Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 01

 
Jilid 01

DALAM DUNIA PERSILATAN tersiar berita yang mengatakan begini:

Di tengah lautan timur yang luas terdapat pulau kecil yang tak berpenghuni setiap malam bulan purnama, di  atas  pulau itu akan bermunculan banyak sekali kejadian aneh...

Kentongan ketiga baru saja lewat, ketika suasana amat hening, sepi tak kedengaran sedikit suarapun, ombak laut pelan-pelan surut ke tengah samudra, di atas pulau itu pasti akan terdengar bunyi seruling yang tinggi melengking.

Menyusul suara seruling, maka akan terdengar pula suara petikan harpa yang merdu.

Ditengah keheningan malam, irama seruling itu sedih dan menusuk perasaan, membuat orang merasakan hatinya lara dan duka.

Sebaliknya irama hampa itu  ibaratnya  beribu-ribu prajuritnya berkuda yang menyerbu ke medan laga, bersemangat dan membuat darah dalam badan mendidih.

Kemudian akan membuat juga  suara  nyanyian  yang lantang membelah keheningan malam, membawakan  syair Toa kang-tang-ki yang bernada keras dan membetot sukma....

Bila nyanyian telah selesai, perpaduan irama seruling dan harpa telah sirap, gelak tertawa panjang yang memekikkan telinga akan bergema membumbung tinggi ke angkasa.

Kemudian akan  muncul gulungan cahaya merah yang menyambar-nyambar di atas pulau seperti jilatan api  yang membara, dalam kegelapan malam, cahaya  itu  terasa menusuk pandangan mata.

Diantara kobaran api yang membara, akan muncul pula selapis hawa pedang yang menyilaukan mata.

Mungkin di sana terdapat  seorang jago pedang  yang sedang hidup mengasingkan diri? Akhirnya berkumandang suara pujian kepada sang Buddha yang menggelegar bagaikan guntur membelah bumi.

Kemudian suasana menjadi hening, sepi dan tiada kejadian apapun.

Orang persilatan yang mendengar dengan cepat menyebarkan peristiwa itu ke seluruh dunia persilatan.

Dalam waktu singkat, peristiwa aneh itu menjadi  bahan cerita orang banyak, menjadi buah bibir setiap jago-jago persilatan.

Ada diantara mereka yang menduga kalau pulau itu dihuni tokoh sakti, bila mereka berhasil mencapai pulau tersebut, siapa tahu bakal menemukan kitab-kitab pusaka peninggalan mereka?.

Ada diantara mereka yang menduga pulau itu dihuni siluman atau iblis yang hebat, dengan nekat melenyapkan semua kejahatan dari maka bumi mereka berangkat ke pulau itu.

Ada pula yang menduga di pulau itu akan dijumpai senjata mustika peninggalan tokoh sakti di jaman dulu kala, siapa tahu kalau mereka berjodoh dengan senjata itu.

Ada pula yang menganggap di pulau itu berdiam tokoh silat yang sedang diliputi kesedihan, mereka ingin  menyambangi dan berkenalan dengannya.

Selain dari pada itu ada pula jago-jago muda dalam dunia persilatan yang ingin menjadi tenar, ada  yang  ingin menghindari kejaran musuhnya, ada yang ingin mencari guru pandai, tanpa memperdulikan bahaya yang bakal dihadapi, mereka berangkat untuk beradu untung. Namun hasil yang dijumpai kawanan jago itu setali tiga uang.

Diantara sepuluh bagian, ada sembilan bagian diantaranya sudah mundur teratur ditengah jalan mencapai lima li  dari pulau tersebut, Mungkin ada pula diantaranya yang berhasil lolos dan menyusup ke atas pulau dalam kegelapan malam. Namun mereka yang berhasil mencapai pulau tersebut, tak pernah nampak kembali lagi.

Setahun, setahun, kembali setahun.

Waktu berlalu bagaikan kilat yang menyambar diangkasa ..

Orang yang bertujuan menyerempet bahaya masih berdatangan tiada hentinya, namun kebanyakan menjadi manusia-manusia yang bisa pergi tak pernah kembali.

Akhirnya orang persilatan menghadiahkan  nama  pulau pergi tak kembali untuk pulau terpencil tersebut, dimana lama- kelamaan akhirnya lebih dikenal orang sebagai: Pulau Neraka.

Sejak itu, Pulau Neraka menjadi lambang dari suatu tempat yang mendirikan bulu roma orang, tempat untuk  mencoba keberanian umat persilatan, juga merupakan perangkap bagi umat persilatan untuk mendapat kematian.

-oOdwOooOdwOoo0dw0oOdwOooOdwOoo-

BANYAK tahun sudah lewat Pulau Nerakapun masih tetap seperti sedia kala.

Suara seruling, irama harpa, bayangan pedang, nyanyian lantang, pekikan nyaring, gelak tertawa keras dan  pujian Buddha yang menggelegar, setiap bulan purnama pasti akan muncul satu kali.

Hanya saja, bila kau adalah seorang yang teliti, seorang yang seksama, maka kau jumpa banyak sekali perbedaan- perbedaannya.

Suasana suram dan sedih menyelimuti seluruh pulau kecil itu, kegagahan serasa bagaikan tinggal kenangan.

Permainan harpa kini  bernada sedih, suara nyanyian menyerupai orang yang sedang menangis...

Walaupun hawa pedang yang membelah angkasa semakin dahsyat kekuatannya, namun tubuh sifat kehidupan dibaliknya, tidak seperti dulu penuh  dengan  hawa pembunuhan yang mencekam.

Syair lagu Toa Kong Tang Ki, kini telah dirubah menjadi syair So Bo mengangon kambing.

"Si orang tua, mengharapkan anaknya kembali, waktu lewat bagaikan air...

Ditengah malam sama-sama tidur, siapa bermimpi siapa...

Anak siapakah yang dimaksud? Tak  seorangpun  yang tahu.

Seandainya kau mujur dapat mencapai pulau tersebut beruntung tidak menjadi orang yang bisa pergi tak kembali, maka akan kau jumpai dua hal yang akan membuat kau tak percaya....

Ditengah-tengah pulau itu akan jumpai sebuah tugu yang terbuat dari batu.

Di atas batu tadi akan tertera tiga huruf besar yang dibuat dengan menggunakan tujuh macam ilmu silat yang berada, entah pukulan tangan kosong, atau pedang atau golok atau bekas pukulan berapi, dan ketiga huruf itu berbunyi:

"Jit Hu To."

Rupanya Pulau neraka sesungguhnya sudah mempunyai nama aslinya, hanya umat persilatan tak ada yang mengetahuinya belaka.

Selain itu di atas puncak yang bukti yang paling tinggi akan di jumpai sebuah gardu kecil, Di depan wuwungan gardu tersebut tiga huruf besar yang terbuat dari susunan  bambu yang berbunyi:

"Wang Ji teng," (Gardu menantikan anak).

Tak heran kalau nyanyian yang bergema  membawakan syair yang berbunyi:

"Si orang tua, mengharapkan anaknya kembali." Mungkinkah ke tujuh kakek yang menderita itu sedang mengharapkan anak mereka kembali?

Satu teka-teki besar! Tak seorang manusiapun yang bisa menjawab pertanyaan ini.

-oOdwOooOdwOoo0dw0oOdwOooOdwOoo- Siapakah anak yang tidak berbakti itu?

Tahukah dia ada tujuh orang kakek yang hidup sengsara sedang merindukan dirinya?

Sedang memanggil-manggil dia? Mengharapkan kedatangannya?

Dan dia, mungkinkah ia akan kembali ke pulau itu, untuk bertemu kembali dengan ke tujuh orang tuanya?

