Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 29

 
Jilid 29

Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak:

"Hhaaaahh..... haaaaahh..... hhaaaaah...... kesulitan  dan kemurungan dalam soal cinta memang  mendatangkan kekuatan yang sangat besar. "

Kemudian setelah berhenti sejenak,  tiba-tiba kakek itu menghela napas dan berkata lebih jauh:

"Anak muda, tahukah kau andaikata aku munculkan  diri tadi, maka ditelaga ini sekarang tak akan demikian tenang dan heningnya, mungkin dunia akan terbalik "

"Kenapa? Apakah antara kau dengan sinni terikat dendam atau permusuhan?" tanya Oh Put Kui tertegun.

"Tidak ada," Kakek latah  awet muda menggeleng, "tapi memang terjadi suatu kesalahan paham kecil!"

Sementara itu perahu yang  ditumpangi Pek Biau-peng sudah berlayar menjauh dari situ.

Sambil mengawasi bayangan perahu yang sudah berada berapa li jauhnya itu, kembali Kakek latah berkata:

"Anak muda, kau tak akan mengira bila aku munculkan diri tadi, maka mereka Kakak beradik seperguruan pasti akan  turun tangan bersama untuk mencabut nyawaku."

"Aaah, masa begitu?" seru Samwan To terkejut.

"Ban loko, sebenarnya kesalahan paham apa sih yang terjalin diantara kalian berdua?" tanya Ibun Hau pula.

Kakek latah awet muda menghela napas panjang: "Aaai, mereka mengira Tiau-ki lonie tewas ditanganku."

"Ooh......." Samwan To semakin terkejut "kalau begitu tak aneh lagi...... jadi mereka menyangka kau adalah musuh  besar pembunuh guru mereka?" "Locianpwe, mengapa kau tidak memberi penjelasan kepadanya?" tanya Oh Put Kui pula dengan kening berkerut.

"Percuma, diberi penjelasanpun  tak ada gunanya." kata Kakek latah awet muda sambil menggeleng,  "kecuali  kalau  aku berhasil menemukan si pembunuhnya."

"Pernahkah Ban loko melakukan pencarian?"  seru  Ibun Hau.

"Siapa bilang tak pernah? Aku sudah mencari selama enam puluh tahunan." kata Kakek latah awet muda dengan mata melotot.

"Kalau begitu kejadian tersebut sudah berlangsung semenjak enam puluh tahun  berselang." pikir Oh Put Kui kemudian, "sudah jelas penghidupan  mereka  bertiga  selama ini pun amat menderita."

Sementara itu terdengar Ibun Hau berkata:

"Dengan kepandaian silat yang dimiliki kalian bertiga, masa selama enam puluh tahun ini tidak berhasil menemukan siapa pembunuhnya? Kalau begitu cara bekerjanya orang itu pasti luar biasa sekali."

"Belum tentu  begitu."  sela Oh Put Kui sambil tertawa. mengapa orang itu ingin membunuh Tiau-ki  locianpwe? Apakah Ban tua pun tahu?"

"Jika aku tahu, persoalan ini tentu sudah berhasil kuselidiki sedari dulu."

"Betul," kata Samwan To pula sambil tertawa, hanya pembunuhan yang tidak diketahui sebab musababnya yang paling sukar diselidiki. "

Oh Put Kui yang mendengar perkataan tersebut, tiba-tiba saja teringat akan urusan sendiri.

Cepat-cepat dia berseru kepada kakek latah: "Ban tua, kita harus segera berangkat!" "Yaa betul, kita memang harus segera berangkat!" kata Kakek latah awet muda dengan pandangan sedih.

Tanpa menyapa atau menegur lagi, ia segera melompat ke perahu yang berada di samping perahu Samwan To itu.

Pengemis sinting segera melongokkan kepalanya dari balik ruang perahu, melihat Kakek latah telah kembali keperahunya, cepat-cepat diapun menyusul keluar.

"Locianpwe berdua,  pengemis Liok ingin  memohon  diri lebih dulu. " serunya cepat.

"Silahkan pengemis sakti," ucap  Samwan-to  sambil tertawa, "maaf kalau aku tak bisa memberi pelayanan  yang baik "

Pengemis sinting yang telah menyeberang ke perahu sendiri segera berseru sambil tertawa terbahak-bahak:

"Arak wangi dari kalian berdua sudah kucuri cukup banyak terima kasih atas hidangan kalian itu "

Rupanya sewaktu hendak keluar dari ruang perahu tadi, dia sempat mencuri arak wangi.

Samwan-to dan Ibun Hau segera tertawa geli:

"Jika pengemis sakti menginginkan, aku akan menghadiahkan berapa guci arak lagi."

"Tidak usah," pengemis sinting segera menggeleng, "biasanya arak curian lebih enak rasanya ketimbang arak pemberian orang "

Oh Put Kui tertawa geli, kepada dua orang Kakek  itu segera katanya sambil menjura.

"Boanpwee ingin mohon diri dulu. "

"Hiantit, apakah kau hendak pergi ke Lam-cong untuk mencari Im-tiong-hok?"

"Benar!" "Ada urusan apa sih hiantit hendak mencarinya?" tanya Samwan-to pula.

"Untuk menyelidiki soal terbunuhnya ibuku!" kata Oh  Put Kui dengan sorot mata memancarkan sinar tajam.

"Apakah Im-tiong-hok tahu?" tanya Ibun Hau dengan wajah berubah hebat.

"Boanpwee tidak yakin apakah dia tahu  atau tidak "

Ibun Hau segera bertanya lagi sambil tertawa: "Apakah hiantit kenal dengan Im-tiong-hok?"

"Kami pernah bersua di perkempungan Sin-ling-ceng!" "Bagaimanakah pendapat hiantit tentang orang ini?" "Pintar, gagah  dan berkepandaian silat tangguh. "

"Haahhhahhh..... hhaaaaahhh..... haaaaahhh cocok,

cocok " seru Samwan-to sambil tertawa tergelak.

Oh Put Kui yang menyaksikan kejadian itu, tiba-tiba saja timbul kecurigaan dalam hatinya.

"Mungkinkah Im-tiong-hok mempunyai hubungan yang cukup akrab dengan Thian-tok-siang-coat?"

