Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 13

 Jilid 13

"Ooh ..... kalau begitu nama busukmu itu berhasil kau dapatkan dengan cara yang pengecut dan tak tahu malu ? "jengek Oh Put Kui sambil tertawa dingin.

Paras muka Wi Thian yang segera berubah hebat setelah mendengar ucapan itu, dia segera tertawa seram.

"Aku tidak ambil perduli apacah cara itu rendah, pengecut atau memalukan, lohu "

Belum habis dia  berbicara, mendadak tampak sesosok bayanan manusia berkelebat lewat hadapannya.

Dengan perasaan terkesiap buru-buru Ceng-thian-kui-ong melayang mundur kebelakang .

Tangan kanannya segera diangkat dan diayun menghajar bayangan tubuh manusia yang berkelebat lewat situ ...... "Weeeesss..........! Tenaga serangan bagaikan menghantam diatas tumbukan kapas, sama  sekali  tak sanggup menimbulkan kekuatan apa-apa.

Dalam terkejutnya Ceng-thian-kui-ong segera perpikir : "Siapakah orang itu ? Mengapa rang ini tidak takut dengan

tenaga pukulanku ? Mungkinka orang itu ".

Saking cepatnya gerakan tubuh orang itu membuat Wi- thian-yang tak sempat melihat jelas siapakah gerangan orang itu.

Didalam kaget dan herannya, sekali lagi dia mundur setlah langkah dari posisi semula.

Mendadak Ceng-thian-kui-ong merasakan tangan kirinya bergetar keras sekali.

Pedang hian-peng-kian yang berhasil direbutnya dengan akal muslihat tadi ternyata berhasil direbut orang lagi.

Berbareng itu pula ia mendengar suara Oh Put Kui yang sedang tertawa tergeletak.

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh. W-thiang-yang,

maafkan aku bila aku terpaksa harus menirukan cara kerjamu tadi untuk menghadapi dirimu sekarang "

Paras muka wi Thian-yang segera berubah menjadi merah padam bagikan hati babi setelah mendengar ucapan itu, dia benar-benar dibuat marah dan mendongkol.

Sambil mengawasi Oh Put Kui yang berdiri lima depa dihadapinya sambil memegang pedang, akhirnya dia tak tahan dan meraung keras, kemudian  secepat kilat menerjang ke muka.

Tangannya diayunan berulang kali, secara beruntun  dia lepaskan tujuh buah serangan berantai.

Oh Put Kui tertawa tergelak, sepasang kakinya berputar, tahu-tahu dia sudah lolos dari ancaman serangan yang dilancarkan oleh si Raja setan yang menggetakkan langit itu. "Aaah...ilmu langkah Tay-siu-huam impoh..." dengan terperanjat Wi  Thian-yang menjerit. "Bocah keparah, apa hubunganmu dengan Mi-sian-kui-to ?".

Rupanya tanpa sengaja Oh Put-kui telah menggunakan  ilmu langkah Tay-siu-huan-impoh ajaran Mi-sim-kui-to (tosu setan pembingung hati), bukan saja berhasil meloloskan diri dari serangan yang dilancarkan Wi  Thian-yang, bahkan memancing pula bentakan kaget dari Wi Thian-yang.

Pemuda itu tahu, semestinya antara Wi Thian-yang dan Mi- sim-kui-to terikat suatu hubungan tertentu, maka dia tertawa hambar setelah mengar pertanyaan tersebut.

"Sobat. "

Dengan sinar mata memancarkan cahaya dingin yang menggidikkan hati, Wi Thian-yang membentuk keras:

"Omong kosong ! seandainya Mi-sim kui-to hanya sahabatamu, masa dia  bersedia mewarisi kepandaian silat andalan kepadamu ? Kau anggap lohu adalah seorang bocah berusia tiga tahun yang muda ditipu ?"

Oh Put Kui segera tersenyum.

"Aku bicara terus terang, seandainya  saudara  tidak percaya, yaa Apa boleh buat lagi?".

Dari sorot mata anak muda tersebut. Wi Thian-yang tahu kalau Oh Put bukan lagi berbohong, dengan kening berkerut segera ujarnya:

"Bocah muda, dimanakah kah telah berjumpa dengan Tosu setan pembingung hati itu ?"

Hampir saja Oh Put Kui mengutarkaan itu.

Tapi, anak muda itu sempat menangkap sorot mata penuh perasaan benci dan dendam dibalik mata Ceng-thian-kui-ong Wi Thian-yang tersebut, maka dia  segera meningkatkan kewaspadaannya. Sambil tertawa dia  menggalengkan kepalanya  berulang kali, katanya:

"Maaf, aku tak bisa mengutarakan kepadamu!".

"Jadi kau sudah tidak teringat?" seru  Wi  Thian-yang dengan wajahh agak tertegun.

"Aku masih ingat !"

"Masih ingat?" seru Wi Thian-yang yang penuh kegusaran, "mengapa tiak kau utarakan ?"

Oh Put  Kui terbahak-bahak.

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh.... kau  anggap saudara dapat memerintah aku dengan sekehendak hatimu? Hmmm, andaikata aku tak tersedia mengutarakan kepadamu, kau mau apa?"

Wi Thian-yang benar-benar dibuat kehabisan daya oleh perkataan tersebut ......

Seandainya berganti orang lain, bisa jadi dia akan mempergunakan kekerasan ataupun siksaan untuk memaksanya mengaku.

Namun terhadap Oh Put Kui yang begitu lihay, dia merasa tidak berkemampuan untuk melakukan perbuatan  semacam  itu.

Dengan mata terbelalak lebar-lebar, Wi thian-yang berdiri termangu untuk beberapa saat lamanya, sampai setengah harian lamanya dia tak tahu apa yang mesti diucapkan.

Oh Put Kui sama sekali tidak menggubris si apunya itu, sambil membawa pedang pendek tersebt dia  menghampiri Leng Lin-lia.

"Nona, aku telah berhasil merebut kembali pedang Hian- peng-kian ini, anggap  saja sebagai hadiahnya atas hari pernikahan nona. " Sembari berkata. Dia angsurkan pedang  Hian-peng-kiam tersebut ke tangan nona itu.

Dengan rasa terharu Leng Liu-lin menggelengkan kepalanya berulangkali, seraya :

"Hal ini mana boleh jadi.... Oh tayhiap "

Dasar pengantin perempuan, saking malunya  dia  sampai tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.

