Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 27

 
Jilid 27

"Ucapan saudara Ibun memang benar, kalau tidak saudara Oh Sian dan saudara Thian-liong tak akan membuang tenaga dan pikiran yang banyak untuk menciptakan bocah ini. "

Setelah berhenti sejenak, kembali  dia  melanjutkan: "Saudara Ban, bagaimana dengan kau? Bocah ini telah

memperlajari apa saja darimu?"

Kakek latah awet muda menggelengkan kepalanya sambil tertawa aneh, sahutnya:

"Mempelajari apa? Dia tak sudi  mempelajari apapun, bahkan orang lain memohon pun tak berhasil, dia  anggap seolah-olah tak berguna pelajaranku, aaai, aku  dibuat  mati kutu olehnya."

"Benarkah begitu?" Ibun Hau tertawa tergelak, "masa saudara Ban pun bisa dibuat mati kutu olehnya?"

"Haaaaahhhh........ haaaaaahhhhh........

hhaaaaaahhhhh........ Ibun lote, aku Ban Sik-tek bukan melalaikan atau lupa, justru bocah inilah  tindak tanduknya maupun cara berbicaranya membawa  tiga  bagian  hawa dewa. "

"Baru pertama kali ini kudengar saudara Ban mengucapkan perkataan semacam ini," seru Samwan To sambil tertawa.

Kakek latah awet muda tertawa aneh.

"Seandainya bocah muda itu tak pernah muncu, selama hidup pun aku tak akan mengucapkan  perkataan  semacam ini. "

Selama pembicaraan masih berlangsung, Oh Put  Kui sendiri hanya tersenyum hambar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Baru sekarang Ibun Hau menemukan kalau si pengemis sinting masih berlutut diatas tanah, katanya kemudian sambil tertawa:

"Liok Jin Ki, ayoh cepat bangun dan duduk!"

Pengemis sinting baru bangkit berdiri dan  mengambil tempat duduk...

Sementara itu Samwan To juga telah mempersilahkan Oh Put Kui untuk mengambil tempat duduk.

Tapi tawaran tersebut segera ditampik oleh Oh Put Kui.

Dengan perasaan tidak habis mengerti Kakek latah awet muda segera bertanya sambil tertawa:

"Hey anak muda, mengapa sih kau ini?  Kenapa  sikapmu tak bisa gagah dan bebas?"

Dengan hambar Oh Put Kui menggelengkan  kepalanya berulang kali, kemudian menjawab lirih:

"Dalam hati kecil boanpwee masih terdapat satu masalah yang rasanya masih mengganjal di dalam hati!"

"Kau begitu duduklah lebih dulu sebelum dibicarakan." Tapi Oh Put Kui kembali menggeleng:

"Persoalan ini  sudah sepantasnya bila kuajukan sambil berdiri daja..."

Jawaban tersebut tentu saja membuat Kakek latah awet muda menjadi tertegun.

Bahkan Samwan To dan Ibun Hau pun ikut dibuat tertegun dan penuh perasaan tidak mengerti.

Hanya si pengemis sinting seorang yang memahami beberapa bagian atas peristiwa tersebut.

"Hey anak muda, penyakit apa sih yang telah menyerang dirimu kali ini?" tegur Kakek latah kemudian. "Berhubung persoalan itu menyangkut soal ayahku oleh sebab itu sudah seharusnya bila dibicarakan sambil berdiri..."

"Banyak amat tingkah lakumu!" sambil tertawa getir Kakek latah awet muda menggelengkan kepalanya  berulang  kali, "ada kalanya aku lihat kau si anak muda kolot dan amat keras kepala..."

Namun berbeda sekali dengan pendapat dari Samwan To serta Ibun Hau dua orang kakek ini.

Sebagaimana diketahui, Samwan To selalu pernah menjadi teman baca dari kaisar Tiong-cong. lagipula pernah menjabat sebagai seorang pembesar dibidang militer, sedangkan Ibun Hau pun merupakan seorang pembesar kerajaan, oleh sebab itu mereka sangat menghormati tata cara. itulah sebabnya sikap yang ditampilkan Oh Put Kui saat ini seratus  persen cocok dengan selera mereka.

"Nak, kau memang tidak kehilangan kesopanan seorang manusia sejati..." kata dua orang Kakek itu sambil tertawa.

"Terima kasih banyak atas pujian lojin berdua!" sahut Oh  Put Kui dengan hambar.

Kemudian dengan mata berkilat teriaknya lagi: "Tentunya kalian berdua kenal dengan ayahku bukan?"

"Sebagai sobat karib selama banyak tahun, masa kami  tidak saling mengenal?" jawab Ibun Hau tertawa.

"Bagaimana dengan Samwan lojin?" tiba tiba Oh Put Kui bertanya lagi sambil tertawa hambar.

Sesungguhnya pertanyaan itu merupakan suatu pertanyaan yang berlebihan dan sama sekali tak berguna.

Tapi Samwan To tidak menjadi marah, malahan sahutnya sambil tertawa ramah:

"Ceng-thian lote dengan  aku boleh dibilang bersahabat karib!" Sorot mata penuh kepedihan segera memancar keluar dari balik mata Oh Put Kui, sebetulnya dia ingin mendongakkan kepalanya dan tertawa panjang, tapi ia tak tega untuk berbuat demikian, sebab ia merasa bahwa kedua orang Kakek itu termasuk orang baik.

"Kalau toh lojin berdua bersahabat karib dengan ayahku, tentunya kalian tahu bukan kalau ayahku disekap di Pulau Neraka?"

"Tentu saja tahu!" jawab Samwan To dan  Ibun Hau bersama-sama.

"Tahukah lojin berdua, siapa yang telah memaksa ayahku untuk hidup mengasingkan diri di pulau neraka tersebut?"

"Haaah.. haaah... haaah... hiantit memang bertanya kepada orang yang tepat, sebab memang aku bersama saudara Samwan dan tiga  dewa Hong-gwa-sam-sian yang mengundang ayahmu sekalian untuk menetap di pulau tersebut."

Sekalipun Oh Put Kui sudah mengetahui tentang kejadian ini, namun tak urung dibuat tertegun juga setelah mendengar pengakuan tersebut.

Karena menurut perkiraannya, kedua orang Kakek itu pasti tak akan  mengakui secara terus terang, bahkan  menurut perhitungannya sekalipun kedua orang Kakek itu akhirnya mengaku juga, hal ini dikarenakan desakannya yang bertubi- tubi.

Tapi kenyataannya sekarang, pihak lawan telah  memberikan jawaban secara sportip dan jujur.

Hal ini membuatnya mengambil dua  kesimpulan atas kejadian tersebut...

