Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 37

 Jilid 37

Kalau bisa, dia ingin mencabut keluar pedang karat cing- peng-kiamnya dan menghancurkan bangunan  dibawah tanah itu sampai rata dengan tanah.

Suatu ketika, mendadak.............

Oh Put Kui merasa terperanjat sekali.

Ia tidak melakukan pencarian lagi atas pintu rahasia dari penjara kematian itu.

Dengan suatu gerakan cepat dia menarik tangan sipengemis pikun kemudian secepat sambaran kilat menyembunyikan diri dibawah meja altar..........

"Ssssst Liok loko, ada orang datang !"

Waktu itu si pengemis pikun pun sudah mendengar ada seseorang datang kesitu dengan kecepatan tinggi.

Serta merta mereka menyembunyikan diri dibawah kolong meja dan tak berani berkutik. Tak selang lama kemudian terdengar pintu loteng dibuka orang.

Menyusul kemudian terlihat setitik cahaya lampu memancar masuk kedalam ruangan loteng itu.

Lalu terdengar pula suara Lian Peng sedang berbisik: "Saudara Ku, aku menduga mereka tak akan kemari,

bagaimana? Disini tak nampak sesosok  bayangan manusiapun bukan? Aku rasa saudara Ku kelewat banyak curiga."

Dengan suara agak sangsi Ku Bun-wi segera berkata

"Tapi nona Lian....... sudah jelas aku memperoleh laporan rahasia "

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba dia berseru lagi dengan terperanjat:

"Nona Lian, mungkinkah mereka telah berhasil menemukan pintu masuknya?"

Tiba-tiba Lian Peng tertawa:

"Penjara kematian ini dibangun secara kuat dan  penuh kerahasiaan, bagaimana mungkin mereka dapat menemukan pintu rahasia tersebut? Bila saudara Ku  tidak  percaya, silahkan kau buka pintu tersebut serta melakukan pemeriksaan!"

Oh Put Kui serta pengemis pikun yang mendengar perkataan tersebut menjadi tegang sekali dibuatnya.

Mereka sangat berharap Ku Bun-wi dapat segera membuka pintu penjara tersebut secepatnya........

Sayang sekali Ku Bun-wi segera menyahut.

"Nona Lian, aku rasa tak usah diperiksa lagi, bayangkan saja si kakek latah  awet muda Ban Sik-tong pun dapat tersekap disitu, apalagi yang mesti kita takuti dengan Oh Put Kui? Hanya saja " Tiba-tiba ia termenung sampai lama sekali dan  tidak melanjutkan kembali kata-katanya.

Tapi Oh Put Kui serta pengemis pikun yang menyadap pembicaraan itu menjadi terkejut sekali.

Benarkah si kakek latah awet mudapun terkurung dibawah penjara kematian?

Berita tersebut pada hakekatnya sukar unutk dipercaya dengan begitu saja.

Mendadak Lian Peng berkata sambil tertawa:

"Saudara Ku, lebih baik kau buka pintu rahasia itu, mari kita turun kebawah melakukan pemeriksaan."

Ku Bun-wi segera tertawa dingin:

"Baiklah, andaikata Oh Put-kui dan sipengemis sialan itu benar-benar berhasil menemukan pintu rahasia tersebut, mungkin saat inipun mereka sudah terkurung didalam."

"Kalau dilihat dari wajah mereka yang tersekap semua disitu, bisa kubayangkan tentu menarik sekali. " Lian Peng

menambahkan sambil tertawa.

Dalam pada itu Ku Bun-wi telah mengalihkan langkah menuju kearah meja altar.

Oh Put Kui serta pengemis pikun kontan saja merasa hatinya sangat tegang, sedemikian tegangnya sampai tenggorokkan pun terasa amat kering.

Mereka kuatir sekali apabila Ku Bun-wi menyingkap  meja dan mengintip kekolong meja tersebut.

Secara diam-diam Oh Put Kui segera menghimpun tenaga dalamnya mencapai sepuluh bagian dan bersiap sedia melancarkan serangan, apabila Ku Bun-wi benar-benar mengintip kekolong meja, dia segera akan menyerangnya lebih dulu secara ganas.

Untung sekali Ku Bun-wi tidak berbuat demikian. Dia menuju kesebuah lampu gantung dibelakang meja dan menariknya...........

"Kraaaaaaaaakk...........

kraaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkk. "

Diiringi suara yang nyaring, tiba-tiba muncul sebuah pintu rahasia disisi sebelah kiri meja tersebut.

Dengan langkah lebar Ku Bun-wi serta Lian Peng segera melangkah masuk kebalik pintu rahasia tersebut.

Diam-diam   Oh   Put   Kui   menghembuskan   napas lega setelah menyaksikan kesemuanya ini.

Sebaliknya pengemis pikun menyeka keringat yang mengalir ditubuhnya itu dengan perasaan lega.

Meski begitu, kedua orang itu belum berani berkutik dari tempatnya semula.

Lebih kurang setengah perminum teh kemudian, Ku Bun-wi dan Lian Peng muncul kembali dari balik pintu rahasia dengan senyum dikulum.

"Sangat aneh, kemana perginya sipengemis busuk dan  bicah keparat itu?" Ku Bun-wi nampak sangat jengkel dan kesal, "nona Lian, mungkinkah mereka sudah menuju keruang belakang. "

mendadak Lian Peng kelihatan tegang sekali, segera sahutnya:

"Benar, hampir saja aku lupa dengan ruang belakang, terutama Kiau Hui-hui, bisa jadi satu komplotan dengan  mereka. Bila Oh Put Kui pergi bertanya  kepada mereka, bukankah semua rahasia yang  tak ingin kita beritahukan kepada Siau-sian akan terbongkar? Mereka tentu tahu kalau perbuatan kita yang mengatakan kakek Ban serta pengemis pikun telah pergi lebih dulu adalah pemberitaan bohong."

Sambil berkata dia segera lari menuju keluar  ruangan. Melihat kepanikan yang melanda Lian  Peng,  cepat-cepat Ku Bun-wi berseru dengan lantang:

"Benar, nona Lian harus melakukan pemeriksaan keruang belakang, sedang aku akan melakukan pemeriksaan kebagian kebun yang lain "

Lampu lentera segera menjadi redup dan kedua orang itu telah beranjak meninggalkan tempat tersebut.