Leng Cui-cui, adik pengantin perempuan yang kebetulan berada disisinya segera tersenyum, dengan sikap yang  supel ia berseru :

"Biarlah aku mewakili cici mengucapkan banyak  terima kasih kepada Oh Kong-cu !"

Tanpa sungkan dia lantas menerima sodoran pedang Hian peng-kian tersebut.

Dalam pada itu, totokan jalan darah pada lengan kiri Jian-li- hu-siu (kakek menyendiri dari seribu li) Leng-Siau-thian telah bebas, dengan penuh rasa haru dan terima kasih, dia menjuru kepada Oh Put kui.

"Oh kong-cu ! katanya. "Budi kebaikanmu yang  telah merebutkan kembali pedang Hian-peng-kian  dari  tangan  lawan, tak akan kami lupakan selamanya. Budi ini dikemudian hari pasti akan kubalas ! Kongcu bila di kemudian hari kau membutuhkan bantuan, utarakanla terus terang, sekalipun harus terjun kelautan api, lohu tak akan menolak!"

Oh Put-kui tertawa.

"Ucapan locianpwe terlampau serius ! Menolong sesuatu yang tak adil sudah merupakan kewajiban kita  semua  ! Apalagi sebagai tamu yang tak diundang pada hari ini, bisa menyumbangkans edikit tenaga dan jasa bagi tuan rumah, hal mana sudah merupakan suatu keharusan "

Kemudian setelah menjuru, ujarnya lagi : "Bila locianpwe berterima kasih lagi. Hal mana sudah merupakan suatu sikap tak memberi muka kepadaku !"

Pada dasarnya Leng Siau-thian  memang  seorang  jago yang gagah, mendengar perkataan itu dia  lantas tertawa tergelak.

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh.... Kalau memang begitu, lohu akan menerimanya "

Oh Put kui tersenyum. Kepada Leng Cui-cui katanya :  "Nona, cepat bawa pedang tersebut kedalam, daripada

menimbulkan incaran lagi dari orang-orang yang rakus sehingga mendatangkan kesulitan yang tak terhingga bagi kalian!".

Leng Cui-cui tertawa lirih dan menyahut:

"Terima kasih atas perhatian kongcu........."  Sambil tersenym dan mengerling sekejap kearah pemuda itu,  dia membalikkan badan dan beranjak dari dri sana.

Oleh kerlingan mata yang indah tersebut, Oh Put Kui mrasakan hatinya bergetar keras, hampir saja dia  akan berteriak keras :

"Kau amat cantik. "

Tentu saja dia tidak berbuat demikian, apalagi ketika itu Ceng-thian-kui-ong telah menghampirinya.

"Bocah muda," terdengar berseru, "anggap saja pedang Hian-peng-kian itu lohu, hadiahkan untukmu!"

Betul-betul suatu tindakan yang tak tahu malu, dari sini pul dapat diketahui betapa tebalnya muka Wi-thian-yang.

Oh Put Kui tertawa.

"Saudara, kau memang benar-benar berjiwa sosial!

Perlukan kuucapkan terima kasih ku kepadamu?"

Perkataan ini berterus terang dan blak-blakan, sama sekali tak mengenal arti sungkan. Anehnya ternyata Ceng-thian-kui-ong tidak menjadi gusar karena ucapan mana.

"Lote," dia berkata, "masa kau berterima kasih kepadaku?

Kau pedang itu berhasil kau rebut sendiri?"

"Kalau saudara sudah mengerti, memang hal ini lebih baik lagi..." kata Oh Put Kui sambil tertawa.

Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan wajah serius dia berkata lebih lanjut:

"Wi tua, kita berdua sudah cukup lama mengganggu jalannya pesta pernikaan ini, apalagi akupun sudah merasa haus sekali, bagaimana kalau kita mengesampingkan dahulu semua persoalan untuk menghadiri jalannya pesta pernikahan ini lebih dulu ?"

"Jangan terburu-buru," tukas Wi Thian-yang sambil tertawa, "lote, lohu ingin mengucapkan sepatah kata lagi, kemudian akan segera mohon diri "

"Berbicara denganku?" "Benar!"

"Apa yang hendak kau bicarakan ? Katakan saja!"

Wi-thian-yang mengebaskan jubah naganya yang berwarna merah lalu, berkata sambil tertawa.

"Lote, beritahu kepada lohu, saat ini Mi-sim-kui-to berada di mana ?"

Pertanyaan itu kontan saja membuat Oh Put Kui menjadi tertegun dan berdiri termangu.

Secara langsung dia dapat merasakan bahwa Ceng-thian- kui-ong Wi Thian yang seperti ada urusan penting hendak mencari Misim-kui-to, bahkan delapan puluh persen hal tersebut menyangkut soal pembalasan dendam.

Untuk sesaat lamanya Oh Put Kui jadi termenung dan memutar otaknya keras-keras. Wi Thian yang  sendiri sebetulya merasa gelisah sekali, akan tetapi kegelisahannya tersebut tak sampai diutarkaan pada wajahnya dengan senyuman dikulum kembali  dia  berkata:

"Lote, kini loohu hanya menantikan jawabanmu?"

Oh Put Kui memandang sekejap kearah lawannya, kemudian bertanya sambil tertawa.

"Ada urusan apa kau mencari Mi-sim-kui. "Tentu saja ada urusan penting!"

"Dapatkah beritahu kepadaku, persoalan penting apakah itu

?" tanya Oh Put Kui lagi sambil tertawa.

"Lote, jadi kau baru bersedia memberitahukan tempat persembunyian Mi-sim-kui-to kepada loohu  setelah mengetahui karena  persoalan apakah loohu hendak pergi mencarinya?".

"Memang begitulah maksud hatiku!" Wi-thian-yang tersenyum,

"Antara loohu dengannya boleh dibilang mempunyai suatu perselisihan yang harus diselesaikan!"

"Soal pembalasan dendam?"

"Boleh    dibilang  begitu   ! Loohu hendak  mengajaknya berkelahi !". Mendadak Oh Put Kui tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh.....  saudaraku, lebih baik pertarungan ini jangan dilanjutkan !"

"Kenapa ?" tanya Wi thian-yang. "Apakah si tosu setan itu sudah mampus ?

Reaksinya memang cukup cepat, hanya sayang dugaagnya itu keliru besar.

"Dia belum mati, "kata Oh Put-kui sambil tertawa, "hanya saja kau sudah bukan tandingannya lagi !" "Lote, soal menang atau kalah  adalah masalah kecil.

