Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 09

 
Jilid 09

Nona Siau-hong tertawa manis, ditatapnya sekejap dengan penuh arti yang dalam, kemudian bisiknya :

"Kongcu, asal kau tidak menaruh kesalah  pahaman terhadap budak sekalian. Budak sudah merasa gembira sekali " Selesai berkata, dia lantas ngeloyor pergi.

Tergerak hati oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu, pikirnya : "Nona ini sungguh menarik hati. "

Dalam pada itu, Thian-hiang Hui-cu telah  mengalihkan kembali sorot matanya kewajah kedua orang itu, kemudian katanya sambil tertawa.

"Nak, konon kau telah berkunjung ke Pulau Neraka, benarkah berita tersebut ?"

Oh Put Kui tidak menyangka kalau secara tiba-tiba dia akan mengajukan pertanyaan tersebut, buru-buru sahutnya:

"Atas dorongan emosiku sebagai anak muda, boanpwe memang telah berkunjung kesana."

"Menyerempet bahaya memang merupakan kesukaan anak muda, hal ini tak bisa dibilang sebagai dorongan emosi. Nak, apakah kau telah berjumpa dengan ketujuh orang tua yang menghuni di pulau tersebut ?"

Mendengar pertanyaan itu, oh Put Kui menjadi tertegun. Bukankah Thian-hiang Hui-cu telah  hidup terpencil didasar tanah dalam kuburan ? Mengapa setiap persoalan yang terjadi dalam dunia persilatan diketahui olehnya ?

Tapi ia toh menjawab juga :

"Yaa, sudah bertemu "

Thian-hiang Hui-cu kembali tertawa.

"Apakah kau juga telah menyaksikan kepandaian silat yang mereka miliki?"

" Yaa, sudah kusaksikan, kepandaian mereka memang luar biasa sekali. "

Thian-hiang Hui-cu kembali tertawa.

"Apakah kau juga telah menyaksikan kepandaian silat yang mereka miliki "

"Yaa, sudah kusaksikan, kepandaian mereka memang luar biasa sekali. " Thian-hiang Hui-cu segera tersenyum.

"sepuluh tahun lebih melatih diri secara tekun, tentu saja kemajuan yang berhasil mereka capai luar biasa sekali."

sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba  Thian-hiang Hui-cu berkata dengan wajah serius :

"Nak, apakah dalam hatimu masih terdapat persoalan yang mencurigakan dirimu?"

sejak oh Put Kui tahu kalau Thian-hiang Hui-cu adalah tuan putri dari dinasti Ming yang terakhir, dalam hati kecilnya sudah tidak mempunyai perasaan curiga lagi.

Ia percaya, setiap perbuatan yang dilakukan perempuan ini sudah pasti mempunyai maksud yang mendalam. oleh karena itu, setelah mendengar ucapan tersebut segera sahutnya : "Boanpwe sama sekali tidak mencurigai apa apa " "Tidak, kau jangan bohong," seru  Thian-hiang  Hui-cu sambil menggelengkan kepalanya berulang  kali, "janganlah dikarenakan kau sudah tahu kalau aku adalah tuan putri dari dinasti Ming, maka kau telah merubah jalan pikiranmu, sekalipun tidak kau tanyakan, akupun akan memberitahukan kepadamu. "

Terkesiap juga hati oh Put Kui setelah mendengar pernyataan tersebut. "Locianpwe begitu memandang tinggi diri boanpwe, hal ini sungguh membuat boanpwe merasa tidak tenang "

"Nak, bukankah kau ingin tahu mengapa keempat orang dayangku Liu Im, Khi Cui, Wi Hiang dansiau Hong menjadi perempuan penghibur dirumah pelacuran Yan-hiang-lo ?"

"Boanpwe bodoh dan tak berani menduga secara sembarangan "

"Kota Kim leng merupakan pusat dari tujuh propinsi diwilayah selatan, banyak pembesar penting dari kerajaan Ching yang berkumpul ditempat ini, maka aku menyuruh mereka berusaha menggunakan segala akal dan daya upaya untuk menarik mereka agar berpihak ke kita "

"Locianpwe, dengan berbuat demikian, apakah rahasiamu tak akan menjadi terbongkar? Misalnya pihak lawan pada dasarnya memang berjiwa budak, apakah hal mana tak akan merusak rencana besar ?"

Dia tahu, Thian-hiang  Hui-cu berusaha untuk  menyuap pembesar kerajaan Ching dengan maksud hendak mengenyahkan penjajah bangsa Boan dari muka bumi serta membangun kembali kerajaan Ming yang jaya.

Tapi dia menganggap mencari orang lewat ruma pelacuran bukankah suatu cara yang bisa dipercaya keberhasilannya.

selamanya dia memang memandang rendah soal perempuan penghibur dan kehidupan malam seperti itu. Thian-hiang Hui-cu segera tertawa hambar. "Nak, keempat orang dayangku ini mempunyai ketajaman firasat yang melebihi orang lain. Kalau tidak berjumpa dengan orang-orang yang rasanya bisa dibujuk untuk berpihak kepada kita, mereka tak pernah  akan membuang tenaga dengan percuma."

Diam-diam oh Put Kui manggut- manggut setelah mendengar perkataan itu, tapi secara tiba  tiba ia teringat kembali akan satu persoalan. Maka katanya kemudian dengan wajah bersungguh-sungguh:

"Locianpwe, boanpwe  ingin memohon maaf kepadamu tentang satu hal yang maha penting "

Tertegun Thian-hiang Hui-cu menyaksikan  keseriusan orang. "Persoalan apa ? seriuskah ?"

"oleh karena boanpwe tak tahu jelas keadaan  kau orang  tua yang sebenarnya, maka boanpwe telah banyak mempercayai berita yang tersiar dalam dunia persilatan dan benar benar menganggap kau sebagai seorang gembong iblis dari dunia persilatan "

"Kau tidak salah nak" tukas Thian-hiang Hui-cu sambil tertawa, "nama Thian-hiang Hui-cu memang merupakan suata nama yang penuh dengan dosa, karena nama tersebut selalu digunakan orang lain untuk  melakukan perbUata yang tak senonoh."

"walaupun cianpwe berkata demikian, tapi boanpwe masih tetap merasa tidak tenang. " oh Put Kui menggeleng.

sepasang alis mata Thian-hiang Hui-cu segera berkenyit, serunya cepat: "Nak, kau berulang kali mohon ampun, sesungguhnya kesalahan besar apakah yang telah  kau lakukan ?"

