Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 40

 Jilid 40

"Mengapa dua bersaudara Siau meninggalkan markas besarnya dengan begitu saja? Seandainya bukan disebabkan sesuatu sebab yang serius, dengan watak mereka, mustahil kedua orang tersebut akan berbuat demikian."

"Saudara Lan, perkataanmu memang benar, tetapi jika Wi Thian-yang datang kemari  untuk mengajak  mereka berkomplot, kepergian mereka secara mendadak jadi tak aneh lagi!" "Nah itulah dia, saudara Ban, coba kau lihat, gedung Kheng-thian-lo telah menjadi sebuah bangunan kosong  yang tak ada penghuninya kecuali sesosok mayat dari Lian Peng yang telah mereka dandani sebagai patung dewa, mungkinkah dibalik kejadian tersebut masih terdapat hal-hal yang perlu kita selidiki?"

"Tentu saja, persoalan semacam ini memang ada nilainya untuk diselidiki lebih jauh!" sahut kakek latah awet  muda cepat.

Kemudian dia berpaling kearah Oh Put Kui  dan  ujarnya  lagi:

"Anak muda, apakah kau berhasil mendapatkan suatu kesimpulan tentang kejadian tersebut?"

Oh Put Kui tertawa.

"Walaupun boanpwe berhasil menemukan beberapa hal yang mencurigakan namun tidak kuketahui apakah dugaanku tersebut benar atau tidak."

"Kalau begitu coba kau utarakan cepat!"

"Boanpwe rasa mereka tentu  sudah tahu kalau kakek cengeng beralis putih Ciu Hway-wan bukan seorang manusia yang dapat dipercaya, oleh karena itu disaat Lian Peng datang melaporkan tentang kedatangan kau orang tua bersama boanpwe yang  berhasil menolong  gwakong  dari penjara, orang orang itu segera berkesimpulan bahwa gedung Keng Thian-lo inipun tak dapat dipertahankan lebih jauh, itulah sebabnya mereka segera memutuskan untuk pindah ketempat lain."

Mendengar sampai disitu, kakek latah awet muda segera manggut-manggut sambil tertawa:

"Ehm, sangat beralasan sekali, tetapi apa yang menyebabkan mereka menghukum mati Lian-Peng?"

"Aku rasa dalam peristiwa ini  hanya terdapat sebuah kemungkinan saja." "Apakah kemungkinan itu?"

"Wi Thian-yang merasa amat gusar kepadanya karena perempuan itu tak mampu mempertahankan gedung Sian- hong-hu, karena itu dalam gusarnya ia segera membinasakan istri mudanya ini."

"Kalau memang begitu, apa sebabnya pula mereka dandani mayatnya sebagai patung dewa yang dipuji dimeja altar?"  tanya Lan Ciu-sui pula sambil tertawa.

Oh Put Kui turut tersenyum.

"Yaya, menurut cucunda, ada  dua kemungkinan apa sebabnya mereka berbuat demikian."

"Kalau begitu cepatlah kau kemukakan."

"Kemungkinan pertama, mereka hendak  menggunakan cara begini untuk merahasiakan perbuatan mereka yang telah membunuh Lian Peng, agar selamanya tak ada orang yang mengetahui tentang kematian  perempuan tersebut, sebab orang lain tak pernah akan berhasil menemukan mayatnya selama-lamanya. "

"Ehm......... alasan yang terlempau dipaksakan," Lan Ciu- sui sambil tertawa, "andaikata diatas mayat ditaburi obat penghancur tulang, bukankah hal ini semakin beres lagi?"

"Yaaa, cucunda sendiripun beranggapan alasan yang pertama ini terlampau dipaksakan."

"Kalau begitu cepat kau kemukakan alasan yang kedua!" seru kakek latah awet muda lagi.

"Kemungkinan yang kedua, bisa jadi mereka sudah menduga kalau patung tersebut tak akan bisa mengelabuhi Ban tua, oleh sebab itu mereka kalau bukan ingin menggunakan mayat dari Lian Peng sebagai  alat  gertakan atau peringatan kepada kita, tentunya didalam tubuh mayat Lian Peng telah dipersiapkan suatu rencana jebakan lainnya yang amat keji. " Ketika berbicara sampai disitu, mendadak  pemuda itu tersentak kaget, cepat-cepat serunya kepada kedua orang tua itu:

"Celaka, bisa jadi kedua orang nona itu akan menemui ancaman bahaya. "

"Betul, mereka betul-betul kelewat gegabah," seru kakek latah awet muda sambil berkerut kening, "mari cepat kita tengok keadaan mereka. "

Belum habis perkataan itu diucapkan, ia sudah bergerak lebih dulu menyusul kedua orang gadis tersebut.

Oh Put Kui dan pengemis pikun segera mengikuti  pula dibelakangnya.

Hanya Peng-goan-koay-kek Lan Cui-siu seorang yang tidak turut pergi, dia tetap tertinggal didalam kamar tersebut, sebab kakek itu berpendapat bahwa riangan ini cukup mencurigakan dan harus diselidiki dengan seksama.

Tak lama setelah kepergian kakek latah awet  muda sekalian bertiga, Peng-goan-koay-kek Lan  Ciu-sui segera melakukan penyelidikian yang seksama didalam kamar yang luasnya tiga kaki itu, tak sejengkal tanahpun yang dilewatkan olehnya.

Alhasil Lan Ciu-sui berhasil mendapatkan sebuah benda yang berharga sekali.

Benda yang tertinggal itu berupa kutungan  sebatang pedang.

Bahkan pedang itu tak lain adalah pedang milik Peng-goan- koay-kek Lan Ciu-sui dimasa lampau.

Tiga puluh tahun berselang, dia telah menyerahkan pedang kesayangannya itu kepada putri tunggalnya Lan Hong.

Tapi sekarang, tiba-tiba  saja ia menemukannya kembali didalam ruang kamar Keng Thian-loo, menemukan pedang kesayangannya yang pernah dipergunakan selama banyak tahun ini sudah patah hingga tinggal sebagian kecil saja.

Bisa dibayangkan betapa sedih dan gusarnya orang tua tersebut waktu itu.

Sambil menggenggam kutungan pedang tersebut, Lan Ciu- sui berdiri termenung sampai lama sekali didalam ruangan, tak sedikitpun dia bergeser dari posisi semula.

Sebab dia tak perlu berpikir terlalu jauh  lagi,  jelaslah terbukti sekarang bahwa pembunuh yang telah menghabisi nyawa putrinya tak lain adalah pemilik gedung ini, si jago pemabok dari loteng merah Siau Yau serta kakek pengejut langit Siau Hian.

Dendam baru sakit hati lama datang bersama-sama, hal ini membuat pikiran dan perasaan jago tua ini  menjadi  amat kalut.

