Misteri Pulau Neraka (Ta Xia Hu Pu Qui) Jilid 22

 
Jilid 22

"Konon orang itu adalah Tiga padri dari See-ih!" bisik Wan Sam dengan wajah agak takut.

"Apa? Tiga orang hweesio pelindung hukum dari kuil Bhudala-si?" seru pengemis sinting terperanjat.

"Yaa, hambapun mendengar hal ini dari anggota Pay-kau!" "Aneh sekali, kenapa padri dari See-ih itu jauh-jauh datang

ke Tionggoan hanya berniat membegal barang milik Pay-kau? Betul-betul suatu kejadian yang aneh sekali."

"Wan Sam," kata kakek latah kemudian sambi tertawa, "apakah ketiga orang hweesio yang kau maksudkan itu benar- benar berasal dari wilayah Tibet?"

"Boanpwee mendapat  kabar ini dari anggota Pay-kau, rasanya tak bakal salah lagi!"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kalau begitu pasti akan ramai sekali!" seru kakek latah  awet muda sambil tertawa tergelak.

Sebaliknya Oh Put Kui bertanya dengan kening berkerut : "Ban tua, siapa sih ketiga padri dari See-ih itu?"

"Aku sendiripun tidak tahu, aku cuma tahu ilmu Tay-jiu-eng dari para lhama Tibet merupakan semacam  ilmu silat yang betul-betul luar biasa, hanya saja mereka amat jarang berkunjung ke daratan Tionggoan dimasa lalu, sehingga aku sendiripun belum sempat menyaksikan kehebatan dari  ilmu silat mereka!"

"Ban tua, selama dua puluh tahun belakangan ini, mereka sudah beberapa kali berkunjung kemari !" "Benarkah itu? Apakah ilmu Tay-jiu-eng masih bisa ditandingkan dengan ilmu Hud-im-hian-hong-jiu?"

"Selisih jauh sekali!"

"Waaah, kalau begitu  tiada sesuatu yang  istimewa..." gairah kakek latah segera berkurang  setelah mendengar perkataan itu.

"Cuma saja..." pengemis sinting segera menambahkan sambil tertawa, "jagoan yang kujumpai tempo hari hanya golongan kelas tiga dan empat saja."

"Kalau begitu, bukankah ilmu Tay-jiu-eng terhitung cukup hebat juga?" seru kakek latah cepat sambil tertawa tergelak.

"Sudah barang tentu  begitu, aku tahu ilmu silat dari golongan Mi-tiong termasuk ilmu silat tingkat atas."

"Bagus sekali, aku ingin sekali mengetahui sampai dimanakah kelihayan dari kaum lhama tersebut."

"Ban tua, besok kita harus melanjutkan perjalanan," Oh Put Kui segera menyela dengan kening berkerut.

"Eeeh... kau tak usah terburu napsu," seru kakek  latah sambi lmenggeleng, "keramaian semacam ini harus kuhadiri untuk turut menyaksikannya..."

----------------------

"Ban tua, kalau begitu terpaksa boanpwee harus berangkat seorang diri lebih dulu," ucap Oh Put Kui kemudian dengan perasaan apa boleh buat.

Kakek latah awet muda menjadi tertegun  tapi sejenak kemudian serunya lagi sambil tertawa tergelak :

"Kau berani?"

"Mengapa boanpwee tak berani?" Oh Put Kui balas berseru setelah sempat tertegun sejenak.

"Sebelum memperoleh persetujuanku, kau harus tetap tinggal disini secara baik-baik." Sebetulnya Oh Put-kui hendak membantah ucapannya itu, tapi diapun mengerti bahwa berdebat  hanya  berarti membuang tenaga dengan percuma, sudah pasti kakek tua yang kolot ini tak akan memberi ijin kepadanya.

Terpaksa ujarnya sambil tertawa getir:

"Ban tua, aku harus menunggu sampai kapan lagi?"

"Aku sendiripun tidak tahu!" sahut si kakek latah sambil tertawa senang.

Mendadak orang tua itu teringat akan sesuatu, maka kepada si ular aneh Wan Sam katanya pula:

"Wan Sam, tahukah kau kapan pihak Sian-hong-hu hendak melancarkan serangannya terhadap pihak perkumpulan Pay- kau?"

"Malam nanti!"

"Apa? Mengapa tidak kau katakan semenjak tadi?" teriak kakek awet muda dengan marah. "atau mungkin kau memang sengaja hendak mempermainkan diriku?"

Pucat pias selembar wajah Wan Sam karena  kaget bercampur takut, buru-buru dia menyahut:

"Boanpwee tidak berani!"

Kalau begitu, ayoh cepat suruh pelayan mempersiapkan hidangan..." kata  kakek latah awet muda kemudian sambil mengulapkan tangannya kepada pengemis sinting.

Sang pengemis menyahut dan segera beranjak pergi dari situ.

Ketika Oh Put-kui mendengar bahwa peristiwa itu akan  berlangsung malam nanti, dalam hati kecilnya dia merasa gembira sekali, katanya kemudian sambil tertawa:

"Ban tua, kau tak usah terburu napsu, sekarang toh baru mendekati tengah hari..." "Bocah muda, tahukah kau berapa jauhkah jarak antara tempat ini dengan tempat berlangsungnya pertarungan itu?" seru sang kakek sambil tertawa dingin.

Oh Put-kui menjadi tertegun, lalu pikirnya: "Bagaimana mungkin aku bisa tahu?"

Karena itu diapun menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kalau toh tidak mengetahui berapa jauh tempat tersebut, bila kita tidak berangkat sekarang juga, memangnya kau anggap masih keburu sampai di situ?"

Oh Put-kui kembali menggelengkan  kepalanya  berulang kali.

Sambil tertawa Wan Sam segera menyela

"Locianpwee, boanpwee pun sudah menyelidiki tempat yang hendak mereka pergunakan untuk bertarung itu!"