Berpikir begitu, diapun bertanya  sambil  tersenyum: "Apakah cianpwee berdua kenal dengan Im-tiong-hok?" "Kami adalah sahabat karib, teman lama!" kata Samwan-to.

"Hiantit," kata Ibun Hau pula, "apakah kau mencurigai Im- tiong-hok tersangkut dalam pembunuhan terhadap ibumu?"

"Saat ini boanpwee tak berani memastikan!"

"Hiantit, apakah menurut pendapatmu Im-tiong-hok mencurigakan?" tanya Samwan-to terkejut.

"Belum tentu!"

"Tidak mungkin, masa dia. " Belum selesai Samwan-to selesai berbicara, Ibun Hau sudah menyela.

"Hiantit, kau mendapatkan kabar ini dari siapa?" "Dari Kit Put-shia "

"Jadi hiantit percaya dengan perkataan si gembong iblis tersebut ?"

"Boanpwee tidak bisa tidak harus percaya!" "Mengapa?"

"Sebab barang peninggalan ibuku berada ditangan Kit Put- shia!"

"Kalau begitu Kit-put-shia sangat mencurigakan, mengapa hiantit tidak pergi mencarinya?"

"Tusuk konde pelebur tulang Ngo im-hua kut-cian milik almarhum ibuku telah muncul ditangan Kit-put-shia, ketika boanpwee bertanya kepada gembong iblis tersebut, baru kuketahui kalau tusuk konde itu diperoleh dari Im-tiong-hok!"

"Ooh......" Ibun Hau segera termenung  berapa  saat lamanya, kemudian baru berkata lagi. "persoalan ini  haru dibikin jelas lebih dulu "

Perkataan itu seakan akan diutarakan sebagai gumaman seorang diri, tapi seperti juga mengajak Samwan To untuk merundingkan persoalan ini.

Terdengar ia berkata lagi:

"Bila salah dalam pengurusan, maka akibatnya akan timbul bencana besar....... cuma aku percaya Im-tiong-hok bukan manusia rendah yang memalukan seperti itu."

"Boanpwee pun berpendapat demikian," sahut Oh -put-kui sambil tertawa.

Ibun Hau segera manggut-manggut. "Hiantit, aku rasa dalam persoalan ini hanya Im-tiong-hok seorang yang bisa menjawab dari siapakah tusuk konde pelebur tulang itu dia peroleh!"

"Justru    untuk  menyelidiki   persoalan inilah, boanpwee berangkat ke Lam-cong!"

Mendadak Ibun Hau tertawa tergelak sambil berkata:

"Lohu ucapkan semoga sukses perjalanan  hiantit  kali  ini dan berhasil membalaskan dendam bagi kematian ibumu!"

"Terima kasih banyak locianpwee berdua......." kata Oh Put Kui dengan wajah sedih.

Selesai berkata dia lantas menjura dan masuk ke dalam ruangan perahu.

Kembali Ibun Hau berseru sambil tertawa tergelak:

"Hiantit, jika bertemu dengan Im-tiong-hok, tolong sampaikan salamku kepadanya. "

Perahu yang ditumpangi Oh Put Kui sekalian telah berlayar, tapi Oh Put Kui justru dibuat amat tak tenang oleh perkataan Ibun Hau yang titip "salam" tersebut.

Im-tiong-hok tidak lebih hanya seorang Bulim Bengcu dari Kanglam yang berkedudukan tak seberapa, mengapa Thian- tok-siang-coat justru titip salam kepadanya?

Peristiwa ini benar-benar suatu kejadian yang sangat aneh.

Ataukah dibalik kesemuanya itu masih terselip  sesuatu yang aneh? Yang tidak diketahui setiap orang?

Untuk sesaat lamanya Oh Put Kui menjadi termangu dan merasa tidak habis mengerti.

-oo0dw0oo-

Kota Lam-cong. Orang bilang kota Lam-cong merupakan suatu kota kuno yang megah dan antik, namun semua dalam kenyataan tidak semegah apa yang dilukiskan.

Sekalipun begitu pemandangan alam yang dlihat dari atas pagoda Peng ong-kok memang amat menawan hati.

Hari ini, di depan sebuah gedung lebih kurang sepuluh kaki disebelah kanan pagoda Peng-ong-kok telah muncul tiga orang, mereka tak lain adalah Oh Put Kui sekalian.

Didepan gedung  megah itu terpancang sebuah  papan nama terbuat dari emas yang bertuliskan tiga huruf besar:

"TIONG-GI-HU."

Bengcu kaum Liok lim  untuk  tujuh  propinsi di wilayah Kanglam ini betul-betul memiliki gaya yang luar biasa.

Berhadapan dengan gedung bangunan yang begitu megah ini, Pengemis sinting menggelengkan kepalanya berulang kali sambil bereru:

"Betul-betul suatu pemborosan secara besar besaran, apa sih gunanya gagahan? Padahal kedudukannya tak lebih cuma seorang Liong-tau totoa dari kaum Liok-lim, kalau seorang pentolan pencolengpun hidup begitu mewah, bagaimana pula dengan kehidupan seorang kaisar?"

Kalau didengar dari caranya berbicara, tampaknya  si pengemis sinting ini semakin lama semakin tidak sinting.

Masih untung Oh Put Kui sudah menaruh pandangan lain terhadap Im-tiong-hok sehingga ia cuma mengatakan hal-hal yang biasa saja, kalau tidak, entah apa lagi yang ia ucapkan keluar.

Oh Put Kui sendiri cuma tertawa hambar dan sama sekali tidak memberi jawaban apa-apa.

Sebaliknya Kakek latah awet muda berkata sambil tertawa terbahak-bahak: "Sebagai seorang pentolan Liok-lim, aku rasa kekayaannya melebihi seorang raja muda!"

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia  mengulapkan tangannya kepada sipengemis sinting sambil berseru:

"Hey pengemis kecil, ayoh ketuk pintu!"

"Baik!" sahut pengemis sinting sambil mengangguk, "tapi orang-orang dari ruang Tiong-gi-hu ini memang aneh sekali, masa ditengah hari bolong begini tak nampak seorang manusiapun? Ngapain mereka selalu mengunci pintu?"

Biar mulutnya ngerocos terus, tangannya tidak berarti cuma menganggur saja.