Sedemikian kalutnya pikiran dan perasaannya, hingga kemunculan Oh Put Kui disisinya pun  sama sekali  tak diketahui olehnya.

Oh Put Kui sendiripun dibuat tertegun oleh kejadian dalam ruangan tersebut, dia  tak habis mengerti kenapa  kakek luarnya hanya berdiri termangu didalam kamar tersebut sambil membelai sebilah kutungan pedang.

Pelan-pelan dihampirinya orang tua itu, lalu tegurnya: "Yaya. "

Dengan perasaan bergetar keras Lan Ciu-sui berpaling dan memandang sekejap ke arah Oh Put Kui, kemudian teriaknya:

"Cucu,    yaya telah berhasil mengetahui pembunuh ibumu. "

Kontan saja Oh Put Kui merasakan darah yang mengalir didalam tubuhnya mendidih keras, serunya tanpa terasa:

"Yaya, siapakah dia?" "Dua bersaudara Siau!"

"Apakah yaya berhasil menemukan bukti yang kuat?"

Lan Ciu-sui menghela  napas panjang, sambil menggenggam kutungan pedang itu, katanya:

"Nak, pedang ini merupakan pedang andalan yaya pada empat puluhan tahun berselang, sejak diwariskan kepada ibumu, yaya tak pernah  mempergunakan pedang ini  lagi, sungguh tak disangka pedang ini berhasil kutemukan lagi disini."

"Kalau begitu............. ibu benar-benar sudah tewas ditangan gembong-gembong iblis she Siau itu!"

"Ketika ibumu mewarisi pedang tersebut dulu, dia pernah bersumpah selama pedangnya ada orangnya ada, bila pedangnya hilang orangnya mati! Kini pedang  tersebut kutemukan sudah kutung, pedang tersebut ditemukan dalam gedung Khong thian-loo, hal  ini  membuktikan pula kalau pembunuhnya sudah pasti  dua  bersaudara  she  Siau tersebut "

Kembali Oh Put Kui merasakan darahnya mendidih keras, segera teriaknya lantang:

"Yaya, cucunda pasti akan membunuh kedua orang gembong   iblis   ini    untuk    membalaskan    dendam    bagi ibu. "

"Nak, yaya pasti akan membantumu hingga mencapai tujuan tersebut! Aaaaaaaiii.....  bila teringat ibumu, aku jadi teringat kembali dengan masa  kecilnya dulu. "

Sepasang mata Oh Put Kui berkaca-kaca, tanpa terasa butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipinya..................

Lama sekali kakek dan cucu dua orang ini berdiri berhadapan tanpa berkata-kata.

Sampai akhirnya kakek latah awet muda dengan membawa pengemis pikun serta kedua orang gadis she Nyoo dan Kiau muncul kembali disitu, mereka baru menyeka air mata serta memperlihatkan sekulum senyuman getir...............

Mungkin Oh Put Kui maupun Lan Ciu-sui tak ingin mengemukakan persoalan tersebut kepada mereka.

Yaaaa, ketika kakek latah  awet muda menjumpai mimik wajah kedua orang itu kurang beres dan ingin bertanyam Lan Ciu-sui telah berkata lebih dulu sambil tertawa hambar:

"Saudara Lan, Put Kui teringat kembali ibunya secara tiba- tiba sehingga siautepun turut terbuai kedalam kesedihan. Nah, bagaimana dengan kedua orang nona tersebut? Tidak  apa  apa bukan?"

Rupanya Lan Ciu-sui menemukan kedua orang gadis itu menunjukkan tanda-tanda lemah dan lemas, karena itu mengajukan pertanyaan tersebut.

Dengan gemas kakek latah awet muda berseru:

"Siau Yau si bangsat tua ini benar-benar berhati kejam dan buas, andaikata kami tidak datang tepat pada waktunya, dan cucumu tidak memiliki sebutir mutiara penolak bala, mungkin dua lembar nyawa gadis-gadis ini tak dapat tertolong lagi."

"Apakah diatas tubuh Lian Peng telah ditaburi racun jahat?" tanya Lan Ciu-sui tertegun.

"Betul! Mereka telah  menaburkan bubuk beracun  yang amat keji itu dibalik pakaian yang digunakan Lian Peng "

Ketika mendengar perkataan tersebut, satu ingatan kembali melintas dalam benak Oh Put Kui.

Tadi, sewaktu mereka menyusul kedua orang gadis tersebut, ditemukan mereka berdua  sudah tergeletak tak sadarkan diri disisi mayat si perempuan bunga dari Thian hoo- wan Lian Peng.

Sedangkan pakaian yang dikenakan  Lian Peng belum terlepas semua, pakaian dalamnya masih menempel diatas tubuh. Saat itu Oh Put Kui hanya berpikir untuk cepat-cepat memasukkan pil penolak bala ke mulut kedua orang gadis itu serta menawarkan racun yang mengeram  ditubuhnya, sehingga tak sempat menyelidiki dimanakah  racun jahat tersebut ditaburkan pada tubuh Lian Peng.

Selain daripada itu Oh Put Kui pun sangat menguatirkan keselamatan kakeknya yang sampai lama sekali belum juga muncul, maka disaat racun didalam tubuh kedua orang nona  itu sudah mereda dan mereka telah sadar kembali, cepat- cepat dia menyusul kakeknya  tanpa  sempat menyelidiki kembali dari bagian manakah racun tersebut menyerang Nyoo Siau-sian serta Kiau Hui-hui.

Sekarang, setelah dia mendengar racun itu berasal dari  balik pakaian Lian Peng, tanpa terasa diapun jadi terbayang kembali, mungkinkah semua gerak gerik mereka telah berada didalam perhitungan lawan?

Mungkin mereka sudah menduga kalau Nyoo  Siau-sian serta Kiau Hui-hui pasti akan menggantikan pakaian yang dikenakan oleh Lian Peng, bahkan mereka pun pasti sudah memperhitungkan, disaat Nyoo Siau-sian menggantikan  pakaian dari Lian Peng, beberapa orang lelaki tentu tak akan hadir disitu, sebaliknya menyerahkan tugas itu semua kepada Nyoo Siau-sian serta Kiau Hui-hui.

Bila hal ini berlangsung seperminum teh saja, niscaya Nyoo Siau-sian serta Kiau Hui-hui sudah keracunan hebat dan jiwanya tak akan tertolong lagi.

Hal ini membuktikan bahwa tujuan mereka bukan  lain adalah ingin meracuni Nyoo Siau-sian serta Kiau Hui-hui sampai mati.

Ingatan tersebut melintas lewat dengan cepatnya  dalam benak Oh Put Kui, begitu kakek latah  awet muda selesai berbicara dan  Lan Cui-siu baru sempat menghela  napas sebelum menjawab, dia telah berteriak lebih dulu: "Ban tua, jadi racun itu dioleskan dibalik pakaian  dalam Lian Peng ?"

