Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 02

 
Jilid 02

PERLU DIKETAHUI, perkampungan Tang-mo-san-ceng ini mempunyai pamor yang tidak lebih rendah dari pada nama besar Sian-hong-hu ataupun Ci-wi-wan,  kepala  kampungnya Ki lok-sian-tong bocah 'dewa kegembiraan' hoa Tay-siu dan istrinya Yauti-giok li' gadis suci dari nirwana' Lan Ting adalah jago-jago yang termasyhur dalam duniz persilatan.

Dibandingkan dengan si kakek malaikat Nyoo Thian-wi atau si bayangan pedang pengejar nyawa leng Hong-bin, mereka jauh lebih supel dan  memperhatikan keselamatan umat persilatan, apalagi dia adalah kakak seperguruan dari Leng Hong-bin sendiri.

Semenjak Nyoo thin-wie dan leng hong bin  menemui ajalnya, tanpa terasa perkampungan Tang mo-san-ceng telah berubah menjadi tempat suci terakhir dimana umat persilatan menggantungkan harapannya.

Ternyata Ki-lok-sian-tong Tay-siu tidak membuat orang kecewa setelah Leug Hong bin binasa, dia bersama -sama mendirikan sebuah papan pengumuman pembasmi iblis dalam perkampungan Tang mo-san-ceng.

Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus nama gembong iblis dan pejabat yang sudah banyak melakukan kejahatan mereka tempelkan di atas papan pengumuman  tersebut  dengan catatan barang siapa dapat membunuh seorang diantaranya akan memperoleh jasa dan pahala.

Didalam keputus-asaan mereka karena gagal untuk mengetahui siapakah pembunuh keji yang telah membunuh Cing sia siang ni Kim teng sin ihm wan sim seng siu dan Kiam in tui hun, terpaksa ditempuhnya cara ini. Menurut anggapan mereka,  seandainya  gembong- gembong iblis itu berhasil dibasmi semua,  bukankah pembunuh keji itupun pasti berada diantara orang-orang yang terbunuh. Tapi kenyataannya, selama tujuh  bulan ini  kecil sekali hasil yang berhasil mereka peroleh.

Mereka yang datang merobek nama penjahat di atas papan pengumuman itu, paling banter hanya bisa membunuh beberapa orang penjahat dari kelas dua, tiga saja.

Oleh karena itu,  Hoa Tay siu maupun jago-jago yang lainnya itu yang bergabung dalam perkampungan itu menjadi gelisah sekali.

Celakanya justru mereka tidak berhasil menemukan cara lain yang jauh lebih baik.

Arak sudah kenyang diminum, akan tetapi pengemis itu belum juga menyinggung tentang gembong iblis yang dibunuh, lama kelamaan habis sudah kesabaran sastrawan berusia pertengahan itu, setelah mendengus dingin, tegurnya:

"Saudara Lok, apakah ulat-ulat arakmu sudah dibunuh semua?"

"Ehm......eehhmm sudah habis dibunuh semua!" jawab si

pengemis dengan mulut masih penuh dengan makanan. "Hari ini, kau membawa berita kematian dari siapa?"

Mendadak pengemis tua itu mendongakkan kepalanya, lalu berteriak keras :

"Wan lote jangan  buru-buru membicarakan  orang  mati, bikin napsu makan orang hilang saja, mari, mari, mari, mari kuperkenalkan dulu kalian dengan bocah keparat ini!"

Kemudian sambil berpaling ke arah Oh Put Kui katanya : "Hei bocah keparat, mari lohu perkenalkan dirimu dengan tiga orang tokoh sakti!"

Sambil menuding ke arah pendeta bertubuh tinggi besar itu serunya : "Dia adalah tianglo dari siau lim pay, Hui leng taysu!" Oh Put kui segera menjura dan katanya sambil tertawa: "Pemimpin dari ruang Lo han tong memang  betul-betul seorang tokoh sakti yang termasyhur!"

Pengemis tua itu segera terkejut bisiknya: "Hei bocah keparat, tampaknya kau luar bisa sekali!" kemudian sambil menuding ke arah tosu itu katanya: "Dia  adalah  Hian  pek Cinjin dari Bu tong pay!

"Salah seorang dari Bu tong siang kiam, sudah lama ku kagumi nama besarnya!" puji Oh Put kui sambil tertawa.

Pengemis tua itu segera melotot gusar ke arahnya, kemudian baru menuding ke arah sastrawan berusia pertengahan itu sambil melanjutkan : "Dan dia adalah Hoa san tianglo, Kim ci bu tek 'jari emas tiada tandingannya' wan Ciu beng!"

"Kim ci bu tek dari salah seorang Hoa san sam lo memang sangat memahami jago-jago persilatan yang berada di hadapannya untuk sesaat dia menjadi tertegun  dan berdiri termangu-mangu, sampai lama sekali lupa berbicara.

Dalam pada itu Kim ci bu tek Wan ciu beng dapat melihat bahwa pemuda asing ini meski berbicara secara sungkan, namun mimik wajahnya tidak menunjukkan perasaan hormat kepada meraka, hal  ini segera menimbulkan perasaan tak senang dihatinya.

Dengan sinar mata memancarkan cahaya tajam, dia tertawa dingin, kemudian kepada pengemis itu hardiknya :

"Pengemis Lok, siapakah pemuda yang angkuh ini?" "Bocah keparat ini bernama Oh Put kui!"

"Oh Put kui?"

"Benar" sahut Oh Put kui sambil tertawa hambar, 'aku datang dari bukit In tang san tebing Cing peng gay" begitu selesai berkata, dia lantas mengambil tempat duduk sendiri. Dengan mata melotot buru-buru pengemis tua itu berseru : "Kau benar-benar tak tahu sopan santun, hei bocah keparat, mereka bertiga adalah cianpwe!"

Oh Put kui segera tersenyum "Semangat bukan milik orang tua saja, kalau ingin mencari seorang cianpwe dia harus memiliki kemampuan yang melebihi  siapapun......"  belum habis dia berkata, Hian pek Cinjin telah menukas :

"Anak muda, kau jangan tekebur, sewaktu pinto sekalian berkelana dalam dunia persilatan, mungkin sicu belum lahir di dunia ini dari mana kau tahu kalau pinto sekalian punya kelebihan?"

Oh Put kui segera tertawa.

Kalau memang cianpwe sekalian memiliki kelebihan mengapa pula harus mendirikan papan pengumuman pembasmi iblis? Tolong tanya beberapa orangkah diantara gembong-gembong iblis yang sebenarnya yang telah berhasil dibunuh?"

Hian Pek Cinjin menjadi tertegun "Soal ini. "

"Omitohud!" Hui leng taysu segera tertawa, "Siau sicu, darimana kau bisa tahu kalau tak seorang pun gembong iblis yang benar-benar kena dibunuh? Hari ini sipengemis sakti  yang pikun telah datang kemari, siapa tahu kalau dia membawa hasil seperti yang kita harapkan?

"Ooh, rupanya kau bersama pengemis sakti yang pikun, tak heran kalau kau mengaku dirimu pintar", pikir Oh Put kui segera. Sementara itu panas muka sipengemis tua itu  pun telah berubah menjadi merah padam karena jengah, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal dia berseru: "Hei, hwesio, aku si pengemis tua sudah merubah namaku menjadi Pengemis sakti yang pintar!"