Kesatu, pihak lawan merasa menyesal  karena perbuatannya itu, dan  kedua pihak lawan terlalu tinggi hati sehingga pada hakekatnya tidak memandang  sebelah matapun terhadap diri dan ketujuh orang Kakek tersebut. Sekalipun demikian, dia merasa kedua macam alasan ini sama-sama membuatnya merasa tak tahan untuk berdiam diri saja.

Maka dengan suara yang sangat dingin ia berkata lagi: "Apakah ayahku telah banyak melakukan kejahatan atau

mempunyai nama jelek di dalam dunia persilatan?"

"Cong-thian lote sama sekali tidak mempunyai nama jelek!" jawab Samwan To tertawa.

"Bagaimana pula dengan keenam orang lainnya..."

"Nama jelek sih tak ada, cuma cara kerjanya saja terlalu menuruti adat..."

"Apakah dikarenakan cara kerja mereka terlalu menuruti adat, maka kalian lantas  memaksa mereka untuk  hidup mengasingkan diri di pulau neraka?"

Sekarang Samwan to dan  Ibun Hau baru memahami maksud tujuan dari Oh Put Kui, rupanya pemuda tersebut merasa tak puas karena  mereka telah memaksa ayahnya untuk hidup mengasingkan diri di pulau tepencil tersebut.

Samwan To segera tertawa terbahak-bahak:

"Haaahh... haaahh.. haaahh.. ucapanmu memang benar sekali nak!"

"Tidakkah kalian berdua rasakan bahwa tindakan tersebut terlalu keji dan buas?" desak Oh Put Kui lebih jauh dengan kening berkerut.

Samwan To segera tertawa.

"Nak, apakah kau beranggapan bahwa tidak seharusnya kami mendesak ayahmu sekalian untuk hidup terpencil  di pulau neraka?"

"Bagaimanapun juga, boanpwee menganggap tindakan yang dilakukan kalian berdua kelewat batas!" "Nak, aku rasa tindakan ini tidak kelewat batas.." kata Samwan lojin sambil tertawa.

Kakek latah awet muda yang ikut mendengarkan dari samping segera mengernyitkan alis matanya yang  putih sambil menyela:

"Anak muda, sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?"

Oh Put Kui tertawa hambar dan secara ringkas  menceritakan bagaimana  ayahnya bertujuh dipaksa hidup terpencil di Pulau Neraka dan baru boleh meninggalkan pulau itu bila ia sudah mengunjungi mereka.

Ketika selesai mendengarkan penjelasan tersebut, Kakek latah awet muda nampak tertegun, lalu serunya kepada Samwan To:

"Lote berdua benar-benar gemar mencari urusan, buat apa sih kalian mesti berbuat begitu?"

"Saudara Ban. ha!  ini terjadi karena ada suatu alasan tertentu," kata Samwan To sambil tertawa.

Ibun Hau ikut menimbrung pula dengan senyum dikulum: "Saudara Ban, bagaimanakah keadaan yang

sesungguhnya kurang leluasa untuk dibicarakan pada saat ini, tapi aku berani menjamin kehidupan mereka selama delapan belas tahun di pulau terpencil tersebut justru mendatangkan keuntungan yang besar bagi ketujuh manusia aneh dari dunia persilatan itu."

"Apa maksud perkataanmu  itu?" seru Kakek latah awet muda sambil tertegun, "masa seseorang yang disekap dalam pulau terpencil justru mendatangkan keuntungan baginya, mana ada kejadian semacam ini?"

Tiba tiba  Ibun Hau berpaling kearah Oh Put Kui  dan berkata sambil tertawa: "Bukankah keponakan telah berkunjung ke pulau tersebut? Tentunya kau mengetahui bukan sampai  dimanakah kepandaian silat yang dimiliki ketujuh orang Kakek tersebut?"

"Yaa, ilmu silat mereka telah mencapai tingkatan  yang paling sempurna!"

"Nah bagaimana saudara Ban?" Ibun Hau tertawa, "bagaimana pula dengan ilmu silat yang mereka miliki tempo dulu? Bukan aku sengaja menghina, tapi kenyataanya saja meski mereka tergolong jago kelas satu di dalam dunia persilatan, namun belum mencapai tingkatan yang sempurna, tapi sekarang andaikata aku diharuskan bertarung satu lawan satu, belum tentu aku dapat menangkan pertarungan itu."

Kemudian setelah ebrhenti sejenak, katanya pula  kepada Oh Put Kui sambil tersenyum:

"Keponakanku, tahukah kau sebelum  mereka  disekap dalam pulau neraka, dengan kemampuanku seorang masih sanggup untuk mengungguli kerubutan mereka bertiga sekalipun!"

Oh Put Kui segera mengerutkan dahinya.

Ia jadi teringat dengan perkataan dari Thian-hiang Huicu yang berpesan agar dia tidak menjemput ketujuh orang Kakek itu sebelum sembahyang Bakcang, mungkinkah mereka memang mempunyai suatu maksud tujuan tertentu?"

Sementara dia masih termenung, Kakek latah awet muda telah berkata sambil tertawa:

"Tampaknya lote berdua telah membantu ketujuh manusia aneh itu untuk memenuhi pengharapan mereka?"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... saudara Ban, kesemuanya ini bukan jasa kami," kata Samwan To sambil tertawa tergelak. "melainkan pemberian dari toa kuncu..."

Tapi secara tiba tiba dia menggeleng dan  berkata lagi sambil tertawa: "Aaaai, aku memang sukar untuk merubah panggilan itu...

Kakek latah awet muda yang mendengar ucapan tersebut segera tertawa tergelak:

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... apa  salahnya memanggil? Asalkan saja tidak salah menyebut sewaktu berada di ibu kota, aku percaya tak akan ada orang yang mencap dirimu sebagai penghianat..."

Sambil tertawa Ibun Hau segera berkata:

"Saudara Ban, sebagai pembesar dari negara yang telah ditumpas, lebih baik kalau tidak mempergunakan sebutan semacam itu lagi."

"Terserah kalian. pokoknya aku memang tak pernah suka dengan cara semacam itu!"

"Tentang urusan tujuh manusia aneh dari dunia persilatan, kalau toh nona Ki sudah memberi petunuk, aku rasa tak bakal salah lagi."

Tiba tiba Oh Put Kui berkata sambil tertawa:

"Ban tua, Ki locianpwee pernah  berpesan  kepada boanpwee agar datang lebih lambat ke pulau tersebut."

-oo0dw0oo-

"Benarkah? Bukankah kau pernah bilang kalau bapakmu telah membangun pagoda menanti putra di pulau tersebut? Mengapa kau justru agak terlambat kesana? Lagipula  bukankah barusan kau seperti hendak mencari gara gara dengan kedua orang bekas pembesar ini sebenarnya karena apa sih?"

