Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 20

 Jilid 20

"OH LOTE ADALAH SEORANG jago muda yang berbakat hebat, biarpun jumawa tidak berarti kurang sedap di pandang."

"Betul, hei anak muda, sudah kau dengar itu ? Leng Siau- thian mengatakan kejumawaanmu itu amat menawan hati ! Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh .....  anak  muda, nampaknya aku memang tak salah memilih orang !"

Oh Put Kui segera tertaw hambar.

"kau orang tua jangan kelewat awal mengutarakan kata- kata semacam itu,  ketahuilah tidak sedikit penyakit  yang boanpwee miliki !"

Put-lo-huong-siu segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Hanya manusia yang punya penyakit barulah memiliki watak, anak muda, aku tak bakal menyesal !"

Dari perkataan tersebut, seakan akan dia sudah menegaskan kalau  Oh Put Kui sudah pasti akan menjadi penggantinya.

Oh Put Kui segera menggelengkan  kepalanya  berulang kali.

"Locianpwee, kau anggap boanpwee benar-benar akan menjadi penggatimu ?" "Siapa sih yang sedang bergurau denganmu  ?" Put lo- huang-siu menedlik besar.

"Tapi, tidaklah kau orang tua bertanya kepada boanpwee, bersedia, bersedia ataukah tidak."

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., buat apa mesti ditanyakan lagi? Bagi kau si orang muda, apakah hal ini bukan berarti pucuk dicinta ulam tiba ?"

Mendadak Oh Put Kui mendongakan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., Ban tua anggapanmu itu keliru besar."

"Kenapa?" Put-lo-huang-siu tertegun, "Jadi kan benar- benar tidak bersedia?"

"Memang begitulah maksudku!"

Mendadak Put-lo-huang-siu melompat bangun dan melejit kehadapan Oh Put Kui, kemudian jeritnya.

"Kau berani ?"

"Mengapa boanpwee tidak berani ?"

"Kau tidak takut lohu  akan  memunahkan  semua kepandaian silat yan kau miliki ?" Put lo-huang-siu mencoba untuk mengertak.

Oh Put Kui tertawa hambar.

"Boanpwee toh tidka menyusahi dirimu,  mengapa  kau orang tua hendak memusnahkan ilmu silat yang boanpwee miliki ?"

"Jika kau tidak menyanggupi permintaan lohu, ini  berarti kalau telah menyalahi diriku, hei  anak muda, kau jangan anggap setelah mempunyai dua orang tulang punggung maka bisa berbuat semaunya sendiri. Ketahuilah akupun sama saja tak sungkan-sungkan terhadp tay-gi maupun Thian-liong !"

Oh Put Kui tertawa. "Boanpwee sudah tahu, guruku dan  susiok memang seringkali menyinggung tentang dirimu." perkataan ini benar- benar menimbulkan perasaan gembira bagi Put-lo-Huang-siu.

Jelaslah sudah, biarpun diluarnya Put-lo Huang-siu Mengatakan akan bersikap begini begitu terhadap Tay-gi sangjin serta Tiang-liong sanjin, padahal dia  merasa  kagum dan hormat sekali terhadap ke dua orang tokoh persilatan tersebut.

Pelan-pelan paras muka kakek itu berubah menjadi lunak kembali, katanya kemudian sambil tertawa :

"Biarpun mereka sering menyinggung tentang diriku dihadapanmu "

"Suhu dan susiok bukan Cuma seringkali  menyinggung tentang kau orangtua dihadapan boanpwee, bahkan berpesan kepada boanpwee agar didalam tindak-tandukku dimasa depan harus banyak belajar dari kau oarang tua."

"Sungguhkah itu ?" si kakek bertambah gembira "Wah anak muda, gurumu memang cukup memahami perasaanku."

Dalam hati kecilnya Oh Put Kui meras geli, tapi di luar dia berkata lagi :

Guru boanpwee pernah hilang, kau adalah seorang tua yang tak suka mengikuti peraturan dan adat istiadat, setiap tindakan dan perbuatan yang dilakukan tak pernah melanggar kebesaran dan ajaran Thian, pada hakekatnya kau merupakan seorang tokoh berhati mulia."

Mendadak Put-lo-huang-siu tertawa.

"Bocah muda, gurumu melukiskan diriku  keliwat baik!"

"Ban tua, apakah kau pernah melakukan perbuatan yang melanggar ajaran Thian ?" tiba-tiba pemuda itu bertanya.

Cepat-cepat Put-lo-hiang siu menggelang.

"Tentu saja tidak pernah, sejak dilahirkan didunia ini, belum pernah kulukai seorang manusia pun !" Mendengar perkataan mana, Oh Put Kui segera ikut menggelengkan kepalanya :

"Sewaktu berada di loteng kecil tempo hari, bukankah kau pernah bilang selama terkurung disitu maka kau membunuh orang untuk mengisi waktu tenggang? Mengapa kau mengatakan tak pernah membunuh orang semasa hidupnya

?"

Merah jengah se ember wajah Put lo-huang-siu, katanya kemudian sambil tertawa :

"Anak muda, terus terang sajakau bilang, tempo hari aku hanya mengibul !"

"Mengibul ? jadi kau benra-benar tak pernah membunuh orang?"

"Selama ini aku Cuma menakut-nakuti orang lain saja, biar[un menghadapi manusia bengis berhati  kejipun, paling bater aku hanya menusnahkan ilmu silatnya saja!"

Mendadak Oh Put  Kui  tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., Ban tua, apakah boanpwee termasuk seorang manusia bengis keji ?"

Cepat-cepat Put-lo-hiang-siu menggeleng.

"Tentu saja bukan, masa kau manusia bengis berhati keji

....?"

"Nah, itulah dia, kalau toh memang begitu apa sebabnya  kau hendak memusnahkan ilmu silatku ?"

"Soal ini ... dengan memerah kakek  itu  tertawa  jengah, "Aku Cuma ingin menggertakmu !"

"Untung aku tidak takut digertak, coba tidak, bukankah bida berabe jadinya?"

Put-lo-hiang-siu menghela napas panjang. "Aaaai... betul juga, kau si anak muda memang tidak samapai kena digertak, tampaknya aku bakal menggung kecewa !"

