Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 06

 
Jilid 06

"OMINTOHUD, kebajikan siau-sicu sungguh mengagumkan seandainya lolap sekalian tidak terikat oleh sumpah dan tak bisa meninggalkan pulau ini, sudah pasti kami  sekalian  tak akan duduk sambil berpangku tangan belaka..."

Tergerak hati Oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu, ujarnya kemudian:

"Toa-suhu, sumpah apakah yang telah mengikat kalian sehingga tak dapat meninggalkan pulau ini ?"

Jian-gi siansu memandang sekejap kearah kakek pada urutan kedua itu, kemudian sahutnya:

"Persoalan ini timbul dari Mo kiam sicu, maka bila kau ingin tahu, silahkan bertanya sendiri kepada yang bersangkutan."

Oh Put Kui segera menjura kearah Lei-hun mo-kiam Oh Ceng-thian, kemudian ujarnya:

"Locianpwe, bolehkah boanpwe minta keterangan tentang sebab musabab sehingga terjadinya peristiwa ini ?"

Selintas rasa sedih segera menghiasi wajah Lei-hun-mo- kiam yang ramah, katanya:

"Kecuali kau dapat menemukan putra tunggal lohu yang lenyap tak berbekas itu, kalau tidak lohu  bertujuh  terpaksa akan berada terus di pulau Jit-hu-to ini sampai mati!"

Oh Put Kui sangat terperanjat.

"Aaah kalau begitu sumpah kalian menyatakan  bahwa kalian bertujuh baru dapat meninggalkan pulau ini bila putra cianpwe datang kemari dan menyambut kalian bertujuh ?"

"Benar, begitulah!" Lei hun-mo-kiam Oh Ceng-thian manggut-manggut.

Agaknya Oh Put Kui masih belum-belum mengerti kembali dia bertanya: "Aku tahu bahwa ilmu silat yang dimiliki locianpwe bertujuh telah mencapai tingkat kesempurnaan, siapakah orang dalam dunia persilatan yang dapat memaksa kalian bertujuh untuk membuat sumpah tersebut...?"

Lei-hun-mo-kiam Oh Ceng-thian segera menghela  napas panjang,

"Aaaai delapan belas tahun berselang. Ilmu silat yang kami miliki belum mencapai taraf seperti hari ini, apalagi orang yang memaksa kami untuk melakukan sumpah tersebut juga tidak bermaksud jahat."

"Tidak bermaksud jahat? Mengurung orang dalam pulau terpencil, apakah siksaan ini lebih berat daripada dibunuh?"

Mendadak pengemis pikun berteriak keras?

"Hei, kalian tujuh makhluk benar-benar  anehnya bukan kepalang, sampai bikin orang tidak habis mengerti..."

Belum habis dia berkata, Ciat-cing kongcu Leng-to telah membentak dengan suara dingin:

"Pengemis Lok di sini tiada tempat bagimu untuk berbicara,.,."

"Ooh, tidak berani," pengemis pikun segera menjulurkan lidahnya dan tertawa. "aku sipengemis cuma merasa tidak puas untuk ketidak adilan  yang telah menimpa kalian, mengapa sih kau berlagak begitu galak."

Oh PutKui kuatir pengemis pikun banyak berbicara sehingga menimbulkan keonaran yang tak diinginkan buru- buru katanya sambil tertawa:

"Kakek Oh, bolehkah boanpwe turut mengetahui tentang jalannya peristiwa tersebut?"

Lei-hun-mo kiam Oh Ceng-thian manggut-manggut, sahutnya dengan suara lirih: "Kalau dibicarakan dari sumbernya, maka peristiwa ini sesungguhnya terjadi karena lohu bertujuh sudah membunuh orang kelewat banyak..."

Mendengar sampai disitu, Oh Put Kui segera berpikir. "Orang ini tersohor sebagai sipedang iblis, memang

sepantasnya menjadi seorang gembong iblis yang membunuh orang tanpa berkedip, tapi anehnya, Mengapa dia berbicara dengan suara yang begitu ramah dan lemah lembut...?"

Sementara dia masih termenung, si Latah  berpedang kutung Liong Siau thian telah berseru sambil tertawa dingin:

"Oh Jiko, walaupun kami banyak melakukan pembunuhan, namun belum pernah membunuh orang baik!"

Jelaslah sudah, Bu-lim-jit-seng (tujuh malaikat dari dunia persilatan) memang merupakan jago-jago silat yang kelewat banyak membunuh orang."

"Liong-ngo," kata Oh Ceng-thian sambil menghela napas panjang, "bagaimana pun juga. Thian menghendaki umatnya untuk melakukan kebajikan, bagaimanapun juga, kita toh tak bisa hanya mengandalkan membunuh orang untuk menolong dunia persilatan bukan..."

Setelah berhenti sebentar, katanya lagi ke pada  Oh  Put Kui:

"Nak, justru karena kami terlalu banyak membunuh orang, maka akibatnya kejadian ini menimbulkan rasa  tak  senang dari beberapa orang tokoh persilatan yang sudah lama mengasingkan diri, dan mereka pun munculkan diri untuk mengatasi kejadian tersebut..."

"Entah siapa saja tokoh-tokoh silat yang munculkan diri waktu itu?" tanya Oh Put Kui sambil tertawa.

Diluaran dia berkata begitu, sementara daIam hati kecilnya berpikir lain: "Moga-moga saja guruku jangan  sampai  tersangkut didalam peristiwa ini, kalau tidak, sekalipun aku berniat membantu mereka, mungkin hal inipun tak  bisa kulaksanakan." sementara itu Lei-hun-mo-kiam Oh Ceng-thian telah berkata sambil tertawa hambar:

"Nak, kau pernah mendengar nama Thian-tok-siang sat "sepasang manusia sakti dari ujung langit"?"

"Boanpwe pernah mendengar nama itu, apakah  kau maksudkan Cing-siu-huan-im-siu "kakek tanpa bayangan", Sawan To dan Pek-ih-bu-yu-khek "tama tanpa murung", It-bun Hua?"

"Benar, memang kedua orang tua itu yang dimaksudkan." Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa dia berkata lagi: "Apakah kau juga tahu tentang Hong-gwa-sam-sian "tiga

dewa dari luar langit"?"

"Apakah Hong-gwa-sam sian juga telah terjun kembali kedalam dunia persilatan?" Oh Put Kui terkejut.