Sambil tertawa Oh Put Kui menyahut:

"Sebelum duduknya persoalan  menjadi  jelas,  sedikit banyak boanpwee merasa tak senang hati juga karena persoalan itu..." Samwan To segera tertawa tergelak:

"Haaaahhh... haaahhh... haaahh... sebagai anak  muda, tidak seharusnya kau kaya akan perasaan permusuhan, tentunya keponakan sudah paham bukan sekarang?"

"Ya, setelah mendengar menjelasan  dari  locianpwee berdua, ditambah lagi dengan pesan dari Ki locianpwee serta bukti bahwa ayah bertujuh yang tinggal di pulau neraka memang memiliki kepandaian silat yang amat  sempurna, maka aku percaya bahwa apa yang telah  dijelaskan locianpwee berdua memang tidak bermaksud untuk membohongi boanpwee..."

Ibun Hau segera tertawa tergelak:

"Haaah... haaah... haaahh.. jika keponakan masih belum juga mengerti, aku berdua tentu akan kena didamprat..."

Merah padam selembar wajah Oh Put Kui dibuatnya, baru saja dia hendak mengucapkan terima kasih, tiba-tiba Kakek latah awet muda telah berseru kepada Samwan To dan Ibun Hau sambil tertawa:

"Nah mereka telah datang!"

"Siapa?" tanya Ibun Hau tanpa terasa.

"Siapa lagi, tentu saja sahabat yang mengundang kedatangan kalian berdua!"

"Aaah betul, ternyata sudah datang..." kata Samwan To pula sambil tertawa.

Sementara itu Oh Put Kui juga sudah merasa kalau dari kejauhan saja berkumandang datang suara air yang memecah kesepian.

Dengan kening berkenyit Ibun Hau kembali berkata: "Saudara Samwan, tampaknya Wi Thian-yang tidak datang

seorang diri..." "Setelah menderita kerugian satu kali, mana mungkin Wi Thian-yang sudi tertipu lagi? Mungkin kedatangannya hari ini disertai dengan suatu perencanaan yang matang..."

Kalau memang demikian, hal ini lebih baik lagi." kata Ibun Hau tertawa tergelak, "siaute memang ingin  sekali menyaksikan kawanan setan dan kepala kerbau mukakuda dari Tong-thiau-kui-hu, ingin kulihat sampai dimanakah kemampuan yang mereka miliki."

Belum habis Ibun hau berbicara, dari kejauhan sana telah berkumandang datang suara tertawa dingin.

Sekalipun suara tertawa dingin  itu tidak begitu keras, namun cukup membuat kelima orang yang  berada  dalam ruang perahu itu berubah wajahnya.

Sambil tertawa Kakek latah awet muda segera berkata: "Sungguh tak disangka setelah berpisah selama empat

puluh tahun, kemampuannya bisa bisa berubah menjadi begini sempurnanya..."

Rupanya suara tertawa dingin  tadi telah dipancarkan dengan disisipkan dalam pancaran hawa murni, membuat kawanan jago tersebut merasakan hatinya sangat bergetar.

Benarkah Wi Thian yang memiliki kemampuan yang begitu sempurna?

Tak aneh kalau Kakek latah awet muda pun merasa kurang percaya dengan kenyataan tersebut.

"Hal ini sulit untuk dikatakan..." kata samwan To sambil menggelengkan kepalanya

Tapi Ibun Hau segera menyela sambil tertawa: "Saudara Ban, orang ini bukan Wi Thian-yang!"

"Kalau bukan Wi Thian-yang lantas siapa?" tanya Kakek latah awet muda dengan wajah tertegun. "Sekalipun Wi Thian-yang pernah memperoleh pengalaman luar biasa, namun sulit baginya untuk menguasai hawa murni Hian-im-cing-khi tersebut hingga mencapai tingkat macam ini, karena itu kuyakin suara tertawa dingin itu berasal dari orang lain..."

Belum selesai dia berkata, seseorang telah menyambung: "Tak nyana kalau jago tanpa kemurungan berbaju putih

Ibun Hau memiliki kemampuan yang begitu hebat, bilamana ada kesempatan aku harus meminta petunjuk darimu..."

"Haaah... haaah... haaahh... saudara terlalu memuji, Ibun Hau pasti akan mengulangi setiap saat..." jawab Ibun Hau sambil tertawa keras.

Sementara pembicaraan masih berlangsung,  dua buah peranu besar telah meluncur mendekat.

Cahaya lentera yang terang benderang menerangi seluruh perahu besar itu.

Ketika jaraknya tinggal dua kaki perahu itu telah berhenti berlayar bahkan menurukan jangkar.

Menyusul kemudian Raja setan penggetar langit Wi Thian- yang dengan perawakan  tubunya yang tinggi  besar telah munculkan diri diujung geladak.

Pada saat itulah Kakek latah awet muda berkata kepada sepasang jago dari Thian-tok ini sambil tertawa.

"Lote berdua, aku tak usah munculkan diri daripada pihak lawan menuduh kita  mengandalkan  jumlah  yang  banyak, cuma kau boleh saja mengajak serta bocah muda ini..."

"Apa yang  diperintahkan saudara Ban tentu akan  kami turuti!" sahut Samwan To tertawa.

Ibun Hau juga segera bertanya kepada Oh Put Kui sambil tertawa:

"Keponakanku, pernahkah kau berjumpa dengan Wi Thian- yang sebelum pertemuan hari ini?" "Pernah, bahkan sudah pernah bentrok satu kali."

"Kalau didegnar dari nada pembicaraan keponakan, tampaknya Wi  Thian yang tidak berhasil mendapatkan keuntungan apa-apa?"

Oh Put Kui hanya tertawa hambar tanpa menjawab. Sambil manggut-manggut Ibun Hau segera berkata: "Kalau begitu akupun tak usah kuatir..."

Tampaknya dia tetap menguatirkan kepandaian  silat  dari  Oh Put Kui, takut dia sebagai seorang pemuda yang berdarah panas akan mencari gara-gara sehingga merugikan pihaknya sendiri, bila pemuda itu sampai celaka, niscaya  merekalah yang akan merasa tak enak.

Sementara itu Samwan To telah berkata pula lirih: "Keponakanku, andaikata jago lihay yang tak diketahui

namanya munculkan diri nanti, harap kau jangan berkeras kepala untuk menghadapinya lebih dulu, tampaknya kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki orang itu tidak berada dibawah kemampuan Kakek Ban."

"Boanpwee mengerti," Oh Put Kui tertawa hambar.