"Kau orang tua tak perlu kecewa, asal kau ingin meminta bantuanku, sudah pasti akan kulaksanakan perintahmu tersebut!"

"Sungguh ?" teriak kakek ituamat girang.

"Selamanya apa yang  telah  kuucapakan tentu kulaksanakan dengan sungguh-sungguh!

"Aaaai ..." kembali kakek itu menghela napas  panjang. "anak muda, kalau kau megatakan hal ini sadari  tadi, bukankah sudah beres ? Bikin aku merasa kuatir saja ..."

Berbicara sampai disitu, dia lantas  melompat balik ke kursinya dan duduk kembali.

Oh Put Kui tertawa geli  di hatio, pikirnya :

"Sikakek ini benar-benar, lucu dan menawan hati ..." Biarpun demikian, ia toh menyahut juga :

"Ban    tua,   sekarang  perintah   apa yang hendak kau sampaikan kepadku?"

Sambil memejamkan matanya rapat-rapat, Put-lo-huang-siu berkata :

"hei anak muda, hari ini  akan kusuruh kau laksanakan permintaanku yang pertama!"

"Katakanlah!"

"Bereskan kesulitan yang sedang dialami Leng-Siau Thian!" "Tak usah disuruhpun aku juga akan berbuat demikian,"

batin Oh Put Kui.

Namun shutnya juga : "Aku turut perintah!" Waktu itu Leng Siauw-yhian sudah balik kembali ketempat semula, mendengar perkataan itu buru-buru dia bangkit berdir sembari ujarnya :

"Aaaah, mana boleh jadi, lebih baik biar aku sendiri yang merundingkan persoalan tersebut dengan sandara Ku!"

Mendadak Oh Put Kui berkata sambil tertawa :

"Leng tua, pedang Hian-peng-kiam tersebut telah kuhadiahkan kepada putri dan menantumu sebagai hadiah  perkawinan mereka, tapi sekarang muncul segelincir manusia yang ingin merampas pedang  tersebut, sewajarnya kalu akupula yang tampilkan diri untuk  menyelesaikan masalah tersebut."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berpaling kearah KU Bun-wi sekalian berlima sembari berkata :

"Bukankah kedatangan kalian berlima untuk mendapatkan pedang ini ? Aku bersedia untuk menyelesaikan maslah ini dengan kalian "

Menghadapi keadaan yang tidak menguntungkan pihaknya ini, Ku Bun-wi sudah mempunyai rencana  untuk mengundurkan diri dari tempat tersebut.

Dia tahu, dengan kepandaian yang dimiliki mereka berlima, tak nanti bisa menandingi kehebatan dari Put-lo-huang-siu.

Sekalipun demikian, dia enggan  menunjukkan kelemahannya dihadapan Oh Put Kui, mendengar ucapan mana, katanya sambil tertawa hambar :

"Apabila kau ingin melibatkan diri dalam kasus ini, terpaksa aku harus menyalahi dirimu."

Mendadak dia memandang sekejab kearah Put-lo-huang- siu, kemudian melanjutkan :

"Cuma saja, memandang diatas wajah emas dari Ban tua, hari ini kita sudahi masalah tersebut samapai disini!" Tampaknya saja dia seperti bersedia mengalah, tapi  tak sudi memberi muka untuk Oh Put Kui.

"Ku tayhiap, apa maksud perkataanmu itu"" desak Oh Put Kui tiba-tiba.

Ku Bun-wi tertawa dingin.

"Selewatnya hari ini, dimana kita bersua di situ kita selesaikan perselisihan perselisihan kita ini."

Mendengar perkataan tersebut, Oh Put Kui segera tertawa terbahak-bahak :

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., kalian takut ban Locianpwee melibatkan diri didalam persoalan ini sehingga  lebih suka mengundurkan diri saja dari sini?"

Ku-Bun-wi tertawa dingin pula :

"Justru karena kami menghormati Ban Locianpwee !"

Belum selesai Ku Bun-wi berkata, Put-lo-huang-siu sudah tertawa terbagak-bahak.

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., Siau-kukoay, aku akan mencampuri urusan kalian semua, apapun yangkalian suka lakuakan, silahkan saja melakukannya, tak usah  kuatir aku akan mencampuri urursan ini!"

Oh Put Kui  juga  berkata lagi sambil tertawa terbahak-bahak

:

"Haaahhh  .....   haaahhh.....   haaahhh   .....,   kecuali  kalian

semua tidak akan menyinggung lagi masalah pedang Hian- peng-kiam tersebut, kalau tidak semua perselisihan bersedia kuselesaikan pada hari ini juga!"

Ku Bun-wi berkerut kening, lalu  katanya  ketus  : "Tampaknya kau tak ingin melepaskan kami semua

meninggalkan tempat ini ?"

"Aku hanya berharap semua masalah  dapat dijelaskan sehingga duduknya perkara menjadi terang." "Majikanmuda kami bertekad hendak mendapatkan pedang Hian Peng Kiam tersebut!" ujar Ku Bun-wi kemudian samabil tertawa dingin.

"Sungguhkah itu?"

"Aku pun tidak terhitung seorang manusia yang  suka berbicara mencla-mencle, lihat saja nanti !"

"Aku tak akan menunggu  sampai nanti, sekarang juga persoalannya akan kubikin jelas !"

"Bagaimana caranya untuk bikin jelas ?" tanya Ku Bun-wi agak tertegun. "kau hendak menyuruh aku  mengakui  apa? Tak bakal ku kabulkan permintaan itu."

"Tidak megabulkan poun harus dikabulkan juga!" tukas Oh Put Kui sambil tertawa dingin.

oOdwOooOdwOooOdwOooo

Bebera kata dari Oh Put Kui ini diutarakan dengan nada yang amat ketus.

Seolah-olah dia menganggap bagaimanpun jua, si  panji  sakti perenggut Nyawa Ku Bun-wi pasti akan menyanggupi permintaannya ini.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ku Bun-wi, dengan gusar teriaknya :

"Jika aku tak akan mengabulkan, mau apa kau?" Oh Put Kui seger tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., kalau begitu terpaksa kalian akan kutahan disini samapi kau berlima menyanggupi permintaan itu."