Dengan mengepal tinjunya yang besar  ia  segera menggedor pintu gerbang yang hitam berkilat itu keras-keras.

Jangan dilihat orangnya pendek, ternyata tenaganya yang dipakai untuk menggedor pintu kasar sekali.

"Duuukkk....... duuukkk. "

Suara yang ditimbulkan keras sekali bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari.

Belum habis gempuran yang kesepuluh, tiba-tiba pintu gerbang berwarna hitam pekat itu sudah dibuka orang.

Seorang kakek berdandan pelayan yang berusia lima puluh tahunan munculkan diri dengan kening berkerut, ditatapnya sekejap pengemis yang baru saja menggedor pintu  keras- keras itu, kemudian bentaknya

"Apakah kau datang untuk meminta-minta."

Mendengar pertanyaan ini  kontan saja ia merasa naik darah, dengan gemas dia meludah ke wajah pelayan tua itu, lalu sambil mengeluarkan selembar uang kertas senilai seribu tahil emas, teriaknya dengan marah: "Kau tak usah menghina, lihat ini, dalam kantungku masih terdapat beberapa lembar uang kertas ribuan tahil emas, buat apa aku meminta-minta padamu?!"

Mimpipun pelayan itu tak menyangka kalau didunia ini terdapat pengemis yang bukan minta-minta.

Ludah bercampur riak yang menyembur ke atas  mukanya itu segera menimbulkan bau amis yang amat memuakkan.

Tak heran kalau pelayan itu  amat  gusar  sampai menggertak giginya kencang-kencang. setelah menyeka riak kental dari wajahnya, dia langsung saja mengumpat:

"Pengemis sialan yang  tak punya mata, tahukah  kau gedung apakah ini? Berani amat mencari gara gara disini? Sudah pasti kau sudah bosan hidup rupanya?"

"Haaaahhhh..... haaaaahhhh...... haaaaahhhh kaulah

yang sudah bosan hidup,  aku si pengemis datang untuk mencari orang!"

Tanpa terasa pelayan tua itu memperhatikan sekejap dua orang yang berada dua kaki dibelakang pengemis tadi, lalu tegurnya:

"Kau datang mencari siapa?"

Sekalipun orang ini tidak dapat bersilat, paling tidak ia mempunyai pandangan yang cukup jeli, dari sikap Kakek latah awet muda serta Oh Put Kui yang gagah, ia sudah dapat menebak berapa bagian kalau tamu tamunya adalah jago berilmu tinggi dari dunia persilatan, kalau tidak, mana mungkin mereka akan datang ke gedung ini.

Rupanya gedung Tiong gi-hu dari si tombak emas kuda terbang Im Tiong-hok ini selamanya tak pernah dipakai untuk menerima sahabat-sahabat rimba hijaunya, bila para jago Liok-lim hendak mencarinya, kebanyakan akan pergi  ke markas besar yang dibangun disisi sungai Leng-kang, lima li diluar kota Lam cong, markas besar mereka itu dinamakan Jit gwat-san cong. Oleh sebab itu dalam gedung Tiong-gi-hu sama sekali tiada pelayan yang pandai bersilat.

Dalam pada itu si pengemis sinting telah  melongokkan kepalanya sambil berkata:

"Kami datang mencari Im Tiong-hok!"

"Apakah membawa kartu nama?" tanya pelayan tua itu lagi dengan kening berkerut.

"Tidak ada. Huuuhh, gaya kalian tampaknya lebih besar daripada tata cara rumah pembesar."

Pelayan tua itu kontan saja tertawa dingin

"Kongcu kami adalah pensiunan pembesar kelas tiga, tentu saja harus mengikuti tata cara yang berlaku "

Baru pertama kali ini si pengemis sinting mendengar kalau Im Tiong-hok pernah menjadi pembesar kelas  tiga,  hampir saja dia tertawa tergelak saking gelinya.

Masa seorang pentolan pencolengpun pernah  menjadi pembesar kelas tiga dari Kerajaan?

"Katakan kepada Im Tiong-hok, kami yang hendak menjumpainya " seru pengemis sinting itu cepat.

Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya:

"Jangan lupa, suruh dia yang munculkan   diri dan menyambut sendiri kedatangan kami !"

"Kau si pengemis betul-betul  sudah edan......" umpat pelayan itu sambil tertawa tergelak.

"Tapi   tiba-tiba   saja ucapan tersebut terhenti sampai ditengah jalan. "

Rupanya dari balik pintu telah muncul seorang sastrawan setengah umur yang berusia empat puluh tahunan.

Orang itu mengenakan baju serba hijau dengan dandanan yang rapi dan langkah yang gagah. Begitu melihat orang itu menampakkan diri, pelayan tadi segera memberi hormat sambil berkata:

"Lim suya, kebetulan sekali kedatanganmu, pengemis ini bilang mau bertemu kongcu tapi mulutnya kotor dan mengumpat semaunya sendiri, budak tak sanggup lagi untuk menghadapinya!"

"Silahkan lo-koankoh mundur selangkah......."  ucap suya she Lim itu sambil tertawa hambar.

Kemudian sambil mengalihkan  sorot matanya ke wajah pengemis sinting, tiba-tiba ucapnya sambil tertawa tergelak:

"Aku kira siapa yang datang, rupanya Liok sinkay dari kay- pang!"

Ucapan mana saja membuat pengemis sinting terbelalak heran, pikirnya:

"Heran, mengapa bocah keparat  ini dapat mengenaliku dalam sekilas pandangan saja? Sebaliknya aku justru tidak kenal dengannya?"

Dalam hati ia berpikir demikian, sedang diluar katanya sambil tertawa tergelak:

"Betul, aku si pengemis tua adalah Liok Jin ki, siapa kau ?

Mengapa kenal aku?" Lim suya tertawa:

"Nama besar Liok sinkay sudah tersohor diseantero dunia, sudah barang tentu aku mengenalnya. "

Sementara berbicara, sinar matanya telah dialihkan kearah Kakek latah awet muda serta Oh Put Kui.

"Apakah kedua orang itu adalah rekan sinkay?"