"Boanpwe..... boanpwe  telah salah mencelakai seorang dayang locianpwe. "

"OOOo, benarkah itu? Itu mah tidak menjadi soal "

"Tapi..... tapi. boanpwe telah membunuhnya " "Siapa yang telah kau bunuh ?" seru Thian-hiang Hui-cu agak kaget.

"Han Yan "

Mendengar nama tersebut, tiba-tiba Thian-hiang Hui-cu tertawa tergelak.

"Jadi Han Yan mati ditanganmu ?"

"Benar, boanpwe telah salah membunuhnya "

Dengan cepat Thian-hiang Hui-cu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya:

"Nak, kau tidak salah membunuh. "

"Kau orang tua tak akan menegur boanpwe ?" seru oh Put Kui setelah tertegun beberapa saat lamanya.

"Ilmu silat yang dimiliki Han Yan memang sangat lihay, dalam kami dia sudah terhitung seorang jago lihay  kelas wahid, kecuali kau,  rasanya memang tak ada  orang yang sanggup membinasakan dirinya lagi."

" Kepandaian silat yang dimiliki Han Yan memang sangat lihay," ucap oh Put Kui dengan perasaan ragu, "seandainya boanpwe tidak mengeluarkan ilmu jari Thian-liong-ci, hampir saja aku yang kena dipecundangi olehnya, cuma waktu itu boanpwe tidak tahu kalau dia adalah  seorang pembela tanah air yang  berjiwa ksatria, aku telah menghilangkan nyawa seorang pahlawan perempuan "

Mendadak Thian-hiang Hui-cu tertawa dingin, tukasnya : "Nak, dia tidak pantas disebut sebagai seorang pahlawan

perempuan "

Setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya :

"Nak, apakah kau telah menemukan dia sedang melakukan suatu perbuatan biadab yang memalukan sebelum turun tangan melenyapkannya dari muka bumi"

Oh Put Kui mengangguk. "Yaa, boanpwe berhasil memergoki dia sedang berunding dengan Jian-tok-coa-sin (dewa ular selaksa bisa) It bun seng untuk mencelakai seorang tokoh  persilatan, maka akupun turun tangan lebih dulu untuk membereskan nyawa mereka "

Thian-hiang Hui-cu merasa terkejut  setelah mendengar perkataan itu, serunya "Benarkah  itu ? siapa yang hendak mereka celakai ?"

"Locengcu dari perkampungan Ang-yap-san-ceng, Pat- hong-koay-siu kakek aneh delapan penjuru Liu Thian-cong "

"Ternyata bajingan tersebut adalah bajingan tua itu "

seru Thian-hiang Hui-cu dengan gemas.

Tiab-tiba ia berhenti sebentar, lalu katanya  lagi :

"Nak. kau memang tidak salah membunuh, Han Yan memang beralasan untuk menerima kematiannya "

"Kau orang tua benar-benar tak akan menyalahkan diriku ?" "Nak, sekalipun kau tidak membunuhnya, aku juga akan

menghabisi nyawa perempuan itu "

"ooh "

Tiba-tiba oh Put Kui menjadi paham, kemungkinan besar Han Yan adalah seorang mata-mata dari kerajaan ching.

Berbeda dengan pengemis pikun, dia merasa tidak habis mengerti. "Locianpwe konon diantara keempat  orang dayangmu itu Han Yan adalah  dayang yang paling  kau percayai, sebab itu pula dayang tersebut paling sukar dihadapi dalam dunia persilatan, entah mengapa kau  selalu mengatakan bahwa dia memang pantas mati ?"

"Pikun, pikun, kau si pikun cilik ternyata menjadi pikun kembali....." seru Thian-hiang Hui-cu  sambil  tertawa. Pengemis  pikun jadi  tersipu-sipu.  "Boanpwe  memang bodoh. " bisiknya. Thian-hiang Hui-cu tak dapat menahan gelinya, dia segera tertawa tergelak, kemudian  baru katanya perlahan :  "Dia adalah seorang mata-mata "

"seorang mata-mata ? Waaaah. kalau begitu dia pantas

dibunuh. "

"Itulah sebabnya, sekalipun bocah ini tidak membunuhnya, akupun akan turun tangan membereskan dirinya "

"Waaah, jika locianpwe selalu berkata demikian, boanpwe jadi merasa malu sendiri....." seru oh Put Kui sambil tertawa. Thian-hiang Hui-cu ikut tertawa.

"Nak, kau telah membantuku melenyapkan penghianat, sudah seharusnya aku berterima kasih kepadamu "

"Aaah, boanpwe tak berani menerima rasa terima kasih dari cianpwe, ucapan terima kasihmu hanya membuat boanpwe malu. "

"Aaaai....., nak. kau tak usah sungkan-sungkan " Thian-

hiang Hui-cu menghela napas pelan.

setelah berhenti sebentar, tiba-tiba sorot matanya berubah menjadi amat sedih, lanjutnya :

"Apakah kau ingin mengetahui jejak adik kandungku yang memalukan itu ?" Tentu saja oh Put Kui ingin mengetahuinya, tapi dia merasa rikuh untuk bertanya secara langsung, maka bukan menjawab, dia hanya tertawa jengah.  Thian-hiang Hui- cu menggelengkan kepalanya berulang  kali,  katanya kemudian

"Selama ini dia selalu mencatut namaku untuk berbuat segala macam kejahatan dalam dunia persilatan, ada kalanya aku menjadi marah dan ingin sekali memberi hukuman atau peringatan kepadanya."

"Yaa, betul, kau orang tua memang  harus  berbuat demikian" seru pengemis pikun tanpa sadar. Tapi Thian-hiang  Hui-cu  kembali  menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya lebih jauh: "Tidak. aku tidak sanggup untuk turun tangan. "

setelah mendongakkan kepalanya, dengan mata berkaca- kaca dia menghela napas panjang, ujarnya lebih jauh:

"Negara hancur rumah berantakan, sakit hati leluhur belum lagi terbalas, bagaimana mungkin aku bisa turun tangan terhadap sanak keluargaku sendiri......? oleh karena itu......

aaai, segala sesuatunya terpaksa membiarkan dia bertindak sesuka hati, dia bisa seperti sekarang, boleh dibilang akulah yang paling berdosa...... cuma sayang menyesalpun telah terlambat. "

"Kau orang tua tak usah terlalu menyalahkan diri sendiri " ujar oh Put Kui sambil tertawa.

