Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 41

 
Jilid 41

"Kalau  begitu  Wi   Thian-yang   benar-benar   patut  dicurigai "

"Baik boanpwe maupun gwakong serta si tua Ban, semuanya berpendapat demikian. "

"Haaaaaaaahhhh.......... haaaaaahhh.........

haaaaaahh........" Tu Ji-khong tertawa tergelak pula, "saudara Ku, kedatangan kita  ke daratan Tionggoan kali  ini  tentu bertambah semarak, malahan bisa jadi akan  disuguhi   tontonan yang menarik! Selain empat  buah  peristiwa berdarah, masalah enso Oh pun sudah cukup memusingkan kepala orang."

"Lote pemabuk, apakah kau tidak merasa terlalu awal untuk menduga mulai sekarang? Siapa tahu disaat kita tiba disitu, segala urusan telah terselesaikan, nah kalau sampai begitu, apa pula yang bakal merepotkan dirimu?"

"Tampaknya Ku lotoa sudah terlanjur  malas, andaikata segala sesuatunya berlangsung seperti apa yang kau duga, sebelum kita  sampai urusan telah beres, bukankah dunia persilatan sudah lama menjadi tenang kembali?"

"Yaa, betul, bukankah kau berharap dunia persilatan cepat tenang kembali sehingga kau punya waktu luang untuk minum arak setiap hari?"

"Lotoa, bila aku minum arak setiap hari, mungkin para iblis kembali akan merajalela."

Perkataan tersebut segera disambut oleh rekan-rekannya dengan gelak tertawa keras.

Dibawah kemudi si kakek nelayan dari lautan timur yang amat cekatan, tidak sampai beberapa jam kemudian perahu sudah merapat didermaga kota Giok-huan.

Kakek nelayan dari lautan timur segera mempersilahkan ketujuh orang tua itu naik keatas daratan.

Tiba-tiba Coat-cing kongcu  Leng To menghela napas panjang, katanya:

"Delapan belas tahun lamanya aku tak  pernah menyaksikan keramaian kota dan kesemarakan rumah  makan, setelah menjumpainya kembali hari  ini,  rasanya segala sesuatunya serba asing "

"Haaaahhhhh........ haaaaaaaaahhhh.........

hhhhaaaaaaaahhhhhh........ perasaan dari saudara Leng ini  sungguh diluar  dugaan kamu semua!" katan Tu Ji-khong menanggapi.

Belum selesai perkataan  itu diutarakan, mendadak dari kejauhan sana berkumandang  suara pujian  kepada  sang Buddha, menyusul kemudian  tampak tiga sosok bayangan manusia meluncur tiba dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat. Ketajaman mata Oh Ceng-thian memang jauh melebihi rekan-rekannya, mendadak ia tertawa tergelak seraya berseru keras:

"Kedatangan sam-sian sungguh mengejutkan hati kami semua "

Rupanya Hong-gwa-sam-sian telah muncul bersama-sama ditempat itu...........

Satu ingatan segera melintas dalam benak Oh Put Kui, pikirnya:

"Cepat amat mereka peroleh kabar. "

Dalam pada itu,  Pendeta liar dari Hoa-san Poan-cay siauceng, tosu bungkuk dari Soat-sia Thian-hian Cinjin serta Pendeta sakti dari Giok-hong It-ing taysu telah  muncul dihadapan ketujuh orang tua tersebut.............

Sambil tertawa Poan-cay siansu segera berkata:

"Lolap Poan-cay mengucapkan selamat atas keberhasilan kalian bertujuh didalam meyakinkan ilmu silat serta balik kembali kedaratan Tionggoan!"

Thian-hian cinjin dan It-ing taysu segera memberi hormat pula seraya berkata:

"Keberhasilan sicu bertujuh dalam ilmu  silat  cukup membuat kami merasa kagum!"

Dari ketujuh orang yang hadir, kecuali Coat-cing kongcu Leng To serta sastrawan latah Liong Ciok-thian yang cuma berdiri kaku, lima orang lainnya segera membalas hormat sambil tertawa.

Oh Put Kui yang terbilang sebagai angkatan muda, hanya berdiri disamping dengan mulut membungkam.

Tiba-tiba Poan-cay siansu berpaling kearahnya, lalu menegur sambil tertawa: "Siau-sicu, baik-baikkah kau semenjak waktu perpisahan dulu?"

"Cepat nian kedatangan siansu," jawab Oh Put Kui sambil tertawa tergelak, "boanpwe betul-betul merasa kagum!"

"Ketika Ban losicu mengutus orang memberi kabar, tentu saja lolap tak berani berayal. Pembicaraan dengan siau sicu dikuil Kek-cing-si tempo hari telah banyak membuka pikiran lolap, siau-sicu memang tidak malu menjadi ahli waris dari Tay-gi dan Thian-liong suheng, kemampuanmu membuat lolap betul-betul merasa sangat kagum. "

Kemudian sambil menjura kepada Oh Ceng-thian, kembali dia berkata:

"Oh sicu bisa memperoleh bocah sehebat ini, tentu bahagia hidupmu dikemudian hari."

"Aaaah, lo-siansu terlalu memuji, pujianmu membuat aku merasa tak tentram. " kata Oh Ceng-thian sambil tertawa.

Tiba-tiba Thian-hian cinjin berkata pula:

"Kereta telah dipersiapkan didepan sana, bagaimana kalau pembicaraan kita lanjutkan setibanya dikota Kim-leng nanti?"

Persiapan yang diatur ketiga dewa ini benar-benar  amat sempurna, nyatanya sampai keretapun telah dipersiapkan.

Ku Put-beng segera tertawa  tergelak:

"Waaaah, rupanya merepotkan kalian bertiga saja, kami benar-benar telah menyusahkan kalian."

"Haaaaaaaaahhhhh......... haaaaahhhhh........

haaaaaaaahhhhhhhh....... asal sicu bertujuh tidak mengingat kembali perbuatan kami yang telah memaksa kalian mengasingkan diri dulu, pinto sekalian sudah merasa terima kasih sekali."

Baru selesai Thian-hian tootiang berkata, sastrawan latah berpedang kutung telah menyambung sambil tertawa dingin: "Hidung kerbau, selewatnya hari ini, aku she Liong pasti akan mencarimu dan mengajak kau bertarung sebanyak tiga ribu jurus lagi!"

Mula-mula Thian  hian cinjin nampak tertegun setelah mendengar perkataan itu, tapi kemudian sambil tertawa terbahak-bahak sahutnya:

"Boleh, boleh saja, bila sicu memang berminat, biar harus mempertaruhkan nyawapun pinto pasti akan mengiringi keinginanmu itu."