Sayang sekali : Tiada umat persilatan yang mengetahui tentang kabar ini, tidak seorang manusiapun yang tahu.

-oOdwOooOdwOoo0dw0oOdwOooOdwOoo-

PERISTIWA itu sudah berlangsung lama sekali.

Tiga tahun, lima tahun, mungkin lebih lama lagi sepuluh tahun begitulah !

Waktu itu suasana dalam dunia persilatan amat tenang, Semua orang seakan-akan  sudah melupakan apa artinya dendam, apa artinya sakit hati. perguruan-perguruan  besar dan jago-jago persilatan hidup berdampingan secara damai, semua orang berkumpul dengan wajah berseri.

Sekalipun menjumpai persoalan-persoalan yang tidak menyenangkan hati asal kedua belah pihak saling menyodorkan selembar kartu undangan, di depan meja perjamuan yang menghidangkan arak wangi dan sayur lezat dan mengucapkan beberapa kata merendah, persoalan besar akan menjadi kecil, persoalan kecil akan hilang dengan begitu saja. Siapapun enggan untuk menimbulkan badai serta pertumpahan darah mencekam perasaan.

Betul bayangan hitam dari Pulau Neraka masih menghantui jalan pikiran mereka, namun siapapun merasa enggan untuk menyinggungnya kembali.

Dari sepuluh orang umat persilatan, ada delapan orang yang berpendapat demikian:

Permainan di ujung golok bagaimanapun juga merupakan suatu perbuatan yang berbahaya.

Siapakah yang benar-benar suka mempermainkan nyawa sendiri tanpa menghargainya?

Dari sepuluh orang umat persilatan, ada sembilan  orang pula yang berkata demikian:

"Kesemuanya ini adalah berkat jasa dari Seng-siu "kakek malaikat dia orang tua !"

Seng siu ! Satu panggilan yang sangat menghormat sangat menawan hati, Dan dia pun dengan kebesaran jiwa serta kebijaksanaannya mengatur dunia persilatan, membuat kawanan jago yang sukar diatur itu tunduk seratus persen dihadapannya, mau menuruti perkataannya.

Tentu saja, ketenangannya  yang  berhasil  menyelimuti dunia persilatan ini membuat setiap umat persilatan tak dapat melupakan seorang tokoh persilatan yang lain, yakni  Tian ceng "Pendeta sinting" Tay-gi Sangjin.

Andaikata tak ada  si pendeta sinting ini, maka dunia persilatan akan selamanya dikuasai oleh manusia paling keji dikolong langit, iblis tua itu bernama Pat huan-u-kay, Jian-sin- kui-siu "manusia paling aneh dari Pat-huan, kakek  setan berhati cacad" Siau Lun.

Selama Siau Lun belum dibunuh, dunia persilatan akan selalu berada ditengah badai pembunuhan. Oleh karena itu, setiap umat persilatan juga  mengagumi  dan menghormati si Pendeta sinting Tay-gi Sangjin atas tindakannya terhadap Siau Lun.

Belasan tahun telah lewat dengan cepat.

Kini    pendeta    sinting  sudah   tak ketahuan lagi ujung rimbanya.

"Sedang si kakek malaikat? ia tinggal dalam gedung Sian- hong-hu di ibu kota untuk menikmati sisa hidupnya...

Konon, Kaizar akan menganugerahkan gelar raja muda dunia persilatan kepadanya.

Maka badaipun kembali melanda dunia persilatan....

-oOdwOooOdwOoo0dw0oOdwOooOdwOoo-

SAAT ini adalah suatu musim gugur belasan tahan setelah dnnia persilatan memperoleh ketenangan.

Di depan kuil Pek-siu-an di tebing Si-sin-gay bukit  Cing- shia, tiba-tiba bermunculan ketua  dari Siau-lim-pay, Hui-sin siansu, ketua Bu-tong-pay Hian-leng totiang, ketua Hoa-san- pay Tui-hong kiam siu (kakek pedang mengejar angin) Bwe- kun-peng, ketua Go bi-pay Cui-sian Sanjin serta Han-sian-hui- kiam "pedang mulia" Wici Min salah seorang diantara enam Tianglo dari Kay-pang.

Kehadiran mereka disertai dengan seorang murid dari tiap- tiap perguruan dan sepucuk surat undangan.

Surat undangan itu dikeluarkan oleh ketua kuil Pek-siu-an yang selama ini membenci segala macam perbuatan jahat serta bertindak keji terhadap setiap siluman dan iblis yang membuat keonaran dalam dunia persilatan Hu-mo-suthay.

Bahkan di atas kartu undangan itu, tercantum pula  nama dari adik seperguruannya, To-liong sinni. Cing-sia-siang-ni "sepasang rahib dari bukit Cing-shia" adalah dua tokoh persilatan yang disegani setiap manusia, undangan ini tentu saja cukup mengejutkan semua orang.

Itulah sebabnya, begitu memperoleh kartu undangan, ke empat orang ketua dari empat partai besar, ditambah seorang jago lihay dari Kay-pang segera berangkat menuju ke tebing Si-sis-pay.

Bahkan merekapun membawa serta anak muridnya untuk datang memohon pengampunan. Ternyata dalam kartu undangan itu bukan hanya mengundang kedatangan mereka saja di tebing Si-sin gay kuil Pek-sui-an, bahkan mencantumkan pula nama-nama dari anggota perguruan masing-masing yang telah melanggar peraturan dari Pek-sui- am.

Dalam surat undangan itu, ditegaskan pula  bahwa  pada hari Tiong-yang, masing-masing ketua partai  harus sudah menyerahkan muridnya yang melanggar peraturan itu di bukit Cing-sia, kalau tidak, kedua orang rahib itu akan mendatangi perguruan masing-masing untuk menyelesaikan sendiri persoalan itu dengan cara mereka...

Ketua dari empat partai dan ketua dari Kay-pang yakni Lan seng tot-hun-siu (kakek bintang jatuh mengejar  sukma). Kongsun Liang cukup mengetahui akan seriusnya masalah itu, dan mereka sadar ada baiknya untuk jangan mengusik kedua orang tokoh silat ini.

Bukan saja mereka enggan ribut, lagipula siapapun   tak  mau gara-gara persoalan kecil menyebabkan timbulnya peristiwa berdarah dalam dunia persilatan.

Maka merekapun menepati janji dan berangkat ke tempat yang dijanjikan, sekalipun Kongsun Liang dari Kay-pang tidak datang sendiri, akan tetapi dia telah mengirim wakilnya yang tidak kalah termasyhur dalam dunia persilatan.

Di atas bukit Si-sin-gay, mereka telah berjumpa muka, masing-masing pihak hanya tertawa getir belaka kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun bersama-sama berangkat ke kuil Pek-siu-an.

-oOdwOooOdwOoo0dw0oOdwOooOdwOoo-

Pintu gerbang kuil Pek-siu-an berada dalam keadaan terbuka lebar.

Tiada orang yang menyambut kedatangan mereka, juga orang yang berdiri di depan pintu.

Suasana di situ terasa amat sepi, hening.. sedemikian heningnya sehingga kecuali kicauan burung yang kadangkala berbunyi, tak kedengaran suara apapun.

Kelima tokoh silat dari lima partai itu menjadi tertegun, dengan kening berkerut mereka berpikir hampir bersama:

Besar amat lagak kedua orang nikou tua?

Namun sebagai tokoh-tokoh silat  yang   berkedudukan  tinggi, mereka tak ingin mengumbar napsu walau menjumpai keadaan seperti ini, toh setelah bertemu muka nanti urusan bisa diselesaikan demikian jalan pemikiran mereka.

