Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 14

 Jilid 14

Sekalipun Hui-Lok merasa mendongkl didalam hati, namun setelah dihadapkan pada Cui-sian sangjin, rasa mendongkolnya itu tak bisa diutarakan keluar.

Akhirnya dia berkata sambil tertawa :

"Sangjin terlalu sungkan! Kalau toh kesalahan  paham sudah dapat diatasi, silahkan kalian berlima untuk kembali ke meja perjamuan masing-masing. "

Cui-sian sangjin tidak berbicara apa-apa lagi, dia lantas membalikkan badan dan  berjalan kembali dulu ke meja perjamuannya.

Hui-sin taysu, Hian-leng totiang. Bwe Kuan-peng serta Wici Min terpaksa harus mengikuti pula di belakangnya.

Suatu ancaman hujan badai yang maha dahsyat  pun menjadi buyar dengan begitu saja.

Namun dibalik kesemuanya itu, suatu ancaman yang lebih besar semakin melandar mengancam hati setiap orang ....

0000d0w0000

Sementara itu, dimaja lain Oh Pu Kui telah mengangkat cawannya dan berkata kepada Nyoo ban-bu sambil tertawa: "Saudara Nyoo, apakah sebeum ini  kau kenal dengan Ceng-thian-kui-ong Wi-thian-yang?"

Agak terkejut Nyoo Ban-bu setelah mendengar  perkataan itu, buru-buru sahutnya :

"Tidak kenal ! Sewaktu siaute dilahirkan di dunia ini, Wi- thian-yang sudah disekap  ditengah bukit, mana mungkin suaute kenal dengannya ?"

"Aaah, betul juga! Kalau begitu siaute telah  salah ngomong!"

Kit Hui-seng yang berada disampingnya segera menegur pula sambil tertawa geli :

"Saudara Oh, mengapa kau punya pikiran seaneh itu secara tiba-tiba ?"

Oh Put Kui tertawa.

"Saudara Kit, siaute hanya secara tiba-tiba saja berpikir demikian sebab kulihat saudara Nyoo pernah memuni Ceng- Thian-kui-ong, oleh karena itu siaute mengira saudara Nyoo kenal dengan kakek itu!.

"Saudara Oh, bukankah akupun telah memuji Wi-thian- yang?" kata Kit Hu-seng sambil tertawa,  "mengapa  saudara Oh tidak mengajukan pertanyaan tersebut kepada siaute ? Mungkin saudara Oh sudah mempunyai pandangan tertentu terhadap saudara Nyoo?"

Oh Put Kui segera tertawa terbahak bahak. "Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... siaute bisa salah

ngomong pun hanya satu kali, saudara Kit, andaikata siaute bertanya sekali lagi, bukankah hal ini memperhatikan kalau siaute adalah serang manusia yang tahu diri ?

Dengan kening berkerut Kit Hu-seng manggut-manggut. "Yaa, siaute tak sampai berpikir kesitu !" "Saudara Kit adalah seorang polos dan jujur, tentu saja dia tak akan memikirkan soal soal yang aneh seperti itu." Kata Nyoo Banbu sambil tertawa, "saudara Ciu, benar bukan pandangan siaute ini ?"

Ciu It Kim memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian berkata sambil tertwa.

"Saudara Kit adalah seorang yang jujur, paling baik kalau saudara Nyoo jauan menyindir dirinya !"

Merah padam selembar wajah Nyoo banbu karena jengah. Siapa bilang kalau siaute sedang menyindir saudara Kit ?

Tentunya saudara ciu salah paham !" serunya cepat.

"Kalau siaute mah tak pernah menaruh kesalahan paham terhadap orang lain ..." ujar Ciu It Kim hambar.

Satu ucapan yang amat diplomatis, tidak entengpun tidak berat, tapi sangat mengena di hati Nyoo Ban-bu sehingga membuatnya tak sanggup berbicara untuk beberapa saat.

See-siang-li-si Leung-luan memandang sekejap  wajah Nyoo Ban-bu, kemudian seperti membantu pemuda itu untuk melepaskan diri dari kejengahan, ia tersenyum dan berkata rendah :

"Saudara Nyo, Ciu tayhiap adalah seorang jujur, kau tak usah bersedih hati."

Ditatap dengan sorot mata yang begitu indah, Nyoo Ban-bu merasakan hatinya bergetar keras, Ia  segera  menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... nona, masa aku akan bersedih hati ?"

Tiba-tiba ia mengangkat cawan kemalanya  dan berkata lebih jauh sambil tertawa :

Saudara Ciu, tadi siaute telah salah bicara, aku harus didenda dengan secara arak!" Ditengah gelak tertawa yang keras, ia meneguk  isi cawannya hingga mengering habis.

Terima kasih banyak saudara Nyoo!" ucap Ciu It-kim sambil mengangkat cawannya pula.

Pada saat itulah Oh Put kui berkata lagi sambil tertawa : "Saudara Nyoo, tentang peristiwa terbunuhnya ayahmu,

apakah saudara Nyoo telah berhasil menemukan suatu tanda yang jelas ?"

Mendengar perkataan itu, Nyoo Ban-bu tertegun untuk kesekian kalinya.

Tapi sesaat kemudian, terlintas rasa murung dan gusar diwajahnya, ia menyahut :

"Siaute tidak becus, dengan  berdarah ayah ku masih merupakan tanda  tanya besar, hingga kini siaute belum berhasil menyelidiki siapa gerangan pembunuh tersebut !"

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba bisiknya lagi dengan nada misterius :

"Saudara Oh. Siaute  tetap menaruh perasaan curiga terhadap kakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok.  Aku kuatir perkataan dari Cui-sian sangjin tadi tak bisa dipercaya!"

Tergerak hati Oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu, ujarnya sambil tertawa:

Menurut pendapat saudara Nyoo, kemungkinan besar Hui Lok adalah pembunuh yang telah melakukan peristiwa berdarah itu ?

"Yaa, kemungkinan besar!" jawab Nyoo Ban-bu tiba-tiba sambil mencorongkan sinar kebuasan dari balik matanya.

See-siang-li-see Leng Seng-luan berada  di sampingnya, tiba-tiba turut menmbrung :

"Aku puun ikut merasakan jika persoalan ini tidak begitu sederhana, tak nanti Ceng Thian-kui ong  Wi Thian-yang melakukan tuduhan tanpa dasar, apalagi secara terus terang menuduh Hui Lok sebagai pembunuhnya !"

"Nona betul-betul seorang gadis yang cerdas ! Nyoo ban-bu segera sambil tertawa bangga.