Sepeninggal kedua orang itu, Oh Put Kui menghembuskan napas panjang dan segera merangkak  keluar  dari  kolong meja.

Pengemis pikun kelihatan sangat gembira  katanya kemudian sambil tertawa:

"Lote, nasib kita  benar bagus, dalam  keputus  asaan ternyata mereka muncul disini sambil memberi kesempatan baik kepada kita untuk bertindak. "

"Liok loko, kau jangan keburu merasa gembira, siapa tahu kalau perbuatan mereka ini hanya suatu perangkap!" kata Oh Put Kui sambil tertawa.

"Apa?"    pengemis     pikun     tertegun,      "Kau maksudkan "

Oh Put Kui memandang sekejap kearah lampu gantung itu kemudian katanya sambil tertawa:

"Liok loko, sekalipun hal ini merupakan sebuah perangkap, namun kita tetap akan menerjangnya......... aku lihat sudah tiada jalan lain lagi buat kita "

"Lote, apakah kau menganggap secara yakin bahwa semuanya ini merupakan perangkap yang sengaka mereka atur?" tanya pengemis pikun dengan wajah tertegun.

Tampaknya pengemis pikun inipun telah berhasil menebak keadaan yang sebenarnya secara samar.

"Siapa bilang tidak mungkin?" kata Oh Put Kui sambil tertawa, "siapa tahu kalau mereka sesungguhnya tahu kalau kita sedang bersembunyi dibawah kolong meja? Kalau tidak, mengapa mereka tidak melakukan  pemeriksaan diseluruh ruangan loteng ini?"

"Tidak benar jika kau berkata demikian," seru pengemis pikun sambil tertawa," lote, andaikata mereka tahu kalau kita bersembunyi disini, mengapa pula mereka harus membuka pintu rahasia tersebut serta melakukan pemeriksaan dibawah penjara?"

"Disinilah terletak perangkap mereka, mereka ingin agar kitapun terkurung juga dalam penjara ini," kata Oh Put Kui sambil tertawa.

Mendengar perkataan tersebut si pengemis pikun segera menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya cepat:

"Omong kosong, masa mereka dapat mengurung dirimu?" Oh Put Kui menghela napas panjang:

"Mungkin juga penjara tersebut benar-benar dapat mengurung kita, kalau tidak mengapa sampai sekarang belum juga kita peroleh kabar berita dari Ban tua?"

Berubah hebat paras muka pengemis pikun  setelah mendengar perkataan itu.

Cepat-cepat dia mundur sejauh tiga langkah kebelakang, kemudian serunya:

"Lote, kalau memang tempat ini merupakan sebuah perangkap yang disediakan untuk menjebak kita,  lebih  baik kita tak usah memasukinya."

"Tidak, kita harus memasukinya," kata Oh Put Kui sambil tertawa, "loko, lebih baik kau tetap berada diatas."

Sambil berkata dia segera menekan lampu gantung diatas dinding.

Diiringi suara gemuruh, pintu penjara itu segera terbuka lebar. Mendadak pengemis pikun menyelinap lebih dulu kedalam pintu rahasia itu seraya serunya

"Lote, biar harus mengorbankan jiwa, aku sipengemis tetap akan menemanimu. "

"Tidak usah," tukas Oh Put Kui dengan kening berkerut," lebih baik engkoh tua menunggu diatas saja,  dengan  begitu kita bisa saling bantu membantu. "

"lote, kali ini kau keliru besar, bila aku tetap tinggal diluar, mungkin keselamatan jiwaku jauh lebih terancam daripada mengikuti dirimu memasuki penjara kematian "

"OOdwOoooh, rupanya engkoh tua kuatir  tak mampu menghadapi kerubutan mereka?"

"Siapa bilang tidak?" sahut pengemis pikun  sambil melompat masuk kedalam pintu rahasia, "kau anggap mereka tak dapat berbuat demikian terhadapku?"

Selesai berkata dia segera berjalan lebih dulu memasuki pintu rahasia tersebut.

Terpaksa Oh Put Kui hanya tertawa dan tidak banyak berbicara lagi.

oOdwOoo0dw0oOdwOoo

Setelah menuruni tujuh belas tingkat undakan batu, sampailah mereka disebuah ruangan batu kecil yang gelap gulita tak nampak setitik cahayapun.

Ditengah ruangan hanya terdapat sebuah kasur untuk alas duduk orang.

Pada muka ruangan terdapat sebuah pintu selebar beberapa depa, dibalik pintu itu tampak setitik cahaya lampu memancar keluar, suasananya sungguh mengerikan hati.

Dengan suatu gerakan  cepat Oh Put Kui menyelinap menuju kearah pintu tersebut. Ternyata dibalik pintu itu merupakan sebuah ruang batu yang jauh lebih besar daripada ruang batu didepan.

Ditengah ruangan itu terdapat sebutir mutiara besar,

Pada tiga bagian dinding ruangan, masing-masing terdapat tiga buah goa sebesar mangkuk yang tingginya tiga depa dari permukaan tanah, gua itu gelap gulita sehingga tidak nampak sesuatu apapun.

Oh Put Kui memperhatikan sekejap keadaan disekeliling tempat itu, tiba-tiba serunya:

"Ban tua, berada dimanakah kau?"

Bentakan keras yang ditemukan dibawah ruangan  ini benar-benar menghasilkan suatu dengungan yang  keras sekali.

Dengan perasaan terkesiap  pengemis  pikun  segera berpikir:

"Sialan, siapa suruh kau berteriak keras?"

Tapi belum habis ingatan tersebut melintas lewat, dari balik goa kecil disebelah kiri sudah kedengaran seorang tertawa terbahak bahak dengan keras.

Suara tersebut tak lain adalah suara dari si kakek  latah  awet muda.

"Anak muda" kedengaran dia berseru, "sudah kuduga kau pasti akan mencari sampai disini. "

Oh Put Kui menjadi tertegun setelah mendengar suara itu, segera pikirnya:

"Tampaknya kakek ini tidak tahu apa artinya duka, andaikata aku tidak kemari "

Sementara itu diluarnya dia segera menjawab:

"Ban tua, boanpwe tidak menerima kalau kau benar-benar terkurung disini. " Mendengar itu kembali kakek latah awet muda tertawa tergelak:

"Benar, aku memang terkurung disini "

Sesudah berhenti sejenak, tiba-tiba kedengaran dia berseru lagi dengan suara dalam:

"Mana sipengemis ?"