Kim ci bu tek Wan ciu beng segera tertawa dingin. "Heeehhh..... heeehhh..... heeehhh.... jika kau cukup pintar, tak nanti akan kau ajak seorang bocah dungu macam begitu masuk ke dalam perkampungan kita!"

"Tapi .....apa salahnya ku ajak dia kemari?" si Pengemis sakti yang pikun tertegun.

"Hmmmm, bikin hati orang mangkel saja" Wan Ciu beng tertawa dingin, Pengemis pikun ini segera tertawa terkekeh- kekeh "Waaah, kalau itu mah urusan sendiri, kenapa aku si pengemis mesti mangkel kepadanya?"

"Yaa, lantaran tiada orang yang pikun macam dirimu itu!" Wan ciu beng semakin berang.

Mendengar dirinya berulang kali dimaki pikun, lama- kelamaan si pengemis mendongkol juga, dengan mata melotot segera berteriaknya. "Kau sendiri yang pikun! Sudah hidup setua ini mataku masih bisa melihat lebih jelas,  telingaku masih bisa mendengar lebih tajam dari pada dirimu, memangnya aku bisa lebih pikun dari padamu? Sialan "

Menyaksikan kedua orang itu cekcok sendiri, Hian pek Cinjin menjadi amat gelisah dia tahu Wan ciu beng adalah seorang manusia yang tinggi  hati, selamanya tak pernah tunduk kepada orang lain, sebaliknya si pengemis  pikun Lok  Jin kui justru seratus persen 'pikun' bila sampai cekcok sudah pasti perselisihan diakhiri dengan suatu pertarungan. Oleh karena itu belum sempat pengemis pikun memberondong dengan serangkaian kata-kata makian yang lebih 'sedap' didengar, buru-buru dia melerai sambil tertawa tergelak.

"Sudah, sudahlah, mengapa kalian berdua mesti cekcok sendiri? Yaa, seperti yang dikatakan Hui leng tosu tadi, kedatangan pengemis Lok kali ini sudah pasti telah berhasil membantai gembong iblis kenamaan dalam dunia persilatan"

"Aaaah, Cuma suatu hasil yang kecil saja, yang berhasil kutangkap tak lebih Cuma seekor ular kecil!"

"Tepat sekali, ucapan itu memang sangat tepat," kembali Kim ci bu tek Wan cui beng menyindir sambil tertawa dingin, "Pengemis memang kerjanya menangkap ular, tepat sekali pekerjaan tersebut bagimu ...." Hian  pek Cinjin  kuatir pengemis pikun itu menanggapi sendirian tersebut buru-buru tukasnya. "Saudara Lok sebenarnya ular macam apakah yang berhasil kau tangkap dari sarannya?"

"Pernahkah kalian bertiga mendengar kalau di wilayah Biau terdapat seorang raja yang bernama Jian tok  coa sin dewa  ular selaksa racun' Ih bun Lam?"

Begitu mendengar nama itu disebut, hui leng taysu segera melompat bangun seraya berseru. Lok sicu, apakah kau telah membunuh gembong iblis itu?" Hia pek Cinjin juga segera menanggapi.

"Pinto benar-benar  tidak menyangka kalau saudara Lok begitu hebat kemampuannya ?

Bahkan Kim ci bu tek Wan Ciu beng yang sejak tadi hanya menyindir-nyindirpun kini berubah pula paras mukanya.

Pengemis pikun Lok Jiu ki segera tertawa bangga.  "Ilmu silat yang dimiliki Ih bun Lam benar-benar luar biasa sekali

....." demikian ia berkata.

Mendadak Wan Ciu beng turut menimbrung: "Ilmu pukulan Cou heng cap jit ciang (tujuh belas pukulan  ular berjalan) dari Ih bun Lam terhitung ilmu pukulan yang dahsyat dalam dunia persilatan, beracun juga sangat  berbahaya  kelihatan kungfunya jauh diluar dugaan siapapun".

Maksud dari ucapan itu jelas sekali, yakni memberitahukan kepada penemis pikun agar tak usah meminjam  kelihayan ilmu silat dari Jian tok coa si ih bun Lam untuk mengangkat nama sendiri.

Bagi pengemis pikun yang berpikiran sederhana, tentu saja dia tidak berpikir sejauh itu, sahutnya sambil tertawa: :Benar! Apa yang diucapkan Wan lote memang benar!"

"Saudara Lok," kata Hian  pek cinjin kemudian  sambil mengangkat cawan araknya" pinto harus menghormati secawan arak padamu sebagai tanda ucapan selamat bagi keberhasilanmu!"

Sekali teguk dia habiskan isi cawannya pengemis pikun buru-buru mengangkat cawangnya pula sambil meneguk isi cawannya sampai tiga kali beruntun.

Oh Put kui yang menyaksikan semua peristiwa itu diam- diam harus menahan gelinya.

Diam-diam dia mengeluarkan selembar kertas berisi nama yang baru saja diambilnya dari papan pengumuman tadi, kemudian dilihat isi tulisannya: "Ih bun Lam,” bergelar Jian tok coa sin mengangkat dirinya sebagai raja di wilayah Biau, pernah mencelakai umat persilatan baik dari golongan putih maupun golongan hitam sebanyak tujuh ratus orang, barang siapa dapat membunuh orang ini, mendapat selaksa  tahil emas murni!

Sambil tertawa dan  menggelengkan kepalanya berulang kali, dia melipat kertas  itu menjadi tiga bagian, kemudian menggunakan dikala ke empat orang itu sedang meneguk arak, diam-diam ia susupkan kertas tadi ke saku si pengemis pikun.

Selesai melakukan perbuatan tersebut, Oh Put kui baru mengangkat cawannya dan berkata sambil tertawa: "Tampaknya aku telah salah berbicara lagi.....aku bersedia menghukum diriku dengan sepuluh guci arak!"

Setelah meneguk arak beberapa cawan, dia berkata lebih jauh: "Lok lo kau dapat membunuh Ih bun Lam yang tersohor sebagai raja di wilayah Biayu betul-betul suatu karya gemilang dari seorang ciapwe! Cctt......cctt......cctt. anggaplah secawan

arak ini sebagai rasa kagum dan permintaan maafku kepadamu."

Pengemis pikun Lok jin ki segera tertawa terbahak- bahak: "Haaahhhh..... hhaaahhh... haaaahhh.... cukup, cukup bocah muda, kau sudah menghabiskan sepuluh cawan arak,  lohu  pun telah menerima maksud baikmu itu, secawan arak ini sudah tak perlu kau minum lagi, orang muda tak boleh minum arak kelewat banyak"

"Kalau kau orang tua memang berkata demikian, aku akan menurut" kata Oh Put kui kemudian serius.

"Haaahhh..... Haaahhh.....  Haaahhh.....begitulah perbuatan seorang anak yang penurut."

Omintohud!" Hui leng tay su menyela tiba-tiba "Lok Siku apalah kau sudah merobek kartu  nama dari atas papan pengumuman ?"

Sambil memicingkan matanya si pengemis pikun mengagumkan kepalanya berulang kali.

