Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 34

 Jilid 34

"Haaaaaahhhhhh....... hhhaaaaaaahhh.......

hhhaaaaaaahhh......... benarkah begitu?" Oh Put Kui tertawa tergelak, "tapi, apakah kau memang pantas disebut seorang lelaki sejati?"

"Paling tidak aku toh bukan manusia kurcaci seperti apa yang saudara Oh katakan!"

Oh Put Kui tertawa hambar, kepada Ibun Hong segera ujarnya: "Nona, bagaimana rencanamu selanjutnya? Apakah  kau bersedia mempercayai perkataanku?"

Saat ini Ibun Hong percaya seratus persen  bahwa Oh Put Kui memang berkemampuan untuk  menjinakkan ular serta membunuhnya, ia termenung sejenak, lalu dengan air mata bercucuran katanya kemudian:

"Baiklah, hari ini aku tak akan menyinggung masalah balas dendam lagi "

Oh Put Kui segera tertawa tergelak:

"Hhhaaaaaahhh....... hhhaaaaaaahhh.......

hhhaaaaaahhh........ nona memang amat berbesar jiwa, tapi aku perlu memberitahukan kepada nona,  disaat  ayahmu masih banyak melakukan kejahatan di dalam dunia persilatan dulu, tidak sedikit kawanan jago yang menemui ajalnya ditangan ayahmu itu."

"Soal ini tak perlu kau kuatirkan........" jawab Ibun Hong dingin.

Dia mengira Oh Put Kui menguatirkan keselamatan jiwanya setelah hari ini.

Padahal Oh Put Kui berniat untuk memberitahukan kepadanya, mengapa dia sampai turun tangan untuk membunuh si raja dari selaksa ular, dewa ular seribu bisa Ibun Lam.

Tapi pemuda itu tidak berniat memberi penjelasan lebih jauh, katanya lagi sambil tertawa:

"Kalau toh nona telah bersedia menarik mundur kawanan ularmu itu, bagaimana kalau kau tinggalkan saja tempat ini sejauh-jauhnya. ?"

Dengan sedih Ibun Hong memandang sekejap kearah Oh Put Kui, lalu katanya: "Oh Kongcu....... harap kau jangan bersua lagi denganku setelah lewat hari ini, kalau tidak aku akan membalaskan dendam bagi kematian ayahku....... kongcu, berjanjilah "

Belum habis perkataan itu diutarakan, dia sudah menutupi mukanya sambil menangis tersedu.

Dengan perasaan agak iba Oh Put Kui segera menyahut: "Baiklah, sejak kini aku akan berusaha untuk menghindari

perjumpaan dengan nona. "

Ibun Hong segera menyeka air matanya lalu setelah mendepakkan kakinya keatas tanah, diapun berpekik panjang.

Begitu pekikan berkumandang, kawanan ular itupun mulai bergerak meninggalkan tempat itu.

Tak seekorpun kawanan ular itu yang berani  bergerak mendekati Oh Put Kui, dari jarak sejauh  lima  kaki  mereka telah menyingkir jauh-jauh dan berbondong-bondong mengundurkan diri dari dalam lembah.

Kata Ibun Hong kemudian sambil menghela napas panjang:

"Oh kongcu, baik-baiklah kau menjaga  diri,  jangan membuat aku kehilangan kesempatan untuk  membalaskan dendam bagi kematian ayahku "

Lalu dia membalikkan badan dan berkelebat pergi meninggalkan lembah tersebut.

Sik Keng-seng sama sekali tidak menyangka kalau Ibun Hong bakal pergi sungguhan dari situ,  bahkan  menyapa diapun tidak.

Rasa sedih yang dirasakan kali ini sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata.

Pelan-pelan dia mengalihkan sorot matanya, tampak pertarungan antara It-ing taysu dengan Hian-hui koksu masih berlangsung amat seru, sadarlah dia  bahwa posisi yang dihadapinya hari ini tidak menguntungkan bagi pihakknya. Maka tanpa membuang banyak waktu lagi ia segera memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil langkah seribu.

Sambil membalikkan badan, teriaknya keras-keras: "Nona Hong, mari kutemani kau. "

Secepat sambaran petir dia ngeloyor pergi pula dari lebah tersebut.

Oh Put Kui cuma tertawa hambar belaka menyaksikan kepergian kedua orang itu.

Tapi secara tiba-tiba ia teringat  akan sesuatu, dengan perasaan terkejut cepat-cepat dia mengejar keluar lembah.

Apa yang diduga  ternyata benar, Kiau Hui-hui dengan disertai keempat orang dayangnya telah menghadang didepan mulut lembah.

Dari kejauhan Oh Put Kui sudah melihat pertarungan melawan Ibun Hong.

Sedangkan Sik Keng-seng malahan sudah bertarung melawan kerubutan empat dayang tersebut.

Oh Put-kui segera meluncur kedepan sambil berseru keras: "Nona Kiau, lepaskan mereka. "

"Melepaskan mereka pergi dari  sini........?"  dengan perasaan tercengang dan sedikit di luar dugaan Kiau Hui-hui memandang sekejap kearah Oh Put-kui yang sedang meluncur tiba.

"Ya, aku telah berjanji akan melepaskan mereka," kata Oh Put-kui lagi sambil tertawa.

"Baiklah," kata Kiau Hui-hui kemudian, kalau toh toako sudah berjanji, tentu saja siaumoay tak  berani  menghalanginya "

Ternyata mereka telah saling berganti sebutan, namun bagi Kiau Hui-hui  kejadian tersebut cukup membuatnya tersipu- sipu, sebab selama dua puluh tahun ini baru pertama kali dia menyebut seorang lelaki sebagai kakaknya.

Oh Put-kui tertawa lagi:

"Terima kasih adik Hui. "

Kiau Hui-hui tertawa gembira, ia segera berpaling kearah Ibun Hong dan berkata dengan suara dalam:

"Kau boleh pergi. "

Dalam pada itu keempat orang dayangnya telah menghentikan pula serangan-serangan mereka.

Sik Keng-seng segera menjura kepada Oh Put-kui dan berseru sambil tertawa:

"Saudara Oh, sekali lagi perkumpulan  kami menderita kekalahan total ditanganmu. "

"Yaa benar, tolong sampaikan kepada ketua kalian, setiap saat aku she Oh menantikan pembalasan darinya."

