Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 39

 Jilid 39

"Yaa, tentu saja kita semua akan pergi bersama!" Lan Ciu-sui segera tertawa tergelak:

"Aaaahh, menbuang tenaga degnan percuma, aku tak ingin turut!"

Oh Put Kui menjadi tertegun, dia  tak habis mengerti mengapa kakeknya enggan turut serta.

"Yaya, kau hendak pergi kemana?" tanyanya kemudian. "Nak, yaya akan pergi menjemput ayahmu sekalian untuk

diajak pulang kedaratan Tionggoan. "

Rupanya disaat Lan Cui-siu telah  memperoleh kembali tenaga dalamnya, Oh Put kui telah menceritakan pengalamannya sewaktu dipulau neraka kepada orang tua itu.

Ketika memperoleh berita tersebut Lan  Cui-siu segera menyatakan rasa gusarnya, dia menganggap tiga dewa  dari luar wilayah  dan sepasang manusia sakti  dari  Thian-tok adalah manusia-manusia busuk yang kelewat menghina orang...........

Tapi setelah Oh Put Kui menuturkan pula kisah perjumpaannya dengan Thian-hiang-huicu, amarah Lan Cui- siu baru agak mereda.

Waktu itu diapun segera memutuskan akan  berangkat kepulau neraka serta menjemput kembali ayahnya sekalian untuk diajak pulang kedaratan Tionggoan.........

Karena inilah, ketika Peng-goan-koay-kek mengemukakan keinginannya sekarang, Oh Put Kui merasa serba salah dibuatnya.

Dia tak tahu apakah Poan-cay siansu telah bertemu serta berunding dengan keempat orang lainnya?

Disamping itu dia pun percaya perkataan dari Thian-hian- huicu yang  minta kepadanya menjemput tujuh orang tua dipulau neraka setelah hari Pekcun mengandung satu maksud tertentu...............

Sekarang   dia ingin   mencegah kepergian orang tua tersebut, tapi diapun tak tahu bagaimana harus berkata........

Terpaksa Oh Put Kui mengalihkan sorot  matanya kewajah si kakek latah awet muda.

Kakek latah awet muda segera tersenyum, kepada Peng- goan-koay-kek serunya keras-keras:

"Lan lote,  buat apa kau mesti bersusah payah  pergi kelautan timur? Setengah bulan lagi bocah muda ini  akan pergi kepulau neraka, cepat atau lambat toh cuma menunggu setengah bulan saja, masa kau tak sabar untuk menunggu ?"

Lan Ciu-sui termenung sejenak, lalu sahutnya:

"Saudara Ban, aku cuma merasa penasaran dengan hwesio-hwesio liar itu. "

Kakek latah awet muda segera menukas sambil tertawa: "Sudahlah Lan lote,  buat apa sih kau mesti mengambek

terhadap mereka? Lebih baik kita cari dulu manusia licik yang berada dibelakang layar itu sebelum membicarakan persoalan lain."

Lan Ciu-sui yang  mendengar ucapan tersebut segera menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir.

"Saudara Ban, terpaksa aku mesti menyetujui usulmu itu." Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak:

"Nah, tindakanmu ini baru cocok dengan  seleraku lote........... hanya manusia yang tahu  keadaan  barulah manusia sejati. "

Oh Put Kui yang menjumpai kesemuanya ini diam-diam tertawa geli, dia tak mengira Kakek latah awet muda pandai juga membujuk seseorang.......... Dalam pada itu kakek cengeng beralis putih telah berkata pula secara tiba-tiba:

"Ban tua, kepergian kalian kebukit Ngo-tay-san tidak termasuk diriku ?"

"Kau sikurus enggan pergi?" tanya Kakek latah awet muda sambil berkerut kening.

"Ban tua, bagaimana mungkin aku bisa pergi. "

"Mengapa kau tak bisa pergi?"

"Ban tua, apakah kau menyuruh aku menyingkap rahasia keterlibatanku dihadapan mereka. ?"

Mendengar itu, Kakek latah awet muda tertawa tergelak: "Haaaaaaahhhhhh........... haaaaaahhh...........

haaaaaaaaahhhhhh.......... berbicara pulang pergi toh  yang pasti kau sikurus memang bernyali kecil. Baiklah, aku tak akan memaksa kau sikurus untuk turut serta, tapi akupun hendak memberitahukan kepadamu lebih dulu, lain kali kaupun tak boleh menjual tenaga lagi buat orang yang berada dibelakang layar itu. "

Dengan mata terbelalak kakek cengeng beralis putih manggut-manggut:

"Ban tua, malam ini juga akupun hendak  pergi meninggalkan bukit Biau-hong-san ini"

"Kau hendak kemana?" tanya Kakek latah  awet muda tertegun.

Kakek cengeng beralis putih tertawa getir:

"Jika tidak kabur, bukankah keadaan bakal bertambah berabe? Cuma saja. "

Setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata:

"Cuma saja aku akan terpaksa berlagak  seolah-olah sedang mencari si kakek sakti tertawa panjang Beng Pek-tim untuk diajak beradu kepandaian serta menentukan siapa yang lebih unggul diantara kami sepuluh tahun terakhir ini, dengan demikian mereka baru bisa dikelabuhi dan tidak menyangka kalau aku sedang berusaha melarikan diri dari sini. "

Mendengar itu, Kakek latah awet muda tertawa tergelak: "Haaaaaaahhhhhh........... haaaaaahhh...........

haaaaaaaaahhhhhh.......... berbicara pulang pergi toh  yang pasti kau sikurus memang bernyali kecil. Baiklah, aku tak akan memaksa kau sikurus untuk turut serta, tapi akupun hendak memberitahukan kepadamu lebih dulu, lain kali kaupun tak boleh menjual tenaga lagi buat orang yang berada dibelakang layar itu. "

Dengan mata terbelalak kakek cengeng beralis putih manggut-manggut:

"Ban tua, malam ini juga akupun hendak  pergi meninggalkan bukit Biau-hong-san ini"

"Kau hendak kemana?" tanya Kakek latah  awet muda tertegun.

Kakek cengeng beralis putih tertawa getir:

"Jika tidak kabur, bukankah keadaan bakal bertambah berabe? Cuma saja. "

Setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata:

"Cuma saja aku akan terpaksa berlagak  seolah-olah sedang mencari si kakek sakti tertawa panjang Beng Pek-tim untuk diajak beradu kepandaian serta menentukan siapa yang lebih unggul diantara kami sepuluh tahun terakhir ini, dengan demikian mereka baru bisa dikelabuhi dan tidak menyangka kalau aku sedang berusaha melarikan diri dari sini. "

"Yaaaaa, usulmu itu memang bagus sekali,naaaahhh silahakan. "

Oh Put Kui yang mendengar ucapan mana segera berpikir didalam hatinya: "Perkataan macam apa ini? Masa sang tuan rumah kabur lebih dulu sebelum tamunya pergi?"

