Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 15

 Jilid 15

OH PUT KUI merasa geli sekali sesudah mendengar perkataan itu, hampir saja meledak gelak tertawanya.

Dia tak menyangka kalau gembong iblis tua inipun pandai sekali menggona orang.

Im Tiong hok kelihatan agak tertegus, kemudian  serunya lagi :

"Siau tua, disini hanya kau seorang yang sanggup!" Sebenarnya dia hendak mengatakan begini:

"Hanya kau seorang yang pantas menjadi juri untuk pertaruhan kami," tapi secara tiba-tiba ia teringat kalau ke lima orang ciangbunjin dari lima partai besarpun turut hadir disana, maka terpaksa ucapan mana ditarik kembali mentah-mentah.

Dia tak ingin gara-gara salah ucapan berakibat kemarahan dari para diangbunjin dari lima partai besr itu, sebab hal mana Cuma akan mendatangkan kerugian saja bagi dirinya.

Dari sikapnya ini bisa disimpulkan pula kalau orang ini amat teliti dan berhati-hati dalam setiap tindakannya.

Siau lojin tetap menggelengkan kepalanya seraya berkata : "Bocah muda, lohu enggan menjadi juri ... Cuma lohu bisa

memilihkan penggantinya dengan tepat, biar dia saja yang mewakili lohu dalam menengahi masalah ini !"

Mendengar ucapan terebut, Im Tiong-hok segera berseru sambil tertawa lebar :

"Jika kau orang tua yang pilihkan, hal ini pasti tak bakal salah lagi "

Siau lojin tersenyum, dia segera berpaling ke arah Oh Put- kui sambil bertanya :

"Hei bocah muda. Tolong merepotkan kau sebentar !" "Aku ?" Oh Put-kui tertawa geli, "memangapa kau orang tua musti memberikan kesulitan buat boanpwe ?"

"Anak muda, kau dapat mewakili lohu, kesulitan apa sih  yang kau kuatirkan ?"

Sorot matanya segera dialihkan ke  Im Tiong-hok yang masih berdiri dengan kening berkerut, kemudian melanjutkan :

"Bocah muda ini bernama Oh Put-kui, Long-cu-koay-hiap (pendekar aneh gelandangan) yang termasyur dalam dunia persilatan belakangan ini, tapi bocah ini menyebut  dirinya sebagai si Gelandangan yang tidak kenal siapa-siapa. Bila dia yang mewakili lohu untuk menengahi persoalan ini, tanggung tak bakal terjadi kebocoran-kebocoran yang tak diinginkan, bagaimana ? Puas tidak ?"

Sesungguhnya Im Tion-hok masih berdiri dengan wajah termangu, tapi setelah mengetahui  dia adalah Oh Put-kui, seketika itu juga rasa tertegunnya hilang lenyap  tak membekas, sebagai antinya sekulum senyuman segera tersungging di ujung bibirnya, sahutnya dengan lancang :

"Boanpwe percaya kau orang tua tak bakal salah memilih !" Kemudian sambil mengalihkan sinar matanya ke wajah Oh

Put-kui, dia melanjutkan :

"Saudara Oh, aku orang she Im memohon kesediaan saudara Oh !"

Dengan perasaan apa  boleh buat terpaksa Oh Put-kui bangkit berdiri, ujarnya sambil tertawa :

"Saudara Im kelewat  sungkan ! Siaute kuatir  tak bisa memenuhi harapanmu itu."

Sambil tertawa Im Tiong-hok mempersilahkan Oh Put-kui untuk berjalan lebih dulu.

Oh Put-kui menjura lalu maju ke tengah arena dengan langkah lebar .... Kepada Lamkiong Ceng, Im Tiong-hok  segera berkata sambil tertawa.

"Saudara Lamkiong kenal dengan saudara Oh ?" "Lamkiong Ceng segera tertawa.

"Saudara Oh masih terhitung tuan siaute, tentu saja aku kenal dengannya."

Setelah berhenti sejenak, dia menjura kepada Oh Put-kui sambil berkata :

"Merepotkan saudara Oh saja ?"

Oh Put-kui tersenyum, lagaknya mirip juga dengan seorang angkatan tua dari dunia persilatan.

"Harap kalian berdua berdiri saling berhadapan dengan selisih jarak delapan depa !"

Im Tiong-hok serta Lamkiong ceng menurut sekali, serentakan mereka berdua memisahkan diri kekiri dan kanan lalu berdiri saling berhadapan ....

Mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Put-kui, serunya sambil tertawa :

"Begitu siaute memberi komando,  harap kalian berdua segera melancarkan serangan !"

Mendadak dia berpaling ke arah Mo kiam-huan-say" Singa latah pedang iblis. Kit Hu-seng seraya berseru :

"Saudara Kit, harap kau sudi membantu siaute untuk menghitung jumlah jurus serangan yang mereka lakukan."

"Siaute siap membantu !" sahut Kit Hu-seng sambil bangkit berdiri.

Sambil tertawa kembali Oh Put-kui berkata :

"Jika sudah genap seratus gebrakan dan menang kalah masih belum diketahui, harap saudara Kit sudi memberi tanda agar jangan smapai menyalahi peraturan!" "Siaute mengerti!"

Sambil tertawa Oh Put-kui manggut-manggut,  sorot matanya segera dialihkan kembali ketubuh kedua orang itu, mendadak bentaknya dengan suara parau :

"Mulai !"

Begitu bentakan diutarakan, dua sosok bayangan manusia secepat sambaran kilat menerjang masuk ke tengah arena.

"Bilaaammmm. !"

Begitu maju bertarung, pada jurus yang pertama mereka sudah saling beradu kekerasan satu kali.

Begitu telapak tangan masing masing saling beradu, kedua orang itu segera saling berpisah.

Tapi begitu mundur mereka maju kembali untuk saling beradu kekuatan lebih jauh.

Secara beruntun terjadi tujuh kali benturan nyaring yang menggelepar diseluruh angkasa, sedemikian  hebatnya benturan tersebut membuat seluruh ruangan ikut bergoncang keras.

Tampaknya kedua belah pihak sama sama enggan mengalah, kendatipun dalam peraturan  ditentukan mereka hanya boleh saling menowel saja, namun apa bedanya pertarungan yang sedang berlangsung sekarang  dengan suatu peraturan adu jiwa ?