"Tentu saja, cuma siapakah kau? Tentunya punya nama bukan? Dan lagi jika Im Tiong-hok tidak berada  didalam gedung, aku si pengemis tak punya waktu  lagi  untuk menunggu. " Lim suya menunggu sampai pengemis itu menyelesaikan perkataannya, kemudian baru berkata sambil tertawa:

"Saudara Im berada dalam gedung, sinkay tak usah kuatir harus menunggu, dan kedua orang rekan sinkay, kalau toh sudah datang silahkan pula memperkenalkan diri. "

Walaupun sudah berbicara setengah harian, suya ini belum juga memperkenalkan nama sendiri.

Dengan gemas pengemis sinting berpaling kemudian serunya sambil menggapai:

"Im Tiong-hok ada di rumah!"

"Kalau begitu mari kita masuk!" jawab Kakek latah awet muda dengan cepat.

Belum selesai dia berkata, tahu-tahu saja tubuhnya sudah berdiri dihadapan pengemis sinting.

Sementara itu Oh Put Kui juga telah  datang dengan langkah lebar, sejak tadi ia sudah melihat kalau Lim suya ini bergaya luar biasa, maka begitu bersua dia lantas menjura sambil berkata:

"Aku Oh Put Kui mohon bertemu dengan Im tayhiap, dapatkah saudara melaporkan ke dalam?"

Agaknya nama besar Oh Put Kui masih jauh lebih terkenal daripada nama besar pengemis sinting.

Betul juga, paras muka sastrawan setengah umur she Lim itu segera berubah hebat, serunya tanpa terasa:

"Jadi saudara adalah pendekar aneh perantauan Oh Put Kui?"

"Yaa memang aku, entah siapa nama suya?"

Sikap Lim suya itu segera berubah seratus delapan puluh derajat, dengan sikap yang lebih hangat katanya:

"Aku Lim  Yu-kong, dalam gedung milik saudara Im ini bekerja sebagai juru tulis. " "Siapa kau?" seru pengemis sinting agak tertegun, "jadi tangan sakti  pemutar  langit  adalah   kau?   Maaf   kalau begitu "

Rupanya si Tangan sakti pemutar langit Lim  Yu-kong mempunyai nama yang cukup termashur dalam dunia persilatan.

Sambil tertawa Lim Yu-kong segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya:

"Aku she Lim hanya seorang anak kemarin sore, tak perlu diherankan oleh pengemis sakti."

Sambil tertawa Oh Put Kui berkata pula:

"Nama besar saudara Lim sudah lama kudengar, beruntung sekali kita dapat bersua muka hari ini."

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali katanya: "Dapatkah saudara Lim  melaporkan kepada Im tayhiap. "

Sementara itu Lim Yu-kong sudah berseru lebih dulu sambil tertawa lebar:

"Silahkan, aku she Lim mewakili dulu saudara Im untuk mempersilahkan sin kay Oh heng dan lo "

Ketika sorot matanya dialihkan ke wajah Kakek latah awet muda, tiba-tiba saja ia tertegun.

Rupanya kakek latah  awet muda sedang menunjukkan muka setan kepadanya.

Melihat hal ini, Oh Put Kui segera berkata sambil tertawa: "Saudara Lim, barusan aku lupa untuk memperkenalkan,

locianpwe ini adalah  seorang tokoh yang sudah termashur hampir seratus tahun lamanya, dia adalah Kakek latah awet muda, Ban Sik-tong!"

Mendengar nama itu,  Lim Yu-kong segera merasakan mandi keringat dingin saking kagetnya. Mimpi pun dia tak pernah menyangka kalau kakek berambut putih itu adalah Ban Sik-tong.

Seketika itu juga dia bertekuk lutut dan segera menjatuhkan diri ke atas tanah sambil menyembah.

"Boanpwe Lim Yu-kong menjumpai kau orang tua!" katanya dengan penuh rasa hormat.

"Haaaaahhh..... haaaaaahh... ..haaaaaahh. bangun,

bangun! Aku paling benci dengan segala tata cara semacam ini!"

Mau tak mau Lim Yu-kong harus bangun juga, sebab dia sudah terhisap oleh tenaga murni yang dipancarkan kakek latah awet muda Ban Sik-tong sehingga tubuhnya meninggalkan permukaan tanah sejauh tiga depa lebih.

Tak terlukiskan rasa terkejut dan ngerinya setelah menyaksikan kejadian tersebut, dia tak mengira kalau tenaga dalam yang dimiliki kakek itu sudah mencapai  ke  tingkatan yang begini dahsyat.

"Boanpwe turut perintah!" dengan sikap amat hormat Lim Yu-kong buru-buru berseru.

Sementara itu si Kakek latah awet muda telah melangkah masuk ke dalam gedung.

Lim Yu-kong mempersilahkan tamu-tamunya masih ke dalam sebuah kamar baca yang indah dan bersih.

Ketika kacung baru menghidangkan air teh, Im Tiong-hok telah munculkan diri dari balik pintu kamar baca,

Gelak tertawa nyaring menyusul kemunculan Im Tiong-hok. "Aku orang she Im merasa amat bangga menerima

kunjungan dari saudara Oh. "

Tapi sesudah melangkah masuk ke dalam kamar baca, ucapan tersebut segera terhenti sampai ditengah jalan. Rupanya pelayannya hanya menyebutkan Oh Put Kui seorang, padahal Im-tiong-hok menyaksikan di kamar baca hadir tiga orang,  otomatis perkataannya terhenti sampai setengah jalan.

Barulah setelah tertawa panjang, ia baru berkata: "Rupanya Liok sinkaypun ikut berkunjung."

Setelah mengalihkan pandangan matanya kearah Kakek latah awet muda, ia baru bertanya:

"Dan orang tua ini "

Cepat-cepat Lim Yu-kong maju ke depan sambil berkata: "Saudara Im, orang tua ini adalah Kakek latah awet muda

Ban locianpwee. "

Mendengar nama Kakek latah awet muda, tiba-tiba saja paras muka Im-tiong-hok berubah menjadi amat serius.

Hampir seperminum teh lamanya  dia mengawasi Kakek latah awet muda, kemudian dengan air mata bercucuran dia baru menjatuhkan diri berlutut dihadapan Kakek tersebut.

Cepat-cepat Kakek latah awet muda mengulapkan tangannya sembari berseru:

"Bocah muda, buat apa kau berlutut di hadapanku? Ayoh cepat bangun. !"

