Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 17

 Jilid 17

"Omintohud, perkataan sicu terlampau serius!" kata Hui-in taysu sambil merangkap tangannya didepan dada, "ayah mu telah memberikan kebahagiaan bagi umat persilatan, budi kebaikannya tersebar sampai dimana-mana, bagaimana mungkin lolap sekalian akan berpeluk tangan belaka dalam peristiwa ini? Asalkan  dapat membalaskan dendam bagi kematian Kakel malaikat, meski lolap sekalian harus mengorbankan selembar jiwapun kami bela. "

Sekilas warna semu merah menghiasi pula wajah Han- sian-hui-kiam Wici Bin, agaknya diapun agak emosi.

"Saudara Nyoo, mari kita berangkat sekarang juga ke ibokota!" serunya.

Seraya berkata dia lantas melompat bangun.

"Wici lote," kata Cui-sian siangjin sambil tertawa, "apakah kau akan pergi tanpa pamit dulu dengan tuan rumah?"

Wici Bin tertawa dingin.

"Taysu, apa sih maksud kedatagnan kita kemari? Memangnya kita datang untuk memberi muka kepada  manusia malaikat berpenyakitan Lamkiong Ceng? Berapa besar sih pamor dari Lamkiong Ceng tersebut ?"

"Tentu saja, pamornya tak pantas  untuk  kita  hormati," sambung Bwee Kun-peng sambil tertawa.

"Yaa, rasanya pinto sekalian memang belum perlu untuk mencari muka dengan mereka!" sambung Hiang-leng tootiang sambil tertawa pula.

"Itulah sebabnya aku rasa lebih baik kita tak  usah berpamitan lagio dengan mereka"sambung wici Bin cepat sambil tertawa dingin.

Cui-siun sanjin memandang sekejap kearah Hui sin taysu, kemudian setelah tertawa getir dia berkata :

"Bila pergi tanpa pamit, apakah perbuatan ini tidak akan menurunkan derajat sendiri?"

"Kalau begitu tinggalkan saja beberapa tulisan?" ucap Hui- sin taysu kemudian sambil tertawa sedih. Baru selesai dia berkata, Wici Bin telah menyambar pena yang berada di meja dan menulis beberapa huruf besar di atas dinding ruangan :

"Kami hatuskan banyak terima kasih atas pelayanan anda

!"

Kemudian sambil tertawa dia berseru:

"Ayo berangkat !"

Tanpa mengucapkan sesuatu lagi berangkatlah ke enam

sosok bayangan manusia itu meninggalkan tempat tersebut.

Kepergian ke lima ciangbunjin dan majikan muda gedung Sian-hon-hu pedang kilat naga sakti Nyoo Ban-bu tanpa pamit sama sekali tidak menggemparkan tuan rumah maupun para tamu yang berada di perkampungan Siu-ning-ceng.

Perjamuan yang meriah  berlangsung terus  menerus sampai setengah bulan lamanya.

Kian hari pari jago persilatan yang menghadiri  perjamuan pun semakin bertambah kurang.

Tapi jago-jago dari golongan rimba hijau justru makin hari semakin bertambah banyak.

Ketika mencapai hari yang ke lima belas, satu-satunya jago persilatan yang belum pergi dari situ hanyalah Pat-huang-it- koay kakek setan berhati cacad Siau Lun seorang.

Mungkin gembong iblis tua ini ingin berkumpul  lebih  lama lagi dengan sobat lamanya yang mengangkat nama bersama- sama dia, si kakek pelenyap hati Hui Lok, oleh sebab itu dia tetap tinggal disitu.

Kit Hu-seng, Ciu It-ceng dan Leng Seng luan telah berpamitan pada hari ke empat.

Oh Put-kui dan  Lok Sin-kay berpamitan pada hari ke sepuluh. Sewaktu hendak pergi meninggalkan  tempat,  secara khusus Jian-lihu-siu (kakek menyender) Leng Siau-tian menghantar mereka sampai sejauh sepuluh li.

Leng lojin minta kepada Oh Put-ui agar seusainya melakukan pekerjaan sudi mampir di Bu-lim-tit-it-po (Beteng nomor wahid dunia persilatan), karena tempat itu tak jauh letaknya dari Ci-lian san, sedang Oh Put-kui hendak pergi ke bukit Ci-lian-san.

Oh Put-kui mengabulkan permintaan tersebut.

Hal ini bukan dikarenakan Leng lojin mendesaknya terus.

Rupanya ada sepasang masa yang jeli dan bening secara diam-siam memohon kepadanya, dia tak  tega  untuk menampik permintaan dari pemilik sepasang mata  yang  jeli itu.

Oleh sebab itu dia mengabulkan permintaan mana.

Dia berjanji akan berkunjung ke Bu-lim-tit-it-poo seusainya melakukan pekerjaan di bukit Ci-lian-san nanti.

Oh put-kui tidak terbiasa menunggang kuda,  ia terbiasa berkelana, terbiasa pula berjalan kaki.

Baginya menunggang kuda malah sangat merepotkan.

Si Pengemis pikun menunggang kuda sambil membawakan lagu Lian-hoa-lok, sambil menyanyi mulutnya tak henti sibuk pula mengunyah kueh yang diperolehnya dair perkampungan Siu-ning-ceng tadi.

Bayangkan saja kalau ada orang mengunyah makanan sambil menyanyi, hancur pasti suara nyanyiannya.

Maka tak heran kalau nyanyian Lian-hoa-lok yang dibawakan olehnya itu membuat orang merasa bising  dan kesal.

Oh Put-kui benar-benar tak kuat menahan kesemuanya itu. Baginya jauh lebih enak mendengar suara ranting yang bergoyang terhembus angin ketimbang mendengarkan suara sengak yang tak sedap didengar itu.

Dua ekor kuda jempolan membawa dua tokoh persilatan yang gagah perkasa, tidak sampai seharian sampailah mereka di pegunungan Ci-lian-san.

Dengan hadiah sekeping uang perak,  Oh  Put-kui menitipkan kudanya di rumah seorang petani, lalu menghembuskan napas panjang, kepada si Pengemis pikun serunya sambil tertawa.

"Lok loko, waaah.....binatang  itu  benar-benar  telah menyiksa aku !"

"Lote, dasar kau memang ditakdirkan bernasib kere, ada binatang yang mewakili kakimu, kau malah merasa tersiksa.....huuuhh, dasar jiwa kera....." seru Pengemis pikun setelah tertegun beberapa saat.

