Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 05

 
Jilid 05

BERBICARA soal ilmu silat yang dimiliki si Nelayan  sakti dari lautan Timur Cin Po-tiong dalam dunia persilatan sesungguhnya kepandaiannya tidak berada di-bawah kepandaian silat para ciangbunjin dari pelbagai partai, tapi kenyataannya dia toh kena dipukul mundur oleh seseorang yang tak pernah disaksikan bayangan tubuh-nya.

Sambil menuding pulau kecil ditempat ke jauhan sana, Cin Po-tiong tertawa getir, katanya:

"Saudara cilik, sudah empat kali loohu ke sana, arah yang kuambil pun selalu berubah-ubah, tapi kejadian yang kualami selalu sama saja. kegagalan selalu menghantui diriku "

"Cin tua. dengan cara apakah mereka mengundurkan dirimu?" tanya Oh Put Kui kemudian sambil tertawa,

Terlintas perasaan takut dan ngeri dalam sorot mata Cin Po-tiong, sahutnya setelah itu dengan suara dalam:

"Oleh semacam ilmu silat yang sangat aneh!" Oh Put Kui jadi tertegun, Kalau toh dipukul mundur oleh semacam ilmu silat yang- sangat lihay, mengapa tidak nampak bayangan tubuh musuhnya ?

Dengan termangu-mangu diawasinya wajah Tang-hay-ang Cin poo-tioug tanpa berkedip,

"Cin tua, yakinkah kau kalau orang itu telah  memukul mundur dirimu dengan ilmu silat?"

Cin Poo-tiong mengangguk

"Lohu rasa tak bakal salah lagi, memang beberapa macam ilmu silat aneh yang dipergunakan."

Oh Put Kui termenung dan  berpikir sebentar, tiba-tiba katanya lagi sambil tertawa:

"Cin-tua, dapatkah kau mengisahkan kepadaku ke empat kisah pengalamanmu itu?"

Cin Poo-tiong memperhatikan sejenak lelaki yang memegang kemudi itu, kemudian memperhatikan arah anginnya, setelah dilihatnya  perahu itu melaju ke  depan mengikuti hembusan angin, dia baru tertawa lega.

"Saudara cilik." Ua berkata, "empat kali lohu kesana, empat kali pula kujumpai empat macam ilmu silat yang  jarang dijumpai di dalam dunia persilatan, kalau tidak,  mana  aku orang she Cin sampai dipukul mundur dengan ketakutan?"

"Benar, dengan nama besar Cin tua, kepandaian silat yang biasa sudah pasti tak akan menakutkan dirimu."

"Ucapan itu segera mengejutkan hati Cin Poo-tiong.

Sekulum senyumanpun segera menghias  wajahnya yang tua :

"Pertama kali datang kemari, baru saja perahu lohu mencapai jarak sejauh tiga kaki dari pantai ..., "

"Dari jarak sejauh ini, seharusnya kau dapat melompat naik keatas pantai." Kata Oh Put Kui sambil tertawa. "Tidak bisa," sahut  kakek itu tersenyum,

"Bila lohu sampai melompat kedarat dan tiba-tiba disergap, bisa jadi aku akan tewas seketika itu juga "

Oh Put Kui segera manggut-manggut.

"Yaa, betul, kewaspadaan memang perlu ditingkatkan !" "itulah sebabnya, lohu segera mengincar umpat pendaratan

yang paling baik serta mendayung sampai menuju kesasaran, siapa tahu pada saat itulah mendadak dari pulau berkumandang suara nyanyian yang keras sekali."

"Hmmm, kalau begitu diatas pulau tersebut  benar-benar ada penghuninya." Ucap Oh Put Kui sambil  manggut-  manggut.

"Tentu saja ada  penghuninya ! Cuma ilmu silat yang mereka miliki sudah mencapai tarap yang amat tinggi."

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan "Baru saja lohu tertegun karena  mendengar suara nyanyian  itu, mendadak badanku terasa lemas dan kesadaranku menjadi hilang, lalu tergeletaklah aku diatas perahu, Ketika mendusin kembali, perahu itu sudah berapa li meninggalkan pulau !"

"0ooh..., sungguh tak kusangka ,." setelah  berhenti sebentar pemuda itu melanjutkan. "Cin tua, apakah kedua kalinya kau pun dipukul mundur oleh suara nyanyian itu?"

Cin Poo-tiong menggeleng.

"Sewaktu datang  lagi untuk kedua kalinya, lohu telah memperhatikan keanehan dari suara nyanyian tersebut, oleh sebab itu hawa murniku selalu kuhimpun untuk melindungi pikiran dan perasaan."

Tiba-tiba ia menghela napas dan membungkam.

"Mengapa tidak kau lanjutkan ceritamu?" tanya Oh Put Kui kemudian sambil tertawa.

Cin Poo-tiong menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aaaai, lohu tak pernah menyangka kalau dunia persilatan terdapat seorang jago yang begitu lihay."

Setelah menghela napas dengan suara rendah, lanjutnya: "Waktu itu lohu hanya teringat untuk melindungi jantungku

dan pikiranku, tapi teledor untuk berwas-was terhadap datangnya serangan langsung,

"Kau berhasil menyaksikan pihak lawan?"

"Tidak, aku tidak berhasil menjumpainya," Kakek itu menggeleng. "Tapi tenaga pukulan yang begitu dahsyatnya itu benar-benar belum pernah menjumpai sebelumnya."

"Kalau begitu kau kena dilukai."

"Terluka sih tidak, Cuma serangan lawan yang dilancarkan dari jarak sepuluh kaki itu ternyata bisa menghajar telak jalan darah pingsan di tubuh lohu, kenyataan ini bila tidak kualami sendiri, memangnya lohu bisa dibikin percaya?"

"Irama seruling itu memiliki kesanggupan untuk membetot sukma, sebab itu walaupun lohu telah melindungi jantung dan pikiranku, namun tak dapat  melindungi  sukma  sendiri, akhirnya aku pingsanketika berada lima kaki dari pantai."

"Bagaimana dengan pengalamanmu yang keempat kalinya?" pemuda itu tertawa hambar.

Keadaanku makin parah dalam kesempatan yang keempat kalinya itu!" perasaan ngeri kembali terlintas diwajahnya.

"Masa di dunia ini masih terdapat ilmu silat lain yang jauh lebih lihay dari pada ke tiga macam kepandaian tersebut?"

Kakek itu manggut-manggut.

"Yaa, ke empat kalinya datang kesana, lohu telah dihadapkan dengan ilmu pedang terbang seperti apa yang sering kita dengar."

"Sungguh?" Tampaknya ilmu pedang terbang itu cukup menarik perhatian serta kegembiraan Oh Put Kui,

"Masa ilmu pedang terbang yang sudah lama punah dari dunia persilatan itu bisa mun cuI kembali disini?"  Katanya  lebih jauh.

