Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 30

 
Jilid 30

Tapi Lim Yu-kong  telah  bertindak mendahuluinya, dia berseru:

"Saudara Im, biar siaute yang pergi melihatnya..."

Belum selesai berkata, tubuhnya sudah menyerobot keluar dari pintu.

Tak lama kemudian Lim  Yu-kong telah muncul kembali, dibelakang tubuhnya mengikuti seorang nona berbaju kuning. Tiba-tiba saja Oh Put Kui merasakan hatinya berat seperti tenggelam ke air, pikirnya diam-diam:

"Aduh celaka, mengapa dia bisa mencari sampai disini...?"

Tapi disamping itupun timbul suatu perasaan aneh yang tidak dipahami olehnya.

Ia seperti merasa amat senang dan gembira.

Sementara itu Im-tiong-hok telah bangkit berdiri untuk menyambut kedatangan tamunya itu.

Sedangkan si nona berbaju kuning itu sedang berjalan masuk ke dalam kamar baca dengan langkah lebar.

Lim Yu kong segera berkata kepada Im-tiong-hok: "Nona ini datang untuk mencari saudara Oh..."

Oh Put Kui yang sudah bangkit berdiri, segera menyapa: "Nona Nyoo, kau..."

Baru beberapa patah kata dia berkata, ucapannya sudah dipotong oleh suara tertawa dari Hian-leng-giok-li Nyoo Siau- sian.

Sikap nona ini begitu terbuka dan amat luwes, terdengar ia berseru:

"Oh toako, ternyata kau memang berada disini..."  "Darimana nona bisa tahu kalau aku berada disini? Mana

gurumu...?"

"Tentu saja aku dapat mencarimu, tiada urusan di dunia ini yang bisa mengelabui guruku..." kata Nyoo Siau-sian sambil tertawa merdu.

Sambil berkata, matanya melirik ke arah si kakek latah  awet muda.

-oo0dw0oo- Tiba-tiba saja Kakek latah awet muda merasakan hatinya bergetar keras, segera pikirnya:

"Entah apa  maksud budak cilik itu berkata  demikian? Jangan-jangan Hian-hian sudah tahu kalau  waktu itu aku bersembunyi didalam ruangan  perahu? Tapi mengapa  dia tidak mencariku untuk menantang bertarung atau mungkin dia sudah memaafkan aku?"

Berpikir demikian, tanpa terasa lagi Kakek latah awet muda berteriak keras:

"Hey, budak kecil, apa maksud dengan perkataanmu tadi?" "Apakah locianpwe masih belum paham?" tanya Nyoo

Siau-sian  sambil tertawa.

"Heeehh... heeehh... heeehhh... apa yang  kupahami?"  Kakek latah tertawa pula.

"Guruku kenal dengan kau orang tua."

"Tentu saja, apalagi yang dikatakan gurumu?"

"Persoalan apapun pasti suhu bicarakan denganku, kalau tidak, bagaimana mungkin aku tahu kalau kalian pasti berada didalam gedung Tiong-gi-hu ini?"

"Budak cilik, apa yang suhumu bicarakan tentang aku?"

Sambil tertawa Nyoo Siau-sian menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya:

"Aku tak bisa membicarakannya denganmu suhu bilang bila aku mengatakannya maka selanjutnya  dia tak bisa hidup dengan tenang, locianpwe, sebetulnya mengapa bisa begitu? Dapatkah kau memberitahukan kepadaku?"

Ketika mendengar perkataan tersebut, tiba tiba saja Kakek latah awet muda termenung dan tidak berbicara lagi.

Dalam keadaan demikian, Im Tiong hok, pengemis sinting, Oh Put Kui tak berani menimbrung ataupun mengusik ketenangannya. Kurang lebih seperminum teh kemudian, Kakek latah awet muda baru melompat bangun dan berteriak keras:

"Hian-hian, akhirnya kau mengerti, Hian-hian, akhirnya kau mengerti..."

Ternyata kakek itu berteriak, tertawa dan melompat-lompat seperti orang gila saja.

Tentu saja diantara sekian orang yang hadir, Nyoo  Siau- sian yang merasa paling terkejut.

Pada hakekatnya dia tak pernah menyangka kalau kakek tersebut akan melompat dan berteriak seperti anak kecil saja.

Sedangkan diantara sekian orang, hanya Oh Put Kui seorang yang mengerti apa gerangan yang telah terjadi.

Ia tahu, kakek tersebut tentu sedang merasa amat gembira hatinya pada saat itu.

Sebab kesalahan paham antara dia  dengan kekasihnya yang sudah berlangsung selama puluhan tahun, akhirnya berhasil dijernihkan kembali, tak heran kalau dia amat gembira sekali.

Diam-diam pemuda itupun turut merasa gembira untuk kebahagiaan kakek tersebut.

Sedangkan Im Tiong-hok, sekalipun dia tidak paham sebab musababnya, namun ia pun tak ingin  kehilangan keramahannya sebagai seorang tuan  rumah,  dengan  cepat dia mempersilahkan Hian-leng-giok-li Nyoo Siau sian untuk mengambil tempat duduk.

Sekarang Oh Put Kui baru teringat kalau ia belum memperkenalkan mereka berdua, maka segera ujarnya:

"Saudara Im, Nona Nyoo Siau-sian ini adalah putri kesayangan dari Kakek suci."

Sebetulnya Im Tiong-hok sudah dapat menduga berapa bagian, mendengar ucapan tersebut dia segera menjura seraya berkata: "Nama besar nona sebagai Hian-leng-giok-li sudah lama kukagumi..."

"Akupun sudah lama mengagumi nama Im-tayhiap yang memimpin para jago liok-lim diwilayah Kanglam!" sambung Nyoo Siau-sian sambil tertawa merdu.

Oh Put Kui yang mendengar ucapan tersebut sekali lagi dibuat tertegun, dia  tak mengira kalau nona itu sudah mengetahui siapa gerangan Im tiong-hok tersebut.

"Apakah nona Nyoo kenal dengan saudara Im?" tanyanya kemudian.

"Aku tidak kenal," Nyoo Siau-sian menggeleng, "suhu yang memberitahukan soal itu kepadaku!"

"Mana sinni cianpwee? Apakah dia sudah datang ke Lam- cong?" tanya Oh Put Kui penuh pengertian.

"Tidak, dia orang tua menyuruh aku mencari Oh toako seorang diri..."

"Oya?" Oh Put Kui merasa agak terkejut  bercampur keheranan, "ada urusan apa nona Nyoo mencari diriku?"

