Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 11

 Jilid 11

"Saudara oh, persoalan yang diluar dugaan masih banyak sekali, menurut berita dalam dunia persilatan, konon  bukan  saja saudara oh  pernah berkunjung  ke  pulau  neraka, lagipula. "

Tiba-tiba dia tertawa seram, setelah  itu sambungnya: "Konon saudara oh merupakan  jago lihay dari Hud-mo-

siang-siu (sepasang manusia sakti Buddha dan iblis) "

"Hud-mo-siang-siu ?" seru oh Put Kui terperanjat, "apa maksudmu? Mengapa saudara Nyoo tidak mengutarakan dengan blak-blakan?" Nyoo Ban-hu tertawa sinis, katanya: "Saudara Oh, buat apa kau mesti berlagak pilon lagi?"

oh Put Kui benar-benar dibikin tidak habis mengerti oleh perkataan orang itu.

"Saudara Nyoo, sejak dilahirkan didunia ini aku selalu berusaha untuk jujur dan tak berbicara bohong walau sepatah katapun, tapi kini saudara Nyoo menuduhku berlagak pilon, sebenarnya apa yang kau maksudkan ?"

Nyoo Ban-hu memandang pemuda itu sekejap, kemudian tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeehhhh... heeehhhh.... heeeehhhh. saudara oh, masa

apa yang kau lakukan tidak kau pahami sendiri?"

"Saudara Nyoo, sebenarnya apa maksudmu?" seru oh Put Kui semakin naik pitam.

Tiba-tiba Nyoo Ban-hu tertawa, "saudara oh, apakah pulau neraka yang berada dilautan timur adalah suatu tempat yang bisa dikunjungi oleh sembarang orang?"

"Tentu saja bukan setiap orang dapat kesitu." "Bagaimana dengan umat  persilatan?" "Setiap orang boleh berkunjung kesitu"

Nyoo Ban-hu segera mengalihkan sorot matanya kewajah setiap orang yang berada disana, lalu katanya sambil tertawa: "Percayakah kau dengan perkataan itu?"

Kit Hu-seng segera menggelengkan  kepalanya berulang kali. "saudara oh, ucapanmu itu tidak benar"

"Tapi saudara Kit, aku berbicara sejujurnya"

"Bukan sejujurnya" kata Kit Hu-seng   sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, "saudara oh, dalam dunia persilatan dewasa ini, kecuali kau, belum pernah ada orang yang dapat berhasil mencapai pulau  neraka,  oleh karena itu siaute rasa kau tidak berbicara sejujurnya." oh Put Kui segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhhh... hhaaaahhh... haaaahhhh... tapi paling  tidak, si nelayan sakti dari lautan timur cin-poo-tion dan si pengemis pikun Lik Jin-ki dua orang tua pernah pula berkunjung kepulau neraka"

"Apakah mereka berangkat kesana bersama sama saudara oh?" tanya Nyoo Ban-hu sambil tertawa.

"Yaaa benar, mereka memang berangkat kesana bersama- sama aku"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Nyoo Ban-hu, dia segera tertawa dingin tiada hentinya.

" Ucapanmu itu bukankah berarti ucapan yang sama sekali tak ada gunanya? Mereka kalau berangkat bersama saudara oh, berarti sang kelinci berjalan mengikuti rembulan, mereka membonceng dirimu, tentu saja hal ini tak bisa dimasukkan hitungan." Mendengar perkataan itu, oh  Put  Kui  merasa sangat tidak senang hati, katanya:

"saudara Nyoo, kau sangat pandai untuk memutar balikkan- persoalan guna mencari menangnya sendiri "

"Aaaah, siapa bilang siaute hanya ingin  mencari menangnya sendiri," Nyoo Ban-hu tertawa, " apa lagi toh bukan aku saja yang berkata demikian, setiap umat persilatan telah mengabarkan kalau saudara oh mempunyai hubungan yang erat dengan kawanan iblis yang berdiam dipulau neraka, aku lihat apa yang dikabarkan itu bukan kabar bohong belaka" Paras muka oh Put Kui berubah hebat, dia benar-benar dibikin naik pitam.

"Nyoo Ban-hu," serunya, "pandai sekali kau  memfitnah orang dengan kata-kata seperti itu"

-oOdwOoo-

"Jangan marah saudara oh," kata Nyoo Ban-hu dengan  mata berkilat tajam, "aku toh mendengar kabar itu dari berita yang tersiar dalam dunia persilatan." oh Put  Kui  tertawa dingin.

"Heeehhh... heeehhhh... heeeehhhh...  pandai  benar saudara bersilat lidah, tolong tanya siapa saja yang berdiam dipulau neraka dan pernahkah kau melihat mereka?"

"Aku toh belum pernah kesitu, mana mungkin aku bisa tahu?"

"Hmm, itu bukan kesimpulan yang tepat.Jikalau kau memang belum pernah menjumpai mereka, dari  mana  kau bisa tahu kalau diatas pulau tersebut berdiam gembong iblis?"

"saudara oh," kata Nyoo Ban-hu sambil tertawa dingin, "tentunya kau pernah mendengar bukan tentang empat peristiwa besar yang  telah terjadi dalam dunia persilatan berapa tahun berselang?"

"Aku bukan seorang yang tuli,  masa tidak tahu akan peristiwa besar tersebut?"

"Ayahku adalah salah seorang korban dari pembunuhan biadab tersebut " seru Nyoo Ban-hu secara tiba-tiba dengan

nada penuh kebencian.

"Oooh. nasibmu sungguh tragis"

"Itulah sebabnya aku sangat menaruh perhatian terhadap pulau kecil tersebut "

"Bukan hanya kau seorang, setiap umat persilatan rata-rata menaruh perhatian terhadap pulau kecil itu"

"Tapi siaute berbeda dengan orang lain, karena siaute curiga kalau keempat peristiwa besar itu kemungkinan besar dilakukan oleh gembong-gembong iblis yang tinggal diatas pulau tersebut, maka dari itu, siaute ingin menyelidiki hal ini dengan lebih jelas lagi "

sekujur tubuh  oh Put Kui segera gemetar keras saking gusarnya menahan luapan emosi, segera pikirnya: "Bocah keparat, kau hendak memfitnah aku dengan tuduhan-tuduhan tanpa  dasar itu?" Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, tapi hanya sebentar saja ingatan tersebut telah lenyap kembali tak berbekas, keningnya kontan saja berkerut. sementara itu Nyoo Ban-hu telah berkata lagi setelah berhenti sebentar:

"saudara oh, tadi kau mengatakan bisa masuk keluar dari pulau neraka dengan leluasa, hal ini membuktikan kalau saudara oh telah bersekongkol dengan para iblis yang menghuni dipulau tersebut"

oh Put Kui segera tertawa dingin, dia tak ingin membantah ataupun mendebat, dia sedang memikirkan  persoalan lainnya....