"Benar!" sahut kakek latah  awet muda sambil tertawa, "bahkan akupun berhasil menemukan bahwa racun yang  digunakan juga merupakan racun  yang  paling  keji  di  dunia ini. "

"Racun apakah itu?" tanya Lan Ciu-sui.

"Salep pembusuk hati seribu ular dari wilayah Biau!" Mendengar nama racun tersebut, Peng-goan-koay-kek Lan

Ciu-sui segera berdiri tertegun.

Sedangkan Oh Put Kui berseru kaget dengan wajah berubah hebat, diam-diam ia bersyukur  dihati karena tak sampai jatuh korban jiwa.

Dia pernah mendengar tentang keganasan  salep pembusuk hati seribu ular dari wilayah Biau tersebut, konon racun itu terbuat dari pelbagai macam racun yang ganas,  malah jauh lebih ganas dari pada racun Kim-jan-ku yang termashur itu.

Andaikata dia tidak meiliki pil penolak bala yang ampuh kasiatnya, tidak mustahil Nyoo Siau-sian serta Kiau Hui-hui sudah menemui ajalnya.

Setelah terkejut dan berdiri tertegun sejenak, Oh Put Kui kembali berkata dengan suara dalam:

"Ban tua, bila ditinjau dari semua kejadian yang tertera didepan mata sekarang, dapat disimpulkan kalau tuan rumah tempat ini telah memperhitungkan secara tepat akan kedatangan kita, dan  sudah memperhitungkan juga kalau nona Nyoo bakal menggantikan pakaian buat jenasah Lian Peng.

"Perkataanmu itu memang tepat sekali, yaa memang harus diakui kecerdasan Siau Yau patut  dikagumi, dia   memang hebat dan luar biasa, tapi sayangnya betapapun tepatnya perhitungan yang dia lakukan, ia tak pernah menyangka kalau kedua orang nona itu tak sampai menemui ajalnya."

"Kebusukan dan kekejamannya benar-benar terkutuk, aku rasa tiada manusia kedua didunia ini yang memiliki kebuasan seperti Siau Yau....." seru Lan  Ciu-sui penuh perasaan dendam.

"Lote, dalam hal ini kejam atau tidaknya Siau Yau bukan merupakan masalah."

"Apa? Saudara Ban ingin membelai kedua orang iblis itu?" seru Lan Ciu-sui dengan tertegun.

Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak: "Haaaaaaaaaaahhhhhhhh.........

haaaaaaaaahhhhhhhh..............

haaaaaaaaaahhhhhhhhh.......... mana mungkin aku akan berbuat seperti itu,  hanya masalah sekarang adalah  kita berdiri dalam posisi saling bermusuhan, mereka berusaha hendak membinasakan kita secepatnya, dia tak dapat disalahkan bila mereka bertindak  tanpa sungkan-sungkan terhadap kita."

"Saudara Ban, mari kita segera berangkat mencari mereka untuk beradu jiwa dengannya." teriak Lan Ciu-sui lagi sambil tertawa.

"Saudara Lan, kita tak perlu pergi mencarinya lagi." "Kenapa?" seru Lan Ciu-sui tertegun, "apakah kau sudah

mengetahui tempat tinggal mereka?"

"Benar, benar sekali perkataanmu itu, mereka memang sudah meninggalkan petunjuk!"

"Ban tua, berada dimanakah mereka sekarang ?" teriak Oh Put Kui pula.

"Mereka berada dilembah Sin-mo-kok!"

Tiba-tiba Oh Put Kui membalikkan badan lalu berlarian meninggalkan ruangan tersebut. Kakek latah awet muda segera membentak keras setelah menyaksikan kejadian itu.

"Hey, anak muda, mau apa kau?"

"Boanpwe segera akan berangkat kelembah Sin-mo-kok!" "APakah kau akan pergi kesana dengan seorang diri ?"

tanya kakek latah awet muda lagi sambil tertawa. "Apakah boanpwe seorang tidak cukup?"

"Tentu saja tidak cukup! Dua bersaudara Siau telah meninggalkan pesan ditubuh Lian Peng, dia menyuruh kau membopong jenasah dari Nyoo S iau-sian untuk pergi berduel dengan mereka? Anak muda, agaknya mereka sudah memperhitungkan dengan tepat bahwa kita akan kesana, itu berarti mereka sudah melakukan  persiapan pula secara matang, bila sekarang kau harus pergi seorang diri, bukankah perbuatanmu itu sama artinya seperti anak domba yang  menghantarkan diri kemulut harimau ?"

Oh Put Kui tertawa dingin.

Tapi sebelum pemuda itu sempat menjawab, Lan Ciu Siu telah berkata lebih dulu:

"Saudara Ban, siaute akan pergi bersama-sama bocah ini!" "Biar aku turut sertapun masih belum cukup!" tukas kakek

latah awet muda dengan wajah bersungguh-sungguh. "Aku tidak percaya!" teriak pemuda itu.

Kakek latah awet muda segera tertawa:

"Kau tak usah tidak percaya, kau tahu anak muda, orang lain berambisi besar hendak mengangkangi seluruh dunia persilatan dan  menyeret semua rekan persilatan berpihak kepadanya, bayangkan saja apakah kau mempunyai cukup kekuatan utnuk menentang kekuatan mereka itu?" Oh Put Kui segera berdiri tertegun, dia tidak mengira kalau persoalan tersebut mempunyai  sangkut paut  yang  begitu besar dengan keselamatan dunia persilatan.

Bahkan Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui sendiripun turut dibuat tertegun:

"Saudara Ban, apa kau bilang?"

Kakek latah awet muda tertawa tergelak:

"Kau tahu, mereka telah mempersiapkan pertemuan besar "Peluk kaum iblis mengembangkan ilmu silat" yang ditetapkan akan diselenggarakan pada bulan enam tanggal lima belas, seluruh umat persilatan mungkin akan berkumpul disitu."

"Benarkah itu?" seru Lan Ciu-sui tertegun.

"Saudaraku, buat apa aku mesti berbohong? Satu-satunya jalan yang harus kita tempuh sekarang adalah mengadakan perseiapan sematang-matangnya. Dari pihak pulau neraka, Un-hiang-lo, perkampungan Tang-mo-san-ceng, para tianglo dari pelbagai partai  besar serta Thian-tok-siang-coat serta Hong-gwa-sam-sianpun harus segera kita hubungi."

Melihat si kakek latah awet muda yang selamanya  berbicara santaipun kini menunjukkan  wajah yang bersungguh-sungguh, Lan Ciu-sui segera sadar bahwa persoalan yang  mereka hadapi sekarang bukan masalah sepele saja.