"Aaah tidak mungkin," Sik Keng-seng tertawa, "sebaliknya kami justru berharap kehadiran saudara Oh bersama Kiau siancu dan nona Nyoo Siau-sian untuk berpesiar kemarkas besar kami bila kau ada waktu di lain saat "

Mendengar perkataan tersebut Oh Put-kui tertawa tergelak: "Haaaaaahhhhh....... hhhaaaaaahhh........

hhhaaaaaaahhh........ sahabat Sik memang benar-benar

berakal tajam........ kau bukannya tak berani berkunjung ke sana, cuma kuatirnya setelah pergi kesitu maka kami akan mengalami nasib yang tragis. "

-oo0dw0oo-

"Tidak mungkin!" seru Sik Keng-seng sambil menggeleng, "bila ada kesempatan silahkan saudara Oh berkunjung, kau tentu akan mengerti sendiri nanti. " Kemudian ia berpaling kearah Ibun Hong dan katanya lagi sambil tertawa:

"Nona Hong, mari kita berangkat!"

Ibun HOng tidak mengucapkan sepatah katapun, dengan kepala tertunduk ia berjalan menuju keluar lembah.

Dalam waktu itu kawanan ular yang beribu  ribu ekor banyaknya itu sudah menanti di luar lembah.

Sambil melangkah keluar lembah, Sik Keng-seng berkata lagi kepada Oh Put Kui sambil tertawa:

"Saudara Oh, jangan lupa  dengan undangan kami. "

"Haaaaaaaahhhhh........ hhhhaaaaaaahh.........

hhhhaaaaaaahh........ undangan saudara tentu akan kuingat selalu "

Memandang sampai kedua orang itu pergi jauh, Kiau Hui-  hui baru berkata kepada Oh Put Kui sambil tertawa:

"Toako, lebih baik cepat-cepat kembali hati-hati kalau sampai kedua orang hwesio yang lain naik keloteng "

Terkesiap Oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu, benar juga peringatan tersebut.

Waktu itu Wi-in sinni sedang mengobati luka yang diderita Nyoo Siau-sian, ini berarti dia tak akan bisa beranjak dari tempatnya untuk melawan musuh-musuh yang datang.

Dengan suatu gerakan secepat kilat Oh Put Kui segera kembali ke arena.

Untung saja Put-khong taysu dan Wi-cay taysu masih tetap berdiri tenang di tempat semula.

Sebaliknya pertarungan antara It-ing taysu melawan Hian- hui koksu telah  berubah  dari pertarungan  ditengah udara menjadi adu kekuatan yang menegangkan syaraf.

Menyaksikan kesemuanya ini Oh Put Kui segera mengerutkan dahinya rapat-rapat. Jelas sudah kalau pertarungan itu bukan lagi pertarungan mainan, apalagi  bagi jago jago lihay kelas satu  seperti mereka, sekali bertarung adu tenaga dalam maka pertarungan tersebut tak akan  bisa dilerai  sebelum salah satu pihak menderita kekalahan..........

Walaupun begitu, keadaan dari mereka berdua saat  ini  tidak sampai terancam oleh mara bahaya.

Kedua belah pihak sama-sama bertahan  dalam posisi seimbang, mereka saling mempertahankan keadaan masing- masing.

Biar begitu, Put-khong  siansu dan Wi-cay siansu yang mengikuti jalannya pertarungan itu nampak mulai cemas, gelisah dan murung.

Oh Put Kui mengerti, yang menjadi cemas, gelisah dan murung adalah kekuatiran mereka jika dia membantu It-ing taysu atau secara tiba-tiba dia  menantang mereka berdua untuk bertarung.

Sudah barang  tentu Oh Put Kui tidak akan  berbuat demikian.

Setelah melihat jelas keadaan situasi dalam arena pertarungan, segera katanya kepada Put-khong siansu:

"Apakah taysu sudah melihat ancaman bahaya dari situasi didepan mata sekarang? Kalian datang dengan jumlah yang kecil, andaikata Hian-hui koksu menderita kekalahan ditangan It-ing taysu, kalian kira  bisa mengundurkan diri  dari  sini dengan selamat?"

"Toa-kongcu tak bakal kalah, siau-sicu tidak usah kuatir!? sahut Put-khong siansu dengan napas dalam.

Oh Put Kui segera tertawa:

"Kalau begitu percuma saja aku menguatirkan hal ini. "

Kemudian setelah berhenti sejenak, tiba-tiba katanya lagi sambil tertawa dingin: "Seandainya aku turun tangan mewakili It-ing taysu saat ini, beranikah kalian mengatakan bahwa Hian-hui koksu  tersebut tak akan menderita kekalahan?"

Put-khong siansu tidak menyangka  kalau anak muda tersebut bakal mengucapkan perkataan itu.

Untuk sesaat dia menjadi gusar, bimbang dan tak tahu apa yang mesti diperbuat.

Lama setelah termenung Put-khong siansu baru berkata: "Asalkan siau-sicu tidak  kuatir merusak nama baik tiga

dewa dari luar wilayah silahkan siau-sicu segera turun tangan untuk mewakili It-ing taysu untuk bertarung."

Tampak Put-khong siancu pun  seorang hwesio yang sangat lihay, cukup dengan sepatah kata ini saja, ia sudah dapat menyulitkan Oh Put0kui sehingga tak mampu berkutik.

Akibatnya pemuda tersebut menjadi tertegun dan tak mampu berbuat banyak.

Pelan-pelan dia mengalihkan sorot matanya kearah lapangan dimana dua  orang tokoh silat tersebut sedang melangsungkan suatu pertarungan seru...........

Menurut perkiraannya, dengan tenaga dalam yang dimiliki mungkin dia dapat memisahkan kedua orang tersebut, akan tetapi ia tak berani bertindak secara gegabah, karena keyakinannya hanya mencapai enam puluh persen saja.

Untuk sementara waktu pemuda ini menjadi sangsi dan tak tahu apa yang mesti diperbuat.

Pada saat itulah Put-khong siansu kembali berkata lagi sambil tertawa dingin:

"Ilmu Tok-lek-kim keng-sinkang dari perkumpulan kami paling cocok bila digunakan untuk suatu pertarungan jangka panjang biarpun tiga dewa dari luar wilayah tanggguh, jangan harap  mereka  sanggup  bertahan   selama   dua   jam lamanya. " Mendadak......... Dari atas sebatang pohon terdengar seorang tertawa dingin, lalu disusul kemudian  seruan mengejek:

"Huuuh, sungguh tak tahu malu, aku tak percaya kalau perkumpulan dari Tibet benar-benar memiliki ilmu silat yang sangat tangguh. "

Bersamaan dengan bergemanya suara itu tampak sesosok bayangan manusia melayang turun dari atas pohon.