Nyoo Siau-sian mengerutkan dahinya, tiba-tiba dia menegur:

"Toako, mengapa sih kau selalu memanggil nona Nyoo kepadaku?"

"Lantas aku harus memanggil apa kepadamu?" Oh Put Kui balik bertanya dengan wajah tertegun.

"Usiaku lebih muda daripadamu, perguruan  kitapun ada hubungannya, coba pikirkan sendiri kau mesti memanggil apa kepadaku? Bukankah kau pernah menggunakannya ketika berada di kuil Pan-im-si dikota Kang-ciu tempo hari?"

Oh Put Kui segera berpikir:

"Tentu saja aku masih ingat, cuma saja..." Dia sendiripun tidak tahu mengapa dia merasa kurang leluasa untuk menggunakan istilah tersebut dalam panggilan.

Tapi berada dalam keadaan begini, mau tak mau dia harus memenuhi keinginan gadis tersebut, maka katanya kemudian:

"Sumoay, ada urusan apa  kau datang mencariku?" Sekulum senyuman manis segera menghiasi wajah Nyoo

Siau-sian, secerah bunga yang sedang mekar dia berseru: "Tentu saja ada urusan penting!"

"Urusan apa?" tanya Oh Put Kui dengan kening berkerut.

Nyoo Siau-sian memutar biji matanya yang jeli, kemudian menyahut dengan suara rendah:

"Aku minta kau menemani aku pergi ke lembah Yu-kok di bukit Tiong-lam-san!"

"Apa?" hampir saja Oh Put Kui berteriak keras saking kagetnya, "mau apa pergi ke lembah Yu-kok di bukit Tiong- lam-san?"

"Bertarung melawan Yu-kok-ciau-li  Kiau Hui-hui!"  Nyoo Siau-sian tersenyum renyah.

Oh Put Kui jadi serba salah dibuatnya, untuk sesaat dia sampai termenung tanpa berkata-kata.

Hal ini dikarenakan saat tersebut ia sudah berhasil mengetahui sumber tusuk konde  Ngo-im-hua-kut-cian dan ingin secepatnya pergi mencari si pedang latah irama guntur The-tay-hong.

Tapi Nyoo Siau-sian minta kepadanya untuk menemaninya ke lembah Yu-kok di bukit Tiong-lam-san, tak heran kalau dia dibuat serba salah.

Ketika Nyoo siau-sian melihat anak muda itu membungkam sekian lama, dia segera mencibirkan bibirnya yang kecil dan berseru:

"Toako, apakah kau merasa keberatan?" Oh Put Kui segera mengangkat kepalanya  dan memandang nona itu, akhirnya dia mengangguk:

"Aku bersedia..."

Selesai berkata dia menghela napas panjang, karena ia melihat air mata telah jatuh berlinang dari balik kelopak mata Nyoo Siau-sian yang jeli.

Toako, suhu bilang kau pasti akan mengabulkan permintaanku ini..." katanya kemudian.

Jelas dibalik perkataan tersebut, terkandung arti kata yang terlalu banyak.

Oh Put Kui yang mendengar ucapan tersebut, hatinya kontan saja merasa bergetar keras.

Ia sudah merasakan bahwa sebuah rantai bibit cinta telah dikolongkan keatas tengkuknya.

Ia tak dapat menjawab perkataan nona itu.

Untung saja Kakek latah awet muda yang telah duduk kembali telah berkata:

"Anak Sian, suhumu berada dimana sekarang?"

"Suhu bilang hendak menyambangi teman temannya yang berada di empat samudra lima telaga, dia akan hidup santai tanpa ikatan." sahut nona itu tertawa.

Kakek latah segera berkerut kening:

"Benarkah ia berkata demikian?" "Benarkah dia berkata begitu?"

"Yaa benar, suhu memang berkata demikian!"

Dengan wajah tak percaya, Kakek latah awet muda menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya:

"Gurumu tidak suka berbuat begini..." "Lo-kongkong, kau orang tua  benar-benar  mengetahui watak guruku,"  Nyoo Siau-sian segera menutup mulutnya sambil tertawa cekikikan.

"Haaahh... haaahh... haaahh... tentu saja, aku tahu anak Sian sedang membohongi aku..."

"Tidak, aku tidak membohongi kau orang tua, suhu benar- benar berkata begitu!"

Mendadak Kakek latah awet muda tertawa tergelak:

"Aaah betul, suhumu tentu sudah kembali ke Kun-lun barat!"

"Tidak, tidak, kongkong tua, kau orang tua tak boleh ke sana..." cepat-cepat gadis itu mencegah.

Bagaimanapun juga usianya masih terlalu muda, sehingga tanpa disadarinya ia telah membocorkan rahasia sendiri.

Kembali si Kakek latah awet muda tertawa tergelak

"Anak Sian, bagaimana pun juga usiamu masih terlalu muda, mau menipu orangpun belum pantas."

Berbicara sampai disitu dia segera melompat bangun, kemudian katanya:

"Silahkan kalian untuk berkumpul lebih lama, maaf  kalau aku harus memohon diri lebih dulu."

"Mengapa sih kau orang tua hendak pergi  secara  tiba- tiba?" tanya Im Tiong-hok sambil  tertawa,  "apakah dikarenakan pelayanan boanpwe yang kurang memadai?"

Oh Put Kui berkata pula sambil tertawa:

"Ban tua, kita masih harus pergi mencari The Tay-hong..." Mendengar itu, Kakek latah awet muda tertawa tergelak: "Anak  muda,  apa  yang  kau  ucapkan  dimulut  tidak sesuai

dengan dihati,  bukankah kau hendak  pergi  ke  lembah Yu-kok di bukit Tiong-lam-san? Tepat sekali, aku sih tak ingin hadir diantara kalian berdua sehingga menjemukan kamu berdua..."

Lalu sambil berpaling ke arah Im Tiong-hok,  kembali katanya:

"Im lote, jika bertemu dengan bibimu, sampaikan salam dari aku... nah pengemis cilik, kau jangan minum arak melulu, kali ini kau harus pergi bersamaku."

"Pergi bersamamu?" tanya pengemis sinting sambil mendongakkan kepalanya.

"Kenapa? Apakah kau ingin menyusahkan anak  muda Oh?"

Cepat-cepat Pengemis sinting menggeleng:

"Tidak berani, tindakan Oh lote masih lebih ganas daripada kau orang tua."