Karena itu katanya kemudian kepada Oh Put Kui sambil tertawa:

"Nak, pergilah menjemput ayahmu sekalian, sedangkan masalah yang lain biar yaya serta Ban loko yang mengaturkan bagimu!"

Oh Put Kui segera menyahut dan mohon diri.

Tapi ada dua orang yang segera mengikutinya pula pergi meninggalkan tempat itu. SEtelah turun dari bukit Nyo-tay-san, Oh Put Kui langsung berangkat menuju kelautan timur.

Menurut perhitungannya sepuluh hari lagi akan tiba hari Peh-cun, oleh karena ia pernah  dipesan  agar menjemput ketujuh orang tua tersebut setelah lewat hari Pek-cun, maka pemuda itu merasa tak perlu untuk cepat-cepat sampai ditempat tujuan.

Biarpun begitu, ia toh melakukan perjalanan terus siang malam tiada hentinya.

Akibat dari perbuatannya  ini. kedua orang nona yang mengikuti perjalanannya itu menjadi tersiksa.

Ketika fajar menyingsing pada bula lima tanggal enam, ia sudah tiba di Giok-huan.

Maka pertama-tama dia  pergi menghubungi si kakek nelayan dari lautan timur Ciu Pao-tiong.

Terhadap kemunculan Oh Put Kui yang sangat tiba-tiba ini, Ciu Poo-tiong menyambutnya  dengan penuh kegembiraan, perpisahan selama beberapa bulan rupanya membuat sorot mata Oh Put Kui kelihatan lebih tajam dan bercahaya.

Sambil tertawa kerasa kakek nelayan dari lautan timur segera berkata:

"Oh lote, hanya berpisah beberapa bulan nyatanya kau kelihatan lebih hebat. Tentunya kemajuan  yang kau capai selama ini amat pesat bukan? Aku benar-benar ikut merasa gembira. "

Oh Put Kui tertawa.

"Pujian dari kau orang tua, hanya membuat aku menjadi rikuh sendiri "

"Haaaaaaaaahhh...... haaaaaaahhhhh.......

haaaaaaaahhhhhhh..... apakah lote bermaksud mengunjungi pulau neraka lagi ?" "Betul, boanpwe memang ingin merepotkan kau orang tua dengan menemani aku mengunjungi pulau neraka lagi. "

"Kapan kau siap akan berangkat. ?"

"SEtiap saat bila kau sudah ada waktu, tentu saja lebih  cepat lebih baik!"

"Bagaimana kalau tengah hari nanti? Biar aku mempersiapkan dulu sedikit sayur dan arak untuk mu."

Buat apa kau persiapkan sayur dan arak? Apakah kau ingin minum arak diatas perahu?" tanya Oh Put Kui sambil tertawa.

Kakek nelayan dari lautan timur kembali tertawa:

"Lote, bukankah kau bermaksud menjemput  ketujuh malaikat tersebut untuk pulang ke Tionggoan? Nah itulah dia, aku akan persiapkan sayur arak untuk menjamu mereka."

Mendengar ucapan  mana,  Oh Put Kui menjadi tertegun. "Ciu tua, darimana kau bisa tahu?" tanyanya kemudian

dengan kening berkerut.

Kembali Kakek nelayan dari lautan timur tertawa tergelak: "Lote, Poan cay siansu  telah memberi kabar  kepadaku,  dia

bilang  bila lote datang lagi  kepulau tersebut, berarti saat itulah

saat ketujuh malaikat kembali kedaratan Tionggoan, Tentunya perkataan ini tidak keliru bukan lote?"

Dengan perasaan baru mengerti Oh Put Kui tertawa tergelak:

"Haaaaaahhhhhhh............ haaaaaaaahhhh..........

haaaaahhhh........... rupanya Poan-cay taysu yang mengabarkan kepadamu, boanpwe masih mengira. "

Ia tidak melanjutkan kembali kata-katanya, sebab  dia merasa bahwa dugaannya kalau sikakek nelayan dari lautan timur Ciu Poo-tiong mempunyai kepandaian untuk meramal adalah suatu perkataan yang menggelikan. Kembali kakek nelayan dari lautan  timur Ciu-poo-tiong barkata sambil tertawa:

"Lote, pergilah beristirahat dulu didalam perahu, aku akan segera mempersiapkan segala sesuatunya, tengah haru nanti kita sudah dapat mulai berangkat "

Sambil berkata Oh Put Kui segera diajak menuju kesebuah perahu besar dengan tiga buah layar.

Oh put Kui memperhatikan sekejap perahu  besar itu, kemudian katanya sambil tertawa:

"Ciu tua, apakah perahu ini baru saja kau beli?" "OOdwOooohh, perahu  tersebut merupakan hadiah dari

Hong-gwat-sam-sian. "

Terharu sekali hati Oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu, dia tahu Hong-gwat-sam-sian sengaja menghadiahkan perahu  tersebut untuk kakek nelayan dari lautan timur dengan maksud agar dia bisa berangkat ke pulau neraka dengan  leluasa serta menjemput kembali ayahnya sekalian bertujuh pulang kedaratan Tionggoan.

Maka diapun menjura ketengah udara dan berkata sambil menghela napas panjang:

"Demi urusan ayahku, ternyata Hong-gwa-sam-sian harus repot-repot menghadiahkan perahu, kejadian ini sungguh membuat hatiku tak tenang."

Ciu Poo-tiong yang melihat hal ini  cepat-cepat menyela sambil tertawa:

"Lote,   buat  apa  kau   mesti berkeluh  kesah aku

akan persiapkan dulu semua barang kebutuhan, silahkan lote beristirahat sejenak diperahu "

Tengah hari itu, Oh Put Kui berdiri diujung perahu sambil menyaksikan ombak yang terbelah diterjang kapal.

Ketika ombak memecah ditepian buritan segera menimbulkan suara yang amat keras. Tanpa terasa Oh Put Kui terbayang kembali pengalamannya ketika melakukan penyelidikan untuk pertama kalinya kepulau neraka, perasaannya waktu itu sungguh berbeda dengan perasaannya saat ini.

Walaupun didalam perjalannya kali ini dia belum berhasil mengetahui siapa pembunuh ibunya, tapi  berdasarkan pelbagai data yang berhasil dikumpulkan, ia sudah dapat menebak secara garis besarnya.

Wi Thian-yang dan  dua  bersaudara Siau sudah jelas merupakan beberapa orang yang paling mencurigakan.

Kawanan jago yang berada disekitar si Raja setan penggetar langit pun hampir semuanya  mencurigakan, terutama sekali si pedang sakti bertenaga raksasa Kit Put-sia.

Dia mempunyai kemungkinan yang cukup banyak sebagai otak dari seluruh peristiwa berdarah ini.