Orang itu berjumpalitan beberapa kali di tengah udara lalu melayang turun persis di tengah-tengah  antara  It-ing  taysu dan Hian-hui koksu yang sedang bertarung.

Bukan cuma begitu, malahan sambil mementangkan sepasang tangannya dia berseru seraya mengejek:

"Haaaaaahhhhh........ hhhhaaaaaaahh........

hhhaaaaaaaahh........ ayoh cepat dipisah, jangan kau pakai semua tenagamu sampai habis "

Dalam waktu singkat It-ing taysu merasakan tenaga  dalamnya yang kuat bagaikan bertemu dengan hembusan angin segar, tahu tahu hilang lenyap tak berbekas, bahkan tak bisa ditahan lagi tubuhnya terdorong oleh tenaga lembut itu sampai mundur sejauh tiga langkah.

Sebaliknya keadaan dari Hian-hui koksu jauh lebih mengenaskan lagi.

Disaat tenaga Toa-lek-kim-kong-siankang nya sedang dihimpun dalam tangan kanannya, dia  seperti menjumpai serangan yang amat berat saja. tahu-tahu.........

"Blaaaaaammm "

Ia merasakan isi perutnya tergetar sangat keras, tubuhnya harus mundur sejauh lima depa lebih sebelum dengan susah payah berhasil mempertahankan diri........

Peristiwa mana kontan saja mengakibatkan Hian-hui Koksu merasa terperanjat sekali. Serta merta dia mencoba untuk  menghimpun hawa murninya guna menekan gejolak hawa murni didalam dadanya........

Ketika dia mengalihkan kembali pandangan matanya ketengah arena. ternyata disitu telah muncul seorang kakek berambut putih yang sedang memandang kearahnya sambil tertawa nyengir..........

Ia tiada mengenal siapakah orang tersebut sebab kali ini baru kedua kalinya dia menginjakkan kakinya didaratan Tionggoan.

Berbeda dengan It-ing taysu, dia segera mengenalinya dan menegur:

"Ban tua, mengapa kau pun berada disini?"

Ternyata kakek itu tak lain adalah Put-lo huang-siu si kakek latah awet muda Ban Sik-tong.

Si kakek latah awet muda tidak menggubris teguran It-ing taysu, sebaliknya tertawa tergelak kearah Hian-hui koksu yang masih berdiri kagetnya seraya bentaknya:

"Huuuh, koksu dari perkumpulan Tibet cuma begini-begini saja, apa sih yang kau banggakan? Kuberi waktu seperminum teh kepada kalian untuk segera pergi meninggalkan tempat ini, kalau tidak "

Tiba-tiba kakek itu berpaling kearah balik pepohonan dan serunya keras keras:

"Pengemis kecil, siapkan kencing anjing untuk mencekoki mereka "

Dari balik pepohonan segera terdengar seseorang menjawab:

"Dari pada kencing anjing, rasanya lebih marem kotoran manusia, empek tua, sudah kusiapkan tiga kati tahi manusia, tanggung mereka akan menikmatinya sampai kenyang." Oh Put Kui segera tahu, si pengemis pikun pun telah ikut datang.

Tapi mengapa mereka bisa muncul disini? suatu persoalan yang tak sempat terpikir olehnya karena ia sudah tidak tahan untuk tertawa tergelak.

Bahkan It-ing taysu pun turut tersenyum  sehabis mendengar perkataan itu.

Hian-hui koksu mengatur pernapasannya lebih dulu, kemudian dengan langkah lebar maju kedepan dan berseru:

"Lo sicu, siapakah kau? Boleh aku tahu siapa nama besarmu?"

"Ada apa? Kau tidak puas? Setelah mengetahui  nama besarku lantas berniat membalas dendam dikemudian hari?" seru Kakek latah awet muda dengan mata melotot, "baiklah, aku akan memberitahukan nama besarku itu. "

Setelah berhenti sejenak dan tertawa tergelak, ia berkata lebih jauh.

"Didalam dunia persilatan terdapat seorang makhluk aneh yang tak pernah tua, orang menyebutnya si tua bangka binal, Kakek latah awet muda Ban Sik-tong, nah Kakek moyang she Ban tersebut tak lain adalah aku ini!"

Mendengar perkenalannya ini, Oh Put Kui yang sebenarnya sudah berhasil menahan rasa gelinya itu segera tertawa terpingkal pingkal lagi.........

Malahan si pengemis pikun  yang bersembunyi di balik pepohonanpun ikut tertawa tergelak-gelak.

"Kakek moyang, kau benar-benar  membuat perutku  si pengemis  kecil   menjadi   sakit   lantaran   kebanyakan tertawa. "

Sedangkan ketiga hwesio dari Tibet itu benar-benar tak mampu tertawa lagi. Ketika Hian-hui  Koksu mendengar Kakek dihadapannya adalah Kakek latah awet muda ia tak berani banyak berbicara lagi.

Setelah merangkap tangannya didepan dada untuk memberi hormat, segera serunya:

"Rupanya dewa tua yang telah datang, bila pinceng sekalipun berbuat dosa, harap sudi dimaafkan "

Jelas nama besar si Kakek latah awet muda telah merontokkan nyali mereka.

Kakek latah awet muda menjadi amat girang  setelah mendengar perkataan itu, segera serunya sambil tertawa:

"Hey keledai gundul kecil, rupanya kalian juga mengetahui akan nama besarku?"

Hian-hui Koksu segera mengerutkan dahinya karena dipanggil keledai gundul kecil, namun diapun tak berani untuk tidak menerimanya, terpaksa sambil tertawa getir dan merangkap tangannya didepan dada ia berseru:

"Siapa sih manusia didunia ini yang tidak mengenali nama besar dewa tua? Biarpun pinceng berdiam jauh  diwilayah Tibet, namun nama besar kau orang tua sudah lama kami mendengarnya "

"Mana, mana........" kakek latah  awet  muda  tertawa tergelak.

Sekali lagi Hian-hui Koksu merangkap tangannya didepan dada memberi hormat:

"Kalau toh dewa tua masih hidup segar bugar didunia ini, maka pinceng sekalipun akan segera balik ke  Tibet,  selama kau orang tua masih hidup, kami  orang-orang  dari perkumpulan Tibet tak berani melangkah  masuk  lagi kedaratan Tionggoan!" Beberapa patah kata dari Hian-hui Koksu ini kontan saja membuat sikakek latah awet muda menjadi kegirangan setengah mati.

