Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 04

 
Jilid 04

SEKARANG, di bawah iringan putrinya Hoa Pek lian dan menantunya Pek bin kimkong (raksasa berawajah seratus) Ku Cu Jeng telah  berjalan keluar dari dalam perkampungan. Dengan cepat Oh Put kui menjumpai bahwa beberapa orang tianglo dari partai-partai besar tersebut bersikap menghormati sekali terhadap Hoa hujin ini, bahkan jauh lebih menghormati dari pada sikap mereka terhadap Hoa tay siu.

Selain dari pada itu, diapun menemukan meski usia Hoa hujin telah mencapai lima puluh tahunan, namun rambutnya telah beruban semua sehingga sepintas lalu dia  nampak seperti seorang nenek yang telah berusia tujuh puluh tahunan. Tanpa terasa pikirnya didalam hati:  "Sepasang suami istri benar-benar hebat sekali, yang satu lebih tua  sedang  yang lain tampak lebih muda, belum pernah kujumpai  kejadian semacam ini sebelumnya. "

Pelan-pelan Yau ti sian li Lan tin go berjalan ke samping Ho tay siu, setelah memandang sekejap ke arah Thian mogiok li Siau un, pedang iblis berbaju merah dan iblis sakti pedang kemala, ujarnya  kemudian: "Siangkong, persoalan apakah yang menyebabkan lonceng tanda bahaya dibunyikan?" Hoa Tay siu segera tersenyum. "Kau baru sembuh dari penyakit yang diderita, mengapa harus turut keluar? Cukup aku seorang pun persoalan di sini sudah bisa dibereskan, aku menyuruh Hee lote membunyikan lonceng tanda bahaya karena ingin memberitahukan kepada para pemanah agar bersiap-siap menghadapi serbuan lawan...." mendengar keterangan tersebut, Lau Tin go baru merasa agak lega, katanya kemudian : "Siangkong, bukankah dia adalah Siau un titli dari keluarga Kit?

"Benar dan keponakan perempuan kita inilah  yang telah membawa kesulitan untuk kita!"

Baru saja Yau ti siau li Lan Tin go berseru tertahan, Kit Siau un telah maju mendekat dan memberi hormat kepada Lan Tin go, kemudian  ujarnya  dengan lembut : "Bibi,  kuucapkan selamat untuk kesehatan badanmu: "Apakah belakangan  ini Sia cu berada dalam keadaan baik-baik  ?  Nona,  mengapa tidak masuk ke dalam perkampungan  untuk duduk-duduk dulu?"

Kita Siau un segera tertawa. "Sebenarnya titli ingin menyambangi bibit ke dalam perkampungan, tapi paman Hoa justru bersikeras hendak mengajak  titli untuk bermusuhan, maka dari itu....coba lihatlah, akibatnya kita pun mesti bentrok dan harus bermusuhan malah..."

Lan tin go berkerut kening, kemudian kepada Hoa tau siu katanya: "Siangkong, sebenarnya apa..."

"Tin go," kata Hoa Tay siu dengan wajah membesi. "Kit Put sia hendak menyapu perkampungan tang mo san ceng kita dengan darah, coba kau lihat "

Sambil menuding ke arah kawanan manusia berbaju hitam yang mengelilingi sekitar tempat itu, lanjutnya sambil tertawa dingin. "Orang-orang ini semua adalah  kawanan  jago dari lembah Sin mo kok yang sengaja di kirim kemari, jelek-jelek perkampungan Tang Mo san ceng terhitung jasa suatu perkampungan yang kenamaan dalam  dunia  persilatan apakah kita akan  biarkan mereka menginjak-injak di atas kepala kita....Apakah kita tak akan melakukan perlawanan?" Lan Tin go tertawa hambar, sorot matanya segera dialihkan ke wajah Kit Siau Uu, kemudian ujarnya: "Nona, benarkah ayahmu hendak berbuat demikian?"

Kit Siau Un segera tersenyum, "Selama kata Tang mo tida dihapuskan, siang malam ayahku tak akan merasa tenang..." Senyuman yang semula menghiasi ujung bibir Lan Tin go segera lenyap tak berbekas, katanya kemudian:

"Nona, benarkah ayahmu begitu tak memandang sebelah matapun terhadap kami?"

"Aaaaah bibi, hal ini toh gara-gara dari kalian lebih dulu "

"Hmmm., benar-benar selembar bibir yang tajam, "dengus Lan Tin go. "sudah hampir empat puluh tahunan lamanya aku mendirikan perkampungan Tang Mo San Ceng ini, mengapa sampai sekarang ayahmu baru teringat?

Kit Siau un tertawa terkekeh-kekeh. "Hal ini disebabkan karena sampai sekarang ayahku baru bermaksud untuk membangun kembali kejayaan dari Mo kau, oleh sebab itu dalam dunia persilatan tidak boleh sampai ada kata Tang mo Pembasmi iblis yang dipergunakan !"

"Bagus, bagus sekali!" seru Lan Tin go dengan marah, rambutnya yang berubah berdiri semua bagaikan landak, "akan kulihat sampai dimanakah kemampuan kalian untuk mencuci bersih perkampungan kami dengan darah!"

Seusai berkata mendadak  ia menyerbu ke  muka dan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Jangan dilihat usianya yang tua, lagi pula baru sembuh dari sakit, namun serangan  yang  dilancarkan  dalam  keadaan gusar ini benar-benar cepat bagaikan sambaran kilat. Menghadapi ancaman tersebut, Kit Siau un segera tertawa terkekeh, Kit Siau un segera tertawa terkekeh, kemudian dengan cekatan menyingkir ke samping.

Dia cukup menyadari kalau Yau ti sian li adalah seorang jagoan perempuan yang sukar ditandingi. Begitu serangannya mencapai sasaran yang kosong, kemarahan  Lan Tin go semakin membara, bentaknya lantang :

"Kit Siau un, aku bersumpah akan membekukmu sampai dapat. "

Dengan suatu gerakan cepat ia menyerbu ke depan dan mendekati Kit Siau un lagi.

Hoa Tay siu dia menghalangi gerakan dari istrinya ini dan berkata sambil tertawa:

"Tin go jangan sampai membuang tenaga dengan percuma, kau jangan melakukan sendiri serangan tersebut "

Ternyata dia memeluk tubuh Lan Tin go dan membopongnya mundur ke belakang

Merah padam selembar wajah Lau Tin go lantaran jengah, bisiknya dengan suara lirih :

"Cepat lepaskan tanganmu. "

Agaknya Hoa Tay siu juga menyadari akan  kekhilafannya itu, dengan wajah merah pada seperti kepiting rebus, buru- buru dia melepaskan rangkulannya. Mendadak dari kejauhan san berkumandang datang  suara gelak tertawa seseorang yang amat lantang, menyusul kemudian seorang berseru:

"Si muka bocah membopong si rambut beruban, cerita ini sudah diketahui setiap umat persilatan, Lan siancu, kenapa mukamu menjadi merah.....yang memalukan justru adalah Kit Siau un si budak sialan ini, baru melihat pemuda  tampan sudah kehilangan semangat,. coba kalau lohu tidak datang,

sudah pasti masalah besar akan menjadi terbengkalai."