Sayang sekali, kelima orang tokoh silat ini tak pernah bisa menyelesaikan persoalan mereka dengan orang yang bersangkutan.

Kuil Pek-sim-an kini telah berubah menjadi tempat pembantaian yang mengerikan darah kental  tampak berceceran dimana-mana.

Sepasang Nikou sakti dari bukit Cing-shia telah menjadi arwah penasaran di alam baka.

Hu mo-su-tay ditemukan tergeletak di ruang tengah kuilnya dengan pinggang terpapas jadi dua.

Sedangkan To liong sinni ditemukan tewas dengan kepala terpisah di atas pembaringannya. Seluruh kuil Pek siu-an sudah berubah menjadi neraka, tak seorangpun manusia hidup pun  yang ditemukan di situ, sembilan orang murid dari sepasang nikou  itu ditemukan  tewas semua dengan anggota badan yang terpisah-pisah.

Darah telah menodai seluruh permukaan tanah dan membeku menjadi gumpalan-gumpalan yang berwarna merah tua.

Dilihat dari keadaan mayat-mayat itu, paling tidak mereka sudah dibunuh pada tiga hari berselang.

Menghadapi peristiwa berdarah seperti itu kelima orang tokoh persilatan ini  hanya berdiri termangu-mangu saking terkejutnya.

Terutama sekali lima orang murid yang sebenarnya sedang menantikan hukuman, mereka menggigil keras karena ketakutan mereka seakan-akan lupa kalau dengan kematian kedua orang nikou tersebut berarti dosa mereka dapat diampuni.

Dalam keadaan demikian, Hui-sin siansu dari Siau-lim-pay hanya bisa memuji keagungan Buddha tiada hentinya, sedangkan Han-sian hui-kiam Wici Miu dari Kay-pang dengan mata melotot bergumam dengan marah:

"Perbuatan siapakah ini ? perbuatan  siapakah  ini? perbuatan siapakah ini...?"

Tak ada yang tahu, hasil karya siapakah  pembunuhan berdarah ini, pembunuhan ini dilakukan sangat bersih, sempurna dan sama sekali tidak meninggalkan gejala apa- apa.

Walaupun ke empat ciangbunjin dan seorang jago lihay dari Kay-pang itu sudah melakukan pemeriksaan yang seksama di seluruh kuil Pek-siu-an tersebut, tiada jejak  mencurigakan  yang berhasil ditemukan.

Tampaknya cara kerja pembunuh itu benar-benar mengagumkan. -oOdwOooOdwOoo0dw0oOdwOooOdwOoo-

Sesungguhnya kehebatan orang itu tidak sampai di situ saja.

Sebulan kemudian, kelima orang tokoh silat itu kembali bersua muka di puncak bukit Gobi.

Selembar kartu  undangan yang  dikirim Kim-teng-sin-ih "nenek sakti dari Kim-teng, membuat mereka  harus berdatangan ketempat itu.

Alasan yang dicantumkan dalam kartu undangan itu adalah dia berhasil mengetahui  pembunuh  dari Cing-sia-siang-ni, maka mereka diundang untuk bersama-sama berkumpul di puncak Kim-teng serta merundingkan persoalan ini bersama.

Akhirnya ketika kelima tokoh persilatan itu tiba ditempat tujuan, mereka jumpai si nenek sakti dari  Kim-teng  yang  sudah empat puluh tahun lamanya tak pernah mencampuri urusan keduniawian ini ditemukan tewas menyusul arwah Cing-sia siang-ni ke alam baka.

Untuk kedua kalinya lima orang tokoh persilatan itu menjadi saksi bagi hasil karya perbuatan keji dari iblis pembunuh tersebut.

-oOdwOooOdwOoo0dw0oOdwOooOdwOoo-

Dunia persilatan yang tenang damai, kini bergolak kembali. Darah, telah membuka jalan menuju ke alam kematian

Maut kini mulai menyelimuti seluruh dunia persilatan dan mengancam jiwa setiap orang.

Sian-hong-pat-ciang Wan sim seng-siu "Kakek  malaikat delapan pukulan angin puyuh" yang menghuni dalam gedung Sian-hong hu di ibu kota, Nyoo Thian-wi dibuat gusar oleh kejadian itu. Kartu undangan berlapis emas segera disebar luaskan dari dalam gedung Sian-hong-hu.

Tampaknya si Kakek malaikat telah  di buat marah oleh kejadian itu, dia telah bangkit dan mengajak umat persilatan untuk menanggulangi bersama kejadian peristiwa berdarah ini.

Berbondong-bondong para jago berdatangan

Lima orang tokoh persilatan yang dua kali  menjadi  saksi dari peristiwa berdarah itu, berangkat pula menuju ke ibu kota, sebab segala sesuatunya harus diteliti dari keterangan yang bisa diberikan oleh kelima orang tokoh persilatan itu.

Ketika kelima orang tokoh  persilatan itu tiba di gedung Sian-hong-hu, si Kakek malaikat Nyoo Thian wi segera mengadakan perundingan tertutup dengan mereka.

Hasil dari perundingan itu menetapkan bahwa mereka akan menyelenggarakan suatu pertemuan Ciang mo-kun eng tay- hwe (pertemuan para enghiong untuk menaklukkan iblis).

Hanya menunggu tiga hari jago dari pelbagai daerah telah berdatangan untuk turut menghadiri penemuan itu.

Sian hong-hu memang suatu kekuatan dunia persilatan  yang hebat, selain mempunyai banyak pengikut hubungan  juga amat luas, sudah barang tentu untuk menyelenggarakan suatu pertemuan para enghiong, bukanlah suatu pekerjaan sukar.

Tak menjumpai banyak kesulitan, semua persiapan untuk terselenggaranya pertemuan itu sudah beres.

Malam sebelum diadakannya pertemuan itu, untuk kedua kalinya si Kakek malaikat Kyoo Thian-wi mengundang kelima orang ciangbunjin itu untuk menyelenggarakan perundingan rahasia sekali lagi, perundingan itu baru berakhir pada kentongan ketiga.

Siapa tahu, pada kentongan ke empat, gedung siau-hong-  hu telah digemparkan oleh suatu berita besar yang ibaratnya guntur membelah bumi ditengah hari bolong. Sian-hong-pat-ciang, si "kakek"  malaikat Nyo Thian-wi ditemukan sudah tewas terbunuh.

Kematiannya sepuluh kali lipat lebih mengerikan daripada kematian yang dialami Cing-sia-siang-ni serta Kim-teng sin-ih, tubuhnya dicincang sedemikian rupa sehingga  keadaannya benar-benar mengerikan sekali.

Kematian dari pemimpin mereka itu sangat memukul semangat para jago persilatan, pertemuan Ciang-mo-hwe pun dibatalkan sebelum diselenggarakan.

Awan hitam kini semakin menyelimuti seluruh dunia persilatan.

Kini harapan orang mulai ditujukan pada si pendeta sinting yang tersohor karena kelihayannya itu.

Tapi pendeta termasyhur ini seakan-akan sudah tenggelam ditengah samudra saja, ia lenyap tak berbekas!  Bahkan sejak ia berhasil menaklukkan Pai-huang-it-koay. Jiau  sim-tui-siu Siau Lim, tak pernah orang berjumpa lagi dengan dirinya.

Tapi, ada pula yang mulai teringat dengan salah seorang tokoh persilatan yang angkat nama bersama-sama Kakek malaikat, yaitu Tionggoan-it-teng "benggolan sakti dari Tionggoan Leng Hong Bin.