"Nona Leng," kata Oh Put kui pula sambil tertawa, "menurut pendapatku, Hui Lok sudah pasti bukan pembunuhnya !"

"Saudara Oh, kau seperti cacing di dalam perut Hui Lok saja. Masa setiap perbuatan-nya kau ketahui ? Leng Seng- luan menyindir sambil tertawa.

Oh Put-kui segera tertawa terbahak-bahak, "Haaaahhh....haaaahhh.... nona, aku baru pertama kali ini

berjumpa dengan Hui Lok!"

"Apalagi saudara Oh baru pertama kali ini bersua dengan Hui Lok, darimana kau bisa memastikan kalau Hui Lok bukan pembunuhnya ?"

Oh Put-kui memandang wajah Myoo Ban-bu sekejap, kemudian katnaya sambil tertawa :

"Nona, Hui Lok memang seorang pembunuh ! tapi aku rasa Hui Lok bukan pembunuh dari keempat peristiwa besar yang menggemparkan dunia persilatan. Selain itu, aku rasa "

Setelah berhenti sebentar, tiba tiba ia berkata lagi sambil tertawa dingin :

"Saudara Nyoo, dendam kesumat terbunuhnya orang tua lebih dalam dari samudra. Kalau  saudara  menganggap  Hui Lok seseorang yang  mencurigakan, mengapa kau  tidak berniat membalas dendam ?"

Begitu pertanyaan tersebut diutarakan, kontan saja Nyoo Ban-bu tertawa berbahak-bahak.

Kit Hu-seng mengangguk tiada hentinya, sedangkan Ciu It- kim dingin. Leng Seng-huan membelalakkan sepasang matanya, ia seperti agak tertegun.

Pertanyaan tersebut memang diucapkan amat beralasan.

Pengemis pikun yang menyaksikan kejadian  itu segera menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berseru :

"Saudara, ucapanmu benar-benar sangat mengena, sebuah tususan yang amat telak !"

Paras muka Oh Put-kui berubah menjadi amat sinis, dia menunggu sambil Nyoo Ban-bu menghentikan tertawanya, kemudian baru berkata :

"Saudara Nyoo, kau memang seorang yang amat cermat !" Dengan paras muka tak berubah Nyoo Ban-bu tertawa,

katanya :

"Ooh...sampai perubahan perasaan sinuate pun di perhatikan saudara Oh terus menerus, hal  ini sungguh membuat siaute merasa gembira sekali ! Cuma saudara O jangan melupakan nasehat lama ... "

Diam-diam Oh Put Kui merasa terperanjat, pikirnya: "Manusia ini  betul betul  licik dan sangat berbahaya    "

Berpikir demikian, dia  lantas menyebut dengan dingin :

Nyoo-heng pun terhitung seorang yang berakal panjang, benar-benar sangat mengagumkan !"

"Saudara O," ujar Nyoo Ban-bu kemudian dengan kening berkerut, "Selmanya siaute tidak melakukan perbuatan yang tidak menyakinkan! Ilmu silat yang dimiliki  Hui Lok  sibajingan itu sangat lihay, siaute tak mampu untuk  menandinginya, karena itu apa gunanya melakukan perbuatan yang merugikan diri "

Baru sekali dia berkata,  Leng Seng-luan  telah berkata sambil tersenyum : "Benar, apa yang dikatakan saudara Nyoo memang benar

!"

"Aaah jadi saudara Nyoo benar-benar mempunyai pikiran

ini, sungguh membuat hati orang kagum ! kata Oh Put Kui lagi sambil tertawa.

Nyoo Ban-bu tersenyum. "Saudara Oh terlalu memuji ..."

Belum habis dia berkata, mendadak dari luar pintu gedung berkumandang suara rentetan mercon yang gegap gempita.

"Blaaamm...... blaaamm....." ditengah dentuman nyaring, seorang canteng berlarian masuk dengan langkah tergesa- gesa.

Ngo-hong-si-ci Tu-tiong-peng sebagai congkoan dari perkampungan Siu-ning-ning-ceng segera menyelinap keluar dan menghadang jalan pergi orang itu, tegurnya dengan suara dalam :

"Persoalan apa yang membuatmu begitu tergesa-gesa?" "Diluar    pintu....   Diluar    pintu    telah    kedatangan  se......

sekelompok manusia berkuda.    " Kata orang itu dengan wajah

terkejut dan suara gemetar.

"Manusia berkuda? Kalau hanya persoalan itu saja,  perlu apa kau merasa gugup macam begitu?" tegur Tu Tiong-peng lagi dengan kening berkerut.

"Mereka adalah Kanglam. "

Begitu mendengar kata "Kanglam". Tu Tiong-peng segera merasakan hatinya terkesiap, segera bentaknya :

"Minggir kau. "

Dengan langkah tergesa-gesa dia menerobos keluar dari pintu perkampungan.

Sementara itu paras muka semua tamu yang hadir dalam ruangan telah berubah hebat, bahkan sang pengantin lelaki, Lamkiong Ceng pun turut berubah muka setelah mendengar kata tersebut.

Cepat dia membisikkan sesuatu ke sisi telinga pengantin perempuan, kemudian dia beranjak dan ke luar dari perkampungan.

Di depan pintu perkambungan benar-benar telah muncul sepasukan manusia berkuda.

Di atas kuda duduklah lelaki-lelaki kekar dan perkasa. Mereka mengenakan pakaian berwarna hijau kebiru-biruan dengan sekumtum bunga putih di dada, bersepatu laras, ikat kepala dan  menggenggam seekor kuda  berwarna putih. Dandanan mereka benar-benar menggetarkan sukma.

Sebagai pemimpinnya adalah seorang sastrawan berusia pertengahan.

Sastrawan berusia pertengahan ini  mengenakan jubah panjang berwarna biru langit, rambutnya tidak diikat dan dibiarkan terurai sepanjang bahu.

Dia mempunyai wajah yang bersih dengan sepasang mata memancarkan cahaya berkilat. Sepasang alisnya tebal dan berwajah tampan, jelas kelihatan kalau dia adalah orang yang gagah perkasa.

Kuda yang ditunggangi adalah seekor kuda berwana hitam. Di antara kelompok kuda putih terlihat seekor kuda hitam,

warna tersebut nampak menyolok sekali.

Beberapa kaki dihadapan rombongan kuda itu, dua orang lelaki kekar sedang memasang serentengan besar mercon.

Suara berdentuman tersebut tak lain berasal dari atas bahu kedua orang lelaki kekar itu,  nampaknya mercon tersebut belum setengahnya yang terbakar habis.