"Han-saa-ya-ceng (pendeta liar dari bukti Han-san), Poan- kay hwesio, Soat nia tou-to (tosu bungkuk dari tebing  soat- nia), Thian- hian cinjin serta Giok-hong-sinni ( rahib suci dari puncak giok hong ) It-im taysu bertiga  menerima  undangan dari Thian-tok-ij siang-ciat untuk membantu pihaknya, maka pada suatu malam pada delapan belas tahun  berselang, mereka telah mengundang lohus bertujuh untuk mengadakan pertemuan di puncak Thian-tay-hong. "

"Locianpwe, pertarungan yang berlangsung waktu itu sudah pasti amat seru," kata 0h Put Kni sambil tertawa, "bayangkan saja Bu-lim-jit-seng sebagai bintang pembunuh  dari dunia persilatan berjumpa dengan Thian tok siang ciat dan Hong gwa-sam-sian, sudah pasti pertarungan  yang berlangsung meriah sekali. "

Oh Ceng-thian menghela napas panjang. "Aaaai.,... nak, pertarungan yang berlangsuug waktu itu memang merupakan suatu pertarungan  yang  amat seru, sayang nama

baik Bu lim-jit-seng yang telah dipupuk selama  banyak tanua akhirnya- harus porak poranda tak karuan lagi bentuknya."

Mendadak Tiang-pek-cui-siu Tu Ji-khong tertawa nyaring. "Walaupun lohu dikalahkan oleh si hidung kerbau

berpunggung bungkuk dengan ilmuKan lei-hian-kang nya, tapi seluruh jubah pendeta si Hidung kerbaupun turut  berlubang oleh semburan arakku." serunya.

Suaranya nyaring, wajahnya gagah, sungguh lah menunjukkan penampilan semangat yang luar biasa.

"Hei setan arak, kita tak lebih cuma prajurit yang kalah perangi apa gunanya mesti berbicara besar?" tegur Mi-sim kui-to tiba tiba sambil tertawa.

Tiang-pek-cui-siu melotot sekejap kearah Mi-sim-kui-to, kemudian sambil tertawa ia memejamkan kembali matanya.

Lei-hun-mo kiam  Oh Ceng-thian segera tertawa getir, katanya lebih jauh:

"Nah, setelah lohu bertujuh menderita kekalahan  total dalam pertempuran tersebut, terpaksa kami harus  menepati janji dengan hidup mengasingkan diri di pulau terpencil ini, hingga sekarang kami sudah delapan belas tahun berdiam disini !"

"Locianpwe. selama delapan belas tahun, siapakah yang mengirimkan makanan untuk  kalian?"  tanya Oh Put Kui dengan kening berkerut.

Oh Ceng-thian kembali tertawa, "Soal itu mah soal  tugas dari Thian-tok-siang ciat serta Hong-gwa sam-sian ! Setiap tahun mereka secara bergilir mendapat tugas untuk mengurusi rangsum buat kami, selama mendapat tugas mereka tinggal dalam kuil Kok-cing-si di kota Thian tay dengan setiap bulan mengirim rangsum kemari, setengahnya mereka datang untuk mengawasi gerak-gerik lohu sekalian."

"Sungguh amat sempurna jalan pemikiran kelima orang tua itu," Oh Put Kui tertawa, "entah siapakah yang  mendapat tugas giliran untuk tahun ini ? Salah seorang diantara Thian tok-siang ciat ataukah salah seorang diantara Hong-gwa-sam- sian?"

"Yang mendapat giliran pada tahun iniadalah Han-san-ya- seng, si pendeta liar Poan kay hwesio!"

Oh Put Kui manggut-manggut katanya sambil tertawa: "Kakek  0h.  bagaimana  kalau  boanpwe  berkunjung  ke kuil

Kok-cing-si, siapa tahu bisa membantu cianpwe bertujuh untuk

meloloskan diri dari pulau ini?"

Belum sempat Oh Ceng-thian menjawab, Leng To telah menukas sambil berteriak:

"Tidak usah, bocah muda, kau tak usah membuat kami jit- seng mendapat malu, kami tak nanti akan memohon kepada mereka..."

Mendengar perkataan itu,  Oh Put Kui  cuma  tertawa hambar, pikirnya:

"Kau memang pantas disebut sebagai Ciat cing kongcu, hebat benar..."

Tapi diluarnya dia berkata:

"Leng tua, aku bukan memohon kepada mereka, melainkan ingin membantu kalian untuk mencari keterangan, siapa tahu kalau dia tahu putra Oh locianpwe telah mengembara sampai disana."

Leng To memandang sekejap kearah Oh Put kui, kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun,dia segera memejamkan mata untuk beristirahat.

Dengan membungkamnya kakek itu, berarti dia  telah menyatakan persetujuannya, Oh Put Kui kembali tertawa, namun bukan kepada Leng To, melainkan terhadap Oh Ceng- thian.

"Locianpwe, dapatkah kau orang tua memberi keterangan lagi kepada boanpwe sekitar persoalan putramu itu?"

"Anak baik, kebaikanmu itu sungguh membuat lohu merasa amat terharu. " kata Oh Ceng-thian sambil tertawa sedih.

"Sudah sewajarnya  bila  yang   mnda   membantu   yang tua. "

Padahal dihari-hari biasa, sikapnya tak bakal seramah dan sehangat ini.

Bahkan dia sendiripun secara diam-diam merasa heran, mengapa sikapnya terhadap Lei-hun-mo kiam Oh Ceng thian bisa begitu menghormat begitu ramah dan hangat.

Mungkinkah hal ini disebabkan mereka berasal dari satu marga yang sama. "

Terlintas sinar terang diatas wajah Oh Ceng-thian, katanya:

"Anak baik, bila anakku bisa seperti kau, lohu akan merasa puas sekali...sayang, ketika bocah itu baru dilahirkan  tiga bulan, ia sudah tertimpa musibah. "

Cahaya terang yang membasahi wajahnya dengan cepat hilang lenyap tak berbekas.

Bayangan hitam yang  penuh diliputi kesedihan dengan cepat menyelimuti wajah kakek itu.

Oh Put Kui turut merasakan kesedihan katanya dengan suara dalam:

"Kau... jangan kuatir, sudah pasti putramu akan jauh lebih hebat daripada boanpwe... orang bilasg kalau  bapaknya harimau, anak nya tentu harimau pula, harap kau orang tua jangan kelewat bersedih hati. "

Oh Ceng thiau tertawa hambar dan segera manggut- manggut. "Semoga saja demikian. nak, dalam perjalananmu kembali

ke daratan Tionggoan kali ini, tak ada salahnya kalau kau selidiki tiga tempat, mungkin ditempat itu  kau  akan memperoleh keterangan yang bisa membantumu untuk menemukan putraku!"

"Silahkan kau katakan!"

"Tempat pertama yang harus kau kunjungi adalah perkampungan Tang-mo-sanceng.."

"Perkampungan Tang mo.san-ceng?" Oh Put Kui agak tertegun lalu berseru tertahan.

"Benar, kau boIeh mencari keterangan dari istri Hoa cengcu yang bernama Yau-ti sian-li (dewi cantik dari nirwana) Lan Tin- go, mungkin dia dapat memberikan sedikit keterangan kepadamu. sebab dia adalah iparku!"

"Boanpwe pasti kesana!"

"Tempat kedua yang biasa kau kunjungi adalah perkampunganku Ang yap.san.ceng di  bukit  Gan-tang-san, kau boleh mencari Pamannya Ang-yap cengcu Lo seng-sin- kiam "pedang sakti bintang berguguran" Liu Ceng-wan yang bernama Liu Sam Kong, mungkin dia bisa juga memberikan keterangan yang diperIukan." Oh Put Kwi tertawa.

