Apakah ayahmu juga tidak berhasil menyelidiki siapa pembunuh keji itu?" sambung Kakek latah awet muda cepat dengan alis mata berkenyit kencang. Sebenarnya Oh Put Kui hendak menerangkan bahwa ayahnya tersekap dalam pulau neraka hingga ia tak mampu untuk melakukan penyelidikan sendiri, akan tetapi sewaktu ucapan mana sudah sampai disisi bibir, dia segera berganti nada :

"Benar, ayahku pun tidak mengetahui akan hal ini!"

Kakek latah awet muda pelan-pelan memejamkan matanya rapat-rapat, lalu berkata lirih :

"Ada urusan apa kau datang kemari?"

"Boanpwe sedang mencari sebatang tusuk konde Ngo-im- hua-kut-ciam milik mendiang ibuku !"

Mendengar itu,  mencorong sinar tajam dari balik  mata kakek latah awet muda, serunya dengan cepat :

"Bocah muda, siapa yang mengatakan kalau tusuk konde pelarut tulang itu berada diloteng ini?"

"Orang perkampungan ini yang mengatakan !" "Haaaahhhhhh...........haaaaahhh.........haaaahhhh. boca

h muda, lagi-lagi kau tertipu !"

"Jadi tusuk konde pelarut tulang tidak berada diloteng ini?"

Kakek latah awet muda tidak menjawab apa yang  ditanyakan Oh Put Kui, malah sebaliknya bertanya sambil tertawa :

"Anak muda, sudah berapa lama ibumu terbunuh ?" "Waktu itu boanpwe masih berumur tiga tahun." "Dan sekarang, berapa usiamu?"

"Dua puluh satu tahun!"

Kakek latah awet muda segera tertawa.

"Itu berarti sudah hampir sembilan belas tahun bukan? Tapi lohu sudah hampir dua puluh tahun tinggal di loteng ini, bila tusuk konde pelarut tulang itu berada disini, masa lohu tidak mengetahuinya".

Oh Put Kui segera manggut-manggut.

"Yaa, perkataan kau orang tua memang benar!"

Tapi setelah berhenti sejenak, mendadak ujarnya  lagi sambil menggelengkan kepalanya berulang kali :

"Tapi, kabar ini justru bersumber dari mulut Lamkiong Ceng sendiri "

"Bocah muda, apakah kau merasa keheranan mengapa Lamkiong Ceng membohongimu?"

"Yaa, boanpwe memang tidak habis mengerti akan hal ini!" "Sebenarnya sederhana sekali, loteng kecil ini ibaratnya

mulut harimau, setiap orang yang datang kemari hanyak ingin mencari benda mustika, jadi sebenarnya ditempat ini hanya tersedia sebuah jalan saja, yaitu bisa masuk  jangan  harap bisa keluar lagi!

"Mengapa bisa demikian?" tanya Oh Put Kui tertegun. "Haaaahhhhhh...........haaaaahhh.........haaaahhhh. meg

napa tidak bisa? Bila disini terdapat seorang jago macam lohu,

tolong tanya jago dari manakah yang bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat?"

Dengan perasaan terperanjat Oh Put Kui berseru : "Jadi kau orang tua sudah membunuh banyak orang?"

"Haaaahhhhhh...........haaaaahhh.........haaaahhhh. apa

salahnya kalau kubunuh beberapa orang manusia yang kemaruk akan harta?"

Sesudah berhenti sejenak,  sambil menghela  napas dia berkata :

"Apalagi hanya pekerjaan ini saya yang bisa lohu lakukan untuk menghibur diri!" Oh Put Kui yang mendengar perkataan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang kali.

Baru pertama kali ini  dia  mendengar kabar seperti itu, membunuh orang hanya bertujuan untuk menghibur diri.

"Locianpwe, menurut pendapatmu, apakah hal ini sebenarnya merupakan sebuah perangkap?"

"Yaa, hampir begitulah! Mereka ingin  memperalat  lohu untuk melenyapkan musuh-musuh tangguhnya. "

Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata kakek itu, serunya sambil tertawa tergelak :

"Anak  muda, lohu sudah mengerti sekarang "

"Apa yang kau pahami?" tanya Oh-Put-Kui terperanjat. "Lohu tak boleh melukai orang lagi!"