Segala sesuatu yang ditemukan dalam kota Huang-si-shia nya, gerak geriknya yang  misterius ditambah pula,  tusuk konde Ngo-im-hun-kut-ciam telah muncul pula digedungnya, meski kemudian dia telah menjelaskan asal usul datangnya tusuk konde Ngo-im-hun-kut-ciam tersebut,  tapi  bukan mustahil kalau kesemuanya ini memang  sengaja  diatur  oleh Kit Put-shia untuk mengelabuhi pandangan orang.

Berbicara menurut kecerdasan otak serta kepandaian silat yang dimiliki Kit Put-shia, pekerjaan sekecil ini sudah pasti dapat dilakukan olehnya secara mudah, bahkan  tidak  sulit juga untuk tak diketahui orang.

Oh Put Kui mendongakkan kepalanya memandang sekejap langit nan biru dengan sinar matahari yang memancar terik, ombak yang menggulung-gulung menimbulkan suara gemerisik.

Ia merasa  pikirannya  terombang-ambing  bagaikan gulungan ombak ditengah samudra entah sampai kapan baru dapat mereda kembali? Lama................ lama sekali....................

Hingga bayangan pulau neraka yang hitam muncul dikejauhan sana, pemuda itu baru sadar kembali dari lamunannya.

Dia segera menggelengkan kepalanya berulang kali dan bergumam sambil tertawa:

"Aaaaaai, buat apa mesti dipikirkan? Tunggu saja setelah bertemu Kit Put-shia nanti, bukankah segala sesuatunya akan menjadi jelas dengan sendirinya. "

oo0dw0oo

Pelan-pelan perahu itu sudah merapat ditepian.

Kelihayan si kakek nelayan dari lautan timur Ciu Poo-tiong dalam mengemudikan perahu  memang  sangat mengagumkan, mau tak mau Oh Put Kui harus memuji kemampuannya itu.

Bayangkan saja, perahu yang begitu besar ternyata dapat dikemudikan olehnya secara mantep dan tenang bagaikan perahu kecil saja, andaikata mesti berganti pelaut lain belum tentu mereka dapat melakukan semulus ini.

Setelah jangkar diturunkan, layar digulung, kakek nelayan dari lautan timur segera berpesan kepada tiga orang kelasinya agar menjaga perahu  itu baik-baik, sementara dia  sendiri menemani Oh Put Kui naik kedaratan.

Suasana diatas pulau amat sepi, hening  dan tak kedengaran sedikit suarapun.

Suasana yang dihadapi saat ini  sama sekali berbeda dengan suasana ketika ia datang untuk pertama kalinya dulu.

Waktu itu belum lagi mereka merapat ke daratan, serangan telah mereka hadapi secara gencar. Tapi kini, biarpun mereka sudah mencapai daratanpun  belum  nampak  sesosok bayangan manusiapun yang muncul disitu.

Mengapa begitu? Dengan kening berkerut Oh Put Kui segera berpaling kearah sikakek nelayang dari lautan timur.

Sambil menggelengkan kepalanya  Ciu-poo-tiong segera berkata:

"Lote, apakah kau menaruh curiga kalau pulau ini sudah tiada penghuninya?"

Oh Put Kui mengangguk:

"Yaaa,    boanpwe     memang      merasa      amat keheranan "

Sambil tertawa Ciu-poo-tiong kembali berkata:

"Saban hari aku berjaga-jaga dikota Giok-huau, biarpun tidak kuketahui secara jelas keadaan dipulau ini, tapi jika ada perahu yang masuk keluar pelabuhan, tak satupun yang bisa lolos dari pengamatanku."

Hal ini membuktikan kalau ketujuh orang tua tersebut masih tetap berada diatas pulau.

"Ciu tua, boanpwe hanya merasa heran, mengapa ayahku sekalian tidak menyambut kita  seperti dulu, bahkan  tak seorangpun yang datang menjenguk?" ujar Oh Put Kui cemas.

"Mungkin............... ayahmu sekalian telah memperoleh pemberitahuan lebih dulu dari Hong-gwa-sam-sian dan mengetahui kalau lote akan muncul dalam beberapa hari ini, itulah sebabnya mereka segera mengendorkan pos pengawasannya."

"Moga-moga saja apa yang diduga Ciu tua  memang  benar. "

Sementara pembicaraan masih berlangsung,  mereka berdua telah naik ke bukit berkarang.

Dikejauhan sana mereka sudah melihat gardu Bong-ji-teng yang berdiri angker. Gardu yang berdiri menyendiri di puncak bukit karang itu kelihatan begitu mengenaskan dibawah timpaan cahaya matahari senja, terpancar pula kesepian yang  amat mencekam.

Suasana dipulau itu amat sepi, sedemikian sepinya sampai dapat terdengar mengalirnya sumber air diantara batuan.

Oh Put Kui memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba dia berbisik:

"Ciu tua, kita akan pergi ke gua tempat kediaman mereka?

Ataukah langsung menuju ke gardu Bong-ji-teng?"

"Menurut pendapatku lebih baik kita langsung menuju ke gardu Bong-ji-teng!" sahut Ciu Poo-tiong sambil tertawa.

Oh Put Kui manggut-manggut, ia  segera  beranjak  lebih dulu meninggalkan tempat itu.

Kakek nelayan dari lautan timur Ciu Poo-tiong segera mengikuti dibelakangnya, dalam waktu singkat mereka sudah tiba ditempat tujuan.

Mendadak berkumandang suara tertawa yang amat nyaring dari balik gardu tersebut.

"Nak, akhirnya kau datang juga?"

Oh Put Kui segera menghentikan langkahnya sambil menengok, ternyata ia jumpai ke tujuh orang tua itu sedang duduk bersila dilantai gardu Bong-ji-teng tersebut.

Tak heran kalau mereka tidak menjumpai seseorangpun, apalagi melihat dari bawah bukit, tentu saja sulit untuk menjumpai orang-orang itu.

Begitu bersua dengan ketujuh orang tua itu, Oh Put Kui segera merasakan darah yang mengalir didalam tubuhnya mendidih, ia segera berteriak keras lalu menerjang masuk kedalam gardu Bong-ji-teng serta berlutut dihadapan ketujuh orang itu.

"Ayah. " Sambil berteriak ia berpaling kearah pedang iblis pencabut nyawa Oh Ceng Thian.

Oh Ceng-thian yang kurus nampak tertegun karena kaget oleh tindakan yang dilakukan oleh Oh Put Kui tersebut.

Sekilas perasaan kaget dan girang yang sukar dilukiskan dengan kata-kata melintas diatas wajahnya yang tua, gumamnya agak tergagap:

"Kau..........  bocah.............  kau   memanggil  apa kepadaku. ?"