Sementara dia masih berpikir, kakek cengeng beralis putih telah berseru pula:

"Nah  Ban  tua,  kita  sampai  bertemu  lagi   dikemudian hari. "

Belum habis kata-katanya,  dia sudah melompat pergi meninggalkan tempat tersebut.

Kakek cengeng beralis putih memang aneh, begitu  dia bilang mau pergi,  ternyata tanpa memberi pesan kepada siapapun juga, dia segera angkat kaki dengan begitu saja, tindakan ini segera mencengangkan semua orang.

Sambil gelengkan kepala Oh Put Kui segera berpikir: "ORang-orang tua itu  memang pada aneh

wataknya. "

Dalam pada itu Kakek latah awet muda malah berteriak lagi sambil tertawa:

"Hey si kurus, bila bertemu sicebol Beng, tolong titip salam untuknya. "

Oh Put Kui yang mendengar perkataan itu segera bertanya sambil tertawa:

"Ban tua, benarkah dia hendak pergi mencari Beng lojin?"

Kakek latah awet muda berpaling dan memandang sekejap kearah Oh Put Kui, lalu sahutnya:

"Dia memang mengatakan akan pergi mencari Beng Pek- tim, masa kau tidak mendengar?"

"Tapi bukankah dia mengatakan juga kalau kepergiannya mencari Beng Pek-tim cuma dibuat alasan saja?"

"Anak muda, dugaanmu kali ini keliru besar," kata Kakek latah awet muda sambil menggelengkan kepalanya, "padahal sikurus ini jauh lebih cerdik daripada siapapun justru karena dia kuatir tak mampu mengungguli  Beng Pek-tim, maka sengaja dia berkata begitu."

"Tapi apa sangkut pautnya antara bertarung dengan tidak bertarung. ?" tanya Oh Put Kui kebingungan.

"Masalah ini menyangkut masalah gengsi. Yang kosong sebetulnya sungguh, yang sungguh justru kosong. Bila ia tak berhasil mengungguli  si cebol Beng, maka diakan bisa mengatakan kepada orang luar bahwa dia tak pernah pergi mencarinya "

Sekarang Oh Put Kui baru paham.

Rupanya masalah gengsi memang merupakan  masalah gawat yang jauh lebih penting daripada segala-galanya.

Tiba-tiba Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui menghela napas sambil berkata:

"Saudara Ban, mari kita berangkat!"

"Lote, sudah hampir empat puluh tahun lamanya aku tak pernah menunggang  kuda," kata  Kakek latah  awet muda sambil tertawa, "mumpung kita ditemani dua orang budak cilik itu, bagaimana kalau kita beli beberapa ekor  kuda dan meneruskan perjalanan dengan naik kuda?"

"Baik sih baik, cuma aku tidak mempunyai uang sebanyak itu, "kata Lan Ciu-sui sambil tertawa.

"Haaaahhhhhhhhh..........hhhhhaaaaaahhhhhh........

hhhaaaahhhh biarpun kita tak punya, tapi orang lain sih

mempunyai banyak sekali ,."

SEmbari berkata dia mengerling sekejap kearah pengemis pikun.

Entah mengapa tiba-tiba saja pengemis pikun jadi sangat kikir, sambil menggelengkan kepalanya berulang kali dia  berseru, "Ban tua, kau jangan memandangi aku terus menerus, kau toh mengerti aku si pengemis cuma bisa meminta belas  kasihan orang, sejak kapan ada orang memberi uang kepadaku. "

"Kau berani mengatakan tak punya ?" bentak Kakek latah awet muda sambil mendelik.

Pengemis pikun memandang sekejap kearah Oh Put Kui yang cuma berdiri sambil tersenyum itu, lalu katanya  lagi sambil tertawa getir:

"Ban tua, aku sipengemis amat rudin, kalau tidak, buat apa aku harus bergabung dengan kay-pang?"

Kakek latah awet muda mendengus dingin.

Bila dia sedang tertawa maka orang akan kerasan terus untuk memandangi terus wajahnya, tapi  begitu  dia mendengus, pengemis pikun kontan saja menjadi gemetar karena ketakutan.

"Pengemis  cilik,  aku   akan menggeledah  sakumu. "

ancamnya kemudian.

Oh Put Kui segera tertawa geli, bila benar-benar digeledah, segera akan ditemukan empat lembar cek disaku pengemis tersebut.

Tak heran kalau pengemis pikun  menjadi  semakin panik, dia gelengkan kepalanya berulang kali sambil berteriak:

"Ban tua, seorang kuncu hanya akan menggunakan mulut, tidak akan menggerakkan tangan. "

"Aaaah, aku tak ambil perduli siapa kuncu siapa bukan," tukas Kakek latah awet muda ngotot, "pokoknya  apa  yang ingin kulakukan segera akan kulaksanakan, bawa kemari sakumu pengemis!"

Pengemis pikun benar-benar sangat panik.

Dengan mata terbelalak ia segera menengok ke arah  Oh  Put Kui sambil serunya: "Lote, cepat kau ambil kembali uangmu itu. "

"Wah, itu sih urusanmu sendiri," tukas Oh Put Kui sambil menggelengkan kepalanya, "aku kan sudah menghadiahkan uang tersebut untukmu. "

"tapi aku juga tak mau. " jerit pengemis pikun.

Tampaknya Oh Put Kui juga berminat untuk  menggoda pengemis tersebut, tiba-tiba ia berkata:

"Liok loko, bukankah kau sendiripun mempunyai tiga ratus tahil perak?"

Seketika itu juga pengemis pikun berdiri lemas, tapi segera jeritnya:

"Lote, uang itu sengaja kusediakan untuk membeli peti matiku, kau toh sudah tahu aku tua dan lemah, masa uang sebesar tiga ratus tahil perakpun. "

"Konyol!" umpat Kakek latah awet muda sambil menarik muka, "cepat katakan, mau diserahkan atau tidak? Pengemis cilik, aku tak ambil perduli uang itu buat membeli peti mati atau tidak, pokoknya hari ini harus membeli kuda dan kau yang membayar."

Dimaki oleh Kakek latah awet muda, si pengemis pikun menjadi ketakutan setengah mati.