Kontan saja Ku Bun-wi melotot besar, sedangkan Hakim sakti hitam putih Pak Cau Kun melotot marah, rambut dan cambangnya pada berdiri tegak  semua bagaikan landak. "Bocah ingusan yang  masih bau  tetek, kau berani amat ngebacot yang bukan-bukan !" "Jika kau tidak percaya, mengapa tidak di coba saja ?"

Hek-pek-sin-poan Pak Cau-kun terhitung seorang lelaki berhati keras yangtak pernah tunduk pada siapapun, selama tiga puluh tahun ini dia tak pernah mau bersikap lunak kepada oranglain. Entah beberapa banyak manusia  jumawa  yang  telah disikat olehnya.

Maka dari itu,  begitu Oh Put Kui menyelesaikan kata- katanya, ia segera bangkit berdiri, kemudian serunya sambil tertawa dingin :

"Aku justru tidak percaya !" sambil berkata, dengan langkah lebar dia berjalan menuju kedepan ......

Oh Put Kui tertawa dingin, secepat sambaran kilat dia menyelinap kedepan.

"Sebelum kau memberikan janjian, jangan harap bisa meninggalkan tempat ini barang selangkahpun !" serunya.

Tahu-tahu dia sudah menghadang dihadangan Hek-pek- sin-poan Pak Cau-kun.

Hek-pek-sin-poan Pak Cau-kun mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., kalau kau mah belum pantas, ayo cepat enyah dari sini!"

Sebuah pukulan segera dilontarkan keatas Oh Put Kui.

Oh Put Kui sama sekali tidak bergerak dari posisinyasemula, katanya sambil tertawa dingin :

"Kecuali kau annggap untuk membunuh aku dalam sekali pukulan saja, kalau tidak, kau harus tetap tinggal disisni !"

"Bluukkk !"

Pukulan tersebut benar-benar bersarang telak ditubuhnya, tapi serangan tersebut sama sekali tidak memberikan hasil apa-apa.

Oh Put Kui masih tetap berdiri tegak seperti bukit karang. Sebaliknya Hek-pek-sin-poan Pak Cau Kun justru memperlihatkan rasa terkejut dan  tercengangnya yang luar biasa.

Jangan-jangan sianak muda ini berotot kawat tulangbesi ? Klau tidak, mengapa serangannya tidak mempan sama sekali

?

Padahal Pak Cau kun cukup mengetahui daya  kekuatan  dari serangan sendiri, biarpun baja yang keras pun pasti akan terhajar menajdi tujuh pasti akan  terhajar menjadi tujuh delapan bagaian oleh tenaga pukulannya yang maha dahsyat tersebut ......

Menyaksikan sikap Hek-pek-sin poan Pak Cau Kun yang berdiri melongo seperti orang bodoh itu, Oh Put Kui segera berkata sambil tertawa :

"Serangan yang kau lakukan ternyata tidak mampu membodohkan aku, lebih baik kau pulang dan duduk kembali!"

Hekpen-sin poan tertegun untuk beberapa saat lamanya, kemudian ia baru berkata lagi :

"Sungguh ,... sngguh suat kejadian yang aneh "

"Kau tak usah keheranan, sejak kecil aku sudah hidup bersama binatang buas, jadi akupun sudah terlatih ilmu kebal, yang mampu manahan serangan lawan, pukulanmu tadi sih belum berarti apa-apa bagi dirku!"

Hek-pek-poan Pak Cau Kun menggelangkan  kepalanya berulang kali sambil tertawa dingn :

"Aku tidak percaya, aku tidak percaya. "

"Kalau tidak percaya, mengapa tidak mencoba sekali lagi?" "betul!  Aku memang justru akan mencoba sekali lagi. "

Begitu selesai berkata, sebuah pukulan kembali dilontarkan ke depan. Dalam serangan yang dilancarkan olehnya kali ini, dia telah sertakan tenaga sebesar dua belas bagian.

Diam-diam Pak Cau Kun berpikir :

"Biarpun kau si bocah berotot kawat tulang besi, sembilan puluh persen tak akan dengan menyambut seranganku ini keras lawan keras."

Didalam waktu singkat tepi telapak tangannya telah menyentuh bahu kanan Oh Put Kui.

Mendadak .....

Hek-pek-sin-poan membentak gusar, tubuhnya melompat mundur ke belakang dengan sangat cepat.

Mundurnya kalai mencapai jarak sejah dua kali lebih. "Kau....kau... kepandaian silat apakah itu?" seru Pak Cau

Kun tertegun.

Serangan yang dilancarkan dengan tenaga sebesar dua belas bagaian itu ternyata barhasil dipunahkan oleh  Oh  Put Kui sehingga hilang lenyap tak berbekas.

Bukan begitu saja. Lamat-lamat dia merasakan badannya sehingga nyaris terbang ke angkasa, coba kalau tenaga dalam yang dimilikinya tidak terlalu tinggi, sudah pasti kerugian yang dideritanya akan semakin bertambah besar.

Sambil tertawa hambar Oh Put Kui berkata : "Sekarang kau tentunya sudah percaya bukan?"

"Tidak, aku tetap tidak percaya !" seru Hek-pek-sin-poan dengan mata melotot dan teramat gusar.

Manusia ini betul-betul keras kepala, mendadak dari balik jubag panjangnya dia mencabut keluar sebatang pena emas yang panjangnya beberapa depan. Kemudian sambil tertawa dingin dia maju kearah Oh Put Kui dengan langkah lebar.

Melihat itu, sambil tertawa Oh Put Kui berkata : "Saudara disebut si pena sakti. Itu berarti kepandaian silatmu dalam permainan poan koan pit  pasti hebat,  aku bersedia mencoba kelihayan ilmu silatmu dengan tangan kosong!"

Sikap dari si anak muda ini ternyata lebih keras kepala lagi.

Sekalipun musuh yang dihadapinya adlah seorang  jago  lihay kelas satu didalam dunia persilatan,namun dia  tak bersedia mengahadapinya dengan mempergunakan senjta tajam.

Saking mendongkolnya Hek-pek-siu-poan Pak Cau Kun sampai melotot besar landak, bentaknya dengan marah :

"Bocah keparat, kau tak usah takabur!"