"Waaah, tampaknya kau si pengemis kecil pandai  juga untuk bekerja, ayoh cepat katakan kepadaku, dimanakah peristiwa itu hendak berlangsung?" seru kakek latah  kegirangan.

"Kuil Pau-in-si diluar kota Kang-ciu!" "Dekatkah tempat itu?"

"Dekat sekali, paling banter cuma tiga li dari batas kota!"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kalau begitu  masih keburu..."

Tapi kemudian secara tiba-tiba kakek itu berkata lagi:

"Wan Sam, tahukah kau kapan waktu yang telah mereka tentukan?"

"Kentongan ke dua nanti!"

Kakek latah awet muda segera  tertawa  tanpa mengucapkan kata-kata lagi, sedangkan Oh Put-kui segera menyela pula: "Wan tongcu, perjanjian di kuil Pau-in-si ini ditentukan oleh siapa? Aapakah pihak keluarga Nyoo yang menentukan?"

"Bukan! Tantangan itu dibuat antara pihak Pay Kau dengan tiga padri dari wilayah See-ih!"

"Kalau begitu pihak Sian-hong-hu yang sedang bermain setan dibalik kesemuanya itu," kata Oh Put Kui tertawa.

"Boanpwe pun menduga sampai ke situ, itulah sebabnya boanpwe telah mengutus anggota kantor cabang kamu untuk bersembunyi lebih dulu di sekitar kuil Pau-in-si pada malam nanti, bilamana pergi kami siap akan membantu pihak Pay Kau!"

"Wah, tidak kusangka kau si pengemis kecil pun masih tahu soal setia kawan!" kakek latah segera menghentikan tertawanya.

"Selama ini  perkampungan kami mempunyai hubungan yang sangat erat dan  akrab dengan pihak Pay Kau,  oleh sebab itu walaupun boanpwe tahu kalau  tindakan yang kuambil merupakan tindakan yang tahu diri, namun kamu pun tak bisa berpeluk tangan belaka membiarkan rekan kami di gontok orang habis-habisan."

"Wan tongcu, apakah  kau sudah tidak  percaya  lagi terhadap pihak Sian-hong-hu?" tiba tiba Oh Put Kui menyela sambil tertawa.

Pertanyaan ini  sudah jelas mengundang  maksud dan tujuan yang amat dalam.

Sebab bagaimanapun juga orang-orang dari pihak Sian- hong-hu merupakan  anak murid Kakek suci, paling  tidak,  mereka adalah orang-orang yang pantas dihormati dan disegani oleh setiap anggota perkumpulan dan  partai  mana pun yang ada  dikolong langit, andaikata, terjadi persoalan maka sudah sewajarnya bila anggota partai lain membantu pihaknya. Akan tetapi kenyataannya sekarang, pihak kay-pang lebih suka membantu Pay-kau untuk memusuhi para anak  murid  dari kakek suci, hal ini menunjukkan kalau si ular aneh Wan Sam sudah menaruh rasa tak percaya lagi terhadap tingkah laku dan perbuatan dari orang-orang  Sian-hong-hu,  paling tidak perintah ini diturunkan dari markas besar perkumpulan Kay-pang.

Kalau bukan begiut, sudah pasti Wan Sam tak akan berani mencampuri perselisihan semacam itu.

Benar juga, baru saja Oh Put Kui menyelesaikan perkataannya, Wan Sam segera berkata sambil tertawa :

"Apa yang diucapkan kongcu memang benar,  semenjak boanpwee mengetahui kalau kuku garuda dari Sian-hong-hu banyak melakukan perbuatan terhina dengan menindas kaum lemah dan rakyat kecil, boanpwee segera mangambil keputusan untuk membantu pihak Pay-kau dengan sepenuh tenaga..."

Berhubung pengemis sinting membahasai Oh Put Kui sebagai saudara, oleh karena itu dia pun harus  membahasai diri sendiri sebagai boanpwee.

Oh Put  Kui  kembali tertawa hambar:

"Apakah pihak markas besar perkumpulanmu mengetahui tentang keputusan yang kau ambil ini?"

"Tidak tahu," Wan Sam menggeleng.

"Seandainya kau telah menyalahi  pihak Sian-hong-hu, apakah pangcu mu tak akan menyalahi dirimu?"

Tiba-tiba Wan sam tertawa tergelak dengan suara yang amat nyaring, kemudian serunya:

"Selamanya boanpwe  bekerja hanya berdasarkan atas kebenaran, entah pihak itu dari golongan mana pun,  yang salah harus ditindak dengan tegas. Andaikata setelah kejadian tersebut pangcu menegurku, boanpwe pun berani menerima segala resiko dan akibatnya!" Mendengar sampai disini, Oh Put Kui segera tertawa terbahak-bahak, lalu pujinya:

"Betul-betul seorang lelaki sejati!"

Sebaliknya kakek latah awet muda ikut berkata pula sambil tertawa tergelak:

"Laksanakan saja dengan hati tenang, biarpun ada kejadian yang bagaimana pun besarnya, biar aku yang tanggung!"

Wan Sam menjadi kegirangan setengah mati, cepat-cepat dia berseru sambil tertawa:

"Banyak terima kasih loocianpwe... cuma boanpwe  pun percaya, sekalipun boanpwe melakukan perbuatan ini, pangcu kami tentu tak akan menegur apalagi menyalahkan tindakanku ini."

"Betul. aku tahu Kongcu Liang si bocah kecil itu cukup pandai membedakan persoalan..."

--------------------

Kentongan pertama sudah lewat.

Cahaya lentera bersinar amat terang disekitar kuil Pau-in-si yang terletak diluar kota Kang-ciu

Tapi suasana disitu amat sepi, tidak terdengar suara genta, tidak terdengar suara orang membaca doa,  tidak  terdengar pula manusia yang hiruk pikuk.