Sambil tertawa Hui leng taysu segera berkata. "Harap Lok sicu suka menyerahkan robekan kertas itu kepada pinceng, agar bisa ditukarkan kepada kasir dengan  uang sebesar selaksa tahil emas murni "

Begitu mendengar emas murni selaksa tahil si pengemis pikun segera hilang sifat pikunnya. Mendadak teringat olehnya kalau kertas yang dirobeknya dari papan pengumuman tadi hanya bernilai tiga ratus uang perak saja,  dari  mana datangnya selaksa tahil emas murni?

Jangan-jangan ..... Jangan-jangan .....dengan cepat ia tersadar kembali dari lamunannya. Kapankah dia telah membantai Ih bun Lam?

Teringat olehnya andaikata ia tidak menguasai ilmu Ciang liong 'penaklukkan naga' dari kay pang yang justru merupakan tandingan dari ilmu Coa heng cap jit  ciang  serta kepandaiannya menangkap  ular, delapan bagian saat itu sudah menjadi mangsanya si dewa ular selaksa racun Ih bun lam ....... lantas, darimana bisa munculnya cerita kalau  dia telah berhasil membunuh Ih bun lam?

Dengan wajah agak sangsi dan tersipu sipu dia masukkan tangannya ke dalam saku ..... Diam-diam ia menyumpah didalam hati 'benar-benar memalukan, padahal aku hanya berhasil membunuh seorang muridnya Ih bun lam yang bernama Cing coa sin tong bocah sakti ular hijau, Li put kiat, mengapa aku bisa mengibul telah membunuh Ih bun lam.......? Aaaaai,  semuanya ini gara-gara  si tosu dan si hwesio yang telah mencelakai orang, tidak menunggu aku si pengemis tua  menerangkan  duduk persoalan mereka sudah keburu menyanjung lebih dulu. "

Oleh karena keraguan tersebut, membuat tangannya yang sudah merogoh ke dalam saku, sampai setengah harian lamanya belum juga ditarik keluar......

Dalam pada itu sorot mat empat orang bersama-sama sedang dialihkan ke wajahnya. Rasa  panik  tiba-tiba menyerang hatinya, membuat para muka pengemis tua itu berubah menjadi merah padam. Untung saja sudah  minum arak cukup banyak, sehingga tiada  orang  yang memperhatikan warna merah di atas wajahnya.

Kalau dibilang diantara ke  empat orang itu ada yang memperhatikan lebih seksama. Maka orang itu tak lain adalah Oh Put kui. Tangan si pengemis pikun  yang  merogoh  ke dalam sakunya belum juga ditarik keluar, namun sorot matanya telah melotot sekejap ke arah Oh put kui dengan gemas, diam-diam sumpahnya didalam hati. 'Semua ini gara- gara bocah keparat ini, coba kalau dia tidak menyindir orang dengan mengatakan pembunuh gembong iblis kenamaan, tak mungkin aku si orang tua bakal dibikin malu  seperti ini.......sialan betul bocah keparat itu. "

Akhirnya tangan itu ditarik keluar dari dalam sakunya. Dengan wajah merah padam karena malu, dia tertawa jengah, lalu ujarnya: "Rasanya aku si pengemis tua bakal membuat kalian kecewa lagi. "

Akan tetapi dikala sorot matanya telah membaca tulisan yang tertera diatas kertas-kertas itu, mendadak  bagaikan orang-orangan yang ditiup angin, dengan cepat dia membusungkan kembali dadanya. "Haaahhhh...... Haaahhhh...... Haaahhhh......ambil lah!" dia berseru sambil tertawa tergelak, "Sungguh  tak  kusangka  si ular kecil ini bernilai ribuan tahil emas. "

Oh Put kui yang menjumpai kejadian itu, hampir  menyembur keluar semua isi mulutnya lantaran geli. Tampaknya si pengemis pikun ini benar-benar sudah pikun!

"Hmmm, sekarang masih bisa berbangga hati, akan kulihat sebentar kau akan pergunakan bukti apa untuk menunjukkan kalau Ih bun Lam memang mampus di tanganmu. " demikian

pemuda berpikir......

Setelah menerima kertas berisi nama gembong iblis itu. Hui leng taysu memeriksa sebentar, kemudian sambil  menggape ke arah dua orang lelaki berpakaian ringkas yang  berdiri  di luar ruangan, bentaknya keras-keras: "Bawa tanda bukti ini untuk menerima uang sebesar selaksa tahil  emas murni. Beritahu kepada kasir, Ih bun  Lam  telah tewas ditangan pengemis sakti Lok Jin ki!"

Dua orang lelaki itu segera mengiakan dengan membawa kertas tadi dengan cepat meraka berlalu dari sana,

Tiba-tiba Kim ci bu tek tertawa dingin kemudian ujarnya "saudara Lok dapat membunuh gembong iblis yang telah

melakukan kejahatan ini  sungguh membuat siaute kagum,......Cuma saja, sebelum Lok bisa menerima di atas papan pengumuman pembasmi iblis, perlu kau tunjukkan lebih dulu barang buktinya. "

"Barang bakti? Barang bukti apa?" arak yang baru saja diteguk pengemis pikun itu segera menyembur keluar kembali. Kembali Kim ci bu tek tertawa dingin "Tanda bukti kalau Ih bun Lam benar-benar sudah mampus!"

"Benda apa yang bisa membuktikan kalau Ih bun Lam benar-benar sudah mampus?" Haaahhh...... Haaahhh......Haaahhh.... kau anggap Cuma lantaran uang emas selaksa tahil, aku si pengemis tua sudi membopong mayat orang sambil melakukan perjalanannya?"

"Sekalipun tak ada mayatnya, batok kepalapun boleh juga!"

Dengan cepat si pengemis  pikun  menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kau suruh aku membawa batok kepala manusia sambil menempuh perjalanan jauh? Huuuh, memangnya kau anggap aku tahan dengan bau busuknya?"

Tiba-tiba Kim ci bu tek tertawa tergelak.

"Sandara Lok, pernahkah kau berjumpa Ih bun  Lam? Pertanyaan ini kontan saja membuat pengemis pikun naik pitam.

Aku sipengemis tua harus banyak  bergerak sebanyak seribu jurus lebih sebelum secara beruntung....

Sebenarnya dia hendak mengatakan  "Sebelum secara beruntung lohu lolos dari ancaman maut Ih bun Lam. ' untung

saja perkataan itu belum sempat diutarakan keluar coba kalau tidak. sudah pasti semua rahasianya bakal terbongkar.

Setelah berhenti sebentar, dengan wajah serba salah dan menghela nafas panjang dia melanjutkan.

"Aaaai ..... kemenangan yang kuperoleh benar-benar tidak gampang.....

"Betul" sambung Oh Put kui tiba-tiba tertawa, kemenangan itu memang diperoleh dengan susah payah, coba kalau perubahan jurus Ci gan lik yaa 'menusuk mata mencabut gigi' dari ilmu Ciang liong ciang hoat mu itu tidak bergerak sangat cepat, mungkin akibatnya benar-benar  sukar  dibayangi  dengan kata-kata "

Bagaikan disengat ular beracun,  mendadak   pengemis pikun itu melompat bangun sambil berteriak: "Bocah keparat, kau.... kau.... kau.... telah menyaksikan semuanya. ?" "Haaaahhhh.... Haaaahhhh.... Haaaahhhh.... benar. "

seperti bola yang  kehabisan udara, tahun-tahu  pengemis pikun itu tergeletak lemas di atas kursinya seperti orang yang kehilangan semangat.