Sebelum Oh Put Kui sempat menjawab, pengemis pikun telah menyahut dengan lantang:

"Aku sipengemis berada disini "

"Haaaaaaaaaahhhhhhhhh........ haaaaaahhhhh........

hhhhaaaaahhhhh.......... bagus sekali," seru kakek latah awet muda sambil tertawa tergelak,  "apabila kau tak berani  memasuki penjara bawah tanah hari ini, aku sudah bersiap- siap memunahkan semua kepandaian silatmu begitu lolos dari kurungan disini "

Mendengar ancaman tersebut sipengemis  pikun segera menjulurkan lidahnya dengan perasaan ngeri, teriaknya:

"Empek Ban, kapan sih aku sipengemis telah membuat gara-gara kepadamu?"

"Masa kau berani? Coba bayangkan saja apakah aku mesti berpeluk tangan saja melihat seorang pengemis kecil macam kau hidup sebagai pengecut yang takut mampus?"

Baru sekarang pengemis pikun dapat bersyukur  didalam hati, untung saja dia  nekad turut masuk kedalam penjara bawah tanah, seandainya dia tetap tinggal diluar pintu rahasia tadi, sudah jelas dia tak akan terlepas dari tuduhan sebagai pengecut yang takut mati.

Biarpun merasa terkejut didalam hati, namun diluarnya dia berseru dengan penuh bersemangat:

"Empek Ban, siapa bilang aku sipengemis adalah seorang pengecut yang takut mati?" Baru selesai dia berkata,  kakek latah awet muda telah menyambung sambil tertawa:

"Aku  percaya kepada mu. "

Baru sekarang Oh Put  Kui  berkata  sambil tertawa: "Ban tua, perlukah kubukakan tembok penghalang ini?" Mendadak kakek latah awet muda tertawa tergelak:

"Haaaaaaaaaaahhhhh........... haaaaaaaaaaaahhh...........

haaaaaaaaaahhhhhhhh..... anak muda, kau anggap aku benar-benar terkurung disini?"

Oh Put kui segera menjadi tertegun setelah mendengar perkataan tersebut, dia  berpaling dan memandang sekejap kearah goa kecil dihadapannya, lalu bertanya sambil tertawa:

"Apakah kau orang tua mampu keluar dari situ?"

"Tentu saja........" kakek latah awet muda tertawa tergelak, "kalau cuma dinding batu setebal tiga depapun sudah dapat mengurung diriku, buat apa orang menyebutku sebagai situa Ban yang serba tahu dan serba bisa?"

"Kalau toh kau orang tua tidak tersekap, mengapa tidak segera keluar dari sini?" tanya sang pemuda kemudian sambil tertawa.

"Haaaaahhhhhh.......... hhhhhhaaaaaaahhhhhhhh......

haaaahhhhh....... aku ingin mencoba sampai dimanakah kemampuanmu, kecerdasanmu serta keberanianmu. "

"Ban tua, tentunya kau sudah mencobanya bukan sekarang?"

"Yaaa, sudah kubuktikan, ternyata kau memang seorang pemuda yang berhati mulia. "

Oh Put Kui tertawa geli oleh perkataan tersebut. SEmentara si pengemis pikun berteriak keras tiba-tiba: "Ban tua, ayoh cepat keluar!" "Hey pengemis cilik, aku saja tidak cemas apa pula  yang kau gelisahkan?"

"Ban tua, kau tahu perempuan she Lian itu sengaja membuat perangkap disini agar aku sipengemis dan Oh lote terjebak didalamnya, bila kau tidak segera keluar dan sampai mereka berdatangan semua disini, urusannya  tentu  akan bertambah repot "

"Perangkap? Perangkap apa?" kata kakek latah awet muda sambil tertawa.

"Ban tua, kau anggap kami sendiri yang berhasil menemukan alat rahasia pembuka pintu bawah tanah ini?"

"Kalau bukan dicari sendiri, memangnya ada orang yang sengaja membukakan pintu untuk melepaskan kalian masuk?"

"Memang begitulah, cuma mereka bukakan pintu tersebut secara diam-diam. "

"Siapa yang telah memberi petunjuk kepada kalian?" "Lian Peng serta Ku Bun-wi?"

"LhoOdwOo, kok bisa mereka?" seru kakek latah  awet muda agak tertegun.

"Itulah sebabnya kubilang hal ini merupakan suatu perangkap, dia  ingin  mengurung  pula  aku  serta  oh  lote disini "

"Benarkah demikian?"

"Memang begitulah keadaan yang sebenarnya," sahut Oh Put Kui sambil tertawa.

Tiba-tiba kakek latah awet muda tertawa tergelak:

"Anak muda, bukan saja kau berhati  mulia,  pada hakekatnya kau lebih mengutamakan urusan dinas daripada kepentingan sendiri, memandang  kematian  bagaikan berpulang biasa. "

"Pujian yang kelewatan. " batin Oh Put Kui. Dalam pada itu si kakek latah awet muda telah berkata lagi setelah berhenti sejenak:

"Anak muda, dimanakah Lian Peng serta Ku Bun-wi sekarang?"

"Aku rasa mereka segera akan menyusul kemari "

Mendadak dari arah pintu yang memisahkan ruang depan dengan ruang dalam kedengaran suara gemerincing yang amat nyaring.............

Menyusul kemudian tampak pintu sempit tersebut sudah tertutup rapat-rapat.

Pada saat itulah kedengaran  Lian Peng berseru sambil tertawa dingin:

"Oh Kongcu, tentunya kedatanganku tepat pada waktunya bukan "

Disaat pintu batu itu hampir menutup, pengemis pikun cepat-cepat menyerbu keluar dan menghantam pintu tersebut dengan sepenuh tenaga.........

Sambil menggempur pintu, teriaknya keras-keras:

"Nona Lian, jangan kau tutup pintu ini, aku sipengemis akan keluar untuk kencing. "

Tapi sayang pintu batu tersebut sudah tertutup rapat-rapat.

Kakek latah awet muda yang mendengar  perkataan tersebut segera berseru sambil tertawa:

"Pengemis kecil, kalau ingin kencingpun tak usah terburu nafsu. "

Sementara itu Oh Put Kui telah berkerut kening.

Dia menjumpai kalau suara pembicaraan dari Lian Peng berasal dari atas ruangan batu itu.