Suasana dalam ruangan Wau-tong-poo-tiang pun  sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara pun.

Hanya asap dupa dari balik hiolo yang mengepulkan asap harumnya memenuhi seluruh ruangan,

Didepan ruangan dekat hiolo tersebut, duduk tiga orang lhama berbaju kuning.

Tampaknya mereka sedang bersemedi, sehingga keadaannya tidak berbeda dengan orang mati. Pada saat itulah...

Tampak dua sosok bayangan manusia melayang turun dari tengah udara dengan gagah dan angkernya.

Gerakan tubuh dari kedua sosok bayangan manusia itu sungguh amat cepat, mereka bukannya melayang  turun keatas permukaan tanah, melainkan meluncur masuk kebalik rimbunnya dedaunan ditengah pelataran tersebut.

Meskipun gerakan tubuh kedua orang itu cepat sekali, namun didalam kenyataannya sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun, bahkan dedaunan dibalik pepohonan itupun tidak sampai bergetar, dari sini dapatlah disimpulkan bahwa kepandaian silat yang dimiliki kedua orang itu benar-benar hebat sekali.

Begitu melayang masuk kebalik dedaunan, kedua orang itu segera menyembunyikan diri baik-baik.

Kemudian salah seorang diantaranya segera menongolkan kepalanya

Ternyata orang itu adalah Oh Put Kui.

Lantas siapakah seorang yang lain ? Kakek latah awet muda atau pengemis sinting?

Setelah menongolkan kepalanya dan memeriksa sekejap keadaan disekeliling tempat itu, Oh Put Kui segera berkata kepada rekannya itu:

"Ban tua, kalau ditinjau dari sikap ketiga orang lhama yang sedang bersemedi itu nampak begitu tenang, bisa diduga  kalau ilmu silat yang dimiliki tentu hebat sekali, delapan puluh persen dia adalah jago lihay kelas satu dari  golongan  Mi tiong!"

Rupanya rekan yang seorang lagi adalah Kakek latah awet muda.

Kakek latah awet muda manggut-mangut, lalu dengan ilmu menyampaikan suara pula dia menjawab: "Hey anak muda, kau harus baik-baik mempersiapkan diri, aku akan periksa keadaan disekeliling tempat ini, daripada setelah sampai waktunya untuk turun tangan nanti, kau belum selesai mempersiapkan diri!"

"Ban tua, memangnya kau anggap boanpwee adalah manusia yang tak berguna?" seru Oh Put Kui sambil tertawa.

Sementara itu, dari atas atap ruang tengah telah melongok keluar pula sebuah kepala manusia.

Ternyata orang itu adalah si pengemis sinting.

Rupanya dia sadar kalau ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya kurang sempurna sehingga tak berani menyembunyikan diri diatas pohon tersebut,  untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terpaksa  dia mendaki ke atas atap ruangan  dan menyembunyikan diri disana.

Kakek latah awet muda dan  Oh Put Kui segera dapat menjumpai jejaknya.

Cuma mereka sama sekali tidak menyapa, sebab Oh Put Kui kuatir kepandaian silat yang  dimiliki  ketiga  orang  Lhama itu terlalu tinggi sehingga sapaannya akan segera  mengejutkan mereka bertiga.

Pada saat itulah kakek latah awet muda menangkap suara langkah serombongan manusia yang datang dari kejauhan.

Pada mulanya ida mengira rombongan manusia itu tentulah Li Cing-siu dan anak buahnya dari perkumpulan Pay kau.

Tapi setelah diamati lagi dengan seksama, segera ditemukan olehnya bahwa gerak gerik kawanan manusia itu sangat mencurigakan bahkan seakan-akan berusaha untuk  menyembunyikan diri dari pandangan orang lain...

Menyaksikan hal ini, kakek latah awet muda segera tertawa tergelak kegelian. Kalau ditinjau dari gerak gerik mereka itu,  sudah jelas rombongan manusia itu adalah orang-orang dari istana Sian- hong-hu...

Diam diam ia bersyukur karena  mereka bertiga datang selangkah lebih awal, kalau tidak, sudah pasti tempat persembunyian mereka akan diketahui oleh orang orang dari Sian-hong hu.

Tampaknya Oh Put Kui juga sudah mengetahui  akan kehadiran mereka, ia segera berbisik:

"Ban tua nampaknya ada orang sedang menyembunyikan diri disekeliling tempat ini!"

"Yaa, nampaknya orang-orang dari Sian-hong-hu!"

Pada saat itulah dari kejauhan sana kembali berkumandang datang suara langkah kaki manusia.

Lalu nampak munculnya belasan pedang obor yang menerangi serombongan manusia mereka berjalan langsung menuju ke kuil Pau-in-si.

Agaknya rombongan yang datang kali ini adalah orang- orang dari pihak Pay Kau.

Dengan sorot mata Oh Put Kui yang tajam, segera terlihat olehnya bahwa rombongan Pay Kau terdiri dari dua puluhan orang.

Perjalanan yang mereka tempuh tidak terlalu cepat, jarak sejauh dua li tersebut ditempuh dalam waktu seperminum teh lamanya.

Menanti rombongan tersebut sudah berada  didepan  kuil, Oh Put Kui baru dapat melihat dengan jelas wajah-wajah rombongan tersebut.

Sebagai pemimpin rombongan adalah seorang kakek berambut putih yang mengenakan jubah seorang imam.

Dia mempunyai raut wajah yang bersih dan sikap yang lembut, langkah tubuhnya sangat ringan, sikapnya berwibawa sehingga memberi kesan anggun bagi siapapun yang melihatnya.

Oh Put-kui tahu, orang itu tentulah Huan-im cinjin Li Cing-  siu dari Pay-kau.