Walaupun orang itu masih berada beberapa li jauhnya dari sana, namun setiap patah kata yang diutarakan olehnya dapat didengar setiap orang dengan amat jelas, kejadian ini dengan cepat mengejutkan semua jago yang hadir di arena. Selain itu, dari pembicaraan tersebut mereka juga dapat menangkap kalau orang itu berpihak pada golongan iblis dari kota kematian, ini semua membuat mereka makin tercengang.

Oh put kui sendiripun diam-diam berkerut kening, ia dibuat terkejut juga oleh kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki orang itu.

Thian mo giok li Kit siau un yang paling malu diantara sekian banyak orang yang hadir di situ dengan wajah merah padam lantaran jengah ia menundukkan kepalanya rendah- rendah.

Namun terlintas juga rasa gembira dibalik wajahnya yang merah itu.

Dari sini semakin terbuktilah kalau orang yang bertenaga dalam amat sempurna itu adalah seorang jagoan lihay dari golongan hitam.

Ki lok sia tong Hoa Tay su mengerutkan dahinya  rapat- rapat, sambil memandang ke tempat jauhan, dia menghimpun tenaga dalamnya kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Jago lihat dari manakah yang telah berkunjung datang ? mengapa tidak segera menampilkan diri untuk bertemu. "

Gelak tertawa panjang kembali berkumandang dari atas puncak bukit itu:

"Haaaaahhh.... haaaahh.... haaahh.... sekalipun Hoa lote tidak mengundang, lohu juga tetap akan datang "

Menyusul perkataan itu, dari atas bukit nampak sesosok bayangan putih berkelebat  datang  dengan  kecepatan bagaikan kilat.

Benar- benar cepat sekali gerakan tubuh dari orang itu.

Jarak yang beberapa li itu dilalui orang itu hanya diam sekejap mata saja.

Bagaikan sekuntum awan putih dengan cepatnya orang itu melayang turun di atas tanah. Ternyata dia adalah seorang kakek gemuk yang berbadan cebol.

Kakek cebol ini mempunyai kepala yang botak, bundar dan besar, tinggi badanya tidak melebihi separuh kepala pengemis pikun, tapi gemuknya justru dua  kali lipat dibandingkan si pengemis pikun.

Alis panjang yang  dikenakannya  berwarna putih salju, kakinya yang besar menggunakan sepatu terbuat dari rumput.

Senyuman lebar selalu menghiasi wajahnya yang cerah.

Oh Put kui tidak kenal siapakah kakek itu, tapi orang lain semaunya kenal, meski tidak kenal secara langsung, namun dapat mengenalinya dari bentuk wajah serta potongan badannya.

Bukan hanya Hoa Tay siu saja yang menjura kepada orang itu, serentak hampir semua jago yang berada di sana sama- sama memberi hormat kepadanya.....

Tergerak hati Oh Put kui dia tahu kakek ini sudah pasti mempunyai asal usul yang amat besar.

"Aku orang she Hoa mengira ada jago lihay darimanakah yang telah datang, sehingga suara yang berada berapa  li jauhnya kedengaran seperti berada di depan mata, rupanya Beng Sin ang yang telah datang, maaf jika aku orang she Hoa suami istri tidak menyambut kedatanganmu dari kejauhan "

selesai berkata, suami istri berdua itu segera menjura dalam- dalam.

Oh Put kui yang mendengar perkataan itu baru merasa terkejut, pikirannya kemudian :

"Ternyata tua bangka ini adalah gembong iblis yang paling sukar dihadapi dalam dunia ini, salah seorang  dari  dua manusia aneh menangis  dan tertawa yang  ditakuti umat persilatan, Tiang siau sin ang 'kakek sakti gelak tertawa' beng Pek tim adanya. " Ketika ia mencoba untuk  mengawasi wajahnya  dengan seksama, maka terasa olehnya kalau wajah orang ini memang mirip sekali dengan Siau mo lek si Buddha tertawa.

Rupanya sebelum berbicara sudah tertawa panjang lebih dulu merupakan ciri khas dari kakek sakti ini.

Bukan saja gelak tertawanya memekikkan telinga. Juga amat membetot sukma.

"Saudara Hoa" katanya kemudian, "tampaknya belakangan ini nama besar kalian suami istri berdua  sudah amat termasyhur dalam dunia persilatan, sampai-sampai  aku  si Tiang siau sin ang pun sudah tidak berada dalam pandangan mata kalian berdua.!"

"Sin ang mengapa kau menyindir kami suami istri berdua," kota Hoa Tay siu sambil tersenyum, "entah didalam hal apakah aku telah melakukan kesalahan terhadap Sian ang?

Tiang siau sin ang Beng Pek tim tertawa tergelak.

"Mana, mana, masa kalian berdua akan melakukan kesalahan kepada lohu?"

"mungkin lohulah yang telah melakukan  kesalahan terhadap saudara Hoa, harap kalian suka memberi kemurahan kepada kami

"Mendadak si Pengemis pikun mengintip dari balik celah- celah kerumunan manusia, lalu panggilnya sambil tertawa cekikikan:

"Beng toako!"

Sekarangj Tiang Siu sin ang baru menemukan kehadiran pengemis pikun di sana, dia segera tertawa terbahak -bahak.

"Haaaahhh... haaaaahh... haaahhh.... saudara pikun, rupanya kaupun berada di sini sungguh tidak kuduga!"

"Aku datang belum lama, Beng toako, ada urusan apa kau datang ke tempat ini?" "Pikun, masa kau belum dapat melihatnya?

Beng toako mu dianggap sahabat-sahabat persilatan sebagai anggota kaum hitam, tentu saja akupun merasa tak senang dengan penggunaan kata pembasmi iblis tersebut.!"

Sambil menggelengkan kepalanya pengemis pikun tertawa keras.

"Beng toako," katanya. "kata pembasmi  iblis  yang digunakan Hoa cengcu toh bukan secara khusus ditujukan kepadamu, yaa, sudah pasti delapan puluh persen kau kena hasutan orang lain."

Oh Put Kui yang menjumpai kejadian itu diam-diam tertawa geli pikirannya.

"kala dibilang pengemis ini pikun tampaknya diapun tidak terlampau pikun, bukti nya dia bisa mengucapkan kata-kata semacam itu."

Dalam pada itu, Tia siau sin ang sudah tertawa tergelak. "Siapa yang dapat menghasut lohu? Hei, pikun. Kau jangan

membantu saudara Hoa untuk berbicara, pokoknya setelah lohu datang kemari, nama dari perkampungan Tang mo san ceng ini harus diganti dengan menggunakan nama lain."