Padahal pikirannya berpendapat lain, dia justru ingin mencari kesempatan untuk  mencoba  kemampuan  yang dimiliki orang yang memperdengarkan suara tertawa  dingin tadi.

Baru selesai mereka bertiga berbicara, dari arah seberang telah terdengar  lagi suara Wi Thian-yang sedang berkata sambil tertawa:

"Samwan To, Ibun Hau, mengapa kalian berdua belum juga menampakkan diri? Apakah  kalian  berdua tahu diri dan bersedia menerima hukuman dariku?" Sambil tertawa terbahak-bahak Samwan To segera munculkan diri dari perahunya, lalu sambil  mengelus jenggotnya dia berkata:

"Wi lote, hadiah sebuah jari tanganku ternyata tak pernah kau lupakan selama empat puluh tahun terakhir ini, daya ingatmu yang begitu hebat dan tekadmu yang begitu membara sungguh membuat aku merasa amat kagum!"

Kemudian setelah berhenti sejenak dan kembali tertawa tergelak, terusnya:

"setelah kau undang kehadiran kami  hari  ini,  bisakah kutahu dengan cara bagaimana kau hendak menyelesaikan perselisihan ini?"

Raja setan penggetar langit Wi Thian-yang tertawa seram: "Bagaimana pula menurut penapat saudara Samwan untuk

menyelesaikan perselisihan ini?"

"Haaah... haaah... haaah... masa aku yang mesti memutuskan penyelesaian persoalan  ini?  Bila  kuusulkan untuk menyudahi saja peristiwa tersebut, apakah kau bisa menyanggupinya?"

"Keterus terangan  saudara ternyata masih tetap seperti sedia kala, sungguh mengagumkan hati orang saja," Wi Thian- yang tertawa, "kalau toh saudara  Samwan  enggan mengajukan usul, baiklah kalau aku saja yang mengajukan suatu usul untuk menyelesaikan masalah ini, bagaimana menurut pendapatmu?"

"Aku akan mendengarkan dengan seksama!"

Setelah tertawa seram raja setan penggetar langit berkata lagi:

"Dahulu saudara Samwan telah melukai diriku dengan ilmu Sam-yang-ci, maka hari ini akupun bersedia mempergunakan ilmu Tong-thian-ci untuk bertempur melawan saudara Samwan." "Baik, baik sekali, aku setuju!"

Kemudian setelah berhenti sejenak terusnya:

"Cuma perlu kutanyakan, pertarungan ini dibatasi saling menutul ataukah bertarung sampai salah satu diantara kita mampus?"

Raja setan penggetar langit Wi Thian-yang tertawa nyaring:

"Tempo hari saudara hanya melukai aku, mengapa pula pertarungan yang akan berlangsung hari ini harus diakhiri bila satu pihak sudah mampus? Tapi, bila saudara Samwan berkeinginan untuk melangsungkan pertarungan ini  sampai ada yang mampus, sudah barang tentu aku bersedia mengiringinya."

Oh Put Kui yang mencuri dengar pembicaraan tersebut dari balik perahu menjadi terkejut bercampur keheranan.

Bagaimana pun juga ia dapat menangkap betapa liciknya manusia yang bernama Wi Thian-yang ini.

Seolah-olah saja dia datang karena memenuhi undangan, sehingga bagaimanakah akhir dari pertarungan tersebut ia melepaskan diri dari segala pertanggungan jawabnya.

Dari sini pula bisa disimpulkan betapa licik, berbahaya dan menakutkannya orang ini.

Selain itu, Oh Put Kui pun teringat kembali dengan masalah tentang ruyung Mu-ni-ciang-mo-pian tersbut.

Tiba-tiba saja dia seperti mendapat suatu firasat, bahwa antara Wi Thian-yang dengan majikan muda dari  Sian  hong- hu yaitu Nyoo Ban-bu pasti mempunyai suatu hubungan yang luar biasa.

Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, dari luar ruang perahu telah berkumandang datang  suara gelak tertawa Samwan To yang amat keras:

"Wi lote, setelah memunculkan diri kembali ke dalam dunia persilatan, mengapa caramu berbicara berubah menjadi begini merendah? Tampaknya aku harus  meningkatkan kewaspadaanku..."

Mendengar hal itu, Wi  Thian-yang  segera  tertawa: "Saudara Samwan, setelah empat puluh tahun lamanya

duduk menghadap ke dinding, manusia baja pun pasti akan berubah menjadi manusia tanah liat,  semua keberangasan  dan kekejamanku dulu, kini sudah tersapu habis bersamaan dengan berputarnya waktu selama empat puluh tahun."

Samwan To merasa amat gembira sekali, segera ujarnya cepat:

"Buddha berkata: Siapa yang bersedia meletakkan golok pembunuh, dia akan diterima kembali sebagai murid Buddha, bila Wi lote benar-benar sudah berubah menjadi seorang yang lain karena hidup dalam pengasingan selama empat puluh tahun, bukan saja aku perlu bersyukur demi  kebahagiaan umat persilatan, terlebih-lebih harus mengucapkan  selamat buat Wi lote sendiri!"

"Saudara Samwan terlalu memuji!" tukas  Wi Thian-yang sambil tertawa.

Kembali Samwan To tertawa terbahak-bahak:

"Kalau toh Wi lote sudah dapat melenyapkan  sifat dan perangaimu yang dahulu, menurut pendapatku lebih baik anggap saja aku yang kalah dalam pertarungan hari ini dan anggap saja urusan dulu sebagai sudah beres, entah  bagaimana menurut pendapatmu?"

Ternyata nada pembicaraan dari Samwan To ikut pula berubah menjadi amat sungkan.

"Haaahhh... haaahh... haaahh... tidak bisa jadi!" seru Wi Thian yang kembali sambil tertawa, "sebab niat pertamaku setelah terjun kembali ke dunia persilatan  adalah membereskan masalah budi dan dendamku di masa  lalu, siapa yang merasa berhutang, dia harus membayar kembali hutang tersebut..." Belum selesai ucapan tersebut diutarakan,  Samwan To kembali telah menyela:

"Wi lote, buat apa sih kau mesti berbuat demikian? Masalah budi dan  dendam akan  beres dan  terselesaikan dengan sendirinya, bila kita  bersedia untuk berlapang  dada,  bila urusan semacam inipun masih diributkan, bukankah hal ini akan merusak suasana?"

"Biarpun segala sesuatunya akan  menjadi hambar,  soal budi dan dendam harus diselesaikan dahulu hingga tuntas!" teriak Wi Thian-yang dengan suara lantang.

Kemudian setelah berhenti sejenak tiba-tiba dia menjura kepada Samwan To sambil ujarnya lagi:

"Saudara Samwan, bagaimana  kalau  kita selesaikan dahulu perselisihan tersebut?"