Sambil mengelus jenggotnya dan  menari  nari  kegirangan, ia berseru sambil tertawa tergelak:

"Haaaaaahhhhh......... hhhhaaaaaaahhh.........

hhhaaaaaaaahhh......... bagus, bagus sekali! Tak nyana kalian semua begitu tahu diri. Baiklah, seandainya kalian tidak akan memasuki daratan Tionggoan lagi, jika aku punya waktu senggang tentu akan kukunjungi Tibet untuk menjenguk kalian semua "

"Tidak berani.......... tidak berani..........." cepat cepat Hian- hui Koksu berseru agak ketakutan, "kami tak berani menerima kunjungan kau orang tua. "

Kemudian sambil mengajak kedua orang pendeta lainnya, cepat-cepat ia berseru lagi:

"Pinceng sekalian hendak mohon diri lebih dulu. "

"Selamat jalan, bila ada waktu aku pasti akan menjenguk kalian.........." sahut sikakek latah awet muda sambil mengulapkan tangannya berulang kali.

Sikap maupun gerak-geriknya persis seperti kawan lama yang sedang berpisah.

Namun keadaan dari ketiga orang hwesio itu amat lemas, dengan kepala tertunduk macam ayam  jago yang  kalah bertarung, selangkah demi selangkah berlalu dari situ.

Sementara itu Oh Put-kui telah datang mendekati sambil tegurnya.

"Ban tua, mengapa kau orang tua bisa muncul dilembah Yu kok bukit Tiong-lam-san ini?"

Kakek latah awet muda segera tertawa:

"Kau boleh datang, masa aku tak boleh ikut datang juga?" "Tentu saja kau boleh datang, cuma......... bukankah kau pergi ke Kun-lun-san "

Tidak sampai Oh Put-kui menyelesaikan perkataannya, si kakek latah awet muda telah berteriak keras:

"Anak muda, kau bukannya tidak tahu apa yang hendak kulakukan dalam kepergianku kebukit Kun-lun? Setelah Wi-in sinni berada disini, buat apa aku mesti menyusulnya dibukit Kun-lun? Kau suruh aku kesitu untuk menghirup angin barat laut?"

"Yaaa......... betul juga, boanpwee  sudah  lupa  akan  hal  ini. " terpaksa Oh Put Kui tertawa lebar.

"Lupa? Kau bisa lupa? Hmmm, cuma setan yang bisa kau tipu "

"Kau orang tua memang sangat hebat, sesungguhnya boanpwee hanya asal tanya saja."

"Anak muda, kau sungguh kurang ajar." kakek latah awet muda pura pura marah, "begitukah caramu berbicara dengan orang tua? Masa bertanyapun asal tanya?  tampaknya  kau ingin digebuki. "

"Digebuki............" Oh Put Kui pura-pura ketakutan juga, "waaah, tulang-tulangku bisa rontok kalau digebuki.............

oya, ada satu hal yang tidak kupahami, mengapa beritamu begitu tajam?"

"Haaaaaahhhhh........ hhhaaaaaahhhhhh.......

hhhaaaaaaahhhhhhh....... kau harus mencoba untuk menebaknya, darimana aku bisa tahu kalau Wi-in taysu telah datang kemari? Jika  kau tak bisa menebaknya,  hati-hati dengan gebukanku nanti. "

Mendengar perkataan tersebut Oh Put Kui segera tertawa, padahal dia sudah dapat menebak apa sebabnya.

Sudah dapat dipastikan, pihak anggota Kay-pang lah yang telah memberikan kabar tersebut. Tapi pemuda tersebut tidak langsung menjurus kesitu, sebaliknya menebak dua kali secara ngawur.

Sambil menggelengkan kepalanya berulang  kali Kakek latah awet muda berseru keras:

"Tidak cocok, kau hanya boleh menebak tiga kali, jika tebakanmu yang ketiga tidak benar, maka aku akan menggebuki pantatmu sampai memar. "

Oh Put Kui pura-pura berpikir sejenak lalu serunya sambil tertawa lebar:

"Aaah, kali ini tebakanku pasti benar." "Coba kau utarakan!"

Sambil menuding kearah si pengemis pikun, Oh Put Kui berseru:

"Sudah pasti Liok loko yang berhasil mendapatkan berita tersebut "

"Apa?" Kakek latah awet muda nampak tertegun.

"Berita ini pasti diperoleh dari mulut para anggota  Kay- pang "

"Hey anak muda, tak nyana aku memang cerdik seperti setan kecil saja " teriak Kakek latah awet muda dengan

kening berkerut.

"Nah, bagaimana? Tepat bukan tebakan kali ini?"

Kakek latah awet muda melirik sekejap kearah pengemis pikun, tiba-tiba dia menegur:

"Hey pengemis cilik, kau sedang bermain gila?"

Cepat cepat pengemis pikun menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya:

"Masa kau orang tua melihat aku berani barbuat begini?" "Betul juga," Kakek latah awet muda tertawa, "aku yakin

kau si pengemis cilik pasti tak berani berbuat begitu" Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melotot lagi kearah Oh Put Kui sambil serunya lebih jauh:

"Kau si anak muda, memang benar-benar licik dan banyak akalnya, anggap saja nasibmu memang sedang baik, gebukannya kutunda sampai dikemudian hari saja."

"Terima kasih atas kemurahan  hatimu itu," Oh Put Kui segera tertawa tergelak.

Dalam pada itu Kiau Hui-hui telah muncul kembali  dari  mulut lembah tersebut.

It-ing taysu segera menarik nona tersebut untuk maju kedepan memberi hormat.

Kakek latah awet muda memandang sekejap kearah Kiau Hui-hui, kemudian katanya:

"Ehmmm......... budak ini mempunyai tulang tulang yang bagus sekali untuk belajar ilmu silat!"

"Dengan pujian dari kau orang tua, dikemudian  hari  bocah ini tentu akan berhasil menonjol dimata dunia." kata  It-ing  taysu merendah.

"Itu sih belum tentu, apalagi nanti perempuan paling susah untuk diduga."

"Ban tua, bagaimana kalau kau bantu bocah ini  agar berhasil?"

"Bagus sekali, baru bertemu kau sudah menyuruh aku menjadi kerepotan." teriak Kakek latah awet muda sambil tertawa keras.

"Tidak berani, tapi bukankah kau orang tua paling suka membantu kaum muda agar lebih maju?"