Tubuh Im Tiong-hok segera terangkat oleh tenaga murni yang dipancarkan Kakek latah, hanya anehnya saja ternyata tubuh Im Tiong-hok masih tetap berada dalam posisi berlutut.

Terdengar orang itu berkata lagi dengan air mata bercucuran:

"Boanpwee adalah Cu Khing-cuang!"

Tiba-tiba saja Kakek latah awet muda melompat  bangun dan menarik Im Tiong-hok dari atas tanah, kemudian serunya:

"Kau. kongcu, baik-baikkah kalian?" Terpaksa Im Tiong-hok bangkit berdiri, lalu sahutnya:

"Ban tua, mengapa sudah begini lama tiada kabar berita darimu? Dewasa ini negeri kita. "

"Didalam dunia ini  benar-benar terdapat banyak sekali persoalannya yang  sama sekali tak terduga," ucap  Kakek latah awet muda sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, "seperti aku ini, banyak persoalan yang terbengkalai gara- gara sifatku yang kocak dan binal semenjak kapan sih kau

gunakan nama Im Tiong-hok untuk mengikuti ujian negara?" Im Tiong-hok tertawa getir:

"Apabila boanpwee tidak  berbuat demikian, bagaimana mungkin bisa mengetahui berbagai rahasia Kerajaan?"

Kemudian setelah berhenti sejenak,  kembali  ujarnya: "Hanya sayang boanpwee menjumpai bahwa To tay-hu

sudah kelewat terbiasa dengan  watak wataknya  sehingga mustahil untuk bisa merubahnya kembali, oleh sebab itu boanpwee pun  segera mengundurkan  diri serta berkumpul dengan sahabat-sahabat rimba hijau."

"Haaaaahhhh... haaaaaahh... haaaaaahh memang sudah

seharusnya berbuat demikian," kata Kakek latah awet muda sambil tertawa tergelak,  "kalau gagal lewat  pemerintahan harus dicari lewat kaum pencoleng... jiwa kita  yang  berani maju berani mundur sesuai dengan keadaan memang paling cocok buat kaum persilatan semacam kita ini. "

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berpaling  kearah Oh Put Kui sambil berkata lagi:

"Anak muda, Im Tiong-hok ini adalah keponakan langsung dari Thian-hiang Huciu!"

Semenjak tadi Oh Put Kui sudah menduga sampai kesitu, hanya saja dia tak pernah menyangka kalau orang tersebut adalah keponakan dari Permaisuri Thian-yang.

Maka cepat-cepat dia menjura sambil berkata: "Rakyat kecil menjumpai kongcu!"

Pengemis sinting pun turut menjura dalam dalam. Im Tiong-hok tertawa sedih kemudian berkata:

"Harap saudara Oh dan sin-kay jangan bersikap demikian, Cu Khing-cuan telah mati disaat kerajaan ditumpas, harap kalian berhubungan dengan diriku sebagai Im Tiong-hok saja!"

Oh Put Kui berpikir sejenak, kemudian menyahut:

"Betul, perkataan dari saudara Im memang sangat tepat!" Setelah pemuda ini mengatakan benar, tentu saja

Pengemis sinting tidak menemukan bagian yang keliru lagi.

Perlu diketahui, orang-orang pada jaman itu  sangat menaruh hormat terhadap para pembesar kerajaan, itu berarti setiap tindak tanduk maupun cara berbicara harus menuruti tata kesopanan yang berlaku......

Oleh sebab itulah kendatipun  Si pengemis sinting binal sekali, akan tetapi dia sama sekali tidak setuju dengan cara pemikiran dari Oh Put Kui tersebut.

Agaknya Oh Put Kui dapat membaca suara hati pengemis sinting, sambil tertawa segera ujarnya:

"Liok loko, apakah kau menganggap pertimbanganku ini keliru?"

"Sekalipun kau tidak keliru, namun bukan berarti benar!" kata pengemis sinting tertawa.

"Liok loko, apakah kau sudah melupakan peristiwa terhina yang dialami Thio Liang dan Hon Sim?"

"Itu mah berbeda, hubungan antara seorang atasan dan bawahan harus dijalin secara ketat."

"Itu sih tergantung pada saat dan keadaan seperti apa, dan kita sekarang  adalah rakyat yang kehilangan kerajaan. " "Liok tua," sela Im-tiong-hok cepat, "asalkan kita semua bersedia bersatu padu dan  berjuang demi menegakkan kembali kejayaan bangsa Han, apalah arti tata kesopanan antara pembesar dengan rakyat, apalagi..."

Setelah tertawa dia meneruskan:

"Sejak dulu sampai sekarang, bukankah banyak pemimpin kita yang justru muncul dari kalangan rakyat biasa?"

Baru sekarang si pengemis sinting manggut-manggut: "Yaa, rasanya memang masuk diakal juga"

"Bukan agaknya lagi," tukas Oh Put Kui sambil  tertawa, "Liok loko, marilah kuberitahukan kepadamu  secara terus terang, dalam keadaan serba susah seperti sekarang ini hubungan seorang pemimpin dengan bawahannya justru lebih baik berupa hubungan sesama saudara, dengan bekerja sama dan satu penderitaan, perjuangan kita baru dapat diwujudkan dengan sebaik-baiknya.

"Bagaimana jika dihari-hari biasa?"

"Kalau dihari-hari biasa tentu saja berbeda, kita wajib mempertahankan tata krama yang berlaku."

Pengemis sinting kembali mengangguk:

"Menurut pandangan aku si pengemis tua haaahh.....

haaahh..... haaahh. lebih baik tak usah dibicarakan saja."

Tiba-tiba saja dia seperti tahu bagaimana caranya untuk menjual mahal.

Tapi Oh Put Kui segera menyela dengan sikap acuh tak acuh:

"Kalau enggan dibicarakan, hal itu lebih baik lagi!" Tapi si Kakek latah awet muda segera berseru:

"Tidak bisa, bagaimana  pun  juga dia  harus mengutarakannya keluar, hey pengemis cilik, kau berani jual lagak?" "Baik, baik, aku akan berbicara, aku akan berbicara "

pengemis sinting cepat-cepat berseru.

Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya:

"CUma kalian jangan marah lho setelah mendengar perkataanku ini. "

"Baik, kami tidak akan marah!" Kakek latah berjanji. Setelah tertawa pengemis sinting baru berkata:

"Menurut pendapat aku si pengemis, berapa ribu patah kata pun yang mau digunakan, akhirnya toh cuma dua patah kata yang cocok untuk digunakan yakni "takut mampus". "

Im-tiong-hok yang pertama-tama bertepuk tangan setelah mendengar perkataan itu, serunya sambil tertawa:

"Perkataan Liok tua memang benar-benar  tepat  sekali!" "Liok tua, perkataanmu itu memang sangat tepat," Oh Put

Kui turut tertawa pula, "andai kata tidak disertai pula dengan penjelasan tentang sebab musababnya, aku kuatir ucapan  takut mampus ini bisa berubah menjadi memalukan sekali!"

"Tentu saja aku mengetahui sebab musababnya, tunggu kesempatan baik bukan?"

"Benar!"

Saat itulah Kakek latah awet muda baru berkata sambil tertawa:

"Pengemis kecil, tampaknya kau benar-benar mampu untuk mewarisi kemampuanku!"

Cepat-cepat pengemis sinting menggeleng.

"Ban lopek, Liok Jin-ki terlalu tua. tidak cocok!"

"Kau tak usah merendahkan diri lagi pengemis cilik, apakah kau belajar kesemuanya itu dari Oh Put Kui si bocah muda  itu?" seru Kakek latah sambil tertawa. "Tidak, cuma kalau orang sudah meningkat dewasa, biasanya dia akan lebih tahu urusan "

Ucapan ini segera disambut gelak tertawa oleh Oh Put Kui, bahkan Lim Yu-kong pun tak tahan ikut tertawa terpingkal- pingkal.

-oo0dw0oo-

"Liok tua memang tidak malu mempunyai hati yang  jujur dan semangat yang  menyala."  ujar Im Tiong-hok  sambil tertawa.

Kembali pengemis sinting menggeleng:

"Kongcu, jangan  sekali-kali kau memuji diriku   sebagai orang berhati jujur yang bersemangat tinggi."

"Kenapa?"

Pengemis sinting memandang sekejap ke arah Kakek latah awet muda, lalu katanya:

"Bila dia orang tua berniat mewariskan beberapa macam ilmu silat kepadaku, berarti aku harus menerima banyak  penderitaan... oleh karena itu aku tak berani mempunyai hati jujur dan semangat tinggi lagi!"

Im Tiong-hok yang  mendengar ucapan mana segera tertawa terbahak-bahak tiada hentinya.

Sambil tertawa Kakek latah awet muda berkata pula:

"Tampaknya pengemis cilik ini betul-betul sudah ketularan." Kemudian setelah memandang sekejap ke arah Oh Put

Kui, kembali dia berkata:

"Anak muda, nampaknya kau mempunyai ilmu untuk menularkan watak kepada orang lain, coba lihat, pengemis tua itu sudah ketularan sifatmu itu sehingga bersikap lain daripada yang lain." "Haaaaahhhh... haaaaaahhhh... haaaaaahhhh.... Ban tua telah memfitnah orang baik-baik."

"AKu tidak memfitnahmu anak muda, kau tahu kalau dulu si pengemis cilik itu melihat diriku, maka  persoalan  pertama yang dia katakan adalah minta aku mengajarkan ilmu silat kepadanya."

Tidak sampai Kakek latah menyelesaikan perkataannya, pengemis sinting segera menukas:

"Tapi lain dulu lain sekarang. "

"Ban tua, perkataan Liok loko memang benar," kata Oh Put Kui pula sambil tertawa.

"Bagus sekali, jadi kalian bergabung mau  mengerubuti aku?" kontan saja Kakek latah mendelik.

"Kami tidak berani. "

Perlu diketahui ganjalan didalam hati Oh Put Kui sekarang telah hilang separuh bagian terbesar, sebab ketika dia mengetahui kalau Im Tiong-hok adalah keponakan Permaisuri Thian-yang, maka dia  sudah merasa bahwa ibunya  yang terbunuh pun pasti bukan hasil perbuatan dari Im-tiong-hok.

Sekalipun persoalan ini tetap akan ditanyakan kepada Im- tiong, namun keadaannya sama sekali telah berbeda, atau paling tidak ia sudah tidak menganggap Im-ting-hok sebagai musuhnya lagi.

Oleh sebab itu dia malahan mengambil sikap tidak terburu- buru menyelidiki persoalan ini.

Sambil tertawa Kakek latah  awet muda menggelengkan kepalanya berulang kali seraya berkata:

"Baik, baik, aku memang kalah  untuk berdebat dengan kalian berdua. "

"Haaaaahhhh... haaaaahhhh... haaaaaahh... kalau begitu Ban tua memang seorang yang sangat terbuka..." kata  Im tiong-hok sambil tertawa tergelak. Kemudian dia berpaling kearah Lim Yu-kong dan kembali berkata:

"Saudara Lim suruhlah orang untuk menyiapkan beberapa macam sayur untuk dihidangkan di kamar baca..."

Lim Yu-kong menyahut dan segera berlalu dari situ.

Sepeninggal Lim Yu-kong, Im tiong-hok baru berkata lagi kepada Kakek latah awet muda:

"Ban tua, sebetulnya ada  urusan apa  kau orang tua berkunjung ke Lam-cong ini?"

"Apa lagi, tentu saja gara-gara urusan bocah muda  itu,"  seru Kakek latah sambil menuding  ke arah Oh Put Kui, "tanyakan sendiri kepadanya. "

"Ooh, rupanya dikarenakan urusan saudara Oh, tapi persoalan apakah itu? Apabila membutuhkan tenagaku, silahkan saja saudara Oh utarakan keluar!"

"Siaute hanya ingin menanyakan satu urusan kepada saudara Im " kata Oh Put Kui sambil tersenyum.

Sikap maupun caranya berbicara sangat santai dan ringan, hal ini membuat pengemis sinting menjadi sangat tercengang.

"Persoalan apakah itu?" tanya Im-tiong-hok lagi, "asalkan aku tahu, pasti akan kuutarakan selengkapnya."

"Aku hanya ingin menanyakan asal usul dari suatu benda mestika!" "Benda mestika?" Im Tiong-hok tertegun.