"Siapa bilang tidak? waktu itu perahu lohu berada  dua puluh kaki jauhnya, tapi aku telah bertemu dengan..."

Sambil menggelengkan kepala pemuda  itu  menghela napas panjang.

"Waaah tenaga serangan ilmu pedang terbang itu sangat kuat, buktinya dapat mencapai kejauhan dua puluh kaki lebih!" selanya.

"Yaa, benar. Kalau dihitung dari jarak antara pantai dengan perahu yang lohu tumpangi, jaraknya memang dua puluh kaki, tapi kalau dihitung dari tempat persembunyian orang itu, sesungguhnya jarak tersebut mencapai dua puluh lima kaki lebih."

"Cin tua, apakah kau terluka?" pemuda itu menaruh rasa kuatirnya.

Cin Poo-tiong segera menggeleng.

"Tidak, aku tak sampai terluka, sejak ketika lohu saksikan ada sekilas cahaya tajam  menyambar datang  dari  pantai, pada mulanya kukira sebangsa senjata rahasia dalam ukuran besar, maka kuangkat dayangku untuk menangkis."

"Delapan puluh persen dayungmu lantas patah dan hancur berkeping-keping."

Entah sedari kapan, ternyata sipengemis pikun telah duduk pula disitu sambil menimbrung.

Cin Poo tiong berpaling dan  memandang pengemis itu sekejap, kemudian sambil tertawa ia manggut-manggut.

"Perkataan saudara Lok memang benar, dayung besi ini seketika hancur dan jadi beberapa keping." "Hei, kau kenal dengan aku si pengemis tua?" tiba-tiba pengemis pikun itu berteriak.

"Haaaa... haaa...  haaa...  saudara Lok, salahmu sendiri mempunyai tampang sejelek ini, tampangmu itulah yang telah membocorkan asal-usulmu."

"Ooh... kalau begitu aku si pengemis tua perlu  menyaru untuk merahasiakan wajahku."

Oh Put Kui turut tertwa, katanya:

"Lok tua, asal perbuatan seorang lelaki sejati  tulus  dan  jujur, mengapa takut dikenali orang?"

Mendengar perkataan itu, pengemis pikun segera bertepuk tangan sambil bersorak sorai.

"Hei bocah keparat, kau benar-benar cacing dalam perutku, apa saja yang kupikir, kau selalu dapat menebaknya dengan jitu..."

Oh Put Kui tersenyum, tiba-tiba katanya kepada Cin Poo- tiong:

"Cin tua, setelah dayung itu patah, apakah hawa pedang itu mengundurkan diri dari situ?"

"Tenaga dalam yang dimiliki orang itu sangat lihay, setelah dayung itu patah, cahaya bianglala yang memancarkan sinar tajam itu segera berputar  sebanyak  sepuluh kali lingkaran diatas udara tepat diatus perahuku."

"Ooh, sungguh hebat!" paras muka Oh Put Kui  turut berubah hebat.

Tiba-tiba saja dia  menjumpai kalau tenaga dalam yang dimiliki si pelepas pedang terbang itu hampir setaraf dengan tenaga dalam yang dimiliki gurunya.

"Sejak lohu tahu kalau jago lihay yang menghuni di atas pulau itu ternyata memiliki ilmu silat yang begitu lihay, lohu tak pernah lagi datang kemari untuk melakukan pengintaian!" "Yaa, memang tidak perlu lagi!" Oh Put Kui mengangguk sambil tersenyum pelan.

"Mengapa? Takut mati?" tiba-tiba sipengemis pikun menyela.

Oh Put Kui ikut tertawa.

"Bukan begitu, kita sudah tahu kalau orang yang menghuni diatas pulau itu memiliki ilmu silat yang sangat lihay, umat persilatan didaratan Tionggoan pun sudah tiada yang sanggup untuk menandinginya Iagi, jika mereka berhasrat untuk mencelakai dunia persilatan, siapakah yang sanggup membendung kekuatannya?"

"Tentu tak ada yang sanggup, sekalipun kau si bocah muda juga tak mampu!"

Sembari berkata, pengemis pikun segera mendongakkan kepalanya sambil membusungkan dada, seolah-olah orang yang melepaskan serangan dengan pedang terbang itu adalah dia.

Oh Put Kui kembali tertawa.

"Diantara para jago lihay dunia persilatan yang datang menyelidiki pulau ini, kecuali sampah-sampah  masyarakat yang mempunyai maksud tertentu, terdapat  pula manusia seperti Cin tayhiap, tapi tujuan dari manusia semacam Cin tayhiap ini bermaksud lain bukan? Tentu tujuan Cin tayhiap kemari hanya untuk mengetahui apakah penghuni pulau ini orang jahat atau orang baik."

Cin Poo-tiong cuma tertawa sambil manggut-manggut.

Sebaliknya sipengemis pikun segera berseru sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku rasa sudah pasti mereka bukan manusia jahat  atau iblis bengis, kalau tidak, mana makhluk tua ini  masih  bisa hidup sampai sekarang." "ltulah dia, kalau toh penghuni pulau itu bukan manusia bengis atau iblis buas, mengapa Cin tua mesti pergi kesana untuk mengganggu ketenangan orang ini?"

Dengan cepat pengemis pikun melompat  bangun, teriaknya:

"Tepat sekali! Aku sipengemis setuju sekali dengan pendapat itu, nah mari kita pulang saja."

Kalau dibilang pikun, ternyata pengemis ini hebat juga, ternyata dia  hendak menggunakan alasan tersebut untuk menutupi rasa takutnya guna berkunjung ke pulau Neraka.

"Tidak! Kita masih tetap akan melanjutkan rencana kita," tukas Oh Put Kui sambil tertawa.

Kontan saja pengemis pikun melotot besar, bentaknya: "Bocah keparat, apakah kau tidak kuatir kedatanganmu itu

akan mengganggu ketenangan orang?"

"Haaahhh..,haaahhh... haaahhh... Lok tua, tujuanku kesitu tak lain hanya ingin mematahkan julukan pulau tersebut sebagai pulau yang bisa didatangi tak bisa ditinggalkan."

Tiba-tiba pengemis pikun naik darah, teriaknya:

"Hmm, mana mungkin kan bisa mematahkan julukan bisa pergi tak akan kembali itu? Sudah jelas hendak pergi menghantar kematian, aku kena  diseret  juga  untuk menghantar nyawa..."

"Lok tua, bila kau tak ingin kesitu, aku-pun tak akan memaksamu." ujar pemuda itu kemudian sambil tertawa.

Ucapan ini sangat menggirangkan hati si  pengemis  pikun itu, jeritnya segera:

"Benarkah itu? Bagus, sekarang juga aku si pengemis tua akan pergi..."