Memenuhi janji adalah masalah yang paling utama !"

Betul-betul sepatah kata yang tepat sekali, ucapan mana segera menggerakkan hati Oh Put-kui.

"Baik!" kata On Put kui kemudian sambil tertawa, "cukup mendengar pertakaanmu itu, aku bersedia memberitahukan tempat tinganya kepadamu,"

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh....., kalau begitu lohu mengucapkan terima kasih lebih dulu!"

”Itu mah tak perlu !"

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi :

Wi tua, pernahkah kau mendengar orang persilatan mengatakan kala dialautan timar sana yang  tak pernah dikunjungi orang?"

"Kau maksukan pulau neraka ?" seru Wi  thian-yang termangu setelah mendengar ucapan itu

"Pulau itu sesungguhnya bukan bernama pulau neraka !" "Benar!"   kta  Ceng   thian-kui-ong   Wi  Thian-yang dengan

kening  berkerut.   "Bocah   keparat,   akupun   tahu   kalau kau

adalah satu-satunya orang yang bisa kembali dengan selamat dari atas pulau tersebut !"

Dengan cepat Oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya kembali :

"Maksudku pulau itu bukan bernama Pulau Negara, melainkan mempunyai nama lainnya !"

Setelah berhenti sejenak, dia menyaksikan kawanan jagi yang berada di tempat penjuru sedang memasang telinya baik-baik untuk turut mendengarkan perkataan itu.

Menyaksikan semua itu, diam-diam dia menghela napas panjang, pikirnya : "Beginilah watak orang orang dunia persilatan. Mereka  aman suka mencampuri urusan dunia persilatan."

Berpikir sampai di situ dia lalu berkata :

"Wi tua, pulau itu sebenarnya bernama Jit-hu-to  (pulau tujuh kesepinah. )"

"Jiu-hu-to ?" Wi Thian-yang tertegun.

"Ehmmm di atas pulau itu berdiam tujuh orang kakek yang hidup kesepian, itulah sebabnya pulau itu dinamakan pulau tujuh kesepian!"

Sebuah berita besar yang belum pernah terdengar oleh setiap umat persilatan, tak heran kalau berita itu segera menggemparkan setiap orang yang mendengarnya.

Walaupun Nelayan sakti dari lautan  timur Cin Poo-tiong telah menyiarkan berita tentang kehadirat Pendekat aneh Oh Put Kui di pulau neraka ke dalam dunia persilatan, namun dia tidak pernah membicarakan tentang siapa siapa yang berda di pulau itu dan apa nama yang sebenarnya dari pulau tersebut.

Oleh karena itu, hingga kini orang persilatan masih menamakan pulau kecil yang  cukup  membuat  orang bertegang syaraf tersebut sebagai pulau neraka.

Tapi hari ini, ada orang telah mengungkapkan nama yang sebenarnya dari pulau tersebut, tak heran kalau suara helaan napas panjang segera memenui seluruh arena begitu Oh Put Kui menyeleaikan perkataannya....

"Tujuh orang kakek maksudmu ?" seru Ceng-thian-kui-ong Wi-thian-yang dengan pasar muka berubah hebat.

"Benar! Tujuh orang kakek yang mempunyai riwayat besar

...." Kata Oh Put Kui sambil tertawa.

"Lote," kata Ceng-thian-kui-ong lagi dengan  wajah  sedih, "ke tujuh orang itu pastilah Bu-lim-jit-sat yang  termashur dimasa lalu......

Dengan cepat Oh Put Kui menggeleng. "Aku tidak mengetahui apakah benar atau tidak, namun mereka nebut diri mereka sebagai Bu-lim-jit-sat (tujuh orang yang kesepian dari dunia persilatan)!"

Tiba-tiba Ceng-thian-kui-ong Wi-thian-yang  menengadah dan tertawa terbahak-bahak dengan seramanya :

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh....., rupanya mereka, sudah padsti mereka "

Gelak tertawanya itu amat tak sedap di dengar,

Siapa pun  tidak menyangka kalau sikap maupun elak tertawa Ceng-thian-kui-ong Wi-thian-yang dapat berubah menjadi begitu dingin dan menyeramkan waktu singkat.

Oh Put Kui agak tertegun menyaksikan keadaan lawanya, dengan cepat dia bertanya :

"Wi tua, kau kenal dengan mereka ?" "Kenal! Semuanya kukenal ?"

Setelah berhenti sebentar, dia  menghela napas rendah, kemudian melanjutkan :

"Lote tepat sekali perkataan itu, ohu memang tak perlu mencari si Tosu setan lagi..,"

Dia nampak seperti putus asa, sikapnya yang lemah itu amat tak cocok dengan julakannya sebagai Raja setan.

Sambil tersnyum Oh Put Kui berkata:

"Wi cua jangan lupa. soal mengingkar janji adalah soal benar!"

Sekujur badan Ceng-thian.kui-ong Wi-Thian-yang bergetar keras sesudah mendengar ucapan itu.

Ditatapnya Oh Put Kui lekat lekat, mulutnya membungkam dalam seribu bahasa, diam diam pikirnya sambil menggertak gigi: "Sebelum bocah keparat ini dilenyapkan dari muka bumi, lohu tak akan memperoleh ketenangan di dalam hidupku!"

Dalam hati dia berpikir demikian, diluaran dia menghela napas panjang, katanya:

"Bila ke tujuh orang manusia aneh ini hadir semua disana, sekalipun lohu kesitu juga percuma !"

Setelah   berhenti sejenak, dia manggut-manggut dan berkata sambil tertawa:

"Benar, mengingkar janji adalah masalah besar, loohu memang barus melakukan perjalanan kesitu."

Perawakan tubuhnya yang tinggi besar itu segera berputar sorot matanya dialihkan ke datam ruangan dan memandang sekejap kawanan jago disitu. kemudian ujarnya sambil tertawa nyaring:

"Sekiranya loohu telah mengganggu  kegembiraan kalian semua, harap saudara semua sudi memaafkan !"

Bayangan nerah tampak berkelebat cepat, tahu-tahu dia sudah melambung ketengah udara.

Benar-benar suatu gerakan  tubuh yang sangat cepat bagaikan sambaran kilat.

Ceng-Thian.kui-ong telah berlalu, namun dari  kejauhan sana masih terdengar suaranya yang bergema tiba-tiba:

"Hui Lok lote, soal pembunuhan yang kau lakukan terhadap Nyoo Thian Wi pasti akan lohu perhituugkan lagi di kemudian hari! Tunggu saja kedatanganku nanti !"