Im Tiong-hok dan Lamkiong Ceng saling bertarung sepuluh gebrakan lebih, akan tetapi menang kalah masih belum bisa diketahui.

Siapa pun tidak menyangka bahwasanya Im  Tiong-hok yang nampak halus lembut ternyata memiliki tenaga  dalam yang begitu sempurna.

Sebaliknya Lamkiong Ceng yang sebetulnya termashur karena kekuatan pukulannya kali ini tidak berhasil memperlihatkan keunggulan apa apa kendatipun pertarungan adu kekuatan telah berlangsung belasan gebrakan lebih.

Tak heran kalau Lamkiong Ceng menjadi bersedih hati oleh kenyataan tersebut.

Tampak ia menggertak giginya kencang-kencang sementara dari balik matanya mencorong sinar tajam yang menggidikkan hati.

Ditengah suara pekikan nyaring yang menggetar sukma, mendadak tubuhnya melejit setinggi tiga kali setengah udara.

Rupanya dia telah mengeluarkan ilmu andalan dari si kakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok ...

"Aaah, delapan belas pukulan naga terbang!" kedengaran ada orang menjerit kaget.

Memang tak salah lagi, Lamkiong Ceng memang telah mengeluarkan ilmu delapan belas pukulan naga terbang yang maha dahsyat itu.

Begitu tubuhnya melejit ketengah udara, sebuah pukulan segera dilancarkan dengan jurus Cian-liong gi-si (naga sakti mencukur jenggot)

Begitu angin pukulan dilancarkan, tiga kaki disekitar Im- Tiong-hok berdiri segra diliputi oleh hawa serangan yang menggidikkan hati,

Terkesiap hati Im-Tiong-hok  sesudah  menyaksikan kejadian itu, dia tidak menyangka kalau delapan belas pukulan naga terbang ternyata memiliki kedahsyatan yang begitu mengerikan.

Akan tetapi dia adalah seorang ahli yang berpengalaman karenanya meski dibikin terkejut, hatinya tak sampai gugup menghadapi ancaman yang tiba.

Dengan cepat Im-Tiong-hok merendahkan tubuhnya ke bawah, telapak tangan kanannya dibalik dari bawah menuu keatas dan  menyongsong datangnya angin pukulan dari Lamkiong Ceng, segulung angin serangan segera meluncur keluar.

Berbareng itu juga, tangan kirinya diputar dari luar menuju kedalam, kemudian melepaskan sebuah sentilan jari.

Tenaga pukulan Lamkiong Ceng yang berat seperti tindihan bukit Thay-san itu serta merta kena terbendung sehingga tenaga serangan itu miring kesamping.

"Blaaammmm ........!" suara benturan keras yang memekikkan telinga segera bergema diangkasa.

Sebuah lubang sebesar satu kaki segera muncul diatas permukaan lantai yang terdiri dari batu hijau keras itu.

Dari sini bisa diketahui kalau tenaga pukulan dari Lamkiong Ceng tersebut cukup ganas dan mengerikan.

Kawanan jago yang berada di luar ruangan sama-sama menjulurkan lidahnya setelah menyaksikan kejadian ini.

Siapa pun mengetahuinya bahwa batok kepala manusia tidak lebih keras dari pada lantai ubin  hijau  tersebut,  kalau batu yang begitu kers saja kena dihajar berlubang. Apalagi batok kepala manusia."

Begitu serangan Lamkiong Ceng dilancarkan,  tubuhnya meminjam daya pental  tenaga pukulan sendiri melompat mundur sejauh lima depa dari posisi semula.

Im Tiong hok tidak manfaatkan kesempatan tersebut untuk melakukan pengerjaran.

Sesungguhnya dia  bisa saja menggunakan  peluang itu untuk maju mendesak sambil melancarkan serangan balasan, setelah ia berhasil memukul mundur ancaman dari Lemkiong Ceng dengan mengandalkan  ilmu  pukulan  Kan-lei-ciang ajaran Thian-hiun cinjin dan Ciang-mo-ci ajaran It-im taysu tiga orang gurunya.

Namun diapun lantas menduga bahwa Lamkoong  Ceng pasti telah mempersiapkan seangan berikutnya dengan melancarkan delapan belas pukulan naga terbangnya lagi, padahal untuk bergerak ditengah udara, pihak  lawan  jauh lebih cepat dan cekatan daripada diri sendiri.

Sandainya dia  melakukan pengerjaran tersebut, hal ini sama artinya dengan  ia memperlihatkan kelemahan pada pertahanan sendiri, bisa jadi ia sendiri yang justru akan kena dipecundangi.

Itulah sebabnya dia mengambil keputusan untuk  tetap berdiri tenang ditempat semula tanpa bergerak.

Gagal dengan serangannya tadi, Lamkiong Ceng segera menerjang maju lagi sambil melancarkan serangan.

Im-Tiong-hok tertawa terbahak-bahak, dia  mengayunkan telapak tangannya pula menyongsong datangny ancaman tersebut.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah terlibat kembali dalam suatu pertempuran yang benar-benar amat seru.

Kit Hu-seng yang bertugas  menghitung jurus serangan, berdiri disisi arena dengan sepasang mata melotot besar.

"Lima puluh dua... lima puluh enam...... empat puluh. "

Dengan suara keras dia menghitung terus tiada hentinya.

Oh Put Kui sendiripun mengikuti jalannya pertarungan yang sedang berlangsung diarena dengan penuh perhatian.

Bukan saja dia mengawasi menang kalah kedua orang itu dengan seksama, lebih lagi dia perhatikan jurus  serangan yang digunakan kedua orang itu, terlebih-lebih ilmu pukulan delapan pukulan delapan belas pukulan naga terbang milik Lamkiong Ceng.

000d0w000

Setelah diperhatikan sekian lama dia segera menerumakan bahwa ilmu pukulan tersebut memang lihay, apalagi jika bisa memperoleh perubahan-perubhan disana siui, pada hakekatnya merupakan  ilmu pukulan yang ganas,  dasyat, tepat daha mematikan.

Sekilas pandangan, Lamkiong Ceng  yang  bertarung dengan menganlkan ilmu pukulan tersebut memang lihay, apalagi jika bisa memperoleh perubahan-perubahan disana sini, pada hakekatnya merupakan ilmu pukulan yang ganas, dashyat, tepat dah mematikan.