Tanpa banyak membuang waktu, dia segera membalikkan badan dan lari dari situ. Tapi, berapa jauhkah dia bisa lari diatas perahu yang begini kecil bentuknya itu?

Memandang lautan yang luas dan gelap  gulita,  pengemis tua i!u kontan saja berdiri bodoh.

Lama sekali dia tertegun, akhirnya baru meraung keras sambil membalikkan badannya:

"Bocah keparat, nampaknya mau tak mau selembar nyawaku mesti kuserahkan kepadamu."

"Aaah, jangan, aku tak berani menerima penyerahan itu," kata Oh Put Kui tertawa, "pokoknya asal kau bisa merenangi samudra seluas puluhan li ini, silahkan kau pergi sesuka hatimu sendiri, kalau tetap tinggal di-sini, berarti kaulah yang bersedia sendiri untuk ikut bersamaku."

Hampir meledak dada pengemis pikun itu setelah mendengar perkataan tersebut.

Tapi..apa lagi yang bisa dia lakukan ditengah samudra luas yang tak bertepian itu? Yaa, kecuali membelalakkan matanya lebar-lebar sambil mendepakkan kakinya  ke tanah, ia bisa berbuat apa?

Mampukah dia renangi samudra yang begini luasnya itu?

Mungkin sampai penitisan mendatangpun  dia tak akan berani mengucapkan sesumbarnya.

Oh Put Kui sama sekali tidak berpaling.

Hal ini bukan dikarenakan dia berhati dingin atau segan untuk berbicara lagi dengan pengemis itu, sebaliknya karena tahu akan watak si pengemis aneh yang angin-anginan dan pikun itu.

Bila ia memanasi hatinya terus menerus, maka akhirnya pasti akan membuat hatinya tak senang hati.

Jangan dilihat si pengemis pikun sedang mendepak depakkan kakinya dengan kheki sekarang, padahal dalam hati kecilnya dia amat mengagumi kecerdasan Oh Put Kui. -oOdwOo0dw0oOdwOo-

Kini perahu yang mereka tumpangi sudah berada setengah li dari pulau Neraka.

Dengan suara rendah Cin Poo-tiong lantas berbisik kepada Oh Put Kui:

"Saudara cilik, kita harus mulai berhati-hati " Oh Put Kui tertawa.

"Kecuali ilmu pedang terbang tersebut yang mungkin akan memusingkan kepalaku, soal beberapa macam kepandaian yang lain tentu tak akan pengaruh mempengaruhi kesadaran, aku rasa belum mampu untuk mengapa-apakan diriku "

Tentu saja Cin Poo-tiong kurang percaya  dengan pernyataan tersebut. Hanya  saja hal itu tidak  diutarakan secara berterus terang, hanya katanya seraya tertawa:

"Saudara cilik, kau mungkin saja tidak takut, tapi kami bertiga toh tak akan mampu untuk mempertahankan diri!"

Oh Put Kui segera tertawa hambar, "Luas sampan ini paling cuma dua kaki, aku percaya masih mampu untuk melindungi keselamatan kalian bertiga agar tak sampai  menderita kerugian apa-apa."

Berbicara sampai disitu, mendadak dia membungkam diri dan tidak berbicara lagi.

Cin Poo-tiong menjadi amat terkejut setelah menyaksikan keadaan sianak muda itu, cepat tanyanya :

"Saudara cilik, kenapa kau?"

"Tiba-tiba saja aku teringat oleh kawanan jago yang berada di pulau ini bukan manusia jahat yang berhati bengis " Kata  Oh Put Kui sambil mendongakkan kepala.

"Ya betul, kalau tidak, masa kawanan jago persilatan yang berani datang kemari hanya dibikin ketakutan saja agar mundur sendiri?" "Aku jadi berpikir-pikir, andaikata sampai  terjadi pertarungan lantas apa yang mesti kulakukan?"

Diam-diam Cin Poo-tiong mengangguk setelah merenung sebentar jawabnya:

"Saudara cilik, apakah kau takut kalau sampai salah melancarkan serangan hingga melukainya?"

"Bukan dia, melainkan mereka..."

"Saudara cilik, kau menganggap diatas pulau  itu berpenghuni lebih dari satu orang?" Cin Poo-tiong ikut tertawa.

"Tentu saja bukan cuma satu orang," jawab Oh Put-kui, "kalau cuma satu orang saja, mengapa dia  baru pada kesempatan yang ke empat baru menggunakan ilmu pedang terbang untuk menakut-nakuti dirimu?"

"Yaa, betul juga perkataan saudara cilik...." Cin Poo-tiong tertawa.

Setelah merenung sebentar, kembali ujarnya:

"Padahal kau juga tak usah merasa sedih, andaikata kita dapat naik ke atas darat, kalau bisa berusahalah untuk saling bersua muka dengan pihak lawan..."

"Yaa, terpaksa kita memang harus berbuat demikian."

Sementara pembicaraan masih berlangsung, perahu  kecil itu sudah berada lebih kurang sepuluh kaki dari tepi pantai.

Sementara itu, pengemis pikun sudah ngeloyor pergi dari buritan perahu menuju ke-depan.  geladak dan menyembunyikan diri dibelakang Oh Put Kui, tampaknya dia hendak mempergunakan si anak muda  itu sebagai tamengnya.

Sudah barang tentu Oh Put Kui mengetahui akan  hal  ini, tapi ia justru berlagak seakan-akan tidak tahu. Dalam pada itu perahu yang mereka tumpangi makin lama semakin mendekat, dari jarak sembilan kaki menjadi delapan kaki jaraknya semakin lama semakin menjadi pendek.

Tapi suasana diatas pulau itu masih tetap hening, sepi dan tak kedengaran sedikit sua rapun, sedemikian sepinya sampai semua orang yang berada didalam perahu dapat mendengarkan debaran jantung masing-masing,  sementara itu jarak dengan pulau itu sudah makin pendek lagi, enam kaki sudah dilampaui kini makin mendekati jarak lima kaki. empat

kaki...

Si nelayan sakti dari lautan  timur Cin Poo tiong telah menyelinap kcburitan perahu  dan menggantikan  pemuda kekar tersebut untuk memegang kemudi, sementara pemuda itu sendiri mengambil sebatang gala panjang dan bersiap-siap untuk mendekati pantai.

Kini jaraknya tinggal tiga kaki. dua kaki

Makin lama pulau itu makin dekat, namun tiada sesuatu kejadian apapun yang berlangsung didepan mata.

Segala sesuatunya tetap  hening, sepi tak  kedengaran suara pun, selain gulungan ombak yang memecah kepantai, tiada gerakan apapun yang kerja disana.

-oOdwOo0dw0oOdwOo-

Oh Put Kui nampak agak tertegun oleh kejadian tersebut, apa yang terjadi didepan mata benar-benar berada diluar dugaannya, Cin Poo-tiong paling tercengang oleh kejadian tcrsebut, dia sampai termangu-mangu dibuatnya.