Melihat kekerasan kepala orang,  Samwan To menghela napas panjang:

"Aaai, kalau toh Wi lote bersikeras hendak menyelesaikan dahulu perselisihan tersebut, sudah barang  tentu  aku  tak dapat menampik terus, tapi bagaimanakah cara kita untuk bertarung diatas permukaan air telaga ini?"

"Bagaimana kalau kita saling melancarkan ilmu jari kita ke tengah udara dalam jarak dua kaki ini?"

Samwan To yang mendengar usul tersebut, diam-diam kembali merasa terkejut.

Dia tahu kesempurnaan tenaga  dalam yang dimilikinya masih jauh melebihi gembong iblis tersebut.

Tapi kenyataannya sekarang,  gembong iblis itu berani menantangnya untuk saling beradu ilmu  jari  ditengah  udara, itu berarti seandainya ia tidak peroleh kemajuan yang sangat pesat dalam ilmu silatnya selama empat puluh  tahun belakangan ini, sudah jelas iblis tersebut telah  berhasil memperlajari sejenis ilmu silat yang lain. Tentu saja diapun sudah  mempertimbangkan  bahwa  cara ini dipergunakan karena  gembong iblis ini telah bertobat sehingga dia mengajak penyelesaian cara begitu untuk membereskan persoalannya secara damai saja.

Berpikir demikian, Samwan To pun segera berkata sambil tertawa nyaring:

"Setelah hidup mengasingkan diri selama empat puluh tahunan dipegunungan yang terpencil. aku kira ilmu silat yang dimiliki Wi lote pasti sudah peroleh kemajuan  yang pesat, padahal aku sudah lama melalaikan latihanku. karenanya didalam pertarungan yang berlangsung hari ini, kuharap lote sudi melepaskan budi untukku."

Selesai berkata, dia segera  menghimpun  segenap kekuatan yang dimilikinya dan  bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

"Nah, berhati-hatilah saudara Samwan!" seru Wi Thian-  yang kemudian dengan lantang.

Seusai berkata, dia segera melepaskan sebuah serangan jari kearah depan.

Tiba-tiba Samwan To berkelebat kesamping dan berseru sambil tertawa :

"Wi lote, kita harus membuat suatu perjanjian lebih dulu sebelum melangsungkan pertarungan ini."

Gagal dengan serangannya, Wi Thian-yang menegur: "Perjanjian apa lagi?""

"Kita   harus    membatasi   masing-masing   pihak dengan berapa jurus serangan saja."

"Betul, kita memang harus membuat pembatasan." Kemudian setelah berpikir sebentar katanya lagi:

"Samwan To, bagaimana  kalau kita membatasi dengan sepuluh jurus serangan sjaa?" "Sepuluh jurus? Menurut pendapatku, lima juruspun sudah lebih dari cukup!"

"Baik, kalau begitu kita tetapkan lima jurus saja!"

"Wi lote" Samwan To kembali berkata, "kita akan melancarkan serangan bersama-sama ataukah setiap orang dibatasi dengan lima buah serangan lebih dulu?"

"Haaah... haaah... haaah... paling baik kalau kita melancarkan serangan bersama-sama, selain itu..."

Tiba-tiba dia tertawa seram dan menambahkan:

"Sewaktu pihak lawan melancarkan serangannya,  maka dilarang untuk menghindarkan diri."

Dari perkataan tersebut, Samwan To mengetahui  kalau lawannya sedang mengejek dirinya karena menghindarkan diri tadi.

Namun Samwan To sama sekali tidak menggubris ejekan itu, katanya segera:

"Tentu saja, aku menyetujuinya sama sekali."

"Haaahhh.. haaahh... haaahh... kalau begitu maaf saudara Samwan!"

Tiba-tiba saja dia  melancarkan sebuah serangan jari tangan ke arah depan.

Samwan To tertawa hambar, diapun menggerakkan jari tangannya sambil balas melancarkan sebuah serangan.

Tenaga serangan yang dihasilkan dari lima Sam-yang ci ini benar-benar sangat hebat, diiringi desingan suara yang amat tajam dan menggidikkan hati, angin serangan tersebut meluncur ke muka dengan kecepatan luar biasa.

Namun tenaga serangan dari Tong-thian-ci ternyata tidak menimbulkan bekas apapun. Dalam waktu singkat tenaga serangan keras dan lunak itu telah saling bertemu satu sama lainnya pada jarak berapa kaki ditengah udara...

"Bluuukkk!"

Diiringi suara benturan keras, kedua belah pihak sama- sama tertawa lebar.

Samwan To segera berseru:

"Wi lote benar-benar hebat, tampaknya empat puluh tahun hidup mengasingkan diri membuat tenaga seranganmu dalam ilmu Tong-thian-ci ini bertambah sempurna, mau tak mau aku harus menyatakan juga akan kekagumanku..."

Wi Thian-yang segera berseru pula dengan suara keras: "Ilmu jari Sam-yang-ci dari saudara Samwan jauh lebih

menggidikkan hatiku!"

Kemudian setelah berhenti sejenak, diiringi suara tertawa yang memanjang ia berseru kembali:

"Saudara Samwan, lihatlah serangan jariku yang kedua!"

Baru selesai dia berkata, angin serangan telah memancar keluar dengan hebatnya.

"Saudara benar-benar sangat hebat!" bentak Samwan-to dengan sorot mata berkilat.

Tangan kanannya segera diayunkan ke muka, dengan mengerahkan seluruh kekuatan Sam-yang-ci nya dia melepaskan sebuah totokan kilat.

"Blummm..."

Lagi-lagi bentrokan tersebut menghasilkan keadaan yang seimbang alias setali tiga uang.

Pada    saat    itulah  mendadak   sekulum senyuman licik tersungging diujung bibir Wi Thian-yang. "Saudara Samwan," katanya, "aku lihat susah juga buat kita untuk menentukan siapa menang siapa kalah dalam pertarungan ini... aaai, aku sungguh merasa malu dan menyesal, ternyata latihan tekunku selama empat puluh tahun belum berhasil juga membawa kepandaian silatku mencapai puncak kesempurnaan!"

Samwan-to segera tertawa tergelak:

Wi lote, kalau toh kau sudah mengerti bahwa menang kalah adalah sudah ditentukan, bagaimana kalau kita sudahi saja pertarungan ini sampai disini saja?"

"Tidak bisa, budi harus dibalas budi, dendam harus dibayar dendam, hutangmu dulu harus dibayar dulu sampai lunas!"

Kembali dia melepaskan serangan ilmu Tong-thian-ci untuk ketiga kalinya.

"Berhati-hatilah saudara!" serunya keras.