"Aaai....nak. kau mana tahu, coba kalau aku tidak mewariskan ilmu silat ku secara diam-diam kepadanya, mana mungkin dia bisa mencelakai umat persilatan dan melakukan banyak kejahatan kejahatan besar bagi umat manusia ?"

oh Put Kui segera terbungkam dan tak sanggup berbicara lagi.

Agaknya semua akibat ini  bisa terjadi karena  gara-gara perasaan kasih dan sayang yang berlebihan dari Thian-hiang Hui-cu terhadap adiknya.

Thian-hiang Hui-cu memandang sekejap kearah oh Put Kui, kemudian berkata lagi.

"Nak, namaku yang sebenarnya adalah Cu Yu-hong, sedangkan adikku bernama Cu Yu-hun setelah negaraku musnah, akupun merubah namaku menjadi Ki Yan-hong, sedangkan diapun berganti nama menjadi Ki Yan-hun. Akan tetapi orang persilatan tiada yang tahu kalau Thian-hiang Hui- cu sebetulnya bukan cuma satu orang "

setelah tertawa, lanjutnya: "Tentu saja selain gurumu " "sekarang boanpwe dan Lok-lopun mengetahui akan hal ini  " kata oh Put Kui sambil tertawa.

"Benar, aku merasa persoalan ini memang sudah saatnya untuk diketahui orang lain aku berharap kau sudi melakukan suatu pekerjaan bagiku, nak, bersediakah kau ?"

" Harap kau memberikan perintah "

"Nak, bantulah aku untuk membekuk Cu Yu-hun dan seretlah kemari "

oh Put Kui menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, lama kemudian baru katanya:

"Bukankah kau orang tua enggan untuk melukai. Ji-

kuncu ?"

Dia tak dapat menyebut nama Cu Yu-hun secara langsung, maka disebutnya sebagai tuan putri kedua.

Thian-hiang HHul-cu menghela napas panjang.

"Aaaai.... aku hanya tak ingin membekuknya dengan tanganku sendiri Nak, seandainya kau dapat membekuknya besok. akupun tak akan mencelakai jiwanya, cuma akupun melarang dia untuk melakukan kejahatan lagi Toh tindakanmu merupakan suatu tindakan  menguntungkan bagi  gurumu? Nak, masa kau tidak mau?"

oh Put Kui termenung sebentar, kemudian katanya:

"Baik, boanpwe bertekad akan membakti demi cianpwe" Thian-hiang Hui-cu segera tertawa.

"Nak, dia tinggal di "

Belum selesai perkataan itu diutarakan  mendadak  terdengar gelak tertawa yang amat nyaring  menggelegar memotong ucapan Thian-hiang Hui-cu yang belum selesai.

Menyusul gelak tertawa tersebut, terdengar seseorang membentak dengan suara nyaring:

"Hong-nio, jangan berbuat demikian. " oOdwOo

Mendengar seruan tersebut, Thian-hiang Hui-cu agak tertegun, kemudian sambil tertawa tegurnya:

"sian-heng kah disitu ?"

suara tertawa nyaring segera menggema lagi:

"Tak nyana Hong-nio masih dapat mengenali suaraku, benar-benar  Budha maha pengasih "

Belum selesai perkataan itu diutarakan sesosok bayangan manusia telah meluncur datang. sambil melompat bangun, oh Put Kui segera menyongsong kedatangan orang itu sembari berseru :

"suhu. "

sambil berlutut dia  memeluk sepasang kaki orang itu dengan wajah yang binal.

Ketika pengemis pikun berpaling, dia  segera  saksikan orang yang baru saja munculkan diri itu adalah  seorang hwesio tua berambut putih, berjubah abu-abu dan berwajah penuh senyuman.

Mungkinkah pendeta ini adalah si pendeta sinting Tay-gi sangjin ? Pengemis pikun benar-benar menjadi pikun, untuk sesaat dia sampai berdiri termangu-mangu.

Dalam pada itu, sipendeta sinting telah membelai kepala oh Put Kui seraya berkata:

"Ayohlah bangun, jangan seperti bocah umur tiga lagi, nanti kau bisa ditertawakan orang "

"Tidak" kata oh Put Kui sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, "suhu, teecu tak akan bangun "

"Mengapa? sudah begini besar masih mengambek?" oh Put Kui segera tertawa. "Suhu, kau harus mengabulkan sebuah permintaanku dulu sebelum tecu mau bangun-"

"Soal apa ?"  pendeta itu memicingkan matanya. "Ijinkan aku untuk mengganti panggilanku terhadapmu"

"Kenapa ? Apakah kau sudah tak  ingin  menjadi  muridku lagi ?" seru pendeta sinting sambil tertawa terbahak-bahak.

"Tentu saja"

Jawaban tersebut kembali membuat pendeta sinting  menjadi tertegun.

"Bocah keparat, sudah merasa sayapnya  mulai  tumbuh, kau lantas melupakan asal usulmu? Gurumu sudah dipanggil pendeta sinting, apakah kau ingin  disebut  orang  sebagai bocah sinting pula? Hayo cepat bangun."

"Tidak, tidak. Kecuali kalau kau mengabulkan aku memanggilmu sebagai empek "

Ketika mendengar ucapan tersebut, sekujur badan pendeta sinting itu segera bergetar keras, senyuman yang semula menghiasi wajahnyapun seketika lenyap tak berbekas.  Dia menundukkan kepalanya  dan menatap oh Put Kui lekat lekat.....

"Empek " oh Put Kui segera memanggil dengan mesra.

Tiba-tiba sorot mata pendeta itu memancarkan sinar kesedihan, tapi hanya sebentar kemudian, senyuman manis kembali menghiasi ujung bibirnya.

Ditatapnya sekejap wajah Thian-hiang Hui-cu sorot mata yang ramah dan penuh welas kasih, setelah itu dia bertanya:

"Hong-nio, kau yang memberitahukan hal ini kepadanya ?" Thian-hiang Hui-cu segera tertawa.

"Sian-heng aku hanya memberitahukan hal ini saja,  yang lain akupun tidak tahu" Suatu pemberitahuan yang sangat cantik, Pendeta sinting segera tertawa, ditepuknya kepala oh Put Kui, lalu  bisiknya lirih:

"Bangun, kukabulkan permintaanmu itu "

oh Put Kui segera bersorak gembira dan melompat bangun. selama ini sorot mata Thian-hiang Hui-cu tak pernah  beralih dari tubuh pendeta sinting.