Oh Put Kui tertawa.

"Meskipun jiwa siaute jiwa kere, aku mah enggan untuk menjadi ketua Kay-pang."

Tak tahan Pengemis pikun tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan itu.

"Saudaraku, kau memang terlalu besar ambisi, siapa sih yang menyuruh kau menjadi ketua  Kay-pang ? Kalau kau sampai menjadi ketua kami, waaahh....anggotanya bisa lebih miskin lagi sampai membeli celanapun tak punya uang !"

"Haaahh......haaahhh.......haaahh.....benar, tepat sekali ucapanmu itu." Oh Put Kui tertawa terbahak-bahak, "coba balau bukan demikian, aku tentu akan mencoba untuk menjadi ketua Kay-pang. "

"Lebih baik jangan kau coba, kalau tidak bisa jadi aku pengemis tua terpaksa harus berkhianat" Sambil bergurau mereka berdua  meneruskan perjalanannya menelusuri jalan setapak menuju ke  atas gunung.

Setelah melalui empat buah tebing rendah habis sudah kesabaran pengemis pikun.

"Saudaraku, mungkinkah keparat she Ban itu tak akan datang kemarin ?

Oh Put Kui segera menggeleng.

Seandainya kau, mungkinkah kau tak akan kemari ?" "Mengapa tidak datang ? Memangnya dalam loteng kecil itu

terdapat sesuatu yang bisa diharapkan ?" sahut pengemis pikun sambil tertegun.

"Nah, itulah dia ! Makanya kakek Ban pasti akan datang kemari "

"Kalau datang seharusnya sudah datang, jangan-jangan dia menunggu kita dimulut lembah Sin-mo-kok ?"

"Bisa jadi demikian " Oh Put Kui tertawa.

Belum habis dia  berkata, mendadak  tampak sesosok bayangan manusia meluncur datang dari tengah udara.

Pengemis pikun yang berada  di depan menjadi amat terperanjat, buru-buru dia mengayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan ke depan.

"Bluuuuukkk "

Bayangan manusia yang meluncur datang dari  tengah udara itu segera terhajar telak dadanya oleh tenaga pukulan dari Pengemis pikun tersebut.

Namun anehnya, meskipun serangan dari Pengemis pikun itu bersarang telak ditubuh lawan, namun alhasil bagaikan menghantam diatas  sebuah benda yang sama sekali tak bertenaga. Baru saja Pengemis pikun berseru tertahan, bayangan manusia itu sudah meluncur kembali ke tengah udara.

Tiba-tiba saja bayangan hitam itu menerkam lagi dengan kecepatan luar biasa.

Tergopoh-gopoh Pengemis pikun mengayunkan sepasang telapan tangannya ke  depan, sepenuh  tenaga  dia menghantam bayangan hitam tersebut.

Tapi bayangan hitam itu sudah menerjang lagi dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

Seketika itu juga sekujur badan Pengemis pikun terkurung oleh bayangan hitam tadi.

Oh-put-kui yang berada disisi arena sampai tertegun menyaksikan peristiwa ini.

Sebab semua peristiwa itu berlangsung dalam  waktu singkat, belum sempat dia menggerakkan badannya pengemis pikun itu sudah tercengkeram oleh bayangan hitam itu.

Kalau dibilang tercengkeram maka lebih tepat kalau seluruh badan pengemis pikun itu terkurung ketat.

Waktu itu, bayangan hitam tadi sudah mengurung sekujur badan pengemis pikun sehingga tak terlihat lagi.

Dengusan bergema dari mulut si pengemis pikun, dengan terkejut buru-buru Oh put-kui siap melancarkan serangan untuk menolong.

"Bocah muda, jangan urusi dia, biar pengemis busuk ini merasakan sedikit pelajaran, siapa suruh dia menyebutku tua bangka dibelakang orang !"

Kalau didengar dari suaranya, ternyata  orang itu adalah kakek latah awet muda.

Oh Put-kui segera menarik kembali tangannya yang siap melancarkan serangan itu. Berpaling kemuka, ia melihat diatas sebatang pohon siong raksasa lebih kurang tiga kaki di hadapannya duduk seorang kakek berambut putih yang berjubah panjang, dia tak lain  adalah Bau Sik thong adanya.

Sambil menggantungkan kakinya kebawah dan memutar sepasang tangannya, dia membuat muka setan kearah Oh Put-kui.

Ketika Oh Put-kui berpaling ke arah pengemis pikun, waktu itu sang pengemis pikun, sedang dibuat  kalang  kabut  setengah mati, sementara dari balik hitam  itu  menongol sebuah kepala.

Oh Put kui tak bisa menahan rasa gelinya lagi, dia segera tertawa terbahak-bahak.

Ternyata gumpalan bayangan hitam itu tak lain adalah sebuah pakaian milik Put-lo hu ang-siu (kakek latah awet muda).

Sekalipun begitu, pengemis pikun  sudah cukup dibuat kalang kabut tak karuan.

Sambil tertawa terbahak-bahak Put-lo-hu ang-su menuding ke arah pengemis pikun sembari berseru :

"Pengemis busuk, tenaga  pukulanmu masih  terlampau cetek "

Sementara itu pengemis pikun telah berhasil melepaskan jubah panjang tersebut dari atas kepalanya, kontan saja dia mencak-mencak sambil mengumpat :

"Sialan, kau berani mempermainkan aku. "

Belum habis dia  berkata, tiba-tiba  jubah panjang yang berada ditangannya itu melayang kembali ke udara.

Pengemis pikun sudah merasakan penderitaan oleh jubah mana, maka melihat jubah tersebut melayang ke udara, kotan saja dia menjatuhkan diri bergelinding di atas tanah. Pada dasarnya dia berperawakan rendah  lagi  kurus, apalagi sedang merendahkan tubuhnya, maka gelindingannya itu mirip sekali dengan baskom air, dalam waktu singkat dia sudah berada sejauh dua kaki lebih dari tempat semula.

Sambil tertawa terbahak-bahak Put-lo-hu ang-siu berseru kepada Oh Put-kui :

"Haaahhh.....haaahh........haaaahhhhh.....bocah muda, pernah melihat telur busuk menggelinding? Permainan dari pengemis busuk itu memang indah sekali ?"

Ditengah gelak tertawanya, jubah hitam  jadi  tahu-tahu sudah melayang kembali ke tangannya.