Dibelakang kakek itu adalah dua orang kakek berusia tujuh puluh tahunan, seorang berpakaian imam dan seorang lagi berpakaian preman.

Dibelakang kedua orang kakek itu adalah tamu tanpa bayangan penghancur hati Ciu It-cing.

Dibelakang Ciu It-cing adalah seorang tosu setengah umur dan seorang sastrawan setengah umur.

Sedangkan dibelakang kedua orang itu adalah kawanan lelaki kekar berdandan kelasi.

Tatkala rombongan tersebut tiba didepan ruangan, dari kejauhan sana terdengar suara kentongan berbunyi dua kali.

Mendadak tiga orang lhama itu membuka matanya bersama-sama...

Salah seorang diantaranya, seorang pendeta berusia tujuh puluh tahunan yang bermuka dingin menyeramkan segera berseru sambil tertawa seram:

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... Li sicu benar-benar seorang yang memegang janji, datang tepat pada saatnya...!"

Kakek berambut putih yang berbaju imam itu segera  tertawa hambar:

"Untuk memenuhi undangan dari siansu bertiga, tentu saja aku tak berani datang terlambat."

"Li sicu pandai juga merendah..." kata lhama itu kemudian sambil tertawa, lalu sambil menuding  ke sebuah kasur ditengah ruangan, katanya lagi:

"Silahkan duduk dulu sebelum berbincang bincang!" Kakek berdandan tosu dan  dua kakek di belakangnya segera mengambil tempat duduk dibantal bantal yang sudah tersedia di hadapan ketiga orang lhama itu.

Sedangkan Siu It-cing sekalian berdiri berjalan ketiga orang kakek itu.

Sesudah mengambil tempat duduk, kaucu dari Pay Kau, Li Cing-siu baru berkata dengan suara dalam:

"Tentang kehadiran Pu Khong siansu bertiga di daratan Tiong-gona sudah lama kudengar, hanya tidak kupahami apa sebabnya siansu justru menyegel  beratus buah kapal dari perkumpulan kami yang ada di Kang-ciu sekarang sehingga menyebabkan perkumpulan  kami menderita kerugian yang cukup besar?"

Put-khong lhama segera tertawa tergelak"

"Haaahhh... haaahhh...haaahhh.... Li sicu, berbicara yang sebenarnya, tindakan lolap dengan menyegel beratus buah kapal kalian itu merupakan suatu transaksi perdagangan."

"Transaksi perdagangan?" tanya Li Cing-siu menjadi tertegun, "harap siansu jangan bergurau, tahukah kau bahwa gara-gara ulahmu itu menyebabkan perkumpulan kami telah kehilangan langganan terbesar dari kota Kim-leng? Hmmm, masa siansu masih berkata demikian, bukankah perbuatanmu ini sama artinya dengan mengejek diriku?"

Dari perkataan itu bisa diketahui kalau kaucu dari Pay-kau ini benar-benar sudah amat gusar, hanya saja dia masih berusaha untuk  mengendalikan diri agar amarahnya tidak sampai meledak...

Put-khong siansu kembali tertawa licik:

"Li sicu, lolap akan membeli semua perahumu itu!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Li Cing-siu setelah mendengar perkataan itu, dengan lantang diapun berkata: "Kalau begitu siansu memang benar-benar  bermaksud untuk mencari gara-gara dengan perkumpulan kami."

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... apakah kaucu merasa keberatan untuk menjual perahu-perahumu itu?"

"Semua kayu dari perahu-perahu tersebut merupakan pesanan dari seorang langgananku, bagaimana mungkin aku boleh menjualnya lagi kepadamu? Apalagi si pemesanpun belum tentu akan menyetujui jual beli ini?"

"Aaah, soal si pemesan sih urusan kecil, lolap pasti dapat memaksanya untuk menyetujui."

Tiba-tiba Li Cing-siu menarik muka lalu berkata:

"Menurut peraturan dari  perkumpulan  kami,  bilamana barang pesanan belum tiba ditempat  tujuan  maka  siapapun tak boleh mengusiknya, jikalau siansu bersikeras hendak membelinya, tunggulah sampai aku mengirim  semua  perahu itu ke Kim-leng dan menyerahkan kepada pemesannya, kemudian siansu baru mengadakan jual beli sendiri dengan pemilik barang itu."

"Hmmm, sayang sekali lolap tidak mempunyai banyak waktu..." kata Put-khong siansu sambil tertawa dingin.

Ki Siu-cing tertawa dingin pula:

"Sebelum barang pesanan itu tiba ditempat tujuan, bila siansu memaksa terus sama artinya  dengan  ingin bermusuhan dengan perkumpulan kami."

Baru saja perkataan dari Li Siu cing itu selesai diutarakan, lhama tua bertubuh kurus yang duduk disisi kiri Put-khong siansu itu sudah tertawa panjang sambil menyela:

"Sejak kedatangan Li Kaucu dengan memimpin segenap kekuatan, kau telah menganggap lolap sebagai musuh!"

"Apakah Wi cay siansu tidak menganggap perkataanmu itu ingin mencari menangnya sendiri," kata Li Cing-siu dengan suara dalam. Oh Put Kui yang mendengarkan pembicaraan tersebut, diam-diam segera berpikir :

"Kalau didengar dari nama yang mereka pergunakan itu, nampaknya mereka melepaskan diri dari kependetaannya dan kembali menjadi orang swasta..."

Belum habis Oh Put Kui berpikir,  Wi-cay siansu  telah berkata lagi dengan suara keras:

"Kapan sih lolap ingin mencari menangnya sendiri?" Sambil tertawa dingin Li CIng-siu berseru:

"Tanpa sebab musabab kalian menahan semua barang kami, bukankah tindakan tersebut sudah jelas mencerminkan sikap permusuhan kalian terhadap perkumpulan kami? Hari ini aku datang kemari sebetulnya berniat untuk menyelesaikan persoalan secara baik-baik..."