Mendadak terdengan si singa latah pedang iblis berteriak pula dengan suara lantang: "Benar ucapan dari saudara Nyoo memang sangat masuk diakal" sambil tertawa dingin kembali Nyoo Ban-hu berkata:

"Ilmu silat yang dimiliki saudara oh amat lihay, konon kau pernah memukul mundur Tiang-sian-sin-ang Beng Pek tim ketika berada diperkampungan Tang-mo-san-ceng, siaute  rasa bukan mustahil saudara oh yang melaksanakan keempat peristiwa besar dalam daratan Tionggoan itu. "

"Benar, saudara oh memang berkemungkinan hal  ini," sambung Kit Hu-seng dengan suara dalam.

Perkataan itu diutarakan dengan nada tegas dan penuh keyakinan-

Cuma saja ia tidak mengerti apa sebabnya oh Put Kui tidak berusaha untuk menyangkal?

sementara itu Jui-sim-huan-im-kek 'tamu bayangan semu penghancur hati' berkata pula sambil tertawa:

"saudara Nyoo, aku rasa dugaan dari saudara Kit kurang sesuai dan tidak masuk akal." "Jadi saudara ciu menganggap saudara oh telah difitnah?" tanya Nyoo Ban-hu tertawa.

"Yaa, siaute memang berpendapat demikian"

"Dapatkah saudara Ciu memberikan  penjelasan?"  Ciu It Kim tertawa.

"Tak perlu dijelaskan lagi, karena perkataan dari saudara Nyoo hanya jalan pemikiran sepihak"

Terkesiap juga Nyoo Ban-hu setelah mendengar perkataan itu, diam-diam ia lantas berpikir:

" orang she Ciu ini  tak boleh dipandang enteng. "

sementara diluaran dia berkata sambil tertawa.

"saudara Ciu, dari mana kau bisa mengatakan  kalau ucapanku hanya jalan pemikiran sepihak? Bukankah saudara oh tidak menyangkal? Apakah hal ini bukan berarti kalau dia sudah mengakui kalau apa yang siaute ucapkan tadi adalah suatu kenyataan?"

"Benar" sambung Kit Hu-seng sambil bertepuk tangan, " bukankah ia telah mengakui secara diam-diam?"

" Tapi siaute justru tidak percaya " kata Ciu It Kim tertawa.

Nyoo Ban-hu segera tertawa dingin.

"Heeehhh....heeehhhh....hehhhh.... saudara Ciu tidak percaya adalah urusan saudara ciu sendiri "

Belum habis dia berkata, Siau Lun telah menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

"siau Locianpwe, mengapa kau tertawa?" tegur Nyoo Ban- hu dengan sorot mata berkilat.

Mencorong sinar aneh dari balik mata Siau Lun setelah mendengar ucapan itu, katanya sambil tertawa:

"Apakah lohu tak boleh tertawa?"

Terkesiap perasaan Nyoo Ban-hu, buru-buru dia berseru: "Bila kau orang tua ingin tertawa, tentu saja boanpwe sekalian tak berani menghalanginya. "

"Hmmm, jika mengikuti adat lohu dimasa lampau, dengan ucapanmu itu, kau sudah bisa mampus"

"Boanpwe benar-benar terlalu gegabah...." Nyoo Ban-hu segera menjulurkan lidahnya. siau Lun tertawa.

"Kau bukan sembrono, lohu tahu kau lebih cerdik daripada orang lain.... bocah muda, mengertikah kau akan perkataan yang berbunyi: orang pintar malah dijadikan  bahan pembicaraan oleh orang pintar?"

"Aaah, jadi siau locianpwe menganggap boanpwe berlagak sok pintar. ?" ucap Nyoo Ban-hu sambil tertawa hambar. siau

Lun kembali tertawa seram.

"Hmmm, bocah muda, berada dihadapan beribu orang jago silat yang berkumpul disini, kau menganggap dalam bagian yang manakah lebih cerdik daripada orang lain? Lebih baik simpan saja kejumawaanmu itu."

Kemudian setelah berhenti sejenak.  katanya kepada Kit Hu-seng:

"Kau sibocah tolol tak lebihpun merupakan seorang telur busuk yang tak tahu mana yang benar mana yang salah"

si singa latah pedang iblis Kit Hu-seng yang didamprat menjadi tertegun dibuatnya: "siau locianpwe "

"Kau tak usah banyak bicara, lebih baik banyak minum arak," tukas siau Lun sambil  mengulapkan  tangannya,  "lain  kali jika ingin berteman, lebih baik berhati-hatilah, bedakan mana yang baik mana yang jahat, daripada terperangkap oleh siasat lawan." sekali lagi si singa latah pedang iblis  Kit Hu- seng merasakan hatinya terperanjat.

sorot matanya yang menatap wajah oh Put Kui, pelan-pelan dialihkan pula kewajah Nyoo Ban-hu..... Mendadak dia seperti memahami sesuatu, ia merasa apa yang dikatakan sikakek setan hati cacad siau Lun seakan-  akan merupakan sesuatu petunjuk....

Dalam pada itu, Nyoo Ban-hu juga sedang mengawasi wajah Kit Hu-seng dengan sepasang matanya yang jeli dan tajam.

"saudara Nyoo" tiba-tiba terdengar  Kit Hu-seng berkata, "secara tiba-tiba siauwte merasa bahwa saudara oh tidak mirip manusia seperti apa yang kau katakan, mungkin apa yang saudara Nyoo dengar dan  utarakan tadi, terdapat banyak kesalahan atau salah pengertian "

Mendengar perkataan itu, si kakek setan berhati cacad segera tertawa, si tamu bayangan semu penghancur hati Ciu It-kim juga tertawa.

Hanya Nyoo Ban-hu seorang yang tak  bisa  tertawa, katanya setelah menghela napas panjang:

"Sungguh tak kusangka saudara Kit pun menaruh kesalah pahaman terhadap siaute. "

"Apa yang diuraikan saudara Nyoo  tadi memang masuk diakal," kata Kit Hu-seng sambil tertawa, "tapi andaikata saudara oh benar-benar mempunyai hubungan atau bersekongkol dengan kawan gembong iblis di pulau neraka, ia toh tak perlu mengajak si pengemis pikun  dan  nelayan sakti dari lautan timur untuk melakukan perjalanan bersama hingga rahasianya ketahuan orang banyak?"