Begitu Ngo-heng-si ci Tu Tiong-peng sampai di muka pintu perkampungan dan menyaksikan adedan tersebut, hatinya segera menjadi menjadi tenggelam rasanya, diam-diam dia terpekik :

"Aduh celaka, ternyata benar-benar bajingan ini !"

Sekalipun hatinya terperanjat dan segan untuk  bersua dengan sastrawan berusia pertengahan itu, tapi setelah orang lain datang, tentu saja ia tak bisa mendiamkan saja.

Terpaksa sambil menggertak gigi ia mejura dalam-dalam, kemudian sapanya:

"Rupanya Im tayhiap yang telah datang. Maaf, maaf .....

Sastrawan setengah umur itu tertawa hambar,

"Saudara Tu, congpiaupacu kalian benar-benar tidak memberi muka kepada siaute," katanya, "mengapa kalian tak mengirim undangan kepada siauto untuk turud menghadiri pesta perkawinan yang begini meriahnya ini ?"

Tu-tiong-peng segera tertawa setelah mendengar ucapan itu.

"Im tayhiap banyak urusan dan  seorang yang terhormat karena itu Lamkiong-heng tak berani menganggu Im tayhiap serta mengirim surat undangan bagimu......, tapi setelah Im tayhiap datang, hal ini benar benar merupakan suatu keberuatungan bagi perkampungan kami. "

Tiba-tiba sastrawan setengah umur itu tertawa dingin. "Mana, mana saudara Tu, mana Lamkiong ?"

Tu tiong-peng terseuyum, baru saja akan menjawab, dari dalam perkampungan telah  muncul  seseorang  berseru dengan suara latang:

"Im-heng,  siaute telah datang "

Bayangan   manusia   berkelebat lewat   dan balik pintu perkampuagan, sambil tertawa tergelak orang itu berseru lagi:

"Saudara Im, bila siaute Lamkiong Ceng terlambat menyambutmu, harap saudara Im sudi memaafkan!" Tampaknya Lamkioug Ceng telah datang menyambut sendiri kedatangan orang itu.

Paras muka sastrawam setengah umur itu berubah agak membaik, katanya sambil tertawa

"Saudara Lamkiong, begini baru memberi muka kepada siaute!"

Lamkiong Ceng tertawa terbahak-bahak. "Haaahhh....haaahhh......haaahhh..... teguran saurara Im

memang tepat sekali, siauwto mengaku salah! Silahkan, silahkan, silahkan, saudara Im turun dari kuda dan turut siauw termasuk kedalam, bagaimana kalau aku di hukum minum tiga cawan arak?"

Setelah berhenti sejenak, kepada Tu-tiong peng  katanya lagi :

"Saudara Tu, bagaimana kalau apak buah saudara Im  biar di jamu oleh saudara Tu?"

Buru buru Tu-tiong-peng membungkukkan badan sambil mengiakan:

"Baik, hamba akan turut perintah!"

Dengan langkah lebar dia berjalan menghampiri rombongan manusia berkuda itu.

Tapi sastrawan setengah umur itu tidak turun dari kuda, mendengar perkataan itu dia tertawa hambar.

"Tunggu sebentar saudara Lamkiong, siaute telah membawa sebuah hadiah untukmu, harap saudara Lamkiong jangan mentertawakan "

Sesudah berhenti sebentar, tiba tiba dia berpaling sambil berseru dengan antang:

"Bawa kemari hadiahnya!" "Diiringi suara ringkikan kuda yang amat keras,s egera nampak enam ekor kuda putih memunculkan diri dan melewati semua orang.

Lelaki lelaki yang duduk di atas kuda tersebut, masing- masing membawa sebuah peti besi yang luasnya dua depa.

Lamgkiong Ceng segera berkerut kening, lalu  ujarnya sambil tertawa:

"Aaaah.... Kurang baik kalau saudara Im mesti membuang banyak uang untuk kami!"

Sastrawan setengah umur  itu tersenyum.

"Tak usah sungkan, barang barang itu tak ada harganya, hanya turut menyemarakkan suasana saja."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan: Perlukah peti peti itu di buka dan periksa isinya ?" Cepat Lamkiong Ceng menggeleng.

"Hadiah dari saudara Im kubuka dan kunikmati nanti saja, sadara Im ! Silahkan turun dari kuda dan masuk ke dalam ruangan!"

Sastrawan setengah umur itu tertawa hambar,  dengan suatu gerakan ringan ia melompat turun ke atas tanah.

Seorang anggota perkampungan segera maju ke depan siap menuntun kuda tunggangannya.

Mendadak sastrawan setengah umur itu menggoyangkan tangannya sambil menukas :

"Tak usah repot-repot, anak buahku bisa mengurusi kuda  itu sendiri....

Sementara sastrawan setengah umur itu masih bicara, dari barisan kuda putih telah muncu dua orang lelaki yang segera menerim tali les kuda emas tersebut dari tangan anggota perkampungan. Lamkiong ceng yang menyaksikan kejadian tersebut, kembali merasakan hatinya bergetar keras, akan tetapi diapun tidak memberi komentar apa-apa, hanya ujarnya sambil mempersilahkan tamunya masuk.

"Saudara Im, silahkan masuk kedalam."

Dengan angkuh dan  langkah lebar sastrawan setengah umur itu menuju kepintu perkampunan.

Sedang Lamkiong Ceng mendampingi disisinya.

Setelah melalui ruang tengah, dia  langsung  berjalan  menuju kemeja yang ditempati tuan rumah.

Sikap sombong dan terkebur dari sastrawan setengah umur yang sama sekali tak pandang sebelah mata terhadap orang lain ini dengan cepat menimblkan  kesan  jelek  bagi kebanyakan tamu dalam ruangan, sebagian besar diantaranya segera berkerut kenning dan diam diam mendengus dingin.

Namun, tampaknya sastrawan setengah umur itu mempunyai nama dan kedudukan  yang tinggi. Buktinya kendatipun begitu banyak orang merasa tak puas dengan sikapnya, namun mereka hanya berani marah dalam hati dan tak berani mengutarakannya secara terus terang. 

Sebaliknya sahabat-sahabat dari golngan Liok-lim yang berada diluar ruangan, saat itu sudah menjadi gempar, rata- rata mereka merasa hatinya amat terperanjat.

"Aaaah, rupanya dia? Im Tiong-hok?"

"Ooh dia, Thian-be kim ciong (kuda langit tombak emas)? "Jadi dialah Liok-lim-pacu dari tujuh propinsi di selatan

sungai besar ?"