"Haaah... haaah... haaah... kalau begitu ayohlah berangkat sekarang juga!"

Begitu selesai berkata, dia segera mencengkeram tubuh pengemis sinting seperti burung elang yang menangkap anak ayam, akibatnya pengemis sinting berkaok-kaok keras.

Tapi Kakek latah sama sekali tidak menggubrisnya, malah memperkencang cengkeraman tubuhnya.

Lalu sambil melemparkan pedang Cing-peng-siu-kiam kearah Oh Put Kui, dia segera menggerakkan tubuhnya keluar dari kamar baca dan beranjak pergi dengan cepatnya.

Sambil menerima kembali pedang Cing-peng-siu-kiam tersebut, Oh Put Kui berseru keras:

"Ban tua, dimana kita akan bersua muka?"

Bayangan tubuh Kakek latah awet  muda  bersama pengemis sinting sudah lenyap dari pandangan mata, tapi dari kejauhan sana masih kedengaran orang tua itu berseru sambil tertawa tergelak: "Kita akan bersua lagi di bentengnya Kit Put-shia..."

Oh Put Kui menjadi tertegun, buat apa mereka bertemu di kota kematian dari Kit Put-shia?

Untuk sesaat pemuda itu dibuat kebingungan dan merasa tidak habis mengerti.

Terdengar Im-tiong-hok menegur:

"Saudara Oh, mengapa kau cuma  termenung  saja?" Dengan wajah agak panas karena jengah sahut Oh Put

Kui:

"Siaute sedang keheranan, mengapa Ban  tua  harus memilih benteng kematian dari Kit Put-shia sebagai tempat pertemuan kami?"

Im-tiong-hok segera tertawa:

"Apakah saudara Oh sudah lupa? Bukankah selama ini si pedang latah irama guntur  The Tay-hong berdiam dikota kematian? kalau toh saudara Oh hendak mencari The Tay- hong, apakah kau tak akan berkunjung ke kota kematian tersebut?"

Sesudah mendengar penjelasan dari Im-tiong-hok tersebut, Oh Put Kui baru tertawa geli, serunya kemudian:

"Heran, mengapa secara tiba-tiba siaute berubah menjadi begitu pelupa..."

Im-tiong-hok melirih sekejap kearah Nyoo Siau-sian, lalu katanya sambil tertawa:

"Saudara Oh, persoalan ini  tak ada sangkut  pautnya dengan soal pelupa atau tidak."

Kemudian setelah tertawa tergelak, kembali ujarnya:

"Nona Nyoo adalah tamu agung yang datang dari jauh, nah saudara Oh, lebih baik kita kesampingkan dulu masalah didepan mata, bagaimana kalau kita teguk beberapa cawan arak sebagai perjamuan tanda perpisahan kita?" "Im toako, kau sangat baik," seru Nyoo Siau-sian sambil tersenyum manis.

Oh Put Kui berkata pula sambil tertawa:

"Keramah tamahan saudara Im sungguh membuat siaute merasa berterima kasih sekali..."

-oo0dw0oo-

Im-tiong-hok telah menyiapkan dua ekor kuda jempolan untuk Oh Put Kui dan Nyoo Siau-sian.

Bahkan diapun bersama Lim Yu kong berdua mengantar tamunya sampai sejauh tiga puluh li lebih sebelum berpisah dengan Oh Put Kui berdua.

Oh Put Kui yang cukup mengetahui asal usul dari Im Tiong hok masih tidak merasakan apa-apa, sebaliknya Nyoo  Siau- sian merasa bergembira sekali karena Oh Put Kui mempunyai teman yang begitu akrab.

Menyaksikan wajah berseri yang menghiasi wajah gadis itu, kendatipun dalam hati kecilnya Oh Put Kui merasa amat berat, namun akhirnya ia toh ketularan juga untuk turut gembira.

Dengan mengambil jalan yang terdekat mereka berangkat menuju ke propinsi Soat-say.

Selama hidup baru pertama kali ini Oh Put Kui menempuh perjalanan dengan didampingi seorang gadis, dia merasakan suatu kegembiraan yang  luar biasa disamping pula suatu perasaan murung yang aneh dan tidak dimengerti.

Ia selalu beranggapan bahwa tidak sepantasnya ia berhubungan dengan perempuan manapun didunia ini.

Tapi diapun merasa bahwa senyuman dari Nyoo Siau sian dapat membuat hatinya gembira dan selalu cerah.

Padahal begitu juga keadaannya dengan Nyoo Siau-sian sendiri. Lain halnya dengan si nona ia tidak berusaha keras untuk mengendalikan gejolak  dalam hatinya, apa  yang dipikirkan segera dilakukan olehnya tanpa canggung-canggung.

Seperti misalnya dia amat menaruh perhatian terhadap pemuda itu, maka sebelum tidur setiap malam, dia selalu menunggu sampai Oh Put Kui benar-benar sudah membaringkan diri sebelum bersedia kembali  ke  kamar sendiri.

Sikap lemah lembut dan penuh perhatian dari nona ini, membuat keindahan dan kelebihannya sebagai seorang nona, tertera lebih jelas lagi didepan mata.

Kelebihan-kelebihan tersebut tentu  saja semakin menggetarkan perasaan Oh Put Kui sehingga  tanpa  dia sadari, ia semakin terjerumus ke dalam jaring cinta nona itu.

Pergaulan setiap hari yang begitu akrab, membuat perbedaan dan hubungan yang semula canggung  menjadi  lebih akrab dan intim.

Perasaan cinta yang membarapun tumbuh dengan hebatnya...

sepanjang jalan, Nyoo Siau sian menceritakan pula kisah permusuhannya dengan Yu-kok-cian-li Kiau Hui-hui, hal ini  membuat Oh Put Kui semakin merasa bahwa Nyoo Siau-sian betul-betul seorang nona polos yang lincah dan  amat menawan hati.

Rupanya dia hanya dikarenakan sepatah kata dari kakaknya si pedang kilat naga perkasa Nyoo Ban-bu.

Dan nona itu ternyata bersungguh hati  hendak  mencari Kiau Hui-hui dan memaksanya untuk kawin dengan kakaknya.

Benar-benar suatu peristiwa yang lucu.

Ketika Oh Put Kui selesai mendengarkan penuturan tersebut, hampir saja ia tak sanggup berdiri karena tertawa terpingkal pingkal. -oo0dw0oo-

Hari ketujuh setelah meninggalkan Lam-cong, tibalah mereka di kota Tin-an.