Begitu oh Put Kui bangkit berdiri, perempuan itu baru berseru lagi sambil tertawa: "sian-heng, silahkan duduk"

Dia tidak bangkit berdiri, melainkan hanya sedikit membungkukkan badan, Pendeta itu segera tertawa.

"Lolap sepanjang hari tak pernah  meninggalkan kasur duduk. persiapan dari sicu benar-benar amat sempurna."

Tiab-tiba saja dia  merubah panggilannya. Inilah yang menyebabkan dirinya disebut sinting ?

Tak tahan lagi Thian-hiang Hui-cu segera tertawa terbahak- bahak.

"Haaaaahhhh......haaahhhh....haaaahhhh.... Sian-heng. "

"sicu, lolap Tay-gi" kata pendeta sinting dengan sinar mata berkilat tajam. Thian-hiang Hui-cu segera tertawa rawan, katanya dengan nada suara rendah :

"Yaa benar, kau adalah Tay-gi..... sayang sekali, kesintinganmu belum juga berakhir. "

sementara itu Tay-gi sangjin telah duduk diatas kasur yang semula ditempati oh Put Kui, ketika mendengar perkataan  itu dia segera merangkap  tangannya  sambil memberi hormat, kemudian sambil tertawa tergelak ucapnya pelan:

"sicu, ada sebab pasti ada akibat, karena sebab dan akibat selalu saling berkaitan, bila tiada akibat, bukanlah hal itu ajaib namanya ?" "Aaai..... saudara sian, aah tidak, sangjin,  pandanganmu benar-benar amat terbuka" bisik Thian-hiang Hui-cu sambil menghela napas rendah.

"Buddha mengajarkan empat kekosongan yang terutama, mengapa lolap tak bisa berpandangan terbuka?"

"Kalau begitu kuucapkan selamat untuk suheng. "^

"Terima kasih sicu. "

selama ini si pengemis pikun berdiri menanti disamping arena untuk maju memberi hormat, akan tetapi berhubung sipendeta sinting berbicara terus dengan Thian-hiang Hui-cu, maka diapun tak berkesempatan untuk ikut menimbrung.

Karenanya begitu mendengar pendeta tersebut mengeluarkan kata yang terakhir, dia  tidak  menyia-nyiakan kesempatan tersebut dengan  begitu saja, dengan cepat tubuhnya maju kedepan untuk menyembah. "Boanpwe Lok Jin-ki dari Kay-pang menjumpai sangjin"

sekalipun lagi berpejam mata, ternyata pendeta itu dapat melihat semua gerak gerik dari pengemis pikun  itu  dengan jelas. Baru saja pengemis pikun menbungkukkan badannya sambil tertawa terbahak-bahak serunya :

"Tidak berani, tidak berani, sicu tak usah banyak adat. "

Walaupun pendeta itu tidak menggerakkan badannya ataupun tidak mengebaskan ujung bajunya, akan tetapi nyatanya sipengemis pikun tak sanggup untuk berlutut lebih jauh.

MEnghadapi keadaan seperti ini, dengan wajah memerah karena jengah terpaksa pengemis pikun  hanya menjura  belaka. saat itulah pendeta sinting baru  mengulurkan tangannya seraya berkata pelan:

"sicu, harap duduk kembali ketempat dudukmu "

"Tidak berani, ada cianpwe berdua disini Lok Jin-ki lebih baik berdiri saja disini " Mendengar itu, pendeta sinting segera tertawa terbahak- bahak. "Haaaaahhhh.....haaaahhhh..haaahhhh.. tidak usah, tidak usah, silahkan duduk"

Tay-gi  sangjin tertawa.

" orang sering bilang kalau dalam  kaypang  terdapat seorang pengemis yang disebut pengemis pikun, dia kadang kala pikun kadang kala pintar, ada kalanya sinting ada kalanya latah, kaukah orangnya?"

Dengan wajah memerah karena jengah, pengemis pikun menyahut: "Yaa, benar, memang boanpwe. "

"Kau tidak mirip....." ujar Tay-gi sangjin sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

Menghadapi jawaban tersebut, sipengemis pikun agak tertegun untuk beberapa saat lamanya dia  tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. sekali lagi pendeta sinting tertawa tergelak. katanya:

"seorang enghiong yang sejati adalah seorang manusia  yang berwatak sejati, tidak banyak bertingkah, bila  kau  tak bisa menunjukkan watak aslinya, buat apa pula hidup sebagai manusia?"

Pengemis pikun menjadi terkesiap. sekarang dia  baru merasa kalau dia sudah kehilangan watak sejatinya.

Bagaimana dia  adalah seorang jago lihay yang sudah termasyur banyak tahun, mendengar perkataan itu dia segera tertawa terbahak-bahak. "Haaaahhhh..... haaahhhhh....

haaaahhhhh...... teguran locianpwe memang tepat  sekali, boanpwe tahu kesalahan dan pasti akan merubahnya."

"Nah, begitu baru benar. "

Thian-hiang Hui-cu yang menyaksikan kejadian itu menjadi geli, serunya sambil tertawa:

"Pendeta sinting, pengemis pikun, kalian memang merupakan pasangan yang paling cocok didunia ini. " "sicu memang berbicara benar.... itulah yang lolap harapkan-"

Tingkah laku kedua orang itu segera menimbulkan gelak tertawa oh Put Kui dan Thian-hiang Hui-cu

sekalipun Thian-hiang Hui-cu sudah tua, ternyata wajahnya masih kelihatan cantik dan daya tariknya masih  nampak  besar.

Pendeta sinting yang menyaksikan kejadian itu segera bergidik, serunya sambil tertawa:

"sicu benar benar memiliki ilmu awet muda, meskipun usiamu sudah seratus tahun namun wajahmu masih nampak muda, lolap ucapkan selamat untuk itu" Thian-hiang Hui-cu mendongakkan kepalanya kembali, suatu perasaan  girang yang tak terlukiskan dengan kata  segera melintas diatas wajahnya. "saudara sian "

"sicu. " pendeta itu segera berkerut kening.

Melihat itu, Thian-hiang Hui-cu segera menghela  napas sedih, tapi hanya sebentar kemudian ia sudah tertawa kembali, katanya: "Bukankah sangjin  berusia  lebih  tua daripada diriku ? Apakah kau nampak sudah tua ?"