"Ban tua,"  ujar Oh Put Kui kemudian  sambil tertawa, "permainan jubah panjang jaring terbang menangkap kura- kura emasmu sungguh hebat ! Baru pertama kali ini selama hidup boanpwe menyaksikan demonstrasi yang begitu indah."

"Haaahh........haaahh......haaahh.      bocah  muda, julukanmu

memang tepat sekali," seru Put-lo-huagn-siu, "jubah panjang jaring terbang menangkap kura-kura  emas....tepat ! Tepat sekali !  Pengemis  busuk itu memang seekor kura-kura emas !"

Tapi sejenak  kemudian dia sudah berteriak kembali : "Kurang cocok,  kurang  cocok !  Gara-gara  pengemis busuk

ini menggelinding  di atas tanah,  jubah  panjang baruku menjadi

hitam dan kotor. Dia harus disebut kura-kura busuk !"

Mendadak itu, Oh Put Kui  tertawa  terpingkal-pingkal sampai terbungkuk-bungkuk.

Tapi pengemis pikun Lok Jin ki yang baru saja merangkak bangun menjadi sewot dan mencak-mencak sambil mencaci maki.

"Sialan, sialan, kurang ajar betul.....................kalian yang tua maupun yang muda sama-sama telur busuknya !" Menyaksikan keadaan pengemis pikun  Lok Jin-ki yang mengenaskan itu, gelak tertawa Oh Put Kui yang sebenarnya mulai mereda, sekarang meledak dan berderai kembali.

Dengan langkah lebar Put-lo-huang-siu berjalan kehadapan pengemis pikun, kemudian sekali mencengkeram dia mengangkat tubuhnya seperti menangkap anak ayam saja.

Kini Oh Put Kui baru tahu kalau perawakan tubuh Kakek latah awet muda Ban Sik-hong ini satu kali lipat lebih besar daripada perawatak tubuh pengemis pikun.

"Ayo jawab,  kau masih berani mengumpat lagi tidak?

Pengemis busuk. " hardiknya.

Dicengkeram macam anak ayam, pengemis pikun menjadi ketakutan setengah mati, buru-buru dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak..........tidak tidak berani !"

Put-long-huang-siu segera menggetarkan tangannya, tubuh pengemis pikun segera terlempar ke udara sehingga jatuh  berjumpalitan.

"Sudah berapa ratus kali kuampuni kau si....si pengemis busuk....?" teriak Put lo-huagn-siu  sambil  menarik-narik rambut ubannya.

Pengemis pikun melejit dan melompat bangun dari atas tanah, kemudian setelah membersihkan tubuhnya dari debu, dengan mata melotot dan sikap rikuh sahutnya sambil tertawa

:

"Agaknya...........agaknya keseratus tiga puluh tujuh kalinya "

Put-lo-huang-siu tertawa tergelak. "Haaahh............haaahh............haaahh............betul ini

adalah yang keseratus tiga puluh tujuh kalinya, bagaimanapun juga  umurmu   memang   masih  muda  enam   puluh  sembilan tahun daripada aku, tentu saja daya ingatmu jauh lebih baik daripada aku sendiri."

Oh-put-kui yang mendengar perkataan itu tak bisa menahan diri lagi, ia segera tertawa terbahak-bahak.

Mungkin pengemis pikun tidak berani melawan Put-lo- huang-siu, tapi tidak demikian dengan Oh-put-kui.

Begitu anak muda tersebut tertawa, kontan saja dia melototkan sepasang matanya bulat.

"Saudaraku, rupanya kau senang melihat aku menderita ? Baik, tunggu saja nanti ! Asal kau berani berkumpul bersama  tua bangka celaka ini, pasti ada permainan yang sedan untuk kau nikmati."

"Mungkin hal itu benar." Oh Put Kui menggeleng,  tapi paling tidak bukan berada di depan mata sekarang !"

"Bocah muda, perkataanmu itu memang benar," sela Put- lo-huang-situ dengan cepat, "apabila kau ingin bermain kembangan, bila kau telah dewasa nanti,  aku pasti akan melayanimu sampai puas."

"Nah bagaimana?" ejek pengemis pikun sambil tertawa tergelak, "tunggu saja tanggal mainnya saudaraku !"

Oh Put Kui masih saja tertawa hambar.

"Bila urusan yang penting telah selesai, boanpwe pasti akan menemani Ban tua buat bermain-main !" ucapnya.

Put-lo-huang-siu yang mendengar ucapan itu lantas saja menjadi mencak-mencak kegusaran.

"Bocah keparat, tampaknya  kau lebih becus ketimbang pengemis busuk itu ! Hei pengemis busuk, kau dengar tidak ? Orang lain begitu gagah, tidak pengecut macam kau saja !"

Pengemis pikun bertepuk tangan sambil bersorak sorai. "Asalkan kau tidak mencariku, soal becus atau tidak bukan

masalah buat aku si pengemis. " "Itu tak mungkin, aku sudah terbiasa bergaul dengan kaum miskin, jadi meskipun kau tidak ingin berhubungan dengan akupun tak mungkin, lohu akan segera menjadi hu-ting Beng untuk minta orang.....

Oh Put Kui tertawa sendiri setelah mendengar perkataan  itu, pikirnya kemudian.

"Orang tua itu benar-benar berhati lurus orang lain enggan berhubungan dengannya, teryata dia hendak  mencari ketuanya untuk menuntut orang. "

Pada saat itulah pengemis pikun buru-buru berseru : "Sayang sekali locianpwe, guru aku si pengemis tua sudah

tidak menerima tamu lagi."

"Benarkah begitu?" Put-lo-huang-siu tertawa, "pengemis cilik, apakah gurumu tidak menjadi ciangbunjin lagi ?"

Mendengar ucapan mana, dengan wajah serius Pengemis pikun menyahut :

"Gutuku sudah mengundurkan diri !"

"Gurumu itu benar-benar tak becus, kalau tidak menjadi ketua, dia ingin menjadi apa ?"

"Guruku suka akan kebebasan, oleh sebab itu dia tak ingin menjadi seorang ketua  yang terikat gerak-geriknya. "

Put-lo-huang-siu segera tertawa terbahak-bahak. "Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh kehidupa

n bebas kentut anjing, paling-paling dia  malas dan  ogak bekerja."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan mata melotot besar dia berkata lagi :

"Lantas siapa yang telah menjabat  kedudukkan sebagai ciangbujin ?"