"Hmmmmm, kau sendiri yang berkata begitu, sampai waktunya harap kau sihidung kerbau jangan mangkir!"

"Haaaaaahhhhhhhh..... haaaaaaaahhhhh.........

haaaaaaaaahhhhh........... pinto bukan  seorang yang gemar mengingkari janji."

Dalam kesempatan itu si kongcu tak berperasaan Leng To telah berkata pula kepada It-ing taysu:

"Bila ada kesempatan aku she Leng pun ingin meminta petunjuk dari sinni degnan menggunakan serulingku ini!"

Agaknya dua orang tua yang sombong dan latah ini masih tetap memendam rasa mangkel dan  mendongol kerena kekalahan yang pernah dideritanya dimasa lampau.

Mendengar perkataan tersebut It-ing taysu segera merangkap tangannya didepan dada dan menyahut sambil tertawa:

"Setelah melakukan latihan tekun hampir delapan belas tahun lamanya, pinni percaya ilmu seruling  Liu-ho-siau-hoat pun telah mencapai tingkatan yang hebat, tapi pinni sadar kalau bukan tandinganmu lagi, aku  rasa  lebih  baik pertarungan semacam ini diurungkan saja."

Leng To kembali tertawa dingin: "Hmmm, apabila taysu tidak kuatir menurunkan pamor dari tiga dewa, aku sih mau-mau saja membatalkan pertarungan tersebut!"

Dengan diutarakan perkataan itu, mau tak mau Giok-hong sinni It-ing taysu harus menerima tantangan tersebut.

Ketika persoalan tersebut dapat diputuskan olehnya sendiri tanpa mempengaruhi nama baik Hong-gwa-sam-sian, sinni itupun segera menghadapinya dengan lega.

Apalagi Thian-hian cinjin sudah menerima pula tantangan dari Liong Ciok-thian, andaikata menampik,bukankah pamor Hong-gwa-sam-sian betul-betul akan merosot?

Maka setelah memutar pandangan matanya sejenak, It-ing tausupun segera berkata sambil tertawa hambar:

"Jadi Leng sicu memaksa pinni untuk menerima tantanganmu itu ?"

"Tak ada salahnya bagi taysu untuk memutuskan sendiri!' jengek Leng-to sambil tertawa dingin.

"Buddha maha pengasih, terpaksa tecu pinni bersedia menerima tantanganmu itu."

"Bagaimana kalau sekarang juga?" seru Leng-to lagi sambil tertawa tergelak.

"TErserah kepada sicu!"

Leng To segera tertawa dingin, dengan cepat dia mencabut keluar serulingnya, kemudian membentak:

"Nah berhati-hatilah sinni "

Tampak cahaya merah berkelebat lewat secara  beruntun dia melancarkan tiga buah serangan berantai.

Secepat kilat It-ing taysu meloloskan pula pedang penakluk iblisnya seraya memuji:

"Ilmu    seruling dari sicu memang benar-benar luar biasa. " "Sreeeet, sreeet "

Secara berantai dia  lepaskan dua  buah serangan yang segera membendung ancaman dari seruling Leng To.

Melihat kejadian ini, Leng To mendengus  marah, serulingnya segera diputar kencang bagaikan titiran air hujan, dalam waktu singkat daerah  seluas beberapa kaki telah tergulung dibalik cahaya merah yang amat tebal  itu dan  mengurung tubuh nikoh itu rapat-rapat.

Akan tetapi ilmu pedang  ciang-mo-kiam-hoat dari It-ing taysu pun sangat hebat, ditengah gulungan cahaya merah, cahaya pedangnya berulang kali menyambar kian kemari.

Melihat jalannya pertarungan itu,  keenam  orang kakek lainnya maupun Poan-cay taysu serta Hian-hian tojin  hanya bisa menghela napas panjang.

Oh Put Kui sendiri sebagai angkatan yang jauh lebih muda, tentu saja tak dapat mencampuri urusan tersebut.

Dalam waktu singkat pertarungan yang berlangsung antara kedua orang jago itu, sudah mencapai pada puncaknya, serangan demi serangan yang dilancarkan juga makin hebat dan berbahaya, kini Leng To sudah mulai menyerang tanpa memperdulikan keselamatan sendiri, sebaliknya  dari balik pedang It-ing taysu pun  sudah mulai memancarkan hawa pembunuhan.

Tiba-tiba.............

Leng To serta It-ing sinni sama-sama menjerit kaget. Rupanya disaat Leng-to dan  It-ing  sinni menjerit kaget tadi,

sesosok bayangan manusia telah berkelebat  lewat dari  antara

kedua orang tersebut.

"Hey, apakah kalian sudah bosan hidup?" teguran lantang bergema memecahkan keheningan.

Suara teguran itu sangat dikenal oleh Oh Put Kui. "Bagus sekali.............. Ban tua, kedatanganmu memang tepat pada saatnya........" teriak Oh Put Kui kemudian sambil tertawa.

Munculnya sikakek latah awet muda secara tiba-tiba sungguh berada diluar dugaan siapapun.

Andaikata kakek tersebut telah muncul tepat pada saatnya, mungkin situasi dalam arena dapat berubah semakin gawat.

Atau paling tidak pertarungan antara Leng To melawan It- ing taysu bisa berakibat terlukanya kedua belah pihak.

Cepat-cepat Poan-cay siansu maju kedepan dan memberi hormat, katanya:

"Lo sicu pinceng Poan-cay memberi hormat kepadamu!" Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak: "Haaaaaaaaahhhhhh.............. haaaaaaaaahhhhhh...........

haaaaaaaaaahhhh........ hwesio cilik, bagus juga sepak terjangmu selama ini, paling tidak nama besar Hong-gwa-sam- sian sudah cukup mentereng dalam dunia persilatan dan disegani setiap orang!"

Merah jengah selembar wajah Poan-cay siansu setelah mendengar ucapan itu, sahutnya agak tersipu:

"Harap lo-sicu jangan menertawakan! Bila kemampuan pinceng sekalian dibandingkan dengan kau  orang  tua,  keadaan kami betul-betul ibarat kunang-kunang dengan sinar rembulan, bagaimana mungkin dapat menandingimu? Apabila nama kosong pinceng sekalian masih bisa berkenan dalam pandanganmu, rasa kehidupan pinceng selama ini memang tidak sia-sia belaka."

"Sudah cukup, tak nyana kau sihwesio kecilpun  pandai membari topi kebesaran kepada orang lain," teriak kakek latah awet muda dengan keras.

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba dia berpaling kearah Oh Put Kui sambil serunya pula: "Anak muda, mengapa perjalananmu begitu lambat? Masa baru hari ini kau pulang dari pulau neraka?"