Kalau didengar suaranya,  orang itu jelas  berada  beberapa Ii dari tempat itu.

Namun ucapannya yang terakhir ibaratnya dinamit yang meledak secara tiba-tiba. Seketika itu juga suasana dalam ruangan menjadi gempar, paras muka semua orang jago yang hadir didalam maupun diluar ruangan sama-sama berubah hebat.

Terutama sekali kelima orang Ciangbujin dan lima partai besar serentak mereka mereka melompat bangun.

Benarkah si Kakek pelenyap hati pemutus usus Hui Lok yang melakukan pembunuhan keji itu?

Pembunuhan atas Hu mo-sutay dan Tohong Sutay dan Pek-siu-an.,..

Nyawa  dari Kirn-teng-sin-yu serta Wan-song-siu ,..

Keluarga Leng-hong-biu suami isteri dikebun Ci-wi-wan . . .

. .

Nyatanya peristiwa pembunuhan itu dilakukan oleh Hui Lok

. . . . .

Saking terperanjatnya, kelima orang ciang bunjin itu sampai membelalakkan matanya lebar-lebar. mereka mengawasi wajah Kakek pemutus usus pelenyap hati lekat-lekat.

Bagaimana dengan Hui Lok sendiri?

Iblis tua berkepala botak ini  nampak diliputi kemarahan yang meluap luap, hawa napsu membunuh yang amat tebal tebal telah menyelimuti wajahnya . . .

Dalam anggapan lima orang ciang bunjin dan lima partai besar gembong Iblis tersebut sudah berniat untuk melakukan pembunuhan guna membungkamkan mulut mereka.

Padahal yang sebetulnya. Kakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok sedang dibikin kegusaran oleh sikap dan ucapan Wi thian-yang tersebut...

Mimpipun dia  tak menyangka  kalau Ceng Thian-kui-ong bakal menfitnahnya sesaat sebelum meninggalkan tempat itu, bahkan fitnahan tersebut merupakan suatu fitnahan yang membuatnya sulit untuk membebaskan diri dengan  begitu saja. Untuk mengejar iblis keparat tersebut rasanya mustahil!

Hui Lok mengerti ilmu silatnya masih berada dalam taraf seimbang dengan kepandaian si1at yang dimiliki Wi-thian- yang.

Mau memberi penjelasan? Rasanya tindakan tersebut dianggap sebagai suatu tindakan yang berlebihan, tak nanti orang lain mau mempercayai penjelasannya.

Oleh karena itu si Kakek pemutus usus pelenyap hati Huk Lok hanya bisa mangkel dihati, andaikata bukan berada dalam swasana pesta pernikahan, sudah pasti ia telah mencaci maki kalang kabut.

Pada saat itulah ada seorang yang sedang tertawa tergelak didalam hatinya.

Orang itu tak lain adalah Nyoo Ban-bu!

Penampilan sikap maupun mimik wajahnya amat aneh dan luar biasa, seperti lagi senyum tak senyum dan  gembira melihat yang lain tertimpa bencana, iapun menunjukkan sikap seperti merasa gembira karena dari menyaksikan dua harimau segera akan tempur ..........

Selama ini Oh Put Ki mengawasi terus gerak geriknya terutama saat ini .....

Oh Put Kui telah menemukan: Dikala ia memberi kesulitan dan mempelajari kepada Wi Thiau-yang tadi, putra Nyoo Thian-wi ini  justru menunjukkan sikap gelisah  bercampur gusar.

Sebaliknya dika'a wi Thian-yang merasa bangga  dan gembira, Nyoo Ban-bu turut tertawa gembira pula.

Mengapa dia besikap demikian?

Hanya ada satu kemungkinan dia bisa bersikap demikian, yakni antara dia dengan wi Thian-yang telah menjalin suatu hubungan yang istimewa. Tapi, hal ini merupakan suatu yang sangat tak masuk diakal?

Sudah selama hampir empatpuluh, tahun  Ceng-thian.kui ong disekap didalam gunung, sebaliknya Nyoo Ban-bu baru berusia tiga puluhan tahun.

Mustahil mreka saling mengenal, apalagi Wi Thian-yang sendiripun belum lama lolos dari kurungan, pada hakekatnya antara mereka berdua tidak terdapat kesempatan untuk saling bersua.

Semakin dipikir Oh Put Kui merasa  pikirannya  semakin kalut dan kebingungan.

Ia merasa makiti dipikir persoatan itu makin aneh, sama sekali tak dipahami olehnya alasan dibalik peristiwa itu.............

Namun dia masih juga berpikir terus. Hingga akhirnya lima orang ciangbunjin dan lima partai besar itu berjalan mendekatinya

Oh Put Kui tidak kenal dengan mereka, maka diapun merasa tak perlu untuk menyampai, Merski  dia sudah mengetahui sejak tadi kalau kelima orang itu adalah kotua dan a partai besar.

Tatkala kelima orang itu berada beberapa kaki di hadapannya, mendadak Oh Put-kui menyelinap ke samping dan mundur sejauh tiga langkah,  setelah itu membalikkan  tubuh berjalan menuju ke tempat duduknya.

Lima orang ciang bujin itu berlagak seotah olah tidak melihat, mereka tetap melanjutkan perjalanannya menuju ke depan.

Jalan torus ke depan tiada hentinya.,..,.

Mereka borjalan hingga ko depan Kakek pemutus usus penyeap hati Hui Lok sebelum berhenti.

Sorot mata Hui Lok  dengan ketajaman bagaikan  kilat mengawasi kelima orag dengan tak berkedip. Sementara kolima orang ciang bujin b1as melotot pula ke arah Hui Lok.

Mendadak Hui Lok menengadah dan tawa terbahak-bahak Mengapa ia tertawa ? Ataukah berasa benci ?

Gelak tawa tersebut peuuh meugandung hawa murninya yang diatih hingga mencapai seratus tahun itu.

Dalam watu singkat dua per tiga dan tamu yang berada di dalam maupun di ruangan sama-sama meuntupi telinga dan mernegang dada sendiri keras-keras, bahkan seperti orang yang sedang mabuk segera roboh bergelimpangan ke tanah.

Mereka tak sauggup menghadapi suara gelak tertawanya yang amat memekakkan telinga itu.