"Tempat ketiga adalah puncak Lian hoa-hong di bukit Kiu hoa san!" ujar Oh ceng-thian lebih lanjut,  "bila  dua  tempat yang pertama kau tidak berhasil memperoleh keterangan apa- apa, maka kalau boleh ke sana untuk menemui Pat-lo-huang Siu "kakek latah yang awet muda" Ban Sik thong.

Pertolongan darinya, orang tua itu mempunyai kemampuan yang Iuar biasa dapat memberikan segala keterangan yang diperlukan kepadamu. "

Oh Put Kui amat terkesiap sesudah mendengar perkataan itu.

Kalau ucapan semacam inipun bisa diutarakan oleh Bu iim jit-seng, dapat diketahui kalau manusia yang bernama Put-lo- huang-siu Ban Sik thong  ini sudah pasti adalah seorang manusia yang luar biasa.

Sekalipun dalam hati kecilnya  merasa terkejut,  namun senyuman masih tetap menghiasi ujung bibirnya.

Oh Ceng-thian termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya kembali:

"Ban Sik-thong berwatak sangat aneh, nak, bila kau pergi mencarinya nanti harap bertindaklah dengan hati-hati, kalau, tidak lohu bisa menyesal sepanjang masa..."

Mendadak Oh Put-kui dapat menangkap maksud dari ucapan si Mo-kiam tersebut.

Tampaknya manusia yang bernama Ban  Sik-thong   itu sukar untuk dilayani, bahkan bila dia kesana sendiri, bilamana tidak dihadapi secara berhati-hati, kemungkinan besar akan menjumpai suatu mara bahaya....

Diam-diam ia tertawa geli sendiri, karena ia mempunyai suatu rasa keyakinan, suatu rasa percaya pada diri  sendiri  yang amat besar, entah kesulitan macam apapun, baginya tak ada yang sulit, karena  tiada kata sukar dalam kamus  hidupnya.

Maka dari itu katanya sambil tertawa.

"Kau tak usah kuatir, boanpwe tak bakal akan mengalami sesuatu kejadian yang tidak menguntungkan diriku."

Dengan wajah murung, Oh Ceng-thian tertawa.

"Nak." katanya, "Manusia dalam dunia persilatan amat licik dan berakal busuk, kau  harus  berhati-hati  menghadapi mereka "

Oh Put-kui tertawa dengan perasaan terharu, katanya: "Locianpwe tak usah kuatir, boanpwe sudah banyak tahun

berkelana dalam dunia persilatan, pelbagai peristiwa sudah pernah kualami dalam dunia ini, Oleh karena itu boanpwe cukup mengetahui akan kekuatanku sendiri." Mendengar sampai disitu, tertawalah kakek itu, karena asal usul dari bocah ini terasa begitu dekat dan  akrab dengan dirinya.

Tiba-tiba It-ci Kitau Ku Put-beng tertawa panjang pula, serunya tertahan:

"Nak, kau merupakan tamu istimewa yang pernah berkunjung ke pulau Ji -hu-to ini selama delapan belas tahun terakhir, untuk kali ini lohu mengijinkan dirimu untuk berpesiar keseluruh pulau ini, bahkan lohu pun ingin menghadiahkan sedikit hadiah untukmu."

Baru saja Ku Put-beng menyelesaikan perkataannya, Oh Ceng-thian telah berkata pula sambil tertawa:

"Nak, lohu juga mempunyai  sedikit  kepandaian  yang hehdak kuhadiahkan kepadamu cuma terpaksa kau mesti tinggal selama beberapa hari disini, entah kau bersedia atau tidak ??"

Tiba-tiba saja Oh Put Kui merasakan  hatinya bergolak keras, penuh diliputi oleh luapan rasa haru.

Dia merasa sikap ketujuh orang kakek ini  kepadanya benar-benar kelewat baik.

Bagaimana mungkin dia dapat menampik permintaan mereka ?

Oleh karena itu diapun tinggal disana, bahkan sekali berdiam pemuda itu telah  berdiam selama lima belas hari lamanya disana.

Selama lima belas hari ini, dia semakin memahami jalan pikiran maupun perasaan dari ketujuh orang kakek itu.

Bahkan si pengemis pikun dan si nelayan sakti dari lautan timur pun berhasil meraih keuntungan pula selama itu.

Dari Jian-gi siansu dan Tiang-pek-cui siu, kedua orang itu berhasil mempelajari banyak macam kepandaian Bagaimana dengan Oh Put Kui ? Diapun berhasil mendapatkan tujuh  macam kepandaian silat.

Itulah kepandaian maha sakti dari Bu-lim jit-seng "tujuh malaikat dari dunia persilatan", bahkan setiap orang tanpa ragu-ragu telah mewariskan segenap kepandaian sakti yang mereka miliki kepada pemuda yang berkunjung ke  pulau neraka tanpa diundang itu... 

Bayangkan saja, bagaimana mungkin pemuda itu tidak terharu menerima kebaikan yang begini besarnya.

Oleh karena itu dia hendak menolong mereka bertujuh  untuk melepaskan diri dari kurungan pulau terpencil itu.

Disamping itu diapun ingin menemukan putra kakek Oh secepatnya agar ayah dan anak bisa berjumpa kembali.

Tentu saja, dia tak bakal tahu kalau segala sesuatunya justru tergantung pada dirinya sendiri.

Bagaimana dengan Oh Ceng-thian?  tentu saja dia  juga tidak tahu.

Ia tak tahu kalau Oh Put-kui sesungguhnya adalah putra tunggalnya yang telah hilang selama dua puluh tahun ini.

Ya, peristiwa ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang mengenaskan, bayangkan saja ayah dan  anak telah berjumpa muka, namun ternyata mereka tidak saling  mengenal antara yang satu dan lainnya...

-oOdwOo0dw0oOdwOo-

Setelak menyelusuri tebing  Huang-ji gay, setelah duduk sampai senja di gardu Huang-ji-teng, perasaan Oh Put Kui bertambah berat, bagaikan diberi beban yang beribu ribu ton beratnya.

Dia amat simpatik kepada ke tujuh orang kakek itu.

Tapi dia pun merasa sedih bagi asal-usul sendiri yang masih merupakan suatu tanda tanya besar. Yaa, siapakah yang menjadi orang tuaku? Apakah aku mempunyai kakak dan adik?

Ia tahu, pertanyaan tersebut masih merupakan suatu tanda tanya besar baginya.

Maka diam-diam diapun  mengampil suatu keputusan didalam hatinya, setelah kembali ke daratan Tionggoan nanti, pekerjaan pertama yang akan dilakukan olehnya adalah pergi ke kuil Kok-cing-si untuk mencari Han san-ya-ceng Poan-kay hwesio, salah seorang Hong-gwa-sam-sian untuk membicarakan persoalan tentang ke tujuh malaikat tersebut.