Akhirnya dengan susah payah, dia mengeluarkan juga tiga ratus tahil perak itu dan mengomel sambil menghela napas:

"Aaaaaii, apa boleh buat, peti mati untuk  aku  sipengemis tua telah diseret pergi oleh kuda-kuda sialan!"

oOdwOooo0dw0oOdwOooo

Mencari jejak seseorang dibukit Ngo tay-san bukanlah  suatu pekerjaan yang gampang.

Pengemis pikun yang harus  menempuh  perjalanan bersama mereka, boleh dibilang benar-benar lagi sial. Sebab setibanya diatas bukit, kuda-kuda tersebut jadi  tak ada gunanya sama sekali.

Tapi pengemis pikunpun merasa sayang untuk membuangnya dengan  begitu saja, maka tugas  menjaga kudapun terjatuh ketangan pengemis tersebut.

Satu orang harus merawat enam ekor kuda sekaligus, jelas hal ini merupakan suatu pekerjaan yang amat menyiksa.

Apalagi jalan bukit berliku-liku dan lebarnya cuma sekian depa, manusia saja susah lewat, apalagi harus mengurusi enam ekor kuda sekaligus, bisa dibayangkan betapa repotnya dia.

Nyoo Siau-sian dan Kiau Hui-hui yang menyaksikan kerepotan pengemis itu, terutama melihat peluh yang membasahi tubuhnya meski udara sangat dingin, segera merasa kasihan disamping geli...............

Bukan hanya begitu, siKakek latah awet mudapun masih saja menyindir dan mendampratnya, ini menyebabkan pengemis pikun selain mesti mendongkol terhadap kuda, mendongkol terhadap kakek itu.

Masih untung Oh Put Kui sering memberikan bantuannya.

Beberapa kali dia harus menarik kuda-kuda yang hampir saja jatuh terpeleset kedalam jurang.

Enam orang dengan  enam ekor kuda harus berjalan menyelusuri bukit Ngo-tay-san yang luasnya mencapai limaratus li itu hampir tiga hari lamanya, tapi mereka belum berhasil juga menemukan tempat tinggal dari Lian peng sekalian.

Bagi orang lain disamping gelisah,  sama sekail tidak merasakan penderitaan apapun.

Berbeda dengan pengemis pikun,  dia  nampak mengenaskan sekali.............. Bukan saja dia dibuat lelah karena musti mengurusi enam ekor kuda, disamping itupun harus mencarikan rumput dan membersihkan kotoran kuda, akibatnya dia menjadi dekil lagi bau.

Hingga mencapai hari kelima.

Tiba-tiba Kakek latah awet muda menghentikan perjalanannya dipuncak bukit sebelah utara,  kemudian  serunya:

"Lan lote, kita sudah sampai ketempat tujuan!"

Sudah sampai? Mungkinkah berada dipuncak tertinggi dari bukit Ngo-tay-san ini?

"Mana mungkin mereka akan berdiam di sini ?" Peng-goan- koay-kek segera tertawa hambar.

"Yaa, setiap orang memang berpendapat demikian.

Tapi si Kakek latah awet muda kembali tertawa terbahak- bahak:

"Haaaahhhhh......... haaaaahhhh..........

haaaaaahhhhhhhhhh............. bila kita belum sampai juga ditempat tujuan, apakah sipengemis cilik yang lebih suka memeluk emas terjun kesumur dan mati-matian mempertahankan hartanya itu tidak mampus karena kecapaian?"

Perkataan ini memang sejujurnya dan benar.

Gara-gara keenam ekor kuda itu hampir saja si pengemis pikun telah mengorbankan separuh lembar jiwanya.

Sambil tersenyum Oh Put Kui segera berkata:

"Ban tua, tentunya kau sudah mengetahui bukan tempat persembunyian Wi Thian-yang?"

Baru selesai dia berkata, Nyoo Siau-sian dan Kiau Hui-hui sudah tak tahan lagi tertawa cekikikan.

"Toako, perkataanmu itu  benar-benar kelewat tolol. " "Oh toako, andaikata Ban tua  sudah  mengetahui tempatnya, buat apa dia mesti mengajak kita untuk berputar sekian lama sehingga harus menempuh perjalanan ditengah- tengah salju dengan penuh resiko?"

Sambil tertawa kembali Oh Put Kui berkata:

"Apabila adik Sian dan nona Kiau tidak percaya, mari kita dengarkan bersama-sama apa yang dikatakan Ban tua nanti !"

Dalam pada itu Kakek latah awet muda telah  tertawa tergelak tiada hentinya, ia berkata:

"Hey anak muda, agaknya tak ada sebuah persoalanpun yang dapat mengelabuhi dirimu?"

"Ban tua, kesemuanya ini tak lebih hanya dugaan boanpwe saja, "sahut pemuda itu tertawa.

Sebaliknya Nyoo Siau-sian segera berseru kaget:

"Ban tua, kau benar-benar mengetahui tempat tinggal dari bibi Lian?"

"Haaaaaaahhhhhhhh........... haaaaahhhhh..........

haaaaaaahhhhhhhhh.......... kalau semacam itu saja tidak kuketahui, buat apa orang menyebutku sebagai si Ban  tua yang tahu akan segala-galanya?"

"Ban tua," seru Kiau Hui-hui pula dengan kaget, "kalau memang sudah tahu, apa  sebabnya  kau menyiksa kami semua sehingga mesti mendaki bukit selama beberapa hari?"

Kakek latah awet muda melirik sekejap kearah pengemis pikun, kemudian baru katanya sambil tertawa:

"Bertemu dengan orang yang lebih suka uang daripada nyawa merupakan suatu kesialan bagi kita semua, oleh sebab itu untuk menghilangkan  bencana tersebut, lebih baik kita sedikit menderita lebih dulu, kalau tidak, bila  sampai  betul- betul ketemu musibah mungkin penderitaan yang kita  alami jauh berapa kali lipat lebih hebat " Kiau Hui-hui serta Nyoo Siau-sian hanya mendengarkan perkataan itu dengan mata terbelalak lebar.

Sebaliknya Peng-goan-koay-kek Lan ciu-sui segera berseru sambil tertawa:

"Loko,      memang disinilah kelebihan yang kau punyai "

"Haaaaahhhhh.......... haaaaaaaahhhhh...........

hhhhhhhhahhhhhhhhh lote hidup dalam  dunia persilatan,

setiap kali kita memikul resiko kepala bakal  dikutungi  orang, bila kita tidak berusaha mencari kesempatan untuk bergurau, lantas apa artinya kehidupan ini? Apakah lama kelamaan kau tak akan merasa bosan sendiri?"