Secepat kilat pena emasnya diayunkan  kedepan dan mengurung lima buah jalan darah penting didepan dada  Oh Put Kui.

Oh Put Kui tertawa hamabar, menddak kelima jari tangannya dipentangkan lebar-lebar, kemudian sambil mengerahkan ilmu Hun kong-cho-im (memisah cahaya menangkap bayangan ) dia cengkeram pena ems la.

Hek-pek-siu-poan sangat terperanjat, tiba-tiba pena emasnya ditekan kearah bawah.

Ditengah gelak tertawa Oh Put Kui yang amat nyaring, mendadak Pak Cau Kun kehilangan bayangan  tubuh lawannya.

Kenyataan tersebut tentu saja disambut Hek-pek-siu-poan Pak Cau Kun dengan perasaan amat terperanjat.

"Aaah. Ilmu langkah Tay-siu Huan-ipoh!" pekiknya dihati. Namun gerakan tubuhnya sama sekali tidk berhenti,

secepat kilat dia memutar badannya kemudian  penanya disodok kedepan dengan cepat.

Didalam perkiraannya, kali ini Oh Put Kui  psti mengandalkan ilmu langkah tay Siu-huan im-poh nya untuk menyelinap kebelakang tubuhnya, maka sewaktu membalikkan badan, pena emasnya kembali disodokkan ke muka.

Siapa tah ketika badannya berputar sambil melancarkan serangan tadi, dari belakang tubuhnya kembali bergema suara tertaw ringan dari Oh Put Kui telah balik kembali ke posisinya semuala.

Dengan perasaan terkesiap Hek-pek-siu-poan  berseru  : "Apa hubunganmu dengan Mi-sim-kui-to (sitosu setan

pembingung hati)

"Sahabat!" sahut Oh Put Kui tersenyum.

Hek-pek-siu-poan segera mneunjukan sikap sama sekali tidak percaya, serunya cepat :

"Kau tidak terlalu jujur!"

Nada suara dari Pak Cau Kun saat ini sama sekali telah berubah, kesombongannya sudah bekurang separuhnya.

Sambil tertawa Oh Put Kui segera berkata :

"Tampaknya kau tidak mau percaya engan begitu  saja terhadap setiap masalah yang dijumapai, apapun yang dikatakan lawan, aku tetap akan mempercayainya."

Kemudian setelah berhenti sejenak,  tiba-tiba ia menarik wajahnya seraya berkata lagi :

"Kedudukan Pak Tayhiap dalam dunia persilatan cukup bersih, aku benar-benar tak tega untuk memberi  kejelakan yang kulewat batas kepdamu  apabila Pak tayhiap masih mendesak terus, terpaksa aku harus melakukan yang lebih kasar, tapi bila kua tahu harap Pak Tayhiap jangan marah."

Nada suara dari Oh Put Kui pun turut berubah menjadi jauh lebih sungkan.

Tapi nada suaranya masih tetap membikin hari orang puas dan tidak tahan. Sesudah tertegun beberapa saat lamanya. Hek-pek-siu-poan baru berkata :

"Mau apa kau? Masa aku takut kepadamu ?"

"Kalau begitu Pak Tayhiap tak sudi kembali ke  tempat duduk semula ?" Kata Oh Put Kui sambil tertawa dingin.

Oh Put Kui segera terbahak-bahak :

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh  ....., sekalipun aku seorang manusi rudhiu , namun belum sampai sehina itu derajatku sehingga mesti menjadi seorang kuli pemikul tandu

!"

"Belum habis di berkata, mendadak telinganya menangkap suara bisikan dari Put-lo-huang-siu Ban Sik-tong yang berkata dengan ilmu menyampaikan suara :

"Bocah muda, bekuk saja orang tua itu dan  kembalikan kebangkannya!"

Oh Put Kui menjadi tertegun sesudah  mendengar  perkataan tersebut, segera pikirnya:

"Memangnya pekerjaan yang gampang  untuk mencengkeramnya dan di kembalikan kebangku semula?"

Dia cukup sadar, tenaga dalam yang dimilikinya masih belum mencapai ketingkatan yang sedemikian tingginya itu.

Sementara dia masih berpikir dengan  sangsi terdengar suara bisikan dari kakek itu berkumandang lagi :

"Hey anak muda, mengapa kau tidak mencobanya?"

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak  Oh  Put  Kui, dia tahu sudah pasti Put-lo-huang-siu telah bersedia membantunya secara diam-diam.

Sorot matanya segera dialihkan kembali ke arena,  baru saja dia hendak berbicara .... Tiba tiba Hek pek sin-poan (hakim sakti hitam putih) telah berkata lagi :

"Hey bocah keparat, kalau toh kau enggan menggotong kembali aku ke tempat semula, aku pun bersumpah tak akan balik sendiri ke situ "

"Bagus sekali," Pikir Oh Put Kui segera,

"Kau telah  memberi kesempatan kepadaku untuk dapat berbicara lagi."

Maka sambil tertawa hambar katanya :

"Tampaknya saudara benra-benar keras kepala dan kolot!"

Seusai berkata, Oh Put Kui melayangkan pandangan matanya dengan sinar tajam, kemudian  bentaknya keras- keras :

"Silahkan saudara kembali ke tempat duduk sendiri!" Sepasang tangannya digetarkan bersama kemuka,

kesepuluh jari tangannya dari jarak beberapa kaki segera dilakukan tiga  kali  segerakan mencengkeram ke  tubuh  si Hakim saksi hitam putih Pak Kun-jau tersebut.....

Pak Kun-jiau tertawa tergelak :

"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., bocah keparat, kepandaian silat yang kau miliki itu masih  belum  cukup tangguh untuk memindahkan aku "

Tapi sebelum perkataan itu selesai diutarakan, dia sudh membungkam dalam seribu bahasa.

Sebab pada saat itu Pak Kun-Jiau telah menjumpai tubuhnya sudah meninggalkan permukaan tanah setinggi tiga depan lebih dan melayang kedepan.