Akan tetapi suami istri yang tinggal di kebun Ci-wi-wan di wilayah Tlong ciu ini hanya menggelengkan diri  untuk menolong umat persilatan guna melenyapkan gembong iblis pembunuh tersebut.

Gara-gara penolakannya ini, dalam dunia persilatan segera tersiar berita sensasi.

"Tionggoan-it-teng Leng Hong Bin dan istrinya Lak-jiu-ang- sian (benang merah bertangan keji" Tu-jit-nio adalah dalang dari tiga kali pembunuhan berdarah itu."

Menanggapi berita sensasi yang tersiar dalam dunia persilatan itu, Leng-hong-bin cuma tersenyum ewa. Berbeda dengan Lok jiu ang-siang Tu Jit-nio, istri Leng Hong-bin, dia naik darah dan segera menyebar undangan- undangan tersebut hanya terdiri dari lima lembar yang ma- sing-masing ditujukan kepada lima orang tokoh   persilatan yang menyaksikan tiga buah peristiwa berdarah ini, mereka diundang untuk melakukan pembicaraan dalam kebun Ci-wi- wan.

Sebagai tokoh persilatan yang memimpin perguruan besar dalam dunia persilatan tentu saja mereka dapat memahami maksud yang sebenarnya dari undangan  Leng  Hong-bin suami istri tak mungkin melakukan perbuatan  terkutuk semacam ini, maka dengan senang hati mereka menyanggupi permintaan dari suami istri ini  untuk memberi keterangan kepada umat persilatan.

Bulan sebelas tanggal delapan, lima orang ciangbunjin dari lima partai persilatan perkumpulan untuk keempat kalinya.

Didalam kebun Ci-wi-wan, mereka menjumpai Tionggoan- it-teng Leng-hong-bin, Lak jiu-ang sian Tu-jit-nio dan putra mereka yang baru berusia delapan belas tahun Leng-ki-kong.

Sayang lagi-Iagi kedatangan dari kelima  orang ciangbunjin itu terlambat satu langkah. Mereka sudah tidak memperoleh kesempatan lagi untuk  berbincang-bincang dengan Leng Hong-bin suami istri.

Leng Hong-hin hanya ditemukan batok kepalanya dengan sepasang mata yang melotot besar terpantek di atas pohon dalam kebun itu, sedangkan Tu Jit sio  ditelanjangi  orang hingga tak sehelai benangpun melekat di tubuhnya, kemudian tubuhnya itu dipamerkan dia tas pohon tepat di bawah batok kepala suaminya dengan tujuh batang panah bambu, sedangkan putra mereka Leng Ki-kong dibacok menjadi tiga bagian dan terkapar di bawah pohon.

Benar-benar suatu sistim pembunuhan yang sangat keji. Betul-betul perbuatan dari seorang iblis berhati  keji yang berdarah dingin. Lagi-lagi kelima orang ketua dari lima partai  besar itu disodori dengan sebuah adegan pembunuhan yang bersih dan sempurna.

Untuk beberapa saat lamanya, kelima jago lihay itu hanya bisa saling berpandangan dengan mata terbelalak lebar-lebar.

Sekarang mereka tak usah membersihkan nama Leng Hong-bin suami istri dari segala tuduhan lagi, Leng Hong-bin suami istri telah mempergunakan darah dan kematian mereka untuk membersihkan diri dari segala tuduhan dan fitnahan.

Tapi kematian keluarga Leng ini benar-benar penasaran, suatu kematian yang betu!-betul mengenaskan.

Menghadapi keadaan ini, untuk kesekian kalinya Hui-sin siansu hanya bisa memuji keagungan Buddha.

Hun sian-hui-kiam Wici Min dari Kay-pang juga sudah tidak berteriak gusar lagi, menanyakan pembunuhan ini dilakukan siapa, sebaliknya sambil menghela napas sedih  ujarnya kepada empat orang rekannya: "Setelah ini, tiba giliran siapa untuk dibunuh?"

Ya, siapakah giliran selanjutnya ? Setiap pentolan dunia persilatan, setiap jago yang punya kedudukan dimata umum, sekarang sudah menjadi incaran berikutnya.

Ke empat orang ciangbunjin itu hanya bisa saling berpandangan sekejap dengan mulut membungkam.

Dalam pandangan tersebut, entah  terkandung berapa banyak perasaan yang bercampur aduk ?

Mungkin pandangan yang sekejap  itu  akan  menentukan saat kehidupan dan kematian mereka.

Mungkin pandangan itu akan menentukan tekad mereka untuk bersama-sama menanggulangi pembunuhan  berdarah itu.

Atau mungkin juga Mereka hanya memandang punggung rekannya, apakah sudah basah oleh peluh dingin atau tidak... Berita tentang terbunuhnya pentolan-pentolan dunia persilatan seperti si kakek malaikat Nyoo Thian wi dan bayangan pedang pengejar nyawa Le Hong bin dengan cepat tersebar luar ke dalam dunia persilatan.

Rasa panik, seram, mengerikan cepat menyelimuti pula perasaan kawanan jago yang selama ini menganggap mereka paling top, paling hebat dan paling jagoan.

Dalam suasana seperti inilah, dari sepuluh orang jago-jago persilatan yang termasuk paling top, ada sembilan orang yang berpindah rumah. Ternyata semua orang takut menghadapi kematian.

Sekarang, terungkaplah sudah bahwa kegagahan dan kehebatan mereka dihari-hari biasa sebetulnya hanya suatu kepura-puraan belaka, buktinya bila ancaman maut benar-  benar tiba, semua orang pada angkat kaki mencari keselamatan sendiri-sendiri.

Tapi bagaimanapun juga, kematian memang bisa mendatangkan perasaan seram....

Maka dalam suasana seperti inilah, dalam dunia persilatan kembali beredar berita yang mengatakan begini: "lblis siluman pembunuh itu sudah pasti berasal dari Pulau Neraka, sudah pasti iblis kejam dari pulau Neraka  yang  telah  hijrah  ke daratan Tionggoan."

Tapi, siapakah yang dapat membuktikannya ? Tak ada ! seorang manusiapun, tak ada. Maka ada  seorang mulai berpikir:

"Jika ada orang menggunakan kesempatan untuk bermain gila, sudah pasti acaranya akan bertambah meriah, bahkan sudah bisa dipastikan selama hidup permainan busuknya  itu tak bakal terbongkar, jalan pemikiran manusia selamanya bagus, tapi betulkah demikian ? Adakalanya apa yang terjadi dalam dunia persilatan sukar diperhitungkan dengan jalan pemikiran manusia. Di atas bukit Lu-san, tepatnya di tepi telaga Kiu-long-tham, terdapat sebuah gardu bata yang kecil.

Waktu itu, di atas batu besar yang berbentuk pembaringan dalam gardu itu tampak ada seorang pemuda berbaju putih yang berusia dua puluh tahunan sedang duduk  bertopang dagu sambil memandang awan di angkasa dengan termangu- mangu.

Mukanya amat pucat, jelas memperlihatkan sinar keletihan yang sangat tebal.

Walaupun ia sedang termangu, namun secara lamat-lamat wajahnya memperlihatkan mimik wajah yang kesepian, ia sangat tampan, matanya jeli seperti bintang timur, hidungnya mancung, bibirnya kecil dan agak menekuk ke bawah pada kedua belah sisinya, ini menunjukkan kecerdasan dan keangkuhan.

Di sisinya terletak sebuah bungkusan kecil.

Disamping bungkusan kecil itu tergeletak sebilah pedang yang telah berkarat.

Pita pedang yang berwarna putih, kini telah  berubah menjadi abu-abu, sekeliling sarung pedangnya penuh dengan retakan-retakan, agaknya pedang tersebut sudah amat kuno sekali.