Aaaah, kenapa diapun datang "

Suara bisikan, helaan napas, jeritan  kaget dalam waktu singkat berkumandang dari empat arah delapan penjuru. Hampir setiap anggota Liok-lim mengenali  dia,  karena orang itu adalah Kuda langit tombak emas Im-tiong-hok yang angkat nama bersama-sama. Pia-kim-kong-thi-wankek (raksasa penyakitan tau bertangan baja).

Selain itu,  diapun mempunyai nama yang jauh lebih termashur daripada Lamkiong Cong sendiri.

Sebab dia mempunyai ambisi untuk menyatukan seluruk  Liok tim, memiliki kemampuan untuk  melaksanakan cita- citanya itu.

Lantas, mengapa ia datang kemari ? Mengapa ia takut datang kesana...?

Benarkan tujuannya kesitu hanya untuk menghadiri pesta perkawinan sambil menyampaikan selamat ?

Atau mungkin maksud tujuan  dari kedatangan tamu ini bukan hanya untuk menyampaikan "selamat" saja?

Setiap anggota Liok-lim mauun jago silat lainnya yang tertinggal dienam propinsi sebelah utara sungai besar mulai memeras otak sambil memikirkan masalah tersebut.

Dalam pada itu,  sastrawan setengah umur itu sudah mengambil tempat duduk disisi tuan rumah.

Tampaknya terhadap kakek pemutus usus  pelenyap  hati Hai Lok serta Jian-li-hu-siu Leng Siau-leng pun  dia tak menaruh muka barang sedikitpun, tanpa mengucapkan sepatah katapun,  begitu duduk ia lantas  meneguk  arak dengan lahap.

Setelah tiga cawan arak perpindah perut, dia baru berkata kepada Lam kiong ceng sambil tertawa :

"Saudara Lamkiong, aku telah  datang terlambar maka sudah sepantasku dihukum tida cawan arak,"

Setelah berhenti sesaat, sinar matanya segera dialihkan ke wajah pengantin perempuan Leng Lin-lin serta ditatapnya lekat-lekat, lalu melanjutkan : "Mari, mari, mari, biar siaute menghormati saudara Lamkiong dan enso dengan secawan arak pula."

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... terima kasih saudara Im !" Lamgkiong Ceng tertawa tergelak.

Setelah ketiga orang itu menegak arak, tiba-tiba Im Tiong- hok berkata lagi sambil tertawa:

"Saudara Lamkiong, mengapa kau tidak membuka hadiah dari siaute agar enso pun bisa turut menyaksikan ?"

"Kado dari saudara Im pasti barang yang luar biasa sudah sepantasnya kalau dibuka di depan umum !"

Dia lantas menitahkan orang untuk menggotong  masuk keenam buah peti besi itu.

Oh Put-kui yang menyaksikan peristiwa itu, segera berkata dengan kening berkerut :

"Siau tua, tindak tanduk sastrawan ini aneh sekali !"

"Anak muda, orang itu bernama Im Tiong-hok. Dia adalah Liok-lim Pacu dari tujuh propinsi di selatan sungai besar, ambisinya sangat besar. Selama ini dia  selalu bercita-cita untuk menyatukan seluruh Liok lim, aku lihat kedatangannya hari ini tidak bermaksud baik."

"Lelihay-lihaynya seseorang, tak mungkin dia berani mendatangi markas musuh dengan begitu  saja.  Kendatipun dia bernyali besar, masa orang itu berani bertindak nekad?".

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... bocah muda, kau terlalu memandang enteng orang ini, tahukah kau dia itu murid siapa ?"

"Boanpwe belum pernah mendengarnya."

"Kau pernah  mendengar tentang  tida dewa dari luar angkasa ?"

"Ooh... kau maksudkan Han-san-ya-ceng, we pernah mendengar nama mereka dari Thian-liong susiok ," Siau lojin segera tertawa.

"Nah, itulah dia, boocah itu murid mereka bertiga," serunya. "Oooh.    " Oh Put  Kui segera tertawa  lirih,  "tak heran kalau

orang  itu  sombongnya  bukan  kepalang,  sampai  sampai  Hui

Lok pun tidak diberi muka,"

"Bocah muda, kendatipun Im Tiong-hok orangnya sombong dan rada, jumawa, tapi dia adalah seorang lelaki sejati yang berhati lurus, seandainya kau ingin mencari teman, manusia macam Im Tiong-hok itulah rekan yang sejati !"

"Akan boanpwe ingat nasehatmu itu," Oh Put  Kui tersenyum.

Sementara itu Lam-kiong Ceng sudah menuju keruang tengah dan membuka salah satu diantara peti-peti besi tersebut.

Biasanya jika peti dibuka maka akan terpancar keluar sinar gemerlapan yang menyilaukan mata, sebab isi peti besi pada umumnya adalah intan permata dan mutu umumnya adalah intan permata dan  mutu manikam yang tak terlukiskan harganya.

Tapi kenyataannya sekarang tidaklah demikian.

Begitu tutup peti besi itu dibuka, senyuman yang semula menghiasi wajah Lamkiong  Ceng seketika berubah menjadi kaku, kemudian dengan perasaan ngeri mundur selangkah.

Selang sesaat kemudian  dia  baru menuding kearah  Im Tiong hong-hok sambil membentuk:

"Saudara Im, apa maksudmu?"

Semua jago ikut tertegun oleh sikap tuan rumah, tanpa terasa semua orang turut melongok kedalam peti besi itu.

Apa yang terlihat ? Ternyata isinya adalah sebutir batok kepala manusia .... ! Kepala manusia  yang  masih berbelepotan darah. Tak heran kalau Lamkong Ceng dibuat terkejut dan marahnya bukan kepalang.

Im Tiong-hok masih tetap bersikap tenang malah sekulum senyman segera menghiasi ujung bibirnya.

"Saudara Lamkiong, apakah kau merasa hadiah  kepala manusiaku ini kuran gmemadahi? Siaute ras intan permata tak ebih hanya merupakan benda sampingan, hanya nyawa manusialah baru merupakan hadiah yang benar sangar berharga, itulah sebabnya siaute telah bekerja keran untuk mencari enam butir kepala manusia dan dipakai sebagai kado bagimu."

Paras muka Lamkiong Ceng telah berubah  menjadi  amat tak sedap dipandang, terdengar ia berseru lagi dengan suara dalam:

"Saudara Im. Tahukh kau batok kepala siapakah itu ?" Im Tiong-ho-tertawa.

"Batok itu adalah kado yang siaute bawa, sudah barang tentu siaute mengetahuinya."