Sekuat dia berusaha untuk meronta dan melepaskan  diri dari pengaruh cengkeman tersebut, namun sayang usahanya itu sama sekali tidak memberikan hsil apa-apa, tubuhnya tetap melayang kedepan dan kembali ke bangkunya semua. Setelah lawannya di kirim balik ke kursi semuala, Oh  Put Kui baru menurunkan kembali tangannya dan berkata sambil tertawa hambar :

"Nah saudara, coba kau lihat bagaimanakah kemampuanku ini...,"

Hakim sakti hitam ptih Pak kun-jai seger terbungkam dalam seribu bahasa .

Sudah jelas si kakek yang keras kepala ini sudah dibikin jengkel sampai hampir semaput rasanya.

Si pengemis sinting yang duduk disampingnya kontan saja menggelengkan kepalanya sambil tertawa tergelak :

"Haaahhh  ..... haaahhh..... haaahhh , lote, wahai loteku,

jangan bicara terus menerus, tahukah kau bahwa Pak Tayhiap sudah hampir  semaput lantaran dongkolnya ?"

"Lok loko, Jangan salahkan aku, siapa suruh dia  tak tahu  diri  dan mencari penyakit  buat diri sendiri. " Kata Oh Put Kui

sambil menggelangkan kepalannya dan menghela napas.

"Lote, aku rasa kau pun kelewat batas dengan seranganmu itu."

"Aaaah, apakah lok lote merasa kasihan kepadanya?" kata Oh Put Kui sambil tertawa.

"Aku si pengemis memang selamanya berbelas kasihan kepada siapa saja, tapi lote... aku kan tidak berbelas kasihan kepada Pak Kun-jiau, aku Cuma meras  tua  bangkotan tersebut mengenaskan sekali dan patut dikasihani."

Oh Put Kui tertawa hambar.

Ia tidak menggubris si pengemis sinting lagi, sambil  berpaling kearah KU Bun-wi, katanya kemudian :

"ku congkau-lian, bagaimana dengan  persoalan pedang Hian-peng-kiam tersebut ?" Panji sakti pencabut nyawa Ku Bun-wi mengerutkan  dahinya, dia memandang sekejab kearah pedang setan baju merah Suma Hian serta dua orang berpedang lainnya, lalu sambil tertawa katanya :

"Aku tahu lote memiliki ilmu silat yang luar  biasa  semestinya aku harus memenuhi janji "

"Kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih lebih dahulu."

Tapi secara tiba-tiba si panji sakti pencabut nyawa menggelengkan kepalanya lagi sambil berkata :

Hanya saja, perintah dari atasan kami sukar dibantah, oleh sebab itulah kami pun sulit untuk memenuhi janji tersebut !"

"Jadi kalian ber empat mempunyai jalan pemikiran yang sama seperti Pak tayhiap?" tanya Oh Put Kui pelan sambil memejamkan matanya rapat-rapat.

Sikapnya yang sombong dan tinggi hati ini  pada hakekatnya seperti tak memandang sebelah mata  pun terhadap Ku Bun-wi sekalian.

Sementara itu Leng Cui-cui sudah meras kan hatinya berdebar keras, keringat dingin  bercucuran  keluar membasahai seluruh tubuhny, ia benar benrta merasa kuatir sekali.

Sebab dia tahu ke empat orang itu  memiliki  kepandaian silat yang amat hebat,  bahkan ayahnya pun  hanya bisa bertarung seimbang bila seorang melawa seorang.

Namun kenyataannya sekarang, disaat Oh Put Kui jelas  tahu kalau pihak lawan  sengaja  mencari  gara-gara dengannya, ia justru memejamkan matanya rapat-rapat, bukankah tindakan ini jelas sudah melanggar pantangan terbesar bagi seorang umat persilatan ?

Betul juga apa yang  dia duga, baru saja Oh Put Kui memejamkan matanya rapat-rapat,  empat sosok bayangan manusia sudah menerjang ke muka dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat. Ku Bun-wi, Suma Hian, Hui Bong Ki dan The Tay hong serentak menyerbu ke muka, delapan buah telapak tangan mereka bagaikan segulung dinding angin pukulan langsung mengurung seluruh tubuh Oh Put Kui rapat-rapat.

Pada saat itu pula Oh Put Kui membuka matanya lebar- lebar.

Dia segera tertawa seram, kemudian tubuhnya melejit ketengah udara dengan kecepatan tinggi.

Kembali leng Cui-cui menjerit kaget:" Oh kungcu, kau "

Dia telah melihat bahwa tindakan Oh Put Kui yang melejit ketengah udara itu lagi-lagi merupakan suatu pelanggaran yang besar sekali ....

Sandainya empat orang musuhnya menyerang bersama secara ganas. Bukankah Oh Put Kui  akan  mengalami kesulitan untuk menghindarkan diri?

Oleh sbab itulah dia menjerit saking kagetnya.

Tapi kenyataannya sama sekali tidak  sejelek apa yang dibayangkan semula:

Baru saja Oh Put Kui melejit ketengah udara,  keempat orang itu benar-benar membalikkan telapak tangannya sambil melepaskan serangan bersama.

Tapi kenyataannya Oh Put Kui telah bertindak jauh lebih pintar dari pada musuh-musuhnya itu.

Disaat keempat gulung angin pukulan itu dilontarkan kepadanya, secepat sambaran anak panah dia  meluncur kembali ke atas permukaan tanah.

Dengan tindakan yang diambil olehnya itu, secara otomatis angin pukulan yang  di lontarkan keempat orang itupun mengenai sasaran yang kosong.

Bukan Cuma begitu, berhubung sepasang tangan keempat orang itu sedang diayunkan keatas, dengan sndirinya pertahanan pada bagian dadanya menjadi sama  sekali terbuka.

Begitu turun kembali keatas permukaan tanah. Oh Put Kui segera tertawa keras.

Ditengah gelak tertawa yang amat keras itulah,  secepat  kilat dia berputar satu lingkaran didepan keempat orang itu." Plaaaakk ..........plaaaakk.......... plaaaakk. "

Terdengar tiga kali suara benturan yang  amat nyaring. Tahu-tahu masing-masing orang sudah termakan oleh sebuah pukulan.

Namun saja, biarpun suara benturan itu kedengarannya sangat nyaring, sesungguhnya kekuatan yang dipergunakan amat lemah.