"Yaah, rambutku sudah putih, jenggotku sudah beruban, lolap berbeda jauh dari sicu."

setelah berhenti sejenak, mendadak katanya dengan wajah serius: "Sicu, tentang soal adikmu, bagaimana kalau kau suka memandang diatas wajah lolap untuk menyudahi sampai disini saja ?"

Berkilat sepasang mata Thian-hiang Hui-cu.

"Kau....... kau tidak kuatir akan mengganggu ketenanganmu?"

"Aaah, tidak Tidak takut, adikmu masih belum memiliki kemampuan seperti itu."

oh Put Kui yang berada disisinya segera menimbrung: "Empek. bukankah  kau melarikan diri dari gua karena hendak menghindari dirinya?"

Dengan cepat Tay-gi  sangjin menggelengkan kepalanya berulang kali. "Anak  bodoh, kau anggap aku benar benar menyembunyikan diri karena dirinya?"

"Lantas surat yang kau tinggalkan itu?"

"Surat itu sengaja kutinggalkan  agar  dibaca  olehnya." jawab Tay-gi sangjin sambil tertawa.

"Ananda tidak mengerti."

"Tentu saja kau tak akan mengerti, maksudku agar dia matikan hatinya itu." seraya berkata sorot matanya  dialihkan ke wajah Thian-hiang Hui-cu. Melihat itu, Thian-hiang Hui cu segera tertawa, tertawanya kelihatan manis sekali.

"Terima kasih banyak.." bisiknya.

Mengapa dia berterima kasih ? oh Put Kui masih saja tidak mengerti. setelah tertawa hambar, kembali Tay-gi sangjin berkata:

"sicu, tak usah berterima kasih lolaplah biang keladi dari

dosa ini. "

"Aku akan mengikutimu" kata Thian-hiang Hui-cu sambil tertawa manis. Tay-gi sangjin menghela napas panjang.

"Aaai.... perkataan itu telah mencelakai sepanjang hidupmu.... Hong..." Mendadak ia menutup mulutnya kembali. Thian-hiang Hui-cu tertawa.

"sangjin kelewat kukuh diri sendiri, padahal cinta adalah sesuatu yang agung. "

"Bukan begitu, apakah sicu lupa kalau lolap sudah menjadi pendeta, aku sudah melepaskan diri dari segala  macam ikatan."

Berbicara sampai disitu, Thian-hiang Hui-cu hanya bisa manggut-manggut sambil tertawa rawan. "Yaa benar, tapi aku tetap akan menurutimu " demikian ia berbisik. Tanpa terasa Tay-gi sangjin  menghela  napas panjang.

"sicu, lolap tak akan melupakan budimu itu untuk  selamanya "

"Bisa mendengar perkataanmu itu,  aku merasa  puas sekali " Mendadak Tay-gi sangjin tertawa tergelak. serunya:

"Seorang yang berkedudukan terhormat, terseret masuk didalam dunia persilatan,oohh tuan putri..... kaupun seorang yang tolol seperti lolap sendiri "

Diantara gelak tertawanya itu, kelihatan air matanya turut jatuh bercucuran, sedang Thian-hiang Hui-cu sendiripun telah bercucuran air mata pula karena sedih.

Menyaksikan keadaan seperti ini, sipengemis pikun hanya bisa memandang dengan wajah kebingungan.

sedangkan oh Put Kui ikut merasa amat sedih, karena secara tiba-tiba ia teringat pula akan asal usulnya sendiri

"Empek" akhirnya dia berbisik.

Waktu itu Tay-gi sangjin sedang tertawa tergelak. Ia baru terperanjat setelah mendengar seruan itu, tanyanya dengan cepat: "Nak, ada urusan apa?"

"Bagaimana dengan ayahku?"

"Tak usah ditanyakan" Tay-gi sangjin mengelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak. empek aku harus bertanya.  Bagaimana pula  dengan ibuku, aku ingin berjumpa dengan mereka"

"Nak. belum sampai waktunya....." kata pendeta itu sambil tetap menggeleng.

"Empek. mengapa kau tidak bersedia memberitahukan  hal itu kepadaku? Apakah ayah adan ibuku telah melakukan suatu perbuatan jahat yang amat berdosa ? Ataukah karena mereka adalah "

Dia tak jadi melanjutkan kembali kata-katanya, karena bagaimanapun juga ia merasa sungkan untuk   mengeritik orang tua sendiri Mendadak Tay-gi sangjin berteriak keras: "Nak, kau tak boleh menduga sembarangan"

"Empek kalau kau tidak mengatakan, ananda tentu akan

terus menduga duga." ujar oh Put Kui dengan  air  mata bercucuran.

Thian-hiang Hui-cu yang menyaksikan hal itu dari samping, segera menimbrung sambil tertawa:

"Yaaa, aku tahu. " Tay-gi sangjin menghela napas.

"Yaa benar, kau toh tak bisa mencegah bocah itu  untuk tidak menduga duga secara sembarangan "

Tay-gi sangjin menghela napas panjang, kemudian katanya:

"Nak, ayah dan ibumu adalah orang baik semua. Mereka adalah orang terbaik didunia ini"

"Sungguh ?" senyuman segera menghiasi wajah  oh  Put Kui.

"Buat apa aku mesti membohongi dirimu ?" sahut Tay-gi sangjin dengan wajah bersungguh sungguh.

"Tapi dimanakah? Aku hendak pergi menjumpai mereka.....

empek. kau pasti tahu bukan betapa sedihnya keponakan selama banyak tahun ini. "

" Empek. kalau toh sudah tahu, mengapa kau  tidak bersedia memberitahukan kepada keponakan?"

sekali    lagi pendeta itu menghela napas. "Belum waktunya. "

"Empek. sampai kapan hal ini baru bisa kau beritahukan kepadaku?" seru oh Put Kui dengan gelisah. "Disaat kau sukses dan berhasil" oh Put Kui menjadi tertegun-

" Kenapa? Apakah takut aku berpikiran cabang?" "Benar"

oOdwOo

"Ananda tak mungkin akan berpikiran cabang, apalagi  kalau aku bisa bertemu dengan ayah ibuku, aku dapat memusatkan segenap perhatianku untuk memperdalam ilmu silatku agar bisa menggirangkan hati orang tuaku. "

Mendadak Tay-gi sangjin tertawa tergelak.