Mulai dari sini, merekapun meneruskan perjalanannya dengan menelusuri jalan gunung.

Kalau menurut kehendak Oh Put Kui, maka pada malam itu juga dia hendak naik gunung.

Tapi Nyoo Siau-sian menolak berbuat demikian.

Atas kejadian ini, Oh Put Kui menjadi kehabisan akal, tentu saja dia tak dapat memaksa gadis itu untuk meneruskan perjalanan dengan menembusi bukit yang terjal dengan badan letih.

Maka merekapun mencari sebuah rumah penginapan untuk melepaskan lelahnya.

Malam itu, tiba-tiba saja Oh Put Kui merasakan  sesuatu yang kurang beres.

Karena dia melihat Nyoo Siau-sian sangat gelisah serta tidak tenang hatinya.

Selain itu, diapun selalu merasa lelah, dan mendesak Oh Put Kui untuk beristirahat secepatnya.

Oh Put Kui yang menyaksikan kesemuanya itu,  segera memendam apa yang diduga ke dalam hatinya.

Selesai bersantap malam, diapun menuruti keinginan gadis itu dengan menutup diri di dalam kamar.

Padahal pemuda itu hanya pura-pura saja berbaring diatas pembaringan.

Dengan mengerahkan  ilmu   Thian-si-too-ting-sian-kang yang dimilikinya, secara diam-diam pemuda  itu  memperhatikan setiap gerak gerik yang terjadi didalam rumah penginapan itu. Kentongan pertama lewat, kentongan kedua pun berlalu, suasana dilalui dalam keadaan yang tenag.

Sementara Oh Put Kui merasa geli akan kecurigaan sendiri yang berlebihan dan bermaksud untuk pergi tidur, saat itulah dari kamar sebelah mulai terdengar sesuatu gerakan.

Tampaknya Nyoo Siau-sian telah bangun dari tidurnya. Oh Put Kui segera berpikir sambil tertawa geli:

"Aaah, rupanya kau pandai sekali menahan di..."

Ia mendengar nona itu berjalan menuju kearah kamar tidurnya. "Tokk... took... toOdwOokk..."

Gadis itu mulai mengetuk pintu kamarnya pelan-pelan.

Oh Put Kui berlagak tidak mendengar, ia tidak memperdulikan suara ketukan tersebut.

"Oh toako, toako... apakah kau sudah tidur?" Nyoo Siau- sian memanggil lirih.

Oh Put Kui tetap membungkam dalam seribu bahasa dan berlagak tidak mendengar.

Nyoo Siau-sian memanggil lagi beberapa kali, agaknya kemudian dia merasa yakin kalau Oh Put Kui benar-benar sudah tidur, diam-diam iapun berjalan menuju kehalaman luar.

Oh Put Kui tak berani bertindak ayal lagi serentak diapun melompat bangun dan membuka jendela.

Dari situ dia saksikan Nyoo Siau-sian sedang berdiri ditengah halaman sambil mendongakkan  kepalanya memandang keangkasa.

Selang beberapa saat kemudian, tiba-tiba ia mendepak- depakkan kakinya berulang kali, agaknya sudah mengambil suatu keputusan dalam hatinya, dengan cepat dia melompat naik keatap rumah dan bergerak menuju kearah timur.

Oh Put Kui tidak berayal lagi, diapun membuka jendela dan turut melompat keluar Kemudian sambil mengempit pedang karatnya, bagaikan segulung asap ringan  dia mengikuti jejak Nyoo Siau-sian dengan menggunakan kecepatan gerak yang susah dibayangkan dengan kata-kata.

Dari kejauhan sana dia jumpai Nyoo Siau-sian sedang bergerak pada jarak dua puluh kaki dihadapannya.

Oh Put Kui tak berani  bergerak terlalu dekat,  sebab sepanjang jalan dia sudah tahu kalau ilmu silat yang dimiliki Hian-leng-giok-li Nyoo Siau-sian memang  hebat  sekali sehingga hampir sejajar dengan kemampuan sendiri.

Setelah melewati lima buah jalan raya, akhirnya gadis itu berhenti di ujung dinding sebuah gedung besar.

Mula-mula Nyoo Siau-sian celingukan  sekejap memperhatikan sekeliling tempat itu, kemudian baru melompat masuk ke dalam bangunan gedung itu.

Tatkala Nyoo S iau-sian celingukan tadi, Oh Put Kui segera menyembunyikan diri di belakang bangunan rumah, barulah setelah Nyoo Siau-sian melompat masuk ke dalam gedung itu, dia menyusul pula dengan sangat cepat.

Ternyata dalam gedung  besar itu terdapat lima buah bangunan samping.

Saat itu dari ruangan kamar pada bangunan ketiga, tampak sinar lampu yang menerangi ruangan.

Dengan berhati-hati sekali Oh Put Kui bergerak mendekati daun jendela ruangan itu.

Ia tak berani  merobek kertas jendela untuk  mengintip kedalam, karenanya hanya berjongkok dibawah  jendela sambil memasang telinga baik-baik...

Sementara itu dari dalam kamar terdengar suara Nyoo Siau sian sedang bertanya:

"Empek hweesio, apakah kau bertemu dengan Kit toasiok?" Oh Put Kui yang menyadap pembicaraan itu segera  berpikir:

"Heran, mengapa ada hwesio yang berdiam dalam gedung seperti ini...?"

Dalam pada itu terdengar suara seseorang yang tua dan parau menyahut:

"Pagi ini  Kit sicu sudah pergi dari sini, anak Sian. kemungkinan besar dia sudah berangkat lebih dulu kelembah Yu-kok dibukit Tiong-lam-san untuk membuatkan persiapan bagimu, agar kau tak sampai terkena serangan gelap  dari  Kian Hui hui tersebut.

"Empek hwesio, bukankah pernah kukatakan  bahwa mereka tak usah ke situ?" omel si nona sambil tertawa.

"Anak Sian, lolap sekalian tak bisa membiarkan kau pergi menyerempet bahaya seorang diri?"

"Tidak!" Nyoo Siau-sian seperti merasa marah, "empek hwesio, kau harus mencarikan akal untuk menyuruh mereka balik kemari semuanya..."

"Hal ini mana boleh?" suara tua itu kedengaran sangat  ragu, "anak Sian kau mesti tahu, kepandaian silat dari Kiau Hui-hui sangat tangguh luar biasa."

"Hmmm, aku sudah tahu!" tiba-tiba Nyoo SIau-sian tertawa dingin tiada hentinya.