"Ban tua, sesungguhnya  boanpwe tak pernah  berhenti barang seharipun, bukankah hari Peh-cun baru saja lewat?" sahut Oh Put Kui tertawa.

"Apakah kau tetap berpegang teguh pada janjimu akan berangkat setelah lewat hari Peh-cun?"

"Ki kuncu yang memberi perintah, tentu saja boanpwe

harus turut perintah."

"Baiklah,  anggap  saja  kau  memang beralasan tapi,

mana kedua orang yang lain?"

Oh Put Kui menjadi tertegun setelah mendapat pertanyaan itu.

Masih ada dua orang lagi? Siapakah kedua orang itu? "Masih ada  dua orang?...........  boanpwe datang kemari

seorang diri!"

"Omong kosong!" bentak kakek latah awet muda dengan marah, "Nyoo Siau-sian dan Kiau Hui-hui menyusul dibelakangmu, apakah kau tidak tahu? Heran mengapa kau meniru seperti Liok Jin-khi, pikunnya setengah mati?"

Tak terlukiskan rasa kaget Oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu, serunya pula:

"Apa? Jadi nona Nyoo dan nona Kiau juga turut kemari?"

"Hey, tampaknya kau seperti benar-benar tidak tahu?" "Yaaa, boanpwe memang benar-benar tidak tahu! Ban tua,

mengapa kau tidak berusaha menghalangi niat mereka?" Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak:

"Bocah muda, kau menyalahkan diriku karena tidak berusaha untuk menghalangi, niatnya? Tapi  mengapa  pula kau tidak cukup waspada sepanjang jalan?  Sudah  sekian lama orang lain menguntilmu ternyata kau sama sekali tak tahu, coba kalau orang jahat yang berniat mencelakaimu, bukankah kau sudah mampus sedari dulu. "

Mendengar itu Oh Put Kui segera tertawa:

"Ban tua, boanpwe rasa seceroboh cerobohnya  boanpwe tak nanti kecerobohanku bisa mencapai ketingkatan semacam itu."

Tiba-tiba Oh Ceng Thian membentak keras:

"Nak, mengapa kau bersikap demikian terhadap Ban tua?" Buru-buru Oh Put Kui menyahut:

"Ayah, lain kali ananda tentu akan berusaha untuk merubah sikap ini."

Biarpun dia sudah mengaku salah, namun si Kakek latah awet muda bukan saja tidak menjadi senang, malah serunya kepada Oh Ceng-thian:

"Oh loji, kau jangan mengumpat bocah itu dulu, memang begitulah cara kami berbicara sedari dulu!"

"Kau orang tua mana boleh bersikap begitu bebas kepadanya? Nanti dia bisa kurang ajar. "

"Haaaaaaaahhhhhh........... haaaaahhh........

haaaahhhh........ Oh loji, hitung-hitung aku masih merupakan sahabat karib dengannya, kenapa mesti kuurusi  sial tetek bengek macam begitu? Lagipula aku masih berhutang budi kepada anakmu itu!"

Kata-kata yang terakhir ini kontan saja membuat Oh ceng- thian tertegun, ia segera berkata:

"Aaaahh, kau orang tua kelewat menyanjung bocah ini, berapa besar sih kemampuannya sehingga dapat melepaskan budi kepadmu?"

"Haaaaaahhh............ haaaaaaaaahhhh.............

haaaaaaaaahhh         Oh loji,  andaikata  tiada putramu, mungkin

aku masih tersekap didalam  rumah loteng itu, bahkan  bisa jadi sampai matipun tak dapat keluar untuk menghirup udara segar!"

"Oya?" kembali Oh Ceng-thian dibuat tertegun.

Bukan cuma dia , bahkan Hong-gwa-sam-sian  serta keenam orang kakek lainnyapun turut tertegun.

Dengan wajah riang gembira kembali Kakek latah  awet muda berkata:

"Kalian tak usah kaget atau tercengang,  tapi nyatanya memang bocah ini yang telah membantu aku  untuk menangkan Kit Put Shia, sehingga akupun mendapatkan kesempatan untuk  terlepas dari kurungan, budi kebaikan semacam  ini tak  pernah  akan  aku  lupakan  untuk selamanya "

Oh Put Kui yang ikut mendengarkan perkataan itu dari samping, mendadak teringat akan sesuatu, segera serunya:

"Ban tua, tahukah kau ketika boanpwe  membantumu menghadapi Kit Put-shia di lembah Sin-mo-kok  tempo  hari, apa yang telah kuperbuat dalam uang yang  terlempar  kebawah itu?"

"Anak muda, masa kau lupa dengan julukanku? Bukan saja perbuatan yang kau lakukan untuk membantuku mengungguli Kit Put-shia dapat kuketahui, sekalipun apa yang diperbuat Kit Put-shia dalam mengungguli diriku pada dua  puluh tahun berselangpun tak akan bisa mengelabuhi aku."

Selembar wajah Oh Put Kui menjadi merah padam seperti kepiting rebus, segera katanya sambil tertawa:

"Kalau toh kau orang tua sudah tahu, mengapa tidak kau siapkan waktu itu?"

"Aku tidak membongkar rahasia tersebut karena aku ingin tahu sebenarnya Kit Put-shia ingin berbuat apa terhadapku, sedangkan mengenai soal bantuan yang kau berikan, hal ini lebih gampang lagi, aku cuma ingin menggunakan cara yang sama untuk disuguhkan  kepadanya, bukankah adil sekali namanya?"

"Yaa, memang adil sekali, entah Kit Put Shia mengetahui rahasia tersebut atau tidak?"

"Haaaaahhh......... haaaaaahhhhhh........

haaaaaahhhhhhhh           aku rasa  Kit Put-shia tidak akan lebih

bodoh daripada aku!"

"Ban tua, mengapa Kit Put-shia juga tidak membongkar rahasia tersebut waktu itu?"

"Aaaah, masa dia  tidak rikuh untuk  berbuat  demikian? Pertama-tama dia dulu yang menipu orang,  setelah orang lainpun mengunggulinya dengan cara yang sama, tentu saja  dia menjadi rikuh sendiri untuk mengutarakannya keluar."

"Ban tua, ada  suatu persoalan yang  tidak kuketahui.

Haruskah kutanyakan kepadamu?"

"Kalau memang ingin bertanya, tanyalah cepat-cepat." "Seandainya Kit Put-shia berani membongkar rahasia

tersebut waktu itu, apapula yang hendak kau perbuat?"

"Haaaaaaaaaahh........ haaaahhh....... haaahhh. mana

ia berani berbuat begitu?"