"Tidak mungkin nak. pikiranku pasti bercabang, karena. "

Agaknya dia merasa kalau telah salah berbicara sehingga buru-buru dia membungkam kembali.

oh Put Kui tak mau lepas tangan dengan begitu saja, dia segera mendesak lebih jauh.

"Mengapa begitu empek ? Mengapa kau tak mau berbicara

?"

Tay-gi sangjin segera menggelengkan kepalanya berulang

kali.

"Nak. bukannya aku enggan  berbicara,  tetapi sesungguhnya dibalik kejadian itu masih ada  persoalan lainnya."

Tiba-tiba Thian-hiang Hui-cu menimbrung: "sian-heng,  bocah itu pernah berkunjung kepulau neraka "

Mendengar perkataan itu, sekujur  badan Tay-gi sangjin bergetar amat keras.

Dengan cepat sorot matanya dialihkan  kewajah Thian- hiang Hui-cu, kemudian serunya:

"Hong-nio, kau bilang apa ?" "Dia telah berkunjung kepulau neraka dan bertemu dengan ketujuh orang tua itu"

Dengan kening berkerut Tay-gi sangjin segera berpaling kembali kewajah oh Put Kui, setelah menatapnya lekat-lekat, ujarnya lebih jauh: "Nak.jadi kau telah  berkunjung kepulau neraka yang dikenal orang persilatan sebagai pulau yang bisa dikunjungi tak bisa kembali itu?"

"Ya benar, ananda telah berkunjung kesana."

"Apa saja yang dikatakan ketujuh orang tua itu kepadamu

?" tanya pendeta sinting itu dengan wajah agak tegang.

"Ananda pergi bersama Lok lo dan Nelayan sakti  dari  lautan timur Cin Poo-tiong, agaknya  ketujuh orang tua itu sangat suka dengan ku, kami sudah berdiam beberapa hari dipulau tersebut "

Mendengar perkataan itu, paras muka Tay-gi sangjin berubah menjadi amat berat dan serius.

"Nak. aku ingin bertanya kepadamu, apa saja yang mereka katakan kepadamu ?"

"Mereka mengira aku adalah muridnya Thian- liong susiok. maka dari itu mereka mengajakku membicarakan banyak peristiwa yang menyangkut diri Thian- liong  susiok  dalam dunia persilatan dimasa lalu..."

"Tidak menyinggung soal aku ?"

"Pernah, tapi ananda  berlagak tidak tahu. "

"Bagus sekali," seru Tay-gi sangjin sambil tersenyum, "apalagi yang mereka bicarakan ?"

"Mereka semua mewariskan semacam kepandaian silatnya untuk ananda "

"Haaaahhhh.... haaaaahhhhh.... haaahhhhh. bagus

sekali," Tay-gi sangjin tertawa terbahak-bahak."hei bocah, nampaknya rejekimu cukup besar juga " "Kesemuanya ini adalah berkat doa restu dari empek." sahut oh Put Kui tertawa, "seandainya empek tidak memelihara keponakan hingga dewasa, bagaimana mungkin aku bisa mempunyai kesempatan untuk  merasakan rejeki besar itu ?"

Perasaan Tay-gi sangjin yan semula tegang  tampaknya  jauh lebih mengendor lagi sekarang, katanya kemudian sambil tertawa:

"Bagus sekali nak. kaupun mulai  sungkan  sungkan terhadap empek. "

Thian-hiang Hui-cu ikut berkata sambil tertawa: "sebutnya sih sudah sebut, cuma. "

"Nak, apakah kau telah berhasil  mempelajari  ketujuh macam ilmu silat tersebut. Apakah  kau juga mengetahui siapakah nama dari ketujuh orang itu. ?"

"Aku tidak tahu "

"Waaah, siapa suruh kau bergaul dengan si pengemis pikun," seru Tay-gi sangjin sambil tertawa, "tak heran kalau kaupun ketularan penyakit pikunnya. "

oh Put Kui segera tersenyum.

"Bukannya keponakan tak mau bertanya, hanya sungkan rasanya untuk mengajukan pertanyaan itu "

"Masa mereka tidak menyebutkan nama mereka sendiri ?" tanya Thian-hiang Hui-cu sambil tertawa.

Kontan merah padam selembar wajah oh Put Kui. "Haaaahhhh....haaaahhhh....hhhhaaaah.....      anak     muda

apakah  karena   namanya  kelewat  banyak  maka   kau lantas

melupakan nama mereka itu..." seru Tay-gi sangjin sambil tertawa.

" Keponakan memang  telah  melupakan....."  setelah berhenti sejenak, ujarnya lagi: "Cuma aku masih teringat nama dari dua orang diantara mereka."

"siapakah dua orang ang kau maksudkan?"

"Yang pertama adalah Lei-hun-mo-kiam oh Ceng-thian, dia merupakan seorang kakek kurus, maka  keponakan mempunyai kesan yang dalam terhadapnya. selain itu ilmu pedang yang dimilikinya juga sangat lihay sekali, sama sekali tidak kalah dengan empek "

sewaktu mendengar nama oh Ceng-thian, paras Tay-gi sangjin kontan berubah hebat.

Thian-hiang Hui-cu juga menunjukkan sikap yang amat tegang. Tapi selesai mendengar ucapan dari oh Put Kui, mereka segera tertawa kembali.

"siapa pula yang lain ?" tanya mereka hampir berbareng. "Yang seorang lagi bernama Ciat-cing suseng Leng To....

aaaah, keponakan  teringat cula dengan seorang lagi yang bernama Toan-kiam-huang-seng Liong Hui-thian "

"Benar, ketiga nama itu memang benar, tapi masih ada empat orang lagi "

"Boanpwe ingat nama  mereka....."  timbrung  pengemis pikun tiba-tiba sambil tertawa.

Thian-hiang Hui-cu segera tertawa terbahak-bahak. "Haaahhhh....haaaahhh....hahhhh.... nak, kau tak bisa menandingi si pikun cilik "

"Bukan begitu, karena boanpwe pernah mendengar nama mereka dimasa lalu...." cepat-cepat pengemis pikun menambahkan sambil tertawa jengah. setelah  berhenti sejenak, terusnya:

"Empat orang lainnya adalah It-gi-ki-su Ku Put-beng,jian-gi siausu, Mi-sim-kui-to dan Tiang-pek-cui-sin "

"Lok tua, hebat benar daya ingatmu " puji oh Put Kui cepat.

Tay-gi sangjin iut tertawa, tanyannya tiba-tiba: "Nak. kepandaian apakah yang  mereka  wariskan kepadamu, bagaimana pula dengan hasil latihanmu?"