Tampaknya perahu itu segera akan mendekati tepi pantai berkarang, kini jaraknya sudah tinggal satu kaki.

Mendadak...

Dalam suasana yang penuh ketegangan tersebut, dan tengah udara berkumandang suara petikan harpa yang amat keras dan memekikkan telinga. Begitu suara harpa tersebut berkumandang, empat orang yang berada dalam perahu segera merasakan  suatu getarakan keras didalam hati mereka.

Malahan pemuda yang membawa gala panjang sambil mempersiapkan pendaratan  itu  hampir  saja  terjungkal kedalam laut.

Oh Put Kui tertawa hambar, tiba-tiba sepasang tangannya dirangkapkan didepan dada, lalu sambil  memejamkan matanya dia berdiri tenang.

Segulung bau harum yang menyejukkan dengan cepat menyebar keempat penjuru, demikian sedapnya bau  itu membuat semangat orang serasa berkobar kembali.

Thian-Iiong-sian-kang memang terbukti merupakan suatu Kepandaian maha sakti dari dunia persilatan.

Nelayan sakti dari lautan timur Cin Poo-tiong, si pengemis pikun Lok Jin Ki dan pemuda kekar yang berada diatas   perahu, sesungguhnya sudah terpengaruh oleh getaran keras itu sehingga kesadarannya hampir lenyap, tapi begitu Oh Put Kui mengerahkan tenaga murninya, seketika itu juga mereka jadi segar dan sadar kembali.

Dengan perasaan terkejut si Nelayan sakti dari lautan timur segera menghela napas panjang, katanya:

"Saudara cilik, mau tak mau lohu mesti merasa kagum sekali atas kemampuanmu..." sekarang perahu mereka sudah merapat dengan daratan.

Bersamaan dengan merapatnya perahu  tersebut dengan pantai, tiba-tiba saja suara harpa itu terhenti sama sekali.

Tak lama kemudian, dari arah pantai sana berkumandanglah suara pekikan panjang yang amat keras.

Oh Put Kui memandang sekejap rekan-rekannya, kemudian berkata sambil tertawa.

"Mari kita bersama-sama naik ke darat!" Nelayan sakti dari lautan timur segera meninggalkan beberapa pesan kepada pemuda kekar itu, kemudian dengan mengikuti dibelakang Oh Put-kui serta pengemis pikun Lok Jin-ki, dia melompat naik keatas daratan.  Ternyata pulau tersebut merupakan sebuah pulau karang yang penuh dengan batuan tajam,

Ketiga orang itu memperhatikan sekejap  suasana disekeiiling tempat itu, sekarang mereka baru tahu kalau tempat itu merupakan sebuah tanah datar yang berbentuk dari batuan karang  yang  datang, luasnya  mencapai beberapa hektar.

Jarak antara tanah datar tersebut dengan permukaan laut kurang lebih mencapai tiga kaki.

Oh Put-kui segera memberi tanda, dan ke tiga orang itupun bersama-sama, melompat naik keatas tanah datar tadi.

Setelah berada di atas tempat itu, mereka bertiga baru merasa terkejut sekali.

Ternyata disana duduknya manusia yang berbaju aneka, bahkan bukan cuma satu orang saja.

Lebih kurang beberapa kaki dihadapan ke tiga orang itu duduklah berjajar tujuh orang kakek.

Oh Put-kui segera berkerut kening, kemudian  sambil menjura dan tertawa katanya:

"Baik-baikkah kalian bertujuh, orang tua? aku dan rekan- rekanku telah datang mengganggu  ditengah malam buta begini. harap kehadiran kami bisa dimaafkan."

Ke tujuh orang kakek itu saling berpandangan sekejap, kemudian bersama-sama mengangguk.

Dibagian tengah duduklah seorang kakek yang  tinggi besar, sambil mengerutkan keningnya yang licin dan tertawa ramah, dia menegur:

"Hei bocah, siapa namamu?" "Aku bernama Oh Put-kui"

Sementara itu, kakek berwajah kuning  berambut putih sepanjang bahu yang duduk disamping kakek tinggi besar itu sudah mengawasi terus jago muda kita  dengan  seksama sejak Oh Put-kui munculkan diri dihadapan mereka.

Apalagi ketika mendengar Oh Put-kui mengutarakan namanya, tampak sekujur badan nya bergetar keras.

Dengan sorot mata yang lebih tajam dia mengawasi wajah anak muda itu makin tak berkedip...

Kakek yang tinggi besar itu segera tertawa, ujarnya: "Wahai bocah ciIik, siapakah yang telah mewariskan ilmu silat kepadamu? Mengapa kau tidak takut  irama Liat-sim-kim-im (irama harpa perctak hati) dari Mi Sim-kui-to, Kim-tiong seng-  jiu (."tosu setan pembingung hati, tangan sakti pemain harpa)

? Jarang sekali kujumpai  manusia yang berkemampuan seperti ini."

Mendengar pertanyaan tersebut, Oh Put Kui segera tertawa hambar.

"Suhuku hanya seorang yang sudah mengasingkan diri dari keramaian dunia, sekalipun  diucapkan  belum  tentu  ada berapa orang yang mengenalnya, oleh karena itu kumohon  maaf kepada kakek bertujuh bila aku tak mampu menjawab pertanyaan ini," kakek tinggi besar itu segera berpaling kearah seorang hwesio gemuk yang duduk diurutan  ke  empat darinya, kemudian tegurnya sambil tertawa:

"Hei, hwesio ! Apakah kau sudah dapat menduga asal perguruan dari si bocah cilik ini ?"

Hwesio gemuk berjubah merah itu segera tertawa lebar. "Menurut dugaan lolap, kemungkinan besar Siau-sicu ini

adalah muridnya Thian liong!"

"Aaaah... masa Thian-liong Sang-jin juga  menerima murid?" kata si kakek tinggi besar sambil tertawa. "Yaaa, ilmu sakti naga langit memang tidak sepantasnya lenyap dari peredaran dunia..."

Sementara itu, seorang tojin berbaju hitam yang duduk diurutan ke enam menimbrung pula sambil tertawa:

"Saudara Ku, apa yang diucapkan Jian-gi memang betul, kepandaian yang dipergunakan bocah itu untuk melawan Liat sim kim-im dari pinto tadi tak lain adalah Thian-liong-sian- kang!"

Kakek tinggi besar she Ku itu segera tertawa terbahak- bahak.

"Haaahhh....haaahhh... haaahh... bocah cilik, kau pandai mempergunakan ilmu Thian liong sian kang, sudah pasti kau adalah muridnya Thian-Iiong Sang-jin! Entah ada urusan apa, malam-malam begini kau datang berkunjung ke pulau kami?"