Lalu untuk sesaat lamanya Oh Put Kui tidak berhasil mendengar suara apa-apa, agaknya Nyoo Siau sian sedang mengambek dan tak mau berbicara lagi.

Setelah hening beberapa saat, akhirnya dengan perasaan apa boleh buat suara tua itu berkata lagi:

"Anak Sian, kau ini cuma tahu apa?"

"Sudah pasti delapan puluh persen, hal ini merupakan ide jahat dari engkohku." "Belakangan ini kongcu tak pernah berkunjung kemari." Sambil tertawa dingin Nyoo Siau-sian berkata lebih jauh:

"Apakah dia tak bisa menyuruh orang datang kemari? Aku tahu, ilmu silat engkohku tak memadahi aku,  maka  dia sengaja memanasi hatiku agar bertarung melawan Kiau hUi- hui, andaikata aku menang maka Kian Hui-hui pasti akan menuruti sumpah sendiri dengan kawin  dengan engkohku, sebaliknya kalau aku kalah, aku yakin engkohku pasti menyuruh Kit toasiok sekalian agar menculiknya dengan kekerasan, empek hwesio, benar bukan perkataanku ini?"

Oh Put Kui   yang   mendengar perkataan itu segera mengerutkan dahinya rapat-rapat.

Dia tak menyangka kalau Nyoo Ban-bu adalah  seorang telur busuk terbesar dari dunia:

Sementara itu suara tua tadi kembali telah berkata:

"Tidak mungkin, anak Sian, kongcu bujkan seorang manusia rendah seperti ini!"

Nyoo Siau-sian kembali tertawa dingin:

"Empek hwesio aku lebih tahu tentang wataknya daripadamu, dulu aku mungkin tak tahu, tapi kali ini aku dapat memahaminya dengan jelas sekali..."

Diam-diam Oh Put Kui menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang.

Dia merasa penasaran untuk Nyoo Siau-sian.

Sebab dia tahu apa yang diduga gadis itu memang sangat cocok dan masuk akal.

Sementara itu suara yang tua itu telah berkata lagi.

"Anak Sian, bukankah kau datang kemari bersama-sama seorang anak muda?"

"Benar, dia adalah Oh Put Kui!" sahutan nona  ini kedengaran amat lirih. "Ooh, dia adalah pendekar aneh pengembara Oh Put Kui yang baru-baru ini namanya termashur dalam  dunia persilatan?" seru suara tua itu dengan perasaan kaget.

"Yaa betul, memang dia!"

"Anak Sian, tampaknya kau sudah dimabuk asmara, bukankah demikian?"

Tiba-tiba Nyoo Siau-sian tertawa cekikikan dengan suara yang amat rendah.

Sebaliknya Oh Put Kui yang mendengar perkataan  itu segera merasakan mukanya merah dan jantungnya berdebar keras, dia merasa amat tak tenang...

Perasaan saling bertentangan yang selalu  mengkilik  hatinya ini belum juga dapat dihilangkan sama sekali...

Dia selalu beranggapan sebelum dendam kesumat ibunya terbalas, dan sebelum ayahnya meninggalkan pulau neraka, ia tidak pantas melibatkan  diri dalam soal asmara dengan perempuan mana pun...

sementara dia masih termenung dengan perasaan tidak tenang, terdengar suara tua tadi bergema lagi:

"Anak Sian, bagaimanakah watak orang ini?"

"Dia adalah seorang lelaki  sejati, tapi tata kramanya membuat orang bosan."

Suara tua itu segera tertawa.

"Nona, penilaianmu tersebut dapat membuat lolap merasa tak lega sekali..."

"Empek hwesio, apa sih yang membuat kau kuatir?"

"Aku kuatir  kau si budak kecil ditipu orang sehingga menderita kerugian..."

Tiba-tiba Nyoo Siau-sian berseru keras: "Empek hwesio, mana mungkin aku akan tertipu? Oh toako adalah muridnya Tay-gi  supek, masa dia  akan mempermainkan aku? Tak usah kuatirkan soal aku lagi!"

Suara yang tua itu segera tertawa tergelak:

"Haaah... haaah.. haaahh... kalau memang muridnya Tay-gi sangjin, tentu saja lolap tak perlu kuatir lagi. Anak Sian,  dengan ditemani orang seperti itu, lolap setuju untuk mengirim orang dan memanggil pulang Kit Bun-sin sekalian!"

"Nah, begitu baru empek hwesio yang baik..." seru Nyoo Siau-sian sambil tertawa.

"Sekarang pulanglah, hati-hati kalau sampai Oh Put Kui bangun dari tidurnya dan  menjadi gelisah karena tidak menemukan kau!"

"Tak mungkin, Oh toako sudah tertidur nyenyak." Tiba-tiba kakek itu tertawa tergelak:

"Haaahh... haaahh.. haaahh... nona bodoh pulanglah dan coba kau tengok..."

Saat itu Oh Put Kui betul-betul merasa amat terkejut sekali.

Dia mengetahui bahwa hwesio yang berada dalam ruangan itu seakan akan sudah mengetahui  tempat persembunyian sendiri... jika hal ini benar,  berarti ilmu silat yang dimiliki hwesio itu pasti selisih tak seberapa dengan kepandaian yang dimilikinya.

Sementara itu Nyoo Siau sian telah menyahut:

"Baik, aku akan pulang, empek hwesio, kau jangan lupa memanggil Kit toasiok sekalian untuk pulang kemari... kalau tidak, aku bisa marah."

"Pulang saja, lolap pasti akan melaksanakan dengan sebaik-baiknya."

Setelah ada janji dari hwesio itu, Nyoo Siau-sian baru tertawa cekikikan: "Empek hwesio, aku pergi dulu!"

Mendengar itu, cepat-cepat Oh Put Kui membalikkan badan siap berlalu lebih dulu.

Mendadak, disisi telinganya kedengaran seseorang berbisik dengan suara ilmu penyampaian suara.

"Siau-sicu, harap kau jangan pergi dulu, lolap Bong-ho ada persoalan hendak dibicarakan denganmu..."

Mendengar ucapan mana, Oh Put  Kui  segera menghentikan langkahnya dan balik  kembali  ke  bawah jendela.

Saat itu dia benar-benar merasa terkejut sekali.

Sebab nama Bong-ho siansu jauh berada diatas  nama besar Tiga dewa hong-gwa-sam sian.

Ia sama sekali tidak menyangka kalau hwesio yang saleh dan berilmu tinggi ini bisa menjadi tamu terhormat dari istana Sian-hong-hu...