Tak kuasa lagi Oh Put-kui berkerut kening dan teguraya "Siau tua, bila gelak tertawa dan  Hui Lok tiiak segera

diakhini, kemungkinan besar sebagai dan kawan-kawan. Liok- lim yang berada di sini akan rnenderita luka parah !"

Siau lojin egera tertawa.

"Biarkan dia berbuat sepuas-puasnya! Toh orang orang itu ada1ah tamunya sendiri !"

Tapi dengan cepat Oh Put kui menggelengkan kepaanya berulaug kali, sertanya

"Siau tua-kui memang tak main disebut manusia  paling buas dan berhati kejam di didunia ini !"

"Bocah muda, bukanlah bisa yang sudah terjadi merupakan uruan yang lewat, buat ape ka mesti mencampurinya ?"

"Lantas mengapa kau orang tua tidak menghalangi Hui Lok untuk segera meng hentikan gelak tertawanya 7"

Sian lojin segera tertawa. "Bocah muda bukankah kau sendirianpun sanggup untuk mencegah dia tertawa terus ? Mengapa kau  tidak melakukannya ?"

Oh Pur Kui menjadi tertegun mendengar perkataan itu, untuk sesaat dia tak mampu untuk menjawab.

Benar juga perkataan itu, bukankah dia sendiripun memiliki kemampuan untuk berbuat begitu ?

Tak tahan lagi dia segera tertawa tergelak.

"Benar juga perkataan kau orang tua," katanya, "baik, boanpwe akan memaksakan din untuk mencobanya!"

Baru saja uca pan terakhir dirtarakan, dan tengah arena telah berkumandang suara ben takan nyaning.

"Hhaaaitt,...!" inilah lirnu Auman  singa  dan kalangan Buddha yang amat tersohor itu.

Rupanya Hui-seng taysu, ketua dad Sian-tim-si sudah tak taha menyastkan keadaan tersebut berlaugsung  terus menerus.

Begitu auman singanya dilontarkan,s egera itu juga Hui Lok berhenti tertawa.

Sedangkan kawanan jago Liok lim yang berada didalam ruangan maupun diluar ruangan segera merasakan daya tekanannya berkurang seteah gelak tertawa itu terhenti semua orang dapat berdiri tegak kembali dengan dada lapang dan napas lega.

oOdwOoOOdwOo

"HUI SICU, apakah kau tidak kuatir melukai para jago yang menghadiri perjmuan ini?" tegur Huiseng taysu kemudjan.

Kekek pemutus usus pelenyap hati Hul Lok seperli merasa tertegun, kemudian bergumam:

"Melukai mereka ?" "Sicu," kembali Hui-seng  taysu berkata dengan kening berkerut "bila kau himpun tenaga dalam rangka latih selama puluhan tahun kedaam gelak tertawa bagaimaia mungkin beribu orang jago yang berada disini bisa menahan diri?"

Sekaraug Hui Lok baru mengerti apa yang dimaksudkan, katanya dengan suara lirih :

"Ciangbunjin, tadi apakah yang telah memperdengarkan ilmu auman singa dan kalangan Buddha?"

Hui-sin taysu tertawa.

"Betul, memang itulah perbuatan lolap." Tiba-tiba Hui Lok menjuara seraya berkata:

"Terima kasih banyak atas teguran ciangbunjin yang telah menyadarkan loohu.,.

Sikap yang ditampilkan Hui Lok segera membuat kelima orang cianbunjin tersebut diam-diam merasa kaget.

Hian-leng tootiang dan Bu.tong.pay menjura dan tertawa pula, katanya kemudian:

"Hui toyu, apakah barusan kau tertawa tergelak lantaran Ceng-thian.kui.ong Wi  Thian-yang berhasil membongkar rahasia kebusukanmu?"

Pertanyaan yang diajukan secara blakblakan ini amat tak sedap didengar, bisa di duga pertanyaan itu tentu  akan menimbulkan hawa amarah lawannya.

Betul juga, Kakek pemutus usus pelenyap hati  Hui  Lok yang sebenarnya sudah agak reda kemarahannya, segera bermurung muka lagi setelah mendengar perkataan itu.

"Hian leng, apa maksudmu berkata demikian?" tegurnya, "kau anggap Nyoo Thian-wi benar-benar mati terbunuh ditangan lohu?" "Haaahhh....haaahhh...haaahhh..Wi Thian-yang telah berkata demikian,  apakah toyu bermaksud untuk menyangkal?" seru Hian tootiang lagi sambil tertawa panjang.

Kontan saja Hui-lok melototkan matanya bulat-bulat, segera bentaknya keras-keras :

"Andaikata Wi Thian-yang mengatakan si hidung kerbau yang membunuh Nyeo Thian-wi, lohu ingin bertanya, apakah kau si hidung krbau bersedia untuk mengakuinya ?"

Hian-leng tootiang segera tertawa, ujarnya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali:

"Pinto ta pernah melakukan perbuatan semacam ini, mana mungkin Wi Thian-yang akan menuduh pinto?"

Dari ucapan tersebut bisa disimpulkan kalau dia sudah mempercayai perkataan dari Wi Thian-yang tadi.

Tak heran kalau kemarahan Hui Lok semakin berkobar sehingga sapasang matanya memancarkan cahaya  berapi-  api.

"Hian-leng!" teriaknya dengan marah, "lohu akan memperingatkan kepadamu agar bertindak lebih waspada, ketahuilah Wi Thian-yang sedang menggunakan siasat melimpahkan bencana kepada orang lain untuk  menfitnah diriku! Cuma saja..."

Setelah mendongakkan kepalanya dan tertawa dingin, dia melanjutkan :

"Andaikata kalian menganggap lohu yang telah membunuh Nyoo Thian-wi, lohu pun tak akan ambil perduli !"

Hiang-leng totiang menjadi tertegun  setelah mendengar perkataan itu, serunya keheranan :

"Wi Thian-yang sedang menfitnah dirimu ?" "Heeehgh....heeehhh.....heeehh..... mengapa tidak kau

tanyakan sendiri kepada Wi Thian-yang?" Hui Lok  tertawa dingin tiada hentinya dengan perasaan gemas. "Sayang Wi Thian-yang telah pergi !" Hiang-leng totiang menggelengkan kepalanya berulang kali.

Han-sian-hui-kim (pedang suci) Wi Min duri Kay-pang yang berada disisinya segera berkerut kening setelah mendengar jawaban dari Hian-leng totiang itu.

Hiang-leng toheng, kau benar benar teramat jujur sehingga mudah ditipu orang!" tegurnya.