Sekilas pandangan, Lamkiong Ceng  yang  bertarung dengan mengandalkan ilmu depan belas  pukulan  naga terbang seperti berhasil merebut posisi yang menguntungkan, seluruh angkasa seakan-akan sudah dipenuhi oleh bayangan tubuh Lamkiong Ceng saja.

Bahkan suasana diluar ruangan sudah berubah menjadi gadung sekali karena dipenuhi suara tepuk tangan dan sorak sorai dari para jago.

Akan tetapi Oh Put Kui mengerti dengan pasti, taktik pertarungan yang dipakai Im Tiong-hok adalah taktik "menaklukkan gerak dengan ketenangan:, suatu taktik ilmu silat tingkat tinggi.

Percuma saja Lamkiong Ceng menyerang dengan sepenuh tenaga dengan percuma,

Sebaliknya Im Tiong-hok justru berada dalam posisi yang lebih menguntungkan, sebab lebih sedikit tenaga yang dipergunakan oleh.

Setelah perminum the kemudian ...

"Delapan puluh sembilan....sembilan puluh tiga... sembilan puluh lima..."

Sekarang sudah tinggal lima jurus saja !

Akan tetapi menang kalah antara kedua orang itu masih belum bisa ditentukan,

Dengan perasaan tercengang Oh Put Kui segera berkerut kening. Sudah jelas Im Tiong-hok mempunyai kesempatan untuk meraih kemenangan, tapi mengapa ia tidak memanfaatkan kesempatan yang sangat baik itu dengan begitu saja ?

"Sembilan puluh sembilan!" Kit Hui-seng berteriak nyaring, "sekarang tinggal jurus yang terakhir..."

Disaat Kit Hui-seng meneriakkan angka ke "sembilan puluh sembilan" itulah tubuh dua orang yang sedang bertempur itu menadak saling berpiah satu sama lainnya.

Bukan hanya berpisah saja bahkan masing-masing pihak berdiri dak berkutik.

Menyaksikan kejadian itu, Oh Put Kui segera tertawa, ia segera mengerti apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.

Dia tahu, kedua orang sama sama ingin mencari cara yang paling baik untuk meraih kemenangan pada jurus serangan yang terakhir ini, mencari akan bagaimana  caranya untuk mengalakan pihak lawan dalam satu gebrakan saja.

Para muka Lamkiong Ceng berubah menjadi seius sekali, dadanya nampak naik turun  tak  menentu,  napasnya tersengkal sengkal.

Sebaliknya Im Tiong-hok berdiri tenang seperti patung arca, sorot matanya yang tajam sedang mengawasi tiada hentinya wajah Lamkiong Ceng.

Akhirnya Im Tiong-hok tertawa terbahak bahak. "Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh , saudara Lamkiong,

jurus serangan yang terakhir ini tak usah dilanjutkan lagi!"

Ucapan tersebut kontan saja membuat Lamkiong Ceng menjadi tertegun dan tidak habis mengerti.

Demikian juga dengan kawasan jago yang hadir baik di dalam ruangan maupun diluar ruangan.

Bahkan Oh Put Kui yang bertindak sebagai juri pun turut tercengah dibuatnya. Setelah tertegun sesaat, Lamkiong Ceng segera membentuk dengan nyaring:

"Menang kalah akan segera ditentukan dalam  jurus serangan serangan yang terakhir ini, apakah saudara Im merasa takut untuk melanjutkan pertarungan ini ?

"Saudara Lamkiong." Kata Im Tiong-hok sambil tertawa, "dalam sembilan puluh sembilan jurus yang  telah  lewat, kitahannya berrung seimbang, dari mana kau bisa tahu kalau dalam gebrakan yang terakhir ini meng kalah dapat ditentukan

? Oleh karena itu,  siaute rasa ta usah dilanjutkan lagi pertarungan ini !"

"tidak bisa !" Pertarungan ini  hasur dilanjutkan  sampai selesai," Teriak Lamkiong Ceng dengan kening berkerut.

"Saudara Lamkiong, kau betul betul seorang yang amat keras kepala !"

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... kalau sudah ada permulaannya mana boleh tiada akhirnya ?Saudara Im, kau harus berhati hati ,"

Sambil berkata, pelan pelan dia bergerak maju kemuka.

Im Tiong-hok segera menghela  napas  panjang,  bisiknya lirih :

"Saudara Lamkiong, tampaknya sebelum melihat peti, kau tak akan  mengucurkan air mata "

Lamkiong Ceng sama sekali tidak berbicara apa, apa, dia tetap maju kedepan selangkah demi selangkah.

"Baiklah," ucap Im Tiong-hok kemudian  sambil tertawa hambar, "siaute akan memenuhi harapanmu itu "

Selesai berkata, mendadak dia melompat, maju kemuka sambil melancarkan.

Telapak tangan kanannya diayunkan kemuka menghantam tubu Lamkiong ceng. Menyaksikan tibanya serangan nama, Lamkiong Ceng berpekik nyaring lalu melejit, kembali ke tengah udara.

Sepasang telapak tangannya segera diayunkan kewabah menghajar sepasang bahu Im Tiong-hok. "

Melihat jalan darah Cian-keng-hiat dada seasang bahunya terancam. Im Tiong-hok tertawa  berbahak-bahak, dia menerobs Lamkiong Ceng dari tenaga  udara  itu,  lalu melayang turun delapan depa dari posisi semula.

Seandainya dia melancarkan serangan balasan pad asaat itu, niscaya Lamkiong  Ceng tak akan lolos dari ancaman bahasa maut tersebut.

Namun ia tidak berbuat demikian, sebab seratus jurus yang diinjak telah penuh.

Demikian juga halnya dengan  Lamkiong Ceng, tatkala engkeramanna mengenai sasaran yang kosong, seratus jurus sudah tercapai.

"Seratus jurus!" Kit Hu-seng segera berteriak keras.

Lamkiong Ceng segera melayang turun ke tanah, kemudian sambil menggelengkan kepalanya dia tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... saudara Im, kita benar benar seimbang dan sukar di tentukan siapa yang lebih unggul diantara kita "

Namun belum selesai perkataan itu dilanjutkan,  mendadak ia menjadi tergegun dan segera membungkam.

Sebab dia menyaksikan uung baju sebelah kirinya telah bertambah dengan seuah lubang kecil.

Hal ini menunjukkan kalau dia sudah menderita kekalahan yang mengenaskan dalam pertarungan beruaha, coba kalau pihak lawan tidak bermaksud melukai orang,  niscaya  dia sudah ......