Dalam pada itu Nyoo Siau-sian sudah keluar dari  gedung itu.

Ia tidak menduga kalau Oh Put Kui bakal mengikutinya sampai disitu maka tanpa menengok sekejap pun kesekeliling sana, dia langsung melejit ke udara dan kembali ke rumah penginapan.

Sepeninggal gadis itu, Oh Put Kui baru bangun berdiri seraya ujarnya:

"Boanpwee Oh Put Kui menanti petunjuk dari taysu..." "Silahkan siau-sicu masuk kedalam ruangan!" kata suara

tua itu sambil tertawa.

"Saat ini Nyoo sumoay sudah pulang, bila ia tidak menemukan boanpwee sudah pasti hatinya akan terkejut dan panik, boanpwee kuatir akan terjadi hal-hal diluar dugaan..." "Siau sicu tak usah kuatir, silahkan saja masuk untuk berbincang bincang sejenak."

Setelah mendengar perkataan itu, tentu saja Oh Put Kui tak bisa berkata  apa-apa lagi, terpaksa dia masuk kedalam gedung dan menuju kearah kamar tersebut.

Didalam ruangan yang lebar terdapat sebuah kasur duduk yang besar, diatas kasur duduk itu nampak seorang hwesio kurus kecil yang berjenggot putih.

Oh Put Kui segera menjura sambil katanya: "Boanpwee Oh Put Kui menjumpai taysu"

"Silahkan duduk siau sicu," kata  Bong-ho siansu sambil tertawa.

Setelah mengambil tempat duduk, Oh Put Kui  baru bertanya lagi sambil tertawa:

"Entah ada urusan apakah taysu mengundang kedatanganku?"

"Siau sicu, baik-baikkah Tay-gi  sangjin?" "Suhu berada dalam keadaan sehat wal afiat."

Bong-ho siansu manggut-manggut, lalu  tanyanya  lagi secara tiba-tiba:

"Siau-sicu, kehadiran lolap dalam istana Sian-hong-hu ini apakah membuat siau-sicu merasa terkejut bercampur keheranan?"

Boanpwee memang merasa agak terkejut, dengan nama dan kedudukan taysu dalam dunia persilatan, rasanya tidak seharusnya berbuat demikian."

"Omintohud!" Bong-ho siansu segera  merangkap tangannya sambil tertawa, "kalau bukan aku yang masuk neraka, siapa lagi yang bersedia masuk neraka?"

Mendengar perkataan itu, Oh Put Kui merasa  terkejut sekali, segera serunya: "Apakah taysu sudah mendapatkan suatu informasi yang luar biasa?"

Siau-sicu, lolap sudah hampir dua  puluh tahunan  berdiam di istana Sian-hong-hu ini sedikit banyak aku toh berhasil juga menemukan gejala-gejala yang tidak beres."

"Taysu bersedia mengorbankan  diri demi kepentingan umum pengorbanan ini sungguh mulia dan mengagumkan." seru Oh Put Kui dengan sikap yang amat menghormat.

Bong-ho siansu segera menghela napas panjang:

"Apabila benar-benar bisa berkorban  demi kepentingan umum, lolap pasti akan berusaha tanpa  menyesal, cuma saja..."

Tiba-tiba hwesio itu menghela napas panjang, kemurungan menghiasi wajahnya yang saleh, setelah menggelengkan kepalanya berulang kali dia berkata lagi:

"Siau-sicu, sampai akhirnya mungkin usaha lolap ini hanya sia-sia belaka..."

Mendadak saja Oh Put Kui mengerutkan dahinya rapat rapat.

Dari balik ucapan Bong-ho taysu tersebut dia telah berhasil menemukan banyak sekali titik-titik kelemahan yang mencurigakan.

Dari sini pula dia bisa mengambil kesimpulan bahwa istana Sian-hong-hu memang sebuah sarang naga gua   harimau yang amat mencurigakan sekali...

Akan tetapi bagaimana dengan Kakek suci berhati mulia Nyoo Thian wi? Apakah orang ini...

Berpikir sampai disitu, dengan wajah serius dia  segera berkata:

"Taysu, bagaimana dengan watak si Kakek suci, apakah sesuai dengan apa yang  tersiar selama ini? Boanpwee menyesal dilahirkan  terlalu lambat sehingga tak bisa terjun kedalam dunia persilatan secepatnya serta menyaksikan kegagahan orang ini..."

Pertanyaan yang sangat tepat ini ternyata menghasilkan pula jawaban yang sangat mengejutkan hati.

Tiba-tiba saja mencorong sinar tajam dari balik mata Bong ho siansu sesudah mendengar pertanyaan itu, dia tertawa dingin kemudian katanya:

"Siau-sicu, apakah perkataan orang bisa dipercaya dengan begitu saja...?"

Oh Put Kui jadi amat terkesiap.

"Jadi maksud taysu, Nyoo Thian-wi ada maksud untuk menghilangkan jejaknya?"

"Apakah siau-sicu mengetahui manusia yang bernama raja setan penggetar langit?"

Oh Put Kui mengangguk.

"Boanpwee sudah dua kali berjumpa dengan orang ini." Bong-ho segera tertawa hambar.

"Siau-sicu, ada satu hal bila lolap ucapkan keluar maka siau-sicu pasti akan merasa keheranan."

"Silahkan taysu utarakan keluar."

"Empat puluh tahun berselang, didalam dunia persilatan sama sekali tidak terdapat manusia yang bernama Kakek suci berhati mulia Nyoo Thian wi, jadi kemunculan Nyoo Thian-wi boleh dibilang sangat tiba-tiba dan aneh sekali..."

"Betul," kata Oh Put Kui sambil tertawa, "menurut apa yang boanpwee dengar, Nyoo Thian wi mulanya menjadi termashur dalam suatu pertarungan, dengan kepandaian silatnya yang amat dahsyat dia berhasil membinasakan  raja  setan  penggetar langit di puncak Koan jit-hong bukit Tay san..."

"Jadi siau-sicu percaya akan hal ini?" "Cerita orang persilatan ini diketahui hampir oleh setiap orang, sudah barang tentu boanpwee percaya."

"Tapi mengapa pula raja setan penggetar langit Wi Thian- yang tidak terbunuh hingga sekarang?" tanya Bong-ho siansu lagi lirih.

"Nasib ternyata tidak membiarkan bajingan itu mampus, sudah barang tentu Nyoo Thian-wi tidak pernah menyangka sebelumnya."