Wi-cay siansu tertawa terbahak-bahak, sebelum dia sempat berkata lagi, si lhama gemuk yang duduk di sebelah kanan Put Khoong-siansu telah berkata  pula smabil tertawa terkekeh- kekeh :

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... Li Kaucu, aku si hwesio gemuk paling suka untuk berbicara secara baik baik, coba kau terangkan dulu bagaimana cara penyelesaianmu  yang kau anggap baik?"

"Biala Ha-ha siancu memang suka penyelesaian secara baik-baik, hal ini tentu saja lebih baik," seru Li Cing-siu dengan kening berkerut dan  suara keras, "sekarang harap kalian bertiga untuk menurunkan perintah  kepada anak  buahmu untuk mengembalikan  semua barang  milik kami, sekalipun kami terlambat lima hari dari batas waktu penyerahan yang telah ditetapkan, tak nanti aku akan menuntut ganti kerugian dari kalian bertiga."

Oh Put Kui tertawa geli, pikirnya tiba-tiba:

"Hwesio ini memang tepat  jika dipanggil Ha-ha siansu, nyatanya dia memang suka sekali tertawa haha hihi..." Sementara itu Ha-ha siansu telah  menggelengkan kepalanya sambil berkata:

"Tidak bia, cara penyelesaian kami yang dianggap baik hanya satu saja."

"Penyelesaian yang bagaimana?" tanya Lo Cing-siu marah. Kembali Ha-ha siansu tertawa terbahak bahak:

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... jual semua barang  itu kepada lolap, bukan saja lolap akan membayar semua harganya, bahkan akan kubayar beaya pengiriman lima  kali lipat lebih besar."

Li Cing-siu segera melompat bangun, lalu sambil menuding ke tiga orang pendeta itu serunya:

"Tampaknya kalian bertiga hendak mengandalkan ilmu silat dari golongan Mi-tiong untuk berbuat semena-mena sehingga tidak memandang sebelah matapun kepadaku, tapi aku perlu memberitahukan kepada kalian, jika kalian beranggapan demikian maka anggapan kalian itu keliru besar sekali."

-----------------------

Ha ha siansu kontan saja melompat dari tempat duduknya dan bersiap sedia untuk melancarkan serangan.

Begitu ia bangun berdiri, maka tampaklah perawakan tubuhnya yang bulat persis seperti bola daging.

Berbicara soal tinggi badan, dia sebanding dengan pengemis sinting, tapi perawakan tubuhnya justru empat kali lipat lebih besar daripada tubuh si pengemis sinting.

Oh Put Kui yang menyaksikan hal tersebut hampir saja tertawa tergelak saking gelinya.

Ha-ha siansu kembali berseru sambil tertawa tergelak: "Jadi Li kaucu bersikeras tak mau menjualnya?"

"Lebih baik siansu tak usah bersilat lidah lagi," tukas Li Cing-siu sambil tertawa dingin. Baru selesai ia berkata, kakek berbaju hitam yang berada disisinya telah membentak gusar:

"Kaucu, bekuk saja ketiga orang keledai gundul ini, masa  dia tak akan membebaskan barang-barang kita?"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh...  Tio  Sian-hau, nampaknya bacotmu makin lama semakin bertambah besar," kata Ha-ha siansu tiba-tiba, "aku lihat dulunya kau toh belum pernah mempunyai nyali sedemikian besarnya..."

Selama ini Oh Put Kui merasa tidak habis mengerti apa sebabnya ketiga orang pendeta dari tibet ini bisa berbicara bahasa Han dengan begitu luwes dan lancar.

Baru sekarang dia dapat menemukan sedikit titik terang tentang persoalan tersebut.

Jangan-jangan ketiga orang hwesio itu sesungguhnya memang orang Tionggoan yang kemudian pergi ke Tibet ?

Sementara itu, kakek berbaju hitam yang  sebenarnya bernama kakek baju hitam Tio Sian-hau itu sudah berseru dengan penuh amarah:

"Aku akan segera membekukmu lebih dulu!"

Tubuhnya segera berkelebat maju kedepan lalu dengan kesepuluh jari tangan yang dipentangkan lebar-lebar dia cengkeram jalan darah cian-keng-hiat  di atas bahu Ha ha siansu

Ha-ha siansu tertawa nyaring kemudian  berputar  badan  dan menyelinap ke belakang tubuh si kakek baju hitam Tio Sian-hau, sementara itu tangan kanannya diayunkan ke muka menghantam tubuh musuh.

"Tio sicu" bentaknya kemudian, "biar lolap menghantar kau pulang ke langit barat lebih dulu..."

Sejak Ha-ha siansu menyelinap kebelakang tubuhnya tadi, Tio Sian-hau sudah menduga dan berjaga-jaga atas tindakan yang akan dilakukan musuhnya ini. Oleh karena itulah disaat Ha-ha siansu melancarkan serangan mautnya itu,  dengan cekatan pula Tio Sian-hau melayang maju sejauh tiga depa dari posisi semula.

Kemudian diiringi bentakan amarah, dia melepaskan lima buah serangan secara beruntun.

Pertarungan yang amat serupun segera berlangsung, namun kedua belah pihak bertarung seimbang dan sama-  sama tak ada yang berhasil merobohkan lawannya.

Namun Oh Put Kui yang  menyembunyikan diri sambil menyaksikan jalannya pertarungan itu sudah  dapat menentukan siapa yang telah unggul diantara mereka berdua.

Walaupun tenaga pukulan dari Tio sian-hau sangat  kuat  dan berat,  namun dia  seakan-akan  tidak mampu untuk mendesak Ha-ha siansu apalagi mengancam keselamatan jiwanya.