Dengan mata berkaca-kaca oleh airmata Oh Put Kui berseru:

"OOdwOoOoh   ayah,   aku   adalah    putramu    yang hilang "

Pedang iblis pencabut nyawa Oh Ceng-thian kelihatan seperti terperanjat menghadapi peristiwa yang sama sekali tak terduga olehnya itu, dengan wajah kurang percaya dan kenign berkerut kencang ia berseru lirih:

"Benarkah kau. kau adalah putraku yang hilang?"

"Ooh ayah, setelah kembali kedaratan Tionggoan dulu ananda selalu bertanya kepada toa pekhu, dan empek telah memberitahukan segala sesuatunya kepadaku. "

"Apakah sian-toako?" tanya Oh Ceng-thian.

"Ayah, ananda dibesarkan dan  dipelihara oleh empek selama ini. "

Tiba-tiba Oh Ceng-thian melompat bangun dipegangnya sepasang bahu Oh Put Kui kencang-kencang lalu serunya:

"Kau benar-benar  adalah anakku yang hilang "

Butiran air mata nampak membasahi wajah loji dari tujuh malaikat dunia persilatan ini, perjumpaan yang mengharukan antara ayah dengan seorang anak yang hilang memang selain menjadi ajang memeras airmata. Lama sekali ayah dan  anak saling berangkulan tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Kakek nelayan dari lautan timur Ciu Poo-tiong yang berdiri diluar gardupun kelihatan berdiri dengan mata berkaca-kaca.

Akhirnya si kakek pemabuk dari Tiang-nan-san Tu Ji-khong berseru sambil tertawa terbahak-bahak memecahkan keheningan tersebut:

"Oh Ji-heng, kini putramu sudah datang  dan  seharusnya kau sambut dengan gembira, mengapa sih malahan kau berubah menjadi begitu lemah macam perempuan saja?"

Dalam keadaan demikian, sikongcu berhati dingin Leng To yang kaku  tanpa perasaan serta sastrawan latah  pedang kitung Liong Ciau-thian yang sombong pun kelihatan terpengaruh oleh gejolak emosi dan  sama-sama memperlihatkan rasa haru.

Hal ini menunjukkan bahwa pertemuan antara  ayah dan anak ini telah membangkitkan perasaan baru bagi siapapun yang memandangnya.

Ketika Tu-ji-khong selesai berkata, Oh Ceng-thian segera menarik tangan Oh Put Kui sambil katanya:

"Nak, perkataan Tu-jit-siok mu memang betul, kita harus bergembira menyambut pertemuan ini! Selama delapan belas tahun, siang dan  malam aku selalu mengharapkan  dapat bertemu denganmu, ternyata Thian memang maha pengasih. Dia telah mengabulkan  permintaanku dalam wujud suatu kenyataan!  Nak,  kita   harus   tertawa,   kita   harus bergembira. "

Mendadak gelak tertawa yang amat kencang dan memekakkan telinga bergema keluar dari mulut Oh Ceng-  thian.

Begitu keras gelak tertawa tersebut hingga kakek nelayan dari lautan timur hampir saja tak sanggup berdiri tegak. Kakek tinggi besar yang merupakan pemimpin dari ketujuh orang itu, It-gi-kit-jiu Ku Put-beng segera membentak keras:

"Jite, jangan sampai gelak tertawamu melukai  kakek nelayan dari lautan timur serta keponakan Put kui!"

Rupanya gelak tertawa dari Oh Ceng-thian tersebut dipancarkan dari dalam pusar yang disertai dengan tenaga dalam amat dahsyat, barang siapa lemah  tenaga  dalamnya, dia tentu akan terluka oleh hawa murni yang terpancar keluar lewat suara tertawa itu.

Ku Put-beng mengerti bahwa kakek nelayan dari lautan timur serta Oh Put Kui tak akan tahan menghadapi ancaman tersebut, karena itulah ia segera menegur.

Padahal Oh Ceng-thian tidak sengaja berbuat begitu, dia hanya tertawa saking gembiranya.

Baru setelah ditegur Ku Put-beng, ia segera menghentikan gelak tertawanya dan berkata sambil menggelengkan kepalanya berulang kali:

"Teguran saudara Ku memang tepat sekali, gara-gara lupa diri hampir saja aku membuat bencana besar. "

Sementara itu si kakek nelayan dari lautan timur Ciu Poo- tiong berdiri dengan peluh sebesar kacang kedelai membasahi seluruh tubuhnya, hal ini membuktikan dengan jelas seandainya Oh Ceng-thian tidak segera menghentikan gelak tertawanya, niscaya dia  akan  terluka oleh suara tertawa pencabut nyawa dari Oh Ceng-thian tersebut.

Tiba-tiba Jian-ih siansu merangkap  tangannya didepan dada dan berkata sambil tertawa:

"Putra yang dinantikan kini telah muncul, harap Mo kiam sicu jangan kelewat terpengaruh emosi, kini dunia persilatan didaratan Tionggoan sedang menantikan kehadiran  kita semua, mengapa sicu tidak mengajak mereka masuk untuk duduk dan berbincang-bincang?"  Oh Ceng-thian   nampak tertegun setelah mendengar perkataan itu, tapi segera serunya sambil tertawa:

"Betul  juga perkataan siansu. "

Dia segera menarik Oh Put Kui untuk menempati kasur duduknya, kemudian baru berkata lagi:

"Nak,  jumpailah keenam cianpwe mu. "

Dengan sikap amat hormat Oh Put Kui memberi hormat kepada keenam orang lainnya satu-persatu.

Sambil tertawa terbahak-bahak sisastrawan latah pedang kutung Liong Ciok-thian berseru:

"Hiantit, duduklah lebih dulu!"

Padahal sastrawan ini  termashur karena  sombong dan latah, tapi sekarang justru bersikap begitu sungkan  terhadap Oh Put Kui, kejadian semacam ini benar-benar diluar dugaan kakek nelayan dari lautan timur.

Dengan sedikit agak rikuh Oh Put Kui  segera duduk. Barulah waktu itu Ku Put-beng menggapai kearah Ciu Poo-

tiong yang masih berdiri diluar gardu seraya berkata:

"Nelayan tua she Ciu, kau pun boleh masuk dan duduk disini!"

Ciu Poo-tiong tersenyum dan melangkah masuk kedalam gardu, setelah memberi hormat kepada ketujuh orang tua itu, dia menempatkan diri pada urutan yang paling akhir.

Dalam pada itu si pedang iblis pencabut nyawa Oh Ceng- thian berkata lagi dengan mata bersinar:

"Nak, apakah kedatanganmu kali ini adalah  untuk menjemput ayah sekalian untuk  pulang  kedaratan Tionggoan?"

"Betul, ananda memang sedang melaksanakan perintah untuk menyambut ayah  dan  enam paman lainnya untuk kembali kedaratan Tionggoan!" sahut pemuda itu tertawa. "Nak, kau sedang melaksanakan perintah siapa?" "Perintah dari Ban Sik-tong cianpwe."