Sepasang matanya yang sipit memandang sekejap ke seluruh arena dengan pandangan hambar, kemudian  ia mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak lagi.

Melihat iti, si pengemis pikun menjadi tertegun.

"Hal ini mana boleh?" serunya, "Beng toa ko, kan. "

"Tak usah banyak bicara," tukas Tiang siau sin ang sambil tertawa tergelak, "Pikun kecil, kau jangan menampilkan kemarahanku, kalau tidak jangan salahkan kalau bahkan kaupun akan turut menjadi sial "

Pengemis pikun menjadi terperanjat sekali, kemudian dengan cepat dia  memandang ke arah Oh Put kui dan menggelengkan kepadanya berulang kali, setelah menghela napas.

"Kecuali Sin ang untuk membunuh kami  berdua...."  Hoa Tay siu menegaskan dengan serius.

Perkataan ini  diutarakan dengan sikap yang gagah  dan nada yang berjiwa ksatria membuat hati orang terasa bergetar keras.

Tiang siau sing ang sedikitpun tidak terpengaruh oleh sikap gagah orang, dia berkata lagi:

"Selamanya lohu hanya mengenal prinsip siapa menuruti kehendakku hidup, siapa menentang keinginanku mati, jangan toh baru membunuh kalian berdua, sekalipun harus mencuci bersih seluruh perkampungan dengan darahpun, lohu anggap kejadian ini sebagai suatu permainan kanak-kanak belaka.

Oh Put kui yang mendengar perkataan itu segera mendengus dingin tiada hentinya.

Sementara kawanan jago yang berada di belakangan Hoa Tay siu segera memancarkan sinar mata berapi api.

Hanya si Pengemis pikun saja yang memperlihatkan senyuman aneh, diam-diam ia membisikkan sesuatu ke sisi telinga Oh Put Kui, sikapnya  sama sekali tidak kelihatan tegang.

Oh put kui segera tersenyum, lalu manggut-manggut.

Dalam pada itu, Thian mo giok li kit siau un juga sedang membisikkan sesuatu kepada Tiang siau sia ang kemudian tampak kakek itu menggelengkan kepalanya.

Sedangkan Hoa tay siu berbisik lirih dengan kawanan jagonya.

Agaknya suatu pertempuran berdarah yang mengerikan segera akan berlangsung di sana,.....

Tiba-tiba Oh Put Kui tampil ke depan, kemudian katanya: "Aku Oh Put Kui ingin memohonkan keringanan bagi orang- orang ini, entah bersediakah kakek Beng mengabulkannya?"

Tiang siau sing ang memperhatikan sekejap anak muda yang berada dihadapannya, kemudian membentak. Dap boanpwe maka hari ini akupun atk akan mengusik dirimu, bila benar-benar sampai membangkitkan kemarahan lohu, akupun tak akan berpikir lebih panjang lagi. "

"Ucapanmu itu memang tepat sekali, sebab aku memang berhasrat untuk mengajakmu bertarung.

Akhirnya Tiang siau sin ang tak kuasa untuk menahan diri lagi, dia mendongakkan kepalanya dan tertawa keras. Bukan hanya Tiang siau sin ang saja yang tertawa tergelak, bahkan Thian mo giok li, pedang iblis berbaju merah dan iblis sakti pedang kemalapun turut mendongakkan kepalanya  dan tertawa tergelak.

Sebaliknya Hoa tay siu suami istri sekalian para jago  merasa terkejut bercampur terkesiap, meraka merasa  anak muda ini selain gegabah juga sangat tak tahu diri.

"Hei, bocah keparat !" Kata Tiang siau sin ang kemudian sambil tertawa keras "Kau benar-benar seorang manusia yang tak tahu diri, jangankan kau, sekalipun gurumu atau sucoumu juga belum tentu berani mengucapkan perkataan semacam itu kepadaku."

Sekalipun dia dapat menangkap nada gagah dan tak gentar dibalik ucapan dari Oh Put Kui tersebut, namun dia  tak mungkin merupakan seorang jagoan lihay, bahkan mungkin saja anak muda itu hanya anak murid dari suatu perguruan besar.

Tak heran kalau dia anggap ucapan dari pemuda berbaju putih itu sebagai latah dan tak tahu diri.

Oh Put Kui sama sekali tidak mau menunjukkan kelemahannya, diapun tertawa terbahak-bahak. "Si tua Beng, kalau berbicara kaupun harus sedikit tahu diri, kalau tidak, akhirnya kau pasti akan merasa menyesal."

"Lohu uakin tak akan menyesal."

"Tapi aku yakin kau pasti akan menyesal pada akhirnya!" "Bocah keparat, bukan lohu sengaja menyombongkan diri,

kalau kau ingin berbuat demikian, baiklah, aku akan memberi batas sepuluh jurus untukmu, bila  dalam  sepuluh  gebrakan kau sanggup untuk mempertahankan diri tak sampai kalah, maka lohu akan  memenuhi permintaanmu itu, bagaimana? Berani tidak?"

Oh Pu kui tertawa hambar.

"Aaaah sepuluh jurus kelewat sedikit tidak adil!"

Ucapan dari si anak muda itu benar-benar membuat Tiang sian ang Beng pek tim sangat berang, kemarahannya boleh dibilang sudah memuncak sampai ke dalam benaknya

Sambil meraung keras, teriaknya:

"Bocah keparat, lohu kagum atas keberanianmu, kau memang cukup berani, cukup tinggi hati, lohu merasa kagum dan memuji akan kehebatanmu, justru karena itu aku bersedia memberi kemurahan kepadamu coba dalam kesempatan lain. Paling banter lohu hanya akan memberi kesempatan  sebanyak lima jurus belaka "

Oh Put kui memandang sekejap ke arah kawanan  jago yang berada di belakannya, penampilan mimik wajah dari orang-orang itu segera membuatnya menjadi percaya.

Sebab termasuk juga Hoa tay siu, setiap orang sedang memandang ke arahnya  dengan pandangan gelisah dan cemas, hal ini menunjukkan kalau dalam hati kecil mereka pun diliputi oleh perasaan yang amat gelisah serta tidak tenang.

Pemuda itu segera tersenyum, ia sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan bahkan sikapnya seperti sama sekali tidak gentar, hal mana membuat Tiang siau sin ang diam-diam menjadi kaget.