Padahal diatas langit-langit ruangan batu itu sama sekali tidak terdapat sedikit celahpun. Dia tak habis mengerti bagaimana cara Lian Peng menyampaikan suara pembicaraannya kebawah ruangan, bilamana ruangan tersebut tertutup begitu rapat.

Setelah termenung sejenak, Oh Put Kui segera berkata sambil tertawa tergelak:

"Bibi Lian, beginikah caramu melayani tamu?" Lian Peng tertawa terkekeh-kekeh:

"Oh kongcu, saat ini kau sudah bukan merupakan tamu agung gedung kami lagi "

Untuk berhasil menemukan dariamanakah sumber  suara dari Lian Peng tersebut, tentu saja Oh Put Kui tak ingin memutuskan pembicaraan antara mereka dengan begitu saja, mendengar perkataan tersebut ia segera berkata sambil tertawa tergelak:

"Bibi Lian, jadi kau yakin kalau aku tak sanggup keluar lagi dari sini?"

"Yaaaa, pada hakekatnya kau memang tak bisa keluar lagi dari situ."

Dalam waktu singkat Oh Put Kui telah berhasil menemukan sesuatu titik terang.

Tapi dia belum berani memastikan seratus persen, maka kembali ujarnya sambil tertawa:

"Bibi Lian, adik Siau-sian tentu akan  menanyakan persoalan ini kepadamu!"

Mendadak Lian Peng tertawa cekikikan, serunya:

"Tentu saja dia akan menanyakan persoalan  ini,  tapi kau tak usah kuatir, aku dapat membuatnya percaya dengan perkataanku, bukan saja tidak cemas malahan justru bertambah gembira. " "Jawaban apakah yang hendak bibi  Lian  sampaikan kepada adik Siau-sian sehinggga membuatnya merasa gembira?"

Lian Peng tertawa:

"Oh kongcu, sebenarnya aku tak ingin menjawab pertanyaanmu itu, tapi berhubung kau memang tak bisa keluar lagi dari penjara  kematian untuk selamanya, baiklah akan kuberi kesempatan  kepadamu   untuk   bertanya   sampai jelas. "

Sementara itu sipengemis pikun sudah berapa kali ingin mencaci maki lawannya,  tapi niat tersebut selalu berhenti dicegah oleh Oh Put Kui, sebab dia  menganggap segala umpatan tersebut sama sekali tak ada manfaatnya.

Disaat Lian Peng berhenti berbicara, Oh Put Kui segera berseru lagi:

"Bibi Lian, kau memang berbesar jiwa." Lian Peng tertawa dingin:

"Terhadap seseorang yang sudah tak punya harapan lagi untuk hidup bebas, aku memang perlu berbesar jiwa "

Sejenak kemudian dengan suara yang lebih lembut dia berkata kembali:

"Oh kongcu, akan kukatakan kepada anak sian bahwa kau bersama kakek latah awet muda dan pengemis pikun telah pergi lebih dulu, dia tentu akan percaya dengan perkataanku ini."

Oh Put Kui segera berpikir:

"Bisa saja dia berbuat demikian "

Ketika Lian Peng tidak mendengar jawaban dari  Oh  Put  Kui, dia segera berkata lagi:

"Oh Kongcu, tentunya kau mengakui bukan kalau perkataanku ini tepat sekali?" "Tapi aku rasa alasanmu itu tak akan bisa mengembalikan hati adik Siau-sian."

Lian Peng segera tertawa.

"Andaikata akupun memberitahukan kepadanya bahwa  kalian telah berhasil menolong  seorang tokoh silat yang terkurung ddalam penjara  kematian, bukankah dia akan bergembira sekali?"

"Haaaaahhhhh......... haaaaahhh.........

haaaaaaaaahhhhhh........ mana mungkin dia akan percaya ?" seru Oh Put Kui sambil tertawa tergelak, "apalagi rahasia penjara kematian kau bakal bocor?"

Dia menganggap perkataan dari Lian Peng ini tidak tepat, orang yang berada dalam penjara kematian disekap oleh Lian Peng sendiri, bagaimana mungkin dia  bisa  memberi penjelasan kepada Siau-sian?

Tapi Lian Peng segera tertawa terkekeh-kekeh  sambil katanya:

"Asalkan kulimpahkan semua tanggung jawab kini kepada mendiang suamiku, anak Sian pasti tak akan menaruh curiga lagi "

Mau tak mau Oh Put Kui harus mengakui juga  akan kelicikan serta kecerdikan perempuan ini.

Seandainya dia benar-benar berkata demikian, Nyoo Siau- sian pasti akan percaya penuh dengan perkataannya.

Dalam pada itu Oh Put Kui telah berhasil pula membuktikan bahwa apa yang diduganya memang benar.

Ternyata suara pembicaraan dari Lian Peng disalurkan melalui balik tirai besi diantara mutiara yang berada dalam ruangan, bahkan bisa jadi dibalik tirai besi itu terdapat sebuah lubang kecil yang dapat dipakai untuk mengintip keadaan dalam ruangan tersebut. Setelah termenung sejenak, tiba-tiba dia berkata lagi sambil tertawa:

"Bibi Lian, semua perhitunganmu cukup membuat aku kagum, hanya sayang kesalahanmu yang terbesar tak pernah terpikirkan olehmu. "

"Aku tidak percaya kalau aku telah melakukan kesalahan!" kata Lian Peng sambil tertawa dingin.

"Bibi Lian, kau harus tahu penjara kematian ini tak akan mampu mengurung kami!" seru sang pemuda sambil tertawa.

Baru selesai perkataan itu diutarakan, Lian Peng tak bisa menahan diri lagi untuk tertawa tergelak:

"Oh kongcu, bagaimanakah  kemampuanmu bila dibandingkan dengan kemampuan Ban Sik-tong?"

"Tentu saja tak bisa ditandingi, Ban tua merupakan seorang tokoh persilatan yang luar biasa."

"Itulah  dia,   bahkan   Ban    Sik-tong    pun    terkurung disini "

Belum habis perkataan itu diutarakan kakek latah  awet muda telah berseru sambil tertawa tergelak:

"Budak Lian, kau tak usah mengigau lebih dulu, sebetulnya aku masih ingin berdiam beberapa lama lagi dalam ruangan yang kau sebut sebagai penjara kematian ini, tapi berhubung aku mendongkol setelah mendengar ejekanmu ini, maka terpaksa aku akan keluar lebih awal "

Begitu selesai berkata, mendadak terdengar  suara bentakan keras berkumandang dalam ruangan.