Persoalan kedua adalah pergi ke  tebing Cing-peng gay untuk mencari gurunya dan mencari tahu tentang asal-usul sendiri.

Persoalan ke tiga adalah menemukan putra kesayangan  dari Mo kiam lojin tersebut.

Kemudian ia menyelidiki siapakah pembunuh dari ke empat peristiwa berdarah tersebut...

-oOdwOo0dw0oOdwOo-

Selamat berpisah, ke tujuh orang kakek patut di kasihani.

Berada diatas perahu dalam perjalanan pulang, Oh Put Kui tidak mengucapkan sepatah katapun, sedangkan pengemis pikun dan nelayan sakti dari lautan timur justru bergurau tiada hentinya.

Kali ini dia dapat mengibul sambil menambah kecap disana sini, Yaa, bagaimanapun juga ia sudah pernah berkunjung ke Pulau Neraka, pulau yang lebih dikenal sebagai pulau  yang bisa pergi tak bisa kembali.

Bagaimana juga, hal ini sudah cukup untuk meningkatkan kedudukan serta derajatnya dimata umat persilatan lainnya.

Bagaimana tidak? ia dapat membuktikan kepada orang lain kalau ia berani berkunjung ke Pulau neraka yang dianggap sebagai momok oleh orang lain. Beranikah mereka ke sana?

Tentu saja! Paling tidak, orang yang berani menganggap nyawa sendiri sebagai barang permainan tak  banyak jumlahnya.

Ketika perahu  sudah merapat kembali di dermaga, si Nelayan sakti dari lautan timur Ciu Poo-tiong segera mengembalikan ke dua lembar uang ribuan emas itu.

Tentu saja Oh Put Kui tak akan menerimanya kembali, sedang si pengemis pikun Lok Jin-ki pun tak mau menerimanya, ia malah berkata begini:

"Pulau neraka yang disebut orang sebagai pulau yang bisa pergi tak bisa kembali pun sudah ku kunjungi, siapa yang kesudian dengan beberapa tahil perak itu? Cin-loji, lebih baik gunakanlah uang itu untuk membeli sebuah perahu yang lebih besar, siapa tahu perahu itu akan kita pakai untuk menjemput Bu-lim jit-seng untuk pulang ke daratan Tionggoan dikemudian hari...?"

Oh Put Kui segera tertawa tergelak setelah mendengar perkataan itu, pikirnya:

"Benar-benar suatu idee yang bagus, tak kusangka kalau pengemis ini begitu pintar."

Cin Poo-tiong pun terpaksa  harus  menyimpan  kembali uang emas tersebut setelah mendengar ucapan itu, katanya:

"Baiklah, lohu akan melaksanakan seperti apa yang kalian berdua katakan."

Sesudah berpamitan dengan nelayan sakti dari lautan timur Cin Poo-tiong, Oh Put Kui dengan membawa si pengemis pikun Lok Jin-ki berangkat menuju ke kuil Kok-cing-si di bukit Thian-tay.

Kuil Kok-cing si merupakan sebuah kuil kuno yang didirikan di jaman dulu kala, tempat itu merupakan salah satu tempat pesiar yang amat termashur pada jaman itu. Oh-Put Kni sedang berdiri ditengah jembatan batu dimuka kuil tersebut sambil memandang air yang sedang mengalir dengan termangu.

Sebaliknya pengemis pikun tak sabar menunggu disampingnya, dia tidak habis mengerti apa bagusnya dengan air yang sedang mengalir tersebut, sebab kecuali  beberapa ekor ikan  yang  berenang kian kemari, sama sekali tidak dijumpai sesuatu yang menarik hati..

Maka tak sabar lagi dia segera berteriak keras:

"Bocah muda, mengapa kau terus termangu disana?

Memangnya air itu bisa diminum?"

Oh Put Kui segera berpaling dan memandang kearahnya, tak tahan dia segera tertawa geli, pikirnya:

"Sialan betul dengan orang ini..."

Namun ia tak sampai memakinya, katanya ujarnya sambil tertawa lebar:

"Lok tua, aku sedang berpikir dengan menggunakan cara apakah Han-san ya-ceng dan  Hong-gwa-sam-sian itu  baru bisa dipaksa untuk berbicara terus terang."

Pengemis pikun segera tertawa terbahak-bahak. "Haaahh...haaahh... haaahhh apa lagi yang mesti

dipikirkan? Dengan  mengandalkan kemampuan yang kau miliki, sudah pasti Han-san-ya-ceng-Poan-kay hweesio dapat kau paksa untuk berbicara terus terang.

Mendengar perkataan itu, Oh Put Kui segera tertawa terbahak-bahak, ia merasa pengemis itu kelewat memandang tinggi tentang kemampuannya.

Maka sambil tertawa  ia  menggelengkan  kepalanya berulang kali, tanpa mengucapkan  sepatah  katapun  dia segera berlalu dari sana.

Pengemis pikun nampak agak tertegun melihat dirinya ditertawakan orang, segera kejarnya: "Hai, apa lagi yang kau tertawakan? Memangnya kau si bocah selalu hebat...!"

Sambil mengomel panjang pendek, dia segera menyusul di belakang dengan langkah cepat.

Baru saja melangkah masuk dari pintu gerbang kuil Kok- cing-si, mereka telah disambut oleh seorang pendeta berusia pertengahan.

"Sicu, apakah kau naik gunung untuk bersembahyang?" sapanya dengan sopan.

Ternyata sikap si pendeta tersebut amat halus dan menghormat sekali.

Sebaliknya sikap dari Oh Put Kui justru tidak  seramah  dihari biasa, sambil mengulapkan tangan sahutnya:

"Aku bukan datang  untuk  bersembahyang, aku datang kemari untuk menjumpai seorang pendeta."

"Ooh, jadi sicu datang  kemari untuk  mencari orang?" pendeta setengah umur itu tertegun "entah toa-suhu yang manakah yang hendak kau jumpai..."

"Poan-kay taysu!"

Paras muka lelaki setengah umur itu segera berubah hebat. "Sicu, kau dari marga mana?" tegurnya kemudian.

"Oh Put Kui, dari tebing Cing-peng gay di bukit Gan-tang- san!"

"Apakah Oh sicu sudah lama kenal dengan Poan-kay taysu?" kembali pendeta setengah umur itu bertanya dengan kening berkerut.

"Apa sangkut pautnya persoalan ini denganmu?"

Pendeta setengah umur itu termenung dan  berpikir sebentar, kemudian sahutnya: "Poan-kay taysu adalah seorang pendeta suci  dari golongan Buddha dewasa ini. dia hanya menumpang  dalam kuil kami, hongtiang kuil kami telah menurunkan perintah,  siapapun dilarang mengganggu ketenangan taysu."