Tapi Im Tiong-hok segera menyambung kembali perkataan itu : Ilmu silat saudara Lamkiong memang sangat hebat, siaute bisa tidak menderita kekalahan, al ini benar-benar merupakan suatu keberuntungan besar "

Sesudah berhenti sejenak, mendadak dia menghampiri Oh Put Kui sambil tertawa tergelak, katanya :

"Terima kasih atas bantuan saudara Oh!"

Dalam ada itu, Oh Put Kui telah menyaksikan juga sebuah lubang kecil yang muncul diujung baju Lamkiong Ceng.

Maka setelah menatap sekejap wajah Im Tiong-hok, dia dalam pertaruhan ini "

Belum lagi ucapan "kau yang menang" sempat diutarakan. Im Tiong-hok telah menukas sambil tertawa terbahak-bahak :

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... saudara Oh, pertaruhan ini memang meruakan pertaruhan terbesar yang pernah siaute lakukan selama hidupku, untuk saja keadaan selambang dan tiada yang menang tiada yang kalah, benar- benar suatu kejadian yang amat mujur sekali !"

Oh Put Kui dapat menangkap kerdipan mata Im Tiong-hok kepadanya, maka dia segera tahu kalau orang itu ada maksud untuk menjaga nama baik Lamkiong Ceng.

Pengantin lelaki menderita kalah total pada upacara perkawintannya, kalau hal ini sampai terjadi maka peristiwa tersebut benar-benar merupakan satu kejadian yang sangat tragis.

"Benar, dalam pertaruhan ini kedua belah pihak memang tiada yang menang dan tiada yang kalah!" serunya kemudian cepat.

Begitu selesai berkata, dia lants membalikkan badan dan berjalan kembali ke tempat duduknya.

Tapi, saat itulah Lamkiong Ceng telah berteriak lagi dengan suara lantang:

"Saudara Oh, kau jangan pergi dulu !" Sementara itu Oh Put-kui telah kembali ke  tempat duduknya semula, mendengar perkataan itu terpaksa dia bangkit berdiri dan berkata sambil tertawa :

"Saudara Lamkiong, kepandaianmu seimbang dengan kepandaian saudara Im, menang kalah sukar ditentukan, aku lihat soal pertaruhanpun menjadi dibatalkan ! sedangkan mengenai nyawa dari keenam  orang  cay-cu,  menurut pendapat siaute lebih baik diselidiki dulu sampai jelas selewatnya hari perkawinan kalian, jika terbukti seperti apa yang saudara Im dikatakan tadi dan keenam keenam orang itu terbukti banyak melakukan kejahatan, sudah sepantasnya saudara mengucapkan banyak terima kasih kepada saudara  Im "

Setelah berhenti sebentar, kembali dia menghela  napas panjang dan melanjutkan:

Selesai menjura, dia perpaling pula ke arah Im Tiong-hok sambil melanjutkan :

"Saudara Im, beberapa hari lagi pasti siaute akan mengutus orang buat menyelidiki tindak tanduk ke enam orang anak buahku itu, bila mereka benar-benar  telah  melakukan perbuatan yang jahat, siaute pasti akan berterima kasih sekali kepada saudara Im "

Sesudah berhenti sejenak, kembali  dia melanjutkan : "Cuma,  seandainya  apa  yang  saudara  Im   ucapkan  tidak

benar, sambil waktunya siaute pasti akan menuntut keadilan kepada saudara  Im  atas  nasib keenam  orang anak buahku itu

!"

Im Tiong-hok segera tertawa berbahak-bahak. "Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh        saudara Lamkiong,

setiap saat  siaute akan menantikan  pembalasan  dari saudara

.... Cuma sebelumnya siaute ingin berbicara, dulu, seandainya dikemudian hari kau berhasil menelidiki dosa dan kesalahan yang pernah di lakukan ke enam orang anak buahmu, maka kau tak boleh memutar balikkan duduknya persoalan  sehingga demi jaga nama baik sendiri, kau lantas  menuntut balas  kepada siaute!"

Ketika itu Lamkiong Ceng sudah merasa amat menyesal disamping rasa kagum yang luar biasa terhaap Im Tiong-hok, soal mencari balas dan lain sebagainya yang diucapkannya barusan tak lebih hanya suatu pertanggungan jawab belaka terhadap khalayak umum.

Maka dikala Im Tiong-hok  menyelesaikan perkataannya, sambil tertawa dia lantas berseru :

"Saudara Im, apakah kau tidak mempercayai siaute lagi ? ”Oooh, tentu saja percaya !"

"Bila saudara Im memang menaruh kepercayaan kepada siaute,  harap kau jangan banyak bicara lagi "

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... baik baik, siaute akan turut perintah."

Kemudian setelah memandang sekejap sekeliling arena, mendadak ujarnya lagi sambil menjura :

"Siaute hendak mohon diri lebih dulu !" Lamkiong Ceng menjadi tertegun.

"Kenapa? Mengapa saudara Im terburu-buru hendak pergi

? serunya.

"Sebenarnya kedatangan siaute ke wilayah Kanglam ini disebabkan ada persoalan yang hendak diselesaikan, justeru kaena kudengar saudara Lamkiong menikah, maka kusesampingkan masalah tersebut untuk sementara guna ikut datang menyampaikan selamat."

"Aaaah, bukankah hal itu disebabkan pelayanku yang kurang baik?"

"Siaute benar-benar amat terburu-bru, bila kurang hormat, harap saudara Lamkiong, sudi memakluminya, untuk berterima kasih saja tak sempat, masa aku marah karena pelayanan yang kurang baik ?"

Setelah berhenti sejenak, dia menjura keempat penjuru, kemudian melanjutkan :

"Sobat sekalian. Im Tiong-hok terpaksa harus pergi dengan terburu-buru, bila ada kesalahan harap dimaafkan, jika kalian ada wkatu pergi  ke  kanglam,  jangan  lupa  mampir ditempatku. "

Selesai berkata, dia lantas melayang pergi meninggalkan tempat terseut.

Ia datang sangat tiba-tiba, pergi pun amat mendadak, yang tertinggal hanyalah henaan napas panjang dan  pujian  dari para hadirin.

Oh Put Kui yang menyaksikan kejadian itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya sambil tertawa :

"Orang ini benar-benar memiliki kewibawaan yang mengagumkan."