"Konsun toa-suheng !" Kembali kakek  latah  awet muda tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh begitu

gurunya begitu pula penggantinya. Hu Teng-beng memang rongsokan yang tak becus, maka dia mencari Konsun  Lian yang tidak doyan tertawa utnuk meneruskan jabatannya  !  Coba kalau aku, sudah pasti aku akan mencari ji-suhengmu pengemis pengembara Lui Sian-bu untuk memangku  jabatan itu "

"Untung saja bukan kau yang memilih. "

"Hmmm, memangnya aku tidak berhak untuk melakukan pemilihan tersebut ?"

Dipelototi oleh kakek tersebutm pengemis pikun menjadi amat terperanjat, buru-buru dia berkata :

"Berhak, berhak ! Kau orang tua adalah seorang tokoh silat yang berkedudukan tinggi, kedudukannya diatas semua ketua dari pelbagai partai tentu saja kau sangat berhak "

Jangan dilihat pengemis pikun itu bodoh, ucapan yang diutarakan kontan saja membuat Put-lo-huang siu senangnya setengah mati.

Put-lo-huang-siu tertawa terbahak-bahak : "Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh sangat

berarti, sangat berarti ! Pengemis busuk, coba kau  lihat, apakah gayaku mirip sekali dengan gaya seorang tokoh silat yang berkedudukan diatas para ciangbunjin lainnya ?"

Sambil berkata dia mencabut tiga lembar rambut putih dari atas kepalanya.

Kemudian setelah membenahi jubahnya dan membusungkan dada, dengan gaya yang dibuat-buat dia maju beberapa langkah ke arah depan.

"Nah, mirip tidak ?" serunya.

Pengemis pikun segera menutupi mulutnya menahan rasa geli, kemudian setelah mendengus sahutnya : "Mirip ! Mirip sekali ! Pada hakekatnya mirip malaikat dari kahyangan "

Dengan bangga Put-lo-huagn-situ tertawa tergelak, kemudian sambil berpaling ke arah Oh Put Kui katanya pula :

"Bocah muda, bagiamana penurut pendapatmu ?"

Waktu itu Oh Put Kui sudah kegelian setengah mati hingga napasnya seperti menjadi sesak, mendengar pertanyaan tersebut, sahutnya dengan cepat :

"Meski tidak tepat keseluruhannya tapi berbeda pun tidak

banyak "

"Kenapa? Kau tidak puas?" Put-lo huang-siu merasa agak tertegun oleh perkataan mana.

Oh Put Kui tertawa.

"Bukan begitu.......cuma kau kelewat kurus lagi jangkung, tidak mencerminkan  wajah  orang   yang   punya   rejeni besar. "

Put-lo-huang-sia segera tertawa tergelak. "Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh cuma

begitu saja ?"

"Begitupun sebenarnya sudah lebih dari cukup. " pikir Oh

Put Kui dihati.

Namun diluar segera sahutnya :

"Yaaa, hanya dalam hal itu saja yang agak mirip."

"Kalau cuma itu mah gampang sekali, aku akan segera berubah sedikit bentuk wajah dan perawakanku !"

Ucapan ini segera membuat Oh Put Kui terkejut.

Dia tidak habis mengerti dengan cara apakah  tua  bangka  ini akan merubah dirinya ?

Maka dengan  perasaan tercengang dan  ingin tahu dia berseru : "Kau orang tua dapat merubah diri ?"

"Tentu saja! Kalau tidak mana mungkin aku bisa dikatakan sebagai manusia yang serba bisa?"

Pengemis pikun yang berada disisi arena segera bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh kalau

begitu     beribahlah, berubahlah menjadi seekor kura- kura. "

Belum habis kata  tersebut diutarakan, cepat-cepat dia menutup mulutnya kembali.

Untung saja Oh Put Kui menimpali :

"Boanpwe sangat tidak percaya dengan ucapanmu itu."

Tiba-tiba Put-lo-huang-siu tertawa aneh, kemudian ujarnya sambil tersenyum :

"Bocah muda, kau ingin membuktikan sendiri perkataanku tadi ?"

Oh Put Kui memang ingin membuktikan dengan  mata kepala sendiri atas ucapannya itu.

Put-lo-huang-sium tertawa terbahak-bahak,  mendadak  ia menggetarkan sepasang bajunya, rambut putihnya bergetar keras dan tubuhnya yang jangkung lagi kurus itu tiba-tiba saja menyusut menjadi satu depa lebih pendek.

Bukan begitu saja, dengan makin pendeknya sang tubuh maka badannyapun makin menjadi gemuk.

Dengan perasaan terkesiap Oh Put Kui tertawa, lalu serunya :

"Ban tua, ilmu sakti perubah bentuk badan ini sungguh hebat dan luar biasa!"

"Bocah busuk, kau bilang ilmu apa ? Ilmu perubah bentuk badan. ?" "Memangnya masih ada nama lain ?"

"Tentu saja, kepandaian sakti itu bernama Tah-thian sin- kang (ilmu sakti perogoh langit)!"

"Ilmu sakti perogoh langit?" Oh Put Kui tertegun dan berdiri melongo.

Ia belum pernah mendengar nama tersebut, pada hakekatnya mendengar orang berkatapun tidak.

Bukan cuma dia, pengemis pikun sendiripun dibikin berdiri bodoh.....

Sejak kapan dalam dunia persilatan terdapat ilmu sakti perogoh langit?

"Boanpwe kurang berpengalaman sehingga nama itu belum pernah kudengar....Ban tua apakah kau orang tua yang memberi nama sendiri atas kepandaianmu itu ?"

Put-lo-huang-situ tertawa terbahak-bahak. "Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh memang

nya tidak boleh untuk memberi nama atas sebuah kepandaian yang diciptakannya sendiri ?"

Oh Put Kui tertawa.

"Apabila orang persilatan dapat menciptakan semacam kepandaian sakti, maka hal mana merupakan suatu peristiwa besar yang pantas  dikagumi. Mengapa sih kau orang tua mencurigai sikap orang lain. ?"

"Kalau kudengar dari nada pembicaraanmu itu, tampaknya kau tak percaya dengan perkataan lohu !"

"Boanpwe tidak brani, boanpwe justru sangat kagum dan hormat padamu."

"Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh sudah

seharusnya memang demikian !"