Mendengar nama Ban Sik-tong, ketujuh malaikat dari dunia persilatan ini sama-sama merasakan hatinya bergetar keras.

It-gi-kitsu Ku Put-beng segera tertawa tergelak, katanya: "Apakah    Ban   Sik-tong    masih   hidup    didunia   ini  nak?

Haaaaaaaahhhhhh............ haaaaaaaaahhhhhh..............

haaaaaaaahhhhhh............ benar-benar tidak kusangka. "

"Siancay, siancay!" seru Jian-gi siansu pula, "kehadiran orangtua ini didalam dunia persilatan betul-betul merupakan rejeki buat seluruh umat persilatan!"

Sebaliknya coat-cing kongcu Leng To-yang bersikap dingin segera berseru sambil tertawa dingin:

"Bila si kakek latah awet muda masih hidup dikolong langit, mengapa kaum iblis didaratan Tionggoan masih tetap meraja lela? Nak, jangan-jang kau bukan bertemu dengan situa Ban yang sesungguhnya "

"Boanpwe telah berkumpul selama beberapa bulan dengan situa Ban, yakin hal ini tidak bakal salah lagi," jawab Oh  Put Kui segera.

"Kalau toh si tua Ban masih hidup, mengapa kawanan iblis itu masih bisa merajalela seenaknya  sendiri? Atau jangan jangan kakek latah awet muda sudah tidak mencampuri  urusan keduniawian lagi?"

Kembali Oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang kali:

"Si tua Ban bukannya sudah tidak mencampuri urusan keduniawiaan lagi, tapi selama dua puluh tahun terakhir ini dia sendiri pun kena ditipu orang dan terkurung dalam sebuah bangunan loteng, dia baru lolos dari sekapan  belum lama berselang!" "Siapakah yang telah menipu si tua she Ban itu?" tanya Liong Ciok-thian tiba-tiba dengan kening berkerut.

"Orang itu adalah Kit Put-shia!"

Mendengar perkataan tersebut ketujuh orang  tua  itu  kembali dibuat tertegun.

Tiba-tiba Mi-sim-kui-ta berkata sambil tertawa:

"Anak muda, apakah Kit Put-shia sudah menjadi pentolan kaum iblis didaratan Tionggoan?"

Oh Put Kui tertawa:

"Boanpwe tak berani sembarangan menduga, tapi kalau ditanya pendapat boanpwe sendiri, Kit Put-shia pribadi belum pernah munculkan diri untuk berbuat sesuatu kejahatan, tapi dia memang cukup mencurigakan!"

"Mencurigakan bagaimana maksudmu?" tiba-tiba Coat-cing kongcu menyela.

"Kemungkinan besar dialah dalang yang menjadi otak dari semua kerisauan dalam dunia persilatan selama ini!"

Si kakek pemabuk dari bukit Tiang-pek-san, Tu Ji Khong segera tertawa tergelak:

"Haaaaaahhhh........ haaaaaahhhh........

haaaaaaaaahhhh........ kini kau sudah datang, berarti sumpah kita dulupun sudah berakhir, tentunya kita sudah boleh pergi bukan sekarang?"

"Tentu saja!"

"Nah saudara Ku dan saudara sekalian bila kita tidak pergi saat ini juga, mau menunggu sampai kapan lagi ?"

Perahu besar dengan tiga buah layar lebar kembali menempuh perjalanan mengarungi samudra bebas.

Kegelapan malam telah muncul diujung langit, kegelapan pun mencekam seluruh permukaan bumi. Impian buruk dipulau neraka kini sudah berakhir, daratan tersebut sudah jauh tertinggal diujung langit situ.

Tujuh orang tua yang menyendiri, kini tidak menyendiri lagi. Oh Ceng-thian berhasil pula memperoleh kembali anaknya, dalam anggapan mereka bertujuh, bocah tersebut tak lain adalah ahli waris dari mereka bertujuh.

Cin Poo-tiong dengan gagahnya berdiri diburitan perahu sambil memberi perintah kepada ketiga orang kelasinya untuk mengemudikan perahu.............

Semenetara dalam ruangan perahu diselenggarakan perjamuan yang dinikmati ke tujuh orang itu dengan penuh riang gembira, mereka amat berterimakasih sekali atas kecermatan serta ketelitian Cin Poo Tiong dalam mempersiapkan segala sesuatunya.

Dalam perjamuan ini, secara singkat Oh Put Kui menceritakan pula keadaan situasi didalam dunia persilatan, yang disambut ketujuh orang tua itu dengan helaan napas panjang.

Kepada putranya, Oh Ceng-thian berkata demikian:

"Nak, apakah keempat buah peristiwa  berdarah  yang pernah kau ceritakan ketika berkunjung kemari  dulu,  kini sudah terpecahkan?"

"Belum!" pemuda itu menggeleng.

"Hmmm, apakah para ciangbunjin dan lima partai besar tak ada yang mengurusi persoalan ini?" seru Coat-cing kongcu Leng To sambil mendengus marah.

"Keluma orang ciangbunjin dari lima partai besar selalu mondar mandir kian  kemari untuk  melakukan  penyelidikan atas peristiwa tersebut, namun hingga boanpwe  akan berangkat kemari, belum nampak hasil penyelidikan mereka."

"Masa begitu susahnya persoalan ini dipecahkan?" seru Leng TO agak tertegun, "apakah pihak lawan dapat bekerja secara bersih tanpa menimbulkan sedikit jejakpun?" "Betul, mereka memang bekerja secara bersih tanpa meninggalkan  jejak, hanya saja "

Setelah berhenti sejenak, dia  meneruskan:

"Menurut pendapat boanpwe, siraja setan penggetar  langit Wi Thian-yang amat mencurigakan dalam beberapa peristiwa tersebut, sebab Nyoo Thian-wi serta Wi Thian-yang sesungguhnya adalah satu orang yang sama!"

Jian-gi siansu segera tertawa:

"Lolap rasa dugaan siau-sicu memang beralasan sekali, andaikata orang yang melakukan peristiwa tersebut benar- benar adalah Wi Thian-yang, berarti dibalik ketiga macam peristiwa berdarah itu sudah terselip suatu rencana atau untrik yang amat keji."

"Apakah siansu tahu kalau diantara Wi Thian-yang dengan Hu-mo suthay sekalian terikat dendam?" kata kakek pemabok dari Tiang-pek-san sambil tertawa.

Jian-ih siansu menggelengkan kepalanya.

"Lolap belum pernah mendengar tentang hal ini,  kalau tidak, lolappun tak akan  menganggap  dibalik  peristiwa tersebut masih terdapat intrik keji lainnya."