"Betul," sahut Siau lojin sambil tertawa,  "ucapanmu memang tepat sekali anak muda."

"Dia datang dengan sikap yang angkuh, pergi dengan sikap yang hormat dan merendah, suatu perpaduan yang luar biasa sekali, boanpwe lihat saat bersatunya kaum Liok-lim di utara dan selatan sudah tak jauh lagi."

"Tentu saja, lohu memang sudah mengetahui akan hal ini." "Dari mana kau bisa tahu?" tanya Oh Put Kui keheranan. Siau lojin tertawa.

"Hal ini menyangkut rahasia langit. Anak muda, lebih baik kau jangan bertanya dulu."

0000d0w000 Upacara perkawinan  berlangsung sampai larut malam, cahaya lampu masih menerangi seluruh perkampungan siu- ning-ceng.

Tapi di atas seuah loteng di belakang bangunan gedung  pun di kejauhan sana, suasana justru gelap gulita tak nampak setitik cahayapun.

Di tengah kegelapan itulah nampak ada bayangan manusia sedang bergerak-gerak.

Semua berjumah tiga sosok, mereka  bergerak  amat lamban di atas bangunan loteng itu.

Slaah seorang diantara mereka, tampaknya sanggup melihat dalam kegelapan dengan jelas, buktinya  kalau orang lain hrus berjalan tertitah di tengah kegelapan, maka dia bisa berjalan dengan santai, seakan-akan di tempat yang terang.

Tak selang berapa saat kemudian, seluruh bangunan  loteng tingkat kedua ini telah mereka periksa dengan seksama, namun tampaknya mereka amat kecewa.

"Saudara Kau, jangan jangan kau salah mendengar/" suara Oh Put Kui kedengaran brisik.

Rupanya tiga sosok bayangan manusia yang sedang berjalan ditengah kegelapan itu adalah Oh Put Kui, pengems sinting Lok Jin-khi serta petani dari Hosay Kau Cun-jin."

"Tak mungkin saah!" Jawab  au Cun-jin pula setengah berbisik, "Persekonngkelan, Lamkiong Ceng dan Kit Put sia merupakan suatu peristiwa yang sesungguhnya,"

"Saudara Kau, bilang  mereka bersekongkel tapi apa  sebabnya putra Kit-put-sia yakni singa latah pedang iblis Kit Hu-seng seperti tidak begitu kenal dengan Lamkiong Ceng?"

Kau Cun-jin segera tertawa rendah.

"Kongcu, Kit Hu-seng amat jarang tinggal  dalam  lembah  iblis saakti, selain itu Ki Put-sia tidak pernah mau mempergunakan tenaga dari putra kesayangannya ini !" "Mereka kan ayah dan anak kandung, masa terhadap anak sendiripun tidak percaya ?" seru Oh Put Kui sambil tertawa.

"Sejak kecil Kit Hu-seng dibesarkan oleh Ibunya." "Siapa sih ibu Kit Hu seng ?"

"Dia adalah Kim teng-sin-yu nenek sakti dari puncak Kim- teng yang turut terbunuh dibukit Go-bi!"

"Ooo....." Oh Put Kui yang berada di balik kegelapan nampak tertegun.

"Jadi kim-ten-sin-yu adalah ibu Kit Hui seng?" serunya kemudian terkejut.

"Yaa, dan urusan ini diketahi oleh setiap umat persilatan!"

Berkilat tajam sepasang mata Oh Put Kui dibalik kegelapan, kembali ia berkata sambil tertawa.

"Kalau begitu ilmu silang yang dimiliki Kit Hu-seng juga merupakan warisan dari ibunya?"

"Bukan!" tiba-tiba  pengemis sinting menimberung sambil tertawa, "lote, Kit Hu seng adalah murid Ceng-thian-sin-ciang (Pukulan sakti penggetar langit) Cian Hau, itulah sebabnya dia jadi ketularan sikap gagah dan bijaksananya !"

Oh Put Kui tidak mengira kalau Kit Hui seng adalah anak murid dari Cian Han.

Setelah menghela napas rendah katanya :

"Apakah ilmu silatnya berasal dari gedung Ceng thian ciangkun-hu?

"Siapa bilang tidak ?"

"Lok loko, Cian Han adalah panglima ternama pada pemerintah dinasti  yang lalu, diapun merupakan  seorang pendekat aneh ketika itu. Bagaimana mungkin dia  bisa menerima putra seorang gembong iblis menjadi muridnya?" "Lote, kalau soal itu mah kau tak bakal mengetahui lebih banyak daripada aku si pengemis tua."

"Tentu saja, siapa bilang aku mengetahui lebih banyak dari pada loko ?" Jawab Oh Put Kui tertawa.

Umpakan tersebut langsung termakan oleh pengemis sinting.

Terdengar dia tertawa lirih dengan banga, lalu berkata  : "Lote,  kau   memang  pandai  sekali  mengumpak   !   Sudah

jelas aku si pengemis tua tahu kalau kau lagi mengumpakku, tapi hatiku justru  merasa  amat nyaman sekali. Saat  lote, aku

benar-benar takluk kepadamu !"

Oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang kali sambil tertawa, katanya :

"Engkoh tua, kau jangan membawa persoalan kelewat jauh

!"

Pengemis sinting tertawa.

"Lote, tahukah kau Kim-teng-sin yu sebenarna bernama

siapa ?"

"Engkoh tua, pertanyaanmu sama artinya dengan pertanyaan kepada orang orang buta, mana aku bisa tahu ?"

"Dia bernama Cian Sian-koh!"

"Aaaah, mengerti aku sekarang, kalau begitu Cian Han dan Kim-teng-sin-y tentu saudara sekandung."

"Tepat sekali!" teriak sipengemis lupa diri,

"Sssstt... pelan sedikit ..." buru-buru Oh Put Kui menegur dengan kening berkerut.

Ditengah kegelapan pengemis sinting membuat muka  setan, kemudian sahutnya berulang kali :

"Baik, baik!"

Pada saat ituah Kau Cun-jin turut menimbrung : "Kongcu, menurut penyelidikan ku, tusuk konde pemunah tulang Ngo-im-hua-kut-cha memang disembunyikan dalam loteng kecil dikebuh belakang perkampungan Siu-nin-ceng!"

"Tapi, kita sudah menggeledah loten ini sampai dua tingkat

!" seru Oh Put Kui dengan kening berkerut.