Sikapnya saat ini berbeda sekali dengan sikapnya  tadi, memang   tak    salah   lagi   kalau   dia nampak keren dan berwibawa sekali, cuma wajahnya masih tetap memancarkan sifat kekanak-kanakan.

Pengemis pikun yang berada di sisinya kembali menyindir : "Loacianpwe, tampangmu sekarang memang mirip sekali

dengan tampang tokoh silat yang dikagumi dan dihormati  orang !"

Pengemis pikun mengerling sekejap ke arahnya, kemucian berkata :

"Pengemis busuk, aku tahu kalau perkataanmu itu macam kentut anjing semua!"

Lalu sambil berpaling ke arah Oh Put Kui katanya lebih jauh

:

"Bagaimana menurut pendapatmu bocah muda ?" Oh Put Kui tertawa.

"Yaa,  memang rada miri ! Cuma. "

Belum habis perkataan  itu diutarakan, si kakek sudah

berkerut kening.

"Cuma kenapa lagi? Aaaai....si bocah muda benar-benar sukar dihadapi "

Oh Put Kui yang mendengar perkataan tersebut segera tertawa geli dibuatnya.

Sulit untuk dihadapi ?

Kau mirip dengan tokoh silat atau tidak, apa pula sangkut pautnya denganku ?

Cuma diluaran ia tetap berkata :

"Aku lihat wajahmu itu menunjukkan sikap yang kelewat binal. "

Put-lo-huang-siu tertawa geli oleh perkataan itu. "Waaah, kalau soal ini mah tak bisa di rubah lagi, bocah muda, lohu sudah hidup hampir tiga kali  enam  puluh  tahun, tapi penyakit diwajahku ini tak pernah berhasil kurobah."

"Locianpwe polos dan jujur, tentu saja hal ini sukar untuk dirubah "

"Haaahhh................haaahhhh............

haaahhhh............benar-benar sekali, aku memang polos dan jujur, Put-lo-huang-siu tertawa tergelak, "bocah mudah, bagaimana kalau kita membentuk partai jujur dan polos ? Kau sebagai ketuanya dan aku "

Setelah termenung sejenak, dia melanjutkan sambil tertawa

:

"Biar aku sebagai pembantunya saja !"

Baru saja Oh Put Kui hendak membuka mulut, Pengemis

pikun yang berada disisinya sudah berteriak keras : "Kau seharusnya menjadi Tay-sang ciang-bunjin !"

Tiba-tiba paras musa Put-lo-huagn-siu berubah menjadi merah padam, serunya :

"Waaah, hal ini mana boleh jadi? Lohu sangat senang dengan bocah muda ini, apabila aku menjadi Tay-sang ciangbunjin, toh akibatnya aku tak dapat duduk sejajar dengannya? Dia pasti akan bersikap hormat, gugup dan munduk-munduk bila bertemu aku.......waaah,  ini  kurang sedap! Pengemis busuk, idemu itu kurang  cocok  dan berkenan dihati. "

Oh Put Kui yang mendengar ocehannya itu diam-diam merasa kegelian sendiri.

Ban Sik-thong benar-benar seorang manusia yang  polos dan lucu.....

Untuk mendirikan suatu partai  dalam dunia persilatan sesungguhnya bukan suatu pekerjaan yang  gampang, tapi kakek itu berbicara dengan begitu santai, bukanlah hal  ini merupakan sesuatu kejadian yang lucu sekali?

Sambil tertawa pengemis pikun berkata lagi :

"Locianpwe, jika kau mesti menjadi pembantunya, Oh Lote, ini baru mengenaskan namanya!"

Dengan cepat Put-lo-hung-siu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya:

"Mati demi rekan adalah sesuatu yang luhur, pengemis busuk, sia-sia saja kehidupanmu di dunia ini, masa teori semacam inipun tidak kau pahami? Sungguh tak berguna "

"Baik, kalau begitu aku si pengemis akan memberi kedudukan lain untukmu. " seru pengemis pikun lagi.

Lagaknya kali ini pada hakekatnya jauh  lebih  besar daripada Put-lo-huang-siu.

Oh Put Kui menjadi geli rasanya, dia segera berpikir : "Pengemis pikun ini seharusnya dirubah menjadi pengemis

pikun latah "

Sementara itu Put-lo-huang-siu dibikin kegirangan setengah mati, dia segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.............haaahhhh...........haaahhhh. bagus,

bagus sekali, pengemis busuk! Coba katakanlah idemu itu !"

"Lebih baik kau jadi ciangbunjin, saudara cilik ini menjadi pembantumu, sedangkan aku menjadi kasir saja, bagaimana

?"

"Kau sebagai kasir? Buat apa kita mempunyai kasir?" seru Put-lo-huang siu sambil berkerut kening.

Pengemis pikun segera tertawa terbahak-bahak.

"Sewaktu pembukaan  nanti, orang pasti akan  memberi hadiah padamu, bila ak ada seorang kasir yang  bisa  dipercaya, bukanlah urusan akan berabe ?" "Tidak bisa," Put-lo-huang-siu menggeleng, "kalau kau si pengemis yang menjadi kasir, itu namanya memendam bakat bagus, lebih baik aku  mencarikan  kedudukan  lain  saja bagimu. "

"Tidak, aku tidak mau, aku ingin menjadi kasir saja." Ngotot pengemis pikun sambil menggeleng.

Bagaikan sedang membujuk anak kecil. Put-lo-huang-siu segera berseru :

"Lok kecil, pengemis baik.....percuma menjadi kasir. Meski kedudukannya lumayan tapi tergantung dari paras  muka orang, bila orang-orang tak senang hati, jau harus membungkukkan badan sambil tertawa, pengemis, masa kau tahan ? Itu bukan pekerjaan yang enak. "

"Tidak ! Tidak ! Aku harus menjadi kasir, aku harus menjadi kasir !" ngotot pengemis pikun.

Melihat dua orang kakek berusia ratusan tahun masih bersikap macam anak kecil saja. Oh Put Kui menjadi meringis sambil menahan gelinya.

Diam-diam dia tertawa terpingkal-pingkal.

Agaknya Put-lo-hung-siu sudah kehabisan  akal, sambil tertawa dia lantas berkata :

"Pengemis cilik, apa sih enaknya menjadi seorang kasir?

Aaaai.........kau memang. "

"Sebagai seorang kasir tentu saja ada enaknya !" kata  pengemis pikun sambil mencibir.