Jangan dilihat tampang dan  perawakan  tubuhnya yang kasar bagaikan singa, seakan-akan seorang lelaki yang tak berotak. namun nyatanya apa yang dikatakan justru mematikan. Nyoo Ban-hu kontan saja dibuat tertegun  sehingga tak mampu berbuat apa-apa. Tiba-tiba oh Put Kui tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaahhhh.....haaahhh.....haaahhh... kakek siau, boanpwe telah memahami akan sesuatu hal " "Oya ? Persoalan besar apakah yang membuat kau harus memutar akal memeras otak?" tanya siau Lun sambil tertawa.

oh Put Kui memandang sekejap wajah Nyoo Ban-hu, lalu ujarnya sambil tersenyum: "Sekarang belum waktunya untuk diutarakan, maaf kalau aku terpaksa harus jual mahal"

"Haaahhhh....haaaahhhh.....haaaahhhh. bocah muda kau,

lagi-lagi hendak bermain setan denganku. "

"Tidak, kali ini boanpwe bukan lagi bermain setan, tapi keadaan dan situasinya tidak mengijinkan bagiku untuk membocorkan rahasia tersebut, lebih baik kau orang tua menunggu selama beberapa hari lagi "

Balum habis dia  berkata, sinona Leng Seng-luan yang selama ini hanya minum arak sambil membungkam telah melirik sekejap kearah  pemuda itu sambil berbisik, "sttt....

sang pengantin sedang menghormati arak untuk tamu- tamunya "

Ketika semua orang berpaling, tampaklah Lamkiong Ceng dan Leng Lin-lin diiringi HHui Lok, Leng siau-thian, Lok Jin-ki serta Leng Cu-cui yakni adik perempuan Leng Lin-lin sedang beranjak dari tempat duduknya dan langsung berjalan menuju kemeja perjamuan yang ditempati siau Lun.

Rentetan mercon terdengar berkumandang dengan ramainya diluar ruangan upacara.

Ditengah dentuman mercon, sepasang pengantin baru itu menghormati oh Put Kui sekalian dengan secawan arak.

Waktu itu sipengemis pikun juga sudah dipengaruhi oleh lima bagian alkohol.

sewaktu rombongan pengantin bergerak menuju kemeja perjamuan yang ditempati ketua dari lima partai besar, tiba-  tiba pengemis pikun berbisik kepada oh Put Kui: "Lote, sudah kau perhatikan?"

"Perhatikan apa?" oh Put Kui tertegun- "si tua bangka berkepala botak  itu merasa sangat tak senang terhadap kehadiranmu?"

"Kau maksudkan Hui Lok?" tanya oh Put Kui tersenyum setelah mendengar ucapan tersebut.

"Lote, jadi kau sudah tahu siapakah dia?" oh Put Kui manggut-manggut.

"Yaa, sudah tahu Loko, kau tak usah  menguatirkan  aku, kau sendiri yang seharusnya berhati-hati, kalau tidak- Hui Lok tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja."

"Aku tahu, aku sipengemis tua memang tak berani menghadapi gembong iblis tersebut "

"Asalkan loko mempunyai pendapat demikian, siautepun akan berlega hati. "

Pengemis pikun segera tertawa lebar, sambil mengangkat cawan araknya dia berkata sambil tertawa tergelak:

"Terima kasih atas kesudian  lote memberi muka, aku sipengemis tua harus mewakili pengantin lelaki minum arak. maaf tak akan kutemani lebih lama lagi " seusai berkata, dia

segera memburu kemeja perjamuan lain dengan langkah cepat. Menyaksikan hal itu, siau Lun segera berkata sambil tertawa:

"Waaah, tampaknya pengemis pikun  ini  semakin lama semakin bertambah cerdik saja."

"siapa bilang kalau dia itu pikun. ?"

Belum habis perkataan  itu diutarakan, mendadak dari seratus kaki diluar ruangan terdengar suara pekikan nyaring yang amat menusuk pendengaran.....

suara pekikan itu amat kuat dan nyaring meski di ruangan hadir seribu orang tamu yang bersuara hiruk pikuk. namun tak sanggup untuk membendung suara  pekikan  yang  amat nyaring itu Dalam waktu singkat, suara pekikan tadi semakin lama semakin mendekati ruang upacara.

sementara para jago yang berada dalam ruangan itu masih tertegun, suara pekikan  tersebut sudah berada  ditengah udara. oh Put Kui merasa amat terperanjat, bisiknya tanpa terasa:

"Kakek  siau,  sungguh  cepat  gerakan  tubuh  orang  ini. "

Dengan wajah terkejut siau Lun manggut-manggut.

"Yaa, tampaknya tenaga dalam yang dimiliki orang ini sama sekali tidak berada dibawah kepandaianku. siapakah dia?"

Belum habis dia berkata, suara pekikan panjang tadi sudah lenyap tak berbekas.

Tampak sesosok bayangan manusia bagaikan bayangan merah melayang turun dimuka ruangan tengah.

oh Put Kui kembali merasa terkejut setelah menyaksikan gerakan tubuh orang itu, pikirnya:

" Cepat benar gerakan tubuh orang ini, jarak sejauh berapa ratus kaki ternyata ditempuh dalam waktu singkat."

singa latah pedang iblis Kit Hu-seng melototkan  pula sepasang matanya bulat-bulat.

"Yaa, kelihayan ilmu silat yang dimiliki orang ini  pada hakekatnya belum pernah ku jumpai sepanjang  hidup."  katanya.

"Aaaah, hal ini salah saudara Kit sendiri yang tidak banyak melihat " ejek Nyoo Ban-hu sambil tertawa hambar.

Mendengar perkataan itu, sepasang mata Kit Hu-seng segera memancarkan sinar tajam.

Belum lagi dia mengumbar hawa amarahnya, bayangan merah itu sudah munculkan diri didepan mata.

Ternyata dia  adalah seorang kakek yang berperawakan tinggi besar. Begitu kakek itu munculkan diri, suasana dalam arena seketika itu juga berubah menjadi hening, setiap orang mengalihkan sorot matanya kewajah tamu yang tak diundang.