"Dalam hal ini masalanya bukan berani atau tidak,  aku  cuma pingin tahu andaikata dia sampai berbuat demikian, apa pula yang akan kau lakukan?"

"Seandainya Kit Put-shia benar-benar berani berbuat demikian, paling tidak akupun akan menuntut ganti kerugian kepadanya karena  telah mengekang kebebasanku  selama dua puluh tahun. Nah, bayangkan  saja, apakah dia berani menanggung resiko ini?"

"Yaaa, betul juga perkataanmu, biarpun Kit Put-shia punya nyali sebesar kepalapun tak nanti ia berani  menyerempet bahaya." "Itulah dia, oleh sebab itu akupun berlega hati membiarkan kau bermain gila. "

"Permainanmu betul-betul sangat tepat  dan  hebat, membuat boanpwe merasa sangat kagum!"

"Sudahlah bocah muda, aku tak usah menjilat pantat terus," tukas Kakek latah awet muda tiba-tiba, "ayoh jawab dulu mana kedua orang budak itu? Bagaimanapun juga kau harus mencarinya sampai dapat, coba kau lihat, gurunya si budak Kiaupun berada disini."

Kemudian setelah berhenti sebentar, katanya pula kepada It-ing taysu:

"Nikou kecil, muridmu sudah lenyap. Mengapa kau tidak menagih kepada pemuda ini?"

SEraya menyarungkan kembali pedangnya kedalam  sarung, It-ing taysu menyahut sambil tertawa:

"Ban-lo-sicu, Hui-hui pernah mendapatkan budi pelajaran silat darimu, apabila terjadi sesuatu hal atas dirinya, masa kau orang tua tidak ikut panik? Kalau toh kau sendiri tenang, buat apa boanpwe mesti gelisah?"

"Betulkah demikian?" seru Kakek latah awet muda sambil tertawa tergelak, "haaahhhh........ haaahhh.......

haaaahhhh....... kau si nikoh cilik memang sangat lihay, tampaknya usahaku  untuk  mengadu  domba  tak  akan tercapai "

Berbicara sampai disini, tiba-tiba dia  berpaling seraya teriaknya keras-keras:

"Mengapa kalian masih bersembunyi terus disitu? Ayoh cepat keluar. "

Oh Put Kui segera dibuat tertegun oleh teriakan itu.

Sementara dia masih termangu, dari balik kegelapan telah muncul dua sosok bayangan manusia. Ternyata mereka tak lain adalah Nyoo Siau-sian serta Kiau Hui-hui yang baru saja diributkan.

"Suhu!"

"Susiok!"

Dua orang gadis itu langsung menuju kehadapan  It-ing taysu.

"Nak, mengapa kalianpun datang kemari?" It-ing taysu segera menegur sambil tertawa.

"Kami datang kemari dengan  mengikuti dibelakang Oh toako," sahut Kiau Hui-hui sambil tertawa, "ketika Oh toako sudah naik keperahu, kami gagal menemukan kapal yang bisa mengarungi samudra, karena itu terpaksa menunggu disini sampai sekembalinya, siapa tahu kami telah ditemukan oleh Ban-locianpwe!"

"Nyali kalian berdua memang amat besar," ujar It-ing taysu sambil tertawa ramah, "Ehmm, Sian-ji juga ikut kemari, ayoh kalian berdua segera menjumpai tujuh malaikat dunia persilatan."

Diperkenalkan oleh sinni, Kiau Hui-hui serta Nyoo Siau-sian segera maju kemuka dan memberi hormat kepada tujuh orang tua tersebut.

Sambil tertawa tergelak  Tu Ji-khong segera berseru: "Taysu, kau boleh berbahagia dengan mempunyai murid

sebagus ini "

"Ehmmm, bakat bagus," puji Oh Ceng-thian pula dengan gembira, "kuucapkan selamat kepada taysu karena mempunyai ahli waris yang hebat. "

Kemudian sambil berpaling kearah Nyoo Siau-sian, tanyannya pula:

"Nona, siapakah gurumu?" Nyoo Siau-sian tahu kakek kurus ini adalah  ayah kandung Oh Put Kui, tiba-tiba  muncul suatu perasaan  yang  sangat aneh didalam hati kecilnya.

Ketika mendengar pertanyaan tersebut, segera sahutnya sambil tersenyum:

"Guru boanpwe adalah Wi-in. "

"Ooh, gurumu adalah  Hian leng Amcu? Nona harus berbahagia karena mempunyai guru yang hebat."

"TErima kasih atas pujian cianpwe "

Saat itulah Oh Put Kui baru maju kedepan dan menjumpai kedua orang nona itu, katanya sambil tertawa:

"Setelah kalian datang kemari, mengapa tidak langsung menjumpai diriku? Aaaaaiiii........... untung  saja tidak terjadi sesuatu disepanjang jalan, kalau tidak bagaimana caraku untuk bertanggung jawab dihadapan kedua orang sinni?"

Walaupun kata-kata itu merupakan teguran secara  langsung, namun kedua orang gadis itu menerimanya dengan bersuka cita, sebab paling tidak mereka tahu kalau pemuda ini sangat memperhatikan keselamatan mereka berdua.

Sambil tersenyum Nyoo Siau-sian segera berkata:

"Oh toako, kami. kami takut kau tidak mengijinkan kami

turut serta, itu sebabnya kami mengikuti pun tanpa ragu."

"Aaaaai, mana mungkin aku berbuat demikian " sambil

tertawa Oh Put Kui menggelengkan kepalanya.

Belum selesai dia berkata, tiba-tiba Kakek latah awet muda sudah menyela sambil tertawa tergelak.

"Hey anak muda, bagaimana kalau kau jangan bermesraan terus dihadapan kami semua?"

Teriakan ini segera saja disambut Oh Put Kui dengan  wajah yang berubah merah, dia tak mampu melanjutkan lagi kata-katanya. Sedangkan Nyoo Siau-sian dan Kiau Hui-hui segera menundukkan kepalanya rendah-rendah, seandainya disitu terdapat lubang mungkin mereka sudah menyembunyikan diri disitu.

Dalam pada itu Ku Put Beng sekalianpun segera menggunakan kesempatan mana untuk  bertemu dengan Kakek latah awet muda.

Kepada ketujuh orang tua itu,  Kakek latah  awet muda segera berkata sambil tertawa:

"Kalau dibicarakan sesungguhnya, nasib kalian masih jauh lebih mujur ketimbang aku, paling-paling kalian cuma berdiam selama delapan belas tahun diatas pulau, lagipula ada tujuh teman yang bisa diajak ngobrol dan berkelahi, kalianpun bisa melihat birunya langit dan hijaunya hamparan laut, semuanyan itu cukup mendatangkan kegembiraan buat kalian! Hey bocah muda she Leng, kalau dilihat dari pertarungan melawan nikou kecil tadi, rasanya kau tidak seberapa hebat?"