"Aaaah. tentu saja, aku tahu kalau kau orang tua adalah

seorang yang berbudi luhur."

Kakek latah awet muda segera tertawa aneh.

"Lohu berbuat demikian bukan dikarenakan aku berbudi luhur, hanya saja lohu tak ingin membantu orang lain untuk membunuhi orang, apalagi menjual tenaga buat musuh besar, bukanlah perbuatanku ini  ibaratnya perbuatan telur  busuk tua?"

Mendengar perkataan ini, diam-diam Oh Put Kui  tertawa geli, segera pikirnya :

"Siapa bilang kau tidak tolol, sekarang pun kau sudah terhitung seorang telur busuk tua!"

Tapi diluaran, dia segera bertanya :

"Kekek Ban, mengapa kau berdiam selama dua   puluh tahun lamanya ditempat ini?"

Mendengar perkataan tersebut. Kakek latah  awet muda menjadi naik darah, segera sahutnya : "Kau anggap lohu sudah edan, mau berdiam selama dua puluh tahun ditempat semacam ini?"

Mendengar itu, Oh Put kui menjadi terkejut. Dia tak mengira kalau kakek ini  cepat marah, cepat gembira dan   cepat murung.

Buru-buru serunya sambil tertawa paksa.

"Boanpwe tidak bermaksud demikian, aku hanya heran, mengapa kau orang tua. ,"

"Sudah, jangan ditanyakan lagi !"

Mendadak Kakek latah awet muda menggelengkan kepalanya berulang kali, setelah menghela napas panjang, sambungnya :

"Aaai, semua ini gara-gara lohu terlalu jujur tehadap orang lain."

"Aku tahu, kau orang tua memang seorang yang  berhati jujur dan polos. "

Ternyata ungkapan  tersebut membuat si kakek menjadi girang sekali, katanya lebih jauh :

"Seandainya lohu tidak terlalu polos dan jujur, bagaimana mungkin Jut Put bisa mengurung lohu disini ?"

Oh Put-kui pura-pura terkejut, serunya cepat :

"Apakah kau maksudkan Bau-mo-ci-mo., Tai-kek-sin-kiam (Iblis diantara iblis pedang sakti tenaga raksasa ? Ilmu silatnya lihay sekali !"

"Huuuh, iblis diantara iblis apa ? Kentut anjing. Sedang soal pedang sakti tenaga raksasa, hmm, dia masih belum tahan menghadapi seujung jariku, hitung-hitung saja Thian masih memberi usia panjang kepadanya !"

Oh Put-kui tertawa geli di dalam hati pikirnya : "Siapa yang kentut anjir ? Kalau orang lain dan  dia  tak tahan seujung jarimu, mengapa orang lain bisa mengurungmu selama dua puluh tahun lamanya disini ?"

Bagaimanapun juga, pikiran tersebut tidak berani diutarakan terang-terangan, maka katanya kemudian :

"Benar juga perkataanmu, kalau begitu kau orang tua harus meninggalkan tempat ini dan  membuat  perhitungan dengannya !"

Ketika mendengar perkataan itu, mendadak  kakek latah awet muda menghela napas panjang, katanya lirih :

"Aaaai, tak mungkin lagi bagiku untuk meninggalkan tempat ini."

"Kenapa ?"

"Jut Put-shia telah membelenggu lohu" "Bagaimana caranya membelenggumu ?"

"Dia telah bertaruh dengan lohu dan ia berhasil menangkan diriku dalam pertaruhan itu."

Kembali Oh Put Kui berpikir :

"Aaaah, dugaanku memang tak salah, si kakek binal ini memang sudah terjebak oleh akal bulus iblis tua itu."

Maka sambil tertawa dia berkata :

"Bagaimana bisa kalah ? Seharusnya dia tak akan berhasil menangkan kau orang tua ?"

"Yaa, harus disalahkan diriku sendiri, coba kalau aku tidak lagi mabuk arak, tak mungkin aku bakal tertipu oleh anjing cilik itu "

"Bagaimana cara kalian bertaruh?"