Oh Put Kui segera tertawa dingin. "Heeehhh. heeehbh

heeehhh sekalipun kalian tidak diperkenankan untuk mengganggu ketenangannya tapi aku dapat, Cukup kau katakan kepadaku, Poan-kay taysu  berdiam  dimana,  aku dapat pergi sendiri ke sana untuk mencarinya!"

Pendeta setengah umur itu tertegun sejenak, kemudian serunya:

"Hal ini mana boleh jadi? Bila hongtiang sampai tahu, siauceng bisa menderita akibat nya !"

"Segala sesuatunya biar aku yang menanggung."

Tapi pendeta setengah umur itu  masih  juga menggelengkan kepalanya berulangkali.

"Tidak bisa, siauceng tidak berani."

Senyuman yang  semula menghiasi wajah Oh Put Kui seketika itu juga lenyap tak berbekas.

Kemudian dengan wajah sedingin es, dia maju setengah langkah kedepan.

Ketika tangan kanannya diayunkan kedepan, tahu-tahu pergelangan tangan kiri hwesio setengah umur itu sudah kena dicengkeram oleh Oh Put Kui.

"Hayo bawa kesana !" hardiknya

Sementara pembicaraan berlangsung, kelima jari tangan kanannya yang melakukan cengkeraman itu segera mengcengkeram dengan lebih keras lagi.

Tentu saja pendeta setengah umur itu tak sanggup untuk menahan diri, sekalipun ilmu silat yang dimilikinya terhitung cukup tangguh,  tapi setelah berjumpa dengan Oh Put-kui, ibarat batu beradu  dengan batu, sudah barang  tentu  dia ketinggalan jauh sekali.

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa dia harus maju kedepan menuruti permintaan lawan.

"Hei hwesio, sebelum kau mencapai tujuan, aku hendak memperingatkan kepadamu lebih dulu," kata Oh Put Kui  sambil tersenyum, "seandainya kau sampai salah membawa diriku ketempat tujuan, maka jangan salahkan pula kalau kau menderita siksaan hebat..."

Sebenarnya pendeta setengah umur itu ada maksud untuk mengajak Oh Put Kui menuju kedepan kamar hongtiangnya.

Tapi Oh Put Kui yang cerdas telah menduga sampai kesitu lebih duIu, begitu rahasianya ketahuan, tentu saja dia  tak berani berpikir lebih jauh.

Terpaksa dengan sejujurnya dia  mengajak pemuda itu menuju ke ruangan sebelah timur dimana Poan Kay hwesio berdiam disana.

Baru saja ketiga orang itu melangkah masuk melalui pintu berbentuk rembulan di-ruang sebelah timur, mendadak dari  balik aneka bunga lebih kurang tiga kaki di hadapan mereka telah muncul seorang hwesio berjenggot putih.

Bagaikan memperoleh suatu pengampunan besar, buru- buru pendeta setengah umur itu berseru:

"Sicu..dia,...dialah Poan Kay...taysu!"

"Benarkah itu?" Oh Put Kui tertawa. Dia  lantas membalikkan tangannya dan menyerahkan pendeta setengah umur itu kepada sipengemis pikun.

"Perhatikan dia, jangan sampai terlepas, bila hwesio tua itu bukan Poan Kay maka aku menggoyangkan tanganku dari tempat kejauhan, nah Lok tua, saat  itulah  boleh  membetoti otot dibadan hwesio ini..." "Baik." sahut si pengemis pikun dengan cepat, "aku memang paling ahli untuk melaksanakan pekerjaan dibidang seperti ini..."

Tanya jawab yang sedang berlangsung antara kedua orang itu kontan saja membuat pendeta setengah umur itu menjadi ketakutan setengah mati hingga keringat dinginnya jatuh bercucuran.

Dengan langkah lebar Oh Put Kui berjalan menuju kearah kebun dan mendekati hwesio berjenggot putih itu.

Agaknya pada waktu itu sang pendeta  tua itu sedang menikmati keindahan bunga, terhadap kedatangan Oh Put Kui boleh dibilang sama sekali tidak menggubris, menoleh  pun tidak.

Oh Put Kui tertawa hambar, dengan suara lirih segera ujarnya:

"Toa-Suhu, terimalah salamku ini !" Sambil berkata dia lantas menjura.

Setelah mendengar teguran, pendeta tua itu baru berpaling dan memandang wajah Oh Put Koi  dengan perasaan bimbang, kemudian ia baru bertanya dengan lirih:

"Siau-sicu, ada urusan apa ?"

"Tolong tanya taysu, apakah kau bernama Poan-kay !" Pendeta tua itu tertawa ramah, sahutnya:

"Kalau ditinjau dari sikap siau-sicu sekarang, serta diketahuinya julukan Ya-san-huang-ceng  tersebut,  dapat kuduga kalau kedatanganmu dikarenakan sesuatu hal ! Tadi, lolap sedang duduk semedi, karena merasa hatiku tak tenang maka sengaja aku datang kemari untuk berjalan jalan sambil mencari hawa, sungguh tak nyana kalau siau-sicu memang datang kemari untuk mengunjungi-ku."

"Bila mengganggu ketenangan  taysu, harap taysu suka memakluminya " Oh Put Kui tersenyum. Poan-kay hwesio segera merangkap tangannya didepan dada sambil tertawa.

"0mintohud. tidak berani, tidak berani, silahkan siau-sicu mengikuti aku masuk ke dalam ruangan!"

Dia lantas berjalan lebih dulu memasuki sebuah ruangan.

Oh Put Kui segera memberi tanda kebela kang  untuk memanggil pengemis pikun agar ikut bersamanya memasuki ruangan.

Setelah tamu mengambil tempat duduk, seorang  hwesio kecil muncul sambil menghidangkan air teh.

Poan-kay hwesio mengerutkan  dahinya  sebentar, kemudian menegur sambil tertawa.

"Entah karena persoalan apakah siau-sicu datang mencari lolap?"

"Barusan saja aku meninggalkan pulau Jit-hu-to!" ujar Oh Put Kui sambil tertawa.

Begitu mendengar perkataan Itu, paras muka  pendeta agung ini segera berubah hebat.

Kemudian sambil mencorongkan sinar matanya yang tajam ia awasi wajah pemuda itu lekat-lekat, kemudian katanya dengan suara dalam:

"Apakah siau sicu telah mengalami suatu kekagetan atau suatu kerugian yang besar?"

"Tidak !" Oh Put Kui segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

Wajah Poan-kay hweesio, segera mengendor kembali. "Omintohud ! tampak ketujuh orang sicu itu sudah banyak

mengalami perubahan."

"Taysu, sesungguhnya dosa atau kesalahan apakah yang telah diperbuat oleh ke tujuh orang locianpwe itu sehingga mereka harus disekap didalam pulau yang terpencil di tengah lautan bebas dan merasakan siksaan hidup yang amat berat?"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, sekali lagi mencorong sinar tajam dari balik mata Poan-kay hwesio.

"Siau-sicu, tahukah kau bahwa mereka adalah tujuh malaikat keji dari bu-lim?"