Pengemis pikun yang mendengar perkataan itu langsung saja mendelik besar saling mendongkolnya, dia segera berkaok-kaok berulang kali:

"Bagus sekali, jadi rupanya kau memang sengaja hendak mempermainkan aku sipengemis, aku tak takut disambar geledek. "

Sambil berkata dia segera mengendorkan tali les keenam ekor kuda itu seraya teriaknya lagi:

"Kuda wahai kuda........... silahkan kalian pergi, aku sipengemis sudah kenyang menderita "

Bukan cuma begitu, bahkan dia memukul pantat kuda-kuda itu agar lari dari situ.

Oh Put Kui tak bisa menahan rasa gelinya setelah menyaksikan kejadian ini, segera serunya:

"Liok loko. buat apa kau mesti berbuat demikian? Bila  sedari dulu kau lepaskan kuda-kuda itu, bukankah kau  tak perlu menderita? Lagipula kamipun sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh."

Sambil tertawa getir pengemis pikun  menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya: "Saudara ku, apakah kau belum  pernah  mendengar pepatah yang mengatakan: Burung mati karena makanan, manusia mati karena harta? Justru karena pikiranku tak dapat terbuka, akibatnya banyak penderitaan yang harus kualami."

Setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh:

"Tapi sekarang lote, pikiranku betul-betul sudah terbuka, yaaa aku memang kelewat penasaran."

"Waaah, masa kaupun dapat berkata begitu?" ejek kakek latah awet muda sambil tertawa tergelak, "nah pengemis cilik, makanya lain kali harus  ingat baik-baik peristiwa ini "

"Saudara ban, mari kita kerjakan persoalan yang sesungguhnya!" sela Lan Ciu-sui kemudian.

"Ban tua, sebenarnya Wi Thian-yang bersembunyi dimana?" kata Oh Put Kui pula.

"Masa kau tidak tahu anak muda?" tanya kakek latah awet muda sambil tertawa tergelak.

"Bagaimana mungkiin boanpwe bisa tahu?"

"Tidak kunyana ternyata ada persoalan yang  tidak kau ketahui juga anak muda. "

Agaknya   orang   tua ini masih saja berupaya untuk menyusahkan Oh Put Kui.

Oh Put Kui terpaksa tertawa getir  setelah mendengar perkataan itu katanya:

"Mana mungkin boanpwe bisa dibandingkan dengan kau orang tua? Cepatlah kau katakan dimana Wi Thian-yang telah menyembunyikan diri. "

"Anak muda, coba kau alihkan  pandanganmu  mengikuti arah yang kutunjuk "

Oh Put Kui segera berpaling dan mengalihkan pandangan matanya........... Diantara bukit sebelah utara dan sebelah tengah, ia  temukan sebuah selat yang dalam.

Dipandang dari ketinggian, lembah itu nampak hijau segar tertutup oleh pepohonan atas pepohonan yang  tumbuh  disekitar sana lebat sekali.

"Tempat itu pasti sebuah lembah yang dalam. dengan

pemandangan yang indah "

Kiau Hui-hui yang turut berpaling segera berseru pula memuji.

Mendadak terdengar Oh Put Kui berseru kaget:

"Ban tua, disitu terdapat bangunan bata merah, mirip sekali dengan sebuah perkampungan besar!"

"Haaaaaahhhhhhhh.......... haaaaaahhhhh..........

haaaaaaaahhh........... perkampungan itu tak lain bernama Kang-thian-lo............." kakek latah awet muda menjelaskan sambil tertawa.

Belum habis perkataan itu diutarakan, Lan Ciu-sui telah menimbrung dengan cepat:

"Jadi tempat ini adalah tempat kediaman  dari  Ang-lo-cui- kek (Jago pemabok dari loteng merah) Siau Yau?"

"Betul, dan aku yakin si kakek penggetar langit Siau Hian pasti sudah pulang pula!"

"Kebetulan sekali aku memang hendak  mencari  mereka dan bersaudara untuk membuat perhitungan, tidak disangka akan kutemukan disini, " seru Lan Ciu-sui lagi sambil tertawa, "dulu, aku hanya pernah mendengar tentang loteng Keng Thian-lo, tapi belum pernah berhasil  kutemukan  letak  loteng itu "

"Haaaaaahhh.......... haaaahhhh......... haaaaaahhhh.........

kalau begitu kedatangan lote ke bukit Ngo-tay-san ini tidak sia sia belaka.............." seru kakek latah awet muda sambil tertawa. Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata:

"Wi Thian-yang sekeluarga sudah pasti berdiam didalam rumah Siau Yau "

"Ban tua, mari kita turun kebawah..........." seru Oh Put Kui kemudian sambil tersenyum.

Seraya berkata dia langsung meluncur turun dari atas bukit tersebut.......

Lan Ciu-sui nampak tertegun, kemudian cepat-cepat serunya:

"Nak, Siau Yau bukan seorang manusia yang gampang dihadapi. "

Tampak bayangan biru berkelebat lewat, ia segera menyusul pula kebawah.

Dengan gerakan secepat sambaran kilat kedua orang itu melayang turun dari bukit Ngo-tay-san dan langsung meluncur kearah loteng Keng-thian-lo dibalik lembah dikejauhan sana.

Menyaksikan kejadian ini, keempat orang jago lainnya yang masih berada diatas puncak bukit menjadi terkejut sekali.

kakek latah awet muda pun tidak menyangka kalau Oh Put Kui bakal meluncur sedemikian cepatnya.

Sambil berkerut kening ia segera berseru kepada ketiga orang lainnya:

"Ayoh kalian pun boleh ikut turun,  siapa tahu sampai waktunya terdapat beberapa orang gembong iblis yang perlu kalian hadapi."

Nyoo Siau-sian dan Kiau Hui-hui  segera menyambut  usul itu dengan amat gembira.

Selain itu merekapun  sangat menguatirkan keselamatan dari Oh Put Kui, kendatipun pemuda itu didampingi Lan Ciu-  sui tak mungkin akan menemui bahaya, tapi begitulah keanehan manusia, mereka tetap menguatirkan keselamatan jiwanya.

Itulah sebabnya ketika kakek latah awet muda baru selesai berbicara, Nyoo Siau-sian serta Kiau Hui-hui sudah meluncur kebawah dengan kecepatan tinggi, kemudian langsung mengejar Oh Put Kui dan Lan Ciu-sui.

Pengemis pikun memandang sekejap kearah kakek latah awet muda, lalu tanyanya sambil tertawa:

"Apakah kita juga ikut pergi?"

kakek latah awet muda tertawa aneh:

"Pengemis sialan, rupanya sifat pengecutmu kambuh lagi, kau takut mampus?"

"Boanpwe tidak berani!"