Dalam keadaan seperti ini, Kit Hu-seng seperti telah melupakan peristiwa barusan hingga  hawa amarah yang hendak diumbar keluarpun segera terusungkan.

Perawakan tubuh kakek berbaju merah itu tinggi sekali, tingginya mencapai delapan depa lebih,  dia  mengenakan sebuah jubah merah bersulamkan naga emas dengan kepalanya mengenakan mahkota tersebut dari emas, alis matanya amat tebal dengan sepasang biji mata sebesar gundu, hidung besar muka lebar dan keren sekali.

Waktu itu dia sedang berdiri diatas undak-undakan baru didepan ruangan tengah tanpa bergerak. sementara sorot matanya yang tajam memperhatikan setiap orang yang berada dihadapannya dengan keren dan penuh kewibawaan.

seolah-olah seribu orang jago persilatan yang berada didalam ruangan itu semuanya adalah anak buahnya saja.

"Benar- benar seorang kakek yang gagah dan perkasa" Kit HHu-seng menghela napas pelan

oh Put Kui berkerut kening, dia   hanya  memperhatikan kakek berjubah merah itu dengan wajah termangu-mangu.

sebaliknya sekulum senyuman aneh yang tidak dipahami apa artinya telah menghiasi wajah Nyoo Ban-hu.

Mendadak kakek berjubah  merah itu menengadah  dan tertawa terbahak bahak, suaranya keras dan nyaring bagaikan suara guruh.

"Haaahhh.... haaahhhh.... haaaahhhh... saudara  Hui, didalam perkawinan muridmu, mengapa kau tidak mengirim selembar kartu undangan kepadaku? Jangan-jangan saudara Hui mengira aku benar-benar sudah mampus ?" suaranya menggeledek  seperti genta yang dibunyikan bertalu-talu, sedemikian kerasnya  suara  itu  sehingga membikin telinga orang serasa bergetar keras.

Kakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok sebagai  wali dari pengantin lelaki itu segera mengerutkan dahinya rapat- rapat, setelah itu dia mendehem berulang kali. "Wi Loko "

Belum habis seruan itu, dari  meja  perjamuan  yang ditempati lima orang ketua  dari lima partai besar telah melompat keluar sesosok bayangan tubuh dan  langsung menuju kedepan kakek berjubah merah itu.

Dia tak lain adalah Lan-san-gin-kiam (pedang   perak  berbaju biru) seebun Jin.

Begitu tiba dihadapan kakek berjubah merah itu, orang itu sambil membungkukkan badan  sambil  menjura  dalam-dalam. " Hamba menjumpai majikan "

sekali lagi suasana dalam ruangan upacara digemparkan oleh ucapan tersebut, paras muka semua orang  berubah  hebat.

setiap orang tahu kalau si pedang perak berbaju  hijau seebun Jin adalah salah satu diantara empat orang pengawal pedang Ceng-thian-kui-ong 'raja setan penggetar langit' Wi Thian-yang.

Lantas, mengapakah dia memanggil kakek berjubah merah itu sebagai majikannya? apakah dia?

Mungkinkah kakek berjubah merah itu adalah Ceng-thian- kui-ong Wi Thian-yang yang ditakuti setiap orang bagaikan melihat ular berbisa dan  pernah  mengobrak-abrik dunia persilatan pada empat puluh tahun berselang?

Bukankah dia sudah mati? Mengapa kini bisa muncul kembali? sungguh merupakan  suatu peristiwa yang  sama sekali tak masuk diakal.

Padahal setiap umat persilatan tahu kalau dia telah tewas diujung telapak tangan Wan-sim-seng-siu 'kakek malaikat berhati suci'. Tapi sekarang, mengapa dia  hidup kembali? Kemana saja perginya selama empat puluh tahun terakhir ini?

Dengan munculnya kembali si Raja setan dalam dunia persilatan, hal ini akan merupakan suatu rejeki atau bencana bagi umat persilatan?

serentetan pertanyaan yang penuh tanda tanya ini negara berkecamuk dalam benak setiap orang.....

suasana diluar maupun didalam ruangan berubah menjadi hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.

sedemikian heningnya sampai jatuhnya sebatang jarum keatas lantaipun dapat terdengar dengan amat jelas.

Yaa,  kalau manusia punya nama, pohon punya bayangan.

Bukan saja nama besar wi Thian-yang kelewat termashur didalam dunia persilatan, lagipula kelewat mengerikan hati....

sedemikian ngerinya sehingga orang lebih ngeri melihat dia daripada menerima surat undangan dari Raja akhirat.

Tak heran kalau suasana menjadi hening dan semua orang terbungkam dalam seribu bahasa......

Kakek berjubah merah itu memandang sekejap kewajah pedang perak berbaju biru seebun Jin, kemudian menengadah dan tertawa tergelak-gelak. serunya lantang:  "Tak  usah banyak adat baik-baikkah kalian berempat?"

"Baik sekali" sahut seebunJin sambil menjura dan tertawa. "Haaahhhh....haaahhh....haaahhhh.... masih tinggal

bersama menjadi satu tempat?" seebun Jin menggeleng.

"saudara suma berdiam dilembah sin-mo-kok "

"Apa? suma Hian telah bergabung dengan Kit Put-sia?" kakek berbaju merah itu melototkan matanya bulat-bulat. "Bukan- bukan bergabung, sekarang suma heng tinggal disana sebagai pemilik benteng"

"Bagus sekali, bagaimana dengan kalian?" kakek itu manggut-manggut.

"Hamba beserta Hui dan The dua orang saudara berdiam di Tiong-lam"

Kakek berjubah merah itu segera tertawa hambar. "Apakah mereka masih berada di Tiong-lam-san- "

"saudara Hui dan saudara The masih tinggal dibukit Tiong- lam-san.."

Mencorong sinar tajam  dari balik mata  kakek  berbaju merah itu, mendadak ujarnya dengan suara dingin:

"Beritahu kepada mereka, lohu sudah munculkan  diri kembali dalam dunia persilatan, suruh mereka datang menghadap kepadaku"

"Hamba akan segera berangkat. " sahut seebun jin-

Tapi sebelum beranjak. ia nampak agak sangsi, kemudian katanya lagi: " Hamba sekalian  akan  berjumpa  dengan majikan dimana?"