Sedang bungkusan tersebut tampak menonjol besar, tampaknya tidak sedikit isi buntalan tersebut.

Dari sekian hal, ada satu keistimewaan lagi dijumpai pada pemuda tersebut,  yakni  wajahnya  menunjukkan  perasaan tidak puas kesepian bahkan sangat menganggur.

Memandang awan yang bergerak diangkasa, tiba-tiba pemuda tersabat bersenandung dengan suara lantang.

Kemudian makin lama bersenandung makin keras, tiba-tiba setelah tertawa tergelak serunya:

"Thian-ho-tang... Thian-ho-tang..." Dia membungkukkan badannya memungut buntalan dan pedang berkaratnya, kemudian siap berlalu dari situ.

Belum lagi melangkah pergi, mendadak  belakang gardu dari balik semak terdengar seseorang berseru dengan gusar:

"Sialan ! Keparat, siapa yang tak tahu diri dengan berteriak- teriak di sini."

Sebutir kepala yang berambut kusut  pelan-pelan  muncul dari balik semak, kemudian muncul pula sebuah tangan yang besar dan hitam menggosok-gosok matanya yang ngantuk.

Pemuda berbaju patih itu berkerut kening kemudian  pikirnya dengan geli:

"Kasar amat orang ini, padahal dia sendiri pun berteriak teriak masa begitu muncul lantas mencaci maki aku "

Sekarang, ia sudah mengenali orang itu sebagai seorang pengemis tua yang amat dekil.

Melihat itu, pemuda yang berbaju putih tersebut tak tahan mengendalikan rasa gelinya lagi, dia segera tertawa geli.

Pengemis tua itu semakin marah melihat pemuda itu tertawa, mendadak sepasang matanya melotot besar hingga tampak sorot matanya yang menggidikkan hati.

"Tajam amat sepasang mata orang ini..." diam-diam  pemuda berbau putih itu berpikir dalam hati, sementara dia masih termenung, pengemis tua itu sudah berteriak keras- keras:

"Bocah keparat, kaukah yang berkaok-kaok tadi di sini?"

Pemuda berbaju putih itu manggut-manggut sesungguhnya paling benci kalau dipanggil "bocah keparat", tapi sekarang ia enggan berdebat dengan pengemis itu maka sahutnya:

"Aaah, kebetulan saja hatiku lagi lega, maka kusenandungkan beberapa bait syair. " "Huh, kentut anjing, kentut anjing !" teriak pengemis tua itu sambil tertawa dingin tiada hentinya. "Kalau orang tak bisa memaafkan seperti ini untuk tidur sebentar, sudah pasti dia adalah seorang manusia tak becus "

"Tepat sekali, aku memang kebetulan sekali orang yang becus!" jawab pemuda berbaju  putih itu tiba-tiba sambil tertawa.

Agaknya pengemis tua itu tak menyangka kalau pemuda berbaju putih itu mengakui dirinya tak becus, untuk sesaat dia menjadi tertegun dan berdiri melongo, Tapi, sesaat kemudian dengan gusar ia lantas berteriak:

"Bocah keparat apa kau tak tahu kalau aku si pengemis tua sedang tidur siang di sini?"

Pemuda berbaju putih itu segera tertawa:

"Tempat inikan bukan kamar tidur, darimana aku bisa tabu kalau di sini ada orang sedang tidur?"

Untuk kesekian kalinya pengemis tua itu tertegun dengan jengkel ia tinju batang rumput sampai melengkung kemudian teriaknya keras-keras:

"Dan sekarang?"

"Sekarang, sudah barang tentu aku sudah tahu !"

"Bagus sekali kalau sudah tahu...." mendadak  pengemis tua itu menghampiri pemuda tersebut.

Paras maka pemuda itu agak berubah dengan perasaan terkejut, cepat dia berpikir:

"Hebat amat ilmu Leng-siti lo-han-imi  yang  dimiliki  orang ini. "

Tapi di luar dia berlagak bodoh, katanya tiba-tiba sambil tertawa tergelak: "Haaahhh... haaahhh... haaahhh... rupanya kau berdiri di belakang semak, haaahhh . . . aku malah mengira kau sedang berbaring tadi..."

Ternyata pengemis tua berbadan cebol, sekalipun sedang berdiri, tinggi badannya tak lebih hanya mirip orang biasa  duduk, karena itu pemuda berbaju putih tersebut  pada mulanya mengira ia sedang duduk dibelakang semak.

Oleh sebab itu ketika pengemis tua itu berjalan mendekat tadi, pemuda berbaju putih itu salah mengira  kalau lawannya itu sedang mendemonstrasikan kepandaian melayang datang sambil duduk.

Menanti pengemis tua itu sudah tiba di hadapannya, pemuda tersebut baru tak kuat menahan gelinya lagi.

Makin keras pemuda itu tertawa, pengemis tua itu semakin berang, dengan mata melotot tiba-tiba tegurnya:

"Hei, bocah keparat, kau sedang mentertawakan badanku cebol?"

"Tidak berani, tidak berani!"

"Hmmm, aku sudah tahu kalau kau tidak berani..."

Setelah berhenti  sejenak pengemis tua itu mengamati pemuda tersebut sejenak, lalu sambil tertawa tergelak katanya lebih jauh:

"Hei bocah keparat, apa  kerjamu? Darimana kau dapat pedang karatan itu? 0Ooh,.. tahu aku sekarang, rupanya kau ingin berlagak seperti seorang jagoan" Ccu...cccttt..." bukan main, sayang kalau ingin berlagak jadi pendekar, pedangmu seharusnya sebilah pedang yang baru, masa pedang karatan yang begitu tumpul?"

Merah padam selembar wajah pemuda berbaju putih itu karena jengah, buru-buru katanya: "Aku bukannya ingin berlagak menjadi pendekar, sedang pedang karatan ini adalah hadiah dari angkatan tuaku, maka akupun tak tega untuk membuangnya."

"Kau bukan orang persilatan ?!" seru pengemis itu dengan kerutkan keningnya.

"Bukan !"

Sepasang mata pengemis tua itu melotot besar-besar dan mengawasi pemuda itu tanpa berkedip, agaknya dia ingin tahu apakah pemuda itu sedang berbohong atau tidak.

Lihat punya lihat, mendadak  pengemis  tua  itu mengayunkan tinjunya ke depan.

"Bluukk....!" seketika itu juga, pemuda berbaju putih  itu kena dihantam sampai terjengkang dari atas batu  besar  itu dan untuk sesaat lamanya tak mampu bangun lagi.

Setelah pemuda itu jatuh  terjengkang, pengemis tua itu baru tertawa terbahak-bahak sambil bersorak:

"Haahh.... haah... naah, bagus, bagus sekali, rupanya kau memang tidak membohongi aku. "

Sampai setengah harian kemudian pemuda  berbaju  putih itu baru bisa merangkak  bangun dari atas tanah,  sambil berkerut kening dan menggigit bibir, dia mengambil pedang karat dan  buntalannya kemudian  dengan bersalah payah, mengikatnya dipinggang.

Setelah itu dia mendongakkan kepalanya memandang si pengemis tua yang masih berdiri di atas batu besar sambil tertawa terbahak-bahak, kemudian  sambil gelengkan kepalanya dan mendengus dingin, ia segera berlalu dari situ.

Agaknya pengemis tua itu tak menyangka kalau pemuda berbaju putih itu segera berlalu tanpa mengucapkan sepatah kalapan setelah kena dihantam keras olehnya.