"Tapi kan masih ada satu tingkat ?" kata Cun-jin sambil tertawa.

"Masih ada setingkat ? saucara Kau, kau bilang atap dari loteng tingkat kedua ini ?"

"Benar !"

"Tapi disini toh tiada pintu yang menghubungkan tempat tersebut?" kata Oh Put Kui berkerut kening.

"Aku si orang tua tahu !"

Sambil berkata ka Cun-jin lantas berjalan menuju kesebuah sudut ruangan itu.

"Kongcu, tianglo, harap kalian mengikuti aku, "ajaknya kemudian.

Mereka berdua berjalan menyusul dibelakang Kau Cun-jin, sementara itu sebuah langit-langit sudah disingkirkan dan mereka bersiap-siap melompat naik keatas atas loteng itu.

000d0w000

Mendadak........ terdengar suara tertawa dingin berkumandang datang dari balik celah itu.

Hoo-see le-nong (petani tua dari Hoo-see) Kau Cun-jin serentak mundur kebelakang dengan gerakan secepat  kilat, dia betul-betul merasa terperanjat.

"Ada orangnya ? bisik Oh Put Kui dengan sorot  mata berkilat tajam.

"Kongcu, kejadian semacam ini tak pernah kuduga sebelumnya, satu-satunya cara yang terbaik sekarang, menurut pendapatku adalah berusaha naik keatas dan membungkam mulut saksi hidup itu "

Ehmmm, miggirlah Kau loko, biar siau orang itu, begitu aku naik, kalian segera mengikuti dibelakangku, siaute percaya orang yang berada diatas loteng itu akan berhasil melukai kalian!"

"Lote, kau harus berhati-hati!" bisik pengemis sinting. "Jangan kuatir. "

Begitu selesai berkata, dia  lantas  menarik langit-langit ruangan itu dan menghimpun tenga dalamnya sambil bersiap- siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Tak selang beberapa saat kemudian, mendadak tubuhnya melayang naik keatas secara pelan-pelan.

Bagaian segumpal awan, pelan-pelan adannya melambung dan meluncur ditengah udara.

Dalam pada itu,  dari atas ruang loteng tersebut tidak terdengar suara lagi kecuali suara tertawa dingin tadi.

Dengan suatu gerakan yang cepat Oh Put Kui melayang kemulut masuk ruang loteng itu, tapi anehnya ternyata tidak terasa ada kekuatan yang menghalangi gerak majunya hal mana kontan saja membuat anak muda tersebut merasa keheranan.

Kalau memang disitu ada orang, mengapa tidak muncul kekuaran yang menghalangi gerak melambungnya ?

Sementara ingatan tersebut masih melintas  dalam benaknya, sang tubuh masing melambung terus keatas.

Pada saat pinggangnya hendak menembusi langit  langit ruangan itulah mendadak  terdengar  suara tertawa dingin, kemudian terasa ada segulung tenaga tekanan yang sangat berat menghantam tiba. Oh Put Kui jadi terperanjat sekali, dia merasa bahwasanya ke hutan tenaga tekanan yang menindih tubuhnya sedemikian hebat, pada hakekatnya beum pernah di jumpai sebelumnya.

Seketika itu juga, tubuhnya yang sedang melambung ketengah udara itu terhenti setangah jalan.

Tapi, dia tidak melayang turun kembali kebawah.

Sebab dengan mengandalkan ilmu Kiu-pian  tay-sian sinkang ajaran  perguruannya dia  masih sanggu mempertahankan diri, hanya yang  diherankan  adalah mengapa kekuatan lawan sanggup beradu seimbang dengan kemampuan sendiri "

Kenyataan tersebut hampir saja membuat Oh Put Kui tidak percaya.

Sementara itu, orang yang sedang berada dalam ruang lotenganpun hampir tidak percaya dengan  kenyataan yang beraa di depan mata.

Sudah duapulh tahunan lamanya dia berdiam dalam ruang loteng ini, dan selama dua puluh tahun ini, baru pertama kali  ada orang yang tidak kena  dipukul mundur oleh tenaga saksinya.

Berhubung sudah kelewat lama dia tinggal  dalam kegelapan, maka dia dapat melihat jelas kalau orang yang melayang masuk kedalam ruangan itu tak lain adalah seorang pemuda berumur dua puluh tahunan.

Kenyataan ini benar-benar membuat hatinya sangat terperanjat.

Dia tak habis mengerti, apa sebabnya bocah muda itu bisa memiliki kepandaian silat yang begitu hebat,  bahkan yang dipakai mirip sekali dengan ilmu Kiu-pian-tay-sian  singkang dari sahabat karibnya.

Begitulah, sementara kedua orang out  masih memutar  otak, masing-masing pihak sudah saling berhadapan hampir setengah perminum teh lamanya. Kini Oh Put Kui sudah mulai merasa sedikit tak tahan, tubuhnya hampir saja tenggelam ke bawah.

Mendadak.... saat itulah dia merasa daya tekanan di luar badannya menjadi enteng, lalu terdengar seseorang berkata sambil tertawa:

"Naiklah ke atas! Lohu bersedia untuk bersahabat denganmu..."

Dalam tertegunnya, Oh Put Kui melangkah  masuk  ke dalam ruangan loteng itu.

Anak muda ini memiliki juga kemampuan untuk  melihat dalam kegelapan, maka setibanya  di dalam  ruangan,  dia lantas dapat melihat segala sesuatu yang terbentang disana.

Ternyata luas loteng itu hanya tiga kaki lebih,  empat dinding kosong melompong tak ada sesuatu bendapun, di tengah ruangan duduklah bersila seorang kakek.

Rambut putih kakek itu terurai sedada, bercampur baur dengan jenggot putihnya yang memanjang, hampir tak dapat dibedakan mana yang rambut dan mana yang jenggot.

Selemar wajahnya, ada sebagian yang tersembunyi di balik rambut dan jenggotnya yang putih.

Oh Put Kui segera menemukan bahwa raut wajah kakek itu sangat dikenal oleh, seakan-akan mereka sering berjumpa, namun untuk sesaat dia  tak teringat  dimanakah mereka pernah bersua ?.

Alis mata kakek itu sangat tipis, lagi pula belum berubah memutih. Mulutnya besar sekali, akan tetapi belum berkeriput, sedang kulit mukanya merah segar seperti bayi.