"Cin-si" sahut sikakek sambil mengulapkan tangannya. seebunJin segera menjura dalam-dalam. "Hamba akan

turut perintah. "

Tampak bayangan biru berkelebat lewat, tahu-tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

Benar-benar suatu tindakan yang kurang ajar, bukan saja tidak meminta diri kepada rekan-rekan semejanya, bahkan  kepada tuan rumahpun tidak dilakukan-....

Terutama sekali tanya jawab mereka tadi pada hakekatnya tak pandang sebelah matapun terhadap segenap jago yang hadir diruangan tersebut, tentu saja peristiwa ini selain membuat tuan rumah Hui Lok  menjadi tak senang  hati,  bahkan oh Put Kuipun menunjukkan wajah penuh kegusaran-

Kakek setan berhati cacad siau Lun  yang menyaksikan kejadian itu, segera berbisik kepada oh Put Lui:

"Bocah muda, jangan marah. Tunggu saja sebentar lagi, pertunjukan lain akan segera berlangsung"

"Hmm, raja setan ini benar-benar tak tahu aturan........" oh Put Kui mendengus dingin.

Dalam pada itu, kakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok dan sikakek sebatang kara Leng siau-thian telah mendekati Ceng-thian-kui-ong Wi  Thian-yang dengan langkah lebar. sementara Wi Thian-yang masih tetap berdiri tegak ditempat semula.

Ia memandang sekejap keatas wajah Jian-li-hu-siu Leng siau-thian, kemudian sambil tertawa terbahak-bahak katanya

"Leng lote, apakah kau yang sedang mengawinkan anak perempuan?"

"Wi-heng, sungguh amat panjang usiamu....." kata Leng siau-thian dengan kening berkerut,  "dalam  upacara perkawinan siawii, ternyata Kui ong bersedia menghadirinya. Hal ini sungguh merupakan suatu kehormatan bagi kami"

Ceng-thian-kui-ong mengebaskan jubah merahnya lalu tertawa seram.

"Heeehhh.... heeehhhh.... heeeehhh..... mana, mana, tampaknya teknik memaki yang lote kuasai, makin lama semakin hebat saja"

Kakek yang tinggi besar itu tertawa tergelak lagi, setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh:

"Leng siau-thian, kalau tidak salah, bukankah kau masih berhutang budi kepada lohu?"

jin-li-hu-siau Leng siau-thian agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, segera katanya: "Lohu berhutang budi apa kepada saudara Wi?"

"Lote benar-benar seorang pelupa," kata Ceng-thian-kui- ong sambil tertawa. "seandainya lohu belum mati, mungkin selama hidup Leng lote tak akan teringat oleh budiku itu "

Leng siau-thian segera berkerut kening.

"Saudara Wi, sejelek-jeleknya aku orang she Leng. Aku masih bisa membedakan mana budi dan mana dendam"

Kembali Ceng-thian-kul-ong tertawa seram. "Haaaahhhh....haaaahhh....haaahhh.... lihatlah, kau Leng

lote adalah orang yang jujur sedangkan lohu tak lebih hanya raja setan, bukankah begitu? Barusan lohu bilang, cara lote memaki orang benar-benar memaki sampai kelihatan tulangnya. "

Berbicara sampai disitu, kembali dia tertawa seram.

Kontan saja paras muka Leng siau-thian berubah sangat hebat.

sedangkan sikakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok merasakan hatinya tergerak. cepat dia menjawil ujung baju Jian-li-hu-siu Leng siau-thian dan mencegahnya agar jangan marah dulu, kemudian dengan suara dingin dia berkata lagi:

"saudara Wi, hari ini adalah hari perkawinan muridku, jauh- jauh kemari saudara Wi adalah tamu, silahkan duduk. Bila ada persoalan bagaimana kalau dibicarakan seusainya upacara perkawinan ini?"

Ceng-thian-kui-ong menengadah dan  tertawa terbahak- bahak.

"Haaaahhhh.....haaahhh....haaahhhh .... saudara Hui, tentu saja lohu akan menghormati secawan arak untukmu. "

Setelah memandang sekejap wajah Leng  siau-thian, katanya lebih jauh sambil tertawa dingini "Leng lote, persoalan dlantara kita lebih baik dibicarakan nanti saja. "

Kemudian tanpa menunggu dipersilahkan tuan rumah, dia segera melangkah kemeja perjamuan yang  ditempati  pengantin serta tuan rumah tadi dengan langkah lebar dan mulai makan minum dengan lahap.

sikap yang  acuh seakan-akan tak memandang sebelah matapun terhadap orang lain ini kontan saja membuat Kit Hu- seng merasa kagum sekali......

"Ceng-thian-kui-ong benar benar merupakan seorang manusia yang amat gagah," tanpa serasa dia bergumam.

"Benar," Nyoo  Ban-hu menanggapi," Kui-ong locianpwe memang seorang enghiong yang luar biasa. "

Jui-sim-huan-im-kek Ciu It Kim yang menyaksikan hal itu segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeeehhh....heeehhhh....heeehhhh.... nampaknya kalian berdua amat mengagumi gembong iblis ini?"

Ciu It Kim menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Perbedaam antara lurus dan sesat dijelaskan secara tegas

saudara Kit, walaupun ayahmu bergelar Ban-mo-ci-mo, Tay- lek-sin-kiam 'Ibiis sakti diantara  selaksa iblis, pedang sakti berkekuatan raksasa', namun ayahmu belum pernah melakukan suatu perbuatan jahat"

"Haaahhh.....hhaaaahhhhh.....haaaahhhh.... tentu saja," Kit Hu-seng tertawa tergelak. "ayahku adalah seorang jago yang berhasil menaklukkan kawan iblis, karena  keberhasilannya itulah dia baru mendapat gelar kehormatan tersebut."

"Nah, itulah dia.....  saudara Kit, kau harus mengetahui   masa lalu dari si Raja setan ini selama hidup orang ini boleh dibilang tak pernah melakukan perbuatan baik barang sebuahpun. " "saudara Ciu, dari mana kau bisa tahu kalau orang lain tak pernah melakukan perbuatan baik?" tiba-tiba Nyoo Ban-hu tertawa dingin.

"saudara Nyoo, tampaknya dalam setiap persoalan kau seperti mempunyai cara berpandangan yang berbeda dengan orang lain?" ciu It Kim berkerut kening. Nyoo Ban-hu tertawa.

"Bukannya begitu, aku rasa dalam kehidupannya Wi Thian- yang pernah juga melakukan beberapa macam perbuatan baik,.... toh seseorang tak mungkin akan selalu melakukan perbuatan jahat"

"Benar, ucapan saudara Nyoo memang benar" Kit Hu-seng segera menanggapi sambil tertawa.