Sambil menggaruk-garuk rambutnya yang kusut, sepasang matanya berkeliaran kesana-kemari sekejap, kemudian sambil berpekik nyaring, dia melompat turun dari atas batu dan mengejar pemuda tadi dengan langkah cepat.

Sebenarnya pemuda berbaju putih itu tahu kalau si pengemis cebol sedang mengikuti di belakangnya, namun dia berlagak seakan-akan tidak tahu, dengan langkah lebar dia langsung berjalan menuju ke sebuah gedung besar di tepi telaga Kiu-long-tham.

"Hei   bocah keparat, kau hendak   kemana?" kembali pengemis tua itu menegur dengan suara keras.

Seolah-olah tuli, pemuda berbaju putih itu berlagak tidak mendengar teguran tersebut, bahkan berpalingpun tidak.

Dengan cepat pengemis tua itu memburu ke  muka, kemudian menghadang jalan perginya.

"Hei bocah keparat, apakah kau hendak pergi ke perkampungan Tang-mo-san-ceng ?"

Pemuda berbaju putih itu hanya tertawa lebar, kemudian sambil miringkan badannya ia  melanjutkan  perjalanannya maju ke depan.

Lama kelamaan habis sudah kesabaran pengemis tua itu, dengan cepat dia menggetarkan tangannya yang kurus untuk mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan pemuda berbaju putih itu, kemudian bentaknya dengan penuh kegusaran:

"Hei, kau hendak kemana ?"

Pemuda berbaju patih itu menundukkan kepalanya memandang sekejap urat nadi pada pergelangan tangannya yang dicengkeram pengemis tua itu, kemudian sambil menggelengkan kepalanya  dan  menghela  napas sahutnya pelan:

"Aaai, bukankah kau sudah tahu ?"

"Perkampungan Tang mo-san ceng "Pembasmi iblis ?" Pemuda berbaju putih itu tertawa dan segera manggut- manggut, kemudian sambil menguruti nadinya yang bekas dicengkeram dia melanjutkan perjalanannya ke depan.

Mendadak    pengemis    tua  itu   tertawa terbahak-bahak, kemudian menyusui lagi ke depan.

"Hei   bocah keparat kau kenal dengan pemilik dari perkampungan Tang-mo-san-ceng tersebut ?"

"Tidak kenal !" sahut pemuda tanpa berpaling.

Pengemis tua itu tertegun, diamatinya pedang karat dipinggang pemuda itu sekejap kemudian setelah berpikir sebentar, katanya lagi:

"Bocah keparat, apakah kau miskin?".

"Aku hidup sebatang kara dan mengembara kemana-mana, rumahku ada di semua tempat, makananku tersedia di segala penjuru dunia, jika kau menganggap aku miskin, aku justru merasa diriku kaya raya." sahut pemuda itu sambil tertawa.

"Kau kaya raya ?"

"Bayangkan saja, rumahku ada di dunia, kebunku ada di tanah perbukitan, bintang dan bulan  adalah  lenteraku,  ikan dan cengkerik adalah temanku, mengapa kau anggap aku ini rudin ?"

Agaknya pengemis tua itu tidak menyangka kalau pemuda yang masih ingusan  tersebut sudah mempelajari falsafah hidup sedemikian dalamnya, untuk sesaat dia  menjadi  tertegun dan berdiri melongo.

Setelah hening hampir setengah li perjalanan pengemis tua itu baru berkata lagi sambil tertawa tergelak:

"Bocah keparat, hampir saja aku kena kau gertak !"

"Aku tidak berniat untuk menggertak orang, aku berbicara sejujurnya dan apa adanya." "Hmmm, aku tahu kau memang tak bakal bisa menggertak aku," dengus pengemis sok itu.

Padahal ia sudah termakan oleh gertakan tersebut hingga untuk beberapa saat lamanya tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Tak lama kemudian,  sikap sok dari pengemis tua  itu  kembali menyelimuti dirinya, sambil terbawa dia lantas berkata lagi:

"Bocah keparat, jangan-jangan kau sudah edan lantaran miskin?"

"Hei, mengapa kau selalu menuduh aku miskin?" tegur pemuda berbaju putih itu setelah tertegun sebentar.

Pengemis tua itu segera tertawa.

"Cukup kulihat dari tampangmu yang rudin serta dari dandananmu sekarang, bisa ku ketahui kalau  kedatanganmu ke perkampungan Tang-mo sanceng hanya menginginkan berupa tahil perak, benar bukan? Nah tak salah bukan kalau aku mengatakan kau sudah edan lantaran miskin.

Kali ini, pemuda berbaju putih tidak menjawab apa, dia hanya tertawa hambar.

Melihat pemuda itu membungkam, si pengemis tua tersebut semakin bangga, godanya lagi sambil tertawa gelak:

"Coba lihat,  tebakanku amat lihay bukan?  Hey bocah keparat, mengapa wajahmu tidak berubah menjadi merah?"

Pemuda itu tidak menggubris, dia maju beberapa langkah lagi ke depan, kemudian secara tiba-tiba ia menegur sambil berpaling:

"Kau sendiri hendak kemana?"

"Mencari sesuap nasi !" jawab pengemis tua itu sambil menepuk perut sendiri, pemuda berbaju putih  itu segera tertawa, pikirnya. "Kalau dugaannya tepat, masa tak dapat menduga perut sendiri memang lapar? Aaaai, pengemis tua ini benar-benar kebangetan sekali orangnya. "

Berpikir demikian, diapun lantas bertanya:

"Juga akan ke perkampungan Tang-mo san-ceng?" "Hahhh...haaaaaahhh... lohu mah tak akan sama seperti

kau. "

"Tepat sekali," pikir pemuda itu cepat, "tentu saja kau tak sama denganku, kau hanya demi perutmu yang lapar saja."

Dengan menahan rasa geli didalam hati, ia menyahut berulang kali:

"OOdwOoOoh, tentu saja! Tentu saja! Aku kan cuma pergi kesana untuk melihat-lihat saja."

Tampaknya pengemis tua itu tidak menangkap sindiran dibalik perkataan pemuda itu dengan  bangga kembali dia berkata sambil tertawa.

"Dengan para jago dalam perkampungan itu, hampir semuanya kukenal sangat akrab."

Sedang mengibul? Agaknya tidak.

Diam-diam pemuda itu merasa geli didalam hati,  tapi diluaran segera katanya:

"Apakah kau orang tua bersedia mengajak ku kesana ?".

Sejak berbicara sedari tadi, agaknya perkataan inilah yang paling sedap didengar diri pengemis tua itu.

Dengan hati gembira dia  menepuk-nepuk dada sendiri, kemudian katanya dengan lantang:

"Mengangkat kaum  muda agar ternama merupakan cita- cita lohu selama ini, bocah muda, mari ikut aku, tanggung penyakit rudinmu itu akan disembuhkan."

"Waaah, sungguh beruntung aku bisa berkenalan  dengan kau orang tua, entah  diantara pemuda-pemuda yang kau tolong itu, adakah seseorang diantaranya yang kemudian jadi tersohor ?"

Sepasang mata pengemis tua itu segera melotot besar. "Masa kau tidak dengar perkataanku tadi? Aku kan bilang

baru kali isi kulakukan pekerjaan semacam ini ! Soal bisa tersohor atau tidak, hal ini musti ditinjau dulu apakah kau ada kesempatan untuk maju ataukah tidak"

Pengemis tua itu masih mengibul terus kesana kemari, seakan-akan orang yang  bisa berjumpa dengannya bakal beruntung sepanjang masa.

Hampir meledak perut anak muda itu saking gelinya.

"Betul-betul seorang pengemis yang  pandai  mengibul.." pikirnya dalam hati.