"Batok kepala siapakah itu ?"

"Yang kau saksikan sekarang adalah batokl kepala dari Pat-pit-na-cha (Na Cha berlengan delapan) Ki-tiong"!

Mendengar tersebut, hampir saja Lamkiong Ceng melompat bangun saking terperanjatnya.

Sementara itu para jago liok-lim dari enam propinsi di utara sungai besar telah melompat bangun dan sama-sama menunjukkan kemarahan yang berkobar-kobat.

"Im Tiong hok. Tahukah kau Ki Tiong itu aak buah siapa?" bbentuk Lamkiong Ceng lagi dengan suara menggeledak.

Im Tiong-hok kembali tertawa.

"Bukankah dia adalah anak buah saudara Lamkiong, pemimpin dari enam toa-cycu lainnya?" "Heeehhh....heeehhh.... heeehhh..... jika saudara Im sudah tahu, hal  ini  lebih baik lagi." Seru Lamkiong ceng sambil tertawa seram.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan perasaan terkesiap teriaknya lagi:

"Im Tion-hok, apakah isi dalam ke lima buah  peti  lainnya juga batok kepala manusia ?"

"Tepat sekali !"

"Siapakah kelima orang itu ?" bentak  Lam-kiong  Ceng marah.

Im Tiong-hok tertawa terbahak-bahak, dia  mengeluarkan secarik kertas putih dan pelan-pelan dibaca :

"menurut urutan yang tercantum dikertas ini, mereka adalah Bian-ciang "pukulan lembek" Ban Sun, Thi-sim kian "pedang hati baja" baja" Teng Beng-hui, Jit-hay-kim-ciau "ular emas "toya tiga unsur" Sian Cun kun serta Cu-bu-teng "paku siang ma'mum" Li Toa khi !"

Setiap kali  Im Tiong-hok  menyebut nama satu orang.

Lamkiong Ceng segera mendengus satu kali.

Sebaliknya para jago Liok-lim yang berkumpul diluar ruangan sama-sama bermandikan keringat dingin.

Tatkala Im tiong-hok selesai membaca nama dari kelima orang itu, Lamkiong Ceng sudah ber  kaok-kaok karena kegusaran.

Sebaliknya para jag yang tergabung di bawah pimpinan Lamkiong Ceng berdiri dengan hati kebar kebit. Peluh hampir membasahi seluruh pakaian yang mereka kenakan.

Im-tiong-hok memandang sekejap kearah Lamkiong Ceng, lalu ujarnya sambil tertawa.

"Saudara Lamkiong, bukankah kado siaute ini luar biasa bagusnya? Betul bukan? "Im-tiong-hok," teriak Lamkiong  Ceng sambil menggigit bibirnya kencang-kencang, "tampaknya kau sudah merasa bosan didunia ini, mama ingin mencari mampus saja. "

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh saudara Lamkiong,

dapatkah kau menunggu sebentar lagi sebelum kau teruskan marah-marahmu itu ?.

Waktu itu kemarahan Lamkiong Ceng telah membuat kesadarannya hampir saja punah, mendengar perkataan tersebut, dia segera berteriak keras.

"Kentut busuk!"

Im-tiong-hok berkerut kening, dia lantas berpaling ke arah Leng Lin-lin dan melanjutkan:

"Enso baru, bersediakah kau membujuknya agar jangan marah dulu ? Perkataan siaute,  bersediakah  kau membujuknya agar jangan  marah dulu ? Perkataan siaute belum habis diucapkan!"

Mendengar perkataan itu, Leng Lin-liu berpaling dan memandang sekejap kearah ayahnya.

Leng Siau-thian segera manggut-manggut tanda setuju.

Setelah memperoleh persetujuan dari ayahnya. Leng Lin-lin baru maju menghampiri Lamkiong Ceng seraya membujuk :

"Engkoh Ceng, mengapa kau mesti marah marah ? Biarlah dia menyelesaikan perkataannya lebih dulu!"

Lamkiong Ceng hanya mendelik besar, sepatah karapun tidak diucapkan ........

Tampaknya kematian dar enam orang Toa cay-cu anak buahnya telah membuat orang ini sewot dan darah tinggi.

Im-tiong-hok masih tetap tersenyum simpul, pelan pelan dia berkata:

"Saudara Lamkong, orang persilatan mengutamakan soa kesetiaan kawan,  untuk mencegah agar saudara jangan sampai tertimpa musibah yang tidak diinginkan maka situate membantu mu untuk membinasakan manusia manusia laknat tersebut, kemudian menggunakan batok kepala laknat laknat tadi sebagai kado perkawinanmu, buat apa saudara Lamkiong malah marah marah kepadaku ?"

Ucapan itu diutarakan dengan santai dan  seenaknya, seakan-akan keenam  orang yang dibunuhnya itu adalah pengkhianat-pengkhianat yang hendak merugikan Lamkiong Ceng, sedang dia turun tangan membantu Lamkiong Ceng demi keadilan.

Meski sedang marah besar, namun Lamkiong Cang dapat mendengar semua perkataan lawan dengan jelas.

Dengan gemas dan penuh kebencian dia lantar  berteiak : "Ki Tiong, Ban-sun sekalian enam saudara adalah anak

buahku, kejahatan yang mereka lakukan sudah sepantasnya kalau di hukum olehku sendiri. Atas dasar  apa  kau mencampuri urusan ini dan membinasakan mereka ?"

Im Tiong-hok tertawa.

"Aku hanya merasa tak puas oleh perbuatan mereka sehingga membantumu atas dasar keadilan, apalagi antara saudara Lamkiong dengan siaute mempunyai tugas  yang sama, yakni menjadi congpiaupacu dari orang-orang Liok-lim utara dan selatan sungai besar. Kini siaute Lamkiong telah melakukan kejahatan,  bila siaute Cuma berpeluk tangan belaka, bukankah hal ini  menunjukkan kalau siaute Cuma berpeluk tangan belaka, bukankah hal ini menunjukkan kalau siaute tidak bersahabat ?"

Perkataan itu memang masuk di akal dan bisa diterima dengan akal sehat setiap orang. Akan tetapi Lamkiong Ceng makin lama merasa semakin tak sedap, akhirnya karena tak tahan lagi diapun membentuk :

"Im Tiong-hok, kau benar-benar keterlaluan,  kau membuatku kehilangan muka saja !" "Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh.....benarkah begitu ?" Im Tiong-hok tertawa tergelak.

Lamkiong Ceng tertawa seram,.

"Im-tiong-hok, kau jangan menganggap dirimu  sebagai orang baik, baik atau buruknya caycu anak buahku, masa aku orang she Lamkiong tidak lebih mengerti daripada dirimu?