Oh Put Kui tertawa hambar.

Sebaliknya si pengemis pikun segera berteriak cepat:

"Tapi orang persilatan dari kalangan putih  menyebut mereka sebagai bu-lim jit-seng "tujuh malaikat suci dari dunia persilatan..."

Sekali lagi Poan-kay siansu manggut-manggut seraya tertawa.

"Ya, benar, apa yang dikatakan sicu pengemis memang benar, memang ada orang yang menyebut mereka sebagai Bu-lim-jit-seng !"

"Kalau toh mereka adalah tujuh malaikat suci, apa pula urusannya dengan kalian Sam-sian  sehingga  kalian mengurung orang orang itu diatas  pulau terpencil? Apakah kalian tidak merasa kalau tindakan ini merupakan suatu tindakan yang kelewat keji.."

"Teguran dari sicu pengemis memang benar sekali," Poan- kay siansu kembali manggut-manggut dengan tertawa hambar "Tapi,tahukah kau bahwa mereka sudah membunuh orang kelewat banyak? seandainya tidak diberi sedikit pelajaran, mungkin dikemudian hari mereka tidak dapat berakhir dengan baik "

Mendadak Oh Put Kui tertawa keras.

"Haaahhh. ...haaahh haaahh kemulian hati taysu sungguh membuat orang merasa kagum."

"Siau sicu kelewat memuji, lohu tak berani menerimanya

...." Sambil tertawa tiba-tiba Oh Put Kui berkata lagi :

"Hudcou pernah bilang begini, jika aku tidak masuk neraka, siapa lagi yang akan masuk neraka, pernahkah taysu mendengar tentang perkataan ini?"

Perkataan ini selain diucapkan kurang sopan, juga bernada memandang remeh dan menyindir.

Mendadak Poan-kay siansu mengerutkan dahinya rapat- rapat, kemudian serunya:

"Siau-sicu, apakah kau memandang hina kepada loIap?" Cepat Oh Put Kui tertawa.

"Waah, rupanya taysu sudah mulai di pengaruhi amarah?"

"Siau-sicu, ucapanmu mengandung arti yang dalam, sebenarnya apa maksudmu datang kemari?" kata Poan-kay siansu kemudian dengan sorot mata pedih.

Oh Put Kui kembali tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh haaahhh......haaahhh taysu adalah seorang pendeta suci yang memikirkan keselamatan umat manusia, apakah tak pernah taysu pikirkan kalau Bu lim-jit-seng yang berada di pulau Jit-hu-to sebenarnya bukan manusia-manusia bengis. Mengapa kalian menyekap mereka selama delapan belas tahun lamanya tanpa memperkenankan mereka bertujuh meninggalkan pulau tersebut?"

Tergerak hati Poan-kay siansu setelah mendengar ucapan yang terakhir itu, katanya tiba-tiba:

"Siau-sicu apakah kau harus datang kemari untuk minta keringanan hukuman bagi ke tujuh orang sicu tersebut?"

"Penggunaan kata 'minta keringanan  hukuman'  kurang tepat kalau digunakan dalam persoalan ini!"

"Lantas maksud siau-sicu?" Poan kay siansu agak tertegun.

Dengan menjawab serius Oh Put Kui segera menjawab: "Aku datang kemari untuk  mengajak taysu berbicara menurut keadaan yang sewajarnya!"

Untuk sesaat lamanya, Poan-kay siansu menjadi terbelalak dan tak tahu bagaimana mesti menanggapi ucapan tersebut.

"Benar-benar  seorang  pemuda   yang berotak  cerdas. "

demikian pikirnya di dalam hati.

Berpikir sampai disini, pendeta itu segera tertawa ramah, katanya pelan:

"Siau-sicu, bila kau ingin  mengucapkan  sesuatu, katakanlah secara langsung!"

"Haahhh haaahhh haahhh taysu memang seorang tokoh persilatan yang lihay, sebelumnya kumohon maaf  lebih  dulu bila ucapanku nanti menyinggung perasaan. "

"Ke tujuh orang kakek dari pulau telah menderita kekalahan total di tangan Thian-tok-siang-ciat dan  Hong-gwa-sam-sian dimasa lalu, masih ingatkah taysu, janji apa kah yang telah mereka ucapkan?"

"Ya, masih ingat ! Ceng-siu huan-im-siu (  si  kakek bayangan semu ) Samwan sicu pernah  menyuruh mereka untuk mengangkat sumpah bahwa disaat putra tunggal Oh Ceng thian kembali ke pulau tersebut, saat itulah merupakan saat bagi mereka untuk meninggalkan pulau tersebut."

"Lantas bagaimana ceritanya sehingga putra  Oh  tayhiap bisa lenyap tak berbekas?" tanya Oh Put ICui lagi sambil tertawa.

"Tiga tahun sebelum pertemuan besar yang kami adakan di bukit Thian-tay tempo dulu, istri Lei hun  mo-kiam yang bernama Pek-ih-ang-hud (si kebutan merah berbaju putih) Lan Hong telah melahirkan seorang anak lelaki, tapi tiga bulan setelah dilahirkan, suami istri berdua itu telah disergap oleh musuh tangguh, dalam pertarungan tersebut Pek-ih-ang-hud Lan Hong tewas seketika, sedangkan Lei-bun-mo kiam  Oh sicu dengan  mengandalkan ilmu pedangnya yang lihay berhasil meloloskan diri dari kepungan dan  menyelamatkan  diri, namun dalam peristiwa itulah bayi kecil  berumur  tiga bulan yang berada dalam bohongan Lan  Hong  telah  lenyap tak berbekas."

"Tahukah taysu, bocah itu telah terjatuh ketangan siapa?" tiba-tiba Oh Put Kui menyela.

Poan-kay siansu segera menggelengkan kepalanya. "Darimana lolap bisa tahu?"

"Bagaimana dengan Samwan To?" tanya Oh Put Kui lebih lanjut sambil tertawa dingin.

"Lolap rasa diapun tidak tahu!"

Mendadak mencorong sinar tajim dari bilik mata  Oh  Put Kui, katanya lebih jauh:

"Jika kalian orang-orang yang  bisa  berkelana  dengan bebas dalam dalam dunia persiIatan pun tidak tahu  bocah  piatu itu terjatuh di-tangab siapa, Oh Ceng-thian yang disekap dalam pulau terpencil mana mungkin bisa mengetahuinya  pula?"

Pertanyaan ini kontan  saja membuat Poan-kay taysu menjadi terbungkam dalam seriu bahasa, dia nampak tertegun karena keheranan.

Tiba-tiba Pengemis pikun menimbrung:

"Hai, anak muda, mungkin saja Samwan To suka berlagak seolah olah tidak tahu, padahal  dalam hati kecilnya  dia mengetahui dengan jelas."