Tiba-tiba paras muka kakek latah  awet mudah berubah menjadi merah padam, katanya:

"Dia menantang lohu untuk bertaruh mata uang !" "Mata uang?" Oh Put Kui segera tertawa tergelak sampai terpingkal-pingkal.

Pada mulanya ia menduga taruhan mereka berdua pasti merupakan suatu pertaruhan besar, tak tahunya yang mereka pertaruhkan hanya permainan anak kecil saja.

Sambil tertawa getir kembali kakek latah  awet  muda berkata :

"Lohu yakin kepandaianku di dalam permainan ini sangat hebat. Siapa tahu Kit Put shia jauh lebih lihay daripada diriku, sepuluh buah mata uang yang dilemparkan  ternyata  semuanya berada dalam keadaan terbalik "

Oh Put-kui tertawa geli setelah mendengar perkataan itu, pikirnya dengan cepat :

"Tentu saja Kut Put-shia bisa berbuat demikian,  sebab orang lain telah sertakan tenaga dalam di dalam permainan  itu."

Dia cukup mengetahui watak kakek latah awet muda ini, dia tahu dalam permainan tersebut sudah pasti kakek itu tidak menggunakan tenaga dalamnya, melainkan bermain dengan cara seperti orang awam.

Sebaliknya Kit-Put-shia pasti sudah menyertakan  permainan curang dalam permainan tersebut.

Bayangkan saja tipisnya sebuah mata uang, bila seseorang menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam mata uang tersebut, apa salahnya untuk memutar balikkan sebuah mata uang ?

Belum selesai dia berpikir, kakek latah awet muda sudah berkata lagi sambil menghela napas :

"Begitulah, setelah lohu kalah maka akupun harus disekap selama duapuluh tahun disini .....

"Sekarang dua puluh tahun sudah lewat, apakah kau orang tua boleh ke luar dari sini?" tanya Oh Put kui sambil tertawa.

Kakek itu menggelengkan kepala berulang kali, sahutnya : "Sepuluh hari lagi akan genap dua puluh tahun,   cuma ketika lohu menderita kalah dulu, aku pernah sesumbar bahwa dua puluh  tahun  kemudian   aku  pasti  akan  mengalahkan dia. "

"Kalau tak bisa mengalahkah dia ?"

"Yaa, apa boleh buat. Terpaksa aku akan berdiam selama dua puluh tahun lagi disini!" kata si kakek sambil menghela napas.

Oh Put-kui segera tertawa terbahak-bahak. "Haaahh......haaahh.......haaahhh.......kali ini kau orang tua

pasti akan menang!"

Mendadak kakek latah awet muda merogoh ke  dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah mata uang, lalu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, dia berkata :

"Sukar untuk dibilang, sukar untuk dibilang !  Setiap  hari lohu selalu berlatih melemparkan mata  uang  sebanyak sepuluh kali, akan tetapi aku tak pernah berhasil menyamai permainan dari Kit Put-shia, oleh karena itu lohu tahu, sulit bagiku untuk meraih kemenangan darinya "

"Kakek Bau asal kau membawa boanpwe  serta dalam pertaruhan itu, kutanggung kau pasti menang."

"Boleh saja membawamu serta, tapi kau tak boleh mengacau secara diam-siam, kalau  tidak,  sekalipun bisa menang juga tak bisa masuk hitungan!"

Diam-diam Oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang kali, dia merasa kakek ini kelewat jujur.

Akan tetapi diluarnya dia menyahut sambil tertawa :

"Tentu saja, maa boanpwe  berani mengacau ? Justru karena boanpwe mempunyai kepandaian yang lebih hebat dalam permainan mata uang ini, maka aku tak percaya kalau Kit Put-sia bisa menang " "Sungguhkah itu? Kalau  begitu  cepat  ajarkan  kepada lohu " seru kakek latah awet muda kegirangan.

Padahal Oh Put Kui tidak memiliki kepandaian apa-apa, dia tak lebih hanya bicara sekenanya.

Kini, si kakek latah awet muda menyuruh mengajarkan cara tersebtu kepadanya, hal ini kontan saja  membuatnya kesulitan.