Oleh sebab itulah kendatipun setiap serangan bersarang telak diatas  bagian yang  mematikan diatas dada mereka, namun bagi keempat orang jago lihay tersbut, keadaan itu Cuma menimbulkan sedikit rasa sakit saja,  bagaikan  anak kecil yang memukul nyamuk diatas tubuh mereka ,.

"Aaaah, Oh kongcu!  Kau memang benar-benar  sangat hebat. " tanpa sadar Leng Cui-cui berseru memuji.

Oh Put Kui segera berpaling dan melemparkan sebuah senyuman kearahnya

Jangan dilihat senyuman tersebut hanya senyuman bias, namun bagi pandangan Leng Cui-cui yang menaruh hati kepada lawan, senyuman tersebut bagaikan  runtuhnya sebuah bukit karang, sangat menggetarkan perasaan hatinya.

Kontan saja selembar pipinya berubah menjadi merah padam karena jengah .....

Sementara itu jantungnya turut berdebar keras, mukanya teras merah dan kepalanya tertunduk rendah-rendah .....

Namun dia toh tak tahan sempat melirik sekejap ke arah pemuda itu dengan pandangan penuh perasaan cinta. Sayang sekali Oh Put Kui tak sampai lagi memperhatikan kadaan tersebut, sebab keempat lawannya telah  menyerang lagi secara ganas dan membabi buta.

Biarpun Oh Put Kui hanya menepuk dada mereka secra pelan dengan maksud untuk menggertak mereka. Agar orang- orang itu tahu diri dna  segera mengundurkan diri. Namun kejadian ini  diterima oleh keempat orang tersebut sebagai suatu penghinaan yang amat besar, jauh lebih nista dari pada membinaskan mereka sekaligus.

Itulah sebabnya didalam keadaan gusar dan  malunya, mereka jadi nekad dan  segera menyerang dengan cara  beradu jiwa.

Agaknya Oh Put Kui pun sudah menduga bakal terjadi akibat seperti ini, oleh sebab itu disaat empat musuhnya menyerang secara membabi buta,  dia  justru menghadapi mereka secara tenang dan santai.

Dengan mengandalkan ilmu gerakan tubuh Tay-siu-huan- im-poh, seperti setan gentayangan saja tubuhnya bergerak kian kemari, sebentar kedepan sebentar ke belakang, dia selalu berkelabatan di antara serangan-serangan empat lawannya.

Melihat seperti apa yang diharapkan, Suma Hian segera bekaok kaok penuh kegusaran.

Si pedang latah irama guntur The tay-hong juga melototkan sepasang matanya yag ber api-api sambil berteriak seperti orang gila.

Sayangnya biarpun mereka berkaok-kaok dengan suara yang keras, jangan lagi merobohkan lawannya, untuk menjawil ujung baju dari Oh Put kui pun tak pernah berhasil.

Sehingga kurang tepatlah kalau dikatakan pertaruhkan tersebut merupakan suatu pertarungan adu jiwa yang mempertaruhkan mati dan hidup mereka. Pada hakekatnya keadaan tersebut lebih mirip dengan Oh Put Kui yang memipin ke empat orang itu untuk bermain petak dan berlarian kian kemari.

Pengemis sinting tak bisa menahan diri lagi, akhirnya dia bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak:

"Haaahhh......haaahhh...... haaahhh......  lote,  nampaknya kau sedang melihat monyet bermain akrobat ? Kali ini, aku si pengemis tua benar.

The Tay hong dikenal orang sebagai si pedang latah irama guntur, sudah barang tentu dia memiliki kekuatan yang luar biasa dilancarkan segera terasa deruan angin dan guntur yang sangat memekikkan telinga.

Oh put kui yang  menjumpai keadaan tersebut tertawa terbahak-bahak :

"Haaahh... haaahhh... haaahhh.... Suatu permainan ilmu pedang yang  sangat hebat,  tidak malu disebut sebagai pedang latah irama guntur!"

Dalam pembicaraan tersebut, Oh Put kui telah menghindarkan diri dari serangan pedang The Tay hong itu.

Sementara itu Mi-ih-mo-kiam Suma Hiang telah meloloskan pula pedang andalannya.

Serangan gencar yang kemudian dilancarkan oleh kedua bilah pedang tersebut tak ....

Benar terbuka sepasang mataku, ternyata ke empat pengawal pedang dari Ceng-thian-kui-ong tidak lebih hanya sekawanan monyet yang pandai bermain akrobatik saja "

Ejekan dari si pengemis sinting ini kontan saja membuat Ku Bun-wi berempat murka, ia makin kehilangan muka.

-oOdwOo0dw0oOdwOo-

Mendadak terdengar pedang latah irama guntur The Tay- hong membentak keras. "Bocah keparat, aku akan beradu jiwa denganmu!"

Dengan cepat dia memutar tangan kanannya, kemudian meloloskan pedangnya.

Cahaya emas segera memancar ke empat penjuru, secara beruntun lima buah serangan berantai telah dilancarkan, bisa dibandingkan dengan enteng dan ringannya serangan pukulan tadi.

Di dalam keadaan seperti ini, jangan harap Oh Put Kui bisa melayani datangnya semua ancaman tersebut dengan mengandalkan ilmu langkah Tay-siu-huan-im-poh saja.

Selain desingan angin pedang yang  menderu-deru dan amat menyayat badan, diapun harus waspada untuk menghadapi serangan-serangan gencar dari Ku  Ban-wi  dan Hu Bong-ki dengan pukulan tangan kosongnya...

Satu ingatan segera melintas dalam benak Oh Put Kui, tiba-tiba dia berpekik nyaring lalu tubuh nya meluncur keluar dari arena

Si pedang latah irama guntur The tay-hong mengira Oh Pot K"i hendak berusaha untuk melarikan diri, ia segera membentak keras.

"Pingin kabur? Jangan bermimpi di liang hari bolong bocah keparat."

Bagaikan seekor burung elang dia segera melejit ke tengah udara dan langsung mengejar kearah Oh Put Kui.

Biarpun gerakan tubuh Oh Put Kui sangat cepat,  pengejaran yang dilakukan olehnyapun tidak terhitung lambat.

Tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau Oh Put Kui sebenarnya tidak bermaksud untuk melarikan diri.

Apa yang  dilakukan pemuda tersebut tak lebih hanya mengulurkan tangannya mengambil sesuatu dari atas kursi yang semula di dudukinya. Selain itu, diapun segera membalikkan badannya sambil menubruk kembali.

Dengan tindakan yang dilakukan olehnya itu, berarti dia saling bertemu dengan si pedang latah irama guntur The Tay Hong.

Hanya kali ini, didalam genggaman Oh Put Kui telah bertambah dengan sebilah pedang berkarat

Dan pedang karat tersebut secara kebetulan sekali menyambut datangnya bacokan pedang Lui-ing Kiam dari The Tay hong.

Menyaksikan kejadian ini, The Tay-hong merasa gembira, segera serunya:

"Bocah keparat, nampaknya kau  sedang  mencari mampus!"

Pedang Lui-lng Kiam adalah sebilah pedang mestika yang tajamnya luar biasa, jangan lagi hanya sebilah pedang karat, biar pun sebilah pedang mestika pun niscaya akan kutung bila terpapas.

The Tay-hong merasa sangat yakin bahwa pedang karat milik Oh-put Kui tersebut pasti akan terpapas kutung menjadi dua oleh bacokan senjatanya, dan sampai waktunya

"Sudah pasti bocah keparat  itu akan menemui suatu musibah yang luar biasa."

Sebab menurut perhitungannya, dengan  kekuatan serangan pedangnya, bisa jadi pergelangan tangan kanan Oh Put Kui akan turut terpapas kutung oleh bacakan pedangnya itu.

Tak heran kalau dia segera bersorak kegirangan "Traaang tranng trring !"

Dengan cepat ke dua bilah pedang itu sudah saling beradu satu sama lainnya sehingga menimbulkan suara dentingan yang amat nyaring. Bersamaan dengan menggemanya suara dentingan keras itu, The Tay-hong mundur beberapa langkah ke belakang dengan ketakutan.

Ternyata pedang karat dari Oh Put Ku tidak kutung seperti apa yang diduganya semula.

Dengan perasaan terkesiap bercampur cemas cepat-cepat dia menarik kembali pedang Lui-ing-kiam nya sambil mundur kebelakang,

Apa yang kemudian terlihat?

Ternyata diatas tubuh  pedang  Lui-ing kiam  nya telah muncul dua buah gumpilan  yang cukup besar, ini  berarti pedang mestikanya telah berubah menjadi pedang cacad irama guntur.

The Tay-hong sungguh dibuat  tertegun oleh kejadian tersebut.

Didalam keadaan seperti ini, sekalipun Oh Put Kai memenggal batok kepalanya sekalipun, sudah pasti dia tidak akan merasakannya.

Tentu saja Oh Put Kai tak akan melakukan perbuatan seperti ini.

"Sungguh tajam pedang dari The tayhiap " tanpa menggerakkan tubuhnya Oh Put Kui memperdengarkan suara tertawanya yang kering namun penuh dengan ejekan itu.

The Tay-hong masih juga tidak bergerak, dia masih juga mengawasi pedang andalannya dengan wajah tertegun, seakan-akan tidak merasa apa gerangan yang terjadi.

Dengan cepat Suma Hian, Hai Bong-ki dan  Ko Ban-wi berlarian mendatang, mereka bukannya  kuatir Oh Put Kui bakal melancarkan serangan berikut untuk melukai li pa-dang latah irama guntur The Tay-hong.

Mereka hanya merasa tercengang apa sebabnya The Tay- hong sampai berdiri termangu-mangu. Sebab di dalam pertarungan yang sedang  berlangsung  seru tadi, secara tiba-tiba saja mereka telah kehilangan  jejak Oh Put Kui menanti mereka membalikkan  badan  untuk mencari Oh Put Kui. lawannya  itu sudah beradu pedang dengan The Tay-hong.

Bentrokan tersebut tidak lebih hanya berlangsung satu kali saja. tapi apa sebabnya The tay-hong berdiri termangu?

Tanpa terasa ke enam buah sorot mati mereka bersama- sama dialihkan ke arah pe dang irama guntur tersabet.

Tiba-tiba paras muka mereka bertiga pula turut berubah sangat hebat.

Kemudian terdengar Ku Bun wi berseru tertahan: "Apakah pedang saudara The menjadi gumpil?"

Sedangkan Hui Bong-ki dengan kening berkerut segera mengawasi pedang karat milik Oh Put Kui itu lekat-lekat, kemudian katanya dengan suara dalam :

"Apakah pedangmu itu adalah pedang  karat  Cing-peng kiam milik Thian yang-yu-cu (pengembara dari ujung  langit) Oh Sian tay hiap dimasa lalu?"

Begitu mendengar nama pedang karat "Cing peng-kiam", semua hadirin segera dibuat tertegun dan gempar.

Bahkan Put lo noangsiu (kakek latah awet muda) pun ikut membuka matanya sambil menegur.

"Hei anak muda, apakah pedang itu milik gurumu?"

"Betul!" sahut Oh Put Kui sambil tertawa Mendadak   si kakek latah awet muda itu tertawa tergelak:

"Hey anak muda, kau tidak sepantasnya mempergunakan pedang tersebut dalam kejadian semacam ini."

"Mengapa?" tanya pemuda itu melongo.

Sekali lagi Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak: "Anak muda, selama pedang tersebut berada di tangan gurumu, dalam sepanjang hidup nya ia hanya pernah mempergunakan sekali saja."

"Boanpwe tidak mengetahui tentang persoalan ini, tapi kapan sih guruku pernah mempergunakannya?"

"Kejadian ini berlangsung sebelum dia mencukur gundul kepalanya, dengan pedang tersebut ia telah bertarung melawan golok nomor wahid dari kolong langit yang disebut Golok penggetar langit milik Cian Thian-oh seorang tokoh silat yang disebut orang Rasul sakti dari jagad."

"Siapa yang menangkan pertarungan itu?

Bagaimana pun dia tak ingin nama perguruannya ternoda, karena itu dia ingin mengetahui  hasil dari pertarungan tersebut.