"Boanpwe berpendapat  dibelakang Wi Thian-yang  tentu ada orang yang mendalanginya!" kata Oh Put Kui selanjutanya.

"Siapa yang mendalangi dia? Apakah Kit Put-shia?" tanya sastrawan latah pedang kutung sambil mendelik.

Oh Put Kui kembali menggeleng.

"Boanpwe belum terlalu yakin akan kesimpulan  yang  kubuat, tapi berbicara menurut kepandaian silat yang  dimiliki Wi Thian-yang rasanya dia tak akan  berkemampuan untuk berbuat demikian,  bisa saja dua bersaudara Siau patut dicurigai." "Betul, Siau Yau serta Siau Hian memang mempunyai kemampuan untuk berbuat demikian." seru Mi-sim-kui-to tertawa.

It-gi Kitsu Ku Put-beng berkerut keningnya, kemudian katanya sambil tertawa:

"Nak, apakah selama ini kau pun tidak  berhasil memperoleh sesuatu petunjuk dalam peristiwa ini?"

Dengan perasaan menyesal Oh Put Kui tertawa. "Kecerdasan boanpwe sangat terbatas, boanpwe memang

tidak berhasil menyelidiki persoalan tersebut "

Padahal kalau berbicara dari hasil penyelidikannya,  mungkin orang lain harus berjuang  seumur hidup untuk mendapatkannya.

"Nak, setelah kita kembali kedaratan Tionggoan, kemanakah kita akan bertemu dengan Ban  Sik-tong?"  tanya Ku Put-beng lagi.

"Gedung Un Hiang-lo di kota Kim-leng!"

"Siau sicu, apakah gurumu Tay-gi sangjin juga akan hadir?" tanya Jian-ih siancu.

Oh Put Kui menggeleng.

"Soal itu boanpwe kurang tahu "

Belum habis dia  berkata, tiba-tiba Oh Ceng-thian telah berseru dengan suara dalam.

"Nak, apakah toa-pekmu pernah  memberitahukan soal ibumu?"

"Benar, beliau telah  memberitahukan segala sesuatunya kepada ananda."

"Apakah kau sudah selidiki siapa pembunuhnya?  Apakah dia adalah Kok Cu-hong?" tanya Oh Ceng-thian lagi dengan kening berkerut. "Menurut pemberitahuan dari si tua Ban, Kok Cu-hong telah tewas ditangan Nyoo Thian-wi, sedangkan mengenai si pembunuh itu sendiri, bisa jadi dia adalah Wi Thian-yang!"

"Nak, mengapa kau tak dapat memberikan kepastian yang meyakinkan. ?" tegur Oh Ceng-thian dengan marah.

"Ayah, berhubung ananda belum berhasil  memperoleh bukti yang pasti, maka belum berani  kupastikan  siapakah pembunuh yang sebenarnya."

Tampaknya Coat-cing kongcu Leng To merasa sangat tidak puas atas teguran Oh Ceng-thian terhadap anak muda itu segera serunya:

"Bocah, aku rasa apa yang  kau perbuat  sudah bagus sekali."

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi  kepada  Oh Ceng-thian sambil tertawa dingin:

"Saudara Oh, tempo dulu kau malahan secara langsung terlibat pertarungan sengit dengan orang itu, tapi nyatanya kau tak dapat mengenali siapakah lawannya, mengapa kau malah menegur putramu sekarang?  Apakah tindakanmu ini   tidak keliru besar?"

Sesungguhnya Oh Ceng-thian hanya menjadi gusar karena dorongan emosi, tentu saja dia tidak bermaksud menyalahkan Oh Put Kui.

Setelah Coat cing kongcu Leng Tp menegurnya secara langsung, bukan saja hal itu menimbulkan rasa sesal dihati Oh Ceng-thian, namun menimbulkan pula rasa gembira dalam hatinya.

Sebab dia cukup kenal dengan watak Leng To, sebagai seorang kongcu tanpa perasaan semestinya dia adalah orang yang kaku, aneh dan tak sudi memuji prang lain dengan begitu saja.

Tapi nyatanya dia justru membela Oh Put Kui dan merasa tak puas bagi tegurannya, dari sini membuktikan kalau Leng To telah berhasil melihat bahwa anaknya  bakal berhasil dikemudian hari menjadi seseorang yang berguna.

Oleh karena itulah  Oh Ceng-thian merasa gembira dan riang.

Setelah tertawa terbahak-bahak segera ujarnya:

"Teguran saudara Leng memang benar,  aku memang sudah menyalahkan bocah ini!"

"Kau bisa mempunyai seorang anak semacam ini, sudah sepantasnya bila suadara Oh bergembira................" kembali Leng To berkata dengan suara dingin.

Tiba-tiba Tu Ji-khong si pemabok dari Tiang-pek-san menyela sambil tertawa tergelak:

"saudara Oh, bocah ini merupakan ahli waris kita bertujuh, kau jangan membentak dia terus menerus, kalau sampai membuat ia menjadi ketakutan, hmmmm!  Aku  tak  akan terima. "

Mi-sim-kui-to segera berseru pula sambil tertawa: "Sesungguhnya  persoalan  ini tak perlu diributkan terus, tapi

kalian  malah  cekcok  sendiri  karena  masalah  sepele,  benar-

benar keterlaluan. Ketika bocah ini datang untuk pertama kalinya dulu, kita masing-masing telah mewariskan semacam ilmu silat kepadanya, padahal sejak itu soal hubungan sudah resmi ada, tapi sekarang kalian malah meributkannya kembali, apakah hal ini tidak berlebihan? Nah, mari kita beralih kesoal yang serius saja. Barusan aku teringat kembali dengan ayah mertua saudara Oh, mengapa sekian lama belum juga ada kabar berita tentangnya? Nak, apakah kau pernah bersua dengannya didaratan Tionggoan?"

Baru sekarang Oh Put Kui teringat kalau dia sudah lupa menceritakan tentang Kakek luarnya itu.

Maka sambil tertawa segera katanya: "Boanpwe telah bertemu dengan gwakong!" "Nak, dimanakah gwakongmu sekarang?" seru Oh Ceng- thian dengan emosi.

"Ketika ananda berangkat kemari, dia orang tua melakukan perjalanan bersama-sama si tua Ban, mungkin disaat kita sampai dikota Kim Leng, dia telah menunggu kedatangan kita disitu!"

Oh Ceng-thian segera menghembuskan napas panjang, katanya kemudian:

"Nak, apakah gwakongmu juga belum tahu siapa yang  telah membunuh ibumu?"

"Gwakong telah dikurung Wi Thian-yang dalam penjara bawah tanah selama delapan belas tahun  lamanya, justru ananda bertemu kembali dengan gwakong setelah berhasil menolongnya     dari       gedung       Sian-hong-hu       diibu kota "

@oodwoo@
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).