"Kalau memang tak berani  itu sih gampang,  ayoh, kau mesti bertarung bagiku pada babak yang pertama."

"Bertarung pada babak pertama? Waaaahh? Mana boleh jadi?" teriak pengemis pikun tertegun "entah Siau Yau, Siau Hian,aku tak bakal sanggup menahan seujung jarinya, masa kau orang tua malah menyuruh boanpwe  bertarung   pada babak yang pertama?"

"Kau tak mau bukan?" seru kakek latah awet muda sambil tertawa mengejek.

Pengemis pikun tertawa getir.

"Boanpwe bukannya    tidak mau, tak sesungguhnya memang tidak mampu. "

Mendadak kakek latah awet muda tertawa tergelak, sambil mencengkeram ujung baju pengemis itu, serunya keras-keras:

"Bocah keparat, aku   akan   membantumu, membantu melemparkan tubuhmu kebawah. "

Seketika itu juga tubuh pengemis pikun terlempar kedalam lembah yang dalam itu bagaikan sebuah keranjang rongsok. Pengemis pikun menjadi ketakutan setengah mati, dia menjerit-jerit keras seperti babi yang baru disembelih...........

"Tolong.......... Ban tua........... gara-gara lemparanmu itu, semua tenaga dalamku menjadi buyar. "

Kakek latah awet muda sama sekali tidak ambil perduli, pengemis pikun berteriak semakin keras karena ketakutan, dia merasa semakin kegirangan.

Apalagi setelah menyaksikan gerak gerik pengemis pikun yang gelagapan ditengah udara, dia tertawa semakin keras lagi:

"Hhaaaaahhhhhhhh........ haaaaaaaaah.........

haaaaaaaaahhhhh............. pengemis busuk, inilah yang dinamakan dengan "Kura-kura" terbang diangkasa. "

Mendadak Kakek latah awet muda menghentikan perkataannya sampai ditengah jalan, lalu sepasang ujung baunya dikebaskan, bagaikan sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya, dia langsung menerjang kearah  pengemis pikun.

Jangan dilihat selisih jarak antara Kakek latah awet muda dengan pengemis pikun terpaut sampai lima puluh kaki, nyatanya dia telah tiba lebih duluan.

Sekali tangannya menyambar, tahu-tahu dia sudah mencengkeram tubuh pengemis pikun itu  lalu  dengan ringannya mereka berdua melayang turun didasar lembah.

Begitu sampai diatas tanah, Kakek latah awet muda segera membanting tubuh si pengemis pikun itu keatas tanah, lalu umpatnya:

"Kau sipengemis busuk memang betul-betul tak becus, masa menghadapi persoalan semacam ini  pun  ketakutan setengah mati !"

Dengan susah payah pengemis pikun merangkak bangun dari atas tanah, lalu sambil tertawa getir, keluhnya: "Ohhh...... Ban tua, selama hidup belum pernah boanpwe melompat dari ketinggian seperti ini, apalagi terjun kedalam jurang yang begitu dalam, Ooh Thian, kau tahu aku sudah

semaput sedari tadi."

"Aaaaaiii, kalau dibilang kau manusia tak becus, nyatanya kau memang betul-betul tak becus." keluh si Kakek latah awet muda sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, "Ayoh cepetan sedikit, mereka sudah pada tak nampak, bila kau ku tinggal seorang diri disini, tentu bakal asyik. "

Begitu selesai berkata, dia langsung kabur terlebih dahulu menuju ke arah loteng Keng-thian-lo.

Pengemis pikun benar-benar ketakutan setengah mati, sambil meraung keras dia segera lari mengejar sekuat tenaga, teriaknya sambil mengejar:

"Eeeeeehh....... tunggu dulu........ tunggu sebentar...........

Ban   tua,   kau   tak   boleh   meninggalkan    aku    seorang diri. "

"Kenapa? Toh lebih baik bermalas-malasan lebih  dulu diatas tanah sambil santai?" goda Kakek latah awet muda seraya tertawa tergelak.

"Oh...... Ban tua, maafkan daku, boanpwe  sudah tahu salah," pinta pengemis pikun kemudian sambil tertawa getir.

Kakek latah awet muda segera memperlambat larinya, lalu berkata sambil tertawa:

"Kau.... aaaaai, kalau dilihat dari wajahmu yang begitu mengenaskan, yaaaa sudahlah!"

Mendadak tubuhnya melejit setinggi satu setengah kaki lalu melewati pagar pekarangan yang tinggi dan melayang turun dibalik kebun Keng-thian-lo.

Pengemis pikun tak berani berayal lagi cepat-cepat dia menyusul dari belakang. Setelah berada didalam kebun, Kakek latah awet muda langsung menuju kearah bangunan loteng disisi kebun.

Agaknya keempat orang yang berjalan duluan telah memasuki gedung Keng-thian-lo itu lebih dulu, tapi anehnya ternyata tak terdengar suara bentakan ataupun suara orang sedang ribut.

Seandainya Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui telah berjumpa dengan dua bersaudara Siau, tak mungkin suasananya akan begini tenang dan hening, orang tak akan percaya bila mereka sampai berbaikan kembali.

Mendadak si Kakek latah awet muda berkerut kening, lalu ujarnya:

"Eeeeii pengemis cilik, kenapa tak kedengaran suara pertarungan? Jangan-jangan gedung ini sudah  tak berpenghuni lagi?"

"Yaaaa........... darimana boanpwe bisa tahu?" sahut pengemis pikun sambil berkerut kening.

"Huuuuuh, dasar goblok! Percuma saja aku bertanya kepadamu," seru Kakek latah awet muda menjadi marah.

"Aku memang goblok, siapa suruh kau bertanya  kepada ku?" batin pengemis pikun penasaran.

Sudah   barang tentu jalan   pikirannya ini   tak berani keutarakan keluar.

sementara pembicaraan masih berlangsung  kedua  orang itu sudah melangkah masuk kedalam bangunan loteng itu.

Pada tingkat dasar bangunan tersebut terbentang sebuah ruangan yang sangat lebar,  namun tak nampak sesosok bayangan manusiapun disekitar sana.

"Mana orangnya?" seru Kakek latah awet muda sambil berkerut kening rapat-rapat.

"Diatas loteng!" kali ini pengemis pikun menjawab dengan cepat sekali. Mendengar itu si Kakek latah awet muda segera tertawa terbahak-bahak:

"Haaaaahhhhh.......... haaaaaaaaaahhhhh..............

haaaaahhhh........... buat apa  mesti kau jawab?  Kalau tak berada dibawah, tentu saja berada diatas loteng, ayoh kita langsung naik keatas!"