Setelah dua kali bentrokan tadi, Samwan-to telah  mengetahui bahwa ilmu jari Tong-thian-ci dari lawannya ini meski tangguh manum masih belum mampu  untuk mengungguli kehebatan dari Sam-yang-ci andalannya.

Oleh sebab itu sahutnya sambil tersenyum:

"Wi lote, tampaknya pertarungan ini pun  harus diakhiri dengan seimbang dan sama kuat."

Tapi secara tiba-tiba saja perkataan dari Samwan to itu terhenti sampai ditengah jalan.

Disusul kemudian ia membentak penuh kegusaran: "Besar amat nyalimu, kau berani bemain gila denganku..." "Blaaammm..."

Tahu-tahu saja tubuh Samwan-to yang  itnggi besar itu sudah roboh terjengkang ke atas geladak.

Sedangkan Wi Thian-yang yang berada di perahu seberang segera tertawa seram: "Samwan-to, kau tak menyangka akan mengalami nasib seperti hari ini bukan..."

Ketika peristiwa yang berlangsung digeladak tersebut terlihat oleh Ibun Hau, tokoh sakti yang gemar  mengenakan baju berwarna putih ini benar-benar merasa amat terkejut.

Sebenarnya permainan setan apakah yang sedang dilakukan oleh Wi Thian-yang?

-oo0dw0oo-

Secepat sambaran petir Ibun Hau menyelinap keluar dari ruangan perahu.

Oh Put Kui ikut menerjang keluar dari tempat persembunyiannya dan  langsung menghampiri Samwan-to yang terluka.

Ketika denyut nadinya diperiksa, ia segera berseru dengan wajah berubah:

"Ibuh cianpwee, Samwan lojin terkena racun hawa dingin!" Ibun Hau mendengus dingin, lalu katanya:

"Nak, bopong dia masuk kedalam,  Ban tua pasti dapat menyembuhkan lukanya..."

Oh Put Kui mengangguk dan segera membopong masuk Samwan-to kedalam ruang perahu.

Sedangkan Ibun Hau sendiri dengan wajah dingin bagaikan es dan hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya membentak kearah Wi Thian-yang dengan suara keras:

"Wi Thian-yang, kau betul-betul tak tahu malu!"

"Saudara Ibun, mengapa kau berkata demikian?" seru Wi Thian-yang sambil tertawa seram, "bukankah tempo hari Samwan-to juga melukai dengan serangan ilmu jarinya? Tidak pantaskah bila empat puluh tahun kemudian Wi Thian-yang balas melukainya dengan ilmu jariku?" Ibun Hau tertawa dingin, tegurnya lagi:

"Wi Thian-yang,  ilmu jari apakah yang  barusan kau pergunakan...?"

"Ilmu jari Tong thian ci!"

"Betulkah ilmu jari Tong-thian-ci?" seru Ibun Hau sambil tertawa dingin, "aku yakin kau lebih mengerti  daripadaku, belum pernah kudengar kalau dibalik kekuatan ilmu jari Tong- thian-ci, terselip pula hawa dingin beracun Peng-pok-han tok!"

"Haaah... haaah... haaah... saudara Ibun, ilmu jari Tong- thian-ci ku ini memang jauh berbeda dengan kepandaian lain, selain terselip hawa murni cing-khi yang murni, sesungguhnya terselip juga hawa dingin beracun Peng-pok-han-tok..."

Kemudian    setelah  berhenti   sejenak, kembali katanya sambil tertawa dingin:

"samwan-to terlalu sombong dan ingin mencari penyakit buat diri sendiri, apa sangkut pautnya denganku?"

"Enak amat pembicaraan itu... sayang sekali Ibun Hau rada kurang percaya."

"Kalau kurang  percaya lantas apa  yang hendak kau perbuat?" seru Wi Thian-yang sambil tertawa dingin.

"Aku ingin sekali mencoba kelihayan ilmu jari Tong-thian-ci mu itu..."

"Haaah... haaah... haaah... apakah kau memang  lebih hebat daripada Samwan-to? Ibun Hau, bukan aku she Wi sengaja memandang rendah dirimu, tapi aku  yakin  kau  pun tak nanti mampu untuk bertahan atas serangan jariku ini..."

Belum habis perkataan tersebut diucapkan, tiba-tiba saja Ibun Hau telah berkerut kening.

Lalu ujung bajunya dikebaskan kedepan dan  segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat bagaikan amukan ombak besar ditengah samudra langsung menyambar kedepan. Bersamaan itu juga terdengar Ibun Hau membentak keras:

"Wi Thian-yang, kau harus merasakan dulu  kelihayanku  ini..."

Perkataan dari Wi Thian-yang yang belum selesai diutarakan itu segera berhenti di tengah jalan, cepat-cepat dia mengebaskan pula sepasang ujung bajunya dengan mata melotot besar.

Sekalipun begitu, dia toh belum juga mampu untuk  menahan serangan dahsyata dari Ibun Hau, seketika itu juga tubuhnya tergetar mundur sejauh tiga langkah kebelakang.

Akibatnya Wi  Thian-yang menjadi naik pitam, seluruh rambut dan jenggotnya pada berdiri kaku semua bagaikan landak.

"Ibun Hau, main sergap secara licik seperti apa yang kau lakukan hanya akan  memalukan dirimu, apakah kau tidak kuatir merosotkan pamormu?"

Ditengah bentakan tersebut, tiba-tiba tubuhnya maju ke muka, lalu dengan telapak tangan di katan dan jari tangan di kiri, dia serang dada Ibun Hau dengan dahsyatnya.

Baru saja Ibun Hau tertawa tergelak sambil membentak: "Wi Thian-yang, kau tak usah berlagak..."

Mendadak... sesosok bayangan  manusia  dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah menyusup ke hadapan tubuhnya.

Kebasan ujung baju dari Ibun Hau segera ditarik kembali dengan cepat, ringan dan indah.

Kemudian sambil bergendong tangan ternyata dia mengundurkan diri kesamping.

Dengan demikian, pukulan telapak tangan dan  serangan  jari tangan dari Wi Thian-yang tersebut langsung menghantam keatas bayangan tubuh yang menerjang tiba itu. Disaat tubuhnya hampir termakan oleh serangan musuh yang maha dahsyat itu, ternyata dia  malahan  berpekik nyaring.

Bahkan pekikan tersebut keras dan kuat, ditengah keheningan malam yang  mencekam telaga  Phoa-yang-oh tersebut, suaranya dapat berkumandang sampai jarak sejauh sepuluh li lebih.

Tanpa terasa Wi Thian-yang mengerutkan dahinya. Siapa gerangan orang itu?