Ketujuh orang tua itu hanya tertawa tersipu-sipu saja menanggapi ucapan tersebut.

Terutama sekali Leng To, terhadap  orang lain dia bisa berbicara dengan ketus dan dingin, tapi terhadap Kakek latah awet muda Ban Sik Tong ia tak berkutik, sebab sebagaimanapun juga orang tua ini masih terhitung angkatan tuanya.

Setelah hening sesaat, kembali Kakek latah awet muda berkata:

"Nah si hwesio, si tosu dan si nikou  telah  menyiapkan  kereta untuk kalian semua, kalian diundang pergi ke kota Kim- leng untuk menjumpai Thian-hian Huicu, apakah kalian ada minat?"

Pertanyaan tersebut diajukan secara tiba-tiba dan diutarakan secara aneh. Ku Put-beng sebagai pemimpin dari ketujuh orang tua itu segera menjawab sambil tertawa:

"Menurut pendapat kau orang tua, perlukah buat  kami semua berangkat kesitu?"

Tindakan Ku Put-beng yang balik bertanya ini  kembali  diluar dugaan semua orang.

Tampaknya Kakek latah awet muda sudah mempunyai rencana yang cukup masak, ia segera menjawab sambil tertawa:

"Kalian tak usah kesana lagi, sebab gedung Un-hian-lo sudah kosong tiada penghuninya lagi!"

Begitu perkataan tersebut diutarakan, Hong-gwa-sam-sian sama-sama tertegun dibuatnya. Poan-cay siansu segera bertanya dengan keheranan:

"Apakah lo sicu baru saja datang dari Kim-leng?"

"Siapa bilang tidak? Nyatanya Ki Un-hong sudah pergi meninggalkan gedungnya."

Thian-hian tojin yang sudah bungkuk nampak semakin bungkuk lagi karena harus menjura, dia berkata pula:

"Dapatkah lo-sicu memberi penjelasan kepada kami? Apa sebabnya tuan putri meninggalkan gedung Un-hiang-lo secara tiba-tiba? Mungkinkah sudah terjadi suatu peristiwa dikota Kim-leng?"

Kakek latah awet muda  menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya:

"Tidak akan terjadi  sesuatu peristiwa dikota Kim-leng, kau si hidung bungkuk jangan sembarangan bicara."

"Lo-sicu," seru Poan-cay siansu kemudian setelah agak tertegun, "justru tuan putri yang minta kepada  pinceng sekalian untuk menjemput tujuh malaikat dan Oh siau-sicu agar diantar kekota Kim-leng, mengapa dia  sendiri  malah pergi dari situ?" "Andaikata tiada urusan penting, mana mungkin Ki Un-hong akan pergi dari situ? Ketika menempuh perjalanan kemari tadi, kami telah berpapasan  muka ditengah  jalan,  masa kalian masih tetap tidak percaya?"

"Pinceng bukannya tidak percaya, hanya merasa heran dan tidak habis mengerti."

"Haaaaaaahhhh.............. haaaaahhhh...........

haaaaaahhhhh.......... hwesio cilik, kapan sih aku pernah membohongi kalian?"

"Tidak berani, perkataan lo-sicu terlalu serius!"

Berkilat sepasang mata Kakek latah awet muda, segera ujarnya lagi sambl tertawa:

"Apabila kalian bersepuluh yang mengaku  sebagai  dewa dan malaikat  ini percaya dengan perkataanku, perjalanan menuju ke Kim-leng boleh diurungkan "

Tiga dewa dan  tujuh  malaikat sama-sama tersenyum  mendengar perkataan itu.

Selang sesaat kemudian  Poan-cay siansu baru berkata lagi:

"Tentu saja boanpwe sekalian percaya kepada lo-sicu." "Kalau memang percaya, bagaimana kalau turut aku saja

berkunjung ke lembah Sin-mo-kok?" Kembali semua orang dibuat terkejut. Pergi kelembah Sin-mo-kok? Mau apa?

Menyaksikan mimik wajah orang-orang itu, si Kakek latah awet muda segera berkata:

"Anak-anak muda, segenap jago sesat dan lurus dari dunia persilatan telah berkumpul semua dalam lembah Sin-mo-kok, apakah kalian tidak berniat untuk ikut hadir dalam keramaian yang luar biasa ini ?" Kalau ditanya berniat atau tidak, tentu saja semua orang berminat,.............

Karena itu walaupun tidak diperoleh jawaban, semua dari mimik wajah mereka si Kakek latah  awet muda dapat menyimpulkan atas persetujuan dari orang-orang itu.

Karena sambil tertawa serunya:

"Kalau toh dalam hati pingin pergi, kenapa kalian  masih tetap berdiri  disitu? Ayoh kita berangkat. "

Bagikan hembusan angin puyuh, dalam waktu singkat semua orang sudah berangkat meninggalkan tempat itu.

Kini hanya tinggal si kakek nelayan dari lautan   timur seorang tetap berdiri ditempat dengan kening berkerut dan menghela napas panjang..............

Dari lautan timur menuju bukit Ci-lian-san merupakan suatu jarak perjalanan yang cukup jauh.

Biarpun keempat belas orang tersebut rata-rata merupakan jago kelas satu didalam dunia persilatan, mereka pun membutuhkan waktu selama belasan hari sebelum tiba  di tempat tujuan.

untung saja pertemuan puncak diselenggarakn dalam lembah Sin-mo-kok belum lagi dilangsungkan.

Menurut pemberitahuan dari Kakek latah awet muda, pihak lembah sin-mo-kok atas nama si pedang  sakti bertenaga raksasa Kit Pit-shia, kakek pengejut langit Siau-Hian, jago pemabuk dari loteng  merak Siau Yau serta raja setan penggetar langit Wi Thian-yang telah menyebar  kartu undangan Liok-lim-tiap keseluruh dunia persilatan.

Kartu undangan tersebut berisikan pemberitahuan kepada segenap umat persilatan bahwa pada  bulan  enam  tanggal satu akan diselenggarakan pertemuan besar selaksa iblis dilembah sin-mo-kok dan  mengundang  segenap jago dari golongan putih maupun hitam untuk datang menghadirinya. Ketika Kakek latah awet muda bersua dengan Thian-hian huicu Ki Un-hong dikota Kim-leng tempo hari, mereka telah berunding cukup lama dan akhirnya menyetujui usul dari jago berbaju putih Ibun Han untuk  menghubungi segenap jago sealiran untk bekerja sama dan memanfaatkan kesempatan ini untuk membasmi kaum iblis tersebut dari muka bumi.