Tapi sambil tertawa dia lantas mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lainnya, katanya :

"Kakek Bau, persoalan ini tak usah terburu-buru untuk dilakukan hari ini, sekarang boanpwe justru mempunyai persoalan yang tidak kupahami, kumohon kau orang tua sudi memberi petunjuk kepadaku. "

"Baiklah, coba kau tanyakan."

"Kau orang tua mengatakan kalau tusuk konde pelumat tulang tidak berada disini, sebaiknya Lamkiong Ceng bilang tusuk konde itu berada di loteng ini, menurut pendapatmu apakah dibalik kesemuanya ini terselip suatu intrik tertentu ?"

"Yaa, itulah yang dinamakan siasat meminjam pisau membunuh orang "

"Mengapa mereka hendak melakukan perbuatan meminjam golok membunuh orang?"

"Mungkin saja mereka hendak membasmi semua orang yang ada sangkut pautnya dengan tusuk  konde  pelumat tulang itu !"

Tergerak hati Oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu, kembali ujarnya sambil tertawa :

"Kakek Bau, jadi kalau begitu jejak tusuk konde pelumat tulang itu pasti diketahui oleh Lamkiong Ceng atau Kit Put- sia?"

"Tentu saja ?" Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Put Kui, serunya lagi :

"Kalau begitu, kemungkinan besar Kit Put-shia adalah musuh besar pembunuh ibuku?"

Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak. "Haaahh......haaahh.......haaahhh.......mana mungkin hal ini

bisa terjadi? Anak muda, kau berpikir kelewat jauh !"

"Locianpwe, bila Kit Put-sia bukan pembunuh ibu boanpwe, mengapa dia sengaja menyiarkan berita bohon yang mengatakan tusuk konse pelarut tulang  berada  disini? Mengapa dia  gunakan siasat meminjam pisau membunuh orang ?"

Kakek latah awet muda tertegun.

"Emmm, benar juga perkataanmu itu," serunyam "anak muda, perkataanmu itu memang masuk diakal !"

"BOANPWE rasa, Kit-put-sia  sangat  mencurigakan  di dalam peristiwa ini " kembali Oh Put Kui berkata.

"Emmm, sekaran lohu juga mulai percaya kalau dia memang sedikit mencurigakan!"

Tiba-tiba dengan wajar sedih Oh Put Kui berkata : "Locianpwe, boahpwe ingin mohon diri lebih dulu !"

"Kau hendak pergi?" boanpwe ingin mohon diri lebih dulu!"

"Kau hendak  pergi ?" seru Kakek latah awet muda tercengang.

"Yaa, keinginan boanpwe untuk pergi ibaratnya anak panah yang sudah berada di atas gendewa!"

"Hai ini mana boleh jadi ? Bukanlah kau hendak mengajarkan lohu untuk bermain lembaran mata uang? Kau harus mengajarkan dulu kepadaku sebelum pergi !"

Dengan cepat Oh Put Kui menggeleng. "Dendam sakit hati terbunuhnya ibuku harus  segera boanpwe balas, sebelum hal ini terlaksana, hatiku tak akan merawa tenteram.......biar cara tersebut kuajarkan kepadamu setelah boanpwe selesai membalas dendam nanti !"

"Tidak bisa !" teriak si Kakek latah dengan gusar, "menunggu sampai kau selesai membalas dendam,  apa gunanya aku mempelajari cara kepandaianmu itu ?"

Oh Put Kui segera tertawa.

"Kenapa kau orang tua bersikeras untuk mempelajarinya lebih dulu ? Kit Put shia.....

Mendadak ia membungkam, karena sekarang dia sudah memahami maksud hati dan si bocah binal berambut putih, Kakek latah awet muda tersebut "

Rupanya dia kuatir ia berhasil membalas dendam dengan membinasakan Kit Put-sia sehingga kakek itu akan kehilangan patnernya untuk bertaruh, seandainya hal ini sampai terjadi, bukankah seumur hidup ia bakal terkurung terus disitu ?

Sambil tertawa geli kembali Oh Put Kui berkata :

"Kakek Bau, aku cukup memahami maksud hatimu itu !"

Kakek latah awet muda mengangguk berulang kali, katanya kemudian :

"Jika kau sudah memahami maksud lohu, maka kau tak boleh mohon diri lebih dulu."