Hiang-leng totiang berpaling sambil tertawa. "Pinto memang tak pernah berbohong  !" Wici Min kembali tertawa getir.

"Toheng, sudah kau dengar jelas bukan apa yang diucapkan oleh Hui tua tadi ?"

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh....., pinto  tidak  tuli tidak bisu, mengapa tidak jelas ?"

Toheng, kalau toh kau mendengar jelas semuanya itu, buat apa lagi kau ribut terus dengan Hi tua tersebut ?"

Hian-leng totiang segera berkerut kening setelah mendengar perkataan itu, katanya :

Merecki bagaimana maksudmu ?

Wici Min menggelengkan kepalana berulang kali, katanya : "To-heng, mengapa kau tidak pikirkan masalahnya dengan

lebih teliti dan seksama lagi ?"

Sesudah berhenti sejenak, sambil berpaling ke  arah  Hui Lok lanjutnya lebih jauh:

"Hui tua, siasat menfitnah dan melimpahkan bencana kepada orang lain yang diperbuat Wi Thian-yang memang terhitung cukup lihay. Hanya saja akupun ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada Hui tua "

Hui Lok tertawa dingin, "Heeehhh....heeehhh.... heeehhh....., aku tahu  bahwa  kalian tak akan menyerah dengan begitu saja, katakanlah!"

"Hui tua, apakah dimasa lampau kau mempunyai ikatan dendam atau sakit hati dengan Wi Thian-yang?"

"Kalau toh tiada ikatan dendam atau sakit hati, mengapa Wi Thian-yang melimpahkan bencana kepadamu ?"

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh....., soal ini harus ditanyakan sendiri kepada Wi Thian-yang!" sahut Hui Lok sambil tertawa terbahak bahak.

Wici Min turut tertawa.

"Hui Lok, kalau memang begitu jawaban  mu tadi merupakan suatu jawaban yang terdesak!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Hui Lok, katanya setelah termenung sebentar :

"Wici Min, terserah kepada jalan pikiran mu sendiri. Apa yang ingin kau pikirkan, pikir saja demikian!"

"Jadi saudara telah mengaku telah  memnbunuh Nyoo Thian-wi?" kata Wici Min sambil tertawa dingin.

"Aku tak pernah mengakui masalah ini, Toh kau  sendiri yang mengatkaan begitu."

Wici Min tertawa dingin pula.

"Aku tidak percaya kalau tanpa sebab tanpa musabab Wi Thian-yang akan memfitnah dirimu."

Mendengar ucapan mana, Hui Lok mengalihkan wajahnya ke atas wajah kelima orang ciangbujin tersebut, kemudian katanya :

"Apakah kalian berlima menganggap peristiwa mana hasil karya lohu ?"

Baru saja Wici Min tertaw dingin Hui-sin tasyu telah berkata lebih dahulu : "Lolap sekalian sama sekali tidak bermaksud untuk berbuat begitu !"

Hmmm!" Hui Lok mendengar, "tampaknya kau si  whesio cilik masih cukup tahu urusan!"

Waktu itu, Hui-sin taysu selain merupakan ketua dari suatu perguruan besar lagi pula merupakan seorang yang sudah lanjut usia, akan tetapi Hui Lok telah memanggilnya sebagai whesio cilik, kenyataan tersebut kontan saja membuatnya menjadi menangis tak bisa tertawa pun tak dapat, yang bisa dilakukan hanya meringis belaka.

"Sicu, pincang sekalian berlima merupakan orang orang yang muncul paling awal ditempat terjadinya peristiwa berdarah itu." Demikian ia berkata kemudian. "Maka demi menegakkan keadilan dan kebenaran  didalam  dunia persilatan, mau tak mau pincang sekalian harus melakukan penyelidikan atas siapa gerangan pembunuh tersebut "

"Heeehhh....heeehhh.... heeehhh....., maksud tujuannya memang mulia, tak malu menjadi ketua dari perguruan lurus !" ejek Hui Lok sambil tertawa dingin.

Hui-sin taysu segera merangkap tangannya di depan dada sambil tertawa.

"Sicu, sewaktu keempat peristiwa pembunuhan  berdarah  itu berlangsung, sicu berada dimana ?" tanyanya.

Dengan diutarakannya perkataan itu,  berarti dia menunjukkan sikap tidak percayanya kepada Hui Lok.

Mendengar perkataan itu, Hui Lok segera tertawa seram. "Heeehhh....heeehhh.... heeehhh....., Hui-sia, untuk apa

kau mengurusi gerak gerikku ?"

"Pinceng percaya kalau lo-sicu bukan pembunuhanya, dan aku percaya ketika peristiwa pembunuhan itu berlangsung, lo sicu tak mungkin hadir di arena "

"Itu pun belum tentu ! Hui Lok tertawa seram. Setelah berhenti sejenak, dia berpaling ke  arah  Kakek setan berhati cacad, kemudian melanjutkan :

"Siau loko bisa menjadi saksi, keuasan lohu tak akan lebih rendah dariada kakek setan berhati cacad !"

Sui-sin taysu terpaksa menyimpulkan senyuman getirnya diujung bibirnya, katanya :

"Hui lo si-cu, nampaknya kau tidak bermaksud untuk melepaskan diri dari segala tuduhan yang  dilimpahkan kepadamu?"

Mendengar perkataan tersebut, Hui Lok tertawa terbahak- bahak.

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... lohu harus melepaskan diri dari apa ?

Kentua Hoa-san-pay Tui-hong-kiam-siu "Kakek pedang pengejar angin" Bwe Kumpang yang selama ini membungkam dalam seribu bahaa tiba-tiba berkerut kening, lalu setelah tertawa dingin bentaknya dengan suara gusar :

"Hui Lok, apakah kau tidak merasa bahwa ucapanmu itu kelewat latah ?"

Hui Lok tertawa seram.

"Bwee Kun-peng. Ucapan itu kau tujukan kepada lohu ? Hmmm, ayahnya Bwee Tiang-hong pun tak berani bersikap begitu kasar kepadaku tampaknya jaman sekarang sudah

jaman terbalik "

Berbicara sampai disitu, kembali dia mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak,

Merah padam selembar wajah Bwee Kun-peng karena jengah, tapi hawa amarahnya justru  semakin  berkobar, katanya dengan gusar

"Hui Lok, kalau kau bernyali untuk melakukan, mengapa tak bernyali untuk mengakui ? Perbuatan yang melempar batu sembunyi tangan semacam kau itu bukan termasuk perbuatan seorang enghiong ! Hmm terhitung lelaki macam  apakah dirimu itu ?"