Oh Put kui manggut pelan, kemudian ujarnya sambil  ketawa :

"Si tua Beng, aku percaya dengan ucapanmu itu, tapi akupun yakin dalam sepuluh gebrakanpun aku tak menderita kekalahan,. "

"Bagus sekali, "tukas Tiang siau sin ang sambil tertawa, "Lohu ingin mencoba, apa yang kau andalkan sehingga berani mengibul di hadapanku! Begini saja, lohu akan meluluskan sebuah syarat lagi, bila dalam sepuluh gebrakan kau tak sampai menderita kalah, bukan saja lohu akan menuruti  janjiku dengan mengundurkan diri dari pertikaian ini bahkan akupun akan melarang pemilik kota kematian  Kit Pus sia mengusik perkampungan tang mo sanceng lagi"

Sekian lama Oh Put kui membakar  hati lawan,  yang ditunggu-tunggu justru adalah perkataan ini.

Sekarang, setelah tujuannya tercapai tentu  saja dia  tak ingin membuang waktu dengan percuma lagi.

Sambil tersenyum di lantas menjura, kemudian katanya: "Kakek Beng, kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih

dulu kepadamu. "

Tiang siau sia ang tertawa terkekeh-kekeh dengan seramnya.

"Bocah keparat, kau betul-betul memiliki selembar  bibir yang pandai bersilat lidah," katanya kemudian, "baiklah, lohu menyerah kalah, mari kita selesaikan dengan beradu tenaga saja!"

"Turut perintah!"

Oh Put kui lantas menurunkan buntalannya dan pedang berkarat itu, kemudian sambil mengayunkan telapak tangan tunggalnya, dia lepaskan sebuah pukulan keras. Tiba - tiba Tiang siau sin ang berpaling ke arah pengemis pikun sambil serunya:

"Hei, si pikun cilik, kau yang menjadi tukang hitung. "

Seraya berkata, tubuhnya segera melompat mundur sejau tiga depan dari posisi semula.

Ketika dilihantnya tenaga yang dilancarkan Oh Put kui amat sederhana biasa, sama sekali tak menyolok, tanpa sadar ia menjadi lengah, bahkan menyempatkan diri untuk  berpaling dan bercakap-cakap dengan si pengemis pikun.

Siapa tahu belum habis ucapan tersebut diutarakan, mendadak dadanya terasa kencan, tahu-tahu tenaga pukulan Oh Put kui yang dingin dan lembut itu seperti ambruknya bukit karang segera menindih datang.

Masih untung ilmu silat yang dimilikinya cukup tangguh sehingga ia masih sempat menolong diri. dengan tergopoh gopoh badannya mundur sejauh depan lebih.

Nyaris dia menderita kerugian besar dan terluka di ujung telapak tangan lawan......

"Bocah keparat, tak nyana  kau  punya  lima  simpanan  juga "

Ditengah gelak tertawa nyaring dari Tiang siau sin ang dengan cepat dia mengayunkan pula telapak tangannya melepaskan sebuah serangan balasan.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Put kui menyaksikan serangan musuh yang melanda tiba, pikirannya:

"Ehmmmm, lihay sekali tua bangka ini!"

Sepasang telapak tangannya segera dirangkap menjadi satu dengan jurus san cay pay hud 'Orang saleh menyembah Budha, dia bungkukkan badan sambil rentangkan tangannya ke muka, sebuah pukulan dahsyat  segera memusnahkan tibanya ancaman mau dari musuh. Melihat serangannya kembali gagal, Tiang siau sin ang terkesiap, ia segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaahhh...haaaahhh...haaaahhh.....bagus, bagus sekali bocah muda, kau adalah satu -satunya pemuda paling lihay yang pernah lohu jumpai selama ini "

Walaupun dimulut dia  tertawa tergelak  tiada  hentinya, gerak serangannya tidak menjadi kendor karena itu.

Dalam sekali kelebatan saja. Secepat kilat dia sudah melancarkan tiga buah seranngan berantai.

Ketiga buah pukulan itu semuanya merupakan ilmu maut yang paling diandalkan Tiang siau sin ang selama ini, orang persilatan menyebutnya sebagai siau thian tui mia sam ciang (tiga pukulan pengejar nyawa).

Hampir seluruh umat persilatan, kecuali beberapa orang locianpwe angkatan paling tua belum ada seorang manusia pun yang sanggup meloloskan diri dari ketiga buah serangannya itu tanpa menderita  kekalahan  sayang, kebiasaan semacam itu justru tidak berlaku pada hari ini.

Bukan Cuma dapat dihindari, bahkan masih mampu untuk melancarkan serangan balasan.

Dikala Tinag siau sin ang sudah bersiap-siap melancarkan ketiga buah pukulan mautnya tadi, secara diam-diam Oh put kui telah mempersiapkan jalan mundur serta  kesempatan untuk melancarkan serangan balasannya secara jitu dan sempurna.

Begitu ia tahu akan musuhnya tak lain adalah Tiang  siau sin ang (kakek sakti tertawa panjang) Beng Pek Lim, serta merta dia pun terbayang yang paling diandalkan. Oleh sebab itu, sekalipun tenaga serangan dari Tiang siau sin ang amat menggetarkan sukma serangan itu pun dilepaskan secara cepat dan aneh, namun toh gagal untuk melukai lawannya. Ditengah serangan yang begitu dahsyat dan menggetarkan sukma itu, bahkan Oh Put Kui sempat melepaskan dua buah serangan balasan.

Kenyataan ini mau tak mau membuat Tiang Siau sin ang terkesiap juga sampai termangu.

"Hei, anak muda, siapa gurumu?" ia segera hentikan serangannya sambil menegur.

Dengan cepat Oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Pertarungan sepuluh jurus belum habis maaf aku tak bisa menjawab pertanyaan ini, lihat serangan!"

Tangan kirinya membuat gerakan  melingkar, sementara telapak tangan kanannnya tiba-tiba menerobos dari bawah tangan kiri sambil melepaskan pukulan.

Waktu itu, batas sepuluh jurus sudah separuh diantaranya lewat.

Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Tiang siau sin ang sambil tertawa terbahak-bahak serunya:

"Inilah pukulan Hwee sian ciang, hai  bocah  muda, bukankah kau adalah anak murid Liu Thian cong?"

Tangannya segera diangkat untuk menyambut datangnya ancaman dari Oh Put kui itu, kemudian katanya lagi:

"Pat hong pay  siu 'kakek aneh delapan penjuru' bisa mendidik seorang murid seperti kau, kejadian ini benar-benar membuat lohu menjadi amat gembira. "

Belum selesai  dia berkata secara beruntung ia lepaskan kembali dua buah serangan berantai .

Kedua buah serangan ini jau berbeda dengan kehebatan Siau thian ini mia sam ciang tadi.

Tenaga   pukulan ini telah   membentuk   menjadi satu kekuatan yang nyata yang jauh lebih keras  dari pada batu kemala, hampir saja seluruh tubuh  Oh Put  kui  terkurung dibalik lapisan hawa pukulan yang amat dahsyat itu.

Menjumpai keadaan seperti ini. Oh Put kui merasa terkejut bukan kepalang.