Sebaliknya Ha ha siansu yang bertarung sambil tertawa mengejek, meski kadangkala  melepaskan pukulan ataupun tendangan, namun setiap serangannya selalu berhasil mendesak Tio Sian-hau untuk mundur dan menghindar.

Tiga puluh jurus kemudian, Tio Sian-hau membentak penuh amarah.

Tiba-tiba sepasang tangannya diputar dan  dirangkapkan didepan dada kemudian tubuhnya melompat mundur sejauh satu kaki lima depa ke belakang.

Setelah menghimpun seluruh kekuatan yang dimilikinya, sepasang telapak tangan itu didorong ke muka.

Dalam melancarkan serangannya kali ini, si kakek berbaju hitam Tio Sian-hau telah mempergunakan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Senyuman yang semula menghiasi wajah Ha-ha siansu segera hilang lenyap tak berbekas,  sementara mukanya bertambah serius. Cepat-cepat dia mengayunkan lengan pendeknya keatas dengan telapak tangannya menghadap keluar, disambutnya serangan maut dari Tio Sian-hau yang   mempergunakan  tenaga sebesar dua belas bagian itu dengan keras  lawan keras.

"Blaaaammm..."

Tenaga pukulan yang saling membentur satu sama lainnya itu segera menimbulkan suara ledakan keras yang  memekikkan telinga.

Dalam bentrokan yang begitu keras, tubuh Tio Sian-hau terdorong mundur sejauh satu langkah.

Sebaliknya tubuh Ha-ha siansu cuma sedikit bergetar saja akibat bentrokan ini.

Dengan penuh amarah Tio Sian-hau segera membentak keras:

"Sungguh sebuah ilmu pukulan tay-jiu-eng yang sangat kuat..."

Sepasang lengannya segera diputar lalu  melepaskan sebuah pukulan lagi dengan sepenuh tenaga.

Ha-ha siansu tertawa sinis, dengan cepat dia menyambut pula datangnya ancaman tersebut dengan kekerasan.

"Blaaaammmm. "

Sekali lagi terjadi bentrokan kekerasan yang memekikkan telinga, dalam bentrokan itu Ha-ha siansu hanya terdorong mundur sejauh satu langkah.

Sebaliknya Tio Sian-hau terdorong mundur sampai sejauh lima langkah lebih sebelum berhasil berdiri tegak.

Walaupun Tio Sian-hau tahu kalau tenaga  dalam yang dimiliki lawan masih jauh  lebih  unggul  dari  kemampuan sendiri, namun ia tidak putus asa, setelah menarik napas panjang-panjang, sekali lagi dia memutar badan sambil melepaskan sebuah pukulan. Menyaksikan datangnya ancaman ini, tiba tiba saja  dari balik mata Ha-ha siansu yang kecil itu mencorong keluar sinar mata yang tajam dan menggidikkan hati.

Sepasang telapak tangannya segera dirangkap menjadi satu, lalu diayunkan ke muka menyongsong datangnya serangan maut dari Tio Sian-hau itu.

"Wahai orang she Tio" teriaknya lantang, "Hud-ya segera akan mengirim kau pulang ke rumah nenek..."

Tampaknya jurus serangan kali ini merupakan pertarungan adu jiwa yang akan menentukan nasib mereka selanjutnya.

Tio Sian-hau menerjang kedepan sambil melepaskan pukulan mautnya, secara otomatis tenaga yang dihasilkan pun satu kali lipat lebih hebat.

Tapi Ha-ha siansu pun bukan seorang manusia yang  mudah diperdaya lawan, dia pun menghimpun semua kekuatannya untuk menyongsong datangnya ancaman ini.

Tatkala kekuatan serangan dari kedua belah pihak saling membentur satu sama lainnya, tidak terdengar suara apapun disekitar arena.

Tapi tiba-tiba saja tubuh Tio Sian-hau melayang naik ke tengah udara.

Li Cing-siu segera melotot matanya bulat bulat, kemudian menjejakkan badannya sambil meluncur ke muka.

Dia bermaksud untuk menyelamatkan jiwa  Tio  Sian-hau dari ancaman tersebut.

Sayang sekali tindakan yang dilakukan olehnya ini sudah terlambat selangkah.

Kendatipun dia berhasil menerima tubuh sikakek baju hitam Tio sian-hau yang terbanting kebawah, namun tak berhasil menyelamatkan selembar jiwa dari kakek baju hitam Tio Sian- hau tersebut. Disaat kekuatan dari kedua belah pihak saling membentur satu sama lainnya tadi ilmu pukulan Tay-jiu-eng dari Ha-ha siansu telah menggetarkan nadi Tio Sian-hau sehingga putus.

Akhir dari pertarungan ini sama sekali di luar  dugaan  Oh Put Kui, dia tidak menyangka kalau ilmu pukulan Tay jin eng mempunyai daya penghancur yang begitu dahsyatnya.

Tahu begini, dia bersama kakek latah awet muda pasti cepat turun tangan untuk menyelamatkan jiwa dari Tio Sian hau.

Sekalipun demikian, tenaga pukulan yang dilepaskan kakek baju hitam Tio Sian-hau pun berhasil juga menghantam tubuh Ha-ha siansu secara telak.

Sementara itu Ha-ha siansu sedang berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengendalikan gejolak hawa  darah panas yang mendidih didalam dadanya, dia duduk bersemedi, hal ini  membuktikan pula kalau luka yang  dideritanyapun termasuk parah.

Seorang tianglo dari perkumpulan Pay-kau ternyata menemui ajalnya ditangan Ha-ha siansu, salah seorang dari tiga padri See-ih yang berilmu silat paling cetek dalam empat puluh gebrakan saja, kenyataan ini benar-benar membuat Li Cing-siu merasa terkejut sekali.