Sementara Oh Put Kui masih tertegun, dinding batu setebal tiga depa itu sudah retak sepanjang beberapa kaki dengan lebar beberapa depa............

Kemudian disusul kakek latah awet muda pun menerobos keluar dari situ. Oh Put Kui segera mendengar jeritan kaget dari Lian Peng bergema tiba.

"Bagaimana anak muda?" terdengar  kakek latah  awet muda berseru kepada Oh Put Kui sambil menepuk bahunya, "aku tidak mengibul bukan. ?"

Oh Put Kui tertawa:

"Sejak tadi boanpwe sudah percaya!"

Kakek latah awet muda segera mendongakkan kepalanya, lalu berseru sambil tertawa tergelak:

"Hey budak, apakah kau masih berada disitu?" Tentu saja tidak ada.

Disaat kakek latah awet muda menjebol dinding tadi, Lian Peng sudah kabur terbirit-birit karena ketakutan.

"Ban tua, dia sudah lari ketakutan !" seru Oh Put Kui kemudian sambil tertawa.

"Anak     muda, aku rasa dia bukan lari karena ketakutan. "

"Empek tua, kau anggap apa yang sedang dilakukan Lian Peng?" tanya pengemis pikun tertegun.

"Tentu saja mencari akal jahat lain untuk memendam hidup-hidup kita semua disini. "

"Mati tertimbun paling tak enak, Ban tua, lote, ayoh cepat kita kabur dari sini " teriak pengemis pikun ketakutan.

"Tak usah terburu napsu," Oh Put Kui menggeleng sambil tertawa, "Ban tua, apakah gwakongku berada disini?"

"Yaaa, benar!"

"Mengapa boanpwe tidak mendengar suaranya?" "Haaaaahhhh.......... hhhaaaaaahhhhhhhhh........

hhhhhaaaaahhhhhh.......... karena  aku telah  menotok jalan darah tidurnya." "Mengapa begitu?"

"Si tua aneh she Lan ini kelewat berangasan. Aku kuatir setelah lolos dari sini nanti kelewat banyak membunuh orang, oleh sebab itu mau tak mau aku harus menotok jalan darah tidurnya lebih dulu, apalagi aku pun tak tega membiarkan dia tahu dengan mata kepalanya sendiri bagaimana  dirinya ditolong orang "

Oh Put Kui bukan orang bodoh, dia segera mengerti bahwa dibalik kesemuanya ini tentu ada hal-hal yang tak beres.

Maka sambil tertawa hambar katanya:

"Ban tua, apakah gwakongku telah mendapat musibah?" "Anak muda kau memang cerdik sekali.........." puji kakek

latah awet muda setelah tertegun sejenak.

Oh Put Kui merasa amat terperanjat, cepat-cepat dia berseru:

"Ban tua, luka apakah yang diderita dia orang tua?"

Tiba-tiba kakek latah awet muda menghela napas panjang: "Kakek  luarmu  telah  dibelenggu  tulang  pie-pa-kutnya oleh

Wi Thian-yang  dengan  rantai  tembaga yang  terbuat  dari baja

berumur selaksa tahun, akibatnya meskipun memiliki ilmu silat yang tinggi namun tak dapat digunakan "

"Jadi ilmu silat yang dimiliki gwakongku  telah  punah?" tanya Oh Put Kui dengan perasaan ngenes.

"Siapa yang mampu memunahkan ilmu silat dari situa aneh she Lan? Anak muda, kakek luarmu hanya terluka pada goan- khinya, asal beristirahat barang sepuluh hari sampai dengan setengah bulan, kesehatannya tentu akan pulih kembali."

Oh Put Kui baru merasa lega setelah mendengar perkataan ini, katanya kemudian:

"Kalau begitu biar boanpwe masuk kedalam untuk membopong keluar dia orang tua." "Tidak usah kau sendiri, biar sipengemis cilik yang melakukan tugas tersebut!"

Tapi Oh Put Kui segera menggelengkan kepalanya  berulang kali, katanya:

"Tidak bisa jadi, sudah menjadi kewajiban boanpwe untuk mengurusi kakek luarku, masa aku harus  merepotkan  Liok loko untuk membopongnya?"

Dalam pada itu sipengemis pikun telah menerobos masuk kedalam penjara kematian tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Dalam waktu singkat dia telah muncul kembali  dari  balik goa dengan membopong seorang kakek berbaju biru yang berjenggot putih.

Betul juga, kakek berbaju biru itu sudah tertidur sangat nyenyak..........

Jubah biru yang dikenakan olehnya sudah compang camping........... dibagian bawah bahunya terdapat dua buah lubang besar, mungkin disitulah rantai  baja yang  semula membelenggunya berada.

Dengan sedih Oh Put Kui menjura kepada Peng-goan- koay-kek Lan Ciu-sui yang tertidur nyenyak itu,  lain gumamnya:

"Cucunda menjumpai gwakong. "

Tanpa disadari titik air mata telah jatuh  berlinang membasahi pipinya.

Melihat hal tersebut, kakek latah  awet muda segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil tertawa:

"Anak muda, kau jangan bersedih hati, mari kita buka pintu dan menerobos keluar dari sini. "

"Boanpwe turut perintah. " Dengan langkah lebar dia berjalan menuju kedepan pintu batu yang btertutup rapat itu,  lalu menarik napas panjang, menghimpun tenaga  dalam sebesar sepuluh bagian dalam telapak tangannnya, dan diiringi suara bentakan keras segera dilontarkan kedepan.

"Blaaaaaaammmmm "

Pintu batu itu segera hancur berkeping-keping dan roboh keatas tanah.

"Ilmu pukulan yang sangat hebat, anak muda, ternyata kau mampu menghancurkan seluruh pintu batu tersebut!"

Padahal secara diam-diam Oh Put Kui sendiripun merasa sangat terkejut.

Ia tak habis mengerti darimanakah datangnya tenaga serangan yang begini dahsyat.

Tapi dia lupa, serangan tersebut dilancarkan olehnya dalam keadaan sedih dan marah, tak heran kalau  tenaga yang terpancar kemudian sama sekali diluar dugaan bahkan satu  kali lipat lebih dahsyat daripada kemampuannya semula.