Melihat kejadian itu. Hian pek Cinjin menjadi tertegun, dia segera menegur : "Oh sauhiap, sebenarnya apa yang telah terjadi ?"

Oh put kui segera berpaling ke arah pengemis pikun,  namun ia ta berkata apa-apa, sementara itu si pengemis tahu sedang menutupi wajahnya dengan kedua belah tangan sementara mulut berguman terus tiada hentinya : "Kau bocah keparat bukan manusia....kau bocah keparat hanya khusus ingin mempermainkan aku ....uuuh.....uuuh.....uuuh... kali ini aku si pengemis tua benar-benar akan kehilangan muka!"

Oh put kui tak kuasa mengendalikan rasa gelinya lagi, dia tertawa tergelak kemudian kepada Hian pek Cinjin katanya!"

"Aku telah menyaksikan sendiri bahwa Lok lo telah membunuh Ih bin Lam gembong iblis tersebut"

"Ooh.....kiranya begitu.....ternyata peristiwa ini  memang benar-benar terjadi. "

Sebaliknya Kim ci bu tek Wan ciu beng segera tertawa dingin. Katanya dengan cepat : "Ucapan seorang anak muda mana boleh dipercaya. Apa lagi sewaktu ciangbun jin dari lima partai serta Tang mo cengcu mendirikan papan pengumuman Tang mo pang telah diputuskan peraturan yang  mengatakan bila tiada bukti yang  bersangkutan  benar-benar  terbunuh, uang hadiah tak dapat diserahkan"

"Ucapan Wan sicu memang benar!" Hui leng taysu segera menanggapi manggut-manggut. Hian pek cinjin segera mengalihkan kembali sorot matanya ke wajah anak muda itu kemudian katanya :

"Oh sauhiap, kalau toh kau telah menyaksikan Ih bun lam tewas ditangan pengemis Lok, mengapa kau tidak menyuruh pengemis Lok memenggal batok kepala Ih bun Lam ?" Tiba-tiba Oh Put kui tertawa aneh, katanya :

"Pengemis Lok hanya berniat untuk bergurau kalian, masa kalian bertiga tak dapat melihatnya?"

"Aaah, jadi apa yang dikatakan selama ini hanya gurauan belaka?" seru Hian pek Cinjin tertegun.

Sedangkan Kim ci bu tek paling gusar di antara mereka, segera bentaknya keras-keras:

"Pengemis Lok, besar amat nyalimu. "

Sambil berkelebat ke depan, dia bersiap-siap menerjang tubuh si pengemis pikun.

Dengan cepat Hui Leng taysu mengulurkan  tangannya mencegah Wan Ciu beng maju ke depan, cegahnya:

"Sicu, jangan bertindak gegabah. "

Kemudian Oh Put kui katanya sambil tertawa :

"Siau sicu, apa yang kau maksudkan sebagai gurauan tersebut? Apakah Lok sicu belum berhasil membunuh Ih bun Lam si gembong iblis tersebut "

Oh Put kui tidak menjawab, sebaliknya malah tersenyum belaka dengan mulut membungkam.

Pada saat itulah mendadak  si pengemis tua melompat bangun, kemudian teriaknya keras-keras:

"Bocah keparat, semuanya ini  adalah gara-garamu. "

"Plaaak...!" sebuah pukulan dengan telak menghajar tubuh Oh Put kui membuat badannya tergetar mundur sejauh lima langkah lebih.

Serangan ini dilancarkan si pengemis tua dalam keadaan gusar, tentu saja hasilnya luas biasa sekali.

Darah kental segera muncrat keluar dari mulut Oh Put kui.

Mendorong sinar tajam balik mata Hian Pek Cinjiu, segera tegurnya dengan gusar: "Saudara Lok, dengan sikapmu terhadap seorang boanpwee, apakah kau tidak kuatir perbuatanmu ini hanya akan merosotkan pamormu sebagai tianglo perkumpulan Kay pang?"

Sepasang mat pengemis pikun melotot besar sekali karena gusar, terdengar ia membentak lagi:

"Bodah keparat ini ....dia dia telah mengacaru diriku terus

.....betul menggemaskan ....betul-betul menggemaskan "

Oh Put Kui sedikitpun tidak mendendam kepada pengemis pikun, kendatipun ia sudah kena dihajar, setelah membesut darah yang menodai bibirnya, seakan-akan tak pernah terjadi peristiwa apapun, ujarnya kepada Hian pek Cinjin:

"Totiang tak usah menegur pengemis Lok dalam persoalan ini memang akulah yang telah bersalah!"

Dengan sorot mata memancarkan rasa kagum, Hui leng taysu berkata sambil tertawa: "Kebesaran jiwa siau sicu, betul- betul telah membuat lolap merasa amat kagum!"

Oh Put kui segera tertawa hambar "Sudah  banyak  waktu aku mengembara dalam dunia persilatan, penderitaan dan siksaan yang pernah ku alami bahkan seratus kali lipat lebih hebat dari pada apa yang ku alami sekarang, pujian dari taysu itu benar-benar tak berani kuterima."

Hian pek cinjin seperti merasa menyayangkan sesuatu, dia hanya menggelengkan kepalanya berulang kali.

Sedangkan Kim ci bu tek Wan Ciu beng  tertawa  dingin tiada hentinya dengan nada sinis.

Oh Put kui seakan-akan tidak  melihat kesemuanya itu sambil tertawa katanya kemudian kepada pengemis itu:

"Pengemis Lok, serangan yang kau lancarkan itu  betul- betul cukup mematikan!"

Hawa amarah yang berkobar dalam dada pengemis  pikun itu belum mereda, dengan penuh rasa mendongkol  serunya lagi : "Bocah keparat, saking gemasnya aku si pengemis tua betul-betul ingin merenggut selembar nyawamu!"

"Pengemis Lok, rasa bencimu kepada aku sungguh membuat aku merasa amat terkejut " kata Oh put kui sambil

menggelengkan  kepalanya  dan tertawa.

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ia merogoh  sakunya dan mengeluarkan sebuah batok kepala  yang  telah mengering, sambil di angsurkan ke hadapan Kim ci butek wan ciu beng, ujarnya sambil tertawa dingin:

"Inilah batok kepala dari Ih bun Lam, tak ada salahnya jika kau periksa dengan seksama! Setelah pengemis Lok berhasil membunuh iblis ini, meski dia lupa untuk memenggal batok kepalanya. Namun aku cukup mengetahui kalau manusia di dunia ini kebanyakan hanya mau percaya kepada diri  sendiri dan enggan mempercayai kemampuan orang lain, oleh sebab itu aku telah mewakili pengemis Lok untuk memenggal batok kepala dari iblis itu, aku rasa kalian bertiga pasti tak akan menaruh curiga kepada pengemis Lok sebagai manusia yang suka membohong bukan. "

Berbicara sampai dia berhenti sebentar kemudian setelah menghela nafas panjang lanjutnya:

"Aaaai .....tak kusangka pendekar kenamaan  dari dunia persilatan rupanya tak bisa melepaskan  diri  pula  dari perebutan soal nama "

Ucapan diri Oh Put kui itu jelas bertujuan untuk menyindir dan mencemooh Kim ci but  tek Wan ciu beng. Hal  ini membuat jagoan dari Hoa san itu menjadi amat mendendam sekali, hanya saja rasa bencinya itu tak dapat diumbar dengan begitu saja.