Kemudian setelah melotot sekejap Wajah musuhnya, dia melanjutkan :

"Ada separuh diantara saudara-saudara dari ke enam benteng tersebut hadir disini sekarang, aku yakin mereka pasti marah sekali setelah menyaksikan caycu mereka mati ditanganmu, apakah kau tidak kuatir mereka akan  mencari balas kepadamu ?"

"Benar-benar suatu kejadian aneh !" seru Oh Put  Kui sambil tertawa geli setelah mengikuti pembicaraan mana, "aku tak menyangka kalau Lamkiong  Ceng yang  berperawakan tinggi besar dan kekar, ternyata tak lebih dari  tikus  bernyali kecil yang tak berkemampuan apa-apa !"

"Yaa, itulah yang dinamakan anggota badan berkembang besar, otaknya Cuma berisi kotoran manusia...." Sambung Pengemis sinting sambil tertawa:

"Saudara Lamkiong, apakah kau hendak menyuruh anak buah mereka untuk membalas dendam?"

Lamkiong Ceng segera tertawa tergelak.

"Aku orang she Lamkiong tak sampai berbuat demikian . . .

. . . ."

Belum habis dia berkata, puluhan orang jago Liok-lim yang berada diluar ruangan telah bangkit berdiri.

"Kembalikan nyawa caycu kami "

"Benar, kita harus menuntut kembali nyawa dari Caycu kita

. . . . ." "Siapa membunuh orang dia harus memyambar dengan nyawa sendiri "

"Orang she Im, locu akan beradu jiwa denganmu. "

Untuk sesaat suasana diluar ruangnn menjadi sangat gaduh, masing-masing oratg berteriak  mengutarakan kemarahannya.

Mencorong sinar tajam dan batik mata Im-tiong-hok, serunya kernudian sesudah tertawa terbahak-bahak.

"Haahhh...haaahhh ... haaahhh.. nampaknya kalian penurut sekali "

Kemudian setelah berhenti  tertawa, lanjutnya mendadak dengan setengah membentak :

"Caycu kalian mati ditangan aku orang she Im, jika kalian ingin membalas dendam, aku orang she Im akan menanti kedatangan kalian disini ! Paling baik lagi jika kalian maju bersama sama. sebab aku orang she Im tak ingin repot repot.

Suatu ucapan yang amat tegas, amat gagah dan penuh mengandung hawa pembunuhai  yang bisa menggetarkan sukma,

Para jago Liok-lim yang semula membuat kegaduhan dengan teriak-teriakannya, kini berdiri kaku di tempat semula. Ternyata tak seorang manusiapun di antara  mereka yang berani berkutik.

Bagaimanapun juga nama besar Im Tionghok memang cukup berwibawa. Orang tahu bahwa pimpinan kaum Liok-lim dari selatan sungai besar ini memiliki kepandaian silat yang sangat tangguh.

Selain daripada itu,  merekapun cukup tahu sampai di manakah taraf kepandaian silat yang dimiliki Cay-cu mereka.

Kalau Cay-cu mereka saja kena terbunuh hal ini membuktikan kalau kepandaian  lawan masih jauh diatas kepandaian caycu mereka, lantas bagaimana kalau dibandingkan diri sendiri ?

Seandainya ilmu silang mereka hebat, keadaan masih mendingan, tapi nyatanya untuk menjadi seorang Cay-cu saja tak mampu, apalagi melebihi kepandaian cay-cu mereka ?

Lamkiong Cong mengerutkan dahinya rapat-rapat, dengan perasaan terkejut segera pikirnya :

"Sialan amat kawanan kantong nasi itu !"

Tatkala Im Tiong-hok menyaksikan kawan kawan liok-lim yang berkumpul di luar ruangan tiada yang maju, mendadak ia melompat bangun, kemudian angkat kepala dan  tertawa berbahak-bahak, katanya sambil mengangkat cawan arak :

"Siaute merasa gembira sekali gembira sekalikarena kalian mengetahui keadaan sendiri sendiri ! Hari ini merupakan hari pernikahan dari pimpinan kalian, kalau tidak sampai terjadi pertumpahan darah, hal ini memang jauh lebih baik, mari, mari

.... Siaute akan  menghormati secawan arak untuk kalian semua "

Selesai meneguk habis isi cawan tersebut dia mengalihkan kembali sorot matanya ke wajah Lamkiong ceng, kemudian melanjutkan :

"Saudara Lamkiong kau sudah sepantasnya mulai membenahi anak buahmu, sebab belakanga ini orang orang Liok-lim dari utara sungai besar sudah kelewat  banyak melakukan perbuatan perbuatan yang memaluan."

Hawa amarah yang ditahan dan ditekan selama ini didalam dada Lamkiong Ceng, akhirnya meledak juga.

Dia melolot besar lalu membentuk keras:

"Im Tiong-hok! Aku orang she Lamkiong akan beradu jiwa denganmu!"

”Oo.... Mau beradu kekerasan?" seru Im Tiong-hok sambil tertawa hambar. Ketenangan orang sungguh mengagumkan, seakan gawatnya situasi sama sekali tidak mempengaruhi dirinya.

Semakin dipikir Lamkiong  Ceng merasa makin gusar.

Gelak tertawanya juga makin lama semakin keras.

"Saudara Lamkoing, jadi kau menginginkan siaute bersama segenap saudara dari tujuh propinsi di utara sama  sama takluk dan menerima perintahmu ?"

Dalam dusar dan mendongkolnya. Lamkiong Ceng hanya tahu mengumbar amarahnya saja, pada hakekatnya ia tidak memikirkan lebih jauh makna yang  sesungguhnya dari perkataan lawan.

Sambil melepaskan ubah penggantiannya yang berwarna merah, dia berseru lagi sambil tertawa seram:

"Benar aku orang she Lamkiong ingin kau mendendarkan perkataanku !"

Mendengar ucapan mana, Im-tiong-ho  segera tertawa terbahak-bahak.

Kemdian selesai tertawa dia menjura kepada semua jago yang hadir disana dan serunya dengan lantang :

"Saudara sekalian, barusan kalian telah  mendengar dan menyaksikan sendiri, Lamkiong congpiau pacu telah mengutarakan maksud hatinya. Dia menginginkan sahabat- sahabat Liok-lim dari tujuh propinsi di selatan pimpinanku menyatakan menyerah kepada-Nya. "

"Suatu cara yang hebat!" puji Oh Put Kui sambil tersenyum. "Jangan lupa dia murid siapa!" sambng Siau Lojin

tersenyum.