Dengan termangu-mangu dia  memandangi jenasah  Tio Sian-hau yang masih bermandikan cucuran darah dari tujuh lubang inderanya itu, kemudian menitahkan anak buahnya untuk menggotong pergi dari sana, setelah mendehem berat, dengan langkah lebar dia berjalan  menghampiri Put-khong siansu.

Melihat kedatangan lawannya itu, Put-khong siansu segera mengejek sambil tertawa sinis:

"Li sicu, siapa yang tahu keadaan dialah lelaki yang pandai, sekarang Tio Sian-hau sudah mati, lolap percaya Li sicu tentu tidak berharap ada orang yang mengalami  nasib  seperti  ini lagi bukan!" Perkataan dari hwesio ini benar-benar seenaknya sendiri, seakan-akan terbunuhnya seorang jago lihay itu merupakan kesalahan yang diperbuat oleh sang korban sendiri.

Mencorong sinar tajam dari balik mata Li Cing-siu sesudah mendengar ucapan ini, dia mendengus dingin, lalu katanya:

"Put-khong, aku tak ingin melukai  mereka  yang  tak berdosa, lebih baik persoalan hari ini kita selesaikan sendiri saja."

Put-khong siansu kembali tertawa dingin:

"Li sicu, sayang sekali kau enggan menerima nassehatku dan menghindari pertarungan yang tak berguna... aaai, aku cuma kuatir bilamana salah turun tangan sehingga melukai dirimu nanti, sudah pasti lolap akan menyesal sekali..."

Biarpun ucapan tersebut diutarakan dengan suara yang pelan dan lembut, akan tetapi  nadanya  justru  sangat  tajam dan penuh berisikan ejekan dan penghinaan.

Li Cing-siu betul-betul gusar sekali, sampai semua rambutnya yang telah berubah berdiri kaku semua bagaikan landak.

Dengan penuh rasa gusar dan dendam, ia berteriak:

"Put-khong! Sejak kehadiran kalian bertiga didaratan Tionggoan pada sepuluh tahun  berselang, belum pernah sekalipun aku bersikap kurang hormat kepadamu, tapi kali ini kau mendesak dan memojokkan posisiku terus menerus, sebetulnya apa sih niatmu? Aku percaya belum pernah mempunyai perselisihan atau permusuhan dengan umat persilatan manapun, sebenarnya atas perintah siapa sih kalian sengaja mencari gara-gara dengan kami?"

Put-khong siansu segera tertawa seram:

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... menurut Li sicu, memangnya lolap adalah manusia yang mau diperintah orang lain?" Kontan saja Li Cing-siu tertawa dingin:

"Lantas memangnya antara aku dengan pihak Tibet pernah terjalin hubungan permusuhan atau perselisihan.

"Dengan pihak kami sih sicu tak ada perselisihan apa-apa, cuma kayu-kayu yang dibuat dalam perahu kalian itu adalah..."

Belum selesai perkataan itu diutarakan, mendadak saja Put khong siansu menutup kembali mulutnya rapat-rapat.

Sesungguhnya persoalan apa yang terselip dibalik pengiriman kayu-kayu itu

Oleh karena dia enggan mengutarakannya keluar, sudah barang tentu tak ada yang mengetahuinya pula.

Paras muka Li Cing-siu segera saja berubah sangat hebat.

Dia mencoba untuk menelusuri arti kata  dari Put-khong siansu yang belum habis diutarakan keluar itu, seakan-akan dibalik kiriman kayu-kayu tersebut masih terselip suatu rahasia besar yang menyangkut dunia persilatan, dan rahasia tersebut rupanya sudah mereka ketahui.

Seandainya hal  ini  benar, sudah barang  tentu mereka selalu berupaya agar rahasia ini jangan sampai bocor apalagi tersebar luas sampai dimana-mana.

Kalau tidak, sekalipun berhasil menghadapi ketiga orang pendeta dari See-ih malam  ini,  mungkin  perjalanan  selanjutnya akan menjumpai banyak sekali ancaman mara bahaya.

Berpikir sampai disini, Li Cing-siu segera mengambil keputusan didalam hatinya.

Dia tidak ingin bertanya lebih jauh, tapi pertarungan harus diselesaikan dengan secepatnya.

Setelah tertawa tergelak, Li Cing siu segera memberi hormat seraya berkata: "Put-khong, aku bersedia untuk bertarung melawan taysu untuk menyelesaikan persoalan ini!"

Put-khong siansu segera tertawa dingin:

"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... L sicu, tahukah kau bahwa lolap sudah bertekad untuk memperoleh barang tersebut entah dengan pengorbanan apapun?"

Li Cing-siu baru terkejut sesudah mendengar perkataan ini, sebab ucapan dari Put-khong siansu ini mengandung nada yang berat sekali."

Itu berarti sekalipun ia berhasil mengungguli lawan,  tak  nanti lawan akan melepaskan barang-barang yang mereka begal itu... jelas persoalan ini merupakan suatu masalah yang pelik dan merepotkan sekali.

Sementara Li Cing-siu masih termenung memikirkan persoalan tersebut, Put Khong siansu telah  berkata  lagi dengan suara yang menyeramkan:

"Apa yang dapat lolap ucapkan sudah kuutarakan, Li sicu, seandainya kau ingin bertarung maka lolap akan  melayani kehendakmu itu setiap saat..."

Selesai berkata ia bangkit, berdiri dari tempat duduknya.

Dalam keadaan demikian, tiada pilihan lain bagi Li Cing-siu setelah menerima tantangan tersebut.

Sebab satu satunya jalan baginya adalah menaklukan ketiga orang pendeta tersebut secepatnya.

Setelah tertawa dingin Li Cing-siu segera berseru: "Silahkan!"

Begitu selesai berkata, secara beruntun dia melancarkan tiga buah serangan berantai yang gencar.