Sepasang matanya bulat sekali, bulan membawa sifat kekanak-kanakan. Bajunya berwarna coklat tampat amat bersih, sepanjang tangannya diletakkan  keatas  lutut, sedangkan wajahnya nampak tersenyum ramah. Diam-diam Oh Put Kui merasa amat terperanjat, sebab dia menemukan kalau ilmu silat yang dimiliki  kakek  berambut putih ini sudah mencapai tingkatan yang luar  biasa  hingga pada hakekatnya sudah kembali kealam anak-anak.

Terhadap manusia seperti ini, dia tak ingin bersikap kurang homat.....

"Bila boanpwe Oh Put Kui telah salah masuk kemari, harap kau orang tua ....

Kakek berambut putih  itu tertawa aneh,  sebelum  anak muda itu selesai berbicara, dia telah menukas :

"Lohu tidak perduli siapakah kau, tapi kalau dilihat dari kemampuanmu untuk menerima serangan Hui-sik-singkang lohu, sepantasnya kalau kau terhitung jago nomor wahid dikolong langit, nah anak muda, dengan usia semuda  itu hebat, kenyataan ini sungguh membuat lohu merasa gembira sekali oleh karena itulah aku melanggar kebiasaan dengan

mengijinkan kau naik ke loteng "

Mungkin lantaran gembira, dia lantas mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Tergerak hati Oh Put Kui sesudah mendengar itu, sambil menjura segera ujarnya :

"Locianpwe kelewat memuji diriku, membuat boanpwe menjadi malu sendiri, boleh kah aku tahu siapa nama cianpwe?"

"Bocah, kau tak usah bertanya siapa namaku, sekarang jarab dahulu yang kau gunakan untuk melompat naik keatas tadi adalah Kui-pian-tay-sian sincang ?"

Terkesiap sekali perasaan Locianpwe sesudah mendengar perkataan itu, serunya tanpa terasa :

"Darimana Locianpwe bisa mengetahui kepandaian sakti dari perguruannya. Kakek tersebut tidak menjawab, pertanyaan orang, sebaliknya sambil menatap wajah anak muda itu lekat-lekat, katanya lagi sambil tertawa.

Bocah muda, apa hubunganmu dengan Oh Siau ?"

Oh Put Kui semakin terkejut lagi setelah mendengar nama itu disinggung, segera pikirnya :

"Heran, mengapa orang tua ini bisa mengetahui  nama preman dari empekku yang juga merupakan guruku ? jangan - jangan dia adalah sahabat karib guruku?"

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa sikapnya menjadi jauh lebih menghormat, sahutnya cepat :

"Dia adalah empekku, juga merupakan guru koanpwe!" Kakek berambut putih itu segera tertawa panjang. "Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... tak heran kalau

kau memiliki kepandaian silat sedemikian lihaynya,  anak muda, ternyata kau adalah muridnya ! Oh Sian bisa  mempunyai ahli waris seperti kau, Lohu benar-benar  ikut merasa gembira ......haaahhh........ haaahhh. "

Sambil berkata, kakek itu tertawa tergelak tiada hentinya. "Apakah locianpwe kenal dengan guru locianpwe?" tanya

Oh Put Kui kemudian serius.

Kakek itu menghentikan gelak tertawanya, lalu berteriak. "Jika tidak kenal, bagaimana mungkin aku bisa

menyebutkan namanya? Tolol !"

Sementara Oh Put Kui masih tertegun, kakak itu sudah brkata lagi sambil tertawa :

"Kau bilang  siapa namamu? Oh.... Ooh....... Oh Tuh (pikun)?

Oh Put Kui ingin tertawa tapi tak berani terpaksa sahutnya dengan sopan : „Boanpwe Oh Put Kui !"

Bagus sekali, bocah muda, kau berai memakai  nama Oh Put Kui, apakah ingin niru sastrawan Tau Ciu-beng?"

"Aaaaaah. boanpwe mana berani berbuat begitu?

Harap kau orang tua jangan mentertawakan?"

"Kalau memang begitu, mengapa kau menggunakan nama seaneh itu untuk namamu?"

"Guruku yang memberi nama tersebut untuku !"

"Oooh, jadi Oh siang yang mencarikan nama itu ?" si kakek nampak tertegun.

"Benar, guruku yang memberi !"

Kakek itu menundukkan kepalanya dan  termenung sebentar, kemudian katanya :

"Anak muda, apakah kau pernah bertanya kepada Oh Sian, mengapa ia memberikan nama seaneh itu untukmu?"

Oh Put Kui segera tertawa.

"Aaaah, kalau angkatan tua yang memberi, masa boanpwe berani banyak bertanya ?"

"Bagus sekali, anak muda, kau ...." Mendadak kakek itu tertawa tergelak, "benar-benar tak kuangka kalau kau adalah seorang yang ahli dalam agama To !."

Diam-diam Oh Put Kui ternayata geli pikirnya :

"Benarah aku ahli dalam agama To ? Rupanya Cuma Thian yang tahu. "namun di luaran dia menjawab :

"Boanpwe pernah  membaca buu para Nabi, sebab it boanpwe tak berarti melangar perintah dari pada Nabi.

"Menganggur benar kau rupanya." Seru si kakek sambil menggeleng, "lou paling takut kalau mendengar orang menyinggung soal Nabi anak muda ! Jika kau berani menyinggung soal itu lagi, lohu akan segera mengusirmu dari sini.

Oh Put Kui tidak menyangka kalau kakek berambut putih itu membenci kata "Nabi" tapi dia tahu kebnnyakan kebanyakan orang perliharaan persilatan memang mempunyai penyakit  aneh.

Maka katanya kemudian sambil tertawa :

"Ka1au begitu," boanpwe tidak akan nyinggung lagi !"

Saat itulah  si kakek baru berseri kembali,  katanya  kemudian:

"Nah, begitulah baru lumayan."

Setelah berhenti sejenak, dia bergerak kembali "

"Anak muda, siapakah kedua orang yang berada di loteng tingkat kedua itu ?"

"Temanm Boanpwe! Jawab Oh Pit kui tertawa.

Temanmu?" kakek itu segera melotot besar, Lohu sudah tahu mereka adakah temanu, kakau tidak, masa kalian bisa melakukan perjalanan bersama-sama? Lohu ingin tahu, siapakah mereka ?

Oh Pit kui tidak habis mengerti menga kakek ini sebentar menjadi marah sebentar menjadi marah sebentar menjadi girang. Perubahan perasaannya  berlangsung  mendadak sekali.