"Ku tua mewariskan ilmu Hong-hwe kun (pukulan angin api)nya kepadaku "

"Waah, itu mah ilmu andalannya," sela Thian-hiang Hui-cu sambil tertawa,

"nak. selama hidup dia memusatkan perhatiannya untuk melatih ilmu pukulan ciptaannya itu sudah pasti luar biasa dahsyatnya."

"Hong-nio, kalau bukan begitu masa dia dianggap orang sebagai si manusia gila dari ilmu pukulan ?" sambung Tay-gi sangjin-

"sedangkan oh lojin mewariskan ilmu pedang Lui-im-kiam pedang irama gunturnya  kepadaku,"  oh Put Kui menambahkan sambil tertawa.

"Ooh, ilmu pedang Lui-im-kiam?" mencorong sinar  tajam dari balik mata Tay-gi sangjin-

"Yaa, ilmu pedang Lui-im-kiam, ketika  oh  lojin menggunakan ilmu pedang tersebut, suara  angin  dan gemuruh yang  menyertai ancaman itu amat  memekikkan telinga dan menggidikkan hati....." Tay-gi sangjin segera menghela napas panjang.

"Aaai...Ji..... akhirnya dia berhasil juga. "

"sian-heng, kuucapkan  selamat kepadamu " Thian-hiang Hui-cu menambahkah sambil tertawa.

oh Put Kui tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi dia dapat merasakan betapa besarnya perhatian empeknya itu terhadap oh Ceng-thian-....

Maka tanpa berpikir panjang lagi, dia berkata lebih jauh : "Leng loji mewariskan ilmu seruling Liu-hou-siau kepadaku,

sedangkan Jiang-gi siansu mewariskan ilmu jari Ban-hud-ci" "Waaah, semuanya merupakan ilmu paling top didunia ini " Thian-hiang Hui-cu komentar.

"sedangkan Liong lojin mewariskan ilmu pukulan Im-sat- ciang, Mi-sim-toojin mengajarkan ilmu gerak badan Tay-siu- heng-poh, sebaliknya To lojin mewariskan ilmu senjata rahasia terutama menggunakan arak sebagai anak panah "

"Nak. kau benar-benar seorang manusia yang  hebat, hampir semua ilmu silat paling top yang ada didunia ini  telah kau pelajari semua."

"sian heng, belum komplit rasanya. " tiba-tiba Thian-hiang

Hui-cu menyela.

Mendengar perkataan itu, Tay-gi sangjin segera berseru sambil tertawa  "Hong-nio,  kau.....  kaupun  hendak membuatnya bertambah komplit ?"

"Mengapa tidak? Kalian orang lain bisa. Mengapa aku tak

dapat ?" sahut perempuan itu sambil tertawa. "Aku toh tidak mengatakan kau tak dapat?" Thian-hiang Hui-cu tertawa.

"Kalau memang begitu  kaupun tak usah mewariskan kepandaian apa-apa  kepadanya, aku hanya ingin menghadiahkan semacam barang untuknya." sembari berbicara dari sakunya  dia  mengeluarkan sebutir mutiara sebesar buah kelengkeng yang berwarna warni serta memancarkan cahaya yang gemerlapan.

Melihat benda itu, dengan heran Tay-gi sangjin segera berseru: "Hong-nio, kau hendak menghadiahkan mutiara penghindar hawa sesat untuknya?"

"Tentu saja, barang lain toh tak ada gunanya diberikan kepadanya ?" sahut perempuan itu tersenyum.

"Aaai.... Hong-nio, kau kelewat baik terhadap bocah ini "

setelah berhenti sejenak katanya kepada oh Put Kui: "Nak, selain mutiara itu bisa dipakai untuk menghindari hawa sesat, juga bisa memunahkan racun,  bisa menghindari air bah dan kebakaran, benda tersebut merupakan salah satu diantara tujuh benda mustika dari dunia persilatan-"

sementara itu Thian-hiang Hui-cu telah  menghadiahkan mutiara tersebut oh Put Kui sembari berkata :

"Nak, mutiaraku ini akan sangat bermanfaat bagimu dikemudian hari, ambillah"

sebenarnya oh Put Kui hendak menampik, tapi dia merasa apa yang dikatakan memang benar, apalagi dalam keadaan seperti ini. Karena itu dengan sikap hormat dia  lantas menerima pemberian tersebut.

"Terima kasih banyak locianpwe," katanya kemudian.

Perempuan itu kemudian tertawa.

"Tak usah berterima kasih, baik- baiklah mempergunakannya, asal kau bersedia untuk menerimanya, aku sudah sangat gembira sekali"

Dengan sangat berhati-hati oh Put Kui menyimpan mutiara mestika itu kedalam saku lalu mengundurkan diri ketempat semula, setelah itu tanyanya kepada Tay-gi sangjin:

"Empek. aku masih belum  menerangkan  kepada  keponakan akan jejak dari orang tuaku"

"Nak, bagaimana sih kau ini ?" Tay-gi Sangjin berkerut kening. "seandainya  aku  bersedia  memberitahukan kepadamu, buat apa  menunggu  sampai kau mengajukan pertanyaan? "

"Empek. bukankah kau sering berkata asalkan ananda mau menjelajahi dunia, maka tak sulit untuk menemukan mereka?"

"Asal kau bersedia untuk berbuat demikian, hal mana lebih baik lagi, paling tidak toh akan banyak melatih diri."

oh Put Kui merasa gelisah juga diliputi perasaan kecewa. Ditatapnya wajah Tay-gi sangjin lekat-lekat, sementara tubuhnya sama sekali tak berkutik.

Melihat itu, Thian-hiang Hui-cu kembali berkata sambil tertawa: "sian-heng, ilmu silat yang dimiliki bocah ini sudah hebat, buat apa kau mesti merasa kuatir  lagi?  Beritahukan  saja kepadanya, coba kau lihat tampangnya yang mengenaskan "

Mendengar perkataan itu, Tay-gi sangjin menjadi termangu- mangu, lama kemudian akhirnya dia baru menghela napas seraya berkata: "Hong-nio, kau benar-benar berbaik hati."

"Sian-heng, beritahukanlah kepada bocah itu. orang bilang dendam kesumat orang tua lebih dalam dari samudra, apakah kau suruh bocah itu hidup selama dua  puluh tahun lebih dengan sia-sia belaka tanpa  mengetahui  siapa pembunuh ibunya?"