Ketiga buah serangan tersebut dilancarkan dengan suatu gerakan yang sangat aneh,  seakan-akan  mengurung sekeliling tubuh Put-khong siansu hingga kemanapun pihak lawan akan menghindarkan diri, sulit  baginya  untuk  meloloskan diri dari ancaman mana.

Berkilat sorot mata Put khong siansu menghadapi kejadian tersebut, tiba-tiba saja tubuhnya melejit ke tengah udara.

Memang inilah satu-satunya cara baginya untuk menghindarkan diri dari serangan yang maha dahsyat  tersebut.

Sudah barang tentu cara menghindar semacam ini justru akan membuka semua pertahanan tubuhnya serta memperlihatkan titik-titik kelemahan dari jurus serangannya.

Betul juga, dia segera melejit ke tengah udara untuk menghindarkan diri dari ancaman ini.

Serta merta Li Cing-siu melontarkan lagi sepasang telapak tangannya ke tengah udara, dan menghantam ke tubuh Put- khong siansu yang sedang melejit itu.

"Tenaga serangan ini amat kuat dan  dahsyat, bahkan secara lamat-lamat terdengar pula suara desingan angin dan sambaran guntur.

Akan tetapi tampaknya pula Put-khong  siansu sudah menduga akan datangnya serangan tersebut.

Begitu badannya melejit ke tengah udara tadi, bukannya mundur dia justru mendesak maju ke muka dan langsung menerkam ke belakang tubuh Li Cing-siu.

Gerakan yang dilakukan oleh Put-khong siansu ini boleh dibilang sangat menyerempet bahaya.

Hanya selisih beberapa milimeter saja, nyaris tubuhnya termakan oleh serangan dahsyat Li Cing-siu.

Begitu lolos dari ancaman bahaya  maut itu, Put-khong siansu kontan saja membentak keras sambil melancarkan serangan balasan.

Diam-diam Li Cing-siu harus memuji pula akan ketelitian serta kejelian pikiran Put-khong siansu, dengan  cepat dia mengembangkan gerakan tubuhnya dan  mengurung tubuh Put-khong siansu dibawah  lapisan bayangan serangannya dengan mengeluarkan ilmu pukulan Hua-im-ciang yang amat tangguh itu.

Oh Put Kui yang berada diatas pohon segera manggut- manggut sesudah menyaksikan serangan tersebut, bisiknya kemudian dengan ilmu menyampaikan suara:

"Ban tua, coba kau lihat betapa hebat dan luar biasanya  ilmu pukulan dari kaucu itu!"

Kakek latah awet muda segera tertawa:

"Itulah ilmu pukulan Hua-im-ciang dari Li Cing-siu, keistimewaan dari ilmu pukulan ini adalah cepat dalam perubahan dan tepat pada sasaran sehingga membuat orang sukar untuk meraba arah tujuannya, cuma aku lihat Li Cing siu masih belum mempergunakan seluruh kemampuan yang dimilikinya!"

"Ban tua, Put-khong hwesio ini sudah  pasti  bukan tandingan dari Li Kaucu!" kata Oh Put Kui tertawa.

"Memangnya kau anggap nama besar Li Cing-siu cuma nama kosong belaka?" kata  kakek latah awet muda pula sambil tertawa, "coba kau lihat anak muda, tak  sampai  sepuluh begrakan lagi, Put Khong hwesio pasti dapat diringkus..."

Padahal tak usah menunggu  sampai sepuluh gebrakan lagi...

Baru saja kakek latah awet muda menyelesaikan perkataannya, mendadak dari tengah ruangan sudah berkumandang suara bentakan nyaring dari Lin CIng-siu :

"Roboh kau!"

"Bluuuukk...!" disusul kemudian terdengar suara benturan yang amat nyaring. Ternyata Put-khong hwesio menurut sekali, dia benar- benar roboh terjengkang keatas tanah.

Wi-cay siansu yang selama ini cuma duduk saja tiba-tiba melejit ke udara dan meluncur ke depan.

"Li Cing-siu, lihat serangan!" bentaknya.

Pendeta yang bermuka bengis ini ternyata bersikap cukup jantan, sebelum serangan dilancarkan, dia lebih dulu membentak keras.

Li Cing-siu tertawa dingin, telapak tanannya segera diayunkan pula ke depan untu menyambut  datangnya ancaman tersebut.

Bila dibandingkan dengan Put khong  siansu,  maka kekuatan tenaga pukulan yang dimiliki Wi-cay siansu masih lebih tangguh dan hebat berapa kali lipat.

Akan tetapi dia masih tetap bukan tandingan dari  Li Cing siu yang memang termashur sangat tangguh itu.

Dua puluh gebrakan belum habis, dia sudah kena dihajar jalan darahnya oleh serangan Li Cing-siu sehingga roboh terjengkang keatas tanha.

Dengan demikian, dari tiga padri See-ih, dua orang berhasil ditangkap dan seorang lagi masih duduk mengatur pernapasan.

Namun Li Cing-siu sama sekali tidak mengusik mereka, sebagai seorang kongcu dari suatu perkumpulan besar, tentu saja dia tak ingin mencelakai seseorang yang sama sekali tak bertenaga untuk melakukan perlawanan lagi.

Tapi pada saat itulah anggota perkumpulan yang membopong jenasah dari kakek baju hitam Tio Sian-hau telah mengayunkan tangannya dan melemparkan jenasah yang berada dalam bopongannya itu keatas tubuh Ha-ha Siansu.

"Blaaammm. !" Seketika itu juga percikan darah segar memancar kemana- mana, jeritan ngeri yang memilukan hatipun berkumandang memecahkan keheningan...

Rupanya tulang bahu dari kakek baju hitam Tio Sian-hau yang sudah tewas berapa waktu itu telah menumbuk diatas ubun-ubun Ha-ha siansu yang masih duduk bersemedi itu.

Tak ampun lagi tewaslah Ha-ha siansu seketika itu juga.

@oodwoo@