Hawa pembunuhan  dengan cepat menyelimuti seluruh wajah Hui Lok, katanya :

"Jadi apa maksudmu sekarang ?"

"Jika kau memang seorang pembunuh kami akan membekukmu !"

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... baik ! Terlepas apakah lohu seorang pembunuh atau bukan, mengapa kalian tidak mencoba coba lebih kemampuan kalian untuk  menangkap seorang pembunuh ?"

Bwee Kun-peng segera berkerut kening, lalu sambil berpaling kearah Hui sia taysu katanya :

"Tyasu, tampaknya suatu pertempuran sengit tak bisa dihindari lagi !

Hu-sin taysu memandang sekejap darah Hui Lok, kemudian katanya

"Hui sicu apakah seorang pembunuh  atau bukan,  sampai  ini kita belum bisa memastikan, lebih baik  kita  jangan bertindak terlalu gegabah."

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... kalian tak  perlu ragu lagi," kata Hui Lok tiba-tiba sambil tertawa tergelak,"

"hei hwosio kecil, lohu ingin menyaksikan kemampuan dan pantas untuk memimpin suatu perguruan besar, mari ! Maju saja bersama-sama !"

Keadaan sudah bertambah kritis, tampaknya walaupun kelima orang ciangbunjin itu enggan turun  tangan  pun terpaksa harus turun tangan juga.

Cui-sian Sangjin dari Go-bi-pay segera tertawa terbahak bahak. "Sicu, lolap akan bertarung  dulu melawanmu!" serunya lantang.

Diantara lima orang ciangbunjin, usianya paling tua, berbicara soal tingkatkan kedudukan diapun setingkat lebih tinggi dari pada ke empat orang lainnya, ilmu Tay-seng- siangkang yang dimiliki telah mencapai tingkatan yang luar biasa, hal mana membuat dia sangat hambar terhadaps egala macam perebutan nama maupun kedudukan, setiap menghadapi persoalan pun  dia jarang turun tangan lebih dahulu.

Tapi hari ini, setelah menjumpai seperti itu, dia tak bisa bersembunyi lagi.

Begitu selesai berkata, tubuhnya segera melesat kemuka mendekati Hui Lok.

Hui Lok segera tertawa tergelak.

"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... Cui hwesio, kalau hanya seorang diri, kau tak bakal mampu untuk menahan diri

!"

Blaamm.....blaammm....." dua kali benturan  keras menggema diangkasa, kedua  belah pihak kembali mundur selangkah.

"Sicu, hebat sekali tenaga pukulanmu itu !" seru cui-sian sangjin tertawa keras.

Hui Lok tertawa seram pula..

"Cui hweso, aku lihat kau pun bukan seorang manusia yang terlampau bodoh..."

Bayangan abu-abu berkelebat lewat, mendadak dia menyerobot maju kedepan dengan kecepatan luar biasa, teriaknya keras keras :

"Suruh mereka maju bersama, kalau tidak kau tak akan sanggup menghadapi seratua gebrakan serangan lohu !" Sambil melancarkan serangan balasan, Cui-siau sangjin tertawa terbahak-bahak.

Tidak usah..." katanya, "bila lolap tak sanggup menahan diri nanti, mereka toh akan maju dengan sendirinya!"

Ditengah deruan angin pukulan yang memekikkan telinga, sepuluh jalur gulungan angin tajam segera memancar kemana-mana!.

Bagi kawan-kawan jago Liok-lim yang berkepandaian silat agak cetek, saat itu mereka hanya sempat menyaksikan ada dua sosok bayangan manusia yang saling bergumul menjadi satu.

Dalam waktu singkat, kedua belah pihak telah saling menyerang dua puluh jurus lebih.

Oh Put Kui yang menonton jalannya pertarungan itu segera berkata sambil sambil tertawa:

"Siau tua, tampaknya ilmu pukulan yang dimiliki Hui Lok tidak terlampau tinggi!"

"Keliru besar jika kau berpendapat dimikian," kata Siau lojin sambil tertawa. "bocah muda, Cui-sian sangjin adalah seorang tokoh tua dan tingkatan yang lebih tiuggi! Seandainya berganti dengaa ciangbunjin liannya kau akan menyaksikan kelahayan Hui Lok yang sebenarnya!"

Seperti baru memahami akan Put Kui segera tertawa.

"Siau tua, kalan kudengar dan cara pembicaraanmu tadi, maksudmu ilmu silat dari Cui-sian sangjin memang tidak lebih rendah dani pada kepandaian yang dimiliki Kakek pemutus usus pelenyap hati"

Sian lojin rnanggut-manggut.

"Yaa benar, Cui-sian memang tak pernah  memikirkan persoalan lain kecuali ilmu silat, oleh sebab itu  kepandaian silat yang dimilikinya lihay sekali, cuma jarang sekali orang persilatan meugetahui akan persoalan ini !" "Dari mana kau bisa tahu?" tanya Oh Put Kui kemudian sambil tertawa," Gurumu yang mengatakan !" Oh Put Kui menjadi tertegun.

"Apa hubungan antara guruku dengan dia?" Dia tahu kalau gurunya Tay-gi sangjin!

Sangat jarang bergaul dengan orang lain, itu berarti dia pun jarang mempunyai teman.

Siau lojin segera tertawa.

Bocah muda, Cui-sian sangjin nasih termasuk murid terdaftar dan gurumu !"

”Ooooh ......?" perkataan tersebut semakin membuat Oh Put Kui menjadi tertegun.

"Bukankah dia adalah seorang ciangbujin dari Go-bi-pay?

Mengapa dia bisa menjadi muridnya guruku ?"

"Apa salahnya menjadi murid terdaftar seseorang ?" Setelah berhenti sebentar dia berkata lagi :

"Sang Budha maha pengasih hanya bertujuan mewariskan pelajarannya kepada umat  manusia  tanpa  membedakan antara kelompok dan  perguruan. Mengapa pula dia harus menitik beratkan pada soal perguruan ?"

Sekarang boanpwe sudah mengerti !"

"Kau sudah mengert ? Kalau begitu kau tahu bukan bahwa Cui-sian sangjin tidak bakal menderita kekalahan !"

Belum habis Oh Put-kui berbicara, mendadak dari arah  arena sudah berkumandang suara bentakan nyaring.