"Coba katakan apa enaknya ? Kalau ada kebaikannya saja, aku pasti akan setuju!"

Tiba-tiba paras muka pengemis pikun berubah menjadi merah padam, katanya :

"Dalam hidupku aku belum banyak  mengenal barang- barang berharga, maka jika aku si pengemis sudah menjadi kasir, pasti akan kupelajari lebih mendalam benda-benda bulat yang berharga itu, sehingga kalau dikemudian  hari aku berkesempatan mendapatnya, benda itu tak sampai kubuang dengan percuma."

Kali ini Oh Put Kui tak sanggup menahan diri lagi, dia  tertawa terpingkal-pingkal sampai terduduk dikursi.

Gelak tertawa Put-lo-huagn-siu pun amat keras sampai menggetarkan seluruh angkasa.

Hanya pengemis pikun seorang tidak tertawa, dia malah bertanya keheranan :

"Mengapa kalian tertawa kegelian?  Aku toh berbicara dengan sejujurnya?"

Benar, ia memang berbicara dengan sejujurnya.

Tapi di dunia ini memang banyak terdapat kejadian aneh.

Semakin jujur seseorang berbicara, sering kali justru semakin membuat sakitnya perut orang yang tertawa kegelian.

Semakin tidak jujur seseorang berbicara malahan  sering kali akan kelihatan kesudian dan keangkerannya.

Setengah harian kemudian, Oh Put Kui baru  dapat menahan rasa gelinya, ia lantas berkata :

"Lok loko, kalau hanya ingin mempelajari soal mutiara atau permata, tidak usah mesti jadi kasir, kau toh bisa minta petunjuk dari orang lain ?"

"Tidak!" kembali pengemis pikun menggeleng,  "apabila kedudukanku hanya sedikit dibawah kalian  berdua  saja, sangat memalukan bila aku mesti belajar dari orang lain cuma dikarenakan pengetahuan semacam itu "

"Apakah kau kuatir orang lain memandang rendah kau si pengemis. "

Sekali lagi paras muka pengemis pikun berubah menjadi merah padam karena jengah sahutnya lagi : "Kalau cuma dipandang rendah  mah urutan kecil, vila pamor lote dan Ban tua sampai merosot, apakah  aku si pengemis bisa menahan diri?"

Mendengar perkataan tersebut, Oh Put Kui segera tertawa. "Nah, begitu baru enak didengar. "

"Apanya yang enak didengar?" tiba-tiba Put-lo-huang-siu mengumpat, "pengemis cilik, tampaknya kau  masih mempunyai sesuatu maksud tertentu!"

"Darimana kau bisa tahu?" pengemis pikun agak tertegun. Tapi setelah berbicara, dia baru tahu salah.

Kalau toh dia memang mempunyai maksud lain, apakah hal ini boleh diutarakan kepada orang lain?"

Oleh sebab itu dia lantas membungkam dalam seribu bahasa dan tidak berbicara lagi.

"Bagaimana? Sudah mengaku?" ejek Put-lo-huang-siu lagi sambil tertawa tergelak.

Kali ini pengemis pikun benar-benar tak dapat berbicara lagi....

Put-lo-huang-siu yang menyaksikan hal ini segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh................haaahhhh............

haaahhhh............sudahlah, jangan  harap kau bisa  menjadi kasir dalam sepanjang hidupmu,  hmmm!  partai  belum didirikan, kau si pengemis sudah berniat jahat dengan maksud hitam makan hitam, hal ini mana boleh jadi?"

Kemudian sambil mencibirkan  bibir  serunya  lagi. "Sudahlah, aku tidak jadi mendirikan partai  polos  dan  jujur lagi lebih baik bubar saja."

Oh Pu Kui yang mendengar perkataan itu kontan saja tertawa terbahak-bahak, pikirnya : "Ini memang tindakan yang bagus, didirikan cepat, dibubarkannya lebih cepat lagi "

"Bubar ya bubar !" kata pengemis pikun sambil mencibir, "biar miskin aku si pengemis tak akan sampai miskinya luar biasa, apalagi dalam sakuku masih ada beberapa lembar ribuan tail emas !"

Rupanya dia teringat kembali dengan lembaran uang emas yang berada di dalam sakunya.

Tiba-tiba Put-lo-huang-siu tertawa dingin, serunya : "Aku tak kepingin, akupun punya. "

Sambil berkata dia mengeluarkan kembali mata uang tembaga yang akan dipakai buat bertaruh lagi dengan pedang sakti bertenaga raksasa Kit Put-sia itu.

Lalu kepada Oh Put Kui katanya sambil tertawa :

"Bocah muda, coba kau lihat, bukanlah uang tembagaku jauh lebih banyak ketimbang uang kertas itu ?"

Oh Put Kui tak mampu menjawab.

Bertemu dengan dua manusia macam mereka, dia cuma dapat tertawa getir belaka.

Sementara itu pengemis pikun telah  mengeluarkan lembaran uang lima ribu tail emas yang masih tersisa dalam sakunya, kemudian setelah digapai-gapaikan di tengah udara, dia mencium uang kertas itu dengan mesra sebelum dimasukkan lagi ke dalam sakunya.

Sayang sekali perbuatannya itu sama sekali  tak diperhatikan oleh Put-lo-huang-siu.

Sorot mata kakek bersipat kanak-kanak ini  hanya mengawasi mata uang tembaganya itu tanpa berkedip.

Berapa saat kemudian, Put-lo-huang-siu baru menghela napas panjang, ujarnya : "Uang, okh uang. bila kau tak dapat mengungguli Kit Put-

sia lagi, aku akan menggigitmu sampai hancur berkeping- keping "

"Ban tua, kali ini kau pasti unggul !" seru Oh Put Kui sambil tertawa.

"Sungguh ?"

Put-lo-huang-siu benar-benar merasa girang sekali.

"Bocah muda, moga-moga saja ucapanmu itu benar, ayo berangkat "

Begitu bilang berangkat, dia benar-benar  berangkat, tampak bayangan hitam berkelebat lewat tahu-tahu bayangan tubuhnya sudah berada sepuluh kaki dari tempat semula.

Oh Put Kui mengelapkan tangannya ke arah pengemis pikus, kemudian tak berayal dia mengejar dibelakang Put-lo- huang-siu.

GERAKAN tubuh Put-lo-huang-siu benar-benar cepat bagaikan sambaran kilat.