Disamping itu merekapun hendak  menggunakan kesempatan ini untuk membuat penyelesaian atas beberapa kasus peristiwa berdarah yang terjadi dalam dunia persilatan.

Setelah keputusan diambil, Kakek latah  awet mudapun berangkat kelautan timur.

Ki Un-hong dengan mengajak keempat orang dayangnya berangkat ke bukit Ci-lian-san.

Si kakek tanpa wujud Samwan To mendapat tugas untuk menghubungi Bu-tong-pay dan Hoa-san-pay.

Jago berbaju putih Ibun Hau mendapat menghubungi Siau- lim-pay serta Pay-kau.

Urusan tentan Kay-pang diserahkan kepada pengemis pikun.

Sebaliknya Go-bi-pay yang terletak jauh di Kuan-tiong ditugaskan kepada pihak Kay-pang untuk menghubunginya.

Sampai saat itulah Oh Put Kui baru tahu kalau kakek luarnya, Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui telah pergi seorang diri. Tak seorangpun yang tahu kemana dia telah pergi.

Tapi semua orang telah berjanji akan berkumpul dibukit Ci- lian-san pada akhir bulan lima.

Tatkala Oh Put Kui selesai mendengar penjelasan dari Kakek latah awet muda itu, dia segera berkata sambil tertawa:

"Ban tua, mengapa kau sama sekali tidak menyinggung tentang guruku?"

"Haaaaaaahhhh............ haaaaaaaaaaahhhhhh..........

haaaaaaaaaahhhh........ sudah kuduga kau tentu akan bertanya demikian, itulah sebabnya aku tidak menyinggung sama sekali, ternyata dugaanku betul, kau memang tak dapat menguasai diri serta mengajukan pertanyaan itu kepadaku."

Oh Put Kui turut tertawa setelah mendengar itu, segera ujarnya:

"Apakah aku salah bertanya?"

"Tidak, kau tidak salah bertanya anak muda, tapi kau tidak usah kuatir, toa supekmu pasti akan datang, bahkan suhumu Thian-liong si hwesio kecil itupun mungkin akan  munculkan  diri pula."

Tak terlukiskan rasa kaget dan gembira Oh Put Kui setelah memperoleh berita ini.

Ia Pasti ingat Thian-liong sangjin  pernah  berkata kepadanya, dia bakal mengalami sebuah badai besar  lebih dulu sebelum akhirnya memperoleh ketenangan lahir batin.

Mungkinkah Thian-liong sangjin sudah mengetahui bakal terjadi peristiwa semacam ini?

Berpikir akan hal tersebut, diam-diam ia menjadi termangu.

Tapi   satu   ingatan   segera   melintasi kembali didalam benaknya, cepat dia bertanya lagi:

"Ban tua, dimanakah kelima orang ciangbunjin itu? Apakah kau berhasil menyeledikinya?"

"Entah!" jawab Kakek latah awet muda sambil tertawa, "bukankah budak Nyoo bilang ke lima orang ciangbunjin itu sudah pergi meninggalkan gedung Sian-hong-hu bersama- sama kakaknya Nyoo Ban-bu? Andaikata apa yang dikatakan budak ini benar, delapan puluh persen kelima orang ciangbunjin  itu   telah    tiba    didalam    lembah    Sin-mo-  kok. "

"Mungkinkah jiwa mereka terancam?" seru Oh Put Kui dengan perasaan terkejut. Kakek latah awet muda menggelengkan kepalanya,  lalu sambil tertawa katanya pula:

"Anak muda, menjelang pertarungan besar setara kaum lurus dan sesat ini, ada beberapa persoalan. Jangan lupa kau selesaikan!"

"Beberapa persoalan yang mana?"

"Tentu saja tentang kasus kematian dari Hu-mo-suthay di Cing-shia-san, Sin-ou, dipuncak Go-bi, suami istri Leng-hong dikebun Cay-wi-wan serta Kakek suci berhati mulia Nyoo Thian-wi, kau harus dapat memecahkan kasus-kasus tersebut didalam  pertemuan besar tersebut "

"Tapi boanpwe sama sekali tidak memperoleh data apapun tentang peristiwa tersebut, bagiamana mungkin dapat memecahkannya?" sahut Oh Put Kui tertegun.

"Bila kau belum berhasil memperoleh sesuatu data apapun, sudah sepantasnya bila kau pergi mencari."

Kemudian setelah berhenti sejenak, kemudian Kakek latah awet muda berkata lagi:

"Tentang persoalan yang menyangkut ibumu, lebih baik diselesaikan juga dalam pertemuan itu, mengerti?"

"Tentu saja "

Sesudah tertawa rendah, Kakek latah awet muda berkata lebih lanjut:

"Anak muda, mungkin kita akan tiba di Ci-lian-san pada bulan lima tanggal dua puluh tujuh, berarti masih ada sisa waktu tiga hari tiga malam sebelum pertemuan itu diselenggarakan, kita harus memanfaatkan waktu yang cuma tiga hari itu dengan sebaik-baiknya, bukankah perkataanku ini betul?"

Tergerak hari Oh PutKui setelah mendengar perkataan tersebut, sahutnya dengan cepat: "Betul,asalkan kita memiliki waktu selama tiga hari, berarti kita masih mempunyai waktu untuk menyelidiki banyak persoalan........ Ban tua, apakah  kau sendiri akan  turun tangan? Ataukah hendak mengundang "

"Haaaaaaahhh.......... haaaahhh........... haaaaahhh........

dengan tenaga gabungan kita berdua, masa belum cukup?"

oOdwOoo0dw0oOdwOoo

Menjelang tengah hari bulan lima tanggal dua puluh enam, Hong-gwa-sam-sian, Bu-lim-jit-seng, Kakek latah awet muda, Oh Put Kui, Kiau Hui-hui serta Nyoo Siau-sian empat belas orang, betul-betul telah tiba di lembah Sin-mo-kok dibukit Ci- lian-san.

Didepan lembah Sin-mo-kok telah  didirika  sebuah panggung setinggi tiga kaki lebih. Ditengah-tengah panggung itu terpampang sebuah tulisan yang bertuliskan:

"PErtemuan sehati sejuta iblis"

Dibawah panggung tadi berjajar dua  baris lelaki kekar berbaju hitam, semuanya kelihatan gagah, bersemangat tinggi serta memeluk sebilah golok berpita merah, suasana nampak cukup menyeramkan.

Di bagian tengah panggung berdiri pula dua baris gadis muda yang masing-masing membawa  sebilah  pedang, mereka bertugas menyambut kedatangan para tamu.