Ciu It-kim tertawa dingin.

"saudara Kit, jalan pemikiranmu sungguh amat polos. "

"Yaa,jalan pikiran siaute memang selamanya begini, maklumlah watak manusia memang sukar berubah. "

sementara ketika orang itu melangsungkan tanya jawab, maka Ceng-thian-kui-ong wi Thian-yang duduk seorang diri sambil makan minum dengan lahap. tak selang berapa saat kemudian tiga guci arak sudah berpindah kedalam perutnya.

setelah itu dia  baru mengalihkan  sorot matanya dan memperhatikan sekeliling tempat itu.

Mendadak sorot matanya terhenti..... rupanya dia menemukan sikakek setan berhati  cacad siau Lun  berada disitu.

Kemudian diiringi gelak tertawa yang amat nyaring, si Raja setan yang tinggi besar itu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kedepan-

"siau loko, kaupun ikut datang kemari?" tegurnya.

orang itu benar-benar tidak sungkan, begitu sampai disitu, dia lantas duduk disisi oh Put Kui. Kakek setan berhati cacad siau Lun mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak.

"Haaahhhh.....haaaahhhh....haaaahhhh..... Kui-ong saja sudah tiba disini masa aku sikakek setan tidak ikut hadir pula disini?"

Ceng-thian-kui-ong segera mengangkat sebuah guci arak dan tertawa tergelak.

"Waaah..... setelah mendengar ucapan dari loko itu, wajah siaute menjadi merah padam rasanya lantasan malu "

"siapa suruh kau memakai julukan Kui-ong  untuk namamu?"

setelah berhenti sejenak, dia menuding kearah oh Put Kui dan berkata kembali:

"Wi lote, mari lohu perkenalkan teman muda ini kepadamu" "Dia?" seru Ceng-thian-kui-ong wi Thian-yang sambil

berpaling dan memandang wajah Put Kui.

Siau Lun tertawa.

"orang ini she oh bernama Put Kui, dia  adalah  ahli  waris dari Tay-gi dan Thian-liong dua orang sengjin"

Sebenarnya WiThian Yang sedang memandang kearah oh Put Kui dengan pandangan menghina.

Tapi begitu mendengar nama Tay-gi dan  Thian-liong disebut, kontan saja paras mukanya berubah hebat.

Mencorong sinar tajam dari balik matanya yang besar dan bulat, kemudian ia menegur: "Lote, baik- baiklah kedua orang gurumu?"

oh Put Kui merasa muak sekali menyaksikan sikap tengik si gembong iblis tersebut, dia hanya tertawa hambar. "Baik"

Begitu mendengar kata yang begitu singkat, sekali lagi Wi Thian-yang merasakan hatinya bergetar keras. "Benar-benar amat jumawa bocah keparat ini, masa dihadapan lohupun berani bertindak begini kasar?" demikian berpikir.

Akan tetapi, Kui-ongpun mempunyai kelebihan yang sangat mengagumkan, kendatipun disindir oleh oh Put Kui dihadapan siau Lun, akan tetapi kemarahan mana tak sampai diumbar keluar.

"Lote" kembali dia berkata, "sudah hampir empat puluh tahun lamanya lohu belum pernah bersua muka dengan kedua orang padri suci itu, bila berjumpa dengan kedua orang padri suci nanti, jangan lupa sampaikan salam lohu untuknya"

"Aku tak akan melupakan " oh Put Kui tertawa.

Pemuda ini benar-benar seorang yang luar biasa kalau tadi masih menyebut diri sebagai "boanpwe", tapi sekarang dia sudah membasahai sendiri aku.

Akan tetapi Wi  Thian-yang belum juga mengumbar amarahnya, bahkan dia bersikap seakan-akan  tidak merasakan hal itu, senyuman masih menghiasi ujung bibirnya.

siau Lun yang  menyaksikan kejadian  itu merasa amat girang, dengan cepat ia berpaling lagi kearah Wi Thian-yang sembari bertanya:

"wi lote, apakah wan-sim-seng-siu tidak berhasil melukai dirimu dimasa lalu?"

"Haaaahhhh.... haaaahhhh. dengan kemampuan yang dia

miliki mana mungkin berhasil melukai aku? siau loko, hal ini salahkan siaute yang bertindak salah selangkah sehingga selama empat puluh tahun aku harus hidup terpencil ditengah gunung yang sepi."

"Lote, bagaimana ceritanya sehingga kau  mengatakan salah bertindak. ?"

"siaute menilai kelewat tinggi perangai serta watak dari Nyoo Thian-wi. " "Ada apa?" siau Lun  agak tertegun- "Permainan setan apakah yang telah dilakukan Wan-sim-seng-siu? " Wi Thian- yang tertawa dingin

"Kakek suci apa?" serunya "dalam pandangan siaute, tak lebih cuma kentut anjing "

oh Put Kui segera mengalihkan sorot matanya memandang kearah Nyoo Ban-hu.

Tapi sikap Nyoo Ban-hu ternyata kelihatan aneh sekali, dia sama sekali tidak memperlihatkan rasa gusar, bahkan rasa kagetpun sama sekali tidak nampak.

orang   ini nampaknya sangat pandai menguasai diri sehingga perubahan wajahnya sama sekali tak terlihat......

"Lote, kau nampak begitu marah, tentunya Nyoo Thian-wi telah melakukan suatu perbuatan yang telah menyakiti hatimu"

Wi Thian-yang tertawa dingin.

"Heeeehhhh.... heeehhhh... ternyata tua bangka itu telah menyembunyikan sebatang jarum Bwe-hoa-tok ciam (jarum beracun bunga bwe) diantara pukulan telapak tangannya, siaute yang kurang teliti menjadi terkecoh, hampir saja selembar jiwaku turut menjadi korban akibat kecurangannya itu."

siau Lun menjadi amat terperanjat setelah mendengar perkataan itu, segera pikirnya: "Aah... masa Nyoo Thian-wi mempergunakan racun?"

Ia sangat tidak percaya  akan  kenyataan  tersebut, karenanya kembali dia berkata:

"Lote, tujuan dari seng-sin memang hendak membinasakan dirimu diujung telapak tangannya."

"Benar," kata Wi Thian-yang sambil tertawa, "bila dia bisa menangkan siaute dalam pukulan atau tendangan, tentu saja siaute tak bisa berkata  apa apa lagi, tapi kalau dia ingin menggunakan perbuatan  keji dan licik untuk mencelakai siaute, sampai matipun siaute tidak akan rela."