Sebenarnya dia tak ingin mengeluarkan kepandaian  asli dari perguruannya bilamana keadaan tidak mendesak kalau bisa dia hendak mengandalkan pengetahuannya tentang berbagai ilmu silat lain guna menghadapi Tiang siau sin ang.

Tapi sekarang, dia sudah mulai merasa bahwa Tiang siau sin ang Beng Pek tim benar-benar merupakan musuh paling tangguh yang pernah dijumpainya selama hidup.

Dalam keadaan kepepet, mau tak mau dia harus menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk menggunakan ilmu Cian tham thian liong sian kang pukulan naga langit berbau harum.

Dimana segulung angin pukulan yang berbau sangat harum berhembus lewat, dua buah pukulan dari Tiang siau sin ang yang disertai dengan tenaga penuh itu langsung tersapu lenyap tak berbekas.

Sekujur badan Tiang siau sin ang gemetar keras, tanpa sadar dia mundur dua langkah ke belakang.

Oh Put Kui kembali tertawa tergelak, bentaknya: "Lihat serangan!"

Bersama dengan berkumandangnya bentakan itu, Oh  Put kui mengayunkan tangan kanannya melepaskan sebuah totokan maut.

Paras muka Tiang siau sin ang kembali berubah hebat, tergopoh gopoh dia melesat mundur hebat,  tergopoh  gopoh dia melesat mundur sejauh satu kaki lebih.

"Bocah muda, inilah ilmu Thian liong ci!" serunya sambil tertawa nyaring

Oh Put kui tertawa ewa. "Bagus sekali, kakek Beng, tampaknya kau memang mengenal nilai barang "

Mendadak ia berpaling ke arah pengemis pikun sambil serunya:

"Saudaranya Lok, sudah penuh kah jumlah sepuluh jurus?" "Haaahhh.... haaahhh.... haaaahhhh..... kebetulan persis

genap sepuluh jurus, tidak kelebihan juga tidak kurang," jawab pengemis pikun sambil tertawa tergelak.

Oh Put kui ikut tertawa tergelak.

"Nah kakek Beng !Sekali lagi kuucapkan banyak terima kasih atas kesediaanmu untuk mengalah!"

Setelah suasana berubah. Hoa Tay siu sekalian baru bisa menghembuskan napas lega.

Sebaliknya Thiang siau sin ang pun untuk pertama kalinya sejak kemunculannya, berhenti tertawa.

Dengan wajah penuh rasa hormat, ia maju mendekati Oh Put kui lalu tegurnya:

"Lote, apakah kau muridnya Thian Liong Sangjin?"

Kalau gembong iblis tua yang kepandaian silatnya hampir tak terkalah pun sudah merubah  sebutannya.  Bisa dibayangkan bertapa lihaynya anak muda kita ini.

Oh put Kui segera tertawa.

"Kau keliru" katanya. "Thian liong sang jin bukan guruku!"

Sebelum Oh Pu kui menjawab, pengemis pikun sudah menimbrung lebih dahulu:

"Beng toako, bukankah ucapan itu macam ucapan kentut? Thian liong ci adalah ilmu andalah Thian liong Sang jin. Kalau bukan sangjin sendiri yang mewariskan ilmu itu kepadanya, siapa lagi yang bisa menggunakan kepandaian tersebut?" "Haaahhh.... haaahhh... haaaahhh....tepat, tepat sekali!" Thian siau sin ang  tertawa terbahak-bahak.  "Hei si pikun, agaknya kau sudah semakin pintar sekarang!"

"Aaa,....masa kau belum tahu? Sekarang toh aku sudah berganti nama menjadi si pengemis cerdik "

Sambil mengoceh, dengan bangganya dia menggoyangkan kepalanya kesana kemari persis keriangan.

"Yaaa, memang perlu dirubah  memang perlu dirubah!" Thian siau sin ang manggut-manggut "Lohu yang pertama- tama setuju paling dulu "

Setelah berhenti sejenak, dia baru berkata lagi kepada Oh Put Kui sambil tertawa:

Saudara cilik bila sadari tadi kau katakan kalau pandai ilmu Thian liong ci, sudah pasti pertarungan sepuluh jurus itu tak akan pernah berlangsung barusan lohu betul-betul  telah berbuat ceroboh "

"Aaaah, justru kesediaanmu untuk mengalah itulah membuat aku merasa amat berterima kasih "

Thiang siau sin  segera  tertawa  terbahak-bahak "Haaahhh.... haaahhh... haaahhh.... aku pernah berhutang

budi kepada Thian liong sangjin dimasa lalu,  meski  lote enggan mengaku sebagai muridnya tapi dilihat dari kemampuan lote menggunakan ilmu Thian Liong ci serta ilmu Cian tham thian liong sian kang dapat diketahui kalau kau punya hubungan yang erat dengan sangjin, atas dasar ini lohu mana berani bertindak ceroboh?"

Setelah berhenti  sebentar,  sambil tertawa ia menggelengkan kepalanya berulang kali

"Dengan ilmu si at lote yang begitu lihat serta usiamu yang masih begitu muda, seandainya  bukan  murid Thian liong sanjin jago silat manakah dalam dunia persilatan dewasa ini yang sanggup memberi pendidikan kepadamu?" Oh Put kui segera tertawa, sambil mengalihkan  pokok pembicaraan ke soal lain katanya kemudian :

"Beng lo apakah kau bersedia menyelesaikan persoalan di sini secara damai?"

Tampaknya dia enggan untuk mengungkapkan  asal usul perguruannya, maka pokok pembicaraan sengaja dialihkan ke masalah lain.

Mendengar ucapan tersebut sudah barang tentu Tinag siau sin ang merasa tak enak untuk mendesak lebih jauh, ia segera tertawa kering.

"Jangan toh lote adalah orang dekatnya sangjin, sekalipun bukan dengan kekalahan ku dalam pertarungan sepuluh jurus tadi sudah sepantasnya kalau lohu mesti menepati janji. "

Tiba-tiba Thian mo giok li gadis suci iblis langit kit siau un yang semenjak melihat Oh Put kui berhasil menangkan pertarungan sepuluh jurus merasa girang tapi juga kesal itu berseru dengan suara gelisah :

"Beng kongkong benarkah kau akan  mengundurkan  diri  dari sini?"

Tiang siau sin ang segera tertawa terbahak-bahak . 'Haaahhh.... haaahhh... haaahhh... tentu saja bukan cuma

hari ini saja kalian mesti mundur, sejak detik ii kalianpun tak boleh mencari gara-gara lagi dengan pihak perkampungan Tang mo san ceng entah dengan alasan apapun!"

"Tidak bisa jadi!" teriak Thian mo giok li dengan wajah berubah. "Ayah tidak memperkenankan kami pulang dengan tangan hampa "

"Aku yang akan menanggung!" seru Tiang siau sin ang sambil tertawa dingin, mencorong sinar tajam  dari balik matanya.