Bagitu mendengar perkataan tersebut, oh Put Kui menjadi terkesiap sehingga peluh dingin  jatuh  bercucuran. "Ibu.....ibuku telah ter..... terbunuh......?"  serunya  dengan suara gemetar.

Tay-gi sangjin menghela napas dengan suara dalam. "Aaaai. benar nak, ibumu memang telah dibunuh orang "

sepasang mata oh Put Kui segera memancarkan cahaya berapi api yang penuh dengan hawa pembunuhan.

"Siapa? siapakah yang telah membunuh ibuku ?" teriaknya keras-keras. Dengan cepat Tay-gi  sangjin menggelengkan kepalanya berulang kali. "siapa yang tahu?"

Jawaban itu kontan saja membuat oh Put Kui menjadi tertegun, serunya kemudian:

" Empek, masa kau orang tuapun tidak tahu ?" Tay-gi sangjin menghela napas panjang.

"Aaaai, andaikata empek tahu, apakah aku tak membalaskan dendam bagi ibumu sejak dulu-dulu?" " Lantas ayahku sendiri?" teriak oh Put Kui. "Dia sendiripun tidak tahu."

"Empek, saat ini ayahku berada dimana?" kembali pemuda itu bertanya dengan sedih.

"Di pulau neraka"

"Apa? Di Pulau neraka ? siapakah dia empek? Apakah oh lojin?"

"Yaa  benar, oh Ceng-thian adalah ayahmu. "

Tiba-tiba saja oh Put Kui menangis tersedu-sedu, ia benar- benar merasa sedih.

Dia teringat dengan janjinya kepada oh Lojin, berjanji akan mencarikan putranya dan  diapun telah menyanggupi. siapa tahu dialah putra yang ditunggu-tunggu, bahkan setelah ayah dan anak saling bersuapun mereka tidak saling mengenal. Ia teringat kembali dengan gardu menanti putra. Diapun teringat dengan tebing penantian putra. Terutama sekali wajah ayah yang penuh pengharapan, kurus, sayu dan menyedihkan hati. Dapatkah ia tak sedih? Dapatkah dia tak usah menangis?

Tiba-tiba terdengar Thian-hiang Hui-cu  berbisik  dengan lirih:

"Nak, buat apa kau menangis ? Kau sudah seharusnya merasa gembira."

"Ya benar nak, kau harus gembira. Karena kau telah berjumpa dengan ayahmu."

Tay-gi sangjin menambahkan.

oh Put Kui segera menyeka air matanya lalu berkata: "Empek. diatas  pulau neraka  ayah telah mendirikan sebuah

gardu  penantian,  dia  menantikan  kedatanganku,  tapi aku.....

ternyata aku tidak mengetahuinya. "

"Jite juga kelewat batas" Tay-gi sangjin menggeleng, "nak. satu-satunya yang terpenting bagimu sekarang adalah latihlah ilmu silatmu dengan sebaik-baiknya, karena  musuh besar ibumu hingga kini masih belum diketahui siapa orangnya "

Dengan air mata bercucuran oh Put Kui mengangguk. Thian-hiang Hui-cu ikut berkata pula sambil tertawa:

"Nak. aku masih ada satu permintaan yang ingin kuajukan kepadamu, harap kau sudi mengabulkannya "

" Katakanlah locianpwe"

Dengan wajah bersungguh-sungguh Thian-hiang  Hui-cu ikut berkata:

"Sebelum hari Tiong- yang depan, lebih baik kau jangan pergi kepulau neraka lagi, karena  ilmu silat yang dimiliki ayahmu bertujuh  tinggal selangkah  lagi mencapai tingkat kesempurnaan, bila kau kesana, itu berarti janji mereka telah berakhir dan mereka pasti akan balik kembali kedaratan Tionggoan.. nak. kau harus mengabulkan permintaan yang kuajukan ini "

Walaupun dalam hati kecilnya oh Put Kui merasa  berat untuk mengabulkan permintaan itu namun dia juga tahu kalau Thian-hiang Hui-cu bisa berkata demikian, hal ini pasti disebabkan oleh hal-hal tertentu, karena jika tidak mempunyai maksud yang mendalam tak mungkin perempuan itu berkata demikian akhirnya diapun mengangguk.

-oOdwOooOdwOooOdwOooOdwOooOdwOoo-

salju turun dengan derasnya diwilayah Hoo-say, ditengah udara yang dingin dan menusuk tulang, tampak dua ekor kuda berlarian kencang memasuki pintu kota.

Dua orang penunggangnya meski harus menempuh perjalanan ditengah badai salju, namun wajahnya kelihatan masih segar bugar.

setelah masuk kedalam kota, mereka berdua  melarikan kudanya menuju kerumah makan Tay-pek-ki  yang paling termashur disitu. Waktu itu tengah hari telah menjelang.

Dan saat saat seperti ini merupakan saat ramainya orang bersantap dan minum arak.

Kedua orang itu melompat turun dari  kudanya  didepan pintu rumah makan, salah seorang diantaranya segera membisikkan sesuatu kepada pelayan, kemudian naik keatas loteng tingkat kedua.

setelah memilih sebuah sudut ruangan yang tidak gampang diperhatikan orang, setelah melepaskan mantel mereka dan penutup kepalanya, maka tampaklah raut wajah mereka yang sebenarnya.

Ternyata mereka adalah Long-cu-koay-hiap (pendekar  aneh sipengembara) oh Put Kui serta sipengemis pikun Lok Jin-ki.

Mereka telah meninggalkan kota Kim-leng dan menempuh perjalanan sejauh beberapa ribu li sebelum tiba disana.

sikap oh Put Kui masih tetap santai dan tenang.

sekalipun dia sudah mengetahui asal usulnya, tahu kalau ayahnya bernama Lie-hun-mo-kiam oh Ceng-thian, tahu kalau ibunya bernama Pek ih-hong-hud (kebutan merah berbaju putih) Lan Hong.

Diapun tahu kalau ibunya telah dibunuh oleh seorang musuh tangguh.

Tapi, dia masih tetap akan bersikap acuh tak acuh, seakan- akan tiada persoalan yang membuatnya pusing.

sipengemis pikun malah nampak lebih segar dan bersemangat, mungkin hal ini dikarenakan dia telah berganti dengan pakaian baru.

Waktu itu mereka sedang minum arak sambil berbincang- bincang dengan suara lirih.

@oodwoo@