"Duuukk......... duuukkkk........duuuuukk "

Langkah si Kakek latah awet muda yang begitu berat dan bersuara keras ini kontan saja mengejutkan pengemis pikun, buru-buru dia mempercepat langkahnya dan menebos naik keatas loteng lebih dahulu.

Namun suasana diatas lotengpun sangat hening, tak nampak sesosok bayangan manusiapun.

Kakek latah awet muda bersama pengemis pikun mencari secara beruntun hingga tiga lantai, namun bukan saja tidak nampak pemilik dari gedung Keng-thian-lo tersebut,  bahkan Lan Ciu-sui sekalian berempatpun seakan-akan hilang lenyap dengan begitu saja.

Dengan perasaan bingung pengemis pikun segera berseru: "Kemana perginya orang-orang itu?"

"Haaaaaahhhh......... haaaaaaaahhhhh.......

haaaaaaaahhhhh.......... pengemis cilik, bila seseorang ingin berbicara, janganlah sekali-kali mencoba belajar dari  orang  lain, mengerti?" kata Kakek latah awet muda sambil tertawa keras, "kini terbukti pada lantai atas maupun  lantai  bawah tiada penghuninya, bisa jadi gedung Keng-thian-lo ini memang bukan merupakan tempat untuk didiami orang!"

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba dia berseru kembali: "Hey pengemis,ayoh turut aku!"

Tergopoh-gopoh dia lari turun kebawah, kemudian dengan langkah cepat pula menuju ke lantai dasar. Pengemis pikun yang mengikuti  dibelakangnya  menjadi kegelian melihat ketergopohan rekannya, dia segera berseru keheranan:

"Ban tua, sebenarnya apa sih yang telah terjadi?"

"Tentu saja lagi mencari orang! Coba kau periksa ke empat dinding ruangan ini pengemis. "

Sambil memerintahkan pengemis pikun untuk  mengetuk keempat dinding dalam ruangan tersebut, dua sendiri justru menuju ketengah ruangan dimana terdapat sebuah meja altar dan dibalik altar terdapat sebuah kelambu tipis.

Ternyata arca yang dipuja dalam meja altar tersebut adalah Tong-peng Cousu.

Waktu itu, si Kakek latah awet muda benar-benar merasa amat terkejut bercampur keheranan, sebab berdasarkan pengamatan sepasang matanya yang tajam, dalam sekilas pandangan saja dia sudah melihat bahwa patung pujaan tersebut bukan terbuat dari kayu ataupun tanah liat.

Sebab biarpun si tukang pahat tersohor Lu Pan menjelma lagi pun, tak nanti dia dapat mengukir sebuah arca menjadi sedemikian hidupnya mirip manusia  asli,  bahkan memancarkan pula hawa kemanusiaan.

Namun dalam kenyataannya, patun tersebut memang kelihatan sangat hidup dan nyata.

Itulah sebabnya Kakek latah awet muda segera menegur sambil tertawa:

"Hey, sebenarnya siapakah kau? Mengapa harus berlagak menjadi dewa disini?"

Patung tersebut tetap membungkam tidak menjawab. Kakek latah awet muda menjadi tidak senang hati.

Tiba-tiba saja dia menggerakkan tangannya lalu menarik patung tersebut dari tempat duduknya. Bersamaan dengan gerakan itu,  dia  membentak pula keras-keras:

"Bila anda adalah Siau Yau, maka usahamu untuk menipu orang hanya akan sia-sia belaka."

Seketika itu juga si patung sudah terseret oleh Kakek latah awet muda sehingga roboh terguling diatas tanah.

Nyatanya patung itu memang bukan terbuat dari kayu ataupun tanah liat, sebab benda mana sama sekali tidak  pecah, atau hancur karena terguling diatas tanah.

Namun anehnya, si orang yang menyaru sebagai dewa ini justru tetap membungkam dalam seribu bahasa tanpa  bergerak barang sedikitpun juga.

Lama kelamaan meluap juga hawa amarah Kakek latah awet muda, namun dia sendiripun merasa keheranan.

Dalam marahnya, tiba-tiba  saja dia  menampar patung tersebut keras-keras.

Coba bayangkan saja dengan kemampuan tenaga dalam yang dimiliki Kakek latah  awet muda, bagaimana  mungkin orang itu akan sanggup menahan diri?

Paling tidak, pipi kirinya pasti akan merah membengkak akibat terkena tempelengan tersebut.

Tapi alhasil, apa yang dijumpai sama sekali berada diluar dugaan si Kakek latah awet muda tersebut.

Wajah si patung itu bukan saja tidak membengkak, malah sebaliknya berbunyi gemerutukan keras bagaikan tulang- tulangnya pada retak semua, malahan warna emas di  wajahnya pun turut rontok beberapa potong.

Kakek latah awet muda benar-benar dibuat tertegun.

Tiba-tiba saja dia teringat, bisa jadi patung tersebut adalah seorang manusia hidup. Begitu ingatan tersebut melintas lewat, dengan suatu gerakan yang amat cepat Kakek latah awet muda segera mencopot kopiah yang dikenakan patung tadi.

Dalam waktu singkat terurailah rambut yang  berwarna  hitam dan panjang, ternyata orang itu memakai gaun panjang.

Jelas terlihat bahwa dia adalah seorang wanita.

Kembali si Kakek latah  awet muda menjerit tertahan lantaran kaget bercampur henar.

Sementara itu, pengemis pikun  yang  mencoba untuk mengetuk keempat belah dinding ruangan tidak berhasil mendapatkan sesuatu gejala  apapun, sewaktu mendengar jeritan tertahan dari Kakek latah awet muda, cepat-cepat dia datang menghampiri.

Begitu dia menjumpai patung tersebut berisikan seorang wanita, pengemis pikun pun  segera menjerit keras-keras, hampir saja dia melarikan diri terbirit-birit.

Untung saja disampingnya  terdapat Kakek latah  awet muda, sehingga nyalinya rada membesar, dengan keheranan segera tanyanya:

"Ban tua, sebenarnya apa sih yang telah terjadi?"

"Coba kau korek lepas semua warna emas itu dari wajahnya!" perintah Kakek latah awet muda sambil tertawa.

Biarpun perasaan dan pikiran si pengemis pikun diliputi pelbagai kecurigaan, namun dia tak berani banyak bertanya.

Dengan cepat dia berjongkok disamping patung perempuan itu, kemudian mulai mengelupasi kerak emas yang menempel diatas wajahnya.

Sedikit demi sedikit, kerak emas itu berhasil juga terkelupas dari wajahnya.