Sambil memegang batok  kepala manusia yang sudah mengering itu dia  berlagak seakan-akan tidak  mendengar perkataan dari Oh Put kui, di bolak-baliknya kepala itu sampai sepuluh kali lebih. Akhirnya setelah tertawa  dingin,  Wan ciu beng baru berkata

:

"Benar,  batok  kepala  ini  memang  batok  kepalanya  Ih bun

Lam!

Setelah mendengar perkataan itu, Hui leng taysu dan Hian pek Cin jin tersenyum.

Sedangkan si pengemis pikun segera merasakan sekujur badannya gemetar keras.

Pengemis tua itu kin benar-benar sudah dibuat pikun oleh keadaan yang dihadapinya.

Dengan termangu- mangu dia mengawasi sekejap pemuda berbaju putih itu, berbagai ingatan telah berkecamuk dalam benaknya, tapi dia tidak habis mengerti mengapa batok kepala Raja wilayah Biau, dewa ular selaksa racun Ih bun Lam yang berilmu tinggi dan berhati keji itu bisa berubah menjadi Batok kepala kering yang tersimpan dalam bungkusan tersebut.

Sementara itu, si jari emas tanpa tandingan Wan cing beng telah membawa batok kepala Jin tok coa sin Ih bun Lam yang mengering itu menuju ke ruang belakang. Sedang Hui leng taysu sambil merangkap tangannya di depan dada berkata lantang:

"Lok sicu, membunuh iblis ini merupakan pahala yang luar biasa besarnya bagi umat persilatan, moga-moga  kau dilindungi umat Buddha dan diberkahi usia panjang."

"Benar" sambung Hiau pek  Cinjin sambil tertawa," pinto bersedia menyampaikan berita girang ini  kepada Hoa loko suami isteri serta para jago dari Go bi pay, Pay kau dan Kay pang yang berada di sini."

Mendengar sanjungan  demi sanjungan yang ditunjukkan kepadanya, itu si pengemis pikun  tertawa tergelak tiada hentinya, nampak jelas dia merasa bangga sekali. Tapi setelah puas tertawa, tiba-tiba air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya, kemudian diapun menangis tersedu-sedu.

Sebenarnya Pian pek Cinjin sudah bersiap-siap meninggalkan tempat itu, tapi setelah menyaksikan  kejadian itu, dia menjadi kaget bercampur keheranan kemudian membatalkan niatnya untuk pergi.

"Taysu,   mengapa   dia menangis?" bisiknya kemudian kepada Hui leng taysu dwngan kening berkerut.

Dengan cepat pendeta itu menggelengkan kepalanya berulangkali.

"Lohu sendiri pun sampai turut pikun..... mungkin lok sicu kelewat gembira!"

"Aaah, tidak mungkin, tidak mungkin! Suatu persoalan yang amat memedihkan hatinya."

"Yaa, betul agaknya Lok sicu sedang menangis dengan sedih sekali." sahut Hui leng serius.

Setelah berhenti sebentar, kepada Oh Put kui segera tanyakan :

"Siau sicu, tahukah kau apa sebabnya?" tentu saja musababnya, tapi ia merasa kurang leluasa untuk mengutarakan keluar, maka dengan cepat dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku rasa mendapat taysu tadi    memang sangat beralasan.....mungkin  saja pengemis Lok. "

Belum habis dia, berkata, pengemis, pikun sudah meraung gusar:

"Alasan kentut busukmu ....Ooh, aku si pengemis tua sungguh merasa sedih sekali uuuh.... uuuh.... uuuh "

Seperti anak kecil saja, pengemis tua itu menangis sambil mencak-mencak, serunya lagi : "Bacah keparat,  kau telah membohong aku       ternyata kau

telah membohongi aku selama hidup lohu paling takut kalau tertipu, takut masuk perangkap orang, tak tahunya kau si  bocah      keparat     telah,      menjebakku      uuuh....     uuuh....

uuuh....percuma saja aku hidup selama ini  kalau akhirnya terjebak juga oleh perangkapmu.... Ooh. aku si pengemis tua sungguh merasa sedih sekali.....hei Hwesio gede, hidung kerbau, aku pengemis tua sedih sekali....selama hidup aku selalu menderita kerugian, sampai orang lainpun memberi julukan "Pikun" kepadaku....lihatlah betapa penasarannya aku uuuh.... uuuh.... sekarang.  Si bocah ingusan inipun berani mempermainkan aku,  apa gunanya aku hidup terus aku      aku

....ingin mati, aku ingin mati saja, "

Isak tangis yang disertai dengan teriakan-teriakan ini benar- benar bikin pendeta dan tosu itu menjadi kelabakan setengah mati.

Mereka hanya bisa memandang ke arah pengemis tua itu, lalu memandang pula ke arah Oh put  kui dan akhirnya terpaksa harus menghela napas panjang .

Sikap Oh Put kui tenang sekali, sambil bergendong tenang dia hanya menguasai tingkah laku pengemis itu sambil tersenyum.

Sebenarnya pengemis tua itu sudah makin mereda isak tangiasnya, siapa tahu ketika dia mendongakkan kepala dan melihat Oh Put kui sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum tangisannya yang merendah itu tiba-tiba bertambah keras volumenya.

Bahkan kali ini disertai dengan teriakan-teriakan dan menarik-nari rambut sendiri. Hebat sekali isak tangis  dari pengemis pikun,  sampai-sampai seluruh  isi  perkampungan ikut menjadi kaget dan berdatangan.

Dalam waktu singkat ki lok sian tong hoa tay siu siansu dari Gobi pay, kun liong kui ciang sembilan toya  pengurung  naga Ho khi hui, tianglo dari kay pang dan jago pay kan sam siang cuancu pemilik perahu dari sam siang, Hee jin beng telah bermunculan di ruang depan.

Tapi begitu menyaksikan apa yang sedang berlangsung di situ, ke empat orang jago lihay itu menjadi tertegun.

"Hei, bukan dia adalah Lok pikun?" seru Ho khu hui dengan perasaan terkejut.

Kebetulan Kim cibu tek wan ciu beng sedang melangkah keluar pula dari ruang belakang setelah mendengar pula dari ruang belakang setelah mendengar isak tangis  tadi, maka sambil mendengus dingin sindirnya:

"Kalau bukan adik seperguruan kesayangan Hoa heng, siapa lagi yang tak tahu malu seperti dia?"

Ho khi hui melirik sekejap ke arah Wan Ciu beng dengan pandangan dingin, lalu katanya: "Suteku ini memang sudah termasyhur karena pikunnya apakah Wan lote tidak merasa kalau sindiranmu itu sedikit kelewatan ?"