Walaupun Oh Put Kui sudah mendengarkan pembicaraan dari beberapa orang kakek Itu, namua dia tidak merasakan sesuatu yang aneh, berbeda halnya dengan si pengemis pikun Lok-jin-ki serta si Nelayan sakti dari lautan timur Cin  Poo- tiong.

Tiba-tiba saja paras muka mereka berdua berubah hebat sekali, perasaan ngeri dan segan segera menguasai seluruh benak...

Sekalipun mereka baru mendengar dua sebutan nama dari si tosu dan si pendeta yang hadir disana, namun dari nama Mi-sim-kui to (tosu setan pembingung hati) serta Jin-gi siansu, tanpa terasa mereka pun terbayang pula  akan  nama-nama dari lima orang sisanya...

Apalagi sesudah mereka mendengar panggilan "saudara Ku" yang diucapkan si tosu tua  terhadap  kakek  tinggi besar  itu, hal mana semakin membuktikan kalau apa yang diduga mereka berdua dalam hatinya sedikitpun tidak meleset. Pengemis pikun segera mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap kearah Cin Poo-tiong, kemudian bisiknya dengan suara lirih:

"Bu-lim-jit-sat kah mereka?"

Cin Poo-tiong segera manggut-manggut sambil menyahut dengan suara amat lirih:

"Yaa, betuI, mereka juga disebut Bu-lim- jit-seng ( tujuh malaikat dari dunia persilatan)."

Kalau ditinjau dan  orang-orang yang kebanyakan mati ditangan mereka merupakan manusia-manusia berhati busuk dan berdosa besar, ketujuh orang itu memang pantas kalau dipanggil sebagai Jit seng ( tujuh malaikat ) cuma kalau dilihat dari cara mereka melakukan pembunuhan secara kejam dan brutal .."

Belum habis ucapan tersebut diselesaikan  nelayan  sakti dari lautan timur telah menukas sambil berbisik:

"Hei, pengemis, tahukah kau siapa yang duduk pada urutan yang kelima itu ?"

Dengan cepat pengemis pikun memperhatikan sekejap kakek yang duduk diurutan kelima, kemudian sahutnya:

"Orang itu berwajah merah, dibawah dagu tiada jenggot sementara sorot matanya tajam bagaikan sembilu, delapan puluh persen orang itu adalah Toan-kiam-huang-seng  (  si latah berpedang kutung ) Liong Siau-thian!"

"Yaa, benar, memang dia," Nelayan sakti dari lautan timur manggut-manggut, "sedari tadi dia terus menerus melototi kita berdua.

"Benarkah itu ? Waaah kalau begitu aku sipengemis tak akan mengajakmu untuk bercakap-cakap lagi, aku  benar- benar tak berani mengusik dirinya..."

Berbicara sampai disitu, pengemis pikun tersebut benar- benar menutup mulutnya rapat-rapat dan tidak berbicara lagi. Sementara itu, Oh Put Kui sedang berbincang bincang dengan ketujuh orang kakek tersebut:

"Umat persilatan telah menghadiahkan nama PuIau neraka atau Pulau bisa pergi tak akan kembali untuk pulau kecil yang kalian bertujuh huni ini, merekapun menganggap  kalian bertujuh sebagai iblis-iblis bengis  yang kerjanya raenteror serta membunuhi umat persilatan secara keji dan brutal."

Baru saja ia berbicara sampai disitu, sastrawan berkepala uban berjubah kuning yang duduk diurutan ketiga mendadak mendengus dingin.

Oh Put Kui segera memandang sekejap kearahnya, namun dengan tenang kembali dia berkata lebih jauh:

"Aku kurang percaya terhadap kabar  berita yang tersiar dalam dunia persilatan itu maka aku sengaja datang kemari, pikirku bila kalian bertujuh benar-benar adalah kaum iblis keji, mengapa pula kalian baru akan membunuh orang hanya bila ada di pulau ini saja?"

Kakek pendek berbaju merah berambut putih yang duduk dipaling ujung, tiba-tiba tertawa tergelak.

"Haaahhh haaahhh haaahhh bocah cilik, kau anggap kami sudah membunuh banyak orang diatas pulau ini?"

"Aku sih tidak percaya!" Oh Put Kui tertawa.

"Haaahhh haaahhh haaahhh bocah, kalau toh kau tidak percaya maka bagaimana  dengan penjelasanmu tentang. "Bisa pergi tak akan kembali" tersebut ?"

"ltulah tujuan dari kedatanganku kali ini!"

Mendadak sastrawan berambut putih yang diurutan  ketiga itu tertawa dingin.

"Hmmm, kau hendak menggunakan gerak-gerikmu sendiri sebagai bukti?"

"Yaa, benar! Aku memang mempunyai maksud begitu." "Sunggah bersemangat! Tampaknya loohu sekalian  bertujuh harus memenuhi keinginanmu itu..."

Mendadak kakek tinggi  besar yang  menjadi pemimpin mereka itu tertawa nyaring.

Oh Put Kui sama sekali tidak  terpengaruh oleh suara tertawa itu, katanya pelan:

"Aku tidak mengarapkan bantuan dari cianpwee sekalian untuk memenuhi keinginanku itu, setelah aku bisa datang kemari, tentu bisa pergi pula meninggalkan tempat ini, cuma julukan pulau neraka ini sebagai Bisa pergi tak akan kembali  pun mesti dirubah."

Kakek tinggi besar itu menghentikan  tertawanya, lalu dengan wajah serius berkata:

"Sebenarnya pulau ini mempunyai nama sendiri"

"Ooh, benarkah itu? Sayang  umat persilatan tiada  yang tahu akan hal ini!" Kakek tinggi besar itu tertawa, "Pulau kecil yang tak bernama ini, sejak delapan belas tahun berselang, yaitu semenjak lohu sekalian berdiam disini telah diberi nama, dan nama itupun telah kami abadikan diatas sebuah tugu!"

"Apa nama pulau ini?" "Jit-hu-to"

"Pulau tujuh kesepian?"

Tiba-tiba Oh Put kui merasakan sesuatu perasaan yang sangat aneh sekali.

Tanpa terasa dia memiliki kembali kearah ke tujuh orang kakek tersebut.

"Tujuh orang kakek yang  hidup menyendiri kesepian, memberi nama pulau tujuh kesepian untuk pulau yang dihuni, ehmm! Nama tersebut memang sesuai sekali!"

Walaupun daIam hati kecilnya  dia  berpikir  demikian, diluaran katanya segera: "Pulau tujuh  kesepian memang merupakan nama yang amat bagus, sekembalinya ke daratan Tionggoan nanti, pasti akan ku umumkan hal ini kepada segenap umat persilatan di dunia, agar mareka jangan menaruh perasaan salah paham lagi...