Ucapan tersebut segera melintaskan satu ingatan dalam benak Oh Put-kui, serunya dengan cepat:

"Lok tua, kau benar benar sudah menjadi pintar sekarang." Pengemis pikun nampak gembira sekali lagi sambil tertawa: "Pikunku itu memang sengaja kuperIihatkan selama ini, apa

kau anggap aku betul-betul bodoh." Poan-kay taysu memandang sekejap kearah pengemis pikun, lalu sambil merangkap tangannya ia berseru:

"Sicu, kau betul-betul memiliki hati yang suci dan mulia, kau merupakan murid yang paling bagus dari umat Buddha."

"Hei, hwesio gede, aku si pengemis mah tak akan tahan untuk hidup sengsara didalam kuil seperti kau."  Kata Pengemis pikun dengan mata melotot, "Lebih baik kau  tak usah mencari kesulitan bagiku, meski umurku sudah  tujuh puluh tahun, tapi aku masih ingin mencari bini yang berumur tujuh delapan belas tahunan, orang bilang asal punya uang, membeli seorang bini bukanlah pekerjaan sukar,  kebetulan aku si pengemis baru saja menjadi orang kaya baru, kalau disuruh menjadi pendeta, waaah, bisa sia-sia hidupku didunia ini."

Perkataan yang diucapkan itu kontan saja membuat Oh Put Kui tertawa terpingkal-pingkal karena geli.

Bahkan Poan-kay taysu pun turut tertawa geli,  katanya: "Sicu   pengemis,   nampaknya  kau   memang   masih suka

bersenang-senang,   kalau    begitu   lo   lap    ucapkan  selamat

berbahagia untukmu. "

"Tak usah, tak usah, tak usah merepotkan  dirimu." pengemis pikun itu segera menggoyangkan  tangannya berulang kali.

Dia merasa keren  benar,  bayangkan  saja satu diantara Hong-gwa-sam-sian pun mengucapkan selamat kepadanya, apakah hal ini tak pantas untuk dibanggakan?

Oh Put Kui segera berhenti tertawa, lalu ujarnya kepada Poan-kay taysu:

"Taysu, aku rasa perjanjian yang kalian buat dibukit Thian- tay tempo hari kurang adil !"

"Ooh, tampaknya sicu benar-benar berhasrat untuk membantu ketujuh orang bintang pembunuh itu?" "Taysu, aku kurang setuju bila kau masih  tetap menganggap mereka sebagai pembunuh" Ucap Oh Put kui dengan sepasang alis matanya berkenyit.

"Siancay, siancay! melepaskan golok pembunuh berpaling adalah tepian, tahu siau sicu hawa pembunuh yang dimiliki ketujuh orang bintang pembunuh tersebut pada dua  puluh tahun berselang cukup membuat paras muka setiap orang berubah."

"Tapi mereka toh sudah melepaskan golok sekarang? apa lagi..."

Sengaja dia berhenti sebentar, kemudian setelah tertawa panjang katanya lebih jauh:

"Taysu, pernahkah mereka membunuh orang baik di masa lalu?"

Dengan cepat-Poan-kay taysu menggelengkan kepalanya. "Sekalipun mereka hanya membunuh orang jahat, tapi

hawa pembunuhan yang mereka miliki toh kelewat berat, bila tidak diberi kesempatan untuk memperbaiki hal itu, bisa jadi perbuatan mereka akan melanggar ajaran  Thian  kepada umatnya."

"Haaahh haaahhh haaahhh kalau begitu, taysu pun telah melakukan kesilafan seperti apa yang mereka lakukan."

"Aaaah, mana mungkin lolap bisa berbuat  demikian? selama hidup belum pernah lolap melanggar pantangan membunuh!"

Oh Put Kui segera tertawa, "Seandainya ke tujuh orang tua itu merasa tersiksa jiwa raganya sehingga akhirnya mati  di pulau Jit-hun-to tersebut, apakah taysu bukan  termasuk seorang pembunuh ? Benar Pak-jiu  bukan mati karena kubunuh, tapi Pak-jiu toh mati lantaran aku.?"

Poafi-kay siansu menjadi tertegun. "Soal ini..." "Bagaimana?"

Tiba-tiba Poan-kay siansu bangkit berdiri lalu sambil merangkap tangannya didepaa dada ia menjawab:

"Lolap menerima petunjukmu itu!"

"Taysu memang seorang yang saleh, cepat amat kau bisa memahami perkataanku itu!" buru-buru Oh Put Kui bangkit berdiri sambil memberi hormat.

Kembali Poan-kay siansu menghela napas panjang.

"Aaaai siau-sicu, seandainya kau tidak menyinggung soal tersebut pada hari ini, lolap benar-benar telah berbuat kesalahan besar terhadap Bu-lim-jit-seng!"

Oh Put Kui tertawa.

"Kalau memang taysu sudah memahami hal ini, dapatkah kau segera berangkat ke pulau Neraka untuk membatalkan perjanjian dulu sehingga ke  tujuh  orang cianpwe itu bisa  bebas kembali ?"

Poan-kay siansu segera menunjukkan perasaan berat hatinya, dia berkata kemudian:

"Tentang soal ini, lolap tak bisa memutuskannya sendiri." "Apakah harus menunggu keputusan lima orang lainnya ?" Poan-kay siansu segera setuju.

"Yaa, begitulah !"

"Mengapa taysu tidak mengirim orang untuk mengundang kehadiran empat orang lainnya sehingga persoalan ini bisa segera diselesaikan ?"

"Omitohud, lolap bersedia sekali untuk memberi kabar kepada mereka semua, tapi..."

"Apakah taysu kuatir ada yang tak akan menyetujui usulmu itu ?"

"Benar!" Oh Put-ki-ii tertawa terbahak-bahak.

"Haa... haa... haa... walaupun manusia berusaha, Thian lah yang menetapkan, taysu toh belum lagi mulai, mengapa kau sudah sangsi lebih dulu ? Bila sikapmu dalam persoalan yang lain pun demikian, mungkin selama hidup taysu tak akan bisa berhasil menyelesaikan persoalan apapun."

Poan-kay taysu merasakan hatinya bergetar keras setelah mendengar perkataan itu.

"Sungguh cerdas anak muda ini." demikian dia berpikir.

Mendadak ia berhenti sejenak karena  tiba-tiba teringat kalau ia belum menanyakan nama dari anak muda tersebut, buru-buru katanya:

Siau-sicu, tolong tanya Siapa nama-mu ?" "Oh Put-kui."

Paras muka Poan-koay  taysu berubah hebat setelah mendengar sama itu, serunya kemudian:

"Benar-benar sebuah nama yang mengandung  maksud mendalam, siau-sicu, apakah ayahmu yang memberi nama tersebut kepadamu?"

Oh Put Kui segera menggeleng. "Suhuku yang memberi nama tersebut." "Siapakah suhumu itu?"

"Aaah, suhuku cuma seorang pendeta liar yang sudah tak mencampuri urusan keduniawian lagi,  diapun  enggan namanya diketahui orang, harap taysu suka memakluminya."