Dalam pada itu para pelayan telah datang menghidangkan arak dan sayur.

Lim Yu-kong telah kembali pula kedalam kamar baca, dengan cawan arak ditangan, suasana segera berlangsung lebih meriah lagi.

Setelah menghormati ketiga tamunya dengan arak, Im- tiong-hok baru bertanya lagi kepada Oh Put Kui: "Bericara kembali tentang persoalan yang disinggung saudara Oh tadi, sebetulnya mestika apakah itu?"

"Ooh, benda itu adalah tusuk konde Ngo im-hua-kut-cian, salah satu dari tujuh mestika dunia persilatan."

Mendengar perkataan ini  Im-tiong-hok  segera menyahut sambil tertawa:

"Sayang sekali tusuk konde Ngo-im-hua-kut-cian itu sudah tidak berada ditanganku sekarang!"

"Aku sudah tahu kalau benda itu tidak berada ditangan saudara Im lagi," Oh Put Kui tertawa.

"Apakah saudara Oh mempunyai hubungan dengan tusuk konde pelarut tulang ini?" tanya Im-tiong-hok tiba-tiba.

Dengan wajah amat sedih Oh Put Kui mengehela napas panjang, lalu manggut-manggut:

"Yaa, memang besar sekali hubungannya."

Ketika menyaksikan perubahan wajah Oh Put Kui tersebut, diam diam Im-tiong-hok merasa sangat terkesiap.

Baru sekarang dia menyadari bahwa persoalan itu bukan masalah yang sederhana.

"Dapatkah saudara Oh memberi penjelasan  yang  lebih terperinci kepadaku?" kembali dia bertanya.

Oh Put Kui manggut-manggut:

"AKu memang ingin mengajukan pertanyaan kepada saudara Im serta mengharapkan petunjuk darimu!"

"Soal petunjuk sih tak berani, silahkan saudara Oh mengajukan pertanyaan."

"Dahulu, saudara Im mendapatkan tusuk konde pelarut tulang itu dari siapa?" "Ooh, benda itu merupakan hadiah seorang sahabat dunia persilatan ketika siaute menyelenggarakan peringatan hari ulang tahunku yang ketiga puluh!"

"Masih ingatkah saudara Im dengan sahabat dunia  persilatan itu?" berkilat sepasang mata Oh Put Kui.

"Tentu saja masih ingat, sekalipun dalam pandanganku, benda mestika tersebut tak seberapa bernilai,  tapi dalam pandangan sementara umat persilatan justru berharga sekali."

Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya lagi:

"Saudara Oh, diwaktu-waktu sebelumnya aku sama sekali tidak kenal dengan orang itu, karenanya setelah menerima hadiah yang amat bernilai itu, siaute malah dibuat pusing tujuh keliling dan mesti peras otak dengan seksama."

"Betul," kata Kakek latah awet muda sambil  tertawa tergelak, "siapa tahu kalau perbuatan itu merupakan suatu rencana busuk dari seseorang."

Sambil tertawa Im Tiong-hok  menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya lagi:

"Pada waktu itu sih boanpwe belum merasakan sesuatu rencana busuk dibalik perbuatan  itu, tapi  setelah  belasan tahun kemudian, baru sekarang boanpwe merasa bahwa dibalik kesemuanya itu memang terselip suatu rencana busuk yang amat mengerikan."

"Apakah hal ini dikarenakan  kedatangan si bocah muda yang menanyakan soal tersebut?"

"Benar!"

"Kalu begitu cepat diterangkan dengan sejelas-jelasnya." "Tatkala boanpwe menerima sumbangan tusuk konde Ngo-

im-hua-kut-cian tersebut tempo hari, serta merta kuperingatkan orang untuk mengembalikan benda ini..."

"Apakah berhasil dikembalikan?" tanya Oh Put Kui. "Tidak!" Im-tiong-hok menggeleng, "orang  yang memberi hadiah tersebut telah pergi dari sana."

"Tapi tentunya saudara Im tahu bukan siapakah orang itu?"

"Mula-mula aku tidak tahu, tapi selanjutnya  setelah kuselidiki dengan seksama diketahui juga siapakah orangnya..."

"Siapa?" tanya Kakek latah awet muda dengan gelisah, saat ini dia justru lebih gelisah daripada Oh Put Kui sendiri.

"Dia adalah Lui-ing-huang-kiam (pedang latah  irama  guntur) The Tay-hong!"

"Oohh..." Oh Put Kui tertegun.

Sebaliknya Kakek latah awet muda segera berseru: "Im lote, apakah kau tidak keliru?"

"Tak bakal keliru, sikalipun penerima hadiah tersebut tidak kenal dengan si Pedang latah irama guntur The Tay-hong, tapi Ci-siong-kiam-kek Sik sianseng yang duduk  di  meja perjamuan sebelah barat mengenali dirinya dengan baik!"

"Kalau memang Sik Yu mengenalinya, hal ini bakal tidak salah lagi!" seru Kakek latah sambil tertawa tergelak.

"Siapakah Sik Yu itu?" tanya Oh Put Kui sambil berkerut kening.

"Paman guru dari ketua Bu-tong-pay saat ini, seorang angkatan tua yang mempunyai nama dan kedudukan yang terhormat didalam dunia persilatan!"

Oh Put Kui mengehela  napas  panjang,  katanya: "Boanpwee benar-benar tidak menyangka kalau tusuk

konde pelarut tulang ini..."

Dengan sorot mata tak menentu tiba-tiba  dia  menutup mulutnya rapat-rapat.

Jelas perasaannya saat itu sedang bergolak sangat keras. Tiba tiba terdengar Im-tiong-hok berkata lagi:

"Kalau dilihat dari usaha saudara Oh untuk menyelidiki sumber tusuk konde itu, tampaknya tusuk konde tersebut menyangkut suatu persoalan yang amat  besar  dengan saudara Oh ?"

Oh Put Kui manggut-manggut, dengan  sepasang mata berkaca-kaca sahutnya:

"Tusuk konde   itu adalah barang peninggalan ibuku almarhum..."

Sekujur badan Im-tiong-hok bergetar keras setelah mendengar perkataan itu, serunya tanpa terasa:

"Jadi saudara Oh adalah ... putra dari Peh-ih-ang-hud Lan Lan-li-hiap..."