Belum habis dia  berkata mendadak seseorangg telah menukas sambiI tertawa:

"Sekalipun mereka salah paham kepada kami, apa  pula yang bisa mereka lakukan terhadap lohu ?"

Orang yang berbicara kali ini adalah seorang kakek tanpa jenggot yang duduk di urutan kelima.

Oh Put Kui memandang sekejap ke arahnya kemudian berkata lagi sambiI tertawa.

"Apakah kau amat benci terhadap Umat persilatan?"

Kakek tak berjenggot ini tak lain adalah Toan-kim huan- seng "si Latah berpedang kutung" Liong Siau-thian yang disinggung pengemis tadi, diantara malaikat dunia persilatan dialah orang yang paling angkuh dan latah.

Ucapan dari Oh Put kui tersebut, bagaimana mungkin bisa diterima dengan begitu saja?

Kontan dia tertawa dingin, sambil mengeraskan suaranya, kembali kakek itu berkata dengan Iatah?

"Bocah keparat, kan anggap lohu suka dengan gentong- gentong nasi tersebut? Hmm, mencari nama, merebut kedudukan pada hakekatnya sama sekali tidak berbau kemanusiaan "

Belum habis dia berkata, si hwesio gemuk telah menyela sambil tertawa:

"Liong sicu, sedikitlah menahan diri dalam berbicara, watak Liong-te dari dulu sampai sekarang masih saja berangasan sedikitpun tidak berubah!" sambung kakek tinggi besar itu.. Setelah berhenti sebentar, diapun bertanya kepada Oh Put- kui:

"Bocah cilik, apakah kedatanganmu kemari atas perintah dari orang lain?" Oh Put kui segera tertawa keras,  "Dalam dunia persilatan masih belum ada orang yang pantas untuk memberi perintah kepadaku."

Sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba ia berpaling dan memandang sekejap ke arah pengemis pikun,  kemudian katanya lebih jauh: "Aku amat sedikit berkenalan dengan orang-orang persilatan didaratan Tionggoan..."

Ucapnya tersebut dengan cepat membuat wajah ketujuh orang kakek itu berseri, sorot mata merekapun memancarkan sinar aneh.

Kakek kurus berwajah penyakitan yang duduk di urutan kedua dan selama ini hanya membungkam terus  itu, mendadak tersenyum dan berkata:

"Nak, apakah orang tuamu juga jago kenamaan dari dunia persilatan ?"

Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba saja paras muka Oh Put-kui berubah menjadi amat sedih.

Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya setelah menghela napas panjang:

Kalau dibicarakan sebenarnya memalukan sekali! Hingga tahun iai, walaupun aku telah  dua  puluh tahunan  namun belum pernah kuketahui siapakah orang tuaku. Untuk  itu,  harap cianpwe bertujuh jangan mentertawakan !"

Sekiias perubahan  yang sangat aneh segera  melintas diatas wajah kakek ceking tanyanya lagi:

"Apakah gurumu tak pernah  memberitahukan soal ini kepadamu?"

"lnsu tak pernah mau memberitahukan hal tersebut kepadaku!" "Apakah sejak kecil kau dibesarkan oleh gurumu?" kembali kakek ceking itu tertawa.

"Tampaknya memang begitu!"

"Nak, mengapa jawabanmu tidak meyakinkan?"

Tampaknya Oh Put-kui menaruh kesan yang baik terhadap kakek ceking tersebut, dengan wajah termangu dia memperhatikan kakek itu beberapa saat lamanya, kemudian sambil tertawa dia berkata:

"Aku seakan-akan teringat pernah berdiam selama beberapa waktu didalam sebuah gedung yang amat besar!"

"Ooh masih ingatkah kau nak, siapakah tuan rumah dari gedung tersebut.?"

Dengan    cepat    Oh  Put-kui   menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Waktu itu aku sedang belajar berbicara, jadi aku benar- benar tak bisa mengingatnya secara jelas."

Kakek ceking itu nampak seperti amat kecewa, dia menghela napas panjang.

Untuk beberapa saat lamanya dia tidak berbicara lagi. Tiba-tiba tojin berbaju hitam itu tertawa, katanya:

"Saudara Oh, kau tak usah memikirkan lagi, jika  takdir sudah menghendak demikian apakah kau dapat merubahnya secara paksa? Andaikata dia akan kembali, sedari dulu dia sudah kembali..."

Kakek ceking itu segera tertawa getir.

"Lohu cukup memahami teori tersebut, cuma..."

Tertawa getir dari si kakek itu mendadak berubah menjadi suara sesenggukan yang tertahan.

Oh Put-kui menjadi tak tega menyaksikan kejadian seperti itu, tanpa terasa segera serunya: "Locianpwe, mengapa kau bersedih hati?"

"Nak, ketika lohu menjumpai dirimu, tanpa terasa aku jadi teringat dengan putraku yang sudah lenyap amat lama."

"Kini putramu berada dimana?" tanya 0h-Put-kui sambil tertawa, Dangan cepat kakek ceking itu menggeleng "Seandainya lohu tahu, tak akan begini sedih hatiku!"

Kembali Oh Put-kui tertawa, "Locianpwe! beritahukan kepadaku siapa nama putramu itu, sekembalinya kedaratan pasti akan kucari putramu itu dan menyuruhnya datang kemari untuk menjumpaimu."

"Anak baik, lohu mengucapkan banyak terima kasih dulu atas kesediaanmu itu!" kakek ceking itu tertawa terharu.

"Aaaah urusan kecil seperti itu mengapa mesti dipikirkan? silahkan kau sebutkan nama anakmu itu!"

"Lohu dari marga Oh, tentu saja anak itupun berasal dari marga Oh pula, sewaktu lohu meninggalkan dia, aku  tak sampai memberi nama kepadanya, oleh sebab itu lohu sama sekali tidak tahu siapakah namanya."

Mendengar perkataan itu, Oh Put-kui  menjadi  tertegun untuk beberapa saat lamanya.

Masa seorang ayah tidak mengetahui nama putra? Hopo tumon!

Disamping itu, kalau dia  diharuskan  mencari seorang pemuda she Oh didalam dunia persilatan yang begitu luas, mana mungkin ia dapat menemukannya? Apakah keadaan tersebut tidak ibaratnya  mencari sebatang jarum didasar samudra?

Melihat pemuda itu termenung tidak menjawab, kembali kakek ceking itu berkata:

"Kalau dihitung-hitung, maka tahun ini mestinya putraku itu indah berusia dua puluh satu tahun!" "Ooh, itu berarti seusia dengan diriku?" pikir Oh Put-kui di dalam hati, "tapi itupun masih sulit untuk  mencarinya..." Berpikir sampai disitu, dia  lantas berkata:  "Locianpwe, sewaktu kau pergi meninggalkannya dulu, kau telah serahkan putramu itu kepada siapa agar merawatnya?"