Oh Put Kui tertawa pedih, sahutnya :

"Baik, boanpwe bertekad akan menunggumu selama sepuluh hari !"

"Haaahh......haaahh.......haaahhh. nah, begitu baru anak

penurut, anak muda!" seru kakek latah  awet muda sambil tertawa terbahak-bahak.

"Boanpwe sampai disitu, kembali dia membungkam. Sebab dia telah menyanggupi permintaan kakek latah awet muda, tentu saja sesuatu yang telah disanggupi tak bisa dirubah lagi, meski begitu timbul juga perasaan yang aneh di dalam hatinya.

Munculnya pertentangan batin ini  segera membuatnya menutup mulut rapat-rapat.

Kakek latah awet muda segera tertara terbahak-bahak. "Haaahh......haaahh.......haaahhh.......tak usah risau anak

muda, sekalipun harus menunggu sepuluh hari lagi juga tak menjadi soal."

Sementara mereka berbicara sampai disitu, mendadak si Pengemis pikun Lok Jin-hi yang sedang duduk bersila sambil mengatur pernapasan itu menarik napas dalam-dalam tampaknya dia sudah menyelesaikan latihan semedinya.

Di tengah kegelapan,  sepasang mata pengemis pikun kelihatan bersinar tajam bahkan jauh lebih tajam dari keadaan semula. Hal ini membuktikan kalau gumpalan tahi yang dimakannya itu bukan sia-sia belaka.

Sambil memandang ke arah pengemis pikun, kakek latah awet muda berkata sambil tertawa :

"Hei, pengemis cilik, kueh Kim-cau-ni buatan lohu dengan bahan baku dari badan ku ini tidak jelek bukan ?"

Suasana hening menyelimuti ruang penerima tamu perkampungan Siu-ning-ceng.

Ketua siau-lim-pay Hu-sin siansu dengan berkerut kening duduk dihadapan keempat orang ciangbunjin partai lainnya, beberapa kali terdengar dia menghela napas panjang.

Suasana hening dan murung tampak menyelimuti seluruh ruangan tersebut.

Paras muka Han-sian-hui-kiam  Wie Sin dari Kay-pang diliputi hawa kegusaran, tampaknya kelima  orang  ciangbunjin itu sedang dirisaukan oleh sesuatu masalah besar. Saat ini, suasana diliputi oleh keheningan yang mencekam......

Meskipun paras muka kelima orang itu berubah amat serius dan gusar, akan tetapi tak seorangpun yang buka suara.

Kentongan ke empat sudah lewat.

Cui-sian sangjiu yang memejamkan matanya itu mendadak membuka matanya sambil menghardik :

"Siapa yang sedang mengintip diluar jendela ?"

Bentakan ini  kontan saja membangkitkan rasa terkesiap bagi ke empat ciangbunjin lainnya.

Pendatang sudah berada di depan pintu jendela, mengapa mereka tidak mendengar sesuatu ?

Gelak tertawa ringan  segera bergema dari luar ruangan, menyusul kemudian seseorang menyahut :

"Tajam amat pendengaran sangjin ! Boanpwe baru  saja tiba, jejakku segera ketahuan !"

Cui-sian sanjin tertawa hambar.

"Ilmu meringangkan tubuh yang siau-sicu miliki pun sangat lihay sekali, kedatanganmu ditengah malam buta ini tentu mempunyai maksud tertentu, mengapa siau-sicu tidak masuk kedalam untuk berbincang-bincang?"

Kembali dari luar jendela berkumandang suara tertawa ringan.

"Boanpwe akan turut perintah. "

"Kraaaaakkk !"

Pintu kamar dibuka orang, diantara bergoyangnya sinar lentera tahu-tahu dalam ruangan telah tambah dengan  seorang pemuda berbaju kuning.

Dia adalah Yu-liong-kuay-kiam  (naga sakti pedang kilat) Nyoo Ban-bu. Cut-sian sangjin merasa sedikit ada diluar dugaan, serunya sambil tertawa :

"Nyoo sicu kah?"

Keempat ciangbunjin  lainnya turut berkerut kening pula, kejadian ini diluar dugaan mereka.