Wan ciu beng segera tertawa dingin, dengan nada menghina dia tuding ke arah si pengemis pikun, lalu katanya:

Ho heng, mengapa tidak kau lihat tampak dari sutemu itu? Apakah manusia macam  beginipun  dianggap  seorang cianpwe dalam dunia persilatan  ?  Hmmm....apa  yang dilakukan benar-benar telah menjual semua muka orang Kay pang, tak kusangka kalau dalam kay pang pang terdapat manusia macam begini!"

Pada hakekatnya perkataan dari Wan cin beng ini telah menodai nama baik seluruh anggota Kay pang.

Kontan saja paras muka si sembilan tongkat  pengurung naga Ho Khi hui berubah  hebat, saking gusarnya semua rambutnya yang berubah pada berdiri semua.

"Hei orang she wan, kalau berbicara hati-hati sedikit!" peringatnya. Sikap Wan ciu beng semakin sinis, sambil mendongakkan kepalanya memandang langit-langit ruangan, ejeknya sambil tertawa dingin:

"Heeehhhh.... Heeehhhh.... Heeehhhh.... aku tak pernah membuat-buat keadaan, apa yang ku ucapkan selamanya merupakan kenyataan, memangnya aku telah salah berbicara?"

Ho khi hui membentak gusar, kepalanya segera diayunkan ke muka siap melancarkan serangan.

Dengan cepat Ci sin siansu merentangkan tangannya untuk menarik kembali lengan kanan Ho khi hui.

Pada saat itulah si bocah dewa kebahagiaan Hoa Tay siu tertawa terbahak-bahak sambil berkata :

"Sudahlah, kalian berdua tak usah cekcok sendiri, kesulitan yang kita hadapi sudah cukup memusingkan kepala"

Selesai berkata dia lantas menarik tangan Ho Khi hui dan diajak menghampiri si pengemis pikun.

Hui leng taysu dan Hian pek Cinjin cepat maju ke depan memberi hormat kepada Hoa Tay siu.

Cepat Hoa Tay siu membalas hormat sambil tertawa, kemudian sorot matanya dialihkan ke wajah Oh Put kui.

Walaupun Oh Put kui tidak kenal dengan Hao Tay siu, kepala kampung perkampungan ini, namun dari julukannya sebagai bocah dewa kebahagiaan,  bisa  diduga  siapa gerangan orang ini.

Wajah Hoa Tay siu memang sepintas lalu mirip sekali dengan wajah seorang bocah berusia belasan tahun.

Selain bibirnya berwarna merah dengan dua baris gigi yang putih, wajahnya yang bersih dan tampan, namun rambutnya telah berubah dan bajunya berwarna merah tua ditambah lagi sepatunya yang terbuat dari kain dan ikat pinggang berwarna putih, membuat gerak-geriknya mirip sekali dengan dewa. "Kalau orang ini disebut sebagai bocah dewa kebahagiaan, maka julukan tersebut memang tepat sekali." pikir Oh Put kui.

Waktu Hoa tay siu sedang minta keterangan dari Hui leng taysu dan Hian pek Cinjin

Si pengemis pikun yang sedang menangis sedih, ketika melihat Hoa tay siu dan kakak seperguruannya si sembilan tongkat pengurung naga Ho khi hui telah berdatangan dengan cepat diapun berhenti menangis.

Setelah mengetahui  duduk persoalan yang sebenarnya untuk sesaat Ho Lay siu pun  tak tahu apa yang mesti dikatakan,

Sebaliknya si kakek berambut merah yang tinggi besar Hoa Khi hui sedang mengawasi Oh Put Kui dan si pengemis pikun dengan kening berkerut, kemudian ujarnya pelan :

"Lok  Sute  kau  memang  gemar  sekali   membuat keributan "

Pengemis pikun dengan melompat bangun, sambil menuding ke arah Oh put kui teriaknya :

"Bocah keparat ini pandai sekali membohongi orang. "

Kemudian sambil memandang kerah  Hoa Tay siu, dia berteriak keras-keras.

"Hoa siu lo ko engkoh tua kecil. Coba kau lihat, bocah keparat itu telah membunuh si raja bisa ular sakti selaksa  racun Ih bun lam, tapi dia tak mau mengakuinya, sebaliknya melimpahkan hal ini, kepadaku coba  kau katakan,  perbuatan ini kurang ajar tidak ? Hmmm, justru karena dia tak  becus maka saking mangkelnya aku sampai kepingin  mangkelnya aku sampai kepingin mati seketika saja "

Beberapa patah kata yang kedengarannya amat santai itu, dengan cepat mengejutkan beberapa orang jago persilatan yang hadir ditempat itu..... Pemuda ingusan semacam itupun dapat membunuh  raja dari wilayah biau? Siapa yang percaya ?

Tapi mau tak mau merekapun harus mempercayainya.

Walaupun setiap orang tahu kalau pengemis pikun adalah orang yang blo on, namun mereka yakin seandainya gembong iblis itu mati di tangannya, tak mungkin dia tak akan mengakuinya.

Oleh karena itu, beberapa orang jago persilatan itu menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya.

Sambil tersenyum Oh Put Kui segera berseru :

"Pengemis Lok, bukankah kan tahu kalau aku bukan seorang jagoan dari dunia persilatan ...........

Belum habis perkataan itu diutarakan si pengemis  pikun telah menukas sambil berteriak keras :

"Bocah keparat, aku si pengemis tua  benar-benar  sudah kau tipu habis habisan, permainan sandiwaramu  memang mirip sekali. Andaikata pukulan yang kulancarkan tadi bersarang dibutuh orang lain, paling tidak pasti akan melukai ototnya atau mematahkan tulangnya. Tapi kau mana

lukamu ? apa artinya darah yang keluar dari mulut itu?"

"Tapi kau orang tua harus tahu,  sepanjang tahun  aku berkelana kemana-mana siapa tahu kalau tubuhku lebih kekar dan kuat dari pada tubuhmu?"

"Kentut anjingmu, hanya setan yang percaya obrolan sintingmu itu......" teriak pengemis pikun  sambil mencak- mencak. Kemudian kepada Ho Tay siu serunya

"Engkoh tua kecil, coba kau lihat mirip kah dia sebagai seorang manusia yang tak mengerti ilmu silat?"

Sambil tertawa Hoa Tay siu menggeleng. "Siaute kurang begitu percaya!" setelah berhenti sebentar dia  menghampiri  Oh Put kui dengan langkah lebar, kemudian tegurnya: "Lote siapa namamu? Berasal dari mana? Dari mana perguruanmu? Apakah kau dapat menerangkan?

Kemudian setelah tertawa, tambahnya:  "Lohu  adalah pemilik perkampungan ini, tentunya lote sudah mengetahui  dari julukan diriku bukan?"

Oh put kui segera menjura, katanya :

"Nama besar Hoa cengcu benar -benar bukan  nama kosong belaka, sudah lama aku mengaguminya."

"Aku tak lebih hanya seorang anak dusun dari bukit In tang san tebing Cing Peng gay orang menyebutku Oh Put Kui!"

Mencorong sinar tajam  dari balik mata Hoa  Tay  siu, katanya kemudian sambil tertawa:

"Perguruan lote adalah .........

"Asah, aku tak lebih hanya  orang  gelandangan  dari udik, tak punya perguruan tak punya aliran parta!"

Diam-diam Hoa Tay siu segera berkerut kening, namun diapun tidak mendesak lebih jauh, hanya ujarnya sambil tersenyum :

"Apakah Ih bun Lam benar-benar mati ditangan lote?"