"Hhhaaaaaahhhhh......... hhhhaaaaaaahhhhhhh.......

hhhaaaaaaahhhhhh. dulu memang begitu,  tapi sekarang

watak dan kebiasaanku telah berubah." "Berubah?" It-ing taysu tertegun, "kau orang tua sudah enggan membantu kaum muda meraih kemajuan?"

Kakek latah awet muda menghela napas panjang: "Aaaaaaiiii......... kaum muda sekarang terlalu hebat dan

pandai, bahkan sewaktu aku ingin mengajarkan ilmu silat ku kepadanya pun ia enggan untuk mempelajarinya, oleh sebab  itu aku menjadi sedih hati dan  memutuskan tak akan membantu kaum muda lagi untuk meraih kemajuan."

Berbicara sampai disini, sepasang matanya yang melotot besar mengawasi Oh Put Kui tanpa berkedip.

Tapi Oh Put Kui berlagak seolah-oleh tidak melihatnya, dia hanya tersenyum-senyum biasa.

"Kau orang tua bukan lagi bergurau?" It-ing taysu bertanya dengan keheranan.

"Siapa bilang aku bergurau?  Aku tak pernah  berpura," kakek itu menjawab sambil tertawa.

"Benarkah ada orang yang enggan mempelajari ilmu silatmu? Jangan-jangan orang itu adalah  seorang tolol yang  tak tahu urusan?"

Kakek latah awet muda segera berpaling kearah Oh  Put Kui sambil berseru:

"Hey anak muda, sudah kau dengar belum? Orang yang enggan mempelajari ilmu silatku akan disebut orang tolol oleh umat persilatan "

"Benarkah?" Oh Put Kui tertawa tergelak, "sayang sekali orang itu bukan boanpwee. "

Kakek latah awet muda benar-benar dibuat tak  berdaya oleh ulah si anak muda tersebut, terpaksa katanya kemudian sambil tertawa:

"Anak muda, kau memang sangat pandai berpura-pura!" "Boanpwee tidak berpura pura, sesungguhnya kau orang tua tak pernah menyebut namaku!"

Tanya jawab yang berlangsung diantara mereka berdua ini segera menimbulkan perasaan geli bagi It-ing taysu yang mendengarnya.

Tampaknya orang yang dimaksudkan oleh Kakek latah tersebut bukan lain adalah Oh Put Kui.

Berpikir sampai disini, sambil tertawa It-ing taysu segera berkata:

"Ban tua, kau mengatakan orang yang enggan mempelajari ilmu silatmu adalah siau sicu ini?"

"Selain dia, siapa lagi yang berani?" jawab Kakek  latah awet muda dengan gemas.

It-ing taysu segera tertawa:

"Kalau memang demikian, kau sudah  sepantasnya mendidik murid boanpwee ini hingga berhasil."

"Kenapa?" tanya Kakek latah awet muda tertegun. Kembali It-ing taysu tertawa:

"Oh sicu bermaksud melakukan perjalanan jauh, sedang kamipun telah berkeputusan akan memerintahkan nona Siau- sian serta anak Hui untuk mendampinginya, coba kau bayangkan, tidak seharuskah kau mendidik anak Hui agar ia lebih berkemampuan untuk membantu Oh sicu. ?"

Kakek latah  awet mdua berpikir sejenak lalu setelah memandang wajah Kiau Hui-hui yang  tersipu malu, dia menghela napas lalu tertawa tergelak:

"Betul, aku  memang harus membantunya "

Sambil berpaling kearah  Kiau Hui-hui dia  berseru pula dengan suara keras:

"Nah budak, ayoh turut aku keatas loteng akan kulihat bagaimanakah kemampuanmu. " "Ban tua, kau harus mencurahkan banyak tenaga untuk bocah ini " It-ing taysu segera menambahkan.

Selesai berkata dia  lantas menarik Kiau Hui-hui dan mengikuti dibelakang Kakek latah awet muda menuju kedalam loteng.

Sedangkan Oh Put Kui bersama pengemis pikun tetap berada di lapangan tersebut.

Pengemis pikun memandang sekejap keadaan cuaca, lalu katanya sambil tertawa:

"Lote, setengah jam lagi fajar bakal menyingsing. "

-oo0dw0oo-

Menjelang tengah hari, dari balik lembah Yu Kok dibukit Tiong-lam-san muncul tiga ekor kuda yang dilarikan kencang.

Oh Put Kui dengan membawa Nyoo Siau-sian serta Kiau Hui-hui sedang menempuh perjalanan  menuju  kearah  ibu kota.

Mereka berniat untuk  mengunjungi istana Sian-hong-hu lebih dulu dan Oh Put Kui tidak menolak usul tadi.

Tentu saja dia pun teringat akan satu hal: Ingin mengengok keadaan dari kelima orang ciangbunjin.

Tengah malam hari ketujuh, mereka telah tiba di istana Sian-hong-hu.

Bagi Oh Put Kui, baru pertama kali ini  dia berkunjung ketempat tersebut.

Nyatanya semua perlengkapan dan bangunan dari istana Sian-hong-hu memang sangat mengejutkan hati, pada hakekatnya tidak kalah dari sebuah istana raja,  selain  itu begitu aneka ragam manusia yang berdiam di situ, membuat hatinya amat gelisah. Nyoo Siau-sian bersama Kiau Hui-hui berdiam diruang belakang.

Sedangkan Oh Put Kui ditempatkan oleh Ku Bun-wi diruang tamu untuk beristirahat.

Terhadap kehadiran dari Oh Put Kui nyata sekali  kalau pihak istana Sian-hong hu merasa terperanjat.

Sebagaimana diketahui Ku Bun-wi pernah menderita kekalahan ditangannya, tapi dia pun  tak berani menampik kunjungan dari Oh Put Kui, apalagi dia datang bersama putri kesayangan majikannya.

Diluarnya mereka melayani Oh Put Kui sebagai seorang tamu terhormat, tapi dibalik semuanya ini, kawanan jago lihay dari istana Sian-hong-hu tersebut sama-sama mengerutkan dahi.

Malam itu, dikala Oh Put Kui telah beristirahat, Ku Bun-wi segera menghimpun beberapa orang jago kelas satunya untuk mengadakan perundingan yang cukup lama di dalam kamar rahasianya.

Beberapa orang jago lihay yang dihimpun Ku Bun-wi itu antara lain adalah:

Nyonya petani dari Lam-wan Ku Giok-hun, Perempuan cerdik dari ruang barat Leng Seng-luan, hakim  sakti  hitam putih Pak Kun jiau, Tabib sakti Ang Yok-su.