Tiba-tiba ia menuding ke arah Cu ih mokiam pedang iblis berbaju merah Suma Hian sambil bentaknya: "Mengapa kalian tak cepat pergi? Apakah ingin memusuhi lohu?"

Siapa yang berani memusuhi pentolan iblis tua ini? Suma Hian merasa hanya bernyawa satu, sudah barang  tentu  dia tak berani bermain-main dengan selembar jiwanya itu.

Ternyata Cu ihmo kiam sangat  menurut  mendengar perintah itu ia segera menyahut dengan hormat :

"Boanpwee alam turut perintah !"

Sambil membalikkan badan, dia lantas menarik tangan giok kiam sin mo iblis sakti berpedang kemala dan berlalu dari situ dengan langkah lebar....

Baru saja thian mo giok lie hendak menghardik mereka sambil tertawa seram Tiang siau sin ang sudah berseru lebih dulu:

"Budak cilik, bila kau tidak menuruti perkataanku  lagi, jangan salahkan kalau aku akan turun tangan terhadapmu!"

Kit siau un tampak sangat murung dengan wajah sedih ia memandang sambil cemberut.

Akhirnya Tiang siau sin ang naik darah segera bentaknya: "Hayo jalan!"

Dengan wajah yang amat sedih Kit siau un memandang sekejap ke arah Oh Put Kui lalu dengan perasaan apa boleh buat pelan-pelan dia membalikkan badannya dan berlalu dari sana.

Tiang siau siu ang sama sekali tidak menggubris sikap munduk-munduk dari Hoa Tay sia sekalian sambil tertawa katanya kepada Oh Put Kui:

"Lote, bila berjumpa dengan Sangjin, jangan  lupa sampaikan salam lohu kepadanya."

Bayangan putih berkelebat lewat, dia lantas  berlalu dari sana. "Boanpwe pasti akan menyampaikan salam mu itu...." Oh Put kui mengiakan sambil tertawa.

-oOdwOooOdwOoo0dw0oOdwOooOdwOoo-

SUATU ancaman bencana besar, akhirnya dapat diatasi dalam suasana yang serba aneh

Oh Put kui dengan pengemis pikun  pun berangkat meninggalkan perkampungan Tang mo san ceng.

Kini, dalam saku pengemis pikun  telah  di penuhi oleh delapan ribu tahil emas murni, seakan-akan ditindih oleh delapan ton emas batangan  saja, pengemis  pikun  dibuat selalu panik dan tak tenang.

Setelah melangkah keluar dari wilayah Lusan, Oh Put kui melanjutkan perjalanannya menuju ke timur.

Kemudian setelah melewati An hwei, menyeberangi bukit Hong san, menembusi Thian bok dan Thian tay. "

Akhirnya sampailah mereka di sebelah utara bukit Gan tang sun.

Pada saat itulah, tak tahan pengemis pikun tersebut segera bertanya:

"Hei bocah muda, kita akan menuju ke rumahmu?" Pengemis pikun jadi tertegun.

"Lantas mau apa kita datang ke bukit gan tang san ini Lok lo kita Cuma melewati tempat ini saja "

"Jadi kita masih akan melanjutkan perjalanan?" Pengemis pikun mulai menggaruk-garuk kepalanya, "Tapi jika

perjalanan dilanjutkan, kita akan sampai di samudra bebas!"

"Yaaa, benar kita  memang akan  berpesiar ke  tengah samudra. "

Kali ini, pengemis pikun benar-benar berdiri bodoh. Bila ia disuruh pergi kemanapun, ia pasti berani untuk mendatanginya. Tapi kalau dia disuruh pergi ke laut Tang hay...sampai matipun ia tak berani kesana.

Sebab.....

Jangankan disebutkan untuk membayarkan saja tak berani.

Pulau Neraka! Suatu nama yang betul-betul menggetarkan hati siapa pun.

Mendadak ia membalikkan badan, laau melarikan diri terbirit-birit.

Sayang gerakan  tubuh Oh Put Kui jauh lebih  cepat daripada gerakannya, sekali melompat tahu tahu dia sudah menghadang di hadapannya si pengemis pikun itu.

"Mau apa kau ?" pengemis pikun segera menjerit keras. 'bocah muda kau ingin merampas kembali  uang  emasmu? Nih, semuanya kukembalikan kepadamu, aku si pengemis tua memang sudah ditakdirkan miskin sepanjang hidup, mengantongi uang emas sebanyak ini Cuma akan membuat jantung berdebar hati kuatir melulu. "

Sambil berkata, ia benar-benar  mengeluarkan ke  empat lembar uang kertas emas itu dan disodorkan ke muka Oh Put Kui, kemudian katanya lagi :

"Bocah muda, leluhur mudaku, siau uaua ku kemana pun kau akan pergi, aku pasti akan menemanimu, tapi janganlah menyewa perahu untuk berpesiar ke lautan timur, aku si pingin tua masih pingin hidup masih pingin makan bakso, makan ayam panggang jangan kau suruh  aku  mengorbankan nyawaku "

Tampaknya ia benar-benar merasa takut  untuk pergi menghantar nyawa.....takut pergi mampus.....

Oh Put Kui tak kuasa menahan rasa gelinya  lagi,  dia segera tertawa terbahak-bahak. "Saudara Lok, mau mungkin juga percuma......." Katanya. "Ketika berada di perkampungan Tang mo san ceng. Kau toh bilang sendiri, kemanapun aku Oh put kui pergi, kau akan selalu mengikuti diriku. "

Pengemis pikun segera mencak-mencak macam kambing kebakaran jenggot, segera teriaknya keras-keras :

"Haaah, aku betul-betul  pernah  bilang begitu? Ooh Lok  jin ki         wahai lok in ki kau sungguh-sungguh seorang  manusia

goblok,  kau betul-betul pikun seratus  persen        mengapa kau

bersedia mengikuti seorang bocah keparat yang tak tahu asal usulnya untuk pergi. "

Sambil berteriak sambil melompat, akhirnya sampai air  matapun turut jatuh bercucuran.

Dari sakunya Oh Put Kui mengeluarkan  secarik sapu tangan kumal untuk menyeka air matanya, lalu ujarnya sambil tertawa:

"Lok tua, bila sudah berjanji dengan seorang janganlah sekali kali ingkar janji, apa lagi kalau ucapan  itu diutarakan oleh seorang pendekar besar yang sudah lama termasyhur seperti kau, setiap ucapannya mesti dituruti, kalau tidak tentu kau akan ditertawakan oleh semua orang yang ada dikolong langit."

Setelah berhenti sebentar, dia lantas sodorkan saputangan kumal itu kepadanya:

"Nah, sudahlah, jangan menangis terus kalau kau masih menangis saja, tentu orang akan menganggap kau sebagai pengemis pikun yang tidak pintar lagi!"