Menyusul kemudian nampak dua sosok bayangan manusia saling berpisah satu dan yang lainnya.

Cui-sian sangjin masih berdiri di tempat semula dengan senyuman dikulum. Sebaliknya Kakek pemutus usus penyelap hati Hui Lok berdiri lima depa dari tempat semula  dengan wajah terkejut bercampur keheranan. Diawasinya wajah Cui- sian sangjin dengan termangu-mangu, kemudian baru berteriak penuh kegusaran :

"Cui hwesio, semenjak kapan kau melatih ilmu Thian-liong- ci ?"

Dengan cepat Cui-sian sangjin menggeleng.

"Hui sicu. Ilmu jari yang kugunakan barusan bukanlah ilmu jari Thian-liong-ci !"

"Heeehhh....heeehhh.... heeehhh..... bukan Thian-liong.ei ?

Kau ingin membohongi lohu ?"

"Tidak, aku tidak membohongi dirimu, karena ilmu jari yang gunakan adalah ilmu jari It-ing-ci."

"It-ing-ci ? Mengapa ilmu jari ini jauh lebih lihay  daripada ilmu jari Thian-liong-ci ?.

Mencorong sinar tajam dari mata Hui  Lok,  katanya lagi : "Cui whesio, dari mana kau bisa mencuri ilmu silang yang

dimiliki Tay-gi sangjin ?"

"Omintohut !" Cui-sian sangjin segera  merangkap tangannya di depan dada. "Sebagai sesama murid Baddha, tiada perbedaan antara partai yang satu dengan   partai lainnya. Pinceng memang bernasib baik sehingga mendapat kesempatan untuk memperoleh petunjuk dari Tay-gi sangjin Apa yang harus diherankan dalam peristiwa ini ?"

Hampir tidak percaya Hui Lok setelah  mendengar perkataan itu. Sepasang alis matanya segera berkerut kening.

"Cui hweesio. Kau adalah seorang ciang bunjin dari suatu perguruan besar, kecuali ilmu silat dari Go-bi-pay, mana boleh kau pergunakan ilmu silat lain ? Apakah kau tidak kuatir jika perbuatanmu itu telah melanggar aturan dari leluhurmu ?"

Cui-sian sangjin segera tertawa terbahak-bahak setelah mendengar perkataan itu. "Hui sicu, sejak partai Go-bi didirikan oleh  Kay-ti  taysu, tiada peraturan perguruan yang melarang anggotanya mempelajari ilmu silat dari perguruan lain, sicu !  Jika  suatu saat kau sudah bosan dengan kehiduan keduniawian, lolap bersedia untuk mengundang sicu masuk kedalam perguruan Buddha....,..., "

Tampaknya dia bermaksud untuk mengajak iblis ini kembali ke jalan yang benar dan mengabdikan diri untuk sang Buddha.

Mendengar perkataan tersebut. Hui Lok  segera menggelengkan kepalanya berulang kali sambil tertawa terbahak-bahak.

"Cuci hwesio, tampaknya kau memang sudah terlalu mendalami pelajaran  agamamu sehingga dalam tiga patah katamu pasti ada  sepatah kata  yang menyinggung soal agama!"

"Omintohud! Buddha maha pengasih tak pernah menlak orang yang bertobat.... Sicu, bagaimana kalau pertarungan pada hari ini kita akhiri sampai disini saja ?"

Ia cukup memahami keadaan yang terbentang didepan mata saat ini, Cui-sian-sangjin telah mendapat warisan ilmu silat dari Tay-gi sangjin, itu berarti tipis sekali kemungkinan baginya untuk menangkan pertarungan tersebut .......

Oleh karena itu, bagi Cui-sian sangjin mengusulkan untuk menghentikan pertarungan tersebut, dengan cepat dia menyatakan akur.

Tapi Bwe Kuan-peng tidak setuju kalau persoalan diakhiri sampai disitu saja, dengan cepat dia berseru :

"Cui taysu, kalau memang Hui Lok adaah seorang pembunuh kejam, mengapa taysu "

Belum   habis berkata,   Cui-sian sangjin telah tertawa tergelak sembari menukas :

"Keliru besar, Bwee sicu, kau anggap keliru besar jika menuduh Hui sicu sebagai seorang pembunuh keji !" "Cui taysu, darimana kau bisa tahu kalau dia bukan  seorang pembunuh " Bwee Kunpeng tidak percaya.

"Benar, darimana dia bisa tahu ?"

Persoalan ini merupakan persoalan yang  ingin diketahui oleh setiap umat persilatan yang berada disitu.

Cui-sian sangjin segera tertawa,

"Sebab Hui sicu masih belum memiliki kemampuan untuk membinasakan Nyoo thian-wi!"

"Cui taysu, apakah hal itu bisa digunakan sebagai bukti ?" sela Wici Min tiba-tiba.

"Ilmu silat kalau tak dipakai sebagai bukti, maka kita akan bergunakan apa sebagai tanda bukti ? Ilmu silat yang dimiliki Hui Lok memang sangat lihay,  tapi dia  tak lebih hebat daripada kedua rang suthay dari kuil Pek-siu-sian, apalagi kalau dibandingkan dengan Kim-teng-sin yu kepandaian mereka berimbang, apalagi jika dibangikan dengan Nyoo Thian-wi "

Setelah tertawa dan berhenti sejenak, tambahnya : "Hui Lok masih kalah satu tingkat !"

"Apakah dia tak bisa melancarkan serangan dengan cara menyergap ?" seru Wict Min sambil menggeleng.

Kembali cui-sian, andaikata ada yang berilmu silat lebih cetek daripadmau yang cara diam-iam mendekati dan ingin mencelakaimu, dapatkah kau merasakan gerak geriknya ?"

"Tentu saja dapat !"

"Nah itulah dia, kalau memang demikian coba pikirkan lagi dengan seksama "

Wici Min segera menundukkan kepalanya  dan  berpikir sebentar, setelah itu ia baru berseru dan  sambil tertawa terbahak-bahak.

"Sangjin, sekarang benseng sudah mengerti." "Kalau sudah mengerti, bagus sekali ,"

Sampai disitu. Cui-sian sangjin  lantas  merangkap tangannya didepan dada dan berkata kepada Hui Lok :

"Hui sicu, bila kami telah menaruh kesalah paham terhadapmu tadi, lolap mewakili lima partai besar memohon maaf yang sebesar-besarnya kepadamu, harap Hui sicu tidak menjadi tersinggung adanya!"

@oodwoo@