Dengan cepat mereka bertiga melangkah keluar dari pintu batu tersebut.

Tapi pintu keluar diatas permukaan tanah  ternyata disumbat pula rapat-rapat.

Kakek latah awet muda segera berseru sambil tertawa: "Anak muda, pergunakan pedangmu."

Oh Put Kui menurut dan segera mencabut keluar pedang karatnya, baru saja siap akan dibacokkan keatas, mendadak kakek latah awet muda menghalangi kembali seraya berseru:

"Berikan pedang itu kepadaku!"

Oh Put Kui berdiri tertegun setelah mendengar seruan itu, tapi dia segera menyodorkan pedang karat itu kedepan. Setelah menerima pedang tersebut, kakek latah awet muda baru berkata sambil tertawa tergelak:

"Anak muda, tahukah kau apa kegunaaan pedang yang kupinjam ini "

Oh Put Kui menggelengkan kepalanya  berulang kali: "Biarpun boanpwe  tidak tahu setepatnya namun masih

dapat menduga, bukankah kau ingin menggunakan ketajaman pedang tersebut untuk membelah pintu tersebut "

"Kau hanya betul separuh anak muda!" seru kakek latah awet muda sambil tertawa.

"Hanya  betul separuh?"

"Aku tak akan mempergunakan ketajaman dari pedang tersebut, melainkan menggunakan sari hawa sakti dari ketajaman pedang tersebut "

Setelah berhenti sejenak, kakek itu berkata lebih jauh: "Pedang ini merupakan senjata tajam yang luar biasa, apa

bila digunakan oleh orang yang bertenaga dalam tinggi, dan menyalurkan seluruh kemampuan kedalam pedang tersebut, maka baja yang  berada sepuluh kaki jauhnyapun akan tertembus juga. "

"Boanpwe sudah mengerti!" Oh Put Kui tertawa. "Apa yang kau pahami?"

"Pintu batu yang tembus keatas ini tebalnya mencapai berapa kaki, kau orang tua tentu kuatir boanpwe  tidak memahami rahasia tersebut sehingga membuang tenaga dengan percuma tanpa memberikan hasil yang nyata, bukankah demikian?"

"Ya memang begitulah................" kakek latah awet muda tertawa.

Begitu selesai berkata, pedangnya yang berada ditangan kanan segera ditusukkan kearah pintu batu yang tebal itu. Dengan sebilah pedang yang sama, namun memberikan pengaruh yang berbeda ditangan kakek tersebut.

Oh Put Kui segera menyaksikan disaat ujung pedang karat cing-peng-kian itu hampir mencapai pintu batu itu, tiba-tiba menyembur keluar segulung hawa  pedang  berwarna  hijau yang langsung menembusi batu tersebut.

Ketika kakek latah  awet muda mengerahkan tenaganya sambil memutar pergelangan tangan.

Hancuran batu segera berguguran keatas tanah bagaikan hujan gerimis.

Secara beruntun kakek latah awet muda melancarkan tiga buah serangan berantai.

Diatas pintu batu yang sangat tebal itu segera muncul tiga retakan besar yang membelah batu besar menjadi tiga bagian.

Tidak sampai disitu batu raksasa seberat ribuan kati itu rontok keatas tanah, tiba-tiba kakek latah awet muda mengayunkan tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan dahsyat setelah itu baru serunya sambil tertawa tergelak:

"Anak  muda, bagaimana hasilnya. "

Ternyata pintu batu itu sudah terbelah sehingga muncul sebuah lubang yang besar.

Sebaliknya hancuran batu yang terbelah oleh pedang tadi sudah mencelat sejauh dua kaki lebih oleh tenaga pukulan kakek latah awet muda, terbukti timbul suara gemuruh yang keras diatas permukaan tanah sebelah atas.

"Ban tua, kekuatan tenaga pukulanmu benar-benar mengagumkan boanpwe.........." puji Oh Put Kui kemudian sambil tertawa.

kakek latah awet muda tertawa terbahak bahak, setelah mengembalikan pedang ketangan Oh Put Kui, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia menerobos keluar  dari  pintu rahasia tersebut. Setelah menyarungkan  pedangnya, Oh Put Kui malah mundur selangkah kebelakang.

Dia membiarkan pengemis pikun yang membopong kakeknya keluar lebih dulu sebelum dia menyusul dibelakangnya.

Ketika mereka bertiga sudah keluar dari penjara bawah tanah, ditemukan ruangan  loteng Seng-sim-lo telah  terang benderang bermandikan cahaya lentera.

Meja altar yang  berada dalam ruangan  telah  hancur berantakan tertumbuk oleh pintu batu yang mencelat terkena pukulan tadi.

Setelah memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kakek latah awet muda segera berseru:

"Anak muda, mari kita balik dulu ke gedung penerimaan tamu. "

"Silahkan kau orang tua mengambil tampuk pimpinan!"  sahut Oh Put Kui tertawa.

Mendadak pengemis pikun menggelengkan kepalanya berulang kali seraya berseru:

"Aku rasa tak baik, kita tak boleh terlalu lama berdiam didalam sarang harimau. "

"Huuuuuuh, tempat macam inipun  disebut  sarang harimau?" kakek latah awet muda tertawa tergelak, "kentut anjing, hey ppengemis cilik, jika nyalimu kelewat  kecil  lebih baik cepat-cepat menggelinding pergi dari sini, aku kuatir kau akan membikin malu perkumpulanmu saja. "

"Aaaaaaakh, tindakan pengamanan seperti ini bukan termasuk perbuatan yang memalukan," teriak pengemis pikun, "Ban lopeh, ini namanya orang yang tahu diri."

"Huuuuuuh, tahu diri apa.........." ejek Oh Put  Kui tertawa geli. "Hey kunyuk," seru kakek latah pula, "ini bukan namanya tahu diri, tapi pengecut takut mati !"

"Aku  sipengemis  bukan seorang pengecut yang takut mati, " seru pengemis pikun  sambil  membalikkan  biji  matanya, "yang benar, Lan cianpwe ini tak boleh sampai memperoleh rasa kaget lagi akibat gangguan dari mereka !"

Diam-diam terkejut juga Oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu, dia merasa apa  yang dikatakan sipengemis pikun memang beralasan sekali.