Dengan cepat Oh Put kui tertawa hambar "Orangnya toh sudah mati , dan kejahatannya telah berakhir buat cengcu mesti persoalkan lagi dia mati ditangan siapa?"

Meskipun perkataannya amat santai dan enteng, namun sayang dikatakan memang tak salah, kalau toh  mereka  tak ada maksud untuk membalas dendam bagi kematian Ih bun Lam, apa gunanya untuk  mencari gembong iblis itu mati ditangan siapa?

Hoa Tay siu mengamati Oh Put kui dalam-dalam mendadak katanya sambil tersenyum

"Silahkan duduk!" Semua orang segera mengambil tempat duduk masing- masing, Hoa Tay siu baru berkata kepada Oh Put kui sambil tertawa:

"oh lote,  mari lohu perkenalkan beberapa orang sobat lamaku ini kepadamu."

Sambil menuding si kakek berambut merah yang berperawakan tinggi besar itu katanya:

"dia adalah tianglo  dari kay pang, orang menyebutnya sebagai sembilan tongkat pengurung naga ho khi hui!"

Sambil tertawa oh put kui segera menjurai Hoa Tay siu segera menuding ke arah pendeta kurus kecil berambut putih yang berada di sisinya dan menerangkan.

"Dia adalah ketua Go bi pay, Ci sin taysu

Sebelum berhenti sebentar, sambil  menuding   seorang lelaki berwajah bersih berdandan sebagai juragan perahu dan berusia antara empat puluh tahunan, katanya:

Dan dia adalah jago lihay dari pay kau si juragan perahu  dari sam siang Hee jin beng.

"Selamat berjumpa!" kata Oh put kui hambar sikapnya kali ini sama sekali berbeda dengan sikap sebelumnya seakan- akan beberapa orang jago ini tidak menarik perhatiannya, sehingga tidak menimbulkan pula perasaan hormat yang seharusnya diperlihatkan.

Tampaknya Hoa tay siu sama sekali  tidak   menyangka kalau pemuda itu begitu angkuh tapi sebagai tuan rumah,  paras mukanya sama sekali tidak  berubah,  sambil mengangkat cawan katanya kemudian sambil tertawa:

"Apa yang dikatakan Oh lote tadi memang benar setelah Ih bun Lam mati, berarti dunia persilatan aman dari gangguan seorang iblis, entah siapa yang berhasil membunuh memang bukan suatu masalah besar, meski  demikian,  bukankah pantas kalau kita rayakan bersama peristiwa yang maha besar ini..... Sekali teguk dia menghabiskan isi cawannya, kemudian setelah tertawa terbahak- bahak terusannya lagi:

"Saudara Lok, sekalipun kau tidak berhasil membunuh Ih bun Lam, kedatanganmu hari ini  untuk mengantar batok  kepala siapa?

Sementara itu si pengemis pikun sudah makan minum dengan lahapnya, mendengar pertanyaan itu dia menjawab agak ragu:

"Aku .....aku mah cuma berhasil membunuh seorang muridnya Ih bul Lam,"

Hoa Tay siu segera tertawa.

"Setiap anggota perguruan Co sin bun memang rata-rata buas dan berbahaya,  keberhasilan dari saudara Lok inipun pantas untuk dirayakan.

Sementara itu si pengemis pikun telah mengeluarkan secarik robekan kertas dan sebatang seruling pendek yang segera diserahkan kepada Hian Pek Cinjin.

Sambil tertawa Hian pek Cinjin berkata:

"Seruling kemala merupakan senjata andalan dari Cing coa sin tong Li pun kiat, tampaknya ular itulah yang berhasil kau bunuh!"

"Berikan hadiah seperti yang dicantumkan  ....!"  perintah Hao Tay siu kemudian.

Seorang lelaki berbaju hitam segera mengiakan dan berlalu sambil membawa robekan kertas pengumuman dan seruling kemala itu,

Tiba-tiba Oh Put kui tertawa dan berkata.

"Cengcu, akupun berhasil merobek beberapa lembar kertas pengumuman!"

"Ooh, Oh lotepun datang untuk menyerahkan buronan?" seru Hoa Tay siu tertegun. Maksud dari ucapan itu adalah dia merasa kaget dengan perkataan itu dan merasa heran mengapa Oh Put kui tidak mengatakannya sejak tadi.

Pelan-pelan Oh put  kui mengangguk, dari sakunya dia mengeluarkan tiga carik nama, lalu sambil tertawa katanya : "nilai dari ketiga orang ini tentunya  tidak  berada dibawah  Ih bun Lam bukan.....

Sambil berkata dia lantas mengangsurkannya ke  tangan Hoa Tay siu

Dengan cepat Hoa Tay sin membuka lembaran pertama. Tapi begitu sorot matanya dengan tulisan yang tertera didalamnya, kontan saja sekujur badannya bergetar keras.

"Pak bong lo kui (iblis tua dari Pak bong siang kong yong)" serunya tanpa sadar.

Begitu nama itu diucapkan, semua jago yang hadir dalam ruangan sama -sama tertegun  kemudian  bersama mengalihkan sorot matanya ke wajah Oh Put kui.

Si pengemis pikun Lok Jin ki pun melompat bangun seperti tersengat lebah, teriaknya tertahan?"

"Apa? Sang kepala gede pun mampus di tanganmu? Bocah keparat, hebat betul kau!"

Oh put kui tidak berkata  apa-apa, dia  hanya tertawa hambar.

Dari dalam sakunya dia mengeluarkan sebutir batok kepala yang mempunyai ukuran satu kali lebih besar dari pada batok kepala manusia biasa, lalu diserahkan ke tangan Hoa Tay siu, bersamaan itu pula dia mengeluarkan juga sebatang kipas besar dan sebatang tusuk konde dan meletakkannya di atas meja.

Sepasang mata pengemis pikun terbelalak makin besar, tak lama kemudian ia baru tertawa tergelak sampai bercucuran air matanya. "Bocah    keparat.    Kau   memang    amat    hebat.  sampai-

sampai Siu hun tay siu (Jenderal penyabot sukma) Kui Thian  bu dan Han yan (Si asap pemabok) salah satu dari empat dayang  In  hiang lo pun mampus semua di tanganmu.      aku si

pengemis tua betul-betul sudah buta matanya!"

Sementara itu Hon Tay siu telah selesai memeriksa dua lembar nama lainnya, seketika itu juga  perasaan  tak senangnya terhadap Oh put kui, karena menganggap teriak angkuh, lenyap tak berbekas.

Tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya tertawa terbahak- bahak kemudian serunya.

"Selama setengah tahun ini,  papan  pengumuman pembasmi iblis baru benar-benar akan tercantum nama iblis buas yang berhasil terbunuh. "

Sambil merentangkan kertas pengumuman itu segera bacanya, dengan suara lantang:

"Siang kong yong, kui Thian bu aliran perempuan siluman asap pemabuk "

Walaupun para jago dari perbagai aliran yang berkumpul dalam ruangan itu sudah tahu siapa saja yang  berhasil dibunuh Oh Put kui setelah anak muda itu mengeluarkan kipas baja dan sebatang tusuk konde tapi setelah mendengar nama- nama itu disebutkan  langsung oleh Hoa Tay siu, urung perasaan mereka tercekam juga.