Tapi dia tidak tertawa, malah sambil berlagak hormat, ia berkata lagi:

"Asal kan orang bersedia mengatrol diriku, sudah pasti kau akan berusaha dengan sepenuh tenaga."

"Haaaaahhhhh... haaaaahhhhhh....  bagus  sekali," pengemis tua itu tertawa tergelak " bocah keparat, tampaknya makin lama lohu semakin suka kepadamu."

Sambil berkata dia  lantas menunjukkan lagak seperti seorang angkatan tua yang kenamaan,  sambil menggoyangkan kepalanya yang kecil, selangkah demi selangkah berjalan lebih dulu ke muka.

Sesungguhnya pemuda berbaju putih itu ingin  sekali tertawa terbahak-bahak, tapi sekarang dia malah berusaha untuk mengindahkan perasaan tersebut, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia mengikuti di belakang pengemis tua itu.

Jangan dilihat pengemis tua itu mempunyai kaki yang pendek, ternyata langkahnya cepat sekali.

Dalam waktu singkat mereka sudah tiba di depan sebuah gedung sebuah bangunan yang amat megah, gedung itu kokoh dan   tinggi besar,   benar-benar   merupakan suatu bangunan yang luar biasa sekali.

"lnilah perkampungan Tong mo-sau-ceng," dengan nada yang sombong dia berkata.

-oOdwOooOdwOoo0dwoOdwOooOdwOooo-

Tiba-tiba pengemis tua itu seperti teringat akan sesuatu urusan penting, dengan cepat serunya:

"Hei, tahukah kau siapakah lohu?"

"Sudah pasti kau orang adalah seorang jago kenamaan dalam dunia persilatan!" jawab itu dengan hormat.

Mendengar umpakan tersebut, pengemis tua itu merasa amat gembira, sambil membusungkan dada  dan mendongakkan kepala nya dia menjawab:

"Tepat sekali jawabanmu itu, lohu she Lok bernama Jin-ki, aku adalah salah seorang dari enam Tianglo perkumpulan Kay-pang, orang menyebutku si Pikun, Ooh, bukan... bukan, Orang persilatan menyebutku si pengemis sakti yang cerdik, ingat baik-baik kataku!"

Pemuda berbaju putih  itu tertawa, kemudian  sahutnya dengan nada yang menghormat:

"Aku telah mengingat amat jelas, kau Pi-kun, ooh, bukan, Pengemis sakti yang cerdik Lok Jin-ki  locianpwe, seorang pendekar besar yang suka membawa anak muda menuju ke anjang kepopuleran!"

Pengemis tua itu mengerutkan keningnya sebentar, kemudian manggut-manggut.

"Lain kali kalau bicara jangan ditambah dengan kata si  pikun, tahu? Kau anggap siapa.... siapa yang pikun?  Hei, bocah keparat, jangan-jangan kau sendiri yang sudah pikun lantaran lapar?" Pemuda berbaju putih itu ingin tertawa tapi tak berani, mukanya menjadi merah lantaran harus menahan geli hingga orang tak tahu mengira dia jengah lantaran dinasehati pengemis tua itu.

"Aku tidak berani, aku tidak berani..." ucapnya kemudian.

Mendadak dengan mata melotot pengemis tua itu berkata lagi:

"Bocah keparat, hampir saja lohu telah melupakan suatu masalah besar lagi!"

"Masalah besar apa."

"Pengemis  tua itu tertawa rikuh, kemudian katanya:

"Bocah keparat, cepat beritahukan kepadaku namamu dan tinggal dimana, kalau tidak sebentar kalau Hoa cengcu menanyakan soal ini kepadaku dan lohu  bilang tak  tahu, bukan kah orang akan mengatakan lohu semakin pi..."

Kata "Pikun" belum sempat diucapkan buru-buru dia sudah membungkam lebih dahulu.

Mendengar perkataan itu, anak muda itu segera tertawa hambar.

"Apakah persoalan inipun  merupakan suatu persoalan besar ?" katanya.

Dengan wajah agak jengah pengemis tua itu segera mengangguk.

Sambil tertawa lantas pemuda itu berkata:

"Aku tinggal di bukit In tang san tebing Cing-peng-gay..." "Suatu tempat yang indah..." puji pengemis tua itu sambil

tertawa.

"Ooh, apakah kau pernah ke situ ?"

Cepat-cepat pengemis tua itu menggeleng. "Seantero jagad sudah pernah lohu jelajahi, tapi...  tapi hanya bukit In-tang-san dekat lautan timur yang tak berani kudekati, sebab... sebab lohu memang tak berani berpesiar ke situ !"

Mendadak ia teringat kalau Pulau Neraka letaknya tak jauh dari bukit In tang-san, kontan saja paras mukanya berubah hebat.

Sebaliknya pemuda berbaju  putih itu malahan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh... haaahh... haaahh kalau memang kau orang tua pernah menjelajahi semua tempat kenamaan dalam dunia ini, mengapa tidak berpesiar pula ke bukit In-tang san ?"

"Hei bocah muda, mengapa kau suka mencampuri urusanku...?" teriak pengemis tua itu tiba-tiba dengan mata melotot.

Pemuda itu menjadi tertegun, kemudian serunya:

"Kalau memang begitu, dari mana kau bisa tahu kalau tebing Cing-peng gay adalah suatu tempat yang indah ?"

"Bocah keparat, lantaran nama itu kedengarannya indah, aku yakin tempatnya pasti indah juga."

"Tampaknya kau orang tua memang betul-betul pandai menduga secara tepat ! Benar tebing Cing-peng-gay memang suatu tempat yang sangat indah pemandangannya. "

"Nah, coba lihat, dugaanku tepat bukan?"  seru  pengemis tua itu sambil tertawa bangga "aku memang pengemis sakti yang cerdik. Hei anak muda, siapakah namamu? Apakah namamu juga indah?

"Aku rasa tidak seindah bukit Cing-peng-gay!" "Lantas siapa namamu ?"

"Oh Put kui !"

-oOdwOooOdwOoo0dw0oOdwOooOdwOoo- "Oh Put-kui, Oh tidak kembali?" seru pengemis tua itu dengan mata melotot besar "Benar, tentunya lebih tidak sedap didengar bukan ?" kata  si pemuda berbaju  putih sambil tertawa.

Tiba-tiba pengemis tua itu melompat ke  udara sambil berseru:

"Tidak! Tidak Dibandingkan dengan nama Cing peng-gay, nama itu lebih sedap didengar!"

"Ooh, terima kasih atas pujianmu." pengemis tua itu tertawa aneh, lalu katanya lagi:

"Bocah keparat, kalau kulihat dari dandananmu yang rudin, sudah jelas kau tidak mirip seorang anak kaya yang cukup sandang pangan di desa kelahiranmu, apalagi kau sedang mengembara sekarang, nama Oh Put-kui  memang  paling tepat bagimu "

"Yaaa, yaaa, tepat sekali perkataan kau orang tua, tampaknya kan memang amat cerdas, sampai jalan pikiranku pun bisa kau pahami."

"Jangan lupa bocah muda, ako toh si pengemis sakti yang cerdik, sudah barang tentu aku bisa menduga segala sesuatunya dengan tepat, kalau cuma jalanan pemikiranmu itu saja masa lohu tak bisa menduganya secara jitu?"

Akhirnya Oh Put-kui atau penanda berbaju putih itu tak dapat menahan rasa gelinya lagi, dia segera tertawa terbahak- bahak:

Pengemis itu tertegun,  kemudian  tegurnya: "Hei bocah keparat, apa yang kau tertawakan?"