"Kau bisa menemukan jarum Bwe-hoa-ciam yang disembunyikan dalam telapak tangan lawan, hitung-hitung hal ini merupakan suatu keberuntungan bagimu"

"saudara siau, jangan lupa kalau siaute adalah seorang yang pandai didalam mempergunakan jarum beracun" seru Wi Thian-yang tertawa.

"Aaah benar, kenapa lohu bisa melupakan hal ini? Tapi mengapa kau membutuhkan waktu selama empat puluh tahun untuk mengobati luka beracun tersebut ?"

Dengan penuh kebencian wi Thian-yang segera memaki: "Disinilah letak kekejian dari Nyoo Thian-wi si anjing tua

tersebut Racun yang dipoleskan diujung jarumnya itu bukan saja amat berbahaya dan mematikan, bahkan racunnya dapat membuat otot-otot manusia menjadi layu dan menyusut."

"Aaah... masa sedemikian lihaynya?"  siau Lun menjerit dengan perasaan kaget.

"siapa bilang tidak?" sahut Wi Thian-yang "karena terlalu gegabah maka siaute keracunan, dalam keadaan begitu aku berusaha untuk menyembuhkan luka itu, nyatanya seketika itu juga aku telah berhasil menyembuhkan luka beracun itu "

setelah berhenti sejenah, dengan sorot mata tak tenang dia melanjutkan lebih jauh:

"siapa tahu ketika siaute sedang bersiap sedia hendak mencari Nyoo Thian-wi untuk membuat perhitungan, tiba-tiba saja kutemukan peredaran darah didalam tubuhku mulai menyusut. "

"Tampaknya Wan-sim-seng-siu benar-benar merupakan seorang manusia yang amat licik" kata  siau Lun  dengan kening berkerut.

"Maka dari itu, terpaksa siaute harus menyembunyikan diri diatas bukit yang  terpencil untuk menyembuhkan luka itu, dengan mempergunakan waktu selama empat puluh tahun lebih, akhirnya dengan tenaga murni sam-moay-cin-hwee, aku berhasil menembusi segenap otot dan nadiku dari gumpalan darah akibat keracunan tersebut...." setelah berhenti sejenak mendadak dia melanjutkan dengan suara rendah:

"Siau tua , sebentar siaute akan mencari si botak Hui untuk menuntut keadilan, aku akan membunuhnya untuk mewakili Nyoo Thian-wi, aku harap engkoh tua jangan menghalangi niatku tersebut".

Mendengar kalau Mo-thian- kui-ong wi Thian-yang hendak menuntut keadilan dari si kakek pemutus usus pelenyap hati, sambil tertawa siau Lun segera bertanya: "Wi lote, apakah kau mempunyai dendam sakit hati dengan orang itu ?"

Tampaknya dia tak jelas terhadap maksud hati Wi Thian-yang berkata demikian tadi.

" Engkoh tua, dia telah membunuh Nyoo Thian-wi" ucap Wi Thian-yang sambil berkerut kening.

"Apa?"

siau Lun benar-benar dibuat tertegun.

Bukan cuma dia seorang yang tertegun, bahkan hampir segenap orang yang duduk semeja dengannya turut tertegun pula.

Apakah keempat buah peristiwa pembunuhan yang menghebohkan dunia persilatan selama ini adalah hasil perbuatan dari Hui Lok?

siapapun tidak menduga sampai kesitu, tapi kenyataan menunjukkan kalau hal itu kemungkinan memang begitu.

Apalagi berbicara soal ilmu silat, Hui   Lok memiliki kemampuan untuk berbuat demikian.

Ketika Wi Thian-yang menyaksikan semua orang dibuat terkesiap oleh kejadian itu, sambil tertawa segera katanya: " Engkoh tua, tentunya kalian sama sekali tak mengira bukan?"

"Bukan cuma sama sekali tak mengira, pada  hakekatnya  hal tersebut tak pernah melintas didalam benakku"

"Keesokkan harinya setelah luka beracun yang siaute derita telah sembuh, aku berangkat menuju kekota Peking dengan maksud untuk mencari Nyoo Thian-wi dan membalas dendam atas perbuatannya pada empat puluh tahun berselang yang mengakibatkan aku harus menderita "

sesudah harus menghela napas panjang, dia menggelengkan kepalanya berulang kali sambil melanjutkan:

"siapa tahu Nyoo Thian-wi telah mati dibunuh orang" "Ya, kenyataan memang begitu,"

"WAktu itu siaute amat sedih dan menderita sekali, sebab bila aku melampiaskan rasa dendamku kepada  turunannya, hal ini akan memperlihatkan jiwaku yang sempit. "

"Yaa benar," seru siau Lun cepat, "ayah yang melakukan, tidak seharusnya anaknya yang menanggung" Wi Thian- yang manggut-manggut.

"Itulah sebabnya, siaute lantas berusaha untuk mencari si pembunuh tersebut."

"Buat apa? Kau hendak membalas dendam bagi kematian Nyoo Thian-wi. " tanya siau Lun sambil tertawa.

Mendengar pertanyaan itu, wi Thian-yang segera tertawa dingin. "Heeehhh... heeehhhh.... engkoh tua, siaute bukan seorang yang suci dan baik hati."

"Kalau memang begitu buat apa kau mencari musuh besar pembunuh Nyoo Thian-wi?"

"Siaute hendak membunuh orang ini untuk melampiaskan rasa mangkel dan dendamku" "Ooh, peristiwa semacam ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang amat jarang terjadi "

oh Put Kui sendiripun diam-diam merasa amat geli, diapun berpikir:

"Masa dikolong langit terdapat cara pembalasan dendam dengan sistem semacam ini?"

Tapi sedikit banyak oh Put Kui merasa kuatir juga bagi keselamatan jiwa Nyoo Ban-hu.

seandainya gembong iblis tua ini sampai mencari gara-gara dengan ahli waris Nyoo Thian-wi, sudah pasti Nyoo  Ban-hu  tak akan sanggup untuk menahan sepuluh gebrakan serangan dari Ceng-thian-kui-ong.....

sementara itu, siau Lun telah menarik kembali senyumannya, kemudian berkata:  "Lote, apakah kau telah berjumpa dengan keturunan dari keluarga Nyoo ?"