Poan-kay taysu segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Oh Put Kui dan mengawasinya beberapa  saat,  kemudian katanya sambil tertawa:

"Siau-sicu bagaimana kalau loIap mencoba untuk menebaknya?" "Tidak usah." Oh Put Kui menggeleng, "buat apa taysu masih ingin mengetahuinya?"

Mendadak Poan-kay taysu seperti merasa terkejut  dia segera berseru:

"Aaah, hari ini sikap lolap agak silaf..."

Oh Put Kui tertawa hambar, kembali dia berkata:

"Sewaktu hendak meninggalkan pulau Jit hu-to, aku telah menyanggupi permintaan ketujuh orang cianpwe itu untuk menemukan kembali putra tunggal dari On tayhiap, aku bersedia melakukan perjalanan bersama dengan taysu, bila taysu bisa memperoleh dukungan dari Siang-kiat, Sin-ni dan Tou-to, tak ada salahnya bila kau datang dulu ke pulau Jit-hu- to untuk membatalkan janji kalian dulu, agar Bu-lim-jit-seng merasakan kembali kebebasan hidupnya!"

"Omintohud, lolap bersedia untuk membantu dengan sepenuh tenaga."

Oh Put Kui tertawa hambar, kembali katanya:

"Bencana besar sudah mengancam dunia persilatan,  dengan kemampuan yang dimiliki Jit-seng sekarang, kekuatan mereka merupakan suatu bantuan yang maha besar bagi  umat persilatan dari golongan lurus, harap taysu suka memperhatikan persoalan ini dengan serius !"

Beberapa patah kata itu kontan membuat jantung Poan-kay siansu berdebar.

Tidak menunggu Poan-kay siansu berbicara, Oh Put-kui segera bangkit berdiri sambil menjura, katanya:

"Maaf bila aku sudah mengganggu  ketenangan taysu, semoga bila taysu berjumpa dengan Sawan To nanti, sekalian bisa mencari tahu dimanakah anak tunggal dari Oh tay hiap, sebab kalau dilihat dari usul Sawan tayhiap dalam hal ini, bisa disimpulkan kalau dia pun mengetahui akan jejak orang itu. kalau tidak maka terpaksa aku akan mencurigai tokoh sakti tersebut sebab sebagai seseorang yang mempunyai tujuan tertentu !"

Setelah berhenti sebentar dan memandang wajah  Poan- kay siansu, dia berkata lagi sam bii tertawa:

"Taysu adalah seorang tokoh sakti dari  kalangan beragama, tentunya kau dapat memaklumi kesalahan  orang lain bukan ? Bila aku telah melakukan banyak kesalahan tadi, dikemudian hari pasti akan kubayar, nah sampai jumpa lagi..."

Selesai berkata dia lantas meninggalkan tempat tersebut.

Pengemis pikun ikut bangkit berdiri pula, katanya sambil tertawa terbahak-bahak:

"Haa . . . haa , . . haa ." . . hwesio gede aku merasa beruntung sekali dapat berjumpa dengan wajah seorang dari Hong-gwa-sam sian bahkan mendengarkan pembicaraannya, selamat berpisah dan semoga kita  akan bersua kembali dimasa mendatang "

Begitu selesai berkata, ternyata dia berjalan lebih dahulu dengan mendahului Oh Put Kui.

Han san-ya-ceng Poati-koay taysu tidak menjawab apa- apa, dia hanya merangkap tangannya didepan dada.

Selama hidup boleh dibilang dia  selalu disanjung dan dihormati oleh umat persilatan baru kali ini dia ditegur dan dinasehati oleh orang Iain,  perasaan semacam itu  benar- benar amat tak sedap sekali, dan apa  yang didengarpun  sudah cukup baginya untuk berpikir setengah harian lamanya.

Tapi dia bisa menduduki sebagai salah seorang dari Hong- gwa sam sian, tentu saja ia memiliki suatu kemampuan yang melebihi siapapun.

Terlepas dari masalah lain, dia  merasa kagum sekali terhadap pemuda ini, rasa kagum  yang benar-benar  timbul dari hati sanubarinya . Diapun mengagumi pengemis pikun tersebut, meski pikun orangnya tapi mulia hatinya.

Dia tak menyangka walaupun dia sudah menjadi pendeta dan setiap hari berdoa, namun dia toh  tak  bisa  melepaskan diri dari keduniawian.

-oOdwOo0dw0oOdwOo-

Sinar matahari senja sedang memancarkan cahayanya menerangi pepohonan diatas bukit Gan-tang san.

Diatas sebuah jalan bukit yang menghubungkan  tebing Cing-peng-gay, tiba-tiba muncul dua sosok  bayangan manusia.

Mereka adalah Oh Put Kui serta pengemis pikun.

Oh Put-kui telah merubah rencananya se-mula, sebab dia merasa lebih baik mencari tahu asal usulnya lebih dulu  sebelum menyelesaikan persoalan lainnya, maka dia tidak  pergi ke perkampungan Ang-yap san-ceng di lembah Hui-im- kok, sebaliknya kembali ke tebing Cing-peng-gay.

Ketika mereka sampai di tebing Cing-peng gay, sinar mata hari senja telah tenggelam dibelakang bukit.

"Lok tua, mari ikut aku menjumpai suhu didalam gua !" kata pemuda itu kepada rekannya.

Dengan gerakan yang cepat mereka berangkat menuju ke sebuah dinding tebing.

Dengan sikap yang sangat hormat Oh Put kui menyembah sebanyak tiga  kali ke arah dinding  tebing itu, kemudian tangannya melepaskan sebuah pukulan ke atas sebatang pohon siong yang tumbuh diatas dinding tebing tadi.

Diiringi suara gemuruh yang amat memekakkan telinga, muncullah sebuah pintu diatas dinding tebing tersebut.

Dari balik pintu segera terpancar keluar sinar putih yang amat menyilaukan mata. Sambil tertawa Oh Put-kui segera berteriak. "Suhu, bocah yang mengembara telah pulang."

Dimasa lalu, bila dia telah berteriak maka dari dalam gua pasti akan berkumandang suara gelak tertawa yang riang dan penuh kasih sayang.

Tapi berbeda dengan hari ini. Suasana dalam gua itu sunyi tak kedengaran sedikit suara pun...

Senyuman yang semula menghiasi ujung bibir Oh Put-kui seketika itu juga berubah menjadi kaku  dan lenyap tak berbekas.

Tanpa membuang waktu lagi dia segera menerjang masuk ke dalam gua tersebut.

Ternyata gua itu kosong melompong tak ada penghuninya.

Pengemis pikun mengikuti dibelakangnya telah masuk pula ke dalam gua itu, ternyata luas ruangan dalam gua tadi cuma lima kaki, sedang perabot  yang berada disanapun  amat sederhana.

Selain sebuah meja, sebuah pembaringan dibawah lantai terdapat pula sebuah kasur duduk.

Disamping meja batu terdapat pula sebuah hiolo, sedang disisi pembaringan terdapat sebuah rak buku.

@oodwoo@