Ternyata pengemis pikun menurut sekali  setelah mendengar perkataan itu, dia menerima saputangan kumal itu untuk menyeka air mata dan ingusnya. Sebentar saja saputangan itu sudah berubah menjadi hitam pekat dan kotor sekali.

Oh Put kui mendongakkan kepalanya memeriksa keadaan cuaca, lalu dia mengambil selembar kertas uang yang bernilai seribu tahil emas, setelah itu ujarnya lagi : "Lok tua, mari kita ke kota Giok huan sian sia lebih dulu untuk menukar selembar uang kertas emas ini!"

Pengemis pikun segera tertawa kembali sambil membuang saputangan kumal itu jauh-jauh serunya:

"Betul ! Kita mesti menukar dengan uang agar bisa dipakai untuk membeli sesaji guna menghormati kuil perut kita!"

Ketika selesai bersantap, Pengemis pikun sudah ada tujuh bagian dipengaruhi oleh arak.

Selesai membereskan rekening, Oh Put kui segera mengajak pengemis pikun keluar dari kota giok huan sia menuju ke dermaga kali ini ternyata  pengemis pikun tidak menunjukkan ulahnya lagi.

Tapi setibanya di dermaga, penyakit lamanya kembali kambuh.

Sebab dia sudah melihat air samudra yang luas sedang menggulung-gulung di depan matanya.

"Bocah muda, dimanakah kita sekarang?"  tanpa  terasa pengemis konyol itu bertanya.

"Di pantai lautan timur!" Oh Put Kui tertawa hambar. "Mau apa datang kemari?"

"Membeli sebuah perahu dan kita akan berpesiar ke tengah samudra !"

"Jangan ..... jangan .....aku .....aku tak mau ikut .....aku tak mau turut ke tengah laut....." tanpa  membuang waktu,  dia segera putar badan dan mengambil langkah seribu......

Oh Put kui segera tertawa terbahak-bahak, dicengkeramnya tubuh pengemis itu sambil berseru:

"Tidak mau ikut? Sayang sudah terlambat Lok tua,  kau wajib mengikuti diriku!"

Pengaruh arak dalam benaknya kontan rontok separuh bagian, pengemis tua kembali berkaok-kaok: "Hei bocah munyuk, kau sudah bosan hidup?"

"Haaahhh.... haaahhh.... haaaahhhh... dalam lima puluh tahun mendatang, aku masih belum pingin mampus!" pemuda itu tergelak

Dengan gemas pengemis pikun meludah ke tanah, sumpahnya:

"Tapi aku lihat, kau tak bakal bisa hidup melewati besok siang!"

Oh Put kui Cuma tertawa tanpa memperdulikan ocehan pengemis pikun, Cuma tangannya saja yang masih menggenggamnya kencang-kencang  dan   menyeretnya menuju ke dermaga untuk bertanya apakah ada perahu yang akan dijual .

Ketika pemilik-pemilik perahu itu mendengar kalau mereka hendak menuju ke lautan ditengah malam, hampir sebagian besar menolak menyewakan perahu mereka atau menjualnya kepada kedua orang itu.

Menghadapi keadaan seperti ini, mau tak mau Oh Put kui mesti berkerut kening.

Sebaliknya si pengemis pikun segera berjingkrak dan menari-nari karena kegirangan suara tertawanya yang keras hampir membelah keheningan malam yang mencekam.

"Ooh.....Lo thianya betul-betul punya mata....." gumannya. "Hai bocah muda, tampak nasib aku si pengemis tua masih agak mujur, umurku masih diberkahi usia panjang."

Oh Put kui hampir tidak menggubris seruan-seruan dari pengemis pikun itu,  dia masih saja berputar  kian kemari disekitar dermaga sambil berusaha untuk menemukan pemilik perahu yang mungkin ingin mencari keuntungan besar.

Sesudah bersusah payah hampir setengah harian lamanya, pada akhirnya apa yang diharapkan Oh Put kui dapat tercapai juga. Tapi ongkos  sewa  yang  diajukan  betul-betul mengejutkan hari siapa pun jua. Untuk lima belas hari lamanya, ongkos sewa perahu itu mencapai seribu tahil emas murni.

Nilai tersebut betul-betul menjirat leher sebab berbicara menurut nilai uang waktu itu, seribu tahil emas murni bisa digunakan untuk membeli lima ratus buah sampan kecil tapi tanpa berpikir panjang, oh Put kui segera menerima tawaran gila itu.

Dia berjanji akan berangkat menuju ke  samudra pada kentongan pertama malam nanti,  bahkan minta kepada si nenek pemilik perahu agar mencarikan dua orang pendayung dengan ongkos yang diperhitungkan di luar beaya.

Sudah barang tentu, transaksi ini membuat si pengemis pikun sakit dan marah.

Buangkan saja, masa uang emas seribu tahil  mesti diserahkan dengan begitu saja kepada orang lain?

Bahkan dia masih bersedia membayar tukang  pendayung di luar beaya tersebut, peraturan darimanakah yang menetapkan cara macam begitu?

Makin memikir si pengemis pikun merasa makin tak karuan hatinya, tak tahan dia lantas berteriak:

"Hei bocah muda, rupanya kau jauh lebih pikun dari  pada aku si pengemis tua...." begitu selesai berkata, dia  lantas tertawa terbahak-bahak.

Ia tertawa sampai terpingkal-pingkal hingga air mata pun turut jatuh bercucuran entah apapun yang diucapkan Oh Put kui, dia masih tertawa saja tiada hentinya.

Agaknya dia seperti baru merasa kalau di dunia ini masih terdapat seorang lain yang jauh lebih pikun dari pada dirinya, maka saking gembiranya dia sampai tertawa tiada hentinya.

Ombak yang menggulung tiba dan memecah ketika menumbuk perahu, menerbitkan suara yang keras dan amat tak sedap di dengar Pengemis pikun sedang melingkar menjadi satu dan bersembunyi dalam ruangan perahu, sedangkan Oh Put kui dengan tenang berdiri di atas geladak perahu tanpa berkutik, sepasang matanya yang tajam sedang mengawasi tempat kejauhan sana, lautan luas yang dicekam oleh kegelapan.

Pendayungnya ada dua orang, seorang tua dan seorang muda.

Yang tua sudah berusia tujuh puluh tahun, berambut putih mukanya penuh keriput, mungkin karena tiap hari kerjanya berada di laut maka kulitnya hitam pekat seperti arang, tapi kekuatannya masih tetap sehat bugar.

Yang muda adalah seorang bocah lelaki berusia dua puluh tahunan, otot-otot badannya  pada menonjol keluar semua, agaknya dia adalah seorang jago silat.