Dalam sekilas pandangan saja, dapat diketahui jumlah mereka mencapai dua tiga puluh orang. Diantara kelompok manusia tersebut, tampaknya tak  seorangpun  yang merupakan pimpinan.

Oh Put Kui dengan membawa kartu nama yang bertuliskan nama Hong-gwa-sam-sian serta Bu-lim-jit-seng, pelan-pelan mendekati panggung tersebut. Kakek latah awet muda ternyata mengikuti pula dibelakang dengan langkah yang tenang. Oh Put Kui langsung menuju kedepan barisan gadis-gadis muda itu, ketika mereka mencapai jarak satu kaki dari panggung tersebut, tiba-tiba muncul seorang kakek botak dari balik pintu berpagar dan berjalan keluar dari balik sebuah pintu kecil.

Melihat wajah orang itu, Oh Put Kui segera berpikir dengan kening berkerut:

"Bukankah orang ini adalah si kakek patah hati putus usus Hui Lok. ?"

Berpikir demikian diapun menegur dengan suara keras: "Hui tua, aku Oh Put Kui menjumpai dirimu!"

Ketika Hui Lok  melihat kemunculan Oh Put Kui disitu, selintas perubahan wajah yang sukar diartikan dengan kata- kata melintas lewat, tapi begitu pemuda tersebut selesai berkata, ia sudah menyahut sambil tertawa tergelak:

"Saudara Oh, rupanya kaupun ikut kemari?"

Sambil berkata dia  sambut kartu  merah yang  berada ditangan Oh Put Kui itu, bersamaan pula waktunya sorot matanya dialihkan ke wajah Kakek latah  awet muda yang berada dibelakang pemuda tersebut.

Mendadak paras muka Hui Lok berubah hebat, cepat-cepat dia maju kemuka dan menjura dalam-dalam seraya berseru:

"Hui Liok menjumpai Ban tua "

"Haaaahh........ hhaaahhh.......... haaahhh....... tak usah banyak adat," tukas Kakek latah awet muda sambil tertawa tergelak, "cepat bawa kartu nama itu dan beritahu  kepada para gembong iblis tua, bahwa tiga dewa dan tujuh malaikat telah berdatangan semua, bahkan termasuk diriku terdapat empat  belas  orang  yang  datang  untuk   menonton keramaian. " Baru saja Kakek latah awet muda itu selesai berkata, Hui Lok telah mengiakan dan cepat-cepat berlalu dari situ.

Tak selang beberapa saat kemudia Kit Put-shia telah  muncul dengan langkah cepat.

Gembong iblis yang bertampang gagah ini segera mengulumkan senyuman palsunya diujung bibir, seakan-akan dia sedang menyambut konco-konco segolongannya saja.

Dengan cepat keempat belas orang jago itu disambut masuk kedalam kelembah Sin-mo-kok.

Oh Put Kui sekalian tidak ditempatkan dalam  kota kematian.

Rupanya untuk menyambut kedatangan para jago dari pelbagai aliran yang akan mengikuti pertemuan besar itu, mereka telah membangun tenda sepanjang bermil-mil panjangnya untuk menampun tamu-tamunya, semua tenda tersebut dibangun degnan mengitari sungai pelindung kota, sehingga mendatangkan kesan seolah-olah berada diluar perbatasan saja.

Akan tetapi mereka pun tidak diberi tenda sebagai tempat untuk beristirahat.

Kit Put-shia langsung mengantar mereka menuji kedalam sebuah kuil besar yang berada di kaki bukit Ci-lian-san diluar kota kematian.

Dahulu kuil tersebut merupakan markas besar dari partai Ci-lian-pay, tapi kemudian ketika ilmu silat partai mereka kian lama kian melemah sehingga akhirnya kehilangan syarat sebagai sebuah partai dalam dunia persilatan, maka Kit Put Shia pun membeli markas mereka itu serta dijadikan kuil pelindung bagi kota kematiannya.

Bahkan oleh si jago pemabuk dari loteng merah Siau Yau, kuil itu dinamakan Tay kong-sian-si.

Ruangan yang berada dalam kuil Tay-kong-sian-si semuanya berada dalam keadaan bersih dan rapi. Oh Put Kui dengan rombongannya memperoleh jatah sebuah halaman khusus didalam kuil tersebut, dibalik halaman itu tersedia delapan buah kamar yang terdiri dari kamar besar maupun kecil, untuk mereka berempat belas orang, ruangan yang tersedia lebih dari cukup.

Sebelum mengundurkan diri Kit Put-shia sempat memberitahukan kepada Kakek latah awet muda bahwa kuil Tay-kong-si ini khusus  disediakan  untuk  menampung kawanan jago persilatan kelas satu serta mereka  yang setarahf dengan seorang ciangbunjin suatu partai besar.

HAri ini rombongan dari Kakek latah awet muda menjadi rombongan pertama yang menempati kuil  Tay-kong-si tersebut.

Bahkan Kit Put-shia pun menugaskan si saudagar kaya dari kota naga Ku Yu-gi untuk  melayani kebutuhan mereka sebelum akhirnya dia mengundurkan diri.

Menunggu sampai Kit Put Shia telah pergi, kakek  latah awet muda baru berkata sambil tertawa tergelak:

"Gembong iblis ini betul-betul sangat lihay ternyata

dia telah memisahkan kami semua sedemikan jauhnya dari pusat pertemuan. "

Malam itu, Oh Put Kui dan Kakek latah awet muda tidak melakukan suatu gerakan.

Ketika mereka kembali kekuil  setelah  menghadiri perjamuan yang  diselenggarakan Kit Put-shia serta dua bersaudara Siau, waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam.

Tapi secara lamat-lamat Oh Put Kui merasa sangat tidak tenang, apa sebabnya Wi Thian-yang tak nampak batang hidungnya?

Orang yang mempunyai perasaan yang sama dengannya adalah Nyoo S iau-sian, dalam hati keculnya timbul pula suatu perasaan bimbang dan ragu ketika ia tidak menjumpai ayahnya yang mungkin merupakan gembong iblis  itu munculkan diri sebagai tuan rumah.

Mungkinkah Wi Thian-yang bukan Nyoo Thian-wi seperti  apa yang diduga. ?

Dia ingin sekali mencari Oh Put Kui untuk diajak berbincang-bincang, tapi ia menjumpai Oh Toakonya berada bersama-sama dengan ayahnya,  hal  ini  membuatnya tak berani berkutik, karena dia merasa agak takut terhadap Oh Ceng-thian.