Sambil menghela napas kakek ceking itu menggerakan kepalanya berulang kali.

"Waktu itu lohu sedang berada dalam keadaan tak sadar." Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata kakek itu,

katanya lagi sambil tertawa.

"Aaaah sekarang lohu sudah teringat, bila kau bisa menemukan Han san-it-koay "manusia aneh dari bukit Hau- san" Kok Cu-keng atau salah seorang diantara empat jago pedang dibawah pimpinan  Ceng-thian-kui-ong "raja setan penggetar langit" Wi Thian-yang, mungkin bisa kau temukan setitik sinar terang.

Mendengar perkataan itu, kembali Oh Put kui memutar otaknya untuk memikirkan persoalan itu dengan seksama.

Sebenarnya kakek ini seorang pendekar yang lurus?

Ataukah seorang iblis sesat?

Mengapa dia menyuruhnya menanyakan soal putra itu kepada beberapa orang gembong iblis tersebut?

Tapi sewaktu sorot mata Oh Put-kui bertemu dengan sinar mata si kakek ceking yang penuh  permohonan  itu,  akhirnya tak tahan dia segera mengangguk.

"Baiklah, aku akan mencari salah seorang diantara kelima gembong iblis tersebut untuk menyelidiki pesoalan ini..."

"Nak, kalau begitu aku menantikan kabar beritamu..." Oh Put Kui tertawa hambar dan manggut-manggut..

"Aku pasti akan mengusahakan dengan sepenuh tenaga untuk menemukan kembali putra kesayangan locianpwe!" Sorot matanya segera dialihkan kembali kewajah  kakek tinggi besar itu, kemudian katanya sambil tertawa:

"Bolehkah aku tahu nama besar dari cianpwe bertujuh..." Kakek tinggi besar itu segera tertawa terbahak-bahak. "Haaahhh... haaahhh...haaahhh...bocah, nyalimu benar-

benar besar! semenjak lohu sekalian menetap dipulan tujuh kesepian ini, belum pernah  ada orang asing yang bisa memasuki tempat ini lagi, tapi sekarang bukan saja kau sibocah berani datang kemari, bahkan berani pula  menanyakan nama kami bertujuh, selama delapan belas, baru kejadian pada hari ini merupakan suatu peristiwa besar!"

Oh Put Kui tertawa hambar.

"Kalau didengar dari pembicaraan locianpwe itu, aku seharusnya merasa bangga, cuma. "

Sorot matanya berkilat, setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu,, katanya sambil tertawa.

"Locianpwe, tapi aku justru merasa sedi-kitpun tidak luar biasa.."

Kakek yang tinggi besar menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, serunya:

"Bocah, mengapa kau merasa sedikitpun tidak luar biasa?" Oh Put Kui tertawa.

"Dengan menumpang sebuah sampan menembusi ombak, mendarat di pulau ditengah malam buta, lalu  dengan kedudukan sebagai boanpwe menyambangi jago lihay dari dunia persilatan kalau dibilang luar biasa, sesungguhnya kejadian ini hanya suatu peristiwa biasa saja."

Sastrawan berambut putih itu yang duduk pada urutan ketiga itu segera mendengus dingin.

"Hmmmm, pandai betul orang ini bersilat lidah!" "Apakah locianpwe merasa kurang leluasa?" Paras muka sastrawan berambut putih itu segera berubah menjadi dingin bagaikan es, katanya:

"Lohu paling benci dan muak terhadap manusia-manusia yang tak pernah mendapat pendidikan,"

"Haaahhh...haaahhh... haaahh... benar, aku memang hidup sebatang kara dan  berkelana kian kemari, aku memang kekurangan pendidikan keluarga. jadi perkataan locianpwe itu tepat sekali." Oh Put Kui tertawa tergelak.

-oOdwOo0dw0oOdwOo-

Ucapan tersebut diutarakan dengan  nada cukup tajam, untuk sesaat lamanya sastrawan berambut putih itu malah dibuat tertegun, melongo dan ternganga sampai tak mungkin mengucapkan sepatah katapun.

Pengemis pikun yang menyaksikan kejadian ini  segera tertawa terkekeh-kekeh karena kegelian.

Sebaliknya si Nelayan sakti dari lautan timur Cin Poo-tiong berkerut kening, dia  tahu begitu pengemis pikun tertawa, kemungkinan besar akan menimbulkan gara-gara di sana.

Benar juga, dengan pandangan dingin sastrawan berambut putih itu melotot sekejap kearah pengemis pikun, kemudian tegumya:

"Apa yang kau tertawakan?"

Sekalipun dalam hati kecilnya  pengemis pikun  merasa takut, namun dimulut ia tak mau mengalah.

"Aku merasa hidupku gatal sekali, tentu saja suara tertawa ku segera meledak."

"Kau yang bernama Lok Jin-ki ?" tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata sastrawan berambut putih itu. . "Aaahh.. betul, dan kau, bukankah adalah Leng Tor pengemis Pikun?".

Sastrawan berambut putih itu tak lain adalah  Ciat-cing kongcu kongcu Saan Leng To dari Bu-lim-jit-seng ! Lantas saja amarahnya berkobar.

"Pengemis busuk, kau berani menyebut nama lohu secara langsung , Hm "

Tiba-tiba nyali si pengemis  pikun  seperti  menjadi bertambah besar, ia malah tertawa tergelak.

"Haaahhh.. haaahh.... haaahhh.. apa salahnya? Kau bisa memanggil namaku, apakah aku tak dapat memanggil namamu? Masa dikolong langit  terdapat  persoalan  yang begitu tak tahu aturan seperti kejadian ini...!"

Kalau dibilang dia pikun, ternyata ucapan pengemis ini sedikitpun tidak nampak pikun

Sekali lagi Ciat-cing-kongcu Leng To di buat terbungkam dan tak sanggup menjawab lagi.

Pada saat itulah  sikakek pendek yang  duduk  diurutan paling buncit tertawa nyaring.

"Lo-sam, tak usah ribut lagi dengan si pikun itu." katanya cepat, "memandang pada ketidak beraniannya  bersama nelayan sakti dari lautan timur untuk menyebutkan nama sendiri setelah berjumpa dengan kita, lepaskan saja mereka!"

Begitu ucapan tersebut diutarakan kontaa saja paras muka pengemis pikun dan nelayan sakti dari lautan timur berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus.

Oh Put Kui-yang menyaksikan kejadian itu menjadi tertawa geli, pikirnya:

"Ternyata mereka sudah saling mengenal  satu sama lainnya!" Berpikir sampai disini, pemuda itu lantas berkata:

"Lok tua, kau kenal dengan locianpwe..."

Dengan perasaan agak rikuh, pengemis pikun  segera mengangguk, sahutnya sambil tersenyum.