Ditambah pula dengan seorang jagoan yang belum pernah dijumpai Oh Put Kui sebelumnya  yaitu  Pak-san-ciau-sin (Kakek penebang kayu dari bukit utara) Siang Ki-pia.

Menurut usul dari Nyonya petani dari Lam Wan Ku Giok- hun, lebih baik mereka turun tangan lebih dulu dengan cara diam-diam mencampuri arak dan  sayur yang  dihidangkan dengan racun keji.

Tapi Ang Yok-su tidak setuju, dia berkata "Oh Put Kui mempunyai tubuh yang hebat dan  kebal terhadap aneka racun, sudah jelas tindakan main racun hanya suatu perbuatan memukul rumput mengejutkan ular bukannya berhasil sebaliknya malah akan meningkatkan kewaspadaan."

"Perkataan saudara Ang memang benar," dukung Ku Bun- wi, "Bocah keparat itu memang rada hebat."

"Jadi menurut pendapat saudara Ang, apakah kita harus menyudahi begitu saja?" seru nyonya petani dari Lamwan Ku Giok-hun sambil tertawa dingin.

"Dengan kekuatan gabungan kita  semua, masa kita tak mampu mengungguli keparat itu?" seru Ang Yok-su dengan wajah dingin.

Hakim sakti hitam putih  Pak Kun-jiau menggelengkan kepalanya berulang kali, selanya:

"Saudara Ang, kita tak boleh berkata begitu!"

"Lantas apa yang mesti kita bilang?" tanya Ang Yok-su sambil tertawa dingin.

Pak Kun-jiau tertawa:

"Jangan lagi tenaga gabungan kita semua  belum  tentu dapat mengungguli keparat tersebut, sekalipun berhasil, andaikata berita ini sampai tersiar keluar, apakah kita tak akan ditertawakkan oleh umat persilatan?"

Ang Yok-su mendengus dingin:

"Hmmmm! Kalau memang takut ditertawakan orang, mengapa tidak lebih baik  gunakan  otak  untuk mencelakainya?"

Ku Bun-wi tak ingin melihat anak buahnya cekcok sendiri, cepat-cepat ia melerai sambil tertawa hambar:

"Kini majikan tak ada dirumah, saudara Nyoo juga  lagi keluar, semua persoalan ini dalam istana kebanyakan diputuskan   oleh   nona   Lian   seorang,   hanya   saja.    nona

datang  bersama-sama   Oh   Put   Kui,   sekalipun   nona  Lian berniat membunuh Oh Put Kui pun aku rasa dia belum tentu mau menyerempet  bahaya dengan menyalahi nona "

"Perkataan Ku tua itu memang betul,"  Leng Seng-luan dengan menyela sambil tertawa, "dalam masalah ini nona Lian tak bakal mengunjukkan diri. "

Setelah menghela napas pelan Ku Bun-wi segera berkata: "Menurut pendapatku, lebih baik kita tipu nya masuk

kedalam penjara kematian saja."

Kakek tukang kayu dari bukit utara Siang Ki-pia segera berseru sambil tertawa tergelak,

"Bagus sekali, usul ini memang paling bagus."

"Saudara Siang." mendadak Ang Yok-su tertawa dingin, "aku rasa hal ini tak mungkin bisa dilakukan."

"Apakah saudara Ang mempunyai pendapat lain?" Dengan wajah membeku Ang Yok-su berkata lebih jauh:

"Apakah kalian lupa kalau didalam penjara kematian masih terdapat seorang makhluk tua lain?"

"Lantas apa sangkut pautnya dengan Oh Put Kui?" tanya Siang Ki-pia tertawa.

Ang Yok-su tertawa dingin:

"Saudara Siang, silahkan kau bertanya sendiri kepada saudara Ku, sebetulnya Oh Put Kui itu keturunan siapa? Aku rasa bila saudara Siang telah mengetahui hal ini tentu  tak  akan menyekapnya lagi di dalam penjara kematian."

"Saudara Ku, sebenarnya keparat she Oh itu keturunan siapa?" tanya Siang Ki-pia kemudian dengan kening berkerut.

Baru sekarang Ku Bun-wi memahami maksud dari Ang Yok-su, mendengar pertanyaan tersebut ia segera tertawa tergelak: "Hhhaaaaaaahhh.......... hhhhaaaaaaaaahhhhhh...........

hhhaaaaaaaahhhhhhh.......... saudara Ang  memang  sangat teliti hampir saja aku melupakan persoalan yang sangat benar ini. "

Setelah berhenti sejenak, kembali dia  berkata  kepada Siang Ki-pia:

"Oh Put Kui sesungguhnya adalah putra dari Oh Ceng- thian. !"

Siang Ki-pia menjadi tertegun, segera serunya:

"Jadi dia adalah putra Oh Ceng-thian? Kalau begitu...........

Lan Hong adalah ibunya?" "Tepat sekali."

Siang Ki-pia termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata lagi:

"Ehmmmmm, memang masalah ini perlu dipertimbangkan secara baik-baik, Oh Put Kui memang tak boleh sampai tahu tentang si makhluk tua yang berada didalam penjara kematian tersebut, kalau tidak, sudah pasti dia  akan menimbulkan gelombang yang sangat besar ditempat ini. "

Tiba-tiba si nyonya petani dari Lam-wan Ku Giok-hun berseru sambil tertawa dingin:

"Sudah setengah harian kita berbicara, bagaimana  pendapat kalian sekarang?"

Ku Bun-wi menggelengkan kepalanya berulang kali,  ujarnya:

"Aku sendiripun tak berhasil menemukan suatu akal yang cocok dan bagus. "

"Kalau begitu yaa sudahlah," tiba-tiba nyonya petani dari Lamwan Ku Giok-hun tertawa, "biar aku segera menghadap nona Lian sambil minta petunjuk darinya." "Bagus sekali, cara ini memang merupakan suatu tindakan yang paling baik," kata Ang Yok-su dengan mata berkilat dan suara dingin.

"Apakah saudara Ang setuju bila kita minta petunjuk dari nona Lian?" tanya Ku Bun-wi kemudian  dengan kening berkerut.

"Tentu saja! Sesungguhnya dialah majikan yang sesungguhnya dari istana ini!"

Ku Bun-wi tertawa getir.