Keesokan harinya, Thian-hian Huicu dan rombongan telah tiba pula disitu, yang bergabung  dalam  rombongannya terdapat sipengemis pikun Liok JinKhi, ketua  kay-pang  si kakek bintang pencabut nyawa Kongsun Liang,  keempat tiangloonya masing-masing bernama si sembilan toya pengurung naga HE Bu-hui, kakek pemabuk dari Kang  lam Ting Tin-shia, guntur membelah bumi Kay Sian-bu serta si pukulan geledek Cian-siu.

Otomatis suasana didalam kuil Tay-kong-s pun menjadi sangat ramai.

Sore itu si kakek bayangan semu berbaju hijau Samwan To muncul pula disertai para tianglo dari Bu-tong-pay serta Hoa- san-pay.

Jago berbaju putih Ibun Han disertai dua orang tianglo dari Siau lim pay dan cousu dari Pay kau muncul pula hampir bersamaan waktunya.........

Malam itu, dipihak para jago golongan  lurus diselenggarakan pula sebuah pertemuan yang dipimpin oleh Thian-hian huicu, dalam pertemuan tersebut dirundingkan pelbagai cara untuk menghadapi lawan,  terutama dalam pertarungan melawan kaum iblis di hari pertemuan tersebut..........

Sayang sekali pertemuan ini  tiada mendatangkan hasil seperti apa yang diharapkan,  sebab bagaimanapun juga Thian-hian Huicu sekalian belum berhasil mengetahui secara pasti siapa-siapa saja yang berada dipihak lawan.

Malam itu, Oh Put Kui dan  kakek latah  awet muda meninggalkan kuil Tay-kong-si secara diam-diam.

Ditengah kegelapan malam, dua sosok bayangan manusia itu bagaikan dua lembar sukma gentayangan saja langsung menerobos masuk kedalam kota kematian.

Mereka langsung menuju kewarung penjual beras  dimana Kit Put Shia berdiam.

Diluar dugaan, ternyata gembong-gembong iblis tersebut sudah pada tidur dengan nyenyaknya. Oh Put Kui serta kakek latah awet muda yang  menyaksikan kejadian  itu segera bertukar pandangan sekejap dengan perasaan amat kecewa, dengan perasaan tak rela mereka melakukan perondaan lagi hampir satu kentongan, namun akhirnya harus pulang dengan tangan hampa.

Malam berikutnya sekali lagi mereka  melakukan penyelidikan.

Namun alhasil seperti juga dalam gerakan pertama, kali ini pun mereka harus pulang dengan tanpa hasil.

Oh Put Kui segera merasa kalau ada sesuatu yang tak beres, ditengah perjalanan kembali segera bisiknya:

"Ban tua, apakah kau tidak merasa kalau persoalan ini rada kurang beres?"

"Yaa betul, aneh betul jika mereka bersikap begitu tenang. Anak muda, agaknya kita mesti memutar otak mencari jalan lain, coba bayangkan, mungkinkah Kit Put Shia masih mempunyai tempat tinggal lain yang dipakainya. "

Mendadak sepasang mata kakek latah awet muda itu berkilat, dia mencegah pembicaraan lebih lanjut lalu memberi kode rahasia kepada Oh Put Kui. Dalam pada itu Oh Put Kui sendiripun  dapat  merasakan ada sesuatu yang tak beres.

Waktu itu mereka sudah ada dalam perjalanan bukit lebih kurang satu li dari kuil Tay-kong-si, dari situ semua pemandangan di kota kematian dapat terlihat jelas.

Begitu kakek latah awet muda memberikan  kode rahasianya, Oh Put Kui segera tertawa tergelak  seraya berseru:

"Ban    tua,    pemandangan   alam     disini     sungguh indah. "

Belum habis dia berkata, tiba-tiba tubuhnya melejit keudara dan meluncur kebelakang sebuah batu besar dan bentaknya:

"Sobat, ayoh keluar. "

Bersamaan dengan bentakan itu,  dari balik batu cadas kedengaran seorang menyahut sambil tertawa keras:

"Lote, kau memang sangat lihay "

SEorang kakek berbaju putih dengan tubuh gemuk pendek dan berwajah bulat telah munculkan diri dengan langkah lebar.

"Ooh, bukankah kau adalah kakek sakti tertawa keras Beng tua?" seru Oh Put Kui tertegun, "hampir saja boanpwe akan berbuat lancang kepadamu,. "

"Haaaaaaahhhh.......... haaaaaaaaaaaahhhhhhhh.........

haaaaaahhhhhh...... lote tak  udsah  merendahkan  diri! Ehmmm, Ban tua, baik-baikkah kau?"

Seraya berkata dia menjura pula kearah kakek latah awet muda.

Sebaliknya si kakek latah awet muda nampak  gembira sekali setelah mengetahui kalau orang yang muncul adalah kakek sakti tertawa keras.

"Hey si cebol Beng, rupanya kau! Aku masih menduga siapakah yang bernyali besar dan berkepandaian begitu tinggi menyembunyikan diri dibalik batu, ternyata kau orangnya. "

"Cebol Beng, ada urusan apa kau bersembunyi disitu?" "Apalagi kalau bukan menyampaikan kabar buat engkoh

tua serta Oh lote, kunasehati kepada kalian agar tak usah bersusah payah lagi masuk keluar kota kematian tanpa hasil."

kakek latah awet muda berkata pula diiringi senyumannya: "Cebol Beng, apakah kalian bersembunyi disuatu tempat

dalam kota. ?"

"Tidak, kami berada diluar kota."

Mula- mula kakek latah awet muda nampak  tertegun  lalu dia balik bertanya:

"Kenapa?"

"Sebab aku sudah mengetahui akan persoalan tersebut." "Wah celaka, kenaoa kami tidak sampai berpikir kesitu?"

seru kakek latah awet muda kemudian sambil garuk-garuk kepala.

"Hey  anak muda, apa sebenarnya maksudmu. ?"

"Beng loko bukan orang-orang dari golongan  iblis,  sekalipun dia tampil sebagai saksi namun belum tentu ada  orang yang percaya maka menurut pendapat boanpwe, paling baik lagi jika dipihak kaum iblispun ada  yang mau tampil sebagai saksi. "

"Lote, bagaimana kalau Siau Lun yang tampilkan diri?" "Sudah pasti orang akan puas!"

"Kalau begitu biar  aku  yang   menghubungi  Siau  loko nanti. " Beng Pak tim berjanji.

"Apakah Siau Lun juga datang ?" "Bagus sekali, ini yang dinamakan kaum  iblis berpesta pora.........................." seru kakek latah awet muda sambil tertawa tergelak.

Sesudah berhenti sejenak, tiba-tiba kakek latah awet muda berkata dengan kening berkerut:

"Cebol Beng, darimana kau tahu kalau keempat kasus berdarah itu merupakan hasil karya mereka?"

@oodwoo@