Dalam pada itu, Im-tiong-hok sudah berkata lagi setelah berhenti sebenar:

"Meskipun aku orang she Im tidak mempunyai jasa apa- apa, namun aku percaya, semenjak menjabat  sebagai.  Bengcu dari sahabat sahabat Liok-lim dari tujuh propinsi di selatan sungi besar, belum pernah satu kalipun kukalipun kulakukan perbuatan yang  tidak  setia kawan,  tapi hari ini Lamkiong Ceng telah memaksakan niatnya untuk mengangkangi kedudukan orang serta menguasai  para sahabat Liok-lim di selatan sungai besar, hal ini jelas  merupakan suatu perbuatan yang terkutuk. Untuk  membela diri, terpaksa aku orang she Im harus mempertaruhkan jiwa ragaku untuk bertarung sampai titik darah  penghabisan dengan Lamkiong ceng!"

Selesai berkata dia lantas melejit  ketengah  udara, kemudian bagiakan seekor burung walet melayang ketengah ruangan.

Setelah memasang kuda-kuda,  kembali ejeknya:

"Saudara Lamiong, apakah kau tidak merasa bahwa bertarung dengan siaute hanya akan mengganggu waktumu untuk bermesraan dengan pengantin perempuan ?"

Sudah menantang, mengejek lagi, betul-betul sebuah ucapan yang menusuk telak perasaan Lamkiong Ceng.

Tak heran kalau Lamkiong Ceng menjadi naik darah,  dengan mata melotot muka memerah dan wajah menyeringai, bentaknya keras-keras :

"Kentut, kentut busuk ! Bajingan she Im, serahkan nyawa anjingnya itu "

Langkah kirinya ditekuk, telapak tangan kanannya segera menydok kemuka melancarkan sebuah pukulan.

"Engkoh Ceng.   ," jerit Leng-lin lin mendadak.

Jangan dilihat Lamkiong Ceng memiliki perawakan badan yang tinggi besar, ternyata gerak geriknya cukup cekatan.

Baru saja Leng-lin-lin berseru, dia sudah menarik kembali seranganya sambil melompat mundur.

"Ada apa ? Kau tak usah mengurusi diriku!"  tegurnya dengan kening berkerut. "Engkoh Ceng, tidak dapatkah kau bersabar diri?"  bisik Leng-lin lin dengan wajah tersipu.

"Apakah kau sudah lupa hari ini adalah " Bagaimanapun

juga, memang sulit buat seorang gadis mengutarakan  isi hatinya dihadapan beribu pasang mata orang. Sebab itu dia lantas menundukkan kepalanya rendah-rendah  dan  tak mampu melanjutkan lagi kata-katanya.

Mungkin saja Lamkong Ceng tak sampai berpikir kesitu, karena Im Tiong-hok benar-benar sudah membuatnya amat marah sehingga pikirannya amat kalut.

"Dia kelewat menghina orang, aku bertekat hendak beradu jiwa dengarnya...." Demikian dia berseru, "adik Lin, harap kau menyingkir dulu, sesuai pertarungan ini  aku pasti akan meminta maaf kepadamu !"

"Benar." Im Tiong-hok segera menyambung sambil tertawa, "memang sepantasnya minta maaf, Cuma menurut  siaute, lebih baik saudara Lamkiong  minta maaf sekarang saja, takutnya kalau nanti sudah tak ada kesempatan lagi,"

Lamkiong Ceng yang sudah marah, semakin mencak mencak kegusaran sehabis mendengar perkataan itu, ucapan mana terlalu menghina dalam penilainnya seakan-akan dia sudah tiada harapan lagi untuk memetahankan hidupnya.

"Im Tiong-hk, perkampungan Siu-ning-ceng adalah tempat untuk mengubur  tulang belulangnya....!" Jeritnya mendekati kalap.

Rupanya Lamkiong Ceng sudah bertekad  berada  jiwa, namun Im Tiong hok enggan untuk berbuat demikian.

Meskipun dia tidak memberi ampun pada lawannya dengan ucapan-ucapan yang tak sedap di dalam kenyataan tidak begitu dengan hatinya.

Sambil tersenyum dia menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya pelan : "Saudara Lamkiong, aku lihat saat ini masih belum sampai waktunya bagi kita untuk beradu jiwa."

"Siapa bilang begitu ?" tukas Lamkiong  Ceng gusar, "pokoknya hari ini kalu kau tidak mampus, akulah yang binasa

!"

"Saudara Lamkiong," Im Tiong-hok kembali tertawa seraya berkrut kening, "tampaknya pertarungan kita ini sudah tak bisa dihindari lagi "

"Sejak tadi kau sudah berada dalam sebuah sangkar yang kuat, kau anggap pertarugan ini  masih bisa dihindari  ? "Heeehhh....heeehhh....  heeehhh.....  betul-betul  omong kosong !"

"Mungkin saja siaute benar-benar berada  dalam sarang harimau," ujar Im Tiong-hok sambil tertawa hambar, "Tapi, kendatipun siaute sulit untuk meloloskan diri dari kematian seperti apa yang kau katakan, sebelumnya aku hendak menerangkandulu persoalan ini sampai jelas,"

"Baiklah," Lamkiong Ceng tertawa dingin. Im Tiang-hok tertawa katanya:

"Soal mati hidup leih baik jangan kita bicarakan, sebaliknya soal kesempatan buat menang atau kalah ada  baiknya dijadikan bahan taruhan, entah bagaimana menurut pendapat saudara Lamkiong ?"

Kegemaran Lamkiong  Ceng sepanjang hidupnya adalah "bertaruh," tak heran jika hawa amarahnya mereda separuh setelah mendengar soal peraturan tersebut.

"Baik," katanya kemudian "saudara Im hendak mempertaruhkan soal apa?"

Sekulum senyuman kembali menghiasi ujung bibirnya.

Diam-diam Im Tiong-hok merasa terperanjat.  Dia tak menduga musuhnya yang sudah hampir kalap tiba-tiba  jadi sadar lagi setelah mendengar tentang pertarungan. "Aku tahu saudara Lamkiong  adalah seorang jado yang sosial dan suka menolong sesamanya. Sedang siaute pun bukan seorang manusia yang mempunyai modal besar, oleh sebab itu bagaimana seandainya wilayah kekuasaan dari seorang Lik-lim bengcu yang kita jadikan barang taruhannya

?"

Jelas sudah, peraturan tersebut bukan pertaruhan kecil- kecilan lagi namanya.