" Engkoh tua, siaute tak pernah mencari gara-gara dengan kaum  muda atau angkatan muda. "

"Haaaahhhh....haaaahhhhh.....haaaahhhh..... bagus sekali lote, tak kusangka kau masih tetap gagah. "

oh Put Kui, Kit Hu-seng maupun Leng Seng-luan  diam- diam turut merasa kagum akan kebesaran jiwa orang ini.

Cuma, oh Put Kui segera menyusul suatu rencana bagus....

dia ingin mencoba apakah wi Thian-yang benar-benar merupakan seorang yang  berjiwa besar seperti apa  yang barusan dia katakan,

Dengan kening berkerut oh Put Kui segera  menimbrung dari samping:

"Wi tua, apakah kau tahu jika putra sulung dari Nyoo Thian- wi juga duduk semeja dengan kita semua?"

Ucapan itu dengan cepat membuat Siau Lun tertegun, Kit Hud seng berkerut kening sedang ciu It-kim cuma tertawa belaka. Agaknya Wi Thian-yang pun dibikin tertegun oleh perkataan tersebut, dengan cepat dia berseru:

"oh lote, kau bilang apa?"

"Keturunan dari Nyoo Thian-wipun hadir disini" kata oh Put Kui sambil tertawa.

Begitu perkataan tersebut diulang sekali lagi, mau tak mau diam diam Nyoo Ban-hu harus berkerut kening juga.

oh Put Kui yang mengawasi terus sejak tadi, menjadi tidak habis mengerti dibuatnya.

Dia merasa reaksi yang diperlihatkan  Nyoo Ban-hu ini sangat aneh dan luar biasa sekali.

seandainya berbicara menurut keadaan pada umumnya, seandainya dia tidak kaget, pasti akan menunjukkan wajah gusar.

Akan tetapi perubahan mimik wajah  yang  diperlihatkan Nyoo Ban-hu sekarang sama sekali tidak termasuk kedua hal tersebut.

oh Put Kui benar-benar dibikin bingung dan tidak habis mengerti.

sementara itu Wi Thian-yang telah bertanya sambil mengerutkan dahinya: "Lote, siapakah yang merupakan putra Nyoo Thian-wi?"

"Wi tua, apakah kau hendak turun tangan  kepadanya?" tanya oh Put Kui sambil tertawa. Wi Thian-yang segera  tertawa tergelak sesudah mendengar perkataan itu, serunya cepat:

"Lote, kau anggap lohu adalah seorang yang berbicara mencle-mencle, ludah yang sudah kubuang kujilat kembali?"

Diam-diam oh Put Kui menganggak. baru saja dia hendak mengatakan siapakah yang merupakan keturunan dari Nyoo Thian-wi, Kit Hu-seng telah berteriak dengan penuh kegusaran "saudara oh, sungguh rendah amat perbuatanmu" oh Put Kui tertawa hambar.

"saudara Kit, aku sudah tahu kalau  kau  bakal mengucapkan perkataan tersebut, tapi siaute hendak memberikan kepada saudara Kit, andaikata disini ada orang menghina nama Kit Put-shia, bagaimana reaksimu. ?

Kit Hu-seng agak tertegun sejenak setelah mendengar perkataan itu, kemudian sahutnya: "sederhana sekali, siaute akan beradu jiwa dengannya"

"Itulah dia." seru oh Put Kui lagi sambil tertawa, "saudara Kit, seandainya disini ada orang memaki dan menghina Nyoo Thian-wi, apakah putra Nyoo Thian-wi tak akan menunjukkan satu reaksi?"

"Betul, betul  sekali," seru Kit Hu-seng dengan  kening berkerut,

"saudara Nyoo..." Dia berpaling kearah Nyoo Ban-hu dan berkata lebih jauh:

"Mengapa kau begitu sabar dan tenang? Apakah  kau  bukan putra Nyoo Thian-wi?"

"Itulah sebabnya, aku ingin membongkar rahasianya," sambung oh Put Kui lebih jauh.

sementara itu Kit Hu-seng sedang mengawasi wajah Nyoo Ban-hu lekat-lekat, mendengar perkataan itu, dia lantas manggut-manggut.

"saudara oh, siaute telah salah menegur......aai,  saudara Nyoo, apakah kau adalah seorang manusia pengecut yang bernyali kecil dan takut urusan? Ketahuilah nama orang tua bukan suatu yang boleh dihina atau dicemooh"

Nyoo Ban-hu tertawa, belum lagi dia berbicara, Wi Thian- yang telah menegur dengan lantang:

"Apakah kau adalah putra Nyoo-thian-wi?" "Aku Nyoo  Ban-hu Wan-sim-seng-siu memang ayahku" jawab Nyoo Ban-hu dengan sorot mata berkilat.

Dengan sorot mata yang tajam, Wi Thian-yang memperhatikan seluruh tubuh Nyoo Ban-hu dari atas hingga kebawah lekat-lekat.

Leng seng-luan yang menyaksikan kejadian itu, diam-diam mengucurkan keringat dingin karena merasa kuatir  bagi keselamatan jiwa orang itu.....

Tampaknya selama ini mereka berdua  dapat berbicara amat cocok satu sama lainnya, sehingga  Leng seng luan menaruh perasaan yang amat kuatir terhadap keselamatan jiwanya.

Dia benar-benar kuatir  kalau dalam gusarnya Wi Thian- yang akan mengayunkan telapak tangannya untuk melancarkan serangan mematikan-....

siapa tahu, setelah mengawasinya  berapa waktu, mendadak Wi Thian-yang menengadah dan tertawa terbahak- bahak.

"Haaaahhhh.....haaahhhhh.....haaahhhh... Nyoo Thian-wi wahai Nyoo Thian-wi, sekalipun kau sudah mati, kau bisa mati dengan mata yang meram"

setelah mendengar perkataan itu, diam-diam semua orang merasa amat lega hati, sebab dibalik perkataannya itu, dia sama sekali tidak menyertakan nada yang bermaksud jahat.

"Apakah mendiang ayahku akan mati dengan mata meram atau tidak, rasanya itu bukan urusanmu dan tak usah kau campuri" ucap Nyoo Ban-hu dengan alis mata berkenyit. Benar-benar suatu ungkapan perkataan yang amat bernyali.

oh Put Kui yang menyaksikan kejadian itu menjadi geli sekali dan ingin tertawa.

Dia tak menyangka kalau  Nyoo Ban-hu bukan seorang manusia yang gampang dihadapi 

@oodwoo@
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(