Tapi si kakek latah  awet muda segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya:

"Siapa yang berani berbuat demikian? Selama aku berada disini, tak nanti mereka berani mencoba mencabut gigi dari mulut harimau "

Memang apa yang  dikatakanpun bukan sebuah kibulan kosong belaka.

Sudah barang tentu pengemis pikunpun tak berani banyak berbicara lagi.

Dengan dipimpin oleh si kakek latah awet muda, berangkatlah ketiga orang itu menuju ke gedung tamu agung.

Peng-goan-koay-kek Lan Ciu-sui segera pula direbahkan diatas pembaringan dalam kamar kakek latah awet muda.

Sedangkan Oh Put Kui balik pula kedalam kamar sendiri. Hanya pengemis pikun seorang yang  mengomel  tiada hentinya:

"Sialan........ benar-benar lagi apes. "

Rupanya lagi-lagi mendapat tugas untuk menjaga pintu.

Padahal apa yang diperbuat mereka saat  ini  sama sekali tak ada artinya, karena segenap pemimpin dalam gedung Sian-hong-hu telah mengambil langkah seribu dan tak seorangpun yang ketinggalan. Yang masih tetap berada disitu hanya sikakek pencari kayu dari bukit utara serta situkang ramal setan.

Nyoo Siau-sian dan Kiau Hui-hui juga tidak pergi.

Lian Peng tidak memberi kabar kepada mereka, diapun tak berani mengabarkan kejadian tersebut kepada mereka.

Oleh sebab itulah disaat fajar  telah menyingsing dan mereka berdua berniat memberi salam kepada Lian  Peng, baru saat itulah diketahui kalau Lian peng sudah tidak berada ditempat.

Nyoo Siau-sian sama sekali tidak  merasakan  sesuatu gejala yang tidak beres.

Sebab dimasa-masa lalupun bibi Liannya seringkali pergi meninggalkan rumah tanpa pamit.

Berbeda sekali dengan Kiau Hui-hui, dia segera merasakan ada sesuatu yang tak beres.

"Adik Sian," demikian ia berkata kemudian, "mari kita pergi menengok  Oh   toako,   apakah   dia    masih   berada ditempat. "

Pertanyaan ini  serta merta meningkatkan  kewaspadaan Nyoo Siau-sian, dia tahu tentu ada yang tak beres dalam gedungnya.

"Betul enci Kiau," sahutnya  segera,  "apakah  kau merasakan sesuatu gejala yang kurang beres?"

Kiau Hui-hui manggut-manggut:

"Yaaa, aku kuatir kalau kepergian bibi Lian secara mendadak ini ada sangkut pautnya dengan oh toako!"

"Kalau begitu, mari kita segera berangkat " kata Nyoo

Siau-sian dengan wajah berubah.

Bagaikan hembusan angin, serentak berangkatlah kedua orang gadis itu menuju kegedung tamu agung. Sungguh diluar dugaan ternyata persoalan yang dijumpai sama sekali berjalan lancar dan tanpa halangan.

Tapi kejadian ini pun membuat Nyoo Siau-sian merasakn hatinya makin pedih dan menderita.

Ia merasakan hatinya resah dan duka.

Diapun    merasakan    cekaman  yang   begitu besar dan mengerikan tentang asal usulnya.

Dan saat ini , dia seolah olah merasa dirinya sudah menjadi puteri Nyoo Thian-wi serta memperoleh cemoohan,   hinaan dan caci maki dari umat persilatan.

Tapi dengan munculnya kedua orang gadis itu, Oh Put Kui pun menjadi semakin yakin bahwa gedung  Sian-hong-hu memang terdapat masalah yang kurang beres, bahkan  bisa jadi seluruh peristiwa yang terjadi selama ini didalangi oleh mereka.

sambil tertawa terbahak-bahak kakek latah  awet muda segera berkata:

"Hey budak, bukankah Lian Peng hilang secara mendadak?"

"Betul, semenjak pagi tadi, tak seorang manusiapun yang berhasil kami jumpai!" sahut Kiau Hui-hui sambil tertawa getir.

Kembali kakek latah awet muda tertawa:

"Sudah kuketahui sejak tadi,  ia  tentu   sudah  melarikan diri. "

"Sudah kau duga?" tanya Oh Put Kui tercengang. "Haaaaahhhhhh......... haaaaahhhhhhhh..........

haaaaaahhhhhh.........   aku   bukan   cuma   menduga,   bahkan

dugaanku amat tepat sekali. Demi keselamatan jiwanya sudah barang tentu  Lian Peng tak akan berani bercokol dalam gedung lagi!" "Tapi mungkinkah dia kabur kemana?" tanya Nyoo Siau- sian dengan perasaan kaget.

Bagi pendapat Nyoo Siau-sian, kepergian Lian Peng tanpa pamit merupakan suatu peristiwa yang sukar dimengerti.

"Menurut pendapatmu dia bisa pergi kemana?" kakek latah awet muda balik bertanya.

"Boanpwe tidak tahu. "

"Hey budak, biasanya    apakah dia seringkali pergi meninggalkan  gedung. ?"

"Betul," gadis itu mengangguk, "bibi Lian memang seringkali pergi meninggalkan rumah."

"Tahukah kau kemana dia pergi?"

Nyoo Siau-sian berpikir sebentar, lalu jawabnya :

"Agaknya suatu kali bibi Lian pernah bilang hendak pergi ke Tay-tong. "

"Tay-tong diShoa-say?" tanya kakek latah awet muda dengan kening berkerut.

"Betul!"

"Waaaaah tidak betul !" seru kakek latah awet muda sambil garuk-garuk kepala dan menggeleng berulang kali, "seharusnya dia mesti pergi ke Biau-hong-san!"

"Biau-hong-san?" kembali Oh Put Kui tertegun. Kakek latah awet muda segera tertawa:

"Anak muda, tahukah kau apa sebabnya aku mengatakan bahwa dia seharusnya pergi ke Biau-hong-san ?"

"Boanpwe memang ingin mohon petunjuk!"

"sebab diatas bukit Biau-hong-san berdiam seorang manusia aneh dari dunia persilatan!"

Oh Put Kui tidak percaya, mungkinkah dibukit  Biau-hong- san berdiam manusia aneh dari dunia persilatan? Sambil tertawa segera ujarnya:

"Boanpwe merasa  kurang percaya!"

"Anak muda, pernahkah kau mendengar tentang dua manusia aneh tertawa dan menangis?"