"Dalam peristiwa ini tiada sangkut pautnya dengan nasib ataupun takdir," kata BOng ho siansu sambil menggeleng, "siau-sicu, menurut pendapat lolap, hal ini justru merupakan hasil perbuatan dari manusia sendiri."

Oh Put Kui segera mengerutkan dahinya rapat-rapat.

Dia merasa tidak habis mengerti dengan arti kata yang terkandung dibalik ucapan Bong-ho siansu tersebut.

"Hasil perbuatan manusia? Jadi menurut pendapat taysu, Nyoo Thian-wi sengaja melepaskan Wi Thian-yang dalam keadaan hidup?"

Bong-ho siansu segera menghela napas panjang: "Siau-sicu, lolap rasa bukan cuma begitu..."

Oh Put Kui yang mendengar sampai disitu segera menundukkan kepalanya dan termenung sampai lama sekali.

Tiba-tiba ia tertawa tergelak sambil berseru: "Boanpwee mengerti sekarang..."

"Tidak mungkin,  siau-sicu tak akan memahami dengan  begitu saja..." kata  Bong-ho  siansu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Menurut pendapat boanpwe, Nyoo Thian-wi pasti berkomplotan dengan siraja setan penggetar langit Wi Thian- yang, sedangkan cerita tentang dibunuhnya Wi Thian-yang tak lebih hanya cerita isapan jempol untuk membohongi semua orang dikolong langit..."

"Aah, tak nyana kalau siau-sicu memang amat pandai." mencorong sinar tajam dari balik mata Bong-ho siansu sesudah mendengar perkataan itu, "sekalipun belum mengena secara tepat, tapi tidak selisih terlalu jauh!"

Sekali lagi Oh Put Kui dibuat tertegun oleh ucapan mana, padahal dia mengira apa yang diduganya pasti tidak meleset.

Siapa sangka Bong-ho siansu mengatakan  meski tidak persis toh tidak selisih jauh, hal ini menunjukkan bahwa apa yang diduganya tidak betul secara seratus persen.

Maka dengan kening berkerut katanya kemudian:

"Taysu, apakah Wi Thian-yang dengan Nyoo  Thian-wi bukan berasal dari satu komplotan?"

"Buddha mengatakan tiada aku tiada manusia, mengapa siau-sicu tidak mencoba berpikir dengan perdoman perkataan itu?"

Teka teki ini dengan cepat mendatangkan banyak kesulitan dan kemurungan bagi Oh Put Kui.

Semakin dipikir dia  semakin merasa bahwa apa  yang diduganya semula merupakan dugaan paling tepat.

Maka sambil menggelengkan kepalanya  berulang kali ia berkata:

"Boanpwee rasa sudah tiada kemungkinan yang lain lagi." "Siau-sicu," kata Bong-ho siansu sambil tertawa, "tolong

tanya ketika Raja setan penggetar langit muncul dalam dunia persilatan untuk kedua kalinya, apakah Nyoo Thian-wi telah melakukan sesuatu gerakan atau tindakan penanggulangan?"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh.... sebulan sebelum Wi- thian-yang munculkan diri lagi kedalam dunia persilatan, Nyoo tayhiap telah berpulang ke alam baka..." kata  Oh Put  Kui sambil tertawa tergelak. "Betul, tapi mengapa Oh sicu tidak berpikir lebih jauh, pernahkah Nyoo thian-wi dan Wi Thian-yang munculkan diri bersama-sama pada saat yang bersamaan pula?"

"Pernah!"

"Kapan? Apakah siau-sicu menyaksikan dengan  mata kepala sendiri...?" dengan  wajah berubah  Bong-ho  siansu berseru dengan rasa kaget dan tercengang.

Sudah jelas jawaban dari Oh Put Kui ini mendatangkan perasaan kaget dan keheranan yang luar biasa bagi Bong-ho siansu.

"Apa yang perlu disangsikan lagi?" Oh Put Kui tertawa, "Ku Bun-wi sekalian adalah  panglima-panglima  andalan  Raja setan penggetar langit, berita yang mereka siarkan apakah tak boleh dipercaya dengan begitu saja?"

"Apa yang telah disiarkan oleh Ku Bun-wi?"

"Dalam pertarungan di bukit Thay-san, Raja setan telah menemui ajalnya."

Paras muka Bong-ho  siansu berubah menjadi hambar kembali, dia menggelengkan kepalanya sambil tertawa, lalu katanya:

"Siau-sicu, peristiwa itu adalah kejadian lama yang terjadi pada empat puluh tahun berselang."

"Sekalipun merupakan kejadian lama, tapi toh bisa dipakai sebagai bukti bahwa Nyoo Thian-wi dan  Wi   Thian-yang pernah muncul bersama sama."

BOng-ho siansu tertawa, hanya senyuman dari hwesio tersebut tampak begitu murung sedih dan pedih.

-oo0dw0oo- Oh Put Kui merasa terkejut bercampur keheranan, mengapa hwesio tua itu menunjukkan perasaan yang begitu sedih?

Mungkinkah hwesio tua ini  merasa sedih karena Nyoo Thian-wi yang saleh telah mati, sedangkan Wi  Thian-yang  yang jahat justru tidak mati.

Dengan perasaan tak tenang Oh Put Kui segera berbisik: "Taysu, kau orang tua tak usah terlalu risau dan murung,

sekalipun Wi Thian-yang telah muncul kembali didalam dunia persilatan dengan membawa maksud dan tujuan yang jahat, namun boanpwee masih sanggup untuk membinasakan dirinya."

"Siau-sicu, berbicara soal ilmu silat, lolap percaya kau memang sanggup..." kata Bong-ho siansu tertawa.

Kemudian setelah berhenti sejenak,  dengan wajah amat sedih terusnya lebih jauh:

"Tapi ia terlalu licik dan  berbahaya, disamping dapat merubah diri menjadi seribu jenis manusia lain..."

"Sekalipun Wi Thian  yang  mampu berubah seribu kali, boanpwee yakin masih dapat mencarinya sampai ketemu."

"Siau-sicu, dengan cara bagaimana kau bisa mengenali Wi Thian-yang dalam begitu banyak manusia yang hidup didunia ini?" tanya Bong-ho taysu tertegun.

"Walaupun wajah, suara dan perawakan tubuh seseorang dapat berubah-ubah, tapi tahukah taysu bahwa didalam tubuh seseorang manusia, ada semacam benda yang tak mungkin bisa dirubah untuk selamanya?"