Akan tetapi terpaksa dia menyambut juga sambil tertawa "Dia adalah anggota Kay-pang!"

"Haaahhh.. .haaahhh...haaahhh.... tak bisa  dianggap sebagai manusia luar biasa! Siapa nama mereka? Apakah Kongsun Liang sibo cah kecil itu?"

Walauputi Oh Put Kui mendengar kakek ini menyebut ketua Kay-pang sekarang. Lok Soug-tui-hun-siu (kakek bintang sakti pengejar sukma) Kongsun Liang sebagal bocah kecil, akan tetapi dia sudah tahu kalau kakek ini merupakan seorang Locianpwe dalam dunia persilatan, maka  ia  tak  menajadi heran dibuatnya.

Setelah tertawa hambar, katanya sambil menggelengku kepala tiga berulang kali:

"Bukan, bukan Kougsu pangcu, dia adalah adik seperguruannya, sipengemis pikun Lok Jin-khi serta seorang tongcu kantor cabangnya di Shia Kam, Kau Cun-jin adanya!

Kakek itu menjadi tertegun setelah mendengar  kata  kata itu, serunya tercengang:

"Kongsun Liang telah menjadi pangcu?"

"Yaa, sudah hampir dua puluh tahun lamanya!" Kembali kakek itu tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.........jiaaahhh.........haaahhh.........betu1, Lohu sudah hampir dua puluh tahun  lamanya ditiggal disini "

Dibalik gelak tertawanya  itu seakan akan diliputi olah perasaun sedih yang amat tebal.

Sambil tertawa Oh Put hui bertanya 1agi:

"Apakah kau sudah berdiam hampir dua  puluh tahun lamanya disini?"

"Kenapa?" seru sikakek dengan mata melotot, "apakah kau anggap aku tak tahan berdiam disini?"

"Tentu saja tahan , cuma, suaranu begitu keras bagaikan

geledek, apakah tidak kuatir kedengaran anggota perkampungan Siu-ning-ceng? Bila mereka sampai datang kemari melakukan pemeriksaan loanpwe bisa berabe dibuatnya. "

"Kau anggap mereka berani?" seru si kakek sambi1 tertawa tergelak, "lima puluh kaki disekitar loteng kecil  yang  dihuni lohu ini merupakan daerah  terlarang, siapapun tak boleh mendekati kemari " "Kalau begitu boanpwe merasa lega !"

"Kalau tidak lega lantas mau apa.........?" kembali si kakek melotot sampai membentak.

Oh Put Kui jadi tertegun dibuatnya Oleh suara bentakan itu, kalau tidak lega lantas bagaimana ?

Untuk sesaat dia tak mampu memberi jawaban atas pertanyaan tersebut.......

Tampak kakek itu tertawa lagi katanya lebih jauh

"Bocah muda, kau bilang orang yang  berada dibawah loteng itu adalah si pikun kecil Lok Jin-khi?"

"Benar, benar dia "

Kakek itu segera tertawa terbahak-bahak.

Haaaahhh......... haaaahhh......... haaaahhh.........suruh dia naik! Suah lama sekali lohu tak menggoda  si  pengemis cilik ini."

Diam-diam Oh Put Kui merasa amat girang, sejak dia tak berani bertanya sewaktu menanyakan nama kakek tersebut, hingga kini dia  tak berani hertanya lagi. maka setelah mendengar perkataan itu dia lantas tahu kalau si Pengemis pikun Lok Jin-khi saling mengenal dengan orang ini, meski seakrang dia tak berhasil mengorek nama kakek  tersebut. dari si pengemis pikun nanti, hal mana pasti bisa berhasil.

Maka setelah mengiakan, dia berjalan menuju ke arah pintu celah langit langit ruangan, kermudian berteriaknya:

"Lok loko, naiklah! Saudara Kau, harap kau menanti sebentar dibawah sana !"

Sejak Oh Put Kui naik keatas loteng tadi pengemis pikun serta Kau Cunjin selalu merasa kuatir, segenap perhatian mereka diarahkan keatas  loteng untuk mengikui jalannya pembicaraan. Maka begitu Oh Put Kui berteriak memanggil, pengemis pikun segera mengiakan sambi1 melompat keatas.

Sehebat-hebatnya pengemis pikun Lok Jin-khi, dia masih belum berhasil melatih ilmu melihat dalam kegelapan,  tak heran kalau pemandangan lima depa  dihadapanya  sudah tidak terlihat jelas olehnya.

"Lote, apakah orang yang meughuni diatas ruangaa loteng itu adalah seorang tokoh persilatan ?"

Saking gelisahnya, dia bertanya sambil mencengkeram tubub Oh Put Kui kencang-kencang.

Oh Put Kui segera tertawa.

"Dia adalah seorang boanpwe berambut putih, loko, dia kenal baik denganmu !"

"Aaaah, masa iya?" seru pengemis pikun sambil mendongakkan kepala. "Kejadian ini benar-benar tak pernah kusangka "

Belum selesai dia berkata, kakek berambut putih itu sudah tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh.....haaaahhh......haaaahhh......pengemis cilik, masih ingat dengan gula-gula pemberian lohu? puluhan tahun tak bersu, apakah kediua biji gigi gerahammu sudah tumbuh keluar? "Haaaahhh.....haaaahhh......haaaahhh...... hingga hari ini lohu rnasih ingin tertawa tergelak tiap kali terbayang mimik wajahmu, ingusmu serta air matamu ketika kau sipikun cilik kehilaugan gigimu. "

Menyusul perkataan itu, dia  tertawa tergeletak tiada hentinya.

Si Pengemis pikun Lok Jin-khi nmampak tertegun setengah harian lamanya, mula-mula dia  agak tertegun, menyusul kemudian menjadi termagu seperti orang bodoh.

Akhirnya dia ketularan gelak tertawa karek tu dan turut tertawa terbahak-bahak. "Haaaahhh.....haaaahhh......haaaahhh......,rupanya kau si orang tua, bukankah  kau adalah empek si bocah binal berjenggot putih ?"

Sambil berkata kembali pengemis pikun tertawa tergelak.

Oh Put Kui yang mendengarkan dari sisi arena, menjadi menggelengkan kepalanya berulang kali.

Sebutan macam aakah itu ?

Empek bocan binal berjenggot putih

@oodwoo@
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(