Meskipun Oh Put Kui dan pengemis pikun sudah mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki, toh masih tetap ketinggalan sejauh puluhan kaki dibelakangnya, mereka tak pernah berhasil menyusuli kakek berambut putih itu.

Terutama sekali pengemis pikun, bukan saja ia tertinggal sejauh puluhan kaki dibelakang Put-lo-huang-siu, bahkan masih ketinggalan sejauh sepuluh kaki lebih dibelakang  Oh Put Kui.

Sesampainya dimulut lembah Sin-mo-kek, mereka baru berhasil menyusul kakek ini.

Bukan, bukan mereka berhasil menyusul Put-lo-huang-siu, melainkan Ban Sik-thong yang duduk menunggu kedatangan mereka.

"Sudah sampai !" Oh Put Kui mendongakkan kepalanya memandang puncak Thian-cu-hong yang dilapisi salju di depan sana, lalu memandang puncak Gin-yu-hong disisi kananya, dia  tahu mereka sudah sampai ditempat tujuan.

"Biar boanpwe yang berjalan dimuka sebagai pembawa jalan. "

Oh Put Kui tersenyum, dia segera bergerak lebih dulu menuju kedalam mulut lembah yang diapit dua buah bukit itu.

"Tunggu dulu," mendadakPut-lo-huang-siu menghalangi jalan perginya," mari kita beristirahat dulu."

"Boanpwe tidak lelah!"

"Kau mungkin tidak lelah, tapi orang lain sudah kepayahan hampir modar. "

Mendengar ucapan mana, Oh Put Kui segera menyadari apa gerangan yang dimaksudkan.

Dia berpaling kearah pengemis pikun, dijumpainya pengemis itu sedang bermandikan keringat.

Maka sambil tertawa hambar dia duduk : "Boanpwe turut perintah!"

Waktu itu Put-lo-huang-siu sedang duduk diatas sebuah batu gunung dekat mulut lembah, memandang jalan setapak yang membentang hingga kedalam lembah tersebut,  mendadak ujarnya sambil tertawa :

"Dua puluh tahun lewat dengan cepat sekali "

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya sesudah menghala napas :

"Kesalahan bukan dipihak lohu, siapa sih yang bisa menahan diri ?"

Oh Put Kui membungkam dalam seribu bahasa, dia sedang mengatur napas. Sebaliknya pengemis pikun berbaring dengan napas yang terengah-engah.

Mereka semua   membungkam, tak seorangpun yang menjawab pertanyaan dari Put-lo-huang-siu tersebut.

Lebih kurang sepertanak nasi kemudian, mendadak Put-lo- huang-siu tertawa terbahak-bahak sambil berkata lagi.

"Nah anak muda sekalian, sudah cukup, kita harus berangkat !"

Oh Put Kui dan pengemis pikun bersama-sama membuka sepasang mata mereka.

Mendadak sekilas senyuman menghiasi sorot mata Oh Put Kui.

"Kau orang tua."

Ternyata Put-lo-huang-siu yang berada dihadapannya lagi- lagi sudah berubah benduk.

Kini dia berubah menjadi lebih pendek lebih gemuk. "Sewaktu aku berjumlah dengan Kit Put-sia tempo hari,

beginilah tampang wajahku,  maka hari ini akupun ingin menjumpainya lagi dengan tampang semacam ini, hei bocah muda, kau keheranan ?"

"Tidak, aku tak merasa heran !" sahut Oh Put Kui sambil tertawa, "cuma ilmu Toh thian-sin kang milik kau orang tua ini benar-benar memiliki perubahan yang luar biasa sekali, membuat boanpwe merasa bingung saja."

Put lo-huang-siu tertawa aneh.

"Ilmu kepandaian Toh-thian-sin-kang milikku ini  memiliki kemampuan untuk merogoh langit mencipta bumi, tentu saja luar biasa sekali, bocah muda, inginkah  kau  belajar kepandaian ini ?"

"Aaah, boanpwe merasa kalau diriku ini bodoh, kau orang  tua tak usah memikirkannya." Terbelalak lebar mata Put-lo-huang-siu setelah mendengar perkataan itu.

Rupanya dia tak mengira kalau Oh Put Kui bakal menampik tawarannya itu.

"Hei bocah muda, kau sombong amat!" serunya dengan mata melotot.

"Boanpwe tidak sombong, melainkan  menyadari akan keterbatasan kemampuan sendiri, oleh karena itu tak berani memikirkan hal yang bukan-bukan !"

"Heeehh.......heeehh............ heeehh............jadi kau  tak mau mempelajari kepandaian ini?" Put-lo-huang-siu tertawa seram.

"Tak ingin !"

Mendadak berkilat sepasang mata Put-lo-huang-siu, katanya lagi sambil tertawa:

"Tampaknya kau anak muda pernah mempelajari ilmu Sut- kut-sin-kang (ilmu sakti menyusut tulang?")

"Yaa, betul,"

"Kau yakin sudah mencapai berapa bagian tingkat kesempurnaan ?"

Walaupun Oh Put Kui tidak mengerti apa sebabnya Put-lo- huang-siu mengajukan pertanyaan tersebut, namun dia tetap menjawab dengan sejujurnya :

"Apabila boanpwe mengerahkan segenap tenaga  yang kumiliki maka tubuhku bisa menyusut sampai tiga depa lebih !"

Put-lo-huang-siu tertawa terbahak-bahak. "Haaahhh.............haaahhhh...........haaahhhh. tidak

bisa dianggap jelek, bocah muda, dapatkah kau menggunakan tenaga saktimu itu untuk menambah perawakan sendiri ?"

"Boanpwe tidak memiliki kepandaian tersebut." Oh Put Kui menggeleng. Put-lo-huang-siu segera tertawa misterius dan tak mendesak lebih jauh, hanya ujarnya :

"Mari berangkat, kita menangkan dulu Kit Put-sia sebelum membicarakan masalah lain !"

Lagak dari pihak Huang-si-sia (Kota kematian)  sungguh besar sekali.

Baru masuk lembah sedalam setengah li, sudan nampak dinding kota yang tinggi sepanjang lima li.

Diam-diam Oh Put Kui mencoba untuk mengukur luas kota tersebut, ia merasa paling tidak mencapai berapa ribu bau.

Diatas bukti ci-lian-san ternyata  memiliki  tanah  lembah yang begini luas, benar-benar  suatu kejadian yang sama  sekali diluar dugaan siapapun.