"Yaaa... yaaa... cuma... cuma tak berani mengenali saja!" Perkataan apa itu? Dengan ucapannya itu, bukankah sama dengan mengertikan dia tak kenal dengan mereka?

"Bagaimana kalau kuperkenalkan untukmu?" kata Oh Put Kui kemudian sambil tertawa.

Dengan gelisah pengemis pikun segera menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Soal ini... soaI ini..!"

Sampai setengah harian lamanya, dia mengucapkan kata "soal ini..." saja, tiada kau selanjutnya yang terdengar.

Sambil menggeIengkan kepalanya,  Oh Put Kui segera tertawa tergelak.

"Lok tua, rupanya kau semakin pikunnya  sampai lupa dengan nama mereka semua?"

"Yaa, betul! Betul. Tiba-tiba saja aku si-pengemis telah menjadi pikun kembali."

Ternyata dia telah manfaatkan kesempatan itu melepaskan diri dari belenggu.

Terpaksa Oh Put Kui tertawa lagi.

"Kalau memang tidak ingat, yaa-sudahlah..."

Dia lantas berpaling kearah ketujuh orang kakek itu dan berkata:

"Locianpwe, apakah aku pantas untuk mengetahui nama dari kalian bertujuh?"

Perkataan itu diucapkan dengan nada berat dan serius.

Ke tujuh orang kakek itu segera saling berpandangan sekejap, ternyata mereka mengangguk.

Dengan suara lantang, kakek yang tinggi pesat itu berkata. "Memandang pada kedudukanmu sebagai muridnya Thian-

liong siancu, baiklah, untuk kali ini saja lohu sekalian akan melanggar kebiasaan..." Setelah berhenti sebentar dan tersenyum dia melanjutkan.

"Dalam dunia persilatan lohu sekalian bertujuh disebut oleh manusia dari golongan putih sebagai Jit-seng (tujuh malaikat), tapi oleh kaum hitam dan sesat, kami di sebut pula sebagai Jit-sat (tujuh iblis), nah bocah, pernakah kau dengar  nama  itu?"

Diam-diam Oh Put Kui merasa amat terperanjat setelah mendengar perkataan itu, katanya kemudian:

"Sudah lama aku mendengar tentang nama besar Bu-lim- jit-seng, sungguh tak disangka kita dapat bersua muka disini!"

Kakek tinggi besar itu tertawa tergelak.

Inilah yang dinamakan: Ditempat mana saja manusia dapat bertemu. Nah bocah, lohu akan menyebutkan nama kami bertujuh menurut urutannya:

Pertama adalah It-oi-kit-sn (pertapa bodoh Ku Put-beng), Kedua, Lee-hun mo-kiam (pedang iblis pelepas sukma) Oh

Ceng-thian.

Ketiga. Ciat-cing Kongcu (kongcu tidak berperasaan) Leng- to, keempat, Jian-gi sian su.

Ke lima. Toan-kiam-buang-seng (manusia telah latah berpedang kutung) Liong-siau-thian.

Ke enam, Mi sim-kui-to "tosu  setan pembingung  sukma", Ke tujuh, Tiang pek-cui-siu "kakek pemabuk dari bukit

Tiang-pek" Tujikhong.

Nah, bocah, ingatkah kau dengan kami semua?"

"Boanpwe telah mengingatnya semua!" buru-buru Oh  Put Kui tertawa dan menjura.

Setelah berhenti sebentar, kembali dia berkata:

Selatta berada  dalam dunia persilatan cianpwe bertujuh selalu menegakan kebenaran dan  bernama besar, meski hawa membunuhnya kelewat tebal namun toh cukup menggidikkan hati kaum iblis, tapi entah apa  sebabnya sehingga mengasingkan diri ketempat terpencil ini dan membiarkan kaum durjana dan kaum penjahat meraja lelah dalam dunia persilatan? sekalipun aku tak becus namun persoalan ini sungguh membuat hatiku tidak habis mengerti!"

Siapapun tidak menyangka kalau pemuda itu akan  berbicara dengan nada teguran.

Untuk sesaat, ke tujuh orang kakek itu menjadi tertegun.

Tapi akhirnya si kakek pendek, Tiang pek cui Tu Ji-khong menjawab:

"Bocah, maksudmu didalam dunia persilatan telah terjadi kekalutan dan mara bahaya, pembunuh berdarah sudah mulai berlangsung dalam dunia persilatan."

Oh Put kui mengangguk. "Tidak sampai setahun, dunia-  pasti akan kacang balau tak karuan."

Tiba-tiba Ciat-cing kongcu Leng To  tertawa  dingin, tegurnya:

"Hei bocah, kalau berbicara jangan mencla-mencle begitu, sungguh membuat jemu orang yang mendengar! sebenarnya apa yang telah  terjadi didalam dunia persilataa?  Mengapa tidak kau terangkan lebih jelas?" . Oh Put-kui segera tersenyum.

"Aku takut cianpwe bertujuh tidak sabar mendengar cerita semacam itu, maka aku sungkan untuk mengatakannya, tapi kalau toh kakek Leng ingin  mengetahuinya,  sudah  barang tentu dengan senang hati akan kukisah kan keadaan dunia persilatan yang sebenarnya. "

Kembali dia tertawa, kemudian  secara ringkas mengisahkan empat buah peristiwa berdarah  yang   telah terjadi didalam dunia persilatan baru-baru ini.

Benar juga, setelah mendengar cerita tersebut paras muka ketujuh orang kakek itu berubah hebat. Dengan kemarahan yang meluap, si kakek kutung Liong Siau-thian membentak keras.

"Apakah sudah diselidiki siapa pembunuhnya?" Oh Put-kui menggeleng.

"Andaikata pembunuhnya sudah diketahui akupun tak akan datang kemari. "

Mendadak Tiang pek-cin-siu tertawa tergelak.

"Haaaahhh... haaaahhhh.... haaaahh. bocah, apakah kau

mencurigai lohu bertujuh?"

Agak memerah paras muka Oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu, sahutnya sambil tertawa.

"Sebelum aku berjumpa dengan cianpwee bertujuh, memang telah terlintas perasaan curigaku terhadap penghuni pulau kecil ini "

"Dan sekarang?"

"Sekararig rasa curigaku sudah hilang, aku tahu pembunuhnya adalah orang lain."

It-ci Kit-su Ku Pu-beng yang menjadi pemimpin diantara ketujuh orang kakek itu turut tertawa tergelak, katanya:

"Bocah, apakah kau bermaksud untuk memikul tanggung jawab tersebut "

Oh Put Kui tertawa hambar.

"Demi menegakkan keadilan dan kebenaran didalam dunia persilatan, aku bersedia untuk menyumbangkan segenap kemampuanku."

It ci Kit su segera manggut-manggut sambil memuji didalam hati kecilnya.

Sedang Jian-gi siansu pun berseru cepat:

@oodwoo@