Dengan cepat dia mendongakkan kepalanya sambil memperhatikan orang tersebut dengan seksama, tapi dengan cepat paras mukanya berubah sangat hebat.

Oh Put Kui...

Hampir saja dia berteriak keras, tapi bagaimana mungkin bocah keparat itu bisa berada bersama-sama Thian tok-siang- coat?

Wi Thian-yang dengan julukannya si Raja  setan  memang tak perlu takut terhadap Thian-tok-siang-coat,  tapi  terhadap Oh Put Kui yang cuma seorang berandal dunia persilatan ini justru merasa segan untuk memusuhinya.

Tanpa terasa dengan kening berkerut dia termenung sambil memutar otak.

Apakah dia harus memanfaatkan peluang di saat masih berpekik nyaring itu diam diam ia  lepaskan  sebuah serangan...?

Tapi akhirnya dia  berhasil mengendalikan diri dan tidak melepaskan serangan mautnya.

Sebab dia cukup tahu diri bagaimana pun dia menyergapnya tak mungkin bocah tersebut dapat dilukainya.

Dalam pada itu suara pekikan panjang dari Oh Put  Kui telah terhenti. Dengan sorot mata yang tajam ditatapnya wajah Wi Thian- yang tajam-tajam, lalu tegurnya sambil tertawa:

"Wi tua, baik-baikkah kau selama ini?" Wi Thian-yang tertawa tergelak:

"Lote, mengapa kaupun datang ke Phoa-yang-oh? Kau  tentu merasa gembira bukan dengan arak kegirangan di perkampungan Sin-ling-ceng? Apakah Siau lojin datang  bersamamu?"

"Siau tua masih berada di perkampungan Sin-ling-ceng..." sahut Oh Put Kui sambil tertawa.

Selintas rasa girang segera menghiasi wajah Wi Thian- yang.

Oleh karena Siau Lun  tidak datang, maka dia  merasa nyalinya semakin berani.

Sudah barang tentu dia tak pernah menyangka kalau dibelakang Oh Put Kui masih terdapat seseorang yang berapa kali lipat lebih tangguh dan hebat daripada Siau Lun yang saat itu sedang mengawasinya dengan seksama, serta menunggunya mengalami kejelekan...

"Kenapa Siau lojin tidak ikut kemari?"

Wi Thian-yang tak dapat menahan rasa  gembiranya  lagi, dia segera tertawa tergelak sambil katanya:

"Siau-lote, barusan kau telah menampilkan  diri  dan mewakili Ibun Hau untuk  menerima pukulan  dan  totokan jariku, apakah kau hendak mewakili Ibun Hau untuk..."

"Kalau benar kenapa?" sahut Oh Put Kui sambil tersenyum. Wi Thian yang menjadi tertegun.

"Apakah siau-lote tidak menganggap tindakanmu  itu kelewat latah dan ceroboh?" "Haaah... haaah... haaah... seingatku, kaupun pernah mengucapkan kata yang sama ketika berada   di perkampungan Sin-ling-ceng tempo hari..."

"Heeeh... heeeh... heeeh... itu mah persoalan lalu,  sebab aku tak ingin melakukan kesalahan terhadap Siau Lun."

"Ooh, jadi rupanya kau takut terhadap Siau Lun?"

Paras muka Wi Thian-yang segera berubah menjadi amat rikuh, malu dan sangat tak sedap dipandang.

Dapatkah dia mengakui rasa "takut"nya itu?

"Ngaco belo, siapa bilang aku takut kepadanya? Cuma saja aku tak ingin bermusuhan apalagi mencari gara-gara dengannya..."

"Wi tua, jadi kau telah bertekad akan mencari gara-gara denganku hari ini...?"

"Heeeh... heeehh... heeeh.. andaikata Siau  lote beranggapan demikian, akupun tak akan menolak!" sahut Wi Thian-yang sambil tertawa seram.

Oh Put Kui kembali tertawa hambar:

"Wi tua memang seorang yang berlapang dada..." Lalu setelah berhenti sejenak, terusnya:

"Tapi sebelum kita saling berhadapan sebagai musuh, ada satu hal yang ingin kutanyakan dahulu kepadamu!"

"Soal apa?"

"Nyoo Siau-sian dari Istana Sian-hong hu telah kehilangan sebuah senjata mestikanya Mu-ni-ciang-mo-pian, aku ingin bertanya apakah Wi tua yang mengambil benda tersebut?"

Wi Thian-yang segera merasakan hatinya terkesiap sesudah mendengar perkataan tersebut, namun  diluarannya dia berdiri seakan-akan seseorang yang sedang tertegun. "Siau-lote, mengapa kau memfitnah orang semuanya  sendiri sehingga aku pun kau tuduh yang bukan-bukan?"

"Jadi bukan kau yang mengambil?" ejek Oh Put Kui sambil tertawa.

Dengan cepat Wi Thian-yang menggelengkan kepalanya berulang kali:

"Aku toh bukan manusia sembarangan, buat apa sih mencuri sebuah senjata milik seorang boanpwee?"

"Haaah... haaah... haaah..." Oh Put Kui tertawa tergelak, "aku justru beranggapan bahwa sembilan puluh persen peristiwa pencurian itu merupakan hasil perbuatanmu."

"Lote!" tegur Wi Thian-yang dengan kening berkerut, atas dasar apa kau berani mengatakan begitu?"

"Aku pernah bersua dengan Kakek penggetar langit Siau Hian ketika berada di kota Kang-ciu!"

Kali ini  Wi Thian  yang  kelihatan  benar-benar sangat terkejut.

"Siau Hian? Apa yang telah diocehkan tua bangka tersebut kepadamu. "

Dia masih juga tidak mengakui bahkan sikapnya seolah- olah berlagak pilon.

Oh Put Kui tertawa dingin:

"Siau tua memberitahukan kepadaku bahwa kau pernah memberi kabar kepadanya kalau senjata Mu-ni-pian  telah terjatuh di tangan tiga pendeta dari Tibet "

"Sialan........." umpat Wi Thian-yang tanpa terasa,  "Siau Hian betul-betul seorang manusia bedebah yang tolol. "

"Wi tua, ternyata persoalaln tersebut sama sekali tak  pernah kau duga bukan?" ejek Oh Put Kui sambil melototkan matanya. "Hal inipun belum dapat membuktikan kalau akulah yang telah mencuri ruyung tersebut." kata Wi Thian-yang dengan gusar, "kau harus tahu Hian-long lhama dari Tibet sendiripun tidak tahu ruyung tersebut sudah terjatuh ke tangan siapa?"

"Betul, Lhama dari Tibet itu hanya pantas dicurigai saja." "Lote, mengapa kau tidak pergi mencari mereka?" jengek

Wi Thian-yang sambil tertawa seram.