Tiba dipinggiran kota, diam-diam Oh Put Kui semakin terperanjat lagi.

Tinggi dinding kota tersebut ternyata mencapai empat kaki lebih.....

Ditambah pula dengan sungai pelindung kota yang digali dengan tenaga manusia, bila ada orang ingin melewati sungai dan memanjat dinding kota itu, paling tidak dia harus mampu melompati sejauh tujuh kaki lebih.

Tak heran kalau kota kematian ini dianggap sementara  umat persilatan sebagai daerah terlarang.

Sekalipun hanya ingin masuk saja sulitnya bukan main.

Kini, mereka berdiri disamping jembatan gantung ditepi sebuah pintu gerbang.

Diatas pintu  gerbang tersebut tercantum sebuah papan nama besar yang bertuliskan tiga huruf besar :

"TIANG-SENG-SIA".

Untuk beberapa saat dia berdiri tertegun, Tiang-seng-sia?

Bukankah mereka hendak mengunjungi kota kematian ? "Ban tua, jangan-jangan kita salah tempat?" kata  Oh  Put Kui kemudian," bukankah kita akan  berkunjung ke kota kematian? Tapi.......coba kau lihat,  bukanlah papan nama diatas pintu kota itu beraksara tiang-seng-sia?"

Put-lo-huang-siu tertawa terbahak-bahak. "Haaahhh.............haaahhhh...........haaahhhh.           sesungg

uhnya   kota  ini  aslinya  bernama  Tiang-seng-sia,   soal nama

kota kematian tak lain hanya merupakan  julukan  yang diberikan sahabat persilatan atas tempat ini !"

Oh Put Kui segera tertawa, ia baru mengerti apa gerangan yang sesungguhnya terjadi.

"Ooh, rupanya kesalahan berita saja "

Ia jadi teringat dengan julukan pulau neraka,  bukankah pulau tersebut sebenarnya bukan bernama pulau neraka ?

Maka dengan cepat dia dapat memahami hubungan antara kota kematian dengan kota Tiang-seng-sia tersebut.

Berbeda sekali dengan reaksi si pengemis  pikun.

"Saudara cilik, aku si pengemis benar-benar dibuat kebingungan, sebenarnya apa sih yang telah  terjadi?" serunya.

"Mungkin orang yang bisa memasuki kota ini jarang sekali bisa keluar dengan selamat, maka beginilah jadinya !"

Pengemis pikun semakin tertegun lagi setelah mendengar ucapan tersebut.

"Meskipun begitu, toh tidak seharusnya berubah nama suatu kota dengan sekehendak hatinya sendiri, teriaknya.

"Mengapa tidak bisa?" Put-lo-huang-siu melotot besar, "pengemis goblok, coba bayangkan saja, barang siapa memasuki kota ini pasti akan mati penasaran,apakah tidak cocok kalau kota ini disebut kota kematian?" "Ooh.....rupanya cuma begitu  ?" seru pengemis pikun setelah kena damprat.

Yaa, sesungguhnya memang cuma begitu.

Tapi kalau Put-lo-huang-siu tidak berkata mungkin sepanjang hidupnya pengemis pikun tak akan mengerti.

Diam-diam Oh Put Kui tertawa geli karena sikap pengemis tersebut.....

Dengan nada mangkel Put-lo-huang-siu mengumpat lagi. "Sebenarnya memang hanya begitu saja, sayang sekali otak kau si pengemis adalah otak udang, maka teori yang begini sederhana pun tidak kau pahami. "

Pengemis pikun menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil tertawa:

"Umpatan dari kau orang tua memang tepat sekali, aku si pengemis  memang  berotak  udang,   benar-benar   tak berguna "

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba dari arah kota bergema, suara ledakan mercon.

Disusun  kemudian  dengan dua ledakan.

Kalau mercon dibunyikan dalam lembah yang bergaung, bayangkan saja betapa nyaringnya suara tersebut.

Oleh karena itu si pengemis pikun dibuat terperanjat sekali. "Waaah, apa-apaan itu ?"

Put-lo-huang-siu tampak bangga sekali, sahutnya dengan cepat :

"Mercon itu dibunyikan sebagai tanda menyambut kedatanganku, lihat saja nanti, Kit Put-sia akan  segera munculkan diri."

Berbicara sampai disitu dia lantas mendongakkan kepalanya dan berteriak keras: "Kit-Put-sia wahai Kit Put-sia, kau bocah dungu tak nanti akan berhasil membelengguku kali ini !"

"Yaa, kau orang tua pasti akan menang!" timbrung Oh Put Kui sambil tertawa.

"Bocah muda, aku betul-betul tak boleh kalah kali ini !"

Pada saat itulah.....Pintu baca yang  tebalnya  setengah depa itu sudah terbentang lebar.

Tiga   orang   kakek berusia di atas delapan puluhan munculkan diri dari balik pintu.

Satu diantaranya segera menjura sambil tertawa tergelak, sapanya :

"Ban tua, selamat bersua kembali !"

Put-lo-huagn siu tidak membalas hormat malah serunya sambil tertawa aneh :

Keparat, kau sudah menangkan uang tembagaku, mengurungku selama dua  puluh tahunan, hari ini baru bertemu sudah menyindir diriku habis-habisan, hal ini benar- benar membuat aku tak tahan!"

Sambil mengomel dia langsung melompat naik keatas jembatan gantung dan bergerak ke depan.

Oh Put Kui dan pengemis pikun segera mengikuti dibelakangnya dengan ketat.

Sementara itu, Oh Put kui sudah memperhatikan sekejap wajah si kakek yang menjura sambil berbicara itu.

Tampaknya pemilik kota kematian yang disebut orang iblis diantara iblis, pedang sakti bertenaga raksasa Kit Put-sia ini jauh berbeda dengan putranya si singa latah pedang iblis.

Dia termasuk seorang kakek ceking yang kurus  mana kering lagi tubuhnya.

Ketinggian badannya tidak sampai setengah depa dari si pengemis pikun. Wajahnya kurus, alisnya  botak,  kepalanya gundul dan jenggot kambingnya sepanjang tiga inci persis menutupi mulutnya yang penyok karena ompong.

Ia mengenakan baju mera yang dibagian dadanya bersulamkan seekor rajawali emas yang sedang mementang sayap.

@oodwoo@
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).