Setelah tertegun sejenak sahut Oh Put Kui:

"Boanpwe pernah bersua  dengan Tiang-siau-sin-ang (Kakek sakti tertawa keras) Beng Pek-tim, mungkinkah kakek Beng berdiam diatas bukit Biau-hong-san yang  banyak dikunjungi pelancong itu?"

Timbul perasaan tertarik dalam hati kakek latah awet muda setelah mendengar ucapan ini, dia segera bertanya:

"Anak muda, kapan sih kau pernah bersua dengan si cebol Beng. ?"

"Boanpwe pernah bersua dengan mereka ketika berada diperkampungan Tang-mo-san-ceng!"

"Kau pernah beradu kepandaian dengan sicebol she Beng itu?"

"Belum pernah!" Oh  Put  Kui  menggeleng. Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak:

"untung saja kau tidak mencobanya, kalau tidak kau benar- benar tak akan mampu berbuat apa-apa terhadapnya!"

Oh Put Kui tertawa hambar sesudah mendengar ucapan tersebut.

"Jadi kau tidak percaya?" tanya kakek latah awet muda sambil mendelik.

"Boanpwe mengerti kalau  bukan tandingan dari  kakek Beng, itulah  sebabnya tak sampai bertarung dengannya," pemuda itu tertawa.

Mendadak terdengar pengemis pikun yang berada didepan pintu berteriak: "Lote, kau jangan kelewat merosotkan kemampuan sendiri!"

"Tapi loko......... aku toh tidak bertarung dengannya waktu itu," bantah Oh Put Kui.

"Siapa bilang tidak? Bukankah kau telah memperlihatkan kehebatan ilmu Thian-liong-sian-kang mu?"

"Aaaaahh, itu sih tidak  terhitung seberapa " kata Oh

Put Kui sambil tertawa.

Mendadak kakek latah awet muda tertawa tergelak: "Haaaaahhhh.......... haaaaaaaaahhhh........

haaaaaahhhhhh           aku tahu sekarang, rupanya  disebabkan

kau telah mendemontrasikan kehebatan ilmu sakti tersebut, maka   tua   bangka   itu   dipaksa   mundur   sebelum bertarung. "

"Memang begitulah keadaan yang sebenarnya !"

Kakek latah awet muda segera berpaling kearah pengemis pikun, lalu serunya:

"Pengemis kecil, bukankah kau yang memberitahukan soal ini kepadanya?"

Pengemis pikun tertawa:

"Aku si pengemis adalah orang yang takut menderita rugi!" "Nah itulah dia," seru kakek latah awet muda lagi,

"seandainya mereka berdua betul bertarung, yang jelas bocah muda ini pasti akan menderita kekalahan "

Pengemis pikun segera menjulurkan lidahnya sambil menarik kembali kepalanya.

Sedangkan Oh Put Kui bertanya lagi sambil  tertawa hambar:

"Ban tua, apakah Beng lojin berdia di bukit Biau-hong-san?" "Bukan hanya sicebol Beng, kakek cengeng beralis putih  Cin Huay-wan sisetan ceking itupun berdiam pula disana."

Oh Put Kui terkejut sekali, sedangkan Nyoo Siau-sian dan Kiau Hui-hui dibuat tertegun.

Sebenarnya hubungan apakah yang terjalin antara bibi Lian dengan kakek cengeng beralis putih itu?

Tak tahan lagi mereka segera bertanya:

"Ban tua, sebenarnya apa sih hubungan bibi Lian dengan si manusia cengeng itu?"

"Tunggu saja setelah bertemu dengan setan ceking itu, kau boleh bertanya sendiri kepadanya. "

"Jadi kita pergi mencari si manusia cengeng itu?" tiba-tiba Nyoo Siau-sian bertanya dengan wajah tertegun.

Seakan-akan teringat akan sesuatu, kakek latah awet muda segera berkata sambil tertawa:

"Budak, pernahkah kau bertemu dengan si ceking she Cin itu?"

Nyoo Siau-sian  mengangguk. "Yaaa, pernah bertemu dua kali!" "Apakah bertemu didalam gedung?"

"Ayah  boanpwe yang mengundang kehadirannya. "

"Nah itulah dia, apa sebabnya Lian Peng pergi mencarinya tentu sudah kau pahami bukan !"

Nyoo Siau-sian menjadi terperanjat sekali teriaknya tanpa terasa:

"Ban tua, jadi maksudmu ayahku. "

Dia tak ingin mengetahui kalau ayahnya mempunyai watak berganda dengan peran yang berbeda. Dia lebih suka menjumpai ayahnya mati dari pada menemukan hal yang lain, sebab hal semacam itu pasti akan mendatangkan penderitaan penghinaan baginya.

Itulah sebabnya dia tak ingin mendengar kalau ayahnya berada ditempat kediaman si manusia cengeng.

Kakek latah awet muda segera tertawa katanya:

"Budak, besar kemungkinannya bapakmu yang sebentar mati sebentar hidup kembali itu saat ini sudah berada didalam istana Pek soat goan-kunnya dibukit Biau-hong-san!"

"Tidak........ tidak......... " mendadak Nyoo  Siau-sian menutupi wajah sendiri sambil menangis tersedu-sedu.

Melihat keadaan itu, Oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas, bisiknya:

"Adik Sian,  kau tak usah menyiksa diri.         "

Tapi perkataan ini justru makin melukai perasaan Nyoo Siau-sian, bagaimana mungkin ia tak sedih mengetahui semuanya itu?

Kakek latah awet muda sama sekali tidak ambil  pusing akan keadaan tersebut, kembali dia berkata:

"Apa sih yang perlu kau sedihkan? Hey budak, ayahmu toh bernama Nyoo Thian-wi, setelah bertemu dengan Wi Thian- yang nanti, asal kau tak mau mengenalinya toh urusan jadi beres?"

Tapi mungkinkah hal ini bisa dilakukan? Mungkinkah Nyoo Siau-sian bisa tak mengenalinya?

Tak heran kalau gadis itu menangis semakin sedih.

Kiau Hui-hui berusaha untuk menghibur hatinya, sayang hal ini pun tak ada gunanya.

Oh Put Kui mengerutkan dahinya,  tiba-tiba dengan perasaan tak sabar dia beranjak dari ruangan dan menuju keluar ruangan............. @oodwoo@
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).