Dan terakhir muncullah seraut wajah yang sangat dikenal oleh mereka berdua. Perempuan itu bukan lain ternyata adalah  perempuan bunga dari Thian-ho-wan, Lian Peng adanya.

Mimpipun si Kakek latah awet muda tidak mengira kalau si perempuan bunga dari Thian-ho-wan  Lian Peng bisa jadi patung dalam ruangan Keng-thian-lo, bahkan sudah menemui ajalnya.

Tapi siapa yang telah melakukan pembunuhan ini? si kakek penggetar langit Siau Hian? ataukah sijago pemabuk  dari loteng utara Siau-Yau.

Atau mungkin juga perbuatan ini merupakan  hasil  karya dari si raja setan penggetar langit Wi thian-yang?

Kakek latah awet muda gagal unutk memperoleh jawaban, sudah barang tentu si pengemis pikun lebih-lebih tak sanggup untuk menberikan jawabannya.

Dalam sesaat lamanya, kakek yang dikenal sebagai orang yang tahu segala-galanya ini dibuat berdiri tertegun dan tak habis mengerti.

"Ban tua, mengapa budak ini bisa mampus?" tanya pengemis pikun kemudian sambil menghela napas dan menggelengkan kepalanya berulang kali.

Kakek latah  awet muda yang berkerut kening segera menjawab setelah mendengarkan pertanyaan itu.

"Pengemis cilik, bukankah pertanyaan itu sama sekali tidak ada gunanya? Bagaimana mungkin aku siorang tua bisa tahu apa sebabnya dia mati? Mungkin dia sudah bosan hidup,  mungkin juga dia  memang kepingin menjadi dewa yang dipuja-puja!"

Kemudian setelah berhenti sejenak, kemudian ujarnya: "Kemana orang-orang itu pergi? Ayoh cepat kau cari

mereka sampai dapat "

"Baik, baik, boanpwe segera pergi mencari " Setelah memberi hormat,  cepat-cepat pengemis pikun berangkat menuju kederetan rumah yang berada  disamping kiri.

Sebaliknya Kakek latah awet muda sendiri tetap  berdiri ditempat semula sambil memejamkan mata dan  memeras otak.

Selang beberapa saat kemudian...........

Tiba-tiba Kakek latah awet muda membuka matanya kembali, sambil mencorongkan sinar tajam dia menegur:

"Siapa disitu?" "Aku!"

Jawaban tersebut berasal dari suara Oh Put Kui.

"Oohh, rupanya kau sianak muda!?" Kakek latah  awet  muda tertawa.

Oh Put Kui segera berjalan menghampirinya, akan tetapi sewaktu menjumpai Lian Peng yang tergeletak diatas tanah, ia segera berseru agak tertegun:

"Ban tua, bukankah dia adalah Lian Peng?"

"Yaa, kalau bukan dia siapa lagi? Anak muda, kemana perginya kakekmu serta kedua orang budak itu?"

"Sebentarpun mereka akan berdatangan kemari!"  jawab  san pemuda sambil tertawa.

Baru selesai dia berkata, Lan Ciu-sui bersama kedua orang gadis itu sudah muncul dari pintu sebelah kanan.

"Ban loko, dalam gedung ini tiada penghuninya!" seru Lan Ciu-sui begitu muncul dalam ruangan.

Mendadak terdengar Nyoo Siau-sian menjerit kaget lalu berlarian mendekat.

"Bibi Lian " jeritnya pilu. Gadis itu segera berjongkok diatas tanah dan menangis tersedu-sedu.

Walaupun ia sudah mengetahui akan watak serta perangai Lian Peng yang sesungguhnya, namun dia  toh tak bisa menahan diri setelah melihat jenasah Lian Peng membujur diatas tanah, saking pedihnya ia menangis tersedu-sedu.

Selama banyak tahun terakhir ini, mereka telah berkumpul dan bergaul dengan sangat akrab.

Bagaimanapun juga, manusia itu memang  berperasaan, dan tak bisa disalahkan bila Nyoo Siau-sian menangis sedih saat ini, sebab memang wajarlah bila  manusia  memperlihatkan luapan emosinya.

Cepat-cepat Kiau Hui-hui mendekati rekannya  dan berusaha menghibur hatinya.

Cuma Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui seorang yang tidak nampak kaget atau tercengang, malah sambil tertawa dingin, katanya:

"Akhir yang diterima budak ini hanya menunjukkan betapa kejam dan buasnya Wi Thian-yang serta Siau Yau! Saudara Ban, tidak nampak kehidupan didalam gedung berloteng ini, mungkin dua bersaudara Siau telah melarikan diri setelah memperoleh kabar tentang kehadiran kita disini?"

"Aaaah, mustahil, darimana mereka bisa menduga  kalau  kita akan datang kebukit ngo-tay-san ini ?" sahut Kakek latah awet muda seraya tersenyum.

"Tapi kau jangan lupa, saudara Ban tua, kita   sudah berputar selama berapa hari di bukit Ngo-tay-san ini sebelum akhirnya tiba digedung Keng Thian-lo, apa tidak mungkin dua bersaudara Siau mempunyai mata-mata diseputar sini?"

"Haaaaaahhhhhh........ haaaaaaah.............

haaaaaaaaaaaaahhh. Lan lote,  apabil dua bersaudara

Siau  menyingkir  dari sini  hanya disebabkan  kita  semua akan datang mencarinya, mungkin mereka tak berhak lagi disebut sebagai gembong iblis!"

Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui termenung sejenak, kemudian katanya lagi:

"Ehmmmm, benar juga perkataan ini, selamanya Siau Yau hidup dengan santai, orangnya pun sangat sombong dan amat tekebur, andaikata dia tahu bahwa kita akan datang mencarinya, bukan saja dia  tak bakal mengambil langkah seribu, malahan bisa jadi akan menyambut kedatangan kita secara besar-besaran."

"Yaya, mengapa dia  akan  menyambut kedatangan kita secara besar-besaran?" tanya Oh Put Kui.

Lan Cui-siu kembali tertawa.

"Nak, dia sengaja menyambut kedatangan kita tak lebih hanya ingin menunjukkan kepada seluruh orang didunia ini bahwa dia tak takut menghadapi kita. Kau anggap sambutan tersebut dilakukan dengan hati yang tulus? Kau tahu, kedua orang she Siau itu amat membenci yayamu!"

"Yaya, kalau begitu kepergian mereka dikarenakan mempunyai rencana atau maksud lain?"

"Haaaaaaahhhh.............

haaaaahhhh......hhhhhhhhaaaaaahhhhh...... memang demikian keadaannya!" kata Kakek latah awet muda sambil tertawa tergelak, "Hei anak muda, kalian datang lebih duluan, apakah tak sedikit jejakpun yang berhasil kalian temukan?"