Bayangan saja wilayah seluas tujuh propsi bukan  suatu daerah yang kecil, berapa nilainya ? Mungkin tak seorang manusiapun yang bisa menghitungnya.

Apalagi masih ditambah lagi dengan kedudukan sebagai seorang Liok-lin Bengcu yang menguasai seluruh wilayah daratan Tionggoan?"

Kontan saja Lamkiong Ceng tertawa terbahak-bahak. "Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh.....  suatu pertaruhan

yang hebat,  benar-benar suatu pertaruhan yang mantap, begitu baru mantap rasa hatiku !"

"Jadi saudara Lamkiong setuju ?" tanya  Im  Tiong-huk sambil tertawa pula.

"Peratutan ini merupakansuaru pertaruan  besar  masa siaute tidak menyetujuinya ?"

"Suatu ucapan yang tepat sekali ! Bag sadara Lamkiong, kalau toh kita telah setuju untuk bertaruh maka beberapa peraturan harus dibicarakan pula, menurut saudara Lamkiong, batasan batasan macam apakah yang wajib kita terapkan ?"

0000d0w0000

"Aku pikir tak usah memakai peraturan atau  batasan batasan lagi, pokoknya siapa yang berhasil merobohkan lawannya, dialah yang berhasil unggul, kata Lamkiong Ceng.

"Lagi lagi suatu perkataan yang gagah  sebetulnya  siaute tak berani menampik Cuma aku pikir ucapanmu itu kurang seng dihati, siaute rasa sewajarnya kalau kita memuat berapa macam peraturan"

"Peraturan yang  bagaimana "Lamkiong Ceng tertegun, "Apakah. "

"Siaute rasa, pertama kita harus mencari seseorang juri ! "Emmm, memang perlu,"

"Kedua, kita harus membatasi berapa jurus serangan yang boleh kita perrunakan ?"

"Berapa ?"

"Berbicara menurut tingkat kedudukanmu, rasanya seratus juruspun sudah cukup!"

"Berbicara menurut tingkat kedudukanmu, rasanya seratus juruspun sudah cukup!"

"Baik, kalau begitu  kita tetapkan dengan seratus jurus saja,"

"Ketiga. "

"Masih ada ketiga lagi " teriak Lamkiong Ceng.

"Ketiga, meang kalah hanya boleh diputuskan  dengan saling menowel belaka."

"Saling menowel?" Lamkiong Ceng berkerut kuning, "aku rasa, hal ini kurang cocok,"

"Ooh, jadi saudara Lamkiong lebih suka suatu pertarngan beradu jiwa ?"

"Tentu saja, toh keenam  jiwa manusia itu tak boleh dikorbankan dengan begitu saja,"

"Apakah saudara Lamkiong menganggap kau miliki keyakinan untuk menangkan pertarungan ini ?"

Lamkiong Ceng segera angkat kepala dan  memandang sekejap kearah Im Tiong-hok, mendadak  hatinya merasa terkesiap. Ia menemukan bahwa sikap Im Tiong-hok meyakinkan, ia tetap santai, tenang seakan akan tak ada yang ditakutkan, belum lagi pertarungan dimulai, ia sudah jelaskanlah dalam mental. Kalau dibilang ia memiliki  keyakinan  untuk merobohkan lawan, rasanya hal ini mustahil .....

Akan tetapi kalau pertaurangan hanya dibatasi  seratus  jurus dan terbatas saling menowel belaka, mungkin juga dia masih bisa memaksanakan suatu kemenangan lewan pertarungan adu jiwa.

Berpikir sampai disitu, dia lantas menyahut: "Baiklah, kita hanya boleh saling menowel saja,"

Setelah berhenti sejenak, mendadak sambungnya sambil tertawa nyaring :

"Saudara Im, bolehkah aku menambahkan dengan sebuah syarat lagi ?"

"Tentu saja boleh !"

"Pihak yang kalah bukan saja harus menghormati pihak yang menang sebagai Liok-lim bengcu,  bahkan  dia  pun bersdia menjadi tangan kanan pihak yang menang, entah bagaimana menurut pendapatmu ?"

"Siapa setuju sekali!" seru Im Tiong-hokp sesudah berhenti sebentar, dia bertepuk tangan lagi dan melanjutkan sambil tertawa :

"Seandainya saudara Lamkiong dapat menangkap siaute dan aku bisa menjadi pembantu dirimu, kejadian ini  benar- benar merupakan suatu keberuntungan buat aku orang  she Im."

Ucapan yang bernada mengumpak ini memang gampang sekali membuat orang merasa bangga dan lupa diri.

Salah seorang diantaranya adalah Lamkiong Ceng sendiri, dia nampak berseri karena bangga.

Lalu sambil tertawa berbahak bahak serunya : "Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh tidak berani ! Tidak

berani ! Seandainya siaute yang mendampingi saudara Im. Sahabat Liok lim pasti akan merasa bahagia, jauh melebihi sewaktu siaute yang memegang tampuk pimpinan seorang diri,"

Oh Put Kui yang menyaksikan kesemuanya itu, diam-diam hanya menggelengkan kepalanya berulang kali.

Ia merasa kedua orang itu sama-sama tangguh dan sama- sama lihaynya, kalau yang  sat memiliki  kelicikan  yang melebihi samudra, maka yang lain jujur dan terbuka seperti alam jagad.

Oh Put Kui mengerti, maka hakekatnya meski pertarungan tak usah dilangsungkan, menang kalah sudah kentara sekali.

Kecuali Im Tiong-hok yang  berpura-ura saja didalam sikapnya tadi, kalau tidak makan sepuluh orang Lamkiong Ceng pun tak akan berhasil menangka dia.

Sementara dia masih berpikir. Im Tiong-hok telah berjalan menuju kearah tempat duduknya.

Dengan pemandangan tercengang Oh Put Kui memandang sekejap kearah Im Tiong-hot.....

Akan tetapi Im Tiong-hong  sama sekali tidak menaruh perhatian kepadanya, dia hanya menjuarai kepada Liam-sim- kui siu (kakek setan berhati cacad) Siau Ln dan berkata dengan sikap amat hormat :

Boanpwe sangat berharap agar Siau Lcianpwe berseid menjadi juri untuk pertaruhan kami ini !"

"Tidak bisa," tampik Jian-sim-kui-siu dengan kening berkerut. "Selama hidup lohu paling takut kalau dijadikan seorang juri, sebab kalau kurang berhati-hati bisa mendatangkan resik buat diri  sendiri,  apalagi  kalai penilaiannya dianggap kurang jujur, waaah bisa-bisa

nyawa turun melayang."

@oodwoo@