"Kalau  begitu  terpaksa  kita  harus   merepotkan   nona Lian "

Dalam pada itu satu ingatan mendadak melintas lewat dalam benark si Kakek pencari kayu dari bukit utara Siang Ki- pia, segera katanya sambil tertawa:

"Saudara Ku, kalau begitu kita putuskan demikian  saja. Besok siang disaat saudara Ku menyelenggarakan perjamuan untuk menyambut Oh Put Kui, aku ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk  mencoba  tenaga dalam  yang  dimilikinya "

"Saudara Siang, kuanjurkan kepadamu lebih baik  jangan kau lakukan........!" tiba-tiba Ang Yok-su  berseru  sambil tertawa dingin.

"Apakah saudara Ang menganggap aku tidak mampu?" tanya Siang Ki-pia sambil tertawa.

"Andaikata kau tak kuatir mendapat malu sudah  barang tentu lain ceritanya!"

"Aku percaya kalau saudara Ang tidak bohong, tapi  aku tetap akan mencobanya."

Ang Yok-su mendengus dingin  dan  tak berbicara lagi segera melangkah keluar dari ruang rahasia. Sementara itu nyonya petani dari Lamwan  serta  perempuan cerdik dari ruang barat telah beranjak pula  dari situ.

Sambil memberi hormat Ku Bun-wi buru-buru berseru: "Harap saudara sekalian pulang dulu untuk beristirahat,

siapa tahu kita masih akan melangsungkan pertarungan sengit esok hari!"

Setelah berpamitan masing-masing orang pun  kembali kekamarnya untuk beristirahat.

Tapi diantaranya ada seorang Kakek ternyata tidak kembali kekamarnya, dia justru berjalan menuju ke gedung tamu.

Lama dia berdiri disitu sambil mengawasi keadaan disekelilingnya, sampai dia yakin kalau disekitarnya tak ada orang yang menguntit, ia baru masuk kedalam gedung dan mengetuk pintu kamar dari Oh Put Kui.

"ToOdwOookkk........ toOdwOokkk........

toOdwOookkkkk. "

Oh Put Kui yang berada dalam ruangan belum tidur waktu itu, ia sedang duduk bersemedi mengatur pernapasan.

Begitu mendengar suara ketukan, ia segera melompat bangun sambil menegur:

"Siapa?"

Teguran itu lirih, sebab dia mengira Nyoo Siau-sian atau Kiau Hui hui yang telah datang mengunjunginya.

Tapi dari luar pintu segera kedengaran suara serak tua menjawab teguran itu:

"Aku adalah si Kakek pencari kayu dari bukit utara Siang Ki-pia !"

Oh Put Kui pernah mendengar tentang nama orang tua ini, nama besarnya amat termashur diwilayah luar perbatasan. Tapi dia tak pernah mengira akan  menjumpai Kakek tersebut didalam istana Sian-hong-hu.

Begitu pintu dibuka, dihadapannya muncul seorang Kakek berjenggot putih yang berdandan sederhana  tapi  memiliki sinar mata yang amat tajam.

Sambil mengelus jenggotnya dan tersenyum Siang Ki-pia berkata:

"Bila  kedatanganku mengganggu   harap   lote  memaafkan "

Oh Put Kui tertawa:

"Siang tua adalah seorang tokoh lihay dari luar perbatasan, suatu keberuntungan bagiku bisa bersua muka hari ini."

Berbicara sampai disitu ia segera mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam.

Setelah mengambil tempat duduk, Oh Put Kui baru berkata: "Siang tua ada urusan apa?"

"Apakah lote telah bersua dengan Bong-ho siansu?" tanya Siang Ki-pia sambil tertawa.

Tiba-tiba Oh Put Kui menjadi terkejut:

"Apakah Siang tua baru datang dari Shoa-tiong?"

"Tidak," Siang Ki-pia menggeleng. "Aku datang dari luar perbatasan. "

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali katanya: "Tapi aku telah menerima surat dari Kit Bun-siu!"

Kerutan kening Oh Put Kui segera memudar, dia percaya Siang Ki-pia adalah salah seorang dari kelompok Bong-ho siansu, maka katanya kemudian sambil tertawa:

"Apa yang dikatakan Kit tayhiap? Apakah menyangkut pula tentang diriku?" "Tidak! Cuma dibilang kalau lote datang ke istana Sian- hong-hu maka ia minta kepadaku untuk  membantu secara diam-diam.......   hanya   sayang   kekuatanku     sangat terbatas. "

Tidak sampai Siang Ki-pia  menyelesaikan  perkataannya, Oh Put Kui telah mencegah:

"Siang tua tak perlu kuatir, boanpwee  mampu untuk menjaga diri "

Siang Ki pia  percaya kalau pemuda itu mampu untuk melindungi diri sendiri, tapi dia toh masih menguatirkan juga keselamatan jiwanya.

"Lote, kau mesti tahu istana Sian-hong-hu adalah sarang naga gua harimau!"

"Bila kita tak memasuki sarang harimau,  bagaimana mungkin bisa memperoleh anak macan?"

Siang Ki-pia mengangguk berulang kali:

"Ehmmmm......      kegagahan lote memang sangat mengagumkan. "

Sesudah berhenti sejenak, tiba-tiba ia bertanya lagi:

"Lote sebenarnya apakah Lei-hun-mo-kiam (pedang  iblis pencabut nyawa) adalah ayahmu?"

Rupanya dia masih menyangsikan hal tersebut sehingga perlu pembuktian lagi.

"Betul, dia memang ayahku," Oh Put Kui segera menyahut sambil bangkit berdiri.

Siang Ki-pia segera menghembuskan  napas  panjang: "Lote, kalau begitu ibumu adalah Pek-ih ang-hud (kebutan

merah berbaju putih) Lan Hong lihiap?"

"Sejak dilahirkan belum pernah boanpwee bertemu dengan ibuku, tapi menurut guruku, ibuku memang Lan Hong. " Setelah mengerutkan dahinya Siang Ki-pia berkata dengan sedih:

"Lote, kalau begitu nasibmu amat buruk."

"Jika takdir berkehendak  begini, apa yang bisa  kita lakukan? Cuma........ sebelum dendam sakit hati  kematian ibuku terbalas, setiap hari boanpwee merasa tak tenang. "

"Lote, apakah kau berhasil mendapatkan titik terang mengenai peristiwa pembunuhan terhadap ibumu itu. "

"Titik terang sama sekali tidak kutemukan "

Sambil menghela napas Siang Ki-pia menggelengkan kepalanya berulangkali, ujarnya kemudian.