Dalam perkiraan mereka semula, oleh karena   tenaga dalam yang dimiliki  orang itu sedemikian hebat sampai kehadirannya hingga ditepi jendelapun tidak disadari, maka delapan puluh  persen  dia adalah  Long-cu-koay-hiap (pendekar aneh pengembara) Oh Put Kui !

Tak tahunya yang muncul adalah Nyoo Ban-bu.

Nyoo Ban-bu memandang sekejap wajah ke lima orang ciangbunjin itu, lalu sambil menjura katanya !

"Bila kedatangan boanpwe ditengah malam buta ini mengganggu ketenangan kalian, harap kalian  sudi  memaafkan !"

Ucapannya sangat merendah dan cukup tahu sopan. "Silahkan duduk !" kata Cui-sian sangjin sambil tertawa. Nyoo Ban-bu membungkukkan badannya memberi hormat,

lalu duduk disebuah kursi yang berada barisan paling bawah.

Dengan kening berkerut, ketua Hna-san pay  si Kakek pedang pengejar angin Bwee Kun-peng menegur :

"Keponakan Nyoo, ada urusan apa kau muncul secara tiba- tiba disini ?"

Nyoo Ban-bu tertawa.

"Boanpwe mempunyai persoalan yang serasa mengganjal dalam hatiku, sebelum persoalan itu menjadi terang, sukar rasanya bagiku untuk tidur dengan nyenyak dan makan dengan nikmat, itulah sebabnya  boanpwe  sengaja datang kemari untuk memohon petunjuk dari taysu sekalian !" "Masalah pelik apakah yang sedang Nyoo sicu hadapi?" tanya Hiang-leng totiang dari Bu-tong-pay sambil tertawa.

Sekilas perasaan gusar bercampur sedih menghiasi wajah Nyoo Ban-bu, kemudian katanya :

"Boanpwe ingin bertanya tentang kisah terbunuhnya mendiang ayahku!"

"Nyoo sicu, apakah kau sudah tahu  Kakek  malaikat dibunuh oleh siapa?" tanya Hian-leng totiang lagi serius.

Nyoo Ban-bu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Justru persoalan inilah yang membuat boanpwe merasa kesal, murung dan sedih!"

"Omintohud! Mengapa siau-sicu mest kesal?" ucap ketua Siau-lim-pay Hui-lin-tasyu.

"Pembunuh keji itu terlampau licik, dia menyangkal melakukan pembunuhan tersebut, meski boanpwe dibara oleh api dendam, sayang sekali kekurangan bukti untuk menantangnya berduel "

"Kalau kudengar  dari perkataan siau-sicu itu, tampaknya kau sudah mengetahui siapakah pembunuh keji itu?"

"Benar, boanpwe memang sudah tahu !" "Siapakah dia?" cepat Hian-leng totiang bertanya. "Hui Lok !"

Mungkinkan ia Kakek pelenyap hati Hui Lok ?

Untuk sementara waktu Hui-sin taysu berempat berdiri tertegun dengan wajah melongo.

"Siau-sicu, apakah kau percaya dengan  perkataan dari Cen-thian-kui-ong (raja setan penggetar langit) dengan begitu saja ?" kata Cui-sian sangjin tiba-tiba sambil tertawa hambar. "Boanpwe sudah mempunyai bukti yang bisa ditelusuri!" Nyoo Ban-bu dengan gusar. "Hui Lok benar-benar merupakan manusia yang pantas dicurigai!"

"Bukti apa yang bisa ditelusuri !"

"Sewaktu mendiang  ayahku terbunuh, Hui Lok  pernah muncul di ibu kota !"

"Siapa yang melihat ?" "Kit Bun-siu tayhiap !"

"Si kutu buku itu?" Han-sian-hui-kim Wici Bin agak tertegun setelah mendengar nama tersebut.

"Yaa, si kutu buku pena emas Kit tay-hiap yang menyaksikan hal ini !"

Tiba-tiba Hu-sin siansu berkata sambil tertawa :

Meskipun hui sicu pernah muncul di  ibukota,  belum  tentu dia ada kaitannya dengan terbunuhnya Kakek malaikat. Lebih baik siau-sicu bersikap lebih teliti !"