"Siaute sendiripun baru belakangan ini mendapat tahu asal usulku yang sebenarnya," sahut Oh Put Kui sedih, "tapi sejak ibuku terbunuh, hingga sekarang belum kuketahui siapakah pembunuhnya, dan kini..."

Mendadak mencorong sinar tajam dari balik matanya, dia menambahkan:

"Saudara Im,  kau telah memberi sebuah petunjuk jalan terang kepadaku!"

Im-tiong-hok manggut-manggut:

"Dulu aku tidak mengetahui akan persoalan ini, kalau tidak, siaute pasti akan  menahan tusuk konde pelumat tulang tersebut, saudara Oh, harap kau jangan menyalahkan siaute yang telah menghadiahkan benda itu kepada orang lain..."

"Mana mungkin siaute mempunyai jalan pemikiran demikian?" kata Oh Put Kui sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, "lagipula siaute telah menjumpai tusuk konde Ngo-im-hua-kut-cian tersebut ditangan Kit Put-shia..."

"Kalau begitu kehadiran saudara Oh kemari pun pasti atas petunjuk dari Kit Put-shia bukan?" "Kit Put-shia telah menerangkan kisahnya sampai mendapatkan tusuk konde tersebut, dia bilang tusuk konde itu telah dihadiahkan oleh saudara Im kepada cong-caycu  dari bukit Kun-san ditengah telaga Tong-ting-oh yang bernama Ciu Khong!"

"Benar, untuk menarik simpatik dari para jago telaga Tong- ting, maka setelah siaute menjumpai si pemberi hadiah tusuk konde itu sudah pergi, dalam keadaan jalan buntu  maka keesokan harinya telah kukirim ke bukit  Kun-san sebagai hadiah."

Kakek latah awet muda yang mendengar ucapan tersebut segera tertawa tergelak:

"Haaahh... haaahh... haaahh... benar-benar sebuah siasat membunuh orang meminjam golok yang sangat hebat!"

Im Tiong-hok sangat terkejut atas perkataan itu, tapi segera katanya pula sambil tertawa:

"Ban tua, kau orang tua benar-benar seorang pengamat yang amat cekatan... terhadap manusia bangsa Ciu Kong, bukan saja sulit untuk disuap, dibunuh pun tak  gagah  karena itu boanpwe pun mendapat sebuah akal bagus dan ternyata betul-betul berhasil mengirimnya ke  neraka,  tapi kawanan perompak dari Tong-ting telah bertobat semua dan kini telah bergabung dalam laskar pembela tanah air."

"Betul-betul sebuah muslihat yang hebat" seru pengemis sinting sambil tertawa tergelak, "Ciu Khong memang seorang manusia yang aneh dan susah dihadapi, seandainya dia tidak mampus, pihak Tong-ting oh memang selamanya sulit dikendalikan."

Sementara itu Oh Put Kui sedang  termenung  sambil berpikir keras, ia tak bisa menduga dengan cara apakah si pedang latah irama guntur  The Tay-hong  bisa mencelakai ayah ibunya? Sekalipun empat jago pedang dari Raja setan penggetar langit turun tangan bersama pun rasanya... Mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya, dia teringat kembali dengan ucapan pedang perak berbaju biru Seebun Jin yang pernah berkata bahwa Pedang baja berhati merah Hui Bong-ki serta Pedang latah irama guntur The Tay hong yang selama ini berdiam dalam lembah sin-mo-kah. Mungkinkah dibalik semua peristiwa ini sebenarnya Kit Put- shia sendiri yang menjadi dalangnya?

Atau mungkin...

Ia berhasil memperoleh kesimpulan bahwa diantara sekian jago, ada tiga orang yang kemungkinan besar menjadi dalang dari peristiwa tersebut, mereka adalah:

Kit Put-shia sendiri, kedua adalah raja setan penggetar  langit Wi Thian-yang, tapi kalau didengar  dari  sikap  Seebun Jin sewaktu berjumpa raja setan itu, Ti-thian-yang memang paling mencurigakan.

sedang orang ketiga yang mencurigakan adalah  pihak istana Sian-hong-hu.

Ia berani mengambil kesimpulan yang begini berani dikarenakan si pedang iblis berbaju merah Suma  Hian  dan panji sakti pencabut nyawa Ku Bun-wi berada di istana Sian- hong hu semua, hal  ini membuktikan bahwa Kakek  suci berhati mulia Nyoo Thian wi sendiri meski tiada persoalan, tapi anak buahnya ini sudah pasti ada masalah.

Ditambah pula dengan peristiwa Mu ni pian yang baru-baru ini terjadi, Nyoo Ban-bu justru merupakan orang yang paling mencurigakan diantara kesemuanya ini.

Sikapnya yang termenung tanpa berkata kata ini tentu saja menumbulkan perasaan tak tenang bagi Im Tiong-hok.

"Saudara Oh," katanya kemudian, "selewatnya hari  ini, mulai besok pagi siaute akan menemani saudara Oh untuk mengarungi seluruh penjuru dunia untuk mencari si pedang latah irama guntur  The Tay-hong sampai ketemu serta menanyainya sampai terang..." Mendengar ucapan ini, dengan penuh rasa berterima kasih Oh Put Kui berkata:

"Saudara Im harus memikul tanggung jawab yang sangat berat, mana boleh lantaran urusan kecil harus meninggalkan posnya? Soal The Tay-hong, aku percaya dapat menemukannya dengan segera..."

Belum habis dia berkata, tiba-tiba dari arah depan sana berkumandang suara bentakan yang sangat nyaring.

"Dia pernah bilang akan kemari, mengapa kalian mengatakan dia tak ada  disini? Hmm, jangan  membuat nonamu menjadi marah, kalau tidak, gedung Tiong gi-hu ini bisa ku rubuh menjadi puing-puing yang berserakan..."

Perkataan itu sungguh tekebur dan besar lagaknya, tapi siapakah dia? Semua jago yang berada dalam kamar baca sama sama tertegun dibuatnya.

Sedangkan Im Tiong hong dengan wajah berubah segera melompat bangun sambil katanya:

"Biar siaute pergi memeriksanya, ingin kuketahui siapakah yang berani mencari gara-gara disini!"

@oodwoo@
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(