Kenyataan ini benar-benar sukar dipercaya oleh mereka.

Dengan mengandalkan kemampuan dari pemuda  yang tidak diketahui asal usulnya ini, benarkah dia memiliki kemampuan selihay itu?

Tiba-tiba Hian pek Cinjin mengambil ketiga lembar ke atas nama dan barang bukti yang berada di meja itu, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun segera berlalu dari situ.

Dalam waktu singkat suasana dalam ruangan itu diliputi keheningan yang luar biasa Bahkan pengemis pikun pun dibikin tertegun  oleh  kenyataan yang terbentang di depan matanya.

Akhirnya Oh Put  kui tertawa.

Tertawanya ini menambah suasana keramahan dan kehangatan disekitar tempat itu

"Adapun aku berhasil membunuh beberapa orang gembong iblis itu sesungguhnya adalah berkat bantuan orang,   harap para cianpwe jangan menilai tinggi diriku gara-gara persoalan ini. "

Suatu ucapan yang sangat merendahkan diri.  Tapi benarkah persoalan semacam ini pun berkat bantuan orang ? hal ini  benar-benar membuat orang sukar untuk mempercayainya.

Si sembilan tongkat pengurung Naga Ho Khi hui memang seorang manusia yang berhati lurus, mendengar perkataan itu dia segera tertawa tergelak, katanya:

"Ah sauhiap, siapakah yang percaya kalau pekerjaan semacam ini adalah berkat bantuan orang lain? Aku tahu lote mempunyai kepandaian silat yang amat tinggi, kaupun pandai menyembunyikan kemampuanmu, buat kesemuanya itu lohu sekalian benar-benar merasa kagum sekali "

Hui leng taysu juga mengerutkan alis matanya yang putih, lalu berkata :

"Siau sicu telah membantu kami untuk membasmi empat orang gembong iblis kenamaan, jasa yang kau buat sungguh besar sekali."

Ci sin taysu dari Go bi pay juga berkata sambil tersenyum : "Sejak  papan  pengumuman  pembasmi  iblis  didirikan, siau

sicu boleh dibilang merupakan jago persilatan pertama yang benar-benar membasmi gembong iblis lihay pengganggu masyarakat, lolap doakan semoga Buddha maha pengasih melimpahkan semua rahmatnya untuk melindungi siau sien, moga-moga dalam  waktu kau pun  dapat  membasmi kawanan iblis serta membongkar empat kasus berdarah paling besar dalam dunia persilatan. "

Sedangkan Hoa san tianglo, si jari emas tanpa tandingan Wan ciu beng, meski dalam hati kecilnya merasa kagum atas kehebatan si anak muda, namun ucapannya  masih tetap  dingin seperti katanya :

"Ternyata kau memang benar-benar sangat lihay, tak kusangka dengan usiamu yang begitu muda ternyata memiliki ilmu silat yang begitu hebat, tampaknya dari angkatan muda dunia persilatan kau seharusnya merupakan jago nomor satu!"

Sebenarnya Oh put kui masih tertawa tetapi begitu  Wan Ciu beng menyelesaikan kata-katanya mendadak dia menarik kembali senyumannya, lalu dengan sorot mata berkilat dia menjura ke arah Hoa Tay siu sambil berkata :

"Maaf aku hendak mohon diri lebih dulu!" begitu selesai berkata secepat sambaran kilat dia sudah menyelinap keluar dari sana, sementara Hoa Tay siu masih tetegun si pengemis pikun sudah memburu sambil berseru:

"Jangan pergi dulu bocah keparat, uangnya belum diambil!"

Oh Put kui segera miringkan badannya ke samping lalu menyelinap lewat dari sisi kiri si pengemis pikun.

Sementara pengemis itu makin tertegun, Oh put kui telah berpaling dan berkata sambil tertawa:

"Pengemis Lok semua uang hadiah itu tolong kau suka menerimanya"

Betul-betul suatu tindakan yang royal!

Empat orang gembong iblis kenamaan bernilai delapan ribu tahil emas murni, dihadiahkan semua kepada  orang lain, rasanya jarang ada  manusia semacam ini  dalam dunia persilatan. Tapi kenyataannya dia  berkata demikian. Bukan Cuma berkata begitu saja, bahkan begitu selesai berkata, tubuhnya turut menyelinap pula keluar dari situ.

Mendadak Hoa Tay siu merasa dirinya seperti kehilangan muka, dengan cepat dia menggetarkan tangannya, lalu bagaikan seekor burung raksasa dengan  cepat  dia menyelinap keluar.

"Lote!" serunya lantang, "Apakah kau tak sudi memandang di atas wajah lohu untuk berdiam sebentar lagi di sini?"

Sementara itu si pengemis pikun juga telah menangkap tangan sebelah dari Oh put kui. "Bocah keparat!" serunya, "boleh saja kalau kan ingin pergi, tapi harus  membawa serta  au si pengemis tua!"

Sekulum senyuman kembali menghiasi wajah Oh Put kui dengan cepat dia menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya :

"Pengemis Lok, aku tak berani  melakukan perjalanan bersama kau"

"Kenapa ? kau anggap aku ini miskin ?" sambil berseru pengemis pikun itu melepaskan cekalannya dan mundur tiga langkah.

Kembali Oh put kui menggeleng. "Akupun tidak lebih kaya darimu!"

"Kau tidak lebih kaya dari pada diriku? Bocah keparat, tahukah kau? Sekarang kau sudah mempunyai delapan ribu tahil emas murni, sedangkan aku si pengemis setahil pun tak punya!"

"Tapi uang itu kan sudah menjadi milik mu sekarang.........

Setelah tertawa, lanjutnya: "Aku tak lebih hanya seorang manusia tak ternama dalam dunia persilatan, bila harus melakukan perjalanan bersamamu, sudah pasti dimana- mana akan menjadi perhatian orang,  padahal aku tak terbiasa dengan cara seperti ini" Mendadak si pengemis pikun menerjang maju ke muka, sekali lagi dia pegang tangan Oh Put kui sambil teriaknya:

"Bocah keparat, entah apapun yang kau katakan, pokoknya hari ini aku si pengemis akan mengikut dirimu.........

Oh Put kui segera tertawa getir,  belum sempat dia mengucapkan sesuatu, Hoa Tay siu telah berkata lagi :

"Lote jarang sekali perkampungan Tang mo san ceng ini bisa menerima kunjungan orang lihay seperti  dirimu,  harap  kau suka memberi muka kepada lohu untuk berdiam  sejenak  di sini "

"Betul !" sambung pengemis pikun, "paling tidak kau harus menunggu sampai aku minum arak sampai puas lebih dulu"

Sambil tertawa kembali Oh Put kui menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Hoa cengcu, bukan aku ada maksud untuk menampik tawaranmu, adalah disebabkan orang-orang yang berada dalam perkampungan Tang mo san ceng benar -benar jauh di luar dugaanku"

Mendengar perkataan itu, merah padam selembar  wajah Hoa Tay sin karena jengah.

"Lote, harap kau jangan mempunyai pandangan yang sempit terhadap kami, paling tidak......paling tidak lohu "

@oodwoo@
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).