Oh Put Kui segera menggelengkan  kepalanya  berulang kali.

Sementara itu Nyoo Siau-sian telah berhenti pula menangis, kepada Kakek latah awet muda katanya:

"Locianpwe bolehkah kukubur jenasah dari bibi Lian?" Kakek latah awet muda tahu kalau  perbuatan tersebut hanya merupakan rasa bakti Nyoo Siau-sian terhadap bekas bibinya itu, dia segera mengangguk:

"Yaa, tentu saja boleh, tapi mengapa kalian  tidak periksakan dili seluruh tubuh dari budak tersebut, coba kalian periksa mungkinkah terdapat sesuatu benda yang bisa menunjukkan kepergian dari Siau Yau bersaudara?"

"Boanpwe memang bermaksud menggantikan pakaian bibi Lian dengan pakaian bersih." sahut gadis itu.

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya pula kepada Kiau Hui-hui:

"Enci Kiau, bersedia membantu aku bukan!" "Tentu saja!"

Sambil berbicara, dua orang gadis itu segera menggotong jenasah dari perempuan bunga dari Thian-ho-wan Lian Peng yang sudah didandani sebagai patung  dewa itu menuju kedalam ruangan sebelah kiri.

Sepeninggal kedua orang gadis itu, Oh Put Kui baru bertanya dengan perasaan tak tenang:

"Ban tua, mana Liok loko?"

"Aku menyuruh dia pergi mencari kalian," sahut Kakek latah awet muda sambil tertawa, "tapi nampaknya pengemis cilik itu memang benar-benar tak becus, begitu pergi dia seolah-oleh  tak mampu balik kembali, masa sampai sekarang pun belum nampak batang hidungnya kembali?"

"Ban tua, jangan-jangan sudah terjadi hal yang tak diinginkan. " kata Lan Ciu Sui sambil tertawa.

Didalam gedung ini tak nampak  seorang  manusia hiduppun, bagaimana mungkin bisa terjadi hal-hal yang tak diinginkan?

Sambil menggelengkan kepalanya  Oh Put Kui segera berseru: "Ban  tua,  biar  boanpwe   pergi   menengoknya,   siapa tahu "

Belum habis tanya jawab dari kedua orang itu, mendadak dari balik ruangan sebelah kiri sudah berkumandang datang jeritan si pengemis pikun yang amat keras  bagaikan babi disembilih:

"Ban   tua...........   empek  jenggot  putih kongkong

mampus.......... tolong......... tolong "

SEcepat sambaran kilat Oh Put Kui segera berkelebat menuju kedepan dan menerjang kedalam kesederetan bangunan rumah disebelah kiri itu.

Kakek latah awet muda serta Peng-goan-koay-kek Lan Ciu- sui segera menyusul pula dibelakangnya.

SEtelah melalui lima buah ruangan, akhirnya mereka temukan kembali pengemis pikun.

Ternyata tubuh pengemis pikun sudah terjepit oleh tiga  buah gelang besi yang besar sekali.

Menyaksikan keadaan itu, Kakek latah awet muda segera berseru sambil tertawa:

"Huuuhhh........ tak nyana si pengemis cilik masih tak tahu rikuh untuk berteriak minta tolong, andaikata bukan lantaran kemaruk harta, mungkin dia tak akan menderita pula, keadaan yang begitu mengenaskan. "

Bagaimanakah keadaan yang sesungguhnya   dari pengemis itu?

Bahkan Oh Put Kui sendiripun tak bisa menahan rasa gelinya dan tertawa tergelak.

Ternyata ruangan itu merupakan sebuah kamar tidur.

Waktu itu leher, sepasang tangan serta sepasang kaki si pengemis pikun telah terjepit oleh gelang besi yang dihubungkan dengan seutas rantai besar, ujung dari rantai tersebut terletak pada sebuah peti besar. Penutup dari peti besar itu, kini sudah terbuka lebar.

Dilihat dari pemandangan tersebut dapatlah disimpulkan bahwa sipengemis pikun telah membuka peti itu dan berusaha mencari barang berharga, siapa tahu dia telah menyentuh alat rahasia sehingga tubuhnya terjepit oleh gelang besi dan terantai disitu.

Sambil menempelkan wajahnya diatas peti karena jengah, pengemis pikun kembali berteriak:

"Saudara Oh, cepat bebaskan aku "

Sambil tertawa Oh Put Kui maju kemuka  lalu menjepit gelang besi tersebut dengan jepitan jari tangannya, sekali pencetan saja gelang-gelang besi tersebut sudah  patah menjadi dua.

Dengan lemas pengemis pikun  terjatuh kebawah dan tergelak diatas tanah.

Tapi dengan jatuhnya sang badan kelantai, dari sakunya segera berhamburan pula  kepingan-kepingan  uang  perak yang amat banyak jumlahnya.

Menyaksikan hal ini, Oh Put Kui kembali berseru sambil tertawa tergelak:

"Liok koko,     kali ini kau betul-betul bakal kaya mendadak. "

Sambil tertawa Kakek latah awet muda berseru pula:

"Hey pengemis cilik, kalau begitu beberapa ekor kudamu tidak sia-sia terbuang, aku lihat harta kekayaan yang  tersimpan dalam gedung Keng-thian-lo ini tak sedikit jumlahnya, asal kau sanggup unutk membawanya semua, tak ada salahnya bila kau penuhi sakumu dengan benda-benda tersebut."

Pengemis pikun menghela napas panjang,  sambil merangkak bangun dari atas tanah, katanya: "Ban tua, lain kali boanpwe tidak kepingin  memperoleh uang lagi. "

"Waaaaah, pasti akan  menyulitkan  dirimu," seru  Kakek latah awet muda tertawa, "tapi akan kubuktikan perkataanmu itu! Nah pengemis, kecuali uang-uang perak tersebut apakah kau berhasil menemukan sesuatu  benda  yang mencurigakan?"

"Tidak, apapun tidak berhasil kutemukan!" sahut pengemis pikun sambil menggeleng.

Dengan kening berkerut Kakek latah awet muda segera berpaling kearah Lan Ciu-sui, kemudian katanya lagi:

"Lote, jangan-jangan kedatangan kita kemari hanya perjalanan yang sia-sia?"

"Yaaa, mungkin juga!" jawab Peng-goan-koay-kek Lan Ciu- sui tertawa.

Tapi setelah berhenti sejenak, tiba-tiba ujarnya lagi:

"Ban tua, bagaimanapun juga aku tetap merasakan sesuatu yang tak beres!"

"Apa yang tak beres?"

@oodwoo@