"Terbunuhnya ibumu memang merupakan suatu peristiwa aneh dalam dunia persilatan, kalau dengan kemampuan suhu dan ayahmupun tak berhasil memperoleh keterangan apa-apa tentang peristiwa ini, jelas kalau masalahnya memang bebar- benar pelik. "

"Masalah tersebut memang merupakan beban pikiran boanpwee selama ini........... tapi, apakah kau  sudah mengetahui dengan jelas segala sesuatunya tentang istana Sian-hong-hu ini? Terutama watak dan perangai dari Nyoo Seng-siu "

Mendadak Siang Ki-pia menggoyangkan tangannya berulangkali mencegah Oh Put Kui berkata lebih jauh, tukasnya:

"Lote sudah bertemu dengan Bong-ho  siansu, tentunya segala sesuatunya juga telah diketahuinya........ tapi ada satu hal yang perlu kusampaikan kepadamu malam ini."

"Ooh, nampaknya  kau orang tua memang  mempunyai suatu maksud tertentu," kata Oh Put Kui tertawa.

Siang Ki-pia tertawa:

"Lote, aku hanya menyesal kemampuan yang  kumiliki sangat terbatas. " Setelah berhenti sejenak, mendadak bisiknya dengan suara lirih:

"Lote, kau mempunyai seorang sanak yang terkurung didalam penjara kematian  dalam istana Sian-hong-hu ini hampir dua puluhan tahun lamanya "

Bergetar keras sekujur badan Oh Put Kui setelah mendengar kabar tersebut.

Seorang sanak? Siapakah dia? Mungkinkah orang  itu adalah ibu kandungnya?"

Setelah berhasil menguasai diri, Oh Put Kui  segera bertanya kembali:

"Siang tua, siapakah sanak boanpwee itu?"

"Lote, sanak yang terkurung ditempat ini tak lain adalah kakek luarmu. "

"Kakek luarku?" berubah paras muka Oh Put Kui setelah mendengar hal ini.

"Betul! Dia adalah  Pneg-gwan-koay-kek (jago aneh dari Peng-goan) Lan Ciu-siu tayhiap, seorang jago yang termashur dalam dunia persilatan dimasa lampau, saat ini dia disekap didalam penjara kematian dalam gedung Siang hong hu ini."

Mencorong sinar kegusaran dari balik mata Oh Put Kui segera tanyanya:

"Siang tua, dimanakah letak penjara kematian tersebut?" "Penjara kematian konon berada didalam gedung tapi letak

yang tepat tidak kuketahui,,, bukankah kau baik sekali dengan nona Siau-sian? Aku rasa dia tentu bersedia memberitahukan letak tempat itu kepadamu."

"Benar, kita harus bertanya  kepadanya."  Oh Put Kui manggut-manggut.

"Lote, tahukah kau sejak kedatanganmu kemari,  setiap orang yang berada didalam gedung ini sama-sama menaruh perhatian kepadamu? Bahkan ada maksud hendak  mencelakai dirimu?"

"Boanpwee dapat melihatnya semenjak semula!"

Lalu setalah berhenti sejenak dan mencorong sinar tajam dari balik matanya, dia melanjutkan sambil tertawa:

"Tapi kau tak usah kuatir, boanpwee  tidak  takut menghadapi orang orang itu. "

Siang Ki-pia tertawa:

"Dalam hal ini aku percaya!"

"Apakah kau masih tidak percaya kepadaku   dalam  hal lain?" tanya pemuda itu kemudian sambil tertawa.

"Sesungguhnya aku tidak mempunyai persoalan lain yang membuatku tak percaya, kau harus tahu anggota gedung  Sian-hong-hu ini beraneka ragam, aku hanya kuatir tidak mampu menghadapi sergapan-sergapan mereka."

Oh Put Kui tertawa ewa.

"Kalau aku sudah berani memasuki sarang harimau, otomatis mempunyai  juga nyali untuk membekuk sang macan."

"Lote, keberanianmu memang sangat mengagumkan. "

Siang Ki-pia tertawa.

Kemudian setelah berhenti sejenak, diapun bangkit memohon diri, katanya:

"Lote, sudah terlalu lama aku berada disini, untuk menghindari segala kecurigaan orang terpaksa aku mesti mohon diri lebih dulu. Oya,  besok  siang  ketika diselenggarakan pesta perjamuan, bisa jadi aku akan mengutarakan beberapa patah kata kasar kepadamu, harap lote bisa memaklumi keadaanku ini serta menanggapinya secara wajar. " "Boanpwee cukup memahami keadaan dari Siang  tua. maaf bia boanpwee tidak menghantarmu lebih jauh."

Siang Ki-pia tertawa seraya menjura, lalu  menyelinap  keluar dari pintu ruangan.

Oh Put Kui menghantar sampai diluar  kamar sambil mengawasi keadaan disekeliling tempat itu, betul juga ternyata disekitar situ tiada nampak seorang manusia pun.

Diam-diam ia tertawa geli sendiri, bila pihak Sian-hong hu benar-benar berani mencari gara-gara dengannya maka perbuatan tersebut keliru besar sekali.

Sambil geleng-gelengkan kepalanya dan tertawa, ia balik kembali kedalam kamar.

Baru melangkah masuk, kembali Oh Put Kui dibuat terperanjat.

Ternyata didalam kamarnya telah muncul kembali seorang tamu yang tidak diundang.

Tapi dengan cepat pula Oh Put Kui tertawa lebar, agaknya tamu tak diundang yang berada didalam kamarnya  adalah seseorang yang sudah dikenal olehnya.

"Lote, kau tidak menyangka bukan!" tamu tak diundang itu tertawa secara aneh.

"Liok loko, setelah kau muncul disini, aku yakin Ban tua pun pasti berada pula di sini!" seru Oh Put Kui kemudian sambil tertawa.

Ternyata orang yang  baru muncul adalah  si pengemis pikun.

Pengemis pikun segera tertawa:

"Jika tak ada Ban tua, masa aku si  pengemis  bernyali  begini besar? lagipula biar aku bernyali cukup besar, belum tentu bisa masuk kedalam gedung Sian-hong-hu ini!"

"Mana Ban tua?" tanya si anak muda itu kemudian. "Dia orang tua sudah pergi tidur." "Pergi tidur?" Dimana?"

"Tentu saja didalam gedung  Sian-hong-hu ini, tuh dia, dikamar sebelah!"

Oh Put Kui tak bisa menahan rasa gelinya, dia  segera tertawa:

@oodwoo@
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).