Sejak berada  di atas perahu itu.  Oh put  kui sudah menemukan kalau kedua orang pendayung itu adalah manusia-manusia luar biasa, namun dia tak ambil perduli.

Dia percaya dalam dunia persilatan dewasa  ini,  paling banter hanya ada tujuh delapan orang jago saja yang mampu mengancam keselamatan jiwanya. Oleh sebab itu, dia selamanya tak pernah mengenal apa arti rasa takut itu.

Justru karena itu pula, dia baru bertekat untuk menyelidiki Pulau Neraka yang ditakuti setiap orang itu.

"Pulau Neraka disebut pula pulau bis  pergi tak  akan kembali hmmm, benarkah bisa pergi tak akan kembali?"

Diam-diam dia tertawa sendiri karena geli. Sekalipun orang lain bisa pergi tak akan kembali namun dia akan menciptakan bisa pergi bisa pula kembali.

Selamanya dia tak percaya dengan tahayul tentu saja diapun tidak percaya dengan segala macam dongeng yang tersiar dalam dunia persilatan.

Sampan cepat itu melesat dengan cepatnya ke depan, menembusi ombak yang menggulung dengan hebatnya. Kentongan kedua sudah lewat, dari kejauhan sana nampak bayangan sebuah bukit muncul dari balik kegelapan.

Itulah sebuah pulau! Pulau neraka yang diliputi keanehan, keseraman dan kemisteriusan, perasaan Oh put  kui mulai bergelora keras, dia merasakan jantungnya berdebar keras.

Pengemis pikun seperti melongokkan kepalanya dan menengok sekejap ke depan,  kepalanya dan menengok sekejap ke depan kemudian seperti burung unta, cepat-cepat dia sembunyikan kembali kepalanya.

Melihat kejadian itu, Oh put kui jadi tertawa geli, pikirnya kemudian dalam hati : "Heran, masa kau tak  bisa  dibandingkan dengan kedua orang nelayan ini.........? jelek-  jelek kau toh seorang jagoan juga?"

Sementara itu, nelayan tua yang telah berubah itu meletakkan alat pendayungnya secara tiba-tiba,  kemudian selangkah demi selangkah berjalan  menuju  ke  geladak perahu. "Siangkong, apakah kau hendak menuju ke Pulau neraka?" tegurnya kemudian.

Suara teguran dari nelayan tua itu amat  nyaring,  lantang dan tajam didengar.

Oh put kui segera manggut-manggut "Yaa, bukankah pulau itu  disebut   pula  pulau  bisa  pergi  tak  bisa  kembali ?"

bisiknya.

Nelayan tua itu segera tertawa.

"Aaaah, itu kan sebutan orang persilatan terhadap pulau tersebut, sedang buat kami nelayan disekitar tempat ini, pulau tersebut masih tetap bernama pulau neraka!"

"Boleh aku tahu, siapa nama margamu?"

Oh put kui menegur lagi sambil tertawa hambar "Lohan she cin!" Berkilat sepasang mata Oh put kui, sambil tertawa  dia lantas berpaling seraya ujarnya: "Apakah Cin po tiong, cin locianpwe?"

Mendadak sekujur badan nelayan tua itu bergetar keras, dengan suara gemetar sahutnya:

"Loo...... Lohan ....... lohan "

Tapi, bagaimana mungkin sikapnya itu bisa mengelabuhi ketajaman mata dari Oh put kui.

Disamping itu, pertanyaan langsung dari Oh put kui yang dilontarkan secara berterus terang ini justru merupakan cara yang paling jitu untuk menghadapi para jago persilatan yang enggan memberitahukan nama aslinya.

"Cin tua!" kembali Oh put kui berkata "Nama besarmu sebagai Tang hau hi ang nelayan sakti dari lautan timur' sudah lama kukagumi, sungguh beruntung hari ini  aku  bisa berkenalan dengan istrimu, bahkan mesti merepotkan pula dirimu untuk mendayung perahu buat kami, peristiwa ini boleh di bilang benar-benar merupakan suatu peristiwa besar

.........."

Karena rahasianya sudah terbongkar, terpaksa kakek berambut putih itu hanya bisa tertawa getir sambil menggelengkan kepala berulang kali.

"Saudara cilik, ketajaman matamu  benar-benar  lihay sekali!"

Kembali Oh Put Kui tertawa

"Sebenarnya persoalan ini mudah ditebak, andaikata bukan si Nelayan sakti dari lautan timur Cin po tiong siapakah yang berani keluar lautan ditengah malam buta begini?"

Dengan cepat Nelayan sakti dari lautan timur Cin po tiong manggut-manggut.

"Betul, agaknya lohu  sudah  lupa  memikirkan  persoalan ini. " Setelah berhenti sejenak, kembali ia bertanya: "Saudara cilik, siapa namamu?"

"Aku Oh put kui 'Oh tidak kembali!"

Dengan kening berkerut Cin Po tiong memandang sekejap ke arahnya, kemudian tanyanya lagi :

"Kau sendirikah yang memberikan nama itu kepadamu?" "Bukan nama itu pemberian guruku!"

"Waah, kalau begitu suhu mu pastilah seorang tokoh sakti yang luar biasa sekali kata  Cin po tiong setelah tertegun sejenak

Oh put kui segera tertawa.

"Aaaah, dia hanya seorang pendeta gunung, maaf namanya tak dapat kusebutkan kepadamu!"

"Sudah empat kali lohu pergi kesana menyerempet bahaya...." tiba-tiba dia berkata lagi sambil menuding ke arah bayangan pulau ditempat kejauhan sana.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Oh put kui setelah mendengar perkataan itu, serunya cepat:

"Kau orang tua pernah kesana?" "Belum!"

Jawaban ini cepat membuat Oh put kui kembali termangu.

Agaknya Cin po tiong bisa memahami keheranan orang, mendadak dengan wajah menunjukkan rasa kaget bercampur kuatir, bisiknya leb"

"Empat kali sebelum lohu tiba di tepi itu setiap kali aku sudah dibikin kabur oleh orang karena kaget dan ngeri "

Cin po tiong menundukkan kepalanya  dan  berpikir sebentar, begitu tahu kalau tiada harapan baginya untuk mengetahui hal-hal lebih detail, diapun segera tertawa "Cin tua, siapkah yang telah membunuhmu kabur dengan perasaan kaget bercampur ngeri?" tanya Oh put kui sambil melototkan matanya bulat-bulat .

Mendengar pertanyaan tersebut, con po tiong segera menunjukkan perasaan malu dan menyesal, sahutnya setelah menghela napas panjang :

"Aaaai. kalau dijawab yang sesungguhnya, mungkin kau

tak akan percaya, pada hakekatnya lohu tak pernah menyaksikan bayangan tubuh dari orang itu!"

Tentu saja jawaban ini membuat Oh put kui tidak percaya sebab kejadian itu sama sekali tak masuk diakal.

@oodwoo@