Bong-ho siansu termenung beberapa saat, lalu katanya: "Apakah siau-sicu maksudkan sorot mata seseorang tidak

dapat berubah-ubah?"

"Betul!" Namun Bong-ho siansu kembali menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tapi sayang diapun dapat merubah  sorot  matanya menurut kehendak hatinya!"

Oh Put Kui sungguh dibuat berdiri bodoh oleh pernyataan itu, benarkah sorot mata seseorangpun dapat dirubah menurut kehendak hati sendiri? Kalau benar, kejadian ini betul-betul merupakan suatu berita yang luar biasa.

Maka setelah menghela napas rendah katanya:

"Kalau memang begitu  manusia jahanam ini  sungguh menakutkan sekali..."

Kemudian setelah berhenti sejenak, sambil tertawa tergelak katanya lagi:

"Taysu, persoalan tentang Wi Thian-yang lebih baik kita bicarakan lagi dikemudian hari, andaikata boanpwee berjumpa dengannya pasti tak akan melepaskan dengan  begitu  saja, aku justru ingin tahu sebetulnya hubungan  apakah  yang terjalin antara Sian-hong-hu dengan Wi Thian-yang tersebut?"

"Apakah secara tiba-tiba siau sicu telah memahami sesuatu?" tanya Bong-ho siansu dengan kening berkerut.

"Tidak, aku belum berhasil memahami sesuatu," Oh Put Kui menggelengkan kepalanya, "tapi boanpwee  pernah  melihat Nyoo Ban-bu bersikap amat menaruh hormat terhadap Wi Thian-yang!"

"Dengan hubungan sebagai ayah dan anak, apakah dia berani bersikap kurang ajar?" ujar Bong-ho siansu sambil merangkap sepasang tangannya didepan dada.

"Apa yang taysu katakan?" seru Oh Put Kui dengan wajah tertegun. "Lolap bilang Nyoo Ban-bu..."

"Taysu, bukankah Nyoo Ban-bu adalah putra kakek suci?" tukas pemuda itu keheranan.

"Lolap tahu!" "Kalau memang tahu,  mengapa pula taysu mengatakan bahwa sikap hormat Nyoo Ban-bu terhadap raja setan penggetar langit Wi Thian-yang adalah sikap hormat seorang anak terhadap ayahnya?"

"Siau-sicu, coba kau membaca nama Nyoo Thian-wi itu secara terbalik..."

Nyoo (Yang) thian-wi dibaca secara terbalik?

Oh Put Kui berpikir dengan wajah tertegun, tapi begitu selesai membaca nama itu secara terbalik, tiba-tiba saja dia melompat bangun dengan wajah berubah hebat.

"Jadi Nyoo (Yang) Thian-wi adalah  Wi  Thian-yang?" serunya kemudian agak tertahan.

Bong-ho siansu tertawa hambar.

"Lolap sendiripun baru belakangan ini berpikir sampai ke situ."

Tak terlukiskan rasa terkejut Oh Put Kui setelah  mengetahui keadaan tersebut.

Tidak heran kalau Bong-ho siansu selalu menyuruhnya berpikir apakah pernah Wi Thian-yang dan Nyoo (Yang) Thian wi munculkan diri bersama-sama, rupanya mereka adalah sama.

Kalau begitu berita tentang dilukainya Wi Thian yang oleh Nyoo Thian-wi serta berita tentang Nyoo Thian-wi yang dicelakai orang sampai tewas merupakan  isapan jempol belaka.

Akan tetapi Oh Put Kui masih tetap  tidak mengerti, bukankah dahulu si Raja setan penggetar langit Wi  Thian- yang mempunyai empat orang pengawal  pedang, apakah merekapun dikelabui juga oleh majikannya ini?

Kemudian dia teringat pula dengan sikap si Pedang perak berbaju biru Seebun Jin yang bertemu dengan Raja setan penggetar langit Wi Thian-yang diperkampungan Sin-sing- ceng tempo hari, sikap itupun tidak mirip sebagai sikap yang berpura-pura.

Ditinjau dari sini bisa dibayangkan bahwa kelicikan  dan kebuasan Wi Thian-yang benar-benar mengerikan sekali.

Berpikir sampai disitu, tiba-tiba Oh Put Kui bertanya lagi dengan suara lirih:

"Taysu, sebenarnya apa maksud dan tujuan Wi Thian-yang dengan perbuatannya ini?"

Kembali Bong-ho siansu tertawa hambar

"Apa lagi, tentu  saja berniat menguasai seluruh dunia persialtan..."

Oh Put Kui segera menggelengkan  kepalanya  berulang kali:

"Kalau dipikirkan kembali, boanpwee merasa semakin tidak habis mengerti, dengan kedudukannya sebagai Kakek suci berhati mulia Nyoo Thian-wi, boleh dibilang semua perbuatan dan tindakan yang dilakukan olehnya merupakan perbuatan mulia. apakah tindakan semacam ini dapat membantu ambisinya untuk menguasai seluruh dunia persilatan?"

Bong-ho siansu menghela napas panjang:

"Siau-sicu, tahukah kau bahwa daya pengaruh Sian-hong- hu sudah tersebar luas sampai ke utara sampai selatan sungai besar, bahkan telah menyusup pula kedalam tubuh lima partai besar dunia persilatan?"

Sekali lagi Oh Put Kui dibuat tertegun oleh berita itu, dia tak berani mempercayai berita tersebut dengan begitu saja.

"Taysu," katanya kemudian, "aku rasa hal ini tidak mungkin..."

"Justru mungkin sekali! Siau-sicu, kau jangan memandang rendah kemampuan yang dimiliki Wi Thian-yang itu..." Pikiran dan perasaan Oh Put Kui pada saat ini benar-benar sangat kalut dan kacau balau tak karuan, dengan perasaan agak bimbang katanya kemudian:

"Taysu, apakah kesemuanya itu diatur oleh Wi Thian yang ketika dia munculkan diri dengan nama si Kakek suci berhati mulia Nyoo Thian-wi?"

"Benar..." pendeta itu mengangguk.

Kemudian sesudah berhenti sejenak, katanya lebih jauh: "Namun kesemuanya ini bisa berhasil berkat bantuan dari

istri mudanya yang paling disayangi..."

Untuk ketiga kalinya Oh Put Kui dibikin tertegun.

Dia tak menyangka kalau Wi Thian-yang masih mempunyai seorang pembantu yang begitu setia.

@oodwoo@