"Ciangbun tasysu hanya tahu satu  tidak  mengetahui kedua," ucap Nyoo Ban-bu sambil tertawa dingin, "bukan saja Hut Lok telah muncul di ibukota waktu itu, bahkan keesokan harinya dia pergi dari kota itu dengan tergesa-gesa !"

Tiba-tiba Bwe Kunpeng tertawa seram  lalu katanya : "Apabila dia mempunyai urusan penting, tentu saka harus

berlalu dengan tergesa-gesa."

Kembali Nyoo-Bau bu tertawa dingin.

"Aaah, masa ada  kejadian yang begitu kebetulannya  di dunia ini ? Adalagi pelatih dari keluarga boanpwe Toh-min- huan (panji sakti perenggut nyawa) Ku Bun-wi pernah bersua muka dengannya waktu itu !"

"Sungguhkah perkataan dari siau-sicu ini  ?" Hian leng totiang menjerit kaget. "Tiada kepentingan bagi boanpwe untuk berbohong, sekarang Ku Bun-wi masih berada dalam gedung siau-hong- hu, tidak ada salahnya kalau ciangbunjin berlima mengikuti boanpwe untuk berkunjung ke sana dan menanyakan sendiri masalah tersebut!"

"Lohu memang akan ke sana untuk menanyakan persoalan ini !" kata Bwe Kun-peng dengan marah, "seandainya Ku Bun- wi benar-benar pernah tertemu dengan Hui Lok  maka sembilan puluh persen Kakek malaikat tewas oleh Hui Lok."

Sekilas rasa girang segera menghiasi wajah Nyoo Ban-bu."

Sayang sekali ke lima orang ciangbunjin itu tidak melihat akan perubahan ini.

Hui-sin taysu menghela napas rendah, kemudian berkata : "Lolap tidak mengira kalau Hui sicu adalah manusia yang

berhati keji "

"Taysu, jangan kau lupakan julukannya si kakek pelenyap hati !" seru Wici Bin sambil tertawa dingin, "jikalau kakek malaikat memang terbunuh  olehnya, ini berarti peristiwa berdarah lainnyapun sembilan puluh persen merupakan hasil karya iblis tua ini juga."

Cui-sian sangjin mengerutkan  keningnya,  setelah merenung sejenak ia berkata :

"Aku lihat peristiwa ini perlu diselidiki dulu hingga jelas dan terang !"

"Sejak kematian mendiang ayahku, hingga kini masalahnya belum pernah jelas. Hal mana membuat boanpwe tak pernah merasa tenang," kata  Nyoo Ban-bu lagi dengan penuh kebencian," ciangbun taysu berilmu, kalian adalah tokoh-tokoh persilatan yagn selalu menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran dalam dunia persilaan, oleh sebab itulah boanpwe sengaja datang mengganggu di tengah malam buta ini dengan harapan ciang bun taysu berilmu sudi mencarikan  keadilan bagi boanpwe." Hian-leng totiang segera manggut-manggut.

"Siau-sicu, di dalam persoalan ini tentu saja pinto sekalian  tak bisa berpelak tangan belaka !"

Bwe Ku-peng tertawa  terbahak-bahak  pula seraya  berkata :

"Lohu berlima sempat menyaksikan akiat dari keempat peristiwa pembunuhan itu, meski keponakan Nyoo  tidak kemari,  lohu  sekalipun  tak nanti akan berpeluk tangan belaka

!"

Lima orang ciangbunjin ini memang cukup jujur dan terbuka......

Mereka selalu tidak percaya kalau Hui Lok adalah seorang pembunuh keji, mereka selalu berusaha untuk membelai Hui Lok, tapi begitu kenyataan sudah muncul di depan mata, merekapun segera melepaskan  pendapatnya  tersebut, mereka ingin menegakkan keadilan dan kebenaran bagi umat persilatan...

Agaknya Nyoo Ban-bu sudah menduga akan hasil yang akan dicapai dalam kunjungannya kali ini.

Hanya saja, sia tak mengira kalau hasil tersebut bisa diraih olehnya dengan cara yang begitu mudah.

"Kesedihan cianpwe sekalian untuk membantu diriku dalam persoalan ini, sungguh membuat boanpwe merasa berterima kasih sekali, budi kebaikan ini entah sampai kapan baru dapat kubayar "

@oodwoo@
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).