"Ooh, tidak apa-apa," Oh Put-kui  menggelengkan  kepalanya.

Pengemis tua itu seperti tidak percaya, tapi karena mereka berdua sudah tiba di perkampungan Tang-mo-san-ceng yang megah, maki diapun tidak bertanya lebih jauh. Lok-jin-ki sipengemis cebol itu melotot sebentar  biji matanya, kemudian katanya:

"Hai bocah keparat,  bila kau tidak percaya  kalau  lohu adalah seorang yang ternama dalam dunia persilatan, segera akan lohu buktikan kepadamu kalau aku tidak bohong."

"Bagus sekali, aku memang ingin membuktikannya,  " pikir Oh Put-kui geli.

Sementara itu, pengemis tua tadi telah  berjalan menghampiri sebuah dinding tembok yang amat besar sekali. Di atas dinding tersebut penuh ditempeli dengan nama-nama manusia.

Begitu sampai di situ, pengemis tersebut segera merobek selembar kertas putih kemudian melangkah masuk ke dalam pintu gerbang perkampungan Tang-mo-san-ceng dengan langkah lebar.

Oh Put-kui segera mendekati pula dinding besar tersebut setelah membaca ratusan nama yang tertera di situ, pikirnya kemudian:

"Tampaknya dinding berisi nama orang inilah yang disebut Papan pengumuman pembasmi iblis !"

Rupaoya diatas dinding tersebut penuh ditempeli dengan secarik kertas berwarna putih tadi tercantumlah nama dari seorang gembong iblis atau manusia paling tinggi di kalangan hek-to. Sudah barang tentu nama-nama yang tercantum di sana adalah kawanan iblis atau penjahat yang sudah banyak melakukan kejahatan sehingga mereka semua pantas untuk dibunuh.

Di bawah papan nama tadi, terdapat pula sekotak tempat yang berisi pula nama-nama manusia. Hanya saja nama yang dilampirkan di bawah adalah nama dari pendekar atau jagoan yang berhasil membunuh gembong iblis atau penjahat yang namanya tercantum diatasnya.  Asal kau sanggup membunuh seorang penjahat yang namanya dicantumkan diatas  papan nama itu, dijumpainya pada deretan nama yang berada dibagian bawah akan tertera pula namamu.

Oh Put-kui melirik sekejap  ke atas papan nama itu, dijumpainya pada deretan nama yang ada dibagian bawah papan pengumuman tersebut hanya tercantum belasan nama manusia saja, sedangkan gembong iblis atau penjahat yang berhasil dibunuh juga hanya manusia-manusia kelas dua atau kelas tiga saja dalam kalangan hitam.

Sekulum senyuman aneh segera menghiasi bibirnya, tanpa terasa dia meraba pedang berkaratnya sambil mencorongkan sinar terang dari balik matanya yang jeli.

Baru saja ia hendak meraba buntalannya, mendadak terdengar pengemis tua tadi berteriak keras:

"Hei, bocah keparat, jangan tertegun  saja di situ,  hayo cepat masuk kemari!"

Oh Put-kui segera mendengus dingin, kemudian sambil membalikkan badannya ia berjalan masuk ke dalam perkampungan.

Ketika membalikkan badannya tadi, dengan suatu gerakan tangan yang begitu cepat hingga sukar diikuti dengan pandangan mata ia merobek empat lembar nama manusia yang tertempel pada papan pengumuman pembasmi iblis itu dan dimasukkan ke dalam sakunya.

Ketika tiba didalam suatu perkampungan tampak olehnya pengemis tua itu sedang mengibul dengan seorang  lelaki  kekar bercambang, bermuka hitam yang perawakan tubuhnya setinggi beberapa kaki.

Lelaki kekar itu mempunyai ketinggian badan dua kali lipat bila dibandingkan pengemis tua itu, tapi sekarang  justru sedang membungkukkan badannya memberi hormat sambil mendengarkan obrolan si pengemis, malah mulutnya  tiada hentinya memuji: "Lok locianpwe memang hebat, kau memang lihay sekali."

Sambil melangkah masuk ke dalam perkampungan Oh Put- kui segera mendehem berulang kali, Pengemis tua itu segera berpaling dan tertawa keras, serunya:

"Hei bocah keparat, mari kita masuk ke dalam. .. "

Tanpa memperdulikan lelaki yang tinggi kekar itu lagi dia segera membalikkan badan masuk ke dalam perkampungan.

Oh Put-kui segera tertawa lebar kepada lelaki kekar itu, kemudian turut pula berjalan masuk ke dalam perkampungan Dalam pada itu, dari dalam ruangan telah muncul tiga orang yang menyongsong kedatangan mereka.

Pengemis tua itu segera berpaling ke arah Oh Put-kui sambil tertawa bangga, seakan-akan sedang maksudkan:

"Bagaimana ? Lohu kenal dengan setiap orang yang  berada di dalam perkampungan ini bukan ?"

Tapi Oh Put-kui segera melengos ke arah lain, berlagak seolah-olah tidak mengerti.

Melihat pemuda itu malah melengos, pengemis itu menjadi amat mendongkol sehingga mendepak-depakkan kakinya ke tanah, dengan langkah lebar dia segera menyongsong kedatangan ketiga orang itu.

Dari kejauhan Oh Put-kui mengamati pula ketiga orang itu, mereka adalah seorang pendeta, seorang tosu dan seorang preman.

Pendeta itu berusia enam puluh tahunan memakai jubah berwarna abu-abu dan berperawakan tinggi besar, wajahnya keren dan sembilan buah taio membekas di atas ubun- ubunnya, jelas dia adalah seorang hwesio yang terikat oleh peraturan yang ketat.

Si tosu itu berusia lima puluh tahunan, berkopiah emas, berjubah kuning dan  bermata setajam sembilu, jenggotnya bercabang dua dan banyak yang telah beruban, sepintas lalu dandanannya seperti dewa.

Sebaliknya yang preman justru kelihatan paling menonjol diantara ketiga orang itu.

Rambutnya yang panjang digelung pada bagian belakang kepala, umurnya baru pertengahan, dia memakai baju panjang dengan sebuah ruyung emas melilit pinggangnya, mimik wajahnya serius dan seolah-olah tiada urusan di  dunia  ini  yang dipandang sebelah matanya olehnya.

Belum habis Oh Put-kui mengamati ketiga orang  itu, pendeta yang tinggi besar itu telah menegur sambil tertawa terbahak-bahak:

"Haaaahhh... hahhhhhhh... Sicu cebol, aku rasa dari kedatanganmu kali ini tentu saja dengan  membawa  serta batok kepala dari gembong iblis itu bukan."

"Sungguh memalukan.... sungguh memalukan..." seru pengemis itu sambil mendehem, mendadak ia teringat kalau Oh Put-kui yang telah dikibuli berada di belakang tubuhnya tentu saja dia enggan untuk kehilangan pamor di depan orang, maka sambil mendongakkan  kepalanya dan  tertawa aneh sahutnya:

"Tepat sekali, tepat "

Pendeta yang  tinggi besar itu segera berseru  memuji keagungan sang Buddha, kemudian ia menyingkir dan mempersilahkan tamunya masuk.

Sebaliknya sastrawan berusia pertengahan itu segera menegur pula dengan suara dingin:

"Saudara Lok, gembong iblis manakah yang telah tewas di tanganmu?"

Pengemis tua itu kontan saja melotot, sambil masuk ke dalam ruangan dengan langkah lebar sahutnya tertawa: "Sediakan arak dulu, mana araknya? Huuh, kalau cuma urusan kecil itu mah lebih baik di bicarakan nanti saja..."

@oodwoo@