"Aku percaya Put-khong siansu, seorang dari tiga pelindung hukum aliran Tibet tidak akan membohongi diriku, karenanya akupun membebaskan mereka bertiga..."

Dalam pada itu sorot mata yang memancar keluar dari balik mata Wi Thian-yang berkilat tak menentu.

Ia sudah dapat mendengar arti lain dari perkataan Oh Put Kui tersebut, seakan-akan ketiga pendeta dari Tibet itu telah membeberkan segala sesuatunya, namun dia tak ingin mengakui sesuatau persoalan pun sebelum posisinya betul- betul terdesak dan menjumpai jalan buntu.

Karena itu sambil tertawa seram kembali katanya: "Lote, tampaknya kau seperti menuduh aku!"

"Itu mah hanya saudara sendiri yang mengerti, apakah tuduhan tersebut betul atau salah" sambung Oh Put Kui tertawa.

"Lote, aku perlu menjelaskan kepadamu, bukan saja  aku tak pernah mencuri ruyung Mu-ni-pian tersebut, sekalipun aku pernah mencuri benda itu, atas dasar apa pula lote mencari gara gara dan permusuhan denganku."

Oh Put Kui tertawa tergelak:

"Haaaaaahhhh......... haaaaahhhhh........

hhaaaaaahhhhh........ aku mah tiada maksud untuk meminta kembali ruyung tersebut darimu. "

"Lantas buat apa lote mencampuri urusan ini?" tanya Wi Thian-yang tertegun. "Aku cuma ingin tahu, sesungguhnya siapa yang  telah mencuri ruyung mestika itu?"

Berkilat sepasang mata Wi Thian-yang sehabis mendengar perkataan itu, ia tertawa tergelak:

"Lote, apakah sekarang kau sudah tahu?" "Betul, aku memang sudah tahu!"

Mendadak Wi Thian-yang mendehem berulang kali, lalu katanya:

"Lote, persoalan apa lagi yang  hendak kau  utarakan?" "Ada, yaitu aku pingin tahu benarkah Nyoo Ban-bu adalah

muridmu...?"

"Bukan!" sahut Wi Thian-yang sambil menggeleng. "Sudah lamakah kalian berkenalan?"

"Tidak lama!"

"Saudara, jawabmu keterlaluan, janganlah berbohong untuk mempermainkan orang."

"Lote, belum lama aku terlepas dari sekapan, tahukah kau akan hal ini?" Wi Thian-yang balik bertanya sambil tertawa.

"Aku tentu saja tahu, tapi hal inipun bukan berarti kau sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk berkenalan dengan Nyoo Ban-bu, lagi pula mesti saudara agak lambat keluar gunung, namun melepaskan diri dari kurungan justru sudah sangat lama."

Padahal apa yang diucapkan hanya merupakan semacam rabaan atau dugaan belaka.

Dugaan tersebut berdasarkan bahwa Nyoo Ban-bu dan Wi Thian-yang bersama-sama mengetahui kalau ruyung Mu-ni- pian sudah berada didalam kiriman kayu dari pihak Pau kau namun kenyataannya mereka tak berani mengambilnya dan malahan memberitahukan soal ini kepada orang lain. Dari sini dapatlah diketahui bahwa dibalik peristiwa itu jelas tersembunyi semacam  tipu muslihat yang amat jahat dan

tipu   muslihat itu   pastilah   hasil   perbuatan dari mereka berdua.......

Sementara itu Wi Thian-yang telah tertawa lebar:

"Lote, kau benar-benar amat pintar berbicara  ngaco  belo tak karuan. "

"Jadi kau beranggapan aku sedang  mengaco  belo?"  Oh Put Kui balik bertanya sambil tertawa.

"Apa yang lote katakan, hampir semuanya berupa dugaan yang sama sekali tanpa dasar."

Tiba-tiba berkilat sepasang mata Oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu, setelah tertawa hambar katanya:

"Tahukah saudara bahwa Nyoo Ban-bu pun juga tahu kalau Mu-ni-pian sudah terjatuh ketangan Pay-kau? Lagipula dia memberitahukan persoalan ini kepada si toya emas tangan sakti Sik Keng-seng. "

"Lote, apa salahnya dengan peristiwa ini? soal  Nyoo Ban- bu pun mengetahui persoalan ini, apa pula sangkut pautnya denganku? Apalagi kalau toh orang she Nyoo itupun tahu, bukankah hal  ini  berarti lebih banyak orang yang pantas dicurigai?"

"Hhaaaaahh........ haaahhhh......... haaahhhh. memang

begitulah Nyoo Ban-bu memang sangat mencurigakan. "

Lalu setelah berhenti sejenak, tiba-tiba katanya lagi sambil tertawa dingin:

"Seandainya kau tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Nyoo Ban-bu,  mengapa pula kau belum pernah menyinggung soal dendam lamamu dimana hampir saja kau mampus ditangan ayahmu tempo hari?"

Pertanyaan semacam ini betul-betul  merupakan suatu pertanyaan yang hebat dan sangat memojokkan posisi orang. Akan tetapi Wi Thian-yang sama sekali tidak ambil perduli, malahan katanya pula sambil tertawa:

"Lote, kau sudah menganggap aku ini sebagai manusia apa? Memangnya aku adalah seorang pembunuh yang sudi turun tangan terhadap seorang boanpwee?"

Jawaban yang diberikan pun sangat tepat dan mantap. Oh Put Kui segera berseru sambil tertawa dingin:

"Jadi anda tidak mau mengakui kalau kalian sudah lama saling berkenalan?"

"Dalam kenyataan memang begitu, tapi mereka justru bersikeras menambahkan nama kepadaku, apakah lote memang berniat  untuk  melakukan sesuatu  tindakan kepadaku. "

"Haaahhhh...... haaahhhh...... haaahhhh. menurut

pendapat saudara, tindakan apa  yang hendak kulakukan? Malah saudara pernah menuduh Hut Lok sebagai pembunuh Nyoo Thian-wi, tentang hal inipun aku sudah tidak percaya."

"Mau percaya atau tidak, tak perlu kurisaukan, aku cuma ingin mencari Hui Lok dan menuntut  balas  dengan kemampuan sendiri "

"Maksud dan tujuan saudara ini benar-benar membuat hati orang merasa terkejut bercampur keheranan!"  Oh Put Kui tertawa hambar.

"Hhaaaaaahhhhh...... haaaaahhhhh....... haaahh sejak

dulu cara kerjaku memang sukar diraba orang "

Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya:

"Apakah benda itu adalah Mu-ni-pian yang menjadi senjata mestika Wi-in-loni?"

"Yaa betul, memang ruyung tersebut!"

@oodwoo@ 
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).