"Sudah barang tentu Oh Sian yang unggul" jawab kakek latah awet muda sambil tertawa, "kalau tidak, bagaimana mungkin Cian Thian-oh bisa mengundurkan diri  sedemikian ini? Kalau dihitung-hitung, peristiwa itu sudah berlangsung delapan puluh tahun lamanya." 

Apakah maksudmu mengutarakan kisah tersebut adalah minta kepada boanpwee  agar tidak sembarangan mempergunakan pedang karat milik guruku ini apabila tidak terpaksa karena menghadapi musuh  yang  benar-benar tangguh ?"

"Kau memang cerdik sekali, coba bayangkan  sendiri, dengan kemampuan yang  kau miliki, pedang  biasa yang berada ditanganpun tak kalah dengan pedang mestika, mengapa kau mesti mengandalkan pedang karat Cing- peng- kiam yang tajam untuk meraih kemenangan ?"

Oh Put Kui lantas tertawa terbahak-bahak, dia segera melontarkan pedang karat tersebut ke arah kakek itu. "Kakek Ban !" serunya, "kuserahkan pedang ini kepadamu untuk kau simpan bila kau menganggap boanpwe  pantas memakainya, serahkanlah kepada boanpwee nanti nya."

"Tepat sekali" kakek latah awet muda tertawa, baiklah, akan kusimpankan untukmu. Karena tindakanmu ini  tepat sekali, aku yakin tak akan ada yang berani merampasnya. Hey bocah cilik, kan ternyata licik sekali."

"Boanpwee tidak licik, cuma aku mau memakai wibawamu untuk menakut-nakuti orang."

Kakek latah awet muda segera tertawa terpingkal-pingkal, serunya kemudian:

"Baik, baik, aku akan menyimpankan untukmu !"

"Terima kasih banyak !" Kemudian pemuda itu berpaling ke arah Leng Siau-thian sambil katanya pula :

"Kakak    Leng,    bolehkah  boanpwee   meminjam sebilah pedang ?"

Sebelum Leng Siau-thian menjawab, Leng Cui-cui telah menyela:

"Oh kongcu, biar kupinjamkan pedangku ini . . ."

Dia segera meloloskan pedang milik sendiri dan segera disodorkan ke muka.

Sambil tertawa Oh Put Kui manggut-manggut, lalu sambil menerima pedang itu katanya :

"Banyak terima kasih nona !" Dengan wajah memerah Leng Cui-cui tertawa. katanya :

"Gara-gara urusan keluargaku kongcu tat segan-segan bermusuhan dengan orang lain apa salahnya  kalau aku meminjamkan sebilah pedang  untuk  kongcu?  Apalagi memang sudah sewajarnya kalau kuucapkan banyak terima kasih atas bantuan kongcu. ,." Hampir saja Oh Put Kui dibuat tergiur oleh sikap si nona yang halus lembut dan penuh daya tarik itu.

Untung saja Leng Cui-cui telah memberi hormat dan segera membalikkan badan untuk beranjak pergi dari situ.

Saat itulah  Oh Put Kai baru menggetarkan pedangnya, segera terasa olehnya pedang itu beratnya hanya sepertiga daripada berat pedang karat Cing-peng-kiam yang dipergunakan olehnya tadi.

Tak tahun dia merasa tertawa geli sendiri sambil berpikir: "Enteng benar pedang yang dipergunakan oleh kaum

wanita,..."

Sementara dia masih termenung memikirkan persoalan tersebut, mendadak  ia mendengar si pedang  latah irama guntur The tay-hong sedang menangis tersedu-sedu.

Oh Put Kui menghadapi kejadian tersebut menjadi tertegun, dia benar-benar dibuat keheranan oleh kejadian tersebut.

Padahal orang itu sudah tua kalau tak bila dibilang sudah kakek-kakek, tapi mengapa dia masih juga menangis? "Yaa, kakek itu nampak menangis sangat sedih, bahkan sedihnya bukan alang kepalang

The Tay-hong telah berjuang hampir sepanjang hidupnya dengan mengandalkan pedang irama guntur  untuk memperoleh gelar sebagai si pedang  latah irama guntur, sungguh tak disangka pedang irama gunturnya telah dibuat cacat oleh seorang bocah muda, bayangkan saja siapa yang tak akan sedih menghadapi keadaan seperti ini?

Isak tangis The Tay-hong yang begitu memedihkan hati itu kontan saja membuat amarah yang semula menyelimuti wajah Ka Bun wi hilang lenyap tak berbekas.

Dia se olah-olah telah  kehilangan semangat nya untuk bertempur. Bahkan si pedang iblis baju merah Suma Hianpun ikat menghela napas sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

Hanya si pedang baja berhati merah Hui Bong-ki seorang masih tetap mencerminkan kemarahan yang membara.

Ditatapnya Oh Put Kui sekejap, kemudian katanya sambil mendengus dingin:

Dengan mengandalkan senjata mestika kau telah membuat gumpilnya pedang mestika Hong-te  ku,  kemenangan semacam itu tak bisa dibilang suatu kemenangan  yang gemilang, Hui Bong Ki memang seorang manusia yang tak becus, namun ingin Sekali kucoba berapa  jurus  ilmu pedangmu yang hebat, itu!"

"Ooh, Hui tayhiap bermaksud menantangku  bertarung? Boleh-boleh saja, tentu akan kulayani keinginanmu itu!" kata Oh-Put Kai sambil tertawa.

Dia segera mempersiapkan pedangnya, lalu berkata lagi: "Pedang ini bukan termasuk pedang mestika yang tajam,

apakah Hui tayhiap setuju bila kupergunakannya?"

Hui Bong Ki tertawa dingin:

Heehhh...heehh...heeehhh... pedang itu toh sudah berada dalam genggamanmu, buat apa kau mesti banyak bertanya?"

Dengan kening berkerut tiba-tiba saja dia  meloloskan senjata andalannya.

"Criinggg"

Serentetan cahaya merah segera memancar ke  empat penjuru.

Agaknya inilah pedang andalan Hui Bong-ki yang disebut pedang baja hati merah.

Diam-diam Oh Put Kui tertawa geli di dalam hati, pikirnya:

@oodwoo@